Friday, May 15, 2026

She Was Never Mine (Bab 5: Jauh Darinya)

 


******

Bab 5 :

Jauh Darinya

 

******

 

KILATAN cahaya dari flash kamera menyambar berkali-kali di dalam studio sewaan yang hari ini digunakan untuk pemotretan komersial sebuah majalah mode. Keisha Nathalie berdiri di tengah set, memancarkan aura yang membuat orang-orang tak bisa mengalihkan pandangan.

Gaun cokelat keemasan yang ia kenakan terlihat begitu mahal dan elegan di tubuhnya yang tinggi dan ramping. Rambut dirty blonde-nya sedikit berkibar tertiup kipas angin di sudut set. Dengan riasan clean girl makeup yang menonjolkan kulit eksotisnya, Kei menatap tajam ke arah lensa.

"Oke, perfect, Kei! Nice! Kita break lima belas menit, yaa!" seru sang fotografer puas.

Kei mengembuskan napas, membiarkan posturnya rileks seketika. Senyum profesional di wajahnya berganti menjadi senyum kasual yang ramah saat ia melangkah turun dari set. Asistennya segera memberikan botol air mineral. Saat Kei hendak berjalan menuju sofa yang ada di sudut, matanya menangkap dua sosok yang berdiri di dekat pintu masuk studio.

Ada salah satu kru yang membuka pintu studio dan mempersilakan dua orang itu masuk. Salah satu orang itu adalah Alvin Bastian, pria yang sudah mulai cukup akrab dengannya beberapa waktu belakangan ini. Di sebelah Alvin, ada seorang wanita berambut sebahu yang memakai blouse putih dan celana jeans. Wajah wanita itu cerah, matanya hidup, dan dari caranya melihat ke sekeliling studio dengan antusias, Keisha bisa menebak bahwa wanita itu bukan tipe orang yang malu-malu.

“Kei!” panggil Alvin dari kejauhan seraya melambaikan tangan.

Keisha langsung berjalan ke arah Alvin seraya tersenyum, menyambut Alvin dengan ramah. “Eh, Vin? Ada apa, nih?”

Alvin berjalan mendekat sambil menggandeng wanita di sebelahnya. “Ahaha, sorry. Ngagetin, ya?”

Keisha tertawa renyah. “Haha, sedikit. Ada apa, Vin? Sini, ayo duduk!”

Mereka semua pun duduk di sofa yang tadi ingin Kei duduki. Alvin lalu berkata, “Ganggu bentar boleh nggak? Kebetulan tadi habis meeting bahas final touch buat desain logo klien di gedung sebelah.”

Perempuan di sebelah Alvin ternyata tak membuang waktu. Ia tersenyum dengan sangat lebar dan mengulurkan tangannya tanpa ragu. "Halo, kamu Keisha Nathalie, ya? Wah, salam kenal! Aslinya lebih cantik parah daripada di foto! Aku Meira, pacarnya Alvin."

Alvin pun segera berkata, “Kei, kenalin. Ini Meira, pacar aku. Kamu, kan, ada cerita sama aku dan Josh terkait pemotretan kamu, jadi aku tau kalo kamu lagi ada di sini. Aku sering cerita soal proyek kamu dan Josh ke Meira. Pas dia tau kamu lagi shoot di dekat sini, dia langsung maksa ngajak mampir biar bisa kenalan sama kamu.”

Keisha menyambut jabatan tangan Meira. “Hai, Meira. Salam kenal. Panggil Kei aja, ya.”

Meira mengangguk antusias. “Oke! Ternyata, pas aku liat langsung, kamu emang cocok banget buat proyeknya Josh! Alvin juga sering cerita soal kamu. Katanya kamu cantik, elegan, asyik, dan cocok banget buat proyek Josh.”

Alvin langsung berdeham. “Aku nggak bilang sepanjang itu, ya.”

Meira menoleh tajam ke arah Alvin. “Kamu bilang, kok.”

“Aku bilang intinya aja.”

“Ya intinya sepanjang itu.”

Keisha tertawa. Entah mengapa, ia langsung menyukai Meira. Wanita itu punya energi yang hangat, riang, dan spontan; jenis energi yang membuat orang lain mudah nyaman.

Beberapa kru masih berlalu lalang di sekitar mereka, menata lampu dan properti untuk sesi foto berikutnya.

Meira menatap Keisha dengan mata membulat polos, benar-benar terlihat bersemangat. "Jadi model tuh pasti pegel, ya, nahan pose dalam waktu lama. Kalo aku pasti udah encok duluan."

Kei tertawa. "Yaa lumayan, sih, apalagi kalo fotografernya minta pose yang agak tricky dan ditahan lama. Tapi aku udah biasa, kok."

"Nah, mending jadi model. Jelas capeknya di badan," kata Meira sambil menunjuk Alvin dengan dagunya. "Kalo si Alvin, nih, capeknya di mata sama di otak. Kalo udah stuck ngedit desain di laptop, matanya sampe mau copot. Kemaren aja aku dinner, eh, tau-taunya dia buka laptop di restoran gara-gara kliennya minta revisi warna dadakan!"

Alvin langsung mengusap wajahnya, salah tingkah. "Itu aku ngejer deadline, Sayang... Lagian, cuma sebentar aku ngeditnya."

"Sebentar apanya? Makanan aku sampe dingin nungguin kamu debat soal hex code warna biru di telepon," ejek Meira, yang langsung membuat Kei tertawa lepas.

Waktu mendengar Kei tertawa lepas, Meira langsung menatap Kei kembali dan terpana.

“Wah, serius. Kalo aku jadi fotografer, aku juga bakal langsung pilih kamu jadi muse,” ujar Meira. “Udah cantik banget, friendly lagi! Pantes Josh cocok sama kamu.”

 

Wait.

 

Cocok sama kamu.

 

Kalimat itu membuat gerakan Keisha sedikit tertahan. Entah mengapa, dia suka mendengar kata-kata itu, tetapi di sisi lain… dia juga merasa agak… canggung karena sudah tahu kalau Josh punya pacar.

“Um… haha. Makasih. Josh memang punya konsep proyek yang bagus. Aku tertarik banget sama idenya,” jawab Keisha.

“Oh iya, proyek yang tentang…apa itu, Vin?” tanya Meira.

“The Unseen Seasons: Woman,” jawab Alvin.

Meira langsung menatap Keisha lagi. “Nah, itu. Keren banget, lho. Alvin sempet cerita. Tentang perjalanan seorang wanita, ‘kan? Dari polos, dihancurkan dunia, terus nemuin dirinya sendiri?”

Keisha mengangguk. “Iya. Kurang lebih kayak gitu. Josh ngejelasinnya bagus banget waktu itu.”

Tanpa sadar, senyum Keisha berubah jadi lebih lebar ketika menyebut nama Josh. Ada sedikit binar yang muncul di matanya.

Meira dan Alvin melihat itu. Karena mereka berdua adalah pasangan yang sama-sama kurang punya bakat untuk pura-pura buta, mereka pun saling melirik.

Keisha kembali berbicara, “Aku suka proyek itu. Cara Josh ngeliat sesuatu itu... unik, menurutku. Dia nggak cuma mikirin foto yang cantik. Dia mikirin cerita di baliknya. Makna. Perjalanan. Rasanya… jarang ketemu fotografer yang ngomongin objeknya dengan cara kayak gitu.”

Alvin tersenyum kecil. “Josh emang gitu. Dia agak… idealis kalo soal fotografi.”

“Agak?” Meira mendengkus. “Itu orang kalo ngomongin foto bisa kayak lagi khutbah seni!”

Keisha tertawa. “Khutbah seni? Wah, menarik juga. Kapan-kapan aku mau coba denger.”

“Eh ehhh…” kata Meira. Matanya langsung menyipit curiga pada Kei; dia tersenyum jail.

Keisha memiringkan kepalanya. “Kenapa, Meira?”

“Nggak.” Meira cekikikan. “Kamu… jujur banget, ya. Aku suka.”

Alvin menahan tawa. Meira ternyata menangkap sinyal yang sama dengannya.

Keisha menatap mereka secara bergantian. “Kalian ngeledek aku, yaa?”

Meira berhenti tertawa, lalu memajukan tubuhnya sedikit. “Kei.”

“Hmm?”

“Kamu naksir sama Josh, ya?” tembak Meira tiba-tiba.

Keisha membeku. Pipinya merona seketika.

 

Waduh! Sejelas itu, ya?!

 

Alvin langsung menutup wajahnya dengan telapak tangan. “Ra…”

“Apa?” Meira menoleh kepada Alvin. “Kita semua udah dewasa di sini.”

“Dewasa, tapi kamu nggak harus nembak orang kayak debt collector.”

Meira menatap Keisha lagi, lalu tersenyum lembut seraya menyentuh punggung tangan Keisha. “Nggak apa-apa, kok, Kei. Santai aja. Aku nggak bakal bilang ke Josh.”

Keisha tertawa. “Makasih, ya. Bisa gawat kalau Josh denger!”

“Hahahaha! Iya, bener!” Meira mengangguk. “Well, aku bakal diem, tapi… aku dukung kamu.”

Alvin kontan tertawa, sementara Keisha langsung salah tingkah. Bingung mau merespons seperti apa. Kok mereka berdua kayaknya santai saja membahas ini, padahal Josh punya pacar?!

“Gila, to the point banget!” ucap Alvin pada Meira.

“Ya nggak apa-apa kali, kan nggak ngerugiin siapa-siapa juga kalo aku diem!” balas Meira.

Keisha tertawa geli. Meira langsung mengecap kalau dia tertarik pada Josh, padahal dia tadi belum bicara apa-apa soal ketertarikannya. Berarti, ekspresinya… atau mungkin tatapannya… sejelas itu.

Kei pun mengalihkan pandangan ke arah kru yang sedang menata properti. Namun, tiba-tiba Meira berbicara kembali.

"Eh, tapi ngomong-ngomong soal restoran, Kei, kamu suka ngopi, nggak? Kakakku baru buka coffee shop minggu lalu di daerah Bubutan. Tempatnya asyik banget buat nongkrong atau me-time."

"Oh ya? Wah, aku suka banget!" Mata Kei berbinar. "Di Bubutan, ya? Apa nama coffee shop-nya?"

“Namanya ‘Satu Roastery’! Kopinya enak, terus pastry-nya juga bikin sendiri," seru Meira dengan bersemangat. “Kapan-kapan mau nggak ke sana bareng aku?”

Kei mengangguk. “Boleh, boleh! Aku mau nyobain pastry-nya juga.”

Meira langsung mengacungkan jempolnya. “Oke, deh! Hehe! Seneng banget akuu, dapet temen baru yang baik. Model cantik pula.”

Alvin tersenyum menatap interaksi kedua wanita itu. Tak lama, Alvin pun bertanya pada Kei. Nadanya santai, tetapi… terdengar cukup serius. Dia tidak sedang menggoda Kei.

 

“Yang bikin kamu pertama kali tertarik sama Josh itu apa, Kei?”

 

Kei terdiam. Ia langsung menatap Alvin.

Bagaimana, ya, cara menjelaskannya?

Ia baru bertemu Josh sekali. Seharusnya, perasaan seperti itu belum pantas dinamai. Belum pantas dianggap serius. Akan tetapi, sejak pertemuan pertama mereka, ada sesuatu dari Josh yang tinggal di kepalanya. Wajah pria itu. Cara pria itu bicara tentang proyeknya. Cara ia memperlakukan orang lain. Cara ia tersenyum malu, tetapi matanya menyala ketika membahas hal yang ia cintai.

Keisha pernah bertemu banyak laki-laki menarik. Banyak yang tampan. Banyak yang percaya diri. Banyak yang tahu cara membuat perempuan merasa dipuja.

Namun, Josh berbeda.

Josh tidak membuat Keisha merasa sedang dilihat sebagai tubuh indah semata. Dia membuat Keisha merasa… dilihat sebagai seorang perempuan. Seolah-olah pria itu tidak hanya ingin memotretnya, tetapi juga ingin memahami cahaya dan bayangan yang hidup di dalam dirinya.

“Umm…” Keisha tersenyum, sedikit mengerutkan dahinya berpikir. “Gimana, ya? Dia baik, Vin. Tulus banget. Nggak tau kenapa, aku bisa liat ketulusan itu.”

Alvin tersenyum lembut, begitu pula Meira.

“Josh emang baik. Kadang terlalu baik, malah,” ujar Meira.

Keisha menatap Meira. “Terlalu baik gimana?”

Alvin menghela napas. “Josh tuh orangnya… kalo udah sayang sama seseorang, dia bisa ngasih semuanya, Kei.”

Meira menambahkan, “Semuanya banget. Waktu, tenaga, perhatian, uang, pikiran. Kadang sampe lupa diri sendiri.”

Keisha terdiam. Entah mengapa, ada sesak yang muncul di dadanya.

“Alvin bilang… dia punya pacar, ‘kan?” tanya Keisha pelan. “Berarti…”

Meira menatap Alvin sebentar, seolah-olah meminta izin diam-diam untuk tahu sejauh mana ia boleh berbicara. Alvin hanya menghela napas kecil.

“Pacarnya itu temen SMA mereka,” jelas Meira. “Josh suka sama cewek itu dari dulu banget, tapi baru jadian akhir-akhir ini.”

Keisha mengangguk. Dia sudah tahu soal itu dari Alvin. Namun… ‘Josh suka sama dia dari dulu banget’?

Jadi…

“Josh ngejer dia selama itu?” tanya Keisha seraya mengangkat alis.

Alvin tertawa hambar. “Bisa dibilang gitu, Kei.”

“Ah…” Keisha mengangguk dalam tempo pelan, mencoba mencerna semua yang ia dengar. Ekspresinya agak blank.

Setelah itu, dia sedikit menunduk. Tersenyum tipis.

“Wah,” ucapnya lirih. “Kalo udah disukai selama itu… susah juga, ya.”

Meira langsung bersandar dengan ekspresi tidak setuju. “Susah bukan berarti mustahil, Kei.”

Alvin mengangguk, mendukung Meira.

Keisha tertawa pelan. “Ah—haha… Nggak enak sama pacarnya Josh kalo kamu dukung aku gitu, Meira.”

“Lah, orang si cewek itu juga—”

“Aku nggak mau jadi orang ketiga juga,” lanjut Keisha. Suaranya tetap lembut, tetapi tegas. “Aku mungkin tertarik sama Josh, tapi kalo dia masih punya seseorang, aku nggak punya hak untuk masuk terlalu jauh.”

Meira memperhatikan Keisha selama beberapa detik. Setelah itu, senyumnya melebar.

“Oke, fix,” kata Meira. “Kita harus jadi temen deket.”

Keisha mengerjap. “Eh?”

“Aku suka kamu,” ungkap Meira. “Kamu cantik, waras, dan punya rem. Jarang-jarang ada kombinasi begitu, haha!”

Spontan Alvin dan Keisha tertawa kencang.

Meira lalu merogoh ponsel dari tasnya. “Aku minta nomor kamu boleh, Kei?”

Mata Kei sedikit melebar. “Nomorku?”

“Iya. Ayo temenan! Aku juga bakal ngehubungi kamu kalo ntar kita ke coffee shop Kakakku. Lagian, nanti kalau Alvin ngeselin, aku bisa kabur ngobrol sama kamu!”

“Lho?” Alvin protes. “Kok aku jadi korban?”

“Karena kamu sering ngeselin.”

Keisha tertawa sambil menerima ponsel Meira. “Boleh. Sini aku ketik.”

Ketika Keisha mengetik nomor ponselnya, Meira kembali bertanya, “Ngomong-ngomong, Josh hari ini nggak ada pertemuan sama kamu soal proyek itu?”

Keisha menggeleng. “Nggak. Bukannya kata Alvin dia lagi ada proyek di luar negeri, ya?”

“Oh, iya,” jawab Alvin. “Josh lagi ke Singapore. Dapat proyek foto di sana, temen lamanya yang minta. Tapi hari ini dia pulang, kok. Paling nanti sore udah mendarat langsung di Juanda.”

“Singapore, ya…” ulang Keisha pelan.

“Kenapa?” tanya Alvin.

“Nggak apa-apa.” Keisha mengembalikan ponsel Meira. “Cuma baru tau aja kalo Josh sampe dapet proyek dari luar negeri.”

Meira menerima ponselnya, lalu menatap Keisha dengan senyum jail. “Itu karena temen kecilnya ada di sana, Kei. Kayaknya, kamu pengin tau banyak soal Josh, ya?”

Keisha langsung menutup wajahnya dengan tangan seraya tertawa malu. “Duh, aku ketauan mulu, nih. Haha!”

Alvin ikut tertawa. “Udah, Raaa... Jangan digodain terus. Kasian Kei-nya.”

“Dia nggak kasian. Dia cuma ketauan. Gampang ditebak banget dari wajah dan matanya, soalnya. Hehe,” ujar Meira tanpa dosa.

Keisha menggeleng, menyerah. “Aduh… Mesti latihan nyembunyiin perasaan, nih.”

Meira tertawa kencang.

Well, Keisha memang ingin tahu lebih banyak tentang Josh.

Tentang pekerjaannya. Tentang masa lalunya. Tentang caranya mencintai seseorang selama bertahun-tahun. Tentang bagaimana seseorang bisa menyimpan rasa begitu lama tanpa kehilangan kelembutan di dalam dirinya.

Namun, semakin banyak ia tahu, semakin ia merasa bahwa ketertarikannya bukan sekadar rasa kagum sesaat.

Itu membuatnya takut… karena Josh Andriano bukan pria yang kosong. Pria itu sudah memiliki seseorang di hatinya.

Keisha tak tahu apakah ada ruang yang tersisa untuk orang lain di sana.

 

******

 

Bandara Internasional Juanda sore itu dipenuhi oleh suara langkah kaki, pengumuman penerbangan, roda koper yang bergesekan dengan lantai, dan percakapan orang-orang yang datang silih berganti. Josh Andriano duduk di salah satu kursi tunggu. Sebuah kamera tersimpan aman di dalam tasnya, sementara koper miliknya berdiri di sebelah kaki.

Penerbangannya dari Singapore baru saja mendarat sekitar tiga puluh menit yang lalu.

Biasanya, Josh menyukai bandara.

Ada banyak wajah. Banyak cerita. Banyak perpisahan dan pertemuan. Banyak momen singkat yang kadang terlihat biasa, tetapi bisa terasa hidup jika dibekukan dalam sebuah foto.

Akan tetapi, hari ini... Josh tidak begitu memperhatikan sekitarnya. Sejak tadi, matanya lebih banyak tertuju pada ponsel.

Aplikasi WhatsApp terbuka, menampilkan ruang obrolannya dengan Windy. Pesan-pesannya sejak beberapa hari lalu saat ia memberi kabar sudah mendarat di Changi, rentetan pertanyaannya yang menanyakan apakah Windy sudah makan siang, hingga rentetan panggilannya di malam hari setelah ia selesai memotret... semuanya teronggok sepi.

Josh menatap pesan terakhir yang ia kirimkan kemarin malam.

 

Me
Win, aku udah selesai pemotretan hari ini.

Capek banget, tapi hasilnya bagus.

Kamu gimana? Udah makan?

 

Masih centang dua abu-abu.

Ia men-scroll ke atas.

Ada pesan dari dua hari lalu.

Me
Aku udah di Singapore, Sayang.

Nanti aku kabarin lagi kalo udah sampe di hotel.

 

Centang dua abu-abu.

 

Me
Kamu sibuk banget, ya? Jangan lupa makan, oke?

 

Centang dua abu-abu.

 

Me
Aku telepon kamu sebentar boleh? Kangen banget.

 

Centang dua abu-abu.

Josh menatap layar itu lama. Ada sensasi aneh yang membuat dadanya terasa sesak.

Selama ini, Josh selalu memaksa dirinya untuk maklum. Ia terus meyakinkan hatinya bahwa mungkin Windy terlalu sibuk dengan pekerjaannya sebagai resepsionis hotel, apalagi hotel itu sedang mengurus acara anniversary. Josh selalu menekan kecurigaannya, menelannya dalam-dalam, sama seperti ia menahan rasa sakit saat melihat Windy tertawa leluasa memeluk lengan Frans, sang Front Office Manager. Ia melakukan itu semua hanya demi mempertahankan Windy di sisinya.

Ia tak mau menjadi pacar yang merepotkan. Ia tak mau menjadi laki-laki yang terlalu mengekang.

Namun, tiga hari adalah waktu yang cukup lama untuk tidak membaca pesan sama sekali. Panggilan-panggilan dari Josh juga tidak pernah diangkat.

Lagi pula, Windy bukan tidak menyentuh ponselnya.

Josh tahu itu.

Ia tahu karena sejak kemarin, Windy beberapa kali mengunggah status WhatsApp.

Foto makanan.

Foto dirinya yang sedang ‘nongki’ bersama teman-temannya.

Foto lobby hotel.

Foto sepatu barunya.

Foto langit sore dari jendela rumahnya.

Tadi pagi, Windy bahkan sempat mengunggah foto selfie dengan filter yang membuat pipinya terlihat lebih pink. Di foto itu, Windy tersenyum manis ke kamera.

Josh menghela napas.

Tak lama kemudian, pertahanan Josh hancur tak bersisa tatkala ibu jarinya tanpa sadar menggeser layar ponsel ke tab Status.

Di barisan paling atas, sebuah lingkaran hijau menyala terang.

Windy Alisha - 5 minutes ago.

Napas Josh tertahan. Dada pria itu seolah ditikam dengan kejam. Ia menekan status itu. Layar berganti, menampilkan unggahan foto terbaru berupa segelas minuman mahal di sebuah café cantik. Di samping gelas itu, ada potongan tangan seseorang yang samar-samar tertangkap kamera. Josh tidak bisa memastikan tangan siapa. Bisa saja teman Windy. Bisa saja rekan kerjanya. Bisa saja siapa pun.

Di bagian bawah foto, Windy menulis:

Capekkk. Butuh asupan yang manis-manis, tapi harus tetep cantik 🥺✨

Josh menatap tulisan itu.

Jadi… Windy sempat membuka WhatsApp.

Ia sempat mengambil foto.

Ia sempat memilih filter.

Ia sempat menulis caption.

Ia sempat mengunggah status.

Namun, ia tidak sempat membaca pesan Josh.

Tidak sempat membalas.

Tidak sempat mengangkat telepon.

Josh keluar dari status itu. Ia kembali membuka chatroom mereka.

Masih centang dua abu-abu.

Untuk beberapa detik, Josh hanya menatap layar.

Orang-orang berlalu lalang di depannya. Ada banyak suara yang ia dengar: suara pengumuman penerbangan yang terdengar dari pengeras suara. Suara seorang anak kecil menangis. Suara seorang pria di sebelahnya yang berbicara melalui telepon.

Dunia tetap bergerak. Namun, Josh merasa seolah-olah ia berhenti di tempat.

Tiba-tiba, layar ponselnya bergetar panjang. Ada sebuah pop-up notifikasi dari ruang obrolan yang masuk.

Josh tersentak.

Nama Windy muncul di layar.

 

Windy baru saja membalas chat-nya.

 

Jantung Josh berdegup kencang. Dengan cepat, ia pun membuka pesan itu.

 

Windy 🥰
Sayaaanggg!!! Ya ampun, maaf bangettt aku baru bisa balasss
😭😭😭 Aku bener-bener sibuk paraaah di hotel, aku sampe jarang bisa pegang HP! Kamu udah di bandara, Sayang? Aku kangen bangettt lho sama kamuuu 😚❤️❤️

 

Josh menatap layar ponselnya lekat-lekat. Membaca pesan itu.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Seharusnya ia senang. Rentetan huruf yang memanjang. Gaya bahasa merengek dan lautan emoticon penuh cinta yang biasa Windy gunakan, yang selalu sukses membuatnya merasa dicintai dan terbang ke awang-awang.

Seharusnya dadanya terasa lega karena Windy akhirnya membalas. Seharusnya ia tersenyum seperti biasanya, lalu mengetik balasan panjang, menanyakan kabar Windy, memaafkannya, lalu mengatakan bahwa ia juga kangen.

Namun, entah mengapa…

…kali ini tidak ada rasa lega.

Yang ada hanya… kekosongan.

Josh menatap pesan itu lagi.

‘Aku kangen bangettt lho sama kamuuu 😚❤️❤️’

Kalimat itu sangat manis. Seperti parfum beraroma permen yang sudah ia hafal. Seperti senyum Windy setiap kali meminta sesuatu darinya.

Namun, hari ini, manis itu terasa berbeda.

Bukan menenangkan…

…melainkan membuatnya sakit.

Josh mengangkat kepalanya perlahan. Ia menatap keramaian bandara di depannya tanpa benar-benar melihat siapa pun.

Windy berbohong.

Pikiran itu muncul begitu saja.

Pelan.

Dingin.

Windy berbohong.

Josh menelan ludah. Rahangnya mengetat.

Ia tahu Windy berbohong karena status itu ada. Baru saja diunggah. Status-status sebelumnya juga ada. Lingkaran kecil berwarna hijau itu seperti bukti yang terus menyala di depan matanya. Seperti seseorang yang mengetuk pintu kaca dari luar, meminta Josh untuk berhenti berpura-pura tidak melihat.

Perlahan, Josh menurunkan ponselnya. Layar itu meredup, lalu berubah hitam sepenuhnya, memantulkan wajah Josh sendiri yang terlihat begitu lelah, bodoh, dan menyedihkan.

Kalau Windy bisa membuat status…

…mengapa ia tak bisa membaca pesan Josh?

Kalau Windy bisa memilih caption…

…mengapa ia tak bisa mengetik satu kalimat untuknya?

Kalau Windy bisa tersenyum ke kamera…

…mengapa ia tak bisa menjawab telepon dari pacarnya sendiri?

 

Josh tidak ingin marah.

Tidak ingin menuduh.

Tidak ingin bertengkar.

Namun, ia juga tidak ingin berpura-pura baik-baik saja.

Beberapa menit kemudian, setelah berpikir lama, akhirnya… Josh pun memilih untuk mengalah. Memilih untuk berpikir positif meskipun sebenarnya tidak ada lagi yang positif dalam situasi ini. Windy jelas-jelas… mengabaikannya.

Josh pun mengetik pelan. Dia tetap membalas dengan baik.

 

Me

Nggak apa-apa.

 

Ia berhenti, menatap dua kata itu, lalu menambahkan dua kalimat lagi.

 

Me

Aku masih di bandara. Lagi mau order taksi online.

 

Pesan itu langsung terkirim. Centang dua abu-abu.

Josh menunggu.

Satu menit.

Dua menit.

Tiga menit.

Tidak berubah.

Tidak ada balasan.

Josh tertawa pelan. Bukan tawa bahagia, melainkan tawa kecil yang lelah. Seolah-olah tubuhnya tidak tahu harus merespons seperti apa lagi.

Ia mematikan layar ponsel, lalu menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi.

Langit-langit bandara terlihat tinggi dan terang. Cahaya siang masuk dari kaca-kaca besar di kejauhan, menerangi lantai mengilap dan bayangan orang-orang yang terus bergerak.

Josh memejamkan mata.

Di kepalanya, muncul banyak hal sekaligus.

Windy yang tersenyum kepadanya saat SMA. Windy yang berdiri di depan Gio untuk melindunginya. Windy yang tertawa di foto berbingkai di studionya. Windy yang mencium pipinya. Windy yang meminta dress, sepatu, dan clutch dengan suara manja. Windy yang tertawa di bahu Frans. Windy yang sedang online, tetapi tidak membaca pesannya.

Josh membuka mata perlahan.

Hatinya pedih.

Di depannya, hanya berjarak beberapa kursi, ada seorang wanita yang sedang tertawa bersama kekasihnya. Pria itu membantu membenarkan tali tas wanita itu, lalu wanita itu menepuk lengan pria tersebut sambil tersenyum. Interaksi kecil. Sederhana.

Namun, Josh melihat cara wanita itu menatap pria di sebelahnya.

Fokus.

Hadir.

Josh kembali menatap langit-langit.

Untuk alasan yang tidak ia mengerti, tiba-tiba ia teringat pada komentar Keisha beberapa hari lalu.

 

“…dari foto ini, perempuan itu keliatan… jauh.”

 

Josh menarik napas panjang.

 

“Jauh, ya…” bisik Josh pada dirinya sendiri sambil menelan getir. []

 














******











No comments:

Post a Comment

She Was Never Mine (Bab 5: Jauh Darinya)

  ****** Bab 5 : Jauh Darinya   ******   KILATAN cahaya dari flash kamera menyambar berkali-kali di dalam studio sewaan yang har...