Chapter 15 :
Love
Is Never Planned
******
Violette:
OH. Gaun ini sempit sekali.
High heels ini juga…tinggi sekali!! Aku biasa
menggunakan high heels yang tingginya sekitar 4 cm dan malam ini aku
memakai yang 12 cm. Bibi Locardo memilihkan sepatu yang 'katanya' agak
pendek untukku karena tahu aku kurang bisa menggunakannya. Namun, bila yang ini
saja ‘agak pendek’ baginya, berarti yang ‘panjang’ itu berapa cm? Astaga.
Sepatunya memang cantik dan elegan,
tetapi...cukup sudah. Aku ingin melepas sepatu ini sekarang juga. Soalnya, aku
sudah memakai sepatu ini sejak pagi (sejak di gereja)…dan sekarang sudah malam.
Ini semua karena ‘acara’ yang diadakan di tiga tempat. Paginya kami berada di
gereja (ini tidak bisa disebut sebagai pesta, sih, tetapi tetap saja
persiapannya mewah sekali), lalu jam sekitar jam 11 pagi, Justin membawaku ke
rumah Paman Locardo karena ada pesta yang diselenggarakan di sana. Di sana,
kami bertemu dengan kerabat-kerabat Paman Locardo yang juga masih kerabat
Justin. Aku banyak berkenalan dengan keluarga jauh Justin di sana. Di sana juga
ada rekan-rekan bisnis Paman Locardo; mereka memujiku dan Justin berkali-kali,
membuat pipiku merona tanpa henti.
Evan juga sangat...populer. Well,
anak itu...meskipun baru berumur lima tahun, sudah banyak perempuan yang
mendekatinya. Ada yang dewasa dan ada yang seumuran dengannya. Khusus yang
dewasa, mereka hanya sibuk merayu-rayu Evan karena gemas dengan gaya,
ketampanan, dan juga kesombongannya. He is very confident and that attitude
is indeed cute in the eyes of adults. Dia dipuji tampan, fashionista, dan
lain-lain.
Evan luar biasa angkuh dan aku jadi
geleng-geleng kepala sendiri melihat tingkahnya yang tak beda jauh dengan Uncle-nya.
Ingat siapa ‘Uncle’-nya?
Well, siapa lagi kalau bukan Justin.
Sifat mereka sama saja. Apakah Keluarga Alexander ini terlahir dengan sifat
yang sama turun-temurun?
Ah, entahlah. Lagi pula, aku akan terdengar
munafik kalau mengatakan itu, soalnya aku sendiri...menikah dengan salah satu
keturunan Alexander.
Pipiku memanas lagi ketika aku
mengingat kebenaran itu. Aku menoleh sebentar ke sosok Justin yang ada di
sampingku; tangannya tengah memeluk pinggangku dengan erat. Ia tak pernah
melepaskanku seharian ini.
Justin luar biasa tampan, padahal aku
tahu bahwa dia belum beristirahat sama sekali hari ini, sama sepertiku.
Malam ini, kami mendatangi acara
yang diadakan di lokasi ketiga, yaitu di Manhattan Beach. Ini bisa
dibilang…semacam beach party. Makan-makan, minum wine, dan
menikmati penampilan dari beberapa penyanyi lokal. Pesta ini ternyata lebih
meriah daripada pesta di rumah Paman Locardo, soalnya ini terasa lebih bebas
dan menyenangkan. Banyak anak muda yang menikmatinya; ramainya bukan main. Aku
tak pernah menyangka bahwa pesta pernikahanku akan didatangi oleh orang-orang
yang tak kukenal. Saking banyaknya tamunya, pestaku seolah-olah dirayakan oleh satu
kota.
Aku senang, tetapi aku tak tahu
harus bagaimana. Apakah aku harus duduk diam? Apakah aku harus ikut
joget-joget? Ah, itu memalukan.
Namun, karena kebingungan dan overwhelmed
sendiri, aku jadi banyak diam. Bibi Locardo sempat menceramahiku karena aku
malah diam di pestaku sendiri. Dia bilang, aku harus menikmatinya. Ini adalah
pesta pernikahanku.
Sekarang, aku sibuk menarik-narik
gaunku ke atas—agar belahan payudaraku tak terlihat—serta sibuk membenarkan high heels-ku
ketika Justin masih memelukku sembari mengobrol dengan rekan bisnisnya ditemani
dengan wine. Kami saat ini sedang berdiri, jadi…sulit bagiku untuk
mengangkat kakiku (demi membenarkan sepatu) saat gaun yang kupakai terasa begitu
skintight.
Ya Tuhan...jangan sampai gaunku
robek di bagian bawahnya karena kutarik…
"Ada apa denganmu? Kau lelah?"
Suara dingin Justin mendadak
terdengar lebih jelas (mungkin karena pertanyaan itu ditujukan untukku) dan mataku
spontan membulat. Aku menatapnya, lalu menghela napas.
"Bukan, Justin. Aku merasa
sedikit tak nyaman dengan high heels-ku, itu saja."
Dia mengangguk, lalu
meletakkan wine-nya di atas meja. Aku merasa bahwa rekan bisnisnya mulai
menatapku geli. Keningku sedikit berkerut saat menatap mereka (karena aku
bingung mengapa mereka menatapku seperti itu), tetapi tiba-tiba suara Justin
kembali terdengar.
"Ada apa dengan high heels-mu?"
Aku menatapnya, lalu tubuhku
seakan-akan menggelenyar ketika aku menatap bola mata lelehan emas miliknya.
Itu adalah sepasang mata yang paling indah yang pernah kulihat.
Aku mendadak gugup bukan main.
Namun, agar bisa berbicara dengan benar pada Justin, aku pun langsung
menggeleng.
"Ketinggian, Justin."
Entah mengapa, meskipun dia diam
saja, aku merasa bahwa tatapan matanya padaku kini mengandung jenaka.
Dia membawaku berjalan menjauhi rekan-rekan
bisnisnya itu dan mereka menatap kami berdua sembari tersenyum penuh pengertian.
Dia masih berjalan di sebelahku dan aku tak tahu apa yang ingin dia lakukan.
Tak lama kemudian, dia berhenti. Dia
berhenti di spot yang tidak terlalu ramai, tetapi juga tidak sepi.
Aku mengernyitkan dahi. "Mengapa
kau meninggalkan mereka?"
"Tidak ada alasan
spesifik," jawabnya. Aku tahu bahwa kini matanya mulai menatapku dengan atensi
penuh. "Apa kau ingin mengganti sepatumu?"
Aku meneguk ludah, sadar kalau aku terpaku
karena melihat wajahnya. "Tidak, tidak usah."
"Kalau begitu tidak
usah."
...Hah? Just like that?!
"Kau—"
"Benarkanlah sepatumu,
Violette. Kau terlihat begitu gelisah; kau mengingatkanku dengan jentik-jentik.
Kau membuat mereka melihatmu dengan tatapan yang tak seharusnya," ujarnya
dingin. Matanya memperhatikan high heels yang kupakai. Setelah
beberapa saat, matanya pun kembali menatapku. Tatapannya mengandung jenaka.
Sial. Entah mengapa, aku kesal sekali
dengan tatapan gelinya itu.
Aku menggeleng, kemudian menyatukan
alis. "Jentik-jentik? Wait. ‘Melihat dengan tatapan yang tak
seharusnya’? Apa maksudmu?"
"Rekan-rekan bisnisku yang tadi
kutinggalkan."
Aku menatapnya tak percaya,
kemudian aku meneguk ludahku. Sebentar. Bukannya tadi dia sedang mengobrol
dengan mereka? Kapan dia memperhatikan semua itu?
Dia memasukkan tangannya ke saku
celananya dan aku ingin memfotonya sekarang juga. Tadi…sudah banyak fotografer yang
memfoto kami berdua, tetapi entah mengapa aku ingin mengabadikan fotonya sendirian
dengan pose ini.
"Kau ingin pulang? Kau tahu
ini malam pertama." Dia memiringkan kepalanya, tersenyum miring,
dan tiba-tiba matanya terlihat seperti laser yang menyorotkan sinar keemasan ke
arahku. Aku tersedak seketika.
Aku menunduk dan pipiku
memanas. Sepertinya, panasnya sampai ke telingaku. Ya, ya, ya, aku
tahu ini malam pertama, tetapi—jangan dulu! Aku tak ingin memikirkan apa
pun yang membuat perutku bergejolak.
Karena terlalu malu, aku pun membalikkan
tubuhku (sedikit menjauhinya) dan menggigit bibirku kuat-kuat. Aku akan
terdengar egois, tetapi sebenarnya…aku belum bisa menyerahkan diriku sepenuhnya.
Aku terlalu malu untuk itu. Aku tahu kalau dia sudah memilikiku, tetapi aku
belum siap.
Aku tiba-tiba berhenti menggigit
bibirku ketika kudengar ada beberapa wanita yang cekikikan di belakangku.
Mereka tertawa genit dan
memanggil-manggil…
…nama Justin?
Aku kontan berbalik dan kulihat mereka
mengobrol dengan Justin sembari cekikikan. Mereka agaknya baru saja menghampiri
Justin. Sial, kok aku mendadak kesal melihat pemandangan itu? Apakah aku sudah
lelah?
Dua detik kemudian, tanpa kusadari…aku
mengangkat gaunku ke atas dan berlari cepat ke arah Justin. Setelah berada di
dekatnya, aku pun memeluk tubuh maskulinnya dengan erat. Para wanita itu langsung
pergi dan aku memejamkan mataku kuat-kuat.
Tubuh Justin terasa diam saja. Karena
merasa aneh, aku pun melepaskan pelukanku dan mendongak demi
melihat wajahnya.
Detik itu juga, kutemukan dia tersenyum
miring seraya menatapku geli.
Aku meneguk ludahku; kontan pipiku
memerah lagi. A—Apa ini?
Mengapa dia tersenyum seperti itu?
Sebentar. Apa—apa yang baru saja kulakukan?
"Nice catch, Mrs. Alexander," pujinya.
Aku spontan menganga.
Oh, Tuhanku!
Setelah itu, entah sejak kapan, dia
mulai memelukku dengan erat. Perutku langsung bergejolak; jantungku langsung
berdegup kencang. Sementara itu, Justin tampak tenang. Pernapasannya teratur.
Tangannya melingkari pinggangku dan aku mencium wangi parfumnya yang elegan dan
maskulin. Kuhirup wangi tubuhnya itu dalam-dalam. Aku pun sadar satu hal;
tubuhku sepertinya kecil sekali di pelukannya.
"Do I smell good?"
HUAAA!!! KETAHUAN!
Ah, sial.
Dia benar.
Namun, aku tak bisa bohong; aku juga
sedang lelah dan tak ingin melawannya. Aku tersenyum dan menunduk. Pipiku
memerah, kemudian aku mengangguk pelan di dadanya.
Sebelah tangannya naik ke atas, lalu
aku merasa tangan besar nan hangat itu mulai memegang bagian belakang kepalaku.
Dia memegangnya seolah kepalaku pas untuk ukuran telapak tangannya. Setelah
itu, aku merasa bahwa dia mencium kecil bagian samping kepalaku. Napasnya
terasa hangat di kepalaku. Tanpa kusadari, aku balas memegang sebelah tangannya
yang masih memeluk pinggangku.
"Aku mencintaimu,
Justin," bisikku pelan. Jantungku berdebar-debar.
Sepertinya, dia tersenyum di antara
rambutku.
"Sabarlah, nona keras
kepala... Sebentar lagi kita pulang," bisiknya. Aku pun tersenyum dan
kembali mengangguk di pelukannya. Dia mengusap kepalaku pelan, lalu mengeratkan
pelukannya di pinggangku. Entah mengapa, rasanya nyaman sekali memegangi lengan
Justin yang terbalut jas itu...malam ini. Dia selalu tampil memesona.
Mengingat bahwa kini dia adalah
suamiku, membuat pipiku memerah bukan main.
"Ehm! Ehm ehm!!"
Aku spontan membulatkan mataku dan Justin
perlahan-lahan melepaskan pelukannya. Aku langsung berbalik—melihat ke asal
suara itu—tanpa menatap Justin lagi.
Betapa terkejutnya aku ketika
kutemukan sosok Hillda beserta keluarga kecilnya berdiri di depanku.
"Hai, Violette," sapa
Hillda, dia tersenyum manis sembari melambaikan tangannya. Anak laki-lakinya—Christian—membuatku
takjub dan aku bahagia sekali. Martin ada bersamanya, sedang menggendong
Christian dan mereka mendekati kami.
Aku langsung berjalan mendekati
mereka dengan mulut yang terbuka akibat kaget (sekaligus tak menyangka) walaupun
aku tahu bahwa mereka memang akan menghadiri pesta pernikahanku.
Oh Tuhan, aku sangat bahagia.
Aku langsung menghambur ke pelukan
Hillda ketika mereka sampai di depanku. Justin juga langsung memeluk Martin.
Mereka—sesama pria—berbicara berdua dan kudengar Martin memberikan selamat pada
Justin. Setelah itu, aku tak mendengarnya lagi karena aku sibuk menempel pada
Hillda. Aku ingin mencurahkan segala kebahagiaanku hari ini padanya. Aku ingin
berteriak, sebenarnya, tetapi aku tidak segila itu untuk benar-benar
melakukannya.
"Hillda!!! Kapan kau datang?!
Mengapa aku baru melihatmu?!!" teriakku. Aku pun melepaskan pelukan kami.
Dia tertawa.
"Aku baru sampai. Perjalanan
dari Paris ke sini lumayan lama, Violette. Aku sempat ada urusan juga tadi pagi.
Maaf, ya…karena tidak bisa melihatmu saat kau mengucapkan sumpahmu. Demi apa
pun, Violette, aku minta maaf," ujarnya dengan penuh penyesalan. Rasanya
aku ingin menangis.
Aku memeluknya lagi. "It's
okay. Aku senang kau datang."
Dia memelukku balik, lalu mengusap
punggungku.
Aku memeluknya semakin erat dan tiba-tiba
aku sadar bahwa dia...sepertinya tambah gemuk? Tinggiku hampir sama
dengannya—lebih tinggi aku, sih. Namun, ada apa ini?
Aku melepas pelukan kami lagi,
kemudian memegang lengannya. "Hillda, kau…tambah gemuk? Atau perasaanku
saja?"
Hillda tertawa kecil. Dia menaikturunkan
alisnya di hadapanku. "Aku ini sudah ibu-ibu, Vio. Wajar, 'kan?"
"Kau masih muda," kataku sambil
memberikannya tatapan menginterogasi. Aku tahu dia selalu menjaga pola
makannya, apalagi Martin itu overprotective dan tak mau dia makan
sembarangan.
"Wah, kau ketularan
Justin, ya? Tatapanmu mengerikan sekali, sama seperti
Justin," komentarnya. Dia tertawa kencang, lalu melanjutkan, "Tidak
kok. Aku sedang hamil lagi."
Mataku memelotot.
"APAAAAAAAAAAAAA?!!!"
teriakku. Suaraku sangat kuat hingga Justin dan Martin refleks menoleh padaku.
Hillda langsung menutup mulutku.
"Vio, suaramu keras sekaliii!"
bisiknya panik.
Aku langsung melepaskan pelukan
Hillda. Setelah itu, aku kembali memeluknya dengan erat.
"Selamat, Hillda.
Selamat..." ujarku lirih. Tanpa sadar, aku menitikkan air mata.
Ketika pelukan kami terlepas, aku pun
mengusap perut Hillda.
"Laki-laki atau perempuan?
Sudah kau cek? Sudah berapa bulan?"
"Masih tiga bulan, Violette.
Hahaha." Dia tertawa. Dia tampak sangat bahagia. Aku tersenyum riang.
"Selamat ya, ibu dua
anak," kataku. Aku pun tertawa terbahak-bahak dan dia langsung ikut
tertawa seraya menepuk lenganku.
Aku kemudian teringat sesuatu.
"Oh, ya!" Aku langsung berlari
ke arah Justin dan Martin. Aku mengambil Christian dari gendongan Martin dan kini
gantian aku yang menggendong anak itu. Christian sangat tampan, dia sekarang
pasti sudah berumur empat tahun. Soalnya, beberapa bulan yang lalu, saat kami
berkunjung ke perusahaan Martin, saat itu Christian sudah berusia tiga tahun
lebih.
Aku menimang Christian dan merasa
bahagia ketika melihat anak kecil seimut dia. Namun, sebenarnya dia masih kalah
tampan dengan Evan. Ups.
"Seingatku, kau sedang lelah. Mengapa masih
bisa berteriak?" Mataku membelalak ketika kudengar suara dingin Justin itu.
Aku pun berbalik menatapnya.
Hillda dan Martin tertawa.
"Memangnya kenapa?"
jawabku. Alisku menyatu karena aku tak mengerti mengapa dia mempermasalahkan
itu.
"Padahal kau harus
bersiap-siap untuk nanti malam," ujar Justin dengan senyum miringnya.
Pipiku kontan memerah. Aku
menganga.
Karena malu bukan main, aku pun
langsung mengentak-entakkan kakiku, menjauhi kedua pria itu. Sempat kudengar
Martin tertawa terbahak-bahak lagi.
Sialaaannnnnn!!!!!!!!!
Aku menghampiri Hillda dengan muka
yang memerah bak kepiting rebus. Hillda lalu mengambil Christian dariku.
Di sanalah aku sadar bahwa ternyata
Hillda juga mengikik geli saat menatapku.
Aduh, tertawalah sepuas kalian!!
"Cepat-cepat memiliki anak,
ya," bisik Hillda padaku, lalu ia mengedipkan sebelah matanya. Aku
langsung memelototinya.
Sialnya, dia justru tertawa
terbahak-bahak.
Oh, Tuhan.
******
Author:
Elika membanting pistol yang
ada di genggamannya dan berteriak karena frustrasi.
Dia berada di tempat ini sejak kemarin
malam dan kenyataan itu membuatnya muak. Apa yang ia lakukan memang takkan bisa
mengubah keputusan pria yang sedang ia kagumi itu, tetapi ini sudah di ambang
batas. Pria itu menikah dengan Violette Morgan. Pria itu—Justin—tetap
mengabaikannya.
Ia memang muak, tetapi apakah hal
ini membuatnya lelah? Sepertinya…tidak. Permainan ini agaknya jadi lebih
menarik, tetapi juga semakin memuakkan. Semakin ia mencoba untuk melawan,
semakin ia merasa disudutkan. Elika menatap sosok Nathan yang ada beberapa
meter di depannya; Nathan terikat di sudut ruangan dengan wajah yang penuh luka.
Elika menatap Nathan dengan sinis. Dia muak melihat wajah Nathan.
"Stop it, Elika. Sialan. Aku membuat
senjata itu sendiri dan itu menghabiskan banyak waktu, sialan," ujar
Welton. Dia mengumpat, tetapi entah mengapa tetap terdengar santai. Dia sudah
muak dengan Elika meski nyatanya mereka bekerja sama.
"Apa katamu? Mereka menikah
dan kau ingin aku tenang-tenang saja?!! FUCK YOU!"
"Kau setubuhi saja dia. Kau
tak perlu memikirkan sesuatu yang rumit seperti ini. Aku sekarang sudah bisa bergerak
sendiri tanpa ada kau, dasar pelacur sialan," umpat Welton. Setelah itu,
dengan segenap rasa marahnya, Elika pun berlari menghampiri Welton dan
mencengkeram kerah baju pria itu dengan kuat. "Diam kau, sialan, aku
tahu kau malu karena luka bakar di wajahmu; kau juga sekarat saat gagal melawan
Red Lion beberapa tahun yang lalu. Sekarang, kau hanyalah si buruk rupa sialan yang
terus menciptakan senjata di ruangan ini tanpa tahu kabar targetmu. Apa kau
bilang? Kau sudah bisa bergerak tanpaku? Bisa bergerak tanpaku yang
selalu memberi informasi tentang targetmu? Shut the fuck up. Aku
tahu bahwa kau pasti takut dengan Red Lion. Maka dari itu, kau tak pernah pergi
ke luar untuk mencari tahu semuanya sendiri."
"Aku tak takut sama
sekali," balas Welton.
Elika meludah—menghina kata-kata
Welton—lalu tanpa diduga ia mendengar suara tawa kecil.
Tawa kecil itu berasal dari Nathan.
Mata Elika kontan memelotot.
Elika melepaskan cengkeramannya pada
kerah baju Welton dan ia langsung berlari menghampiri Nathan. Ia memukul kepala
Nathan dengan kuat dan mencoba untuk mencekik Nathan yang kini penampilannya sudah
terlihat kacau. Welton dan Elika sengaja tidak membunuhnya dan menjadikannya sandera
untuk melihat apa yang ingin mereka ketahui.
Nathan mengaduh kesakitan dan
napasnya tersengal-sengal.
"Diam kau! Kau menertawakanku,
ya?! Kau menertawakanku? You fuckin' crazy old man!" teriak
Elika. Dia memelototi Nathan. "Jangan bilang…kau senang karena keponakanmu
menikah…dengan Justin Alexander? Kau terlalu cepat senang, you old man! Kau
tahu bahwa keponakanmu itu bukanlah wanita yang akan melupakanmu begitu saja. Dia
sangat menyayangimu..."
Elika mengelus pipi Nathan. Ia
tersenyum dengan sarkastis.
"...dan dia akan merelakan
nyawanya untukmu...di sini. Aku yakin itu akan terjadi; dia pasti
akan datang ke sini untukmu. Aku takkan membiarkan suaminya terbunuh di sini
juga, itu pun kalau suaminya datang bersamanya."
Elika tertawa keras, lalu ia
berbisik tepat di telinga Nathan.
"Oh, satu lagi. Jangan
pernah beritahu Welton bahwa Justin Alexander juga merupakan anggota Red
Lion."
Elika menjauh, lalu tersenyum miring
di depan Nathan. Hal itu membuat mata Nathan memelotot; Nathan ingin berteriak,
tetapi ia tak memiliki tenaga yang cukup untuk itu.
******
Malam sudah hampir larut dan pesta pernikahan
Violette belum kunjung selesai.
Setelah mengobrol banyak, Hillda
dan Martin pun pulang ke hotel yang mereka booking. Semakin malam,
Violette semakin lelah. Bibi Locardo pun menghampiri Violette dan menyuruh
Violette pulang ke rumah mereka malam ini, tetapi Violette menolak.
Namun, biar bagaimanapun juga,
tubuh Violette memiliki batas. Soalnya, pada akhirnya kini ia berada di dalam
mobil bersama Justin. Ia terus menguap, lalu akhirnya tertidur di bahu Justin (mereka
duduk di jok penumpang belakang). Sopir Paman Locardolah yang mengantarkan
mereka pulang. Malam ini, mereka akan beristirahat di rumah Paman Locardo,
sesuai dengan apa yang disarankan oleh Bibi Locardo.
Begitu sampai di halaman rumah Paman
Locardo, Justin membuka pintu mobil, melepaskan high heels Violette,
lalu menggendong tubuh gadis itu. Justin menggendong Violette sembari memegangi
sepatu gadis itu.
Violette tertidur begitu pulas
sampai-sampai ia tak sadar bahwa Justin menggendongnya masuk ke rumah…menaiki
tangga…lalu masuk ke sebuah kamar yang ada di lantai atas. Kamar itu adalah
kamar Justin dahulu (saat Justin masih tinggal bersama Paman Locardo). Malam
itu, hampir semua pelayan sudah tidur; hanya ada satu pelayan yang terbangun
dan membukakan pintu rumah. Jadi, si pelayan itu beserta sang sopirlah yang
membawakan barang-barang mereka dari belakang, membuntuti Justin sembari
berjaga-jaga. Sang sopir terlihat agak khawatir. Ia menduga bahwa Justin juga
lelah.
Sebenarnya, Justin tak terlihat lelah
sama sekali. Apakah dia hanya tak mau menunjukkannya? Atau mungkin...dia memang
tidak lelah karena sudah terbiasa kerja berat sebagai CEO setiap hari?
Justin membuka pintu kamar itu. Kamar
itu gelap karena lampunya dimatikan.
Tanpa menghidupkan lampu, Justin
berjalan mendekati ranjang dan membaringkan Violette di sana.
“Hng…” Violette bersuara lirih; gadis
itu langsung berbaring dalam posisi menyamping.
Justin mengembuskan napasnya samar.
Ia mulai meletakkan sepatu Violette di lantai, di sisi ranjang. Setelah itu, ia
menyelimuti Violette dengan pelan.
Ia pun berdiri kembali, lalu mengambil
barang-barang mereka dari pelayan dan sopir yang menunggu di depan kamar. Setelah
itu, ia masuk ke kamar lagi dan menutup pintu kamar itu.
Justin meletakkan barang-barang
mereka di sofa, lalu menghidupkan AC. Setelah itu, bola mata karamelnya
langsung melihat Violette yang sedang membenarkan selimut dalam tidurnya. Sejak
kapan selimut itu bergeser lagi?
Justin mendekati ranjang, lalu membantu
Violette membenarkan selimut itu. Sudut bibirnya tertarik dan ia mulai
menyingkirkan beberapa helai rambut Violette yang menempel di dahi. Rambut itu
lengket di sana karena Violette sedang berkeringat.
Well, AC-nya baru dihidupkan, soalnya.
Menghela napas, Justin pun berjalan
ke depan jendela kamar. Dia menyibakkan gorden yang menutupi jendela itu dan cahaya
rembulan otomatis langsung masuk menerangi kamar.
Justin berdiri di sana, tubuh
tegapnya yang tampak dari belakang itu begitu berwibawa; dia menghadang
sebagian cahaya rembulan yang ingin masuk ke kamar. Bayangannya memanjang
hingga ke sudut ruangan dan saat itulah Justin tiba-tiba mengambil ponselnya
dari saku celananya.
Bola matanya terlihat sangat indah
di bawah cahaya rembulan malam itu.
"Ya," jawab Justin setelah
menempelkan ponselnya di telinganya.
"Mereka sengaja meninggalkan
sidik jarinya saat itu. Mereka memang ingin ‘ditemukan’ oleh pihak yang
bersangkutan, Tuan. Alamatnya sudah kami temukan dan sepertinya dugaan bahwa
mereka adalah mantan bawahan Mr. Martinous beberapa tahun yang lalu itu memang
benar. Kami telah mendapatkan foto sang pelaku dan ini semua ada kaitannya
dengan Ms. Elika."
Justin bernapas samar.
"Hentikan pencariannya sampai
di sana. Aku akan memberikan instruksi lanjutan. Jangan kerjakan apa yang tidak
kuperintahkan karena sisanya akan kuurus sendiri. Berikan alamat
itu padaku."
Panggilan telepon itu pun terputus
setelah orang di seberang sana mengucapkan beberapa kalimat.
Justin menaruh ponselnya di saku
kemejanya, lalu ia menghabiskan waktu selama beberapa menit untuk berpikir
seraya memandangi malam yang diterangi cahaya rembulan itu.
Ia adalah orang yang terencana, tetapi
di sisi lain, ia juga bisa berbuat nekat apabila baginya itu adalah cara yang
terbaik.
******
Violette:
Pagi ini, aku baru saja selesai
mandi, setelah sebelumnya membantu Bibi Locardo memandikan Evan.
Sekitar jam setengah tujuh pagi
tadi, aku terbangun dan mendapati Justin tertidur di sampingku; dia tidur
seraya memelukku dengan posesif. Namun, seingatku…aku tertidur di mobil tadi
malam. Apakah Justin yang membawaku hingga ke kamar?
Sepertinya…iya.
Aku pun akhirnya sadar bahwa malam
pertama kami dihabiskan dengan cara seperti itu.
Aku tersenyum, aku tahu Justin bukan
tipe pria yang tak tertarik dengan hubungan intim. Hell, bukankah semua
pria justru sangat menyukainya? Namun, ada satu hal yang terpikir olehku:
mengapa Justin tak pernah berkata dengan serius kepadaku tentang nafsunya…atau
apalah itu?
Apakah aku se-tidak-menarik itu di
mata Justin? Oh, tidak. Rasanya sakit sekali kalau itu benar...
Tak lama kemudian, aku keluar dari
kamar dan menuruni tangga. Saat turun, aku melihat Justin sedang berbicara dengan
Paman Locardo di ruang tamu. Sepertinya, mereka terlihat sangat serius… Apa
yang sedang mereka bicarakan?
Tiba-tiba, Paman Locardo
memanggilku. Mataku membulat.
"Y—Yes, Uncle," sahutku.
"Sudah mandi?" tanyanya.
Aku tertawa canggung, lalu
mengangguk. "Sudah, Paman."
Mendadak aku mencium wangi parfum Justin
di dekatku. Aku pun menoleh ke kiri, lalu menemukan Justin yang telah
mengunciku dengan tatapannya.
"Ayo kita ke luar,"
ajaknya dengan suara dinginnya. Aku kaget lagi karena dia tiba-tiba memegang
pergelangan tanganku dan membawaku keluar dari rumah. Ia berjalan bersamaku dan
entah mengapa ia tetap terlihat berwibawa meski tidak memakai suit. Ia hanya
mengenakan kemejanya pagi ini dan itu sangat...seksi.
Ketika ia membukakan pintu mobilnya
untukku, aku langsung protes padanya, "Mau ke mana? Kau masih berbincang
dengan Paman, 'kan?"
"Ini masih pagi dan kau sudah
berisik," ujarnya seraya memasukkanku ke mobilnya. Aku spontan memberikan tatapan
bengisku padanya ketika ia menutup pintu mobil itu.
Sial. Aku jengkel sekali.
Akhirnya, dia masuk ke mobil, lalu
duduk di sebelahku.
"Kau tahu kalau aku sedang
marah, ‘kan, sir?" tanyaku sembari menatapnya tajam.
Dia menghidupkan mesin mobilnya.
"Sayang sekali, aku tidak tahu, Nona."
Cukup soal ini. Dia membuatku
terlihat seperti singa yang marah-marah tak jelas padanya, padahal dialah yang
salah di sini!
Aku membuang wajahku dan mendengkus
kesal. Aku terlihat gila sendiri—benar, gila—karena harus menghadapi manusia
tanpa ekspresi sepertinya nyaris setiap hari. Aku bahkan jadi kesal saat mengingat
bahwa kini dia telah menjadi suamiku.
Aku pun menghela napas dan mencoba
untuk sabar.
"Fine. Jadi, kita mau ke mana? Pagi-pagi begini,"
kataku. "Aku tak mengerti, tetapi setahuku kita cuti kerja, 'kan? Jangan
bilang kau tak rela waktu kerjamu tersita karena pernikahan? Atau mungkin kau—oh,
apa yang tadi kalian bicarakan?"
"Kau selalu berisik sepanjang
hari," jawabnya datar. "Kau cantik ketika sedang tidur…atau diam."
HAH?! Ini pujian atau hinaan? Mengapa
terdengar menjengkelkan?
"Jadi, maksudmu aku buruk rupa
ketika aku terbangun dan ketika aku berbicara, HAH?!" teriakku.
"Bukan buruk rupa."
"JADI?!!" Aku mulai
emosi. "Ah, sudahlah!!"
Sialaaaaaaaannn!!!!
Ia menghela napasnya samar.
"Aku membicarakan tentang
pamanmu kepada Locardo. Aku memberitahukan segalanya, tentang kau yang
sebenarnya memiliki paman dan pamanmu itu menghilang. Makanya, di pesta tadi kau
didampingi oleh ayahnya Megan." Justin bernapas samar, lalu mengerutkan dahi.
"Aku memberitahunya tentang segala hal, kecuali tentang Red Lion. Itu sebaiknya
tak usah diberitahu karena kita sendiri juga akan melupakan masa lalu
itu."
Aku sedikit terperangah. Namun, aku
tetap menunggu apa yang akan ia katakan selanjutnya.
"Aku juga meminta izin padanya
untuk mencari Nathan. Aku menolak keinginannya untuk membantuku."
Aku mengernyitkan dahi.
"Aku akan membantumu. Dia
adalah Pamanku," ujarku. Aku memegang dan meremas lengannya pelan.
Merasakan kerasnya otot-otot di sana dan melihat tattoo bergambar
pistolnya itu. Dia menggulung kemejanya hingga ke lengan.
Setelah itu, dia pun menatapku…dan
tersenyum padaku.
Senyum yang jarang kulihat...dan
kuharap aku adalah si wanita beruntung yang bisa terus melihat senyuman itu.
"Ada sesuatu yang harus kau
lihat pagi ini," ujarnya kemudian.
******
Kami berhenti di depan sebuah gedung.
Terlihat banyak anak kecil yang berlari-larian di halamannya. Anak-anak kecil
itu bermain ayunan, perosotan, dan lain-lain di halaman itu. Akhirnya,
aku sadar…bahwa ini adalah panti asuhan.
"Justin, ini...Panti
Asuhan?" tanyaku pada Justin. Aku terpukau.
Dia menatapku dalam, lalu berkata,
"Turunlah."
Dia turun dari mobil dan aku pun ikut
turun. Dia menghampiriku, menggenggam tanganku dan berjalan di depanku. Mengapa
dia mengajakku ke Panti Asuhan ini?
Tiba-tiba, ia melepaskan pegangan
tangannya…dan berbalik menatapku. Tatapannya benar-benar lembut.
Tatapan mata itu seakan-akan
mengunciku; dia sering sekali menatapku seperti ini. Dia tak membiarkanku melihat
ke lain arah. Ini membuat jantungku berdegup tak keruan.
"US$ 100 juta itu takkan habis
hanya untuk pesta, Violette. Aku hanya memakai US$ 60 juta untuk pesta
pernikahan,” katanya.
Aku bengong.
Saat sadar dengan apa yang baru
saja ia katakan, jantungku serasa hampir copot. Aku kontan memelototinya. "W—Wait!
Jadi, maksudmu..."
“Hm,” dehamnya. “Aku memberikan sebanyak
US$ 40 juta untuk dibagikan ke semua Panti Asuhan yang ada di New York serta ke
organisasi charity. Mereka pantas mendapatkannya…dan mereka juga akan mendoakan
pernikahan kita. Aku selalu ingat tentang kita berdua yang yatim piatu seperti
mereka. Kita berdua juga awalnya dirawat oleh Brian, ‘kan?”
Aku sepenuhnya terdiam.
Aku menyimak semua kata yang ia ucapkan
dengan tulus. Selama ini, aku mengecapnya sebagai CEO yang kejam, tetapi di sisi
lain…aku tahu kalau ia adalah orang baik. Dia selalu memiliki sisi hangat yang
hampir selalu terkunci, tetapi ada.
Kuharap… suatu saat nanti…aku bisa
membuka sisi itu sepenuhnya.
Meski telah mendapatkan dirinya
yang punya banyak kelebihan, meski sekarang wajah tampannya hampir selalu ada
di depan mataku...aku masih merasa bahwa dia belum begitu terbuka padaku. Dia
selalu menyimpan dan menyelesaikan masalahnya sendiri.
"Terima kasih, Justin...
Terima kasih karena telah mengingat tentang kita…dan telah memikirkan anak-anak
itu," ucapku dan tanpa sadar air mataku mengalir.
Dia tersenyum. Aku pun menghapus
air mataku, lalu ikut tersenyum padanya. Ia mendekatiku dan menggenggam
tanganku lagi.
Kami berhenti di depan pintu utama
Panti Asuhan itu dan memberi salam. Mereka menyambut kami dengan hangat.
Beberapa menit berlalu. Aku masih
mengobrol dengan para penjaga Panti Asuhan, sementara Justin mulai bermain
dengan anak-anak itu. God, itu adalah pemandangan yang paling indah yang
pernah kulihat dalam hidupku. Justin terlihat sederhana, yet beautiful. Dia
terlihat seperti…malaikat. Seseorang yang ternyata bisa luluh hatinya meski ia
sukar memercayai orang lain.
Justin memang memberikan 40 juta
dan disebarkan kepada banyak Panti Asuhan di New York, tetapi kami hanya
mengunjungi salah satunya saja. Kemudian, kami kembali.
Aku sekarang sudah berada di dalam
mobil bersamanya. Perjalanannya terasa nyaman. Kutatap jalanan di depanku dan tak
lama kemudian…kami melewati sebuah gerbang dan masuk ke area yang ada di balik
gerbang itu. Ini seperti lokasi pribadi dan aku tak yakin ke mana dia akan
membawaku pergi.
Aku melihat ke arahnya, mencoba
untuk mengajaknya berbicara. Aku tahu akulah yang banyak bicara di sini, tetapi
apa boleh buat, dia takkan bicara jika aku tidak cerewet.
"Kita ke mana sekarang?"
"Sudah sampai," ujarnya
tak lama kemudian. Aku mengernyitkan dahi dan kontan memandang ke depan.
Betapa terkejutnya aku tatkala
mendapati apa yang ada di depan sana.
Di sana, ada sebuah rumah yang
sangat megah, bak istana, yang berwarna hitam bercampur abu-abu. Istana itu
benar-benar luas dan tinggi. Mobil ini berhenti tepat di halaman depan dan di
samping kami—di tengah-tengah halaman ini—ada sebuah air mancur yang berhiaskan
patung malaikat bersayap. Aku menganga seketika. Dengan tanpa berkedip, aku
langsung keluar dari mobil. Aku menutup mulutku saat kutatap rumah ini secara
langsung. Ini sangat besar dan luas. Ini…mega mansion.
Kami bagaikan semut yang berhadapan
dengan gajah!
Saat itu juga, aku berlari mendekati
mansion itu.
"Justin...rumah siapa ini?!
Kita berkunjung ke...rumah siapa?" tanyaku histeris. Aku sampai menggeleng,
bagaikan orang yang tak pernah melihat rumah megah.
Aku mendengar langkah kaki Justin yang
mendekatiku. Tak butuh waktu lama…dia telah berada di sampingku. Ia mulai
memasang sunglasses-nya dan…oh Tuhanku, aku belum berhenti
mengagumi rumah ini dan sekarang dari mana datangnya sunglasses itu? Dia
memakai kemeja yang digulung hingga ke lengan dan dua kancing atasnya terbuka.
Sekarang, dia memakai sunglasses juga? Hello…dia terlihat semakin
seksi!
"Sebenarnya, aku menghabiskan
US$ 400 juta, kalau dihitung dengan rumah ini beserta isinya," ujarnya.
Aku terkesiap; aku nyaris saja jatuh karena lututku mendadak lemas.
"A—APAAAAAA?!!!!!!! ITU UANG
ATAU DAUN?!!!!!" teriakku. Suaraku kencang sekali. Mataku serasa hampir lepas
dari soketnya.
Justin tersenyum miring padaku,
lalu menggandengku menuju ke pintu berdaun dua mansion itu.
Astaga, jadi—jadi...ini rumah...
"Kapan kau membangun rumah ini?
Atau kau membelinya?" tanyaku. Mulutku masih terbuka lebar. Dia mulai membuka
kunci pintu rumah itu. Saat pintu besar itu terbuka, mataku membelalak melihat
isinya.
Oh, God.
Interior yang sempurna...
"Rumahmu juga, 'kan?" ujar
Justin. Dia berbalik dan membuka kacamatanya, lalu tersenyum miring padaku.
Aku langsung berlari melihat-lihat bagian
dalam rumah itu. Demi Tuhan, ini besar sekali! Ini hanya untuk kami berdua, 'kan? Kok
Justin membeli rumah yang sangat besar?
Tiba-tiba, pipiku merona tatkala memikirkan
bahwa aku akan tinggal bersamanya di dalam rumah yang begitu besar ini.
Astaga...jantungku jadi berdegup kencang.
Justin berjalan ke sebelahku. Dia
tiba-tiba menarik kedua tanganku agar aku menghadap ke arahnya. Aku sedikit kaget;
mataku melebar. Dia menatapku dengan serius.
"Kau kenapa?"
tanyaku. Namun, dia terus menatapku tanpa melakukan apa pun.
Tiba-tiba saja…
…ia memelukku.
Sebelah tangannya melingkari
punggungku dan sebelah tangannya lagi memegang bagian belakang kepalaku. Aku
bisa merasakan napasnya di antara rambutku. Selain itu, wangi tubuhnya juga selalu
berhasil memabukkanku.
"Kita akan menyelamatkan Nathan
besok. Aku sudah mengurus segalanya. Istirahatlah untuk hari ini, hmm? Besok
aku akan memberitahu seluruh rencanaku padamu."
Mataku membulat. []












