Thursday, December 25, 2025

Simple-Shot (The Town on a Rainy Night)

 


******

Simple-Shot Four :

The Town on a Rainy Night

 

******

 

DI BALIK jendela kamar apartemen yang tinggi itu, hujan turun dengan deras. Suaranya terdengar cukup menderu di dalam kamar meski sebenarnya itu adalah apartemen mewah yang dindingnya tebal. Gorden jendela kamar itu setengah tertutup, memperlihatkan langit malam yang gelap di luar sana. Hujan deras membuat pemandangan di balik jendela jadi tidak jelas, tertutupi garis-garis hujan dan kilat yang sesekali muncul. Lampu-lampu—dari gedung pencakar langit—di luar sana pun jadi terlihat seperti lingkaran-lingkaran cahaya yang buram.

            Meski buram, lingkaran cahaya itu cukup membantu penerangan di dalam kamar. Satu-satunya lampu yang hidup di kamar itu adalah lampu meja. Cahayanya cukup redup, berwarna krem, seperti lampu tidur.

Junghoon berdiri di depan jendela. Kesunyian di kamar itu terasa menekan; ada sesuatu yang mengganjal di udara. Jika tak ada suara hujan dari luar, situasi itu mungkin akan terasa mencekik. Seolah-olah kamar itu sedang menunggu seseorang pingsan lebih dahulu. Menahan napas jadi sesuatu yang…wajar dilakukan. Bukan karena ingin, melainkan karena paru-paru seperti lupa caranya bekerja dengan santai.

 

“Aku baru saja bertemu dengannya tadi sore.”

 

Junghoon menoleh ke belakang. Itu adalah suara seorang wanita. Wanita yang dari tadi sudah ada di kamar itu, bersamanya. Sejak mereka berada di kamar ini tiga menit yang lalu, kalimat itulah yang pertama kali wanita itu ucapkan.

Junghoon bergerak, sedikit berbalik demi menghadap ke arah wanita itu. Dilihatnya wanita itu duduk di sofa; cahaya dari lampu meja sukses menerangi wanita itu.

“Sore?” tanya Junghoon. Kening pria itu berkerut samar.

Wanita itu mengangguk pelan. Dia menunduk, lalu tersenyum pahit. “Iya.”

Ada jeda selama dua detik. Dua detik yang menyiksa; dua detik yang mencekik. Entah karena seseorang sedang mencerna…atau karena memikirkan kata-kata seperti apa yang kiranya cukup…netral untuk menimpali itu.

“Perjalanan dari rumahmu ke sini cukup jauh, Hyejin.” Junghoon akhirnya membuka suara. Kerutan di dahinya masih terlihat samar. “Orangtuamu tidak marah?”

Hyejin menggeleng. “Aku sempat pulang tepat waktu sebelum mereka berangkat. Saat Ibu masih berdandan. Yah, sedikit diomeli, sih.”

Junghoon menghela napas. “Berarti, kau pulang terlalu sore.”

Hyejin menatap Junghoon, lalu tertawa kecil. Pelan sekali. “Iya. Katanya, seharusnya aku ingat bahwa hari ini kami akan makan malam di rumahmu, bersama keluargamu. Katanya, aku harus berdandan cantik-cantik.”

Junghoon memperhatikan penampilan Hyejin. Wanita itu memakai halter top berwarna putih tulang dan high waist pants yang berwarna sama. Rambut cokelatnya ditata dengan gaya half up, sedikit bergelombang di bagian bawah.

Hyejin sudah terlihat cantik.

Namun, mengingat ibunya Hyejin cukup keras kepala soal keyakinan ‘feminin = dress’, mungkin dia ingin Hyejin memakai dress malam ini. Junghoon ingat kalau ibunya Hyejin juga memakai dress berwarna hijau tua di depan sana. Di ruang makan apartemen Junghoon. Kedua orangtua mereka—orangtua Junghoon dan Hyejin—masih asyik mengobrol di meja makan meskipun sudah selesai makan malam.

Junghoon dan Hyejin memilih untuk memisahkan diri (disuruh juga, sih, sebenarnya) untuk berbicara berdua. Well, Junghoon pun tak ada bedanya. Pria itu juga memakai pakaian yang cukup formal malam ini. Kemeja krem dan celana chinos.

Ujung-ujungnya, Junghoon tak merespons apa-apa. Kata-kata Hyejin hanya menggantung di udara selama beberapa detik lamanya.

Junghoon mulai menatap Hyejin dengan lekat. Cukup lama dia berpikir dalam diamnya: memikirkan apa yang harus dia katakan.

Setelah cukup yakin, matanya pelan-pelan mulai menyipit. Membuat pandangannya semakin terfokus pada Hyejin.

Akhirnya, dia pun membuka suara.

 

“Jadi, apa yang terjadi tadi sore?”

 

Kedua mata Hyejin spontan melebar.

Namun, dua detik kemudian, kelopak mata wanita itu pelan-pelan turun. Dia menunduk.

“Perusahaanku…sedang ada acara. Dia datang di acara itu,” jawab Hyejin.

“Kau tahu bukan itu yang kutanyakan,” ujar Junghoon. “Dia adalah ketua timmu, jadi wajar dia ada di sana.”

Mata Hyejin bergetar. Tatapannya mulai sendu.

Akhirnya, sambil tersenyum tipis, Hyejin pun menjawab.

“Kami sempat berbicara berdua,” katanya. “dan dia bilang…dia merasakan hal yang sama.”

Junghoon terdiam. Mulutnya sedikit terbuka. Namun, tidak, dia belum merespons. Dia masih menunggu apa yang selanjutnya akan Hyejin katakan meskipun tak ada jaminan bahwa Hyejin akan menjelaskan lebih jauh.

Junghoon juga…tak mau salah berkomentar. Biar bagaimanapun juga, Hyejin adalah temannya dari kecil. Mereka sudah lama kenal, orangtua mereka juga sangat dekat, meskipun pertemuan mereka tidak sesering dahulu karena Junghoon tidak bekerja di tempat yang sama dengan Hyejin. Dia punya perusahaan startup-nya sendiri.

Untungnya, Hyejin melanjutkan perkataannya setelah diam selama beberapa detik.

“Selama ini, kukira…cintaku bertepuk sebelah tangan. Dia sempat menolakku, tetapi aku masih menyukainya,” kata Hyejin. Matanya berkaca-kaca. Di dalam tatapan mata itu, terkandung memori yang berarti baginya. “Namun, ternyata…dia bilang, lama-lama dia juga suka padaku. Dia menyatakan perasaannya padaku tadi sore.”

Jeda lagi.

Sunyi lagi.

Penjelasan itu menggantung di udara lagi.

Hanya ada suara hujan…dan petir yang sesekali terdengar di kamar itu. Kilatnya pun sesekali masuk, membuat kamar itu jadi terang selama satu detik. Di detik itulah, Junghoon dapat melihat Hyejin dengan jelas.

Hyejin…yang sedang tersenyum pahit seraya menghapus air matanya.

Junghoon tak mampu berkata apa-apa. Dia tahu, sudah lama tahu, bahwa Hyejin jatuh cinta pada Minjae.

Biasanya, Junghoon akan menjadi pendengar yang baik. Dia akan menghela napas, lalu tersenyum tipis pada Hyejin. Mengatakan kalimat singkat seperti, “Sabar dulu. Mungkin butuh waktu.”

Namun, kali ini, bak ada sebuah batu yang terempas ke dadanya. Batu itu kemudian menekan dadanya. Tidak tajam, tetapi berat. Seperti beban yang membuat paru-parunya tak bisa mengembang penuh.

Mungkin, batu itu adalah konkretisasi dari pembatasan yang ia buat di dalam dirinya. Di satu sisi, ia tak ingin memberikan respons yang salah pada Hyejin. Namun, di sisi lain, ia sadar kalau kali ini…ia harus merespons.

Setelah segala kekacauan itu berkecamuk di dalam benaknya, ujung-ujungnya…

 

Batu itu pecah.

 

Dia pun menatap Hyejin dengan intens.

Tangannya…pelan-pelan terkepal.

 

Setelah itu, akhirnya…

…suaranya terdengar.

Di dalam kegelapan kamar itu. Di antara suara hujan.

Sangat jelas. Dalam. Bersungguh-sungguh.

 

“Jadi…apa jawabanmu padanya?” tanyanya.

Ada jeda selama sepersekian detik. Lumayan lama, tetapi tak cukup cepat untuk Hyejin sempat merespons.

Setelah itu, dia pun melanjutkan.

 

“Kau tahu bahwa besok kita akan menikah, Hyejin.” []

 




















******






No comments:

Post a Comment

My Friend's Father (Chapter 5: Wealthy and Powerful Man)

  ****** Chapter 5 : Wealthy and Powerful Man   ******   PONSEL berwarna hitam yang ada di atas meja itu berbunyi, pertanda ada se...