Bab
4 :
Segalanya
Untuknya
******
LANTUNAN
lagu
di radio terdengar begitu merdu saat Josh baru saja memberhentikan mobilnya di
depan rumah Windy. Ia terlihat fresh dan bahagia karena akan bertemu Windy—pujaan
hatinya—pagi ini. Sebenarnya, sejak mereka jadian, ia menjemput Windy hampir
setiap hari (hanya absen kalau ada pekerjaan), tetapi perasaan bahagianya
tetap muncul seolah-olah ini kali pertama dia menjemput Windy.
Josh melihat pantulan dirinya
sendiri di spion dalam mobil. Dia tersenyum (excited) dan merapikan
rambutnya yang sebenarnya sudah rapi. Dia juga sedikit merapikan kemejanya,
lalu setelah memastikan penampilannya oke, dia mulai melihat ke pagar rumah
Windy.
Pagi
ini, dia tidak memberitahu Windy kalau dia akan datang menjemput, jadi dia
harap ini akan jadi surprise kecil untuk Windy.
By
the way, tadi malam, Kei sudah menghubungi Josh melalui chat.
Kei bilang, dia setuju untuk menjadi model dalam proyek fotografi Josh.
Josh senang sekali mendengar kabar itu; ia hampir melompat di kasurnya tadi
malam. Rasanya seperti mimpi yang terkabul; harapannya untuk mengadakan pameran
tunggal…mungkin akan segera terlaksana. Dia akan membuat proyeknya sendiri. Idenya
sendiri.
Ini
menakjubkan. Dia harus banyak-banyak berterima kasih pada Alvin.
Beberapa
detik kemudian, pagar rumah Windy pelan-pelan terbuka. Josh langsung duduk
tegap, senyumnya merekah, dan matanya berbinar-binar. Windy tinggal sendirian,
jadi yang membuka pagar itu pasti Windy.
Tak
bisa Josh pungkiri, jantungnya berdebar-debar tatkala melihat Windy yang mulai
muncul dari balik pagar besi itu. Windy keluar dengan berpakaian rapi; dia
memakai seragam batik resepsionisnya yang berwarna merah. Roknya selutut.
Rambutnya disanggul rapi.
Windy
menutup kembali pagar rumahnya, lalu berbalik. Akhirnya, ia melihat ke arah
Josh yang masih duduk di mobilnya. Josh tersenyum, lalu melambai kepada Windy
dari balik kaca mobil.
Windy
memang bertatapan dengan Josh (berhubung kaca mobil Josh tidak gelap),
tetapi entah mengapa…saat melihat Josh, Windy tidak balas tersenyum. Untuk
sesaat, wanita itu tampak tidak senang. Dia tampak sedikit…
…kecewa.
Namun,
dalam waktu sepersekian detik, ekspresi itu langsung berubah menjadi bahagia.
Dia langsung tampak bersemangat, tersenyum riang, lalu mengangkat
sebelah tangannya ke atas untuk melambai-lambai kepada Josh.
Josh,
yang tadinya sempat melihat ekspresi kecewa itu, spontan bernapas lega
dan ikut tersenyum riang.
Windy
berlari kecil ke pintu sebelah kiri mobil Josh dan langsung membuka pintu
tersebut. Begitu naik ke mobil dan menutup pintu mobil kembali, wangi parfum Windy
langsung memenuhi mobil Josh. Josh hafal wangi parfum Windy; wanginya manis
seperti permen. Karena Josh suka Windy, dia jadi suka wangi permen itu.
Windy
memasang sabuk pengaman, meletakkan tasnya ke pangkuannya, dan langsung menoleh
kepada Josh. Dia tersenyum, lalu mencium pipi Josh sejenak. Membuat Josh jadi
semakin berbunga-bunga.
Ah,
iya. Josh tadi pasti cuma salah lihat.
Windy
tidak sedang kecewa kok.
“Pagi,
Sayang,” sapa Windy dengan ceria. Josh tersenyum lebar seraya menghela
napasnya.
“Pagi
juga, Sayang,” jawab Josh. “Cantik banget, sih?”
Windy
hanya tertawa. Wanita itu lantas kembali ke posisi awal, menjauh dari tubuh
Josh, tetapi masih berhadapan. Dia mulai bertanya pada Josh sambil memamerkan
senyum manisnya, “Kok nggak ngabarin aku, sih, kalo mau jemput?”
Josh
tertawa kecil, lalu mengusap pipi Windy dengan penuh kasih sayang. Setelah itu,
dia menghadap ke depan dan mulai menghidupkan mesin mobilnya. “Nggak
kenapa-napa, sih, Sayang. Mau surprise-in kamu aja.”
“Oalah…”
kata Windy. “Ada-ada aja.”
Josh
mulai menjalankan mobilnya. Sementara itu, Windy langsung merogoh ponselnya
yang ia letakkan di dalam tas. Begitu mendapatkan ponsel itu dan membuka kunci
layarnya, jemarinya bergerak cepat seolah-olah sedang mengetikkan sesuatu. Dia
tersenyum; sesekali pipinya merona—tatapannya lembut—saat menatap layar.
“Hari
ini kamu banyak kerjaan?” Josh tiba-tiba membuka suara. Pria itu berusaha untuk
menjaga suasana di mobil agar tetap terasa ceria, mesra, dan hangat.
“Iya.
Lumayan,” jawab Windy. Wanita itu agaknya tergesa-gesa untuk menyelesaikan satu
chat. Dia menoleh kepada Josh sekilas, lalu kembali menatap layar. “tapi
nggak apa-apa. Udah biasa kok.”
Josh
tersenyum.
“Oh,
gitu… Syukurlah,” jawab Josh. “Oh, ya, kamu ada waktu luang nggak sore ini,
Sayang? Aku pengin jalan sama kamu.”
Windy
masih menunduk; jari-jarinya masih memainkan ponsel. “Umm… Kayaknya minggu
depan aja, deh, Sayang. Lebih bebas. Sekarang kerjaanku masih banyak.”
Windy
menekan notifikasi lain yang muncul di layar ponselnya. Ia menatap Josh sesekali,
hanya sebelah mata; jawabannya terdengar datar meski ia menyertakan senyum
kecil.
Mobil
Josh berjalan terus…hingga akhirnya, kurang lebih dua puluh menit kemudian,
mereka sampai di depan hotel tempat Windy bekerja. Mobil Josh mulai masuk ke
area halaman. Ketika mobil itu baru saja mau berhenti—di depan pintu utama
hotel—Windy pun menaruh ponselnya di paha. Kala itulah, untuk pertama kalinya (sejak
berangkat tadi), Windy mulai melihat full ke arah Josh. Menatap Josh
dengan benar tanpa terdistraksi oleh ponsel.
“Josh…?” panggil
Windy tiba-tiba. Nadanya terdengar manja.
“Ya?”
Josh menoleh, memberi perhatian penuh. Nada manja Windy itu hampir membuat Josh
meleleh di tempat.
“Minggu
depan, hotel ngadain acara anniversary,” ujar Windy.
“Oh
ya?” Mata Josh melebar. “Kamu bakal sibuk banget, dong, ya?
“Hm,”
deham Windy. “tapi…aku butuh dress dan sepatu baru. Dress dan high
heels-ku udah lama semua, jadi kayaknya malu banget kalo pake itu lagi. Bisa
nggak kamu beliin aku? Beliin aku, dooongg, Sayang…”
Permintaan
manja itu Windy sampaikan tanpa ragu. Di akhir kalimat, saat memanggil
‘Sayang’, wanita itu mulai memeluk lengan Josh—yang sedang memegang roda kemudi—dari
samping.
Josh
tersenyum saat merasakan pelukan itu. Dia jadi senang dan bersemangat.
Akhirnya, Windy benar-benar fokus berbicara padanya, terutama ditambah dengan
sikap manja wanita itu.
“Boleh,
dong, Sayaaangg,” jawab Josh. “Kamu mau dress yang kayak gimana? Atau
kita mau fitting dulu di butik?”
Begitu
mendengar jawaban Josh, mata Windy langsung berbinar-binar. Wanita itu langsung
cekikikan (semangat sekali), lalu mengeratkan pelukannya pada lengan Josh. “Yang
elegan, Sayang. Bahannya satin atau sutra. Warna nude atau dusty
pink. Aku mau keliatan anggun. Kalo sepatunya…aku mau high heels yang
cocok untuk pesta. Sesuaikan dengan warna dress-nya juga, Sayang. Ukuran
sepatuku 39. Kalo nggak, nanti aku ikut aja pas kamu beliin.”
“Tapi
kamu kayaknya sibuk,” kata Josh.
Windy
menghela napas, lalu mencium pipi Josh sekilas. “Yaa kalau aku sibuk, nanti
kita video call-an aja pas kamu lagi beliin itu.”
Josh
tertawa kecil. Hatinya berbunga-bunga, lalu ia mengangguk. Ia mencubit kecil
hidung Windy. “Oke, deh, Sayang.”
Windy
tersenyum sangat manis—sampai matanya ikut melengkung—lalu ia pun melepaskan
diri dari Josh. “Makasih banyak, ya, Sayang. Kamu perhatian banget, sih? Aku
sayaaaangg banget sama kamu.”
“Iya,
Sayang. Aku aja yang beliin, biar kamu nggak pusing. Mau aku beliin clutch
juga nggak?” tanya Josh dengan antusias.
“Waaaaah!”
respons Windy dengan ceria. “Kamu mau beliin aku clutch juga? Mau,
dongggg! Makasiih, Sayaaang!”
Lagi-lagi,
Windy memeluk Josh. Namun, kali ini, Josh tertawa seraya memeluk Windy balik.
Pelukan itu hanya berlangsung sesaat, tetapi setelahnya, mereka tetap duduk
berhadapan dalam jarak yang dekat. Saling berbicara dengan penuh ketertarikan.
…meskipun
ketertarikannya berbeda arah.
“Ya
udah, aku beliin clutch juga, ya,” jawab Josh dengan lembut. “Aku seneng
bisa beliin kamu.”
“Makasih,
Pacarku Sayang,” ujar Windy.
Pipi
Josh sempat memerah mendengar panggilan baru itu. Sedetik kemudian, Josh
tersenyum dengan penuh kasih sayang…lalu mengangguk. “Sama-sama, Sayang.”
Sebelum
turun dari mobil, Windy mendekati Josh lagi. Dia mengecup pipi Josh pelan, lalu
berbisik, “I love you, Sayang.”
Ah,
Josh senang sekali mendengar tiga kata itu keluar dari mulut Windy.
Ia
benar-benar sedang dimabuk asmara.
Harapan
lama yang akhirnya terkabul.
Penantian
lama yang akhirnya terbayar.
Oh,
rasanya bahagia luar biasa.
Bagi Josh, itu adalah bukti nyata—yang
cukup—bahwa Windy juga mencintainya.
“I
love you too, Sayang,” jawab Josh tanpa ragu. Wajahnya
cerah; matanya berbinar-binar saat melihat Windy turun dari mobil dengan
langkah ringan. Windy menutup kembali pintu mobil setelah melambai pelan pada
Josh. Dari balik kaca, Windy tampak berjalan memasuki hotel dengan santai.
Josh
tersenyum lembut; ia memandangi Windy—sampai wanita itu hilang di balik pintu
kaca hotel—lalu dia pun kembali menjalankan mobilnya.
******
Sore
ini, Josh kembali menjemput Windy. Di mobil, dia mengangguk-angguk, bersiul,
dan mengetukkan telunjuknya di permukaan roda kemudi sambil berkendara. Dress,
high heels, dan clutch yang ia belikan untuk Windy (tadi siang)
sudah ada di jok penumpang belakang.
Well,
tadi
siang, dia bertelepon dengan Windy. Video call-an untuk memilih dress,
high heels, dan clutch itu. Kebetulan, hari ini Josh memang
tidak ada urusan, jadi dia memutuskan untuk langsung membelikan Windy hari ini.
Windy
memang mengangkat video call-nya. Namun, entah mengapa, selain dari video
call itu, chat-chat Josh sejak pagi (setelah mengantar Windy) tidak
ada yang dibalas. Jangankan dibalas, Windy bahkan tidak membacanya. Semuanya
centang abu-abu.
Josh
baru saja sampai di halaman hotel…dan dia pun memberhentikan mobilnya di sana. Sambil
tersenyum lembut, dia menoleh ke kiri. Ke arah pintu masuk hotel.
Namun,
ternyata, pintu hotel itu terbuka. Tidak banyak orang yang lewat di lobby, tetapi
sebenarnya, mata Josh tidak fokus ke sana. Pria itu langsung melihat ke sebelah
kanan lobby itu. Tempat di mana meja resepsionis berada.
Di
sana, Josh melihat Windy. Wanita itu sedang berdiri di depan meja
resepsionis—bukan di baliknya—dan sudah menggandeng tas, pertanda bahwa dia
sudah mau pulang karena shift-nya selesai. Dia tertawa bersama
teman-temannya di sana, tetapi anehnya…di sampingnya ada seorang pria.
Dia terlihat aktif mengobrol dengan pria itu—mungkin, pria itu sedang
membicarakan sesuatu pada para resepsionis di sana—tetapi ada hal yang sukses
membuat Josh mengernyitkan dahi.
…Windy
terlihat…tertawa lepas. Dia sesekali memeluk lengan pria itu. Terkadang,
dia tertawa di bahu pria itu. Gerak tubuhnya sangat manja dan leluasa. Josh masih
duduk di mobilnya, menonton dari jauh.
Siapa
pria itu?
Tiba-tiba,
Windy melihat ke luar dan menyadari keberadaan mobil Josh. Seketika, dia
melepaskan ‘pegangannya’ pada pria itu, lalu tersenyum ceria. Dia pamit kepada
teman-temannya, lalu berlari ke luar seraya melambaikan tangannya pada Josh.
Josh
turun dari mobilnya; dengan cepat, ia memutari mobil itu dari depan untuk
menyambut Windy. Windy langsung memeluk lengannya. “Sayang! Kamu udah dateng,
yaa?”
Josh
tersenyum, lalu membawa Windy mendekati pintu mobilnya. Josh membukakan pintu
mobil itu, lalu mencium kening Windy. “Iya, Sayang. Kamu udah pulang dari
tadi?”
Windy
tersenyum manis. Wanita itu mengangguk. “Uh-hm. Sekitar sepuluh menit yang
lalu.”
“Ooh…gitu,
ya,” jawab Josh penuh pengertian. “Yuk, pulang.”
Saat
Windy sudah masuk ke mobil, Josh pun menutup pintu mobil itu. Dia berbalik
untuk kembali memutari mobilnya dari depan, tetapi sambil berjalan, dia sempat menatap
ke arah lobby itu lagi.
Dia
langsung bertatapan dengan pria yang berdiri di depan meja resepsionis
itu.
Sebenarnya,
teman-teman Windy juga melihat ke arah Josh. Namun, Josh tanpa sadar langsung
bertatapan dengan pria itu. Mata Josh agak menyipit; dahinya berkerut. Tak bisa
dia pungkiri bahwa agaknya, dia refleks memasang ekspresi kurang setuju. Kurang
suka. Namun, karena tak ingin Windy menunggu lama, dia pun berhenti menatap
pria itu. Dia mengalihkan pandangannya ke teman-teman Windy…lalu mengangguk
sambil tersenyum. Menyapa mereka.
Mereka
pun melakukan hal yang sama.
Akhirnya,
Josh kembali masuk ke mobil. Dia mulai membawa mobilnya keluar dari area hotel
itu.
Begitu
sudah berada di jalan raya, Josh pun memulai pembicaraan dengan Windy. Dia
tersenyum. “Sayang, itu dress, high heels, dan clutch-nya udah
ada di jok belakang.”
Windy
langsung bersemangat. Matanya berbinar-binar. Dia kontan menoleh ke belakang,
lalu memajukan tubuhnya untuk mengambil tas-tas belanjaan itu.
Saat
semua tas belanjaan itu sudah ada di pangkuannya, Windy mengeluarkan isinya
satu per satu.
“Wah,
semuanya bagus banget, Sayaang!” seru Windy. “Ternyata, pas diliat langsung
begini…barang-barangnya jauh lebih bagus. Makasih banyak, Sayaaaang.”
Josh
tersenyum lembut, lalu mengangguk. “Iyaa, Sayang. Sama-sama.”
Windy
memiringkan kepalanya, lalu bertanya, “Tapi serius, deh. Semua pilihan yang
kamu tunjukin pas video call itu bagus banget, lho. Itu pasti udah kamu
pilih duluan, ‘kan, sebelum kamu liatin ke aku? Selera kamu oke banget.”
Josh
tertawa kecil. “Aku pilih yang kira-kira cocok untuk kamu…dan cocok untuk acara
anniversary itu. Aku juga harus cari yang nyaman dipakai.”
Windy
tersenyum. “Kamu perhatian banget, Sayang. Makasih, ya.”
Josh
mengangguk. Hatinya terasa hangat; dia bahagia karena sudah membuat Windy senang.
Sikap Windy juga manis sekali hari ini.
Namun,
tiba-tiba, Josh teringat sesuatu.
Pria
itu.
Karena
ingin tahu, Josh pun bertanya pelan pada Windy, “Tadi…kamu ngobrol sama siapa?
Yang berdiri di sebelah kamu itu.”
Windy
menoleh sejenak ke arah Josh (sejak tadi, wanita itu sibuk mengagumi
barang-barang pembelian Josh). Tiba-tiba saja, di wajahnya muncul warna merah yang
halus waktu ia menyebut, “Oh, yang tadi? Itu salah satu manajer hotel. Kita
lagi ngomongin soal rundown acara.”
“Oh,
manajer, ya. Manajer apa?” kejar Josh.
Windy
tersenyum, lalu mengalihkan pandangannya ke barang-barang pemberian Josh lagi.
“Front Office Manager. Namanya Frans.”
Oh,
ternyata itu manajernya Windy.
Josh
menahan napas sebentar. Nama itu belum pernah ia dengar sebelumnya. Rasa aneh
muncul di dadanya, sebuah rasa yang sulit diberi label. Namun, ia tetap
bertanya. Ia butuh suara, butuh kepastian. Kalau tidak ditanya, ini akan
mengganjal di kepalanya.
“Frans?” ucap
Josh. “Dia sering mampir ke meja resepsionis, ya?”
Windy
memasukkan seluruh barang pemberian Josh ke dalam tas-tas belanja itu lagi. “Nggak
juga, sih, tapi belakangan ini dia sering ngobrol di meja resepsionis.
Ngomongin soal acara anniversary itu. Kita dapat bagian juga untuk
nyiapin acara itu, soalnya.”
“Oh…”
Josh mengangguk. Ada getaran halus di hatinya. Getaran yang masih samar.
“Keliatannya…dia ramah banget sama kalian.”
“He-em,”
deham Windy. “Dia orangnya perhatian. Gampang diajak ngobrol.”
Sebelum
Josh merespons, Windy tertawa pelan; matanya menatap ke jauh ke depan,
seolah-olah tidak benar-benar menatap jalanan. Dia lalu tersenyum lembut.
“Dia tuh…emang ramah. Gampang bikin suasana jadi enak. Terus dia juga…ya…kalau
udah ngomong sama dia, aku ngerasa lebih tenang aja gitu, tiap ngerjain apa pun.”
“Maksudnya…mudah
gimana?” tanya Josh.
Windy
duduk lebih nyaman. Suaranya jadi lembut; ada percikan kasih sayang…yang
keluar tanpa ia sengaja. “Dia tuh…bijaksana banget. Leader yang bagus. Kadang-kadang,
dia suka ngasih ide yang nggak kepikiran sama orang lain. Dia bisa merangkul
anggota-anggotanya di tempat kerja. Bikin semuanya jadi nyaman sama dia.”
“Kamu…keliatan
deket banget sama dia,” ujar Josh pelan. Pria itu tersenyum tipis;
senyumannya tampak pahit. Sebenarnya, dia tak ingin mendengar jawaban
Windy lebih jauh…karena mungkin itu akan menyakitinya, tetapi di sisi lain, dia
masih ingin tahu. Masih ingin percakapan ini berlanjut.
Josh
itu…pacarnya Windy, ‘kan?
Namun,
entah mengapa, saat mendengar ucapan Josh…pipi Windy sempat memerah. Namun,
wanita itu dengan cepat tertawa (untuk menutupi salah tingkahnya). Agak
terdengar dipaksakan, tetapi Josh terbiasa mendengar tawa itu sehingga
insting Josh jadi tumpul.
“Ah,
nggak gitu juga,” kata Windy, masih sambil tertawa. “Kita ngobrol soal kerjaan
aja kok. Kadang-kadang dia bercanda dan aku ikutan ketawa. Ya biasalah.”
Josh
hanya diam. Senyumannya semakin tipis, bahkan hampir tak terlihat lagi.
Bagaikan ada sebuah jarum yang mulai menusuk dadanya pelan-pelan. Pikirannya
mulai ke mana-mana. Namun, dia tak ingin memercayai itu.
Windy
menoleh kepada Josh, lalu memeluk lengan Josh dari samping. Dengan manja, dia pun
berkata, “Kamu jangan salah paham, ya, Sayang. Aku pacarannya sama kamu.”
Akhirnya,
karena Windy memeluk dan mengusap lengannya…serta menatapnya dengan mata bulat
polos itu, Josh pun menarik napas panjang. Dia mengesampingkan seluruh perasaan
tak enak itu…lalu membuang pikiran buruknya. Jahat juga kalo curiga sama
Windy, pikirnya. Dia harus percaya pada Windy. Windy itu orang baik.
Cerah. Tulus.
“Iya,
Sayang.” Josh mengangguk. “Maaf kalo pertanyaanku terkesan kayak nginterogasi
kamu.”
Windy
memiringkan kepalanya dan tersenyum semanis madu. “Nggak apa-apa, Sayang. Percaya
sama aku, ya? Aku cuma fokus kerja kok. Frans cuma manajerku.”
“Hm,”
deham Josh.
Percakapan
pun mengalir lagi. Namun, karena topiknya masih seputar ‘acara anniversary hotel’,
ujung-ujungnya Windy kembali menyebut nama Frans. Soalnya, resepsionis juga
ikut jadi panitia acara dan Frans adalah manajer mereka. Jadi, Windy akhirnya banyak
cerita seputar Frans: bagaimana Frans menawarkan idenya soal lampu, bagaimana
dia berkoordinasi dengan supplier, bagaimana dia membantu menyelesaikan
masalah sound check, dan lain-lain. Setiap kali Windy bercerita soal
Frans, wanita itu tersenyum riang dan pipinya merona sedikit. Namun, kalau
deskripsinya sudah terlalu ‘panjang’, dia langsung mengalihkan pembicaraan.
“Dia
sempet nanya, ‘Kenapa nggak kita taruh lampu di sini aja biar lebih intimate?’,
terus aku mikir, ‘Ooh, iya juga, ya.’ gitu. Bener-bener ada aja idenya,” kata
Windy, kedua matanya berbinar saat menjelaskan itu.
“Terus…tadi
dia juga bilang ke aku kalo dia bakal bantu bagian aku. Aku bilang nggak usah,
terus dia bilang, ‘Ya udah, nanti kalo kamu butuh, tinggal bilang aku.’ gitu. Tulus
banget pokoknya,” tambah Windy.
“Dia
bener-bener terlibat banyak, ya,” komentar Josh, padahal hatinya mulai terasa
sakit. Darahnya terasa…mendidih.
Mengapa
Windy terdengar…kagum sekali pada Frans?
Mengapa
Windy terlihat berbunga-bunga saat membicarakan Frans?
Apa
Windy tertarik pada Frans?
…atau…Josh
saja yang terlalu sensitif?
“Iya,”
jawab Windy. “Kadang-kadang, dia juga bantu kerjaan anggota-anggotanya yang
lain.”
Josh
diam. Rasanya mengganjal sekali; sakit sekali mendengar Windy terus
membicarakan pria lain, tetapi akhirnya…ia memilih untuk menahan semuanya.
…meskipun
mulutnya masih terus ingin memastikan.
“Kamu
yakin semua itu cuma kerjaan?”
Pertanyaan
itu keluar begitu saja dari mulut Josh. Mungkin…karena dia terlalu gelisah.
Windy
mengernyitkan dahi. Wanita itu menatap Josh—terlihat serius sebentar—lalu sedikit
mendengkus. Ekspresinya terlihat tak suka tatkala menjawab, “Iya, Josh.
Kita cuma kerja. Kamu itu pacarku. Nggak perlu khawatir.”
Tahu
bahwa Windy terdengar kesal, Josh pun tak ingin memperpanjang masalah. Ia tak
mau bertengkar dengan Windy. Ia tak mau hal ini membuat Windy marah dan
berakhir mengabaikannya. Ia tak mau kehilangan Windy juga.
Akhirnya,
meskipun pikirannya sudah kacau balau, meskipun hatinya terasa perih, meskipun
tangannya berakhir mencengkeram setir, Josh mencoba untuk tersenyum.
Ia
mulai mengganti topik.
“Ukuran
sepatunya pas, ‘kan?”
Windy
mengangguk. Tiba-tiba, karena membahas sepatu, wanita itu jadi tersenyum riang
lagi. “Pas. Aku suka. Kamu pinter milihnya, Sayang.”
Suasana
jadi sedikit mencair. Windy menyentuh pipi Josh pelan, “Makasih, ya. Kamu perhatian
banget sama aku.”
“Ya…aku
mau nyenengin kamu,” kata Josh. Untuk sementara, sikap manis Windy mampu
meredam kegelisahannya.
Di
akhir perjalanan, ketika mobil hampir sampai di depan rumah Windy, Josh mengucapkan
pertanyaan terakhir yang sejak pagi sudah mengusiknya. Suaranya terdengar pelan
dan hati-hati saat bertanya, “Kamu…kenapa nggak bales chat aku seharian
ini?”
Windy
menghela napas panjang. Wanita itu mengalihkan pandangannya ke luar jendela,
lalu diam-diam memutar bola matanya. “Hari ini hectic banget, Sayang.
Aku nggak buka WA. Banyak yang harus kupikirin. Nanti di rumah aku liat chat-nya,
jadi jangan khawatir. Kan kamu tau kalo aku sayang sama kamu.”
“Aku
cuma pengin tau aja, Win,” ujar Josh jujur. “soalnya tadi kamu bisa angkat video
call aku.”
Windy
menghela napas, lalu menatap Josh. “Ya itu, kan, karena aku udah tau kalo kamu video
call untuk belanjain aku. Aku cuma fokus kerja, Sayang. Aku bukannya sengaja
nggak balas. Aku emang nggak buka WA seharian ini. Jangan bikin aku jadi jelasin
hal kecil gini, oke? Intinya, pacarku itu kamu, Josh. Bukan Frans, bukan orang
lain. Pacarku itu kamu seorang.”
Ekspresi
Windy terlihat separuh memerintah dan separuh manja. “Kamu harus ngerti,
ya, Sayang?”
Akhirnya,
setelah beberapa detik hanya diam…
…Josh
pun mengangguk.
“Ya
udah. Aku ngerti.”
Windy
pun tersenyum manis—sangat manis dan cerah, seperti matahari—lalu mencondongkan
tubuhnya ke arah Josh. Dia memberi Josh sebuah kecupan singkat di pipi; sebuah
cap manis yang selalu sukses ‘menenangkan’ Josh. “Thanks,
Sayang.”
Begitu
sampai di depan rumah Windy, Josh pun menghentikan mobilnya. Windy pamit
singkat, turun, lalu melambaikan tangannya kepada Josh sebelum akhirnya membuka
pagar rumah.
Saat
pagar itu kembali tertutup—dan Windy menghilang dari pandangannya—Josh diam
sebentar. Pria itu duduk di mobilnya…sambil menatap pagar hitam itu. Perasaannya
campur aduk. Pikirannya kembali…melanglang buana.
Tak
lama kemudian, dia pun menghela napas…dan pulang.
******
Langit
sudah gelap saat Josh sampai di depan rumahnya. Setelah perjalanan hari itu, tubuhnya
terasa berat. Rasanya banyak sekali hal yang terjadi, melelahkan
sekali, padahal kenyataannya…hari ini dia tak ada kesibukan apa pun selain
mengantar-jemput Windy dan berbelanja untuk Windy.
Ia
berhenti sejenak di depan pintu, memegang gagang pintu itu tanpa segera
membukanya.
Perasaannya
saat itu tidak sederhana. Benar-benar…sulit dijelaskan.
Ada
sesuatu yang hangat. Perasaan bahagia kecil yang muncul tiap kali ia
menghabiskan waktu dengan Windy. Ia masih bisa merasakan kecupan Windy di
pipinya, suara manja Windy ketika meminta sesuatu padanya, dan bagaimana Windy
tersenyum riang ketika ia menyanggupi permintaan wanita itu.
Namun,
di balik kehangatan itu, ada pula rasa sakit, kegelisahan, dan kesunyian…yang
menekan dada Josh. Bayangan sosok Windy di lobby hotel tadi sore kembali
terlintas di otak Josh: cara Windy berbicara dengan Frans, sorot matanya yang
terlihat begitu bahagia, tawanya yang lepas, kedekatannya dengan Frans,
semuanya seakan-akan mau memberitahu sesuatu yang tak ingin Josh dengar. Setiap
kali mengingat perbedaan antara ekspresi Windy di hotel dan di mobilnya, ada
rasa tidak enak yang sulit ia buang meskipun sejak tadi ia sudah berusaha denial
berkali-kali.
Semua
itu bercampur. Hangat dan dingin. Bahagia dan curiga. Senang dan nyeri.
Josh
menghela napas panjang. Akhirnya, dia pun membuka pintu rumahnya.
Rumah
itu gelap.
Sunyi.
Tak
ada apa pun yang menyambutnya selain udara dingin yang mengisi ruang tamu. Namun,
ia tak langsung menyalakan lampu. Ia hanya berdiri sejenak di ambang pintu,
membiarkan kegelapan itu menyelimuti tubuhnya, seperti memberi ruang bagi
pikirannya untuk mencecap segala perasaan yang belum sempat ia hadapi.
Ia
seperti…ingin leluasa memikirkan seluruh kegelisahannya terlebih dahulu.
Di dalam kegelapan, biasanya…kau bisa lebih fokus dalam merefleksi dirimu.
Merenungkan semuanya.
Josh
pun melangkah masuk. Ia menutup pintu rumahnya perlahan, lalu berjalan tanpa
suara menuju sofa di ruang tamu. Rumah itu berada dalam keheningan total, hanya
terdengar suara kunci yang Josh letakkan di atas meja.
Josh
duduk di sofa itu. Kepalanya bersandar. Matanya terpejam sebentar.
Dia
lelah.
Bingung.
Namun,
ya…sedikit bahagia juga.
Setelah
merasa sedikit tenang, Josh pun meraih ponsel yang ia simpan di saku celananya.
Ia membuka kunci layar, lalu cahaya putih dari ponsel itu menyinari wajahnya
dalam ruangan yang masih gelap.
Ia
membuka aplikasi WhatsApp.
Ternyata,
pesan-pesannya sejak pagi tadi…
…masih
belum dibaca oleh Windy.
Masih
centang dua, abu-abu. Tidak berubah.
Josh
menatap chat itu selama beberapa detik, seolah-olah menunggu warna
centang itu berubah menjadi biru. Namun, tidak ada yang terjadi.
…bukankah
Windy sudah ada di rumah sejak tadi?
Apa
Windy sedang mandi?
Josh
lantas membuka chatroom-nya dengan Windy. Dia men-scroll ke atas,
memeriksa satu per satu pesan yang ia kirimkan. Semuanya masih belum terbaca.
Namun,
ada sesuatu yang Josh lihat…yang sukses menikam dadanya.
Membuat
jantungnya seolah-olah tertohok lembing tajam.
Windy
sedang online. []





Oke, Kei emang nggak muncul di chapter ini, tapi ayo pasang fotonya biar kita agak healing dari kelakuannya Windy wkwkwkw








