Chapter
5 :
Villains
Are Made
******
16 TAHUN YANG LALU
SUARA
pecahan
guci arak itu sangat memekakkan telinga. Suara itu mampu membuat Ai tersentak
setiap kali muncul. Jantungnya serasa berhenti berdegup tiap guci itu
menghantam lantai rumah mereka.
PRANG!!
Entah sudah berapa guci arak yang
terlempar ke lantai. Sesekali, Ai akan mendengar ibunya berteriak kencang,
mengumpat, meraung-raung, dan tertawa keras.
Ini
bukan hal baru. Setiap hari, sang ibu memang seperti itu. Tidak ada yang wanita
itu lakukan selain mabuk-mabukan di rumah, melempar guci arak, berteriak, dan
memukuli anak-anaknya. Namun, meski bukan hal baru, rasa takut tetap merayap ke
sekujur tubuh Ai tiap kali hal itu terjadi. Dua hal yang mungkin akan meredakan
rasa takut itu adalah: saat sang ibu tertidur, atau…
…saat
Eric ada di sampingnya.
Hari
ini, sepertinya amukan Ibu jauh lebih parah dari biasanya. Sesuatu
mungkin telah terjadi.
“SIALAN!!!”
“BAJINGAN
KEPARAT! PERSETAN!!! BERANI-BERANINYA DIA MENINGGALKANKU!! BERANI-BERANINYA DIA
MEMBUATKU BERTANGGUNG JAWAB UNTUK DUA ANAK INI!!”
PRANG!!
Ai
menutup telinganya kuat-kuat. Matanya terpejam; dalam hati, ia terus memohon
agar suara-suara itu berhenti. Agar Ibu berhenti berteriak. Agar Ibu berhenti
marah.
Namun,
agaknya hal itu sukar terjadi, mengingat selama ini Ibu jarang sekali terlihat
tenang.
Perut
Ai sakit. Ini sudah jam tiga sore dan Ai belum makan sejak kemarin. Biasanya,
Ibu akan menyuruh Eric membeli apa pun yang bisa mereka makan selama kurang
lebih tiga hari sekali, memerintahkan Eric untuk mengambil uang dari atas meja
kamar Ibu.
Uang
kiriman dari Ayah setiap bulannya. Ayah yang sudah kabur dari rumah sekitar
setahun yang lalu.
Seharusnya
kemarin Eric berbelanja keluar, tetapi karena tidak menemukan uang sepeser pun
lagi, Eric memberitahu Ibu bahwa uang mereka habis. Hal itu berakhir dengan
Eric dipukuli oleh Ibu habis-habisan.
Namun,
Eric hanya diam. Dia ditampar, ditendang, dipukul dengan kayu dan ikat pinggang
hingga tubuhnya memar-memar dan berdarah, tetapi dia hanya diam.
Dia
tidak menangis.
Pukulan
itu sudah hampir menjadi makanan sehari-hari baginya. Tidak ada tangisan, tidak
ada pula tatapan kosong. Ia hanya menatap lurus, teguh, menerima pukulan itu
dengan pikiran seperti, ‘Ini akan berlalu sebentar lagi. Tahan saja.’
Biasanya,
Ai-lah yang menangis dan memohon-mohon pada Ibu untuk berhenti memukuli Eric,
lalu hal itu berujung dengan dia ikut terkena pukulan Ibu. Biasanya, Eric akan
menyuruh Ai pergi dan dengan tegas berkata pada Ibu, ‘Pukul aku saja. Ai
tidak ada hubungannya.’
Setiap
malam, Ai yang masih berusia enam tahun itu akan membantu Eric mengobati
luka-luka di tubuhnya. Mereka membeli kapas dan obat-obatan itu diam-diam,
sedikit-sedikit, dari uang yang Eric bawa saat belanja. Eric, yang saat itu
berusia sepuluh tahun, dipaksa untuk jauh lebih dewasa daripada usianya
sendiri.
Kalau
tidak begitu, luka di tubuh mereka akan membusuk, apalagi luka itu selalu
bertambah setiap harinya. Eric harus membeli obat-obatan.
Setiap
malam, Ai akan membantu membersihkan luka Eric sambil menangis. Ia akan memeluk
Eric, memohon pada Eric untuk berhenti menerima pukulan Ibu, lalu Eric akan
tersenyum seraya mencium keningnya.
“Tidak
apa-apa. Aku akan melindungimu.”
Di
dunia ini, Ai hanya punya Eric. Mereka berdua tidak pernah bermain di luar
rumah lagi sejak Ayah dan Ibu bertengkar setiap hari sampai akhirnya keduanya
berpisah. Ai sering mendengar bagaimana Ayah memukuli Ibu yang memarahinya
membabi buta. Ibu selalu berteriak, ‘Perempuan itu!!’, tetapi Ai sendiri
tak tahu apa maksud Ibu. Di saat-saat itu, Eric selalu menutup telinga Ai sambil
menempelkan kening mereka. Tatapan mata Eric begitu serius, tetapi mulutnya tak
mengatakan apa pun. Tatapan itu seolah-olah ingin menyampaikan:
“Tidak
usah didengarkan.”
Mereka
selalu berdua. Di dalam dunia kecil mereka. Di dalam rumah kecil yang pengap
dan bau arak, di mana ada monster yang mereka panggil ‘Ibu’.
Sesekali,
Eric akan mengajak Ai keluar tatkala Ibu tidur. Hanya untuk melihat matahari, bulan,
bintang, atau merasakan angin di luar. Kadang-kadang pula, Eric akan mengajak
Ai ke sebuah taman bunga suisen kecil di desa dan Ai jadi sangat
menyukai bunga putih itu. Namun, Ibu sering memergoki mereka. Wanita itu pun
akan memukuli Eric karena Eric pasti mengaku bahwa ialah yang mengajak Ai
keluar rumah.
Ibu
akan mengamuk dan membentak Eric seperti, “PRIA ITU HANYA MENGIRIM UANG UNTUK
KALIAN! KALAU KALIAN TIDAK ADA, DIA TAKKAN MENGIRIMKAN UANG KE SINI!!! JANGAN
KABUR DARIKU!!”
Ibu
selalu mengharapkan uang dari Ayah setiap bulannya, padahal Eric pernah bilang ke
Ai bahwa sebenarnya uang dari Ayah itu sangat sedikit.
Setiap
hari, Eric-lah yang akan memberi Ai makan. Memandikannya. Membantunya memakai
pakaian. Memeluknya saat tidur, kedinginan, atau takut. Mengobati lukanya kalau
ibu sempat memukulinya.
Dunia
mereka begitu terpusat pada satu sama lain. Bagi Ai, Eric adalah ayah, ibu,
sekaligus kakaknya. Eric adalah segalanya. Begitu pula Ai; gadis kecil
itu adalah satu-satunya dunia Eric.
Karena
kemarin Eric tidak berbelanja, di rumah tidak ada makanan apa pun. Saat ini,
Eric sedang pergi keluar sebentar untuk mencari buah kesemek liar yang tumbuh
di pinggir desa. Namun, sekitar sepuluh menit sejak kepergian Eric, tiba-tiba
saja Ibu berteriak dan mengamuk tanpa henti. Dia mulai melempar semua guci
bekas araknya di ruang tamu. Dia mengambil semua arak yang ia punya,
meminumnya, lalu melempar guci itu ke segala arah.
Karena
Eric tidak ada, Ai jadi ketakutan.
“AKU
TIDAK SALAH APA PUN!!”
“MENGAPA
HIDUPKU SEPERTI INI??!!”
“SIALAN!
AKAN KUBUNUH KAU! BEDEBAH GILA!!”
PRANG!!
“KUHARAP
KAU MATI BERSAMA PEREMPUAN JALANG ITU!!”
Ai
terperanjat. Apa yang membuat Ibu sangat marah?
Tadi
pagi, setelah memukuli Eric seharian kemarin, Ibu terlihat cukup diam.
Namun, tiba-tiba saja, sore ini Ibu kembali mengamuk.
Ai
takut, tetapi di sisi lain… perutnya juga sangat sakit. Perut itu sudah
kosong sejak kemarin. Biasanya, walau sedikit… Ai pasti ada memakan sesuatu
karena Eric akan selalu memberinya makanan. Namun, kemarin Eric terus-menerus
dipukuli. Baru hari inilah Eric bisa keluar (setelah tubuhnya cukup membaik,
tentunya).
Eric
selalu menyuruh Ai untuk menunggunya. Ia tak mau Ai mencari makanannya
sendiri. Ialah yang selalu datang dan membawakan makanan untuk Ai.
Hari
ini, sebetulnya… Ai ingin menunggu Eric seperti biasanya. Dia mau menuruti
Eric. Dia tak ingin semua pengorbanan Eric untuk melindunginya itu sia-sia. Dia
juga takut setengah mati akan kemarahan Ibu.
Namun,
rasa sakit di perutnya sudah tak tertahankan lagi. Di otaknya yang saat itu
masih kecil, dia tahu bahwa dia harus melindungi diri dari siksaan Ibu. Dia
tahu bahwa Eric sudah melindunginya, tetapi dia tak bisa menahan rasa lapar atau
sakit layaknya orang dewasa. Dia mulai menangis kecil dan meremas perutnya
sendiri.
Perutku
sakit…
Aku
ingin makan. Aku mau makan… sedikit saja…
Kalau
besok uangnya masih tidak ada… bagaimana dengan Kakak?
Apakah
Kakak harus terus mencarikan buah-buahan untukku?
Aku
tidak boleh menyusahkan Kak Eric…
Aku
harus…
…mencari
makanan juga…
Akan
tetapi, perutku sakit sekali… Aku tidak sanggup bergerak banyak...
Aku…
akan minta pada Ibu.
Ibu
sedang marah. Ibu pasti akan memukulku.
Namun,
perutku… sakit…
Ai
menunggu selama beberapa menit ke depan. Saat teriakan Ibu terdengar mulai
mereda dan suara lemparan guci itu mulai berhenti, Ai pun meneguk ludahnya.
Tangannya terkepal; tatapannya mulai yakin.
Ia
pun mencoba untuk merangkak. Ia tak bisa berdiri karena perutnya sakit. Dengan
air mata yang masih berlinang di sudut matanya—dan dengan pipi yang sembab itu—Ai
pun merangkak ke ruang tamu.
Ke
tempat di mana ibunya berada.
Semakin
memasuki ruang tamu, Ai semakin bisa mencium aroma arak yang pekat. Ia juga
semakin mendengar suara napas ibunya yang berat dan tidak teratur. Ada banyak
sekali pecahan kaca yang berserakan di lantai.
Dengan
hati-hati, Ai menghindari pecahan-pecahan guci itu. Tatkala dirasa sudah berada
di tengah-tengah ruang tamu, Ai pun mulai mengangkat wajahnya…
…dan
melihat Ibu.
Ibu
ada
di sana. Sama seperti Ai dan Eric, Ibu memiliki mata berwarna biru dan rambut
berwarna vermillion.
Ai
bisa melihat rambut Ibu yang terurai berantakan. Mata biru Ibu yang tidak
berbinar. Baju kaus lusuh Ibu yang robek di beberapa bagian. Lingkaran hitam di
bawah matanya, kulitnya yang berkerut, serta bibir dan lehernya yang basah
karena arak. Di dekat Ibu—di lantai—ada robekan-robekan kertas dan
amplop.
Bau
arak membuat perut Ai yang kosong itu jadi mual. Namun, rasa mual itu sukses
tertutupi oleh rasa takut yang memuncak hingga ke ubun-ubun.
Menatap
Ibu sama saja dengan menatap sumber ketakutannya secara langsung.
Tubuh
Ai mulai bergetar. Sinyal bahaya di tubuhnya seakan-akan aktif. Rasa takut yang
memuncak itu berhasil mengaktifkan instingnya untuk pergi dari sana dan
membatalkan niatnya.
Namun,
meski insting itu aktif, sayangnya… Ai sudah terlanjur berada di ruang tamu. Ia
sudah duduk bersimpuh di depan Ibu; tubuhnya bak terpasak di sana karena
tatapan Ibu langsung menekannya. Mengurungnya habis-habisan. Dia bagai
berada di sarang harimau dan tak bisa keluar lagi.
Mata
Ai melebar penuh teror. Napasnya seakan-akan tersekat di tenggorokan.
Ludahnya kering. Tubuhnya semakin bergetar.
“APA?!!
MENGAPA KAU KE SINI?!!”
Pertanyaan
Ibu terdengar bagai gong kematian di telinga Ai. Gadis kecil itu langsung
menunduk dan memejamkan matanya.
Ia
sangat, sangat takut.
Namun,
tiba-tiba ia meremas perutnya lagi. Rasa sakit itu kembali mengingatkannya mengapa
ia ada di sini.
Aku
harus bilang pada Ibu. Aku harus bilang.
Sebelum
Kak Eric pulang.
Napas
Ai memburu. Ia masih tak berani menatap wajah Ibu. Matanya terpaku pada
lantai kayu yang kotor, tepat di sobekan-sobekan kertas yang berserakan di dekat
Ibu.
“I—bu...”
Suara Ai bergetar, sangat pelan dan berhati-hati karena teredam oleh
rasa takut. “Perut... perut Ai sakit...”
Hening
beberapa detik. Keheningan itu terasa mencekik.
“Hah?”
Suara
Ibu terdengar begitu ketus, bak mengandung racun yang mematikan.
Air
mata mulai jatuh ke pipi Ai. “Ai lapar, Bu... Ai mau makan... Sedikit saja,
Ibu...”
Tiba-tiba,
suara tawa yang melengking memecah keheningan itu. Bukan tawa bahagia,
melainkan tawa yang keluar dari jiwa yang sudah sepenuhnya hancur dan sinting.
Tawa itu menggema di ruang tamu yang sempit, membuat bulu kuduk Ai meremang.
Ibu
langsung merangkak mendekati Ai secepat kilat. Matanya memelotot.
Bak manusia yang sudah dikuasai iblis, ia langsung ingin meraih Ai.
Sadar akan bahaya yang segera datang dalam hitungan detik, Ai refleks
melebarkan matanya dan mundur. Ia terjatuh dan mengesot ke belakang. Wajahnya
pucat; sebelah tangannya langsung terjulur ke depan, lalu ia berteriak,
“I—IBU!! AMPUN, BU—AMPUN… IBU!! MAAFKAN AI, BU, AI—”
Kalah
cepat dengan sang ibu yang seperti kerasukan akibat emosi, Ai pun terkesiap
saat leher bajunya ditarik. Tubuh kecilnya langsung terangkat karena
cengkeraman Ibu sangatlah kuat. Tangisan Ai semakin menjadi-jadi; ia berteriak
memohon ampun dengan putus asa. Saat wajah Ibu berada di dekat wajahnya, bau arak
yang sangat menyengat pun langsung tercium.
“Makan?
MAKAN, KATAMU?!" tanya Ibu. Bentakannya memekakkan telinga. "BERANI-BERANINYA
KAU MEMINTA MAKAN PADAKU!! KAU PIKIR KAU SAJA YANG BELUM MAKAN?! ANAK SIALAN!!"
PLAK!!
Satu
tamparan keras mendarat di pipi Ai. Gadis kecil itu langsung tersungkur ke
lantai kayu, sebelah tangannya refleks memegang pipinya sendiri. Pipi itu langsung
memerah pekat saking kuatnya tamparan sang ibu. Rasanya nyeri luar biasa. Matanya
melebar sempurna; darah pun mulai keluar dari hidungnya. Itu adalah
tamparan yang paling kuat yang pernah Ai rasakan dari ibu.
Ai
belum sempat berteriak tatkala Ibu mulai memukuli kepalanya berkali-kali. Kepalanya
diempaskan ke lantai, lalu terantuk puluhan kali di permukaan kayu itu. Suara
tangisan Ai mulai terputus-putus, terutama saat ibunya menginjak-injak tubuh
kecilnya.
“INI.
MAKAN INI. ANAK KURANG AJAR!! KALIAN HANYA BISA MENYUSAHKANKU!! KALIAN
SEHARUSNYA TAK PERNAH ADA! AKU HARUSNYA TAK MENIKAH DENGAN BAJINGAN ITU!!”
“I—bu—”
Ai tergagap seiring dengan tendangan dan pukulan ibunya yang menjadi-jadi. Gadis
kecil itu mulai memuntahkan seluruh isi perutnya yang sebenarnya hanya tinggal
air. Air itu bercampur dengan darah. Ia terbatuk-batuk, tetapi batuk itu bahkan
tak sempat ia keluarkan dengan leluasa karena pukulan ibunya sangat
bertubi-tubi di bagian perut dan kepalanya.
Beberapa
detik kemudian, Ibu menarik Ai, lalu melemparkan tubuh gadis kecil itu
ke dinding. Ai terbanting dan punggungnya menghantam permukaan dinding itu
dengan keras.
Ai
kembali muntah. Kepalanya mulai pusing dan pandangannya mulai kabur. Dunianya
seakan-akan berputar.
Karena
merasa tak sanggup lagi berteriak atau mengesot menjauh, Ai pun terbaring
menyamping. Air matanya jatuh ke lantai, bercampur dengan muntahannya. Dalam
kesadaran yang mulai menipis itu, tanpa sadar ia berkata dengan pelan:
“Kakak… Jangan
pulang…”
“Ibu…
Ibu jahat…”
“Ayah…
Ayah mungkin pergi… karena Ibu jahat…”
Keheningan
seketika menyergap ruangan itu.
Meski
ucapan Ai terbilang begitu pelan, telinga sang ibu ternyata menangkapnya
dengan sangat jelas. Kalimat polos dari anak berusia enam tahun itu seolah-olah
baru saja menelanjangi semua kegagalan hidupnya.
Wajah
sang ibu lantas berubah memerah karena amarah. Matanya melebar, lalu
menggelap dengan kebencian yang melampaui batas kewarasan. Dia kalap seketika.
Ibu
pun langsung berdiri. Dia berlari ke ujung ruangan, ke dekat
dinding di mana Ai terbaring. Masih dengan matanya yang memelotot itu, dia
langsung mendorong kasar tubuh Ai hingga gadis kecil itu berbaring telentang.
Dia duduk mengangkangi perut Ai, lalu mencekik anak itu dengan sangat
kencang. Ai meronta dengan liar, matanya mendelik ke atas, dan mulutnya menganga
memburu oksigen yang mendadak hilang. Tangannya yang mungil spontan mencakar-cakar
punggung tangan ibunya dengan sisa tenaga yang nyaris habis.
Tidak
ada teriakan yang bisa ia keluarkan. Dari pangkal tenggorokannya, hanya
terdengar suara menggelegak basah yang mengerikan; suara sisa muntahan yang
bergesekan dengan udara tipis yang berusaha masuk, disusul oleh tarikan napas
serak yang putus-putus.
"Kkhh—hkk..."
Wajah
Ai membiru. Paru-parunya terbakar. Rintihan menyiksa yang ia keluarkan semakin
melemah seiring pandangannya yang mulai menggelap.
“MATI
KAU! MATI! MATI!!!!” teriak ibunya.
Di
ambang batas antara hidup dan mati, tepat saat degup jantung Ai melemah...
pintu depan rumah tiba-tiba terbuka.
Eric
melangkah
masuk. Di tangan kanannya, ia menggenggam erat beberapa bunga suisen
putih yang baru ia petik sebagai hadiah untuk Ai. Di dalam saku celananya,
terselip beberapa buah kesemek liar yang ia dapatkan dengan susah payah. Ia
pulang membawa harapan untuk melihat senyum adiknya.
Namun,
langkahnya terhenti. Senyum tipis yang sempat terbit di wajahnya serta-merta
lenyap tanpa sisa.
Di
sebelah kanannya, tepat di dekat dinding, Ai sedang meregang nyawa di bawah
cekikan ibu mereka.
Bunga
suisen di tangan Eric seketika terlepas, jatuh berserakan di lantai kayu
yang kotor.
Dunia
Eric mendadak sunyi. Segala rasa sakit dari lebam di tubuhnya mendadak menguap.
Rasa laparnya lenyap. Baginya, wanita yang sedang menindih Ai bukanlah seorang
ibu, melainkan ancaman absolut yang harus segera dimusnahkan.
Mata
Eric menggelap. Dunia yang ia lihat saat itu seakan-akan berwarna merah.
Tanpa
teriakan peringatan atau amarah yang meledak, Eric menerjang maju bak bayangan.
Insting pelindungnya telah sepenuhnya diambil alih oleh insting predator. Ia
menabrak tubuh ibunya dari samping dengan kecepatan yang tak masuk akal,
membuat cengkeraman wanita itu pada leher Ai terlepas seketika.
Sang
ibu terpelanting keras ke lantai. Sebelum wanita itu sempat menyadari apa yang
terjadi atau mengumpat, Eric sudah melompat dan menindih perutnya. Kedua lutut
Eric mengunci pergerakan sisi tubuh ibunya secara mutlak, tidak membiarkannya
meronta.
Mata
wanita itu membelalak; ia terkesiap. "APA—"
DUG!
Suara
benturan tumpul yang memualkan menggema di udara saat Eric membenturkan kepala
ibunya ke lantai kayu dengan keras dan berulang-ulang. Benturan itu sangat cepat,
kuat, dan tak terkendali. Tenaga anak berusia sepuluh tahun itu serasa jauh
lebih kuat daripada seharusnya, seperti dikendalikan oleh monster atau binatang
buas.
“BERHENTI—HENTIKAN—AARRGHH!!!!
HENTI—”
DUAGH!!
Mata
Eric memelotot dan tak berkedip sama sekali. Suara benturan itu sudah terdengar
lebih dari sepuluh kali dan masih terus berlanjut. Sang ibu yang sejak
tadi berteriak dan meronta-ronta kini mulai sulit melakukan semua itu akibat
tenaga sang anak yang sangat kuat. Dia terkunci sepenuhnya. Kepalanya
mulai bocor dan mengeluarkan banyak darah; napasnya terputus-putus. Pandangan
matanya mulai mengabur. Namun, ia bisa melihat dengan jelas mata biru pemangsa
liar di atasnya yang berkilat tajam dan penuh dengan dendam. Anak kecil itu
telah hilang akal. Ekspresinya terlihat seperti air yang tak beriak. Tak
terganggu. Persis seperti mesin penghancur.
Saat
itu, otaknya seolah-olah hanya mengulang kata, “Bunuh. Bunuh. Lenyapkan.”
Setelah
puluhan kali membenturkan kepala ibunya ke lantai, tiba-tiba saja mulut Eric menganga
lebar, rahangnya menegang keras, lalu dengan satu sentakan yang buas, Eric
menancapkan giginya tepat di sisi leher ibunya.
“AAAARGGGHHHHHH!!!!!!!”
Jeritan
sang ibu kontan membelah udara. Eric mengunci rahangnya di sana kuat-kuat.
Gigi-giginya menembus kulit, mengoyak daging, dan merobek pembuluh darah
karotis sang ibu dengan paksa.
Tatkala
Eric menyentakkan kepalanya ke atas, bendungan merah itu seketika pecah.
Darah
panas menyembur dengan sangat deras, menghantam langsung wajah Eric dan meresap
ke dalam kausnya. Semburan pekat berbau karat itu memuncrat liar, melukis
lantai kayu di sekitar mereka. Hujan darah itu juga meluncur jauh hingga mengguyur
kelopak-kelopak bunga suisen putih yang berserakan di lantai. Bunga yang
suci dan murni itu kini tenggelam total dalam warna merah yang amis.
Tubuh
wanita di bawahnya berkelojot hebat. Tangannya menggapai-gapai udara kosong,
mencoba menahan darah yang mustahil dihentikan, sebelum akhirnya jatuh
terkulai. Napasnya terputus dalam bunyi degukan yang mengerikan. Matanya
mendelik kosong ke arah langit-langit.
Hening
kembali merajai ruangan. Hanya tersisa suara tetesan darah yang jatuh ke
lantai.
Eric
menatap pemandangan itu dengan ekspresi yang masih sama. Tak bergetar. Tak
berkedip. Darah kental memenuhi wajah, rambut, leher, kaus, dan menetes dari
dagunya. Ia menatap jasad sang ibu dengan mata birunya yang kini sedalam samudra
di malam hari: tak beriak, tetapi menyimpan kegelapan total. Tak ada
rasa penyesalan di sana; hanya ada kehampaan yang mematikan.
Di
sebelahnya, Ai sedang terbaring lemah. Gadis kecil itu terbatuk-batuk parah,
memegangi lehernya yang memar sambil meraup oksigen dengan rakus. Dari balik
pandangannya yang kabur oleh air mata, Ai menatap horor ke arah sang ibu yang
mati mengenaskan.
Di
tengah lautan darah dan bunga suisen putih yang ternoda itu, Eric mulai
mengedarkan pandangan. Begitu tatapannya sampai di seberang sana, tepatnya di lantai,
ia pun melihat sobekan-sobekan kertas dan amplop yang berceceran.
Otak
Eric langsung mengenali sobekan-sobekan kertas itu.
Ah.
Jadi, itu sebabnya.
Itu
adalah surat dari Ayah yang tiba sekitar dua jam yang lalu, yakni surat
pemutusan uang. Di dalam surat itu, Ayah menulis bahwa ia akan menikah dengan
selingkuhannya dan memutus bantuan finansialnya ke rumah ini. Ia tak mau
bertanggung jawab atas kehidupan Eric dan Ai lagi.
Eric
ingat betul, sebelum pergi mencari kesemek, ia sudah menyelipkan surat itu jauh
ke sudut kolong meja kayu—saat Ibu masih tidur siang—agar Ibu tidak melihatnya.
Ia berharap wanita itu akan terus diam seperti pagi tadi.
Eric
sengaja memilih sudut kolong meja itu karena kamarnya sering kali jadi sasaran
pertama saat Ibu mengamuk. Wanita itu bisa masuk kapan saja untuk menyeret Eric
keluar, melempar barang-barangnya, atau sekadar menggeledah pakaian kotornya. Kalau
ia menaruh surat itu di kamarnya, itu justru tempat yang paling “terduga”.
Namun,
takdir ternyata berkata lain. Entah bagaimana caranya, Ibu bisa menemukan surat
itu. Apakah ada sesuatu yang menggelinding ke kolong meja?
Apakah
guci arak?
Ah. Haha.
Seandainya
Eric tahu bahwa Ibu akan menemukan surat itu, Eric takkan pergi dari rumah. Takdir
memang selalu punya cara untuk menghancurkan mereka. Usaha Eric menunda kiamat
hari ini gagal total.
Tiga
detik kemudian, Eric mulai kembali merasakan beban buah kesemek di saku
celananya. Keadaan saat itu terlihat seperti panggung jagal, tetapi ketimbang
sibuk merenungi dosa, trauma, atau ibunya yang mati, otak Eric yang
sudah bengkok itu justru mem-bypass seluruh realitas brutal di depannya
dan berpikir:
“Ah,
ya. Adikku belum makan.”
******
Entah
sudah berapa lama rintik hujan berjatuhan dari cakrawala. Tetesan-tetesan kecil
itu menghantam helaian bunga-bunga suisen… lalu meluncur jatuh ke
rerumputan di taman.
Eric
berdiri diam menghadap taman itu, membiarkan matanya menatap kosong ke arah
bunga-bunga suisen. Rambut panjangnya lepek oleh hujan, menempel di pipi
dan mengalirkan tetesan air melewati rahang serta lehernya yang berlumuran
darah. Di bawah guyuran itu, sisa-sisa darah dan tanah di tubuh Eric perlahan
luntur. Dari ujung jemarinya, cairan berwarna merah kecokelatan menetes dalam
ritme konstan, lalu jatuh ke rerumputan.
Mayat
Ibu sudah ia kubur di belakang rumah. Beberapa saat yang lalu, Eric menyeret
mayat itu, menggali tanah basah di pekarangan belakang, lalu memasukkannya ke
lubang dengan tanpa ekspresi. Ia seakan-akan mati rasa.
Sementara
itu, di dalam rumah… Ai terbaring tak sadarkan diri di atas lantai yang amis. Shock
yang luar biasa akibat cekikan mematikan dan kengerian yang baru saja
disaksikannya telah memaksa tubuh kecil gadis itu menyerah. Ai jatuh pingsan,
tertidur di tengah sisa kekacauan yang ditinggalkan kakaknya.
Kini,
di bawah langit kelabu itu, dunia bak hanya menyisakan Eric dan suara
derai hujan.
Eric
sudah berdiri diam di taman itu jauh sebelum hujan turun. Taman itu indah, suci
karena warna putihnya suisen, tetapi jarang ada warga desa yang lewat
sana karena letaknya agak jauh dari permukiman.
Tadi,
tanpa sadar… langkah Eric membawanya ke sana.
Ah,
ya.
Mungkin karena mata birunya sempat melihat bunga suisen yang ia jatuhkan
di lantai rumah tadi sudah tenggelam dalam genangan darah.
Harus
diganti.
Wanita
monster itu sudah tidak ada. Ai tidak perlu takut lagi. Tidak perlu ada tubuh
yang luka-luka atau rumah yang terasa seperti neraka lagi.
Mereka
berdua bisa hidup dengan tenang sekarang.
Beberapa
menit telah berlalu. Eric masih tidak bergerak sedikit pun. Ekspresi dan
tatapan matanya masih kosong. Mata birunya tampak semakin dingin di
bawah langit mendung dan guyuran hujan.
Tak
lama kemudian, terdengar suara langkah kaki dari arah belakang. Gesekan sandal
kayu di atas tanah yang basah itu terdengar mendekat perlahan, memecah
kesunyian di antara deru hujan.
Eric
masih tak menoleh. Tak terusik sama sekali oleh bunyi langkah kaki yang
sekarang pelan-pelan berhenti di sebelah kirinya.
“Bunga
yang cantik. Sayangnya, warna putihnya jadi kurang bagus kalau tercampur dengan
warna merah.”
Seorang
pria berambut silver, yang mengenakan kimono putih dengan corak biru,
mulai bersuara. Nada bicaranya terdengar berat, tetapi tenang. Sambil berdiri
di samping Eric, pria itu ikut melemparkan pandangannya ke arah jajaran bunga suisen
yang sedang ditatap oleh anak itu.
Di
bawah payung kuningnya yang bergambar anak kelinci, pria itu tersenyum tipis.
Ia datang ke desa ini untuk membeli jamur koji, tetapi saat mau pulang, hujan
malah turun. Sang penjual mau meminjamkan payung, tetapi beliau hanya memiliki
satu payung, yakni payung milik anak perempuannya yang bergambar anak kelinci pink.
Beberapa
detik pun berlalu. Mereka berdua hanya diam di sana, mendengarkan rintik hujan
yang jatuh menghantam payung.
Namun,
tiba-tiba saja…
…suara
Eric terdengar.
“Mereka
masih berwarna putih.”
Pria
itu, Gin Shuuji, menoleh kepada Eric dan tersenyum kecil.
“Oh.
Apakah karena warna merahnya jatuh ke rerumputan?”
Eric
tidak menjawab.
Gin
pun kembali melemparkan pandangannya ke depan. Menatap jajaran bunga suisen
itu dengan tenang.
Mereka
berdua kembali diam. Berdiri bersisian di tengah guyuran hujan, dalam
keheningan yang entah mengapa terasa penuh oleh kehadiran satu sama
lain.
Detik
demi detik berlalu, hanya menyisakan bunyi hujan yang menghantam payung kuning
itu. Hingga akhirnya, suara Eric terdengar kembali.
Datar,
hampa, dan tanpa emosi setitik pun.
“Aku
baru saja membunuh Ibuku.”
Gin
hanya diam. Dia menunggu Eric menyelesaikan ucapannya.
Jeda
sesaat.
“Kau
terlihat seperti seorang samurai. Bukankah seharusnya kau menghunuskan katanamu
dan memenggalku sekarang?” tanya Eric. Suaranya pelan, tetapi cukup sarkastis.
Gin
kembali tersenyum. “Komentar itu cukup tajam untuk bocah yang sejak tadi tidak
menoleh ke arahku.”
“Aku
bisa mendengar bunyi gesekan katanamu,” balas Eric.
“Membawa
katana bukan berarti aku akan memenggal kepala orang sembarangan, terutama anak
kecil sepertimu,” ujar Gin.
Mereka
berdua lagi-lagi diam.
Tak
lama kemudian… Gin pun bertanya.
“Di
mana adikmu?”
Kelopak
mata Eric sedikit bergetar tatkala mendengar pertanyaan itu. Jemari
tangannya—yang tadi mengalirkan air bercampur darah ke rerumputan—mulai
terkepal.
“Dari
mana
kau tahu bahwa aku memiliki seorang adik?”
Kalimat
itu hampir tak terdengar seperti pertanyaan akibat nada Eric yang tajam.
Gin
pun menghela napas.
“Aku
sering mampir ke sini. Cerita tentang keluargamu tentu sudah sampai ke
telingaku.”
Eric
tertawa kecil. Hambar.
“Ah.
Warga desa yang pura-pura tak tahu kalau kami ada, ya.”
Gin
menoleh. Dia memperhatikan Eric yang ternyata tidak marah; anak itu justru
terlihat sudah terbiasa dan sudah melewati fase ‘muak’.
“Orang-orang
memang sering kali memilih untuk menjadi buta dan tuli agar hidup mereka tetap
nyaman,” balas Gin dengan tenang. “Terlebih, mereka agaknya takut dengan
ibumu.”
“Takut
terhadap wanita itu bukan berarti mereka harus menutup mata terhadap apa yang aku
dan Adikku alami. Anak-anak mereka pun seperti menghindari kami kalau kami
keluar rumah,” jawab Eric.
Gin
kembali menatap ke depan.
“Jadi,
apa yang akan kau lakukan sekarang?” tanya pria itu. “Apakah kau dan adikmu
akan tetap tinggal di sini?”
“Itu
bukan urusanmu,” jawab Eric.
Keheningan
di antara mereka kembali tercipta.
Tak
lama kemudian… bak sebuah sauh kokoh yang mendadak dijatuhkan ke tengah badai,
Gin kembali membuka suara. Ia merangkai kalimatnya dengan rileks, lembut, dan tanpa
paksaan. Namun, anehnya… ada bobot keseriusan yang sangat pekat di
sana.
“Bagaimana
kalau pindah ke Edo?”
Satu
kalimat itu sukses membuat Eric pelan-pelan menoleh ke arah Gin. Anak
kecil yang berlumuran darah, tanah basah, dan air hujan itu tampak
mengernyitkan dahi.
Gin
pun membalas tatapan Eric. Saat itulah… Eric akhirnya melihat wajah pria
berambut silver itu.
Perawakannya
santai, tetapi entah mengapa Eric bisa merasakan kekuatannya. Ia tak terasa
seperti samurai yang biasa Eric lihat.
Orang
ini kuat.
Payung
konyol itu sungguh tak sesuai untuknya.
“Rumahku
ada di Edo,” ujar Gin sambil menatap lurus ke dalam mata biru anak itu. “Aku
punya makanan yang hangat untukmu dan adikmu.”
Eric
diam. Memperhatikan bola mata cokelat milik sang samurai.
“Mungkin
tidak sehangat rumah yang biasa ditinggali oleh keluarga cemara,” lanjut Gin
seraya tersenyum simpul. “Namun, kita bisa saling menjaga.”
Gin
lalu tertawa kecil. “Yah, walaupun rumahku ada barnya, sih.”
Eric
pelan-pelan menghadap ke depan, menatap bunga-bunga suisen itu kembali.
“Pantas saja kau bau sake.”
Gin
kontan membulatkan mata dan mencium-cium kimononya sendiri. Hah? Perasaan
aku tidak minum sama sekali hari ini!
Pria
itu kontan menjawab Eric dengan panik, “H—Hei, tunggu, aku bukan pemabuk, aku
hanya menjual—"
“Iya,
aku tahu,” potong Eric.
Pelan-pelan,
terbit sebuah senyum tipis—sangat tipis—di wajah Eric. Senyum yang
hampir tak terlihat.
‘Aku
tahu kalau kau berbeda dengan wanita itu,’ lanjutnya dalam
hati.
******
6 TAHUN KEMUDIAN
“Kau
yakin mau pergi?” tanya Gin saat duduk bersama Eric di kursi bar yang tinggi,
di depan bar counter.
Eric
Shou yang duduk di hadapannya saat ini bukanlah seorang anak berusia sepuluh
tahun yang berlumuran darah seperti waktu itu. Dia telah tumbuh menjadi seorang
pemuda tampan berusia enam belas tahun yang tubuhnya tinggi dan tegap.
Rambutnya masih sama, panjang dan dikepang satu di belakang. Rahangnya tajam,
hidungnya mancung, dan mata birunya terlihat semakin jernih.
Eric
memakai changsan berwarna krem serta selendang panjang yang terlilit di
lehernya dan jatuh hingga ke punggung lebarnya.
Namun,
satu hal yang baru Gin tahu—sejak tinggal bersama Eric—adalah anak itu ternyata
hobi memberikan senyuman super manis seperti orang paling ramah sedunia,
padahal otaknya sinting. Itu bukan senyuman manis, melainkan senyuman sadis.
Membuat
kesal saja.
“Kau
sudah menanyakan itu ratusan kali.” Eric tersenyum manis. “Tidak bosan?”
Gin
memutar bola matanya. “Hentikan senyummu itu. Gara-gara kau, Ai masih menangis,
tuh, di kamar. Tidakkah ini terlalu cepat untuk kau bertualang?”
“Ini
sudah waktunya,” jawab Eric. “Aku tahu Sayangku sedih, tetapi kalau aku tak
memperkuat diriku sendiri, aku takkan bisa melindunginya. Lagi pula, aku sudah memberitahu
hal ini padamu di hari pertama kita tinggal bersama.”
Gin
mendengkus. “Aku bisa mengajarimu ilmu pedang kalau itu yang kau mau.”
Eric
memiringkan kepalanya, lalu tersenyum manis lagi. “Aku tak mau belajar dari
orang yang rambutnya ikal. Nanti pedangku ikut-ikutan ikal.”
Mata
Gin langsung memelotot. “KAU—”
Eric
masih tersenyum tanpa dosa. Gin lantas memijit keningnya, pusing sendiri
menghadapi bocah berambut vermillion yang tingkahnya di luar nalar ini.
“Tsk. Ya sudah, sekarang katakan padaku ke mana kau akan pergi.”
Mata
Eric membulat polos. Lucu. “Mau tahu saja, sih. Terserahku, dong.”
Emosi
Gin kembali tersulut. Urat-urat di sekitar pelipisnya tampak nyaris mencuat.
“Bagaimana cara kami mencarimu kalau sesuatu yang buruk terjadi, bodoh?! Ai
juga pasti akan merindukanmu!”
Lagi-lagi,
terbit senyuman di wajah tampan Eric. Suara pemuda itu pun terdengar kembali.
Nadanya
santai, ramah, tetapi entah mengapa terdengar dalam. Seluruh
candaan yang sejak tadi ia lontarkan… mendadak turun ke titik nol.
“Tidak
akan
terjadi hal buruk apa pun,” ujarnya. “Selain itu, aku akan datang dari
waktu ke waktu. Aku akan berkunjung saat aku merindukannya.”
Akhirnya,
Gin pun menghela napas. Ia tahu bahwa inilah yang Eric inginkan sejak dahulu;
ia tahu bahwa ia tak bisa lagi menghalangi Eric dengan cara apa pun. Seminggu
yang lalu, Eric sudah mengabari bahwa pemuda itu akan ‘berangkat’ hari ini, kemudian
kabar itu membuat suasana rumah jadi sendu selama seminggu. Ai terus
marah-marah dan menangis karena permohonannya untuk pertama kalinya tidak
dikabulkan oleh Eric. Gin juga berkali-kali meyakinkan Eric untuk tidak pergi
dahulu, tetapi agaknya tekad Eric sudah bulat. Pemuda itu bagai sudah menetapkan
waktu ini sejak bertahun-tahun yang lalu.
Sekitar
sepuluh detik kemudian, dengan berat hati…
Gin
pun berkata.
“Apa
pun yang
kau lakukan di luar sana nantinya…”
Jeda
sejenak.
“…jangan
mati. Jaga dirimu baik-baik. Tetaplah menjadi Eric Shou walaupun
mungkin hanya di hadapan kami. Jadilah kuat, lalu kembalilah ke rumah ini saat
kau merasa sudah cukup kuat untuk berhenti.”
Akhirnya,
Eric tersenyum miring.
Dengan
bersungguh-sungguh, pemuda itu pun menjawab:
“Jaga
duniaku dengan baik, Gin. Aku akan membunuhmu jika kau membuatnya
menangis.” []


No comments:
Post a Comment