Chapter
5 :
Wealthy
and Powerful Man
******
PONSEL
berwarna
hitam yang ada di atas meja itu berbunyi, pertanda ada sebuah panggilan masuk.
Dua detik kemudian, ada sebuah tangan berurat yang muncul dan menggeser tombol
di layar, mengangkat panggilan telepon itu.
Juan
Zacharias melangkah mendekati lemari pakaiannya yang superbesar. Ia tengah
memakai kemeja putihnya tatkala suara Hubert (dari seberang sana) terdengar
di ruangan. Ia menyelipkan satu lengannya ke dalam kemeja,
lalu menarik kain itu menyusuri bahu lebarnya. Tubuh shirtless-nya
terlihat sangat kokoh; dadanya bidang. Otot-otot di perut dan lengan atas, lalu
urat-urat di leher, lengan, dan tangannya, semua tercetak dengan jelas.
“Semua
sudah selesai, Pak,” ujar Hubert. “Semua tim sudah
membatalkan proyek dengan perusahaan milik Pak Bennett. Kabar ini juga sudah
disampaikan kepada tim mereka.”
Juan
tengah mengancing kemejanya; dia belum menjawab.
“Ini
mungkin tidak penting untuk disampaikan pada Bapak, tetapi hampir seluruh
investor mereka mundur karena Zach Enterprises berhenti bekerja sama dengan
mereka. Semua investor itu mendengar informasinya dalam waktu kurang dari satu
jam. Pak Bennett sejak tadi terus-menerus menghubungi kami, Pak.”
Sebenarnya,
di seberang sana, Hubert juga belum tahu mengapa Mr. Juan Zacharias menghubunginya
satu jam yang lalu, meneleponnya hanya untuk berkata satu kalimat:
“Batalkan
kerja sama kita dengan Valemont Group.”
Sudah.
Hanya itu. Jam tujuh pagi. Saat Hubert sedang sarapan.
Jelas
saja, karena permintaan bos besar yang mendadak itu, Hubert langsung menelepon
seluruh direktur yang bertanggung jawab dan memberitahukan permintaan itu.
Seluruh direktur pun langsung menghubungi anggota mereka…dan semua orang
langsung bergerak cepat untuk memproses pembatalan proyek.
Tanpa
tahu apa alasannya.
Namun,
satu kata dari Juan Zacharias adalah mutlak. Dia pemimpin
sekaligus pemilik dari semua aset Zach Enterprises yang mendunia, menguasai
secara global. Satu perintah darinya adalah kewajiban dari seluruh orang-orang yang
ada di dalam Zach Enterprises.
Namun,
karena sudah bertahun-tahun bekerja sebagai sekretaris langsung Juan Zacharias,
Hubert pun paham bahwa:
Mr.
Zacharias tidak akan membuat tindakan seperti ini apabila tidak ada masalah.
Beliau
adalah orang yang berwibawa, baik, dan dermawan. Pemimpin sejati.
Biasanya, orang-orang akan cenderung arogan apabila memiliki kekuasaan,
kekayaan, dan kekuatan sebesar dirinya (karena dia adalah orang terkaya dan paling
berpengaruh di zaman ini!), tetapi dia tidak seperti itu. Hal itulah yang
membuatnya sangat dihormati dan dikagumi di mana pun dia berada.
Sepertinya,
Valemont Group menyentuh sesuatu yang tidak seharusnya disentuh. Entah
itu hal pribadi atau bukan.
Jadi,
pagi itu, sejak jam tujuh pagi, semua orang sudah sibuk memproses
pembatalan kerja sama dengan Valemont Group. Hubert dan para direktur (board
of directors) langsung pergi ke kantor saat itu juga.
Juan
tidak mengatakan apa pun selain satu kalimat itu, tidak menjelaskan apa-apa, tetapi
semua orang di bawahnya langsung menyesuaikan diri. Mereka langsung bergerak
dan mengusahakan agar semuanya selesai dengan cepat. Satu jam kemudian, semua
hal yang berkaitan dengan kerja sama itu telah selesai di-terminate.
Dibatalkan
total.
Sekarang,
yang tersisa hanyalah: memberitahu Juan bahwa semuanya sudah selesai.
Sejak
tadi, Pak Bennett terus saja menelepon pihak mereka. Menelepon Hubert.
Terus-menerus memohon seperti, ‘Aku sudah memberi pelajaran pada anakku! Dia
tak tahu kalau dia sedang mencari masalah dengan anaknya Mr. Zacharias! Tolong
sampaikan kepada Mr. Zacharias bahwa aku sangat menyesal, Pak. Tolong. Tolong
sampaikan ini pada beliau.’
Dari
sanalah, Hubert bisa mendapat kesimpulan bahwa:
Sepertinya,
yang diganggu oleh Bennett adalah Tuan Muda Lucian.
Pantas
saja.
Ujung-ujungnya,
Hubert hanya menjawab, “Kami hanya meneruskan perintah Mr. Zacharias, Pak.
Beliau telah memerintahkan kami untuk membatalkan kerja samanya. Mungkin, Bapak
bisa menghubungi beliau secara langsung.”
Mr.
Bennett langsung terdiam saat mendengar itu, lalu kembali frustrasi. Ya, Hubert
tahu bahwa itu mustahil dilakukan. Siapa juga yang berani melakukan itu?
Yang dihadapi ini bukanlah bos perusahaan biasa; ini adalah Juan Zacharias.
Hubert
sengaja mengatakan itu. Itu aman untuk dikatakan…sekaligus pantas juga
untuk anak Bennett yang jelas-jelas…salah (kalau didengar dari ucapan
ayahnya saat memohon pada Hubert).
Juan
tengah memasang dasinya ketika suara Hubert kembali terdengar.
“Kami
telah mengatasi telepon-telepon dari beliau, Pak.”
Juan
mengambil jas berwarna midnight navy-nya dan memasukkan lengannya satu
per satu. Setelah itu, dengan suaranya yang dalam, tenang, dan seksi
itu, dia menjawab:
“Oke.”
******
“Seliiinnnnn!!!!
Bangun, Dekkk!!”
Selin
mengerutkan dahi. Gadis itu langsung menarik selimut—hingga menutupi
kepalanya—dan mengerang. “Arghhh, Kaaaak… Ntar ajalah… Ini weekend… Aku
nggak kuliah…”
Reese,
kakak
perempuan Selin, langsung menarik kembali selimut Selin hingga ke bawah. “Iya
tau kalo kamu nggak kuliah, tapi emangnya nggak mau makan sampe siang?! Udah
jam berapa ini??! Tumben banget kamu masih tidur! Mama sama Papa nungguin, tuh,
di luar!!”
Selin
berdecak, kakinya bergerak menendang-nendang ke bawah, lalu ia menutupi
wajahnya dengan bantal guling. “Aaaah, Kak, nanti dulu… Mimpinya lagi seru, nih…”
Reese
memutar bola matanya. “Mimpi apaan kamu? Udah cepet bangun! Aku laper, nih!”
Dengan
secepat kilat, Reese menarik lengan Selin hingga gadis itu terduduk. “Cepet
bangun, cuci muka! Udah siang ini! Makanya jangan begadang!”
Ya
bagaimana, ya, soalnya semalam Selin tak bisa tidur.
Selin
duduk di sana dengan mata yang masih separuh terpejam. Dia sedikit
mengerjap—beberapa kali—tetapi lebih banyak terpejam. Kepalanya agak oleng
karena masih mengantuk.
Reese
pun meninggalkan Selin sendirian dan kembali ke ruang makan. Sebenarnya, ruang
makan itu tidak jauh dari kamar Selin, jadi Selin cuma harus keluar dan
berjalan beberapa langkah.
Akhirnya,
setelah satu menit mengumpulkan nyawa, Selin pun menggaruk kepalanya dan
bangkit. Dia malas sekali, sebenarnya, soalnya dia baru bisa tidur jam 3 pagi
tadi.
Mengantuknya
minta ampun.
Selin
mulai pergi ke kamar mandi (yang ada di dalam kamarnya) dan mencuci muka. Setelah
itu, dia berkumur-kumur, lalu pergi ke luar kamar.
Tatkala
menutup pintu kamarnya kembali, Selin sudah bisa melihat ayah, ibu, dan
kakaknya yang duduk bersama di dekat meja makan. Di atas meja itu sudah ada
menu sarapan sederhana yang mungkin saja dimasak oleh ibu dan kakaknya.
Ternyata,
Selin sangat kesiangan sampai-sampai tidak membantu ibu dan kakaknya. Ini weekend,
sih, jadi biasanya Selin memang tidak dibangunkan, kecuali kalau sudah jam
delapan pagi. Biasanya, Selinlah yang akan bangun sendiri. Dia akan bangun
sekitar jam enam pagi kalau kuliah…dan jam tujuh pagi kalau weekend. Makanya,
dia selalu sempat membantu mamanya.
Namun,
hari ini, dia belum bangun hingga jam delapan. Membuat Reese harus
membangunkannya.
“Tumben
banget kamu, Lin?” tanya Papa. “Ngapain semalem emangnya?”
Selin—yang
masih mengantuk itu—mulai menarik kursi yang ada di sebelah kakaknya dan duduk
di sana. “Nggak apa-apa, Pa.”
“Lagi
mimpi, katanya,” komentar Reese. Gadis itu sudah mulai mengunyah roti.
Mama
tertawa kecil, geli, dan menggeleng. “Mimpi apaan sampe kesiangan gitu? Ada-ada
aja. Ayo makan.”
Mereka
mulai makan. Selin mengambil sup dan nasi, lalu sambil mengunyah, ia pun
mendengar Reese mulai berbicara.
“Ma,
Pa,” panggil Reese. “Terlalu muda nggak, ya, kalo aku nikah umur 25 tahun?”
Mama,
Papa, dan Selin pun langsung menatap Reese walau sambil makan. Mereka sama-sama
menaikkan alis. Mama pun berkomentar, “Kenapa emangnya?”
“Ya,
masih muda,” jawab Papa. “tapi ngapain nanya gitu?”
“Kevin
kayaknya mau ngelamar aku, deh,” ujar Reese seraya mengedikkan bahu.
Mama
dan Papa sontak berhenti makan sejenak.
“Beneran?”
tanya Mama.
Reese
mengangguk. “Iya.”
“Kok
kamu bisa tau? Emang dia ada bilang?” tanya Papa, mau memastikan. Selin hanya
menyimak. Dia tahu kalau kakaknya dan Kak Kevin itu sudah lama berpacaran.
“Gak
ada bilang ke aku, sih,” jawab Reese. “tapi ada temen sekantornya yang ngasih
tau aku kalo dia lagi beli cincin buat ngelamar aku.”
“Wah!”
Mama melebarkan mata. “Ya itu kabar bagus, sih, tapi kok kalo dipikir-pikir
temennya itu kurang peka, ya? Kok malah ngasih tau kamu. Harusnya yang kayak
gitu tuh surprise, ‘kan?”
Papa
tersenyum, lanjut menyendok supnya. “Mama malah salah fokus.”
Reese
jadi mengakak. “Iya, nih, haha! Tapi kalo dipikir-pikir…bener juga, lho, Pa. Temennya
itu kurang bisa liat situasi, hahahahaha! Seneng, sih, tapi aku jadinya udah
nggak kaget lagi.”
Mama
ikut-ikutan tertawa.
Setelah
itu, Papa mengernyitkan dahi. Pria berusia 50 tahun itu pun kembali berbicara,
“Tapi kamu yakin mau nikah muda? Ya Papa tau kalo kalian udah lama pacaran…dan
kerjaan kalian udah sama-sama stabil, tapi kamu beneran mau nikah sekarang?”
“Ya
kalo dia emang beli cincin nikah—bukan cincin tunangan—sih aku oke-oke aja
nikah sekarang. Takutnya yang dia beli itu masih cincin tunangan,” ujar Reese
seraya tertawa. Mama jadi tertawa lagi.
Papa
tersenyum, lalu menggeleng. “Ada-ada aja. Pastiin dulu itu cincin apaan, kalo
gitu.”
Well,
Papa
dan Mama sudah merestui hubungan Reese dan Kevin. Kevin adalah pria baik yang
sayang pada Reese dan keluarganya. Selin juga sering melihat Kak Kevin datang
ke rumah mereka untuk bersilaturahmi pada Mama dan Papa. Itu bukan pemandangan
yang asing lagi.
Tiba-tiba
saja, sambil makan nasi, Reese pun menoleh kepada Selin. “Kamu gimana, Lin?
Kapan punya pacar? Kayaknya udah bertahun-tahun kamu nggak pernah pacaran lagi.
When did you have a boyfriend again? Was it six or seven years ago?”
Mama
tertawa. Geli sekali rasanya mendengar ucapan Reese dari tadi.
Selin
memasukkan makanan ke dalam mulutnya, lalu dengan ekspresi datar (separuh
melamun), dia menjawab, “Nggak, Kak. Nggak ada. Aku akhir-akhir ini sibuk
mikirin om-om, soalnya.”
Mendengar
itu, baik Mama, Papa, maupun Reese…
…semuanya
jadi melongo.
Tangan
mereka—yang mau memasukkan makanan itu—terhenti di udara.
Mereka
semua menatap Selin dengan mata melebar.
…hah?
…apa
katanya tadi?
‘Om-om’?
Reese
adalah orang pertama yang merespons. Gadis itu mengedipkan matanya dua kali,
lambat, lalu bersuara:
“…om-om?”
Mendengar
ucapan Reese, barulah mata Selin membeliak; pipinya langsung memerah. Buru-buru
dia menggaruk tengkuknya, lalu menatap ketiga orang di sana dengan canggung.
“Ah—haha… Nggak, nggak. Aku cuma bercanda.”
Selin
jadi bangun sepenuhnya sekarang.
Mendengar
jawaban Selin, baik itu Mama, Papa, maupun Reese, mereka semua langsung menghela
napas. Reese pun berkomentar, “Ada-ada aja.”
Selin
tertawa canggung; dia hampir keringat dingin. Keluarganya kembali makan, begitu
pula dirinya. Namun, jujur saja, dia sudah tak fokus makan lagi gara-gara
keceplosan soal om-om tadi.
Sekitar
lima detik kemudian, Selin pun teringat sesuatu. Dia langsung menatap kakaknya—dengan
mata yang melebar karena penasaran—dan berkata, “Oh, iya, Kak. Gimana? Besok
jadi nggak kita bikin macaron coklat?”
Reese
minum sejenak, lalu saat meletakkan gelasnya kembali di atas meja, dia
mengangguk. “Jadi. Besok pagi, ayo kita beli bahan-bahannya.”
******
Juan
melangkah menuju pintu utama gedung Zach Lune—salah satu anak perusahaan Zach
Enterprises yang bergerak di bidang Luxury Lifestyle &
Personal Goods—di kota Belmontia (kota yang bersebelahan dengan kota Velmora,
tempat di mana kantor pusat Zach Enterprises/Zach Tower berada). Seperti biasa,
saat dia turun dari mobil, sudah banyak orang yang berbaris di sisi kiri
dan kanannya, menyambut kedatangannya di sana. Para petinggi di Zach Lune juga
berbaris untuk menyambutnya (Managing Director, para Vice President (VP),
General Manager, dan lain-lain). Seluruh staf anak perusahaan itu sudah
mempersiapkan diri sejak jauh hari karena tahu bahwa bos teratas mereka—Juan
A.D. Zacharias—akan melakukan kunjungan hari ini.
Mereka
semua menyapanya dengan kalimat: ‘Selamat datang, Mr. Zacharias.’ saat
dia mendekat. Sebenarnya, mereka sudah menunduk hormat tatkala melihat mobil
hitam Juan beserta mobil-mobil bodyguard-nya memasuki area gedung.
Juan
mengangguk dan tersenyum. Para pimpinan Zach Lune langsung menjabat tangannya,
menyapanya dengan ramah. Bertanya soal perjalanannya kemari. Setelah itu,
mereka mulai berjalan di belakang Juan. Semuanya mengikuti Juan, kecuali
Managing Director yang berjalan di samping Juan; sebagai pemimpin di anak
perusahaan itu, dia harus menemani dan menunjukkan arah ke ruang meeting
pada Juan.
“Mari
ke sebelah sini, Pak. Semuanya sudah disiapkan,” kata sang Managing Director
seraya menunjuk ke kanan dengan menggunakan telapak tangan yang terbuka.
Juan
mengangguk.
Selain
dari para petinggi, sebenarnya ada juga karyawan-karyawan lain yang ikut
menyambut Juan. Seperti resepsionis dan lain-lain yang wajahnya dianggap oke
dan penampilannya rapi (biasanya perempuan). Jujur saja, semua orang
(terutama yang bekerja di bawah tatanan Zach Enterprises) tahu bahwa Juan A.D.
Zacharias adalah makhluk yang sangat memesona, punya daya tarik yang matang,
dan mampu menguasai ruangan hanya dengan keberadaannya. Namun, kalau
dilihat dari dekat, ternyata ketampanannya jauh lebih fatal. Dia mampu
membuatmu menahan napas tatkala melihatnya secara langsung.
Setelah
masuk ke ruang meeting, Juan pun dipersilakan duduk di tengah-tengah.
Tatanan meja dan kursi di ruang meeting itu membentuk huruf U. Juan
duduk di posisi pusatnya, di titik utama yang menghadap ke seluruh
peserta rapat. Cukup banyak yang menghadiri rapat itu: satu Managing Director
(posisi tertinggi Zach Lune), lima VP dan GM dengan tanggung jawab yang berbeda-beda,
serta para brand guardians, yaitu: Creative Director, PR & Media
Manager, dan Legal & Compliance Lead. Di depan sana, sudah ada layar besar
yang memperlihatkan final launch presentation lini produk terbaru Zach
Lune.
Begitu
Juan duduk, Managing Director Zach Lune (yang duduk di sayap kiri bersama para
Vice President) mulai berdiri.
“Selamat
pagi, Pak Juan.”
Semua
orang yang hadir di sana ikut berdiri. Mereka lalu menyapa Juan secara
bersamaan.
“Selamat
pagi, Pak.”
Juan
mengangguk pelan, lalu tersenyum simpul.
“Selamat
pagi.”
Setelah
Juan menjawab, mereka pun duduk kembali.
Managing
Director mulai membuka foldernya. “Terima kasih karena telah meluangkan waktu
untuk hadir langsung di Zach Lune, Pak, dalam rangka final approval
peluncuran lini produk terbaru kami. Hari ini, kami akan mempresentasikan final
readiness untuk peluncuran produk tersebut.”
Sang
Managing Director mulai menoleh sedikit ke layar. “Tim Product Lab, Marketing,
Operations, dan Retail telah menyiapkan seluruh aspek peluncuran; mulai dari
formula, packaging, distribusi, hingga campaign.”
Juan
menatap layar.
Setelah
itu, Managing Director menatap Juan kembali. “Kami siap menerima arahan dan
keputusan final dari Bapak.”
Juan
mengangguk. Ia pun menumpukan sikunya di meja; jemarinya saling terjalin di
depan dagu.
“Baik,”
jawab Juan. “Silakan dimulai.”
Lampu
ruang meeting sedikit diredupkan. Layar besar di depan ruangan itu pun
menyala lebih terang, menampilkan slide pertama. Di sana, terpampang
logo perusahaan Zach Lune di atas background putih bersih.
Salah
satu Vice President di sisi kiri meja—VP of Product Development—segera berdiri.
Ia menunduk hormat sebentar ke arah Juan sebelum mulai berbicara.
“Selamat
pagi, Pak Juan,” ucapnya dengan nada formal. “Izinkan saya memperkenalkan lini
produk terbaru dari Zach Lune.”
Ia
menekan sebuah tombol di remote yang sedang ia pegang. Slide pun berganti.
Kini,
yang terpampang di depan sana adalah logo baru berwarna hitam pekat dengan
aksen emas.
LUMIÈRE
NOIR
“Untuk
lini produk terbaru ini,” ucapnya. “kami memperkenalkan Lumière Noir: signature
beauty house Zach Lune.”
Slide
berikutnya menampilkan botol parfum kaca gelap dengan label emas, disusul dengan
rangkaian produk skincare.
“Lumière
Noir difokuskan pada dua kategori utama: parfum dan skincare premium. Parfum
Lumière Noir dirancang sebagai signature scent; aromanya dewasa, bersih,
dan sensual. Sementara itu, lini skincare Lumière Noir dikembangkan
sebagai perawatan kulit kelas atas yang berfokus pada regenerasi dan
peremajaan.”
VP
itu terus mempresentasikan parfum dan jajaran skincare Lumière Noir
dengan detail. Juan memperhatikan semuanya dengan saksama; sesekali dia mengangguk…dan
memberikan komentar atau pertanyaan.
Setelah
selesai memperkenalkan produk baru itu, sang VP pun menatap Juan kembali.
“Seluruh
rangkaian telah menyelesaikan uji klinis dan sertifikasi. Kami menunggu
keputusan final Bapak untuk memulai produksi massal dan peluncuran.”
Juan
diam sebentar. Dia lalu menurunkan tangannya dari depan dagu, lalu berbicara
dengan suara yang rendah dan stabil.
“Lanjutkan
ke
tahap produksi massal.”
Semua
orang terdiam—seperti menahan napas—tetapi diam-diam merasa sangat senang
karena produk mereka di-approve Juan.
Di
dalam struktur Zach Enterprises yang mendunia, Juan hanya akan turun langsung
ketika sebuah keputusan berada pada tingkat foundational, yakni ketika
sebuah lini baru akan dikukuhkan sebagai pilar empire, ketika arah
strategis global akan ditetapkan, atau ketika sebuah nama akan resmi lahir di
bawah naungan Zach Enterprises. Dalam momen-momen seperti itu, kehadiran Juan
bukan sekadar formalitas, melainkan otoritas terakhir yang mengikat seluruh
struktur perusahaan. Hari ini, otoritas itu hadir untuk satu tujuan, yaitu
memberikan final approval atas peluncuran Lumière Noir.
Juan
menoleh kepada Managing Director. “Silakan rilis di bulan Oktober. Saya ingin
distribusi tahap pertama difokuskan di Belmontia. Boutique flagship
harus siap sebelum kampanye dimulai.”
Setelah
itu, ia menatap para VP. “Lakukan peluncurannya melalui private Lumière
Noir Pavilion. Saya tidak mau booth publik.”
Semua
orang mulai mencatat perintahnya.
“Undangan
terbatas. Fokuskan pada klien private, partner hotel, dan investor. Saya
ingin kesannya eksklusif sejak hari pertama,” lanjut Juan. “Namun, berikan private
privilege di batch pertama.”
Mendengar
itu,
VP of Marketing pun berdiri.
“Baik,
Pak Juan,” ujarnya. “Terkait private previlege, kami sudah
mempersiapkannya.”
Di
layar, terbukalah satu file presentasi yang berbeda.
Judul presentasi itu adalah ‘PRIVATE PRIVILEGES — LUMIÈRE NOIR’.
Ia
menekan tombol pada remote, lalu layar pun berganti.
“Berikut
adalah serangkaian private privileges untuk para tamu undangan, Pak,”
ujar sang VP. “Pertama, Founders’ Allocation. Para tamu undangan akan
mendapat akses eksklusif ke batch produksi pertama sebelum rilis
publik.”
Slide
berganti.
“Kedua,
Signature Engraving. Setiap botol parfum atau produk skincare batch
pertama akan diukir dengan inisial pemiliknya.”
“Ketiga,
Private Scent Ritual. Ini dikhususkan untuk produk parfum, yakni sesi
personal fragrance fitting bagi klien undangan.”
“…lalu
yang terakhir, Lumière Noir Pavilion Set. Ini adalah paket edisi
terbatas yang hanya tersedia pada hari peluncuran.”
VP
itu lalu menatap Juan kembali. “Seluruh privilege ini dirancang untuk
menegaskan kesan eksklusif Lumière Noir sejak hari pertama.”
Juan
pun mengangguk.
“Baik.
Silakan dilanjutkan. Laporkan perkembangannya pada saya.”
Tak
lama kemudian, rapat itu pun selesai.
Semua
orang mulai rileks. Lampu dihidupkan kembali sepenuhnya. Juan mulai bersandar;
beberapa petinggi di sana juga sudah mulai bersandar. Satu menit kemudian,
beberapa staf hospitality Zach Lune langsung masuk ke ruang meeting. Mereka
membawa nampan-nampan yang berisi hidangan ringan. Mereka lalu meletakkannya di
atas meja—di depan masing-masing peserta meeting—setelah memberi hormat
sejenak. Begitu selesai memberi hidangan-hidangan itu, mereka semua pun keluar
dari ruangan.
Sambil
memakan hidangan itu, semua elite di sana pun mulai mengobrol dan
tertawa ringan. Mereka semua mengajak Juan berbincang, saling bercerita seputar
kegiatan di perusahaan, tetapi tetap sopan padanya. Namun, tiba-tiba saja,
pembahasan itu mulai menyentuh topik pasangan.
Sepertinya,
itu terjadi karena Managing Director bercerita soal istrinya yang
membangunkannya jam 4 pagi saat Zach Lune mengadakan sebuah event bulan
lalu.
Juan
mendengarkan cerita mereka semua. Dia tersenyum, mengangguk, sesekali merespons
dan tertawa ringan. Namun, ujung-ujungnya, jadi banyak yang ingin tahu soal ‘pasangan’
Juan.
…mungkin
karena
sangat penasaran.
Mereka
semua sibuk bertanya, bahkan ada yang sampai berdebat seperti:
‘Ya
itu terserah Pak Juan juga, ‘kan?’
‘Iya,
tapi jujur, saya penasaran.’
‘Tapi
itu privasi beliau.’
‘Pak
Juan itu terlalu sempurna untuk terus-terusan sendirian.’
Mereka
malah saling menimpali, sampai-sampai Managing Director dan Juan jadi tertawa
kecil.
Mendengar
tawa Juan, Managing Director pun langsung menatap Juan dengan penasaran. “Tapi
serius, Pak, apakah Bapak tidak sedang tertarik dengan wanita mana pun? Kami
semua berharap…suatu hari nanti Bapak menemukan pendamping yang tepat.”
Ruangan
itu seketika hening. Jujur saja, itu adalah pertanyaan yang sangat
berani!!
Namun,
tak bisa dipungkiri, semua orang pun sebenarnya ingin menanyakan hal yang sama.
Akibatnya, semua mata langsung tertuju pada Juan.
Mereka
menahan napas.
Menunggu
jawaban Juan.
Jujur
saja, itu adalah hal yang selalu ingin orang ketahui tentang Juan. Juan
Zacharias yang sangat kuat dan berada di level yang berbeda. Juan
Zacharias yang terasa seperti langit, mustahil untuk disentuh. Diam-diam,
semua orang begitu penasaran dengan kehidupan romantisnya.
…terutama
para perempuan.
Ya
jelas saja, Juan adalah manusia yang setampan itu! Mana mungkin
mereka tidak penasaran!
Apa
pun
jawaban Juan atas pertanyaan Managing Director barusan, itu pasti akan menghebohkan
banyak sekali manusia.
Namun,
ternyata…
…Juan
tidak menjawab apa pun.
Dia
hanya diam…
…lalu
pelan-pelan tersenyum miring.
Membuat
semua orang di ruangan itu seketika melebarkan mata.
******
Keesokan
harinya, sekitar jam 10 pagi, Selin dan kakaknya pergi ke mall. Mereka
masuk ke toko buku terlebih dahulu karena ingin mencari buku resep.
‘Kak,
ke toko buku dulu, yuk. Aku mau cari buku resep,’ kata
Selin saat mereka baru menginjakkan kaki di mall. Reese pun setuju.
Begitu
sampai di depan toko buku (di lantai tiga mall), mereka langsung
disambut dengan rak majalah bisnis yang terletak di dekat pintu masuk. Rak itu
berdiri paling depan, berjejer rapi di antara surat kabar dan majalah lifestyle.
Namun,
saat melihat majalah-majalah bisnis itu, mata Selin spontan membulat.
Tubuhnya
mematung di depan pintu.
Di
sana, di cover majalah-majalah bisnis itu…
…ada
wajah Om Juan!!
Ah,
siaaaaal!!! Kok sekarang di mana-mana ada Om Juan, sih? Apakah Selin
berhalusinasi lagi? Waktu itu, wajah dosen Selin berubah jadi wajah Om Juan.
Sekarang, apakah wajah seseorang di majalah itu berubah jadi wajah Om Juan
juga?
Selin
tak bisa melarikan diri dari Om Juan barang sedetik pun, bahkan saat di toko
buku. Siaaal!
(Well,
sebenarnya,
Juan sudah sangat terkenal dari dahulu, tetapi Selin baru menyadari keberadaan
Juan akhir-akhir ini karena pernah bertemu langsung di mansion. Selain
itu, selama ini…Selin juga tak pernah benar-benar memperhatikan majalah ekonomi
atau bisnis.)
Namun,
damn.
Ternyata,
itu bukan halusinasi! Soalnya, wajah Om Juan tak kunjung hilang! Itu
benar-benar foto Om Juan!
Itu
adalah foto close-up. Diambil dari angle samping, menampilkan
wajah tampan Om Juan yang memiliki hidung mancung dan rahang tajam. Om Juan
mengenakan jas dengan motif salur hitam putih; dia menatap ke kamera dan
tersenyum dengan penuh wibawa. Judul majalah itu adalah:
JUAN
A.D. ZACHARIAS
The
Power Behind Zach Enterprises
Pipi
Selin jadi merona.
Om
Juan ganteng banget…
Terus
terang saja, Selin datang ke sini cuma mau membeli buku resep. Dia cuma mau
lewat pintu, masuk ke toko buku, lalu mencari rak buku resep.
Namun,
sebelum menginjakkan kakinya di toko itu, dia sudah dihadapkan dengan
wajah Om Juan.
Well,
majalah
bisnis biasanya memang diletakkan di rak depan (kalau di toko buku), tetapi
sepertinya…Selin paham ‘alasan lain’ mengapa toko buku ini meletakkan majalah
bisnis di rak paling depan.
Alasan
lain itu adalah:
Juan
Zacharias!
Dengan
melihat foto itu saja, mungkin banyak orang yang akan membelinya. Para pria
mungkin akan membeli buku itu untuk belajar soal bisnis dan kesuksesan Om Juan,
sementara para wanita…
…mungkin
hanya mau fangirling. Mungkin ada juga, sih, wanita yang mau belajar
soal bisnis dari sana, tetapi kebanyakan pasti untuk fangirling. Soalnya,
di dalam majalah itu pasti ada foto-foto Om Juan, ‘kan?
Sial.
Rak yang berisi majalah bisnis itu bahkan diberi plang ‘Best Seller’.
Selin
rasanya mau pulang saja. Atau pergi terapi. Soalnya, dia mau berhenti
memikirkan Om Juan. Serius! Tidak sopan sekali rasanya memikirkan ayahnya
Lucian sampai seperti ini. Kalau Om Juan tahu, mungkin dia akan terganggu.
Selin
diam-diam mau menangis.
“Wah,
Juan Zacharias makin lama makin ganteng aja, ya,” komentar Reese. “Makin tambah
umurnya malah makin menggoda. Itu ayahnya temen kamu, ‘kan? Si Lucian.”
Rona
merah di pipi Selin langsung menjalar hingga ke telinga. Dia langsung menyeret
Reese masuk ke toko buku itu dan berkata, “Udah, Kak, ayo kita cari bukunya
sekarang!”
Selin
dan Reese pun mencari buku resep yang cocok. Berhubung Selin suka membuat kue,
dia pun memilih buku resep yang isinya kebanyakan resep kue yang belum dia ketahui,
termasuk macaron.
Setelah
membeli buku itu, Selin pun keluar dari toko buku dengan secepat kilat. Dia
langsung mengajak Reese pergi ke baking supply store (ini toko favorit
Selin banget!) untuk membeli almond flour, bubuk kakao, icing sugar, whipping
cream, unsalted butter, dan dark chocolate couverture.
Sambil
berbelanja, Selin dan kakaknya sempat mengambil foto selfie. Reese yang
mengambil fotonya, jadi Reese ada di depan. Selin ada di belakangnya, gadis itu
tersenyum sambil memegang sekotak whipping cream.
Selin
meminta foto itu dari Reese, lalu meng-upload foto itu ke media
sosialnya. Dua menit kemudian (saat Selin sedang melihat-lihat unsalted
butter), ponselnya berbunyi. Ada sebuah notifikasi masuk. Selin melihat notifikasi
itu dan ternyata, Maxi mengomentari fotonya.
Elena
Ruby Maximilian: Cieeee, belanja di mana, nih? Di toko
biasa, ya? Kok nggak ngajak-ngajak?!
Selin
mengikik geli. Dia pun membalas komentar Maxi.
Florentia
Roselin Agrece: Diajak = bantuin bikin kuenya.
Elena
Ruby Maximilian: Buset! Mana ngerti aku bikin kue 🤣
Florentia
Roselin Agrece: Ya udah, berarti udah bener nggak usah
diajak
Elena
Ruby Maximilian: Jahat banget nih orang, woy, padahal aku
sering juga ngawanin dia ke situ 😱
Florentia
Roselin Agrece: Iya tapi malah nyusahin
Elena
Ruby Maximilian: HAHAHAHAHA LMFAO
Elena
Ruby Maximilian: Tapi seriusan, lho, aku bosen banget di
rumah. Ajak aku, dong :(
Florentia
Roselin Agrece: Kami habis ini mau pulang, Maxi. Coba ajak
Aria aja. Aria ke mana?
Elena
Ruby Maximilian: Walah, tuh anak udah dari kemaren sibuk ngeliatin
Lucian terus di mansion, padahal Lucian udah sembuh tuh pasti :v
Florentia
Roselin Agrece: Lah, kok cepet banget?? Kan kejadiannya
kemaren lusa. Kayaknya masih lebam ituu
Elena
Ruby Maximilian: Nggak. Aku video call-an sama Aria
tadi pagi. Ada Lucian di situ. Jelas-jelas tuh bocah udah sembuh 🤣 Udah
ketawa-ketawa, udah ngeselin kayak biasa. Tau sendirilah gimana kuatnya badan
anak itu 🤣
Florentia
Roselin Agrece: Astaga 😂 Terus apa gunanya Aria di situ?
Elena
Ruby Maximilian: Dia masih cemas sama Lucian. Lucian mah
mungkin seneng-seneng aja. Mau pacaran, soalnya -_-
Florentia
Roselin Agrece: Hahahaha iya pastinya. Udah hafal juga akuu
Elena
Ruby Maximilian: Apalah daya kita yang single ini
Elena
Ruby Maximilian: …terutama kamu yang udah enam tahun nggak
ada pacar :v
Florentia
Roselin Agrece: DIEM NGGAK?!
Elena
Ruby Maximilian: HAHAHAHAHAHAHA
Selin
pun tersenyum, lalu meletakkan ponselnya kembali ke saku celananya. Dia
menyusul Reese di depan sana yang sedang melihat-lihat almond flour.
“Udah
dapet, Kak?” tanya Selin.
“Hmm.”
Reese mengangguk. “Yang ini aja.”
Reese
pun meletakkan almond flour ke keranjang belanjaan mereka. Selin lanjut
mencari icing sugar dan bubuk kakao.
Tak
lama kemudian, mereka pun selesai berbelanja. Sesuai rencana, setelah selesai
berbelanja, mereka pun langsung pulang. Selin ingin segera membuat macaron
coklatnya di rumah.
Akan
tetapi, di sepanjang jalan di mall itu, Selin sempat melihat area men’s
clothing store atau men’s fashion yang terkenal. Sebenarnya, di
dinding kaca toko tersebut terpampang foto model yang sangat tampan dan hot.
Ada yang memakai kemeja (dan kancingnya terbuka separuh), ada yang memakai
jas, dan ada juga yang shirtless (hanya memakai jeans).
Entah
mengapa, melihat gambar-gambar pria itu…mengingatkan Selin pada Om Juan. Bukan
bentuk tubuhnya, tetapi…keseksian six pack-nya. Bentuk tubuh mereka tentu
tidak sama dengan Om Juan (Om Juan lebih maskulin; lebih well-built), tetapi
otot-otot di perut mereka…cukup mirip.
Kalau
Om Juan jadi model…gimana, ya?
Nah,
kan. Pikiran Selin mulai melanglang buana lagi.
Ugh.
Let’s
just go home.
*******
Juan
turun dari mobil dan disambut oleh seluruh bodyguard yang berjaga di mansion-nya.
Sebenarnya, ada dua jenis bodyguard yang bekerja untuk Juan:
1. Bodyguard
yang
berjaga di mansion
2. Bodyguard
yang
mengikuti Juan ke mana-mana (saat Juan bekerja).
Sebenarnya,
bodyguard yang mengikuti Juan sejak tadi juga sudah turun dari mobil
mereka dan membukakan pintu untuk Juan. Mereka lalu bergabung dengan bodyguard
penjaga mansion untuk berbaris di sebelah kanan dan kiri Juan.
Kepala pelayan (head butler) juga ikut menyambut Juan di dekat pintu
masuk.
“Selamat
datang, Tuan,” sapa mereka semua seraya menunduk hormat.
Juan
mengangguk singkat. Dia berjalan ke pintu utama mansion, lalu menitipkan
jas serta tasnya kepada sang head butler—Diego—yang berdiri di sana.
“Lucian ada di rumah?”
“Ya,
Tuan. Tuan Muda ada di rumah,” jawab Diego.
Juan
pun mengangguk.
Saat
masuk ke mansion, orang yang mengikuti atau mengawal Juan dari belakang
hanyalah Diego. Para bodyguard tetap berdiri di depan pintu. Mungkin,
para bodyguard yang bertugas untuk mengikuti perjalanan kerja Juan akan
pulang sebentar lagi.
Tatkala
Juan sedang naik tangga ke lantai dua (karena kamarnya ada di sana), dia
pun mendengar suara Lucian.
“Dad!
You’re home.”
Juan
menoleh sejenak…dan menemukan Lucian sudah berlari mendekatinya. Mereka kini berada
di tengah-tengah tangga.
“Yes,”
jawab
Juan. “How are your wounds?”
Lucian
tertawa. “Udah sembuh dari kemaren, hahahaha!”
Juan
tersenyum seraya mengembuskan napas pelan. “Is Aria accompanying you today
as well?”
“Nah,
itu dia yang mau aku bicarain, Dad! Aria datang ke sini juga hari ini,
padahal sebenernya aku udah sembuh. Jadi, Dad, boleh nggak aku main ke
rumah Aria besok malem? Aria perhatian banget ke aku, soalnya, padahal
kondisiku biasa-biasa aja.” Lucian mengakak.
Juan
mengangguk pelan.
“Okay.
Avoid doing anything that might upset or anger her parents. Be nice.”
Lucian
mengangguk. Pemuda itu tersenyum. “All right, Dad. Good night!”
“Hm,”
deham Juan seraya mengusap kepala Lucian. Tanpa terasa, saat itu mereka sudah
sampai di depan kamar Juan. Diego langsung menunduk hormat begitu Juan
masuk ke kamarnya.
Sepeninggal
Juan, Lucian pun langsung berbalik. Pemuda itu menatap Diego dan tersenyum.
“Diego, tolong siapin makan malem buat Ayah.”
“Baik,
Tuan Muda,” jawab Diego seraya menunduk hormat.
Diego
pun undur diri dari hadapan Lucian. Dia membereskan jas dan tas kerja Juan
terlebih dahulu sebelum akhirnya mengarahkan para pelayan di rumah itu untuk
menghidangkan makan malam Juan.
Sambil
menuruni tangga, Lucian mulai bertanya-tanya dalam hati.
Dia
tak pernah melihat ayahnya menggandeng wanita baru setelah ibunya
meninggal.
…walau
pada kenyataannya, dia tahu alasan mengapa ayahnya menikah dengan
ibunya. []

Juan waktu masih muda (Lucian masih bayi).

Note: BTW guys, aku kesulitan banget nyari foto Juan. Juan ini kan referensi visualnya itu Jeon Jungkook dari boy band Korea BTS, nah sementara Jeon Jungkook itu kan keliatannya masih muda ya. Dia bukan daddy usia 40 ke atas :( Jadi, hampir mustahil menggunakan fotonya yang asli, kecuali untuk foto Juan pas masih muda.
Selama ini, aku tuh nyari fotonya selalu hasil AI yang ada di Pinterest (editan orang lain). Karena kulihat penampilan asli Jeon Jungkook itu tidak sama dengan Juan.
Mukanya sih sama, tapi Juan jauh lebih matang/dewasa. Badannya lebih kekar (buff). Dia juga tidak bertato dan tidak merokok.
Sementara...hasil editan AI di internet itu kebanyakan antara:
1. Jeon Jungkook versi daddy, tapi bertato dan merokok (mafia), atau
2. Jeon Jungkook versi CEO, tapi mukanya keliatan masih muda dan badannya kurang kekar (nggak kayak Juan).
Jadi, susah banget buat ngumpulin foto Juan. Makanya, boleh nggak aku minta kerja sama kalian untuk cuekin aja tato dan rokoknya kalo aku sediakan foto Juan di sini? Karena cuma foto-foto seperti mafia itulah yang mendekati 'rupa' Juan. Muka dan badannya.
Aku nggak ada pilihan lain (T_T). Aku udah sering banget nyari foto editannya di internet, ngehabisin banyak waktu, tapi cuma itu yang bisa kudapat.
Contohnya gini:
Sebenernya ini cocok buat tipe badan Juan. Tapi ini kesannya kayak bos mafia karena rokok dan penampilannya. Sementara Juan kan penampilannya lebih rapi/sophisticated ya (lebih ke luxury executive dan old-money authority). Kalo malam, Juan emang sering buka jasnya (seperti di Chapter 4), tapi kesannya tetap eksekutif yang rapi, bukan kayak bos mafia yang edgy (tajam, gelap, rebel).
Gimana? Apa gak usah aja? Wkwkw. Siapa tau foto begini malah ngerusak imajinasi kalian soal Juan kan.
Tapi...kalo kalian nggak mau, berarti bakal jarang ada foto nih di novel ini :(
Kasih tau aku ya, sebaiknya gimana. Wkwk.
BTW untuk next chapter, tolong siapkan hati kalian, ya. Itu adalah salah satu chapter yang aku tunggu-tunggu di novel ini. Hihi.
Sampai ketemu lagi! (^_^)

No comments:
Post a Comment