Sunday, July 12, 2026

Hymen's Favorite Girl (Chapter 6: Sakura Petals Drop)

 


******

Chapter 6 :

Sakura Petals Drop

 

******

 

HYMEN mengambil satu gyoza ayam dengan sumpitnya, lalu mencolekkan gyoza itu ke saus. Begitu memasukkan makanan itu ke mulut, ia kembali tersenyum miring.

“Mm. Enak sekali, ya,” pujinya. “Sepertinya, aku harus meminta gyoza ayam untuk persembahan selanjutnya.”

Hiyori mendengkus, tetapi pipinya sedikit memerah. “Hymen-sama, Anda sudah memuji gyoza itu berkali-kali. Anda berlebihan.”

Hymen tertawa. “Aku memuji sup misonya juga kok. Bukan hanya gyoza.”

“Ya makanya berhentilah, Hymen-sama.” Hiyori menghela napas. “Itu tidak seberapa dibanding masakan warga-warga lain.”

“Hmm?” Hymen memiringkan kepalanya. “Benarkah? Kalau begitu, seharusnya mereka mengantarkan sup miso dan gyoza padaku sejak zaman dahulu. Mengapa tidak ada yang berinisiatif untuk mengantarkannya?”

Hiyori menganga, tak habis pikir dengan ucapan sang dewa. “Hymen-sama, dari mana mereka tahu kalau kau akan menyukainya? Sup miso dan gyoza bukanlah sesuatu yang umumnya diselipkan dalam persembahan untuk dewa-dewi. Kalau mereka lancang memasukkan dua makanan itu, lalu Anda marah karena itu tidak sesuai selera Anda, bagaimana?”

Hymen mengangkat kedua alisnya, matanya membulat polos. Seakan-akan heran dengan pertanyaan Hiyori. “Bukankah tinggal akhiri saja hidup pengirimnya?”

“Itulah makanya kami tak mau, Hymen-samaaaa!!” teriak Hiyori emosi. Astaga, ada-ada saja. Dewa mengatakan itu tanpa beban, seolah-olah nyawa itu tidak ada artinya di benaknya. Well, mungkin itu terjadi karena dia hidup sudah lama sekali; dari sudut pandangnya, dia sudah melihat berbagai kematian, berbagai era, berbagai evolusi, sebagai hal kecil yang tidak mengherankan lagi. Bagai menyaksikan siklus air.

Maka dari itu, sementara Hiyori memijat keningnya karena pusing, Hymen malah masih memasang ekspresi yang sama. Dia mulai melanjutkan, “Dari dahulu, kalian manusia selalu memusingkan banyak hal. Rumit sekali.”

“Yah, maaf, ya, Hymen-sama, kami manusia punya banyak ketakutan. Kami takut akan kematian. Tidak seperti dewa yang abadi,” sindir Hiyori dengan ekspresi datar.

Hymen memakan supnya, lalu dengan santainya berkata, “Dahulu, manusia pertama yang diciptakan saja malah sibuk memikirkan penutup alat kelaminnya, padahal tak ada juga yang mau melihatnya di Bumi karena dia masih sendirian. Rumit sekali. Siapa lagi namanya? Ah, Primus, kalau tak salah.”

Pipi Hiyori langsung merona hebat. H—Hah? Manusia pertama? Primus? Alat kelamin?!

“HYMEN-SAMAAA!” teriak Hiyori. “Kurasa aku tak perlu mendengar semua itu!!!”

Senyum miring menghiasi wajah tampan Hymen. “Aku menjelaskan itu supaya kau tahu betapa rumitnya pikiran kalian manusia sejak dahulu kala.”

“Kemaluan tidak ada kaitannya dengan ketakutan manusia terhadap kematian, Hymen-sama, itu berbeda topik!!” protes Hiyori dengan pipi merahnya. Itu Primus pasti malu sekali di alam baka sana kalau tahu kemaluannya sedang dibicarakan oleh Dewa Hymen sekarang.

“Aku berbicara tentang kerumitan pikiran kalian, Gadis Muda. Kalian rumit dalam segala hal akibat rasa takut,” jawab Hymen seraya memakan gyoza-nya. “Cukup impresif, sebenarnya. Otak kalian yang kecil itu memiliki kapasitas dan probabilitas yang besar untuk menampung berbagai rasa takut.”

Ini Dewa sebenarnya mau memuji atau menghina, sih?!

Ujung-ujungnya, Hiyori mendengkus, cemberut, lalu memakan gyoza-nya dengan kesal. “Terserah Anda saja, deh. Aku kesal!!!”

Hymen tertawa. Menarik sekali melihat Hiyori yang memoncongkan mulutnya karena frustrasi. Hiyori adalah manusia pertama yang berani menjawab kata-kata Hymen, cemberut padanya, mengomelinya, dan kesal padanya. Miliaran manusia hanya bisa memberikan bermacam-macam ekspresi kepada sesama manusia; mereka semua akan memasang ekspresi yang serius, sopan dan penuh hormat kepada entitas tinggi seperti dewa.

Namun, Shizu Hiyori bisa memperlihatkan berbagai ekspresi dan emosi… yang ditujukan padanya. Kepada seorang dewa.

Gadis itu ekspresif. Hidup. Menyenangkan sekali bisa menyaksikan berbagai ekspresi yang keluar darinya.

 

Apakah ada ekspresi lain?

 

“Hymen-sama, apakah ini berarti mulai besok desa kami harus membawakanmu gyoza ayam dan sup miso?” tanya Hiyori tiba-tiba. Mata bulatnya menatap Hymen penuh rasa ingin tahu.

Hymen meletakkan sumpitnya di atas piring, lalu mengambil segelas air yang sudah Hiyori siapkan di atas meja. “Hmm? Ternyata, kau cukup perhatian meski bawel.”

Pipi Hiyori langsung merona. “I—Itu karena aku sudah cukup tahu tabiat Anda yang suka menenggelamkan desa hanya karena kami tidak peka!!”

“Apa kau baru saja menyalahkanku, Gadis Muda?” tanya Hymen seraya tersenyum miring. Ia mulai meminum airnya, lalu meletakkan kembali gelas itu ke atas meja.

Hiyori agak panik—takut Hymen melakukan sesuatu yang mengerikan seperti menerbangkan Hiyori ke laut—tetapi dia masih ingin protes. “A—Aku hanya masih berpikir kalau itu tidak—”

“Tiga hari sekali,” potong Hymen. Senyuman miring itu masih menghiasi wajahnya. “Selipkan gyoza dan sup miso ke dalam persembahan kalian untukku tiga hari sekali.”

Hiyori menghela napas. Oh, untunglah Dewa tidak marah atau semacamnya.

Bisa kacau kalau beliau marah. Nanti desa kami ditenggelamkan lagi.

Akhirnya, Hiyori pun mengangguk mengerti. Dia lantas menjawab, “Baiklah, Hymen-sama. Aku akan memberitahukan hal ini kepada Raiden-sama—”

“Buatanmu,” potong Hymen tiba-tiba.

Mata Hiyori seketika membulat.

 

Eh?

Apa?

 

“Aku hanya mau memakan buatanmu,” lanjut sang dewa. “Aku telah mengenali rasanya, jadi jangan coba-coba membawakanku buatan orang lain.”

Apa?!!

Oh, Mendadak Hiyori menyesal telah memasakkan sup miso dan gyoza untuk Hymen-sama.

Ughhhh!! Tugas Hiyori jadi bertambah, deh! Kerja rodi jalur takdir ini namanya!

Hiyori mulai mencari-cari alasan. “Persediaan ayam di desa kami tidak sebanyak itu, Hymen-sama!!”

“Hmm?” Hymen mengangkat kedua alisnya. “Apa perlu kupindahkan semua ayam dari desa kalian ke atas gunung ini hanya agar kau tahu sebanyak apa ayam di sana?”

Hiyori terkejut setengah mati. “APA?! H—Hymen-sama—”

“Akulah yang mengatur seluruh keberlangsungan hidup di desa kalian, Gadis Muda,” jawab Hymen. “Aku selalu memastikan kalian tidak berkekurangan.”

“—kecuali bila kalian bermasalah denganku,” lanjutnya.

Bermasalah, huh? Ayam-ayam itu juga ikut tenggelam saat Anda menenggelamkan desa kami, Hymen-sama!

Dasar.

Hiyori menghela napas pasrah. Apa boleh buat. Logika Hymen sebagai dewa dan logikanya sebagai manusia tentu sulit bertemu. Ini sama seperti memberitahu singa bahwa sayuran itu enak.

“Baiklah, Hymen-sama,” jawab Hiyori pada akhirnya. “Aku akan membuatkan sup miso dan gyoza untukmu tiga hari sekali.”

“Yosh. Gadis baik,” puji Hymen seraya tersenyum. “Kau bisa memasaknya di sini bila kau lupa.”

“T—TIDAK MAU!!” jawab Hiyori spontan, tanpa tedeng aling-aling. Gadis itu menggeleng keras. “Aku masak di rumah saja!!! Hymen-sama akan menggangguku kalau aku masak di sini seperti tadi!!”

Hymen tertawa lepas.

Ah, astaga. Kalau saja beliau tidak menyebalkan, mungkin Hiyori akan terkagum-kagum dan kesengsem padanya sejak pandangan pertama. Maksudnya, Hiyori mungkin akan tertarik sampai lupa diri.

Soalnya, lihat saja wajahnya itu. Itu terlihat seperti dipahat dari cahaya fajar. Setiap garisnya memiliki simetri sempurna yang mustahil dimiliki manusia. Sangat tegas dan berkarakter. Rahang yang tajam, tulang pipi yang tinggi, dan hidung yang mancung.

Hymen tidak sekadar tampan; ia adalah perwujudan keindahan itu sendiri. Wajahnya yang seputih pualam tampak memancarkan pendar keemasan halus. Ketika ia menatap, sepasang matanya yang sewarna perak memancarkan keagungan yang begitu pekat, membuat siapa pun yang memandangnya bisa lupa cara bernapas, terjebak di antara rasa kagum dan ketakutan yang magis.

Meskipun ia terbilang santai, suka bermain-main, dan menyebalkan… ketika ia berdiri dengan keanggunan mutlak, ia tampak megah. Tegak seperti pilar istana langit.

Hiyori hampir saja terpana lagi dengan pesona Hymen, tetapi gadis itu berusaha untuk tetap memasang ekspresi kesal. Rasa jengkel di dadanya jauh lebih kuat daripada pesona ilahiah sang dewa.

“Traumamu akan pujianku terus terang sangat mengesankan,” komentar Hymen. “Agaknya, itu sangat melekat di dalam kepala kecilmu itu.”

“Aku tidak akan trauma jika yang Anda puji itu bukan bokong, aroma tubuh, atau bentuk tubuhku!!!” balas Hiyori.

Hymen sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Hiyori. Gerakan sederhana itu mengembuskan aroma harum kelopak teratai dan hujan segar, sebuah aroma yang mendefinisikan eksistensinya yang suci. Mata peraknya berkilat jenaka, mengunci pandangan Hiyori yang mulai berapi-api.

“Pujian dari seorang dewa adalah berkah,” ujar Hymen, jemari tangannya yang lentik dan sempurna bergerak merapikan poni Hiyori. “Manusia lain harus bertapa puluhan tahun di puncak gunung es hanya untuk mendengar aku memuji pengabdian mereka. Kau seharusnya bersyukur, Gadis Muda.”

HAH?! Berkah apanya?!!

Hiyori lama-lama jadi dongkol bukan kepalang. “Hymen-sama, harus berapa kali lagi aku memberitahumu bahwa itu adalah pelecehan verbal?! Itu bukan pujian!!”

“Mengatakan yang sejujurnya tidaklah salah,” ujar Hymen. Nada suaranya terdengar begitu polos tanpa dosa, seolah-olah ia baru saja menyatakan bahwa sapi itu kakinya empat.

“Tidak salah kalau yang Anda singgung bukanlah soal fisik!” balas Hiyori.

“Aku pernah berkata pada temanku bahwa dia semakin jelek, perutnya semakin buncit, lalu dia hanya tertawa,” ujar Hymen santai.

Hiyori menganga. “Apa kalian para dewa tidak memiliki hati?!”

“Temanku yang satu lagi justru sudah hafal kalau aku akan menutup hidung di balik kipas tangan tiap berada di dekatnya, soalnya dia bau darah jorogumo.”

“…Apa yang teman Anda itu lakukan sebenarnya?”

Arrrghhhh, entahlah! Lelah sekali berbicara dengan Dewa Hymen. Sukar tersambungnya. Manusia seperti Hiyori berpikir bahwa kebenaran belum tentu harus diucapkan, sementara dewa seperti Hymen agaknya justru berpikir, ‘Kalau benar, mengapa tak diucapkan? Repot sekali’.

Hah. Lama-lama Hiyori botak juga kalau terus-menerus dibuat stres begini. Selain itu, semakin lama, Hiyori jadi tahu hal-hal yang seharusnya ia tidak tahu.

Hiyori pun ikut meminum airnya. Kini, mereka berdua sama-sama telah selesai makan.

Untuk beberapa detik, mereka berdua hanya menikmati keberadaan satu sama lain. Saling menemani tanpa ada kata-kata yang terucap. Hanya senyum tipis Hymen yang tidak benar-benar hilang dari wajah tampannya.

Tak lama, Hymen pelan-pelan menoleh ke arah pintu utama kuil yang terbuka lebar. Melihat arah pandang Hymen, Hiyori pun ikut menatap ke arah yang sama.

Tidak ada apa-apa di sana. Hiyori hanya melihat birunya angkasa… dan beberapa burung yang terbang tinggi melewati puncak gunung. Ia juga mendengar suara angin sepoi-sepoi

Namun, di mata Hymen, yang terlihat di sana sungguh berbeda.

Hymen melihat kelopak bunga sakura yang berjatuhan pelan dari langit.

Melihat munculnya kelopak-kelopak bunga itu, senyum tipis di wajah Hymen mulai lenyap.

Ia mendengkus samar.

 

Ah.

 

Ia lantas menoleh kepada Hiyori. Dilihatnya gadis itu ikut menoleh ke arahnya dengan mata yang sedikit melebar karena ingin tahu… atau menunggu apa yang akan ia ucapkan.

Ia pun tersenyum. “Baiklah, Hiyori-chan. Sepertinya, aku akan ada urusan setelah ini. Kau boleh pulang.”

Hiyori mengedipkan matanya berkali-kali. Eh? Dia sudah boleh pulang, nih?

Sebentar, sufiks ‘-chan’ dari Hymen itu mencurigakan sekali. Mengingatkan Hiyori pada hari di mana Hymen menyuruhnya menjadi gadis pengantar persembahan.

Yah, sudahlah. Tidak usah dipikirkan. Yang penting Hiyori sudah boleh pulang!

“Baiklah, Hymen-sama,” jawab Hiyori seraya bangkit. Ia baru saja ingin membereskan piring-piring kotor di atas meja ketika tiba-tiba saja Hymen mengangkat sebelah tangannya.

Dewa itu mengibaskan tangannya dari kiri ke kanan, satu kali kibasan. Dalam sekejap mata, seluruh piring dan gelas kotor itu bersih mengilap. Mata Hiyori kontan memelotot.

“Alat masakmu di dapur juga sudah bersih. Tinggal dibawa saja,” ujar Hymen.

Hiyori menatap piring-piring itu dengan tatapan tak percaya. “W—Wah… Hebat sekali! Andaikan aku punya kekuatan seperti ini… Aku tak perlu cuci piring lagi!!”

Hymen mengangkat alis. “Apakah selera kekuatanmu sudah rusak, Gadis Muda? Kau diam saja saat aku mengembalikan desamu seperti sediakala, tetapi kau memujiku saat aku membersihkan piring-piringmu.”

Hiyori menyembunyikan senyumnya. Ya siapa, sih, yang tak mau kekuatan bersih-bersih tanpa tenaga?

Tak butuh waktu lama, Hiyori pun selesai memasukkan seluruh alat masak dan alat makannya ke dalam kain yang tadi ia gunakan untuk membawa semuanya. Tatkala selesai, ia pun berdiri berhadapan dengan Hymen.

Dewa itu memiringkan kepala, tersenyum miring, lalu membuka pelan kedua lengannya.

 

“Mau berpelukan?”

 

Wajah Hiyori serta-merta memerah hingga ke telinga. Darah di kepalanya bagai mendidih. Panas sekali, seperti mau meledak. “HYMEN-SAMA!!!”

Tawa Hymen pecah seketika. Dewa itu tertawa dengan sangat lepas dan bebas. Suaranya menggema merdu di dalam kuil.

Sayangnya, itu tidak membantu Hiyori sama sekali. Gadis itu justru jadi semakin malu. Wajahnya terlihat semerah tomat. Semerah gerbang kuil Hymen.

Setelah puas tergelak, Hymen pun menatap Hiyori kembali. Dengan senyum menyebalkannya itu, ia mulai mengangkat sebelah tangannya lagi, lalu…

 

Klik!

 

Suara jentikan jari sang dewa bagai bergaung di telinga Hiyori.

Namun, saat melihat ke sekelilingnya, jantung Hiyori serasa mencelus ke perut.

 

Dia sudah berada di kamarnya sendiri.

 

Mata Hiyori membelalak. Ia menatap sekeliling ruangan seraya mengerjapkan mata berkali-kali. Jantungnya bak berhenti berdetak; napasnya tiba-tiba tertahan.

 

Hah?

Apa?

Sebentar.

Sebentar!!

Mengapa aku tiba-tiba sudah ada di kamar?!!

Tunggu dulu!!

 

Hiyori langsung meletakkan barang bawaannya ke lantai. Ia melangkah lebar ke arah pintu kamar dan membuka pintu itu. Ingin memastikan keberadaannya saat ini.

Betapa terkejutnya Hiyori…

 

…tatkala melihat sosok ayah, ibu, dan adik laki-lakinya yang sedang makan bersama di ruang makan.

 

Dia benar-benar ada di rumah.

 

Mendengar suara pintu kamar Hiyori yang terbuka, ketiga orang yang sedang makan itu pun lantas menoleh. Ayah dan ibu Hiyori jelas kaget bukan main.

Sang ibu menelan makanannya dan berkata, “Lho, Hiyori?! Kok tiba-tiba sudah ada di rumah? Bukankah tadi kau sudah naik gunung lagi karena Dewa menyuruhmu memasak?!”

Hiyori menatap mereka bertiga dengan ekspresi blank. Masih separuh tak percaya dengan apa yang telah terjadi.

Ia lalu menatap kedua telapak tangannya, kedua kakinya, lalu kembali menatap keluarganya.

Setelah itu, dengan suara yang agak bergetar karena keheranan, ia pun berbicara.

“I—Ibu, aku…” ucapnya, agak terbata. “Aku juga bingung…”

“Eeeeh????” ucap ayah dan ibunya secara bersamaan. Hiyori saja bingung, apalagi mereka!!

“Sepertinya…” Hiyori meneguk ludahnya. “Sepertinya… Hymen-sama telah memindahkanku dalam satu jentikan jari.”

 

******

 

Dua penjaga pintu berdaun dua di The Heavenly Palace langsung menunduk hormat tatkala melihat Hymen melangkah mendekat. Hymen masih mengenakan pakaian santai sehari-harinya, termasuk selendang yang tadi ia pakai saat makan bersama Hiyori.

Ia naik ke upperworld begitu selesai memulangkan Hiyori. Kelopak bunga sakura yang berjatuhan di depan kuilnya adalah pertanda bahwa ia dipanggil ke The Heavenly Palace. Panggilan dari sini selalu berupa kelopak bunga sakura yang berjatuhan dalam jumlah masif dari langit.

Kedua penjaga pintu super tinggi itu menyapa Hymen secara bersamaan.

“Salam hormat untuk Anda, Dewa yang Agung. Selamat datang.”

Hymen mengangguk. Pintu besar tersebut perlahan dibuka oleh kedua penjaga hingga menganga sepenuhnya.

Sang dewa mulai melangkah masuk, menyusuri lantai emas berukiran ouroboros. Jalur megah nan luas itu membentang, berujung pada dua buah takhta yang berwarna sama.

Ruangan itu sangat megah, tetapi tidak ada ujungnya. Sebab sekelilingnya merupakan bentangan langit.

Langit tanpa batas… dengan hamparan awan putih yang tenang.

Takhta dan lantai emas itu bak melayang tanpa tumpuan.

Di kedua takhta itu, duduklah dua entitas tertinggi di seluruh alam semesta.

Sang dewa-dewi pencipta, Arnius dan Arnaya.

Mereka adalah pencipta dari segalanya, termasuk para dewa.

Arnius dan Arnaya duduk di sana dengan penuh wibawa. Agung dan penuh kekuasaan. Pakaian mereka terlihat seperti armor emas yang bermotif garis-garis lengkungan. Garis-garis itu bermuara di dada, membentuk ular yang melingkar (ouroboros). Di balik armor itu, mereka memakai pakaian megah berwarna merah dengan sedikit sentuhan hitam. Mereka juga memakai mahkota.

Hymen berhenti sekitar lima langkah di depan takhta Arnius dan Arnaya. Sebelah tangannya bertumpu santai di dekat perut, tersembunyi di balik lilitan selendang yang ia kenakan.

 

“Kaizen,” sapa Arnius. Suaranya langsung menggema di seantero aula langit itu.

 

Hymen bergeming. Dia hanya menatap Arnius tanpa menunjukkan ekspresi apa pun.

Arnaya mengamati Hymen dengan lekat. “Kami melihat akhir-akhir ini kau dekat dengan seorang gadis manusia.”

“Shizu Hiyori. Gadis manusia dari salah satu wilayahmu,” sambung Arnius.

Arnaya mengangguk.

“Kau memberikan bencana yang tidak perlu karena gadis itu,” ujarnya.

Arnius sedikit menyipitkan mata. “Bisa kau jelaskan soal itu kepada kami?”

Tiba-tiba saja, terdengar sebuah decakan.

Hymen mendengkus. Kepalanya memiring ke sisi dan ia menggaruk tengkuknya dengan malas. Agak terlihat sebal dan terganggu.

“Jadi,” buka Hymen dengan nada bosan. “Siapa yang memberitahu kalian? Enzou, ya?”

“Kamilah yang menciptakanmu, bagaimana mungkin kami tidak tahu apa yang kau lakukan?” ujar Arnius.

“Ya soalnya sepertinya agak dibesar-besarkan,” ujar Hymen. Posisinya kembali seperti semula, tetapi matanya masih menatap Arnius dan Arnaya dengan malas. “Aku dan Hiyori tidak sejauh itu.”

“Kau menenggelamkan wilayahmu hanya karena gadis itu tidak datang kepadamu. Katakan padaku di mana letak ‘tidak sejauh itu’ yang kau maksud,” tegas Arnaya.

Hymen menggaruk bagian belakang kepalanya. Malas sekali dicecar seperti ini. “Kalian terlalu berlebihan. Ini tidak seserius yang kalian kira.”

“Kami akan percaya ini tidak serius apabila kau tidak punya sejarah seperti ini,” tegas Arnius.

Hymen terdiam.

Hampir sepuluh detik lamanya, suasana di aula itu jadi hening. Mereka bertiga sama-sama membisu.

Hingga akhirnya, Arnaya menghela napas.

“Manusia dan dewa tidak bisa bersama, Kaizen. Kasih yang dewa berikan kepada manusia semestinya bersifat platonik. Sepenuhnya spiritual. Bebas dari nafsu berahi dan cinta.”

“Kau tak perlu mengingatkanku tentang peraturan-peraturan kedewaan, Arnaya,” jawab Hymen.

“Aku takkan mengingatkanmu seperti ini bila kurasa tidak perlu,” balas Arnaya.

“Hentikan semua kedekatanmu dengan gadis itu.” Suara Arnius terdengar lebih besar, lebih tegas, dan lebih menggema daripada sebelumnya.

Setelah itu, sang dewa melanjutkan, “…Kau tak mau kejadian seabad yang lalu terulang kembali, bukan?”

Hymen bungkam.

Rahangnya sedikit mengetat.

Arnius dan Arnaya menyadari kebungkaman itu. Mereka berdua hanya saling menatap dengan Hymen—atau Kaizen, nama aslinya—selama beberapa detik. Hingga akhirnya, Arnaya pun kembali membuka suara.

“Kami hanya ingin melindungimu… dan wilayah yang menjadi tanggung jawabmu.”

Hymen masih diam seribu bahasa. Arnius dan Arnaya memperhatikannya dengan dua pasang mata yang penuh tekad. Fokus. Penuh peringatan. Penuh pengawasan.

Beberapa saat kemudian, akhirnya Hymen menghela napas.

“Tsk. Ya, ya. Tidak akan terjadi apa-apa,” jawab Hymen dengan malas. Ia bersikap bodo amat meskipun sebenarnya ia tidak menentang Arnius dan Arnaya secara terang-terangan.

Arnius dan Arnaya mengangguk.

“Hmm. Kami pegang ucapanmu,” ucap Arnius.

Hymen mendengkus kasar.

“Ini saja yang mau kalian bicarakan, bukan? Kalau sudah selesai, aku mau pulang,” ujar Hymen.

Setelah mengatakan itu, Hymen pun berbalik. Dia berjalan menjauh, meninggalkan Arnius dan Arnaya. Pintu raksasa di ujung sana kembali dibukakan oleh para penjaga dan sapaan untuk Hymen pun terdengar.

“Hati-hati di jalan, Dewa Kaizen. Sampai jumpa kembali.”

 

******

 

Sepatu Hymen menapak lantai tepat di depan pintu kuil. Seperti biasa, sosoknya muncul tiba-tiba di udara, seperti teleportasi… atau mungkin tadi dia terbang tanpa memperlihatkan wujudnya.

Dia memang bisa melakukan keduanya.

Saat berdiri di ambang pintu, Hymen langsung mendapati sosok Enzou yang berdiri bersandar di tepi meja. Enzou tengah memutar-mutar guci sake menggunakan ujung jari telunjuk. Mirip seperti trik memutar bola, tetapi bedanya, ia menggunakan barang pecah belah.

Saat merasakan kedatangan Hymen, Enzou pun menoleh. Sambil memamerkan senyum lebarnya yang sok tak berdosa itu, ia menyapa:

“Yo! Habis dipanggil, ya?”

Sialan.

Hymen berjalan masuk, lalu berdecak. “Diamlah. Apa yang kau lakukan di sini?”

Enzou tertawa. Diletakkannya guci itu di atas meja. “Dingin sekali, ya, Hymen-sama. Aku cuma mau mendengar cerita tentang Hiyori-chan, nih. Ke mana dia? Sudah pulang?”

Hymen memutar bola matanya. “Apa kau yang memberitahu Arnius dan Arnaya soal Hiyori?”

Enzou tersentak. Matanya membeliak ketika mendengar tuduhan itu. “Hei, hei! Tentu saja bukan aku! Sejak kapan aku jadi pengadu seperti itu? Catatan pembangkanganku sendiri sangat banyak, untuk apa aku cari muka dengan mereka berdua?”

Tentu saja. Sungguh ironi kalau Enzou mengadu, sementara dia sendiri memelihara puluhan gadis manusia dan siluman di kuilnya. Dia juga suka bermalas-malasan saat mengerjakan misi. Arnius dan Arnaya pasti sudah bosan menasihatinya. Telinganya seperti tak berfungsi.

“Jadi, siapa lagi? Hanya kaulah yang tahu soal Hiyori,” tukas Hymen.

“Kau seperti tak tahu Arnius dan Arnaya saja. Mereka memang selalu mengawasi kita semua, Bung! Pelihara satu kutu mungil di kepalamu dan mereka tetap akan tahu itu,” balas Enzou.

“Mereka harus rajin-rajin turun dari singgasana,” ujar Hymen seraya menarik sebuah kursi. “daripada kebanyakan mengintai urusan kita.”

Tak ayal, Enzou tertawa terbahak-bahak. Dewa itu juga menarik sebuah kursi, lalu duduk bersebelahan dengan Hymen. “Katakan itu pada mereka dan kupastikan kau akan diomeli selama dua jam.”

Hymen berdecak. “Dalam seabad ini, aku hanya berdiam diri di kuil. Begitu aku sedikit aktif, mereka langsung mengomel. Mereka agaknya ingin kita hidup dalam kebosanan. Lain kali, aku akan membawakan mereka bir.”

Lagi-lagi Enzou tergelak kencang. Kelakuannya sama persis dengan bapak-bapak yang gemar berkumpul di kedai minum saat malam tiba. “Mau pesta bir, ya? Aku ikut, dong!! Hahahahaha!!!”

Ini di luar topik, sih, tetapi jika Hiyori ada di sini, mungkin gadis itu akan paham mengapa kedua dewa itu bisa berteman. Mereka sama-sama tidak beres, soalnya.

Well, kata orang, burung dengan bulu yang sama akan hinggap di dahan yang sama.

Setelah puas tertawa, Enzou perlahan-lahan mulai terdiam. Hymen pun demikian.

Tidak berselang lama, keheningan tersebut dipecahkan oleh Enzou.

“Jadi,” ucap dewa itu lambat-lambat. “apa yang mereka bicarakan soal Hiyori?”

Hymen mendengkus. Dewa kemakmuran itu lalu menyilangkan lengan di depan dada. “Kurasa kau sudah bisa menebaknya.”

“Mereka memperingatimu?” tanya Enzou, seakan-akan ingin mengonfirmasi.

Hymen berdeham singkat. “Hm.”

Mendengar jawaban Hymen, sepasang netra berwarna kuning keemasan milik Enzou berkilat sejenak. Kelopak matanya sedikit turun; ia mulai menatap Hymen dengan serius.

Suasana mendadak memberat.

Ruangan itu tiba-tiba diselimuti atmosfer yang tegang. Hymen tidak membalas tatapannya, tetapi Enzou bisa melihat kedua mata dan ekspresi wajah sahabatnya itu telah kehilangan sisa jenaka.

Akhirnya, dengan tenang dan pelan, Enzou pun bertanya.

 

“Apakah mereka mengungkit kembali soal seabad yang lalu?”

 

Hymen menurunkan pandangannya ke meja. Tatapannya melekat di sana, tetapi sesungguhnya ia tidak benar-benar melihat permukaan kayu berwarna cokelat tua itu.

Sinar mentari membentur netra peraknya, membiaskan pendar samar yang sekilas tampak sewarna toska.

Ia sedang melihat sesuatu yang lain.

Sesuatu yang terkubur jauh di dalam ingatannya.

 

Ia pun mendengkus samar.

 

Ah.

Seabad yang lalu, ya? []

 














******

Note: Jorogumo (絡新婦) adalah makhluk mitologi Jepang (yokai) yang wujud aslinya adalah laba-laba raksasa, tapi dia punya kemampuan buat berubah wujud jadi wanita yang super cantik, seksi, dan memikat untuk menjebak para pria.










Sunday, June 14, 2026

Orange Guy (Chapter 5: Ray of Sunshine)

 


******

Chapter 5 :

Ray of Sunshine

 

******

 

UCAPAN Riel semalam masih terngiang-ngiang di telinga Fae.

“Mungkin karena sudah takdirnya aku bertemu denganmu?”

Ha.

Takdir?

Si Jamur Oranye itu memang tidak pernah serius.

Begini, kemarin Fae sudah disiksa dengan kejutan yang bertubi-tubi. Dia melihat Riel tiba-tiba masuk ke kelasnya sebagai murid baru, lalu pada sore hari pemuda itu membawanya ke pohon ginkgo. Seharian Riel mengganggunya, melempar gombalan-gombalan maut persis seperti abang-abang pengangguran di pocha pinggir jalan yang hobi menggoda anak gadis orang. Setelah itu, Mama bilang Riel dahulu pernah bertetangga dengan mereka, membuat Fae diserang kilasan memori aneh di kepalanya pada penghujung sore tatkala Fae memutuskan untuk mengunjungi pohon ginkgo itu lagi. Seolah-olah belum cukup sampai di situ, malam harinya Riel malah datang ke rumah Fae dengan dalih 'mengerjakan PR' bersama, yang ujung-ujungnya malah membahas soal takdir.

Oh, what a long day. Hanya satu hari, tetapi rasanya seperti setahun penuh. Riel baru masuk ke dalam hidupnya selama dua hari (setidaknya seingat Fae), tetapi keributan yang dibawanya terasa begitu masif, sampai-sampai Fae mulai merasa asing dengan kehidupannya sendiri yang tiga hari lalu masih terasa normal.

Pemuda itu bak mau membuat Fae hampir gila di usia muda. Dia datang dan mulai mengacaukan semuanya tanpa rasa bersalah. Sekarang, Fae harus menerima kenyataan bahwa tetangganya sendiri adalah makhluk paling menyebalkan yang pernah Tuhan kirimkan ke muka bumi.

Kalau memang itu yang disebut takdir, Fae ingin mengajukan komplain ke langit. Atau ke bagian customer service alam semesta.

Hah.

Fae hanya tahu bahwa setelah Riel pulang semalam, gadis itu duduk di pinggir ranjang selama hampir sepuluh menit sambil menatap kosong ke pintu kamarnya. Buku PR Matematikanya masih terbuka di meja belajar. Pensilnya masih tergeletak di sana. Ponselnya beberapa kali menyala karena pesan dari Riel, tetapi ia terlalu sibuk mengalami kerusakan sistem untuk langsung membalas pesan-pesan itu.

Nomor Riel sudah tersimpan di ponsel Fae, tetapi Fae belum tahu apa nama kontaknya karena Riel sendirilah yang memaksa untuk mengaturnya.

Saat Fae akhirnya membuka pesan-pesan itu semalam, bola mata Fae serasa mau keluar dari soketnya.

 

Abang Riel Sayang          08.46 PM

Abang pulang dulu, ya, Adik Manis 😘

 

Abang Riel Sayang         08.46 PM

Jangan lupa mandi, yaa

 

Abang Riel Sayang          08.47 PM

Kalau sudah mau mandi, kasih tahu, ya. Biar Abang VC 😘

 

Abang Riel Sayang          08.48 PM

Nanti sebelum tidur boleh sleep call tidak? Supaya mimpi indah😘

 

            HAH?

            APA-APAAN?!

            ‘Abang Riel Sayang’???!

            Video call? Sleep call? Abang? ADIK MANIS?!!

            APA DIA GILA?!!! APA DIA BUTUH KONSELING?

            Fae hampir saja mau menghubungi 119. Riel butuh intervensi medis segera. Atau siapa pun yang bisa menyita ponsel pemuda itu sebelum dia menyebarkan wabah “Abang Sayang” ke seluruh desa.

            Pagi ini, ketika Fae baru saja keluar dan menutup pintu depan rumahnya, ia sudah melihat Riel di luar pagar. Membuat jantung Fae serasa berhenti berdetak sejenak.

Ugh. Pagi-pagi begini, kesabaran Fae sudah dites.

Riel memakai seragam sekolahnya dengan rapi. Kemeja putihnya dimasukkan ke dalam celana, tas ranselnya tersampir di satu bahu, dan rambut oranye miliknya tampak begitu indah. Cahaya pagi jatuh ke wajahnya, membuat kulitnya tampak semakin bersih, mulus, dan terang. Ia berdiri santai, memasukkan satu tangan ke saku celana, sementara tangan yang satunya melambai ke arah Fae begitu melihat gadis itu muncul.

Cengiran lebar langsung menghiasi wajah pemuda itu. Dia memamerkan gigi-gigi putihnya; gusinya terekspos jelas.

“Pagi, Fae!” sapanya dengan riang. “Wah, hari ini gaya rambutnya ponytail, ya. Cantik sekali.”

Fae langsung ingin masuk ke rumah lagi.

“Pergi ke sekolah bersama-sama, yuk,” ajak Riel dari luar pagar. Dia masih cengar-cengir tanpa dosa.

Fae mendengkus. Ekspresi wajahnya terlihat kesal minta ampun. “Mengapa kau sudah ada di sini pagi-pagi?!”

Riel memiringkan kepala. Matanya membulat polos. “Eh? Tentu saja untuk menjemputmu. Masa pagi-pagi begini kita mau berkencan?”

“Tsk, pergi duluan saja sana!!!” teriak Fae seraya berjalan mendekati pagar. Langkahnya dientak-entakkan. “Aku mau pergi sendiri saja!”

Riel tertawa kencang. “Ini masih pagi, Adik Manis. Kok sudah marah-marah saja?”

Ah, iya! Soal ‘Adik Manis’ itu!!

Fae langsung melebarkan mata. Langkahnya terhenti tepat di depan pagar, berseberangan dengan Riel. “Oh iya! Mengapa kau menyebutku ‘Adik Manis’?! Selain itu, ‘Abang Riel Sayang’? Apa-apaan nama kontak itu?!”

Riel kembali tertawa, kali ini sampai kepalanya terdongak. “Lho, kan itu supaya kau tidak perlu pusing memikirkan nama kontak untukku. Nanti kalau kita pacaran juga kau tidak perlu menggantinya lagi.”

Pipi Fae tiba-tiba merona, tetapi karena dia masih kesal, dia pun kembali protes. “Aku yakin ibumu memberimu makanan yang sangat layak, tetapi mengapa kau tidak waras begini, sih? Orang mana yang mengklaim orang lain sebagai pacarnya tanpa persetujuan?!”

“Orang tampan yang baru saja dapat julukan ‘Jamur Oranye’,” jawab Riel sembari tersenyum menyebalkan.

Fae mendadak menyesal memberikan Riel julukan. Julukan itu malah dibengkokkan jadi semacam panggilan spesial.

Fae pun memijit keningnya sebentar—pusing sendiri menghadapi kelakuan Riel—lalu dia mulai membuka pagar. Sambil membuka pagar, ia mendengar Riel kembali berbicara.

“Semalam memimpikanku tidak?”

“Tidak,” jawab Fae ketus.

“Jahat sekali, sih, Cantik,” ujar Riel, pura-pura memegang jantungnya seakan-akan organ itu sakit. “padahal di mimpiku kita sudah berciuman mesra, lho.”

Fae, yang baru saja selesai menutup pagarnya kembali, langsung menoleh kepada Riel dan berteriak. Pipinya memerah sampai ke telinga. “RIEL!!!”

Riel tertawa lepas. Memang sialan.

Merasa sedang dikerjai habis-habisan, Fae pun frustrasi dan malu. Dia langsung melengos, ingin meninggalkan Riel secepatnya dan jalan sendirian ke sekolah. Bodo amat! Tinggalkan saja jamur gila ini!!!

Namun, baru saja mau melangkah, tasnya ditarik oleh Riel dari belakang. “Ett ett ett, tunggu, dong, Cantik. Buru-buru sekali, sih.”

“Lepaskan tasku!” geram Fae.

“Kalau kulepaskan, nanti kau kabur, Adik Manis,” ujar Riel seenaknya. Dia jelas sedang cengar-cengir.

Fae langsung menoleh ke arahnya. “Hentikan panggilan Adik Manis itu!! Aku bukan adikmu, tahu!”

Riel tersenyum miring. “Memang bukan. Itu, kan, panggilan sayang.”

Sialan. Fae jadi salah tingkah lagi.

Akhirnya, karena tak mau Riel terus-terusan melihat pipinya yang memanas, Fae pun berbalik dan langsung berjalan meninggalkannya. “TERSERAH!!”

Riel spontan tertawa terbahak-bahak. Fae mengentakkan kakinya menjauhi Riel dengan pipi semerah tomat. Setelah puas tertawa, Riel pun meneriaki Fae:

“Jalan bersama, dong, Cantik!!!”

 

******

 

Berjalan melewati pekarangan sekolah bersama Riel ternyata jauh lebih berat daripada yang Fae kira. Bukan karena luasnya. Bukan karena matahari pagi. Bukan karena tasnya terlalu berat.

Melainkan karena sepanjang perjalanan, ada saja orang-orang yang melihat mereka, terutama para perempuan. Well, sebenarnya orang-orang itu tidak benar-benar melihat ‘mereka’, sih. Hanya melihat Riel.

Semenjak kemarin, Riel seakan-akan sudah menjadi berita besar di sekolah. Anak baru yang berambut oranye, tampan, ramah, mudah tertawa, dan entah bagaimana langsung bisa berteman dengan banyak orang hanya dalam waktu satu hari. Beberapa murid yang berpapasan dengan mereka di jalan menuju sekolah bahkan langsung menyapa Riel dengan antusias.

“Namamu Riel, ‘kan? Selamat pagi!”

“Salam kenal, ya, Riel!”

“Ayo berteman, Riel!”

“Halo, Kak Riel! Ternyata, Kakak jauh lebih tampan daripada apa yang temanku ceritakan!”

“Hai, Riel. Anak baru, ya? Riel, kau pintar main voli tidak? Nanti kalau ada waktu, main voli, yuk!”

Riel menjawab semua sapaan itu dengan senyuman manis. Senyum yang terlihat bersahabat. Seolah-olah tersenyum bukan sesuatu yang perlu ia usahakan. Seolah-olah memang begitu ia diciptakan: untuk membuat orang-orang di sekitarnya merasa diperhatikan.

“Hai juga,” jawab Riel pada seorang anak laki-laki yang menyapanya. “Hahaha, aku bisa main voli, tetapi mungkin tidak terlalu jago. Boleh, nanti kalau ada waktu ayo main.”

Anak laki-laki itu langsung bersorak kecil. “Serius? Oke, deh! Nanti aku akan mengajak orang-orang dari kelasku juga!”

Riel tertawa. “Sip!”

Fae berjalan di sampingnya sambil menatap ke depan, berusaha keras mengabaikan semua tatapan dan sapaan yang tertuju ke arah mereka (untuk Riel). Ia meremas tali tas ranselnya dengan kedua tangan.

Mengapa semua orang begitu cepat menyukai Riel?

Ah, pertanyaan bodoh.

Tentu itu terjadi karena Riel memang mudah disukai. Dia ramah, lucu, dan tampan. Dia bisa membuat orang lain merasa nyaman hanya dengan senyuman manisnya. Dia bisa membuat percakapan terasa ringan. Dia bisa membuat keberadaannya terasa seperti nur yang menyinari sekitarnya dalam waktu singkat.

Fae melirik Riel dari sudut matanya.

Pemuda itu sedang tertawa kecil karena seorang murid perempuan yang lewat menyapanya dengan malu-malu. Riel membalas sapaan itu dengan santai dan ramah. Senyuman di wajahnya terlihat sangat cerah.

Sial.

Dia benar-benar seperti gula.

Atau tidak, kalau dalam kasus Fae. Dia justru terlihat seperti emoji ‘🤣’, ‘😎’, dan ‘😏’, tetapi dalam bentuk jamur warna oranye.

Tak lama kemudian, saat mereka sudah hampir menapak gedung sekolah, ada seorang siswi yang sedang berjalan sambil membawa tumpukan buku. Karena buku itu terlalu banyak, tiba-tiba gadis itu kehilangan keseimbangannya dan jatuh. Beberapa bukunya seketika berserakan di tanah.

“Ah!!” teriak gadis itu secara refleks karena terkejut.

Fae membulatkan mata. Namun, sebelum Fae sempat bereaksi, ternyata Riel sudah bergerak lebih dahulu.

Pemuda itu melangkah cepat, berjongkok, lalu mulai memunguti buku-buku gadis itu yang jatuh. “Apa kau baik-baik saja?”

Gadis itu tampak tertegun. Pipinya langsung merona saat menyadari siapa yang membantunya. Itu adalah anak baru yang sedang ramai dibicarakan.

“I—Iya. Terima kasih, ya.”

Riel menyusun buku-buku itu dengan rapi, lalu menyerahkannya kembali kepada gadis tersebut. Saat gadis itu menerima bukunya, Riel pun tersenyum, memamerkan gummy smile-nya. Kedua matanya melengkung lembut.

“Hati-hati, ya. Bukunya banyak sekali, lho, itu.”

Gadis itu terdiam sesaat, lalu tertawa kecil. Dia terlihat malu-malu. “Ah… hehe. Iya. Namamu Riel, ya? Terima kasih, ya...”

“Mm-hmm. Salam kenal juga.” Riel memiringkan kepalanya. Terlihat sangat tampan, tetapi juga bersahaja. “Sama-sama.”

Di sekitar mereka, beberapa murid yang melihat kejadian itu langsung berbisik-bisik heboh.

“Ya Tuhan, dia baik sekali.”

“Tampan, ramah, baik lagi.”

“Aduh, sepertinya saingan kita bakal banyak, nih.”

Fae berdiri tidak jauh dari sana, menyaksikan semuanya dalam diam.

Aneh.

Riel yang baru saja tersenyum pada gadis itu adalah Riel yang sama dengan Riel yang kemarin menjilat telapak tangan Fae di koridor. Riel yang sama dengan Riel yang mengancam akan mengintipnya mandi. Riel yang masuk ke kamarnya, mengambil buku diarinya, lalu membuat Fae hampir mati karena malu.

Ugh. Inilah masalahnya. Riel memang seperti sinar mentari, tetapi Fae sudah tahu bahwa sinar mentari juga bisa membuat kepala pusing kalau terlalu lama menatapnya.

Riel kembali berjalan ke arah Fae. “Ayo, Cantik. Mau kugandeng tidak?”

Fae kaget, wajahnya langsung memerah dan dia spontan menyembunyikan tangannya di belakang tubuhnya. “Tidak!!”

Riel tertawa. Dia mulai mencari tangan Fae dan menggandengnya. “Ayo. Nanti pas istirahat, kita pacaran di atap, ya.”

Fae seketika menganga.

“TIDAK MAU!!!!”

 

******

 

Begitu Riel memasuki kelas, suasana langsung berubah.

Sebelumnya, kelas itu sudah cukup ramai. Ada yang menyalin PR, ada yang makan roti secara diam-diam, ada yang bertengkar soal penghapus, dan ada juga yang tidur dengan kepala tertelungkup di meja seakan-akan hidupnya sudah selesai di usia remaja.

Namun, begitu Riel muncul di ambang pintu, beberapa orang langsung berseru menyapanya.

“Riel!”

“Wah, akhirnya datang juga!”

“Duduk sini, Riel!”

“Riel, tadi aku lihat kau membantu anak kelas sebelah. Baik banget, sih.”

Riel tertawa ringan. Ia masuk ke kelas dengan langkah santai. “Kalian pagi-pagi sudah berisik sekali.”

“Karena ada kau, ‘kan?” jawab salah satu anak laki-laki.

Riel meletakkan tangannya di dada, pura-pura tersentuh. “Serius? Aku terharu sekali. Baru hari kedua sudah dirindukan saja, nih.”

Fae yang berjalan di belakangnya langsung memutar bola mata.

Yang benar saja. Ini baru hari kedua, tetapi Riel sudah disambut seperti anggota kerajaan yang kembali dari perang.

Fae berjalan ke kursinya dan duduk di sana, berusaha untuk tidak memedulikan kerumunan kecil yang langsung terbentuk di sekitar Riel. Pemuda itu duduk di kursinya, tetapi beberapa anak sudah berdiri di sekelilingnya. Ada yang bertanya soal Seoul. Ada yang bertanya soal rambutnya. Ada yang bertanya siapakah calon pacarnya. Ada yang bertanya apakah dia jago olahraga. Ada yang bertanya merek sampo apa yang ia pakai.

Untuk pertanyaan terakhir, Riel menjawab dengan wajah serius, “Sampo ibuku. Wangi bunga agak menyengat, sih, tetapi rambutku jadi halus.”

Seisi kelas langsung tertawa.

Fae diam-diam mendengarkan dari kursinya.

Dia tidak ikut tertawa, tetapi sudut bibirnya hampir terangkat. Hampir, lho, ya.

Kalau sampai Riel melihatnya tersenyum karena lelucon bodoh itu, pemuda itu pasti akan semakin besar kepala. Fae malas melihat senyuman jailnya itu lagi.

Tak lama kemudian, Bu Bomi masuk ke kelas dan seluruh murid langsung kembali ke kursi masing-masing. Keramaian perlahan mereda.

Pelajaran pertama hari ini adalah Sejarah.

Bu Bomi adalah seorang wanita paruh baya yang selalu membawa buku tebal dan agak galak. Bu Bomi menaruh bukunya di meja, lalu mulai mengabsen anak-anak kelas itu satu per satu.

Setelah itu, pelajaran pun dimulai.

Pada awalnya, semuanya berjalan cukup normal. Bu Bomi menjelaskan tentang periode tertentu dalam sejarah Korea, sementara murid-murid membuka buku mereka. Fae mencoba untuk fokus. Sungguh. Ia menyalin beberapa poin penting di buku catatannya.

Namun, konsentrasinya buyar saat ia mendengar bisikan pelan dari arah kanan.

 

“Ah, aku lupa bawa buku…”

 

Fae melirik sedikit ke asal suara.

Yang berbicara adalah seorang pemuda bernama Siwoo. Siwoo tampak panik karena Bu Bomi tidak suka murid yang tidak membawa buku pelajaran. Ia membuka tasnya berkali-kali, memeriksa laci mejanya, lalu mengacak-acak isi tasnya lagi seolah-olah buku itu bisa muncul jika ia cukup putus asa.

Riel, yang duduk tidak jauh darinya, lantas menoleh.

“Kau tidak bawa buku?” tanya Riel pelan.

Siwoo mengangguk cemas. “Iya. Sepertinya, bukuku tertinggal di rumah.”

Riel tersenyum manis, cukup menampakkan barisan giginya. “Duduk bersamaku saja, sini.”

Siwoo tampak terkejut. “Eh? Serius, nih?”

Riel mengangguk cepat. “Serius. Cepat sini, sebelum Bu Bomi menyadari gerak-gerikmu.”

Siwoo langsung tertawa kecil; ia cepat-cepat mendekatkan mejanya ke meja Riel sambil membawa buku catatan. Riel menggeser bukunya ke tengah agar mereka bisa membacanya bersama. Ia bahkan menunjuk bagian yang sedang dijelaskan Bu Bomi agar Siwoo tidak tertinggal.

Diam-diam, Fae memperhatikan semua itu.

Mendadak… ada sesuatu yang aneh di dadanya. Bukan sakit. Bukan pula rasa kesal yang biasa muncul tiap kali Riel membuka mulut dan mengeluarkan gombalan murahan.

Melainkan rasa… hangat.

Fae mulai mendengar bisik-bisik dua perempuan di belakangnya yang berkata:

“Baik sekali, ya…”

“Iya, seperti malaikat tak bersayap…”

Well, Fae tak bisa menyalahkan mereka juga. Riel memang terlihat begitu mudah memberi ruang untuk orang lain. Mudah membantu. Seolah-olah… menjadi orang baik adalah pengaturan utama karakternya.

Entah mengapa, Fae jadi ingat pohon ginkgo itu. Pohon yang berdiri sendirian di lahan luas. Pohon itu elok, tangguh…

…tetapi sendirian.

Riel mungkin tampak seperti pemuda yang dikelilingi banyak orang. Ia mudah tertawa. Mudah disukai. Mudah menyapa siapa pun. Namun, entah mengapa, saat Fae mengingat tatapan Riel pada pohon ginkgo kemarin, ada sesuatu yang terasa ganjil.

Tatapan itu bukan tatapan orang yang hanya menyukai pohon. Tatapan itu penuh kerinduan.

Biasanya, kerinduan tidak datang tanpa alasan.

“Fae Julietta.”

Fae tersentak. Bu Bomi sedang menatapnya dari depan kelas.

Astaga. Mampus!

“I—Iya, Bu?”

“Bisa jelaskan apa yang baru saja Ibu terangkan?”

Fae membeku. Waduh, bagaimana ini? Dia tak tahu! Barusan, dia sibuk memikirkan Riel, pohon ginkgo, dan filosofi pohon kesepian seperti orang yang sedang menulis esai batin di tengah pelajaran Sejarah.

Fae menelan ludah. “U—Umm…”

Beberapa murid mulai menoleh ke arahnya. Ia jadi semakin panik.

Tiba-tiba, dari arah kanan depan, terdengar bisikan pelan.

“Perubahan pemerintahan lokal…”

Fae melirik cepat.

Itu Riel.

Pemuda itu tidak menatapnya. Dia pura-pura melihat bukunya sendiri, tetapi bibirnya bergerak sangat pelan.

“…dan pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat desa.”

Fae berkedip.

Ia buru-buru mengulang jawaban itu dengan suara yang sedikit lebih keras. “Perubahan pemerintahan lokal dan… pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat desa, Bu.”

Bu Bomi mengangguk. “Benar. Tolong setelah ini perhatikan penjelasan saya baik-baik.”

“Iya, Bu. Maafkan saya.”

Fae menghela napas lega.

Saat Bu Bomi kembali menjelaskan, Fae melihat ke arah Riel. Pelan-pelan, pemuda itu akhirnya menatapnya, lalu tersenyum kecil.

Tidak jahil. Tidak mesum. Tidak menggoda.

Hanya senyum kecil yang hangat.

Jantung Fae tiba-tiba berdegup lebih keras.

Ah. Sial.

Dia kalah lagi pada pesona pemuda itu.

 

******

 

Saat bel pergantian pelajaran berbunyi, kelas langsung riuh kembali.

Pelajaran berikutnya adalah olahraga. Ini berarti seluruh murid harus turun ke lapangan dan mengganti pakaian mereka dengan seragam olahraga. Anak-anak laki-laki langsung bersorak karena guru olahraga mereka, Pak Kang, minggu lalu bilang kalau mereka akan bermain sepak bola hari ini. Anak-anak perempuan akan bermain voli, meskipun biasanya ada yang hanya berakhir menjadi cadangan.

Fae termasuk salah satunya. Dia tidak pintar main voli. Maka dari itu, biasanya dia cuma jadi cadangan yang duduk di rerumputan, di pinggir lapangan.

Saat semua murid berjalan keluar kelas, beberapa anak laki-laki sudah mengerumuni Riel.

“Riel, kau bisa main sepak bola?”

“Ikut tim kami, ya!”

“Kau pasti jago, ‘kan?”

Riel tertawa geli. “Mengapa kalian yakin sekali kalau aku jago?”

“Karena kau kelihatan seperti karakter utama komik atau sesuatu,” celetuk salah seorang siswa.

Riel tertawa makin keras. “Hahaha!! Seperti Luffy, ya? Besok aku coba ke laut, deh.”

“Sampaikan salamku pada Nami, ya! Tanganmu elastis tidak, omong-omong?”

“Elastis. Bisa sampai membuka jendela kamar tetangga sebelah,” jawab Riel sekenanya.

“BUSET! Kamar Fae, dong?!!” tanya pemuda lainnya.

“Um-hmm. Nanti malam kucoba dulu,” jawab Riel. Semua orang di sana kontan tertawa kencang.

“BANGSAT, HAHAHA!”

“Jadi, bisa main bola atau tidak, nih?”

“Bisa kok,” jawab Riel. “tetapi tidak bisa lama.”

Ekspresi anak-anak cowok di sana mulai terlihat bingung.

Riel menunjuk tubuhnya sendiri, lalu tertawa ringan. “Lihat tubuhku yang kurus ini. Kalau terlalu lama berlari, nanti aku diterbangkan angin.”

Tiba-tiba, tak tahu mengapa, mereka jadi lega. Beberapa anak langsung tergelak.

“Banyak alasan!!”

“Macam kami semua gemuk saja.”

“Kau makan apa, sih, di rumah?”

Riel mengedikkan bahu. “Makan cinta.”

Fae, yang kebetulan berjalan tidak jauh di belakang mereka, langsung tersedak udara. Sebenarnya, saat Riel menyebut kamarnya tadi, dia sudah malu dan dongkol bukan kepalang. Namun, tatkala Riel bilang ‘makan cinta’, dia tak lagi bisa menahan reaksinya.

Riel menoleh ke arahnya, seolah-olah sengaja menunggu reaksinya. Begitu tatapan mereka bertemu, Riel pun tersenyum miring dan mengedipkan sebelah matanya.

Fae langsung membuang muka. Pipinya sedikit memanas.

Riel mungkin tahu kalau Fae berjalan tak jauh di belakangnya. Dasar bedebaaahhh!!

 

******

 

Lapangan sekolah terasa cukup hangat saat semua anak mulai berkumpul.

Angin musim gugur masih berembus sesekali, membuat udara jadi tidak terlalu panas meskipun matahari sudah naik lebih tinggi. Anak-anak cowok mulai berkumpul di sisi lapangan yang lebih luas untuk bermain bola, sementara anak-anak cewek berdiri di sisi lain untuk bermain voli.

Pak Kang meniup peluitnya, lalu mulai membagi kelompok.

Fae akhirnya benar-benar menjadi cadangan untuk permainan voli pertama. Dia duduk di pinggir lapangan sendirian.

Di sisi lapangan sepak bola, Riel sudah bergabung dengan timnya.

Awalnya, Fae tidak berniat untuk memperhatikan pemuda itu. Dia bahkan sudah berusaha untuk melihat ke permainan voli di depannya. Namun, entah bagaimana, matanya tetap saja sesekali melirik ke sisi lain lapangan.

Ke arah Riel.

Pemuda itu ternyata bisa bermain bola. Gerakannya tidak terlihat canggung. Ia menerima operan dari temannya, berlari kecil, lalu menendang bola ke arah pemain lain. Dia cukup membuat beberapa temannya bersorak.

“Nah, benar, ‘kan! Kau jago bermain bola. Banyak alasan saja!”

Riel tertawa.

“Oper ke sini!” teriak temannya yang lain.

“Riel, kiri!”

“Jangan terlalu mengandalkanku, ya! Aku ini manusia rapuh!” balas Riel.

“Rapuh apanya?! Kau terlihat sehat sentosa begitu!”

“Hatiku yang rapuh,” jawab Riel. “Lututku agak lemah juga, nih. Nanti kalau aku lelah dan tak ada yang mau mengeloniku, bagaimana?”

“Nanti kukirim kucingku untuk mengelonimu!” teriak salah satu pemuda. Semua anak laki-laki di sana spontan tertawa terbahak-bahak.

Fae langsung menutup mulutnya; dia tak tahan ingin tertawa. Makan, tuh, Riel, pikirnya. Menggatal terus, sih.

Oh, Riel tidak perlu tahu bahwa Fae sesekali bisa menganggapnya lucu. Kalau pemuda itu tahu, mungkin dia akan menuliskannya di batu nisan Fae kelak.

“Di sini berbaring Fae Julietta, gadis yang akhirnya mengakui bahwa aku lucu.”

Oh, no. No, thanks.

Permainan terus berjalan. Riel beberapa kali menerima bola dan mengoperkannya kembali. Rambut oranye miliknya bergerak lembut, sedikit memantul-mantul setiap kali ia berlari. Di lapangan itu, warna rambutnya terlihat benderang, seolah-olah seluruh binar pagi berkumpul di kepalanya.

Menyebalkan sekali. Dia benar-benar seperti titik kilau di tengah lapangan. Seperti seseorang yang mudah ditemukan dan sulit diabaikan.

Setelah beberapa menit, Riel pun mulai mengurangi larinya. Ia masih tertawa, masih menyahut ketika temannya memanggil, tetapi gerakannya tidak secepat tadi. Sesekali, ia meletakkan tangannya di pinggang, lalu menggeleng sambil tertawa ketika bola melewatinya.

“Hei, aku istirahat dahulu, ya!” serunya pada teman-teman yang lain. “Aku lelah!”

“Baru juga sebentar!” teriak salah satu anak laki-laki sambil tertawa.

“Ayolah, Riel, sedikit lagi saja! Lagi seru, nih!”

Riel menunjuk tubuhnya sendiri. “Ini tubuh edisi terbatas. Agak fragile dan tidak bisa dipakai sembarangan. Harus hati-hati.”

“Alasan baru lagi, hah?!”

Riel tertawa.

Tak lama kemudian, Riel mengangkat tangannya, memberi tanda bahwa ia akan istirahat sebentar. Teman-temannya hanya mengangguk dan kembali melanjutkan permainan.

Riel berjalan ke pinggir lapangan sambil menyeka keringat di pelipisnya dengan punggung tangan. Napasnya terlihat lebih cepat, wajahnya sedikit memerah karena panas dan aktivitas, tetapi senyumnya masih ada.

Tentu saja, dari seluruh tempat yang tersedia di dunia ini, Riel malah memilih duduk di dekat Fae.

Tentu saja.

Hah.

Riel menjatuhkan dirinya di samping Fae, lalu mendongak dan mengembuskan napas panjang. “Huaaaah! Capek sekali!”

Fae menoleh kepadanya seraya memasang ekspresi datar.

Riel menatap Fae balik, lalu tersenyum miring. “Eh, ada si Cantik.”

Pipi Fae merona, tetapi ia berdecak kesal. “Tutup mulutmu.”

“Kalau pakai baju olahraga, kau jadi semakin cantik saja. Kufoto boleh?” tanya Riel seenak jidat.

“HAH?!” Fae tanpa sadar meninggikan suaranya.

“Kau dengar aku, Cantik,” ujar Riel seraya mengedipkan sebelah matanya. “Boleh kufoto tidak? Supaya bisa kujadikan wallpaper.”

“Tidak boleh!!!” balas Fae dengan garang.

Riel tertawa sampai mendongak. Dia tidak bawa ponsel, sih, sebenarnya. Namun, mengambil foto Fae dengan seragam olahraga memang ide yang bagus.

Saat Riel sedang tertawa, Fae memperhatikan wajah pemuda itu.

Di pelipisnya masih ada keringat. Beberapa helai rambut oranyenya menempel sedikit di dahi, tetapi anehnya hal itu tidak membuatnya terlihat berantakan. Justru masih membuatnya terlihat seperti manusia yang sengaja diberi efek cahaya tambahan oleh alam semesta.

Tidak adil sekali.

Empat detik kemudian, entah karena dorongan apa, tiba-tiba Fae membuka suaranya lagi.

“Mengapa kau sudah lelah? Kau belum lama bermain.”

“Entah, ya. Sepertinya, aku kurang makan,” jawab Riel ringan, terlihat bercanda. “Tenagaku jadi cepat habis, haha.”

Fae memutar bola matanya. “Makanya makan yang benar. Nanti jadi kerempeng baru tahu rasa.”

Riel langsung menatap Fae dengan ekspresi jail. Dia menaikturunkan alisnya. “Eh, si Cantik khawatir, ya?”

“HAH??! Khawatir apanya?! Aku tidak mau khawatir pada jamur beracun sepertimu!” jawab Fae cepat.

Riel mendekap dadanya sendiri, pura-pura terpukul. “Aduh, jahatnya… Sakit banget, nih, hatiku... Ah… napasku sesak juga… Butuh napas buatan…”

Ujung-ujungnya, dengan pipi semerah delima, Fae pun benar-benar menarik telinga Riel. “BISA DIAM TIDAK?!”

Riel memegangi tangan Fae seraya tertawa geli. Dia jelas-jelas menikmati situasi itu.

Dasar kutu loncat.

Tak lama, setelah Fae melepaskan telinganya, Riel mulai menghela napas. Dia mendongak, lalu memejamkan matanya. Menikmati udara pagi itu.

Sekitar beberapa detik kemudian, dia pun membuka suara.

“Ada untungnya juga aku cepat lelah.”

Fae mengernyitkan dahi. Untung?

Maksudnya?

Karena penasaran, Fae pun bertanya, “Untung apa?”

Riel menoleh. Di bawah kilau mentari pagi itu, di antara angin yang berembus lembut di sekitar mereka… pelan-pelan Riel mulai tersenyum lembut.

Helaian rambut oranyenya sedikit bergerak karena tertiup angin. Matanya sangat jernih. Sosoknya sederhana… tetapi sungguh berseri.

 

Ah.

Benar.

Malaikat tanpa sayap.

 

A ray…

…of sunshine.

 

Riel akhirnya menjawab.

“Untung karena aku jadi bisa duduk berduaan begini denganmu.”

Mata Fae kontan melebar.

 

Ah.

Gawat.

 

Kalau begini,

 

…pipi Fae bisa memerah total di depan pemuda itu. []

 













******










Hymen's Favorite Girl (Chapter 6: Sakura Petals Drop)

  ****** Chapter 6 : Sakura Petals Drop   ******   HYMEN mengambil satu gyoza ayam dengan sumpitnya, lalu mencolekkan gyoza itu ke...