Friday, May 30, 2025

Princess Yuken (Chapter 3: Beauty of the Moon)

 


******

Chapter 3 :

Beauty of the Moon

 

******

 

DUA MINGGU KEMUDIAN

 

“NONA Kikyo, tolong ulangi lagi,” ujar Nyonya Yori dengan tegas saat Kikyo menjatuhkan buku tebal yang ada di atas kepalanya. Suara Nyonya Yori terdengar hingga ke seluruh sudut ruangan meskipun dia tidak berteriak. “Jangan menjatuhkan buku yang ada di atas kepala Anda.”

Di balik kacamata tebalnya, tatapan mata Nyonya Yori tampak begitu tajam. Dia tidak membentak atau menghina Kikyo, tetapi dia akan selalu menatap Kikyo dengan tajam tiap kali dia mengajari Kikyo. Di tangannya, ia juga selalu memegang tongkat kayu kecil, membuatnya terlihat seperti nenek sihir yang tidak berjubah. Pakaiannya rapi, rambutnya disanggul, dan wajahnya sudah agak keriput. Nyonya Yori tidak akan membentakmu, tetapi tidak akan ada keringanan untukmu di setiap kelasnya. Dahulu, banyak muridnya yang tidak kuat mengikuti kelas-kelasnya yang superketat; mereka akan menangis atau bahkan kabur begitu saja. Namun, percayalah, tidak ada guru di Hanju (atau mungkin di seluruh area Haewa) yang sepintar dia. Dia dikenal sebagai pendidik bagi putra-putri bangsawan, termasuk anggota kerajaan.

Well, bagi para bangsawan saja itu sulit, apalagi bagi Kikyo yang merupakan warga biasa. Bagaimana tidak, Kikyo yang selama ini cara berjalannya seperti seorang pendekar, tiba-tiba disuruh berjalan dengan anggun seperti wanita bangsawan.

Kikyo pun mengambil buku tebal itu di lantai, lalu menaruh buku itu kembali ke atas kepalanya. Dia tertawa canggung, lebih kepada menertawakan dirinya sendiri.

“Punggung Anda harus tegap…” kata Nyonya Yori sambil mendorong punggung Kikyo dengan tongkat kayunya, membuat mata gadis itu membulat. Namun, punggung gadis itu memang langsung tegap kembali. “…seperti ini. Oke. Mulailah berjalan.”

Menarik napasnya dalam-dalam, Kikyo pun mulai berjalan lagi ke ujung ruangan, ke arah jendela.

“Tutup kakimu, Nona, wanita tidak berjalan dengan mengangkang.” Nyonya Yori berkomentar dengan suara yang besar.

Yexian yang duduk di ujung ruangan, di salah satu kursi, kontan tertawa terbahak-bahak. “Kikyoooo! Astagaaa! Jangan mengangkaaanggg! Hahahahaha!”

Urat-urat di leher dan pelipis Kikyo langsung keluar semua. Lagi-lagi dia tertawa hambar, menertawakan nasibnya yang amat sial. Dia kesal sekali dengan pelajaran ‘berjalan-dengan-anggun’ ini, tetapi dia tak mau memperpanjang masalah dengan melawan Nyonya Yori. Syukur-syukur Nyonya Yori tidak menghinanya. Ingatlah, Kikyo! Ini adalah sebuah misi yang mempertaruhkan nyawa, jadi kau tidak boleh berteriak ataupun kabur lewat jendela meskipun itu terdengar sangat menggiurkan!

Oke, Kikyo sukses menahan dirinya, tetapi ekspresi wajahnya sudah kelihatan muak minta ampun.

Sial, lebih enak bertanding gulat daripada berjalan dengan anggun seperti ini. Semangat Kikyo jadi hilang total. Kalau tidak ada Yexian, pasti dia akan kehilangan motivasi hidup. Dia yang biasanya bersenang-senang dan tertawa lepas di desa bersama Kano, kini seakan-akan jadi kehilangan jati dirinya. Tidak adakah bagian di Kerajaan Seiju yang kerjanya di bidang kekuatan? Mengangkat pasokan makanan atau mengangkat kayu-kayu bakar, misalnya. Kikyo bekerja di situ saja, deh.

Maunya, sih, begitu.

Apa boleh buat, yang diperintahkan kepadanya adalah menjadi dayang istana, bukan menjadi tukang panggul.

Kikyo menoleh kepada Yexian yang terus menertawainya, lalu berdecak kesal kepada Yexian. “Berhentilah tertawa, Yexian, astaga! Kau mau mengajakku ribut, ya?!”

Sialnya, Yexian yang sudah kebal dengan ketomboian Kikyo itu justru semakin tertawa. Agaknya, Yexian juga jadi gila semenjak bergaul dengan Kikyo. Ke mana gadis manis yang waktu itu Kikyo kenal pertama kali? Tiga minggu bersama membuat kecanggungan di antara mereka betul-betul menghilang sekaligus membuat Yexian jadi gila.

Lagi pula, mengapa Yexian terus-terusan ada di setiap kelas yang Kikyo ikuti, sih? Gadis itu betul-betul menonton dan mengikuti setiap kegiatan Kikyo seolah-olah tidak ada kegiatan lain yang lebih menyenangkan untuknya.

“Kembalilah ke ruanganmu, Nona Yexian yang Terhormat,” ujar Kikyo dengan ekspresi datar. “Sampai kapan kau mau menontonku?”

“Umm…” Yexian pura-pura berpikir sebentar, lalu gadis itu kembali menatap Kikyo dan tersenyum manis. “Sampai kau selesai?”

Kikyo langsung menggeleng. “Kau benar-benar terhibur, ternyata.”

Yexian spontan tertawa. “Aku lebih senang menghabiskan waktu bersamamu. Kegiatan apa pun akan terasa seru jika ada kau.”

Kikyo menganga. “Memangnya aku pelawak?”

“Hahahahah! Kau mau jadi pelawak? Aku akan mendukungmu!” teriak Yexian.

“Gadis ini pasti sudah gila. Salahku. Iya, ini pasti salahku.” Kikyo berbisik pelan kepada dirinya sendiri seraya menggeleng tak habis pikir. Dia memandangi Yexian yang masih tertawa di ujung sana, entah apa yang begitu lucu. Mungkin, wajah Kikyolah yang lucu seperti badut.

Kikyo pun mendengkus, lalu mengalihkan pandangannya. Dia kembali menghadap ke arah jendela, siap mengikuti intruksi Nyonya Yori lagi.

“Baiklah, Nona, sekarang ulangi lagi. Tidak akan ada orang dari Istana Kerajaan Seiju yang mau merekrutmu dengan gaya berjalan seperti itu. Di sana, kau juga akan memakai rok, bukan memakai celana. Kau tidak akan lulus menjadi dayang kalau kau tidak memperbaikinya. Belajarlah dengan lebih serius,” jelas Nyonya Yori.

Buset.

Tajam sekali ucapannya!

Yexian menahan tawa, sementara Kikyo kontan kembali menganga.

Apa…katanya?

Bukankah dari tadi Kikyo sudah serius?

Nyonya Yori benar-benar tidak berbelas kasihan. “Ayo berdiri dengan tegap, Nona.”

Saat membenarkan posisi buku itu lagi di kepalanya, Kikyo mencengkeram buku itu sampai buku itu jadi penyok (dia kesal dengan buku itu karena terus terjatuh), tetapi Nyonya Yori tiba-tiba berkata, “Kalau buku itu hancur, saya akan memberikan Anda sebuah buku yang tiga kali lipat lebih tebal daripada buku itu, Nona Kikyo.”

Kikyo tersentak, matanya kontan membulat. Ada sebuah panah yang seakan-akan baru saja menusuk jantungnya.

Waduh.

Dengan tawa canggungnya, Kikyo pun berkata, “Ah—haha… Tidak kok, Nyonya. Bukunya belum rusak.” Kepalakulah yang mau rusak.

Ya bagaimana, ya, sampul buku itu sepertinya licin sekali. Buku itu jatuh terus dari kepala Kikyo dan membuat Kikyo stuck di pelajaran ini dari pagi sampai siang! Bisa diganti tidak, sih, bukunya?

“Baiklah. Mulailah berjalan. Tegakkan punggung serta kepala Anda. Melangkahlah dengan anggun dan stabil. Kerajaan Seiju adalah kerajaan yang besar; Anda harus punya kualifikasi yang luar biasa untuk bisa menjadi salah satu dayang di istana mereka. Tidak ada yang salah dengan buku itu, Anda sendirilah yang belum stabil.”

Kikyo mencoba untuk menghadapi Nyonya Yori. “Itu susah sekali, Nyonya. Kepala saya, kan, bentuknya bul—"

“Memangnya ada kepala manusia yang berbentuk persegi, Nona?” potong Nyonya Yori. Yexian spontan tertawa kencang di ujung sana. Oke, gadis itu memang menjadikan Kikyo sebagai badut. Mungkin, baginya Kikyo itu adalah pelawak pribadinya atau sesuatu sejenis itu.

Kikyo pun akhirnya menghela napas. Meskipun wajahnya sudah terlihat lelah dan enggan, ujung-ujungnya Kikyo tetap menjawab, “Baiklah…Nyonya.”

Oh, wahai Dewa Gulat yang mungkin badannya gendut, tolong selamatkan aku.

Nyonya Yori mengangguk. “Silakan ulangi lagi.”

Kikyo lantas mengulanginya hingga dua jam ke depan, sampai akhirnya ia bisa berjalan dengan benar. Ia baru diperbolehkan makan siang oleh Nyonya Yori setelah bisa berjalan dengan benar. Oleh karena itulah, mau tidak mau dia harus belajar dengan sungguh-sungguh atau perutnya akan keroncongan sepanjang hari.

Setelah selesai makan siang—sebenarnya saat itu sudah jam dua siang—Kikyo pun kembali menyambung kelasnya. Hari ini, setelah Kelas Tata Krama, Kikyo akan belajar kosakata dan baca tulis Bahasa Seiju.

Selama tiga minggu belakangan, hal yang paling sering diajarkan kepada Kikyo adalah baca tulis Bahasa Seiju. Dia akan pergi ke daerah Seiju, jadi dia harus belajar Bahasa Seiju sampai lancar. Bahasa Seiju dan Hanju sebenarnya tidak terlalu berbeda, tetapi tidak juga sama. Belajar baca tulis adalah hal yang urgensi untuk Kikyo. Dia harus menyusup ke daerah orang lain; dia harus berbaur di sana. Maka dari itu, hal pertama yang harus dia kuasai adalah: bahasanya.

Di kelas, Nyonya Yori—bersama Yexian—membantunya mengenal kosakata Bahasa Seiju. Kikyo juga belajar menulis meskipun tulisannya belum benar-benar rapi. Dia hanya punya waktu dua bulan, jadi dia harus menguasai semuanya dengan cepat.

Jemari tangan Kikyo juga banyak yang luka akibat tertusuk jarum saat mengikuti Kelas Menyulam. Sulaman Kikyo masih jelek minta ampun; terkadang, bunga yang dia buat malah terlihat seperti laba-laba bunting.

Di malam hari, Yexian sering tidur bersama Kikyo sambil membawa buku-buku klasik daerah Seiju untuk mereka baca bersama. Tuan Jion mencarikan buku-buku itu khusus untuk kegiatan belajar Kikyo. Buku-buku klasik itu biasanya memuat sejarah tentang daerah-daerah Seiju serta legenda-legenda apa saja yang ada di sana. Isi buku-buku itu cukup menarik, Kikyo akan membacanya dengan santai bersama Yexian (hitung-hitung sambil belajar) sebelum tidur.

Proses belajar Kikyo penuh akan trial dan error, tetapi meskipun sangat sulit, Kikyo tetap mengikutinya dengan tekun. Satu-satunya hal yang memotivasinya adalah: dia tak tahu bagaimana respons Raja Zyran apabila dia gagal tes. Jika tak mampu menjawab harapan Raja Zyran beserta para menterinya, Kikyo tak tahu dia akan dihukum seperti apa. Raja Zyran memang terkenal baik dan bijaksana, tetapi ada rumor yang mengatakan bahwa dia pernah membunuh tiga beruang sekaligus.

Bagaimanapun caranya, bagaimanapun sulitnya, dan bagaimanapun mengesalkannya, Kikyo harus lulus tes.

Kikyo harus berhasil menjadi dayang di Istana Kerajaan Seiju.

 

******

 

Kalau kemarin Kikyo baru selesai belajar pada jam tujuh malam (karena kelamaan belajar berjalan dengan anggun), hari ini Kikyo selesai belajar di sore hari. Sore, saat sinar matahari tidak terik lagi, sekitar jam setengah lima sore. Senja belum tiba, jadi Kikyo dan Yexian masih memiliki waktu luang sebelum mandi dan makan malam.

Yexian lantas mengajak Kikyo ke taman yang ada di tengah-tengah bangunan rumahnya. Taman terbuka itu berbentuk persegi dan dikelilingi oleh koridor; di tengah-tengah taman itu terdapat sebuah air mancur. Banyak sekali bunga yang tumbuh di taman itu. Tukang kebun di rumah Yexian benar-benar merawatnya setiap hari.

Yexian dan Kikyo duduk di pinggir taman, di sebuah kursi panjang yang menghadap ke air mancur. Mereka baru saja duduk di sana setelah berkeliling melihat bunga. Rasanya, sudah tiga minggu Kikyo tinggal di rumah Yexian, tetapi baru kali inilah Kikyo benar-benar melihat bunga-bunga itu dari dekat.

“Huaaaah, melelahkan sekaliii!” Yexian mengangkat kedua tangannya ke atas, lalu meregangkan otot-ototnya. Dia melakukan itu sambil tersenyum. “Akhirnya, kita bisa bersantai jugaaa!”

“Hahaha!” Kikyo tertawa lepas. “Perasaan, sejak tadi kau hanya sibuk menontonku, deh.”

Yexian ikut tertawa. “Kan menonton itu melelahkan juga, Kikyooo! Aku lelah melihatmu salah terus.”

Kikyo berdecak. “Oi! Kok malah jadi kau yang lelah?! Lagi pula, sejak kapan kau jadi suka mengejek begini?!”

Yexian lagi-lagi tertawa. “Sejak ada kau di sini! Aku, kan, selalu mengikutimu ke mana-mana. Lihat, tidakkah aku merupakan seorang teman yang luar biasa?”

Kikyo mendengkus, lalu memasang wajah datar. “Luar biasa apanya? Kalau begitu, ayo ikut aku ke kloset juga. Biar kita buang air besar berdua sekalian.”

Tanpa diduga, mata Yexian justru berbinar. “Kita mandi berdua saja, bagaimana? Di sebelah timur ruangan Ayahku ada ruangan khusus untuk kolam berbatu. Ayo berendam di sana! Nanti akan kuminta para pelayan untuk mengisinya dengan air hangat—”

“Aku mengajakmu buang air besar berdua, Yexian, bukan mandi di kolam,” potong Kikyo.

Yexian kemudian merengek. “Hnngggg, ayolahhh, Kikyooooo. Mumpung kau agak senggang hari iniiii! Kapan lagi kita punya waktu bersama? Kau akan berangkat ke Seiju satu bulan lagiii!”

“Masih ada waktu sekitar empat puluh hari lagi, Yexian,” koreksi Kikyo. “Lagi pula, bukankah kita sudah bersama sepanjang hari?! Kau selalu ada di setiap kelasku!!”

“Hehehe…” Yexian cengar-cengir. Waduh, Kikyo benar-benar sudah memberi pengaruh yang buruk untuk Yexian. “Ayolaaah, hmmm?”

Yexian menatap Kikyo dengan tatapan memohon, dia terlihat seperti anak anjing yang sedang memasang ekspresi imut—dia mewek sedikit—agar Kikyo segera menyetujuinya.

Kikyo akhirnya menghela napas.

“Ya sudah.”

“Horeee!” Yexian bersorak, lalu menghambur ke pelukan Kikyo. Dia segera mendekap Kikyo erat-erat dan tersenyum bahagia. Mata Kikyo kontan membulat karena kaget, tetapi akhirnya dia membalas pelukan Yexian dan ikut tersenyum.

Rasanya seperti memiliki saudara perempuan dadakan. Saudara perempuan yang sikapnya manis sekali, keterbalikan dari Kikyo sendiri.

Saat pelukan itu terlepas, Yexian pun memegang tangan Kikyo dan kembali menghadap ke depan. Dia terlihat bahagia untuk sesaat, tetapi sekitar enam detik kemudian, tatapan matanya—yang sedang memandangi air mancur itu—tiba-tiba berubah menjadi sendu. Senyuman di wajahnya masih tersisa, tetapi tatapan matanya tampak sedih. Dia melihat ke depan, tetapi sebetulnya tidak benar-benar melihat ke sana. Tatapannya menerawang.

Kikyo memperhatikan Yexian dengan saksama. Apa yang sedang Yexian pikirkan?

Setelah beberapa saat terdiam, Yexian pun mulai bersuara.

“Kau tahu, Kikyo?” katanya. “Melihatmu belajar dengan sungguh-sungguh…membuatku jadi menyadari kebodohanku sendiri.”

Kikyo menyatukan alisnya. “Maksudmu?”

Yexian tertawa pelan, lalu menghela napas. Rambutnya sedikit tertiup angin sore yang sepoi-sepoi; dia terlihat begitu indah. “Aku…selalu beranggapan bahwa aku sudah berusaha keras. Aku sudah mencoba untuk berperilaku layaknya gadis bangsawan, mencoba untuk ikut ke berbagai perkumpulan gadis bangsawan dan juga…selalu menjaga sikapku. Namun, aku tetap tidak cocok bergaul dengan gadis-gadis itu. Aku selalu menyalahkan mereka karena kupikir…pasti merekalah yang salah. Pasti merekalah yang terlalu berlebihan. Terlalu tinggi hati, terlalu menjaga citra mereka, dan sebagainya. Soalnya, kupikir perilakuku sudah oke. Usahaku sudah besar. Kupikir, aku tidak salah.”

Yexian tersenyum. Kikyo masih mendengarkannya dengan setia.

“Akhirnya, karena aku menganggap bahwa dunia luar itu tidak cocok untukku, aku pun selalu berada di rumah. Ayah akhirnya membiarkanku melakukan itu. Kini, aku baru sadar bahwa akulah yang salah. Aku terlalu cepat puas, aku terlalu lemah. Seharusnya aku bisa membawa diriku di mana pun aku berada. Seharusnya aku bisa menyesuaikan diriku di mana pun, bagaimana aku harus bersikap, dan sebagainya. Bukan mereka yang berlebihan, melainkan akulah yang tidak tahu apa-apa. Kalau aku mampu mengatasi semuanya, pasti…Ayahku akan lebih bisa mengandalkanku.”

“Yexia—”

“Melihatmu berusaha seperti itu, Kikyo,” potong Yexian, gadis itu menoleh kepada Kikyo seraya tersenyum. “membuatku sadar bahwa aku harus lebih berusaha meskipun aku tak ingin. Aku harus menghadapi segalanya meskipun aku tak menyukainya. Dengan begitu, akan banyak ilmu dan pengalaman yang kudapatkan. Sama sepertimu.”

Kikyo melihat kedua mata Yexian yang berwarna hijau terang, seperti sebuah permata yang begitu indah. Seperti jade; warnanya begitu cantik. Rambutnya juga masih beterbangan karena tertiup angin.

Namun, sama seperti Kikyo yang sedang mengagumi keindahan Yexian, Yexian pun mulai menatap Kikyo dengan kagum. Matanya perlahan-lahan melebar, berbinar…lalu memandang ke sekeliling wajah Kikyo. Ke rambut Kikyo yang berwarna hitam pekat, ke kedua mata Kikyo, lalu ke leher Kikyo yang jenjang.

Dia menatap Kikyo dengan takjub, tanpa berkedip. Mulutnya sedikit terbuka.

“Kikyo…” panggil Yexian pelan. “Kau…cantik sekali.”

Mata Kikyo membeliak.

Gadis itu lantas menggeleng, tidak mengerti sama sekali. “Yexian, apa maksud—”

“Meskipun kau tomboi, kau sangat cantik,” puji Yexian. “Rambutmu panjang dan berwarna hitam pekat. Kulitmu putih dan bersinar. Matamu berwarna gelap dan sangat jernih, hampir sama seperti rambutmu. Kau mengingatkanku dengan…rembulan.”

Rembulan…?

Tercipta sebuah kerutan tipis di dahi Kikyo, tetapi sebelum Kikyo sempat membalas apa pun, Yexian kembali berbicara.

“Bulan akan bersinar di kegelapan malam. Kau…terlihat seperti bulan. Apabila pada pertemuan pertama kita…aku melihatmu sedang mandi di sebuah sungai yang jernih di bawah sinar bulan, mungkin aku akan mengira bahwa kau adalah seorang dewi. Dewi Bulan.”

Mata Kikyo melebar.

Apa...yang sedang Yexian bicarakan?

Mengapa dari kata-katanya…Kikyo terdengar seperti…seorang gadis yang sangat cantik? Lagi pula, Kikyo? Dibandingkan dengan Dewi Bulan? Terdengar seperti delusi. Kano mungkin akan muntah kalau mendengar ini.

Yexian pasti perlu memakai kacamata. Ya, dia perlu sebuah kacamata. Kikyo pernah melihat beberapa kacamata bagus yang dijual saat festival kota beberapa bulan yang lalu. Seharusnya Yexian membeli salah satu kacamata itu.

“Ha?” ujar Kikyo seraya memasang ekspresi datar. “Mana mau Dewi Bulan disamakan dengan kuli bangunan sepertiku.”

Yexian tertawa. “Aku serius, lho!”

“Oh, begitu…” Kikyo mengangguk, pura-pura menanggapi Yexian dengan serius. “Gawat, ayo kita pergi ke tabib. Tuan Jiooon! Mata anak gadis Anda sepertinya bermasalah!”

Yexian spontan semakin tertawa. Dia langsung merangkul Kikyo, lalu mereka tertawa bersama di taman itu.

Mereka tidak tahu bahwa Tuan Jion baru saja lewat di koridor yang ada di belakang mereka dan memutuskan untuk berhenti sebentar. Tuan Jion memperhatikan mereka berdua seraya tersenyum. Pembicaraan itu ia dengar dengan jelas; ia jadi tertawa kecil akibat teriakan Kikyo. Di dalam hatinya, ia benar-benar berterima kasih kepada Kikyo. Yexian terlihat sangat ceria semenjak ada Kikyo di rumah mereka.

Namun, bagaimana kalau nanti Kikyo sudah pergi? Apa yang akan terjadi pada Yexian?

Semoga semuanya baik-baik saja.

Semoga…Kikyo juga bisa menjalankan tugasnya di Kerajaan Seiju dengan baik sehingga suatu saat nanti ia bisa bertemu dengan Yexian lagi.

 

******

 

Saat makan malam, seperti biasa Kikyo makan bersama keluarga Tuan Jion. Kikyo dan Yexian baru saja selesai mandi (ada baiknya kalau bagian mandi bersama itu dilewatkan saja sebab kalau orang lain tahu apa yang mereka lakukan di kolam, niscaya mereka akan melarang Yexian untuk mandi bersama Kikyo lagi) ketika para pelayan memberitahu mereka bahwa Tuan dan Nyonya Jion sudah menunggu di meja makan.

Kikyo dan Yexian langsung berganti pakaian dan buru-buru pergi ke ruang makan. Rambut mereka ujung-ujungnya hanya digerai, padahal biasanya Yexian akan tampil cantik karena ada banyak pelayan yang dipekerjakan khusus untuknya.

Saat sedang minum, Kikyo hampir tersedak karena tiba-tiba saja Tuan Jion berkata, “Apa yang kalian lakukan di kolam itu? Rambut kalian bahkan masih basah.”

Kikyo kontan melebarkan mata, lalu menatap Tuan Jion dengan ekspresi panik. “Ti—tidak ada, Tuan. Kami hanya man—”

“Kami sedang mandi, Ayah,” potong Yexian seraya tersenyum manis. “Ayah sudah mengganggu waktu mandi kami, omong-omong.”

Entah mengapa, senyuman Yexian itu terasa mengerikan. Kalau dilihat dengan mata, senyuman itu begitu manis! Namun, mengapa terasa mengerikan?! Seolah-olah ada aura hitam yang keluar dari tubuhnya.

Yexian ini…cantik-cantik ternyata sadis juga. Pelayan-pelayan yang ada di belakang mereka tiba-tiba bergidik.

Well, mereka tadi memang sedang mandi, sih, kalau kegiatan Yexian yang mau mengukur payudara Kikyo itu dikecualikan—

Ekhem.

Tuan Jion sempat mengernyitkan dahinya; dia agak tersentak, tubuhnya sedikit menegak tatkala mendengar dan melihat ekspresi Yexian. Namun, reaksinya itu malah membuat Nyonya Jion tertawa.

Meski hampir berkeringat dingin karena tingkah laku anaknya sendiri, Tuan Jion pun akhirnya menghela napas. “Ya sudah, maaf kalau mengganggu.”

“Uh-hmm!” seru Yexian dengan riang, dia masih tersenyum sadis.

Akhirnya, mereka semua pun mulai makan. Tidak ada suara apa pun yang terdengar, kecuali sedikit dentingan sendok.

Beberapa menit kemudian, Tuan Jion mulai mengajak Kikyo berbicara, “Oh, ya, Kikyo. Bagaimana dengan kelas-kelasmu?”

Kikyo langsung menatap pria berambut mustard itu dengan mata yang agak melebar. “O—Oh, ya. Baik-baik saja, Tuan Jion. Aku akan berusaha untuk menyelesaikan semuanya.”

Tuan Jion pun tersenyum, lalu mengangguk. “Baguslah kalau begitu. Nyonya Yori juga berkata bahwa kau sudah mengalami banyak perkembangan.”

Tentu saja, Nyonya Yori akan melaporkan segalanya kepada Tuan Jion.

Kikyo sedikit menunduk hormat, lalu berkata, “Aku bersyukur, Tuan.”

“Semangat, ya, Kikyo,” ujar Nyonya Jion. Wanita itu tersenyum lembut kepada Kikyo. “Pelajaran untuk menjadi wanita yang ‘pantas’ memang sangat sulit dan menyebalkan, tetapi itu semua akan bermanfaat untukmu.”

Kikyo tersenyum, lalu mengangguk. “Baik, Nyonya.”

Tuan Jion lanjut makan sebentar, lalu menelannya dan berkata, “Kau telah mendapat tugas penting dari negara. Jika kau berkhianat, ancamannya adalah kehilangan nyawa. Namun, jika kau menjalankan tugas itu dengan baik, Kerajaan Hanju pasti akan selalu melindungimu. Kau akan menjadi sebuah eksistensi penting yang harus kami lindungi. Hiduplah dengan baik, jalanilah tugasmu dengan benar, dan kau akan baik-baik saja.”

Kikyo mengangguk. Dia mendengarkan seluruh nasihat dari Tuan Jion itu dengan saksama.

“Bagaimana denganmu, Yexian?” Nyonya Jion mulai bertanya pada Yexian, membuat Yexian lantas menoleh kepadanya. “Ibu lihat, kau lengket sekali dengan Kikyo. Apakah kau akan baik-baik saja jika Kikyo pergi nanti?”

Tuan Jion langsung menoleh kepada istrinya dan memberikan tatapan seperti, ‘Waduh, mengapa kau tanyakan?’, tetapi Nyonya Jion hanya mengangguk padanya seolah-olah mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Yexian pun menunduk. Dalam beberapa detik lamanya, Yexian hanya diam. Tatapan matanya mulai sendu.

Namun, akhirnya ia mulai berbicara.

“Bohong jika aku bilang bahwa aku baik-baik saja,” jawab Yexian. Gadis itu menghela napas, lalu mulai menatap ibunya kembali. “Akan tetapi, aku telah belajar banyak hal dari Kikyo. Aku akan menguatkan diriku dan menjalani hidupku dengan baik supaya kami bisa bertemu lagi dalam keadaan sehat. Mulai sekarang, aku ingin sering-sering pergi ke luar dan bergaul dengan gadis-gadis seusiaku. Aku ingin mengubah diriku dan keluar dari zona nyamanku. Maafkan aku, ya, Ayah dan Ibu, karena terus-menerus membuat kalian khawatir.”

Yexian tersenyum. Dia sudah terlihat…yakin. Meskipun merasa sedih, dia telah menerima kenyataan bahwa Kikyo akan pergi dari rumahnya.

Akhirnya, Tuan dan Nyonya Jion tersenyum lega.

“Tidak, Yexian. Untuk apa kau meminta maaf? Ayah tidak pernah marah padamu. Lakukanlah apa pun yang ingin kau lakukan, Nak. Selagi itu bukan hal yang buruk, Ayah akan selalu mendukungmu. Kalau kau ingin tetap di rumah pun, Ayah akan menyediakan apa pun yang kau butuhkan.”

Yexian langsung menatap Ayahnya dengan mata yang menyipit. “Termasuk Kikyo?”

Kontan saja Tuan Jion mematung. Matanya membeliak.

Waduh. Itu agak…

Suara tawa Nyonya Jion mulai terdengar. Kikyo—yang tak tahu harus bagaimana lagi menghadapi kelakuan Yexian—ujung-ujungnya hanya tertawa kikuk. Sementara itu, Tuan Jion mulai mengelus dadanya. Dia mesti banyak-banyak bersabar dalam menghadapi Yexian, terutama setelah gadis itu mengalami transformasi yang besar seperti ini.

 

******

 

39 HARI KEMUDIAN

 

Pagi itu, matahari bersinar begitu cerah. Dua buah kereta kuda sudah bertengger di depan rumah Tuan Jion, telah berbaris dan siap untuk dinaiki. Ada beberapa penjaga yang berdiri di dekat kereta kuda itu; para kusir juga telah duduk di bagian depan kereta. Mereka semua sudah siap untuk berangkat ke Seiju hari ini, mengantarkan Kikyo ke sana untuk mengikuti tes menjadi dayang istana.

Tuan dan Nyonya Jion, Yexian, serta Kikyo kini sudah berdiri di depan pagar rumah Keluarga Jion. Beberapa pelayan terlihat hilir mudik membawakan barang-barang Kikyo dan meletakkannya di dalam kereta kuda. Ada juga beberapa barang pemberian Keluarga Jion (terutama Yexian) yang diletakkan di dalam kereta kuda.

Sambil menunggu para pelayan menyelesaikan tugas mereka, Tuan Jion pun mulai berbicara.

“Akhirnya, hari ini tiba juga, ya.”

Kikyo lantas menatap Tuan Jion, lalu menunduk hormat. “Iya, Tuan. Terima kasih banyak atas bantuan Anda selama ini.”

Tuan Jion mengangguk. “Angkat kepalamu. Tidak apa-apa.”

Kikyo pun menurutinya. Gadis itu tersenyum.

“Aku membawakanmu banyak makanan. Perjalanan ke Seiju akan memakan waktu sehari penuh, jadi kau butuh makan. Para penjaga dan kusir juga sudah membawa makanan mereka masing-masing. Hati-hati, ya, Kikyo,” ujar Nyonya Jion, lalu wanita paruh baya itu tersenyum.

Kini, Kikyo gantian menunduk hormat pada Nyonya Jion. “Terima kasih banyak, Nyonya. Saya benar-benar bersyukur atas—woahh!”

Tiba-tiba saja, Yexian langsung menghambur memeluk Kikyo, membuat Kikyo nyaris jatuh ke tanah. Kikyo cepat-cepat menegakkan tubuhnya, lalu memeluk tubuh Yexian dengan benar agar mereka berdua tidak oleng dan jatuh.

“Ye—Yexian?!!” teriak Kikyo. Gadis itu kaget bukan main; matanya melebar.

Namun, rasa kaget itu kontan menghilang. Soalnya, tiba-tiba saja…

 

…ia mendengar Yexian menangis.

 

Kelopak mata Kikyo perlahan-lahan turun. Tatapan matanya mulai terlihat sendu.

“Kikyo…” panggil Yexian di sela tangisnya. “Nanti…kita harus sering berkirim-kiriman surat, ya…”

Kikyo pun tersenyum lembut. Gadis itu mulai mengusap kepala Yexian…dan mengangguk. “Hmm. Pasti. Terima kasih atas segalanya, ya, Yexian. Semoga kau sehat selalu.”

Tangisan Yexian semakin kencang. Air matanya mulai membasahi baju Kikyo. “Iya, Kikyo… Semoga kau juga sehat selalu. Aku akan sangat merindukanmu. Kita harus bertemu lagi, ya.”

“Siap, Nona!” Kikyo menjawab Yexian dengan mantap, bak pengawal terlatih. Dia lantas mengangguk yakin. “Kita pasti akan bertemu lagi.”

Yexian mulai melepaskan pelukan itu, tetapi kedua tangannya kini memegang lengan Kikyo. Dia lantas menatap Kikyo dengan ekspresi serius. “Janji?”

“Janji!” jawab Kikyo sambil memberi hormat kepada Yexian. Kikyo melakukan itu seraya tersenyum.

Akhirnya, Yexian pun mengembuskan napas lega. Gadis cantik itu tersenyum, lalu kembali memeluk Kikyo.

“Aku membelikan banyak pakaian dan perhiasan untukmu. Nanti dipakai, ya,” perintah Yexian.

Mata Kikyo melebar. “Lho, ada perhiasan juga, ya? Bukankah kau bilang—”

“Ssstt.” Yexian melepaskan pelukannya, lalu menutup mulut Kikyo dengan jari telunjuknya. “Terima saja. Itu akan terlihat cocok untukmu.”

Akhirnya, Kikyo pun menghela napas. Dia tersenyum lembut pada Yexian…seraya menatap Yexian dengan penuh kasih sayang. Yexian adalah teman perempuan pertamanya.

“Baiklah. Aku pergi dulu, ya, Yexian.”

Meskipun matanya berkaca-kaca, meskipun ada sebuah gemuruh di dadanya yang mendorongnya untuk menangis, meskipun untuk bernapas rasanya berat sekali, Yexian pun akhirnya…mengangguk. Gadis itu tersenyum; dia memberikan senyuman perpisahan kepada Kikyo. Perpisahan yang ia harap hanya berlangsung sebentar saja.

“Hm. Hati-hati, ya, Kikyo. Semoga apa pun yang kau kerjakan di Seiju akan memperoleh keberhasilan. Aku akan selalu mendoakanmu. Aku menyayangimu.”

Kini, Kikyolah yang langsung memeluk Yexian. Tak ia sangka, dirinya yang selama ini berjiwa seperti laki-laki, justru hampir menangis tatkala mendengarkan kata-kata Yexian. Matanya berkaca-kaca. Mereka pun berpelukan dengan erat.

Setelah mengucapkan terima kasih dan selamat tinggal, Kikyo pun akhirnya naik ke kereta kuda yang telah menunggunya. Semuanya sudah siap; mereka tinggal berangkat.

Saat kereta kuda itu mulai berjalan, Yexian sempat meneriakkan, ‘Jangan lupa kirim surat, ya!’ kepada Kikyo. Kikyo pun mengangguk dan melambaikan tangannya kepada Keluarga Jion.

Tatkala kereta kuda itu sudah benar-benar jauh dari rumah Tuan Jion, barulah Kikyo mengalihkan pandangannya dan menghadap ke depan.

Dia bersandar di kursinya dan menghela napas panjang. Dia memejamkan matanya sejenak.

Ketika matanya terbuka kembali, tatapannya mendadak berubah. Dia sudah terlihat siap. Penuh tekad. Penuh keberanian.

 

Baiklah.

 

Misi dimulai. []


















******




Siap berangkattt ke Seiju!





Sunday, May 18, 2025

Immure (Chapter 3: Not a Telenovela)

 


******

Chapter 3 :

Not a Telenovela

 

******

 

KATANYA, suatu saat kau akan menemukan seseorang yang bisa melihat jiwamu. Antara dia yang bisa melihat jiwamu, kau yang bisa melihat jiwanya, atau bahkan keduanya. Jika kesempatan itu jatuh padamu, saat kau menatap mata orang itu, kau seolah-olah akan menemukan kaca yang merefleksikan jiwanya. Isi hatinya. Siapa dirinya.

Hea tidak tahu siapa yang pertama kali membuat gagasan itu. Kata-kata itu bisa jadi benar, tetapi bisa jadi juga hanyalah mitos.

Namun, agaknya itu bukan mitos belaka, kalau dalam kasus Hea.

Sekitar dua bulan yang lalu, sebelum api neraka di hidupnya benar-benar membakarnya, Hea pernah bekerja di sebuah restoran. Itu adalah satu-satunya restoran yang ada di desa tempat Hea tinggal. Restoran itu cukup luas; menu restoran itu adalah makanan-makanan khas Korea. Namun, berhubung penduduk di desa itu tidak banyak, pelanggan di restoran itu biasanya tidak terlalu ramai.

Sore itu, sekitar jam lima, Hea berdiri di balik meja kasir seperti biasanya. Hea ingat bahwa si pemilik restoran sedang menghidupkan lagu lawas yang berjudul “How Can I Tell Her” oleh Lobo sore itu. Hea memakai seragam restoran yang berupa kemeja merah dan topi merah. Sebenarnya, seragam itu tidak penting—mengingat tempat itu hanyalah restoran biasa yang juga bertengger di desa—tetapi pemilik restoran itu mungkin ingin melihat sesuatu yang…terlihat lebih formal dan seragam.

Hea kira, hari itu akan berjalan seperti biasanya. Pekerjaannya akan berakhir pada jam setengah enam sore, lalu ia akan pulang dan menghadapi dua monster biadab yang ada di rumahnya. Kehidupannya, masa depannya, semuanya terlihat gelap, tetapi setidaknya ia bisa bernapas dengan tenang saat berada di restoran.

Namun, dugaannya salah. Hari itu tidak akan berjalan seperti biasanya.

Soalnya, tiba-tiba ada tiga pemuda yang masuk ke restoran itu. Meja kasir Hea selalu ada di samping pintu—maksudnya, saat kau masuk melalui pintu, meja kasir itu akan ada di sebelah kirimu—jadi Hea tak bisa melihat penampakan ketiga pemuda itu saat mereka masih di luar restoran. Tahu-tahu, mereka sudah muncul dari pintu yang ada di samping Hea.

Pelanggan lainnya juga seperti itu, sih, tetapi yang kali ini Hea sebetulnya agak kaget. Soalnya, biasanya tidak ada anak muda yang datang ke restoran sore-sore begitu. Jangankan anak muda, pria dan wanita paruh baya pun jarang datang ke restoran jam segitu karena mereka sudah tahu kalau restoran itu akan tutup.

Tiga pemuda itu muncul, lalu menoleh kepada Hea. Hea bisa melihat rupa ketiga pemuda itu dengan jelas. Satunya berambut pendek dan memakai topi baseball, satunya memakai hoodie berwarna biru tua, dan yang satu lagi…

…memakai jeans jacket.

Hea tidak pernah melihat ketiga pemuda itu. Namun, saat melihat pemuda yang terakhir, mata Hea mendadak melebar.

Tidak, Hea tidak tahu apa sebabnya. Tiba-tiba tubuhnya mematung. Matanya enggan beralih. Napasnya sempat tertahan.

Seperti ada sebuah angin yang berembus di depan mata Hea. Angin yang entah datang dari mana, melewati Hea begitu saja, bagaikan menghantam wajahnya. Menyadarkannya bahwa sesuatu sedang terjadi. Sesuatu sedang menghampirinya. Layaknya ketika jarum panjang dan jarum pendek sama-sama bertemu di jam dua belas tepat, angin itu seakan memberitahu Hea bahwa:

…inilah momennya.

Momen yang tidak tahu akan berakhir sampai mana. Seperti ketika ada arc yang dimulai dalam sebuah buku, tetapi tidak tahu akan berakhir di chapter berapa.

Apakah sampai halaman terakhir buku itu?

…atau selesai sebelum mencapai halaman terakhir?

Hea tidak salah mengira. Jelas tidak. Soalnya, pemuda itu pun…

Menatapnya dengan intens.

Begitu dia menemukan sosok Hea, dia langsung memberikan Hea tatapan yang sama. Tatapannya begitu dalam.

Seakan-akan mereka sudah saling kenal, padahal tidak sama sekali. Bagaimana mungkin hal itu terjadi?

 

Seolah-olah mereka melihat ke cermin…

 

Pemuda itu tampan. Tubuhnya cenderung kurus; dia tidak terlalu tinggi, tetapi juga tidak pendek. Wajahnya mulus, kulitnya tampak halus dan lembut. Akan tetapi, pembawaannya tidak mengkomplemen wajahnya. Dia terlihat penuh misteri. Dia terlihat ‘tajam’. Tatapannya langsung bisa menembus hingga ke jiwa Hea.

Pemuda itu memakai celana dan jaket jeans. Di balik jaket jeans-nya, dia terlihat memakai sebuah kaus polos yang berwarna putih. Rambutnya berwarna hitam dan cukup panjang (tetapi tidak gondrong). Maksudnya, dia bisa mendorong bagian poninya ke belakang kalau dia mau.

Hea bertatapan dengannya selama beberapa detik. Mereka fokus pada satu sama lain, menerawang hingga ke jiwa, dan melupakan apa pun yang ada di sekitar mereka seakan semua orang hanyalah angin lalu.

Hea tak ingat apa-apa sampai tiba-tiba salah satu dari pemuda itu mulai mengajaknya berbicara. Pemuda yang memakai topi baseball.

“Umm…Nona? Apakah di sini menyediakan sup ayam ginseng?”

Hea tersentak. Gadis itu langsung menatap pemuda bertopi baseball itu dan mengerjap. Matanya melebar. “Ah—ya, itu adalah salah satu menu kami.”

Cepat-cepat Hea mengambil kertas menu yang ada di mejanya, lalu memberikan kertas itu kepada si pemuda. “Ini menunya. Silakan dilihat-lihat dahulu.”

Benar. Pemuda-pemuda ini memang konsumen baru. Hea berusaha mati-matian untuk tidak menoleh lagi kepada sang pemuda yang ada di paling kanan, pemuda yang tadi bertatapan dengannya. Namun, dari ujung matanya, Hea bisa merasakan bahwa pemuda itu masih memperhatikannya dengan lekat.

“Oke. Aku mau sup ayam ginseng. Bagaimana dengan kalian?” tanya pemuda bertopi baseball itu ke teman-temannya. Pemuda yang ada di tengah—yang memakai hoodie—langsung meraih menu itu dan membacanya sebentar, lalu berkata, “Ayam goreng saus pedas.”

“Bagaimana denganmu, Yohan?” tanya pemuda bertopi baseball itu lagi.

Mau tidak mau, Hea harus kembali menatap pemuda itu.

Oh. Jadi, namanya adalah Yohan.

Seperti yang Hea duga, saat Hea kembali menatap pemuda itu, pemuda itu masih tetap memperhatikannya. Menatapnya dalam. Tak sedikit pun pemuda itu mengalihkan pandangan darinya, bahkan saat si pemuda bertopi tengah menanyakan sesuatu.

Pemuda bernama ‘Yohan’ itu tentu bisa mendengarkan pertanyaan dari temannya, tetapi dia tetap menatap Hea. Hanya mulutnya saja yang mulai membuka suara, “Samakan saja denganmu.”

“Oke,” sahut si pemuda bertopi. “Dua porsi sup ayam ginseng dan satu porsi ayam goreng saus pedas.”

Hea menatap pemuda bertopi itu, lalu mengangguk. “Baik. Minumannya?”

“Air putih saja.”

Hea mengangguk lagi. Dia pun mengulurkan tangannya, menunjuk kursi-kursi restoran yang sebenarnya saat ini kosong semua. “Baik. Silakan duduk di mana pun yang Anda sukai. Pesanannya akan segera kami siapkan.”

“Oke.” Pemuda yang bertopi dan ber-hoodie itu menjawab secara bersamaan, lalu mereka berjalan ke deretan kursi restoran. Namun, pemuda yang paling ujung, yang namanya Yohan itu, tampak hanya diam. Matanya masih menatap Hea saat dia mulai bergerak. Akan tetapi, ketika dia sudah berjalan selangkah, akhirnya dia berhenti menatap Hea. Dia mulai mengikuti teman-temannya ke depan sana, ke deretan meja dan kursi pelanggan yang posisinya ada di depan Hea.

Sialnya, pemuda yang bernama Yohan itu justru mengambil kursi yang menghadap ke Hea. Kursi yang memungkinkan mereka untuk melihat satu sama lain. Meskipun posisi Yohan agak jauh, wajah pemuda itu tetap menghadap ke Hea. Hea bisa melihat wajah pemuda itu dari jauh.

Ini sedikit tidak masuk akal. Mereka menarik satu sama lain tanpa alasan yang logis. Hanya berbekal dengan suara di belakang kepala yang mengatakan, ‘Ada sesuatu tentangnya yang mirip denganmu. Kau mengenali getarannya.’

Seperti melihat dirimu, atau mungkin bagian dirimu, di tubuh orang lain.

Sayangnya, itu bukan bagian yang baik untuk diceritakan. Itu juga bukan bagian yang manis untuk ditelan. Sepertinya, ketertarikan mereka justru disebabkan oleh sesuatu yang buruk. ‘Bagian diri’ yang dimaksud pun…mungkin adalah bagian yang rusak. Tercela.

Abnormal.

Jadi, sepanjang sore itu, sejak Yohan duduk di depan sana sampai akhirnya pesanannya diantar oleh waitress, bahkan ketika dia sedang makan pun, matanya sering mengawasi Hea. Sesekali dia akan menatap dan merespons teman-temannya, sesekali dia akan tertawa saat berbicara santai dengan teman-temannya, tetapi matanya tetap menemukan Hea dari waktu ke waktu. Jangankan dia, Hea pun melakukan hal yang sama.

Sekitar lima belas menit kemudian, para pemuda itu pun mulai bangkit dari duduk mereka. Ketiganya lantas menghampiri Hea untuk membayar pesanan mereka. Setelah membayar, mereka pun mulai berjalan ke luar restoran, kecuali Yohan.

“Yohan, ayo,” ajak pemuda yang memakai hoodie. Namun, seakan ingin membuat jantung Hea hampir terlepas dari tempatnya, pemuda bernama Yohan itu justru berdiri di depan Hea, lalu menoleh kepada teman-temannya dan berkata, “Tunggu sebentar. Ada yang mau kutanyakan ke Nona ini.”

Si pemuda ber-hoodie itu pun mengangguk. “Oke. Jangan lama-lama, ya.”

Tatkala kedua temannya sudah keluar dan menunggunya di halaman restoran, Yohan pun mulai menoleh kepada Hea.

Saat itulah, jantung Hea seakan berhenti berdetak.

Ah. Mereka akan berbicara. Mereka akhirnya…akan benar-benar berbicara.

Hea meneguk ludahnya.

Di tiga detik pertama, Yohan hanya diam; mereka hanya menatap mata satu sama lain dengan lekat. Akan tetapi, pada detik keempat, tiba-tiba saja…

…Yohan tersenyum lembut.

Pemuda itu pun mulai membuka suara.

 

“Hai. Siapa namamu?”

 

Napas Hea sempat tertahan. Akan tetapi, tiga detik kemudian, Hea akhirnya membuka mulutnya.

 

“Hea. Song Hea.”

 

Ah, there it is. Seharusnya Hea menutup dirinya. Seharusnya Hea menutup pintu menuju dunianya dengan rapat. Namun, sesuatu tentang pemuda itu membuatnya merasa kalau…semuanya akan baik-baik saja. Agaknya, mereka memiliki kesamaan yang tidak-tahu-apa-itu hingga Hea merasa kalau dia masih berada di zona aman.

Yohan mengangguk, lalu mengulurkan tangannya. “Jung Yohan. Salam kenal, Hea.”

Ketika mereka bersalaman, tatapan mata mereka tak lepas dari satu sama lain. Meski rasanya berat sekali untuk berbicara, Hea tetap berusaha untuk menjawab Yohan, “Salam kenal.”

“Aku baru datang ke desa ini sekitar satu bulan yang lalu. Menjaga rumah ibuku karena dia pergi ke kota lain untuk bekerja,” ujar Yohan. “Di mana rumahmu?”

Langsung menanyakan alamat, ya?

“Satu-satunya rumah yang ada di dekat kincir angin kayu,” jawab Hea.

Mata Yohan melebar. “Ahh, rumah itu. Aku tahu. Kau sudah lama tinggal di sana?”

“Sudah dari kecil,” jawab Hea. “Di mana rumahmu?”

“Rumah Ibu Gyeonghui. Kau tahu?” jawab Yohan.

“Ah.” Kini giliran mata Hea yang melebar. “Iya, aku mengenalnya. Jadi, sekarang dia bekerja di kota lain?”

“Hmm.” Yohan mengangguk. Pemuda itu lalu tersenyum. “Dia adalah ibuku.”

Wah. Kalau dipikir-pikir, Nyonya Gyeonghui memang tak pernah kelihatan lagi akhir-akhir ini. Rumah Nyonya Gyeonghui ada di depan jalan; Hea biasanya akan melewati jalanan depan rumahnya saat pergi atau pulang dari restoran. Biasanya, Hea akan melihat Nyonya Gyeonghui sedang duduk di teras atau menyiram bunga di sekitar halaman rumahnya dengan wajah masam.

Nyonya Gyeonghui memang terlihat tidak ramah. Namun, agaknya sifat itu tidak menurun ke anaknya.

“Oh…” Hea mengangguk pelan. “Begitu.”

“Kau punya ponsel?” tanya Yohan.

Hea menggeleng. “Tidak punya. Kenapa?”

“Aku ingin meminta nomor ponselmu,” jawab Yohan. “tetapi ya sudah, tidak apa-apa kalau kau tak punya ponsel. Kalau aku mendatangi rumahmu sesekali, apakah tidak apa-apa?”

Apa yang baru saja pemuda ini katakan?

Hea tidak menjawab. Entah karena terlalu kaget atau mungkin…tidak tahu harus menjawab apa. Gadis itu tidak ingin Yohan melihat kekacauan di rumahnya. Melihat bagaimana dia diperlakukan oleh dua pria sinting di rumahnya, melihat bagaimana hancurnya dirinya…dia tak ingin Yohan melihat seluruh aib itu. Meski ia merasakan getaran yang sama dari Yohan, ia tetap tak mau Yohan melihat aibnya lebih dahulu.

“I will take that as a yes,” kata Yohan seraya memiringkan kepalanya. Melihat mulut Hea yang sedikit terbuka (dia agak tercengang karena ucapan Yohan barusan), Yohan pun tersenyum. “Baiklah, Hea. Obrolan kita sampai di sini dahulu, ya. Teman-temanku sedang menunggu di luar. Kuharap kita akan sering bertemu. Senang bertemu denganmu.”

Setelah itu, tanpa menunggu respons dari Hea, Yohan pun langsung pergi ke luar, menyusul teman-temannya. Pemuda itu berjalan santai—mendekati kedua temannya—lalu melakukan high five dengan mereka.

Ketiganya pun akhirnya pergi dari area restoran itu, meninggalkan Hea yang tercengang sendirian di meja kasir.

Namun, keadaan itu tak bertahan lama. Momen yang terasa seperti sebuah permulaan buku itu harus berakhir. Buku dongeng itu seolah langsung tertutup dan tiba-tiba saja buku itu terbakar. Soalnya, sekitar lima menit kemudian, Hea mendengar suara teriakan ayahnya dari luar restoran.

 

“HEA!”

“KEMARI KAU, PELACUR SIALAN!!”

“KELUAR SEKARANG!!!”

 

Kontan saja semua penghuni restoran itu keluar dari persembunyian mereka. Sang pemilik restoran, para waiter dan waitress, semuanya mulai muncul dan berkumpul di area depan, di dekat Hea. Mereka semua seakan memanjangkan leher mereka demi bisa melihat ke halaman restoran.

“Eh, ada apa? Ada apa?”

“Hea, apakah itu ayahmu?”

“Ada apa ini?”

Hea langsung bergerak, dia berdiri di depan pintu, dan wajahnya memucat. Tubuhnya mematung seolah dipaku di tempat. Mulutnya terbuka dan napasnya tertahan. Ludahnya seakan kering; ia mulai takut setengah mati. Lehernya serasa tercekik.

Iya. Itu memang ayahnya.

Pria paruh baya itu terlihat berang di depan sana. Dia juga terlihat mabuk; tangan kirinya memegang sebotol minuman keras.

Para waitress restoran itu mulai heboh. Ada yang menutup mulut mereka dengan sebelah tangan karena merasa takut, ada yang agak mundur ke belakang seraya melebarkan mata, dan ada juga yang wajahnya memucat. Sementara itu, sang pemilik restoran—Pak Inho—terlihat heran setengah mati dengan kemunculan ayahnya Hea. Dia memandangi ayah Hea dengan alis yang menyatu dan dahi yang berkerut. Mulutnya sedikit terbuka.

Tak membutuhkan waktu yang lama sampai akhirnya ayah Hea masuk melalui pintu depan restoran. Suaranya yang besar itu langsung sukses membuat keributan.

“Pak, ada apa ini?! Mohon tenang dulu!!” teriak Pak Inho.

“HEA!!” Ayahnya Hea langsung menghampiri Hea—yang tanpa sadar mulai mundur ke belakang—lalu pria paruh baya itu mengamuk; dia berlari ke arah Hea dan berhasil membuat jantung semua orang di sana serasa berhenti berdegup. Hea kontan berteriak.

“TIDAK!! AYAH—AYAH, AMPUNI AKU!! AYAH!!! AYAH, KUMOHON!! AKU MINTA MAAF!! MAAFKAN AKU, AYAH!!!”

Secara refleks, Hea semakin mundur ke belakang dan menghalangi kepalanya dengan kedua tangannya sendiri. Air matanya mengalir deras, wajahnya tampak penuh dengan teror. Namun, sang ayah jelas tidak memedulikan semua itu. Untuk berpikir dengan jernih saja mustahil karena selain otaknya memang sinting, dia juga sedang dalam pengaruh alkohol.

Beberapa orang mulai mencoba untuk menghentikan ayah Hea, termasuk sang pemilik restoran. Namun, seakan digerakkan oleh iblis, ayahnya Hea tetap berhasil mendekati Hea dan langsung menjambak rambut Hea dengan kencang. Dia menyerang Hea dengan membabi buta. Topi merah yang Hea kenakan terjatuh begitu saja di lantai.

Saat Hea ditarik paksa oleh ayahnya, diseret ke pintu masuk, sang pemilik restoran juga menyusul ayah Hea dengan cepat. Dia mencoba untuk menghentikan ayah Hea dengan berkata, “Pak, tolong lepaskan Hea. Tolong tenang dulu. Kalau tidak, saya akan menelepon polisi.”

“TIDAK USAH IKUT CAMPUR!! INI URUSAN KELUARGAKU DAN ANAK INI TIDAK MEMATUHI PERINTAHKU!!” hardik ayah Hea.

Semua orang yang ada di restoran itu pun akhirnya terdiam di sana dengan mata melebar.  Ada yang matanya berkaca-kaca dan ada juga yang panik. Mereka semua memperhatikan Hea yang ditarik ke luar oleh ayahnya seraya menjerit dan menangis kencang. Gadis itu terus memohon ampun kepada ayahnya.

Tatkala posisi mereka berdua sudah agak jauh dari restoran, sang ayah pun mulai mencaci-maki Hea.

“ANAK TIDAK TAHU DIRI! ANAK SEPERTIMU TIDAK PANTAS PERGI KE LUAR! MEMANGNYA PEKERJAAN APA YANG BISA KAU LAKUKAN? MENGERJAKAN PEKERJAAN RUMAH SAJA TIDAK BECUS!! SUDAH KUBILANG, DIAM SAJA DI RUMAH, LAYANI AKU DAN DAEJUNG DENGAN BAIK!! KODRAT PEREMPUAN ADALAH MENJADI BUDAK BAGI LAKI-LAKI!!!”

Tubuh Hea mulai lemas. Hanya air matanya yang bersinambung jatuh ke tanah; air matanya menetes tanpa henti. Dia tahu bahwa kata ‘melayani’ yang ayahnya maksud adalah:

…bersedia untuk diperkosa.

Dijadikan tempat sampah untuk sperma mereka berdua yang menjijikkan.

Perut Hea langsung mual.

Jadi, pada hari itu, sesampainya di rumah, ayah Hea langsung membanting tubuh Hea ke lantai ruang tamu. Pria paruh baya yang penampilannya seperti jembel itu langsung memerkosa Hea di sana. Di depan televisi yang masih menyala. Ia juga sempat meneriaki Daejung, memanggil Daejung untuk bergabung dengannya. Bersama-sama meniduri pelacur sialan, pelacur rendahan, pelacur gratisan, yang bernama Hea.

Hea pingsan di tengah-tengah persetubuhan nista itu. Pakaiannya robek dan berserakan di mana-mana. Ada banyak sekali sperma yang dikeluarkan di berbagai area tubuhnya. Di pahanya, di perutnya, di payudaranya, dan di wajahnya. Dia mengangkang; tubuhnya terlihat kaku.

Setelah puas mengentak-entakkan alat kelaminnya di tubuh adiknya sendiri, Daejung pun menyeret tubuh adiknya itu ke kamar mandi dengan tampang tak berdosa. Dia memandikan Hea seraya tersenyum manis…seolah-olah apa yang ia lakukan itu merupakan hal yang sangat mulia. Dia baik sekali, bukan? Dia sudah membuat adiknya keenakan, lalu memandikan adiknya dengan lembut seperti ini?

Kurang baik apa lagi dia?

Ayah mereka masih ada di ruang tamu. Tidak memakai pakaian sehelai pun. Pria paruh baya itu sedang duduk di sofa, lanjut meminum alkoholnya seraya menonton TV.

Sementara itu, kini Daejung mulai memakaikan pakaian kepada Hea yang sedang telanjang bulat. Setelah semuanya selesai, ia pun membaringkan Hea di kasur, lalu menyelimuti Hea seperti tidak terjadi apa-apa.

Keesokan harinya, tatkala dua orang polisi tiba-tiba datang ke rumah mereka—mungkin karena mendapat laporan dari Pak Inho—ayahnya Hea bisa menjawab para polisi itu dengan tenang. Tanpa masalah. Walau polisi memeriksa bagian dalam rumah mereka hingga masuk ke kamar Hea pun, pada akhirnya polisi tidak menemukan apa-apa. Apalagi, ayahnya Hea dan Daejung mampu menjelaskan semuanya dengan baik.

Menjelaskan bahwa mereka baik-baik saja.

Bahwa Hea baik-baik saja.

Bahwa laporan itu seratus persen salah.

Soalnya, Hea tampak tertidur di kasurnya dengan nyaman. Tidak ada luka sedikit pun di tubuhnya. Gadis itu tampak bersih; dia berbaring di sana bagaikan seorang putri.

Para polisi itu pun keluar dari rumah Hea tanpa menemukan kejanggalan apa pun. Tanpa kecurigaan sama sekali. Mereka langsung memberitahu Pak Inho bahwa Hea baik-baik saja.

Namun, sejak saat itu, Hea tidak pernah masuk kerja lagi.

Daejunglah yang mengantarkan surat resign Hea ke restoran. Pak Inho sempat curiga, tetapi Daejung—dengan segala muslihatnya—selalu bisa memengaruhi orang lain. Selalu bisa meyakinkan orang lain. Padahal, sama seperti ayahnya, dia adalah setan paling keji yang mampu memerkosa semua gadis di desa itu kalau dia mau. Akan tetapi, sialnya…pilihannya jatuh kepada adik kandungnya sendiri. Kalau targetnya adalah orang yang serumah dengannya, kebejatan yang ia lakukan akan sukar tercium oleh orang sekitar, bukan?

Ah, bagi Daejung, begini saja sudah oke. Dunia ini nikmat sekali.

Di sisi lain, meski Hea kira semuanya telah berakhir, ternyata chapter-nya dengan Yohan belum selesai sampai di sana. Seperti yang pemuda itu katakan, ia akan mendatangi rumah Hea sesekali. Sesekali juga, ia akan membawa Hea ke luar rumah—secara diam-diam—dan mengajak Hea ke sebuah lapangan luas yang ada di ujung desa. Mereka akan mengobrol di sana, sesekali tertawa kecil, dan menceritakan setiap kegetiran yang mereka alami. Saat mereka berdua berdiri di samping satu sama lain, memandang langit di lapangan luas yang penuh dengan tanaman alang-alang itu, untuk sesaat mereka berdua dapat bernapas dengan nyaman.

Pada akhirnya, Yohan pun mengetahui semua penderitaan Hea. Semua hal sinting yang Hea alami. Namun, Hea tidak tahu banyak tentang Yohan. Mereka memang bercerita tentang kepahitan-kepahitan hidup yang mereka alami, tetapi sebenarnya…cerita Hea sendirilah yang terkesan paling detail.

Yohan hanya selalu bercerita bahwa dia merasa sendirian di dunia ini. Dia bilang, mungkin dia akan menceritakan lukanya lain kali sebab dia tak ingin semakin membebani pikiran Hea.

Tiap kali Yohan harus mengantarkan Hea kembali ke rumah itu, hati Yohan serasa hancur. Seolah-olah ada sebuah tangan hitam yang masuk ke tubuhnya dan meremas hatinya hingga remuk. Tak peduli apa pun hubungan di antara mereka, setiap orang yang memiliki hati nurani pasti takkan tega meninggalkan Hea sendirian. Namun, Hea selalu tersenyum tipis padanya—senyum itu tampak begitu lemah—dan berkata, “Tidak apa-apa, Yohan.”

Lihat, ini bukanlah telenovela yang umumnya akan memasang wanita cantik atau bernasib sedih dengan happy ending sebagai tema dasarnya.

Ini adalah realita,

…yang tidak tahu bagaimana ending-nya. []

 

 











******











Immure (Chapter 5: Numb, Empty)

  ****** Chapter 5 : Numb, Empty   ******   SAAT matahari terbenam, Yohan pun mengantarkan Hea pulang. Pemuda itu sempat ragu-ra...