Sunday, October 26, 2025

Princess Yuken (Chapter 4: Kingdom of Seiju)

 


******

Chapter 4 :

Kingdom of Seiju

 

******

 

SATU hari telah berlalu sejak Kikyo sampai di daerah Seiju. Kemarin, begitu hampir sampai di pusat kota Seiju—tepatnya di sebuah jalan yang agak sepi—Kikyo diturunkan dari kereta kuda Keluarga Jion. Di sana, sebuah kereta kuda yang merupakan angkutan umum sudah menunggu Kikyo. Kereta kuda Tuan Jion tak bisa mengantar Kikyo sampai ke pusat kota karena di permukaan luar kereta itu ada lambang bangsawan Kerajaan Hanju. Kikyo pergi ke sana untuk ‘memata-matai Raja Seiju’, jadi akan gawat apabila ada yang melihatnya turun dari kereta bangsawan Hanju.

‘Angkutan umum’ itu sudah diatur oleh Tuan Jion untuk Kikyo. Kereta itulah yang akan membawa Kikyo ke pusat kota Seiju dan mengantarkan Kikyo hingga ke sebuah penginapan.

Kikyo tentu dibekali uang dari Kerajaan Hanju sebelum ia berangkat. Tuan Jion juga memberikannya banyak uang untuk pegangan. Uang itulah yang nantinya akan Kikyo gunakan untuk makan, minum, berbelanja kebutuhannya, serta membayar penginapan selama menjalani masa tes untuk menjadi dayang di Kerajaan Seiju. Sebenarnya, jumlah uang itu lebih dari cukup; kalau mengingat berapa jumlah pengeluaran Kikyo per bulannya selama ini, uang itu cukup untuk menghidupi Kikyo selama setahun!

Kerajaan Hanju berjanji untuk membiayai Kikyo selama Kikyo masih menjadi mata-mata di Seiju. Jadi, jika uang Kikyo habis, Kikyo tinggal melapor saja.

Begitu sampai di penginapan, Kikyo langsung memesan kamar dan beristirahat. Perjalanan dari Hanju ke Seiju (yang memakan waktu sehari penuh itu) sangatlah melelahkan, terutama jika mengingat betapa berguncangnya kereta kuda yang Kikyo naiki saat melewati jalanan yang tidak rata. Tubuh Kikyo rasanya sudah hampir hancur; pinggangnya sakit luar biasa. Dia tak sanggup melakukan apa pun lagi. Rohnya seakan-akan sudah keluar separuh dan melayang-layang di atas kepalanya.

Kikyo langsung tepar saat melihat kasur. Dia tertidur—bahkan tak lagi bangun untuk makan—sampai subuh tiba. Dia baru mencari makan ke luar saat sudah jam tujuh pagi.

Setelah selesai sarapan, dia latihan tata krama dan bahasa Seiju sebentar di dalam kamarnya. Dia membaca buku-buku yang ia bawa, menghafal apa yang perlu dia hafal, dan mempraktekkan kembali semua yang sudah ia pelajari saat tinggal di rumah Yexian. Dia tak boleh gagal. Kepalanya bisa-bisa dipenggal.

Oke, itu belum tentu terjadi, tetapi siapa yang bisa menjamin keselamatannya kalau ia gagal?

Tak terasa, dua jam pun telah berlalu. Jam sepuluh nanti, dia harus sudah berangkat dari penginapan itu untuk pergi ke Kerajaan Seiju. Ke Istana Seiju.

Jadi, di sinilah Kikyo. Sampai di Istana Seiju tepat jam setengah sebelas pagi.

Gerbang supertinggi dan supermegah yang terbuat dari batu itu pun tertutup di belakang tubuh Kikyo. Suara tertutupnya gerbang raksasa itu berhasil membuat jantung Kikyo nyaris berhenti berdegup. Napasnya tertahan.

Banyak orang yang terdiam saat mendengar suara tertutupnya gerbang itu.

Suara itu bagaikan pertanda bahwa, “Tes telah resmi dimulai. Tidak ada jalan kembali.”

dan Kikyo terdiam. Gadis itu spontan meneguk ludahnya. Dia baru saja masuk dan suara itu sudah sukses membuatnya mempertanyakan seluruh keputusan yang ia buat hingga hari ini.

Namun, Kikyo mencoba untuk tenang. Ia menghela napasnya perlahan. Ia pun mencengkeram tali tas selempangnya yang berwarna cokelat, lalu menatap ke seluruh area halaman istana. Jangkauan matanya meluas. Menyebar. Ia menyisir seluruh area halaman itu dari kanan…ke kiri.

Apa yang ia saksikan di sana sukses membuat mulutnya menganga. Matanya melebar sempurna.

 

Itu adalah lautan manusia.

 

Kikyo mematung di sana, wajahnya hampir memucat. Dia sampai lupa bernapas.

Sejak masuk ke halaman istana (lebih cocok disebut lapangan, sebenarnya), beberapa detik sebelum gerbang ditutup, ia tahu betapa gaduhnya situasi di sana. Namun, baru sekaranglah ia benar-benar melihat sekelilingnya. Melihat apa yang ada di halaman kolosal itu.

Gila.

Kikyo menggeleng tak percaya. Mulutnya masih menganga.

Ada banyak sekali manusia di sana. Halaman itu bagai seratus kali lipat lebih luas daripada halaman rumah Tuan Jion, padahal halaman rumah Tuan Jion sudah benar-benar luas.

Semua manusia yang berkumpul bak semut itu adalah perempuan. Perempuan-perempuan yang saling bercengkerama.

 

Ini… Manusia sebanyak ini…

Apakah mereka semua merupakan peserta tes untuk menjadi dayang di Istana Seiju?

Buset!! Serius, nih?!! Banyak sekali, astaga!! Mampuslah Kikyo!

 

Saking banyaknya, mereka seperti mau melakukan demonstrasi atau sesuatu. Namun, bedanya, semua pedemonya cantik-cantik. Rapi. Berpakaian merah, seperti Kikyo. Kikyo diberitahu oleh Tuan Jion bahwa dia harus memakai gaun berwarna merah saat tes nanti. Gaun merah itu sebenarnya dibelikan oleh Tuan Jion.

Kikyo mulai sedikit mendongak, melihat ke arah Istana Seiju yang jelas-jelas sudah ada di hadapannya saat ini. Di depan sana.

Begitu matanya memandang istana itu, ada angin kencang yang berembus dari segala arah. Angin tersebut membuat semua bendera Seiju yang tertancap di tembok terluar istana, rambut hitam milik Kikyo, serta gaun merah yang Kikyo kenakan, terembus dengan cukup kencang. Dalam riuhnya embusan angin tersebut, Kikyo melihat segalanya.

Istana itu sangat megah. Jauh lebih megah daripada Istana Hanju yang waktu itu Kikyo kunjungi.

Berbeda dengan Istana Hanju yang dominan berwarna biru muda, Istana Seiju dominan berwarna emas dan merah. Bangunannya sangat tinggi…dan besar. Sama seperti Hanju, Istana Seiju juga terdiri dari banyak sekali susunan bangunan. Ada bangunan yang tersambung dan ada juga bangunan yang terpisah. Seluruh bangunan itu ada di dalam satu lingkup daerah yang sangat luas. Namun, Kikyo yakin, di dalam sana…daerahnya berkali-kali lipat lebih luas daripada Hanju.

Ada berapa ribu manusia yang tinggal di istana ini?

Jika Istana Hanju mungkin bisa menampung tujuh ribu manusia, Istana Seiju mungkin bisa menampung hingga dua belas ribu manusia (kalau semua ruangannya terisi. Soalnya, sebagian ruangan di istana itu tidak dihuni secara rutin, contohnya aula, gudang, dan lain-lain).

Luas dan tinggi istana itu hampir tidak masuk akal, setidaknya di otak Kikyo yang terbiasa melihat rumah-rumah rakyat desa. Memang, ada rumor bahwa saat ini, Istana Seiju memiliki setidaknya 1000 bangunan dan lebih dari 8600 ruangan (Kikyo tahu ini dari Nyonya Yori), tetapi tak Kikyo sangka kalau melihat istananya secara langsung akan membuatnya tercengang sampai tak bisa bergerak.

Melihat istana itu yang dominan berwarna emas dan merah, Kikyo jadi paham mengapa mereka harus memakai gaun berwarna merah untuk tes hari ini. Sesuai dengan apa yang Kikyo pelajari bersama Nyonya Yori tentang Kerajaan Seiju, tempat Kikyo berdiri saat ini adalah lapangan di depan Balairung Kejayaan Agung. Balai itu menjulang sekitar 30 meter di atas permukaan alun-alun di sekitarnya dan menjadi pusat seremonial kegiatan kerajaan. Raja (atau anggota kerajaan) menggunakan tempat itu untuk membahas urusan negara, bertemu dengan rakyat, mengadakan pemilihan dayang, penjaga, atau pasukan kerajaan, serta acara-acara besar seperti penobatan dan pernikahan kerajaan.

Daripada istana kerajaan, ini lebih cocok disebut sebagai istana kekaisaran…

Seiju ternyata memang sangat kuat. Sangat kaya. Masyhur.

Pantas saja Raja Zyran penasaran. Pantas saja orang-orang dibuat heran sekaligus ingin tahu apa sebabnya. Apa rahasianya.

Kikyo mulai memperhatikan tembok yang ada di sekeliling istana. Istana ini agaknya membentuk persegi panjang. Tembok itu sangat tinggi dan Kikyo ingat kalau bagian luar tembok itu dikelilingi oleh parit dengan sumber air buatan.

Tembok itu agaknya tebal sekali, tetapi meruncing di bagian atas. Kikyo tahu kalau tembok itu berfungsi sebagai pertahanan istana; di setiap sudut tembok itu terdapat menara pengawas. Kikyo menoleh ke belakang sejenak dan menemukan dua benteng yang sangat tinggi di sebelah kanan dan kiri gerbang masuk istana.

Seluruh tembok, menara, benteng, serta gerbang istana itu diberi warna merah keemasan dengan motif naga. Lukisan itu menunjukkan beberapa ekor naga yang terbang di langit, melewati pegunungan dengan pohon-pohon yang tinggi.

Kikyo lagi-lagi meneguk ludahnya yang tiba-tiba terasa kering. Kemegahan istana itu sangatlah menakutkan.

Kikyo tahu bahwa tugasnya tidak mudah, tetapi saat melihat realita yang terpampang di depan wajahnya saat ini, lagi-lagi ia terbangun. Sadar seratus persen bahwa dia sedang dihadapkan dengan situasi hidup dan mati.

Dia bagai dilemparkan ke samudra yang penuh dengan ikan raksasa.

Kikyo kembali menatap ke depan. Ke seluruh perempuan yang ada di lapangan itu. Mereka semua tampak excited meskipun tahu bahwa sebagian besar dari mereka akan gagal. Namun, sebenarnya…Kikyo bisa mengerti mengapa mereka semua rela mengambil risiko untuk mengikuti tes ini.

Menjadi dayang di istana raksasa seperti ini? Tentu merupakan sebuah kehormatan besar! Mereka akan dibayar oleh negara; bayaran mereka berasal dari anggaran untuk bangsawan yang mereka layani.

Agaknya, tes belum dimulai. Kikyo menebak kalau mungkin akan ada pidato atau sesuatu terlebih dahulu sebelum tes dimulai. Mereka harus diberikan instruksi terlebih dahulu, bukan?

Kikyo menarik dan mengeluarkan napasnya perlahan lewat mulut. Tangannya terkepal.

 

Baik. Gerbang sudah ditutup.

Kau tidak bisa kembali lagi, Kikyo. Memanjat pun percuma; temboknya tinggi sekali. Bagian atas tembok itu lancip dan dipenuhi dengan bendera Seiju. Penjaganya pun bersiaga. Kau bisa mati sebelum bisa melompat ke luar.

Pura-pura mati pun percuma. Kau tidak bisa menahan napas lebih dari semenit.

 

Ah, terserahlah!! Agaknya, mau maju atau mundur, semuanya akan menghadapkan Kikyo pada situasi yang mengerikan. Namun, kalau mundur, ancamannya jauh lebih banyak, jadi dia memilih untuk maju saja.

Oke. Saatnya menerima nasibmu, Kikyo. Besok-besok, rajin-rajinlah berdoa. Jangan gulat terus. Hidupmu jadi gila begini gara-gara kau jarang berdoa.

Tatkala sudah menatap ke depan dengan yakin, Kikyo pun mengangguk seraya berkata dalam hati, ‘Baiklah. Maju. Aku belum mau mati hari ini. Kata anak-anak di depan penginapan tadi, ada pangsit enak yang dijual di Pasar Cheondo. Aku harus beli pangsit itu nanti sore.’

Kikyo pun memulai rencana pertamanya. Dia harus mendapat relasi. Dia harus berbaur dengan calon dayang lain agar bisa mempersiapkan diri dengan lebih baik sekaligus tahu lebih banyak tentang Seiju. Kalau tidak mencari kelompok atau teman, takutnya Kikyo akan ngang-ngong saja. Manusia di sini banyak sekali dann semuanya memakai baju merah. Balairung ini jadi terlihat seperti lapangan bunga bakung laba-laba merah yang superluas.

Kikyo mulai mendekati perempuan-perempuan yang ada di sekitarnya. Ada tiga orang perempuan di depan sana, yang jaraknya paling dekat dengannya. Dia harus mendekati dan menyapa ketiga gadis itu.

Ini saatnya mempraktekkan bahasa Seiju yang sudah dia pelajari selama dua bulan belakangan.

Begitu sampai di dekat ketiga gadis itu, Kikyo pun mulai membuka suara.

 

“Halo. Boleh aku berbaris di dekat kalian?”

 

Ketiga gadis itu pun menoleh. Ada yang rambutnya pendek dan berponi. Ada yang rambutnya sebahu dan memakai bando kuning. Dua gadis ini rambutnya berwarna coklat gelap, sementara gadis yang satu lagi, rambutnya panjang dan berwarna krem.

“Oh, haloo!!” sapa gadis yang berambut pendek. Dia langsung meraih tangan Kikyo dan mengajak Kikyo untuk bersalaman. Senyumnya sehangat mentari. “Boleh, boleh!! Namaku Seena!”

Mata Kikyo melebar. Dia agak kaget. Sikap Seena ini…mengingatkannya pada Yexian.

Kikyo lantas mengangguk dan tertawa kikuk. “Ah—haha… Terima kasih. Salam kenal, Seena. Namaku Kikyo.”

Begitu jabatan tangan itu terlepas, Kikyo langsung menyalami dua gadis lain.

“Namaku Hari,” ujar gadis yang berambut sebahu begitu Kikyo bersalaman dengannya. Dia tersenyum manis. “Salam kenal, Kikyo.”

Kikyo tersenyum. “Salam kenal, Hari.”

Begitu Kikyo menganjurkan tangannya ke depan gadis yang satu lagi—yang berambut panjang—Kikyo agak heran. Ada jeda sejenak.

Tangan Kikyo tidak dijabat.

Kikyo memiringkan kepalanya ke sisi, lalu mulai menatap wajah gadis itu.

Ekspresi wajah gadis itu tampak agak sinis. Dia memperhatikan Kikyo dari atas ke bawah. Dari tatapan matanya, jelas sekali kalau dia sedang merendahkan Kikyo.

‘Astaga. Salah sasaran, nih. Kayaknya, yang ini agak sombong,’ pikir Kikyo. ‘Cantik-cantik kok sombong.’

Gadis itu…agaknya merasa bahwa dia lebih ‘tinggi’ daripada yang lain. Kalau memang merasa begitu, seharusnya dia berdiri sendiri saja. Tidak usah bergabung dengan Seena dan Hari.

‘Dia bergabung karena tak mau dianggap kesepian, mungkin,’ pikir Kikyo seenak jidatnya. Dia jadi kesal.

Tanpa membalas jabatan tangan Kikyo, dengan nada yang terdengar enggan, gadis itu pun berbicara.

 

“Ruya,” katanya.

 

Karena sudah dijawab, Kikyo pun menarik tangannya kembali dan tertawa canggung. “Ah—haha… Baiklah, Ruya. Salam kenal. Aku Kikyo.”

Ruya hanya menyilangkan tangannya di depan dada dan membuang muka.

Waduh. Baru saja datang ke sini, Kikyo sudah membuat seseorang…tak suka padanya. Kikyo salah apa coba? Perasaan, sejak tadi dia hanya memperhatikan betapa megahnya Istana Seiju (dan memikirkan beberapa peluang untuk kabur, tetapi tidak bisa).

“Kikyo berasal dari daerah mana?” tanya Seena dengan ramah. Ia tersenyum manis, matanya setengah tertutup seolah-olah ikut tersenyum.

Kikyo menggaruk tengkuknya dan ikut tersenyum, tetapi masih terlihat canggung. “Umm…aku dari Desa Saika.” (Oke, ini bohong maksimal. Penginapannyalah yang ada di Desa Saika).

Tak mungkin juga dia memberitahu Seena kalau dia berasal dari Hanju, ‘kan? Dia ke sini untuk jadi mata-mata, bukan jadi mayat.

“Ohh!!” Seena terlihat bersemangat. “Kakekku tinggal di Desa Saika! Wah, kita bisa sering-sering bertemu, nih! Semoga kita bisa berteman baik, ya, Kikyo!”

“Hm!” Kikyo mengangguk senang, padahal tadi jantungnya sempat hampir berhenti berdegup saat mendengar kalau kakeknya Seena tinggal di Desa Saika. “Ayo berteman baik, ya!”

Ya sudahlah. Untuk masalah nanti, ya nanti saja dihadapinya. Yang penting, sekarang dia berbaur dahulu.

“Apakah kau mengikuti tes ini atas kemauanmu sendiri? Atau…kemauan orangtuamu?” tanya Hari dengan ramah.

Kikyo lagi-lagi menggaruk tengkuknya. “Ah… Orangtuaku sudah meninggal. Aku pergi ke sini atas kemauanku sendiri.”

“Oh, begitu!” kata Seena. “Aku juga begitu! Menjadi dayang kerajaan akan sangat menaikkan derajat keluargaku. Aku ingin dapat banyak teman sesama dayang juga di sini!”

Wah, Seena sangatlah…polos.

“Pfft, kau ini,” ujar Hari, membuat Seena tertawa riang.

Hari menatap Kikyo, lalu berkata, “Kalau aku, aku datang ke sini karena disuruh oleh Ayah dan Ibuku. Aku tak mau menjadi dayang, tetapi karena bayarannya sangat tinggi…kupikir tak ada salahnya aku mencoba.”

Kikyo tertawa geli. “Ya ampun. Ada-ada saja.”

Kikyo bilang begitu, padahal dia juga datang ke sini karena disuruh orang lain. Penyebab Kikyo datang ke sini pun ada hubungannya dengan uang.

“Sebentar lagi, sepertinya tesnya akan dimulai!” ujar Seena. “Katanya, mulainya jam sebelas, ‘kan?”

“Iya.” Hari mengangguk. “Seharusnya…sebentar lagi seseorang akan datang ke depan sana. Ke tangga menuju balairung itu.”

“Kok kau tahu?” tanya Seena seraya memiringkan kepalanya. Matanya membulat polos.

Hari mengedikkan bahu. “Aku bertanya pada gadis-gadis muda di desaku yang sudah pernah ikut tes tahun-tahun lalu.”

“Woah!!” Mata Seena berbinar-binar. “Itu luar biasa!!”

“Hmm,” deham Hari. “tetapi mereka gagal.”

“Ya jelas saja gagal,” potong Ruya tiba-tiba. “Kalau tidak gagal, apa yang mereka lakukan di desa itu? Mereka pasti masih tinggal di istana kalau berhasil menjadi dayang.”

“Kan bisa saja mereka berhenti atau pensiun!” protes Seena.

Ruya memutar bola matanya. “Kau ini bodoh atau apa? Dayang akan terus melayani sampai mereka meninggal dunia, diusir, atau kehilangan posisi mereka saat pergantian raja atau dinasti. Masa jabatan mereka bergantung pada masa hidup mereka atau kekuasaan raja yang mereka layani.”

“Oooooh…” Seena mengangguk dengan polosnya. “Begitu, ya…”

Ruya hanya memutar bola matanya lagi. Bodoh sekali, pikirnya.

Sementara itu, Kikyo cuma bisa tertawa canggung dan mengusap-usap punggung Seena. Dia berharap Seena tidak marah pada Ruya, padahal saat itu, Seena terlalu fokus pada pengetahuan yang baru saja dia dapat untuk bisa memproses ejekan Ruya.

Lagi-lagi, Kikyo heran mengapa Seena dan Hari menerima keberadaan Ruya di sini. Energi Ruya jauh berbeda dengan mereka. Gaya Ruya terlihat jauh lebih berkelas dan elegan, tetapi…mukanya masam. Tatapannya sinis.

Tak lama kemudian, terdengarlah suara yang besar dari depan sana.

 

“Selamat pagi, semuanya. Selamat datang untuk para calon dayang yang akan mengikuti tes pada hari ini.”

 

Mereka berempat spontan menoleh ke asal suara.  Di depan sana, di tangga superbesar yang mengarah ke balairung, berdirilah beberapa orang wanita. Dari pakaian mereka yang dominan berwarna hijau, Kikyo tahu bahwa mereka semua adalah kepala dayang. Nyonya Yori telah memberitahunya soal ini.

Tak butuh waktu lama…sampai akhirnya semua orang mulai merunduk hormat. Kikyo, yang melihat semua orang tiba-tiba merunduk, spontan ikut-ikutan merunduk. Oke, Kikyo tahu bahwa dia harus merunduk hormat pada Kepala Dayang, tetapi…sekarang pun harus merunduk, ya?!

Seluruh gadis yang ada di lapangan itu mulai berbicara serentak.

 

“Selamat pagi, Kepala Dayang.”

 

Kikyo mengikuti sapaan itu, tetapi suaranya tidak keras karena takut salah. Kalau ia salah bicara atau telat bicara dengan suara yang keras, bisa-bisa semua orang akan menatap ke arahnya. Dia tak mau jadi pusat perhatian; dia harus menyatu dengan dayang lain, bukan menjadi satu spesies yang paling unik.

Astaga. Nyonya Yori mengajarkannya segala tentang tes, tetapi tidak dengan apa yang akan terjadi di balairung. Mungkin, mereka semua berekspektasi bahwa Kikyo bisa mengatasi hal kecil seperti ini.

Semoga saja tidak ada yang curiga dengan kebingungan Kikyo barusan.

Semua calon dayang pun berdiri tegap kembali. Beberapa detik kemudian, salah satu kepala dayang yang ada di depan sana mulai berbicara.

 

“Kami berterima kasih untuk antusias dari para peserta yang datang tahun ini. Karena jumlah peserta tes yang sangat banyak, maka para peserta akan dibagi menjadi beberapa bagian. Setiap kelompok akan pergi ke salah satu aula istana dan diarahkan oleh satu kepala dayang. Masing-masing kelompok akan mengikuti tes di aula yang berbeda. Tes yang akan dilaksanakan hari ini adalah tes tata krama. Tes ini akan dibagi menjadi beberapa sesi hingga selesai.”

 

Kikyo melebarkan mata.

Baiklah. Ini baru hari pertama dan Kikyo sudah dihadapkan dengan tes tata krama. Oh, tentu saja! Tentu saja, ujian pertama adalah pelajaran yang paling sulit baginya. Ini seperti Tuhan melihat misi mata-matanya dan berkata, “Mari kita buat dia menderita sedikit.”

Tuhan, ini sudah bukan sedikit lagi! Kikyo bisa melihat dua penjaga gerbang surga di kepalanya, menyambutnya karena dia gagal tes!

Oke, dia belum mati, tetapi jujur saja jiwanya sudah antre di meja pendaftaran alam baka.

Tata krama adalah pelajaran tersulit yang Kikyo hadapi saat belajar dengan Nyonya Yori, jadi tak heran kalau Kikyo langsung meneguk ludahnya begitu mendengar subjek tes hari ini.

 

Baiklah, Kikyo. Terima saja. Apa boleh buat.

Hadapi atau mati.

 

Kikyo melihat kalau di depan sana mulai muncul banyak sekali kepala dayang. Para kepala dayang itu hampir memenuhi tangga menuju ke balairung.

Para calon dayang—gadis-gadis dengan gaun merah—pun menyahut serentak.

“Dimengerti, Kepala Dayang!”

Kikyo celingak-celinguk saat mendengar orang-orang di sekelilingnya menjawab itu. Dia pura-pura membuka mulutnya saja supaya tidak dicurigai.

Setelah itu, mereka pun mulai dibariskan dengan rapi. Para kepala dayang mulai membagi kelompok per tiga barisan. Ada kelompok yang dibawa ke aula-aula istana bagian barat dan ada juga yang dibawa ke aula-aula bagian timur. Kikyo dapat satu kelompok dengan Seena, Hari, dan Ruya.

Kepala dayang di kelompok mereka mengarahkan mereka semua ke salah satu aula yang ada di bagian barat istana. Kikyo mengikuti seluruh instruksi dari kepala dayang itu bersama teman-temannya…hingga akhirnya mereka di tes satu per satu.

Tes cara berbicara yang sopan. Cara duduk. Cara berjalan yang elegan. Cara makan. Cara memasuki ruangan keluarga kerajaan. Cara memberi hormat. Cara melayani anggota kerajaan.

…dan lain sebagainya.

Meski orang yang ujian di aula itu banyak, Kikyo tahu bahwa suatu saat…gilirannya akan sampai.

Dia akan memulai perangnya.

 

******

 

Setelah berbagai kesulitan yang Kikyo hadapi, ternyata Kikyo berhasil mengikuti tes tata krama dengan baik.

Dia tadi hampir gagal dalam beberapa bagian tes. Contohnya, saat tes makan dengan elegan. Dia sudah belajar etika makan dari Nyonya Yori, tetapi saat makan gelembung ikan rebus, dia hampir saja muntah. Oh, dia benci gelembung ikan walaupun itu adalah makanan bangsawan. Untung saja, dia sudah terlatih memalsukan ekspresinya—karena terbiasa pura-pura baik-baik saja di depan Nyonya Yori—jadi dia masih bisa mengatasi itu walaupun sumpitnya hampir jatuh.

Saat tes cara memasuki ruangan anggota kerajaan, dia juga hampir gagal. Nyonya Yori mengajarkannya untuk mengetuk, menunggu, membungkuk, lalu melangkah masuk dengan kaki kiri dan tetap menundukkan kepala saat sudah dipersilakan masuk. Namun, dia hampir saja masuk dengan kaki yang salah. Untung saja, sebelum itu terjadi, dia tiba-tiba ingat suara mengerikan Nyonya Yori di belakang kepalanya yang selalu menyuruhnya untuk ‘ulang’ kalau dia salah kaki.

Saat dites memegang cangkir teh dengan benar pun, dia hampir saja mengeluarkan suara “Ow!” karena ternyata sangat cangkir itu sangat panas. Seharusnya cangkir tidak akan menyalurkan panas hingga ke pegangannya, bukan? Kok cangkir yang tadi itu agak aneh, sih? Apa para panitia tes sengaja mau membuat mereka gagal?!

Huh. Entahlah.

Saat tes berjalan dengan elegan pun, dia hampir saja tersandung gaunnya sendiri. Sial.

Namun, setelah semua kekacauan itu, untung saja dia…

…berhasil.

Dia lolos.

Dia terpilih untuk mengikuti tes selanjutnya esok hari.

Ternyata, didikan Nyonya Yori berhasil meskipun muridnya adalah jelmaan gorila tukang gulat seperti Kikyo. Tak heran Nyonya Yori dinobatkan menjadi pendidik bangsawan terbaik.

Kikyo bersyukur. Ternyata, nyawanya masih aman. Dia masih bisa membeli pangsit sore ini.

Dia selesai tes dan keluar dari gerbang istana sekitar jam lima sore.

Namun, sebelum pulang ke penginapan, dia langsung memenuhi hasratnya sejak tadi, yaitu membeli pangsit. Desa Saika ada di bagian timur Istana Seiju dan tidak jauh dari desa itu, ada sebuah pasar. Pasar itu bernama Pasar Cheondo. Sama seperti Desa Saika, Pasar Cheondo juga bersebelahan dengan Hutan Cheongdae.

Sebenarnya, tadi pagi, saat Kikyo mencari sarapan di depan penginapan…dia bertemu dengan gerombolan anak-anak. Mereka semua tengah memegang sebungkus pangsit di tangan mereka dan karena pangsit itu terlihat enak, Kikyo pun bertanya di mana mereka membelinya. Apakah itu dijual atau semacamnya.

“Iya, Kak, kami beli di Pasar Cheondo,” jawab salah satu dari anak-anak itu tadi pagi.

Maka dari itu, tujuan Kikyo sore ini tak lain dan tak bukan adalah: Pasar Cheondo. Titik.

Kikyo naik kereta kuda (angkutan umum) dari Istana Seiju ke pasar itu. Saat sampai di pasar itu, Kikyo tercengang. Dia kaget. Dikiranya pasar itu adalah pasar biasa. Namun, ternyata…ia salah besar!

Pasar itu ternyata sangat luas. Skala besar dan ramainya…sama seperti Pusat Perniagaan Hyugana di Hanju!!!

Gila. Ini benar-benar gila. Sore-sore begini pun…pasar ini sangat padat. Suara dari para penjual yang bersahut-sahutan, para pembeli yang berjalan ke sana kemari—ada yang menawar dan ada yang membeli—serta suara anak-anak yang tertawa riang sambil berlarian.

Ini seperti…bazar yang diadakan setahun sekali di pusat kota. Seperti ada festival atau sesuatu!

Jantung Kikyo jadi berdebar-debar begitu melihat pasar itu secara langsung. Hatinya langsung gembira. Senyumnya langsung merekah. Matanya langsung berbinar-binar.

Oke. Waktunya bersenang-senaaaaang!!!

Ini sempurna. Setelah pusing karena tes, akhirnya dia diberi hadiah berupa berbelanja di pasar yang terlihat seronok ini!!

Kikyo bisa melihat buah-buahan segar, kue-kue enak, dan daging-daging yang menggiurkan di depan sana. Dia juga bisa mencium aroma manis roti dan kopi dari sini.

Sial, perut Kikyo jadi lapar. Agaknya, dia tidak cuma akan membeli pangsit saja, nih. Haha.

Dalam hitungan ketiga, Kikyo langsung berjalan cepat memasuki area pasar itu.

Serbuuuu!!!!

Kikyo pun berlari kecil melewati kerumunan. Matanya berkilat seperti anak kecil yang baru dilepas di toko mainan.

“Pangsit…pangsit…” bisiknya, matanya berkelana mencari stand pangsit. Suara-suara penjual bersahutan di sebelah kiri dan kanannya.

“Buah segar dari utara!”

“Kain sutra! Diskon sampai matahari tenggelam!”

“Roti madu hangat!!”

“Aksesoris wanita! Biasa dipakai wanita bangsawan!”

“Daging bebek panggang!”

“Sayuran murah!!”

Oh. Banyak sekali hal yang dijual di sana. Namun, Kikyo tak begitu fokus mendengarkan semua itu. Satu-satunya hal yang menarik perhatian Kikyo adalah bau pangsit rebus yang tiba-tiba tercium dari salah satu sudut pasar.

Mata Kikyo langsung membulat.

‘ITU DIA!’ teriak Kikyo dalam hati.

Tanpa pikir panjang, Kikyo langsung berlari kecil ke sumber aroma itu. Dia hampir menabrak ibu-ibu yang sedang membawa keranjang.

“Maaf, Bu! Maaf!” ucapnya. Ibu itu hanya tersenyum dan mengangguk.

Akhirnya, dia berhenti di depan sebuah gerobak sederhana dengan papan kayu bertuliskan ‘Pangsit Nenek Ping — Hangat dan Kenyal.’

Di balik gerobak itu, berdirilah seorang nenek yang ekspresi wajahnya sangat ramah. Nenek itu menatap Kikyo yang sedang tersenyum semringah.

“Mau beli pangsit, Nak?” tanya nenek itu dengan lembut.

Kikyo mengangguk cepat. Dia gembira sekali. “Uh-hm!! Saya mau beli, Bu.”

Nenek itu langsung membuka panci besar berisi pangsit yang masih beruap. Aromanya membuat Kikyo nyaris mengeluarkan air liur. Matanya seperti berbintang-bintang saat melihat pangsit itu. Ini adalah pangsit yang anak-anak itu beli tadi pagi! Pas sekali.

Nenek itu tersenyum pada Kikyo. “Seporsi isinya enam. Mau beli berapa porsi, Nak?”

Kikyo menjawab tanpa menatap sang nenek karena dia sibuk menatap pangsit-pangsit itu. “Mau dua porsi, Bu.”

“Yang rebus atau goreng?”

Kikyo tepekur. Oh, sial. Ini adalah pilihan yang berat.

“…satu porsi yang rebus, satu porsi yang goreng,” jawab Kikyo pada akhirnya. Dia mau mencoba semuanya; dia tak mau memilih salah satunya.

Nenek Ping tertawa kecil. “Baiklah. Tunggu sebentar, ya.”

Kikyo mengangguk cepat. Ekspresinya riang sekali. “Okeee, Bu!”

Sang nenek mulai menyiapkan pesanan Kikyo. Kikyo menatap pangsit-pangsit yang baru diangkat dari panci itu; mereka mengeluarkan uap dengan aroma daging yang menggoda. Sang nenek menyiapkan seporsi yang rebus, lalu menggoreng satu porsi lagi.

“Ini,” ujar sang nenek begitu pesanan Kikyo selesai. Kikyo pun menerima pangsit-pangsit itu, lalu menanyakan harganya kepada sang nenek. Setelah membayar, Kikyo pun berpamitan.

Kikyo berjalan di kerumunan pasar itu sambil menggigit pangsit rebusnya. Dia menari kecil saat mengunyah pangsit itu; dia terlihat bahagia karena sedang makan enak.

“Hmmm!!” dehamnya saat menelan suapan pertama. Dia memegang pipinya sendiri, memejamkan matanya, dan wajahnya berbinar-binar. Dia menjinjing bungkusan pangsit itu dengan riang.

Setelah membeli pangsit, Kikyo mampir ke beberapa stand. Dia membeli buah-buahan, roti, satai daging, dan berbagai makanan lainnya. Dia diberi banyak uang dari Hanju, setidaknya dia mau sedikit menikmati uang itu untuk bersenang-senang di pasar hari ini.

Dia stres sekali, soalnya.

Saat langit mulai agak gelap, ada sebuah barang di stand sebelah kanan yang menarik perhatiannya. Kikyo agak tersadar dari euforianya barusan (karena menyerbu makanan) dan matanya sedikit melebar. Dia pun mendekati stand itu dan berdiri tepat di depan barang yang dimaksud.

Itu adalah sebuah jam kecil.

Bukan, bukan jam tangan. Itu adalah jenis jam yang digenggam seperti kompas. Jam itu berwarna cokelat. Minimalis dan elegan. Ada sebuah kain satin merah bermotif angsa yang melekat di jam itu, seperti kain yang berfungsi untuk gantungannya.

Sang penjual masih sibuk melayani pembeli yang lain sehingga belum berbicara pada Kikyo. Akan tetapi, ketika Kikyo masih memandang dan memegang jam itu di telapak tangannya, tiba-tiba dia mendengar sebuah suara dari sebelah kiri.

 

“Oh, yang itu terlihat bagus.”

 

Kikyo spontan menoleh ke asal suara. Di sana, di sebelahnya, ia melihat seorang pria. Pria itu memakai kimono berwarna hijau tua—hijaunya sangat gelap—dan sebuah topi caping yang terbuat dari jerami. Di pinggang kanan pria itu tergantung sebuah pedang. Pria itu terlihat seperti berusia tiga puluhan, tetapi…

…wajahnya tampan.

Rambutnya berwarna putih. Ada beberapa tindik di telinganya. Dia menggenggam sebuah tongkat kayu kecil berwarna hitam yang Kikyo tidak yakin itu adalah kayu biasa atau sebuah kipas lipat. Ada sebuah kawat yang melingkar di bagian atas tongkat itu. Seolah-olah tongkat itu pernah hampir patah dan direkatkan kembali dengan kawat.

Mata pemuda itu berwarna abu-abu. Namun, sebelah matanya hampir tertutup karena poninya yang cukup panjang. Dia tidak gondrong, tetapi poninya cukup panjang hingga menutupi dahi.

Mata Kikyo melebar. Dia sempat diam karena terdistraksi dengan rupa pria itu, tetapi tiga detik kemudian, dia berusaha untuk menyadarkan dirinya kembali.

“A—Ah, iya,” jawab Kikyo dengan gagap.

Pria itu sedikit memajukan tubuhnya ke arah Kikyo untuk melihat jam itu lebih jelas. Dia pun mengangguk. “Hm. Ini terlihat bagus untuk dibawa ke mana-mana.”

Kikyo melihat jam itu kembali, lalu mengangguk. “Benar.”

“Kau mau membelinya, Nona?” tanya pria itu seraya menatap Kikyo.

Kikyo menoleh kepada pria itu, merasa agak kaget. “E—Eh? Anda mau membelinya juga, Tuan?”

Pria itu tertawa kecil. “Kaulah yang memegang jam itu lebih dahulu. Lagi pula, itu terlihat cocok untukmu.”

Kikyo tertawa, tetapi masih canggung. Akhirnya, dia pun mengangguk. “Baiklah.”

Setelah membeli jam kecil itu, Kikyo pun berpamitan pada sang pria. Namun, pria itu menggeleng. “Kau mau pergi ke arah mana, Nona?”

“Oh, um…” Mata Kikyo melebar. Kikyo lalu menunjuk ke sebelah kanan, tempat di mana Kikyo masuk sebelumnya. “Aku mau pergi ke arah sana, Tuan.”

Jika Kikyo masuk dari sana, Kikyo pun akan keluar dari sana. Dia berencana untuk pulang setelah ini karena hari sudah mulai gelap. Dia harus kembali ke penginapan.

“Oke. Aku juga mau pergi ke arah sana,” ujar pria itu seraya tersenyum. “Ayo jalan bersama saja.”

Tanpa curiga sedikit pun—meski canggungnya setengah mati—Kikyo pelan-pelan mengangguk. “Baiklah.”

Akhirnya, mereka mulai berjalan bersama. Langkah mereka santai; mereka berjalan lurus melewati kerumunan tanpa ada kendala yang berarti.

Karena Kikyo pada dasarnya bukan orang yang tahan dengan kecanggungan atau ‘diam-diaman’, dia pun mencoba untuk memulai pembicaraan.

“Anda berasal dari daerah sini, Tuan?” tanya Kikyo.

Pria itu tersenyum. “Tidak usah panggil aku Tuan. Aku Ren. Panggil aku Ren saja.”

“…Ren?” tanya Kikyo. Gadis itu sedikit memiringkan kepalanya.

“Hm.” Ren mengangguk. “Ren saja. Siapa namamu?”

“Namaku Kikyo,” jawab Kikyo. “Apakah tidak apa-apa memanggil Anda dengan ‘Ren’ saja?”

Yah, siapa tahu, kan, pria itu merupakan bangsawan atau sesuatu.

“Tidak apa-apa,” jawab Ren. “Aku bukan orang penting.”

Mulut Kikyo membentuk ‘o’, lalu gadis itu mengangguk-angguk. “Baiklah.”

“Aku tidak tinggal di daerah sini. Aku hanya mampir sebentar ke pasar ini mumpung melewatinya,” jawab Ren kemudian. “Bagaimana denganmu?”

“O—Oh…” Kikyo menatap Ren dengan mata yang masih melebar. Tak ia sangka bahwa ia akan mendapat seorang kenalan laki-laki secepat ini. “Aku dari tempat lain juga. Aku menginap di Desa Saika untuk mengikuti tes menjadi dayang di Istana Seiju.”

Jangan tanyakan mengapa. Kikyo juga tak tahu mengapa dia memberitahu soal ‘ia berasal dari tempat lain dan menginap di Desa Saika’ pada Ren.

Ada sesuatu di sosok Ren yang membuat Kikyo berpikir kalau…Ren itu aman.

Ren seperti…seseorang yang entah berasal dari mana…yang tidak peduli dengan drama kerajaan. Insting Kikyo mengatakan demikian. Kikyo memang tidak memberitahu Ren secara detail, tetapi dia merasa cukup ‘aman’ untuk bilang bahwa dia bukan penduduk Desa Saika.

“Oh, begitu, ya…” Ren tersenyum seraya mengangguk. “Jadi, kau menyewa kamar untuk tempat tinggalmu selama periode tes berlangsung?”

“Iya,” jawab Kikyo. Dia tersenyum pada Ren.

“Tes menjadi dayang, ya…” ujar Ren. Pria itu tampak berpikir sejenak, lalu kembali tersenyum. “Mereka terus-menerus berkembang, ya. Sampai-sampai mengadakan tes setiap tahun.”

Ah. Jadi, Ren cukup tahu soal itu.

Kikyo hanya tertawa canggung. “Haha… Ya…begitulah. Ini kali pertamaku mengikuti tesnya.”

“Mengapa kau ingin menjadi dayang?” tanya Ren. Pria itu menatap Kikyo seraya memiringkan kepalanya.

Waduh. Pertanyaan ini bagaikan tes kebohongan. Kikyo harus berakting dengan baik.

“Aku butuh penghasilan yang agak banyak, haha…” Kikyo menggaruk tengkuknya; dia hampir berkeringat dingin.

Ren tersenyum. “Begitu, ya.”

Tak lama kemudian, mereka berdua pun sampai di depan pasar. Di sana, banyak sekali kereta kuda yang sedang menunggu penumpang.

Langit sudah berwarna keunguan, hampir gelap. Bulan sabit sudah mulai terlihat di atas sana. Di sini, Kikyo pun berdiri berhadapan dengan Ren yang wajahnya tak terlihat begitu jelas lagi akibat suasana yang mulai gelap. Lampu-lampu di pasar itu belum dihidupkan.

Kikyo pun mulai berpamitan kepada Ren.

“Aku pulang dulu, ya,” ujarnya.

Ren mengangguk. Pria itu tersenyum simpul, lalu berkata, “Hm. Hati-hati, ya. Hari sudah gelap.”

Kikyo memiringkan kepalanya. “Apakah kau juga mau pulang?”

“Hm.” Ren mengangguk lagi. “Aku juga harus pulang setelah ini.”

“Baiklah,” ujar Kikyo. Gadis itu tersenyum, lalu mulai memanggil seorang kusir kereta kuda. Dia mau memesan kereta kuda itu untuk pulang ke penginapannya.

Saat kereta kuda itu telah sampai di depannya, ia pun mulai berjalan mendekati kereta kuda itu. Namun, sebelum menaiki tangga kecil di dekat pintu kereta, tiba-tiba ia berbalik.

Ia ingin memberikan salam kepada Ren. Kata ‘sampai jumpa’ atau sebuah pamit yang sopan sebelum ia benar-benar naik kereta.

Akan tetapi, begitu ia berbalik untuk melihat Ren…

…ada embusan angin dari sebelah barat yang menerbangkan helaian rambutnya. Menggerakkan gaun yang ia pakai…serta kimono hijau tua Ren. Akan tetapi, anehnya…topi caping Ren tetap berada di tempatnya. Hanya rambut Renlah yang terembus angin…hingga angin itu berhasil menyingkap kedua bola mata abu-abu milik Ren.

Di bawah langit yang hampir gelap itu, bola mata Ren tampak berkilat. Cahaya bulan sabit—yang sebenarnya belum terang itu—seolah-olah memantul di kedua matanya.

Pelan-pelan, Ren pun tersenyum simpul. Mata pria itu menatap Kikyo dengan lekat meskipun ekspresinya terlihat santai.

 

“Kau sedang mengikuti tes untuk menjadi dayang, ‘kan? Semoga beruntung, ya,” ujar Ren. Suaranya terdengar dengan sangat jelas di telinga Kikyo. Berat, dewasa, dan begitu rileks. “Sama seperti namanya, raja yang akan kalian layani itu terlihat licin seperti ular, tetapi mampu menyemburkan api.” []

 













******



This is what Ruya kinda looks like (ignore the clothes, ok).





Ren





This is Forbidden City's Hall of Supreme Harmony. Kerajaan Seiju nggak exactly kayak gini, tapi aku kasih foto ini biar bisa kebayang luas lapangannya.









She Was Never Mine (Bab 4: Segalanya Untuknya)

  ****** Bab 4 : Segalanya Untuknya   ******   LANTUNAN lagu di radio terdengar begitu merdu saat Josh baru saja memberhentikan mo...