Chapter
5 :
Kairos
******
PINTU
kaca
ganda kasino Obsidian Crown terbuka lebar. Pintu itu dibuka dengan sinkronisasi
sempurna oleh dua penjaga bertubuh raksasa yang berdiri di luar.
Cahaya
keemasan dari lampu-lampu kristal yang ada di langit-langit terlihat memantul
pada lantai marmer yang mengilap. Area kasino itu dipenuhi dengan aroma parfum
mahal, alkohol, dan uang yang berputar tanpa suara. Suara mesin slot
berdenting, tawa renyah para sosialita di beberapa sudut, musik yang mengalun
pelan, dan gesekan kartu di atas meja baccarat seolah-olah memenuhi telinga.
Namun,
tatkala pintu kasino itu terbuka lebar… tiba-tiba atmosfernya berubah.
Seluruh
keriuhan di dalam kasino yang megah itu mendadak surut. Suara tawa, suara mesin
slot, suara gesekan kartu…
…semuanya
seolah-olah meredam dengan sendirinya.
Di
ujung sana, melalui pintu yang terbuka itu, masuklah seorang pria. Rambut
merahnya yang mencolok langsung menyita perhatian semua orang. Kedua mata
elangnya yang juga berwarna merah itu seakan-akan berkilat, menatap ke depan
dengan tajam. Fokus. Terkontrol.
Akashi
Roan Kaiser melangkah dengan pasti. Tenang dan tak terganggu. Setiap langkahnya
jatuh sempurna, halus dan terukur, seperti berjalan di panggung yang memang
diciptakan untuknya. Setiap ketukan pantofel mengilatnya di atas marmer hitam
itu seakan-akan bergema. Mantel hitam panjang berbulunya—yang ia pakai sebagai outer—terpasang
dengan rapi di bahunya, menyapu ringan di belakang setiap kali ia bergerak. Mantel
itu memberikan siluet yang majestic sekaligus mematikan, seperti seorang
tiran yang elegan.
Di
belakang Akashi, terdapat delapan pria berjas hitam yang mengikutinya dalam
formasi presisi. Begitu Akashi dan rombongannya masuk, situasi mendadak jadi tegang.
Membeku. Dipenuhi dengan rasa kagum yang bercampur dengan rasa gentar,
padahal sosok itu belum melangkah jauh ke dalam.
Akashi
tidak tersenyum. Ia hanya berjalan melewati meja-meja permainan dan semua
kerumunan di sana. Ia tampak seperti predator puncak yang sudah biasa datang ke
tempat itu.
Salah
satu dealer yang sedang membagikan kartu jadi berhenti sepersekian detik
lebih lama dari seharusnya. Seorang pria—yang tadinya tengah tertawa—pelan-pelan
menurunkan gelasnya. Beberapa penjaga di sudut ruangan bahkan mendadak meluruskan
posisi berdiri mereka.
Semua
tatapan mengikuti langkah Akashi, tetapi tak ada yang berani menahannya.
Para
turis kebanyakan hanya membeku karena melihat ketampanan Akashi, tetapi orang-orang
Jepang yang ada di sana (yang kebanyakan merupakan kelompok pengusaha dan
sosialita muda) membeku karena alasan yang berbeda. Mendadak tangan mereka
terasa kaku. Mata mereka melebar; di dalam tatapan mereka tersirat rasa takjub sekaligus
rasa heran yang menyesakkan.
"Bukankah
itu...” bisik mereka dengan hati-hati, seolah-olah takut suara
mereka akan terdengar. Bagaimana mungkin sosok setinggi dia berada di
tempat perjudian ini?
Namun,
ada beberapa orang Jepang yang hanya meneguk ludah. Wajah mereka memucat; keringat
dingin muncul di area pelipis mereka. Reaksi mereka sedikit berbeda karena
mereka pernah mendengar desas-desus yang hanya berani dibisikkan di balik pintu
tertutup tentang siapa pemilik aset berupa kasino mewah itu. Namun, mengingat siapa
manusia yang tengah mereka curigai, mereka jadi berpikir dua kali.
Akashi
terus melangkah, tak memedulikan tatapan yang separuh memuja dan separuh
gemetar itu. Turis-turis asing yang tak mengenalinya pun tetap menepi secara
naluriah.
Begitu
sampai di depan lift pribadi yang berwarna hitam, Akashi dan orang-orangnya
disambut oleh dua penjaga. Dua penjaga itu bukan hanya membukakan pintu, melainkan
juga membungkuk hingga punggung mereka sejajar dengan lantai.
Begitu
sosok Akashi masuk ke lift, semua orang di aula kasino itu baru teringat untuk
mengembuskan napas. Udara kembali mengalir, tetapi sisa-sisa tekanannya masih ada,
membuat jantung mereka berdebar-debar dalam kesunyian yang ia tinggalkan.
Turis-turis
yang tak tahu menahu (tetapi ikut merasakan tekanannya pun) tiba-tiba berpikir,
“Itu pasti orang yang sangat penting.”
Pintu
lift yang Akashi naiki itu terbuka dengan halus di lantai paling atas. Begitu
pria itu (dan delapan orang yang mengikutinya) melangkah keluar, suasana mewah
(tetapi ramai) dari lantai bawah langsung hilang, digantikan oleh keheningan. Lampu-lampunya
lebih redup dan jauh lebih eksklusif.
Di
depannya, terbentang sebuah koridor panjang dengan lantai yang dilapisi karpet
beludru merah tua yang sangat tebal, cukup untuk meredam setiap suara langkah
kaki. Dinding hitamnya dihiasi dengan lukisan-lukisan klasik. Di koridor ini, tak
ada lagi aroma alkohol; yang ada hanyalah wangi oud yang dalam dan
mewah.
Di
ujung koridor, berdiri sebuah pintu ganda besar berwarna hitam (dengan aksen
keemasan). Dua penjaga yang bertubuh tegap sudah berdiri di sana dengan sikap
siaga yang sempurna. Saat posisi Akashi telah berjarak beberapa meter, kedua
pengawal itu langsung serentak membungkuk. Setelah itu, dengan gerakan yang
mantap, mereka pun menarik gagang pintu emas itu ke arah luar secara bersamaan.
Ruangan
VVIP lounge terbentang di baliknya. Ada sebuah lampu kristal (yang jauh
lebih hangat daripada di aula bawah), sebuah meja panjang, dan deretan wajah
yang tidak asing. Para politisi, pebisnis ternama, dan para pemimpin yang
mengendalikan wilayahnya masing-masing (dari balik layar) telah duduk di
sana. Mereka tadinya sedang berdiskusi dengan santai, tetapi begitu sosok
Akashi muncul di ambang pintu, percakapan itu mati seketika.
Semua
orang di sana langsung berdiri secara serentak.
“Akashi-sama.”
Sapaan
itu bergema; kepatuhan mereka terdengar absolut.
Akashi
tidak langsung menanggapi. Ia melangkah masuk, berjalan menuju sebuah kursi
besar di paling depan yang memang dikosongkan untuknya.
Setelah
Akashi duduk dan menyilangkan kakinya dengan elegan, barulah ketegangan di
ruangan itu sedikit mencair. Semua orang telah berhadapan langsung dengan mata
merah sang penguasa.
Akashi
mengangguk singkat, lalu bersandar. Setelah itu, semua orang pun duduk kembali.
Seorang
gubernur yang duduk di sisi kanan Akashi mulai berbicara.
"Terima
kasih atas kehadiran Anda, Akashi-sama," ujarnya. "Kami sangat
menghargai dukungan Anda dalam periode transisi ini. Seperti yang telah kita
bicarakan secara internal, pengembangan infrastruktur pusat kini memasuki fase
krusial."
Ia
memberikan isyarat kecil. Sebuah peta digital pun muncul di layar besar di
depan sana, menampilkan blueprint jalur-jalur yang akan membelah jantung
negara.
"Kami
sedang memfinalisasi rencana untuk perbaikan jalur lintas utama dan pembangunan
jaringan rel kereta bawah tanah yang baru. Proyek ini akan menjadi tulang
punggung mobilitas sektor bisnis,” ujarnya dengan hati-hati. Meskipun sang
Gubernur adalah pria yang menguasai jutaan suara di prefektur ini, di depan
Akashi, dia tak lebih dari seorang mandor yang sedang melaporkan galian
tanahnya. Gubernur itu berhenti sejenak, melirik Akashi yang masih duduk tenang
dalam keheningannya yang mengintimidasi. "Namun, dalam proses transisi
ini, kami telah menyisipkan desain untuk 'ruang utilitas sekunder' yang
tidak akan muncul dalam arsip publik maupun pemetaan sipil."
Proyek
infrastruktur adalah cara klasik bagi politisi seperti sang Gubernur untuk
melakukan kickback (uang pelicin). Dengan melibatkan Akashi, mereka
mendapatkan pendanaan yang tak terbatas untuk memperkuat posisi mereka pada
pemilihan berikutnya. Gubernur ini bukan sekadar politisi yang korupsi, melainkan
juga orang dalam/capo yang ditanam di kursi pemerintahan. Dia berbicara
kepada Akashi bukan sebagai pejabat publik, tetapi sebagai bawahan yang
melaporkan progres bisnis kepada bosnya.
By
the way, di Jepang ada istilah G-Cans yang besarnya seperti
katedral. Dengan kekuasaan seorang gubernur atau menteri, mereka bisa
memerintahkan kontraktor untuk menggali "sedikit lebih dalam"—saat pembangunan
rel kereta bawah tanah—dengan alasan stabilitas tanah atau penanganan banjir.
Jadi, di atas kertas, itu adalah ruang kosong untuk drainase, tetapi secara
fisik, itu adalah terowongan luas milik clan Akashi.
Sang
Gubernur pun kembali berbicara, memberikan penekanan pada poin selanjutnya.
"Ini
adalah koridor bayangan, Akashi-sama. Ruang bawah tanah yang luas dengan
akses privat yang kami samarkan di bawah beberapa gedung perkantoran, kediaman
pribadi, dan titik strategis yang telah kita akuisisi. Kami menyebutnya sebagai
jalur distribusi prioritas. Dengan otoritas penuh atas izin konstruksi
ini, kami menjamin bahwa takkan ada audit maupun pemeriksaan luar.
Semuanya akan berjalan di bawah pengawasan kami, demi memastikan ‘aset' Anda
bergerak tanpa pernah menyentuh radar keamanan mana pun."
Rel
kereta bawah tanah (subway) biasanya memiliki bantalan beton yang sangat
tebal. Jika terowongan itu berada tepat di bawah jalur rel negara, maka getaran
dan suara dari aktivitas distribusi mereka (misalnya suara mesin atau kendaraan
pengangkut) akan terendam secara alami oleh bisingnya kereta komuter yang lewat
di atasnya. Jika ada sensor pendeteksi aktivitas bawah tanah milik intelijen,
mereka akan mengira anomali getaran itu hanyalah gema dari perjalanan kereta
publik. Itu akan menjadi blind spot total. Semakin sibuk rel di atasnya,
semakin aman ‘jalur’ mereka di bawahnya.
Selain
itu, polisi atau detektif biasanya akan mencari gudang di pelabuhan atau truk
di jalan raya. Mereka tidak akan mencari "hantu" di dalam sistem
saraf transportasi negara yang dijaga ketat oleh kementerian.
Jika
jalur itu terhubung dengan gedung perkantoran, kediaman pribadi, dan titik
strategis yang sudah diakuisisi, maka truk logistik clan mereka bisa masuk
ke basement gedung perkantoran biasa (yang tampak legal), lalu turun ke
lift rahasia yang langsung tembus ke "Koridor Bayangan" ini. Takkan
ada yang curiga mengapa ada truk masuk ke gedung perkantoran di tengah kota.
Terowongan
itu juga bisa memiliki lift kargo raksasa atau jalur landai (ramps) yang
menghubungkannya ke jalur rel utama di atasnya. Pada jam-jam tertentu saat
kereta komuter berhenti beroperasi, kereta logistik clan Akashi bisa
naik ke jalur utama. Karena dia keluar dari bawah tanah di area yang dianggap
sebagai ‘area teknis’, petugas kontrol perjalanan kereta akan mengira bahwa itu
adalah kereta pemeliharaan rel yang sedang bekerja. Selain itu, mereka juga bisa
membuat lift-lift kecil atau tangga rahasia yang terhubung langsung ke
stasiun-stasiun tertentu melalui pintu "Staff Only" atau ruang mesin
yang tidak pernah dimasuki warga sipil. ‘Barang-barang’ mereka pun bisa naik ke
permukaan melalui stasiun publik tanpa pernah terlihat oleh penumpang, karena
jalurnya terisolasi secara fisik di dalam tembok stasiun.
Sang
Menteri Transportasi—yang duduk di sebelah gubernur itu—mengangguk. Wajahnya
berkeringat meski pendingin ruangan berembus kencang. Ia memajukan tubuhnya
sedikit.
"Kami
memastikan semua akses tersebut terintegrasi secara fisik, tetapi terisolasi
secara hukum, Tuan. Tidak akan ada jejak yang tersisa dalam basis data
kementerian mana pun. Bagi dunia luar, jalur itu tak pernah ada."
Akashi
belum bersuara. Ia hanya memperhatikan mereka semua dengan saksama.
Di
dunia birokrasi, isolasi hukum berarti penghapusan eksistensi. Jika sesuatu
tidak ada di atas kertas, maka secara hukum hal itu tidak pernah ada.
Sang Menteri menjamin bahwa dalam sertifikat tanah, izin bangunan, dan peta
tata kota, koordinat ‘jalur’ tersebut akan dihapus secara permanen. Tanpa
dokumen resmi, pihak audit maupun kepolisian tidak akan memiliki dasar hukum
untuk menggeledah area yang secara administratif dianggap tidak terdaftar.
FYI,
Jepang
(terutama kota besar seperti Tokyo atau Osaka) adalah "kota bawah
tanah". Mereka punya jaringan pipa, kabel, serta subway yang sangat
rumit dan berlapis-lapis. Menambahkan satu lapis "jalur privat" di
antara ribuan jalur pipa gas, kabel fiber optik, dan saluran pembuangan raksasa
adalah cara paling efektif untuk bersembunyi. Audit publik biasanya hanya
memeriksa jalur yang terdaftar di peta sipil.
Terowongan
di bawah rel juga membutuhkan ventilasi raksasa agar udara tidak pengap. Dengan
berada tepat di bawah jalur subway, mereka bisa "menumpang"
pada poros ventilasi (ventilation shafts) yang menuju ke permukaan. Orang
di permukaan akan melihat udara keluar dari kisi-kisi besi di trotoar dan
mengira itu asap dari kereta publik, padahal itu adalah sirkulasi udara dari
markas bawah tanah clan Akashi. Listriknya pun diambil dari kabel
tegangan tinggi yang menyuplai rel di atasnya. Sangat efisien.
Mereka
tidak membangun infrastruktur dari nol (yang akan memakan biaya besar dan mudah
terdeteksi oleh radar satelit atau intelijen), melainkan
"menumpangkan" jalur ilegal mereka pada proyek negara yang sah.
Dengan
menyambungkan terowongan ini ke fasilitas negara (listrik, ventilasi, dan rel),
clan Akashi akan mendapatkan keuntungan operasional yang luar biasa. Jika
mereka membangun sistem listrik sendiri, lonjakan beban listrik di area
tersebut akan mencurigakan. Dengan "mencuri" atau mengintegrasikannya
ke gardu induk proyek rel utama, konsumsi listrik terowongan rahasia itu akan
terkamuflase sebagai biaya operasional negara. Secara tidak langsung, perawatan
struktur utamanya pun akan dilakukan oleh kontraktor negara menggunakan pajak
rakyat, sementara clan Akashi hanya menikmati hasilnya.
Nyatanya,
clan Akashi tidak lagi bertarung melawan hukum; mereka justru memperalat
hukum untuk melindungi aset mereka. Akashi Roan Kaiser sudah menjadi bagian
dari struktur dasar negara itu sendiri. Mereka benar-benar "memakan"
sistem negara dari dalam.
Salah
satu menteri yang duduk di ujung meja, pria dengan ambisi yang terpancar jelas
dari tatapan matanya, mulai memberanikan diri untuk berbicara. Ia sedikit memajukan
tubuhnya, lalu memberikan senyum terbaiknya kepada Akashi.
"Selain
agenda infrastruktur, Akashi-sama, Menteri Pertahanan menitipkan pesan pribadinya
untuk Anda. Beliau menyatakan ketertarikan besar pada unit alutsista
non-organik terbaru dari koleksi Anda. Beliau berharap Anda bersedia
menyalurkan beberapa unit untuk memperkuat kapabilitas militer mereka secara
tertutup."
Ia
menjeda, mencoba membaca ekspresi Akashi. Tatapan tajam dari sepasang mata merah
Akashi sanggup membuat tubuhnya menegang, tetapi ia masih mencoba untuk
lanjut berbicara.
“T—Tentu
saja, sebagai gantinya, beliau menjamin imunitas mutlak bagi seluruh
pergerakan Anda. Beliau akan memastikan bahwa kebijakan negara ke depannya akan
selalu berjalan selaras dengan kepentingan Anda, tanpa hambatan
birokrasi apa pun. Beliau juga siap menjadi perisai Anda di parlemen.”
Keheningan
kembali menyelimuti ruangan. Mata merah Akashi pun beralih pada peta digital
yang masih menyala di layar besar.
Setelah
sekian lama hanya mendengarkan, akhirnya suara Akashi pun terdengar.
“Terkait
agenda infrastruktur itu, pastikan titik-titik interkoneksinya selaras dengan
gudang logistik di sektor pelabuhan," perintah Akashi. Suaranya rendah,
seksi, dan jernih, sangat enak didengar bila dalam kondisi santai.
Namun, bagi orang-orangnya, suara itu sanggup membuat bulu kuduk mereka
meremang. "Aku tak ingin ada penundaan hanya karena desain kalian
berbenturan dengan jalur pipa gas kota."
Ia
memberi jeda sejenak, menatap sang Gubernur. Tatapan mata elangnya begitu
tajam, seolah-olah menembus hingga ke balik tengkorak. Seperti mampu menembus
pikiran, tak menyisakan apa pun untuk disembunyikan.
"Jika
ada seinci saja penyimpangan dari blueprint yang sudah kusetujui, atau
jika audit publik sampai mencium keberadaan jalur itu..." Akashi
memiringkan kepalanya sedikit, senyum tipisnya muncul kembali. "...maka seluruh
anggaran yang kalian gelapkan untuk proyek ini akan menjadi biaya pemakaman
kalian."
Nadanya
santai, tetapi sanggup membungkam seluruh ruangan. Mereka semua mulai
berkeringat dingin. Sedikit memucat. Itu bukan sekadar pernyataan, melainkan
peringatan nyata.
Sang
Gubernur pun menelan ludahnya dengan susah payah. "B—Baik, Tuan. Kami
menjamin akurasi mutlak. Semuanya ada di bawah kendali kami."
Akashi
mengangguk singkat. Dia lalu mengalihkan pandangannya pada menteri yang
menawarkan kerja sama dengan Menteri Pertahanan tadi.
"Mengenai
menteri pertahanan itu," ujar Akashi. Menteri di ujung meja itu langsung
tersentak; matanya melebar menatap Akashi.
Akashi
sedikit memiringkan kepalanya. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyum miring.
"Katakan padanya bahwa aku tertarik pada penawarannya. Aku dan menteri itu
harus bertemu, kalau begitu."
******
Tatkala
Akashi bangkit untuk keluar dari VVIP lounge tersebut, para pengawalnya
secara otomatis bergeser untuk memberi jalan. Kursi-kursi di sana berderit
kecil saat para menteri dan gubernur ikut berdiri dengan tergesa, menundukkan
kepala sedalam mungkin hingga Akashi melintasi pintu ganda yang dibukakan lagi oleh
penjaga.
Akashi
kembali melintasi koridor, masuk ke lift, dan turun kembali ke hiruk-pikuk
lantai utama kasino.
Begitu
pintu lift itu terbuka, suara mesin slot, suara tawa, dan suara musik
pun kembali terdengar. Namun, tatkala Akashi dan orang-orangnya sampai di dekat
meja roulette utama, tiba-tiba mereka mendengar sebuah suara.
Suaranya
sangat kencang, sangat arogan, dan sangat meremehkan. Begitu
jelas terdengar hingga mampu mengalahkan riuh rendah di sana dalam waktu
singkat.
“Yo,
Tuan Kaiser,” sapanya. “Tak kusangka aku bisa bertemu dengan orang
sepenting dirimu di sini, haha!”
Langkah
Akashi terhenti. Seluruh bodyguard-nya juga berhenti.
Sekitar
tiga meter di depan sana, berdirilah seorang pria. Dia memakai jas berwarna
putih dan kemeja berwarna hitam. Rambutnya mullet, pirang, dan
memakai pomade. Sebenarnya, pria itu tidak asing di mata Akashi meski mereka
jarang bertemu. Dia adalah sang pemimpin Orpheus.
Takahiro
Renji.
Renji
berdiri di sana, senyum miringnya terlihat kentara. Kedua tangannya ia masukkan
ke saku celana, terlihat begitu santai. Di sekelilingnya—meski tidak
benar-benar berbaris di belakangnya—ada banyak pria berjaket hitam. Di belakang
jaket hitam mereka itu tercetak motif yang sama, yakni gambar seekor jaguar dan
di bawahnya ada tulisan ‘ORPHEUS’.
“Takahiro
Renji,” ucap Akashi singkat.
Renji
tertawa kencang. Sambil melangkah mendekati Akashi, pria itu berkata, “Wah,
sungguh kehormatan bagiku! Orang sepertimu tahu nama lengkapku.”
Begitu
sampai tepat di depan Akashi, Renji pun melanjutkan ucapannya. Kali ini,
dengan suara yang lebih rendah. Sarkastis. “Apakah keberadaanku cukup mengancammu
hingga kau tahu nama lengkapku?”
Diam-diam,
para bodyguard Akashi membatin. “Apa dia gila? Apa dia tak tahu siapa
yang sedang dia hadapi?!”
Namun,
tanpa diduga, Akashi malah tersenyum tipis.
“Kau
sering datang ke sini?” tanya Akashi.
Renji
kembali tertawa. “Tidak. Hanya datang khusus hari ini. Untuk menyapamu.”
Masih
tersenyum, Akashi menjawab, “Oh ya?”
“Haruskah
kita mengobrol sebentar?” ujar Renji. Senyum miringnya semakin lama semakin
terlihat sarkastis. “Aku ingin sekali bertemu orang terkenal sepertimu. Waktumu
tentu ada jika sekadar untuk mengobrol singkat, bukankah begitu?”
“Sure,”
jawab
Akashi. Senyumannya tampak semakin lebar.
Renji
tersenyum penuh kemenangan. Dia mendekati Akashi lagi, selangkah lebih dekat.
Setelah itu, dengan nada mengejek, dia pun berkata pelan, “Jadi, katakan
padaku. Kau kecewa, bukan? Masahito, si calon gubernur itu, lebih takut pada
organisasiku dibandingkan clan-mu yang raksasa. Organisasiku, yang
termasuk baru ini, ternyata lebih menakutkan daripada organisasi
kolosalmu yang merambat ke seluruh dunia bagaikan jaring laba-laba. Sungguh
ironis! Hahahaha!!!”
Tawa
Renji bergema di antara meja-meja baccarat, memancing pandangan ngeri
dari para tamu kasino. Renji merasa telah berhasil menusuk harga diri Akashi
Roan Kaiser di depan publik.
Akashi
tetap pada posisinya. Ia tidak tampak tersinggung. Senyumannya masih setia di
wajahnya.
Namun,
tak ada jawaban yang keluar dari mulut Akashi. Semuanya mendadak hening.
Satu
detik.
Dua
detik.
Tiga
detik.
Setelah
itu….
Klik.
Ada
suara logam kecil yang terdengar.
Satu
senjata terangkat.
Kemudian
satu lagi.
Dan
satu lagi.
Hingga
dalam sekejap, semua pria yang memakai jaket ORPHEUS itu mengangkat senjata
mereka. Semua pistol itu mengarah ke satu titik yang sama, yaitu:
Ketua
Orpheus.
Takahiro
Renji.
Tubuh
Renji kontan mematung. Matanya melebar sempurna. Wajahnya menegang.
Ia
langsung menoleh ke kanan, ke kiri, dan ke belakang.
Kini,
semua anggotanya…
…mengarahkan
senjata kepadanya.
Renji
langsung mengerutkan dahi. Dia berdengus, seperti kerbau yang mau
mengamuk. Dia terlihat bingung, marah, sekaligus tak terima.
“APA-APAAN INI?!!!”
Tidak
ada yang menjawab.
Para
pengunjung di kasino itu pun tampak kaget. Wajah mereka memucat dan napas
mereka tertahan. Mereka menyaksikan semua itu secara live, tetapi entah
mengapa kaki mereka tak bisa bergerak. Seolah-olah… bila mereka bergerak
sedikit saja, mereka akan ditembak.
Renji
berputar di tempat; napasnya memburu. Senyumnya yang tadi penuh kemenangan itu
kini hilang sepenuhnya. Matanya dipenuhi oleh rasa marah sekaligus ketakutan
yang liar. Ia menatap wajah semua anggotanya, satu per satu. Pria-pria yang
tadi pagi masih mengawalnya, masih menurutinya, kini memberikannya tatapan
dingin. Wajah mereka tak berekspresi. Moncong senjata mereka juga tidak
bergetar sedikit pun.
"KALIAN
GILA?! AKU ADALAH KETUA KALIAN!!! TURUNKAN SENJATA KALIAN, BRENGSEK!!!"
teriak Renji, suaranya pecah di tengah keheningan kasino itu.
Akashi
masih berdiri di tempat yang sama. Masih tersenyum.
Dua
detik kemudian, akhirnya suara Akashi terdengar.
“Organisasimu?”
Pertanyaan
itu terdengar pelan. Dingin.
“Renji.”
Akashi mulai memiringkan kepalanya. “Sejak kau mencoba untuk bermain-main
denganku… tak ada lagi ‘organisasimu’.”
Mata
Renji membeliak.
“Tidak
mungkin—” Renji menggeleng kencang, wajahnya memucat. Dia panik. Jantungnya
bagai mencelus ke perut. Dunianya bak runtuh seketika. “TIDAK MUNG—”
DAR!
Satu
suara tembakan mulai memecah udara.
Satu.
Lalu
bertubi-tubi.
DAR!
DAR! DAR!!
Tubuh
Renji pun jatuh seketika, bahkan sebelum gema terakhir menghilang. Lantai
marmer itu dipenuhi dengan darah segar yang mengalir deras dari tubuh Renji.
Semua
pengunjung kasino itu spontan berteriak histeris. Mereka semua ketakutan
dan berlari terbirit-birit menuju pintu depan kasino. Rasa panik dan
takut telah menguasai mereka semua hingga mereka tak bisa berdiam diri lagi.
Ini sudah sangat berbahaya. Seseorang—seseorang baru saja ditembak mati
di sana!!
Di
tengah histeria massa yang berlarian menuju pintu keluar, Akashi Roan Kaiser
tetap berdiri tegak. Ia bahkan tidak berkedip saat rentetan tembakan itu
merobek tubuh Renji tepat di hadapannya.
Suara
sepatu pantofelnya kembali terdengar; dia melangkah santai melewati genangan
darah yang mulai mendekati ujung sepatunya. Ia berhenti sejenak, menatap tubuh
Renji yang kini tak lebih dari seonggok daging tak bernyawa.
"Bereskan
ini," ucap Akashi singkat.
Salah
satu bodyguard-nya segera bergerak demi membisikkan sesuatu kepada staff
kasino tersebut, sementara pria-pria berjaket 'ORPHEUS'—yang baru saja
mengeksekusi ketua mereka sendiri—kini menunduk hormat secara serentak di
hadapan Akashi.
Sejak
awal, dua per empat isi Orpheus adalah orang-orang Akashi. Satu per empatnya
adalah orang-orang asli Orpheus yang akhirnya membelot juga ke organisasi
Akashi. Satu per empatnya lagi?
Itu
adalah orang-orang Orpheus yang benar-benar ‘setia’, tetapi mereka sudah dihabisi
oleh anggota Akashi tadi malam, bersamaan dengan istrinya Masahito.
Namun,
apakah orang-orang Orpheus yang katanya ‘setia’ itu tahu bahwa sebenarnya tiga
per empat teman mereka adalah milik Akashi?
Tentu
tidak.
Ketuanya
sendiri pun tak tahu soal itu.
Akashi
melangkah pergi menuju pintu keluar, mantel bulunya berkibar ringan di
belakangnya. Ia sama sekali tidak menoleh ke anggota-anggota Orpheus itu.
Di
pintu keluar kasino, terlihatlah Kazama yang baru saja datang menjemputnya.
Kazama adalah capo yang paling dekat dengan Akashi, seseorang yang
sering menjadi sopir Akashi ke mana-mana. Kazama agak melebarkan matanya
tatkala melihat situasi di dalam kasino itu. Dia melihat betapa chaos-nya
keadaan di sana, belum lagi ada mayat—wait, bukankah itu Takahiro
Renji?—serta pria-pria berjaket Orpheus yang sedang menunduk hormat kepada
bosnya, Akashi.
Begitu
Akashi sampai di hadapannya, Kazama pun menunduk hormat.
“Boss,”
sapanya.
Akashi
menatap Kazama. Dia berhenti sebentar di depan Kazama, lalu berbicara dengan
santai, “Bunuh semua anggota Orpheus yang datang ke kita setelah mengkhianati
organisasinya, Kazama. Nama-nama mereka ada pada Theon.”
Mata
Kazama lagi-lagi melebar. “Eh?”
Akashi
pun maju dan menepuk pundak Kazama singkat.
“Tolong,
ya,”
ujar Akashi seraya tersenyum begitu manis.
Setelah
mengatakan itu, Akashi pun berlalu. Melewatinya begitu saja, bersama para bodyguard-nya.
******
Karena
Akashi memberikan sebuah ‘tugas’ untuknya, Kazama pun tidak jadi menyetir untuk
Akashi. Sesuai permintaan bosnya itu, dia pun pergi menemui Theon. Seorang consigliere—atau konselor—di
organisasi mereka.
Kediaman
Theon jauh dari hiruk-pikuk kasino. Dia tinggal di mansion tenang yang
berwarna putih bersama beberapa pelayannya.
Begitu
sampai di depan mansion itu, Kazama langsung disambut baik oleh
pelayan-pelayan Theon. Mereka langsung mengantarkan Kazama ke tempat
peristirahatan Theon, yakni sebuah perpustakaan pribadi yang ada di belakang mansion
itu.
Kazama
hanya berjalan santai, seperti sudah biasa datang ke sana. Dia juga tahu bahwa
Theon memang suka menghabiskan waktu di perpustakaannya.
Begitu
sampai di depan pintu perpustakaan, para pelayan itu mulai menunduk hormat
kepada Kazama. Mempersilakan Kazama untuk langsung masuk dan menemui Theon di
dalam sana.
Kazama
hanya tersenyum tipis sambil mengangguk kecil sebagai tanda terima kasih.
Sepeninggal
para pelayan itu, Kazama pun mulai membuka pintu perpustakaan. Perpustakaan itu
memiliki tiga lantai. Gedungnya juga terlihat tinggi dari luar.
Dinding
bagian dalam perpustakaan itu mostly berwarna putih. Tangga-tangga
spiralnya berwarna cokelat keemasan. Perpustakaan itu megah, elite, tenang,
dan tertata. Seperti milik akademisi kelas atas.
Rak
buku memenuhi perpustakaan itu dan semuanya tersusun dengan rapi. Lampu kristal
putih di atas sana juga tampak begitu megah.
Ini
jelas merupakan tempat favoritnya Theon.
Begitu
memasuki perpustakaan itu, Kazama bisa melihat sosok Theon di depan sana. Di
tengah-tengah ruangan. Dia berdiri—pinggulnya bersandar pada tepi meja—seraya
membalik halaman sebuah buku.
Theon
memakai kemeja putih yang dilapisi dengan rompi jas berwarna krem. Dia memakai
celana panjang berwarna krem juga. Rambut panjangnya yang berwarna hijau muda itu
jatuh dengan rapi. Setengahnya terikat, sementara sisanya dibiarkan tergerai. Sebuah
kacamata tipis bertengger di hidungnya.
Jujur
saja, bagi Kazama, Theon lebih terlihat seperti seorang profesor atau dosen
universitas daripada seorang eksekutif di organisasi milik Akashi Roan Kaiser.
“Theon,”
panggil
Kazama seraya melangkah mendekat.
Theon
pun langsung menoleh. Matanya melebar.
“Kazama?”
balas Theon. “Ada apa kemari?”
Theon
mulai berdiri tegap, lalu berjalan ke belakang mejanya. Ia menarik sebuah
kursi, lalu duduk di sana.
Begitu
sampai, Kazama lantas menarik kursi di depan Theon dan menjatuhkan tubuhnya di
sana. "Boss baru saja memerintahkanku untuk membersihkan anggota-anggota
Orpheus yang membelot ke pihak kita."
Theon
bersandar. Dia menyilangkan tangannya di depan dada. “Oh ya? Secepat itu?”
Kazama
mengangguk. “Ya, soalnya ketuanya sudah mati tadi. Di kasino.”
Theon
melebarkan mata. “Oh, astaga.”
“Aku
baru sampai dan sudah menyaksikan kekacauan itu. Tak tahu juga mengapa si Renji
itu tiba-tiba ada di sana,” ujar Kazama.
Theon
menghela napas, lalu mengangguk. “Baiklah. Jadi, ada apa kau datang kemari?”
Kazama
sedikit memajukan tubuhnya. Dia menatap Theon dengan serius. “Boss bilang,
kau punya daftar nama orang-orang yang membelot itu.”
Theon
tidak langsung menjawab. Ia hanya mengulurkan tangan, mengambil sebuah map
kulit berwarna hitam yang terletak di sudut mejanya.
"Ya,
aku punya itu," jawab Theon dengan tenang. Ia menyodorkan map itu ke
hadapan Kazama. "Dua ratus dua belas nama. Lengkap dengan riwayat keluarga
dan koordinat tempat tinggal mereka saat ini."
Kazama
membuka map itu. Matanya membelalak tatkala melihat seluruh detail yang
tersaji. "Dua ratus lebih? Sejak kapan kau menyiapkan semua ini?"
Theon
tersenyum tipis. "Sebenarnya, sejak Orpheus tercipta. Boss sudah
menyuruhku untuk mempersiapkan dokumen ini sejak awal, perlahan-lahan. Dia
agaknya bisa membaca bahwa Orpheus hanya akan menciptakan kekacauan baginya,
jadi dia mengantisipasi itu. Dia membiarkan Orpheus bermain-main di papan
caturnya, sementara kemungkinan besar dia tahu bahwa ending-nya akan
seperti ini. Renji benar-benar menggali kuburannya sendiri."
Kazama
menggeleng, merasa ngeri. "Terkadang, aku merasa bahwa kita semua hanya
hidup di dalam simulasi yang Boss buat. Atau mungkin… kita semua
hanyalah bidak yang dia gerakkan tanpa kita sadari. Dia benar-benar tak bisa
ditebak, seolah-olah dia bukanlah manusia. Tak ada yang tahu apa yang ada di
kepalanya."
"Itulah
alasan mengapa dia berdiri di puncak, Kazama,” jawab Theon. “Bukankah kau
sering bersamanya? Harusnya kau yang paling tahu pergerakannya."
Kazama
mengedikkan bahu. “Entahlah. Meski aku sering bersamanya, aku merasa banyak
sekali hal yang tak kuketahui tentangnya. Banyak hal yang tak dia beritahukan padaku.
Daftar orang-orang ini adalah salah satu contohnya.”
Theon
menghela napas seraya tersenyum lembut. “Well, aku juga begitu. Namun,
justru hal itulah yang membuat kita semua tunduk di kakinya.”
“Omong-omong,
soal ‘tak tahu banyak’… aku juga baru mengetahui sesuatu,” ujar Kazama
tiba-tiba. Dahinya berkerut. Jemarinya menyentuh dagunya, memikirkan sesuatu.
Theon
mengangkat sebelah alisnya, tertarik. "Sesuatu? Apa itu?"
Kazama
menatap Theon; matanya mulai sedikit menyipit. Dia pun berbicara dengan serius,
tetapi tetap berhati-hati. “Beberapa hari belakangan, aku tidak menyopiri mobil
Boss karena sibuk. Ada beberapa capo lain yang bersama Boss
selama jeda waktu itu, menyopiri beliau ke mana-mana.”
“Hm,
hmm.” Theon mengangguk. “Lalu?”
"Kata
para capo itu, Boss beberapa hari ini sering menemui seorang
wanita,” ujar Kazama. "Dia pergi ke sebuah café di kota kecil
tempat mansion pribadinya berada. Setelah itu, dia menanyakan apartemen mana
yang dekat dengan café itu."
Theon
tertegun. Matanya agak melebar. “…Wanita? Kau yakin Boss memang
menemui seorang wanita?”
“Iya.”
Kazama mengangguk. “Soalnya, keesokan paginya, beliau memperhatikan wanita itu
dari mobil, di depan Kantor Pelayanan Publik. Infonya, wanita itu adalah
seorang PNS yang bekerja di sana.”
Sekarang,
Theon jadi mengernyitkan dahi. “Seorang PNS? Bukankah itu sedikit berbahaya
apabila dia tahu siapa Akashi-sama?”
“Entahlah,”
ujar Kazama. “Terlepas dari wanita itu PNS atau bukan, kenyataan bahwa
Akashi-sama berinteraksi dengannya di café biasa, menanyai lokasi
apartemennya, lalu menunggunya di depan Kantor Pelayanan Publik saja sudah
membuatku terkejut. Banyak wanita elite yang melemparkan diri mereka secara
sukarela, tetapi Boss selalu rileks. Biasanya, dia hanya tersenyum,
menyapa para wanita itu balik, tetapi tak pernah benar-benar tertarik.”
Ketenangan
Theon jadi terusik. Jemarinya yang panjang itu mengetuk-ngetuk permukaan meja
dengan irama yang tak beraturan.
"Menunggu
di depan Kantor Pelayanan Publik..." Theon mengulang kalimat itu dengan
nada sangsi. "Kemungkinan besar, dia penasaran dengan wanita itu.
Dia tertarik secara personal.”
"Sepertinya
begitu," sahut Kazama pendek. “Boss juga tidak memerintahkan kita
untuk menyelidiki latar belakang wanita itu.”
Kerutan
di dahi Theon terlihat semakin kentara. Pikiran pria itu sudah melayang jauh,
mencoba memetakan variabel baru yang tidak ada di dalam kalkulasinya.
Seorang
wanita. Seorang PNS.
…dan
pemimpin mereka yang mendadak memiliki ‘waktu’ di tengah kekuasaannya yang mutlak.
Sebenarnya,
siapa perempuan itu? []

Hehehe...

No comments:
Post a Comment