Chapter
5 :
Kane
Houston
******
PEMAKAMAN
Austin
dan Castro dilaksanakan di hari yang sama, yaitu tiga hari setelah Castro
kecelakaan mobil. Mereka berdua dimakamkan di Cloverdale, salah satu kota di
Kabupaten Sonoma, karena keduanya berasal dari kota yang sama.
Banyak
sekali orang yang menghadiri acara pemakaman itu, terutama dari asosiasi
renang. Ada pengamanan polisi di sekitar pemakaman untuk mengantisipasi kematian
selanjutnya. Keenam sisa peserta (yang ikut ke vila milik Keith), Dokter Gray,
dan Pelatih Andrew pun tentunya menghadiri prosesi pemakaman itu. Berita soal
kematian Bryant, Lucas, Austin, dan Castro sudah menyebar luas di Kabupaten
Sonoma, bahkan sampai ke kabupaten-kabupaten lain. Berbagai baliho muncul di
jalanan, berbagai karangan bunga dikirimkan, semuanya berisi belasungkawa
terhadap Austin dan Castro. Semua baliho dan karangan bunga itu ada yang
ditujukan kepada keluarga para almarhum… dan ada juga yang diberikan kepada
Team Sonoma.
Group
chat renang yang mereka ikuti, status-status anggota tim renang
lain, posting-an di sosial media, semuanya diramaikan dengan ucapan
turut berduka cita. Kejadian ini juga masuk berita, di televisi dan di koran.
Mereka adalah atlet-atlet yang masih muda, tetapi malah meninggal satu per satu
secara beruntun dalam waktu kurang dari satu minggu. Di group chat,
asosiasi renang California telah memberikan keputusan berupa:
Dengan
berat hati, mereka akan mencari pengganti untuk kesepuluh orang yang
ikut ke Healdsburg, termasuk Pelatih Andrew, karena suasananya masih sangat
kacau, penuh duka, dan tidak aman.
Berita
ini juga telah diberitahukan kepada Pelatih Andrew melalui panggilan telepon.
Berita
ini membuat orang-orang yang tersisa (enam peserta yang masih hidup) sangat
frustrasi. Mengikuti turnamen ini adalah mimpi mereka; selama ini, mereka
sangat menantikan turnamen tersebut dan sangat ambisius untuk menang. Semua
harapan itu pupus seketika, tak bersisa. Runtunan peristiwa ini sukses mengosongkan
jiwa mereka, membunuh mereka dari dalam sebagai perenang yang sungguh-sungguh
mencintai renang. Namun, tak ada yang bisa membantah keputusan dari asosiasi
karena itu adalah yang terbaik. Faktanya, situasi memang masih tidak aman (bisa
jadi mereka adalah korban selanjutnya) dan di saat yang sama, mereka juga masih
dicurigai oleh polisi. Orang-orang yang mendengar kasus ini pasti berpikir
bahwa salah satu dari merekalah yang ‘bertanggung jawab’ dalam semua kematian
beruntun ini. Jadi, mereka masih akan terus diawasi oleh polisi… dan diinterogasi
secara berkala.
Bayangkan
betapa beratnya suasana duka di pemakaman Austin dan Castro saat ini. Pertama:
keenam orang itu sedang menghadiri pemakaman dua teman mereka sekaligus
(dan jangan lupakan bahwa mereka juga sudah kehilangan Bryant dan Lucas
sebelumnya). Kedua: mereka telah kehilangan harapan untuk mengikuti
turnamen renang nasional. Kehilangan ‘panggung’ mereka sebagai atlet di tahun
ini. Ketiga: mereka akan sering berurusan dengan polisi. Keempat: ada rasa takut luar biasa yang
terus menghantui mereka. Rasa takut bahwa mungkin saja… semua runtunan kematian
ini belum selesai. Bisa jadi, mereka juga akan mati. Meskipun semuanya
terlihat seperti ‘bunuh diri’ atau ‘kecelakaan’, apakah logis semuanya bisa
terjadi secara beruntun seperti ini?
Mental
mereka benar-benar hancur. Mereka semua menghadiri pemakaman itu dengan lelah,
ekspresi mereka sebagian tampak sendu dan sebagian lagi kosong seolah-olah tak
ada motivasi hidup. Chris bahkan sampai menangis. Walaupun akan ada
turnamen lagi di masa depan, belum tentu mereka terpilih lagi. Sebenarnya, ini
adalah kesempatan emas yang bisa jadi batu loncatan untuk karir mereka sebagai
atlet renang.
Waktu
itu, saat mendengar berita bahwa Castro kecelakaan dan mobilnya menabrak pohon,
Detektif Jace langsung memerintahkan mereka semua untuk pulang. Mereka pulang
tidak sendirian, melainkan dikawal oleh polisi dari vila langsung menuju ke rumah
masing-masing. Detektif Jace memerintahkan agar semua mobil, perlengkapan
renang, ponsel, dan koper mereka tetap berada di vila untuk diperiksa (karena
beliau ingin mencari residu sianida yang dipakai Austin atau bukti sabotase
mobil Castro. Mereka juga sebenarnya tak boleh menyentuh barang-barang itu
karena dianggap sebagai bagian dari TKP/area investigasi). Jadi, mereka pulang
hanya dengan pakaian yang melekat di badan. Mereka pulang dalam keadaan trauma,
kehilangan teman, dan tanpa barang pribadi.
Setelah
mobil polisi yang mengantar para atlet itu pergi meninggalkan vila, jenazah
Austin dan Castro pun dibawa ke kantor koroner Healdsburg. Lokasi kecelakaan
Castro juga langsung ditutup total. Jenazah keduanya dibawa untuk autopsi fisik
dan pengambilan sampel toksikologi.
Selama
tiga hari itu, sudah banyak hal yang terjadi. Dari sisi polisi, mereka memeriksa
sidik jari pada bungkus sianida yang ada di kantung celana Austin dan di tempat
sampah. Mereka juga memeriksa konsentrasi sianida dalam tubuh Austin dan
mencocokkannya dengan sisa minuman di teko serta bungkus yang ditemukan di
kantung celananya. Selain ponsel semua orang yang masih hidup, ponsel Bryant,
Lucas, Austin, dan Castro juga disita untuk melihat riwayat pesan atau telepon
terakhir. Mereka perlu tahu juga dari mana Austin mendapatkan sianida tersebut.
Untuk
Castro, tim mekanik kepolisian akan memeriksa rem, kemudi, dan ban mobil Castro
untuk melihat apakah ada sabotase sengaja yang menyebabkannya menabrak pohon. Hasil
autopsi fisik juga dilakukan untuk memastikan Castro meninggal murni karena
benturan (trauma tumpul) atau ada penyebab lain sebelum kecelakaan terjadi
(misalnya, apakah dia juga sempat ‘menelan’ sesuatu saat menyetir). Mereka juga
menggeledah barang-barang Castro di mobil untuk mencari petunjuk tambahan.
Jace
sudah memegang profil lengkap semua orang yang ikut ke vila Keith, termasuk
catatan kriminal atau masalah pribadi di antara mereka (ini didapatkan atas
koordinasi dengan polisi dari kota tempat masing-masing peserta tinggal, agar
ditanyai dari sana saja), sebab Jace masih harus berada di Healdsburg untuk
menginvestigasi TKP. Karena tidak ada CCTV, Jace dan para polisi di sana
melakukan penggeledahan menyeluruh di seluruh sudut vila Saunders untuk mencari
sisa racun, tali, atau barang bukti lain yang mungkin disembunyikan pelaku di
kamar-kamar peserta.
Karena
penyebab kematian Austin adalah racun (sianida), autopsi dilakukan dengan cepat
untuk mengambil sampel toksikologi. Di California, setelah sampel diambil,
jenazah bisa langsung dilepaskan ke keluarga. Karena keluarga Austin
(orangtuanya) sudah ada di lokasi Healdsburg waktu itu, proses birokrasinya
jadi lebih cepat. Selain itu, kematian akibat kecelakaan lalu lintas traumatis
(kematian Castro) juga biasanya lebih cepat ditangani. Karena dia meninggal di
tempat dengan luka fisik yang jelas, koroner hanya perlu memastikan tidak ada
zat asing di tubuhnya (alkohol/narkoba/zat tertentu). Setelah semua sampel
diambil (darah, jaringan tubuh), jenazah pun dilepaskan ke rumah duka (funeral
home) atas izin Jace.
Sayangnya,
Jace baru ‘ditugaskan’ memegang kasus ini sejak kematian Austin. Waktu kematian
pertama (Bryant), Mr. Benjaminlah yang memegang kasus ini, dan kasus itu
ditetapkan sebagai kecelakaan. Lucas juga kematiannya tidak dilaporkan
ke kepolisian, jadi sebenarnya Jace cukup kesal, sampai-sampai dia menekan
kantor koroner untuk bekerja cepat pada Austin dan Castro. Soalnya, dia merasa
seperti ada ‘lubang hitam’ di dalam penyelidikannya. Dia tak bisa membongkar
kuburan Bryant atau Lucas karena proses ekshumasi (pembongkaran makam)
memerlukan perintah pengadilan yang sangat kuat. Jace harus membuktikan kepada
hakim bahwa ada kesalahan fatal dalam autopsi sebelumnya atau ada bukti baru
yang sangat telak. Lagi pula, mengurus surat perintah ekshumasi biasanya
memakan waktu berminggu-minggu.
Sepulangnya
keenam peserta yang tersisa (serta Dokter Gray dan Pelatih Andrew) dari
pemakaman itu, mereka semua langsung dikawal untuk pergi ke kantor polisi. Jace
sudah datang ke Cloverdale (berkoordinasi dengan polisi di sana) untuk
melakukan penyelidikan di kantor polisi Cloverdale. Jace akan menanyai mereka
satu per satu di dalam ruangan yang tertutup.
Untungnya,
mereka semua kooperatif. Mereka datang ke kantor polisi dan menunggu giliran
mereka untuk ditanyai. Lagi pula, apa yang bisa mereka lakukan? Walau lelah
begitu, mereka sudah tahu bahwa situasi seperti inilah yang akan mereka hadapi.
Sesampainya
di kantor polisi Cloverdale, orang pertama yang dipanggil masuk ke ruangan
adalah Keith, anak sang pemilik vila.
Keith
masuk ke ruang interogasi itu dengan wajah yang pucat. Ada kantung hitam di
bawah matanya, matanya juga bengkak dan merah. Dia seperti kurang tidur
berhari-hari… dan menangis terus-menerus.
Meskipun
di pemakaman tadi dia tidak menangis… dialah yang terlihat paling memilukan di dalam
diamnya. Dia diam, menunduk, matanya kosong, dan wajahnya pucat. Bagaimana
tidak? Ada empat temannya yang meninggal di vila milik keluarganya. Dia
merasa bersalah setengah mati, tetapi di sisi lain juga bingung mengapa
ini semua terjadi.
Hal
pertama yang Keith lihat tatkala memasuki ruangan itu adalah Jace yang sedang
duduk di balik sebuah meja panjang. Ruangan itu tidak terlalu besar. Dindingnya
berwarna hitam. Posisi meja itu ada di ujung ruangan. Jace menatap Keith dengan
saksama; matanya memenjarakan Keith dari ujung sana. Di hadapannya, ada sedikit
tumpukan berkas yang rapi serta sebuah pena.
“Selamat
siang, Mr. Saunders.”
Sapaan
singkat dari Jace itu terdengar seperti dentang lonceng kematian di
telinga Keith. Suaranya rendah, tetapi tajam dan bergema di ruangan yang sempit
itu. Membelah kesunyian. Suara itu membuat Keith tersentak kecil, seolah-olah
baru saja ditarik paksa dari kekosongan pikirannya sendiri.
Keith
akhirnya mencoba untuk fokus… meskipun harus memaksa dirinya sendiri. Dia pun
mengangguk.
“Yes,
Mr.
Corbin.”
Keith
berjalan mendekati meja itu. Di sepanjang jalan, Jace tidak berhenti
memperhatikannya.
Begitu
Keith duduk di hadapannya, Jace pun membuka suara lagi, “I apologize for
making you all come here so soon after the funeral.”
Keith
mengangguk mengerti. “It’s fine, Mr. Corbin. I understand.”
Jace
mengangguk pelan. “Ini takkan lama karena kalian juga telah banyak diinterogasi
oleh polisi Cloverdale. Data itu sudah ada di tanganku. Semua kronologi
kejadian dan bukti yang sudah kudapat saat ini akan menjadi dasar
pertanyaan-pertanyaanku. Bisa kita mulai?”
“Ya,”
ujar Keith. “Silakan dimulai, Pak.”
Jace
mulai membuka berkas yang ada di hadapannya, halaman pertama.
“I'm
going to call you Keith from now on. I hope you don't mind,” ujar
Jace.
“Yes.
No problem,” jawab Keith.
Jace
mengangguk.
Dua
detik kemudian, pria itu mulai membicarakan sesuatu.
“Omong-omong,
aku telah mengonfirmasi bahwa sianida yang ditemukan di teko, tempat sampah,
dan kantung celana Austin itu… identik.”
Keith
menunduk. Mendengar nama Austin… membuatnya kembali sedih dan merasa bersalah.
Napasnya tersekat di tenggorokan. Rasanya, dia ingin menebus semua kematian itu
dengan nyawanya sendiri. Andai waktu bisa diulang, dia takkan menawarkan
vilanya kepada mereka semua.
Austin
adalah teman terdekatnya. Sahabatnya. Namun, Austin mati di vilanya…
Keith
benar-benar terpukul.
Jika
sianida yang ditemukan itu identik… berarti sianida itu jugalah yang membunuh
Austin.
Jace
mulai bertanya, “Kau adalah orang terakhir yang melihat Austin packing. Sianida
itu ditemukan di kantung celana yang dia pakai. Saat dia packing, apakah
kau melihat dia mengambil sesuatu dari laci atau tempat lainnya sebelum ke
dapur? Karena bungkus sianida itu tidak berkerut sama sekali, seolah-olah baru
diletakkan di sana setelah dia meninggal, bukan saat dia sibuk packing
dan bergerak."
Keith
langsung menatap Jace. Matanya melebar sempurna. “W—What…?! A—Apa maksud
Anda…?!”
“Sianida
itu kemungkinan baru ditaruh di kantung celananya,” jelas Jace.
Wajah
Keith semakin pucat. Dia menggeleng tak percaya. “N—No way… Bagaimana
mungkin?"
Jace
mengangguk. “Aku masih menyelidikinya. Apakah kau melihat dia mengambil sesuatu
sebelum ke dapur?”
“Tidak…”
Keith menggeleng. “Kami sedang mengobrol sebelum dia pergi ke dapur. Dia tidak
mengambil apa pun.”
“Baiklah…”
Jace mencatat kesaksian itu seraya melihat apa yang ada di filenya selanjutnya.
“Kau bilang, dia sangat menyesali keputusannya saat itu, yang membuat Lucas
meninggal dunia. Ini terlihat seperti dia memang sangat terpukul sebelum
akhirnya memutuskan untuk meminum racun. Apakah menurutmu dia adalah jenis
orang yang mudah menyerah seperti ini?”
“Tidak.
Dia bahkan sangat mengotot untuk tetap latihan di villa walaupun Bryant
meninggal di kolam renang, walaupun kejadian itu membuat kami semua shock.
Dia sangat ambisius. Ya, dia memang sedang terpukul saat itu, tetapi tak
mungkin dia meminum racun dengan sengaja,” jawab Keith sambil menggeleng.
“Sepuluh
menit. Itu waktu yang lama hanya untuk minum air. Kudengar, kau baru menyusulnya
setelah sepuluh menit. Selama sepuluh menit itu, koridor lantai dua sangat sepi,
‘kan? Apakah kau mendengar suara pintu lain terbuka? Atau suara langkah kaki
yang terburu-buru? Karena seseorang harus memasukkan bungkus utuh itu ke saku
Austin setelah dia tumbang.”
Keith
kembali menggeleng. “Tidak… aku tidak mendengarnya. Dapur ada di lantai satu.
Kalau ada orang dari lantai dua yang naik turun untuk meletakkan racun itu di
saku Austin, lalu membuka dan menutup pintu, mungkin aku akan mendengarnya.
Namun, kalau dia hanya melangkah atau membuka dan menutup pintu di lantai
satu, aku takkan bisa mendengar apa pun, kecuali kalau dia membanting pintu
itu.”
“Apakah
Austin memakai sarung tangan saat kau melihatnya packing? Atau mungkin… dia
membawa sarung tangan? Soalnya, ada keanehan. Bagaimana seseorang bisa
mengambil bungkus racun dari sakunya, menuangkannya, tetapi tidak meninggalkan
sidik jari pada bungkus itu? Apakah Austin memakai sarung tangan saat kamu
melihatnya packing?"
“Tidak,
sir,” jawab Keith. “Aku tak tahu dia membawa sarung tangan atau tidak,
tetapi aku ingat bahwa saat packing, dia tidak memakai sarung tangan.”
“Okay—”
“But,
Mr. Corbin,” potong Keith. Matanya melebar. Suaranya
sedikit bergetar. “Dari semua yang Anda katakan, sepertinya ini… kasus
pembunuhan, ya? Berarti, salah satu dari kami adalah—”
Jace
begitu tenang, tetapi juga begitu serius saat mengatakan, “Ya. Kemungkinan
besar begitu. Namun, aku belum punya bukti kuat soal siapa yang melakukannya.”
Keith
spontan menunduk dan mengusap rambutnya ke belakang dengan frustrasi. “Oh,
Tuhan… Bagaimana mungkin ini bisa terjadi…?”
“Maka
dari itu, kita harus selidiki ini, Keith,” ujar Jace. “Aku telah memeriksa
ponsel Austin dan dia tak pernah membeli racun ini secara online atau
melalui siapa pun. Kalau dia memang bunuh diri, berarti dia membeli racun itu
secara langsung, tanpa membuat janji sama sekali dengan sang penjual.”
Keith
masih menunduk.
“Sekarang,
aku ingin bertanya padamu soal kematian lainnya,” ujar Jace.
Pelan-pelan, Keith pun mulai menatapnya kembali.
Tanpa
menunggu Keith mengiyakan, Jace lantas bertanya, “Ini soal Bryant Thompson.
Kaulah yang mematikan lampu dan mengunci pintu kolam malam itu. Akan tetapi, Chris
menemukan pintu itu sedikit terbuka dan lampunya menyala. Apakah kau yakin tak
ada kunci cadangan yang disimpan di area publik vila yang bisa diakses siapa
pun? Atau apakah pintu kolam itu sebenarnya rusak dan bisa dibuka dari luar
tanpa kunci?"
Mata
Keith membulat. Napasnya tertahan.
Astaga.
Benar juga.
Dia
baru sadar ini!
Mengapa
Bryant bisa masuk ke sana malam itu???!
Mengapa
dia tak ingat? Apakah karena terlalu shock saat itu?!!
Keith
terdiam, mematung total selama lima detik.
“Keith?”
Jace memiringkan kepala, alisnya menyatu.
Keith
masih diam.
Jace
semakin heran. “Keith…?”
“…benar…”
bisik Keith.
Kening
Jace berkerut. “What?”
“Benar…”
ucap Keith dengan lirih. Dia seperti dihantam oleh kesadarannya sendiri yang
sepertinya hilang beberapa hari terakhir. “Aku… aku telah mengunci pintu itu. Mengapa…?”
“…Apakah
kau punya kunci cadangan?” tanya Jace.
Tiba-tiba
saja, Keith mengangguk cepat. Dia seperti jadi panik. Seperti tersambar petir
di siang bolong. “Ya! Aku punya kuncinya—astaga—aku punya kunci cadangan seluruh
ruangan! Oh, Tuhan—bagaimana ini—astaga!! Aku—apakah seseorang mengambil
kunci itu?!! Ya Tuhan, jadi—”
Jace
memegang bahu Keith. “Keith, calm down. Di mana kau meletakkan kunci
itu? Karena aku serta tim kepolisian lainnya tak bisa menemukan kunci itu saat
kami menginvestigasi TKP beberapa hari terakhir.”
“Astaga…”
Keith mengusap wajahnya dengan frustrasi. “Aku memang tidak mengecek kunci itu…
Aku ingat bahwa aku selalu meletakkannya di laci nakas kamarku, tetapi aku tak
pernah mengeceknya waktu itu karena terlalu sibuk memikirkan kematian-kematian
yang terjadi.”
Jace
mengangguk. “Kami sudah memeriksa nakas di kamarmu. Tidak ada kunci itu.
Berarti, memang ada yang mengambilnya.”
Keith
memijit keningnya. Dia hampir gila memikirkan ini semua.
“Sekarang…
kita pindah ke Lucas Anguiano,” ujar Jace.
Begitu
nama Lucas disebut, terlintas di otak Keith bagaimana keadaan Lucas waktu itu.
Lucas tergantung… di kamar mandi. Keith adalah salah satu orang yang membantu
menurunkan tubuh Lucas. Ingatan itu membuat hatinya teriris.
Jace
pun mulai bertanya.
“Kau
membantu menurunkan jenazah Lucas. Sebagai atlet, kemungkinan besar kau tahu
bobot tubuh temanmu. Apakah saat kau menopang tubuhnya, lehernya terasa sudah
kaku atau masih lemas? Aku perlu tahu apakah dia baru saja 'naik' ke
tali itu tepat sebelum kau masuk.”
Keith
lagi-lagi membulatkan mata. Ada lembing yang seolah-olah menohok jantungnya.
“Sir—”
“Aku
tahu ini terdengar kejam, Keith,” ujar Jace. “Namun, aku perlu tahu. Aku
akan mencocokkan keteranganmu dengan keterangan teman-temanmu.”
“Aku…
seingatku… lehernya belum kaku. Sewaktu kuangkat… lehernya… lunglai…” Ingatan
itu membuat Keith merasa pedih di hatinya. Kepalanya sakit. Itu adalah memori
yang tak mau dia ingat lagi, sebenarnya. Menyaksikan kematian bertubi-tubi
seperti ini jelas membuat mentalnya terganggu.
“Baiklah.”
Jace mengangguk. “Sekarang, soal Castro. Tim forensik kepolisian kami menemukan
bahwa kabel rem mobil Castro sengaja dirusak dengan alat pemotong.
Potongannya sangat bersih. Presisi.”
Lagi-lagi,
jantung Keith serasa berhenti berdetak.
Apa?
Rem?
Sengaja
dirusak?!
Siapa…?
Siapa
yang merusaknya?!
Kapan?!
“Seseorang…
menyabotase mobilnya?” tanya Keith. Dia sudah pucat, tetapi gilanya, sekarang
seperti tak ada darah lagi yang mengalir di wajahnya. “Remnya dirusak…?”
“Yes,”
jawab
Jace. “Potongannya sangat presisi hingga sulit disadari. Namun, itu memang
dirusak. Butuh keahlian dan ketelitian yang tinggi untuk melakukan itu,
terutama dalam waktu yang singkat. Aku tahu bahwa Castro membawa mobil itu saat
kalian kembali ke vila dan waktu itu tak terjadi apa-apa. Namun, tiba-tiba
saja, saat Castro kabur sendirian, dia kecelakaan.”
“Berarti…”
Keith menyatukan alis. Dia berpikir keras. “…seseorang merusak remnya saat kami
sampai di vila, packing bersama… sampai saat Anda datang dan
menginterogasi kami di ruang tamu ketika Austin meninggal...?”
Jace
mengangguk. “Tepat sekali. Awal timeline-nya adalah saat kalian masuk ke
vila itu kembali. Kalau dia fokus meracuni Austin terlebih dahulu, berarti dia
baru merusak mobil Castro saat kalian sedang panik akibat menemukan mayat
Austin. Atau ketika kami datang memeriksa. Namun, kalau dia fokus ke dua-duanya—yakni
Austin sekaligus Castro—maka dia memberikan sianida terlebih dahulu ke teko
dapur, lalu pergi merusak rem mobil Castro, atau sebaliknya. Dalam waktu cepat.
Namun, untuk melakukan keduanya, berarti dia menghilang cukup lama.
Teman sekamarnya akan tahu bahwa dia cukup lama menghilang saat packing bersama.”
Oh,
astaga. Detektif Jace sudah mempersempit kemungkinan.
Keith
hanya bisa diam. Dia shock, tetapi di sisi lain dia pelan-pelan paham
dengan semua yang Jace katakan. Semuanya masuk akal. Benar. Dia sekarang jadi
merasa "telanjang" karena si pembunuh punya akses ke seluruh sudut vilanya
sendiri.
“Sekarang,
berhubung vila itu tak punya CCTV sama sekali, bahkan sampai ke parkirannya,
maka pertanyaannya adalah: apakah kau tahu siapa di antara kalian yang
tahu cara kerja mesin… atau pernah belajar sesuatu yang relevan?” tanya Jace.
Keith
menggeleng. “Tunggu. Aku tak mau menuduh seseorang, sir, aku—"
“Aku
tidak membuatmu menuduh siapa pun. Aku hanya ingin tahu. Kalau ternyata
kau salah, aku takkan memperpanjang ini,” jelas Jace.
Keith
menghela napas. Ini benar-benar menyesakkan.
Lama
Keith terdiam…
…sampai
akhirnya, dia pun membuka suara.
“Aku
tak tahu siapa yang pintar melakukan itu. Sejauh ini, obrolan kami belum pernah
sampai ke sana,” jelas Keith. “Kebanyakan dari kami sebenarnya baru bertemu,
karena sama-sama terpilih untuk mewakili Sonoma dalam turnamen renang. Namun,
kalau Anda menyuruhku untuk menebak lewat sifat, mungkin aku akan
menyebut orang yang paling terlihat tenang. Ibarra Silva.”
Sebelum
Jace sempat merespons, Keith langsung melanjutkan, “Namun, aku tak yakin Ibarra
pelakunya. Dia memang terlihat tenang dan kaku, tetapi dia juga orang yang
paling peduli dengan teman-temannya. Sulit untuk memercayai bahwa dialah
pelakunya. Dialah yang paling ingin berinteraksi dengan kami meskipun dia sulit
bersosialisasi.”
“Kita
tak tahu isi pikiran orang lain, Keith. Dalam penyelidikan, aku tak menilai
seseorang dengan perasaan,” ujar Jace. “Aku tak bisa memercayai siapa pun
sebelum aku tahu siapa pelakunya.”
Jace
diam. Dia menatap Keith dengan tajam. Intens.
“…termasuk
kau,” lanjutnya.
Tatapan
dan kata-kata itu seolah-olah menikam Keith dari dalam. Keith duduk di
sana… tetapi tubuhnya terpaku. Tatapan Jace sukses memenjarakannya. Tangan dan
kakinya seolah-olah kaku. Meneguk ludah pun rasanya sulit.
Beberapa
detik kemudian, akhirnya Jace melepas tatapannya. Pria itu menatap
berkas-berkas yang ada di hadapannya, lalu berkata, “Baiklah. Untuk sekarang, that’s
all I want to know, Mr. Saunders. Terima kasih karena sudah mau kooperatif.
Sekali lagi, aku turut berduka cita untuk sahabatmu, Austin.”
Setelah
Jace mengatakan itu, barulah anggota tubuh Keith terasa bisa bergerak kembali.
Dia tersentak.
“Y—Ya,
Mr. Corbin. Aku juga berterima kasih. Semoga kau bisa menangkap pelakunya
dengan cepat,” jawab Keith.
“Kau
boleh keluar. Tolong panggilkan Chris untukku,” ucap Jace pada akhirnya.
Keith
mengangguk. “Baiklah. Aku permisi dahulu.”
“Okay.
Be careful on your way home.”
Beberapa
saat setelah Keith keluar, Chris pun masuk ke ruangan Jace dengan wajah sembap.
Jace
memperhatikan Chris dan di titik ini, Jace sudah tahu betul bahwa Chris adalah
salah satu anggota yang paling trauma di antara teman-temannya. Dia terlihat
paling terpukul, paling fragile. Rapuh. Dia sering terlihat gemetar, fidgeting,
panik, takut, dan… menangis. Itu bukan tanpa alasan juga, sebenarnya.
Dialah yang menemukan mayat Bryant pertama kali. Dia juga merupakan salah satu
dari orang-orang pertama yang menemukan mayat Lucas. Mentalnya sudah compang-camping.
Mata
Chris merah; dia jelas masih terus menangis. Mungkin, saat menunggu gilirannya
tadi, dia juga menangis. Tubuhnya terlihat lemas.
“Please
have a seat, Mr. Fletcher,” ujar Jace. “I'm sorry
for making you come here like this after you got back from the funeral.”
“It’s
okay, Mr. Corbin…” jawab Chris dengan lemah. Sambil
berjalan, ia menghapus sisa-sisa air matanya.
Begitu
Chris duduk di hadapannya, Jace pun membuka lembaran selanjutnya pada
berkasnya. Informasi-informasi yang sudah dia dapatkan dari polisi-polisi
Windsor saat Chris mereka interogasi.
“Agar
lebih leluasa, bolehkah aku memanggilmu Chris?” tanya Jace.
Chris
mengangguk pelan. “Silakan, Mr. Corbin.”
“Baiklah,”
ujar Jace. “Aku takkan lama. Hanya beberapa pertanyaan.”
“Ya,
Mr. Corbin,” jawab Chris. Dia mencoba untuk menguatkan dirinya, menegapkan
tubuhnya. “Aku tidak apa-apa. Silakan dimulai.”
Jace
mengangguk singkat. “Okay.”
Dua
detik kemudian, pertanyaan pertama dari Jace pun terdengar.
“Chris,
kau adalah orang pertama yang menemukan Bryant. Kau bilang, dia mengambang.
Bryant adalah atlet tingkat nasional. Secara biologis, meskipun seseorang
mabuk, insting bertahan hidup seorang perenang sangatlah kuat. Apakah kau yakin
bahwa dia ‘tergelincir’ atau tenggelam karena mabuk?” tanya Jace.
Chris
teringat kembali bagaimana mata Bryant terarah kepadanya saat mengambang di
air. Hal itu membuat rasa takutnya kembali merayap, membuat traumanya kembali.
Selain takut, dia juga sangat… hancur tatkala mengingat itu. Meskipun dia tak
dekat dengan Bryant, menyaksikan semua itu tentulah… menggoncangkan jiwa.
“Sejujurnya,
itu memang ironis, sir…” jawab Chris. “Aku… sejujurnya tak yakin kalau
Bryant kecelakaan. Sama seperti kami semua, dia adalah atlet renang. Namun,
semua bukti… mengarah ke sana. Seolah-olah Bryant memang meninggal di kolam
karena terlalu mabuk.”
“Apakah
kau melihat seseorang berlari di koridor sayap kiri saat kau pergi ke dapur?”
tanya Jace.
“Aku
sangat mengantuk saat itu, tetapi… sepertinya tak ada siapa pun di koridor
selain aku. Tak ada suara langkah kaki juga. Mengapa Anda menanyakan ini, sir?
Apakah Bryant…” Chris melebarkan mata. Jantungnya berdegup cepat dan tak
keruan. Dia mulai takut mendengar fakta baru yang dia terka-terka sendiri di
kepalanya.
“Kita
tak bisa mengecualikan segala kemungkinan, Chris,” jawab Jace. “Aku perlu tahu
segalanya, terutama aku belum memegang kasus ini saat itu. Di kasus Bryant, Mr.
Benjaminlah yang menanganinya. Bukan aku.”
Chris
mengangguk pelan.
Jace
pun kembali bertanya, “Saat kau berteriak dan membuat semua orang langsung
pergi ke kolam renang, apakah kau melihat ada seseorang yang tidak
hadir?”
Napas
Chris tertahan saat mendengar pertanyaan itu. Pertanyaan Detektif Jace sejak
tadi agaknya lebih mengarahkan kasus Bryant ke arah pembunuhan. Chris
tiba-tiba merasa ngeri tatkala memikirkan bahwa… ada seseorang di antara mereka
yang saat itu baru saja membunuh Bryant.
“A—Aku…”
Suara Chris bergetar. “Aku tak ingat, Mr. Corbin. Aku terlalu ketakutan saat
itu…”
Iya,
benar juga. Apakah semuanya ada di sana saat itu?
Oh,
ya Tuhan.
“Coba
diingat-ingat kembali. Apakah semuanya ada di sana?” tanya Jace lagi.
Chris
menunduk. Dia mengerutkan dahi, mencoba untuk mengingat-ingat dengan baik. Dia
seolah-olah kembali ke masa itu hanya untuk mengingat wajah orang-orang yang
hadir menemuinya langsung di kolam.
Namun,
ujung-ujungnya, Chris gagal.
Beberapa
detik kemudian, Chris pun mulai menjawab, “Aku melihat… Pelatih Andrew. Dokter
Gray. Thomas. Kane. Ibarra. Sepertinya, lebih dari itu. Atau mungkin memang
semuanya ada di sana. Namun, hanya orang-orang itulah yang kuingat…”
Jace
mulai mencatat sesuatu di berkasnya. Setelah itu, dia bertanya lagi, “Kau
sekamar dengan Ibarra, Lucas, dan Thomas. Apakah mereka semua ada di
ranjang saat kau keluar untuk mengambil minum?”
“Ya,”
ucap Chris dengan yakin. “Aku seranjang dengan Thomas dan saat itu Thomas ada
di sebelahku, sedang tidur. Begitu pula dengan Lucas dan Ibarra yang sedang tidur
di ranjang mereka. Aku sempat melihat mereka semua sebelum keluar dari kamar.”
“Oke.
Terima kasih. Sekarang, aku ingin bertanya soal Lucas,” kata Jace.
Chris
menunduk. Dia mulai fidgeting. Dia teringat kembali dengan kondisi Lucas
yang tergantung di kamar mandi saat itu. Dia teringat bagaimana lidah Lucas
terjulur…
Oh,
Tuhan.
"Thomas
adalah orang yang pertama kali membuka pintu kamar mandi dan melihat Lucas, tetapi
kalian bertiga—kau, Thomas, dan Ibarra—masuk ke kamar itu bersama-sama. Saat
kalian masuk ke kamar, apakah kalian mencium aroma yang aneh sebelum Thomas
berteriak?"
“…Aroma?”
Chris mengernyitkan dahi. “Tidak ada aroma apa pun, seingatku. Memangnya…
ada apa dengan aromanya, sir?”
“Aku
hanya ingin memastikan tidak adanya sabotase. Jika ada aroma manis yang
menyengat atau bau kimia pembersih yang tak wajar, itu indikasi kuat adanya
sabotase. Bisa jadi, dia "dipaksa" minum sesuatu sampai pingsan atau teler
sebelum dieksekusi.”
Chris
membelalakkan mata. “T—Tapi, sir—Lucas… Lucas gantung diri saat itu! Dokter—Dokter
Gray bilang, Lucas—”
Jace
menatap Chris dengan tajam. Fokus. Dingin. Setelah itu, dia berucap, “Gantung
diri…”
“…atau
digantung?” lanjutnya.
Bagaikan
ada tombak besar yang menusuk dada Chris saat itu. Tangannya langsung
bergetar. Wajahnya pucat pasi. Dia lupa bernapas.
…Digantung?
Lucas… mungkin…
digantung?
Siapa…?
Siapa
yang melakukannya…?
“Itu
tidak mungkin, sir—” Chris menggeleng. “Semua orang, aku ingat semua
orang ada di ruang tamu saat Lucas permisi ke toilet. Tak ada yang pergi dari
ruang tamu saat itu!”
Jace
mengangguk. “Baiklah. Setidaknya aku tahu bahwa kalian semua memiliki alibi
yang sama saat itu. Terima kasih atas konfirmasinya.”
Astaga.
Apakah itu pertanyaan jebakan?
Entahlah.
Chris terlalu shock untuk memikirkan itu.
“Sekarang,
terkait kematian Austin. Kau yang pertama kali menyebut ini terdengar seperti sengaja
‘bunuh diri’ di depanku. Mengapa kau begitu cepat menyimpulkan itu? Apakah
karena kau melihat sesuatu yang tidak kau ceritakan pada polisi?" tanya
Jace.
Chris
menggeleng. Matanya sedikit melebar. “No, sir. No! Aku tidak melihat apa
pun. Aku bisa bilang begitu murni karena penjelasanmu saat itu terdengar
seperti Austin bunuh diri. Lagi pula, bukan hanya aku yang mendapat kesimpulan
seperti itu. Kane, Thomas, Russel, dan Ibarra juga berpikir hal yang sama.
Namun, akulah yang menyebutnya dengan jelas.”
Jace
mengangguk. “Oke. Apakah semua orang ada di sana saat Keith memanggil kalian
dari dapur?”
“Aku
tidak ingat. Situasinya terlalu gila saat itu. Semua orang panik. Aku tak
memperhatikan itu, sir…” Chris menunduk, merasa frustrasi karena
sepertinya dia tak membantu polisi sama sekali. Dia mungkin adalah manusia yang
paling rapuh di sepanjang kejadian-kejadian itu. Otaknya blank kalau
sedang ada kejadian buruk; dia akan ketakutan dan panik setengah mati.
“Baiklah.
Cukup untuk kematian Austin. Sekarang, untuk kematian Castro… sepertinya tak
ada yang ingin kutanyakan padamu selain… apakah ada orang yang kira-kira paham
cara kerja mesin mobil?” tanya Jace.
Chris
menatap Jace kembali, lalu mengerutkan dahi. “Apakah mobil Castro disabotase, sir?”
“Ya.
Seseorang merusak remnya. Namun, potongannya sangat bersih. Rapi,” jawab Jace.
“What?!!!!”
Chris membulatkan mata. Jantungnya serasa mencelus ke perut. Dia menggeleng tak
percaya. “C—Castro—"
“Kau
tahu siapa orang yang paham soal mesin mobil?” tanya Jace.
“No!!”
Chris
menggeleng kencang. “Kalaupun ada, dia pasti terburu-buru melakukan itu. Jarak
waktu kematian Austin dan Castro sangatlah singkat! Anda dan polisi
lainnya juga ada di vila saat menginvestigasi dapur itu. Kapan dia
melakukannya?”
Jace
diam sejenak. Dia hanya memperhatikan Chris.
Setelah
itu, dia pun mulai berbicara.
“Ya.
Aku tahu itu sulit dicerna,” ujar Jace. “Di vila itu tidak ada CCTV. Namun,
pembunuh ini tahu kapan dapur kosong, tahu kapan mobil Castro tidak diawasi,
dan tahu kapan Lucas sendirian di kamar mandi. Ini bukan orang luar. Pembunuh
ini adalah bagian dari rutinitas kalian.”
Selesai.
Chris
selesai diinterogasi tak lama setelah itu.
Namun,
kalimat Jace tadi, yakni: "bagian dari rutinitas kalian" terdengar
lebih dari mengonfirmasi pembunuhan. Itu seperti pengingat bahwa pelakunya selama
ini makan bersama mereka. Tidur di vila yang sama. Duduk di sofa
yang sama. Menghadiri pemakaman yang sama.
…
dan Chris yang rapuh, yang otaknya blank kalau ada kejadian buruk, yang
tangannya bergetar, yang sampai lupa bernapas…
…
harus pulang ke rumah malam ini.
Sendirian.
Dengan
pengetahuan bahwa seseorang yang dia kenal… adalah pembunuh dari empat orang.
Chris
menangis dan bergetar ketakutan di sepanjang jalan pulang.
Setelah
Chris diinterogasi, satu per satu dari keenam orang yang tersisa (Thomas, Kane,
Russel, Ibarra, Dokter Gray, dan Pelatih Andrew) mulai dipanggil. Jace banyak
menanyakan pertanyaan yang sama kepada mereka untuk mencocokkan keterangan.
Namun, ada juga beberapa pertanyaan yang ‘berbeda’ karena menurut Jace, sudut
pandang orang yang sedang ia tanyakan itu ada perbedaannya.
Contohnya,
saat bersama Dokter Gray, pertanyaan Jace terdengar cukup banyak yang berbeda.
Jace
menatap Dokter Gray dengan tajam, lalu bertanya, “Dokter Gray, saat Lucas
meninggal, Anda sangat yakin bahwa dia bunuh diri. Sekarang, di depan mataku,
Austin mati dengan pola yang hampir sama, seolah-olah 'dipaksa' terlihat
seperti bunuh diri dengan barang bukti yang diletakkan terlalu rapi di sakunya.
Biar kutanya sekali lagi: apakah Anda yakin Lucas Anguiano benar-benar
menggantung dirinya sendiri? Atau Anda hanya ingin kasus ini cepat selesai?
Atau Anda ingin menenangkan para atlet bahwa ‘tidak ada’ pelaku di
antara mereka?”
Dokter
Gray jadi tegang. Ada rasa bersalah yang tersirat dari nadanya saat mengatakan,
“Maafkan aku, Mr. Corbin. Aku memang salah karena tak melaporkan kematian Lucas
pada polisi. Namun, saat kulihat keadaan Lucas… itu memang bunuh diri, sir. Kalau
memang aku sadar bahwa dia dibunuh, aku akan ketakutan dan langsung menyuruh
semua orang pergi dari sana saat itu juga.”
“Anda
menurunkan tubuhnya, Anda memeriksa nadinya,” ujar Jace. “Karena Lucas sebatang
kara, tidak ada autopsi resmi dari negara. Sekarang, aku punya dua mayat lagi
di tanganku. Aku ingin bertanya satu hal yang sangat teknis: saat Anda
memeriksa Lucas di lantai kamar mandi, apakah otot-ototnya sudah mengalami kaku
mayat atau rigor mortis? Jika belum, itu artinya dia baru saja naik ke
tali itu beberapa menit sebelum ditemukan. Namun, Thomas bilang dia menemukan
Lucas sudah tergantung. Apakah durasi waktu yang Anda lihat di tubuh Lucas
sinkron dengan pengakuan Thomas?"
Oh,
well, sebenarnya dia sudah mendengar soal ini dari Keith dan Chris,
tetapi dia ingin mendengarnya dari Dokter Gray. Sebab Dokter Graylah yang
menetapkan kematian Lucas sebagai bunuh diri.
“Dia
belum mengalami rigor mortis. Tubuhnya belum kaku. Thomas memang
menemukannya sudah tergantung, tetapi mungkin saja itu baru terjadi,”
jawab Dokter Gray. “Begitulah yang kuamati dari jenazahnya waktu itu.”
"Anda
memvonis bunuh diri dan jenazah langsung dikubur. Anda melangkahi kewenanganku.
Jika aku membongkar makam itu sekarang dan menemukan tulang lehernya patah
karena cekikan, bukan jeratan, apakah Anda siap kehilangan lisensi medis
Anda?" tanya Jace. Tatapannya sangat dingin. Dia memiringkan kepalanya.
Dokter
Gray terdiam. Dia terlihat cukup tertekan.
Namun,
dia berusaha untuk tetap tenang ketika menjawab, “Aku yakin bahwa saat itu yang
kulihat adalah bekas jeratan, Mr. Corbin. Namun, jika aku salah… itu akan
sangat fatal. Meskipun aku mencintai pekerjaanku, mau tidak mau… aku harus siap
kehilangan lisensi medisku.”
Jace
diam sejenak. Dia hanya memperhatikan mata Dokter Gray—bertatapan
dengannya—selama beberapa detik.
Akhirnya,
setelah beberapa saat… Jace pun berkata, “Baiklah. Sekarang, aku ingin bertanya
soal Bryant. Sebagai dokter pribadi Keluarga Saunders, Anda tentu sering
menangani Keith sebagai perenang. Secara medis, Bryant tampak sangat sehat.
Apakah menurut pengalaman Anda, ada zat tertentu—selain alkohol—yang bisa
membuat perenang sekuat dia kehilangan kesadaran begitu cepat di air? Soalnya,
kemungkinan besar… Anda pernah menangani Keith atau minimal pernah membantunya
menjaga kesehatan."
Dokter
Gray menggeleng. “Tidak, sir. Keith tidak pernah meminum alkohol. Dia
sangat menjaga kesehatannya sebagai perenang. Namun, memang… setahuku, para
perenang yang andal seperti mereka takkan mungkin secepat itu kehilangan
kesadaran karena mabuk. Fisik dan insting mereka kuat, terutama di dalam air.”
Jace
mengangguk. Dia mendapat kesimpulan bahwa Dokter Gray mungkin juga mencurigai
kematian Bryant meskipun dia terlihat tenang.
"Keith
sudah menyentuh Austin sebelum Anda sampai. Dokter, saat Anda akhirnya berada
di dekat tubuh Austin, apakah Anda menyadari adanya bau kimia yang sangat kuat
yang tercium bahkan sebelum Anda memeriksa mulut Austin? Saya ingin tahu apakah
indra medis Anda menangkap sesuatu yang sengaja ditinggalkan untuk kami temukan,”
ujar Jace.
Dokter
Gray menjawab, “Bau almond. Itu tercium di dapur, tetapi tidak terlalu
jelas. Bau itu identik dengan sianida dan mulut Austin juga berbusa saat
ditemukan.”
Untuk
beberapa detik, Jace terlihat sedikit… menyipitkan matanya. Narrowing his
eyes a little bit.
Namun,
dia tidak mengatakan apa pun. Dia hanya menyimpan informasi itu di dalam
kepalanya.
Setelah
sesi interogasi dengan Dokter Gray berakhir, tibalah giliran Pelatih Andrew.
Berikut
pertanyaan Jace pada Pelatih Andrew:
“Pelatih
Andrew, Anda bilang, saat Lucas gantung diri, kalian semua sedang berada di
ruang tamu. Tak ada orang yang bersama Lucas. Namun, sekarang, Austin mati di
dapur saat semua orang sedang berada di kamar masing-masing. Polanya sama:
korban selalu 'sendirian' di tempat yang mudah diakses. Anda pelatih mereka;
apakah menurut Anda kebetulan jika dua orang dari tim yang sama memilih cara
bunuh diri yang berbeda, tetapi sama-sama 'bersih' tanpa meninggalkan
pesan?"
Pelatih
Andrew menunduk. Dia menggeleng.
“Tidak
mungkin, sir. Betapa pun aku ingin percaya bahwa ini semua adalah
kecelakaan… semuanya terlalu kebetulan. Mungkin, sama seperti apa yang Anda
curigai, aku pun curiga bahwa semua ini ada… pelakunya,” jawab Pelatih
Andrew. “Orang yang bunuh diri… akan memberikan semacam pertanda, setahuku.
Namun, mereka berdua… tidak. Tak ada tanda-tanda sama sekali. Terlalu
tiba-tiba. Randomly.”
"Anda
bilang, Anda tak tahu soal alkohol Castro karena alkohol itu memang tak pernah
dibuka,” kata Jace. “Namun, sebagai pelatih, Anda pasti tahu dinamika mereka.
Siapa di antara mereka yang tampak paling tertekan oleh Bryant secara
kompetisi? Karena alkohol itu bisa saja digunakan sebagai pengalih perhatian
oleh orang lain."
Pelatih
Andrew mengerutkan dahi. “Setahuku, Bryant adalah anak yang pemberontak. Dia
suka sembarangan kalau bicara dan itu sering terdengar seperti… tidak bermoral.
Beberapa dari mereka memang sering terlihat ‘berselisih pendapat’ dengan
Bryant, tetapi tidak begitu serius. Lucas dan Ibarra… keduanya sering
berselisih dengan Bryant karena tak suka dengan apa yang Bryant katakan.”
“Berselisih,
ya…” Jace mengusap dagunya sebentar, sebelum akhirnya kembali bertanya, “Baik.
Oh, ya, Anda menggunakan Face ID Lucas untuk membuka ponselnya karena ingin
menemukan nomor ponsel keluarganya. Sebelum layar itu terbuka, apakah Anda
melihat ada notifikasi atau pesan terakhir yang masuk di layar kunci? Apapun
yang mungkin bisa menjelaskan suasana hatinya siang itu."
Pelatih
Andrew menggeleng. “Aku tak menghiraukan notifikasi sama sekali saat memegang
ponselnya, Mr. Corbin. Saat itu, aku sangat panik dan yang kupikirkan hanyalah
mencari nomor keluarganya. Aku sempat melihat isi aplikasi chat-nya,
tetapi tak ada chat dari keluarganya. Kosong. Tidak ada chat apa
pun, kecuali dari Kane beberapa hari sebelumnya. Aku tidak membuka chatroom-nya,
tetapi aku bisa melihat pesan terakhir di mana Kane berkata: Aku sudah
sampai di depan rumahmu. Ayo berangkat.”
“Di
depan rumah?” tanya Jace.
Andrew
sedikit mengerutkan dahinya, berpikir. “Mungkin, itu saat Kane menjemputnya
untuk pergi ke Healdsburg. Lucas, Ibarra, dan Bryant ikut dengan Kane. Kane
membawa mobilnya.”
Jace
mengangguk.
Dia
diam sebentar, lalu kembali berbicara:
“Pelatih
Andrew, Mr. Benjamin bilang padaku bahwa postur tubuh Anda dan mendiang Lucas
sangat mirip dari belakang. Ini menarik. Dalam kegelapan atau dari kejauhan,
orang bisa salah mengenali Anda sebagai Lucas, atau sebaliknya.”
Pelatih
Andrew kaget setengah mati. “…Eh? Postur saya dan Lucas… mirip?”
Dia
bahkan tak tahu soal ini!!
“Ya,”
ujar Jace. “Saya ingin mendengar apa yang para atlet katakan tentang
ini.”
Saat
itulah, Pelatih Andrew terdiam seribu bahasa. Wajahnya memucat.
Dia
merasa… seperti diancam. Seperti akan ada ‘tuduhan’ yang diberikan
padanya, tak tahu apa. Namun, bukankah Lucas sudah meninggal? Apakah
kejanggalan soal ‘postur yang sama’ itu… masih berlaku?
Setelah
Pelatih Andrew, kini giliran Ibarra yang diinterogasi.
Pertanyaan
pertama Jace adalah: “Kau adalah yang paling dekat dengan Lucas. Kau bilang… Lucas
sebatang kara. Sangat mudah bagi seseorang untuk mati tanpa ada keluarga yang
menuntut autopsi. Apakah Lucas pernah merasa terancam oleh seseorang di tim ini
sebelum dia 'memutuskan' untuk gantung diri? Atau… apakah dia merasa terbebani
oleh sesuatu?”
Pertanyaan
pertama itu langsung membuat Ibarra menunduk. Kematian Lucas… adalah yang
paling membuatnya terpukul.
Namun,
dia juga paham mengapa Detektif Jace langsung menanyakan itu padanya.
“Tidak
pernah, sir,” jawab Ibarra setelah menghela napas berat. Nadanya masih
datar, tetapi ada sedikit getaran di sana. “Dia… biasa-biasa
saja. Tidak ada tanda-tanda seperti itu.”
“Oke,”
ujar Jace. “Untuk kematian Bryant… Siapa yang paling diuntungkan jika Bryant meninggal?
Apakah ada persaingan di antara kalian?"
Ibarra
menggeleng. “Tidak, sir. Kami hanya ingin latihan bersama di sana. Tidak
ada persaingan atau apa pun.”
“Saat
Bryant meninggal, kau sedang tidur. Namun, kau sekamar dengan Lucas, Chris, dan
Thomas. Apakah kau benar-benar tidak mendengar pintu kamar terbuka sebelum
Chris berteriak?" tanya Jace.
“Tidak.
Aku sama sekali tidak sadar… Aku cukup sulit terbangun oleh suara-suara kecil, sir,”
jawab Ibarra. “Namun, saat aku terbangun… Lucas dan Thomas ada di tempat tidur.
Mereka juga baru terbangun, sama sepertiku.”
Saat
gilirannya Thomas, Thomas juga ditanyai hal yang sama. Namun, ada beberapa
pertanyaan yang sifatnya lebih ‘terfokus’ ke Thomas, seperti:
"Thomas,
kau ingin buang air kecil dan menemukan Lucas tergantung di sana. Pintunya
terkunci atau tidak? Selain itu, apakah kau melihat ada bangku yang terguling?
Karena detail kecil seperti posisi bangku bisa menentukan apakah dia naik
sendiri atau 'dinaikkan'."
Thomas
meneguk ludahnya. Bulu kuduknya berdiri saat Jace berkata ‘dinaikkan’.
Dia langsung memucat tatkala memikirkan bahwa Lucas… ada kemungkinan
‘dinaikkan’ ke sana.
Namun,
akhirnya… Thomas menjawab.
“Di
sana tidak ada kursi, sir…” jawab Thomas. “Namun, bak mandinya sangat
dekat dengan posisi Lucas, jadi… mungkin saja…”
“—dia
memanjat dari bak mandi itu?” lanjut Jace, seakan-akan bisa membaca
pikiran Thomas.
Waktu
itu, Thomas tersentak. Dia langsung menunduk. Kepalanya sakit tatkala
membayangkan Lucas naik ke bak mandi itu saat ingin menggantung dirinya
sendiri.
Untuk
Kane dan Russel, pertanyaan yang Jace berikan kurang lebih sama. Namun, respons
mereka sedikit berbeda.
Di
awal-awal, Jace menanyakan hal yang sudah ia tanyakan kepada peserta lain.
Setelah itu, dia mulai bertanya soal rem mobil Castro.
"Rem
mobil Castro dipotong manual. Sangat rapi. Seseorang harus berada di
bawah mobil itu selama beberapa menit tanpa terlihat. Saat kalian semua sibuk
mengurus jenazah Austin di lantai bawah, siapa yang tidak ada di ruangan? Saya
tahu kalian semua kaget, tetapi coba ingat: siapa yang terakhir
bergabung ke ruang tamu saat polisi pertama datang?"
Jawaban
Kane dan Russel kurang lebih sama meskipun mereka ditanyai di sesi yang
berbeda, yaitu: tidak ada yang terakhir. Mereka semua berkumpul dan tak ada
yang terpisah.
“Kau
berada di kamar yang sama dengan Bryant. Apakah kau tidak mendengar suara apa
pun saat Bryant keluar dari kamar malam itu? Itu pasti ada suaranya, terutama
bila dia membuka koper Castro untuk mengambil alkohol,” ujar Jace.
Kane
menjawab, “Aku sempat mendengar suara zipper samar-samar, tetapi
saat kubuka mataku sedikit, aku tak melihat apa pun. Maka dari itu, aku tidur
lagi… sampai akhirnya aku mendengar teriakan Chris.”
Sementara
itu, jawaban Russel adalah: “Aku tak mendengar apa pun. Aku tidur pulas malam
itu, sebelum Kane membangunkanku karena dia mendengar teriakan Chris.”
Pertanyaan
Jace selanjutnya adalah: “Kalian semua sedang packing. Siapa yang sampai
lebih dahulu di dapur?”
Kane
dan Russel menjawab hal yang sama, yakni mereka berdua dan Castrolah yang
sampai lebih dahulu karena kamar mereka paling dekat dengan dapur.
Jace
mengangguk. Setelah itu, pertanyaan Jace mulai mengarah ke kematian Castro. Dia
ingat bahwa Kane dan Russellah yang mencoba untuk menahan Castro pergi saat
itu.
“Kau
mencoba untuk menahan Castro agar tidak pergi, tetapi hanya sampai di ambang
pintu. Dari posisimu di pintu itu, saat Castro masuk ke mobil dan menyalakan
mesin, apakah kau mendengar suara aneh dari bawah mobilnya atau melihat seseorang
yang bergerak di area parkir sebelum lampu Chevrolet itu menyala?”
Kane
dan Russel jawabannya tetap sama, hanya berbeda pemilihan kata. “No, tak
ada siapa-siapa di sana. Hanya Castro. Tak ada suara aneh juga dari mobil itu.”
Tak
lama kemudian, sampailah Jace pada pertanyaan terakhirnya untuk Kane dan
Russel. Di pertanyaan terakhir ini, Jace menjalin jemari kedua tangannya dan
menempatkannya di bawah dagu.
Dia
menatap Kane/Russel dengan saksama. Tenang, diam… tetapi diamnya itu
entah mengapa terasa mencekik. Ada tekanan yang membuat udara saat itu sulit
dihirup. Tatapannya juga tak berubah. Fokus. Membuat mereka berdua tanpa
sadar harus menatap matanya balik, tak bisa menghindar.
Dengan
demikian, terdengarlah pertanyaan itu.
“Sebelum
pergi, Castro bilang… pasti ada seseorang yang tertawa melihat kebodohan
kalian di belakang layar. Menurut kalian… siapa orang itu?"
Kane
melebarkan mata. Sementara itu, Russel menyatukan alis.
Mereka
seperti disuruh untuk menduga-duga… atau mungkin memfitnah seseorang.
Mereka ‘cukup paham’ bahwa itu adalah semacam… pertanyaan provokasi.
Kalau
Kane, dia menggeleng tak habis pikir seraya berkata: “Wait, apa maksud
Anda, Mr. Corbin…? Itu terdengar seperti… Anda berpikir kalau Castro menuduh
salah satu dari kami sebagai pelakunya. Castro memang agak impulsif, tetapi
sepertinya kata-katanya itu bukan ditujukan pada kami. Dia lebih seperti
menuduh orang luar. Atau apakah aku salah persepsi?”
Namun,
Russel justru langsung menjawab dengan nada yang sedikit naik, “What
the heck??! No. Aku tak mau menerka-nerka. Castro mungkin benar, tetapi bukankah
perkataannya terdengar ‘general’?! Setahuku, dia marah karena banyak
dari kami yang ‘setuju’ kematian-kematian itu ditetapkan sebagai kecelakaan,
bukan marah karena curiga!”
Terlepas
dari apa pun jawaban mereka atas pertanyaan itu, Jace tetap mengangguk pelan.
Dia pun menyelesaikan sesi interogasi itu.
Dia
telah menyimpan banyak hal di otaknya. Beberapa mulai dia catat di berkasnya (sebagai
tambahan), jaga-jaga kalau misalnya dia lupa.
Intinya,
hari itu… Jace mendapat informasi yang lumayan banyak. Dia akan
menggunakan semua itu untuk penyelidikan lebih mendalam.
Hari
itu pun berlalu.
******
Pagi
ini, Ibarra mencoba menyeduh teh hangat untuk dirinya sendiri.
Makan
dan tidurnya tak teratur. Matanya merah. Dia tak bisa berhenti memikirkan
seluruh kejadian ini, terutama… pelakunya belum ditemukan.
Karena
ingin mendengar berita terbaru soal kasus ini, Ibarra pun membawa segelas
tehnya ke ruang tengah. Dengan lemas, tak ada semangat hidup, dia pun duduk di
sofa ruang tengah itu. Di depan televisi.
Tatkala
dia menghidupkan televisi dengan remote, dia langsung mencari channel
berita. Begitu menemukannya, dia langsung berhenti dan meletakkan remote
TV itu di atas meja.
Namun,
apa yang terlihat di berita itu sukses membuat Ibarra membatu. Jantungnya serasa
berhenti berdegup. Bagian belakang kepalanya serasa dipukul kencang dengan
tongkat baseball. Napasnya langsung tersekat di tenggorokan.
Tehnya
ia letakkan di atas meja dengan cepat hingga sedikit tumpah. Ia langsung
berdiri dan menatap layar televisi dengan mata yang membulat sempurna.
Judul
berita itu adalah:
BREAKING
NEWS: SEORANG ATLET RENANG DITEMUKAN TEWAS DI TEROWONGAN
BAWAH TANAH
Kedua kaki Ibarra mendadak terasa selemah jelly.
Visual
di layar televisi menunjukkan area Prince Memorial Greenway, tepat di mana
jalur pedestrian menurun ke arah lorong bawah tanah Santa Rosa Creek.
Kamera kemudian menyorot ke arah pintu masuk sebuah lorong drainase beton yang
gelap di bawah persimpangan jalan utama. Di sana, di bawah struktur beton yang
masif, garis polisi kuning telah terpasang, membatasi area yang dipenuhi
genangan air sisa hujan dan lumpur.
Suara
sang pembawa berita itu pun terdengar.
“Breaking
News. Seorang atlet kembali ditemukan tewas di Sonoma County.
Jenazahnya ditemukan oleh petugas kebersihan kota di dalam terowongan drainase
pusat kota Santa Rosa pukul 06.00 pagi tadi. Area tersebut kini ditutup total
untuk penyelidikan. Korban diidentifikasi sebagai Kane Houston, atlet renang
nasional yang juga merupakan saksi kunci dalam rentetan kematian tragis di
Healdsburg beberapa hari belakangan.
Menurut
laporan awal, tidak ditemukan kendaraan milik korban di sekitar lokasi,
memperkuat dugaan bahwa korban sengaja berjalan kaki melalui jalur tersembunyi
tersebut. Hingga saat ini, Detektif Jace Corbin yang menangani kasus kematian
beruntun tim Sonoma belum memberikan keterangan resmi terkait apakah kematian
ini merupakan murni kecelakaan atau ada unsur pembunuhan berencana...”
Ibarra
jatuh terduduk di sofa dengan wajah pucat. []


.png)