Chapter
5 :
Ray
of Sunshine
******
UCAPAN
Riel
semalam masih terngiang-ngiang di telinga Fae.
“Mungkin
karena sudah takdirnya aku bertemu denganmu?”
Ha.
Takdir?
Si
Jamur Oranye itu memang tidak pernah serius.
Begini,
kemarin Fae sudah disiksa dengan kejutan yang bertubi-tubi. Dia melihat Riel
tiba-tiba masuk ke kelasnya sebagai murid baru, lalu pada sore hari pemuda itu
membawanya ke pohon ginkgo. Seharian Riel mengganggunya, melempar
gombalan-gombalan maut persis seperti abang-abang pengangguran di pocha
pinggir jalan yang hobi menggoda anak gadis orang. Setelah itu, Mama bilang
Riel dahulu pernah bertetangga dengan mereka, membuat Fae diserang kilasan
memori aneh di kepalanya pada penghujung sore tatkala Fae memutuskan untuk
mengunjungi pohon ginkgo itu lagi. Seolah-olah belum cukup sampai di situ,
malam harinya Riel malah datang ke rumah Fae dengan dalih 'mengerjakan PR'
bersama, yang ujung-ujungnya malah membahas soal takdir.
Oh,
what a long day. Hanya satu hari, tetapi rasanya seperti setahun penuh.
Riel baru masuk ke dalam hidupnya selama dua hari (setidaknya seingat Fae),
tetapi keributan yang dibawanya terasa begitu masif, sampai-sampai Fae mulai
merasa asing dengan kehidupannya sendiri yang tiga hari lalu masih terasa
normal.
Pemuda
itu bak mau membuat Fae hampir gila di usia muda. Dia datang dan mulai
mengacaukan semuanya tanpa rasa bersalah. Sekarang, Fae harus menerima
kenyataan bahwa tetangganya sendiri adalah makhluk paling menyebalkan yang
pernah Tuhan kirimkan ke muka bumi.
Kalau
memang itu yang disebut takdir, Fae ingin mengajukan komplain ke langit. Atau ke
bagian customer service alam semesta.
Hah.
Fae
hanya tahu bahwa setelah Riel pulang semalam, gadis itu duduk di pinggir
ranjang selama hampir sepuluh menit sambil menatap kosong ke pintu kamarnya.
Buku PR Matematikanya masih terbuka di meja belajar. Pensilnya masih tergeletak
di sana. Ponselnya beberapa kali menyala karena pesan dari Riel, tetapi ia
terlalu sibuk mengalami kerusakan sistem untuk langsung membalas pesan-pesan
itu.
Nomor
Riel sudah tersimpan di ponsel Fae, tetapi Fae belum tahu apa nama kontaknya karena
Riel sendirilah yang memaksa untuk mengaturnya.
Saat
Fae akhirnya membuka pesan-pesan itu semalam, bola mata Fae serasa mau keluar
dari soketnya.
Abang Riel Sayang
08.46 PM
Abang
pulang dulu, ya, Adik Manis π
Abang Riel Sayang
08.46 PM
Jangan
lupa mandi, yaa
Abang Riel Sayang
08.47 PM
Kalau
sudah mau mandi, kasih tahu, ya. Biar Abang VC π
Abang Riel Sayang
08.48 PM
Nanti
sebelum tidur boleh sleep call tidak? Supaya mimpi indahπ
HAH?
APA-APAAN?!
‘Abang Riel
Sayang’???!
Video call? Sleep call? Abang?
ADIK MANIS?!!
APA DIA GILA?!!! APA DIA BUTUH
KONSELING?
Fae hampir saja mau menghubungi 119.
Riel butuh intervensi medis segera. Atau siapa pun yang bisa menyita ponsel
pemuda itu sebelum dia menyebarkan wabah “Abang Sayang” ke seluruh desa.
Pagi ini, ketika Fae baru saja
keluar dan menutup pintu depan rumahnya, ia sudah melihat Riel di luar pagar.
Membuat jantung Fae serasa berhenti berdetak sejenak.
Ugh.
Pagi-pagi
begini, kesabaran Fae sudah dites.
Riel
memakai seragam sekolahnya dengan rapi. Kemeja putihnya dimasukkan ke dalam
celana, tas ranselnya tersampir di satu bahu, dan rambut oranye miliknya tampak
begitu indah. Cahaya pagi jatuh ke wajahnya, membuat kulitnya tampak semakin
bersih, mulus, dan terang. Ia berdiri santai, memasukkan satu tangan ke saku
celana, sementara tangan yang satunya melambai ke arah Fae begitu melihat gadis
itu muncul.
Cengiran
lebar
langsung menghiasi wajah pemuda itu. Dia memamerkan gigi-gigi putihnya; gusinya
terekspos jelas.
“Pagi,
Fae!” sapanya dengan riang. “Wah, hari ini gaya rambutnya ponytail, ya.
Cantik sekali.”
Fae
langsung ingin masuk ke rumah lagi.
“Pergi
ke sekolah bersama-sama, yuk,” ajak Riel dari luar pagar. Dia masih
cengar-cengir tanpa dosa.
Fae
mendengkus. Ekspresi wajahnya terlihat kesal minta ampun. “Mengapa kau sudah
ada di sini pagi-pagi?!”
Riel
memiringkan kepala. Matanya membulat polos. “Eh? Tentu saja untuk
menjemputmu. Masa pagi-pagi begini kita mau berkencan?”
“Tsk,
pergi duluan saja sana!!!” teriak Fae seraya berjalan mendekati pagar.
Langkahnya dientak-entakkan. “Aku mau pergi sendiri saja!”
Riel
tertawa kencang. “Ini masih pagi, Adik Manis. Kok sudah marah-marah saja?”
Ah,
iya! Soal ‘Adik Manis’ itu!!
Fae
langsung melebarkan mata. Langkahnya terhenti tepat di depan pagar, berseberangan
dengan Riel. “Oh iya! Mengapa kau menyebutku ‘Adik Manis’?! Selain itu, ‘Abang
Riel Sayang’? Apa-apaan nama kontak itu?!”
Riel
kembali tertawa, kali ini sampai kepalanya terdongak. “Lho, kan itu supaya kau
tidak perlu pusing memikirkan nama kontak untukku. Nanti kalau kita pacaran
juga kau tidak perlu menggantinya lagi.”
Pipi
Fae tiba-tiba merona, tetapi karena dia masih kesal, dia pun kembali protes. “Aku
yakin ibumu memberimu makanan yang sangat layak, tetapi mengapa kau tidak waras
begini, sih? Orang mana yang mengklaim orang lain sebagai pacarnya tanpa
persetujuan?!”
“Orang
tampan yang baru saja dapat julukan ‘Jamur Oranye’,” jawab Riel sembari
tersenyum menyebalkan.
Fae
mendadak menyesal memberikan Riel julukan. Julukan itu malah dibengkokkan jadi
semacam panggilan spesial.
Fae
pun memijit keningnya sebentar—pusing sendiri menghadapi kelakuan Riel—lalu dia
mulai membuka pagar. Sambil membuka pagar, ia mendengar Riel kembali berbicara.
“Semalam
memimpikanku tidak?”
“Tidak,”
jawab Fae ketus.
“Jahat
sekali, sih, Cantik,” ujar Riel, pura-pura memegang jantungnya seakan-akan
organ itu sakit. “padahal di mimpiku kita sudah berciuman mesra, lho.”
Fae,
yang baru saja selesai menutup pagarnya kembali, langsung menoleh kepada Riel
dan berteriak. Pipinya memerah sampai ke telinga. “RIEL!!!”
Riel
tertawa lepas. Memang sialan.
Merasa
sedang dikerjai habis-habisan, Fae pun frustrasi dan malu. Dia langsung melengos,
ingin meninggalkan Riel secepatnya dan jalan sendirian ke sekolah. Bodo
amat! Tinggalkan saja jamur gila ini!!!
Namun,
baru saja mau melangkah, tasnya ditarik oleh Riel dari belakang. “Ett ett ett,
tunggu, dong, Cantik. Buru-buru sekali, sih.”
“Lepaskan
tasku!” geram Fae.
“Kalau
kulepaskan, nanti kau kabur, Adik Manis,” ujar Riel seenaknya. Dia jelas sedang
cengar-cengir.
Fae
langsung menoleh ke arahnya. “Hentikan panggilan Adik Manis itu!! Aku bukan
adikmu, tahu!”
Riel
tersenyum miring. “Memang bukan. Itu, kan, panggilan sayang.”
Sialan.
Fae jadi salah tingkah lagi.
Akhirnya,
karena tak mau Riel terus-terusan melihat pipinya yang memanas, Fae pun
berbalik dan langsung berjalan meninggalkannya. “TERSERAH!!”
Riel
spontan tertawa terbahak-bahak. Fae mengentakkan kakinya menjauhi Riel dengan
pipi semerah tomat. Setelah puas tertawa, Riel pun meneriaki Fae:
“Jalan
bersama, dong, Cantik!!!”
******
Berjalan
melewati pekarangan sekolah bersama Riel ternyata jauh lebih berat daripada
yang Fae kira. Bukan karena luasnya. Bukan karena matahari pagi. Bukan karena
tasnya terlalu berat.
Melainkan
karena sepanjang perjalanan, ada saja orang-orang yang melihat mereka, terutama
para perempuan. Well, sebenarnya orang-orang itu tidak benar-benar
melihat ‘mereka’, sih. Hanya melihat Riel.
Semenjak
kemarin, Riel seakan-akan sudah menjadi berita besar di sekolah. Anak baru yang
berambut oranye, tampan, ramah, mudah tertawa, dan entah bagaimana langsung
bisa berteman dengan banyak orang hanya dalam waktu satu hari. Beberapa murid
yang berpapasan dengan mereka di jalan menuju sekolah bahkan langsung menyapa
Riel dengan antusias.
“Namamu
Riel, ‘kan? Selamat pagi!”
“Salam
kenal, ya, Riel!”
“Ayo
berteman, Riel!”
“Halo,
Kak Riel! Ternyata, Kakak jauh lebih tampan daripada apa yang temanku
ceritakan!”
“Hai,
Riel. Anak baru, ya? Riel, kau pintar main voli tidak? Nanti kalau ada waktu,
main voli, yuk!”
Riel
menjawab semua sapaan itu dengan senyuman manis. Senyum yang terlihat
bersahabat. Seolah-olah tersenyum bukan sesuatu yang perlu ia usahakan.
Seolah-olah memang begitu ia diciptakan: untuk membuat orang-orang di
sekitarnya merasa diperhatikan.
“Hai
juga,” jawab Riel pada seorang anak laki-laki yang menyapanya. “Hahaha, aku
bisa main voli, tetapi mungkin tidak terlalu jago. Boleh, nanti kalau ada waktu
ayo main.”
Anak
laki-laki itu langsung bersorak kecil. “Serius? Oke, deh! Nanti aku akan
mengajak orang-orang dari kelasku juga!”
Riel
tertawa. “Sip!”
Fae
berjalan di sampingnya sambil menatap ke depan, berusaha keras mengabaikan
semua tatapan dan sapaan yang tertuju ke arah mereka (untuk Riel). Ia meremas
tali tas ranselnya dengan kedua tangan.
Mengapa
semua orang begitu cepat menyukai Riel?
Ah,
pertanyaan bodoh.
Tentu
itu terjadi karena Riel memang mudah disukai. Dia ramah, lucu, dan tampan. Dia
bisa membuat orang lain merasa nyaman hanya dengan senyuman manisnya. Dia bisa
membuat percakapan terasa ringan. Dia bisa membuat keberadaannya terasa seperti
nur yang menyinari sekitarnya dalam waktu singkat.
Fae
melirik Riel dari sudut matanya.
Pemuda
itu sedang tertawa kecil karena seorang murid perempuan yang lewat menyapanya
dengan malu-malu. Riel membalas sapaan itu dengan santai dan ramah. Senyuman di
wajahnya terlihat sangat cerah.
Sial.
Dia
benar-benar seperti gula.
Atau
tidak, kalau dalam kasus Fae. Dia justru terlihat seperti emoji ‘π€£’, ‘π’,
dan ‘π’, tetapi dalam
bentuk jamur warna oranye.
Tak
lama kemudian, saat mereka sudah hampir menapak gedung sekolah, ada seorang siswi
yang sedang berjalan sambil membawa tumpukan buku. Karena buku itu terlalu
banyak, tiba-tiba gadis itu kehilangan keseimbangannya dan jatuh. Beberapa
bukunya seketika berserakan di tanah.
“Ah!!”
teriak gadis itu secara refleks karena terkejut.
Fae
membulatkan mata. Namun, sebelum Fae sempat bereaksi, ternyata Riel sudah
bergerak lebih dahulu.
Pemuda
itu melangkah cepat, berjongkok, lalu mulai memunguti buku-buku gadis itu yang
jatuh. “Apa kau baik-baik saja?”
Gadis
itu tampak tertegun. Pipinya langsung merona saat menyadari siapa yang
membantunya. Itu adalah anak baru yang sedang ramai dibicarakan.
“I—Iya.
Terima kasih, ya.”
Riel
menyusun buku-buku itu dengan rapi, lalu menyerahkannya kembali kepada gadis
tersebut. Saat gadis itu menerima bukunya, Riel pun tersenyum, memamerkan gummy
smile-nya. Kedua matanya melengkung lembut.
“Hati-hati,
ya. Bukunya banyak sekali, lho, itu.”
Gadis
itu terdiam sesaat, lalu tertawa kecil. Dia terlihat malu-malu. “Ah… hehe. Iya.
Namamu Riel, ya? Terima kasih, ya...”
“Mm-hmm.
Salam kenal juga.” Riel memiringkan kepalanya. Terlihat sangat tampan, tetapi
juga bersahaja. “Sama-sama.”
Di
sekitar mereka, beberapa murid yang melihat kejadian itu langsung
berbisik-bisik heboh.
“Ya
Tuhan, dia baik sekali.”
“Tampan,
ramah, baik lagi.”
“Aduh,
sepertinya saingan kita bakal banyak, nih.”
Fae
berdiri tidak jauh dari sana, menyaksikan semuanya dalam diam.
Aneh.
Riel
yang baru saja tersenyum pada gadis itu adalah Riel yang sama dengan Riel yang
kemarin menjilat telapak tangan Fae di koridor. Riel yang sama dengan Riel yang
mengancam akan mengintipnya mandi. Riel yang masuk ke kamarnya, mengambil buku
diarinya, lalu membuat Fae hampir mati karena malu.
Ugh.
Inilah
masalahnya. Riel memang seperti sinar mentari, tetapi Fae sudah tahu bahwa
sinar mentari juga bisa membuat kepala pusing kalau terlalu lama menatapnya.
Riel
kembali berjalan ke arah Fae. “Ayo, Cantik. Mau kugandeng tidak?”
Fae
kaget, wajahnya langsung memerah dan dia spontan menyembunyikan tangannya di
belakang tubuhnya. “Tidak!!”
Riel
tertawa. Dia mulai mencari tangan Fae dan menggandengnya. “Ayo. Nanti pas
istirahat, kita pacaran di atap, ya.”
Fae
seketika menganga.
“TIDAK
MAU!!!!”
******
Begitu
Riel memasuki kelas, suasana langsung berubah.
Sebelumnya,
kelas itu sudah cukup ramai. Ada yang menyalin PR, ada yang makan roti secara
diam-diam, ada yang bertengkar soal penghapus, dan ada juga yang tidur dengan
kepala tertelungkup di meja seakan-akan hidupnya sudah selesai di usia remaja.
Namun,
begitu Riel muncul di ambang pintu, beberapa orang langsung berseru menyapanya.
“Riel!”
“Wah,
akhirnya datang juga!”
“Duduk
sini, Riel!”
“Riel,
tadi aku lihat kau membantu anak kelas sebelah. Baik banget, sih.”
Riel
tertawa ringan. Ia masuk ke kelas dengan langkah santai. “Kalian pagi-pagi
sudah berisik sekali.”
“Karena
ada kau, ‘kan?” jawab salah satu anak laki-laki.
Riel
meletakkan tangannya di dada, pura-pura tersentuh. “Serius? Aku terharu sekali.
Baru hari kedua sudah dirindukan saja, nih.”
Fae
yang berjalan di belakangnya langsung memutar bola mata.
Yang
benar saja. Ini baru hari kedua, tetapi Riel sudah disambut seperti anggota
kerajaan yang kembali dari perang.
Fae
berjalan ke kursinya dan duduk di sana, berusaha untuk tidak memedulikan
kerumunan kecil yang langsung terbentuk di sekitar Riel. Pemuda itu duduk di
kursinya, tetapi beberapa anak sudah berdiri di sekelilingnya. Ada yang
bertanya soal Seoul. Ada yang bertanya soal rambutnya. Ada yang bertanya siapakah
calon pacarnya. Ada yang bertanya apakah dia jago olahraga. Ada yang bertanya
merek sampo apa yang ia pakai.
Untuk
pertanyaan terakhir, Riel menjawab dengan wajah serius, “Sampo ibuku. Wangi
bunga agak menyengat, sih, tetapi rambutku jadi halus.”
Seisi
kelas langsung tertawa.
Fae
diam-diam mendengarkan dari kursinya.
Dia
tidak ikut tertawa, tetapi sudut bibirnya hampir terangkat. Hampir, lho,
ya.
Kalau
sampai Riel melihatnya tersenyum karena lelucon bodoh itu, pemuda itu pasti
akan semakin besar kepala. Fae malas melihat senyuman jailnya itu lagi.
Tak
lama kemudian, Bu Bomi masuk ke kelas dan seluruh murid langsung kembali ke
kursi masing-masing. Keramaian perlahan mereda.
Pelajaran
pertama hari ini adalah Sejarah.
Bu
Bomi adalah seorang wanita paruh baya yang selalu membawa buku tebal dan agak
galak. Bu Bomi menaruh bukunya di meja, lalu mulai mengabsen anak-anak kelas
itu satu per satu.
Setelah
itu, pelajaran pun dimulai.
Pada
awalnya, semuanya berjalan cukup normal. Bu Bomi menjelaskan tentang periode
tertentu dalam sejarah Korea, sementara murid-murid membuka buku mereka. Fae
mencoba untuk fokus. Sungguh. Ia menyalin beberapa poin penting di buku
catatannya.
Namun,
konsentrasinya buyar saat ia mendengar bisikan pelan dari arah kanan.
“Ah,
aku lupa bawa buku…”
Fae
melirik sedikit ke asal suara.
Yang
berbicara adalah seorang pemuda bernama Siwoo. Siwoo tampak panik karena Bu Bomi
tidak suka murid yang tidak membawa buku pelajaran. Ia membuka tasnya
berkali-kali, memeriksa laci mejanya, lalu mengacak-acak isi tasnya lagi seolah-olah
buku itu bisa muncul jika ia cukup putus asa.
Riel,
yang duduk tidak jauh darinya, lantas menoleh.
“Kau
tidak bawa buku?” tanya Riel pelan.
Siwoo
mengangguk cemas. “Iya. Sepertinya, bukuku tertinggal di rumah.”
Riel
tersenyum manis, cukup menampakkan barisan giginya. “Duduk bersamaku saja, sini.”
Siwoo
tampak terkejut. “Eh? Serius, nih?”
Riel
mengangguk cepat. “Serius. Cepat sini, sebelum Bu Bomi menyadari gerak-gerikmu.”
Siwoo
langsung tertawa kecil; ia cepat-cepat mendekatkan mejanya ke meja Riel sambil membawa
buku catatan. Riel menggeser bukunya ke tengah agar mereka bisa membacanya
bersama. Ia bahkan menunjuk bagian yang sedang dijelaskan Bu Bomi agar Siwoo
tidak tertinggal.
Diam-diam,
Fae memperhatikan semua itu.
Mendadak…
ada sesuatu yang aneh di dadanya. Bukan sakit. Bukan pula rasa kesal
yang biasa muncul tiap kali Riel membuka mulut dan mengeluarkan gombalan
murahan.
Melainkan
rasa… hangat.
Fae
mulai mendengar bisik-bisik dua perempuan di belakangnya yang berkata:
“Baik
sekali, ya…”
“Iya,
seperti malaikat tak bersayap…”
Well,
Fae
tak bisa menyalahkan mereka juga. Riel memang terlihat begitu mudah memberi
ruang untuk orang lain. Mudah membantu. Seolah-olah… menjadi orang baik adalah
pengaturan utama karakternya.
Entah
mengapa, Fae jadi ingat pohon ginkgo itu. Pohon yang berdiri sendirian di lahan
luas. Pohon itu elok, tangguh…
…tetapi
sendirian.
Riel
mungkin tampak seperti pemuda yang dikelilingi banyak orang. Ia mudah tertawa.
Mudah disukai. Mudah menyapa siapa pun. Namun, entah mengapa, saat Fae
mengingat tatapan Riel pada pohon ginkgo kemarin, ada sesuatu yang terasa
ganjil.
Tatapan
itu bukan tatapan orang yang hanya menyukai pohon. Tatapan itu penuh kerinduan.
Biasanya,
kerinduan tidak datang tanpa alasan.
“Fae
Julietta.”
Fae
tersentak. Bu Bomi sedang menatapnya dari depan kelas.
Astaga.
Mampus!
“I—Iya,
Bu?”
“Bisa
jelaskan apa yang baru saja Ibu terangkan?”
Fae
membeku. Waduh, bagaimana ini? Dia tak tahu! Barusan, dia sibuk memikirkan
Riel, pohon ginkgo, dan filosofi pohon kesepian seperti orang yang sedang
menulis esai batin di tengah pelajaran Sejarah.
Fae
menelan ludah. “U—Umm…”
Beberapa
murid mulai menoleh ke arahnya. Ia jadi semakin panik.
Tiba-tiba,
dari arah kanan depan, terdengar bisikan pelan.
“Perubahan
pemerintahan lokal…”
Fae
melirik cepat.
Itu
Riel.
Pemuda
itu tidak menatapnya. Dia pura-pura melihat bukunya sendiri, tetapi bibirnya
bergerak sangat pelan.
“…dan
pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat desa.”
Fae
berkedip.
Ia
buru-buru mengulang jawaban itu dengan suara yang sedikit lebih keras.
“Perubahan pemerintahan lokal dan… pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat
desa, Bu.”
Bu
Bomi mengangguk. “Benar. Tolong setelah ini perhatikan penjelasan saya
baik-baik.”
“Iya,
Bu. Maafkan saya.”
Fae
menghela napas lega.
Saat
Bu Bomi kembali menjelaskan, Fae melihat ke arah Riel. Pelan-pelan, pemuda itu
akhirnya menatapnya, lalu tersenyum kecil.
Tidak
jahil. Tidak mesum. Tidak menggoda.
Hanya
senyum kecil yang hangat.
Jantung
Fae tiba-tiba berdegup lebih keras.
Ah.
Sial.
Dia
kalah lagi pada pesona pemuda itu.
******
Saat
bel pergantian pelajaran berbunyi, kelas langsung riuh kembali.
Pelajaran
berikutnya adalah olahraga. Ini berarti seluruh murid harus turun ke lapangan
dan mengganti pakaian mereka dengan seragam olahraga. Anak-anak laki-laki
langsung bersorak karena guru olahraga mereka, Pak Kang, minggu lalu bilang kalau
mereka akan bermain sepak bola hari ini. Anak-anak perempuan akan bermain voli,
meskipun biasanya ada yang hanya berakhir menjadi cadangan.
Fae
termasuk salah satunya. Dia tidak pintar main voli. Maka dari itu, biasanya dia
cuma jadi cadangan yang duduk di rerumputan, di pinggir lapangan.
Saat
semua murid berjalan keluar kelas, beberapa anak laki-laki sudah mengerumuni
Riel.
“Riel,
kau bisa main sepak bola?”
“Ikut
tim kami, ya!”
“Kau
pasti jago, ‘kan?”
Riel
tertawa geli. “Mengapa kalian yakin sekali kalau aku jago?”
“Karena
kau kelihatan seperti karakter utama komik atau sesuatu,” celetuk salah seorang
siswa.
Riel
tertawa makin keras. “Hahaha!! Seperti Luffy, ya? Besok aku coba ke laut, deh.”
“Sampaikan
salamku pada Nami, ya! Tanganmu elastis tidak, omong-omong?”
“Elastis.
Bisa sampai membuka jendela kamar tetangga sebelah,” jawab Riel sekenanya.
“BUSET!
Kamar Fae, dong?!!” tanya pemuda lainnya.
“Um-hmm.
Nanti malam kucoba dulu,” jawab Riel. Semua orang di sana kontan tertawa
kencang.
“BANGSAT,
HAHAHA!”
“Jadi,
bisa main bola atau tidak, nih?”
“Bisa
kok,” jawab Riel. “tetapi tidak bisa lama.”
Ekspresi
anak-anak cowok di sana mulai terlihat bingung.
Riel
menunjuk tubuhnya sendiri, lalu tertawa ringan. “Lihat tubuhku yang kurus ini.
Kalau terlalu lama berlari, nanti aku diterbangkan angin.”
Tiba-tiba,
tak tahu mengapa, mereka jadi lega. Beberapa anak langsung tergelak.
“Banyak
alasan!!”
“Macam
kami semua gemuk saja.”
“Kau
makan apa, sih, di rumah?”
Riel
mengedikkan bahu. “Makan cinta.”
Fae,
yang kebetulan berjalan tidak jauh di belakang mereka, langsung tersedak udara.
Sebenarnya, saat Riel menyebut kamarnya tadi, dia sudah malu dan dongkol bukan
kepalang. Namun, tatkala Riel bilang ‘makan cinta’, dia tak lagi bisa menahan
reaksinya.
Riel
menoleh ke arahnya, seolah-olah sengaja menunggu reaksinya. Begitu tatapan
mereka bertemu, Riel pun tersenyum miring dan mengedipkan sebelah matanya.
Fae
langsung membuang muka. Pipinya sedikit memanas.
Riel
mungkin tahu kalau Fae berjalan tak jauh di belakangnya. Dasar bedebaaahhh!!
******
Lapangan
sekolah terasa cukup hangat saat semua anak mulai berkumpul.
Angin
musim gugur masih berembus sesekali, membuat udara jadi tidak terlalu panas
meskipun matahari sudah naik lebih tinggi. Anak-anak cowok mulai berkumpul di
sisi lapangan yang lebih luas untuk bermain bola, sementara anak-anak cewek
berdiri di sisi lain untuk bermain voli.
Pak
Kang meniup peluitnya, lalu mulai membagi kelompok.
Fae
akhirnya benar-benar menjadi cadangan untuk permainan voli pertama. Dia duduk
di pinggir lapangan sendirian.
Di
sisi lapangan sepak bola, Riel sudah bergabung dengan timnya.
Awalnya,
Fae tidak berniat untuk memperhatikan pemuda itu. Dia bahkan sudah berusaha untuk
melihat ke permainan voli di depannya. Namun, entah bagaimana, matanya tetap
saja sesekali melirik ke sisi lain lapangan.
Ke
arah Riel.
Pemuda
itu ternyata bisa bermain bola. Gerakannya tidak terlihat canggung. Ia menerima
operan dari temannya, berlari kecil, lalu menendang bola ke arah pemain lain. Dia
cukup membuat beberapa temannya bersorak.
“Nah,
benar, ‘kan! Kau jago bermain bola. Banyak alasan saja!”
Riel
tertawa.
“Oper
ke sini!” teriak temannya yang lain.
“Riel,
kiri!”
“Jangan
terlalu mengandalkanku, ya! Aku ini manusia rapuh!” balas Riel.
“Rapuh
apanya?! Kau terlihat sehat sentosa begitu!”
“Hatiku
yang rapuh,” jawab Riel. “Lututku agak lemah juga, nih. Nanti kalau aku lelah
dan tak ada yang mau mengeloniku, bagaimana?”
“Nanti
kukirim kucingku untuk mengelonimu!” teriak salah satu pemuda. Semua anak
laki-laki di sana spontan tertawa terbahak-bahak.
Fae
langsung menutup mulutnya; dia tak tahan ingin tertawa. Makan, tuh, Riel, pikirnya.
Menggatal terus, sih.
Oh,
Riel tidak perlu tahu bahwa Fae sesekali bisa menganggapnya lucu. Kalau pemuda
itu tahu, mungkin dia akan menuliskannya di batu nisan Fae kelak.
“Di
sini berbaring Fae Julietta, gadis yang akhirnya mengakui bahwa aku lucu.”
Oh,
no. No, thanks.
Permainan
terus berjalan. Riel beberapa kali menerima bola dan mengoperkannya kembali.
Rambut oranye miliknya bergerak lembut, sedikit memantul-mantul setiap kali ia
berlari. Di lapangan itu, warna rambutnya terlihat benderang, seolah-olah
seluruh binar pagi berkumpul di kepalanya.
Menyebalkan
sekali. Dia benar-benar seperti titik kilau di tengah
lapangan. Seperti seseorang yang mudah ditemukan dan sulit diabaikan.
Setelah
beberapa menit, Riel pun mulai mengurangi larinya. Ia masih tertawa, masih
menyahut ketika temannya memanggil, tetapi gerakannya tidak secepat tadi.
Sesekali, ia meletakkan tangannya di pinggang, lalu menggeleng sambil tertawa
ketika bola melewatinya.
“Hei,
aku istirahat dahulu, ya!” serunya pada teman-teman yang lain. “Aku lelah!”
“Baru
juga sebentar!” teriak salah satu anak laki-laki sambil tertawa.
“Ayolah,
Riel, sedikit lagi saja! Lagi seru, nih!”
Riel
menunjuk tubuhnya sendiri. “Ini tubuh edisi terbatas. Agak fragile dan tidak
bisa dipakai sembarangan. Harus hati-hati.”
“Alasan
baru lagi, hah?!”
Riel
tertawa.
Tak
lama kemudian, Riel mengangkat tangannya, memberi tanda bahwa ia akan istirahat
sebentar. Teman-temannya hanya mengangguk dan kembali melanjutkan permainan.
Riel
berjalan ke pinggir lapangan sambil menyeka keringat di pelipisnya dengan
punggung tangan. Napasnya terlihat lebih cepat, wajahnya sedikit memerah karena
panas dan aktivitas, tetapi senyumnya masih ada.
Tentu
saja, dari seluruh tempat yang tersedia di dunia ini, Riel malah memilih duduk
di dekat Fae.
Tentu
saja.
Hah.
Riel
menjatuhkan dirinya di samping Fae, lalu mendongak dan mengembuskan napas
panjang. “Huaaaah! Capek sekali!”
Fae
menoleh kepadanya seraya memasang ekspresi datar.
Riel
menatap Fae balik, lalu tersenyum miring. “Eh, ada si Cantik.”
Pipi
Fae merona, tetapi ia berdecak kesal. “Tutup mulutmu.”
“Kalau
pakai baju olahraga, kau jadi semakin cantik saja. Kufoto boleh?” tanya Riel
seenak jidat.
“HAH?!”
Fae tanpa sadar meninggikan suaranya.
“Kau
dengar aku, Cantik,” ujar Riel seraya mengedipkan sebelah matanya. “Boleh
kufoto tidak? Supaya bisa kujadikan wallpaper.”
“Tidak
boleh!!!” balas Fae dengan garang.
Riel
tertawa sampai mendongak. Dia tidak bawa ponsel, sih, sebenarnya. Namun,
mengambil foto Fae dengan seragam olahraga memang ide yang bagus.
Saat
Riel sedang tertawa, Fae memperhatikan wajah pemuda itu.
Di
pelipisnya masih ada keringat. Beberapa helai rambut oranyenya menempel sedikit
di dahi, tetapi anehnya hal itu tidak membuatnya terlihat berantakan. Justru masih
membuatnya terlihat seperti manusia yang sengaja diberi efek cahaya tambahan
oleh alam semesta.
Tidak
adil sekali.
Empat
detik kemudian, entah karena dorongan apa, tiba-tiba Fae membuka suaranya lagi.
“Mengapa
kau sudah lelah? Kau belum lama bermain.”
“Entah,
ya. Sepertinya, aku kurang makan,” jawab Riel ringan, terlihat bercanda. “Tenagaku
jadi cepat habis, haha.”
Fae
memutar bola matanya. “Makanya makan yang benar. Nanti jadi kerempeng baru tahu
rasa.”
Riel
langsung menatap Fae dengan ekspresi jail. Dia menaikturunkan alisnya. “Eh, si
Cantik khawatir, ya?”
“HAH??!
Khawatir apanya?! Aku tidak mau khawatir pada jamur beracun sepertimu!” jawab
Fae cepat.
Riel
mendekap dadanya sendiri, pura-pura terpukul. “Aduh, jahatnya… Sakit banget,
nih, hatiku... Ah… napasku sesak juga… Butuh napas buatan…”
Ujung-ujungnya,
dengan pipi semerah delima, Fae pun benar-benar menarik telinga Riel. “BISA DIAM
TIDAK?!”
Riel
memegangi tangan Fae seraya tertawa geli. Dia jelas-jelas menikmati situasi
itu.
Dasar
kutu loncat.
Tak
lama, setelah Fae melepaskan telinganya, Riel mulai menghela napas. Dia
mendongak, lalu memejamkan matanya. Menikmati udara pagi itu.
Sekitar
beberapa detik kemudian, dia pun membuka suara.
“Ada untungnya
juga aku cepat lelah.”
Fae
mengernyitkan dahi. Untung?
Maksudnya?
Karena
penasaran, Fae pun bertanya, “Untung apa?”
Riel
menoleh. Di bawah kilau mentari pagi itu, di antara angin yang berembus lembut di
sekitar mereka… pelan-pelan Riel mulai tersenyum lembut.
Helaian
rambut oranyenya sedikit bergerak karena tertiup angin. Matanya sangat
jernih. Sosoknya sederhana… tetapi sungguh berseri.
Ah.
Benar.
Malaikat
tanpa sayap.
A
ray…
…of
sunshine.
Riel
akhirnya menjawab.
“Untung
karena aku jadi bisa duduk berduaan begini denganmu.”
Mata
Fae kontan melebar.
Ah.
Gawat.
Kalau
begini,
…pipi
Fae bisa memerah total di depan pemuda itu. []


No comments:
Post a Comment