Saturday, November 29, 2025

She Was Never Mine (Bab 4: Segalanya Untuknya)

 


******

Bab 4 :

Segalanya Untuknya

 

******

 

LANTUNAN lagu di radio terdengar begitu merdu saat Josh baru saja memberhentikan mobilnya di depan rumah Windy. Ia terlihat fresh dan bahagia karena akan bertemu Windy—pujaan hatinya—pagi ini. Sebenarnya, sejak mereka jadian, ia menjemput Windy hampir setiap hari (hanya absen kalau ada pekerjaan), tetapi perasaan bahagianya tetap muncul seolah-olah ini kali pertama dia menjemput Windy.

            Josh melihat pantulan dirinya sendiri di spion dalam mobil. Dia tersenyum (excited) dan merapikan rambutnya yang sebenarnya sudah rapi. Dia juga sedikit merapikan kemejanya, lalu setelah memastikan penampilannya oke, dia mulai melihat ke pagar rumah Windy.

Pagi ini, dia tidak memberitahu Windy kalau dia akan datang menjemput, jadi dia harap ini akan jadi surprise kecil untuk Windy.

By the way, tadi malam, Kei sudah menghubungi Josh melalui chat. Kei bilang, dia setuju untuk menjadi model dalam proyek fotografi Josh. Josh senang sekali mendengar kabar itu; ia hampir melompat di kasurnya tadi malam. Rasanya seperti mimpi yang terkabul; harapannya untuk mengadakan pameran tunggal…mungkin akan segera terlaksana. Dia akan membuat proyeknya sendiri. Idenya sendiri.

Ini menakjubkan. Dia harus banyak-banyak berterima kasih pada Alvin.

Beberapa detik kemudian, pagar rumah Windy pelan-pelan terbuka. Josh langsung duduk tegap, senyumnya merekah, dan matanya berbinar-binar. Windy tinggal sendirian, jadi yang membuka pagar itu pasti Windy.

Tak bisa Josh pungkiri, jantungnya berdebar-debar tatkala melihat Windy yang mulai muncul dari balik pagar besi itu. Windy keluar dengan berpakaian rapi; dia memakai seragam batik resepsionisnya yang berwarna merah. Roknya selutut. Rambutnya disanggul rapi.

Windy menutup kembali pagar rumahnya, lalu berbalik. Akhirnya, ia melihat ke arah Josh yang masih duduk di mobilnya. Josh tersenyum, lalu melambai kepada Windy dari balik kaca mobil.

Windy memang bertatapan dengan Josh (berhubung kaca mobil Josh tidak gelap), tetapi entah mengapa…saat melihat Josh, Windy tidak balas tersenyum. Untuk sesaat, wanita itu tampak tidak senang. Dia tampak sedikit…

…kecewa.

Namun, dalam waktu sepersekian detik, ekspresi itu langsung berubah menjadi bahagia. Dia langsung tampak bersemangat, tersenyum riang, lalu mengangkat sebelah tangannya ke atas untuk melambai-lambai kepada Josh.

Josh, yang tadinya sempat melihat ekspresi kecewa itu, spontan bernapas lega dan ikut tersenyum riang.

Windy berlari kecil ke pintu sebelah kiri mobil Josh dan langsung membuka pintu tersebut. Begitu naik ke mobil dan menutup pintu mobil kembali, wangi parfum Windy langsung memenuhi mobil Josh. Josh hafal wangi parfum Windy; wanginya manis seperti permen. Karena Josh suka Windy, dia jadi suka wangi permen itu.

Windy memasang sabuk pengaman, meletakkan tasnya ke pangkuannya, dan langsung menoleh kepada Josh. Dia tersenyum, lalu mencium pipi Josh sejenak. Membuat Josh jadi semakin berbunga-bunga.

 

Ah, iya. Josh tadi pasti cuma salah lihat.

Windy tidak sedang kecewa kok.

 

“Pagi, Sayang,” sapa Windy dengan ceria. Josh tersenyum lebar seraya menghela napasnya.

“Pagi juga, Sayang,” jawab Josh. “Cantik banget, sih?”

Windy hanya tertawa. Wanita itu lantas kembali ke posisi awal, menjauh dari tubuh Josh, tetapi masih berhadapan. Dia mulai bertanya pada Josh sambil memamerkan senyum manisnya, “Kok nggak ngabarin aku, sih, kalo mau jemput?”

Josh tertawa kecil, lalu mengusap pipi Windy dengan penuh kasih sayang. Setelah itu, dia menghadap ke depan dan mulai menghidupkan mesin mobilnya. “Nggak kenapa-napa, sih, Sayang. Mau surprise-in kamu aja.”

“Oalah…” kata Windy. “Ada-ada aja.”

Josh mulai menjalankan mobilnya. Sementara itu, Windy langsung merogoh ponselnya yang ia letakkan di dalam tas. Begitu mendapatkan ponsel itu dan membuka kunci layarnya, jemarinya bergerak cepat seolah-olah sedang mengetikkan sesuatu. Dia tersenyum; sesekali pipinya merona—tatapannya lembut—saat menatap layar.

“Hari ini kamu banyak kerjaan?” Josh tiba-tiba membuka suara. Pria itu berusaha untuk menjaga suasana di mobil agar tetap terasa ceria, mesra, dan hangat.

“Iya. Lumayan,” jawab Windy. Wanita itu agaknya tergesa-gesa untuk menyelesaikan satu chat. Dia menoleh kepada Josh sekilas, lalu kembali menatap layar. “tapi nggak apa-apa. Udah biasa kok.”

Josh tersenyum.

“Oh, gitu… Syukurlah,” jawab Josh. “Oh, ya, kamu ada waktu luang nggak sore ini, Sayang? Aku pengin jalan sama kamu.”

Windy masih menunduk; jari-jarinya masih memainkan ponsel. “Umm… Kayaknya minggu depan aja, deh, Sayang. Lebih bebas. Sekarang kerjaanku masih banyak.”

Windy menekan notifikasi lain yang muncul di layar ponselnya. Ia menatap Josh sesekali, hanya sebelah mata; jawabannya terdengar datar meski ia menyertakan senyum kecil.

Mobil Josh berjalan terus…hingga akhirnya, kurang lebih dua puluh menit kemudian, mereka sampai di depan hotel tempat Windy bekerja. Mobil Josh mulai masuk ke area halaman. Ketika mobil itu baru saja mau berhenti—di depan pintu utama hotel—Windy pun menaruh ponselnya di paha. Kala itulah, untuk pertama kalinya (sejak berangkat tadi), Windy mulai melihat full ke arah Josh. Menatap Josh dengan benar tanpa terdistraksi oleh ponsel.

“Josh…?” panggil Windy tiba-tiba. Nadanya terdengar manja.

“Ya?” Josh menoleh, memberi perhatian penuh. Nada manja Windy itu hampir membuat Josh meleleh di tempat.

“Minggu depan, hotel ngadain acara anniversary,” ujar Windy.

“Oh ya?” Mata Josh melebar. “Kamu bakal sibuk banget, dong, ya?

“Hm,” deham Windy. “tapi…aku butuh dress dan sepatu baru. Dress dan high heels-ku udah lama semua, jadi kayaknya malu banget kalo pake itu lagi. Bisa nggak kamu beliin aku? Beliin aku, dooongg, Sayang…”

Permintaan manja itu Windy sampaikan tanpa ragu. Di akhir kalimat, saat memanggil ‘Sayang’, wanita itu mulai memeluk lengan Josh—yang sedang memegang roda kemudi—dari samping.

Josh tersenyum saat merasakan pelukan itu. Dia jadi senang dan bersemangat. Akhirnya, Windy benar-benar fokus berbicara padanya, terutama ditambah dengan sikap manja wanita itu.

“Boleh, dong, Sayaaangg,” jawab Josh. “Kamu mau dress yang kayak gimana? Atau kita mau fitting dulu di butik?”

Begitu mendengar jawaban Josh, mata Windy langsung berbinar-binar. Wanita itu langsung cekikikan (semangat sekali), lalu mengeratkan pelukannya pada lengan Josh. “Yang elegan, Sayang. Bahannya satin atau sutra. Warna nude atau dusty pink. Aku mau keliatan anggun. Kalo sepatunya…aku mau high heels yang cocok untuk pesta. Sesuaikan dengan warna dress-nya juga, Sayang. Ukuran sepatuku 39. Kalo nggak, nanti aku ikut aja pas kamu beliin.”

“Tapi kamu kayaknya sibuk,” kata Josh.

Windy menghela napas, lalu mencium pipi Josh sekilas. “Yaa kalau aku sibuk, nanti kita video call-an aja pas kamu lagi beliin itu.”

Josh tertawa kecil. Hatinya berbunga-bunga, lalu ia mengangguk. Ia mencubit kecil hidung Windy. “Oke, deh, Sayang.”

Windy tersenyum sangat manis—sampai matanya ikut melengkung—lalu ia pun melepaskan diri dari Josh. “Makasih banyak, ya, Sayang. Kamu perhatian banget, sih? Aku sayaaaangg banget sama kamu.”

“Iya, Sayang. Aku aja yang beliin, biar kamu nggak pusing. Mau aku beliin clutch juga nggak?” tanya Josh dengan antusias.

“Waaaaah!” respons Windy dengan ceria. “Kamu mau beliin aku clutch juga? Mau, dongggg! Makasiih, Sayaaang!”

Lagi-lagi, Windy memeluk Josh. Namun, kali ini, Josh tertawa seraya memeluk Windy balik. Pelukan itu hanya berlangsung sesaat, tetapi setelahnya, mereka tetap duduk berhadapan dalam jarak yang dekat. Saling berbicara dengan penuh ketertarikan.

…meskipun ketertarikannya berbeda arah.

“Ya udah, aku beliin clutch juga, ya,” jawab Josh dengan lembut. “Aku seneng bisa beliin kamu.”

“Makasih, Pacarku Sayang,” ujar Windy.

Pipi Josh sempat memerah mendengar panggilan baru itu. Sedetik kemudian, Josh tersenyum dengan penuh kasih sayang…lalu mengangguk. “Sama-sama, Sayang.”

Sebelum turun dari mobil, Windy mendekati Josh lagi. Dia mengecup pipi Josh pelan, lalu berbisik, “I love you, Sayang.”

Ah, Josh senang sekali mendengar tiga kata itu keluar dari mulut Windy.

Ia benar-benar sedang dimabuk asmara.

Harapan lama yang akhirnya terkabul.

Penantian lama yang akhirnya terbayar.

Oh, rasanya bahagia luar biasa.

 

 Bagi Josh, itu adalah bukti nyata—yang cukup—bahwa Windy juga mencintainya.

 

“I love you too, Sayang,” jawab Josh tanpa ragu. Wajahnya cerah; matanya berbinar-binar saat melihat Windy turun dari mobil dengan langkah ringan. Windy menutup kembali pintu mobil setelah melambai pelan pada Josh. Dari balik kaca, Windy tampak berjalan memasuki hotel dengan santai.

Josh tersenyum lembut; ia memandangi Windy—sampai wanita itu hilang di balik pintu kaca hotel—lalu dia pun kembali menjalankan mobilnya.

 

******

 

Sore ini, Josh kembali menjemput Windy. Di mobil, dia mengangguk-angguk, bersiul, dan mengetukkan telunjuknya di permukaan roda kemudi sambil berkendara. Dress, high heels, dan clutch yang ia belikan untuk Windy (tadi siang) sudah ada di jok penumpang belakang.

Well, tadi siang, dia bertelepon dengan Windy. Video call-an untuk memilih dress, high heels, dan clutch itu. Kebetulan, hari ini Josh memang tidak ada urusan, jadi dia memutuskan untuk langsung membelikan Windy hari ini.

Windy memang mengangkat video call-nya. Namun, entah mengapa, selain dari video call itu, chat-chat Josh sejak pagi (setelah mengantar Windy) tidak ada yang dibalas. Jangankan dibalas, Windy bahkan tidak membacanya. Semuanya centang abu-abu.

Josh baru saja sampai di halaman hotel…dan dia pun memberhentikan mobilnya di sana. Sambil tersenyum lembut, dia menoleh ke kiri. Ke arah pintu masuk hotel.

Namun, ternyata, pintu hotel itu terbuka. Tidak banyak orang yang lewat di lobby, tetapi sebenarnya, mata Josh tidak fokus ke sana. Pria itu langsung melihat ke sebelah kanan lobby itu. Tempat di mana meja resepsionis berada.

Di sana, Josh melihat Windy. Wanita itu sedang berdiri di depan meja resepsionis—bukan di baliknya—dan sudah menggandeng tas, pertanda bahwa dia sudah mau pulang karena shift-nya selesai. Dia tertawa bersama teman-temannya di sana, tetapi anehnya…di sampingnya ada seorang pria. Dia terlihat aktif mengobrol dengan pria itu—mungkin, pria itu sedang membicarakan sesuatu pada para resepsionis di sana—tetapi ada hal yang sukses membuat Josh mengernyitkan dahi.

…Windy terlihat…tertawa lepas. Dia sesekali memeluk lengan pria itu. Terkadang, dia tertawa di bahu pria itu. Gerak tubuhnya sangat manja dan leluasa. Josh masih duduk di mobilnya, menonton dari jauh.

 

Siapa pria itu?

 

Tiba-tiba, Windy melihat ke luar dan menyadari keberadaan mobil Josh. Seketika, dia melepaskan ‘pegangannya’ pada pria itu, lalu tersenyum ceria. Dia pamit kepada teman-temannya, lalu berlari ke luar seraya melambaikan tangannya pada Josh.

Josh turun dari mobilnya; dengan cepat, ia memutari mobil itu dari depan untuk menyambut Windy. Windy langsung memeluk lengannya. “Sayang! Kamu udah dateng, yaa?”

Josh tersenyum, lalu membawa Windy mendekati pintu mobilnya. Josh membukakan pintu mobil itu, lalu mencium kening Windy. “Iya, Sayang. Kamu udah pulang dari tadi?”

Windy tersenyum manis. Wanita itu mengangguk. “Uh-hm. Sekitar sepuluh menit yang lalu.”

“Ooh…gitu, ya,” jawab Josh penuh pengertian. “Yuk, pulang.”

Saat Windy sudah masuk ke mobil, Josh pun menutup pintu mobil itu. Dia berbalik untuk kembali memutari mobilnya dari depan, tetapi sambil berjalan, dia sempat menatap ke arah lobby itu lagi.

Dia langsung bertatapan dengan pria yang berdiri di depan meja resepsionis itu.

Sebenarnya, teman-teman Windy juga melihat ke arah Josh. Namun, Josh tanpa sadar langsung bertatapan dengan pria itu. Mata Josh agak menyipit; dahinya berkerut. Tak bisa dia pungkiri bahwa agaknya, dia refleks memasang ekspresi kurang setuju. Kurang suka. Namun, karena tak ingin Windy menunggu lama, dia pun berhenti menatap pria itu. Dia mengalihkan pandangannya ke teman-teman Windy…lalu mengangguk sambil tersenyum. Menyapa mereka.

Mereka pun melakukan hal yang sama.

Akhirnya, Josh kembali masuk ke mobil. Dia mulai membawa mobilnya keluar dari area hotel itu.

Begitu sudah berada di jalan raya, Josh pun memulai pembicaraan dengan Windy. Dia tersenyum. “Sayang, itu dress, high heels, dan clutch-nya udah ada di jok belakang.”

Windy langsung bersemangat. Matanya berbinar-binar. Dia kontan menoleh ke belakang, lalu memajukan tubuhnya untuk mengambil tas-tas belanjaan itu.

Saat semua tas belanjaan itu sudah ada di pangkuannya, Windy mengeluarkan isinya satu per satu.

“Wah, semuanya bagus banget, Sayaang!” seru Windy. “Ternyata, pas diliat langsung begini…barang-barangnya jauh lebih bagus. Makasih banyak, Sayaaaang.”

Josh tersenyum lembut, lalu mengangguk. “Iyaa, Sayang. Sama-sama.”

Windy memiringkan kepalanya, lalu bertanya, “Tapi serius, deh. Semua pilihan yang kamu tunjukin pas video call itu bagus banget, lho. Itu pasti udah kamu pilih duluan, ‘kan, sebelum kamu liatin ke aku? Selera kamu oke banget.”

Josh tertawa kecil. “Aku pilih yang kira-kira cocok untuk kamu…dan cocok untuk acara anniversary itu. Aku juga harus cari yang nyaman dipakai.”

Windy tersenyum. “Kamu perhatian banget, Sayang. Makasih, ya.”

Josh mengangguk. Hatinya terasa hangat; dia bahagia karena sudah membuat Windy senang. Sikap Windy juga manis sekali hari ini.

Namun, tiba-tiba, Josh teringat sesuatu.

 

Pria itu.

 

Karena ingin tahu, Josh pun bertanya pelan pada Windy, “Tadi…kamu ngobrol sama siapa? Yang berdiri di sebelah kamu itu.”

Windy menoleh sejenak ke arah Josh (sejak tadi, wanita itu sibuk mengagumi barang-barang pembelian Josh). Tiba-tiba saja, di wajahnya muncul warna merah yang halus waktu ia menyebut, “Oh, yang tadi? Itu salah satu manajer hotel. Kita lagi ngomongin soal rundown acara.”

“Oh, manajer, ya. Manajer apa?” kejar Josh.

Windy tersenyum, lalu mengalihkan pandangannya ke barang-barang pemberian Josh lagi. “Front Office Manager. Namanya Frans.”

 

Oh, ternyata itu manajernya Windy.

 

Josh menahan napas sebentar. Nama itu belum pernah ia dengar sebelumnya. Rasa aneh muncul di dadanya, sebuah rasa yang sulit diberi label. Namun, ia tetap bertanya. Ia butuh suara, butuh kepastian. Kalau tidak ditanya, ini akan mengganjal di kepalanya.

“Frans?” ucap Josh. “Dia sering mampir ke meja resepsionis, ya?”

Windy memasukkan seluruh barang pemberian Josh ke dalam tas-tas belanja itu lagi. “Nggak juga, sih, tapi belakangan ini dia sering ngobrol di meja resepsionis. Ngomongin soal acara anniversary itu. Kita dapat bagian juga untuk nyiapin acara itu, soalnya.”

“Oh…” Josh mengangguk. Ada getaran halus di hatinya. Getaran yang masih samar. “Keliatannya…dia ramah banget sama kalian.”

“He-em,” deham Windy. “Dia orangnya perhatian. Gampang diajak ngobrol.”

Sebelum Josh merespons, Windy tertawa pelan; matanya menatap ke jauh ke depan, seolah-olah tidak benar-benar menatap jalanan. Dia lalu tersenyum lembut. “Dia tuh…emang ramah. Gampang bikin suasana jadi enak. Terus dia juga…ya…kalau udah ngomong sama dia, aku ngerasa lebih tenang aja gitu, tiap ngerjain apa pun.”

“Maksudnya…mudah gimana?” tanya Josh.

Windy duduk lebih nyaman. Suaranya jadi lembut; ada percikan kasih sayang…yang keluar tanpa ia sengaja. “Dia tuh…bijaksana banget. Leader yang bagus. Kadang-kadang, dia suka ngasih ide yang nggak kepikiran sama orang lain. Dia bisa merangkul anggota-anggotanya di tempat kerja. Bikin semuanya jadi nyaman sama dia.”

“Kamu…keliatan deket banget sama dia,” ujar Josh pelan. Pria itu tersenyum tipis; senyumannya tampak pahit. Sebenarnya, dia tak ingin mendengar jawaban Windy lebih jauh…karena mungkin itu akan menyakitinya, tetapi di sisi lain, dia masih ingin tahu. Masih ingin percakapan ini berlanjut.

 

Josh itu…pacarnya Windy, ‘kan?

 

Namun, entah mengapa, saat mendengar ucapan Josh…pipi Windy sempat memerah. Namun, wanita itu dengan cepat tertawa (untuk menutupi salah tingkahnya). Agak terdengar dipaksakan, tetapi Josh terbiasa mendengar tawa itu sehingga insting Josh jadi tumpul.

“Ah, nggak gitu juga,” kata Windy, masih sambil tertawa. “Kita ngobrol soal kerjaan aja kok. Kadang-kadang dia bercanda dan aku ikutan ketawa. Ya biasalah.”

Josh hanya diam. Senyumannya semakin tipis, bahkan hampir tak terlihat lagi. Bagaikan ada sebuah jarum yang mulai menusuk dadanya pelan-pelan. Pikirannya mulai ke mana-mana. Namun, dia tak ingin memercayai itu.

Windy menoleh kepada Josh, lalu memeluk lengan Josh dari samping. Dengan manja, dia pun berkata, “Kamu jangan salah paham, ya, Sayang. Aku pacarannya sama kamu.”

Akhirnya, karena Windy memeluk dan mengusap lengannya…serta menatapnya dengan mata bulat polos itu, Josh pun menarik napas panjang. Dia mengesampingkan seluruh perasaan tak enak itu…lalu membuang pikiran buruknya. Jahat juga kalo curiga sama Windy, pikirnya. Dia harus percaya pada Windy. Windy itu orang baik. Cerah. Tulus.

“Iya, Sayang.” Josh mengangguk. “Maaf kalo pertanyaanku terkesan kayak nginterogasi kamu.”

Windy memiringkan kepalanya dan tersenyum semanis madu. “Nggak apa-apa, Sayang. Percaya sama aku, ya? Aku cuma fokus kerja kok. Frans cuma manajerku.”

“Hm,” deham Josh.

Percakapan pun mengalir lagi. Namun, karena topiknya masih seputar ‘acara anniversary hotel’, ujung-ujungnya Windy kembali menyebut nama Frans. Soalnya, resepsionis juga ikut jadi panitia acara dan Frans adalah manajer mereka. Jadi, Windy akhirnya banyak cerita seputar Frans: bagaimana Frans menawarkan idenya soal lampu, bagaimana dia berkoordinasi dengan supplier, bagaimana dia membantu menyelesaikan masalah sound check, dan lain-lain. Setiap kali Windy bercerita soal Frans, wanita itu tersenyum riang dan pipinya merona sedikit. Namun, kalau deskripsinya sudah terlalu ‘panjang’, dia langsung mengalihkan pembicaraan.

“Dia sempet nanya, ‘Kenapa nggak kita taruh lampu di sini aja biar lebih intimate?’, terus aku mikir, ‘Ooh, iya juga, ya.’ gitu. Bener-bener ada aja idenya,” kata Windy, kedua matanya berbinar saat menjelaskan itu.

“Terus…tadi dia juga bilang ke aku kalo dia bakal bantu bagian aku. Aku bilang nggak usah, terus dia bilang, ‘Ya udah, nanti kalo kamu butuh, tinggal bilang aku.’ gitu. Tulus banget pokoknya,” tambah Windy.

“Dia bener-bener terlibat banyak, ya,” komentar Josh, padahal hatinya mulai terasa sakit. Darahnya terasa…mendidih.

Mengapa Windy terdengar…kagum sekali pada Frans?

Mengapa Windy terlihat berbunga-bunga saat membicarakan Frans?

Apa Windy tertarik pada Frans?

…atau…Josh saja yang terlalu sensitif?

“Iya,” jawab Windy. “Kadang-kadang, dia juga bantu kerjaan anggota-anggotanya yang lain.”

Josh diam. Rasanya mengganjal sekali; sakit sekali mendengar Windy terus membicarakan pria lain, tetapi akhirnya…ia memilih untuk menahan semuanya.

…meskipun mulutnya masih terus ingin memastikan.

“Kamu yakin semua itu cuma kerjaan?”

Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Josh. Mungkin…karena dia terlalu gelisah.

Windy mengernyitkan dahi. Wanita itu menatap Josh—terlihat serius sebentar—lalu sedikit mendengkus. Ekspresinya terlihat tak suka tatkala menjawab, “Iya, Josh. Kita cuma kerja. Kamu itu pacarku. Nggak perlu khawatir.”

Tahu bahwa Windy terdengar kesal, Josh pun tak ingin memperpanjang masalah. Ia tak mau bertengkar dengan Windy. Ia tak mau hal ini membuat Windy marah dan berakhir mengabaikannya. Ia tak mau kehilangan Windy juga.

Akhirnya, meskipun pikirannya sudah kacau balau, meskipun hatinya terasa perih, meskipun tangannya berakhir mencengkeram setir, Josh mencoba untuk tersenyum.

Ia mulai mengganti topik.

“Ukuran sepatunya pas, ‘kan?”

Windy mengangguk. Tiba-tiba, karena membahas sepatu, wanita itu jadi tersenyum riang lagi. “Pas. Aku suka. Kamu pinter milihnya, Sayang.”

Suasana jadi sedikit mencair. Windy menyentuh pipi Josh pelan, “Makasih, ya. Kamu perhatian banget sama aku.”

“Ya…aku mau nyenengin kamu,” kata Josh. Untuk sementara, sikap manis Windy mampu meredam kegelisahannya.

Di akhir perjalanan, ketika mobil hampir sampai di depan rumah Windy, Josh mengucapkan pertanyaan terakhir yang sejak pagi sudah mengusiknya. Suaranya terdengar pelan dan hati-hati saat bertanya, “Kamu…kenapa nggak bales chat aku seharian ini?”

Windy menghela napas panjang. Wanita itu mengalihkan pandangannya ke luar jendela, lalu diam-diam memutar bola matanya. “Hari ini hectic banget, Sayang. Aku nggak buka WA. Banyak yang harus kupikirin. Nanti di rumah aku liat chat-nya, jadi jangan khawatir. Kan kamu tau kalo aku sayang sama kamu.”

“Aku cuma pengin tau aja, Win,” ujar Josh jujur. “soalnya tadi kamu bisa angkat video call aku.”

Windy menghela napas, lalu menatap Josh. “Ya itu, kan, karena aku udah tau kalo kamu video call untuk belanjain aku. Aku cuma fokus kerja, Sayang. Aku bukannya sengaja nggak balas. Aku emang nggak buka WA seharian ini. Jangan bikin aku jadi jelasin hal kecil gini, oke? Intinya, pacarku itu kamu, Josh. Bukan Frans, bukan orang lain. Pacarku itu kamu seorang.”

Ekspresi Windy terlihat separuh memerintah dan separuh manja. “Kamu harus ngerti, ya, Sayang?”

Akhirnya, setelah beberapa detik hanya diam…

 

…Josh pun mengangguk.

 

“Ya udah. Aku ngerti.”

 

Windy pun tersenyum manis—sangat manis dan cerah, seperti matahari—lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Josh. Dia memberi Josh sebuah kecupan singkat di pipi; sebuah cap manis yang selalu sukses ‘menenangkan’ Josh. “Thanks, Sayang.”

Begitu sampai di depan rumah Windy, Josh pun menghentikan mobilnya. Windy pamit singkat, turun, lalu melambaikan tangannya kepada Josh sebelum akhirnya membuka pagar rumah.

Saat pagar itu kembali tertutup—dan Windy menghilang dari pandangannya—Josh diam sebentar. Pria itu duduk di mobilnya…sambil menatap pagar hitam itu. Perasaannya campur aduk. Pikirannya kembali…melanglang buana.

Tak lama kemudian, dia pun menghela napas…dan pulang.

 

******

 

Langit sudah gelap saat Josh sampai di depan rumahnya. Setelah perjalanan hari itu, tubuhnya terasa berat. Rasanya banyak sekali hal yang terjadi, melelahkan sekali, padahal kenyataannya…hari ini dia tak ada kesibukan apa pun selain mengantar-jemput Windy dan berbelanja untuk Windy.

Ia berhenti sejenak di depan pintu, memegang gagang pintu itu tanpa segera membukanya.

Perasaannya saat itu tidak sederhana. Benar-benar…sulit dijelaskan.

Ada sesuatu yang hangat. Perasaan bahagia kecil yang muncul tiap kali ia menghabiskan waktu dengan Windy. Ia masih bisa merasakan kecupan Windy di pipinya, suara manja Windy ketika meminta sesuatu padanya, dan bagaimana Windy tersenyum riang ketika ia menyanggupi permintaan wanita itu.

Namun, di balik kehangatan itu, ada pula rasa sakit, kegelisahan, dan kesunyian…yang menekan dada Josh. Bayangan sosok Windy di lobby hotel tadi sore kembali terlintas di otak Josh: cara Windy berbicara dengan Frans, sorot matanya yang terlihat begitu bahagia, tawanya yang lepas, kedekatannya dengan Frans, semuanya seakan-akan mau memberitahu sesuatu yang tak ingin Josh dengar. Setiap kali mengingat perbedaan antara ekspresi Windy di hotel dan di mobilnya, ada rasa tidak enak yang sulit ia buang meskipun sejak tadi ia sudah berusaha denial berkali-kali.

Semua itu bercampur. Hangat dan dingin. Bahagia dan curiga. Senang dan nyeri.

Josh menghela napas panjang. Akhirnya, dia pun membuka pintu rumahnya.

 

Rumah itu gelap.

 

Sunyi.

 

Tak ada apa pun yang menyambutnya selain udara dingin yang mengisi ruang tamu. Namun, ia tak langsung menyalakan lampu. Ia hanya berdiri sejenak di ambang pintu, membiarkan kegelapan itu menyelimuti tubuhnya, seperti memberi ruang bagi pikirannya untuk mencecap segala perasaan yang belum sempat ia hadapi.

Ia seperti…ingin leluasa memikirkan seluruh kegelisahannya terlebih dahulu. Di dalam kegelapan, biasanya…kau bisa lebih fokus dalam merefleksi dirimu. Merenungkan semuanya.

Josh pun melangkah masuk. Ia menutup pintu rumahnya perlahan, lalu berjalan tanpa suara menuju sofa di ruang tamu. Rumah itu berada dalam keheningan total, hanya terdengar suara kunci yang Josh letakkan di atas meja.

Josh duduk di sofa itu. Kepalanya bersandar. Matanya terpejam sebentar.

Dia lelah.

Bingung.

Namun, ya…sedikit bahagia juga.

Setelah merasa sedikit tenang, Josh pun meraih ponsel yang ia simpan di saku celananya. Ia membuka kunci layar, lalu cahaya putih dari ponsel itu menyinari wajahnya dalam ruangan yang masih gelap.

Ia membuka aplikasi WhatsApp.

Ternyata, pesan-pesannya sejak pagi tadi…

 

…masih belum dibaca oleh Windy.

 

Masih centang dua, abu-abu. Tidak berubah.

Josh menatap chat itu selama beberapa detik, seolah-olah menunggu warna centang itu berubah menjadi biru. Namun, tidak ada yang terjadi.

…bukankah Windy sudah ada di rumah sejak tadi?

 

Apa Windy sedang mandi?

 

Josh lantas membuka chatroom-nya dengan Windy. Dia men-scroll ke atas, memeriksa satu per satu pesan yang ia kirimkan. Semuanya masih belum terbaca.

Namun, ada sesuatu yang Josh lihat…yang sukses menikam dadanya.

Membuat jantungnya seolah-olah tertohok lembing tajam.

 

Windy sedang online. []

 













******







Oke, Kei emang nggak muncul di chapter ini, tapi ayo pasang fotonya biar kita agak healing dari kelakuannya Windy wkwkwkw







Friday, November 21, 2025

My Man (Bab 16)

 


******

Bab 16 :

 

KEGADUHAN di kelas benar-benar terasa menjengkelkan. Basuki beberapa kali menutup telinganya dengan gaya kemayu yang selalu dia tunjukkan. Di setiap sudut, semuanya berisik. Mana semuanya cowok pula! Paling-paling...cuma lima mahasiswi yang ada di kelas itu.

Sudah tahu tak ada dosen, mereka bukannya pulang, malah nongkrong-nongkrong di kelas sambil bercerita. Biasa, cerita anak cowok. Mahasiswa di kelas Talitha banyak yang macho, tetapi nggak jelas semua kelakuannya.

Begitu pula Talitha. Dia cewek, tetapi otaknya kurang waras. Dia sampai terkenal seantero Fakultas Teknik lain. Dekat dengan Talitha dapat menyebabkan perut mual dan mulas.

Ajaib juga anak seperti Talitha bisa masuk Teknik Sipil. Soalnya, itu termasuk jurusan yang membutuhkan otak encer. Yah, walaupun anak-anak Teknik Sipil yang seangkatan Talitha itu sableng semua, mereka punya otak yang encer. Ingat juga bahwa: mereka adalah anak-anak UI.

Biar sableng begitu, Talitha diterima di UI dengan jalur tes kok!

"OI, MANIS MANJAH! KOK BERISIK AMAT, SIH, LO PADA?! PULANG SANA WOI!" teriak Basuki kencang. Suara laki-lakinya hampir saja keluar. Talitha ngakak setengah mati saat semua orang menoleh pada Basuki sambil menyatukan alis.

"Lah, biasanya juga lo yang berisik, Bencong!" teriak Rifsach di ujung ruangan.

"Iya njir. Nih anak kurang asem banget. Mau gue anterin ke Polda nggak, biar lo ditahan sama polisi? Lo agak bahaya soalnya. Kan lo biasanya nangkring di pinggir jalan kalo malem," ujar Tommy. Ucapannya mengundang tawa satu kelas.

Basuki melempar bando yang ia pakai ke arah Tommy. "EH KAMBING!!! MAMPUS LO SANA! YAKALI NANA NANGKRING DI PINGGIR JALAN?! KASIH GUE YANG ELIT DIKITLAH TAI!"

Basuki menatap Talitha, tetapi Talitha terrnyata justru tertawa keras (sangat keras, melebihi teman-teman yang lain). Basuki kontan menjitak Talitha dengan kencang. "Ketawa aja terus lo tai! Ketawa terus sampe mulut lo robek!!"

Talitha memegangi perutnya yang berguncang karena tertawa. "Emang enaaaak?!! Boleh juga, tuh, Bas! Yok, gue anterin ke Polda!" ajak Talitha. Hal itu membuat Basuki spontan memukuli punggung Talitha habis-habisan.

"KURANG AJAAAARRRRR!!!!!!!" teriak Basuki. Muka Basuki kayak nggak nunjukin kalau dia lagi marah, padahal sebenarnya dia sangat marah. Tipe-tipe orang humoris; walaupun lagi serius, orang-orang akan tetap menanggapinya dengan tawa. Apa-apa jadi kelihatan lucu. Hal ini juga terjadi pada Talitha. Talitha, sumber virus tak waras yang menjangkit Basuki.

Karena lelah memukuli Talitha—dan sadar bahwa Talitha malah semakin tertawa—Basuki pun terduduk di samping Talitha dan menghela napas.

"Emang stress kalian nih. Mirip sempak Spider-Man," omel Basuki. "Si Kunyuk satu ini juga stress. Apa guna lo sebagai temen, gue tanya?!!"

Talitha ngakak lagi. "Lah, emangnya lo udah pernah liat sempak Spider-Man? Gimana perasaan lo abis liat itu? Panas-dingin nggak badan lo?" tanya Talitha, membuat semua orang di kelas langsung tertawa, apalagi isi kelas itu kebanyakan cowok. Hancur sudah.

"Emang ngak punya malu nih anak!!!" Basuki menempeleng Talitha. Talitha semakin menjadi-jadi saja begonya.

"DIEM GA LO, NYONG?" ancam Basuki kepada Talitha. Talitha memukul-mukul kursinya sambil tertawa.

"Jual golok, jual golok... Yang kesel, silakan beli golok... Gue jual, nih..." kata Rifsach.

"WOI, KAMBING GULING, DIEM GA LO?!" teriak Basuki kepada Rifsach. Semua orang jadi tertawa. Basuki jadi cemberut.

Satu menit berlalu...hingga akhirnya Talitha berhenti tertawa. Wajah gadis itu memerah; dia nyaris menangis karena terlalu banyak tertawa, padahal sebenarnya, dia baru mendapat masalah. Dua hari yang lalu, dia bermasalah dengan Deon. Namun, dia tak mau memikirkannya lebih dalam karena sesungguhnya, dia sendiri tak terlalu mengerti dengan Deon.

Dia bukan gadis yang mudah terbawa perasaan; dia belum terlalu mengerti apa itu cinta. Dia cuek dan tak ada manis-manisnya. Makanya, dia tak memikirkan itu terlalu dalam meskipun ada rasa sakit hati pada Deon yang marah-marah sampai memukuli Alfa—yang jelas-jelas tak bersalah—waktu itu. Talitha tahu kalau Deon itu posesif bukan main, tetapi...

 

...yah, entahlah.

 

Saat sudah berhenti tertawa, Talitha menatap Basuki yang tiba-tiba mendekatkan dirinya pada Talitha. Mata Basuki mendadak berbinar. "Eh, Ta, gimana kabar Mas Deon Ganteng? Udah lama gue nggak liat Mamas Gantengku itu! Ya Tuhaaaannnnnn!!!"

Basuki mengelus-elus pipinya. Dia kesengsem banget kalau sedang membahas pria tampan, terutama Deon.

Talitha diam. Mendengar pertanyaan itu, Talitha...jadi malas menjawab. Nanti, ujung-ujungnya...pertanyaan Basuki bercabang ke mana-mana. Talitha malas sekali membahas masalah Deon karena jujur saja, Talitha sendiri pusing memikirkannya.

Halah, sudahlah! Kok jadi ruwet begini, sih?

Talitha mengedikkan bahu. "Nggak tau dah gue, Bas."

Talitha malas memedulikan itu. Bukannya apa, dia masih tak habis pikir kapan permainan Deon ini akan berakhir dan kapan Deon berhenti memporak-porandakan hidupnya. Well, sebenarnya, Talitha merasa agak aneh tiap ada di dekat Deon. Kadang jantungnya berdebar, kadang dia ikut sedih melihat Deon, kadang dia kesal dengan Deon...tetapi dia belum bisa menentukan perasaan apa yang sedang dia rasakan.

"Lah?" ujar Basuki dengan mata membulat, tatapannya langsung serius. "Kenapa lo—"

"Pulang, yok," potong Talitha sambil cengar-cengir. "Eh, ntar sore lo ke rumah gue aja, maen. Sambil beli es cendol di depan kompleks. Mau nggak?"

"MANTUL, AYOK-AYOK!!" teriak Basuki. Talitha langsung tertawa sembari menarik Basuki keluar dari kelas.

Akan tetapi, pada akhirnya...mereka tidak pulang bersama-sama karena Basuki tiba-tiba ditelepon ibunya.

 

******

 

"Bro, gue pulang, ya?" ujar Alfa pada keempat temannya. Adlan menoleh pada Alfa dan langsung mengernyitkan dahi.

"Ngapain lo pulang sekarang? Masih ada matkul, 'kan, sejam lagi?" ujar Adlan. Vino berdecak.

"Alfa mah...diem-diem menghanyutkan," celetuk Vino dengan malas. Nathaniel cekikikan.

"Jangan-jangan...lo mau nganterin Ita, yaaaaa?" goda Gilang. Adlan tertawa. Gilang mah kompor abis. Terong-terongan pasar.

Alfa tertawa geli; dia menggeleng tak habis pikir. "Lo kok gitu banget astaga. Jahat banget, sih."

Nathaniel tertawa. Alfa berdecak sambil menahan tawa.

"Nath, please. Jangan ikut ngetawain gue astaga. Lo biasanya nggak sefrontal Gilang, 'kan?" kata Alfa keki.

"Ea ea eaaaa..." Adlan ikut-ikutan meledek Alfa. Alfa jadi menggaruk keningnya karena pusing sendiri. Cowok itu berkacak pinggang, menunduk, dan menghela napas sembari menggeleng geli.

"Awas aja, Fa. Jangan sampe lo dipukulin lagi sama calon suaminya itu. Kalo dia masih mukulin lo, kayaknya kita mesti ikut campur," ujar Nathaniel.

Alfa terdiam. Cowok itu menghela napas samar dan tersenyum.

"Lain kali, kalo ada apa-apa, lo jangan diem aja," kata Adlan. Gilang dan Vino mengangguk setuju. Adlan pun melanjutkan, "dan plis, lawan dia balik, Fa. Lagian, dia juga nggak perlakuin Ita dengan baik, ‘kan?"

Vino mengedikkan bahu. "Kalo menurut gue, lo pantes sama Ita. Jadi, meskipun lo dipukulin gitu…gue nggak bisa nyuruh lo buat nyerah."

Sesungguhnya, sudut bibir dan tulang pipi Alfa masih memar. Itu mengundang pertanyaan semua orang, terutama Alfa adalah Ketua BEM. Wajah memar-memar itu menunjukkan bahwa dia habis berkelahi.

Alfa menghela napas, kemudian dia tersenyum. "Gue nggak tau mau bilang apa, tapi makasih, ya, buat dukungan kalian."

Tiba-tiba, Alfa teringat sesuatu. "Eh, udah dulu, ya, ntar Ita keburu pulang. Gue duluan, ya!" Alfa berlari meninggalkan teman-temannya yang nongkrong di depan kelas. Keempat temannya langsung tertawa.

"ECIEEE! KECEPOSAN, TUH, MAU NGATERIN ITA! WHAHAHA!! YUHUU!” Gilang menyoraki Alfa yang sudah menjauh. Adlan tertawa, sementara Vino hanya menggeleng-geleng geli.

"Tuh anak alim kalo jatuh cinta ternyata jadi so sweet gitu haha," komentar Nathaniel. "Dia sampe tau kapan aja Talitha ga ada matkul atau nggak ada dosen. Boleh juga."

"Alfa mah cakep, ‘kan. Jadinya…aneh juga kalo dia nggak punya pacar nantinya," ujar Adlan, membuat mereka semua tertawa.

By the way, entah sejak kapan Nathaniel—penggemar bakso urat itu—jadi suka meledek Alfa.

Di sisi lain, Alfa kini sudah sampai ke depan gerbang kampus. Tidak jauh dari sana, Alfa melihat Talitha yang baru saja berpisah dengan Basuki sembari tertawa riang. Alfa tersenyum dan langsung menghampiri Talitha.

"Ita," panggil Alfa ketika ia sudah sampai di dekat Talitha. Cowok itu tersenyum manis meskipun sudut bibirnya masih luka. Talitha mengerjap begitu sadar bahwa ada orang yang memanggilnya dari belakang.

Suaranya…seperti suara Alfa.

Talitha menoleh ke belakang dan matanya sedikit membulat. Ternyata, itu memang Alfa. Namun, astaga. Sekarang, saat melihat wajah Alfa yang luka-luka, rasanya Talitha malu sekali. Dia jelas ingat kalau Alfa luka-luka karena dipukuli Deon dengan alasan: jalan berdua dengan Talitha. Talitha benar-benar merasa bersalah.

Akan tetapi, untuk mencairkan suasana…Talitha pun berusaha nyengir.

"Oh, Kak Alfa toh. Udah baikan, Kak?" tanya Talitha. Talitha menghindari perkataan maaf lagi karena ia tahu kalau itu akan membuat Alfa mengingat kembali kejadian waktu itu. Masalahnya, Talitha kemarin sudah berkali-kali meminta maaf kepada Alfa dan suasana berubah jadi tidak enak. Alfa juga melarang Talitha untuk meminta maaf karena semua itu bukan salah Talitha.

Alfa tersenyum manis. "Ya...lumayanlah, Ta. Ita mau pulang? Nggak ada dosen, ya?"

Entah mengapa, Talitha jadi ngakak. "Iya. Kok Kakak tau, sih? Hahahah!"

Alfa tertawa kecil. "Iya. Si Tommy, temen kamu itu, kan nge-chat Kakak, katanya dia nggak bisa hadir rapat BEM jam empat sore nanti. Terus ya lanjut cerita, dia bilang kalo sekarang dia pulang karena nggak ada dosen."

Talitha mengangguk, mulutnya membentuk 'o'. "Oo…gitu."

"Pulang sama Kakak aja, yuk?" ajak Alfa. Talitha jadi mengernyitkan dahi. Rasanya agak...bagaimana...gitu, kalau pulang dengan Alfa. Soalnya, meskipun Talitha tak tahu Deon serius atau tidak saat mengatakan 'Aku mencintaimu' padanya, entah mengapa…Talitha tak ingin Deon berpikir bahwa dia berkhianat. Dia tak mau Deon memfitnahnya lagi, apalagi Talitha juga masih merasa bersalah pada Alfa.

Talitha menggaruk kepalanya dan cengar-cengir tak jelas. "Ah…hahaha, kayaknya nggak usah, deh, Kak. Hohoho. Ita bisa pulang sendiri kok."

Alfa membulatkan matanya, agak heran. "Lho, kenapa? Bukannya Bang Gavin hari ini nggak bisa jemput, Ta? Ini hari Senin, soalnya."

"Iya, Kak, Bang Gavin nggak jemput. Makanya, Ita pulang sendirian aja, ya, oke? Kakak juga masih luka gitu. Duluan, ya, Kak!" teriak Talitha. Gadis itu langsung berbalik sembari melambaikan tangannya pada Alfa. Ia berlari, tetapi mendadak berhenti tatkala melihat seseorang yang sedang berdiri dua meter di depannya.

Matanya membelalak.

Itu...

 

Deon.

 

Alfa juga tampak kaget saat melihat Deon yang baru saja sampai di sana; Deon berdiri di sana seraya menatap Talitha dengan tajam.

Talitha benar-benar tak mengerti. Mengapa ia merasa seperti ‘ketahuan selingkuh’? Perlakuan Deon ini membuatnya jadi merasa begitu! Lagi pula, mengapa Deon ada di sini?!

Dalam waktu tiga detik, tatapan mata Deon yang tajam itu langsung beralih ke Alfa. Tatapan itu setajam silet.

"Kamu denger itu? Dia nggak mau pulang sama kamu. Berhenti ngedeketin dia atau kamu babak belur lagi kayak waktu itu,” ujar Deon tajam. Alfa mengernyitkan dahi.

Namun, sesaat kemudian, Alfa mengepalkan tangannya.

Deon mulai mendekati Talitha, lalu langsung menarik Talitha untuk ikut bersamanya. Mata Talitha membelalak; tarikan Deon sangat kencang dan terkesan begitu memaksa.

"DEON! NGGAK USAH NARIK-NARIK! DEON!!" teriak Talitha.

Namun, beberapa detik kemudian, tubuh Talitha mematung. Gadis itu sadar bahwa tangannya yang satu lagi ditahan oleh seseorang yang ada di belakangnya. Talitha menoleh ke belakang dan jantungnya seperti mencelus ke perut begitu melihat bahwa itu adalah Alfa.

Alfa menahan tangan Talitha. Wajah seriusnya seolah-olah benar-benar mau menentang Deon.

Deon, yang tadinya ingin membawa Talitha masuk ke mobilnya, tiba-tiba terhenti. Matanya membeliak. Sedetik kemudian, pria itu menutup matanya karena menahan amarah. Dia sudah bisa menebak siapa yang tengah menahan langkah mereka.

Deon membuka matanya; matanya langsung memelotot. Pria itu melihat melalui bahu kirinya, dia menatap Alfa dengan keji.

"Apa maksudmu?" tanya Deon tajam.

Alfa menatap Deon dengan mata menyipit. Alfa memang mostly hanya diam, tetapi bukan berarti selamanya akan seperti itu. Tak selamanya orang yang berhati mulia seperti Alfa mau mengalah, apalagi Alfa tidak salah. Alfa tak ingin Talitha terjebak dengan orang egois seperti Deon. Jujur saja, Deon adalah orang pertama yang membuat Alfa benar-benar marah. Alfa tak menyukai sifat Deon meskipun dia tahu bahwa Deon juga mencintai Talitha.

"Aku yang bakal nganterin dia pulang. Jangan egois," ujar Alfa.

Mata Deon semakin memelotot. Pria itu menggertakkan giginya, lalu satu detik kemudian, dia melepaskan tangan Talitha. Dia langsung mendekati Alfa dengan langkah cepat; dari punggungnya, dia tampak marah besar. Saat sudah sampai di depan Alfa, dia menarik kerah baju Alfa dengan kencang.

Deon memelototi Alfa. "JANGAN MAIN-MAIN KAMU! DIA ITU KEKASIHKU!!"

Alfa melepas tangan Talitha dan balas mencengkeram kemeja kerja Deon. "Orang yang cuma mentingin dirinya sendiri kayak kamu itu sama sekali nggak pantas untuk Ita."

Deon langsung meninju Alfa.

"KAMU BAHKAN CUMA BISA NGEREBUT PUNYA ORANG LAIN! SIALAN!!" teriak Deon. Alfa meninju Deon balik. Banyak orang di sana yang mulai menghampiri mereka. Orang-orang juga tak menyangka bahwa yang berkelahi itu adalah Alfa dan Marco Deon yang entah sejak kapan sudah ada di sana.

"BERHENTI!! KAK ALFA!! DEON!!!" teriak Talitha.

Deon langsung berbalik dan menarik Talitha lagi, sementara Talitha mulai memberontak. Ia sudah sangat kesal. Deon sungguh egois. Saat ini, pria itu tak tahu apa pun selain ‘mempertahankan apa yang sudah menjadi miliknya’. Ia tak memedulikan perasaan orang lain.

Talitha benar-benar ingin menampar Deon—terutama saat ini—karena Deon langsung mengempaskan tubuh Talitha ke dalam mobil. Saat Deon—dengan ekspresi mengerikannya itu— telah duduk di sebelah Talitha dan menyalakan mesin mobil, Talitha pun berteriak.

"AKU UDAH NGGAK MAU LAGI KAYAK GINI, DEON!! LIAT, BENTAR LAGI KAMPUS BAKAL HEBOH. KASIAN KAK ALFA!! DIA ITU ORANG YANG PENTING DI UNIVERSITAS!! APA-APAAN KAMU TADI, HAH?!!!!"

Mobil sudah berjalan dan Talitha masih berteriak, "AKU PUSING TAU NGGAK?! APA LAGI, SIH, INI?!!"

Deon mencengkeram roda kemudi hingga urat-urat di tangannya tercetak jelas. Rahangnya mengetat. Matanya menatap ke depan dengan tajam, pikirannya benar-benar tidak fokus mengemudi; dia lebih fokus kepada Talitha. Talitha benar-benar membuatnya gila.

“DEON!!!”

“DIAM!!”

Mata Talitha membulat. Gadis itu menggeleng, kemudian menggertakkan giginya. Rasa marahnya semakin menjadi-jadi. "KAMU ITU YANG HARUSNYA JAGA SIKAP!!"

"DIA YANG MANCING AKU!!! DIA YANG UDAH BERENCANA UNTUK NGAMBIL APA YANG KUPUNYA!!! KAMU ITU MILIKKU, TALITHA, HANYA MILIKKU!!" teriak Deon. Bersamaan dengan itu, Deon memberhentikan mobilnya di pinggir jalan secara mendadak.

Tubuh Talitha terdorong ke depan dan nyaris menghantam dashboard. Deon benar-benar tak kenal ampun. Mata Talitha membulat; jantungnya hampir berhenti berdegup. Namun, saat ini, dia tak memedulikan semua itu; dia langsung menatap Deon dengan mata nyalang.

"YANG KAMU TAU ITU CUMA KEPEMILIKAN! KALO KAYAK GINI TERUS, KAMU NGGAK AKAN PERNAH BISA DAPETIN ORANG YANG TAHAN NGEHADAPIN KAMU!! KURANGIN SIFAT POSESIF KAMU ITU, DEON, ATAU KAMU AKAN TERUS-MENERUS NGERASA KEHILANGAN!!!!" teriak Talitha. Talitha tahu kalau…tak seharusnya dia mengatakan itu. Soalnya, itu akan membuat Deon sangat marah karena terpukul. Akan tetapi, Talitha terlalu kesal. Kesabarannya habis. Dia marah dan bingung harus melakukan apa lagi. Namun, menurutnya, perkataannya itu benar. Deon tak boleh begini terus. Pria itu harus berubah.

Talitha sudah siap jika Deon mau mengamuk.

Akan tetapi, yang terjadi malah berbeda. Di luar ekspektasi Talitha, Deon kini melepas pegangannya dari roda kemudi, lalu langsung meraih leher Talitha dengan cepat.

Dia mencium Talitha dengan kasar. Dia langsung memasukkan lidahnya ke mulut Talitha dan menarik Talitha untuk semakin mendekat padanya. Talitha memukulinya dan memberontak.

Talitha tak bisa bernapas ataupun bergerak. Deon mengunci tubuhnya; ciuman pria itu sangat menuntut. Sebelah tangan pria itu—yang bebas—mulai memeluk Talitha dengan erat.

Tangan Talitha tertindih saat sedang memukul dada Deon sehingga gadis itu tak dapat memukul Deon lagi. Namun, dia tetap berusaha untuk melepaskan diri.

Saat ciuman itu terlepas, Talitha langsung ingin memukul Deon lagi, tetapi tangannya ditahan oleh Deon. Deon menatap Talitha dengan penuh peringatan.

Beberapa detik kemudian, Deon mulai menarik Talitha ke dalam pelukannya. Deon menunduk... dan mencium leher Talitha.

Mata Talitha membeliak.

Namun, perlahan-lahan, mata gadis itu kembali seperti semula.

"Kamu kenapa, hah?”

"Tolong…tetap bersamaku, Talitha," ujar Deon. "Bantu aku untuk jadi lebih baik…karena aku nggak main-main dengan perasaanku. Aku tau aku jauh dari kata baik; aku tau aku nggak pantes buat kamu, tapi tolong…kasih aku kesempatan untuk ada di sisi kamu.”

Talitha hampir berhenti bernapas.

 

Deon...b—barusan—

 

Saat itulah, Talitha tanpa sadar langsung memeluk Deon dengan erat.

Ke mana semua rasa marah yang tadi Talitha rasakan? Mengapa Deon membuat dunianya jungkir balik seperti ini?

Sudah berkali-kali Deon menciumnya dan memeluknya, tetapi dia baru sadar...bahwa pelukan Deon itu terasa sangat hangat dan nyaman. Dia juga sadar...bahwa Deon bisa membuatnya merasakan perasaan yang tak pernah dia rasakan sebelumnya. Deon mampu membuatnya kesal, mampu membuatnya merasa sakit hati, dan mampu membuatnya merasakan kehangatan.

 

******

 

"Halo?" ujar Chintya begitu ia menempelkan ponselnya di telinga. Chintya baru saja menutup pintu mobil; kini, dia mulai berjalan ke pintu masuk butik kenalannya.

"Aku punya info lagi buat kamu, Chintya," ujar seseorang di seberang sana.

"Apa?" tanya Chintya. Chintya merogoh tasnya (untuk mencari dompet) saat sudah hampir sampai di depan pintu kaca butik.

Chintya masuk ke butik itu dan wangi bunga di sana sukses memanjakan penciuman Chintya. Suasana butik yang tenang, musik klasik yang terdengar elegan...langsung menyambutnya. Namun, ia masih mendengarkan informasi dari orang yang bertelepon dengannya saat ini.

Tiba-tiba, ada satu informasi dari orang itu yang membuat Chintya berhenti melangkah. Wajah gadis itu menegang; matanya membelalak.

Mendadak…dia tersenyum miring.

"Gavin Aryadinata, ya...." katanya perlahan. "Selain itu, ada anak magang bernama... Kanya Destianti…yang mendekatinya?"

"Iya, Chintya," jawab orang itu.

Chintya tersenyum penuh kemenangan.

 

Ternyata, ada cara mudah untuk memisahkan Talitha dengan Deon.

 

******

 

Gavin mendengkus saat sampai di depan sebuah diskotik yang tersembunyi di Jakarta. Diskotik yang setahu Gavin sering Revan datangi. Revan membawanya ke sini saat mereka baru saja selesai lembur di kantor dan pulang jam tujuh malam.

"Tsk," decak Gavin. "Lo mau ngapain, sih, ke sini? Kalo cuma mau ngambil jaket lo yang ketinggalan kayak waktu itu, gue tonjok lo."

Revan tertawa terbahak-bahak. "Santai, Nyet. Udah, deh, lo ikut aja. Sekalian refreshing di sini. Capek juga gue, akhir-akhir ini lembur terus."

"Kalo mau refreshing tuh jangan di sini, bego! Ini mah berisik banget; gue makin pusing!" Gavin mulai sewot. Sementara itu, Revan tertawa kencang.

"Halah, bentar doang kok. Gue cuma mau nemuin Bianca di sini," ujar Revan.

Gavin mendelik. "Eh, jangan maen-maen lo, Nyet! Gue bawa dokumen penting, nih! Lagian, siapa lagi tuh Bianca? Cewek macem apa lagi yang lo pacarin?!"

Suara musik di sana—yang sangat berisik itu—nyaris merusak pendengaran Gavin. Lampu yang berwarna-warni seakan-akan menyambut kedatangan mereka. Bau parfum yang menyengat di sana membuat Gavin semakin risi. Sialan, tempat macem apa ini.

Sudah berkali-kali dia dibawa Revan ke tempat seperti ini dan dia masih belum terbiasa.

Gila. Si Playboy Revan memang sudah gila. Gavin nggak mau ambil risiko. Bisa-bisa…Gavin jadi ikut minum, nih. Gavin takut karena nanti…kalau ada apa-apa dengan dokumen yang ia bawa...dia bisa mampus. Dia harus membuat ulang seluruh dokumen itu.

Gavin menatap Revan yang berjalan di depannya dengan jengkel. Dia melihat orang-orang yang sedang menari di dalam sana, menikmati musik seolah-olah dunia milik mereka. Seolah-olah mereka tak peduli lagi dengan hari esok.

Gavin memilih duduk di depan bar counter saat Revan mulai menghampiri seorang perempuan seksi di ujung sana. Perempuan itu sedang duduk di salah satu sofa merah.

Gila tuh anak, komentar Gavin dalam hati. Sebenarnya, banyak sekali cewek baik-baik yang tergila-gila dengan Revan. Namun, Revan? Anak itu otaknya memang agak miring.

Saat duduk di depan bar counter, Gavin mulai merasa lelah. Lehernya pegal-pegal. Punggungnya bagai ditimpa batu berton-ton.

Capek, asli.

"Ada air putih?" tanya Gavin kepada sang bartender. Bartender itu menggeleng.

"Nggak ada, Mas."

Gavin menghela napas. "Ya udah, wine spritzer aja."

 

Paling nggak…yang ringan aja, deh. Gawat kalo mabuk.

 

Saat segelas wine spritzer itu sampai di depannya, Gavin langsung meminumnya sampai habis. Gila, rupanya dia haus juga. Ini…Revan sampai kapan mau berada di diskotik ini?

Gavin menoleh ke samping dan mengernyitkan dahi saat melihat ada seorang perempuan yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya. Perempuan itu menunduk malu dengan wajah yang memerah. Gavin membulatkan mata.

"Lah, Kanya?" ujar Gavin, terkejut. "Kanya, ‘kan? Kamu ngapain di sini?"

Kanya hanya memegangi roknya—rok kerjanya—dengan gugup. Tangannya tampak sedikit gemetar dan Gavin memperhatikan semua itu.

"Duduk dulu," saran Gavin.

Dengan gugup, Kanya pun duduk di sebelah Gavin. Dia hampir jatuh karena terlalu malu. Dia adalah tipe-tipe gadis polos yang sangat pemalu dan juga kaku. Gavin menghela napas.

"Ada apa? Kok kamu bisa ada di sini?" tanya Gavin pelan-pelan, tak mau Kanya jadi takut. Kanya pun…tampak tak terbiasa berada di diskotik ini. Dia terlihat tak nyaman.

Suara musik membuat Gavin sulit mendengar Kanya saat gadis itu membuka suara, "Sa—saya...saya cuma pengin sekali-kali datang ke diskotik, Pak Gavin. Saya—saya...itu.."

"Kenapa?" tanya Gavin. "Nggak seharusnya kamu punya pikiran kayak 'pengin pergi ke diskotik' gitu. Ada apa?”

Namun, Kanya tidak menjawab Gavin. Gavin malah dibuat kaget saat Kanya malah memesan minuman ke bartender. "Mas, kasih saya whisky."

Gavin langsung duduk tegap. "Eh eh eh, tunggu dulu! Kanya, kamu serius? Itu minuman beralkohol, lho! Udah, sekarang, mendingan kamu—"

"Kasih saya, Mas," ujar Kanya. Dia meyakinkan bartender itu (karena bartender itu sempat berhenti saat Gavin protes). Gavin spontan menganga.

 

Wah, apa cewek ini serius? Apa mungkin dia udah sering minum?

 

Minuman itu pun sampai di depan Kanya. Kanya menatap minuman itu dengan tak yakin. Gavin memperhatikan reaksi Kanya itu.

‘Wah, ada yang nggak beres, nih,’ pikir Gavin. Tadinya, ia sempat berprasangka bahwa perempuan yang menyatakan cinta padanya lewat surat itu sudah sering minum minuman beralkohol. Namun, sekarang…ia yakin sekali kalau ada yang tak beres. Gadis itu terlihat memaksakan diri.

Gavin mencegah Kanya saat gadis itu baru mau meminum whisky-nya. Gavin memegang tangan Kanya; sentuhan Gavin yang tiba-tiba itu membuat Kanya bergetar.

Saat melihat Gavin yang menatapnya dengan serius, pipi Kanya pun memerah.

"Udah, kamu boleh cerita sama saya. Jangan dipaksain minum," ujar Gavin. Namun, Gavin lagi-lagi kaget saat Kanya langsung meminum whisky-nya tanpa sempat Gavin cegah. Mata Gavin membulat. Kejadiannya sangat cepat; Gavin bisa melihat Kanya yang mengerang setelah minuman itu masuk ke kerongkongannya.

Saat sudah merasa baikan, Kanya menawarkan Gavin untuk mencicipi whisky-nya. Gavin spontan menolak.

"Nggak, nggak usah. Saya lagi nungguin Pak Revan. Saya nggak mau mabuk," ujar Gavin pelan. Kanya menghela napas dan wajah gadis itu semakin memerah. Tanpa Gavin sangka, Kanya memesan kembali minuman itu. Setelah menghabiskan dua gelas, gadis itu jadi mabuk.

‘Astaga nih anak, yang bener aja?’ pikir Gavin.

Lagi pula, ini sudah dua puluh menit. Ke mana Revan? Sial.

"Pak Gavin..." panggil Kanya tiba-tiba. Suaranya sudah mendayu. Gavin menoleh kepadanya dan menyahut.

"Ya?"

"Ayo minum, Pak..." ajak Kanya dengan nada genit. Sepertinya, itu karena dia sedang mabuk. Gavin menghalangi Kanya dengan tangannya; pria itu menggeleng sembari tersenyum. "Nggak, Kanya."

"Ayo, dong… Ayo!" teriak Kanya. Teriakan gadis itu membuat banyak orang menatap ke arah mereka berdua. Gavin jadi panik; dia kembali menatap Kanya. Pria itu mendengkus dan berdecak frustrasi.

"Oke, oke. Fine. Satu gelas aja. Jangan teriak, plis," ujar Gavin dengan cepat. Mata Kanya berbinar. Gadis itu langsung memesankan segelas whisky untuk Gavin. Setelah minuman itu sampai, Gavin mulai meminumnya beberapa teguk.

"Lagi... Lagi!!" teriak Kanya dengan polosnya. Gavin menganga.

"Kanya—"

"Lagi, Pak… Ayo!" pinta Kanya. Gavin jadi keki sendiri. Gavin tak terbiasa memarahi orang, kecuali Revan. Gavin juga nggak tegaan. Meskipun dia cerewet, sebenarnya…dia terlalu baik. Gavin tak bisa memarahi Kanya, apalagi Kanya itu perempuan. Ditambah lagi, Kanya sedang mabuk. Gavin akhirnya menuruti Kanya dan meminum whisky itu sampai habis.

Setelah menghabiskan minuman itu, Gavin langsung menoleh ke belakang dan mencari keberadaan Revan.

 

Sial, Van…kapan lo selesai?! Gawat juga kalo gini terus!

 

Gavin kembali menoleh kepada Kanya. Gadis itu sedang menumpukan kepalanya di meja. Namun, ada yang aneh.

Tiba-tiba saja, mata Gavin berkunang-kunang.

Pria itu membuka kacamatanya dan mengucek matanya sebanyak dua kali, tetapi hasilnya tetap sama. Tubuhnya terasa panas. Kepalanya sakit.

Jangan bilang…

Tidak, dia tidak mabuk. Dia tidak selemah itu terhadap alkohol.

Ini bukan karena mabuk. []

 














******







Kalo kayak gini keliatan kalem yak wkwk




Van, lo ke mana astagaaaaa






She Was Never Mine (Bab 4: Segalanya Untuknya)

  ****** Bab 4 : Segalanya Untuknya   ******   LANTUNAN lagu di radio terdengar begitu merdu saat Josh baru saja memberhentikan mo...