Bab
5 :
Adek
Menanam Semangka
******
MATAHARI
di
hari Rabu siang ini rasanya sedikit lebih terik dari biasanya. Akibat cuaca
yang panas, Mama pun memotong semangka yang ia simpan di kulkas. Semangkanya
merah, manis, dan dingin. Ketika meletakkan sepiring semangka itu di atas meja
makan, Mama pun berteriak, “Adeeeek!!! Ini ada semangka!!!”
Zavie—yang
tadinya sedang mengadu mainan dinosaurus karetnya di ruang tamu, ditemani oleh
Coco dan Milky—langsung menoleh ke arah dapur. Matanya kontan berbinar,
mulutnya pun mulai terbuka.
“Yeeeyyyy,
cemangkaaaaaa!!!!!” teriaknya. Ia langsung melepaskan mainan-mainan
dinosaurusnya dan berlari ke dapur. Siang-siang begini, biasanya di rumah cuma
ada Mama dan Zavie. Papa dan Atlas belum pulang.
Mama
tersenyum saat Zavie langsung memanjat kursi dengan kedua tangannya untuk
mengambil potongan semangka di atas meja. Setelah berhasil naik ke kursi, dia
pun mencomot satu potongan semangka berbentuk segitiga, lalu mengigitnya dengan
sukacita.
“Ummm,
enaaakk!!! Cemangkanya dingin, Mamaaaa!” ujarnya.
“Iya,
pelan-pelan aja makannya,” kata Mama sambil mencuci pisau yang ia gunakan untuk
memotong semangka tadi di wastafel. Zavie mengambil sepotong semangka lagi,
lalu turun dari kursi. Dia berlari ke teras belakang (karena pintunya terbuka),
lalu duduk di pinggir teras dengan kaki menjuntai. Dia mengayunkan kaki-kaki
kecilnya ke depan dan ke belakang, menikmati semangka yang ia bawa dengan
gembira. Baginya, kenikmatan duniawi itu sederhana: ada kartun Crayon
Shin-chan, ada mainan dinosaurus, ada Coco dan Milky, ada semua hewan di sekitar
rumah, ada gosip terbaru dari tetangga, dan ada semangka dingin.
Wajah
Zavie sudah celemotan, air semangka itu sukses membuat pipi tembamnya jadi merah
dan lengket, bahkan ada biji semangka yang menempel di sana.
Oh,
benar juga. Kata Papa (waktu menyetir mobil pas mereka jalan-jalan ke mall),
Zavie mesti menikmati semua yang Zavie suka selagi masih ada. Zavie suka
semangka, berarti Zavie harus menikmati semangka banyak-banyak, dong!
Oke
cip, ayo pergi ke tempat yang banyak cemangkanya!!
Zavie
menghabiskan semangkanya cepat-cepat. Dia lalu bangkit (membawa kulit
semangkanya) dan pergi ke dapur untuk menemui Mama.
"Mamaaa!
Udah abiiis cemangka Javi!" teriak Zavie seraya memamerkan kulit semangka
yang sudah bersih sebersih-bersihnya, tidak menyisakan warna merah sedikit pun.
Mama
menunduk, menatap Zavie yang sudah ada di dekat lututnya. Zavie mendongak,
menatap Mama dengan mata bulatnya yang jernih dan berbinar-binar. Bocah itu
menunjukkan kulit semangkanya pada Mama.
Mama
tersenyum. “Iya, buang dulu sana kulitnya itu.”
Zavie
mengangguk, lalu berlari ke tempat sampah yang ada di dapur. “Ung!!”
Saat
Zavie menemui Mama lagi, Mama pun mencucikan pipi bocah itu dengan air dari keran
wastafel, lalu mengelapnya dengan tisu. Buntalan susu itu cuma bisa pasrah
sambil monyong-monyong.
"Ma,
Javi mau main di lual boleh nggak? Javi mau pelgi ke lumahnya Pak Kumis,"
ucapnya dengan serius.
Mama
mengernyitkan dahi. “Ngapain ke rumah Pak Kumis?”
“Mau
liat-liat cemangka!” jawab Zavie seraya merentangkan kedua tangannya dengan
semangat.
Mama
menggeleng tak habis pikir. “Kamu ngomongnya kayak ibu-ibu mau beli semangka
aja. Udah, nggak usah ganggu Pak Kumis. Ini juga lagi panas banget.”
Zavie
mulai mewek. Bahunya turun karena kecewa. “Bentar aja, Maaa… Javi janji nggak
bakal ganggu Pak Kumis! Janjiii!”
Bocah
itu menunjukkan kelingking kanannya di depan Mama. Mama agak kaget. Dari mana
bocah ini tahu soal pinky promise begini? Pelajaran dari mana lagi ini?
Papa
sama Atlas? Enggak mungkin. Atlas terlalu dingin untuk peduli tentang
gerakan-gerakan imut begitu. Papa? Papa itu kalau pulang kerja biasanya cuma memberi
Zavie nasihat-nasihat random yang dia lihat di Facebook, atau nunjukin
Zavie video editan berisi foto-fotonya naik gunung waktu masih muda, lalu di
videonya ada tulisan "Selamat Pagi Teman-Temanku Semuanya” dan “Semangat
Untuk Hari Ini” dengan font warna-warni, terus pakai transisi
bunga-bunga mawar yang mekar.
Jadi,
siapa yang mengajarkan Zavie? Pasti tetangga-tetangga di kompleks, nih, tetapi
tak tahu siapa.
Mama
rasanya mau menepuk jidat. Luas banget pergaulan Zavie ini.
Mau
tak mau, Mama pun menjalin kelingkingnya dengan kelingking Zavie. “Ya udah. Jangan
gangguin Pak Kumis, ya. Jangan lama-lama juga. Panas, soalnya.”
Zavie
melompat kegirangan hingga jalinan kelingking itu otomatis terlepas. “YEEESS!!
Okeee, Mamaaaaa!!!”
Setelah
berteriak begitu, Zavie pun langsung ngacir ke rak sepatu dan mengambil
sandal crocs astronotnya. Dia meletakkan sandal itu di teras belakang,
lalu memakainya dengan terburu-buru. Saat dia berlari menuruni tangga, Mama buru-buru
melihatnya dari pintu belakang dan berteriak, “Pelan-pelan, Dek! Astagaaa!! Rumah
Pak Kumisnya nggak lari itu!!!!! Nanti nyungsep, Dekk!!”
“DADAH,
MAMAA!” teriak Zavie seraya mendadahi mamanya. Suaranya mulai terdengar menjauh.
Mama
menghela napas dan menggeleng tak habis pikir. Sekarang, kalau Mama telaah
lagi, kayaknya semua laki-laki di rumah itu enggak ada yang normal. Papa dan
Zavie dengan ke-random-an mereka… dan Atlas yang sedingin kulkas dua
pintu.
Mama
sendirilah yang normal. Mama terjebak, Mama capek, tetapi ya… mau bagaimana
lagi? Mama sayang banget sama ketiga lelaki itu. Mama memang capek menghadapi kelakuan
mereka, tetapi kalau tak ada mereka, rumah jadi sepi dan dingin seperti kutub
utara (eh, sudah ada Atlas, sih, yang persis seperti kutub utara).
Well,
biar aneh-aneh begitu, ketiga lelaki itu juga sayang sama Mama.
******
Sesampainya
Zavie di belakang rumah Pak Kumis—yang sebenarnya kalau dari rumah Zavie hanya butuh
menyeberangi lapangan bola saja—Zavie pun terpana.
Di
sana ada banyak semangka dan semuanya besar-besar!!
Lagi-lagi,
mata Zavie berbinar. Sebenarnya, kalau Zavie main di sekitar lapangan bola, dia
pasti menyempatkan diri untuk melihat kebun semangka Pak Kumis. Semangkanya Pak
Kumis itu selalu besar-besar dan bagus, kayak telur dinosaurus! Walau Zavie
enggak pernah lihat wujud telur dinosaurus, sih. Waktu itu, Zavie pernah menggambar
dinosaurus yang lagi bertelur pakai krayon, tetapi pas Zavie kasih lihat ke Kak
Atlas, kata Kak Atlas, telur dinosaurus enggak ada daunnya dan enggak dikeluarin
lewat mulut. Zavie agak bingung, sih, tetapi… ya sudahlah.
Ya
bagaimana, ya. Di dunia Atlas, dinosaurus itu reptil purba yang bertelur secara
normal, bukan tanaman merambat yang muntah telur! Namun, di otak Zavie yang
penuh dengan "cemangka" itu, proses melahirkan telur dinosaurus mirip
kayak orang yang lagi muntah atau tersedak biji semangka. ‘Kalo biji kecil
aja kelualnya dari mulut, belalti telur yang gede juga kelualnya dali mulut,
dong!’, pikirnya. Selain itu, telur dinosaurusnya harus ada tangkai dan
daun biar kelihatan fresh, kayak semangka yang baru dipetik.
Tiap
melihat semangka-semangka milik Pak Kumis, Zavie pasti berdiri diam dan kagum
selama beberapa detik. Kadang-kadang,
dia sampai ngiler dan lari balik ke rumah cuma buat minta Mama beli
semangka itu. Pokoknya, keluarga Alastair adalah pelanggan tetap Pak Kumis,
soalnya ada bocah yang hobi makan semangka di keluarga itu. Bocah itu adalah
konsumen garis keras. Dia terobsesi dengan semangka.
Saat
mendekati kebun semangka Pak Kumis yang dipagari kayu (kebunnya berbentuk
persegi panjang), Zavie pun mengintip lewat celah pagar kayu itu. Namun, pintu
menuju kebun yang biasanya tertutup rapat, hari ini... sedikit terbuka!
Zavie
hampir melompat kegirangan. Dengan modal nekat, dia langsung menyelinap ke
kebun melalui pintu itu. Begitu dia sampai di dalam, dia pun menganga.
Kekagumannya
jadi berada di level maksimal. Tak ada obatnya.
“Uwaaaaaa!!!!!”
ucapnya dengan suara kencang.
Semangka
Pak Kumis berjajar rapi. Ada banyak barisan semangka di sana. Semangkanya
segar-segar, berwarna hijau dan klimis. Daun-daunnya juga hijau. Walaupun cuaca
sedang panas, Zavie tak merasa kepanasan sama sekali tatkala melihat buah
favoritnya itu. Bodo amat, deh, sama panas matahari, yang penting matanya segar
melihat yang hijau-hijau klimis!
Pak
Kumis enak banget… bica punya cemangka cebanyak ini!! Javi mau jugaaa…! Kalo
Javi minta kebunnya Pak Kumis boleh nggak, ya? Javi mau bawa ke lumah cemuanya.
Zavie
enggak cuma mau bawa pulang buahnya; dia mau seluruh aset properti Pak Kumis!
Mama pasti langsung pingsan kalau Zavie tiba-tiba pulang sambil membawa
sertifikat tanah kebun Pak Kumis.
Mata
Zavie menangkap sebuah semangka yang sangat besar di sebelah timur. Dia pun
langsung excited dan berlari ke sana. Dia duduk di depan semangka itu,
lalu memeluknya. Semangka itu besar sekali di pelukannya; jari-jari mungilnya
hampir tak menyentuh satu sama lain tatkala memeluk semangka itu! Ukurannya
hampir sebesar tubuhnya sendiri.
“UWAAA,
BECAL BANGETTT!!!” teriaknya heboh.
Tatkala
sedang asyik memeluk semangka raksasa itu—mata Zavie merem-merem saking senangnya—tiba-tiba...
Kriet...
Terdengar
suara pintu kebun Pak Kumis yang terbuka. Namun, karena sibuk mengkhayalkan
semangka itu, Zavie tak mendengar suaranya sama sekali. Kini, pintu kebun itu
sudah terbuka sempurna dan di sana, ada Pak Kumis yang muncul sambil membawa sekop
(cetok) yang tadi dia ambil dari rumah karena lupa.
Pak
Kumis itu orangnya tak terlalu tinggi, tetapi cukup kekar karena rajin
mencangkul. Kulitnya sawo matang, rambutnya hitam dan agak panjang (tetapi
bukan gondrong). Kumisnya tebal. Namanya bukan Kumis, sih, tetapi warga
kompleks memanggilnya Pak Kumis gara-gara kumisnya tebal dan tak pernah kelihatan
dicukur.
Pak
Kumis berdiri di dekat pintu itu dan terdiam sejenak.
Kok
ada merah-merah di ujung kanan? Ada semangka yang pecah, ya?
Tapi kok ada rambutnya?
Pak
Kumis mengernyitkan dahi, lalu melangkah mendekati ‘merah-merah’ itu. Begitu
sampai di sana, Pak Kumis pun melebarkan mata karena melihat ada bocah kecilnya
Pak Haryo Alastair di kebunnya.
“Lah,
Zavie?” panggil Pak Kumis. “Kok bisa ada di sini?”
Pak
Kumis tentu kenal dengan Zavie. Kecil-kecil begitu, si gumpalan susu itu terkenal
di RT ini. Dia sudah punya reputasi yang setara dengan Pak RT atau ibu-ibu
penggerak PKK. Kadang-kadang, Pak Kumis dengar gosip dari ibu-ibu random yang
beli semangka, lalu pas Pak Kumis tanya mereka tahu dari mana, katanya dari Zavie.
Kayaknya,
bocah itu adalah pilar ketiga demokrasi RT setelah Pak RT dan ibu-ibu PKK.
Pak
Kumis juga sebenarnya tahu kok kalau Zavie ini hobi memperhatikan kebun
semangkanya, tetapi biasanya Pak Kumis cuma senyum. Paling-paling, beberapa
menit kemudian, datanglah Bu Alastair yang mau membeli semangkanya. Sungguh
ekosistem ekonomi kompleks yang sangat harmonis.
Melihat
Zavie yang masih juga tak sadar akan kehadirannya, Pak Kumis pun tersenyum dan berkacak
pinggang.
“Eh,
eh… Ada pencuri cilik, nih.”
Mendengar
suara Pak Kumis yang berat itu, Zavie pun membuka matanya. Dia langsung menoleh
ke samping (ke arah Pak Kumis) dan memprotes. Matanya membulat polos seperti
kelinci.
“Javi
enggak menculi kok!” katanya.
Ya
nggak nyuri, sih, tetapi posenya itu kayak mau nyabut semangkanya dan kabur.
Pak
Kumis tertawa. “Kalo nggak nyuri, terus ngapain itu semangkanya dipeluk-peluk?”
“Javi—Javi
cuma mau peluk aja, biar cemangkanya anget!”
Hangat?
Memangnya mau mengerami telur?
Hadeh.
Rasanya
Pak Kumis seperti menemukan hama terlucu di dunia.
Pak
Kumis pun mendekati Zavie—yang memakai kaus merah benderang siang itu, makanya tadi
Pak Kumis kira dia adalah semangka yang pecah—dan berkata, “Daripada
peluk-pelukin semangka gitu, ayo bantuin Bapak nanam semangkanya aja. Mau
nggak?”
Zavie
langsung melepaskan pelukannya dari semangka besar itu dan memiringkan kepala. “Nanam
cemangka?”
“Iyaaa,
kan ditanam dulu biar jadi besar gitu buahnya,” jelas Pak Kumis.
“Tapi
waktu itu Javi pelnah liat Mama nanam cabe di belakang lumah, telus cabenya
mati. Nanti cemangka Pak Kumis mati juga, Javi nggak mau,” jawab Zavie.
Pak
Kumis spontan tertawa keras. Zavie ini mulutnya oversharing banget. Bu
Alastair pasti malu setengah mati kalau tahu rahasianya dibeberkan oleh Zavie. “Enggak.
Kalo nanamnya bener-bener, pasti nggak mati kok. Liat, semangka Bapak, kan,
hidup semua.”
Zavie
pun melihat ke sekeliling… dan ya, semuanya hijau klimis. Gendut-gendut pula.
Kayaknya
Mama harus belajal dali Pak Kumis, deh.
“Nanti
kalo semangkanya udah gede, kita panen bareng-bareng! Gimana, mau nggak?” tawar
Pak Kumis.
Mata
Zavie pun berbinar. Dia mulai excited karena kali ini, dia bukan hanya
akan melihat semangka Pak Kumis, melainkan belajar menanamnya langsung!!
Setelah itu, nanti kalau semangkanya sudah besar, dia bisa panen bareng Pak
Kumis!! Wah, Zavie semangat banget, nih, mau liat perkembangan semangkanya
nanti!!
Kalau
Zavie sudah tahu bagaimana cara menanam semangka, berarti nanti Zavie bisa
punya kebun semangka sendiri pas sudah besar! Yes!!!
“MAUUUU!!!!”
jawab Zavie dengan semangat. “YEEEY, NANAM CEMANGKAA!!”
Zavie
pun bangkit dari duduknya, menepuk-nepuk bokongnya yang penuh tanah, lalu
memegang tangan Pak Kumis. Pak Kumis pun tertawa lagi, lalu menggandeng bocah
bau minyak telon itu ke area tanah (sebelah utara) yang akan ditanami semangka
baru.
Di
sana, sudah ada satu baskom benih semangka yang direndam di air hangat. Air itu
sudah dicampur dengan fungisida, bakterisida, dan hormon pertumbuhan.
Sebenarnya, tadi Pak Kumis sudah datang ke sini dengan membawa pupuk dan
rendaman benih, tetapi ketika mau menggemburkan tanah, dia sadar kalau cetoknya
masih ada di dalam rumah.
Pak
Kumis dan Zavie pun berjongkok di dekat area tanah itu. “Bapak gemburin
tanahnya dulu, ya.”
Zavie
mengangguk cepat, excited. “Ung!! Gembulin tanah!”
“Gembur,
bukan gembul,” koreksi Pak Kumis.
Zavie
mengangguk. “Ung! Gembul!”
Sama
aja, pikir Pak Kumis. Zavie masih cadel. Lagi pula, kayaknya
bocah kecil itu juga tak tahu apa maksudnya menggemburkan tanah.
Pak
Kumis pun mulai menggemburkan tanah di sana dengan cetok. Sambil menggemburkan tanah,
Pak Kumis juga memberikan pupuk kandang ke tanah itu. Zavie duduk di sebelahnya
dan melihat dengan saksama. Sesekali, dia mendekati baskom dan jongkok di depan
baskom itu untuk melihat benih-benih semangka. “Telnyata cemangka itu awalnya
kecil banget, ya, Pak!!”
“Iya,
dong. Masa langsung gede. Zavie aja pasti dulunya kecil,” jawab Pak Kumis.
“Tapi
kata Papa, Javi waktu bayi lebih endut dalipada Kakak!” Zavie mulai berdiri,
dia bercerita sambil merentangkan tangannya. Seolah-olah tengah menjelaskan teori
konspirasi terbaru yang sangat mengejutkan.
“Oh
ya?” kata Pak Kumis. “Tapi Kakakmu itu tinggi banget, lho, itu. Badannya bagus.”
Mata
jernih Zavie langsung berkilau penuh kekaguman tatkala mendengar itu. Dia
bangga sekali dengan kakaknya. “Iyaa, Pak!! Kak Atlas itu tinggi banget, keren
bangett!!! Dia bica macukin bola backet cambil lompat tinggi!! Telus, kan, telus
dia bica ambil bola backetnya dali temen-temennya!!”
Pak
Kumis nyaris tertawa. Zavie sayang sekali dengan Atlas, hampir-hampir seperti fans
berat. “Jadi, kamu mau nggak tinggi juga kayak Kak Atlas?”
“Mauuu!!!”
Zavie lompat-lompat. “Javi mau mamam cemangka banyak-banyak cupaya tinggi kayak
Kakak!!”
Pak
Kumis spontan ngakak. “Kalo mau tinggi itu minum susu, bukan makan
semangka!”
“Eh?”
Zavie memiringkan kepalanya, matanya membulat polos. “Tapi Javi minum cucu tiap
hali, kok nggak tinggi-tinggi?”
“Kamu,
kan, emang masih kecil. Mau setinggi apa emangnya?” Pak Kumis menggeleng geli.
“Mau
cetinggi Kakak! Kayaknya emang cemangka, deh, kuncinya,” ujar Zavie sambil
mengangguk-angguk. Dahinya berkerut, seolah-olah baru selesai memecahkan
teka-teki tersulit.
Pak
Kumis tertawa lagi. Kayaknya, bagi Zavie, semangka adalah super serum untuk
segala hal. Mau pintar? Semangka. Mau tinggi? Semangka. Mau jadi naga api?
Semangka.
Kesimpulannya
adalah: semangka adalah solusi universal untuk semua masalah hidup, termasuk transformasi
menjadi reptil mitologi.
Pokoknya
semangka is the best.
Hmm.
Pak Kumis jadi penasaran. Kalau Zavie disuruh memilih antara semangka, kucingnya,
dan Atlas, kira-kira dia bakal pilih yang mana, ya?
Ah,
ada-ada saja. Bukankah jawabannya sudah jelas?
Pasti
‘Kak Atlas’.
Setelah
tanah di sana gembur, Pak Kumis pun membuat bedeng tanah (tanahnya dinaikkan
agar permukaannya lebih tinggi). Jarak antara bedeng satu dan lainnya kurang
lebih satu meter, dan Zavie membantu menaikkan tanah-tanah tersebut dengan
kedua tangan mungilnya.
Setelah
selesai, Pak Kumis pun berkata, “Nah, sekarang, ayo bikin lubang kecil buat nanam
semangkanya. Jaraknya agak jauh, yaa, soalnya nanti semangkanya bakal gede.”
“Oke
ciiipp!!!” Zavie mengacungkan jempolnya. Pak Kumis sempat memberikan cetoknya kepada
Zavie (untuk melihat apakah bocah itu lebih efektif memakai cetok), tetapi
ternyata tanahnya malah terbang ke mana-mana. Ada yang sampai ke pipi Zavie
sendiri—dan dilap pakai tangannya, lalu pipinya jadi hitam semua—dan ada juga
yang hampir masuk ke mata Pak Kumis.
Ya
sudahlah, Zavie cukup pakai tangan saja. Namun, Pak Kumis tetap memberi Zavie
sepasang sarung tangan supaya tangannya tidak iritasi, soalnya rendaman benih
itu sudah tercampur banyak zat.
Zavie
mulai menggali lubang-lubang kecil itu bersama Pak Kumis. Pak Kumislah yang
mengarahkan di mana Zavie harus menggali dan seberapa besar lubangnya.
Setelah
lubang-lubangnya jadi, sampailah mereka ke tahap penanaman benih. Zavie
langsung lompat-lompat kegirangan. Ini adalah bagian yang Zavie tunggu-tunggu.
“YEEYYY!!!”
teriak bocah kecil itu.
“Ini.
Masukin ke lubang-lubangnya, yaa. Dua atau tiga benih aja. Terus tutupin lagi
pake tanah, tapi tipis-tipis aja, soalnya ntar benihnya keberatan pas mau
tumbuh ke atas,” jelas Pak Kumis. “Nah, nanti kita mesti langsung siram biar benihnya
minum. Kalo udah sekitar tujuh sampai sepuluh hari, nanti biasanya muncul tunas
hijau kecil dari tanah. Kita mesti rajin ngerawat semangkanya supaya nggak ada
hama. Jangan lupa dikasih pupuk susulan juga.”
“Ung!!”
Zavie mengangguk cepat (walau sebenarnya, dia tak mengerti 80% dari penjelasan
Pak Kumis itu).
Zavie
pun mulai memasukkan benih-benih itu ke dalam lubang-lubang yang ada di sana.
Namun, Pak Kumis harus tetap memperhatikan Zavie karena kadang-kadang bocah itu
memasukkan segenggam benih sekaligus.
“Biar
banyak tumbuhnya! Nanti mereka jadi cama-cama gede!”
katanya. Pak Kumis cuma bisa menepuk jidat. Bayangkan kalau nanti semua benih
itu benar-benar tumbuh, itu lubang bakal meledak karena penuh dengan tunas yang
berebut tempat duduk!
Diam-diam,
Pak Kumis mengurangi benih-benih di lubang itu kalau dilihatnya kebanyakan.
Setelah
semua benih beres ditanam, Pak Kumis pun mengambil dua buah gembor berisi air.
Salah satunya (yang agak kecil) ia berikan kepada Zavie. “Nih, sekarang Zavie siram
dikit-dikit. Jangan sampe banjir, ya, nanti benihnya berenang ke rumah
tetangga.”
“Hehehehehe…”
Zavie cengengesan saat membayangkan benih-benih semangka itu berenang ke
rumah tetangga sebelah. Dia pun mengangguk dan mengambil gembor itu dari
tangan Pak Kumis.
Sambil
menyiram semua benih itu bersama Pak Kumis, tiba-tiba Zavie membuka suara.
“Pak
Kumis udah mamam belum?”
Pak
Kumis—yang sedang fokus menyiram benih itu—pun menoleh kepada Zavie. “Hmm?”
“Udah
mamam belum?” ulang Zavie.
“Oh.”
Pak Kumis menggeleng. “Belum.”
“Kenapa
belum?” tanya Zavie dengan mata bulatnya yang polos. Air dari gembornya malah melenceng
ke mana-mana.
“Belum
masak,” jawab Pak Kumis. “Kenapa emangnya?”
“Oo
belum macak.” Zavie manggut-manggut. “Nanti dimacakin mau nggak?”
Pak
Kumis spontan mengernyitkan dahi. “Hah? Dimasakin sama siapa emangnya?”
Zavie
lantas tersenyum lebar, penuh semangat. “Nanti Javi caliin Pak Kumis mama
balu!!”
Mama
baru…?
“Pfftt!!!!
HAHAHAHA!” Pak Kumis mulai tertawa kencang. Dia mah butuh istri baru,
bukan mama baru! Istrinya sudah meninggal, soalnya.
“Yang
namanya mama itu nggak bisa diganti baru, Zavie,” jawab Pak Kumis setelah
berhenti tertawa. “tapi kalo kamu nyariin Bapak istri baru, sih, nggak apa-apa.”
Zavie
memiringkan kepala. Seakan-akan ada tanda tanya besar di atas kepala mungilnya
itu. “Ictli?”
“Iya.
Kayak papa kamu kan punya istri, yaitu mama kamu,” jelas Pak Kumis.
“Oooooo
gituuu!!!!” Zavie baru mengerti. Wajahnya berseri-seri karena baru mendapat
pencerahan. “Ya udah, nanti Javi caliin Pak Kumis ictli, ya?”
Pak
Kumis kontan ngakak lagi. Nih bocah ada-ada aja, serius.
“Javi
celius, lho!!!” protes Zavie. Namun, Pak Kumis masih tertawa.
Wah,
liat aja, ya, Pak Kumis! Javi nggak belcanda, nih! Pacti Javi caliin ictli buat
Pak Kumis!
“Iya,
deh, iya,” jawab Pak Kumis, mengalah. Terserah Zavie saja, deh.
Ujung-ujungnya,
Zavie menghabiskan waktu—merawat semangka—bersama Pak Kumis hingga beberapa jam
ke depan. Pak Kumis sampai mengambilkan sebuah topi caping untuk Zavie supaya
tidak terlalu lama panas-panasan.
******
Sekitar
jam lima sore, Mama mulai ke luar—ke teras belakang—untuk melihat keberadaan
Zavie. Anak itu sudah lama di luar, padahal katanya tidak akan lama. Apa yang
dia lakukan di rumah Pak Kumis?
Begitu
Mama berada di teras belakang rumah, mata Mama langsung membulat. Di depan
sana, Mama melihat Zavie yang baru saja berjalan melewati jembatan kayu di
belakang rumah. Jembatan kecil yang menghubungkan taman bunga hydrangea
dengan lapangan sepak bola.
Namun,
bukan itu yang membuat Mama terkejut. Hal yang membuat Mama terkejut adalah:
Zavie
terlihat kotor sekali!! Dekil!
Wajah,
baju, dan celananya hitam-hitam semua. Penuh tanah. Selain itu, di pelukannya…
…ada
sebuah semangka besar. Utuh.
Ekspresi
wajah bocah berpipi tembam itu tampak sangat bahagia. Dia juga memakai
topi caping. Itu topinya Pak Kumis, ya? Besar sekali di kepalanya!
“MAMAA!!!!”
teriak
bocah itu dari bawah sana. “Eheheheheee!!! Javi dikacih cemangka cama
Pak Kumis, Maaa!!!”
Mama
pun langsung menganga. []


No comments:
Post a Comment