Monday, March 23, 2026

Double-Decker (Chapter 5: Kairos)

 


******

Chapter 5 :

Kairos

 

******

 

PINTU kaca ganda kasino Obsidian Crown terbuka lebar. Pintu itu dibuka dengan sinkronisasi sempurna oleh dua penjaga bertubuh raksasa yang berdiri di luar.

Cahaya keemasan dari lampu-lampu kristal yang ada di langit-langit terlihat memantul pada lantai marmer yang mengilap. Area kasino itu dipenuhi dengan aroma parfum mahal, alkohol, dan uang yang berputar tanpa suara. Suara mesin slot berdenting, tawa renyah para sosialita di beberapa sudut, musik yang mengalun pelan, dan gesekan kartu di atas meja baccarat seolah-olah memenuhi telinga.

Namun, tatkala pintu kasino itu terbuka lebar… tiba-tiba atmosfernya berubah.

Seluruh keriuhan di dalam kasino yang megah itu mendadak surut. Suara tawa, suara mesin slot, suara gesekan kartu…

…semuanya seolah-olah meredam dengan sendirinya.

Di ujung sana, melalui pintu yang terbuka itu, masuklah seorang pria. Rambut merahnya yang mencolok langsung menyita perhatian semua orang. Kedua mata elangnya yang juga berwarna merah itu seakan-akan berkilat, menatap ke depan dengan tajam. Fokus. Terkontrol.

Akashi Roan Kaiser melangkah dengan pasti. Tenang dan tak terganggu. Setiap langkahnya jatuh sempurna, halus dan terukur, seperti berjalan di panggung yang memang diciptakan untuknya. Setiap ketukan pantofel mengilatnya di atas marmer hitam itu seakan-akan bergema. Mantel hitam panjang berbulunya—yang ia pakai sebagai outer—terpasang dengan rapi di bahunya, menyapu ringan di belakang setiap kali ia bergerak. Mantel itu memberikan siluet yang majestic sekaligus mematikan, seperti seorang tiran yang elegan.

Di belakang Akashi, terdapat delapan pria berjas hitam yang mengikutinya dalam formasi presisi. Begitu Akashi dan rombongannya masuk, situasi mendadak jadi tegang. Membeku. Dipenuhi dengan rasa kagum yang bercampur dengan rasa gentar, padahal sosok itu belum melangkah jauh ke dalam.

Akashi tidak tersenyum. Ia hanya berjalan melewati meja-meja permainan dan semua kerumunan di sana. Ia tampak seperti predator puncak yang sudah biasa datang ke tempat itu.

Salah satu dealer yang sedang membagikan kartu jadi berhenti sepersekian detik lebih lama dari seharusnya. Seorang pria—yang tadinya tengah tertawa—pelan-pelan menurunkan gelasnya. Beberapa penjaga di sudut ruangan bahkan mendadak meluruskan posisi berdiri mereka.

Semua tatapan mengikuti langkah Akashi, tetapi tak ada yang berani menahannya.

Para turis kebanyakan hanya membeku karena melihat ketampanan Akashi, tetapi orang-orang Jepang yang ada di sana (yang kebanyakan merupakan kelompok pengusaha dan sosialita muda) membeku karena alasan yang berbeda. Mendadak tangan mereka terasa kaku. Mata mereka melebar; di dalam tatapan mereka tersirat rasa takjub sekaligus rasa heran yang menyesakkan.

"Bukankah itu...” bisik mereka dengan hati-hati, seolah-olah takut suara mereka akan terdengar. Bagaimana mungkin sosok setinggi dia berada di tempat perjudian ini?

Namun, ada beberapa orang Jepang yang hanya meneguk ludah. Wajah mereka memucat; keringat dingin muncul di area pelipis mereka. Reaksi mereka sedikit berbeda karena mereka pernah mendengar desas-desus yang hanya berani dibisikkan di balik pintu tertutup tentang siapa pemilik aset berupa kasino mewah itu. Namun, mengingat siapa manusia yang tengah mereka curigai, mereka jadi berpikir dua kali.

Akashi terus melangkah, tak memedulikan tatapan yang separuh memuja dan separuh gemetar itu. Turis-turis asing yang tak mengenalinya pun tetap menepi secara naluriah.

Begitu sampai di depan lift pribadi yang berwarna hitam, Akashi dan orang-orangnya disambut oleh dua penjaga. Dua penjaga itu bukan hanya membukakan pintu, melainkan juga membungkuk hingga punggung mereka sejajar dengan lantai.

Begitu sosok Akashi masuk ke lift, semua orang di aula kasino itu baru teringat untuk mengembuskan napas. Udara kembali mengalir, tetapi sisa-sisa tekanannya masih ada, membuat jantung mereka berdebar-debar dalam kesunyian yang ia tinggalkan.

Turis-turis yang tak tahu menahu (tetapi ikut merasakan tekanannya pun) tiba-tiba berpikir, “Itu pasti orang yang sangat penting.”

Pintu lift yang Akashi naiki itu terbuka dengan halus di lantai paling atas. Begitu pria itu (dan delapan orang yang mengikutinya) melangkah keluar, suasana mewah (tetapi ramai) dari lantai bawah langsung hilang, digantikan oleh keheningan. Lampu-lampunya lebih redup dan jauh lebih eksklusif.

Di depannya, terbentang sebuah koridor panjang dengan lantai yang dilapisi karpet beludru merah tua yang sangat tebal, cukup untuk meredam setiap suara langkah kaki. Dinding hitamnya dihiasi dengan lukisan-lukisan klasik. Di koridor ini, tak ada lagi aroma alkohol; yang ada hanyalah wangi oud yang dalam dan mewah.

Di ujung koridor, berdiri sebuah pintu ganda besar berwarna hitam (dengan aksen keemasan). Dua penjaga yang bertubuh tegap sudah berdiri di sana dengan sikap siaga yang sempurna. Saat posisi Akashi telah berjarak beberapa meter, kedua pengawal itu langsung serentak membungkuk. Setelah itu, dengan gerakan yang mantap, mereka pun menarik gagang pintu emas itu ke arah luar secara bersamaan.

Ruangan VVIP lounge terbentang di baliknya. Ada sebuah lampu kristal (yang jauh lebih hangat daripada di aula bawah), sebuah meja panjang, dan deretan wajah yang tidak asing. Para politisi, pebisnis ternama, dan para pemimpin yang mengendalikan wilayahnya masing-masing (dari balik layar) telah duduk di sana. Mereka tadinya sedang berdiskusi dengan santai, tetapi begitu sosok Akashi muncul di ambang pintu, percakapan itu mati seketika.

Semua orang di sana langsung berdiri secara serentak.

 

“Akashi-sama.”

 

Sapaan itu bergema; kepatuhan mereka terdengar absolut.

Akashi tidak langsung menanggapi. Ia melangkah masuk, berjalan menuju sebuah kursi besar di paling depan yang memang dikosongkan untuknya.

Setelah Akashi duduk dan menyilangkan kakinya dengan elegan, barulah ketegangan di ruangan itu sedikit mencair. Semua orang telah berhadapan langsung dengan mata merah sang penguasa.

Akashi mengangguk singkat, lalu bersandar. Setelah itu, semua orang pun duduk kembali.

Seorang gubernur yang duduk di sisi kanan Akashi mulai berbicara.

"Terima kasih atas kehadiran Anda, Akashi-sama," ujarnya. "Kami sangat menghargai dukungan Anda dalam periode transisi ini. Seperti yang telah kita bicarakan secara internal, pengembangan infrastruktur pusat kini memasuki fase krusial."

Ia memberikan isyarat kecil. Sebuah peta digital pun muncul di layar besar di depan sana, menampilkan blueprint jalur-jalur yang akan membelah jantung negara.

"Kami sedang memfinalisasi rencana untuk perbaikan jalur lintas utama dan pembangunan jaringan rel kereta bawah tanah yang baru. Proyek ini akan menjadi tulang punggung mobilitas sektor bisnis,” ujarnya dengan hati-hati. Meskipun sang Gubernur adalah pria yang menguasai jutaan suara di prefektur ini, di depan Akashi, dia tak lebih dari seorang mandor yang sedang melaporkan galian tanahnya. Gubernur itu berhenti sejenak, melirik Akashi yang masih duduk tenang dalam keheningannya yang mengintimidasi. "Namun, dalam proses transisi ini, kami telah menyisipkan desain untuk 'ruang utilitas sekunder' yang tidak akan muncul dalam arsip publik maupun pemetaan sipil."

Proyek infrastruktur adalah cara klasik bagi politisi seperti sang Gubernur untuk melakukan kickback (uang pelicin). Dengan melibatkan Akashi, mereka mendapatkan pendanaan yang tak terbatas untuk memperkuat posisi mereka pada pemilihan berikutnya. Gubernur ini bukan sekadar politisi yang korupsi, melainkan juga orang dalam/capo yang ditanam di kursi pemerintahan. Dia berbicara kepada Akashi bukan sebagai pejabat publik, tetapi sebagai bawahan yang melaporkan progres bisnis kepada bosnya.

By the way, di Jepang ada istilah G-Cans yang besarnya seperti katedral. Dengan kekuasaan seorang gubernur atau menteri, mereka bisa memerintahkan kontraktor untuk menggali "sedikit lebih dalam"—saat pembangunan rel kereta bawah tanah—dengan alasan stabilitas tanah atau penanganan banjir. Jadi, di atas kertas, itu adalah ruang kosong untuk drainase, tetapi secara fisik, itu adalah terowongan luas milik clan Akashi.

Sang Gubernur pun kembali berbicara, memberikan penekanan pada poin selanjutnya.

"Ini adalah koridor bayangan, Akashi-sama. Ruang bawah tanah yang luas dengan akses privat yang kami samarkan di bawah beberapa gedung perkantoran, kediaman pribadi, dan titik strategis yang telah kita akuisisi. Kami menyebutnya sebagai jalur distribusi prioritas. Dengan otoritas penuh atas izin konstruksi ini, kami menjamin bahwa takkan ada audit maupun pemeriksaan luar. Semuanya akan berjalan di bawah pengawasan kami, demi memastikan ‘aset' Anda bergerak tanpa pernah menyentuh radar keamanan mana pun."

Rel kereta bawah tanah (subway) biasanya memiliki bantalan beton yang sangat tebal. Jika terowongan itu berada tepat di bawah jalur rel negara, maka getaran dan suara dari aktivitas distribusi mereka (misalnya suara mesin atau kendaraan pengangkut) akan terendam secara alami oleh bisingnya kereta komuter yang lewat di atasnya. Jika ada sensor pendeteksi aktivitas bawah tanah milik intelijen, mereka akan mengira anomali getaran itu hanyalah gema dari perjalanan kereta publik. Itu akan menjadi blind spot total. Semakin sibuk rel di atasnya, semakin aman ‘jalur’ mereka di bawahnya.

Selain itu, polisi atau detektif biasanya akan mencari gudang di pelabuhan atau truk di jalan raya. Mereka tidak akan mencari "hantu" di dalam sistem saraf transportasi negara yang dijaga ketat oleh kementerian.

Jika jalur itu terhubung dengan gedung perkantoran, kediaman pribadi, dan titik strategis yang sudah diakuisisi, maka truk logistik clan mereka bisa masuk ke basement gedung perkantoran biasa (yang tampak legal), lalu turun ke lift rahasia yang langsung tembus ke "Koridor Bayangan" ini. Takkan ada yang curiga mengapa ada truk masuk ke gedung perkantoran di tengah kota.

Terowongan itu juga bisa memiliki lift kargo raksasa atau jalur landai (ramps) yang menghubungkannya ke jalur rel utama di atasnya. Pada jam-jam tertentu saat kereta komuter berhenti beroperasi, kereta logistik clan Akashi bisa naik ke jalur utama. Karena dia keluar dari bawah tanah di area yang dianggap sebagai ‘area teknis’, petugas kontrol perjalanan kereta akan mengira bahwa itu adalah kereta pemeliharaan rel yang sedang bekerja. Selain itu, mereka juga bisa membuat lift-lift kecil atau tangga rahasia yang terhubung langsung ke stasiun-stasiun tertentu melalui pintu "Staff Only" atau ruang mesin yang tidak pernah dimasuki warga sipil. ‘Barang-barang’ mereka pun bisa naik ke permukaan melalui stasiun publik tanpa pernah terlihat oleh penumpang, karena jalurnya terisolasi secara fisik di dalam tembok stasiun.

Sang Menteri Transportasi—yang duduk di sebelah gubernur itu—mengangguk. Wajahnya berkeringat meski pendingin ruangan berembus kencang. Ia memajukan tubuhnya sedikit.

"Kami memastikan semua akses tersebut terintegrasi secara fisik, tetapi terisolasi secara hukum, Tuan. Tidak akan ada jejak yang tersisa dalam basis data kementerian mana pun. Bagi dunia luar, jalur itu tak pernah ada."

Akashi belum bersuara. Ia hanya memperhatikan mereka semua dengan saksama.

Di dunia birokrasi, isolasi hukum berarti penghapusan eksistensi. Jika sesuatu tidak ada di atas kertas, maka secara hukum hal itu tidak pernah ada. Sang Menteri menjamin bahwa dalam sertifikat tanah, izin bangunan, dan peta tata kota, koordinat ‘jalur’ tersebut akan dihapus secara permanen. Tanpa dokumen resmi, pihak audit maupun kepolisian tidak akan memiliki dasar hukum untuk menggeledah area yang secara administratif dianggap tidak terdaftar.

FYI, Jepang (terutama kota besar seperti Tokyo atau Osaka) adalah "kota bawah tanah". Mereka punya jaringan pipa, kabel, serta subway yang sangat rumit dan berlapis-lapis. Menambahkan satu lapis "jalur privat" di antara ribuan jalur pipa gas, kabel fiber optik, dan saluran pembuangan raksasa adalah cara paling efektif untuk bersembunyi. Audit publik biasanya hanya memeriksa jalur yang terdaftar di peta sipil.

Terowongan di bawah rel juga membutuhkan ventilasi raksasa agar udara tidak pengap. Dengan berada tepat di bawah jalur subway, mereka bisa "menumpang" pada poros ventilasi (ventilation shafts) yang menuju ke permukaan. Orang di permukaan akan melihat udara keluar dari kisi-kisi besi di trotoar dan mengira itu asap dari kereta publik, padahal itu adalah sirkulasi udara dari markas bawah tanah clan Akashi. Listriknya pun diambil dari kabel tegangan tinggi yang menyuplai rel di atasnya. Sangat efisien.

Mereka tidak membangun infrastruktur dari nol (yang akan memakan biaya besar dan mudah terdeteksi oleh radar satelit atau intelijen), melainkan "menumpangkan" jalur ilegal mereka pada proyek negara yang sah.

Dengan menyambungkan terowongan ini ke fasilitas negara (listrik, ventilasi, dan rel), clan Akashi akan mendapatkan keuntungan operasional yang luar biasa. Jika mereka membangun sistem listrik sendiri, lonjakan beban listrik di area tersebut akan mencurigakan. Dengan "mencuri" atau mengintegrasikannya ke gardu induk proyek rel utama, konsumsi listrik terowongan rahasia itu akan terkamuflase sebagai biaya operasional negara. Secara tidak langsung, perawatan struktur utamanya pun akan dilakukan oleh kontraktor negara menggunakan pajak rakyat, sementara clan Akashi hanya menikmati hasilnya.

Nyatanya, clan Akashi tidak lagi bertarung melawan hukum; mereka justru memperalat hukum untuk melindungi aset mereka. Akashi Roan Kaiser sudah menjadi bagian dari struktur dasar negara itu sendiri. Mereka benar-benar "memakan" sistem negara dari dalam.

Salah satu menteri yang duduk di ujung meja, pria dengan ambisi yang terpancar jelas dari tatapan matanya, mulai memberanikan diri untuk berbicara. Ia sedikit memajukan tubuhnya, lalu memberikan senyum terbaiknya kepada Akashi.

"Selain agenda infrastruktur, Akashi-sama, Menteri Pertahanan menitipkan pesan pribadinya untuk Anda. Beliau menyatakan ketertarikan besar pada unit alutsista non-organik terbaru dari koleksi Anda. Beliau berharap Anda bersedia menyalurkan beberapa unit untuk memperkuat kapabilitas militer mereka secara tertutup."

Ia menjeda, mencoba membaca ekspresi Akashi. Tatapan tajam dari sepasang mata merah Akashi sanggup membuat tubuhnya menegang, tetapi ia masih mencoba untuk lanjut berbicara.

“T—Tentu saja, sebagai gantinya, beliau menjamin imunitas mutlak bagi seluruh pergerakan Anda. Beliau akan memastikan bahwa kebijakan negara ke depannya akan selalu berjalan selaras dengan kepentingan Anda, tanpa hambatan birokrasi apa pun. Beliau juga siap menjadi perisai Anda di parlemen.”

Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Mata merah Akashi pun beralih pada peta digital yang masih menyala di layar besar.

Setelah sekian lama hanya mendengarkan, akhirnya suara Akashi pun terdengar.

“Terkait agenda infrastruktur itu, pastikan titik-titik interkoneksinya selaras dengan gudang logistik di sektor pelabuhan," perintah Akashi. Suaranya rendah, seksi, dan jernih, sangat enak didengar bila dalam kondisi santai. Namun, bagi orang-orangnya, suara itu sanggup membuat bulu kuduk mereka meremang. "Aku tak ingin ada penundaan hanya karena desain kalian berbenturan dengan jalur pipa gas kota."

Ia memberi jeda sejenak, menatap sang Gubernur. Tatapan mata elangnya begitu tajam, seolah-olah menembus hingga ke balik tengkorak. Seperti mampu menembus pikiran, tak menyisakan apa pun untuk disembunyikan.

"Jika ada seinci saja penyimpangan dari blueprint yang sudah kusetujui, atau jika audit publik sampai mencium keberadaan jalur itu..." Akashi memiringkan kepalanya sedikit, senyum tipisnya muncul kembali. "...maka seluruh anggaran yang kalian gelapkan untuk proyek ini akan menjadi biaya pemakaman kalian."

Nadanya santai, tetapi sanggup membungkam seluruh ruangan. Mereka semua mulai berkeringat dingin. Sedikit memucat. Itu bukan sekadar pernyataan, melainkan peringatan nyata.

Sang Gubernur pun menelan ludahnya dengan susah payah. "B—Baik, Tuan. Kami menjamin akurasi mutlak. Semuanya ada di bawah kendali kami."

Akashi mengangguk singkat. Dia lalu mengalihkan pandangannya pada menteri yang menawarkan kerja sama dengan Menteri Pertahanan tadi.

"Mengenai menteri pertahanan itu," ujar Akashi. Menteri di ujung meja itu langsung tersentak; matanya melebar menatap Akashi.

Akashi sedikit memiringkan kepalanya. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyum miring. "Katakan padanya bahwa aku tertarik pada penawarannya. Aku dan menteri itu harus bertemu, kalau begitu."

 

******

 

Tatkala Akashi bangkit untuk keluar dari VVIP lounge tersebut, para pengawalnya secara otomatis bergeser untuk memberi jalan. Kursi-kursi di sana berderit kecil saat para menteri dan gubernur ikut berdiri dengan tergesa, menundukkan kepala sedalam mungkin hingga Akashi melintasi pintu ganda yang dibukakan lagi oleh penjaga.

Akashi kembali melintasi koridor, masuk ke lift, dan turun kembali ke hiruk-pikuk lantai utama kasino.

Begitu pintu lift itu terbuka, suara mesin slot, suara tawa, dan suara musik pun kembali terdengar. Namun, tatkala Akashi dan orang-orangnya sampai di dekat meja roulette utama, tiba-tiba mereka mendengar sebuah suara.

Suaranya sangat kencang, sangat arogan, dan sangat meremehkan. Begitu jelas terdengar hingga mampu mengalahkan riuh rendah di sana dalam waktu singkat.

 

“Yo, Tuan Kaiser,” sapanya. “Tak kusangka aku bisa bertemu dengan orang sepenting dirimu di sini, haha!”

 

Langkah Akashi terhenti. Seluruh bodyguard-nya juga berhenti.

Sekitar tiga meter di depan sana, berdirilah seorang pria. Dia memakai jas berwarna putih dan kemeja berwarna hitam. Rambutnya mullet, pirang, dan memakai pomade. Sebenarnya, pria itu tidak asing di mata Akashi meski mereka jarang bertemu. Dia adalah sang pemimpin Orpheus.

Takahiro Renji.

Renji berdiri di sana, senyum miringnya terlihat kentara. Kedua tangannya ia masukkan ke saku celana, terlihat begitu santai. Di sekelilingnya—meski tidak benar-benar berbaris di belakangnya—ada banyak pria berjaket hitam. Di belakang jaket hitam mereka itu tercetak motif yang sama, yakni gambar seekor jaguar dan di bawahnya ada tulisan ‘ORPHEUS’.

“Takahiro Renji,” ucap Akashi singkat.

Renji tertawa kencang. Sambil melangkah mendekati Akashi, pria itu berkata, “Wah, sungguh kehormatan bagiku! Orang sepertimu tahu nama lengkapku.”

Begitu sampai tepat di depan Akashi, Renji pun melanjutkan ucapannya. Kali ini, dengan suara yang lebih rendah. Sarkastis. “Apakah keberadaanku cukup mengancammu hingga kau tahu nama lengkapku?”

Diam-diam, para bodyguard Akashi membatin. “Apa dia gila? Apa dia tak tahu siapa yang sedang dia hadapi?!”

Namun, tanpa diduga, Akashi malah tersenyum tipis.

“Kau sering datang ke sini?” tanya Akashi.

Renji kembali tertawa. “Tidak. Hanya datang khusus hari ini. Untuk menyapamu.”

Masih tersenyum, Akashi menjawab, “Oh ya?”

“Haruskah kita mengobrol sebentar?” ujar Renji. Senyum miringnya semakin lama semakin terlihat sarkastis. “Aku ingin sekali bertemu orang terkenal sepertimu. Waktumu tentu ada jika sekadar untuk mengobrol singkat, bukankah begitu?”

“Sure,” jawab Akashi. Senyumannya tampak semakin lebar.

Renji tersenyum penuh kemenangan. Dia mendekati Akashi lagi, selangkah lebih dekat. Setelah itu, dengan nada mengejek, dia pun berkata pelan, “Jadi, katakan padaku. Kau kecewa, bukan? Masahito, si calon gubernur itu, lebih takut pada organisasiku dibandingkan clan-mu yang raksasa. Organisasiku, yang termasuk baru ini, ternyata lebih menakutkan daripada organisasi kolosalmu yang merambat ke seluruh dunia bagaikan jaring laba-laba. Sungguh ironis! Hahahaha!!!”

Tawa Renji bergema di antara meja-meja baccarat, memancing pandangan ngeri dari para tamu kasino. Renji merasa telah berhasil menusuk harga diri Akashi Roan Kaiser di depan publik.

Akashi tetap pada posisinya. Ia tidak tampak tersinggung. Senyumannya masih setia di wajahnya.

Namun, tak ada jawaban yang keluar dari mulut Akashi. Semuanya mendadak hening.

 

Satu detik.

 

Dua detik.

 

Tiga detik.

 

Setelah itu….

 

Klik.

 

Ada suara logam kecil yang terdengar.

Satu senjata terangkat.

Kemudian satu lagi.

Dan satu lagi.

 

Hingga dalam sekejap, semua pria yang memakai jaket ORPHEUS itu mengangkat senjata mereka. Semua pistol itu mengarah ke satu titik yang sama, yaitu:

 

Ketua Orpheus.

Takahiro Renji.

 

Tubuh Renji kontan mematung. Matanya melebar sempurna. Wajahnya menegang.

Ia langsung menoleh ke kanan, ke kiri, dan ke belakang.

Kini, semua anggotanya…

 

…mengarahkan senjata kepadanya.

 

Renji langsung mengerutkan dahi. Dia berdengus, seperti kerbau yang mau mengamuk. Dia terlihat bingung, marah, sekaligus tak terima.

“APA-APAAN INI?!!!”

Tidak ada yang menjawab.

Para pengunjung di kasino itu pun tampak kaget. Wajah mereka memucat dan napas mereka tertahan. Mereka menyaksikan semua itu secara live, tetapi entah mengapa kaki mereka tak bisa bergerak. Seolah-olah… bila mereka bergerak sedikit saja, mereka akan ditembak.

Renji berputar di tempat; napasnya memburu. Senyumnya yang tadi penuh kemenangan itu kini hilang sepenuhnya. Matanya dipenuhi oleh rasa marah sekaligus ketakutan yang liar. Ia menatap wajah semua anggotanya, satu per satu. Pria-pria yang tadi pagi masih mengawalnya, masih menurutinya, kini memberikannya tatapan dingin. Wajah mereka tak berekspresi. Moncong senjata mereka juga tidak bergetar sedikit pun.

"KALIAN GILA?! AKU ADALAH KETUA KALIAN!!! TURUNKAN SENJATA KALIAN, BRENGSEK!!!" teriak Renji, suaranya pecah di tengah keheningan kasino itu.

Akashi masih berdiri di tempat yang sama. Masih tersenyum.

Dua detik kemudian, akhirnya suara Akashi terdengar.

 

“Organisasimu?”

 

Pertanyaan itu terdengar pelan. Dingin.

“Renji.” Akashi mulai memiringkan kepalanya. “Sejak kau mencoba untuk bermain-main denganku… tak ada lagi ‘organisasimu’.”

Mata Renji membeliak.

“Tidak mungkin—” Renji menggeleng kencang, wajahnya memucat. Dia panik. Jantungnya bagai mencelus ke perut. Dunianya bak runtuh seketika. “TIDAK MUNG—”

 

DAR!

 

Satu suara tembakan mulai memecah udara.

Satu.

Lalu bertubi-tubi.

 

DAR! DAR! DAR!!

 

Tubuh Renji pun jatuh seketika, bahkan sebelum gema terakhir menghilang. Lantai marmer itu dipenuhi dengan darah segar yang mengalir deras dari tubuh Renji.

Semua pengunjung kasino itu spontan berteriak histeris. Mereka semua ketakutan dan berlari terbirit-birit menuju pintu depan kasino. Rasa panik dan takut telah menguasai mereka semua hingga mereka tak bisa berdiam diri lagi. Ini sudah sangat berbahaya. Seseorang—seseorang baru saja ditembak mati di sana!!

Di tengah histeria massa yang berlarian menuju pintu keluar, Akashi Roan Kaiser tetap berdiri tegak. Ia bahkan tidak berkedip saat rentetan tembakan itu merobek tubuh Renji tepat di hadapannya.

Suara sepatu pantofelnya kembali terdengar; dia melangkah santai melewati genangan darah yang mulai mendekati ujung sepatunya. Ia berhenti sejenak, menatap tubuh Renji yang kini tak lebih dari seonggok daging tak bernyawa.

"Bereskan ini," ucap Akashi singkat.

Salah satu bodyguard-nya segera bergerak demi membisikkan sesuatu kepada staff kasino tersebut, sementara pria-pria berjaket 'ORPHEUS'—yang baru saja mengeksekusi ketua mereka sendiri—kini menunduk hormat secara serentak di hadapan Akashi.

Sejak awal, dua per empat isi Orpheus adalah orang-orang Akashi. Satu per empatnya adalah orang-orang asli Orpheus yang akhirnya membelot juga ke organisasi Akashi. Satu per empatnya lagi?

Itu adalah orang-orang Orpheus yang benar-benar ‘setia’, tetapi mereka sudah dihabisi oleh anggota Akashi tadi malam, bersamaan dengan istrinya Masahito.

Namun, apakah orang-orang Orpheus yang katanya ‘setia’ itu tahu bahwa sebenarnya tiga per empat teman mereka adalah milik Akashi?

Tentu tidak.

Ketuanya sendiri pun tak tahu soal itu.

Akashi melangkah pergi menuju pintu keluar, mantel bulunya berkibar ringan di belakangnya. Ia sama sekali tidak menoleh ke anggota-anggota Orpheus itu.

Di pintu keluar kasino, terlihatlah Kazama yang baru saja datang menjemputnya. Kazama adalah capo yang paling dekat dengan Akashi, seseorang yang sering menjadi sopir Akashi ke mana-mana. Kazama agak melebarkan matanya tatkala melihat situasi di dalam kasino itu. Dia melihat betapa chaos-nya keadaan di sana, belum lagi ada mayat—wait, bukankah itu Takahiro Renji?—serta pria-pria berjaket Orpheus yang sedang menunduk hormat kepada bosnya, Akashi.

Begitu Akashi sampai di hadapannya, Kazama pun menunduk hormat.

“Boss,” sapanya.

Akashi menatap Kazama. Dia berhenti sebentar di depan Kazama, lalu berbicara dengan santai, “Bunuh semua anggota Orpheus yang datang ke kita setelah mengkhianati organisasinya, Kazama. Nama-nama mereka ada pada Theon.”

Mata Kazama lagi-lagi melebar. “Eh?”

Akashi pun maju dan menepuk pundak Kazama singkat.

“Tolong, ya,” ujar Akashi seraya tersenyum begitu manis.

Setelah mengatakan itu, Akashi pun berlalu. Melewatinya begitu saja, bersama para bodyguard-nya.

 

******

 

Karena Akashi memberikan sebuah ‘tugas’ untuknya, Kazama pun tidak jadi menyetir untuk Akashi. Sesuai permintaan bosnya itu, dia pun pergi menemui Theon. Seorang consigliere—atau konselordi organisasi mereka.

Kediaman Theon jauh dari hiruk-pikuk kasino. Dia tinggal di mansion tenang yang berwarna putih bersama beberapa pelayannya.

Begitu sampai di depan mansion itu, Kazama langsung disambut baik oleh pelayan-pelayan Theon. Mereka langsung mengantarkan Kazama ke tempat peristirahatan Theon, yakni sebuah perpustakaan pribadi yang ada di belakang mansion itu.

Kazama hanya berjalan santai, seperti sudah biasa datang ke sana. Dia juga tahu bahwa Theon memang suka menghabiskan waktu di perpustakaannya.

Begitu sampai di depan pintu perpustakaan, para pelayan itu mulai menunduk hormat kepada Kazama. Mempersilakan Kazama untuk langsung masuk dan menemui Theon di dalam sana.

Kazama hanya tersenyum tipis sambil mengangguk kecil sebagai tanda terima kasih.

Sepeninggal para pelayan itu, Kazama pun mulai membuka pintu perpustakaan. Perpustakaan itu memiliki tiga lantai. Gedungnya juga terlihat tinggi dari luar.

Dinding bagian dalam perpustakaan itu mostly berwarna putih. Tangga-tangga spiralnya berwarna cokelat keemasan. Perpustakaan itu megah, elite, tenang, dan tertata. Seperti milik akademisi kelas atas.

Rak buku memenuhi perpustakaan itu dan semuanya tersusun dengan rapi. Lampu kristal putih di atas sana juga tampak begitu megah.

Ini jelas merupakan tempat favoritnya Theon.

Begitu memasuki perpustakaan itu, Kazama bisa melihat sosok Theon di depan sana. Di tengah-tengah ruangan. Dia berdiri—pinggulnya bersandar pada tepi meja—seraya membalik halaman sebuah buku.

Theon memakai kemeja putih yang dilapisi dengan rompi jas berwarna krem. Dia memakai celana panjang berwarna krem juga. Rambut panjangnya yang berwarna hijau muda itu jatuh dengan rapi. Setengahnya terikat, sementara sisanya dibiarkan tergerai. Sebuah kacamata tipis bertengger di hidungnya.

Jujur saja, bagi Kazama, Theon lebih terlihat seperti seorang profesor atau dosen universitas daripada seorang eksekutif di organisasi milik Akashi Roan Kaiser.

“Theon,” panggil Kazama seraya melangkah mendekat.

Theon pun langsung menoleh. Matanya melebar.

“Kazama?” balas Theon. “Ada apa kemari?”

Theon mulai berdiri tegap, lalu berjalan ke belakang mejanya. Ia menarik sebuah kursi, lalu duduk di sana.

Begitu sampai, Kazama lantas menarik kursi di depan Theon dan menjatuhkan tubuhnya di sana. "Boss baru saja memerintahkanku untuk membersihkan anggota-anggota Orpheus yang membelot ke pihak kita."

Theon bersandar. Dia menyilangkan tangannya di depan dada. “Oh ya? Secepat itu?”

Kazama mengangguk. “Ya, soalnya ketuanya sudah mati tadi. Di kasino.”

Theon melebarkan mata. “Oh, astaga.”

“Aku baru sampai dan sudah menyaksikan kekacauan itu. Tak tahu juga mengapa si Renji itu tiba-tiba ada di sana,” ujar Kazama.

Theon menghela napas, lalu mengangguk. “Baiklah. Jadi, ada apa kau datang kemari?”

Kazama sedikit memajukan tubuhnya. Dia menatap Theon dengan serius. “Boss bilang, kau punya daftar nama orang-orang yang membelot itu.”

Theon tidak langsung menjawab. Ia hanya mengulurkan tangan, mengambil sebuah map kulit berwarna hitam yang terletak di sudut mejanya.

"Ya, aku punya itu," jawab Theon dengan tenang. Ia menyodorkan map itu ke hadapan Kazama. "Dua ratus dua belas nama. Lengkap dengan riwayat keluarga dan koordinat tempat tinggal mereka saat ini."

Kazama membuka map itu. Matanya membelalak tatkala melihat seluruh detail yang tersaji. "Dua ratus lebih? Sejak kapan kau menyiapkan semua ini?"

Theon tersenyum tipis. "Sebenarnya, sejak Orpheus tercipta. Boss sudah menyuruhku untuk mempersiapkan dokumen ini sejak awal, perlahan-lahan. Dia agaknya bisa membaca bahwa Orpheus hanya akan menciptakan kekacauan baginya, jadi dia mengantisipasi itu. Dia membiarkan Orpheus bermain-main di papan caturnya, sementara kemungkinan besar dia tahu bahwa ending-nya akan seperti ini. Renji benar-benar menggali kuburannya sendiri."

Kazama menggeleng, merasa ngeri. "Terkadang, aku merasa bahwa kita semua hanya hidup di dalam simulasi yang Boss buat. Atau mungkin… kita semua hanyalah bidak yang dia gerakkan tanpa kita sadari. Dia benar-benar tak bisa ditebak, seolah-olah dia bukanlah manusia. Tak ada yang tahu apa yang ada di kepalanya."

"Itulah alasan mengapa dia berdiri di puncak, Kazama,” jawab Theon. “Bukankah kau sering bersamanya? Harusnya kau yang paling tahu pergerakannya."

Kazama mengedikkan bahu. “Entahlah. Meski aku sering bersamanya, aku merasa banyak sekali hal yang tak kuketahui tentangnya. Banyak hal yang tak dia beritahukan padaku. Daftar orang-orang ini adalah salah satu contohnya.”

Theon menghela napas seraya tersenyum lembut. “Well, aku juga begitu. Namun, justru hal itulah yang membuat kita semua tunduk di kakinya.”

“Omong-omong, soal ‘tak tahu banyak’… aku juga baru mengetahui sesuatu,” ujar Kazama tiba-tiba. Dahinya berkerut. Jemarinya menyentuh dagunya, memikirkan sesuatu.

Theon mengangkat sebelah alisnya, tertarik. "Sesuatu? Apa itu?"

Kazama menatap Theon; matanya mulai sedikit menyipit. Dia pun berbicara dengan serius, tetapi tetap berhati-hati. “Beberapa hari belakangan, aku tidak menyopiri mobil Boss karena sibuk. Ada beberapa capo lain yang bersama Boss selama jeda waktu itu, menyopiri beliau ke mana-mana.”

“Hm, hmm.” Theon mengangguk. “Lalu?”

"Kata para capo itu, Boss beberapa hari ini sering menemui seorang wanita,” ujar Kazama. "Dia pergi ke sebuah café di kota kecil tempat mansion pribadinya berada. Setelah itu, dia menanyakan apartemen mana yang dekat dengan café itu."

Theon tertegun. Matanya agak melebar. “…Wanita? Kau yakin Boss memang menemui seorang wanita?”

“Iya.” Kazama mengangguk. “Soalnya, keesokan paginya, beliau memperhatikan wanita itu dari mobil, di depan Kantor Pelayanan Publik. Infonya, wanita itu adalah seorang PNS yang bekerja di sana.”

Sekarang, Theon jadi mengernyitkan dahi. “Seorang PNS? Bukankah itu sedikit berbahaya apabila dia tahu siapa Akashi-sama?”

“Entahlah,” ujar Kazama. “Terlepas dari wanita itu PNS atau bukan, kenyataan bahwa Akashi-sama berinteraksi dengannya di café biasa, menanyai lokasi apartemennya, lalu menunggunya di depan Kantor Pelayanan Publik saja sudah membuatku terkejut. Banyak wanita elite yang melemparkan diri mereka secara sukarela, tetapi Boss selalu rileks. Biasanya, dia hanya tersenyum, menyapa para wanita itu balik, tetapi tak pernah benar-benar tertarik.”

Ketenangan Theon jadi terusik. Jemarinya yang panjang itu mengetuk-ngetuk permukaan meja dengan irama yang tak beraturan.

"Menunggu di depan Kantor Pelayanan Publik..." Theon mengulang kalimat itu dengan nada sangsi. "Kemungkinan besar, dia penasaran dengan wanita itu. Dia tertarik secara personal.”

"Sepertinya begitu," sahut Kazama pendek. “Boss juga tidak memerintahkan kita untuk menyelidiki latar belakang wanita itu.”

Kerutan di dahi Theon terlihat semakin kentara. Pikiran pria itu sudah melayang jauh, mencoba memetakan variabel baru yang tidak ada di dalam kalkulasinya.

Seorang wanita. Seorang PNS.

 

…dan pemimpin mereka yang mendadak memiliki ‘waktu’ di tengah kekuasaannya yang mutlak.

 

Sebenarnya, siapa perempuan itu? []

 












******







Hehehe...






No comments:

Post a Comment

Immure (Chapter 5: Numb, Empty)

  ****** Chapter 5 : Numb, Empty   ******   SAAT matahari terbenam, Yohan pun mengantarkan Hea pulang. Pemuda itu sempat ragu-ra...