Tuesday, December 23, 2025

Because of Ticket! (Bab 18: Dialah Kegelapan Itu)

 


******

Bab 18 :

Dialah Kegelapan Itu

 

******

 

MATA Gerald menatap Aldo dengan saksama. Aldo duduk di seberangnya dengan ekspresi yang serius. Tak pula lenyap dari kepala Gerald apa yang baru saja Aldo katakan padanya dua detik yang lalu.

"Nak." Gerald menghela napas. "Buat apa kamu nanyain itu?"

"Papa cukup jelasin aja," ujar Aldo sembari menyipitkan mata. "Aku nggak main-main, Pa."

Iya. Gerald paham. Gerald lebih paham daripada apa pun. Kejadian kemarin telah membuat mimpi buruk Gerald kembali menguak ke permukaan. Gerald menunduk; pria paruh baya itu menghela napas berat. Dia lalu mengangkat wajahnya untuk menatap Aldo, satu-satunya harta paling berharga yang ditinggalkan istri pertamanya dahulu untuknya.

"Donovan melukaimu, Nak," ujar Gerald. "Papa nggak mau kasih pengobatan buat bajingan itu. Lagi pula, dia udah masuk penjara sebelum dia menderita gangguan jiwa. Papa tolak saran dokter buat mindahin dia ke rumah sakit jiwa, apalagi katanya dia nggak ngebahayain siapa pun di kantor polisi."

Jeda sejenak…lalu Gerald pun melanjutkan, "Alasan kenapa dia dibiarin di dalam penjara yang kayak gitu…itu juga Papa yang atur. Dia nggak akan hidup enak setelah nyakitin anak Papa. Dia beda sama mama kandung kamu, jadi ini nggak ada hubungannya dengan mama kamu. Papa mau dia nerima hukuman yang seberat mungkin; paling nggak, hukumannya harus sebanding dengan apa yang kita terima. Jangan lupain soal apa yang terjadi sama kamu setelah penculikan itu, Aldo. Papa bukan malaikat yang bisa maafin orang yang udah ngebahayain nyawa kamu. I will protect you even if it costs me my life. Understand?"

"Aku nggak nyuruh Papa buat mindahin dia. Aku cuma mau tau," ujar Aldo sembari mengepalkan tangannya. "Cukup masalah Donovan. Aku punya satu hal lagi yang harus Papa jawab. Satu hal yang selama ini nggak pernah kutanyain."

Gerald menatap Aldo dengan mata menyipit; dia waswas. Apa pun itu, Gerald hanya takut sesuatu kembali terjadi pada Aldo jika jawabannya adalah pemicu trauma Aldo. Bagaimanapun juga, apa yang Aldo tanyakan pastilah menyangkut kejadian itu…atau menyangkut sesuatu yang lain.

Sisi gelap Aldo, misalnya.

Soalnya, demi apa pun…Gerald ingin tahu lebih dalam tentang sisi itu.

Ada jeda tiga detik sebelum Aldo berbicara lagi. Namun, tiga detik itu serasa lama sekali. Hingga akhirnya…Aldo pun membuka suara.

"Ceritain ke aku gimana awalnya Papa ketemu Kak Sandi."

Mata Gerald membeliak.

Nyatanya, Aldo masih memanggil Sandi dengan embel-embel 'Kakak'. Jika yang berada di hadapan Gerald sekarang adalah sisi gelap Aldo, takkan ada embel-embel 'Kak' di sana. Namun, bukan. Bukan itu yang membuat Gerald kaget.

Pertanyaan Aldolah yang membuatnya kaget.

Itu adalah awal dari segalanya.

"Aldo..."

"Tell me, Dad," tekan Aldo. Pemuda itu menatap Gerald dengan fokus.

Setelah dua detik lamanya memperhatikan wajah Aldo, Gerald sadar bahwa wajah tampan anak itu jadi semakin mirip dengan wajah istrinya dahulu.

Mata Gerald berkaca-kaca. Awal dari semua itu adalah wajah murung Aldo, wajah kecil yang tidak bahagia saat hidup bersama Gerald. Gerald hanya ingin semuanya berjalan lancar; dia hanya ingin Aldo bahagia...

But who knew it would all end up like this?

Ia malah semakin memorak-porandakan kehidupan Aldo.

Ia salah. Ia jugalah yang membuat Sandi jadi seperti itu.

Mungkin, mungkin saja, semua ini salahnya. Ialah akar dari semua ini.

Gerald menghapus air mata yang entah sejak kapan sudah mengalir ke pipinya. Ia lalu menatap Aldo lurus-lurus meskipun dadanya terasa berat.

"Hari itu..." Gerald melipat bibirnya sejenak lalu bernapas singkat sebelum bercerita. "Kamu tau kalo waktu itu, Papa ada perjalanan bisnis ke Indonesia. Papa…cuma baru pulang dari meeting. Nggak kayak biasanya, waktu itu sopir Papa lewat di jalan kecil pas perjalanan pulang. Abis itu...Papa liat ada dua orang anak…di pinggir jalan."

Mata Aldo menyipit. Dahinya berkerut. "Salah satu dari mereka itu lututnya luka. Yang satunya keliatan lagi usaha buat bantu anak yang terluka itu, ngerangkul anak itu biar bisa jalan," ujar Gerald. "Anak yang berusaha buat ngerangkul temannya itu adalah..."

Gerald diam sejenak.

"...Sandi."

Aldo terus menyimak. Ia seolah-olah ingin cerita itu terus berlanjut tanpa jeda…sampai ia menemukan sesuatu yang mungkin bisa menjadi 'sebab' atas semua kelakuan Sandi, agar ia tak perlu memiliki kontradiksi di dalam kepalanya.

Aldo selalu bisa membaca sifat orang lain melalui mata, setidaknya seperti itu, jadi Aldo sebenarnya tahu kalau kebaikan Sandi itu bukanlah kebohongan. Maka dari itu, Aldo diserang dengan keraguan dan kegelisahan yang luar biasa, sampai-sampai itu semua menggunung, membesar, dan sekarang jadi menguasai dirinya.

Kebaikan kakaknya itu benar. Namun, apa maksud ekspresi senang yang ditunjukkan kakaknya itu waktu Aldo diculik?

Apa yang salah? Apa yang janggal? Apa yang tidak Aldo ketahui?

Gerald pun melanjutkan perkataannya meski matanya sayu saat kembali mengingat masa lalu itu, "Papa keluar dari mobil dan nolongin mereka. Mereka bilang, mereka tinggal di panti asuhan terdekat, jadi Papa pergi ke panti asuhan itu buat nganterin mereka. Namun, Aldo… Kamu pasti sadar kalo Sandi…bukanlah anak biasa."

Aldo diam. Rahang Aldo mengetat.

Aldo tahu itu. Dia sangat tahu, lebih dari apa pun.

Demi Tuhan, hal itulah yang membuat keraguan selalu menghantui Aldo. To the point where he felt disgusted, accompanied by fear and anxiety.

Gerald tersenyum lembut dan kembali bercerita, "Sepanjang jalan, Papa terkesima dengan caranya memandang dunia. Papa kagum anak sepertinya bisa membuat Papa berpikir lebih luas tentang kehidupan di sekeliling kita. Dia seperti malaikat…dan juga seperti matahari. Dia juga polos dan bersemangat."

Aldo juga tahu itu.

Namun ketahuilah, semakin bercahaya orang di sekitarmu, semakin sadar engkau akan kegelapanmu. Dan semakin ingin kau lari dari kegelapanmu itu untuk menjadi sebuah cahaya.

Hal itulah yang membuat Aldo berubah, ingin mengikuti saran Sandi. Tersenyum tulus, menghadapi hari-hari dengan santai dan ceria, memandang dunia dengan cara yang lebih terbuka dan menerima diri kita apa adanya. Meski dengan diri Aldo yang muram, Aldo ingin berubah dan lebih berani menghadapi dunia. Bukan untuk menjadi Sandi, melainkan menjadi dirinya sendiri, mencari warnanya dan cahayanya sendiri. Dia mempercayai kalimat Sandi. Sandi, yang tampak seperti sinar matahari yang menyinari bunga-bunga di taman, membuat bunga-bunga itu tampak indah...

Namun ternyata, tidak ada manusia yang benar-benar seperti cahaya. Semua orang memiliki kegelapannya sendiri-sendiri. Bulan pun memiliki sisi yang gelap. Lagi pula, bulan hanya bersinar di kegelapan malam. Matahari pun tidak setiap saat menerangi kita. Selain itu, ika didekati...

 

Matahari hanyalah bola api.

 

Semakin kita dekat dengan sesuatu, semakin terlihat wujud aslinya.

Matahari hanyalah bola api yang akan melahap kita jika kita terlalu dekat.

Begitu juga Sandi. Sandi juga memiliki keburukan di dalam dirinya.

Keburukan sang matahari…yang bisa melukai matahari itu sendiri beserta orang yang disinarinya.

Saat jauh dari matahari itu…lalu melihat keburukan matahari itu, Aldo jadi paham akan kegelapan. Dia tak menyadari sisi gelapnya itu selama ini; sisi gelap itu terlepas begitu saja saat kekecewaan, kegelisahan, dan kemarahan di dalam dirinya menyatu.

Akhirnya, ia paham bahwa ternyata Sandi bukanlah manifestasi cahaya. Bukan representasi matahari. Sandi juga adalah seorang manusia. Manusia yang rentan akan kegelapan. Sedikit saja kau lengah…kegelapan akan menguasaimu.

Jika saja sejak kecil ia tahu soal sisi gelap manusia, pengkhianatan, atau apa pun itu, ia takkan mengalami trauma dan ketakutan sebesar ini.

Sial. Aldo mulai ingin menutup telinganya, menolak mendengar cerita Sandi lebih jauh.

Namun, hatinya tak mau menurut. Apakah hatinya ingin terus terluka? Apakah bahkan hatinya sendiri tak membiarkannya lepas dari trauma itu?

"Pas Papa udah sampe di panti asuhan..." Gerald tersenyum pada Aldo dan memegang lengan Aldo. "Papa nanya sama yang punya panti asuhan itu; papa kira, dialah yang ngajarin Sandi tentang dunia sampai sebagus itu. Namun, kamu tau apa jawaban dia?"

Jeda sejenak lagi. "Katanya, mereka nggak pernah ngajarin Sandi seluas itu. Sandi itu cuma anak polos yang ‘menyerap’ semua hal dari dunia ini, nerima semuanya dengan hati yang suci. Mungkin, itu juga ditambah dengan buku-buku yang Sandi baca. Buku yang selalu membuatnya tertarik adalah buku tentang keindahan alam."

‘Nanti kalo udah gede, aku mau jadi fotografer.' Kalimat Sandi dahulu itu terngiang-ngiang di telinga Aldo dan Aldo mengepalkan tangannya.

 

Diam!

Dari dulu, dia cuma mentingin perasaannya aja. Dia cuma manusia yang ngelakuin semuanya dengan perasaan, bukan dengan logis.

Makanya, dia senyum waktu ngeliat aku hilang dari pandangannya; dia nggak panik, padahal kalo dia mikir dengan logis, aku ini tetap adiknya.

 

Jemari Aldo bergetar. Dia menggertakkan gigi; semua itu berkecamuk di dalam benaknya.

 

DIAM!

DIAM. DIAM!

 

"Papa seneng sama dia. Makanya, Papa pikir kamu bakal seneng juga. Papa pikir, mungkin…dengan kedatangannya di rumah kita, kamu akan berubah. Kamu akan lebih terbuka dan juga lebih bahagia. Papa mau kamu berhenti murung dan menjadi pribadi yang ceria," ujar Gerald. "Papa bukan nyuruh kamu untuk jadi kayak Sandi. Bukan. Papa nggak pernah mikir gitu. Papa tau kalo kamu punya keistimewaan sendiri. Kamu anak Papa, jadi Papa tau siapa kamu. Kamu itu punya potensi yang besar untuk jadi orang yang berpengaruh, lebih dari Papa, tapi kamu terkurung di dalam duniamu sendiri. Kamu sendirian, kesepian, dan nggak mau ngasih tau soal lukamu ke orang lain. Kamulah yang sebenarnya paling butuh orang lain untuk berada di sisi kamu."

Aldo meneguk ludah. Mengapa semua kalimat itu terasa menohok jantungnya?

 

Berhenti, tolong berhenti.

 

"Papa tau kalo untuk ngambil satu langkah keluar dari duniamu itu sulit. Papa pun tau kalo seseorang cuma bisa berubah kalo dia punya kemauan dan keberanian. Namun, ada kalanya keberadaan orang lain yang ngulurin tangan ke kamu itu bisa memicu keinginanmu untuk berubah. Berubah jadi lebih baik…dan menerima semuanya dengan ikhlas.”

"Papa yakin Sandi bakal nemuin kamu lagi," ujar Gerald dengan mata yang berkaca-kaca. Air mata itu kemudian berkumpul dan akhirnya jatuh ke pipi Gerald. Gerald mengusap air matanya dan berbicara pada Aldo dengan lembut, "Papa tau itu sulit, Nak. Papa tau itu sulit. Tapi tolong, Nak, sayangi diri kamu sendiri. Jangan sampe kamu tenggelam dan kalah sama trauma kamu. Jangan kalah dengan rasa sakit, pikiran buruk, dan juga ketakutanmu. Aldo itu jauh lebih kuat daripada itu. Kekuatan itulah yang udah nyelamatin kamu selama ini, ‘kan?"

Aldo juga heran. Mengapa jiwanya terluka?

Ia terluka, merasa tubuhnya terus disiksa oleh penculik-penculik itu setiap kali mimpi buruk itu menghantui malam-malamnya. Seorang anak kecil yang rapuh, anak kecil yang baru saja diberi harapan cerah…tiba-tiba terlempar kembali ke titik nol begitu penculikan itu terjadi.

Namun, di luar semua luka itu, luka dari Sandilah yang menusuknya paling dalam.

Apakah Sandi seberharga itu baginya, di waktu yang sesingkat itu?

Sebenarnya, Aldo sudah tahu, tetapi dia terus menyangkal.

Hingga akhirnya, dia sampai di pertanyaan yang paling sensitif.

"Apa Papa tau sebab kenapa dia kayak gitu waktu aku diculik?" tanya Aldo. Jantungnya berdegup kencang. Ia tahu kalau di saat-saat seperti ini, ia harus menekan emosinya agar sisi buruk itu tak kembali menguasai dirinya.

Gerald mengangguk.

Aldo lantas terperanjat.

Namun, sebelum Aldo sempat menjawab, Gerald berkata:

"Papa bakal nambahin luka kamu kalo Papa yang ngasih tau alasan itu ke kamu. Meski Papa marah banget sama Sandi, meski Sandi minta maaf terus, meski akhirnya Papa mengerti semuanya…Papa nggak bisa langsung buka mulut Papa buat jelasin semua alasan itu ke kamu. Papa nggak bisa walaupun Papa mau. Soalnya, kalo sebuah kenyataan pahit nggak kamu denger dari orangnya langsung, biasanya…itu jadi lebih menyakitkan," ujar Gerald. "Keadaan mental kamu itu nggak stabil, Nak. Makanya, Papa selalu, selalu nunggu sampe Sandi sendiri yang ngejelasin semuanya ke kamu."

 

******

 

Nadya duduk di kursi taman yang sejak tadi ia cari bersama Sandi. Berjalan-jalan di taman selama setengah jam membuat betisnya sedikit sakit dan akhirnya mereka menemukan tempat duduk. Tidak jauh dari mereka, ada bapak-bapak yang menjual batagor. Ada juga yang menjual aksesoris…dan es serut. Taman sedang ramai, terutama sore-sore begini. Nadya tersenyum saat ada seorang anak yang berjalan di depannya seraya memegang balon. Anak itu tampak bahagia di genggaman kedua orangtuanya.

Tiba-tiba, ponsel Nadya berbunyi. Nada dering singkat yang menandakan bahwa ada sebuah pesan masuk. Nadya langsung merogoh sling bag kecilnya dan mencari ponsel itu, lalu membuka pesan yang masuk.

 

From: +628XXXXXXXXXX

Besok, tamat riwayat lo.

 

Nadya mengernyitkan dahi. Siapa…yang mengirimkannya pesan seperti ini? Maksudnya apa...?

Tiba-tiba, sebuah tepukan di bahu Nadya membuat cewek itu tersentak. Nadya tadi terlarut dalam pikirannya sendiri.

Nadya mendongak. Itu Sandi.

Nadya cepat-cepat menaruh kembali ponsel itu ke dalam tasnya.

Sandi duduk di sebelah Nadya dan menyodorkan sebuah gantungan kunci pada Nadya. Gantungan kunci itu berbentuk karakter animasi Spongebob, kartun kesukaan Nadya. Nadya menganga saat melihat gantungan kunci itu, lalu ia menatap Sandi.

"Buat kamu," kata Sandi.

Nadya mengedipkan matanya berkali-kali. "Eh?"

Sandi tersenyum manis. "Buat kamu, Nadya."

Nadya melihat gantungan kunci itu lagi, lalu meraih gantungan kunci itu dengan pelan.

"Makasih...Kak."

Sandi mengangguk. Senyuman tak luput dari wajahnya.

Sandi mulai menghadap ke depan. Dia menghela napas panjang, tetapi lega. "Nggak. Kakak yang harusnya berterima kasih sama kamu, Dek. Kamu udah mau pergi ke taman ini sama Kakak, nemenin Kakak...dan ngedengerin semua cerita Kakak."

Nadya menunduk sedikit, lalu melipat bibirnya. Saat kembali menatap Sandi, ia pun menggeleng dan tersenyum. "Nggak kok, Kak. Nggak apa-apa. Aku juga sebenarnya...pengin tau..."

Sandi menatap Nadya dan tersenyum sendu. Cowok itu mengusap kepala Nadya dengan lembut, lalu tertawa kecil. "Kakak bersyukur Aldo ketemu orang kayak kamu."

Mata Nadya membulat, tetapi dia tak mengatakan apa pun.

"Kakak nggak tau sejak kapan rasa iri itu muncul di dalam diri Kakak, tapi Kakak selalu berharap kalo..." Sandi tertawa kecil, hambar. "...semua itu cuma mimpi."

Nadya menunduk. Ekspresinya jadi sendu. Benar, Nadya sudah tahu semuanya. Semua hal yang terjadi di hari penculikan itu, semua hal yang terjadi saat Aldo terapi, dan semua yang terjadi pada Sandi, yaitu saat tiba-tiba Sandi merasa iri pada Aldo...

Sandi menceritakan semua cerita dari sisi cowok itu kepada Nadya.

Kini, Nadya tahu cerita dari kedua sisi. Sesungguhnya, tidak ada yang benar-benar salah. Tidak ada juga yang sepenuhnya benar. Mereka berdua tidak saling salah paham; mereka benar. Akan tetapi, ada satu hal yang masing-masing dari mereka belum ketahui.

Kalau Sandi, dia tak tahu sebab munculnya sosok gelap Aldo. Dia tak tahu bahwa dia adalah orang yang memegang kunci mengenai kepribadian Aldo.

Kalau Aldo, pemuda itu tak tahu bahwa Sandi pun bingung setengah mati pada rasa ‘iri’ itu. Dia tak tahu bahwa sebenarnya Sandi berjuang setengah mati untuk melawan perasaan dan pikiran-pikiran buruk itu agar tidak melukai Aldo.

Jemari Sandi kembali mengusap kepala Nadya. Nadya pun mengangkat wajah cewek itu dan menatap Sandi dengan sendu.

Sandi tertawa meskipun tampak hambar dan lesu karena atmosfer yang tercipta di antara mereka adalah kesedihan.

Setelah tertawa singkat, Sandi pun berkata, "Kamu bener-bener Kakak anggap kayak adik sendiri. Kamu cocok banget sama Aldo. Aldo itu...butuh orang kayak kamu. Kamu orang yang baik, hangat, dan…apa ya itu istilahnya…" Sandi berpikir sejenak. Setelah mendapat kata yang tepat, ia lantas kembali menatap Nadya. "Ah, istilahnya itu punya kemampuan deep understanding."

Sandi kembali tersenyum.

 

"Aldo beruntung punya kamu."

 

******

 

"Jangan lupa sarapan dulu, ya, Sayang," ujar Aldo sebelum panggilan telepon ke Nadya itu terputus. Aldo baru saja ingin meletakkan ponselnya di atas meja (berencana untuk memasang dasi yang sudah menggantung di lehernya itu), tetapi kegiatannya terhenti saat melihat ada sebuah pesan masuk.

Aldo mengernyitkan dahi saat melihat nomor ponsel yang asing itu di layar HP-nya, tetapi dia tetap melihat pesan itu.

Setelah membaca isi pesan itu, mata Aldo membelalak.

 

******

 

Pagi ini, Nadya pergi ke sekolah bersama Gita. Tadi pagi, saat Aldo meneleponnya sebelum berangkat ke sekolah, Nadya bilang pada Aldo bahwa dia akan berangkat ke sekolah bersama Gita karena ingin menemani Gita mem-fotocopy buku.

Nadya sedang berjalan menaiki tangga bersama Gita dan tiba-tiba, ia merasa kalau suara Gita yang berbicara padanya saat ini jadi seperti…kumur-kumur. Tidak jelas, seolah-olah dia mendengar suara Gita dari dalam air.

Nadya tak bisa fokus dengan kalimat Gita karena...

 

…saat ini, dia agaknya menjadi sorotan orang-orang. Semua orang melihat ke arahnya.

 

Nadya terus menoleh ke kanan dan ke kiri. Sejak turun dari motor Gita di parkiran, berjalan di koridor, hingga naik tangga menuju ke lantai dua, semua orang yang Nadya lewati langsung berbisik-bisik dan melihat Nadya dengan tatapan aneh.

Tatapan itu...seperti tatapan jijik. Risi.

Ada juga yang langsung berkumpul saat Nadya lewat, lalu menunjuk-nunjuk Nadya sembari membicarakan Nadya. Nadya tak begitu mendengar apa yang mereka bicarakan; yang Nadya dengar hanyalah kalimat seperti, 'Eh, itu tuh...'

Ada apa...sebenarnya?

 

Kenapa…orang-orang liatin aku kayak gitu…?

 

"NAD!" teriak Gita. Gita menepuk pundak Nadya dengan kencang, membuat Nadya terperanjat dan langsung tersadar. Refleks, ia pun menoleh kepada Gita.

Gita menghela napas. Mereka sudah ada di lantai dua, tinggal berjalan di koridor sebentar lagi dan mereka akan sampai di kelas.

Namun, Gita memilih untuk berhenti dan berkacak pinggang di depan Nadya.

"Gue dari tadi nanyain sesuatu ke elo," kata Gita.

Nadya sedikit memiringkan kepalanya. "A—Apa, Git?"

"Lo pengin tau kenapa orang-orang mandangin elo kayak gitu?" tawar Gita.

Nadya kontan membulatkan mata.

 

Gita...ternyata juga menyadari hal itu.

 

Jelas saja. Soalnya, semua orang benar-benar tidak menyembunyikan tatapan mereka pada Nadya.

"Sayangnya, kita nggak boleh bawa HP," ujar Gita. "Kalo nggak, udah gue kasih liat itu SMS di HP gue ke elo. Ngeliat lo bingung gini, berarti lo nggak dikirimi SMS itu. Gue tadinya mau cuekin SMS itu, tapi ternyata…semua orang juga dapat SMS itu. Kemungkinan, semua murid di sekolah ini dapet SMS itu, kecuali lo. Kalo Aldo...ntah juga, ya. Yang jelas, kalo tujuannya emang buat memfitnah lo, pasti Aldo dapet."

Nadya semakin terkejut. Alisnya menyatu; mulutnya terbuka.

 

Apa…maksud Gita? SMS...? SMS apa itu? Apa…yang ada di SMS itu?

 

Kemarin, Nadya juga mendapatkan SMS yang aneh. Namun, apa gerangan yang diterima semua murid di sekolah—tetapi tak Nadya terima—yang membuat semua orang memandang Nadya seperti itu?

Nadya bingung setengah mati. Nadya menatap Gita penuh harap (agar Gita mau menjelaskan SMS itu lebih jauh), tetapi dia tak mengatakan apa pun. Saking bingungnya, dia tak bisa berkata-kata.

Wajah panik Nadya terlihat jelas. Wajahnya pucat; dia terkejut dengan apa yang ia dengar. Baru kali ini dia mengalami hal seperti ini. Selama ini, dia selalu menjadi anak yang biasa-biasa saja di sekolah; dia tidak terkenal, tidak membuat masalah, dan tidak pernah mencari perhatian sama sekali. Namun, kali ini…semua orang memandangnya seperti itu.

Nadya takut fitnah ini akan membuat kacau semua yang ada di sekitarnya, terutama kedua orangtuanya dan Aldo...

Kalau Nadya memang salah, dia siap menerima hal buruk itu sebagai balasan. Namun, kalau bukan…dia takut.

Nadya punya perasaan kalau ini adalah hal yang buruk.

"Gue nerima SMS itu. Bukan SMS, sih, itu MMS. Isinya ada foto lo berdua sama orang yang waktu itu pernah lo ceritain ke gue. Yang lo bilang kalo ternyata dia itu kakak angkatnya Aldo," ujar Gita. "Di foto itu, lo sama dia lagi duduk berdua di taman."

Mata Nadya membeliak. Fotonya bersama Sandi?

Di taman? Berarti…sore kemarin?

Siapa yang memfoto mereka?

"Yang lainnya nggak tau kalo itu kakaknya Aldo, Nad, jadi mungkin mereka kira lo cewek yang nggak bener, berduaan sama cowok lain di belakang Aldo yang jelas-jelas sayang banget sama lo," ujar Gita.

Nadya menganga. Dia bingung minta ampun.

Beberapa detik kemudian, Nadya menunduk dan mengernyitkan dahi. Kemarin, sewaktu di taman...rasanya tak ada yang membuntuti mereka. Namun, Nadya memang menerima SMS aneh di taman itu. Kata Gita, foto yang dikirim ke semua orang adalah foto kemarin, sewaktu ia dan Sandi duduk di taman...

 

Apa pengirimnya sama?

Akan tetapi, mau sama ataupun tidak sama...sebenarnya tujuannya apa?

 

"Hei!"

Nadya membulatkan mata dan kembali mengangkat wajahnya hanya untuk bertatapan dengan Syakila dan Rani yang berjalan mendekat ke arahnya. Gita mulai menggeram dengan penuh kebencian pada kedua orang itu, tetapi kedua orang itu tetap mendatangi Nadya dengan ekspresi serius.

Rani membiarkan Syakila menghampiri Nadya terlebih dahulu. Saat berada tepat di depan Nadya, Syakila berbisik, "Gue nggak tau kalo rasa 'sayang' lo ke Aldo ternyata segampang itu."

Nadya kaget.

Rani tersenyum miring tepat saat Syakila menjauhkan dirinya dari Nadya. Gita mulai emosi; dia akhirnya saling bertukar kalimat sinis dengan Rani, sementara Syakila…gadis itu tengah menunggu reaksi dari Nadya. Ingin tahu pembantahan seperti apa yang akan Nadya katakan.

Namun, tidak ada bantahan apa-apa. Nadya hanya tampak…kaget dan tertekan. Syakila jadi mengerutkan dahi.

Syakila tahu bahwa Nadya memiliki sesuatu yang tidak ia miliki. Nadya itu jujur, tulus, dan tentu saja itu merupakan hal yang tak ia punya. 

Jadi, apa-apaan dengan foto itu? Syakila jadi heran.

 

Lo jangan buat gue kecewa, Nad.

 

Setelah berpikir seperti itu, Syakila memutar bola matanya dan berjalan melewati Nadya (diikuti oleh Rani). Saat benar-benar berada di samping Nadya, Syakila berkata:

"Kalo lo nggak mau Aldo, gue ambil dia kembali. Ingat itu," ujar Syakila dengan tegas. Cewek yang berparas cantik itu pun berlalu.

Ada lembing tajam yang seolah-olah menohok jantung Nadya. Ia bingung. Ia bingung apa yang harus ia katakan. Namun, perkataan Syakila membuat hatinya sakit.

Sandi itu kakaknya Aldo. Dia juga sedang menderita, sama seperti Aldo. Nadya tak bisa membela siapa pun. Nadya tak tahu harus bagaimana menyikapi situasi ini.

"WOI, JAGA MULUT LO!!!" teriak Gita pada Syakila dan Rani yang sudah pergi dari hadapan mereka. Gita kemudian langsung menatap Nadya.

"Lo nggak apa-apa, Nad?" tanya Gita dengan panik.

Pelan-pelan, Nadya menatap Gita dan…tersenyum simpul. Senyum yang entah mengapa tampak pahit. "Nggak apa-apa, Git. Ayo masuk ke kelas."

Gita mendengkus; cewek itu sangat khawatir. Namun, pada akhirnya…dia mengangguk.

Sepanjang jalan, sembari memperhatikan Nadya, dia terus berpikir.

 

Entah ngapa, rasanya…cobaan lo banyak banget, Nad.

 

Begitu masuk ke kelas, hal yang menyambut mereka adalah tatapan tidak enak dari hampir semua murid. Semuanya, kecuali beberapa orang yang selama ini baik pada Nadya.

Gita langsung mendengkus. Sial, padahal mereka ini nggak tau apa-apa! Harusnya mereka kasian sama Nadya yang fotonya disebarin tanpa izin!

Nadya menatap Gita, lalu memegang tangan Gita dengan pelan. Nadya mengajak Gita berjalan ke bangku mereka tanpa memedulikan tatapan-tatapan aneh itu.

Tari, yang sesungguhnya menatap Nadya dengan cemas sejak tadi, langsung berlari ke meja Nadya dan bertanya, "Nad, ada apa sebenernya? Kita—kita semua dapet—"

Tiba-tiba, ada seorang pemuda yang terkenal nakal di kelas—anak yang selalu duduk di belakang—mulai mendekati meja Nadya dan Gita. Pemuda itu kemudian berkata, "Eh, ada pena gue nggak di sini? Tadi sebelum lo berdua dateng, pena itu kelempar ke sini."

"Eh?" ujar Nadya. Nadya langsung memperhatikan mejanya. Saat menemukan pena itu, Nadya memberikannya kepada si pemuda. Namun, tanpa disangka-sangka, pemuda itu berkata, "Ha. Untung ketemu. Kalo gue nyari-nyari sendiri sampe ke bawah-bawah meja lo, ntar ada yang marah. Aldo…atau cowok yang di foto itu. Haha!" Cowok itu tertawa, kemudian dengan santainya berjalan ke belakang kelas.

Nadya tersentak.

 

Ya…Tuhan.

Mengapa…rasanya sakit sekali?

Mengapa Nadya merasa tersinggung meskipun itu tidak benar?

 

Gita sontak berdiri. "SIALAN LO!!!"

Tari menggeram dan ikut memarahi cowok itu. Banyak orang yang tertawa dan menganggap bahwa itu lelucon. Cewek-cewek yang pendiam di kelas pun diam-diam menahan tawa. Cowok-cowok yang di belakang mulai ber-high five.

"NGGAK PUNYA OTAK, YA, KALIAN? COWOK KAYAK DIA—YANG SERING DISKORS—KALIAN ADA DI PIHAK DIA?!" teriak Tari.

"Bukan masalah pihak, Tar, di foto itu semuanya udah jelas! Ya nggak, bro?!" ujar teman dari cowok nakal yang tadi menyindir Nadya.

"Sumpah, kasian Aldo."

"DIAM, WOY! LO SEMUA ANAK KECIL, YA?" teriak Adam. Rian langsung menarik Adam agar pemuda itu tidak berjalan ke belakang dan membuat keributan dengan anak-anak nakal itu. Tatkala Adam menatap Rian untuk meminta penjelasan, Rian hanya menggeleng.

Namun, setelah itu, Rian menatap Adam dengan serius. Pemuda itu seolah mengatakan:

 

'Kita tunggu aja Aldo.'

 

Aldo sejak tadi belum memunculkan diri.

Setelah Adam tenang, dia dan Rian pun sama-sama menatap Nadya dengan khawatir.

 

Aldo...lo harus cepet dateng ke sekolah.

 

******

 

Aldo mengetatkan rahang. Matanya menyipit tajam. Pesan yang ia terima membuat tangannya jatuh ke ke sisi sembari mencengkeram ponselnya. Ponsel itu masih dalam keadaan hidup; layarnya menampilkan isi pesan tersebut.

Pikiran buruk kembali mengelilingi Aldo. Dia sudah di sini. Sudah ada di sini.

 

Sandi sudah ada di sini.

 

Perlahan-lahan…Aldo berbalik. Cowok itu memasukkan ponselnya ke saku celana seragamnya. Tubuhnya begitu ringan, seringan kapas, seolah-olah membawanya pada satu kesadaran, yakni: tujuannya sudah ada di depan mata. Hanya tersisa dua pilihan: membiarkannya…atau menghancurkannya hingga tak bersisa.

Begitu Aldo berjalan keluar dari kamar, muncullah dia dari pintu utama rumah.

 

Dia, yang paling signifikan di masa lalu Aldo. Mengapa dia harus muncul dalam hidup Aldo?

Jika dia tak pernah muncul, Aldo akan tetap menjalani harinya seperti biasa; Aldo akan tetap menjadi anak murung yang tak pernah mengungkapkan isi hatinya pada orang lain.

Semuanya akan normal-normal saja. Dengan begitu, takkan ada yang berubah, takkan ada yang tersakiti.

 

"KENAPA LO HARUS DATANG?!!"

 

Sandi mendekati Aldo dengan mata yang berkaca-kaca, sementara Richard dan bodyguard lainnya mulai berdatangan di belakang Sandi. "Tuan Sandi—maafkan saya—saat ini, Tuan Aldo belum—"

Namun, Richard menghentikan perkataannya begitu melihat Aldo sudah ada di sana; berdiri menatap Sandi—yang terus mendekatinya—dengan penuh kebencian.

"Ada apa ini?!!" suara Gerald menggema di ruang tamu itu. Gerald dan Rachel—yang sedang menggendong Naya—kini cepat-cepat turun ke lantai bawah. Gerald sudah memakai pakaian kerjanya. "Richard, ada ap—"

Saat melihat ke bawah dengan jelas, Gerald dan Rachel membeliakkan mata.

Mereka melihat Sandi di bawah sana. Sandi, yang sudah berdiri dekat dengan Aldo.

"YA TUHAN!!" teriak Rachel. Rachel sontak ingin berlari lebih cepat ke bawah. Akan tetapi, mendadak Gerald menarik lengannya.

Rachel langsung menatap Gerald dengan tajam. "Mereka belum stabil, Pa!! Apa yang—"

Gerald menggeleng. Dengan cepat, dia memperingati Richard di bawah sana. "Richard, biarkan mereka. Awasi saja dari belakang."

Richard dan Rachel terkesiap. Rachel langsung berteriak, "Apa maksud kamu, Pa?!! WHAT THE HELL ARE YOU THINKING ABOUT?!!"

Richard pun heran dengan perkataan Gerald, tetapi pria itu mulai mengajak para bodyguard untuk mundur dan mematuhi perintah Gerald. Mereka hanya menjaga dari belakang, sekitar beberapa meter jauhnya dari posisi Aldo dan Sandi. Setelah itu, Gerald menoleh kepada Rachel.

Tanpa Rachel duga, tatapan Gerald berubah menjadi sendu. Pilu. Penuh dengan rasa sakit yang dalam.

Dari mata itu, Gerald seolah-olah ingin berkata:

'Tolong biarin mereka nyelesaikan semuanya. Tolong bantu aku ngelepasin beban di hati anak-anakku.'

Tak ayal, Rachel pun menangis.

Ya, beban itu... Beban Aldo dan Sandi itu...harus diakhiri.

Rachel memeluk Gerald sejenak. Wanita paruh baya itu pun mengangguk, seolah-olah bisa membaca pikiran Gerald.

Mereka turun ke bawah dan memperhatikan kedua anak mereka dengan waswas. Membiarkan air mata turun ke wajah mereka, membiarkan semua rasa sakit itu keluar dari persembunyiannya dan bertebaran di udara. Mereka hanya bisa menunggu dan berdoa agar semuanya menjadi lebih baik.

Rachel mencengkeram lengan Gerald; wanita paruh baya itu tampak khawatir. Gelisah. Tak bohong, Gerald juga sangat takut saat itu; dia takut kehilangan dua anak yang ia sayangi. Dia takut dengan segala kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi.

Satu langkah lagi, Sandi akan bisa meraih Aldo.

Aldo hanya diam. Menunggu.

 

Mendekatlah. Mendekatlah pada kehancuran yang siap kau hadapi.

 

Sandi berbicara dengan pelan, "Aldo, maaf karena Kakak udah lancang kirim SMS ke kamu tadi. Maaf karena udah ngejutin kamu."

Mata Sandi sudah mengeluarkan air mata. Tatapan kebencian Aldo yang tertuju padanya itu sudah sangat melukai…bukan, menggerogoti dirinya dari dalam.

 

Iya. Tatapan itu pantas diberikan untukku.

 

"Setelah ini, kamu boleh ngelakuin apa pun ke Kakak. Apa pun itu..." ujar Sandi dengan pilu. "tapi tolong. Tolong dengerin Kakak…sebentar aja."

Namun, apa yang terjadi setelah itu sukses membuat semua orang terperanjat; mereka nyaris saja berlari ke depan demi mendekati Aldo dan Sandi.

Mereka melihat…

 

…Aldo mencekik leher Sandi. Dengan satu gerakan yang kuat.

 

Sandi berjuang sekuat tenaga untuk tetap bernapas meskipun terengah-engah. Semua orang langsung panik bukan main; mereka refleks maju karena takut sesuatu terjadi pada Sandi.

Namun, lagi-lagi…Rachel dihentikan oleh Gerald. Richard juga jadi berhenti begitu melihat Gerald menghentikan Rachel. Sebenarnya, Gerald juga ketakutan setengah mati, tetapi dia memilih untuk tetap percaya pada Aldo.

 

Takkan ada apa-apa. Aldo…bukan pembunuh. Aldo pasti bisa. Dia pasti bisa...

...mengontrol dirinya sendiri.

 

"SAYANG, KAMU KENAPA, SIH?! MEREKA BERDUA DALAM BAHAYA!! MEREKA BISA KENAPA-NAPA!!!" Rachel menggeleng panik, air matanya bercucuran. Wanita paruh baya itu nyaris hilang akal. Namun, Gerald tetap mencengkeram tangannya dengan kuat.

Bukan, bukan dengan kuat. Namun…dengan putus asa.

Rachel menggeleng tak percaya. Tuhan, apa yang akan terjadi pada keluarga kami?

Di sisi lain, Aldo mulai menyeringai pada Sandi.

"Apa pun, lo bilang?" kata Aldo lirih. "Kalo gue mau lo mati…gimana?"

Sandi menitikkan air mata. Ia tahu bahwa ini adalah sisi gelap Aldo yang waktu itu ia lihat, tetapi ia masih tak tahu dari mana sisi itu berasal, serta sejak kapan…

Mati, ya…?

Jika itu bisa menggantikan trauma masa lalu Aldo yang suram, menggantikan penyiksaan fisik saat Aldo masih anak-anak…serta menggantikan rasa kecewa dan sakit hati Aldo saat ditinggalkan...

Sandi sudah memikirkannya.

Entah sejak kapan, Sandi—yang memiliki pandangan luas tentang dunia itu—menjadi pasrah. Rela. Baginya, kesalahan terbesarnya adalah menyakiti Aldo. Untuk seseorang seperti Sandi, memiliki pikiran yang sempit...

...adalah pilihan terakhir. Namun, saat ini, jika itu yang Aldo inginkan, itu akan menjadi pilihan utama.

Aldo menjadi seperti ini...mungkin saja karena terjadi sesuatu di dalam penculikan itu; sesuatu yang di luar pemikiran Sandi. 

Sandi terbatuk, cengkeraman Aldo di lehernya terasa semakin kuat.

"Aldo—jika itu yang kamu mau—"

Mata Aldo menyipit. Setelah itu, Aldo menjawab dengan sarkastis, "Wow. Sejak kapan yang namanya Sandi Kurnia jadi sepesimis ini? Apa jangan-jangan lo aslinya emang kayak gini, tapi selalu nyoba jadi orang lain pas sama gue waktu itu?"

 

Kamu tau dia nggak kayak gitu. Dia jujur waktu itu.

Lepasin emosi kamu. Jangan peduliin detailnya. Lepasin semuanya.

 

Mata Aldo mendadak nyalang, tajam seperti elang. Cowok itu langsung mendorong Sandi ke dinding dan membuat Rachel memekik.

"Gue tadi cuma nanya KENAPA LO HARUS DATANG KE SINI, BUKAN MAU DENGERIN OMONGAN HIPOKRIT LO!!!" teriak Aldo. Pemuda itu masih mencekik Sandi di sana. Sandi mulai terbatuk-batuk keras.

 

Hancurin dia.

Biarin dia bicara.

Hancurin dia.

Biarin dia bicara.

Hancurin dia.

Hancurin dia! Sebenernya, dia cuma mau ngehancurin kamu. Jadi, hancurin dia.

Kamu pasti setuju. Kamu udah mikirin semua ini.

Jangan lari dari dirimu sendiri. Sejak awal, kamu cuma kegelapan.

Suram.

Lahir dari kesepian kamu, lahir dari seluruh luka kamu yang nggak bisa kamu ungkapin.

Lahir dari apa yang sebenernya mau kamu lakuin…

Terima diri kamu dan hancurin dia. Bukankah kamu mau bebas?

 

"SIAL!!!!!!!! SIALAN!!!!!" teriak Aldo. Dia membanting tubuh Sandi ke sembarang arah dan memegang kepalanya sendiri, mencengkeram rambutnya dengan sebelah tangan sembari berteriak, "DIAM—DIAAAAAMM!!!!!! DIAAAAAAAMM!!!!!!!"

Mata Sandi membelalak. Ia terkesiap.

 

Aldo...apa—apa yang terjadi?!

 

Rachel berteriak dengan panik dan Naya menangis. Gerald memeluk Rachel dari belakang dengan kencang dan menunduk, menahan semuanya. Mencegah Rachel untuk mendekati Aldo. Dengan mulut yang menganga, Sandi menatap Aldo dengan tatapan tak percaya.

Air mata jatuh di pipi Sandi, bahkan sampai berjatuhan di lantai begitu Sandi mencoba untuk berdiri dan mendekati Aldo yang mengamuk.

"ALDO!!!" teriak Sandi. "ALDO—ADA APA?!! ALDO!!!!"

Namun, dalam sekali tatapan cepat yang Aldo lakukan, Sandi langsung mematung. Pemuda itu berhenti berjalan. Ia mendapati Aldo yang tiba-tiba berhenti berteriak dan langsung menatapnya dengan tatapan membunuh. Tatapan seorang pemangsa. Itu bukan lagi Aldo yang Sandi kenal.

Tiba-tiba, Aldo bersuara. Suaranya begitu dalam.

"Kenapa lo harus hidup di dunia ini? Ah...bukan. Kenapa lo harus munculin muka lo di hadapan Papa dan juga di hadapan gue? Hm?" tanya Aldo sembari memiringkan kepalanya. Nadanya saat bertanya benar-benar terdengar aneh. Seperti cara bicara manusia yang suka memanipulasi pikiran orang lain.

"Aldo, Kakak tau Kakak salah, Kakak bener-bener tau..." ujar Sandi. Air matanya masih mengalir; suaranya jadi serak dan terputus-putus. "Sejak awal, sejak awal—Kakak emang nggak pantas jadi anak angkat Papa, nggak pantas jadi kakak angkat kamu juga...tapi…Kakak nggak pernah pura-pura sama kamu. Kakak bener-bener…apa adanya, tulus sama kamu…waktu itu. Itu nggak palsu... Nggak pernah palsu, Aldo..."

Aldo diam. Kepalanya terasa sakit lagi; pikirannya kacau dan membuatnya hilang kendali. Kontradiksi mengenai Sandi kembali menghampirinya.

 

Jangan percaya kata-kata dia. Nyatanya, dia ninggalin kamu.

Dengerin dia. Kamu sendiri tau kalo itu semua bukanlah kebohongan. Kamu lebih tau dari siapa pun.

Ada apa dengan kamu? Kamu benci sama dia. Jangan bilang karena ucapan Papa kemarin, kamu berubah pikiran? Kamu ngebesarin aku karena rasa bencimu ke dia. Karena kamu nggak bisa ngelampiasin semuanya waktu itu, kamu jadi ngebesarin aku buat ngehancurin semuanya di akhir. Kamu butuh penjelasan dari dia, jadi dengerin dia dan berpikirlah dengan jernih.

Semakin kamu nyangkal kegelapan kamu, semakin tersiksa dirimu. Terima aku dan luapin emosi kamu. Raih aku. Akulah yang ada di sisi kamu di masa-masa sulitmu. Akulah yang ngebantu kamu dan ngulurin tanganku buat kamu. Izinin aku buat ngendaliin kamu.

 

Bisikan-bisikan itu membuat Aldo ingin menghancurkan apa pun yang ada di sekitarnya. Namun, tiba-tiba Aldo membulatkan mata.

Sandi tiba-tiba berlutut di hadapannya.

Apa-apaan ini? Apa yang Sandi lakukan?

Sandi menarik napas dalam; wajahnya benar-benar basah karena air mata.

"Aldo…" panggil Sandi lirih. "Saat itu, hingga sekarang, Kakak selalu pengin yang terbaik buat kamu. Kakak bener-bener mau terus sama-sama kamu, dewasa sama kamu, dan bersaudara sama kamu. Kamu anak yang baik. Kamu anak yang mandiri dan selalu nyembunyiin kesedihan kamu dari orang lain. Kakak selalu tau itu; itulah yang ngebuat Kakak bener-bener mau ngelindungi kamu waktu itu. Kamu selalu mentingin orang lain daripada diri kamu sendiri, Aldo."

Sandi berusaha untuk berbicara dengan baik.

"Kamu nggak berpikir negatif waktu orang-orang ngejelekin kamu. Kamu cuma sedih. Murung," ujar Sandi. "Waktu itu, Kakak bener-bener pengin kamu keluar dari kesedihan itu. Kakak nggak mau kamu yang ternodai dengan pikiran buruk. Kakak nggak mau kamu dikelilingi oleh kebencian karena terus dilukai..."

"YANG NGELUKAI GUE ITU ELO!!!" teriak Aldo tiba-tiba. Aldo mendekati Sandi dan mendorong Sandi ke lantai. Aldo mulai memukuli wajah Sandi tanpa terkendali. Richard dan yang lain mulai siaga jikalau itu menjadi parah. Namun, sebenarnya, tatapan membunuh Aldo itu sudah mengatakan bahwa ia takkan berhenti.

Oleh karena itulah, pukulan demi pukulan itu terasa bagai menghantam jantung orang-orang yang ada di sana.

"GUE NGGAK NYURUH LO BUAT NGEJELASIN SEMUANYA! GUE CUMA NANYA KENAPA LO HARUS MUNCUL DI KEHIDUPAN GUE, SIALAN!" teriak Aldo, suara gedebuk pukulan Aldo di wajah Sandi itu tak ada henti-hentinya. Gerald menggertakkan gigi, menahan diri agar tetap diam dan tak memisahkan Aldo dan Sandi secara paksa, begitu pula Richard. Rachel meronta, memohon agar kedua anaknya itu berhenti berkelahi. Naya, si kecil itu masih menangis kencang sembari memanggil-manggil Aldo.

Aldo mengangkat tubuh Sandi dan meninju wajah Sandi dengan luar biasa kencang hingga Sandi kembali tersungkur. Aldo langsung mendekati Sandi lagi; tatapannya tak goyah, seperti mata penghancur yang tak kenal ampun.

"ALDO—" teriak Sandi begitu Aldo menarik kerahnya dan menyeretnya hingga ke dekat meja ruang tamu. Aldo melemparnya hingga tubuhnya menghantam salah satu sudut meja kaca itu dan ia pun berteriak kesakitan. Erangan yang luar biasa itu membuat Rachel menutup mulutnya dan mencoba untuk melepaskan diri mati-matian dari Gerald. Gerald pun kini tak bisa lagi menahan rasa paniknya. Richard dan bodyguard-bodyguard di sana juga mulai bergerak maju dengan cepat. Akan tetapi, tiba-tiba saja, ada suara pecahan kaca yang nyaris memekakkan telinga mereka.

Aldo baru saja membanting vas bunga yang ada di atas meja.

Dengan cepat, cowok itu mengambil sebuah pecahan kaca dan melangkah ke arah Sandi. Semua orang spontan berlari untuk menghentikan Aldo.

 

"ALDO!!!!"

 

Mata Sandi membelalak. Ia melihat Aldo mendekatinya seraya membawa pecahan kaca itu; Aldo menatapnya bagai objek yang harus dilenyapkan.

Tinggal satu langkah lagi...Aldo akan sampai.

Sandi menutup matanya.

 

Ya. Jika ini adalah jalan satu-satunya... Jika menghilang dari dunia ini bisa menebus kesalahanku...

 

"FUCK! LEPAS—LEPASIN GUE SEKARANG!!"

Terkejut, Sandi langsung kembali membuka matanya. Di depannya, terlihat Aldo sedang berjuang untuk melepaskan diri dari lima bodyguard yang menghentikannya. Aldo masih bisa melawan dan melukai para bodyguard itu. Sandi jadi sadar bahwa tenaga Aldo sangatlah kuat.

Rachel langsung menghampiri Sandi dan membantu pemuda itu untuk bangkit. Sandi merintih, tetapi dengan cepat dia kembali menatap Aldo. Dia mengepalkan tangannya dan ingin melepaskan diri dari Rachel, tetapi dihentikan oleh Gerald.

Dia menatap Gerald. Matanya berkaca-kaca. Sebenarnya, sudah lama dia tidak melihat Gerald sejelas ini.

Namun, sesegera mungkin, dia kembali memfokuskan dirinya kepada Aldo.

"ALDO!!" teriaknya.

Keheningan yang menyiksa berlangsung selama dua detik.

Aldo tiba-tiba menatap Sandi. Tatapan itu sangat mengerikan.

"Gue ada nyuruh lo buka mulut?" kata Aldo dengan sarkastis. Sesaat kemudian, Aldo mulai menyeringai. "Gimana rasanya disiksa? Enak?"

Mata Sandi membulat.

Kontan dia menunduk. Ia paham maksud Aldo.

Aldo pun melanjutkan, "Bayangin tubuh lo kecil. Bayangin lo ada di ruangan pengap, sekeliling lo penuh darah lo sendiri, diikat, disiksa, dihina...di tengah rasa sakit hati lo karena dikhianati seseorang. Di tengah rasa kecewa lo terhadap orang yang lo percaya. Bayangin kalo saat itu lo percaya kalo lo mungkin bakal mati di sana. Mati membusuk di sana, lalu nantinya tubuh lo dingin…sendirian! Nggak ada yang bakal nyelamatin elo, biarpun lo nangis minta tolong; lo gemeteran, nggumam berulang-ulang kalo lo takut dan mau pulang! Lo bahkan nggak punya waktu buat nangis. Lo yakin kalo pun lo hidup, lo akan merasa sakit luar biasa!"

Gerald menunduk dan menangis. Pria paruh baya itu menggeleng tak keruan, mengingat kembali mimpi buruk itu. Itu terasa jauh lebih menyakitkan ketika keluar dari mulut Aldo.

Mulut Sandi terbuka lebar dan suara tangisannya pecah.

"Maafin Kakak, Aldo… Maafin Kakak… Maaf... Maaf..." Sandi berbicara tanpa kontrol, tangan dan pundaknya bergetar. "Maaf... Maaf karena Kakak udah iri sama kamu... Iri dengan kamu yang bener-bener dilindungi sama Papa... Iri dengan apa yang kamu punya di dalam diri kamu, yang bahkan nggak kamu sadari..."

Sandi memberi jeda karena rasanya hatinya teriris-iris. Rasanya seperti mencubit lukanya sendiri.

Aldo diam; rahang Aldo mengetat. Wah, karena itukah Sandi tampak senang waktu itu?

"Kakak tau kalo kamu nyimpan semuanya sendirian, tapi...Kakak malah iri juga dengan sifat baik kamu itu. Maaf karena udah ngerusak hidup kamu, Aldo... Tolong, tolong teruslah hidup…" ujar Sandi.

Aldo menatap Sandi dengan tatapan kosong.

 

Iri.

Semuanya hancur karena rasa iri.

 

"Meskipun Kakak minta maaf berjuta kali sama kamu dan sama Papa, meskipun kenyataannya Kakak nggak tau kapan tepatnya rasa iri ke kamu itu muncul...Kakak selalu ingin kamu bahagia. Kakak selalu ingin...menarik tangan kamu dari kesuraman itu..." ujar Sandi. "tapi Kakak gagal ngelawan perasaan Kakak sendiri. Waktu kamu diculik...di depan Kakak..."

Betis Sandi serasa tak bertenaga. Tubuhnya nyaris tersungkur jika saja Gerald dan Rachel tidak menopangnya.

Sandi menatap Aldo dengan segenap luka yang selama ini ia bawa. Luka yang membuat hatinya tergores begitu dalam sampai dadanya terasa sesak saat memikirkannya. Luka yang membuatnya pergi dari Aldo dan tak kunjung berani menjelaskan semuanya selama ini.

 

Ya. Luka itu. Kejadian itu.

 

Pelan-pelan, Sandi mencoba untuk menghapus air matanya.

Setelah itu, dia kembali berbicara.

"...Kakak nggak sadar kalo Kakak ngerasa seneng sampe-sampe perasaan itu tercetak di wajah Kakak. Kakak nggak sadar. Nggak sadar..." Sandi bergetar. Dunianya serasa runtuh; ingatan itu kembali menghantuinya. “…kalo ternyata Kakak punya sisi segelap itu akibat rasa iri ke kamu. Itu terasa kayak…di luar kendali..."

Aldo membulatkan mata. Apa?

"Begitu kamu hilang dari pandangan Kakak, dalam waktu yang singkat...Kakak sadar. Kakak ngerasa dunia bener-bener ngehukum Kakak waktu itu. Rasa panik itu, rasa hilang akal itu, semuanya bikin Kakak linglung, tapi akhirnya Kakak bisa sadar lagi dan lari secepat mungkin ke rumah. Waktu itu, Kakak jatuh berkali-kali karena shock dan nggak percaya dengan diri Kakak sendiri..." ujar Sandi. "Kakak berusaha untuk ngehilangin perasaan itu, tapi Kakak gagal, Aldo... Parahnya lagi, kegagalan itu terjadi tepat pas nyawa kamu lagi dalam bahaya…"

Sandi menarik napas dalam dan mengeluarkannya perlahan. Ia sulit berbicara akibat rasa sakit di dadanya.

Beberapa detik kemudian, Sandi pun kembali melanjutkan. Matanya begitu sayu. "Makanya, Kakak minta maaf berkali-kali dan ngejelasin semuanya ke Papa begitu kamu pulang. Bersujud ke kamu dan ke Papa nggak bakal cukup buat ngejelasin semuanya. Kamu masuk rumah sakit karena luka-luka di tubuh kamu, kamu juga menjalani terapi...

Kakak berharap Kakak yang ada di posisimu. Waktu kamu ngamuk saat diobati, waktu mentalmu nggak stabil...Kakak mau hilang aja dari dunia. Kakak mau nemui kamu dan minta maaf, lalu nebus semua kesalahan Kakak, tapi Kakak belum sanggup ngeliat wajah kamu, Aldo... Kakak belum sanggup ngehadapi kamu."

Aldo menunduk.

Perlahan, Aldo melepaskan kepalan tangannya. Pecahan kaca itu jatuh dari genggaman tangan Aldo dan menimbulkan bunyi denting yang cukup kencang. Tetesan darah dari tangan Aldo jatuh ke lantai dan mulai memenuhi sekeliling pecahan kaca itu.

Aldo tidak lagi menatap Sandi dengan penuh kemurkaan. Tatapan itu kini mengandung keingintahuan atas segalanya...

"...Makanya, Kakak milih untuk pergi supaya kamu bisa sembuh lebih cepat. Soalnya, kamu benci banget sama Kakak..."

Aldo tidak menjawab. Sandi berhenti berbicara; rasa sakit di hatinya itu mungkin adalah batu loncatan agar ia bisa mengatakan semuanya pada Aldo. Agar hatinya tenang…

Apa pun yang nantinya akan Aldo lakukan—setelah mendengar semua ini—akan Sandi terima. Ia akan menerima hukuman dari Aldo, dari Gerald, dan dari Tuhan…untuknya.

"Lo harusnya tau kalo kepergian lo itu salah," ujar Aldo tiba-tiba.

Sandi tersentak. Aldo meresponsnya.

Mendadak, Sandi merasa begitu senang, sampai ke poin di mana jantungnya berdegup kencang.

 

Aku harus bilang semuanya.

Aldo…betapa pun sisi gelap itu nguasai kamu, Kakak tau kamu orang baik. Kakak tau kamu kuat, bijaksana, dan baik...

Maafin Kakak karena udah ngerusak diri kamu...

 

"Kakak memang pengecut, Aldo... Kakak mau kamu cepat sembuh, bukannya terluka karena harus ngeliat muka Kakak..." jawab Sandi dengan suara serak.

"Ya, bener. Lebih baik gue ngehancurin wajah lo," jawab Aldo dengan kejam.

Sandi menunduk.

Dua detik kemudian, Aldo tersenyum. Senyum manis yang entah mengapa terasa aneh.

"Jangan pernah mikir kalo aku yang Kakak liat sekarang ini bukan diri aku. Ini aku. Ini aku dan segala keburukanku."

Sandi terkejut mendengar Aldo memanggilnya dengan 'Kakak'. Namun, entah mengapa…itu terdengar…

…menyeramkan sekaligus menyakitkan...

Apa ‘Aldo’ telah kembali? Namun, mengapa kalimat pemuda itu masih terdengar menyeramkan?

 

Aldo...

 

Sandi tak mampu berkata-kata. Tubuh Sandi bergetar dan sungguh, Sandi ingin sekali memeluk Aldo saat ini. Sandi ingin menerima adiknya itu, mengulurkan tangannya...

Namun, Gerald dan Rachel menghentikannya.

 

Sekarang masih belum saatnya.

Mereka berdua bisa membahayakan satu sama lain.

 

"Ini karena rasa marahku, ketakutanku, dan kegelisahanku atas semua yang udah terjadi. Itu semua terpusat ke Kakak," ungkap Aldo. Dia tersenyum tipis, lemah; matanya sendu. "Ini juga karena rasa sakitku pada penculik-penculik yang nyiksa aku waktu itu."

"Kakak udah tau kalo aku rapuh. Rumah yang rapuh," ujar Aldo. "tapi Kakak ngehancurin rumah rapuh yang baru nyoba buat tegak dengan pondasi seadanya itu."

Mendengar itu, Sandi merasa jantungnya seakan-akan tengah dicengkeram.

Sandi akhirnya memberontak. Tak peduli apa pun, Sandi berusaha keras untuk melepaskan dirinya dari Rachel dan Gerald. Begitu berhasil terlepas, Rachel dan Gerald spontan berteriak. Namun, Sandi tak menghiraukan semua itu dan langsung memeluk Aldo.

"Maaf, Aldo, maaf..." ucap Sandi berulang kali sambil menangis. "Maaf... Maaf… Maaf, Aldo... Maaf..."

Richard yang melihat dan mendengar perkataan Aldo itu pun menangis. Dia tahu betapa pedihnya masa lalu Aldo itu.

Aldo kembali. Kegelapan itu perlahan menghilang. Kini, ia menjatuhkan keningnya di bahu Sandi.

Air mata Aldo mulai jatuh.

"Aku nggak tau sejak kapan sisi ini muncul. Aku nggak tau…tapi itu bukan siapa-siapa. Itu aku. Sepenuhnya aku. Sampe di suatu titik, aku sadar kalo sebenarnya…sisi itu udah ada di dalam diri aku dan selalu bersamaku selama ini…"

Aldo memberi jeda. Suaranya terdengar penuh luka. "dan dia hidup, bersarang di dalam diri aku, lalu tumbuh semakin kuat karena kebencian yang kupunya. Kebencianku sama semua orang yang nyakitin aku di hari itu, terutama Kakak."

Sandi memejamkan mata. Air matanya mengalir ke pipi.

 

Ini semua adalah salahnya.

Salahnya.

 

"Akulah kegelapan itu," ujar Aldo kemudian. "Mungkin, cahaya yang aku coba ikuti, senyuman Kakak yang tulus itu, serta senyuman yang Rachel ajarin ke aku... Semua itu mungkin aku lakuin cuma sebagai refleks karena aku nggak mau kalah sama Kakak. Aku mau jadi seseorang yang bisa ngelawan sisi burukku, tapi ternyata, tanpa kusadari…sisi buruk itu udah tumbuh besar di dalam diri aku." []

 











******







Gita







No comments:

Post a Comment

My Friend's Father (Chapter 5: Wealthy and Powerful Man)

  ****** Chapter 5 : Wealthy and Powerful Man   ******   PONSEL berwarna hitam yang ada di atas meja itu berbunyi, pertanda ada se...