Chapter 19 :
The
Sweetest First Night
******
Violette:
AKU melebarkan mata begitu mendengar
ucapan Justin.
Tak kusangka dia akan mengatakan
itu. Dia menatapku dengan lekat. Meski aku tak percaya, aku tahu bahwa dia…tak
pernah bermain-main.
Apa…yang harus kulakukan?
Aku memang belum siap. Namun, bagaimanapun
juga, aku adalah istrinya. Aku…tak boleh menolaknya soal kebutuhan seksualnya. Sebenarnya,
yang tak kusangka adalah bahwa Justin akan mengatakan semua itu secara langsung
kepadaku. Dia sudah berjuang untuk membuang kebiasaan aslinya, yaitu tidak to
the point untuk urusan yang memalukan.
Namun, pantaskah ini disebut
sebagai ‘urusan yang memalukan’?
Aku menunduk, berhenti menatapnya. Jantungku
berdegup kencang.
Mungkin…inilah saatnya.
Sudah saatnya aku menyerahkan
diriku kepada suamiku. Sudah saatnya aku menjadi miliknya seutuhnya.
Akhirnya, aku pun mengangguk pelan.
Aku menatap Justin lagi. Samar-samar,
di dalam kegelapan ini, kulihat dia tersenyum miring. Aku meneguk ludah—tiba-tiba
merasa seperti mau dimakan—dan tubuhku jadi lemas.
Aku…menginginkan Justin...
Justin tiba-tiba bangkit; dia menurunkan
kakinya dari sofa. Karena pergerakannya, aku refleks ikut duduk. Kuperhatikan
dia sampai akhirnya dia berdiri di depanku.
Dua detik setelah itu, Justin
mengambil tanganku. Dia menggenggamnya dan sedikit menarikku agar aku berdiri.
Mataku melebar saat aku benar-benar
berdiri di depan Justin. Dia membawaku berjalan melewati ruang tamu, lalu naik
tangga spiral rumah kami. Tubuh tegapnya terlihat begitu besar dan mengerikan
di dalam kegelapan ini…sampai-sampai aku tak sadar bahwa kami sudah berada di depan
pintu kamar. Ternyata, pintu kamar tadi tak sempat kututup karena ketakutan;
aku langsung terbirit-birit mencari Justin di bawah.
Sekarang, aku berdiri di sebelah
Justin (di depan pintu kamar) dan kulihat Justin tersenyum miring melihat pintu
itu tidak tertutup karena ulahku.
Aku menggigit bibir—malu setengah
mati—dan Justin tiba-tiba membawaku berjalan lagi. Dia sempat menutup dan
mengunci pintu kamar. Langkahnya terhenti ketika kami sampai di depan ranjang.
Aku hanya diam. Jantungku
berdebar-debar.
Dia pun berbalik. Saat itu,
kulihat…mata emasnya berkilau di kegelapan malam itu, memenjarakanku…seperti
seekor singa. Untungnya, kamar ini gelap. Soalnya, kalau
terang, aku...pasti akan sangat malu. Pipiku pasti sudah memerah seperti
kepiting rebus.
Karena merasa matanya terus mengamatiku,
aku menunduk. Aku tak sanggup menatap wajahnya. Aku akan kalah jika beradu
pandang dengannya. Justin mendekatiku perlahan, tubuhnya sudah terasa
dekat. Bulu kudukku meremang. Bukan karena takut, melainkan karena…gelisah.
Oh, aku tidak boleh seperti ini.
Aku harus menunjukkan pada Justin bahwa aku benar-benar sudah siap. Aku tidak
boleh membuatnya…kecewa, seperti waktu aku mengusirnya dari kamar beberapa jam
yang lalu.
Kuberanikan diriku untuk kembali
menatap Justin. Tatapannya memberikan efek yang luar biasa; dia seolah-olah
bisa mengendalikanku hanya dengan tatapan itu.
Dia memperhatikanku dari atas ke
bawah…lalu kembali ke kedua mataku.
Dia mulai mendekatiku. Tubuhku
menegang ketika kulitnya menyentuh piamaku. Dia membuka satu per satu kancing piamaku
dan napasku kontan tertahan di tenggorokan. Dia melepaskan baju itu dari
tubuhku, lalu menjatuhkannya di karpet beledu kamar.
Jantungku berdegup semakin kencang.
Justin memperhatikan tubuh bagian atasku yang kini…hanya memakai bra. Oh,
wajahku semakin memanas.
Dia membuka satu per satu pakaian
yang kukenakan; dia melakukannya dengan sangat pelan. Sekarang, aku tidak
memakai apa pun lagi. Di depannya.
Aku belum pernah melakukan hal
semacam ini meskipun dahulu aku berada di organisasi ilegal seperti Red Lion.
…dan Justin tahu itu.
Aku menggigit bibirku. Justin masih
di sana, diam memandangiku dengan matanya yang berkabut. Layaknya ada kupu-kupu
yang beterbangan di perutku ketika tangan kiri Justin menyentuh pipiku dengan
sangat lembut. Dia mengusapnya perlahan dan aku memejamkan mataku.
Tangannya turun ke leher…lalu dengan
pelan turun lagi melewati bahuku dan aku mulai bergidik.
Setelah itu, tangannya turun lagi
dan memegang payudaraku. Aku spontan membulatkan mata. Tuhan—rasanya aneh
sekali—di sana agak—
"Sakit?" tanya Justin lirih. Aku menyatukan
alis dan mengangguk perlahan.
Justin menggerakkan tangannya;
meremas payudaraku perlahan. Ketika Justin melepaskan tangannya dari sana, dia semakin
mendekatiku hingga tubuh kami menempel. Tangan kanannya bergerak memegang
pinggulku dan aku malu sekali tatkala menyadari bahwa payudaraku menyentuh
tubuh berototnya. Dadanya bidang. Otot-otot di perutnya…terasa kokoh.
Tangan kirinya kini berada di
tengkukku.
Wajah kami sangat dekat. Justin
mulai menunduk…dan menciumku dengan lembut. Pelan-pelan, dia mulai melumat
bibirku. Napasnya terasa begitu hangat. Rahangnya mengetat.
Aku baru ingat. Selama ini, dia sudah
menciumku beberapa kali, tetapi aku belum pernah membalas ciumannya. Soalnya, aku
tidak pandai berciuman. Aku takut ciumanku kaku.
Namun, kini aku berdiri di hadapannya
sebagai istrinya. Aku sudah menyerahkan diriku kepadanya. Kurasa…aku harus
belajar...
Aku mulai memberanikan diriku untuk
membalas ciumannya. Pelan-pelan, kupegang dada bidangnya; kutumpukan tanganku
di sana. Meski sedikit gugup (karena ini adalah yang pertama kalinya bagiku),
aku tetap mencoba untuk membalas menciumnya.
Dengan pelan dan…ragu, aku melumat
bibir Justin. Aku sadar aku payah, tetapi aku ingin menciumnya. Selain karena ingin
menghilangkan kegugupanku, aku juga ingin sekali mencium bibirnya. Dia adalah
suamiku.
Kurasakan Justin tersenyum di dalam
ciumanku. Tangannya—yang berada di pinggulku itu—kini bergerak ke punggungku.
Dia memelukku dengan sangat posesif; kini, aku sudah tidak
bisa melarikan diri.
Tiba-tiba saja, tubuhku melayang di
udara. Aku terperanjat; Justin tengah menggendongku. Dia menggendongku dengan bridal-style,
tetapi bibirnya masih menempel di bibirku. Kami masih berciuman. Kakiku lemas;
dia membuatku benar-benar lumpuh. Kurasa, ciuman yang kudapatkan hari ini
begitu intens. Setahuku, dahulu Justin mempunyai libido yang sangat tinggi (aku
tahu karena dahulu dia sempat punya hubungan yang rumit dengan Hillda), tetapi hari
ini dia bersikap begitu lembut padaku.
Justin membaringkanku di ranjang. Dia
tak melepaskan ciumannya barang sedetik pun. Aku tetap memejamkan mata;
jemariku mulai menyentuh lengannya. Aku merasa kecil sekali di bawah tubuh
kekar Justin yang menjulang di atasku.
Tatkala nyaris kehabisan napas, aku
pun mulai menjauhkan wajahku dari Justin dan menunduk. Bibir Justin kini ada di
keningku dan dia bernapas di sana. Aku masih mengatur napasku kembali tatkala
Justin tiba-tiba menjauh dariku. Tak lama kemudian, Justin kembali mendekati dan
mengungkungku. Sekarang, dia sudah…tidak berpakaian. Napasnya berembus mengenai
permukaan wajahku. Bola mata lelehan emasnya lagi-lagi berhasil mengambil
hatiku.
"Kau cantik, Nyonya
Alexander," bisiknya. Jantungku berdegup kencang. Pipiku merona. Kalau dia
memanggilku seperti itu, aku merasa dimiliki olehnya. Dicintai olehnya.
Bibir Justin menyentuh hidungku.
Dia tersenyum miring. "Besok coba kau cek apakah kau seksi atau tidak. Jangan
cepat percaya kalau ada orang yang mengataimu tidak seksi, termasuk aku. Tadi
siang, kau sampai merajuk hanya karena kuejek tidak
seksi."
…eh?
Dia tahu, ya?
Ya ampun, aku memang tak bisa
menyembunyikan apa pun darinya. Aku malu sekali.
Dia kembali melumat bibirku
singkat, lalu mengunciku dengan tatapan matanya agar tidak bisa lari. Dia
kemudian berbisik.
"Jangan memakai kontrasepsi. Biarkan
Alexander Junior lahir dari rahimmu dan memanggilmu Mama."
Aku tersenyum lembut ketika
mendengarkan itu. Aku bahagia sekali; aku harus banyak-banyak
bersyukur pada Tuhan karena telah memberikanku suami seperti Justin.
"Ya," jawabku lirih.
Justin menenggelamkan kepalanya di leherku. Dia menciumku di sana…hingga menjalar
ke bagian belakang telingaku. Secara refleks, aku meremas rambutnya. Sepertinya,
timbul suara-suara aneh dari mulutku; jadi, aku memejamkan mataku.
Aku memegang tengkuknya ketika dia
menciumi rahangku. Ketika akhirnya dia kembali mencium bibirku, aku kembali
membalas ciumannya. Tangan kekarnya yang tadi mendekap tubuhku itu sudah berada
di kedua sisi kepalaku.
Setelah itu, dia melepaskan
ciumannya. Dia menatapku dengan tatapan yang sulit dibaca. Matanya semakin
berkabut. Tubuhku bergetar samar.
Justin menunduk, sedikit mundur. Napasku
tertahan di tenggorokan ketika Justin mencium bagian di antara payudaraku. Dia
naik kembali dan menatap mataku dengan lekat.
Saat ini, aku sudah tidak berdaya. Aku
suka caranya menyentuhku; itu membuatku jadi semakin mencintainya.
Setelah beberapa saat, aku pun akhirnya…berhubungan
intim dengannya. Menyatu dengannya. Penglihatanku jadi kabur. Aku merasakan kebahagiaan
dan kenikmatan yang tak pernah kudapatkan sebelumnya.
Rasanya seperti melayang. Awalnya,
dia bergerak perlahan…dan lama-lama dia mempercepat gerakannya. Dia melakukan
itu sembari terus menyentuh dan menciumi tubuhku. Dia sangat tampan dan seksi.
Penglihatanku serasa dipenuhi
bintang.
Tatkala Justin berhasil menyentuh spot
yang sensitif di dalam diriku, aku sontak mencakar punggungnya. Sesuatu
serasa mau keluar!
"J—Justin, aku—! JUSTIN!!"
Mataku membulat dan kuteriakkan namanya. Ketika itulah kurasakan sesuatu
mengalir keluar dari vaginaku. Aku meremas seprai tatkala kurasakan Justin
menyemburkan spermanya, mengisi rahimku hingga penuh.
Setelah napasku kembali normal, kutatap
Justin dengan sangat lembut. Justin juga menatapku dengan lekat, mengunciku
dari jarak yang sedekat itu. Dia mulai menciumi pipi, kening, dan bibirku. Dia
membuatku merasa seperti perempuan yang paling beruntung di dunia.
Akhirnya, karena terbawa perasaan,
aku pun memajukan wajahku—mendekati Justin—hingga kepalaku terangkat dari
bantal. Justin belum sempat menoleh kepadaku saat aku mulai berbisik di telinganya.
"Aku sangat mencintaimu,
Justin."
Dengan pelan, Justin mulai menoleh
kepadaku. Dia mengamati wajahku.
Di dalam kegelapan malam itu, aku
melihat Justin tersenyum lembut kepadaku.
******
Author:
Sinar matahari masuk menembus
gorden putih yang sebenarnya masih tertutup. Bulu mata Violette bergetar ketika
sinar itu menusuk matanya. Mata Violette pun pelan-pelan terbuka; dia langsung meregangkan
otot-ototnya.
Beberapa detik kemudian, Violette
menoleh ke samping. Dia langsung tersenyum dan tidur menyamping.
Justin ada di sana. Pria itu masih
tidur; tubuhnya hanya ditutupi selimut. Wajahnya polos seperti anak kecil.
Kulitnya tampak lembut dan bersinar di bawah sinar matahari pagi. Bulu matanya
lentik, rambutnya berantakan, membuatnya terlihat menggoda.
Hidungnya mancung. Rahangnya tajam.
What an amazing face.
Violette baru sadar bahwa tangan
kiri Justin masih melingkar di tubuhnya.
Violette memandangi Justin dengan
lembut. Beruntung sekali dia memiliki suami yang seperti Justin. Dia jadi ingin
menyentuh permukaan wajah Justin. Pelan-pelan, dia meraba rahang Justin…memegang
hidung pria itu…hingga ke bibir. Lembut…dan padat. Bentuk
bibirnya juga sempurna.
Pipi Violette memerah; dia
mengingat semua yang terjadi semalam.
Bibir Justin…telah menciumi seluruh
tubuh Violette tadi malam. Itu membuat pipi Violette memanas. Ya ampun, rasanya
malu sekaligus bahagia.
Violette menghela napas, lalu melepaskan
tangannya dari bibir Justin. Dia beralih memegang tangan Justin yang melingkar
di tubuhnya.
Karena mau turun dari ranjang, Violette
pun mengangkat tangan Justin pelan-pelan. Meskipun berat, akhirnya ia bisa
memindahkan tangan pria itu. Ia bangkit perlahan…dan tiba-tiba mengerang.
Violette langsung membuka selimut
yang menutupi tubuhnya. Dia sedang mencari-cari sesuatu.
Benar saja, ada bercak darah di seprainya.
Violette tahu bercak apa itu.
Kebetulan, bagian ujung seprai itu agak terbuka dan berantakan, mungkin karena
aktivitas mereka yang terlalu...ah, Violette malu memikirkannya. Well,
karena sisi-sisi seprai itu terbuka, Violette pun bangkit dan menarik seprai
itu dengan cepat; dia mengangkat sedikit demi sedikit tubuh Justin dan mencegah
pria itu terbangun. Setelah seprai itu terbuka seluruhnya, Violette kembali
menyelimuti Justin dan turun dari ranjang, membawa seprai itu bersamanya serta mengambil
handuk yang ada di dalam lemari.
Dengan cepat, Violette mulai mandi
untuk membersihkan tubuhnya. Wajah Justin pun tak kunjung hilang dari benaknya.
Setelah mandi dan mencuci seprai
tersebut, Violette pun menjemur seprai itu di luar, area belakang rumah. Area
itu lebarnya bukan main. Indah sekali; beberapa puluh meter di sebelah kirinya,
Violette bisa melihat ada sebuah kolam renang.
Setelah puas menghirup udara segar
di luar, Violette pun masuk dan langsung pergi ke dapur. Ia memeriksa kulkas
dan rak dinding, lalu mengeluarkan bahan-bahan untuk membuat pancake dan
kopi.
Violette menyukai pancake dengan topping maple
syrup. Ia membuat pancakes untuknya dan Justin, lalu
membuatkan secangkir kopi untuk Justin.
Setelah selesai, Violette berjalan
ke depan kulkas lagi dan mengambil sebotol air dingin. Ia tengah menaruh semuanya
di atas meja tatkala tiba-tiba saja, terdengar langkah seseorang yang mendekat
ke arahnya.
Violette mengangkat pandangannya ke
depan dan agak kaget ketika melihat Justin. Pria itu sudah rapi. Dia memakai
jas berwarna abu-abu; kemeja dan dasinya berwarna hitam. Violette diam saja…hingga
akhirnya, Justin duduk di kursi yang ada di depannya.
Violette memiringkan kepala, lalu
mulai duduk. "Sudah mau bekerja?"
Justin meminum kopi yang Violette
buatkan.
"Hm. Hari ini, aku mau pergi
ke kantor untuk melihat persiapan acara anniversary," ujar
Justin datar. Mata Violette spontan membeliak. Oh, iya! Besok adalah hari anniversary perusahaan
mereka yang ke…umm…berapa, ya? Violette lupa.
Tetap saja, Violette mengangguk
antusias. "Oh, begitu. Acaranya di mana?"
Justin meletakkan cangkir kopinya.
Pria itu mulai menatap pancake yang ada di depannya dan
tersenyum miring.
"Di hotel milikku yang ada di
dekat Main Beach," jawab Justin. "Kau bangun jam berapa? Sempat membuat pancakes?"
Mendadak Violette jadi kikuk. "Aku—umm—baru
saja. Aku habis mencuci…"
"Seprai?" tanya Justin.
Violette kontan membulatkan mata.
Mengapa—mengapa dia bisa tahu?!
"Mengapa kau bisa
tahu?!!" tanya Violette gugup.
"Kau ini bodoh atau bagaimana,"
jawab Justin dingin. Pria itu memakan pancake yang ada di
hadapannya. "Bagaimana mungkin aku tidak tahu, sementara aku terbangun dan
menemukan ranjang kita tidak memakai seprai."
Oh, iya juga…
Violette jadi cengar-cengir.
Pantas dia tahu.
"Kau di rumah saja," ujar
Justin. Violette mengernyitkan dahi, lalu Justin pun melanjutkan, "Apa
masih perih?"
…Perih?
Maksudnya apa?
Oh—
Perih...itu, ya?
Wajah Violette serta-merta memerah.
Justin sepertinya jauh lebih tahu soal apa yang terjadi pada tubuh Violette daripada
Violette sendiri.
Violette mengangguk.
"Masih."
Mata Justin sedikit menyipit. Akan
tetapi, Violette tidak terintimidasi. Entah ada angin apa, hari itu Violette membuka
suaranya.
"Apa kau...umm...kecewa?"
Aduh! Mengapa Violette mendadak
menanyakan itu?
Justin semakin menyipitkan matanya,
membuat Violette menciut seperti origami di sudut ruangan. Dia menunduk.
"Well, rasa percaya dirimu rendah
sekali," komentar Justin. "Kau benar-benar bodoh."
"Maksudmu apa?!!" teriak Violette.
Alis mata gadis itu naik sebelah karena mulai emosi. Justin terus memakan pancake-nya
dan kini pria itu menatap Violette lagi.
"Dengar, Vio. Apa
yang harus kukecewakan? I'm sure you remember that I was your first. Kau
juga hebat di ranjang." Justin mengedipkan sebelah
matanya kepada Violette; pria itu menyeringai.
Oh, my God. That damn smirk!!
Violette terkesiap; wajahnya jadi
merah padam seperti cherry. Gila! Sifat perayu ulung
Justin mulai muncul lagi.
Telinga Violette sampai ikut
terasa panas. Violette buru-buru memakan pancake-nya.
Apa saja, yang penting kata- kata Justin tadi hilang dari benaknya. Soalnya,
dia merasa seperti...seperti sudah ahli di ranjang?
Huaaaaaaa! Sial!
Akan tetapi, tiba-tiba saja, Violette
teringat sesuatu. "Oh, ya, Justin, mengapa Evan memanggilmu dengan
sebutan Uncle, padahal kau itu sepupunya?"
Violette sudah lama penasaran soal
ini.
Justin kini sudah selesai makan;
Violette diam-diam merasa senang karena Justin menghabiskan pancake buatannya.
Justin menumpukan sikunya di meja;
jemari tangannya bertautan. Dia tersenyum simpul, tetapi terkandung jenaka di
matanya. "Dia suka memanggilku seperti itu. Dia tahu kita saudara sepupu, tetapi
katanya dia ingin memanggilku dengan sebutan ‘uncle’.”
Justin memanggil Evan dengan nama
tengahnya, yaitu Roger. Evan pun lebih memilih dipanggil Roger, seperti kata
anak itu pada Violette beberapa waktu lalu: 'Panggil aku Logel.'
Ternyata, mereka berdua sama saja. Baik
Evan maupun Justin, sifat mereka nyaris sama. Jangan-jangan…Evan
adalah reinkarnasi Justin?
Haha! Violette rasanya ingin
tertawa sekeras-kerasnya. Siapa pun yang nanti menjadi istri Evan, pasti akan
bernasib sama seperti Violette.
Violette pun tertawa kecil, lalu mengangguk.
"Oh...begitu, ya. Dia sangat menyayangimu dan sangat kagum padamu."
Justin hanya diam; pria itu
memandangi Violette dengan lekat. Akan tetapi, beberapa detik
kemudian, dia mulai berdiri.
Violette mendongak demi bisa menatapnya.
"Aku ke kantor dahulu."
Justin merogoh sakunya dan mengeluarkan dompet. Alis Violette menyatu tatkala melihat
Justin yang tiba-tiba mengeluarkan sebuah kartu. Itu…kartu ATM, ‘kan? Justin
menyerahkan kartu itu pada Violette dan Violette pun meraihnya.
"Ini…" ucap Violette tak
mengerti.
"Peganglah, itu untukmu.
Setiap bulan akan ada uangku yang masuk ke sana," ujar Justin.
"Gunakanlah dan jangan membantah. Itu sudah jadis milikmu. Kuharap
nanti seluruh keuangan pribadiku diatur oleh istriku."
Justin tersenyum miring.
Violette terkejut. Jantungnya
berdegup kencang. Pipinya langsung merona.
Ya ampun, tak dia sangka kalau
Justin akan mengatakan hal semanis itu, apalagi di pagi hari setelah malam
tadi mereka...
Ah, hentikan!!
Panas di wajah Violette sudah
menjalar sampai ke telinga.
Violette agak ragu. Apakah dia bisa
mengatur keuangan pribadi Justin yang jelas-jelas merupakan seorang miliarder
muda? Lagi pula, apakah Violette memang sebodoh itu? Ah, dia jadi terpengaruh
karena Justin terus-terusan mengejeknya bodoh.
"Hari ini belilah gaunmu,”
ujar Justin. “karena kau harus hadir di acara besok. Atau mau kutemani
membelinya?"
Violette meneguk ludah.
Well, kata-kata: ‘Kuharap nanti
seluruh keuangan pribadiku diatur oleh istriku.’ itu memang tindakan manis,
tetapi tetap saja…
…memegang kartu ATM seperti ini…rasanya
agak…
Yah, walaupun sepertinya, kartu itu
hanyalah satu dari sekian banyak kartu milik Justin. Sebenarnya, itu wajar
karena Violette adalah istrinya…atau mungkin saja Violette merasa seperti itu
karena belum terbiasa memegang kartu ATM yang terisi sendiri setiap bulannya. Rasanya
seperti diberikan segudang uang saja...
Sesaat kemudian, Violette
menggeleng. "Tidak, aku…aku dengan Megan saja. Kau pasti sibuk dengan
persiapan acaranya."
Justin mengangguk. "Jangan
beredar ke mana-mana. Kau dan Megan sering sekali main ke mana-mana."
Violette tertawa terbahak-bahak. Wah, kelihatannya
di mata Justin dia hanyalah anak-anak yang suka beredar ke mana-mana.
"Aku pergi dulu," ujar
Justin. Pria itu menepuk singkat pundak Violette dan berencana untuk pergi.
Namun, sebelum Justin sempat berbalik, Violette lantas berteriak, "Justin!!"
Violette bangkit dari duduknya dan mendekati
Justin. Dia langsung menarik lengan pria itu hingga pria itu mengernyitkan dahi.
"Aku mencintaimu... Terima
kasih," kata Violette.
Justin tersenyum.
Demi Tuhan, Violette jadi lemas;
ia jarang sekali melihat Justin tersenyum seperti itu. Justin sangat tampan...dan
berkarisma.
Violette mencium pipi Justin. Saat dicium,
Justin memegang pinggang Violette. Meremasnya perlahan. Pria itu baru pergi
saat Violette sudah menjauhkan diri darinya.
"Justin, aku main ke kebun
binatang, ya!!" teriak Violette. Gadis itu mengikik, padahal dia tahu
kalau Justin takkan bisa mendengarnya. Soalnya, telah
terdengar deru mobil dari depan, pertanda bahwa Justin sudah mau pergi.
Violette senang sekali. Rasanya, sudah lama dia tidak bermain bersama Megan, perempuan
paling stres itu. Haha.
Violette langsung menghabisi pancake
beserta air putihnya. Saat makan, ponsel yang ia simpan di saku celananya
mendadak berbunyi. Ia bahkan baru sadar kalau ia sempat membawa ponselnya.
Itu adalah chat dari Megan.
From: Megan
VIOLETTE, AYO KITA JALAN-JALAN!!
Aku sepertinya masuk siang hari ini karena semua orang sibuk mempersiapkan
acara anniversary besok malam. Siap-siap sana! AYO BELANJA KE MALL, AKU TAHU KALAU
KAU PASTI MAU BELANJA UNTUK KEPERLUAN RUMAH TANGGAMU! SETELAH ITU, AYO KE BUTIK
UNTUK MENCARI GAUN KITA! HEHEHE! Sekalian mencari lingerie dan pakaian dalam
buatmu~ supaya CEO kita jadi tergoda setiap hari, yuhuuuu~
P.S: Kau berutang cerita padaku.
Nanti kau harus cerita padaku soal apa yang terjadi tadi malam!!
What the heck.
Violette tersedak; ia sampai
batuk-batuk dan menepuk-nepuk dadanya sendiri. Tadinya, ia tersenyum melihat
isi pesan Megan, tetapi saat sampai di kalimat terakhir, ia jadi tersedak
sendiri. Wajahnya langsung merah padam seperti lampu lalu lintas.
Wait. Apakah tadi malam Megan sengaja
mengirim pesan berisi cerita hantu itu padanya agar ia takut dan menempel pada Justin?
Itukah rencana yang Megan buat untuk membantu malam pertama mereka? Sialan!
Violette langsung mencuci semua
piring dan gelas yang tadi mereka gunakan, lalu mulai bersiap-siap.
Dalam hati, ia terus mengutuk
Megan. []










Dear Tuhan, saya masih bermimpi jadi One Less Lonely Girl 🛐

No comments:
Post a Comment