Chapter
3 :
Elysian
******
5
TAHUN YANG LALU
“LANGSUNG
ke
UKS saja, ya, Harin. Ruangannya tidak Ibu kunci,” ujar Bu Mari saat Harin
bertemu dengannya di koridor beberapa saat yang lalu. Berhubung kepala Harin
sakit saat itu, mungkin karena bergadang semalam, Harin berencana untuk meminta
obat dan beristirahat di UKS. Namun, tahu-tahu ia berpapasan dengan Bu Mari, guru
yang biasa menjaga UKS, di koridor. Tentu saja, Harin langsung menegurnya dan
berkata bahwa ia ingin pergi ke UKS.
“Memangnya
tidak apa-apa, Bu, kalau saya langsung ke sana?” tanya Harin, dahi gadis itu
agak berkerut. Ia agak segan sebab di UKS biasanya agak sepi.
“Tidak
apa-apa, Harin, pergilah ke sana. Langsung ambil saja obatnya dan beristirahatlah.
Kau tahu yang mana obatnya, ‘kan?” tanya Bu Mari seraya tersenyum.
Ah,
ya. Seminggu yang lalu, Harin pergi ke UKS dengan masalah yang sama.
Akhir-akhir ini, dia sering bergadang karena para guru di kelasnya agaknya sedang
kompak mengadakan ulangan harian. Meski Harin anak yang pintar, dia tidak
belajar setiap hari. Namun, kalau sudah ujian…dia bisa belajar hingga lupa
waktu. Ia tak bisa belajar setiap hari karena kegiatannya di sekolah sudah
cukup melelahkan. Ia adalah Ketua OSIS di sekolahnya, ia juga merupakan seorang
Ketua Kelas. Oleh karena itu, dia tidak bisa belajar setiap hari.
Namun,
guess what? Dia tetap menjadi siswi top di sekolah itu. Dia sering ikut Olimpiade
Matematika, dia juga selalu juara satu di kelasnya. Singkat kata, dia adalah
siswi yang sangat berprestasi di bidang akademik.
Harin
pun mengangguk. “Baik, Bu. Saya istirahat di sana, ya, Bu. Sudah diizinkan oleh
guru di kelas saya.”
Bu
Mari lalu tersenyum dan mengangguk. “Oke. Titip UKS, ya. Ibu mau ke Ruang
Kepala Sekolah dulu. Ibu dipanggil ke sana.”
“Baik,
Bu,” jawab Harin, lalu gadis itu menunduk dengan sopan. Bu Mari pun menepuk
pundak Harin sejenak, lalu pergi meninggalkan Harin. Ia mulai berjalan ke Ruang
Kepala Sekolah.
Harin
pun kembali berjalan. Lurus terus…hingga akhirnya ia sampai di depan Ruang UKS.
Ia lantas membuka pintu Ruang UKS itu, lalu masuk ke sana setelah menutup
pintunya kembali.
Ruang
UKS itu…ternyata memang sedang sepi.
Tidak
ada
seorang pun di sana.
Harin
bernapas lega. Syukurlah. Ia lebih senang jika tempat istirahatnya hening. Ia tak
harus khawatir ini itu; ia tak harus takut membangunkan seseorang ataupun takut
orang lain akan mengganggu waktu istirahatnya. Dia benar-benar harus minum obat
sakit kepala dan tidur.
Harin
mulai membuka lemari obat-obatan di UKS itu dan mencari obat sakit kepala yang
waktu itu pernah Bu Mari berikan padanya. Lemari yang menyimpan obat sakit
kepala itu tergantung cukup tinggi di dinding, jadi Harin mesti mendongak dan
berjinjit untuk mencari obatnya.
Tiba-tiba
saja, pintu Ruang UKS itu terbuka. Terbukanya tidak santai; Harin yakin barusan
pintu itu dibuka dan didorong dengan cepat hingga menimbulkan bunyi yang keras.
Harin kontan menoleh ke pintu itu.
Di
sana, Harin melihat seorang pemuda. Wajah pemuda itu tampak lebam di daerah
bibir dan tulang pipinya. Ada darah di sudut bibir pemuda itu.
Pemuda
itu berdiri di ambang pintu seraya memperhatikan Harin dengan bola matanya yang
kelam.
Ah.
Bukankah
itu…
…Kwon
Jaekyung?
Selaku
Ketua OSIS, Harin kenal pemuda itu. Dia adalah anak dari pemilik sekolah swasta
ini. Dia itu berandal, tetapi karena parasnya yang tampan, dia sangat populer
di sekolah. Dia juga tak pernah mendapat masalah apa pun; dia tak pernah
dihukum walau dia berandal. Bagaimana mungkin orang-orang berani menghukumnya
saat dia adalah anak dari pemilik sekolah ini?
Harin—yang
merupakan Ketua OSIS—pun sebenarnya tahu bahwa Kwon Jaekyung seharusnya menjadi
anak yang bermasalah di sekolah, tetapi karena Harin orangnya tidak berapi-api,
Harin pun membiarkannya. Sama seperti Kepala Sekolah dan para guru, OSIS pun
tak ingin berurusan dengan Kwon Jaekyung. Lebih kepada…yah…dibiarkan
saja. Kwon Jaekyung akan tetap mendapatkan masa depan yang cerah meskipun dia
berandal di masa SMA-nya.
Kwon
Jaekyung tidak pernah mem-bully orang lain. Pemuda itu juga tidak pernah
menyalahgunakan kekuasaan ayahnya terhadap sekolah itu. Kata ‘berandal’ yang
dimaksudkan untuk Kwon Jaekyung itu lebih kepada…dia sering bertengkar.
Dia akan menghabisi setiap orang yang mengganggunya. Dia juga hobi balap motor
liar. Jadi, sebetulnya tak ada alasan bagi warga sekolah ini untuk benar-benar membencinya.
Harin
bukan orang yang berkoar-koar mau menuntut keadilan atau apa pun itu; dia juga
tak ada dendam pada Kwon Jaekyung, jadi dia diam saja. Bisa dibilang, dia tak
begitu memedulikan keberadaan Kwon Jaekyung, apalagi Kwon Jaekyung juga tak
sekelas dengannya.
Well,
meskipun
Harin menjabat sebagai Ketua OSIS, dia memilih untuk menjalaninya dengan normal
saja. Dia enggan mencari masalah yang tidak perlu. Dia hanya ingin lulus dari
sana dengan prestasi terbaik, lalu kuliah di jurusan yang dia inginkan. Simpel.
Saat
menyadari bahwa ternyata waktu istirahatnya takkan setenang yang ia duga, Harin
pun menghela napas pelan dan memalingkan wajahnya. Kembali mencari obat sakit
kepala di lemari itu.
Harin
mendengar Jaekyung melangkah masuk.
“Bu
Mari
ke mana?”
Ah.
Agaknya, ini adalah pertama kalinya Harin mendengar suara Kwon Jaekyung.
Tanpa
menoleh, Harin pun menjawab, “Beliau sedang pergi ke Ruang Kepala Sekolah.”
Tidak
ada jawaban dari Jaekyung. Bertepatan dengan itu, Harin akhirnya menemukan obat
yang dia cari. Gadis itu langsung mengambil satu tablet dan menutup pintu
lemari gantung itu kembali.
Sebetulnya,
ini adalah pertama kalinya Harin berada sedekat ini dengan Kwon Jaekyung. Mereka
selama ini seperti orang asing, padahal masih satu angkatan. Akan tetapi, kembali
lagi ke kenyataan bahwa: Harin bukan orang yang terlalu memedulikan hal
itu. Dia adalah gadis yang tenang. Composed.
Oleh
karena itu, meskipun dari sudut matanya Harin bisa melihat Jaekyung yang sudah
menggeret salah satu kursi di ruangan itu dan duduk di sana, Harin hanya diam
dan langsung berjalan ke arah dispenser. Gadis itu langsung menadah air minum
dari sana, lalu meminum obat yang telah ia ambil.
“Kau
Seo Harin, ‘kan?” ucap Jaekyung tiba-tiba. “Ketua OSIS.”
Harin
menghabiskan air di dalam gelas itu sambil membatin.
Ternyata
dia tahu.
Setelah
meletakkan gelasnya di wastafel yang ada samping dispenser, Harin pun menjawab Jaekyung,
“Masih, untuk saat ini.” Soalnya, sekarang aku sudah kelas tiga.
“Kau
sakit?”
Harin
mengernyitkan dahinya, lalu menoleh kepada Jaekyung. Mengapa Jaekyung bertanya
seperti itu padanya?
“Bukankah
semua orang datang ke UKS karena sedang sakit?” tanya Harin seraya menaikkan
sebelah alisnya.
“Akhirnya,
kau melihat ke arahku,” jawab Jaekyung seraya tersenyum miring. Pemuda
itu duduk seraya menyilangkan tangannya di depan dada.
Dia
ini sedang bicara apa, sih? Tadi aku sudah melihatnya saat dia berdiri di
ambang pintu.
Harin
menghela napas. Dia ingin menyudahi percakapan ini karena sejak tadi tujuannya
ke sini adalah ingin meminum obat dan beristirahat. “Bu Mari mungkin
sebentar lagi akan kembali. Kalau kau ingin cepat, semua obatnya ada di dalam
lemari. Aku tidur dulu.”
“Apa
kau bisa menahan sakit kepalamu setidaknya selama lima menit?” tanya Jaekyung
tiba-tiba, membuat Harin—yang baru saja mau berjalan ke salah satu ranjang UKS
itu—kontan menoleh kepadanya lagi.
“Mengapa
kau tahu bahwa aku sedang sakit kepala?” tanya Harin. Alisnya menyatu.
Jaekyung
memiringkan kepalanya. “Kau tadi membawa obat sakit kepala, Nona Ketua
OSIS.”
Oh.
Pemuda
itu melihat semuanya.
Akhirnya,
Harin pun menghadap sepenuhnya ke arah Jaekyung. Gadis itu menghela napas. “Alright.
Ada apa dengan lima menit?”
“Aku
ingin meminta tolong padamu,” jawab Jaekyung.
Harin
kembali mengernyitkan dahinya. “Tolong apa?”
“Tolong obati aku. Bisa?” tanya Jaekyung
seraya tersenyum.
Sebentar.
Apa?
Harin
mendengkus. “Tidak bisa.”
“Aku
tak mengerti bagaimana cara mengobatinya,” ujar Jaekyung. Dia menatap Harin
dengan lekat. “Aku ingin masuk ke kelas setelah ini. Setidaknya luka di wajahku
harus dibersihkan.”
“Tidakkah
kau pernah datang ke sini sebelumnya? Kalau sudah pernah, seharusnya kau sudah
tahu obatnya yang mana saja dan bagaimana cara Bu Mari mengobatimu,” jawab
Harin seraya mengangkat alisnya.
Jaekyung
menggeleng pelan. “Tidak pernah. Luka di wajahku tidak pernah separah ini, jadi
aku belum pernah datang ke sini sebelumnya.”
Harin
hanya diam. Sesungguhnya, dia tak mau membantu Jaekyung. Bukan apa, Jaekyung
adalah orang asing baginya. Mengobati wajah orang asing…rasanya akan sangat
aneh. Suasananya akan canggung setengah mati.
Karena
Harin hanya diam, Jaekyung pun kembali bertanya dengan mata yang sedikit melebar
polos. “Bisa tolong aku?”
Harin
langsung membuang wajahnya. “Tidak bisa. Aku mau istirahat.”
“Ya
sudah. Kalau begitu, aku tak bisa kembali ke kelas. Aku akan tidur di sini
saja. Boleh aku tidur di sampingmu?” tanya Jaekyung.
Kedua
mata Harin kontan membeliak. Gadis itu lantas kembali menoleh kepada Jaekyung. “Apa?”
“Boleh
aku tidur di sampingmu, Nona Ketua OSIS?” tanya Jaekyung sekali lagi
seraya memiringkan kepalanya. “Aku tak bisa kembali ke kelas dengan wajah yang
seperti ini.”
“Mengapa
harus di sampingku? Ada banyak ranjang lain di UKS ini!” Harin tiba-tiba
meninggikan suaranya. Dia yang biasanya tenang, kini jadi kebingungan sendiri
tatkala menghadapi Kwon Jaekyung. Ternyata, Kwon Jaekyung orangnya cukup
menyebalkan.
“Supaya
kau merasa bersalah saat melihat wajahku,” jawab Jaekyung enteng. Pemuda itu
mengedikkan bahunya.
Harin
mengurut keningnya. Pusing sendiri. “Kau ini sebenarnya mau apa, sih…”
Jaekyung
tersenyum miring. “Aku mau Nona Ketua OSIS mengobatiku. Boleh?”
Akhirnya,
Harin berhenti memijit keningnya. Gadis itu berkacak pinggang—menatap Jaekyung
dengan mata yang menyipit tajam—lalu menghela napasnya.
“Baiklah.
Lima menit saja.”
Mendengar
jawaban Harin, Jaekyung pun tersenyum.
“Terima
kasih, Nona Ketua OSIS.”
Harin
mulai melangkah ke area depan lagi dan membuka lemari obat-obatan. Kali ini,
Harin membuka lemari yang berdiri dan bersandar pada dinding, bukan lemari yang
tergantung. Lemari itu berwarna putih dan sedikit lebih tinggi daripada tubuh
Harin.
Saat
telah mengambil obat untuk luka serta kasa, Harin pun menutup lemari itu dan
mulai menghampiri Jaekyung yang ternyata sejak tadi tengah memandanginya.
Setelah
sampai di hadapan Jaekyung, tanpa ba bi bu lagi, Harin langsung berlutut di
depan Jaekyung. Kedua lututnya bertumpu di lantai.
Untungnya,
kedua kaki Jaekyung sedikit terbuka, jadi Harin bisa lebih mendekat ke tubuh
pemuda itu. Karena Jaekyung memiliki tubuh yang tinggi, sulit untuk mencapai
wajah Jaekyung jika Harin duduknya agak jauh dari pemuda itu.
Posisi
mereka saat ini sangat dekat.
Dekat,
sampai-sampai Harin bisa mendengar napas mereka berdua. Ruang UKS itu
sepi dan kecanggungan yang Harin rasakan pun jadi memperkeruh suasana.
Apalagi,
Jaekyung juga menunduk…dan menatap wajah Harin dengan lekat. Dia sedang menunggu
untuk diobati.
Saat
berada dekat dengan Jaekyung seperti ini, Harin…bisa melihat wajah Jaekyung
dengan jelas.
Pemuda
itu memang tampan.
Luka-luka
itu tak mampu menutupi eloknya parasnya. Dia memiliki hidung yang mancung,
kedua mata yang tajam seperti elang, dan rahang yang tegas. Bola matanya
berwarna coklat tua, warna yang tampak gelap dan memikat. Warna gelap
itu seakan mampu menarikmu masuk ke sana…lalu tenggelam dan tak mampu
kembali lagi.
Akibat
kontur wajahnya yang tajam, ia terlihat maskulin, percaya diri, dan berkarisma.
Ia tampak penuh dengan vitalitas.
Bahunya
juga lebar. Tubuhnya bagus; dia tinggi, berotot, dan terlihat sangat kuat.
Dadanya bidang. Dia memiliki daya tarik yang sangat tinggi.
Melihat
sosoknya yang seperti ini, Harin jadi semakin paham mengapa semua wanita
memujanya.
Tidak,
Harin tidak bodoh. Harin tahu bahwa Kwon Jaekyung itu tampan. Gadis itu pernah
melihat Jaekyung beberapa kali dari jauh, tetapi karena ia orangnya agak cuek,
ia pun tak memperhatikan rupa Jaekyung sampai detail.
Namun,
ketika dilihat dari dekat seperti ini…ternyata Kwon Jaekyung memang diberkati
oleh Tuhan. Tuhan benar-benar serius saat menciptakan Jaekyung.
“Ayo,
Nona,” ujar Jaekyung pelan. Ada sebuah jenaka yang tersirat di
kedua matanya. “Nanti lima menitnya habis…”
Harin
mengerjap. Gadis itu sedikit malu karena ketahuan memperhatikan wajah Jaekyung,
tetapi ia langsung kembali menguasai dirinya. Ia pun mulai bergerak
membersihkan luka di wajah Jaekyung.
Jaekyung
tersenyum miring.
“Apa
yang kau lakukan sampai bisa terluka seperti ini?” tanya Harin pelan.
Sungguh,
suasana saat itu sepi sekali. Hanya Harin, Jaekyung, napas mereka,
getaran yang tercipta di antara mereka, serta suara detak jantung Harin.
Pelan-pelan…Harin mengusap wajah Jaekyung, membersihkan wajah tampan
pemuda itu dengan hati-hati. Sebenarnya, tangan Harin sedikit bergetar,
ada keraguan di setiap gerakannya sebab ia sedang menyentuh wajah
seorang pemuda yang asing baginya.
Jaekyung
bernapas samar. “Aku berkelahi dengan beberapa siswa dari sekolah lain.”
Saat
Harin ingin membersihkan luka di sudut bibir Jaekyung, tangan Harin
sempat terhenti di udara. Ia memperhatikan luka itu dengan dahi yang berkerut.
Tiba-tiba ia jadi bingung dan gugup setengah mati. Ia takut ia tak sengaja
menyentuh sesuatu yang salah.
Namun,
tiba-tiba Jaekyung menarik pergelangan tangannya. Menyuruhnya untuk tetap
melanjutkan kegiatan itu. “Aku tidak akan menggigit jemarimu.”
Pipi
Harin sontak merona. “Aku bukan takut digigit!”
Jaekyung
tersenyum miring. “Jadi, takutnya sama apa, dong?”
Harin
berdecak. Dia tak ingin merespons Jaekyung, jadi dia langsung kembali pada
aktivitasnya. Dia berusaha untuk tak gelisah walau sedang membersihkan sudut
bibir Jaekyung.
“Kalau
kau terus-menerus berkelahi, suatu hari nanti kau akan kehilangan gigimu atau
mungkin…tulang wajahmu akan retak,” ujar Harin. “Jangan terlalu sering
berkelahi.”
“Hm…
Baru kali ini Ketua OSIS perhatian padaku,” jawab Jaekyung seraya tersenyum. Pemuda
itu tampak terhibur.
Harin
yang mendengar itu kontan terhenti dari aktivitasnya dan langsung menoleh
kepada Jaekyung seraya menyatukan alis. “Aku serius.”
Jaekyung
tertawa kecil.
“Iya,
Harin.”
Mata
Harin melebar.
Kwon
Jaekyung…memanggil Harin dengan nama panggilannya.
Mereka
saling menatap.
Karena
tak ingin terus-menerus berada di dalam ketegangan itu, Harin pun
mengerjap. Dia mencoba untuk menguasai dirinya kembali, lalu mulai mengobati
luka-luka di wajah Jaekyung.
Tatkala
sedang menutup luka Jaekyung dengan kasa, Harin pun bertanya, “Jadi, kau tadi
melewatkan kelas hanya untuk berkelahi dengan siswa dari sekolah lain?”
“Aku
pergi sebentar untuk mengikuti balapan,” jawab Jaekyung. Pemuda itu
tersenyum simpul. “Namun, ketika aku sudah sampai di sana, mereka langsung
menyerangku karena tak terima dengan kemenanganku di pertandingan sebelumnya.”
Mata
Harin melebar. Ia menatap Jaekyung, lalu berkata, “Jadi…apa yang terjadi
pada mereka sekarang?”
“Entah,”
jawab Jaekyung. “Mereka semua terkapar di sana dan aku pergi.”
Astaga.
Ada-ada
saja.
Harin
menggeleng pelan—merasa tak habis pikir—lalu gadis itu mulai menutup
luka Jaekyung yang terakhir. Setelah selesai, ia pun menghela napas lega dan
mulai menjauhkan wajahnya dari Jaekyung.
“Sudah
selesai,” ujar Harin. “Usahakan jangan berkelahi seperti itu lagi bila kau tak
ingin wajahmu rusak.”
“Sepertinya…belum
lima menit,” ujar Jaekyung, sebelah alisnya terangkat.
Harin
mengerutkan dahinya. “Memangnya kau pikir lima menit itu seberapa lama?”
Jaekyung
tertawa kecil.
Mereka
masih bertatapan selama beberapa detik. Harin belum bangkit dari
duduknya.
Tak
lama kemudian, Jaekyung mulai membuka suara.
“Harin,”
katanya.
“Ayo pulang bersamaku.”
Kedua
mata Harin membulat.
Pulang…bersama
Kwon Jaekyung?
Apa
pemuda itu…serius?
Harin
benar-benar kaget, terus terang saja. Mereka tidak dekat; mereka sekadar tahu
akan keberadaan satu sama lain. Mereka baru bercakap-cakap beberapa menit
yang lalu. Pulang bersama adalah sebuah perkembangan yang terlalu cepat
meskipun Harin tahu bahwa sepertinya Jaekyung melakukan itu sebagai
bentuk terima kasih.
Harin
menghela napasnya, lalu berdiri dan meninggalkan Jaekyung. Ia menuju ke lemari
obat-obatan. “Tidak perlu.”
Ketika
sedang menaruh kembali obat-obatan dan kasa itu, Harin mendengar Jaekyung
berkata, “Nanti aku antar pulang, ya?”
Harin
menghela napas (lagi), lalu menutup lemari itu dan berdiri menghadap ke arah Jaekyung.
“Tidak perlu, Jaekyung. Kembalilah ke kelasmu. Aku mau istirahat.”
******
Harin
kira Jaekyung akan menyerah.
Ternyata
tidak.
Oke,
mengingat bagaimana Jaekyung memaksa Harin untuk mengobatinya di UKS tadi saja
seharusnya sudah bisa menjadi acuan bahwa Jaekyung orangnya agak pemaksa.
Sepertinya, pemuda itu memiliki prinsip bahwa apa yang ia inginkan harus
ia dapatkan saat itu juga.
Jam
sekolah hari ini telah berakhir; bel pulang sekolah sudah berbunyi. Murid-murid
di kelas Harin mulai membereskan barang-barang mereka; guru yang mengajar
mereka tadi sudah keluar dari kelas.
Tadi
Harin sempat tidur di UKS kurang lebih selama dua jam. Saat Harin terbangun, Bu
Mari sudah ada di ruangan itu. Bu Mari tersenyum pada Harin dan memeriksa tubuh
gadis itu sejenak. Setelah memastikan bahwa dirinya telah sembuh, Harin pun
pamit kepada Bu Mari untuk kembali ke kelas.
Jadi,
saat semua murid di kelas itu sedang mengemas barang-barang mereka, tiba-tiba
Harin dikejutkan dengan suara teriakan tertahan para perempuan. Reaksi
itu agaknya bersahut-sahutan, baik dari dalam kelas Harin maupun dari luar.
Mereka seakan tengah melihat seseorang yang tak seharusnya berada di
sana.
Harin
melihat semua teman sekelasnya melihat ke satu arah, yakni ke pintu
masuk kelas.
Kontan
saja Harin melihat ke arah yang sama karena penasaran. Harin menoleh seraya
menyatukan alisnya.
Hal
yang Harin temukan adalah:
Di
sana ada Kwon Jaekyung.
Kwon
Jaekyung berdiri bersandar di ambang pintu, lengkap dengan tas yang pemuda itu
bawa di sebelah bahunya. Ia menatap tepat ke kedua mata Harin.
Memperhatikan Harin dari jauh dengan lekat. Ia seolah mengurung Harin
melalui tatapannya.
Jaekyung
menunggu Harin di pintu kelas!
Mata
Harin membelalak. Pikiran Harin langsung ke mana-mana. Sebentar, perasaan
tadi tawarannya sudah kutolak! Mengapa dia ada di sini?
Satu
kelas itu—kelas Harin—lama-lama jadi terdiam. Perlahan-lahan…teriakan-teriakan
tertahan itu juga berhenti. Mereka semua diam seolah menunggu apa yang
akan terjadi. Mereka betul-betul ingin tahu. Mengapa Kwon Jaekyung ada di depan
kelas mereka?
Kelas
itu sekarang jadi hening.
Beberapa
detik kemudian, Jaekyung mulai membuka suara.
“Rin,”
panggil
Jaekyung. “Ayo pulang.”
…tunggu.
Pemuda
itu…memanggil Harin dengan…apa?
‘Rin’…?
Belum
pernah ada orang yang memanggil Harin seperti itu. Gadis itu
kaget bukan main. Mulutnya sampai sedikit terbuka.
Di
sisi lain, Harin sadar bahwa teman-teman sekelasnya mulai melihat ke arahnya.
Semua orang menoleh kepadanya! Ada yang menyatukan alis, ada juga yang matanya
membulat.
Sedikit
informasi:
semua orang tahu bahwa Kwon Jaekyung itu tampan, tetapi dia berandal.
Semua orang juga tahu bahwa sekolah ini milik ayahnya.
Jadi,
bayangkan saja. Tiba-tiba, pemuda itu datang ke kelas mereka, bersandar di
ambang pintu seakan menunggu seseorang, lalu mengajak Seo Harin pulang
bersamanya.
Benar!
Pemuda
populer itu mendekati Seo Harin, anak emas di sekolah itu! Apalagi, Jaekyung
memanggil Harin dengan panggilan ‘Rin’ seolah-olah mereka sudah sangat
dekat. Sejak kapan mereka berdua dekat?
Ini
fenomenal.
Karena
tidak senang dengan perhatian semua orang yang langsung tertuju kepadanya,
Harin pun cepat-cepat membereskan barang-barangnya dan langsung memasang
tasnya. Setelah itu, Harin berlari ke pintu depan kelas, menghampiri Jaekyung
yang tengah menunggunya di sana.
Setelah
sampai di ambang pintu, Harin pun melewati Jaekyung dan langsung berjalan
mendahuluinya. Jaekyung ikut bergerak; pemuda itu mengikuti Harin dari
belakang.
Tidak
butuh waktu lama hingga pemuda itu akhirnya berjalan di sebelah Harin. Semua
orang yang juga sedang berjalan di koridor itu tentu saja memperhatikan mereka
berdua sambil menahan teriakan. Beberapa perempuan kontan melebarkan mata seraya
menutup mulut mereka dengan sebelah tangan. Tentu saja, semua orang kaget saat melihat
pemandangan itu.
Murid
top sekolah, Seo Harin, jalan berdua dengan Kwon Jaekyung?
Rasanya
seperti menyatukan air dan minyak.
Sambil
berjalan di sebelah Harin, Jaekyung mulai kembali berbicara, “Pulang bersamaku,
ya?”
Harin
menghela napas. Gadis itu menatap Jaekyung, lalu menggeleng. “Tidak usah, Jaekyung,
tidak apa-apa. Aku biasanya pulang naik bus sekolah.”
Meskipun
kaget setengah mati dengan apa yang Jaekyung lakukan padanya hari ini, Harin
tetap berusaha untuk tetap tenang. Dia menolak Jaekyung dengan halus.
Tatkala
sampai di depan sekolah, mereka berdua sama-sama melihat bahwa bus sekolah
sudah menunggu di sana. Harin biasanya naik bus itu untuk pergi dan pulang
sekolah.
Jaekyung
mendengkus.
Harin
lantas menoleh kepada Jaekyung. Sembari tersenyum tipis, Harin pun berkata,
“Aku duluan, ya, Jaekyung.”
Tanpa
membuang waktu, Harin langsung berlari mendekati bus itu dan naik ke sana.
Setelah ada di dalam bus, Harin berjalan ke belakang—mencari jok penumpang yang
kosong—dan ia sempat melihat ke luar melalui jendela bus itu.
Tampaklah
Jaekyung yang berada jauh di depan sana, tengah berdiri seraya menyilangkan
dada. Jaekyung memperhatikan Harin dengan lekat; mata Jaekyung sedikit menyipit.
Tatapan pemuda itu kembali memenjarakan Harin dari jauh.
Harin
meneguk ludahnya. Gadis itu mengerjap, lalu langsung mengalihkan pandangannya.
Ia kembali mencari jok yang kosong, lalu duduk di jok itu.
Kwon
Jaekyung benar-benar tak bisa diprediksi.
Namun,
satu hal yang Harin tak tahu adalah: dugaannya mengenai Jaekyung yang ‘agak’
pemaksa itu sebenarnya salah. Pemuda itu bukan hanya ‘agak’ pemaksa.
Dia
memang pemaksa.
Namun,
sepertinya…baru Harin seoranglah yang berkali-kali sukses menghindari
paksaannya.
Maka
dari itu, dia mendapatkan sebuah solusi. Sebuah alternatif.
Dia
akan mengikuti bus itu dari belakang secara diam-diam,
…hingga
bus itu sampai di rumah Harin.
******
Setelah
semua hal yang terjadi di hari itu, Kwon Jaekyung jadi sering memperhatikan
Harin. Terkadang, Jaekyung menemukan Harin tanpa sengaja saat ia melewati
perpustakaan; Jaekyung melihat Harin sedang duduk dan belajar di perpustakaan
itu. Terkadang pula, Jaekyung melihat Harin makan di kantin bersama
teman-temannya. Intinya, Jaekyung menjadi lebih ‘sadar’ akan keberadaan Harin.
Sekitar
satu minggu kemudian, tatkala semua murid dikumpulkan di aula sekolah, Jaekyung
melihat Harin naik ke panggung yang ada di aula itu. Gadis itu dipanggil naik
ke panggung karena telah berhasil memenangkan Olimpiade Matematika tingkat
provinsi. Dia naik ke panggung, lalu menerima hadiah dari sekolah berupa sebuah
piala berwarna emas. Gadis itu lalu menyampaikan kata-kata terima kasihnya di
podium. Saat berbicara di atas panggung, dia terlihat tenang, berwibawa, dan
percaya diri. Dia juga tersenyum saat mengucapkan terima kasih.
Di
sana, di atas panggung itu, Jaekyung benar-benar melihat sosok perempuan yang sangat
bersinar. Perempuan yang cantik, pintar, kreatif, dan menginspirasi. She’s
so peaceful and perfect. Sangat berbeda dari Jaekyung.
Jika
Seo Harin bersinar bagaikan matahari,
…maka
Kwon Jaekyung bagaikan malam kelam yang dipenuhi dengan burung gagak.
Namun,
entah mengapa, perbedaan itu menarik Jaekyung kepada Harin seperti magnet.
Their
differences draw him to her. He is attracted to her because of the ways they
are unlike each other.
Namun,
yang membuat Jaekyung semakin tertarik adalah: Harin juga memiliki beberapa
kebiasaan lucu di balik sikap tenangnya. Suatu ketika, Jaekyung pernah masuk ke
perpustakaan tanpa Harin ketahui. Jaekyung lalu melihat Harin—yang sedang duduk
di perpustakaan itu—sibuk menoleh ke kanan dan ke kiri. Setelah memastikan
tidak ada siapa pun yang melihatnya, Harin pun mengeluarkan sebuah snack
potato chips dari dalam tasnya dan memakan snack itu sambil
mengerjakan tugasnya.
Di
perpustakaan sekolah itu dilarang membawa makanan. Jaekyung yang tak pernah
menginjak perpustakaan itu—kalau bukan karena menguntit Harin—pun tahu soal
itu. Di balik sikap composed-nya, Harin terkadang bisa melakukan sesuatu
yang lucu.
Selain
memperhatikan Harin di perpustakaan, Jaekyung juga jadi sering tiba-tiba nimbrung
saat Harin dan teman-temannya makan di kantin. Pemuda itu akan datang secara
tiba-tiba—membawa makanannya—lalu duduk di sebelah Harin dan tersenyum kepada
Harin. Sesekali ia akan ikut mengobrol bersama Harin dan teman-temannya,
membuat teman-teman Harin jadi kikuk dan malu-malu. Soalnya, mendadak mereka
jadi sering mengobrol dengan si tampan yang sangat populer di kota mereka. Kwon
Jaekyung adalah seorang pembalap yang terkenal di seluruh komunitas balap motor
liar; dia sangat populer di banyak tempat, terutama di kalangan pemuda pemudi. Selain
terkenal karena jago balapan motor, dia juga terkenal karena dia merupakan ahli
waris konglomerasi bisnis yang tidak asing lagi di negara itu, yakni JA
International.
Seperti
saat ini. Jaekyung tiba-tiba menghampiri meja di mana Harin dan teman-temannya
sedang makan. Mengenali wangi parfum Jaekyung—yang khas itu—Harin pun langsung
menoleh dan mendapati Jaekyung yang sudah bergerak untuk duduk di sebelahnya.
Setelah
duduk dengan benar di samping Harin, Jaekyung pun menatap Harin seraya
tersenyum simpul. Pemuda itu memiringkan kepalanya dan berkata, “Aku duduk di
sini, ya.”
Meski
hal ini sudah sering terjadi, tetap saja teman-teman Harin tercengang saat
memperhatikan Jaekyung. Ini benar-benar seperti keajaiban.
“Masih
banyak kursi yang kosong selain di sini, Jaekyung,” jawab Harin seraya
mengerutkan dahinya.
Jaekyung
tersenyum miring, lalu mulai memakan makanan yang ia bawa. “Di sini saja tidak
apa-apa.”
Menghela
napas, Harin pun tiba-tiba memperhatikan wajah Jaekyung. Ada sebuah luka lebam
di area tulang pipi pemuda itu. Harin sedikit melebarkan matanya. “Kau
berkelahi lagi, ya?”
Jaekyung
menoleh sejenak kepada Harin, lalu lanjut makan. “Hm.”
“Bukankah
waktu itu aku sudah memperingatimu?” ujar Harin. Gadis itu menyatukan alisnya.
“Kau mau tulang pipimu retak?”
“Tidak.”
“Jadi,
mengapa kau masih berkelahi?”
“Aku
tak sengaja terkena pukulannya, Cantik.”
Mata
Harin membulat. Karena pipinya mulai terasa agak memanas, Harin pun memalingkan
wajahnya dan langsung pura-pura mengaduk supnya. “Dasar tukang berkelahi.”
Menoleh
kepada Harin, Jaekyung tertawa kecil. Harin lucu sekali kalau sedang mengomel
seperti itu. Orang yang biasanya terlihat sangat tenang, sekarang sedang
mengomeli Jaekyung. Ini terasa begitu…menyenangkan.
Di
sisi lain, teman-teman Harin jadi menganga melihat adegan itu. Ini…mereka
pasti pacaran, nih! Masa iya obrolan mereka semanis ini?
“Rin?”
panggil Jaekyung. Matanya menatap Harin dengan sangat lembut. Teduh.
“Hm?”
sahut Harin, gadis itu baru saja memakan wortel yang ada di supnya. Ia lalu
menoleh kepada Jaekyung.
Jaekyung
tersenyum.
“Mau
tidak sama aku?”
Kontan
saja teman-teman Harin jadi membulatkan mata. Mereka semua terperanjat. Ada
yang menutup mulutnya dengan kedua tangan, ada juga yang sibuk menepuk-nepuk
pundak teman yang duduk di sebelahnya seraya menganga.
Seriusan,
nih, Harin ditembak di depan mereka??!
Namun,
kontras dengan apa yang mereka harapkan, ternyata Harin langsung mengalihkan
wajahnya dan memasang ekspresi datar. “Tidak mau.”
Waduh.
Kwon Jaekyung, si bad boy populer itu, ditolak mentah-mentah!
Mendengar
jawaban dari Harin, Jaekyung sedikit mengangkat kedua alisnya. “Kenapa?”
Dengan
blak-blakan, Harin menghela napasnya dan menjawab, “You’re not worth
it. Kau terlihat seperti pengkhianat. Aku sering melihatmu menggoda banyak
perempuan.”
Jaekyung
terdiam.
Well,
Jaekyung
memang sering iseng menggoda balik perempuan yang menggodanya. Akan tetapi,
entah mengapa…tiba-tiba ada sebuah percikan rasa senang yang muncul di
hati Jaekyung. Soalnya, dari kalimat Harin itu…
…Jaekyung
bisa menyimpulkan bahwa Harin juga memperhatikannya.
Ternyata,
bukan hanya Jaekyung yang ‘lebih’ menyadari keberadaan Harin. Harin pun
demikian.
Jaekyung
tersenyum miring.
“Benarkah?
Seingatku, aku hanya iseng,” jawab Jaekyung.
“Sama
saja,” balas Harin. “Tidak ada kata iseng. Itu adalah kebiasaan seorang
pembohong dan pengkhianat.”
Jaekyung
mendengkus. “Iya, deh, iya. Aku pengkhianat. Nanti boleh kuantar pulang?”
******
Sore
itu, Harin benar-benar pulang bersama Jaekyung. Sebetulnya, hari itu adalah
pertama kalinya Jaekyung mengantar Harin pulang, soalnya selama ini Harin
selalu menolak ajakan Jaekyung. Namun, kali ini agaknya Harin mengalah.
Tadi,
sebelum motor itu berjalan, Jaekyung langsung menarik kedua tangan Harin hingga
Harin benar-benar jadi memeluknya dari belakang. Jaekyung hanya berkata, ‘Jangan
memegang jaketku saja. Nanti jatuh.’
Mata
Harin melebar, tetapi akhirnya dia mengangguk. Dia ingat bahwa Jaekyung itu seorang
pembalap. Bisa jadi Jaekyung memang berkendara dengan sangat cepat, jadi Harin
akan membuang nyawanya sendiri apabila tidak benar-benar memeluk Jaekyung.
Namun,
kenyataannya tidak begitu. Saat membawa Harin, Jaekyung berkendara dengan sangat…pelan.
Sangat santai. Seolah dia sedang membawa benda yang mudah pecah.
Atau
mungkin, dia hanya tak ingin cepat-cepat sampai.
Tatkala
sampai di sebuah jalan besar, Jaekyung dan Harin menyadari bahwa di sana sedang
macet. Oleh karena itu, Jaekyung pun berbelok ke arah lain. Ke sebuah jalan
kecil.
Namun,
saat mereka masuk ke jalan itu, tiba-tiba ada sekumpulan motor dari belakang
yang menyusul mereka. Dengan cepat, motor-motor itu telah ada di samping
kanan dan kiri mereka. Kumpulan motor itu kini mendahului motor Jaekyung dan
berhenti di depan sana, bergerombol untuk mencegat Jaekyung.
Jaekyung
menghentikan motornya.
Orang-orang
itu langsung beramai-ramai turun dari motor mereka. Mereka semua memakai
pakaian yang berwarna gelap; beberapa dari mereka membawa kayu pemukul.
Salah
satu dari mereka mulai berteriak, “Turun kau, keparat!”
Mata
Harin membeliak. Harin langsung menatap Jaekyung, tetapi wajah Jaekyung tidak
begitu terlihat karena sedang memakai helm. Harin hanya bisa melihat mata Jaekyung
yang menyipit tajam di balik kaca helm itu.
“Turun
sekarang, Jaekyung!”
“Iya,
turun kau sekarang!!”
Teriakan
orang-orang itu mulai bersahut-sahutan. Astaga, ada apa ini?! Apakah—apakah hal
inilah yang selalu Jaekyung hadapi?
Harin
panik. Gadis itu tanpa sadar semakin memeluk Jaekyung dengan erat.
Namun,
tiba-tiba, di antara seluruh teriakan itu, Harin mendengar Jaekyung berbicara.
“Rin,”
panggilnya.
“Maaf. Bisakah kau turun sebentar? Aku tidak akan lama.”
Apa?
“Jaekyung—”
Harin menggeleng. “Tidak usah. Nanti kau terluka. Jumlah mereka banyak.”
Jaekyung
membelai jemari Harin yang sedang memeluknya. “Kau pikir mereka akan
melepaskanku begitu saja? Mereka jelas-jelas mencegat kita.”
Harin
terdiam. Gadis itu menunduk, dahinya berkerut. Ia panik dan bingung. Jaekyung
bisa terluka parah!
“Turun
sebentar, ya?” bujuk Jaekyung. “Aku akan baik-baik saja.”
Merasa
tidak mampu menolak Jaekyung—karena tidak tahu harus bagaimana—Harin pun
akhirnya mengangguk dengan gundah. Dahinya terus berkerut, matanya tampak
nelangsa sekaligus khawatir. Ia turun dari motor Jaekyung dengan terpaksa.
Setelah
memberikan helmnya kepada Jaekyung, Jaekyung pun membuka helmnya sendiri, lalu
turun dari motor itu. Jaekyung meletakkan helm mereka berdua di atas motor.
Jaekyung
mendekati Harin sebentar, lalu memberikan tasnya kepada Harin. “Pegang tasku
sebentar, ya, Cantik.”
Harin
mengangguk pasrah. Gadis itu meraih tas Jaekyung, lalu meletakkan tas itu di
pelukannya.
Jaekyung
pun melangkah maju, mendekati gerombolan yang terus berteriak padanya sejak
tadi. Dengan ekspresi dingin serta tatapan yang sangat tajam, Jaekyung
terus berjalan ke arah mereka.
Setelah
sampai tepat di depan kawanan pengacau itu, Jaekyung pun berhenti melangkah.
Dengan penuh intimidasi, penuh tekanan yang tinggi, Jaekyung pun mulai
bersuara.
“Jadi,”
bukanya.
“siapa kalian?”
Salah
satu dari mereka, yang tadi berteriak pertama kali, lantas maju ke depan.
Pemuda itu langsung mendorong bahu Jaekyung, tetapi hampir tidak membuat
pengaruh apa-apa terhadap Jaekyung.
“Jangan
berpura-pura, keparat.” Pemuda itu menatap Jaekyung dengan mata nyalang.
Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Jaekyung; ekspresi wajahnya terlihat berang
dan penuh dengan dendam. Rahangnya mengeras. Urat-urat di lehernya terlihat
dengan jelas tatkala ia menggertakkan giginya. “Kau—APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN
PADA KEKASIHKU DI PERTANDINGAN SEMINGGU YANG LALU, SIALAN? AKU TAK PERNAH
MENGGANGGUMU!”
Mata
Jaekyung menyipit. “Kekasihmu? Siapa?”
Satu
pukulan
langsung mendarat di wajah Jaekyung. Pemuda itu meninju wajah Jaekyung dengan sangat
keras, membuat kepala Jaekyung langsung berpaling ke samping. Jaekyung
terlihat melihat ke bawah, ke aspal, sementara darah mulai mengalir dari
sudut bibirnya.
“BAJINGAN!
KAU TELAH MEREBUT KEKASIHKU!” teriak pemuda itu.
Ah.
Masalah seperti ini lagi.
Jaekyung
menyeka darah yang ada di sudut bibirnya. Ia lalu menoleh kepada pemuda itu dan
menatap pemuda itu dengan sinis. “Jadi, intinya, kekasihmu
meninggalkanmu karena melihatku menang di pertandingan itu?”
Mata
pemuda itu kontan memelotot. Ia langsung hilang akal. Dengan
membabi buta, ia spontan meninju wajah Jaekyung berkali-kali. “SIALAN! SIALAN! SIALAN KAU, KEPARAT!
SIALAN!!!! MATI KAU!!!”
Namun,
setelah sukses menghajar Jaekyung berkali-kali tanpa ada perlawanan, tiba-tiba
sebelah tangan pemuda itu dicengkeram oleh Jaekyung. Jaekyung langsung menarik
tangan pemuda itu ke atas; pada dasarnya, Jaekyung mengangkat tubuh
pemuda itu dengan sebelah tangannya. Tangan pemuda itu diangkat ke atas hingga
kakinya tidak menapak tanah!
Pemuda
itu sontak membulatkan mata. Namun, sebelum pemuda itu sempat bereaksi apa-apa,
Jaekyung langsung membanting tubuh pemuda itu ke aspal. Melemparnya
cukup jauh dari hadapannya.
Kontan
saja semua orang di sana jadi geram. Mereka semua langsung berteriak dan
berlari ke arah Jaekyung. Mereka ingin menyerang Jaekyung dengan membabi buta;
mereka ingin mengeroyok Jaekyung habis-habisan.
Namun,
terjadi sebuah hal yang tak terduga.
Tiba-tiba
saja, Jaekyung melihat Harin berdiri di depannya. Gadis itu melindungi Jaekyung
yang ada di belakangnya, lalu menghadang seluruh pemuda yang ingin menyerang Jaekyung.
“BERHENTI!!!”
teriak
Harin kencang, mengalahkan seluruh teriakan para pemuda itu.
Para
pemuda itu mendadak berhenti mendekati Jaekyung tatkala melihat bahwa
gadis itu tidak hanya sedang berdiri di sana. Gadis itu berdiri melindungi Jaekyung
sambil mengulurkan sebelah tangannya ke depan. Gadis itu tengah
menunjukkan layar ponselnya kepada mereka semua.
“AKU
SUDAH MENELEPON POLISI!!!” teriak Harin. “HENTIKAN SEMUA INI!! PAMANKU ADALAH
SEORANG POLISI DAN DIA SEDANG MENUJU KE SINI!!!”
Para
pemuda itu bisa melihat bahwa ternyata di layar ponsel itu ada sosok seorang
pria. Layar itu sedang menampilkan video call!!! Selain itu, di dalam video
call tersebut…pria itu tampak memakai seragam polisi dan sedang duduk di
dalam mobil. Ada suara sirene mobil polisi yang terdengar sangat kencang
dari video call itu!!
“Ah,
aku tahu jalan itu. Aku akan segera ke sana, Harin. Untuk kalian semua, bocah-bocah
keparat, tunggu di sana!!!!” teriak pamannya Harin
dari seberang sana.
“CEPAT,
PAMAN, NANTI MEREKA KABUR! TANGKAP SAJA MEREKA-MEREKA INI!!” teriak Harin.
“Okeeee,
siap!” jawab pamannya Harin, lalu panggilan video itu pun
dimatikan.
Kontan
saja
semua pemuda yang ada di sana berlari terbirit-birit. Pemuda yang tadi
dibanting ke aspal oleh Jaekyung pun langsung berdiri dan berlari terseok-seok
ke motornya. Mereka semua langsung panik dan terpontang-panting. Pemuda yang
‘kekasihnya-direbut-oleh-Jaekyung’ itu sempat berteriak, “KITA AKAN
MENYELESAIKAN INI, JAEKYUNG!!”, lalu ia dan teman-temannya langsung mengegas
motor mereka dan kabur dari sana dengan kecepatan tinggi.
Setelah
motor mereka sudah jauh di depan sana—bahkan suaranya pun sudah terdengar sangat
jauh—Harin pun akhirnya menghela napas lega. Bahunya sampai jatuh;
kerutan di dahinya langsung hilang. Ia mulai menghirup oksigen di sana sebanyak
mungkin. Rasa sesak di dadanya perlahan-lahan hilang.
Namun,
tiba-tiba saja…Harin mendengar sebuah tawa kecil.
Harin
kontan berbalik. Ia pun menemukan Jaekyung…yang sedang tertawa kecil. Jaekyung
tertawa pelan, tetapi kelihatannya pemuda itu benar-benar terhibur. Seakan-akan
kejadian barusan terasa begitu menggelikan baginya.
Harin
langsung menyatukan alis. “Kok malah tertawa, sih?!”
Mendengar
Harin bertanya seperti itu, Jaekyung justru tertawa semakin keras. Ia tertawa
di hadapan Harin.
Setelah
puas tertawa, Jaekyung pun menatap Harin dengan mata yang menyiratkan jenaka.
“Wah, sepertinya aku harus berhati-hati, nih. Gadis yang kusuka ternyata
merupakan keponakan seorang polisi.”
Harin
memasang ekspresi datar. “Ha? Kau bicara apa coba?”
Jaekyung
kembali tertawa.
Harin
berdecak. Gadis itu pun langsung mendekati Jaekyung dan memeriksa wajah Jaekyung.
Matanya membeliak tatkala melihat wajah Jaekyung yang penuh akan luka karena
menerima banyak pukulan. “Kok pukulannya tak kau hentikan, sih? Astaga, wajahmu
jadi memar-memar semua!”
Harin
mendengkus. Ia mulai mengusap darah yang mengalir di sudut bibir Jaekyung. Ia juga
menyentuh memar-memar yang ada di wajah Jaekyung dengan pelan.
“Jaekyung,
beritahu aku alamatmu,” ujar Harin lirih. “Kau naik taksi saja, ya?
Nanti Pamanku akan membantu membawakan motormu.”
Saat
tatapan mata Harin sampai ke kedua mata Jaekyung, Harin kontan terdiam.
Mata Harin melebar.
Ternyata…sejak
tadi Jaekyung terus memperhatikannya. Menatapnya dengan begitu lekat.
Begitu intens. Begitu dalam.
Pemuda
itu tersenyum lembut.
Setelah
bertatapan selama tiga detik, tiba-tiba saja…
Jaekyung
mencium Harin.
Tepat
di bibirnya.
Ciuman
itu awalnya sangat lembut. Mesra…dan penuh kasih. Jaekyung seakan
ingin mencicip dan meneliti bibir Harin. Hal ini membuat Harin—yang
tadinya terkejut bukan main—perlahan-lahan mulai menerima ciuman Jaekyung dan
memejamkan matanya.
Namun,
sepuluh detik kemudian, ciuman itu jadi semakin dalam. Jaekyung mulai melumat
bibir Harin, menggigit bibir Harin, lalu memasukkan lidahnya ke dalam mulut
Harin. Melilit lidah Harin dengan lidahnya. Sebelah tangannya menarik tubuh
Harin ke dalam pelukannya, sementara sebelah tangannya lagi memegang kepala
Harin agar gadis itu terus mendongak dan menerima ciumannya.
Saat
ciuman itu terasa semakin menuntut, Harin kontan mengerutkan dahi. Tangannya
mulai mencengkeram seragam Jaekyung di bagian dada. Ia belum pernah berciuman
sebelumnya, jadi ciuman seintens ini tentu membuatnya kaget dan terengah-engah.
Bibirnya terus menerus dilumat oleh Jaekyung, bahkan Jaekyung sempat mengisap
lidahnya. Mereka bertukar saliva.
Satu
menit kemudian, Jaekyung pun melepaskan ciuman itu. Wajah mereka sangat dekat.
Bibir mereka masih nyaris menempel; Harin dapat merasakan hangatnya napas Jaekyung
di kulit wajahnya.
Pipi
Harin memerah. Matanya sayu. Ia jadi lemah akibat ciuman panas itu. Itu
adalah ciuman pertamanya, tetapi ciuman itu terasa sangat…liar.
Jaekyung
terus memperhatikan seluruh reaksi Harin. Merekam pemandangan itu dan
menyimpannya di dalam otaknya. Ia menatap Harin dengan penuh…hasrat. Penuh
keinginan. Penuh…
…cinta.
Aah,
Jaekyung sangat menginginkan gadis ini.
Jaekyung
lantas tersenyum miring. Pemuda itu membelai bibir Harin yang lecet karena
ciumannya, lalu berbisik.
“Pacaran,
yuk.”
[]






No comments:
Post a Comment