Sunday, February 22, 2026

Black Trick (Chapter 5: Kane Houston)

 


******

Chapter 5 :

Kane Houston

 

******

 

PEMAKAMAN Austin dan Castro dilaksanakan di hari yang sama, yaitu tiga hari setelah Castro kecelakaan mobil. Mereka berdua dimakamkan di Cloverdale, salah satu kota di Kabupaten Sonoma, karena keduanya berasal dari kota yang sama.

Banyak sekali orang yang menghadiri acara pemakaman itu, terutama dari asosiasi renang. Ada pengamanan polisi di sekitar pemakaman untuk mengantisipasi kematian selanjutnya. Keenam sisa peserta (yang ikut ke vila milik Keith), Dokter Gray, dan Pelatih Andrew pun tentunya menghadiri prosesi pemakaman itu. Berita soal kematian Bryant, Lucas, Austin, dan Castro sudah menyebar luas di Kabupaten Sonoma, bahkan sampai ke kabupaten-kabupaten lain. Berbagai baliho muncul di jalanan, berbagai karangan bunga dikirimkan, semuanya berisi belasungkawa terhadap Austin dan Castro. Semua baliho dan karangan bunga itu ada yang ditujukan kepada keluarga para almarhum… dan ada juga yang diberikan kepada Team Sonoma.

Group chat renang yang mereka ikuti, status-status anggota tim renang lain, posting-an di sosial media, semuanya diramaikan dengan ucapan turut berduka cita. Kejadian ini juga masuk berita, di televisi dan di koran. Mereka adalah atlet-atlet yang masih muda, tetapi malah meninggal satu per satu secara beruntun dalam waktu kurang dari satu minggu. Di group chat, asosiasi renang California telah memberikan keputusan berupa:

Dengan berat hati, mereka akan mencari pengganti untuk kesepuluh orang yang ikut ke Healdsburg, termasuk Pelatih Andrew, karena suasananya masih sangat kacau, penuh duka, dan tidak aman.

Berita ini juga telah diberitahukan kepada Pelatih Andrew melalui panggilan telepon.

Berita ini membuat orang-orang yang tersisa (enam peserta yang masih hidup) sangat frustrasi. Mengikuti turnamen ini adalah mimpi mereka; selama ini, mereka sangat menantikan turnamen tersebut dan sangat ambisius untuk menang. Semua harapan itu pupus seketika, tak bersisa. Runtunan peristiwa ini sukses mengosongkan jiwa mereka, membunuh mereka dari dalam sebagai perenang yang sungguh-sungguh mencintai renang. Namun, tak ada yang bisa membantah keputusan dari asosiasi karena itu adalah yang terbaik. Faktanya, situasi memang masih tidak aman (bisa jadi mereka adalah korban selanjutnya) dan di saat yang sama, mereka juga masih dicurigai oleh polisi. Orang-orang yang mendengar kasus ini pasti berpikir bahwa salah satu dari merekalah yang ‘bertanggung jawab’ dalam semua kematian beruntun ini. Jadi, mereka masih akan terus diawasi oleh polisi… dan diinterogasi secara berkala.

Bayangkan betapa beratnya suasana duka di pemakaman Austin dan Castro saat ini. Pertama: keenam orang itu sedang menghadiri pemakaman dua teman mereka sekaligus (dan jangan lupakan bahwa mereka juga sudah kehilangan Bryant dan Lucas sebelumnya). Kedua: mereka telah kehilangan harapan untuk mengikuti turnamen renang nasional. Kehilangan ‘panggung’ mereka sebagai atlet di tahun ini. Ketiga: mereka akan sering berurusan dengan polisi.  Keempat: ada rasa takut luar biasa yang terus menghantui mereka. Rasa takut bahwa mungkin saja… semua runtunan kematian ini belum selesai. Bisa jadi, mereka juga akan mati. Meskipun semuanya terlihat seperti ‘bunuh diri’ atau ‘kecelakaan’, apakah logis semuanya bisa terjadi secara beruntun seperti ini?

Mental mereka benar-benar hancur. Mereka semua menghadiri pemakaman itu dengan lelah, ekspresi mereka sebagian tampak sendu dan sebagian lagi kosong seolah-olah tak ada motivasi hidup. Chris bahkan sampai menangis. Walaupun akan ada turnamen lagi di masa depan, belum tentu mereka terpilih lagi. Sebenarnya, ini adalah kesempatan emas yang bisa jadi batu loncatan untuk karir mereka sebagai atlet renang.

Waktu itu, saat mendengar berita bahwa Castro kecelakaan dan mobilnya menabrak pohon, Detektif Jace langsung memerintahkan mereka semua untuk pulang. Mereka pulang tidak sendirian, melainkan dikawal oleh polisi dari vila langsung menuju ke rumah masing-masing. Detektif Jace memerintahkan agar semua mobil, perlengkapan renang, ponsel, dan koper mereka tetap berada di vila untuk diperiksa (karena beliau ingin mencari residu sianida yang dipakai Austin atau bukti sabotase mobil Castro. Mereka juga sebenarnya tak boleh menyentuh barang-barang itu karena dianggap sebagai bagian dari TKP/area investigasi). Jadi, mereka pulang hanya dengan pakaian yang melekat di badan. Mereka pulang dalam keadaan trauma, kehilangan teman, dan tanpa barang pribadi.

Setelah mobil polisi yang mengantar para atlet itu pergi meninggalkan vila, jenazah Austin dan Castro pun dibawa ke kantor koroner Healdsburg. Lokasi kecelakaan Castro juga langsung ditutup total. Jenazah keduanya dibawa untuk autopsi fisik dan pengambilan sampel toksikologi.

Selama tiga hari itu, sudah banyak hal yang terjadi. Dari sisi polisi, mereka memeriksa sidik jari pada bungkus sianida yang ada di kantung celana Austin dan di tempat sampah. Mereka juga memeriksa konsentrasi sianida dalam tubuh Austin dan mencocokkannya dengan sisa minuman di teko serta bungkus yang ditemukan di kantung celananya. Selain ponsel semua orang yang masih hidup, ponsel Bryant, Lucas, Austin, dan Castro juga disita untuk melihat riwayat pesan atau telepon terakhir. Mereka perlu tahu juga dari mana Austin mendapatkan sianida tersebut.

Untuk Castro, tim mekanik kepolisian akan memeriksa rem, kemudi, dan ban mobil Castro untuk melihat apakah ada sabotase sengaja yang menyebabkannya menabrak pohon. Hasil autopsi fisik juga dilakukan untuk memastikan Castro meninggal murni karena benturan (trauma tumpul) atau ada penyebab lain sebelum kecelakaan terjadi (misalnya, apakah dia juga sempat ‘menelan’ sesuatu saat menyetir). Mereka juga menggeledah barang-barang Castro di mobil untuk mencari petunjuk tambahan.

Jace sudah memegang profil lengkap semua orang yang ikut ke vila Keith, termasuk catatan kriminal atau masalah pribadi di antara mereka (ini didapatkan atas koordinasi dengan polisi dari kota tempat masing-masing peserta tinggal, agar ditanyai dari sana saja), sebab Jace masih harus berada di Healdsburg untuk menginvestigasi TKP. Karena tidak ada CCTV, Jace dan para polisi di sana melakukan penggeledahan menyeluruh di seluruh sudut vila Saunders untuk mencari sisa racun, tali, atau barang bukti lain yang mungkin disembunyikan pelaku di kamar-kamar peserta.

Karena penyebab kematian Austin adalah racun (sianida), autopsi dilakukan dengan cepat untuk mengambil sampel toksikologi. Di California, setelah sampel diambil, jenazah bisa langsung dilepaskan ke keluarga. Karena keluarga Austin (orangtuanya) sudah ada di lokasi Healdsburg waktu itu, proses birokrasinya jadi lebih cepat. Selain itu, kematian akibat kecelakaan lalu lintas traumatis (kematian Castro) juga biasanya lebih cepat ditangani. Karena dia meninggal di tempat dengan luka fisik yang jelas, koroner hanya perlu memastikan tidak ada zat asing di tubuhnya (alkohol/narkoba/zat tertentu). Setelah semua sampel diambil (darah, jaringan tubuh), jenazah pun dilepaskan ke rumah duka (funeral home) atas izin Jace.

Sayangnya, Jace baru ‘ditugaskan’ memegang kasus ini sejak kematian Austin. Waktu kematian pertama (Bryant), Mr. Benjaminlah yang memegang kasus ini, dan kasus itu ditetapkan sebagai kecelakaan. Lucas juga kematiannya tidak dilaporkan ke kepolisian, jadi sebenarnya Jace cukup kesal, sampai-sampai dia menekan kantor koroner untuk bekerja cepat pada Austin dan Castro. Soalnya, dia merasa seperti ada ‘lubang hitam’ di dalam penyelidikannya. Dia tak bisa membongkar kuburan Bryant atau Lucas karena proses ekshumasi (pembongkaran makam) memerlukan perintah pengadilan yang sangat kuat. Jace harus membuktikan kepada hakim bahwa ada kesalahan fatal dalam autopsi sebelumnya atau ada bukti baru yang sangat telak. Lagi pula, mengurus surat perintah ekshumasi biasanya memakan waktu berminggu-minggu.

Sepulangnya keenam peserta yang tersisa (serta Dokter Gray dan Pelatih Andrew) dari pemakaman itu, mereka semua langsung dikawal untuk pergi ke kantor polisi. Jace sudah datang ke Cloverdale (berkoordinasi dengan polisi di sana) untuk melakukan penyelidikan di kantor polisi Cloverdale. Jace akan menanyai mereka satu per satu di dalam ruangan yang tertutup.

Untungnya, mereka semua kooperatif. Mereka datang ke kantor polisi dan menunggu giliran mereka untuk ditanyai. Lagi pula, apa yang bisa mereka lakukan? Walau lelah begitu, mereka sudah tahu bahwa situasi seperti inilah yang akan mereka hadapi.

Sesampainya di kantor polisi Cloverdale, orang pertama yang dipanggil masuk ke ruangan adalah Keith, anak sang pemilik vila.

Keith masuk ke ruang interogasi itu dengan wajah yang pucat. Ada kantung hitam di bawah matanya, matanya juga bengkak dan merah. Dia seperti kurang tidur berhari-hari… dan menangis terus-menerus.

Meskipun di pemakaman tadi dia tidak menangis… dialah yang terlihat paling memilukan di dalam diamnya. Dia diam, menunduk, matanya kosong, dan wajahnya pucat. Bagaimana tidak? Ada empat temannya yang meninggal di vila milik keluarganya. Dia merasa bersalah setengah mati, tetapi di sisi lain juga bingung mengapa ini semua terjadi.

Hal pertama yang Keith lihat tatkala memasuki ruangan itu adalah Jace yang sedang duduk di balik sebuah meja panjang. Ruangan itu tidak terlalu besar. Dindingnya berwarna hitam. Posisi meja itu ada di ujung ruangan. Jace menatap Keith dengan saksama; matanya memenjarakan Keith dari ujung sana. Di hadapannya, ada sedikit tumpukan berkas yang rapi serta sebuah pena.

 

“Selamat siang, Mr. Saunders.”

 

Sapaan singkat dari Jace itu terdengar seperti dentang lonceng kematian di telinga Keith. Suaranya rendah, tetapi tajam dan bergema di ruangan yang sempit itu. Membelah kesunyian. Suara itu membuat Keith tersentak kecil, seolah-olah baru saja ditarik paksa dari kekosongan pikirannya sendiri.

Keith akhirnya mencoba untuk fokus… meskipun harus memaksa dirinya sendiri. Dia pun mengangguk.

“Yes, Mr. Corbin.”

Keith berjalan mendekati meja itu. Di sepanjang jalan, Jace tidak berhenti memperhatikannya.

Begitu Keith duduk di hadapannya, Jace pun membuka suara lagi, “I apologize for making you all come here so soon after the funeral.”

Keith mengangguk mengerti. “It’s fine, Mr. Corbin. I understand.”

Jace mengangguk pelan. “Ini takkan lama karena kalian juga telah banyak diinterogasi oleh polisi Cloverdale. Data itu sudah ada di tanganku. Semua kronologi kejadian dan bukti yang sudah kudapat saat ini akan menjadi dasar pertanyaan-pertanyaanku. Bisa kita mulai?”

“Ya,” ujar Keith. “Silakan dimulai, Pak.”

Jace mulai membuka berkas yang ada di hadapannya, halaman pertama.

“I'm going to call you Keith from now on. I hope you don't mind,” ujar Jace.

“Yes. No problem,” jawab Keith.

Jace mengangguk.

Dua detik kemudian, pria itu mulai membicarakan sesuatu.

“Omong-omong, aku telah mengonfirmasi bahwa sianida yang ditemukan di teko, tempat sampah, dan kantung celana Austin itu… identik.”

Keith menunduk. Mendengar nama Austin… membuatnya kembali sedih dan merasa bersalah. Napasnya tersekat di tenggorokan. Rasanya, dia ingin menebus semua kematian itu dengan nyawanya sendiri. Andai waktu bisa diulang, dia takkan menawarkan vilanya kepada mereka semua.

Austin adalah teman terdekatnya. Sahabatnya. Namun, Austin mati di vilanya…

Keith benar-benar terpukul.

Jika sianida yang ditemukan itu identik… berarti sianida itu jugalah yang membunuh Austin.

Jace mulai bertanya, “Kau adalah orang terakhir yang melihat Austin packing. Sianida itu ditemukan di kantung celana yang dia pakai. Saat dia packing, apakah kau melihat dia mengambil sesuatu dari laci atau tempat lainnya sebelum ke dapur? Karena bungkus sianida itu tidak berkerut sama sekali, seolah-olah baru diletakkan di sana setelah dia meninggal, bukan saat dia sibuk packing dan bergerak."

Keith langsung menatap Jace. Matanya melebar sempurna. “W—What…?! A—Apa maksud Anda…?!”

“Sianida itu kemungkinan baru ditaruh di kantung celananya,” jelas Jace.

Wajah Keith semakin pucat. Dia menggeleng tak percaya. “N—No way… Bagaimana mungkin?"

Jace mengangguk. “Aku masih menyelidikinya. Apakah kau melihat dia mengambil sesuatu sebelum ke dapur?”

“Tidak…” Keith menggeleng. “Kami sedang mengobrol sebelum dia pergi ke dapur. Dia tidak mengambil apa pun.”

“Baiklah…” Jace mencatat kesaksian itu seraya melihat apa yang ada di filenya selanjutnya. “Kau bilang, dia sangat menyesali keputusannya saat itu, yang membuat Lucas meninggal dunia. Ini terlihat seperti dia memang sangat terpukul sebelum akhirnya memutuskan untuk meminum racun. Apakah menurutmu dia adalah jenis orang yang mudah menyerah seperti ini?”

“Tidak. Dia bahkan sangat mengotot untuk tetap latihan di villa walaupun Bryant meninggal di kolam renang, walaupun kejadian itu membuat kami semua shock. Dia sangat ambisius. Ya, dia memang sedang terpukul saat itu, tetapi tak mungkin dia meminum racun dengan sengaja,” jawab Keith sambil menggeleng.

“Sepuluh menit. Itu waktu yang lama hanya untuk minum air. Kudengar, kau baru menyusulnya setelah sepuluh menit. Selama sepuluh menit itu, koridor lantai dua sangat sepi, ‘kan? Apakah kau mendengar suara pintu lain terbuka? Atau suara langkah kaki yang terburu-buru? Karena seseorang harus memasukkan bungkus utuh itu ke saku Austin setelah dia tumbang.”

Keith kembali menggeleng. “Tidak… aku tidak mendengarnya. Dapur ada di lantai satu. Kalau ada orang dari lantai dua yang naik turun untuk meletakkan racun itu di saku Austin, lalu membuka dan menutup pintu, mungkin aku akan mendengarnya. Namun, kalau dia hanya melangkah atau membuka dan menutup pintu di lantai satu, aku takkan bisa mendengar apa pun, kecuali kalau dia membanting pintu itu.”

“Apakah Austin memakai sarung tangan saat kau melihatnya packing? Atau mungkin… dia membawa sarung tangan? Soalnya, ada keanehan. Bagaimana seseorang bisa mengambil bungkus racun dari sakunya, menuangkannya, tetapi tidak meninggalkan sidik jari pada bungkus itu? Apakah Austin memakai sarung tangan saat kamu melihatnya packing?"

“Tidak, sir,” jawab Keith. “Aku tak tahu dia membawa sarung tangan atau tidak, tetapi aku ingat bahwa saat packing, dia tidak memakai sarung tangan.”

“Okay—”

“But, Mr. Corbin,” potong Keith. Matanya melebar. Suaranya sedikit bergetar. “Dari semua yang Anda katakan, sepertinya ini… kasus pembunuhan, ya? Berarti, salah satu dari kami adalah—”

Jace begitu tenang, tetapi juga begitu serius saat mengatakan, “Ya. Kemungkinan besar begitu. Namun, aku belum punya bukti kuat soal siapa yang melakukannya.”

Keith spontan menunduk dan mengusap rambutnya ke belakang dengan frustrasi. “Oh, Tuhan… Bagaimana mungkin ini bisa terjadi…?”

“Maka dari itu, kita harus selidiki ini, Keith,” ujar Jace. “Aku telah memeriksa ponsel Austin dan dia tak pernah membeli racun ini secara online atau melalui siapa pun. Kalau dia memang bunuh diri, berarti dia membeli racun itu secara langsung, tanpa membuat janji sama sekali dengan sang penjual.”

Keith masih menunduk.

“Sekarang, aku ingin bertanya padamu soal kematian lainnya,” ujar Jace. Pelan-pelan, Keith pun mulai menatapnya kembali.

Tanpa menunggu Keith mengiyakan, Jace lantas bertanya, “Ini soal Bryant Thompson. Kaulah yang mematikan lampu dan mengunci pintu kolam malam itu. Akan tetapi, Chris menemukan pintu itu sedikit terbuka dan lampunya menyala. Apakah kau yakin tak ada kunci cadangan yang disimpan di area publik vila yang bisa diakses siapa pun? Atau apakah pintu kolam itu sebenarnya rusak dan bisa dibuka dari luar tanpa kunci?"

Mata Keith membulat. Napasnya tertahan.

 

Astaga. Benar juga.

Dia baru sadar ini!

Mengapa Bryant bisa masuk ke sana malam itu???!

Mengapa dia tak ingat? Apakah karena terlalu shock saat itu?!!

 

Keith terdiam, mematung total selama lima detik.

 

“Keith?” Jace memiringkan kepala, alisnya menyatu.

Keith masih diam.

Jace semakin heran. “Keith…?”

 

“…benar…” bisik Keith.

 

Kening Jace berkerut. “What?”

“Benar…” ucap Keith dengan lirih. Dia seperti dihantam oleh kesadarannya sendiri yang sepertinya hilang beberapa hari terakhir. “Aku… aku telah mengunci pintu itu. Mengapa…?”

“…Apakah kau punya kunci cadangan?” tanya Jace.

Tiba-tiba saja, Keith mengangguk cepat. Dia seperti jadi panik. Seperti tersambar petir di siang bolong. “Ya! Aku punya kuncinya—astaga—aku punya kunci cadangan seluruh ruangan! Oh, Tuhan—bagaimana ini—astaga!! Aku—apakah seseorang mengambil kunci itu?!! Ya Tuhan, jadi—”

Jace memegang bahu Keith. “Keith, calm down. Di mana kau meletakkan kunci itu? Karena aku serta tim kepolisian lainnya tak bisa menemukan kunci itu saat kami menginvestigasi TKP beberapa hari terakhir.”

“Astaga…” Keith mengusap wajahnya dengan frustrasi. “Aku memang tidak mengecek kunci itu… Aku ingat bahwa aku selalu meletakkannya di laci nakas kamarku, tetapi aku tak pernah mengeceknya waktu itu karena terlalu sibuk memikirkan kematian-kematian yang terjadi.”

Jace mengangguk. “Kami sudah memeriksa nakas di kamarmu. Tidak ada kunci itu. Berarti, memang ada yang mengambilnya.”

Keith memijit keningnya. Dia hampir gila memikirkan ini semua.

“Sekarang… kita pindah ke Lucas Anguiano,” ujar Jace.

Begitu nama Lucas disebut, terlintas di otak Keith bagaimana keadaan Lucas waktu itu. Lucas tergantung… di kamar mandi. Keith adalah salah satu orang yang membantu menurunkan tubuh Lucas. Ingatan itu membuat hatinya teriris.

Jace pun mulai bertanya.

“Kau membantu menurunkan jenazah Lucas. Sebagai atlet, kemungkinan besar kau tahu bobot tubuh temanmu. Apakah saat kau menopang tubuhnya, lehernya terasa sudah kaku atau masih lemas? Aku perlu tahu apakah dia baru saja 'naik' ke tali itu tepat sebelum kau masuk.”

Keith lagi-lagi membulatkan mata. Ada lembing yang seolah-olah menohok jantungnya.

“Sir—”

“Aku tahu ini terdengar kejam, Keith,” ujar Jace. “Namun, aku perlu tahu. Aku akan mencocokkan keteranganmu dengan keterangan teman-temanmu.”

“Aku… seingatku… lehernya belum kaku. Sewaktu kuangkat… lehernya… lunglai…” Ingatan itu membuat Keith merasa pedih di hatinya. Kepalanya sakit. Itu adalah memori yang tak mau dia ingat lagi, sebenarnya. Menyaksikan kematian bertubi-tubi seperti ini jelas membuat mentalnya terganggu.

“Baiklah.” Jace mengangguk. “Sekarang, soal Castro. Tim forensik kepolisian kami menemukan bahwa kabel rem mobil Castro sengaja dirusak dengan alat pemotong. Potongannya sangat bersih. Presisi.”

Lagi-lagi, jantung Keith serasa berhenti berdetak.

 

Apa?

Rem?

Sengaja dirusak?!

Siapa…?

Siapa yang merusaknya?!

Kapan?!

 

“Seseorang… menyabotase mobilnya?” tanya Keith. Dia sudah pucat, tetapi gilanya, sekarang seperti tak ada darah lagi yang mengalir di wajahnya. “Remnya dirusak…?”

“Yes,” jawab Jace. “Potongannya sangat presisi hingga sulit disadari. Namun, itu memang dirusak. Butuh keahlian dan ketelitian yang tinggi untuk melakukan itu, terutama dalam waktu yang singkat. Aku tahu bahwa Castro membawa mobil itu saat kalian kembali ke vila dan waktu itu tak terjadi apa-apa. Namun, tiba-tiba saja, saat Castro kabur sendirian, dia kecelakaan.”

“Berarti…” Keith menyatukan alis. Dia berpikir keras. “…seseorang merusak remnya saat kami sampai di vila, packing bersama… sampai saat Anda datang dan menginterogasi kami di ruang tamu ketika Austin meninggal...?”

Jace mengangguk. “Tepat sekali. Awal timeline-nya adalah saat kalian masuk ke vila itu kembali. Kalau dia fokus meracuni Austin terlebih dahulu, berarti dia baru merusak mobil Castro saat kalian sedang panik akibat menemukan mayat Austin. Atau ketika kami datang memeriksa. Namun, kalau dia fokus ke dua-duanya—yakni Austin sekaligus Castro—maka dia memberikan sianida terlebih dahulu ke teko dapur, lalu pergi merusak rem mobil Castro, atau sebaliknya. Dalam waktu cepat. Namun, untuk melakukan keduanya, berarti dia menghilang cukup lama. Teman sekamarnya akan tahu bahwa dia cukup lama menghilang saat packing bersama.”

Oh, astaga. Detektif Jace sudah mempersempit kemungkinan.

Keith hanya bisa diam. Dia shock, tetapi di sisi lain dia pelan-pelan paham dengan semua yang Jace katakan. Semuanya masuk akal. Benar. Dia sekarang jadi merasa "telanjang" karena si pembunuh punya akses ke seluruh sudut vilanya sendiri.

“Sekarang, berhubung vila itu tak punya CCTV sama sekali, bahkan sampai ke parkirannya, maka pertanyaannya adalah: apakah kau tahu siapa di antara kalian yang tahu cara kerja mesin… atau pernah belajar sesuatu yang relevan?” tanya Jace.

Keith menggeleng. “Tunggu. Aku tak mau menuduh seseorang, sir, aku—"

“Aku tidak membuatmu menuduh siapa pun. Aku hanya ingin tahu. Kalau ternyata kau salah, aku takkan memperpanjang ini,” jelas Jace.

Keith menghela napas. Ini benar-benar menyesakkan.

Lama Keith terdiam…

…sampai akhirnya, dia pun membuka suara.

 

“Aku tak tahu siapa yang pintar melakukan itu. Sejauh ini, obrolan kami belum pernah sampai ke sana,” jelas Keith. “Kebanyakan dari kami sebenarnya baru bertemu, karena sama-sama terpilih untuk mewakili Sonoma dalam turnamen renang. Namun, kalau Anda menyuruhku untuk menebak lewat sifat, mungkin aku akan menyebut orang yang paling terlihat tenang. Ibarra Silva.”

Sebelum Jace sempat merespons, Keith langsung melanjutkan, “Namun, aku tak yakin Ibarra pelakunya. Dia memang terlihat tenang dan kaku, tetapi dia juga orang yang paling peduli dengan teman-temannya. Sulit untuk memercayai bahwa dialah pelakunya. Dialah yang paling ingin berinteraksi dengan kami meskipun dia sulit bersosialisasi.”

“Kita tak tahu isi pikiran orang lain, Keith. Dalam penyelidikan, aku tak menilai seseorang dengan perasaan,” ujar Jace. “Aku tak bisa memercayai siapa pun sebelum aku tahu siapa pelakunya.”

Jace diam. Dia menatap Keith dengan tajam. Intens.

 

“…termasuk kau,” lanjutnya.

 

Tatapan dan kata-kata itu seolah-olah menikam Keith dari dalam. Keith duduk di sana… tetapi tubuhnya terpaku. Tatapan Jace sukses memenjarakannya. Tangan dan kakinya seolah-olah kaku. Meneguk ludah pun rasanya sulit.

Beberapa detik kemudian, akhirnya Jace melepas tatapannya. Pria itu menatap berkas-berkas yang ada di hadapannya, lalu berkata, “Baiklah. Untuk sekarang, that’s all I want to know, Mr. Saunders. Terima kasih karena sudah mau kooperatif. Sekali lagi, aku turut berduka cita untuk sahabatmu, Austin.”

Setelah Jace mengatakan itu, barulah anggota tubuh Keith terasa bisa bergerak kembali. Dia tersentak.

“Y—Ya, Mr. Corbin. Aku juga berterima kasih. Semoga kau bisa menangkap pelakunya dengan cepat,” jawab Keith.

“Kau boleh keluar. Tolong panggilkan Chris untukku,” ucap Jace pada akhirnya.

Keith mengangguk. “Baiklah. Aku permisi dahulu.”

“Okay. Be careful on your way home.”

 

Beberapa saat setelah Keith keluar, Chris pun masuk ke ruangan Jace dengan wajah sembap.

Jace memperhatikan Chris dan di titik ini, Jace sudah tahu betul bahwa Chris adalah salah satu anggota yang paling trauma di antara teman-temannya. Dia terlihat paling terpukul, paling fragile. Rapuh. Dia sering terlihat gemetar, fidgeting, panik, takut, dan… menangis. Itu bukan tanpa alasan juga, sebenarnya. Dialah yang menemukan mayat Bryant pertama kali. Dia juga merupakan salah satu dari orang-orang pertama yang menemukan mayat Lucas. Mentalnya sudah compang-camping.

Mata Chris merah; dia jelas masih terus menangis. Mungkin, saat menunggu gilirannya tadi, dia juga menangis. Tubuhnya terlihat lemas.

“Please have a seat, Mr. Fletcher,” ujar Jace. “I'm sorry for making you come here like this after you got back from the funeral.”

“It’s okay, Mr. Corbin…” jawab Chris dengan lemah. Sambil berjalan, ia menghapus sisa-sisa air matanya.

Begitu Chris duduk di hadapannya, Jace pun membuka lembaran selanjutnya pada berkasnya. Informasi-informasi yang sudah dia dapatkan dari polisi-polisi Windsor saat Chris mereka interogasi.

“Agar lebih leluasa, bolehkah aku memanggilmu Chris?” tanya Jace.

Chris mengangguk pelan. “Silakan, Mr. Corbin.”

“Baiklah,” ujar Jace. “Aku takkan lama. Hanya beberapa pertanyaan.”

“Ya, Mr. Corbin,” jawab Chris. Dia mencoba untuk menguatkan dirinya, menegapkan tubuhnya. “Aku tidak apa-apa. Silakan dimulai.”

Jace mengangguk singkat. “Okay.”

Dua detik kemudian, pertanyaan pertama dari Jace pun terdengar.

“Chris, kau adalah orang pertama yang menemukan Bryant. Kau bilang, dia mengambang. Bryant adalah atlet tingkat nasional. Secara biologis, meskipun seseorang mabuk, insting bertahan hidup seorang perenang sangatlah kuat. Apakah kau yakin bahwa dia ‘tergelincir’ atau tenggelam karena mabuk?” tanya Jace.

Chris teringat kembali bagaimana mata Bryant terarah kepadanya saat mengambang di air. Hal itu membuat rasa takutnya kembali merayap, membuat traumanya kembali. Selain takut, dia juga sangat… hancur tatkala mengingat itu. Meskipun dia tak dekat dengan Bryant, menyaksikan semua itu tentulah… menggoncangkan jiwa.

“Sejujurnya, itu memang ironis, sir…” jawab Chris. “Aku… sejujurnya tak yakin kalau Bryant kecelakaan. Sama seperti kami semua, dia adalah atlet renang. Namun, semua bukti… mengarah ke sana. Seolah-olah Bryant memang meninggal di kolam karena terlalu mabuk.”

“Apakah kau melihat seseorang berlari di koridor sayap kiri saat kau pergi ke dapur?” tanya Jace.

“Aku sangat mengantuk saat itu, tetapi… sepertinya tak ada siapa pun di koridor selain aku. Tak ada suara langkah kaki juga. Mengapa Anda menanyakan ini, sir? Apakah Bryant…” Chris melebarkan mata. Jantungnya berdegup cepat dan tak keruan. Dia mulai takut mendengar fakta baru yang dia terka-terka sendiri di kepalanya.

“Kita tak bisa mengecualikan segala kemungkinan, Chris,” jawab Jace. “Aku perlu tahu segalanya, terutama aku belum memegang kasus ini saat itu. Di kasus Bryant, Mr. Benjaminlah yang menanganinya. Bukan aku.”

Chris mengangguk pelan.

Jace pun kembali bertanya, “Saat kau berteriak dan membuat semua orang langsung pergi ke kolam renang, apakah kau melihat ada seseorang yang tidak hadir?”

Napas Chris tertahan saat mendengar pertanyaan itu. Pertanyaan Detektif Jace sejak tadi agaknya lebih mengarahkan kasus Bryant ke arah pembunuhan. Chris tiba-tiba merasa ngeri tatkala memikirkan bahwa… ada seseorang di antara mereka yang saat itu baru saja membunuh Bryant.

“A—Aku…” Suara Chris bergetar. “Aku tak ingat, Mr. Corbin. Aku terlalu ketakutan saat itu…”

Iya, benar juga. Apakah semuanya ada di sana saat itu?

Oh, ya Tuhan.

“Coba diingat-ingat kembali. Apakah semuanya ada di sana?” tanya Jace lagi.

Chris menunduk. Dia mengerutkan dahi, mencoba untuk mengingat-ingat dengan baik. Dia seolah-olah kembali ke masa itu hanya untuk mengingat wajah orang-orang yang hadir menemuinya langsung di kolam.

Namun, ujung-ujungnya, Chris gagal.

Beberapa detik kemudian, Chris pun mulai menjawab, “Aku melihat… Pelatih Andrew. Dokter Gray. Thomas. Kane. Ibarra. Sepertinya, lebih dari itu. Atau mungkin memang semuanya ada di sana. Namun, hanya orang-orang itulah yang kuingat…”

Jace mulai mencatat sesuatu di berkasnya. Setelah itu, dia bertanya lagi, “Kau sekamar dengan Ibarra, Lucas, dan Thomas. Apakah mereka semua ada di ranjang saat kau keluar untuk mengambil minum?”

“Ya,” ucap Chris dengan yakin. “Aku seranjang dengan Thomas dan saat itu Thomas ada di sebelahku, sedang tidur. Begitu pula dengan Lucas dan Ibarra yang sedang tidur di ranjang mereka. Aku sempat melihat mereka semua sebelum keluar dari kamar.”

“Oke. Terima kasih. Sekarang, aku ingin bertanya soal Lucas,” kata Jace.

Chris menunduk. Dia mulai fidgeting. Dia teringat kembali dengan kondisi Lucas yang tergantung di kamar mandi saat itu. Dia teringat bagaimana lidah Lucas terjulur…

Oh, Tuhan.

"Thomas adalah orang yang pertama kali membuka pintu kamar mandi dan melihat Lucas, tetapi kalian bertiga—kau, Thomas, dan Ibarra—masuk ke kamar itu bersama-sama. Saat kalian masuk ke kamar, apakah kalian mencium aroma yang aneh sebelum Thomas berteriak?"

“…Aroma?” Chris mengernyitkan dahi. “Tidak ada aroma apa pun, seingatku. Memangnya… ada apa dengan aromanya, sir?”

“Aku hanya ingin memastikan tidak adanya sabotase. Jika ada aroma manis yang menyengat atau bau kimia pembersih yang tak wajar, itu indikasi kuat adanya sabotase. Bisa jadi, dia "dipaksa" minum sesuatu sampai pingsan atau teler sebelum dieksekusi.”

Chris membelalakkan mata. “T—Tapi, sir—Lucas… Lucas gantung diri saat itu! Dokter—Dokter Gray bilang, Lucas—”

Jace menatap Chris dengan tajam. Fokus. Dingin. Setelah itu, dia berucap, “Gantung diri…”

 

“…atau digantung?” lanjutnya.

 

Bagaikan ada tombak besar yang menusuk dada Chris saat itu. Tangannya langsung bergetar. Wajahnya pucat pasi. Dia lupa bernapas.

 

…Digantung?

Lucas… mungkin… digantung?

Siapa…?

Siapa yang melakukannya…?

 

“Itu tidak mungkin, sir—” Chris menggeleng. “Semua orang, aku ingat semua orang ada di ruang tamu saat Lucas permisi ke toilet. Tak ada yang pergi dari ruang tamu saat itu!”

Jace mengangguk. “Baiklah. Setidaknya aku tahu bahwa kalian semua memiliki alibi yang sama saat itu. Terima kasih atas konfirmasinya.”

Astaga. Apakah itu pertanyaan jebakan?

Entahlah. Chris terlalu shock untuk memikirkan itu.

“Sekarang, terkait kematian Austin. Kau yang pertama kali menyebut ini terdengar seperti sengaja ‘bunuh diri’ di depanku. Mengapa kau begitu cepat menyimpulkan itu? Apakah karena kau melihat sesuatu yang tidak kau ceritakan pada polisi?" tanya Jace.

Chris menggeleng. Matanya sedikit melebar. “No, sir. No! Aku tidak melihat apa pun. Aku bisa bilang begitu murni karena penjelasanmu saat itu terdengar seperti Austin bunuh diri. Lagi pula, bukan hanya aku yang mendapat kesimpulan seperti itu. Kane, Thomas, Russel, dan Ibarra juga berpikir hal yang sama. Namun, akulah yang menyebutnya dengan jelas.”

Jace mengangguk. “Oke. Apakah semua orang ada di sana saat Keith memanggil kalian dari dapur?”

“Aku tidak ingat. Situasinya terlalu gila saat itu. Semua orang panik. Aku tak memperhatikan itu, sir…” Chris menunduk, merasa frustrasi karena sepertinya dia tak membantu polisi sama sekali. Dia mungkin adalah manusia yang paling rapuh di sepanjang kejadian-kejadian itu. Otaknya blank kalau sedang ada kejadian buruk; dia akan ketakutan dan panik setengah mati.

“Baiklah. Cukup untuk kematian Austin. Sekarang, untuk kematian Castro… sepertinya tak ada yang ingin kutanyakan padamu selain… apakah ada orang yang kira-kira paham cara kerja mesin mobil?” tanya Jace.

Chris menatap Jace kembali, lalu mengerutkan dahi. “Apakah mobil Castro disabotase, sir?”

“Ya. Seseorang merusak remnya. Namun, potongannya sangat bersih. Rapi,” jawab Jace.

“What?!!!!” Chris membulatkan mata. Jantungnya serasa mencelus ke perut. Dia menggeleng tak percaya. “C—Castro—"

“Kau tahu siapa orang yang paham soal mesin mobil?” tanya Jace.

“No!!” Chris menggeleng kencang. “Kalaupun ada, dia pasti terburu-buru melakukan itu. Jarak waktu kematian Austin dan Castro sangatlah singkat! Anda dan polisi lainnya juga ada di vila saat menginvestigasi dapur itu. Kapan dia melakukannya?”

Jace diam sejenak. Dia hanya memperhatikan Chris.

 

Setelah itu, dia pun mulai berbicara.

 

“Ya. Aku tahu itu sulit dicerna,” ujar Jace. “Di vila itu tidak ada CCTV. Namun, pembunuh ini tahu kapan dapur kosong, tahu kapan mobil Castro tidak diawasi, dan tahu kapan Lucas sendirian di kamar mandi. Ini bukan orang luar. Pembunuh ini adalah bagian dari rutinitas kalian.”

 

Selesai.

 

Chris selesai diinterogasi tak lama setelah itu.

Namun, kalimat Jace tadi, yakni: "bagian dari rutinitas kalian" terdengar lebih dari mengonfirmasi pembunuhan. Itu seperti pengingat bahwa pelakunya selama ini makan bersama mereka. Tidur di vila yang sama. Duduk di sofa yang sama. Menghadiri pemakaman yang sama.

… dan Chris yang rapuh, yang otaknya blank kalau ada kejadian buruk, yang tangannya bergetar, yang sampai lupa bernapas…

… harus pulang ke rumah malam ini.

Sendirian.

Dengan pengetahuan bahwa seseorang yang dia kenal… adalah pembunuh dari empat orang.

Chris menangis dan bergetar ketakutan di sepanjang jalan pulang.

Setelah Chris diinterogasi, satu per satu dari keenam orang yang tersisa (Thomas, Kane, Russel, Ibarra, Dokter Gray, dan Pelatih Andrew) mulai dipanggil. Jace banyak menanyakan pertanyaan yang sama kepada mereka untuk mencocokkan keterangan. Namun, ada juga beberapa pertanyaan yang ‘berbeda’ karena menurut Jace, sudut pandang orang yang sedang ia tanyakan itu ada perbedaannya.

Contohnya, saat bersama Dokter Gray, pertanyaan Jace terdengar cukup banyak yang berbeda.

Jace menatap Dokter Gray dengan tajam, lalu bertanya, “Dokter Gray, saat Lucas meninggal, Anda sangat yakin bahwa dia bunuh diri. Sekarang, di depan mataku, Austin mati dengan pola yang hampir sama, seolah-olah 'dipaksa' terlihat seperti bunuh diri dengan barang bukti yang diletakkan terlalu rapi di sakunya. Biar kutanya sekali lagi: apakah Anda yakin Lucas Anguiano benar-benar menggantung dirinya sendiri? Atau Anda hanya ingin kasus ini cepat selesai? Atau Anda ingin menenangkan para atlet bahwa ‘tidak ada’ pelaku di antara mereka?”

Dokter Gray jadi tegang. Ada rasa bersalah yang tersirat dari nadanya saat mengatakan, “Maafkan aku, Mr. Corbin. Aku memang salah karena tak melaporkan kematian Lucas pada polisi. Namun, saat kulihat keadaan Lucas… itu memang bunuh diri, sir. Kalau memang aku sadar bahwa dia dibunuh, aku akan ketakutan dan langsung menyuruh semua orang pergi dari sana saat itu juga.”

“Anda menurunkan tubuhnya, Anda memeriksa nadinya,” ujar Jace. “Karena Lucas sebatang kara, tidak ada autopsi resmi dari negara. Sekarang, aku punya dua mayat lagi di tanganku. Aku ingin bertanya satu hal yang sangat teknis: saat Anda memeriksa Lucas di lantai kamar mandi, apakah otot-ototnya sudah mengalami kaku mayat atau rigor mortis? Jika belum, itu artinya dia baru saja naik ke tali itu beberapa menit sebelum ditemukan. Namun, Thomas bilang dia menemukan Lucas sudah tergantung. Apakah durasi waktu yang Anda lihat di tubuh Lucas sinkron dengan pengakuan Thomas?"

Oh, well, sebenarnya dia sudah mendengar soal ini dari Keith dan Chris, tetapi dia ingin mendengarnya dari Dokter Gray. Sebab Dokter Graylah yang menetapkan kematian Lucas sebagai bunuh diri.

“Dia belum mengalami rigor mortis. Tubuhnya belum kaku. Thomas memang menemukannya sudah tergantung, tetapi mungkin saja itu baru terjadi,” jawab Dokter Gray. “Begitulah yang kuamati dari jenazahnya waktu itu.”

"Anda memvonis bunuh diri dan jenazah langsung dikubur. Anda melangkahi kewenanganku. Jika aku membongkar makam itu sekarang dan menemukan tulang lehernya patah karena cekikan, bukan jeratan, apakah Anda siap kehilangan lisensi medis Anda?" tanya Jace. Tatapannya sangat dingin. Dia memiringkan kepalanya.

Dokter Gray terdiam. Dia terlihat cukup tertekan.

Namun, dia berusaha untuk tetap tenang ketika menjawab, “Aku yakin bahwa saat itu yang kulihat adalah bekas jeratan, Mr. Corbin. Namun, jika aku salah… itu akan sangat fatal. Meskipun aku mencintai pekerjaanku, mau tidak mau… aku harus siap kehilangan lisensi medisku.”

Jace diam sejenak. Dia hanya memperhatikan mata Dokter Gray—bertatapan dengannya—selama beberapa detik.

Akhirnya, setelah beberapa saat… Jace pun berkata, “Baiklah. Sekarang, aku ingin bertanya soal Bryant. Sebagai dokter pribadi Keluarga Saunders, Anda tentu sering menangani Keith sebagai perenang. Secara medis, Bryant tampak sangat sehat. Apakah menurut pengalaman Anda, ada zat tertentu—selain alkohol—yang bisa membuat perenang sekuat dia kehilangan kesadaran begitu cepat di air? Soalnya, kemungkinan besar… Anda pernah menangani Keith atau minimal pernah membantunya menjaga kesehatan."

Dokter Gray menggeleng. “Tidak, sir. Keith tidak pernah meminum alkohol. Dia sangat menjaga kesehatannya sebagai perenang. Namun, memang… setahuku, para perenang yang andal seperti mereka takkan mungkin secepat itu kehilangan kesadaran karena mabuk. Fisik dan insting mereka kuat, terutama di dalam air.”

Jace mengangguk. Dia mendapat kesimpulan bahwa Dokter Gray mungkin juga mencurigai kematian Bryant meskipun dia terlihat tenang.

"Keith sudah menyentuh Austin sebelum Anda sampai. Dokter, saat Anda akhirnya berada di dekat tubuh Austin, apakah Anda menyadari adanya bau kimia yang sangat kuat yang tercium bahkan sebelum Anda memeriksa mulut Austin? Saya ingin tahu apakah indra medis Anda menangkap sesuatu yang sengaja ditinggalkan untuk kami temukan,” ujar Jace.

Dokter Gray menjawab, “Bau almond. Itu tercium di dapur, tetapi tidak terlalu jelas. Bau itu identik dengan sianida dan mulut Austin juga berbusa saat ditemukan.”

Untuk beberapa detik, Jace terlihat sedikit… menyipitkan matanya. Narrowing his eyes a little bit.

Namun, dia tidak mengatakan apa pun. Dia hanya menyimpan informasi itu di dalam kepalanya.

Setelah sesi interogasi dengan Dokter Gray berakhir, tibalah giliran Pelatih Andrew.

Berikut pertanyaan Jace pada Pelatih Andrew:

“Pelatih Andrew, Anda bilang, saat Lucas gantung diri, kalian semua sedang berada di ruang tamu. Tak ada orang yang bersama Lucas. Namun, sekarang, Austin mati di dapur saat semua orang sedang berada di kamar masing-masing. Polanya sama: korban selalu 'sendirian' di tempat yang mudah diakses. Anda pelatih mereka; apakah menurut Anda kebetulan jika dua orang dari tim yang sama memilih cara bunuh diri yang berbeda, tetapi sama-sama 'bersih' tanpa meninggalkan pesan?"

Pelatih Andrew menunduk. Dia menggeleng.

“Tidak mungkin, sir. Betapa pun aku ingin percaya bahwa ini semua adalah kecelakaan… semuanya terlalu kebetulan. Mungkin, sama seperti apa yang Anda curigai, aku pun curiga bahwa semua ini ada… pelakunya,” jawab Pelatih Andrew. “Orang yang bunuh diri… akan memberikan semacam pertanda, setahuku. Namun, mereka berdua… tidak. Tak ada tanda-tanda sama sekali. Terlalu tiba-tiba. Randomly.”

"Anda bilang, Anda tak tahu soal alkohol Castro karena alkohol itu memang tak pernah dibuka,” kata Jace. “Namun, sebagai pelatih, Anda pasti tahu dinamika mereka. Siapa di antara mereka yang tampak paling tertekan oleh Bryant secara kompetisi? Karena alkohol itu bisa saja digunakan sebagai pengalih perhatian oleh orang lain."

Pelatih Andrew mengerutkan dahi. “Setahuku, Bryant adalah anak yang pemberontak. Dia suka sembarangan kalau bicara dan itu sering terdengar seperti… tidak bermoral. Beberapa dari mereka memang sering terlihat ‘berselisih pendapat’ dengan Bryant, tetapi tidak begitu serius. Lucas dan Ibarra… keduanya sering berselisih dengan Bryant karena tak suka dengan apa yang Bryant katakan.”

“Berselisih, ya…” Jace mengusap dagunya sebentar, sebelum akhirnya kembali bertanya, “Baik. Oh, ya, Anda menggunakan Face ID Lucas untuk membuka ponselnya karena ingin menemukan nomor ponsel keluarganya. Sebelum layar itu terbuka, apakah Anda melihat ada notifikasi atau pesan terakhir yang masuk di layar kunci? Apapun yang mungkin bisa menjelaskan suasana hatinya siang itu."

Pelatih Andrew menggeleng. “Aku tak menghiraukan notifikasi sama sekali saat memegang ponselnya, Mr. Corbin. Saat itu, aku sangat panik dan yang kupikirkan hanyalah mencari nomor keluarganya. Aku sempat melihat isi aplikasi chat-nya, tetapi tak ada chat dari keluarganya. Kosong. Tidak ada chat apa pun, kecuali dari Kane beberapa hari sebelumnya. Aku tidak membuka chatroom-nya, tetapi aku bisa melihat pesan terakhir di mana Kane berkata: Aku sudah sampai di depan rumahmu. Ayo berangkat.”

“Di depan rumah?” tanya Jace.

Andrew sedikit mengerutkan dahinya, berpikir. “Mungkin, itu saat Kane menjemputnya untuk pergi ke Healdsburg. Lucas, Ibarra, dan Bryant ikut dengan Kane. Kane membawa mobilnya.”

Jace mengangguk.

Dia diam sebentar, lalu kembali berbicara:

“Pelatih Andrew, Mr. Benjamin bilang padaku bahwa postur tubuh Anda dan mendiang Lucas sangat mirip dari belakang. Ini menarik. Dalam kegelapan atau dari kejauhan, orang bisa salah mengenali Anda sebagai Lucas, atau sebaliknya.”

Pelatih Andrew kaget setengah mati. “…Eh? Postur saya dan Lucas… mirip?”

Dia bahkan tak tahu soal ini!!

“Ya,” ujar Jace. “Saya ingin mendengar apa yang para atlet katakan tentang ini.”

Saat itulah, Pelatih Andrew terdiam seribu bahasa. Wajahnya memucat.

Dia merasa… seperti diancam. Seperti akan ada ‘tuduhan’ yang diberikan padanya, tak tahu apa. Namun, bukankah Lucas sudah meninggal? Apakah kejanggalan soal ‘postur yang sama’ itu… masih berlaku?

Setelah Pelatih Andrew, kini giliran Ibarra yang diinterogasi.

Pertanyaan pertama Jace adalah: “Kau adalah yang paling dekat dengan Lucas. Kau bilang… Lucas sebatang kara. Sangat mudah bagi seseorang untuk mati tanpa ada keluarga yang menuntut autopsi. Apakah Lucas pernah merasa terancam oleh seseorang di tim ini sebelum dia 'memutuskan' untuk gantung diri? Atau… apakah dia merasa terbebani oleh sesuatu?”

Pertanyaan pertama itu langsung membuat Ibarra menunduk. Kematian Lucas… adalah yang paling membuatnya terpukul.

Namun, dia juga paham mengapa Detektif Jace langsung menanyakan itu padanya.

“Tidak pernah, sir,” jawab Ibarra setelah menghela napas berat. Nadanya masih datar, tetapi ada sedikit getaran di sana. “Dia… biasa-biasa saja. Tidak ada tanda-tanda seperti itu.”

“Oke,” ujar Jace. “Untuk kematian Bryant… Siapa yang paling diuntungkan jika Bryant meninggal? Apakah ada persaingan di antara kalian?"

Ibarra menggeleng. “Tidak, sir. Kami hanya ingin latihan bersama di sana. Tidak ada persaingan atau apa pun.”

“Saat Bryant meninggal, kau sedang tidur. Namun, kau sekamar dengan Lucas, Chris, dan Thomas. Apakah kau benar-benar tidak mendengar pintu kamar terbuka sebelum Chris berteriak?" tanya Jace.

“Tidak. Aku sama sekali tidak sadar… Aku cukup sulit terbangun oleh suara-suara kecil, sir,” jawab Ibarra. “Namun, saat aku terbangun… Lucas dan Thomas ada di tempat tidur. Mereka juga baru terbangun, sama sepertiku.”

Saat gilirannya Thomas, Thomas juga ditanyai hal yang sama. Namun, ada beberapa pertanyaan yang sifatnya lebih ‘terfokus’ ke Thomas, seperti:

"Thomas, kau ingin buang air kecil dan menemukan Lucas tergantung di sana. Pintunya terkunci atau tidak? Selain itu, apakah kau melihat ada bangku yang terguling? Karena detail kecil seperti posisi bangku bisa menentukan apakah dia naik sendiri atau 'dinaikkan'."

Thomas meneguk ludahnya. Bulu kuduknya berdiri saat Jace berkata ‘dinaikkan’. Dia langsung memucat tatkala memikirkan bahwa Lucas… ada kemungkinan ‘dinaikkan’ ke sana.

Namun, akhirnya… Thomas menjawab.

“Di sana tidak ada kursi, sir…” jawab Thomas. “Namun, bak mandinya sangat dekat dengan posisi Lucas, jadi… mungkin saja…”

“—dia memanjat dari bak mandi itu?” lanjut Jace, seakan-akan bisa membaca pikiran Thomas.

Waktu itu, Thomas tersentak. Dia langsung menunduk. Kepalanya sakit tatkala membayangkan Lucas naik ke bak mandi itu saat ingin menggantung dirinya sendiri.

Untuk Kane dan Russel, pertanyaan yang Jace berikan kurang lebih sama. Namun, respons mereka sedikit berbeda.

Di awal-awal, Jace menanyakan hal yang sudah ia tanyakan kepada peserta lain. Setelah itu, dia mulai bertanya soal rem mobil Castro.

"Rem mobil Castro dipotong manual. Sangat rapi. Seseorang harus berada di bawah mobil itu selama beberapa menit tanpa terlihat. Saat kalian semua sibuk mengurus jenazah Austin di lantai bawah, siapa yang tidak ada di ruangan? Saya tahu kalian semua kaget, tetapi coba ingat: siapa yang terakhir bergabung ke ruang tamu saat polisi pertama datang?"

Jawaban Kane dan Russel kurang lebih sama meskipun mereka ditanyai di sesi yang berbeda, yaitu: tidak ada yang terakhir. Mereka semua berkumpul dan tak ada yang terpisah.

“Kau berada di kamar yang sama dengan Bryant. Apakah kau tidak mendengar suara apa pun saat Bryant keluar dari kamar malam itu? Itu pasti ada suaranya, terutama bila dia membuka koper Castro untuk mengambil alkohol,” ujar Jace.

Kane menjawab, “Aku sempat mendengar suara zipper samar-samar, tetapi saat kubuka mataku sedikit, aku tak melihat apa pun. Maka dari itu, aku tidur lagi… sampai akhirnya aku mendengar teriakan Chris.”

Sementara itu, jawaban Russel adalah: “Aku tak mendengar apa pun. Aku tidur pulas malam itu, sebelum Kane membangunkanku karena dia mendengar teriakan Chris.”

Pertanyaan Jace selanjutnya adalah: “Kalian semua sedang packing. Siapa yang sampai lebih dahulu di dapur?”

Kane dan Russel menjawab hal yang sama, yakni mereka berdua dan Castrolah yang sampai lebih dahulu karena kamar mereka paling dekat dengan dapur.

Jace mengangguk. Setelah itu, pertanyaan Jace mulai mengarah ke kematian Castro. Dia ingat bahwa Kane dan Russellah yang mencoba untuk menahan Castro pergi saat itu.

“Kau mencoba untuk menahan Castro agar tidak pergi, tetapi hanya sampai di ambang pintu. Dari posisimu di pintu itu, saat Castro masuk ke mobil dan menyalakan mesin, apakah kau mendengar suara aneh dari bawah mobilnya atau melihat seseorang yang bergerak di area parkir sebelum lampu Chevrolet itu menyala?”

Kane dan Russel jawabannya tetap sama, hanya berbeda pemilihan kata. “No, tak ada siapa-siapa di sana. Hanya Castro. Tak ada suara aneh juga dari mobil itu.”

Tak lama kemudian, sampailah Jace pada pertanyaan terakhirnya untuk Kane dan Russel. Di pertanyaan terakhir ini, Jace menjalin jemari kedua tangannya dan menempatkannya di bawah dagu.

Dia menatap Kane/Russel dengan saksama. Tenang, diam… tetapi diamnya itu entah mengapa terasa mencekik. Ada tekanan yang membuat udara saat itu sulit dihirup. Tatapannya juga tak berubah. Fokus. Membuat mereka berdua tanpa sadar harus menatap matanya balik, tak bisa menghindar.

Dengan demikian, terdengarlah pertanyaan itu.

 

“Sebelum pergi, Castro bilang… pasti ada seseorang yang tertawa melihat kebodohan kalian di belakang layar. Menurut kalian… siapa orang itu?"

 

Kane melebarkan mata. Sementara itu, Russel menyatukan alis.

Mereka seperti disuruh untuk menduga-duga… atau mungkin memfitnah seseorang. Mereka ‘cukup paham’ bahwa itu adalah semacam… pertanyaan provokasi.

Kalau Kane, dia menggeleng tak habis pikir seraya berkata: “Wait, apa maksud Anda, Mr. Corbin…? Itu terdengar seperti… Anda berpikir kalau Castro menuduh salah satu dari kami sebagai pelakunya. Castro memang agak impulsif, tetapi sepertinya kata-katanya itu bukan ditujukan pada kami. Dia lebih seperti menuduh orang luar. Atau apakah aku salah persepsi?”

Namun, Russel justru langsung menjawab dengan nada yang sedikit naik, “What the heck??! No. Aku tak mau menerka-nerka. Castro mungkin benar, tetapi bukankah perkataannya terdengar ‘general’?! Setahuku, dia marah karena banyak dari kami yang ‘setuju’ kematian-kematian itu ditetapkan sebagai kecelakaan, bukan marah karena curiga!”

Terlepas dari apa pun jawaban mereka atas pertanyaan itu, Jace tetap mengangguk pelan. Dia pun menyelesaikan sesi interogasi itu.

Dia telah menyimpan banyak hal di otaknya. Beberapa mulai dia catat di berkasnya (sebagai tambahan), jaga-jaga kalau misalnya dia lupa.

Intinya, hari itu… Jace mendapat informasi yang lumayan banyak. Dia akan menggunakan semua itu untuk penyelidikan lebih mendalam.

Hari itu pun berlalu.

 

******

 

Pagi ini, Ibarra mencoba menyeduh teh hangat untuk dirinya sendiri.

Makan dan tidurnya tak teratur. Matanya merah. Dia tak bisa berhenti memikirkan seluruh kejadian ini, terutama… pelakunya belum ditemukan.

Karena ingin mendengar berita terbaru soal kasus ini, Ibarra pun membawa segelas tehnya ke ruang tengah. Dengan lemas, tak ada semangat hidup, dia pun duduk di sofa ruang tengah itu. Di depan televisi.

Tatkala dia menghidupkan televisi dengan remote, dia langsung mencari channel berita. Begitu menemukannya, dia langsung berhenti dan meletakkan remote TV itu di atas meja.

Namun, apa yang terlihat di berita itu sukses membuat Ibarra membatu. Jantungnya serasa berhenti berdegup. Bagian belakang kepalanya serasa dipukul kencang dengan tongkat baseball. Napasnya langsung tersekat di tenggorokan.

Tehnya ia letakkan di atas meja dengan cepat hingga sedikit tumpah. Ia langsung berdiri dan menatap layar televisi dengan mata yang membulat sempurna.

Judul berita itu adalah:

 

BREAKING NEWS: SEORANG ATLET RENANG DITEMUKAN TEWAS DI TEROWONGAN BAWAH TANAH

 

            Kedua kaki Ibarra mendadak terasa selemah jelly.

Visual di layar televisi menunjukkan area Prince Memorial Greenway, tepat di mana jalur pedestrian menurun ke arah lorong bawah tanah Santa Rosa Creek. Kamera kemudian menyorot ke arah pintu masuk sebuah lorong drainase beton yang gelap di bawah persimpangan jalan utama. Di sana, di bawah struktur beton yang masif, garis polisi kuning telah terpasang, membatasi area yang dipenuhi genangan air sisa hujan dan lumpur.

Suara sang pembawa berita itu pun terdengar.

“Breaking News. Seorang atlet kembali ditemukan tewas di Sonoma County. Jenazahnya ditemukan oleh petugas kebersihan kota di dalam terowongan drainase pusat kota Santa Rosa pukul 06.00 pagi tadi. Area tersebut kini ditutup total untuk penyelidikan. Korban diidentifikasi sebagai Kane Houston, atlet renang nasional yang juga merupakan saksi kunci dalam rentetan kematian tragis di Healdsburg beberapa hari belakangan.

Menurut laporan awal, tidak ditemukan kendaraan milik korban di sekitar lokasi, memperkuat dugaan bahwa korban sengaja berjalan kaki melalui jalur tersembunyi tersebut. Hingga saat ini, Detektif Jace Corbin yang menangani kasus kematian beruntun tim Sonoma belum memberikan keterangan resmi terkait apakah kematian ini merupakan murni kecelakaan atau ada unsur pembunuhan berencana...”

Ibarra jatuh terduduk di sofa dengan wajah pucat. []

 













******









Black Trick (Chapter 5: Kane Houston)

  ****** Chapter 5 : Kane Houston   ******   PEMAKAMAN Austin dan Castro dilaksanakan di hari yang sama, yaitu tiga hari setelah C...