Wednesday, January 7, 2026

My Cold CEO, My Perfect Seducer (Chapter 19: The Sweetest First Night)

 


******

Chapter 19 :

The Sweetest First Night

 

******

 

Violette:

AKU melebarkan mata begitu mendengar ucapan Justin.

Tak kusangka dia akan mengatakan itu. Dia menatapku dengan lekat. Meski aku tak percaya, aku tahu bahwa dia…tak pernah bermain-main.

Apa…yang harus kulakukan?

Aku memang belum siap. Namun, bagaimanapun juga, aku adalah istrinya. Aku…tak boleh menolaknya soal kebutuhan seksualnya. Sebenarnya, yang tak kusangka adalah bahwa Justin akan mengatakan semua itu secara langsung kepadaku. Dia sudah berjuang untuk membuang kebiasaan aslinya, yaitu tidak to the point untuk urusan yang memalukan.

Namun, pantaskah ini disebut sebagai ‘urusan yang memalukan’?

Aku menunduk, berhenti menatapnya. Jantungku berdegup kencang.

 

Mungkin…inilah saatnya.

 

Sudah saatnya aku menyerahkan diriku kepada suamiku. Sudah saatnya aku menjadi miliknya seutuhnya.

Akhirnya, aku pun mengangguk pelan.

Aku menatap Justin lagi. Samar-samar, di dalam kegelapan ini, kulihat dia tersenyum miring. Aku meneguk ludah—tiba-tiba merasa seperti mau dimakan—dan tubuhku jadi lemas.

Aku…menginginkan Justin...

Justin tiba-tiba bangkit; dia menurunkan kakinya dari sofa. Karena pergerakannya, aku refleks ikut duduk. Kuperhatikan dia sampai akhirnya dia berdiri di depanku.

Dua detik setelah itu, Justin mengambil tanganku. Dia menggenggamnya dan sedikit menarikku agar aku berdiri.

Mataku melebar saat aku benar-benar berdiri di depan Justin. Dia membawaku berjalan melewati ruang tamu, lalu naik tangga spiral rumah kami. Tubuh tegapnya terlihat begitu besar dan mengerikan di dalam kegelapan ini…sampai-sampai aku tak sadar bahwa kami sudah berada di depan pintu kamar. Ternyata, pintu kamar tadi tak sempat kututup karena ketakutan; aku langsung terbirit-birit mencari Justin di bawah.

Sekarang, aku berdiri di sebelah Justin (di depan pintu kamar) dan kulihat Justin tersenyum miring melihat pintu itu tidak tertutup karena ulahku.

Aku menggigit bibir—malu setengah mati—dan Justin tiba-tiba membawaku berjalan lagi. Dia sempat menutup dan mengunci pintu kamar. Langkahnya terhenti ketika kami sampai di depan ranjang.

Aku hanya diam. Jantungku berdebar-debar.

Dia pun berbalik. Saat itu, kulihat…mata emasnya berkilau di kegelapan malam itu, memenjarakanku…seperti seekor singa. Untungnya, kamar ini gelap. Soalnya, kalau terang, aku...pasti akan sangat malu. Pipiku pasti sudah memerah seperti kepiting rebus.

Karena merasa matanya terus mengamatiku, aku menunduk. Aku tak sanggup menatap wajahnya. Aku akan kalah jika beradu pandang dengannya. Justin mendekatiku perlahan, tubuhnya sudah terasa dekat. Bulu kudukku meremang. Bukan karena takut, melainkan karena…gelisah.

Oh, aku tidak boleh seperti ini. Aku harus menunjukkan pada Justin bahwa aku benar-benar sudah siap. Aku tidak boleh membuatnya…kecewa, seperti waktu aku mengusirnya dari kamar beberapa jam yang lalu.

Kuberanikan diriku untuk kembali menatap Justin. Tatapannya memberikan efek yang luar biasa; dia seolah-olah bisa mengendalikanku hanya dengan tatapan itu.

Dia memperhatikanku dari atas ke bawah…lalu kembali ke kedua mataku.

Dia mulai mendekatiku. Tubuhku menegang ketika kulitnya menyentuh piamaku. Dia membuka satu per satu kancing piamaku dan napasku kontan tertahan di tenggorokan. Dia melepaskan baju itu dari tubuhku, lalu menjatuhkannya di karpet beledu kamar.

Jantungku berdegup semakin kencang. Justin memperhatikan tubuh bagian atasku yang kini…hanya memakai bra. Oh, wajahku semakin memanas.

Dia membuka satu per satu pakaian yang kukenakan; dia melakukannya dengan sangat pelan. Sekarang, aku tidak memakai apa pun lagi. Di depannya.

Aku belum pernah melakukan hal semacam ini meskipun dahulu aku berada di organisasi ilegal seperti Red Lion.

 

…dan Justin tahu itu.

 

Aku menggigit bibirku. Justin masih di sana, diam memandangiku dengan matanya yang berkabut. Layaknya ada kupu-kupu yang beterbangan di perutku ketika tangan kiri Justin menyentuh pipiku dengan sangat lembut. Dia mengusapnya perlahan dan aku memejamkan mataku.

Tangannya turun ke leher…lalu dengan pelan turun lagi melewati bahuku dan aku mulai bergidik.

Setelah itu, tangannya turun lagi dan memegang payudaraku. Aku spontan membulatkan mata. Tuhan—rasanya aneh sekali—di sana agak—

"Sakit?" tanya Justin lirih. Aku menyatukan alis dan mengangguk perlahan.

Justin menggerakkan tangannya; meremas payudaraku perlahan. Ketika Justin melepaskan tangannya dari sana, dia semakin mendekatiku hingga tubuh kami menempel. Tangan kanannya bergerak memegang pinggulku dan aku malu sekali tatkala menyadari bahwa payudaraku menyentuh tubuh berototnya. Dadanya bidang. Otot-otot di perutnya…terasa kokoh.

Tangan kirinya kini berada di tengkukku.

Wajah kami sangat dekat. Justin mulai menunduk…dan menciumku dengan lembut. Pelan-pelan, dia mulai melumat bibirku. Napasnya terasa begitu hangat. Rahangnya mengetat.

Aku baru ingat. Selama ini, dia sudah menciumku beberapa kali, tetapi aku belum pernah membalas ciumannya. Soalnya, aku tidak pandai berciuman. Aku takut ciumanku kaku.

Namun, kini aku berdiri di hadapannya sebagai istrinya. Aku sudah menyerahkan diriku kepadanya. Kurasa…aku harus belajar...

Aku mulai memberanikan diriku untuk membalas ciumannya. Pelan-pelan, kupegang dada bidangnya; kutumpukan tanganku di sana. Meski sedikit gugup (karena ini adalah yang pertama kalinya bagiku), aku tetap mencoba untuk membalas menciumnya.

Dengan pelan dan…ragu, aku melumat bibir Justin. Aku sadar aku payah, tetapi aku ingin menciumnya. Selain karena ingin menghilangkan kegugupanku, aku juga ingin sekali mencium bibirnya. Dia adalah suamiku.

Kurasakan Justin tersenyum di dalam ciumanku. Tangannya—yang berada di pinggulku itu—kini bergerak ke punggungku. Dia memelukku dengan sangat posesif; kini, aku sudah tidak bisa melarikan diri.

Tiba-tiba saja, tubuhku melayang di udara. Aku terperanjat; Justin tengah menggendongku. Dia menggendongku dengan bridal-style, tetapi bibirnya masih menempel di bibirku. Kami masih berciuman. Kakiku lemas; dia membuatku benar-benar lumpuh. Kurasa, ciuman yang kudapatkan hari ini begitu intens. Setahuku, dahulu Justin mempunyai libido yang sangat tinggi (aku tahu karena dahulu dia sempat punya hubungan yang rumit dengan Hillda), tetapi hari ini dia bersikap begitu lembut padaku.

Justin membaringkanku di ranjang. Dia tak melepaskan ciumannya barang sedetik pun. Aku tetap memejamkan mata; jemariku mulai menyentuh lengannya. Aku merasa kecil sekali di bawah tubuh kekar Justin yang menjulang di atasku.

Tatkala nyaris kehabisan napas, aku pun mulai menjauhkan wajahku dari Justin dan menunduk. Bibir Justin kini ada di keningku dan dia bernapas di sana. Aku masih mengatur napasku kembali tatkala Justin tiba-tiba menjauh dariku. Tak lama kemudian, Justin kembali mendekati dan mengungkungku. Sekarang, dia sudah…tidak berpakaian. Napasnya berembus mengenai permukaan wajahku. Bola mata lelehan emasnya lagi-lagi berhasil mengambil hatiku.

"Kau cantik, Nyonya Alexander," bisiknya. Jantungku berdegup kencang. Pipiku merona. Kalau dia memanggilku seperti itu, aku merasa dimiliki olehnya. Dicintai olehnya.

Bibir Justin menyentuh hidungku. Dia tersenyum miring. "Besok coba kau cek apakah kau seksi atau tidak. Jangan cepat percaya kalau ada orang yang mengataimu tidak seksi, termasuk aku. Tadi siang, kau sampai merajuk hanya karena kuejek tidak seksi."

…eh?

Dia tahu, ya?

Ya ampun, aku memang tak bisa menyembunyikan apa pun darinya. Aku malu sekali.

Dia kembali melumat bibirku singkat, lalu mengunciku dengan tatapan matanya agar tidak bisa lari. Dia kemudian berbisik.

"Jangan memakai kontrasepsi. Biarkan Alexander Junior lahir dari rahimmu dan memanggilmu Mama."

Aku tersenyum lembut ketika mendengarkan itu. Aku bahagia sekali; aku harus banyak-banyak bersyukur pada Tuhan karena telah memberikanku suami seperti Justin.

"Ya," jawabku lirih. Justin menenggelamkan kepalanya di leherku. Dia menciumku di sana…hingga menjalar ke bagian belakang telingaku. Secara refleks, aku meremas rambutnya. Sepertinya, timbul suara-suara aneh dari mulutku; jadi, aku memejamkan mataku.

Aku memegang tengkuknya ketika dia menciumi rahangku. Ketika akhirnya dia kembali mencium bibirku, aku kembali membalas ciumannya. Tangan kekarnya yang tadi mendekap tubuhku itu sudah berada di kedua sisi kepalaku.

Setelah itu, dia melepaskan ciumannya. Dia menatapku dengan tatapan yang sulit dibaca. Matanya semakin berkabut. Tubuhku bergetar samar.

Justin menunduk, sedikit mundur. Napasku tertahan di tenggorokan ketika Justin mencium bagian di antara payudaraku. Dia naik kembali dan menatap mataku dengan lekat.

Saat ini, aku sudah tidak berdaya. Aku suka caranya menyentuhku; itu membuatku jadi semakin mencintainya.

Setelah beberapa saat, aku pun akhirnya…berhubungan intim dengannya. Menyatu dengannya. Penglihatanku jadi kabur. Aku merasakan kebahagiaan dan kenikmatan yang tak pernah kudapatkan sebelumnya.

Rasanya seperti melayang. Awalnya, dia bergerak perlahan…dan lama-lama dia mempercepat gerakannya. Dia melakukan itu sembari terus menyentuh dan menciumi tubuhku. Dia sangat tampan dan seksi.

Penglihatanku serasa dipenuhi bintang.

Tatkala Justin berhasil menyentuh spot yang sensitif di dalam diriku, aku sontak mencakar punggungnya. Sesuatu serasa mau keluar!

"J—Justin, aku—! JUSTIN!!" Mataku membulat dan kuteriakkan namanya. Ketika itulah kurasakan sesuatu mengalir keluar dari vaginaku. Aku meremas seprai tatkala kurasakan Justin menyemburkan spermanya, mengisi rahimku hingga penuh.

Setelah napasku kembali normal, kutatap Justin dengan sangat lembut. Justin juga menatapku dengan lekat, mengunciku dari jarak yang sedekat itu. Dia mulai menciumi pipi, kening, dan bibirku. Dia membuatku merasa seperti perempuan yang paling beruntung di dunia.

Akhirnya, karena terbawa perasaan, aku pun memajukan wajahku—mendekati Justin—hingga kepalaku terangkat dari bantal. Justin belum sempat menoleh kepadaku saat aku mulai berbisik di telinganya.

"Aku sangat mencintaimu, Justin."

Dengan pelan, Justin mulai menoleh kepadaku. Dia mengamati wajahku.

Di dalam kegelapan malam itu, aku melihat Justin tersenyum lembut kepadaku.

 

******

 

Author:

Sinar matahari masuk menembus gorden putih yang sebenarnya masih tertutup. Bulu mata Violette bergetar ketika sinar itu menusuk matanya. Mata Violette pun pelan-pelan terbuka; dia langsung meregangkan otot-ototnya.

Beberapa detik kemudian, Violette menoleh ke samping. Dia langsung tersenyum dan tidur menyamping.

Justin ada di sana. Pria itu masih tidur; tubuhnya hanya ditutupi selimut. Wajahnya polos seperti anak kecil. Kulitnya tampak lembut dan bersinar di bawah sinar matahari pagi. Bulu matanya lentik, rambutnya berantakan, membuatnya terlihat menggoda.

Hidungnya mancung. Rahangnya tajam.

What an amazing face.

Violette baru sadar bahwa tangan kiri Justin masih melingkar di tubuhnya.

Violette memandangi Justin dengan lembut. Beruntung sekali dia memiliki suami yang seperti Justin. Dia jadi ingin menyentuh permukaan wajah Justin. Pelan-pelan, dia meraba rahang Justin…memegang hidung pria itu…hingga ke bibir. Lembut…dan padat. Bentuk bibirnya juga sempurna.

Pipi Violette memerah; dia mengingat semua yang terjadi semalam.

Bibir Justin…telah menciumi seluruh tubuh Violette tadi malam. Itu membuat pipi Violette memanas. Ya ampun, rasanya malu sekaligus bahagia.

Violette menghela napas, lalu melepaskan tangannya dari bibir Justin. Dia beralih memegang tangan Justin yang melingkar di tubuhnya.

Karena mau turun dari ranjang, Violette pun mengangkat tangan Justin pelan-pelan. Meskipun berat, akhirnya ia bisa memindahkan tangan pria itu. Ia bangkit perlahan…dan tiba-tiba mengerang.

Violette langsung membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Dia sedang mencari-cari sesuatu.

Benar saja, ada bercak darah di seprainya.

Violette tahu bercak apa itu. Kebetulan, bagian ujung seprai itu agak terbuka dan berantakan, mungkin karena aktivitas mereka yang terlalu...ah, Violette malu memikirkannya. Well, karena sisi-sisi seprai itu terbuka, Violette pun bangkit dan menarik seprai itu dengan cepat; dia mengangkat sedikit demi sedikit tubuh Justin dan mencegah pria itu terbangun. Setelah seprai itu terbuka seluruhnya, Violette kembali menyelimuti Justin dan turun dari ranjang, membawa seprai itu bersamanya serta mengambil handuk yang ada di dalam lemari.

Dengan cepat, Violette mulai mandi untuk membersihkan tubuhnya. Wajah Justin pun tak kunjung hilang dari benaknya.

Setelah mandi dan mencuci seprai tersebut, Violette pun menjemur seprai itu di luar, area belakang rumah. Area itu lebarnya bukan main. Indah sekali; beberapa puluh meter di sebelah kirinya, Violette bisa melihat ada sebuah kolam renang.

Setelah puas menghirup udara segar di luar, Violette pun masuk dan langsung pergi ke dapur. Ia memeriksa kulkas dan rak dinding, lalu mengeluarkan bahan-bahan untuk membuat pancake dan kopi.

Violette menyukai pancake dengan topping maple syrup. Ia membuat pancakes untuknya dan Justin, lalu membuatkan secangkir kopi untuk Justin.

Setelah selesai, Violette berjalan ke depan kulkas lagi dan mengambil sebotol air dingin. Ia tengah menaruh semuanya di atas meja tatkala tiba-tiba saja, terdengar langkah seseorang yang mendekat ke arahnya.

Violette mengangkat pandangannya ke depan dan agak kaget ketika melihat Justin. Pria itu sudah rapi. Dia memakai jas berwarna abu-abu; kemeja dan dasinya berwarna hitam. Violette diam saja…hingga akhirnya, Justin duduk di kursi yang ada di depannya.

Violette memiringkan kepala, lalu mulai duduk. "Sudah mau bekerja?"

Justin meminum kopi yang Violette buatkan.

"Hm. Hari ini, aku mau pergi ke kantor untuk melihat persiapan acara anniversary," ujar Justin datar. Mata Violette spontan membeliak. Oh, iya! Besok adalah hari anniversary perusahaan mereka yang ke…umm…berapa, ya? Violette lupa.

Tetap saja, Violette mengangguk antusias. "Oh, begitu. Acaranya di mana?"

Justin meletakkan cangkir kopinya. Pria itu mulai menatap pancake yang ada di depannya dan tersenyum miring.

"Di hotel milikku yang ada di dekat Main Beach," jawab Justin. "Kau bangun jam berapa? Sempat membuat pancakes?"

Mendadak Violette jadi kikuk. "Aku—umm—baru saja. Aku habis mencuci…"

"Seprai?" tanya Justin.

Violette kontan membulatkan mata.

 

Mengapa—mengapa dia bisa tahu?!

 

"Mengapa kau bisa tahu?!!" tanya Violette gugup.

"Kau ini bodoh atau bagaimana," jawab Justin dingin. Pria itu memakan pancake yang ada di hadapannya. "Bagaimana mungkin aku tidak tahu, sementara aku terbangun dan menemukan ranjang kita tidak memakai seprai."

Oh, iya juga…

Violette jadi cengar-cengir.

 

Pantas dia tahu.

 

"Kau di rumah saja," ujar Justin. Violette mengernyitkan dahi, lalu Justin pun melanjutkan, "Apa masih perih?"

…Perih?

Maksudnya apa?

Oh—

Perih...itu, ya?

Wajah Violette serta-merta memerah. Justin sepertinya jauh lebih tahu soal apa yang terjadi pada tubuh Violette daripada Violette sendiri.

Violette mengangguk. "Masih."

Mata Justin sedikit menyipit. Akan tetapi, Violette tidak terintimidasi. Entah ada angin apa, hari itu Violette membuka suaranya.

 

"Apa kau...umm...kecewa?"

 

Aduh! Mengapa Violette mendadak menanyakan itu?

Justin semakin menyipitkan matanya, membuat Violette menciut seperti origami di sudut ruangan. Dia menunduk.

"Well, rasa percaya dirimu rendah sekali," komentar Justin. "Kau benar-benar bodoh."

"Maksudmu apa?!!" teriak Violette. Alis mata gadis itu naik sebelah karena mulai emosi. Justin terus memakan pancake-nya dan kini pria itu menatap Violette lagi.

"Dengar, Vio. Apa yang harus kukecewakan? I'm sure you remember that I was your first. Kau juga hebat di ranjang." Justin mengedipkan sebelah matanya kepada Violette; pria itu menyeringai.

Oh, my God. That damn smirk!!

Violette terkesiap; wajahnya jadi merah padam seperti cherry. Gila! Sifat perayu ulung Justin mulai muncul lagi.

Telinga Violette sampai ikut terasa panas. Violette buru-buru memakan pancake-nya. Apa saja, yang penting kata- kata Justin tadi hilang dari benaknya. Soalnya, dia merasa seperti...seperti sudah ahli di ranjang?

Huaaaaaaa! Sial!

Akan tetapi, tiba-tiba saja, Violette teringat sesuatu. "Oh, ya, Justin, mengapa Evan memanggilmu dengan sebutan Uncle, padahal kau itu sepupunya?"

Violette sudah lama penasaran soal ini.

Justin kini sudah selesai makan; Violette diam-diam merasa senang karena Justin menghabiskan pancake buatannya.

Justin menumpukan sikunya di meja; jemari tangannya bertautan. Dia tersenyum simpul, tetapi terkandung jenaka di matanya. "Dia suka memanggilku seperti itu. Dia tahu kita saudara sepupu, tetapi katanya dia ingin memanggilku dengan sebutan ‘uncle’.”

Justin memanggil Evan dengan nama tengahnya, yaitu Roger. Evan pun lebih memilih dipanggil Roger, seperti kata anak itu pada Violette beberapa waktu lalu: 'Panggil aku Logel.'

Ternyata, mereka berdua sama saja. Baik Evan maupun Justin, sifat mereka nyaris sama. Jangan-jangan…Evan adalah reinkarnasi Justin?

Haha! Violette rasanya ingin tertawa sekeras-kerasnya. Siapa pun yang nanti menjadi istri Evan, pasti akan bernasib sama seperti Violette.

Violette pun tertawa kecil, lalu mengangguk. "Oh...begitu, ya. Dia sangat menyayangimu dan sangat kagum padamu."

Justin hanya diam; pria itu memandangi Violette dengan lekat. Akan tetapi, beberapa detik kemudian, dia mulai berdiri.

Violette mendongak demi bisa menatapnya.

"Aku ke kantor dahulu." Justin merogoh sakunya dan mengeluarkan dompet. Alis Violette menyatu tatkala melihat Justin yang tiba-tiba mengeluarkan sebuah kartu. Itu…kartu ATM, ‘kan? Justin menyerahkan kartu itu pada Violette dan Violette pun meraihnya.

"Ini…" ucap Violette tak mengerti.

"Peganglah, itu untukmu. Setiap bulan akan ada uangku yang masuk ke sana," ujar Justin. "Gunakanlah dan jangan membantah. Itu sudah jadis milikmu. Kuharap nanti seluruh keuangan pribadiku diatur oleh istriku." Justin tersenyum miring.

Violette terkejut. Jantungnya berdegup kencang. Pipinya langsung merona.

Ya ampun, tak dia sangka kalau Justin akan mengatakan hal semanis itu, apalagi di pagi hari setelah malam tadi mereka...

Ah, hentikan!!

Panas di wajah Violette sudah menjalar sampai ke telinga.

Violette agak ragu. Apakah dia bisa mengatur keuangan pribadi Justin yang jelas-jelas merupakan seorang miliarder muda? Lagi pula, apakah Violette memang sebodoh itu? Ah, dia jadi terpengaruh karena Justin terus-terusan mengejeknya bodoh.

"Hari ini belilah gaunmu,” ujar Justin. “karena kau harus hadir di acara besok. Atau mau kutemani membelinya?"

Violette meneguk ludah.

 

Well, kata-kata: ‘Kuharap nanti seluruh keuangan pribadiku diatur oleh istriku.’ itu memang tindakan manis, tetapi tetap saja…

…memegang kartu ATM seperti ini…rasanya agak…

 

Yah, walaupun sepertinya, kartu itu hanyalah satu dari sekian banyak kartu milik Justin. Sebenarnya, itu wajar karena Violette adalah istrinya…atau mungkin saja Violette merasa seperti itu karena belum terbiasa memegang kartu ATM yang terisi sendiri setiap bulannya. Rasanya seperti diberikan segudang uang saja...

Sesaat kemudian, Violette menggeleng. "Tidak, aku…aku dengan Megan saja. Kau pasti sibuk dengan persiapan acaranya."

Justin mengangguk. "Jangan beredar ke mana-mana. Kau dan Megan sering sekali main ke mana-mana."

Violette tertawa terbahak-bahak. Wah, kelihatannya di mata Justin dia hanyalah anak-anak yang suka beredar ke mana-mana.

"Aku pergi dulu," ujar Justin. Pria itu menepuk singkat pundak Violette dan berencana untuk pergi. Namun, sebelum Justin sempat berbalik, Violette lantas berteriak, "Justin!!"

Violette bangkit dari duduknya dan mendekati Justin. Dia langsung menarik lengan pria itu hingga pria itu mengernyitkan dahi.

"Aku mencintaimu... Terima kasih," kata Violette.

Justin tersenyum.

Demi Tuhan, Violette jadi lemas; ia jarang sekali melihat Justin tersenyum seperti itu. Justin sangat tampan...dan berkarisma.

Violette mencium pipi Justin. Saat dicium, Justin memegang pinggang Violette. Meremasnya perlahan. Pria itu baru pergi saat Violette sudah menjauhkan diri darinya.

"Justin, aku main ke kebun binatang, ya!!" teriak Violette. Gadis itu mengikik, padahal dia tahu kalau Justin takkan bisa mendengarnya. Soalnya, telah terdengar deru mobil dari depan, pertanda bahwa Justin sudah mau pergi. Violette senang sekali. Rasanya, sudah lama dia tidak bermain bersama Megan, perempuan paling stres itu. Haha.

Violette langsung menghabisi pancake beserta air putihnya. Saat makan, ponsel yang ia simpan di saku celananya mendadak berbunyi. Ia bahkan baru sadar kalau ia sempat membawa ponselnya.

Itu adalah chat dari Megan.

 

From: Megan

VIOLETTE, AYO KITA JALAN-JALAN!! Aku sepertinya masuk siang hari ini karena semua orang sibuk mempersiapkan acara anniversary besok malam. Siap-siap sana! AYO BELANJA KE MALL, AKU TAHU KALAU KAU PASTI MAU BELANJA UNTUK KEPERLUAN RUMAH TANGGAMU! SETELAH ITU, AYO KE BUTIK UNTUK MENCARI GAUN KITA! HEHEHE! Sekalian mencari lingerie dan pakaian dalam buatmu~ supaya CEO kita jadi tergoda setiap hari, yuhuuuu~

P.S: Kau berutang cerita padaku. Nanti kau harus cerita padaku soal apa yang terjadi tadi malam!!

 

What the heck.

Violette tersedak; ia sampai batuk-batuk dan menepuk-nepuk dadanya sendiri. Tadinya, ia tersenyum melihat isi pesan Megan, tetapi saat sampai di kalimat terakhir, ia jadi tersedak sendiri. Wajahnya langsung merah padam seperti lampu lalu lintas.

Wait. Apakah tadi malam Megan sengaja mengirim pesan berisi cerita hantu itu padanya agar ia takut dan menempel pada Justin? Itukah rencana yang Megan buat untuk membantu malam pertama mereka? Sialan!

Violette langsung mencuci semua piring dan gelas yang tadi mereka gunakan, lalu mulai bersiap-siap.

Dalam hati, ia terus mengutuk Megan. []

 















******











Dear Tuhan, saya masih bermimpi jadi One Less Lonely Girl 🛐






No comments:

Post a Comment

My Friend's Father (Chapter 5: Wealthy and Powerful Man)

  ****** Chapter 5 : Wealthy and Powerful Man   ******   PONSEL berwarna hitam yang ada di atas meja itu berbunyi, pertanda ada se...