Bab
5 :
Jauh
Darinya
******
KILATAN
cahaya dari flash kamera menyambar berkali-kali di dalam studio sewaan
yang hari ini digunakan untuk pemotretan komersial sebuah majalah mode. Keisha
Nathalie berdiri di tengah set, memancarkan aura yang membuat orang-orang tak
bisa mengalihkan pandangan.
Gaun
cokelat keemasan yang ia kenakan terlihat begitu mahal dan elegan di tubuhnya
yang tinggi dan ramping. Rambut dirty blonde-nya sedikit berkibar
tertiup kipas angin di sudut set. Dengan riasan clean girl makeup yang
menonjolkan kulit eksotisnya, Kei menatap tajam ke arah lensa.
"Oke,
perfect, Kei! Nice! Kita break lima belas menit, yaa!"
seru sang fotografer puas.
Kei
mengembuskan napas, membiarkan posturnya rileks seketika. Senyum profesional di
wajahnya berganti menjadi senyum kasual yang ramah saat ia melangkah turun dari
set. Asistennya segera memberikan botol air mineral. Saat Kei hendak berjalan
menuju sofa yang ada di sudut, matanya menangkap dua sosok yang berdiri di
dekat pintu masuk studio.
Ada
salah satu kru yang membuka pintu studio dan mempersilakan dua orang itu masuk.
Salah satu orang itu adalah Alvin Bastian, pria yang sudah mulai cukup akrab
dengannya beberapa waktu belakangan ini. Di sebelah Alvin, ada seorang wanita
berambut sebahu yang memakai blouse putih dan celana jeans. Wajah
wanita itu cerah, matanya hidup, dan dari caranya melihat ke sekeliling studio
dengan antusias, Keisha bisa menebak bahwa wanita itu bukan tipe orang yang
malu-malu.
“Kei!”
panggil Alvin dari kejauhan seraya melambaikan tangan.
Keisha
langsung berjalan ke arah Alvin seraya tersenyum, menyambut Alvin dengan ramah.
“Eh, Vin? Ada apa, nih?”
Alvin
berjalan mendekat sambil menggandeng wanita di sebelahnya. “Ahaha, sorry. Ngagetin,
ya?”
Keisha
tertawa renyah. “Haha, sedikit. Ada apa, Vin? Sini, ayo duduk!”
Mereka
semua pun duduk di sofa yang tadi ingin Kei duduki. Alvin lalu berkata, “Ganggu
bentar boleh nggak? Kebetulan tadi habis meeting bahas final touch
buat desain logo klien di gedung sebelah.”
Perempuan
di sebelah Alvin ternyata tak membuang waktu. Ia tersenyum dengan sangat lebar
dan mengulurkan tangannya tanpa ragu. "Halo, kamu Keisha Nathalie, ya?
Wah, salam kenal! Aslinya lebih cantik parah daripada di foto! Aku Meira,
pacarnya Alvin."
Alvin
pun segera berkata, “Kei, kenalin. Ini Meira, pacar aku. Kamu, kan, ada cerita
sama aku dan Josh terkait pemotretan kamu, jadi aku tau kalo kamu lagi ada di
sini. Aku sering cerita soal proyek kamu dan Josh ke Meira. Pas dia tau kamu
lagi shoot di dekat sini, dia langsung maksa ngajak mampir biar bisa
kenalan sama kamu.”
Keisha
menyambut jabatan tangan Meira. “Hai, Meira. Salam kenal. Panggil Kei aja, ya.”
Meira
mengangguk antusias. “Oke! Ternyata, pas aku liat langsung, kamu emang cocok
banget buat proyeknya Josh! Alvin juga sering cerita soal kamu. Katanya kamu
cantik, elegan, asyik, dan cocok banget buat proyek Josh.”
Alvin
langsung berdeham. “Aku nggak bilang sepanjang itu, ya.”
Meira
menoleh tajam ke arah Alvin. “Kamu bilang, kok.”
“Aku
bilang intinya aja.”
“Ya
intinya sepanjang itu.”
Keisha
tertawa. Entah mengapa, ia langsung menyukai Meira. Wanita itu punya energi
yang hangat, riang, dan spontan; jenis energi yang membuat orang lain mudah
nyaman.
Beberapa
kru masih berlalu lalang di sekitar mereka, menata lampu dan properti untuk
sesi foto berikutnya.
Meira
menatap Keisha dengan mata membulat polos, benar-benar terlihat bersemangat. "Jadi
model tuh pasti pegel, ya, nahan pose dalam waktu lama. Kalo aku pasti udah
encok duluan."
Kei
tertawa. "Yaa lumayan, sih, apalagi kalo fotografernya minta pose yang
agak tricky dan ditahan lama. Tapi aku udah biasa, kok."
"Nah,
mending jadi model. Jelas capeknya di badan," kata Meira sambil menunjuk
Alvin dengan dagunya. "Kalo si Alvin, nih, capeknya di mata sama di otak.
Kalo udah stuck ngedit desain di laptop, matanya sampe mau copot. Kemaren
aja aku dinner, eh, tau-taunya dia buka laptop di restoran gara-gara
kliennya minta revisi warna dadakan!"
Alvin
langsung mengusap wajahnya, salah tingkah. "Itu aku ngejer deadline,
Sayang... Lagian, cuma sebentar aku ngeditnya."
"Sebentar
apanya? Makanan aku sampe dingin nungguin kamu debat soal hex code warna
biru di telepon," ejek Meira, yang langsung membuat Kei tertawa lepas.
Waktu
mendengar Kei tertawa lepas, Meira langsung menatap Kei kembali dan terpana.
“Wah,
serius. Kalo aku jadi fotografer, aku juga bakal langsung pilih kamu jadi muse,”
ujar Meira. “Udah cantik banget, friendly lagi! Pantes Josh cocok sama
kamu.”
Wait.
Cocok
sama kamu.
Kalimat
itu membuat gerakan Keisha sedikit tertahan. Entah mengapa, dia suka mendengar
kata-kata itu, tetapi di sisi lain… dia juga merasa agak… canggung karena sudah
tahu kalau Josh punya pacar.
“Um…
haha. Makasih. Josh memang punya konsep proyek yang bagus. Aku tertarik banget sama
idenya,” jawab Keisha.
“Oh
iya, proyek yang tentang…apa itu, Vin?” tanya Meira.
“The
Unseen Seasons: Woman,” jawab Alvin.
Meira
langsung menatap Keisha lagi. “Nah, itu. Keren banget, lho. Alvin sempet
cerita. Tentang perjalanan seorang wanita, ‘kan? Dari polos, dihancurkan dunia,
terus nemuin dirinya sendiri?”
Keisha
mengangguk. “Iya. Kurang lebih kayak gitu. Josh ngejelasinnya bagus banget
waktu itu.”
Tanpa
sadar, senyum Keisha berubah jadi lebih lebar ketika menyebut nama Josh. Ada
sedikit binar yang muncul di matanya.
Meira
dan Alvin melihat itu. Karena mereka berdua adalah pasangan yang sama-sama
kurang punya bakat untuk pura-pura buta, mereka pun saling melirik.
Keisha
kembali berbicara, “Aku suka proyek itu. Cara Josh ngeliat sesuatu itu... unik,
menurutku. Dia nggak cuma mikirin foto yang cantik. Dia mikirin cerita di
baliknya. Makna. Perjalanan. Rasanya… jarang ketemu fotografer yang
ngomongin objeknya dengan cara kayak gitu.”
Alvin
tersenyum kecil. “Josh emang gitu. Dia agak… idealis kalo soal fotografi.”
“Agak?”
Meira mendengkus. “Itu orang kalo ngomongin foto bisa kayak lagi khutbah seni!”
Keisha
tertawa. “Khutbah seni? Wah, menarik juga. Kapan-kapan aku mau coba denger.”
“Eh
ehhh…” kata Meira. Matanya langsung menyipit curiga pada Kei; dia tersenyum
jail.
Keisha
memiringkan kepalanya. “Kenapa, Meira?”
“Nggak.”
Meira cekikikan. “Kamu… jujur banget, ya. Aku suka.”
Alvin
menahan tawa. Meira ternyata menangkap sinyal yang sama dengannya.
Keisha
menatap mereka secara bergantian. “Kalian ngeledek aku, yaa?”
Meira
berhenti tertawa, lalu memajukan tubuhnya sedikit. “Kei.”
“Hmm?”
“Kamu
naksir sama Josh, ya?” tembak Meira tiba-tiba.
Keisha
membeku. Pipinya merona seketika.
Waduh!
Sejelas itu, ya?!
Alvin
langsung menutup wajahnya dengan telapak tangan. “Ra…”
“Apa?”
Meira menoleh kepada Alvin. “Kita semua udah dewasa di sini.”
“Dewasa,
tapi kamu nggak harus nembak orang kayak debt collector.”
Meira
menatap Keisha lagi, lalu tersenyum lembut seraya menyentuh punggung tangan
Keisha. “Nggak apa-apa, kok, Kei. Santai aja. Aku nggak bakal bilang ke Josh.”
Keisha
tertawa. “Makasih, ya. Bisa gawat kalau Josh denger!”
“Hahahaha!
Iya, bener!” Meira mengangguk. “Well, aku bakal diem, tapi… aku dukung
kamu.”
Alvin
kontan tertawa, sementara Keisha langsung salah tingkah. Bingung mau merespons
seperti apa. Kok mereka berdua kayaknya santai saja membahas ini, padahal Josh
punya pacar?!
“Gila,
to the point banget!” ucap Alvin pada Meira.
“Ya
nggak apa-apa kali, kan nggak ngerugiin siapa-siapa juga kalo aku diem!” balas
Meira.
Keisha
tertawa geli. Meira langsung mengecap kalau dia tertarik pada Josh, padahal dia
tadi belum bicara apa-apa soal ketertarikannya. Berarti, ekspresinya… atau
mungkin tatapannya… sejelas itu.
Kei
pun mengalihkan pandangan ke arah kru yang sedang menata properti. Namun, tiba-tiba
Meira berbicara kembali.
"Eh,
tapi ngomong-ngomong soal restoran, Kei, kamu suka ngopi, nggak? Kakakku baru
buka coffee shop minggu lalu di daerah Bubutan. Tempatnya asyik banget
buat nongkrong atau me-time."
"Oh
ya? Wah, aku suka banget!" Mata Kei berbinar. "Di Bubutan, ya? Apa
nama coffee shop-nya?"
“Namanya
‘Satu Roastery’! Kopinya enak, terus pastry-nya juga bikin
sendiri," seru Meira dengan bersemangat. “Kapan-kapan mau nggak ke sana
bareng aku?”
Kei
mengangguk. “Boleh, boleh! Aku mau nyobain pastry-nya juga.”
Meira
langsung mengacungkan jempolnya. “Oke, deh! Hehe! Seneng banget akuu, dapet
temen baru yang baik. Model cantik pula.”
Alvin
tersenyum menatap interaksi kedua wanita itu. Tak lama, Alvin pun bertanya pada
Kei. Nadanya santai, tetapi… terdengar cukup serius. Dia tidak sedang
menggoda Kei.
“Yang
bikin kamu pertama kali tertarik sama Josh itu apa, Kei?”
Kei
terdiam. Ia langsung menatap Alvin.
Bagaimana,
ya, cara menjelaskannya?
Ia
baru bertemu Josh sekali. Seharusnya, perasaan seperti itu belum pantas
dinamai. Belum pantas dianggap serius. Akan tetapi, sejak pertemuan pertama
mereka, ada sesuatu dari Josh yang tinggal di kepalanya. Wajah pria itu. Cara
pria itu bicara tentang proyeknya. Cara ia memperlakukan orang lain. Cara ia
tersenyum malu, tetapi matanya menyala ketika membahas hal yang ia cintai.
Keisha
pernah bertemu banyak laki-laki menarik. Banyak yang tampan. Banyak yang
percaya diri. Banyak yang tahu cara membuat perempuan merasa dipuja.
Namun,
Josh berbeda.
Josh
tidak membuat Keisha merasa sedang dilihat sebagai tubuh indah semata. Dia
membuat Keisha merasa… dilihat sebagai seorang perempuan. Seolah-olah
pria itu tidak hanya ingin memotretnya, tetapi juga ingin memahami cahaya dan
bayangan yang hidup di dalam dirinya.
“Umm…”
Keisha tersenyum, sedikit mengerutkan dahinya berpikir. “Gimana, ya? Dia baik,
Vin. Tulus banget. Nggak tau kenapa, aku bisa liat ketulusan itu.”
Alvin
tersenyum lembut, begitu pula Meira.
“Josh
emang baik. Kadang terlalu baik, malah,” ujar Meira.
Keisha
menatap Meira. “Terlalu baik gimana?”
Alvin
menghela napas. “Josh tuh orangnya… kalo udah sayang sama seseorang, dia bisa
ngasih semuanya, Kei.”
Meira
menambahkan, “Semuanya banget. Waktu, tenaga, perhatian, uang, pikiran. Kadang
sampe lupa diri sendiri.”
Keisha
terdiam. Entah mengapa, ada sesak yang muncul di dadanya.
“Alvin
bilang… dia punya pacar, ‘kan?” tanya Keisha pelan. “Berarti…”
Meira
menatap Alvin sebentar, seolah-olah meminta izin diam-diam untuk tahu sejauh
mana ia boleh berbicara. Alvin hanya menghela napas kecil.
“Pacarnya
itu temen SMA mereka,” jelas Meira. “Josh suka sama cewek itu dari dulu banget,
tapi baru jadian akhir-akhir ini.”
Keisha
mengangguk. Dia sudah tahu soal itu dari Alvin. Namun… ‘Josh suka sama dia
dari dulu banget’?
Jadi…
“Josh
ngejer dia selama itu?” tanya Keisha seraya mengangkat alis.
Alvin
tertawa hambar. “Bisa dibilang gitu, Kei.”
“Ah…”
Keisha mengangguk dalam tempo pelan, mencoba mencerna semua yang ia dengar.
Ekspresinya agak blank.
Setelah
itu, dia sedikit menunduk. Tersenyum tipis.
“Wah,”
ucapnya lirih. “Kalo udah disukai selama itu… susah juga, ya.”
Meira
langsung bersandar dengan ekspresi tidak setuju. “Susah bukan berarti mustahil,
Kei.”
Alvin
mengangguk, mendukung Meira.
Keisha
tertawa pelan. “Ah—haha… Nggak enak sama pacarnya Josh kalo kamu dukung aku
gitu, Meira.”
“Lah,
orang si cewek itu juga—”
“Aku
nggak mau jadi orang ketiga juga,” lanjut Keisha. Suaranya tetap lembut, tetapi
tegas. “Aku mungkin tertarik sama Josh, tapi kalo dia masih punya seseorang,
aku nggak punya hak untuk masuk terlalu jauh.”
Meira
memperhatikan Keisha selama beberapa detik. Setelah itu, senyumnya melebar.
“Oke,
fix,” kata Meira. “Kita harus jadi temen deket.”
Keisha
mengerjap. “Eh?”
“Aku
suka kamu,” ungkap Meira. “Kamu cantik, waras, dan punya rem. Jarang-jarang ada
kombinasi begitu, haha!”
Spontan
Alvin dan Keisha tertawa kencang.
Meira
lalu merogoh ponsel dari tasnya. “Aku minta nomor kamu boleh, Kei?”
Mata
Kei sedikit melebar. “Nomorku?”
“Iya.
Ayo temenan! Aku juga bakal ngehubungi kamu kalo ntar kita ke coffee shop Kakakku.
Lagian, nanti kalau Alvin ngeselin, aku bisa kabur ngobrol sama kamu!”
“Lho?”
Alvin protes. “Kok aku jadi korban?”
“Karena
kamu sering ngeselin.”
Keisha
tertawa sambil menerima ponsel Meira. “Boleh. Sini aku ketik.”
Ketika
Keisha mengetik nomor ponselnya, Meira kembali bertanya, “Ngomong-ngomong, Josh
hari ini nggak ada pertemuan sama kamu soal proyek itu?”
Keisha
menggeleng. “Nggak. Bukannya kata Alvin dia lagi ada proyek di luar negeri, ya?”
“Oh,
iya,” jawab Alvin. “Josh lagi ke Singapore. Dapat proyek foto di sana,
temen lamanya yang minta. Tapi hari ini dia pulang, kok. Paling nanti sore udah
mendarat langsung di Juanda.”
“Singapore,
ya…”
ulang Keisha pelan.
“Kenapa?”
tanya Alvin.
“Nggak
apa-apa.” Keisha mengembalikan ponsel Meira. “Cuma baru tau aja kalo Josh sampe
dapet proyek dari luar negeri.”
Meira
menerima ponselnya, lalu menatap Keisha dengan senyum jail. “Itu karena temen
kecilnya ada di sana, Kei. Kayaknya, kamu pengin tau banyak soal Josh, ya?”
Keisha
langsung menutup wajahnya dengan tangan seraya tertawa malu. “Duh, aku ketauan
mulu, nih. Haha!”
Alvin
ikut tertawa. “Udah, Raaa... Jangan digodain terus. Kasian Kei-nya.”
“Dia
nggak kasian. Dia cuma ketauan. Gampang ditebak banget dari wajah dan matanya,
soalnya. Hehe,” ujar Meira tanpa dosa.
Keisha
menggeleng, menyerah. “Aduh… Mesti latihan nyembunyiin perasaan, nih.”
Meira
tertawa kencang.
Well,
Keisha
memang ingin tahu lebih banyak tentang Josh.
Tentang
pekerjaannya. Tentang masa lalunya. Tentang caranya mencintai seseorang selama
bertahun-tahun. Tentang bagaimana seseorang bisa menyimpan rasa begitu lama tanpa
kehilangan kelembutan di dalam dirinya.
Namun,
semakin banyak ia tahu, semakin ia merasa bahwa ketertarikannya bukan sekadar
rasa kagum sesaat.
Itu
membuatnya takut… karena Josh Andriano bukan pria yang kosong. Pria itu
sudah memiliki seseorang di hatinya.
Keisha
tak tahu apakah ada ruang yang tersisa untuk orang lain di sana.
******
Bandara
Internasional Juanda sore itu dipenuhi oleh suara langkah kaki, pengumuman
penerbangan, roda koper yang bergesekan dengan lantai, dan percakapan
orang-orang yang datang silih berganti. Josh Andriano duduk di salah satu kursi
tunggu. Sebuah kamera tersimpan aman di dalam tasnya, sementara koper miliknya
berdiri di sebelah kaki.
Penerbangannya
dari Singapore baru saja mendarat sekitar tiga puluh menit yang lalu.
Biasanya,
Josh menyukai bandara.
Ada
banyak wajah. Banyak cerita. Banyak perpisahan dan pertemuan. Banyak momen
singkat yang kadang terlihat biasa, tetapi bisa terasa hidup jika dibekukan
dalam sebuah foto.
Akan
tetapi, hari ini... Josh tidak begitu memperhatikan sekitarnya. Sejak tadi,
matanya lebih banyak tertuju pada ponsel.
Aplikasi
WhatsApp terbuka, menampilkan ruang obrolannya dengan Windy. Pesan-pesannya
sejak beberapa hari lalu saat ia memberi kabar sudah mendarat di Changi,
rentetan pertanyaannya yang menanyakan apakah Windy sudah makan siang, hingga
rentetan panggilannya di malam hari setelah ia selesai memotret... semuanya
teronggok sepi.
Josh
menatap pesan terakhir yang ia kirimkan kemarin malam.
Me
Win, aku udah selesai pemotretan hari ini.
Capek
banget, tapi hasilnya bagus.
Kamu
gimana? Udah makan?
Masih
centang dua abu-abu.
Ia
men-scroll ke atas.
Ada
pesan dari dua hari lalu.
Me
Aku udah di Singapore, Sayang.
Nanti
aku kabarin lagi kalo udah sampe di hotel.
Centang
dua abu-abu.
Me
Kamu sibuk banget, ya? Jangan lupa makan, oke?
Centang
dua abu-abu.
Me
Aku telepon kamu sebentar boleh? Kangen banget.
Centang
dua abu-abu.
Josh
menatap layar itu lama. Ada sensasi aneh yang membuat dadanya terasa sesak.
Selama
ini, Josh selalu memaksa dirinya untuk maklum. Ia terus meyakinkan
hatinya bahwa mungkin Windy terlalu sibuk dengan pekerjaannya sebagai
resepsionis hotel, apalagi hotel itu sedang mengurus acara anniversary.
Josh selalu menekan kecurigaannya, menelannya dalam-dalam, sama seperti ia
menahan rasa sakit saat melihat Windy tertawa leluasa memeluk lengan Frans,
sang Front Office Manager. Ia melakukan itu semua hanya demi
mempertahankan Windy di sisinya.
Ia
tak mau menjadi pacar yang merepotkan. Ia tak mau menjadi laki-laki yang
terlalu mengekang.
Namun,
tiga hari adalah waktu yang cukup lama untuk tidak membaca pesan sama sekali.
Panggilan-panggilan dari Josh juga tidak pernah diangkat.
Lagi
pula, Windy bukan tidak menyentuh ponselnya.
Josh
tahu itu.
Ia
tahu karena sejak kemarin, Windy beberapa kali mengunggah status
WhatsApp.
Foto
makanan.
Foto
dirinya yang sedang ‘nongki’ bersama teman-temannya.
Foto
lobby hotel.
Foto
sepatu barunya.
Foto
langit sore dari jendela rumahnya.
Tadi
pagi, Windy bahkan sempat mengunggah foto selfie dengan filter yang
membuat pipinya terlihat lebih pink. Di foto itu, Windy tersenyum manis
ke kamera.
Josh
menghela napas.
Tak
lama kemudian, pertahanan Josh hancur tak bersisa tatkala ibu jarinya tanpa
sadar menggeser layar ponsel ke tab Status.
Di
barisan paling atas, sebuah lingkaran hijau menyala terang.
Windy
Alisha - 5 minutes ago.
Napas
Josh tertahan. Dada pria itu seolah ditikam dengan kejam. Ia menekan status
itu. Layar berganti, menampilkan unggahan foto terbaru berupa segelas minuman
mahal di sebuah café cantik. Di samping gelas itu, ada potongan tangan
seseorang yang samar-samar tertangkap kamera. Josh tidak bisa memastikan tangan
siapa. Bisa saja teman Windy. Bisa saja rekan kerjanya. Bisa saja siapa pun.
Di
bagian bawah foto, Windy menulis:
Capekkk.
Butuh asupan yang manis-manis, tapi harus tetep cantik 🥺✨
Josh
menatap tulisan itu.
Jadi…
Windy sempat membuka WhatsApp.
Ia
sempat mengambil foto.
Ia
sempat memilih filter.
Ia
sempat menulis caption.
Ia
sempat mengunggah status.
Namun,
ia tidak sempat membaca pesan Josh.
Tidak
sempat membalas.
Tidak
sempat mengangkat telepon.
Josh
keluar dari status itu. Ia kembali membuka chatroom mereka.
Masih
centang dua abu-abu.
Untuk
beberapa detik, Josh hanya menatap layar.
Orang-orang
berlalu lalang di depannya. Ada banyak suara yang ia dengar: suara pengumuman
penerbangan yang terdengar dari pengeras suara. Suara seorang anak kecil
menangis. Suara seorang pria di sebelahnya yang berbicara melalui telepon.
Dunia
tetap bergerak. Namun, Josh merasa seolah-olah ia berhenti di tempat.
Tiba-tiba,
layar ponselnya bergetar panjang. Ada sebuah pop-up notifikasi dari
ruang obrolan yang masuk.
Josh
tersentak.
Nama
Windy muncul di layar.
Windy
baru saja membalas chat-nya.
Jantung
Josh berdegup kencang. Dengan cepat, ia pun membuka pesan itu.
Windy 🥰
Sayaaanggg!!! Ya ampun, maaf bangettt aku baru bisa balasss 😭😭😭 Aku
bener-bener sibuk paraaah di hotel, aku sampe jarang bisa pegang HP! Kamu udah
di bandara, Sayang? Aku kangen bangettt lho sama kamuuu 😚❤️❤️
Josh
menatap layar ponselnya lekat-lekat. Membaca pesan itu.
Sekali.
Dua
kali.
Tiga
kali.
Seharusnya
ia senang. Rentetan huruf yang memanjang. Gaya bahasa merengek dan lautan emoticon
penuh cinta yang biasa Windy gunakan, yang selalu sukses membuatnya merasa
dicintai dan terbang ke awang-awang.
Seharusnya
dadanya terasa lega karena Windy akhirnya membalas. Seharusnya ia tersenyum
seperti biasanya, lalu mengetik balasan panjang, menanyakan kabar Windy,
memaafkannya, lalu mengatakan bahwa ia juga kangen.
Namun,
entah mengapa…
…kali
ini tidak ada rasa lega.
Yang
ada hanya… kekosongan.
Josh
menatap pesan itu lagi.
‘Aku
kangen bangettt lho sama kamuuu 😚❤️❤️’
Kalimat
itu sangat manis. Seperti parfum beraroma permen yang sudah ia hafal. Seperti
senyum Windy setiap kali meminta sesuatu darinya.
Namun,
hari ini, manis itu terasa berbeda.
Bukan
menenangkan…
…melainkan
membuatnya sakit.
Josh
mengangkat kepalanya perlahan. Ia menatap keramaian bandara di depannya tanpa
benar-benar melihat siapa pun.
Windy
berbohong.
Pikiran
itu muncul begitu saja.
Pelan.
Dingin.
Windy
berbohong.
Josh
menelan ludah. Rahangnya mengetat.
Ia
tahu Windy berbohong karena status itu ada. Baru saja diunggah.
Status-status sebelumnya juga ada. Lingkaran kecil berwarna hijau itu seperti
bukti yang terus menyala di depan matanya. Seperti seseorang yang mengetuk pintu
kaca dari luar, meminta Josh untuk berhenti berpura-pura tidak melihat.
Perlahan,
Josh menurunkan ponselnya. Layar itu meredup, lalu berubah hitam sepenuhnya,
memantulkan wajah Josh sendiri yang terlihat begitu lelah, bodoh, dan menyedihkan.
Kalau
Windy bisa membuat status…
…mengapa
ia tak bisa membaca pesan Josh?
Kalau
Windy bisa memilih caption…
…mengapa
ia tak bisa mengetik satu kalimat untuknya?
Kalau
Windy bisa tersenyum ke kamera…
…mengapa
ia tak bisa menjawab telepon dari pacarnya sendiri?
Josh
tidak ingin marah.
Tidak
ingin menuduh.
Tidak
ingin bertengkar.
Namun,
ia juga tidak ingin berpura-pura baik-baik saja.
Beberapa
menit kemudian, setelah berpikir lama, akhirnya… Josh pun memilih untuk
mengalah. Memilih untuk berpikir positif meskipun sebenarnya tidak ada lagi
yang positif dalam situasi ini. Windy jelas-jelas… mengabaikannya.
Josh
pun mengetik pelan. Dia tetap membalas dengan baik.
Me
Nggak
apa-apa.
Ia
berhenti, menatap dua kata itu, lalu menambahkan dua kalimat lagi.
Me
Aku
masih di bandara. Lagi mau order taksi online.
Pesan
itu langsung terkirim. Centang dua abu-abu.
Josh
menunggu.
Satu
menit.
Dua
menit.
Tiga
menit.
Tidak
berubah.
Tidak
ada balasan.
Josh
tertawa pelan. Bukan tawa bahagia, melainkan tawa kecil yang lelah. Seolah-olah
tubuhnya tidak tahu harus merespons seperti apa lagi.
Ia
mematikan layar ponsel, lalu menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi.
Langit-langit
bandara terlihat tinggi dan terang. Cahaya siang masuk dari kaca-kaca besar di
kejauhan, menerangi lantai mengilap dan bayangan orang-orang yang terus
bergerak.
Josh
memejamkan mata.
Di
kepalanya, muncul banyak hal sekaligus.
Windy
yang tersenyum kepadanya saat SMA. Windy yang berdiri di depan Gio untuk
melindunginya. Windy yang tertawa di foto berbingkai di studionya. Windy yang
mencium pipinya. Windy yang meminta dress, sepatu, dan clutch dengan
suara manja. Windy yang tertawa di bahu Frans. Windy yang sedang online,
tetapi tidak membaca pesannya.
Josh
membuka mata perlahan.
Hatinya
pedih.
Di
depannya, hanya berjarak beberapa kursi, ada seorang wanita yang sedang tertawa
bersama kekasihnya. Pria itu membantu membenarkan tali tas wanita itu, lalu
wanita itu menepuk lengan pria tersebut sambil tersenyum. Interaksi kecil. Sederhana.
Namun,
Josh melihat cara wanita itu menatap pria di sebelahnya.
Fokus.
Hadir.
Josh
kembali menatap langit-langit.
Untuk
alasan yang tidak ia mengerti, tiba-tiba ia teringat pada komentar Keisha
beberapa hari lalu.
“…dari
foto ini, perempuan itu keliatan… jauh.”
Josh
menarik napas panjang.
“Jauh,
ya…”
bisik Josh pada dirinya sendiri sambil menelan getir. []


No comments:
Post a Comment