Sunday, January 25, 2026

Lost in the Woods (Chapter 5: Eldritch)

 


******

Chapter 5 :

Eldritch

 

******

 

BEGITU Miller pingsan, mereka semua langsung membawa Miller ke rumah Mr. Parker dengan panik. Mereka ingin meminta pertolongan. Ingin tahu apa yang terjadi pada Miller…sebab July dan Becca ingat bahwa Miller tidak memakan apa pun selain makanan yang diberikan oleh Mr. Parker dan Lynn. Namun, tidak mungkin makanan itu yang membuat Miller muntah-muntah, ‘kan? Kalau memang ada sesuatu di dalam makanan itu, pasti mereka semua akan muntah-muntah, bukan hanya Miller!

“Oh, ya ampun! Apa yang terjadi?!” tanya Mr. Parker dengan panik; dia membuka pintu dan langsung melihat para cowok yang mengantarkan Miller ke rumahnya.

Hayes menjawab cepat, “Dia muntah-muntah, setelah itu dia pingsan.”

“Tolong kami, Pak,” ujar Elias dengan ekspresi khawatir. “Kami tak tahu apa yang terjadi padanya.”

Mata Mr. Parker membulat. “Astaga! Silakan, silakan! Ayo, baringkan dia di ruang tamu!”

Miller pun dibaringkan di ruang tamu. Hayes, Jack, dan Elias duduk bertumpukan lutut di sebelahnya. Para perempuan menunggu di luar. Eddie sejak tadi sedang berkeliling hutan dan belum kembali, jadi dia belum tahu kalau Miller pingsan.

Mr. Parker pergi ke kamar, lalu keluar lagi dengan membawa sebuah botol kecil. Ia mengusapkan isi botol kecil itu—baunya seperti balsam—di hidung Miller. Ia lalu mengangkat kaki Miller ke atas, lebih tinggi daripada dada pemuda itu.

“Apakah dia memakan sesuatu yang aneh sebelum muntah?” tanya Mr. Parker.

“Tidak,” jawab Jack, menggeleng. “Dia hanya memakan sarapan yang Anda berikan.”

Mr. Parker terkesiap. “Ya Tuhan! Apakah kalian baik-baik saja? Aku memastikan aku memakai bahan-bahan yang segar dan tidak berbahaya, tetapi…astaga, apakah aku dan Lynn salah memilih bahan? Bagaimana dengan kalian? Kalian juga memakan makanan yang sama!”

“Sejauh ini, kami baik-baik saja, Pak,” jawab Hayes.

“Apakah dia punya alergi?” tanya Mr. Parker lagi.

“Setahuku tidak ada,” jawab Jack. “Aku cukup dekat dengannya.”

Mr. Parker mengangguk. “Baiklah. Aku akan merawatnya. Kalian kembali saja ke tenda kalian. Beristirahatlah. Beritahu aku kalau perut kalian terasa sakit atau sebagainya, ya?”

Jack, Elias, and Hayes mengangguk.

“Yes,” jawab Elias. “Please help Miller, Mr. Parker.”

Mr. Parker mengangguk. “I’ll try my best. Aku akan mengantarkannya ke tenda kalian begitu dia sadar.”

 

******

 

Satu jam kemudian, Inez dan Zoya datang ke rumah Mr. Parker untuk menjenguk Miller. Mereka ingin tahu keadaan Miller sekarang, terutama karena tadi mereka tidak ikut masuk ke rumah Mr. Parker saat Miller diantarkan.

Tadi, tatkala rombongan Elias keluar dari rumah Mr. Parker, Elias menghela napas dan berkata, “Miller akan dirawat oleh Mr. Parker hingga dia sadar. Ayo kembali ke tenda.”

Becca merespons, “Apakah Mr. Parker tahu mengapa dia seperti itu?”

Hayes menggeleng. “Tidak. Beliau juga kaget dan curiga kalau ada masalah pada bahan yang dia gunakan untuk membuat sarapan tadi pagi.”

“…tapi kita semua baik-baik saja,” ucap Sophia. Inez mengangguk, menyetujuinya.

Jack menghela napas. “Iya. Itu berarti tidak ada masalah dengan makanannya.”

July mengernyitkan dahi. “Apakah Miller alergi terhadap lauk-lauk di makanan itu atau—"

“Dia tidak punya alergi apa-apa,” potong Jack. “Tadi Mr. Parker juga sempat menanyakan itu.”

“Apakah dia sempat memakan sesuatu setelah sarapan?” tanya Inez pada July. July menggeleng.

“Tidak. Kami ada di belakang tenda, mengobrol, dan tiba-tiba dia muntah,” jawab July.

Mereka semua jadi bingung. Sebagian mengernyitkan dahi, berpikir keras. Bertanya-tanya mengapa Miller jadi seperti itu.

Zoya menunduk. Tangannya terkepal. Jujur saja, perutnya baik-baik saja. Jadi, Miller kenapa?

Saat Zoya mengangkat wajahnya kembali, ia pun tanpa sengaja bertatapan dengan Elias. Ternyata, Elias sudah lebih dahulu memperhatikannya. Tatapan mata pemuda itu terlihat khawatir. Sedikit sendu. Seperti ingin menanyakan sesuatu, tetapi tak terucap.

Zoya buru-buru membuang muka, pura-pura menatap Jack yang sedang menyuruh mereka semua untuk kembali ke tenda dan beristirahat.

Sekarang, setelah satu jam berlalu (jam 11 pagi), Inez dan Zoya pun pergi lagi ke rumah Mr. Parker untuk mengecek kondisi Miller. Selain karena penasaran, well…seseorang memang harus mengecek kondisi Miller di sana dari waktu ke waktu. Inez dan Zoya menawarkan diri untuk mengecek Miller pertama kali.

Saat sampai di rumah panggung itu, Mr. Parker menyambut mereka dengan baik.

“Oh, kalian di sini? Silakan masuk. Miller ada di kamar. Aku memindahkannya ke sana agar dia berbaring dengan nyaman,” ujar Mr. Parker.

Inez dan Zoya mengangguk.

“Terima kasih, Mr. Parker,” ucap Inez.

“Apakah Miller sudah sadar?” tanya Zoya.

Mr. Parker menghela napas, ekspresi wajahnya kembali khawatir. “Sayang sekali, dia belum sadar. Aku sudah memberinya obat dari tanaman herbal yang warga sini punya, mencampur obat itu dengan air dan memasukkan itu ke mulutnya, tetapi mungkin dia butuh waktu.”

Mr. Parker pun berbalik, berjalan di depan untuk menuntun Inez dan Zoya ke kamar. “Apakah kalian baik-baik saja?”

Inez mengangguk. “Ya, Mr. Parker. Kami baik-baik saja.”

“Syukurlah,” ujar Mr. Parker. “Aku sungguh khawatir. Kalian datang ke sini untuk bersenang-senang, tetapi hal ini terjadi. Aku merasa tidak enak.”

Zoya menggeleng. “T—Tidak perlu merasa begitu, Pak. Ini bukan salah Anda.”

Mr. Parker menghela napas. “Tetap saja aku harus menjamin kenyamanan kalian.”

Saat melewati lorong, Zoya kembali melihat dua kamar yang berseberangan. Pemandangan yang sama dengan yang waktu itu dia lihat saat menumpang mandi. Inez pun akhirnya melihat secara langsung apa yang waktu itu Zoya ceritakan.

“Ini, Miller ada di kamar ini,” ucap Mr. Parker saat akhirnya dia berhenti di kamar sebelah kanan. “Masuklah. Aku akan meminta tanaman herbal lagi dari Mrs. Emerson, sekalian untuk kalian. Just in case.”

Zoya dan Inez mengangguk. “Terima kasih banyak, Mr. Parker. Maaf sudah merepotkan Anda.”

Mr. Parker berbalik dan tersenyum. “Tidak. Ini sudah jadi tanggung jawabku. Aku pergi dahulu, ya.”

Zoya mengangguk lagi. “Baiklah, Mr. Parker.”

Mr. Parker akhirnya pergi. Dia keluar lewat pintu belakang. Zoya terus memperhatikan pria paruh baya itu sampai akhirnya pintu belakang itu pun tertutup kembali. Zoya tersentak saat tiba-tiba Inez menyikut pinggangnya.

Zoya pun menoleh kepada Inez; gadis itu mengernyitkan dahi. Namun, Inez hanya menggerakkan dagunya, menunjuk kamar yang ada di sebelah kiri mereka. Karena bingung, Zoya pun menatap ke arah yang Inez tunjukkan.

Di sana, di dalam kamar itu, Zoya melihat boks. Ranjang bayi.

…dan di dalam boks itu…ada bayi yang sedang tertidur pulas.

Zoya melebarkan mata. Bayi?

Anak siapa itu?

Anaknya Mr. Parker, ya?

Kalau itu anaknya Mr. Parker…kok jarak umurnya jauh sekali dengan Lynn?

Zoya langsung menatap Inez kembali dan ternyata Inez memasang ekspresi yang sama. Mereka saling pandang.

Akhirnya, Inez cuma mengedikkan bahu. Gadis itu mulai menatap lurus ke depan (ke sepanjang lorong) dan matanya tiba-tiba melebar. Seperti baru saja menemukan sesuatu.

“Eh!” katanya. “Itu, ya, foto-foto yang kau maksud waktu itu?!”

Zoya langsung melihat ke arah yang sama.

“A—Ah…itu—”

“Aku mau lihat!” potong Inez. Gadis itu langsung berjalan cepat—beberapa langkah—untuk menghampiri kumpulan pigura yang tergantung di sana. Zoya jelas kaget bukan main.

“Inez…!” Zoya berteriak (tetapi dengan mendesis, bukan betul-betul mengeluarkan suaranya). “Hei, wait!!”

Dengan cepat, Zoya pun menyusul Inez ke depan sana. Inez sudah berdiri di depan foto-foto itu.

Aduuh, bukannya kita ke sini karena mau menjenguk Miller, ya?

Lagi pula, kalau Mr. Parker tiba-tiba kembali, bagaimana?!

Zoya berdecak dan menggaruk kepalanya. Inez memang ada-ada saja.

Saat sudah berdiri bersebelahan dengan Inez, akhirnya Zoya menghela napas. Ia pun memilih untuk bersabar saja, mungkin Inez hanya penasaran dan butuh waktu sebentar saja untuk menuntaskan rasa penasarannya.

Mereka berdua pun kini sama-sama memperhatikan foto-foto itu.

Tatkala memperhatikan foto-foto itu lagi sekarang…Zoya mulai menemukan detail-detail yang belum sempat dia cerna waktu itu.

Di sisi lain, Inez tampak tercengang. Antara kaget, bingung, dan juga…kagum. Dia memang melihat foto-foto vintage di sana, sama seperti apa yang Zoya ceritakan. Matanya tak bisa lepas; dia jadi memperhatikan foto-foto itu satu per satu. Sesekali, dia menggeleng tak percaya.

Ini semua…betulan atau cuma kostum?

Hingga akhirnya, Zoya menyentuh salah satu pigura. Inez pun refleks menatap ke pigura yang sama. Foto yang terpampang di sana.

Dahi mereka berkerut begitu melihat foto itu.

Itu adalah foto Mr. Parker bersama teman-temannya. Mereka semua memakai seragam yang sama. Seragam berwarna abu-abu. Dengan topi militer.

Di sudut kanan bawah foto tersebut, ada sebuah kalimat yang ditulis dengan spidol berwarna hitam. Hampir pudar, tetapi masih jelas. Tulisan tersebut adalah:

Provisional Army of the Confederate States (PACS), 1863.

 

Inez dan Zoya sama-sama bingung.

 

1863?

Apakah itu benar-benar diambil di tahun 1863?

Ataukah itu bukan Mr. Parker?! Kakek buyutnya yang mirip dengannya, mungkin?!

Soalnya, itu—itu lebih dari seratus tahun yang lalu!!

Either way, itu pasti bukan Mr. Parker.

 

Inezlah yang pertama kali bersuara.

“…1863?” katanya. “Is this real?”

Zoya jadi gelisah. Ekspresi wajahnya agak panik. Dia langsung menoleh pada Inez dan menggenggam tangan gadis itu. “Sudahlah, ayo pergi ke kamar! Mr. Parker bisa kembali sewaktu-waktu. Ayo lihat Miller saja!”

Ujung-ujungnya, dia pun menarik Inez pergi dari sana, membuat Inez terseret meskipun mata Inez masih terpaku pada foto itu.

Begitu sampai di kamar, mereka melihat Miller yang sedang berbaring telentang. Pemuda itu masih belum sadar. Di nakas, ada beberapa tumbuhan dan sebuah alu kecil. Di dalam alu itu masih ada bekas berwarna hijau, sisa-sisa tumbuhan yang ditumbuk sebelumnya. Di sebelah alu itu, ada segelas air dan sebotol kecil balsam.

Sepertinya, itu adalah tanaman herbal yang Mr. Parker maksud tadi. Mr. Parker memang mengobati Miller dengan tanaman itu.

Mereka berdua menghela napas prihatin saat melihat kondisi Miller. Satu jam adalah waktu yang lama sekali kalau untuk pingsan semata. Miller sebenarnya kenapa?

Mereka sama-sama berdiri di samping ranjang Miller. Tinggal di sana selama beberapa menit. Sesekali mengecek suhu tubuh Miller, sesekali memperhatikan tanaman itu, sesekali juga mengoleskan balsam di dekat hidung Miller. Setelah lima menit berlalu, mereka pun mendengar suara pintu dibuka. Pintu belakang.

Inez dan Zoya langsung menoleh ke belakang. Itu pasti adalah Mr. Parker. Langkah kakinya mulai terdengar melewati lorong.

Ketika sosok Mr. Parker muncul di ambang pintu kamar, pria itu tersenyum. “Ah…maaf, aku agak lama. Aku tadi menunggu Mrs. Emerson memetik tanaman itu dari belakang rumahnya.”

Mr. Parker mulai menaruh plastik yang berisi tanaman-tanaman itu di lantai, menyandarkan mereka di dinding dekat pintu kamar.

Inez menggeleng. “A—Ah, tidak, Mr. Parker. Anda tidak lama kok. Kami juga sedang mengecek kondisi Miller.”

Mr. Parker berjalan mendekati mereka. “Oh, begitu. Dia belum sadar, ya?”

Inez dan Zoya berbalik kembali; mereka bertiga kini sama-sama memperhatikan Miller. Zoya menggeleng. “Belum, Mr. Parker.”

Mr. Parker menghela napas. Dia tampak khawatir; ada rasa bersalah yang juga mampir di raut wajahnya.

“Ada baiknya kita berbicara di ruang tamu saja. Dia belum sadar. Ayo biarkan dia beristirahat,” saran Mr. Parker. Zoya dan Inez pun mengangguk setuju.

Akhirnya, mereka pun berjalan keluar dari kamar itu. Zoya menutup pintunya karena dialah yang terakhir keluar. Namun, dia sempat menatap Miller sejenak sebelum menutup pintu.

Dia dan Inez pun mengikuti langkah Mr. Parker ke ruang tamu.

“Mr. Parker?” panggil Zoya. Matanya menatap Mr. Parker dengan penuh keingintahuan.

Mr. Parker berhenti melangkah karena kebetulan mereka sudah sampai di ruang tamu. Pria itu pun berbalik, menghadap ke dua gadis yang ada di belakangnya.

“Ya?” jawabnya.

Zoya meneguk ludah, lalu mulai bertanya.

 

“Apakah Miller…akan baik-baik saja?”

 

Mr. Parker melebarkan matanya samar, lalu tersenyum seraya menghela napas.

“Aku akan berusaha untuk mengobatinya. Biasanya, warga akan datang padaku kalau ada yang sakit,” ujar Mr. Parker.

Zoya menghela napas lega. Inez pun sama.

“Baiklah. Terima kasih, Mr. Parker,” kata Zoya.

“Meskipun sudah tua begini, aku masih bisa mengurus teman kalian dengan baik,” canda Mr. Parker. Dia sedikit tertawa untuk mencairkan suasana.

Namun, mendengar kalimat Mr. Parker barusan, Inez agaknya berpikir lain.

Dengan hati-hati, Inez pun bertanya pelan.

 

“Memangnya…berapa usia Anda, Mr. Parker?”

 

Mr. Parker tidak langsung menjawab.

Dia tersenyum.

Senyumannya sangat…manis.

 

Setelah itu, dia pun mulai menjawab.

 

“Usiaku 48 tahun. Sudah cukup tua, bukan?”

 

            Mata Inez melebar. Di dadanya, terasa sesuatu yang aneh. Jantungnya berdegup lebih kencang. Otaknya masih mencerna; dia tak tahu apakah yang dia rasakan itu keraguan, keterkejutan, atau…ketakutan. Dia tak bisa membedakan semuanya. Pikirannya agak kalut.

            Akhirnya, karena Inez tak kunjung membalas ucapan Mr. Parker (gadis itu hanya terdiam di sana), Zoya pun tertawa canggung. “Ah…haha… Tidak terlalu tua kok, Pak. Hampir seumuran dengan Ayahku.”

“Oh ya?” Mata Mr. Parker sedikit melebar. “That’s nice!”

Zoya tersenyum. Dia mulai berpamitan. “Baiklah, Mr. Parker, kami pulang dahulu, ya. Nanti, kami semua akan bergantian menjenguk Miller dari waktu ke waktu.”

Mr. Parker mengangguk, lalu tersenyum. “All right. Hati-hati, ya. Aku akan berusaha untuk merawat Miller dengan baik.”

“Okay,” jawab Zoya. Gadis itu pun sedikit menunduk hormat pada Mr. Parker, lalu membawa Inez pergi. Untungnya, pikiran Inez kini sudah mulai normal; dia ikut menunduk hormat pada Mr. Parker sebelum keluar.

Begitu sampai di teras rumah, Inez langsung kaget karena melihat ada Elias dan Hayes. Dua pemuda itu ternyata ada di luar rumah Mr. Parker, menunggu di dekat tangga.

Zoya mendengkus saat melihat Elias. Dia terganggu sekali dengan keberadaan Elias karena mereka baru putus. Dia tak mau dipertemukan dengan Elias terus-menerus.

Jadi, ketika Inez langsung turun dari tangga untuk menemui Elias dan Hayes, Zoya pun mengikutinya dengan langkah malas.

Inez mendekati kedua pemuda itu seraya menyatukan alis. “Apa yang kalian lakukan di sini?”

Hayes tengah menyilangkan tangannya di depan dada. Dia menunjuk Elias dengan dagunya, lalu menjawab, “Dia mengajakku untuk mengikuti kalian.”

“…mengikuti?” ulang Inez heran. Gadis itu langsung menatap Elias.

Elias mendengkus. “Kalian baik-baik saja?”

Inez mengedikkan bahu. “Well, we’re fine. Why?”

Di detik itu, Zoya juga sudah turun dari tangga. Elias menatap Zoya, fokus kepadanya, lalu menjawab, “Aku hanya khawatir.”

Ujung-ujungnya, Zoya membuang muka lagi. Inez menatap Zoya, lalu diam-diam tersenyum geli. Ada-ada saja, para mantan (yang masih sama-sama suka) ini.

Akhirnya, mereka semua pun kembali ke tenda. Hal yang tidak Zoya dan Inez ketahui adalah: Elias dan Hayes sebenarnya mendengar pembicaraan mereka dengan Mr. Parker di ruang tamu tadi. Kedua pemuda itu sempat mengernyitkan dahi saat Inez mempertanyakan umur Mr. Parker (karena sebenarnya…itu adalah basa-basi yang kurang perlu), apalagi Mr. Parker agaknya tidak langsung menjawabnya. Ada jeda.

Mereka bingung saat mendengar percakapan itu, sedikit merasa aneh, tetapi kurang yakin apa sebabnya.

 

******

 

Pada jam setengah satu siang, Lynn kembali datang ke area tenda mereka. Gadis itu membawa beberapa keranjang, lalu berkata dengan manis, “Selamat siang.”

Semua orang yang kebetulan sedang duduk-duduk di depan tenda mereka spontan langsung tegak—atau setidaknya duduk tegap—saat melihat kehadiran Lynn. Lynn mulai meletakkan keranjang-keranjangnya di bawah, lalu berjongkok dan membuka penutup-penutup keranjang itu.

Becca, Sophia, dan Jack mulai mendekati Lynn. Becca bertanya, “Ini apa, Lynn?”

Lynn mendongak, tersenyum manis, lalu mulai mengeluarkan kotak-kotak bekal transparan yang berisi makanan. “Ah…ini makanan dari warga sini. Ayah memberitahu para warga bahwa ada salah satu dari kalian yang sakit, jadi banyak dari mereka yang menyumbang makanan untuk kalian. Namun, Ayah sudah bilang pada mereka untuk memilih bahan-bahannya dengan baik. Kalau ada menu yang kira-kira tidak kalian sukai atau mungkin alergi, jangan dimakan, ya. Pilih yang kalian bisa makan saja.”

Mendengar ucapan Lynn—sekaligus melihat makanan sebanyak itu dengan berbagai jenis—semua orang di sana spontan gembira bukan main. Mereka berdiri dan menghampiri Lynn, melihat-lihat semua makanan itu dan mengucapkan terima kasih banyak.

Lynn tersenyum manis dan mengangguk. Namun, sambil mengeluarkan makanan-makanan itu, Lynn sempat bertatapan dengan Eddie.

Eddie tidak berdiri; dia hanya duduk tegap di depan tendanya karena melihat Lynn datang. Namun, tidak, dia tidak menghampiri Lynn ataupun memilih makanan bersama teman-temannya yang lain.

Tatapannya hanya fokus ke Lynn.

Lynn juga melakukan hal yang sama. Mereka menatap tepat ke mata masing-masing. Seakan-akan berbicara…atau saling memenjarakan…satu sama lain hanya dengan tatapan.

Bagai ada sebuah magnet yang menarik mereka berdua. Ketertarikan itu instan dan sangat fatal. Ada hasrat yang tak terbendung lagi.

Eddie pelan-pelan tersenyum miring. Matanya menggelap…

…terutama saat tatapan Lynn mulai terlihat mengawang. Rasa ingin di mata gadis itu tercetak dengan jelas. Penuh lamunan. Angan-angan. Seolah-olah pikirannya sudah melayang ke situasi yang belum terjadi.

Tatapan mereka berlangsung terlalu lama. Terlalu fokus. Terlalu mengawang dan berkelana jauh. Menelanjangi tanpa harus bergerak. Penuh gairah.

…dan keduanya sadar akan hal itu.

Oh, tidak. Bukan hanya mereka berdua, sebenarnya. Inez, Sophia, dan Zoya pun saling memandang. Namun, ketiga gadis itu ujung-ujungnya hanya mengedikkan bahu dan lanjut memilih makanan-makanan tadi.

 

******

 

“AAHHHH FUUUCK!” erang Eddie saat kejantanannya masuk ke lubang vagina Lynn. Lynn langsung mendesah hebat; dia berpegangan pada pohon, kuku-kukunya nyaris mencakar batang pohon itu. Satu tusukan dari Eddie mengirimkan ribuan sengatan listrik ke tubuhnya.

Oh, Lynn sangat menunggu saat-saat ini!

Dia menginginkan ini. Dia menginginkan Eddie. Mau ditusuk oleh Eddie. Kuat. Keras. Sekarang juga!

“FUCK, KAU SENGAJA MENGGODAKU, ‘KAN?!!! KAU SUKA PADAKU, HAH?!!! YOU’RE A TROUBLE!! FUCK!!! TAKE THIS!! TAKE MY COCK! LOOK AT YOUR LITTLE HOLE SWALLOWING MY COCK!!!” Eddie menggeram, urat-urat di lehernya menonjol. Dia mencengkeram pinggul Lynn, bokong Lynn terekspos di depannya. Rok Lynn dibuka—diangkat hingga ke atas—dan kancing baju Lynn sudah terbuka semua. Kedua payudara Lynn sudah lolos dari bra-nya dan memantul-mantul kencang seiring dengan tusukan Eddie yang sangat brutal. Seolah-olah tidak ada hari esok. Seolah-olah mereka akan hilang akal kalau tidak bersetubuh saat ini juga.

“OOOHHHH!!!” teriak Lynn. Perempuan itu mendorong bokongnya sendiri ke belakang, menemui tusukan Eddie. Menusukkan dirinya sendiri ke kejantanan Eddie yang keras. Membantu Eddie dengan agresif, tidak sabar. “YA! OHHH!! AH! AH! ENAK SEKALI!! TERUS!! TUSUK AKU LEBIH KERAS!!! AKU SUDAH MEMBAYANGKAN INI SEJAK KEMARIN!!”

“SIAL!!!!!” umpat Eddie. Pemuda itu semakin menggeram, hilang akal saat mendengar pengakuan Lynn. “YES, BABY, ME TOO! FUCK! I'VE WANTED TO FUCK TO YOU SINCE YESTERDAY. OHHH! YOU FEEL SO GOOD!!!”

“AHHHH, EDDIE!!!” Lynn meneriakkan nama Eddie yang sebenarnya baru dia ketahui beberapa saat yang lalu, sebelum mereka berhubungan seks panas begini. Sebelum mereka saling bergoyang; sebelum mereka kawin seperti binatang di tengah-tengah hutan begini.

“EDDIE, PLEASE!!! AHHH!!! LEBIH KERAS!! LEBIH KENCANG!!!” mohon Lynn. Ekspresi wajahnya benar-benar erotis. Mulutnya menganga; matanya terbalik ke belakang, nyaris hanya bagian putihnya yang terlihat. “OHHH, NIKMAT!! IT FEELS SO GOOD TO BE FUCKED BY YOU!! OHH I FUCKING WANT YOU SO MUCH!!! SUCH A HANDSOME MAN!”

Rahang Eddie mengetat. Dia lalu mengerang hebat, menggeram, dan sedikit menunduk untuk mencubit puting Lynn kuat-kuat. Lynn berteriak kencang, “AHHHH!!!!! MORE!!! DO IT AGAIN!!! PULL IT!!!”

Eddie pun menurutinya; pemuda itu langsung menarik puting Lynn kuat-kuat. “FUCK YES!!!!”

“AHHH, AHH!! EDDIE!! AKU MAU KELUAR!! AKU MAU KELUAR!!!” teriak Lynn. Dia berbicara dengan cepat, napasnya agak terputus-putus karena berbicara sambil disodok oleh Eddie. Sodokan itu sangat cepat dan kuat. Liar.

“AHHH!! AKU MAU KELUAR DI DALAM!! DI DALAM!!” teriak Eddie kencang. Dia juga hampir keluar. Sedikit lagi. Tusukannya jadi semakin brutal. Dia langsung menarik rambut Lynn ke belakang, membuat punggung Lynn melengkung.

Lynn semakin gila saat rambutnya ditarik. Itu nikmat sekali baginya. Air liurnya tanpa sadar mengalir dari sudut bibirnya. “AHHH YES! YES! OHHH! CUM INSIDE ME!!! KELUARKAN SPERMAMU DI DALAMKU!!! MASUKKAN SEMUANYA!!!!”

“FUUUUUUUCKKKK!!!!!!!!” umpat Eddie kencang saat memberikan satu tusukan yang sangat keras pada lubang vagina Lynn. Menyemprotkan semua spermanya di dalam sana.

“OOOHHHHHHHH!!!!!!!!” teriak Lynn saat Eddie menyemburkan sperma ke dalamnya. Mengalirkan semua sperma itu ke rahimnya. Sperma yang sangat banyak dan kental. Lynn juga orgasme di saat yang sama.

Kepala Eddie mendongak, terlempar ke belakang saat mendapatkan kenikmatan yang luar biasa itu. Di kepalanya mulai berputar kalimat:

Ohh…sial. Keparat. Enak sekali. Enak sekali!!! Aku bisa ketagihan.

Teman-temanku masih kepikiran soal Miller; aku juga baru tahu soal Miller siang tadi, tetapi sekarang aku ada di sini, di tengah-tengah hutan, malah sibuk menyodok vagina seorang perempuan. Anak gadisnya tour guide di hutan ini.

Asyik sekali. Aku sangat puas. Senang. Baguslah aku mengikuti acara kemah ini!

Tidak bermoral, tidak beretika, tidak tahu situasi, tetapi hasrat dan nafsuku sudah tak terbendung.

…dan ini sungguh nikmat! Nikmat sekali, sialan.

 

******

 

Hari sudah malam. Malam ini, mereka semua berkumpul di depan api unggun yang mereka hidupkan dua jam yang lalu. Mereka baru saja makan malam dan sedang mengobrol bersama.

Ada sembilan orang yang duduk di sana. Ada yang bermain ponsel, ada yang iseng-iseng memetik senar gitar dengan pelan, dan ada juga yang hanya mengobrol. Hanya satu orang yang tidak ada di sana:

 

Eddie.

 

Sejak tadi sore, Eddie tidak terlihat. Terakhir kali mereka melihat Eddie adalah saat makan siang.

“Ke mana Eddie?” tanya Elias seraya mengernyitkan dahi.

“Tak tahu. Aku sudah tak melihatnya sejak selesai makan siang tadi,” jawab Hayes.

July memiringkan kepalanya. “Apakah dia tak mengatakan sesuatu pada kalian sebelum pergi?”

“Tidak,” jawab Elias.

“Apa yang dia lakukan sampai malam begini? Di tengah hutan pasti gelap sekali!” ucap Becca. Gadis itu terlihat heran minta ampun.

Alis Elias mulai menyatu. “Ke mana dia kira-ki—"

“Probably having sex with Mr. Parker’s daughter somewhere,” celetuk Jack seraya mengedikkan bahu. Ekspresi pemuda itu datar; dia terlihat sangat yakin. Dia memotong ucapan Elias dengan cepat, spontan.

Semua orang yang ada di sana jadi terperanjat. Napas mereka kontan tertahan di tenggorokan. Mata mereka membulat.

“Yo what?!” ucap July tak habis pikir.

“Bro, what the fuck?!” jawab Hayes. Apakah Jack serius mengatakan itu?

“A—Apa-apaan?! Bukankah mereka baru mengenal satu sama lain?!” ucap Becca. Becca menutup mulutnya dengan sebelah tangan.

“That’s definitely crazy!” tambah Inez. Sophia dan Zoya hanya menganga tak percaya. Masa iya, sih?

Sementara itu, Elias hanya heran. Separuh percaya, separuh tidak.

Jack mendengkus, lalu memutar bola matanya. “Don't tell me you didn't feel the sexual tension between them these past two days? I'm sure we all saw how they undressed each other with just their eyes.”

Mereka semua terdiam. Beberapa mulai refleks meneguk ludah.

 

Well…

Iya juga, sih.

Namun…yang benar saja?!! Berhubungan badan? Di hutan?? Malam-malam begini? Saat baru kenal dua hari?? Saat Miller sedang tidak sadarkan diri?!!

Apa dia gila?!

 

Apa pun itu, ucapan Jack membuat mereka semua jadi tak habis pikir dengan Eddie. Sepertinya, besok pagi…(atau malam ini, kalau Eddie pulang), mereka harus mencecar Eddie dengan berbagai pertanyaan.

Ya. Harus.

Mereka pun menunggu. Melanjutkan obrolan mereka sambil berusaha untuk tidak kepikiran soal Eddie. Hingga akhirnya, mereka semua pun mengantuk dan memutuskan untuk kembali ke tenda masing-masing. Mau tidur.

Akan tetapi, ternyata…

 

Eddie tak kembali malam itu. []

 













******



Hayes






Saturday, January 10, 2026

My Friend's Father (Chapter 5: Wealthy and Powerful Man)

 


******

Chapter 5 :

Wealthy and Powerful Man

 

******

 

PONSEL berwarna hitam yang ada di atas meja itu berbunyi, pertanda ada sebuah panggilan masuk. Dua detik kemudian, ada sebuah tangan berurat yang muncul dan menggeser tombol di layar, mengangkat panggilan telepon itu.

Juan Zacharias melangkah mendekati lemari pakaiannya yang superbesar. Ia tengah memakai kemeja putihnya tatkala suara Hubert (dari seberang sana) terdengar di ruangan. Ia menyelipkan satu lengannya ke dalam kemeja, lalu menarik kain itu menyusuri bahu lebarnya. Tubuh shirtless-nya terlihat sangat kokoh; dadanya bidang. Otot-otot di perut dan lengan atas, lalu urat-urat di leher, lengan, dan tangannya, semua tercetak dengan jelas.

“Semua sudah selesai, Pak,” ujar Hubert. “Semua tim sudah membatalkan proyek dengan perusahaan milik Pak Bennett. Kabar ini juga sudah disampaikan kepada tim mereka.”

Juan tengah mengancing kemejanya; dia belum menjawab.

“Ini mungkin tidak penting untuk disampaikan pada Bapak, tetapi hampir seluruh investor mereka mundur karena Zach Enterprises berhenti bekerja sama dengan mereka. Semua investor itu mendengar informasinya dalam waktu kurang dari satu jam. Pak Bennett sejak tadi terus-menerus menghubungi kami, Pak.”

Sebenarnya, di seberang sana, Hubert juga belum tahu mengapa Mr. Juan Zacharias menghubunginya satu jam yang lalu, meneleponnya hanya untuk berkata satu kalimat:

“Batalkan kerja sama kita dengan Valemont Group.”

Sudah. Hanya itu. Jam tujuh pagi. Saat Hubert sedang sarapan.

Jelas saja, karena permintaan bos besar yang mendadak itu, Hubert langsung menelepon seluruh direktur yang bertanggung jawab dan memberitahukan permintaan itu. Seluruh direktur pun langsung menghubungi anggota mereka…dan semua orang langsung bergerak cepat untuk memproses pembatalan proyek.

Tanpa tahu apa alasannya.

Namun, satu kata dari Juan Zacharias adalah mutlak. Dia pemimpin sekaligus pemilik dari semua aset Zach Enterprises yang mendunia, menguasai secara global. Satu perintah darinya adalah kewajiban dari seluruh orang-orang yang ada di dalam Zach Enterprises.

Namun, karena sudah bertahun-tahun bekerja sebagai sekretaris langsung Juan Zacharias, Hubert pun paham bahwa:

Mr. Zacharias tidak akan membuat tindakan seperti ini apabila tidak ada masalah.

Beliau adalah orang yang berwibawa, baik, dan dermawan. Pemimpin sejati. Biasanya, orang-orang akan cenderung arogan apabila memiliki kekuasaan, kekayaan, dan kekuatan sebesar dirinya (karena dia adalah orang terkaya dan paling berpengaruh di zaman ini!), tetapi dia tidak seperti itu. Hal itulah yang membuatnya sangat dihormati dan dikagumi di mana pun dia berada.

Sepertinya, Valemont Group menyentuh sesuatu yang tidak seharusnya disentuh. Entah itu hal pribadi atau bukan.

Jadi, pagi itu, sejak jam tujuh pagi, semua orang sudah sibuk memproses pembatalan kerja sama dengan Valemont Group. Hubert dan para direktur (board of directors) langsung pergi ke kantor saat itu juga.

Juan tidak mengatakan apa pun selain satu kalimat itu, tidak menjelaskan apa-apa, tetapi semua orang di bawahnya langsung menyesuaikan diri. Mereka langsung bergerak dan mengusahakan agar semuanya selesai dengan cepat. Satu jam kemudian, semua hal yang berkaitan dengan kerja sama itu telah selesai di-terminate.

Dibatalkan total.

Sekarang, yang tersisa hanyalah: memberitahu Juan bahwa semuanya sudah selesai.

Sejak tadi, Pak Bennett terus saja menelepon pihak mereka. Menelepon Hubert. Terus-menerus memohon seperti, ‘Aku sudah memberi pelajaran pada anakku! Dia tak tahu kalau dia sedang mencari masalah dengan anaknya Mr. Zacharias! Tolong sampaikan kepada Mr. Zacharias bahwa aku sangat menyesal, Pak. Tolong. Tolong sampaikan ini pada beliau.’

Dari sanalah, Hubert bisa mendapat kesimpulan bahwa:

Sepertinya, yang diganggu oleh Bennett adalah Tuan Muda Lucian.

Pantas saja.

Ujung-ujungnya, Hubert hanya menjawab, “Kami hanya meneruskan perintah Mr. Zacharias, Pak. Beliau telah memerintahkan kami untuk membatalkan kerja samanya. Mungkin, Bapak bisa menghubungi beliau secara langsung.”

Mr. Bennett langsung terdiam saat mendengar itu, lalu kembali frustrasi. Ya, Hubert tahu bahwa itu mustahil dilakukan. Siapa juga yang berani melakukan itu? Yang dihadapi ini bukanlah bos perusahaan biasa; ini adalah Juan Zacharias.

Hubert sengaja mengatakan itu. Itu aman untuk dikatakan…sekaligus pantas juga untuk anak Bennett yang jelas-jelas…salah (kalau didengar dari ucapan ayahnya saat memohon pada Hubert).

Juan tengah memasang dasinya ketika suara Hubert kembali terdengar.

“Kami telah mengatasi telepon-telepon dari beliau, Pak.”

Juan mengambil jas berwarna midnight navy-nya dan memasukkan lengannya satu per satu. Setelah itu, dengan suaranya yang dalam, tenang, dan seksi itu, dia menjawab:

 

“Oke.”

 

******

 

“Seliiinnnnn!!!! Bangun, Dekkk!!”

Selin mengerutkan dahi. Gadis itu langsung menarik selimut—hingga menutupi kepalanya—dan mengerang. “Arghhh, Kaaaak… Ntar ajalah… Ini weekend… Aku nggak kuliah…”

Reese, kakak perempuan Selin, langsung menarik kembali selimut Selin hingga ke bawah. “Iya tau kalo kamu nggak kuliah, tapi emangnya nggak mau makan sampe siang?! Udah jam berapa ini??! Tumben banget kamu masih tidur! Mama sama Papa nungguin, tuh, di luar!!”

Selin berdecak, kakinya bergerak menendang-nendang ke bawah, lalu ia menutupi wajahnya dengan bantal guling. “Aaaah, Kak, nanti dulu… Mimpinya lagi seru, nih…”

Reese memutar bola matanya. “Mimpi apaan kamu? Udah cepet bangun! Aku laper, nih!”

Dengan secepat kilat, Reese menarik lengan Selin hingga gadis itu terduduk. “Cepet bangun, cuci muka! Udah siang ini! Makanya jangan begadang!”

Ya bagaimana, ya, soalnya semalam Selin tak bisa tidur.

Selin duduk di sana dengan mata yang masih separuh terpejam. Dia sedikit mengerjap—beberapa kali—tetapi lebih banyak terpejam. Kepalanya agak oleng karena masih mengantuk.

Reese pun meninggalkan Selin sendirian dan kembali ke ruang makan. Sebenarnya, ruang makan itu tidak jauh dari kamar Selin, jadi Selin cuma harus keluar dan berjalan beberapa langkah.

Akhirnya, setelah satu menit mengumpulkan nyawa, Selin pun menggaruk kepalanya dan bangkit. Dia malas sekali, sebenarnya, soalnya dia baru bisa tidur jam 3 pagi tadi.

Mengantuknya minta ampun.

Selin mulai pergi ke kamar mandi (yang ada di dalam kamarnya) dan mencuci muka. Setelah itu, dia berkumur-kumur, lalu pergi ke luar kamar.

Tatkala menutup pintu kamarnya kembali, Selin sudah bisa melihat ayah, ibu, dan kakaknya yang duduk bersama di dekat meja makan. Di atas meja itu sudah ada menu sarapan sederhana yang mungkin saja dimasak oleh ibu dan kakaknya.

Ternyata, Selin sangat kesiangan sampai-sampai tidak membantu ibu dan kakaknya. Ini weekend, sih, jadi biasanya Selin memang tidak dibangunkan, kecuali kalau sudah jam delapan pagi. Biasanya, Selinlah yang akan bangun sendiri. Dia akan bangun sekitar jam enam pagi kalau kuliah…dan jam tujuh pagi kalau weekend. Makanya, dia selalu sempat membantu mamanya.

Namun, hari ini, dia belum bangun hingga jam delapan. Membuat Reese harus membangunkannya.

“Tumben banget kamu, Lin?” tanya Papa. “Ngapain semalem emangnya?”

Selin—yang masih mengantuk itu—mulai menarik kursi yang ada di sebelah kakaknya dan duduk di sana. “Nggak apa-apa, Pa.”

“Lagi mimpi, katanya,” komentar Reese. Gadis itu sudah mulai mengunyah roti.

Mama tertawa kecil, geli, dan menggeleng. “Mimpi apaan sampe kesiangan gitu? Ada-ada aja. Ayo makan.”

Mereka mulai makan. Selin mengambil sup dan nasi, lalu sambil mengunyah, ia pun mendengar Reese mulai berbicara.

“Ma, Pa,” panggil Reese. “Terlalu muda nggak, ya, kalo aku nikah umur 25 tahun?”

Mama, Papa, dan Selin pun langsung menatap Reese walau sambil makan. Mereka sama-sama menaikkan alis. Mama pun berkomentar, “Kenapa emangnya?”

“Ya, masih muda,” jawab Papa. “tapi ngapain nanya gitu?”

“Kevin kayaknya mau ngelamar aku, deh,” ujar Reese seraya mengedikkan bahu.

Mama dan Papa sontak berhenti makan sejenak.

“Beneran?” tanya Mama.

Reese mengangguk. “Iya.”

“Kok kamu bisa tau? Emang dia ada bilang?” tanya Papa, mau memastikan. Selin hanya menyimak. Dia tahu kalau kakaknya dan Kak Kevin itu sudah lama berpacaran.

“Gak ada bilang ke aku, sih,” jawab Reese. “tapi ada temen sekantornya yang ngasih tau aku kalo dia lagi beli cincin buat ngelamar aku.”

“Wah!” Mama melebarkan mata. “Ya itu kabar bagus, sih, tapi kok kalo dipikir-pikir temennya itu kurang peka, ya? Kok malah ngasih tau kamu. Harusnya yang kayak gitu tuh surprise, ‘kan?”

Papa tersenyum, lanjut menyendok supnya. “Mama malah salah fokus.”

Reese jadi mengakak. “Iya, nih, haha! Tapi kalo dipikir-pikir…bener juga, lho, Pa. Temennya itu kurang bisa liat situasi, hahahahaha! Seneng, sih, tapi aku jadinya udah nggak kaget lagi.”

Mama ikut-ikutan tertawa.

Setelah itu, Papa mengernyitkan dahi. Pria berusia 50 tahun itu pun kembali berbicara, “Tapi kamu yakin mau nikah muda? Ya Papa tau kalo kalian udah lama pacaran…dan kerjaan kalian udah sama-sama stabil, tapi kamu beneran mau nikah sekarang?”

“Ya kalo dia emang beli cincin nikah—bukan cincin tunangan—sih aku oke-oke aja nikah sekarang. Takutnya yang dia beli itu masih cincin tunangan,” ujar Reese seraya tertawa. Mama jadi tertawa lagi.

Papa tersenyum, lalu menggeleng. “Ada-ada aja. Pastiin dulu itu cincin apaan, kalo gitu.”

Well, Papa dan Mama sudah merestui hubungan Reese dan Kevin. Kevin adalah pria baik yang sayang pada Reese dan keluarganya. Selin juga sering melihat Kak Kevin datang ke rumah mereka untuk bersilaturahmi pada Mama dan Papa. Itu bukan pemandangan yang asing lagi.

Tiba-tiba saja, sambil makan nasi, Reese pun menoleh kepada Selin. “Kamu gimana, Lin? Kapan punya pacar? Kayaknya udah bertahun-tahun kamu nggak pernah pacaran lagi. When did you have a boyfriend again? Was it six or seven years ago?”

Mama tertawa. Geli sekali rasanya mendengar ucapan Reese dari tadi.

Selin memasukkan makanan ke dalam mulutnya, lalu dengan ekspresi datar (separuh melamun), dia menjawab, “Nggak, Kak. Nggak ada. Aku akhir-akhir ini sibuk mikirin om-om, soalnya.”

Mendengar itu, baik Mama, Papa, maupun Reese…

 

…semuanya jadi melongo.

 

Tangan mereka—yang mau memasukkan makanan itu—terhenti di udara.

Mereka semua menatap Selin dengan mata melebar.

 

…hah?

 

…apa katanya tadi?

 

‘Om-om’?

 

Reese adalah orang pertama yang merespons. Gadis itu mengedipkan matanya dua kali, lambat, lalu bersuara:

 

“…om-om?”

 

Mendengar ucapan Reese, barulah mata Selin membeliak; pipinya langsung memerah. Buru-buru dia menggaruk tengkuknya, lalu menatap ketiga orang di sana dengan canggung. “Ah—haha… Nggak, nggak. Aku cuma bercanda.”

Selin jadi bangun sepenuhnya sekarang.

Mendengar jawaban Selin, baik itu Mama, Papa, maupun Reese, mereka semua langsung menghela napas. Reese pun berkomentar, “Ada-ada aja.”

Selin tertawa canggung; dia hampir keringat dingin. Keluarganya kembali makan, begitu pula dirinya. Namun, jujur saja, dia sudah tak fokus makan lagi gara-gara keceplosan soal om-om tadi.

Sekitar lima detik kemudian, Selin pun teringat sesuatu. Dia langsung menatap kakaknya—dengan mata yang melebar karena penasaran—dan berkata, “Oh, iya, Kak. Gimana? Besok jadi nggak kita bikin macaron coklat?”

Reese minum sejenak, lalu saat meletakkan gelasnya kembali di atas meja, dia mengangguk. “Jadi. Besok pagi, ayo kita beli bahan-bahannya.”

 

******

 

Juan melangkah menuju pintu utama gedung Zach Lune—salah satu anak perusahaan Zach Enterprises yang bergerak di bidang Luxury Lifestyle & Personal Goods—di kota Belmontia (kota yang bersebelahan dengan kota Velmora, tempat di mana kantor pusat Zach Enterprises/Zach Tower berada). Seperti biasa, saat dia turun dari mobil, sudah banyak orang yang berbaris di sisi kiri dan kanannya, menyambut kedatangannya di sana. Para petinggi di Zach Lune juga berbaris untuk menyambutnya (Managing Director, para Vice President (VP), General Manager, dan lain-lain). Seluruh staf anak perusahaan itu sudah mempersiapkan diri sejak jauh hari karena tahu bahwa bos teratas mereka—Juan A.D. Zacharias—akan melakukan kunjungan hari ini.

Mereka semua menyapanya dengan kalimat: ‘Selamat datang, Mr. Zacharias.’ saat dia mendekat. Sebenarnya, mereka sudah menunduk hormat tatkala melihat mobil hitam Juan beserta mobil-mobil bodyguard-nya memasuki area gedung.

Juan mengangguk dan tersenyum. Para pimpinan Zach Lune langsung menjabat tangannya, menyapanya dengan ramah. Bertanya soal perjalanannya kemari. Setelah itu, mereka mulai berjalan di belakang Juan. Semuanya mengikuti Juan, kecuali Managing Director yang berjalan di samping Juan; sebagai pemimpin di anak perusahaan itu, dia harus menemani dan menunjukkan arah ke ruang meeting pada Juan.

“Mari ke sebelah sini, Pak. Semuanya sudah disiapkan,” kata sang Managing Director seraya menunjuk ke kanan dengan menggunakan telapak tangan yang terbuka.

Juan mengangguk.

Selain dari para petinggi, sebenarnya ada juga karyawan-karyawan lain yang ikut menyambut Juan. Seperti resepsionis dan lain-lain yang wajahnya dianggap oke dan penampilannya rapi (biasanya perempuan). Jujur saja, semua orang (terutama yang bekerja di bawah tatanan Zach Enterprises) tahu bahwa Juan A.D. Zacharias adalah makhluk yang sangat memesona, punya daya tarik yang matang, dan mampu menguasai ruangan hanya dengan keberadaannya. Namun, kalau dilihat dari dekat, ternyata ketampanannya jauh lebih fatal. Dia mampu membuatmu menahan napas tatkala melihatnya secara langsung.

Setelah masuk ke ruang meeting, Juan pun dipersilakan duduk di tengah-tengah. Tatanan meja dan kursi di ruang meeting itu membentuk huruf U. Juan duduk di posisi pusatnya, di titik utama yang menghadap ke seluruh peserta rapat. Cukup banyak yang menghadiri rapat itu: satu Managing Director (posisi tertinggi Zach Lune), lima VP dan GM dengan tanggung jawab yang berbeda-beda, serta para brand guardians, yaitu: Creative Director, PR & Media Manager, dan Legal & Compliance Lead. Di depan sana, sudah ada layar besar yang memperlihatkan final launch presentation lini produk terbaru Zach Lune.

Begitu Juan duduk, Managing Director Zach Lune (yang duduk di sayap kiri bersama para Vice President) mulai berdiri.

“Selamat pagi, Pak Juan.”

Semua orang yang hadir di sana ikut berdiri. Mereka lalu menyapa Juan secara bersamaan.

“Selamat pagi, Pak.”

Juan mengangguk pelan, lalu tersenyum simpul.

 

“Selamat pagi.”

 

Setelah Juan menjawab, mereka pun duduk kembali.

Managing Director mulai membuka foldernya. “Terima kasih karena telah meluangkan waktu untuk hadir langsung di Zach Lune, Pak, dalam rangka final approval peluncuran lini produk terbaru kami. Hari ini, kami akan mempresentasikan final readiness untuk peluncuran produk tersebut.”

Sang Managing Director mulai menoleh sedikit ke layar. “Tim Product Lab, Marketing, Operations, dan Retail telah menyiapkan seluruh aspek peluncuran; mulai dari formula, packaging, distribusi, hingga campaign.”

Juan menatap layar.

Setelah itu, Managing Director menatap Juan kembali. “Kami siap menerima arahan dan keputusan final dari Bapak.”

Juan mengangguk. Ia pun menumpukan sikunya di meja; jemarinya saling terjalin di depan dagu.

“Baik,” jawab Juan. “Silakan dimulai.”

Lampu ruang meeting sedikit diredupkan. Layar besar di depan ruangan itu pun menyala lebih terang, menampilkan slide pertama. Di sana, terpampang logo perusahaan Zach Lune di atas background putih bersih.

Salah satu Vice President di sisi kiri meja—VP of Product Development—segera berdiri. Ia menunduk hormat sebentar ke arah Juan sebelum mulai berbicara.

“Selamat pagi, Pak Juan,” ucapnya dengan nada formal. “Izinkan saya memperkenalkan lini produk terbaru dari Zach Lune.”

Ia menekan sebuah tombol di remote yang sedang ia pegang. Slide pun berganti.

Kini, yang terpampang di depan sana adalah logo baru berwarna hitam pekat dengan aksen emas.

 

LUMIÈRE NOIR

 

“Untuk lini produk terbaru ini,” ucapnya. “kami memperkenalkan Lumière Noir: signature beauty house Zach Lune.”

Slide berikutnya menampilkan botol parfum kaca gelap dengan label emas, disusul dengan rangkaian produk skincare.

“Lumière Noir difokuskan pada dua kategori utama: parfum dan skincare premium. Parfum Lumière Noir dirancang sebagai signature scent; aromanya dewasa, bersih, dan sensual. Sementara itu, lini skincare Lumière Noir dikembangkan sebagai perawatan kulit kelas atas yang berfokus pada regenerasi dan peremajaan.”

VP itu terus mempresentasikan parfum dan jajaran skincare Lumière Noir dengan detail. Juan memperhatikan semuanya dengan saksama; sesekali dia mengangguk…dan memberikan komentar atau pertanyaan.

Setelah selesai memperkenalkan produk baru itu, sang VP pun menatap Juan kembali.

“Seluruh rangkaian telah menyelesaikan uji klinis dan sertifikasi. Kami menunggu keputusan final Bapak untuk memulai produksi massal dan peluncuran.”

Juan diam sebentar. Dia lalu menurunkan tangannya dari depan dagu, lalu berbicara dengan suara yang rendah dan stabil.

“Lanjutkan ke tahap produksi massal.”

Semua orang terdiam—seperti menahan napas—tetapi diam-diam merasa sangat senang karena produk mereka di-approve Juan.

Di dalam struktur Zach Enterprises yang mendunia, Juan hanya akan turun langsung ketika sebuah keputusan berada pada tingkat foundational, yakni ketika sebuah lini baru akan dikukuhkan sebagai pilar empire, ketika arah strategis global akan ditetapkan, atau ketika sebuah nama akan resmi lahir di bawah naungan Zach Enterprises. Dalam momen-momen seperti itu, kehadiran Juan bukan sekadar formalitas, melainkan otoritas terakhir yang mengikat seluruh struktur perusahaan. Hari ini, otoritas itu hadir untuk satu tujuan, yaitu memberikan final approval atas peluncuran Lumière Noir.

Juan menoleh kepada Managing Director. “Silakan rilis di bulan Oktober. Saya ingin distribusi tahap pertama difokuskan di Belmontia. Boutique flagship harus siap sebelum kampanye dimulai.”

Setelah itu, ia menatap para VP. “Lakukan peluncurannya melalui private Lumière Noir Pavilion. Saya tidak mau booth publik.”

Semua orang mulai mencatat perintahnya.

“Undangan terbatas. Fokuskan pada klien private, partner hotel, dan investor. Saya ingin kesannya eksklusif sejak hari pertama,” lanjut Juan. “Namun, berikan private privilege di batch pertama.”

Mendengar itu, VP of Marketing pun berdiri.

“Baik, Pak Juan,” ujarnya. “Terkait private previlege, kami sudah mempersiapkannya.”

Di layar, terbukalah satu file presentasi yang berbeda. Judul presentasi itu adalah ‘PRIVATE PRIVILEGES — LUMIÈRE NOIR’.

Ia menekan tombol pada remote, lalu layar pun berganti.

“Berikut adalah serangkaian private privileges untuk para tamu undangan, Pak,” ujar sang VP. “Pertama, Founders’ Allocation. Para tamu undangan akan mendapat akses eksklusif ke batch produksi pertama sebelum rilis publik.”

Slide berganti.

“Kedua, Signature Engraving. Setiap botol parfum atau produk skincare batch pertama akan diukir dengan inisial pemiliknya.”

“Ketiga, Private Scent Ritual. Ini dikhususkan untuk produk parfum, yakni sesi personal fragrance fitting bagi klien undangan.”

“…lalu yang terakhir, Lumière Noir Pavilion Set. Ini adalah paket edisi terbatas yang hanya tersedia pada hari peluncuran.”

VP itu lalu menatap Juan kembali. “Seluruh privilege ini dirancang untuk menegaskan kesan eksklusif Lumière Noir sejak hari pertama.”

Juan pun mengangguk.

“Baik. Silakan dilanjutkan. Laporkan perkembangannya pada saya.”

Tak lama kemudian, rapat itu pun selesai.

Semua orang mulai rileks. Lampu dihidupkan kembali sepenuhnya. Juan mulai bersandar; beberapa petinggi di sana juga sudah mulai bersandar. Satu menit kemudian, beberapa staf hospitality Zach Lune langsung masuk ke ruang meeting. Mereka membawa nampan-nampan yang berisi hidangan ringan. Mereka lalu meletakkannya di atas meja—di depan masing-masing peserta meeting—setelah memberi hormat sejenak. Begitu selesai memberi hidangan-hidangan itu, mereka semua pun keluar dari ruangan.

Sambil memakan hidangan itu, semua elite di sana pun mulai mengobrol dan tertawa ringan. Mereka semua mengajak Juan berbincang, saling bercerita seputar kegiatan di perusahaan, tetapi tetap sopan padanya. Namun, tiba-tiba saja, pembahasan itu mulai menyentuh topik pasangan.

Sepertinya, itu terjadi karena Managing Director bercerita soal istrinya yang membangunkannya jam 4 pagi saat Zach Lune mengadakan sebuah event bulan lalu.

Juan mendengarkan cerita mereka semua. Dia tersenyum, mengangguk, sesekali merespons dan tertawa ringan. Namun, ujung-ujungnya, jadi banyak yang ingin tahu soal ‘pasangan’ Juan.

…mungkin karena sangat penasaran.

Mereka semua sibuk bertanya, bahkan ada yang sampai berdebat seperti:

‘Ya itu terserah Pak Juan juga, ‘kan?’

‘Iya, tapi jujur, saya penasaran.’

‘Tapi itu privasi beliau.’

‘Pak Juan itu terlalu sempurna untuk terus-terusan sendirian.’

 

Mereka malah saling menimpali, sampai-sampai Managing Director dan Juan jadi tertawa kecil.

Mendengar tawa Juan, Managing Director pun langsung menatap Juan dengan penasaran. “Tapi serius, Pak, apakah Bapak tidak sedang tertarik dengan wanita mana pun? Kami semua berharap…suatu hari nanti Bapak menemukan pendamping yang tepat.”

Ruangan itu seketika hening. Jujur saja, itu adalah pertanyaan yang sangat berani!!

Namun, tak bisa dipungkiri, semua orang pun sebenarnya ingin menanyakan hal yang sama. Akibatnya, semua mata langsung tertuju pada Juan.

Mereka menahan napas.

 

Menunggu jawaban Juan.

 

Jujur saja, itu adalah hal yang selalu ingin orang ketahui tentang Juan. Juan Zacharias yang sangat kuat dan berada di level yang berbeda. Juan Zacharias yang terasa seperti langit, mustahil untuk disentuh. Diam-diam, semua orang begitu penasaran dengan kehidupan romantisnya.

…terutama para perempuan.

Ya jelas saja, Juan adalah manusia yang setampan itu! Mana mungkin mereka tidak penasaran!

Apa pun jawaban Juan atas pertanyaan Managing Director barusan, itu pasti akan menghebohkan banyak sekali manusia.

 

Namun, ternyata…

…Juan tidak menjawab apa pun.

Dia hanya diam…

 

…lalu pelan-pelan tersenyum miring.

 

Membuat semua orang di ruangan itu seketika melebarkan mata.

 

******

 

Keesokan harinya, sekitar jam 10 pagi, Selin dan kakaknya pergi ke mall. Mereka masuk ke toko buku terlebih dahulu karena ingin mencari buku resep.

‘Kak, ke toko buku dulu, yuk. Aku mau cari buku resep,’ kata Selin saat mereka baru menginjakkan kaki di mall. Reese pun setuju.

Begitu sampai di depan toko buku (di lantai tiga mall), mereka langsung disambut dengan rak majalah bisnis yang terletak di dekat pintu masuk. Rak itu berdiri paling depan, berjejer rapi di antara surat kabar dan majalah lifestyle.

Namun, saat melihat majalah-majalah bisnis itu, mata Selin spontan membulat.

Tubuhnya mematung di depan pintu.

 

Di sana, di cover majalah-majalah bisnis itu…

 

…ada wajah Om Juan!!

 

Ah, siaaaaal!!! Kok sekarang di mana-mana ada Om Juan, sih? Apakah Selin berhalusinasi lagi? Waktu itu, wajah dosen Selin berubah jadi wajah Om Juan. Sekarang, apakah wajah seseorang di majalah itu berubah jadi wajah Om Juan juga?

Selin tak bisa melarikan diri dari Om Juan barang sedetik pun, bahkan saat di toko buku. Siaaal!

(Well, sebenarnya, Juan sudah sangat terkenal dari dahulu, tetapi Selin baru menyadari keberadaan Juan akhir-akhir ini karena pernah bertemu langsung di mansion. Selain itu, selama ini…Selin juga tak pernah benar-benar memperhatikan majalah ekonomi atau bisnis.)

Namun, damn.

Ternyata, itu bukan halusinasi! Soalnya, wajah Om Juan tak kunjung hilang! Itu benar-benar foto Om Juan!

Itu adalah foto close-up. Diambil dari angle samping, menampilkan wajah tampan Om Juan yang memiliki hidung mancung dan rahang tajam. Om Juan mengenakan jas dengan motif salur hitam putih; dia menatap ke kamera dan tersenyum dengan penuh wibawa. Judul majalah itu adalah:

 

JUAN A.D. ZACHARIAS

The Power Behind Zach Enterprises

 

Pipi Selin jadi merona.

 

Om Juan ganteng banget…

 

Terus terang saja, Selin datang ke sini cuma mau membeli buku resep. Dia cuma mau lewat pintu, masuk ke toko buku, lalu mencari rak buku resep.

Namun, sebelum menginjakkan kakinya di toko itu, dia sudah dihadapkan dengan wajah Om Juan.

Well, majalah bisnis biasanya memang diletakkan di rak depan (kalau di toko buku), tetapi sepertinya…Selin paham ‘alasan lain’ mengapa toko buku ini meletakkan majalah bisnis di rak paling depan.

Alasan lain itu adalah:

Juan Zacharias!

Dengan melihat foto itu saja, mungkin banyak orang yang akan membelinya. Para pria mungkin akan membeli buku itu untuk belajar soal bisnis dan kesuksesan Om Juan, sementara para wanita…

…mungkin hanya mau fangirling. Mungkin ada juga, sih, wanita yang mau belajar soal bisnis dari sana, tetapi kebanyakan pasti untuk fangirling. Soalnya, di dalam majalah itu pasti ada foto-foto Om Juan, ‘kan?

Sial. Rak yang berisi majalah bisnis itu bahkan diberi plang ‘Best Seller’.

Selin rasanya mau pulang saja. Atau pergi terapi. Soalnya, dia mau berhenti memikirkan Om Juan. Serius! Tidak sopan sekali rasanya memikirkan ayahnya Lucian sampai seperti ini. Kalau Om Juan tahu, mungkin dia akan terganggu.

Selin diam-diam mau menangis.

“Wah, Juan Zacharias makin lama makin ganteng aja, ya,” komentar Reese. “Makin tambah umurnya malah makin menggoda. Itu ayahnya temen kamu, ‘kan? Si Lucian.”

Rona merah di pipi Selin langsung menjalar hingga ke telinga. Dia langsung menyeret Reese masuk ke toko buku itu dan berkata, “Udah, Kak, ayo kita cari bukunya sekarang!”

Selin dan Reese pun mencari buku resep yang cocok. Berhubung Selin suka membuat kue, dia pun memilih buku resep yang isinya kebanyakan resep kue yang belum dia ketahui, termasuk macaron.

Setelah membeli buku itu, Selin pun keluar dari toko buku dengan secepat kilat. Dia langsung mengajak Reese pergi ke baking supply store (ini toko favorit Selin banget!) untuk membeli almond flour, bubuk kakao, icing sugar, whipping cream, unsalted butter, dan dark chocolate couverture.

Sambil berbelanja, Selin dan kakaknya sempat mengambil foto selfie. Reese yang mengambil fotonya, jadi Reese ada di depan. Selin ada di belakangnya, gadis itu tersenyum sambil memegang sekotak whipping cream.

Selin meminta foto itu dari Reese, lalu meng-upload foto itu ke media sosialnya. Dua menit kemudian (saat Selin sedang melihat-lihat unsalted butter), ponselnya berbunyi. Ada sebuah notifikasi masuk. Selin melihat notifikasi itu dan ternyata, Maxi mengomentari fotonya.

 

Elena Ruby Maximilian: Cieeee, belanja di mana, nih? Di toko biasa, ya? Kok nggak ngajak-ngajak?!

Selin mengikik geli. Dia pun membalas komentar Maxi.

Florentia Roselin Agrece: Diajak = bantuin bikin kuenya.

Elena Ruby Maximilian: Buset! Mana ngerti aku bikin kue 🤣

Florentia Roselin Agrece: Ya udah, berarti udah bener nggak usah diajak

Elena Ruby Maximilian: Jahat banget nih orang, woy, padahal aku sering juga ngawanin dia ke situ 😱

Florentia Roselin Agrece: Iya tapi malah nyusahin

Elena Ruby Maximilian: HAHAHAHAHA LMFAO

Elena Ruby Maximilian: Tapi seriusan, lho, aku bosen banget di rumah. Ajak aku, dong :(

Florentia Roselin Agrece: Kami habis ini mau pulang, Maxi. Coba ajak Aria aja. Aria ke mana?

Elena Ruby Maximilian: Walah, tuh anak udah dari kemaren sibuk ngeliatin Lucian terus di mansion, padahal Lucian udah sembuh tuh pasti :v

Florentia Roselin Agrece: Lah, kok cepet banget?? Kan kejadiannya kemaren lusa. Kayaknya masih lebam ituu

Elena Ruby Maximilian: Nggak. Aku video call-an sama Aria tadi pagi. Ada Lucian di situ. Jelas-jelas tuh bocah udah sembuh 🤣 Udah ketawa-ketawa, udah ngeselin kayak biasa. Tau sendirilah gimana kuatnya badan anak itu 🤣

Florentia Roselin Agrece: Astaga 😂 Terus apa gunanya Aria di situ?

Elena Ruby Maximilian: Dia masih cemas sama Lucian. Lucian mah mungkin seneng-seneng aja. Mau pacaran, soalnya -_-

Florentia Roselin Agrece: Hahahaha iya pastinya. Udah hafal juga akuu

Elena Ruby Maximilian: Apalah daya kita yang single ini

Elena Ruby Maximilian: …terutama kamu yang udah enam tahun nggak ada pacar :v

Florentia Roselin Agrece: DIEM NGGAK?!

Elena Ruby Maximilian: HAHAHAHAHAHAHA

 

Selin pun tersenyum, lalu meletakkan ponselnya kembali ke saku celananya. Dia menyusul Reese di depan sana yang sedang melihat-lihat almond flour.

“Udah dapet, Kak?” tanya Selin.

“Hmm.” Reese mengangguk. “Yang ini aja.”

Reese pun meletakkan almond flour ke keranjang belanjaan mereka. Selin lanjut mencari icing sugar dan bubuk kakao.

Tak lama kemudian, mereka pun selesai berbelanja. Sesuai rencana, setelah selesai berbelanja, mereka pun langsung pulang. Selin ingin segera membuat macaron coklatnya di rumah.

Akan tetapi, di sepanjang jalan di mall itu, Selin sempat melihat area men’s clothing store atau men’s fashion yang terkenal. Sebenarnya, di dinding kaca toko tersebut terpampang foto model yang sangat tampan dan hot. Ada yang memakai kemeja (dan kancingnya terbuka separuh), ada yang memakai jas, dan ada juga yang shirtless (hanya memakai jeans).

Entah mengapa, melihat gambar-gambar pria itu…mengingatkan Selin pada Om Juan. Bukan bentuk tubuhnya, tetapi…keseksian six pack-nya. Bentuk tubuh mereka tentu tidak sama dengan Om Juan (Om Juan lebih maskulin; lebih well-built), tetapi otot-otot di perut mereka…cukup mirip.

 

Kalau Om Juan jadi model…gimana, ya?

 

Nah, kan. Pikiran Selin mulai melanglang buana lagi.

Ugh.

 

Let’s just go home.

 

*******

 

Juan turun dari mobil dan disambut oleh seluruh bodyguard yang berjaga di mansion-nya. Sebenarnya, ada dua jenis bodyguard yang bekerja untuk Juan:

 

1.     Bodyguard yang berjaga di mansion

2.     Bodyguard yang mengikuti Juan ke mana-mana (saat Juan bekerja).

 

Sebenarnya, bodyguard yang mengikuti Juan sejak tadi juga sudah turun dari mobil mereka dan membukakan pintu untuk Juan. Mereka lalu bergabung dengan bodyguard penjaga mansion untuk berbaris di sebelah kanan dan kiri Juan. Kepala pelayan (head butler) juga ikut menyambut Juan di dekat pintu masuk.

“Selamat datang, Tuan,” sapa mereka semua seraya menunduk hormat.

Juan mengangguk singkat. Dia berjalan ke pintu utama mansion, lalu menitipkan jas serta tasnya kepada sang head butler—Diego—yang berdiri di sana. “Lucian ada di rumah?”

“Ya, Tuan. Tuan Muda ada di rumah,” jawab Diego.

Juan pun mengangguk.

Saat masuk ke mansion, orang yang mengikuti atau mengawal Juan dari belakang hanyalah Diego. Para bodyguard tetap berdiri di depan pintu. Mungkin, para bodyguard yang bertugas untuk mengikuti perjalanan kerja Juan akan pulang sebentar lagi.

Tatkala Juan sedang naik tangga ke lantai dua (karena kamarnya ada di sana), dia pun mendengar suara Lucian.

“Dad! You’re home.”

Juan menoleh sejenak…dan menemukan Lucian sudah berlari mendekatinya. Mereka kini berada di tengah-tengah tangga.

“Yes,” jawab Juan. “How are your wounds?”

Lucian tertawa. “Udah sembuh dari kemaren, hahahaha!”

Juan tersenyum seraya mengembuskan napas pelan. “Is Aria accompanying you today as well?”

“Nah, itu dia yang mau aku bicarain, Dad! Aria datang ke sini juga hari ini, padahal sebenernya aku udah sembuh. Jadi, Dad, boleh nggak aku main ke rumah Aria besok malem? Aria perhatian banget ke aku, soalnya, padahal kondisiku biasa-biasa aja.” Lucian mengakak.

Juan mengangguk pelan.

“Okay. Avoid doing anything that might upset or anger her parents. Be nice.”

Lucian mengangguk. Pemuda itu tersenyum. “All right, Dad. Good night!”

“Hm,” deham Juan seraya mengusap kepala Lucian. Tanpa terasa, saat itu mereka sudah sampai di depan kamar Juan. Diego langsung menunduk hormat begitu Juan masuk ke kamarnya.

Sepeninggal Juan, Lucian pun langsung berbalik. Pemuda itu menatap Diego dan tersenyum. “Diego, tolong siapin makan malem buat Ayah.”

“Baik, Tuan Muda,” jawab Diego seraya menunduk hormat.

Diego pun undur diri dari hadapan Lucian. Dia membereskan jas dan tas kerja Juan terlebih dahulu sebelum akhirnya mengarahkan para pelayan di rumah itu untuk menghidangkan makan malam Juan.

Sambil menuruni tangga, Lucian mulai bertanya-tanya dalam hati.

Dia tak pernah melihat ayahnya menggandeng wanita baru setelah ibunya meninggal.

…walau pada kenyataannya, dia tahu alasan mengapa ayahnya menikah dengan ibunya. []

 















******




Juan waktu masih muda (Lucian masih bayi).




Ini Juan juga, tapi pas Lucian udah TK.


Note: BTW guys, aku kesulitan banget nyari foto Juan. Juan ini kan referensi visualnya itu Jeon Jungkook dari boy band Korea BTS, nah sementara Jeon Jungkook itu kan keliatannya masih muda ya. Dia bukan daddy usia 40 ke atas :( Jadi, hampir mustahil menggunakan fotonya yang asli, kecuali untuk foto Juan pas masih muda.

Selama ini, aku tuh nyari fotonya selalu hasil AI yang ada di Pinterest (editan orang lain). Karena kulihat penampilan asli Jeon Jungkook itu tidak sama dengan Juan.

Mukanya sih sama, tapi Juan jauh lebih matang/dewasa. Badannya lebih kekar (buff). Dia juga tidak bertato dan tidak merokok.

Sementara...hasil editan AI di internet itu kebanyakan antara:

1. Jeon Jungkook versi daddy, tapi bertato dan merokok (mafia), atau

2. Jeon Jungkook versi CEO, tapi mukanya keliatan masih muda dan badannya kurang kekar (nggak kayak Juan).


Jadi, susah banget buat ngumpulin foto Juan. Makanya, boleh nggak aku minta kerja sama kalian untuk cuekin aja tato dan rokoknya kalo aku sediakan foto Juan di sini? Karena cuma foto-foto seperti mafia itulah yang mendekati 'rupa' Juan. Muka dan badannya.

Aku nggak ada pilihan lain (T_T). Aku udah sering banget nyari foto editannya di internet, ngehabisin banyak waktu, tapi cuma itu yang bisa kudapat.

Contohnya gini:



Sebenernya ini cocok buat tipe badan Juan. Tapi ini kesannya kayak bos mafia karena rokok dan penampilannya. Sementara Juan kan penampilannya lebih rapi/sophisticated ya (lebih ke luxury executive dan old-money authority). Kalo malam, Juan emang sering buka jasnya (seperti di Chapter 4), tapi kesannya tetap eksekutif yang rapi, bukan kayak bos mafia yang edgy (tajam, gelap, rebel).


Gimana? Apa gak usah aja? Wkwkw. Siapa tau foto begini malah ngerusak imajinasi kalian soal Juan kan. 

Tapi...kalo kalian nggak mau, berarti bakal jarang ada foto nih di novel ini :(

Kasih tau aku ya, sebaiknya gimana. Wkwk.


BTW untuk next chapter, tolong siapkan hati kalian, ya. Itu adalah salah satu chapter yang aku tunggu-tunggu di novel ini. Hihi.

Sampai ketemu lagi! (^_^)






Immure (Chapter 5: Numb, Empty)

  ****** Chapter 5 : Numb, Empty   ******   SAAT matahari terbenam, Yohan pun mengantarkan Hea pulang. Pemuda itu sempat ragu-ra...