Chapter
4 :
Eric
Shou
******
MATA
Ai
membulat. Begitu Eric menanyakan itu padanya, jantungnya seakan-akan nyaris
berhenti berdegup.
Wajahnya memucat.
Di
kamar yang gelap itu, mata biru laut milik Eric terlihat begitu dingin. Eric
tengah membelakangi sinar rembulan yang masuk melalui jendela kamar, tetapi
meskipun begitu, mata biru lautnya seakan-akan memantulkan sinar itu hingga berkilat
tajam. Sosoknya yang tinggi itu sukses mengungkung Ai dari atas.
Eric
memegang pipi Ai demi membuat gadis itu mendongak. Tatapan mereka jadi berserobok;
Ai tak bisa kabur atau memalingkan wajahnya. Akan tetapi, kontras dengan
situasi yang dingin dan menegangkan itu, telapak tangan Eric terasa hangat
di kedua pipi Ai.
Ai
merasa tertekan, tetapi di sisi lain…ada kenyamanan yang familier.
Meskipun
tubuhnya sempat mematung, sebenarnya Ai sempat merasa goyah saat
memikirkan jawaban untuk Eric. Jauh di dalam hatinya, sebenarnya…ia ingin sekali
mengatakan semuanya kepada Eric.
Tiba-tiba
saja, jantung Ai berdegup kencang. Bibirnya bergetar. Ia takut ketahuan
Eric, tetapi di sisi lain, ia juga menahan dirinya mati-matian untuk tidak
mengadukan semuanya kepada Eric.
Akan
tetapi, untungnya…rasa takutnya tetap menang.
Jika
hanya memikirkan kepentingannya sendiri, tentu ia akan mengadukan semuanya pada
Eric. Itu akan menyelesaikan semua masalahnya lebih cepat. Meskipun keperawanannya
takkan kembali, setidaknya ia bisa menumpahkan seluruh perasaan sedihnya
saat ini. Selain itu, mungkin saja…ia akan mendapatkan keadilan atas segala
musibah yang menimpanya.
Namun,
sayangnya…semuanya tidak sesimpel itu.
Karena
apa?
Karena
Eric dan Kei bukanlah pria biasa. Eric adalah pembunuh bayaran yang
paling ditakuti dan paling dicari oleh Shinsengumi, sementara Kei adalah salah
satu petinggi Shinsengumi itu sendiri.
Kalau
Ai mengadukan semuanya langsung pada Eric sekarang, Eric pasti akan
mengamuk. Pria itu takkan peduli dengan kenyataan bahwa dia adalah kriminal
yang paling dicari oleh Shinsengumi. Dia akan menampakkan dirinya secara
terang-terangan meskipun nyawa adalah taruhannya. Oh, lupakan itu. Dia sebetulnya
tak pernah merasa terancam dengan keberadaan Shinsengumi.
…karena
dia memang sekuat itu. Manusia mana yang tak bisa Shinsengumi tangkap
sampai bertahun-tahun selain Eric Shou?
Eric
selama ini menyamarkan dirinya bukan karena takut tertangkap, melainkan karena
baginya, melawan polisi tiap kali dia menjalankan misi tentulah akan
merepotkan. Namun, jika ada polisi yang mencari masalah secara pribadi
dengannya, contohnya seperti kasus Ai saat ini…
…dia
pasti akan pergi ke Markas Shinsengumi tanpa peduli apa pun. Layaknya seekor
binatang buas yang diganggu, dia akan menyerang balik dengan seluruh
kekuatannya. Tentunya, dia akan memulai perang dengan Shinsengumi. Selain itu,
bila kita ingat tentang betapa gilanya kekuatan Eric dan Kei, tak
menutup kemungkinan bahwa hasil dari peperangan itu akan meluluhlantakkan
Edo. Manusia-manusia kuat seperti Eric dan Kei tentu mampu mengajak ribuan
manusia untuk menjadi pasukan mereka. Kekuatan adalah kunci utama agar
orang-orang mau mengikutimu.
Kini,
Ai merasa terjebak di antara dua pria yang terkuat di Edo. Gadis itu
bahkan tak yakin kalau ada pria lain yang mampu menandingi kekuatan mereka di
luar Edo sana. Dia terperangkap di tengah-tengah mereka sehingga banyak
sekali hal yang harus dia pikirkan sebelum bertindak. Banyak sekali hal
yang harus ia tahan, termasuk egonya sendiri.
Pada
akhirnya, dia tak bisa mengadukan semuanya pada Eric. Dia tak mau peperangan itu
terjadi. Oh, jangankan peperangan, ia bahkan tak mau Shinsengumi tahu bagaimana
wajah Eric. Dia ingin Eric tetap aman; dia ingin semua keadaan di sekitarnya
tetap sama seperti sekarang. Dia tak mau ada yang hilang, hancur, sakit, atau
apa pun itu.
Jadi,
apabila dia berpikir lebih matang atau lebih jauh ke depan, diam adalah
keputusan yang terbaik. Dia harus menahan egonya. Menahan kesedihannya.
Menahan penderitaannya.
Demi
Eric, demi Gin dan orang-orang baik di sekitarnya, serta…demi keamanan jangka
panjangnya.
Oleh
karena itu, Ai pun membulatkan keputusannya. Tangannya terkepal. Meskipun
dadanya terasa sesak—karena ingin menangis—ia tetap menahan
semuanya dan meyakinkan dirinya sendiri.
Mencoba
untuk tetap kuat…meski hatinya hancur berkeping-keping. Mencoba untuk menyimpan
semuanya sendirian…meski tubuhnya mau ambruk ke lantai karena tak kuat menahan
sakitnya.
Pelan-pelan,
Ai pun mengusap matanya. Ia tak mau air matanya sampai menetes. Ia menarik
napas, lalu mengeluarkannya perlahan. Setelah itu, ia mulai memegang kedua
lengan Eric dan tersenyum lembut kepada pria itu.
“Tidak
ada,
Kak. Tidak terjadi apa-apa.”
Seluruh
tingkah Ai itu justru membuat Eric mengernyitkan dahi. Tatapan mata pria itu
terasa semakin dingin dan menekan. “Matamu berkaca-kaca, Sayang. Jangan
coba bohongi aku.”
Deg.
Napas
Ai tersekat di tenggorokan saat mendengar jawaban itu.
Benar.
Eric adalah kakak kandungnya; Eric sudah ada di sampingnya sejak kecil. Mereka
hafal dengan watak satu sama lain. Ai tak bisa membohongi Eric.
Namun,
kali ini…ia harus berbohong. Ia harus berakting. Ia tak bisa berterus
terang.
“Tidak,
Kak, tidak.” Ai menggeleng. Ia lalu tersenyum manis. Matanya melengkung
seolah-olah ikut tersenyum. “Aku tidak membohongi Kakak. Aku kesepian
akhir-akhir ini, jadi aku merasa sedih. Makanya, saat aku melihat Kakak, aku
hampir menangis. Aku—aku hanya rindu pada Kakak.”
Mata
Eric melebar. Pria itu terdiam sejenak; dia sedang mencerna jawaban
Ai barusan. Ada binar yang sempat muncul di matanya.
“Ini
pertama kalinya kau berterus terang kalau kau merindukanku,” ujar Eric. Matanya
agak menyipit. “Biasanya, kau hanya akan memelukku, lalu tetap menutupinya
dengan mengomeliku. Apa kau yakin tidak terjadi sesuatu padamu?”
Tiba-tiba,
Ai jadi merasa kesal. Dia berdecak. “Kakak mau mengejekku, ya?”
“Bukan
mengejekmu, Sayang,” ujar Eric. Dia mengusap pipi Ai dengan jempolnya, lalu
menatap Ai dengan ragu. Dahinya agak berkerut. “Kita baru saja bertemu kemarin,
ingat? Tumben sekali kau sudah rindu padaku.”
Ai
melepaskan kedua tangan Eric, lalu kembali berdecak kesal. “Jadi, aku tidak
boleh kangen sama Kakak, nih, kalau baru satu hari?!!”
Mata
Eric melebar. Pria itu terdiam.
Dua
detik kemudian, dia pun tertawa kecil. Ditatapnya Ai dengan penuh kasih sayang.
Ah,
Sayangku marah.
Imutnya.
Tak
butuh waktu lama, Eric pun mulai mendekati Ai. Mata Ai melebar ketika tiba-tiba
Eric memeluk pinggangnya dan menempelkan kening mereka. Napas Eric yang
hangat itu menerpa permukaan wajahnya.
“Bukan
tidak boleh, Cinta,” bisik Eric. Suaranya terdengar begitu seksi. “Hanya
tak biasa terjadi. Itu saja.”
Eric
tersenyum miring, lalu mulai menciumi hidung, pipi, dan kedua mata Ai.
Ciumannya begitu lembut, tetapi sensual. Ia lalu berbisik, “Namun, kalau
benar begitu…aku senang mendengarnya.”
Namun,
sebelum Ai sempat merespons seluruh tindakan intim itu, tiba-tiba saja…
…Eric
mencium bibirnya.
Mata
Ai membeliak. Bibir Eric yang basah dan lembut itu mencium bibirnya. Melumat
bibirnya.
Ini
jelas-jelas bukan hal yang biasa dilakukan oleh saudara kandung. Namun,
sebenarnya…Eric sudah sering mencium Ai seperti ini. Semakin besar, Ai semakin
sadar kalau Eric tidak melihatnya sebagai seorang adik.
Eric
selalu memperlakukannya seperti…
…seorang
kekasih…
Tiap
kali Eric bersikap ‘di luar batas’, terutama mencium bibirnya seperti ini,
sebenarnya Ai selalu protes. Namun, tahulah bagaimana sifat Eric. Saat
mendengar protes atau omelan dari Ai, pria itu hanya akan tersenyum manis,
menjawab dengan ‘polos’, lalu lanjut menciumi Ai.
Itu
menyebalkan.
Agaknya,
kali ini pun, Ai akan melakukan hal yang sama.
Jadi,
dengan mengumpulkan seluruh tenaganya, Ai pun berhasil memegang pipi Eric dan
menjauhkan wajah Eric darinya. Gadis itu lalu mengernyitkan dahi dan menatap
Eric dengan kesal. “Kak! Aku ini adikmu! Tidak boleh mencium—”
Belum
sempat Ai menyelesaikan kalimatnya, Eric sudah kembali menciumnya.
Namun, kali ini, ciuman Eric terasa semakin dalam. Semakin panas.
Semakin intim. Eric memegang bagian belakang kepala Ai agar gadis itu tak bisa
melepaskan ciuman mereka.
“Hmmh—”
Ai tak sengaja mengerang saat Eric menggigit bibirnya. Erangan itu membuat Eric
jadi semakin bersemangat. Gairahnya meluap. Ia langsung memasukkan
lidahnya ke dalam mulut Ai dan melilit lidah Ai bersamanya.
Pipi
Ai merona. Gadis itu refleks mencengkeram pakaian kakaknya di bagian dada;
jantungnya berdegup kencang. Ia sadar bahwa tubuh kakaknya jauh lebih besar
darinya dan ia tak bisa bebas.
Tiba-tiba,
Eric mulai menggendong tubuh Ai dengan sebelah tangannya. Mata Ai spontan
membulat—tangannya refleks memeluk leher Eric, sementara kakinya spontan
melingkar di pinggang Eric—tetapi agaknya, Eric masih fokus menciumnya. Ciuman
itu terasa begitu nikmat. Memabukkan.
Sebelah
tangan Eric berada di bokong Ai untuk menopang tubuh gadis itu, sementara
sebelahnya lagi tetap berada di belakang kepala Ai agar ciuman mereka tak
terlepas. Oh, Ai adalah candu bagi Eric.
Ai
mencengkeram selendang yang melingkar di leher Eric. Dahi gadis itu berkerut; tanpa
sengaja, ia mengeluarkan suara “Hngg!” berkali-kali saat Eric
mengisap lidahnya.
Ini…gila.
Ia
berciuman panas dengan kakaknya sendiri.
Saat
napasnya terasa nyaris habis, ia spontan mendorong bahu Eric dengan sekuat
tenaga agar ciuman itu terlepas. Sambil terengah-engah, dengan bibir yang basah
akibat bertukar saliva dengan Eric, ia pun berkata, “K—Kak—”
Ai
belum sempat meneruskan perkataannya tatkala ia melihat…
…Eric
menatapnya dengan penuh cinta.
“Aku
juga merindukanmu, Sayang,” jawab Eric seraya tersenyum manis. “Itulah
sebabnya aku datang lagi hari ini.”
Ai
menggeleng, masih terengah-engah. “Kak, kita tidak boleh berciuman—”
Mata
Eric mendadak terbuka lebar, membulat dengan polosnya. Pria itu lalu memiringkan
kepalanya. “Hmm? Mengapa aku tak boleh mencium kekasihku?”
‘Aku
ini adikmu, bodoh! Bukan kekasihmu!!’ teriak Ai dalam hati.
Astaga.
Dasar gila. Ai benar-benar tak habis pikir. Akan tetapi, Ai tahu satu hal:
kalau dia protes lebih daripada ini, niscaya Eric akan tersenyum manis—senyum
mematikan andalan pria itu—dan berkata, ‘Siapa yang membuat aturan itu? Beritahu
aku di mana dia berada.’
Ai
langsung bergidik ngeri. Kakaknya memang sudah tidak waras.
Tanpa
banyak bicara, Eric pun kembali mencium bibir Ai. Kali ini, sambil menggendong
Ai, pria itu mulai melangkah ke ranjang. Begitu naik ke ranjang, ia pun membaringkan
Ai di sana. Mengurung Ai bawah tubuh kekarnya.
Ia
melakukan semua itu sambil berciuman dengan Ai.
Setelah
Ai tertindih di bawahnya, ia pun mulai meraba tubuh Ai. Mengelus perut,
pinggang…hingga turun ke pinggul dan paha gadis itu. Ia membelai…lalu meremas
tubuh adiknya dengan mesra. Berkali-kali.
Tangan
besar Eric itu mulai naik ke atas. Dengan gerakan yang pelan dan
sensual, ia mulai meraba area tulang rusuk Ai…hingga akhirnya sampai di payudara
gadis itu. Ia lantas meremas payudara itu dengan penuh gairah. Merasakan betapa
lembutnya gundukan daging yang bulat itu.
Oh,
dia bisa hilang akal.
Ia
sudah lama tergila-gila dengan Ai. Cinta yang ia punya sudah sangat dalam
dan mendarah daging. Baginya, Ai adalah adiknya, pasangan sehidup
sematinya, takdirnya, dan belahan jiwanya. Baginya, sejak dahulu sampai mereka
mati nanti, mereka takkan bisa dipisahkan. Baginya, mereka memang diciptakan
untuk menemani satu sama lain.
Ia
sudah melihat adiknya dari kecil. Menyaksikan pertumbuhan adiknya. Mereka
selalu bersama, selalu berdua. Dahulu, ia sering memandikan adiknya, sering
memakaikan pakaian adiknya, sering bergandengan tangan dengan adiknya, dan
sering tidur berdua sambil berpelukan dengan adiknya. Akan tetapi, seiring
berjalannya waktu, semakin lama…adik tercintanya itu tumbuh semakin besar.
Semakin dewasa.
Wajahnya
yang sejak kecil sudah cantik itu jadi semakin cantik.
Tubuhnya
jadi sintal. Buah dadanya, bokongnya, pinggulnya, pahanya…semuanya sempurna.
Kulitnya
yang seputih salju itu terasa sangat lembut. Kenyal. Mulus.
Saat
bercumbu dengan adiknya seperti ini, Eric kembali sadar—untuk yang kesekian
kalinya—bahwa Ai adalah satu-satunya gadis yang bisa membuatnya mabuk kepayang.
Satu-satunya gadis yang ia cintai. Satu-satunya gadis yang mampu
membuatnya hilang akal. Satu-satunya gadis yang bisa membuatnya berahi.
Satu-satunya gadis yang mampu membuatnya melakukan apa pun, termasuk
menyerahkan nyawanya atau membakar dunia.
Sial.
Dia benar-benar terangsang. Meraba tubuh Ai—meski gadis itu masih mengenakan
pakaian—tentu adalah ujian tersulit baginya. Cinta, pengabdian, gairah, nafsu,
semuanya bercampur menjadi satu.
Payudara
Ai itu sangat lembut. Bulat. Indah. Pas di tangannya yang besar. Perut gadis
itu juga terasa lembut. Pinggangnya ramping. Pinggul, bokong, dan pahanya juga
berisi. Ai begitu menggiurkan. Memikat. Semuanya sukses membuat Eric menggeram.
Kejantanannya mulai mengeras.
Suhu
tubuh adiknya—yang terasa hangat saat ia tindih itu—juga sangat…mengundang. Ia
ingin menikmati kehangatan itu. Kenyamanan itu. Ia ingin tenggelam di
dalam adiksinya. Ia ingin merasa sesak di dalam udara yang penuh dengan cinta
ini.
“Oh,
Sayang. Cantik sekali,” bisik Eric di depan wajah Ai yang memerah. Eric
mengerang, lalu melanjutkan, “Kau tumbuh dan mekar seperti bunga.”
“Kak,
sudah, hentikan,” bisik Ai seraya memegang dada Eric. “Apa kau sudah lupa kalau
aku ini adik kandungmu?”
Tak
memedulikan ucapan Ai, Eric justru melanjutkan kegiatannya. Dia menciumi rahang
Ai…lalu telinga Ai. Ciumannya lembut, tetapi sensual dan penuh hasrat.
Sambil mencium Ai, dia berbicara dengan lirih. “Aku telah melihatmu
tumbuh dari sebuah kuncup kecil...hingga kini menjadi bunga yang
paling indah.”
“Ah!”
Tanpa sadar, Ai mendesah saat Eric mengigit telinganya. Eric lalu turun ke
bawah dan mulai menciumi payudara Ai dari luar piama gadis itu.
“Hmmh…”
desah Eric ketika menciumi payudara Ai. Oh, dia membayangkan betapa nikmatnya
payudara itu jika ia isap tanpa penghalang. “Lembut sekali,
Sayang…”
Dia
sudah lama membayangkan dirinya mencumbu Ai tanpa penghalang, menyatakan cinta
ratusan kali, dan bersanggama dengan Ai hingga Ai tak bisa berjalan.
Menyaksikan gadis yang dia cintai dari kecil hingga dewasa, menyaksikan gadis
kecil yang cantik dan imut itu tumbuh besar dengan sempurna…sudah sanggup
membuatnya sesat akal.
Dia
selalu menganggap bahwa Ai adalah takdirnya. Mereka sudah bersama sejak
kecil, jadi siapa lagi yang pantas untuk Ai selain dirinya?
Eric
hidup dalam kekerasan, darah, pertarungan, langit gelap, trauma, dan pembunuhan.
Namun, di tengah semua itu?
Ada
Ai.
Adik
perempuannya yang cantik, ceria, berani, dan menggemaskan. Ai adalah satu-satunya
hal murni yang pernah dia miliki.
So
of course he clings to her like a lifeline.
Jika
Ai menangis, dia akan hancur.
Jika
Ai menolaknya, dia akan menjadi gila.
Jika
Ai menyentuhnya dengan lembut, dia akan meleleh.
Jika
Ai memanggil ‘Kak’, dia akan bergetar.
Ai
benar-benar merupakan satu-satunya orang yang bisa memengaruhi
perasaannya. Selama-lamanya. Sepanjang hidupnya.
Dia
seolah-olah tersihir. Ai memegang seluruh hatinya di tangan lentik gadis
itu.
Baginya,
Ai adalah rumahnya. Kenyamanan. Kehangatan. Perasaan manusiawinya
satu-satunya. Alasan hidupnya. Segalanya.
Tidak
ada yang boleh mengambil Ai darinya.
“Hnggh!
K—Kak!” teriak Ai saat Eric meremas kedua payudaranya dengan kencang. Ia
mendongak dan memejamkan matanya; dahinya berkerut. Eric mulai naik ke atas
lagi, berencana untuk mencium leher Ai.
Namun,
saat dia mendekatkan wajahnya ke ceruk leher Ai,
…tiba-tiba
dia terdiam.
Untuk
sesaat, dia berhenti mencumbu Ai.
Akan
tetapi, tiga detik kemudian, dia kembali tersenyum manis. Dia mulai
mengangkat wajahnya dari ceruk leher Ai, lalu mencium bibir Ai singkat. Setelah
itu, dia pun menempelkan keningnya dengan kening Ai.
“Aku
sangat mencintaimu, Sayang,” bisik Eric seraya mengusap pipi Ai.
Tatapannya penuh akan damba dan kasih sayang yang tak terukur. “Aku tak
bisa hidup tanpamu.”
Pipi
Ai merona tatkala mendengar suara Eric. Semakin bertambah usia, suara kakaknya
itu terdengar semakin seksi. Menurut Ai, justru kakaknyalah yang tumbuh dengan
sempurna.
Akan
tetapi, sedetik kemudian, tiba-tiba Ai menarik telinga Eric. Menjewer pria itu.
Sambil cemberut, Ai pun berkata, “Kalau memang tak bisa hidup tanpaku, mengapa
kau meninggalkanku hanya untuk berakhir menjadi pembunuh?!”
Eric
tersenyum miring, lalu mencium kedua mata Ai dengan lembut. “Sayang…bukannya
kau sudah tahu bahwa itu kulakukan agar menjadi lebih kuat? Aku ingin lebih
bisa melindungimu.”
Ai
berdecak; ia menarik telinga Eric lebih kencang. Namun, Eric hanya tersenyum.
Pria itu tidak merasa sakit sama sekali. Dia justru gemas melihat Ai yang
protes dengan imut begitu padanya. He’s intoxicated. Feeling high.
Ai
memasang ekspresi kesal. “Kan tidak harus jadi pembunuh juga, Kakaaaak!”
“Terus
jadi apa, dong?” tanya Eric. “Jadi suamimu?”
Pipi
Ai merona. “Kak!!! Astaga!!! Suami apanyaaa?!!”
Eric
tertawa kecil, lalu melumat bibir Ai. Ai sempat memejamkan mata—terlena—akibat
perlakuan Eric yang sangat lembut dan penuh cinta itu, tetapi dua detik
kemudian, Eric melepaskan ciumannya. Pria itu lalu berkata pelan, “Kau sudah
dewasa sekarang. Aku sudah menunggu cukup lama untuk menikahimu.”
Ai
menganga. “Kak, kau benar-benar sudah gila. Ayo kita berobat sekarang. Kakak
mana yang mau menikahi adiknya sendiri?!”
Eric
tersenyum manis. Pria itu menciumi seluruh bagian wajah Ai seolah-olah tak
mendengar apa yang baru saja Ai katakan.
Saat
dia telah selesai menciumi wajah Ai, mereka pun kembali bertatapan. Jarak
antara wajah mereka sangatlah dekat. Kamar yang lampunya tidak dihidupkan (hanya
mengandalkan sinar rembulan), suasana yang sangat sunyi…
Semuanya
terasa begitu intim.
Dalam
jarak yang sedekat ini, Ai bisa melihat wajah Eric yang sangat tampan dan maskulin.
Ai tahu kalau Eric sudah tampan dari kecil, tetapi saat tumbuh menjadi pria
dewasa seperti ini…
…Eric
tampak seperti sesuatu yang ilegal. Fatal. Dia setampan makhluk surgawi,
tetapi berhubung jati dirinya adalah pria yang sadis dan mampu membunuh orang
sambil tersenyum, dia lebih cocok disebut sebagai iblis yang bangkit dari api
dan datang menemui Ai di kamar gadis itu.
Dia
terlihat seperti dosa.
Tubuhnya
juga tinggi dan berotot. Bukan berotot yang berlebihan, tetapi solid. Kuat.
Hot. Fungsional. Otot petarung.
Urat-urat
di tangan dan lengannya pun tercetak dengan sempurna. Itu akan membuatmu
berpikir bahwa dia bisa memutar leher seorang pria dewasa hanya dengan satu
tangannya. Oh, kalau dipikir-pikir lagi, dia juga sering menggendong Ai
hanya dengan satu tangan.
Selain
itu, rahangnya tajam. Hidungnya mancung. Mata biru lautnya tampak terang, tetapi
tajam.
Dia
adalah tipe pria yang mampu membuat lututmu lemas tiap kali melihatnya. Membuat
seluruh logikamu hilang. Senyum manisnya juga mampu membuatmu pingsan kalau kau
tidak kuat. Senyumnya itu manis, tetapi entah mengapa, saat kau
melihatnya…kau merasa seolah-olah akan disantap. Itu seperti
membisikkan, ‘Kau tidak aman, Sayang.’ dan tentunya lututmu akan lemas
seketika.
Dia
berbahaya, tetapi kompas moralmu akan mati saat ditatap olehnya. Dia
adalah predator yang bermata biru, bersuara rendah, dan selalu tersenyum
manis. Dia adalah mimpi buruk yang entah mengapa akan selalu kau rindukan
karena terlalu gagah dan seksi. Kau takut dan bergetar di bawah tatapan
matanya, tetapi kau juga ingin menyerahkan dirimu padanya.
Ai kadang-kadang bersyukur karena Eric masih menyembunyikan
wajahnya dari orang-orang. Kalau ada wanita yang melihat Eric, mungkin Eric
akan langsung jadi terkenal akibat ketampanannya. Wanita akan memujanya, sama
seperti bagaimana mereka memuja Kei Arashi.
Tanpa
sadar, Ai pun membelai rahang Eric. Eric yang merasakan perhatian lembut
dari Ai itu spontan memejamkan matanya, lalu semakin menempelkan wajahnya ke
telapak tangan Ai. Dia ingin merasakan sentuhan itu lebih dalam.
Tatapan
Ai pelan-pelan jadi lembut. Kelopak matanya sedikit turun. Dia menatap
Eric dengan penuh kasih sayang, tetapi sendu. Ada rasa prihatin yang
terkandung di kedua matanya.
“Kak…”
panggil Ai pelan.
Eric
membuka matanya.
Ai
menarik napas dalam.
Setelah
itu, dia kembali membuka suara.
“Bisakah
kau berhenti menjadi pembunuh, Kak?”
Eric
terdiam.
Matanya
sedikit melebar.
Situasi
itu bertahan selama beberapa detik. Saking menegangkannya situasi itu, Ai
sampai bisa mendengar detak jantungnya sendiri.
Akan
tetapi, tiba-tiba saja…
…Eric
tersenyum manis.
“Aku
akan memikirkannya, Sayang.”
Ai
membulatkan mata. Eh? Sebentar. Betulan, nih?
Yah…Ai
tahu kalau tak semudah itu untuk membuat Eric berhenti dari profesinya selama
ini. Namun, fakta bahwa Eric ‘akan memikirkannya’ saja sudah membuat Ai senang
bukan kepalang. Ai sudah lelah diserang rasa takut kalau-kalau suatu hari nanti
kakaknya akan menghilang selamanya. Kalau kakaknya berhenti melakukan pekerjaan
yang berbahaya, Ai akan tenang.
“Sungguh,
Kak?!!” ujar Ai. Nadanya tanpa sadar meninggi karena kaget sekaligus senang.
“Uh-hm,”
deham
Eric seraya tersenyum. Pria itu kemudian bangkit dari atas tubuh Ai, lalu
berbaring di samping Ai. Dia memeluk pinggang Ai dengan posesif.
“Tidur,
yuk. Ini sudah malam,” ucap Eric dengan lirih dan seksi di depan wajah Ai.
Napasnya menerpa permukaan pipi Ai, lalu ia mulai menciumi bibir Ai dengan
sensual. Melumat dan menggigitnya sesekali. “Aku akan memelukmu.”
Mata
Ai melebar. “Kakak sudah mengantuk, ya?”
Eric
tersenyum manis lagi. “Belum, Cinta. Namun, kalau aku lanjut mencumbumu, aku
tak yakin aku bisa berhenti. Bisa-bisa, kita bercinta di kamar ini. Mau, hmm?”
“KAK!”
Wajah Ai memerah. Ia langsung menepuk dada Eric dengan kencang. Alisnya
menyatu; ia tak habis pikir dengan apa yang baru saja Eric katakan. “Kakak mana
yang mengatakan itu pada adiknya sendiri?!! Otakmu sudah pindah ke otot, ya?!!
Apa kau gila?!!”
“Hmm,”
deham Eric. Pria itu tersenyum miring, lalu menggigit telinga Ai. “Gila
karenamu.”
“Tsk!”
decak
Ai kesal. Gadis itu langsung mencubit pipi Eric dengan kencang. “Sudah gila,
mesum pula!! Mau kubunuh, ya?!!”
Eric
hanya tersenyum. Matanya tertutup, melengkung, seolah-olah ikut
tersenyum. Namun, dia tak menjawab apa-apa.
Karena
kesal, Ai pun kembali memukul dada bidang Eric. Dia jadi malas mengomeli Eric
kalau responsnya begitu. Yah, walaupun sebenarnya…respons Eric memang
selalu begitu tiap kali Ai memprotes kemesumannya.
Akhirnya,
karena ngambek, Ai pun menenggelamkan kepalanya di dada bidang Eric.
Gadis itu mencengkeram baju Eric (di bagian dada) dan berkata, “Terserahmu
sajalah!”
Pelan-pelan,
Eric mulai mencium kening Ai. Pria itu mengusap punggung Ai dengan lembut. Dia
mencium pipi, mata, dan hidung Ai secara bergantian.
Well,
Ai
sudah sering tidur berdua sambil pelukan begini dengan Eric. Sudah sejak kecil
dahulu. Namun, bedanya, sekarang…ciuman-ciuman yang Eric berikan jadi lebih
sering dan lebih intens. Dia jadi semakin haus akan Ai.
Untuk
sejenak, Ai bisa melupakan lukanya. Keberadaan Eric, kehangatan yang
Eric berikan, semuanya mampu membuat Ai terdistraksi sejenak dari kepiluan yang
Kei sebabkan.
Setidaknya,
untuk saat ini…Eric ada di sini.
Kakaknya
ada di sini…dan memeluknya.
******
Dari
atas sebuah gedung yang tinggi, Eric memperhatikan dua orang berjaket hitam
yang bergerak perlahan di bawah sana. Mereka bergerak menuju ke kanan (dari
posisi Eric berdiri saat ini), lalu pelan-pelan belok dan masuk ke gang yang
ada di samping gedung itu.
Rambut
panjang Eric yang dikepang itu bergerak, sedikit melayang karena tertiup
angin malam. Selendangnya juga melambai-lambai, tertiup ke belakang karena
angin itu. Dia berdiri di atas salah satu gedung tinggi yang masih berada di
kawasan Edo.
Eric
memperhatikan apa yang ada di bawah sana. Tatapannya terlihat biasa saja, tenang,
tetapi cukup lekat. Ekspresinya datar. Ia mengikuti langkah dua orang
itu—hingga mereka menghilang di gang sebelah gedung—dengan sepasang mata
birunya.
Di
antara angin malam yang sepoi-sepoi itu, Eric terlihat sangat rileks.
“Apakah
itu Shinsengumi?”
Eric
menoleh. Itu adalah suara Atsushi. Atsushi sedang berjongkok agak jauh di sana,
di sebelah kanannya.
Eric,
pria tampan psychotic itu, mulai tersenyum sangat manis. Seperti
senyuman tulus anak kecil.
“Eh,
ada Sushi-kun, ya.”
Kontan
saja Atsushi menganga. Matanya membeliak. “Oi! Aku bukan Sushi!! Lagi pula, aku
sudah ada di sini sejak tadi!!!”
Bukannya
memedulikan protesnya Atsushi, Eric justru kembali menatap ke depan dengan
senyumannya itu. Membuat Atsushi jadi geram setengah mati.
‘Sialan.
Kalau ancamannya bukan nyawa, sudah dari tadi bocah itu kuhajar,’ pikir
Atsushi.
Yah,
kalau
Atsushi berencana untuk menghajar Eric, mungkin sebelum sampai di tempat Eric
berdiri, dia sudah mati. Eric akan membunuhnya seketika.
Akhirnya,
Atsushi menghela napas. Ia kembali menatap ke depan, mencoba untuk memaklumi
tabiat psikopat gila itu.
Sabar
sajalah. Daripada mati.
Cahaya
bulan menerangi sosok Eric. Membuat wajahnya yang putih itu jadi semakin bersinar.
Membuat matanya yang berwarna biru itu jadi seolah-olah berkilat. Membuat
sosoknya terlihat semakin indah karena selendang dan rambutnya tertiup angin.
Namun,
Eric diam saja. Dia hanya tersenyum dan memandang ke depan.
Mereka
berdua sama-sama diam. Hanya terdengar suara angin yang berembus di sekitar
mereka. Rambut Atsushi pun sedikit bergerak karena tertiup angin.
Keadaan
itu bertahan hingga sepuluh detik lamanya.
Akan
tetapi, tiba-tiba…Eric membuka suara.
“Adikku
menyuruhku untuk berhenti menjadi pembunuh bayaran.”
Mata
Atsushi membulat. Pria bertubuh tinggi besar itu langsung menoleh kepada
Eric dan memasang ekspresi tak percaya. Tubuhnya mematung.
Sebentar,
sebentar. Serius, nih?!!
“T—Tunggu.
Apa kau serius?!” Atsushi tanpa sadar meninggikan suaranya. “J—Jadi, kau
jawab apa?”
Well,
Atsushi
tahu seberapa senangnya Eric terhadap pekerjaannya. Pria gila itu tersenyum
manis tiap kali membunuh orang. Selain itu, semua orang di organisasi juga tahu
bahwa Eric bergabung karena ingin memperkuat dirinya. Atsushi tak pernah
mendengar Eric mengatakan itu sendiri padanya, tetapi ada ‘rumor’ yang tersebar
di antara para anggota organisasi bahwa Eric Shou bergabung hanya karena
ingin menjadi kuat.
Meskipun
menyimpang dari norma, bergabung di sebuah organisasi gelap yang besar memang
adalah jalan tercepat untuk menjadi lebih kuat. Bergabung dengan organisasi
pembunuh yang besar seperti ini akan membuatmu bertemu dengan manusia-manusia
kuat lainnya. Kau juga akan diberi berbagai misi; misi-misi itu akan
membuatmu semakin berpengalaman dalam bertarung. Selain itu, kau akan bertemu
dengan banyak situasi di mana lawan atau targetmu ternyata adalah manusia kuat
atau manusia yang punya pasukan-pasukan kuat.
Itu
tentu akan membuatmu jadi terlatih. Jadi jauh lebih kuat dalam waktu cepat.
Bonusnya, kau juga akan diberi bayaran yang supertinggi.
Namun,
meskipun Atsushi mendengar rumor itu, Atsushi juga tahu sesuatu soal Eric. Kalau
yang ini, bukan hanya rumor, melainkan sebuah fakta. Dia tahu bahwa Eric…
…adalah
seorang siscon akut.
Eric
adalah psikopat yang tergila-gila dengan adik perempuannya sendiri. Adik
kandungnya. Sister complex akut.
Dari
mana Atsushi tahu soal itu?
Ya
bagaimana mungkin Atsushi tidak tahu?! Sepertinya, semua orang di
organisasi tahu fakta itu meskipun mereka tidak sering bertemu dengan satu sama
lain. Bayangkan saja, semua pembunuh di organisasi mereka biasanya datang ke
markas hanya untuk menerima misi atau meeting, lalu pergi. Datang
kembali hanya untuk melapor dan mendapat bayaran. Kadang-kadang dimarahi boss
kalau pekerjaannya tidak bagus. Jadi, mereka tidak terlalu peduli dengan
satu sama lain. Namun, soal Eric?
Semua
orang di sana tahu siapa Eric Shou. Tangan kanan boss—yang
sebenarnya bergerak seenaknya saja, tak peduli pangkat—dan merupakan manusia
terkuat di organisasi itu. Mereka semua kenal Eric Shou meski tak berani
berbicara dengannya. Lebih tepatnya, antara takut…dan tak mau mencari masalah.
Diam-diam, mereka semua tahu kalau Eric adalah siscon. Soalnya, Eric
sering beberapa kali membatalkan misi, meninggalkan misi di tengah
jalan, atau tidak menghadiri meeting…
…hanya
karena rindu pada adik perempuannya.
Alasannya
sesimpel itu! Namun, jangan pernah bilang kalau itu simpel atau sepele
di depan Eric. Dahulu, waktu Eric baru bergabung, ada senior yang
mengucapkan itu padanya. Senior itu mati mengenaskan di tempat dengan leher
yang tertancap katana satu detik kemudian.
Eric
saat itu hanya tersenyum. Manis sekali. Matanya melengkung, tertutup, sangat
ramah…
…tetapi
begitu dingin. Sukses membuat bulu kuduk semua orang berdiri. Suhu di
sekitar mereka seakan-akan langsung turun beberapa derajat. Tubuh mereka
tak bisa bergerak.
Waktu
itu, sambil tersenyum, Eric berkata, ‘Sepele, katamu?’
Sejak
saat itu, tak ada yang berani pada Eric. Kekuatannya memang sinting, tetapi
otaknya ternyata lebih sinting.
Lama-kelamaan,
kekuatan Eric semakin besar. Dia semakin terlatih. Semakin gila. Dia mampu
menghabiskan ratusan penjaga musuh dalam waktu singkat. Seperti hanya
bermain-main. Seperti pemanasan kecil.
Karena
Atsushi tahu kalau Eric adalah siscon akut, Atsushi jadi curiga.
Jangan-jangan,
Eric benar-benar menyetujui permintaan adiknya meskipun dia cukup menikmati
pekerjaannya selama ini.
Seolah-olah
menjawab isi pikiran Atsushi, tiba-tiba Eric berbicara.
“Sebenarnya,
aku tak terlalu punya niat untuk berhenti,” ujarnya. “Akan tetapi, aku
tetap bilang pada Adikku bahwa aku akan memikirkannya.”
Sejujurnya,
dibanding
berhenti total, Eric lebih ingin bergerak sendiri. Namun, ia tak
mengatakan itu pada siapa pun.
Mendengar
jawaban itu, entah mengapa Atsushi menghela napas. Ternyata, respons Eric pada
adiknya cukup normal (walaupun otaknya sudah tidak normal lagi).
“Aku
tak tahu apa keputusanmu nantinya,” ujar Atsushi. “Namun, sepertinya, adikmu
hanya khawatir padamu. Lihatlah betapa gencarnya Shinsengumi mencarimu,
sampai-sampai rajin bergerak tengah malam tanpa penerangan. Itu mereka,
‘kan, yang kau perhatikan tadi?”
Eric
hanya tersenyum.
“Sok
tahu sekali, sih, Sushi-kun,” jawab Eric dengan nada bermain-main. “Siapa tahu
itu cuma om-om yang mau membeli ramen.”
“Toko
ramen mana yang buka jam segini, oi!!!” teriak Atsushi. Eric hobi sekali
mempermainkannya. Eric akan pura-pura polos, padahal niatnya cuma mau membuat
orang kesal. Memang manusia sadis. “Apa kau sadar jam berapa ini??!!! Hebat
sekali toko ramen itu kalau buka sampai jam segini!!”
Iya,
ini sudah jam dua pagi. Eric juga datang ke sini setelah tidur bersama Ai
selama beberapa jam.
Bagaikan
masuk kuping kanan keluar kuping kiri, Eric tak menghiraukan omelan Atsushi.
Dia hanya tetap tersenyum, memandang ke depan seakan-akan tak punya salah.
Atsushi
kembali menatap ke depan, lalu menghela napas kasar. Rasanya lelah sekali
menghadapi monster sok polos bernama Eric Shou ini. “Yah, terserahmu
sajalah. Intinya, ambillah keputusan yang terbaik untukmu dan juga adikmu.
Shinsengumi adalah anjingnya pemerintah, jadi sudah bisa dipastikan
bahwa pemerintah juga sedang mencarimu.”
Tepat
setelah kata-kata itu, senyuman Eric pelan-pelan terhapus. Matanya yang
melengkung itu pelan-pelan kembali ke bentuk asalnya. Ekspresi innocent dan
bersahabatnya juga hilang seketika.
Kini,
kedua matanya menatap fokus ke depan…
…dan
berkilat tajam.
******
Kei
membuka pintu geser kamarnya dengan cepat. Setelah itu, dia berdiri diam di
depan pintu itu.
Gelap.
Melihat
lampu kamarnya yang masih mati, sebenarnya hati Kei sudah sedikit kacau.
Namun, tidak. Pria itu masih ingin memastikan kebenarannya.
Dia
masih ingin berpikir positif.
Beberapa
detik kemudian, dia pun mulai melangkah masuk ke kamarnya. Dia menutup pintu
geser itu, lalu menghidupkan andon (lentera) yang berdiri di sudut kamar.
Setelah
lentera itu menyala, mata tajamnya mulai melihat ke sekeliling kamar.
Tidak
ada tanda-tanda orang masuk.
Hening.
Rapi.
Tak
ada wangi yang berbeda.
Kamar
Kei sangat luas. Kamar itu ada di Markas Shinsengumi yang besar. Markas Shinsengumi
adalah ‘kantor’ sekaligus tempat latihan bagi semua anggota Shinsengumi, tetapi
khusus untuk komandan, wakil komandan, dan seluruh kapten, mereka tinggal di
sana. Intinya, yang benar-benar ‘tinggal’ di sana adalah para petingginya.
…termasuk
Kei.
Kamar
Kei terbagi menjadi dua bagian yang dibatasi oleh dinding. Jika kau membuka
pintu masuk dari koridor luar (seperti Kei saat ini), kau akan langsung dihadapkan
dengan ruang kerjanya. Di depan sana, ada meja kerja Kei, lemari, dan
lain-lain. Jika ada anggota atau petinggi Shinsengumi yang ingin menemui Kei
secara pribadi (untuk mendiskusikan sesuatu), di sinilah tempatnya.
Namun,
di ujung kiri ruangan, ada sebuah pintu geser lagi. Jika kau membuka pintu
geser itu, kau akan melihat kamar Kei yang sesungguhnya. Tempatnya
tidur. Ruangan pribadinya.
Karena
di ruang kerjanya tak ada tanda keberadaan seseorang sebelumnya, Kei pun
mulai melangkah ke ruangan sebelah. Ruangan pribadinya.
Dia
berjalan hingga ke ujung, lalu membuka pintu geser yang ada di sana. Setelah
itu, dia mulai menghidupkan salah satu lentera di dalam kamarnya, lalu
memperhatikan seisi kamar itu.
Tak
ada tanda-tanda keberadaan seseorang juga.
Kei
spontan mendengkus. Tiba-tiba, rasa kecewa, marah, dan kalutnya
bercampur menjadi satu. Pikirannya jadi tidak keruan.
Ai
benar-benar tidak datang.
Kei
mulai duduk bersandar pada pintu geser kamarnya. Sebelah kakinya terjulur lurus
ke depan, sementara sebelahnya lagi dia tekuk hingga salah satu lengannya bisa
bertumpu pada lututnya.
Dia
menatap kamarnya dengan nanar.
Tadi
siang, dia sudah menemui Ai secara personal. Dia datang ke bar milik Gin saat
seharusnya dia sibuk dengan misi penangkapan. Dia ingin Ai tahu bahwa
dia tidak bermain-main; dia ingin Ai benar-benar datang menemuinya malam ini.
Namun,
gadis itu tidak datang.
Ini
sudah jam tiga pagi dan Kei baru saja pulang dari patroli bersama Seichii. Dia
berangkat patroli sekitar jam dua belas malam tadi, tetapi dia sudah menunggu
Ai sejak jam tujuh malam.
Namun,
Ai tak kunjung datang.
Dia
sempat berdebat dengan Jun karena pria itu menyuruhnya patroli malam ini.
Soalnya, dia pikir, mungkin saja Ai akan datang saat tengah malam. Mungkin
saja, Ai sengaja datang lebih malam karena menunggu Gin tidur terlebih dahulu.
Dia masih mencoba untuk berpikir positif, teguh, meski banyak bisikan di
belakang kepalanya yang berkata bahwa Ai takkan datang.
Dia
memang pergi patroli, tetapi hanya setelah menatap Jun dengan tajam dan
berkata, ‘Kalau ada seorang gadis yang datang, bawa dia masuk ke kamarku.
Aku akan membunuhmu jika kau tak membukakan gerbang untuknya.’
Namun,
ternyata, Ai tak datang sama sekali.
Sial.
Apakah
ada sesuatu yang membuat Ai tak bisa datang?
Apa?
Apa
yang membuatnya tak bisa datang?
Apa
dia masih tak mau?
Atau
ada sesuatu yang lain?
Kei
mengepalkan tangannya. Rahangnya mengetat.
Ai
memang satu-satunya gadis yang bisa membuatnya gila. []


Kaciannn, nggak diapelin Ai ya bang? wkwk makanya jangan sadis banget jadi orang 😭



Eric and Sushi-kun



No comments:
Post a Comment