Chapter
5 :
Numb,
Empty
******
SAAT
matahari
terbenam, Yohan pun mengantarkan Hea pulang.
Pemuda
itu sempat ragu-ragu ketika melepas Hea keluar dari mobilnya. Berkali-kali ia
memegang pergelangan tangan Hea dan menatap Hea dengan tatapan memohon. Seluruh
tubuhnya serasa menolak kepergian Hea.
Sebenarnya,
penolakan itu adalah reaksi yang tak terhindarkan lagi. Ia sudah terlalu lama merasa
frustrasi; ia bisa mati digerogoti rasa bersalah jika menemukan Hea hampir mati
sekali lagi. Namun, ia dan Hea sudah sepakat untuk bertemu lagi besok lusa. Hea
akan tinggal bersamanya besok lusa.
Artinya,
malam ini hingga besok, Hea masih harus berada di dalam neraka itu.
Rumah sialan itu.
Yohan
sempat hilang kendali dan berkata kalau dia akan membelikan Hea pakaian saja (daripada
harus mengambil pakaiannya kembali ke rumah itu), tetapi sayangnya, masalahnya
bukan itu.
Ada
barang peninggalan ibu Hea di sana. Hea harus mengambil kenang-kenangan
itu. Sweater ibu. Syal ibu. Itu adalah barang-barang berharganya.
Sisa-sisa kebaikan di rumah itu.
Akhirnya,
dengan berat hati, Yohan pun menunduk dan mengalah. Dia pun membiarkan Hea
keluar dari mobilnya, tetapi dengan satu syarat.
“Bawa
boneka kecil ini bersamamu. Setidaknya untuk menemanimu malam ini,”
ujarnya.
Hea
melebarkan mata. Di telapak tangan Yohan, ada sebuah boneka stroberi kecil
seukuran gantungan kunci. Boneka stroberi itu memiliki mata dan tersenyum
manis.
Ah.
Ternyata, di dunia ini… Hea masih bisa melihat benda selucu itu.
Kapan
terakhir kali Hea melihat boneka, ya?
Hea
pun menghela napas, tersenyum tipis… lalu mengangguk. Ia pun turun dari mobil
Yohan setelah menerima boneka itu dan memasukkannya ke saku gaunnya.
Yohan
memperhatikan Hea yang berjalan hingga ke teras rumah, lalu mereka saling
mendadahi.
“Sampai
bertemu lagi, Hea,” katanya.
Hea
pun mengangguk.
Tak
lama kemudian, setelah melihat mobil Yohan pergi menjauh, ia pun menghela napas
dan berbalik. Jujur saja, begitu memegang gagang pintu rumah, tangannya bergetar
hebat. Jantungnya langsung berdetak kencang.
Ketakutan
yang luar biasa mulai menjalar ke sekujur tubuhnya. Otaknya mendadak
memperlihatkan beberapa gambar kepadanya; beberapa memori yang muncul
secepat kilat, sekilas-sekilas, bagaikan tayangan slide yang terus
berganti.
Pencabulan
yang Daejung dan Ayah lakukan padanya.
Tamparan.
Tendangan. Pukulan.
“Pelacur
sialan.”
“Tempat
pembuangan sperma.”
“ANAK
SIALAN!”
“Dasar
tolol.”
“Nikmat
sekali.”
“LAYANI
AKU DAN DAEJUNG DENGAN BAIK!!”
Napas
Hea langsung sesak. Perutnya bergejolak sampai ia ingin muntah. Tubuhnya
langsung berguncang; dia hampir jatuh karena betisnya lemas.
Keringat
dingin sebesar biji jagung mulai muncul di pelipisnya.
Bagaimana
ini?
Apakah
mereka ada di dalam?!!
Aku
takut. Aku takut. Aku sangat takut.
Aku
harus mengambil barang-barangku, tetapi aku takut.
Aku
akan disiksa. Aku sudah tidak pulang selama dua hari.
Aku
tak mau.
Yohan.
Haruskah aku—
Tidak.
Yohan sudah pulang.
Yohan
sudah melakukan banyak hal. Dia akan muak padaku kalau aku kembali
merepotkannya.
Aku
harus masuk. Aku harus masuk dan mengambil barang-barangku.
Bukan.
Barang-barang Ibu.
Untuk
yang pertama kalinya—setelah bertahun-tahun—Hea merasakan kecemasan yang luar
biasa.
Selama
ini, Hea sering merasa seperti cangkang kosong, terdisosiasi ekstrem, terutama
saat dia sedang meregang nyawa dan sudah pasrah ingin menyusul ibunya. Pada
dasarnya, dia sudah menyerah. Itu seperti mekanisme pertahanan terakhir otaknya
saat ia merasa tak ada jalan keluar lagi.
Namun,
hari ini… Yohan memberikannya alasan untuk hidup. Yohan berjanji akan
melindunginya. Agaknya, kesepakatan itu diam-diam memengaruhi batinnya.
Dia jadi punya harapan dan rencana untuk masa depan. Oleh karena itu, insting
bertahan hidupnya—yang memicu kecemasan dan teror itu—kembali aktif. Otaknya
yang tadinya mati rasa (karena freeze/submit response) mendadak kembali
aktif ke mode bertarung atau lari. Insting tubuhnya membunyikan alarm
bahaya besar-besaran. Kini, rumah itu bukan lagi “tempat dia mati”, melainkan rintangan
mengerikan yang bisa menggagalkan kebebasannya.
Dia
takut harapan yang sekecil semut itu hancur begitu saja. Begitu tubuhnya
mencicipi kehangatan, kembali ke tempat asal traumanya akan terasa berkali-kali
lipat lebih mengerikan. Tubuhnya menolak keras untuk kembali ke neraka setelah
sempat mencicipi sedikit surga.
Ironisnya,
sekarang, di depan pintu rumah ini… logika Hea menyuruhnya untuk lari kembali
ke Yohan. Namun, trauma itu membuatnya merasa tak pantas merepotkan Yohan lagi.
Dia merasa harus menghadapi rumah itu sendirian demi mengambil
barang-barang ibunya.
Meski
tubuhnya bergetar dan lemas bukan kepalang, akhirnya Hea pun mencoba untuk
berdiri tegap. Dia menelan getir beserta seluruh rasa takutnya, lalu membuka
pintu itu.
Tidak
apa-apa. Kau sudah sering diperkosa. Kau sudah sering disiksa.
Tidak
apa-apa.
Satu
hari lagi.
Satu
hari lagi, Hea.
Kumohon.
Jangan
mati.
Jangan
ketahuan.
Cklek.
Hea
mendorong pintu rumah itu ke dalam.
Gelap.
Rumahnya
gelap.
Ke
mana dua orang itu?
Tidak.
Syukurlah. Setidaknya malam ini Hea tidak akan diper—
“Oh,
lihat siapa yang baru pulang.”
Tubuh
Hea spontan mematung.
“Sudah
berani melacur di luar, huh?”
Hea
lupa bernapas. Jantungnya bak berhenti berdetak.
Tidak.
Setelah ini, dia pasti disiksa. Sebentar lagi, dia pasti akan—
“JAWAB
AKU, GADIS JALANG!!!!” teriak ayah Hea dalam kegelapan. Hea
tersentak, lalu tiba-tiba rambutnya ditarik. Ia langsung mendongak dan matanya
membelalak penuh teror. “GADIS GILA, DI MANA KAU MELAKUKAN SEKS?!! SIAPA YANG
MAU MENYETUBUHI VAGINAMU YANG SUDAH RUSAK ITU?!! KAU BERSETUBUH BINAL SEPERTI
ANJING, YA?!! DI MANA KAU DUA HARI BELAKANGAN?!!!”
Seperti
ada lembing yang menohok dada Hea tatkala mendengar hinaan demi hinaan itu. Vagina
rusak. Bersetubuh seperti anjing.
Saking
pedihnya hati Hea, mulutnya refleks terbuka dan napasnya terputus-putus. Air
matanya keluar tanpa bisa direm, tetapi kelopak matanya terbuka lebar. Lebar
sekali seolah-olah ia terkejut menghadapi neraka, padahal ia sudah terbiasa
terkena panasnya.
Oh,
lihat, betapa berbahayanya sebuah harapan manis.
Ayah
Hea langsung menarik paksa Hea—dengan menjambak rambutnya—ke area dinding di
belakang pintu.
“AYAH!!!
AYA—”
Duagh!
Mulut
Hea seketika berhenti berteriak. Kepalanya dibenturkan ke dinding dengan
kuat.
Duagh!!!
Darah
mulai mengucur dari kepala Hea. Tubuh Hea tak lagi punya kendali. Matanya sudah
mengabur. Dunia di sekitarnya sejak tadi sudah gelap, tetapi kali ini mulai berbayang-bayang.
Kepalanya seakan-akan berputar tanpa henti. Saat ia hampir tumbang ke lantai,
ayahnya yang sedang mengamuk itu kembali menyeretnya. Menarik rambutnya hingga
ke kamar.
“AYAH—”
Hea berhasil menemukan suaranya meskipun kepalanya sakit luar biasa. Tadi,
matanya mungkin ikut terbentur, soalnya sekarang ia tak bisa melihat dengan
jelas. Ruang tamu yang ia lewati terlihat seperti garis-garis abstrak. “AYAH!!
AKU MINTA MAAF, AYAH!! TOLONG! TOLONG, AYAH, AKU TIDAK MELACUR, AKU—”
Bugh!!
Tubuh
Hea langsung terempas ke ujung kamar, menabrak kaki meja. Tendangan ayahnya
yang sangat kuat itu membuat Hea langsung membungkuk dan memuntahkan semua isi
perutnya. Suara muntahnya bercampur dengan teriakan dan erangan nelangsa, seperti
hewan yang sedang sekarat. Matanya yang memelotot itu terus mengeluarkan air
mata. Perutnya seperti diperas oleh tangan tak kasat mata, memaksa segala
isinya keluar, menyisakan rasa terbakar yang membakar tenggorokan hingga
ke ubun-ubun.
Tidak.
Jangan. Aku harus menghindar. Aku tak mau mati. Aku tak mau—
Bugh!!
Plak!!
Pipi
Hea ditinju dan ditampar.
“JALANG
TOLOL!!”
Duagh!!
Kepala
Hea ditendang hingga membentur kaki meja.
“KAU
PIKIR SIAPA YANG MEMBERIMU MAKAN?!!” teriak sang ayah. “BUKANNYA DIAM SAJA DI
RUMAH, MALAH MELACUR SEPERTI ANJING BINAL!! SUDAH SYUKUR AKU MAU MENGURUSIMU!!!
TAHU BEGINI, HARUSNYA KAU MATI SAJA MENYUSUL IBUMU ITU!!”
Memberiku
makan?
…kapan?
Terakhir
kali aku makan adalah beberapa hari yang lalu. Itu adalah makanan sisa waktu
mereka memaksaku memasak setelah memerkosaku.
Mati
menyusul Ibu?
Bukankah
itu yang selalu kuusahakan selama ini?
Bukankah
itu justru lebih baik daripada diam di rumah ini?
“SINI!!”
teriak ayah Hea seraya merobek seluruh pakaian Hea. “KAU MAU JADI ANJING BINAL,
HAH? SINI. BIAR AYAHMU YANG MENYODOK VAGINA PELACURMU ITU!!! DASAR ANAK TAK
BERGUNA!!!!”
Hea
memberontak mati-matian. Dia menendang, mendorong, mencoba untuk merangkak ke
samping, tetapi tubuh dan kepalanya terus-menerus dipukul. Kepalan tangan
ayahnya itu jauh lebih kuat daripada tubuh lemahnya, terutama dia baru keluar
dari rumah sakit. Gaun lusuhnya langsung dilempar sembarangan ke tengah
ruangan.
Boneka
stroberi pemberian Yohan pun terlepar ke ujung. Menggelinding dan
menabrak dinding kamar. Tergeletak dengan malang di sana.
Namun,
Hea jelas tak memperhatikan semua itu.
“AYAH,
AKU TIDAK MELACUR! AYAAH!!!!! AYAH, AMPUNI AKU!! AKU KEMARIN—”
“DIAM,
BANGSAT!!!!”
Bugh!!
Dengan
tinjuan terakhir itu, tubuh Hea pun tersungkur ke lantai sepenuhnya. Kepalanya
tertolak ke samping dan pipinya membiru.
Tubuhnya
mulai sulit digerakkan. Pandangannya hampir menghitam, bahkan siluet biadab
ayahnya tak bisa lagi ia lihat dengan jelas. Yang ia tahu, tubuhnya mulai
dibuat tengkurap, lalu bokongnya diangkat ke udara.
Setelah
itu, dia benar-benar disetubuhi seperti anjing.
Mata
Hea mulai kembali terlihat seperti mata ikan mati meskipun ada air mata
yang mengalir dari sudutnya. Kepala dan hidungnya berdarah.
Tubuh
telanjangnya juga merah-merah, sebentar lagi akan membiru seperti wajahnya. Tubuh
kurusnya—yang tampak seperti boneka bekas dari tong sampah itu—sedang diperkosa
oleh Ayah.
“Oh,
nikmat sekali kau, pelacur sialan,” umpat sang ayah. “Kau dengar ini.
Sekali lagi kau TIDAK PULANG KE RUMAH HANYA UNTUK MENEMUI PRIA DI LUAR SANA
ATAU SIAPA PUN ITU, AKU DAN DAEJUNG AKAN MEMBUNUHNYA!! DASAR ANAK TAK TAHU
DIUNTUNG!”
Setelah
‘membuang’ spermanya, sang ayah pun langsung mendorong tubuh Hea dengan kasar,
lalu bangkit dan keluar dari kamar.
Namun,
begitu punggung Ayah pergi menjauhi kamar, alih-alih disambut oleh kekosongan… Hea
justru melihat Daejung di ambang pintu.
Ternyata,
pemuda itu sudah berdiri bersandar di sana sejak tadi. Dia menonton semuanya
sambil menyeringai. Begitu Ayah keluar, dia pun masuk, menutup pintu, dan
berkata:
"Sekarang
giliranku."
Ah.
Haha.
Konyol
sekali.
Mereka
benar.
Aku
memang tolol.
Harapan
kecil dari Yohan tak seharusnya membuatku terlena.
Betapa
pun hangatnya Yohan,
…
seharusnya aku tetap tak terpengaruh.
Duniaku
jauh, jauh lebih gelap dan dingin daripada kehangatan Yohan.
Surga
kecil itu tak seharusnya membuatku lupa siapa diriku dan dari mana aku berasal.
Penganiayaan
ini selalu terjadi. Mengapa aku jadi lemah dan cemas begini?
Terima
kasih atas tawaranmu, Yohan.
Sepertinya,
aku takkan melihat hari esok.
Sepertinya,
aku takkan bisa bertemu denganmu lusa nanti.
Aku
lupa bahwa sebenarnya yang menungguku bukanlah harapan,
…melainkan
kematian.
Aku
sudah hampir mati beberapa hari yang lalu, tetapi mendadak aku lupa bahwa itu
sudah menjadi ritual rutinku.
Tolol
sekali.
******
Sepeninggal Ayah dan Daejung, tubuh Hea
terbujur kaku—tengkurap—di kamar itu sendirian.
Pemerkosaan itu berlangsung entah berapa
lama. Sepanjang itu pula, Hea benar-benar terlihat seperti mayat hidup. Matanya
membelalak dan tak berkedip. Tubuhnya penuh luka bekas tamparan, cengkeraman,
dan tinjuan.
Di sekitar tubuhnya tersebar muntahan,
air liur, dan juga sperma. Dia terlihat sama menjijikkannya dengan ketiga
cairan itu.
Bau.
Bau sekali.
Semuanya
bau, terutama dirinya.
Akan
tetapi, meski kepalanya sudah berdarah-darah, rupanya napasnya belum berhenti.
Tuhan,
mengapa Engkau sekejam ini padaku?!! Mengapa rasanya sulit sekali untuk mati?!!
Apa
Engkau senang melihatku menderita?!
Apakah
ini hiburan bagi-Mu?!!
Mati
harusnya tinggal mati. Mati harusnya tak sesulit ini.
Tubuh
Hea mulai mati rasa. Dia bak seonggok daging tanpa roh, tetapi masih hidup.
Satu
menit.
Lima
menit.
Sepuluh
menit.
Akhirnya,
Hea teringat sesuatu.
Ah.
Iya.
Ayo
menuju ke sana.
Ke
kematian itu.
Meski
fungsi tubuhnya seperti tak bekerja, seperti terputus kabelnya, Hea tetap
mencoba untuk bergerak. Dari dahulu, kematian memang selalu menjadi motivasi
utamanya untuk bergerak.
Benar. Inilah dunianya.
Surga
yang Yohan tunjukkan tadi…
…hanyalah
ilusi.
Perlahan,
Hea pun bangkit duduk. Tubuh—terutama kedua kakinya—langsung bergetar hebat. Setengah
mati, ia memajukan tubuhnya yang terasa selunak plastisin. Ia meraih asal gaunnya
yang usang—yang dirobek Ayah tadi—lalu memakai gaun itu tanpa memedulikan
kancingnya yang terlepas.
Setelah
itu, ia mulai mencoba untuk berdiri.
Ia
jatuh berkali-kali. Tubuhnya tak seimbang. Berat. Lemas.
Seperti
bayi.
Namun,
bayi… tidak kotor seperti dirinya.
Ia
bangkit, jongkok…
…dan
jatuh lagi.
Satu
kali.
Dua
kali.
Tiga
kali.
Di
kali keempat, ia mulai berhasil berdiri, tetapi kembali terduduk dengan
menyedihkan.
Vaginanya
sangat sakit.
Namun,
seperti tengkorak hidup, ia akhirnya berhasil berdiri setelah mencoba sekitar
enam kali.
Setelah
itu, ia mulai berjalan tertatih-tatih menuju jendela.
Mati.
Mati.
Ayo
mati.
Hea
membuka jendela, memanjat kosen jendela itu, lalu menjatuhkan dirinya ke tanah
berumput di luar rumah.
Ia
pun mulai melangkah menjauh.
Udara
malam itu terasa dingin sekali. Dinginnya menusuk tulang, tetapi Hea
tidak menggigil sama sekali. Kulitnya tak merasakan apa pun. Ia terus dan terus
berjalan dengan kaki telanjangnya, menyusuri jalanan desa yang gelap
gulita. Tatapannya lurus ke depan, menembus kegelapan malam.
Tak
lama kemudian, sebuah suara keluar dari bibirnya yang pucat dan kering. Awalnya,
suara itu hanya berupa embusan napas singkat, tetapi lama-kelamaan, embusan
napas itu…
…berubah
menjadi kekehan kecil.
Hingga
akhirnya, tawanya pecah.
Hea
benar-benar tertawa. Langkah kakinya masih tertatih-tatih, sedikit
terseret, tetapi ia terus tertawa di jalanan yang sepi itu. Tawanya semakin
lama semakin kencang. Menggema. Memecah kesunyian malam.
Tawa
itu sama sekali tidak mengandung kebahagiaan. Itu adalah tawa nestapa dari
sebuah kewarasan yang baru saja terputus sepenuhnya. Tawa dari seseorang
yang sudah menyerah pada kenyataan bahwa tidak ada tempat baginya di
dunia ini.
Seperti
sedang menertawakan diri sendiri… yang sempat percaya bahwa surga itu
ada.
Tatkala
tawa hampa itu menggema semakin keras, ada cahaya lampu mobil yang menyoroti
tubuh Hea dari depan. Satu detik setelah itu, terdengarlah suara ban mobil yang
bergesekan dengan jalan, berhenti tak jauh di depan Hea.
Pintu
pengemudi mobil itu terbuka dengan kasar.
"HEA!!!"
Oh.
Itu suara Yohan.
Namun,
Hea tampak tak terganggu. Tatapannya masih kosong; tawanya masih terdengar. Ia bahkan
masih berjalan.
Sirkuit
otaknya bak sudah rusak total.
Yohan
berlari ke arahnya. Wajah pemuda itu tampak tegang; dia panik bukan
main. Matanya membeliak ketika melihat Hea yang berjalan terhuyung sambil
tertawa mengerikan. Gaun Hea acak-acakan dan robek sana sini. Tubuh gadis itu
bergetar, tetapi matanya benar-benar mati.
"HEA?!
HEA!!!” teriak Yohan seraya mengguncang bahu Hea. Namun, Hea tidak meresponsnya
sama sekali.
“HEA!!
Oh, Tuhan…!!" Suara Yohan pecah seketika.
Yohan
tak memedulikan apa pun lagi. Pemuda itu langsung merengkuh tubuh kotor Hea ke
dalam pelukannya yang hangat dan erat. Memenjarakan tawa sinting itu di
dadanya. Tanpa perlu bertanya apa yang terjadi, ia pun langsung menggendong
Hea, membawa gadis itu masuk ke mobil, dan membawanya pergi jauh dari sana.
Malam
itu, Song Hea telah kehilangan segenap kewarasannya. []


No comments:
Post a Comment