Wednesday, March 18, 2026

Petualangan Detektif Zavie (Bab 5: Adek Menanam Semangka)

 


******

Bab 5 :

Adek Menanam Semangka

 

******

 

MATAHARI di hari Rabu siang ini rasanya sedikit lebih terik dari biasanya. Akibat cuaca yang panas, Mama pun memotong semangka yang ia simpan di kulkas. Semangkanya merah, manis, dan dingin. Ketika meletakkan sepiring semangka itu di atas meja makan, Mama pun berteriak, “Adeeeek!!! Ini ada semangka!!!”

Zavie—yang tadinya sedang mengadu mainan dinosaurus karetnya di ruang tamu, ditemani oleh Coco dan Milky—langsung menoleh ke arah dapur. Matanya kontan berbinar, mulutnya pun mulai terbuka.

“Yeeeyyyy, cemangkaaaaaa!!!!!” teriaknya. Ia langsung melepaskan mainan-mainan dinosaurusnya dan berlari ke dapur. Siang-siang begini, biasanya di rumah cuma ada Mama dan Zavie. Papa dan Atlas belum pulang.

Mama tersenyum saat Zavie langsung memanjat kursi dengan kedua tangannya untuk mengambil potongan semangka di atas meja. Setelah berhasil naik ke kursi, dia pun mencomot satu potongan semangka berbentuk segitiga, lalu mengigitnya dengan sukacita.

“Ummm, enaaakk!!! Cemangkanya dingin, Mamaaaa!” ujarnya.

“Iya, pelan-pelan aja makannya,” kata Mama sambil mencuci pisau yang ia gunakan untuk memotong semangka tadi di wastafel. Zavie mengambil sepotong semangka lagi, lalu turun dari kursi. Dia berlari ke teras belakang (karena pintunya terbuka), lalu duduk di pinggir teras dengan kaki menjuntai. Dia mengayunkan kaki-kaki kecilnya ke depan dan ke belakang, menikmati semangka yang ia bawa dengan gembira. Baginya, kenikmatan duniawi itu sederhana: ada kartun Crayon Shin-chan, ada mainan dinosaurus, ada Coco dan Milky, ada semua hewan di sekitar rumah, ada gosip terbaru dari tetangga, dan ada semangka dingin.

Wajah Zavie sudah celemotan, air semangka itu sukses membuat pipi tembamnya jadi merah dan lengket, bahkan ada biji semangka yang menempel di sana.

Oh, benar juga. Kata Papa (waktu menyetir mobil pas mereka jalan-jalan ke mall), Zavie mesti menikmati semua yang Zavie suka selagi masih ada. Zavie suka semangka, berarti Zavie harus menikmati semangka banyak-banyak, dong!

 

Oke cip, ayo pergi ke tempat yang banyak cemangkanya!!

 

Zavie menghabiskan semangkanya cepat-cepat. Dia lalu bangkit (membawa kulit semangkanya) dan pergi ke dapur untuk menemui Mama.

"Mamaaa! Udah abiiis cemangka Javi!" teriak Zavie seraya memamerkan kulit semangka yang sudah bersih sebersih-bersihnya, tidak menyisakan warna merah sedikit pun.

Mama menunduk, menatap Zavie yang sudah ada di dekat lututnya. Zavie mendongak, menatap Mama dengan mata bulatnya yang jernih dan berbinar-binar. Bocah itu menunjukkan kulit semangkanya pada Mama.

Mama tersenyum. “Iya, buang dulu sana kulitnya itu.”

Zavie mengangguk, lalu berlari ke tempat sampah yang ada di dapur. “Ung!!”

Saat Zavie menemui Mama lagi, Mama pun mencucikan pipi bocah itu dengan air dari keran wastafel, lalu mengelapnya dengan tisu. Buntalan susu itu cuma bisa pasrah sambil monyong-monyong.

"Ma, Javi mau main di lual boleh nggak? Javi mau pelgi ke lumahnya Pak Kumis," ucapnya dengan serius.

Mama mengernyitkan dahi. “Ngapain ke rumah Pak Kumis?”

“Mau liat-liat cemangka!” jawab Zavie seraya merentangkan kedua tangannya dengan semangat.

Mama menggeleng tak habis pikir. “Kamu ngomongnya kayak ibu-ibu mau beli semangka aja. Udah, nggak usah ganggu Pak Kumis. Ini juga lagi panas banget.”

Zavie mulai mewek. Bahunya turun karena kecewa. “Bentar aja, Maaa… Javi janji nggak bakal ganggu Pak Kumis! Janjiii!”

Bocah itu menunjukkan kelingking kanannya di depan Mama. Mama agak kaget. Dari mana bocah ini tahu soal pinky promise begini? Pelajaran dari mana lagi ini?

Papa sama Atlas? Enggak mungkin. Atlas terlalu dingin untuk peduli tentang gerakan-gerakan imut begitu. Papa? Papa itu kalau pulang kerja biasanya cuma memberi Zavie nasihat-nasihat random yang dia lihat di Facebook, atau nunjukin Zavie video editan berisi foto-fotonya naik gunung waktu masih muda, lalu di videonya ada tulisan "Selamat Pagi Teman-Temanku Semuanya” dan “Semangat Untuk Hari Ini” dengan font warna-warni, terus pakai transisi bunga-bunga mawar yang mekar.

Jadi, siapa yang mengajarkan Zavie? Pasti tetangga-tetangga di kompleks, nih, tetapi tak tahu siapa.

Mama rasanya mau menepuk jidat. Luas banget pergaulan Zavie ini.

Mau tak mau, Mama pun menjalin kelingkingnya dengan kelingking Zavie. “Ya udah. Jangan gangguin Pak Kumis, ya. Jangan lama-lama juga. Panas, soalnya.”

Zavie melompat kegirangan hingga jalinan kelingking itu otomatis terlepas. “YEEESS!! Okeee, Mamaaaaa!!!”

Setelah berteriak begitu, Zavie pun langsung ngacir ke rak sepatu dan mengambil sandal crocs astronotnya. Dia meletakkan sandal itu di teras belakang, lalu memakainya dengan terburu-buru. Saat dia berlari menuruni tangga, Mama buru-buru melihatnya dari pintu belakang dan berteriak, “Pelan-pelan, Dek! Astagaaa!! Rumah Pak Kumisnya nggak lari itu!!!!! Nanti nyungsep, Dekk!!”

“DADAH, MAMAA!” teriak Zavie seraya mendadahi mamanya. Suaranya mulai terdengar menjauh.

Mama menghela napas dan menggeleng tak habis pikir. Sekarang, kalau Mama telaah lagi, kayaknya semua laki-laki di rumah itu enggak ada yang normal. Papa dan Zavie dengan ke-random-an mereka… dan Atlas yang sedingin kulkas dua pintu.

Mama sendirilah yang normal. Mama terjebak, Mama capek, tetapi ya… mau bagaimana lagi? Mama sayang banget sama ketiga lelaki itu. Mama memang capek menghadapi kelakuan mereka, tetapi kalau tak ada mereka, rumah jadi sepi dan dingin seperti kutub utara (eh, sudah ada Atlas, sih, yang persis seperti kutub utara).

Well, biar aneh-aneh begitu, ketiga lelaki itu juga sayang sama Mama.

 

******

 

Sesampainya Zavie di belakang rumah Pak Kumis—yang sebenarnya kalau dari rumah Zavie hanya butuh menyeberangi lapangan bola saja—Zavie pun terpana.

Di sana ada banyak semangka dan semuanya besar-besar!!

Lagi-lagi, mata Zavie berbinar. Sebenarnya, kalau Zavie main di sekitar lapangan bola, dia pasti menyempatkan diri untuk melihat kebun semangka Pak Kumis. Semangkanya Pak Kumis itu selalu besar-besar dan bagus, kayak telur dinosaurus! Walau Zavie enggak pernah lihat wujud telur dinosaurus, sih. Waktu itu, Zavie pernah menggambar dinosaurus yang lagi bertelur pakai krayon, tetapi pas Zavie kasih lihat ke Kak Atlas, kata Kak Atlas, telur dinosaurus enggak ada daunnya dan enggak dikeluarin lewat mulut. Zavie agak bingung, sih, tetapi… ya sudahlah.

Ya bagaimana, ya. Di dunia Atlas, dinosaurus itu reptil purba yang bertelur secara normal, bukan tanaman merambat yang muntah telur! Namun, di otak Zavie yang penuh dengan "cemangka" itu, proses melahirkan telur dinosaurus mirip kayak orang yang lagi muntah atau tersedak biji semangka. ‘Kalo biji kecil aja kelualnya dari mulut, belalti telur yang gede juga kelualnya dali mulut, dong!’, pikirnya. Selain itu, telur dinosaurusnya harus ada tangkai dan daun biar kelihatan fresh, kayak semangka yang baru dipetik.

Tiap melihat semangka-semangka milik Pak Kumis, Zavie pasti berdiri diam dan kagum selama beberapa detik.  Kadang-kadang, dia sampai ngiler dan lari balik ke rumah cuma buat minta Mama beli semangka itu. Pokoknya, keluarga Alastair adalah pelanggan tetap Pak Kumis, soalnya ada bocah yang hobi makan semangka di keluarga itu. Bocah itu adalah konsumen garis keras. Dia terobsesi dengan semangka.

Saat mendekati kebun semangka Pak Kumis yang dipagari kayu (kebunnya berbentuk persegi panjang), Zavie pun mengintip lewat celah pagar kayu itu. Namun, pintu menuju kebun yang biasanya tertutup rapat, hari ini... sedikit terbuka!

Zavie hampir melompat kegirangan. Dengan modal nekat, dia langsung menyelinap ke kebun melalui pintu itu. Begitu dia sampai di dalam, dia pun menganga.

Kekagumannya jadi berada di level maksimal. Tak ada obatnya.

“Uwaaaaaa!!!!!” ucapnya dengan suara kencang.

Semangka Pak Kumis berjajar rapi. Ada banyak barisan semangka di sana. Semangkanya segar-segar, berwarna hijau dan klimis. Daun-daunnya juga hijau. Walaupun cuaca sedang panas, Zavie tak merasa kepanasan sama sekali tatkala melihat buah favoritnya itu. Bodo amat, deh, sama panas matahari, yang penting matanya segar melihat yang hijau-hijau klimis!

 

Pak Kumis enak banget… bica punya cemangka cebanyak ini!! Javi mau jugaaa…! Kalo Javi minta kebunnya Pak Kumis boleh nggak, ya? Javi mau bawa ke lumah cemuanya.

 

Zavie enggak cuma mau bawa pulang buahnya; dia mau seluruh aset properti Pak Kumis! Mama pasti langsung pingsan kalau Zavie tiba-tiba pulang sambil membawa sertifikat tanah kebun Pak Kumis.

Mata Zavie menangkap sebuah semangka yang sangat besar di sebelah timur. Dia pun langsung excited dan berlari ke sana. Dia duduk di depan semangka itu, lalu memeluknya. Semangka itu besar sekali di pelukannya; jari-jari mungilnya hampir tak menyentuh satu sama lain tatkala memeluk semangka itu! Ukurannya hampir sebesar tubuhnya sendiri.

“UWAAA, BECAL BANGETTT!!!” teriaknya heboh.

Tatkala sedang asyik memeluk semangka raksasa itu—mata Zavie merem-merem saking senangnya—tiba-tiba...

 

Kriet...

 

Terdengar suara pintu kebun Pak Kumis yang terbuka. Namun, karena sibuk mengkhayalkan semangka itu, Zavie tak mendengar suaranya sama sekali. Kini, pintu kebun itu sudah terbuka sempurna dan di sana, ada Pak Kumis yang muncul sambil membawa sekop (cetok) yang tadi dia ambil dari rumah karena lupa.

Pak Kumis itu orangnya tak terlalu tinggi, tetapi cukup kekar karena rajin mencangkul. Kulitnya sawo matang, rambutnya hitam dan agak panjang (tetapi bukan gondrong). Kumisnya tebal. Namanya bukan Kumis, sih, tetapi warga kompleks memanggilnya Pak Kumis gara-gara kumisnya tebal dan tak pernah kelihatan dicukur.

Pak Kumis berdiri di dekat pintu itu dan terdiam sejenak.

 

Kok ada merah-merah di ujung kanan? Ada semangka yang pecah, ya?

            Tapi kok ada rambutnya?

 

Pak Kumis mengernyitkan dahi, lalu melangkah mendekati ‘merah-merah’ itu. Begitu sampai di sana, Pak Kumis pun melebarkan mata karena melihat ada bocah kecilnya Pak Haryo Alastair di kebunnya.

“Lah, Zavie?” panggil Pak Kumis. “Kok bisa ada di sini?”

Pak Kumis tentu kenal dengan Zavie. Kecil-kecil begitu, si gumpalan susu itu terkenal di RT ini. Dia sudah punya reputasi yang setara dengan Pak RT atau ibu-ibu penggerak PKK. Kadang-kadang, Pak Kumis dengar gosip dari ibu-ibu random yang beli semangka, lalu pas Pak Kumis tanya mereka tahu dari mana, katanya dari Zavie.

Kayaknya, bocah itu adalah pilar ketiga demokrasi RT setelah Pak RT dan ibu-ibu PKK.

Pak Kumis juga sebenarnya tahu kok kalau Zavie ini hobi memperhatikan kebun semangkanya, tetapi biasanya Pak Kumis cuma senyum. Paling-paling, beberapa menit kemudian, datanglah Bu Alastair yang mau membeli semangkanya. Sungguh ekosistem ekonomi kompleks yang sangat harmonis.

Melihat Zavie yang masih juga tak sadar akan kehadirannya, Pak Kumis pun tersenyum dan berkacak pinggang.

 

“Eh, eh… Ada pencuri cilik, nih.”

 

Mendengar suara Pak Kumis yang berat itu, Zavie pun membuka matanya. Dia langsung menoleh ke samping (ke arah Pak Kumis) dan memprotes. Matanya membulat polos seperti kelinci.

“Javi enggak menculi kok!” katanya.

 

Ya nggak nyuri, sih, tetapi posenya itu kayak mau nyabut semangkanya dan kabur.

 

Pak Kumis tertawa. “Kalo nggak nyuri, terus ngapain itu semangkanya dipeluk-peluk?”

“Javi—Javi cuma mau peluk aja, biar cemangkanya anget!”

Hangat? Memangnya mau mengerami telur?

Hadeh. Rasanya Pak Kumis seperti menemukan hama terlucu di dunia.

Pak Kumis pun mendekati Zavie—yang memakai kaus merah benderang siang itu, makanya tadi Pak Kumis kira dia adalah semangka yang pecah—dan berkata, “Daripada peluk-pelukin semangka gitu, ayo bantuin Bapak nanam semangkanya aja. Mau nggak?”

Zavie langsung melepaskan pelukannya dari semangka besar itu dan memiringkan kepala. “Nanam cemangka?”

“Iyaaa, kan ditanam dulu biar jadi besar gitu buahnya,” jelas Pak Kumis.

“Tapi waktu itu Javi pelnah liat Mama nanam cabe di belakang lumah, telus cabenya mati. Nanti cemangka Pak Kumis mati juga, Javi nggak mau,” jawab Zavie.

Pak Kumis spontan tertawa keras. Zavie ini mulutnya oversharing banget. Bu Alastair pasti malu setengah mati kalau tahu rahasianya dibeberkan oleh Zavie. “Enggak. Kalo nanamnya bener-bener, pasti nggak mati kok. Liat, semangka Bapak, kan, hidup semua.”

Zavie pun melihat ke sekeliling… dan ya, semuanya hijau klimis. Gendut-gendut pula.

 

Kayaknya Mama harus belajal dali Pak Kumis, deh.

 

“Nanti kalo semangkanya udah gede, kita panen bareng-bareng! Gimana, mau nggak?” tawar Pak Kumis.

Mata Zavie pun berbinar. Dia mulai excited karena kali ini, dia bukan hanya akan melihat semangka Pak Kumis, melainkan belajar menanamnya langsung!! Setelah itu, nanti kalau semangkanya sudah besar, dia bisa panen bareng Pak Kumis!! Wah, Zavie semangat banget, nih, mau liat perkembangan semangkanya nanti!!

Kalau Zavie sudah tahu bagaimana cara menanam semangka, berarti nanti Zavie bisa punya kebun semangka sendiri pas sudah besar! Yes!!!

“MAUUUU!!!!” jawab Zavie dengan semangat. “YEEEY, NANAM CEMANGKAA!!”

Zavie pun bangkit dari duduknya, menepuk-nepuk bokongnya yang penuh tanah, lalu memegang tangan Pak Kumis. Pak Kumis pun tertawa lagi, lalu menggandeng bocah bau minyak telon itu ke area tanah (sebelah utara) yang akan ditanami semangka baru.

Di sana, sudah ada satu baskom benih semangka yang direndam di air hangat. Air itu sudah dicampur dengan fungisida, bakterisida, dan hormon pertumbuhan. Sebenarnya, tadi Pak Kumis sudah datang ke sini dengan membawa pupuk dan rendaman benih, tetapi ketika mau menggemburkan tanah, dia sadar kalau cetoknya masih ada di dalam rumah.

Pak Kumis dan Zavie pun berjongkok di dekat area tanah itu. “Bapak gemburin tanahnya dulu, ya.”

Zavie mengangguk cepat, excited. “Ung!! Gembulin tanah!”

“Gembur, bukan gembul,” koreksi Pak Kumis.

Zavie mengangguk. “Ung! Gembul!”

Sama aja, pikir Pak Kumis. Zavie masih cadel. Lagi pula, kayaknya bocah kecil itu juga tak tahu apa maksudnya menggemburkan tanah.

Pak Kumis pun mulai menggemburkan tanah di sana dengan cetok. Sambil menggemburkan tanah, Pak Kumis juga memberikan pupuk kandang ke tanah itu. Zavie duduk di sebelahnya dan melihat dengan saksama. Sesekali, dia mendekati baskom dan jongkok di depan baskom itu untuk melihat benih-benih semangka. “Telnyata cemangka itu awalnya kecil banget, ya, Pak!!”

“Iya, dong. Masa langsung gede. Zavie aja pasti dulunya kecil,” jawab Pak Kumis.

“Tapi kata Papa, Javi waktu bayi lebih endut dalipada Kakak!” Zavie mulai berdiri, dia bercerita sambil merentangkan tangannya. Seolah-olah tengah menjelaskan teori konspirasi terbaru yang sangat mengejutkan.

“Oh ya?” kata Pak Kumis. “Tapi Kakakmu itu tinggi banget, lho, itu. Badannya bagus.”

Mata jernih Zavie langsung berkilau penuh kekaguman tatkala mendengar itu. Dia bangga sekali dengan kakaknya. “Iyaa, Pak!! Kak Atlas itu tinggi banget, keren bangett!!! Dia bica macukin bola backet cambil lompat tinggi!! Telus, kan, telus dia bica ambil bola backetnya dali temen-temennya!!”

Pak Kumis nyaris tertawa. Zavie sayang sekali dengan Atlas, hampir-hampir seperti fans berat. “Jadi, kamu mau nggak tinggi juga kayak Kak Atlas?”

“Mauuu!!!” Zavie lompat-lompat. “Javi mau mamam cemangka banyak-banyak cupaya tinggi kayak Kakak!!”

Pak Kumis spontan ngakak. “Kalo mau tinggi itu minum susu, bukan makan semangka!”

“Eh?” Zavie memiringkan kepalanya, matanya membulat polos. “Tapi Javi minum cucu tiap hali, kok nggak tinggi-tinggi?”

“Kamu, kan, emang masih kecil. Mau setinggi apa emangnya?” Pak Kumis menggeleng geli.

“Mau cetinggi Kakak! Kayaknya emang cemangka, deh, kuncinya,” ujar Zavie sambil mengangguk-angguk. Dahinya berkerut, seolah-olah baru selesai memecahkan teka-teki tersulit.

Pak Kumis tertawa lagi. Kayaknya, bagi Zavie, semangka adalah super serum untuk segala hal. Mau pintar? Semangka. Mau tinggi? Semangka. Mau jadi naga api? Semangka.

Kesimpulannya adalah: semangka adalah solusi universal untuk semua masalah hidup, termasuk transformasi menjadi reptil mitologi.

Pokoknya semangka is the best.

Hmm. Pak Kumis jadi penasaran. Kalau Zavie disuruh memilih antara semangka, kucingnya, dan Atlas, kira-kira dia bakal pilih yang mana, ya?

Ah, ada-ada saja. Bukankah jawabannya sudah jelas?

 

Pasti ‘Kak Atlas’.

 

Setelah tanah di sana gembur, Pak Kumis pun membuat bedeng tanah (tanahnya dinaikkan agar permukaannya lebih tinggi). Jarak antara bedeng satu dan lainnya kurang lebih satu meter, dan Zavie membantu menaikkan tanah-tanah tersebut dengan kedua tangan mungilnya.

Setelah selesai, Pak Kumis pun berkata, “Nah, sekarang, ayo bikin lubang kecil buat nanam semangkanya. Jaraknya agak jauh, yaa, soalnya nanti semangkanya bakal gede.”

“Oke ciiipp!!!” Zavie mengacungkan jempolnya. Pak Kumis sempat memberikan cetoknya kepada Zavie (untuk melihat apakah bocah itu lebih efektif memakai cetok), tetapi ternyata tanahnya malah terbang ke mana-mana. Ada yang sampai ke pipi Zavie sendiri—dan dilap pakai tangannya, lalu pipinya jadi hitam semua—dan ada juga yang hampir masuk ke mata Pak Kumis.

Ya sudahlah, Zavie cukup pakai tangan saja. Namun, Pak Kumis tetap memberi Zavie sepasang sarung tangan supaya tangannya tidak iritasi, soalnya rendaman benih itu sudah tercampur banyak zat.

Zavie mulai menggali lubang-lubang kecil itu bersama Pak Kumis. Pak Kumislah yang mengarahkan di mana Zavie harus menggali dan seberapa besar lubangnya.

Setelah lubang-lubangnya jadi, sampailah mereka ke tahap penanaman benih. Zavie langsung lompat-lompat kegirangan. Ini adalah bagian yang Zavie tunggu-tunggu.

“YEEYYY!!!” teriak bocah kecil itu.

“Ini. Masukin ke lubang-lubangnya, yaa. Dua atau tiga benih aja. Terus tutupin lagi pake tanah, tapi tipis-tipis aja, soalnya ntar benihnya keberatan pas mau tumbuh ke atas,” jelas Pak Kumis. “Nah, nanti kita mesti langsung siram biar benihnya minum. Kalo udah sekitar tujuh sampai sepuluh hari, nanti biasanya muncul tunas hijau kecil dari tanah. Kita mesti rajin ngerawat semangkanya supaya nggak ada hama. Jangan lupa dikasih pupuk susulan juga.”

“Ung!!” Zavie mengangguk cepat (walau sebenarnya, dia tak mengerti 80% dari penjelasan Pak Kumis itu).

Zavie pun mulai memasukkan benih-benih itu ke dalam lubang-lubang yang ada di sana. Namun, Pak Kumis harus tetap memperhatikan Zavie karena kadang-kadang bocah itu memasukkan segenggam benih sekaligus.

“Biar banyak tumbuhnya! Nanti mereka jadi cama-cama gede!” katanya. Pak Kumis cuma bisa menepuk jidat. Bayangkan kalau nanti semua benih itu benar-benar tumbuh, itu lubang bakal meledak karena penuh dengan tunas yang berebut tempat duduk!

Diam-diam, Pak Kumis mengurangi benih-benih di lubang itu kalau dilihatnya kebanyakan.

Setelah semua benih beres ditanam, Pak Kumis pun mengambil dua buah gembor berisi air. Salah satunya (yang agak kecil) ia berikan kepada Zavie. “Nih, sekarang Zavie siram dikit-dikit. Jangan sampe banjir, ya, nanti benihnya berenang ke rumah tetangga.”

“Hehehehehe…” Zavie cengengesan saat membayangkan benih-benih semangka itu berenang ke rumah tetangga sebelah. Dia pun mengangguk dan mengambil gembor itu dari tangan Pak Kumis.

Sambil menyiram semua benih itu bersama Pak Kumis, tiba-tiba Zavie membuka suara.

 

“Pak Kumis udah mamam belum?”

 

Pak Kumis—yang sedang fokus menyiram benih itu—pun menoleh kepada Zavie. “Hmm?”

“Udah mamam belum?” ulang Zavie.

“Oh.” Pak Kumis menggeleng. “Belum.”

“Kenapa belum?” tanya Zavie dengan mata bulatnya yang polos. Air dari gembornya malah melenceng ke mana-mana.

“Belum masak,” jawab Pak Kumis. “Kenapa emangnya?”

“Oo belum macak.” Zavie manggut-manggut. “Nanti dimacakin mau nggak?”

Pak Kumis spontan mengernyitkan dahi. “Hah? Dimasakin sama siapa emangnya?”

Zavie lantas tersenyum lebar, penuh semangat. “Nanti Javi caliin Pak Kumis mama balu!!”

 

Mama baru…?

 

“Pfftt!!!! HAHAHAHA!” Pak Kumis mulai tertawa kencang. Dia mah butuh istri baru, bukan mama baru! Istrinya sudah meninggal, soalnya.

“Yang namanya mama itu nggak bisa diganti baru, Zavie,” jawab Pak Kumis setelah berhenti tertawa. “tapi kalo kamu nyariin Bapak istri baru, sih, nggak apa-apa.”

Zavie memiringkan kepala. Seakan-akan ada tanda tanya besar di atas kepala mungilnya itu. “Ictli?”

“Iya. Kayak papa kamu kan punya istri, yaitu mama kamu,” jelas Pak Kumis.

“Oooooo gituuu!!!!” Zavie baru mengerti. Wajahnya berseri-seri karena baru mendapat pencerahan. “Ya udah, nanti Javi caliin Pak Kumis ictli, ya?”

Pak Kumis kontan ngakak lagi. Nih bocah ada-ada aja, serius.

“Javi celius, lho!!!” protes Zavie. Namun, Pak Kumis masih tertawa.

 

Wah, liat aja, ya, Pak Kumis! Javi nggak belcanda, nih! Pacti Javi caliin ictli buat Pak Kumis!

 

“Iya, deh, iya,” jawab Pak Kumis, mengalah. Terserah Zavie saja, deh.

Ujung-ujungnya, Zavie menghabiskan waktu—merawat semangka—bersama Pak Kumis hingga beberapa jam ke depan. Pak Kumis sampai mengambilkan sebuah topi caping untuk Zavie supaya tidak terlalu lama panas-panasan.

 

******

 

Sekitar jam lima sore, Mama mulai ke luar—ke teras belakang—untuk melihat keberadaan Zavie. Anak itu sudah lama di luar, padahal katanya tidak akan lama. Apa yang dia lakukan di rumah Pak Kumis?

Begitu Mama berada di teras belakang rumah, mata Mama langsung membulat. Di depan sana, Mama melihat Zavie yang baru saja berjalan melewati jembatan kayu di belakang rumah. Jembatan kecil yang menghubungkan taman bunga hydrangea dengan lapangan sepak bola.

Namun, bukan itu yang membuat Mama terkejut. Hal yang membuat Mama terkejut adalah:

Zavie terlihat kotor sekali!! Dekil!

Wajah, baju, dan celananya hitam-hitam semua. Penuh tanah. Selain itu, di pelukannya…

 

…ada sebuah semangka besar. Utuh.

 

Ekspresi wajah bocah berpipi tembam itu tampak sangat bahagia. Dia juga memakai topi caping. Itu topinya Pak Kumis, ya? Besar sekali di kepalanya!

 

“MAMAA!!!!” teriak bocah itu dari bawah sana. “Eheheheheee!!! Javi dikacih cemangka cama Pak Kumis, Maaa!!!”

Mama pun langsung menganga. []

 











******






No comments:

Post a Comment

Immure (Chapter 5: Numb, Empty)

  ****** Chapter 5 : Numb, Empty   ******   SAAT matahari terbenam, Yohan pun mengantarkan Hea pulang. Pemuda itu sempat ragu-ra...