Chapter
5 :
Delusion
of Happiness
******
HARIN
benar-benar
pergi ke kampus tanpa Jaekyung hari itu.
Sebenarnya,
Harin berbohong soal pergi ke toko buku bersama teman-temannya (Areum dan Yumi).
Dia tak pernah memiliki janji dengan mereka untuk pergi ke toko buku; dia hanya
menggunakan alasan itu agar tidak pergi ke kampus bersama Jaekyung. Agar
Jaekyung pulang lebih dahulu… dan dia punya waktu untuk menangis sendirian.
Cukup
lama Harin menangis di balik pintu. Mungkin… kurang lebih satu jam. Sisanya ia
hanya melamun, memikirkan semua kenang-kenangannya bersama Jaekyung serta rasa
sakitnya.
Setelah
sadar bahwa dia telah duduk di sana dalam waktu yang cukup lama, dia pun akhirnya
menghela napas. Mencoba untuk tenang sejenak dan bangkit dari duduknya meskipun
tubuhnya lemas. Semalam, dia sudah kehabisan energi karena ‘disetubuhi’ oleh
Jaekyung, tetapi karena menangis pagi ini, dia jadi semakin lemas. Tubuhnya
dipenuhi dengan kiss mark (cupang) karena Jaekyung terus mengisap dan
menciuminya semalam.
Namun,
bukannya bertingkah ‘bahagia’ dengan pipi merona seperti pasangan yang baru
saja melakukan hubungan seksual, Harin malah menangis. Sudah begitu, Harin tetap
harus pergi kuliah dan berpura-pura baik-baik saja.
Sesampainya
di kampus (sekitar dua jam yang lalu), Harin langsung masuk ke kelasnya dan
tidak melihat Jaekyung sama sekali karena mereka berbeda fakultas. Mereka ada
di gedung yang berbeda. Di gedung sains/kompleks MIPA (tempat Jurusan
Matematika berada), suasananya cenderung lebih tenang, akademik, dan banyak
laboratorium atau ruang kelas dengan papan tulis yang penuh rumus. Namun, kalau
di gedung bisnis (tempat Jaekyung berada), vibe-nya sangat modern,
megah, dan punya fasilitas yang terkesan lebih "korporat" dibanding
gedung sains. Kedua gedung itu berada di sisi yang berbeda.
Biasanya,
Jaekyunglah yang selalu datang ke area MIPA untuk mengantar, menjemput, atau
sekadar mengajak Harin makan. Harus berjalan kaki cukup jauh atau naik bus
kuning kampus (shuttle bus) untuk berpindah dari area Bisnis ke area
Matematika. Namun, berhubung Jaekyung membawa mobilnya sendiri, dia cukup
bolak-balik dengan mobilnya. Agak kontras sebenarnya kalau melihat mobil sport
Jaekyung parkir di kompleks MIPA; itu jadi pusat perhatian anak-anak MIPA
karena ada mobil mewah yang parkir di depan gedung mereka. Berbeda dengan anak
Bisnis yang modern dan bergengsi, anak-anak di MIPA umumnya kutu buku dan low
profile.
Sekarang
sudah jam makan siang. Harin keluar dari kelasnya bersama dengan Areum dan Yumi
untuk makan siang di kantin. Mereka melewati koridor lantai satu (Student
Center) untuk menuju ke kantin. Kantin yang mereka tuju itu terkenal punya
menu yang bervariasi dan murah. Dari gedung Matematika ke sana tinggal jalan
kaki sedikit untuk menuruni area bukit.
Koridor
yang mereka lewati (Student Center) sangatlah sibuk. Koridor itu lebar
dengan pengumuman atau poster klub mahasiswa yang menempel di dinding. Itu
adalah titik temu utama karena fungsinya yang beragam, seperti mal kecil di
tengah kampus SNU. Saat jam makan siang, tempat itu ramai sekali. Ada orang
yang terburu-buru mau ke kantin, ada yang baru keluar dari toko buku, dan ada
yang sekadar nongkrong di tempat duduk terbuka.
Di
sana sangat padat. Bising karena suara obrolan dan langkah kaki mahasiswa.
“Ughh…
Aku
lapar sekali,” ujar Areum sambil berjalan. Dia mengelus perutnya sendiri. “Ada
nasi goreng tidak, ya?”
“Aku
malah mau makan pork cutlet,” kata Yumi. “Sudah lama aku tidak makan
itu.”
“Kau
mau makan apa, Harin?” tanya Areum sambil menoleh sedikit ke belakang, menanyai
Harin yang berjalan di belakangnya.
“Aku
mau nasi goreng juga, kalau ada,” jawab Harin. “dan minuman dingin.”
Well,
Harin
banyak pikiran hari ini, jadi dia ingin meminum sesuatu yang dingin. Kepalanya
panas sejak tadi pagi. Di kerumunan itu, mereka harus beberapa kali sedikit
menepi supaya tidak menabrak orang lain.
Areum
mengangguk. “Baiklah. Coba kita lihat di sana nanti. Aku juga mau minuman
dingin.”
“Mau
Americano, ya? Atau yang lain?” tanya Yumi.
Harin
mengedikkan bahu. “Nanti saja aku lihat, Yumi.”
“Oke,
aku juga ikut, deh, nanti.” Yumi tersenyum riang, sudah tidak sabar. “Kita
ke—"
Tiba-tiba
saja,
Yumi berhenti berbicara.
Langkahnya
terhenti.
Melihat
Yumi, refleks Harin dan Areum pun berhenti berjalan. Mereka mengernyitkan dahi,
agak heran melihat Yumi yang tiba-tiba berhenti. Namun, Yumi menoleh ke satu
arah. Dia menatap ke sana dengan mata membulat.
Harin
dan Areum pun mengikuti arah pandang Yumi. Di sela-sela bahu mahasiswa yang
berlalu lalang, mata mereka menangkap seseorang yang sangat familier.
Di
dekat pilar besar koridor, tak jauh dari pintu masuk toko buku…
…ada
Jaekyung.
Pemuda
itu mengenakan jaket varsity berwarna navy SNU dengan bordiran
huruf 'S' besar di dadanya. Dia berdiri di sana... dan penampilannya sangat fresh.
Tampan seperti biasa. Dia tampak bahagia.
Namun,
yang membuat Harin terpaku adalah…
…dia
tidak sendirian.
Ada
Seulhee di sampingnya.
Jantung
Harin serasa berhenti berdegup. Ekspresi wajahnya tak begitu memperlihatkan
perbedaan, tetapi napasnya tersekat di tenggorokan.
Ini
adalah kali kedua Harin menyaksikan kedekatan Jaekyung dan Seulhee dengan mata
kepalanya sendiri.
Seulhee
mengenakan jaket yang sama persis dengan Jaekyung. Mereka berdiri berhadapan,
terlihat begitu serasi dengan identitas kampus yang membanggakan itu… seolah-olah
mereka adalah prototipe pasangan sempurna di universitas ini.
Dunia
Harin serasa melambat.
Semua
orang di sekelilingnya… mendadak bergerak pelan.
Suara
obrolan dan tawa para mahasiswa, derap langkah kaki mereka… tiba-tiba tak
terdengar. Kulit Harin serasa terbakar, terutama di bagian leher, payudara, bokong,
dan pahanya, tempat kiss mark pemberian Jaekyung bersembunyi. Mendadak,
ia merasa kotor.
…sebab
pemuda yang menyentuhnya juga dekat dengan perempuan lain.
Semalam,
pemuda itu seolah-olah tak bisa lepas darinya, menghujani tubuhnya dengan cinta.
Namun, sekarang, di tempat yang paling publik di kampus ini, pemuda itu berdiri
mengenakan jaket yang sama dengan Seulhee…
…dan
membiarkan Seulhee memegangi lehernya… lalu turun membelai dada
bidangnya.
Jaekyung
tampak sedikit menunduk, memegang pinggang Seulhee, lalu membisikkan
sesuatu yang membuat Seulhee tertawa kecil dan memukul dadanya pelan. Gerakan
itu terlihat sangat natural. Sangat manis. Jaket mereka yang bersentuhan
membuat keduanya tampak seperti satu kesatuan yang tak terpisahkan.
Mereka
pasti sadar bahwa mereka sedang berada di tempat umum.
…dan
Jaekyung membiarkan hal itu terjadi meskipun dia adalah kekasih Harin…
Hati
Harin serasa diremas. Dia langsung membuang wajah. Dia ingin lari, tetapi
Areum dan Yumi masih ada di sini.
Oh,
Tuhan. Harin malu sekali…
Areum
dan Yumi melihat kekasihnya selingkuh di depan umum.
Harga
diri Harin…
…sudah
diinjak-injak…
Kepala
Harin langsung berdenyut.
Namun,
ternyata, respons Areum dan Yumi sedikit berbeda dari apa yang Harin duga.
Tadinya, Harin mengira kalau Areum dan Yumi akan berdiri terpaku di sana selama
beberapa waktu, lalu menatap Harin dengan kasihan, menenangkan Harin, lalu
karena berlama-lama di sana, Jaekyung dan Seulhee ujung-ujungnya akan menyadari
keberadaan mereka. Namun, tidak. Areum dan Yumi ternyata paham betul apa yang
Harin inginkan, yaitu…
…pergi
dari
sana.
Ya…
jujur saja, mereka pun merasa sakit hati dan kesal melihat adegan itu. Mereka
berdua langsung mundur sedikit, lalu menarik Harin pergi dari sana secepat
mungkin sebelum disadari oleh Jaekyung dan Seulhee.
Suasana
perjalanan mereka ke kantin sangatlah sunyi. Tidak ada yang memulai obrolan,
atau lebih tepatnya… tidak ada yang berani berbicara. Situasi yang baru
mereka lihat tadi sangatlah menyakitkan.
Harin
juga diam saja di sepanjang jalan. Dia berjalan… tetapi pikirannya melanglang
buana. Dia tidak benar-benar melihat jalan. Otaknya mereka ulang semua
yang barusan ia lihat.
Sudah
dua kali Harin melihat Jaekyung dan Seulhee bersama. Seulhee juga menelepon
Jaekyung semalam, di waktu yang ‘terlalu malam’ untuk disebut teman biasa.
Banyak orang yang sudah melihat kemesraan mereka hingga rumornya beredar luas.
Oh,
bukan hanya Seulhee, melainkan banyak perempuan. Jaekyung sering terlihat
bersama banyak perempuan. Menggoda, mengobrol akrab sambil ‘menyentuh’… Hampir
semua orang sudah melihat itu.
Namun,
Seulhee adalah yang paling dirumorkan secara signifikan, soalnya gadis itu
sangat populer di kampus. Dia dan Jaekyung sudah jadi “pasangan ideal”. Tadi, dia
dan Jaekyung juga telah membuktikan pendapat itu. Mereka memakai jaket yang
sama (entah itu kebetulan atau bukan) dan terlihat serasi sekali, seperti power
couple kampus yang berdiri di koridor. Harin merasa kecil sekali karena dia
hanyalah anak MIPA yang biasa saja dibandingkan mereka.
Jaekyung juga terlihat sangat produktif,
segar, siap tampil di depan publik, sementara Harin merasa berantakan di
dalam.
Sebenarnya,
Harin jauh lebih berprestasi daripada Seulhee, tetapi hatinya terlalu tergores
untuk melihat kelebihannya sendiri. Dia dikenal sebagai salah satu mahasiswi
‘emas’ yang selalu memenangkan olimpiade Matematika, selalu mengantongi
prestasi akademik, dan juga cantik. Namun, ya… dia memang tidak se‘beken’
Seulhee yang terkenal karena kecantikan, fashion, dan kekayaannya.
Ibaratnya, kalau Harin adalah ‘profesor pintar yang cantik’, Seulhee adalah ‘supermodel
cantik yang sangat kaya dan terkenal’.
Apa
yang Jaekyung dan Seulhee lakukan di koridor itu? Well, Student Center memang
seperti jantungnya kampus, tetapi… mengapa mereka harus mesra-mesraan di tempat
umum begitu? Mengapa tidak di gedung Bisnis saja?
Entahlah.
Harin malas memikirkannya.
Sesampainya
di kantin, Harin langsung menuju mesin otomatis. Tidak ada keraguan dalam
gerakannya saat menekan layar, membayar, dan mengambil secarik kertas kupon.
Dia mengantre dengan tenang di depan konter, mengambil nasi goreng yang masih
mengepul, lalu berjalan menuju meja di pojok yang agak jauh dari keramaian.
Semua itu dia lakukan bersama Areum dan Yumi yang sesekali mengecek
keadaannya dan saling melirik, ragu-ragu untuk berbicara.
Areum
dan Yumi duduk berhadapan dengan Harin. Pelan-pelan, mereka mulai memakan
makanan mereka masing-masing.
Harin
menyuapkan sesendok nasi goreng itu ke mulutnya. Rasanya hambar, seperti
mengunyah kertas, tetapi dia tetap mengunyahnya dengan ritme yang teratur. Ekspresinya
datar.
Setelah
sekian lama berada di dalam keheningan yang menyiksa itu (well, sudah
beberapa menit kalau dihitung dari saat mereka berjalan ke kantin tadi!),
akhirnya Areum mendengkus dan meletakkan sendoknya ke atas nampan dengan kuat.
Dia tidak tahan lagi.
Spontan
saja, Harin dan Yumi menatap ke arahnya.
“Harin,”
ujar Areum. “Putuskan saja Jaekyung itu.”
Harin
dan Yumi langsung terdiam. Mata mereka melebar samar, tetapi hanya
sejenak. Harin langsung paham mengapa Areum mengatakan itu… begitu pula Yumi.
Mereka
bertiga sama-sama berhenti makan.
Yumi
menghela napas. Dia menatap Harin dengan prihatin. “Iya, Harin. Aku tahu kalau mungkin
itu sulit untukmu mengingat kalian sudah menjalin hubungan selama lima tahun,
tetapi Jaekyung memang sudah keterlaluan.”
Di
otak Areum dan Yumi, sudah ada dugaan kalau Harin akan sedikit menolak
untuk langsung putus. Mereka menebak kalau Harin mungkin akan sedikit keras
kepala, sedikit menunda, atau sedikit… berpikir. Maka dari itu, mereka harus
meyakinkan Harin sekarang.
“Dia
tidak memikirkanmu sama sekali,” ujar Areum. “Dia sadar bahwa dia masih
berhubungan denganmu, dia sadar bahwa dia bermesraan dengan Seulhee di
tempat ramai, dia sadar bahwa itu jam makan siang dan kemungkinan
besar kau akan melihatnya. Dia melakukan semuanya dalam keadaan sadar.
Dia tidak menghormatimu.”
Harin
hanya diam. Saat menyimak Areum, ekspresinya masih datar.
“Benar.”
Yumi mengangguk. “Itu seperti menghinamu. Meludahimu. Berita soal mereka sudah beredar
luas, Harin. Jika kau terus diam, orang-orang akan menganggapmu... tidak punya
harga diri."
“Lagi
pula, apa spesialnya si Seulhee itu?!” ujar Areum. “Dia hanya—"
“Dia
adalah primadona di universitas ini, Areum,” jawab Harin dengan tenang, padahal
hatinya teriris saat mengatakan itu.
Areum
jadi kesal. “Hah?!! Dia tak ada apa-apanya dibandingkan denganmu!!! Dia hanya
menang kaya saja!! Kau cantik dan kau jauh lebih cerdas darinya!! Semua
pakaian dan gayanya yang seperti artis itu, kan, karena uangnya!!”
“Harin,”
panggil Yumi. Dia juga merasa ‘panas’. Rasanya dia ingin melihat Harin dan Jaekyung
putus sekarang juga. “Ini sudah terjadi berkali-kali. Kita bertiga sudah sering
mendengar atau melihat Jaekyung bersama perempuan lain. Kita juga sudah
beberapa kali membicarakan masalah ini. Untuk yang kali ini, tolong jangan diam
saja, Harin. Ini sudah keterlaluan.”
“Ya.
Jaekyung sudah menyakitimu berkali-kali sejak beberapa bulan belakangan,” ujar Areum.
“Aku tahu kalau kau masih berpikir panjang karena histori kalian,
terutama dia dulunya tidak begitu, tetapi sekarang kenyataannya sudah
berbeda. Aku tahu ini berat, tetapi tolong, Harin, aku tak tahan melihat
situasi ini. Sebagai temanmu, aku ingin kau terlepas darinya dan melupakannya
meskipun itu sulit.”
“Iya,”
tambah Yumi. “Ini adalah tahun terakhir kita juga. Sebentar lagi kita wisuda
dan kau takkan bertemu dengannya lagi. Kami akan menemanimu agar kau tak merasa
kesepian.”
Areum
menghela napas. Dia menyentuh punggung tangan Harin yang terletak di atas meja.
“Putuskan dia, ya? Hari ini juga, Harin.”
Areum
dan Yumi menunggu jawaban Harin dengan jantung yang berdegup kencang. Mereka
waswas. Mereka takut Harin akan memberikan respons yang sama seperti
sebelumnya, seperti: diam saja, ‘Aku akan memikirkannya’, atau ‘Aku
akan melihat situasinya terlebih dahulu’.
Namun,
ternyata… respons Harin kali ini seratus persen berbeda.
Responsnya
itu sukses membuat Areum dan Yumi membelalakkan mata sekaligus lega.
Soalnya,
responsnya adalah:
“Rencanaku
begitu.”
Ya.
Benar.
Tidak
ada masa depan untuk hubungan seperti ini. Ini sama sekali tidak layak untuk dipertahankan.
Areum
dan Yumi senang bukan kepalang saat mendengar keputusan Harin. Mereka hampir
melompat di kursi, memegangi tangan Harin, lalu lanjut menghina-hina Seulhee di
depan Harin sambil makan.
Harin
hanya diam.
Setelah
makan, Harin pun langsung mengirimkan sebuah pesan kepada Jaekyung.
Seo
Harin 1.30 PM
Jaekyung,
ayo bertemu sebentar sore ini.
Balasan dari Jaekyung datang dengan cepat.
Jae❤️
1.31 PM
Sayang,
seharusnya aku memang pulang bersamamu seperti biasa, tetapi hari ini aku tak
bisa 😟 Aku baru mau
mengabarimu kalau aku ada urusan dengan Ayah. Nanti malam, aku ada pertandingan
balap. Boleh aku menjemputmu? Aku ingin kau datang melihatku. Temani aku, ya,
Cinta?
—Read, 1.31 PM
Oh, rasanya sungguh ironis melihat kata-kata
manis Jaekyung itu, terutama setelah Harin menyaksikan adegan romantisnya
bersama Seulhee.
Sayang?
Cinta?
Harin
menggeram. Tangannya terkepal. Napasnya tak beraturan.
Dia
menyesal telah membiarkan pemuda itu menyentuhnya semalam.
Lagi
pula, ‘urusan dengan Ayah’? Biasanya, Jaekyung tak mau bertemu dengan ayahnya.
Pemuda itu membenci ayahnya.
Akhirnya, Harin pun membalas pesan Jaekyung.
Baiklah, kalau itu yang Jaekyung mau. Harin akan memutuskan Jaekyung di
arena balap liar itu. Jaekyung biasanya akan menang. Setelah pemuda itu menang…
…Harin
akan memutuskan hubungan mereka, lalu langsung pulang. Dia akan
memutuskan Jaekyung di tempat yang paling Jaekyung banggakan.
Seo
Harin 1.35 PM
Baiklah.
Jae❤️
1.36 PM
Kau
mau? Thank you, Cinta. Aku sudah tak melihatmu seharian, jadi aku sangat
merindukanmu. Nanti malam adalah hadiah untukku.
Aku
akan menjemputmu jam 7 malam. Mau makan dahulu atau langsung pergi saja,
Sayang?
I
love you so fucking much, My Queen.
—Read, 1.36 PM
Hah?!
Semakin ‘mesra’ pesan dari Jaekyung,
semakin pula Harin merasa kesal. Sekarang, bagi Harin, semua itu terdengar
seperti manipulasi. Rasanya Harin ingin menumpahkan segalanya di pesan,
lalu memutuskan Jaekyung sekarang juga, tetapi Harin ingin mengatakannya
langsung di depan wajah Jaekyung.
Seo
Harin 1.37 PM
Langsung
saja. Aku akan makan dari rumah.
Jae❤️
1.38 PM
Baiklah,
My Rin.
Sayang,
aku masih ingat caramu memelukku semalam… Caramu membalas ciumanku… Caramu
meremas rambutku saat aku mencium atau mengisap tubuhmu…
Desahan
manismu… Tubuhmu yang seksi…
Indah
sekali, Sayang…
Aku
berkaca di kamarku dan melihat bekas cakaranmu di punggungku. Aku ingin cakaran
itu memenuhi punggungku… sebagai bukti bahwa aku dimiliki olehmu. Akan lebih
baik kalau kau menandai seluruh tubuhku.
Aromamu
melekat di tubuhku, Sayang.
Aku
bisa gila. Kau sangat sempurna.
Aku
ingin merasakan kasih sayangmu setiap hari, Cinta… Aku mau sedekat itu denganmu
setiap hari.
Aku
bisa mati tanpamu.
—Read, 1.36 PM
Harin menutup chatroom itu
dan memasukkan ponselnya ke dalam saku. Dia tak ingin membalas Jaekyung lagi.
Saat ini, di matanya, semua yang Jaekyung katakan itu seperti kemunafikan
besar. Seperti kebohongan yang beracun.
Harin tahu bahwa Jaekyung sangat… intens.
Namun, yang Harin tidak tahu adalah: Jaekyung bukan hanya intens. Sejak
dahulu, Jaekyung selalu memperlakukannya seperti dewi. Seperti seorang ratu.
Seolah-olah dia adalah satu-satunya hal yang menjaga pemuda itu tetap hidup
normal. Seolah-olah dia adalah sang Matahari, sementara pemuda itu adalah Bumi
yang mengelilinginya.
Bagi Jaekyung, Harin bukan cuma
pacar; Harin adalah altar tempat dia memuja. Harin adalah jangkarnya.
Pusat dunianya.
Menjadi ‘milik Harin’ bukanlah
status asmara belaka baginya. Itu adalah eksistensi. Identitas. Tanpa
label 'pacar Harin', dia hanyalah sekumpulan insting primal dan kemarahan yang
tak memiliki rumah. Di otaknya, tak ada ruang untuk memproses dunia dimana dia
bukanlah kekasih Harin.
Namun, sekitar tiga bulan
belakangan… Jaekyung mulai ‘berulah’. Dia masih bersikap sama di hadapan
Harin, tetapi dalam waktu yang bersamaan, dia juga berbohong dan dekat dengan
perempuan lain.
Selama tiga bulan belakangan ini,
sebenarnya… Harin mulai memikirkan beberapa penyebab yang belum sempat dia
konfirmasi pada Jaekyung karena terlalu sibuk diam sambil menahan sakit.
1. Mungkin
Jaekyung bosan padanya.
2. Mungkin
dia ada salah pada Jaekyung, yang tidak dia sadari.
3. Mungkin
ada sesuatu yang terjadi di kehidupan Jaekyung, yang anehnya kali ini tak
Jaekyung ceritakan padanya.
Namun, sekarang… masa bodoh dengan
semua itu. Harin tak mau memikirkan itu lagi. Buktinya sudah banyak. Jaekyung mesra-mesraan
dengan Seulhee di koridor tadi saja sebenarnya sudah cukup untuk mengakhiri
hubungan mereka. Harin sudah sering melihat pengkhianatan di depan matanya
sendiri.
Harin akan memutuskan Jaekyung nanti
malam.
******
Di sepanjang perjalanan malam ini,
Jaekyung terus memegang tangan Harin. Mencium dan meremas punggung tangan gadis
itu sambil berkendara. Sesekali, dia menciumi wajah, bibir, dan leher Harin
saat berhenti di lampu merah.
“Sayang, kangen…” bisik
Jaekyung. “Cantik sekali, Sayang…”
Harin hanya diam. Mematung. Berpura-pura
tersenyum tipis saat Jaekyung membisikkan kata cinta padanya. Dia setengah mati
mencoba untuk sabar.
Ya, bayangkan saja. Bibir yang
membisikkan kalimat-kalimat mesra itu, bibir yang menciuminya itu, adalah bibir
yang sama yang berbisik mesra pada Seulhee dan perempuan-perempuan lain.
Menjijikkan.
Sabar. Tinggal malam ini saja.
Kau sudah menahan semuanya selama berbulan-bulan. Satu atau dua jam tidak ada
apa-apanya.
Jangan sekarang. Tunggu sampai dia
selesai balapan.
Begitu
mobil Jaekyung memasuki arena, suara dentum musik EDM dari barisan mobil yang
terparkir langsung menyapu pendengaran. Belum ada balapan yang dimulai, tetapi
udara sudah terasa padat dan gerah oleh antisipasi. Ada aroma bensin yang
menguap dan bau karet ban yang mulai panas karena beberapa mobil melakukan burnout
singkat di kejauhan, mungkin sekadar memanaskan mesin atau pamer kekuatan.
Di
beberapa sudut, ada gerombolan orang yang berkumpul. Mereka duduk di kap-kap
mobil. Cahaya lampu neon warna-warni dari modifikasi mobil-mobil itu memantul
di aspal; atmosfernya liar sekaligus artifisial. Suara revving mesin
sesekali terdengar dari jauh.
Jaekyung
mematikan mesin mobilnya, tetapi getaran dari musik di luar sana seolah-olah
berpindah ke kabin mobil. Harin juga mendengar teriakan histeris para perempuan
tatkala melihat mobil Jaekyung sampai. Mereka semua berpakaian seksi.
Para
lelaki juga langsung mendekati mobil Jaekyung seraya bersorak. Banyak yang jadi
semangat tatkala melihat kedatangan Jaekyung. Suasananya jadi riuh.
Harin
meremas tangannya sendiri. Dia sudah beberapa kali diajak Jaekyung ke arena
balap, tetapi kali ini, ada rasa gugup yang mampir di benaknya karena dia punya
agenda untuk memutuskan Jaekyung.
Apakah
semuanya akan lancar-lancar saja?
Harin
mendengkus.
Harus.
Harus lancar.
Jaekyung
menoleh kepada Harin dan tersenyum lembut. Dia memajukan tubuhnya demi
mendekati Harin, lalu membukakan sabuk pengaman gadis itu.
“Kita
sampai, Cinta,” bisiknya. Dia mencium bibir Harin, lalu membelai rambut gadis
itu. “Jangan jauh-jauh dariku, ya?”
Harin
mengangguk singkat. Yah, gadis itu memang tak punya kepentingan apa pun di sini
selain memutuskan Jaekyung setelah balapan nanti.
Jaekyung
tersenyum bahagia melihat respons Harin. Sudah lama sekali Harin tidak ikut ke
arena balapan bersamanya. Dia memeluk Harin dan menciumi leher Harin dengan
manja. Menghirup aroma Harin dalam-dalam. “Hmmh… Rindu sekali, Sayang. Boleh
ciuman sebentar?”
Harin
menggeleng, menarik wajah Jaekyung agar menjauh dari lehernya. Dia menatap mata
Jaekyung dengan serius. “Balapannya akan dimulai sebentar lagi, Jaekyung.”
Jaekyung
jadi mewek. Bahunya agak turun karena kecewa. “Kan cuma sebentar,
Sayang…”
Bohong.
Ciumannya dari dahulu tak pernah cuma ‘sebentar’. Harin bisa-bisa digagahi di
mobil ini.
Harin
menggeleng tegas. “Tidak boleh.”
Jaekyung
hampir merengek, dia langsung kembali memeluk tubuh Harin dengan erat
dan mencium area telinga Harin. Dia lalu berbisik dengan nada desperate, seperti
kecanduan dosis tinggi. Oh, dia sangat menikmati rasa tidak berdaya di depan
perempuan yang dia puja ini. “Setelah aku selesai, kita langsung pulang, ya?
Aku mau mesra-mesraan seperti kemarin... Mau bercinta denganmu… Boleh,
ya, Sayang?”
Jujur
saja, saat mendengar itu, jantung Harin sempat berdegup kencang seperti ‘Deg’
sebelum akhirnya bak berhenti total.
Jemarinya
bergetar singkat. Napasnya tertahan.
Lagi-lagi,
hatinya mulai mengacaukan logikanya. Lagi-lagi, dia merasakan sakit yang
luar biasa. Soalnya, selama beberapa bulan belakangan… dia selalu merasa bahwa
saat Jaekyung mencumbunyalah, dia baru merasa diinginkan. Saat mencumbunyalah,
Jaekyung tampak jatuh cinta. Namun, kali ini, dia tahu bahwa itu salah
besar dan dia tak bisa mengandalkan alasan itu lagi.
Harin
bisa mencium wangi maskulin dari tubuh Jaekyung. Aroma khas pria itu. Musk
yang sangat dalam. Oud. Aromanya intoxicating. Dark. Sensual. Mysterious.
Addictive.
Harin
hafal wangi ini. Wangi yang masih melekat di kulit atau pakaian Harin meski Jaekyung
pergi. Wangi yang membuat Harin tak bisa berhenti menghirupnya. Wangi yang terkesan
complex, mahal, tajam.
Berat
dan berbahaya, tetapi memabukkan.
Jaekyung
masih sama. Masih beraroma seperti ini.
Kata-kata
manja Jaekyung tadi juga masih seperti Jaekyung yang biasanya. Itu membuat
Harin jadi…
…lemah…
…dan
ingin menyerahkan diri pada perasaan yang dia punya.
Harin
bukan robot; dia punya sejarah lima tahun bersama Jaekyung. Saat Jaekyung manja
padanya, sebenarnya… itu adalah senjata paling ampuh untuk membuat Harin goyah.
Namun,
Harin tahu bahwa dia tak bisa goyah lagi. Dia tak bisa menyiksa dirinya lebih
jauh dari ini.
Akhirnya,
Harin pun melepaskan pelukan Jaekyung. Gadis itu menggeleng, berbicara singkat
seperti: “Ayo keluar, Jaekyung. Mereka semua menunggumu.”, lalu keluar dari
mobil.
Meski
sempat terlihat agak kecewa, Jaekyung pun langsung ikut keluar dari mobil. Dia
menutup pintu mobilnya, lalu menyusul Harin dengan cepat. Dia langsung
menggenggam tangan gadis itu.
Keberadaan
Harin membuat banyak lelaki di sana jadi bersorak lebih kencang, sementara para
perempuan mendadak berhenti bersorak. Mereka langsung menatap Harin dengan
tatapan iri. Tidak suka.
Dalam
hati, mereka semua langsung mengumpat.
Sial.
Itu pacarnya Jaekyung, ‘kan?
Kalau
ada pacarnya, Jaekyung tidak akan menghabiskan waktu dengan kita semua. Dia tidak
akan mesra-mesraan dengan kita. Dia akan menempel pada pacarnya itu sepanjang
waktu.
Ah,
tidak seru! Kok pacarnya ikut, sih?! Mengganggu saja!!
Berbeda
dengan Jaekyung yang biasanya menjawab seruan-seruan itu, kali ini dia hanya
diam. Dia menatap semua lelaki yang menyoraki atau menyiuli Harin itu dengan
tajam. Dia seperti seekor singa yang siap menghabisi siapa pun yang menggoda
miliknya.
Jaekyung
berjalan dengan dagu terangkat; auranya begitu dominan. Dia sangat
tampan, bugar, dan gagah. Demanding. Namun, jemarinya menggenggam tangan
Harin dengan protektif, seolah-olah dia sedang membawa harta karun paling
berharga di tengah lautan serigala. Seolah-olah dia tengah membawa malaikat
suci ke dalam area iblis.
Bagi
Jaekyung, sorak-sorai para lelaki dan tatapan memuja para perempuan di sana
hanyalah kebisingan latar belakang. Satu-satunya validasi yang ia butuhkan saat
ini adalah kehadiran Harin di sisinya. Ia ingin semua orang tahu bahwa ia
adalah 'budak' yang bertekuk lutut di bawah kaki Harin. Ia adalah milik Seo
Harin.
Ia
menggandeng Harin, berjalan bersama Harin (membelah kerumunan itu), dan
mendadak ia merasa sangat bangga. Ia seolah-olah sedang menjaga sekaligus memamerkan
Harin. Malaikat cerdas yang membuatnya bertekuk lutut. Ratunya.
"Sayang,
kita ke tenda kru saja. Di sana lebih aman. Lebih privat,” ajak Jaekyung.
"Tidak.
Aku mau ke area penonton saja,” jawab Harin singkat. Dia mulai berjalan menuju
ke tribun.
Jaekyung
menghela napas frustrasi. “Sayang, di sana terlalu ramai. Aku akan balapan dan
kau akan sendirian di sana. Aku tak mau melihatmu diganggu.”
‘Jadi,
aku tak boleh diganggu, sementara kau boleh diganggu?’ pikir
Harin.
Sial.
Harin
mendengkus. Dia hampir marah di tempat.
Namun,
dia telah melatih kesabarannya selama ini. Itu lumayan ada gunanya.
“Aku
mau duduk di tengah-tengah tribun, Jaekyung,” ujar Harin final.
Jaekyung
pun akhirnya menghela napas pasrah. Kepalanya agak sakit memikirkan berbagai
kemungkinan Harin diganggu atau didekati pria lain, tetapi dia tak mau Harin
marah.
Saat
naik ke atas—menuju ke tengah-tengah tribun—mata Jaekyung tanpa sengaja menatap
ke kanan.
Tak
jauh dari sana, ada Yoonjae.
Pemuda
itu berdiri bersama teman-temannya, memberikan Jaekyung tatapan tak suka seraya
menyilangkan tangan di depan dada.
Jaekyung
kontan menatap Yoonjae dengan sangat tajam. Sambil mengintimidasi
Yoonjae dengan tatapannya, dia langsung melepaskan tangan Harin dan beralih
memeluk pinggang Harin dengan posesif, menarik Harin agar lebih lengket
padanya.
Setelah
melepaskan tatapannya dari Yoonjae, dia langsung mencium bahu Harin, lalu
membawa Harin ke salah satu kursi di tribun bagian tengah. Dia memunggungi
Yoonjae sambil mengetahui bahwa Yoonjae melihat semuanya.
Harin
adalah kekasihku.
Pacarnya
adalah aku.
Bukan
kau.
Tak
lama setelah Harin duduk, terdengarlah bunyi pistol pertama yang menandakan
bahwa para pembalap harus mulai masuk ke mobilnya dan menuju ke garis start.
Jaekyung
pun mencium kening Harin seraya tersenyum. “Aku pergi dulu, ya, Sayang. Lihat
aku, Sayang. Lihat aku. Setelah itu, kita pulang dan mesra-mesraan di
kamar tidurmu, ya?”
Jaekyung
meraih rahang Harin, mengarahkan wajah Harin ke wajahnya… lalu mencium bibir
Harin dengan intens. Harin tak sempat menolak ciuman itu karena Jaekyung
langsung memegang rahangnya dengan erat; Jaekyung langsung melumat bibirnya.
Menciumnya dalam.
Tak
lama, Jaekyung mulai menggigit bibir Harin. Dia membuat mulut Harin refleks terbuka.
Begitu mulut Harin terbuka, dia pun memasukkan lidahnya ke dalam sana. Ciuman
itu seketika menjadi liar…
…dan
banyak sekali orang yang melihatnya.
Tatkala
ciuman itu terlepas, Harin langsung terengah-engah. Suara terlepasnya jalinan
bibir mereka terdengar begitu erotis. Bibir Harin kini basah dan sedikit
bengkak.
Jaekyung
menatap Harin dengan penuh cinta. Ia membelai bibir Harin, lalu tersenyum
lembut.
“Tunggu
aku, My Queen. I’ll be quick.”
Oh,
Jaekyung benar-benar an adrenaline junkie; balap liar saja sudah bisa
membuat jantungnya berdetak kencang, apalagi kalau ditambah bayangan akan menerkam
Harin setelah ini. Dia benar-benar berada dalam kondisi high yang
luar biasa. Di kepalanya, kemenangan balapan nanti hanyalah hidangan pembuka. Hidangan
utamanya adalah Harin di ranjang. Dia harus menjadi pejantan pemenang
yang berhak mendapat imbalan paling nikmat malam ini. Sejak chatting-an
dengan Harin tadi siang, dia sudah sangat terangsang. Saat menciumi leher Harin
di mobil tadi juga, sebenarnya… dia sedang membangun fantasi bahwa malam ini
akan menjadi malam paling liar bagi mereka berdua.
Nanti,
dia pasti akan menyetir dengan kesetanan. Bukan demi uang, bukan demi reputasi,
melainkan demi durasi. Semakin cepat dia menang, semakin cepat pula dia
bisa menggagahi Harin di kamar. Dia benar-benar tak sabar ingin mendengar Harin
mendesah di bawahnya lagi, seperti kemarin. Kalimat ‘I’ll be quick’-nya
itu jadi seperti janji. Dia akan cepat.
Sepeninggal
Jaekyung, Harin masih sedikit mengumpulkan nyawanya. Matanya masih
melebar, bibirnya masih basah dan bengkak. Dia memperhatikan Jaekyung yang menuruni
tribun dengan langkah santai dan percaya diri. Semua perempuan di sana langsung
berteriak histeris melihat Jaekyung turun ke arena meskipun sebelumnya mereka
menyaksikan betapa panasnya pemuda itu berciuman dengan Harin.
Tiba-tiba
saja, sebelum kesadaran Harin kembali sepenuhnya, dia mendengar sebuah
suara dari samping kirinya.
Suara
seorang perempuan.
“Hei.
Seo Harin.”
Harin
tersentak. Dia langsung menoleh ke kiri, sedikit mendongak karena orang itu
sedang berdiri.
Begitu
melihat wajah orang itu, mata Harin langsung membeliak.
Itu
adalah Yoon Seulhee.
Seulhee.
Orang
yang tadi siang bermesraan dengan Jaekyung.
Gadis
terpopuler di kampus. Primadona kampus.
Mengapa
Seulhee ada di sini? Apakah dia suka menonton balap liar?
Ini
adalah pertama kalinya Harin dan Seulhee berhadapan. Berada dalam posisi
sedekat ini.
…dan
Seulhee barusan memanggil nama Harin.
Karena
tak mau terlihat begitu ‘terganggu’, Harin pun menormalkan kembali ekspresinya.
“Ya?”
jawab Harin.
Oh,
sebenarnya, Harin ingin berpura-pura tidak mengenal Seulhee, tetapi justru lucu
kalau dia tidak mengenal Seulhee. Reputasi Seulhee di kampus itu terlalu besar
untuk ‘tidak dikenali’. Gadis itu juga anak pemilik perusahaan besar di Korea.
“Ayo
ikut aku sebentar ke tribun paling atas,” ujar Seulhee seraya menyilangkan
tangannya di depan dada. Dia menatap Harin dengan penuh kebencian.
‘Oh,
astaga. Bukankah aku yang seharusnya membencinya?’ pikir
Harin dalam hati.
Namun,
Harin masih tak mau menunjukkan ekspresi yang berarti. Dia hanya menjawab Seulhee
dengan rileks, datar. “Untuk apa? Kamu Yoon Seulhee, ‘kan?”
…Harin
mulai pura-pura ‘memastikan’.
Seulhee
mengangguk.
“Aku
ingin berbicara denganmu sebentar saja. Di sini terlalu ramai.”
“Bicarakan
di sini saja. Tidak apa-apa,” jawab Harin.
Seulhee
tertawa kecil, mengejek Harin. Dia menatap Harin dan menggeleng tak habis pikir.
“Percayalah, kau takkan mau aku membicarakan itu di sini.”
Akhirnya,
Harin mendengkus. Gadis itu pun bangkit dari duduknya dan berjalan mengikuti
Seulhee ke atas.
Sesampainya
di bagian paling atas tribun, Seulhee pun berbalik. Dia kini berhadapan dengan
Harin. Tangannya masih bersilang di depan dada, ekspresi wajahnya juga masih
kelihatan tidak suka pada Harin.
“Well,
aku
tak mau berlama-lama. Kita langsung saja,” ujar Seulhee.
Harin
mengernyitkan dahi.
Setelah
itu, terucaplah satu kalimat yang mematikan dari mulut Seulhee.
“Aku
sudah berhubungan seks dengan Jaekyung. Pacarmu.”
Jantung
Harin serasa mencelus ke perut. Lehernya serasa dicekik; tubuhnya
mematung seketika. Tempatnya berpijak saat itu seolah-olah runtuh.
Seluruh
fungsi tubuhnya serasa mati.
Setelah
itu, Seulhee pun tertawa mengejek. Seakan-akan Harin adalah orang yang paling
bodoh dan paling memalukan sedunia.
“Look
at you,” ujar Seulhee. Dia menatap Harin seraya menyeringai
puas. “You, with all your might, yet unloved by your own boyfriend. Haha!
How pathetic!"
Saat
itulah, hati dan harga diri Harin langsung hancur berkeping-keping. []


No comments:
Post a Comment