Chapter
6 :
Sakura
Petals Drop
******
HYMEN
mengambil
satu gyoza ayam dengan sumpitnya, lalu mencolekkan gyoza itu ke
saus. Begitu memasukkan makanan itu ke mulut, ia kembali tersenyum miring.
“Mm.
Enak sekali, ya,” pujinya. “Sepertinya, aku harus meminta gyoza ayam
untuk persembahan selanjutnya.”
Hiyori
mendengkus, tetapi pipinya sedikit memerah. “Hymen-sama, Anda sudah memuji gyoza
itu berkali-kali. Anda berlebihan.”
Hymen
tertawa. “Aku memuji sup misonya juga kok. Bukan hanya gyoza.”
“Ya
makanya berhentilah, Hymen-sama.” Hiyori menghela napas. “Itu tidak seberapa
dibanding masakan warga-warga lain.”
“Hmm?”
Hymen
memiringkan kepalanya. “Benarkah? Kalau begitu, seharusnya mereka mengantarkan
sup miso dan gyoza padaku sejak zaman dahulu. Mengapa tidak ada yang
berinisiatif untuk mengantarkannya?”
Hiyori
menganga, tak habis pikir dengan ucapan sang dewa. “Hymen-sama, dari mana
mereka tahu kalau kau akan menyukainya? Sup miso dan gyoza bukanlah
sesuatu yang umumnya diselipkan dalam persembahan untuk dewa-dewi. Kalau mereka
lancang memasukkan dua makanan itu, lalu Anda marah karena itu tidak sesuai
selera Anda, bagaimana?”
Hymen
mengangkat kedua alisnya, matanya membulat polos. Seakan-akan heran dengan
pertanyaan Hiyori. “Bukankah tinggal akhiri saja hidup pengirimnya?”
“Itulah
makanya kami tak mau, Hymen-samaaaa!!” teriak Hiyori emosi. Astaga, ada-ada
saja. Dewa mengatakan itu tanpa beban, seolah-olah nyawa itu tidak ada artinya
di benaknya. Well, mungkin itu terjadi karena dia hidup sudah lama
sekali; dari sudut pandangnya, dia sudah melihat berbagai kematian, berbagai
era, berbagai evolusi, sebagai hal kecil yang tidak mengherankan lagi. Bagai
menyaksikan siklus air.
Maka
dari itu, sementara Hiyori memijat keningnya karena pusing, Hymen malah masih
memasang ekspresi yang sama. Dia mulai melanjutkan, “Dari dahulu, kalian
manusia selalu memusingkan banyak hal. Rumit sekali.”
“Yah,
maaf,
ya, Hymen-sama, kami manusia punya banyak ketakutan. Kami takut akan kematian.
Tidak seperti dewa yang abadi,” sindir Hiyori dengan ekspresi datar.
Hymen
memakan supnya, lalu dengan santainya berkata, “Dahulu, manusia pertama yang
diciptakan saja malah sibuk memikirkan penutup alat kelaminnya, padahal tak ada
juga yang mau melihatnya di Bumi karena dia masih sendirian. Rumit sekali. Siapa
lagi namanya? Ah, Primus, kalau tak salah.”
Pipi
Hiyori langsung merona hebat. H—Hah? Manusia pertama? Primus? Alat kelamin?!
“HYMEN-SAMAAA!”
teriak
Hiyori. “Kurasa aku tak perlu mendengar semua itu!!!”
Senyum
miring menghiasi wajah tampan Hymen. “Aku menjelaskan itu supaya kau tahu
betapa rumitnya pikiran kalian manusia sejak dahulu kala.”
“Kemaluan
tidak ada kaitannya dengan ketakutan manusia terhadap kematian, Hymen-sama, itu
berbeda topik!!” protes Hiyori dengan pipi merahnya. Itu Primus pasti malu
sekali di alam baka sana kalau tahu kemaluannya sedang dibicarakan oleh Dewa
Hymen sekarang.
“Aku
berbicara tentang kerumitan pikiran kalian, Gadis Muda. Kalian rumit dalam
segala hal akibat rasa takut,” jawab Hymen seraya memakan gyoza-nya.
“Cukup impresif, sebenarnya. Otak kalian yang kecil itu memiliki kapasitas dan
probabilitas yang besar untuk menampung berbagai rasa takut.”
Ini
Dewa sebenarnya mau memuji atau menghina, sih?!
Ujung-ujungnya,
Hiyori mendengkus, cemberut, lalu memakan gyoza-nya dengan kesal.
“Terserah Anda saja, deh. Aku kesal!!!”
Hymen
tertawa. Menarik sekali melihat Hiyori yang memoncongkan mulutnya karena
frustrasi. Hiyori adalah manusia pertama yang berani menjawab kata-kata
Hymen, cemberut padanya, mengomelinya, dan kesal padanya. Miliaran manusia
hanya bisa memberikan bermacam-macam ekspresi kepada sesama manusia; mereka
semua akan memasang ekspresi yang serius, sopan dan penuh hormat kepada entitas
tinggi seperti dewa.
Namun,
Shizu Hiyori bisa memperlihatkan berbagai ekspresi dan emosi… yang ditujukan padanya.
Kepada seorang dewa.
Gadis
itu ekspresif. Hidup. Menyenangkan sekali bisa menyaksikan berbagai
ekspresi yang keluar darinya.
Apakah
ada ekspresi lain?
“Hymen-sama,
apakah ini berarti mulai besok desa kami harus membawakanmu gyoza ayam
dan sup miso?” tanya Hiyori tiba-tiba. Mata bulatnya menatap Hymen penuh rasa
ingin tahu.
Hymen
meletakkan sumpitnya di atas piring, lalu mengambil segelas air yang sudah
Hiyori siapkan di atas meja. “Hmm? Ternyata, kau cukup perhatian meski bawel.”
Pipi
Hiyori langsung merona. “I—Itu karena aku sudah cukup tahu tabiat Anda yang
suka menenggelamkan desa hanya karena kami tidak peka!!”
“Apa
kau baru saja menyalahkanku, Gadis Muda?” tanya Hymen seraya tersenyum miring.
Ia mulai meminum airnya, lalu meletakkan kembali gelas itu ke atas meja.
Hiyori
agak panik—takut Hymen melakukan sesuatu yang mengerikan seperti menerbangkan
Hiyori ke laut—tetapi dia masih ingin protes. “A—Aku hanya masih berpikir kalau
itu tidak—”
“Tiga
hari sekali,” potong Hymen. Senyuman miring itu masih
menghiasi wajahnya. “Selipkan gyoza dan sup miso ke dalam persembahan
kalian untukku tiga hari sekali.”
Hiyori
menghela napas. Oh, untunglah Dewa tidak marah atau semacamnya.
Bisa
kacau kalau beliau marah. Nanti desa kami ditenggelamkan lagi.
Akhirnya,
Hiyori pun mengangguk mengerti. Dia lantas menjawab, “Baiklah, Hymen-sama. Aku
akan memberitahukan hal ini kepada Raiden-sama—”
“Buatanmu,”
potong
Hymen tiba-tiba.
Mata
Hiyori seketika membulat.
Eh?
Apa?
“Aku
hanya mau memakan buatanmu,” lanjut sang dewa. “Aku telah mengenali rasanya,
jadi jangan coba-coba membawakanku buatan orang lain.”
Apa?!!
Oh,
Mendadak Hiyori menyesal telah memasakkan sup miso dan gyoza untuk
Hymen-sama.
Ughhhh!!
Tugas
Hiyori jadi bertambah, deh! Kerja rodi jalur takdir ini namanya!
Hiyori
mulai mencari-cari alasan. “Persediaan ayam di desa kami tidak sebanyak itu,
Hymen-sama!!”
“Hmm?”
Hymen mengangkat kedua alisnya. “Apa perlu kupindahkan semua ayam dari desa
kalian ke atas gunung ini hanya agar kau tahu sebanyak apa ayam di sana?”
Hiyori
terkejut setengah mati. “APA?! H—Hymen-sama—”
“Akulah
yang mengatur seluruh keberlangsungan hidup di desa kalian, Gadis Muda,”
jawab Hymen. “Aku selalu memastikan kalian tidak berkekurangan.”
“—kecuali
bila kalian bermasalah denganku,” lanjutnya.
Bermasalah,
huh? Ayam-ayam itu juga ikut tenggelam saat Anda menenggelamkan desa kami,
Hymen-sama!
Dasar.
Hiyori
menghela napas pasrah. Apa boleh buat. Logika Hymen sebagai dewa dan logikanya
sebagai manusia tentu sulit bertemu. Ini sama seperti memberitahu singa
bahwa sayuran itu enak.
“Baiklah,
Hymen-sama,” jawab Hiyori pada akhirnya. “Aku akan membuatkan sup miso dan gyoza
untukmu tiga hari sekali.”
“Yosh.
Gadis
baik,” puji Hymen seraya tersenyum. “Kau bisa memasaknya di sini bila kau
lupa.”
“T—TIDAK
MAU!!” jawab Hiyori spontan, tanpa tedeng aling-aling. Gadis itu menggeleng
keras. “Aku masak di rumah saja!!! Hymen-sama akan menggangguku kalau aku masak
di sini seperti tadi!!”
Hymen
tertawa lepas.
Ah,
astaga. Kalau saja beliau tidak menyebalkan, mungkin Hiyori akan terkagum-kagum
dan kesengsem padanya sejak pandangan pertama. Maksudnya, Hiyori mungkin akan
tertarik sampai lupa diri.
Soalnya,
lihat saja wajahnya itu. Itu terlihat seperti dipahat dari cahaya fajar. Setiap
garisnya memiliki simetri sempurna yang mustahil dimiliki manusia. Sangat tegas
dan berkarakter. Rahang yang tajam, tulang pipi yang tinggi, dan hidung yang mancung.
Hymen
tidak sekadar tampan; ia adalah perwujudan keindahan itu sendiri. Wajahnya yang
seputih pualam tampak memancarkan pendar keemasan halus. Ketika ia menatap,
sepasang matanya yang sewarna perak memancarkan keagungan yang begitu pekat, membuat
siapa pun yang memandangnya bisa lupa cara bernapas, terjebak di antara rasa
kagum dan ketakutan yang magis.
Meskipun
ia terbilang santai, suka bermain-main, dan menyebalkan… ketika ia berdiri
dengan keanggunan mutlak, ia tampak megah. Tegak seperti pilar istana langit.
Hiyori
hampir saja terpana lagi dengan pesona Hymen, tetapi gadis itu berusaha untuk tetap
memasang ekspresi kesal. Rasa jengkel di dadanya jauh lebih kuat daripada
pesona ilahiah sang dewa.
“Traumamu
akan pujianku terus terang sangat mengesankan,” komentar Hymen. “Agaknya,
itu sangat melekat di dalam kepala kecilmu itu.”
“Aku
tidak akan trauma jika yang Anda puji itu bukan bokong, aroma tubuh, atau
bentuk tubuhku!!!” balas Hiyori.
Hymen sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Hiyori. Gerakan sederhana itu
mengembuskan aroma harum kelopak teratai dan hujan segar, sebuah aroma yang
mendefinisikan eksistensinya yang suci. Mata peraknya berkilat jenaka, mengunci
pandangan Hiyori yang mulai berapi-api.
“Pujian
dari seorang dewa adalah berkah,” ujar Hymen, jemari tangannya yang lentik dan
sempurna bergerak merapikan poni Hiyori. “Manusia lain harus bertapa puluhan
tahun di puncak gunung es hanya untuk mendengar aku memuji pengabdian mereka.
Kau seharusnya bersyukur, Gadis Muda.”
HAH?!
Berkah apanya?!!
Hiyori
lama-lama jadi dongkol bukan kepalang. “Hymen-sama, harus berapa kali lagi aku
memberitahumu bahwa itu adalah pelecehan verbal?! Itu bukan pujian!!”
“Mengatakan
yang sejujurnya tidaklah salah,” ujar Hymen. Nada suaranya terdengar begitu
polos tanpa dosa, seolah-olah ia baru saja menyatakan bahwa sapi itu kakinya
empat.
“Tidak
salah kalau yang Anda singgung bukanlah soal fisik!” balas Hiyori.
“Aku
pernah berkata pada temanku bahwa dia semakin jelek, perutnya semakin buncit, lalu
dia hanya tertawa,” ujar Hymen santai.
Hiyori
menganga. “Apa kalian para dewa tidak memiliki hati?!”
“Temanku
yang satu lagi justru sudah hafal kalau aku akan menutup hidung di balik kipas
tangan tiap berada di dekatnya, soalnya dia bau darah jorogumo.”
“…Apa
yang teman Anda itu lakukan sebenarnya?”
Arrrghhhh,
entahlah! Lelah sekali berbicara dengan Dewa Hymen. Sukar
tersambungnya. Manusia seperti Hiyori berpikir bahwa kebenaran belum tentu
harus diucapkan, sementara dewa seperti Hymen agaknya justru berpikir, ‘Kalau
benar, mengapa tak diucapkan? Repot sekali’.
Hah.
Lama-lama
Hiyori botak juga kalau terus-menerus dibuat stres begini. Selain itu, semakin
lama, Hiyori jadi tahu hal-hal yang seharusnya ia tidak tahu.
Hiyori
pun ikut meminum airnya. Kini, mereka berdua sama-sama telah selesai makan.
Untuk
beberapa detik, mereka berdua hanya menikmati keberadaan satu sama lain. Saling
menemani tanpa ada kata-kata yang terucap. Hanya senyum tipis Hymen yang
tidak benar-benar hilang dari wajah tampannya.
Tak
lama, Hymen pelan-pelan menoleh ke arah pintu utama kuil yang terbuka lebar.
Melihat arah pandang Hymen, Hiyori pun ikut menatap ke arah yang sama.
Tidak
ada apa-apa di sana. Hiyori hanya melihat birunya angkasa… dan beberapa burung
yang terbang tinggi melewati puncak gunung. Ia juga mendengar suara angin
sepoi-sepoi
Namun,
di mata Hymen, yang terlihat di sana sungguh berbeda.
Hymen
melihat kelopak bunga sakura yang berjatuhan pelan dari langit.
Melihat
munculnya kelopak-kelopak bunga itu, senyum tipis di wajah Hymen mulai lenyap.
Ia
mendengkus samar.
Ah.
Ia
lantas menoleh kepada Hiyori. Dilihatnya gadis itu ikut menoleh ke arahnya
dengan mata yang sedikit melebar karena ingin tahu… atau menunggu apa
yang akan ia ucapkan.
Ia
pun tersenyum. “Baiklah, Hiyori-chan. Sepertinya, aku akan ada urusan setelah
ini. Kau boleh pulang.”
Hiyori
mengedipkan matanya berkali-kali. Eh? Dia sudah boleh pulang, nih?
Sebentar,
sufiks ‘-chan’ dari Hymen itu mencurigakan sekali. Mengingatkan Hiyori pada
hari di mana Hymen menyuruhnya menjadi gadis pengantar persembahan.
Yah,
sudahlah.
Tidak usah dipikirkan. Yang penting Hiyori sudah boleh pulang!
“Baiklah,
Hymen-sama,” jawab Hiyori seraya bangkit. Ia baru saja ingin membereskan
piring-piring kotor di atas meja ketika tiba-tiba saja Hymen mengangkat sebelah
tangannya.
Dewa
itu mengibaskan tangannya dari kiri ke kanan, satu kali kibasan. Dalam sekejap
mata, seluruh piring dan gelas kotor itu bersih mengilap. Mata Hiyori kontan
memelotot.
“Alat
masakmu di dapur juga sudah bersih. Tinggal dibawa saja,” ujar Hymen.
Hiyori
menatap piring-piring itu dengan tatapan tak percaya. “W—Wah… Hebat sekali! Andaikan
aku punya kekuatan seperti ini… Aku tak perlu cuci piring lagi!!”
Hymen
mengangkat alis. “Apakah selera kekuatanmu sudah rusak, Gadis Muda? Kau diam saja
saat aku mengembalikan desamu seperti sediakala, tetapi kau memujiku saat aku
membersihkan piring-piringmu.”
Hiyori
menyembunyikan senyumnya. Ya siapa, sih, yang tak mau kekuatan bersih-bersih
tanpa tenaga?
Tak
butuh waktu lama, Hiyori pun selesai memasukkan seluruh alat masak dan alat
makannya ke dalam kain yang tadi ia gunakan untuk membawa semuanya. Tatkala
selesai, ia pun berdiri berhadapan dengan Hymen.
Dewa
itu memiringkan kepala, tersenyum miring, lalu membuka pelan kedua lengannya.
“Mau
berpelukan?”
Wajah
Hiyori serta-merta memerah hingga ke telinga. Darah di kepalanya bagai
mendidih. Panas sekali, seperti mau meledak. “HYMEN-SAMA!!!”
Tawa
Hymen pecah seketika. Dewa itu tertawa dengan sangat lepas dan bebas. Suaranya menggema
merdu di dalam kuil.
Sayangnya,
itu tidak membantu Hiyori sama sekali. Gadis itu justru jadi semakin malu.
Wajahnya terlihat semerah tomat. Semerah gerbang kuil Hymen.
Setelah
puas tergelak, Hymen pun menatap Hiyori kembali. Dengan senyum menyebalkannya
itu, ia mulai mengangkat sebelah tangannya lagi, lalu…
Klik!
Suara
jentikan jari sang dewa bagai bergaung di telinga Hiyori.
Namun,
saat melihat ke sekelilingnya, jantung Hiyori serasa mencelus ke perut.
Dia
sudah berada di kamarnya sendiri.
Mata
Hiyori membelalak. Ia menatap sekeliling ruangan seraya mengerjapkan mata
berkali-kali. Jantungnya bak berhenti berdetak; napasnya tiba-tiba tertahan.
Hah?
Apa?
Sebentar.
Sebentar!!
Mengapa
aku tiba-tiba sudah ada di kamar?!!
Tunggu
dulu!!
Hiyori
langsung meletakkan barang bawaannya ke lantai. Ia melangkah lebar ke arah pintu
kamar dan membuka pintu itu. Ingin memastikan keberadaannya saat ini.
Betapa
terkejutnya Hiyori…
…tatkala
melihat sosok ayah, ibu, dan adik laki-lakinya yang sedang makan bersama di ruang
makan.
Dia
benar-benar ada di rumah.
Mendengar
suara pintu kamar Hiyori yang terbuka, ketiga orang yang sedang makan itu pun lantas
menoleh. Ayah dan ibu Hiyori jelas kaget bukan main.
Sang
ibu menelan makanannya dan berkata, “Lho, Hiyori?! Kok tiba-tiba sudah
ada di rumah? Bukankah tadi kau sudah naik gunung lagi karena Dewa menyuruhmu
memasak?!”
Hiyori
menatap mereka bertiga dengan ekspresi blank. Masih separuh tak percaya
dengan apa yang telah terjadi.
Ia
lalu menatap kedua telapak tangannya, kedua kakinya, lalu kembali menatap
keluarganya.
Setelah
itu, dengan suara yang agak bergetar karena keheranan, ia pun berbicara.
“I—Ibu,
aku…” ucapnya, agak terbata. “Aku juga bingung…”
“Eeeeh????”
ucap ayah dan ibunya secara bersamaan. Hiyori saja bingung, apalagi mereka!!
“Sepertinya…”
Hiyori meneguk ludahnya. “Sepertinya… Hymen-sama telah memindahkanku dalam
satu jentikan jari.”
******
Dua
penjaga pintu berdaun dua di The Heavenly Palace langsung menunduk
hormat tatkala melihat Hymen melangkah mendekat. Hymen masih mengenakan pakaian
santai sehari-harinya, termasuk selendang yang tadi ia pakai saat makan bersama
Hiyori.
Ia
naik ke upperworld begitu selesai memulangkan Hiyori. Kelopak
bunga sakura yang berjatuhan di depan kuilnya adalah pertanda bahwa ia
dipanggil ke The Heavenly Palace. Panggilan dari sini selalu berupa
kelopak bunga sakura yang berjatuhan dalam jumlah masif dari langit.
Kedua
penjaga pintu super tinggi itu menyapa Hymen secara bersamaan.
“Salam
hormat untuk Anda, Dewa yang Agung. Selamat datang.”
Hymen
mengangguk. Pintu besar tersebut perlahan dibuka oleh kedua penjaga hingga
menganga sepenuhnya.
Sang
dewa mulai melangkah masuk, menyusuri lantai emas berukiran ouroboros.
Jalur megah nan luas itu membentang, berujung pada dua buah takhta yang
berwarna sama.
Ruangan
itu sangat megah, tetapi tidak ada ujungnya. Sebab sekelilingnya
merupakan bentangan langit.
Langit
tanpa batas… dengan hamparan awan putih yang tenang.
Takhta
dan lantai emas itu bak melayang tanpa tumpuan.
Di
kedua takhta itu, duduklah dua entitas tertinggi di seluruh alam semesta.
Sang
dewa-dewi pencipta, Arnius dan Arnaya.
Mereka
adalah pencipta dari segalanya, termasuk para dewa.
Arnius
dan Arnaya duduk di sana dengan penuh wibawa. Agung dan penuh kekuasaan.
Pakaian mereka terlihat seperti armor emas yang bermotif garis-garis
lengkungan. Garis-garis itu bermuara di dada, membentuk ular yang melingkar (ouroboros).
Di balik armor itu, mereka memakai pakaian megah berwarna merah dengan sedikit
sentuhan hitam. Mereka juga memakai mahkota.
Hymen
berhenti sekitar lima langkah di depan takhta Arnius dan Arnaya. Sebelah tangannya
bertumpu santai di dekat perut, tersembunyi di balik lilitan selendang yang ia
kenakan.
“Kaizen,”
sapa
Arnius. Suaranya langsung menggema di seantero aula langit itu.
Hymen
bergeming. Dia hanya menatap Arnius tanpa menunjukkan ekspresi apa pun.
Arnaya
mengamati Hymen dengan lekat. “Kami melihat akhir-akhir ini kau dekat dengan
seorang gadis manusia.”
“Shizu
Hiyori. Gadis manusia dari salah satu wilayahmu,” sambung Arnius.
Arnaya
mengangguk.
“Kau
memberikan bencana yang tidak perlu karena gadis itu,” ujarnya.
Arnius
sedikit menyipitkan mata. “Bisa kau jelaskan soal itu kepada kami?”
Tiba-tiba
saja, terdengar sebuah decakan.
Hymen
mendengkus. Kepalanya memiring ke sisi dan ia menggaruk tengkuknya dengan
malas. Agak terlihat sebal dan terganggu.
“Jadi,”
buka Hymen dengan nada bosan. “Siapa yang memberitahu kalian? Enzou, ya?”
“Kamilah
yang menciptakanmu, bagaimana mungkin kami tidak tahu apa yang kau lakukan?”
ujar Arnius.
“Ya
soalnya sepertinya agak dibesar-besarkan,” ujar Hymen. Posisinya kembali
seperti semula, tetapi matanya masih menatap Arnius dan Arnaya dengan malas.
“Aku dan Hiyori tidak sejauh itu.”
“Kau
menenggelamkan wilayahmu hanya karena gadis itu tidak datang kepadamu.
Katakan padaku di mana letak ‘tidak sejauh itu’ yang kau maksud,” tegas Arnaya.
Hymen
menggaruk bagian belakang kepalanya. Malas sekali dicecar seperti ini. “Kalian
terlalu berlebihan. Ini tidak seserius yang kalian kira.”
“Kami
akan percaya ini tidak serius apabila kau tidak punya sejarah seperti
ini,” tegas Arnius.
Hymen
terdiam.
Hampir
sepuluh detik lamanya, suasana di aula itu jadi hening. Mereka bertiga
sama-sama membisu.
Hingga
akhirnya, Arnaya menghela napas.
“Manusia
dan dewa tidak bisa bersama, Kaizen. Kasih yang dewa berikan kepada
manusia semestinya bersifat platonik. Sepenuhnya spiritual. Bebas dari
nafsu berahi dan cinta.”
“Kau
tak perlu mengingatkanku tentang peraturan-peraturan kedewaan, Arnaya,” jawab Hymen.
“Aku
takkan mengingatkanmu seperti ini bila kurasa tidak perlu,” balas
Arnaya.
“Hentikan
semua kedekatanmu dengan gadis itu.” Suara Arnius terdengar lebih besar,
lebih tegas, dan lebih menggema daripada sebelumnya.
Setelah
itu, sang dewa melanjutkan, “…Kau tak mau kejadian seabad yang lalu terulang
kembali, bukan?”
Hymen
bungkam.
Rahangnya
sedikit mengetat.
Arnius
dan Arnaya menyadari kebungkaman itu. Mereka berdua hanya saling menatap dengan
Hymen—atau Kaizen, nama aslinya—selama beberapa detik. Hingga akhirnya,
Arnaya pun kembali membuka suara.
“Kami
hanya ingin melindungimu… dan wilayah yang menjadi tanggung jawabmu.”
Hymen
masih diam seribu bahasa. Arnius dan Arnaya memperhatikannya dengan dua pasang
mata yang penuh tekad. Fokus. Penuh peringatan. Penuh pengawasan.
Beberapa
saat kemudian, akhirnya Hymen menghela napas.
“Tsk.
Ya, ya. Tidak akan terjadi apa-apa,” jawab Hymen dengan malas. Ia bersikap bodo
amat meskipun sebenarnya ia tidak menentang Arnius dan Arnaya secara
terang-terangan.
Arnius
dan Arnaya mengangguk.
“Hmm.
Kami pegang ucapanmu,” ucap Arnius.
Hymen
mendengkus kasar.
“Ini
saja yang mau kalian bicarakan, bukan? Kalau sudah selesai, aku mau pulang,”
ujar Hymen.
Setelah
mengatakan itu, Hymen pun berbalik. Dia berjalan menjauh, meninggalkan Arnius
dan Arnaya. Pintu raksasa di ujung sana kembali dibukakan oleh para penjaga dan
sapaan untuk Hymen pun terdengar.
“Hati-hati
di jalan, Dewa Kaizen. Sampai jumpa kembali.”
******
Sepatu
Hymen menapak lantai tepat di depan pintu kuil. Seperti biasa, sosoknya muncul
tiba-tiba di udara, seperti teleportasi… atau mungkin tadi dia terbang tanpa
memperlihatkan wujudnya.
Dia
memang bisa melakukan keduanya.
Saat
berdiri di ambang pintu, Hymen langsung mendapati sosok Enzou yang berdiri
bersandar di tepi meja. Enzou tengah memutar-mutar guci sake menggunakan
ujung jari telunjuk. Mirip seperti trik memutar bola, tetapi bedanya, ia
menggunakan barang pecah belah.
Saat
merasakan kedatangan Hymen, Enzou pun menoleh. Sambil memamerkan senyum
lebarnya yang sok tak berdosa itu, ia menyapa:
“Yo!
Habis dipanggil, ya?”
Sialan.
Hymen
berjalan masuk, lalu berdecak. “Diamlah. Apa yang kau lakukan di sini?”
Enzou
tertawa. Diletakkannya guci itu di atas meja. “Dingin sekali, ya, Hymen-sama.
Aku cuma mau mendengar cerita tentang Hiyori-chan, nih. Ke mana dia? Sudah
pulang?”
Hymen
memutar bola matanya. “Apa kau yang memberitahu Arnius dan Arnaya soal Hiyori?”
Enzou
tersentak. Matanya membeliak ketika mendengar tuduhan itu. “Hei, hei! Tentu saja
bukan aku! Sejak kapan aku jadi pengadu seperti itu? Catatan pembangkanganku
sendiri sangat banyak, untuk apa aku cari muka dengan mereka berdua?”
Tentu
saja. Sungguh ironi kalau Enzou mengadu, sementara dia
sendiri memelihara puluhan gadis manusia dan siluman di kuilnya. Dia juga suka
bermalas-malasan saat mengerjakan misi. Arnius dan Arnaya pasti sudah bosan
menasihatinya. Telinganya seperti tak berfungsi.
“Jadi,
siapa lagi? Hanya kaulah yang tahu soal Hiyori,” tukas Hymen.
“Kau
seperti tak tahu Arnius dan Arnaya saja. Mereka memang selalu mengawasi kita
semua, Bung! Pelihara satu kutu mungil di kepalamu dan mereka tetap akan tahu
itu,” balas Enzou.
“Mereka
harus rajin-rajin turun dari singgasana,” ujar Hymen seraya menarik sebuah
kursi. “daripada kebanyakan mengintai urusan kita.”
Tak
ayal, Enzou tertawa terbahak-bahak. Dewa itu juga menarik sebuah kursi, lalu
duduk bersebelahan dengan Hymen. “Katakan itu pada mereka dan kupastikan kau
akan diomeli selama dua jam.”
Hymen
berdecak. “Dalam seabad ini, aku hanya berdiam diri di kuil. Begitu aku sedikit
aktif, mereka langsung mengomel. Mereka agaknya ingin kita hidup dalam
kebosanan. Lain kali, aku akan membawakan mereka bir.”
Lagi-lagi
Enzou tergelak kencang. Kelakuannya sama persis dengan bapak-bapak yang gemar
berkumpul di kedai minum saat malam tiba. “Mau pesta bir, ya? Aku ikut, dong!!
Hahahahaha!!!”
Ini
di luar topik, sih, tetapi jika Hiyori ada di sini, mungkin gadis itu akan paham
mengapa kedua dewa itu bisa berteman. Mereka sama-sama tidak beres, soalnya.
Well,
kata
orang, burung dengan bulu yang sama akan hinggap di dahan yang sama.
Setelah
puas tertawa, Enzou perlahan-lahan mulai terdiam. Hymen pun demikian.
Tidak
berselang lama, keheningan tersebut dipecahkan oleh Enzou.
“Jadi,”
ucap dewa itu lambat-lambat. “apa yang mereka bicarakan soal Hiyori?”
Hymen
mendengkus. Dewa kemakmuran itu lalu menyilangkan lengan di depan dada. “Kurasa
kau sudah bisa menebaknya.”
“Mereka
memperingatimu?” tanya Enzou, seakan-akan ingin mengonfirmasi.
Hymen
berdeham singkat. “Hm.”
Mendengar
jawaban Hymen, sepasang netra berwarna kuning keemasan milik Enzou berkilat
sejenak. Kelopak matanya sedikit turun; ia mulai menatap Hymen dengan
serius.
Suasana
mendadak memberat.
Ruangan
itu tiba-tiba diselimuti atmosfer yang tegang. Hymen tidak membalas tatapannya,
tetapi Enzou bisa melihat kedua mata dan ekspresi wajah sahabatnya itu telah
kehilangan sisa jenaka.
Akhirnya,
dengan tenang dan pelan, Enzou pun bertanya.
“Apakah
mereka mengungkit kembali soal seabad yang lalu?”
Hymen
menurunkan pandangannya ke meja. Tatapannya melekat di sana, tetapi
sesungguhnya ia tidak benar-benar melihat permukaan kayu berwarna cokelat tua
itu.
Sinar
mentari membentur netra peraknya, membiaskan pendar samar yang sekilas tampak
sewarna toska.
Ia
sedang melihat sesuatu yang lain.
Sesuatu
yang terkubur jauh di dalam ingatannya.
Ia
pun mendengkus samar.
Ah.
Seabad
yang lalu, ya? []

