Sunday, April 5, 2026

Immure (Chapter 5: Numb, Empty)

 


******

Chapter 5 :

Numb, Empty

 

******

 

SAAT matahari terbenam, Yohan pun mengantarkan Hea pulang.

Pemuda itu sempat ragu-ragu ketika melepas Hea keluar dari mobilnya. Berkali-kali ia memegang pergelangan tangan Hea dan menatap Hea dengan tatapan memohon. Seluruh tubuhnya serasa menolak kepergian Hea.

Sebenarnya, penolakan itu adalah reaksi yang tak terhindarkan lagi. Ia sudah terlalu lama merasa frustrasi; ia bisa mati digerogoti rasa bersalah jika menemukan Hea hampir mati sekali lagi. Namun, ia dan Hea sudah sepakat untuk bertemu lagi besok lusa. Hea akan tinggal bersamanya besok lusa.

Artinya, malam ini hingga besok, Hea masih harus berada di dalam neraka itu. Rumah sialan itu.

Yohan sempat hilang kendali dan berkata kalau dia akan membelikan Hea pakaian saja (daripada harus mengambil pakaiannya kembali ke rumah itu), tetapi sayangnya, masalahnya bukan itu.

Ada barang peninggalan ibu Hea di sana. Hea harus mengambil kenang-kenangan itu. Sweater ibu. Syal ibu. Itu adalah barang-barang berharganya. Sisa-sisa kebaikan di rumah itu.

Akhirnya, dengan berat hati, Yohan pun menunduk dan mengalah. Dia pun membiarkan Hea keluar dari mobilnya, tetapi dengan satu syarat.

 

“Bawa boneka kecil ini bersamamu. Setidaknya untuk menemanimu malam ini,” ujarnya.

 

Hea melebarkan mata. Di telapak tangan Yohan, ada sebuah boneka stroberi kecil seukuran gantungan kunci. Boneka stroberi itu memiliki mata dan tersenyum manis.

 

Ah. Ternyata, di dunia ini… Hea masih bisa melihat benda selucu itu.

Kapan terakhir kali Hea melihat boneka, ya?

 

Hea pun menghela napas, tersenyum tipis… lalu mengangguk. Ia pun turun dari mobil Yohan setelah menerima boneka itu dan memasukkannya ke saku gaunnya.

Yohan memperhatikan Hea yang berjalan hingga ke teras rumah, lalu mereka saling mendadahi.

 

“Sampai bertemu lagi, Hea,” katanya.

 

Hea pun mengangguk.

Tak lama kemudian, setelah melihat mobil Yohan pergi menjauh, ia pun menghela napas dan berbalik. Jujur saja, begitu memegang gagang pintu rumah, tangannya bergetar hebat. Jantungnya langsung berdetak kencang.

Ketakutan yang luar biasa mulai menjalar ke sekujur tubuhnya. Otaknya mendadak memperlihatkan beberapa gambar kepadanya; beberapa memori yang muncul secepat kilat, sekilas-sekilas, bagaikan tayangan slide yang terus berganti.

 

Pencabulan yang Daejung dan Ayah lakukan padanya.

Tamparan. Tendangan. Pukulan.

“Pelacur sialan.”

“Tempat pembuangan sperma.”

“ANAK SIALAN!”

“Dasar tolol.”

“Nikmat sekali.”

“LAYANI AKU DAN DAEJUNG DENGAN BAIK!!”

 

Napas Hea langsung sesak. Perutnya bergejolak sampai ia ingin muntah. Tubuhnya langsung berguncang; dia hampir jatuh karena betisnya lemas.

Keringat dingin sebesar biji jagung mulai muncul di pelipisnya.

 

Bagaimana ini?

Apakah mereka ada di dalam?!!

Aku takut. Aku takut. Aku sangat takut.

Aku harus mengambil barang-barangku, tetapi aku takut.

Aku akan disiksa. Aku sudah tidak pulang selama dua hari.

Aku tak mau.

Yohan. Haruskah aku—

Tidak. Yohan sudah pulang.

Yohan sudah melakukan banyak hal. Dia akan muak padaku kalau aku kembali merepotkannya.

Aku harus masuk. Aku harus masuk dan mengambil barang-barangku.

Bukan. Barang-barang Ibu.

 

Untuk yang pertama kalinya—setelah bertahun-tahun—Hea merasakan kecemasan yang luar biasa.

Selama ini, Hea sering merasa seperti cangkang kosong, terdisosiasi ekstrem, terutama saat dia sedang meregang nyawa dan sudah pasrah ingin menyusul ibunya. Pada dasarnya, dia sudah menyerah. Itu seperti mekanisme pertahanan terakhir otaknya saat ia merasa tak ada jalan keluar lagi.

Namun, hari ini… Yohan memberikannya alasan untuk hidup. Yohan berjanji akan melindunginya. Agaknya, kesepakatan itu diam-diam memengaruhi batinnya. Dia jadi punya harapan dan rencana untuk masa depan. Oleh karena itu, insting bertahan hidupnya—yang memicu kecemasan dan teror itu—kembali aktif. Otaknya yang tadinya mati rasa (karena freeze/submit response) mendadak kembali aktif ke mode bertarung atau lari. Insting tubuhnya membunyikan alarm bahaya besar-besaran. Kini, rumah itu bukan lagi “tempat dia mati”, melainkan rintangan mengerikan yang bisa menggagalkan kebebasannya.

Dia takut harapan yang sekecil semut itu hancur begitu saja. Begitu tubuhnya mencicipi kehangatan, kembali ke tempat asal traumanya akan terasa berkali-kali lipat lebih mengerikan. Tubuhnya menolak keras untuk kembali ke neraka setelah sempat mencicipi sedikit surga.

Ironisnya, sekarang, di depan pintu rumah ini… logika Hea menyuruhnya untuk lari kembali ke Yohan. Namun, trauma itu membuatnya merasa tak pantas merepotkan Yohan lagi. Dia merasa harus menghadapi rumah itu sendirian demi mengambil barang-barang ibunya.

Meski tubuhnya bergetar dan lemas bukan kepalang, akhirnya Hea pun mencoba untuk berdiri tegap. Dia menelan getir beserta seluruh rasa takutnya, lalu membuka pintu itu.

 

Tidak apa-apa. Kau sudah sering diperkosa. Kau sudah sering disiksa.

Tidak apa-apa.

Satu hari lagi.

Satu hari lagi, Hea.

Kumohon.

Jangan mati.

Jangan ketahuan.

 

Cklek.

 

Hea mendorong pintu rumah itu ke dalam.

Gelap.

Rumahnya gelap.

 

Ke mana dua orang itu?

 

Tidak. Syukurlah. Setidaknya malam ini Hea tidak akan diper—

 

“Oh, lihat siapa yang baru pulang.”

 

Tubuh Hea spontan mematung.

 

“Sudah berani melacur di luar, huh?”

 

Hea lupa bernapas. Jantungnya bak berhenti berdetak.

Tidak. Setelah ini, dia pasti disiksa. Sebentar lagi, dia pasti akan—

“JAWAB AKU, GADIS JALANG!!!!” teriak ayah Hea dalam kegelapan. Hea tersentak, lalu tiba-tiba rambutnya ditarik. Ia langsung mendongak dan matanya membelalak penuh teror. “GADIS GILA, DI MANA KAU MELAKUKAN SEKS?!! SIAPA YANG MAU MENYETUBUHI VAGINAMU YANG SUDAH RUSAK ITU?!! KAU BERSETUBUH BINAL SEPERTI ANJING, YA?!! DI MANA KAU DUA HARI BELAKANGAN?!!!”

Seperti ada lembing yang menohok dada Hea tatkala mendengar hinaan demi hinaan itu. Vagina rusak. Bersetubuh seperti anjing.

Saking pedihnya hati Hea, mulutnya refleks terbuka dan napasnya terputus-putus. Air matanya keluar tanpa bisa direm, tetapi kelopak matanya terbuka lebar. Lebar sekali seolah-olah ia terkejut menghadapi neraka, padahal ia sudah terbiasa terkena panasnya.

Oh, lihat, betapa berbahayanya sebuah harapan manis.

Ayah Hea langsung menarik paksa Hea—dengan menjambak rambutnya—ke area dinding di belakang pintu.

“AYAH!!! AYA—”

 

Duagh!

 

Mulut Hea seketika berhenti berteriak. Kepalanya dibenturkan ke dinding dengan kuat.

 

Duagh!!!

 

Darah mulai mengucur dari kepala Hea. Tubuh Hea tak lagi punya kendali. Matanya sudah mengabur. Dunia di sekitarnya sejak tadi sudah gelap, tetapi kali ini mulai berbayang-bayang. Kepalanya seakan-akan berputar tanpa henti. Saat ia hampir tumbang ke lantai, ayahnya yang sedang mengamuk itu kembali menyeretnya. Menarik rambutnya hingga ke kamar.

“AYAH—” Hea berhasil menemukan suaranya meskipun kepalanya sakit luar biasa. Tadi, matanya mungkin ikut terbentur, soalnya sekarang ia tak bisa melihat dengan jelas. Ruang tamu yang ia lewati terlihat seperti garis-garis abstrak. “AYAH!! AKU MINTA MAAF, AYAH!! TOLONG! TOLONG, AYAH, AKU TIDAK MELACUR, AKU—”

 

Bugh!!

 

Tubuh Hea langsung terempas ke ujung kamar, menabrak kaki meja. Tendangan ayahnya yang sangat kuat itu membuat Hea langsung membungkuk dan memuntahkan semua isi perutnya. Suara muntahnya bercampur dengan teriakan dan erangan nelangsa, seperti hewan yang sedang sekarat. Matanya yang memelotot itu terus mengeluarkan air mata. Perutnya seperti diperas oleh tangan tak kasat mata, memaksa segala isinya keluar, menyisakan rasa terbakar yang membakar tenggorokan hingga ke ubun-ubun.

Tidak. Jangan. Aku harus menghindar. Aku tak mau mati. Aku tak mau—

 

Bugh!!

Plak!!

 

Pipi Hea ditinju dan ditampar.

 

“JALANG TOLOL!!”

 

Duagh!!

 

Kepala Hea ditendang hingga membentur kaki meja.

“KAU PIKIR SIAPA YANG MEMBERIMU MAKAN?!!” teriak sang ayah. “BUKANNYA DIAM SAJA DI RUMAH, MALAH MELACUR SEPERTI ANJING BINAL!! SUDAH SYUKUR AKU MAU MENGURUSIMU!!! TAHU BEGINI, HARUSNYA KAU MATI SAJA MENYUSUL IBUMU ITU!!”

 

Memberiku makan?

…kapan?

Terakhir kali aku makan adalah beberapa hari yang lalu. Itu adalah makanan sisa waktu mereka memaksaku memasak setelah memerkosaku.

Mati menyusul Ibu?

Bukankah itu yang selalu kuusahakan selama ini?

Bukankah itu justru lebih baik daripada diam di rumah ini?

 

“SINI!!” teriak ayah Hea seraya merobek seluruh pakaian Hea. “KAU MAU JADI ANJING BINAL, HAH? SINI. BIAR AYAHMU YANG MENYODOK VAGINA PELACURMU ITU!!! DASAR ANAK TAK BERGUNA!!!!”

Hea memberontak mati-matian. Dia menendang, mendorong, mencoba untuk merangkak ke samping, tetapi tubuh dan kepalanya terus-menerus dipukul. Kepalan tangan ayahnya itu jauh lebih kuat daripada tubuh lemahnya, terutama dia baru keluar dari rumah sakit. Gaun lusuhnya langsung dilempar sembarangan ke tengah ruangan.

Boneka stroberi pemberian Yohan pun terlepar ke ujung. Menggelinding dan menabrak dinding kamar. Tergeletak dengan malang di sana.

Namun, Hea jelas tak memperhatikan semua itu.

“AYAH, AKU TIDAK MELACUR! AYAAH!!!!! AYAH, AMPUNI AKU!! AKU KEMARIN—”

“DIAM, BANGSAT!!!!”

 

Bugh!!

 

Dengan tinjuan terakhir itu, tubuh Hea pun tersungkur ke lantai sepenuhnya. Kepalanya tertolak ke samping dan pipinya membiru.

Tubuhnya mulai sulit digerakkan. Pandangannya hampir menghitam, bahkan siluet biadab ayahnya tak bisa lagi ia lihat dengan jelas. Yang ia tahu, tubuhnya mulai dibuat tengkurap, lalu bokongnya diangkat ke udara.

 

Setelah itu, dia benar-benar disetubuhi seperti anjing.

 

Mata Hea mulai kembali terlihat seperti mata ikan mati meskipun ada air mata yang mengalir dari sudutnya. Kepala dan hidungnya berdarah.

Tubuh telanjangnya juga merah-merah, sebentar lagi akan membiru seperti wajahnya. Tubuh kurusnya—yang tampak seperti boneka bekas dari tong sampah itu—sedang diperkosa oleh Ayah.

“Oh, nikmat sekali kau, pelacur sialan,” umpat sang ayah. “Kau dengar ini. Sekali lagi kau TIDAK PULANG KE RUMAH HANYA UNTUK MENEMUI PRIA DI LUAR SANA ATAU SIAPA PUN ITU, AKU DAN DAEJUNG AKAN MEMBUNUHNYA!! DASAR ANAK TAK TAHU DIUNTUNG!”

Setelah ‘membuang’ spermanya, sang ayah pun langsung mendorong tubuh Hea dengan kasar, lalu bangkit dan keluar dari kamar.

Namun, begitu punggung Ayah pergi menjauhi kamar, alih-alih disambut oleh kekosongan… Hea justru melihat Daejung di ambang pintu.

Ternyata, pemuda itu sudah berdiri bersandar di sana sejak tadi. Dia menonton semuanya sambil menyeringai. Begitu Ayah keluar, dia pun masuk, menutup pintu, dan berkata:

 

"Sekarang giliranku."

 

Ah.

Haha.

Konyol sekali.

Mereka benar.

Aku memang tolol.

Harapan kecil dari Yohan tak seharusnya membuatku terlena.

Betapa pun hangatnya Yohan,

… seharusnya aku tetap tak terpengaruh.

Duniaku jauh, jauh lebih gelap dan dingin daripada kehangatan Yohan.

Surga kecil itu tak seharusnya membuatku lupa siapa diriku dan dari mana aku berasal.

Penganiayaan ini selalu terjadi. Mengapa aku jadi lemah dan cemas begini?

Terima kasih atas tawaranmu, Yohan.

Sepertinya, aku takkan melihat hari esok.

Sepertinya, aku takkan bisa bertemu denganmu lusa nanti.

Aku lupa bahwa sebenarnya yang menungguku bukanlah harapan,

…melainkan kematian.

Aku sudah hampir mati beberapa hari yang lalu, tetapi mendadak aku lupa bahwa itu sudah menjadi ritual rutinku.

Tolol sekali.

 

******

 

            Sepeninggal Ayah dan Daejung, tubuh Hea terbujur kaku—tengkurap—di kamar itu sendirian.

            Pemerkosaan itu berlangsung entah berapa lama. Sepanjang itu pula, Hea benar-benar terlihat seperti mayat hidup. Matanya membelalak dan tak berkedip. Tubuhnya penuh luka bekas tamparan, cengkeraman, dan tinjuan.

            Di sekitar tubuhnya tersebar muntahan, air liur, dan juga sperma. Dia terlihat sama menjijikkannya dengan ketiga cairan itu.

Bau. Bau sekali.

Semuanya bau, terutama dirinya.

Akan tetapi, meski kepalanya sudah berdarah-darah, rupanya napasnya belum berhenti.

 

Tuhan, mengapa Engkau sekejam ini padaku?!! Mengapa rasanya sulit sekali untuk mati?!!

Apa Engkau senang melihatku menderita?!

Apakah ini hiburan bagi-Mu?!!

 

Mati harusnya tinggal mati. Mati harusnya tak sesulit ini.

Tubuh Hea mulai mati rasa. Dia bak seonggok daging tanpa roh, tetapi masih hidup.

 

Satu menit.

Lima menit.

Sepuluh menit.

 

Akhirnya, Hea teringat sesuatu.

 

Ah.

Iya.

Ayo menuju ke sana.

Ke kematian itu.

 

Meski fungsi tubuhnya seperti tak bekerja, seperti terputus kabelnya, Hea tetap mencoba untuk bergerak. Dari dahulu, kematian memang selalu menjadi motivasi utamanya untuk bergerak.

 Benar. Inilah dunianya.

Surga yang Yohan tunjukkan tadi…

 

…hanyalah ilusi.

 

Perlahan, Hea pun bangkit duduk. Tubuh—terutama kedua kakinya—langsung bergetar hebat. Setengah mati, ia memajukan tubuhnya yang terasa selunak plastisin. Ia meraih asal gaunnya yang usang—yang dirobek Ayah tadi—lalu memakai gaun itu tanpa memedulikan kancingnya yang terlepas.

Setelah itu, ia mulai mencoba untuk berdiri.

Ia jatuh berkali-kali. Tubuhnya tak seimbang. Berat. Lemas.

Seperti bayi.

Namun, bayi… tidak kotor seperti dirinya.

Ia bangkit, jongkok…

 

…dan jatuh lagi.

 

Satu kali.

Dua kali.

Tiga kali.

 

Di kali keempat, ia mulai berhasil berdiri, tetapi kembali terduduk dengan menyedihkan.

Vaginanya sangat sakit.

Namun, seperti tengkorak hidup, ia akhirnya berhasil berdiri setelah mencoba sekitar enam kali.

Setelah itu, ia mulai berjalan tertatih-tatih menuju jendela.

 

Mati.

Mati.

Ayo mati.

 

Hea membuka jendela, memanjat kosen jendela itu, lalu menjatuhkan dirinya ke tanah berumput di luar rumah.

Ia pun mulai melangkah menjauh.

Udara malam itu terasa dingin sekali. Dinginnya menusuk tulang, tetapi Hea tidak menggigil sama sekali. Kulitnya tak merasakan apa pun. Ia terus dan terus berjalan dengan kaki telanjangnya, menyusuri jalanan desa yang gelap gulita. Tatapannya lurus ke depan, menembus kegelapan malam.

Tak lama kemudian, sebuah suara keluar dari bibirnya yang pucat dan kering. Awalnya, suara itu hanya berupa embusan napas singkat, tetapi lama-kelamaan, embusan napas itu…

…berubah menjadi kekehan kecil.

Hingga akhirnya, tawanya pecah.

Hea benar-benar tertawa. Langkah kakinya masih tertatih-tatih, sedikit terseret, tetapi ia terus tertawa di jalanan yang sepi itu. Tawanya semakin lama semakin kencang. Menggema. Memecah kesunyian malam.

Tawa itu sama sekali tidak mengandung kebahagiaan. Itu adalah tawa nestapa dari sebuah kewarasan yang baru saja terputus sepenuhnya. Tawa dari seseorang yang sudah menyerah pada kenyataan bahwa tidak ada tempat baginya di dunia ini.

Seperti sedang menertawakan diri sendiri… yang sempat percaya bahwa surga itu ada.

Tatkala tawa hampa itu menggema semakin keras, ada cahaya lampu mobil yang menyoroti tubuh Hea dari depan. Satu detik setelah itu, terdengarlah suara ban mobil yang bergesekan dengan jalan, berhenti tak jauh di depan Hea.

Pintu pengemudi mobil itu terbuka dengan kasar.

 

"HEA!!!"

 

Oh. Itu suara Yohan.

Namun, Hea tampak tak terganggu. Tatapannya masih kosong; tawanya masih terdengar. Ia bahkan masih berjalan.

Sirkuit otaknya bak sudah rusak total.

Yohan berlari ke arahnya. Wajah pemuda itu tampak tegang; dia panik bukan main. Matanya membeliak ketika melihat Hea yang berjalan terhuyung sambil tertawa mengerikan. Gaun Hea acak-acakan dan robek sana sini. Tubuh gadis itu bergetar, tetapi matanya benar-benar mati.

"HEA?! HEA!!!” teriak Yohan seraya mengguncang bahu Hea. Namun, Hea tidak meresponsnya sama sekali.

“HEA!! Oh, Tuhan…!!" Suara Yohan pecah seketika.

Yohan tak memedulikan apa pun lagi. Pemuda itu langsung merengkuh tubuh kotor Hea ke dalam pelukannya yang hangat dan erat. Memenjarakan tawa sinting itu di dadanya. Tanpa perlu bertanya apa yang terjadi, ia pun langsung menggendong Hea, membawa gadis itu masuk ke mobil, dan membawanya pergi jauh dari sana.

Malam itu, Song Hea telah kehilangan segenap kewarasannya. []

 














******














No comments:

Post a Comment

Immure (Chapter 5: Numb, Empty)

  ****** Chapter 5 : Numb, Empty   ******   SAAT matahari terbenam, Yohan pun mengantarkan Hea pulang. Pemuda itu sempat ragu-ra...