Sunday, November 16, 2025

Sadistics' Lover (Chapter 4: Eric Shou)

 


******

Chapter 4 :

Eric Shou

 

******

 

MATA Ai membulat. Begitu Eric menanyakan itu padanya, jantungnya seakan-akan nyaris berhenti berdegup.

            Wajahnya memucat.

Di kamar yang gelap itu, mata biru laut milik Eric terlihat begitu dingin. Eric tengah membelakangi sinar rembulan yang masuk melalui jendela kamar, tetapi meskipun begitu, mata biru lautnya seakan-akan memantulkan sinar itu hingga berkilat tajam. Sosoknya yang tinggi itu sukses mengungkung Ai dari atas.

Eric memegang pipi Ai demi membuat gadis itu mendongak. Tatapan mereka jadi berserobok; Ai tak bisa kabur atau memalingkan wajahnya. Akan tetapi, kontras dengan situasi yang dingin dan menegangkan itu, telapak tangan Eric terasa hangat di kedua pipi Ai.

Ai merasa tertekan, tetapi di sisi lain…ada kenyamanan yang familier.

Meskipun tubuhnya sempat mematung, sebenarnya Ai sempat merasa goyah saat memikirkan jawaban untuk Eric. Jauh di dalam hatinya, sebenarnya…ia ingin sekali mengatakan semuanya kepada Eric.

Tiba-tiba saja, jantung Ai berdegup kencang. Bibirnya bergetar. Ia takut ketahuan Eric, tetapi di sisi lain, ia juga menahan dirinya mati-matian untuk tidak mengadukan semuanya kepada Eric.

Akan tetapi, untungnya…rasa takutnya tetap menang.

Jika hanya memikirkan kepentingannya sendiri, tentu ia akan mengadukan semuanya pada Eric. Itu akan menyelesaikan semua masalahnya lebih cepat. Meskipun keperawanannya takkan kembali, setidaknya ia bisa menumpahkan seluruh perasaan sedihnya saat ini. Selain itu, mungkin saja…ia akan mendapatkan keadilan atas segala musibah yang menimpanya.

Namun, sayangnya…semuanya tidak sesimpel itu.

Karena apa?

Karena Eric dan Kei bukanlah pria biasa. Eric adalah pembunuh bayaran yang paling ditakuti dan paling dicari oleh Shinsengumi, sementara Kei adalah salah satu petinggi Shinsengumi itu sendiri.

Kalau Ai mengadukan semuanya langsung pada Eric sekarang, Eric pasti akan mengamuk. Pria itu takkan peduli dengan kenyataan bahwa dia adalah kriminal yang paling dicari oleh Shinsengumi. Dia akan menampakkan dirinya secara terang-terangan meskipun nyawa adalah taruhannya. Oh, lupakan itu. Dia sebetulnya tak pernah merasa terancam dengan keberadaan Shinsengumi.

…karena dia memang sekuat itu. Manusia mana yang tak bisa Shinsengumi tangkap sampai bertahun-tahun selain Eric Shou?

Eric selama ini menyamarkan dirinya bukan karena takut tertangkap, melainkan karena baginya, melawan polisi tiap kali dia menjalankan misi tentulah akan merepotkan. Namun, jika ada polisi yang mencari masalah secara pribadi dengannya, contohnya seperti kasus Ai saat ini…

…dia pasti akan pergi ke Markas Shinsengumi tanpa peduli apa pun. Layaknya seekor binatang buas yang diganggu, dia akan menyerang balik dengan seluruh kekuatannya. Tentunya, dia akan memulai perang dengan Shinsengumi. Selain itu, bila kita ingat tentang betapa gilanya kekuatan Eric dan Kei, tak menutup kemungkinan bahwa hasil dari peperangan itu akan meluluhlantakkan Edo. Manusia-manusia kuat seperti Eric dan Kei tentu mampu mengajak ribuan manusia untuk menjadi pasukan mereka. Kekuatan adalah kunci utama agar orang-orang mau mengikutimu.

Kini, Ai merasa terjebak di antara dua pria yang terkuat di Edo. Gadis itu bahkan tak yakin kalau ada pria lain yang mampu menandingi kekuatan mereka di luar Edo sana. Dia terperangkap di tengah-tengah mereka sehingga banyak sekali hal yang harus dia pikirkan sebelum bertindak. Banyak sekali hal yang harus ia tahan, termasuk egonya sendiri.

Pada akhirnya, dia tak bisa mengadukan semuanya pada Eric. Dia tak mau peperangan itu terjadi. Oh, jangankan peperangan, ia bahkan tak mau Shinsengumi tahu bagaimana wajah Eric. Dia ingin Eric tetap aman; dia ingin semua keadaan di sekitarnya tetap sama seperti sekarang. Dia tak mau ada yang hilang, hancur, sakit, atau apa pun itu.

Jadi, apabila dia berpikir lebih matang atau lebih jauh ke depan, diam adalah keputusan yang terbaik. Dia harus menahan egonya. Menahan kesedihannya. Menahan penderitaannya.

Demi Eric, demi Gin dan orang-orang baik di sekitarnya, serta…demi keamanan jangka panjangnya.

Oleh karena itu, Ai pun membulatkan keputusannya. Tangannya terkepal. Meskipun dadanya terasa sesak—karena ingin menangis—ia tetap menahan semuanya dan meyakinkan dirinya sendiri.

Mencoba untuk tetap kuat…meski hatinya hancur berkeping-keping. Mencoba untuk menyimpan semuanya sendirian…meski tubuhnya mau ambruk ke lantai karena tak kuat menahan sakitnya.

Pelan-pelan, Ai pun mengusap matanya. Ia tak mau air matanya sampai menetes. Ia menarik napas, lalu mengeluarkannya perlahan. Setelah itu, ia mulai memegang kedua lengan Eric dan tersenyum lembut kepada pria itu.

“Tidak ada, Kak. Tidak terjadi apa-apa.”

Seluruh tingkah Ai itu justru membuat Eric mengernyitkan dahi. Tatapan mata pria itu terasa semakin dingin dan menekan. “Matamu berkaca-kaca, Sayang. Jangan coba bohongi aku.”

 

Deg.

 

Napas Ai tersekat di tenggorokan saat mendengar jawaban itu.

Benar. Eric adalah kakak kandungnya; Eric sudah ada di sampingnya sejak kecil. Mereka hafal dengan watak satu sama lain. Ai tak bisa membohongi Eric.

Namun, kali ini…ia harus berbohong. Ia harus berakting. Ia tak bisa berterus terang.

“Tidak, Kak, tidak.” Ai menggeleng. Ia lalu tersenyum manis. Matanya melengkung seolah-olah ikut tersenyum. “Aku tidak membohongi Kakak. Aku kesepian akhir-akhir ini, jadi aku merasa sedih. Makanya, saat aku melihat Kakak, aku hampir menangis. Aku—aku hanya rindu pada Kakak.”

Mata Eric melebar. Pria itu terdiam sejenak; dia sedang mencerna jawaban Ai barusan. Ada binar yang sempat muncul di matanya.

“Ini pertama kalinya kau berterus terang kalau kau merindukanku,” ujar Eric. Matanya agak menyipit. “Biasanya, kau hanya akan memelukku, lalu tetap menutupinya dengan mengomeliku. Apa kau yakin tidak terjadi sesuatu padamu?”

Tiba-tiba, Ai jadi merasa kesal. Dia berdecak. “Kakak mau mengejekku, ya?”

“Bukan mengejekmu, Sayang,” ujar Eric. Dia mengusap pipi Ai dengan jempolnya, lalu menatap Ai dengan ragu. Dahinya agak berkerut. “Kita baru saja bertemu kemarin, ingat? Tumben sekali kau sudah rindu padaku.”

Ai melepaskan kedua tangan Eric, lalu kembali berdecak kesal. “Jadi, aku tidak boleh kangen sama Kakak, nih, kalau baru satu hari?!!”

Mata Eric melebar. Pria itu terdiam.

Dua detik kemudian, dia pun tertawa kecil. Ditatapnya Ai dengan penuh kasih sayang.

 

Ah, Sayangku marah.

Imutnya.

 

Tak butuh waktu lama, Eric pun mulai mendekati Ai. Mata Ai melebar ketika tiba-tiba Eric memeluk pinggangnya dan menempelkan kening mereka. Napas Eric yang hangat itu menerpa permukaan wajahnya.

“Bukan tidak boleh, Cinta,” bisik Eric. Suaranya terdengar begitu seksi. “Hanya tak biasa terjadi. Itu saja.”

Eric tersenyum miring, lalu mulai menciumi hidung, pipi, dan kedua mata Ai. Ciumannya begitu lembut, tetapi sensual. Ia lalu berbisik, “Namun, kalau benar begitu…aku senang mendengarnya.”

Namun, sebelum Ai sempat merespons seluruh tindakan intim itu, tiba-tiba saja…

 

…Eric mencium bibirnya.

 

Mata Ai membeliak. Bibir Eric yang basah dan lembut itu mencium bibirnya. Melumat bibirnya.

Ini jelas-jelas bukan hal yang biasa dilakukan oleh saudara kandung. Namun, sebenarnya…Eric sudah sering mencium Ai seperti ini. Semakin besar, Ai semakin sadar kalau Eric tidak melihatnya sebagai seorang adik.

Eric selalu memperlakukannya seperti…

 

…seorang kekasih…

 

Tiap kali Eric bersikap ‘di luar batas’, terutama mencium bibirnya seperti ini, sebenarnya Ai selalu protes. Namun, tahulah bagaimana sifat Eric. Saat mendengar protes atau omelan dari Ai, pria itu hanya akan tersenyum manis, menjawab dengan ‘polos’, lalu lanjut menciumi Ai.

Itu menyebalkan.

Agaknya, kali ini pun, Ai akan melakukan hal yang sama.

Jadi, dengan mengumpulkan seluruh tenaganya, Ai pun berhasil memegang pipi Eric dan menjauhkan wajah Eric darinya. Gadis itu lalu mengernyitkan dahi dan menatap Eric dengan kesal. “Kak! Aku ini adikmu! Tidak boleh mencium—”

Belum sempat Ai menyelesaikan kalimatnya, Eric sudah kembali menciumnya. Namun, kali ini, ciuman Eric terasa semakin dalam. Semakin panas. Semakin intim. Eric memegang bagian belakang kepala Ai agar gadis itu tak bisa melepaskan ciuman mereka.

“Hmmh—” Ai tak sengaja mengerang saat Eric menggigit bibirnya. Erangan itu membuat Eric jadi semakin bersemangat. Gairahnya meluap. Ia langsung memasukkan lidahnya ke dalam mulut Ai dan melilit lidah Ai bersamanya.

Pipi Ai merona. Gadis itu refleks mencengkeram pakaian kakaknya di bagian dada; jantungnya berdegup kencang. Ia sadar bahwa tubuh kakaknya jauh lebih besar darinya dan ia tak bisa bebas.

Tiba-tiba, Eric mulai menggendong tubuh Ai dengan sebelah tangannya. Mata Ai spontan membulat—tangannya refleks memeluk leher Eric, sementara kakinya spontan melingkar di pinggang Eric—tetapi agaknya, Eric masih fokus menciumnya. Ciuman itu terasa begitu nikmat. Memabukkan.

Sebelah tangan Eric berada di bokong Ai untuk menopang tubuh gadis itu, sementara sebelahnya lagi tetap berada di belakang kepala Ai agar ciuman mereka tak terlepas. Oh, Ai adalah candu bagi Eric.

Ai mencengkeram selendang yang melingkar di leher Eric. Dahi gadis itu berkerut; tanpa sengaja, ia mengeluarkan suara “Hngg!” berkali-kali saat Eric mengisap lidahnya.

Ini…gila.

Ia berciuman panas dengan kakaknya sendiri.

Saat napasnya terasa nyaris habis, ia spontan mendorong bahu Eric dengan sekuat tenaga agar ciuman itu terlepas. Sambil terengah-engah, dengan bibir yang basah akibat bertukar saliva dengan Eric, ia pun berkata, “K—Kak—”

Ai belum sempat meneruskan perkataannya tatkala ia melihat…

…Eric menatapnya dengan penuh cinta.

“Aku juga merindukanmu, Sayang,” jawab Eric seraya tersenyum manis. “Itulah sebabnya aku datang lagi hari ini.”

Ai menggeleng, masih terengah-engah. “Kak, kita tidak boleh berciuman—”

Mata Eric mendadak terbuka lebar, membulat dengan polosnya. Pria itu lalu memiringkan kepalanya. “Hmm? Mengapa aku tak boleh mencium kekasihku?”

‘Aku ini adikmu, bodoh! Bukan kekasihmu!!’ teriak Ai dalam hati.

Astaga. Dasar gila. Ai benar-benar tak habis pikir. Akan tetapi, Ai tahu satu hal: kalau dia protes lebih daripada ini, niscaya Eric akan tersenyum manis—senyum mematikan andalan pria itu—dan berkata, ‘Siapa yang membuat aturan itu? Beritahu aku di mana dia berada.’

Ai langsung bergidik ngeri. Kakaknya memang sudah tidak waras.

Tanpa banyak bicara, Eric pun kembali mencium bibir Ai. Kali ini, sambil menggendong Ai, pria itu mulai melangkah ke ranjang. Begitu naik ke ranjang, ia pun membaringkan Ai di sana. Mengurung Ai bawah tubuh kekarnya.

Ia melakukan semua itu sambil berciuman dengan Ai.

Setelah Ai tertindih di bawahnya, ia pun mulai meraba tubuh Ai. Mengelus perut, pinggang…hingga turun ke pinggul dan paha gadis itu. Ia membelai…lalu meremas tubuh adiknya dengan mesra. Berkali-kali.

Tangan besar Eric itu mulai naik ke atas. Dengan gerakan yang pelan dan sensual, ia mulai meraba area tulang rusuk Ai…hingga akhirnya sampai di payudara gadis itu. Ia lantas meremas payudara itu dengan penuh gairah. Merasakan betapa lembutnya gundukan daging yang bulat itu.

Oh, dia bisa hilang akal.

Ia sudah lama tergila-gila dengan Ai. Cinta yang ia punya sudah sangat dalam dan mendarah daging. Baginya, Ai adalah adiknya, pasangan sehidup sematinya, takdirnya, dan belahan jiwanya. Baginya, sejak dahulu sampai mereka mati nanti, mereka takkan bisa dipisahkan. Baginya, mereka memang diciptakan untuk menemani satu sama lain.

Ia sudah melihat adiknya dari kecil. Menyaksikan pertumbuhan adiknya. Mereka selalu bersama, selalu berdua. Dahulu, ia sering memandikan adiknya, sering memakaikan pakaian adiknya, sering bergandengan tangan dengan adiknya, dan sering tidur berdua sambil berpelukan dengan adiknya. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, semakin lama…adik tercintanya itu tumbuh semakin besar. Semakin dewasa.

Wajahnya yang sejak kecil sudah cantik itu jadi semakin cantik.

Tubuhnya jadi sintal. Buah dadanya, bokongnya, pinggulnya, pahanya…semuanya sempurna.

Kulitnya yang seputih salju itu terasa sangat lembut. Kenyal. Mulus.

Saat bercumbu dengan adiknya seperti ini, Eric kembali sadar—untuk yang kesekian kalinya—bahwa Ai adalah satu-satunya gadis yang bisa membuatnya mabuk kepayang. Satu-satunya gadis yang ia cintai. Satu-satunya gadis yang mampu membuatnya hilang akal. Satu-satunya gadis yang bisa membuatnya berahi. Satu-satunya gadis yang mampu membuatnya melakukan apa pun, termasuk menyerahkan nyawanya atau membakar dunia.

Sial. Dia benar-benar terangsang. Meraba tubuh Ai—meski gadis itu masih mengenakan pakaian—tentu adalah ujian tersulit baginya. Cinta, pengabdian, gairah, nafsu, semuanya bercampur menjadi satu.

Payudara Ai itu sangat lembut. Bulat. Indah. Pas di tangannya yang besar. Perut gadis itu juga terasa lembut. Pinggangnya ramping. Pinggul, bokong, dan pahanya juga berisi. Ai begitu menggiurkan. Memikat. Semuanya sukses membuat Eric menggeram. Kejantanannya mulai mengeras.

Suhu tubuh adiknya—yang terasa hangat saat ia tindih itu—juga sangat…mengundang. Ia ingin menikmati kehangatan itu. Kenyamanan itu. Ia ingin tenggelam di dalam adiksinya. Ia ingin merasa sesak di dalam udara yang penuh dengan cinta ini.

“Oh, Sayang. Cantik sekali,” bisik Eric di depan wajah Ai yang memerah. Eric mengerang, lalu melanjutkan, “Kau tumbuh dan mekar seperti bunga.”

“Kak, sudah, hentikan,” bisik Ai seraya memegang dada Eric. “Apa kau sudah lupa kalau aku ini adik kandungmu?”

Tak memedulikan ucapan Ai, Eric justru melanjutkan kegiatannya. Dia menciumi rahang Ai…lalu telinga Ai. Ciumannya lembut, tetapi sensual dan penuh hasrat. Sambil mencium Ai, dia berbicara dengan lirih. “Aku telah melihatmu tumbuh dari sebuah kuncup kecil...hingga kini menjadi bunga yang paling indah.”

“Ah!” Tanpa sadar, Ai mendesah saat Eric mengigit telinganya. Eric lalu turun ke bawah dan mulai menciumi payudara Ai dari luar piama gadis itu.

“Hmmh…” desah Eric ketika menciumi payudara Ai. Oh, dia membayangkan betapa nikmatnya payudara itu jika ia isap tanpa penghalang. “Lembut sekali, Sayang…”

Dia sudah lama membayangkan dirinya mencumbu Ai tanpa penghalang, menyatakan cinta ratusan kali, dan bersanggama dengan Ai hingga Ai tak bisa berjalan. Menyaksikan gadis yang dia cintai dari kecil hingga dewasa, menyaksikan gadis kecil yang cantik dan imut itu tumbuh besar dengan sempurna…sudah sanggup membuatnya sesat akal.

Dia selalu menganggap bahwa Ai adalah takdirnya. Mereka sudah bersama sejak kecil, jadi siapa lagi yang pantas untuk Ai selain dirinya?

Eric hidup dalam kekerasan, darah, pertarungan, langit gelap, trauma, dan pembunuhan. Namun, di tengah semua itu?

 

Ada Ai.

 

Adik perempuannya yang cantik, ceria, berani, dan menggemaskan. Ai adalah satu-satunya hal murni yang pernah dia miliki.

 

So of course he clings to her like a lifeline.

 

Jika Ai menangis, dia akan hancur. 

Jika Ai menolaknya, dia akan menjadi gila. 

Jika Ai menyentuhnya dengan lembut, dia akan meleleh. 

Jika Ai memanggil ‘Kak’, dia akan bergetar.

Ai benar-benar merupakan satu-satunya orang yang bisa memengaruhi perasaannya.   Selama-lamanya. Sepanjang hidupnya.

Dia seolah-olah tersihir. Ai memegang seluruh hatinya di tangan lentik gadis itu.

Baginya, Ai adalah rumahnya. Kenyamanan. Kehangatan. Perasaan manusiawinya satu-satunya. Alasan hidupnya. Segalanya.

Tidak ada yang boleh mengambil Ai darinya.

“Hnggh! K—Kak!” teriak Ai saat Eric meremas kedua payudaranya dengan kencang. Ia mendongak dan memejamkan matanya; dahinya berkerut. Eric mulai naik ke atas lagi, berencana untuk mencium leher Ai.

Namun, saat dia mendekatkan wajahnya ke ceruk leher Ai,

 

…tiba-tiba dia terdiam.

 

Untuk sesaat, dia berhenti mencumbu Ai.

Akan tetapi, tiga detik kemudian, dia kembali tersenyum manis. Dia mulai mengangkat wajahnya dari ceruk leher Ai, lalu mencium bibir Ai singkat. Setelah itu, dia pun menempelkan keningnya dengan kening Ai.

“Aku sangat mencintaimu, Sayang,” bisik Eric seraya mengusap pipi Ai. Tatapannya penuh akan damba dan kasih sayang yang tak terukur. “Aku tak bisa hidup tanpamu.”

Pipi Ai merona tatkala mendengar suara Eric. Semakin bertambah usia, suara kakaknya itu terdengar semakin seksi. Menurut Ai, justru kakaknyalah yang tumbuh dengan sempurna.

Akan tetapi, sedetik kemudian, tiba-tiba Ai menarik telinga Eric. Menjewer pria itu. Sambil cemberut, Ai pun berkata, “Kalau memang tak bisa hidup tanpaku, mengapa kau meninggalkanku hanya untuk berakhir menjadi pembunuh?!”

Eric tersenyum miring, lalu mencium kedua mata Ai dengan lembut. “Sayang…bukannya kau sudah tahu bahwa itu kulakukan agar menjadi lebih kuat? Aku ingin lebih bisa melindungimu.”

Ai berdecak; ia menarik telinga Eric lebih kencang. Namun, Eric hanya tersenyum. Pria itu tidak merasa sakit sama sekali. Dia justru gemas melihat Ai yang protes dengan imut begitu padanya. He’s intoxicated. Feeling high.

Ai memasang ekspresi kesal. “Kan tidak harus jadi pembunuh juga, Kakaaaak!”

“Terus jadi apa, dong?” tanya Eric. “Jadi suamimu?”

Pipi Ai merona. “Kak!!! Astaga!!! Suami apanyaaa?!!”

Eric tertawa kecil, lalu melumat bibir Ai. Ai sempat memejamkan mata—terlena—akibat perlakuan Eric yang sangat lembut dan penuh cinta itu, tetapi dua detik kemudian, Eric melepaskan ciumannya. Pria itu lalu berkata pelan, “Kau sudah dewasa sekarang. Aku sudah menunggu cukup lama untuk menikahimu.”

Ai menganga. “Kak, kau benar-benar sudah gila. Ayo kita berobat sekarang. Kakak mana yang mau menikahi adiknya sendiri?!”

Eric tersenyum manis. Pria itu menciumi seluruh bagian wajah Ai seolah-olah tak mendengar apa yang baru saja Ai katakan.

Saat dia telah selesai menciumi wajah Ai, mereka pun kembali bertatapan. Jarak antara wajah mereka sangatlah dekat. Kamar yang lampunya tidak dihidupkan (hanya mengandalkan sinar rembulan), suasana yang sangat sunyi…

Semuanya terasa begitu intim.

Dalam jarak yang sedekat ini, Ai bisa melihat wajah Eric yang sangat tampan dan maskulin. Ai tahu kalau Eric sudah tampan dari kecil, tetapi saat tumbuh menjadi pria dewasa seperti ini…

…Eric tampak seperti sesuatu yang ilegal. Fatal. Dia setampan makhluk surgawi, tetapi berhubung jati dirinya adalah pria yang sadis dan mampu membunuh orang sambil tersenyum, dia lebih cocok disebut sebagai iblis yang bangkit dari api dan datang menemui Ai di kamar gadis itu.

Dia terlihat seperti dosa.

Tubuhnya juga tinggi dan berotot. Bukan berotot yang berlebihan, tetapi solid. Kuat. Hot. Fungsional. Otot petarung.

Urat-urat di tangan dan lengannya pun tercetak dengan sempurna. Itu akan membuatmu berpikir bahwa dia bisa memutar leher seorang pria dewasa hanya dengan satu tangannya. Oh, kalau dipikir-pikir lagi, dia juga sering menggendong Ai hanya dengan satu tangan.

Selain itu, rahangnya tajam. Hidungnya mancung. Mata biru lautnya tampak terang, tetapi tajam.

Dia adalah tipe pria yang mampu membuat lututmu lemas tiap kali melihatnya. Membuat seluruh logikamu hilang. Senyum manisnya juga mampu membuatmu pingsan kalau kau tidak kuat. Senyumnya itu manis, tetapi entah mengapa, saat kau melihatnya…kau merasa seolah-olah akan disantap. Itu seperti membisikkan, ‘Kau tidak aman, Sayang.’ dan tentunya lututmu akan lemas seketika.

Dia berbahaya, tetapi kompas moralmu akan mati saat ditatap olehnya. Dia adalah predator yang bermata biru, bersuara rendah, dan selalu tersenyum manis. Dia adalah mimpi buruk yang entah mengapa akan selalu kau rindukan karena terlalu gagah dan seksi. Kau takut dan bergetar di bawah tatapan matanya, tetapi kau juga ingin menyerahkan dirimu padanya.

 Ai kadang-kadang bersyukur karena Eric masih menyembunyikan wajahnya dari orang-orang. Kalau ada wanita yang melihat Eric, mungkin Eric akan langsung jadi terkenal akibat ketampanannya. Wanita akan memujanya, sama seperti bagaimana mereka memuja Kei Arashi.

Tanpa sadar, Ai pun membelai rahang Eric. Eric yang merasakan perhatian lembut dari Ai itu spontan memejamkan matanya, lalu semakin menempelkan wajahnya ke telapak tangan Ai. Dia ingin merasakan sentuhan itu lebih dalam.

Tatapan Ai pelan-pelan jadi lembut. Kelopak matanya sedikit turun. Dia menatap Eric dengan penuh kasih sayang, tetapi sendu. Ada rasa prihatin yang terkandung di kedua matanya.

“Kak…” panggil Ai pelan.

 

Eric membuka matanya.

 

Ai menarik napas dalam.

Setelah itu, dia kembali membuka suara.

 

“Bisakah kau berhenti menjadi pembunuh, Kak?”

 

Eric terdiam.

Matanya sedikit melebar.

Situasi itu bertahan selama beberapa detik. Saking menegangkannya situasi itu, Ai sampai bisa mendengar detak jantungnya sendiri.

Akan tetapi, tiba-tiba saja…

…Eric tersenyum manis.

 

“Aku akan memikirkannya, Sayang.”

 

Ai membulatkan mata. Eh? Sebentar. Betulan, nih?

Yah…Ai tahu kalau tak semudah itu untuk membuat Eric berhenti dari profesinya selama ini. Namun, fakta bahwa Eric ‘akan memikirkannya’ saja sudah membuat Ai senang bukan kepalang. Ai sudah lelah diserang rasa takut kalau-kalau suatu hari nanti kakaknya akan menghilang selamanya. Kalau kakaknya berhenti melakukan pekerjaan yang berbahaya, Ai akan tenang.

“Sungguh, Kak?!!” ujar Ai. Nadanya tanpa sadar meninggi karena kaget sekaligus senang.

“Uh-hm,” deham Eric seraya tersenyum. Pria itu kemudian bangkit dari atas tubuh Ai, lalu berbaring di samping Ai. Dia memeluk pinggang Ai dengan posesif.

“Tidur, yuk. Ini sudah malam,” ucap Eric dengan lirih dan seksi di depan wajah Ai. Napasnya menerpa permukaan pipi Ai, lalu ia mulai menciumi bibir Ai dengan sensual. Melumat dan menggigitnya sesekali. “Aku akan memelukmu.”

Mata Ai melebar. “Kakak sudah mengantuk, ya?”

Eric tersenyum manis lagi. “Belum, Cinta. Namun, kalau aku lanjut mencumbumu, aku tak yakin aku bisa berhenti. Bisa-bisa, kita bercinta di kamar ini. Mau, hmm?”

“KAK!” Wajah Ai memerah. Ia langsung menepuk dada Eric dengan kencang. Alisnya menyatu; ia tak habis pikir dengan apa yang baru saja Eric katakan. “Kakak mana yang mengatakan itu pada adiknya sendiri?!! Otakmu sudah pindah ke otot, ya?!! Apa kau gila?!!”

“Hmm,” deham Eric. Pria itu tersenyum miring, lalu menggigit telinga Ai. “Gila karenamu.”

“Tsk!” decak Ai kesal. Gadis itu langsung mencubit pipi Eric dengan kencang. “Sudah gila, mesum pula!! Mau kubunuh, ya?!!”

Eric hanya tersenyum. Matanya tertutup, melengkung, seolah-olah ikut tersenyum. Namun, dia tak menjawab apa-apa.

Karena kesal, Ai pun kembali memukul dada bidang Eric. Dia jadi malas mengomeli Eric kalau responsnya begitu. Yah, walaupun sebenarnya…respons Eric memang selalu begitu tiap kali Ai memprotes kemesumannya.

Akhirnya, karena ngambek, Ai pun menenggelamkan kepalanya di dada bidang Eric. Gadis itu mencengkeram baju Eric (di bagian dada) dan berkata, “Terserahmu sajalah!”

Pelan-pelan, Eric mulai mencium kening Ai. Pria itu mengusap punggung Ai dengan lembut. Dia mencium pipi, mata, dan hidung Ai secara bergantian.

Well, Ai sudah sering tidur berdua sambil pelukan begini dengan Eric. Sudah sejak kecil dahulu. Namun, bedanya, sekarang…ciuman-ciuman yang Eric berikan jadi lebih sering dan lebih intens. Dia jadi semakin haus akan Ai.

Untuk sejenak, Ai bisa melupakan lukanya. Keberadaan Eric, kehangatan yang Eric berikan, semuanya mampu membuat Ai terdistraksi sejenak dari kepiluan yang Kei sebabkan.

Setidaknya, untuk saat ini…Eric ada di sini.

Kakaknya ada di sini…dan memeluknya.

 

******

 

Dari atas sebuah gedung yang tinggi, Eric memperhatikan dua orang berjaket hitam yang bergerak perlahan di bawah sana. Mereka bergerak menuju ke kanan (dari posisi Eric berdiri saat ini), lalu pelan-pelan belok dan masuk ke gang yang ada di samping gedung itu.

Rambut panjang Eric yang dikepang itu bergerak, sedikit melayang karena tertiup angin malam. Selendangnya juga melambai-lambai, tertiup ke belakang karena angin itu. Dia berdiri di atas salah satu gedung tinggi yang masih berada di kawasan Edo.

Eric memperhatikan apa yang ada di bawah sana. Tatapannya terlihat biasa saja, tenang, tetapi cukup lekat. Ekspresinya datar. Ia mengikuti langkah dua orang itu—hingga mereka menghilang di gang sebelah gedung—dengan sepasang mata birunya.

Di antara angin malam yang sepoi-sepoi itu, Eric terlihat sangat rileks.

 

“Apakah itu Shinsengumi?”

 

Eric menoleh. Itu adalah suara Atsushi. Atsushi sedang berjongkok agak jauh di sana, di sebelah kanannya.

Eric, pria tampan psychotic itu, mulai tersenyum sangat manis. Seperti senyuman tulus anak kecil.

“Eh, ada Sushi-kun, ya.”

Kontan saja Atsushi menganga. Matanya membeliak. “Oi! Aku bukan Sushi!! Lagi pula, aku sudah ada di sini sejak tadi!!!”

Bukannya memedulikan protesnya Atsushi, Eric justru kembali menatap ke depan dengan senyumannya itu. Membuat Atsushi jadi geram setengah mati.

‘Sialan. Kalau ancamannya bukan nyawa, sudah dari tadi bocah itu kuhajar,’ pikir Atsushi.

Yah, kalau Atsushi berencana untuk menghajar Eric, mungkin sebelum sampai di tempat Eric berdiri, dia sudah mati. Eric akan membunuhnya seketika.

Akhirnya, Atsushi menghela napas. Ia kembali menatap ke depan, mencoba untuk memaklumi tabiat psikopat gila itu.

Sabar sajalah. Daripada mati.

Cahaya bulan menerangi sosok Eric. Membuat wajahnya yang putih itu jadi semakin bersinar. Membuat matanya yang berwarna biru itu jadi seolah-olah berkilat. Membuat sosoknya terlihat semakin indah karena selendang dan rambutnya tertiup angin.

Namun, Eric diam saja. Dia hanya tersenyum dan memandang ke depan.

Mereka berdua sama-sama diam. Hanya terdengar suara angin yang berembus di sekitar mereka. Rambut Atsushi pun sedikit bergerak karena tertiup angin.

Keadaan itu bertahan hingga sepuluh detik lamanya.

 

Akan tetapi, tiba-tiba…Eric membuka suara.

 

“Adikku menyuruhku untuk berhenti menjadi pembunuh bayaran.”

 

Mata Atsushi membulat. Pria bertubuh tinggi besar itu langsung menoleh kepada Eric dan memasang ekspresi tak percaya. Tubuhnya mematung.

Sebentar, sebentar. Serius, nih?!!

“T—Tunggu. Apa kau serius?!” Atsushi tanpa sadar meninggikan suaranya. “J—Jadi, kau jawab apa?”

Well, Atsushi tahu seberapa senangnya Eric terhadap pekerjaannya. Pria gila itu tersenyum manis tiap kali membunuh orang. Selain itu, semua orang di organisasi juga tahu bahwa Eric bergabung karena ingin memperkuat dirinya. Atsushi tak pernah mendengar Eric mengatakan itu sendiri padanya, tetapi ada ‘rumor’ yang tersebar di antara para anggota organisasi bahwa Eric Shou bergabung hanya karena ingin menjadi kuat.

Meskipun menyimpang dari norma, bergabung di sebuah organisasi gelap yang besar memang adalah jalan tercepat untuk menjadi lebih kuat. Bergabung dengan organisasi pembunuh yang besar seperti ini akan membuatmu bertemu dengan manusia-manusia kuat lainnya. Kau juga akan diberi berbagai misi; misi-misi itu akan membuatmu semakin berpengalaman dalam bertarung. Selain itu, kau akan bertemu dengan banyak situasi di mana lawan atau targetmu ternyata adalah manusia kuat atau manusia yang punya pasukan-pasukan kuat.

Itu tentu akan membuatmu jadi terlatih. Jadi jauh lebih kuat dalam waktu cepat. Bonusnya, kau juga akan diberi bayaran yang supertinggi.

Namun, meskipun Atsushi mendengar rumor itu, Atsushi juga tahu sesuatu soal Eric. Kalau yang ini, bukan hanya rumor, melainkan sebuah fakta. Dia tahu bahwa Eric…

…adalah seorang siscon akut.

Eric adalah psikopat yang tergila-gila dengan adik perempuannya sendiri. Adik kandungnya. Sister complex akut.

Dari mana Atsushi tahu soal itu?

Ya bagaimana mungkin Atsushi tidak tahu?! Sepertinya, semua orang di organisasi tahu fakta itu meskipun mereka tidak sering bertemu dengan satu sama lain. Bayangkan saja, semua pembunuh di organisasi mereka biasanya datang ke markas hanya untuk menerima misi atau meeting, lalu pergi. Datang kembali hanya untuk melapor dan mendapat bayaran. Kadang-kadang dimarahi boss kalau pekerjaannya tidak bagus. Jadi, mereka tidak terlalu peduli dengan satu sama lain. Namun, soal Eric?

Semua orang di sana tahu siapa Eric Shou. Tangan kanan boss—yang sebenarnya bergerak seenaknya saja, tak peduli pangkat—dan merupakan manusia terkuat di organisasi itu. Mereka semua kenal Eric Shou meski tak berani berbicara dengannya. Lebih tepatnya, antara takut…dan tak mau mencari masalah. Diam-diam, mereka semua tahu kalau Eric adalah siscon. Soalnya, Eric sering beberapa kali membatalkan misi, meninggalkan misi di tengah jalan, atau tidak menghadiri meeting…

…hanya karena rindu pada adik perempuannya.

Alasannya sesimpel itu! Namun, jangan pernah bilang kalau itu simpel atau sepele di depan Eric. Dahulu, waktu Eric baru bergabung, ada senior yang mengucapkan itu padanya. Senior itu mati mengenaskan di tempat dengan leher yang tertancap katana satu detik kemudian.

Eric saat itu hanya tersenyum. Manis sekali. Matanya melengkung, tertutup, sangat ramah…

…tetapi begitu dingin. Sukses membuat bulu kuduk semua orang berdiri. Suhu di sekitar mereka seakan-akan langsung turun beberapa derajat. Tubuh mereka tak bisa bergerak.

Waktu itu, sambil tersenyum, Eric berkata, ‘Sepele, katamu?’

Sejak saat itu, tak ada yang berani pada Eric. Kekuatannya memang sinting, tetapi otaknya ternyata lebih sinting.

Lama-kelamaan, kekuatan Eric semakin besar. Dia semakin terlatih. Semakin gila. Dia mampu menghabiskan ratusan penjaga musuh dalam waktu singkat. Seperti hanya bermain-main. Seperti pemanasan kecil.

Karena Atsushi tahu kalau Eric adalah siscon akut, Atsushi jadi curiga.

Jangan-jangan, Eric benar-benar menyetujui permintaan adiknya meskipun dia cukup menikmati pekerjaannya selama ini.

Seolah-olah menjawab isi pikiran Atsushi, tiba-tiba Eric berbicara.

“Sebenarnya, aku tak terlalu punya niat untuk berhenti,” ujarnya. “Akan tetapi, aku tetap bilang pada Adikku bahwa aku akan memikirkannya.”

Sejujurnya, dibanding berhenti total, Eric lebih ingin bergerak sendiri. Namun, ia tak mengatakan itu pada siapa pun.

Mendengar jawaban itu, entah mengapa Atsushi menghela napas. Ternyata, respons Eric pada adiknya cukup normal (walaupun otaknya sudah tidak normal lagi).

“Aku tak tahu apa keputusanmu nantinya,” ujar Atsushi. “Namun, sepertinya, adikmu hanya khawatir padamu. Lihatlah betapa gencarnya Shinsengumi mencarimu, sampai-sampai rajin bergerak tengah malam tanpa penerangan. Itu mereka, ‘kan, yang kau perhatikan tadi?”

Eric hanya tersenyum.

“Sok tahu sekali, sih, Sushi-kun,” jawab Eric dengan nada bermain-main. “Siapa tahu itu cuma om-om yang mau membeli ramen.”

“Toko ramen mana yang buka jam segini, oi!!!” teriak Atsushi. Eric hobi sekali mempermainkannya. Eric akan pura-pura polos, padahal niatnya cuma mau membuat orang kesal. Memang manusia sadis. “Apa kau sadar jam berapa ini??!!! Hebat sekali toko ramen itu kalau buka sampai jam segini!!”

Iya, ini sudah jam dua pagi. Eric juga datang ke sini setelah tidur bersama Ai selama beberapa jam.

Bagaikan masuk kuping kanan keluar kuping kiri, Eric tak menghiraukan omelan Atsushi. Dia hanya tetap tersenyum, memandang ke depan seakan-akan tak punya salah.

Atsushi kembali menatap ke depan, lalu menghela napas kasar. Rasanya lelah sekali menghadapi monster sok polos bernama Eric Shou ini. “Yah, terserahmu sajalah. Intinya, ambillah keputusan yang terbaik untukmu dan juga adikmu. Shinsengumi adalah anjingnya pemerintah, jadi sudah bisa dipastikan bahwa pemerintah juga sedang mencarimu.”

Tepat setelah kata-kata itu, senyuman Eric pelan-pelan terhapus. Matanya yang melengkung itu pelan-pelan kembali ke bentuk asalnya. Ekspresi innocent dan bersahabatnya juga hilang seketika.

Kini, kedua matanya menatap fokus ke depan…

…dan berkilat tajam.

 

******

 

Kei membuka pintu geser kamarnya dengan cepat. Setelah itu, dia berdiri diam di depan pintu itu.

 

Gelap.

 

Melihat lampu kamarnya yang masih mati, sebenarnya hati Kei sudah sedikit kacau. Namun, tidak. Pria itu masih ingin memastikan kebenarannya.

Dia masih ingin berpikir positif.

Beberapa detik kemudian, dia pun mulai melangkah masuk ke kamarnya. Dia menutup pintu geser itu, lalu menghidupkan andon (lentera) yang berdiri di sudut kamar.

Setelah lentera itu menyala, mata tajamnya mulai melihat ke sekeliling kamar.

 

Tidak ada tanda-tanda orang masuk.

Hening. Rapi.

Tak ada wangi yang berbeda.

 

Kamar Kei sangat luas. Kamar itu ada di Markas Shinsengumi yang besar. Markas Shinsengumi adalah ‘kantor’ sekaligus tempat latihan bagi semua anggota Shinsengumi, tetapi khusus untuk komandan, wakil komandan, dan seluruh kapten, mereka tinggal di sana. Intinya, yang benar-benar ‘tinggal’ di sana adalah para petingginya.

…termasuk Kei.

Kamar Kei terbagi menjadi dua bagian yang dibatasi oleh dinding. Jika kau membuka pintu masuk dari koridor luar (seperti Kei saat ini), kau akan langsung dihadapkan dengan ruang kerjanya. Di depan sana, ada meja kerja Kei, lemari, dan lain-lain. Jika ada anggota atau petinggi Shinsengumi yang ingin menemui Kei secara pribadi (untuk mendiskusikan sesuatu), di sinilah tempatnya.

Namun, di ujung kiri ruangan, ada sebuah pintu geser lagi. Jika kau membuka pintu geser itu, kau akan melihat kamar Kei yang sesungguhnya. Tempatnya tidur. Ruangan pribadinya.

Karena di ruang kerjanya tak ada tanda keberadaan seseorang sebelumnya, Kei pun mulai melangkah ke ruangan sebelah. Ruangan pribadinya.

Dia berjalan hingga ke ujung, lalu membuka pintu geser yang ada di sana. Setelah itu, dia mulai menghidupkan salah satu lentera di dalam kamarnya, lalu memperhatikan seisi kamar itu.

 

Tak ada tanda-tanda keberadaan seseorang juga.

 

Kei spontan mendengkus. Tiba-tiba, rasa kecewa, marah, dan kalutnya bercampur menjadi satu. Pikirannya jadi tidak keruan.

 

Ai benar-benar tidak datang.

 

Kei mulai duduk bersandar pada pintu geser kamarnya. Sebelah kakinya terjulur lurus ke depan, sementara sebelahnya lagi dia tekuk hingga salah satu lengannya bisa bertumpu pada lututnya.

Dia menatap kamarnya dengan nanar.

Tadi siang, dia sudah menemui Ai secara personal. Dia datang ke bar milik Gin saat seharusnya dia sibuk dengan misi penangkapan. Dia ingin Ai tahu bahwa dia tidak bermain-main; dia ingin Ai benar-benar datang menemuinya malam ini.

Namun, gadis itu tidak datang.

Ini sudah jam tiga pagi dan Kei baru saja pulang dari patroli bersama Seichii. Dia berangkat patroli sekitar jam dua belas malam tadi, tetapi dia sudah menunggu Ai sejak jam tujuh malam.

Namun, Ai tak kunjung datang.

Dia sempat berdebat dengan Jun karena pria itu menyuruhnya patroli malam ini. Soalnya, dia pikir, mungkin saja Ai akan datang saat tengah malam. Mungkin saja, Ai sengaja datang lebih malam karena menunggu Gin tidur terlebih dahulu. Dia masih mencoba untuk berpikir positif, teguh, meski banyak bisikan di belakang kepalanya yang berkata bahwa Ai takkan datang.

Dia memang pergi patroli, tetapi hanya setelah menatap Jun dengan tajam dan berkata, ‘Kalau ada seorang gadis yang datang, bawa dia masuk ke kamarku. Aku akan membunuhmu jika kau tak membukakan gerbang untuknya.’

Namun, ternyata, Ai tak datang sama sekali.

 

Sial.

Apakah ada sesuatu yang membuat Ai tak bisa datang?

Apa?

Apa yang membuatnya tak bisa datang?

Apa dia masih tak mau?

Atau ada sesuatu yang lain?

 

Kei mengepalkan tangannya. Rahangnya mengetat.

 

Ai memang satu-satunya gadis yang bisa membuatnya gila. []

 















******



Kaciannn, nggak diapelin Ai ya bang? wkwk makanya jangan sadis banget jadi orang 😭





Eric and Sushi-kun










No comments:

Post a Comment

She Was Never Mine (Bab 4: Segalanya Untuknya)

  ****** Bab 4 : Segalanya Untuknya   ******   LANTUNAN lagu di radio terdengar begitu merdu saat Josh baru saja memberhentikan mo...