Saturday, November 29, 2025

She Was Never Mine (Bab 4: Segalanya Untuknya)

 


******

Bab 4 :

Segalanya Untuknya

 

******

 

LANTUNAN lagu di radio terdengar begitu merdu saat Josh baru saja memberhentikan mobilnya di depan rumah Windy. Ia terlihat fresh dan bahagia karena akan bertemu Windy—pujaan hatinya—pagi ini. Sebenarnya, sejak mereka jadian, ia menjemput Windy hampir setiap hari (hanya absen kalau ada pekerjaan), tetapi perasaan bahagianya tetap muncul seolah-olah ini kali pertama dia menjemput Windy.

            Josh melihat pantulan dirinya sendiri di spion dalam mobil. Dia tersenyum (excited) dan merapikan rambutnya yang sebenarnya sudah rapi. Dia juga sedikit merapikan kemejanya, lalu setelah memastikan penampilannya oke, dia mulai melihat ke pagar rumah Windy.

Pagi ini, dia tidak memberitahu Windy kalau dia akan datang menjemput, jadi dia harap ini akan jadi surprise kecil untuk Windy.

By the way, tadi malam, Kei sudah menghubungi Josh melalui chat. Kei bilang, dia setuju untuk menjadi model dalam proyek fotografi Josh. Josh senang sekali mendengar kabar itu; ia hampir melompat di kasurnya tadi malam. Rasanya seperti mimpi yang terkabul; harapannya untuk mengadakan pameran tunggal…mungkin akan segera terlaksana. Dia akan membuat proyeknya sendiri. Idenya sendiri.

Ini menakjubkan. Dia harus banyak-banyak berterima kasih pada Alvin.

Beberapa detik kemudian, pagar rumah Windy pelan-pelan terbuka. Josh langsung duduk tegap, senyumnya merekah, dan matanya berbinar-binar. Windy tinggal sendirian, jadi yang membuka pagar itu pasti Windy.

Tak bisa Josh pungkiri, jantungnya berdebar-debar tatkala melihat Windy yang mulai muncul dari balik pagar besi itu. Windy keluar dengan berpakaian rapi; dia memakai seragam batik resepsionisnya yang berwarna merah. Roknya selutut. Rambutnya disanggul rapi.

Windy menutup kembali pagar rumahnya, lalu berbalik. Akhirnya, ia melihat ke arah Josh yang masih duduk di mobilnya. Josh tersenyum, lalu melambai kepada Windy dari balik kaca mobil.

Windy memang bertatapan dengan Josh (berhubung kaca mobil Josh tidak gelap), tetapi entah mengapa…saat melihat Josh, Windy tidak balas tersenyum. Untuk sesaat, wanita itu tampak tidak senang. Dia tampak sedikit…

…kecewa.

Namun, dalam waktu sepersekian detik, ekspresi itu langsung berubah menjadi bahagia. Dia langsung tampak bersemangat, tersenyum riang, lalu mengangkat sebelah tangannya ke atas untuk melambai-lambai kepada Josh.

Josh, yang tadinya sempat melihat ekspresi kecewa itu, spontan bernapas lega dan ikut tersenyum riang.

Windy berlari kecil ke pintu sebelah kiri mobil Josh dan langsung membuka pintu tersebut. Begitu naik ke mobil dan menutup pintu mobil kembali, wangi parfum Windy langsung memenuhi mobil Josh. Josh hafal wangi parfum Windy; wanginya manis seperti permen. Karena Josh suka Windy, dia jadi suka wangi permen itu.

Windy memasang sabuk pengaman, meletakkan tasnya ke pangkuannya, dan langsung menoleh kepada Josh. Dia tersenyum, lalu mencium pipi Josh sejenak. Membuat Josh jadi semakin berbunga-bunga.

 

Ah, iya. Josh tadi pasti cuma salah lihat.

Windy tidak sedang kecewa kok.

 

“Pagi, Sayang,” sapa Windy dengan ceria. Josh tersenyum lebar seraya menghela napasnya.

“Pagi juga, Sayang,” jawab Josh. “Cantik banget, sih?”

Windy hanya tertawa. Wanita itu lantas kembali ke posisi awal, menjauh dari tubuh Josh, tetapi masih berhadapan. Dia mulai bertanya pada Josh sambil memamerkan senyum manisnya, “Kok nggak ngabarin aku, sih, kalo mau jemput?”

Josh tertawa kecil, lalu mengusap pipi Windy dengan penuh kasih sayang. Setelah itu, dia menghadap ke depan dan mulai menghidupkan mesin mobilnya. “Nggak kenapa-napa, sih, Sayang. Mau surprise-in kamu aja.”

“Oalah…” kata Windy. “Ada-ada aja.”

Josh mulai menjalankan mobilnya. Sementara itu, Windy langsung merogoh ponselnya yang ia letakkan di dalam tas. Begitu mendapatkan ponsel itu dan membuka kunci layarnya, jemarinya bergerak cepat seolah-olah sedang mengetikkan sesuatu. Dia tersenyum; sesekali pipinya merona—tatapannya lembut—saat menatap layar.

“Hari ini kamu banyak kerjaan?” Josh tiba-tiba membuka suara. Pria itu berusaha untuk menjaga suasana di mobil agar tetap terasa ceria, mesra, dan hangat.

“Iya. Lumayan,” jawab Windy. Wanita itu agaknya tergesa-gesa untuk menyelesaikan satu chat. Dia menoleh kepada Josh sekilas, lalu kembali menatap layar. “tapi nggak apa-apa. Udah biasa kok.”

Josh tersenyum.

“Oh, gitu… Syukurlah,” jawab Josh. “Oh, ya, kamu ada waktu luang nggak sore ini, Sayang? Aku pengin jalan sama kamu.”

Windy masih menunduk; jari-jarinya masih memainkan ponsel. “Umm… Kayaknya minggu depan aja, deh, Sayang. Lebih bebas. Sekarang kerjaanku masih banyak.”

Windy menekan notifikasi lain yang muncul di layar ponselnya. Ia menatap Josh sesekali, hanya sebelah mata; jawabannya terdengar datar meski ia menyertakan senyum kecil.

Mobil Josh berjalan terus…hingga akhirnya, kurang lebih dua puluh menit kemudian, mereka sampai di depan hotel tempat Windy bekerja. Mobil Josh mulai masuk ke area halaman. Ketika mobil itu baru saja mau berhenti—di depan pintu utama hotel—Windy pun menaruh ponselnya di paha. Kala itulah, untuk pertama kalinya (sejak berangkat tadi), Windy mulai melihat full ke arah Josh. Menatap Josh dengan benar tanpa terdistraksi oleh ponsel.

“Josh…?” panggil Windy tiba-tiba. Nadanya terdengar manja.

“Ya?” Josh menoleh, memberi perhatian penuh. Nada manja Windy itu hampir membuat Josh meleleh di tempat.

“Minggu depan, hotel ngadain acara anniversary,” ujar Windy.

“Oh ya?” Mata Josh melebar. “Kamu bakal sibuk banget, dong, ya?

“Hm,” deham Windy. “tapi…aku butuh dress dan sepatu baru. Dress dan high heels-ku udah lama semua, jadi kayaknya malu banget kalo pake itu lagi. Bisa nggak kamu beliin aku? Beliin aku, dooongg, Sayang…”

Permintaan manja itu Windy sampaikan tanpa ragu. Di akhir kalimat, saat memanggil ‘Sayang’, wanita itu mulai memeluk lengan Josh—yang sedang memegang roda kemudi—dari samping.

Josh tersenyum saat merasakan pelukan itu. Dia jadi senang dan bersemangat. Akhirnya, Windy benar-benar fokus berbicara padanya, terutama ditambah dengan sikap manja wanita itu.

“Boleh, dong, Sayaaangg,” jawab Josh. “Kamu mau dress yang kayak gimana? Atau kita mau fitting dulu di butik?”

Begitu mendengar jawaban Josh, mata Windy langsung berbinar-binar. Wanita itu langsung cekikikan (semangat sekali), lalu mengeratkan pelukannya pada lengan Josh. “Yang elegan, Sayang. Bahannya satin atau sutra. Warna nude atau dusty pink. Aku mau keliatan anggun. Kalo sepatunya…aku mau high heels yang cocok untuk pesta. Sesuaikan dengan warna dress-nya juga, Sayang. Ukuran sepatuku 39. Kalo nggak, nanti aku ikut aja pas kamu beliin.”

“Tapi kamu kayaknya sibuk,” kata Josh.

Windy menghela napas, lalu mencium pipi Josh sekilas. “Yaa kalau aku sibuk, nanti kita video call-an aja pas kamu lagi beliin itu.”

Josh tertawa kecil. Hatinya berbunga-bunga, lalu ia mengangguk. Ia mencubit kecil hidung Windy. “Oke, deh, Sayang.”

Windy tersenyum sangat manis—sampai matanya ikut melengkung—lalu ia pun melepaskan diri dari Josh. “Makasih banyak, ya, Sayang. Kamu perhatian banget, sih? Aku sayaaaangg banget sama kamu.”

“Iya, Sayang. Aku aja yang beliin, biar kamu nggak pusing. Mau aku beliin clutch juga nggak?” tanya Josh dengan antusias.

“Waaaaah!” respons Windy dengan ceria. “Kamu mau beliin aku clutch juga? Mau, dongggg! Makasiih, Sayaaang!”

Lagi-lagi, Windy memeluk Josh. Namun, kali ini, Josh tertawa seraya memeluk Windy balik. Pelukan itu hanya berlangsung sesaat, tetapi setelahnya, mereka tetap duduk berhadapan dalam jarak yang dekat. Saling berbicara dengan penuh ketertarikan.

…meskipun ketertarikannya berbeda arah.

“Ya udah, aku beliin clutch juga, ya,” jawab Josh dengan lembut. “Aku seneng bisa beliin kamu.”

“Makasih, Pacarku Sayang,” ujar Windy.

Pipi Josh sempat memerah mendengar panggilan baru itu. Sedetik kemudian, Josh tersenyum dengan penuh kasih sayang…lalu mengangguk. “Sama-sama, Sayang.”

Sebelum turun dari mobil, Windy mendekati Josh lagi. Dia mengecup pipi Josh pelan, lalu berbisik, “I love you, Sayang.”

Ah, Josh senang sekali mendengar tiga kata itu keluar dari mulut Windy.

Ia benar-benar sedang dimabuk asmara.

Harapan lama yang akhirnya terkabul.

Penantian lama yang akhirnya terbayar.

Oh, rasanya bahagia luar biasa.

 

 Bagi Josh, itu adalah bukti nyata—yang cukup—bahwa Windy juga mencintainya.

 

“I love you too, Sayang,” jawab Josh tanpa ragu. Wajahnya cerah; matanya berbinar-binar saat melihat Windy turun dari mobil dengan langkah ringan. Windy menutup kembali pintu mobil setelah melambai pelan pada Josh. Dari balik kaca, Windy tampak berjalan memasuki hotel dengan santai.

Josh tersenyum lembut; ia memandangi Windy—sampai wanita itu hilang di balik pintu kaca hotel—lalu dia pun kembali menjalankan mobilnya.

 

******

 

Sore ini, Josh kembali menjemput Windy. Di mobil, dia mengangguk-angguk, bersiul, dan mengetukkan telunjuknya di permukaan roda kemudi sambil berkendara. Dress, high heels, dan clutch yang ia belikan untuk Windy (tadi siang) sudah ada di jok penumpang belakang.

Well, tadi siang, dia bertelepon dengan Windy. Video call-an untuk memilih dress, high heels, dan clutch itu. Kebetulan, hari ini Josh memang tidak ada urusan, jadi dia memutuskan untuk langsung membelikan Windy hari ini.

Windy memang mengangkat video call-nya. Namun, entah mengapa, selain dari video call itu, chat-chat Josh sejak pagi (setelah mengantar Windy) tidak ada yang dibalas. Jangankan dibalas, Windy bahkan tidak membacanya. Semuanya centang abu-abu.

Josh baru saja sampai di halaman hotel…dan dia pun memberhentikan mobilnya di sana. Sambil tersenyum lembut, dia menoleh ke kiri. Ke arah pintu masuk hotel.

Namun, ternyata, pintu hotel itu terbuka. Tidak banyak orang yang lewat di lobby, tetapi sebenarnya, mata Josh tidak fokus ke sana. Pria itu langsung melihat ke sebelah kanan lobby itu. Tempat di mana meja resepsionis berada.

Di sana, Josh melihat Windy. Wanita itu sedang berdiri di depan meja resepsionis—bukan di baliknya—dan sudah menggandeng tas, pertanda bahwa dia sudah mau pulang karena shift-nya selesai. Dia tertawa bersama teman-temannya di sana, tetapi anehnya…di sampingnya ada seorang pria. Dia terlihat aktif mengobrol dengan pria itu—mungkin, pria itu sedang membicarakan sesuatu pada para resepsionis di sana—tetapi ada hal yang sukses membuat Josh mengernyitkan dahi.

…Windy terlihat…tertawa lepas. Dia sesekali memeluk lengan pria itu. Terkadang, dia tertawa di bahu pria itu. Gerak tubuhnya sangat manja dan leluasa. Josh masih duduk di mobilnya, menonton dari jauh.

 

Siapa pria itu?

 

Tiba-tiba, Windy melihat ke luar dan menyadari keberadaan mobil Josh. Seketika, dia melepaskan ‘pegangannya’ pada pria itu, lalu tersenyum ceria. Dia pamit kepada teman-temannya, lalu berlari ke luar seraya melambaikan tangannya pada Josh.

Josh turun dari mobilnya; dengan cepat, ia memutari mobil itu dari depan untuk menyambut Windy. Windy langsung memeluk lengannya. “Sayang! Kamu udah dateng, yaa?”

Josh tersenyum, lalu membawa Windy mendekati pintu mobilnya. Josh membukakan pintu mobil itu, lalu mencium kening Windy. “Iya, Sayang. Kamu udah pulang dari tadi?”

Windy tersenyum manis. Wanita itu mengangguk. “Uh-hm. Sekitar sepuluh menit yang lalu.”

“Ooh…gitu, ya,” jawab Josh penuh pengertian. “Yuk, pulang.”

Saat Windy sudah masuk ke mobil, Josh pun menutup pintu mobil itu. Dia berbalik untuk kembali memutari mobilnya dari depan, tetapi sambil berjalan, dia sempat menatap ke arah lobby itu lagi.

Dia langsung bertatapan dengan pria yang berdiri di depan meja resepsionis itu.

Sebenarnya, teman-teman Windy juga melihat ke arah Josh. Namun, Josh tanpa sadar langsung bertatapan dengan pria itu. Mata Josh agak menyipit; dahinya berkerut. Tak bisa dia pungkiri bahwa agaknya, dia refleks memasang ekspresi kurang setuju. Kurang suka. Namun, karena tak ingin Windy menunggu lama, dia pun berhenti menatap pria itu. Dia mengalihkan pandangannya ke teman-teman Windy…lalu mengangguk sambil tersenyum. Menyapa mereka.

Mereka pun melakukan hal yang sama.

Akhirnya, Josh kembali masuk ke mobil. Dia mulai membawa mobilnya keluar dari area hotel itu.

Begitu sudah berada di jalan raya, Josh pun memulai pembicaraan dengan Windy. Dia tersenyum. “Sayang, itu dress, high heels, dan clutch-nya udah ada di jok belakang.”

Windy langsung bersemangat. Matanya berbinar-binar. Dia kontan menoleh ke belakang, lalu memajukan tubuhnya untuk mengambil tas-tas belanjaan itu.

Saat semua tas belanjaan itu sudah ada di pangkuannya, Windy mengeluarkan isinya satu per satu.

“Wah, semuanya bagus banget, Sayaang!” seru Windy. “Ternyata, pas diliat langsung begini…barang-barangnya jauh lebih bagus. Makasih banyak, Sayaaaang.”

Josh tersenyum lembut, lalu mengangguk. “Iyaa, Sayang. Sama-sama.”

Windy memiringkan kepalanya, lalu bertanya, “Tapi serius, deh. Semua pilihan yang kamu tunjukin pas video call itu bagus banget, lho. Itu pasti udah kamu pilih duluan, ‘kan, sebelum kamu liatin ke aku? Selera kamu oke banget.”

Josh tertawa kecil. “Aku pilih yang kira-kira cocok untuk kamu…dan cocok untuk acara anniversary itu. Aku juga harus cari yang nyaman dipakai.”

Windy tersenyum. “Kamu perhatian banget, Sayang. Makasih, ya.”

Josh mengangguk. Hatinya terasa hangat; dia bahagia karena sudah membuat Windy senang. Sikap Windy juga manis sekali hari ini.

Namun, tiba-tiba, Josh teringat sesuatu.

 

Pria itu.

 

Karena ingin tahu, Josh pun bertanya pelan pada Windy, “Tadi…kamu ngobrol sama siapa? Yang berdiri di sebelah kamu itu.”

Windy menoleh sejenak ke arah Josh (sejak tadi, wanita itu sibuk mengagumi barang-barang pembelian Josh). Tiba-tiba saja, di wajahnya muncul warna merah yang halus waktu ia menyebut, “Oh, yang tadi? Itu salah satu manajer hotel. Kita lagi ngomongin soal rundown acara.”

“Oh, manajer, ya. Manajer apa?” kejar Josh.

Windy tersenyum, lalu mengalihkan pandangannya ke barang-barang pemberian Josh lagi. “Front Office Manager. Namanya Frans.”

 

Oh, ternyata itu manajernya Windy.

 

Josh menahan napas sebentar. Nama itu belum pernah ia dengar sebelumnya. Rasa aneh muncul di dadanya, sebuah rasa yang sulit diberi label. Namun, ia tetap bertanya. Ia butuh suara, butuh kepastian. Kalau tidak ditanya, ini akan mengganjal di kepalanya.

“Frans?” ucap Josh. “Dia sering mampir ke meja resepsionis, ya?”

Windy memasukkan seluruh barang pemberian Josh ke dalam tas-tas belanja itu lagi. “Nggak juga, sih, tapi belakangan ini dia sering ngobrol di meja resepsionis. Ngomongin soal acara anniversary itu. Kita dapat bagian juga untuk nyiapin acara itu, soalnya.”

“Oh…” Josh mengangguk. Ada getaran halus di hatinya. Getaran yang masih samar. “Keliatannya…dia ramah banget sama kalian.”

“He-em,” deham Windy. “Dia orangnya perhatian. Gampang diajak ngobrol.”

Sebelum Josh merespons, Windy tertawa pelan; matanya menatap ke jauh ke depan, seolah-olah tidak benar-benar menatap jalanan. Dia lalu tersenyum lembut. “Dia tuh…emang ramah. Gampang bikin suasana jadi enak. Terus dia juga…ya…kalau udah ngomong sama dia, aku ngerasa lebih tenang aja gitu, tiap ngerjain apa pun.”

“Maksudnya…mudah gimana?” tanya Josh.

Windy duduk lebih nyaman. Suaranya jadi lembut; ada percikan kasih sayang…yang keluar tanpa ia sengaja. “Dia tuh…bijaksana banget. Leader yang bagus. Kadang-kadang, dia suka ngasih ide yang nggak kepikiran sama orang lain. Dia bisa merangkul anggota-anggotanya di tempat kerja. Bikin semuanya jadi nyaman sama dia.”

“Kamu…keliatan deket banget sama dia,” ujar Josh pelan. Pria itu tersenyum tipis; senyumannya tampak pahit. Sebenarnya, dia tak ingin mendengar jawaban Windy lebih jauh…karena mungkin itu akan menyakitinya, tetapi di sisi lain, dia masih ingin tahu. Masih ingin percakapan ini berlanjut.

 

Josh itu…pacarnya Windy, ‘kan?

 

Namun, entah mengapa, saat mendengar ucapan Josh…pipi Windy sempat memerah. Namun, wanita itu dengan cepat tertawa (untuk menutupi salah tingkahnya). Agak terdengar dipaksakan, tetapi Josh terbiasa mendengar tawa itu sehingga insting Josh jadi tumpul.

“Ah, nggak gitu juga,” kata Windy, masih sambil tertawa. “Kita ngobrol soal kerjaan aja kok. Kadang-kadang dia bercanda dan aku ikutan ketawa. Ya biasalah.”

Josh hanya diam. Senyumannya semakin tipis, bahkan hampir tak terlihat lagi. Bagaikan ada sebuah jarum yang mulai menusuk dadanya pelan-pelan. Pikirannya mulai ke mana-mana. Namun, dia tak ingin memercayai itu.

Windy menoleh kepada Josh, lalu memeluk lengan Josh dari samping. Dengan manja, dia pun berkata, “Kamu jangan salah paham, ya, Sayang. Aku pacarannya sama kamu.”

Akhirnya, karena Windy memeluk dan mengusap lengannya…serta menatapnya dengan mata bulat polos itu, Josh pun menarik napas panjang. Dia mengesampingkan seluruh perasaan tak enak itu…lalu membuang pikiran buruknya. Jahat juga kalo curiga sama Windy, pikirnya. Dia harus percaya pada Windy. Windy itu orang baik. Cerah. Tulus.

“Iya, Sayang.” Josh mengangguk. “Maaf kalo pertanyaanku terkesan kayak nginterogasi kamu.”

Windy memiringkan kepalanya dan tersenyum semanis madu. “Nggak apa-apa, Sayang. Percaya sama aku, ya? Aku cuma fokus kerja kok. Frans cuma manajerku.”

“Hm,” deham Josh.

Percakapan pun mengalir lagi. Namun, karena topiknya masih seputar ‘acara anniversary hotel’, ujung-ujungnya Windy kembali menyebut nama Frans. Soalnya, resepsionis juga ikut jadi panitia acara dan Frans adalah manajer mereka. Jadi, Windy akhirnya banyak cerita seputar Frans: bagaimana Frans menawarkan idenya soal lampu, bagaimana dia berkoordinasi dengan supplier, bagaimana dia membantu menyelesaikan masalah sound check, dan lain-lain. Setiap kali Windy bercerita soal Frans, wanita itu tersenyum riang dan pipinya merona sedikit. Namun, kalau deskripsinya sudah terlalu ‘panjang’, dia langsung mengalihkan pembicaraan.

“Dia sempet nanya, ‘Kenapa nggak kita taruh lampu di sini aja biar lebih intimate?’, terus aku mikir, ‘Ooh, iya juga, ya.’ gitu. Bener-bener ada aja idenya,” kata Windy, kedua matanya berbinar saat menjelaskan itu.

“Terus…tadi dia juga bilang ke aku kalo dia bakal bantu bagian aku. Aku bilang nggak usah, terus dia bilang, ‘Ya udah, nanti kalo kamu butuh, tinggal bilang aku.’ gitu. Tulus banget pokoknya,” tambah Windy.

“Dia bener-bener terlibat banyak, ya,” komentar Josh, padahal hatinya mulai terasa sakit. Darahnya terasa…mendidih.

Mengapa Windy terdengar…kagum sekali pada Frans?

Mengapa Windy terlihat berbunga-bunga saat membicarakan Frans?

Apa Windy tertarik pada Frans?

…atau…Josh saja yang terlalu sensitif?

“Iya,” jawab Windy. “Kadang-kadang, dia juga bantu kerjaan anggota-anggotanya yang lain.”

Josh diam. Rasanya mengganjal sekali; sakit sekali mendengar Windy terus membicarakan pria lain, tetapi akhirnya…ia memilih untuk menahan semuanya.

…meskipun mulutnya masih terus ingin memastikan.

“Kamu yakin semua itu cuma kerjaan?”

Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Josh. Mungkin…karena dia terlalu gelisah.

Windy mengernyitkan dahi. Wanita itu menatap Josh—terlihat serius sebentar—lalu sedikit mendengkus. Ekspresinya terlihat tak suka tatkala menjawab, “Iya, Josh. Kita cuma kerja. Kamu itu pacarku. Nggak perlu khawatir.”

Tahu bahwa Windy terdengar kesal, Josh pun tak ingin memperpanjang masalah. Ia tak mau bertengkar dengan Windy. Ia tak mau hal ini membuat Windy marah dan berakhir mengabaikannya. Ia tak mau kehilangan Windy juga.

Akhirnya, meskipun pikirannya sudah kacau balau, meskipun hatinya terasa perih, meskipun tangannya berakhir mencengkeram setir, Josh mencoba untuk tersenyum.

Ia mulai mengganti topik.

“Ukuran sepatunya pas, ‘kan?”

Windy mengangguk. Tiba-tiba, karena membahas sepatu, wanita itu jadi tersenyum riang lagi. “Pas. Aku suka. Kamu pinter milihnya, Sayang.”

Suasana jadi sedikit mencair. Windy menyentuh pipi Josh pelan, “Makasih, ya. Kamu perhatian banget sama aku.”

“Ya…aku mau nyenengin kamu,” kata Josh. Untuk sementara, sikap manis Windy mampu meredam kegelisahannya.

Di akhir perjalanan, ketika mobil hampir sampai di depan rumah Windy, Josh mengucapkan pertanyaan terakhir yang sejak pagi sudah mengusiknya. Suaranya terdengar pelan dan hati-hati saat bertanya, “Kamu…kenapa nggak bales chat aku seharian ini?”

Windy menghela napas panjang. Wanita itu mengalihkan pandangannya ke luar jendela, lalu diam-diam memutar bola matanya. “Hari ini hectic banget, Sayang. Aku nggak buka WA. Banyak yang harus kupikirin. Nanti di rumah aku liat chat-nya, jadi jangan khawatir. Kan kamu tau kalo aku sayang sama kamu.”

“Aku cuma pengin tau aja, Win,” ujar Josh jujur. “soalnya tadi kamu bisa angkat video call aku.”

Windy menghela napas, lalu menatap Josh. “Ya itu, kan, karena aku udah tau kalo kamu video call untuk belanjain aku. Aku cuma fokus kerja, Sayang. Aku bukannya sengaja nggak balas. Aku emang nggak buka WA seharian ini. Jangan bikin aku jadi jelasin hal kecil gini, oke? Intinya, pacarku itu kamu, Josh. Bukan Frans, bukan orang lain. Pacarku itu kamu seorang.”

Ekspresi Windy terlihat separuh memerintah dan separuh manja. “Kamu harus ngerti, ya, Sayang?”

Akhirnya, setelah beberapa detik hanya diam…

 

…Josh pun mengangguk.

 

“Ya udah. Aku ngerti.”

 

Windy pun tersenyum manis—sangat manis dan cerah, seperti matahari—lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Josh. Dia memberi Josh sebuah kecupan singkat di pipi; sebuah cap manis yang selalu sukses ‘menenangkan’ Josh. “Thanks, Sayang.”

Begitu sampai di depan rumah Windy, Josh pun menghentikan mobilnya. Windy pamit singkat, turun, lalu melambaikan tangannya kepada Josh sebelum akhirnya membuka pagar rumah.

Saat pagar itu kembali tertutup—dan Windy menghilang dari pandangannya—Josh diam sebentar. Pria itu duduk di mobilnya…sambil menatap pagar hitam itu. Perasaannya campur aduk. Pikirannya kembali…melanglang buana.

Tak lama kemudian, dia pun menghela napas…dan pulang.

 

******

 

Langit sudah gelap saat Josh sampai di depan rumahnya. Setelah perjalanan hari itu, tubuhnya terasa berat. Rasanya banyak sekali hal yang terjadi, melelahkan sekali, padahal kenyataannya…hari ini dia tak ada kesibukan apa pun selain mengantar-jemput Windy dan berbelanja untuk Windy.

Ia berhenti sejenak di depan pintu, memegang gagang pintu itu tanpa segera membukanya.

Perasaannya saat itu tidak sederhana. Benar-benar…sulit dijelaskan.

Ada sesuatu yang hangat. Perasaan bahagia kecil yang muncul tiap kali ia menghabiskan waktu dengan Windy. Ia masih bisa merasakan kecupan Windy di pipinya, suara manja Windy ketika meminta sesuatu padanya, dan bagaimana Windy tersenyum riang ketika ia menyanggupi permintaan wanita itu.

Namun, di balik kehangatan itu, ada pula rasa sakit, kegelisahan, dan kesunyian…yang menekan dada Josh. Bayangan sosok Windy di lobby hotel tadi sore kembali terlintas di otak Josh: cara Windy berbicara dengan Frans, sorot matanya yang terlihat begitu bahagia, tawanya yang lepas, kedekatannya dengan Frans, semuanya seakan-akan mau memberitahu sesuatu yang tak ingin Josh dengar. Setiap kali mengingat perbedaan antara ekspresi Windy di hotel dan di mobilnya, ada rasa tidak enak yang sulit ia buang meskipun sejak tadi ia sudah berusaha denial berkali-kali.

Semua itu bercampur. Hangat dan dingin. Bahagia dan curiga. Senang dan nyeri.

Josh menghela napas panjang. Akhirnya, dia pun membuka pintu rumahnya.

 

Rumah itu gelap.

 

Sunyi.

 

Tak ada apa pun yang menyambutnya selain udara dingin yang mengisi ruang tamu. Namun, ia tak langsung menyalakan lampu. Ia hanya berdiri sejenak di ambang pintu, membiarkan kegelapan itu menyelimuti tubuhnya, seperti memberi ruang bagi pikirannya untuk mencecap segala perasaan yang belum sempat ia hadapi.

Ia seperti…ingin leluasa memikirkan seluruh kegelisahannya terlebih dahulu. Di dalam kegelapan, biasanya…kau bisa lebih fokus dalam merefleksi dirimu. Merenungkan semuanya.

Josh pun melangkah masuk. Ia menutup pintu rumahnya perlahan, lalu berjalan tanpa suara menuju sofa di ruang tamu. Rumah itu berada dalam keheningan total, hanya terdengar suara kunci yang Josh letakkan di atas meja.

Josh duduk di sofa itu. Kepalanya bersandar. Matanya terpejam sebentar.

Dia lelah.

Bingung.

Namun, ya…sedikit bahagia juga.

Setelah merasa sedikit tenang, Josh pun meraih ponsel yang ia simpan di saku celananya. Ia membuka kunci layar, lalu cahaya putih dari ponsel itu menyinari wajahnya dalam ruangan yang masih gelap.

Ia membuka aplikasi WhatsApp.

Ternyata, pesan-pesannya sejak pagi tadi…

 

…masih belum dibaca oleh Windy.

 

Masih centang dua, abu-abu. Tidak berubah.

Josh menatap chat itu selama beberapa detik, seolah-olah menunggu warna centang itu berubah menjadi biru. Namun, tidak ada yang terjadi.

…bukankah Windy sudah ada di rumah sejak tadi?

 

Apa Windy sedang mandi?

 

Josh lantas membuka chatroom-nya dengan Windy. Dia men-scroll ke atas, memeriksa satu per satu pesan yang ia kirimkan. Semuanya masih belum terbaca.

Namun, ada sesuatu yang Josh lihat…yang sukses menikam dadanya.

Membuat jantungnya seolah-olah tertohok lembing tajam.

 

Windy sedang online. []

 













******







Oke, Kei emang nggak muncul di chapter ini, tapi ayo pasang fotonya biar kita agak healing dari kelakuannya Windy wkwkwkw







No comments:

Post a Comment

She Was Never Mine (Bab 4: Segalanya Untuknya)

  ****** Bab 4 : Segalanya Untuknya   ******   LANTUNAN lagu di radio terdengar begitu merdu saat Josh baru saja memberhentikan mo...