Sunday, January 25, 2026

Lost in the Woods (Chapter 5: Eldritch)

 


******

Chapter 5 :

Eldritch

 

******

 

BEGITU Miller pingsan, mereka semua langsung membawa Miller ke rumah Mr. Parker dengan panik. Mereka ingin meminta pertolongan. Ingin tahu apa yang terjadi pada Miller…sebab July dan Becca ingat bahwa Miller tidak memakan apa pun selain makanan yang diberikan oleh Mr. Parker dan Lynn. Namun, tidak mungkin makanan itu yang membuat Miller muntah-muntah, ‘kan? Kalau memang ada sesuatu di dalam makanan itu, pasti mereka semua akan muntah-muntah, bukan hanya Miller!

“Oh, ya ampun! Apa yang terjadi?!” tanya Mr. Parker dengan panik; dia membuka pintu dan langsung melihat para cowok yang mengantarkan Miller ke rumahnya.

Hayes menjawab cepat, “Dia muntah-muntah, setelah itu dia pingsan.”

“Tolong kami, Pak,” ujar Elias dengan ekspresi khawatir. “Kami tak tahu apa yang terjadi padanya.”

Mata Mr. Parker membulat. “Astaga! Silakan, silakan! Ayo, baringkan dia di ruang tamu!”

Miller pun dibaringkan di ruang tamu. Hayes, Jack, dan Elias duduk bertumpukan lutut di sebelahnya. Para perempuan menunggu di luar. Eddie sejak tadi sedang berkeliling hutan dan belum kembali, jadi dia belum tahu kalau Miller pingsan.

Mr. Parker pergi ke kamar, lalu keluar lagi dengan membawa sebuah botol kecil. Ia mengusapkan isi botol kecil itu—baunya seperti balsam—di hidung Miller. Ia lalu mengangkat kaki Miller ke atas, lebih tinggi daripada dada pemuda itu.

“Apakah dia memakan sesuatu yang aneh sebelum muntah?” tanya Mr. Parker.

“Tidak,” jawab Jack, menggeleng. “Dia hanya memakan sarapan yang Anda berikan.”

Mr. Parker terkesiap. “Ya Tuhan! Apakah kalian baik-baik saja? Aku memastikan aku memakai bahan-bahan yang segar dan tidak berbahaya, tetapi…astaga, apakah aku dan Lynn salah memilih bahan? Bagaimana dengan kalian? Kalian juga memakan makanan yang sama!”

“Sejauh ini, kami baik-baik saja, Pak,” jawab Hayes.

“Apakah dia punya alergi?” tanya Mr. Parker lagi.

“Setahuku tidak ada,” jawab Jack. “Aku cukup dekat dengannya.”

Mr. Parker mengangguk. “Baiklah. Aku akan merawatnya. Kalian kembali saja ke tenda kalian. Beristirahatlah. Beritahu aku kalau perut kalian terasa sakit atau sebagainya, ya?”

Jack, Elias, and Hayes mengangguk.

“Yes,” jawab Elias. “Please help Miller, Mr. Parker.”

Mr. Parker mengangguk. “I’ll try my best. Aku akan mengantarkannya ke tenda kalian begitu dia sadar.”

 

******

 

Satu jam kemudian, Inez dan Zoya datang ke rumah Mr. Parker untuk menjenguk Miller. Mereka ingin tahu keadaan Miller sekarang, terutama karena tadi mereka tidak ikut masuk ke rumah Mr. Parker saat Miller diantarkan.

Tadi, tatkala rombongan Elias keluar dari rumah Mr. Parker, Elias menghela napas dan berkata, “Miller akan dirawat oleh Mr. Parker hingga dia sadar. Ayo kembali ke tenda.”

Becca merespons, “Apakah Mr. Parker tahu mengapa dia seperti itu?”

Hayes menggeleng. “Tidak. Beliau juga kaget dan curiga kalau ada masalah pada bahan yang dia gunakan untuk membuat sarapan tadi pagi.”

“…tapi kita semua baik-baik saja,” ucap Sophia. Inez mengangguk, menyetujuinya.

Jack menghela napas. “Iya. Itu berarti tidak ada masalah dengan makanannya.”

July mengernyitkan dahi. “Apakah Miller alergi terhadap lauk-lauk di makanan itu atau—"

“Dia tidak punya alergi apa-apa,” potong Jack. “Tadi Mr. Parker juga sempat menanyakan itu.”

“Apakah dia sempat memakan sesuatu setelah sarapan?” tanya Inez pada July. July menggeleng.

“Tidak. Kami ada di belakang tenda, mengobrol, dan tiba-tiba dia muntah,” jawab July.

Mereka semua jadi bingung. Sebagian mengernyitkan dahi, berpikir keras. Bertanya-tanya mengapa Miller jadi seperti itu.

Zoya menunduk. Tangannya terkepal. Jujur saja, perutnya baik-baik saja. Jadi, Miller kenapa?

Saat Zoya mengangkat wajahnya kembali, ia pun tanpa sengaja bertatapan dengan Elias. Ternyata, Elias sudah lebih dahulu memperhatikannya. Tatapan mata pemuda itu terlihat khawatir. Sedikit sendu. Seperti ingin menanyakan sesuatu, tetapi tak terucap.

Zoya buru-buru membuang muka, pura-pura menatap Jack yang sedang menyuruh mereka semua untuk kembali ke tenda dan beristirahat.

Sekarang, setelah satu jam berlalu (jam 11 pagi), Inez dan Zoya pun pergi lagi ke rumah Mr. Parker untuk mengecek kondisi Miller. Selain karena penasaran, well…seseorang memang harus mengecek kondisi Miller di sana dari waktu ke waktu. Inez dan Zoya menawarkan diri untuk mengecek Miller pertama kali.

Saat sampai di rumah panggung itu, Mr. Parker menyambut mereka dengan baik.

“Oh, kalian di sini? Silakan masuk. Miller ada di kamar. Aku memindahkannya ke sana agar dia berbaring dengan nyaman,” ujar Mr. Parker.

Inez dan Zoya mengangguk.

“Terima kasih, Mr. Parker,” ucap Inez.

“Apakah Miller sudah sadar?” tanya Zoya.

Mr. Parker menghela napas, ekspresi wajahnya kembali khawatir. “Sayang sekali, dia belum sadar. Aku sudah memberinya obat dari tanaman herbal yang warga sini punya, mencampur obat itu dengan air dan memasukkan itu ke mulutnya, tetapi mungkin dia butuh waktu.”

Mr. Parker pun berbalik, berjalan di depan untuk menuntun Inez dan Zoya ke kamar. “Apakah kalian baik-baik saja?”

Inez mengangguk. “Ya, Mr. Parker. Kami baik-baik saja.”

“Syukurlah,” ujar Mr. Parker. “Aku sungguh khawatir. Kalian datang ke sini untuk bersenang-senang, tetapi hal ini terjadi. Aku merasa tidak enak.”

Zoya menggeleng. “T—Tidak perlu merasa begitu, Pak. Ini bukan salah Anda.”

Mr. Parker menghela napas. “Tetap saja aku harus menjamin kenyamanan kalian.”

Saat melewati lorong, Zoya kembali melihat dua kamar yang berseberangan. Pemandangan yang sama dengan yang waktu itu dia lihat saat menumpang mandi. Inez pun akhirnya melihat secara langsung apa yang waktu itu Zoya ceritakan.

“Ini, Miller ada di kamar ini,” ucap Mr. Parker saat akhirnya dia berhenti di kamar sebelah kanan. “Masuklah. Aku akan meminta tanaman herbal lagi dari Mrs. Emerson, sekalian untuk kalian. Just in case.”

Zoya dan Inez mengangguk. “Terima kasih banyak, Mr. Parker. Maaf sudah merepotkan Anda.”

Mr. Parker berbalik dan tersenyum. “Tidak. Ini sudah jadi tanggung jawabku. Aku pergi dahulu, ya.”

Zoya mengangguk lagi. “Baiklah, Mr. Parker.”

Mr. Parker akhirnya pergi. Dia keluar lewat pintu belakang. Zoya terus memperhatikan pria paruh baya itu sampai akhirnya pintu belakang itu pun tertutup kembali. Zoya tersentak saat tiba-tiba Inez menyikut pinggangnya.

Zoya pun menoleh kepada Inez; gadis itu mengernyitkan dahi. Namun, Inez hanya menggerakkan dagunya, menunjuk kamar yang ada di sebelah kiri mereka. Karena bingung, Zoya pun menatap ke arah yang Inez tunjukkan.

Di sana, di dalam kamar itu, Zoya melihat boks. Ranjang bayi.

…dan di dalam boks itu…ada bayi yang sedang tertidur pulas.

Zoya melebarkan mata. Bayi?

Anak siapa itu?

Anaknya Mr. Parker, ya?

Kalau itu anaknya Mr. Parker…kok jarak umurnya jauh sekali dengan Lynn?

Zoya langsung menatap Inez kembali dan ternyata Inez memasang ekspresi yang sama. Mereka saling pandang.

Akhirnya, Inez cuma mengedikkan bahu. Gadis itu mulai menatap lurus ke depan (ke sepanjang lorong) dan matanya tiba-tiba melebar. Seperti baru saja menemukan sesuatu.

“Eh!” katanya. “Itu, ya, foto-foto yang kau maksud waktu itu?!”

Zoya langsung melihat ke arah yang sama.

“A—Ah…itu—”

“Aku mau lihat!” potong Inez. Gadis itu langsung berjalan cepat—beberapa langkah—untuk menghampiri kumpulan pigura yang tergantung di sana. Zoya jelas kaget bukan main.

“Inez…!” Zoya berteriak (tetapi dengan mendesis, bukan betul-betul mengeluarkan suaranya). “Hei, wait!!”

Dengan cepat, Zoya pun menyusul Inez ke depan sana. Inez sudah berdiri di depan foto-foto itu.

Aduuh, bukannya kita ke sini karena mau menjenguk Miller, ya?

Lagi pula, kalau Mr. Parker tiba-tiba kembali, bagaimana?!

Zoya berdecak dan menggaruk kepalanya. Inez memang ada-ada saja.

Saat sudah berdiri bersebelahan dengan Inez, akhirnya Zoya menghela napas. Ia pun memilih untuk bersabar saja, mungkin Inez hanya penasaran dan butuh waktu sebentar saja untuk menuntaskan rasa penasarannya.

Mereka berdua pun kini sama-sama memperhatikan foto-foto itu.

Tatkala memperhatikan foto-foto itu lagi sekarang…Zoya mulai menemukan detail-detail yang belum sempat dia cerna waktu itu.

Di sisi lain, Inez tampak tercengang. Antara kaget, bingung, dan juga…kagum. Dia memang melihat foto-foto vintage di sana, sama seperti apa yang Zoya ceritakan. Matanya tak bisa lepas; dia jadi memperhatikan foto-foto itu satu per satu. Sesekali, dia menggeleng tak percaya.

Ini semua…betulan atau cuma kostum?

Hingga akhirnya, Zoya menyentuh salah satu pigura. Inez pun refleks menatap ke pigura yang sama. Foto yang terpampang di sana.

Dahi mereka berkerut begitu melihat foto itu.

Itu adalah foto Mr. Parker bersama teman-temannya. Mereka semua memakai seragam yang sama. Seragam berwarna abu-abu. Dengan topi militer.

Di sudut kanan bawah foto tersebut, ada sebuah kalimat yang ditulis dengan spidol berwarna hitam. Hampir pudar, tetapi masih jelas. Tulisan tersebut adalah:

Provisional Army of the Confederate States (PACS), 1863.

 

Inez dan Zoya sama-sama bingung.

 

1863?

Apakah itu benar-benar diambil di tahun 1863?

Ataukah itu bukan Mr. Parker?! Kakek buyutnya yang mirip dengannya, mungkin?!

Soalnya, itu—itu lebih dari seratus tahun yang lalu!!

Either way, itu pasti bukan Mr. Parker.

 

Inezlah yang pertama kali bersuara.

“…1863?” katanya. “Is this real?”

Zoya jadi gelisah. Ekspresi wajahnya agak panik. Dia langsung menoleh pada Inez dan menggenggam tangan gadis itu. “Sudahlah, ayo pergi ke kamar! Mr. Parker bisa kembali sewaktu-waktu. Ayo lihat Miller saja!”

Ujung-ujungnya, dia pun menarik Inez pergi dari sana, membuat Inez terseret meskipun mata Inez masih terpaku pada foto itu.

Begitu sampai di kamar, mereka melihat Miller yang sedang berbaring telentang. Pemuda itu masih belum sadar. Di nakas, ada beberapa tumbuhan dan sebuah alu kecil. Di dalam alu itu masih ada bekas berwarna hijau, sisa-sisa tumbuhan yang ditumbuk sebelumnya. Di sebelah alu itu, ada segelas air dan sebotol kecil balsam.

Sepertinya, itu adalah tanaman herbal yang Mr. Parker maksud tadi. Mr. Parker memang mengobati Miller dengan tanaman itu.

Mereka berdua menghela napas prihatin saat melihat kondisi Miller. Satu jam adalah waktu yang lama sekali kalau untuk pingsan semata. Miller sebenarnya kenapa?

Mereka sama-sama berdiri di samping ranjang Miller. Tinggal di sana selama beberapa menit. Sesekali mengecek suhu tubuh Miller, sesekali memperhatikan tanaman itu, sesekali juga mengoleskan balsam di dekat hidung Miller. Setelah lima menit berlalu, mereka pun mendengar suara pintu dibuka. Pintu belakang.

Inez dan Zoya langsung menoleh ke belakang. Itu pasti adalah Mr. Parker. Langkah kakinya mulai terdengar melewati lorong.

Ketika sosok Mr. Parker muncul di ambang pintu kamar, pria itu tersenyum. “Ah…maaf, aku agak lama. Aku tadi menunggu Mrs. Emerson memetik tanaman itu dari belakang rumahnya.”

Mr. Parker mulai menaruh plastik yang berisi tanaman-tanaman itu di lantai, menyandarkan mereka di dinding dekat pintu kamar.

Inez menggeleng. “A—Ah, tidak, Mr. Parker. Anda tidak lama kok. Kami juga sedang mengecek kondisi Miller.”

Mr. Parker berjalan mendekati mereka. “Oh, begitu. Dia belum sadar, ya?”

Inez dan Zoya berbalik kembali; mereka bertiga kini sama-sama memperhatikan Miller. Zoya menggeleng. “Belum, Mr. Parker.”

Mr. Parker menghela napas. Dia tampak khawatir; ada rasa bersalah yang juga mampir di raut wajahnya.

“Ada baiknya kita berbicara di ruang tamu saja. Dia belum sadar. Ayo biarkan dia beristirahat,” saran Mr. Parker. Zoya dan Inez pun mengangguk setuju.

Akhirnya, mereka pun berjalan keluar dari kamar itu. Zoya menutup pintunya karena dialah yang terakhir keluar. Namun, dia sempat menatap Miller sejenak sebelum menutup pintu.

Dia dan Inez pun mengikuti langkah Mr. Parker ke ruang tamu.

“Mr. Parker?” panggil Zoya. Matanya menatap Mr. Parker dengan penuh keingintahuan.

Mr. Parker berhenti melangkah karena kebetulan mereka sudah sampai di ruang tamu. Pria itu pun berbalik, menghadap ke dua gadis yang ada di belakangnya.

“Ya?” jawabnya.

Zoya meneguk ludah, lalu mulai bertanya.

 

“Apakah Miller…akan baik-baik saja?”

 

Mr. Parker melebarkan matanya samar, lalu tersenyum seraya menghela napas.

“Aku akan berusaha untuk mengobatinya. Biasanya, warga akan datang padaku kalau ada yang sakit,” ujar Mr. Parker.

Zoya menghela napas lega. Inez pun sama.

“Baiklah. Terima kasih, Mr. Parker,” kata Zoya.

“Meskipun sudah tua begini, aku masih bisa mengurus teman kalian dengan baik,” canda Mr. Parker. Dia sedikit tertawa untuk mencairkan suasana.

Namun, mendengar kalimat Mr. Parker barusan, Inez agaknya berpikir lain.

Dengan hati-hati, Inez pun bertanya pelan.

 

“Memangnya…berapa usia Anda, Mr. Parker?”

 

Mr. Parker tidak langsung menjawab.

Dia tersenyum.

Senyumannya sangat…manis.

 

Setelah itu, dia pun mulai menjawab.

 

“Usiaku 48 tahun. Sudah cukup tua, bukan?”

 

            Mata Inez melebar. Di dadanya, terasa sesuatu yang aneh. Jantungnya berdegup lebih kencang. Otaknya masih mencerna; dia tak tahu apakah yang dia rasakan itu keraguan, keterkejutan, atau…ketakutan. Dia tak bisa membedakan semuanya. Pikirannya agak kalut.

            Akhirnya, karena Inez tak kunjung membalas ucapan Mr. Parker (gadis itu hanya terdiam di sana), Zoya pun tertawa canggung. “Ah…haha… Tidak terlalu tua kok, Pak. Hampir seumuran dengan Ayahku.”

“Oh ya?” Mata Mr. Parker sedikit melebar. “That’s nice!”

Zoya tersenyum. Dia mulai berpamitan. “Baiklah, Mr. Parker, kami pulang dahulu, ya. Nanti, kami semua akan bergantian menjenguk Miller dari waktu ke waktu.”

Mr. Parker mengangguk, lalu tersenyum. “All right. Hati-hati, ya. Aku akan berusaha untuk merawat Miller dengan baik.”

“Okay,” jawab Zoya. Gadis itu pun sedikit menunduk hormat pada Mr. Parker, lalu membawa Inez pergi. Untungnya, pikiran Inez kini sudah mulai normal; dia ikut menunduk hormat pada Mr. Parker sebelum keluar.

Begitu sampai di teras rumah, Inez langsung kaget karena melihat ada Elias dan Hayes. Dua pemuda itu ternyata ada di luar rumah Mr. Parker, menunggu di dekat tangga.

Zoya mendengkus saat melihat Elias. Dia terganggu sekali dengan keberadaan Elias karena mereka baru putus. Dia tak mau dipertemukan dengan Elias terus-menerus.

Jadi, ketika Inez langsung turun dari tangga untuk menemui Elias dan Hayes, Zoya pun mengikutinya dengan langkah malas.

Inez mendekati kedua pemuda itu seraya menyatukan alis. “Apa yang kalian lakukan di sini?”

Hayes tengah menyilangkan tangannya di depan dada. Dia menunjuk Elias dengan dagunya, lalu menjawab, “Dia mengajakku untuk mengikuti kalian.”

“…mengikuti?” ulang Inez heran. Gadis itu langsung menatap Elias.

Elias mendengkus. “Kalian baik-baik saja?”

Inez mengedikkan bahu. “Well, we’re fine. Why?”

Di detik itu, Zoya juga sudah turun dari tangga. Elias menatap Zoya, fokus kepadanya, lalu menjawab, “Aku hanya khawatir.”

Ujung-ujungnya, Zoya membuang muka lagi. Inez menatap Zoya, lalu diam-diam tersenyum geli. Ada-ada saja, para mantan (yang masih sama-sama suka) ini.

Akhirnya, mereka semua pun kembali ke tenda. Hal yang tidak Zoya dan Inez ketahui adalah: Elias dan Hayes sebenarnya mendengar pembicaraan mereka dengan Mr. Parker di ruang tamu tadi. Kedua pemuda itu sempat mengernyitkan dahi saat Inez mempertanyakan umur Mr. Parker (karena sebenarnya…itu adalah basa-basi yang kurang perlu), apalagi Mr. Parker agaknya tidak langsung menjawabnya. Ada jeda.

Mereka bingung saat mendengar percakapan itu, sedikit merasa aneh, tetapi kurang yakin apa sebabnya.

 

******

 

Pada jam setengah satu siang, Lynn kembali datang ke area tenda mereka. Gadis itu membawa beberapa keranjang, lalu berkata dengan manis, “Selamat siang.”

Semua orang yang kebetulan sedang duduk-duduk di depan tenda mereka spontan langsung tegak—atau setidaknya duduk tegap—saat melihat kehadiran Lynn. Lynn mulai meletakkan keranjang-keranjangnya di bawah, lalu berjongkok dan membuka penutup-penutup keranjang itu.

Becca, Sophia, dan Jack mulai mendekati Lynn. Becca bertanya, “Ini apa, Lynn?”

Lynn mendongak, tersenyum manis, lalu mulai mengeluarkan kotak-kotak bekal transparan yang berisi makanan. “Ah…ini makanan dari warga sini. Ayah memberitahu para warga bahwa ada salah satu dari kalian yang sakit, jadi banyak dari mereka yang menyumbang makanan untuk kalian. Namun, Ayah sudah bilang pada mereka untuk memilih bahan-bahannya dengan baik. Kalau ada menu yang kira-kira tidak kalian sukai atau mungkin alergi, jangan dimakan, ya. Pilih yang kalian bisa makan saja.”

Mendengar ucapan Lynn—sekaligus melihat makanan sebanyak itu dengan berbagai jenis—semua orang di sana spontan gembira bukan main. Mereka berdiri dan menghampiri Lynn, melihat-lihat semua makanan itu dan mengucapkan terima kasih banyak.

Lynn tersenyum manis dan mengangguk. Namun, sambil mengeluarkan makanan-makanan itu, Lynn sempat bertatapan dengan Eddie.

Eddie tidak berdiri; dia hanya duduk tegap di depan tendanya karena melihat Lynn datang. Namun, tidak, dia tidak menghampiri Lynn ataupun memilih makanan bersama teman-temannya yang lain.

Tatapannya hanya fokus ke Lynn.

Lynn juga melakukan hal yang sama. Mereka menatap tepat ke mata masing-masing. Seakan-akan berbicara…atau saling memenjarakan…satu sama lain hanya dengan tatapan.

Bagai ada sebuah magnet yang menarik mereka berdua. Ketertarikan itu instan dan sangat fatal. Ada hasrat yang tak terbendung lagi.

Eddie pelan-pelan tersenyum miring. Matanya menggelap…

…terutama saat tatapan Lynn mulai terlihat mengawang. Rasa ingin di mata gadis itu tercetak dengan jelas. Penuh lamunan. Angan-angan. Seolah-olah pikirannya sudah melayang ke situasi yang belum terjadi.

Tatapan mereka berlangsung terlalu lama. Terlalu fokus. Terlalu mengawang dan berkelana jauh. Menelanjangi tanpa harus bergerak. Penuh gairah.

…dan keduanya sadar akan hal itu.

Oh, tidak. Bukan hanya mereka berdua, sebenarnya. Inez, Sophia, dan Zoya pun saling memandang. Namun, ketiga gadis itu ujung-ujungnya hanya mengedikkan bahu dan lanjut memilih makanan-makanan tadi.

 

******

 

“AAHHHH FUUUCK!” erang Eddie saat kejantanannya masuk ke lubang vagina Lynn. Lynn langsung mendesah hebat; dia berpegangan pada pohon, kuku-kukunya nyaris mencakar batang pohon itu. Satu tusukan dari Eddie mengirimkan ribuan sengatan listrik ke tubuhnya.

Oh, Lynn sangat menunggu saat-saat ini!

Dia menginginkan ini. Dia menginginkan Eddie. Mau ditusuk oleh Eddie. Kuat. Keras. Sekarang juga!

“FUCK, KAU SENGAJA MENGGODAKU, ‘KAN?!!! KAU SUKA PADAKU, HAH?!!! YOU’RE A TROUBLE!! FUCK!!! TAKE THIS!! TAKE MY COCK! LOOK AT YOUR LITTLE HOLE SWALLOWING MY COCK!!!” Eddie menggeram, urat-urat di lehernya menonjol. Dia mencengkeram pinggul Lynn, bokong Lynn terekspos di depannya. Rok Lynn dibuka—diangkat hingga ke atas—dan kancing baju Lynn sudah terbuka semua. Kedua payudara Lynn sudah lolos dari bra-nya dan memantul-mantul kencang seiring dengan tusukan Eddie yang sangat brutal. Seolah-olah tidak ada hari esok. Seolah-olah mereka akan hilang akal kalau tidak bersetubuh saat ini juga.

“OOOHHHH!!!” teriak Lynn. Perempuan itu mendorong bokongnya sendiri ke belakang, menemui tusukan Eddie. Menusukkan dirinya sendiri ke kejantanan Eddie yang keras. Membantu Eddie dengan agresif, tidak sabar. “YA! OHHH!! AH! AH! ENAK SEKALI!! TERUS!! TUSUK AKU LEBIH KERAS!!! AKU SUDAH MEMBAYANGKAN INI SEJAK KEMARIN!!”

“SIAL!!!!!” umpat Eddie. Pemuda itu semakin menggeram, hilang akal saat mendengar pengakuan Lynn. “YES, BABY, ME TOO! FUCK! I'VE WANTED TO FUCK TO YOU SINCE YESTERDAY. OHHH! YOU FEEL SO GOOD!!!”

“AHHHH, EDDIE!!!” Lynn meneriakkan nama Eddie yang sebenarnya baru dia ketahui beberapa saat yang lalu, sebelum mereka berhubungan seks panas begini. Sebelum mereka saling bergoyang; sebelum mereka kawin seperti binatang di tengah-tengah hutan begini.

“EDDIE, PLEASE!!! AHHH!!! LEBIH KERAS!! LEBIH KENCANG!!!” mohon Lynn. Ekspresi wajahnya benar-benar erotis. Mulutnya menganga; matanya terbalik ke belakang, nyaris hanya bagian putihnya yang terlihat. “OHHH, NIKMAT!! IT FEELS SO GOOD TO BE FUCKED BY YOU!! OHH I FUCKING WANT YOU SO MUCH!!! SUCH A HANDSOME MAN!”

Rahang Eddie mengetat. Dia lalu mengerang hebat, menggeram, dan sedikit menunduk untuk mencubit puting Lynn kuat-kuat. Lynn berteriak kencang, “AHHHH!!!!! MORE!!! DO IT AGAIN!!! PULL IT!!!”

Eddie pun menurutinya; pemuda itu langsung menarik puting Lynn kuat-kuat. “FUCK YES!!!!”

“AHHH, AHH!! EDDIE!! AKU MAU KELUAR!! AKU MAU KELUAR!!!” teriak Lynn. Dia berbicara dengan cepat, napasnya agak terputus-putus karena berbicara sambil disodok oleh Eddie. Sodokan itu sangat cepat dan kuat. Liar.

“AHHH!! AKU MAU KELUAR DI DALAM!! DI DALAM!!” teriak Eddie kencang. Dia juga hampir keluar. Sedikit lagi. Tusukannya jadi semakin brutal. Dia langsung menarik rambut Lynn ke belakang, membuat punggung Lynn melengkung.

Lynn semakin gila saat rambutnya ditarik. Itu nikmat sekali baginya. Air liurnya tanpa sadar mengalir dari sudut bibirnya. “AHHH YES! YES! OHHH! CUM INSIDE ME!!! KELUARKAN SPERMAMU DI DALAMKU!!! MASUKKAN SEMUANYA!!!!”

“FUUUUUUUCKKKK!!!!!!!!” umpat Eddie kencang saat memberikan satu tusukan yang sangat keras pada lubang vagina Lynn. Menyemprotkan semua spermanya di dalam sana.

“OOOHHHHHHHH!!!!!!!!” teriak Lynn saat Eddie menyemburkan sperma ke dalamnya. Mengalirkan semua sperma itu ke rahimnya. Sperma yang sangat banyak dan kental. Lynn juga orgasme di saat yang sama.

Kepala Eddie mendongak, terlempar ke belakang saat mendapatkan kenikmatan yang luar biasa itu. Di kepalanya mulai berputar kalimat:

Ohh…sial. Keparat. Enak sekali. Enak sekali!!! Aku bisa ketagihan.

Teman-temanku masih kepikiran soal Miller; aku juga baru tahu soal Miller siang tadi, tetapi sekarang aku ada di sini, di tengah-tengah hutan, malah sibuk menyodok vagina seorang perempuan. Anak gadisnya tour guide di hutan ini.

Asyik sekali. Aku sangat puas. Senang. Baguslah aku mengikuti acara kemah ini!

Tidak bermoral, tidak beretika, tidak tahu situasi, tetapi hasrat dan nafsuku sudah tak terbendung.

…dan ini sungguh nikmat! Nikmat sekali, sialan.

 

******

 

Hari sudah malam. Malam ini, mereka semua berkumpul di depan api unggun yang mereka hidupkan dua jam yang lalu. Mereka baru saja makan malam dan sedang mengobrol bersama.

Ada sembilan orang yang duduk di sana. Ada yang bermain ponsel, ada yang iseng-iseng memetik senar gitar dengan pelan, dan ada juga yang hanya mengobrol. Hanya satu orang yang tidak ada di sana:

 

Eddie.

 

Sejak tadi sore, Eddie tidak terlihat. Terakhir kali mereka melihat Eddie adalah saat makan siang.

“Ke mana Eddie?” tanya Elias seraya mengernyitkan dahi.

“Tak tahu. Aku sudah tak melihatnya sejak selesai makan siang tadi,” jawab Hayes.

July memiringkan kepalanya. “Apakah dia tak mengatakan sesuatu pada kalian sebelum pergi?”

“Tidak,” jawab Elias.

“Apa yang dia lakukan sampai malam begini? Di tengah hutan pasti gelap sekali!” ucap Becca. Gadis itu terlihat heran minta ampun.

Alis Elias mulai menyatu. “Ke mana dia kira-ki—"

“Probably having sex with Mr. Parker’s daughter somewhere,” celetuk Jack seraya mengedikkan bahu. Ekspresi pemuda itu datar; dia terlihat sangat yakin. Dia memotong ucapan Elias dengan cepat, spontan.

Semua orang yang ada di sana jadi terperanjat. Napas mereka kontan tertahan di tenggorokan. Mata mereka membulat.

“Yo what?!” ucap July tak habis pikir.

“Bro, what the fuck?!” jawab Hayes. Apakah Jack serius mengatakan itu?

“A—Apa-apaan?! Bukankah mereka baru mengenal satu sama lain?!” ucap Becca. Becca menutup mulutnya dengan sebelah tangan.

“That’s definitely crazy!” tambah Inez. Sophia dan Zoya hanya menganga tak percaya. Masa iya, sih?

Sementara itu, Elias hanya heran. Separuh percaya, separuh tidak.

Jack mendengkus, lalu memutar bola matanya. “Don't tell me you didn't feel the sexual tension between them these past two days? I'm sure we all saw how they undressed each other with just their eyes.”

Mereka semua terdiam. Beberapa mulai refleks meneguk ludah.

 

Well…

Iya juga, sih.

Namun…yang benar saja?!! Berhubungan badan? Di hutan?? Malam-malam begini? Saat baru kenal dua hari?? Saat Miller sedang tidak sadarkan diri?!!

Apa dia gila?!

 

Apa pun itu, ucapan Jack membuat mereka semua jadi tak habis pikir dengan Eddie. Sepertinya, besok pagi…(atau malam ini, kalau Eddie pulang), mereka harus mencecar Eddie dengan berbagai pertanyaan.

Ya. Harus.

Mereka pun menunggu. Melanjutkan obrolan mereka sambil berusaha untuk tidak kepikiran soal Eddie. Hingga akhirnya, mereka semua pun mengantuk dan memutuskan untuk kembali ke tenda masing-masing. Mau tidur.

Akan tetapi, ternyata…

 

Eddie tak kembali malam itu. []

 













******



Hayes






No comments:

Post a Comment

Black Trick (Chapter 5: Kane Houston)

  ****** Chapter 5 : Kane Houston   ******   PEMAKAMAN Austin dan Castro dilaksanakan di hari yang sama, yaitu tiga hari setelah C...