Friday, May 15, 2026

She Was Never Mine (Bab 5: Jauh Darinya)

 


******

Bab 5 :

Jauh Darinya

 

******

 

KILATAN cahaya dari flash kamera menyambar berkali-kali di dalam studio sewaan yang hari ini digunakan untuk pemotretan komersial sebuah majalah mode. Keisha Nathalie berdiri di tengah set, memancarkan aura yang membuat orang-orang tak bisa mengalihkan pandangan.

Gaun cokelat keemasan yang ia kenakan terlihat begitu mahal dan elegan di tubuhnya yang tinggi dan ramping. Rambut dirty blonde-nya sedikit berkibar tertiup kipas angin di sudut set. Dengan riasan clean girl makeup yang menonjolkan kulit eksotisnya, Kei menatap tajam ke arah lensa.

"Oke, perfect, Kei! Nice! Kita break lima belas menit, yaa!" seru sang fotografer puas.

Kei mengembuskan napas, membiarkan posturnya rileks seketika. Senyum profesional di wajahnya berganti menjadi senyum kasual yang ramah saat ia melangkah turun dari set. Asistennya segera memberikan botol air mineral. Saat Kei hendak berjalan menuju sofa yang ada di sudut, matanya menangkap dua sosok yang berdiri di dekat pintu masuk studio.

Ada salah satu kru yang membuka pintu studio dan mempersilakan dua orang itu masuk. Salah satu orang itu adalah Alvin Bastian, pria yang sudah mulai cukup akrab dengannya beberapa waktu belakangan ini. Di sebelah Alvin, ada seorang wanita berambut sebahu yang memakai blouse putih dan celana jeans. Wajah wanita itu cerah, matanya hidup, dan dari caranya melihat ke sekeliling studio dengan antusias, Keisha bisa menebak bahwa wanita itu bukan tipe orang yang malu-malu.

“Kei!” panggil Alvin dari kejauhan seraya melambaikan tangan.

Keisha langsung berjalan ke arah Alvin seraya tersenyum, menyambut Alvin dengan ramah. “Eh, Vin? Ada apa, nih?”

Alvin berjalan mendekat sambil menggandeng wanita di sebelahnya. “Ahaha, sorry. Ngagetin, ya?”

Keisha tertawa renyah. “Haha, sedikit. Ada apa, Vin? Sini, ayo duduk!”

Mereka semua pun duduk di sofa yang tadi ingin Kei duduki. Alvin lalu berkata, “Ganggu bentar boleh nggak? Kebetulan tadi habis meeting bahas final touch buat desain logo klien di gedung sebelah.”

Perempuan di sebelah Alvin ternyata tak membuang waktu. Ia tersenyum dengan sangat lebar dan mengulurkan tangannya tanpa ragu. "Halo, kamu Keisha Nathalie, ya? Wah, salam kenal! Aslinya lebih cantik parah daripada di foto! Aku Meira, pacarnya Alvin."

Alvin pun segera berkata, “Kei, kenalin. Ini Meira, pacar aku. Kamu, kan, ada cerita sama aku dan Josh terkait pemotretan kamu, jadi aku tau kalo kamu lagi ada di sini. Aku sering cerita soal proyek kamu dan Josh ke Meira. Pas dia tau kamu lagi shoot di dekat sini, dia langsung maksa ngajak mampir biar bisa kenalan sama kamu.”

Keisha menyambut jabatan tangan Meira. “Hai, Meira. Salam kenal. Panggil Kei aja, ya.”

Meira mengangguk antusias. “Oke! Ternyata, pas aku liat langsung, kamu emang cocok banget buat proyeknya Josh! Alvin juga sering cerita soal kamu. Katanya kamu cantik, elegan, asyik, dan cocok banget buat proyek Josh.”

Alvin langsung berdeham. “Aku nggak bilang sepanjang itu, ya.”

Meira menoleh tajam ke arah Alvin. “Kamu bilang, kok.”

“Aku bilang intinya aja.”

“Ya intinya sepanjang itu.”

Keisha tertawa. Entah mengapa, ia langsung menyukai Meira. Wanita itu punya energi yang hangat, riang, dan spontan; jenis energi yang membuat orang lain mudah nyaman.

Beberapa kru masih berlalu lalang di sekitar mereka, menata lampu dan properti untuk sesi foto berikutnya.

Meira menatap Keisha dengan mata membulat polos, benar-benar terlihat bersemangat. "Jadi model tuh pasti pegel, ya, nahan pose dalam waktu lama. Kalo aku pasti udah encok duluan."

Kei tertawa. "Yaa lumayan, sih, apalagi kalo fotografernya minta pose yang agak tricky dan ditahan lama. Tapi aku udah biasa, kok."

"Nah, mending jadi model. Jelas capeknya di badan," kata Meira sambil menunjuk Alvin dengan dagunya. "Kalo si Alvin, nih, capeknya di mata sama di otak. Kalo udah stuck ngedit desain di laptop, matanya sampe mau copot. Kemaren aja aku dinner, eh, tau-taunya dia buka laptop di restoran gara-gara kliennya minta revisi warna dadakan!"

Alvin langsung mengusap wajahnya, salah tingkah. "Itu aku ngejer deadline, Sayang... Lagian, cuma sebentar aku ngeditnya."

"Sebentar apanya? Makanan aku sampe dingin nungguin kamu debat soal hex code warna biru di telepon," ejek Meira, yang langsung membuat Kei tertawa lepas.

Waktu mendengar Kei tertawa lepas, Meira langsung menatap Kei kembali dan terpana.

“Wah, serius. Kalo aku jadi fotografer, aku juga bakal langsung pilih kamu jadi muse,” ujar Meira. “Udah cantik banget, friendly lagi! Pantes Josh cocok sama kamu.”

 

Wait.

 

Cocok sama kamu.

 

Kalimat itu membuat gerakan Keisha sedikit tertahan. Entah mengapa, dia suka mendengar kata-kata itu, tetapi di sisi lain… dia juga merasa agak… canggung karena sudah tahu kalau Josh punya pacar.

“Um… haha. Makasih. Josh memang punya konsep proyek yang bagus. Aku tertarik banget sama idenya,” jawab Keisha.

“Oh iya, proyek yang tentang…apa itu, Vin?” tanya Meira.

“The Unseen Seasons: Woman,” jawab Alvin.

Meira langsung menatap Keisha lagi. “Nah, itu. Keren banget, lho. Alvin sempet cerita. Tentang perjalanan seorang wanita, ‘kan? Dari polos, dihancurkan dunia, terus nemuin dirinya sendiri?”

Keisha mengangguk. “Iya. Kurang lebih kayak gitu. Josh ngejelasinnya bagus banget waktu itu.”

Tanpa sadar, senyum Keisha berubah jadi lebih lebar ketika menyebut nama Josh. Ada sedikit binar yang muncul di matanya.

Meira dan Alvin melihat itu. Karena mereka berdua adalah pasangan yang sama-sama kurang punya bakat untuk pura-pura buta, mereka pun saling melirik.

Keisha kembali berbicara, “Aku suka proyek itu. Cara Josh ngeliat sesuatu itu... unik, menurutku. Dia nggak cuma mikirin foto yang cantik. Dia mikirin cerita di baliknya. Makna. Perjalanan. Rasanya… jarang ketemu fotografer yang ngomongin objeknya dengan cara kayak gitu.”

Alvin tersenyum kecil. “Josh emang gitu. Dia agak… idealis kalo soal fotografi.”

“Agak?” Meira mendengkus. “Itu orang kalo ngomongin foto bisa kayak lagi khutbah seni!”

Keisha tertawa. “Khutbah seni? Wah, menarik juga. Kapan-kapan aku mau coba denger.”

“Eh ehhh…” kata Meira. Matanya langsung menyipit curiga pada Kei; dia tersenyum jail.

Keisha memiringkan kepalanya. “Kenapa, Meira?”

“Nggak.” Meira cekikikan. “Kamu… jujur banget, ya. Aku suka.”

Alvin menahan tawa. Meira ternyata menangkap sinyal yang sama dengannya.

Keisha menatap mereka secara bergantian. “Kalian ngeledek aku, yaa?”

Meira berhenti tertawa, lalu memajukan tubuhnya sedikit. “Kei.”

“Hmm?”

“Kamu naksir sama Josh, ya?” tembak Meira tiba-tiba.

Keisha membeku. Pipinya merona seketika.

 

Waduh! Sejelas itu, ya?!

 

Alvin langsung menutup wajahnya dengan telapak tangan. “Ra…”

“Apa?” Meira menoleh kepada Alvin. “Kita semua udah dewasa di sini.”

“Dewasa, tapi kamu nggak harus nembak orang kayak debt collector.”

Meira menatap Keisha lagi, lalu tersenyum lembut seraya menyentuh punggung tangan Keisha. “Nggak apa-apa, kok, Kei. Santai aja. Aku nggak bakal bilang ke Josh.”

Keisha tertawa. “Makasih, ya. Bisa gawat kalau Josh denger!”

“Hahahaha! Iya, bener!” Meira mengangguk. “Well, aku bakal diem, tapi… aku dukung kamu.”

Alvin kontan tertawa, sementara Keisha langsung salah tingkah. Bingung mau merespons seperti apa. Kok mereka berdua kayaknya santai saja membahas ini, padahal Josh punya pacar?!

“Gila, to the point banget!” ucap Alvin pada Meira.

“Ya nggak apa-apa kali, kan nggak ngerugiin siapa-siapa juga kalo aku diem!” balas Meira.

Keisha tertawa geli. Meira langsung mengecap kalau dia tertarik pada Josh, padahal dia tadi belum bicara apa-apa soal ketertarikannya. Berarti, ekspresinya… atau mungkin tatapannya… sejelas itu.

Kei pun mengalihkan pandangan ke arah kru yang sedang menata properti. Namun, tiba-tiba Meira berbicara kembali.

"Eh, tapi ngomong-ngomong soal restoran, Kei, kamu suka ngopi, nggak? Kakakku baru buka coffee shop minggu lalu di daerah Bubutan. Tempatnya asyik banget buat nongkrong atau me-time."

"Oh ya? Wah, aku suka banget!" Mata Kei berbinar. "Di Bubutan, ya? Apa nama coffee shop-nya?"

“Namanya ‘Satu Roastery’! Kopinya enak, terus pastry-nya juga bikin sendiri," seru Meira dengan bersemangat. “Kapan-kapan mau nggak ke sana bareng aku?”

Kei mengangguk. “Boleh, boleh! Aku mau nyobain pastry-nya juga.”

Meira langsung mengacungkan jempolnya. “Oke, deh! Hehe! Seneng banget akuu, dapet temen baru yang baik. Model cantik pula.”

Alvin tersenyum menatap interaksi kedua wanita itu. Tak lama, Alvin pun bertanya pada Kei. Nadanya santai, tetapi… terdengar cukup serius. Dia tidak sedang menggoda Kei.

 

“Yang bikin kamu pertama kali tertarik sama Josh itu apa, Kei?”

 

Kei terdiam. Ia langsung menatap Alvin.

Bagaimana, ya, cara menjelaskannya?

Ia baru bertemu Josh sekali. Seharusnya, perasaan seperti itu belum pantas dinamai. Belum pantas dianggap serius. Akan tetapi, sejak pertemuan pertama mereka, ada sesuatu dari Josh yang tinggal di kepalanya. Wajah pria itu. Cara pria itu bicara tentang proyeknya. Cara ia memperlakukan orang lain. Cara ia tersenyum malu, tetapi matanya menyala ketika membahas hal yang ia cintai.

Keisha pernah bertemu banyak laki-laki menarik. Banyak yang tampan. Banyak yang percaya diri. Banyak yang tahu cara membuat perempuan merasa dipuja.

Namun, Josh berbeda.

Josh tidak membuat Keisha merasa sedang dilihat sebagai tubuh indah semata. Dia membuat Keisha merasa… dilihat sebagai seorang perempuan. Seolah-olah pria itu tidak hanya ingin memotretnya, tetapi juga ingin memahami cahaya dan bayangan yang hidup di dalam dirinya.

“Umm…” Keisha tersenyum, sedikit mengerutkan dahinya berpikir. “Gimana, ya? Dia baik, Vin. Tulus banget. Nggak tau kenapa, aku bisa liat ketulusan itu.”

Alvin tersenyum lembut, begitu pula Meira.

“Josh emang baik. Kadang terlalu baik, malah,” ujar Meira.

Keisha menatap Meira. “Terlalu baik gimana?”

Alvin menghela napas. “Josh tuh orangnya… kalo udah sayang sama seseorang, dia bisa ngasih semuanya, Kei.”

Meira menambahkan, “Semuanya banget. Waktu, tenaga, perhatian, uang, pikiran. Kadang sampe lupa diri sendiri.”

Keisha terdiam. Entah mengapa, ada sesak yang muncul di dadanya.

“Alvin bilang… dia punya pacar, ‘kan?” tanya Keisha pelan. “Berarti…”

Meira menatap Alvin sebentar, seolah-olah meminta izin diam-diam untuk tahu sejauh mana ia boleh berbicara. Alvin hanya menghela napas kecil.

“Pacarnya itu temen SMA mereka,” jelas Meira. “Josh suka sama cewek itu dari dulu banget, tapi baru jadian akhir-akhir ini.”

Keisha mengangguk. Dia sudah tahu soal itu dari Alvin. Namun… ‘Josh suka sama dia dari dulu banget’?

Jadi…

“Josh ngejer dia selama itu?” tanya Keisha seraya mengangkat alis.

Alvin tertawa hambar. “Bisa dibilang gitu, Kei.”

“Ah…” Keisha mengangguk dalam tempo pelan, mencoba mencerna semua yang ia dengar. Ekspresinya agak blank.

Setelah itu, dia sedikit menunduk. Tersenyum tipis.

“Wah,” ucapnya lirih. “Kalo udah disukai selama itu… susah juga, ya.”

Meira langsung bersandar dengan ekspresi tidak setuju. “Susah bukan berarti mustahil, Kei.”

Alvin mengangguk, mendukung Meira.

Keisha tertawa pelan. “Ah—haha… Nggak enak sama pacarnya Josh kalo kamu dukung aku gitu, Meira.”

“Lah, orang si cewek itu juga—”

“Aku nggak mau jadi orang ketiga juga,” lanjut Keisha. Suaranya tetap lembut, tetapi tegas. “Aku mungkin tertarik sama Josh, tapi kalo dia masih punya seseorang, aku nggak punya hak untuk masuk terlalu jauh.”

Meira memperhatikan Keisha selama beberapa detik. Setelah itu, senyumnya melebar.

“Oke, fix,” kata Meira. “Kita harus jadi temen deket.”

Keisha mengerjap. “Eh?”

“Aku suka kamu,” ungkap Meira. “Kamu cantik, waras, dan punya rem. Jarang-jarang ada kombinasi begitu, haha!”

Spontan Alvin dan Keisha tertawa kencang.

Meira lalu merogoh ponsel dari tasnya. “Aku minta nomor kamu boleh, Kei?”

Mata Kei sedikit melebar. “Nomorku?”

“Iya. Ayo temenan! Aku juga bakal ngehubungi kamu kalo ntar kita ke coffee shop Kakakku. Lagian, nanti kalau Alvin ngeselin, aku bisa kabur ngobrol sama kamu!”

“Lho?” Alvin protes. “Kok aku jadi korban?”

“Karena kamu sering ngeselin.”

Keisha tertawa sambil menerima ponsel Meira. “Boleh. Sini aku ketik.”

Ketika Keisha mengetik nomor ponselnya, Meira kembali bertanya, “Ngomong-ngomong, Josh hari ini nggak ada pertemuan sama kamu soal proyek itu?”

Keisha menggeleng. “Nggak. Bukannya kata Alvin dia lagi ada proyek di luar negeri, ya?”

“Oh, iya,” jawab Alvin. “Josh lagi ke Singapore. Dapat proyek foto di sana, temen lamanya yang minta. Tapi hari ini dia pulang, kok. Paling nanti sore udah mendarat langsung di Juanda.”

“Singapore, ya…” ulang Keisha pelan.

“Kenapa?” tanya Alvin.

“Nggak apa-apa.” Keisha mengembalikan ponsel Meira. “Cuma baru tau aja kalo Josh sampe dapet proyek dari luar negeri.”

Meira menerima ponselnya, lalu menatap Keisha dengan senyum jail. “Itu karena temen kecilnya ada di sana, Kei. Kayaknya, kamu pengin tau banyak soal Josh, ya?”

Keisha langsung menutup wajahnya dengan tangan seraya tertawa malu. “Duh, aku ketauan mulu, nih. Haha!”

Alvin ikut tertawa. “Udah, Raaa... Jangan digodain terus. Kasian Kei-nya.”

“Dia nggak kasian. Dia cuma ketauan. Gampang ditebak banget dari wajah dan matanya, soalnya. Hehe,” ujar Meira tanpa dosa.

Keisha menggeleng, menyerah. “Aduh… Mesti latihan nyembunyiin perasaan, nih.”

Meira tertawa kencang.

Well, Keisha memang ingin tahu lebih banyak tentang Josh.

Tentang pekerjaannya. Tentang masa lalunya. Tentang caranya mencintai seseorang selama bertahun-tahun. Tentang bagaimana seseorang bisa menyimpan rasa begitu lama tanpa kehilangan kelembutan di dalam dirinya.

Namun, semakin banyak ia tahu, semakin ia merasa bahwa ketertarikannya bukan sekadar rasa kagum sesaat.

Itu membuatnya takut… karena Josh Andriano bukan pria yang kosong. Pria itu sudah memiliki seseorang di hatinya.

Keisha tak tahu apakah ada ruang yang tersisa untuk orang lain di sana.

 

******

 

Bandara Internasional Juanda sore itu dipenuhi oleh suara langkah kaki, pengumuman penerbangan, roda koper yang bergesekan dengan lantai, dan percakapan orang-orang yang datang silih berganti. Josh Andriano duduk di salah satu kursi tunggu. Sebuah kamera tersimpan aman di dalam tasnya, sementara koper miliknya berdiri di sebelah kaki.

Penerbangannya dari Singapore baru saja mendarat sekitar tiga puluh menit yang lalu.

Biasanya, Josh menyukai bandara.

Ada banyak wajah. Banyak cerita. Banyak perpisahan dan pertemuan. Banyak momen singkat yang kadang terlihat biasa, tetapi bisa terasa hidup jika dibekukan dalam sebuah foto.

Akan tetapi, hari ini... Josh tidak begitu memperhatikan sekitarnya. Sejak tadi, matanya lebih banyak tertuju pada ponsel.

Aplikasi WhatsApp terbuka, menampilkan ruang obrolannya dengan Windy. Pesan-pesannya sejak beberapa hari lalu saat ia memberi kabar sudah mendarat di Changi, rentetan pertanyaannya yang menanyakan apakah Windy sudah makan siang, hingga rentetan panggilannya di malam hari setelah ia selesai memotret... semuanya teronggok sepi.

Josh menatap pesan terakhir yang ia kirimkan kemarin malam.

 

Me
Win, aku udah selesai pemotretan hari ini.

Capek banget, tapi hasilnya bagus.

Kamu gimana? Udah makan?

 

Masih centang dua abu-abu.

Ia men-scroll ke atas.

Ada pesan dari dua hari lalu.

Me
Aku udah di Singapore, Sayang.

Nanti aku kabarin lagi kalo udah sampe di hotel.

 

Centang dua abu-abu.

 

Me
Kamu sibuk banget, ya? Jangan lupa makan, oke?

 

Centang dua abu-abu.

 

Me
Aku telepon kamu sebentar boleh? Kangen banget.

 

Centang dua abu-abu.

Josh menatap layar itu lama. Ada sensasi aneh yang membuat dadanya terasa sesak.

Selama ini, Josh selalu memaksa dirinya untuk maklum. Ia terus meyakinkan hatinya bahwa mungkin Windy terlalu sibuk dengan pekerjaannya sebagai resepsionis hotel, apalagi hotel itu sedang mengurus acara anniversary. Josh selalu menekan kecurigaannya, menelannya dalam-dalam, sama seperti ia menahan rasa sakit saat melihat Windy tertawa leluasa memeluk lengan Frans, sang Front Office Manager. Ia melakukan itu semua hanya demi mempertahankan Windy di sisinya.

Ia tak mau menjadi pacar yang merepotkan. Ia tak mau menjadi laki-laki yang terlalu mengekang.

Namun, tiga hari adalah waktu yang cukup lama untuk tidak membaca pesan sama sekali. Panggilan-panggilan dari Josh juga tidak pernah diangkat.

Lagi pula, Windy bukan tidak menyentuh ponselnya.

Josh tahu itu.

Ia tahu karena sejak kemarin, Windy beberapa kali mengunggah status WhatsApp.

Foto makanan.

Foto dirinya yang sedang ‘nongki’ bersama teman-temannya.

Foto lobby hotel.

Foto sepatu barunya.

Foto langit sore dari jendela rumahnya.

Tadi pagi, Windy bahkan sempat mengunggah foto selfie dengan filter yang membuat pipinya terlihat lebih pink. Di foto itu, Windy tersenyum manis ke kamera.

Josh menghela napas.

Tak lama kemudian, pertahanan Josh hancur tak bersisa tatkala ibu jarinya tanpa sadar menggeser layar ponsel ke tab Status.

Di barisan paling atas, sebuah lingkaran hijau menyala terang.

Windy Alisha - 5 minutes ago.

Napas Josh tertahan. Dada pria itu seolah ditikam dengan kejam. Ia menekan status itu. Layar berganti, menampilkan unggahan foto terbaru berupa segelas minuman mahal di sebuah café cantik. Di samping gelas itu, ada potongan tangan seseorang yang samar-samar tertangkap kamera. Josh tidak bisa memastikan tangan siapa. Bisa saja teman Windy. Bisa saja rekan kerjanya. Bisa saja siapa pun.

Di bagian bawah foto, Windy menulis:

Capekkk. Butuh asupan yang manis-manis, tapi harus tetep cantik 🥺✨

Josh menatap tulisan itu.

Jadi… Windy sempat membuka WhatsApp.

Ia sempat mengambil foto.

Ia sempat memilih filter.

Ia sempat menulis caption.

Ia sempat mengunggah status.

Namun, ia tidak sempat membaca pesan Josh.

Tidak sempat membalas.

Tidak sempat mengangkat telepon.

Josh keluar dari status itu. Ia kembali membuka chatroom mereka.

Masih centang dua abu-abu.

Untuk beberapa detik, Josh hanya menatap layar.

Orang-orang berlalu lalang di depannya. Ada banyak suara yang ia dengar: suara pengumuman penerbangan yang terdengar dari pengeras suara. Suara seorang anak kecil menangis. Suara seorang pria di sebelahnya yang berbicara melalui telepon.

Dunia tetap bergerak. Namun, Josh merasa seolah-olah ia berhenti di tempat.

Tiba-tiba, layar ponselnya bergetar panjang. Ada sebuah pop-up notifikasi dari ruang obrolan yang masuk.

Josh tersentak.

Nama Windy muncul di layar.

 

Windy baru saja membalas chat-nya.

 

Jantung Josh berdegup kencang. Dengan cepat, ia pun membuka pesan itu.

 

Windy 🥰
Sayaaanggg!!! Ya ampun, maaf bangettt aku baru bisa balasss
😭😭😭 Aku bener-bener sibuk paraaah di hotel, aku sampe jarang bisa pegang HP! Kamu udah di bandara, Sayang? Aku kangen bangettt lho sama kamuuu 😚❤️❤️

 

Josh menatap layar ponselnya lekat-lekat. Membaca pesan itu.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Seharusnya ia senang. Rentetan huruf yang memanjang. Gaya bahasa merengek dan lautan emoticon penuh cinta yang biasa Windy gunakan, yang selalu sukses membuatnya merasa dicintai dan terbang ke awang-awang.

Seharusnya dadanya terasa lega karena Windy akhirnya membalas. Seharusnya ia tersenyum seperti biasanya, lalu mengetik balasan panjang, menanyakan kabar Windy, memaafkannya, lalu mengatakan bahwa ia juga kangen.

Namun, entah mengapa…

…kali ini tidak ada rasa lega.

Yang ada hanya… kekosongan.

Josh menatap pesan itu lagi.

‘Aku kangen bangettt lho sama kamuuu 😚❤️❤️’

Kalimat itu sangat manis. Seperti parfum beraroma permen yang sudah ia hafal. Seperti senyum Windy setiap kali meminta sesuatu darinya.

Namun, hari ini, manis itu terasa berbeda.

Bukan menenangkan…

…melainkan membuatnya sakit.

Josh mengangkat kepalanya perlahan. Ia menatap keramaian bandara di depannya tanpa benar-benar melihat siapa pun.

Windy berbohong.

Pikiran itu muncul begitu saja.

Pelan.

Dingin.

Windy berbohong.

Josh menelan ludah. Rahangnya mengetat.

Ia tahu Windy berbohong karena status itu ada. Baru saja diunggah. Status-status sebelumnya juga ada. Lingkaran kecil berwarna hijau itu seperti bukti yang terus menyala di depan matanya. Seperti seseorang yang mengetuk pintu kaca dari luar, meminta Josh untuk berhenti berpura-pura tidak melihat.

Perlahan, Josh menurunkan ponselnya. Layar itu meredup, lalu berubah hitam sepenuhnya, memantulkan wajah Josh sendiri yang terlihat begitu lelah, bodoh, dan menyedihkan.

Kalau Windy bisa membuat status…

…mengapa ia tak bisa membaca pesan Josh?

Kalau Windy bisa memilih caption…

…mengapa ia tak bisa mengetik satu kalimat untuknya?

Kalau Windy bisa tersenyum ke kamera…

…mengapa ia tak bisa menjawab telepon dari pacarnya sendiri?

 

Josh tidak ingin marah.

Tidak ingin menuduh.

Tidak ingin bertengkar.

Namun, ia juga tidak ingin berpura-pura baik-baik saja.

Beberapa menit kemudian, setelah berpikir lama, akhirnya… Josh pun memilih untuk mengalah. Memilih untuk berpikir positif meskipun sebenarnya tidak ada lagi yang positif dalam situasi ini. Windy jelas-jelas… mengabaikannya.

Josh pun mengetik pelan. Dia tetap membalas dengan baik.

 

Me

Nggak apa-apa.

 

Ia berhenti, menatap dua kata itu, lalu menambahkan dua kalimat lagi.

 

Me

Aku masih di bandara. Lagi mau order taksi online.

 

Pesan itu langsung terkirim. Centang dua abu-abu.

Josh menunggu.

Satu menit.

Dua menit.

Tiga menit.

Tidak berubah.

Tidak ada balasan.

Josh tertawa pelan. Bukan tawa bahagia, melainkan tawa kecil yang lelah. Seolah-olah tubuhnya tidak tahu harus merespons seperti apa lagi.

Ia mematikan layar ponsel, lalu menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi.

Langit-langit bandara terlihat tinggi dan terang. Cahaya siang masuk dari kaca-kaca besar di kejauhan, menerangi lantai mengilap dan bayangan orang-orang yang terus bergerak.

Josh memejamkan mata.

Di kepalanya, muncul banyak hal sekaligus.

Windy yang tersenyum kepadanya saat SMA. Windy yang berdiri di depan Gio untuk melindunginya. Windy yang tertawa di foto berbingkai di studionya. Windy yang mencium pipinya. Windy yang meminta dress, sepatu, dan clutch dengan suara manja. Windy yang tertawa di bahu Frans. Windy yang sedang online, tetapi tidak membaca pesannya.

Josh membuka mata perlahan.

Hatinya pedih.

Di depannya, hanya berjarak beberapa kursi, ada seorang wanita yang sedang tertawa bersama kekasihnya. Pria itu membantu membenarkan tali tas wanita itu, lalu wanita itu menepuk lengan pria tersebut sambil tersenyum. Interaksi kecil. Sederhana.

Namun, Josh melihat cara wanita itu menatap pria di sebelahnya.

Fokus.

Hadir.

Josh kembali menatap langit-langit.

Untuk alasan yang tidak ia mengerti, tiba-tiba ia teringat pada komentar Keisha beberapa hari lalu.

 

“…dari foto ini, perempuan itu keliatan… jauh.”

 

Josh menarik napas panjang.

 

“Jauh, ya…” bisik Josh pada dirinya sendiri sambil menelan getir. []

 














******











Saturday, May 9, 2026

Sadistics' Lover (Chapter 5: Villains Are Made)

 


******

Chapter 5 :

Villains Are Made

 

******

 

16 TAHUN YANG LALU

 

SUARA pecahan guci arak itu sangat memekakkan telinga. Suara itu mampu membuat Ai tersentak setiap kali muncul. Jantungnya serasa berhenti berdegup tiap guci itu menghantam lantai rumah mereka.

            PRANG!!

            Entah sudah berapa guci arak yang terlempar ke lantai. Sesekali, Ai akan mendengar ibunya berteriak kencang, mengumpat, meraung-raung, dan tertawa keras.

Ini bukan hal baru. Setiap hari, sang ibu memang seperti itu. Tidak ada yang wanita itu lakukan selain mabuk-mabukan di rumah, melempar guci arak, berteriak, dan memukuli anak-anaknya. Namun, meski bukan hal baru, rasa takut tetap merayap ke sekujur tubuh Ai tiap kali hal itu terjadi. Dua hal yang mungkin akan meredakan rasa takut itu adalah: saat sang ibu tertidur, atau…

…saat Eric ada di sampingnya.

Hari ini, sepertinya amukan Ibu jauh lebih parah dari biasanya. Sesuatu mungkin telah terjadi.

 

“SIALAN!!!”

“BAJINGAN KEPARAT! PERSETAN!!! BERANI-BERANINYA DIA MENINGGALKANKU!! BERANI-BERANINYA DIA MEMBUATKU BERTANGGUNG JAWAB UNTUK DUA ANAK INI!!”

 

PRANG!!

 

Ai menutup telinganya kuat-kuat. Matanya terpejam; dalam hati, ia terus memohon agar suara-suara itu berhenti. Agar Ibu berhenti berteriak. Agar Ibu berhenti marah.

Namun, agaknya hal itu sukar terjadi, mengingat selama ini Ibu jarang sekali terlihat tenang.

Perut Ai sakit. Ini sudah jam tiga sore dan Ai belum makan sejak kemarin. Biasanya, Ibu akan menyuruh Eric membeli apa pun yang bisa mereka makan selama kurang lebih tiga hari sekali, memerintahkan Eric untuk mengambil uang dari atas meja kamar Ibu.

Uang kiriman dari Ayah setiap bulannya. Ayah yang sudah kabur dari rumah sekitar setahun yang lalu.

Seharusnya kemarin Eric berbelanja keluar, tetapi karena tidak menemukan uang sepeser pun lagi, Eric memberitahu Ibu bahwa uang mereka habis. Hal itu berakhir dengan Eric dipukuli oleh Ibu habis-habisan.

Namun, Eric hanya diam. Dia ditampar, ditendang, dipukul dengan kayu dan ikat pinggang hingga tubuhnya memar-memar dan berdarah, tetapi dia hanya diam.

Dia tidak menangis.

Pukulan itu sudah hampir menjadi makanan sehari-hari baginya. Tidak ada tangisan, tidak ada pula tatapan kosong. Ia hanya menatap lurus, teguh, menerima pukulan itu dengan pikiran seperti, ‘Ini akan berlalu sebentar lagi. Tahan saja.’

Biasanya, Ai-lah yang menangis dan memohon-mohon pada Ibu untuk berhenti memukuli Eric, lalu hal itu berujung dengan dia ikut terkena pukulan Ibu. Biasanya, Eric akan menyuruh Ai pergi dan dengan tegas berkata pada Ibu, ‘Pukul aku saja. Ai tidak ada hubungannya.’

Setiap malam, Ai yang masih berusia enam tahun itu akan membantu Eric mengobati luka-luka di tubuhnya. Mereka membeli kapas dan obat-obatan itu diam-diam, sedikit-sedikit, dari uang yang Eric bawa saat belanja. Eric, yang saat itu berusia sepuluh tahun, dipaksa untuk jauh lebih dewasa daripada usianya sendiri.

Kalau tidak begitu, luka di tubuh mereka akan membusuk, apalagi luka itu selalu bertambah setiap harinya. Eric harus membeli obat-obatan.

Setiap malam, Ai akan membantu membersihkan luka Eric sambil menangis. Ia akan memeluk Eric, memohon pada Eric untuk berhenti menerima pukulan Ibu, lalu Eric akan tersenyum seraya mencium keningnya.

“Tidak apa-apa. Aku akan melindungimu.”

Di dunia ini, Ai hanya punya Eric. Mereka berdua tidak pernah bermain di luar rumah lagi sejak Ayah dan Ibu bertengkar setiap hari sampai akhirnya keduanya berpisah. Ai sering mendengar bagaimana Ayah memukuli Ibu yang memarahinya membabi buta. Ibu selalu berteriak, ‘Perempuan itu!!’, tetapi Ai sendiri tak tahu apa maksud Ibu. Di saat-saat itu, Eric selalu menutup telinga Ai sambil menempelkan kening mereka. Tatapan mata Eric begitu serius, tetapi mulutnya tak mengatakan apa pun. Tatapan itu seolah-olah ingin menyampaikan:

“Tidak usah didengarkan.”

Mereka selalu berdua. Di dalam dunia kecil mereka. Di dalam rumah kecil yang pengap dan bau arak, di mana ada monster yang mereka panggil ‘Ibu’.

Sesekali, Eric akan mengajak Ai keluar tatkala Ibu tidur. Hanya untuk melihat matahari, bulan, bintang, atau merasakan angin di luar. Kadang-kadang pula, Eric akan mengajak Ai ke sebuah taman bunga suisen kecil di desa dan Ai jadi sangat menyukai bunga putih itu. Namun, Ibu sering memergoki mereka. Wanita itu pun akan memukuli Eric karena Eric pasti mengaku bahwa ialah yang mengajak Ai keluar rumah.

Ibu akan mengamuk dan membentak Eric seperti, “PRIA ITU HANYA MENGIRIM UANG UNTUK KALIAN! KALAU KALIAN TIDAK ADA, DIA TAKKAN MENGIRIMKAN UANG KE SINI!!! JANGAN KABUR DARIKU!!”

Ibu selalu mengharapkan uang dari Ayah setiap bulannya, padahal Eric pernah bilang ke Ai bahwa sebenarnya uang dari Ayah itu sangat sedikit.

Setiap hari, Eric-lah yang akan memberi Ai makan. Memandikannya. Membantunya memakai pakaian. Memeluknya saat tidur, kedinginan, atau takut. Mengobati lukanya kalau ibu sempat memukulinya.

Dunia mereka begitu terpusat pada satu sama lain. Bagi Ai, Eric adalah ayah, ibu, sekaligus kakaknya. Eric adalah segalanya. Begitu pula Ai; gadis kecil itu adalah satu-satunya dunia Eric.

Karena kemarin Eric tidak berbelanja, di rumah tidak ada makanan apa pun. Saat ini, Eric sedang pergi keluar sebentar untuk mencari buah kesemek liar yang tumbuh di pinggir desa. Namun, sekitar sepuluh menit sejak kepergian Eric, tiba-tiba saja Ibu berteriak dan mengamuk tanpa henti. Dia mulai melempar semua guci bekas araknya di ruang tamu. Dia mengambil semua arak yang ia punya, meminumnya, lalu melempar guci itu ke segala arah.

Karena Eric tidak ada, Ai jadi ketakutan.

 

“AKU TIDAK SALAH APA PUN!!”

“MENGAPA HIDUPKU SEPERTI INI??!!”

“SIALAN! AKAN KUBUNUH KAU! BEDEBAH GILA!!”

 

PRANG!!

 

“KUHARAP KAU MATI BERSAMA PEREMPUAN JALANG ITU!!”

 

Ai terperanjat. Apa yang membuat Ibu sangat marah?

Tadi pagi, setelah memukuli Eric seharian kemarin, Ibu terlihat cukup diam. Namun, tiba-tiba saja, sore ini Ibu kembali mengamuk.

Ai takut, tetapi di sisi lain… perutnya juga sangat sakit. Perut itu sudah kosong sejak kemarin. Biasanya, walau sedikit… Ai pasti ada memakan sesuatu karena Eric akan selalu memberinya makanan. Namun, kemarin Eric terus-menerus dipukuli. Baru hari inilah Eric bisa keluar (setelah tubuhnya cukup membaik, tentunya).

Eric selalu menyuruh Ai untuk menunggunya. Ia tak mau Ai mencari makanannya sendiri. Ialah yang selalu datang dan membawakan makanan untuk Ai.

Hari ini, sebetulnya… Ai ingin menunggu Eric seperti biasanya. Dia mau menuruti Eric. Dia tak ingin semua pengorbanan Eric untuk melindunginya itu sia-sia. Dia juga takut setengah mati akan kemarahan Ibu.

Namun, rasa sakit di perutnya sudah tak tertahankan lagi. Di otaknya yang saat itu masih kecil, dia tahu bahwa dia harus melindungi diri dari siksaan Ibu. Dia tahu bahwa Eric sudah melindunginya, tetapi dia tak bisa menahan rasa lapar atau sakit layaknya orang dewasa. Dia mulai menangis kecil dan meremas perutnya sendiri.

 

Perutku sakit…

Aku ingin makan. Aku mau makan… sedikit saja…

Kalau besok uangnya masih tidak ada… bagaimana dengan Kakak?

Apakah Kakak harus terus mencarikan buah-buahan untukku?

Aku tidak boleh menyusahkan Kak Eric…

Aku harus…

…mencari makanan juga…

Akan tetapi, perutku sakit sekali… Aku tidak sanggup bergerak banyak...

Aku… akan minta pada Ibu.

Ibu sedang marah. Ibu pasti akan memukulku.

Namun, perutku… sakit…

 

Ai menunggu selama beberapa menit ke depan. Saat teriakan Ibu terdengar mulai mereda dan suara lemparan guci itu mulai berhenti, Ai pun meneguk ludahnya. Tangannya terkepal; tatapannya mulai yakin.

Ia pun mencoba untuk merangkak. Ia tak bisa berdiri karena perutnya sakit. Dengan air mata yang masih berlinang di sudut matanya—dan dengan pipi yang sembab itu—Ai pun merangkak ke ruang tamu.

Ke tempat di mana ibunya berada.

Semakin memasuki ruang tamu, Ai semakin bisa mencium aroma arak yang pekat. Ia juga semakin mendengar suara napas ibunya yang berat dan tidak teratur. Ada banyak sekali pecahan kaca yang berserakan di lantai.

Dengan hati-hati, Ai menghindari pecahan-pecahan guci itu. Tatkala dirasa sudah berada di tengah-tengah ruang tamu, Ai pun mulai mengangkat wajahnya…

 

…dan melihat Ibu.

 

Ibu ada di sana. Sama seperti Ai dan Eric, Ibu memiliki mata berwarna biru dan rambut berwarna vermillion.

Ai bisa melihat rambut Ibu yang terurai berantakan. Mata biru Ibu yang tidak berbinar. Baju kaus lusuh Ibu yang robek di beberapa bagian. Lingkaran hitam di bawah matanya, kulitnya yang berkerut, serta bibir dan lehernya yang basah karena arak. Di dekat Ibu—di lantai—ada robekan-robekan kertas dan amplop.

Bau arak membuat perut Ai yang kosong itu jadi mual. Namun, rasa mual itu sukses tertutupi oleh rasa takut yang memuncak hingga ke ubun-ubun.

Menatap Ibu sama saja dengan menatap sumber ketakutannya secara langsung.

Tubuh Ai mulai bergetar. Sinyal bahaya di tubuhnya seakan-akan aktif. Rasa takut yang memuncak itu berhasil mengaktifkan instingnya untuk pergi dari sana dan membatalkan niatnya.

Namun, meski insting itu aktif, sayangnya… Ai sudah terlanjur berada di ruang tamu. Ia sudah duduk bersimpuh di depan Ibu; tubuhnya bak terpasak di sana karena tatapan Ibu langsung menekannya. Mengurungnya habis-habisan. Dia bagai berada di sarang harimau dan tak bisa keluar lagi.

Mata Ai melebar penuh teror. Napasnya seakan-akan tersekat di tenggorokan. Ludahnya kering. Tubuhnya semakin bergetar.

 

“APA?!! MENGAPA KAU KE SINI?!!”

 

Pertanyaan Ibu terdengar bagai gong kematian di telinga Ai. Gadis kecil itu langsung menunduk dan memejamkan matanya.

Ia sangat, sangat takut.

Namun, tiba-tiba ia meremas perutnya lagi. Rasa sakit itu kembali mengingatkannya mengapa ia ada di sini.

 

Aku harus bilang pada Ibu. Aku harus bilang.

Sebelum Kak Eric pulang.

 

Napas Ai memburu. Ia masih tak berani menatap wajah Ibu. Matanya terpaku pada lantai kayu yang kotor, tepat di sobekan-sobekan kertas yang berserakan di dekat Ibu.

“I—bu...” Suara Ai bergetar, sangat pelan dan berhati-hati karena teredam oleh rasa takut. “Perut... perut Ai sakit...”

Hening beberapa detik. Keheningan itu terasa mencekik.

 

“Hah?”

 

Suara Ibu terdengar begitu ketus, bak mengandung racun yang mematikan.

Air mata mulai jatuh ke pipi Ai. “Ai lapar, Bu... Ai mau makan... Sedikit saja, Ibu...”

Tiba-tiba, suara tawa yang melengking memecah keheningan itu. Bukan tawa bahagia, melainkan tawa yang keluar dari jiwa yang sudah sepenuhnya hancur dan sinting. Tawa itu menggema di ruang tamu yang sempit, membuat bulu kuduk Ai meremang.

Ibu langsung merangkak mendekati Ai secepat kilat. Matanya memelotot. Bak manusia yang sudah dikuasai iblis, ia langsung ingin meraih Ai. Sadar akan bahaya yang segera datang dalam hitungan detik, Ai refleks melebarkan matanya dan mundur. Ia terjatuh dan mengesot ke belakang. Wajahnya pucat; sebelah tangannya langsung terjulur ke depan, lalu ia berteriak, “I—IBU!! AMPUN, BU—AMPUN… IBU!! MAAFKAN AI, BU, AI—”

Kalah cepat dengan sang ibu yang seperti kerasukan akibat emosi, Ai pun terkesiap saat leher bajunya ditarik. Tubuh kecilnya langsung terangkat karena cengkeraman Ibu sangatlah kuat. Tangisan Ai semakin menjadi-jadi; ia berteriak memohon ampun dengan putus asa. Saat wajah Ibu berada di dekat wajahnya, bau arak yang sangat menyengat pun langsung tercium.

“Makan? MAKAN, KATAMU?!" tanya Ibu. Bentakannya memekakkan telinga. "BERANI-BERANINYA KAU MEMINTA MAKAN PADAKU!! KAU PIKIR KAU SAJA YANG BELUM MAKAN?! ANAK SIALAN!!"

 

PLAK!!

 

Satu tamparan keras mendarat di pipi Ai. Gadis kecil itu langsung tersungkur ke lantai kayu, sebelah tangannya refleks memegang pipinya sendiri. Pipi itu langsung memerah pekat saking kuatnya tamparan sang ibu. Rasanya nyeri luar biasa. Matanya melebar sempurna; darah pun mulai keluar dari hidungnya. Itu adalah tamparan yang paling kuat yang pernah Ai rasakan dari ibu.

Ai belum sempat berteriak tatkala Ibu mulai memukuli kepalanya berkali-kali. Kepalanya diempaskan ke lantai, lalu terantuk puluhan kali di permukaan kayu itu. Suara tangisan Ai mulai terputus-putus, terutama saat ibunya menginjak-injak tubuh kecilnya.

“INI. MAKAN INI. ANAK KURANG AJAR!! KALIAN HANYA BISA MENYUSAHKANKU!! KALIAN SEHARUSNYA TAK PERNAH ADA! AKU HARUSNYA TAK MENIKAH DENGAN BAJINGAN ITU!!”

“I—bu—” Ai tergagap seiring dengan tendangan dan pukulan ibunya yang menjadi-jadi. Gadis kecil itu mulai memuntahkan seluruh isi perutnya yang sebenarnya hanya tinggal air. Air itu bercampur dengan darah. Ia terbatuk-batuk, tetapi batuk itu bahkan tak sempat ia keluarkan dengan leluasa karena pukulan ibunya sangat bertubi-tubi di bagian perut dan kepalanya.

Beberapa detik kemudian, Ibu menarik Ai, lalu melemparkan tubuh gadis kecil itu ke dinding. Ai terbanting dan punggungnya menghantam permukaan dinding itu dengan keras.

Ai kembali muntah. Kepalanya mulai pusing dan pandangannya mulai kabur. Dunianya seakan-akan berputar.

Karena merasa tak sanggup lagi berteriak atau mengesot menjauh, Ai pun terbaring menyamping. Air matanya jatuh ke lantai, bercampur dengan muntahannya. Dalam kesadaran yang mulai menipis itu, tanpa sadar ia berkata dengan pelan:

“Kakak… Jangan pulang…”

“Ibu… Ibu jahat…”

“Ayah… Ayah mungkin pergi… karena Ibu jahat…”

 

Keheningan seketika menyergap ruangan itu.

 

Meski ucapan Ai terbilang begitu pelan, telinga sang ibu ternyata menangkapnya dengan sangat jelas. Kalimat polos dari anak berusia enam tahun itu seolah-olah baru saja menelanjangi semua kegagalan hidupnya.

Wajah sang ibu lantas berubah memerah karena amarah. Matanya melebar, lalu menggelap dengan kebencian yang melampaui batas kewarasan. Dia kalap seketika.

Ibu pun langsung berdiri. Dia berlari ke ujung ruangan, ke dekat dinding di mana Ai terbaring. Masih dengan matanya yang memelotot itu, dia langsung mendorong kasar tubuh Ai hingga gadis kecil itu berbaring telentang. Dia duduk mengangkangi perut Ai, lalu mencekik anak itu dengan sangat kencang. Ai meronta dengan liar, matanya mendelik ke atas, dan mulutnya menganga memburu oksigen yang mendadak hilang. Tangannya yang mungil spontan mencakar-cakar punggung tangan ibunya dengan sisa tenaga yang nyaris habis.

Tidak ada teriakan yang bisa ia keluarkan. Dari pangkal tenggorokannya, hanya terdengar suara menggelegak basah yang mengerikan; suara sisa muntahan yang bergesekan dengan udara tipis yang berusaha masuk, disusul oleh tarikan napas serak yang putus-putus.

"Kkhh—hkk..."

Wajah Ai membiru. Paru-parunya terbakar. Rintihan menyiksa yang ia keluarkan semakin melemah seiring pandangannya yang mulai menggelap.

“MATI KAU! MATI! MATI!!!!” teriak ibunya.

Di ambang batas antara hidup dan mati, tepat saat degup jantung Ai melemah... pintu depan rumah tiba-tiba terbuka.

Eric melangkah masuk. Di tangan kanannya, ia menggenggam erat beberapa bunga suisen putih yang baru ia petik sebagai hadiah untuk Ai. Di dalam saku celananya, terselip beberapa buah kesemek liar yang ia dapatkan dengan susah payah. Ia pulang membawa harapan untuk melihat senyum adiknya.

Namun, langkahnya terhenti. Senyum tipis yang sempat terbit di wajahnya serta-merta lenyap tanpa sisa.

Di sebelah kanannya, tepat di dekat dinding, Ai sedang meregang nyawa di bawah cekikan ibu mereka.

Bunga suisen di tangan Eric seketika terlepas, jatuh berserakan di lantai kayu yang kotor.

Dunia Eric mendadak sunyi. Segala rasa sakit dari lebam di tubuhnya mendadak menguap. Rasa laparnya lenyap. Baginya, wanita yang sedang menindih Ai bukanlah seorang ibu, melainkan ancaman absolut yang harus segera dimusnahkan.

 Mata Eric menggelap. Dunia yang ia lihat saat itu seakan-akan berwarna merah.

Tanpa teriakan peringatan atau amarah yang meledak, Eric menerjang maju bak bayangan. Insting pelindungnya telah sepenuhnya diambil alih oleh insting predator. Ia menabrak tubuh ibunya dari samping dengan kecepatan yang tak masuk akal, membuat cengkeraman wanita itu pada leher Ai terlepas seketika.

Sang ibu terpelanting keras ke lantai. Sebelum wanita itu sempat menyadari apa yang terjadi atau mengumpat, Eric sudah melompat dan menindih perutnya. Kedua lutut Eric mengunci pergerakan sisi tubuh ibunya secara mutlak, tidak membiarkannya meronta.

Mata wanita itu membelalak; ia terkesiap. "APA—"

DUG!

Suara benturan tumpul yang memualkan menggema di udara saat Eric membenturkan kepala ibunya ke lantai kayu dengan keras dan berulang-ulang. Benturan itu sangat cepat, kuat, dan tak terkendali. Tenaga anak berusia sepuluh tahun itu serasa jauh lebih kuat daripada seharusnya, seperti dikendalikan oleh monster atau binatang buas.

“BERHENTI—HENTIKAN—AARRGHH!!!! HENTI—”

DUAGH!!

Mata Eric memelotot dan tak berkedip sama sekali. Suara benturan itu sudah terdengar lebih dari sepuluh kali dan masih terus berlanjut. Sang ibu yang sejak tadi berteriak dan meronta-ronta kini mulai sulit melakukan semua itu akibat tenaga sang anak yang sangat kuat. Dia terkunci sepenuhnya. Kepalanya mulai bocor dan mengeluarkan banyak darah; napasnya terputus-putus. Pandangan matanya mulai mengabur. Namun, ia bisa melihat dengan jelas mata biru pemangsa liar di atasnya yang berkilat tajam dan penuh dengan dendam. Anak kecil itu telah hilang akal. Ekspresinya terlihat seperti air yang tak beriak. Tak terganggu. Persis seperti mesin penghancur.

Saat itu, otaknya seolah-olah hanya mengulang kata, “Bunuh. Bunuh. Lenyapkan.”

Setelah puluhan kali membenturkan kepala ibunya ke lantai, tiba-tiba saja mulut Eric menganga lebar, rahangnya menegang keras, lalu dengan satu sentakan yang buas, Eric menancapkan giginya tepat di sisi leher ibunya.

“AAAARGGGHHHHHH!!!!!!!” Jeritan sang ibu kontan membelah udara. Eric mengunci rahangnya di sana kuat-kuat. Gigi-giginya menembus kulit, mengoyak daging, dan merobek pembuluh darah karotis sang ibu dengan paksa.

Tatkala Eric menyentakkan kepalanya ke atas, bendungan merah itu seketika pecah.

Darah panas menyembur dengan sangat deras, menghantam langsung wajah Eric dan meresap ke dalam kausnya. Semburan pekat berbau karat itu memuncrat liar, melukis lantai kayu di sekitar mereka. Hujan darah itu juga meluncur jauh hingga mengguyur kelopak-kelopak bunga suisen putih yang berserakan di lantai. Bunga yang suci dan murni itu kini tenggelam total dalam warna merah yang amis.

Tubuh wanita di bawahnya berkelojot hebat. Tangannya menggapai-gapai udara kosong, mencoba menahan darah yang mustahil dihentikan, sebelum akhirnya jatuh terkulai. Napasnya terputus dalam bunyi degukan yang mengerikan. Matanya mendelik kosong ke arah langit-langit.

Hening kembali merajai ruangan. Hanya tersisa suara tetesan darah yang jatuh ke lantai.

Eric menatap pemandangan itu dengan ekspresi yang masih sama. Tak bergetar. Tak berkedip. Darah kental memenuhi wajah, rambut, leher, kaus, dan menetes dari dagunya. Ia menatap jasad sang ibu dengan mata birunya yang kini sedalam samudra di malam hari: tak beriak, tetapi menyimpan kegelapan total. Tak ada rasa penyesalan di sana; hanya ada kehampaan yang mematikan.

Di sebelahnya, Ai sedang terbaring lemah. Gadis kecil itu terbatuk-batuk parah, memegangi lehernya yang memar sambil meraup oksigen dengan rakus. Dari balik pandangannya yang kabur oleh air mata, Ai menatap horor ke arah sang ibu yang mati mengenaskan.

Di tengah lautan darah dan bunga suisen putih yang ternoda itu, Eric mulai mengedarkan pandangan. Begitu tatapannya sampai di seberang sana, tepatnya di lantai, ia pun melihat sobekan-sobekan kertas dan amplop yang berceceran.

Otak Eric langsung mengenali sobekan-sobekan kertas itu.

Ah. Jadi, itu sebabnya.

Itu adalah surat dari Ayah yang tiba sekitar dua jam yang lalu, yakni surat pemutusan uang. Di dalam surat itu, Ayah menulis bahwa ia akan menikah dengan selingkuhannya dan memutus bantuan finansialnya ke rumah ini. Ia tak mau bertanggung jawab atas kehidupan Eric dan Ai lagi.

Eric ingat betul, sebelum pergi mencari kesemek, ia sudah menyelipkan surat itu jauh ke sudut kolong meja kayu—saat Ibu masih tidur siang—agar Ibu tidak melihatnya. Ia berharap wanita itu akan terus diam seperti pagi tadi.

Eric sengaja memilih sudut kolong meja itu karena kamarnya sering kali jadi sasaran pertama saat Ibu mengamuk. Wanita itu bisa masuk kapan saja untuk menyeret Eric keluar, melempar barang-barangnya, atau sekadar menggeledah pakaian kotornya. Kalau ia menaruh surat itu di kamarnya, itu justru tempat yang paling “terduga”.

Namun, takdir ternyata berkata lain. Entah bagaimana caranya, Ibu bisa menemukan surat itu. Apakah ada sesuatu yang menggelinding ke kolong meja?

 

Apakah guci arak?

 

Ah. Haha.

Seandainya Eric tahu bahwa Ibu akan menemukan surat itu, Eric takkan pergi dari rumah. Takdir memang selalu punya cara untuk menghancurkan mereka. Usaha Eric menunda kiamat hari ini gagal total.

Tiga detik kemudian, Eric mulai kembali merasakan beban buah kesemek di saku celananya. Keadaan saat itu terlihat seperti panggung jagal, tetapi ketimbang sibuk merenungi dosa, trauma, atau ibunya yang mati, otak Eric yang sudah bengkok itu justru mem-bypass seluruh realitas brutal di depannya dan berpikir:

“Ah, ya. Adikku belum makan.”

 

******

 

Entah sudah berapa lama rintik hujan berjatuhan dari cakrawala. Tetesan-tetesan kecil itu menghantam helaian bunga-bunga suisen… lalu meluncur jatuh ke rerumputan di taman.

Eric berdiri diam menghadap taman itu, membiarkan matanya menatap kosong ke arah bunga-bunga suisen. Rambut panjangnya lepek oleh hujan, menempel di pipi dan mengalirkan tetesan air melewati rahang serta lehernya yang berlumuran darah. Di bawah guyuran itu, sisa-sisa darah dan tanah di tubuh Eric perlahan luntur. Dari ujung jemarinya, cairan berwarna merah kecokelatan menetes dalam ritme konstan, lalu jatuh ke rerumputan.

Mayat Ibu sudah ia kubur di belakang rumah. Beberapa saat yang lalu, Eric menyeret mayat itu, menggali tanah basah di pekarangan belakang, lalu memasukkannya ke lubang dengan tanpa ekspresi. Ia seakan-akan mati rasa.

Sementara itu, di dalam rumah… Ai terbaring tak sadarkan diri di atas lantai yang amis. Shock yang luar biasa akibat cekikan mematikan dan kengerian yang baru saja disaksikannya telah memaksa tubuh kecil gadis itu menyerah. Ai jatuh pingsan, tertidur di tengah sisa kekacauan yang ditinggalkan kakaknya.

Kini, di bawah langit kelabu itu, dunia bak hanya menyisakan Eric dan suara derai hujan.

Eric sudah berdiri diam di taman itu jauh sebelum hujan turun. Taman itu indah, suci karena warna putihnya suisen, tetapi jarang ada warga desa yang lewat sana karena letaknya agak jauh dari permukiman.

Tadi, tanpa sadar… langkah Eric membawanya ke sana.

Ah, ya. Mungkin karena mata birunya sempat melihat bunga suisen yang ia jatuhkan di lantai rumah tadi sudah tenggelam dalam genangan darah.

Harus diganti.

Wanita monster itu sudah tidak ada. Ai tidak perlu takut lagi. Tidak perlu ada tubuh yang luka-luka atau rumah yang terasa seperti neraka lagi.

 

Mereka berdua bisa hidup dengan tenang sekarang.

 

Beberapa menit telah berlalu. Eric masih tidak bergerak sedikit pun. Ekspresi dan tatapan matanya masih kosong. Mata birunya tampak semakin dingin di bawah langit mendung dan guyuran hujan.

Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki dari arah belakang. Gesekan sandal kayu di atas tanah yang basah itu terdengar mendekat perlahan, memecah kesunyian di antara deru hujan.

Eric masih tak menoleh. Tak terusik sama sekali oleh bunyi langkah kaki yang sekarang pelan-pelan berhenti di sebelah kirinya.

 

“Bunga yang cantik. Sayangnya, warna putihnya jadi kurang bagus kalau tercampur dengan warna merah.”

 

Seorang pria berambut silver, yang mengenakan kimono putih dengan corak biru, mulai bersuara. Nada bicaranya terdengar berat, tetapi tenang. Sambil berdiri di samping Eric, pria itu ikut melemparkan pandangannya ke arah jajaran bunga suisen yang sedang ditatap oleh anak itu.

Di bawah payung kuningnya yang bergambar anak kelinci, pria itu tersenyum tipis. Ia datang ke desa ini untuk membeli jamur koji, tetapi saat mau pulang, hujan malah turun. Sang penjual mau meminjamkan payung, tetapi beliau hanya memiliki satu payung, yakni payung milik anak perempuannya yang bergambar anak kelinci pink.

Beberapa detik pun berlalu. Mereka berdua hanya diam di sana, mendengarkan rintik hujan yang jatuh menghantam payung.

Namun, tiba-tiba saja…

 

…suara Eric terdengar.

 

“Mereka masih berwarna putih.”

 

Pria itu, Gin Shuuji, menoleh kepada Eric dan tersenyum kecil.

“Oh. Apakah karena warna merahnya jatuh ke rerumputan?”

Eric tidak menjawab.

Gin pun kembali melemparkan pandangannya ke depan. Menatap jajaran bunga suisen itu dengan tenang.

Mereka berdua kembali diam. Berdiri bersisian di tengah guyuran hujan, dalam keheningan yang entah mengapa terasa penuh oleh kehadiran satu sama lain.

Detik demi detik berlalu, hanya menyisakan bunyi hujan yang menghantam payung kuning itu. Hingga akhirnya, suara Eric terdengar kembali.

Datar, hampa, dan tanpa emosi setitik pun.

 

“Aku baru saja membunuh Ibuku.”

 

Gin hanya diam. Dia menunggu Eric menyelesaikan ucapannya.

Jeda sesaat.

“Kau terlihat seperti seorang samurai. Bukankah seharusnya kau menghunuskan katanamu dan memenggalku sekarang?” tanya Eric. Suaranya pelan, tetapi cukup sarkastis.

Gin kembali tersenyum. “Komentar itu cukup tajam untuk bocah yang sejak tadi tidak menoleh ke arahku.”

“Aku bisa mendengar bunyi gesekan katanamu,” balas Eric.

“Membawa katana bukan berarti aku akan memenggal kepala orang sembarangan, terutama anak kecil sepertimu,” ujar Gin.

Mereka berdua lagi-lagi diam.

Tak lama kemudian… Gin pun bertanya.

 

“Di mana adikmu?”

 

Kelopak mata Eric sedikit bergetar tatkala mendengar pertanyaan itu. Jemari tangannya—yang tadi mengalirkan air bercampur darah ke rerumputan—mulai terkepal.

 

“Dari mana kau tahu bahwa aku memiliki seorang adik?”

 

Kalimat itu hampir tak terdengar seperti pertanyaan akibat nada Eric yang tajam.

Gin pun menghela napas.

“Aku sering mampir ke sini. Cerita tentang keluargamu tentu sudah sampai ke telingaku.”

Eric tertawa kecil. Hambar.

“Ah. Warga desa yang pura-pura tak tahu kalau kami ada, ya.”

Gin menoleh. Dia memperhatikan Eric yang ternyata tidak marah; anak itu justru terlihat sudah terbiasa dan sudah melewati fase ‘muak’.

“Orang-orang memang sering kali memilih untuk menjadi buta dan tuli agar hidup mereka tetap nyaman,” balas Gin dengan tenang. “Terlebih, mereka agaknya takut dengan ibumu.”

“Takut terhadap wanita itu bukan berarti mereka harus menutup mata terhadap apa yang aku dan Adikku alami. Anak-anak mereka pun seperti menghindari kami kalau kami keluar rumah,” jawab Eric.

Gin kembali menatap ke depan.

“Jadi, apa yang akan kau lakukan sekarang?” tanya pria itu. “Apakah kau dan adikmu akan tetap tinggal di sini?”

“Itu bukan urusanmu,” jawab Eric.

Keheningan di antara mereka kembali tercipta.

Tak lama kemudian… bak sebuah sauh kokoh yang mendadak dijatuhkan ke tengah badai, Gin kembali membuka suara. Ia merangkai kalimatnya dengan rileks, lembut, dan tanpa paksaan. Namun, anehnya… ada bobot keseriusan yang sangat pekat di sana.

 

“Bagaimana kalau pindah ke Edo?”

 

Satu kalimat itu sukses membuat Eric pelan-pelan menoleh ke arah Gin. Anak kecil yang berlumuran darah, tanah basah, dan air hujan itu tampak mengernyitkan dahi.

Gin pun membalas tatapan Eric. Saat itulah… Eric akhirnya melihat wajah pria berambut silver itu.

Perawakannya santai, tetapi entah mengapa Eric bisa merasakan kekuatannya. Ia tak terasa seperti samurai yang biasa Eric lihat.

Orang ini kuat.

Payung konyol itu sungguh tak sesuai untuknya.

“Rumahku ada di Edo,” ujar Gin sambil menatap lurus ke dalam mata biru anak itu. “Aku punya makanan yang hangat untukmu dan adikmu.”

Eric diam. Memperhatikan bola mata cokelat milik sang samurai.

“Mungkin tidak sehangat rumah yang biasa ditinggali oleh keluarga cemara,” lanjut Gin seraya tersenyum simpul. “Namun, kita bisa saling menjaga.”

Gin lalu tertawa kecil. “Yah, walaupun rumahku ada barnya, sih.”

Eric pelan-pelan menghadap ke depan, menatap bunga-bunga suisen itu kembali. “Pantas saja kau bau sake.”

Gin kontan membulatkan mata dan mencium-cium kimononya sendiri. Hah? Perasaan aku tidak minum sama sekali hari ini!

Pria itu kontan menjawab Eric dengan panik, “H—Hei, tunggu, aku bukan pemabuk, aku hanya menjual—"

“Iya, aku tahu,” potong Eric.

Pelan-pelan, terbit sebuah senyum tipis—sangat tipis—di wajah Eric. Senyum yang hampir tak terlihat.

 

‘Aku tahu kalau kau berbeda dengan wanita itu,’ lanjutnya dalam hati.

 

******

 

6 TAHUN KEMUDIAN

 

“Kau yakin mau pergi?” tanya Gin saat duduk bersama Eric di kursi bar yang tinggi, di depan bar counter.

Eric Shou yang duduk di hadapannya saat ini bukanlah seorang anak berusia sepuluh tahun yang berlumuran darah seperti waktu itu. Dia telah tumbuh menjadi seorang pemuda tampan berusia enam belas tahun yang tubuhnya tinggi dan tegap. Rambutnya masih sama, panjang dan dikepang satu di belakang. Rahangnya tajam, hidungnya mancung, dan mata birunya terlihat semakin jernih.

Eric memakai changsan berwarna krem serta selendang panjang yang terlilit di lehernya dan jatuh hingga ke punggung lebarnya.

Namun, satu hal yang baru Gin tahu—sejak tinggal bersama Eric—adalah anak itu ternyata hobi memberikan senyuman super manis seperti orang paling ramah sedunia, padahal otaknya sinting. Itu bukan senyuman manis, melainkan senyuman sadis.

Membuat kesal saja.

“Kau sudah menanyakan itu ratusan kali.” Eric tersenyum manis. “Tidak bosan?”

Gin memutar bola matanya. “Hentikan senyummu itu. Gara-gara kau, Ai masih menangis, tuh, di kamar. Tidakkah ini terlalu cepat untuk kau bertualang?”

“Ini sudah waktunya,” jawab Eric. “Aku tahu Sayangku sedih, tetapi kalau aku tak memperkuat diriku sendiri, aku takkan bisa melindunginya. Lagi pula, aku sudah memberitahu hal ini padamu di hari pertama kita tinggal bersama.”

Gin mendengkus. “Aku bisa mengajarimu ilmu pedang kalau itu yang kau mau.”

Eric memiringkan kepalanya, lalu tersenyum manis lagi. “Aku tak mau belajar dari orang yang rambutnya ikal. Nanti pedangku ikut-ikutan ikal.”

Mata Gin langsung memelotot. “KAU—”

Eric masih tersenyum tanpa dosa. Gin lantas memijit keningnya, pusing sendiri menghadapi bocah berambut vermillion yang tingkahnya di luar nalar ini. “Tsk. Ya sudah, sekarang katakan padaku ke mana kau akan pergi.”

Mata Eric membulat polos. Lucu. “Mau tahu saja, sih. Terserahku, dong.”

Emosi Gin kembali tersulut. Urat-urat di sekitar pelipisnya tampak nyaris mencuat. “Bagaimana cara kami mencarimu kalau sesuatu yang buruk terjadi, bodoh?! Ai juga pasti akan merindukanmu!”

Lagi-lagi, terbit senyuman di wajah tampan Eric. Suara pemuda itu pun terdengar kembali.

Nadanya santai, ramah, tetapi entah mengapa terdengar dalam. Seluruh candaan yang sejak tadi ia lontarkan… mendadak turun ke titik nol.

 

“Tidak akan terjadi hal buruk apa pun,” ujarnya. “Selain itu, aku akan datang dari waktu ke waktu. Aku akan berkunjung saat aku merindukannya.”

 

Akhirnya, Gin pun menghela napas. Ia tahu bahwa inilah yang Eric inginkan sejak dahulu; ia tahu bahwa ia tak bisa lagi menghalangi Eric dengan cara apa pun. Seminggu yang lalu, Eric sudah mengabari bahwa pemuda itu akan ‘berangkat’ hari ini, kemudian kabar itu membuat suasana rumah jadi sendu selama seminggu. Ai terus marah-marah dan menangis karena permohonannya untuk pertama kalinya tidak dikabulkan oleh Eric. Gin juga berkali-kali meyakinkan Eric untuk tidak pergi dahulu, tetapi agaknya tekad Eric sudah bulat. Pemuda itu bagai sudah menetapkan waktu ini sejak bertahun-tahun yang lalu.

Sekitar sepuluh detik kemudian, dengan berat hati…

Gin pun berkata.

 

“Apa pun yang kau lakukan di luar sana nantinya…”

 

Jeda sejenak.

 

“…jangan mati. Jaga dirimu baik-baik. Tetaplah menjadi Eric Shou walaupun mungkin hanya di hadapan kami. Jadilah kuat, lalu kembalilah ke rumah ini saat kau merasa sudah cukup kuat untuk berhenti.”

Akhirnya, Eric tersenyum miring.

Dengan bersungguh-sungguh, pemuda itu pun menjawab:

“Jaga duniaku dengan baik, Gin. Aku akan membunuhmu jika kau membuatnya menangis.” []

 














******
















She Was Never Mine (Bab 5: Jauh Darinya)

  ****** Bab 5 : Jauh Darinya   ******   KILATAN cahaya dari flash kamera menyambar berkali-kali di dalam studio sewaan yang har...