Chapter
5 :
Serpentine
Monster
******
SAAT
Kikyo
sampai di penginapan, hari sudah malam.
Penginapan
Eudora memiliki tiga lantai dan Kikyo menyewa kamar di lantai dua. Bangunan
penginapan itu terbuat dari kayu, tidak terlalu mewah, tetapi tidak juga
berkualitas rendah. Tempatnya nyaman dan bersih. Bagian lobinya ditata dengan
baik hingga terlihat elegan.
Begitu
sampai di kamarnya, Kikyo menghidupkan lampu dan langsung disambut oleh
kehangatan di kamar itu. Matanya langsung tertuju pada satu titik yang tampak
begitu kontras dengan kehidupannya yang biasanya keras dan penuh keringat:
sebuah ranjang kanopi yang berdiri megah di tengah ruangan.
Ranjang
itu terlihat seperti singgasana bagi siapa saja yang ingin melarikan diri dari
kepenatan dunia. Empat tiang kayu berwarna cokelat gelap yang dipoles halus
menjulang tinggi, menyangga rangka atas yang dihiasi dengan tirai-tirai sutra
berwarna putih gading. Tirai kanopi itu berbahan silky yang sangat
lembut, jatuh menjuntai dengan anggun dari rangka atas. Mereka ditata dengan
sangat apik; sebagian disampirkan dan diikat longgar pada tiang-tiang ranjang
menggunakan tali tambang sutra kecil, sementara sisanya dibiarkan melambai
tipis.
Tidak
jauh dari ranjang, jendela besar yang menghadap ke arah kota Seiju tertutup
oleh gorden yang tak kalah menawan. Gorden tersebut memiliki dua lapis kain;
lapisan dalamnya adalah kain vitrase tipis yang sangat transparan,
sementara lapisan luarnya adalah kain sutra berat yang warnanya senada dengan
tirai ranjang. Ketika angin berembus sedikit dari celah jendela, gorden itu
akan berayun pelan.
Bagi
Kikyo yang biasanya tidur di atas alas sederhana, melihat kemewahan ranjang
dengan tirai-tirai sutra yang jatuh itu membuatnya sempat mematung. Rasanya
terlalu indah untuk diduduki oleh seorang pegulat dari Desa Hondae. Akan tetapi,
ranjang itu seolah-olah terus memanggilnya, menawarkan kelembutan yang sangat
ia butuhkan sebelum kembali berperang besok pagi.
Kikyo
menghela napas. Dengan cepat, ia pun meletakkan barang-barangnya dan langsung
pergi mandi.
Tidak
hanya kamar mandi biasa, Penginapan Eudora juga menyediakan sebuah kolam mandi
kecil yang terbuat dari batu. Jadi, jika kau membuka pintu menuju kamar mandi,
kau akan mendapati ruangan yang cukup luas: di sebelah kanannya ada bilik
(untuk mandi biasa atau buang air) dan di sebelah kirinya ada kolam air panas.
Kolam
itu berbentuk bundar, cukup besar untuk empat orang dewasa duduk dengan nyaman
di dalamnya, dengan dinding batu yang sudah dihaluskan hingga permukaannya
terasa mulus. Di atas permukaan air yang tenang itu, mengambang kelopak-kelopak
bunga berwarna merah muda.
Kelopak-kelopak
bunga itu seharusnya sudah ‘rusak’ karena semalam Kikyo juga berendam di sana.
Namun, mungkin pelayan penginapan kembali meletakkannya saat membersihkan kamar
Kikyo. Kelopak-kelopak itu mengambang dengan tenang di atas air, melepaskan
aroma bunga yang samar ke udara.
Cahaya
lentera di sudut ruangan berpendar dengan warna oranye keemasan yang hangat. Cahaya
itu lembut, tidak menyilaukan. Ada bayangan-bayangan panjang yang terlihat di
dinding kayu berwarna gelap di sekeliling kolam. Jendela ruangan itu tertutup,
tetapi cahaya rembulan masih mampu masuk menembus gordennya. Uap tipis mengepul
ke atas dari permukaan kolam, bergerak lambat seperti kabut di pagi hari.
Kikyo
melangkah pelan menghampiri kolam itu. Ia memasukkan ujung jempol kakinya untuk
merasakan suhu air kolam, lalu setelah yakin, ia pun masuk perlahan.
Ia
duduk berselonjor di dalam kolam itu dan punggungnya bersandar pada dinding
batu. Rambutnya yang panjang dan berwarna hitam pekat sudah dilepas dari
ikatannya; sebagian besar tenggelam di dalam air dan sebagian lagi menempel di
punggung dan bahunya yang basah.
Ahh.
Lega sekali.
Kikyo
sangat lelah. Rasa lelahnya jauh lebih besar daripada ketika ia selesai
bertanding gulat. Hal itu tidak mudah diakui, terutama bagi Kikyo yang tubuhnya
kuat. Tes hari ini menguras sesuatu yang berbeda dari sekadar tenaga fisik. Ia
harus berpikir. Harus mengontrol setiap gerakan tubuhnya. Harus memastikan
bahwa setiap ekspresi di wajahnya tidak menunjukkan apa yang sebenarnya ada di
kepalanya. Itu lebih melelahkan dengan cara yang tidak bisa dijelaskan.
Kikyo
menghela napas panjang, lalu menengadah.
Tiba-tiba,
kalimat Ren di pasar tadi kembali terngiang-ngiang di telinga Kikyo.
“Sama
seperti namanya, raja yang akan kalian layani itu terlihat licin seperti ular,
tetapi mampu menyemburkan api.”
Tadi
sore, saat mendengar kata-kata itu dari mulut Ren, Kikyo mengerutkan dahinya
keheranan. Namun, Ren hanya tersenyum miring, lalu berbalik dan berjalan ke
arah yang berbeda.
Kikyo
mengambil sebuah kelopak bunga, lalu mengangkat tangannya dari dalam air. Dia
menatap kelopak bunga itu sebentar, lalu meletakkannya kembali.
Setahu
Kikyo—setelah mempelajari banyak hal tentang Seiju—nama raja Seiju adalah Seiryuu.
Nyonya Yori pernah bilang kalau dalam aksara kuno Seiju, kata ‘Ryu’ itu berarti
naga. Sei sendiri artinya adalah biru.
Kata-kata
Ren yang berupa “licin seperti ular, tetapi mampu menyemburkan api” itu
persis sekali dengan pengertian seekor naga. Relief di seluruh tembok,
menara, benteng, serta gerbang istana Seiju juga bermotif naga.
Namun,
apakah karakter sang raja juga seperti seekor naga?
Apa
Raja Seiryuu punya hobi melilit orang seperti ular? Atau hobi marah-marah
seperti seekor naga yang menyemburkan api? Atau bagaimana?
Ah,
tak tahulah.
Mengapa
Ren berbicara seperti itu tentang Raja? Dia seolah-olah sudah kenal dekat
dengan sang raja. Seperti… sudah tahu banyak. Atau mungkin justru
sebaliknya. Mungkin Ren hanya seorang pengembara yang suka politik dan
mengomentari tokoh-tokoh penting.
Kikyo
menghela napas untuk yang kedua kalinya. Gadis itu hanya memegang satu prinsip:
ia tidak harus selalu melihat Raja untuk menyelesaikan misinya. Sesuai perintah
dari Hanju, menjadi mata-mata bukan berarti ia harus berdiri tepat di samping
takhta sang raja atau melayani keluarga inti yang mungkin intimidatif itu.
Menyelinap ke kediaman keluarga yang bukan keluarga inti jauh lebih
menguntungkan dan mudah. Lebih sedikit mata yang mengawasi, tetapi lebih banyak
celah untuk mencuri dengar. Satu hal yang pasti, ia harus menghindari divisi
binatu atau dapur belakang. Dia datang ke Seiju untuk mengumpulkan kepingan
rahasia, bukan untuk menghabiskan seluruh sisa usianya dengan memeras pakaian.
"…Ya
sudahlah. Tidak perlu berasumsi," ucap Kikyo pelan. Meski pelan, suaranya tetap
bergema karena suasana di kolam itu sangat sepi.
Tak
lama kemudian, Kikyo berdiri, mengambil handuk yang sudah disiapkan di samping
kolam, lalu membungkus tubuhnya dengan handuk itu.
Kikyo
berjalan keluar dari area kolam, lalu mulai berpakaian. Ia memakai piama
berwarna putih pemberian Yexian, lalu pergi ke ranjang kanopi yang sejak tadi
ia dambakan. Ia langsung berbaring dan menarik selimut hingga ke dada.
Beberapa
menit kemudian, di bawah cahaya lentera yang mulai meredup dengan sendirinya,
Kikyo pun tertidur.
******
Keesokan
harinya, Kikyo kembali datang ke salah satu aula di bagian barat istana, tempat
kemarin dia mengikuti tes tata krama. Kemarin, sebelum pulang, Kepala Dayang
bilang mereka akan kembali melaksanakan tes selanjutnya di sini.
Hari
ini, mereka akan mengikuti tes literasi yang mencakup kosakata dan baca tulis bahasa
Seiju. Mereka juga akan dites membaca buku klasik Seiju.
Begitu
memasuki aula, di antara kerumunan manusia itu, Kikyo langsung melihat tiga
sosok yang sudah ia kenal: Seena, Hari, dan Ruya. Mengapa Ruya masih saja
berada di sekitar Seena dan Hari? Apa memang tidak ada peserta lain yang mau
menerimanya selain mereka berdua?
Seena
melambaikan tangannya dengan riang begitu melihat Kikyo. Gadis berambut pendek
itu berdiri di antara Hari dan Ruya. Wajahnya terlihat segar meski ada
lingkaran tipis di bawah matanya.
"Kikyo!
Di siniii!" seru Seena.
Kikyo
mendekati mereka bertiga. Ruya, yang berdiri paling ujung, hanya melirik
sekilas ke arah Kikyo sebelum mengalihkan pandangannya ke depan. Tampak sinis
seperti biasa.
"Selamat
pagi!" sapa Kikyo kepada mereka semua.
"Pagiii!!"
balas Seena dengan antusias. "Kau tidur nyenyak tidak semalam? Aku hampir
tidak tidur. Aku belajar membaca buku klasik sampai tengah malam, tetapi
kemudian aku malah mengantuk dan—"
"Aku
juga," potong Hari pelan. Wajah gadis itu tampak sedikit lelah. "Aku
takut salah hari ini. Ujian menulis, terutama."
Melihat
kekhawatiran teman-temannya, Kikyo pun mencoba mencairkan suasana dengan gaya
khasnya. Ia cengar-cengir seraya mengacungkan jempol. "Iya, aku juga
takut. Kita lakukan saja semampunya, oke?"
“Hah?
Semampunya?”
Seena,
Hari, dan Kikyo langsung menatap Ruya secara bersamaan. Itu adalah suara
Ruya. Nada bicara gadis itu sarkastis dan tajam, seperti ujung pisau yang baru
saja diasah. Ruya menoleh perlahan, menatap mereka bertiga seolah-olah mereka
adalah beban kerajaan.
“Kalau
dari awal saja sudah berniat ‘semampunya’, seharusnya tidak perlu repot-repot
datang ke sini,” komentar Ruya pedas. “Di sini, semua orang bekerja keras
sampai melampaui batas mereka demi bisa lulus. Istana Seiju tidak butuh dayang
yang hanya mengandalkan keberuntungan.”
Kikyo
kontan mengernyitkan dahi. Suasana di antara mereka berempat mendadak sedikit
kaku. Seena yang panik langsung menggerakkan tangannya ke kiri dan ke kanan,
mencoba untuk menengahi. “Ah—haha… Umm—yang penting kita semua bisa berada di
sini dan tidak terlambat! Hehe…”
Hari
menghela napas, tahu benar kalau Seena hanya berusaha untuk mencairkan suasana,
padahal ucapannya tidak nyambung sama sekali.
Yah,
Kikyo
sendiri tahu, sih, kalau kata ‘semampunya’ itu terdengar santai. Namun,
sebenarnya… itu hanya untuk menenangkan Seena dan Hari. Aslinya, mereka semua
berusaha, kok! Kikyo saja belajar berbulan-bulan, berusaha untuk cepat bisa
dalam waktu singkat. Hari dan Seena juga belajar sampai susah tidur.
“Aku
juga berusaha, kok,” jawab Kikyo. “Apakah maksudmu aku harus belajar sampai
mati berdiri?”
Hari
melebarkan mata mendengar jawaban Kikyo yang hari ini jauh lebih blak-blakan
kepada Ruya. Kemarin, Kikyo mungkin masih menahan diri.
Seena
jadi berkeringat dingin.
“T—Teman-teman,
sudah, sudah,” ujar Seena gelisah. Dia menengahi Ruya dan Kikyo. “Um—aku juga
salah, seharusnya aku tidak mengeluh meskipun aku ketakutan. Aku ketakutan
karena dulunya aku hanya budak dan—"
“Oh
ya?
Berusaha apa?” jawab Ruya pada Kikyo; dia mengacuhkan Seena sepenuhnya. Matanya
menatap Kikyo dengan tajam. “Kau tidak terlihat berusaha. Kau seperti tak
memiliki beban sedikit pun.”
Hah?
Beban apa?
Beban
berat seperti Pak Noboru yang Kikyo kalahkan di pertandingan gulat waktu
itukah?! Beban macam apa lagi yang lebih berat dari itu?!
Seandainya
Ruya tahu bahwa setiap langkah Kikyo di aula ini adalah taruhan nyawa antara
dibunuh Seiju atau dipenggal rajanya sendiri, mungkin gadis sombong itu akan
pingsan seketika.
Sayangnya,
Kikyo tak bisa bilang begitu.
“Baguslah
kalau aku terlihat tak memiliki beban,” jawab Kikyo dengan santai, tetapi
tajam. “Daripada aku harus terlihat ketus terus sepertimu. Itu hanya akan
menambah kerutan di wajahmu sebelum kau resmi jadi dayang.”
Ruya
langsung memelototi Kikyo dengan wajah memerah karena marah. “KAU—”
“Selamat
pagi, para peserta tes.” Suara lantang dari Kepala Dayang
di depan aula seketika membungkam amarah Ruya yang baru saja akan meledak.
Semua calon dayang yang ada di sana langsung menghadap ke depan dan membungkuk
hormat.
“Selamat
pagi, Kepala Dayang!” jawab mereka semua.
Kepala
Dayang berdiri tegap di depan aula, kedua tangannya tertaut rapi di depan
perut, memberikan kesan otoritas yang tidak bisa dibantah. Tatapannya yang
tajam menyapu seluruh ruangan, memastikan tidak ada lagi bisik-bisik atau
percikan amarah yang tersisa di antara para peserta, terutama Ruya yang kini
hanya bisa menggigit bibir dalamnya dengan geram.
“Terima
kasih karena sudah kembali hadir di sini. Hari ini, kita akan melaksanakan tes
kedua, yakni tes literasi.” Suara Kepala Dayang bergema kuat di aula
yang super besar dan tinggi. “Seorang dayang di Istana Seiju adalah
perpanjangan tangan dan telinga dari keluarga kerajaan. Jika kalian tidak mampu
membaca situasi, tidak mampu menulis pesan dengan presisi, atau gagal memahami
sejarah agung tanah ini, maka kalian tidak lebih dari sekadar beban bagi
istana.”
Kikyo
baru sadar kalau di depan sana sudah ada banyak kursi dan meja yang disusun
rapi. Mereka pasti akan dites di sana.
“Silakan
duduk di kursi mana pun yang kalian inginkan,” ujar sang kepala dayang. “Kita
akan memulai tes kosakata bahasa Seiju.”
Semua
peserta pun langsung berjalan ke depan dan duduk di tempat yang mereka
inginkan. Kikyo duduk di area tengah, di antara Ruya dan Seena. Hari duduk di
depannya.
Aula
yang tadinya bising oleh gesekan kain dan langkah kaki mendadak berubah menjadi
sunyi yang menekan. Para dayang junior bergerak dengan gerakan yang sangat
sinkron, membagikan lembaran kertas perkamen tebal dan satu set alat tulis di
depan masing-masing peserta.
Kikyo
menatap kuas bulu di hadapannya. Jari-jarinya yang kasar terasa begitu kaku
saat harus memegang gagang kuas yang ramping dan ringan. Ia menarik napas
dalam, mencoba mengingat instruksi Nyonya Yori tentang bagaimana menstabilkan
pergelangan tangan agar goresan tinta tidak bergetar.
“Waktu
dimulai. Silakan tuliskan tiga puluh kosakata dasar protokol istana dalam
aksara Seiju kuno,” titah Kepala Dayang dari belakang mimbar.
Suara
gesekan kuas di atas kertas mulai terdengar, menyerupai bunyi ulat sutra yang
sedang mengunyah daun. Kikyo mulai menggoreskan tinta. Huruf Seiju bukanlah
sekadar huruf; mereka adalah rangkaian simbol meliuk-liuk yang menyerupai naga,
di mana satu titik yang salah bisa mengubah arti ‘setia’ menjadi ‘berkhianat’.
"Tulisanmu
buruk," ucap seseorang di sampingnya dengan pelan, tetapi nadanya
sarkastis.
Kikyo
tidak menoleh; ia tahu kalau itu adalah Ruya. Ruya mencebikkan bibir, terus
meluncurkan serangan mental untuknya.
"Kasar,
kaku, dan tidak memiliki jiwa. Goresanmu terlihat seperti cakar ayam yang
sedang sekarat. Kau benar-benar berpikir istana akan menerima dayang dengan
tulisan seburuk itu?"
Kikyo
mengabaikan ucapan Ruya meski rahangnya mengeras. Sialan cewek ini. Awas kau,
ya, nanti kuinjak sepatumu.
Kikyo
terus menulis. Darah naga... takhta emas... kesetiaan abadi...
Beberapa
huruf yang Kikyo tulis terlihat sedikit kaku jika dibandingkan dengan milik
peserta lain yang mungkin sudah terbiasa sejak kecil, tetapi setidaknya miliknya
masih bisa dibaca dengan jelas. Nyonya Yori sudah memastikan itu.
Kikyo
melirik Seena yang duduk di sampingnya. Seena gemetar hebat; tangannya yang
memegang kuas itu terlihat goyah. Kikyo ingin sekali memberikan semangat, tetapi
gerakannya terbatas oleh aturan ujian yang sangat ketat.
Beberapa
menit berlalu… hingga akhirnya tes kosakata itu selesai. Kini, mereka beralih
ke tes baca-tulis kalimat kompleks.
“Caramu
duduk juga salah,” cemooh Ruya saat Kikyo sedang menulis sebuah kalimat. Nadanya
kini terdengar jauh lebih menyebalkan. “Punggungmu terlalu tegap seperti mau
menantang berkelahi. Kau tidak terlihat seperti wanita terpelajar. Kau terlihat
seperti kuli yang dipaksa memakai gaun. Sangat memalukan.”
Kikyo
mengepalkan tangannya dengan kencang. Ia hampir mematahkan kuas yang sedang ia
pegang. Sial, kalau tidak sedang berada dalam situasi seperti ini, mungkin ia
sudah menarik mulut Ruya sejak tadi.
Raja
Zyran memang tak mengancam untuk membunuhnya jika ia gagal. Ancaman pembunuhan
itu berlaku apabila ia berkhianat. Namun, tetap saja, siapa yang berani gagal
kalau disuruh sang raja?! Apalagi setelah semua bantuan yang diberikan oleh Tuan
Jion dan Yexian.
Konsentrasi
Kikyo hampir buyar, tetapi ia memaksa matanya untuk tetap tertuju pada kertas
itu. Ia tidak boleh terpancing.
Setelah
tes menulis, mereka pun dites membaca. Tes itu berlangsung selama dua jam…
hingga akhirnya mereka sampai di tes terakhir, yakni tes membaca buku klasik.
Berbeda dengan tulisan Seiju biasa, buku klasik biasanya lebih sulit dibaca.
Sesi tes ini juga akan mencakup penulisan dan pemahaman buku klasik.
Saat
para dayang mengumpulkan lembaran-lembaran tes sebelumnya, Kepala Dayang pun
kembali berdiri di depan.
“Terima
kasih karena sudah mengikuti tes sebelumnya dengan baik. Sekarang, mari kita
mulai tes terakhir untuk hari ini, yakni tes membaca, menulis, dan pemahaman
buku klasik Seiju.”
Semua
peserta langsung mendengarkan ucapan sang Kepala Dayang dengan saksama.
“Pertama,
kami akan membacakan sebuah naskah klasik. Tugas kalian adalah menuliskan
kembali apa yang kalian dengar dan memberikan pendapat kalian mengenai esensi
dari teks tersebut. Nanti, kalian juga akan dites membaca salah satu buku
klasik."
Kikyo
meneguk ludah. Tangannya mulai berkeringat. Di sampingnya, Seena tampak pucat,
seolah-olah baru saja melihat hantu.
Kepala
Dayang kemudian membuka sebuah gulungan tua yang tampak sangat sakral. Ia baru
saja mau membaca, tetapi tiba-tiba…
…pintu
ganda raksasa di belakang sana mulai terbuka.
Suara
terbukanya pintu itu terdengar kencang, membuat semua orang spontan menoleh ke
belakang.
Setelah
itu, terdengarlah sebuah pemberitahuan lantang.
“Putri
Jia telah hadir!”
Diiringi
oleh barisan dayang senior, sesosok perempuan muda mulai melangkah masuk.
Semua
orang di aula langsung menahan napas. Banyak peserta yang melebarkan
mata dan menutup mulut mereka karena kagum sekaligus tak menyangka.
Kikyo
mengedipkan matanya berkali-kali. Dia seperti terpaku di tempat.
Rambut
merah muda.
Pakaiannya
dominan berwarna cerah.
Diiringi
dayang-dayang.
Putri
Jia…
Ya,
Kikyo ingat! Nyonya Yori pernah memberitahunya soal ini. Rambut merah muda. Indah.
Satu-satunya di Seiju, Hanju, dan Byeolju.
Wah.
Inilah
sosok Putri Jia.
Adik
kandung dari Raja Seiryuu.
Hal
yang membuat Kikyo mulai melebarkan mata adalah sikap Putri Jia yang ternyata
benar-benar di luar ekspektasinya. Ia kira anggota keluarga kerajaan Seiju akan
terlihat mengintimidasi. Namun, sang putri sama sekali tidak terlihat kaku atau
menakutkan. Ia mengenakan pakaian sutra yang sangat indah, perpaduan warna
putih bersih di bagian dalam dan balutan warna merah muda yang lembut di bagian
luar. Di bagian dadanya terdapat ornamen logam keemasan serta mutiara-mutiara
cantik berukuran besar. Di lehernya yang jenjang, melingkar sebuah kalung perak
bermotif bunga yang mungil dan anggun.
Rambut
Putri Jia panjang menjuntai dengan warna merah muda yang sangat indah. Rambut
itu ditata dengan jepitan bunga-bunga mekar yang juga berwarna merah muda di
kedua sisi kepalanya, lengkap dengan ornamen gantung berumbai putih yang
bergemerincing pelan setiap kali ia melangkah.
Alih-alih
masuk dengan wajah dingin yang menuntut orang untuk bersujud ketakutan, Putri
Jia justru menyapu lautan peserta ujian dengan senyum manis dan ekspresi yang
ceria. Semua orang langsung menundukkan kepala. Sepasang mata sang putri yang
besar dan berwarna ungu lilac itu memancarkan binar kelembutan sekaligus
spontanitas yang terasa begitu hidup. Ia melangkah dengan santai menuju ke kursi
kehormatan di depan sana—di sebelah kursi Kepala Dayang—sambil memancarkan
energi ceria yang kontras dengan suasana tes saat ini.
Kepala
Dayang sebenarnya tidak heran, sih, soalnya Putri Jia memang sering iseng
melihat tes para calon dayang. Dari tahun ke tahun, Putri Jia sering secara
acak masuk ke aula-aula tertentu dan di sesi-sesi tertentu. Kadang dia masuk
saat tes tata krama, kadang dia masuk saat tes menyulam, dan sebagainya. Dia
hanya mau menonton… dan kalau menemukan seseorang yang menarik, biasanya dia
akan merekrut orang itu. Namun, beberapa tahun belakangan, sang Putri belum
tertarik kepada siapa pun.
Ruya
lantas tersenyum lebar. Gadis itu merapikan rambut dan pakaiannya, lalu duduk
seelegan mungkin. Semangatnya langsung berkobar saat melihat Putri Jia
mengunjungi aula mereka. Semoga saja Putri Jia tertarik padanya!
Setelah
suasana kembali tenang, Kepala Dayang pun mulai berbicara.
"Apa
yang akan kalian dengar setelah ini adalah catatan yang usianya jauh lebih tua
dari Kerajaan Seiju sendiri. Ini adalah legenda yang menjadi fondasi dari
seluruh sistem kepercayaan dan kekuasaan di tanah Haewa. Dengarkan baik-baik,” ujar
Kepala Dayang. Suaranya besar dan mendominasi. "karena sejarah ini adalah
dasar dari keberadaan kita."
Beliau
pun mulai membacakan legenda itu secara utuh, sesuai dengan naskah asli yang
menjadi fondasi kedaulatan Seiju.
“Di
masa purba, saat Haewa masih merupakan satu wilayah super
besar yang diberkati kemakmuran tanpa batas, hiduplah garis keturunan penakluk
naga. Keluarga ini dianugerahi kekuatan mutlak untuk menundukkan para naga dan
mengikat kesetiaan mereka. Namun, seiring bergulirnya waktu, garis keturunan
itu menyusut hingga hanya menyisakan seorang pemuda bungsu. Dengan keluarganya
yang telah lama tiada, ia menjadi pewaris tunggal dari kekuatan luar
biasa tersebut, memikul takdir yang berat agar darah para penakluk tidak lenyap
dari muka bumi.”
Kepala
Dayang menarik napas panjang. Suaranya mampu menghipnotis setiap pendengarnya.
"Suatu
hari, pemuda penakluk naga itu pergi ke sebuah gunung tinggi yang dihuni oleh
naga terkuat, yakni Naga Merah. Ia pun mengajak naga tersebut untuk berduel. Pertarungan
yang terjadi sangatlah brutal; ia terluka parah, tetapi karena tak ingin
menyerah, ia pun berhasil menaklukkan naga itu. Tawanya menggelegar—seakan-akan
mampu menggores langit—tatkala ia sadar bahwa Naga Merah yang legendaris itu
telah ia kalahkan.”
“Naga
Merah pun tunduk padanya. Hal itu membuat sang pemuda resmi menjadi penakluk
naga terkuat yang pernah ada. Sayangnya, kekuatan besar itu justru melahirkan
kesombongan yang merusak jiwanya. Ia jadi bersikap seenaknya. Ia menggunakan koleksi
naga yang ia miliki untuk menghancurkan desa-desa serta siapa pun yang berani
menentang keinginannya."
Kikyo
mendengarkan legenda itu dengan saksama. Ia sudah tahu legenda ini dari
sesi-sesi belajarnya, tetapi hingga kini… ia masih punya pertanyaan mengenai
legenda itu. Sebulan yang lalu, Nyonya Yori menghukumnya selama satu jam—ia
disuruh berjalan elegan dengan buku di atas kepala—karena menanyakan pertanyaan
itu.
Sang
kepala dayang pun melanjutkan, "Suatu hari, saat sang pemuda tengah
menghancurkan sebuah desa, masyarakat di desa itu mulai memperingatinya. Mereka
berkata, ‘Kalau kau terus-menerus bertindak semaumu, Raja atau Putra Mahkota
akan datang mengadilimu!’”
“Dengan
sombong, sang pemuda menjawab bahwa ia tak takut pada siapa pun,
termasuk pada Putra Mahkota yang seumuran dengannya. Akhirnya, berita ini pun
sampai ke istana. Sang pemuda lantas dipanggil untuk menghadap Putra Mahkota.
Ia datang dengan angkuh dan penuh percaya diri. Senyumnya melebar, tak sabar
ingin menantang Putra Mahkota berduel. Dia akan mengeluarkan naga-naga terkuat
miliknya untuk menunjukkan dominasinya."
Suara
Kepala Dayang kini merendah, memberikan penekanan pada bagian yang paling
sakral.
"Namun,
tepat saat duel dimulai, sebuah keajaiban besar terjadi. Naga-naga milik pemuda
itu tiba-tiba berhenti bergerak. Mereka tidak lagi menyerang; sebaliknya,
mereka mulai berbicara dengan suara yang menggetarkan bumi. Di hadapan Putra
Mahkota, naga-naga perkasa itu bersujud. Menundukkan kepala mereka
hingga menyentuh tanah."
Kepala
Dayang mulai membacakan bagian identitas yang paling rahasia:
“Ratusan
naga itu lalu berkata serempak: 'Sujudlah, karena pemuda ini adalah
keturunan agung dari leluhur kami. Ia adalah pewaris murni yang terlahir dalam
rupa manusia untuk memandu dunia ini menuju kejayaannya.'”
“Detik
itu juga, terbukalah rahasia paling purba yang pernah terkubur. Naga-naga itu
mengungkapkan bahwa garis darah mereka bermula dari satu entitas tunggal: sang
Siluman Naga. Makhluk agung itu melahirkan dua jenis keturunan: sebagian tetap
berada dalam rupa naga yang perkasa… dan sebagian lagi terlahir sebagai manusia.”
“Di
antara keduanya, mereka yang berwujud manusialah yang dianggap sebagai puncak
kesempurnaan. Sebab mereka tidak hanya memiliki kekuatan destruktif seekor
naga, tetapi juga dianugerahi emosi, akal, dan kebijaksanaan manusia yang mampu
mengendalikan kekuatan tersebut. Itulah alasan mengapa di hadapan Putra
Mahkota, para naga tidak hanya melihat seorang penguasa, tetapi melihat
kemuliaan yang jauh melampaui eksistensi mereka sendiri."
Semua
orang di aula terdiam seribu bahasa. Mereka merinding mendengar cerita itu
meskipun sebenarnya itu adalah cerita yang sudah tidak asing lagi. Sang kepala dayang
membacakan legenda itu dengan sangat baik. Dia sangat menjiwai; intonasinya
luar biasa.
“Sang
penakluk naga, yang sebelumnya berdiri tegap dengan kesombongan yang melangit,
kini jatuh terduduk. Senjatanya terlepas; harga dirinya runtuh saat melihat
naga-naganya sendiri lebih memilih untuk bersujud kepada sang putra mahkota
daripada menuruti perintahnya.”
“Dengan
kepala yang tertunduk, sang pemuda pun mendekat. Suaranya pecah oleh penyesalan
yang mendalam saat ia berkata: 'Hamba telah buta oleh kekuatan. Hamba
memohon ampunan atas kelancangan hamba yang berani menantang puncak
kesempurnaan. Sebagai penebusan dosa, hamba menawarkan hidup hamba, jiwa hamba,
bahkan seluruh garis keturunan hamba setelah ini, untuk menjadi pelayan setia
di bawah kaki Anda selamanya.'”
“Putra
Mahkota tidak membalas dengan amarah. Ia justru melangkah maju dengan penuh
wibawa, lalu menatap pria yang kini menyerahkan segalanya itu. Dengan suara
yang tenang, ia pun memberikan titahnya: 'Bangunlah. Simpan semua penyesalanmu.
Gunakanlah kekuatanmu—atau naga-naga yang sudah kau taklukkan itu—untuk berbuat
baik di tanah ini. Aku akan memanggilmu saat Aku membutuhkanmu.'”
“Perjanjian
itu pun terukir di udara. Pemuda itu bangkit, bukan lagi sebagai penakluk naga
yang angkuh, melainkan sebagai bayang-bayang setia yang terikat kontrak abadi
dengan Putra Mahkota. Sebuah janji yang terus mengalir dalam darah keturunannya
hingga beribu-ribu tahun kemudian.”
Setelah
legenda dibacakan, Kepala Dayang pun menggulung kembali naskah kuno itu dengan
gerakan perlahan dan penuh hormat. Suasana aula masih diliputi keheningan yang
magis.
“Baik.
Saya sudah membacakan legenda Haewa,” ujar Kepala Dayang, suaranya memecah
keheningan. “Sekarang, ambil kuas kalian. Tuliskan kembali intisari legenda
yang baru saja saya bacakan. Tulis dengan presisi; jangan ada satu pun detail
sejarah yang diubah atau dikurangi. Waktu kalian hanya sebentar. Mulai!”
Begitu
aba-aba diberikan, suara gesekan kuas di atas perkamen kembali memenuhi aula,
terdengar lebih terburu-buru dari sebelumnya.
Kikyo
menarik napas pendek dan mulai menulis. Otaknya bekerja keras memutar kembali
kata demi kata yang baru saja diucapkan oleh sang kepala dayang. Gunung
tinggi… Naga Merah… duel… naga-naga bersujud… Pikirannya mencoba fokus pada
rentetan peristiwa sejarah itu, mengabaikan fakta bahwa tangannya mulai terasa
kebas karena harus terus-menerus memegang kuas dengan sudut yang anggun.
Di
sebelah kanannya, Ruya menulis dengan kecepatan yang luar biasa, punggungnya
tegak sempurna dan senyum percaya diri tersungging di bibirnya. Gadis itu pasti
sudah hafal mati legenda ini, bahkan sebelum Kepala Dayang membacakannya.
Sementara itu, di sebelah kiri Kikyo, Seena tampak menggigit bibir bawahnya. Kuasnya
gemetar hingga meneteskan sedikit tinta di pinggir perkamen.
Setelah
beberapa saat yang terasa sangat menyiksa, Kepala Dayang akhirnya berseru, “Waktu
habis. Letakkan kuas kalian!"
Semua
peserta serempak meletakkan alat tulis mereka. Beberapa dayang junior dengan
sigap berjalan ke sela-sela meja, mengumpulkan gulungan-gulungan perkamen yang
baru saja ditulisi oleh para kandidat.
“Sekarang,
mari masuk ke tahap terakhir dari tes literasi hari ini," umum Kepala
Dayang seraya melangkah ke tengah-tengah aula. Tatapannya kembali menyapu
lautan wajah tegang di sekelilingnya. Putri Jia yang duduk di depan sana tampak
menopang dagu, memperhatikan prosesi itu dengan mata ungu lilac-nya yang
berbinar penuh minat. Agaknya, sang putri benar-benar tertarik melihat bagian
ini.
"Istana
tidak hanya butuh dayang yang bisa menyalin kata-kata," lanjut Kepala
Dayang. "Kami butuh dayang yang memiliki pemikiran dan kebijaksanaan. Aku
akan menunjuk beberapa dari kalian secara acak. Sebutkan nama dan nomor peserta
kalian terlebih dahulu, lalu sampaikan pendapat kalian mengenai esensi dan
makna dari legenda tadi.”
Jantung
Kikyo berdegup kencang. Aduh. Sesi tanya jawab acak. Ini selalu menjadi
bagian yang paling merepotkan. Kikyo suka ceplas-ceplos, soalnya.
Pikirannya suka melanglang buana.
Kepala
Dayang menunjuk seorang gadis di barisan depan. “Peserta nomor 142. Silakan.”
Gadis
itu berdiri dengan gugup. Ia memberi hormat sejenak sebelum bersuara, “Hamba
Miya, peserta nomor 142. Menurut hamba, makna dari legenda tersebut adalah
tentang kesetiaan absolut yang harus kita berikan kepada keturunan naga, yakni
keluarga kerajaan. Kita tidak boleh sombong karena sehebat apa pun manusia,
kita tetaplah pelayan di bawah keagungan raja.”
Kikyo
memperhatikan semuanya dengan saksama. Sebenarnya, cerita itu sudah dianggap
seperti mitos di masyarakat luas sekarang, tetapi di istana, keluarga kerajaan
menganggapnya sebagai sejarah mutlak yang menjadi fondasi dari kekuasaan takhta
Seiju. Kikyo tak tahu apakah keluarga kerajaan di Hanju dan Byeolju juga
memperlakukan sejarah itu seperti Seiju.
Mendengar
jawaban Miya, Kepala Dayang hanya mengangguk kecil tanpa ekspresi, lalu beralih
menunjuk peserta lain. "Nomor 109. Giliran Anda."
Salah
seorang peserta yang lain berdiri, melakukan gestur hormat yang sama.
"Hamba Yura, peserta nomor 109. Pendapat hamba, legenda ini mengajarkan
bahwa garis darah sang putra mahkota adalah hukum alam tertinggi yang tidak
bisa dibantah. Kita harus mengabdi dengan segenap jiwa."
Pujian
demi pujian dilontarkan untuk keluarga kerajaan dan sang putra mahkota di masa
lalu. Sangat standar, sangat membosankan, dan sangat... aman. Putri Jia
yang mendengarkan jawaban-jawaban itu mulai terlihat sedikit mengantuk; ia
memainkan ujung rambut merah mudanya dengan jari.
Hingga
akhirnya, mata sang kepala dayang tertuju pada barisan Kikyo.
"Peserta
nomor 117. Silakan."
Seena
dan Hari serempak menahan napas. Ruya melirik Kikyo dan mulai tersenyum miring,
seakan-akan sudah siap melihat Kikyo mempermalukan dirinya sendiri.
Ha.
Pasti jawabannya tidak masuk akal.
Kikyo
berdiri perlahan. Kepalanya dipenuhi oleh analisis logika yang memberontak tiap
kali ia mendengar legenda tersebut. Nyonya Yori pernah menghukumnya karena hal
ini, tetapi entah mengapa, atmosfer ruangan ini—terutama dengan keberadaan
Putri Jia yang sedari tadi tampak santai—membuat sifat asli Kikyo meronta-ronta.
Rasanya
dia gatal sekali untuk mengonfirmasi sesuatu.
Ah,
bodo amatlah! Kan disuruh berpendapat! Semua orang pasti punya pendapat yang
berbeda-beda, bukan?
Kikyo
merunduk hormat, lalu berbicara, "Hamba Kikyo Hana, peserta nomor
117."
“Kalau
boleh berpendapat...” Suara Kikyo terdengar jernih, sangat polos dan
dipenuhi dengan rasa heran. “Hamba sejak tadi justru berpikir... bagaimana
mungkin naga-naga itu bisa berbicara bahasa manusia?”
Seisi
aula seketika hening.
Seena
sampai menganga saking kagetnya. Hari memejamkan matanya kuat-kuat, seolah-olah
pasrah menunggu petir menyambar teman barunya itu. Ruya menatap Kikyo dengan
mata membulat, nyaris tak percaya ada orang sebodoh ini yang berani
mempertanyakan logika sejarah sakral kerajaan.
Kikyo
melanjutkan kalimatnya dengan wajah tanpa dosa, "Maksud hamba, kucing atau
anjing yang hidup puluhan tahun dekat dengan manusia saja tidak bisa berbicara,
padahal setiap hari mereka mendengar manusia mengoceh dari pagi sampai malam.
Jadi, bagaimana makhluk raksasa sebesar naga bisa tiba-tiba punya pita suara
untuk kosakata manusia yang begitu rumit?”
Semua
dayang senior tampak menahan napas. Wajah mereka memucat. Sang kepala dayang
bahkan sampai mematung. Rasanya bagai ada beban berton-ton yang jatuh dari
langit dan menimpa kepalanya.
“Apa
mungkin… penakluk naga itulah yang mengajari mereka berbicara?" Kikyo
mengusap dagunya, terlihat benar-benar serius memikirkan teori itu. “Kalau
hamba bisa bertemu dengan keturunan penakluk naga itu sekarang, hamba juga
ingin berguru padanya. Bukan soal bagaimana cara menaklukkan naga, tetapi
bagaimana caranya mengajari naga-naga itu berbicara bahasa manusia. Pria itu
pasti memiliki kesabaran yang luar biasa.”
Aula
itu benar-benar sunyi senyap bak kuburan. Mereka tak percaya ada calon dayang
yang berani mempertanyakan keabsahan narasi legenda suci, bahkan membandingkan
makhluk agung sekelas naga dengan kucing peliharaan. Legenda sekeren itu malah
dipertanyakan logikanya. Cerita naga yang serius itu mendadak jadi terdengar kocak.
Kikyo
masih berdiri tegak. Namun, perlahan-lahan… ia menyadari kalau ucapannya
mungkin baru saja mengesahkan surat kematiannya sendiri!
Kikyo
meneguk ludah. Wajahnya mulai pucat.
Mampuuuus!
Aku memang ingin bertanya, tetapi mengapa jadi kebablasan begini?!
Siaaall!!
Mati! Aku pasti dipenjara atau dibunuh setelah ini. Aku pasti takkan lulus!
Bodooooohh!
Kalaupun tidak dibunuh di sini, Raja Zyran pasti akan membunuhku!!
Di
tengah kesunyian yang tegang dan mencekam itu, tiba-tiba…
"Pffft...
HAHAHAHAHAHAH!!!!!!"
Ada
suara tawa yang meledak dengan sangat kencang dari arah depan aula. Tawa itu
sama sekali tak terkendali. Seperti seseorang yang sudah menahan diri sejak
beberapa saat yang lalu dan akhirnya menyerah sepenuhnya. Semua orang seketika
menoleh ke arah yang sama, termasuk Kikyo.
Napas
Kikyo tertahan. Matanya kontan melebar saat ia akhirnya melihat dengan jelas
siapa sosok yang kini sedang tertawa seraya memegangi perutnya di depan sana.
[]

Putri Jia

No comments:
Post a Comment