Chapter
5 :
The
Presence of Divinity
******
MENDENGAR
suara
berat di dalam kepalanya itu, jantung Hiyori serasa mencelus ke perut.
Tubuhnya mematung di tempat. Keringat dingin mulai muncul di pelipisnya.
Aduh,
mati aku!
Itu—itu
suara Hymen sa—
Dengan
pelan—dan agak kaku—Hiyori pun berbalik.
Di
depan sana, tepat di atas tangga kecil kuil, berdirilah Dewa Hymen. Dewa
itu menyilangkan tangannya di depan dada. Sosoknya yang tinggi, tegap, gagah
(kau bahkan bisa melihat seluruh ototnya dengan jelas), dan sangat tampan.
Dia adalah dewa, jadi tampannya tak bisa dijelaskan. Di luar akal sehat. Dia
seperti makhluk surga, seperti tidak nyata. Namun, dia berdiri di sana.
Bertatapan
dengan Hiyori.
Embusan
angin kala itu…membuat rambut silver dan selendangnya melambai pelan. Memperlihatkan
sosoknya…yang bagaikan ilusi. Hari ini, dia tidak memakai selendang
berwarna biru-emas; dia memakai selendang berwarna putih. Seperti biasa,
selendang itu tersampir mulai dari bahu kirinya dan turun, lalu melebar hingga
menutupi seluruh tubuh bagian bawahnya (yang juga memakai celana berwarna
putih). Lengannya masih dihiasi arm cuff emas. Dadanya pun masih dihiasi
rantai, tetapi kali ini rantai itu berwarna silver.
Agaknya,
begitulah penampilan biasanya sehari-hari. Dia hanya memakai warna yang
berbeda-beda.
Bagaimana
penampilan resminya, ya?
Tiba-tiba,
Dewa Hymen memiringkan kepalanya seraya tersenyum miring.
“Aku
sedang bertanya padamu, Gadis Muda.”
Kali
ini, sang Dewa benar-benar berbicara secara langsung. Dengan mulutnya. Suaranya
terdengar jelas, padahal dia berdiri lumayan jauh di depan sana.
Tepat
setelah kata-kata itu terucap, tembok tanah yang ada di belakang Hiyori runtuh.
Hancur, lalu roboh ke tanah. Bunyi robohnya tembok itu membuat Hiyori
tersentak. Dia sedang tegang, jadi ketika mendengar bunyi itu, dia jelas kaget.
Hiyori
jadi gelagapan setengah mampus. Matanya masih menatap Dewa Hymen meskipun
tembok itu runtuh di belakangnya. Dia tak bisa memalingkan wajah! Gugup!
Seolah-olah dipenjara oleh tatapan sang Dewa meski beliau tak terlihat marah.
Sial!
Aku ketahuan! Mau jawab bagaimana, nih?!!
Hiyori
meneguk ludahnya. Namun, ujung-ujungnya, dia memutar otak untuk menjawab sang
Dewa.
“Ah—haha…
Aku—aku mau mengambil sesuatu yang tertinggal, Hymen-sama.”
Keringat
dingin di pelipis Hiyori mengalir saat mengatakan itu.
Hymen
sama menegakkan kepalanya kembali, lalu mengangkat kedua alisnya. Kedua matanya
membulat polos. “Kau sudah membawa persembahan untukku. Memangnya apa yang
ingin kau bawa lagi?”
Hiyori
refleks melihat ke persembahan yang sejak tadi sebenarnya tengah ia
pegang dengan kedua tangannya.
Duh,
iya juga. Aaaargghhh!!
Hiyori
langsung memejamkan mata dan melipat bibirnya, merasa bodoh sekali telah
membuat alasan seperti itu. Memalukan!
Hiyori
kembali menatap sang Dewa. “U—Um… Maafkan aku, Hymen-sama. Aku lupa.”
Hiyori
tak tahu apakah Dewa Hymen benar-benar merasa heran…atau pura-pura heran.
Soalnya, tiba-tiba dia tersenyum miring. Mengangkat dagunya.
“Aku
tidak melarang kalau kau mau memberiku kado,” katanya santai.
Hah?
Apa?
Kado…?
Pipi
Hiyori memerah. “Hymen-sama, Anda tidak sedang ulang tahun.”
Kedua
alis Dewa Hymen kembali terangkat. “Oh? Kau tahu tanggal ulang tahunku?”
Hiyori
mendengkus. “Tidak tahu. Aku belum bertanya pada Raiden-sama.”
Dewa
Hymen mulai turun tangga dan melangkah santai mendekati Hiyori. Seraya
berjalan, ia mengelus dagunya. Terlihat berpikir. “Hmm… Aku sendiri tak tahu
kapan terakhir kali aku mengingat ulang tahunku. Apakah itu dua abad lalu?”
Hiyori
menatapnya dengan ekspresi datar. Wah, mentang-mentang dia berumur panjang.
Begini, ya, rasanya jadi dewa. Setahun bukanlah apa-apa baginya.
“Apakah
Anda mau pamer, Kami-sama?” tanya Hiyori, masih dengan ekspresi datar.
Dewa
Hymen tertawa. Dia sampai di depan Hiyori—empat jengkal di depan gadis itu—dan
tiba-tiba dia menunduk. Mendekatkan wajahnya dengan wajah Hiyori.
Setelah
itu, dia tersenyum miring.
“Jadi?”
bisiknya.
“Kau mau kabur ke mana, hmm?”
Spontan
saja Hiyori menjauhkan wajahnya. Karena terkesiap, gadis itu mengelukkan
tubuhnya ke belakang secara refleks. Wajahnya langsung merah padam.
“H—Hymen-sama!!!!”
Dewa
Hymen kembali berdiri tegap dan langsung tergelak. Seperti biasa, dewa itu sangat
menyebalkan. Dia selalu bisa membuat Hiyori malu dan kesal setengah mati.
Begitu
berhenti tertawa, Dewa Hymen mulai memiringkan kepala. Masih dengan senyuman
yang tersisa di wajah tampannya itu, dia pun membuka suara. Namun, kali ini…ada
sebuah penekanan yang tertanam di suaranya. Mata abu-abunya—yang
bersinar di bawah sinar matahari itu—juga pelan-pelan menyipit.
“Aku
hanya ingin tahu gadis pengantar persembahanku mau kabur ke mana…karena
seingatku, dia sudah membuat perjanjian denganku.”
Mata
Hiyori melebar. Tubuhnya spontan menegang. Napasnya serasa tertahan di
tenggorokan.
Dia
langsung terpojok. Langsung meneguk ludahnya karena kata-kata yang mengandung
‘peringatan’ itu.
“A—Aku—”
Hiyori gelagapan. Tak tahu harus menjawab apa.
“Hmm?”
deham sang Dewa.
Akhirnya,
Hiyori pun menunduk. Dia mengaku salah…dan kalah. Dia tak bisa melawan
sang Dewa.
“Maafkan
aku, Hymen-sama. Aku tadi mau…k—kabur.”
Yah,
mau
bagaimana lagi? Lebih baik mengaku sajalah. Dia tadi memang berencana untuk
kabur, lari dari tanggung jawabnya. Memberontak.
Lagi
pula, dia ‘teringat’ kembali soal…dengan siapa dia sedang berhadapan.
Suara sang Dewa tadi sudah cukup membuatnya gentar (meskipun sebenarnya dia
kesal sekali).
Hiyori
mengangkat wajahnya demi melihat sang Dewa. Namun, ternyata dewa itu masih
diam. Ekspresinya masih sama. Dia seolah-olah tengah menunggu Hiyori
melanjutkan.
Hiyori
kontan mengalihkan wajahnya ke samping dan pipinya merona. “A—Aku masih kesal
dan trauma dengan kemesuman Anda.”
Dewa
Hymen menaikkan kedua alisnya.
Dua
detik kemudian, makhluk ilahi itu tertawa puas. Dia tertawa hingga
kepalanya terdongak. Membuat Hiyori langsung menoleh kepadanya dan berteriak
(dengan wajah dan telinga yang merah padam), “Hymen-samaaaaa!!! Astaga, berhentilah
tertawa!!! Aku serius!!!”
“Sepertinya,
kau lebih takut dengan ‘kemesuman’ yang kulakukan ketimbang bencana di desamu
sendiri,” komentar Hymen. Dia terhibur total. “Sungguh gadis muda yang fantastis.”
“B—Bukan
begitu!” Hiyori mengelak. “Aku juga takut dengan bencana itu, tetapi—”
“Syukurlah
kalau
kau takut,” potong Dewa Hymen. “Rencananya, tadi aku mau langsung
menenggelamkan Shinrei kalau kau benar-benar kabur.”
Hiyori
langsung bergidik ngeri. Wajahnya memucat. “H—Hymen-sama—”
Dewa
Hymen tersenyum miring. “Itu adalah isi perjanjian kita, Gadis Muda.”
Aaaah,
siaaaaaal!!
Sejak
awal, perjanjian itu sudah aneh. Waktu itu, penduduk desa Shinrei diberikan
konsekuensi berat karena Dewa ingin bertemu Hiyori. Sekarang, itu malah
dijadikan bentuk ‘hukuman’ untuk Hiyori.
Dewa
Hymen memang seenaknya saja.
Meskipun
merasa takut, Hiyori tetap menjawab Hymen-sama, “Hymen-sama, menghukum desa hanya
karenaku itu rasanya—”
“Hmm?”
Dewa Hymen mengangkat kedua alisnya; matanya lagi-lagi membulat polos. “Itulah
kesepakatan kita.”
Hiyori
gelisah. Gadis itu mencoba untuk berargumen. “Iya, Hymen-sama, tetapi bukankah
lebih baik kalau hanya aku yang kau hukum tiap kali aku melakukan kesalahan? Soalnya—"
Dewa
Hymen menyilangkan lengannya di depan dada, lalu memiringkan kepalanya. “Coba
prediksi apa yang akan kau lakukan jika itu konsekuensi yang kuberikan padamu.
Prediksi dan katakan padaku.”
Mata
Hiyori membeliak. Dia langsung terdiam.
Benar
juga. Dia takkan takut dengan konsekuensi itu.
Sial.
Dewa Hymen sudah membaca jalan pikirannya lebih jauh dari dirinya sendiri.
Melihat
Hiyori yang tersudut…
…Dewa
Hymen pun tersenyum miring.
Dia
menjentik kening Hiyori, lalu berkata, “Letakkan persembahannya di dalam
kuil. Mari melihat taman bunga bersama-sama.”
Mendengar
itu, Hiyori pun tersentak. Gadis itu mengerjap berkali-kali—mencoba untuk
mencerna ucapan sang Dewa—hingga akhirnya dia mulai menangkap maksudnya.
…oh.
******
Taman
itu ada di samping kiri kuil. Sebenarnya, dari gerbang merah kuil di depan
sana, taman ini sudah kelihatan (walau hanya bagian depannya). Terlihat seperti
kumpulan tanaman yang berbunga.
Namun,
ternyata, kalau didekati…taman itu sangat indah. Luas. Penuh dengan
berbagai macam bunga. Harum…dan ada beberapa kupu-kupu yang berkeliaran.
Bunganya
ada yang tumbuh pendek di tanah…dan ada juga yang tumbuh di pohon. Di sana ada orchid,
bunga plum, osmanthus oranye, lily, hanashobu, mawar
kuning, primrose, kamelia…dan hydrangea biru.
Itu…banyak
sekali. Berada di satu daerah yang sama, tersusun dengan rapi di berbagai
sudut…
Luar
biasa.
Bunga-bunganya
juga segar. Terawat. Mekar sempurna. Hiyori tak tahu apakah bunga-bunga ini
lazim tumbuh bersebelahan—dan sama-sama mekar di waktu yang sama—seperti ini,
tetapi…masa bodoh. Pemandangannya sungguh menghipnotis.
Tiupan
angin membuat seluruh bunga itu bergerak. Oh, eloknya tiada tanding. Udaranya
begitu segar dan wangi saat dihirup. Berada di sana membuatmu merasa sangat...murni.
Polos. Tak berdosa. Lembut.
Hiyori
berjalan di taman itu bersama Dewa Hymen. Tak henti-hentinya dia menganga
karena kagum melihat taman itu. Matanya nyaris tak berkedip.
“Wah…”
Hiyori
tanpa sadar menyuarakan kekagumannya. “Aku tak tahu bahwa taman ini ternyata
sangat…luas dan indah…”
Dewa
Hymen tersenyum. “Kau suka bunga?”
“Uh-hm!”
sahut Hiyori. Gadis itu mengangguk. “Aku suka berbagai jenis bunga. Umm…tetapi
Hymen-sama, mereka benar-benar bisa tumbuh bersama, ya? Di atas gunung
ini?”
“Di
gunung ini, selama ada aku…” jawab Dewa Hymen. “bunga apa pun bisa
tumbuh.”
Hiyori
langsung menoleh kepada sang Dewa. Karena dewa itu lebih tinggi darinya, ia pun
harus mendongak.
…dan
di sanalah, matanya melebar.
Dewa
Hymen sangatlah…
…memesona…
Keindahannya
di luar nalar. Dia begitu mulia. Suci. Seperti malaikat di dunia
mimpi yang penuh dengan bunga.
Wajah
mulusnya, senyum tipisnya tatkala menatap ke depan, bola mata abu-abunya yang
jernih dan sesekali berkedip dengan perlahan, rambut dan selendangnya yang
tertiup angin lembut, warna silver dan putihnya yang terlihat semakin
terang di taman ini…
Dia
memang ‘level dewa’.
Para
dewa…pasti terpahat berbeda.
“Kau
bilang kau takut dengan kemesumanku, tetapi ternyata…” Dewa Hymen tiba-tiba
menoleh kepada Hiyori, lalu tersenyum miring. “…tatapanmu juga mesum.”
Pipi
Hiyori langsung merah padam. “Ap—”
Dewa
Hymen memiringkan kepalanya. “Apakah kau mau gantian membaui lenganku?”
Hiyori
menganga. “HYMEN-SAMA!!!”
Tawa
sang Dewa lepas. Siaaaal! Dahulu, Hiyori selalu percaya bahwa dewa
adalah tempat kita meminta. Tempat kita berdoa. Tempat kita berkeluh kesah. Tak
pernah Hiyori sangka bahwa pendapatnya langsung berubah dalam hitungan hari.
Sekarang, dia malah ingin menendang satu dewa ke neraka. Rasa kesalnya sudah
sampai ke ubun-ubun. Dia ingin sekali berteriak ke langit dan meminta ganti
dewa saja.
Yah,
itu pun kalau ada dewa yang lebih tinggi lagi dari Dewa Hymen.
Hiyori
mendengkus dan membuang muka. Dia kembali menatap bunga-bunga di depan sana.
Dua
detik kemudian, suara Dewa Hymen kembali terdengar.
“Oh? Bunga
itu sepertinya cocok.”
Dahi
Hiyori berkerut. Dia langsung menatap Dewa Hymen, tetapi ternyata beliau tengah
menjulurkan tangannya ke satu arah: serong ke kiri. Otomatis, Hiyori jadi ikut
melihat ke arah yang sama.
Di
depan sana, Hiyori melihat setangkai kamelia—berwarna merah muda—yang tiba-tiba
saja terlepas dari tanamannya dan melayang ke atas. Hiyori refleks melihat
tangan Dewa dan bunga kamelia itu secara bergantian; ternyata, beliau
mengangkat dan menggerakkan telunjuknya untuk menggerakkan bunga itu. Satu
detik setelahnya—bagai sekelebat angin—Hiyori tersentak saat tangkai bunga
kamelia itu mendadak terselip di belakang telinganya.
Itu…cepat
sekali.
Hiyori
terpaku; dia serta-merta berhenti berjalan. Matanya membelalak, sedang mencerna
apa yang baru saja terjadi.
Pelan-pelan—dengan
gerakan yang agak kaku—Hiyori mengangkat tangannya. Dia menyentuh area
telinganya…lalu mendapati sebuah bunga di sana. Tersemat dengan rapi.
Bunga
kamelia yang tadi.
Secara
otomatis, Hiyori langsung menoleh kepada Dewa Hymen. Ternyata, kini dewa itu
telah menghadap padanya dan memperhatikannya. Dewa itu menyentuh dagunya, sedang
menilai.
“Hmm?
Lebih
cocok dari dugaanku, ternyata.”
Hiyori
berkedip. “E—Eh?”
Sang
Dewa menyilangkan tangannya di depan dada dan tersenyum miring. “Rambutmu
panjang dan berwarna ungu. Bunga kamelia itu berwarna merah muda, ceria.
Terlihat cocok. Cantik.”
Rona
tipis menghias pipi Hiyori. ‘Cantik? Itu yang Hymen-sama maksud bunganya
atau…aku?’
“Maksudku
kau,” jawab Dewa Hymen, seperti mendengar apa yang Hiyori katakan dalam hati.
Hiyori
spontan membelalakkan mata. “H—Hymen-sama?! Jangan-jangan—”
Sang
Dewa mengangkat dagunya, terlihat puas sekaligus arogan. “Ya. Aku bisa mendengar
semuanya, termasuk saat kau berencana untuk kabur.”
Pantas
saja!!
Hiyori
jadi panik bukan kepalang. Dia menganga. “Hymen-sama, bukankah itu tidak sopan?
Itu sama saja tidak menghargai privasi orang la—"
Sang
Dewa menaikkan sebelah alisnya. “Hmm? Mengapa aku harus sopan pada
rakyatku? Apakah kau lupa bahwa aku adalah dewamu, Gadis Muda?”
Oh,
astaga.
Hiyori
kembali terdiam sejenak—sempat bingung mau menjawab apa—tetapi kali ini, dia
tak mau terpojok. Ini memalukan, soalnya. “Anda pasti bisa memblokir suara
pikiran orang lain kapanpun Anda mau, ‘kan? Tolong jangan membaca pikiranku,
Hymen-sama. Itu memalukan!”
Ya,
Dewa pasti bisa melakukan itu.
“Bisa,”
jawab Dewa Hymen seraya tersenyum miring. “tetapi isi pikiranmu selalu menarik.
Berani dan penuh pembangkangan. Kadang-kadang cukup mesum juga saat melihatku.
Menyenangkan saat mendengarkannya.”
Wajah
Hiyori memerah. “HYMEN-SAMA!!! AKU TIDAK—”
Dewa
Hymen kembali melangkah. “Kau cukup aktif untuk ukuran gadis perawan.
Aku suka.”
Aktif??
Maksudnya…aktif ‘itu’, ya?!!
Hiyori
spontan mengejar Dewa Hymen—sial, kini telinganya juga memerah—dan dia
meneriaki dewa itu habis-habisan, “HYMEN-SAMAA!!! TIDAAKK!! AKU TIDAK
BERPIKIRAN MESUM!!!”
Dewa
Hymen tertawa lepas.
Begitu
sampai di samping Dewa Hymen, Hiyori memprotes kembali, “Hymen-sama, memikirkan
rupa Anda bukan berarti aku mesum!!!”
“Hoo?
Kau mengaku bahwa kau memikirkan ketampananku?” Dewa Hymen menoleh kepada
Hiyori, menggodanya.
Rona
di pipi Hiyori sudah mirip seperti delima. “Aku tidak memikirkannya!! Aku hanya
punya mata!!!”
“Matamu
ternyata seleranya bagus,” seloroh Hymen-sama seraya tertawa. “Tidak hanya
tubuhmu saja yang sehat. Matamu juga sehat.”
Sehat???
“Maksudnya
bagaimana?!” Suara Hiyori terdengar kencang tatkala menanyakan itu. Dia
betul-betul kesal, panik, dan malu. Bercampur menjadi satu.
“Lihat.” Dewa
Hymen mengangkat tangannya ke atas, lalu menggerakkannya di udara. Hiyori
sontak mendongak, memperhatikan apa yang ingin Dewa lakukan.
Di
atas sana, di udara, tiba-tiba ada air yang muncul entah dari mana. Bening. Air
itu membentuk persegi, seperti cermin yang sangat lebar. Posisi cermin itu
sedikit menunduk, jadi benar-benar tepat menangkap sosok Hiyori yang berdiri
bersebelahan dengan Dewa Hymen.
Hiyori
tercengang. Terperangah. Mulut dan matanya terbuka lebar tatkala
menyaksikan semua itu. Lagi-lagi, ia menyaksikan kekuatan Dewa Hymen dengan
mata kepalanya sendiri.
“Lihat
dengan matamu sendiri,” ujar Dewa Hymen tiba-tiba. “Tubuhmu memang sehat.
Lekukannya tepat. Pinggulmu lebar, khas gadis perawan yang sehat dan mudah
punya anak. Payudara dan bokongmu juga be—”
“AAAAAAAAAARGGHH!!!”
Hiyori buru-buru menutup mulut Dewa Hymen dengan kedua tangannya. Darah Hiyori
serasa naik semua ke kepala; wajah, telinga, dan lehernya merah semua.
Kepalanya panas hingga mau meledak di tempat. “SUDAH, HYMEN-SAMAAAA!!! KUMOHON JANGAN
DILANJUTKAN!!!!”
Dewa Hymen
menaikkan kedua alisnya. Matanya sedikit melebar.
Jujur
saja, dia cukup tertegun melihat Hiyori yang berani
menutup mulutnya. Walaupun Hiyori melakukan itu secara refleks karena malu,
tetap saja…itu gerakan yang cukup berani.
Gadis
itu berani…menyentuh Dewa.
Dewa
Hymen berkedip perlahan, lalu mengambil tangan Hiyori. Dia menggenggam tangan
Hiyori, lalu tersenyum miring.
“Setidaknya
dewa sepertiku takkan berbohong dengan apa yang kupikirkan,” ujar Hymen.
Sial.
Dia menyindir Hiyori.
Hiyori
menarik tangannya dan mendengkus. “Hymen-sama, aku tidak berbohong. Aku memang
memikirkan rupa Anda, tetapi itu bukan pikiran mesum!!”
“Baiklah,
baiklah,” ujar Dewa Hymen. Dia mulai menghancurkan ‘cermin besar’ dari air itu,
lalu menyebarkan airnya ke beberapa tanaman yang ada di dekat mereka.
“Selain pemberani, kau juga sangat bawel.”
Hiyori
berdecak. “Aku bawel karena Hymen-sama selalu mesum!!”
Dewa
Hymen tertawa terbahak-bahak. “Aku tidak bermaksud buruk. Aku hanya memujimu.”
Mereka
kembali berjalan. Tatkala sampai di depan pohon plum, Dewa Hymen berhenti.
Dia tersenyum…seraya memperhatikan bunga-bunga dan daun-daun plum itu
yang melambai-lambai tertiup angin. Angin itu pulalah yang menggerakkan rambut
dan selendang putihnya.
Dewa
Hymen…di depan pohon plum itu…
…terlihat
seperti lukisan.
Seperti
sejarah indah yang hidup. Seperti potongan histori yang surgawi.
Dia
tampak tenang.
Tatkala
memandanginya…mata Hiyori pelan-pelan melebar.
Dewa
Hymen…tampak begitu menawan…
Keindahannya
seakan bertambah ratusan kali lipat jika dia berdiri di antara bunga. Di antara
angin yang berembus sepoi-sepoi.
Dia
bagaikan suara tenang aliran sungai yang menyentuh telinga.
Bagaikan
angin lembut yang berembus menyentuh pipi.
Bagaikan
kenangan nostalgia yang mengalir keluar.
Bagaikan
langit yang jauh…tetapi didambakan.
Hiyori
memperhatikan Dewa Hymen untuk waktu yang cukup lama. Dia terdiam,
takjub…seolah seluruh energinya ia pusatkan hanya untuk mengagumi dewa itu.
Namun,
tiba-tiba saja…
…suara
sang Dewa terdengar.
Suaranya
dalam. Terdengar jelas, tetapi cukup lembut.
“Hiyori.
Kau bisa memasak?”
Alis
Hiyori terangkat. Dia agak heran mendengar Dewa tiba-tiba menanyakan itu.
Matanya berkedip beberapa kali. “Eh?”
Dewa
Hymen menoleh kepadanya dan tersenyum miring. “Memasaklah untukku. Aku mau
mencicipi masakanmu.”
Hiyori
membulatkan mata. “T—Tapi Hymen-sama, bukankah aku sudah mengantar
persembahan—”
“Aku
mau mencicipi masakanmu,” potong Hymen-sama.
Jelas
saja Hiyori menganga. Apakah Dewa sedang serius sekarang?! “Hymen-sama,
aku hanya bisa memasak masakan rumahan biasa!! Lagi pula, apakah Anda memiliki
alat dan bahan memasak di kuil?!!”
Dewa
Hymen memegang dagunya, tampak berpikir. “Tidak, sih. Aku tak pernah memasak.”
‘Ya
mana mungkin juga Anda memasak! Anda adalah seorang dewa yang selalu
dilayani!!!’ pikir Hiyori.
Melepaskan
tangannya dari dagu, Dewa Hymen pun tersenyum miring. “Kalau begitu, ambil
semuanya dari rumahmu. Bawa ke sini dan memasaklah di kuilku.”
APA?!!
Hiyori
menggeleng tak habis pikir. Seluruh darah yang mengalir di wajahnya nyaris
hilang semua. “H—Hymen-sama, aku baru naik gunung. Kalau aku turun gunung,
mengambil semuanya, lalu naik lagi, aku bisa-bisa pingsan di jalan!!!”
Dewa
Hymen mengedipkan matanya dua kali. Matanya membulat polos, seolah-olah baru
mengetahui sesuatu. “Ah, begitukah? Bukankah gunung ini pendek?”
Hiyori
mendengkus; rasanya dia mau mengigit tembok saking kesalnya. “Hymen-samaaaaa!!
Gunung ini memang pendek, tetapi bagi manusia seperti kami, naik turun tetaplah
melelahkan!! Anda pikir kami punya kekuatan super seperti Anda?!!!”
Dewa
Hymen tertawa lepas. Dia betul-betul mengakak sampai kepalanya terdongak.
Dewa
ini benar-benar tidak masuk akal!!
“Baiklah.
Kalau begitu…” Dewa Hymen berhenti tertawa, lalu mulai menggerakkan
tangannya lagi. Kali ini, Hiyori kaget bukan main karena merasa ada kumpulan angin
yang melingkar di kakinya. Hiyori spontan menoleh ke bawah.
“…aku
akan membantumu,” lanjut sang Dewa seraya tersenyum miring.
Mata
Hiyori membelalak sempurna. Tiba-tiba saja, gumpalan angin itu membesar dan mengangkat
seluruh tubuhnya ke udara. Naik, terus naik, hingga semakin tinggi.
“HUAAAAAAA!!!!
HYMEN-SAMAAAA!!!!!” Hiyori berteriak histeris. Dia sudah berada satu meter
lebih tinggi dari Dewa Hymen. Dia menatap ke bawah—ke Dewa Hymen—dengan wajah
pucat dan ekspresi panik. Dia takut setengah mati. Jantungnya rasanya mau
copot!
Me—mengapa
dia jadi melayang begini?!! Angin apa ini?!!!
Hiyori
spontan jatuh terduduk di atas gumpalan angin yang—secara mengejutkan—sangat
tebal itu. Anehnya, angin itu bisa menampung beratnya! Rambutnya
melayang ke mana-mana; angin itu membuat seluruh daerah di sekitarnya bergerak.
“HYMEN-SAMAAA!!!”
Hiyori menatap Hymen-sama dengan ekspresi takut sekaligus memohon.
“HYMEN-SAMA—TOLONG—TOLONG TURUNKAN AKUUU!! AKU JALAN SAJA! AKU JALAN
SAJAAAA!!!”
Gumpalan
itu
semakin naik ke langit. Namun, Hiyori masih bisa melihat Dewa Hymen di bawah
sana dengan jelas.
Sang
Dewa menatap Hiyori dengan lekat; tangannya masih mengatur gumpalan angin itu.
Sosoknya indah sekali; rambut silver dan selendangnya berayun-ayun karena
angin. Namun, senyum miringnya begitu menyebalkan.
Setelah
itu, suaranya pun terdengar.
“Ditunggu,
ya, Hiyori-chan.”
Suara
itulah yang terakhir kali Hiyori dengar sebelum akhirnya gumpalan angin itu
membawanya menjauh dari taman. Membawanya keluar area kuil demi menuruni
gunung.
“HYMEN-SAMAAAAAAAAAAAAA!!!!!”
teriak
Hiyori putus asa…sampai suaranya terdengar menjauh karena terbawa angin.
******
Hiyori
masuk ke rumahnya dengan terburu-buru. Sambil melewati ruang tamu, dia
cemberut. Seperti mau merengek.
Ayah
dan ibu Hiyori yang tengah duduk di ruang tamu pun merasa keheranan dengan
Hiyori yang tiba-tiba pulang dalam keadaan terburu-buru, cemberut, dan
rambutnya agak berantakan. Ibu Hiyori langsung mengernyitkan dahi. “Lho, ada
apa, Nak?? Bukankah kau baru naik gunung?!”
Hiyori—yang
sekarang sudah sampai di dapur—lantas berteriak, “Aku cuma mau mengambil
peralatan dapur. Ibu punya kompor cadangan tidak?!”
“Ehh??”
Ibunya keheranan. “Punya, sih, tetapi ukurannya kecil. Memangnya untuk apa?!”
“Aku
bawa dulu, ya, Bu. Aku juga mau bawa beberapa peralatan lain!”
“Hiyori,
memangnya untuk ap—”
Hiyori
sama sekali tak menghiraukan ibunya. “Minta bahan-bahan makanan, ya, Bu!
Sedikit saja!”
Ibu
Hiyori mulai berdiri, langsung pergi ke ambang pintu dapur dan bertanya,
“Hiyori, itu semua untuk apa, Nak??”
Hiyori
ternyata sudah memasukkan seluruh barang-barangnya ke dalam sebuah kain. Dia
tengah mengikat kain itu, lalu memasukkan sebuah kayu ke dalam ikatannya agar
mudah dibawa. Setelah itu, dia mulai berdiri seraya mengangkat barang-barang
itu—sempat mengerang saking beratnya—dan berjalan cepat mendekati ibunya.
“Hymen-sama—maksudku
Dewa—menyuruhku memasak. Aku pergi dahulu, ya, Bu. Aku terburu-buru!” Hiyori
melewati ibunya dan berlari ke pintu depan. Ayahnya yang duduk di ruang tamu
pun sampai menganga. Hiyori bergerak seperti tornado. Cepat sekali.
Sepeninggal
Hiyori, Ibu pun berjalan pelan ke ruang tamu seraya menutup mulutnya dengan
sebelah tangan. Baik Ibu maupun Ayah, keduanya menatap ke pintu depan. Mereka
betul-betul tercengang.
“A—Ayah…”
Ibunya Hiyori menggeleng dengan penuh kekaguman. “Sepertinya…Dewa benar-benar
menyukai Hiyori kita… Hiyori juga memanggilnya dengan Hymen-sama…”
Ayah
mengangguk kaku. Masih tertegun dengan ‘badai’ barusan…sampai-sampai tak
terlalu fokus saat menjawab Ibu, “Iya, Bu… Raiden-sama juga bilang kalau ini adalah
pertama kalinya setelah satu abad…”
Selain
itu, ‘Hymen-sama’? Semua orang di desa itu tahu bahwa sang Dewa suka
dipanggil dengan sebutan ‘Dewa Hymen’ (informasi dari Raiden-sama), tetapi saat
tahu bahwa Hiyori memanggil sang Dewa dengan panggilan ‘Hymen-sama’ itu…
…rasanya
dekat sekali.
Well,
Ayah
dan Ibu tak tahu bahwa Hiyori sedang menderita karena Dewa yang dimaksud.
Jadi,
bagaimana dengan Hiyori?
Oh,
di sinilah Hiyori. Gadis itu sudah sampai di kaki gunung dengan wajah dan leher
yang penuh keringat. Dia mengangkat seluruh alat dan bahan itu di sepanjang
jalan hingga terbungkuk-bungkuk, sampai semua warga desa yang ia lewati sibuk
bertanya-tanya. Namun, tiap kali Hiyori menjawab, mereka semua malah histeris
dan bilang kalau Hiyori ‘disayangi’ oleh Dewa.
Yang
benar saja!! Tidakkah mereka lihat kalau Hiyori tersiksa?!! Mata mereka di
mana, sih??!! Hiyori mau teriak, nih, jadinya!!
Hiyori
menghela napas. Akhirnya, dia pun melihat ke atas—ke jalur pendakian gunung
tersebut—lalu mulai melangkah.
Semoga
saja dia tidak ambruk saat sampai di kuil Dewa Hymen nanti.
Baru
saja berjalan tiga langkah, tiba-tiba saja dia merasa ada angin yang melingkar
di tubuhnya. Spontan matanya membelalak; dia menunduk dan melihat bahwa
lagi-lagi, angin itu telah menggumpal di bawahnya dan mengangkatnya ke
atas.
“Oh,
tidak—tidak—TIDAAAAKKK!!!” teriak Hiyori panik. Jangan ini lagi,
tolong! Hiyori takut dia tak seimbang dan jatuh, lalu mati sia-sia!!!!!
Hymen-sama,
tolonglahhh!!!! AKU BERJANJI AKU TAKKAN MEMBANGKANG LA—
“WUAAAAAAAHHH!!!”
teriak
Hiyori saat gumpalan angin itu memelesat membawanya ke atas gunung.
Kecepatannya luar biasa. Seluruh rambut Hiyori beterbangan ke mana-mana. Gadis
itu hampir menangis, jantungnya serasa berhenti berdegup. Tangannya bergetar.
Siapa
pun, tolong akuuuuuuuu!!!
Tak
lama kemudian, gumpalan angin itu pun sampai di depan kuil. Hiyori langsung
memohon, “Sudah, sudaaah!! Aku sudah sampai!!! BERHENTIII!!”
Namun,
ternyata gumpalan angin itu tetap bergerak cepat. Melewati gerbang kuil,
melintasi jalan setapak dan lentera batu, menaiki tangga…
…lalu
akhirnya, gumpalan angin itu berhenti di ambang pintu kuil.
Menurunkan
Hiyori
di sana.
Hiyori
langsung lemas. Tubuhnya betul-betul meleyot di kerangka pintu. Dia berpegangan
di sana…dan terengah-engah.
“Oh,
ternyata peralatannya cukup banyak, ya.”
Hiyori
sontak menggertakkan giginya. Rasa kesal yang sejak tadi ia pendam sudah tak
bisa ditahan. Darahnya mendidih; napasnya hampir berasap. Ia pun mengepalkan
tangannya dan langsung menatap Dewa Hymen dengan tajam. “HYMEN-SAMA!!!! ANDA
MAU AKU MATI???!!!!”
Di
depan sana, Dewa Hymen sedang duduk santai. Sama seperti waktu mereka pertama
kali bertemu, sang Dewa duduk di sebuah altar kecil yang di belakangnya
terdapat meja dengan cermin bundar. Lengan kanannya bertumpu pada kursi kayu
pendek yang ada di sampingnya. Dia menatap Hiyori seraya tersenyum miring.
“Hmm?”
Hymen memiringkan kepalanya. “Kau bilang kau akan pingsan kalau berjalan naik
turun gunung. Mengapa terbang malah membuatmu mati?”
“KARENA
AKU BISA JATUH, KAMI-SAMA!! AKU HAMPIR KENA SERANGAN JANTUNG!!! APAKAH ANDA
SUDAH GILA?!”
Dewa
Hymen tertawa kencang. Waktu kali kedua mereka bertemu, Hiyori masih bisa
menahan kata ‘gila’ keluar dari mulutnya. Kali ini, kata-kata itu mengalir
begitu saja dari mulut Hiyori. Sang Dewa benar-benar terhibur dengan kenyataan
bahwa ada manusia yang berani mengatainya gila, tepat di depan wajahnya.
Dia menganggap itu lucu, imut, dan menarik.
“Sekarang,
kau benar-benar berhasil mengataiku gila,” katanya. “Kalau suatu hari nanti kau
bilang bahwa aku bau dan berdaki, aku sudah tak heran lagi.”
“Anda
mau mengetesku, ya??!!!” balas Hiyori. “Hymen-sama, aku takkan mengatakan
sesuatu kalau itu bukan kenyataan!!”
Hymen-sama
mengangkat kedua alisnya. “Oh ya? Aku ‘gila’ juga bukanlah kenyataan. Dewa
tidak bisa gila. Kami tidak mudah rusak seperti manusia, Gadis Muda.”
“Kalau
Anda tidak gila, berarti kucing juga bertanduk, Hymen-sama,” balas Hiyori
cepat. Gadis itu mendengkus. “dan kodok bisa berjalan tegak.”
Dewa
Hymen spontan tergelak hebat. “Kucing bertanduk? Kok aku seperti pernah
lihat, ya?”
HAH??
PERNAH LIHAT???!! KUCING DARI ZAMAN APA ITU?!!
Dewa
Hymen lalu mengelus dagunya, sok-sokan berpikir. Entah sudah berapa kali dia
melakukan itu hari ini. “Kalau kodok, sih, gampang. Aku bisa membuat mereka
tegak sepenuhnya dan berjalan.”
“BUKAN
ITU
MAKSUD—” Hiyori hampir meledak. Oh, demi apa pun, Hiyori benar-benar lelah. Dia
sudah setengah mampus. Rasanya mau terjengkang di sini saja.
Akhirnya,
Hiyori pun menghela napas (merasa kalah sekaligus malas berdebat lebih jauh),
dan langsung masuk ke kuil Dewa Hymen. “Sudahlah, Hymen-sama. Tunjukkan saja
padaku di mana dapurnya. Aku akan memasak untuk Anda.”
Dewa
Hymen memperhatikan Hiyori yang langsung melengos dan berjalan melewatinya.
Senyum miringnya kembali terbit. “Apa yang mau kau masak, Hiyori?”
“Gyoza
ayam
dan sup miso.”
******
Ada
suara ‘blub, blub, blub’ dari air kaldu yang Hiyori didihkan. Di dalam air
rebusan itu, Hiyori sudah memasukkan jahe, bawang putih, cabai, wortel, dan
sayur kol. Setelah memasukkan pasta miso dan kecap asin, Hiyori pun memotong
tahu yang ia bawa menjadi kubus-kubus kecil.
Tatkala
sedang asyik memotong tahu, tiba-tiba Hiyori mendengar suara langkah kaki yang
mendekat. Langkah kaki itu kemudian diiringi oleh sebuah suara:
“Hmm...
Kalau dilihat dengan teliti dari posisi ini, bokongmu terlihat sangat berisi.
Aku tidak salah pilih.”
Wajah
Hiyori langsung memerah padam. Jantungnya serasa mencelus ke perut.
Hiyori
langsung menoleh ke belakang dan berteriak, “HYMEN-SAMA!!!!”
Tampaknya,
sebentar lagi Hiyori akan menangis. Dia penat sekali. Makan hati.
Dewa
Hymen malah tersenyum jail. Tak memedulikan Hiyori yang mengentak-entakkan
kakinya ke lantai (merajuk), dia justru lanjut berjalan dan mengambil posisi di
samping Hiyori.
Hiyori
masih menatap Dewa Hymen dengan ekspresi dongkol. Antara malu, kesal, lelah,
dan mau merengek. Namun, sang Dewa justru memperhatikan apa yang sedang Hiyori
lakukan saat memasak.
“Kau
sudah terbiasa memasak, ya? Aromanya harum sekali,” puji Dewa Hymen.
Hiyori
akhirnya mendengkus. Gadis itu kembali memotong-motong tahunya “Aku hanya
sering membantu Ibuku, Hymen-sama.”
“Kapan,
ya, terakhir kali aku memakan sup miso?” Kening Dewa Hymen berkerut.
“Sepertinya…di perjamuan dewa lain. Aku tidak terlalu ingat.”
Hiyori
agak kaget. Matanya melebar; dia langsung menoleh kepada Dewa Hymen. “Selama
itu? Apakah Hymen-sama tidak pernah sekali pun diberi persembahan berupa sup?”
“Aku
tak pernah memintanya secara spesifik, jadi tak pernah” jawab Dewa Hymen.
“tetapi setelah ini sepertinya aku harus memintanya. Aku mulai tertarik.”
Pipi
Hiyori langsung bersemu merah. Dia jadi gugup bukan main. Salah tingkah.
Hymen-sama
pintar sekali menggoda walau kelihatannya dia tidak berniat. Apakah karena dia
hidup sudah lama?
Tak
tahulah.
“Bagaimana
cara membuat gyoza ayam? Aku sering melihatnya, tetapi tak tahu cara
membuatnya,” ujar Dewa Hymen.
Hiyori
menatap Dewa Hymen seraya memasang ekspresi datar. “Apakah Anda serius,
Hymen-sama? Anda sudah hidup ribuan tahun.”
Sang
Dewa mengedikkan bahu. “Aku pernah melihat manusia membuatnya, tetapi dari
jauh. Tidak terlalu kuperhatikan.”
Hiyori
menyatukan alis. “Pernahkah kau memakannya?”
“Pernah,”
jawab Dewa Hymen. “Kali ini, aku akan memperhatikanmu membuatnya.”
Hiyori
langsung membulatkan mata, panik. “T—Tidak usah! Anda tunggu di depan saja,
Hymen-sama!”
‘Soalnya,
Anda pasti akan menggangguku!’ pikir Hiyori.
“Mengapa
tidak usah?” Dewa Hymen mengangkat sebelah alisnya. “Atau kau mau kubantu?”
Itu
malah lebih parah lagi!!! Dewa pasti akan menggodanya tanpa
henti. Dia tak bisa menahan keadaan ini lebih lama lagi!
Lagi
pula, kalau orangtua Hiyori tahu, Hiyori pasti akan dimarahi habis-habisan.
Manusia macam apa yang menyuruh Dewa membantunya?!!
“Hymen-sama,
tidak usaaahhh!” Hiyori putus asa. Dia berhenti memotong tahunya lagi. “Aku tak
fokus kalau Hymen-sama ada di siniiiii!!!!”
Sialnya,
Dewa Hymen malah tertawa geli. Mengganggu Hiyori mungkin telah menjadi hobi
barunya. Menyenangkan sekali melihat Hiyori tersipu malu, protes, marah, dan
berteriak padanya.
Ini
seperti angin segar. Dia benar; dia sudah terlalu lama bersantai-santai
di kuil hingga menyia-nyiakan waktunya selama ini.
“Ya
sudah, aku takkan mengganggumu. Aku hanya ingin melihat caramu membuat gyoza,”
ujar Dewa Hymen pada akhirnya.
Hiyori
pun menghela napas lega. Syukurlah kalau Hymen-sama kooperatif.
“Baiklah,
Hymen-sama. Janji, ya?”
“Hm.”
Sang Dewa mengangguk. “Mungkin aku hanya akan melihat bokongmu seseka—”
“HYMEN-SAMAAAAAA!!!!!!!!!!!”
Dewa
Hymen tertawa lepas.
******
Sayap
merah Enzou mengibas pelan. Dia berdiri diam, melayang di atas Gunung
Kouzu. Dari kejauhan, dia melihat kuil Hymen dengan penuh ketertarikan. Sedikit
tercengang. Sedikit terperangah.
Matanya
yang seperti mata harimau itu mampu menembus seluruh tembok; tatapannya fokus
ke bawah sana—menembus kuil Hymen—dan langsung tahu di mana Hymen berada.
Semua
tembok itu seakan-akan tak berfungsi baginya. Transparan.
Hymen
ada di dapur.
…bersama
seorang gadis berambut ungu.
Pelan-pelan,
timbul seringai di wajah Enzou.
“Heeh…”
bisiknya
dengan nada terhibur. []





No comments:
Post a Comment