Simple-Shot
Four :
The
Town on a Rainy Night
******
DI
BALIK jendela kamar apartemen yang tinggi itu, hujan turun
dengan deras. Suaranya terdengar cukup menderu di dalam kamar meski sebenarnya
itu adalah apartemen mewah yang dindingnya tebal. Gorden jendela kamar itu setengah
tertutup, memperlihatkan langit malam yang gelap di luar sana. Hujan deras membuat
pemandangan di balik jendela jadi tidak jelas, tertutupi garis-garis hujan dan
kilat yang sesekali muncul. Lampu-lampu—dari gedung pencakar langit—di luar
sana pun jadi terlihat seperti lingkaran-lingkaran cahaya yang buram.
Meski buram, lingkaran cahaya itu
cukup membantu penerangan di dalam kamar. Satu-satunya lampu yang hidup di
kamar itu adalah lampu meja. Cahayanya cukup redup, berwarna krem, seperti
lampu tidur.
Junghoon
berdiri di depan jendela. Kesunyian di kamar itu terasa menekan; ada sesuatu
yang mengganjal di udara. Jika tak ada suara hujan dari luar, situasi itu
mungkin akan terasa mencekik. Seolah-olah kamar itu sedang menunggu seseorang
pingsan lebih dahulu. Menahan napas jadi sesuatu yang…wajar dilakukan. Bukan
karena ingin, melainkan karena paru-paru seperti lupa caranya bekerja dengan
santai.
“Aku
baru
saja bertemu dengannya tadi sore.”
Junghoon
menoleh ke belakang. Itu adalah suara seorang wanita. Wanita yang dari tadi
sudah ada di kamar itu, bersamanya. Sejak mereka berada di kamar ini tiga menit
yang lalu, kalimat itulah yang pertama kali wanita itu ucapkan.
Junghoon
bergerak, sedikit berbalik demi menghadap ke arah wanita itu. Dilihatnya wanita
itu duduk di sofa; cahaya dari lampu meja sukses menerangi wanita itu.
“Sore?”
tanya Junghoon. Kening pria itu berkerut samar.
Wanita
itu mengangguk pelan. Dia menunduk, lalu tersenyum pahit. “Iya.”
Ada
jeda selama dua detik. Dua detik yang menyiksa; dua detik yang mencekik. Entah
karena seseorang sedang mencerna…atau karena memikirkan kata-kata seperti apa
yang kiranya cukup…netral untuk menimpali itu.
“Perjalanan
dari rumahmu ke sini cukup jauh, Hyejin.” Junghoon akhirnya membuka suara.
Kerutan di dahinya masih terlihat samar. “Orangtuamu tidak marah?”
Hyejin
menggeleng. “Aku sempat pulang tepat waktu sebelum mereka berangkat. Saat Ibu
masih berdandan. Yah, sedikit diomeli, sih.”
Junghoon
menghela napas. “Berarti, kau pulang terlalu sore.”
Hyejin
menatap Junghoon, lalu tertawa kecil. Pelan sekali. “Iya. Katanya,
seharusnya aku ingat bahwa hari ini kami akan makan malam di rumahmu, bersama
keluargamu. Katanya, aku harus berdandan cantik-cantik.”
Junghoon
memperhatikan penampilan Hyejin. Wanita itu memakai halter top berwarna
putih tulang dan high waist pants yang berwarna sama. Rambut cokelatnya
ditata dengan gaya half up, sedikit bergelombang di bagian bawah.
Hyejin
sudah terlihat cantik.
Namun,
mengingat ibunya Hyejin cukup keras kepala soal keyakinan ‘feminin = dress’,
mungkin dia ingin Hyejin memakai dress malam ini. Junghoon ingat
kalau ibunya Hyejin juga memakai dress berwarna hijau tua di depan sana.
Di ruang makan apartemen Junghoon. Kedua orangtua mereka—orangtua Junghoon dan
Hyejin—masih asyik mengobrol di meja makan meskipun sudah selesai makan malam.
Junghoon
dan Hyejin memilih untuk memisahkan diri (disuruh juga, sih, sebenarnya) untuk
berbicara berdua. Well, Junghoon pun tak ada bedanya. Pria itu juga
memakai pakaian yang cukup formal malam ini. Kemeja krem dan celana chinos.
Ujung-ujungnya,
Junghoon tak merespons apa-apa. Kata-kata Hyejin hanya menggantung di udara
selama beberapa detik lamanya.
Junghoon
mulai menatap Hyejin dengan lekat. Cukup lama dia berpikir dalam diamnya: memikirkan
apa yang harus dia katakan.
Setelah
cukup yakin, matanya pelan-pelan mulai menyipit. Membuat pandangannya semakin
terfokus pada Hyejin.
Akhirnya,
dia pun membuka suara.
“Jadi, apa
yang terjadi tadi sore?”
Kedua
mata Hyejin spontan melebar.
Namun,
dua detik kemudian, kelopak mata wanita itu pelan-pelan turun. Dia menunduk.
“Perusahaanku…sedang
ada acara. Dia datang di acara itu,” jawab Hyejin.
“Kau
tahu bukan itu yang kutanyakan,” ujar Junghoon. “Dia adalah ketua timmu, jadi wajar
dia ada di sana.”
Mata
Hyejin bergetar. Tatapannya mulai sendu.
Akhirnya,
sambil tersenyum tipis, Hyejin pun menjawab.
“Kami
sempat berbicara berdua,” katanya. “dan dia bilang…dia merasakan hal yang sama.”
Junghoon
terdiam. Mulutnya sedikit terbuka. Namun, tidak, dia belum merespons.
Dia masih menunggu apa yang selanjutnya akan Hyejin katakan meskipun tak ada
jaminan bahwa Hyejin akan menjelaskan lebih jauh.
Junghoon
juga…tak mau salah berkomentar. Biar bagaimanapun juga, Hyejin adalah temannya
dari kecil. Mereka sudah lama kenal, orangtua mereka juga sangat dekat,
meskipun pertemuan mereka tidak sesering dahulu karena Junghoon tidak bekerja
di tempat yang sama dengan Hyejin. Dia punya perusahaan startup-nya
sendiri.
Untungnya,
Hyejin melanjutkan perkataannya setelah diam selama beberapa detik.
“Selama
ini, kukira…cintaku bertepuk sebelah tangan. Dia sempat menolakku,
tetapi aku masih menyukainya,” kata Hyejin. Matanya berkaca-kaca. Di dalam
tatapan mata itu, terkandung memori yang berarti baginya. “Namun, ternyata…dia
bilang, lama-lama dia juga suka padaku. Dia menyatakan perasaannya padaku tadi
sore.”
Jeda
lagi.
Sunyi
lagi.
Penjelasan
itu menggantung di udara lagi.
Hanya
ada suara hujan…dan petir yang sesekali terdengar di kamar itu. Kilatnya pun sesekali
masuk, membuat kamar itu jadi terang selama satu detik. Di detik itulah,
Junghoon dapat melihat Hyejin dengan jelas.
Hyejin…yang
sedang tersenyum pahit seraya menghapus air matanya.
Junghoon
tak mampu berkata apa-apa. Dia tahu, sudah lama tahu, bahwa Hyejin jatuh
cinta pada Minjae.
Biasanya,
Junghoon akan menjadi pendengar yang baik. Dia akan menghela napas, lalu
tersenyum tipis pada Hyejin. Mengatakan kalimat singkat seperti, “Sabar
dulu. Mungkin butuh waktu.”
Namun,
kali ini, bak ada sebuah batu yang terempas ke dadanya. Batu itu kemudian menekan
dadanya. Tidak tajam, tetapi berat. Seperti beban yang membuat
paru-parunya tak bisa mengembang penuh.
Mungkin,
batu itu adalah konkretisasi dari pembatasan yang ia buat di dalam dirinya. Di
satu sisi, ia tak ingin memberikan respons yang salah pada Hyejin. Namun, di
sisi lain, ia sadar kalau kali ini…ia harus merespons.
Setelah
segala kekacauan itu berkecamuk di dalam benaknya, ujung-ujungnya…
Batu
itu pecah.
Dia
pun menatap Hyejin dengan intens.
Tangannya…pelan-pelan
terkepal.
Setelah
itu, akhirnya…
…suaranya
terdengar.
Di
dalam kegelapan kamar itu. Di antara suara hujan.
Sangat
jelas. Dalam. Bersungguh-sungguh.
“Jadi…apa
jawabanmu padanya?” tanyanya.
Ada
jeda selama sepersekian detik. Lumayan lama, tetapi tak cukup cepat untuk
Hyejin sempat merespons.
Setelah
itu, dia pun melanjutkan.
“Kau
tahu bahwa besok kita akan menikah, Hyejin.” []


No comments:
Post a Comment