Chapter
4 :
Kingdom
of Seiju
******
SATU
hari
telah berlalu sejak Kikyo sampai di daerah Seiju. Kemarin, begitu hampir
sampai di pusat kota Seiju—tepatnya di sebuah jalan yang agak sepi—Kikyo
diturunkan dari kereta kuda Keluarga Jion. Di sana, sebuah kereta kuda yang
merupakan angkutan umum sudah menunggu Kikyo. Kereta kuda Tuan Jion tak bisa
mengantar Kikyo sampai ke pusat kota karena di permukaan luar kereta itu ada
lambang bangsawan Kerajaan Hanju. Kikyo pergi ke sana untuk ‘memata-matai Raja
Seiju’, jadi akan gawat apabila ada yang melihatnya turun dari kereta bangsawan
Hanju.
‘Angkutan
umum’ itu sudah diatur oleh Tuan Jion untuk Kikyo. Kereta
itulah yang akan membawa Kikyo ke pusat kota Seiju dan mengantarkan Kikyo
hingga ke sebuah penginapan.
Kikyo
tentu dibekali uang dari Kerajaan Hanju sebelum ia berangkat. Tuan Jion
juga memberikannya banyak uang untuk pegangan. Uang itulah yang nantinya akan Kikyo
gunakan untuk makan, minum, berbelanja kebutuhannya, serta membayar penginapan
selama menjalani masa tes untuk menjadi dayang di Kerajaan Seiju. Sebenarnya,
jumlah uang itu lebih dari cukup; kalau mengingat berapa jumlah pengeluaran
Kikyo per bulannya selama ini, uang itu cukup untuk menghidupi Kikyo selama
setahun!
Kerajaan
Hanju berjanji untuk membiayai Kikyo selama Kikyo masih menjadi mata-mata di Seiju.
Jadi, jika uang Kikyo habis, Kikyo tinggal melapor saja.
Begitu
sampai di penginapan, Kikyo langsung memesan kamar dan beristirahat. Perjalanan
dari Hanju ke Seiju (yang memakan waktu sehari penuh itu) sangatlah melelahkan,
terutama jika mengingat betapa berguncangnya kereta kuda yang Kikyo naiki saat
melewati jalanan yang tidak rata. Tubuh Kikyo rasanya sudah hampir hancur;
pinggangnya sakit luar biasa. Dia tak sanggup melakukan apa pun lagi. Rohnya
seakan-akan sudah keluar separuh dan melayang-layang di atas kepalanya.
Kikyo
langsung tepar saat melihat kasur. Dia tertidur—bahkan tak lagi bangun
untuk makan—sampai subuh tiba. Dia baru mencari makan ke luar saat sudah jam
tujuh pagi.
Setelah
selesai sarapan, dia latihan tata krama dan bahasa Seiju sebentar di dalam
kamarnya. Dia membaca buku-buku yang ia bawa, menghafal apa yang perlu dia
hafal, dan mempraktekkan kembali semua yang sudah ia pelajari saat tinggal di
rumah Yexian. Dia tak boleh gagal. Kepalanya bisa-bisa dipenggal.
Oke,
itu belum tentu terjadi, tetapi siapa yang bisa menjamin keselamatannya kalau
ia gagal?
Tak
terasa, dua jam pun telah berlalu. Jam sepuluh nanti, dia harus sudah berangkat
dari penginapan itu untuk pergi ke Kerajaan Seiju. Ke Istana Seiju.
Jadi,
di sinilah Kikyo. Sampai di Istana Seiju tepat jam setengah sebelas pagi.
Gerbang
supertinggi
dan supermegah yang terbuat dari batu itu pun tertutup di belakang tubuh
Kikyo. Suara tertutupnya gerbang raksasa itu berhasil membuat jantung Kikyo
nyaris berhenti berdegup. Napasnya tertahan.
Banyak
orang yang terdiam saat mendengar suara tertutupnya gerbang itu.
Suara
itu bagaikan pertanda bahwa, “Tes telah resmi dimulai. Tidak ada jalan
kembali.”
…dan
Kikyo terdiam. Gadis itu spontan meneguk ludahnya. Dia baru saja
masuk dan suara itu sudah sukses membuatnya mempertanyakan seluruh keputusan
yang ia buat hingga hari ini.
Namun,
Kikyo mencoba untuk tenang. Ia menghela napasnya perlahan. Ia pun mencengkeram tali
tas selempangnya yang berwarna cokelat, lalu menatap ke seluruh area
halaman istana. Jangkauan matanya meluas. Menyebar. Ia menyisir seluruh
area halaman itu dari kanan…ke kiri.
Apa
yang ia saksikan di sana sukses membuat mulutnya menganga. Matanya
melebar sempurna.
Itu
adalah lautan manusia.
Kikyo
mematung di sana, wajahnya hampir memucat. Dia sampai lupa bernapas.
Sejak
masuk ke halaman istana (lebih cocok disebut lapangan, sebenarnya), beberapa
detik sebelum gerbang ditutup, ia tahu betapa gaduhnya situasi di sana. Namun, baru
sekaranglah ia benar-benar melihat sekelilingnya. Melihat apa yang ada
di halaman kolosal itu.
Gila.
Kikyo
menggeleng tak percaya. Mulutnya masih menganga.
Ada
banyak sekali manusia di sana. Halaman itu bagai seratus kali lipat lebih
luas daripada halaman rumah Tuan Jion, padahal halaman rumah Tuan Jion sudah
benar-benar luas.
Semua
manusia yang berkumpul bak semut itu adalah perempuan. Perempuan-perempuan yang
saling bercengkerama.
Ini…
Manusia sebanyak ini…
Apakah
mereka semua merupakan peserta tes untuk menjadi dayang di Istana Seiju?
Buset!!
Serius, nih?!! Banyak sekali, astaga!! Mampuslah Kikyo!
Saking
banyaknya, mereka seperti mau melakukan demonstrasi atau sesuatu. Namun,
bedanya, semua pedemonya cantik-cantik. Rapi. Berpakaian merah, seperti Kikyo.
Kikyo diberitahu oleh Tuan Jion bahwa dia harus memakai gaun berwarna merah
saat tes nanti. Gaun merah itu sebenarnya dibelikan oleh Tuan Jion.
Kikyo
mulai sedikit mendongak, melihat ke arah Istana Seiju yang jelas-jelas sudah
ada di hadapannya saat ini. Di depan sana.
Begitu
matanya memandang istana itu, ada angin kencang yang berembus dari
segala arah. Angin tersebut membuat semua bendera Seiju yang tertancap di
tembok terluar istana, rambut hitam milik Kikyo, serta gaun merah yang Kikyo
kenakan, terembus dengan cukup kencang. Dalam riuhnya embusan angin tersebut, Kikyo
melihat segalanya.
Istana
itu sangat megah. Jauh lebih megah daripada Istana Hanju yang
waktu itu Kikyo kunjungi.
Berbeda
dengan Istana Hanju yang dominan berwarna biru muda, Istana Seiju dominan
berwarna emas dan merah. Bangunannya sangat tinggi…dan besar.
Sama seperti Hanju, Istana Seiju juga terdiri dari banyak sekali susunan
bangunan. Ada bangunan yang tersambung dan ada juga bangunan yang terpisah.
Seluruh bangunan itu ada di dalam satu lingkup daerah yang sangat luas. Namun,
Kikyo yakin, di dalam sana…daerahnya berkali-kali lipat lebih luas daripada
Hanju.
Ada
berapa ribu manusia yang tinggal di istana ini?
Jika
Istana Hanju mungkin bisa menampung tujuh ribu manusia, Istana Seiju mungkin
bisa menampung hingga dua belas ribu manusia (kalau semua ruangannya
terisi. Soalnya, sebagian ruangan di istana itu tidak dihuni secara
rutin, contohnya aula, gudang, dan lain-lain).
Luas
dan tinggi istana itu hampir tidak masuk akal, setidaknya di otak Kikyo
yang terbiasa melihat rumah-rumah rakyat desa. Memang, ada rumor bahwa saat
ini, Istana Seiju memiliki setidaknya 1000 bangunan dan lebih dari 8600 ruangan
(Kikyo tahu ini dari Nyonya Yori), tetapi tak Kikyo sangka kalau melihat
istananya secara langsung akan membuatnya tercengang sampai tak bisa
bergerak.
Melihat
istana itu yang dominan berwarna emas dan merah, Kikyo jadi paham mengapa
mereka harus memakai gaun berwarna merah untuk tes hari ini. Sesuai
dengan apa yang Kikyo pelajari bersama Nyonya Yori tentang Kerajaan Seiju,
tempat Kikyo berdiri saat ini adalah lapangan di depan Balairung Kejayaan Agung.
Balai itu menjulang sekitar 30 meter di atas
permukaan alun-alun di sekitarnya dan menjadi pusat seremonial kegiatan kerajaan.
Raja (atau anggota kerajaan) menggunakan tempat itu untuk membahas urusan
negara, bertemu dengan rakyat, mengadakan pemilihan dayang, penjaga, atau
pasukan kerajaan, serta acara-acara besar seperti penobatan dan pernikahan kerajaan.
Daripada
istana kerajaan, ini lebih cocok disebut sebagai istana kekaisaran…
Seiju
ternyata memang sangat kuat. Sangat kaya. Masyhur.
Pantas
saja Raja Zyran penasaran. Pantas saja orang-orang dibuat heran sekaligus ingin
tahu apa sebabnya. Apa rahasianya.
Kikyo
mulai memperhatikan tembok yang ada di sekeliling istana. Istana ini
agaknya membentuk persegi panjang. Tembok itu sangat tinggi dan Kikyo
ingat kalau bagian luar tembok itu dikelilingi oleh parit dengan sumber air
buatan.
Tembok
itu agaknya tebal sekali, tetapi meruncing di bagian atas. Kikyo tahu kalau tembok
itu berfungsi sebagai pertahanan istana; di setiap sudut tembok itu terdapat
menara pengawas. Kikyo menoleh ke belakang sejenak dan menemukan dua benteng
yang sangat tinggi di sebelah kanan dan kiri gerbang masuk istana.
Seluruh
tembok, menara, benteng, serta gerbang istana itu diberi warna merah keemasan
dengan motif naga. Lukisan itu menunjukkan beberapa ekor naga yang
terbang di langit, melewati pegunungan dengan pohon-pohon yang tinggi.
Kikyo
lagi-lagi meneguk ludahnya yang tiba-tiba terasa kering. Kemegahan istana itu
sangatlah menakutkan.
Kikyo
tahu bahwa tugasnya tidak mudah, tetapi saat melihat realita yang
terpampang di depan wajahnya saat ini, lagi-lagi ia terbangun. Sadar
seratus persen bahwa dia sedang dihadapkan dengan situasi hidup dan mati.
Dia
bagai dilemparkan ke samudra yang penuh dengan ikan raksasa.
Kikyo
kembali menatap ke depan. Ke seluruh perempuan yang ada di lapangan itu. Mereka
semua tampak excited meskipun tahu bahwa sebagian besar dari mereka akan
gagal. Namun, sebenarnya…Kikyo bisa mengerti mengapa mereka semua rela
mengambil risiko untuk mengikuti tes ini.
Menjadi
dayang di istana raksasa seperti ini? Tentu merupakan sebuah kehormatan besar!
Mereka akan dibayar oleh negara; bayaran mereka berasal dari anggaran untuk
bangsawan yang mereka layani.
Agaknya,
tes belum dimulai. Kikyo menebak kalau mungkin akan ada pidato atau sesuatu
terlebih dahulu sebelum tes dimulai. Mereka harus diberikan instruksi terlebih
dahulu, bukan?
Kikyo
menarik dan mengeluarkan napasnya perlahan lewat mulut. Tangannya terkepal.
Baik.
Gerbang sudah ditutup.
Kau
tidak bisa kembali lagi, Kikyo. Memanjat pun percuma; temboknya tinggi sekali. Bagian
atas tembok itu lancip dan dipenuhi dengan bendera Seiju. Penjaganya pun
bersiaga. Kau bisa mati sebelum bisa melompat ke luar.
Pura-pura
mati pun percuma. Kau tidak bisa menahan napas lebih dari semenit.
Ah,
terserahlah!! Agaknya, mau maju atau mundur, semuanya akan menghadapkan
Kikyo pada situasi yang mengerikan. Namun, kalau mundur, ancamannya jauh lebih
banyak, jadi dia memilih untuk maju saja.
Oke.
Saatnya menerima nasibmu, Kikyo. Besok-besok, rajin-rajinlah berdoa. Jangan
gulat terus. Hidupmu jadi gila begini gara-gara kau jarang berdoa.
Tatkala
sudah menatap ke depan dengan yakin, Kikyo pun mengangguk seraya berkata dalam
hati, ‘Baiklah. Maju. Aku belum mau mati hari ini. Kata anak-anak di depan
penginapan tadi, ada pangsit enak yang dijual di Pasar Cheondo. Aku harus beli
pangsit itu nanti sore.’
Kikyo
pun memulai rencana pertamanya. Dia harus mendapat relasi. Dia harus berbaur
dengan calon dayang lain agar bisa mempersiapkan diri dengan lebih baik sekaligus
tahu lebih banyak tentang Seiju. Kalau tidak mencari kelompok atau teman,
takutnya Kikyo akan ngang-ngong saja. Manusia di sini banyak sekali
dann semuanya memakai baju merah. Balairung ini jadi terlihat seperti lapangan
bunga bakung laba-laba merah yang superluas.
Kikyo
mulai mendekati perempuan-perempuan yang ada di sekitarnya. Ada tiga orang
perempuan di depan sana, yang jaraknya paling dekat dengannya. Dia harus
mendekati dan menyapa ketiga gadis itu.
Ini
saatnya mempraktekkan bahasa Seiju yang sudah dia pelajari selama dua bulan
belakangan.
Begitu
sampai di dekat ketiga gadis itu, Kikyo pun mulai membuka suara.
“Halo.
Boleh aku berbaris di dekat kalian?”
Ketiga
gadis itu pun menoleh. Ada yang rambutnya pendek dan berponi. Ada yang
rambutnya sebahu dan memakai bando kuning. Dua gadis ini rambutnya berwarna
coklat gelap, sementara gadis yang satu lagi, rambutnya panjang dan berwarna
krem.
“Oh,
haloo!!” sapa gadis yang berambut pendek. Dia langsung meraih tangan Kikyo dan
mengajak Kikyo untuk bersalaman. Senyumnya sehangat mentari. “Boleh, boleh!!
Namaku Seena!”
Mata
Kikyo melebar. Dia agak kaget. Sikap Seena ini…mengingatkannya pada Yexian.
Kikyo
lantas mengangguk dan tertawa kikuk. “Ah—haha… Terima kasih. Salam kenal,
Seena. Namaku Kikyo.”
Begitu
jabatan tangan itu terlepas, Kikyo langsung menyalami dua gadis lain.
“Namaku
Hari,” ujar gadis yang berambut sebahu begitu Kikyo bersalaman dengannya. Dia
tersenyum manis. “Salam kenal, Kikyo.”
Kikyo
tersenyum. “Salam kenal, Hari.”
Begitu
Kikyo menganjurkan tangannya ke depan gadis yang satu lagi—yang berambut
panjang—Kikyo agak heran. Ada jeda sejenak.
Tangan
Kikyo tidak dijabat.
Kikyo
memiringkan kepalanya ke sisi, lalu mulai menatap wajah gadis itu.
Ekspresi
wajah gadis itu tampak agak sinis. Dia memperhatikan Kikyo dari atas ke
bawah. Dari tatapan matanya, jelas sekali kalau dia sedang merendahkan Kikyo.
‘Astaga.
Salah sasaran, nih. Kayaknya, yang ini agak sombong,’ pikir
Kikyo. ‘Cantik-cantik kok sombong.’
Gadis
itu…agaknya merasa bahwa dia lebih ‘tinggi’ daripada yang lain. Kalau
memang merasa begitu, seharusnya dia berdiri sendiri saja. Tidak usah bergabung
dengan Seena dan Hari.
‘Dia
bergabung karena tak mau dianggap kesepian, mungkin,’ pikir
Kikyo seenak jidatnya. Dia jadi kesal.
Tanpa
membalas jabatan tangan Kikyo, dengan nada yang terdengar enggan, gadis
itu pun berbicara.
“Ruya,”
katanya.
Karena
sudah dijawab, Kikyo pun menarik tangannya kembali dan tertawa canggung.
“Ah—haha… Baiklah, Ruya. Salam kenal. Aku Kikyo.”
Ruya
hanya menyilangkan tangannya di depan dada dan membuang muka.
Waduh.
Baru saja datang ke sini, Kikyo sudah membuat seseorang…tak suka padanya. Kikyo
salah apa coba? Perasaan, sejak tadi dia hanya memperhatikan betapa megahnya
Istana Seiju (dan memikirkan beberapa peluang untuk kabur, tetapi tidak bisa).
“Kikyo
berasal dari daerah mana?” tanya Seena dengan ramah. Ia tersenyum manis, matanya
setengah tertutup seolah-olah ikut tersenyum.
Kikyo
menggaruk tengkuknya dan ikut tersenyum, tetapi masih terlihat canggung.
“Umm…aku dari Desa Saika.” (Oke, ini bohong maksimal. Penginapannyalah yang ada
di Desa Saika).
Tak
mungkin juga dia memberitahu Seena kalau dia berasal dari Hanju, ‘kan? Dia ke
sini untuk jadi mata-mata, bukan jadi mayat.
“Ohh!!”
Seena terlihat bersemangat. “Kakekku tinggal di Desa Saika! Wah, kita bisa
sering-sering bertemu, nih! Semoga kita bisa berteman baik, ya, Kikyo!”
“Hm!”
Kikyo mengangguk senang, padahal tadi jantungnya sempat hampir berhenti
berdegup saat mendengar kalau kakeknya Seena tinggal di Desa Saika. “Ayo
berteman baik, ya!”
Ya
sudahlah. Untuk masalah nanti, ya nanti saja dihadapinya. Yang penting,
sekarang dia berbaur dahulu.
“Apakah
kau mengikuti tes ini atas kemauanmu sendiri? Atau…kemauan orangtuamu?” tanya
Hari dengan ramah.
Kikyo
lagi-lagi menggaruk tengkuknya. “Ah… Orangtuaku sudah meninggal. Aku pergi ke
sini atas kemauanku sendiri.”
“Oh,
begitu!” kata Seena. “Aku juga begitu! Menjadi dayang kerajaan akan sangat
menaikkan derajat keluargaku. Aku ingin dapat banyak teman sesama dayang juga
di sini!”
Wah,
Seena sangatlah…polos.
“Pfft,
kau
ini,” ujar Hari, membuat Seena tertawa riang.
Hari
menatap Kikyo, lalu berkata, “Kalau aku, aku datang ke sini karena disuruh oleh
Ayah dan Ibuku. Aku tak mau menjadi dayang, tetapi karena bayarannya sangat tinggi…kupikir
tak ada salahnya aku mencoba.”
Kikyo
tertawa geli. “Ya ampun. Ada-ada saja.”
Kikyo
bilang begitu, padahal dia juga datang ke sini karena disuruh orang lain.
Penyebab Kikyo datang ke sini pun ada hubungannya dengan uang.
“Sebentar
lagi, sepertinya tesnya akan dimulai!” ujar Seena. “Katanya, mulainya jam sebelas,
‘kan?”
“Iya.”
Hari mengangguk. “Seharusnya…sebentar lagi seseorang akan datang ke depan sana.
Ke tangga menuju balairung itu.”
“Kok
kau tahu?” tanya Seena seraya memiringkan kepalanya. Matanya membulat polos.
Hari
mengedikkan bahu. “Aku bertanya pada gadis-gadis muda di desaku yang sudah
pernah ikut tes tahun-tahun lalu.”
“Woah!!”
Mata Seena berbinar-binar. “Itu luar biasa!!”
“Hmm,”
deham Hari. “tetapi mereka gagal.”
“Ya
jelas saja gagal,” potong Ruya tiba-tiba. “Kalau tidak gagal, apa yang
mereka lakukan di desa itu? Mereka pasti masih tinggal di istana kalau berhasil
menjadi dayang.”
“Kan
bisa saja mereka berhenti atau pensiun!” protes Seena.
Ruya
memutar bola matanya. “Kau ini bodoh atau apa? Dayang akan terus melayani sampai
mereka meninggal dunia, diusir, atau kehilangan posisi mereka saat pergantian raja
atau dinasti. Masa jabatan mereka bergantung pada masa hidup mereka atau kekuasaan
raja yang mereka layani.”
“Oooooh…”
Seena mengangguk dengan polosnya. “Begitu, ya…”
Ruya
hanya memutar bola matanya lagi. Bodoh sekali, pikirnya.
Sementara
itu, Kikyo cuma bisa tertawa canggung dan mengusap-usap punggung Seena. Dia berharap
Seena tidak marah pada Ruya, padahal saat itu, Seena terlalu fokus pada
pengetahuan yang baru saja dia dapat untuk bisa memproses ejekan Ruya.
Lagi-lagi,
Kikyo heran mengapa Seena dan Hari menerima keberadaan Ruya di sini. Energi
Ruya jauh berbeda dengan mereka. Gaya Ruya terlihat jauh lebih berkelas dan
elegan, tetapi…mukanya masam. Tatapannya sinis.
Tak
lama kemudian, terdengarlah suara yang besar dari depan sana.
“Selamat
pagi, semuanya. Selamat datang untuk para calon dayang yang akan
mengikuti tes pada hari ini.”
Mereka
berempat spontan menoleh ke asal suara. Di
depan sana, di tangga superbesar yang mengarah ke balairung, berdirilah
beberapa orang wanita. Dari pakaian mereka yang dominan berwarna hijau, Kikyo tahu
bahwa mereka semua adalah kepala dayang. Nyonya Yori telah memberitahunya
soal ini.
Tak
butuh waktu lama…sampai akhirnya semua orang mulai merunduk hormat. Kikyo, yang
melihat semua orang tiba-tiba merunduk, spontan ikut-ikutan merunduk. Oke,
Kikyo tahu bahwa dia harus merunduk hormat pada Kepala Dayang, tetapi…sekarang
pun harus merunduk, ya?!
Seluruh
gadis
yang ada di lapangan itu mulai berbicara serentak.
“Selamat
pagi, Kepala Dayang.”
Kikyo
mengikuti sapaan itu, tetapi suaranya tidak keras karena takut salah. Kalau ia
salah bicara atau telat bicara dengan suara yang keras, bisa-bisa semua
orang akan menatap ke arahnya. Dia tak mau jadi pusat perhatian; dia harus
menyatu dengan dayang lain, bukan menjadi satu spesies yang paling unik.
Astaga.
Nyonya Yori mengajarkannya segala tentang tes, tetapi tidak dengan apa
yang akan terjadi di balairung. Mungkin, mereka semua berekspektasi bahwa
Kikyo bisa mengatasi hal kecil seperti ini.
Semoga
saja tidak ada yang curiga dengan kebingungan Kikyo barusan.
Semua
calon dayang pun berdiri tegap kembali. Beberapa detik kemudian, salah satu
kepala dayang yang ada di depan sana mulai berbicara.
“Kami
berterima kasih untuk antusias dari para peserta yang datang tahun ini. Karena
jumlah peserta tes yang sangat banyak, maka para peserta akan dibagi menjadi
beberapa bagian. Setiap kelompok akan pergi ke salah satu aula istana dan
diarahkan oleh satu kepala dayang. Masing-masing kelompok akan mengikuti tes di
aula yang berbeda. Tes yang akan dilaksanakan hari ini adalah tes tata krama.
Tes ini akan dibagi menjadi beberapa sesi hingga selesai.”
Kikyo
melebarkan mata.
Baiklah.
Ini baru hari pertama dan Kikyo sudah dihadapkan dengan tes tata krama. Oh,
tentu saja! Tentu saja, ujian pertama adalah pelajaran yang paling sulit
baginya. Ini seperti Tuhan melihat misi mata-matanya dan berkata, “Mari kita
buat dia menderita sedikit.”
Tuhan,
ini sudah bukan sedikit lagi! Kikyo bisa melihat dua
penjaga gerbang surga di kepalanya, menyambutnya karena dia gagal tes!
Oke,
dia belum mati, tetapi jujur saja jiwanya sudah antre di meja pendaftaran alam
baka.
Tata
krama adalah pelajaran tersulit yang Kikyo hadapi saat belajar dengan Nyonya
Yori, jadi tak heran kalau Kikyo langsung meneguk ludahnya begitu mendengar
subjek tes hari ini.
Baiklah,
Kikyo. Terima saja. Apa boleh buat.
Hadapi
atau mati.
Kikyo
melihat kalau di depan sana mulai muncul banyak sekali kepala dayang. Para
kepala dayang itu hampir memenuhi tangga menuju ke balairung.
Para
calon dayang—gadis-gadis dengan gaun merah—pun menyahut serentak.
“Dimengerti,
Kepala Dayang!”
Kikyo
celingak-celinguk saat mendengar orang-orang di sekelilingnya menjawab itu. Dia
pura-pura membuka mulutnya saja supaya tidak dicurigai.
Setelah
itu, mereka pun mulai dibariskan dengan rapi. Para kepala dayang mulai membagi
kelompok per tiga barisan. Ada kelompok yang dibawa ke aula-aula istana bagian
barat dan ada juga yang dibawa ke aula-aula bagian timur. Kikyo dapat satu
kelompok dengan Seena, Hari, dan Ruya.
Kepala
dayang di kelompok mereka mengarahkan mereka semua ke salah satu aula yang ada
di bagian barat istana. Kikyo mengikuti seluruh instruksi dari kepala dayang
itu bersama teman-temannya…hingga akhirnya mereka di tes satu per satu.
Tes
cara berbicara yang sopan. Cara duduk. Cara berjalan yang elegan. Cara makan.
Cara memasuki ruangan keluarga kerajaan. Cara memberi hormat. Cara melayani
anggota kerajaan.
…dan
lain sebagainya.
Meski
orang yang ujian di aula itu banyak, Kikyo tahu bahwa suatu saat…gilirannya
akan sampai.
Dia
akan memulai perangnya.
******
Setelah
berbagai kesulitan yang Kikyo hadapi, ternyata Kikyo berhasil mengikuti
tes tata krama dengan baik.
Dia
tadi hampir gagal dalam beberapa bagian tes. Contohnya, saat tes makan dengan
elegan. Dia sudah belajar etika makan dari Nyonya Yori, tetapi saat makan
gelembung ikan rebus, dia hampir saja muntah. Oh, dia benci gelembung ikan
walaupun itu adalah makanan bangsawan. Untung saja, dia sudah terlatih
memalsukan ekspresinya—karena terbiasa pura-pura baik-baik saja di depan Nyonya
Yori—jadi dia masih bisa mengatasi itu walaupun sumpitnya hampir jatuh.
Saat
tes cara memasuki ruangan anggota kerajaan, dia juga hampir gagal. Nyonya Yori
mengajarkannya untuk mengetuk, menunggu, membungkuk, lalu melangkah masuk
dengan kaki kiri dan tetap menundukkan kepala saat sudah dipersilakan masuk.
Namun, dia hampir saja masuk dengan kaki yang salah. Untung saja, sebelum itu
terjadi, dia tiba-tiba ingat suara mengerikan Nyonya Yori di belakang kepalanya
yang selalu menyuruhnya untuk ‘ulang’ kalau dia salah kaki.
Saat
dites memegang cangkir teh dengan benar pun, dia hampir saja mengeluarkan suara
“Ow!” karena ternyata sangat cangkir itu sangat panas. Seharusnya cangkir tidak
akan menyalurkan panas hingga ke pegangannya, bukan? Kok cangkir yang tadi itu
agak aneh, sih? Apa para panitia tes sengaja mau membuat mereka gagal?!
Huh.
Entahlah.
Saat
tes berjalan dengan elegan pun, dia hampir saja tersandung gaunnya sendiri.
Sial.
Namun,
setelah semua kekacauan itu, untung saja dia…
…berhasil.
Dia
lolos.
Dia
terpilih untuk mengikuti tes selanjutnya esok hari.
Ternyata,
didikan Nyonya Yori berhasil meskipun muridnya adalah jelmaan gorila
tukang gulat seperti Kikyo. Tak heran Nyonya Yori dinobatkan menjadi pendidik
bangsawan terbaik.
Kikyo
bersyukur. Ternyata, nyawanya masih aman. Dia masih bisa membeli pangsit sore
ini.
Dia
selesai tes dan keluar dari gerbang istana sekitar jam lima sore.
Namun,
sebelum pulang ke penginapan, dia langsung memenuhi hasratnya sejak tadi, yaitu
membeli pangsit. Desa Saika ada di bagian timur Istana Seiju dan tidak jauh
dari desa itu, ada sebuah pasar. Pasar itu bernama Pasar Cheondo. Sama seperti
Desa Saika, Pasar Cheondo juga bersebelahan dengan Hutan Cheongdae.
Sebenarnya,
tadi pagi, saat Kikyo mencari sarapan di depan penginapan…dia bertemu dengan gerombolan
anak-anak. Mereka semua tengah memegang sebungkus pangsit di tangan mereka dan
karena pangsit itu terlihat enak, Kikyo pun bertanya di mana mereka membelinya.
Apakah itu dijual atau semacamnya.
“Iya,
Kak, kami beli di Pasar Cheondo,” jawab salah satu dari
anak-anak itu tadi pagi.
Maka
dari itu, tujuan Kikyo sore ini tak lain dan tak bukan adalah: Pasar Cheondo.
Titik.
Kikyo
naik kereta kuda (angkutan umum) dari Istana Seiju ke pasar itu. Saat sampai di
pasar itu, Kikyo tercengang. Dia kaget. Dikiranya pasar itu adalah pasar biasa.
Namun, ternyata…ia salah besar!
Pasar
itu ternyata sangat luas. Skala besar dan ramainya…sama seperti Pusat
Perniagaan Hyugana di Hanju!!!
Gila.
Ini benar-benar gila. Sore-sore begini pun…pasar ini sangat padat. Suara
dari para penjual yang bersahut-sahutan, para pembeli yang berjalan ke sana
kemari—ada yang menawar dan ada yang membeli—serta suara anak-anak yang tertawa
riang sambil berlarian.
Ini
seperti…bazar yang diadakan setahun sekali di pusat kota. Seperti ada festival
atau sesuatu!
Jantung
Kikyo jadi berdebar-debar begitu melihat pasar itu secara langsung. Hatinya
langsung gembira. Senyumnya langsung merekah. Matanya langsung berbinar-binar.
Oke.
Waktunya bersenang-senaaaaang!!!
Ini
sempurna. Setelah pusing karena tes, akhirnya dia diberi hadiah berupa berbelanja
di pasar yang terlihat seronok ini!!
Kikyo
bisa melihat buah-buahan segar, kue-kue enak, dan daging-daging yang
menggiurkan di depan sana. Dia juga bisa mencium aroma manis roti dan kopi dari
sini.
Sial,
perut Kikyo jadi lapar. Agaknya, dia tidak cuma akan membeli pangsit
saja, nih. Haha.
Dalam
hitungan ketiga, Kikyo langsung berjalan cepat memasuki area pasar itu.
Serbuuuu!!!!
Kikyo
pun berlari kecil melewati kerumunan. Matanya berkilat seperti anak kecil yang
baru dilepas di toko mainan.
“Pangsit…pangsit…”
bisiknya, matanya berkelana mencari stand pangsit. Suara-suara penjual
bersahutan di sebelah kiri dan kanannya.
“Buah
segar dari utara!”
“Kain
sutra! Diskon sampai matahari tenggelam!”
“Roti
madu hangat!!”
“Aksesoris
wanita! Biasa dipakai wanita bangsawan!”
“Daging
bebek panggang!”
“Sayuran
murah!!”
Oh.
Banyak sekali hal yang dijual di sana. Namun, Kikyo tak begitu fokus
mendengarkan semua itu. Satu-satunya hal yang menarik perhatian Kikyo adalah bau
pangsit rebus yang tiba-tiba tercium dari salah satu sudut pasar.
Mata
Kikyo langsung membulat.
‘ITU
DIA!’ teriak Kikyo dalam hati.
Tanpa
pikir panjang, Kikyo langsung berlari kecil ke sumber aroma itu. Dia hampir
menabrak ibu-ibu yang sedang membawa keranjang.
“Maaf,
Bu! Maaf!” ucapnya. Ibu itu hanya tersenyum dan mengangguk.
Akhirnya,
dia berhenti di depan sebuah gerobak sederhana dengan papan kayu bertuliskan ‘Pangsit
Nenek Ping — Hangat dan Kenyal.’
Di
balik gerobak itu, berdirilah seorang nenek yang ekspresi wajahnya sangat
ramah. Nenek itu menatap Kikyo yang sedang tersenyum semringah.
“Mau
beli pangsit, Nak?” tanya nenek itu dengan lembut.
Kikyo
mengangguk cepat. Dia gembira sekali. “Uh-hm!! Saya mau beli, Bu.”
Nenek
itu langsung membuka panci besar berisi pangsit yang masih beruap. Aromanya membuat
Kikyo nyaris mengeluarkan air liur. Matanya seperti berbintang-bintang saat
melihat pangsit itu. Ini adalah pangsit yang anak-anak itu beli tadi pagi! Pas
sekali.
Nenek
itu tersenyum pada Kikyo. “Seporsi isinya enam. Mau beli berapa porsi, Nak?”
Kikyo
menjawab tanpa menatap sang nenek karena dia sibuk menatap pangsit-pangsit itu.
“Mau dua porsi, Bu.”
“Yang
rebus atau goreng?”
Kikyo
tepekur. Oh, sial. Ini adalah pilihan yang berat.
“…satu
porsi yang rebus, satu porsi yang goreng,” jawab Kikyo pada akhirnya. Dia mau
mencoba semuanya; dia tak mau memilih salah satunya.
Nenek
Ping tertawa kecil. “Baiklah. Tunggu sebentar, ya.”
Kikyo
mengangguk cepat. Ekspresinya riang sekali. “Okeee, Bu!”
Sang
nenek mulai menyiapkan pesanan Kikyo. Kikyo menatap pangsit-pangsit yang baru
diangkat dari panci itu; mereka mengeluarkan uap dengan aroma daging yang
menggoda. Sang nenek menyiapkan seporsi yang rebus, lalu menggoreng satu porsi
lagi.
“Ini,”
ujar sang nenek begitu pesanan Kikyo selesai. Kikyo pun menerima
pangsit-pangsit itu, lalu menanyakan harganya kepada sang nenek. Setelah
membayar, Kikyo pun berpamitan.
Kikyo
berjalan di kerumunan pasar itu sambil menggigit pangsit rebusnya. Dia menari
kecil saat mengunyah pangsit itu; dia terlihat bahagia karena sedang makan
enak.
“Hmmm!!”
dehamnya saat menelan suapan pertama. Dia memegang pipinya sendiri, memejamkan
matanya, dan wajahnya berbinar-binar. Dia menjinjing bungkusan pangsit itu
dengan riang.
Setelah
membeli pangsit, Kikyo mampir ke beberapa stand. Dia membeli
buah-buahan, roti, satai daging, dan berbagai makanan lainnya. Dia diberi
banyak uang dari Hanju, setidaknya dia mau sedikit menikmati uang itu untuk
bersenang-senang di pasar hari ini.
Dia
stres sekali, soalnya.
Saat
langit mulai agak gelap, ada sebuah barang di stand sebelah kanan
yang menarik perhatiannya. Kikyo agak tersadar dari euforianya barusan (karena
menyerbu makanan) dan matanya sedikit melebar. Dia pun mendekati stand itu
dan berdiri tepat di depan barang yang dimaksud.
Itu
adalah sebuah jam kecil.
Bukan,
bukan jam tangan. Itu adalah jenis jam yang digenggam seperti kompas. Jam itu
berwarna cokelat. Minimalis dan elegan. Ada sebuah kain satin merah bermotif
angsa yang melekat di jam itu, seperti kain yang berfungsi untuk gantungannya.
Sang
penjual masih sibuk melayani pembeli yang lain sehingga belum berbicara pada
Kikyo. Akan tetapi, ketika Kikyo masih memandang dan memegang jam itu di
telapak tangannya, tiba-tiba dia mendengar sebuah suara dari sebelah kiri.
“Oh,
yang
itu terlihat bagus.”
Kikyo
spontan menoleh ke asal suara. Di sana, di sebelahnya, ia melihat
seorang pria. Pria itu memakai kimono berwarna hijau tua—hijaunya sangat
gelap—dan sebuah topi caping yang terbuat dari jerami. Di pinggang kanan pria
itu tergantung sebuah pedang. Pria itu terlihat seperti berusia tiga puluhan,
tetapi…
…wajahnya
tampan.
Rambutnya
berwarna putih. Ada beberapa tindik di telinganya. Dia menggenggam sebuah
tongkat kayu kecil berwarna hitam yang Kikyo tidak yakin itu adalah kayu biasa
atau sebuah kipas lipat. Ada sebuah kawat yang melingkar di bagian atas tongkat
itu. Seolah-olah tongkat itu pernah hampir patah dan direkatkan kembali dengan
kawat.
Mata
pemuda itu berwarna abu-abu. Namun, sebelah matanya hampir tertutup karena
poninya yang cukup panjang. Dia tidak gondrong, tetapi poninya cukup panjang
hingga menutupi dahi.
Mata
Kikyo melebar. Dia sempat diam karena terdistraksi dengan rupa pria itu,
tetapi tiga detik kemudian, dia berusaha untuk menyadarkan dirinya kembali.
“A—Ah,
iya,” jawab Kikyo dengan gagap.
Pria
itu sedikit memajukan tubuhnya ke arah Kikyo untuk melihat jam itu lebih jelas.
Dia pun mengangguk. “Hm. Ini terlihat bagus untuk dibawa ke mana-mana.”
Kikyo
melihat jam itu kembali, lalu mengangguk. “Benar.”
“Kau
mau membelinya, Nona?” tanya pria itu seraya menatap Kikyo.
Kikyo
menoleh kepada pria itu, merasa agak kaget. “E—Eh? Anda mau membelinya juga,
Tuan?”
Pria
itu tertawa kecil. “Kaulah yang memegang jam itu lebih dahulu. Lagi pula, itu
terlihat cocok untukmu.”
Kikyo
tertawa, tetapi masih canggung. Akhirnya, dia pun mengangguk. “Baiklah.”
Setelah
membeli jam kecil itu, Kikyo pun berpamitan pada sang pria. Namun, pria itu
menggeleng. “Kau mau pergi ke arah mana, Nona?”
“Oh,
um…” Mata Kikyo melebar. Kikyo lalu menunjuk ke sebelah kanan, tempat di mana
Kikyo masuk sebelumnya. “Aku mau pergi ke arah sana, Tuan.”
Jika
Kikyo masuk dari sana, Kikyo pun akan keluar dari sana. Dia berencana untuk
pulang setelah ini karena hari sudah mulai gelap. Dia harus kembali ke
penginapan.
“Oke.
Aku juga mau pergi ke arah sana,” ujar pria itu seraya tersenyum. “Ayo jalan
bersama saja.”
Tanpa
curiga sedikit pun—meski canggungnya setengah mati—Kikyo pelan-pelan
mengangguk. “Baiklah.”
Akhirnya,
mereka mulai berjalan bersama. Langkah mereka santai; mereka berjalan lurus
melewati kerumunan tanpa ada kendala yang berarti.
Karena
Kikyo pada dasarnya bukan orang yang tahan dengan kecanggungan atau ‘diam-diaman’,
dia pun mencoba untuk memulai pembicaraan.
“Anda
berasal dari daerah sini, Tuan?” tanya Kikyo.
Pria
itu tersenyum. “Tidak usah panggil aku Tuan. Aku Ren. Panggil aku Ren saja.”
“…Ren?”
tanya Kikyo. Gadis itu sedikit memiringkan kepalanya.
“Hm.”
Ren mengangguk. “Ren saja. Siapa namamu?”
“Namaku
Kikyo,” jawab Kikyo. “Apakah tidak apa-apa memanggil Anda dengan ‘Ren’ saja?”
Yah,
siapa tahu, kan, pria itu merupakan bangsawan atau sesuatu.
“Tidak
apa-apa,” jawab Ren. “Aku bukan orang penting.”
Mulut
Kikyo membentuk ‘o’, lalu gadis itu mengangguk-angguk. “Baiklah.”
“Aku
tidak tinggal di daerah sini. Aku hanya mampir sebentar ke pasar ini mumpung
melewatinya,” jawab Ren kemudian. “Bagaimana denganmu?”
“O—Oh…”
Kikyo menatap Ren dengan mata yang masih melebar. Tak ia sangka bahwa ia akan
mendapat seorang kenalan laki-laki secepat ini. “Aku dari tempat lain
juga. Aku menginap di Desa Saika untuk mengikuti tes menjadi dayang di Istana
Seiju.”
Jangan
tanyakan mengapa. Kikyo juga tak tahu mengapa dia memberitahu soal ‘ia berasal
dari tempat lain dan menginap di Desa Saika’ pada Ren.
Ada
sesuatu di sosok Ren yang membuat Kikyo berpikir kalau…Ren itu aman.
Ren
seperti…seseorang yang entah berasal dari mana…yang tidak peduli dengan drama
kerajaan. Insting Kikyo mengatakan demikian. Kikyo memang tidak memberitahu Ren
secara detail, tetapi dia merasa cukup ‘aman’ untuk bilang bahwa dia bukan
penduduk Desa Saika.
“Oh,
begitu, ya…” Ren tersenyum seraya mengangguk. “Jadi, kau menyewa kamar untuk
tempat tinggalmu selama periode tes berlangsung?”
“Iya,”
jawab Kikyo. Dia tersenyum pada Ren.
“Tes
menjadi dayang, ya…” ujar Ren. Pria itu tampak berpikir sejenak, lalu
kembali tersenyum. “Mereka terus-menerus berkembang, ya. Sampai-sampai
mengadakan tes setiap tahun.”
Ah.
Jadi, Ren cukup tahu soal itu.
Kikyo
hanya tertawa canggung. “Haha… Ya…begitulah. Ini kali pertamaku
mengikuti tesnya.”
“Mengapa
kau ingin menjadi dayang?” tanya Ren. Pria itu menatap Kikyo seraya memiringkan
kepalanya.
Waduh.
Pertanyaan ini bagaikan tes kebohongan. Kikyo harus berakting dengan baik.
“Aku
butuh penghasilan yang agak banyak, haha…” Kikyo menggaruk tengkuknya; dia hampir
berkeringat dingin.
Ren
tersenyum. “Begitu, ya.”
Tak
lama kemudian, mereka berdua pun sampai di depan pasar. Di sana, banyak sekali
kereta kuda yang sedang menunggu penumpang.
Langit
sudah berwarna keunguan, hampir gelap. Bulan sabit sudah mulai terlihat di atas
sana. Di sini, Kikyo pun berdiri berhadapan dengan Ren yang wajahnya tak terlihat
begitu jelas lagi akibat suasana yang mulai gelap. Lampu-lampu di pasar itu belum
dihidupkan.
Kikyo
pun mulai berpamitan kepada Ren.
“Aku
pulang dulu, ya,” ujarnya.
Ren
mengangguk. Pria itu tersenyum simpul, lalu berkata, “Hm. Hati-hati, ya. Hari
sudah gelap.”
Kikyo
memiringkan kepalanya. “Apakah kau juga mau pulang?”
“Hm.”
Ren mengangguk lagi. “Aku juga harus pulang setelah ini.”
“Baiklah,”
ujar Kikyo. Gadis itu tersenyum, lalu mulai memanggil seorang kusir kereta
kuda. Dia mau memesan kereta kuda itu untuk pulang ke penginapannya.
Saat
kereta kuda itu telah sampai di depannya, ia pun mulai berjalan mendekati
kereta kuda itu. Namun, sebelum menaiki tangga kecil di dekat pintu kereta, tiba-tiba
ia berbalik.
Ia
ingin memberikan salam kepada Ren. Kata ‘sampai jumpa’ atau sebuah pamit yang
sopan sebelum ia benar-benar naik kereta.
Akan
tetapi, begitu ia berbalik untuk melihat Ren…
…ada
embusan angin dari sebelah barat yang menerbangkan helaian rambutnya. Menggerakkan
gaun yang ia pakai…serta kimono hijau tua Ren. Akan tetapi, anehnya…topi caping
Ren tetap berada di tempatnya. Hanya rambut Renlah yang terembus angin…hingga angin
itu berhasil menyingkap kedua bola mata abu-abu milik Ren.
Di
bawah langit yang hampir gelap itu, bola mata Ren tampak berkilat. Cahaya
bulan sabit—yang sebenarnya belum terang itu—seolah-olah memantul di kedua
matanya.
Pelan-pelan,
Ren pun tersenyum simpul. Mata pria itu menatap Kikyo dengan lekat meskipun
ekspresinya terlihat santai.
“Kau
sedang mengikuti tes untuk menjadi dayang, ‘kan? Semoga beruntung, ya,”
ujar Ren. Suaranya terdengar dengan sangat jelas di telinga Kikyo.
Berat, dewasa, dan begitu rileks. “Sama seperti namanya, raja
yang akan kalian layani itu terlihat licin seperti ular, tetapi mampu
menyemburkan api.” []


This is what Ruya kinda looks like (ignore the clothes, ok).

Ren
This is Forbidden City's Hall of Supreme Harmony. Kerajaan Seiju nggak exactly kayak gini, tapi aku kasih foto ini biar bisa kebayang luas lapangannya.


