Sunday, March 8, 2026

Fraudulent (Chapter 5: Delusion of Happiness)

 


******

Chapter 5 :

Delusion of Happiness

 

******

 

HARIN benar-benar pergi ke kampus tanpa Jaekyung hari itu.

Sebenarnya, Harin berbohong soal pergi ke toko buku bersama teman-temannya (Areum dan Yumi). Dia tak pernah memiliki janji dengan mereka untuk pergi ke toko buku; dia hanya menggunakan alasan itu agar tidak pergi ke kampus bersama Jaekyung. Agar Jaekyung pulang lebih dahulu… dan dia punya waktu untuk menangis sendirian.

Cukup lama Harin menangis di balik pintu. Mungkin… kurang lebih satu jam. Sisanya ia hanya melamun, memikirkan semua kenang-kenangannya bersama Jaekyung serta rasa sakitnya.

Setelah sadar bahwa dia telah duduk di sana dalam waktu yang cukup lama, dia pun akhirnya menghela napas. Mencoba untuk tenang sejenak dan bangkit dari duduknya meskipun tubuhnya lemas. Semalam, dia sudah kehabisan energi karena ‘disetubuhi’ oleh Jaekyung, tetapi karena menangis pagi ini, dia jadi semakin lemas. Tubuhnya dipenuhi dengan kiss mark (cupang) karena Jaekyung terus mengisap dan menciuminya semalam.

Namun, bukannya bertingkah ‘bahagia’ dengan pipi merona seperti pasangan yang baru saja melakukan hubungan seksual, Harin malah menangis. Sudah begitu, Harin tetap harus pergi kuliah dan berpura-pura baik-baik saja.

Sesampainya di kampus (sekitar dua jam yang lalu), Harin langsung masuk ke kelasnya dan tidak melihat Jaekyung sama sekali karena mereka berbeda fakultas. Mereka ada di gedung yang berbeda. Di gedung sains/kompleks MIPA (tempat Jurusan Matematika berada), suasananya cenderung lebih tenang, akademik, dan banyak laboratorium atau ruang kelas dengan papan tulis yang penuh rumus. Namun, kalau di gedung bisnis (tempat Jaekyung berada), vibe-nya sangat modern, megah, dan punya fasilitas yang terkesan lebih "korporat" dibanding gedung sains. Kedua gedung itu berada di sisi yang berbeda.

Biasanya, Jaekyunglah yang selalu datang ke area MIPA untuk mengantar, menjemput, atau sekadar mengajak Harin makan. Harus berjalan kaki cukup jauh atau naik bus kuning kampus (shuttle bus) untuk berpindah dari area Bisnis ke area Matematika. Namun, berhubung Jaekyung membawa mobilnya sendiri, dia cukup bolak-balik dengan mobilnya. Agak kontras sebenarnya kalau melihat mobil sport Jaekyung parkir di kompleks MIPA; itu jadi pusat perhatian anak-anak MIPA karena ada mobil mewah yang parkir di depan gedung mereka. Berbeda dengan anak Bisnis yang modern dan bergengsi, anak-anak di MIPA umumnya kutu buku dan low profile.

Sekarang sudah jam makan siang. Harin keluar dari kelasnya bersama dengan Areum dan Yumi untuk makan siang di kantin. Mereka melewati koridor lantai satu (Student Center) untuk menuju ke kantin. Kantin yang mereka tuju itu terkenal punya menu yang bervariasi dan murah. Dari gedung Matematika ke sana tinggal jalan kaki sedikit untuk menuruni area bukit.

Koridor yang mereka lewati (Student Center) sangatlah sibuk. Koridor itu lebar dengan pengumuman atau poster klub mahasiswa yang menempel di dinding. Itu adalah titik temu utama karena fungsinya yang beragam, seperti mal kecil di tengah kampus SNU. Saat jam makan siang, tempat itu ramai sekali. Ada orang yang terburu-buru mau ke kantin, ada yang baru keluar dari toko buku, dan ada yang sekadar nongkrong di tempat duduk terbuka.

Di sana sangat padat. Bising karena suara obrolan dan langkah kaki mahasiswa.

“Ughh… Aku lapar sekali,” ujar Areum sambil berjalan. Dia mengelus perutnya sendiri. “Ada nasi goreng tidak, ya?”

“Aku malah mau makan pork cutlet,” kata Yumi. “Sudah lama aku tidak makan itu.”

“Kau mau makan apa, Harin?” tanya Areum sambil menoleh sedikit ke belakang, menanyai Harin yang berjalan di belakangnya.

“Aku mau nasi goreng juga, kalau ada,” jawab Harin. “dan minuman dingin.”

Well, Harin banyak pikiran hari ini, jadi dia ingin meminum sesuatu yang dingin. Kepalanya panas sejak tadi pagi. Di kerumunan itu, mereka harus beberapa kali sedikit menepi supaya tidak menabrak orang lain.

Areum mengangguk. “Baiklah. Coba kita lihat di sana nanti. Aku juga mau minuman dingin.”

“Mau Americano, ya? Atau yang lain?” tanya Yumi.

Harin mengedikkan bahu. “Nanti saja aku lihat, Yumi.”

“Oke, aku juga ikut, deh, nanti.” Yumi tersenyum riang, sudah tidak sabar. “Kita ke—"

 

Tiba-tiba saja, Yumi berhenti berbicara.

Langkahnya terhenti.

 

Melihat Yumi, refleks Harin dan Areum pun berhenti berjalan. Mereka mengernyitkan dahi, agak heran melihat Yumi yang tiba-tiba berhenti. Namun, Yumi menoleh ke satu arah. Dia menatap ke sana dengan mata membulat.

Harin dan Areum pun mengikuti arah pandang Yumi. Di sela-sela bahu mahasiswa yang berlalu lalang, mata mereka menangkap seseorang yang sangat familier.

Di dekat pilar besar koridor, tak jauh dari pintu masuk toko buku…

 

…ada Jaekyung.

 

Pemuda itu mengenakan jaket varsity berwarna navy SNU dengan bordiran huruf 'S' besar di dadanya. Dia berdiri di sana... dan penampilannya sangat fresh. Tampan seperti biasa. Dia tampak bahagia.

Namun, yang membuat Harin terpaku adalah…

…dia tidak sendirian.

 

Ada Seulhee di sampingnya.

 

Jantung Harin serasa berhenti berdegup. Ekspresi wajahnya tak begitu memperlihatkan perbedaan, tetapi napasnya tersekat di tenggorokan.

Ini adalah kali kedua Harin menyaksikan kedekatan Jaekyung dan Seulhee dengan mata kepalanya sendiri.

Seulhee mengenakan jaket yang sama persis dengan Jaekyung. Mereka berdiri berhadapan, terlihat begitu serasi dengan identitas kampus yang membanggakan itu… seolah-olah mereka adalah prototipe pasangan sempurna di universitas ini.

 

Dunia Harin serasa melambat.

Semua orang di sekelilingnya… mendadak bergerak pelan.

 

Suara obrolan dan tawa para mahasiswa, derap langkah kaki mereka… tiba-tiba tak terdengar. Kulit Harin serasa terbakar, terutama di bagian leher, payudara, bokong, dan pahanya, tempat kiss mark pemberian Jaekyung bersembunyi. Mendadak, ia merasa kotor.

…sebab pemuda yang menyentuhnya juga dekat dengan perempuan lain.

Semalam, pemuda itu seolah-olah tak bisa lepas darinya, menghujani tubuhnya dengan cinta. Namun, sekarang, di tempat yang paling publik di kampus ini, pemuda itu berdiri mengenakan jaket yang sama dengan Seulhee…

 

…dan membiarkan Seulhee memegangi lehernya… lalu turun membelai dada bidangnya.

 

Jaekyung tampak sedikit menunduk, memegang pinggang Seulhee, lalu membisikkan sesuatu yang membuat Seulhee tertawa kecil dan memukul dadanya pelan. Gerakan itu terlihat sangat natural. Sangat manis. Jaket mereka yang bersentuhan membuat keduanya tampak seperti satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Mereka pasti sadar bahwa mereka sedang berada di tempat umum.

 

…dan Jaekyung membiarkan hal itu terjadi meskipun dia adalah kekasih Harin…

 

Hati Harin serasa diremas. Dia langsung membuang wajah. Dia ingin lari, tetapi Areum dan Yumi masih ada di sini.

Oh, Tuhan. Harin malu sekali…

 

Areum dan Yumi melihat kekasihnya selingkuh di depan umum.

 

Harga diri Harin…

 

…sudah diinjak-injak…

 

Kepala Harin langsung berdenyut.

Namun, ternyata, respons Areum dan Yumi sedikit berbeda dari apa yang Harin duga. Tadinya, Harin mengira kalau Areum dan Yumi akan berdiri terpaku di sana selama beberapa waktu, lalu menatap Harin dengan kasihan, menenangkan Harin, lalu karena berlama-lama di sana, Jaekyung dan Seulhee ujung-ujungnya akan menyadari keberadaan mereka. Namun, tidak. Areum dan Yumi ternyata paham betul apa yang Harin inginkan, yaitu…

 

…pergi dari sana.

 

Ya… jujur saja, mereka pun merasa sakit hati dan kesal melihat adegan itu. Mereka berdua langsung mundur sedikit, lalu menarik Harin pergi dari sana secepat mungkin sebelum disadari oleh Jaekyung dan Seulhee.

Suasana perjalanan mereka ke kantin sangatlah sunyi. Tidak ada yang memulai obrolan, atau lebih tepatnya… tidak ada yang berani berbicara. Situasi yang baru mereka lihat tadi sangatlah menyakitkan.

Harin juga diam saja di sepanjang jalan. Dia berjalan… tetapi pikirannya melanglang buana. Dia tidak benar-benar melihat jalan. Otaknya mereka ulang semua yang barusan ia lihat.

Sudah dua kali Harin melihat Jaekyung dan Seulhee bersama. Seulhee juga menelepon Jaekyung semalam, di waktu yang ‘terlalu malam’ untuk disebut teman biasa. Banyak orang yang sudah melihat kemesraan mereka hingga rumornya beredar luas.

Oh, bukan hanya Seulhee, melainkan banyak perempuan. Jaekyung sering terlihat bersama banyak perempuan. Menggoda, mengobrol akrab sambil ‘menyentuh’… Hampir semua orang sudah melihat itu.

Namun, Seulhee adalah yang paling dirumorkan secara signifikan, soalnya gadis itu sangat populer di kampus. Dia dan Jaekyung sudah jadi “pasangan ideal”. Tadi, dia dan Jaekyung juga telah membuktikan pendapat itu. Mereka memakai jaket yang sama (entah itu kebetulan atau bukan) dan terlihat serasi sekali, seperti power couple kampus yang berdiri di koridor. Harin merasa kecil sekali karena dia hanyalah anak MIPA yang biasa saja dibandingkan mereka.

 Jaekyung juga terlihat sangat produktif, segar, siap tampil di depan publik, sementara Harin merasa berantakan di dalam.

Sebenarnya, Harin jauh lebih berprestasi daripada Seulhee, tetapi hatinya terlalu tergores untuk melihat kelebihannya sendiri. Dia dikenal sebagai salah satu mahasiswi ‘emas’ yang selalu memenangkan olimpiade Matematika, selalu mengantongi prestasi akademik, dan juga cantik. Namun, ya… dia memang tidak se‘beken’ Seulhee yang terkenal karena kecantikan, fashion, dan kekayaannya. Ibaratnya, kalau Harin adalah ‘profesor pintar yang cantik’, Seulhee adalah ‘supermodel cantik yang sangat kaya dan terkenal’.

Apa yang Jaekyung dan Seulhee lakukan di koridor itu? Well, Student Center memang seperti jantungnya kampus, tetapi… mengapa mereka harus mesra-mesraan di tempat umum begitu? Mengapa tidak di gedung Bisnis saja?

 

Entahlah. Harin malas memikirkannya.

 

Sesampainya di kantin, Harin langsung menuju mesin otomatis. Tidak ada keraguan dalam gerakannya saat menekan layar, membayar, dan mengambil secarik kertas kupon. Dia mengantre dengan tenang di depan konter, mengambil nasi goreng yang masih mengepul, lalu berjalan menuju meja di pojok yang agak jauh dari keramaian. Semua itu dia lakukan bersama Areum dan Yumi yang sesekali mengecek keadaannya dan saling melirik, ragu-ragu untuk berbicara.

Areum dan Yumi duduk berhadapan dengan Harin. Pelan-pelan, mereka mulai memakan makanan mereka masing-masing.

Harin menyuapkan sesendok nasi goreng itu ke mulutnya. Rasanya hambar, seperti mengunyah kertas, tetapi dia tetap mengunyahnya dengan ritme yang teratur. Ekspresinya datar.

Setelah sekian lama berada di dalam keheningan yang menyiksa itu (well, sudah beberapa menit kalau dihitung dari saat mereka berjalan ke kantin tadi!), akhirnya Areum mendengkus dan meletakkan sendoknya ke atas nampan dengan kuat. Dia tidak tahan lagi.

Spontan saja, Harin dan Yumi menatap ke arahnya.

 

“Harin,” ujar Areum. “Putuskan saja Jaekyung itu.”

 

Harin dan Yumi langsung terdiam. Mata mereka melebar samar, tetapi hanya sejenak. Harin langsung paham mengapa Areum mengatakan itu… begitu pula Yumi.

Mereka bertiga sama-sama berhenti makan.

Yumi menghela napas. Dia menatap Harin dengan prihatin. “Iya, Harin. Aku tahu kalau mungkin itu sulit untukmu mengingat kalian sudah menjalin hubungan selama lima tahun, tetapi Jaekyung memang sudah keterlaluan.”

Di otak Areum dan Yumi, sudah ada dugaan kalau Harin akan sedikit menolak untuk langsung putus. Mereka menebak kalau Harin mungkin akan sedikit keras kepala, sedikit menunda, atau sedikit… berpikir. Maka dari itu, mereka harus meyakinkan Harin sekarang.

“Dia tidak memikirkanmu sama sekali,” ujar Areum. “Dia sadar bahwa dia masih berhubungan denganmu, dia sadar bahwa dia bermesraan dengan Seulhee di tempat ramai, dia sadar bahwa itu jam makan siang dan kemungkinan besar kau akan melihatnya. Dia melakukan semuanya dalam keadaan sadar. Dia tidak menghormatimu.”

Harin hanya diam. Saat menyimak Areum, ekspresinya masih datar.

“Benar.” Yumi mengangguk. “Itu seperti menghinamu. Meludahimu. Berita soal mereka sudah beredar luas, Harin. Jika kau terus diam, orang-orang akan menganggapmu... tidak punya harga diri."

“Lagi pula, apa spesialnya si Seulhee itu?!” ujar Areum. “Dia hanya—"

“Dia adalah primadona di universitas ini, Areum,” jawab Harin dengan tenang, padahal hatinya teriris saat mengatakan itu.

Areum jadi kesal. “Hah?!! Dia tak ada apa-apanya dibandingkan denganmu!!! Dia hanya menang kaya saja!! Kau cantik dan kau jauh lebih cerdas darinya!! Semua pakaian dan gayanya yang seperti artis itu, kan, karena uangnya!!”

“Harin,” panggil Yumi. Dia juga merasa ‘panas’. Rasanya dia ingin melihat Harin dan Jaekyung putus sekarang juga. “Ini sudah terjadi berkali-kali. Kita bertiga sudah sering mendengar atau melihat Jaekyung bersama perempuan lain. Kita juga sudah beberapa kali membicarakan masalah ini. Untuk yang kali ini, tolong jangan diam saja, Harin. Ini sudah keterlaluan.”

“Ya. Jaekyung sudah menyakitimu berkali-kali sejak beberapa bulan belakangan,” ujar Areum. “Aku tahu kalau kau masih berpikir panjang karena histori kalian, terutama dia dulunya tidak begitu, tetapi sekarang kenyataannya sudah berbeda. Aku tahu ini berat, tetapi tolong, Harin, aku tak tahan melihat situasi ini. Sebagai temanmu, aku ingin kau terlepas darinya dan melupakannya meskipun itu sulit.”

“Iya,” tambah Yumi. “Ini adalah tahun terakhir kita juga. Sebentar lagi kita wisuda dan kau takkan bertemu dengannya lagi. Kami akan menemanimu agar kau tak merasa kesepian.”

Areum menghela napas. Dia menyentuh punggung tangan Harin yang terletak di atas meja. “Putuskan dia, ya? Hari ini juga, Harin.”

Areum dan Yumi menunggu jawaban Harin dengan jantung yang berdegup kencang. Mereka waswas. Mereka takut Harin akan memberikan respons yang sama seperti sebelumnya, seperti: diam saja, ‘Aku akan memikirkannya’, atau ‘Aku akan melihat situasinya terlebih dahulu’.

Namun, ternyata… respons Harin kali ini seratus persen berbeda.

Responsnya itu sukses membuat Areum dan Yumi membelalakkan mata sekaligus lega.

Soalnya, responsnya adalah:

 

“Rencanaku begitu.”

 

Ya.

Benar.

Tidak ada masa depan untuk hubungan seperti ini. Ini sama sekali tidak layak untuk dipertahankan.

Areum dan Yumi senang bukan kepalang saat mendengar keputusan Harin. Mereka hampir melompat di kursi, memegangi tangan Harin, lalu lanjut menghina-hina Seulhee di depan Harin sambil makan.

Harin hanya diam.

Setelah makan, Harin pun langsung mengirimkan sebuah pesan kepada Jaekyung.

 

Seo Harin          1.30 PM

Jaekyung, ayo bertemu sebentar sore ini.

 

            Balasan dari Jaekyung datang dengan cepat.

 

Jae❤️           1.31 PM

Sayang, seharusnya aku memang pulang bersamamu seperti biasa, tetapi hari ini aku tak bisa 😟 Aku baru mau mengabarimu kalau aku ada urusan dengan Ayah. Nanti malam, aku ada pertandingan balap. Boleh aku menjemputmu? Aku ingin kau datang melihatku. Temani aku, ya, Cinta?

—Read, 1.31 PM

 

            Oh, rasanya sungguh ironis melihat kata-kata manis Jaekyung itu, terutama setelah Harin menyaksikan adegan romantisnya bersama Seulhee.

            Sayang?

Cinta?

Harin menggeram. Tangannya terkepal. Napasnya tak beraturan.

Dia menyesal telah membiarkan pemuda itu menyentuhnya semalam.

Lagi pula, ‘urusan dengan Ayah’? Biasanya, Jaekyung tak mau bertemu dengan ayahnya. Pemuda itu membenci ayahnya.

           

            Akhirnya, Harin pun membalas pesan Jaekyung. Baiklah, kalau itu yang Jaekyung mau. Harin akan memutuskan Jaekyung di arena balap liar itu. Jaekyung biasanya akan menang. Setelah pemuda itu menang…

…Harin akan memutuskan hubungan mereka, lalu langsung pulang. Dia akan memutuskan Jaekyung di tempat yang paling Jaekyung banggakan.

 

Seo Harin          1.35 PM

Baiklah.

 

Jae❤️           1.36 PM

Kau mau? Thank you, Cinta. Aku sudah tak melihatmu seharian, jadi aku sangat merindukanmu. Nanti malam adalah hadiah untukku.

Aku akan menjemputmu jam 7 malam. Mau makan dahulu atau langsung pergi saja, Sayang?

I love you so fucking much, My Queen.

—Read, 1.36 PM

 

            Hah?!

            Semakin ‘mesra’ pesan dari Jaekyung, semakin pula Harin merasa kesal. Sekarang, bagi Harin, semua itu terdengar seperti manipulasi. Rasanya Harin ingin menumpahkan segalanya di pesan, lalu memutuskan Jaekyung sekarang juga, tetapi Harin ingin mengatakannya langsung di depan wajah Jaekyung.

 

Seo Harin          1.37 PM

Langsung saja. Aku akan makan dari rumah.

 

Jae❤️           1.38 PM

Baiklah, My Rin.

Sayang, aku masih ingat caramu memelukku semalam… Caramu membalas ciumanku… Caramu meremas rambutku saat aku mencium atau mengisap tubuhmu…

Desahan manismu… Tubuhmu yang seksi…

Indah sekali, Sayang…

Aku berkaca di kamarku dan melihat bekas cakaranmu di punggungku. Aku ingin cakaran itu memenuhi punggungku… sebagai bukti bahwa aku dimiliki olehmu. Akan lebih baik kalau kau menandai seluruh tubuhku.

Aromamu melekat di tubuhku, Sayang.

Aku bisa gila. Kau sangat sempurna.

Aku ingin merasakan kasih sayangmu setiap hari, Cinta… Aku mau sedekat itu denganmu setiap hari.

Aku bisa mati tanpamu.

—Read, 1.36 PM

 

            Harin menutup chatroom itu dan memasukkan ponselnya ke dalam saku. Dia tak ingin membalas Jaekyung lagi. Saat ini, di matanya, semua yang Jaekyung katakan itu seperti kemunafikan besar. Seperti kebohongan yang beracun.

            Harin tahu bahwa Jaekyung sangat… intens. Namun, yang Harin tidak tahu adalah: Jaekyung bukan hanya intens. Sejak dahulu, Jaekyung selalu memperlakukannya seperti dewi. Seperti seorang ratu. Seolah-olah dia adalah satu-satunya hal yang menjaga pemuda itu tetap hidup normal. Seolah-olah dia adalah sang Matahari, sementara pemuda itu adalah Bumi yang mengelilinginya.

            Bagi Jaekyung, Harin bukan cuma pacar; Harin adalah altar tempat dia memuja. Harin adalah jangkarnya. Pusat dunianya.

            Menjadi ‘milik Harin’ bukanlah status asmara belaka baginya. Itu adalah eksistensi. Identitas. Tanpa label 'pacar Harin', dia hanyalah sekumpulan insting primal dan kemarahan yang tak memiliki rumah. Di otaknya, tak ada ruang untuk memproses dunia dimana dia bukanlah kekasih Harin.

            Namun, sekitar tiga bulan belakangan… Jaekyung mulai ‘berulah’. Dia masih bersikap sama di hadapan Harin, tetapi dalam waktu yang bersamaan, dia juga berbohong dan dekat dengan perempuan lain.

            Selama tiga bulan belakangan ini, sebenarnya… Harin mulai memikirkan beberapa penyebab yang belum sempat dia konfirmasi pada Jaekyung karena terlalu sibuk diam sambil menahan sakit.

1.     Mungkin Jaekyung bosan padanya.

2.     Mungkin dia ada salah pada Jaekyung, yang tidak dia sadari.

3.     Mungkin ada sesuatu yang terjadi di kehidupan Jaekyung, yang anehnya kali ini tak Jaekyung ceritakan padanya.

            Namun, sekarang… masa bodoh dengan semua itu. Harin tak mau memikirkan itu lagi. Buktinya sudah banyak. Jaekyung mesra-mesraan dengan Seulhee di koridor tadi saja sebenarnya sudah cukup untuk mengakhiri hubungan mereka. Harin sudah sering melihat pengkhianatan di depan matanya sendiri.

            Harin akan memutuskan Jaekyung nanti malam.

 

******

 

            Di sepanjang perjalanan malam ini, Jaekyung terus memegang tangan Harin. Mencium dan meremas punggung tangan gadis itu sambil berkendara. Sesekali, dia menciumi wajah, bibir, dan leher Harin saat berhenti di lampu merah.

            “Sayang, kangen…” bisik Jaekyung. “Cantik sekali, Sayang…”

            Harin hanya diam. Mematung. Berpura-pura tersenyum tipis saat Jaekyung membisikkan kata cinta padanya. Dia setengah mati mencoba untuk sabar.

            Ya, bayangkan saja. Bibir yang membisikkan kalimat-kalimat mesra itu, bibir yang menciuminya itu, adalah bibir yang sama yang berbisik mesra pada Seulhee dan perempuan-perempuan lain.

            Menjijikkan.

 

            Sabar. Tinggal malam ini saja. Kau sudah menahan semuanya selama berbulan-bulan. Satu atau dua jam tidak ada apa-apanya.

            Jangan sekarang. Tunggu sampai dia selesai balapan.

 

Begitu mobil Jaekyung memasuki arena, suara dentum musik EDM dari barisan mobil yang terparkir langsung menyapu pendengaran. Belum ada balapan yang dimulai, tetapi udara sudah terasa padat dan gerah oleh antisipasi. Ada aroma bensin yang menguap dan bau karet ban yang mulai panas karena beberapa mobil melakukan burnout singkat di kejauhan, mungkin sekadar memanaskan mesin atau pamer kekuatan.

Di beberapa sudut, ada gerombolan orang yang berkumpul. Mereka duduk di kap-kap mobil. Cahaya lampu neon warna-warni dari modifikasi mobil-mobil itu memantul di aspal; atmosfernya liar sekaligus artifisial. Suara revving mesin sesekali terdengar dari jauh.

Jaekyung mematikan mesin mobilnya, tetapi getaran dari musik di luar sana seolah-olah berpindah ke kabin mobil. Harin juga mendengar teriakan histeris para perempuan tatkala melihat mobil Jaekyung sampai. Mereka semua berpakaian seksi.

Para lelaki juga langsung mendekati mobil Jaekyung seraya bersorak. Banyak yang jadi semangat tatkala melihat kedatangan Jaekyung. Suasananya jadi riuh.

Harin meremas tangannya sendiri. Dia sudah beberapa kali diajak Jaekyung ke arena balap, tetapi kali ini, ada rasa gugup yang mampir di benaknya karena dia punya agenda untuk memutuskan Jaekyung.

Apakah semuanya akan lancar-lancar saja?

Harin mendengkus.

 

Harus. Harus lancar.

 

Jaekyung menoleh kepada Harin dan tersenyum lembut. Dia memajukan tubuhnya demi mendekati Harin, lalu membukakan sabuk pengaman gadis itu.

“Kita sampai, Cinta,” bisiknya. Dia mencium bibir Harin, lalu membelai rambut gadis itu. “Jangan jauh-jauh dariku, ya?”

Harin mengangguk singkat. Yah, gadis itu memang tak punya kepentingan apa pun di sini selain memutuskan Jaekyung setelah balapan nanti.

Jaekyung tersenyum bahagia melihat respons Harin. Sudah lama sekali Harin tidak ikut ke arena balapan bersamanya. Dia memeluk Harin dan menciumi leher Harin dengan manja. Menghirup aroma Harin dalam-dalam. “Hmmh… Rindu sekali, Sayang. Boleh ciuman sebentar?”

Harin menggeleng, menarik wajah Jaekyung agar menjauh dari lehernya. Dia menatap mata Jaekyung dengan serius. “Balapannya akan dimulai sebentar lagi, Jaekyung.”

Jaekyung jadi mewek. Bahunya agak turun karena kecewa. “Kan cuma sebentar, Sayang…”

Bohong. Ciumannya dari dahulu tak pernah cuma ‘sebentar’. Harin bisa-bisa digagahi di mobil ini.

Harin menggeleng tegas. “Tidak boleh.”

Jaekyung hampir merengek, dia langsung kembali memeluk tubuh Harin dengan erat dan mencium area telinga Harin. Dia lalu berbisik dengan nada desperate, seperti kecanduan dosis tinggi. Oh, dia sangat menikmati rasa tidak berdaya di depan perempuan yang dia puja ini. “Setelah aku selesai, kita langsung pulang, ya? Aku mau mesra-mesraan seperti kemarin... Mau bercinta denganmu… Boleh, ya, Sayang?”

Jujur saja, saat mendengar itu, jantung Harin sempat berdegup kencang seperti ‘Deg’ sebelum akhirnya bak berhenti total.

Jemarinya bergetar singkat. Napasnya tertahan.

Lagi-lagi, hatinya mulai mengacaukan logikanya. Lagi-lagi, dia merasakan sakit yang luar biasa. Soalnya, selama beberapa bulan belakangan… dia selalu merasa bahwa saat Jaekyung mencumbunyalah, dia baru merasa diinginkan. Saat mencumbunyalah, Jaekyung tampak jatuh cinta. Namun, kali ini, dia tahu bahwa itu salah besar dan dia tak bisa mengandalkan alasan itu lagi.

Harin bisa mencium wangi maskulin dari tubuh Jaekyung. Aroma khas pria itu. Musk yang sangat dalam. Oud. Aromanya intoxicating. Dark. Sensual. Mysterious. Addictive.

Harin hafal wangi ini. Wangi yang masih melekat di kulit atau pakaian Harin meski Jaekyung pergi. Wangi yang membuat Harin tak bisa berhenti menghirupnya. Wangi yang terkesan complex, mahal, tajam.

Berat dan berbahaya, tetapi memabukkan.

Jaekyung masih sama. Masih beraroma seperti ini.

Kata-kata manja Jaekyung tadi juga masih seperti Jaekyung yang biasanya. Itu membuat Harin jadi…

…lemah…

…dan ingin menyerahkan diri pada perasaan yang dia punya.

Harin bukan robot; dia punya sejarah lima tahun bersama Jaekyung. Saat Jaekyung manja padanya, sebenarnya… itu adalah senjata paling ampuh untuk membuat Harin goyah.

Namun, Harin tahu bahwa dia tak bisa goyah lagi. Dia tak bisa menyiksa dirinya lebih jauh dari ini.

Akhirnya, Harin pun melepaskan pelukan Jaekyung. Gadis itu menggeleng, berbicara singkat seperti: “Ayo keluar, Jaekyung. Mereka semua menunggumu.”, lalu keluar dari mobil.

Meski sempat terlihat agak kecewa, Jaekyung pun langsung ikut keluar dari mobil. Dia menutup pintu mobilnya, lalu menyusul Harin dengan cepat. Dia langsung menggenggam tangan gadis itu.

Keberadaan Harin membuat banyak lelaki di sana jadi bersorak lebih kencang, sementara para perempuan mendadak berhenti bersorak. Mereka langsung menatap Harin dengan tatapan iri. Tidak suka.

Dalam hati, mereka semua langsung mengumpat.

 

Sial. Itu pacarnya Jaekyung, ‘kan?

Kalau ada pacarnya, Jaekyung tidak akan menghabiskan waktu dengan kita semua. Dia tidak akan mesra-mesraan dengan kita. Dia akan menempel pada pacarnya itu sepanjang waktu.

Ah, tidak seru! Kok pacarnya ikut, sih?! Mengganggu saja!!

 

Berbeda dengan Jaekyung yang biasanya menjawab seruan-seruan itu, kali ini dia hanya diam. Dia menatap semua lelaki yang menyoraki atau menyiuli Harin itu dengan tajam. Dia seperti seekor singa yang siap menghabisi siapa pun yang menggoda miliknya.

Jaekyung berjalan dengan dagu terangkat; auranya begitu dominan. Dia sangat tampan, bugar, dan gagah. Demanding. Namun, jemarinya menggenggam tangan Harin dengan protektif, seolah-olah dia sedang membawa harta karun paling berharga di tengah lautan serigala. Seolah-olah dia tengah membawa malaikat suci ke dalam area iblis.

Bagi Jaekyung, sorak-sorai para lelaki dan tatapan memuja para perempuan di sana hanyalah kebisingan latar belakang. Satu-satunya validasi yang ia butuhkan saat ini adalah kehadiran Harin di sisinya. Ia ingin semua orang tahu bahwa ia adalah 'budak' yang bertekuk lutut di bawah kaki Harin. Ia adalah milik Seo Harin.

Ia menggandeng Harin, berjalan bersama Harin (membelah kerumunan itu), dan mendadak ia merasa sangat bangga. Ia seolah-olah sedang menjaga sekaligus memamerkan Harin. Malaikat cerdas yang membuatnya bertekuk lutut. Ratunya.

"Sayang, kita ke tenda kru saja. Di sana lebih aman. Lebih privat,” ajak Jaekyung.

"Tidak. Aku mau ke area penonton saja,” jawab Harin singkat. Dia mulai berjalan menuju ke tribun.

Jaekyung menghela napas frustrasi. “Sayang, di sana terlalu ramai. Aku akan balapan dan kau akan sendirian di sana. Aku tak mau melihatmu diganggu.”

 

‘Jadi, aku tak boleh diganggu, sementara kau boleh diganggu?’ pikir Harin.

 

Sial.

Harin mendengkus. Dia hampir marah di tempat.

Namun, dia telah melatih kesabarannya selama ini. Itu lumayan ada gunanya.

 

“Aku mau duduk di tengah-tengah tribun, Jaekyung,” ujar Harin final.

Jaekyung pun akhirnya menghela napas pasrah. Kepalanya agak sakit memikirkan berbagai kemungkinan Harin diganggu atau didekati pria lain, tetapi dia tak mau Harin marah.

Saat naik ke atas—menuju ke tengah-tengah tribun—mata Jaekyung tanpa sengaja menatap ke kanan.

Tak jauh dari sana, ada Yoonjae.

Pemuda itu berdiri bersama teman-temannya, memberikan Jaekyung tatapan tak suka seraya menyilangkan tangan di depan dada.

Jaekyung kontan menatap Yoonjae dengan sangat tajam. Sambil mengintimidasi Yoonjae dengan tatapannya, dia langsung melepaskan tangan Harin dan beralih memeluk pinggang Harin dengan posesif, menarik Harin agar lebih lengket padanya.

Setelah melepaskan tatapannya dari Yoonjae, dia langsung mencium bahu Harin, lalu membawa Harin ke salah satu kursi di tribun bagian tengah. Dia memunggungi Yoonjae sambil mengetahui bahwa Yoonjae melihat semuanya.

 

Harin adalah kekasihku.

Pacarnya adalah aku.

Bukan kau.

 

Tak lama setelah Harin duduk, terdengarlah bunyi pistol pertama yang menandakan bahwa para pembalap harus mulai masuk ke mobilnya dan menuju ke garis start.

Jaekyung pun mencium kening Harin seraya tersenyum. “Aku pergi dulu, ya, Sayang. Lihat aku, Sayang. Lihat aku. Setelah itu, kita pulang dan mesra-mesraan di kamar tidurmu, ya?”

Jaekyung meraih rahang Harin, mengarahkan wajah Harin ke wajahnya… lalu mencium bibir Harin dengan intens. Harin tak sempat menolak ciuman itu karena Jaekyung langsung memegang rahangnya dengan erat; Jaekyung langsung melumat bibirnya. Menciumnya dalam.

Tak lama, Jaekyung mulai menggigit bibir Harin. Dia membuat mulut Harin refleks terbuka. Begitu mulut Harin terbuka, dia pun memasukkan lidahnya ke dalam sana. Ciuman itu seketika menjadi liar…

…dan banyak sekali orang yang melihatnya.

Tatkala ciuman itu terlepas, Harin langsung terengah-engah. Suara terlepasnya jalinan bibir mereka terdengar begitu erotis. Bibir Harin kini basah dan sedikit bengkak.

Jaekyung menatap Harin dengan penuh cinta. Ia membelai bibir Harin, lalu tersenyum lembut.

“Tunggu aku, My Queen. I’ll be quick.”

Oh, Jaekyung benar-benar an adrenaline junkie; balap liar saja sudah bisa membuat jantungnya berdetak kencang, apalagi kalau ditambah bayangan akan menerkam Harin setelah ini. Dia benar-benar berada dalam kondisi high yang luar biasa. Di kepalanya, kemenangan balapan nanti hanyalah hidangan pembuka. Hidangan utamanya adalah Harin di ranjang. Dia harus menjadi pejantan pemenang yang berhak mendapat imbalan paling nikmat malam ini. Sejak chatting-an dengan Harin tadi siang, dia sudah sangat terangsang. Saat menciumi leher Harin di mobil tadi juga, sebenarnya… dia sedang membangun fantasi bahwa malam ini akan menjadi malam paling liar bagi mereka berdua.

Nanti, dia pasti akan menyetir dengan kesetanan. Bukan demi uang, bukan demi reputasi, melainkan demi durasi. Semakin cepat dia menang, semakin cepat pula dia bisa menggagahi Harin di kamar. Dia benar-benar tak sabar ingin mendengar Harin mendesah di bawahnya lagi, seperti kemarin. Kalimat ‘I’ll be quick’-nya itu jadi seperti janji. Dia akan cepat.

Sepeninggal Jaekyung, Harin masih sedikit mengumpulkan nyawanya. Matanya masih melebar, bibirnya masih basah dan bengkak. Dia memperhatikan Jaekyung yang menuruni tribun dengan langkah santai dan percaya diri. Semua perempuan di sana langsung berteriak histeris melihat Jaekyung turun ke arena meskipun sebelumnya mereka menyaksikan betapa panasnya pemuda itu berciuman dengan Harin.

Tiba-tiba saja, sebelum kesadaran Harin kembali sepenuhnya, dia mendengar sebuah suara dari samping kirinya.

Suara seorang perempuan.

 

“Hei. Seo Harin.”

 

Harin tersentak. Dia langsung menoleh ke kiri, sedikit mendongak karena orang itu sedang berdiri.

Begitu melihat wajah orang itu, mata Harin langsung membeliak.

 

Itu adalah Yoon Seulhee.

 

Seulhee.

 

Orang yang tadi siang bermesraan dengan Jaekyung.

Gadis terpopuler di kampus. Primadona kampus.

 

Mengapa Seulhee ada di sini? Apakah dia suka menonton balap liar?

Ini adalah pertama kalinya Harin dan Seulhee berhadapan. Berada dalam posisi sedekat ini.

 

…dan Seulhee barusan memanggil nama Harin.

 

Karena tak mau terlihat begitu ‘terganggu’, Harin pun menormalkan kembali ekspresinya.

“Ya?” jawab Harin.

Oh, sebenarnya, Harin ingin berpura-pura tidak mengenal Seulhee, tetapi justru lucu kalau dia tidak mengenal Seulhee. Reputasi Seulhee di kampus itu terlalu besar untuk ‘tidak dikenali’. Gadis itu juga anak pemilik perusahaan besar di Korea.

“Ayo ikut aku sebentar ke tribun paling atas,” ujar Seulhee seraya menyilangkan tangannya di depan dada. Dia menatap Harin dengan penuh kebencian.

‘Oh, astaga. Bukankah aku yang seharusnya membencinya?’ pikir Harin dalam hati.

Namun, Harin masih tak mau menunjukkan ekspresi yang berarti. Dia hanya menjawab Seulhee dengan rileks, datar. “Untuk apa? Kamu Yoon Seulhee, ‘kan?”

…Harin mulai pura-pura ‘memastikan’.

Seulhee mengangguk.

“Aku ingin berbicara denganmu sebentar saja. Di sini terlalu ramai.”

“Bicarakan di sini saja. Tidak apa-apa,” jawab Harin.

Seulhee tertawa kecil, mengejek Harin. Dia menatap Harin dan menggeleng tak habis pikir. “Percayalah, kau takkan mau aku membicarakan itu di sini.”

Akhirnya, Harin mendengkus. Gadis itu pun bangkit dari duduknya dan berjalan mengikuti Seulhee ke atas.

Sesampainya di bagian paling atas tribun, Seulhee pun berbalik. Dia kini berhadapan dengan Harin. Tangannya masih bersilang di depan dada, ekspresi wajahnya juga masih kelihatan tidak suka pada Harin.

“Well, aku tak mau berlama-lama. Kita langsung saja,” ujar Seulhee.

 

Harin mengernyitkan dahi.

Setelah itu, terucaplah satu kalimat yang mematikan dari mulut Seulhee.

 

“Aku sudah berhubungan seks dengan Jaekyung. Pacarmu.

 

Jantung Harin serasa mencelus ke perut. Lehernya serasa dicekik; tubuhnya mematung seketika. Tempatnya berpijak saat itu seolah-olah runtuh.

Seluruh fungsi tubuhnya serasa mati.

 

Setelah itu, Seulhee pun tertawa mengejek. Seakan-akan Harin adalah orang yang paling bodoh dan paling memalukan sedunia.

“Look at you,” ujar Seulhee. Dia menatap Harin seraya menyeringai puas. “You, with all your might, yet unloved by your own boyfriend. Haha! How pathetic!"

Saat itulah, hati dan harga diri Harin langsung hancur berkeping-keping. []

 












******










No comments:

Post a Comment

Immure (Chapter 5: Numb, Empty)

  ****** Chapter 5 : Numb, Empty   ******   SAAT matahari terbenam, Yohan pun mengantarkan Hea pulang. Pemuda itu sempat ragu-ra...