Thursday, January 1, 2026

Hymen's Favorite Girl (Chapter 5: The Presence of Divinity)

 


******

Chapter 5 :

The Presence of Divinity

 

******

 

MENDENGAR suara berat di dalam kepalanya itu, jantung Hiyori serasa mencelus ke perut. Tubuhnya mematung di tempat. Keringat dingin mulai muncul di pelipisnya.

Aduh, mati aku!

Itu—itu suara Hymen sa—

Dengan pelan—dan agak kaku—Hiyori pun berbalik.

Di depan sana, tepat di atas tangga kecil kuil, berdirilah Dewa Hymen. Dewa itu menyilangkan tangannya di depan dada. Sosoknya yang tinggi, tegap, gagah (kau bahkan bisa melihat seluruh ototnya dengan jelas), dan sangat tampan. Dia adalah dewa, jadi tampannya tak bisa dijelaskan. Di luar akal sehat. Dia seperti makhluk surga, seperti tidak nyata. Namun, dia berdiri di sana.

Bertatapan dengan Hiyori.

Embusan angin kala itu…membuat rambut silver dan selendangnya melambai pelan. Memperlihatkan sosoknya…yang bagaikan ilusi. Hari ini, dia tidak memakai selendang berwarna biru-emas; dia memakai selendang berwarna putih. Seperti biasa, selendang itu tersampir mulai dari bahu kirinya dan turun, lalu melebar hingga menutupi seluruh tubuh bagian bawahnya (yang juga memakai celana berwarna putih). Lengannya masih dihiasi arm cuff emas. Dadanya pun masih dihiasi rantai, tetapi kali ini rantai itu berwarna silver.

Agaknya, begitulah penampilan biasanya sehari-hari. Dia hanya memakai warna yang berbeda-beda.

 

Bagaimana penampilan resminya, ya?

 

Tiba-tiba, Dewa Hymen memiringkan kepalanya seraya tersenyum miring.

 

“Aku sedang bertanya padamu, Gadis Muda.”

 

Kali ini, sang Dewa benar-benar berbicara secara langsung. Dengan mulutnya. Suaranya terdengar jelas, padahal dia berdiri lumayan jauh di depan sana.

Tepat setelah kata-kata itu terucap, tembok tanah yang ada di belakang Hiyori runtuh. Hancur, lalu roboh ke tanah. Bunyi robohnya tembok itu membuat Hiyori tersentak. Dia sedang tegang, jadi ketika mendengar bunyi itu, dia jelas kaget.

Hiyori jadi gelagapan setengah mampus. Matanya masih menatap Dewa Hymen meskipun tembok itu runtuh di belakangnya. Dia tak bisa memalingkan wajah! Gugup! Seolah-olah dipenjara oleh tatapan sang Dewa meski beliau tak terlihat marah.

Sial! Aku ketahuan! Mau jawab bagaimana, nih?!!

Hiyori meneguk ludahnya. Namun, ujung-ujungnya, dia memutar otak untuk menjawab sang Dewa.

 

“Ah—haha… Aku—aku mau mengambil sesuatu yang tertinggal, Hymen-sama.”

 

Keringat dingin di pelipis Hiyori mengalir saat mengatakan itu.

Hymen sama menegakkan kepalanya kembali, lalu mengangkat kedua alisnya. Kedua matanya membulat polos. “Kau sudah membawa persembahan untukku. Memangnya apa yang ingin kau bawa lagi?”

Hiyori refleks melihat ke persembahan yang sejak tadi sebenarnya tengah ia pegang dengan kedua tangannya.

Duh, iya juga. Aaaargghhh!!

Hiyori langsung memejamkan mata dan melipat bibirnya, merasa bodoh sekali telah membuat alasan seperti itu. Memalukan!

Hiyori kembali menatap sang Dewa. “U—Um… Maafkan aku, Hymen-sama. Aku lupa.”

Hiyori tak tahu apakah Dewa Hymen benar-benar merasa heran…atau pura-pura heran. Soalnya, tiba-tiba dia tersenyum miring. Mengangkat dagunya.

“Aku tidak melarang kalau kau mau memberiku kado,” katanya santai.

Hah?

Apa?

Kado…?

Pipi Hiyori memerah. “Hymen-sama, Anda tidak sedang ulang tahun.”

Kedua alis Dewa Hymen kembali terangkat. “Oh? Kau tahu tanggal ulang tahunku?”

Hiyori mendengkus. “Tidak tahu. Aku belum bertanya pada Raiden-sama.”

Dewa Hymen mulai turun tangga dan melangkah santai mendekati Hiyori. Seraya berjalan, ia mengelus dagunya. Terlihat berpikir. “Hmm… Aku sendiri tak tahu kapan terakhir kali aku mengingat ulang tahunku. Apakah itu dua abad lalu?”

Hiyori menatapnya dengan ekspresi datar. Wah, mentang-mentang dia berumur panjang. Begini, ya, rasanya jadi dewa. Setahun bukanlah apa-apa baginya.

“Apakah Anda mau pamer, Kami-sama?” tanya Hiyori, masih dengan ekspresi datar.

Dewa Hymen tertawa. Dia sampai di depan Hiyori—empat jengkal di depan gadis itu—dan tiba-tiba dia menunduk. Mendekatkan wajahnya dengan wajah Hiyori.

Setelah itu, dia tersenyum miring.

 

“Jadi?” bisiknya. “Kau mau kabur ke mana, hmm?”

 

Spontan saja Hiyori menjauhkan wajahnya. Karena terkesiap, gadis itu mengelukkan tubuhnya ke belakang secara refleks. Wajahnya langsung merah padam.

“H—Hymen-sama!!!!”

Dewa Hymen kembali berdiri tegap dan langsung tergelak. Seperti biasa, dewa itu sangat menyebalkan. Dia selalu bisa membuat Hiyori malu dan kesal setengah mati.

Begitu berhenti tertawa, Dewa Hymen mulai memiringkan kepala. Masih dengan senyuman yang tersisa di wajah tampannya itu, dia pun membuka suara. Namun, kali ini…ada sebuah penekanan yang tertanam di suaranya. Mata abu-abunya—yang bersinar di bawah sinar matahari itu—juga pelan-pelan menyipit.

 

“Aku hanya ingin tahu gadis pengantar persembahanku mau kabur ke mana…karena seingatku, dia sudah membuat perjanjian denganku.”

 

Mata Hiyori melebar. Tubuhnya spontan menegang. Napasnya serasa tertahan di tenggorokan.

Dia langsung terpojok. Langsung meneguk ludahnya karena kata-kata yang mengandung ‘peringatan’ itu.

“A—Aku—” Hiyori gelagapan. Tak tahu harus menjawab apa.

“Hmm?” deham sang Dewa.

Akhirnya, Hiyori pun menunduk. Dia mengaku salah…dan kalah. Dia tak bisa melawan sang Dewa.

“Maafkan aku, Hymen-sama. Aku tadi mau…k—kabur.”

Yah, mau bagaimana lagi? Lebih baik mengaku sajalah. Dia tadi memang berencana untuk kabur, lari dari tanggung jawabnya. Memberontak.

Lagi pula, dia ‘teringat’ kembali soal…dengan siapa dia sedang berhadapan. Suara sang Dewa tadi sudah cukup membuatnya gentar (meskipun sebenarnya dia kesal sekali).

Hiyori mengangkat wajahnya demi melihat sang Dewa. Namun, ternyata dewa itu masih diam. Ekspresinya masih sama. Dia seolah-olah tengah menunggu Hiyori melanjutkan.

Hiyori kontan mengalihkan wajahnya ke samping dan pipinya merona. “A—Aku masih kesal dan trauma dengan kemesuman Anda.”

Dewa Hymen menaikkan kedua alisnya.

Dua detik kemudian, makhluk ilahi itu tertawa puas. Dia tertawa hingga kepalanya terdongak. Membuat Hiyori langsung menoleh kepadanya dan berteriak (dengan wajah dan telinga yang merah padam), “Hymen-samaaaaa!!! Astaga, berhentilah tertawa!!! Aku serius!!!”

“Sepertinya, kau lebih takut dengan ‘kemesuman’ yang kulakukan ketimbang bencana di desamu sendiri,” komentar Hymen. Dia terhibur total. “Sungguh gadis muda yang fantastis.”

“B—Bukan begitu!” Hiyori mengelak. “Aku juga takut dengan bencana itu, tetapi—”

“Syukurlah kalau kau takut,” potong Dewa Hymen. “Rencananya, tadi aku mau langsung menenggelamkan Shinrei kalau kau benar-benar kabur.”

Hiyori langsung bergidik ngeri. Wajahnya memucat. “H—Hymen-sama—”

Dewa Hymen tersenyum miring. “Itu adalah isi perjanjian kita, Gadis Muda.”

Aaaah, siaaaaaal!!

Sejak awal, perjanjian itu sudah aneh. Waktu itu, penduduk desa Shinrei diberikan konsekuensi berat karena Dewa ingin bertemu Hiyori. Sekarang, itu malah dijadikan bentuk ‘hukuman’ untuk Hiyori.

Dewa Hymen memang seenaknya saja.

Meskipun merasa takut, Hiyori tetap menjawab Hymen-sama, “Hymen-sama, menghukum desa hanya karenaku itu rasanya—”

“Hmm?” Dewa Hymen mengangkat kedua alisnya; matanya lagi-lagi membulat polos. “Itulah kesepakatan kita.”

Hiyori gelisah. Gadis itu mencoba untuk berargumen. “Iya, Hymen-sama, tetapi bukankah lebih baik kalau hanya aku yang kau hukum tiap kali aku melakukan kesalahan? Soalnya—"

Dewa Hymen menyilangkan lengannya di depan dada, lalu memiringkan kepalanya. “Coba prediksi apa yang akan kau lakukan jika itu konsekuensi yang kuberikan padamu. Prediksi dan katakan padaku.”

Mata Hiyori membeliak. Dia langsung terdiam.

 

Benar juga. Dia takkan takut dengan konsekuensi itu.

Sial.

Dewa Hymen sudah membaca jalan pikirannya lebih jauh dari dirinya sendiri.

 

Melihat Hiyori yang tersudut…

…Dewa Hymen pun tersenyum miring.

Dia menjentik kening Hiyori, lalu berkata, “Letakkan persembahannya di dalam kuil. Mari melihat taman bunga bersama-sama.”

Mendengar itu, Hiyori pun tersentak. Gadis itu mengerjap berkali-kali—mencoba untuk mencerna ucapan sang Dewa—hingga akhirnya dia mulai menangkap maksudnya.

 

…oh.

 

******

 

Taman itu ada di samping kiri kuil. Sebenarnya, dari gerbang merah kuil di depan sana, taman ini sudah kelihatan (walau hanya bagian depannya). Terlihat seperti kumpulan tanaman yang berbunga.

Namun, ternyata, kalau didekati…taman itu sangat indah. Luas. Penuh dengan berbagai macam bunga. Harum…dan ada beberapa kupu-kupu yang berkeliaran.

Bunganya ada yang tumbuh pendek di tanah…dan ada juga yang tumbuh di pohon. Di sana ada orchid, bunga plum, osmanthus oranye, lily, hanashobu, mawar kuning, primrose, kamelia…dan hydrangea biru.

Itu…banyak sekali. Berada di satu daerah yang sama, tersusun dengan rapi di berbagai sudut…

Luar biasa.

Bunga-bunganya juga segar. Terawat. Mekar sempurna. Hiyori tak tahu apakah bunga-bunga ini lazim tumbuh bersebelahan—dan sama-sama mekar di waktu yang sama—seperti ini, tetapi…masa bodoh. Pemandangannya sungguh menghipnotis.

Tiupan angin membuat seluruh bunga itu bergerak. Oh, eloknya tiada tanding. Udaranya begitu segar dan wangi saat dihirup. Berada di sana membuatmu merasa sangat...murni. Polos. Tak berdosa. Lembut.

Hiyori berjalan di taman itu bersama Dewa Hymen. Tak henti-hentinya dia menganga karena kagum melihat taman itu. Matanya nyaris tak berkedip.

“Wah…” Hiyori tanpa sadar menyuarakan kekagumannya. “Aku tak tahu bahwa taman ini ternyata sangat…luas dan indah…”

Dewa Hymen tersenyum. “Kau suka bunga?”

“Uh-hm!” sahut Hiyori. Gadis itu mengangguk. “Aku suka berbagai jenis bunga. Umm…tetapi Hymen-sama, mereka benar-benar bisa tumbuh bersama, ya? Di atas gunung ini?”

“Di gunung ini, selama ada aku…” jawab Dewa Hymen. “bunga apa pun bisa tumbuh.”

Hiyori langsung menoleh kepada sang Dewa. Karena dewa itu lebih tinggi darinya, ia pun harus mendongak.

…dan di sanalah, matanya melebar.

Dewa Hymen sangatlah…

 

memesona…

 

Keindahannya di luar nalar. Dia begitu mulia. Suci. Seperti malaikat di dunia mimpi yang penuh dengan bunga.

Wajah mulusnya, senyum tipisnya tatkala menatap ke depan, bola mata abu-abunya yang jernih dan sesekali berkedip dengan perlahan, rambut dan selendangnya yang tertiup angin lembut, warna silver dan putihnya yang terlihat semakin terang di taman ini…

Dia memang ‘level dewa’.

Para dewa…pasti terpahat berbeda.

“Kau bilang kau takut dengan kemesumanku, tetapi ternyata…” Dewa Hymen tiba-tiba menoleh kepada Hiyori, lalu tersenyum miring. “…tatapanmu juga mesum.”

Pipi Hiyori langsung merah padam. “Ap—”

Dewa Hymen memiringkan kepalanya. “Apakah kau mau gantian membaui lenganku?”

Hiyori menganga. “HYMEN-SAMA!!!”

Tawa sang Dewa lepas. Siaaaal! Dahulu, Hiyori selalu percaya bahwa dewa adalah tempat kita meminta. Tempat kita berdoa. Tempat kita berkeluh kesah. Tak pernah Hiyori sangka bahwa pendapatnya langsung berubah dalam hitungan hari. Sekarang, dia malah ingin menendang satu dewa ke neraka. Rasa kesalnya sudah sampai ke ubun-ubun. Dia ingin sekali berteriak ke langit dan meminta ganti dewa saja.

Yah, itu pun kalau ada dewa yang lebih tinggi lagi dari Dewa Hymen.

Hiyori mendengkus dan membuang muka. Dia kembali menatap bunga-bunga di depan sana.

Dua detik kemudian, suara Dewa Hymen kembali terdengar.

 

“Oh? Bunga itu sepertinya cocok.”

 

Dahi Hiyori berkerut. Dia langsung menatap Dewa Hymen, tetapi ternyata beliau tengah menjulurkan tangannya ke satu arah: serong ke kiri. Otomatis, Hiyori jadi ikut melihat ke arah yang sama.

Di depan sana, Hiyori melihat setangkai kamelia—berwarna merah muda—yang tiba-tiba saja terlepas dari tanamannya dan melayang ke atas. Hiyori refleks melihat tangan Dewa dan bunga kamelia itu secara bergantian; ternyata, beliau mengangkat dan menggerakkan telunjuknya untuk menggerakkan bunga itu. Satu detik setelahnya—bagai sekelebat angin—Hiyori tersentak saat tangkai bunga kamelia itu mendadak terselip di belakang telinganya.

Itu…cepat sekali.

Hiyori terpaku; dia serta-merta berhenti berjalan. Matanya membelalak, sedang mencerna apa yang baru saja terjadi.

Pelan-pelan—dengan gerakan yang agak kaku—Hiyori mengangkat tangannya. Dia menyentuh area telinganya…lalu mendapati sebuah bunga di sana. Tersemat dengan rapi.

Bunga kamelia yang tadi.

Secara otomatis, Hiyori langsung menoleh kepada Dewa Hymen. Ternyata, kini dewa itu telah menghadap padanya dan memperhatikannya. Dewa itu menyentuh dagunya, sedang menilai.

“Hmm? Lebih cocok dari dugaanku, ternyata.”

Hiyori berkedip. “E—Eh?”

Sang Dewa menyilangkan tangannya di depan dada dan tersenyum miring. “Rambutmu panjang dan berwarna ungu. Bunga kamelia itu berwarna merah muda, ceria. Terlihat cocok. Cantik.”

Rona tipis menghias pipi Hiyori. ‘Cantik? Itu yang Hymen-sama maksud bunganya atau…aku?’

“Maksudku kau,” jawab Dewa Hymen, seperti mendengar apa yang Hiyori katakan dalam hati.

Hiyori spontan membelalakkan mata. “H—Hymen-sama?! Jangan-jangan—”

Sang Dewa mengangkat dagunya, terlihat puas sekaligus arogan. “Ya. Aku bisa mendengar semuanya, termasuk saat kau berencana untuk kabur.”

Pantas saja!!

Hiyori jadi panik bukan kepalang. Dia menganga. “Hymen-sama, bukankah itu tidak sopan? Itu sama saja tidak menghargai privasi orang la—"

Sang Dewa menaikkan sebelah alisnya. “Hmm? Mengapa aku harus sopan pada rakyatku? Apakah kau lupa bahwa aku adalah dewamu, Gadis Muda?”

Oh, astaga.

Hiyori kembali terdiam sejenak—sempat bingung mau menjawab apa—tetapi kali ini, dia tak mau terpojok. Ini memalukan, soalnya. “Anda pasti bisa memblokir suara pikiran orang lain kapanpun Anda mau, ‘kan? Tolong jangan membaca pikiranku, Hymen-sama. Itu memalukan!”

Ya, Dewa pasti bisa melakukan itu.

“Bisa,” jawab Dewa Hymen seraya tersenyum miring. “tetapi isi pikiranmu selalu menarik. Berani dan penuh pembangkangan. Kadang-kadang cukup mesum juga saat melihatku. Menyenangkan saat mendengarkannya.”

Wajah Hiyori memerah. “HYMEN-SAMA!!! AKU TIDAK—”

Dewa Hymen kembali melangkah. “Kau cukup aktif untuk ukuran gadis perawan. Aku suka.”

Aktif?? Maksudnya…aktif ‘itu’, ya?!!

Hiyori spontan mengejar Dewa Hymen—sial, kini telinganya juga memerah—dan dia meneriaki dewa itu habis-habisan, “HYMEN-SAMAA!!! TIDAAKK!! AKU TIDAK BERPIKIRAN MESUM!!!”

Dewa Hymen tertawa lepas.

Begitu sampai di samping Dewa Hymen, Hiyori memprotes kembali, “Hymen-sama, memikirkan rupa Anda bukan berarti aku mesum!!!”

“Hoo? Kau mengaku bahwa kau memikirkan ketampananku?” Dewa Hymen menoleh kepada Hiyori, menggodanya.

Rona di pipi Hiyori sudah mirip seperti delima. “Aku tidak memikirkannya!! Aku hanya punya mata!!!”

“Matamu ternyata seleranya bagus,” seloroh Hymen-sama seraya tertawa. “Tidak hanya tubuhmu saja yang sehat. Matamu juga sehat.”

Sehat???

“Maksudnya bagaimana?!” Suara Hiyori terdengar kencang tatkala menanyakan itu. Dia betul-betul kesal, panik, dan malu. Bercampur menjadi satu.

“Lihat.” Dewa Hymen mengangkat tangannya ke atas, lalu menggerakkannya di udara. Hiyori sontak mendongak, memperhatikan apa yang ingin Dewa lakukan.

Di atas sana, di udara, tiba-tiba ada air yang muncul entah dari mana. Bening. Air itu membentuk persegi, seperti cermin yang sangat lebar. Posisi cermin itu sedikit menunduk, jadi benar-benar tepat menangkap sosok Hiyori yang berdiri bersebelahan dengan Dewa Hymen.

Hiyori tercengang. Terperangah. Mulut dan matanya terbuka lebar tatkala menyaksikan semua itu. Lagi-lagi, ia menyaksikan kekuatan Dewa Hymen dengan mata kepalanya sendiri.

“Lihat dengan matamu sendiri,” ujar Dewa Hymen tiba-tiba. “Tubuhmu memang sehat. Lekukannya tepat. Pinggulmu lebar, khas gadis perawan yang sehat dan mudah punya anak. Payudara dan bokongmu juga be—”

“AAAAAAAAAARGGHH!!!” Hiyori buru-buru menutup mulut Dewa Hymen dengan kedua tangannya. Darah Hiyori serasa naik semua ke kepala; wajah, telinga, dan lehernya merah semua. Kepalanya panas hingga mau meledak di tempat. “SUDAH, HYMEN-SAMAAAA!!! KUMOHON JANGAN DILANJUTKAN!!!!”

Dewa Hymen menaikkan kedua alisnya. Matanya sedikit melebar.

Jujur saja, dia cukup tertegun melihat Hiyori yang berani menutup mulutnya. Walaupun Hiyori melakukan itu secara refleks karena malu, tetap saja…itu gerakan yang cukup berani.

Gadis itu berani…menyentuh Dewa.

Dewa Hymen berkedip perlahan, lalu mengambil tangan Hiyori. Dia menggenggam tangan Hiyori, lalu tersenyum miring.

“Setidaknya dewa sepertiku takkan berbohong dengan apa yang kupikirkan,” ujar Hymen.

Sial. Dia menyindir Hiyori.

Hiyori menarik tangannya dan mendengkus. “Hymen-sama, aku tidak berbohong. Aku memang memikirkan rupa Anda, tetapi itu bukan pikiran mesum!!”

“Baiklah, baiklah,” ujar Dewa Hymen. Dia mulai menghancurkan ‘cermin besar’ dari air itu, lalu menyebarkan airnya ke beberapa tanaman yang ada di dekat mereka. “Selain pemberani, kau juga sangat bawel.”

Hiyori berdecak. “Aku bawel karena Hymen-sama selalu mesum!!”

Dewa Hymen tertawa terbahak-bahak. “Aku tidak bermaksud buruk. Aku hanya memujimu.”

Mereka kembali berjalan. Tatkala sampai di depan pohon plum, Dewa Hymen berhenti. Dia tersenyum…seraya memperhatikan bunga-bunga dan daun-daun plum itu yang melambai-lambai tertiup angin. Angin itu pulalah yang menggerakkan rambut dan selendang putihnya.

Dewa Hymen…di depan pohon plum itu…

 

…terlihat seperti lukisan.

 

Seperti sejarah indah yang hidup. Seperti potongan histori yang surgawi.

Dia tampak tenang.

Tatkala memandanginya…mata Hiyori pelan-pelan melebar.

Dewa Hymentampak begitu menawan…

Keindahannya seakan bertambah ratusan kali lipat jika dia berdiri di antara bunga. Di antara angin yang berembus sepoi-sepoi.

Dia bagaikan suara tenang aliran sungai yang menyentuh telinga.

Bagaikan angin lembut yang berembus menyentuh pipi.

Bagaikan kenangan nostalgia yang mengalir keluar.

Bagaikan langit yang jauh…tetapi didambakan.

Hiyori memperhatikan Dewa Hymen untuk waktu yang cukup lama. Dia terdiam, takjub…seolah seluruh energinya ia pusatkan hanya untuk mengagumi dewa itu.

Namun, tiba-tiba saja…

…suara sang Dewa terdengar.

Suaranya dalam. Terdengar jelas, tetapi cukup lembut.

 

“Hiyori. Kau bisa memasak?”

 

Alis Hiyori terangkat. Dia agak heran mendengar Dewa tiba-tiba menanyakan itu. Matanya berkedip beberapa kali. “Eh?”

Dewa Hymen menoleh kepadanya dan tersenyum miring. “Memasaklah untukku. Aku mau mencicipi masakanmu.”

Hiyori membulatkan mata. “T—Tapi Hymen-sama, bukankah aku sudah mengantar persembahan—”

“Aku mau mencicipi masakanmu,” potong Hymen-sama.

Jelas saja Hiyori menganga. Apakah Dewa sedang serius sekarang?! “Hymen-sama, aku hanya bisa memasak masakan rumahan biasa!! Lagi pula, apakah Anda memiliki alat dan bahan memasak di kuil?!!”

Dewa Hymen memegang dagunya, tampak berpikir. “Tidak, sih. Aku tak pernah memasak.”

‘Ya mana mungkin juga Anda memasak! Anda adalah seorang dewa yang selalu dilayani!!!’ pikir Hiyori.

Melepaskan tangannya dari dagu, Dewa Hymen pun tersenyum miring. “Kalau begitu, ambil semuanya dari rumahmu. Bawa ke sini dan memasaklah di kuilku.”

APA?!!

Hiyori menggeleng tak habis pikir. Seluruh darah yang mengalir di wajahnya nyaris hilang semua. “H—Hymen-sama, aku baru naik gunung. Kalau aku turun gunung, mengambil semuanya, lalu naik lagi, aku bisa-bisa pingsan di jalan!!!”

Dewa Hymen mengedipkan matanya dua kali. Matanya membulat polos, seolah-olah baru mengetahui sesuatu. “Ah, begitukah? Bukankah gunung ini pendek?”

Hiyori mendengkus; rasanya dia mau mengigit tembok saking kesalnya. “Hymen-samaaaaa!! Gunung ini memang pendek, tetapi bagi manusia seperti kami, naik turun tetaplah melelahkan!! Anda pikir kami punya kekuatan super seperti Anda?!!!”

Dewa Hymen tertawa lepas. Dia betul-betul mengakak sampai kepalanya terdongak.

 

Dewa ini benar-benar tidak masuk akal!!

 

“Baiklah. Kalau begitu…” Dewa Hymen berhenti tertawa, lalu mulai menggerakkan tangannya lagi. Kali ini, Hiyori kaget bukan main karena merasa ada kumpulan angin yang melingkar di kakinya. Hiyori spontan menoleh ke bawah.

“…aku akan membantumu,” lanjut sang Dewa seraya tersenyum miring.

Mata Hiyori membelalak sempurna. Tiba-tiba saja, gumpalan angin itu membesar dan mengangkat seluruh tubuhnya ke udara. Naik, terus naik, hingga semakin tinggi.

“HUAAAAAAA!!!! HYMEN-SAMAAAA!!!!!” Hiyori berteriak histeris. Dia sudah berada satu meter lebih tinggi dari Dewa Hymen. Dia menatap ke bawah—ke Dewa Hymen—dengan wajah pucat dan ekspresi panik. Dia takut setengah mati. Jantungnya rasanya mau copot!

Me—mengapa dia jadi melayang begini?!! Angin apa ini?!!!

Hiyori spontan jatuh terduduk di atas gumpalan angin yang—secara mengejutkan—sangat tebal itu. Anehnya, angin itu bisa menampung beratnya! Rambutnya melayang ke mana-mana; angin itu membuat seluruh daerah di sekitarnya bergerak.

“HYMEN-SAMAAA!!!” Hiyori menatap Hymen-sama dengan ekspresi takut sekaligus memohon. “HYMEN-SAMA—TOLONG—TOLONG TURUNKAN AKUUU!! AKU JALAN SAJA! AKU JALAN SAJAAAA!!!”

Gumpalan itu semakin naik ke langit. Namun, Hiyori masih bisa melihat Dewa Hymen di bawah sana dengan jelas.

Sang Dewa menatap Hiyori dengan lekat; tangannya masih mengatur gumpalan angin itu. Sosoknya indah sekali; rambut silver dan selendangnya berayun-ayun karena angin. Namun, senyum miringnya begitu menyebalkan.

Setelah itu, suaranya pun terdengar.

 

“Ditunggu, ya, Hiyori-chan.”

 

Suara itulah yang terakhir kali Hiyori dengar sebelum akhirnya gumpalan angin itu membawanya menjauh dari taman. Membawanya keluar area kuil demi menuruni gunung.

 

“HYMEN-SAMAAAAAAAAAAAAA!!!!!” teriak Hiyori putus asa…sampai suaranya terdengar menjauh karena terbawa angin.

 

******

 

Hiyori masuk ke rumahnya dengan terburu-buru. Sambil melewati ruang tamu, dia cemberut. Seperti mau merengek.

Ayah dan ibu Hiyori yang tengah duduk di ruang tamu pun merasa keheranan dengan Hiyori yang tiba-tiba pulang dalam keadaan terburu-buru, cemberut, dan rambutnya agak berantakan. Ibu Hiyori langsung mengernyitkan dahi. “Lho, ada apa, Nak?? Bukankah kau baru naik gunung?!”

Hiyori—yang sekarang sudah sampai di dapur—lantas berteriak, “Aku cuma mau mengambil peralatan dapur. Ibu punya kompor cadangan tidak?!”

“Ehh??” Ibunya keheranan. “Punya, sih, tetapi ukurannya kecil. Memangnya untuk apa?!”

“Aku bawa dulu, ya, Bu. Aku juga mau bawa beberapa peralatan lain!”

“Hiyori, memangnya untuk ap—”

Hiyori sama sekali tak menghiraukan ibunya. “Minta bahan-bahan makanan, ya, Bu! Sedikit saja!”

Ibu Hiyori mulai berdiri, langsung pergi ke ambang pintu dapur dan bertanya, “Hiyori, itu semua untuk apa, Nak??”

Hiyori ternyata sudah memasukkan seluruh barang-barangnya ke dalam sebuah kain. Dia tengah mengikat kain itu, lalu memasukkan sebuah kayu ke dalam ikatannya agar mudah dibawa. Setelah itu, dia mulai berdiri seraya mengangkat barang-barang itu—sempat mengerang saking beratnya—dan berjalan cepat mendekati ibunya.

“Hymen-sama—maksudku Dewa—menyuruhku memasak. Aku pergi dahulu, ya, Bu. Aku terburu-buru!” Hiyori melewati ibunya dan berlari ke pintu depan. Ayahnya yang duduk di ruang tamu pun sampai menganga. Hiyori bergerak seperti tornado. Cepat sekali.

Sepeninggal Hiyori, Ibu pun berjalan pelan ke ruang tamu seraya menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Baik Ibu maupun Ayah, keduanya menatap ke pintu depan. Mereka betul-betul tercengang.

“A—Ayah…” Ibunya Hiyori menggeleng dengan penuh kekaguman. “Sepertinya…Dewa benar-benar menyukai Hiyori kita… Hiyori juga memanggilnya dengan Hymen-sama…”

Ayah mengangguk kaku. Masih tertegun dengan ‘badai’ barusan…sampai-sampai tak terlalu fokus saat menjawab Ibu, “Iya, Bu… Raiden-sama juga bilang kalau ini adalah pertama kalinya setelah satu abad…”

Selain itu, ‘Hymen-sama’? Semua orang di desa itu tahu bahwa sang Dewa suka dipanggil dengan sebutan ‘Dewa Hymen’ (informasi dari Raiden-sama), tetapi saat tahu bahwa Hiyori memanggil sang Dewa dengan panggilan ‘Hymen-sama’ itu…

…rasanya dekat sekali.

Well, Ayah dan Ibu tak tahu bahwa Hiyori sedang menderita karena Dewa yang dimaksud.

Jadi, bagaimana dengan Hiyori?

Oh, di sinilah Hiyori. Gadis itu sudah sampai di kaki gunung dengan wajah dan leher yang penuh keringat. Dia mengangkat seluruh alat dan bahan itu di sepanjang jalan hingga terbungkuk-bungkuk, sampai semua warga desa yang ia lewati sibuk bertanya-tanya. Namun, tiap kali Hiyori menjawab, mereka semua malah histeris dan bilang kalau Hiyori ‘disayangi’ oleh Dewa.

Yang benar saja!! Tidakkah mereka lihat kalau Hiyori tersiksa?!! Mata mereka di mana, sih??!! Hiyori mau teriak, nih, jadinya!!

Hiyori menghela napas. Akhirnya, dia pun melihat ke atas—ke jalur pendakian gunung tersebut—lalu mulai melangkah.

Semoga saja dia tidak ambruk saat sampai di kuil Dewa Hymen nanti.

Baru saja berjalan tiga langkah, tiba-tiba saja dia merasa ada angin yang melingkar di tubuhnya. Spontan matanya membelalak; dia menunduk dan melihat bahwa lagi-lagi, angin itu telah menggumpal di bawahnya dan mengangkatnya ke atas.

“Oh, tidak—tidak—TIDAAAAKKK!!!” teriak Hiyori panik. Jangan ini lagi, tolong! Hiyori takut dia tak seimbang dan jatuh, lalu mati sia-sia!!!!!

Hymen-sama, tolonglahhh!!!! AKU BERJANJI AKU TAKKAN MEMBANGKANG LA—

“WUAAAAAAAHHH!!!” teriak Hiyori saat gumpalan angin itu memelesat membawanya ke atas gunung. Kecepatannya luar biasa. Seluruh rambut Hiyori beterbangan ke mana-mana. Gadis itu hampir menangis, jantungnya serasa berhenti berdegup. Tangannya bergetar.

Siapa pun, tolong akuuuuuuuu!!!

Tak lama kemudian, gumpalan angin itu pun sampai di depan kuil. Hiyori langsung memohon, “Sudah, sudaaah!! Aku sudah sampai!!! BERHENTIII!!”

Namun, ternyata gumpalan angin itu tetap bergerak cepat. Melewati gerbang kuil, melintasi jalan setapak dan lentera batu, menaiki tangga…

…lalu akhirnya, gumpalan angin itu berhenti di ambang pintu kuil.

Menurunkan Hiyori di sana.

Hiyori langsung lemas. Tubuhnya betul-betul meleyot di kerangka pintu. Dia berpegangan di sana…dan terengah-engah.

 

“Oh, ternyata peralatannya cukup banyak, ya.”

 

Hiyori sontak menggertakkan giginya. Rasa kesal yang sejak tadi ia pendam sudah tak bisa ditahan. Darahnya mendidih; napasnya hampir berasap. Ia pun mengepalkan tangannya dan langsung menatap Dewa Hymen dengan tajam. “HYMEN-SAMA!!!! ANDA MAU AKU MATI???!!!!”

Di depan sana, Dewa Hymen sedang duduk santai. Sama seperti waktu mereka pertama kali bertemu, sang Dewa duduk di sebuah altar kecil yang di belakangnya terdapat meja dengan cermin bundar. Lengan kanannya bertumpu pada kursi kayu pendek yang ada di sampingnya. Dia menatap Hiyori seraya tersenyum miring.

“Hmm?” Hymen memiringkan kepalanya. “Kau bilang kau akan pingsan kalau berjalan naik turun gunung. Mengapa terbang malah membuatmu mati?”

“KARENA AKU BISA JATUH, KAMI-SAMA!! AKU HAMPIR KENA SERANGAN JANTUNG!!! APAKAH ANDA SUDAH GILA?!”

Dewa Hymen tertawa kencang. Waktu kali kedua mereka bertemu, Hiyori masih bisa menahan kata ‘gila’ keluar dari mulutnya. Kali ini, kata-kata itu mengalir begitu saja dari mulut Hiyori. Sang Dewa benar-benar terhibur dengan kenyataan bahwa ada manusia yang berani mengatainya gila, tepat di depan wajahnya. Dia menganggap itu lucu, imut, dan menarik.

“Sekarang, kau benar-benar berhasil mengataiku gila,” katanya. “Kalau suatu hari nanti kau bilang bahwa aku bau dan berdaki, aku sudah tak heran lagi.”

“Anda mau mengetesku, ya??!!!” balas Hiyori. “Hymen-sama, aku takkan mengatakan sesuatu kalau itu bukan kenyataan!!”

Hymen-sama mengangkat kedua alisnya. “Oh ya? Aku ‘gila’ juga bukanlah kenyataan. Dewa tidak bisa gila. Kami tidak mudah rusak seperti manusia, Gadis Muda.”

“Kalau Anda tidak gila, berarti kucing juga bertanduk, Hymen-sama,” balas Hiyori cepat. Gadis itu mendengkus. “dan kodok bisa berjalan tegak.”

Dewa Hymen spontan tergelak hebat. “Kucing bertanduk? Kok aku seperti pernah lihat, ya?”

HAH?? PERNAH LIHAT???!! KUCING DARI ZAMAN APA ITU?!!

Dewa Hymen lalu mengelus dagunya, sok-sokan berpikir. Entah sudah berapa kali dia melakukan itu hari ini. “Kalau kodok, sih, gampang. Aku bisa membuat mereka tegak sepenuhnya dan berjalan.”

“BUKAN ITU MAKSUD—” Hiyori hampir meledak. Oh, demi apa pun, Hiyori benar-benar lelah. Dia sudah setengah mampus. Rasanya mau terjengkang di sini saja.

Akhirnya, Hiyori pun menghela napas (merasa kalah sekaligus malas berdebat lebih jauh), dan langsung masuk ke kuil Dewa Hymen. “Sudahlah, Hymen-sama. Tunjukkan saja padaku di mana dapurnya. Aku akan memasak untuk Anda.”

Dewa Hymen memperhatikan Hiyori yang langsung melengos dan berjalan melewatinya. Senyum miringnya kembali terbit. “Apa yang mau kau masak, Hiyori?”

“Gyoza ayam dan sup miso.”

 

******

 

Ada suara ‘blub, blub, blub’ dari air kaldu yang Hiyori didihkan. Di dalam air rebusan itu, Hiyori sudah memasukkan jahe, bawang putih, cabai, wortel, dan sayur kol. Setelah memasukkan pasta miso dan kecap asin, Hiyori pun memotong tahu yang ia bawa menjadi kubus-kubus kecil.

Tatkala sedang asyik memotong tahu, tiba-tiba Hiyori mendengar suara langkah kaki yang mendekat. Langkah kaki itu kemudian diiringi oleh sebuah suara:

 

“Hmm... Kalau dilihat dengan teliti dari posisi ini, bokongmu terlihat sangat berisi. Aku tidak salah pilih.”

 

Wajah Hiyori langsung memerah padam. Jantungnya serasa mencelus ke perut.

Hiyori langsung menoleh ke belakang dan berteriak, “HYMEN-SAMA!!!!”

Tampaknya, sebentar lagi Hiyori akan menangis. Dia penat sekali. Makan hati.

Dewa Hymen malah tersenyum jail. Tak memedulikan Hiyori yang mengentak-entakkan kakinya ke lantai (merajuk), dia justru lanjut berjalan dan mengambil posisi di samping Hiyori.

Hiyori masih menatap Dewa Hymen dengan ekspresi dongkol. Antara malu, kesal, lelah, dan mau merengek. Namun, sang Dewa justru memperhatikan apa yang sedang Hiyori lakukan saat memasak.

“Kau sudah terbiasa memasak, ya? Aromanya harum sekali,” puji Dewa Hymen.

Hiyori akhirnya mendengkus. Gadis itu kembali memotong-motong tahunya “Aku hanya sering membantu Ibuku, Hymen-sama.”

“Kapan, ya, terakhir kali aku memakan sup miso?” Kening Dewa Hymen berkerut. “Sepertinya…di perjamuan dewa lain. Aku tidak terlalu ingat.”

Hiyori agak kaget. Matanya melebar; dia langsung menoleh kepada Dewa Hymen. “Selama itu? Apakah Hymen-sama tidak pernah sekali pun diberi persembahan berupa sup?”

“Aku tak pernah memintanya secara spesifik, jadi tak pernah” jawab Dewa Hymen. “tetapi setelah ini sepertinya aku harus memintanya. Aku mulai tertarik.”

Pipi Hiyori langsung bersemu merah. Dia jadi gugup bukan main. Salah tingkah.

Hymen-sama pintar sekali menggoda walau kelihatannya dia tidak berniat. Apakah karena dia hidup sudah lama?

Tak tahulah.

“Bagaimana cara membuat gyoza ayam? Aku sering melihatnya, tetapi tak tahu cara membuatnya,” ujar Dewa Hymen.

Hiyori menatap Dewa Hymen seraya memasang ekspresi datar. “Apakah Anda serius, Hymen-sama? Anda sudah hidup ribuan tahun.”

Sang Dewa mengedikkan bahu. “Aku pernah melihat manusia membuatnya, tetapi dari jauh. Tidak terlalu kuperhatikan.”

Hiyori menyatukan alis. “Pernahkah kau memakannya?”

“Pernah,” jawab Dewa Hymen. “Kali ini, aku akan memperhatikanmu membuatnya.”

Hiyori langsung membulatkan mata, panik. “T—Tidak usah! Anda tunggu di depan saja, Hymen-sama!”

‘Soalnya, Anda pasti akan menggangguku!’ pikir Hiyori.

“Mengapa tidak usah?” Dewa Hymen mengangkat sebelah alisnya. “Atau kau mau kubantu?”

Itu malah lebih parah lagi!!! Dewa pasti akan menggodanya tanpa henti. Dia tak bisa menahan keadaan ini lebih lama lagi!

Lagi pula, kalau orangtua Hiyori tahu, Hiyori pasti akan dimarahi habis-habisan. Manusia macam apa yang menyuruh Dewa membantunya?!!

“Hymen-sama, tidak usaaahhh!” Hiyori putus asa. Dia berhenti memotong tahunya lagi. “Aku tak fokus kalau Hymen-sama ada di siniiiii!!!!”

Sialnya, Dewa Hymen malah tertawa geli. Mengganggu Hiyori mungkin telah menjadi hobi barunya. Menyenangkan sekali melihat Hiyori tersipu malu, protes, marah, dan berteriak padanya.

Ini seperti angin segar. Dia benar; dia sudah terlalu lama bersantai-santai di kuil hingga menyia-nyiakan waktunya selama ini.

“Ya sudah, aku takkan mengganggumu. Aku hanya ingin melihat caramu membuat gyoza,” ujar Dewa Hymen pada akhirnya.

Hiyori pun menghela napas lega. Syukurlah kalau Hymen-sama kooperatif.

“Baiklah, Hymen-sama. Janji, ya?”

“Hm.” Sang Dewa mengangguk. “Mungkin aku hanya akan melihat bokongmu seseka—”

“HYMEN-SAMAAAAAA!!!!!!!!!!!”

Dewa Hymen tertawa lepas.

 

******

 

Sayap merah Enzou mengibas pelan. Dia berdiri diam, melayang di atas Gunung Kouzu. Dari kejauhan, dia melihat kuil Hymen dengan penuh ketertarikan. Sedikit tercengang. Sedikit terperangah.

Matanya yang seperti mata harimau itu mampu menembus seluruh tembok; tatapannya fokus ke bawah sana—menembus kuil Hymen—dan langsung tahu di mana Hymen berada.

Semua tembok itu seakan-akan tak berfungsi baginya. Transparan.

 

Hymen ada di dapur.

…bersama seorang gadis berambut ungu.

 

Pelan-pelan, timbul seringai di wajah Enzou.

 

“Heeh…” bisiknya dengan nada terhibur. []

            















******










No comments:

Post a Comment

My Friend's Father (Chapter 5: Wealthy and Powerful Man)

  ****** Chapter 5 : Wealthy and Powerful Man   ******   PONSEL berwarna hitam yang ada di atas meja itu berbunyi, pertanda ada se...