Sunday, December 28, 2025

My Man (Bab 17)


******

Bab 17 :

 

GAVIN mengerjap perlahan, kelopak matanya perlahan terbuka. Sinar mentari pagi masuk melalui jendela yang tertutupi gorden putih, membuat Gavin mengerang karena silau. Pemuda itu refleks menutup matanya kembali—dan mengerjap beberapa kali—sebelum akhirnya bangkit duduk.

Gavin diam sebentar. Setelah itu, dia menghela napas dan berencana untuk turun dari ranjang. Namun, begitu ia melihat lantai, matanya membelalak. Mulutnya menganga dan tubuhnya langsung mematung.

 

Ini bukan kamarnya!

 

Napas Gavin seolah-olah terhenti di tenggorokan. Ia serta-merta menoleh ke samping dan ujung-ujungnya, matanya melebar sempurna.

Ada petir dahsyat yang seakan-akan menyambar jantungnya.

Di sana, di sebelahnya, ada Kanya. Karyawan magang yang tadi malam bertemu dengannya. Kanya memakai selimut. Bahu gadis itu terekspos; Gavin sudah bisa menebak bahwa pasti gadis itu tidak memakai pakaian di balik selimutnya. Sesuatu spontan bak mengimpit paru-paru Gavin, membuat Gavin sulit bernapas. Pikirannya jadi kacau. Dengan cepat, Gavin melihat tubuhnya sendiri dan pria itu semakin kaget.

 

Dia juga bertelanjang dada.

Sialan! Apa yang terjadi?! Mengapa mereka berdua bisa ada di sini?!

 

Demi Tuhan, Gavin pusing tujuh keliling. Dia menggeleng dan memegangi kepalanya, benar-benar tak tahu apa yang telah ia lakukan. Ia tak pernah dekat dengan perempuan mana pun dan sekarang ia malah terjebak dengan seorang perempuan di sebuah hotel?

Tiba-tiba, timbul pergerakan samar dari Kanya. Gavin langsung menatap gadis itu dengan tatapan khawatir. Ya Tuhan, kalau memang mereka melakukan hal seperti itu tadi malam, Gavin harus menikahi Kanya. Gavin tidak tahu mau berpikir apa lagi. Yang jelas, Gavin telah menodai seorang gadis.

Mengapa hal seperti ini tiba-tiba terjadi di dalam hidupnya?!

Kanya membuka matanya perlahan. Gadis itu masih merengangkan ototnya, kemudian melihat sosok Gavin yang duduk di dekatnya. Kanya refleks terduduk—memegangi selimutnya—dan berteriak. Mata gadis itu membeliak. Napasnya tercekat.

"PAK GAVIN?!! ADA APA INI, PAK?!!! KENAPA—KENAPA AKU—AKU—" Kanya menatap Gavin dengan ekspresi shock. Gadis itu langsung mundur dan memeluk tubuhnya sendiri; dia menutupi tubuhnya dengan selimut. Air mata jatuh di kedua pipi mulus gadis itu. Gavin mulai mendekati gadis itu. Namun, gadis itu langsung menjauhi Gavin, menatap Gavin dengan mata berairnya. Tubuhnya bergetar hebat.

"Mengapa kita berdua ada...di—di sini...Pak?!" tanya Kanya dengan suara yang bergetar. Gavin mencoba untuk mengingat sesuatu karena terlalu shock.

Namun, bagaimanapun juga, keadaan akan menjadi semakin parah jika ia tidak bisa menenangkan Kanya. Ia harus bisa mencari solusi atau paling tidak…mengingat sesuatu.

 

Sialan!

 

Gavin menghela napas, lalu menggeleng, ia mencoba untuk menenangkan Kanya. "Tenang, oke? Tenang sebentar. Saya juga nggak tau kenapa kita berdua kejebak di sini. Saya bakal coba—"

Gavin terhenti. Tiba-tiba ia teringat sesuatu; ada beberapa memori yang muncul secepat kilat, sekilas-sekilas bagaikan tayangan slide yang terus berganti.

 

Oh, ya Tuhan! Tadi malam... Sial!

Dia meminum whisky itu. Sepertinya, obat perangsang di dalamnya.

Sialan... Itukah yang membuatnya berakhir di ranjang bersama Kanya?

 

Gavin mengepalkan tangannya. Ia yakin bukan Kanya yang menaruh obat itu. Kanya sendiri tampak ragu saat akan meminum whisky yang dipesannya tadi malam. Jadi, siapa? Siapa yang menaruh obat itu di sana? Selain itu, kapan?

Gavin menatap Kanya dengan mata membulat. "Kanya, apa kamu tau kalo di whisky itu tercampur obat perangsang? Apa kamu sempat naruh sesuatu ke gelasnya?"

Kanya kaget bukan main; alisnya menyatu. Gadis itu menggeleng cepat.

 

Obat perangsang?

 

"Sa—saya—saya beneran nggak tau, Pak... Obat perangsang? Obat apa itu, Pak? Sa—"

Gavin menutup matanya sejenak, mendengkus, dan membuka matanya kembali hanya untuk mengangguk dan memotong ucapan Kanya, "Oke—oke. Sekarang coba ingat, kenapa kamu bisa ada di diskotik itu tadi malam."

Mata Kanya melebar. Gadis itu terdiam.

Melihat Kanya yang tak kunjung menjawabnya, Gavin menghela napas dan melihat jam digital yang ada di atas nakas. Dia pun menatap Kanya lagi.

"Gini aja, biar saya antar kamu pulang dulu sekarang. Kita harus masuk kerja hari ini. Nanti siang kita bicarain lagi. Kita cari tau sama-sama," ujar Gavin dengan tegas. Ia bahkan menunjuk Kanya, memperingati Kanya bahwa mereka harus melakukan itu nanti. Kanya langsung mengangguk.

"Baik, Pak."

Namun, sesaat kemudian, Kanya menatap Gavin dengan sendu. Matanya berkaca-kaca.

Ini...mereka... Mengapa...hal seperti ini bisa terjadi...? Kalau bukan karenanya...

"Maafin saya, Pak Gavin... Ngeliat keadaan yang kayak gini, berarti saya...nyuruh Pak Gavin minum whisky itu waktu saya mabuk... Saya—" Kanya menggeleng dan langsung menangis sesenggukan.

"Udah, itu nggak penting lagi sekarang. Sekarang, yang penting kita harus kerja sama buat nyari tau siapa yang naruh obat itu. Kamu mandi duluan gih. Kalo emang nggak sempet pulang dulu, terpaksa kita harus langsung ke kantor."

Kanya akhirnya mengusap air matanya dan mengangguk.

 

******

 

Gavin berjalan di koridor lantai dua kantornya bersama Revan.

Wajah Gavin kini tidak memiliki rona. Keningnya terus berkerut karena memikirkan banyak hal. Jelas saja ini menyakiti dirinya. Bagaimana bisa dirinya yang normal-normal saja, mendapat masalah seperti ini? Menodai seorang perempuan. Ini gila.

 

Siapa yang menyuruh Kanya meminum whisky? Siapa yang menaruh obat perangsang itu? Siapa yang...

 

"Eh, Vin, lo kenapa?” tanya Revan heran. Muka Gavin pucat. Penampilan Gavin tidak serapi biasanya. Revan menepuk pundak Gavin."Lo tadi malem ke mana, Nyet? Waktu gue mau balik, lo udah nggak ada lagi di sana. Gue cariin, tapi lo nggak ada!"

Gavin bungkam. Ia ingin—sangat ingin— menanyakan itu kepada Revan. Ia juga sangat ingin memberitahu Revan tentang apa yang terjadi tadi pagi sebelum ia pergi ke kantor. Akan tetapi, ia yakin Revan pasti tidak percaya.

Menyadari kalau Gavin hanya bungkam, Revan pun melanjutkan, "Eh, lo tau, kan, cewek yang artis itu, yang temennya Deon? Pas pemakaman Pak Abraham itu, dia dateng. Itu siapa namanya?"

"Chintya Valissisa," jawab Gavin seadanya, soalnya pikirannya ke mana-mana. Gavin benar-benar frustrasi.

"Naah, itu dia. Kalo nggak salah—ya kalo mata gue masih sehat—kayaknya dia ada, deh, di diskotik semalem. Eh iya, lo kemaren ngobrol sama Kanya, yaaaa?" goda Revan sembari mencolek pundak Gavin. Revan menaikturunkan alisnya jail. "Waah, gila tuh anak. Gue kira dia bener-bener polos, taunya dia maennya di diskotik juga! Boleh juga, nih, si Kanya—"

Tiba-tiba, Revan berhenti berbicara karena ada suara berisik di depan mereka. Mereka baru saja belok ke kanan. Revan mengernyitkan dahi begitu melihat banyak sekali orang bergerombol di depan sana, beberapa meter di depan mereka. Gavin juga mendengar suara heboh itu. Dia sama herannya dengan Revan.

Mereka berdua mendekati kerumunan itu. Orang-orang itu rupanya mengerumuni papan pengumuman yang dibuat khusus untuk lantai itu. Revan dan Gavin tadinya malas melihat apa yang ada di papan pengumuman itu, sampai akhirnya…Gavin mendengar sebuah kalimat yang diucapkan oleh seseorang di kerumunan itu:

 

"Ini bukannya Pak Gavin?"

 

Gavin langsung membelalakkan mata. Dia langsung menerobos kerumunan itu. Revan sampai terkejut. Akan tetapi, melihat Gavin bersikap aneh begitu, Revan akhirnya ikut menerobos.

Revan melihat Gavin yang mematung saat melihat isi papan pengumuman itu. Wajah Gavin pucat. Revan mengedipkan matanya dua kali, bingung. Namun, saat dia melihat papan pengumuman itu...matanya membulat. Mulutnya menganga. Wajahnya jadi sama pucatnya dengan Gavin.

Revan menggeleng tak percaya. "Vin, ini…"

 

Itu adalah foto-foto Gavin dan Kanya yang sedang tidur berdua di kamar hotel yang serba putih. Tanpa pakaian; hanya ditutupi selimut.

 

Sialan, Gavin benar-benar sedang dijebak. Tamat. Semuanya sudah tamat sekarang.

Gavin mengepalkan tangannya. Revan langsung mencopot foto-foto yang terpampang di papan pengumuman itu. Semua orang kaget ketika melihat Revan mencopot foto-foto itu dengan kasar dan merobeknya.

Setelah itu, ada sebuah suara yang tiba-tiba memanggil Gavin. Suara seorang perempuan; suara itu berasal dari belakang kerumunan.

 

"Pak Gavin."

 

Semua orang langsung menoleh ke asal suara, termasuk Gavin dan Revan. Begitu Gavin melihat siapa orang itu, Gavin langsung mengernyitkan dahi. Tampaknya, Gavin langsung tahu apa yang akan terjadi. Pasalnya, perempuan yang memanggilnya itu adalah…

 

…sekretarisnya Deon.

 

Gavin mendengkus. Rahangnya mengetat. Ia pun langsung berjalan mendekati sekretaris itu. Semua orang memberikan jalan untuknya.

"Ikut saya. Pak Deon memanggil Anda," kata sekretaris itu.

 

******

 

Gavin memasuki ruangan direktur utama dan langsung disambut dengan wangi yang segar dan maskulin. Itu adalah wangi parfum Deon, orang yang menempati ruangan itu.

Gavin menutup pintu ruangan itu kembali dan berjalan mendekati meja Deon. Deon sudah berdiri di sana, menatapnya dengan lekat.

Gavin menunduk hormat sejenak. Mau bagaimanapun juga, Deon adalah atasannya, meskipun mungkin Deon akan menikah dengan Talitha nantinya. Deon tetaplah Deon, Marco Deon Abraham, yang memimpin perusahaan ini.

"Pak Deon," sapa Gavin singkat.

"Jangan formal. Aku Deon, Pak Gavin. Aku harusnya panggil Abang, kayak biasanya," ujar Deon. Pria itu memiringkan kepalanya. "Jadi, boleh nggak aku panggil Pak Gavin kayak gitu di kantor?"

Gavin tersenyum tipis. Gavin lupa bahwa Deon yang berdiri di depannya saat ini bukanlah Deon yang terlalu kejam seperti dahulu. Deon sudah banyak berubah; banyak sekali hal yang membuat Deon jadi lebih friendly dan terbuka.

Talitha memang sudah meracuni Deon, rupanya.

"Boleh, Deon," jawab Gavin kemudian.

Deon tersenyum. Betapa tampan paras Deon itu. Garis rahang yang tajam dan hidung yang mancung, serta alis tebalnya… Betapa Tuhan sedang bahagia ketika menciptakannya.

"Aku udah liat foto itu," ujar Deon. Deon mencari kejujuran di mata Gavin…dan Gavin hanya menghela napas.

"Ada orang yang naruh obat perangsang di minuman yang kuminum pas ngobrol sama Kanya di diskotik. Kamu pasti jadi malu, Deon," ujar Gavin sembari menggeleng.

Deon sedikit menunduk dan mengangguk perlahan. Dia menarik napas dan kembali berbicara, "Aku lagi nyari tau siapa pelakunya. Namun, dengan berat hati…Abang harus kupecat sementara waktu. Ini demi peraturan kantor yang udah kubuat…dan aku nggak mau melanggar itu. Tapi aku janji, Abang pasti bakal kerja di sini lagi pas aku udah nemuin pelakunya. Soalnya, itu bisa jadi bukti kalo Abang nggak ngelanggar peraturan; Abang dijebak. Aku nggak bakal biarin siapa pun ngejebak keluargaku," ujar Deon tajam.

Gavin melebarkan mata. "Kamu nggak perlu—"

"Sudah kulakuin, Bang," potong Deon. "Aku bisa ngehancurin dia. Semua orang terdekat Talitha itu orang baik. Lagi pula, kayaknya…ini ada hubungannya dengan aku." Rahang Deon mengetat.

Gavin terkejut.

 

Ini...ada hubungannya dengan Deon?

Apa yang sedang terjadi...sebenarnya?

 

Deon lalu melangkah mendekati Gavin. Pria tampan itu menepuk pundak Gavin. "Abang cukup urusi anak magang itu. Biarin aku yang nyelesaikan semuanya. Abang harus banyak sabar karena mungkin bakal banyak omongan negatif di kantor pas tau Abang dipecat.”

Gavin menatap Deon dengan serius, kemudian mengangguk.

"Abang nggak tau kalo ternyata sekarang kamu cukup…tenang walau dihadapin dengan situasi kayak gini," ujar Gavin sembari tersenyum.

Deon tertawa kecil, "Mungkin, ini cuma bakal bertahan sampe aku nemuin pelakunya. Kalau udah ketemu, kepala dingin yang Abang bilang ini mungkin bakal hilang entah ke mana," ujar Deon.

"Bisa aja kamu," ujar Gavin. “Makasih, ya, Deon.”

Deon mengangguk, lalu tersenyum miring. Tatapan Deon jadi tajam begitu memikirkan siapa orang di balik semua ini. Apakah dia memang berniat untuk mencari masalah dengan Deon?

Tak lama kemudian, Gavin pergi dari ruangan itu. Deon memperhatikan Gavin sampai Gavin benar-benar menutup kembali pintu ruangannya. Selang beberapa detik, ponsel Deon berbunyi. Deon mengangkat sebelah alisnya, lalu mengambil ponselnya di dalam saku celana.

Saat Deon melihat siapa yang memanggilnya...dia langsung mengangkat panggilan itu. Tatapan mata Deon berubah menjadi tajam lagi; auranya begitu mengerikan.

"Kasih tau aku,” ujar Deon.

Sebuah kalimat yang Deon dengar dari seberang sana sukses membuat Deon membulatkan mata.

Deon mematung. Dua detik kemudian, dia langsung menggertakkan gigi dan mengepalkan tangannya. Matanya memerah akibat menahan amarah.

Mengapa hal seperti ini selalu terjadi padanya?!

 

******

 

Tangan Kanya bergetar saat mencocokkan sobekan-sobekan foto yang berserakan di lantai koridor. Koridor itu kini agak sepi…dan Kanya terduduk lemas di lantai tatkala melihat semua foto itu.

Ya Tuhan...apa lagi ini?

Ekspresi Kanya kosongMulutnya terbuka dan air matanya tanpa sadar jatuh. Tubuhnya bergetar; ia menggeleng tak percaya.

Ia bahkan belum benar-benar memulai karirnya. Ia merasa sangat bersalah kepada Gavin. Karir Gavin yang sudah sangat bagus di perusahaan ini harus ia rusak. Ia begitu bodoh. Ia sangat mengutuk kebodohannya sendiri. Apa yang terjadi dengan dirinya? Mengapa ia bisa sebodoh ini?

Wajah Kanya pucat bukan main. Ia harus berlutut di depan Gavin, harus meminta maaf sebesar-besarnya. Gavin yang merupakan pimpinan baik serta memiliki nama yang bersih, kini reputasi dan masa depannya jadi rusak. Kanya sungguh berdosa. Ialah yang benar-benar berdosa!

Kanya mengusap air matanya dan langsung mengambil ponselnya. Ia langsung menelepon seseorang yang ia tahu; seseorang yang benar-benar terlibat dengan alasan mengapa Kanya bisa tiba-tiba datang ke diskotik itu tadi malam.

"Mbak Chintya, Mbak? Halo?!" teriak Kanya dengan gelisah. Ia benar-benar ketakutan dan kebingungan. Chintya harus mengatakan sesuatu. Paling tidak…sebuah alasan.

"Iya, Kanya? Kenapa?"

"Mbak, Mbak bilang nggak apa-apa kalo saya minum sedikit dan mabuk…supaya saya bisa nyatain perasaan saya dengan baik, ta—tapi, Mbak…kenapa semua ini terjadi?!!! Mbak bohongin saya, ya?! Mbak, ini bukan candaan. Saya dan Pak Gavin dipecat, Mbak… Kami—"

Kanya mendengar Chintya tertawa. Ia kontan terperanjat.

"Tenang, Kanya...itu udah bener kok. Itu emang kemauan aku. Ya kalo kamu ngerasa itu salah, siapa suruh kamu gampang dibodohi?"

Tubuh Kanya mematung. Gadis itu menutup mulutnya yang terbuka dengan sebelah tangannya.

 

Ia ternyata dibohongi. Ia diperalat.

 

"Mbak nggak boleh kayak gini! Mbak udah ngebohongin saya! Ini—"

Panggilan telepon itu dimatikan oleh Chintya. Napas Kanya serasa terhenti. Kanya menekan-nekan layar ponselnya dengan membabi buta, panik, dan putus asa. Saat menyadari bahwa semua itu percuma, ponsel Kanya terjatuh begitu saja karena tangannya bergetar. Kanya langsung duduk dengan kaki terlipat, menyandarkan kepalanya pada lututnya...lalu menangis.

Kanya terlalu polos…dan kepolosan itu membuatnya bodoh.

Membuatnya berada dalam masalah besar.

Kanya berada dalam posisi seperti itu selama beberapa menit…hingga kemudian Kanya sadar bahwa ada orang yang melangkah ke arahnya. Ketukan sepatu itu membuat Kanya menoleh ke atas dengan lemas.

 

Itu... Gavin...

 

Kanya melihat ke belakang Gavin dan ternyata ada Revan juga di sana. Kanya langsung menunduk. Ia pantas dihukum. Ia sudah siap dihukum.

Kanya mendekati kaki Gavin untuk meminta maaf, tetapi Gavin langsung menarik tangan gadis itu. Kanya terkesiap, begitu pula Revan. Gavin menarik Kanya hingga gadis itu berdiri, kemudian membawa gadis itu pergi dari sana dengan cepat.

Revan langsung berlari menyusul Gavin tanpa berpikir dua kali. Sialan, apa yang akan Gavin lakukan? Gavin benar-benar membawa Kanya hingga ke luar perusahaan!

 

******

 

Talitha membuka pintu rumahnya saat mendengar bel berbunyi sebanyak dua kali. Saat pintu itu terbuka, Talitha kaget melihat Gavin sedang memegang tangan seorang perempuan yang tak Talitha kenal. Ada Revan di belakang mereka.

"Bang—" Ucapan Talitha terpotong karena Gavin langsung masuk membawa perempuan itu. Revan ikut masuk dan Talitha bertanya 'Ada apa' pada Revan melalui tatapannya. Revan hanya menghela napas dan mengedikkan bahu.

Talitha mulai merasa ada yang salah. Talitha berbalik ketika Gavin berteriak memanggil kedua orangtua mereka yang kebetulan sudah ada di rumah.

Kedua orangtua mereka datang ke ruang tamu seraya menyatukan akis. Mereka berdua panik mendengar teriakan Gavin yang terdengar…gelisah.

"Ada apa? Kenapa kamu teriak-teriak?" tanya Papa dengan penuh selidik.

"Kenapa, Vin?" tanya mamanya.

Gavin menarik napasnya dalam. Ya, inilah yang harus dia lakukan. Bagaimanapun juga, dia telah...merusak kesucian seorang gadis…meskipun ia tak ingat kejadiannya sama sekali. Masa bodoh dengan semua itu, yang jelas, tadi pagi ia berada di ranjang yang sama dengan Kanya. Tanpa pakaian. Ia hanya berpikir, bagaimana jika Talitha, adiknya, dinodai seperti itu? Itu membuatnya tak berpikir dua kali dalam menetapkan keputusan. Dia akan bertanggung jawab. Meskipun ini adalah jebakan…ia dan Kanya sudah tidur bersama di hotel tadi malam.

"Ma, Pa, maafin Gavin," ujar Gavin, menunduk penuh penyesalan. Hari ini, dia benar-benar sudah mengecewakan kedua orangtuanya. Dia sangat menyesali semuanya. Ia tak mau kedua orangtuanya kecewa padanya. Akan tetapi, inilah yang terbaik.

Gavin kemudian melanjutkan, "Gavin dipecat dari kantor. Gavin...dipecat karena udah ngelakuin hal yang nggak senonoh ke cewek ini." Gavin menunjukkan Kanya di depan kedua orangtuanya. Semua orang kaget, sementara Revan menunduk. Mata Revan memerah menahan tangis karena dialah yang membawa Gavin masuk ke diskotik itu. Revan juga sangat bersalah dalam hal ini.

"Izinin Gavin buat nikahin cewek ini," lanjut Gavin kemudian. Ini membuat mamanya hampir jatuh karena shock. Wajah papanya memucat. Talitha membulatkan mata.

 

Abangnya…melakukan hal tak senonoh?

Dipecat?

 

Mengapa semuanya jadi porak-poranda dalam waktu singkat? Jadi, inilah sebabnya Gavin tidak pulang tadi malam?

Gavin pasti dipecat oleh Deon. Sesungguhnya, Talitha tak paham dengan apa yang terjadi, tetapi Talitha ingin bertemu Deon sekarang juga. Paling tidak, pasti ada sesuatu yang terjadi! Gavin bukanlah pria berengsek yang mau menodai perempuan!

Kemarin…Gavin masih abangnya yang segar dan cerewet seperti biasa. Ya Tuhan, apa yang terjadi sebenarnya?

 

******

 

Chintya bersyukur kedua orangtuanya sedang keluar saat ini. Ketika Deon menghubunginya setengah jam yang lalu dan bilang akan datang ke rumahnya, Chintya senang bukan kepalang.

Sekarang, Deon pasti ingin bercerita soal Gavin kepadanya. Pasti Deon sangat marah dan kecewa, lalu memutuskan untuk tidak lagi berhubungan dengan Talitha. Chintya tahu itu. Chintya benar-benar hafal siapa Deon. Deon pasti marah bukan main.

 

Sekarang, kamu pasti tau kalo akulah yang patut kamu percayai, Deon. Akulah yang pantas bersama kamu.

Mereka nggak ngehargai kamu, sedangkan aku? Aku ngehargai kamu. Aku cinta sama kamu.

 

Saat mendengar bel berbunyi, Chintya berjalan ke pintu depan rumahnya dengan senyum puas dan langkah yang riang. Itu pasti Deon. Ah, dia senang sekali.

"Iya, Deon, tunggu sebentar!" teriaknya. Saat pintu itu terbuka, Chintya masih tersenyum riang. Wajahnya seakan-akan bercahaya. Namun, senyum itu perlahan memudar saat ia melihat Deon menatapnya dengan tatapan yang sangat mengerikan. Deon—Deon bahkan memelototinya saat ini! Mata Deon menggelap, seolah-olah ditutupi oleh kabut hitam. Pria itu mengintimidasi Chintya. Rahangnya mengetat. Chintya melebarkan matanya.

"Deon, kenap—"

Deon langsung mendorong tubuh Chintya hingga Chintya terjatuh menghantam lantai. Chintya memekik, gadis itu menatap Deon dengan takut. Dia menggeleng. "Deon—Deon—"

"DIAM!!!!" bentak Deon. Pria itu langsung membungkuk dan menarik tangan Chintya, membuat Chintya berdiri kembali. Dia mencengkeram lengan Chintya hingga gadis itu mengaduh kesakitan.

Jujur saja, Chintya tak pernah melihat sisi Deon yang seperti ini!

"JANGAN BERTINGKAH SEOLAH-OLAH KAMU NGGAK TAU APA-APA!!" teriak Deon. Wajah Chintya memucat.

“Deon—"

“Kamu masih mau bertingkah polos?" tanya Deon sarkastis. Chintya terperanjat.

"Deon, apa maksud kamu? Aku nggak ngerti, Deon! Ayo kita bicara du—"

"KAMU ITU SATU-SATUNYA PEREMPUAN YANG KUPERCAYA SEJAK MAMAKU KHIANATIN AKU! TAPI TERNYATA KAMU SAMA AJA!!"

Chintya membatu. Deon—mengapa Deon memarahinya seperti ini?

Wajah Deon mendekati wajah Chintya; Deon menggertakkan giginya. "Masih nggak mau ngaku?”

Chintya meneguk ludah. Tatapannya mengandung ketakutan yang luar biasa.

"KAMULAH PELAKU DI BALIK SEMUA INI! KAMU YANG JEBAK GAVIN DAN NARUH OBAT ITU DI MINUMANNYA!! APA MAKSUD KAMU, CHINTYA?!!” bentak Deon. Ludah Chintya seolah-olah mengering saat mengetahui bahwa dirinya tersudut.

Deon sudah mengetahui segalanya.

Akan tetapi, karena tak ingin menyerah, Chintya buru-buru menggeleng. "Deon, aku ngelakuin ini karena mereka nggak baik buat kamu! Aku juga nggak ada—"

"AKU NGGAK NGIZININ KAMU BICARA!!!" bentak Deon lagi. Pria itu mengempaskan tubuh Chintya lagi ke lantai hingga Chintya menjerit kesakitan. Ini bukan Deon! Deon tak pernah seperti ini padanya! Deon selalu baik padanya!!

Deon memelototi Chintya. "Kamu ternyata bohong sama aku. Kamu nggak jadi dirimu sendiri waktu sama aku. Aku kenal kamu sebagai perempuan yang polos dan baik, tapi ternyata, di belakangku…kamu adalah seorang penjahat! KAMU GILA!!"

Chintya menangis. Dengan cepat, dia berdiri dan mendekati Deon, tetapi Deon kembali mendorongnya dengan keras.

Itu benar. Chintya ada di diskotik itu. Menyamarkan dirinya dengan baik di balik topi dan rambut panjangnya. Ia menaruh obat itu ketika Kanya sedang menumpukan kepalanya di meja sementara Gavin sedang menoleh ke belakang untuk mencari keberadaan Revan.

Chintya...melakukan semua itu sendiri.

Deon menggeleng tak percaya.

"Aku nggak habis pikir, ternyata akulah yang bodoh selama ini. Aku percaya sama kamu, orang yang jelas-jelas udah ngebohongin aku belasan tahun. Aku terus-menerus kehilangan sesuatu yang berharga!!!!" teriak Deon sembari menatap Chintya dengan keji. Chintya menunduk, rambutnya terurai dan berantakan hingga menutupi wajah cantiknya.

Deon mendongak dan berkacak pinggang. Napasnya terengah, tak beraturan. Ia masih bersyukur ia tidak benar-benar memukul Chintya. Beberapa kejadian akhir-akhir ini sudah membuatnya sadar bahwa sifat buruknya itu hanya akan menuntunnya ke jalan yang salah.

Deon kembali menatap Chintya. "Kukira, selama ini kata sayang yang kamu bilang ke aku itu ternyata—" Deon berhenti, menggeleng, dan mengacak rambutnya frustrasi. Pria itu mengembuskan napasnya yang mulai terasa sesak.

"Detik ini juga, aku bakal kasih jawaban aku ke kamu. Aku nggak cinta sama kamu, Chintya. Nggak ada lagi rasa sayang buat kamu. AKU KECEWA SAMA KAMU!!" teriak Deon.

Chintya langsung membulatkan matanya dan mendongak demi menatap Deon. Dia buru-buru berdiri, tetapi Deon langsung membentaknya.

"Jangan deketin aku!! Aku males liat muka kamu!!! SULIT BAGI AKU BUAT MAAFIN KAMU!! Kamu udah bikin aku keliatan bodoh. Kamu bikin aku jadi marahin Talitha di parkiran itu, kamu jugalah yang jebak Gavin. Aku ngerasa bersalah banget sama keluarga mereka!!! Apa yang kamu lakukan ini justru ngebuktiin kalo kamu sendirilah yang buruk!! Kamu nggak bisa ngebandingin diri kamu sama Talitha. Dialah yang ngajarin aku untuk berhenti benci sama Mama. Dia jugalah yang bilang kalo aku terus kayak gini, aku bakal kehilangan segalanya. Dia bener!!! Kamu nggak berhak ngehina dia di depanku!! Aku ngebelain kamu waktu itu dan malah marahin dia, tapi ternyata akulah yang dibodohi sama kamu!!"

Chintya merasa telinganya panas mendengar pujian-pujian untuk perempuan bernama Talitha itu. Sudah cukup! Chintya mulai menggeram. Tak ayal, Chintya langsung berteriak, "KAMU NGGAK TAU BETAPA CINTANYA AKU KE KAMU, DEON!! Aku ngelakuin ini semua karena aku cinta sama kamu!!!!"

"AKU NGGAK CINTA SAMA KAMU!! AKU JUGA UDAH NGGAK PERCAYA SAMA KAMU!!!" balas Deon. “Yang kucintai itu adalah Talitha. Selamanya cuma dia. Kebaikan dan ketulusan hati dia sukses ngalahin semua yang kamu punya. Aku nggak bakal biarin siapa pun ngelukain dia, termasuk kamu.”

Chintya membeliakkan mata. Air mata jatuh dengan deras ke pipinya. Semuanya jadi blank. Pandangan matanya mengabur.

Chintya hanya bisa menangis tersedu-sedu, menarik lengan Deon dan mengemis kepada Deon untuk mendengarkannya...tetapi Deon langsung menolak dan menghempaskannya. Gadis itu terduduk di lantai dan memandangi punggung tegap Deon yang meninggalkannya begitu saja.

Dia meremas rambut indahnya dengan frustrasi. Mengerang…lalu menangis sejadi-jadinya. []

 














******














 

No comments:

Post a Comment

My Friend's Father (Chapter 5: Wealthy and Powerful Man)

  ****** Chapter 5 : Wealthy and Powerful Man   ******   PONSEL berwarna hitam yang ada di atas meja itu berbunyi, pertanda ada se...