Sunday, July 12, 2026

Hymen's Favorite Girl (Chapter 6: Sakura Petals Drop)

 


******

Chapter 6 :

Sakura Petals Drop

 

******

 

HYMEN mengambil satu gyoza ayam dengan sumpitnya, lalu mencolekkan gyoza itu ke saus. Begitu memasukkan makanan itu ke mulut, ia kembali tersenyum miring.

“Mm. Enak sekali, ya,” pujinya. “Sepertinya, aku harus meminta gyoza ayam untuk persembahan selanjutnya.”

Hiyori mendengkus, tetapi pipinya sedikit memerah. “Hymen-sama, Anda sudah memuji gyoza itu berkali-kali. Anda berlebihan.”

Hymen tertawa. “Aku memuji sup misonya juga kok. Bukan hanya gyoza.”

“Ya makanya berhentilah, Hymen-sama.” Hiyori menghela napas. “Itu tidak seberapa dibanding masakan warga-warga lain.”

“Hmm?” Hymen memiringkan kepalanya. “Benarkah? Kalau begitu, seharusnya mereka mengantarkan sup miso dan gyoza padaku sejak zaman dahulu. Mengapa tidak ada yang berinisiatif untuk mengantarkannya?”

Hiyori menganga, tak habis pikir dengan ucapan sang dewa. “Hymen-sama, dari mana mereka tahu kalau kau akan menyukainya? Sup miso dan gyoza bukanlah sesuatu yang umumnya diselipkan dalam persembahan untuk dewa-dewi. Kalau mereka lancang memasukkan dua makanan itu, lalu Anda marah karena itu tidak sesuai selera Anda, bagaimana?”

Hymen mengangkat kedua alisnya, matanya membulat polos. Seakan-akan heran dengan pertanyaan Hiyori. “Bukankah tinggal akhiri saja hidup pengirimnya?”

“Itulah makanya kami tak mau, Hymen-samaaaa!!” teriak Hiyori emosi. Astaga, ada-ada saja. Dewa mengatakan itu tanpa beban, seolah-olah nyawa itu tidak ada artinya di benaknya. Well, mungkin itu terjadi karena dia hidup sudah lama sekali; dari sudut pandangnya, dia sudah melihat berbagai kematian, berbagai era, berbagai evolusi, sebagai hal kecil yang tidak mengherankan lagi. Bagai menyaksikan siklus air.

Maka dari itu, sementara Hiyori memijat keningnya karena pusing, Hymen malah masih memasang ekspresi yang sama. Dia mulai melanjutkan, “Dari dahulu, kalian manusia selalu memusingkan banyak hal. Rumit sekali.”

“Yah, maaf, ya, Hymen-sama, kami manusia punya banyak ketakutan. Kami takut akan kematian. Tidak seperti dewa yang abadi,” sindir Hiyori dengan ekspresi datar.

Hymen memakan supnya, lalu dengan santainya berkata, “Dahulu, manusia pertama yang diciptakan saja malah sibuk memikirkan penutup alat kelaminnya, padahal tak ada juga yang mau melihatnya di Bumi karena dia masih sendirian. Rumit sekali. Siapa lagi namanya? Ah, Primus, kalau tak salah.”

Pipi Hiyori langsung merona hebat. H—Hah? Manusia pertama? Primus? Alat kelamin?!

“HYMEN-SAMAAA!” teriak Hiyori. “Kurasa aku tak perlu mendengar semua itu!!!”

Senyum miring menghiasi wajah tampan Hymen. “Aku menjelaskan itu supaya kau tahu betapa rumitnya pikiran kalian manusia sejak dahulu kala.”

“Kemaluan tidak ada kaitannya dengan ketakutan manusia terhadap kematian, Hymen-sama, itu berbeda topik!!” protes Hiyori dengan pipi merahnya. Itu Primus pasti malu sekali di alam baka sana kalau tahu kemaluannya sedang dibicarakan oleh Dewa Hymen sekarang.

“Aku berbicara tentang kerumitan pikiran kalian, Gadis Muda. Kalian rumit dalam segala hal akibat rasa takut,” jawab Hymen seraya memakan gyoza-nya. “Cukup impresif, sebenarnya. Otak kalian yang kecil itu memiliki kapasitas dan probabilitas yang besar untuk menampung berbagai rasa takut.”

Ini Dewa sebenarnya mau memuji atau menghina, sih?!

Ujung-ujungnya, Hiyori mendengkus, cemberut, lalu memakan gyoza-nya dengan kesal. “Terserah Anda saja, deh. Aku kesal!!!”

Hymen tertawa. Menarik sekali melihat Hiyori yang memoncongkan mulutnya karena frustrasi. Hiyori adalah manusia pertama yang berani menjawab kata-kata Hymen, cemberut padanya, mengomelinya, dan kesal padanya. Miliaran manusia hanya bisa memberikan bermacam-macam ekspresi kepada sesama manusia; mereka semua akan memasang ekspresi yang serius, sopan dan penuh hormat kepada entitas tinggi seperti dewa.

Namun, Shizu Hiyori bisa memperlihatkan berbagai ekspresi dan emosi… yang ditujukan padanya. Kepada seorang dewa.

Gadis itu ekspresif. Hidup. Menyenangkan sekali bisa menyaksikan berbagai ekspresi yang keluar darinya.

 

Apakah ada ekspresi lain?

 

“Hymen-sama, apakah ini berarti mulai besok desa kami harus membawakanmu gyoza ayam dan sup miso?” tanya Hiyori tiba-tiba. Mata bulatnya menatap Hymen penuh rasa ingin tahu.

Hymen meletakkan sumpitnya di atas piring, lalu mengambil segelas air yang sudah Hiyori siapkan di atas meja. “Hmm? Ternyata, kau cukup perhatian meski bawel.”

Pipi Hiyori langsung merona. “I—Itu karena aku sudah cukup tahu tabiat Anda yang suka menenggelamkan desa hanya karena kami tidak peka!!”

“Apa kau baru saja menyalahkanku, Gadis Muda?” tanya Hymen seraya tersenyum miring. Ia mulai meminum airnya, lalu meletakkan kembali gelas itu ke atas meja.

Hiyori agak panik—takut Hymen melakukan sesuatu yang mengerikan seperti menerbangkan Hiyori ke laut—tetapi dia masih ingin protes. “A—Aku hanya masih berpikir kalau itu tidak—”

“Tiga hari sekali,” potong Hymen. Senyuman miring itu masih menghiasi wajahnya. “Selipkan gyoza dan sup miso ke dalam persembahan kalian untukku tiga hari sekali.”

Hiyori menghela napas. Oh, untunglah Dewa tidak marah atau semacamnya.

Bisa kacau kalau beliau marah. Nanti desa kami ditenggelamkan lagi.

Akhirnya, Hiyori pun mengangguk mengerti. Dia lantas menjawab, “Baiklah, Hymen-sama. Aku akan memberitahukan hal ini kepada Raiden-sama—”

“Buatanmu,” potong Hymen tiba-tiba.

Mata Hiyori seketika membulat.

 

Eh?

Apa?

 

“Aku hanya mau memakan buatanmu,” lanjut sang dewa. “Aku telah mengenali rasanya, jadi jangan coba-coba membawakanku buatan orang lain.”

Apa?!!

Oh, Mendadak Hiyori menyesal telah memasakkan sup miso dan gyoza untuk Hymen-sama.

Ughhhh!! Tugas Hiyori jadi bertambah, deh! Kerja rodi jalur takdir ini namanya!

Hiyori mulai mencari-cari alasan. “Persediaan ayam di desa kami tidak sebanyak itu, Hymen-sama!!”

“Hmm?” Hymen mengangkat kedua alisnya. “Apa perlu kupindahkan semua ayam dari desa kalian ke atas gunung ini hanya agar kau tahu sebanyak apa ayam di sana?”

Hiyori terkejut setengah mati. “APA?! H—Hymen-sama—”

“Akulah yang mengatur seluruh keberlangsungan hidup di desa kalian, Gadis Muda,” jawab Hymen. “Aku selalu memastikan kalian tidak berkekurangan.”

“—kecuali bila kalian bermasalah denganku,” lanjutnya.

Bermasalah, huh? Ayam-ayam itu juga ikut tenggelam saat Anda menenggelamkan desa kami, Hymen-sama!

Dasar.

Hiyori menghela napas pasrah. Apa boleh buat. Logika Hymen sebagai dewa dan logikanya sebagai manusia tentu sulit bertemu. Ini sama seperti memberitahu singa bahwa sayuran itu enak.

“Baiklah, Hymen-sama,” jawab Hiyori pada akhirnya. “Aku akan membuatkan sup miso dan gyoza untukmu tiga hari sekali.”

“Yosh. Gadis baik,” puji Hymen seraya tersenyum. “Kau bisa memasaknya di sini bila kau lupa.”

“T—TIDAK MAU!!” jawab Hiyori spontan, tanpa tedeng aling-aling. Gadis itu menggeleng keras. “Aku masak di rumah saja!!! Hymen-sama akan menggangguku kalau aku masak di sini seperti tadi!!”

Hymen tertawa lepas.

Ah, astaga. Kalau saja beliau tidak menyebalkan, mungkin Hiyori akan terkagum-kagum dan kesengsem padanya sejak pandangan pertama. Maksudnya, Hiyori mungkin akan tertarik sampai lupa diri.

Soalnya, lihat saja wajahnya itu. Itu terlihat seperti dipahat dari cahaya fajar. Setiap garisnya memiliki simetri sempurna yang mustahil dimiliki manusia. Sangat tegas dan berkarakter. Rahang yang tajam, tulang pipi yang tinggi, dan hidung yang mancung.

Hymen tidak sekadar tampan; ia adalah perwujudan keindahan itu sendiri. Wajahnya yang seputih pualam tampak memancarkan pendar keemasan halus. Ketika ia menatap, sepasang matanya yang sewarna perak memancarkan keagungan yang begitu pekat, membuat siapa pun yang memandangnya bisa lupa cara bernapas, terjebak di antara rasa kagum dan ketakutan yang magis.

Meskipun ia terbilang santai, suka bermain-main, dan menyebalkan… ketika ia berdiri dengan keanggunan mutlak, ia tampak megah. Tegak seperti pilar istana langit.

Hiyori hampir saja terpana lagi dengan pesona Hymen, tetapi gadis itu berusaha untuk tetap memasang ekspresi kesal. Rasa jengkel di dadanya jauh lebih kuat daripada pesona ilahiah sang dewa.

“Traumamu akan pujianku terus terang sangat mengesankan,” komentar Hymen. “Agaknya, itu sangat melekat di dalam kepala kecilmu itu.”

“Aku tidak akan trauma jika yang Anda puji itu bukan bokong, aroma tubuh, atau bentuk tubuhku!!!” balas Hiyori.

Hymen sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Hiyori. Gerakan sederhana itu mengembuskan aroma harum kelopak teratai dan hujan segar, sebuah aroma yang mendefinisikan eksistensinya yang suci. Mata peraknya berkilat jenaka, mengunci pandangan Hiyori yang mulai berapi-api.

“Pujian dari seorang dewa adalah berkah,” ujar Hymen, jemari tangannya yang lentik dan sempurna bergerak merapikan poni Hiyori. “Manusia lain harus bertapa puluhan tahun di puncak gunung es hanya untuk mendengar aku memuji pengabdian mereka. Kau seharusnya bersyukur, Gadis Muda.”

HAH?! Berkah apanya?!!

Hiyori lama-lama jadi dongkol bukan kepalang. “Hymen-sama, harus berapa kali lagi aku memberitahumu bahwa itu adalah pelecehan verbal?! Itu bukan pujian!!”

“Mengatakan yang sejujurnya tidaklah salah,” ujar Hymen. Nada suaranya terdengar begitu polos tanpa dosa, seolah-olah ia baru saja menyatakan bahwa sapi itu kakinya empat.

“Tidak salah kalau yang Anda singgung bukanlah soal fisik!” balas Hiyori.

“Aku pernah berkata pada temanku bahwa dia semakin jelek, perutnya semakin buncit, lalu dia hanya tertawa,” ujar Hymen santai.

Hiyori menganga. “Apa kalian para dewa tidak memiliki hati?!”

“Temanku yang satu lagi justru sudah hafal kalau aku akan menutup hidung di balik kipas tangan tiap berada di dekatnya, soalnya dia bau darah jorogumo.”

“…Apa yang teman Anda itu lakukan sebenarnya?”

Arrrghhhh, entahlah! Lelah sekali berbicara dengan Dewa Hymen. Sukar tersambungnya. Manusia seperti Hiyori berpikir bahwa kebenaran belum tentu harus diucapkan, sementara dewa seperti Hymen agaknya justru berpikir, ‘Kalau benar, mengapa tak diucapkan? Repot sekali’.

Hah. Lama-lama Hiyori botak juga kalau terus-menerus dibuat stres begini. Selain itu, semakin lama, Hiyori jadi tahu hal-hal yang seharusnya ia tidak tahu.

Hiyori pun ikut meminum airnya. Kini, mereka berdua sama-sama telah selesai makan.

Untuk beberapa detik, mereka berdua hanya menikmati keberadaan satu sama lain. Saling menemani tanpa ada kata-kata yang terucap. Hanya senyum tipis Hymen yang tidak benar-benar hilang dari wajah tampannya.

Tak lama, Hymen pelan-pelan menoleh ke arah pintu utama kuil yang terbuka lebar. Melihat arah pandang Hymen, Hiyori pun ikut menatap ke arah yang sama.

Tidak ada apa-apa di sana. Hiyori hanya melihat birunya angkasa… dan beberapa burung yang terbang tinggi melewati puncak gunung. Ia juga mendengar suara angin sepoi-sepoi

Namun, di mata Hymen, yang terlihat di sana sungguh berbeda.

Hymen melihat kelopak bunga sakura yang berjatuhan pelan dari langit.

Melihat munculnya kelopak-kelopak bunga itu, senyum tipis di wajah Hymen mulai lenyap.

Ia mendengkus samar.

 

Ah.

 

Ia lantas menoleh kepada Hiyori. Dilihatnya gadis itu ikut menoleh ke arahnya dengan mata yang sedikit melebar karena ingin tahu… atau menunggu apa yang akan ia ucapkan.

Ia pun tersenyum. “Baiklah, Hiyori-chan. Sepertinya, aku akan ada urusan setelah ini. Kau boleh pulang.”

Hiyori mengedipkan matanya berkali-kali. Eh? Dia sudah boleh pulang, nih?

Sebentar, sufiks ‘-chan’ dari Hymen itu mencurigakan sekali. Mengingatkan Hiyori pada hari di mana Hymen menyuruhnya menjadi gadis pengantar persembahan.

Yah, sudahlah. Tidak usah dipikirkan. Yang penting Hiyori sudah boleh pulang!

“Baiklah, Hymen-sama,” jawab Hiyori seraya bangkit. Ia baru saja ingin membereskan piring-piring kotor di atas meja ketika tiba-tiba saja Hymen mengangkat sebelah tangannya.

Dewa itu mengibaskan tangannya dari kiri ke kanan, satu kali kibasan. Dalam sekejap mata, seluruh piring dan gelas kotor itu bersih mengilap. Mata Hiyori kontan memelotot.

“Alat masakmu di dapur juga sudah bersih. Tinggal dibawa saja,” ujar Hymen.

Hiyori menatap piring-piring itu dengan tatapan tak percaya. “W—Wah… Hebat sekali! Andaikan aku punya kekuatan seperti ini… Aku tak perlu cuci piring lagi!!”

Hymen mengangkat alis. “Apakah selera kekuatanmu sudah rusak, Gadis Muda? Kau diam saja saat aku mengembalikan desamu seperti sediakala, tetapi kau memujiku saat aku membersihkan piring-piringmu.”

Hiyori menyembunyikan senyumnya. Ya siapa, sih, yang tak mau kekuatan bersih-bersih tanpa tenaga?

Tak butuh waktu lama, Hiyori pun selesai memasukkan seluruh alat masak dan alat makannya ke dalam kain yang tadi ia gunakan untuk membawa semuanya. Tatkala selesai, ia pun berdiri berhadapan dengan Hymen.

Dewa itu memiringkan kepala, tersenyum miring, lalu membuka pelan kedua lengannya.

 

“Mau berpelukan?”

 

Wajah Hiyori serta-merta memerah hingga ke telinga. Darah di kepalanya bagai mendidih. Panas sekali, seperti mau meledak. “HYMEN-SAMA!!!”

Tawa Hymen pecah seketika. Dewa itu tertawa dengan sangat lepas dan bebas. Suaranya menggema merdu di dalam kuil.

Sayangnya, itu tidak membantu Hiyori sama sekali. Gadis itu justru jadi semakin malu. Wajahnya terlihat semerah tomat. Semerah gerbang kuil Hymen.

Setelah puas tergelak, Hymen pun menatap Hiyori kembali. Dengan senyum menyebalkannya itu, ia mulai mengangkat sebelah tangannya lagi, lalu…

 

Klik!

 

Suara jentikan jari sang dewa bagai bergaung di telinga Hiyori.

Namun, saat melihat ke sekelilingnya, jantung Hiyori serasa mencelus ke perut.

 

Dia sudah berada di kamarnya sendiri.

 

Mata Hiyori membelalak. Ia menatap sekeliling ruangan seraya mengerjapkan mata berkali-kali. Jantungnya bak berhenti berdetak; napasnya tiba-tiba tertahan.

 

Hah?

Apa?

Sebentar.

Sebentar!!

Mengapa aku tiba-tiba sudah ada di kamar?!!

Tunggu dulu!!

 

Hiyori langsung meletakkan barang bawaannya ke lantai. Ia melangkah lebar ke arah pintu kamar dan membuka pintu itu. Ingin memastikan keberadaannya saat ini.

Betapa terkejutnya Hiyori…

 

…tatkala melihat sosok ayah, ibu, dan adik laki-lakinya yang sedang makan bersama di ruang makan.

 

Dia benar-benar ada di rumah.

 

Mendengar suara pintu kamar Hiyori yang terbuka, ketiga orang yang sedang makan itu pun lantas menoleh. Ayah dan ibu Hiyori jelas kaget bukan main.

Sang ibu menelan makanannya dan berkata, “Lho, Hiyori?! Kok tiba-tiba sudah ada di rumah? Bukankah tadi kau sudah naik gunung lagi karena Dewa menyuruhmu memasak?!”

Hiyori menatap mereka bertiga dengan ekspresi blank. Masih separuh tak percaya dengan apa yang telah terjadi.

Ia lalu menatap kedua telapak tangannya, kedua kakinya, lalu kembali menatap keluarganya.

Setelah itu, dengan suara yang agak bergetar karena keheranan, ia pun berbicara.

“I—Ibu, aku…” ucapnya, agak terbata. “Aku juga bingung…”

“Eeeeh????” ucap ayah dan ibunya secara bersamaan. Hiyori saja bingung, apalagi mereka!!

“Sepertinya…” Hiyori meneguk ludahnya. “Sepertinya… Hymen-sama telah memindahkanku dalam satu jentikan jari.”

 

******

 

Dua penjaga pintu berdaun dua di The Heavenly Palace langsung menunduk hormat tatkala melihat Hymen melangkah mendekat. Hymen masih mengenakan pakaian santai sehari-harinya, termasuk selendang yang tadi ia pakai saat makan bersama Hiyori.

Ia naik ke upperworld begitu selesai memulangkan Hiyori. Kelopak bunga sakura yang berjatuhan di depan kuilnya adalah pertanda bahwa ia dipanggil ke The Heavenly Palace. Panggilan dari sini selalu berupa kelopak bunga sakura yang berjatuhan dalam jumlah masif dari langit.

Kedua penjaga pintu super tinggi itu menyapa Hymen secara bersamaan.

“Salam hormat untuk Anda, Dewa yang Agung. Selamat datang.”

Hymen mengangguk. Pintu besar tersebut perlahan dibuka oleh kedua penjaga hingga menganga sepenuhnya.

Sang dewa mulai melangkah masuk, menyusuri lantai emas berukiran ouroboros. Jalur megah nan luas itu membentang, berujung pada dua buah takhta yang berwarna sama.

Ruangan itu sangat megah, tetapi tidak ada ujungnya. Sebab sekelilingnya merupakan bentangan langit.

Langit tanpa batas… dengan hamparan awan putih yang tenang.

Takhta dan lantai emas itu bak melayang tanpa tumpuan.

Di kedua takhta itu, duduklah dua entitas tertinggi di seluruh alam semesta.

Sang dewa-dewi pencipta, Arnius dan Arnaya.

Mereka adalah pencipta dari segalanya, termasuk para dewa.

Arnius dan Arnaya duduk di sana dengan penuh wibawa. Agung dan penuh kekuasaan. Pakaian mereka terlihat seperti armor emas yang bermotif garis-garis lengkungan. Garis-garis itu bermuara di dada, membentuk ular yang melingkar (ouroboros). Di balik armor itu, mereka memakai pakaian megah berwarna merah dengan sedikit sentuhan hitam. Mereka juga memakai mahkota.

Hymen berhenti sekitar lima langkah di depan takhta Arnius dan Arnaya. Sebelah tangannya bertumpu santai di dekat perut, tersembunyi di balik lilitan selendang yang ia kenakan.

 

“Kaizen,” sapa Arnius. Suaranya langsung menggema di seantero aula langit itu.

 

Hymen bergeming. Dia hanya menatap Arnius tanpa menunjukkan ekspresi apa pun.

Arnaya mengamati Hymen dengan lekat. “Kami melihat akhir-akhir ini kau dekat dengan seorang gadis manusia.”

“Shizu Hiyori. Gadis manusia dari salah satu wilayahmu,” sambung Arnius.

Arnaya mengangguk.

“Kau memberikan bencana yang tidak perlu karena gadis itu,” ujarnya.

Arnius sedikit menyipitkan mata. “Bisa kau jelaskan soal itu kepada kami?”

Tiba-tiba saja, terdengar sebuah decakan.

Hymen mendengkus. Kepalanya memiring ke sisi dan ia menggaruk tengkuknya dengan malas. Agak terlihat sebal dan terganggu.

“Jadi,” buka Hymen dengan nada bosan. “Siapa yang memberitahu kalian? Enzou, ya?”

“Kamilah yang menciptakanmu, bagaimana mungkin kami tidak tahu apa yang kau lakukan?” ujar Arnius.

“Ya soalnya sepertinya agak dibesar-besarkan,” ujar Hymen. Posisinya kembali seperti semula, tetapi matanya masih menatap Arnius dan Arnaya dengan malas. “Aku dan Hiyori tidak sejauh itu.”

“Kau menenggelamkan wilayahmu hanya karena gadis itu tidak datang kepadamu. Katakan padaku di mana letak ‘tidak sejauh itu’ yang kau maksud,” tegas Arnaya.

Hymen menggaruk bagian belakang kepalanya. Malas sekali dicecar seperti ini. “Kalian terlalu berlebihan. Ini tidak seserius yang kalian kira.”

“Kami akan percaya ini tidak serius apabila kau tidak punya sejarah seperti ini,” tegas Arnius.

Hymen terdiam.

Hampir sepuluh detik lamanya, suasana di aula itu jadi hening. Mereka bertiga sama-sama membisu.

Hingga akhirnya, Arnaya menghela napas.

“Manusia dan dewa tidak bisa bersama, Kaizen. Kasih yang dewa berikan kepada manusia semestinya bersifat platonik. Sepenuhnya spiritual. Bebas dari nafsu berahi dan cinta.”

“Kau tak perlu mengingatkanku tentang peraturan-peraturan kedewaan, Arnaya,” jawab Hymen.

“Aku takkan mengingatkanmu seperti ini bila kurasa tidak perlu,” balas Arnaya.

“Hentikan semua kedekatanmu dengan gadis itu.” Suara Arnius terdengar lebih besar, lebih tegas, dan lebih menggema daripada sebelumnya.

Setelah itu, sang dewa melanjutkan, “…Kau tak mau kejadian seabad yang lalu terulang kembali, bukan?”

Hymen bungkam.

Rahangnya sedikit mengetat.

Arnius dan Arnaya menyadari kebungkaman itu. Mereka berdua hanya saling menatap dengan Hymen—atau Kaizen, nama aslinya—selama beberapa detik. Hingga akhirnya, Arnaya pun kembali membuka suara.

“Kami hanya ingin melindungimu… dan wilayah yang menjadi tanggung jawabmu.”

Hymen masih diam seribu bahasa. Arnius dan Arnaya memperhatikannya dengan dua pasang mata yang penuh tekad. Fokus. Penuh peringatan. Penuh pengawasan.

Beberapa saat kemudian, akhirnya Hymen menghela napas.

“Tsk. Ya, ya. Tidak akan terjadi apa-apa,” jawab Hymen dengan malas. Ia bersikap bodo amat meskipun sebenarnya ia tidak menentang Arnius dan Arnaya secara terang-terangan.

Arnius dan Arnaya mengangguk.

“Hmm. Kami pegang ucapanmu,” ucap Arnius.

Hymen mendengkus kasar.

“Ini saja yang mau kalian bicarakan, bukan? Kalau sudah selesai, aku mau pulang,” ujar Hymen.

Setelah mengatakan itu, Hymen pun berbalik. Dia berjalan menjauh, meninggalkan Arnius dan Arnaya. Pintu raksasa di ujung sana kembali dibukakan oleh para penjaga dan sapaan untuk Hymen pun terdengar.

“Hati-hati di jalan, Dewa Kaizen. Sampai jumpa kembali.”

 

******

 

Sepatu Hymen menapak lantai tepat di depan pintu kuil. Seperti biasa, sosoknya muncul tiba-tiba di udara, seperti teleportasi… atau mungkin tadi dia terbang tanpa memperlihatkan wujudnya.

Dia memang bisa melakukan keduanya.

Saat berdiri di ambang pintu, Hymen langsung mendapati sosok Enzou yang berdiri bersandar di tepi meja. Enzou tengah memutar-mutar guci sake menggunakan ujung jari telunjuk. Mirip seperti trik memutar bola, tetapi bedanya, ia menggunakan barang pecah belah.

Saat merasakan kedatangan Hymen, Enzou pun menoleh. Sambil memamerkan senyum lebarnya yang sok tak berdosa itu, ia menyapa:

“Yo! Habis dipanggil, ya?”

Sialan.

Hymen berjalan masuk, lalu berdecak. “Diamlah. Apa yang kau lakukan di sini?”

Enzou tertawa. Diletakkannya guci itu di atas meja. “Dingin sekali, ya, Hymen-sama. Aku cuma mau mendengar cerita tentang Hiyori-chan, nih. Ke mana dia? Sudah pulang?”

Hymen memutar bola matanya. “Apa kau yang memberitahu Arnius dan Arnaya soal Hiyori?”

Enzou tersentak. Matanya membeliak ketika mendengar tuduhan itu. “Hei, hei! Tentu saja bukan aku! Sejak kapan aku jadi pengadu seperti itu? Catatan pembangkanganku sendiri sangat banyak, untuk apa aku cari muka dengan mereka berdua?”

Tentu saja. Sungguh ironi kalau Enzou mengadu, sementara dia sendiri memelihara puluhan gadis manusia dan siluman di kuilnya. Dia juga suka bermalas-malasan saat mengerjakan misi. Arnius dan Arnaya pasti sudah bosan menasihatinya. Telinganya seperti tak berfungsi.

“Jadi, siapa lagi? Hanya kaulah yang tahu soal Hiyori,” tukas Hymen.

“Kau seperti tak tahu Arnius dan Arnaya saja. Mereka memang selalu mengawasi kita semua, Bung! Pelihara satu kutu mungil di kepalamu dan mereka tetap akan tahu itu,” balas Enzou.

“Mereka harus rajin-rajin turun dari singgasana,” ujar Hymen seraya menarik sebuah kursi. “daripada kebanyakan mengintai urusan kita.”

Tak ayal, Enzou tertawa terbahak-bahak. Dewa itu juga menarik sebuah kursi, lalu duduk bersebelahan dengan Hymen. “Katakan itu pada mereka dan kupastikan kau akan diomeli selama dua jam.”

Hymen berdecak. “Dalam seabad ini, aku hanya berdiam diri di kuil. Begitu aku sedikit aktif, mereka langsung mengomel. Mereka agaknya ingin kita hidup dalam kebosanan. Lain kali, aku akan membawakan mereka bir.”

Lagi-lagi Enzou tergelak kencang. Kelakuannya sama persis dengan bapak-bapak yang gemar berkumpul di kedai minum saat malam tiba. “Mau pesta bir, ya? Aku ikut, dong!! Hahahahaha!!!”

Ini di luar topik, sih, tetapi jika Hiyori ada di sini, mungkin gadis itu akan paham mengapa kedua dewa itu bisa berteman. Mereka sama-sama tidak beres, soalnya.

Well, kata orang, burung dengan bulu yang sama akan hinggap di dahan yang sama.

Setelah puas tertawa, Enzou perlahan-lahan mulai terdiam. Hymen pun demikian.

Tidak berselang lama, keheningan tersebut dipecahkan oleh Enzou.

“Jadi,” ucap dewa itu lambat-lambat. “apa yang mereka bicarakan soal Hiyori?”

Hymen mendengkus. Dewa kemakmuran itu lalu menyilangkan lengan di depan dada. “Kurasa kau sudah bisa menebaknya.”

“Mereka memperingatimu?” tanya Enzou, seakan-akan ingin mengonfirmasi.

Hymen berdeham singkat. “Hm.”

Mendengar jawaban Hymen, sepasang netra berwarna kuning keemasan milik Enzou berkilat sejenak. Kelopak matanya sedikit turun; ia mulai menatap Hymen dengan serius.

Suasana mendadak memberat.

Ruangan itu tiba-tiba diselimuti atmosfer yang tegang. Hymen tidak membalas tatapannya, tetapi Enzou bisa melihat kedua mata dan ekspresi wajah sahabatnya itu telah kehilangan sisa jenaka.

Akhirnya, dengan tenang dan pelan, Enzou pun bertanya.

 

“Apakah mereka mengungkit kembali soal seabad yang lalu?”

 

Hymen menurunkan pandangannya ke meja. Tatapannya melekat di sana, tetapi sesungguhnya ia tidak benar-benar melihat permukaan kayu berwarna cokelat tua itu.

Sinar mentari membentur netra peraknya, membiaskan pendar samar yang sekilas tampak sewarna toska.

Ia sedang melihat sesuatu yang lain.

Sesuatu yang terkubur jauh di dalam ingatannya.

 

Ia pun mendengkus samar.

 

Ah.

Seabad yang lalu, ya? []

 














******

Note: Jorogumo (絡新婦) adalah makhluk mitologi Jepang (yokai) yang wujud aslinya adalah laba-laba raksasa, tapi dia punya kemampuan buat berubah wujud jadi wanita yang super cantik, seksi, dan memikat untuk menjebak para pria.










Hymen's Favorite Girl (Chapter 6: Sakura Petals Drop)

  ****** Chapter 6 : Sakura Petals Drop   ******   HYMEN mengambil satu gyoza ayam dengan sumpitnya, lalu mencolekkan gyoza itu ke...