Tuesday, December 16, 2025

Orange Guy (Chapter 4: Tell Me about You)

 


******

Chapter 4 :

Tell Me about You

 

******

 

FAE menutup pintu kamarnya.

Entah mengapa, mereka jadi berakhir di sini. Di kamarnya.

Ia dan Riel Orion.

Sial. Tadi, saat Fae melihat Riel duduk di sofa ruang tamu dan menyapanya dengan riang, Fae langsung kaget bukan main. Gadis itu langsung mematung di tempat, menatap Riel tak percaya. Apa yang pemuda ini lakukan di rumahku malam-malam begini?!!

Riel memakai jaket kulit berwarna hitam. Terlihat tampan sekali malam-malam begini.

“Kok kaget, sih? Kan aku cuma mau berkunjung ke rumah tetanggaku yang cantik,” kata Riel tanpa malu; dia tersenyum lebar seraya memiringkan kepalanya. Sialnya, Mama Fae malah tertawa terbahak-bahak.

“Mama buatkan minuman dahulu, ya,” kata Mama. Mama langsung mengambil bungkus belanjaan dari tangan Fae (karena Fae masih mematung) dan pergi ke dapur, meninggalkan mereka berdua.

“Terima kasih, Tante,” jawab Riel seraya memberikan mama Fae senyuman manis.

Tak lama kemudian, Riel kembali menatap Fae. Masih dengan senyum manis (bangsat)-nya itu, dia menepuk-nepuk sofa di sebelahnya. “Sini. Duduk. Masa ada tamu dicuekin, sih? Jahat banget, nih, yang punya rumah.”

Sompret! Di sini, Fae baru saja ditabrak memori-memori aneh saat berdiri di bawah pohon ginkgo itu; Fae juga dihinggapi perasaan aneh tatkala mengingat betapa indahnya Riel saat berdiri di bawah pohon itu, tetapi begitu dia sampai di rumah…

…pemuda yang dia pikirkan malah ada di ruang tamunya, duduk santai di sofanya, dan menyapanya dengan riang begini!!

Berani-beraninya dia bersikap santai begini, setelah membuat pikiran Fae terganggu?!

Ah, sial. Fae jadi bersungut-sungut sendiri dalam hati.

Fae mendengkus; gadis itu langsung mendekati Riel seraya mengentakkan kakinya. Saat berada di depan Riel, dia langsung protes terang-terangan, “Apa yang kau lakukan di sini?!!!!”

Bangsatnya, Riel malah memiringkan kepala dan matanya membulat polos, “Hmm? Kok marah? Seingatku, aku tak jadi mengintipmu mandi tadi sore.”

…Hah?

Pipi Fae kontan merona.

Tunggu.

 

…Mengintip?

 

Sialaaaan! Riel masih ingat soal itu?!

Apakah itu sebabnya tadi dia bertanya Fae sudah mandi atau belum?

 

Dasar Jamur Oranye mesum. Dia benar-benar mengatakan itu terang-terangan di rumah Fae!

“Ssshhhhhh!!!!!” Fae meletakkan telunjuknya di depan mulut, menghentikan Riel dengan panik. “Apa kau gila?!!”

Riel tertawa terbahak-bahak. Tawa pemuda itu terdengar begitu keras sampai-sampai Fae panik (dia menoleh ke dapur, takut mamanya dengar), lalu langsung menutup mulut Riel dengan kedua tangannya. “Hei!!!”

Riel berhenti tertawa; dia melepaskan tangan Fae dari mulutnya, lalu langsung menarik kedua tangan itu agar Fae duduk di sampingnya. Fae kaget bukan main. Mata gadis itu membulat sempurna tatkala bokongnya menghantam sofa. Tepat di sebelah Riel.

Dia menatap Riel. Mulutnya menganga. Dia hampir saja mau marah-marah pada Riel, tetapi tak jadi karena…

…melihat Riel tersenyum miring padanya.

 

Ah, kacau.

Pemuda berambut oranye ini memang bagaikan badai kecil yang datang di musim gugurnya.

 

Riel menatap Fae dalam. Lekat. Namun, ada sebuah jenaka yang terkandung di kedua mata coklat gelap pemuda itu. Dia seolah-olah…menikmati situasi ini. Menikmati Reaksi Fae.

Wajah Riel lama-lama mendekat ke wajah Fae. Pipi Fae langsung merona; jantungnya berdegup kencang. Di sisi lain, dia juga takut karena mamanya bisa muncul kapan saja dan memergoki mereka.

Apa-apaan, sih, Jamur Oranye ini?!! Mengapa dia selalu…mengganggu Fae seperti ini?! Mengapa dia terlampau santai menyentuh Fae seperti ini?! Mengapa dia tidak malu, padahal dia dan Fae belum lama bertemu?!!! Entah, deh, soal masa kecil yang Mama bilang tadi sore. Intinya, yang Fae ingat, mereka baru bertemu kemarin!!! Apa dia memang memperlakukan semua ‘orang asing’ seperti ini?!

Tidak masuk akal. Riel terlalu lengket untuk ukuran ‘orang yang baru bertemu kemarin’. Pemuda itu pasti sinting.

Saat hidung mereka hampir bersentuhan, tubuh Fae mematung. Merah di pipinya semakin melebar. Wajah Riel yang tampan…dan wangi parfum Riel yang segar dan memabukkan itu…sukses membuatnya menahan napas.

Satu detik kemudian, Riel pun berbicara dengan lirih. Di depan bibirnya.

 

“Kalau dilihat-lihat, sepertinya kau belum mandi. Karena aku tidak jadi mengintip, ya?”

 

BEDEBAAAAAAHHHH!!!!!

 

Fae mengamuk. Dia langsung menarik-narik tangannya dari genggaman Riel, tetapi tidak berhasil. Genggaman Riel justru semakin erat dan pemuda itu tertawa terbahak-bahak.

Oh, hal itu bertahan sampai akhirnya mama Fae sampai di ruang tamu dan cekikikan saat melihat mereka berdua. Fae menganga dan berteriak, “Ma, kok Mama malah tertawa, sih?!!! Pemuda ini menggangguku!! Aku baru bertemu dengannya kemarin, tetapi dia seperti ini padaku!!!”

Namun, Mama malah tertawa dan pergi dari ruang tamu, seolah-olah tak mau mengganggu mereka. Ujung-ujungnya, Riel meneriaki mama Fae dan berkata, “Kami mau mengerjakan PR bersama-sama, ya, Tanteee!!”

“Oke. Jangan pulang malam-malam, ya!” teriak mama Fae dari ujung sana.

 

Jamur Oranye terkutuk. Sejak kapan dia jadi akrab dengan Mama?!

 

Jadi, di sinilah mereka berdua, berakhir di kamar Fae.

Kamar Fae dominan berwarna coklat. Dindingnya, lemarinya, kayu-kayu ranjangnya...dan langit-langitnya. Ranjangnya terlihat begitu nyaman, selimutnya tebal dan lembut. Meja belajar putihnya ada di depan sana—berlawanan dengan pintu kamar—dan di samping meja belajar itu ada sebuah jendela yang tertutupi gorden.

Di atas meja belajar itu ada lampu yang cahayanya berwarna krem; menerangi buku-buku Fae yang ada di sana.

Fae menatap Riel. Pemuda itu sedang memperhatikan seisi kamar Fae sembari tersenyum.

Diam-diam, Fae malu bukan main. Ada seorang pemuda yang masuk ke kamarnya dan melihat-lihat kamarnya. Aaarghhh! Mana ranjangnya juga tidak rapi karena dia pakai tidur tadi siang!! Ugh. Mudah-mudahan tak ada hal aneh yang menarik perhatian Riel.

Riel pun melangkah ke depan sana. Ke arah meja belajar. “Wah, kamarmu kelihatan nyaman. Aku jadi ingin menginap.”

Fae menganga; matanya memelotot. “Aku akan mengusirmu kalau kau benar-benar berpikir seperti itu!”

Riel tertawa lagi. “Galak banget, sih, Cantik. Kan tidak ada salahnya kalau tetangga menginap.”

Tidak ada salahnya dari mana?!!! Dia dapat pengetahuan itu dari mana, sih?!!

Fae baru saja ingin memprotes lagi, tetapi ujung-ujungnya gadis itu memilih untuk diam dan mendengkus saja. Agaknya, semakin diladeni, Riel akan semakin menjadi-jadi.

Melihat Riel yang mulai melangkah ke depan sana dan duduk di kursi belajar, Fae pun melangkah ke ranjang, duduk di pinggirannya, dan menghadap ke Riel. Mereka duduk berhadapan.

“Jadi, mengapa kau datang ke rumahku?” tanya Fae dengan nada datar bercampur sebal. “Aku yakin itu bukan karena PR.”

Riel, sialnya, malah tertawa lagi. Dia sampai mendongak saking kerasnya dia tertawa. “Jangan curiga terus, dong. Aku memang mau mengerjakan PR bersamamu kok.”

Fae menatapnya dengan mata menyipit. “Aku tak percaya.”

Riel tertawa geli. “Jadi, alasan apa yang membuatmu percaya? Kalau kubilang aku datang ke sini untuk bertemu denganmu, nanti kau marah.”

Fae menganga. Apa?

Kau tidak mengatakan itu pun, aku sudah kesal padamu.

“Kan kita baru bertemu tadi sore,” jawab Fae seraya mendengkus. “Lagi pula, orang gila mana yang menginvasi rumah tetangga barunya di hari kedua mereka bertemu?!”

“Orang gila karena cinta, mungkin,” jawab Riel seraya memegang dagunya, sok-sokan berpikir. “atau orang gila yang tidak tenang karena tidak jadi mengintip gadis cantik mandi.”

Pipi Fae langsung memerah; gadis itu refleks melempar bantalnya ke arah Riel. “DASAR MESUM!!!”

Riel menangkis bantal itu dan tertawa lepas. Bantal yang malang itu jatuh ke lantai begitu saja.

Memang jamur beracun sialan.

Fae mengalihkan pandangan, napasnya berembus kencang karena kesal sekaligus malu. Wajahnya masih memerah.

Tak lama kemudian, suara Riel kembali terdengar. Namun, kali ini, suaranya…

 

…begitu lembut.

 

“Fae,” panggilnya.

 

Mendengar panggilan yang sangat lembut itu, Fae pun menoleh. Dia melihat Riel…yang duduk di depannya, di kursi itu...

…tengah tersenyum lembut. Tatapan Riel begitu teduh. Dalam.

Dua detik kemudian, pemuda itu sedikit memiringkan kepalanya…dan kembali membuka suara.

 

“Bolehkah aku meminta nomor ponselmu?”

 

Mata Fae melebar.

Gadis itu terdiam. Jantungnya berdebar-debar.

Ia melihat wajah Riel yang begitu tampan…di depan sana. Meskipun kamarnya tak terlalu terang—karena lampunya berwarna krem dan dindingnya berwarna coklat—ia tetap bisa melihat betapa cerahnya wajah Riel yang disinari lampu belajar itu. Bersih, mulus, dan natural. Rambut oranye miliknya terlihat polos dan lembut sekali.

“U—Untuk apa?” tanya Fae, menutupi rasa gugupnya.

Riel tertawa kecil. “Ya untuk chat dan telepon, dong. Mungkin untuk video call juga saat kau sedang ganti baju.”

Pipi Fae merona, dia melempar bantal lagi ke wajah Riel. “KELUAR DARI KAMARKU!!”

Tawa Riel langsung pecah. “Kok diusir, sih? Sudah jauh-jauh pacarnya datang, malah diusir.”

“PACAR DARI MANA?!!” teriak Fae. Oh, astaga, Fae stres sekali menghadapi makhluk bermulut buaya itu. Lagi pula, ‘jauh’ apanya?! Kan rumah mereka bersebelahan!!

Pemuda itu butuh dibawa ke rumah sakit jiwa. Dia berdelusi.

“Calon pacar,” ralat Riel, menekankan kata ‘calon’. Pemuda itu lalu mengambil ponselnya dari dalam saku celana. “Aku minta nomormu, yaa.”

Fae memutar bola matanya. “Aku tak ingat pernah mengiyakannya.”

“Oh, tidak boleh, ya? Ya sudah. Kalau begitu, aku akan datang ke kamarmu setiap hari. Soalnya, aku tidak bisa menghubungimu,” ucap Riel seraya tersenyum manis. Namun, kok senyumnya terasa agak…sadis? Apakah dia sedang…mem-blackmail Fae?

APA-APAAN ITU? Apa dia serius?! WHAT’S WRONG WITH THIS HUMAN?!

Sial. Menyebalkan sekali!

“Mengapa kau harus menghubungiku??” tanya Fae tak habis pikir.

Riel memiringkan kepalanya. “Lho, memangnya salah kalau tetangga saling menyimpan nomor?”

“Kita bakal bertemu setiap hari, jadi itu tak perlu,” jawab Fae.

“Kau harus punya nomorku, Fae. Kalau tiba-tiba kau terkunci di dalam rumah dan ibumu tak ada, siapa yang akan menyelamatkanmu kalau bukan aku?” tanya Riel.

Fae mengangkat alis. “Hah? Mengapa juga aku harus terkunci di dalam rumah? Konyol sekali.”

“Ya aku yang akan menguncimu, supaya kau minta diselamatkan,” jawab Riel seraya tersenyum miring.

SIALAN.

“KAU!!!” teriak Fae.

Riel kembali tertawa kencang. Agaknya, dia puas sekali mengganggu Fae malam ini. “Itu skenario sempurna untuk jatuh cinta dengan penyelamatmu.”

HAH? Jatuh cinta apanyaaaa?!!! APA DIA TERLALU BANYAK MENONTON DRAMA ATAU SESUATU?!

Anak ini minta dijewer.

“Kau mau kubunuh, ya?!!!” kata Fae.

Riel pura-pura bergidik ngeri; dia memeluk tubuhnya sendiri. Namun, dia masih tersenyum jail. “Jangan seram-seram, dong, Cantik. Jadi ngeri, nih. Kan niatnya datang ke sini mau mengunjungi calon pacar.”

Fae mendengkus; dia kesal bukan main. Lagi-lagi, Riel menyebut kata ‘pacar’. Fae benar-benar tak bisa memahami isi otak pemuda satu itu. Tengil sekali.

Tak lama kemudian, Riel menghela napas. Pemuda itu mulai memasang senyum lembutnya lagi.

 

“Minta nomor ponselmu, ya?”

 

Akhirnya, karena melihat ekspresi lembut Riel, tatapan teduh Riel, dan bagaimana Riel duduk di depan sana menunggunya, Fae pun…

 

…menghela napas.

 

Akhirnya, meski masih sebal, Fae mulai mengambil ponselnya yang terletak di atas nakas. Dia membuka kontaknya dan membacakan nomornya kepada Riel (berhubung dia tak hafal nomor ponselnya sendiri). Ujung-ujungnya, mereka bertukar kontak. Menyimpan nomor ponsel satu sama lain. Namun, saat Riel mulai mengirimkan pesan pada Fae—dia mau ‘mengetes’, katanya—isi pesan pertamanya adalah:

 

Malam, Cantik. Nanti pas mandi jangan lupa VC Abang, ya😘

 

Bulu kuduk Fae langsung berdiri semua tatkala melihat isi chat itu. Pipinya langsung memanas dan dia langsung meneriaki Riel habis-habisan. Namun, Riel? Seperti biasa hanya tertawa.

Apa-apaan, sih?!!!!

Kalau begini, bisa mampus juga Fae lama-lama.

Setelah meletakkan ponselnya di atas nakas kembali, tiba-tiba saja Fae mendengar Riel berbicara.

 

“Fae, ini buku apa?”

 

Fae langsung menoleh kepada Riel seraya mengernyitkan dahi. Di depan sana, dilihatnya Riel tengah mengangkat sebuah buku. Riel membolak-balikkan buku itu, melihat cover depan dan belakangnya.

Jantung Fae nyaris saja berhenti berdegup. Mata gadis itu memelotot seketika. Wajahnya memucat. Mulutnya menganga.

Itu—

Itu adalah…

 

…buku diarinya!!

 

YA TUHAAAAANNN!!!!

Fae langsung berlari. Gadis itu mendekati Riel dengan sangat panik. Astaga, dia lupa kalau dia selalu menaruh buku diarinya di atas meja!! Sialaaan! Dari semua buku yang ada di atas meja belajarnya, mengapa Riel harus mengambil buku itu, sih?!!!! Demi Bumi dan segala isinya, isi buku itu terlalu memalukan untuk dibaca orang lain! Seluruh rahasia Fae ada di sana, termasuk dia yang hampir pipis di celana waktu SMP dahulu!!!

“JANGAAAAAANNNNN!!!!!” jerit Fae.

Melihat Fae yang berlari ke arahnya dengan panik seraya berteriak “Jangan!!”, seketika Riel pun melebarkan matanya.

…dan satu detik kemudian…

…pemuda itu langsung tersenyum miring.

 

Wah, kayaknya buku diari, nih.

 

Riel langsung berdiri dan mengangkat sebelah tangannya ke atas (tangan yang memegang buku itu) begitu Fae sampai di depannya. Riel berjinjit dan Fae sibuk melompat-lompat agar bisa meraih buku itu. Fae tampak cemas dan panik setengah mati. Dia hampir merengek.

“RIEL! BERIKAN BUKU ITU PADAKU!!” teriaknya. “RIEEELL!!!”

Riel tersenyum jail, dia tampak senang bukan main. Senang di atas kegelisahan Fae. “Heeeh? Mengapa kau kelihatan panik sekali?”

Fae melompat tinggi-tinggi, mengangkat tangannya ke atas untuk meraih buku itu. Namun, tidak juga sampai. Riel mengayunkan tangannya ke segala arah agar Fae tak bisa mencapainya.

“BERIKAN SAJA BUKU ITU PADAKU!!!” teriak Fae lagi. Wajahnya pucat minta ampun. Sial. Di sana ada tumpahan kekesalan Fae saat pertama kali bertemu Riel kemarin, saat Riel menyebut tank top merah mudanya.

“Kan aku mau baca.” Mata Riel melebar polos. “Memangnya ini buku apa, hmm?”

Sialaaaaaannnnn!! Pemuda ini tahu kalau aku takut dia melihat isi buku itu, jadi dia menikmatinya!!!

“RIEEEEEELLLL!!!!!!!” teriak Fae.

Tawa Riel kembali lepas, seperti benar-benar sengaja. Pemuda itu melangkah mundur dan Fae mengikutinya sambil masih lompat-lompat di depannya. Fae tahu kalau dirinya sedang dipermainkan, tetapi dia menepis semua pikiran itu ke sisi terlebih dahulu. Mengambil buku diarinya dari Riel adalah hal yang terpenting saat ini!!

Riel terus berjalan mundur seraya tertawa. Fae terus-menerus meneriakinya, bahkan merengek dan memohon padanya. Namun, Riel tetap mundur ke belakang (memutar ke dekat ranjang), menghindarinya, dan menggodanya dengan mengayunkan buku itu ke kanan dan ke kiri.

Sampai akhirnya, kedua lutut Riel menabrak pinggiran ranjang. Tubuhnya terdorong ke belakang, oleng, dan…

 

BRUKK!!

 

Riel terjatuh di atas ranjang. Berbaring telentang.

…dengan Fae yang ikut terjatuh bersamanya.

 

Di atas tubuhnya.

 

Tiba-tiba, suasana terasa sunyi. Bunyi jam di dinding jadi terdengar dengan jelas.

Fae membuka mata. Tadi, saat jatuh, dia refleks menutup matanya.

 

Se—sebentar.

Dia—dia terjatuh di—

 

Mata Fae membulat sempurna. Jantungnya langsung berdegup kencang. Dia bisa mendengar detak jantungnya dengan jelas.

Dia…tidak terjatuh di permukaan ranjang.

Dia terjatuh…di atas Riel. Memegang bagian dada Riel; memegang permukaan jaket kulit hitam pemuda itu.

Wangi parfum Riel kembali tercium di hidung Fae. Wangi yang segar, tetapi membuatmu merasa nyaman.

Pipi Fae memanas. Panasnya dengan cepat menjalar hingga ke telinga. Wajahnya memerah. Merah terang.

Perlahan-lahan, dengan detak jantung yang sama sekali tak santai itu, Fae pun mengangkat wajahnya.

Dia melihat ke atas…

…hanya untuk menemukan Riel yang juga telah menunduk ke arahnya. Riel menunduk demi melihat wajahnya.

…dan tatapan mereka bertemu.

Wajah mereka sangat dekat dengan satu sama lain; hidung mereka lagi-lagi hampir menempel. Fae bisa merasakan napas hangat Riel yang berembus mengenai permukaan wajahnya. Bola mata Riel terlihat begitu jernih dari jarak yang dekat seperti ini.

Hidung pemuda itu mancung…dan...

…ekspresinya tampak sedikit…terkejut.

Buku diari itu masih ada di tangannya.

Tubuh Fae benar-benar mematung. Dia yakin kalau sekarang Riel bisa mendengar detak jantungnya yang keras dan cepat itu. Dia pun jadi lupa bernapas.

Matanya masih melebar tak percaya dengan apa yang sedang terjadi saat ini.

Akan tetapi, tiba-tiba saja…

Riel tersenyum miring.

 

“Kumandikan, yuk?”

 

Spontan Fae membeliakkan mata. Gadis itu langsung bangkit duduk—menduduki perut Riel—dan dengan wajah merah bak lampu lalu lintasnya itu, dia meraih bantal guling dan langsung memukuli Riel habis-habisan. Dia memukul dada, kepala, dan tangan pemuda itu dengan sekuat tenaga.

“DASAR JAMUR ORANYE GILAAAAAA!!!!!!!! AKU MEMBENCIMU!!!!!!”

Riel tertawa kencang—kencang sekali—dan menepis seluruh pukulan Fae. Dia terlihat puas sekali. Dia seperti berjemur santai di antara seluruh penderitaan Fae. Mengatakan bahwa dia ‘menikmati’ situasi itu rasanya sudah tidak cocok. Terlalu ringan. Dia jauh dari sekadar menikmati situasi itu.

Sialaaaaaaaan!!!

Keadaan itu bertahan selama beberapa menit. Fae yang terus memukuli dan mengejar Riel dan Riel yang menghindar seraya menepis pukulannya. Ujung-ujungnya, buku diari itu terlupakan. Tergeletak di atas ranjang. Itu bagus untuk Fae, sebenarnya. Jadi, setelah lelah kejar-kejaran dengan Riel, Fae pun mengambil kembali buku diari itu dan menyembunyikannya di dalam lemari.

Riel—yang sejak tadi tak henti-hentinya tertawa—akhirnya mulai berusaha menghentikan tawanya.

Karena kesal, Fae pun mendengkus, berkacak pinggang, dan menatap Riel seraya berkata, “Ayo cepat kita kerjakan PR-nya! Lelah sekali meladeni orang menyebalkan sepertimu.”

Riel malah tertawa lagi.

Akhirnya, mereka berdua pun mengerjakan PR Matematika di meja belajar Fae. Fae mengambil satu kursi lagi dari luar untuk Riel agar mereka bisa duduk berdua menghadap meja belajar itu.

Karena Riel sebenarnya tidak membawa buku PR-nya (well, sebenarnya dia tidak berniat datang ke rumah Fae untuk mengerjakan PR, tetapi karena dia ingin mengganggu Fae lebih lama, dia jadi membuat-buat alasan), Riel hanya meminta satu kertas kosong dari Fae. Nanti, di rumah, dia akan menyalin jawaban-jawaban di kertas kosong itu ke buku PR-nya.

Awalnya, bukannya mengerjakan soal, Riel malah sibuk memperhatikan Fae. Dia menumpukan sikunya di meja, lalu menatap Fae seraya tersenyum manis. Fae kesal, tetapi di sisi lain, dia juga malu diperhatikan begitu. Duuh, mengapa si Jamur Oranye ini selalu bersikap seperti ini, siiihh?!

Namun, tatkala akhirnya Fae mengomel, barulah Riel tertawa kecil dan berkata, “Iya, deh, iya…” seraya mengerjakan PR-nya.

Selang lima menit kemudian, Fae akhirnya sampai di soal ketiga. PR mereka saat itu hanya lima soal, tetapi jawabannya cukup panjang. Riel…agaknya sudah santai. Pemuda itu kembali pada posisinya semula, yaitu memperhatikan Fae seraya tersenyum manis.

Dia santai karena sudah selesai atau karena tidak mengerjakan?!!!

Entahlah. Fae lelah sekali meladeninya.

Soal ketiga dari PR Matematika saat itu adalah tentang fungsi. Begitu melihat soalnya, Fae sempat mengernyitkan dahi. Aduh. Sepertinya, ini agak rumit baginya.

Fae mulai melihat buku catatannya. Melihat satu per satu catatan rumus dan latihan soal yang sudah dikerjakan, lalu menentukan bagaimana cara yang tepat untuk menyelesaikan soal nomor tiga itu.

Fae mulai menulis. Namun, dia agak terhenti di tengah jalan karena sedikit ragu. Alisnya menyatu. Dia berpikir panjang.

Tiba-tiba saja, terdengar sebuah suara.

 

“Tulis dulu komposisinya.”

 

Fae tersentak. Itu adalah suara Riel.

Tak ayal, Fae pun menoleh kepada pemuda itu.

“Eh?”

Riel tersenyum. Pemuda itu memajukan tubuhnya—mendekati Fae—lalu menunduk untuk melihat jawaban-jawaban di buku Fae.

Fae meneguk ludah saat wajah Riel berada dekat dengan wajahnya. Pemuda itu masih tersenyum seraya memperhatikan tulisan Fae.

“Soal yang sedang kau kerjakan ini,” ujar Riel seraya menunjuk soal nomor tiga. “tulis dahulu komposisinya.”

Fae mengangguk. Dalam hati, ia sangat heran. Mengapa Riel tampak lebih tahu? Jadi, sebetulnya, tadi itu Riel benar-benar menyelesaikan PR-nya atau cuma bermain-main?

Karena tak ingin memikirkan itu lebih lama, Fae pun menulis komposisinya pelan-pelan.

 

(gf)(x)=g(f(x))

=g(3x−2)

 

Fae berhenti. Dia kurang yakin untuk bagian selanjutnya.

“Hm,” deham Riel seraya mengangguk. “Karena g(x) itu sama dengan x+1​, berarti g(3x−2) itu sama dengan (3x−2)+1.”

Riel menunjuk soal nomor tiga dan komposisi Fae bergantian. Fae mengangguk-angguk, lalu menuliskan apa yang Riel katakan.

Saat Fae selesai menulisnya, Riel pun mengangguk dan menunjuk apa yang Fae tulis. “Nah, sekarang, (3x−2)+1 itu sama dengan 3x-1. Berarti, (gf)(x)=3x−1.”

Diam-diam, Fae memperhatikan wajah Riel saat pemuda itu menjelaskan padanya.

Ada titik-titik keringat di pelipis pemuda itu.

Dia sangat tampan…dan sangat lugas saat mengajari Fae. Namun, tidak ada nada meremehkan sama sekali dari suaranya. Dia masih Riel yang ramah; masih Riel yang secerah mentari; masih Riel yang murah senyum.

Ternyata, Riel itu…pintar sekali.

Fae diam-diam melirik ke PR yang Riel kerjakan…dan ternyata kertas kosong milik pemuda itu sudah terisi penuh.

Artinya, Riel memang sudah selesai sejak tadi.

Fae meneguk ludahnya. Dia lagi-lagi memperhatikan wajah Riel…tetapi kali ini dengan rasa kagum sekaligus tak menyangka. Ternyata, di balik sikap menyebalkannya itu, Riel menyimpan banyak sekali kejutan.

Pohon ginkgo, kisah masa kecil yang belum Fae ingat (dan entah itu benar atau tidak), serta otaknya yang pintar.

“…nah, setelah diubah menjadi y, kita putar balik saja fungsinya kalau dia minta invers. Tukar x dan y-nya. Kuadratkan kedua sisinya untuk menghilangkan akar. X kuadrat sekarang sama dengan 3y−1. Pindahkan 1 ke sebelah X kuadrat, lalu nanti dibagi 3. Itu adalah jawaban invers (gf) (x).”

Fae menatap buku PR-nya, lalu mengangguk-angguk.

Well…meskipun sebetulnya, dia tak terlalu memperhatikan apa yang Riel ajarkan. Dia cuma fokus…memandangi Riel.

Riel pun menoleh padanya.

“Hmm? Mengapa kau melamun? Apakah caraku menjelaskan—”

 

“Riel.”

 

Spontan mata Riel melebar. Soalnya, tiba-tiba saja, panggilan dari Fae itu terdengar…

 

…serius.

 

Tatapan Fae pada Riel saat itu sangatlah…saksama. Lurus. Dalam.

Mereka saling menatap selama beberapa detik.

 

Ah, ya.

Benar.

Fae teringat sesuatu.

 

Kata-kata ibunya sepulang sekolah tadi.

 

Dia harus menanyakan semuanya kepada Riel.

Semua keterkejutannya. Semua kebingungannya. Semua pertanyaannya di dalam hati. Semua hal yang baginya terasa ganjil.

 

Inilah saatnya mengonfirmasi segalanya.

 

Riel berkedip perlahan.

“Hm?” deham pemuda itu.

Fae meneguk ludah. Gadis itu diam sejenak.

Akan tetapi, akhirnya…dia mulai membuka suara.

 

“Mamaku bilang…dulu kau sudah pernah tinggal di sebelah. Kau pernah jadi tetangga kami.”

 

Mata Riel sedikit melebar. Pemuda itu diam sejenak; dia menatap Fae selama beberapa detik.

Namun, akhirnya, Riel menghela napas dan tersenyum. Dia sedikit mengusap tengkuknya, lalu berpikir seraya melihat ke arah lain. Seolah-olah ingin memastikan sesuatu. “Aahh, iya. Dulu, kami pernah tinggal di sini. Kalau aku tidak salah hitung, sepertinya…itu belasan tahun yang lalu. Waktu aku masih kecil.”

Fae lantas menyatukan alis. “Benarkah? Kok aku tidak ingat, ya? Jadi, mengapa kau pindah?”

Riel tertawa kecil. “Ayahku pindah tugas. Mutasi ke Seoul. Makanya, kami pindah.”

Dahi Fae masih berkerut; dia lagi-lagi bingung, soalnya dia tidak ingat sama sekali. Kini, dia mulai memiringkan kepalanya.

Jeda sejenak, sebelum akhirnya…dia pun bertanya.

 

“Jadi…mengapa kau kembali lagi ke sini?”

 

Tatapan mereka bertemu.

Riel belum menjawab. Dia seolah-olah…masih menunggu Fae menyelesaikan pertanyaannya.

 

“…Apakah ayahmu…mutasi lagi?” lanjut Fae. Ternyata, pertanyaan itu memang ada lanjutannya. “Akan tetapi, walaupun ayahmu mutasi ke sini, seharusnya lebih baik kau tetap di Seoul. Tanggung sekali kau pindah sekolah sekarang. Lagi pula, di Seoul sekolahnya pasti lebih bagus.”

Mendengar kata-kata Fae, Riel jadi menghela napasnya dan tersenyum.

Karena Riel hanya tersenyum, Fae pun spontan memukul bahu pemuda itu dan berkata, “Hei! Kok malah tersenyum, sih?! Jawab aku, dong!!”

Riel tertawa.

Tiga detik kemudian, pemuda itu mulai memiringkan kepalanya. Dengan nada bercanda, dia pun menjawab:

 

“Mungkin karena sudah takdirnya aku bertemu denganmu?” katanya seraya mengedikkan bahu. []

 













******











No comments:

Post a Comment

My Friend's Father (Chapter 5: Wealthy and Powerful Man)

  ****** Chapter 5 : Wealthy and Powerful Man   ******   PONSEL berwarna hitam yang ada di atas meja itu berbunyi, pertanda ada se...