Tuesday, April 28, 2026

Princess Yuken (Chapter 5: Serpentine Monster)

 


******

Chapter 5 :

Serpentine Monster

 

******

 

SAAT Kikyo sampai di penginapan, hari sudah malam.

Penginapan Eudora memiliki tiga lantai dan Kikyo menyewa kamar di lantai dua. Bangunan penginapan itu terbuat dari kayu, tidak terlalu mewah, tetapi tidak juga berkualitas rendah. Tempatnya nyaman dan bersih. Bagian lobinya ditata dengan baik hingga terlihat elegan.

Begitu sampai di kamarnya, Kikyo menghidupkan lampu dan langsung disambut oleh kehangatan di kamar itu. Matanya langsung tertuju pada satu titik yang tampak begitu kontras dengan kehidupannya yang biasanya keras dan penuh keringat: sebuah ranjang kanopi yang berdiri megah di tengah ruangan.

Ranjang itu terlihat seperti singgasana bagi siapa saja yang ingin melarikan diri dari kepenatan dunia. Empat tiang kayu berwarna cokelat gelap yang dipoles halus menjulang tinggi, menyangga rangka atas yang dihiasi dengan tirai-tirai sutra berwarna putih gading. Tirai kanopi itu berbahan silky yang sangat lembut, jatuh menjuntai dengan anggun dari rangka atas. Mereka ditata dengan sangat apik; sebagian disampirkan dan diikat longgar pada tiang-tiang ranjang menggunakan tali tambang sutra kecil, sementara sisanya dibiarkan melambai tipis.

Tidak jauh dari ranjang, jendela besar yang menghadap ke arah kota Seiju tertutup oleh gorden yang tak kalah menawan. Gorden tersebut memiliki dua lapis kain; lapisan dalamnya adalah kain vitrase tipis yang sangat transparan, sementara lapisan luarnya adalah kain sutra berat yang warnanya senada dengan tirai ranjang. Ketika angin berembus sedikit dari celah jendela, gorden itu akan berayun pelan.

Bagi Kikyo yang biasanya tidur di atas alas sederhana, melihat kemewahan ranjang dengan tirai-tirai sutra yang jatuh itu membuatnya sempat mematung. Rasanya terlalu indah untuk diduduki oleh seorang pegulat dari Desa Hondae. Akan tetapi, ranjang itu seolah-olah terus memanggilnya, menawarkan kelembutan yang sangat ia butuhkan sebelum kembali berperang besok pagi.

Kikyo menghela napas. Dengan cepat, ia pun meletakkan barang-barangnya dan langsung pergi mandi.

Tidak hanya kamar mandi biasa, Penginapan Eudora juga menyediakan sebuah kolam mandi kecil yang terbuat dari batu. Jadi, jika kau membuka pintu menuju kamar mandi, kau akan mendapati ruangan yang cukup luas: di sebelah kanannya ada bilik (untuk mandi biasa atau buang air) dan di sebelah kirinya ada kolam air panas.

Kolam itu berbentuk bundar, cukup besar untuk empat orang dewasa duduk dengan nyaman di dalamnya, dengan dinding batu yang sudah dihaluskan hingga permukaannya terasa mulus. Di atas permukaan air yang tenang itu, mengambang kelopak-kelopak bunga berwarna merah muda.

Kelopak-kelopak bunga itu seharusnya sudah ‘rusak’ karena semalam Kikyo juga berendam di sana. Namun, mungkin pelayan penginapan kembali meletakkannya saat membersihkan kamar Kikyo. Kelopak-kelopak itu mengambang dengan tenang di atas air, melepaskan aroma bunga yang samar ke udara.

Cahaya lentera di sudut ruangan berpendar dengan warna oranye keemasan yang hangat. Cahaya itu lembut, tidak menyilaukan. Ada bayangan-bayangan panjang yang terlihat di dinding kayu berwarna gelap di sekeliling kolam. Jendela ruangan itu tertutup, tetapi cahaya rembulan masih mampu masuk menembus gordennya. Uap tipis mengepul ke atas dari permukaan kolam, bergerak lambat seperti kabut di pagi hari.

Kikyo melangkah pelan menghampiri kolam itu. Ia memasukkan ujung jempol kakinya untuk merasakan suhu air kolam, lalu setelah yakin, ia pun masuk perlahan.

Ia duduk berselonjor di dalam kolam itu dan punggungnya bersandar pada dinding batu. Rambutnya yang panjang dan berwarna hitam pekat sudah dilepas dari ikatannya; sebagian besar tenggelam di dalam air dan sebagian lagi menempel di punggung dan bahunya yang basah.

Ahh. Lega sekali.

Kikyo sangat lelah. Rasa lelahnya jauh lebih besar daripada ketika ia selesai bertanding gulat. Hal itu tidak mudah diakui, terutama bagi Kikyo yang tubuhnya kuat. Tes hari ini menguras sesuatu yang berbeda dari sekadar tenaga fisik. Ia harus berpikir. Harus mengontrol setiap gerakan tubuhnya. Harus memastikan bahwa setiap ekspresi di wajahnya tidak menunjukkan apa yang sebenarnya ada di kepalanya. Itu lebih melelahkan dengan cara yang tidak bisa dijelaskan.

Kikyo menghela napas panjang, lalu menengadah.

Tiba-tiba, kalimat Ren di pasar tadi kembali terngiang-ngiang di telinga Kikyo.

 

“Sama seperti namanya, raja yang akan kalian layani itu terlihat licin seperti ular, tetapi mampu menyemburkan api.”

 

Tadi sore, saat mendengar kata-kata itu dari mulut Ren, Kikyo mengerutkan dahinya keheranan. Namun, Ren hanya tersenyum miring, lalu berbalik dan berjalan ke arah yang berbeda.

Kikyo mengambil sebuah kelopak bunga, lalu mengangkat tangannya dari dalam air. Dia menatap kelopak bunga itu sebentar, lalu meletakkannya kembali.

Setahu Kikyo—setelah mempelajari banyak hal tentang Seiju—nama raja Seiju adalah Seiryuu. Nyonya Yori pernah bilang kalau dalam aksara kuno Seiju, kata ‘Ryu’ itu berarti naga. Sei sendiri artinya adalah biru.

Kata-kata Ren yang berupa “licin seperti ular, tetapi mampu menyemburkan api” itu persis sekali dengan pengertian seekor naga. Relief di seluruh tembok, menara, benteng, serta gerbang istana Seiju juga bermotif naga.

Namun, apakah karakter sang raja juga seperti seekor naga?

Apa Raja Seiryuu punya hobi melilit orang seperti ular? Atau hobi marah-marah seperti seekor naga yang menyemburkan api? Atau bagaimana?

Ah, tak tahulah.

Mengapa Ren berbicara seperti itu tentang Raja? Dia seolah-olah sudah kenal dekat dengan sang raja. Seperti… sudah tahu banyak. Atau mungkin justru sebaliknya. Mungkin Ren hanya seorang pengembara yang suka politik dan mengomentari tokoh-tokoh penting.

Kikyo menghela napas untuk yang kedua kalinya. Gadis itu hanya memegang satu prinsip: ia tidak harus selalu melihat Raja untuk menyelesaikan misinya. Sesuai perintah dari Hanju, menjadi mata-mata bukan berarti ia harus berdiri tepat di samping takhta sang raja atau melayani keluarga inti yang mungkin intimidatif itu. Menyelinap ke kediaman keluarga yang bukan keluarga inti jauh lebih menguntungkan dan mudah. Lebih sedikit mata yang mengawasi, tetapi lebih banyak celah untuk mencuri dengar. Satu hal yang pasti, ia harus menghindari divisi binatu atau dapur belakang. Dia datang ke Seiju untuk mengumpulkan kepingan rahasia, bukan untuk menghabiskan seluruh sisa usianya dengan memeras pakaian.

"…Ya sudahlah. Tidak perlu berasumsi," ucap Kikyo pelan. Meski pelan, suaranya tetap bergema karena suasana di kolam itu sangat sepi.

Tak lama kemudian, Kikyo berdiri, mengambil handuk yang sudah disiapkan di samping kolam, lalu membungkus tubuhnya dengan handuk itu.

Kikyo berjalan keluar dari area kolam, lalu mulai berpakaian. Ia memakai piama berwarna putih pemberian Yexian, lalu pergi ke ranjang kanopi yang sejak tadi ia dambakan. Ia langsung berbaring dan menarik selimut hingga ke dada.

Beberapa menit kemudian, di bawah cahaya lentera yang mulai meredup dengan sendirinya, Kikyo pun tertidur.

 

******

 

Keesokan harinya, Kikyo kembali datang ke salah satu aula di bagian barat istana, tempat kemarin dia mengikuti tes tata krama. Kemarin, sebelum pulang, Kepala Dayang bilang mereka akan kembali melaksanakan tes selanjutnya di sini.

Hari ini, mereka akan mengikuti tes literasi yang mencakup kosakata dan baca tulis bahasa Seiju. Mereka juga akan dites membaca buku klasik Seiju.

Begitu memasuki aula, di antara kerumunan manusia itu, Kikyo langsung melihat tiga sosok yang sudah ia kenal: Seena, Hari, dan Ruya. Mengapa Ruya masih saja berada di sekitar Seena dan Hari? Apa memang tidak ada peserta lain yang mau menerimanya selain mereka berdua?

Seena melambaikan tangannya dengan riang begitu melihat Kikyo. Gadis berambut pendek itu berdiri di antara Hari dan Ruya. Wajahnya terlihat segar meski ada lingkaran tipis di bawah matanya.

"Kikyo! Di siniii!" seru Seena.

Kikyo mendekati mereka bertiga. Ruya, yang berdiri paling ujung, hanya melirik sekilas ke arah Kikyo sebelum mengalihkan pandangannya ke depan. Tampak sinis seperti biasa.

"Selamat pagi!" sapa Kikyo kepada mereka semua.

"Pagiii!!" balas Seena dengan antusias. "Kau tidur nyenyak tidak semalam? Aku hampir tidak tidur. Aku belajar membaca buku klasik sampai tengah malam, tetapi kemudian aku malah mengantuk dan—"

"Aku juga," potong Hari pelan. Wajah gadis itu tampak sedikit lelah. "Aku takut salah hari ini. Ujian menulis, terutama."

Melihat kekhawatiran teman-temannya, Kikyo pun mencoba mencairkan suasana dengan gaya khasnya. Ia cengar-cengir seraya mengacungkan jempol. "Iya, aku juga takut. Kita lakukan saja semampunya, oke?"

“Hah? Semampunya?”

Seena, Hari, dan Kikyo langsung menatap Ruya secara bersamaan. Itu adalah suara Ruya. Nada bicara gadis itu sarkastis dan tajam, seperti ujung pisau yang baru saja diasah. Ruya menoleh perlahan, menatap mereka bertiga seolah-olah mereka adalah beban kerajaan.

“Kalau dari awal saja sudah berniat ‘semampunya’, seharusnya tidak perlu repot-repot datang ke sini,” komentar Ruya pedas. “Di sini, semua orang bekerja keras sampai melampaui batas mereka demi bisa lulus. Istana Seiju tidak butuh dayang yang hanya mengandalkan keberuntungan.”

Kikyo kontan mengernyitkan dahi. Suasana di antara mereka berempat mendadak sedikit kaku. Seena yang panik langsung menggerakkan tangannya ke kiri dan ke kanan, mencoba untuk menengahi. “Ah—haha… Umm—yang penting kita semua bisa berada di sini dan tidak terlambat! Hehe…”

Hari menghela napas, tahu benar kalau Seena hanya berusaha untuk mencairkan suasana, padahal ucapannya tidak nyambung sama sekali.

Yah, Kikyo sendiri tahu, sih, kalau kata ‘semampunya’ itu terdengar santai. Namun, sebenarnya… itu hanya untuk menenangkan Seena dan Hari. Aslinya, mereka semua berusaha, kok! Kikyo saja belajar berbulan-bulan, berusaha untuk cepat bisa dalam waktu singkat. Hari dan Seena juga belajar sampai susah tidur.

“Aku juga berusaha, kok,” jawab Kikyo. “Apakah maksudmu aku harus belajar sampai mati berdiri?”

Hari melebarkan mata mendengar jawaban Kikyo yang hari ini jauh lebih blak-blakan kepada Ruya. Kemarin, Kikyo mungkin masih menahan diri.

Seena jadi berkeringat dingin.

“T—Teman-teman, sudah, sudah,” ujar Seena gelisah. Dia menengahi Ruya dan Kikyo. “Um—aku juga salah, seharusnya aku tidak mengeluh meskipun aku ketakutan. Aku ketakutan karena dulunya aku hanya budak dan—"

“Oh ya? Berusaha apa?” jawab Ruya pada Kikyo; dia mengacuhkan Seena sepenuhnya. Matanya menatap Kikyo dengan tajam. “Kau tidak terlihat berusaha. Kau seperti tak memiliki beban sedikit pun.”

Hah? Beban apa?

Beban berat seperti Pak Noboru yang Kikyo kalahkan di pertandingan gulat waktu itukah?! Beban macam apa lagi yang lebih berat dari itu?!

Seandainya Ruya tahu bahwa setiap langkah Kikyo di aula ini adalah taruhan nyawa antara dibunuh Seiju atau dipenggal rajanya sendiri, mungkin gadis sombong itu akan pingsan seketika.

Sayangnya, Kikyo tak bisa bilang begitu.

“Baguslah kalau aku terlihat tak memiliki beban,” jawab Kikyo dengan santai, tetapi tajam. “Daripada aku harus terlihat ketus terus sepertimu. Itu hanya akan menambah kerutan di wajahmu sebelum kau resmi jadi dayang.”

Ruya langsung memelototi Kikyo dengan wajah memerah karena marah. “KAU—”

“Selamat pagi, para peserta tes.” Suara lantang dari Kepala Dayang di depan aula seketika membungkam amarah Ruya yang baru saja akan meledak. Semua calon dayang yang ada di sana langsung menghadap ke depan dan membungkuk hormat.

“Selamat pagi, Kepala Dayang!” jawab mereka semua.

Kepala Dayang berdiri tegap di depan aula, kedua tangannya tertaut rapi di depan perut, memberikan kesan otoritas yang tidak bisa dibantah. Tatapannya yang tajam menyapu seluruh ruangan, memastikan tidak ada lagi bisik-bisik atau percikan amarah yang tersisa di antara para peserta, terutama Ruya yang kini hanya bisa menggigit bibir dalamnya dengan geram.

“Terima kasih karena sudah kembali hadir di sini. Hari ini, kita akan melaksanakan tes kedua, yakni tes literasi.” Suara Kepala Dayang bergema kuat di aula yang super besar dan tinggi. “Seorang dayang di Istana Seiju adalah perpanjangan tangan dan telinga dari keluarga kerajaan. Jika kalian tidak mampu membaca situasi, tidak mampu menulis pesan dengan presisi, atau gagal memahami sejarah agung tanah ini, maka kalian tidak lebih dari sekadar beban bagi istana.”

Kikyo baru sadar kalau di depan sana sudah ada banyak kursi dan meja yang disusun rapi. Mereka pasti akan dites di sana.

“Silakan duduk di kursi mana pun yang kalian inginkan,” ujar sang kepala dayang. “Kita akan memulai tes kosakata bahasa Seiju.”

Semua peserta pun langsung berjalan ke depan dan duduk di tempat yang mereka inginkan. Kikyo duduk di area tengah, di antara Ruya dan Seena. Hari duduk di depannya.

Aula yang tadinya bising oleh gesekan kain dan langkah kaki mendadak berubah menjadi sunyi yang menekan. Para dayang junior bergerak dengan gerakan yang sangat sinkron, membagikan lembaran kertas perkamen tebal dan satu set alat tulis di depan masing-masing peserta.

Kikyo menatap kuas bulu di hadapannya. Jari-jarinya yang kasar terasa begitu kaku saat harus memegang gagang kuas yang ramping dan ringan. Ia menarik napas dalam, mencoba mengingat instruksi Nyonya Yori tentang bagaimana menstabilkan pergelangan tangan agar goresan tinta tidak bergetar.

“Waktu dimulai. Silakan tuliskan tiga puluh kosakata dasar protokol istana dalam aksara Seiju kuno,” titah Kepala Dayang dari belakang mimbar.

Suara gesekan kuas di atas kertas mulai terdengar, menyerupai bunyi ulat sutra yang sedang mengunyah daun. Kikyo mulai menggoreskan tinta. Huruf Seiju bukanlah sekadar huruf; mereka adalah rangkaian simbol meliuk-liuk yang menyerupai naga, di mana satu titik yang salah bisa mengubah arti ‘setia’ menjadi ‘berkhianat’.

"Tulisanmu buruk," ucap seseorang di sampingnya dengan pelan, tetapi nadanya sarkastis.

Kikyo tidak menoleh; ia tahu kalau itu adalah Ruya. Ruya mencebikkan bibir, terus meluncurkan serangan mental untuknya.

"Kasar, kaku, dan tidak memiliki jiwa. Goresanmu terlihat seperti cakar ayam yang sedang sekarat. Kau benar-benar berpikir istana akan menerima dayang dengan tulisan seburuk itu?"

Kikyo mengabaikan ucapan Ruya meski rahangnya mengeras. Sialan cewek ini. Awas kau, ya, nanti kuinjak sepatumu.

Kikyo terus menulis. Darah naga... takhta emas... kesetiaan abadi...

Beberapa huruf yang Kikyo tulis terlihat sedikit kaku jika dibandingkan dengan milik peserta lain yang mungkin sudah terbiasa sejak kecil, tetapi setidaknya miliknya masih bisa dibaca dengan jelas. Nyonya Yori sudah memastikan itu.

Kikyo melirik Seena yang duduk di sampingnya. Seena gemetar hebat; tangannya yang memegang kuas itu terlihat goyah. Kikyo ingin sekali memberikan semangat, tetapi gerakannya terbatas oleh aturan ujian yang sangat ketat.

Beberapa menit berlalu… hingga akhirnya tes kosakata itu selesai. Kini, mereka beralih ke tes baca-tulis kalimat kompleks.

“Caramu duduk juga salah,” cemooh Ruya saat Kikyo sedang menulis sebuah kalimat. Nadanya kini terdengar jauh lebih menyebalkan. “Punggungmu terlalu tegap seperti mau menantang berkelahi. Kau tidak terlihat seperti wanita terpelajar. Kau terlihat seperti kuli yang dipaksa memakai gaun. Sangat memalukan.”

Kikyo mengepalkan tangannya dengan kencang. Ia hampir mematahkan kuas yang sedang ia pegang. Sial, kalau tidak sedang berada dalam situasi seperti ini, mungkin ia sudah menarik mulut Ruya sejak tadi.

Raja Zyran memang tak mengancam untuk membunuhnya jika ia gagal. Ancaman pembunuhan itu berlaku apabila ia berkhianat. Namun, tetap saja, siapa yang berani gagal kalau disuruh sang raja?! Apalagi setelah semua bantuan yang diberikan oleh Tuan Jion dan Yexian.

Konsentrasi Kikyo hampir buyar, tetapi ia memaksa matanya untuk tetap tertuju pada kertas itu. Ia tidak boleh terpancing.

Setelah tes menulis, mereka pun dites membaca. Tes itu berlangsung selama dua jam… hingga akhirnya mereka sampai di tes terakhir, yakni tes membaca buku klasik. Berbeda dengan tulisan Seiju biasa, buku klasik biasanya lebih sulit dibaca. Sesi tes ini juga akan mencakup penulisan dan pemahaman buku klasik.

Saat para dayang mengumpulkan lembaran-lembaran tes sebelumnya, Kepala Dayang pun kembali berdiri di depan.

“Terima kasih karena sudah mengikuti tes sebelumnya dengan baik. Sekarang, mari kita mulai tes terakhir untuk hari ini, yakni tes membaca, menulis, dan pemahaman buku klasik Seiju.”

Semua peserta langsung mendengarkan ucapan sang Kepala Dayang dengan saksama.

“Pertama, kami akan membacakan sebuah naskah klasik. Tugas kalian adalah menuliskan kembali apa yang kalian dengar dan memberikan pendapat kalian mengenai esensi dari teks tersebut. Nanti, kalian juga akan dites membaca salah satu buku klasik."

Kikyo meneguk ludah. Tangannya mulai berkeringat. Di sampingnya, Seena tampak pucat, seolah-olah baru saja melihat hantu.

Kepala Dayang kemudian membuka sebuah gulungan tua yang tampak sangat sakral. Ia baru saja mau membaca, tetapi tiba-tiba…

 

…pintu ganda raksasa di belakang sana mulai terbuka.

 

Suara terbukanya pintu itu terdengar kencang, membuat semua orang spontan menoleh ke belakang.

Setelah itu, terdengarlah sebuah pemberitahuan lantang.

 

“Putri Jia telah hadir!”

 

Diiringi oleh barisan dayang senior, sesosok perempuan muda mulai melangkah masuk.

Semua orang di aula langsung menahan napas. Banyak peserta yang melebarkan mata dan menutup mulut mereka karena kagum sekaligus tak menyangka.

Kikyo mengedipkan matanya berkali-kali. Dia seperti terpaku di tempat.

 

Rambut merah muda.

Pakaiannya dominan berwarna cerah.

Diiringi dayang-dayang.

Putri Jia…

 

Ya, Kikyo ingat! Nyonya Yori pernah memberitahunya soal ini. Rambut merah muda. Indah. Satu-satunya di Seiju, Hanju, dan Byeolju.

Wah. Inilah sosok Putri Jia.

Adik kandung dari Raja Seiryuu.

Hal yang membuat Kikyo mulai melebarkan mata adalah sikap Putri Jia yang ternyata benar-benar di luar ekspektasinya. Ia kira anggota keluarga kerajaan Seiju akan terlihat mengintimidasi. Namun, sang putri sama sekali tidak terlihat kaku atau menakutkan. Ia mengenakan pakaian sutra yang sangat indah, perpaduan warna putih bersih di bagian dalam dan balutan warna merah muda yang lembut di bagian luar. Di bagian dadanya terdapat ornamen logam keemasan serta mutiara-mutiara cantik berukuran besar. Di lehernya yang jenjang, melingkar sebuah kalung perak bermotif bunga yang mungil dan anggun.

Rambut Putri Jia panjang menjuntai dengan warna merah muda yang sangat indah. Rambut itu ditata dengan jepitan bunga-bunga mekar yang juga berwarna merah muda di kedua sisi kepalanya, lengkap dengan ornamen gantung berumbai putih yang bergemerincing pelan setiap kali ia melangkah.

Alih-alih masuk dengan wajah dingin yang menuntut orang untuk bersujud ketakutan, Putri Jia justru menyapu lautan peserta ujian dengan senyum manis dan ekspresi yang ceria. Semua orang langsung menundukkan kepala. Sepasang mata sang putri yang besar dan berwarna ungu lilac itu memancarkan binar kelembutan sekaligus spontanitas yang terasa begitu hidup. Ia melangkah dengan santai menuju ke kursi kehormatan di depan sana—di sebelah kursi Kepala Dayang—sambil memancarkan energi ceria yang kontras dengan suasana tes saat ini.

Kepala Dayang sebenarnya tidak heran, sih, soalnya Putri Jia memang sering iseng melihat tes para calon dayang. Dari tahun ke tahun, Putri Jia sering secara acak masuk ke aula-aula tertentu dan di sesi-sesi tertentu. Kadang dia masuk saat tes tata krama, kadang dia masuk saat tes menyulam, dan sebagainya. Dia hanya mau menonton… dan kalau menemukan seseorang yang menarik, biasanya dia akan merekrut orang itu. Namun, beberapa tahun belakangan, sang Putri belum tertarik kepada siapa pun.

Ruya lantas tersenyum lebar. Gadis itu merapikan rambut dan pakaiannya, lalu duduk seelegan mungkin. Semangatnya langsung berkobar saat melihat Putri Jia mengunjungi aula mereka. Semoga saja Putri Jia tertarik padanya!

Setelah suasana kembali tenang, Kepala Dayang pun mulai berbicara.

"Apa yang akan kalian dengar setelah ini adalah catatan yang usianya jauh lebih tua dari Kerajaan Seiju sendiri. Ini adalah legenda yang menjadi fondasi dari seluruh sistem kepercayaan dan kekuasaan di tanah Haewa. Dengarkan baik-baik,” ujar Kepala Dayang. Suaranya besar dan mendominasi. "karena sejarah ini adalah dasar dari keberadaan kita."

Beliau pun mulai membacakan legenda itu secara utuh, sesuai dengan naskah asli yang menjadi fondasi kedaulatan Seiju.

“Di masa purba, saat Haewa masih merupakan satu wilayah super besar yang diberkati kemakmuran tanpa batas, hiduplah garis keturunan penakluk naga. Keluarga ini dianugerahi kekuatan mutlak untuk menundukkan para naga dan mengikat kesetiaan mereka. Namun, seiring bergulirnya waktu, garis keturunan itu menyusut hingga hanya menyisakan seorang pemuda bungsu. Dengan keluarganya yang telah lama tiada, ia menjadi pewaris tunggal dari kekuatan luar biasa tersebut, memikul takdir yang berat agar darah para penakluk tidak lenyap dari muka bumi.”

Kepala Dayang menarik napas panjang. Suaranya mampu menghipnotis setiap pendengarnya.

"Suatu hari, pemuda penakluk naga itu pergi ke sebuah gunung tinggi yang dihuni oleh naga terkuat, yakni Naga Merah. Ia pun mengajak naga tersebut untuk berduel. Pertarungan yang terjadi sangatlah brutal; ia terluka parah, tetapi karena tak ingin menyerah, ia pun berhasil menaklukkan naga itu. Tawanya menggelegar—seakan-akan mampu menggores langit—tatkala ia sadar bahwa Naga Merah yang legendaris itu telah ia kalahkan.”

“Naga Merah pun tunduk padanya. Hal itu membuat sang pemuda resmi menjadi penakluk naga terkuat yang pernah ada. Sayangnya, kekuatan besar itu justru melahirkan kesombongan yang merusak jiwanya. Ia jadi bersikap seenaknya. Ia menggunakan koleksi naga yang ia miliki untuk menghancurkan desa-desa serta siapa pun yang berani menentang keinginannya."

Kikyo mendengarkan legenda itu dengan saksama. Ia sudah tahu legenda ini dari sesi-sesi belajarnya, tetapi hingga kini… ia masih punya pertanyaan mengenai legenda itu. Sebulan yang lalu, Nyonya Yori menghukumnya selama satu jam—ia disuruh berjalan elegan dengan buku di atas kepala—karena menanyakan pertanyaan itu.

Sang kepala dayang pun melanjutkan, "Suatu hari, saat sang pemuda tengah menghancurkan sebuah desa, masyarakat di desa itu mulai memperingatinya. Mereka berkata, ‘Kalau kau terus-menerus bertindak semaumu, Raja atau Putra Mahkota akan datang mengadilimu!’”

“Dengan sombong, sang pemuda menjawab bahwa ia tak takut pada siapa pun, termasuk pada Putra Mahkota yang seumuran dengannya. Akhirnya, berita ini pun sampai ke istana. Sang pemuda lantas dipanggil untuk menghadap Putra Mahkota. Ia datang dengan angkuh dan penuh percaya diri. Senyumnya melebar, tak sabar ingin menantang Putra Mahkota berduel. Dia akan mengeluarkan naga-naga terkuat miliknya untuk menunjukkan dominasinya."

Suara Kepala Dayang kini merendah, memberikan penekanan pada bagian yang paling sakral.

"Namun, tepat saat duel dimulai, sebuah keajaiban besar terjadi. Naga-naga milik pemuda itu tiba-tiba berhenti bergerak. Mereka tidak lagi menyerang; sebaliknya, mereka mulai berbicara dengan suara yang menggetarkan bumi. Di hadapan Putra Mahkota, naga-naga perkasa itu bersujud. Menundukkan kepala mereka hingga menyentuh tanah."

Kepala Dayang mulai membacakan bagian identitas yang paling rahasia:

“Ratusan naga itu lalu berkata serempak: 'Sujudlah, karena pemuda ini adalah keturunan agung dari leluhur kami. Ia adalah pewaris murni yang terlahir dalam rupa manusia untuk memandu dunia ini menuju kejayaannya.'

“Detik itu juga, terbukalah rahasia paling purba yang pernah terkubur. Naga-naga itu mengungkapkan bahwa garis darah mereka bermula dari satu entitas tunggal: sang Siluman Naga. Makhluk agung itu melahirkan dua jenis keturunan: sebagian tetap berada dalam rupa naga yang perkasa… dan sebagian lagi terlahir sebagai manusia.”

“Di antara keduanya, mereka yang berwujud manusialah yang dianggap sebagai puncak kesempurnaan. Sebab mereka tidak hanya memiliki kekuatan destruktif seekor naga, tetapi juga dianugerahi emosi, akal, dan kebijaksanaan manusia yang mampu mengendalikan kekuatan tersebut. Itulah alasan mengapa di hadapan Putra Mahkota, para naga tidak hanya melihat seorang penguasa, tetapi melihat kemuliaan yang jauh melampaui eksistensi mereka sendiri."

Semua orang di aula terdiam seribu bahasa. Mereka merinding mendengar cerita itu meskipun sebenarnya itu adalah cerita yang sudah tidak asing lagi. Sang kepala dayang membacakan legenda itu dengan sangat baik. Dia sangat menjiwai; intonasinya luar biasa.

“Sang penakluk naga, yang sebelumnya berdiri tegap dengan kesombongan yang melangit, kini jatuh terduduk. Senjatanya terlepas; harga dirinya runtuh saat melihat naga-naganya sendiri lebih memilih untuk bersujud kepada sang putra mahkota daripada menuruti perintahnya.”

“Dengan kepala yang tertunduk, sang pemuda pun mendekat. Suaranya pecah oleh penyesalan yang mendalam saat ia berkata: 'Hamba telah buta oleh kekuatan. Hamba memohon ampunan atas kelancangan hamba yang berani menantang puncak kesempurnaan. Sebagai penebusan dosa, hamba menawarkan hidup hamba, jiwa hamba, bahkan seluruh garis keturunan hamba setelah ini, untuk menjadi pelayan setia di bawah kaki Anda selamanya.'

“Putra Mahkota tidak membalas dengan amarah. Ia justru melangkah maju dengan penuh wibawa, lalu menatap pria yang kini menyerahkan segalanya itu. Dengan suara yang tenang, ia pun memberikan titahnya: 'Bangunlah. Simpan semua penyesalanmu. Gunakanlah kekuatanmu—atau naga-naga yang sudah kau taklukkan itu—untuk berbuat baik di tanah ini. Aku akan memanggilmu saat Aku membutuhkanmu.'

“Perjanjian itu pun terukir di udara. Pemuda itu bangkit, bukan lagi sebagai penakluk naga yang angkuh, melainkan sebagai bayang-bayang setia yang terikat kontrak abadi dengan Putra Mahkota. Sebuah janji yang terus mengalir dalam darah keturunannya hingga beribu-ribu tahun kemudian.”

Setelah legenda dibacakan, Kepala Dayang pun menggulung kembali naskah kuno itu dengan gerakan perlahan dan penuh hormat. Suasana aula masih diliputi keheningan yang magis.

“Baik. Saya sudah membacakan legenda Haewa,” ujar Kepala Dayang, suaranya memecah keheningan. “Sekarang, ambil kuas kalian. Tuliskan kembali intisari legenda yang baru saja saya bacakan. Tulis dengan presisi; jangan ada satu pun detail sejarah yang diubah atau dikurangi. Waktu kalian hanya sebentar. Mulai!”

Begitu aba-aba diberikan, suara gesekan kuas di atas perkamen kembali memenuhi aula, terdengar lebih terburu-buru dari sebelumnya.

Kikyo menarik napas pendek dan mulai menulis. Otaknya bekerja keras memutar kembali kata demi kata yang baru saja diucapkan oleh sang kepala dayang. Gunung tinggi… Naga Merah… duel… naga-naga bersujud… Pikirannya mencoba fokus pada rentetan peristiwa sejarah itu, mengabaikan fakta bahwa tangannya mulai terasa kebas karena harus terus-menerus memegang kuas dengan sudut yang anggun.

Di sebelah kanannya, Ruya menulis dengan kecepatan yang luar biasa, punggungnya tegak sempurna dan senyum percaya diri tersungging di bibirnya. Gadis itu pasti sudah hafal mati legenda ini, bahkan sebelum Kepala Dayang membacakannya. Sementara itu, di sebelah kiri Kikyo, Seena tampak menggigit bibir bawahnya. Kuasnya gemetar hingga meneteskan sedikit tinta di pinggir perkamen.

Setelah beberapa saat yang terasa sangat menyiksa, Kepala Dayang akhirnya berseru, “Waktu habis. Letakkan kuas kalian!"

Semua peserta serempak meletakkan alat tulis mereka. Beberapa dayang junior dengan sigap berjalan ke sela-sela meja, mengumpulkan gulungan-gulungan perkamen yang baru saja ditulisi oleh para kandidat.

“Sekarang, mari masuk ke tahap terakhir dari tes literasi hari ini," umum Kepala Dayang seraya melangkah ke tengah-tengah aula. Tatapannya kembali menyapu lautan wajah tegang di sekelilingnya. Putri Jia yang duduk di depan sana tampak menopang dagu, memperhatikan prosesi itu dengan mata ungu lilac-nya yang berbinar penuh minat. Agaknya, sang putri benar-benar tertarik melihat bagian ini.

"Istana tidak hanya butuh dayang yang bisa menyalin kata-kata," lanjut Kepala Dayang. "Kami butuh dayang yang memiliki pemikiran dan kebijaksanaan. Aku akan menunjuk beberapa dari kalian secara acak. Sebutkan nama dan nomor peserta kalian terlebih dahulu, lalu sampaikan pendapat kalian mengenai esensi dan makna dari legenda tadi.”

Jantung Kikyo berdegup kencang. Aduh. Sesi tanya jawab acak. Ini selalu menjadi bagian yang paling merepotkan. Kikyo suka ceplas-ceplos, soalnya. Pikirannya suka melanglang buana.

Kepala Dayang menunjuk seorang gadis di barisan depan. “Peserta nomor 142. Silakan.”

Gadis itu berdiri dengan gugup. Ia memberi hormat sejenak sebelum bersuara, “Hamba Miya, peserta nomor 142. Menurut hamba, makna dari legenda tersebut adalah tentang kesetiaan absolut yang harus kita berikan kepada keturunan naga, yakni keluarga kerajaan. Kita tidak boleh sombong karena sehebat apa pun manusia, kita tetaplah pelayan di bawah keagungan raja.”

Kikyo memperhatikan semuanya dengan saksama. Sebenarnya, cerita itu sudah dianggap seperti mitos di masyarakat luas sekarang, tetapi di istana, keluarga kerajaan menganggapnya sebagai sejarah mutlak yang menjadi fondasi dari kekuasaan takhta Seiju. Kikyo tak tahu apakah keluarga kerajaan di Hanju dan Byeolju juga memperlakukan sejarah itu seperti Seiju.

Mendengar jawaban Miya, Kepala Dayang hanya mengangguk kecil tanpa ekspresi, lalu beralih menunjuk peserta lain. "Nomor 109. Giliran Anda."

Salah seorang peserta yang lain berdiri, melakukan gestur hormat yang sama. "Hamba Yura, peserta nomor 109. Pendapat hamba, legenda ini mengajarkan bahwa garis darah sang putra mahkota adalah hukum alam tertinggi yang tidak bisa dibantah. Kita harus mengabdi dengan segenap jiwa."

Pujian demi pujian dilontarkan untuk keluarga kerajaan dan sang putra mahkota di masa lalu. Sangat standar, sangat membosankan, dan sangat... aman. Putri Jia yang mendengarkan jawaban-jawaban itu mulai terlihat sedikit mengantuk; ia memainkan ujung rambut merah mudanya dengan jari.

Hingga akhirnya, mata sang kepala dayang tertuju pada barisan Kikyo.

"Peserta nomor 117. Silakan."

Seena dan Hari serempak menahan napas. Ruya melirik Kikyo dan mulai tersenyum miring, seakan-akan sudah siap melihat Kikyo mempermalukan dirinya sendiri.

 

Ha. Pasti jawabannya tidak masuk akal.

 

Kikyo berdiri perlahan. Kepalanya dipenuhi oleh analisis logika yang memberontak tiap kali ia mendengar legenda tersebut. Nyonya Yori pernah menghukumnya karena hal ini, tetapi entah mengapa, atmosfer ruangan ini—terutama dengan keberadaan Putri Jia yang sedari tadi tampak santai—membuat sifat asli Kikyo meronta-ronta.

Rasanya dia gatal sekali untuk mengonfirmasi sesuatu.

Ah, bodo amatlah! Kan disuruh berpendapat! Semua orang pasti punya pendapat yang berbeda-beda, bukan?

Kikyo merunduk hormat, lalu berbicara, "Hamba Kikyo Hana, peserta nomor 117."

“Kalau boleh berpendapat...” Suara Kikyo terdengar jernih, sangat polos dan dipenuhi dengan rasa heran. “Hamba sejak tadi justru berpikir... bagaimana mungkin naga-naga itu bisa berbicara bahasa manusia?”

Seisi aula seketika hening.

Seena sampai menganga saking kagetnya. Hari memejamkan matanya kuat-kuat, seolah-olah pasrah menunggu petir menyambar teman barunya itu. Ruya menatap Kikyo dengan mata membulat, nyaris tak percaya ada orang sebodoh ini yang berani mempertanyakan logika sejarah sakral kerajaan.

Kikyo melanjutkan kalimatnya dengan wajah tanpa dosa, "Maksud hamba, kucing atau anjing yang hidup puluhan tahun dekat dengan manusia saja tidak bisa berbicara, padahal setiap hari mereka mendengar manusia mengoceh dari pagi sampai malam. Jadi, bagaimana makhluk raksasa sebesar naga bisa tiba-tiba punya pita suara untuk kosakata manusia yang begitu rumit?”

Semua dayang senior tampak menahan napas. Wajah mereka memucat. Sang kepala dayang bahkan sampai mematung. Rasanya bagai ada beban berton-ton yang jatuh dari langit dan menimpa kepalanya.

“Apa mungkin… penakluk naga itulah yang mengajari mereka berbicara?" Kikyo mengusap dagunya, terlihat benar-benar serius memikirkan teori itu. “Kalau hamba bisa bertemu dengan keturunan penakluk naga itu sekarang, hamba juga ingin berguru padanya. Bukan soal bagaimana cara menaklukkan naga, tetapi bagaimana caranya mengajari naga-naga itu berbicara bahasa manusia. Pria itu pasti memiliki kesabaran yang luar biasa.”

Aula itu benar-benar sunyi senyap bak kuburan. Mereka tak percaya ada calon dayang yang berani mempertanyakan keabsahan narasi legenda suci, bahkan membandingkan makhluk agung sekelas naga dengan kucing peliharaan. Legenda sekeren itu malah dipertanyakan logikanya. Cerita naga yang serius itu mendadak jadi terdengar kocak.

Kikyo masih berdiri tegak. Namun, perlahan-lahan… ia menyadari kalau ucapannya mungkin baru saja mengesahkan surat kematiannya sendiri!

Kikyo meneguk ludah. Wajahnya mulai pucat.

 

Mampuuuus! Aku memang ingin bertanya, tetapi mengapa jadi kebablasan begini?!

Siaaall!! Mati! Aku pasti dipenjara atau dibunuh setelah ini. Aku pasti takkan lulus!

Bodooooohh! Kalaupun tidak dibunuh di sini, Raja Zyran pasti akan membunuhku!!

 

Di tengah kesunyian yang tegang dan mencekam itu, tiba-tiba…

 

"Pffft... HAHAHAHAHAHAH!!!!!!"

 

Ada suara tawa yang meledak dengan sangat kencang dari arah depan aula. Tawa itu sama sekali tak terkendali. Seperti seseorang yang sudah menahan diri sejak beberapa saat yang lalu dan akhirnya menyerah sepenuhnya. Semua orang seketika menoleh ke arah yang sama, termasuk Kikyo.

Napas Kikyo tertahan. Matanya kontan melebar saat ia akhirnya melihat dengan jelas siapa sosok yang kini sedang tertawa seraya memegangi perutnya di depan sana. []

 













******







Putri Jia








No comments:

Post a Comment

Princess Yuken (Chapter 5: Serpentine Monster)

  ****** Chapter 5 : Serpentine Monster   ******   SAAT Kikyo sampai di penginapan, hari sudah malam. Penginapan Eudora memiliki...