Bab
17 :
GAVIN mengerjap
perlahan, kelopak matanya perlahan terbuka. Sinar mentari pagi masuk melalui
jendela yang tertutupi gorden putih, membuat Gavin mengerang karena silau. Pemuda
itu refleks menutup matanya kembali—dan mengerjap beberapa kali—sebelum
akhirnya bangkit duduk.
Gavin
diam sebentar. Setelah itu, dia menghela napas dan berencana untuk turun dari ranjang.
Namun, begitu ia melihat lantai, matanya membelalak. Mulutnya menganga dan tubuhnya
langsung mematung.
Ini
bukan kamarnya!
Napas
Gavin seolah-olah terhenti di tenggorokan. Ia serta-merta menoleh ke samping
dan ujung-ujungnya, matanya melebar sempurna.
Ada
petir dahsyat yang seakan-akan menyambar jantungnya.
Di
sana, di sebelahnya, ada Kanya. Karyawan magang yang tadi malam bertemu
dengannya. Kanya memakai selimut. Bahu gadis itu terekspos; Gavin sudah bisa
menebak bahwa pasti gadis itu tidak memakai pakaian di balik selimutnya.
Sesuatu spontan bak mengimpit paru-paru Gavin, membuat Gavin sulit bernapas.
Pikirannya jadi kacau. Dengan cepat, Gavin melihat tubuhnya sendiri dan pria
itu semakin kaget.
Dia
juga bertelanjang dada.
Sialan! Apa yang terjadi?!
Mengapa mereka berdua bisa ada di sini?!
Demi
Tuhan, Gavin pusing tujuh keliling. Dia menggeleng dan memegangi kepalanya,
benar-benar tak tahu apa yang telah ia lakukan. Ia tak pernah dekat dengan
perempuan mana pun dan sekarang ia malah terjebak dengan seorang perempuan di
sebuah hotel?
Tiba-tiba,
timbul pergerakan samar dari Kanya. Gavin langsung menatap gadis itu dengan tatapan khawatir. Ya
Tuhan, kalau memang mereka melakukan hal seperti itu tadi malam, Gavin harus
menikahi Kanya. Gavin tidak tahu mau berpikir apa lagi. Yang jelas, Gavin telah
menodai seorang gadis.
Mengapa
hal seperti ini tiba-tiba terjadi di dalam hidupnya?!
Kanya
membuka matanya perlahan. Gadis itu masih merengangkan ototnya, kemudian melihat
sosok Gavin yang duduk di dekatnya. Kanya refleks terduduk—memegangi
selimutnya—dan berteriak. Mata gadis itu membeliak. Napasnya tercekat.
"PAK
GAVIN?!! ADA
APA INI, PAK?!!! KENAPA—KENAPA AKU—AKU—" Kanya
menatap Gavin dengan ekspresi shock. Gadis itu langsung mundur dan
memeluk tubuhnya sendiri; dia menutupi tubuhnya dengan selimut. Air mata jatuh
di kedua pipi mulus gadis itu. Gavin mulai mendekati gadis itu. Namun, gadis
itu langsung menjauhi Gavin, menatap Gavin dengan mata berairnya. Tubuhnya
bergetar hebat.
"Mengapa
kita berdua ada...di—di sini...Pak?!" tanya Kanya dengan suara
yang bergetar. Gavin mencoba untuk mengingat sesuatu karena terlalu shock.
Namun,
bagaimanapun juga, keadaan akan menjadi semakin parah jika ia tidak bisa
menenangkan Kanya. Ia harus bisa mencari solusi atau paling tidak…mengingat
sesuatu.
Sialan!
Gavin
menghela napas, lalu menggeleng, ia mencoba untuk menenangkan Kanya. "Tenang,
oke? Tenang sebentar. Saya juga nggak tau kenapa kita berdua kejebak
di sini. Saya bakal coba—"
Gavin
terhenti. Tiba-tiba ia teringat sesuatu; ada beberapa memori yang
muncul secepat kilat, sekilas-sekilas bagaikan tayangan slide yang terus
berganti.
Oh,
ya Tuhan! Tadi malam... Sial!
Dia meminum whisky
itu. Sepertinya, obat perangsang di dalamnya.
Sialan...
Itukah yang membuatnya berakhir di ranjang bersama Kanya?
Gavin
mengepalkan tangannya. Ia yakin bukan Kanya yang menaruh obat itu. Kanya
sendiri tampak ragu saat akan meminum whisky yang dipesannya
tadi malam. Jadi, siapa? Siapa yang menaruh obat itu di sana? Selain itu, kapan?
Gavin
menatap Kanya dengan mata membulat. "Kanya, apa kamu tau kalo di whisky
itu tercampur obat perangsang? Apa kamu sempat naruh sesuatu ke
gelasnya?"
Kanya
kaget bukan main; alisnya menyatu. Gadis itu menggeleng cepat.
Obat
perangsang?
"Sa—saya—saya
beneran nggak tau, Pak... Obat perangsang? Obat apa itu, Pak? Sa—"
Gavin
menutup matanya sejenak, mendengkus, dan membuka matanya kembali hanya untuk
mengangguk dan memotong ucapan Kanya, "Oke—oke. Sekarang
coba ingat, kenapa kamu bisa ada di diskotik itu tadi malam."
Mata
Kanya melebar. Gadis itu terdiam.
Melihat
Kanya yang tak kunjung menjawabnya, Gavin menghela napas dan melihat jam
digital yang ada di atas nakas. Dia pun menatap Kanya lagi.
"Gini
aja, biar saya antar kamu pulang dulu sekarang. Kita harus masuk kerja hari
ini. Nanti siang kita bicarain lagi. Kita cari tau sama-sama," ujar Gavin
dengan tegas. Ia bahkan menunjuk Kanya, memperingati Kanya bahwa mereka harus
melakukan itu nanti. Kanya langsung mengangguk.
"Baik,
Pak."
Namun,
sesaat kemudian, Kanya menatap Gavin dengan sendu. Matanya berkaca-kaca.
Ini...mereka...
Mengapa...hal seperti ini bisa terjadi...? Kalau bukan karenanya...
"Maafin
saya, Pak Gavin... Ngeliat keadaan yang kayak gini, berarti
saya...nyuruh Pak Gavin minum whisky itu waktu saya
mabuk... Saya—" Kanya menggeleng dan langsung menangis
sesenggukan.
"Udah,
itu nggak penting lagi sekarang. Sekarang, yang penting kita
harus kerja sama buat nyari tau siapa yang naruh obat itu. Kamu mandi duluan gih. Kalo
emang nggak sempet pulang dulu, terpaksa kita harus langsung ke kantor."
Kanya
akhirnya mengusap air matanya dan mengangguk.
******
Gavin
berjalan di koridor lantai dua kantornya bersama Revan.
Wajah
Gavin kini tidak memiliki rona. Keningnya terus berkerut karena memikirkan
banyak hal. Jelas saja ini menyakiti dirinya. Bagaimana bisa dirinya yang
normal-normal saja, mendapat masalah seperti ini? Menodai seorang
perempuan. Ini gila.
Siapa
yang menyuruh Kanya meminum whisky? Siapa yang menaruh obat perangsang itu?
Siapa yang...
"Eh,
Vin, lo kenapa?” tanya Revan heran. Muka Gavin pucat. Penampilan Gavin tidak serapi
biasanya. Revan menepuk pundak Gavin."Lo tadi malem ke mana, Nyet? Waktu
gue mau balik, lo udah nggak ada lagi di sana. Gue cariin,
tapi lo nggak ada!"
Gavin
bungkam. Ia ingin—sangat ingin— menanyakan itu kepada Revan. Ia juga sangat
ingin memberitahu Revan tentang apa yang terjadi tadi pagi sebelum ia pergi ke
kantor. Akan tetapi, ia yakin Revan pasti tidak percaya.
Menyadari
kalau Gavin hanya bungkam, Revan pun melanjutkan, "Eh, lo tau, kan, cewek
yang artis itu, yang temennya Deon? Pas pemakaman Pak Abraham itu, dia dateng. Itu
siapa namanya?"
"Chintya
Valissisa," jawab Gavin seadanya, soalnya pikirannya ke mana-mana. Gavin
benar-benar frustrasi.
"Naah, itu
dia. Kalo nggak salah—ya kalo mata gue masih sehat—kayaknya
dia ada, deh, di diskotik semalem. Eh iya, lo
kemaren ngobrol sama Kanya, yaaaa?" goda Revan sembari mencolek pundak
Gavin. Revan menaikturunkan alisnya jail. "Waah, gila tuh anak. Gue kira
dia bener-bener polos, taunya dia maennya di diskotik juga!
Boleh juga, nih, si Kanya—"
Tiba-tiba,
Revan berhenti berbicara karena ada suara berisik di depan mereka. Mereka baru
saja belok ke kanan. Revan mengernyitkan dahi begitu melihat banyak sekali
orang bergerombol di depan sana, beberapa meter di depan mereka. Gavin juga
mendengar suara heboh itu. Dia sama herannya dengan Revan.
Mereka
berdua mendekati kerumunan itu. Orang-orang itu rupanya mengerumuni papan
pengumuman yang dibuat khusus untuk lantai itu. Revan dan Gavin tadinya malas
melihat apa yang ada di papan pengumuman itu, sampai akhirnya…Gavin mendengar
sebuah kalimat yang diucapkan oleh seseorang di kerumunan itu:
"Ini
bukannya Pak Gavin?"
Gavin
langsung membelalakkan mata. Dia langsung menerobos kerumunan itu. Revan sampai
terkejut. Akan tetapi, melihat Gavin bersikap aneh begitu, Revan akhirnya ikut
menerobos.
Revan
melihat Gavin yang mematung saat melihat isi papan pengumuman itu. Wajah Gavin
pucat. Revan mengedipkan matanya dua kali, bingung. Namun, saat dia melihat
papan pengumuman itu...matanya membulat. Mulutnya menganga. Wajahnya jadi sama
pucatnya dengan Gavin.
Revan
menggeleng tak percaya. "Vin, ini…"
Itu
adalah foto-foto Gavin dan Kanya yang sedang tidur berdua di kamar hotel yang
serba putih. Tanpa pakaian; hanya ditutupi selimut.
Sialan, Gavin
benar-benar sedang dijebak. Tamat. Semuanya sudah tamat sekarang.
Gavin
mengepalkan tangannya. Revan langsung mencopot foto-foto yang terpampang di
papan pengumuman itu. Semua orang kaget ketika melihat Revan mencopot foto-foto
itu dengan kasar dan merobeknya.
Setelah
itu, ada sebuah suara yang tiba-tiba memanggil Gavin. Suara seorang perempuan;
suara itu berasal dari belakang kerumunan.
"Pak
Gavin."
Semua
orang langsung menoleh ke asal suara, termasuk Gavin dan Revan. Begitu Gavin
melihat siapa orang itu, Gavin langsung mengernyitkan dahi. Tampaknya, Gavin
langsung tahu apa yang akan terjadi. Pasalnya, perempuan yang memanggilnya itu
adalah…
…sekretarisnya
Deon.
Gavin
mendengkus. Rahangnya mengetat. Ia pun langsung berjalan mendekati sekretaris
itu. Semua orang memberikan jalan untuknya.
"Ikut
saya. Pak Deon memanggil Anda," kata sekretaris itu.
******
Gavin
memasuki ruangan direktur utama dan langsung disambut dengan wangi yang segar
dan maskulin. Itu adalah wangi parfum Deon, orang yang menempati ruangan itu.
Gavin
menutup pintu ruangan itu kembali dan berjalan mendekati meja Deon. Deon sudah
berdiri di sana, menatapnya dengan lekat.
Gavin
menunduk hormat sejenak. Mau bagaimanapun juga, Deon adalah atasannya, meskipun
mungkin Deon akan menikah dengan Talitha nantinya. Deon tetaplah Deon, Marco
Deon Abraham, yang memimpin perusahaan ini.
"Pak
Deon," sapa Gavin singkat.
"Jangan formal. Aku
Deon, Pak Gavin. Aku harusnya panggil Abang, kayak biasanya," ujar Deon.
Pria itu memiringkan kepalanya. "Jadi, boleh nggak aku panggil Pak Gavin kayak
gitu di kantor?"
Gavin
tersenyum tipis. Gavin lupa bahwa Deon yang berdiri di depannya saat ini bukanlah
Deon yang terlalu kejam seperti dahulu. Deon sudah banyak berubah; banyak
sekali hal yang membuat Deon jadi lebih friendly dan terbuka.
Talitha
memang sudah meracuni Deon, rupanya.
"Boleh,
Deon," jawab Gavin kemudian.
Deon
tersenyum. Betapa tampan paras Deon itu. Garis rahang yang tajam dan hidung
yang mancung, serta alis tebalnya… Betapa Tuhan sedang bahagia ketika
menciptakannya.
"Aku
udah liat foto itu," ujar Deon. Deon mencari kejujuran di mata Gavin…dan
Gavin hanya menghela napas.
"Ada
orang yang naruh obat perangsang di minuman yang kuminum pas ngobrol sama Kanya
di diskotik. Kamu pasti jadi malu, Deon," ujar Gavin sembari
menggeleng.
Deon
sedikit menunduk dan mengangguk perlahan. Dia menarik napas dan kembali
berbicara, "Aku lagi nyari tau siapa pelakunya. Namun, dengan berat hati…Abang
harus kupecat sementara waktu. Ini demi peraturan kantor yang udah kubuat…dan
aku nggak mau melanggar itu. Tapi aku janji, Abang pasti bakal kerja di sini lagi
pas aku udah nemuin pelakunya. Soalnya, itu bisa jadi bukti kalo Abang nggak
ngelanggar peraturan; Abang dijebak. Aku nggak bakal biarin siapa
pun ngejebak keluargaku," ujar Deon tajam.
Gavin
melebarkan mata. "Kamu nggak perlu—"
"Sudah
kulakuin, Bang," potong Deon. "Aku bisa ngehancurin dia. Semua
orang terdekat Talitha itu orang baik. Lagi pula, kayaknya…ini ada hubungannya dengan
aku." Rahang Deon mengetat.
Gavin
terkejut.
Ini...ada
hubungannya dengan Deon?
Apa
yang sedang terjadi...sebenarnya?
Deon
lalu melangkah mendekati Gavin. Pria tampan itu menepuk pundak Gavin.
"Abang cukup urusi anak magang itu. Biarin aku yang nyelesaikan semuanya.
Abang harus banyak sabar karena mungkin bakal banyak omongan negatif di kantor
pas tau Abang dipecat.”
Gavin
menatap Deon dengan serius, kemudian mengangguk.
"Abang nggak tau
kalo ternyata sekarang kamu cukup…tenang walau dihadapin dengan situasi kayak
gini," ujar Gavin sembari tersenyum.
Deon
tertawa kecil, "Mungkin, ini cuma bakal bertahan sampe aku nemuin
pelakunya. Kalau udah ketemu, kepala dingin yang Abang bilang ini mungkin bakal
hilang entah ke mana," ujar Deon.
"Bisa
aja kamu," ujar Gavin. “Makasih, ya, Deon.”
Deon
mengangguk, lalu tersenyum miring. Tatapan Deon jadi tajam begitu memikirkan
siapa orang di balik semua ini. Apakah dia memang berniat untuk mencari masalah
dengan Deon?
Tak
lama kemudian, Gavin pergi dari ruangan itu. Deon memperhatikan Gavin sampai
Gavin benar-benar menutup kembali pintu ruangannya. Selang beberapa detik,
ponsel Deon berbunyi. Deon mengangkat sebelah alisnya, lalu mengambil ponselnya
di dalam saku celana.
Saat
Deon melihat siapa yang memanggilnya...dia langsung mengangkat panggilan itu. Tatapan
mata Deon berubah menjadi tajam lagi; auranya begitu mengerikan.
"Kasih
tau aku,” ujar Deon.
Sebuah
kalimat yang Deon dengar dari seberang sana sukses membuat Deon membulatkan mata.
Deon
mematung. Dua detik kemudian, dia langsung menggertakkan gigi dan mengepalkan
tangannya. Matanya memerah akibat menahan amarah.
Mengapa
hal seperti ini selalu terjadi padanya?!
******
Tangan
Kanya bergetar saat mencocokkan sobekan-sobekan foto yang berserakan di lantai
koridor. Koridor itu kini agak sepi…dan Kanya terduduk lemas di lantai tatkala melihat
semua foto itu.
Ya
Tuhan...apa lagi ini?
Ekspresi
Kanya kosong. Mulutnya terbuka dan air matanya tanpa sadar
jatuh. Tubuhnya bergetar; ia menggeleng tak percaya.
Ia
bahkan belum benar-benar memulai karirnya. Ia merasa sangat bersalah kepada
Gavin. Karir Gavin yang sudah sangat bagus di perusahaan ini harus ia rusak. Ia
begitu bodoh. Ia sangat mengutuk kebodohannya sendiri. Apa yang terjadi dengan
dirinya? Mengapa ia bisa sebodoh ini?
Wajah
Kanya pucat bukan main. Ia harus berlutut di depan Gavin, harus meminta maaf
sebesar-besarnya. Gavin yang merupakan pimpinan baik serta memiliki nama yang
bersih, kini reputasi dan masa depannya jadi rusak. Kanya sungguh berdosa. Ialah yang
benar-benar berdosa!
Kanya
mengusap air matanya dan langsung mengambil ponselnya. Ia langsung menelepon
seseorang yang ia tahu; seseorang yang benar-benar terlibat dengan alasan
mengapa Kanya bisa tiba-tiba datang ke diskotik itu tadi malam.
"Mbak
Chintya, Mbak? Halo?!" teriak Kanya dengan
gelisah. Ia benar-benar ketakutan dan kebingungan. Chintya harus mengatakan
sesuatu. Paling tidak…sebuah alasan.
"Iya,
Kanya? Kenapa?"
"Mbak,
Mbak bilang nggak apa-apa kalo saya minum sedikit dan mabuk…supaya saya bisa nyatain
perasaan saya dengan baik, ta—tapi, Mbak…kenapa semua ini terjadi?!!! Mbak
bohongin saya, ya?! Mbak, ini bukan candaan. Saya dan Pak Gavin dipecat, Mbak…
Kami—"
Kanya
mendengar Chintya tertawa. Ia kontan terperanjat.
"Tenang, Kanya...itu
udah bener kok. Itu emang kemauan aku. Ya kalo kamu ngerasa itu salah, siapa
suruh kamu gampang dibodohi?"
Tubuh
Kanya mematung. Gadis itu menutup mulutnya yang terbuka dengan sebelah
tangannya.
Ia
ternyata dibohongi. Ia diperalat.
"Mbak nggak boleh
kayak gini! Mbak udah ngebohongin saya! Ini—"
Panggilan
telepon itu dimatikan oleh Chintya. Napas Kanya serasa terhenti. Kanya
menekan-nekan layar ponselnya dengan membabi buta, panik, dan putus asa. Saat
menyadari bahwa semua itu percuma, ponsel Kanya terjatuh begitu saja karena
tangannya bergetar. Kanya langsung duduk dengan kaki terlipat, menyandarkan
kepalanya pada lututnya...lalu menangis.
Kanya terlalu polos…dan
kepolosan itu membuatnya bodoh.
Membuatnya
berada dalam masalah besar.
Kanya
berada dalam posisi seperti itu selama beberapa menit…hingga kemudian Kanya sadar
bahwa ada orang yang melangkah ke arahnya. Ketukan sepatu itu membuat Kanya
menoleh ke atas dengan lemas.
Itu...
Gavin...
Kanya
melihat ke belakang Gavin dan ternyata ada Revan juga di sana. Kanya langsung
menunduk. Ia pantas dihukum. Ia sudah siap dihukum.
Kanya
mendekati kaki Gavin untuk meminta maaf, tetapi Gavin langsung menarik tangan
gadis itu. Kanya terkesiap, begitu pula Revan. Gavin menarik Kanya hingga gadis
itu berdiri, kemudian membawa gadis itu pergi dari sana dengan cepat.
Revan
langsung berlari menyusul Gavin tanpa berpikir dua kali. Sialan, apa
yang akan Gavin lakukan? Gavin benar-benar membawa Kanya hingga ke luar
perusahaan!
******
Talitha
membuka pintu rumahnya saat mendengar bel berbunyi sebanyak dua kali. Saat
pintu itu terbuka, Talitha kaget melihat Gavin sedang memegang tangan seorang
perempuan yang tak Talitha kenal. Ada Revan di belakang mereka.
"Bang—"
Ucapan Talitha terpotong karena Gavin langsung masuk membawa perempuan itu.
Revan ikut masuk dan Talitha bertanya 'Ada apa' pada Revan melalui
tatapannya. Revan hanya menghela napas dan mengedikkan bahu.
Talitha
mulai merasa ada yang salah. Talitha berbalik ketika Gavin berteriak memanggil
kedua orangtua mereka yang kebetulan sudah ada di rumah.
Kedua
orangtua mereka datang ke ruang tamu seraya menyatukan akis. Mereka berdua
panik mendengar teriakan Gavin yang terdengar…gelisah.
"Ada
apa? Kenapa kamu teriak-teriak?" tanya Papa dengan penuh selidik.
"Kenapa,
Vin?" tanya mamanya.
Gavin
menarik napasnya dalam. Ya, inilah yang harus dia lakukan.
Bagaimanapun juga, dia telah...merusak kesucian seorang gadis…meskipun ia tak ingat
kejadiannya sama sekali. Masa bodoh dengan semua itu, yang jelas, tadi pagi ia berada
di ranjang yang sama dengan Kanya. Tanpa pakaian. Ia hanya berpikir, bagaimana
jika Talitha, adiknya, dinodai seperti itu? Itu membuatnya tak berpikir dua
kali dalam menetapkan keputusan. Dia akan bertanggung jawab. Meskipun ini adalah
jebakan…ia dan Kanya sudah tidur bersama di hotel tadi malam.
"Ma,
Pa, maafin Gavin," ujar Gavin, menunduk penuh
penyesalan. Hari ini, dia benar-benar sudah mengecewakan kedua orangtuanya. Dia
sangat menyesali semuanya. Ia tak mau kedua orangtuanya kecewa padanya. Akan
tetapi, inilah yang terbaik.
Gavin
kemudian melanjutkan, "Gavin dipecat dari kantor. Gavin...dipecat karena
udah ngelakuin hal yang nggak senonoh ke cewek ini." Gavin menunjukkan
Kanya di depan kedua orangtuanya. Semua orang kaget, sementara Revan menunduk.
Mata Revan memerah menahan tangis karena dialah yang membawa Gavin masuk ke diskotik itu.
Revan juga sangat bersalah dalam hal ini.
"Izinin
Gavin buat nikahin cewek ini," lanjut Gavin kemudian. Ini
membuat mamanya hampir jatuh karena shock. Wajah papanya memucat.
Talitha membulatkan mata.
Abangnya…melakukan
hal tak senonoh?
Dipecat?
Mengapa
semuanya jadi porak-poranda dalam waktu singkat? Jadi, inilah sebabnya Gavin
tidak pulang tadi malam?
Gavin
pasti dipecat oleh Deon. Sesungguhnya, Talitha tak paham dengan apa yang
terjadi, tetapi Talitha ingin bertemu Deon sekarang juga. Paling tidak, pasti
ada sesuatu yang terjadi! Gavin bukanlah pria berengsek yang mau menodai
perempuan!
Kemarin…Gavin
masih abangnya yang segar dan cerewet seperti biasa. Ya Tuhan, apa
yang terjadi sebenarnya?
******
Chintya
bersyukur kedua orangtuanya sedang keluar saat ini. Ketika Deon menghubunginya
setengah jam yang lalu dan bilang akan datang ke rumahnya, Chintya senang bukan
kepalang.
Sekarang,
Deon pasti ingin bercerita soal Gavin kepadanya. Pasti Deon sangat marah dan
kecewa, lalu memutuskan untuk tidak lagi berhubungan dengan Talitha. Chintya
tahu itu. Chintya benar-benar hafal siapa Deon. Deon pasti marah bukan main.
Sekarang,
kamu pasti tau kalo akulah yang patut kamu percayai, Deon. Akulah yang pantas bersama
kamu.
Mereka
nggak ngehargai kamu, sedangkan aku? Aku ngehargai kamu. Aku cinta sama kamu.
Saat
mendengar bel berbunyi, Chintya berjalan ke pintu depan rumahnya dengan senyum
puas dan langkah yang riang. Itu pasti Deon. Ah, dia senang sekali.
"Iya,
Deon, tunggu sebentar!" teriaknya. Saat pintu itu terbuka, Chintya masih
tersenyum riang. Wajahnya seakan-akan bercahaya. Namun, senyum itu perlahan
memudar saat ia melihat Deon menatapnya dengan tatapan yang sangat mengerikan.
Deon—Deon bahkan memelototinya saat ini! Mata Deon menggelap, seolah-olah
ditutupi oleh kabut hitam. Pria itu mengintimidasi Chintya. Rahangnya mengetat.
Chintya melebarkan matanya.
"Deon,
kenap—"
Deon
langsung mendorong tubuh Chintya hingga Chintya terjatuh menghantam lantai.
Chintya memekik, gadis itu menatap Deon dengan takut. Dia menggeleng.
"Deon—Deon—"
"DIAM!!!!" bentak
Deon. Pria itu langsung membungkuk dan menarik tangan Chintya, membuat Chintya
berdiri kembali. Dia mencengkeram lengan Chintya hingga gadis itu mengaduh
kesakitan.
Jujur
saja, Chintya tak pernah melihat sisi Deon yang seperti ini!
"JANGAN
BERTINGKAH SEOLAH-OLAH KAMU NGGAK TAU APA-APA!!" teriak
Deon. Wajah Chintya memucat.
“Deon—"
“Kamu
masih mau bertingkah polos?" tanya Deon sarkastis.
Chintya terperanjat.
"Deon,
apa maksud kamu? Aku nggak ngerti, Deon! Ayo kita bicara du—"
"KAMU
ITU SATU-SATUNYA PEREMPUAN YANG KUPERCAYA SEJAK MAMAKU KHIANATIN AKU! TAPI
TERNYATA KAMU SAMA AJA!!"
Chintya
membatu. Deon—mengapa Deon memarahinya seperti ini?
Wajah
Deon mendekati wajah Chintya; Deon menggertakkan giginya. "Masih nggak mau
ngaku?”
Chintya
meneguk ludah. Tatapannya mengandung ketakutan yang luar biasa.
"KAMULAH
PELAKU DI BALIK SEMUA INI! KAMU YANG JEBAK GAVIN DAN NARUH OBAT ITU DI
MINUMANNYA!! APA MAKSUD KAMU, CHINTYA?!!” bentak Deon. Ludah Chintya seolah-olah
mengering saat mengetahui bahwa dirinya tersudut.
Deon
sudah mengetahui segalanya.
Akan
tetapi, karena tak ingin menyerah, Chintya buru-buru menggeleng. "Deon,
aku ngelakuin ini karena mereka nggak baik buat kamu! Aku juga nggak ada—"
"AKU
NGGAK NGIZININ KAMU BICARA!!!" bentak Deon lagi. Pria itu mengempaskan
tubuh Chintya lagi ke lantai hingga Chintya menjerit kesakitan. Ini bukan Deon!
Deon tak pernah seperti ini padanya! Deon selalu baik padanya!!
Deon
memelototi Chintya. "Kamu ternyata bohong sama aku. Kamu nggak jadi dirimu
sendiri waktu sama aku. Aku kenal kamu sebagai perempuan yang polos dan baik,
tapi ternyata, di belakangku…kamu adalah seorang penjahat! KAMU GILA!!"
Chintya
menangis. Dengan cepat, dia berdiri dan mendekati Deon, tetapi Deon kembali
mendorongnya dengan keras.
Itu benar. Chintya
ada di diskotik itu. Menyamarkan dirinya dengan baik di balik
topi dan rambut panjangnya. Ia menaruh obat itu ketika Kanya sedang menumpukan
kepalanya di meja sementara Gavin sedang menoleh ke belakang untuk mencari
keberadaan Revan.
Chintya...melakukan
semua itu sendiri.
Deon
menggeleng tak percaya.
"Aku nggak
habis pikir, ternyata akulah yang bodoh selama ini. Aku percaya sama kamu,
orang yang jelas-jelas udah ngebohongin aku belasan tahun. Aku terus-menerus kehilangan
sesuatu yang berharga!!!!" teriak Deon sembari menatap Chintya dengan keji.
Chintya menunduk, rambutnya terurai dan berantakan hingga menutupi wajah cantiknya.
Deon
mendongak dan berkacak pinggang. Napasnya terengah, tak beraturan. Ia masih
bersyukur ia tidak benar-benar memukul Chintya. Beberapa kejadian akhir-akhir
ini sudah membuatnya sadar bahwa sifat buruknya itu hanya akan menuntunnya ke
jalan yang salah.
Deon
kembali menatap Chintya. "Kukira, selama ini kata sayang yang
kamu bilang ke aku itu ternyata—" Deon berhenti, menggeleng, dan mengacak
rambutnya frustrasi. Pria itu mengembuskan napasnya yang mulai terasa sesak.
"Detik
ini juga, aku bakal kasih jawaban aku ke kamu. Aku nggak cinta
sama kamu, Chintya. Nggak ada lagi rasa sayang buat kamu. AKU KECEWA
SAMA KAMU!!" teriak Deon.
Chintya
langsung membulatkan matanya dan mendongak demi menatap Deon. Dia buru-buru berdiri,
tetapi Deon langsung membentaknya.
"Jangan
deketin aku!! Aku males liat muka kamu!!! SULIT BAGI AKU BUAT MAAFIN KAMU!! Kamu
udah bikin aku keliatan bodoh. Kamu bikin aku jadi marahin Talitha di parkiran
itu, kamu jugalah yang jebak Gavin. Aku ngerasa bersalah banget sama keluarga
mereka!!! Apa yang kamu lakukan ini justru ngebuktiin kalo kamu sendirilah yang
buruk!! Kamu nggak bisa ngebandingin diri kamu sama Talitha.
Dialah yang ngajarin aku untuk berhenti benci sama Mama. Dia jugalah yang bilang
kalo aku terus kayak gini, aku bakal kehilangan segalanya. Dia bener!!!
Kamu nggak berhak ngehina dia di depanku!! Aku ngebelain kamu waktu itu dan
malah marahin dia, tapi ternyata akulah yang dibodohi sama kamu!!"
Chintya
merasa telinganya panas mendengar pujian-pujian untuk perempuan bernama Talitha
itu. Sudah cukup! Chintya mulai menggeram. Tak ayal, Chintya
langsung berteriak, "KAMU NGGAK TAU BETAPA CINTANYA AKU KE KAMU, DEON!! Aku
ngelakuin ini semua karena aku cinta sama kamu!!!!"
"AKU
NGGAK CINTA SAMA KAMU!! AKU JUGA UDAH NGGAK PERCAYA SAMA
KAMU!!!" balas Deon. “Yang kucintai itu adalah Talitha. Selamanya cuma
dia. Kebaikan dan ketulusan hati dia sukses ngalahin semua yang kamu punya. Aku
nggak bakal biarin siapa pun ngelukain dia, termasuk kamu.”
Chintya
membeliakkan mata. Air mata jatuh dengan deras ke pipinya. Semuanya jadi blank. Pandangan
matanya mengabur.
Chintya
hanya bisa menangis tersedu-sedu, menarik lengan Deon dan mengemis kepada Deon
untuk mendengarkannya...tetapi Deon langsung menolak dan menghempaskannya.
Gadis itu terduduk di lantai dan memandangi punggung tegap Deon yang
meninggalkannya begitu saja.
Dia
meremas rambut indahnya dengan frustrasi. Mengerang…lalu menangis sejadi-jadinya. []










No comments:
Post a Comment