Sunday, April 27, 2025

Petualangan Detektif Zavie (Bab 3: Adek Zavie Galau)

 


******

Bab 3 :

Adek Zavie Galau

 

******

 

ZAVIE akhirnya pergi lagi ke halaman belakang rumahnya: ke taman bunga hydrangea itu. Kucing putih itu masih ada di sana. Kali ini, Zavie keluar diikuti oleh Coco. Kucing berwarna coklat itu berlari mengikuti Zavie begitu dia melihat Zavie berlari ke halaman belakang rumah.

            Zavie membawa satu mangkuk kecil makanan kucing dan satu mangkuk kecil air minum. Tadi, saat Zavie bercerita pada mamanya bahwa kucing putih itu ternyata masih ada di sana, ujung-ujungnya dia menangis. Suara tangisnya tidak kencang, tetapi air matanya tak kunjung berhenti. Dia terlihat sangat sedih; pikirannya ke mana mana. Berkali-kali dia usap air matanya, tetapi air matanya deras sekali. Zavie enggak pernah sekepikiran itu dengan sesuatu, bahkan ketika memikirkan hadiah ulang tahun apa yang bakal Kak Atlas kasih buat dia tahun lalu.

Berarti, kucingnya cemaleman kelaperan. Berarti, kucingnya cemaleman kedinginan. Berarti, kucingnya cemaleman cendirian. Cemaleman. Javi udah jahat banget karena ninggalin kucingnya cendirian di luar.

Memikirkan itu, Zavie jadi menangis sesenggukan di depan Mama. Lantas, Mama pun mulai berjongkok di depan Zavie, lalu membelai puncak kepala anak itu. Mama menghela napas, lalu berkata, “Ya udah, biar Mama siapin dulu makanan sama minumannya. Zavie kasih makan kucingnya, ya.”

Begitu mendengar ucapan Mama, tangisan Zavie pun perlahan-lahan mulai berhenti. Namun, napasnya masih tersendat-sendat saat menjawab, “He—he-em, Ma—ma… J—Javi b—ba…wa…makanan—nya…

Mama pun tersenyum lembut, lalu mengangguk. Wanita paruh baya itu mulai berdiri, lalu berjalan ke dekat rak gantung dapur untuk mengambil toples makanan Coco. Ia menuangkan makanan kucing itu ke sebuah mangkuk kecil, lalu bergerak lagi untuk menuangkan air putih ke mangkuk kecil yang lain. Setelah semuanya siap, ia pun mendekati Zavie dan memberikan kedua mangkuk itu kepada Zavie.

“Ini. Bawanya pelan-pelan, ya. Udah dulu nangisnya. Kalo Adek nangis, nanti makanan sama airnya tumpah.”

“U—ung,” jawab Zavie seraya mengangguk. Mama mengusap air mata Zavie pelan-pelan, lalu berkata, “Ya udah, gih. Nanti kucingnya tambah laper.”

Zavie langsung mengangguk cepat. Si kecil yang mukanya celemotan air mata dan ingus itu mulai berbalik—meninggalkan Mama—lalu pergi ke halaman belakang rumah mereka. Coco, yang kebetulan baru lewat di dapur, ujung-ujungnya jadi ikut berlari. Dia tak mau ketinggalan apa pun yang dilakukan oleh tuannya.

Jadi, di sinilah Zavie sekarang: di depan taman bunga hydrangea. Ia meletakkan mangkuk makanan dan minuman yang ia bawa itu di permukaan tanah, lalu berjalan mendekati kucing putih itu. Ia mulai masuk ke rumpun tanaman hydrangea itu dan meraih kucing tersebut agar keluar dari sana.

Begitu berhasil membawa kucing itu keluar, Zavie pun langsung meletakkan kucing itu di depan mangkuk makanan dan minuman yang ia bawa. Tak ayal, kucing itu pun mulai makan dengan lahap.

Zavie dan Coco kini sama-sama memperhatikan kucing itu.

Ya ampun…

Kucingnya laper banget….

Ah, bagaimana ini? Menyadari betapa laparnya kucing itu, mata Zavie jadi berkaca-kaca lagi. Rasa bersalah semakin menggerogotinya. Dia mulai mewek, tetapi cepat-cepat dia menghapus air mata yang telah menggenang di pelupuk matanya itu.

Sialnya, mendadak Coco malah mau ikut makan di mangkuk itu. Kelakuan Coco yang tak-tau-situasi itu jadi mengganggu momen sedihnya Zavie. Orang lagi sedih, eh si Coco malah sibuk mau ikut makan. Zavie—yang tadinya hampir menangis—sekarang jadi sibuk menarik badan dan ekor Coco berkali-kali supaya Coco tidak ikut makan di mangkuk itu. Dasar Coco, padahal di rumah keljaannya makan telus!

Coco mungkin tahu kalau itu adalah makanannya. Lagi pula, kucing rata-rata memang lapar terus, ‘kan? Perut mereka cuma sejengkal, tetapi makannya mungkin bisa sebakul.

Saat kucing putih itu telah menghabiskan makanannya (dan sudah minum juga), Zavie pun tersenyum lembut. Dengan penuh kasih sayang, Zavie mulai mengelus-elus kepala hingga badan kucing itu. “Udah kenyang, ya?”

Kucing itu sempat mendengkur, lalu menjawab, “Meow…”

“Hehe…” Zavie tertawa kecil, agak terharu. Namun, beberapa saat kemudian…bocah itu terdiam. Tatapan matanya mulai terlihat sedih lagi.

“Kamu kemaren kok nggak dijemput, ya…” tanya Zavie, lebih seperti berbicara pada dirinya sendiri.

“Meow…?”

“Huh…” Zavie mengembuskan napasnya dengan berat. Kalau saja Zavie kenal pemilik kucing ini atau pernah bertemu dengan kucing ini sebelumnya, niscaya permasalahannya tidak akan sesulit ini. Lagian, kok bisa, sih, ada orang yang lupa menjemput kucing secantik ini? Coco saja sampai naksir saking cantiknya.

Manucia zaman cekarang emang udah gila cemua, pikir Zavie.

Zavie menghela napas. Ya sudah, deh. Kali ini, Zavie akan menemani kucing putih ini. Walau sampai sore pun, Zavie akan menemaninya. Setidaknya sampai Zavie melihat kucing putih itu dijemput oleh pemiliknya.

“Ciiiip, deh! Ayo kita main! Javi temenin kamu, ya, campe kamu dijemput!!” teriak Zavie dengan girang. Dia pun mulai mengajak dua kucing itu bermain lari-larian. Ia bahkan sempat masuk ke rumah dan mengambil bola karetnya untuk dimainkan bersama dua kucing itu. Induk ayam yang kebetulan lagi lewat di sana—lagi mencari makan bersama anak-anaknya—pun tak sengaja terkena lemparan bola karet itu sampai dia mengamuk pada Zavie karena telah membahayakan anak-anaknya. Zavie enggak suka dikejar induk ayam, soalnya induk ayam biasanya garang banget. Kucing Zavie pun enggak mau membela kalau Zavie sudah punya masalah dengan induk ayam. Enggak mau ikut campur, deh, pokoknya. Biasanya, yang berani ngelawan induk ayam itu di daerah sini cuma kucing oranye punya Pak RT.

Namun, lupakan soal induk ayam.

Pada hari itu, Zavie sama sekali tak menyangka bahwa hingga senja tiba,

…pemilik kucing putih itu ternyata tak datang juga.

Saat langit sudah berwarna oranye seperti ikan salmon, langkah Zavie pun terhenti. Dia tahu bahwa jika warna langit sudah terlihat seperti warna ikan salmon yang sering Papa makan di sushi, maka dia harus pulang. Jadi, dia pun mulai melihat ke sekeliling…

…dan tidak menemukan seorang pun.

Tidak ada siapa pun yang menuju ke sana.

Tidak ada siapa pun yang menjemput kucing putih itu.

Jantung Zavie mendadak langsung berdegup kencang. Rasa sedih kembali menghampirinya. Tubuh kecilnya mulai bergetar…dan napasnya mulai tersendat-sendat. Matanya berkaca-kaca.

Seraya mengepalkan tangannya, Zavie pun berlari ke rumah. Zavie menaiki tangga dan langsung masuk ke rumahnya melalui pintu belakang. Pintu belakang rumahnya itu ada di dapur, jadi begitu Zavie melewati pintu itu, ia jelas langsung berada di dapur. Coco mengikutinya dari belakang.

Zavie langsung menangis kencang. Ia berteriak di dapur itu, memanggil mamanya dengan putus asa. “MAMAAAAA…! MAMAAAA!! MAAAA!! HUAAAAA...”

Kontan saja Mama berlari ke dapur dengan ekspresi panik. Mama langsung berjongkok di depan Zavie dan menyeka air mata anak bungsunya itu dengan cepat. Dengan khawatir, Mama pun berkata, “Lah, kenapa, Dek? Heh—astaga, kenapa? Ada apa? Hei! Kenapa? Bilang sama Mama! Kok tiba-tiba nangis lagi??!”

“MAMAAA…!” Zavie menangis sesenggukan. “M—MA—MAAA…!”

“Iyaaaa…ini Mama. Kenapa, Nak?” tanya Mama, dia masih terdengar panik. Astaga, ini Papa sama Atlas belum pulang. Kalau sudah pulang, mungkin semuanya jadi berkumpul di dapur gara-gara mendengar tangisan Zavie.

“Mamaaa…” Zavie mengusap air matanya sendiri dengan kaus yang ia pakai. Ingusnya mulai keluar. Napasnya tersendat-sendat sampai Zavie mengeluarkan suara ‘Hik, hik’ sambil menangis.

“Adek kenapa, sih? Ada luka??” tanya Mama khawatir. Biasanya, Zavie jarang terluka sebab halaman belakang rumah sudah sering dibersihkan oleh Papa. Mengingat Zavie selalu main di sana, Papa jadi rajin memastikan kalau tidak ada benda tajam apa pun yang tertinggal di sana, seperti pecahan kaca atau potongan kayu yang tajam.

Zavie menggeleng. “Enggaaak, Mamaaaa…”

Mama lantas mengernyitkan dahi. “Jadi, kenapa nangis?!”

“Kuciiiing, Maaaa…” jawab Zavie, matanya masih mengeluarkan air mata. “Kucing putihnya…belum dijemput campe cekarang, Maa… Yang punya kucingnya belum dateng juga, Ma… Ini udah core… Kucingnya kacian, Ma…”

Mata Mama membulat.

Oalah…

Dahi Mama berkerut. Jujur saja, Mama juga mulai merasa kasihan dengan kucing itu. Akan tetapi, bagaimana pun juga…kucing itu ada pemiliknya. Kalau tidak ada, mengapa kucing itu memakai kalung? Masa iya kucing liar pakai kalung?

Mama mulai menghela napas.

“Jadi, Adek maunya gimana?” tanya Mama dengan sabar.

Zavie menghentikan tangisnya. Pelan-pelan, si kecil itu mulai menyeka air mata beserta ingusnya dengan bajunya sendiri. Baju itu sampai basah karena air mata dan ingusnya. “Boleh nggak, Ma, kucingnya Javi ambil aja?”

Situasi tiba-tiba jadi hening.

Mama diam selama beberapa detik.

Namun, berbeda dengan apa yang Zavie harapkan, ternyata…

…Mama menggeleng.

Mama menolak permintaan Zavie.

“Jangan dulu. Takutnya ntar pemiliknya nyariin. Mungkin pemiliknya belum tau aja kalo kucingnya ada di sini,” jawab Mama.

Mendengar jawaban dari Mama, tak ayal Zavie kembali menangis. Kali ini, tangisannya terdengar begitu pilu.

Astagaaa… Kalo ditinggal lagi, nanti kucingnya cendirian lagi. Kelaperan lagi. Javi kacian cama kucingnya… Nanti kucingnya pingcan…

“Mamaaaa… Kita ambil aja, yaaa, Ma? Hmmm?” rayu Zavie sekali lagi. Dia merengek-rengek seraya mencengkeram tangan Mama. “Kacian, Ma… Kucingnya cemaleman cendirian di luar… Kelaperan, kedinginan, kecepian… Kucingnya nanti cakit, Ma…”

Memikirkan kucing itu yang kedepannya mungkin akan meringkuk karena sakit membuat Zavie semakin menangis. Air matanya tak terbendung.

Mama kembali menghela napas.

“Adeeek, denger dulu. Mama juga kasian sama kucingnya, tapi kita nggak boleh ambil punya orang sembarangan. Itu kucing orang, Dek,” jawab Mama dengan prihatin; alis Mama nyaris menyatu.

Zavie langsung melebarkan matanya. “Terus kalo kucingnya nggak dijemput-jemput gimana, Maaa…?”

Mama terdiam. Wanita paruh baya itu memperhatikan wajah dan mata Zavie yang sembap. Pipinya basah karena air mata. Napasnya tak beraturan. Kausnya juga basah karena sudah dipakai untuk mengelap air mata serta ingusnya berkali-kali.

Melihat keadaan Zavie yang kacau begitu, Mama jadi merasa dilema. Mama kasihan dengan kucing itu—apalagi Zavie juga kelihatan sangat sedih—tetapi bagaimanapun juga…Mama tak mau mengambil kucing punya orang.

Ujung-ujungnya, Mama tetap teguh pada pendiriannya.

“Jangan diambil. Kita tunggu dulu pemiliknya,” kata Mama dengan tegas.

Zavie kontan terkejut. Matanya membulat dan napasnya tertahan tatkala mendengar jawaban dari Mama. Ternyata, Mama tidak berubah pikiran. Mama tetap tidak memperbolehkan Zavie untuk mengambil kucing itu.

Karena merasa kecewa, Zavie pun jadi semakin mewek. Bocah berbau matahari itu pun langsung berbalik dan meninggalkan mamanya. Dia pergi ke teras belakang rumahnya, lalu berdiri di sana sambil menatap ke taman bunga hydrangea. Di sana ada kucing putih itu; kucing itu sedang menjilat-jilat tubuhnya sendiri. Namun, tatkala sadar bahwa ada makhluk yang sedang memperhatikannya dari atas (dari teras rumah panggung itu), perlahan-lahan kucing itu pun melihat ke arah Zavie.

Saat mata mereka bertemu, Zavie spontan menangis sesenggukan. Dia tertunduk, bahunya jatuh, dan berkali-kali ia mengusap air matanya dengan lengannya sendiri. Namun, air matanya tak kunjung mau berhenti.

Ia jadi galau di sana, di teras belakang rumahnya, sambil terus memandangi kucing itu.

 

******

 

Kegalauan Zavie yang memprihatinkan itu bertahan hingga empat hari lamanya.

Dalam empat hari itu, Zavie jadi sangat murung. Dia jadi pendiam. Anak kecil yang biasanya aktif lari sana lari sini, aktif kepoin tetangga, aktif mengikuti tarian atau menyanyikan lagu opening Crayon Shin-chan, aktif mencari tahu kegiatan Kak Atlas, sekarang jadi sering duduk di teras belakang rumah sambil memandangi kucing putih yang ada di taman bunga hydrangea. Namun, entah mengapa kucing itu pun tak pernah pergi dari sana; dia selalu menunggu kedatangan Zavie.

Zavie akhir-akhir ini hanya bergerak saat memberi makan kucing itu dan menemaninya di taman bunga hydrangea. Saat senja tiba, Zavie pun akan memandangi kucing itu dari teras belakang rumah sambil merenung. Menatap kucing itu dengan nelangsa.

Zavie tidak selera makan. Setiap kali disuruh makan, ia hanya mau makan beberapa suap, itu pun karena dipaksa oleh mamanya. Dia menghabiskan waktunya, dari pagi sampai sore, hanya untuk menemani kucing putih itu dan bersedih hati. Dalam empat hari ini, dia sudah pergi ke rumah tetangga-tetangga yang ada di sekitar sana, tetapi tak ada orang yang mengaku bahwa kucing itu adalah milik mereka. Seolah-olah…kucing itu datang dari tempat yang sangat jauh.

Zavie masih ingat dengan jelas bagaimana dia menanyai para tetangga sambil membawa kucing putih itu. Dia akan mengangkat kucing itu dan menunjukkan muka kucing itu ke semua orang.

“Tanteee, ini kucing punya Tante bukan?”

“Ooooom, Om kenal cama kucing ini nggak?”

“Kakek, ini kucing punya kakek bukan?”

“Mbaaak, mbak kenal orang yang punya kucing ini?”

Zavie benar-benar berjuang.

Di sisi lain, kegalauan Zavie itu bukan tak disadari oleh Mama. Seperti sore ini, saat Mama sedang mengaduk semur ayam yang ia masak di kuali. Melalui pintu belakang rumah yang terbuka, Mama bisa melihat Zavie yang lagi-lagi sedang duduk di teras belakang sambil memandang ke arah taman bunga hydrangea. Bahu anak kecil itu tampak turun; ia merenung dengan ekspresi sedih seolah-olah baru saja ditinggal oleh pujaan hati.

Tiba-tiba saja, saat Mama sedang terdiam karena memperhatikan Zavie, Mama mendengar sebuah suara.

 

“Ma, Zavie kenapa?”

 

Mama kontan menoleh ke samping dan menemukan anak pertamanya, Atlas, sedang melangkah mendekatinya sambil melihat ke teras belakang rumah. Melihat Zavie.

Saat Atlas telah berdiri di sebelah Mama, Mama pun kembali melihat ke teras belakang dan menjawab, “Nggak tau, tuh, adekmu. Masih galau.”

Atlas menyatukan alisnya. “Galau kenapa?”

Ah, ya. Atlas dan papanya memang belum tahu apa-apa. Namun, setelah empat hari berlalu…ternyata Atlas yang dingin pun mulai menyadari keanehan Zavie. Atau jangan-jangan…Atlas sudah tahu lebih awal dan baru menanyakannya sekarang?

Mama menghela napas. Diam selama dua detik…hingga akhirnya Mama mulai menjawab, “Nggak… Si Coco, kan, akhir-akhir ini sering banget maen sendirian ke taman bunga yang ada di belakang, makanya adekmu penasaran kenapa si Coco ke sana terus. Pas dia cari tau, ternyata ada kucing putih di situ. Kucingnya pake kalung, jadi pasti ada pemiliknya. Dari beberapa hari yang lalu, adekmu udah nungguin pemilik kucing itu buat ngejemput kucingnya, tapi ternyata kucing itu nggak dijemput-jemput. Makanya, adekmu sampe nangis. Dia sempet minta izin ke Mama buat ngambil kucing itu, tapi Mama larang gara-gara takut pemiliknya nyariin. Jadi, dia tambah galau.”

Mendengar penjelasan dari Mama, Atlas mulai mengernyitkan dahinya. Ia pun memandangi Zavie dengan mata yang sedikit menyipit.

            Kucing putih…?

 

******

 

“Javi udah celecai, Ma,” ujar Zavie tiba-tiba saat Mama baru saja mau menyuapinya sesendok nasi. Itu baru suapan keempat dan Zavie sudah ingin menyelesaikan makan malamnya. Zavie menolak suapan itu dan mengalihkan pandangannya dari Mama. Kedua mata Mama kontan membeliak.

“Lho, Dek, baru empat suap—" ucapan Mama langsung terputus karena Zavie tiba-tiba turun dari kursinya dan langsung berjalan meninggalkan ruang makan. Meski Mama telah memanggilnya berkali-kali, Zavie tetap berjalan ke kamarnya dan langsung menutup pintu kamar itu begitu ia masuk ke sana.

Ketiga orang yang tersisa di ruang makan itu jadi sama-sama terdiam. Mereka semua memandang kepergian Zavie dengan heran. Zavie biasanya makan dengan lahap, tetapi beberapa hari ini bocah itu benar-benar tak selera makan. Well, seperti yang sudah diduga, kali ini Papa pun mulai heran.

“Ma, Adek kenapa?” Papa bertanya dengan kedua alis yang terangkat. “Papa liat kayaknya akhir-akhir ini dia murung… Papa ada salahkah?”

Mama menghela napas. Kali ini, bahu Mama pun tampak turun; Mama mulai bingung.

Mama akhirnya menatap Papa, lalu berkata, “Papa inget nggak, waktu itu Zavie pernah bilang ke Papa kalo Coco kayaknya punya temen baru?”

“Hmm, hmm.” Papa mengangguk. “Terus?”

“Itu, ternyata Coco memang dapet temen baru. Kucing putih. Kucing itu ada di belakang rumah, di tanaman hydrangea. Coco rupanya sering main ke situ karena ada kucing itu. Kucingnya pake kalung, jadi Zavie nungguin pemiliknya buat ngejemput kucing itu, tapi ternyata nggak dijemput-jemput.” Mama kembali menghela napas. “Beberapa hari yang lalu, Zavie minta izin ke Mama buat ngambil kucingnya, tapi…Mama larang. Makanya, dia jadi murung gitu. Apalagi, setelah empat hari pun, ternyata kucing itu belum juga dijemput sama pemiliknya.”

Setelah menjelaskan dengan panjang lebar, Mama pun menunduk. Ia terdiam.

Atlas sejak tadi juga hanya mendengarkan ucapan mamanya.

Akan tetapi, lima detik kemudian…tiba-tiba Papa membuka suara.

 

“Ya udah, bawa masuk aja kucingnya. Kan udah beberapa hari ditungguin. Kalo belum dijemput juga, ya berarti memang nggak dicari sama pemiliknya. Harusnya udah nggak apa-apa kalo kita pelihara. Kasian juga kucingnya tidur di luar terus sampe berhari-hari, apalagi si Adek kayaknya udah sayang sama kucing itu.”

 

Kontan saja mata Mama membelalak. Mama menganga.

“Serius, Pa? Boleh?”

Papa tersenyum lembut. Pria paruh baya itu lantas mengangguk. “Iya, serius. Boleh. Bawa aja kucingnya masuk. Kita pelihara aja. Papa nggak mau bocil Papa yang satu itu jadi murung. Kayaknya udah berhari-hari Papa nggak denger celotehannya. Rumah ini jadi sepi banget.”

Mama langsung tersenyum semringah. Ia mengembuskan napasnya lega; matanya berkaca-kaca tatkala menatap Papa. “He-em. Makasih, ya, Pa. Mama udah ngerasa bersalah banget. Hati Mama nggak tenang. Kemaren-kemaren, Mama takut banget mau ngambil kucingnya...”

Papa tertawa kecil. “Ya udah, besok ambil aja kucingnya, Ma. Kasih tau sama Adek.”

Mama pun menghapus air matanya. Wanita paruh baya itu lantas menatap Papa kembali, lalu tersenyum dan mengangguk. “Iya.”

 

******

 

Hari ini hujan.

Ini sudah siang. Namun, bukannya makan atau tidur siang, Zavie malah keluar dari rumah tanpa sepengetahuan Mama. Mama sedang mencuci pakaian, jadi Mama tidak tahu kalau Zavie diam-diam mengambil jas hujan warna coklatnya di dalam lemari dan pergi ke belakang rumah begitu ia mendengar suara hujan. Zavie ingin pergi menemui kucing putih itu. Hujannya cukup deras dan kucing itu masih ada di luar.

Kucingnya bakal kehujanan. Kucingnya bica cakit! Kucingnya pasti kedinginan, badannya pacti bacah cemua!!

Makanya, di sinilah Zavie. Dia berjongkok di depan tanaman hydrangea itu, memperhatikan si kucing putih yang terduduk di antara daun-daun bunga hydrangea. Mencoba untuk berteduh di bawah rumpun tanaman hydrangea itu. Kucing itu tampak kedinginan; sebagian bulunya mulai basah. Dia terus menjilat-jilat tubuhnya sendiri.

Zavie menatap kucing itu dengan sedih. Kelopak matanya turun tatkala menatap kucing itu. Zavie tampak sangat…lesu. Rasanya dunia ini kayak mau berakhir saja.

Sesaat kemudian, Zavie mulai tertunduk. Dia hanya memikirkan penderitaan kucing itu, padahal sebenarnya dirinya pun sedang berada di bawah hujan.

Kepala kecilnya itu dipenuhi dengan kesedihan sampai-sampai dia tak sadar bahwa hujan mulai turun semakin deras.

Cakit. Cakit banget. Javi enggak mau pulang. Biar Javi kehujanan juga.

Lama Zavie terdiam. Ia terus merenung di sana, berjongkok…sambil menunggu hujan reda. Kadang-kadang ia menunduk, kadang-kadang ia memperhatikan kucing itu dengan tatapan sedih.

Beberapa menit kemudian, saat Zavie sedang menunduk, tiba-tiba saja dia melihat ada sebuah bayangan berbentuk lingkaran gelap di tanah. Tanah di sekitar Zavie itu basah, tetapi tentu saja bayangan itu terlihat dengan jelas. Bayangan itu terlihat seperti…bayangan sebuah payung.

…eh?

Kalau dipikir-pikir…sepertinya kini tak ada air hujan lagi yang menetes di kepala Zavie.

Dengan pelan, Zavie pun akhirnya menoleh. Si kecil itu langsung mendongak karena agaknya…ada orang yang tengah memayunginya dari atas.

Begitu Zavie melihat ke atas, meskipun tubuhnya terasa lemas, perlahan-lahan…mata Zavie melebar.

Soalnya, di sana…

 

…ada Kak Atlas.

 

Orang yang sedang memayunginya…adalah Kak Atlas.

 

Namun, belum sempat Zavie mengatakan apa-apa, tiba-tiba Kak Atlas mulai bersuara.

 

“Dek, ayo pulang.” []

 












******




Friday, April 18, 2025

Fraudulent (Chapter 3: Elysian)

 


******

Chapter 3 :

Elysian

 

******

 

5 TAHUN YANG LALU

 

“LANGSUNG ke UKS saja, ya, Harin. Ruangannya tidak Ibu kunci,” ujar Bu Mari saat Harin bertemu dengannya di koridor beberapa saat yang lalu. Berhubung kepala Harin sakit saat itu, mungkin karena bergadang semalam, Harin berencana untuk meminta obat dan beristirahat di UKS. Namun, tahu-tahu ia berpapasan dengan Bu Mari, guru yang biasa menjaga UKS, di koridor. Tentu saja, Harin langsung menegurnya dan berkata bahwa ia ingin pergi ke UKS.

“Memangnya tidak apa-apa, Bu, kalau saya langsung ke sana?” tanya Harin, dahi gadis itu agak berkerut. Ia agak segan sebab di UKS biasanya agak sepi.

“Tidak apa-apa, Harin, pergilah ke sana. Langsung ambil saja obatnya dan beristirahatlah. Kau tahu yang mana obatnya, ‘kan?” tanya Bu Mari seraya tersenyum.

Ah, ya. Seminggu yang lalu, Harin pergi ke UKS dengan masalah yang sama. Akhir-akhir ini, dia sering bergadang karena para guru di kelasnya agaknya sedang kompak mengadakan ulangan harian. Meski Harin anak yang pintar, dia tidak belajar setiap hari. Namun, kalau sudah ujian…dia bisa belajar hingga lupa waktu. Ia tak bisa belajar setiap hari karena kegiatannya di sekolah sudah cukup melelahkan. Ia adalah Ketua OSIS di sekolahnya, ia juga merupakan seorang Ketua Kelas. Oleh karena itu, dia tidak bisa belajar setiap hari.

Namun, guess what? Dia tetap menjadi siswi top di sekolah itu. Dia sering ikut Olimpiade Matematika, dia juga selalu juara satu di kelasnya. Singkat kata, dia adalah siswi yang sangat berprestasi di bidang akademik.

Harin pun mengangguk. “Baik, Bu. Saya istirahat di sana, ya, Bu. Sudah diizinkan oleh guru di kelas saya.”

Bu Mari lalu tersenyum dan mengangguk. “Oke. Titip UKS, ya. Ibu mau ke Ruang Kepala Sekolah dulu. Ibu dipanggil ke sana.”

“Baik, Bu,” jawab Harin, lalu gadis itu menunduk dengan sopan. Bu Mari pun menepuk pundak Harin sejenak, lalu pergi meninggalkan Harin. Ia mulai berjalan ke Ruang Kepala Sekolah.

Harin pun kembali berjalan. Lurus terus…hingga akhirnya ia sampai di depan Ruang UKS. Ia lantas membuka pintu Ruang UKS itu, lalu masuk ke sana setelah menutup pintunya kembali.

Ruang UKS itu…ternyata memang sedang sepi.

Tidak ada seorang pun di sana.

Harin bernapas lega. Syukurlah. Ia lebih senang jika tempat istirahatnya hening. Ia tak harus khawatir ini itu; ia tak harus takut membangunkan seseorang ataupun takut orang lain akan mengganggu waktu istirahatnya. Dia benar-benar harus minum obat sakit kepala dan tidur.

Harin mulai membuka lemari obat-obatan di UKS itu dan mencari obat sakit kepala yang waktu itu pernah Bu Mari berikan padanya. Lemari yang menyimpan obat sakit kepala itu tergantung cukup tinggi di dinding, jadi Harin mesti mendongak dan berjinjit untuk mencari obatnya.

Tiba-tiba saja, pintu Ruang UKS itu terbuka. Terbukanya tidak santai; Harin yakin barusan pintu itu dibuka dan didorong dengan cepat hingga menimbulkan bunyi yang keras. Harin kontan menoleh ke pintu itu.

Di sana, Harin melihat seorang pemuda. Wajah pemuda itu tampak lebam di daerah bibir dan tulang pipinya. Ada darah di sudut bibir pemuda itu.

Pemuda itu berdiri di ambang pintu seraya memperhatikan Harin dengan bola matanya yang kelam.

Ah. Bukankah itu…

Kwon Jaekyung?

Selaku Ketua OSIS, Harin kenal pemuda itu. Dia adalah anak dari pemilik sekolah swasta ini. Dia itu berandal, tetapi karena parasnya yang tampan, dia sangat populer di sekolah. Dia juga tak pernah mendapat masalah apa pun; dia tak pernah dihukum walau dia berandal. Bagaimana mungkin orang-orang berani menghukumnya saat dia adalah anak dari pemilik sekolah ini?

Harin—yang merupakan Ketua OSIS—pun sebenarnya tahu bahwa Kwon Jaekyung seharusnya menjadi anak yang bermasalah di sekolah, tetapi karena Harin orangnya tidak berapi-api, Harin pun membiarkannya. Sama seperti Kepala Sekolah dan para guru, OSIS pun tak ingin berurusan dengan Kwon Jaekyung. Lebih kepada…yah…dibiarkan saja. Kwon Jaekyung akan tetap mendapatkan masa depan yang cerah meskipun dia berandal di masa SMA-nya.

Kwon Jaekyung tidak pernah mem-bully orang lain. Pemuda itu juga tidak pernah menyalahgunakan kekuasaan ayahnya terhadap sekolah itu. Kata ‘berandal’ yang dimaksudkan untuk Kwon Jaekyung itu lebih kepada…dia sering bertengkar. Dia akan menghabisi setiap orang yang mengganggunya. Dia juga hobi balap motor liar. Jadi, sebetulnya tak ada alasan bagi warga sekolah ini untuk benar-benar membencinya.

Harin bukan orang yang berkoar-koar mau menuntut keadilan atau apa pun itu; dia juga tak ada dendam pada Kwon Jaekyung, jadi dia diam saja. Bisa dibilang, dia tak begitu memedulikan keberadaan Kwon Jaekyung, apalagi Kwon Jaekyung juga tak sekelas dengannya.

Well, meskipun Harin menjabat sebagai Ketua OSIS, dia memilih untuk menjalaninya dengan normal saja. Dia enggan mencari masalah yang tidak perlu. Dia hanya ingin lulus dari sana dengan prestasi terbaik, lalu kuliah di jurusan yang dia inginkan. Simpel.

Saat menyadari bahwa ternyata waktu istirahatnya takkan setenang yang ia duga, Harin pun menghela napas pelan dan memalingkan wajahnya. Kembali mencari obat sakit kepala di lemari itu.

Harin mendengar Jaekyung melangkah masuk.

 

“Bu Mari ke mana?”

 

Ah. Agaknya, ini adalah pertama kalinya Harin mendengar suara Kwon Jaekyung.

Tanpa menoleh, Harin pun menjawab, “Beliau sedang pergi ke Ruang Kepala Sekolah.”

Tidak ada jawaban dari Jaekyung. Bertepatan dengan itu, Harin akhirnya menemukan obat yang dia cari. Gadis itu langsung mengambil satu tablet dan menutup pintu lemari gantung itu kembali.

Sebetulnya, ini adalah pertama kalinya Harin berada sedekat ini dengan Kwon Jaekyung. Mereka selama ini seperti orang asing, padahal masih satu angkatan. Akan tetapi, kembali lagi ke kenyataan bahwa: Harin bukan orang yang terlalu memedulikan hal itu. Dia adalah gadis yang tenang. Composed.

Oleh karena itu, meskipun dari sudut matanya Harin bisa melihat Jaekyung yang sudah menggeret salah satu kursi di ruangan itu dan duduk di sana, Harin hanya diam dan langsung berjalan ke arah dispenser. Gadis itu langsung menadah air minum dari sana, lalu meminum obat yang telah ia ambil.

“Kau Seo Harin, ‘kan?” ucap Jaekyung tiba-tiba. “Ketua OSIS.”

Harin menghabiskan air di dalam gelas itu sambil membatin.

Ternyata dia tahu.

Setelah meletakkan gelasnya di wastafel yang ada samping dispenser, Harin pun menjawab Jaekyung, “Masih, untuk saat ini.” Soalnya, sekarang aku sudah kelas tiga.

“Kau sakit?”

Harin mengernyitkan dahinya, lalu menoleh kepada Jaekyung. Mengapa Jaekyung bertanya seperti itu padanya?

“Bukankah semua orang datang ke UKS karena sedang sakit?” tanya Harin seraya menaikkan sebelah alisnya.

“Akhirnya, kau melihat ke arahku,” jawab Jaekyung seraya tersenyum miring. Pemuda itu duduk seraya menyilangkan tangannya di depan dada.

Dia ini sedang bicara apa, sih? Tadi aku sudah melihatnya saat dia berdiri di ambang pintu.

Harin menghela napas. Dia ingin menyudahi percakapan ini karena sejak tadi tujuannya ke sini adalah ingin meminum obat dan beristirahat. “Bu Mari mungkin sebentar lagi akan kembali. Kalau kau ingin cepat, semua obatnya ada di dalam lemari. Aku tidur dulu.”

“Apa kau bisa menahan sakit kepalamu setidaknya selama lima menit?” tanya Jaekyung tiba-tiba, membuat Harin—yang baru saja mau berjalan ke salah satu ranjang UKS itu—kontan menoleh kepadanya lagi.

“Mengapa kau tahu bahwa aku sedang sakit kepala?” tanya Harin. Alisnya menyatu.

Jaekyung memiringkan kepalanya. “Kau tadi membawa obat sakit kepala, Nona Ketua OSIS.”

Oh.

Pemuda itu melihat semuanya.

Akhirnya, Harin pun menghadap sepenuhnya ke arah Jaekyung. Gadis itu menghela napas. “Alright. Ada apa dengan lima menit?”

“Aku ingin meminta tolong padamu,” jawab Jaekyung.

Harin kembali mengernyitkan dahinya. “Tolong apa?”

 “Tolong obati aku. Bisa?” tanya Jaekyung seraya tersenyum.

 

Sebentar.

Apa?

 

Harin mendengkus. “Tidak bisa.”

“Aku tak mengerti bagaimana cara mengobatinya,” ujar Jaekyung. Dia menatap Harin dengan lekat. “Aku ingin masuk ke kelas setelah ini. Setidaknya luka di wajahku harus dibersihkan.”

“Tidakkah kau pernah datang ke sini sebelumnya? Kalau sudah pernah, seharusnya kau sudah tahu obatnya yang mana saja dan bagaimana cara Bu Mari mengobatimu,” jawab Harin seraya mengangkat alisnya.

Jaekyung menggeleng pelan. “Tidak pernah. Luka di wajahku tidak pernah separah ini, jadi aku belum pernah datang ke sini sebelumnya.”

Harin hanya diam. Sesungguhnya, dia tak mau membantu Jaekyung. Bukan apa, Jaekyung adalah orang asing baginya. Mengobati wajah orang asing…rasanya akan sangat aneh. Suasananya akan canggung setengah mati.

Karena Harin hanya diam, Jaekyung pun kembali bertanya dengan mata yang sedikit melebar polos. “Bisa tolong aku?”

Harin langsung membuang wajahnya. “Tidak bisa. Aku mau istirahat.”

“Ya sudah. Kalau begitu, aku tak bisa kembali ke kelas. Aku akan tidur di sini saja. Boleh aku tidur di sampingmu?” tanya Jaekyung.

Kedua mata Harin kontan membeliak. Gadis itu lantas kembali menoleh kepada Jaekyung. “Apa?”

“Boleh aku tidur di sampingmu, Nona Ketua OSIS?” tanya Jaekyung sekali lagi seraya memiringkan kepalanya. “Aku tak bisa kembali ke kelas dengan wajah yang seperti ini.”

“Mengapa harus di sampingku? Ada banyak ranjang lain di UKS ini!” Harin tiba-tiba meninggikan suaranya. Dia yang biasanya tenang, kini jadi kebingungan sendiri tatkala menghadapi Kwon Jaekyung. Ternyata, Kwon Jaekyung orangnya cukup menyebalkan.

“Supaya kau merasa bersalah saat melihat wajahku,” jawab Jaekyung enteng. Pemuda itu mengedikkan bahunya.

Harin mengurut keningnya. Pusing sendiri. “Kau ini sebenarnya mau apa, sih…”

Jaekyung tersenyum miring. “Aku mau Nona Ketua OSIS mengobatiku. Boleh?”

Akhirnya, Harin berhenti memijit keningnya. Gadis itu berkacak pinggang—menatap Jaekyung dengan mata yang menyipit tajam—lalu menghela napasnya.

“Baiklah. Lima menit saja.”

Mendengar jawaban Harin, Jaekyung pun tersenyum.

“Terima kasih, Nona Ketua OSIS.”

Harin mulai melangkah ke area depan lagi dan membuka lemari obat-obatan. Kali ini, Harin membuka lemari yang berdiri dan bersandar pada dinding, bukan lemari yang tergantung. Lemari itu berwarna putih dan sedikit lebih tinggi daripada tubuh Harin.

Saat telah mengambil obat untuk luka serta kasa, Harin pun menutup lemari itu dan mulai menghampiri Jaekyung yang ternyata sejak tadi tengah memandanginya.

Setelah sampai di hadapan Jaekyung, tanpa ba bi bu lagi, Harin langsung berlutut di depan Jaekyung. Kedua lututnya bertumpu di lantai.

Untungnya, kedua kaki Jaekyung sedikit terbuka, jadi Harin bisa lebih mendekat ke tubuh pemuda itu. Karena Jaekyung memiliki tubuh yang tinggi, sulit untuk mencapai wajah Jaekyung jika Harin duduknya agak jauh dari pemuda itu.

Posisi mereka saat ini sangat dekat.

Dekat, sampai-sampai Harin bisa mendengar napas mereka berdua. Ruang UKS itu sepi dan kecanggungan yang Harin rasakan pun jadi memperkeruh suasana.

Apalagi, Jaekyung juga menunduk…dan menatap wajah Harin dengan lekat. Dia sedang menunggu untuk diobati.

Saat berada dekat dengan Jaekyung seperti ini, Harin…bisa melihat wajah Jaekyung dengan jelas.

Pemuda itu memang tampan.

Luka-luka itu tak mampu menutupi eloknya parasnya. Dia memiliki hidung yang mancung, kedua mata yang tajam seperti elang, dan rahang yang tegas. Bola matanya berwarna coklat tua, warna yang tampak gelap dan memikat. Warna gelap itu seakan mampu menarikmu masuk ke sana…lalu tenggelam dan tak mampu kembali lagi.

Akibat kontur wajahnya yang tajam, ia terlihat maskulin, percaya diri, dan berkarisma. Ia tampak penuh dengan vitalitas.

Bahunya juga lebar. Tubuhnya bagus; dia tinggi, berotot, dan terlihat sangat kuat. Dadanya bidang. Dia memiliki daya tarik yang sangat tinggi.

Melihat sosoknya yang seperti ini, Harin jadi semakin paham mengapa semua wanita memujanya.

Tidak, Harin tidak bodoh. Harin tahu bahwa Kwon Jaekyung itu tampan. Gadis itu pernah melihat Jaekyung beberapa kali dari jauh, tetapi karena ia orangnya agak cuek, ia pun tak memperhatikan rupa Jaekyung sampai detail.

Namun, ketika dilihat dari dekat seperti ini…ternyata Kwon Jaekyung memang diberkati oleh Tuhan. Tuhan benar-benar serius saat menciptakan Jaekyung.

“Ayo, Nona,” ujar Jaekyung pelan. Ada sebuah jenaka yang tersirat di kedua matanya. “Nanti lima menitnya habis…”

Harin mengerjap. Gadis itu sedikit malu karena ketahuan memperhatikan wajah Jaekyung, tetapi ia langsung kembali menguasai dirinya. Ia pun mulai bergerak membersihkan luka di wajah Jaekyung.

Jaekyung tersenyum miring.

“Apa yang kau lakukan sampai bisa terluka seperti ini?” tanya Harin pelan.

Sungguh, suasana saat itu sepi sekali. Hanya Harin, Jaekyung, napas mereka, getaran yang tercipta di antara mereka, serta suara detak jantung Harin. Pelan-pelan…Harin mengusap wajah Jaekyung, membersihkan wajah tampan pemuda itu dengan hati-hati. Sebenarnya, tangan Harin sedikit bergetar, ada keraguan di setiap gerakannya sebab ia sedang menyentuh wajah seorang pemuda yang asing baginya.

Jaekyung bernapas samar. “Aku berkelahi dengan beberapa siswa dari sekolah lain.”

Saat Harin ingin membersihkan luka di sudut bibir Jaekyung, tangan Harin sempat terhenti di udara. Ia memperhatikan luka itu dengan dahi yang berkerut. Tiba-tiba ia jadi bingung dan gugup setengah mati. Ia takut ia tak sengaja menyentuh sesuatu yang salah.

Namun, tiba-tiba Jaekyung menarik pergelangan tangannya. Menyuruhnya untuk tetap melanjutkan kegiatan itu. “Aku tidak akan menggigit jemarimu.”

Pipi Harin sontak merona. “Aku bukan takut digigit!”

Jaekyung tersenyum miring. “Jadi, takutnya sama apa, dong?”

Harin berdecak. Dia tak ingin merespons Jaekyung, jadi dia langsung kembali pada aktivitasnya. Dia berusaha untuk tak gelisah walau sedang membersihkan sudut bibir Jaekyung.

“Kalau kau terus-menerus berkelahi, suatu hari nanti kau akan kehilangan gigimu atau mungkin…tulang wajahmu akan retak,” ujar Harin. “Jangan terlalu sering berkelahi.”

“Hm… Baru kali ini Ketua OSIS perhatian padaku,” jawab Jaekyung seraya tersenyum. Pemuda itu tampak terhibur.

Harin yang mendengar itu kontan terhenti dari aktivitasnya dan langsung menoleh kepada Jaekyung seraya menyatukan alis. “Aku serius.”

Jaekyung tertawa kecil.

“Iya, Harin.”

Mata Harin melebar.

Kwon Jaekyung…memanggil Harin dengan nama panggilannya.

Mereka saling menatap.

Karena tak ingin terus-menerus berada di dalam ketegangan itu, Harin pun mengerjap. Dia mencoba untuk menguasai dirinya kembali, lalu mulai mengobati luka-luka di wajah Jaekyung.

Tatkala sedang menutup luka Jaekyung dengan kasa, Harin pun bertanya, “Jadi, kau tadi melewatkan kelas hanya untuk berkelahi dengan siswa dari sekolah lain?”

“Aku pergi sebentar untuk mengikuti balapan,” jawab Jaekyung. Pemuda itu tersenyum simpul. “Namun, ketika aku sudah sampai di sana, mereka langsung menyerangku karena tak terima dengan kemenanganku di pertandingan sebelumnya.”

Mata Harin melebar. Ia menatap Jaekyung, lalu berkata, “Jadi…apa yang terjadi pada mereka sekarang?”

“Entah,” jawab Jaekyung. “Mereka semua terkapar di sana dan aku pergi.”

Astaga.

Ada-ada saja.

Harin menggeleng pelan—merasa tak habis pikirlalu gadis itu mulai menutup luka Jaekyung yang terakhir. Setelah selesai, ia pun menghela napas lega dan mulai menjauhkan wajahnya dari Jaekyung.

“Sudah selesai,” ujar Harin. “Usahakan jangan berkelahi seperti itu lagi bila kau tak ingin wajahmu rusak.”

“Sepertinya…belum lima menit,” ujar Jaekyung, sebelah alisnya terangkat.

Harin mengerutkan dahinya. “Memangnya kau pikir lima menit itu seberapa lama?”

Jaekyung tertawa kecil.

Mereka masih bertatapan selama beberapa detik. Harin belum bangkit dari duduknya.

Tak lama kemudian, Jaekyung mulai membuka suara.

 

“Harin,” katanya. “Ayo pulang bersamaku.”

 

Kedua mata Harin membulat.

Pulang…bersama Kwon Jaekyung?

Apa pemuda itu…serius?

 

Harin benar-benar kaget, terus terang saja. Mereka tidak dekat; mereka sekadar tahu akan keberadaan satu sama lain. Mereka baru bercakap-cakap beberapa menit yang lalu. Pulang bersama adalah sebuah perkembangan yang terlalu cepat meskipun Harin tahu bahwa sepertinya Jaekyung melakukan itu sebagai bentuk terima kasih.

Harin menghela napasnya, lalu berdiri dan meninggalkan Jaekyung. Ia menuju ke lemari obat-obatan. “Tidak perlu.”

Ketika sedang menaruh kembali obat-obatan dan kasa itu, Harin mendengar Jaekyung berkata, “Nanti aku antar pulang, ya?”

Harin menghela napas (lagi), lalu menutup lemari itu dan berdiri menghadap ke arah Jaekyung. “Tidak perlu, Jaekyung. Kembalilah ke kelasmu. Aku mau istirahat.”

 

******

 

Harin kira Jaekyung akan menyerah.

Ternyata tidak.

Oke, mengingat bagaimana Jaekyung memaksa Harin untuk mengobatinya di UKS tadi saja seharusnya sudah bisa menjadi acuan bahwa Jaekyung orangnya agak pemaksa. Sepertinya, pemuda itu memiliki prinsip bahwa apa yang ia inginkan harus ia dapatkan saat itu juga.

Jam sekolah hari ini telah berakhir; bel pulang sekolah sudah berbunyi. Murid-murid di kelas Harin mulai membereskan barang-barang mereka; guru yang mengajar mereka tadi sudah keluar dari kelas.

Tadi Harin sempat tidur di UKS kurang lebih selama dua jam. Saat Harin terbangun, Bu Mari sudah ada di ruangan itu. Bu Mari tersenyum pada Harin dan memeriksa tubuh gadis itu sejenak. Setelah memastikan bahwa dirinya telah sembuh, Harin pun pamit kepada Bu Mari untuk kembali ke kelas.

Jadi, saat semua murid di kelas itu sedang mengemas barang-barang mereka, tiba-tiba Harin dikejutkan dengan suara teriakan tertahan para perempuan. Reaksi itu agaknya bersahut-sahutan, baik dari dalam kelas Harin maupun dari luar. Mereka seakan tengah melihat seseorang yang tak seharusnya berada di sana.

Harin melihat semua teman sekelasnya melihat ke satu arah, yakni ke pintu masuk kelas.

Kontan saja Harin melihat ke arah yang sama karena penasaran. Harin menoleh seraya menyatukan alisnya.

Hal yang Harin temukan adalah:

 

Di sana ada Kwon Jaekyung.

 

Kwon Jaekyung berdiri bersandar di ambang pintu, lengkap dengan tas yang pemuda itu bawa di sebelah bahunya. Ia menatap tepat ke kedua mata Harin. Memperhatikan Harin dari jauh dengan lekat. Ia seolah mengurung Harin melalui tatapannya.

Jaekyung menunggu Harin di pintu kelas!

Mata Harin membelalak. Pikiran Harin langsung ke mana-mana. Sebentar, perasaan tadi tawarannya sudah kutolak! Mengapa dia ada di sini?

Satu kelas itu—kelas Harin—lama-lama jadi terdiam. Perlahan-lahan…teriakan-teriakan tertahan itu juga berhenti. Mereka semua diam seolah menunggu apa yang akan terjadi. Mereka betul-betul ingin tahu. Mengapa Kwon Jaekyung ada di depan kelas mereka?

Kelas itu sekarang jadi hening.

Beberapa detik kemudian, Jaekyung mulai membuka suara.

 

“Rin,” panggil Jaekyung. “Ayo pulang.”

 

…tunggu.

Pemuda itu…memanggil Harin dengan…apa?

‘Rin’…?

 

Belum pernah ada orang yang memanggil Harin seperti itu. Gadis itu kaget bukan main. Mulutnya sampai sedikit terbuka.

Di sisi lain, Harin sadar bahwa teman-teman sekelasnya mulai melihat ke arahnya. Semua orang menoleh kepadanya! Ada yang menyatukan alis, ada juga yang matanya membulat.

Sedikit informasi: semua orang tahu bahwa Kwon Jaekyung itu tampan, tetapi dia berandal. Semua orang juga tahu bahwa sekolah ini milik ayahnya.

Jadi, bayangkan saja. Tiba-tiba, pemuda itu datang ke kelas mereka, bersandar di ambang pintu seakan menunggu seseorang, lalu mengajak Seo Harin pulang bersamanya.

Benar! Pemuda populer itu mendekati Seo Harin, anak emas di sekolah itu! Apalagi, Jaekyung memanggil Harin dengan panggilan ‘Rin’ seolah-olah mereka sudah sangat dekat. Sejak kapan mereka berdua dekat?

Ini fenomenal.

Karena tidak senang dengan perhatian semua orang yang langsung tertuju kepadanya, Harin pun cepat-cepat membereskan barang-barangnya dan langsung memasang tasnya. Setelah itu, Harin berlari ke pintu depan kelas, menghampiri Jaekyung yang tengah menunggunya di sana.

Setelah sampai di ambang pintu, Harin pun melewati Jaekyung dan langsung berjalan mendahuluinya. Jaekyung ikut bergerak; pemuda itu mengikuti Harin dari belakang.

Tidak butuh waktu lama hingga pemuda itu akhirnya berjalan di sebelah Harin. Semua orang yang juga sedang berjalan di koridor itu tentu saja memperhatikan mereka berdua sambil menahan teriakan. Beberapa perempuan kontan melebarkan mata seraya menutup mulut mereka dengan sebelah tangan. Tentu saja, semua orang kaget saat melihat pemandangan itu.

Murid top sekolah, Seo Harin, jalan berdua dengan Kwon Jaekyung?

Rasanya seperti menyatukan air dan minyak.

Sambil berjalan di sebelah Harin, Jaekyung mulai kembali berbicara, “Pulang bersamaku, ya?”

Harin menghela napas. Gadis itu menatap Jaekyung, lalu menggeleng. “Tidak usah, Jaekyung, tidak apa-apa. Aku biasanya pulang naik bus sekolah.”

Meskipun kaget setengah mati dengan apa yang Jaekyung lakukan padanya hari ini, Harin tetap berusaha untuk tetap tenang. Dia menolak Jaekyung dengan halus.

Tatkala sampai di depan sekolah, mereka berdua sama-sama melihat bahwa bus sekolah sudah menunggu di sana. Harin biasanya naik bus itu untuk pergi dan pulang sekolah.

Jaekyung mendengkus.

Harin lantas menoleh kepada Jaekyung. Sembari tersenyum tipis, Harin pun berkata, “Aku duluan, ya, Jaekyung.”

Tanpa membuang waktu, Harin langsung berlari mendekati bus itu dan naik ke sana. Setelah ada di dalam bus, Harin berjalan ke belakang—mencari jok penumpang yang kosong—dan ia sempat melihat ke luar melalui jendela bus itu.

Tampaklah Jaekyung yang berada jauh di depan sana, tengah berdiri seraya menyilangkan dada. Jaekyung memperhatikan Harin dengan lekat; mata Jaekyung sedikit menyipit. Tatapan pemuda itu kembali memenjarakan Harin dari jauh.

Harin meneguk ludahnya. Gadis itu mengerjap, lalu langsung mengalihkan pandangannya. Ia kembali mencari jok yang kosong, lalu duduk di jok itu.

Kwon Jaekyung benar-benar tak bisa diprediksi.

Namun, satu hal yang Harin tak tahu adalah: dugaannya mengenai Jaekyung yang ‘agak’ pemaksa itu sebenarnya salah. Pemuda itu bukan hanya ‘agak’ pemaksa.

Dia memang pemaksa.

Namun, sepertinya…baru Harin seoranglah yang berkali-kali sukses menghindari paksaannya.

Maka dari itu, dia mendapatkan sebuah solusi. Sebuah alternatif.

Dia akan mengikuti bus itu dari belakang secara diam-diam,

…hingga bus itu sampai di rumah Harin.

 

******

 

Setelah semua hal yang terjadi di hari itu, Kwon Jaekyung jadi sering memperhatikan Harin. Terkadang, Jaekyung menemukan Harin tanpa sengaja saat ia melewati perpustakaan; Jaekyung melihat Harin sedang duduk dan belajar di perpustakaan itu. Terkadang pula, Jaekyung melihat Harin makan di kantin bersama teman-temannya. Intinya, Jaekyung menjadi lebih ‘sadar’ akan keberadaan Harin.

Sekitar satu minggu kemudian, tatkala semua murid dikumpulkan di aula sekolah, Jaekyung melihat Harin naik ke panggung yang ada di aula itu. Gadis itu dipanggil naik ke panggung karena telah berhasil memenangkan Olimpiade Matematika tingkat provinsi. Dia naik ke panggung, lalu menerima hadiah dari sekolah berupa sebuah piala berwarna emas. Gadis itu lalu menyampaikan kata-kata terima kasihnya di podium. Saat berbicara di atas panggung, dia terlihat tenang, berwibawa, dan percaya diri. Dia juga tersenyum saat mengucapkan terima kasih.

Di sana, di atas panggung itu, Jaekyung benar-benar melihat sosok perempuan yang sangat bersinar. Perempuan yang cantik, pintar, kreatif, dan menginspirasi. She’s so peaceful and perfect. Sangat berbeda dari Jaekyung.

Jika Seo Harin bersinar bagaikan matahari,

…maka Kwon Jaekyung bagaikan malam kelam yang dipenuhi dengan burung gagak.

Namun, entah mengapa, perbedaan itu menarik Jaekyung kepada Harin seperti magnet.

Their differences draw him to her. He is attracted to her because of the ways they are unlike each other.

Namun, yang membuat Jaekyung semakin tertarik adalah: Harin juga memiliki beberapa kebiasaan lucu di balik sikap tenangnya. Suatu ketika, Jaekyung pernah masuk ke perpustakaan tanpa Harin ketahui. Jaekyung lalu melihat Harin—yang sedang duduk di perpustakaan itu—sibuk menoleh ke kanan dan ke kiri. Setelah memastikan tidak ada siapa pun yang melihatnya, Harin pun mengeluarkan sebuah snack potato chips dari dalam tasnya dan memakan snack itu sambil mengerjakan tugasnya.

Di perpustakaan sekolah itu dilarang membawa makanan. Jaekyung yang tak pernah menginjak perpustakaan itu—kalau bukan karena menguntit Harin—pun tahu soal itu. Di balik sikap composed-nya, Harin terkadang bisa melakukan sesuatu yang lucu.

Selain memperhatikan Harin di perpustakaan, Jaekyung juga jadi sering tiba-tiba nimbrung saat Harin dan teman-temannya makan di kantin. Pemuda itu akan datang secara tiba-tiba—membawa makanannya—lalu duduk di sebelah Harin dan tersenyum kepada Harin. Sesekali ia akan ikut mengobrol bersama Harin dan teman-temannya, membuat teman-teman Harin jadi kikuk dan malu-malu. Soalnya, mendadak mereka jadi sering mengobrol dengan si tampan yang sangat populer di kota mereka. Kwon Jaekyung adalah seorang pembalap yang terkenal di seluruh komunitas balap motor liar; dia sangat populer di banyak tempat, terutama di kalangan pemuda pemudi. Selain terkenal karena jago balapan motor, dia juga terkenal karena dia merupakan ahli waris konglomerasi bisnis yang tidak asing lagi di negara itu, yakni JA International.

Seperti saat ini. Jaekyung tiba-tiba menghampiri meja di mana Harin dan teman-temannya sedang makan. Mengenali wangi parfum Jaekyung—yang khas itu—Harin pun langsung menoleh dan mendapati Jaekyung yang sudah bergerak untuk duduk di sebelahnya.

Setelah duduk dengan benar di samping Harin, Jaekyung pun menatap Harin seraya tersenyum simpul. Pemuda itu memiringkan kepalanya dan berkata, “Aku duduk di sini, ya.”

Meski hal ini sudah sering terjadi, tetap saja teman-teman Harin tercengang saat memperhatikan Jaekyung. Ini benar-benar seperti keajaiban.

“Masih banyak kursi yang kosong selain di sini, Jaekyung,” jawab Harin seraya mengerutkan dahinya.

Jaekyung tersenyum miring, lalu mulai memakan makanan yang ia bawa. “Di sini saja tidak apa-apa.”

Menghela napas, Harin pun tiba-tiba memperhatikan wajah Jaekyung. Ada sebuah luka lebam di area tulang pipi pemuda itu. Harin sedikit melebarkan matanya. “Kau berkelahi lagi, ya?”

Jaekyung menoleh sejenak kepada Harin, lalu lanjut makan. “Hm.”

“Bukankah waktu itu aku sudah memperingatimu?” ujar Harin. Gadis itu menyatukan alisnya. “Kau mau tulang pipimu retak?”

“Tidak.”

“Jadi, mengapa kau masih berkelahi?”

“Aku tak sengaja terkena pukulannya, Cantik.”

Mata Harin membulat. Karena pipinya mulai terasa agak memanas, Harin pun memalingkan wajahnya dan langsung pura-pura mengaduk supnya. “Dasar tukang berkelahi.”

Menoleh kepada Harin, Jaekyung tertawa kecil. Harin lucu sekali kalau sedang mengomel seperti itu. Orang yang biasanya terlihat sangat tenang, sekarang sedang mengomeli Jaekyung. Ini terasa begitu…menyenangkan.

Di sisi lain, teman-teman Harin jadi menganga melihat adegan itu. Ini…mereka pasti pacaran, nih! Masa iya obrolan mereka semanis ini?

“Rin?” panggil Jaekyung. Matanya menatap Harin dengan sangat lembut. Teduh.

“Hm?” sahut Harin, gadis itu baru saja memakan wortel yang ada di supnya. Ia lalu menoleh kepada Jaekyung.

Jaekyung tersenyum.

 

“Mau tidak sama aku?”

 

Kontan saja teman-teman Harin jadi membulatkan mata. Mereka semua terperanjat. Ada yang menutup mulutnya dengan kedua tangan, ada juga yang sibuk menepuk-nepuk pundak teman yang duduk di sebelahnya seraya menganga.

Seriusan, nih, Harin ditembak di depan mereka??!

Namun, kontras dengan apa yang mereka harapkan, ternyata Harin langsung mengalihkan wajahnya dan memasang ekspresi datar. “Tidak mau.”

Waduh. Kwon Jaekyung, si bad boy populer itu, ditolak mentah-mentah!

Mendengar jawaban dari Harin, Jaekyung sedikit mengangkat kedua alisnya. “Kenapa?”

Dengan blak-blakan, Harin menghela napasnya dan menjawab, “You’re not worth it. Kau terlihat seperti pengkhianat. Aku sering melihatmu menggoda banyak perempuan.”

Jaekyung terdiam.

Well, Jaekyung memang sering iseng menggoda balik perempuan yang menggodanya. Akan tetapi, entah mengapa…tiba-tiba ada sebuah percikan rasa senang yang muncul di hati Jaekyung. Soalnya, dari kalimat Harin itu…

…Jaekyung bisa menyimpulkan bahwa Harin juga memperhatikannya.

Ternyata, bukan hanya Jaekyung yang ‘lebih’ menyadari keberadaan Harin. Harin pun demikian.

Jaekyung tersenyum miring.

“Benarkah? Seingatku, aku hanya iseng,” jawab Jaekyung.

“Sama saja,” balas Harin. “Tidak ada kata iseng. Itu adalah kebiasaan seorang pembohong dan pengkhianat.”

Jaekyung mendengkus. “Iya, deh, iya. Aku pengkhianat. Nanti boleh kuantar pulang?”

 

******

 

Sore itu, Harin benar-benar pulang bersama Jaekyung. Sebetulnya, hari itu adalah pertama kalinya Jaekyung mengantar Harin pulang, soalnya selama ini Harin selalu menolak ajakan Jaekyung. Namun, kali ini agaknya Harin mengalah.

Tadi, sebelum motor itu berjalan, Jaekyung langsung menarik kedua tangan Harin hingga Harin benar-benar jadi memeluknya dari belakang. Jaekyung hanya berkata, ‘Jangan memegang jaketku saja. Nanti jatuh.’

Mata Harin melebar, tetapi akhirnya dia mengangguk. Dia ingat bahwa Jaekyung itu seorang pembalap. Bisa jadi Jaekyung memang berkendara dengan sangat cepat, jadi Harin akan membuang nyawanya sendiri apabila tidak benar-benar memeluk Jaekyung.

Namun, kenyataannya tidak begitu. Saat membawa Harin, Jaekyung berkendara dengan sangat…pelan. Sangat santai. Seolah dia sedang membawa benda yang mudah pecah.

Atau mungkin, dia hanya tak ingin cepat-cepat sampai.

Tatkala sampai di sebuah jalan besar, Jaekyung dan Harin menyadari bahwa di sana sedang macet. Oleh karena itu, Jaekyung pun berbelok ke arah lain. Ke sebuah jalan kecil.

Namun, saat mereka masuk ke jalan itu, tiba-tiba ada sekumpulan motor dari belakang yang menyusul mereka. Dengan cepat, motor-motor itu telah ada di samping kanan dan kiri mereka. Kumpulan motor itu kini mendahului motor Jaekyung dan berhenti di depan sana, bergerombol untuk mencegat Jaekyung.

Jaekyung menghentikan motornya.

Orang-orang itu langsung beramai-ramai turun dari motor mereka. Mereka semua memakai pakaian yang berwarna gelap; beberapa dari mereka membawa kayu pemukul.

Salah satu dari mereka mulai berteriak, “Turun kau, keparat!”

Mata Harin membeliak. Harin langsung menatap Jaekyung, tetapi wajah Jaekyung tidak begitu terlihat karena sedang memakai helm. Harin hanya bisa melihat mata Jaekyung yang menyipit tajam di balik kaca helm itu.

“Turun sekarang, Jaekyung!”

“Iya, turun kau sekarang!!”

Teriakan orang-orang itu mulai bersahut-sahutan. Astaga, ada apa ini?! Apakah—apakah hal inilah yang selalu Jaekyung hadapi?

Harin panik. Gadis itu tanpa sadar semakin memeluk Jaekyung dengan erat.

Namun, tiba-tiba, di antara seluruh teriakan itu, Harin mendengar Jaekyung berbicara.

 

“Rin,” panggilnya. “Maaf. Bisakah kau turun sebentar? Aku tidak akan lama.”

Apa?

“Jaekyung—” Harin menggeleng. “Tidak usah. Nanti kau terluka. Jumlah mereka banyak.”

Jaekyung membelai jemari Harin yang sedang memeluknya. “Kau pikir mereka akan melepaskanku begitu saja? Mereka jelas-jelas mencegat kita.”

Harin terdiam. Gadis itu menunduk, dahinya berkerut. Ia panik dan bingung. Jaekyung bisa terluka parah!

“Turun sebentar, ya?” bujuk Jaekyung. “Aku akan baik-baik saja.”

Merasa tidak mampu menolak Jaekyung—karena tidak tahu harus bagaimana—Harin pun akhirnya mengangguk dengan gundah. Dahinya terus berkerut, matanya tampak nelangsa sekaligus khawatir. Ia turun dari motor Jaekyung dengan terpaksa.

Setelah memberikan helmnya kepada Jaekyung, Jaekyung pun membuka helmnya sendiri, lalu turun dari motor itu. Jaekyung meletakkan helm mereka berdua di atas motor.

Jaekyung mendekati Harin sebentar, lalu memberikan tasnya kepada Harin. “Pegang tasku sebentar, ya, Cantik.”

Harin mengangguk pasrah. Gadis itu meraih tas Jaekyung, lalu meletakkan tas itu di pelukannya.

Jaekyung pun melangkah maju, mendekati gerombolan yang terus berteriak padanya sejak tadi. Dengan ekspresi dingin serta tatapan yang sangat tajam, Jaekyung terus berjalan ke arah mereka.

Setelah sampai tepat di depan kawanan pengacau itu, Jaekyung pun berhenti melangkah. Dengan penuh intimidasi, penuh tekanan yang tinggi, Jaekyung pun mulai bersuara.

 

“Jadi,” bukanya. “siapa kalian?”

 

Salah satu dari mereka, yang tadi berteriak pertama kali, lantas maju ke depan. Pemuda itu langsung mendorong bahu Jaekyung, tetapi hampir tidak membuat pengaruh apa-apa terhadap Jaekyung.

“Jangan berpura-pura, keparat.” Pemuda itu menatap Jaekyung dengan mata nyalang. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Jaekyung; ekspresi wajahnya terlihat berang dan penuh dengan dendam. Rahangnya mengeras. Urat-urat di lehernya terlihat dengan jelas tatkala ia menggertakkan giginya. “Kau—APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN PADA KEKASIHKU DI PERTANDINGAN SEMINGGU YANG LALU, SIALAN? AKU TAK PERNAH MENGGANGGUMU!”

Mata Jaekyung menyipit. “Kekasihmu? Siapa?”

Satu pukulan langsung mendarat di wajah Jaekyung. Pemuda itu meninju wajah Jaekyung dengan sangat keras, membuat kepala Jaekyung langsung berpaling ke samping. Jaekyung terlihat melihat ke bawah, ke aspal, sementara darah mulai mengalir dari sudut bibirnya.

“BAJINGAN! KAU TELAH MEREBUT KEKASIHKU!” teriak pemuda itu.

 

Ah. Masalah seperti ini lagi.

 

Jaekyung menyeka darah yang ada di sudut bibirnya. Ia lalu menoleh kepada pemuda itu dan menatap pemuda itu dengan sinis. “Jadi, intinya, kekasihmu meninggalkanmu karena melihatku menang di pertandingan itu?”

Mata pemuda itu kontan memelotot. Ia langsung hilang akal. Dengan membabi buta, ia spontan meninju wajah Jaekyung berkali-kali.  “SIALAN! SIALAN! SIALAN KAU, KEPARAT! SIALAN!!!! MATI KAU!!!”

Namun, setelah sukses menghajar Jaekyung berkali-kali tanpa ada perlawanan, tiba-tiba sebelah tangan pemuda itu dicengkeram oleh Jaekyung. Jaekyung langsung menarik tangan pemuda itu ke atas; pada dasarnya, Jaekyung mengangkat tubuh pemuda itu dengan sebelah tangannya. Tangan pemuda itu diangkat ke atas hingga kakinya tidak menapak tanah!

Pemuda itu sontak membulatkan mata. Namun, sebelum pemuda itu sempat bereaksi apa-apa, Jaekyung langsung membanting tubuh pemuda itu ke aspal. Melemparnya cukup jauh dari hadapannya.

Kontan saja semua orang di sana jadi geram. Mereka semua langsung berteriak dan berlari ke arah Jaekyung. Mereka ingin menyerang Jaekyung dengan membabi buta; mereka ingin mengeroyok Jaekyung habis-habisan.

Namun, terjadi sebuah hal yang tak terduga.

Tiba-tiba saja, Jaekyung melihat Harin berdiri di depannya. Gadis itu melindungi Jaekyung yang ada di belakangnya, lalu menghadang seluruh pemuda yang ingin menyerang Jaekyung.

“BERHENTI!!!” teriak Harin kencang, mengalahkan seluruh teriakan para pemuda itu.

Para pemuda itu mendadak berhenti mendekati Jaekyung tatkala melihat bahwa gadis itu tidak hanya sedang berdiri di sana. Gadis itu berdiri melindungi Jaekyung sambil mengulurkan sebelah tangannya ke depan. Gadis itu tengah menunjukkan layar ponselnya kepada mereka semua.

“AKU SUDAH MENELEPON POLISI!!!” teriak Harin. “HENTIKAN SEMUA INI!! PAMANKU ADALAH SEORANG POLISI DAN DIA SEDANG MENUJU KE SINI!!!”

Para pemuda itu bisa melihat bahwa ternyata di layar ponsel itu ada sosok seorang pria. Layar itu sedang menampilkan video call!!! Selain itu, di dalam video call tersebut…pria itu tampak memakai seragam polisi dan sedang duduk di dalam mobil. Ada suara sirene mobil polisi yang terdengar sangat kencang dari video call itu!!

“Ah, aku tahu jalan itu. Aku akan segera ke sana, Harin. Untuk kalian semua, bocah-bocah keparat, tunggu di sana!!!!” teriak pamannya Harin dari seberang sana.

“CEPAT, PAMAN, NANTI MEREKA KABUR! TANGKAP SAJA MEREKA-MEREKA INI!!” teriak Harin.

“Okeeee, siap!” jawab pamannya Harin, lalu panggilan video itu pun dimatikan.

Kontan saja semua pemuda yang ada di sana berlari terbirit-birit. Pemuda yang tadi dibanting ke aspal oleh Jaekyung pun langsung berdiri dan berlari terseok-seok ke motornya. Mereka semua langsung panik dan terpontang-panting. Pemuda yang ‘kekasihnya-direbut-oleh-Jaekyung’ itu sempat berteriak, “KITA AKAN MENYELESAIKAN INI, JAEKYUNG!!”, lalu ia dan teman-temannya langsung mengegas motor mereka dan kabur dari sana dengan kecepatan tinggi.

Setelah motor mereka sudah jauh di depan sana—bahkan suaranya pun sudah terdengar sangat jauh—Harin pun akhirnya menghela napas lega. Bahunya sampai jatuh; kerutan di dahinya langsung hilang. Ia mulai menghirup oksigen di sana sebanyak mungkin. Rasa sesak di dadanya perlahan-lahan hilang.

Namun, tiba-tiba saja…Harin mendengar sebuah tawa kecil.

Harin kontan berbalik. Ia pun menemukan Jaekyung…yang sedang tertawa kecil. Jaekyung tertawa pelan, tetapi kelihatannya pemuda itu benar-benar terhibur. Seakan-akan kejadian barusan terasa begitu menggelikan baginya.

Harin langsung menyatukan alis. “Kok malah tertawa, sih?!”

Mendengar Harin bertanya seperti itu, Jaekyung justru tertawa semakin keras. Ia tertawa di hadapan Harin.

Setelah puas tertawa, Jaekyung pun menatap Harin dengan mata yang menyiratkan jenaka. “Wah, sepertinya aku harus berhati-hati, nih. Gadis yang kusuka ternyata merupakan keponakan seorang polisi.”

Harin memasang ekspresi datar. “Ha? Kau bicara apa coba?”

Jaekyung kembali tertawa.

Harin berdecak. Gadis itu pun langsung mendekati Jaekyung dan memeriksa wajah Jaekyung. Matanya membeliak tatkala melihat wajah Jaekyung yang penuh akan luka karena menerima banyak pukulan. “Kok pukulannya tak kau hentikan, sih? Astaga, wajahmu jadi memar-memar semua!”

Harin mendengkus. Ia mulai mengusap darah yang mengalir di sudut bibir Jaekyung. Ia juga menyentuh memar-memar yang ada di wajah Jaekyung dengan pelan.

“Jaekyung, beritahu aku alamatmu,” ujar Harin lirih. “Kau naik taksi saja, ya? Nanti Pamanku akan membantu membawakan motormu.”

Saat tatapan mata Harin sampai ke kedua mata Jaekyung, Harin kontan terdiam. Mata Harin melebar.

Ternyata…sejak tadi Jaekyung terus memperhatikannya. Menatapnya dengan begitu lekat. Begitu intens. Begitu dalam.

Pemuda itu tersenyum lembut.

Setelah bertatapan selama tiga detik, tiba-tiba saja…

 

Jaekyung mencium Harin.

Tepat di bibirnya.

 

Ciuman itu awalnya sangat lembut. Mesra…dan penuh kasih. Jaekyung seakan ingin mencicip dan meneliti bibir Harin. Hal ini membuat Harin—yang tadinya terkejut bukan main—perlahan-lahan mulai menerima ciuman Jaekyung dan memejamkan matanya.

Namun, sepuluh detik kemudian, ciuman itu jadi semakin dalam. Jaekyung mulai melumat bibir Harin, menggigit bibir Harin, lalu memasukkan lidahnya ke dalam mulut Harin. Melilit lidah Harin dengan lidahnya. Sebelah tangannya menarik tubuh Harin ke dalam pelukannya, sementara sebelah tangannya lagi memegang kepala Harin agar gadis itu terus mendongak dan menerima ciumannya.

Saat ciuman itu terasa semakin menuntut, Harin kontan mengerutkan dahi. Tangannya mulai mencengkeram seragam Jaekyung di bagian dada. Ia belum pernah berciuman sebelumnya, jadi ciuman seintens ini tentu membuatnya kaget dan terengah-engah. Bibirnya terus menerus dilumat oleh Jaekyung, bahkan Jaekyung sempat mengisap lidahnya. Mereka bertukar saliva.

Satu menit kemudian, Jaekyung pun melepaskan ciuman itu. Wajah mereka sangat dekat. Bibir mereka masih nyaris menempel; Harin dapat merasakan hangatnya napas Jaekyung di kulit wajahnya.

Pipi Harin memerah. Matanya sayu. Ia jadi lemah akibat ciuman panas itu. Itu adalah ciuman pertamanya, tetapi ciuman itu terasa sangat…liar.

Jaekyung terus memperhatikan seluruh reaksi Harin. Merekam pemandangan itu dan menyimpannya di dalam otaknya. Ia menatap Harin dengan penuh…hasrat. Penuh keinginan. Penuh…

…cinta.

 

Aah, Jaekyung sangat menginginkan gadis ini.

 

Jaekyung lantas tersenyum miring. Pemuda itu membelai bibir Harin yang lecet karena ciumannya, lalu berbisik.

 

“Pacaran, yuk.” []

 














******



Abaikan tatonya. Masih SMA soalnya wkwkwk










Immure (Chapter 5: Numb, Empty)

  ****** Chapter 5 : Numb, Empty   ******   SAAT matahari terbenam, Yohan pun mengantarkan Hea pulang. Pemuda itu sempat ragu-ra...