Saturday, November 8, 2025

Because of Ticket! (Bab 17: Sandi Kurnia Nugraha)

 


******

Bab 17 :

Sandi Kurnia Nugraha

 

******

 

ADA keheningan yang tercipta begitu Aldo mengucapkan nama Sandi. Nadya refleks memandangi Aldo dan Sandi secara bergantian.

Apa...maksudnya?

Bukan. Nadya bukannya tak tahu nama Sandi. Nadya tahu nama lengkapnya, yaitu Sandi Kurnia. Akan tetapi, Nadya kebiasaan memanggilnya dengan nama ‘Kurnia’ karena dahulu Sandi memilih untuk dipanggil begitu.

Nadya tak berpikir macam-macam. Siapa juga yang berpikir macam-macam hanya karena ada orang yang memilih untuk dipanggil dengan nama belakangnya?

Namun...sekarang Nadya mulai bingung.

 

'Kak Sandi'?

Aldo…kenal dengan Kak Kurnia?

 

Belum sempat Nadya berpikir lebih lanjut ataupun membuka mulut untuk memanggil Aldo, tiba-tiba saja Aldo mendekati Nadya dengan ekspresi yang mengerikan. Rahangnya mengetat. Tatapan matanya menggelap. Langkahnya cepat. Ini sama seperti Aldo yang waktu itu pernah menarik Nadya dengan kuat ke ruang OSIS.

 

Sisi gelapnya.

 

Tanpa sepatah kata pun, Aldo menarik tangan Nadya dengan kuat hingga Nadya berdiri. Nadya terperanjat; mata Nadya melebar. Jantung Nadya seolah-olah sempat berhenti berdegup. Nadya ingin memanggil Aldo, tetapi belum sempat Nadya membuka mulutnya, Aldo sudah menariknya untuk keluar dari café itu.

"Aldo!" teriak Sandi. Sandi bangkit dari duduknya dan mencoba untuk mengejar Aldo, tetapi tidak sempat karena ia menabrak waitress yang sedang lewat. Situasi itu sedikit menciptakan keributan. Begitu Aldo sampai di dekat Adam yang sedang mengantre, Adam juga berteriak. Cowok itu kaget melihat Aldo berjalan keluar café dan meninggalkannya, ditambah lagi dengan wajah seram seperti itu dan sambil menarik Nadya. Lah, kok Nadya ada di sini?

Adam kontan berteriak, "Aldo! Mau ke mana?! Bro!"

 

Ada apa ini?!

 

Aldo menarik Nadya hingga ke tempat parkir mobil. Ia memasukkan Nadya ke dalam mobilnya, lalu ia masuk ke mobil dengan terburu-buru.

Tatapan matanya tajam. Nadya seakan-akan bisa melihat pikiran Aldo yang kompleks itu menguap ke udara.

Sandi sampai di luar café dan meneriaki Aldo saat mobil Aldo meninggalkan tempat parkir, lalu disusul oleh Adam.

Aldo menyetir dengan pikiran yang kacau; dia agaknya melupakan semua yang ada di sekitarnya. Dia mencengkeram roda kemudi.

His head felt like it was going to explode at any moment.

Nadya tak berhenti menatap Aldo karena khawatir. Ia juga…ingin tahu apa yang sedang terjadi.

Sebenarnya…ada apa? Apa yang terjadi?

Meskipun begitu, Nadya tak bisa melakukan apa-apa selain diam. Ia bingung dan takut.

Ketahuilah, wajah Aldo saat ini terlihat begitu mengerikan…seolah-olah ia akan membunuhmu kalau kau berbicara sedikit saja.

 

******

 

Nadya gelisah minta ampun. Cewek itu menoleh ke kanan dan ke kiri; pikirannya jadi buntu. Ia seperti di bawa Aldo dengan perasaan terombang-ambing; dia tak tahu apa-apa dan ikut saja.

Tempat yang jelas-jelas sedang mereka datangi ini adalah kantor polisi. Lobi kantor polisi. Aldo menggenggam tangan Nadya dengan erat; cowok itu sedang berbicara dengan seorang polisi di sana.

 

Mengapa Aldo datang ke sini?

 

Saat tengah melihat sekeliling, tiba-tiba Aldo membawa Nadya berjalan lagi. Ada seorang polisi di depan mereka, memandu mereka untuk berjalan di lorong-lorong kantor polisi itu hingga akhirnya mereka sampai di sebuah lorong yang sedikit gelap. Saat berjalan di lorong itu dan melihat ke sisi kanan dan kirinya, mata Nadya membelalak.

Ini…

 

Area penjara.

 

Nadya spontan menatap punggung Aldo yang dari belakang terlihat begitu dingin. Nadya memang tak mengatakan apa-apa, tetapi ekspresi wajahnya cemas bukan main. Seumur hidupnya, baru kali ini ia melihat penjara secara langsung, apalagi ia tak tahu apa tujuan mereka datang ke sini.

Jika ingin bertemu dengan seseorang yang ada di penjara, bukankah Aldo seharusnya menunggu di ruang besuk? Mengapa Aldo memilih untuk langsung pergi ke selnya seperti ini?

Lagi pula, siapa...yang ingin Aldo temui?

Ketika sampai di depan salah satu sel, sang polisi yang mengantar itu pun pamit dan meninggalkan Aldo. Aldo mengucapkan terima kasih kepada polisi itu, sementara Nadya mulai melihat polisi-polisi yang berjaga di ujung lorong.

Suasana jadi hening.

Genggaman Aldo terasa semakin erat. Nadya memperhatikan Aldo yang kini matanya tertuju pada satu arah, yaitu ke salah satu dari tiga tahanan yang ada di dalam sel itu. Seseorang yang duduk di ujung sel seraya menunduk.

Nadya mulai bertanya-tanya dalam hati. Ia menatap Aldo dan tahanan itu secara bergantian. Sementara itu, tahanan yang lain—yang juga ada di sel itu—sedang tertidur pulas.

Nadya tampak gelisah. Aldo terlihat marah. Sangat marah.

Nadya menggigit bibirnya dan menunduk. Bagaimana ini? Apa yang harus ia lakukan? Apakah ia mesti diam saja?

 

Ia ingin tahu...

 

Ia ingin tahu semua ini. Ia ingin Aldo mengatakan sesuatu. Ia merasa begitu sedih dan gelisah.

Perlahan-lahan, Nadya menatap Aldo yang sedang berdiri di sampingnya. Setelah dua detik yang penuh akan keraguan, akhirnya Nadya pun membuka suaranya.

 

"Aldo..."

 

Aldo hanya diam.

 

Melihat Aldo yang sama sekali tidak menghiraukan Nadya, Nadya pun kembali diam dan menunduk.

Aldo pasti sedang kacau. Aldo sedang tidak terkendali. Itulah yang terus berkecamuk di dalam benak Nadya.

Tiba-tiba, suara Aldo pun terdengar.

Aldo mengucapkan sebuah kalimat, tetapi cowok itu seolah-olah telah memikirkan kalimat itu sekian lama; dia mungkin terus mengulang kalimat itu di pikirannya. Terdengar begitu yakin, terutama ketika ia berbicara setelah lama terdiam.

"Dia Donovan. Adik mama kandungku, Nad," ujar Aldo. "Dia dalang di balik penculikan aku waktu kecil."

Mata Nadya kontan membulat. Dia menatap Aldo, lalu kembali menatap tahanan itu dengan saksama. Bahkan untuk menelan ludah pun, rasanya sulit sekali.

 

Jadi...semua itu...karena paman Aldo sendiri?

 

Nadya ingat. Waktu itu, kata Aldo…saat ia diculik, penculiknya bilang kalau Aldo telah membunuh ibunya melalui kelahirannya. Sekarang, Nadya jadi paham mengapa penculik itu mengatakan demikian. Karena tuan mereka, Tuan Donovan ini, adalah adiknya mama Aldo.

Nadya melihat paman Aldo itu seraya memasang ekspresi kaget yang tak kunjung menghilang. Mengapa ada orang yang tega melakukan itu semua pada keponakannya hanya karena ingin harta dan posisi di perusahaan milik kakak iparnya?

Iya, semua memang mungkin terjadi di dunia ini. Namun, tetap saja...

…tidakkah orang-orang seperti itu memiliki sedikit saja…rasa kemanusiaan?

Oh. Jika semua orang punya rasa kemanusiaan, tidak akan ada kriminal di dunia ini.

Nadya bisa melihat kalau paman Aldo itu sama sekali tak tahu keberadaan mereka berdua. Paman Aldo itu hanya menunduk; kepalanya miring ke sisi seolah-olah tak punya tenaga untuk membuat kepalanya terangkat. Tangan pria paruh baya itu tampak gemetar, jemarinya saling bertemu untuk merusak kuku-kukunya sendiri.

 

"Dia punya gangguan jiwa. Tak lama setelah dimasukkan ke penjara."

 

Kalimat Aldo itu sukses membuat Nadya menoleh ke Aldo sebentar, lalu menatap paman Aldo lagi dengan ekspresi kasihan. Nadya jadi berpikir: mengapa keluarga Aldo harus jadi rusak begini…hanya karena harta?

Ternyata, uang memang bisa membuat orang melakukan apa pun.

Nadya menatap Aldo lagi. Tak ada sedikit pun cahaya di wajah cowok itu; tak ada sinar secerah mentari yang selalu Nadya lihat. Semuanya hilang…

…dan menyisakan luka.

Tanpa sadar, mata Nadya berkaca-kaca. Tak tahu mengapa, rasanya…ia tak mau melihat Aldo seperti ini.

"Meskipun aku nggak pernah ketemu sama Mama, aku yakin Mama orang baik. Wanita yang Papa pilih pasti baik-baik. Papa bilang…Mama adalah orang yang begitu tulus. Hatinya cantik. Aku nggak tahu apa yang bikin adiknya jadi jahat begini cuma karena haus harta Papa," ujar Aldo. “Aku jadi sadar kalo sifat orang bisa berbeda jauh meskipun saudaraan."

Aldo menggenggam tangan Nadya dengan erat…seolah-olah ingin meminta energi dari Nadya.

Hening selama beberapa saat…hingga kemudian Aldo kembali bersuara.

"Kamu ingat ceritaku soal kakak angkatku?" tanya Aldo sembari tersenyum hambar. Cowok itu ‘melihat’ ke depan dengan mata yang menyipit, tetapi sebenarnya ia tak melihat apa pun.

Nadya mengangguk perlahan.

"Aku belum ngasih tau kamu namanya, Nad," ujar Aldo. Cowok itu enggan membicarakannya karena dia benci ingatan itu.

"Siapa…namanya?" tanya Nadya dengan hati-hati. Ia tahu bahwa Aldo tak suka membicarakan itu, tetapi tetap berusaha untuk menjelaskan semuanya pada Nadya tanpa Nadya minta.

Aldo bernapas samar.

 

“Namanya Sandi Kurnia. Dia jadi Sandi Kurnia Nugraha saat masuk ke keluargaku."

 

Nadya terperanjat. Jantungnya seolah-olah berhenti berdetak saat itu. Mulutnya terbuka dan lidahnya kelu. Spontan ia menatap Aldo dengan mata membulat.

 

Jadi...Kak Kurnia...adalah...

Oh, astaga. Tadi, di café itu—

 

Aldo menatap Nadya perlahan. Entah mengapa, hati Nadya terasa sangat sakit...saat melihat mata Aldo yang kehilangan binarnya.

Nadya menggeleng. "Ja— jadi...tadi...orang yang kutemui..."

Aldo hanya diam.

Nadya menganga. Cewek itu sama sekali tak menyangka. Sulit untuk mempercayai semua keterkaitan itu.

Baik Aldo maupun Sandi, setahu Nadya…mereka berdua sama-sama luar biasa. Dua saudara ini sama-sama orang yang berwibawa. Aldo...dan Sandi...

Mengapa semuanya jadi seperti ini?

Nadya tahu cerita mereka dari sisi Aldo, tetapi dari Sandi...

 

Apa yang sesungguhnya terjadi?

 

Apakah ini juga penyebab mengapa Sandi pernah bilang kalau ia 'mengingat kesalahannya pada seseorang' ketika hujan turun, belum mau menemui keluarganya, serta tak mau dipanggil dengan panggilan 'Sandi'...?

"Ternyata, dia ada di Jakarta, ya..." Aldo tertawa kecil. Tawa itu terdengar begitu sarkastis. Matanya menatap tajam tanpa ada target di depannya.

"Selain itu, ternyata…dia udah lama kenal sama kamu. Lebih lama daripada aku. Dekat sama kamu..." ucap Aldo. Genggaman tangannya pada tangan Nadya semakin mengerat. Nadya sampai merasa sakit akibat genggaman tangan itu.

Nadya menatap Aldo dengan cemas. "Aldo, Kakak itu nggak tinggal di Jakarta. Dia ke sini karena ada urusan… Aku juga belum terlalu lama deket sama dia. Dia pergi sekitar setahun setelah aku kenal dia."

Aldo diam. Dia melihat permukaan lantai di depan jeruji besi itu dengan mata menyipit. Setelah itu, dia pun berkata dengan pelan, tetapi tegas.

"Masih jauh lebih lama daripada aku," katanya. Setelah mengatakan itu, dia diam. Nadya juga menunduk; dia sadar kalau ada rasa sakit dan rasa marah yang terkandung di suara Aldo. Agaknya, ada sesuatu yang seolah-olah menekan dada Nadya saat itu; ia ikut merasakan sakit hati yang Aldo rasakan.

"Berhenti nemuin dia, Nad," peringat Aldo. Suaranya terdengar begitu dingin. "Jangan sampe dia nyakitin kamu. Jangan sampe aku ngelakuin sesuatu yang di luar akal sehat kamu."

 

******

 

Aldo kembali membawa Nadya keluar dari mobilnya. Nadya, yang baru saja keluar dari mobil, menemukan bahwa ia telah berdiri di halaman rumah Aldo. Tadi, di mobil, setelah meninggalkan kantor polisi itu, Nadya hanya melamun di sepanjang jalan. Jadi, Nadya sama sekali tak sadar bahwa Aldo membawanya ke rumah cowok itu.

Hari sudah senja. Kantor polisi itu cukup jauh dan hal itu tentu saja membuat perjalanan jadi lebih banyak memakan waktu, terutama ditambah dengan kemacetan. Aldo juga sempat pergi ke rumah Nadya terlebih dahulu untuk meminta izin pada orangtua Nadya.

Aldo mengajak Nadya berjalan menuju pintu besar berdaun dua—pintu masuk utama—rumahnya. Aldo bertemu dengan seorang butler dan beberapa pelayan yang menyambutnya begitu pintu itu terbuka.

"Selamat datang, Tuan Muda."

Aldo menatap butler itu. "Cuti kamu udah selesai, Richard?"

Richard meletakkan telapak tangannya ke dadanya dan menunduk hormat pada Aldo. Nadya sebetulnya masih tidak terbiasa dengan kemewahan di rumah Aldo; cewek itu memegang tali tas selempang kecilnya dengan gugup.

Saat berdiri tegap kembali, Richard pun berkata, "Saya baru sampai siang ini, Tuan Muda."

Aldo mengangguk singkat. "Tolong panggilin Mama, ya. Bilang sama Mama kalo aku bawa Nadya."

Richard menunduk hormat lagi. Aldo meninggalkan Richard di sana dan menggandeng Nadya ke ruang tamu. Tak butuh waktu lama hingga akhirnya Rachel keluar dari dapur dengan wajah yang berseri-seri.

"Waah! Calon menantu Mama!!" teriak Rachel. Wanita paruh baya itu berlari menghampiri Nadya, lalu memeluk Nadya dengan erat.

 

Calon...menantu?!

 

Pipi Nadya merona. Saat berada di pelukan Rachel, jantung Nadya berdebar-debar. Entah mengapa, rasanya...senang sekali dipeluk seperti ini...

"Kangen. Baru sekali ketemu kamu waktu itu. Pengin banget ketemu lagi, makanya minta Aldo bawa kamu ke sini," ujar Rachel dengan bersemangat; dia mencium pipi kiri dan pipi kanan Nadya saat pelukan mereka terlepas.

Pantas saja…waktu minta izin ke rumah Nadya tadi, Aldo bilang kalau mamanya ingin bertemu Nadya...

Nadya jadi bingung. Cewek itu mau bilang kalau ia juga ingin melihat mamanya Aldo lagi, tetapi ia gugup sekali.

Nadya menatap Aldo yang tengah tersenyum simpul padanya. Masih tidak ada binar di wajah Aldo, tetapi cowok itu tersenyum pada Nadya dan mengusap kepala Nadya.

"Kamu sama Mama dulu, ya," ujar Aldo pelan. Setelah itu, Aldo berjalan ke depan dengan cepat. Tanpa menoleh ke belakang, Aldo bertanya, "Papa udah ada di rumah, ‘kan, Ma?"

Rachel menatap Aldo di sana dan menyahut, "Iya, Sayang! Dia pulang cepet hari ini."

Setelah Aldo hilang dari pandangan, Rachel kembali menatap Nadya. "Are you hungry, honey?"

Kedua mata Nadya melebar dengan polosnya. "Em... Ng—gak kok, Ma."

Rachel memiringkan kepalanya dan tersenyum. "Laper atau nggak, kamu harus makan malem di sini, oke? Yuk, ikut Mama ke dapur. Naya lagi tidur, jadi Mama bisa agak santai."

Nadya mengangguk dengan canggung; dia menaruh tas kecilnya di sofa setelah bertanya pada Rachel di mana ia harus menaruh tasnya. Setelah itu, mereka berdua pun berjalan ke dapur.

Di sana, ada beberapa pelayan yang sedang memasak. Ada juga yang mencuci piring. Namun, Rachel sedang memasak sesuatu di dalam panci dan aromanya seperti sup ayam.

"Dress kamu cantik banget, Sayang," puji Rachel seraya memperhatikan dress putih Nadya—A-Line Dress dengan motif bunga matahariserta cardigan berwarna putih yang menjadi outer-nya. Rachel tersenyum. "Cocok banget sama kamu. Innocent, beautiful, shy, and bright..."

Nadya menunduk—memperhatikan dress-nya—lalu menatap Rachel dengan penuh tanda tanya.

Senyum Rachel tampak sama seperti senyuman milik Sandi dan Aldo. Keluarga ini punya senyuman yang indah.

Nadya jadi kepikiran lagi. Aldo dan Sandi... Apa mereka berdua akan baik-baik saja?

Nadya hanya tertawa kecil, gugup minta ampun. "Ng—gak kok, Ma."

"Apanya yang nggak coba?" goda Rachel.

Nadya jadi merasa stuck. Aduh, mau jawab apa?

Melihat ekspresi wajah Nadya, Rachel pun tertawa. Rachel lantas berkata, "Makanya, terima aja kalo dibilang cantik. Pantesan kata Aldo kamu itu selalu nggak percaya kalo dibilang cantik."

 

Aldo bilang gitu ke...Mama?

 

Nadya hanya tersenyum canggung. Sungguh, ia ingin terbiasa dengan Rachel: tertawa bersama…atau bersikap akrab, tetapi ia tak bisa. Ia terlalu gugup, segan, dan takut salah.

"Yuk, bantu Mama ngiris-ngiris bawang," ujar Rachel. "Bisa tolong ambilin pisau yang ada di sana, Sayang? Itu pisau buat kamu ngiris bawangnya."

Nadya langsung mengangguk dan berjalan ke arah yang ditunjukkan oleh Rachel. "Iya, Ma."

 

******

 

Pintu ruang kerja Gerald terbuka. Gerald yang sedang berdiri sembari menyusun beberapa dokumen di atas mejanya itu menoleh begitu pintu ruangannya terbuka. Di ambang pintu itu, berdirilah Aldo.

Gerald tersenyum semringah. "Hey, buddy. How are you today?"

Aldo menutup pintu ruangan itu dan berbalik. Gerald spontan mengernyitkan dahinya begitu melihat wajah Aldo. Ini bukan Aldo yang biasanya.

Gerald kenal siapa sosok ini. Sosok yang selalu ingin ia keluarkan dari tubuh anaknya sejak pertama kali muncul di hari penculikan itu. Hari yang selalu menjadi mimpi buruk bagi Gerald, menghantui Gerald habis-habisan hingga sekarang. Hari itu adalah hari di mana Gerald kira, semua alasannya untuk bahagia akan hilang.

Sosok itu kini muncul lagi.

Meski Gerald tahu kalau sebenarnya, sosok itu adalah Aldo sendiri. Bukan kepribadian ganda atau sebagainya, karena Gerald sudah membawa Aldo ke psikiater setelah penculikan itu terjadi.

Semuanya sudah Gerald lakukan. Tanpa tertinggal.

Hari ini, di depan matanya, Gerald kembali menyaksikan sosok itu setelah sekian lama. Dahulu, beberapa saat setelah menjalani terapi, Aldo berhasil membaik. Aldo menjadi pribadi yang membanggakan dan menyenangkan. Dia dan Gerald sering menghabiskan waktu bersama, bercanda layaknya teman, bergelut di lantai dan tertawa, meskipun Aldo sudah SMA seperti sekarang.

Namun, hari ini, sosok itu kembali.

"Aldo—Nak? What happened?!" tanya Gerald dengan mata membulat karena panik. Dia langsung mendekati Aldo.

Aldo diam. Dia berdiri di sana dan menatap papanya dengan tajam. Bukan, itu adalah tatapan membunuh.

"Did you tell him to come back, Dad?" tanya Aldo dingin. Suaranya tidak kuat, tetapi dalam.

"Siapa, Nak? Siapa yang kamu maksud?!" tanya Gerald panik. Dia menggeleng tak mengerti. "Apa yang sebenarnya terjadi?!"

"Sandi is back," ujar Aldo tajam. Tatapan matanya seakan-akan mengandung sesuatu yang tak terkendali.

Mata Gerald membelalak.

"Aku tau kalo Papa yang biayai dia untuk sekolah di luar sana. Aku nggak protes soal itu. Aku ngerti rasa tanggung jawab Papa. Dia juga sayang banget sama Papa karena Papa udah nginspirasi dia. Papa tertarik sama dia, lalu ngebawa dia ke rumah kita," ujar Aldo dengan mata menyipit.

Diam sebentar. Gerald mencoba untuk meraih Aldo. "Papa belum ada nyuruh dia ke Jakart—"

"JANGAN PERNAH NUNJUKIN MUKANYA DI DEPAN MATAKU!!"

Gerald terperanjat. Teriakan Aldo barusan mampu membuat orang-orang yang ada di lantai bawah terdiam. Teriakan itu begitu kuat dan mengerikan.

 

Benar. Inilah ‘sosok’ itu.

 

Namun, Gerald terlalu menyayangi Aldo. Hal itu membuat Gerald juga menerima sosok itu apa adanya.

Dahulu, setiap hari Sandi menangis meminta maaf padanya karena telah membiarkan Aldo dibawa oleh penculik-penculik itu. Kesalahannya karena telah merasa iri pada Aldo, kesalahannya yang diam-diam merasa agak senang saat melihat Aldo pergi, kesalahannya karena ingin posisinya sama seperti Aldo karena terlalu menyukai Gerald yang telah memberinya kasih sayang dan mengeluarkannya dari panti asuhan...

Dia tak mampu menatap mata Aldo setelah kasus penculikan itu terjadi.

Sepeninggal Aldo dan penculik-penculik itu, Sandi menangis sejadi-jadinya sembari berlari pulang untuk memberi tahu Gerald bahwa Aldo telah diculik.

Perasaan bahagia yang datang sekilas itu sukses membuat Sandi jadi terluka. Dia juga menyayangi Aldo. Rasa iri itu ada, tetapi rasa sayangnya lebih besar.

Oleh karena itu, Gerald akhirnya memaafkan Sandi. Dengan penuh penyesalan, serta demi kebaikan Aldo, Sandi pun meminta Gerald untuk membiarkannya tinggal terpisah. Dia menjadi pengecut yang belum berani menatap mata adiknya, menjadi manusia yang terjebak di dalam sepi serta perasaan bersalah…

Aldo tidak salah paham. Sandi memang sempat merasa senang saat Aldo diculik. Tidak ada kesalahpahaman di antara mereka, kecuali kenyataan bahwa Sandi telah mati-matian menyingkirkan semua perasaan iri itu karena tak ingin kehilangan Aldo.

Namun, Sandi gagal. Sandi gagal melawan perasaan itu dan malah membuat kesalahan yang fatal.

Rachel membuka pintu ruangan kerja Gerald dengan ekspresi khawatir. Rachel membawa Nadya; Nadya langsung melihat ke dalam ruangan dengan ekspresi yang tak kalah khawatirnya dengan Rachel. Jantung Nadya berdegup kencang, dadanya agak sesak karena merasa cemas sekaligus sedih. Dia sedih melihat Aldo dan semua situasi ini; dia ingin semuanya kembali seperti semula.

"Aldo, Papa nggak bilang apa-apa ke Sandi. Papa nggak tau kalo dia pulang dari Yogyakarta dan kalopun Papa tau, Papa pasti bakal diskusi dulu ke kamu dan juga Mama—"

Aldo menatap Gerald tajam. "Dia ada di sini. Dia bakal datang ke rumah ini. Kalo dia datang ke sini buat tinggal bareng kita lagi, aku yang pergi."

Semua pendengar di ruangan itu kontan membulatkan mata.

"I can't let him do what he wants," tambah Aldo. Gerald memejamkan matanya dan menggeram.

"DENGERIN PAPA DULU, ALDO!!"

"YOU’RE THE ONE WHO SHOULD LISTEN TO ME, DAD!!" teriak Aldo.

"I’M ALWAYS WORRIED ABOUT YOU AND YOUR CONDITION! SANDI KNOWS THAT TOO!" Gerald membentak Aldo. Dia memperingati Aldo dengan telunjuknya.

"DON'T MENTION THAT LIAR'S NAME SO EASILY IN FRONT OF ME!! HE IS A LIAR, HE IS SOMEONE WHO WANTS TO STAB ME IN THE BACK, HE IS SOMEONE WHO HAS AMBITIONS TO GET CLOSE TO YOU AND GET RID OF ME! DAMN IT!" Aldo menggeram, tangannya mengepal dan matanya nyalang.

"Aldo! Ya Tuhan!" Rachel langsung berlari mendekati Aldo dan memegang bahu Aldo, tetapi Aldo menyingkirkan tangannya dengan pelan ke sisi.

Gerald mengatur napasnya yang memburu karena emosi. Dia menunduk dan mencoba untuk sedikit lebih tenang. Dia akhirnya melihat ke belakang Aldo dan mendapati seorang perempuan yang sering ia lihat fotonya di kamar Aldo.

Gerald sudah tahu siapa itu meskipun baru kali ini mereka bertemu langsung.

"Nak, Nadya bisa denger semuanya. She looks very surprised and worried about you. You should calm down a little."

Aldo melihat Nadya sebentar melalui bahu kanannya. Di sana, Nadya sedang menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca.

Aldo menatap ke depan lagi dan menghela napas samar.

Gerald mendekati Aldo dan menepuk pundak Aldo pelan. Dia mencoba untuk menenangkan Aldo.

Tiba-tiba, Richard datang dan berdiri di pintu. Tidak jauh dari posisi Nadya. Gerald, Rachel, dan Nadya langsung menoleh kepada Richard, lalu Richard berkata:

 

"Tuan, Nyonya, Tuan Sandi datang untuk berkunjung."

 

Seakan-akan ada petir yang menyambar ruangan itu tiba-tiba.

Rasanya bumi seakan-akan mau runtuh saat Nadya mendengar itu. Mata Gerald dan Rachel membeliak. Mereka semua melihat ke arah pintu…

 

…dan menemukan Sandi.

 

Sandi berdiri di sana dengan tatapan sendu. Ia terlihat memendam rasa sakit yang teramat dalam: rasa sakit yang akhirnya meluap setelah sekian lama ditahan.

Ia memandangi Aldo dari belakang, punggung Aldo yang sekarang sudah besar dan sama seperti dirinya. Ia pun memandangi Gerald yang tampak begitu terkejut, lalu memandangi Rachel yang hanya didengarnya dari Gerald karena ia pergi dari rumah sebelum Gerald menikahi Rachel...

Setelah itu, dia memandangi Nadya yang berdiri tak jauh di depannya. Nadya sedang menangis. Sandi mencoba untuk tersenyum lembut pada Nadya, tetapi percuma. Hanya senyuman pahitlah yang terbit di wajahnya.

Sandi pun kembali melihat punggung Aldo.

 

"Aldo..."

 

Ucapan lirih itulah yang pertama kali keluar dari bibir Sandi.

Saat itulah, Gerald tiba-tiba merasa bulu romanya berdiri. Rachel pun merasakan hal yang sama.

Ujung-ujungnya, mereka sadar bahwa kengerian itu berasal dari Aldo.

Sisi gelap Aldo itu menunduk, diam, seolah-olah kehidupan ini terlalu gelap baginya, seolah-olah kehidupan ini tak dapat meraihnya. Itu mungkin tercipta karena rasa sakitnya sejak kecil: penilaian lingkungan sekitar terhadapnya, rasa kesepiannya, rasa sakitnya karena Sandi, serta traumanya akan penculikan itu…

Pikiran Aldo yang lurus itu akhirnya membengkok.

Aura yang Aldo keluarkan dari tubuhnya mendadak jadi semakin menggelap, sampai ke titik di mana tak ada sedikit pun pancaran kebaikan di sana.

Aldo tiba-tiba bersuara. Suaranya serak dan terdengar begitu menakutkan. "Ma, bawa Nadya pergi dari ruangan ini."

Mata Gerald membulat. Rachel langsung memeluk Aldo dari belakang dan Gerald langsung menghampiri Sandi. Aldo melepaskan pelukan Rachel dengan pelan, kepalanya masih belum terangkat saat mengatakan, "Cepet, Ma. Sebelum dia liat aku."

Rachel menangis.

"Nggak, Aldo, Mama mohon, Nak—" Jangan biarin diri kamu tenggelam lebih jauh...

"Aldo..." panggil Sandi lagi. Dia ingin mendekati Aldo, tetapi dihentikan oleh Gerald. Gerald menahan tubuh Sandi dengan keras, tetapi Sandi dapat melepaskan Gerald dengan mudah. Gerald langsung berteriak memanggil Richard.

Rachel berlari mendekati Nadya, ingin menarik Nadya keluar dari ruangan itu agar Nadya aman dan tidak melihat konflik keluarga mereka, tetapi Nadya melepaskan genggaman tangannya dan menggeleng keras.

Nadya tak ingin...meninggalkan Aldo.

Rachel langsung menangis saat melihat respons Nadya.

Aldo berbalik perlahan. Dilihatnya Sandi berjalan ke arahnya sambil menangis. Namun, dia menatap Sandi bagai menatap mangsa yang telah ia tunggu selama bertahun-tahun.

"ALDO!!!!" teriak Rachel. Rachel ingin kembali menghampiri Aldo, tetapi Gerald menghentikannya. Gerald tahu bahwa Aldo saat ini tidak sepenuhnya sadar dengan apa yang ada di sekelilingnya. Aldo bisa membanting tubuh Rachel secara tanpa sadar karena terlalu fokus pada Sandi.

Nadya melihat Aldo dengan khawatir, kakinya tanpa sadar bergerak untuk menghampiri Aldo, tetapi dia mengurungkan niatnya karena melihat Gerald yang langsung menarik Sandi agar tidak mendekati Aldo. Sandi memberontak.

 

Tidak, tolong. Jangan sekarang. Jangan hentiin aku sekarang. Aku udah siap.

 

Sandi akhirnya memberanikan diri untuk mendatangi Aldo; dia menyiapkan dirinya selama bertahun-tahun untuk melihat Aldo kembali. Dia ingin meminta maaf dan menjelaskan semuanya…

"Lepasin Sandi, Pa. BIARIN SANDI NGOMONG SAMA ALDO!!!" teriak Sandi sembari memberontak. Richard datang bersama lima orang bodyguard dan langsung menghampiri Aldo. Namun, belum sempat Richard menarik tubuh Aldo, Aldo langsung memperingati Richard.

Aldo menatap Richard dengan sangat tajam. "Jangan halangin aku kalo nggak mau kubunuh, Richard."

"Saya mohon maaf, Tuan Muda," ujar Richard, lalu pria paruh baya itu langsung mengunci tubuh Aldo dari belakang. Aldo memberontak keras. Rahang Aldo mengetat, berkali-kali sikunya menyerang tubuh Richard. Richard harus dibantu oleh beberapa bodyguard hanya untuk menghentikan Aldo. Aldo sukses mencekik Richard dan menyerang semua bodyguard yang mencoba untuk menghentikannya. Gerald meneriaki Rachel, "Bawa Nadya keluar dari sini, Rachel!! SEKARANG!!"

Rachel kontan menarik Nadya—yang sedang shock itu—keluar sembari menangis. Di luar, mereka bertemu dengan Naya. Si kecil itu berjongkok sembari menangis dan menutup telinganya. Rachel spontan menggendong Naya serta menarik Nadya menjauh dari ruangan itu.

Sandi masih memberontak pada Gerald. "LEPASIN AKU, PA! AKU HARUS NGOMONG SAMA ALDO! AKU HARUS—"

"Sandi, Nak, tolong!!! Kondisi Aldo lagi buruk. Tolong jangan dekati dia. Ini bukan saat yang tepat—SANDI!!!!"

"ALDO!!! Maafin Kakak..." ucap Sandi. Ia masih mencoba untuk melepaskan dirinya dari Gerald.

Aldo berjalan mendekati Sandi. Tatapan matanya begitu tenang, seperti air sungai yang tak beriak. Tujuannya hanya satu, yaitu menghancurkan Sandi. Menghilangkan Sandi dari pandangan matanya. Tubuhnya seolah-olah berjalan tanpa beban; ia berjalan sembari mencekik salah satu bodyguard, lalu melepaskan tubuh bodyguard itu begitu saja. Gerald pun berteriak, "ALDO, PLEASE LISTEN TO ME! PLEASE, SON, PLEASE COME BACK TO ME! DON'T LOSE YOURSELF!!!!!"

Dua orang bodyguard yang tadinya ikut berusaha untuk menghentikan Aldo itu telah mengalami patah tulang di bagian lengan dan betis mereka. Keduanya terbaring kesakitan di lantai. Hanya tersisa satu bodyguard lagi; bodyguard itu dan Richardlah yang kini berusaha untuk menghentikan Aldo. Richard berteriak untuk memanggil bodyguard-bodyguard lain dan tak lama kemudian, ada beberapa bodyguard yang berdatangan dari luar.

"LEPAS!!!!" teriak Aldo. Matanya nyalang saat menatap Sandi. Tangannya terkepal dan punggungnya terasa amat keras sehingga sangat sulit untuk menghentikannya saat itu. Aldo begitu kuat dan tak terkendali.

Sandi menangis. Sejak kapan Aldo jadi seperti itu?

Sandi tahu kalau Aldo sempat diberi terapi. Sandi tahu kalau Aldo trauma. Akan tetapi, mengapa Sandi tidak tahu soal ini? Sejak kapan—sejak kapan Aldo jadi seperti ini…?

 

******

 

Nadya menatap dinding kamar dan meja belajar Aldo. Hari sudah malam dan Nadya masih ada di rumah Aldo. Nadya sudah menelepon kedua orangtuanya dan memberi tahu mereka bahwa di rumah Aldo terjadi sesuatu. Jadi, mungkin ia akan pulang terlambat.

Keributan itu berakhir saat Gerald dan bodyguard lainnya membawa Sandi pergi entah ke mana. Aldo kemudian ditenangkan oleh Rachel. Nadya ikut duduk di samping Aldo; dia melihat Rachel memeluk Aldo sembari menangis. Ekspresi wajah Aldo benar-benar terlihat datar saat itu.

Saat ini, Nadya baru selesai makan malam bersama keluarga Aldo. Meskipun suasana saat itu sedang tidak bagus, entah mengapa rasanya lega sekali melihat Aldo perlahan-lahan kembali normal. Sikap Aldo yang berbahaya itu perlahan-lahan jadi netral. Akan tetapi, sekarang…Aldo tampak begitu terluka.

Tentu saja.

Kembalinya Sandi berarti kembalinya luka lama. Kembalinya rasa takut, rasa kecewarasa sakit, dan siksaan yang pernah ia telan sekaligus di masa lalu.

Nadya sedang duduk bersama Rachel dan Naya di ruang keluarga. Mungkin, Aldo sedang berbicara dengan Gerald saat itu. Beberapa saat kemudian, Nadya mendapat sebuah pesan dari Aldo.

 

From: Aldo

Nad, kamu bisa...datang ke kamarku sebentar?

Kalo aku belum ada di sana, masuk aja duluan.

 

Melihat pesan Aldo itu, Nadya mendadak jadi ingin menangis. Aldo pasti sangat terluka. Dia pasti sangat sedih...

Tanpa berpikir dua kali, Nadya pun meminta izin pada Rachel untuk pergi ke kamar Aldo. Karena Aldo sedang dalam kondisi seperti itu, Rachel pun langsung mengizinkannya.

Pintu kamar Aldo terbuka. Tidak ada orang di kamar itu. Sebenarnya, Nadya sangat takut masuk ke kamar Aldo, terutama Aldo tak ada di sana. Akan tetapi, karena Aldo menyuruhnya untuk ‘masuk aja kalo aku belum ada di sana’, dia pun akhirnya memberanikan diri.

Dia mulai memperhatikan kamar Aldo. Di depan sana, ada meja belajar yang menempel di dinding. Di meja belajar itu…hingga ke dindingnya...ada banyak sekali foto. Ada foto bertiganya Aldo, Rian, dan Adam. Ada juga foto Naya, foto Aldo dan Naya, foto Aldo bersama Gerald, foto sekeluarga…dan foto Rachel.

Namun, yang membuat Nadya terkejut bukan itu. Dilihat dari sudut mana pun, foto Nadyalah yang paling banyak tersebar di kamar ini.

Nadya jadi ingat. Waktu itu, Nadya pernah malu karena melihat fotonya dijadikan wallpaper di ponsel Aldo. Adam saat itu berkata, ‘Kalo kamu datang ke rumahnya dan masuk ke kamarnya, kamu pasti tau apa yang kumaksud.'

Nadya jadi berpikir. Apakah ini maksud Adam?

Foto-foto Nadya di sana rata-rata adalah foto candid. Nadya tak tahu kalau dirinya sedang difoto. Foto saat festival dan foto saat pertandingan persahabatan...juga ada di sana. Di meja belajar Aldo, ada dua foto Nadya yang diberi bingkai. Di salah satu foto berbingkai itu, Nadya tampak tersenyum dengan manis. Kalau yang satu lagi, Nadya tampak tertawa lepas saat sedang menanam pohon bersama teman-temannya di sekitar sekolah.

Mata Nadya melebar. Mulutnya terbuka; dia jadi memandangi semua foto itu dengan ekspresi yang sulit diartikan.

Aldo pun datang. Dia memperhatikan Nadya—yang sedang melihat-lihat foto—dari pintu yang terbuka itu. Cowok itu hanya diam; matanya menyipit.

 

Suatu saat, kamu pasti bakal ngeliat semua foto itu juga...

 

Aldo sadar kalau Nadya sedang memegang ponsel. Dengan tatapan sendu, Aldo pun meraih ponselnya sendiri—di saku celananya—dan menelepon Nadya.

Saat menempelkan ponsel itu di telinganya, Aldo melihat Nadya sembari tersenyum. Senyuman itu tampak lemah dan penuh dengan luka yang kembali terbuka.

Nadya kaget saat mendengar ponselnya berbunyi. Namun, begitu melihat siapa yang menelepon, ia jadi semakin kaget.

Aldo...? Apa Aldo baik-baik saja? Mengapa Aldo menelepon? Di mana Aldo sekarang?

Nadya mengangkat panggilan telepon itu.

 

"Jangan berbalik."

 

Suara Aldo itu terdengar di telepon sekaligus di belakang Nadya.

Nadya membulatkan mata. Suara Aldo terdengar begitu dalam.

Nadya tak bisa berbalik; ia juga tak memiliki keberanian untuk berbalik. Jadi, ia hanya menempelkan ponsel itu di telinganya, berdiri diam seraya membelakangi Aldo...meskipun suara dapat ia dengar dengan jelas.

 

"Nad..."

 

Panggilan dari Aldo membuat tubuh Nadya bergetar. Suara cowok itu sangat lembut...seperti bisikan.

Nadya meneguk ludahnya. Biar bagaimanapun juga, ia tetap merasa sedih mengingat keadaan Aldo saat ini.

"Iya, Aldo."

"Makasih karena udah ada di sini...sama aku."

Nadya terkejut. Namun, mendadak Nadya menggeleng keras. "Aku—aku nggak ngelakuin apa-apa, Aldo..."

"Kamu nggak perlu ngelakuin banyak hal, Nad... Kamu cuma perlu ada di sisiku dan aku udah bahagia. Kamu udah ngeliat semuanya, Nad, semua bagian dari diri aku. Maafin aku."

Nadya spontan menggeleng. Tidak! Mengapa Aldo meminta maaf?

"Nggak, Aldo, kamu nggak salah kok!"

"Maafin aku karena udah bikin kamu takut."

"Kamu nggak perlu minta maaf, Aldo… Aku udah tau...kok."

 

Ya, Nadya sudah tahu soal sisi gelap Aldo itu...

 

Tanpa sadar, mata Nadya berkaca-kaca. Suara Aldo begitu pelan. Dia terdengar begitu terluka...

Seharusnya tadi Nadya lebih berusaha untuk menenangkan Aldo atau melakukan sesuatu... Akan tetapi...

 

"Maafin aku karena nggak bisa jadi pacar yang sempurna buat kamu, Sayang."

 

Nadya terperanjat. Mengapa Aldo mengatakan hal seperti itu? Tidak, Nadya tak pernah meremehkan Aldo. Nadya tak pernah meragukan Aldo. Nadya tak mau Aldo berpikir seperti itu. Itu seperti mau bilang kalau Nadya selama ini ingin Aldo menjadi pacar yang sempurna.

Nadya jadi ingin menangis. Seharusnya tadi dia melakukan sesuatu. Seharusnya tadi dia melakukan hal yang lebih. Seharusnya...

Entah dari mana keberanian itu datang; mungkin karena Nadya merasa bersalah sekaligus tidak suka Aldo berbicara seperti itu. Intinya, Nadya spontan menjawab, "Aku nggak pernah menuntut Aldo buat jadi sempurna. Lagi pula, di dunia ini, nggak ada manusia yang sempurna, Aldo..."

"Aku tau. Aku nggak bermaksud mau bikin kamu tersinggung. Maksudku itu…aku yang mau jadi sempurna buat kamu, tapi aku gagal."

Setetes air mata akhirnya jatuh ke pipi Nadya.

"Aldo... Aldo nggak perlu jadi sempurna..." jawab Nadya perlahan. "Aku—”

"Nad, apa aku spesial bagi kamu?" potong Aldo tiba-tiba, masih dengan suara yang lirih.

Anehnya, tanpa berpikir dan tanpa rasa malu—yang tertinggal hanyalah rasa empati kepada Aldo—Nadya pun mengangguk. Sedari tadi, ia menjawab Aldo secara spontan, padahal ia adalah jenis manusia yang selalu berpikir dahulu sebelum mengatakan sesuatu.

 

Sepertinya, Aldo sudah banyak mengubahnya...

 

Sakit sekali mendengar suara Aldo beserta kalimat-kalimat cowok itu saat ini. Rasanya bagai ditusuk benda tajam, tepat di dada.

"Di hati aku..." Nadya mengusap air matanya pelan-pelan. "Di hati aku itu…Aldo selalu spesial… Semuanya...yang ada di dalam diri Aldo..."

Berhenti sejenak, lalu Nadya melanjutkan, "Aldo yang apa adanya, menjadi diri Aldo sendiri itu...spesial..."

Hening selama lima detik.

Setelah itu, suara Aldo terdengar lagi di telinga Nadya. Di ruangan yang hening itu.

 

“Tuhan tau kalo aku bakal jadi spesial bagi seseorang. Makanya, Dia ciptain aku. Tapi setelah ketemu sama kamu dan denger kamu bilang kalo aku ini spesial di hati kamu dengan jadi apa adanya...

...aku jadi bingung. Yang spesial itu sebenarnya aku…atau kamu, Sayang?"

 

Nadya menunduk. Kalimat Aldo itu membuat hatinya menghangat. Rona merah jambu di wajah Nadya mulai terlihat.

"Kamu liat foto-foto kamu di kamar ini, ‘kan?"

Nadya mengangguk pelan.

"Sekarang, kamu udah tau kalo aku ini stalker mengerikan?"

Tak tahu mengapa, Nadya tersenyum. Senyumannya begitu tulus. Dia masih bisa merasakan sakit yang Aldo rasakan, jadi ketika mendengar Aldo berbicara santai begitu…hatinya menghangat.

Nadya mengangguk perlahan. Hal itu bisa dilihat Aldo dari belakang dan Aldo tersenyum simpul.

"Hati-hati,” kata Aldo seraya memiringkan kepalanya. “Kapan-kapan, aku install kamera di kamar kamu."

Nadya kaget bukan main. Hal itu membuat Aldo tertawa kecil. Nadya bisa mendengar tawa kecil itu di belakangnya serta di telepon.

"Hati kamu itu cantik, kayak orangnya. Semua yang ada di dalam diri kamu itu indah. Makanya, aku selalu nggak tahan kalo nggak liat kamu."

Nadya diam; jantungnya berdebar-debar saat menyimak suara Aldo yang terdengar begitu lembut…dan penuh dengan kasih sayang.

"Kamera itu nggak bikin seseorang jadi cantik, Nad. Kamera cuma memotret kecantikan itu sendiri."

Aldo tersenyum, cowok itu mulai mendekati Nadya perlahan-lahan.

Saat Aldo sampai di belakang Nadya, Nadya bisa merasakan hawa hangat tubuh cowok itu. Cara cowok itu yang mendekat pelan-pelan...membuat Nadya jadi gugup bukan main.

Aldo mencium bagian samping kepala Nadya dengan lembut. Nadya merasa geli saat sadar bahwa Aldo bernapas di dekat lehernya. Mereka berdua masih sama-sama memegang ponsel; mereka masih bertelepon.

 

"Maaf karena kamu harus ngeliat buruknya aku hari ini."

 

Nadya diam; wajahnya semakin merah padam karena tak tahan dengan napas Aldo yang berembus pelan di lehernya.

Setelah itu, sebelah tangan Aldo yang bebas mulai memeluk Nadya dari belakang. Aldo mendekatkan wajahnya pada telinga Nadya yang masih tertutupi oleh ponsel. Entah mengapa, walaupun Aldo sudah sangat dekat, Nadya tetap tidak melepaskan ponselnya dari telinganya. Nadya tak bisa bergerak karena gugup setengah mati. Ia tak sanggup bergerak, apalagi menatap Aldo.

Akan tetapi, tidak apa-apa. Aldo belum berniat untuk memutuskan panggilan telepon itu.

Nadya merasa sulit bernapas. Well, Aldo selalu bisa membuat Nadya salah tingkah, tetapi malam ini…rasanya begitu berbeda.

 

Lebih intim. Hening...

 

Aldo kemudian berbisik di telinga Nadya, masih dalam posisi bertelepon, "Let me love this princess, who has a warm and beautiful heart."

Aldo tersenyum miring. Dia tampak senang karena melihat Nadya gugup karenanya. Cinta itu memang ada untuknya.

"You are my universe," bisik Aldo. Akhirnya, dia mematikan panggilan telepon itu dan memeluk Nadya dari belakang dengan kedua tangannya.

Pelukan itu hangat.

Aldo menyandarkan keningnya pada bahu Nadya, membiarkan semua luka di hatinya tercurahkan. Dia mencari kenyamanan dari Nadya, membiarkan seluruh kelemahannya keluar saat itu. Dia percaya bahwa dekat dengan Nadya akan membuatnya tenang. Membuatnya merasa bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Aldo mencium puncak kepala Nadya sembari berkata, "Cukuplah hadirmu untukku, tak perlu banyak kata. Lewat tatap mata dan hangat pelukmu, lewat senyummu, itu sudah sempurna. Cinta memang sederhana." []

 













******






Another photo of Little Aldo (If only he really didn't have any scars...):



My baby 😭😭






No comments:

Post a Comment

She Was Never Mine (Bab 4: Segalanya Untuknya)

  ****** Bab 4 : Segalanya Untuknya   ******   LANTUNAN lagu di radio terdengar begitu merdu saat Josh baru saja memberhentikan mo...