Bab
18 :
Dialah
Kegelapan Itu
******
MATA Gerald
menatap Aldo dengan saksama. Aldo duduk di seberangnya dengan ekspresi yang
serius. Tak pula lenyap dari kepala Gerald apa yang baru saja Aldo katakan
padanya dua detik yang lalu.
"Nak."
Gerald menghela napas. "Buat apa kamu nanyain itu?"
"Papa
cukup jelasin aja," ujar Aldo sembari menyipitkan mata. "Aku nggak
main-main, Pa."
Iya. Gerald
paham. Gerald lebih paham daripada apa pun. Kejadian kemarin telah membuat
mimpi buruk Gerald kembali menguak ke permukaan. Gerald menunduk; pria paruh
baya itu menghela napas berat. Dia lalu mengangkat wajahnya untuk menatap Aldo,
satu-satunya harta paling berharga yang ditinggalkan istri pertamanya dahulu
untuknya.
"Donovan
melukaimu, Nak," ujar Gerald. "Papa nggak mau kasih pengobatan buat bajingan
itu. Lagi pula, dia udah masuk penjara sebelum dia menderita gangguan jiwa.
Papa tolak saran dokter buat mindahin dia ke rumah sakit jiwa, apalagi katanya
dia nggak ngebahayain siapa pun di kantor polisi."
Jeda
sejenak…lalu Gerald pun melanjutkan, "Alasan kenapa dia dibiarin di dalam
penjara yang kayak gitu…itu juga Papa yang atur. Dia nggak akan hidup enak
setelah nyakitin anak Papa. Dia beda sama mama kandung kamu,
jadi ini nggak ada hubungannya dengan mama kamu. Papa mau dia nerima hukuman
yang seberat mungkin; paling nggak, hukumannya harus sebanding dengan
apa yang kita terima. Jangan lupain soal apa yang terjadi sama
kamu setelah penculikan itu, Aldo. Papa bukan malaikat yang bisa
maafin orang yang udah ngebahayain nyawa kamu. I will protect you even
if it costs me my life. Understand?"
"Aku
nggak nyuruh Papa buat mindahin dia. Aku cuma mau tau," ujar Aldo sembari
mengepalkan tangannya. "Cukup masalah Donovan. Aku punya satu hal
lagi yang harus Papa jawab. Satu hal yang selama ini nggak pernah kutanyain."
Gerald
menatap Aldo dengan mata menyipit; dia waswas. Apa pun itu, Gerald hanya takut
sesuatu kembali terjadi pada Aldo jika jawabannya adalah pemicu trauma Aldo. Bagaimanapun
juga, apa yang Aldo tanyakan pastilah menyangkut kejadian itu…atau menyangkut
sesuatu yang lain.
Sisi
gelap Aldo, misalnya.
Soalnya,
demi apa pun…Gerald ingin tahu lebih dalam tentang sisi itu.
Ada
jeda tiga detik sebelum Aldo berbicara lagi. Namun, tiga detik itu serasa lama
sekali. Hingga akhirnya…Aldo pun membuka suara.
"Ceritain
ke aku gimana awalnya Papa ketemu Kak Sandi."
Mata
Gerald membeliak.
Nyatanya,
Aldo masih memanggil Sandi dengan embel-embel 'Kakak'. Jika yang berada di
hadapan Gerald sekarang adalah sisi gelap Aldo, takkan ada embel-embel 'Kak' di
sana. Namun, bukan. Bukan itu yang membuat Gerald kaget.
Pertanyaan
Aldolah yang membuatnya kaget.
Itu
adalah awal dari segalanya.
"Aldo..."
"Tell
me, Dad," tekan Aldo. Pemuda itu menatap Gerald
dengan fokus.
Setelah
dua detik lamanya memperhatikan wajah Aldo, Gerald sadar bahwa wajah tampan anak
itu jadi semakin mirip dengan wajah istrinya dahulu.
Mata
Gerald berkaca-kaca. Awal dari semua itu adalah wajah murung Aldo, wajah kecil
yang tidak bahagia saat hidup bersama Gerald. Gerald hanya ingin semuanya
berjalan lancar; dia hanya ingin Aldo bahagia...
But
who knew it would all end up like this?
Ia
malah semakin memorak-porandakan kehidupan Aldo.
Ia salah. Ia
jugalah yang membuat Sandi jadi seperti itu.
Mungkin, mungkin
saja, semua ini salahnya. Ialah akar dari semua ini.
Gerald
menghapus air mata yang entah sejak kapan sudah mengalir ke pipinya. Ia lalu
menatap Aldo lurus-lurus meskipun dadanya terasa berat.
"Hari
itu..." Gerald melipat bibirnya sejenak lalu
bernapas singkat sebelum bercerita. "Kamu tau kalo waktu itu, Papa ada
perjalanan bisnis ke Indonesia. Papa…cuma baru pulang dari meeting. Nggak
kayak biasanya, waktu itu sopir Papa lewat di jalan kecil pas perjalanan
pulang. Abis itu...Papa liat ada dua orang anak…di pinggir jalan."
Mata
Aldo menyipit. Dahinya berkerut. "Salah satu dari mereka itu lututnya luka.
Yang satunya keliatan lagi usaha buat bantu anak yang terluka itu, ngerangkul
anak itu biar bisa jalan," ujar Gerald. "Anak yang
berusaha buat ngerangkul temannya itu adalah..."
Gerald
diam sejenak.
"...Sandi."
Aldo
terus menyimak. Ia seolah-olah ingin cerita itu terus berlanjut tanpa jeda…sampai ia
menemukan sesuatu yang mungkin bisa menjadi 'sebab' atas semua kelakuan
Sandi, agar ia tak perlu memiliki kontradiksi di dalam kepalanya.
Aldo
selalu bisa membaca sifat orang lain melalui mata, setidaknya seperti
itu, jadi Aldo sebenarnya tahu kalau kebaikan Sandi itu bukanlah kebohongan.
Maka dari itu, Aldo diserang dengan keraguan dan kegelisahan yang luar biasa,
sampai-sampai itu semua menggunung, membesar, dan sekarang jadi menguasai dirinya.
Kebaikan
kakaknya itu benar. Namun, apa maksud ekspresi senang yang ditunjukkan kakaknya
itu waktu Aldo diculik?
Apa
yang salah? Apa yang janggal? Apa yang tidak Aldo ketahui?
Gerald
pun melanjutkan perkataannya meski matanya sayu saat kembali mengingat masa
lalu itu, "Papa keluar dari mobil dan nolongin mereka. Mereka bilang,
mereka tinggal di panti asuhan terdekat, jadi Papa pergi ke panti asuhan itu
buat nganterin mereka. Namun, Aldo… Kamu pasti sadar kalo Sandi…bukanlah anak
biasa."
Aldo
diam. Rahang Aldo mengetat.
Aldo
tahu itu. Dia sangat tahu, lebih dari apa pun.
Demi
Tuhan, hal itulah yang membuat keraguan selalu menghantui Aldo. To
the point where he felt disgusted, accompanied by fear and anxiety.
Gerald
tersenyum lembut dan kembali bercerita, "Sepanjang jalan, Papa terkesima
dengan caranya memandang dunia. Papa kagum anak sepertinya bisa membuat Papa
berpikir lebih luas tentang kehidupan di sekeliling kita. Dia seperti malaikat…dan
juga seperti matahari. Dia juga polos dan bersemangat."
Aldo
juga tahu itu.
Namun
ketahuilah, semakin bercahaya orang di sekitarmu, semakin sadar engkau akan
kegelapanmu. Dan semakin ingin kau lari dari kegelapanmu itu untuk menjadi sebuah
cahaya.
Hal
itulah yang membuat Aldo berubah, ingin mengikuti saran Sandi. Tersenyum tulus,
menghadapi hari-hari dengan santai dan ceria, memandang dunia dengan cara yang
lebih terbuka dan menerima diri kita apa adanya. Meski dengan diri Aldo yang
muram, Aldo ingin berubah dan lebih berani menghadapi dunia. Bukan untuk
menjadi Sandi, melainkan menjadi dirinya sendiri, mencari warnanya dan
cahayanya sendiri. Dia mempercayai kalimat Sandi. Sandi, yang tampak seperti
sinar matahari yang menyinari bunga-bunga di taman, membuat bunga-bunga itu
tampak indah...
Namun
ternyata, tidak ada manusia yang benar-benar seperti cahaya. Semua orang
memiliki kegelapannya sendiri-sendiri. Bulan pun memiliki sisi yang gelap. Lagi
pula, bulan hanya bersinar di kegelapan malam. Matahari pun
tidak setiap saat menerangi kita. Selain itu, ika didekati...
Matahari
hanyalah bola api.
Semakin
kita dekat dengan sesuatu, semakin terlihat wujud aslinya.
Matahari
hanyalah bola api yang akan melahap kita jika kita terlalu dekat.
Begitu
juga Sandi. Sandi juga memiliki keburukan di dalam dirinya.
Keburukan
sang matahari…yang bisa melukai matahari itu sendiri beserta orang yang
disinarinya.
Saat
jauh dari matahari itu…lalu melihat keburukan matahari itu, Aldo jadi paham
akan kegelapan. Dia tak menyadari sisi gelapnya itu selama ini; sisi gelap itu
terlepas begitu saja saat kekecewaan, kegelisahan, dan kemarahan di dalam
dirinya menyatu.
Akhirnya,
ia paham bahwa ternyata Sandi bukanlah manifestasi cahaya. Bukan representasi
matahari. Sandi juga adalah seorang manusia. Manusia yang rentan akan
kegelapan. Sedikit saja kau lengah…kegelapan akan menguasaimu.
Jika
saja sejak kecil ia tahu soal sisi gelap manusia, pengkhianatan, atau apa pun
itu, ia takkan mengalami trauma dan ketakutan sebesar ini.
Sial. Aldo
mulai ingin menutup telinganya, menolak mendengar cerita Sandi lebih jauh.
Namun,
hatinya tak mau menurut. Apakah hatinya ingin terus terluka? Apakah
bahkan hatinya sendiri tak membiarkannya lepas dari trauma
itu?
"Pas
Papa udah sampe di panti asuhan..." Gerald tersenyum pada Aldo dan
memegang lengan Aldo. "Papa nanya sama yang punya panti asuhan itu; papa
kira, dialah yang ngajarin Sandi tentang dunia sampai sebagus itu. Namun, kamu
tau apa jawaban dia?"
Jeda sejenak lagi.
"Katanya, mereka nggak pernah ngajarin Sandi seluas itu.
Sandi itu cuma anak polos yang ‘menyerap’ semua hal dari dunia ini, nerima
semuanya dengan hati yang suci. Mungkin, itu juga ditambah dengan buku-buku
yang Sandi baca. Buku yang selalu membuatnya tertarik adalah buku tentang
keindahan alam."
‘Nanti
kalo udah gede, aku mau jadi fotografer.' Kalimat
Sandi dahulu itu terngiang-ngiang di telinga Aldo dan Aldo mengepalkan
tangannya.
Diam!
Dari dulu, dia
cuma mentingin perasaannya aja. Dia cuma manusia yang ngelakuin semuanya dengan
perasaan, bukan dengan logis.
Makanya,
dia senyum waktu ngeliat aku hilang dari pandangannya; dia nggak panik, padahal
kalo dia mikir dengan logis, aku ini tetap adiknya.
Jemari
Aldo bergetar. Dia menggertakkan gigi; semua itu berkecamuk di dalam benaknya.
DIAM!
DIAM.
DIAM!
"Papa
seneng sama dia. Makanya, Papa pikir kamu bakal seneng juga. Papa pikir,
mungkin…dengan kedatangannya di rumah kita, kamu akan berubah. Kamu akan lebih
terbuka dan juga lebih bahagia. Papa mau kamu berhenti murung dan menjadi
pribadi yang ceria," ujar Gerald. "Papa bukan nyuruh kamu untuk jadi
kayak Sandi. Bukan. Papa nggak pernah mikir gitu. Papa tau kalo
kamu punya keistimewaan sendiri. Kamu anak Papa, jadi Papa tau siapa
kamu. Kamu itu punya potensi yang besar untuk jadi orang yang berpengaruh,
lebih dari Papa, tapi kamu terkurung di dalam duniamu sendiri. Kamu sendirian, kesepian,
dan nggak mau ngasih tau soal lukamu ke orang lain. Kamulah yang
sebenarnya paling butuh orang lain untuk berada di sisi kamu."
Aldo
meneguk ludah. Mengapa semua kalimat itu terasa menohok jantungnya?
Berhenti,
tolong berhenti.
"Papa
tau kalo untuk ngambil satu langkah keluar dari duniamu itu sulit. Papa pun tau
kalo seseorang cuma bisa berubah kalo dia punya kemauan dan keberanian.
Namun, ada kalanya keberadaan orang lain yang ngulurin tangan ke kamu itu bisa
memicu keinginanmu untuk berubah. Berubah jadi lebih baik…dan menerima semuanya
dengan ikhlas.”
"Papa
yakin Sandi bakal nemuin kamu lagi," ujar Gerald dengan mata yang
berkaca-kaca. Air mata itu kemudian berkumpul dan akhirnya jatuh ke pipi
Gerald. Gerald mengusap air matanya dan berbicara pada Aldo dengan lembut,
"Papa tau itu sulit, Nak. Papa tau itu sulit. Tapi
tolong, Nak, sayangi diri kamu sendiri. Jangan sampe kamu tenggelam dan kalah sama
trauma kamu. Jangan kalah dengan rasa sakit, pikiran buruk, dan juga
ketakutanmu. Aldo itu jauh lebih kuat daripada itu. Kekuatan itulah yang udah
nyelamatin kamu selama ini, ‘kan?"
Aldo
juga heran. Mengapa jiwanya terluka?
Ia
terluka, merasa tubuhnya terus disiksa oleh penculik-penculik itu setiap kali
mimpi buruk itu menghantui malam-malamnya. Seorang anak kecil yang rapuh, anak
kecil yang baru saja diberi harapan cerah…tiba-tiba terlempar kembali ke
titik nol begitu penculikan itu terjadi.
Namun,
di luar semua luka itu, luka dari Sandilah yang menusuknya paling
dalam.
Apakah
Sandi seberharga itu baginya, di waktu yang sesingkat itu?
Sebenarnya,
Aldo sudah tahu, tetapi dia terus menyangkal.
Hingga
akhirnya, dia sampai di pertanyaan yang paling sensitif.
"Apa
Papa tau sebab kenapa dia kayak gitu waktu aku diculik?"
tanya Aldo. Jantungnya berdegup kencang. Ia tahu kalau di saat-saat seperti ini,
ia harus menekan emosinya agar sisi buruk itu tak kembali menguasai
dirinya.
Gerald mengangguk.
Aldo
lantas terperanjat.
Namun,
sebelum Aldo sempat menjawab, Gerald berkata:
"Papa
bakal nambahin luka kamu kalo Papa yang ngasih tau alasan itu ke kamu. Meski
Papa marah banget sama Sandi, meski Sandi minta maaf terus, meski akhirnya Papa
mengerti semuanya…Papa nggak bisa langsung buka mulut Papa buat jelasin semua
alasan itu ke kamu. Papa nggak bisa walaupun Papa mau. Soalnya, kalo sebuah
kenyataan pahit nggak kamu denger dari orangnya langsung, biasanya…itu
jadi lebih menyakitkan," ujar Gerald. "Keadaan
mental kamu itu nggak stabil, Nak. Makanya, Papa selalu, selalu nunggu
sampe Sandi sendiri yang ngejelasin semuanya ke kamu."
******
Nadya
duduk di kursi taman yang sejak tadi ia cari bersama Sandi. Berjalan-jalan di
taman selama setengah jam membuat betisnya sedikit sakit dan akhirnya mereka
menemukan tempat duduk. Tidak jauh dari mereka, ada bapak-bapak yang menjual batagor.
Ada juga yang menjual aksesoris…dan es serut. Taman sedang ramai, terutama sore-sore
begini. Nadya tersenyum saat ada seorang anak yang berjalan di depannya seraya
memegang balon. Anak itu tampak bahagia di genggaman kedua orangtuanya.
Tiba-tiba,
ponsel Nadya berbunyi. Nada dering singkat yang menandakan bahwa
ada sebuah pesan masuk. Nadya langsung merogoh sling bag kecilnya dan
mencari ponsel itu, lalu membuka pesan yang masuk.
From: +628XXXXXXXXXX
Besok,
tamat riwayat lo.
Nadya
mengernyitkan dahi. Siapa…yang mengirimkannya pesan seperti ini? Maksudnya
apa...?
Tiba-tiba,
sebuah tepukan di bahu Nadya membuat cewek itu tersentak. Nadya tadi terlarut
dalam pikirannya sendiri.
Nadya
mendongak. Itu Sandi.
Nadya
cepat-cepat menaruh kembali ponsel itu ke dalam tasnya.
Sandi
duduk di sebelah Nadya dan menyodorkan sebuah gantungan kunci pada Nadya.
Gantungan kunci itu berbentuk karakter animasi Spongebob, kartun
kesukaan Nadya. Nadya menganga saat melihat gantungan kunci itu, lalu ia
menatap Sandi.
"Buat
kamu," kata Sandi.
Nadya
mengedipkan matanya berkali-kali. "Eh?"
Sandi
tersenyum manis. "Buat kamu, Nadya."
Nadya
melihat gantungan kunci itu lagi, lalu meraih gantungan kunci itu dengan pelan.
"Makasih...Kak."
Sandi
mengangguk. Senyuman tak luput dari wajahnya.
Sandi
mulai menghadap ke depan. Dia menghela napas panjang, tetapi lega. "Nggak.
Kakak yang harusnya berterima kasih sama kamu, Dek. Kamu udah mau pergi ke
taman ini sama Kakak, nemenin Kakak...dan ngedengerin semua cerita Kakak."
Nadya
menunduk sedikit, lalu melipat bibirnya. Saat kembali menatap Sandi, ia pun menggeleng
dan tersenyum. "Nggak kok, Kak. Nggak apa-apa. Aku juga
sebenarnya...pengin tau..."
Sandi
menatap Nadya dan tersenyum sendu. Cowok itu mengusap kepala Nadya dengan
lembut, lalu tertawa kecil. "Kakak bersyukur Aldo ketemu orang kayak kamu."
Mata
Nadya membulat, tetapi dia tak mengatakan apa pun.
"Kakak
nggak tau sejak kapan rasa iri itu muncul di dalam diri Kakak, tapi Kakak
selalu berharap kalo..." Sandi tertawa kecil, hambar. "...semua itu cuma mimpi."
Nadya
menunduk. Ekspresinya jadi sendu. Benar, Nadya sudah tahu semuanya. Semua hal
yang terjadi di hari penculikan itu, semua hal yang terjadi saat Aldo terapi, dan
semua yang terjadi pada Sandi, yaitu saat tiba-tiba Sandi merasa iri pada Aldo...
Sandi
menceritakan semua cerita dari sisi cowok itu kepada Nadya.
Kini,
Nadya tahu cerita dari kedua sisi. Sesungguhnya, tidak ada yang benar-benar
salah. Tidak ada juga yang sepenuhnya benar. Mereka berdua tidak saling salah
paham; mereka benar. Akan tetapi, ada satu hal yang masing-masing dari mereka belum
ketahui.
Kalau
Sandi, dia tak tahu sebab munculnya sosok gelap Aldo. Dia tak
tahu bahwa dia adalah orang yang memegang kunci mengenai kepribadian Aldo.
Kalau
Aldo, pemuda itu tak tahu bahwa Sandi pun bingung setengah mati pada rasa ‘iri’
itu. Dia tak tahu bahwa sebenarnya Sandi berjuang setengah mati untuk melawan
perasaan dan pikiran-pikiran buruk itu agar tidak melukai Aldo.
Jemari
Sandi kembali mengusap kepala Nadya. Nadya pun mengangkat wajah cewek itu dan
menatap Sandi dengan sendu.
Sandi
tertawa meskipun tampak hambar dan lesu karena atmosfer yang tercipta di antara
mereka adalah kesedihan.
Setelah
tertawa singkat, Sandi pun berkata, "Kamu bener-bener Kakak anggap kayak
adik sendiri. Kamu cocok banget sama Aldo. Aldo itu...butuh orang kayak
kamu. Kamu orang yang baik, hangat, dan…apa ya itu istilahnya…" Sandi
berpikir sejenak. Setelah mendapat kata yang tepat, ia lantas kembali menatap
Nadya. "Ah, istilahnya itu punya kemampuan deep
understanding."
Sandi
kembali tersenyum.
"Aldo beruntung punya
kamu."
******
"Jangan
lupa sarapan dulu, ya, Sayang," ujar Aldo sebelum panggilan telepon ke
Nadya itu terputus. Aldo baru saja ingin meletakkan ponselnya di atas meja (berencana
untuk memasang dasi yang sudah menggantung di lehernya itu), tetapi kegiatannya
terhenti saat melihat ada sebuah pesan masuk.
Aldo
mengernyitkan dahi saat melihat nomor ponsel yang asing itu di layar HP-nya, tetapi
dia tetap melihat pesan itu.
Setelah
membaca isi pesan itu, mata Aldo membelalak.
******
Pagi
ini, Nadya pergi ke sekolah bersama Gita. Tadi pagi, saat Aldo meneleponnya
sebelum berangkat ke sekolah, Nadya bilang pada Aldo bahwa dia akan berangkat
ke sekolah bersama Gita karena ingin menemani Gita mem-fotocopy buku.
Nadya
sedang berjalan menaiki tangga bersama Gita dan tiba-tiba, ia merasa kalau
suara Gita yang berbicara padanya saat ini jadi seperti…kumur-kumur. Tidak
jelas, seolah-olah dia mendengar suara Gita dari dalam air.
Nadya
tak bisa fokus dengan kalimat Gita karena...
…saat
ini, dia agaknya menjadi sorotan orang-orang. Semua orang melihat ke arahnya.
Nadya
terus menoleh ke kanan dan ke kiri. Sejak turun dari motor Gita di parkiran,
berjalan di koridor, hingga naik tangga menuju ke lantai dua, semua orang yang
Nadya lewati langsung berbisik-bisik dan melihat Nadya dengan tatapan aneh.
Tatapan
itu...seperti tatapan jijik. Risi.
Ada
juga yang langsung berkumpul saat Nadya lewat, lalu menunjuk-nunjuk Nadya
sembari membicarakan Nadya. Nadya tak begitu mendengar apa yang mereka
bicarakan; yang Nadya dengar hanyalah kalimat seperti, 'Eh, itu tuh...'
Ada
apa...sebenarnya?
Kenapa…orang-orang
liatin aku kayak gitu…?
"NAD!" teriak
Gita. Gita menepuk pundak Nadya dengan kencang, membuat Nadya terperanjat dan
langsung tersadar. Refleks, ia pun menoleh kepada Gita.
Gita
menghela napas. Mereka sudah ada di lantai dua, tinggal berjalan di koridor
sebentar lagi dan mereka akan sampai di kelas.
Namun,
Gita memilih untuk berhenti dan berkacak pinggang di depan Nadya.
"Gue
dari tadi nanyain sesuatu ke elo," kata Gita.
Nadya
sedikit memiringkan kepalanya. "A—Apa, Git?"
"Lo
pengin tau kenapa orang-orang mandangin elo kayak gitu?" tawar Gita.
Nadya
kontan membulatkan mata.
Gita...ternyata
juga menyadari hal itu.
Jelas
saja. Soalnya, semua orang benar-benar tidak menyembunyikan tatapan
mereka pada Nadya.
"Sayangnya,
kita nggak boleh bawa HP," ujar Gita. "Kalo nggak, udah gue kasih
liat itu SMS di HP gue ke elo. Ngeliat lo bingung gini, berarti lo nggak
dikirimi SMS itu. Gue tadinya mau cuekin SMS itu, tapi ternyata…semua orang juga
dapat SMS itu. Kemungkinan, semua murid di sekolah ini dapet SMS itu, kecuali
lo. Kalo Aldo...ntah juga, ya. Yang jelas, kalo tujuannya emang buat memfitnah lo,
pasti Aldo dapet."
Nadya
semakin terkejut. Alisnya menyatu; mulutnya terbuka.
Apa…maksud
Gita? SMS...? SMS apa itu? Apa…yang ada di SMS itu?
Kemarin,
Nadya juga mendapatkan SMS yang aneh. Namun, apa gerangan yang diterima semua
murid di sekolah—tetapi tak Nadya terima—yang membuat semua orang memandang
Nadya seperti itu?
Nadya
bingung setengah mati. Nadya menatap Gita penuh harap (agar Gita mau
menjelaskan SMS itu lebih jauh), tetapi dia tak mengatakan apa pun. Saking
bingungnya, dia tak bisa berkata-kata.
Wajah
panik Nadya terlihat jelas. Wajahnya pucat; dia terkejut dengan apa yang ia
dengar. Baru kali ini dia mengalami hal seperti ini. Selama ini, dia selalu
menjadi anak yang biasa-biasa saja di sekolah; dia tidak terkenal, tidak
membuat masalah, dan tidak pernah mencari perhatian sama sekali. Namun, kali
ini…semua orang memandangnya seperti itu.
Nadya
takut fitnah ini akan membuat kacau semua yang ada di sekitarnya, terutama kedua
orangtuanya dan Aldo...
Kalau
Nadya memang salah, dia siap menerima hal buruk itu sebagai balasan. Namun,
kalau bukan…dia takut.
Nadya
punya perasaan kalau ini adalah hal yang buruk.
"Gue
nerima SMS itu. Bukan SMS, sih, itu MMS. Isinya ada foto lo berdua sama orang
yang waktu itu pernah lo ceritain ke gue. Yang lo bilang kalo ternyata dia itu
kakak angkatnya Aldo," ujar Gita. "Di foto itu, lo sama dia lagi duduk
berdua di taman."
Mata
Nadya membeliak. Fotonya bersama Sandi?
Di
taman? Berarti…sore kemarin?
Siapa
yang memfoto mereka?
"Yang
lainnya nggak tau kalo itu kakaknya Aldo, Nad, jadi mungkin mereka kira lo
cewek yang nggak bener, berduaan sama cowok lain di belakang Aldo yang
jelas-jelas sayang banget sama lo," ujar Gita.
Nadya
menganga. Dia bingung minta ampun.
Beberapa
detik kemudian, Nadya menunduk dan mengernyitkan dahi. Kemarin, sewaktu di
taman...rasanya tak ada yang membuntuti mereka. Namun, Nadya memang menerima
SMS aneh di taman itu. Kata Gita, foto yang dikirim ke semua orang adalah foto
kemarin, sewaktu ia dan Sandi duduk di taman...
Apa
pengirimnya sama?
Akan
tetapi, mau sama ataupun tidak sama...sebenarnya tujuannya apa?
"Hei!"
Nadya
membulatkan mata dan kembali mengangkat wajahnya hanya untuk bertatapan dengan
Syakila dan Rani yang berjalan mendekat ke arahnya. Gita mulai menggeram dengan
penuh kebencian pada kedua orang itu, tetapi kedua orang itu tetap mendatangi
Nadya dengan ekspresi serius.
Rani
membiarkan Syakila menghampiri Nadya terlebih dahulu. Saat berada tepat di depan
Nadya, Syakila berbisik, "Gue nggak tau kalo rasa 'sayang'
lo ke Aldo ternyata segampang itu."
Nadya
kaget.
Rani
tersenyum miring tepat saat Syakila menjauhkan dirinya dari Nadya. Gita mulai
emosi; dia akhirnya saling bertukar kalimat sinis dengan Rani, sementara
Syakila…gadis itu tengah menunggu reaksi dari Nadya. Ingin tahu pembantahan seperti
apa yang akan Nadya katakan.
Namun,
tidak ada bantahan apa-apa. Nadya hanya tampak…kaget dan tertekan. Syakila jadi
mengerutkan dahi.
Syakila
tahu bahwa Nadya memiliki sesuatu yang tidak ia miliki. Nadya itu jujur, tulus,
dan tentu saja itu merupakan hal yang tak ia punya.
Jadi,
apa-apaan dengan foto itu? Syakila jadi heran.
Lo
jangan buat gue kecewa, Nad.
Setelah
berpikir seperti itu, Syakila memutar bola matanya dan berjalan melewati Nadya (diikuti
oleh Rani). Saat benar-benar berada di samping Nadya, Syakila berkata:
"Kalo
lo nggak mau Aldo, gue ambil dia kembali.
Ingat itu," ujar Syakila dengan tegas. Cewek yang berparas cantik itu pun berlalu.
Ada
lembing tajam yang seolah-olah menohok jantung Nadya. Ia bingung. Ia bingung
apa yang harus ia katakan. Namun, perkataan Syakila membuat hatinya sakit.
Sandi
itu kakaknya Aldo. Dia juga sedang menderita, sama seperti Aldo. Nadya tak bisa
membela siapa pun. Nadya tak tahu harus bagaimana menyikapi situasi ini.
"WOI,
JAGA MULUT LO!!!" teriak Gita pada Syakila dan Rani yang sudah pergi dari
hadapan mereka. Gita kemudian langsung menatap Nadya.
"Lo
nggak apa-apa, Nad?" tanya Gita dengan panik.
Pelan-pelan,
Nadya menatap Gita dan…tersenyum simpul. Senyum yang entah mengapa tampak
pahit. "Nggak apa-apa, Git. Ayo masuk ke kelas."
Gita
mendengkus; cewek itu sangat khawatir. Namun, pada akhirnya…dia mengangguk.
Sepanjang
jalan, sembari memperhatikan Nadya, dia terus berpikir.
Entah
ngapa, rasanya…cobaan lo banyak banget, Nad.
Begitu
masuk ke kelas, hal yang menyambut mereka adalah tatapan tidak enak
dari hampir semua murid. Semuanya, kecuali beberapa orang yang selama ini baik
pada Nadya.
Gita
langsung mendengkus. Sial, padahal mereka ini nggak tau apa-apa!
Harusnya mereka kasian sama Nadya yang fotonya disebarin tanpa izin!
Nadya
menatap Gita, lalu memegang tangan Gita dengan pelan. Nadya mengajak Gita
berjalan ke bangku mereka tanpa memedulikan tatapan-tatapan aneh itu.
Tari,
yang sesungguhnya menatap Nadya dengan cemas sejak tadi, langsung berlari ke
meja Nadya dan bertanya, "Nad, ada apa sebenernya? Kita—kita
semua dapet—"
Tiba-tiba,
ada seorang pemuda yang terkenal nakal di kelas—anak yang selalu duduk di
belakang—mulai mendekati meja Nadya dan Gita. Pemuda itu kemudian berkata,
"Eh, ada pena gue nggak di sini? Tadi sebelum lo berdua dateng, pena itu
kelempar ke sini."
"Eh?"
ujar Nadya. Nadya langsung memperhatikan mejanya. Saat menemukan pena itu,
Nadya memberikannya kepada si pemuda. Namun, tanpa disangka-sangka, pemuda itu
berkata, "Ha. Untung ketemu. Kalo gue nyari-nyari sendiri sampe ke
bawah-bawah meja lo, ntar ada yang marah. Aldo…atau cowok yang di foto
itu. Haha!" Cowok itu tertawa, kemudian dengan santainya
berjalan ke belakang kelas.
Nadya
tersentak.
Ya…Tuhan.
Mengapa…rasanya sakit
sekali?
Mengapa
Nadya merasa tersinggung meskipun itu tidak benar?
Gita
sontak berdiri. "SIALAN LO!!!"
Tari
menggeram dan ikut memarahi cowok itu. Banyak orang yang tertawa dan menganggap
bahwa itu lelucon. Cewek-cewek yang pendiam di kelas pun diam-diam menahan
tawa. Cowok-cowok yang di belakang mulai ber-high five.
"NGGAK
PUNYA OTAK, YA, KALIAN? COWOK KAYAK DIA—YANG SERING DISKORS—KALIAN ADA DI PIHAK
DIA?!" teriak Tari.
"Bukan
masalah pihak, Tar, di foto itu semuanya udah jelas! Ya nggak, bro?!" ujar
teman dari cowok nakal yang tadi menyindir Nadya.
"Sumpah,
kasian Aldo."
"DIAM, WOY! LO
SEMUA ANAK KECIL, YA?" teriak Adam. Rian langsung menarik Adam agar pemuda
itu tidak berjalan ke belakang dan membuat keributan dengan anak-anak nakal itu.
Tatkala Adam menatap Rian untuk meminta penjelasan, Rian hanya menggeleng.
Namun,
setelah itu, Rian menatap Adam dengan serius. Pemuda itu seolah mengatakan:
'Kita
tunggu aja Aldo.'
Aldo
sejak tadi belum memunculkan diri.
Setelah
Adam tenang, dia dan Rian pun sama-sama menatap Nadya dengan khawatir.
Aldo...lo
harus cepet dateng ke sekolah.
******
Aldo
mengetatkan rahang. Matanya menyipit tajam. Pesan yang ia terima membuat
tangannya jatuh ke ke sisi sembari mencengkeram ponselnya. Ponsel itu masih
dalam keadaan hidup; layarnya menampilkan isi pesan tersebut.
Pikiran
buruk kembali mengelilingi Aldo. Dia sudah di sini. Sudah ada di sini.
Sandi
sudah ada di sini.
Perlahan-lahan…Aldo
berbalik. Cowok itu memasukkan ponselnya ke saku celana seragamnya. Tubuhnya
begitu ringan, seringan kapas, seolah-olah membawanya pada satu kesadaran,
yakni: tujuannya sudah ada di depan mata. Hanya tersisa dua pilihan: membiarkannya…atau menghancurkannya
hingga tak bersisa.
Begitu
Aldo berjalan keluar dari kamar, muncullah dia dari pintu
utama rumah.
Dia,
yang paling signifikan di masa lalu Aldo. Mengapa dia harus muncul dalam hidup
Aldo?
Jika
dia tak pernah muncul, Aldo akan tetap menjalani harinya seperti biasa; Aldo
akan tetap menjadi anak murung yang tak pernah mengungkapkan isi hatinya pada
orang lain.
Semuanya
akan normal-normal saja. Dengan begitu, takkan ada yang berubah, takkan ada
yang tersakiti.
"KENAPA LO HARUS
DATANG?!!"
Sandi
mendekati Aldo dengan mata yang berkaca-kaca, sementara Richard dan bodyguard lainnya
mulai berdatangan di belakang Sandi. "Tuan Sandi—maafkan saya—saat ini,
Tuan Aldo belum—"
Namun,
Richard menghentikan perkataannya begitu melihat Aldo sudah ada di sana; berdiri
menatap Sandi—yang terus mendekatinya—dengan penuh kebencian.
"Ada
apa ini?!!" suara Gerald menggema di ruang tamu itu. Gerald dan Rachel—yang
sedang menggendong Naya—kini cepat-cepat turun ke lantai bawah. Gerald sudah memakai
pakaian kerjanya. "Richard, ada ap—"
Saat
melihat ke bawah dengan jelas, Gerald dan Rachel membeliakkan mata.
Mereka
melihat Sandi di bawah sana. Sandi, yang sudah berdiri dekat dengan
Aldo.
"YA
TUHAN!!" teriak Rachel. Rachel sontak ingin berlari
lebih cepat ke bawah. Akan tetapi, mendadak Gerald menarik lengannya.
Rachel
langsung menatap Gerald dengan tajam. "Mereka belum stabil, Pa!! Apa
yang—"
Gerald
menggeleng. Dengan cepat, dia memperingati Richard di bawah sana.
"Richard, biarkan mereka. Awasi saja dari belakang."
Richard
dan Rachel terkesiap. Rachel langsung berteriak, "Apa maksud kamu,
Pa?!! WHAT THE HELL ARE YOU THINKING ABOUT?!!"
Richard
pun heran dengan perkataan Gerald, tetapi pria itu mulai mengajak para bodyguard untuk
mundur dan mematuhi perintah Gerald. Mereka hanya menjaga dari belakang,
sekitar beberapa meter jauhnya dari posisi Aldo dan Sandi. Setelah itu, Gerald
menoleh kepada Rachel.
Tanpa
Rachel duga, tatapan Gerald berubah menjadi sendu. Pilu. Penuh
dengan rasa sakit yang dalam.
Dari
mata itu, Gerald seolah-olah ingin berkata:
'Tolong
biarin mereka nyelesaikan semuanya. Tolong bantu aku ngelepasin beban di hati
anak-anakku.'
Tak
ayal, Rachel pun menangis.
Ya,
beban itu... Beban Aldo dan Sandi itu...harus diakhiri.
Rachel
memeluk Gerald sejenak. Wanita paruh baya itu pun mengangguk, seolah-olah bisa
membaca pikiran Gerald.
Mereka
turun ke bawah dan memperhatikan kedua anak mereka dengan waswas. Membiarkan air
mata turun ke wajah mereka, membiarkan semua rasa sakit itu keluar dari
persembunyiannya dan bertebaran di udara. Mereka hanya bisa menunggu dan berdoa
agar semuanya menjadi lebih baik.
Rachel
mencengkeram lengan Gerald; wanita paruh baya itu tampak khawatir. Gelisah. Tak
bohong, Gerald juga sangat takut saat itu; dia takut kehilangan dua anak yang
ia sayangi. Dia takut dengan segala kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi.
Satu
langkah lagi, Sandi akan bisa meraih Aldo.
Aldo
hanya diam. Menunggu.
Mendekatlah.
Mendekatlah pada kehancuran yang siap kau hadapi.
Sandi
berbicara dengan pelan, "Aldo, maaf karena Kakak udah lancang kirim SMS ke
kamu tadi. Maaf karena udah ngejutin kamu."
Mata
Sandi sudah mengeluarkan air mata. Tatapan kebencian Aldo yang tertuju padanya
itu sudah sangat melukai…bukan, menggerogoti dirinya dari dalam.
Iya.
Tatapan itu pantas diberikan untukku.
"Setelah
ini, kamu boleh ngelakuin apa pun ke Kakak. Apa pun itu..." ujar
Sandi dengan pilu. "tapi tolong. Tolong dengerin Kakak…sebentar
aja."
Namun,
apa yang terjadi setelah itu sukses membuat semua orang terperanjat; mereka
nyaris saja berlari ke depan demi mendekati Aldo dan Sandi.
Mereka
melihat…
…Aldo mencekik leher
Sandi. Dengan satu gerakan yang kuat.
Sandi
berjuang sekuat tenaga untuk tetap bernapas meskipun terengah-engah. Semua
orang langsung panik bukan main; mereka refleks maju karena takut sesuatu
terjadi pada Sandi.
Namun,
lagi-lagi…Rachel dihentikan oleh Gerald. Richard juga jadi berhenti begitu
melihat Gerald menghentikan Rachel. Sebenarnya, Gerald juga ketakutan setengah
mati, tetapi dia memilih untuk tetap percaya pada Aldo.
Takkan
ada apa-apa. Aldo…bukan pembunuh. Aldo pasti bisa. Dia pasti bisa...
...mengontrol
dirinya sendiri.
"SAYANG,
KAMU KENAPA, SIH?! MEREKA BERDUA DALAM BAHAYA!! MEREKA BISA KENAPA-NAPA!!!" Rachel
menggeleng panik, air matanya bercucuran. Wanita paruh baya itu nyaris hilang
akal. Namun, Gerald tetap mencengkeram tangannya dengan kuat.
Bukan,
bukan dengan kuat. Namun…dengan putus asa.
Rachel
menggeleng tak percaya. Tuhan, apa yang akan terjadi pada keluarga
kami?
Di
sisi lain, Aldo mulai menyeringai pada Sandi.
"Apa
pun, lo bilang?" kata Aldo lirih. "Kalo gue mau lo
mati…gimana?"
Sandi
menitikkan air mata. Ia tahu bahwa ini adalah sisi gelap Aldo yang waktu itu ia
lihat, tetapi ia masih tak tahu dari mana sisi itu berasal, serta sejak
kapan…
Mati,
ya…?
Jika
itu bisa menggantikan trauma masa lalu Aldo yang suram, menggantikan penyiksaan
fisik saat Aldo masih anak-anak…serta menggantikan rasa kecewa dan sakit
hati Aldo saat ditinggalkan...
Sandi
sudah memikirkannya.
Entah
sejak kapan, Sandi—yang memiliki pandangan luas tentang dunia itu—menjadi pasrah.
Rela. Baginya, kesalahan terbesarnya adalah menyakiti Aldo. Untuk seseorang seperti
Sandi, memiliki pikiran yang sempit...
...adalah
pilihan terakhir. Namun, saat ini, jika itu yang Aldo inginkan, itu akan
menjadi pilihan utama.
Aldo
menjadi seperti ini...mungkin saja karena terjadi sesuatu di dalam penculikan
itu; sesuatu yang di luar pemikiran Sandi.
Sandi
terbatuk, cengkeraman Aldo di lehernya terasa semakin kuat.
"Aldo—jika itu yang
kamu mau—"
Mata
Aldo menyipit. Setelah itu, Aldo menjawab dengan sarkastis, "Wow. Sejak
kapan yang namanya Sandi Kurnia jadi sepesimis ini? Apa
jangan-jangan lo aslinya emang kayak gini, tapi selalu nyoba jadi orang lain pas
sama gue waktu itu?"
Kamu
tau dia nggak kayak gitu. Dia jujur waktu itu.
Lepasin
emosi kamu. Jangan peduliin detailnya. Lepasin semuanya.
Mata
Aldo mendadak nyalang, tajam seperti elang. Cowok itu langsung mendorong Sandi
ke dinding dan membuat Rachel memekik.
"Gue
tadi cuma nanya KENAPA LO HARUS DATANG KE SINI, BUKAN MAU
DENGERIN OMONGAN HIPOKRIT LO!!!" teriak Aldo. Pemuda itu masih mencekik Sandi
di sana. Sandi mulai terbatuk-batuk keras.
Hancurin
dia.
Biarin
dia bicara.
Hancurin
dia.
Biarin
dia bicara.
Hancurin
dia.
Hancurin
dia! Sebenernya, dia cuma mau ngehancurin kamu. Jadi, hancurin dia.
Kamu
pasti setuju. Kamu udah mikirin semua ini.
Jangan
lari dari dirimu sendiri. Sejak awal, kamu cuma kegelapan.
Suram.
Lahir
dari kesepian kamu, lahir dari seluruh luka kamu yang nggak bisa kamu ungkapin.
Lahir
dari apa yang sebenernya mau kamu lakuin…
Terima
diri kamu dan hancurin dia. Bukankah kamu mau bebas?
"SIAL!!!!!!!! SIALAN!!!!!" teriak
Aldo. Dia membanting tubuh Sandi ke sembarang arah dan memegang kepalanya
sendiri, mencengkeram rambutnya dengan sebelah tangan sembari berteriak,
"DIAM—DIAAAAAMM!!!!!! DIAAAAAAAMM!!!!!!!"
Mata
Sandi membelalak. Ia terkesiap.
Aldo...apa—apa
yang terjadi?!
Rachel
berteriak dengan panik dan Naya menangis. Gerald memeluk Rachel dari belakang
dengan kencang dan menunduk, menahan semuanya. Mencegah Rachel untuk mendekati
Aldo. Dengan mulut yang menganga, Sandi menatap Aldo dengan tatapan tak
percaya.
Air
mata jatuh di pipi Sandi, bahkan sampai berjatuhan di lantai begitu Sandi
mencoba untuk berdiri dan mendekati Aldo yang mengamuk.
"ALDO!!!" teriak
Sandi. "ALDO—ADA APA?!! ALDO!!!!"
Namun,
dalam sekali tatapan cepat yang Aldo lakukan, Sandi langsung mematung. Pemuda
itu berhenti berjalan. Ia mendapati Aldo yang tiba-tiba berhenti berteriak dan
langsung menatapnya dengan tatapan membunuh. Tatapan seorang
pemangsa. Itu bukan lagi Aldo yang Sandi kenal.
Tiba-tiba, Aldo
bersuara. Suaranya begitu dalam.
"Kenapa lo
harus hidup di dunia ini? Ah...bukan. Kenapa lo harus munculin muka
lo di hadapan Papa dan juga di hadapan gue? Hm?" tanya
Aldo sembari memiringkan kepalanya. Nadanya saat bertanya benar-benar terdengar
aneh. Seperti cara bicara manusia yang suka memanipulasi pikiran
orang lain.
"Aldo,
Kakak tau Kakak salah, Kakak bener-bener tau..." ujar Sandi. Air matanya masih
mengalir; suaranya jadi serak dan terputus-putus. "Sejak awal, sejak
awal—Kakak emang nggak pantas jadi anak angkat Papa, nggak pantas jadi kakak
angkat kamu juga...tapi…Kakak nggak pernah pura-pura sama kamu. Kakak bener-bener…apa
adanya, tulus sama kamu…waktu itu. Itu nggak palsu... Nggak pernah
palsu, Aldo..."
Aldo
diam. Kepalanya terasa sakit lagi; pikirannya kacau dan membuatnya hilang
kendali. Kontradiksi mengenai Sandi kembali menghampirinya.
Jangan
percaya kata-kata dia. Nyatanya, dia ninggalin kamu.
Dengerin
dia. Kamu sendiri tau kalo itu semua bukanlah kebohongan. Kamu lebih tau dari
siapa pun.
Ada
apa dengan kamu? Kamu benci sama dia. Jangan bilang karena ucapan Papa kemarin,
kamu berubah pikiran? Kamu ngebesarin aku karena rasa bencimu ke dia. Karena kamu
nggak bisa ngelampiasin semuanya waktu itu, kamu jadi ngebesarin aku buat ngehancurin
semuanya di akhir. Kamu butuh penjelasan dari dia, jadi dengerin dia dan
berpikirlah dengan jernih.
Semakin
kamu nyangkal kegelapan kamu, semakin tersiksa dirimu. Terima aku dan luapin
emosi kamu. Raih aku. Akulah yang ada di sisi kamu di masa-masa sulitmu. Akulah
yang ngebantu kamu dan ngulurin tanganku buat kamu. Izinin aku buat ngendaliin
kamu.
Bisikan-bisikan
itu membuat Aldo ingin menghancurkan apa pun yang ada di sekitarnya. Namun,
tiba-tiba Aldo membulatkan mata.
Sandi
tiba-tiba berlutut di hadapannya.
Apa-apaan
ini? Apa yang Sandi lakukan?
Sandi
menarik napas dalam; wajahnya benar-benar basah karena air mata.
"Aldo…" panggil
Sandi lirih. "Saat itu, hingga sekarang, Kakak selalu
pengin yang terbaik buat kamu. Kakak bener-bener mau terus sama-sama kamu,
dewasa sama kamu, dan bersaudara sama kamu. Kamu anak yang baik. Kamu anak
yang mandiri dan selalu nyembunyiin kesedihan kamu
dari orang lain. Kakak selalu tau itu; itulah yang ngebuat
Kakak bener-bener mau ngelindungi kamu waktu itu. Kamu selalu mentingin orang
lain daripada diri kamu sendiri, Aldo."
Sandi
berusaha untuk berbicara dengan baik.
"Kamu
nggak berpikir negatif waktu orang-orang ngejelekin kamu. Kamu cuma sedih. Murung,"
ujar Sandi. "Waktu itu, Kakak bener-bener pengin kamu keluar dari kesedihan
itu. Kakak nggak mau kamu yang ternodai dengan pikiran buruk. Kakak nggak mau kamu
dikelilingi oleh kebencian karena terus dilukai..."
"YANG
NGELUKAI GUE ITU ELO!!!" teriak Aldo tiba-tiba. Aldo mendekati Sandi dan
mendorong Sandi ke lantai. Aldo mulai memukuli wajah Sandi tanpa terkendali.
Richard dan yang lain mulai siaga jikalau itu menjadi parah. Namun, sebenarnya,
tatapan membunuh Aldo itu sudah mengatakan bahwa ia takkan berhenti.
Oleh
karena itulah, pukulan demi pukulan itu terasa bagai menghantam jantung
orang-orang yang ada di sana.
"GUE NGGAK NYURUH
LO BUAT NGEJELASIN SEMUANYA! GUE CUMA NANYA KENAPA LO HARUS MUNCUL
DI KEHIDUPAN GUE, SIALAN!" teriak Aldo, suara gedebuk pukulan
Aldo di wajah Sandi itu tak ada henti-hentinya. Gerald menggertakkan gigi,
menahan diri agar tetap diam dan tak memisahkan Aldo dan Sandi secara paksa,
begitu pula Richard. Rachel meronta, memohon agar kedua anaknya itu berhenti
berkelahi. Naya, si kecil itu masih menangis kencang sembari memanggil-manggil Aldo.
Aldo
mengangkat tubuh Sandi dan meninju wajah Sandi dengan luar biasa kencang hingga
Sandi kembali tersungkur. Aldo langsung mendekati Sandi lagi; tatapannya tak goyah,
seperti mata penghancur yang tak kenal ampun.
"ALDO—"
teriak Sandi begitu Aldo menarik kerahnya dan menyeretnya hingga ke dekat meja
ruang tamu. Aldo melemparnya hingga tubuhnya menghantam salah satu sudut meja
kaca itu dan ia pun berteriak kesakitan. Erangan yang luar biasa itu membuat
Rachel menutup mulutnya dan mencoba untuk melepaskan diri mati-matian dari
Gerald. Gerald pun kini tak bisa lagi menahan rasa paniknya. Richard dan bodyguard-bodyguard di
sana juga mulai bergerak maju dengan cepat. Akan tetapi, tiba-tiba saja, ada suara
pecahan kaca yang nyaris memekakkan telinga mereka.
Aldo
baru saja membanting vas bunga yang ada di atas meja.
Dengan cepat, cowok
itu mengambil sebuah pecahan kaca dan melangkah ke arah Sandi. Semua orang spontan berlari untuk
menghentikan Aldo.
"ALDO!!!!"
Mata
Sandi membelalak. Ia melihat Aldo mendekatinya seraya membawa pecahan kaca itu;
Aldo menatapnya bagai objek yang harus dilenyapkan.
Tinggal satu
langkah lagi...Aldo akan sampai.
Sandi menutup matanya.
Ya.
Jika ini adalah jalan satu-satunya... Jika menghilang dari
dunia ini bisa menebus kesalahanku...
"FUCK! LEPAS—LEPASIN
GUE SEKARANG!!"
Terkejut,
Sandi langsung kembali membuka matanya. Di depannya, terlihat Aldo sedang berjuang
untuk melepaskan diri dari lima bodyguard yang menghentikannya. Aldo
masih bisa melawan dan melukai para bodyguard itu. Sandi jadi sadar
bahwa tenaga Aldo sangatlah kuat.
Rachel
langsung menghampiri Sandi dan membantu pemuda itu untuk bangkit. Sandi merintih,
tetapi dengan cepat dia kembali menatap Aldo. Dia mengepalkan tangannya dan
ingin melepaskan diri dari Rachel, tetapi dihentikan oleh Gerald.
Dia
menatap Gerald. Matanya berkaca-kaca. Sebenarnya, sudah lama dia tidak melihat
Gerald sejelas ini.
Namun,
sesegera mungkin, dia kembali memfokuskan dirinya kepada Aldo.
"ALDO!!" teriaknya.
Keheningan
yang menyiksa berlangsung selama dua detik.
Aldo
tiba-tiba menatap Sandi. Tatapan itu sangat mengerikan.
"Gue
ada nyuruh lo buka mulut?" kata Aldo dengan sarkastis.
Sesaat kemudian, Aldo mulai menyeringai. "Gimana rasanya
disiksa? Enak?"
Mata
Sandi membulat.
Kontan
dia menunduk. Ia paham maksud Aldo.
Aldo
pun melanjutkan, "Bayangin tubuh lo kecil. Bayangin lo
ada di ruangan pengap, sekeliling lo penuh darah lo sendiri,
diikat, disiksa, dihina...di tengah rasa sakit hati lo karena dikhianati
seseorang. Di tengah rasa kecewa lo terhadap orang yang lo
percaya. Bayangin kalo saat itu lo percaya kalo lo mungkin bakal mati di sana.
Mati membusuk di sana, lalu nantinya tubuh lo dingin…sendirian! Nggak
ada yang bakal nyelamatin elo, biarpun lo nangis minta tolong;
lo gemeteran, nggumam berulang-ulang kalo lo takut dan mau pulang! Lo bahkan nggak
punya waktu buat nangis. Lo yakin kalo pun lo hidup, lo akan merasa sakit luar
biasa!"
Gerald
menunduk dan menangis. Pria paruh baya itu menggeleng tak keruan, mengingat
kembali mimpi buruk itu. Itu terasa jauh lebih menyakitkan ketika
keluar dari mulut Aldo.
Mulut
Sandi terbuka lebar dan suara tangisannya pecah.
"Maafin
Kakak, Aldo… Maafin Kakak… Maaf... Maaf..." Sandi berbicara tanpa
kontrol, tangan dan pundaknya bergetar. "Maaf... Maaf
karena Kakak udah iri sama kamu... Iri dengan kamu yang bener-bener dilindungi sama
Papa... Iri dengan apa yang kamu punya di dalam diri kamu,
yang bahkan nggak kamu sadari..."
Sandi
memberi jeda karena rasanya hatinya teriris-iris. Rasanya seperti mencubit
lukanya sendiri.
Aldo
diam; rahang Aldo mengetat. Wah, karena itukah Sandi tampak
senang waktu itu?
"Kakak
tau kalo kamu nyimpan semuanya sendirian, tapi...Kakak malah iri juga
dengan sifat baik kamu itu. Maaf karena udah ngerusak hidup kamu, Aldo...
Tolong, tolong teruslah hidup…" ujar Sandi.
Aldo
menatap Sandi dengan tatapan kosong.
Iri.
Semuanya
hancur karena rasa iri.
"Meskipun
Kakak minta maaf berjuta kali sama kamu dan sama Papa, meskipun kenyataannya
Kakak nggak tau kapan tepatnya rasa iri ke kamu itu muncul...Kakak selalu ingin
kamu bahagia. Kakak selalu ingin...menarik tangan kamu dari
kesuraman itu..." ujar Sandi. "tapi Kakak gagal ngelawan perasaan
Kakak sendiri. Waktu kamu diculik...di depan Kakak..."
Betis
Sandi serasa tak bertenaga. Tubuhnya nyaris tersungkur jika saja Gerald dan
Rachel tidak menopangnya.
Sandi
menatap Aldo dengan segenap luka yang selama ini ia bawa. Luka yang
membuat hatinya tergores begitu dalam sampai dadanya terasa
sesak saat memikirkannya. Luka yang membuatnya pergi dari Aldo
dan tak kunjung berani menjelaskan semuanya selama ini.
Ya.
Luka itu. Kejadian itu.
Pelan-pelan,
Sandi mencoba untuk menghapus air matanya.
Setelah
itu, dia kembali berbicara.
"...Kakak nggak sadar
kalo Kakak ngerasa seneng sampe-sampe perasaan itu tercetak di
wajah Kakak. Kakak nggak sadar. Nggak sadar..." Sandi bergetar. Dunianya
serasa runtuh; ingatan itu kembali menghantuinya. “…kalo ternyata Kakak punya
sisi segelap itu akibat rasa iri ke kamu. Itu terasa kayak…di luar kendali..."
Aldo membulatkan
mata. Apa?
"Begitu
kamu hilang dari pandangan Kakak, dalam waktu yang singkat...Kakak sadar.
Kakak ngerasa dunia bener-bener ngehukum Kakak waktu itu. Rasa panik itu, rasa
hilang akal itu, semuanya bikin Kakak linglung, tapi akhirnya Kakak bisa sadar
lagi dan lari secepat mungkin ke rumah. Waktu itu, Kakak jatuh berkali-kali
karena shock dan nggak percaya dengan diri Kakak sendiri..."
ujar Sandi. "Kakak berusaha untuk ngehilangin perasaan itu, tapi
Kakak gagal, Aldo... Parahnya lagi, kegagalan itu
terjadi tepat pas nyawa kamu lagi dalam bahaya…"
Sandi
menarik napas dalam dan mengeluarkannya perlahan. Ia sulit berbicara
akibat rasa sakit di dadanya.
Beberapa
detik kemudian, Sandi pun kembali melanjutkan. Matanya begitu sayu. "Makanya,
Kakak minta maaf berkali-kali dan ngejelasin semuanya ke Papa begitu kamu
pulang. Bersujud ke kamu dan ke Papa nggak bakal cukup buat
ngejelasin semuanya. Kamu masuk rumah sakit karena luka-luka di tubuh kamu,
kamu juga menjalani terapi...
Kakak
berharap Kakak yang ada di posisimu. Waktu kamu ngamuk saat
diobati, waktu mentalmu nggak stabil...Kakak mau hilang aja dari dunia. Kakak mau
nemui kamu dan minta maaf, lalu nebus semua kesalahan Kakak, tapi Kakak belum
sanggup ngeliat wajah kamu, Aldo... Kakak belum sanggup ngehadapi kamu."
Aldo
menunduk.
Perlahan,
Aldo melepaskan kepalan tangannya. Pecahan kaca itu jatuh dari genggaman tangan
Aldo dan menimbulkan bunyi denting yang cukup kencang. Tetesan darah dari
tangan Aldo jatuh ke lantai dan mulai memenuhi sekeliling pecahan kaca itu.
Aldo
tidak lagi menatap Sandi dengan penuh kemurkaan. Tatapan itu kini mengandung keingintahuan
atas segalanya...
"...Makanya,
Kakak
milih untuk pergi supaya kamu bisa sembuh lebih cepat. Soalnya, kamu benci banget
sama Kakak..."
Aldo
tidak menjawab. Sandi berhenti berbicara; rasa sakit di hatinya itu mungkin adalah
batu loncatan agar ia bisa mengatakan semuanya pada Aldo. Agar hatinya tenang…
Apa
pun yang nantinya akan Aldo lakukan—setelah mendengar semua ini—akan Sandi
terima. Ia akan menerima hukuman dari Aldo, dari Gerald, dan dari Tuhan…untuknya.
"Lo
harusnya tau kalo kepergian lo itu salah," ujar Aldo
tiba-tiba.
Sandi
tersentak. Aldo meresponsnya.
Mendadak,
Sandi merasa begitu senang, sampai ke poin di mana jantungnya berdegup kencang.
Aku
harus bilang semuanya.
Aldo…betapa
pun sisi gelap itu nguasai kamu, Kakak tau kamu orang baik. Kakak tau kamu kuat,
bijaksana, dan baik...
Maafin
Kakak karena udah ngerusak diri kamu...
"Kakak
memang pengecut, Aldo... Kakak mau kamu cepat sembuh,
bukannya terluka karena harus ngeliat muka Kakak..."
jawab Sandi dengan suara serak.
"Ya, bener. Lebih
baik gue ngehancurin wajah lo," jawab Aldo dengan kejam.
Sandi
menunduk.
Dua
detik kemudian, Aldo tersenyum. Senyum manis yang entah mengapa terasa aneh.
"Jangan
pernah mikir kalo aku yang Kakak liat sekarang ini bukan diri aku. Ini aku.
Ini aku dan segala keburukanku."
Sandi
terkejut mendengar Aldo memanggilnya dengan 'Kakak'. Namun, entah mengapa…itu terdengar…
…menyeramkan sekaligus menyakitkan...
Apa
‘Aldo’ telah kembali? Namun, mengapa kalimat pemuda itu masih terdengar menyeramkan?
Aldo...
Sandi
tak mampu berkata-kata. Tubuh Sandi bergetar dan sungguh, Sandi ingin
sekali memeluk Aldo saat ini. Sandi ingin menerima adiknya itu, mengulurkan
tangannya...
Namun,
Gerald dan Rachel menghentikannya.
Sekarang
masih belum saatnya.
Mereka
berdua bisa membahayakan satu sama lain.
"Ini
karena rasa marahku, ketakutanku, dan kegelisahanku atas semua yang udah
terjadi. Itu semua terpusat ke Kakak," ungkap Aldo. Dia tersenyum tipis,
lemah; matanya sendu. "Ini juga karena rasa sakitku pada penculik-penculik
yang nyiksa aku waktu itu."
"Kakak
udah tau kalo aku rapuh. Rumah yang rapuh," ujar Aldo. "tapi
Kakak ngehancurin rumah rapuh yang baru nyoba buat tegak
dengan pondasi seadanya itu."
Mendengar
itu, Sandi merasa jantungnya seakan-akan tengah dicengkeram.
Sandi
akhirnya memberontak. Tak peduli apa pun, Sandi berusaha keras
untuk melepaskan dirinya dari Rachel dan Gerald. Begitu berhasil terlepas,
Rachel dan Gerald spontan berteriak. Namun, Sandi tak menghiraukan semua itu
dan langsung memeluk Aldo.
"Maaf,
Aldo, maaf..." ucap Sandi berulang kali sambil menangis.
"Maaf... Maaf… Maaf, Aldo... Maaf..."
Richard
yang melihat dan mendengar perkataan Aldo itu pun menangis. Dia tahu betapa
pedihnya masa lalu Aldo itu.
Aldo kembali. Kegelapan
itu perlahan menghilang. Kini, ia menjatuhkan keningnya di bahu Sandi.
Air
mata Aldo mulai jatuh.
"Aku
nggak tau sejak kapan sisi ini muncul. Aku nggak tau…tapi itu
bukan siapa-siapa. Itu aku. Sepenuhnya aku. Sampe di suatu titik, aku sadar
kalo sebenarnya…sisi itu udah ada di dalam diri aku dan selalu bersamaku
selama ini…"
Aldo
memberi jeda. Suaranya terdengar penuh luka. "dan dia hidup, bersarang di
dalam diri aku, lalu tumbuh semakin kuat karena
kebencian yang kupunya. Kebencianku sama semua orang yang nyakitin aku di
hari itu, terutama Kakak."
Sandi
memejamkan mata. Air matanya mengalir ke pipi.
Ini
semua adalah salahnya.
Salahnya.
"Akulah kegelapan
itu," ujar Aldo kemudian. "Mungkin, cahaya yang aku
coba ikuti, senyuman Kakak yang tulus itu, serta senyuman yang Rachel ajarin ke
aku... Semua itu mungkin aku lakuin cuma sebagai refleks karena
aku nggak mau kalah sama Kakak. Aku mau jadi seseorang yang bisa ngelawan sisi
burukku, tapi ternyata, tanpa kusadari…sisi buruk itu udah tumbuh
besar di dalam diri aku." []






Gita

No comments:
Post a Comment