Saturday, November 29, 2025

She Was Never Mine (Bab 4: Segalanya Untuknya)

 


******

Bab 4 :

Segalanya Untuknya

 

******

 

LANTUNAN lagu di radio terdengar begitu merdu saat Josh baru saja memberhentikan mobilnya di depan rumah Windy. Ia terlihat fresh dan bahagia karena akan bertemu Windy—pujaan hatinya—pagi ini. Sebenarnya, sejak mereka jadian, ia menjemput Windy hampir setiap hari (hanya absen kalau ada pekerjaan), tetapi perasaan bahagianya tetap muncul seolah-olah ini kali pertama dia menjemput Windy.

            Josh melihat pantulan dirinya sendiri di spion dalam mobil. Dia tersenyum (excited) dan merapikan rambutnya yang sebenarnya sudah rapi. Dia juga sedikit merapikan kemejanya, lalu setelah memastikan penampilannya oke, dia mulai melihat ke pagar rumah Windy.

Pagi ini, dia tidak memberitahu Windy kalau dia akan datang menjemput, jadi dia harap ini akan jadi surprise kecil untuk Windy.

By the way, tadi malam, Kei sudah menghubungi Josh melalui chat. Kei bilang, dia setuju untuk menjadi model dalam proyek fotografi Josh. Josh senang sekali mendengar kabar itu; ia hampir melompat di kasurnya tadi malam. Rasanya seperti mimpi yang terkabul; harapannya untuk mengadakan pameran tunggal…mungkin akan segera terlaksana. Dia akan membuat proyeknya sendiri. Idenya sendiri.

Ini menakjubkan. Dia harus banyak-banyak berterima kasih pada Alvin.

Beberapa detik kemudian, pagar rumah Windy pelan-pelan terbuka. Josh langsung duduk tegap, senyumnya merekah, dan matanya berbinar-binar. Windy tinggal sendirian, jadi yang membuka pagar itu pasti Windy.

Tak bisa Josh pungkiri, jantungnya berdebar-debar tatkala melihat Windy yang mulai muncul dari balik pagar besi itu. Windy keluar dengan berpakaian rapi; dia memakai seragam batik resepsionisnya yang berwarna merah. Roknya selutut. Rambutnya disanggul rapi.

Windy menutup kembali pagar rumahnya, lalu berbalik. Akhirnya, ia melihat ke arah Josh yang masih duduk di mobilnya. Josh tersenyum, lalu melambai kepada Windy dari balik kaca mobil.

Windy memang bertatapan dengan Josh (berhubung kaca mobil Josh tidak gelap), tetapi entah mengapa…saat melihat Josh, Windy tidak balas tersenyum. Untuk sesaat, wanita itu tampak tidak senang. Dia tampak sedikit…

…kecewa.

Namun, dalam waktu sepersekian detik, ekspresi itu langsung berubah menjadi bahagia. Dia langsung tampak bersemangat, tersenyum riang, lalu mengangkat sebelah tangannya ke atas untuk melambai-lambai kepada Josh.

Josh, yang tadinya sempat melihat ekspresi kecewa itu, spontan bernapas lega dan ikut tersenyum riang.

Windy berlari kecil ke pintu sebelah kiri mobil Josh dan langsung membuka pintu tersebut. Begitu naik ke mobil dan menutup pintu mobil kembali, wangi parfum Windy langsung memenuhi mobil Josh. Josh hafal wangi parfum Windy; wanginya manis seperti permen. Karena Josh suka Windy, dia jadi suka wangi permen itu.

Windy memasang sabuk pengaman, meletakkan tasnya ke pangkuannya, dan langsung menoleh kepada Josh. Dia tersenyum, lalu mencium pipi Josh sejenak. Membuat Josh jadi semakin berbunga-bunga.

 

Ah, iya. Josh tadi pasti cuma salah lihat.

Windy tidak sedang kecewa kok.

 

“Pagi, Sayang,” sapa Windy dengan ceria. Josh tersenyum lebar seraya menghela napasnya.

“Pagi juga, Sayang,” jawab Josh. “Cantik banget, sih?”

Windy hanya tertawa. Wanita itu lantas kembali ke posisi awal, menjauh dari tubuh Josh, tetapi masih berhadapan. Dia mulai bertanya pada Josh sambil memamerkan senyum manisnya, “Kok nggak ngabarin aku, sih, kalo mau jemput?”

Josh tertawa kecil, lalu mengusap pipi Windy dengan penuh kasih sayang. Setelah itu, dia menghadap ke depan dan mulai menghidupkan mesin mobilnya. “Nggak kenapa-napa, sih, Sayang. Mau surprise-in kamu aja.”

“Oalah…” kata Windy. “Ada-ada aja.”

Josh mulai menjalankan mobilnya. Sementara itu, Windy langsung merogoh ponselnya yang ia letakkan di dalam tas. Begitu mendapatkan ponsel itu dan membuka kunci layarnya, jemarinya bergerak cepat seolah-olah sedang mengetikkan sesuatu. Dia tersenyum; sesekali pipinya merona—tatapannya lembut—saat menatap layar.

“Hari ini kamu banyak kerjaan?” Josh tiba-tiba membuka suara. Pria itu berusaha untuk menjaga suasana di mobil agar tetap terasa ceria, mesra, dan hangat.

“Iya. Lumayan,” jawab Windy. Wanita itu agaknya tergesa-gesa untuk menyelesaikan satu chat. Dia menoleh kepada Josh sekilas, lalu kembali menatap layar. “tapi nggak apa-apa. Udah biasa kok.”

Josh tersenyum.

“Oh, gitu… Syukurlah,” jawab Josh. “Oh, ya, kamu ada waktu luang nggak sore ini, Sayang? Aku pengin jalan sama kamu.”

Windy masih menunduk; jari-jarinya masih memainkan ponsel. “Umm… Kayaknya minggu depan aja, deh, Sayang. Lebih bebas. Sekarang kerjaanku masih banyak.”

Windy menekan notifikasi lain yang muncul di layar ponselnya. Ia menatap Josh sesekali, hanya sebelah mata; jawabannya terdengar datar meski ia menyertakan senyum kecil.

Mobil Josh berjalan terus…hingga akhirnya, kurang lebih dua puluh menit kemudian, mereka sampai di depan hotel tempat Windy bekerja. Mobil Josh mulai masuk ke area halaman. Ketika mobil itu baru saja mau berhenti—di depan pintu utama hotel—Windy pun menaruh ponselnya di paha. Kala itulah, untuk pertama kalinya (sejak berangkat tadi), Windy mulai melihat full ke arah Josh. Menatap Josh dengan benar tanpa terdistraksi oleh ponsel.

“Josh…?” panggil Windy tiba-tiba. Nadanya terdengar manja.

“Ya?” Josh menoleh, memberi perhatian penuh. Nada manja Windy itu hampir membuat Josh meleleh di tempat.

“Minggu depan, hotel ngadain acara anniversary,” ujar Windy.

“Oh ya?” Mata Josh melebar. “Kamu bakal sibuk banget, dong, ya?

“Hm,” deham Windy. “tapi…aku butuh dress dan sepatu baru. Dress dan high heels-ku udah lama semua, jadi kayaknya malu banget kalo pake itu lagi. Bisa nggak kamu beliin aku? Beliin aku, dooongg, Sayang…”

Permintaan manja itu Windy sampaikan tanpa ragu. Di akhir kalimat, saat memanggil ‘Sayang’, wanita itu mulai memeluk lengan Josh—yang sedang memegang roda kemudi—dari samping.

Josh tersenyum saat merasakan pelukan itu. Dia jadi senang dan bersemangat. Akhirnya, Windy benar-benar fokus berbicara padanya, terutama ditambah dengan sikap manja wanita itu.

“Boleh, dong, Sayaaangg,” jawab Josh. “Kamu mau dress yang kayak gimana? Atau kita mau fitting dulu di butik?”

Begitu mendengar jawaban Josh, mata Windy langsung berbinar-binar. Wanita itu langsung cekikikan (semangat sekali), lalu mengeratkan pelukannya pada lengan Josh. “Yang elegan, Sayang. Bahannya satin atau sutra. Warna nude atau dusty pink. Aku mau keliatan anggun. Kalo sepatunya…aku mau high heels yang cocok untuk pesta. Sesuaikan dengan warna dress-nya juga, Sayang. Ukuran sepatuku 39. Kalo nggak, nanti aku ikut aja pas kamu beliin.”

“Tapi kamu kayaknya sibuk,” kata Josh.

Windy menghela napas, lalu mencium pipi Josh sekilas. “Yaa kalau aku sibuk, nanti kita video call-an aja pas kamu lagi beliin itu.”

Josh tertawa kecil. Hatinya berbunga-bunga, lalu ia mengangguk. Ia mencubit kecil hidung Windy. “Oke, deh, Sayang.”

Windy tersenyum sangat manis—sampai matanya ikut melengkung—lalu ia pun melepaskan diri dari Josh. “Makasih banyak, ya, Sayang. Kamu perhatian banget, sih? Aku sayaaaangg banget sama kamu.”

“Iya, Sayang. Aku aja yang beliin, biar kamu nggak pusing. Mau aku beliin clutch juga nggak?” tanya Josh dengan antusias.

“Waaaaah!” respons Windy dengan ceria. “Kamu mau beliin aku clutch juga? Mau, dongggg! Makasiih, Sayaaang!”

Lagi-lagi, Windy memeluk Josh. Namun, kali ini, Josh tertawa seraya memeluk Windy balik. Pelukan itu hanya berlangsung sesaat, tetapi setelahnya, mereka tetap duduk berhadapan dalam jarak yang dekat. Saling berbicara dengan penuh ketertarikan.

…meskipun ketertarikannya berbeda arah.

“Ya udah, aku beliin clutch juga, ya,” jawab Josh dengan lembut. “Aku seneng bisa beliin kamu.”

“Makasih, Pacarku Sayang,” ujar Windy.

Pipi Josh sempat memerah mendengar panggilan baru itu. Sedetik kemudian, Josh tersenyum dengan penuh kasih sayang…lalu mengangguk. “Sama-sama, Sayang.”

Sebelum turun dari mobil, Windy mendekati Josh lagi. Dia mengecup pipi Josh pelan, lalu berbisik, “I love you, Sayang.”

Ah, Josh senang sekali mendengar tiga kata itu keluar dari mulut Windy.

Ia benar-benar sedang dimabuk asmara.

Harapan lama yang akhirnya terkabul.

Penantian lama yang akhirnya terbayar.

Oh, rasanya bahagia luar biasa.

 

 Bagi Josh, itu adalah bukti nyata—yang cukup—bahwa Windy juga mencintainya.

 

“I love you too, Sayang,” jawab Josh tanpa ragu. Wajahnya cerah; matanya berbinar-binar saat melihat Windy turun dari mobil dengan langkah ringan. Windy menutup kembali pintu mobil setelah melambai pelan pada Josh. Dari balik kaca, Windy tampak berjalan memasuki hotel dengan santai.

Josh tersenyum lembut; ia memandangi Windy—sampai wanita itu hilang di balik pintu kaca hotel—lalu dia pun kembali menjalankan mobilnya.

 

******

 

Sore ini, Josh kembali menjemput Windy. Di mobil, dia mengangguk-angguk, bersiul, dan mengetukkan telunjuknya di permukaan roda kemudi sambil berkendara. Dress, high heels, dan clutch yang ia belikan untuk Windy (tadi siang) sudah ada di jok penumpang belakang.

Well, tadi siang, dia bertelepon dengan Windy. Video call-an untuk memilih dress, high heels, dan clutch itu. Kebetulan, hari ini Josh memang tidak ada urusan, jadi dia memutuskan untuk langsung membelikan Windy hari ini.

Windy memang mengangkat video call-nya. Namun, entah mengapa, selain dari video call itu, chat-chat Josh sejak pagi (setelah mengantar Windy) tidak ada yang dibalas. Jangankan dibalas, Windy bahkan tidak membacanya. Semuanya centang abu-abu.

Josh baru saja sampai di halaman hotel…dan dia pun memberhentikan mobilnya di sana. Sambil tersenyum lembut, dia menoleh ke kiri. Ke arah pintu masuk hotel.

Namun, ternyata, pintu hotel itu terbuka. Tidak banyak orang yang lewat di lobby, tetapi sebenarnya, mata Josh tidak fokus ke sana. Pria itu langsung melihat ke sebelah kanan lobby itu. Tempat di mana meja resepsionis berada.

Di sana, Josh melihat Windy. Wanita itu sedang berdiri di depan meja resepsionis—bukan di baliknya—dan sudah menggandeng tas, pertanda bahwa dia sudah mau pulang karena shift-nya selesai. Dia tertawa bersama teman-temannya di sana, tetapi anehnya…di sampingnya ada seorang pria. Dia terlihat aktif mengobrol dengan pria itu—mungkin, pria itu sedang membicarakan sesuatu pada para resepsionis di sana—tetapi ada hal yang sukses membuat Josh mengernyitkan dahi.

…Windy terlihat…tertawa lepas. Dia sesekali memeluk lengan pria itu. Terkadang, dia tertawa di bahu pria itu. Gerak tubuhnya sangat manja dan leluasa. Josh masih duduk di mobilnya, menonton dari jauh.

 

Siapa pria itu?

 

Tiba-tiba, Windy melihat ke luar dan menyadari keberadaan mobil Josh. Seketika, dia melepaskan ‘pegangannya’ pada pria itu, lalu tersenyum ceria. Dia pamit kepada teman-temannya, lalu berlari ke luar seraya melambaikan tangannya pada Josh.

Josh turun dari mobilnya; dengan cepat, ia memutari mobil itu dari depan untuk menyambut Windy. Windy langsung memeluk lengannya. “Sayang! Kamu udah dateng, yaa?”

Josh tersenyum, lalu membawa Windy mendekati pintu mobilnya. Josh membukakan pintu mobil itu, lalu mencium kening Windy. “Iya, Sayang. Kamu udah pulang dari tadi?”

Windy tersenyum manis. Wanita itu mengangguk. “Uh-hm. Sekitar sepuluh menit yang lalu.”

“Ooh…gitu, ya,” jawab Josh penuh pengertian. “Yuk, pulang.”

Saat Windy sudah masuk ke mobil, Josh pun menutup pintu mobil itu. Dia berbalik untuk kembali memutari mobilnya dari depan, tetapi sambil berjalan, dia sempat menatap ke arah lobby itu lagi.

Dia langsung bertatapan dengan pria yang berdiri di depan meja resepsionis itu.

Sebenarnya, teman-teman Windy juga melihat ke arah Josh. Namun, Josh tanpa sadar langsung bertatapan dengan pria itu. Mata Josh agak menyipit; dahinya berkerut. Tak bisa dia pungkiri bahwa agaknya, dia refleks memasang ekspresi kurang setuju. Kurang suka. Namun, karena tak ingin Windy menunggu lama, dia pun berhenti menatap pria itu. Dia mengalihkan pandangannya ke teman-teman Windy…lalu mengangguk sambil tersenyum. Menyapa mereka.

Mereka pun melakukan hal yang sama.

Akhirnya, Josh kembali masuk ke mobil. Dia mulai membawa mobilnya keluar dari area hotel itu.

Begitu sudah berada di jalan raya, Josh pun memulai pembicaraan dengan Windy. Dia tersenyum. “Sayang, itu dress, high heels, dan clutch-nya udah ada di jok belakang.”

Windy langsung bersemangat. Matanya berbinar-binar. Dia kontan menoleh ke belakang, lalu memajukan tubuhnya untuk mengambil tas-tas belanjaan itu.

Saat semua tas belanjaan itu sudah ada di pangkuannya, Windy mengeluarkan isinya satu per satu.

“Wah, semuanya bagus banget, Sayaang!” seru Windy. “Ternyata, pas diliat langsung begini…barang-barangnya jauh lebih bagus. Makasih banyak, Sayaaaang.”

Josh tersenyum lembut, lalu mengangguk. “Iyaa, Sayang. Sama-sama.”

Windy memiringkan kepalanya, lalu bertanya, “Tapi serius, deh. Semua pilihan yang kamu tunjukin pas video call itu bagus banget, lho. Itu pasti udah kamu pilih duluan, ‘kan, sebelum kamu liatin ke aku? Selera kamu oke banget.”

Josh tertawa kecil. “Aku pilih yang kira-kira cocok untuk kamu…dan cocok untuk acara anniversary itu. Aku juga harus cari yang nyaman dipakai.”

Windy tersenyum. “Kamu perhatian banget, Sayang. Makasih, ya.”

Josh mengangguk. Hatinya terasa hangat; dia bahagia karena sudah membuat Windy senang. Sikap Windy juga manis sekali hari ini.

Namun, tiba-tiba, Josh teringat sesuatu.

 

Pria itu.

 

Karena ingin tahu, Josh pun bertanya pelan pada Windy, “Tadi…kamu ngobrol sama siapa? Yang berdiri di sebelah kamu itu.”

Windy menoleh sejenak ke arah Josh (sejak tadi, wanita itu sibuk mengagumi barang-barang pembelian Josh). Tiba-tiba saja, di wajahnya muncul warna merah yang halus waktu ia menyebut, “Oh, yang tadi? Itu salah satu manajer hotel. Kita lagi ngomongin soal rundown acara.”

“Oh, manajer, ya. Manajer apa?” kejar Josh.

Windy tersenyum, lalu mengalihkan pandangannya ke barang-barang pemberian Josh lagi. “Front Office Manager. Namanya Frans.”

 

Oh, ternyata itu manajernya Windy.

 

Josh menahan napas sebentar. Nama itu belum pernah ia dengar sebelumnya. Rasa aneh muncul di dadanya, sebuah rasa yang sulit diberi label. Namun, ia tetap bertanya. Ia butuh suara, butuh kepastian. Kalau tidak ditanya, ini akan mengganjal di kepalanya.

“Frans?” ucap Josh. “Dia sering mampir ke meja resepsionis, ya?”

Windy memasukkan seluruh barang pemberian Josh ke dalam tas-tas belanja itu lagi. “Nggak juga, sih, tapi belakangan ini dia sering ngobrol di meja resepsionis. Ngomongin soal acara anniversary itu. Kita dapat bagian juga untuk nyiapin acara itu, soalnya.”

“Oh…” Josh mengangguk. Ada getaran halus di hatinya. Getaran yang masih samar. “Keliatannya…dia ramah banget sama kalian.”

“He-em,” deham Windy. “Dia orangnya perhatian. Gampang diajak ngobrol.”

Sebelum Josh merespons, Windy tertawa pelan; matanya menatap ke jauh ke depan, seolah-olah tidak benar-benar menatap jalanan. Dia lalu tersenyum lembut. “Dia tuh…emang ramah. Gampang bikin suasana jadi enak. Terus dia juga…ya…kalau udah ngomong sama dia, aku ngerasa lebih tenang aja gitu, tiap ngerjain apa pun.”

“Maksudnya…mudah gimana?” tanya Josh.

Windy duduk lebih nyaman. Suaranya jadi lembut; ada percikan kasih sayang…yang keluar tanpa ia sengaja. “Dia tuh…bijaksana banget. Leader yang bagus. Kadang-kadang, dia suka ngasih ide yang nggak kepikiran sama orang lain. Dia bisa merangkul anggota-anggotanya di tempat kerja. Bikin semuanya jadi nyaman sama dia.”

“Kamu…keliatan deket banget sama dia,” ujar Josh pelan. Pria itu tersenyum tipis; senyumannya tampak pahit. Sebenarnya, dia tak ingin mendengar jawaban Windy lebih jauh…karena mungkin itu akan menyakitinya, tetapi di sisi lain, dia masih ingin tahu. Masih ingin percakapan ini berlanjut.

 

Josh itu…pacarnya Windy, ‘kan?

 

Namun, entah mengapa, saat mendengar ucapan Josh…pipi Windy sempat memerah. Namun, wanita itu dengan cepat tertawa (untuk menutupi salah tingkahnya). Agak terdengar dipaksakan, tetapi Josh terbiasa mendengar tawa itu sehingga insting Josh jadi tumpul.

“Ah, nggak gitu juga,” kata Windy, masih sambil tertawa. “Kita ngobrol soal kerjaan aja kok. Kadang-kadang dia bercanda dan aku ikutan ketawa. Ya biasalah.”

Josh hanya diam. Senyumannya semakin tipis, bahkan hampir tak terlihat lagi. Bagaikan ada sebuah jarum yang mulai menusuk dadanya pelan-pelan. Pikirannya mulai ke mana-mana. Namun, dia tak ingin memercayai itu.

Windy menoleh kepada Josh, lalu memeluk lengan Josh dari samping. Dengan manja, dia pun berkata, “Kamu jangan salah paham, ya, Sayang. Aku pacarannya sama kamu.”

Akhirnya, karena Windy memeluk dan mengusap lengannya…serta menatapnya dengan mata bulat polos itu, Josh pun menarik napas panjang. Dia mengesampingkan seluruh perasaan tak enak itu…lalu membuang pikiran buruknya. Jahat juga kalo curiga sama Windy, pikirnya. Dia harus percaya pada Windy. Windy itu orang baik. Cerah. Tulus.

“Iya, Sayang.” Josh mengangguk. “Maaf kalo pertanyaanku terkesan kayak nginterogasi kamu.”

Windy memiringkan kepalanya dan tersenyum semanis madu. “Nggak apa-apa, Sayang. Percaya sama aku, ya? Aku cuma fokus kerja kok. Frans cuma manajerku.”

“Hm,” deham Josh.

Percakapan pun mengalir lagi. Namun, karena topiknya masih seputar ‘acara anniversary hotel’, ujung-ujungnya Windy kembali menyebut nama Frans. Soalnya, resepsionis juga ikut jadi panitia acara dan Frans adalah manajer mereka. Jadi, Windy akhirnya banyak cerita seputar Frans: bagaimana Frans menawarkan idenya soal lampu, bagaimana dia berkoordinasi dengan supplier, bagaimana dia membantu menyelesaikan masalah sound check, dan lain-lain. Setiap kali Windy bercerita soal Frans, wanita itu tersenyum riang dan pipinya merona sedikit. Namun, kalau deskripsinya sudah terlalu ‘panjang’, dia langsung mengalihkan pembicaraan.

“Dia sempet nanya, ‘Kenapa nggak kita taruh lampu di sini aja biar lebih intimate?’, terus aku mikir, ‘Ooh, iya juga, ya.’ gitu. Bener-bener ada aja idenya,” kata Windy, kedua matanya berbinar saat menjelaskan itu.

“Terus…tadi dia juga bilang ke aku kalo dia bakal bantu bagian aku. Aku bilang nggak usah, terus dia bilang, ‘Ya udah, nanti kalo kamu butuh, tinggal bilang aku.’ gitu. Tulus banget pokoknya,” tambah Windy.

“Dia bener-bener terlibat banyak, ya,” komentar Josh, padahal hatinya mulai terasa sakit. Darahnya terasa…mendidih.

Mengapa Windy terdengar…kagum sekali pada Frans?

Mengapa Windy terlihat berbunga-bunga saat membicarakan Frans?

Apa Windy tertarik pada Frans?

…atau…Josh saja yang terlalu sensitif?

“Iya,” jawab Windy. “Kadang-kadang, dia juga bantu kerjaan anggota-anggotanya yang lain.”

Josh diam. Rasanya mengganjal sekali; sakit sekali mendengar Windy terus membicarakan pria lain, tetapi akhirnya…ia memilih untuk menahan semuanya.

…meskipun mulutnya masih terus ingin memastikan.

“Kamu yakin semua itu cuma kerjaan?”

Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Josh. Mungkin…karena dia terlalu gelisah.

Windy mengernyitkan dahi. Wanita itu menatap Josh—terlihat serius sebentar—lalu sedikit mendengkus. Ekspresinya terlihat tak suka tatkala menjawab, “Iya, Josh. Kita cuma kerja. Kamu itu pacarku. Nggak perlu khawatir.”

Tahu bahwa Windy terdengar kesal, Josh pun tak ingin memperpanjang masalah. Ia tak mau bertengkar dengan Windy. Ia tak mau hal ini membuat Windy marah dan berakhir mengabaikannya. Ia tak mau kehilangan Windy juga.

Akhirnya, meskipun pikirannya sudah kacau balau, meskipun hatinya terasa perih, meskipun tangannya berakhir mencengkeram setir, Josh mencoba untuk tersenyum.

Ia mulai mengganti topik.

“Ukuran sepatunya pas, ‘kan?”

Windy mengangguk. Tiba-tiba, karena membahas sepatu, wanita itu jadi tersenyum riang lagi. “Pas. Aku suka. Kamu pinter milihnya, Sayang.”

Suasana jadi sedikit mencair. Windy menyentuh pipi Josh pelan, “Makasih, ya. Kamu perhatian banget sama aku.”

“Ya…aku mau nyenengin kamu,” kata Josh. Untuk sementara, sikap manis Windy mampu meredam kegelisahannya.

Di akhir perjalanan, ketika mobil hampir sampai di depan rumah Windy, Josh mengucapkan pertanyaan terakhir yang sejak pagi sudah mengusiknya. Suaranya terdengar pelan dan hati-hati saat bertanya, “Kamu…kenapa nggak bales chat aku seharian ini?”

Windy menghela napas panjang. Wanita itu mengalihkan pandangannya ke luar jendela, lalu diam-diam memutar bola matanya. “Hari ini hectic banget, Sayang. Aku nggak buka WA. Banyak yang harus kupikirin. Nanti di rumah aku liat chat-nya, jadi jangan khawatir. Kan kamu tau kalo aku sayang sama kamu.”

“Aku cuma pengin tau aja, Win,” ujar Josh jujur. “soalnya tadi kamu bisa angkat video call aku.”

Windy menghela napas, lalu menatap Josh. “Ya itu, kan, karena aku udah tau kalo kamu video call untuk belanjain aku. Aku cuma fokus kerja, Sayang. Aku bukannya sengaja nggak balas. Aku emang nggak buka WA seharian ini. Jangan bikin aku jadi jelasin hal kecil gini, oke? Intinya, pacarku itu kamu, Josh. Bukan Frans, bukan orang lain. Pacarku itu kamu seorang.”

Ekspresi Windy terlihat separuh memerintah dan separuh manja. “Kamu harus ngerti, ya, Sayang?”

Akhirnya, setelah beberapa detik hanya diam…

 

…Josh pun mengangguk.

 

“Ya udah. Aku ngerti.”

 

Windy pun tersenyum manis—sangat manis dan cerah, seperti matahari—lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Josh. Dia memberi Josh sebuah kecupan singkat di pipi; sebuah cap manis yang selalu sukses ‘menenangkan’ Josh. “Thanks, Sayang.”

Begitu sampai di depan rumah Windy, Josh pun menghentikan mobilnya. Windy pamit singkat, turun, lalu melambaikan tangannya kepada Josh sebelum akhirnya membuka pagar rumah.

Saat pagar itu kembali tertutup—dan Windy menghilang dari pandangannya—Josh diam sebentar. Pria itu duduk di mobilnya…sambil menatap pagar hitam itu. Perasaannya campur aduk. Pikirannya kembali…melanglang buana.

Tak lama kemudian, dia pun menghela napas…dan pulang.

 

******

 

Langit sudah gelap saat Josh sampai di depan rumahnya. Setelah perjalanan hari itu, tubuhnya terasa berat. Rasanya banyak sekali hal yang terjadi, melelahkan sekali, padahal kenyataannya…hari ini dia tak ada kesibukan apa pun selain mengantar-jemput Windy dan berbelanja untuk Windy.

Ia berhenti sejenak di depan pintu, memegang gagang pintu itu tanpa segera membukanya.

Perasaannya saat itu tidak sederhana. Benar-benar…sulit dijelaskan.

Ada sesuatu yang hangat. Perasaan bahagia kecil yang muncul tiap kali ia menghabiskan waktu dengan Windy. Ia masih bisa merasakan kecupan Windy di pipinya, suara manja Windy ketika meminta sesuatu padanya, dan bagaimana Windy tersenyum riang ketika ia menyanggupi permintaan wanita itu.

Namun, di balik kehangatan itu, ada pula rasa sakit, kegelisahan, dan kesunyian…yang menekan dada Josh. Bayangan sosok Windy di lobby hotel tadi sore kembali terlintas di otak Josh: cara Windy berbicara dengan Frans, sorot matanya yang terlihat begitu bahagia, tawanya yang lepas, kedekatannya dengan Frans, semuanya seakan-akan mau memberitahu sesuatu yang tak ingin Josh dengar. Setiap kali mengingat perbedaan antara ekspresi Windy di hotel dan di mobilnya, ada rasa tidak enak yang sulit ia buang meskipun sejak tadi ia sudah berusaha denial berkali-kali.

Semua itu bercampur. Hangat dan dingin. Bahagia dan curiga. Senang dan nyeri.

Josh menghela napas panjang. Akhirnya, dia pun membuka pintu rumahnya.

 

Rumah itu gelap.

 

Sunyi.

 

Tak ada apa pun yang menyambutnya selain udara dingin yang mengisi ruang tamu. Namun, ia tak langsung menyalakan lampu. Ia hanya berdiri sejenak di ambang pintu, membiarkan kegelapan itu menyelimuti tubuhnya, seperti memberi ruang bagi pikirannya untuk mencecap segala perasaan yang belum sempat ia hadapi.

Ia seperti…ingin leluasa memikirkan seluruh kegelisahannya terlebih dahulu. Di dalam kegelapan, biasanya…kau bisa lebih fokus dalam merefleksi dirimu. Merenungkan semuanya.

Josh pun melangkah masuk. Ia menutup pintu rumahnya perlahan, lalu berjalan tanpa suara menuju sofa di ruang tamu. Rumah itu berada dalam keheningan total, hanya terdengar suara kunci yang Josh letakkan di atas meja.

Josh duduk di sofa itu. Kepalanya bersandar. Matanya terpejam sebentar.

Dia lelah.

Bingung.

Namun, ya…sedikit bahagia juga.

Setelah merasa sedikit tenang, Josh pun meraih ponsel yang ia simpan di saku celananya. Ia membuka kunci layar, lalu cahaya putih dari ponsel itu menyinari wajahnya dalam ruangan yang masih gelap.

Ia membuka aplikasi WhatsApp.

Ternyata, pesan-pesannya sejak pagi tadi…

 

…masih belum dibaca oleh Windy.

 

Masih centang dua, abu-abu. Tidak berubah.

Josh menatap chat itu selama beberapa detik, seolah-olah menunggu warna centang itu berubah menjadi biru. Namun, tidak ada yang terjadi.

…bukankah Windy sudah ada di rumah sejak tadi?

 

Apa Windy sedang mandi?

 

Josh lantas membuka chatroom-nya dengan Windy. Dia men-scroll ke atas, memeriksa satu per satu pesan yang ia kirimkan. Semuanya masih belum terbaca.

Namun, ada sesuatu yang Josh lihat…yang sukses menikam dadanya.

Membuat jantungnya seolah-olah tertohok lembing tajam.

 

Windy sedang online. []

 













******







Oke, Kei emang nggak muncul di chapter ini, tapi ayo pasang fotonya biar kita agak healing dari kelakuannya Windy wkwkwkw







Sunday, November 16, 2025

Sadistics' Lover (Chapter 4: Eric Shou)

 


******

Chapter 4 :

Eric Shou

 

******

 

MATA Ai membulat. Begitu Eric menanyakan itu padanya, jantungnya seakan-akan nyaris berhenti berdegup.

            Wajahnya memucat.

Di kamar yang gelap itu, mata biru laut milik Eric terlihat begitu dingin. Eric tengah membelakangi sinar rembulan yang masuk melalui jendela kamar, tetapi meskipun begitu, mata biru lautnya seakan-akan memantulkan sinar itu hingga berkilat tajam. Sosoknya yang tinggi itu sukses mengungkung Ai dari atas.

Eric memegang pipi Ai demi membuat gadis itu mendongak. Tatapan mereka jadi berserobok; Ai tak bisa kabur atau memalingkan wajahnya. Akan tetapi, kontras dengan situasi yang dingin dan menegangkan itu, telapak tangan Eric terasa hangat di kedua pipi Ai.

Ai merasa tertekan, tetapi di sisi lain…ada kenyamanan yang familier.

Meskipun tubuhnya sempat mematung, sebenarnya Ai sempat merasa goyah saat memikirkan jawaban untuk Eric. Jauh di dalam hatinya, sebenarnya…ia ingin sekali mengatakan semuanya kepada Eric.

Tiba-tiba saja, jantung Ai berdegup kencang. Bibirnya bergetar. Ia takut ketahuan Eric, tetapi di sisi lain, ia juga menahan dirinya mati-matian untuk tidak mengadukan semuanya kepada Eric.

Akan tetapi, untungnya…rasa takutnya tetap menang.

Jika hanya memikirkan kepentingannya sendiri, tentu ia akan mengadukan semuanya pada Eric. Itu akan menyelesaikan semua masalahnya lebih cepat. Meskipun keperawanannya takkan kembali, setidaknya ia bisa menumpahkan seluruh perasaan sedihnya saat ini. Selain itu, mungkin saja…ia akan mendapatkan keadilan atas segala musibah yang menimpanya.

Namun, sayangnya…semuanya tidak sesimpel itu.

Karena apa?

Karena Eric dan Kei bukanlah pria biasa. Eric adalah pembunuh bayaran yang paling ditakuti dan paling dicari oleh Shinsengumi, sementara Kei adalah salah satu petinggi Shinsengumi itu sendiri.

Kalau Ai mengadukan semuanya langsung pada Eric sekarang, Eric pasti akan mengamuk. Pria itu takkan peduli dengan kenyataan bahwa dia adalah kriminal yang paling dicari oleh Shinsengumi. Dia akan menampakkan dirinya secara terang-terangan meskipun nyawa adalah taruhannya. Oh, lupakan itu. Dia sebetulnya tak pernah merasa terancam dengan keberadaan Shinsengumi.

…karena dia memang sekuat itu. Manusia mana yang tak bisa Shinsengumi tangkap sampai bertahun-tahun selain Eric Shou?

Eric selama ini menyamarkan dirinya bukan karena takut tertangkap, melainkan karena baginya, melawan polisi tiap kali dia menjalankan misi tentulah akan merepotkan. Namun, jika ada polisi yang mencari masalah secara pribadi dengannya, contohnya seperti kasus Ai saat ini…

…dia pasti akan pergi ke Markas Shinsengumi tanpa peduli apa pun. Layaknya seekor binatang buas yang diganggu, dia akan menyerang balik dengan seluruh kekuatannya. Tentunya, dia akan memulai perang dengan Shinsengumi. Selain itu, bila kita ingat tentang betapa gilanya kekuatan Eric dan Kei, tak menutup kemungkinan bahwa hasil dari peperangan itu akan meluluhlantakkan Edo. Manusia-manusia kuat seperti Eric dan Kei tentu mampu mengajak ribuan manusia untuk menjadi pasukan mereka. Kekuatan adalah kunci utama agar orang-orang mau mengikutimu.

Kini, Ai merasa terjebak di antara dua pria yang terkuat di Edo. Gadis itu bahkan tak yakin kalau ada pria lain yang mampu menandingi kekuatan mereka di luar Edo sana. Dia terperangkap di tengah-tengah mereka sehingga banyak sekali hal yang harus dia pikirkan sebelum bertindak. Banyak sekali hal yang harus ia tahan, termasuk egonya sendiri.

Pada akhirnya, dia tak bisa mengadukan semuanya pada Eric. Dia tak mau peperangan itu terjadi. Oh, jangankan peperangan, ia bahkan tak mau Shinsengumi tahu bagaimana wajah Eric. Dia ingin Eric tetap aman; dia ingin semua keadaan di sekitarnya tetap sama seperti sekarang. Dia tak mau ada yang hilang, hancur, sakit, atau apa pun itu.

Jadi, apabila dia berpikir lebih matang atau lebih jauh ke depan, diam adalah keputusan yang terbaik. Dia harus menahan egonya. Menahan kesedihannya. Menahan penderitaannya.

Demi Eric, demi Gin dan orang-orang baik di sekitarnya, serta…demi keamanan jangka panjangnya.

Oleh karena itu, Ai pun membulatkan keputusannya. Tangannya terkepal. Meskipun dadanya terasa sesak—karena ingin menangis—ia tetap menahan semuanya dan meyakinkan dirinya sendiri.

Mencoba untuk tetap kuat…meski hatinya hancur berkeping-keping. Mencoba untuk menyimpan semuanya sendirian…meski tubuhnya mau ambruk ke lantai karena tak kuat menahan sakitnya.

Pelan-pelan, Ai pun mengusap matanya. Ia tak mau air matanya sampai menetes. Ia menarik napas, lalu mengeluarkannya perlahan. Setelah itu, ia mulai memegang kedua lengan Eric dan tersenyum lembut kepada pria itu.

“Tidak ada, Kak. Tidak terjadi apa-apa.”

Seluruh tingkah Ai itu justru membuat Eric mengernyitkan dahi. Tatapan mata pria itu terasa semakin dingin dan menekan. “Matamu berkaca-kaca, Sayang. Jangan coba bohongi aku.”

 

Deg.

 

Napas Ai tersekat di tenggorokan saat mendengar jawaban itu.

Benar. Eric adalah kakak kandungnya; Eric sudah ada di sampingnya sejak kecil. Mereka hafal dengan watak satu sama lain. Ai tak bisa membohongi Eric.

Namun, kali ini…ia harus berbohong. Ia harus berakting. Ia tak bisa berterus terang.

“Tidak, Kak, tidak.” Ai menggeleng. Ia lalu tersenyum manis. Matanya melengkung seolah-olah ikut tersenyum. “Aku tidak membohongi Kakak. Aku kesepian akhir-akhir ini, jadi aku merasa sedih. Makanya, saat aku melihat Kakak, aku hampir menangis. Aku—aku hanya rindu pada Kakak.”

Mata Eric melebar. Pria itu terdiam sejenak; dia sedang mencerna jawaban Ai barusan. Ada binar yang sempat muncul di matanya.

“Ini pertama kalinya kau berterus terang kalau kau merindukanku,” ujar Eric. Matanya agak menyipit. “Biasanya, kau hanya akan memelukku, lalu tetap menutupinya dengan mengomeliku. Apa kau yakin tidak terjadi sesuatu padamu?”

Tiba-tiba, Ai jadi merasa kesal. Dia berdecak. “Kakak mau mengejekku, ya?”

“Bukan mengejekmu, Sayang,” ujar Eric. Dia mengusap pipi Ai dengan jempolnya, lalu menatap Ai dengan ragu. Dahinya agak berkerut. “Kita baru saja bertemu kemarin, ingat? Tumben sekali kau sudah rindu padaku.”

Ai melepaskan kedua tangan Eric, lalu kembali berdecak kesal. “Jadi, aku tidak boleh kangen sama Kakak, nih, kalau baru satu hari?!!”

Mata Eric melebar. Pria itu terdiam.

Dua detik kemudian, dia pun tertawa kecil. Ditatapnya Ai dengan penuh kasih sayang.

 

Ah, Sayangku marah.

Imutnya.

 

Tak butuh waktu lama, Eric pun mulai mendekati Ai. Mata Ai melebar ketika tiba-tiba Eric memeluk pinggangnya dan menempelkan kening mereka. Napas Eric yang hangat itu menerpa permukaan wajahnya.

“Bukan tidak boleh, Cinta,” bisik Eric. Suaranya terdengar begitu seksi. “Hanya tak biasa terjadi. Itu saja.”

Eric tersenyum miring, lalu mulai menciumi hidung, pipi, dan kedua mata Ai. Ciumannya begitu lembut, tetapi sensual. Ia lalu berbisik, “Namun, kalau benar begitu…aku senang mendengarnya.”

Namun, sebelum Ai sempat merespons seluruh tindakan intim itu, tiba-tiba saja…

 

…Eric mencium bibirnya.

 

Mata Ai membeliak. Bibir Eric yang basah dan lembut itu mencium bibirnya. Melumat bibirnya.

Ini jelas-jelas bukan hal yang biasa dilakukan oleh saudara kandung. Namun, sebenarnya…Eric sudah sering mencium Ai seperti ini. Semakin besar, Ai semakin sadar kalau Eric tidak melihatnya sebagai seorang adik.

Eric selalu memperlakukannya seperti…

 

…seorang kekasih…

 

Tiap kali Eric bersikap ‘di luar batas’, terutama mencium bibirnya seperti ini, sebenarnya Ai selalu protes. Namun, tahulah bagaimana sifat Eric. Saat mendengar protes atau omelan dari Ai, pria itu hanya akan tersenyum manis, menjawab dengan ‘polos’, lalu lanjut menciumi Ai.

Itu menyebalkan.

Agaknya, kali ini pun, Ai akan melakukan hal yang sama.

Jadi, dengan mengumpulkan seluruh tenaganya, Ai pun berhasil memegang pipi Eric dan menjauhkan wajah Eric darinya. Gadis itu lalu mengernyitkan dahi dan menatap Eric dengan kesal. “Kak! Aku ini adikmu! Tidak boleh mencium—”

Belum sempat Ai menyelesaikan kalimatnya, Eric sudah kembali menciumnya. Namun, kali ini, ciuman Eric terasa semakin dalam. Semakin panas. Semakin intim. Eric memegang bagian belakang kepala Ai agar gadis itu tak bisa melepaskan ciuman mereka.

“Hmmh—” Ai tak sengaja mengerang saat Eric menggigit bibirnya. Erangan itu membuat Eric jadi semakin bersemangat. Gairahnya meluap. Ia langsung memasukkan lidahnya ke dalam mulut Ai dan melilit lidah Ai bersamanya.

Pipi Ai merona. Gadis itu refleks mencengkeram pakaian kakaknya di bagian dada; jantungnya berdegup kencang. Ia sadar bahwa tubuh kakaknya jauh lebih besar darinya dan ia tak bisa bebas.

Tiba-tiba, Eric mulai menggendong tubuh Ai dengan sebelah tangannya. Mata Ai spontan membulat—tangannya refleks memeluk leher Eric, sementara kakinya spontan melingkar di pinggang Eric—tetapi agaknya, Eric masih fokus menciumnya. Ciuman itu terasa begitu nikmat. Memabukkan.

Sebelah tangan Eric berada di bokong Ai untuk menopang tubuh gadis itu, sementara sebelahnya lagi tetap berada di belakang kepala Ai agar ciuman mereka tak terlepas. Oh, Ai adalah candu bagi Eric.

Ai mencengkeram selendang yang melingkar di leher Eric. Dahi gadis itu berkerut; tanpa sengaja, ia mengeluarkan suara “Hngg!” berkali-kali saat Eric mengisap lidahnya.

Ini…gila.

Ia berciuman panas dengan kakaknya sendiri.

Saat napasnya terasa nyaris habis, ia spontan mendorong bahu Eric dengan sekuat tenaga agar ciuman itu terlepas. Sambil terengah-engah, dengan bibir yang basah akibat bertukar saliva dengan Eric, ia pun berkata, “K—Kak—”

Ai belum sempat meneruskan perkataannya tatkala ia melihat…

…Eric menatapnya dengan penuh cinta.

“Aku juga merindukanmu, Sayang,” jawab Eric seraya tersenyum manis. “Itulah sebabnya aku datang lagi hari ini.”

Ai menggeleng, masih terengah-engah. “Kak, kita tidak boleh berciuman—”

Mata Eric mendadak terbuka lebar, membulat dengan polosnya. Pria itu lalu memiringkan kepalanya. “Hmm? Mengapa aku tak boleh mencium kekasihku?”

‘Aku ini adikmu, bodoh! Bukan kekasihmu!!’ teriak Ai dalam hati.

Astaga. Dasar gila. Ai benar-benar tak habis pikir. Akan tetapi, Ai tahu satu hal: kalau dia protes lebih daripada ini, niscaya Eric akan tersenyum manis—senyum mematikan andalan pria itu—dan berkata, ‘Siapa yang membuat aturan itu? Beritahu aku di mana dia berada.’

Ai langsung bergidik ngeri. Kakaknya memang sudah tidak waras.

Tanpa banyak bicara, Eric pun kembali mencium bibir Ai. Kali ini, sambil menggendong Ai, pria itu mulai melangkah ke ranjang. Begitu naik ke ranjang, ia pun membaringkan Ai di sana. Mengurung Ai bawah tubuh kekarnya.

Ia melakukan semua itu sambil berciuman dengan Ai.

Setelah Ai tertindih di bawahnya, ia pun mulai meraba tubuh Ai. Mengelus perut, pinggang…hingga turun ke pinggul dan paha gadis itu. Ia membelai…lalu meremas tubuh adiknya dengan mesra. Berkali-kali.

Tangan besar Eric itu mulai naik ke atas. Dengan gerakan yang pelan dan sensual, ia mulai meraba area tulang rusuk Ai…hingga akhirnya sampai di payudara gadis itu. Ia lantas meremas payudara itu dengan penuh gairah. Merasakan betapa lembutnya gundukan daging yang bulat itu.

Oh, dia bisa hilang akal.

Ia sudah lama tergila-gila dengan Ai. Cinta yang ia punya sudah sangat dalam dan mendarah daging. Baginya, Ai adalah adiknya, pasangan sehidup sematinya, takdirnya, dan belahan jiwanya. Baginya, sejak dahulu sampai mereka mati nanti, mereka takkan bisa dipisahkan. Baginya, mereka memang diciptakan untuk menemani satu sama lain.

Ia sudah melihat adiknya dari kecil. Menyaksikan pertumbuhan adiknya. Mereka selalu bersama, selalu berdua. Dahulu, ia sering memandikan adiknya, sering memakaikan pakaian adiknya, sering bergandengan tangan dengan adiknya, dan sering tidur berdua sambil berpelukan dengan adiknya. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, semakin lama…adik tercintanya itu tumbuh semakin besar. Semakin dewasa.

Wajahnya yang sejak kecil sudah cantik itu jadi semakin cantik.

Tubuhnya jadi sintal. Buah dadanya, bokongnya, pinggulnya, pahanya…semuanya sempurna.

Kulitnya yang seputih salju itu terasa sangat lembut. Kenyal. Mulus.

Saat bercumbu dengan adiknya seperti ini, Eric kembali sadar—untuk yang kesekian kalinya—bahwa Ai adalah satu-satunya gadis yang bisa membuatnya mabuk kepayang. Satu-satunya gadis yang ia cintai. Satu-satunya gadis yang mampu membuatnya hilang akal. Satu-satunya gadis yang bisa membuatnya berahi. Satu-satunya gadis yang mampu membuatnya melakukan apa pun, termasuk menyerahkan nyawanya atau membakar dunia.

Sial. Dia benar-benar terangsang. Meraba tubuh Ai—meski gadis itu masih mengenakan pakaian—tentu adalah ujian tersulit baginya. Cinta, pengabdian, gairah, nafsu, semuanya bercampur menjadi satu.

Payudara Ai itu sangat lembut. Bulat. Indah. Pas di tangannya yang besar. Perut gadis itu juga terasa lembut. Pinggangnya ramping. Pinggul, bokong, dan pahanya juga berisi. Ai begitu menggiurkan. Memikat. Semuanya sukses membuat Eric menggeram. Kejantanannya mulai mengeras.

Suhu tubuh adiknya—yang terasa hangat saat ia tindih itu—juga sangat…mengundang. Ia ingin menikmati kehangatan itu. Kenyamanan itu. Ia ingin tenggelam di dalam adiksinya. Ia ingin merasa sesak di dalam udara yang penuh dengan cinta ini.

“Oh, Sayang. Cantik sekali,” bisik Eric di depan wajah Ai yang memerah. Eric mengerang, lalu melanjutkan, “Kau tumbuh dan mekar seperti bunga.”

“Kak, sudah, hentikan,” bisik Ai seraya memegang dada Eric. “Apa kau sudah lupa kalau aku ini adik kandungmu?”

Tak memedulikan ucapan Ai, Eric justru melanjutkan kegiatannya. Dia menciumi rahang Ai…lalu telinga Ai. Ciumannya lembut, tetapi sensual dan penuh hasrat. Sambil mencium Ai, dia berbicara dengan lirih. “Aku telah melihatmu tumbuh dari sebuah kuncup kecil...hingga kini menjadi bunga yang paling indah.”

“Ah!” Tanpa sadar, Ai mendesah saat Eric mengigit telinganya. Eric lalu turun ke bawah dan mulai menciumi payudara Ai dari luar piama gadis itu.

“Hmmh…” desah Eric ketika menciumi payudara Ai. Oh, dia membayangkan betapa nikmatnya payudara itu jika ia isap tanpa penghalang. “Lembut sekali, Sayang…”

Dia sudah lama membayangkan dirinya mencumbu Ai tanpa penghalang, menyatakan cinta ratusan kali, dan bersanggama dengan Ai hingga Ai tak bisa berjalan. Menyaksikan gadis yang dia cintai dari kecil hingga dewasa, menyaksikan gadis kecil yang cantik dan imut itu tumbuh besar dengan sempurna…sudah sanggup membuatnya sesat akal.

Dia selalu menganggap bahwa Ai adalah takdirnya. Mereka sudah bersama sejak kecil, jadi siapa lagi yang pantas untuk Ai selain dirinya?

Eric hidup dalam kekerasan, darah, pertarungan, langit gelap, trauma, dan pembunuhan. Namun, di tengah semua itu?

 

Ada Ai.

 

Adik perempuannya yang cantik, ceria, berani, dan menggemaskan. Ai adalah satu-satunya hal murni yang pernah dia miliki.

 

So of course he clings to her like a lifeline.

 

Jika Ai menangis, dia akan hancur. 

Jika Ai menolaknya, dia akan menjadi gila. 

Jika Ai menyentuhnya dengan lembut, dia akan meleleh. 

Jika Ai memanggil ‘Kak’, dia akan bergetar.

Ai benar-benar merupakan satu-satunya orang yang bisa memengaruhi perasaannya.   Selama-lamanya. Sepanjang hidupnya.

Dia seolah-olah tersihir. Ai memegang seluruh hatinya di tangan lentik gadis itu.

Baginya, Ai adalah rumahnya. Kenyamanan. Kehangatan. Perasaan manusiawinya satu-satunya. Alasan hidupnya. Segalanya.

Tidak ada yang boleh mengambil Ai darinya.

“Hnggh! K—Kak!” teriak Ai saat Eric meremas kedua payudaranya dengan kencang. Ia mendongak dan memejamkan matanya; dahinya berkerut. Eric mulai naik ke atas lagi, berencana untuk mencium leher Ai.

Namun, saat dia mendekatkan wajahnya ke ceruk leher Ai,

 

…tiba-tiba dia terdiam.

 

Untuk sesaat, dia berhenti mencumbu Ai.

Akan tetapi, tiga detik kemudian, dia kembali tersenyum manis. Dia mulai mengangkat wajahnya dari ceruk leher Ai, lalu mencium bibir Ai singkat. Setelah itu, dia pun menempelkan keningnya dengan kening Ai.

“Aku sangat mencintaimu, Sayang,” bisik Eric seraya mengusap pipi Ai. Tatapannya penuh akan damba dan kasih sayang yang tak terukur. “Aku tak bisa hidup tanpamu.”

Pipi Ai merona tatkala mendengar suara Eric. Semakin bertambah usia, suara kakaknya itu terdengar semakin seksi. Menurut Ai, justru kakaknyalah yang tumbuh dengan sempurna.

Akan tetapi, sedetik kemudian, tiba-tiba Ai menarik telinga Eric. Menjewer pria itu. Sambil cemberut, Ai pun berkata, “Kalau memang tak bisa hidup tanpaku, mengapa kau meninggalkanku hanya untuk berakhir menjadi pembunuh?!”

Eric tersenyum miring, lalu mencium kedua mata Ai dengan lembut. “Sayang…bukannya kau sudah tahu bahwa itu kulakukan agar menjadi lebih kuat? Aku ingin lebih bisa melindungimu.”

Ai berdecak; ia menarik telinga Eric lebih kencang. Namun, Eric hanya tersenyum. Pria itu tidak merasa sakit sama sekali. Dia justru gemas melihat Ai yang protes dengan imut begitu padanya. He’s intoxicated. Feeling high.

Ai memasang ekspresi kesal. “Kan tidak harus jadi pembunuh juga, Kakaaaak!”

“Terus jadi apa, dong?” tanya Eric. “Jadi suamimu?”

Pipi Ai merona. “Kak!!! Astaga!!! Suami apanyaaa?!!”

Eric tertawa kecil, lalu melumat bibir Ai. Ai sempat memejamkan mata—terlena—akibat perlakuan Eric yang sangat lembut dan penuh cinta itu, tetapi dua detik kemudian, Eric melepaskan ciumannya. Pria itu lalu berkata pelan, “Kau sudah dewasa sekarang. Aku sudah menunggu cukup lama untuk menikahimu.”

Ai menganga. “Kak, kau benar-benar sudah gila. Ayo kita berobat sekarang. Kakak mana yang mau menikahi adiknya sendiri?!”

Eric tersenyum manis. Pria itu menciumi seluruh bagian wajah Ai seolah-olah tak mendengar apa yang baru saja Ai katakan.

Saat dia telah selesai menciumi wajah Ai, mereka pun kembali bertatapan. Jarak antara wajah mereka sangatlah dekat. Kamar yang lampunya tidak dihidupkan (hanya mengandalkan sinar rembulan), suasana yang sangat sunyi…

Semuanya terasa begitu intim.

Dalam jarak yang sedekat ini, Ai bisa melihat wajah Eric yang sangat tampan dan maskulin. Ai tahu kalau Eric sudah tampan dari kecil, tetapi saat tumbuh menjadi pria dewasa seperti ini…

…Eric tampak seperti sesuatu yang ilegal. Fatal. Dia setampan makhluk surgawi, tetapi berhubung jati dirinya adalah pria yang sadis dan mampu membunuh orang sambil tersenyum, dia lebih cocok disebut sebagai iblis yang bangkit dari api dan datang menemui Ai di kamar gadis itu.

Dia terlihat seperti dosa.

Tubuhnya juga tinggi dan berotot. Bukan berotot yang berlebihan, tetapi solid. Kuat. Hot. Fungsional. Otot petarung.

Urat-urat di tangan dan lengannya pun tercetak dengan sempurna. Itu akan membuatmu berpikir bahwa dia bisa memutar leher seorang pria dewasa hanya dengan satu tangannya. Oh, kalau dipikir-pikir lagi, dia juga sering menggendong Ai hanya dengan satu tangan.

Selain itu, rahangnya tajam. Hidungnya mancung. Mata biru lautnya tampak terang, tetapi tajam.

Dia adalah tipe pria yang mampu membuat lututmu lemas tiap kali melihatnya. Membuat seluruh logikamu hilang. Senyum manisnya juga mampu membuatmu pingsan kalau kau tidak kuat. Senyumnya itu manis, tetapi entah mengapa, saat kau melihatnya…kau merasa seolah-olah akan disantap. Itu seperti membisikkan, ‘Kau tidak aman, Sayang.’ dan tentunya lututmu akan lemas seketika.

Dia berbahaya, tetapi kompas moralmu akan mati saat ditatap olehnya. Dia adalah predator yang bermata biru, bersuara rendah, dan selalu tersenyum manis. Dia adalah mimpi buruk yang entah mengapa akan selalu kau rindukan karena terlalu gagah dan seksi. Kau takut dan bergetar di bawah tatapan matanya, tetapi kau juga ingin menyerahkan dirimu padanya.

 Ai kadang-kadang bersyukur karena Eric masih menyembunyikan wajahnya dari orang-orang. Kalau ada wanita yang melihat Eric, mungkin Eric akan langsung jadi terkenal akibat ketampanannya. Wanita akan memujanya, sama seperti bagaimana mereka memuja Kei Arashi.

Tanpa sadar, Ai pun membelai rahang Eric. Eric yang merasakan perhatian lembut dari Ai itu spontan memejamkan matanya, lalu semakin menempelkan wajahnya ke telapak tangan Ai. Dia ingin merasakan sentuhan itu lebih dalam.

Tatapan Ai pelan-pelan jadi lembut. Kelopak matanya sedikit turun. Dia menatap Eric dengan penuh kasih sayang, tetapi sendu. Ada rasa prihatin yang terkandung di kedua matanya.

“Kak…” panggil Ai pelan.

 

Eric membuka matanya.

 

Ai menarik napas dalam.

Setelah itu, dia kembali membuka suara.

 

“Bisakah kau berhenti menjadi pembunuh, Kak?”

 

Eric terdiam.

Matanya sedikit melebar.

Situasi itu bertahan selama beberapa detik. Saking menegangkannya situasi itu, Ai sampai bisa mendengar detak jantungnya sendiri.

Akan tetapi, tiba-tiba saja…

…Eric tersenyum manis.

 

“Aku akan memikirkannya, Sayang.”

 

Ai membulatkan mata. Eh? Sebentar. Betulan, nih?

Yah…Ai tahu kalau tak semudah itu untuk membuat Eric berhenti dari profesinya selama ini. Namun, fakta bahwa Eric ‘akan memikirkannya’ saja sudah membuat Ai senang bukan kepalang. Ai sudah lelah diserang rasa takut kalau-kalau suatu hari nanti kakaknya akan menghilang selamanya. Kalau kakaknya berhenti melakukan pekerjaan yang berbahaya, Ai akan tenang.

“Sungguh, Kak?!!” ujar Ai. Nadanya tanpa sadar meninggi karena kaget sekaligus senang.

“Uh-hm,” deham Eric seraya tersenyum. Pria itu kemudian bangkit dari atas tubuh Ai, lalu berbaring di samping Ai. Dia memeluk pinggang Ai dengan posesif.

“Tidur, yuk. Ini sudah malam,” ucap Eric dengan lirih dan seksi di depan wajah Ai. Napasnya menerpa permukaan pipi Ai, lalu ia mulai menciumi bibir Ai dengan sensual. Melumat dan menggigitnya sesekali. “Aku akan memelukmu.”

Mata Ai melebar. “Kakak sudah mengantuk, ya?”

Eric tersenyum manis lagi. “Belum, Cinta. Namun, kalau aku lanjut mencumbumu, aku tak yakin aku bisa berhenti. Bisa-bisa, kita bercinta di kamar ini. Mau, hmm?”

“KAK!” Wajah Ai memerah. Ia langsung menepuk dada Eric dengan kencang. Alisnya menyatu; ia tak habis pikir dengan apa yang baru saja Eric katakan. “Kakak mana yang mengatakan itu pada adiknya sendiri?!! Otakmu sudah pindah ke otot, ya?!! Apa kau gila?!!”

“Hmm,” deham Eric. Pria itu tersenyum miring, lalu menggigit telinga Ai. “Gila karenamu.”

“Tsk!” decak Ai kesal. Gadis itu langsung mencubit pipi Eric dengan kencang. “Sudah gila, mesum pula!! Mau kubunuh, ya?!!”

Eric hanya tersenyum. Matanya tertutup, melengkung, seolah-olah ikut tersenyum. Namun, dia tak menjawab apa-apa.

Karena kesal, Ai pun kembali memukul dada bidang Eric. Dia jadi malas mengomeli Eric kalau responsnya begitu. Yah, walaupun sebenarnya…respons Eric memang selalu begitu tiap kali Ai memprotes kemesumannya.

Akhirnya, karena ngambek, Ai pun menenggelamkan kepalanya di dada bidang Eric. Gadis itu mencengkeram baju Eric (di bagian dada) dan berkata, “Terserahmu sajalah!”

Pelan-pelan, Eric mulai mencium kening Ai. Pria itu mengusap punggung Ai dengan lembut. Dia mencium pipi, mata, dan hidung Ai secara bergantian.

Well, Ai sudah sering tidur berdua sambil pelukan begini dengan Eric. Sudah sejak kecil dahulu. Namun, bedanya, sekarang…ciuman-ciuman yang Eric berikan jadi lebih sering dan lebih intens. Dia jadi semakin haus akan Ai.

Untuk sejenak, Ai bisa melupakan lukanya. Keberadaan Eric, kehangatan yang Eric berikan, semuanya mampu membuat Ai terdistraksi sejenak dari kepiluan yang Kei sebabkan.

Setidaknya, untuk saat ini…Eric ada di sini.

Kakaknya ada di sini…dan memeluknya.

 

******

 

Dari atas sebuah gedung yang tinggi, Eric memperhatikan dua orang berjaket hitam yang bergerak perlahan di bawah sana. Mereka bergerak menuju ke kanan (dari posisi Eric berdiri saat ini), lalu pelan-pelan belok dan masuk ke gang yang ada di samping gedung itu.

Rambut panjang Eric yang dikepang itu bergerak, sedikit melayang karena tertiup angin malam. Selendangnya juga melambai-lambai, tertiup ke belakang karena angin itu. Dia berdiri di atas salah satu gedung tinggi yang masih berada di kawasan Edo.

Eric memperhatikan apa yang ada di bawah sana. Tatapannya terlihat biasa saja, tenang, tetapi cukup lekat. Ekspresinya datar. Ia mengikuti langkah dua orang itu—hingga mereka menghilang di gang sebelah gedung—dengan sepasang mata birunya.

Di antara angin malam yang sepoi-sepoi itu, Eric terlihat sangat rileks.

 

“Apakah itu Shinsengumi?”

 

Eric menoleh. Itu adalah suara Atsushi. Atsushi sedang berjongkok agak jauh di sana, di sebelah kanannya.

Eric, pria tampan psychotic itu, mulai tersenyum sangat manis. Seperti senyuman tulus anak kecil.

“Eh, ada Sushi-kun, ya.”

Kontan saja Atsushi menganga. Matanya membeliak. “Oi! Aku bukan Sushi!! Lagi pula, aku sudah ada di sini sejak tadi!!!”

Bukannya memedulikan protesnya Atsushi, Eric justru kembali menatap ke depan dengan senyumannya itu. Membuat Atsushi jadi geram setengah mati.

‘Sialan. Kalau ancamannya bukan nyawa, sudah dari tadi bocah itu kuhajar,’ pikir Atsushi.

Yah, kalau Atsushi berencana untuk menghajar Eric, mungkin sebelum sampai di tempat Eric berdiri, dia sudah mati. Eric akan membunuhnya seketika.

Akhirnya, Atsushi menghela napas. Ia kembali menatap ke depan, mencoba untuk memaklumi tabiat psikopat gila itu.

Sabar sajalah. Daripada mati.

Cahaya bulan menerangi sosok Eric. Membuat wajahnya yang putih itu jadi semakin bersinar. Membuat matanya yang berwarna biru itu jadi seolah-olah berkilat. Membuat sosoknya terlihat semakin indah karena selendang dan rambutnya tertiup angin.

Namun, Eric diam saja. Dia hanya tersenyum dan memandang ke depan.

Mereka berdua sama-sama diam. Hanya terdengar suara angin yang berembus di sekitar mereka. Rambut Atsushi pun sedikit bergerak karena tertiup angin.

Keadaan itu bertahan hingga sepuluh detik lamanya.

 

Akan tetapi, tiba-tiba…Eric membuka suara.

 

“Adikku menyuruhku untuk berhenti menjadi pembunuh bayaran.”

 

Mata Atsushi membulat. Pria bertubuh tinggi besar itu langsung menoleh kepada Eric dan memasang ekspresi tak percaya. Tubuhnya mematung.

Sebentar, sebentar. Serius, nih?!!

“T—Tunggu. Apa kau serius?!” Atsushi tanpa sadar meninggikan suaranya. “J—Jadi, kau jawab apa?”

Well, Atsushi tahu seberapa senangnya Eric terhadap pekerjaannya. Pria gila itu tersenyum manis tiap kali membunuh orang. Selain itu, semua orang di organisasi juga tahu bahwa Eric bergabung karena ingin memperkuat dirinya. Atsushi tak pernah mendengar Eric mengatakan itu sendiri padanya, tetapi ada ‘rumor’ yang tersebar di antara para anggota organisasi bahwa Eric Shou bergabung hanya karena ingin menjadi kuat.

Meskipun menyimpang dari norma, bergabung di sebuah organisasi gelap yang besar memang adalah jalan tercepat untuk menjadi lebih kuat. Bergabung dengan organisasi pembunuh yang besar seperti ini akan membuatmu bertemu dengan manusia-manusia kuat lainnya. Kau juga akan diberi berbagai misi; misi-misi itu akan membuatmu semakin berpengalaman dalam bertarung. Selain itu, kau akan bertemu dengan banyak situasi di mana lawan atau targetmu ternyata adalah manusia kuat atau manusia yang punya pasukan-pasukan kuat.

Itu tentu akan membuatmu jadi terlatih. Jadi jauh lebih kuat dalam waktu cepat. Bonusnya, kau juga akan diberi bayaran yang supertinggi.

Namun, meskipun Atsushi mendengar rumor itu, Atsushi juga tahu sesuatu soal Eric. Kalau yang ini, bukan hanya rumor, melainkan sebuah fakta. Dia tahu bahwa Eric…

…adalah seorang siscon akut.

Eric adalah psikopat yang tergila-gila dengan adik perempuannya sendiri. Adik kandungnya. Sister complex akut.

Dari mana Atsushi tahu soal itu?

Ya bagaimana mungkin Atsushi tidak tahu?! Sepertinya, semua orang di organisasi tahu fakta itu meskipun mereka tidak sering bertemu dengan satu sama lain. Bayangkan saja, semua pembunuh di organisasi mereka biasanya datang ke markas hanya untuk menerima misi atau meeting, lalu pergi. Datang kembali hanya untuk melapor dan mendapat bayaran. Kadang-kadang dimarahi boss kalau pekerjaannya tidak bagus. Jadi, mereka tidak terlalu peduli dengan satu sama lain. Namun, soal Eric?

Semua orang di sana tahu siapa Eric Shou. Tangan kanan boss—yang sebenarnya bergerak seenaknya saja, tak peduli pangkat—dan merupakan manusia terkuat di organisasi itu. Mereka semua kenal Eric Shou meski tak berani berbicara dengannya. Lebih tepatnya, antara takut…dan tak mau mencari masalah. Diam-diam, mereka semua tahu kalau Eric adalah siscon. Soalnya, Eric sering beberapa kali membatalkan misi, meninggalkan misi di tengah jalan, atau tidak menghadiri meeting…

…hanya karena rindu pada adik perempuannya.

Alasannya sesimpel itu! Namun, jangan pernah bilang kalau itu simpel atau sepele di depan Eric. Dahulu, waktu Eric baru bergabung, ada senior yang mengucapkan itu padanya. Senior itu mati mengenaskan di tempat dengan leher yang tertancap katana satu detik kemudian.

Eric saat itu hanya tersenyum. Manis sekali. Matanya melengkung, tertutup, sangat ramah…

…tetapi begitu dingin. Sukses membuat bulu kuduk semua orang berdiri. Suhu di sekitar mereka seakan-akan langsung turun beberapa derajat. Tubuh mereka tak bisa bergerak.

Waktu itu, sambil tersenyum, Eric berkata, ‘Sepele, katamu?’

Sejak saat itu, tak ada yang berani pada Eric. Kekuatannya memang sinting, tetapi otaknya ternyata lebih sinting.

Lama-kelamaan, kekuatan Eric semakin besar. Dia semakin terlatih. Semakin gila. Dia mampu menghabiskan ratusan penjaga musuh dalam waktu singkat. Seperti hanya bermain-main. Seperti pemanasan kecil.

Karena Atsushi tahu kalau Eric adalah siscon akut, Atsushi jadi curiga.

Jangan-jangan, Eric benar-benar menyetujui permintaan adiknya meskipun dia cukup menikmati pekerjaannya selama ini.

Seolah-olah menjawab isi pikiran Atsushi, tiba-tiba Eric berbicara.

“Sebenarnya, aku tak terlalu punya niat untuk berhenti,” ujarnya. “Akan tetapi, aku tetap bilang pada Adikku bahwa aku akan memikirkannya.”

Sejujurnya, dibanding berhenti total, Eric lebih ingin bergerak sendiri. Namun, ia tak mengatakan itu pada siapa pun.

Mendengar jawaban itu, entah mengapa Atsushi menghela napas. Ternyata, respons Eric pada adiknya cukup normal (walaupun otaknya sudah tidak normal lagi).

“Aku tak tahu apa keputusanmu nantinya,” ujar Atsushi. “Namun, sepertinya, adikmu hanya khawatir padamu. Lihatlah betapa gencarnya Shinsengumi mencarimu, sampai-sampai rajin bergerak tengah malam tanpa penerangan. Itu mereka, ‘kan, yang kau perhatikan tadi?”

Eric hanya tersenyum.

“Sok tahu sekali, sih, Sushi-kun,” jawab Eric dengan nada bermain-main. “Siapa tahu itu cuma om-om yang mau membeli ramen.”

“Toko ramen mana yang buka jam segini, oi!!!” teriak Atsushi. Eric hobi sekali mempermainkannya. Eric akan pura-pura polos, padahal niatnya cuma mau membuat orang kesal. Memang manusia sadis. “Apa kau sadar jam berapa ini??!!! Hebat sekali toko ramen itu kalau buka sampai jam segini!!”

Iya, ini sudah jam dua pagi. Eric juga datang ke sini setelah tidur bersama Ai selama beberapa jam.

Bagaikan masuk kuping kanan keluar kuping kiri, Eric tak menghiraukan omelan Atsushi. Dia hanya tetap tersenyum, memandang ke depan seakan-akan tak punya salah.

Atsushi kembali menatap ke depan, lalu menghela napas kasar. Rasanya lelah sekali menghadapi monster sok polos bernama Eric Shou ini. “Yah, terserahmu sajalah. Intinya, ambillah keputusan yang terbaik untukmu dan juga adikmu. Shinsengumi adalah anjingnya pemerintah, jadi sudah bisa dipastikan bahwa pemerintah juga sedang mencarimu.”

Tepat setelah kata-kata itu, senyuman Eric pelan-pelan terhapus. Matanya yang melengkung itu pelan-pelan kembali ke bentuk asalnya. Ekspresi innocent dan bersahabatnya juga hilang seketika.

Kini, kedua matanya menatap fokus ke depan…

…dan berkilat tajam.

 

******

 

Kei membuka pintu geser kamarnya dengan cepat. Setelah itu, dia berdiri diam di depan pintu itu.

 

Gelap.

 

Melihat lampu kamarnya yang masih mati, sebenarnya hati Kei sudah sedikit kacau. Namun, tidak. Pria itu masih ingin memastikan kebenarannya.

Dia masih ingin berpikir positif.

Beberapa detik kemudian, dia pun mulai melangkah masuk ke kamarnya. Dia menutup pintu geser itu, lalu menghidupkan andon (lentera) yang berdiri di sudut kamar.

Setelah lentera itu menyala, mata tajamnya mulai melihat ke sekeliling kamar.

 

Tidak ada tanda-tanda orang masuk.

Hening. Rapi.

Tak ada wangi yang berbeda.

 

Kamar Kei sangat luas. Kamar itu ada di Markas Shinsengumi yang besar. Markas Shinsengumi adalah ‘kantor’ sekaligus tempat latihan bagi semua anggota Shinsengumi, tetapi khusus untuk komandan, wakil komandan, dan seluruh kapten, mereka tinggal di sana. Intinya, yang benar-benar ‘tinggal’ di sana adalah para petingginya.

…termasuk Kei.

Kamar Kei terbagi menjadi dua bagian yang dibatasi oleh dinding. Jika kau membuka pintu masuk dari koridor luar (seperti Kei saat ini), kau akan langsung dihadapkan dengan ruang kerjanya. Di depan sana, ada meja kerja Kei, lemari, dan lain-lain. Jika ada anggota atau petinggi Shinsengumi yang ingin menemui Kei secara pribadi (untuk mendiskusikan sesuatu), di sinilah tempatnya.

Namun, di ujung kiri ruangan, ada sebuah pintu geser lagi. Jika kau membuka pintu geser itu, kau akan melihat kamar Kei yang sesungguhnya. Tempatnya tidur. Ruangan pribadinya.

Karena di ruang kerjanya tak ada tanda keberadaan seseorang sebelumnya, Kei pun mulai melangkah ke ruangan sebelah. Ruangan pribadinya.

Dia berjalan hingga ke ujung, lalu membuka pintu geser yang ada di sana. Setelah itu, dia mulai menghidupkan salah satu lentera di dalam kamarnya, lalu memperhatikan seisi kamar itu.

 

Tak ada tanda-tanda keberadaan seseorang juga.

 

Kei spontan mendengkus. Tiba-tiba, rasa kecewa, marah, dan kalutnya bercampur menjadi satu. Pikirannya jadi tidak keruan.

 

Ai benar-benar tidak datang.

 

Kei mulai duduk bersandar pada pintu geser kamarnya. Sebelah kakinya terjulur lurus ke depan, sementara sebelahnya lagi dia tekuk hingga salah satu lengannya bisa bertumpu pada lututnya.

Dia menatap kamarnya dengan nanar.

Tadi siang, dia sudah menemui Ai secara personal. Dia datang ke bar milik Gin saat seharusnya dia sibuk dengan misi penangkapan. Dia ingin Ai tahu bahwa dia tidak bermain-main; dia ingin Ai benar-benar datang menemuinya malam ini.

Namun, gadis itu tidak datang.

Ini sudah jam tiga pagi dan Kei baru saja pulang dari patroli bersama Seichii. Dia berangkat patroli sekitar jam dua belas malam tadi, tetapi dia sudah menunggu Ai sejak jam tujuh malam.

Namun, Ai tak kunjung datang.

Dia sempat berdebat dengan Jun karena pria itu menyuruhnya patroli malam ini. Soalnya, dia pikir, mungkin saja Ai akan datang saat tengah malam. Mungkin saja, Ai sengaja datang lebih malam karena menunggu Gin tidur terlebih dahulu. Dia masih mencoba untuk berpikir positif, teguh, meski banyak bisikan di belakang kepalanya yang berkata bahwa Ai takkan datang.

Dia memang pergi patroli, tetapi hanya setelah menatap Jun dengan tajam dan berkata, ‘Kalau ada seorang gadis yang datang, bawa dia masuk ke kamarku. Aku akan membunuhmu jika kau tak membukakan gerbang untuknya.’

Namun, ternyata, Ai tak datang sama sekali.

 

Sial.

Apakah ada sesuatu yang membuat Ai tak bisa datang?

Apa?

Apa yang membuatnya tak bisa datang?

Apa dia masih tak mau?

Atau ada sesuatu yang lain?

 

Kei mengepalkan tangannya. Rahangnya mengetat.

 

Ai memang satu-satunya gadis yang bisa membuatnya gila. []

 















******



Kaciannn, nggak diapelin Ai ya bang? wkwk makanya jangan sadis banget jadi orang 😭





Eric and Sushi-kun










Immure (Chapter 5: Numb, Empty)

  ****** Chapter 5 : Numb, Empty   ******   SAAT matahari terbenam, Yohan pun mengantarkan Hea pulang. Pemuda itu sempat ragu-ra...