Bab
17 :
Sandi
Kurnia Nugraha
******
ADA
keheningan yang tercipta begitu Aldo mengucapkan nama Sandi.
Nadya refleks memandangi Aldo dan Sandi secara bergantian.
Apa...maksudnya?
Bukan.
Nadya bukannya tak tahu nama Sandi. Nadya tahu nama lengkapnya, yaitu
Sandi Kurnia. Akan tetapi, Nadya kebiasaan memanggilnya dengan nama ‘Kurnia’
karena dahulu Sandi memilih untuk dipanggil begitu.
Nadya
tak berpikir macam-macam. Siapa juga yang berpikir macam-macam hanya karena ada
orang yang memilih untuk dipanggil dengan nama belakangnya?
Namun...sekarang
Nadya mulai bingung.
'Kak
Sandi'?
Aldo…kenal
dengan Kak Kurnia?
Belum
sempat Nadya berpikir lebih lanjut ataupun membuka mulut untuk memanggil Aldo, tiba-tiba
saja Aldo mendekati Nadya dengan ekspresi yang mengerikan. Rahangnya mengetat.
Tatapan matanya menggelap. Langkahnya cepat. Ini sama seperti Aldo yang waktu
itu pernah menarik Nadya dengan kuat ke ruang OSIS.
Sisi
gelapnya.
Tanpa
sepatah kata pun, Aldo menarik tangan Nadya dengan kuat hingga Nadya berdiri.
Nadya terperanjat; mata Nadya melebar. Jantung Nadya seolah-olah sempat
berhenti berdegup. Nadya ingin memanggil Aldo, tetapi belum sempat Nadya membuka
mulutnya, Aldo sudah menariknya untuk keluar dari café itu.
"Aldo!"
teriak Sandi. Sandi bangkit dari duduknya dan mencoba untuk mengejar Aldo,
tetapi tidak sempat karena ia menabrak waitress yang sedang lewat. Situasi
itu sedikit menciptakan keributan. Begitu Aldo sampai di dekat Adam yang sedang
mengantre, Adam juga berteriak. Cowok itu kaget melihat Aldo berjalan keluar café
dan meninggalkannya, ditambah lagi dengan wajah seram seperti itu dan
sambil menarik Nadya. Lah, kok Nadya ada di sini?
Adam
kontan berteriak, "Aldo! Mau ke mana?! Bro!"
Ada
apa ini?!
Aldo
menarik Nadya hingga ke tempat parkir mobil. Ia memasukkan Nadya ke dalam
mobilnya, lalu ia masuk ke mobil dengan terburu-buru.
Tatapan
matanya tajam. Nadya seakan-akan bisa melihat pikiran Aldo yang kompleks itu
menguap ke udara.
Sandi
sampai di luar café dan meneriaki Aldo saat mobil Aldo
meninggalkan tempat parkir, lalu disusul oleh Adam.
Aldo
menyetir dengan pikiran yang kacau; dia agaknya melupakan semua
yang ada di sekitarnya. Dia mencengkeram roda kemudi.
His
head felt like it was going to explode at any moment.
Nadya
tak berhenti menatap Aldo karena khawatir. Ia juga…ingin tahu apa yang sedang
terjadi.
Sebenarnya…ada
apa? Apa yang terjadi?
Meskipun
begitu, Nadya tak bisa melakukan apa-apa selain diam. Ia bingung dan takut.
Ketahuilah, wajah
Aldo saat ini terlihat begitu mengerikan…seolah-olah ia akan
membunuhmu kalau kau berbicara sedikit saja.
******
Nadya
gelisah minta ampun. Cewek itu menoleh ke kanan dan ke kiri; pikirannya jadi buntu.
Ia seperti di bawa Aldo dengan perasaan terombang-ambing; dia tak
tahu apa-apa dan ikut saja.
Tempat
yang jelas-jelas sedang mereka datangi ini adalah kantor polisi. Lobi
kantor polisi. Aldo menggenggam tangan Nadya dengan erat; cowok itu sedang
berbicara dengan seorang polisi di sana.
Mengapa
Aldo datang ke sini?
Saat
tengah melihat sekeliling, tiba-tiba Aldo membawa Nadya berjalan lagi. Ada
seorang polisi di depan mereka, memandu mereka untuk berjalan di lorong-lorong
kantor polisi itu hingga akhirnya mereka sampai di sebuah lorong yang sedikit
gelap. Saat berjalan di lorong itu dan melihat ke sisi kanan dan kirinya, mata Nadya
membelalak.
Ini…
Area
penjara.
Nadya
spontan menatap punggung Aldo yang dari belakang terlihat begitu dingin.
Nadya memang tak mengatakan apa-apa, tetapi ekspresi wajahnya cemas bukan main.
Seumur hidupnya, baru kali ini ia melihat penjara secara langsung, apalagi ia
tak tahu apa tujuan mereka datang ke sini.
Jika
ingin bertemu dengan seseorang yang ada di penjara, bukankah Aldo seharusnya
menunggu di ruang besuk? Mengapa Aldo memilih untuk langsung pergi ke selnya
seperti ini?
Lagi
pula, siapa...yang ingin Aldo temui?
Ketika
sampai di depan salah satu sel, sang polisi yang mengantar itu pun pamit dan
meninggalkan Aldo. Aldo mengucapkan terima kasih kepada polisi itu, sementara
Nadya mulai melihat polisi-polisi yang berjaga di ujung lorong.
Suasana
jadi hening.
Genggaman
Aldo terasa semakin erat. Nadya memperhatikan Aldo yang kini matanya tertuju
pada satu arah, yaitu ke salah satu dari tiga tahanan yang ada di dalam sel
itu. Seseorang yang duduk di ujung sel seraya menunduk.
Nadya
mulai bertanya-tanya dalam hati. Ia menatap Aldo dan tahanan itu secara
bergantian. Sementara itu, tahanan yang lain—yang juga ada di sel itu—sedang
tertidur pulas.
Nadya
tampak gelisah. Aldo terlihat marah. Sangat marah.
Nadya
menggigit bibirnya dan menunduk. Bagaimana ini? Apa yang harus ia
lakukan? Apakah ia mesti diam saja?
Ia
ingin tahu...
Ia
ingin tahu semua ini. Ia ingin Aldo mengatakan sesuatu. Ia merasa begitu sedih
dan gelisah.
Perlahan-lahan,
Nadya menatap Aldo yang sedang berdiri di sampingnya. Setelah dua detik yang penuh
akan keraguan, akhirnya Nadya pun membuka suaranya.
"Aldo..."
Aldo hanya diam.
Melihat
Aldo yang sama sekali tidak menghiraukan Nadya, Nadya pun kembali diam dan menunduk.
Aldo
pasti sedang kacau. Aldo sedang tidak terkendali. Itulah yang
terus berkecamuk di dalam benak Nadya.
Tiba-tiba,
suara Aldo pun terdengar.
Aldo
mengucapkan sebuah kalimat, tetapi cowok itu seolah-olah telah
memikirkan kalimat itu sekian lama; dia mungkin terus mengulang
kalimat itu di pikirannya. Terdengar begitu yakin, terutama
ketika ia berbicara setelah lama terdiam.
"Dia Donovan.
Adik mama kandungku, Nad," ujar Aldo. "Dia dalang di balik
penculikan aku waktu kecil."
Mata
Nadya kontan membulat. Dia menatap Aldo, lalu kembali menatap tahanan itu
dengan saksama. Bahkan untuk menelan ludah pun, rasanya sulit sekali.
Jadi...semua
itu...karena paman Aldo sendiri?
Nadya ingat. Waktu
itu, kata Aldo…saat ia diculik, penculiknya bilang kalau Aldo telah membunuh ibunya
melalui kelahirannya. Sekarang, Nadya jadi paham mengapa penculik itu mengatakan
demikian. Karena tuan mereka, Tuan Donovan ini, adalah adiknya mama Aldo.
Nadya
melihat paman Aldo itu seraya memasang ekspresi kaget yang tak kunjung menghilang.
Mengapa ada orang yang tega melakukan itu semua pada keponakannya hanya karena
ingin harta dan posisi di perusahaan milik kakak iparnya?
Iya,
semua memang mungkin terjadi di dunia ini. Namun, tetap saja...
…tidakkah
orang-orang seperti itu memiliki sedikit saja…rasa
kemanusiaan?
Oh.
Jika semua orang punya rasa kemanusiaan, tidak akan ada kriminal di dunia ini.
Nadya
bisa melihat kalau paman Aldo itu sama sekali tak tahu keberadaan mereka
berdua. Paman Aldo itu hanya menunduk; kepalanya miring ke sisi seolah-olah tak
punya tenaga untuk membuat kepalanya terangkat. Tangan pria paruh baya itu
tampak gemetar, jemarinya saling bertemu untuk merusak kuku-kukunya sendiri.
"Dia
punya gangguan jiwa. Tak lama setelah dimasukkan ke
penjara."
Kalimat
Aldo itu sukses membuat Nadya menoleh ke Aldo sebentar, lalu menatap paman Aldo
lagi dengan ekspresi kasihan. Nadya jadi berpikir: mengapa keluarga Aldo
harus jadi rusak begini…hanya karena harta?
Ternyata,
uang memang bisa membuat orang melakukan apa pun.
Nadya
menatap Aldo lagi. Tak ada sedikit pun cahaya di wajah cowok itu; tak ada sinar
secerah mentari yang selalu Nadya lihat. Semuanya hilang…
…dan
menyisakan luka.
Tanpa
sadar, mata Nadya berkaca-kaca. Tak tahu mengapa, rasanya…ia tak mau melihat
Aldo seperti ini.
"Meskipun
aku nggak pernah ketemu sama Mama, aku yakin Mama orang baik. Wanita yang Papa pilih
pasti baik-baik. Papa bilang…Mama adalah orang yang begitu tulus. Hatinya cantik. Aku
nggak tahu apa yang bikin adiknya jadi jahat begini cuma karena
haus harta Papa," ujar Aldo. “Aku jadi sadar kalo sifat orang bisa berbeda
jauh meskipun saudaraan."
Aldo
menggenggam tangan Nadya dengan erat…seolah-olah ingin meminta energi dari
Nadya.
Hening selama
beberapa saat…hingga kemudian Aldo kembali bersuara.
"Kamu
ingat ceritaku soal kakak angkatku?" tanya Aldo sembari
tersenyum hambar. Cowok itu ‘melihat’ ke depan dengan mata yang menyipit, tetapi
sebenarnya ia tak melihat apa pun.
Nadya
mengangguk perlahan.
"Aku
belum ngasih tau kamu namanya, Nad," ujar Aldo. Cowok itu
enggan membicarakannya karena dia benci ingatan itu.
"Siapa…namanya?" tanya
Nadya dengan hati-hati. Ia tahu bahwa Aldo tak suka membicarakan itu, tetapi
tetap berusaha untuk menjelaskan semuanya pada Nadya tanpa Nadya minta.
Aldo
bernapas samar.
“Namanya
Sandi Kurnia. Dia jadi Sandi Kurnia Nugraha saat masuk ke
keluargaku."
Nadya
terperanjat. Jantungnya seolah-olah berhenti berdetak saat itu. Mulutnya
terbuka dan lidahnya kelu. Spontan ia menatap Aldo dengan mata membulat.
Jadi...Kak
Kurnia...adalah...
Oh,
astaga. Tadi, di café itu—
Aldo
menatap Nadya perlahan. Entah mengapa, hati Nadya terasa sangat sakit...saat
melihat mata Aldo yang kehilangan binarnya.
Nadya
menggeleng. "Ja— jadi...tadi...orang yang kutemui..."
Aldo
hanya diam.
Nadya
menganga. Cewek itu sama sekali tak menyangka. Sulit untuk mempercayai semua
keterkaitan itu.
Baik
Aldo maupun Sandi, setahu Nadya…mereka berdua sama-sama luar biasa. Dua saudara
ini sama-sama orang yang berwibawa. Aldo...dan Sandi...
Mengapa
semuanya jadi seperti ini?
Nadya
tahu cerita mereka dari sisi Aldo, tetapi dari Sandi...
Apa
yang sesungguhnya terjadi?
Apakah
ini juga penyebab mengapa Sandi pernah bilang kalau ia 'mengingat kesalahannya
pada seseorang' ketika hujan turun, belum mau menemui keluarganya, serta tak
mau dipanggil dengan panggilan 'Sandi'...?
"Ternyata,
dia ada di Jakarta, ya..." Aldo tertawa kecil. Tawa itu
terdengar begitu sarkastis. Matanya menatap tajam tanpa ada target
di depannya.
"Selain
itu, ternyata…dia udah lama kenal sama kamu. Lebih lama daripada aku. Dekat
sama kamu..." ucap Aldo. Genggaman tangannya pada tangan Nadya
semakin mengerat. Nadya sampai merasa sakit akibat genggaman tangan itu.
Nadya
menatap Aldo dengan cemas. "Aldo, Kakak itu nggak tinggal di Jakarta. Dia
ke sini karena ada urusan… Aku juga belum terlalu lama deket sama dia. Dia
pergi sekitar setahun setelah aku kenal dia."
Aldo
diam. Dia melihat permukaan lantai di depan jeruji besi itu dengan mata
menyipit. Setelah itu, dia pun berkata dengan pelan, tetapi tegas.
"Masih jauh
lebih lama daripada aku," katanya. Setelah mengatakan
itu, dia diam. Nadya juga menunduk; dia sadar kalau ada rasa sakit dan rasa marah
yang terkandung di suara Aldo. Agaknya, ada sesuatu yang seolah-olah menekan dada
Nadya saat itu; ia ikut merasakan sakit hati yang Aldo rasakan.
"Berhenti
nemuin
dia, Nad," peringat Aldo. Suaranya terdengar begitu dingin. "Jangan
sampe dia nyakitin kamu. Jangan sampe aku ngelakuin sesuatu
yang di luar akal sehat kamu."
******
Aldo
kembali membawa Nadya keluar dari mobilnya. Nadya, yang baru saja keluar dari
mobil, menemukan bahwa ia telah berdiri di halaman rumah Aldo. Tadi, di mobil,
setelah meninggalkan kantor polisi itu, Nadya hanya melamun di sepanjang jalan.
Jadi, Nadya sama sekali tak sadar bahwa Aldo membawanya ke rumah cowok itu.
Hari
sudah senja. Kantor polisi itu cukup jauh dan hal itu tentu saja membuat
perjalanan jadi lebih banyak memakan waktu, terutama ditambah dengan kemacetan.
Aldo juga sempat pergi ke rumah Nadya terlebih dahulu untuk meminta izin pada
orangtua Nadya.
Aldo
mengajak Nadya berjalan menuju pintu besar berdaun dua—pintu masuk utama—rumahnya.
Aldo bertemu dengan seorang butler dan beberapa pelayan yang
menyambutnya begitu pintu itu terbuka.
"Selamat
datang, Tuan Muda."
Aldo
menatap butler itu. "Cuti kamu udah selesai,
Richard?"
Richard
meletakkan telapak tangannya ke dadanya dan menunduk hormat pada Aldo. Nadya sebetulnya
masih tidak terbiasa dengan kemewahan di rumah Aldo; cewek itu memegang tali tas
selempang kecilnya dengan gugup.
Saat
berdiri tegap kembali, Richard pun berkata, "Saya baru sampai siang ini,
Tuan Muda."
Aldo
mengangguk singkat. "Tolong panggilin Mama, ya. Bilang sama Mama kalo aku
bawa Nadya."
Richard
menunduk hormat lagi. Aldo meninggalkan Richard di sana dan menggandeng Nadya
ke ruang tamu. Tak butuh waktu lama hingga akhirnya Rachel keluar dari dapur
dengan wajah yang berseri-seri.
"Waah! Calon
menantu Mama!!" teriak Rachel. Wanita paruh baya itu berlari menghampiri
Nadya, lalu memeluk Nadya dengan erat.
Calon...menantu?!
Pipi
Nadya merona. Saat berada di pelukan Rachel, jantung Nadya berdebar-debar.
Entah mengapa, rasanya...senang sekali dipeluk seperti ini...
"Kangen.
Baru sekali ketemu kamu waktu itu. Pengin banget ketemu lagi, makanya minta
Aldo bawa kamu ke sini," ujar Rachel dengan bersemangat; dia mencium pipi
kiri dan pipi kanan Nadya saat pelukan mereka terlepas.
Pantas
saja…waktu minta izin ke rumah Nadya tadi, Aldo bilang kalau mamanya ingin
bertemu Nadya...
Nadya
jadi bingung. Cewek itu mau bilang kalau ia juga ingin melihat mamanya Aldo
lagi, tetapi ia gugup sekali.
Nadya
menatap Aldo yang tengah tersenyum simpul padanya. Masih tidak ada binar di
wajah Aldo, tetapi cowok itu tersenyum pada Nadya dan mengusap kepala Nadya.
"Kamu
sama Mama dulu, ya," ujar Aldo pelan. Setelah itu, Aldo berjalan ke depan
dengan cepat. Tanpa menoleh ke belakang, Aldo bertanya, "Papa udah ada di
rumah, ‘kan, Ma?"
Rachel
menatap Aldo di sana dan menyahut, "Iya, Sayang! Dia pulang cepet hari
ini."
Setelah
Aldo hilang dari pandangan, Rachel kembali menatap Nadya. "Are you
hungry, honey?"
Kedua
mata Nadya melebar dengan polosnya. "Em... Ng—gak kok, Ma."
Rachel
memiringkan kepalanya dan tersenyum. "Laper atau nggak, kamu harus makan
malem di sini, oke? Yuk, ikut Mama ke dapur. Naya lagi tidur, jadi Mama bisa agak
santai."
Nadya
mengangguk dengan canggung; dia menaruh tas kecilnya di sofa setelah bertanya
pada Rachel di mana ia harus menaruh tasnya. Setelah itu, mereka berdua pun berjalan
ke dapur.
Di
sana, ada beberapa pelayan yang sedang memasak. Ada juga yang
mencuci piring. Namun, Rachel sedang memasak sesuatu di dalam panci dan aromanya
seperti sup ayam.
"Dress kamu
cantik banget, Sayang," puji Rachel seraya memperhatikan dress putih
Nadya—A-Line Dress dengan motif bunga matahari—serta cardigan berwarna
putih yang menjadi outer-nya. Rachel tersenyum. "Cocok banget
sama kamu. Innocent, beautiful, shy, and bright..."
Nadya
menunduk—memperhatikan dress-nya—lalu menatap Rachel dengan penuh
tanda tanya.
Senyum
Rachel tampak sama seperti senyuman milik Sandi dan Aldo. Keluarga ini punya
senyuman yang indah.
Nadya
jadi kepikiran lagi. Aldo dan Sandi... Apa mereka berdua akan baik-baik
saja?
Nadya
hanya tertawa kecil, gugup minta ampun. "Ng—gak kok, Ma."
"Apanya
yang nggak coba?" goda Rachel.
Nadya
jadi merasa stuck. Aduh, mau jawab apa?
Melihat
ekspresi wajah Nadya, Rachel pun tertawa. Rachel lantas berkata, "Makanya,
terima aja kalo dibilang cantik. Pantesan kata Aldo kamu itu selalu nggak
percaya kalo dibilang cantik."
Aldo
bilang gitu ke...Mama?
Nadya
hanya tersenyum canggung. Sungguh, ia ingin terbiasa dengan Rachel: tertawa
bersama…atau bersikap akrab, tetapi ia tak bisa. Ia terlalu gugup, segan, dan
takut salah.
"Yuk,
bantu Mama ngiris-ngiris bawang," ujar Rachel. "Bisa tolong ambilin
pisau yang ada di sana, Sayang? Itu pisau buat kamu ngiris bawangnya."
Nadya
langsung mengangguk dan berjalan ke arah yang ditunjukkan oleh Rachel.
"Iya, Ma."
******
Pintu
ruang kerja Gerald terbuka. Gerald yang sedang berdiri sembari menyusun
beberapa dokumen di atas mejanya itu menoleh begitu pintu ruangannya terbuka.
Di ambang pintu itu, berdirilah Aldo.
Gerald
tersenyum semringah. "Hey, buddy. How are you today?"
Aldo
menutup pintu ruangan itu dan berbalik. Gerald spontan mengernyitkan dahinya begitu
melihat wajah Aldo. Ini bukan Aldo yang biasanya.
Gerald
kenal siapa sosok ini. Sosok yang selalu ingin ia keluarkan dari
tubuh anaknya sejak pertama kali muncul di hari penculikan itu.
Hari yang selalu menjadi mimpi buruk bagi Gerald, menghantui
Gerald habis-habisan hingga sekarang. Hari itu adalah hari di mana Gerald kira,
semua alasannya untuk bahagia akan hilang.
Sosok
itu kini muncul lagi.
Meski
Gerald tahu kalau sebenarnya, sosok itu adalah Aldo sendiri. Bukan
kepribadian ganda atau sebagainya, karena Gerald sudah membawa Aldo ke
psikiater setelah penculikan itu terjadi.
Semuanya
sudah Gerald lakukan. Tanpa tertinggal.
Hari
ini, di depan matanya, Gerald kembali menyaksikan sosok itu setelah sekian lama.
Dahulu, beberapa saat setelah menjalani terapi, Aldo berhasil membaik. Aldo
menjadi pribadi yang membanggakan dan menyenangkan. Dia dan Gerald sering
menghabiskan waktu bersama, bercanda layaknya teman, bergelut di lantai dan
tertawa, meskipun Aldo sudah SMA seperti sekarang.
Namun,
hari ini, sosok itu kembali.
"Aldo—Nak? What
happened?!" tanya Gerald dengan mata membulat karena panik. Dia
langsung mendekati Aldo.
Aldo
diam. Dia berdiri di sana dan menatap papanya dengan tajam. Bukan, itu
adalah tatapan membunuh.
"Did
you tell him to come back, Dad?" tanya Aldo dingin. Suaranya
tidak kuat, tetapi dalam.
"Siapa,
Nak? Siapa yang kamu maksud?!" tanya Gerald panik. Dia menggeleng
tak mengerti. "Apa yang sebenarnya terjadi?!"
"Sandi
is back," ujar Aldo tajam. Tatapan matanya
seakan-akan mengandung sesuatu yang tak terkendali.
Mata
Gerald membelalak.
"Aku
tau kalo Papa yang biayai dia untuk sekolah di luar sana. Aku nggak protes soal
itu. Aku ngerti rasa tanggung jawab Papa. Dia juga sayang banget sama Papa
karena Papa udah nginspirasi dia. Papa tertarik sama dia, lalu ngebawa dia ke
rumah kita," ujar Aldo dengan mata menyipit.
Diam
sebentar. Gerald mencoba untuk meraih Aldo. "Papa belum ada nyuruh dia ke
Jakart—"
"JANGAN
PERNAH NUNJUKIN MUKANYA DI DEPAN MATAKU!!"
Gerald
terperanjat. Teriakan Aldo barusan mampu membuat orang-orang yang ada di lantai
bawah terdiam. Teriakan itu begitu kuat dan mengerikan.
Benar.
Inilah ‘sosok’ itu.
Namun,
Gerald terlalu menyayangi Aldo. Hal itu membuat Gerald juga menerima sosok
itu apa adanya.
Dahulu,
setiap hari Sandi menangis meminta maaf padanya karena telah membiarkan Aldo
dibawa oleh penculik-penculik itu. Kesalahannya karena telah merasa iri pada
Aldo, kesalahannya yang diam-diam merasa agak senang saat melihat Aldo pergi,
kesalahannya karena ingin posisinya sama seperti Aldo karena terlalu
menyukai Gerald yang telah memberinya kasih sayang dan mengeluarkannya dari panti
asuhan...
Dia
tak mampu menatap mata Aldo setelah kasus penculikan itu terjadi.
Sepeninggal
Aldo dan penculik-penculik itu, Sandi menangis sejadi-jadinya sembari berlari
pulang untuk memberi tahu Gerald bahwa Aldo telah diculik.
Perasaan
bahagia yang datang sekilas itu sukses membuat Sandi jadi terluka. Dia juga
menyayangi Aldo. Rasa iri itu ada, tetapi rasa sayangnya lebih besar.
Oleh
karena itu, Gerald akhirnya memaafkan Sandi. Dengan penuh penyesalan, serta demi
kebaikan Aldo, Sandi pun meminta Gerald untuk membiarkannya tinggal terpisah. Dia
menjadi pengecut yang belum berani menatap mata adiknya, menjadi manusia yang
terjebak di dalam sepi serta perasaan bersalah…
Aldo tidak salah
paham. Sandi memang sempat merasa senang saat Aldo diculik. Tidak ada
kesalahpahaman di antara mereka, kecuali kenyataan bahwa Sandi telah
mati-matian menyingkirkan semua perasaan iri itu karena tak ingin kehilangan
Aldo.
Namun,
Sandi gagal. Sandi gagal melawan perasaan itu dan malah
membuat kesalahan yang fatal.
Rachel
membuka pintu ruangan kerja Gerald dengan ekspresi khawatir. Rachel membawa
Nadya; Nadya langsung melihat ke dalam ruangan dengan ekspresi yang tak kalah
khawatirnya dengan Rachel. Jantung Nadya berdegup kencang, dadanya agak sesak
karena merasa cemas sekaligus sedih. Dia sedih melihat Aldo dan semua situasi
ini; dia ingin semuanya kembali seperti semula.
"Aldo,
Papa nggak bilang apa-apa ke Sandi. Papa nggak tau kalo dia pulang dari
Yogyakarta dan kalopun Papa tau, Papa pasti bakal diskusi dulu
ke kamu dan juga Mama—"
Aldo
menatap Gerald tajam. "Dia ada di sini. Dia bakal datang
ke rumah ini. Kalo dia datang ke sini buat tinggal bareng kita lagi, aku
yang pergi."
Semua
pendengar di ruangan itu kontan membulatkan mata.
"I
can't let him do what he wants," tambah Aldo.
Gerald memejamkan matanya dan menggeram.
"DENGERIN
PAPA DULU, ALDO!!"
"YOU’RE
THE ONE WHO SHOULD LISTEN TO ME, DAD!!" teriak
Aldo.
"I’M
ALWAYS WORRIED ABOUT YOU AND YOUR CONDITION! SANDI KNOWS THAT TOO!" Gerald
membentak Aldo. Dia memperingati Aldo dengan telunjuknya.
"DON'T
MENTION THAT LIAR'S NAME SO EASILY IN FRONT OF ME!! HE IS A LIAR, HE IS SOMEONE
WHO WANTS TO STAB ME IN THE BACK, HE IS SOMEONE WHO HAS AMBITIONS TO GET CLOSE
TO YOU AND GET RID OF ME! DAMN IT!" Aldo menggeram,
tangannya mengepal dan matanya nyalang.
"Aldo! Ya
Tuhan!" Rachel langsung berlari mendekati Aldo dan memegang bahu
Aldo, tetapi Aldo menyingkirkan tangannya dengan pelan ke sisi.
Gerald
mengatur napasnya yang memburu karena emosi. Dia menunduk dan mencoba
untuk sedikit lebih tenang. Dia akhirnya melihat ke belakang Aldo dan mendapati
seorang perempuan yang sering ia lihat fotonya di kamar Aldo.
Gerald
sudah tahu siapa itu meskipun baru kali ini mereka bertemu langsung.
"Nak,
Nadya bisa denger semuanya. She looks very surprised and worried about
you. You should calm down a little."
Aldo
melihat Nadya sebentar melalui bahu kanannya. Di sana, Nadya sedang menatapnya
dengan mata yang berkaca-kaca.
Aldo
menatap ke depan lagi dan menghela napas samar.
Gerald
mendekati Aldo dan menepuk pundak Aldo pelan. Dia mencoba untuk menenangkan
Aldo.
Tiba-tiba,
Richard datang dan berdiri di pintu. Tidak jauh dari posisi Nadya. Gerald,
Rachel, dan Nadya langsung menoleh kepada Richard, lalu Richard berkata:
"Tuan,
Nyonya, Tuan Sandi datang untuk berkunjung."
Seakan-akan
ada petir yang menyambar ruangan itu tiba-tiba.
Rasanya
bumi seakan-akan mau runtuh saat Nadya mendengar itu. Mata Gerald dan Rachel
membeliak. Mereka semua melihat ke arah pintu…
…dan
menemukan Sandi.
Sandi
berdiri di sana dengan tatapan sendu. Ia terlihat memendam rasa sakit yang
teramat dalam: rasa sakit yang akhirnya meluap setelah sekian
lama ditahan.
Ia
memandangi Aldo dari belakang, punggung Aldo yang sekarang sudah besar dan sama
seperti dirinya. Ia pun memandangi Gerald yang tampak begitu terkejut, lalu memandangi
Rachel yang hanya didengarnya dari Gerald karena ia pergi dari rumah sebelum
Gerald menikahi Rachel...
Setelah
itu, dia memandangi Nadya yang berdiri tak jauh di depannya. Nadya sedang
menangis. Sandi mencoba untuk tersenyum lembut pada Nadya, tetapi percuma.
Hanya senyuman pahitlah yang terbit di wajahnya.
Sandi
pun kembali melihat punggung Aldo.
"Aldo..."
Ucapan
lirih itulah yang pertama kali keluar dari bibir Sandi.
Saat
itulah, Gerald tiba-tiba merasa bulu romanya berdiri. Rachel pun merasakan
hal yang sama.
Ujung-ujungnya,
mereka sadar bahwa kengerian itu berasal dari Aldo.
Sisi
gelap Aldo itu menunduk, diam, seolah-olah kehidupan ini terlalu gelap baginya,
seolah-olah kehidupan ini tak dapat meraihnya. Itu mungkin tercipta karena rasa
sakitnya sejak kecil: penilaian lingkungan sekitar terhadapnya, rasa kesepiannya,
rasa sakitnya karena Sandi, serta traumanya akan penculikan itu…
Pikiran
Aldo yang lurus itu akhirnya membengkok.
Aura
yang Aldo keluarkan dari tubuhnya mendadak jadi semakin menggelap, sampai
ke titik di mana tak ada sedikit pun pancaran kebaikan di
sana.
Aldo
tiba-tiba bersuara. Suaranya serak dan terdengar begitu menakutkan. "Ma, bawa Nadya
pergi dari ruangan ini."
Mata
Gerald membulat. Rachel langsung memeluk Aldo dari belakang dan Gerald langsung
menghampiri Sandi. Aldo melepaskan pelukan Rachel dengan pelan, kepalanya masih
belum terangkat saat mengatakan, "Cepet, Ma. Sebelum dia liat aku."
Rachel
menangis.
"Nggak,
Aldo, Mama mohon, Nak—" Jangan biarin diri kamu tenggelam lebih
jauh...
"Aldo..."
panggil Sandi lagi. Dia ingin mendekati Aldo, tetapi dihentikan oleh Gerald.
Gerald menahan tubuh Sandi dengan keras, tetapi Sandi dapat melepaskan Gerald
dengan mudah. Gerald langsung berteriak memanggil Richard.
Rachel
berlari mendekati Nadya, ingin menarik Nadya keluar dari ruangan itu agar Nadya
aman dan tidak melihat konflik keluarga mereka, tetapi Nadya melepaskan genggaman
tangannya dan menggeleng keras.
Nadya
tak ingin...meninggalkan Aldo.
Rachel
langsung menangis saat melihat respons Nadya.
Aldo
berbalik perlahan. Dilihatnya Sandi berjalan ke arahnya sambil menangis. Namun,
dia menatap Sandi bagai menatap mangsa yang telah ia
tunggu selama bertahun-tahun.
"ALDO!!!!"
teriak Rachel. Rachel ingin kembali menghampiri Aldo, tetapi Gerald
menghentikannya. Gerald tahu bahwa Aldo saat ini tidak sepenuhnya
sadar dengan apa yang ada di sekelilingnya. Aldo bisa membanting
tubuh Rachel secara tanpa sadar karena terlalu fokus pada Sandi.
Nadya
melihat Aldo dengan khawatir, kakinya tanpa sadar bergerak untuk menghampiri
Aldo, tetapi dia mengurungkan niatnya karena melihat Gerald yang langsung menarik
Sandi agar tidak mendekati Aldo. Sandi memberontak.
Tidak,
tolong. Jangan sekarang. Jangan hentiin aku sekarang. Aku udah siap.
Sandi
akhirnya memberanikan diri untuk mendatangi Aldo; dia menyiapkan dirinya selama
bertahun-tahun untuk melihat Aldo kembali. Dia ingin meminta maaf dan menjelaskan
semuanya…
"Lepasin
Sandi, Pa. BIARIN SANDI NGOMONG SAMA ALDO!!!" teriak Sandi sembari
memberontak. Richard datang bersama lima orang bodyguard dan
langsung menghampiri Aldo. Namun, belum sempat Richard menarik tubuh Aldo, Aldo
langsung memperingati Richard.
Aldo
menatap Richard dengan sangat tajam. "Jangan halangin aku
kalo nggak mau kubunuh, Richard."
"Saya
mohon maaf, Tuan Muda," ujar Richard, lalu pria paruh baya itu langsung
mengunci tubuh Aldo dari belakang. Aldo memberontak keras. Rahang Aldo
mengetat, berkali-kali sikunya menyerang tubuh Richard. Richard harus dibantu
oleh beberapa bodyguard hanya untuk menghentikan Aldo. Aldo sukses
mencekik Richard dan menyerang semua bodyguard yang mencoba untuk
menghentikannya. Gerald meneriaki Rachel, "Bawa Nadya keluar dari sini,
Rachel!! SEKARANG!!"
Rachel
kontan menarik Nadya—yang sedang shock itu—keluar sembari menangis. Di
luar, mereka bertemu dengan Naya. Si kecil itu berjongkok sembari menangis dan menutup
telinganya. Rachel spontan menggendong Naya serta menarik Nadya menjauh dari
ruangan itu.
Sandi
masih memberontak pada Gerald. "LEPASIN AKU, PA! AKU HARUS NGOMONG SAMA
ALDO! AKU HARUS—"
"Sandi,
Nak, tolong!!! Kondisi Aldo lagi buruk. Tolong jangan dekati
dia. Ini bukan saat yang tepat—SANDI!!!!"
"ALDO!!!
Maafin Kakak..." ucap Sandi. Ia masih mencoba untuk melepaskan dirinya
dari Gerald.
Aldo
berjalan mendekati Sandi. Tatapan matanya begitu tenang, seperti air sungai
yang tak beriak. Tujuannya hanya satu, yaitu menghancurkan Sandi.
Menghilangkan Sandi dari pandangan matanya. Tubuhnya seolah-olah
berjalan tanpa beban; ia berjalan sembari mencekik salah satu bodyguard, lalu
melepaskan tubuh bodyguard itu begitu saja. Gerald pun
berteriak, "ALDO, PLEASE LISTEN TO ME! PLEASE, SON, PLEASE COME
BACK TO ME! DON'T LOSE YOURSELF!!!!!"
Dua
orang bodyguard yang tadinya ikut berusaha untuk menghentikan
Aldo itu telah mengalami patah tulang di bagian lengan dan betis mereka. Keduanya
terbaring kesakitan di lantai. Hanya tersisa satu bodyguard lagi; bodyguard
itu dan Richardlah yang kini berusaha untuk menghentikan Aldo. Richard
berteriak untuk memanggil bodyguard-bodyguard lain dan tak
lama kemudian, ada beberapa bodyguard yang berdatangan dari
luar.
"LEPAS!!!!" teriak
Aldo. Matanya nyalang saat menatap Sandi. Tangannya terkepal dan punggungnya terasa
amat keras sehingga sangat sulit untuk menghentikannya saat itu. Aldo begitu
kuat dan tak terkendali.
Sandi
menangis. Sejak kapan Aldo jadi seperti itu?
Sandi tahu kalau
Aldo sempat diberi terapi. Sandi tahu kalau Aldo trauma. Akan
tetapi, mengapa Sandi tidak tahu soal ini? Sejak kapan—sejak kapan
Aldo jadi seperti ini…?
******
Nadya
menatap dinding kamar dan meja belajar Aldo. Hari sudah malam dan Nadya masih
ada di rumah Aldo. Nadya sudah menelepon kedua orangtuanya dan memberi tahu
mereka bahwa di rumah Aldo terjadi sesuatu. Jadi, mungkin ia akan pulang terlambat.
Keributan
itu berakhir saat Gerald dan bodyguard lainnya membawa Sandi
pergi entah ke mana. Aldo kemudian ditenangkan oleh Rachel. Nadya ikut duduk di
samping Aldo; dia melihat Rachel memeluk Aldo sembari menangis. Ekspresi wajah
Aldo benar-benar terlihat datar saat itu.
Saat
ini, Nadya baru selesai makan malam bersama keluarga Aldo. Meskipun suasana saat
itu sedang tidak bagus, entah mengapa rasanya lega sekali melihat Aldo
perlahan-lahan kembali normal. Sikap Aldo yang berbahaya itu perlahan-lahan
jadi netral. Akan tetapi, sekarang…Aldo tampak begitu terluka.
Tentu
saja.
Kembalinya
Sandi berarti kembalinya luka lama. Kembalinya rasa takut, rasa kecewa, rasa sakit, dan
siksaan yang pernah ia telan sekaligus di masa lalu.
Nadya
sedang duduk bersama Rachel dan Naya di ruang keluarga. Mungkin, Aldo sedang
berbicara dengan Gerald saat itu. Beberapa saat kemudian, Nadya mendapat sebuah
pesan dari Aldo.
From: Aldo
Nad,
kamu bisa...datang ke kamarku sebentar?
Kalo
aku belum ada di sana, masuk aja duluan.
Melihat
pesan Aldo itu, Nadya mendadak jadi ingin menangis. Aldo pasti sangat terluka. Dia
pasti sangat sedih...
Tanpa
berpikir dua kali, Nadya pun meminta izin pada Rachel untuk pergi ke kamar Aldo.
Karena Aldo sedang dalam kondisi seperti itu, Rachel pun langsung mengizinkannya.
Pintu
kamar Aldo terbuka. Tidak ada orang di kamar itu. Sebenarnya, Nadya sangat
takut masuk ke kamar Aldo, terutama Aldo tak ada di sana. Akan tetapi, karena
Aldo menyuruhnya untuk ‘masuk aja kalo aku belum ada di sana’, dia pun akhirnya
memberanikan diri.
Dia
mulai memperhatikan kamar Aldo. Di depan sana, ada meja belajar yang menempel
di dinding. Di meja belajar itu…hingga ke dindingnya...ada banyak sekali foto. Ada
foto bertiganya Aldo, Rian, dan Adam. Ada juga foto Naya, foto Aldo dan Naya,
foto Aldo bersama Gerald, foto sekeluarga…dan foto Rachel.
Namun,
yang membuat Nadya terkejut bukan itu. Dilihat dari sudut mana
pun, foto Nadyalah yang paling banyak tersebar di kamar ini.
Nadya
jadi ingat. Waktu itu, Nadya pernah malu karena melihat fotonya dijadikan wallpaper di
ponsel Aldo. Adam saat itu berkata, ‘Kalo kamu datang ke rumahnya dan
masuk ke kamarnya, kamu pasti tau apa yang kumaksud.'
Nadya
jadi berpikir. Apakah ini maksud Adam?
Foto-foto
Nadya di sana rata-rata adalah foto candid. Nadya tak tahu kalau dirinya
sedang difoto. Foto saat festival dan foto saat pertandingan persahabatan...juga ada di
sana. Di meja belajar Aldo, ada dua foto Nadya yang diberi bingkai. Di salah
satu foto berbingkai itu, Nadya tampak tersenyum dengan manis. Kalau yang satu
lagi, Nadya tampak tertawa lepas saat sedang menanam pohon bersama
teman-temannya di sekitar sekolah.
Mata
Nadya melebar. Mulutnya terbuka; dia jadi memandangi semua foto itu dengan ekspresi
yang sulit diartikan.
Aldo
pun datang. Dia memperhatikan Nadya—yang sedang melihat-lihat foto—dari pintu
yang terbuka itu. Cowok itu hanya diam; matanya menyipit.
Suatu
saat, kamu pasti bakal ngeliat semua foto itu juga...
Aldo
sadar kalau Nadya sedang memegang ponsel. Dengan tatapan sendu, Aldo pun meraih
ponselnya sendiri—di saku celananya—dan menelepon Nadya.
Saat
menempelkan ponsel itu di telinganya, Aldo melihat Nadya sembari tersenyum.
Senyuman itu tampak lemah dan penuh dengan luka yang kembali terbuka.
Nadya
kaget saat mendengar ponselnya berbunyi. Namun, begitu melihat siapa yang
menelepon, ia jadi semakin kaget.
Aldo...? Apa
Aldo baik-baik saja? Mengapa Aldo menelepon? Di mana Aldo sekarang?
Nadya
mengangkat panggilan telepon itu.
"Jangan
berbalik."
Suara
Aldo itu terdengar di telepon sekaligus di belakang Nadya.
Nadya
membulatkan mata. Suara Aldo terdengar begitu dalam.
Nadya
tak bisa berbalik; ia juga tak memiliki keberanian untuk
berbalik. Jadi, ia hanya menempelkan ponsel itu di telinganya, berdiri diam
seraya membelakangi Aldo...meskipun suara dapat ia dengar dengan jelas.
"Nad..."
Panggilan
dari Aldo membuat tubuh Nadya bergetar. Suara cowok itu sangat lembut...seperti bisikan.
Nadya
meneguk ludahnya. Biar bagaimanapun juga, ia tetap merasa sedih mengingat
keadaan Aldo saat ini.
"Iya,
Aldo."
"Makasih
karena udah ada di sini...sama aku."
Nadya
terkejut. Namun, mendadak Nadya menggeleng keras. "Aku—aku nggak ngelakuin
apa-apa, Aldo..."
"Kamu
nggak perlu ngelakuin banyak hal, Nad... Kamu cuma perlu ada di sisiku dan aku
udah bahagia. Kamu udah ngeliat semuanya, Nad, semua bagian dari diri aku.
Maafin aku."
Nadya
spontan menggeleng. Tidak! Mengapa Aldo meminta maaf?
"Nggak,
Aldo, kamu nggak salah kok!"
"Maafin
aku karena udah bikin kamu takut."
"Kamu
nggak perlu minta maaf, Aldo… Aku udah tau...kok."
Ya,
Nadya sudah tahu soal sisi gelap Aldo itu...
Tanpa
sadar, mata Nadya berkaca-kaca. Suara Aldo begitu pelan. Dia terdengar begitu
terluka...
Seharusnya
tadi Nadya lebih berusaha untuk menenangkan Aldo atau melakukan sesuatu... Akan
tetapi...
"Maafin
aku karena nggak bisa jadi pacar yang sempurna buat kamu, Sayang."
Nadya
terperanjat. Mengapa Aldo mengatakan hal seperti itu? Tidak, Nadya tak pernah
meremehkan Aldo. Nadya tak pernah meragukan Aldo. Nadya tak mau Aldo berpikir
seperti itu. Itu seperti mau bilang kalau Nadya selama ini ingin Aldo menjadi pacar
yang sempurna.
Nadya
jadi ingin menangis. Seharusnya tadi dia melakukan sesuatu. Seharusnya tadi dia
melakukan hal yang lebih. Seharusnya...
Entah
dari mana keberanian itu datang; mungkin karena Nadya merasa bersalah sekaligus
tidak suka Aldo berbicara seperti itu. Intinya, Nadya spontan menjawab,
"Aku nggak pernah menuntut Aldo buat jadi sempurna. Lagi
pula, di dunia ini, nggak ada manusia yang sempurna, Aldo..."
"Aku
tau. Aku nggak bermaksud mau bikin kamu tersinggung. Maksudku itu…aku yang mau
jadi sempurna buat kamu, tapi aku gagal."
Setetes
air mata akhirnya jatuh ke pipi Nadya.
"Aldo...
Aldo nggak perlu jadi sempurna..." jawab Nadya perlahan. "Aku—”
"Nad,
apa aku spesial bagi kamu?" potong Aldo tiba-tiba,
masih dengan suara yang lirih.
Anehnya,
tanpa berpikir dan tanpa rasa malu—yang tertinggal hanyalah rasa
empati kepada Aldo—Nadya pun mengangguk. Sedari tadi, ia menjawab Aldo secara spontan,
padahal ia adalah jenis manusia yang selalu berpikir dahulu
sebelum mengatakan sesuatu.
Sepertinya,
Aldo sudah banyak mengubahnya...
Sakit
sekali mendengar suara Aldo beserta kalimat-kalimat cowok itu saat ini. Rasanya
bagai ditusuk benda tajam, tepat di dada.
"Di
hati aku..." Nadya mengusap air matanya pelan-pelan. "Di hati aku
itu…Aldo selalu spesial… Semuanya...yang ada di dalam diri Aldo..."
Berhenti
sejenak, lalu Nadya melanjutkan, "Aldo yang apa adanya, menjadi
diri Aldo sendiri itu...spesial..."
Hening
selama lima detik.
Setelah
itu, suara Aldo terdengar lagi di telinga Nadya. Di ruangan yang hening itu.
“Tuhan
tau kalo aku bakal jadi spesial bagi seseorang. Makanya, Dia ciptain aku. Tapi
setelah ketemu sama kamu dan denger kamu bilang kalo aku ini spesial di hati
kamu dengan jadi apa adanya...
...aku
jadi bingung. Yang spesial itu sebenarnya aku…atau kamu, Sayang?"
Nadya
menunduk. Kalimat Aldo itu membuat hatinya menghangat. Rona merah jambu di
wajah Nadya mulai terlihat.
"Kamu
liat foto-foto kamu di kamar ini, ‘kan?"
Nadya
mengangguk pelan.
"Sekarang,
kamu udah tau kalo aku ini stalker mengerikan?"
Tak
tahu mengapa, Nadya tersenyum. Senyumannya begitu tulus. Dia masih bisa
merasakan sakit yang Aldo rasakan, jadi ketika mendengar Aldo berbicara santai
begitu…hatinya menghangat.
Nadya
mengangguk perlahan. Hal itu bisa dilihat Aldo dari belakang dan Aldo tersenyum
simpul.
"Hati-hati,”
kata
Aldo seraya memiringkan kepalanya. “Kapan-kapan, aku install kamera di kamar
kamu."
Nadya
kaget bukan main. Hal itu membuat Aldo tertawa kecil. Nadya bisa mendengar tawa
kecil itu di belakangnya serta di telepon.
"Hati
kamu itu cantik, kayak orangnya. Semua yang ada di dalam diri kamu itu indah.
Makanya, aku selalu nggak tahan kalo nggak liat kamu."
Nadya
diam; jantungnya berdebar-debar saat menyimak suara Aldo yang
terdengar begitu lembut…dan penuh dengan kasih sayang.
"Kamera
itu nggak bikin seseorang jadi cantik, Nad. Kamera cuma memotret kecantikan itu
sendiri."
Aldo
tersenyum, cowok itu mulai mendekati Nadya perlahan-lahan.
Saat
Aldo sampai di belakang Nadya, Nadya bisa merasakan hawa hangat tubuh cowok itu.
Cara cowok itu yang mendekat pelan-pelan...membuat Nadya jadi gugup bukan main.
Aldo
mencium bagian samping kepala Nadya dengan lembut. Nadya merasa geli saat sadar
bahwa Aldo bernapas di dekat lehernya. Mereka berdua masih sama-sama memegang
ponsel; mereka masih bertelepon.
"Maaf
karena kamu harus ngeliat buruknya aku hari ini."
Nadya
diam; wajahnya semakin merah padam karena tak tahan dengan napas Aldo yang
berembus pelan di lehernya.
Setelah
itu, sebelah tangan Aldo yang bebas mulai memeluk Nadya dari belakang. Aldo
mendekatkan wajahnya pada telinga Nadya yang masih tertutupi oleh ponsel. Entah
mengapa, walaupun Aldo sudah sangat dekat, Nadya tetap tidak melepaskan
ponselnya dari telinganya. Nadya tak bisa bergerak karena gugup setengah mati.
Ia tak sanggup bergerak, apalagi menatap Aldo.
Akan
tetapi, tidak apa-apa. Aldo belum berniat untuk memutuskan panggilan telepon
itu.
Nadya
merasa sulit bernapas. Well, Aldo selalu bisa membuat Nadya salah
tingkah, tetapi malam ini…rasanya begitu berbeda.
Lebih
intim. Hening...
Aldo
kemudian berbisik di telinga Nadya, masih dalam posisi bertelepon, "Let
me love this princess, who has a warm and beautiful heart."
Aldo
tersenyum miring. Dia tampak senang karena melihat Nadya gugup karenanya. Cinta
itu memang ada untuknya.
"You
are my universe," bisik Aldo. Akhirnya, dia
mematikan panggilan telepon itu dan memeluk Nadya dari
belakang dengan kedua tangannya.
Pelukan
itu hangat.
Aldo
menyandarkan keningnya pada bahu Nadya, membiarkan semua luka di hatinya
tercurahkan. Dia mencari kenyamanan dari Nadya, membiarkan seluruh kelemahannya
keluar saat itu. Dia percaya bahwa dekat dengan Nadya akan membuatnya
tenang. Membuatnya merasa bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Aldo
mencium puncak kepala Nadya sembari berkata, "Cukuplah hadirmu untukku, tak
perlu banyak kata. Lewat tatap mata dan hangat pelukmu,
lewat senyummu, itu sudah sempurna. Cinta memang
sederhana." []






No comments:
Post a Comment