Chapter
5 :
Take
a Step Closer
******
LANGIT
telah
menghitam tatkala Kanna berjalan berdua bersama Riley di trotoar. Karena
sekarang adalah bulan Desember (musim dingin), langit sudah gelap meski masih
jam lima sore. Matahari sudah terbenam sekitar jam empat tadi. Lampu-lampu
jalan sudah menyala terang, berusaha untuk mengusir kegelapan, tetapi sama
sekali tak mampu mengusir hawa dingin yang menusuk tulang.
Kanna mendongak, menatap wajah
Riley. Saat ini, Riley tengah memandanginya dengan penuh… perhatian. Lembut
sekali. Tadi, pemuda itu langsung menggenggam tangan Kanna begitu Kanna
berlari menghampirinya di depan kantor.
Tersenyum lembut, Kanna pun mulai
bertanya, “Sudah menunggu lama, ya?”
Riley ikut tersenyum, lalu
menggeleng pelan. “Tidak, kok. Aku baru sampai.”
Kanna menghela napas lega.
“Syukurlah. Aku jadi merasa tidak enak padamu, soalnya cuacanya dingin sekali…”
“Aku baik-baik saja, Kanna,” ujar
Riley. Kedua matanya tertutup dan melengkung, seolah-olah ikut tersenyum. Dia
terlihat begitu damai. Begitu senang. “Entah mengapa, setiap bersamamu…
tubuhku terasa hangat.”
Pipi Kanna merona. Entah karena
kedinginan… atau karena kata-kata Riley.
“Lagi pula…” Riley mengeratkan
genggamannya. “Aku justru khawatir bila membiarkanmu pulang sendirian di cuaca
dingin seperti ini.”
Kanna tersenyum malu. Gadis itu
mulai menunduk, melihat jalinan jemari mereka. Tangannya digenggam oleh Riley.
Jemari Riley yang panjang itu terjalin dengan jemarinya.
Kulit Riley memang cenderung putih
pucat, cool tone. Namun, kulit itu jadi sedikit kontras dengan kulit
Kanna yang berubah sedikit kemerahan ketika cuaca dingin.
Kalau dari suhu tangannya… agaknya Riley
memang belum menunggu lama. Soalnya, tangannya tidak begitu dingin. Normal.
Tidak dingin dan tidak hangat.
Kanna
mendongak lagi, lalu berkata, “Aku pakai syal dahulu, ya, Riley.”
“Hmm,”
deham Riley seraya mengangguk. “Oke, Kanna. Should I help you?”
Kanna
langsung menggeleng, matanya melebar. Kedua tangannya bergerak ke kanan dan ke
kiri dengan cepat. “T—Tidak usah, Riley. Tidak apa-apa. Aku bisa memasangnya
sendiri.”
Ya,
memang harus pasang sendiri kalau tidak mau jantungnya copot karena berdegup
terlalu kencang.
Sembari
tersenyum, Riley pun menghela napas. “Baiklah.”
Begitu
genggaman Riley terlepas, Kanna mulai merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah
syal dari sana. Berhubung masih bulan Desember, Kanna rajin membawa syal dan
payung lipat.
Kanna
melilitkan syal merah itu di lehernya, lalu menutup tasnya kembali. Begitu
selesai, Riley langsung membuka telapak tangannya kembali di hadapan Kanna.
Dengan
kikuk, Kanna pun memegang telapak tangan itu. Menyambut ajakan Riley untuk
berpegangan tangan.
Kanna
mulai memperhatikan sekeliling. Orang-orang terlihat berjalan dengan cepat,
seolah-olah berlomba untuk melarikan diri dari suhu dingin yang semakin
menggigit. Para pekerja kantoran mendominasi jalanan; mereka berjalan seraya
menunduk, berlindung di balik mantel. Syal-syal tebal melilit leher mereka
hingga menutupi hidung, sementara kedua tangan mereka disembunyikan di dalam
saku. Embusan napas mereka mengepul berulang kali dan menjadi asap putih di
udara.
Namun,
di sela-sela arus pekerja yang membisu itu, terlihat pula gerombolan anak SMA
yang baru saja bubar dari kegiatan klub. Berbeda dengan para orang dewasa,
anak-anak remaja itu agaknya… masih punya energi. Mereka memakai duffle coat
tebal di luar seragam musim dingin mereka, berjalan bersama seraya menenteng
tas sekolah kulit beserta tas olahraga berukuran besar di bahu. Beberapa dari
mereka tampak berkerumun di depan vending machine pinggir jalan, tertawa
sambil menggenggam sekaleng kopi atau sup jagung hangat untuk mengusir kebekuan
di jemari.
Di
suatu titik, ada gerombolan siswi yang berpapasan dengan Kanna dan Riley. Begitu
sampai di hadapan Riley, tawa dan obrolan mereka mendadak terputus.
Langkah mereka melambat secara serentak.
Mata
gadis-gadis remaja itu membulat sempurna. Mereka mulai menyenggol lengan satu
sama lain dengan heboh, menutupi mulut seraya mencuri-curi pandang ke arah
Riley. Di tengah bisingnya lalu lintas sore itu, suara bisikan mereka masih sukses
menembus telinga Kanna.
"Eh,
lihat-lihat! Lihat Kakak itu! Dia artis, ya?!"
"Gila,
tampan sekali! Rambut putihnya itu asli tidak, sih?!"
“Mana
mungkin! Pasti diwarnai! Seperti idol atau aktor!”
"Astaga,
pacarnya itu beruntung sekali... bisa berpegangan tangan begitu…"
“Sayang
banget, ya, sudah punya pacar…”
Kanna
menunduk. Pipinya langsung memanas. Rona merahnya menyebar hingga ke telinga. Aduh,
mendadak jadi salah tingkah begini gara-gara disangka sebagai pacar Riley…
Diam-diam,
sebenarnya… ada rasa bangga yang mampir di benak Kanna.
Di
sisi lain, Riley sama sekali tak peduli dengan tatapan memuja maupun
bisik-bisik di sekitarnya. Seluruh keramaian dan hawa dingin di trotoar itu seakan-akan
hanyalah ilusi kosong baginya. Dia tetap melangkah dengan santai, mengunci
seluruh atensinya untuk Kanna seorang.
“Kanna,”
panggil
Riley pelan. Suaranya begitu sendah.
Kanna
tersentak. Gadis itu langsung mendongak dan menatap Riley. “I—Iya, Riley?”
“Picking
you up like this… am I bothering you?” tanya Riley. Tatapan
matanya berubah jadi sendu.
Kanna
melebarkan mata. Dia spontan menggeleng. “No! No! Aku justru senang kau mau
menjemputku, Riley. Serius!”
Mendengar
jawaban Kanna, wajah Riley langsung bercahaya. Ada kilauan yang muncul di mata
berwarna mint-nya. “Benarkah?”
“Uh-hm!!” Kanna mengangguk cepat, meyakinkan
Riley. “Sungguh!”
Riley
tersenyum bahagia. Sebuah tawa lolos dari bibirnya. “Oh, I’m so glad…”
Kanna
tersenyum.
“I
want to be closer to you…” ucap Riley dengan lirih. Suaranya
sedikit serak. Genggamannya mengerat.
Akan
tetapi, perlahan-lahan, suaranya berubah menjadi sangat dalam. Kedua
matanya menatap Kanna dengan intens.
“It’s
okay, right?”
Deg.
Jantung
Kanna sempat berdetak kencang, satu kali, ketika mendengar pertanyaan
itu.
Tidak,
tidak ada yang aneh. Tatapan Riley fokus. Serius… sekaligus penuh kasih sayang.
Di dalam tatapan itu juga tersirat permohonan.
Namun,
mengapa Kanna deg-degan?
Apakah
Kanna salah tingkah?
Kesengsem?
Iya.
Pasti itu. Soalnya, permintaan Riley itu sangat manis. Pemuda itu tengah
mendeklarasikan bahwa dia ingin lebih dekat dengan Kanna. Lebih dari
sekarang.
Itu
bukan tuntutan.
Itu…
deklarasi.
Setelah
beberapa detik termangu karena memikirkan kata-kata Riley, Kanna pun akhirnya
tersenyum. Merilekskan tubuhnya kembali. “Iya, Riley. It’s okay.”
Lagi-lagi,
bagai seekor anak anjing yang sedang bahagia, mata Riley pun berbinar-binar.
Dia tersenyum manis.
Di
tengah gelap dan dinginnya malam itu, senyuman Riley terlihat begitu hangat.
Memancarkan cahaya, keindahan, dan kehangatan sekaligus. Setiap kali dia
tersenyum seperti itu, pasti ada bunga-bunga imajiner yang beterbangan di
sekitar wajahnya.
“Berarti,
aku bisa sering melakukan ini?” tanya Riley. Pemuda itu mengalihkan
pandangannya, menatap jauh ke depan sana… seraya berandai-andai. Senyumannya
masih setia menghiasi wajahnya. “Kalau cuacanya bagus… kita bisa berjalan
bersama seperti ini… sore-sore. Enjoying the wind and the sky… side by side.
That would be so lovely.”
Kanna
memperhatikan wajah Riley. Gadis itu tersenyum tatkala mendengar Riley
berandai-andai tentang berjalan bersamanya. Hatinya menghangat. Pipinya
memerah kembali.
Ini…
sangat manis.
Rasanya…
cuaca dingin sore ini jadi tidak terasa sedikit pun. Kanna senang sekali Riley
menjemputnya hari ini.
Riley
menoleh kembali ke arah Kanna. Dengan penuh ketulusan, Riley pun berbicara
pelan.
“Thank
you, my angel.”
Mata
Kanna kontan membelalak.
‘My
angel’?
R—Riley—
Apakah
pemuda itu baru saja menyebutkan… ‘my angel’?
Oh.
Sial. Rona merah pasti sudah memenuhi seluruh wajah Kanna sekarang, termasuk
kedua telinganya. Rasanya begitu panas!
Jantungnya
berdegup sangat kencang. Kuat dan cepat. Tubuhnya menegang. Dia berjalan,
tetapi gerakannya sudah seperti autopilot.
Riley
benar-benar akan menjadi alasan kematiannya, astaga! Dia bisa terkena
serangan jantung kalau begini terus!
Ugh. Tuhan,
boleh tidak Kanna pergi ke surga saja sekarang? Rasanya melayang banget, nih,
soalnya.
Eh.
Jangan dulu, deh. Nanti Kanna jadi berpisah dengan Riley.
Sesaat
kemudian—yang terasa seperti selamanya—Kanna pun akhirnya berdeham.
Berpura-pura membersihkan tenggorokannya. Dia menunduk sebentar, lalu…
…menatap
Riley kembali.
Berusaha
untuk menunjukkan senyum manisnya.
“It’s
so much fun spending time with you. Let’s do this more often, Riley,”
ujarnya. Suaranya hampir bergoyang karena gugup. “I also… want to be
closer to you.”
Langkah
Riley terhenti. Mereka berdua jadi berhenti di trotoar.
Riley
mulai berdiri menghadap Kanna. Matanya melebar; mulutnya sedikit
terbuka. Dia tampak terpana.
Tak
ayal, Kanna pun menunduk. Kalau ada termometer, mungkin ia akan mengukurnya
sendiri untuk tahu seberapa panas wajahnya saat ini. Dia malu sekali!
Riley mendengar semuanya dan sekarang pemuda itu berhenti melangkah, menghadap
padanya sepenuhnya.
Duh,
Riley menganggapku genit tidak, ya? Riley kagetnya karena apa, ya? Impresi
Riley padaku masih positif, ‘kan?
Aaaarrrghh!
Kanna
jadi overthinking, nih! Dia sampai memejamkan matanya kuat-kuat. Astaga,
tingkahnya jadi seperti anak remaja, padahal dia sudah dewasa! Begini, nih,
kalau tidak punya pengalaman!
“Waaah!”
seru
Riley tiba-tiba. Hal itu membuat Kanna otomatis membuka matanya. Gadis itu langsung
mendongak demi menatap ekspresi Riley.
Ternyata,
Riley terlihat sangat… gembira. Pipinya merona dengan indahnya. Dia tertawa
pelan; kedua matanya terlihat hidup. Cahaya di wajahnya bak mengalahkan
sinar lampu jalan malam itu.
Kanna
terpukau.
Woah…
Dia…
benar-benar tampan…
Tuhan…
benar-benar serius saat menciptakannya. Apa dia… benar-benar berasal dari dunia
ini?
Gadis
itu refleks menggeleng. Ada-ada saja. Ya jelas dari dunia ini. Masa dari
dunia lain?
Bagaikan
seorang pemuda yang baru saja diterima cintanya, Riley pun menggenggam
kedua tangan Kanna. Dia meremas punggung tangan Kanna… lalu berkata, “Wow… aku
sangat senang sampai rasanya hatiku mau meledak. Ternyata Kanna juga
merasakan hal yang sama…”
Aduuuh,
sudah, dong, Riley! Pipi Kanna rasanya sudah mau mengeluarkan asap, nih!
“I’m
so glad you had fun with me, even if just a little,” ujar
Riley. Pemuda itu mulai mencium punggung tangan kanan Kanna, lalu melanjutkan, “Now
that I have your answer... I can take a step closer, right?”
“Iya,
Riley,” jawab Kanna sambil tersipu.
Bak
mendapat hadiah terbaik di dunia, Riley pun tersenyum bahagia.
“Terima
kasih banyak, Kanna…” katanya dengan penuh pemujaan. Ibu
jarinya mengusap punggung tangan Kanna dengan sangat pelan. Halus.
Kanna
mengangguk. Gadis itu juga tampak seperti tengah dimabuk asmara.
Beberapa
saat kemudian, mereka pun kembali berjalan. Kembali bergandengan. Obrolan kecil
mereka mengalir dengan mudahnya meskipun sesekali mereka sama-sama tersipu.
Kadang-kadang mereka tertawa pelan, kadang-kadang mereka menatap satu sama lain
dengan penuh kelembutan. Gadis-gadis SMA tadi tidak salah. Mereka memang
terlihat seperti pasangan. Pasangan yang mesra, lebih tepatnya.
Di
tengah perjalanan, Kanna menatap sebuah toko di sebelah kirinya. Lampu toko itu
terang, sinarnya mampu menyinari wajah Kanna dan Riley di trotoar. Toko itu
minimalis; catnya dominan berwarna hijau tua. Dindingnya terbuat dari kaca
sehingga Kanna bisa melihat apa yang ada di dalam sana.
Toko
itu menjual banyak sekali bunga. Bunga-bunga asli… yang tertata dengan
baik. Semua bunga itu dirangkai dengan indahnya.
Well,
sebenarnya, itu adalah toko bunga yang memang selalu Kanna pandangi saat
ia pergi atau pulang kerja. Tepat di bagian atas kaca toko itu, nama ‘Eternal
Bloom’ tercetak dengan elegan. Ada lampu-lampu kecil berwarna krem yang
menghiasi tiap-tiap hurufnya.
Di
depan pintu masuk toko itu, terdapat sebuah sign board yang tertulis: ‘Welcome.
We are Open!’.
Kanna
memandangi toko itu sambil tersenyum. Di sisi lain, Riley—yang menyadari arah
pandang Kanna itu—langsung melihat ke toko yang sama. Matanya sedikit melebar.
“Kanna suka bunga, ya?”
Kanna
tersentak. Dia langsung menoleh kepada Riley. “Eh?”
Riley
tertawa pelan. Kanna imut sekali.
“Kau
suka bunga, ya?” ulang Riley.
“O—Oh…”
Kanna baru connect. “Iya. Aku suka bunga, Riley.”
Riley
pun tersenyum. “Pantas saja di halaman rumahmu ada bunga-bunga yang tertanam di
pot.”
“Hehe…
Ya begitulah…” Kanna menggaruk tengkuknya, merasa sedikit malu. “Aku cuma bisa
menanam di pot. Kalau untuk benar-benar membuat taman di halaman rumahku… aku
belum bisa.”
Mata
Riley melebar. “Kau ingin membuat taman bunga di halaman rumahmu?”
“T—Tidak,
tidak!” Kanna jadi panik. Dia menggeleng cepat. “Aku belum bisa, soalnya.
Takutnya nanti bunganya mati semua.”
Riley
menghela napasnya sambil tersenyum. Untuk beberapa saat, tak ada yang berbicara
di antara mereka.
Akan
tetapi, sekitar empat detik kemudian, suara Riley tiba-tiba kembali terdengar.
“Aku
akan menanam bunga-bunga itu untukmu.”
Kontan
saja mata Kanna membulat sempurna. Tubuhnya kembali menegang.
A—Apa?!
“Eh?!”
ucap
Kanna kaget. Saking kagetnya, dia jadi terlihat seperti sedang memelototi
Riley.
Riley
tertawa kecil, geli dan gemas melihat reaksi Kanna. “Aku akan membuat taman itu
untukmu, Kanna.”
Kanna
lantas menganga.
“S—Serius?!”
Jujur, Kanna masih mencoba untuk memproses apakah ini mimpi atau kenyataan. Dia
sudah lama menginginkan sebuah taman bunga di halamannya. Sudah lama ingin
melihat halamannya dipenuhi dengan bunga-bunga yang indah.
“Iya.”
Riley mengangguk. “Aku akan mempelajarinya.”
Oh,
Tuhan.
Ketika
Riley yang mengatakannya, itu terdengar begitu meyakinkan…
Pemuda
itu cepat belajar. Saat memasak, tatkala tak tahu sebuah resep, dia akan
mempelajarinya dengan cepat. Tangannya seperti… diberkati. Apa pun yang
dia lakukan dengan tangan itu agaknya akan berhasil.
Hal
itu membuat Kanna jadi yakin.
Kini,
gantian Kanna yang matanya berbinar-binar. Perasaan bahagianya memelesat ke
batas maksimal hingga mau menembus puncak kepalanya dan meledak di udara.
Dengan
kebahagiaan yang bergejolak hebat itu, ia pun refleks beranjak ke
hadapan Riley dan memeluk Riley dengan erat. Ia mengalungkan kedua
tangannya di leher Riley.
Hal
itu sukses membuat mata Riley melebar sempurna.
“Terima
kasih, Riley!!” ucap Kanna dengan riang.
Riley
terdiam sejenak. Untuk beberapa detik lamanya, pemuda itu hanya berdiri di
sana. Berhenti melangkah sepenuhnya.
Riley
bisa merasakan betapa hangatnya tubuh Kanna di balik seragam kerjanya, betapa
cepatnya degupan jantung gadis itu… dengan jelas. Pipinya menempel di rahang
Riley.
Pelukan
itu masih bertahan. Sepertinya, Kanna terlalu bahagia sampai-sampai
gadis itu malah mengeratkan pelukannya. Dia juga sempat membisikkan kata ‘terima
kasih’ sekali lagi kepada Riley.
Tak
berapa lama, Riley pun… mulai membalas pelukan Kanna. Pemuda itu
mengangkat kedua tangannya… lalu memeluk pinggang Kanna. Dia mulai membenamkan
wajahnya di ceruk leher gadis itu.
Dengan
suara rendahnya yang terdengar begitu dalam itu… dia pun berbisik.
“I
would do anything for you, Kanna…” katanya. “Use me. Take
advantage of me. But…”
Pegangannya
di pinggang Kanna mengerat.
“…don’t leave
me,” sambungnya.
******
Ketika
sampai, Kanna lagi-lagi takjub melihat keadaan rumahnya yang sudah bersih.
Seluruh pekerjaan rumah sudah diselesaikan oleh Riley. Piring-piring, pakaian,
lantai, jendela… semuanya sudah bersih. Tertata. Selesai.
Kanna
tak pernah merasa dilayani sampai sesempurna ini selama hidupnya. Dia bagai
dimanja lahir dan batin.
Namun,
tatkala sibuk mengagumi rumahnya yang sudah kinclong—bahkan beberapa
barang yang jarang ia sentuh juga sudah disortir—tiba-tiba tangannya digenggam.
Riley
menggandengnya ke sofa ruang tamu dan mendudukkannya di sana. Setelah itu,
Riley mulai berlutut di hadapannya.
Membukakan
high heels-nya.
Kanna
kaget bukan kepalang. Dia langsung menarik tangan Riley dan menjauhkan kakinya.
“R—Riley! Tidak usah! Aku bisa melepasnya sendi—”
Riley
tersenyum, lalu kembali meraih kaki Kanna dengan lembut. Dia menatap Kanna
dengan penuh atensi. “Tidak apa-apa, Kanna. Aku melakukan ini karena aku
menyukainya.”
“T—Tapi—”
Riley
tertawa kecil. “Izinkan aku melakukannya untukmu, Kanna. Bukankah kita sudah
pernah membicarakan ini?”
Ya
memang sudah pernah dibicarakan, sih, tetapi setahu Kanna, yang Kanna mau tidak
sejauh ini! Bukankah ini seperti—seperti seorang nyonya?
Oh,
astaga. Benar. Riley jadi seperti seorang butler yang melayani sang nyonya.
Aaarghhh!!
Bagaimana ini?!
Menyatukan
alis, Kanna pun memperhatikan Riley dengan saksama. Pemuda itu mulai membukakan
sepatunya, syalnya, blazernya… dan meraih tasnya.
Kanna
lantas menghela napas.
“Riley,
tolong katakan padaku,” buka gadis itu.
“Hmm?”
Riley menatap Kanna dengan mata yang membulat polos.
“Kalau
kau menyukai ini, berarti… ini hobimu?” selidik Kanna.
Riley
mengerjapkan matanya sebanyak dua kali. “Hobi…?”
“Iya.”
Kanna mengangguk. “Jika kau punya kesenangan istimewa terhadap sesuatu, lalu
kau melakukannya dengan sukarela karena menimbulkan kebahagiaan… berarti
itu adalah hobimu.”
Riley
diam sebentar. Pemuda itu sedang mencerna kalimat Kanna.
Dua
detik kemudian, terbitlah seulas senyum di bibirnya.
“Then…”
katanya.
“My hobby is you.”
******
Jadi,
sore itu, setelah mendengar Riley berbicara soal hobi—yang membuat Kanna
langsung mau meleleh—Kanna pun mandi. Riley sudah mandi sebelum menjemput Kanna,
jadi dia langsung menunggu di meja makan yang sudah dipenuhi masakan buatannya
sendiri.
Begitu
selesai mandi, Kanna pun bergabung dengan Riley untuk makan malam. Mereka
menghabiskan waktu yang hangat itu bersama sambil makan. Setelah itu, mereka
sempat menonton televisi sejenak… hingga akhirnya memutuskan untuk masuk ke
kamar masing-masing (atas saran Riley yang tak ingin Kanna kelelahan).
By
the way, Kanna sudah memberikan Riley satu kamar yang
bersebelahan dengan kamarnya. Memang ada kalanya mereka tidur bersama, tetapi
Riley tetap punya kamar sendiri.
Well,
Kanna
tahu kalau dia harus tidur dan mengisi energi untuk besok. Riley sudah sangat
perhatian padanya. Namun, saat ini…
…dia
benar-benar belum mengantuk.
Dia
belum bisa tidur karena memikirkan semua yang terjadi hari ini. Rasanya
dunia nyata jauh lebih indah daripada dunia mimpi, jadi tubuhnya menolak tidur.
Karena
tak kunjung bisa terlelap meskipun sudah berguling ke sana kemari, Kanna pun
akhirnya menyerah. Dia mulai beranjak mengambil ponselnya di atas nakas…
…dan
mengirim sebuah pesan kepada Riley.
Riley
sudah tidur belum, ya?
Semoga
saja belum…
Kanna
Inori
Riley,
are you asleep?
Riley🐻❄️
Kanna! You’re awake?
Kanna
Inori
I
can’t sleep. How about you?
Riley🐻❄️
My heart just can’t seem
to settle down after we walked together earlier…
Pipi Kanna memerah untuk entah yang keberapa kalinya.
Kanna
Inori
Me
too…
Riley🐻❄️
So we’re the same! I’m so
happy…
Ah… It feels like a
dream. I want to savor this moment forever…
We’re connected… even
when we’re in different rooms 🥰
Kanna
Inori
I’m
also very happy, Riley
My
life is full of color now, thanks to you🥰
Riley🐻❄️
You are very nice, Kanna…
Umm…
Can I… sleep with you?
Even though my heart is
racing right now, I… I want to see you.
I can’t stop thinking
about you 🥺
…well.
Apakah Kanna akan menolak Riley?
Apakah Kanna akan berpikir negatif?
Dalam situasi ini?
Dalam kondisi hati yang sudah seperti ini?
Tentu saja tidak.
******
Kamar
Kanna gelap. Lampunya tak dihidupkan, hanya mengandalkan sinar rembulan yang
menembus masuk melalui gorden putih.
Tadi,
tak lama setelah mengiyakan permintaan Riley, Kanna mendengar pintu kamarnya
terbuka pelan. Gadis itu langsung duduk dan melihat sosok Riley berdiri di
ambang pintu. Rambut putih dan mata mint Riley bersinar terang di bawah
sinar rembulan.
Tanpa
sadar, setiap permintaan Riley yang polos, manis, dan intens itu… selalu
sukses meluluhlantakkan pertahanan Kanna.
Riley
tersenyum lembut. Ia lalu mendekati ranjang Kanna pelan-pelan… dan menyusup ke
dalam selimut gadis itu.
Ribuan
kupu-kupu imajiner beterbangan di perut Kanna saat Riley meraih dan memeluknya.
Malam itu, Kanna memakai sweater putihnya yang hangat, sementara Riley
masih dalam balutan hoodie-nya. Pelukan mereka malam itu terasa jauh
lebih ampuh untuk mengusir beku dibandingkan penghangat ruangan mana pun. Rasa
dingin yang datang dari luar seolah-olah hilang begitu saja.
Bahan
hoodie yang dikenakan Riley terasa begitu halus di kulit Kanna. Gadis
itu mendadak bangga karena telah memilihkan hoodie yang tepat untuk
Riley. Selain itu, aroma tubuh Riley—campuran antara wangi sabun mandi dan
aroma maskulin yang khas—sangatlah menenangkan. Di dalam pelukan yang luar
biasa nyaman itu, mereka mengobrol dengan suara pelan, seolah-olah takut
membangunkan malam.
“Riley…?”
panggil Kanna lembut.
Riley
sedikit menjauhkan wajahnya agar bisa bertatapan dengan Kanna. “Hmm?”
Duh.
Suaranya.
Napas
hangatnya menyapu kulit wajah Kanna.
Wajah
tampannya juga… dekat sekali…
Riley
memiliki kulit wajah yang begitu bersih. Rambutnya yang sedikit acak-acakan itu
justru membuatnya terlihat manis. Hidungnya mancung, alisnya tebal, dan bibirnya…
Kanna
refleks meneguk ludah.
Oh,
sial. Ia harus kuat. Benar-benar harus kuat!
“A—Apa…
makanan favoritmu?” Suara Kanna akhirnya keluar meski sedikit gagap.
Riley
tertawa kecil. Suaranya amat rendah dan merdu, terdengar begitu dekat di
telinga Kanna. Saat ini, seluruh indra Kanna seolah-olah dipenuhi oleh Riley:
kulit, mata, telinga, hingga penciumannya. Semuanya Riley.
“Favorit,
ya…” jawab Riley pada akhirnya. “Aku suka… parfait. Yang ada buah strawberry
dan es krimnya.”
Kanna
tiba-tiba bersemangat. “Waah! Itu memang enak! Aku juga suka. Apa lagi?”
Riley
kembali tertawa. “Umm… Apa lagi, ya? Oh… aku juga suka fruit sando
dan crêpe.”
“Waah,
itu juga enak! Berarti, kau suka makanan-makanan manis, ya?” tanya Kanna.
Riley
mengangguk. Sepasang mata indahnya menatap Kanna dengan penuh kasih sayang,
tetapi mulai muncul sepintas sendu di sana. Ada bayangan cinta, kesedihan,
kesepian, sekaligus… rasa syukur yang berbaur menjadi satu.
“Aku…
jarang makan semua itu. Namun, aku sangat menyukai mereka sejak pertama
kali mencoba,” jawab Riley. Dia memberikan senyuman yang sangat tulus kepada
Kanna.
Mendengar
kejujuran itu, hati Kanna langsung terenyuh. Gadis itu refleks mengeratkan
pelukannya, lalu mengusap punggung Riley dengan penuh perhatian. Empatinya
kembali mencuat.
Ya
Tuhan… Kehidupan seperti apa yang dahulu Riley jalani sampai-sampai makanan
umum seperti crêpe saja jarang dia makan?
“Nanti, kita sering-sering makan makanan
favoritmu, ya, Riley. Bersama-sama,” ujar Kanna.
Tubuh Riley mematung sejenak. Namun,
beberapa detik kemudian, pemuda itu akhirnya melemas sepenuhnya di dalam
sentuhan Kanna.
“Kanna,
tubuhmu sangat hangat…” pujinya. Pelukannya semakin mengerat.
Telinga
Kanna memerah saat Riley mulai mencari posisi ternyaman. Mereka bertahan dalam
posisi itu untuk beberapa saat lamanya.
Sekitar
dua menit kemudian, Kanna pun teringat sesuatu. Gadis itu mendadak sadar bahwa
sejak awal, ada pertanyaan yang belum dijawab Riley hingga sekarang.
Pertanyaan yang selama ini ia hindari karena takut Riley tidak nyaman. Takut
melukai Riley lebih jauh.
Apakah kali ini… Kanna sudah boleh
bertanya?
Mereka sudah sedekat ini. Sudah
senyaman ini.
Seharusnya…
Riley sudah merasa aman untuk menceritakan semuanya, bukan?
Akhirnya,
berbekal keyakinan itu, Kanna pun meneguk ludah. Memberanikan dirinya sebelum
mulai berbicara.
“Riley…
kau belum bercerita padaku tentang mengapa kau ada di kursi taman malam
itu.”
Keheningan
sontak menyergap. Kanna bisa merasakan napas Riley yang sedikit tertahan. Cukup
lama pemuda itu membisu, sebelum akhirnya dia menjawab dengan suara yang begitu
lirih.
“Aku…
melarikan diri dari rumah…”
Mata
Kanna melebar. Finally!
“Mengapa?”
tanya
gadis itu dengan hati-hati. Ia menunggu jawaban Riley dengan penuh antisipasi.
Namun,
ternyata Riley kembali diam.
Lama.
Kebungkamannya
itu membuat Kanna jadi yakin bahwa…
…dia
belum mau cerita.
Kanna
menunduk. Gadis itu merasa sedikit kecewa sekaligus sedih. Sebetulnya, dia sadar
bahwa Riley sudah mulai sedikit terbuka (karena telah menjawab
‘melarikan diri dari rumah’), tetapi dia… ingin lebih.
Dia
ingin tahu segalanya tentang Riley.
Mungkin,
karena bisa merasakan kekecewaan Kanna, Riley pun membenamkan wajahnya di
antara helaian rambut gadis itu, lalu berbisik.
“Suatu
hari nanti… aku akan menceritakan semuanya padamu.”
Kanna
serta-merta menjauhkan wajah. Matanya membulat.
“Janji??”
tuntut Kanna dengan suara lembut.
Riley
tersenyum. Pemuda itu mengangguk pelan.
“Iya…
aku janji,” jawabnya. “If you stay with me.”
Kanna
jadi bete. “Aku tak mungkin pergi ke mana-mana, soalnya ini rumahku.
Harusnya aku yang bilang begitu padamu.”
Riley
tertawa renyah. Matanya menerawang, seolah-olah menatap jauh ke
dalam jiwa Kanna. Tak lama, jemarinya mulai membelai pipi gadis itu dengan
gerakan konstan yang membuai. Terlalu berirama, terlalu sempurna.
“Ah…
how wonderful would it be if you could just stay by my side without
going anywhere?” bisiknya seraya tersenyum tipis.
******
Sinar
matahari pagi mulai menyusup melalui celah gorden dan menyentuh kelopak mata
Kanna. Gadis itu mengerjap beberapa kali, merasakan sisa-sisa kehangatan
semalam yang masih tertinggal di selimut. Namun, saat tangannya meraba sisi
ranjang di sebelahnya, ia hanya menemukan seprai yang sudah mendingin.
Riley
sudah tidak ada di sana.
Kanna
pun bangkit duduk, menguap kecil sembari mengucek-ngucek matanya yang masih
terasa berat. Dengan langkah gontai dan rambut yang sedikit berantakan, ia pun berjalan
ke luar kamar, berniat untuk mencari Riley. Mungkin, pemuda itu sedang memasak
di dapur, sedang mandi… atau sedang membereskan rumah.
Riley
rajin banget, sih… padahal ini masih pagi, pikir Kanna.
Ya
sudah, deh, Kanna cari saja. Sekalian mau cuci muka juga ke kamar mandi.
Kanna
terus melangkah menuju dapur. Akan tetapi, saat melewati kamar Riley, langkah
Kanna otomatis terhenti.
Pintu
kamar itu terbuka.
Awalnya,
Kanna hanya ingin mengecek kenapa pintu kamar itu terbuka dan apakah
Riley ada di sana. Namun, pemandangan di dalam kamar itu sukses membuat
kantuknya hilang seketika.
Di
sana, dia melihat Riley.
Benar,
Riley ada di sana.
Pemuda
itu tengah membelakangi pintu, baru saja hendak membuka pakaiannya. Meskipun
tubuhnya cenderung kurus, punggungnya yang putih pucat itu terlihat kokoh.
Setidaknya, itulah yang Kanna pikirkan selama satu detik.
Namun,
di detik berikutnya, mata Kanna mulai menyipit. Dahinya berkerut saat
menangkap sesuatu yang asing di punggung itu.
Di
punggung Riley, tepatnya di sebelah kanan atas, ada sebuah tato yang
tercetak dengan tinta hitam yang tegas. Bukan gambar bunga, bukan pula motif
estetik yang biasa orang-orang miliki.
Tato
yang ia miliki hanyalah sebuah angka tunggal.
“9”.
Alis
Kanna lantas menyatu. Berbagai pertanyaan mulai mengganggu pikirannya. Dia tak
tahu kalau ternyata Riley punya tato seperti itu.
Sadar
bahwa Riley kapan saja bisa berbalik dan memergokinya, Kanna pun langsung
menarik diri dan bersembunyi di balik dinding. Ia menyandarkan punggungnya di
sana, berusaha untuk mengatur napasnya yang mendadak memburu. Jantungnya
berdegup kencang.
Sembilan.
Apa
maksudnya? []

Ini aku edit yaa, biar sesuai tato Riley. Aslinya, foto dari artist Reii itu seperti ini:
tapi berhubung Riley tidak punya tato seperti itu, jadi aku edit dikit yaa. Artist Reii ini menggambar Saeran (Mystic Messenger) soalnya. Saeran punya tato di lengan wkwk.
Sedikit disclaimer soal visual Riley:
Karena aku pakai Choi Saeran/Ray (Mystic Messenger) sebagai referensi, pasti bakal banyak foto yang memperlihatkan tato di lengan atas. Tapi di cerita ini, Riley Winter itu nggak bertato di lengan, ya. Satu-satunya tato yang dia punya cuma angka "9" di punggung. Jadi, kalau nanti aku post fotonya, bayangkan saja lengannya bersih dari tinta, oke? Wkwkwk.
Ihh kecilnyaa. Umur berapa ini? Wkwkwk


No comments:
Post a Comment