Chapter
5 :
Eldritch
******
BEGITU
Miller
pingsan, mereka semua langsung membawa Miller ke rumah Mr. Parker dengan
panik. Mereka ingin meminta pertolongan. Ingin tahu apa yang terjadi pada
Miller…sebab July dan Becca ingat bahwa Miller tidak memakan apa pun selain
makanan yang diberikan oleh Mr. Parker dan Lynn. Namun, tidak mungkin makanan
itu yang membuat Miller muntah-muntah, ‘kan? Kalau memang ada sesuatu di dalam
makanan itu, pasti mereka semua akan muntah-muntah, bukan hanya Miller!
“Oh,
ya ampun! Apa yang terjadi?!” tanya Mr. Parker dengan panik; dia membuka pintu
dan langsung melihat para cowok yang mengantarkan Miller ke rumahnya.
Hayes
menjawab cepat, “Dia muntah-muntah, setelah itu dia pingsan.”
“Tolong
kami, Pak,” ujar Elias dengan ekspresi khawatir. “Kami tak tahu apa yang
terjadi padanya.”
Mata
Mr. Parker membulat. “Astaga! Silakan, silakan! Ayo, baringkan dia di ruang
tamu!”
Miller
pun dibaringkan di ruang tamu. Hayes, Jack, dan Elias duduk bertumpukan lutut
di sebelahnya. Para perempuan menunggu di luar. Eddie sejak tadi sedang
berkeliling hutan dan belum kembali, jadi dia belum tahu kalau Miller pingsan.
Mr.
Parker pergi ke kamar, lalu keluar lagi dengan membawa sebuah botol kecil. Ia
mengusapkan isi botol kecil itu—baunya seperti balsam—di hidung Miller. Ia lalu
mengangkat kaki Miller ke atas, lebih tinggi daripada dada pemuda itu.
“Apakah
dia memakan sesuatu yang aneh sebelum muntah?” tanya Mr. Parker.
“Tidak,”
jawab Jack, menggeleng. “Dia hanya memakan sarapan yang Anda berikan.”
Mr.
Parker terkesiap. “Ya Tuhan! Apakah kalian baik-baik saja? Aku memastikan aku
memakai bahan-bahan yang segar dan tidak berbahaya, tetapi…astaga, apakah aku
dan Lynn salah memilih bahan? Bagaimana dengan kalian? Kalian juga memakan
makanan yang sama!”
“Sejauh
ini, kami baik-baik saja, Pak,” jawab Hayes.
“Apakah
dia punya alergi?” tanya Mr. Parker lagi.
“Setahuku
tidak ada,” jawab Jack. “Aku cukup dekat dengannya.”
Mr.
Parker mengangguk. “Baiklah. Aku akan merawatnya. Kalian kembali saja ke tenda
kalian. Beristirahatlah. Beritahu aku kalau perut kalian terasa sakit atau
sebagainya, ya?”
Jack,
Elias, and Hayes mengangguk.
“Yes,”
jawab
Elias. “Please help Miller, Mr. Parker.”
Mr.
Parker mengangguk. “I’ll try my best. Aku akan mengantarkannya ke tenda
kalian begitu dia sadar.”
******
Satu
jam kemudian, Inez dan Zoya datang ke rumah Mr. Parker untuk menjenguk Miller.
Mereka ingin tahu keadaan Miller sekarang, terutama karena tadi mereka tidak
ikut masuk ke rumah Mr. Parker saat Miller diantarkan.
Tadi,
tatkala rombongan Elias keluar dari rumah Mr. Parker, Elias menghela napas dan
berkata, “Miller akan dirawat oleh Mr. Parker hingga dia sadar. Ayo kembali ke
tenda.”
Becca
merespons, “Apakah Mr. Parker tahu mengapa dia seperti itu?”
Hayes
menggeleng. “Tidak. Beliau juga kaget dan curiga kalau ada masalah pada bahan
yang dia gunakan untuk membuat sarapan tadi pagi.”
“…tapi
kita semua baik-baik saja,” ucap Sophia. Inez mengangguk, menyetujuinya.
Jack
menghela napas. “Iya. Itu berarti tidak ada masalah dengan makanannya.”
July
mengernyitkan dahi. “Apakah Miller alergi terhadap lauk-lauk di makanan itu
atau—"
“Dia
tidak punya alergi apa-apa,” potong Jack. “Tadi Mr. Parker juga sempat
menanyakan itu.”
“Apakah
dia sempat memakan sesuatu setelah sarapan?” tanya Inez pada July. July
menggeleng.
“Tidak.
Kami ada di belakang tenda, mengobrol, dan tiba-tiba dia muntah,” jawab July.
Mereka
semua jadi bingung. Sebagian mengernyitkan dahi, berpikir keras. Bertanya-tanya
mengapa Miller jadi seperti itu.
Zoya
menunduk. Tangannya terkepal. Jujur saja, perutnya baik-baik saja. Jadi, Miller
kenapa?
Saat
Zoya mengangkat wajahnya kembali, ia pun tanpa sengaja bertatapan dengan
Elias. Ternyata, Elias sudah lebih dahulu memperhatikannya. Tatapan mata pemuda
itu terlihat khawatir. Sedikit sendu. Seperti ingin menanyakan sesuatu, tetapi
tak terucap.
Zoya
buru-buru membuang muka, pura-pura menatap Jack yang sedang menyuruh mereka
semua untuk kembali ke tenda dan beristirahat.
Sekarang,
setelah satu jam berlalu (jam 11 pagi), Inez dan Zoya pun pergi lagi ke rumah
Mr. Parker untuk mengecek kondisi Miller. Selain karena penasaran, well…seseorang
memang harus mengecek kondisi Miller di sana dari waktu ke waktu. Inez
dan Zoya menawarkan diri untuk mengecek Miller pertama kali.
Saat
sampai di rumah panggung itu, Mr. Parker menyambut mereka dengan baik.
“Oh,
kalian di sini? Silakan masuk. Miller ada di kamar. Aku memindahkannya ke sana
agar dia berbaring dengan nyaman,” ujar Mr. Parker.
Inez
dan Zoya mengangguk.
“Terima
kasih, Mr. Parker,” ucap Inez.
“Apakah
Miller sudah sadar?” tanya Zoya.
Mr.
Parker menghela napas, ekspresi wajahnya kembali khawatir. “Sayang sekali, dia
belum sadar. Aku sudah memberinya obat dari tanaman herbal yang warga sini
punya, mencampur obat itu dengan air dan memasukkan itu ke mulutnya, tetapi
mungkin dia butuh waktu.”
Mr.
Parker pun berbalik, berjalan di depan untuk menuntun Inez dan Zoya ke kamar.
“Apakah kalian baik-baik saja?”
Inez
mengangguk. “Ya, Mr. Parker. Kami baik-baik saja.”
“Syukurlah,”
ujar Mr. Parker. “Aku sungguh khawatir. Kalian datang ke sini untuk
bersenang-senang, tetapi hal ini terjadi. Aku merasa tidak enak.”
Zoya
menggeleng. “T—Tidak perlu merasa begitu, Pak. Ini bukan salah Anda.”
Mr.
Parker menghela napas. “Tetap saja aku harus menjamin kenyamanan kalian.”
Saat
melewati lorong, Zoya kembali melihat dua kamar yang berseberangan. Pemandangan
yang sama dengan yang waktu itu dia lihat saat menumpang mandi. Inez pun
akhirnya melihat secara langsung apa yang waktu itu Zoya ceritakan.
“Ini,
Miller ada di kamar ini,” ucap Mr. Parker saat akhirnya dia berhenti di kamar
sebelah kanan. “Masuklah. Aku akan meminta tanaman herbal lagi dari Mrs. Emerson,
sekalian untuk kalian. Just in case.”
Zoya
dan Inez mengangguk. “Terima kasih banyak, Mr. Parker. Maaf sudah merepotkan
Anda.”
Mr.
Parker berbalik dan tersenyum. “Tidak. Ini sudah jadi tanggung jawabku. Aku
pergi dahulu, ya.”
Zoya
mengangguk lagi. “Baiklah, Mr. Parker.”
Mr.
Parker akhirnya pergi. Dia keluar lewat pintu belakang. Zoya terus
memperhatikan pria paruh baya itu sampai akhirnya pintu belakang itu pun tertutup
kembali. Zoya tersentak saat tiba-tiba Inez menyikut pinggangnya.
Zoya
pun menoleh kepada Inez; gadis itu mengernyitkan dahi. Namun, Inez hanya
menggerakkan dagunya, menunjuk kamar yang ada di sebelah kiri mereka.
Karena bingung, Zoya pun menatap ke arah yang Inez tunjukkan.
Di
sana, di dalam kamar itu, Zoya melihat boks. Ranjang bayi.
…dan
di dalam boks itu…ada bayi yang sedang tertidur pulas.
Zoya
melebarkan mata. Bayi?
Anak
siapa itu?
Anaknya
Mr. Parker, ya?
Kalau
itu anaknya Mr. Parker…kok jarak umurnya jauh sekali dengan Lynn?
Zoya
langsung menatap Inez kembali dan ternyata Inez memasang ekspresi yang sama.
Mereka saling pandang.
Akhirnya,
Inez cuma mengedikkan bahu. Gadis itu mulai menatap lurus ke depan (ke
sepanjang lorong) dan matanya tiba-tiba melebar. Seperti baru saja menemukan
sesuatu.
“Eh!”
katanya. “Itu, ya, foto-foto yang kau maksud waktu itu?!”
Zoya
langsung melihat ke arah yang sama.
“A—Ah…itu—”
“Aku
mau lihat!” potong Inez. Gadis itu langsung berjalan cepat—beberapa langkah—untuk
menghampiri kumpulan pigura yang tergantung di sana. Zoya jelas kaget bukan
main.
“Inez…!”
Zoya berteriak (tetapi dengan mendesis, bukan betul-betul mengeluarkan
suaranya). “Hei, wait!!”
Dengan
cepat, Zoya pun menyusul Inez ke depan sana. Inez sudah berdiri di depan
foto-foto itu.
Aduuh,
bukannya kita ke sini karena mau menjenguk Miller, ya?
Lagi
pula, kalau Mr. Parker tiba-tiba kembali, bagaimana?!
Zoya
berdecak dan menggaruk kepalanya. Inez memang ada-ada saja.
Saat
sudah berdiri bersebelahan dengan Inez, akhirnya Zoya menghela napas. Ia pun
memilih untuk bersabar saja, mungkin Inez hanya penasaran dan butuh waktu
sebentar saja untuk menuntaskan rasa penasarannya.
Mereka
berdua pun kini sama-sama memperhatikan foto-foto itu.
Tatkala
memperhatikan foto-foto itu lagi sekarang…Zoya mulai menemukan detail-detail
yang belum sempat dia cerna waktu itu.
Di
sisi lain, Inez tampak tercengang. Antara kaget, bingung, dan juga…kagum. Dia
memang melihat foto-foto vintage di sana, sama seperti apa yang Zoya
ceritakan. Matanya tak bisa lepas; dia jadi memperhatikan foto-foto itu satu
per satu. Sesekali, dia menggeleng tak percaya.
Ini
semua…betulan atau cuma kostum?
Hingga
akhirnya, Zoya menyentuh salah satu pigura. Inez pun refleks menatap ke pigura
yang sama. Foto yang terpampang di sana.
Dahi
mereka berkerut begitu melihat foto itu.
Itu
adalah foto Mr. Parker bersama teman-temannya. Mereka semua memakai seragam
yang sama. Seragam berwarna abu-abu. Dengan topi militer.
Di
sudut kanan bawah foto tersebut, ada sebuah kalimat yang ditulis dengan spidol
berwarna hitam. Hampir pudar, tetapi masih jelas. Tulisan tersebut adalah:
Provisional
Army of the Confederate States (PACS), 1863.
Inez
dan Zoya sama-sama bingung.
1863?
Apakah
itu benar-benar diambil di tahun 1863?
Ataukah
itu bukan Mr. Parker?! Kakek buyutnya yang mirip dengannya, mungkin?!
Soalnya,
itu—itu lebih dari seratus tahun yang lalu!!
Either
way, itu pasti bukan Mr. Parker.
Inezlah
yang pertama kali bersuara.
“…1863?”
katanya. “Is this real?”
Zoya
jadi gelisah. Ekspresi wajahnya agak panik. Dia langsung menoleh pada Inez dan
menggenggam tangan gadis itu. “Sudahlah, ayo pergi ke kamar! Mr. Parker bisa
kembali sewaktu-waktu. Ayo lihat Miller saja!”
Ujung-ujungnya,
dia pun menarik Inez pergi dari sana, membuat Inez terseret meskipun mata Inez
masih terpaku pada foto itu.
Begitu
sampai di kamar, mereka melihat Miller yang sedang berbaring telentang. Pemuda
itu masih belum sadar. Di nakas, ada beberapa tumbuhan dan sebuah alu kecil. Di
dalam alu itu masih ada bekas berwarna hijau, sisa-sisa tumbuhan yang ditumbuk
sebelumnya. Di sebelah alu itu, ada segelas air dan sebotol kecil balsam.
Sepertinya,
itu adalah tanaman herbal yang Mr. Parker maksud tadi. Mr. Parker memang
mengobati Miller dengan tanaman itu.
Mereka
berdua menghela napas prihatin saat melihat kondisi Miller. Satu jam adalah
waktu yang lama sekali kalau untuk pingsan semata. Miller sebenarnya kenapa?
Mereka
sama-sama berdiri di samping ranjang Miller. Tinggal di sana selama beberapa
menit. Sesekali mengecek suhu tubuh Miller, sesekali memperhatikan tanaman itu,
sesekali juga mengoleskan balsam di dekat hidung Miller. Setelah lima menit
berlalu, mereka pun mendengar suara pintu dibuka. Pintu belakang.
Inez
dan Zoya langsung menoleh ke belakang. Itu pasti adalah Mr. Parker. Langkah
kakinya mulai terdengar melewati lorong.
Ketika
sosok Mr. Parker muncul di ambang pintu kamar, pria itu tersenyum. “Ah…maaf,
aku agak lama. Aku tadi menunggu Mrs. Emerson memetik tanaman itu dari belakang
rumahnya.”
Mr.
Parker mulai menaruh plastik yang berisi tanaman-tanaman itu di lantai, menyandarkan
mereka di dinding dekat pintu kamar.
Inez
menggeleng. “A—Ah, tidak, Mr. Parker. Anda tidak lama kok. Kami juga sedang
mengecek kondisi Miller.”
Mr.
Parker berjalan mendekati mereka. “Oh, begitu. Dia belum sadar, ya?”
Inez
dan Zoya berbalik kembali; mereka bertiga kini sama-sama memperhatikan Miller.
Zoya menggeleng. “Belum, Mr. Parker.”
Mr.
Parker menghela napas. Dia tampak khawatir; ada rasa bersalah yang juga mampir
di raut wajahnya.
“Ada
baiknya kita berbicara di ruang tamu saja. Dia belum sadar. Ayo biarkan dia
beristirahat,” saran Mr. Parker. Zoya dan Inez pun mengangguk setuju.
Akhirnya,
mereka pun berjalan keluar dari kamar itu. Zoya menutup pintunya karena dialah
yang terakhir keluar. Namun, dia sempat menatap Miller sejenak sebelum menutup
pintu.
Dia
dan Inez pun mengikuti langkah Mr. Parker ke ruang tamu.
“Mr.
Parker?” panggil Zoya. Matanya menatap Mr. Parker dengan penuh keingintahuan.
Mr.
Parker berhenti melangkah karena kebetulan mereka sudah sampai di ruang tamu.
Pria itu pun berbalik, menghadap ke dua gadis yang ada di belakangnya.
“Ya?”
jawabnya.
Zoya
meneguk ludah, lalu mulai bertanya.
“Apakah
Miller…akan baik-baik saja?”
Mr.
Parker melebarkan matanya samar, lalu tersenyum seraya menghela napas.
“Aku
akan berusaha untuk mengobatinya. Biasanya, warga akan datang padaku kalau ada
yang sakit,” ujar Mr. Parker.
Zoya
menghela napas lega. Inez pun sama.
“Baiklah.
Terima kasih, Mr. Parker,” kata Zoya.
“Meskipun
sudah tua begini, aku masih bisa mengurus teman kalian dengan baik,” canda Mr.
Parker. Dia sedikit tertawa untuk mencairkan suasana.
Namun,
mendengar kalimat Mr. Parker barusan, Inez agaknya berpikir lain.
Dengan
hati-hati, Inez pun bertanya pelan.
“Memangnya…berapa
usia Anda, Mr. Parker?”
Mr.
Parker tidak langsung menjawab.
Dia
tersenyum.
Senyumannya
sangat…manis.
Setelah
itu, dia pun mulai menjawab.
“Usiaku
48 tahun. Sudah cukup tua, bukan?”
Mata Inez melebar. Di dadanya,
terasa sesuatu yang aneh. Jantungnya berdegup lebih kencang. Otaknya masih
mencerna; dia tak tahu apakah yang dia rasakan itu keraguan, keterkejutan,
atau…ketakutan. Dia tak bisa membedakan semuanya. Pikirannya agak kalut.
Akhirnya, karena Inez tak kunjung
membalas ucapan Mr. Parker (gadis itu hanya terdiam di sana), Zoya pun tertawa
canggung. “Ah…haha… Tidak terlalu tua kok, Pak. Hampir seumuran dengan Ayahku.”
“Oh
ya?” Mata Mr. Parker sedikit melebar. “That’s nice!”
Zoya
tersenyum. Dia mulai berpamitan. “Baiklah, Mr. Parker, kami pulang dahulu, ya.
Nanti, kami semua akan bergantian menjenguk Miller dari waktu ke waktu.”
Mr.
Parker mengangguk, lalu tersenyum. “All right. Hati-hati, ya. Aku akan
berusaha untuk merawat Miller dengan baik.”
“Okay,”
jawab
Zoya. Gadis itu pun sedikit menunduk hormat pada Mr. Parker, lalu membawa Inez
pergi. Untungnya, pikiran Inez kini sudah mulai normal; dia ikut menunduk
hormat pada Mr. Parker sebelum keluar.
Begitu
sampai di teras rumah, Inez langsung kaget karena melihat ada Elias dan Hayes.
Dua pemuda itu ternyata ada di luar rumah Mr. Parker, menunggu di dekat tangga.
Zoya
mendengkus saat melihat Elias. Dia terganggu sekali dengan keberadaan Elias
karena mereka baru putus. Dia tak mau dipertemukan dengan Elias terus-menerus.
Jadi,
ketika Inez langsung turun dari tangga untuk menemui Elias dan Hayes, Zoya pun
mengikutinya dengan langkah malas.
Inez
mendekati kedua pemuda itu seraya menyatukan alis. “Apa yang kalian lakukan di
sini?”
Hayes
tengah menyilangkan tangannya di depan dada. Dia menunjuk Elias dengan dagunya,
lalu menjawab, “Dia mengajakku untuk mengikuti kalian.”
“…mengikuti?”
ulang Inez heran. Gadis itu langsung menatap Elias.
Elias
mendengkus. “Kalian baik-baik saja?”
Inez
mengedikkan bahu. “Well, we’re fine. Why?”
Di
detik itu, Zoya juga sudah turun dari tangga. Elias menatap Zoya, fokus
kepadanya, lalu menjawab, “Aku hanya khawatir.”
Ujung-ujungnya,
Zoya membuang muka lagi. Inez menatap Zoya, lalu diam-diam tersenyum geli.
Ada-ada saja, para mantan (yang masih sama-sama suka) ini.
Akhirnya,
mereka semua pun kembali ke tenda. Hal yang tidak Zoya dan Inez ketahui adalah:
Elias dan Hayes sebenarnya mendengar pembicaraan mereka dengan Mr. Parker di
ruang tamu tadi. Kedua pemuda itu sempat mengernyitkan dahi saat Inez
mempertanyakan umur Mr. Parker (karena sebenarnya…itu adalah basa-basi yang
kurang perlu), apalagi Mr. Parker agaknya tidak langsung menjawabnya. Ada jeda.
Mereka
bingung saat mendengar percakapan itu, sedikit merasa aneh, tetapi
kurang yakin apa sebabnya.
******
Pada
jam setengah satu siang, Lynn kembali datang ke area tenda mereka. Gadis itu
membawa beberapa keranjang, lalu berkata dengan manis, “Selamat siang.”
Semua
orang yang kebetulan sedang duduk-duduk di depan tenda mereka spontan langsung
tegak—atau setidaknya duduk tegap—saat melihat kehadiran Lynn. Lynn mulai
meletakkan keranjang-keranjangnya di bawah, lalu berjongkok dan membuka
penutup-penutup keranjang itu.
Becca,
Sophia, dan Jack mulai mendekati Lynn. Becca bertanya, “Ini apa, Lynn?”
Lynn
mendongak, tersenyum manis, lalu mulai mengeluarkan kotak-kotak bekal
transparan yang berisi makanan. “Ah…ini makanan dari warga sini. Ayah
memberitahu para warga bahwa ada salah satu dari kalian yang sakit, jadi banyak
dari mereka yang menyumbang makanan untuk kalian. Namun, Ayah sudah bilang pada
mereka untuk memilih bahan-bahannya dengan baik. Kalau ada menu yang kira-kira tidak
kalian sukai atau mungkin alergi, jangan dimakan, ya. Pilih yang kalian bisa
makan saja.”
Mendengar
ucapan Lynn—sekaligus melihat makanan sebanyak itu dengan berbagai jenis—semua
orang di sana spontan gembira bukan main. Mereka berdiri dan menghampiri Lynn,
melihat-lihat semua makanan itu dan mengucapkan terima kasih banyak.
Lynn
tersenyum manis dan mengangguk. Namun, sambil mengeluarkan makanan-makanan itu,
Lynn sempat bertatapan dengan Eddie.
Eddie
tidak berdiri; dia hanya duduk tegap di depan tendanya karena melihat Lynn
datang. Namun, tidak, dia tidak menghampiri Lynn ataupun memilih makanan
bersama teman-temannya yang lain.
Tatapannya
hanya fokus ke Lynn.
Lynn
juga melakukan hal yang sama. Mereka menatap tepat ke mata
masing-masing. Seakan-akan berbicara…atau saling memenjarakan…satu sama
lain hanya dengan tatapan.
Bagai
ada sebuah magnet yang menarik mereka berdua. Ketertarikan itu instan
dan sangat fatal. Ada hasrat yang tak terbendung lagi.
Eddie
pelan-pelan tersenyum miring. Matanya menggelap…
…terutama
saat
tatapan Lynn mulai terlihat mengawang. Rasa ingin di mata gadis itu
tercetak dengan jelas. Penuh lamunan. Angan-angan. Seolah-olah pikirannya sudah
melayang ke situasi yang belum terjadi.
Tatapan
mereka berlangsung terlalu lama. Terlalu fokus. Terlalu mengawang dan berkelana
jauh. Menelanjangi tanpa harus bergerak. Penuh gairah.
…dan
keduanya sadar akan hal itu.
Oh,
tidak. Bukan hanya mereka berdua, sebenarnya. Inez, Sophia, dan Zoya pun saling
memandang. Namun, ketiga gadis itu ujung-ujungnya hanya mengedikkan bahu dan
lanjut memilih makanan-makanan tadi.
******
“AAHHHH
FUUUCK!” erang Eddie saat kejantanannya masuk ke lubang vagina Lynn.
Lynn langsung mendesah hebat; dia berpegangan pada pohon, kuku-kukunya nyaris
mencakar batang pohon itu. Satu tusukan dari Eddie mengirimkan ribuan sengatan
listrik ke tubuhnya.
Oh,
Lynn sangat menunggu saat-saat ini!
Dia
menginginkan ini. Dia menginginkan Eddie. Mau ditusuk oleh Eddie. Kuat. Keras.
Sekarang juga!
“FUCK,
KAU
SENGAJA MENGGODAKU, ‘KAN?!!! KAU SUKA PADAKU, HAH?!!! YOU’RE A TROUBLE!!
FUCK!!! TAKE THIS!! TAKE MY COCK! LOOK AT YOUR LITTLE HOLE SWALLOWING MY COCK!!!”
Eddie menggeram, urat-urat di lehernya menonjol. Dia mencengkeram pinggul
Lynn, bokong Lynn terekspos di depannya. Rok Lynn dibuka—diangkat hingga ke
atas—dan kancing baju Lynn sudah terbuka semua. Kedua payudara Lynn sudah lolos
dari bra-nya dan memantul-mantul kencang seiring dengan tusukan Eddie
yang sangat brutal. Seolah-olah tidak ada hari esok. Seolah-olah mereka akan
hilang akal kalau tidak bersetubuh saat ini juga.
“OOOHHHH!!!”
teriak Lynn. Perempuan itu mendorong bokongnya sendiri ke belakang, menemui tusukan
Eddie. Menusukkan dirinya sendiri ke kejantanan Eddie yang keras. Membantu
Eddie dengan agresif, tidak sabar. “YA! OHHH!! AH! AH! ENAK SEKALI!!
TERUS!! TUSUK AKU LEBIH KERAS!!! AKU SUDAH MEMBAYANGKAN INI SEJAK
KEMARIN!!”
“SIAL!!!!!”
umpat Eddie. Pemuda itu semakin menggeram, hilang akal saat mendengar pengakuan
Lynn. “YES, BABY, ME TOO! FUCK! I'VE WANTED TO FUCK TO YOU SINCE YESTERDAY.
OHHH! YOU FEEL SO GOOD!!!”
“AHHHH,
EDDIE!!!” Lynn meneriakkan nama Eddie yang sebenarnya baru dia ketahui
beberapa saat yang lalu, sebelum mereka berhubungan seks panas begini. Sebelum
mereka saling bergoyang; sebelum mereka kawin seperti binatang di tengah-tengah
hutan begini.
“EDDIE,
PLEASE!!! AHHH!!! LEBIH KERAS!! LEBIH KENCANG!!!” mohon Lynn. Ekspresi wajahnya
benar-benar erotis. Mulutnya menganga; matanya terbalik ke belakang, nyaris
hanya bagian putihnya yang terlihat. “OHHH, NIKMAT!! IT FEELS SO GOOD
TO BE FUCKED BY YOU!! OHH I FUCKING WANT YOU SO MUCH!!! SUCH A HANDSOME MAN!”
Rahang
Eddie mengetat. Dia lalu mengerang hebat, menggeram, dan sedikit menunduk untuk
mencubit puting Lynn kuat-kuat. Lynn berteriak kencang, “AHHHH!!!!! MORE!!!
DO IT AGAIN!!! PULL IT!!!”
Eddie
pun menurutinya; pemuda itu langsung menarik puting Lynn kuat-kuat. “FUCK
YES!!!!”
“AHHH,
AHH!! EDDIE!! AKU MAU KELUAR!! AKU MAU KELUAR!!!” teriak
Lynn. Dia berbicara dengan cepat, napasnya agak terputus-putus karena berbicara
sambil disodok oleh Eddie. Sodokan itu sangat cepat dan kuat. Liar.
“AHHH!!
AKU MAU KELUAR DI DALAM!! DI DALAM!!” teriak Eddie kencang. Dia juga hampir
keluar. Sedikit lagi. Tusukannya jadi semakin brutal. Dia langsung menarik
rambut Lynn ke belakang, membuat punggung Lynn melengkung.
Lynn
semakin gila saat rambutnya ditarik. Itu nikmat sekali baginya. Air
liurnya tanpa sadar mengalir dari sudut bibirnya. “AHHH YES! YES! OHHH! CUM
INSIDE ME!!! KELUARKAN SPERMAMU DI DALAMKU!!! MASUKKAN SEMUANYA!!!!”
“FUUUUUUUCKKKK!!!!!!!!”
umpat Eddie kencang saat memberikan satu tusukan yang sangat keras pada
lubang vagina Lynn. Menyemprotkan semua spermanya di dalam sana.
“OOOHHHHHHHH!!!!!!!!”
teriak Lynn saat Eddie menyemburkan sperma ke dalamnya. Mengalirkan semua
sperma itu ke rahimnya. Sperma yang sangat banyak dan kental. Lynn juga
orgasme di saat yang sama.
Kepala
Eddie mendongak, terlempar ke belakang saat mendapatkan kenikmatan yang luar
biasa itu. Di kepalanya mulai berputar kalimat:
Ohh…sial.
Keparat. Enak sekali. Enak sekali!!! Aku bisa ketagihan.
Teman-temanku
masih kepikiran soal Miller; aku juga baru tahu soal Miller siang tadi, tetapi sekarang
aku ada di sini, di tengah-tengah hutan, malah sibuk menyodok vagina seorang
perempuan. Anak gadisnya tour guide di hutan ini.
Asyik
sekali. Aku sangat puas. Senang. Baguslah aku mengikuti acara kemah ini!
Tidak
bermoral, tidak beretika, tidak tahu situasi, tetapi hasrat dan nafsuku sudah
tak terbendung.
…dan
ini sungguh nikmat! Nikmat sekali, sialan.
******
Hari
sudah malam. Malam ini, mereka semua berkumpul di depan api unggun yang mereka
hidupkan dua jam yang lalu. Mereka baru saja makan malam dan sedang mengobrol
bersama.
Ada
sembilan orang yang duduk di sana. Ada yang bermain ponsel, ada yang
iseng-iseng memetik senar gitar dengan pelan, dan ada juga yang hanya mengobrol.
Hanya satu orang yang tidak ada di sana:
Eddie.
Sejak
tadi sore, Eddie tidak terlihat. Terakhir kali mereka melihat Eddie adalah saat
makan siang.
“Ke
mana Eddie?” tanya Elias seraya mengernyitkan dahi.
“Tak
tahu. Aku sudah tak melihatnya sejak selesai makan siang tadi,” jawab Hayes.
July
memiringkan kepalanya. “Apakah dia tak mengatakan sesuatu pada kalian sebelum
pergi?”
“Tidak,”
jawab Elias.
“Apa
yang dia lakukan sampai malam begini? Di tengah hutan pasti gelap sekali!” ucap
Becca. Gadis itu terlihat heran minta ampun.
Alis
Elias mulai menyatu. “Ke mana dia kira-ki—"
“Probably
having sex with Mr. Parker’s daughter somewhere,” celetuk
Jack seraya mengedikkan bahu. Ekspresi pemuda itu datar; dia terlihat sangat
yakin. Dia memotong ucapan Elias dengan cepat, spontan.
Semua
orang yang ada di sana jadi terperanjat. Napas mereka kontan tertahan di
tenggorokan. Mata mereka membulat.
“Yo
what?!” ucap July tak habis pikir.
“Bro,
what the fuck?!” jawab Hayes. Apakah Jack serius
mengatakan itu?
“A—Apa-apaan?!
Bukankah mereka baru mengenal satu sama lain?!” ucap Becca. Becca menutup
mulutnya dengan sebelah tangan.
“That’s
definitely crazy!” tambah Inez. Sophia dan Zoya hanya
menganga tak percaya. Masa iya, sih?
Sementara
itu, Elias hanya heran. Separuh percaya, separuh tidak.
Jack
mendengkus, lalu memutar bola matanya. “Don't tell me you didn't feel the
sexual tension between them these past two days? I'm sure we all saw how they
undressed each other with just their eyes.”
Mereka
semua terdiam. Beberapa mulai refleks meneguk ludah.
Well…
Iya
juga, sih.
Namun…yang
benar saja?!! Berhubungan badan? Di hutan?? Malam-malam begini? Saat baru kenal
dua hari?? Saat Miller sedang tidak sadarkan diri?!!
Apa
dia gila?!
Apa
pun itu, ucapan Jack membuat mereka semua jadi tak habis pikir dengan Eddie.
Sepertinya, besok pagi…(atau malam ini, kalau Eddie pulang), mereka harus mencecar
Eddie dengan berbagai pertanyaan.
Ya.
Harus.
Mereka
pun menunggu. Melanjutkan obrolan mereka sambil berusaha untuk tidak kepikiran
soal Eddie. Hingga akhirnya, mereka semua pun mengantuk dan memutuskan untuk
kembali ke tenda masing-masing. Mau tidur.
Akan
tetapi, ternyata…
Eddie
tak kembali malam itu. []


Hayes

No comments:
Post a Comment