Sunday, August 24, 2025

My Cold CEO, My Perfect Seducer (Chapter 15: Love Is Never Planned)

 


******

Chapter 15 :

Love Is Never Planned

 

******

 

Violette:

OH. Gaun ini sempit sekali.

High heels ini juga…tinggi sekali!! Aku biasa menggunakan high heels yang tingginya sekitar 4 cm dan malam ini aku memakai yang 12 cm. Bibi Locardo memilihkan sepatu yang 'katanya' agak pendek untukku karena tahu aku kurang bisa menggunakannya. Namun, bila yang ini saja ‘agak pendek’ baginya, berarti yang ‘panjang’ itu berapa cm? Astaga.

Sepatunya memang cantik dan elegan, tetapi...cukup sudah. Aku ingin melepas sepatu ini sekarang juga. Soalnya, aku sudah memakai sepatu ini sejak pagi (sejak di gereja)…dan sekarang sudah malam. Ini semua karena ‘acara’ yang diadakan di tiga tempat. Paginya kami berada di gereja (ini tidak bisa disebut sebagai pesta, sih, tetapi tetap saja persiapannya mewah sekali), lalu jam sekitar jam 11 pagi, Justin membawaku ke rumah Paman Locardo karena ada pesta yang diselenggarakan di sana. Di sana, kami bertemu dengan kerabat-kerabat Paman Locardo yang juga masih kerabat Justin. Aku banyak berkenalan dengan keluarga jauh Justin di sana. Di sana juga ada rekan-rekan bisnis Paman Locardo; mereka memujiku dan Justin berkali-kali, membuat pipiku merona tanpa henti.

Evan juga sangat...populer. Well, anak itu...meskipun baru berumur lima tahun, sudah banyak perempuan yang mendekatinya. Ada yang dewasa dan ada yang seumuran dengannya. Khusus yang dewasa, mereka hanya sibuk merayu-rayu Evan karena gemas dengan gaya, ketampanan, dan juga kesombongannya. He is very confident and that attitude is indeed cute in the eyes of adults. Dia dipuji tampan, fashionista, dan lain-lain.

Evan luar biasa angkuh dan aku jadi geleng-geleng kepala sendiri melihat tingkahnya yang tak beda jauh dengan Uncle-nya.

Ingat siapa ‘Uncle’-nya?

Well, siapa lagi kalau bukan Justin. Sifat mereka sama saja. Apakah Keluarga Alexander ini terlahir dengan sifat yang sama turun-temurun?

Ah, entahlah. Lagi pula, aku akan terdengar munafik kalau mengatakan itu, soalnya aku sendiri...menikah dengan salah satu keturunan Alexander.

Pipiku memanas lagi ketika aku mengingat kebenaran itu. Aku menoleh sebentar ke sosok Justin yang ada di sampingku; tangannya tengah memeluk pinggangku dengan erat. Ia tak pernah melepaskanku seharian ini.

Justin luar biasa tampan, padahal aku tahu bahwa dia belum beristirahat sama sekali hari ini, sama sepertiku.

Malam ini, kami mendatangi acara yang diadakan di lokasi ketiga, yaitu di Manhattan Beach. Ini bisa dibilang…semacam beach party. Makan-makan, minum wine, dan menikmati penampilan dari beberapa penyanyi lokal. Pesta ini ternyata lebih meriah daripada pesta di rumah Paman Locardo, soalnya ini terasa lebih bebas dan menyenangkan. Banyak anak muda yang menikmatinya; ramainya bukan main. Aku tak pernah menyangka bahwa pesta pernikahanku akan didatangi oleh orang-orang yang tak kukenal. Saking banyaknya tamunya, pestaku seolah-olah dirayakan oleh satu kota.

Aku senang, tetapi aku tak tahu harus bagaimana. Apakah aku harus duduk diam? Apakah aku harus ikut joget-joget? Ah, itu memalukan.

Namun, karena kebingungan dan overwhelmed sendiri, aku jadi banyak diam. Bibi Locardo sempat menceramahiku karena aku malah diam di pestaku sendiri. Dia bilang, aku harus menikmatinya. Ini adalah pesta pernikahanku.

Sekarang, aku sibuk menarik-narik gaunku ke atas—agar belahan payudaraku tak terlihat—serta sibuk membenarkan high heels-ku ketika Justin masih memelukku sembari mengobrol dengan rekan bisnisnya ditemani dengan wine. Kami saat ini sedang berdiri, jadi…sulit bagiku untuk mengangkat kakiku (demi membenarkan sepatu) saat gaun yang kupakai terasa begitu skintight.

Ya Tuhan...jangan sampai gaunku robek di bagian bawahnya karena kutarik…

 

"Ada apa denganmu? Kau lelah?"

 

Suara dingin Justin mendadak terdengar lebih jelas (mungkin karena pertanyaan itu ditujukan untukku) dan mataku spontan membulat. Aku menatapnya, lalu menghela napas.

"Bukan, Justin. Aku merasa sedikit tak nyaman dengan high heels-ku, itu saja."

Dia mengangguk, lalu meletakkan wine-nya di atas meja. Aku merasa bahwa rekan bisnisnya mulai menatapku geli. Keningku sedikit berkerut saat menatap mereka (karena aku bingung mengapa mereka menatapku seperti itu), tetapi tiba-tiba suara Justin kembali terdengar.

"Ada apa dengan high heels-mu?"

Aku menatapnya, lalu tubuhku seakan-akan menggelenyar ketika aku menatap bola mata lelehan emas miliknya. Itu adalah sepasang mata yang paling indah yang pernah kulihat.

Aku mendadak gugup bukan main. Namun, agar bisa berbicara dengan benar pada Justin, aku pun langsung menggeleng.

"Ketinggian, Justin."

Entah mengapa, meskipun dia diam saja, aku merasa bahwa tatapan matanya padaku kini mengandung jenaka.

Dia membawaku berjalan menjauhi rekan-rekan bisnisnya itu dan mereka menatap kami berdua sembari tersenyum penuh pengertian. Dia masih berjalan di sebelahku dan aku tak tahu apa yang ingin dia lakukan.

Tak lama kemudian, dia berhenti. Dia berhenti di spot yang tidak terlalu ramai, tetapi juga tidak sepi.

Aku mengernyitkan dahi. "Mengapa kau meninggalkan mereka?"

"Tidak ada alasan spesifik," jawabnya. Aku tahu bahwa kini matanya mulai menatapku dengan atensi penuh. "Apa kau ingin mengganti sepatumu?"

Aku meneguk ludah, sadar kalau aku terpaku karena melihat wajahnya. "Tidak, tidak usah."

"Kalau begitu tidak usah."

...Hah? Just like that?!

"Kau—"

"Benarkanlah sepatumu, Violette. Kau terlihat begitu gelisah; kau mengingatkanku dengan jentik-jentik. Kau membuat mereka melihatmu dengan tatapan yang tak seharusnya," ujarnya dingin. Matanya memperhatikan high heels yang kupakai. Setelah beberapa saat, matanya pun kembali menatapku. Tatapannya mengandung jenaka.

Sial. Entah mengapa, aku kesal sekali dengan tatapan gelinya itu.

Aku menggeleng, kemudian menyatukan alis. "Jentik-jentik? Wait. ‘Melihat dengan tatapan yang tak seharusnya’? Apa maksudmu?"

"Rekan-rekan bisnisku yang tadi kutinggalkan."

Aku menatapnya tak percaya, kemudian aku meneguk ludahku. Sebentar. Bukannya tadi dia sedang mengobrol dengan mereka? Kapan dia memperhatikan semua itu?

Dia memasukkan tangannya ke saku celananya dan aku ingin memfotonya sekarang juga. Tadi…sudah banyak fotografer yang memfoto kami berdua, tetapi entah mengapa aku ingin mengabadikan fotonya sendirian dengan pose ini.

"Kau ingin pulang? Kau tahu ini malam pertama." Dia memiringkan kepalanya, tersenyum miring, dan tiba-tiba matanya terlihat seperti laser yang menyorotkan sinar keemasan ke arahku. Aku tersedak seketika.

Aku menunduk dan pipiku memanas. Sepertinya, panasnya sampai ke telingaku. Ya, ya, ya, aku tahu ini malam pertama, tetapi—jangan dulu! Aku tak ingin memikirkan apa pun yang membuat perutku bergejolak.

Karena terlalu malu, aku pun membalikkan tubuhku (sedikit menjauhinya) dan menggigit bibirku kuat-kuat. Aku akan terdengar egois, tetapi sebenarnya…aku belum bisa menyerahkan diriku sepenuhnya. Aku terlalu malu untuk itu. Aku tahu kalau dia sudah memilikiku, tetapi aku belum siap.

Aku tiba-tiba berhenti menggigit bibirku ketika kudengar ada beberapa wanita yang cekikikan di belakangku.

Mereka tertawa genit dan memanggil-manggil…

…nama Justin?

Aku kontan berbalik dan kulihat mereka mengobrol dengan Justin sembari cekikikan. Mereka agaknya baru saja menghampiri Justin. Sial, kok aku mendadak kesal melihat pemandangan itu? Apakah aku sudah lelah?

Dua detik kemudian, tanpa kusadari…aku mengangkat gaunku ke atas dan berlari cepat ke arah Justin. Setelah berada di dekatnya, aku pun memeluk tubuh maskulinnya dengan erat. Para wanita itu langsung pergi dan aku memejamkan mataku kuat-kuat.

Tubuh Justin terasa diam saja. Karena merasa aneh, aku pun melepaskan pelukanku dan mendongak demi melihat wajahnya.

Detik itu juga, kutemukan dia tersenyum miring seraya menatapku geli.

Aku meneguk ludahku; kontan pipiku memerah lagi. A—Apa ini?

Mengapa dia tersenyum seperti itu?

Sebentar. Apa—apa yang baru saja kulakukan?

 

"Nice catch, Mrs. Alexander," pujinya.

 

Aku spontan menganga.

Oh, Tuhanku!

 

Setelah itu, entah sejak kapan, dia mulai memelukku dengan erat. Perutku langsung bergejolak; jantungku langsung berdegup kencang. Sementara itu, Justin tampak tenang. Pernapasannya teratur. Tangannya melingkari pinggangku dan aku mencium wangi parfumnya yang elegan dan maskulin. Kuhirup wangi tubuhnya itu dalam-dalam. Aku pun sadar satu hal; tubuhku sepertinya kecil sekali di pelukannya.

 

"Do I smell good?"

 

HUAAA!!! KETAHUAN!

Ah, sial.

Dia benar.

Namun, aku tak bisa bohong; aku juga sedang lelah dan tak ingin melawannya. Aku tersenyum dan menunduk. Pipiku memerah, kemudian aku mengangguk pelan di dadanya.

Sebelah tangannya naik ke atas, lalu aku merasa tangan besar nan hangat itu mulai memegang bagian belakang kepalaku. Dia memegangnya seolah kepalaku pas untuk ukuran telapak tangannya. Setelah itu, aku merasa bahwa dia mencium kecil bagian samping kepalaku. Napasnya terasa hangat di kepalaku. Tanpa kusadari, aku balas memegang sebelah tangannya yang masih memeluk pinggangku.

"Aku mencintaimu, Justin," bisikku pelan. Jantungku berdebar-debar.

Sepertinya, dia tersenyum di antara rambutku.

"Sabarlah, nona keras kepala... Sebentar lagi kita pulang," bisiknya. Aku pun tersenyum dan kembali mengangguk di pelukannya. Dia mengusap kepalaku pelan, lalu mengeratkan pelukannya di pinggangku. Entah mengapa, rasanya nyaman sekali memegangi lengan Justin yang terbalut jas itu...malam ini. Dia selalu tampil memesona.

Mengingat bahwa kini dia adalah suamiku, membuat pipiku memerah bukan main.

"Ehm! Ehm ehm!!"

Aku spontan membulatkan mataku dan Justin perlahan-lahan melepaskan pelukannya. Aku langsung berbalik—melihat ke asal suara itu—tanpa menatap Justin lagi.

Betapa terkejutnya aku ketika kutemukan sosok Hillda beserta keluarga kecilnya berdiri di depanku.

"Hai, Violette," sapa Hillda, dia tersenyum manis sembari melambaikan tangannya. Anak laki-lakinya—Christian—membuatku takjub dan aku bahagia sekali. Martin ada bersamanya, sedang menggendong Christian dan mereka mendekati kami.

Aku langsung berjalan mendekati mereka dengan mulut yang terbuka akibat kaget (sekaligus tak menyangka) walaupun aku tahu bahwa mereka memang akan menghadiri pesta pernikahanku.

Oh Tuhan, aku sangat bahagia.

Aku langsung menghambur ke pelukan Hillda ketika mereka sampai di depanku. Justin juga langsung memeluk Martin. Mereka—sesama pria—berbicara berdua dan kudengar Martin memberikan selamat pada Justin. Setelah itu, aku tak mendengarnya lagi karena aku sibuk menempel pada Hillda. Aku ingin mencurahkan segala kebahagiaanku hari ini padanya. Aku ingin berteriak, sebenarnya, tetapi aku tidak segila itu untuk benar-benar melakukannya.

"Hillda!!! Kapan kau datang?! Mengapa aku baru melihatmu?!!" teriakku. Aku pun melepaskan pelukan kami. Dia tertawa.

"Aku baru sampai. Perjalanan dari Paris ke sini lumayan lama, Violette. Aku sempat ada urusan juga tadi pagi. Maaf, ya…karena tidak bisa melihatmu saat kau mengucapkan sumpahmu. Demi apa pun, Violette, aku minta maaf," ujarnya dengan penuh penyesalan. Rasanya aku ingin menangis.

Aku memeluknya lagi. "It's okay. Aku senang kau datang."

Dia memelukku balik, lalu mengusap punggungku.

Aku memeluknya semakin erat dan tiba-tiba aku sadar bahwa dia...sepertinya tambah gemuk? Tinggiku hampir sama dengannya—lebih tinggi aku, sih. Namun, ada apa ini?

Aku melepas pelukan kami lagi, kemudian memegang lengannya. "Hillda, kau…tambah gemuk? Atau perasaanku saja?"

Hillda tertawa kecil. Dia menaikturunkan alisnya di hadapanku. "Aku ini sudah ibu-ibu, Vio. Wajar, 'kan?"

"Kau masih muda," kataku sambil memberikannya tatapan menginterogasi. Aku tahu dia selalu menjaga pola makannya, apalagi Martin itu overprotective dan tak mau dia makan sembarangan.

"Wah, kau ketularan Justin, ya? Tatapanmu mengerikan sekali, sama seperti Justin," komentarnya. Dia tertawa kencang, lalu melanjutkan, "Tidak kok. Aku sedang hamil lagi."

Mataku memelotot.

"APAAAAAAAAAAAAA?!!!" teriakku. Suaraku sangat kuat hingga Justin dan Martin refleks menoleh padaku. Hillda langsung menutup mulutku.

"Vio, suaramu keras sekaliii!" bisiknya panik.

Aku langsung melepaskan pelukan Hillda. Setelah itu, aku kembali memeluknya dengan erat.

"Selamat, Hillda. Selamat..." ujarku lirih. Tanpa sadar, aku menitikkan air mata.

Ketika pelukan kami terlepas, aku pun mengusap perut Hillda.

"Laki-laki atau perempuan? Sudah kau cek? Sudah berapa bulan?"

"Masih tiga bulan, Violette. Hahaha." Dia tertawa. Dia tampak sangat bahagia. Aku tersenyum riang.

"Selamat ya, ibu dua anak," kataku. Aku pun tertawa terbahak-bahak dan dia langsung ikut tertawa seraya menepuk lenganku.

Aku kemudian teringat sesuatu.

"Oh, ya!" Aku langsung berlari ke arah Justin dan Martin. Aku mengambil Christian dari gendongan Martin dan kini gantian aku yang menggendong anak itu. Christian sangat tampan, dia sekarang pasti sudah berumur empat tahun. Soalnya, beberapa bulan yang lalu, saat kami berkunjung ke perusahaan Martin, saat itu Christian sudah berusia tiga tahun lebih.

Aku menimang Christian dan merasa bahagia ketika melihat anak kecil seimut dia. Namun, sebenarnya dia masih kalah tampan dengan Evan. Ups.

"Seingatku, kau sedang lelah. Mengapa masih bisa berteriak?" Mataku membelalak ketika kudengar suara dingin Justin itu. Aku pun berbalik menatapnya.

Hillda dan Martin tertawa.

"Memangnya kenapa?" jawabku. Alisku menyatu karena aku tak mengerti mengapa dia mempermasalahkan itu.

"Padahal kau harus bersiap-siap untuk nanti malam," ujar Justin dengan senyum miringnya.

Pipiku kontan memerah. Aku menganga.

Karena malu bukan main, aku pun langsung mengentak-entakkan kakiku, menjauhi kedua pria itu. Sempat kudengar Martin tertawa terbahak-bahak lagi.

 

Sialaaannnnnn!!!!!!!!!

 

Aku menghampiri Hillda dengan muka yang memerah bak kepiting rebus. Hillda lalu mengambil Christian dariku.

Di sanalah aku sadar bahwa ternyata Hillda juga mengikik geli saat menatapku.

Aduh, tertawalah sepuas kalian!!

"Cepat-cepat memiliki anak, ya," bisik Hillda padaku, lalu ia mengedipkan sebelah matanya. Aku langsung memelototinya.

Sialnya, dia justru tertawa terbahak-bahak.

Oh, Tuhan.

 

******

 

Author:

Elika membanting pistol yang ada di genggamannya dan berteriak karena frustrasi.

Dia berada di tempat ini sejak kemarin malam dan kenyataan itu membuatnya muak. Apa yang ia lakukan memang takkan bisa mengubah keputusan pria yang sedang ia kagumi itu, tetapi ini sudah di ambang batas. Pria itu menikah dengan Violette Morgan. Pria itu—Justin—tetap mengabaikannya.

Ia memang muak, tetapi apakah hal ini membuatnya lelah? Sepertinya…tidak. Permainan ini agaknya jadi lebih menarik, tetapi juga semakin memuakkan. Semakin ia mencoba untuk melawan, semakin ia merasa disudutkan. Elika menatap sosok Nathan yang ada beberapa meter di depannya; Nathan terikat di sudut ruangan dengan wajah yang penuh luka. Elika menatap Nathan dengan sinis. Dia muak melihat wajah Nathan.

"Stop it, Elika. Sialan. Aku membuat senjata itu sendiri dan itu menghabiskan banyak waktu, sialan," ujar Welton. Dia mengumpat, tetapi entah mengapa tetap terdengar santai. Dia sudah muak dengan Elika meski nyatanya mereka bekerja sama.

"Apa katamu? Mereka menikah dan kau ingin aku tenang-tenang saja?!! FUCK YOU!"

"Kau setubuhi saja dia. Kau tak perlu memikirkan sesuatu yang rumit seperti ini. Aku sekarang sudah bisa bergerak sendiri tanpa ada kau, dasar pelacur sialan," umpat Welton. Setelah itu, dengan segenap rasa marahnya, Elika pun berlari menghampiri Welton dan mencengkeram kerah baju pria itu dengan kuat. "Diam kau, sialan, aku tahu kau malu karena luka bakar di wajahmu; kau juga sekarat saat gagal melawan Red Lion beberapa tahun yang lalu. Sekarang, kau hanyalah si buruk rupa sialan yang terus menciptakan senjata di ruangan ini tanpa tahu kabar targetmu. Apa kau bilang? Kau sudah bisa bergerak tanpaku? Bisa bergerak tanpaku yang selalu memberi informasi tentang targetmu? Shut the fuck up. Aku tahu bahwa kau pasti takut dengan Red Lion. Maka dari itu, kau tak pernah pergi ke luar untuk mencari tahu semuanya sendiri."

"Aku tak takut sama sekali," balas Welton.

Elika meludah—menghina kata-kata Welton—lalu tanpa diduga ia mendengar suara tawa kecil.

Tawa kecil itu berasal dari Nathan.

Mata Elika kontan memelotot.

Elika melepaskan cengkeramannya pada kerah baju Welton dan ia langsung berlari menghampiri Nathan. Ia memukul kepala Nathan dengan kuat dan mencoba untuk mencekik Nathan yang kini penampilannya sudah terlihat kacau. Welton dan Elika sengaja tidak membunuhnya dan menjadikannya sandera untuk melihat apa yang ingin mereka ketahui.

Nathan mengaduh kesakitan dan napasnya tersengal-sengal.

"Diam kau! Kau menertawakanku, ya?! Kau menertawakanku? You fuckin' crazy old man!" teriak Elika. Dia memelototi Nathan. "Jangan bilang…kau senang karena keponakanmu menikah…dengan Justin Alexander? Kau terlalu cepat senang, you old man! Kau tahu bahwa keponakanmu itu bukanlah wanita yang akan melupakanmu begitu saja. Dia sangat menyayangimu..."

Elika mengelus pipi Nathan. Ia tersenyum dengan sarkastis.

"...dan dia akan merelakan nyawanya untukmu...di sini. Aku yakin itu akan terjadi; dia pasti akan datang ke sini untukmu. Aku takkan membiarkan suaminya terbunuh di sini juga, itu pun kalau suaminya datang bersamanya."

Elika tertawa keras, lalu ia berbisik tepat di telinga Nathan.

"Oh, satu lagi. Jangan pernah beritahu Welton bahwa Justin Alexander juga merupakan anggota Red Lion."

Elika menjauh, lalu tersenyum miring di depan Nathan. Hal itu membuat mata Nathan memelotot; Nathan ingin berteriak, tetapi ia tak memiliki tenaga yang cukup untuk itu.

 

******

 

Malam sudah hampir larut dan pesta pernikahan Violette belum kunjung selesai.

Setelah mengobrol banyak, Hillda dan Martin pun pulang ke hotel yang mereka booking. Semakin malam, Violette semakin lelah. Bibi Locardo pun menghampiri Violette dan menyuruh Violette pulang ke rumah mereka malam ini, tetapi Violette menolak.

Namun, biar bagaimanapun juga, tubuh Violette memiliki batas. Soalnya, pada akhirnya kini ia berada di dalam mobil bersama Justin. Ia terus menguap, lalu akhirnya tertidur di bahu Justin (mereka duduk di jok penumpang belakang). Sopir Paman Locardolah yang mengantarkan mereka pulang. Malam ini, mereka akan beristirahat di rumah Paman Locardo, sesuai dengan apa yang disarankan oleh Bibi Locardo.

Begitu sampai di halaman rumah Paman Locardo, Justin membuka pintu mobil, melepaskan high heels Violette, lalu menggendong tubuh gadis itu. Justin menggendong Violette sembari memegangi sepatu gadis itu.

Violette tertidur begitu pulas sampai-sampai ia tak sadar bahwa Justin menggendongnya masuk ke rumah…menaiki tangga…lalu masuk ke sebuah kamar yang ada di lantai atas. Kamar itu adalah kamar Justin dahulu (saat Justin masih tinggal bersama Paman Locardo). Malam itu, hampir semua pelayan sudah tidur; hanya ada satu pelayan yang terbangun dan membukakan pintu rumah. Jadi, si pelayan itu beserta sang sopirlah yang membawakan barang-barang mereka dari belakang, membuntuti Justin sembari berjaga-jaga. Sang sopir terlihat agak khawatir. Ia menduga bahwa Justin juga lelah.

Sebenarnya, Justin tak terlihat lelah sama sekali. Apakah dia hanya tak mau menunjukkannya? Atau mungkin...dia memang tidak lelah karena sudah terbiasa kerja berat sebagai CEO setiap hari?

Justin membuka pintu kamar itu. Kamar itu gelap karena lampunya dimatikan.

Tanpa menghidupkan lampu, Justin berjalan mendekati ranjang dan membaringkan Violette di sana.

“Hng…” Violette bersuara lirih; gadis itu langsung berbaring dalam posisi menyamping.

Justin mengembuskan napasnya samar. Ia mulai meletakkan sepatu Violette di lantai, di sisi ranjang. Setelah itu, ia menyelimuti Violette dengan pelan.

Ia pun berdiri kembali, lalu mengambil barang-barang mereka dari pelayan dan sopir yang menunggu di depan kamar. Setelah itu, ia masuk ke kamar lagi dan menutup pintu kamar itu.

Justin meletakkan barang-barang mereka di sofa, lalu menghidupkan AC. Setelah itu, bola mata karamelnya langsung melihat Violette yang sedang membenarkan selimut dalam tidurnya. Sejak kapan selimut itu bergeser lagi?

Justin mendekati ranjang, lalu membantu Violette membenarkan selimut itu. Sudut bibirnya tertarik dan ia mulai menyingkirkan beberapa helai rambut Violette yang menempel di dahi. Rambut itu lengket di sana karena Violette sedang berkeringat.

Well, AC-nya baru dihidupkan, soalnya.

Menghela napas, Justin pun berjalan ke depan jendela kamar. Dia menyibakkan gorden yang menutupi jendela itu dan cahaya rembulan otomatis langsung masuk menerangi kamar.

Justin berdiri di sana, tubuh tegapnya yang tampak dari belakang itu begitu berwibawa; dia menghadang sebagian cahaya rembulan yang ingin masuk ke kamar. Bayangannya memanjang hingga ke sudut ruangan dan saat itulah Justin tiba-tiba mengambil ponselnya dari saku celananya.

Bola matanya terlihat sangat indah di bawah cahaya rembulan malam itu.

"Ya," jawab Justin setelah menempelkan ponselnya di telinganya.

"Mereka sengaja meninggalkan sidik jarinya saat itu. Mereka memang ingin ‘ditemukan’ oleh pihak yang bersangkutan, Tuan. Alamatnya sudah kami temukan dan sepertinya dugaan bahwa mereka adalah mantan bawahan Mr. Martinous beberapa tahun yang lalu itu memang benar. Kami telah mendapatkan foto sang pelaku dan ini semua ada kaitannya dengan Ms. Elika."

Justin bernapas samar.

"Hentikan pencariannya sampai di sana. Aku akan memberikan instruksi lanjutan. Jangan kerjakan apa yang tidak kuperintahkan karena sisanya akan kuurus sendiri. Berikan alamat itu padaku."

Panggilan telepon itu pun terputus setelah orang di seberang sana mengucapkan beberapa kalimat.

Justin menaruh ponselnya di saku kemejanya, lalu ia menghabiskan waktu selama beberapa menit untuk berpikir seraya memandangi malam yang diterangi cahaya rembulan itu.

Ia adalah orang yang terencana, tetapi di sisi lain, ia juga bisa berbuat nekat apabila baginya itu adalah cara yang terbaik.

 

******

 

Violette:

Pagi ini, aku baru saja selesai mandi, setelah sebelumnya membantu Bibi Locardo memandikan Evan.

Sekitar jam setengah tujuh pagi tadi, aku terbangun dan mendapati Justin tertidur di sampingku; dia tidur seraya memelukku dengan posesif. Namun, seingatku…aku tertidur di mobil tadi malam. Apakah Justin yang membawaku hingga ke kamar?

Sepertinya…iya.

Aku pun akhirnya sadar bahwa malam pertama kami dihabiskan dengan cara seperti itu.

Aku tersenyum, aku tahu Justin bukan tipe pria yang tak tertarik dengan hubungan intim. Hell, bukankah semua pria justru sangat menyukainya? Namun, ada satu hal yang terpikir olehku: mengapa Justin tak pernah berkata dengan serius kepadaku tentang nafsunya…atau apalah itu?

Apakah aku se-tidak-menarik itu di mata Justin? Oh, tidak. Rasanya sakit sekali kalau itu benar...

Tak lama kemudian, aku keluar dari kamar dan menuruni tangga. Saat turun, aku melihat Justin sedang berbicara dengan Paman Locardo di ruang tamu. Sepertinya, mereka terlihat sangat serius… Apa yang sedang mereka bicarakan?

Tiba-tiba, Paman Locardo memanggilku. Mataku membulat.

"Y—Yes, Uncle," sahutku.

"Sudah mandi?" tanyanya.

Aku tertawa canggung, lalu mengangguk. "Sudah, Paman."

Mendadak aku mencium wangi parfum Justin di dekatku. Aku pun menoleh ke kiri, lalu menemukan Justin yang telah mengunciku dengan tatapannya.

"Ayo kita ke luar," ajaknya dengan suara dinginnya. Aku kaget lagi karena dia tiba-tiba memegang pergelangan tanganku dan membawaku keluar dari rumah. Ia berjalan bersamaku dan entah mengapa ia tetap terlihat berwibawa meski tidak memakai suit. Ia hanya mengenakan kemejanya pagi ini dan itu sangat...seksi.

Ketika ia membukakan pintu mobilnya untukku, aku langsung protes padanya, "Mau ke mana? Kau masih berbincang dengan Paman, 'kan?"

"Ini masih pagi dan kau sudah berisik," ujarnya seraya memasukkanku ke mobilnya. Aku spontan memberikan tatapan bengisku padanya ketika ia menutup pintu mobil itu.

Sial. Aku jengkel sekali.

Akhirnya, dia masuk ke mobil, lalu duduk di sebelahku.

"Kau tahu kalau aku sedang marah, ‘kan, sir?" tanyaku sembari menatapnya tajam.

Dia menghidupkan mesin mobilnya. "Sayang sekali, aku tidak tahu, Nona."

Cukup soal ini. Dia membuatku terlihat seperti singa yang marah-marah tak jelas padanya, padahal dialah yang salah di sini!

Aku membuang wajahku dan mendengkus kesal. Aku terlihat gila sendiri—benar, gila—karena harus menghadapi manusia tanpa ekspresi sepertinya nyaris setiap hari. Aku bahkan jadi kesal saat mengingat bahwa kini dia telah menjadi suamiku.

Aku pun menghela napas dan mencoba untuk sabar.

"Fine. Jadi, kita mau ke mana? Pagi-pagi begini," kataku. "Aku tak mengerti, tetapi setahuku kita cuti kerja, 'kan? Jangan bilang kau tak rela waktu kerjamu tersita karena pernikahan? Atau mungkin kau—oh, apa yang tadi kalian bicarakan?"

"Kau selalu berisik sepanjang hari," jawabnya datar. "Kau cantik ketika sedang tidur…atau diam."

HAH?! Ini pujian atau hinaan? Mengapa terdengar menjengkelkan?

"Jadi, maksudmu aku buruk rupa ketika aku terbangun dan ketika aku berbicara, HAH?!" teriakku.

"Bukan buruk rupa."

"JADI?!!" Aku mulai emosi. "Ah, sudahlah!!"

 

Sialaaaaaaaannn!!!!

 

Ia menghela napasnya samar.

"Aku membicarakan tentang pamanmu kepada Locardo. Aku memberitahukan segalanya, tentang kau yang sebenarnya memiliki paman dan pamanmu itu menghilang. Makanya, di pesta tadi kau didampingi oleh ayahnya Megan." Justin bernapas samar, lalu mengerutkan dahi. "Aku memberitahunya tentang segala hal, kecuali tentang Red Lion. Itu sebaiknya tak usah diberitahu karena kita sendiri juga akan melupakan masa lalu itu."

Aku sedikit terperangah. Namun, aku tetap menunggu apa yang akan ia katakan selanjutnya.

"Aku juga meminta izin padanya untuk mencari Nathan. Aku menolak keinginannya untuk membantuku."

 

Aku mengernyitkan dahi.

 

"Aku akan membantumu. Dia adalah Pamanku," ujarku. Aku memegang dan meremas lengannya pelan. Merasakan kerasnya otot-otot di sana dan melihat tattoo bergambar pistolnya itu. Dia menggulung kemejanya hingga ke lengan.

Setelah itu, dia pun menatapku…dan tersenyum padaku.

Senyum yang jarang kulihat...dan kuharap aku adalah si wanita beruntung yang bisa terus melihat senyuman itu.

"Ada sesuatu yang harus kau lihat pagi ini," ujarnya kemudian.

 

******

 

Kami berhenti di depan sebuah gedung. Terlihat banyak anak kecil yang berlari-larian di halamannya. Anak-anak kecil itu bermain ayunan, perosotan, dan lain-lain di halaman itu. Akhirnya, aku sadar…bahwa ini adalah panti asuhan.

"Justin, ini...Panti Asuhan?" tanyaku pada Justin. Aku terpukau.

Dia menatapku dalam, lalu berkata, "Turunlah."

Dia turun dari mobil dan aku pun ikut turun. Dia menghampiriku, menggenggam tanganku dan berjalan di depanku. Mengapa dia mengajakku ke Panti Asuhan ini?

Tiba-tiba, ia melepaskan pegangan tangannya…dan berbalik menatapku. Tatapannya benar-benar lembut.

Tatapan mata itu seakan-akan mengunciku; dia sering sekali menatapku seperti ini. Dia tak membiarkanku melihat ke lain arah. Ini membuat jantungku berdegup tak keruan.

"US$ 100 juta itu takkan habis hanya untuk pesta, Violette. Aku hanya memakai US$ 60 juta untuk pesta pernikahan,” katanya.

Aku bengong.

Saat sadar dengan apa yang baru saja ia katakan, jantungku serasa hampir copot. Aku kontan memelototinya. "W—Wait! Jadi, maksudmu..."

“Hm,” dehamnya. “Aku memberikan sebanyak US$ 40 juta untuk dibagikan ke semua Panti Asuhan yang ada di New York serta ke organisasi charity. Mereka pantas mendapatkannya…dan mereka juga akan mendoakan pernikahan kita. Aku selalu ingat tentang kita berdua yang yatim piatu seperti mereka. Kita berdua juga awalnya dirawat oleh Brian, ‘kan?”

Aku sepenuhnya terdiam.

Aku menyimak semua kata yang ia ucapkan dengan tulus. Selama ini, aku mengecapnya sebagai CEO yang kejam, tetapi di sisi lain…aku tahu kalau ia adalah orang baik. Dia selalu memiliki sisi hangat yang hampir selalu terkunci, tetapi ada.

Kuharap… suatu saat nanti…aku bisa membuka sisi itu sepenuhnya.

Meski telah mendapatkan dirinya yang punya banyak kelebihan, meski sekarang wajah tampannya hampir selalu ada di depan mataku...aku masih merasa bahwa dia belum begitu terbuka padaku. Dia selalu menyimpan dan menyelesaikan masalahnya sendiri.

"Terima kasih, Justin... Terima kasih karena telah mengingat tentang kita…dan telah memikirkan anak-anak itu," ucapku dan tanpa sadar air mataku mengalir.

Dia tersenyum. Aku pun menghapus air mataku, lalu ikut tersenyum padanya. Ia mendekatiku dan menggenggam tanganku lagi.

Kami berhenti di depan pintu utama Panti Asuhan itu dan memberi salam. Mereka menyambut kami dengan hangat.

Beberapa menit berlalu. Aku masih mengobrol dengan para penjaga Panti Asuhan, sementara Justin mulai bermain dengan anak-anak itu. God, itu adalah pemandangan yang paling indah yang pernah kulihat dalam hidupku. Justin terlihat sederhana, yet beautiful. Dia terlihat seperti…malaikat. Seseorang yang ternyata bisa luluh hatinya meski ia sukar memercayai orang lain.

Justin memang memberikan 40 juta dan disebarkan kepada banyak Panti Asuhan di New York, tetapi kami hanya mengunjungi salah satunya saja. Kemudian, kami kembali.

Aku sekarang sudah berada di dalam mobil bersamanya. Perjalanannya terasa nyaman. Kutatap jalanan di depanku dan tak lama kemudian…kami melewati sebuah gerbang dan masuk ke area yang ada di balik gerbang itu. Ini seperti lokasi pribadi dan aku tak yakin ke mana dia akan membawaku pergi.

Aku melihat ke arahnya, mencoba untuk mengajaknya berbicara. Aku tahu akulah yang banyak bicara di sini, tetapi apa boleh buat, dia takkan bicara jika aku tidak cerewet.

"Kita ke mana sekarang?"

"Sudah sampai," ujarnya tak lama kemudian. Aku mengernyitkan dahi dan kontan memandang ke depan.

Betapa terkejutnya aku tatkala mendapati apa yang ada di depan sana.

Di sana, ada sebuah rumah yang sangat megah, bak istana, yang berwarna hitam bercampur abu-abu. Istana itu benar-benar luas dan tinggi. Mobil ini berhenti tepat di halaman depan dan di samping kami—di tengah-tengah halaman ini—ada sebuah air mancur yang berhiaskan patung malaikat bersayap. Aku menganga seketika. Dengan tanpa berkedip, aku langsung keluar dari mobil. Aku menutup mulutku saat kutatap rumah ini secara langsung. Ini sangat besar dan luas. Ini…mega mansion.

Kami bagaikan semut yang berhadapan dengan gajah!

Saat itu juga, aku berlari mendekati mansion itu.

"Justin...rumah siapa ini?! Kita berkunjung ke...rumah siapa?" tanyaku histeris. Aku sampai menggeleng, bagaikan orang yang tak pernah melihat rumah megah.

Aku mendengar langkah kaki Justin yang mendekatiku. Tak butuh waktu lama…dia telah berada di sampingku. Ia mulai memasang sunglasses-nya dan…oh Tuhanku, aku belum berhenti mengagumi rumah ini dan sekarang dari mana datangnya sunglasses itu? Dia memakai kemeja yang digulung hingga ke lengan dan dua kancing atasnya terbuka. Sekarang, dia memakai sunglasses juga? Hello…dia terlihat semakin seksi!

"Sebenarnya, aku menghabiskan US$ 400 juta, kalau dihitung dengan rumah ini beserta isinya," ujarnya. Aku terkesiap; aku nyaris saja jatuh karena lututku mendadak lemas.

"A—APAAAAAA?!!!!!!! ITU UANG ATAU DAUN?!!!!!" teriakku. Suaraku kencang sekali. Mataku serasa hampir lepas dari soketnya.

Justin tersenyum miring padaku, lalu menggandengku menuju ke pintu berdaun dua mansion itu.

Astaga, jadi—jadi...ini rumah...

"Kapan kau membangun rumah ini? Atau kau membelinya?" tanyaku. Mulutku masih terbuka lebar. Dia mulai membuka kunci pintu rumah itu. Saat pintu besar itu terbuka, mataku membelalak melihat isinya.

 

Oh, God.

 

Interior yang sempurna...

"Rumahmu juga, 'kan?" ujar Justin. Dia berbalik dan membuka kacamatanya, lalu tersenyum miring padaku.

Aku langsung berlari melihat-lihat bagian dalam rumah itu. Demi Tuhan, ini besar sekali! Ini hanya untuk kami berdua, 'kan? Kok Justin membeli rumah yang sangat besar?

Tiba-tiba, pipiku merona tatkala memikirkan bahwa aku akan tinggal bersamanya di dalam rumah yang begitu besar ini. Astaga...jantungku jadi berdegup kencang.

Justin berjalan ke sebelahku. Dia tiba-tiba menarik kedua tanganku agar aku menghadap ke arahnya. Aku sedikit kaget; mataku melebar. Dia menatapku dengan serius.

"Kau kenapa?" tanyaku. Namun, dia terus menatapku tanpa melakukan apa pun.

Tiba-tiba saja…

…ia memelukku.

Sebelah tangannya melingkari punggungku dan sebelah tangannya lagi memegang bagian belakang kepalaku. Aku bisa merasakan napasnya di antara rambutku. Selain itu, wangi tubuhnya juga selalu berhasil memabukkanku.

"Kita akan menyelamatkan Nathan besok. Aku sudah mengurus segalanya. Istirahatlah untuk hari ini, hmm? Besok aku akan memberitahu seluruh rencanaku padamu."

 

Mataku membulat. []

 













******




Officially Mrs. Alexander.






^ this is edited, but well...i need this kind of picture.


When you accidentally open your front camera, but you're Justin Bieber so you still look good...



Mansionnya Alexander Family (Justin dan Vio). Aku bikin pake AI tapi based on Silicon Valley Mansion.




Monday, August 18, 2025

Dari Gavin, oleh Gavin, dan Untuk Gavin (Bab 4: Akibat Jomblo dari Orok)

 


******

Bab 4 :

Akibat Jomblo dari Orok

 

******

 

“OH, iya, Bu, nanti saya coba tanya sama Pak Saddam,” ujar Ayu, anggota Direksi Pengembangan, saat ngejawab permintaan (sekaligus perintah) Maureen. Ayu dan Maureen baru masuk dari pintu utama gedung dan lagi jalan di lobby. Maureen kebetulan ketemu Ayu di halaman gedung dan langsung ngedeketin Ayu karena keinget ada urusan soal kerjaan.

            Maureen ngangguk. “Hmm. Tolong, ya. Pak Gavin butuh itu, soalnya.”

Ayu senyum ceria, nyatuin jempol dan telunjuk kanannya sampe ngebentuk ‘O’, lalu ngejawab, “Oke!! Pagi ini juga—”

 

“Bye-byeee, Bapak gantengggg!”

 

Maureen dan Ayu langsung noleh ke asal suara. Dua kerutan muncul di dahi Maureen.

Mereka berdua berhenti jalan.

Di tengah-tengah lobi, agak jauh dari posisi mereka, terlihatlah Gavin dan…Nadine. Anak baru di Direksi Pengembangan. Cewek yang kemaren Maureen ‘tegur’ karena menurutnya kurang sopan sama Pak Gavin. Cewek itu barusan bersorak, terus sekarang…dia ngasih kiss bye sekaligus ngedipin sebelah matanya ke Gavin.

Belum selesai sampe di situ, cewek itu sekarang mulai ngelambaikan tangannya dan lanjut bersorak.

 

“Dadahh! Saya duluan, ya, Pak! Maaciii, Bapak gantengg!”

 

Ayu kontan nganga.

Tubuh Maureen mematung di tempat. Alisnya nyatu.

 

A—Apa?

Apa yang baru aja mereka saksiin?

Ada anak baru…yang nggodain Pak Gavin Aryadinata? A literal Ketua Direksi Pengembangan? Di LOBBY?!

 

Bukannya Maureen udah ‘negur’ anak itu kemarin?

Perasaan—

 

“Ah, ternyata gini, ya.”

 

Maureen dan Ayu langsung noleh ke ke asal suara. Suara yang barusan itu asalnya dari sebelah kanan mereka.

Ternyata, di sana ada Revan. Berdiri dengan jarak sekitar dua langkah di sebelah kanan mereka. Kayaknya, Revan juga barusan sampe di kantor.

Revan lagi megang dadanya sendiri, ekspresi mukanya keliatan kayak lagi terharu. Sambil terus ngeliatin Gavin dan Nadine, dia pun ngelanjutin omongannya, “Ternyata gini, ya, perasaan bapak-bapak kalo ngeliat anaknya udah dewasa.”

Ayu nahan ketawa; dia hampir ngikik. Sementara itu, Maureen diem aja. Nggak tau mau respon gimana. Ekspresi mukanya jadi datar.

Tiba-tiba, Revan noleh ke mereka berdua. Seolah ketarik dari adegan penuh harunya itu, Revan pun langsung tersenyum manis, soalnya dia notice ada Maureen di situ. Maureen itu sekretarisnya Gavin, jadi dia lebih kenal dengan Maureen ketimbang anggota-anggota Direksi Pengembangan yang lain.

“Oh, Maureen,” sapanya. Dia senyum ramah, kayak nggak berdosa. “Morning.”

Setelah nyapa, dia langsung jalan ke depan sana, pergi ninggalin Maureen dan Ayu gitu aja. Seolah-olah dia barusan nggak bikin adegan terharu di sebelah mereka. Seolah-olah dia barusan nggak cosplay jadi bapak-bapak yang bangga liat anaknya udah bisa cinta-cintaan.

Ngeliat Ketua Direksi Pemasaran yang nyapa dia, terus pergi gitu aja habis ngelakuin hal yang konyol begitu, Maureen cuma bisa jawab:

 

“Selamat pagi juga, Pak…”

 

            …dan Ayu diem-diem udah ketawa di sampingnya.

            Sungguh pagi yang cerah.

 

******

 

Walaupun tadi Nadine udah bilang ‘Dadaaah’ ke Gavin kayak mau ninggalin Gavin dan pergi duluan, sebenernya mereka tetep aja bakal pergi ke lantai atas sama-sama. Soalnya, ruangan Direksi Pengembangan dan Direksi Pemasaran itu sama-sama di lantai atas. Mereka juga harus naik lift yang sama. Nadine tadi sok-sokan bilang ‘dadah’ supaya bisa nggombalin Pak Gavin aja, kayak karakter-karakter cewek di anime atau di drama. Nadine kebanyakan nonton drama Cina, kayaknya.

Jadi, di sinilah mereka berdua, berdiri di lift. Berdua doang. Nadine masih mesem-mesem sambil terus ngeliatin Gavin. Pintu lift itu baru aja mau nutup ketika tiba-tiba…

…ada tangan yang nahan pintu lift itu.

Pintu itu pun jadi kebuka lagi.

Gavin nyatuin alis.

 

Siapa?

 

Pas pintu lift itu udah kebuka lebar, di situlah Gavin langsung masang ekspresi muka datar.

Soalnya, ternyata…yang nahan pintu itu adalah manusia yang-paling-nggak-mau-dia-liat-sekarang.

 

Revan.

 

Monyet, nih anak ngapa harus dateng sekarang, sih? Ngapa tadi dia nggak kena macet parah aja pas ngisi bensin??!

 

Gavin menghela napas.

Sementara itu, si Revan, dengan nggak berdosanya, malah nyengir dan ngangkat sebelah tangannya ke atas. Nyapa Gavin sambil mamerin gigi-gigi putihnya. “Haaai.”

Senyum gaje Revan itu langsung Gavin balas dengan pelototan. Namun, Revan malah nyuekin reaksi Gavin itu dan masuk ke lift seolah nggak terjadi apa-apa. Dia langsung berdiri di sebelah Nadine, badan jangkungnya itu kontras banget sama Nadine tingginya yang nggak sampe 160 cm.

“Pagiiii, Nadineeee,” sapa Revan dengan semangat. Semangatnya itu malah bikin Gavin keki setengah mampus. Gavin tau kalo anak itu jailnya bukan main. Dia pasti sengaja masuk ke sini buat ngganggu atau ngejekin Gavin.

“Pagi, Bapak!” jawab Nadine dengan semangat yang sama. “Bapak mau pergi ke atas bareng Pak Gavin, yaaa?”

“Nggak kokkk! Kebetulan ajaaa!” Revan ketawa.

Bacot, pikir Gavin. Dia menyilangkan lengannya di depan dada, lalu mendengkus kesel.

Ya…sebenernya emang akal-akalan doang, sih. Revan emang sengaja nungguin sampe Gavin dan Nadine masuk ke lift duluan. Tadi, pas dia udah jalan ninggalin Maureen dan Ayu, sebenernya dia nggak langsung naik ke lantai atas. Dia nunggu Gavin dan Nadine nyelesaikan ‘adegan’ mereka dulu. Sambil nunggu, dia berenti dulu di deket meja resepsionis. Ngapain? Ya nggombalin resepsionis, dong. Apa lagi?

Revan mah…semua spesies pasti dia gombalin. Baik yang hidup maupun yang mati. Kucing betina pun digombalin. Dulu, Gavin pernah ngira kalo Revan juga bakalan nggombalin tai kalo tainya dibedakin.

“Ohh! Kebetulan, yaaa…!” Nadine ngerespons dengan polosnya, sambil senyum riang, bener-bener nggak sadar kalo Revan cuma ngebohongin dia. Oke, Revan emang bisa ngebohongin Nadine, tapi kalo Gavin? Oh, nggak dulu. Nggak mempan. Gavin udah hafal akal bulus si biawak itu.

Dia pasti ke sini cuma buat nggangguin atau nggodain Gavin karena ‘deket-deket’ sama Nadine. Kampret.

“Iyaaa!” jawab Revan. “Nadine udah sarapan belom?”

“Udahh!” Nadine bersemangat. “Bapak udah sarapan??”

“Udah, dongg! Kalo nggak sarapan, bisa mampus saya. Hari ini banyak kerjaan, soalnya. Hahaha!!”

Nadine ikut tertawa. “Iya, ya, Pak. Hari ini banyak kerjaan. Mohon bimbingannya, ya, Pak. Tegur aja kalo Nadine ada salah.”

“Aman, Din. Santai aja. Nanti ada Abang Gavin yang bakal saya suruh negur kamu langsung. Khusus buat kamu aja.” Revan ngedipin sebelah matanya kepada Nadine.

Nadine pun tersipu. Dia nunduk dan nyelipin rambutnya ke belakang telinga, badannya goyang-goyang dikit akibat kesengsem. “Bapak nih tau aja kelemahan saya…”

Revan ngakak abis-abisan, sementara Gavin langsung natap Nadine dan nganga. Namun, karena suara tawa Revan itu bener-bener bikin jengkel, Gavin pun mulai natap Revan dan berdecak.

Ngedenger itu, Revan jadi natap Gavin balik. Dia langsung naikturunin alisnya di depan Gavin, mau nggodain sekaligus ngeledek Gavin. Seakan-akan mau bilang, ‘Liat, nih. Lo denger sendiri, ‘kan?’

Anjir.

Gavin langsung melototin Revan dan Revan makin ngakak. Namun, tepat saat Gavin ngalihin pandangannya ke depan, mendadak Nadine bersuara lagi.

“Pak Revan…?” Nadine natap Revan dengan mata yang berbinar-binar.

Revan, yang tadinya sibuk ngetawain Gavin, spontan tersentak karena suara Nadine. Dia langsung noleh ke Nadine dan ngejawab (sambil berusaha buat berhenti ketawa), “Hmm?”

Nadine senyum semringah. “Bapak sering nginep di rumah Pak Gavin nggak? Kan Bapak sahabatan sama Pak Gavin!!”

Revan senyum-senyum. “Iya, dong. Mau tau nggak baju apa yang sering dia pake di rumah?”

Gavin langsung noleh; matanya melebar dan mulutnya nganga. “Woi, Nyet!!!”

“Mauuuuu! Mau tauuu!!” teriak Nadine kegirangan. Revan nyengir puas, sementara Gavin langsung nepuk jidatnya karena kalah telak. Dia bener-bener nggak tau harus gimana ngehadepin keadaan ini.

“Dia suka pake celana pendek kalo di rumah. Celana pendek dan kaos polos warna putih. Oh, sama kaos itemnya yang gambar The Beatles itu. Dia suka The Beatles, soalnya,” jawab Revan. Gavin mulai mijitin keningnya, pusing minta ampun dengerin kehidupan pribadinya dibeberin di depannya mukanya sendiri.

“Waaah, The Beatles!! Pak Gavin suka The Beatles, ya, ternyata!!” kata Nadine, dia excited banget. “Terus apa lagi, Pak??”

“Dia juga suka basket walaupun nggak sepinter saya mainnya,” kata Revan dengan sok hebatnya.

Gavin sontak noleh ke Revan dan matanya langsung melotot. “Enak aja lo. Siapa yang bilang lo lebih pinter dari gue?!”

Revan ngakak. “Lho, kok marah, sih, Pak?”

“Tsk.” Gavin berdecak. “Ngajak ribut lo, ya?”

Bukannya takut sama ancaman Gavin, Revan malah balik ngomong sama Nadine. “Nadine mau foto-foto dia pas masih SMA nggak? Dulu, dia pernah foto pake iket kepala sambil pegang bendera One Piece di kantin.”

Gavin nganga.

 

TUHAN, AMBIL AJA GUE. GUE NGGAK SANGGUP LAGI.

Bangsaaaattt!! Itu monyet kayaknya kalo ngomong bisa ngasal 25 jam sehari!!

 

Nadine ketawa kenceng.

“Ya ampuunnn!!!! Mauuu!! Mau bangeetttt! Nanti Nadine boleh minta fotonya nggak, Pak??” tanya Nadine. Wah, kalo Nadine dapet foto itu, Nadine bakal cetak gede-gede dan tempel di dinding kamar, deh!

Gavin langsung noleh ke Nadine dan matanya membulat. Ini serius, nih, nggak nanyain ke gue dulu? Itu—itu foto gue, lho! Yang ada di foto itu gue, ‘kan? Kok nggak minta izin ke gue dulu?! Kenapa persetujuan gue nggak dihiraukan sama sekali di sini?

Namun, percuma aja. Revan langsung ngangguk antusias, jawab, ‘Oke, nanti saya kirim semua fotonya, yakk!!’ dan ketawa bareng Nadine.

 

‘KIRIM SEMUA FOTONYA’ PALA LU, pikir Gavin.

 

Sialan. Nih, ya, kalo Gavin bisa ngilangin satu orang dari sejarah hidupnya, itu pasti:

1.   Revan

2.   Revan

3.   Revan pake wig.

 

Beneran.

 

Kali ini, Gavin bener-bener ngehadap ke Revan dan natap Revan dengan serius. “Bener-bener minta dihajar nih anak satu. Ayo, ayo kita gelut di sini. Sekarang.”

Revan kontan ngakak. “Siaaap!! Mari adu mekanik, bosku!!”

“Diem lo, curut! Bas bos bas bos, nggak mau gue jadi bos lo!!” ujar Gavin kesal.

Revan ngakak lagi. “Kok lo marah-marah mulu, sih? Kan nggak apa-apa juga Nadine liat foto itu!! Keren, lho, itu!! Kenang-kenangan masa SMA!”

“Itu aib, Nyet, astaga!!” keluh Gavin. “Gue tanya lo: apa lo mau kalo gue sebarin foto lo yang lagi nge-band di depan kelas, pura-pura jadi vokalis sambil gitar-gitaran pake sapu lidi??”

“Wuih, gue keren banget, tuh, waktu itu.” Revan malah mulai megang dagunya dan ngangguk dengan muka serius. “Ngalah-ngalahin Ariel Peterpan.”

Nadine ngakak.

“Gue siram juga muka lo lama-lama,” ujar Gavin, ekspresi mukanya keliatan datar minta ampun, udah bener-bener kehabisan akal. “Dahlah. Berantem aja kita sekarang.”

Revan—yang otaknya nggak beres itulagi-lagi ngakak. “Di sini sempit banget, anjeeeer! Mana ada Nadine lagi! Nantilah, kita cari tempat yang luas aja kalo mau gelut. Tempat yang luas dan banyak ceweknya.”

“Lo manusia apa uler sawah, kampret? Segala makhluk mau lo lilit!! Makin tua bukannya makin normal, malah makin kesurupan.”

“Daripada uler sawah, gue lebih ke serigala, sih. Gue ganteng dan misterius, soalnya,” kata Revan sambil mengedikkan bahu.

Gavin muter bola matanya. “Kalo lo misterius, berarti matahari terbit dari barat.”

Nadine terus-terusan ketawa pas dengerin perdebatan dua ketua direksi yang naik lift sama dia itu. Dua-duanya sama-sama konyol. Namun, Nadine juga konyol, sih, jadinya Nadine nggak terlalu ngerasa aneh sama kelakuan mereka.

Ummm…tapi Pak Gavin dari tadi nggemesin bangeettt… Detail-detail kehidupan pribadinya nggemesin…cara dia berdebat sama Pak Revan juga nggemesin… Aaaaghh!!

Nadine mulai siap-siap mau nanya lagi. “Pak Revan, biasanya kalo—”

 

Ding!

 

Bunyi lift itu ngejutin mereka bertiga. Pertanyaan Nadine kepotong gitu aja, padahal dia masih mau nanya ini itu ke Revan soal Gavin.

Yah, tapi apa boleh buat. Kalo udah sampe di lantai tempat mereka kerja, ya…harus mulai kerja.

(Walaupun Nadine bakal tetep kerja sambil ngelamunin Pak Gavin, sih. Hehe).

Pintu lift itu pun kebuka. Mereka bertiga mulai jalan keluar dari lift. Namun, begitu pintu lift itu ketutup lagi—sebelum mereka bertiga bener-bener lanjut jalan—tiba-tiba aja Nadine lari ke depan. Sekitar tiga langkah.

Aksinya itu sukses bikin mata Revan dan Gavin sedikit melebar.

Nadine pun langsung berbalik. Dengan senyum riangnya, dia mulai pamitan.

“Saya duluan, ya, Pak Gavin dan Pak Revannn! Ada kerjaan yang harus saya selesaikan lebih dulu.” Nadine langsung natap Gavin, lalu ngedipin sebelah matanya. “Sampe nanti, ya, Pak Gavin yang gantenggg!”

Gavin tercengang.

Revan juga sama.

Namun, seolah-olah nggak sadar akan dampak yang dia kasih, Nadine pun berbalik lagi dan langsung lari ke depan sana. Dia lari cepet…sambil senyum gembira kayak anak SMP yang lagi kasmaran…dan masuk ke ruangan Direksi Pemasaran.

Sepeninggal Nadine, Revan langsung joget-joget nggak jelas. Dia joget kayak uget-uget sambil nyengir lebar di sebelah Gavin yang masih tercengang di tempat. Hari ini, Gavin udah dua kali dibikin nggak berkutik gini sama Nadine. Di lobby tadi…dan di sini. Di depan lift ini.

Nadine ini sebenernya…makan apa, ya?

Energinya banyak banget…

Kepala Gavin mendadak jadi kayak kosong melompong. Dia nge-hang. Error 404. Nggak pernah-pernahnya dia ngerasain hal se-absurd dan se-ngagetin ini. Semua ini bener-bener baru buat dia.

Sementara itu, Revan masih joget kayak uget-uget di sebelahnya.

“Cieeeee! Jadi, nih!!!” kata Revan, suaranya kenceng banget dan itu nyebelin minta ampun. “Bentar lagi jadi, nih, keknya! Yuhuuuu!!”

Gavin spontan noleh ke Revan (manusia yang harusnya dimasukin ke karung dan dibuang ke Hutan Amazon itu) dan nendang betis lelaki itu kenceng-kenceng. “Diem lu, kampret!!!”

Walaupun sambil megangin kakinya sendiri sampe pincang karena kesakitan, Revan tetep ketawa terbahak-bahak kayak kesetanan. Dia seolah-olah baru aja ngelakuin tap dance di atas puing-puing martabat Gavin. Dia puas banget hari ini.

Puas nyaksiin dunia temennya yang ‘lurus-lurus-aja’ itu akhirnya dihinggapi oleh ‘cinta’.

 

******

 

Siang itu, semua direktur, manajer, dan ketua direksi ngikutin meeting yang dipimpin oleh sang Direktur Utama, yaitu Deon. Marco Deon Abraham…yang sekarang udah jadi adek iparnya Gavin. Ekhem.

Meeting itu berjalan dengan lancar. Deon mimpin dengan baik, kayak biasa. Malah, sekarang Deon jadi keliatan lebih ramah. Lebih lembut. Tegas, sih, tapi nggak kejam kayak dulu. Dia jadi lebih manusiawi, kalo menurut Gavin. Hebat banget efek adeknya (Talitha) itu. Bisa aja itu kunyuk naklukin iblis menakutkan kayak Deon, padahal dia sendiri tingkat stress-nya sebelas dua belas sama Revan.

Dulu, yang selalu bikin Gavin pusing itu…kalo nggak Talitha, ya Revan. Sekarang, syukurnya oknumnya udah hilang satu. Udah nikah, soalnya. Ngelangkahin abangnya sendiri.

Selesai meeting, pas Gavin sama Revan baru aja mau keluar dari ruang meeting yang superluas itu, tiba-tiba Deon manggil dia.

 

“Bang!”

 

Wanjeeeeerr! Panggilan itu tetep aja bikin Gavin berasa keselek biji salak tiap dengernya, soalnya itu aneh aja kalo diucapin sama dirut kejam kayak Deon. Ya…tapi mau gimana lagi, ya. Sebenernya, Deon udah mulai manggil Gavin kayak gitu sejak pacaran sama Talitha, sih, tapi tetep aja Gavin nggak terbiasa. Kayak…agak aneh aja gitu, apalagi Deon itu kalo di kantor statusnya adalah atasannya. Deon adalah bos besarnya Abraham Groups.

Hadeh. Bingung mau bersikap kayak gimana. Jadi abang ipar…atau jadi bawahan, nih?

Tau kalo Gavin lagi dipanggil sama Deon, Revan pun senyum dan nepuk pundak Gavin buat izin pergi duluan. Gavin ngangguk, lalu dia liat Deon yang mulai ngehampirin dia. Deon jalan ngedeketin dia barengan sama asistennya. Cowok.

Pas udah sampe di depan Gavin, Deon pun senyum, begitu juga Gavin.

“Apa kabar, Bang?” tanya Deon sambil salaman sama Gavin. “Udah lama nggak liat, padahal sekantor.”

Gavin ketawa renyah, ngehilangin rasa awkward yang tadi sempet mampir di benaknya. “Hahaha. Baik, Deon. Kamu dan Ita apa kabar? Si Ita nggak bikin kamu pusing, ‘kan?”

Deon ketawa.

Wah, kalo ngeliat ketawanya Deon yang sekarang, rasanya kayak beda banget dari ketawanya yang dulu. Dulu, dia ketawa kayak cuma…formalitas doang. Dia mulai sering ketawa dari hati sejak deket sama Talitha, itu pun karena Talithanya emang kayak badut.

Sekarang, tawanya Deon jadi lebih sering keliatan, soalnya dia udah nikah sama Talitha dan ngehabisin hari-harinya sama Talitha. Ya…mungkin dia agak ketularan virus nggak warasnya Talitha.

“Nggak, Bang. Justru Talitha itu sumber ketenangan dan hiburan sendiri buat aku. Sekarang, semenjak udah hamil enam bulan, dia jadi makin hobi makan,” ujar Deon seraya tertawa kecil. “Dia mungkin bisa makan furnitur kalo nggak kularang.”

Gavin ngernyitin dahi. “Lah, bukannya dia emang udah hobi makan dari dulu?”

Deon senyum miring. “Iya, sih…tapi sekarang makin hobi. Sebelum perutnya kerasa sesak, belum berhenti itu makannya.”

Gavin ketawa kenceng. Astaga, udah gila itu anak.

“Awasin aja, Deon. Dia itu keras kepala kalo soal makanan. Kamu pasti tau kalo dia sering maling makanan siapa pun yang ada di rumah Mama. Di kulkas, di lemari, semuanya lenyap walaupun udah kita sembunyiin,” kata Gavin. Deon spontan ketawa.

“Tapi Abang percaya kok sama kamu. Kamu orang yang paling protektif sama Ita, jadi Abang nggak perlu khawatir.” Gavin senyum lembut ke Deon.

Deon memiringkan kepalanya, abis itu dia senyum. Senyumnya itu…keliatan kayak smirk tipis, seolah-olah mau bilang…

 

‘Ya, aku tau.’

 

Gavin natap Deon tanpa ngedip.

 

“Ya. Dia bakal aman sama aku, Bang,” kata Deon sambil masih senyum miring. “Aku bakal selalu jaga dia. Sampai kapan pun.”

Gavin kontan meneguk ludahnya.

Astaga. Ternyata, sifat posesifnya Deon masih seratus persen nyangkut di dalam tubuh lelaki itu. Dia memang berubah jadi lebih ramah, tapi untuk sifat posesifnya…ternyata nggak ada perubahan sama sekali.

Berusaha buat normalin ekspresi mukanya, Gavin pun ketawa pelan. “Okelah. Baik-baik, ya, sama Ita.”

“Hmm.” Deon ngangguk, masih kesisa senyuman di wajahnya. Namun, tiba-tiba Deon keinget sesuatu.

“Oh, iya, Bang,” kata Deon, matanya agak melebar. “Ada yang mau kukasih tau.”

Alis Gavin nyatu. Gavin memiringkan kepalanya. “Hm? Apa, Deon?”

“Aku belum ngasih pengumuman atau undangan resmi soal ini, tapi ini udah pasti bakal dilaksanakan seminggu lagi,” kata Deon. “Aku kasih tau Abang duluan aja.”

Dahi Gavin berkerut. “Seminggu lagi? Ada apa emangnya?”

Deon tersenyum.

“Acara anniversary perusahaan. Kayak biasa, semua karyawan boleh bawa pasangannya masing-masing ke acara ini. Aku juga bakal bawa Talitha nanti. Tolong hadir, ya, Bang.”

Mata Gavin membeliak seketika.

 

Waduh.

 

Mampus gue. []

 











******







She Was Never Mine (Bab 4: Segalanya Untuknya)

  ****** Bab 4 : Segalanya Untuknya   ******   LANTUNAN lagu di radio terdengar begitu merdu saat Josh baru saja memberhentikan mo...