Chapter
4 :
Tell
Me about You
******
FAE
menutup
pintu kamarnya.
Entah
mengapa, mereka jadi berakhir di sini. Di kamarnya.
Ia
dan Riel Orion.
Sial.
Tadi, saat Fae melihat Riel duduk di sofa ruang tamu dan menyapanya dengan
riang, Fae langsung kaget bukan main. Gadis itu langsung mematung di tempat, menatap
Riel tak percaya. Apa yang pemuda ini lakukan di rumahku malam-malam
begini?!!
Riel
memakai jaket kulit berwarna hitam. Terlihat tampan sekali malam-malam begini.
“Kok
kaget, sih? Kan aku cuma mau berkunjung ke rumah tetanggaku yang cantik,” kata
Riel tanpa malu; dia tersenyum lebar seraya memiringkan kepalanya. Sialnya,
Mama Fae malah tertawa terbahak-bahak.
“Mama
buatkan minuman dahulu, ya,” kata Mama. Mama langsung mengambil bungkus
belanjaan dari tangan Fae (karena Fae masih mematung) dan pergi ke dapur,
meninggalkan mereka berdua.
“Terima
kasih, Tante,” jawab Riel seraya memberikan mama Fae senyuman manis.
Tak
lama kemudian, Riel kembali menatap Fae. Masih dengan senyum manis (bangsat)-nya
itu, dia menepuk-nepuk sofa di sebelahnya. “Sini. Duduk. Masa ada tamu
dicuekin, sih? Jahat banget, nih, yang punya rumah.”
Sompret!
Di
sini, Fae baru saja ditabrak memori-memori aneh saat berdiri di bawah
pohon ginkgo itu; Fae juga dihinggapi perasaan aneh tatkala mengingat betapa
indahnya Riel saat berdiri di bawah pohon itu, tetapi begitu dia sampai di
rumah…
…pemuda
yang dia pikirkan malah ada di ruang tamunya, duduk santai di sofanya, dan
menyapanya dengan riang begini!!
Berani-beraninya
dia bersikap santai begini, setelah membuat pikiran Fae terganggu?!
Ah,
sial. Fae jadi bersungut-sungut sendiri dalam hati.
Fae
mendengkus; gadis itu langsung mendekati Riel seraya mengentakkan kakinya. Saat
berada di depan Riel, dia langsung protes terang-terangan, “Apa yang kau
lakukan di sini?!!!!”
Bangsatnya,
Riel malah memiringkan kepala dan matanya membulat polos, “Hmm? Kok marah?
Seingatku, aku tak jadi mengintipmu mandi tadi sore.”
…Hah?
Pipi
Fae kontan merona.
Tunggu.
…Mengintip?
Sialaaaan!
Riel masih ingat soal itu?!
Apakah
itu sebabnya tadi dia bertanya Fae sudah mandi atau belum?
Dasar
Jamur Oranye mesum. Dia benar-benar mengatakan itu terang-terangan di rumah
Fae!
“Ssshhhhhh!!!!!”
Fae meletakkan telunjuknya di depan mulut, menghentikan Riel dengan panik. “Apa
kau gila?!!”
Riel
tertawa terbahak-bahak. Tawa pemuda itu terdengar begitu keras sampai-sampai
Fae panik (dia menoleh ke dapur, takut mamanya dengar), lalu langsung menutup
mulut Riel dengan kedua tangannya. “Hei!!!”
Riel
berhenti tertawa; dia melepaskan tangan Fae dari mulutnya, lalu langsung
menarik kedua tangan itu agar Fae duduk di sampingnya. Fae kaget bukan main. Mata
gadis itu membulat sempurna tatkala bokongnya menghantam sofa. Tepat di sebelah
Riel.
Dia
menatap Riel. Mulutnya menganga. Dia hampir saja mau marah-marah pada Riel,
tetapi tak jadi karena…
…melihat
Riel tersenyum miring padanya.
Ah,
kacau.
Pemuda
berambut oranye ini memang bagaikan badai kecil yang datang di musim gugurnya.
Riel
menatap Fae dalam. Lekat. Namun, ada sebuah jenaka yang terkandung di
kedua mata coklat gelap pemuda itu. Dia seolah-olah…menikmati situasi ini.
Menikmati Reaksi Fae.
Wajah
Riel lama-lama mendekat ke wajah Fae. Pipi Fae langsung merona; jantungnya
berdegup kencang. Di sisi lain, dia juga takut karena mamanya bisa muncul kapan
saja dan memergoki mereka.
Apa-apaan,
sih, Jamur Oranye ini?!! Mengapa dia selalu…mengganggu Fae seperti ini?!
Mengapa dia terlampau santai menyentuh Fae seperti ini?! Mengapa dia tidak
malu, padahal dia dan Fae belum lama bertemu?!!! Entah, deh, soal masa kecil
yang Mama bilang tadi sore. Intinya, yang Fae ingat, mereka baru bertemu
kemarin!!! Apa dia memang memperlakukan semua ‘orang asing’ seperti ini?!
Tidak
masuk akal. Riel terlalu lengket untuk ukuran ‘orang yang baru bertemu
kemarin’. Pemuda itu pasti sinting.
Saat
hidung mereka hampir bersentuhan, tubuh Fae mematung. Merah di pipinya
semakin melebar. Wajah Riel yang tampan…dan wangi parfum Riel yang segar
dan memabukkan itu…sukses membuatnya menahan napas.
Satu
detik kemudian, Riel pun berbicara dengan lirih. Di depan bibirnya.
“Kalau
dilihat-lihat, sepertinya kau belum mandi. Karena aku tidak jadi mengintip,
ya?”
BEDEBAAAAAAHHHH!!!!!
Fae
mengamuk. Dia langsung menarik-narik tangannya dari genggaman Riel, tetapi
tidak berhasil. Genggaman Riel justru semakin erat dan pemuda itu tertawa
terbahak-bahak.
Oh,
hal itu bertahan sampai akhirnya mama Fae sampai di ruang tamu dan cekikikan saat
melihat mereka berdua. Fae menganga dan berteriak, “Ma, kok Mama malah tertawa,
sih?!!! Pemuda ini menggangguku!! Aku baru bertemu dengannya kemarin, tetapi
dia seperti ini padaku!!!”
Namun,
Mama malah tertawa dan pergi dari ruang tamu, seolah-olah tak mau mengganggu
mereka. Ujung-ujungnya, Riel meneriaki mama Fae dan berkata, “Kami mau
mengerjakan PR bersama-sama, ya, Tanteee!!”
“Oke.
Jangan pulang malam-malam, ya!” teriak mama Fae dari
ujung sana.
Jamur
Oranye terkutuk. Sejak kapan dia jadi akrab dengan Mama?!
Jadi,
di sinilah mereka berdua, berakhir di kamar Fae.
Kamar
Fae dominan berwarna coklat. Dindingnya, lemarinya, kayu-kayu ranjangnya...dan
langit-langitnya. Ranjangnya terlihat begitu nyaman, selimutnya tebal
dan lembut. Meja belajar putihnya ada di depan sana—berlawanan dengan pintu
kamar—dan di samping meja belajar itu ada sebuah jendela yang tertutupi gorden.
Di
atas meja belajar itu ada lampu yang cahayanya berwarna krem; menerangi
buku-buku Fae yang ada di sana.
Fae
menatap Riel. Pemuda itu sedang memperhatikan seisi kamar Fae sembari
tersenyum.
Diam-diam,
Fae malu bukan main. Ada seorang pemuda yang masuk ke kamarnya dan melihat-lihat
kamarnya. Aaarghhh! Mana ranjangnya juga tidak rapi karena dia pakai tidur
tadi siang!! Ugh. Mudah-mudahan tak ada hal aneh yang menarik perhatian Riel.
Riel
pun melangkah ke depan sana. Ke arah meja belajar. “Wah, kamarmu kelihatan
nyaman. Aku jadi ingin menginap.”
Fae
menganga; matanya memelotot. “Aku akan mengusirmu kalau kau benar-benar
berpikir seperti itu!”
Riel
tertawa lagi. “Galak banget, sih, Cantik. Kan tidak ada salahnya kalau tetangga
menginap.”
Tidak
ada salahnya dari mana?!!! Dia dapat pengetahuan itu dari mana, sih?!!
Fae
baru saja ingin memprotes lagi, tetapi ujung-ujungnya gadis itu memilih untuk
diam dan mendengkus saja. Agaknya, semakin diladeni, Riel akan semakin
menjadi-jadi.
Melihat
Riel yang mulai melangkah ke depan sana dan duduk di kursi belajar, Fae pun
melangkah ke ranjang, duduk di pinggirannya, dan menghadap ke Riel. Mereka
duduk berhadapan.
“Jadi,
mengapa kau datang ke rumahku?” tanya Fae dengan nada datar bercampur sebal.
“Aku yakin itu bukan karena PR.”
Riel,
sialnya, malah tertawa lagi. Dia sampai mendongak saking kerasnya dia tertawa.
“Jangan curiga terus, dong. Aku memang mau mengerjakan PR bersamamu kok.”
Fae
menatapnya dengan mata menyipit. “Aku tak percaya.”
Riel
tertawa geli. “Jadi, alasan apa yang membuatmu percaya? Kalau kubilang aku
datang ke sini untuk bertemu denganmu, nanti kau marah.”
Fae
menganga. Apa?
Kau
tidak mengatakan itu pun, aku sudah kesal padamu.
“Kan
kita baru bertemu tadi sore,” jawab Fae seraya mendengkus. “Lagi pula, orang
gila mana yang menginvasi rumah tetangga barunya di hari kedua mereka
bertemu?!”
“Orang
gila karena cinta, mungkin,” jawab Riel seraya memegang dagunya, sok-sokan
berpikir. “atau orang gila yang tidak tenang karena tidak jadi mengintip gadis
cantik mandi.”
Pipi
Fae langsung memerah; gadis itu refleks melempar bantalnya ke arah Riel. “DASAR
MESUM!!!”
Riel
menangkis bantal itu dan tertawa lepas. Bantal yang malang itu jatuh ke lantai
begitu saja.
Memang
jamur beracun sialan.
Fae
mengalihkan pandangan, napasnya berembus kencang karena kesal sekaligus malu.
Wajahnya masih memerah.
Tak
lama kemudian, suara Riel kembali terdengar. Namun, kali ini, suaranya…
…begitu
lembut.
“Fae,”
panggilnya.
Mendengar
panggilan yang sangat lembut itu, Fae pun menoleh. Dia melihat Riel…yang
duduk di depannya, di kursi itu...
…tengah
tersenyum lembut. Tatapan Riel begitu teduh. Dalam.
Dua
detik kemudian, pemuda itu sedikit memiringkan kepalanya…dan kembali membuka
suara.
“Bolehkah
aku meminta nomor ponselmu?”
Mata
Fae melebar.
Gadis
itu terdiam. Jantungnya berdebar-debar.
Ia
melihat wajah Riel yang begitu tampan…di depan sana. Meskipun kamarnya tak
terlalu terang—karena lampunya berwarna krem dan dindingnya berwarna coklat—ia
tetap bisa melihat betapa cerahnya wajah Riel yang disinari lampu belajar itu.
Bersih, mulus, dan natural. Rambut oranye miliknya terlihat polos dan lembut
sekali.
“U—Untuk
apa?” tanya Fae, menutupi rasa gugupnya.
Riel
tertawa kecil. “Ya untuk chat dan telepon, dong. Mungkin untuk video
call juga saat kau sedang ganti baju.”
Pipi
Fae merona, dia melempar bantal lagi ke wajah Riel. “KELUAR DARI KAMARKU!!”
Tawa
Riel langsung pecah. “Kok diusir, sih? Sudah jauh-jauh pacarnya datang, malah
diusir.”
“PACAR
DARI MANA?!!” teriak Fae. Oh, astaga, Fae stres sekali menghadapi makhluk
bermulut buaya itu. Lagi pula, ‘jauh’ apanya?! Kan rumah mereka bersebelahan!!
Pemuda
itu butuh dibawa ke rumah sakit jiwa. Dia berdelusi.
“Calon
pacar,”
ralat Riel, menekankan kata ‘calon’. Pemuda itu lalu mengambil ponselnya dari
dalam saku celana. “Aku minta nomormu, yaa.”
Fae
memutar bola matanya. “Aku tak ingat pernah mengiyakannya.”
“Oh,
tidak boleh, ya? Ya sudah. Kalau begitu, aku akan datang ke kamarmu setiap
hari. Soalnya, aku tidak bisa menghubungimu,” ucap Riel seraya tersenyum manis.
Namun, kok senyumnya terasa agak…sadis? Apakah dia sedang…mem-blackmail
Fae?
APA-APAAN
ITU? Apa dia serius?! WHAT’S WRONG WITH THIS HUMAN?!
Sial.
Menyebalkan sekali!
“Mengapa
kau harus menghubungiku??” tanya Fae tak habis pikir.
Riel
memiringkan kepalanya. “Lho, memangnya salah kalau tetangga saling
menyimpan nomor?”
“Kita
bakal bertemu setiap hari, jadi itu tak perlu,” jawab Fae.
“Kau
harus punya nomorku, Fae. Kalau tiba-tiba kau terkunci di dalam rumah dan ibumu
tak ada, siapa yang akan menyelamatkanmu kalau bukan aku?” tanya Riel.
Fae
mengangkat alis. “Hah? Mengapa juga aku harus terkunci di dalam rumah? Konyol
sekali.”
“Ya
aku yang akan menguncimu, supaya kau minta diselamatkan,” jawab Riel seraya
tersenyum miring.
SIALAN.
“KAU!!!”
teriak
Fae.
Riel
kembali tertawa kencang. Agaknya, dia puas sekali mengganggu Fae malam ini. “Itu
skenario sempurna untuk jatuh cinta dengan penyelamatmu.”
HAH?
Jatuh cinta apanyaaaa?!!! APA DIA TERLALU BANYAK MENONTON DRAMA
ATAU SESUATU?!
Anak
ini minta dijewer.
“Kau
mau kubunuh, ya?!!!” kata Fae.
Riel
pura-pura bergidik ngeri; dia memeluk tubuhnya sendiri. Namun, dia masih
tersenyum jail. “Jangan seram-seram, dong, Cantik. Jadi ngeri, nih. Kan
niatnya datang ke sini mau mengunjungi calon pacar.”
Fae
mendengkus; dia kesal bukan main. Lagi-lagi, Riel menyebut kata ‘pacar’.
Fae benar-benar tak bisa memahami isi otak pemuda satu itu. Tengil sekali.
Tak
lama kemudian, Riel menghela napas. Pemuda itu mulai memasang senyum lembutnya
lagi.
“Minta
nomor
ponselmu, ya?”
Akhirnya,
karena melihat ekspresi lembut Riel, tatapan teduh Riel, dan bagaimana Riel
duduk di depan sana menunggunya, Fae pun…
…menghela
napas.
Akhirnya,
meski masih sebal, Fae mulai mengambil ponselnya yang terletak di atas nakas.
Dia membuka kontaknya dan membacakan nomornya kepada Riel (berhubung dia tak
hafal nomor ponselnya sendiri). Ujung-ujungnya, mereka bertukar kontak.
Menyimpan nomor ponsel satu sama lain. Namun, saat Riel mulai mengirimkan pesan
pada Fae—dia mau ‘mengetes’, katanya—isi pesan pertamanya adalah:
Malam,
Cantik. Nanti pas mandi jangan lupa VC Abang, ya😘
Bulu
kuduk Fae langsung berdiri semua tatkala melihat isi chat itu. Pipinya
langsung memanas dan dia langsung meneriaki Riel habis-habisan. Namun, Riel?
Seperti biasa hanya tertawa.
Apa-apaan,
sih?!!!!
Kalau
begini, bisa mampus juga Fae lama-lama.
Setelah
meletakkan ponselnya di atas nakas kembali, tiba-tiba saja Fae mendengar Riel
berbicara.
“Fae,
ini buku apa?”
Fae
langsung menoleh kepada Riel seraya mengernyitkan dahi. Di depan sana, dilihatnya
Riel tengah mengangkat sebuah buku. Riel membolak-balikkan buku itu, melihat cover
depan dan belakangnya.
Jantung
Fae nyaris saja berhenti berdegup. Mata gadis itu memelotot seketika. Wajahnya
memucat. Mulutnya menganga.
Itu—
Itu
adalah…
…buku
diarinya!!
YA
TUHAAAAANNN!!!!
Fae
langsung berlari. Gadis itu mendekati Riel dengan sangat panik. Astaga,
dia lupa kalau dia selalu menaruh buku diarinya di atas meja!! Sialaaan! Dari
semua buku yang ada di atas meja belajarnya, mengapa Riel harus mengambil buku
itu, sih?!!!! Demi Bumi dan segala isinya, isi buku itu terlalu memalukan untuk
dibaca orang lain! Seluruh rahasia Fae ada di sana, termasuk dia yang hampir
pipis di celana waktu SMP dahulu!!!
“JANGAAAAAANNNNN!!!!!”
jerit
Fae.
Melihat
Fae yang berlari ke arahnya dengan panik seraya berteriak “Jangan!!”, seketika
Riel pun melebarkan matanya.
…dan
satu detik kemudian…
…pemuda
itu langsung tersenyum miring.
Wah,
kayaknya buku diari, nih.
Riel
langsung berdiri dan mengangkat sebelah tangannya ke atas (tangan yang memegang
buku itu) begitu Fae sampai di depannya. Riel berjinjit dan Fae sibuk
melompat-lompat agar bisa meraih buku itu. Fae tampak cemas dan panik setengah
mati. Dia hampir merengek.
“RIEL!
BERIKAN BUKU ITU PADAKU!!” teriaknya. “RIEEELL!!!”
Riel
tersenyum jail, dia tampak senang bukan main. Senang di atas kegelisahan Fae. “Heeeh?
Mengapa kau kelihatan panik sekali?”
Fae
melompat tinggi-tinggi, mengangkat tangannya ke atas untuk meraih buku itu.
Namun, tidak juga sampai. Riel mengayunkan tangannya ke segala arah agar Fae
tak bisa mencapainya.
“BERIKAN
SAJA BUKU ITU PADAKU!!!” teriak Fae lagi. Wajahnya pucat minta ampun. Sial. Di
sana ada tumpahan kekesalan Fae saat pertama kali bertemu Riel kemarin, saat
Riel menyebut tank top merah mudanya.
“Kan
aku mau baca.” Mata Riel melebar polos. “Memangnya ini buku apa, hmm?”
Sialaaaaaannnnn!!
Pemuda ini tahu kalau aku takut dia melihat isi buku itu, jadi dia
menikmatinya!!!
“RIEEEEEELLLL!!!!!!!”
teriak Fae.
Tawa
Riel kembali lepas, seperti benar-benar sengaja. Pemuda itu melangkah mundur
dan Fae mengikutinya sambil masih lompat-lompat di depannya. Fae tahu kalau dirinya
sedang dipermainkan, tetapi dia menepis semua pikiran itu ke sisi terlebih
dahulu. Mengambil buku diarinya dari Riel adalah hal yang terpenting saat ini!!
Riel
terus berjalan mundur seraya tertawa. Fae terus-menerus meneriakinya, bahkan
merengek dan memohon padanya. Namun, Riel tetap mundur ke belakang (memutar ke
dekat ranjang), menghindarinya, dan menggodanya dengan mengayunkan buku itu ke
kanan dan ke kiri.
Sampai
akhirnya, kedua lutut Riel menabrak pinggiran ranjang. Tubuhnya terdorong ke
belakang, oleng, dan…
BRUKK!!
Riel
terjatuh di atas ranjang. Berbaring telentang.
…dengan
Fae yang ikut terjatuh bersamanya.
Di
atas tubuhnya.
Tiba-tiba,
suasana terasa sunyi. Bunyi jam di dinding jadi terdengar dengan jelas.
Fae
membuka mata. Tadi, saat jatuh, dia refleks menutup matanya.
Se—sebentar.
Dia—dia
terjatuh di—
Mata
Fae membulat sempurna. Jantungnya langsung berdegup kencang. Dia bisa
mendengar detak jantungnya dengan jelas.
Dia…tidak
terjatuh di permukaan ranjang.
Dia
terjatuh…di atas Riel. Memegang bagian dada Riel; memegang permukaan jaket
kulit hitam pemuda itu.
Wangi
parfum Riel kembali tercium di hidung Fae. Wangi yang segar, tetapi membuatmu
merasa nyaman.
Pipi
Fae memanas. Panasnya dengan cepat menjalar hingga ke telinga. Wajahnya
memerah. Merah terang.
Perlahan-lahan,
dengan detak jantung yang sama sekali tak santai itu, Fae pun mengangkat
wajahnya.
Dia
melihat ke atas…
…hanya
untuk menemukan Riel yang juga telah menunduk ke arahnya. Riel menunduk
demi melihat wajahnya.
…dan
tatapan mereka bertemu.
Wajah
mereka sangat dekat dengan satu sama lain; hidung mereka lagi-lagi
hampir menempel. Fae bisa merasakan napas hangat Riel yang berembus mengenai
permukaan wajahnya. Bola mata Riel terlihat begitu jernih dari jarak
yang dekat seperti ini.
Hidung
pemuda itu mancung…dan...
…ekspresinya
tampak sedikit…terkejut.
Buku
diari itu masih ada di tangannya.
Tubuh
Fae benar-benar mematung. Dia yakin kalau sekarang Riel bisa mendengar detak
jantungnya yang keras dan cepat itu. Dia pun jadi lupa bernapas.
Matanya
masih melebar tak percaya dengan apa yang sedang terjadi saat ini.
Akan
tetapi, tiba-tiba saja…
Riel
tersenyum miring.
“Kumandikan,
yuk?”
Spontan
Fae membeliakkan mata. Gadis itu langsung bangkit duduk—menduduki perut
Riel—dan dengan wajah merah bak lampu lalu lintasnya itu, dia meraih bantal
guling dan langsung memukuli Riel habis-habisan. Dia memukul dada, kepala, dan
tangan pemuda itu dengan sekuat tenaga.
“DASAR
JAMUR ORANYE GILAAAAAA!!!!!!!! AKU MEMBENCIMU!!!!!!”
Riel
tertawa kencang—kencang sekali—dan menepis seluruh pukulan Fae. Dia terlihat
puas sekali. Dia seperti berjemur santai di antara seluruh penderitaan
Fae. Mengatakan bahwa dia ‘menikmati’ situasi itu rasanya sudah tidak
cocok. Terlalu ringan. Dia jauh dari sekadar menikmati situasi itu.
Sialaaaaaaaan!!!
Keadaan
itu bertahan selama beberapa menit. Fae yang terus memukuli dan mengejar Riel
dan Riel yang menghindar seraya menepis pukulannya. Ujung-ujungnya, buku diari
itu terlupakan. Tergeletak di atas ranjang. Itu bagus untuk Fae, sebenarnya.
Jadi, setelah lelah kejar-kejaran dengan Riel, Fae pun mengambil kembali buku
diari itu dan menyembunyikannya di dalam lemari.
Riel—yang
sejak tadi tak henti-hentinya tertawa—akhirnya mulai berusaha menghentikan
tawanya.
Karena
kesal, Fae pun mendengkus, berkacak pinggang, dan menatap Riel seraya berkata,
“Ayo cepat kita kerjakan PR-nya! Lelah sekali meladeni orang menyebalkan
sepertimu.”
Riel
malah tertawa lagi.
Akhirnya,
mereka berdua pun mengerjakan PR Matematika di meja belajar Fae. Fae mengambil
satu kursi lagi dari luar untuk Riel agar mereka bisa duduk berdua menghadap
meja belajar itu.
Karena
Riel sebenarnya tidak membawa buku PR-nya (well, sebenarnya dia tidak
berniat datang ke rumah Fae untuk mengerjakan PR, tetapi karena dia ingin
mengganggu Fae lebih lama, dia jadi membuat-buat alasan), Riel hanya meminta
satu kertas kosong dari Fae. Nanti, di rumah, dia akan menyalin jawaban-jawaban
di kertas kosong itu ke buku PR-nya.
Awalnya,
bukannya mengerjakan soal, Riel malah sibuk memperhatikan Fae. Dia menumpukan
sikunya di meja, lalu menatap Fae seraya tersenyum manis. Fae kesal, tetapi di
sisi lain, dia juga malu diperhatikan begitu. Duuh, mengapa si Jamur Oranye
ini selalu bersikap seperti ini, siiihh?!
Namun,
tatkala akhirnya Fae mengomel, barulah Riel tertawa kecil dan berkata, “Iya,
deh, iya…” seraya mengerjakan PR-nya.
Selang
lima menit kemudian, Fae akhirnya sampai di soal ketiga. PR mereka saat itu
hanya lima soal, tetapi jawabannya cukup panjang. Riel…agaknya sudah santai.
Pemuda itu kembali pada posisinya semula, yaitu memperhatikan Fae seraya
tersenyum manis.
Dia
santai karena sudah selesai atau karena tidak mengerjakan?!!!
Entahlah.
Fae lelah sekali meladeninya.
Soal
ketiga dari PR Matematika saat itu adalah tentang fungsi. Begitu melihat
soalnya, Fae sempat mengernyitkan dahi. Aduh. Sepertinya, ini agak rumit
baginya.
Fae
mulai melihat buku catatannya. Melihat satu per satu catatan rumus dan latihan
soal yang sudah dikerjakan, lalu menentukan bagaimana cara yang tepat untuk
menyelesaikan soal nomor tiga itu.
Fae
mulai menulis. Namun, dia agak terhenti di tengah jalan karena sedikit ragu.
Alisnya menyatu. Dia berpikir panjang.
Tiba-tiba
saja, terdengar sebuah suara.
“Tulis
dulu komposisinya.”
Fae
tersentak. Itu adalah suara Riel.
Tak
ayal, Fae pun menoleh kepada pemuda itu.
“Eh?”
Riel
tersenyum. Pemuda itu memajukan tubuhnya—mendekati Fae—lalu menunduk untuk
melihat jawaban-jawaban di buku Fae.
Fae
meneguk ludah saat wajah Riel berada dekat dengan wajahnya. Pemuda itu masih
tersenyum seraya memperhatikan tulisan Fae.
“Soal
yang sedang kau kerjakan ini,” ujar Riel seraya menunjuk soal nomor tiga.
“tulis dahulu komposisinya.”
Fae
mengangguk. Dalam hati, ia sangat heran. Mengapa Riel tampak lebih tahu?
Jadi, sebetulnya, tadi itu Riel benar-benar menyelesaikan PR-nya atau cuma
bermain-main?
Karena
tak ingin memikirkan itu lebih lama, Fae pun menulis komposisinya pelan-pelan.
(g∘f)(x)=g(f(x))
=g(3x−2)
Fae
berhenti. Dia kurang yakin untuk bagian selanjutnya.
“Hm,”
deham Riel seraya mengangguk. “Karena g(x) itu sama dengan √x+1,
berarti g(3x−2) itu sama dengan √(3x−2)+1.”
Riel
menunjuk soal nomor tiga dan komposisi Fae bergantian. Fae mengangguk-angguk,
lalu menuliskan apa yang Riel katakan.
Saat
Fae selesai menulisnya, Riel pun mengangguk dan menunjuk apa yang Fae tulis.
“Nah, sekarang, √(3x−2)+1 itu sama dengan √3x-1.
Berarti, (g∘f)(x)=
√3x−1.”
Diam-diam,
Fae memperhatikan wajah Riel saat pemuda itu menjelaskan padanya.
Ada
titik-titik keringat di pelipis pemuda itu.
Dia
sangat tampan…dan sangat lugas saat mengajari Fae. Namun, tidak ada nada
meremehkan sama sekali dari suaranya. Dia masih Riel yang ramah; masih Riel
yang secerah mentari; masih Riel yang murah senyum.
Ternyata,
Riel itu…pintar sekali.
Fae
diam-diam melirik ke PR yang Riel kerjakan…dan ternyata kertas kosong milik
pemuda itu sudah terisi penuh.
Artinya,
Riel memang sudah selesai sejak tadi.
Fae
meneguk ludahnya. Dia lagi-lagi memperhatikan wajah Riel…tetapi kali ini dengan
rasa kagum sekaligus tak menyangka. Ternyata, di balik sikap menyebalkannya
itu, Riel menyimpan banyak sekali kejutan.
Pohon
ginkgo, kisah masa kecil yang belum Fae ingat (dan entah itu benar atau tidak),
serta otaknya yang pintar.
“…nah,
setelah diubah menjadi y, kita putar balik saja fungsinya kalau dia
minta invers. Tukar x dan y-nya. Kuadratkan kedua sisinya
untuk menghilangkan akar. X kuadrat sekarang sama dengan 3y−1.
Pindahkan 1 ke sebelah X kuadrat, lalu nanti dibagi 3. Itu adalah
jawaban invers (g∘f)
(x).”
Fae
menatap buku PR-nya, lalu mengangguk-angguk.
Well…meskipun
sebetulnya, dia tak terlalu memperhatikan apa yang Riel ajarkan. Dia cuma
fokus…memandangi Riel.
Riel
pun menoleh padanya.
“Hmm?
Mengapa kau melamun? Apakah caraku menjelaskan—”
“Riel.”
Spontan
mata Riel melebar. Soalnya, tiba-tiba saja, panggilan dari Fae itu terdengar…
…serius.
Tatapan
Fae pada Riel saat itu sangatlah…saksama. Lurus. Dalam.
Mereka
saling menatap selama beberapa detik.
Ah,
ya.
Benar.
Fae
teringat sesuatu.
Kata-kata
ibunya sepulang sekolah tadi.
Dia
harus menanyakan semuanya kepada Riel.
Semua
keterkejutannya. Semua kebingungannya. Semua pertanyaannya di dalam hati. Semua
hal yang baginya terasa ganjil.
Inilah
saatnya mengonfirmasi segalanya.
Riel
berkedip perlahan.
“Hm?”
deham
pemuda itu.
Fae
meneguk ludah. Gadis itu diam sejenak.
Akan
tetapi, akhirnya…dia mulai membuka suara.
“Mamaku
bilang…dulu kau sudah pernah tinggal di sebelah. Kau pernah jadi
tetangga kami.”
Mata
Riel sedikit melebar. Pemuda itu diam sejenak; dia menatap Fae
selama beberapa detik.
Namun,
akhirnya, Riel menghela napas dan tersenyum. Dia sedikit mengusap tengkuknya,
lalu berpikir seraya melihat ke arah lain. Seolah-olah ingin memastikan
sesuatu. “Aahh, iya. Dulu, kami pernah tinggal di sini. Kalau aku tidak
salah hitung, sepertinya…itu belasan tahun yang lalu. Waktu aku masih kecil.”
Fae
lantas menyatukan alis. “Benarkah? Kok aku tidak ingat, ya? Jadi, mengapa kau
pindah?”
Riel
tertawa kecil. “Ayahku pindah tugas. Mutasi ke Seoul. Makanya, kami pindah.”
Dahi
Fae masih berkerut; dia lagi-lagi bingung, soalnya dia tidak ingat sama sekali.
Kini, dia mulai memiringkan kepalanya.
Jeda
sejenak, sebelum akhirnya…dia pun bertanya.
“Jadi…mengapa
kau kembali lagi ke sini?”
Tatapan
mereka bertemu.
Riel
belum menjawab. Dia seolah-olah…masih menunggu Fae menyelesaikan pertanyaannya.
“…Apakah
ayahmu…mutasi lagi?” lanjut Fae. Ternyata, pertanyaan itu memang ada
lanjutannya. “Akan tetapi, walaupun ayahmu mutasi ke sini, seharusnya lebih
baik kau tetap di Seoul. Tanggung sekali kau pindah sekolah sekarang. Lagi
pula, di Seoul sekolahnya pasti lebih bagus.”
Mendengar
kata-kata Fae, Riel jadi menghela napasnya dan tersenyum.
Karena
Riel hanya tersenyum, Fae pun spontan memukul bahu pemuda itu dan berkata,
“Hei! Kok malah tersenyum, sih?! Jawab aku, dong!!”
Riel
tertawa.
Tiga
detik kemudian, pemuda itu mulai memiringkan kepalanya. Dengan nada bercanda,
dia pun menjawab:
“Mungkin
karena sudah takdirnya aku bertemu denganmu?” katanya seraya mengedikkan
bahu. []


%20on%20X.jpg)
.jpg)

No comments:
Post a Comment