Sunday, August 24, 2025

My Cold CEO, My Perfect Seducer (Chapter 15: Love Is Never Planned)

 


******

Chapter 15 :

Love Is Never Planned

 

******

 

Violette:

OH. Gaun ini sempit sekali.

High heels ini juga…tinggi sekali!! Aku biasa menggunakan high heels yang tingginya sekitar 4 cm dan malam ini aku memakai yang 12 cm. Bibi Locardo memilihkan sepatu yang 'katanya' agak pendek untukku karena tahu aku kurang bisa menggunakannya. Namun, bila yang ini saja ‘agak pendek’ baginya, berarti yang ‘panjang’ itu berapa cm? Astaga.

Sepatunya memang cantik dan elegan, tetapi...cukup sudah. Aku ingin melepas sepatu ini sekarang juga. Soalnya, aku sudah memakai sepatu ini sejak pagi (sejak di gereja)…dan sekarang sudah malam. Ini semua karena ‘acara’ yang diadakan di tiga tempat. Paginya kami berada di gereja (ini tidak bisa disebut sebagai pesta, sih, tetapi tetap saja persiapannya mewah sekali), lalu jam sekitar jam 11 pagi, Justin membawaku ke rumah Paman Locardo karena ada pesta yang diselenggarakan di sana. Di sana, kami bertemu dengan kerabat-kerabat Paman Locardo yang juga masih kerabat Justin. Aku banyak berkenalan dengan keluarga jauh Justin di sana. Di sana juga ada rekan-rekan bisnis Paman Locardo; mereka memujiku dan Justin berkali-kali, membuat pipiku merona tanpa henti.

Evan juga sangat...populer. Well, anak itu...meskipun baru berumur lima tahun, sudah banyak perempuan yang mendekatinya. Ada yang dewasa dan ada yang seumuran dengannya. Khusus yang dewasa, mereka hanya sibuk merayu-rayu Evan karena gemas dengan gaya, ketampanan, dan juga kesombongannya. He is very confident and that attitude is indeed cute in the eyes of adults. Dia dipuji tampan, fashionista, dan lain-lain.

Evan luar biasa angkuh dan aku jadi geleng-geleng kepala sendiri melihat tingkahnya yang tak beda jauh dengan Uncle-nya.

Ingat siapa ‘Uncle’-nya?

Well, siapa lagi kalau bukan Justin. Sifat mereka sama saja. Apakah Keluarga Alexander ini terlahir dengan sifat yang sama turun-temurun?

Ah, entahlah. Lagi pula, aku akan terdengar munafik kalau mengatakan itu, soalnya aku sendiri...menikah dengan salah satu keturunan Alexander.

Pipiku memanas lagi ketika aku mengingat kebenaran itu. Aku menoleh sebentar ke sosok Justin yang ada di sampingku; tangannya tengah memeluk pinggangku dengan erat. Ia tak pernah melepaskanku seharian ini.

Justin luar biasa tampan, padahal aku tahu bahwa dia belum beristirahat sama sekali hari ini, sama sepertiku.

Malam ini, kami mendatangi acara yang diadakan di lokasi ketiga, yaitu di Manhattan Beach. Ini bisa dibilang…semacam beach party. Makan-makan, minum wine, dan menikmati penampilan dari beberapa penyanyi lokal. Pesta ini ternyata lebih meriah daripada pesta di rumah Paman Locardo, soalnya ini terasa lebih bebas dan menyenangkan. Banyak anak muda yang menikmatinya; ramainya bukan main. Aku tak pernah menyangka bahwa pesta pernikahanku akan didatangi oleh orang-orang yang tak kukenal. Saking banyaknya tamunya, pestaku seolah-olah dirayakan oleh satu kota.

Aku senang, tetapi aku tak tahu harus bagaimana. Apakah aku harus duduk diam? Apakah aku harus ikut joget-joget? Ah, itu memalukan.

Namun, karena kebingungan dan overwhelmed sendiri, aku jadi banyak diam. Bibi Locardo sempat menceramahiku karena aku malah diam di pestaku sendiri. Dia bilang, aku harus menikmatinya. Ini adalah pesta pernikahanku.

Sekarang, aku sibuk menarik-narik gaunku ke atas—agar belahan payudaraku tak terlihat—serta sibuk membenarkan high heels-ku ketika Justin masih memelukku sembari mengobrol dengan rekan bisnisnya ditemani dengan wine. Kami saat ini sedang berdiri, jadi…sulit bagiku untuk mengangkat kakiku (demi membenarkan sepatu) saat gaun yang kupakai terasa begitu skintight.

Ya Tuhan...jangan sampai gaunku robek di bagian bawahnya karena kutarik…

 

"Ada apa denganmu? Kau lelah?"

 

Suara dingin Justin mendadak terdengar lebih jelas (mungkin karena pertanyaan itu ditujukan untukku) dan mataku spontan membulat. Aku menatapnya, lalu menghela napas.

"Bukan, Justin. Aku merasa sedikit tak nyaman dengan high heels-ku, itu saja."

Dia mengangguk, lalu meletakkan wine-nya di atas meja. Aku merasa bahwa rekan bisnisnya mulai menatapku geli. Keningku sedikit berkerut saat menatap mereka (karena aku bingung mengapa mereka menatapku seperti itu), tetapi tiba-tiba suara Justin kembali terdengar.

"Ada apa dengan high heels-mu?"

Aku menatapnya, lalu tubuhku seakan-akan menggelenyar ketika aku menatap bola mata lelehan emas miliknya. Itu adalah sepasang mata yang paling indah yang pernah kulihat.

Aku mendadak gugup bukan main. Namun, agar bisa berbicara dengan benar pada Justin, aku pun langsung menggeleng.

"Ketinggian, Justin."

Entah mengapa, meskipun dia diam saja, aku merasa bahwa tatapan matanya padaku kini mengandung jenaka.

Dia membawaku berjalan menjauhi rekan-rekan bisnisnya itu dan mereka menatap kami berdua sembari tersenyum penuh pengertian. Dia masih berjalan di sebelahku dan aku tak tahu apa yang ingin dia lakukan.

Tak lama kemudian, dia berhenti. Dia berhenti di spot yang tidak terlalu ramai, tetapi juga tidak sepi.

Aku mengernyitkan dahi. "Mengapa kau meninggalkan mereka?"

"Tidak ada alasan spesifik," jawabnya. Aku tahu bahwa kini matanya mulai menatapku dengan atensi penuh. "Apa kau ingin mengganti sepatumu?"

Aku meneguk ludah, sadar kalau aku terpaku karena melihat wajahnya. "Tidak, tidak usah."

"Kalau begitu tidak usah."

...Hah? Just like that?!

"Kau—"

"Benarkanlah sepatumu, Violette. Kau terlihat begitu gelisah; kau mengingatkanku dengan jentik-jentik. Kau membuat mereka melihatmu dengan tatapan yang tak seharusnya," ujarnya dingin. Matanya memperhatikan high heels yang kupakai. Setelah beberapa saat, matanya pun kembali menatapku. Tatapannya mengandung jenaka.

Sial. Entah mengapa, aku kesal sekali dengan tatapan gelinya itu.

Aku menggeleng, kemudian menyatukan alis. "Jentik-jentik? Wait. ‘Melihat dengan tatapan yang tak seharusnya’? Apa maksudmu?"

"Rekan-rekan bisnisku yang tadi kutinggalkan."

Aku menatapnya tak percaya, kemudian aku meneguk ludahku. Sebentar. Bukannya tadi dia sedang mengobrol dengan mereka? Kapan dia memperhatikan semua itu?

Dia memasukkan tangannya ke saku celananya dan aku ingin memfotonya sekarang juga. Tadi…sudah banyak fotografer yang memfoto kami berdua, tetapi entah mengapa aku ingin mengabadikan fotonya sendirian dengan pose ini.

"Kau ingin pulang? Kau tahu ini malam pertama." Dia memiringkan kepalanya, tersenyum miring, dan tiba-tiba matanya terlihat seperti laser yang menyorotkan sinar keemasan ke arahku. Aku tersedak seketika.

Aku menunduk dan pipiku memanas. Sepertinya, panasnya sampai ke telingaku. Ya, ya, ya, aku tahu ini malam pertama, tetapi—jangan dulu! Aku tak ingin memikirkan apa pun yang membuat perutku bergejolak.

Karena terlalu malu, aku pun membalikkan tubuhku (sedikit menjauhinya) dan menggigit bibirku kuat-kuat. Aku akan terdengar egois, tetapi sebenarnya…aku belum bisa menyerahkan diriku sepenuhnya. Aku terlalu malu untuk itu. Aku tahu kalau dia sudah memilikiku, tetapi aku belum siap.

Aku tiba-tiba berhenti menggigit bibirku ketika kudengar ada beberapa wanita yang cekikikan di belakangku.

Mereka tertawa genit dan memanggil-manggil…

…nama Justin?

Aku kontan berbalik dan kulihat mereka mengobrol dengan Justin sembari cekikikan. Mereka agaknya baru saja menghampiri Justin. Sial, kok aku mendadak kesal melihat pemandangan itu? Apakah aku sudah lelah?

Dua detik kemudian, tanpa kusadari…aku mengangkat gaunku ke atas dan berlari cepat ke arah Justin. Setelah berada di dekatnya, aku pun memeluk tubuh maskulinnya dengan erat. Para wanita itu langsung pergi dan aku memejamkan mataku kuat-kuat.

Tubuh Justin terasa diam saja. Karena merasa aneh, aku pun melepaskan pelukanku dan mendongak demi melihat wajahnya.

Detik itu juga, kutemukan dia tersenyum miring seraya menatapku geli.

Aku meneguk ludahku; kontan pipiku memerah lagi. A—Apa ini?

Mengapa dia tersenyum seperti itu?

Sebentar. Apa—apa yang baru saja kulakukan?

 

"Nice catch, Mrs. Alexander," pujinya.

 

Aku spontan menganga.

Oh, Tuhanku!

 

Setelah itu, entah sejak kapan, dia mulai memelukku dengan erat. Perutku langsung bergejolak; jantungku langsung berdegup kencang. Sementara itu, Justin tampak tenang. Pernapasannya teratur. Tangannya melingkari pinggangku dan aku mencium wangi parfumnya yang elegan dan maskulin. Kuhirup wangi tubuhnya itu dalam-dalam. Aku pun sadar satu hal; tubuhku sepertinya kecil sekali di pelukannya.

 

"Do I smell good?"

 

HUAAA!!! KETAHUAN!

Ah, sial.

Dia benar.

Namun, aku tak bisa bohong; aku juga sedang lelah dan tak ingin melawannya. Aku tersenyum dan menunduk. Pipiku memerah, kemudian aku mengangguk pelan di dadanya.

Sebelah tangannya naik ke atas, lalu aku merasa tangan besar nan hangat itu mulai memegang bagian belakang kepalaku. Dia memegangnya seolah kepalaku pas untuk ukuran telapak tangannya. Setelah itu, aku merasa bahwa dia mencium kecil bagian samping kepalaku. Napasnya terasa hangat di kepalaku. Tanpa kusadari, aku balas memegang sebelah tangannya yang masih memeluk pinggangku.

"Aku mencintaimu, Justin," bisikku pelan. Jantungku berdebar-debar.

Sepertinya, dia tersenyum di antara rambutku.

"Sabarlah, nona keras kepala... Sebentar lagi kita pulang," bisiknya. Aku pun tersenyum dan kembali mengangguk di pelukannya. Dia mengusap kepalaku pelan, lalu mengeratkan pelukannya di pinggangku. Entah mengapa, rasanya nyaman sekali memegangi lengan Justin yang terbalut jas itu...malam ini. Dia selalu tampil memesona.

Mengingat bahwa kini dia adalah suamiku, membuat pipiku memerah bukan main.

"Ehm! Ehm ehm!!"

Aku spontan membulatkan mataku dan Justin perlahan-lahan melepaskan pelukannya. Aku langsung berbalik—melihat ke asal suara itu—tanpa menatap Justin lagi.

Betapa terkejutnya aku ketika kutemukan sosok Hillda beserta keluarga kecilnya berdiri di depanku.

"Hai, Violette," sapa Hillda, dia tersenyum manis sembari melambaikan tangannya. Anak laki-lakinya—Christian—membuatku takjub dan aku bahagia sekali. Martin ada bersamanya, sedang menggendong Christian dan mereka mendekati kami.

Aku langsung berjalan mendekati mereka dengan mulut yang terbuka akibat kaget (sekaligus tak menyangka) walaupun aku tahu bahwa mereka memang akan menghadiri pesta pernikahanku.

Oh Tuhan, aku sangat bahagia.

Aku langsung menghambur ke pelukan Hillda ketika mereka sampai di depanku. Justin juga langsung memeluk Martin. Mereka—sesama pria—berbicara berdua dan kudengar Martin memberikan selamat pada Justin. Setelah itu, aku tak mendengarnya lagi karena aku sibuk menempel pada Hillda. Aku ingin mencurahkan segala kebahagiaanku hari ini padanya. Aku ingin berteriak, sebenarnya, tetapi aku tidak segila itu untuk benar-benar melakukannya.

"Hillda!!! Kapan kau datang?! Mengapa aku baru melihatmu?!!" teriakku. Aku pun melepaskan pelukan kami. Dia tertawa.

"Aku baru sampai. Perjalanan dari Paris ke sini lumayan lama, Violette. Aku sempat ada urusan juga tadi pagi. Maaf, ya…karena tidak bisa melihatmu saat kau mengucapkan sumpahmu. Demi apa pun, Violette, aku minta maaf," ujarnya dengan penuh penyesalan. Rasanya aku ingin menangis.

Aku memeluknya lagi. "It's okay. Aku senang kau datang."

Dia memelukku balik, lalu mengusap punggungku.

Aku memeluknya semakin erat dan tiba-tiba aku sadar bahwa dia...sepertinya tambah gemuk? Tinggiku hampir sama dengannya—lebih tinggi aku, sih. Namun, ada apa ini?

Aku melepas pelukan kami lagi, kemudian memegang lengannya. "Hillda, kau…tambah gemuk? Atau perasaanku saja?"

Hillda tertawa kecil. Dia menaikturunkan alisnya di hadapanku. "Aku ini sudah ibu-ibu, Vio. Wajar, 'kan?"

"Kau masih muda," kataku sambil memberikannya tatapan menginterogasi. Aku tahu dia selalu menjaga pola makannya, apalagi Martin itu overprotective dan tak mau dia makan sembarangan.

"Wah, kau ketularan Justin, ya? Tatapanmu mengerikan sekali, sama seperti Justin," komentarnya. Dia tertawa kencang, lalu melanjutkan, "Tidak kok. Aku sedang hamil lagi."

Mataku memelotot.

"APAAAAAAAAAAAAA?!!!" teriakku. Suaraku sangat kuat hingga Justin dan Martin refleks menoleh padaku. Hillda langsung menutup mulutku.

"Vio, suaramu keras sekaliii!" bisiknya panik.

Aku langsung melepaskan pelukan Hillda. Setelah itu, aku kembali memeluknya dengan erat.

"Selamat, Hillda. Selamat..." ujarku lirih. Tanpa sadar, aku menitikkan air mata.

Ketika pelukan kami terlepas, aku pun mengusap perut Hillda.

"Laki-laki atau perempuan? Sudah kau cek? Sudah berapa bulan?"

"Masih tiga bulan, Violette. Hahaha." Dia tertawa. Dia tampak sangat bahagia. Aku tersenyum riang.

"Selamat ya, ibu dua anak," kataku. Aku pun tertawa terbahak-bahak dan dia langsung ikut tertawa seraya menepuk lenganku.

Aku kemudian teringat sesuatu.

"Oh, ya!" Aku langsung berlari ke arah Justin dan Martin. Aku mengambil Christian dari gendongan Martin dan kini gantian aku yang menggendong anak itu. Christian sangat tampan, dia sekarang pasti sudah berumur empat tahun. Soalnya, beberapa bulan yang lalu, saat kami berkunjung ke perusahaan Martin, saat itu Christian sudah berusia tiga tahun lebih.

Aku menimang Christian dan merasa bahagia ketika melihat anak kecil seimut dia. Namun, sebenarnya dia masih kalah tampan dengan Evan. Ups.

"Seingatku, kau sedang lelah. Mengapa masih bisa berteriak?" Mataku membelalak ketika kudengar suara dingin Justin itu. Aku pun berbalik menatapnya.

Hillda dan Martin tertawa.

"Memangnya kenapa?" jawabku. Alisku menyatu karena aku tak mengerti mengapa dia mempermasalahkan itu.

"Padahal kau harus bersiap-siap untuk nanti malam," ujar Justin dengan senyum miringnya.

Pipiku kontan memerah. Aku menganga.

Karena malu bukan main, aku pun langsung mengentak-entakkan kakiku, menjauhi kedua pria itu. Sempat kudengar Martin tertawa terbahak-bahak lagi.

 

Sialaaannnnnn!!!!!!!!!

 

Aku menghampiri Hillda dengan muka yang memerah bak kepiting rebus. Hillda lalu mengambil Christian dariku.

Di sanalah aku sadar bahwa ternyata Hillda juga mengikik geli saat menatapku.

Aduh, tertawalah sepuas kalian!!

"Cepat-cepat memiliki anak, ya," bisik Hillda padaku, lalu ia mengedipkan sebelah matanya. Aku langsung memelototinya.

Sialnya, dia justru tertawa terbahak-bahak.

Oh, Tuhan.

 

******

 

Author:

Elika membanting pistol yang ada di genggamannya dan berteriak karena frustrasi.

Dia berada di tempat ini sejak kemarin malam dan kenyataan itu membuatnya muak. Apa yang ia lakukan memang takkan bisa mengubah keputusan pria yang sedang ia kagumi itu, tetapi ini sudah di ambang batas. Pria itu menikah dengan Violette Morgan. Pria itu—Justin—tetap mengabaikannya.

Ia memang muak, tetapi apakah hal ini membuatnya lelah? Sepertinya…tidak. Permainan ini agaknya jadi lebih menarik, tetapi juga semakin memuakkan. Semakin ia mencoba untuk melawan, semakin ia merasa disudutkan. Elika menatap sosok Nathan yang ada beberapa meter di depannya; Nathan terikat di sudut ruangan dengan wajah yang penuh luka. Elika menatap Nathan dengan sinis. Dia muak melihat wajah Nathan.

"Stop it, Elika. Sialan. Aku membuat senjata itu sendiri dan itu menghabiskan banyak waktu, sialan," ujar Welton. Dia mengumpat, tetapi entah mengapa tetap terdengar santai. Dia sudah muak dengan Elika meski nyatanya mereka bekerja sama.

"Apa katamu? Mereka menikah dan kau ingin aku tenang-tenang saja?!! FUCK YOU!"

"Kau setubuhi saja dia. Kau tak perlu memikirkan sesuatu yang rumit seperti ini. Aku sekarang sudah bisa bergerak sendiri tanpa ada kau, dasar pelacur sialan," umpat Welton. Setelah itu, dengan segenap rasa marahnya, Elika pun berlari menghampiri Welton dan mencengkeram kerah baju pria itu dengan kuat. "Diam kau, sialan, aku tahu kau malu karena luka bakar di wajahmu; kau juga sekarat saat gagal melawan Red Lion beberapa tahun yang lalu. Sekarang, kau hanyalah si buruk rupa sialan yang terus menciptakan senjata di ruangan ini tanpa tahu kabar targetmu. Apa kau bilang? Kau sudah bisa bergerak tanpaku? Bisa bergerak tanpaku yang selalu memberi informasi tentang targetmu? Shut the fuck up. Aku tahu bahwa kau pasti takut dengan Red Lion. Maka dari itu, kau tak pernah pergi ke luar untuk mencari tahu semuanya sendiri."

"Aku tak takut sama sekali," balas Welton.

Elika meludah—menghina kata-kata Welton—lalu tanpa diduga ia mendengar suara tawa kecil.

Tawa kecil itu berasal dari Nathan.

Mata Elika kontan memelotot.

Elika melepaskan cengkeramannya pada kerah baju Welton dan ia langsung berlari menghampiri Nathan. Ia memukul kepala Nathan dengan kuat dan mencoba untuk mencekik Nathan yang kini penampilannya sudah terlihat kacau. Welton dan Elika sengaja tidak membunuhnya dan menjadikannya sandera untuk melihat apa yang ingin mereka ketahui.

Nathan mengaduh kesakitan dan napasnya tersengal-sengal.

"Diam kau! Kau menertawakanku, ya?! Kau menertawakanku? You fuckin' crazy old man!" teriak Elika. Dia memelototi Nathan. "Jangan bilang…kau senang karena keponakanmu menikah…dengan Justin Alexander? Kau terlalu cepat senang, you old man! Kau tahu bahwa keponakanmu itu bukanlah wanita yang akan melupakanmu begitu saja. Dia sangat menyayangimu..."

Elika mengelus pipi Nathan. Ia tersenyum dengan sarkastis.

"...dan dia akan merelakan nyawanya untukmu...di sini. Aku yakin itu akan terjadi; dia pasti akan datang ke sini untukmu. Aku takkan membiarkan suaminya terbunuh di sini juga, itu pun kalau suaminya datang bersamanya."

Elika tertawa keras, lalu ia berbisik tepat di telinga Nathan.

"Oh, satu lagi. Jangan pernah beritahu Welton bahwa Justin Alexander juga merupakan anggota Red Lion."

Elika menjauh, lalu tersenyum miring di depan Nathan. Hal itu membuat mata Nathan memelotot; Nathan ingin berteriak, tetapi ia tak memiliki tenaga yang cukup untuk itu.

 

******

 

Malam sudah hampir larut dan pesta pernikahan Violette belum kunjung selesai.

Setelah mengobrol banyak, Hillda dan Martin pun pulang ke hotel yang mereka booking. Semakin malam, Violette semakin lelah. Bibi Locardo pun menghampiri Violette dan menyuruh Violette pulang ke rumah mereka malam ini, tetapi Violette menolak.

Namun, biar bagaimanapun juga, tubuh Violette memiliki batas. Soalnya, pada akhirnya kini ia berada di dalam mobil bersama Justin. Ia terus menguap, lalu akhirnya tertidur di bahu Justin (mereka duduk di jok penumpang belakang). Sopir Paman Locardolah yang mengantarkan mereka pulang. Malam ini, mereka akan beristirahat di rumah Paman Locardo, sesuai dengan apa yang disarankan oleh Bibi Locardo.

Begitu sampai di halaman rumah Paman Locardo, Justin membuka pintu mobil, melepaskan high heels Violette, lalu menggendong tubuh gadis itu. Justin menggendong Violette sembari memegangi sepatu gadis itu.

Violette tertidur begitu pulas sampai-sampai ia tak sadar bahwa Justin menggendongnya masuk ke rumah…menaiki tangga…lalu masuk ke sebuah kamar yang ada di lantai atas. Kamar itu adalah kamar Justin dahulu (saat Justin masih tinggal bersama Paman Locardo). Malam itu, hampir semua pelayan sudah tidur; hanya ada satu pelayan yang terbangun dan membukakan pintu rumah. Jadi, si pelayan itu beserta sang sopirlah yang membawakan barang-barang mereka dari belakang, membuntuti Justin sembari berjaga-jaga. Sang sopir terlihat agak khawatir. Ia menduga bahwa Justin juga lelah.

Sebenarnya, Justin tak terlihat lelah sama sekali. Apakah dia hanya tak mau menunjukkannya? Atau mungkin...dia memang tidak lelah karena sudah terbiasa kerja berat sebagai CEO setiap hari?

Justin membuka pintu kamar itu. Kamar itu gelap karena lampunya dimatikan.

Tanpa menghidupkan lampu, Justin berjalan mendekati ranjang dan membaringkan Violette di sana.

“Hng…” Violette bersuara lirih; gadis itu langsung berbaring dalam posisi menyamping.

Justin mengembuskan napasnya samar. Ia mulai meletakkan sepatu Violette di lantai, di sisi ranjang. Setelah itu, ia menyelimuti Violette dengan pelan.

Ia pun berdiri kembali, lalu mengambil barang-barang mereka dari pelayan dan sopir yang menunggu di depan kamar. Setelah itu, ia masuk ke kamar lagi dan menutup pintu kamar itu.

Justin meletakkan barang-barang mereka di sofa, lalu menghidupkan AC. Setelah itu, bola mata karamelnya langsung melihat Violette yang sedang membenarkan selimut dalam tidurnya. Sejak kapan selimut itu bergeser lagi?

Justin mendekati ranjang, lalu membantu Violette membenarkan selimut itu. Sudut bibirnya tertarik dan ia mulai menyingkirkan beberapa helai rambut Violette yang menempel di dahi. Rambut itu lengket di sana karena Violette sedang berkeringat.

Well, AC-nya baru dihidupkan, soalnya.

Menghela napas, Justin pun berjalan ke depan jendela kamar. Dia menyibakkan gorden yang menutupi jendela itu dan cahaya rembulan otomatis langsung masuk menerangi kamar.

Justin berdiri di sana, tubuh tegapnya yang tampak dari belakang itu begitu berwibawa; dia menghadang sebagian cahaya rembulan yang ingin masuk ke kamar. Bayangannya memanjang hingga ke sudut ruangan dan saat itulah Justin tiba-tiba mengambil ponselnya dari saku celananya.

Bola matanya terlihat sangat indah di bawah cahaya rembulan malam itu.

"Ya," jawab Justin setelah menempelkan ponselnya di telinganya.

"Mereka sengaja meninggalkan sidik jarinya saat itu. Mereka memang ingin ‘ditemukan’ oleh pihak yang bersangkutan, Tuan. Alamatnya sudah kami temukan dan sepertinya dugaan bahwa mereka adalah mantan bawahan Mr. Martinous beberapa tahun yang lalu itu memang benar. Kami telah mendapatkan foto sang pelaku dan ini semua ada kaitannya dengan Ms. Elika."

Justin bernapas samar.

"Hentikan pencariannya sampai di sana. Aku akan memberikan instruksi lanjutan. Jangan kerjakan apa yang tidak kuperintahkan karena sisanya akan kuurus sendiri. Berikan alamat itu padaku."

Panggilan telepon itu pun terputus setelah orang di seberang sana mengucapkan beberapa kalimat.

Justin menaruh ponselnya di saku kemejanya, lalu ia menghabiskan waktu selama beberapa menit untuk berpikir seraya memandangi malam yang diterangi cahaya rembulan itu.

Ia adalah orang yang terencana, tetapi di sisi lain, ia juga bisa berbuat nekat apabila baginya itu adalah cara yang terbaik.

 

******

 

Violette:

Pagi ini, aku baru saja selesai mandi, setelah sebelumnya membantu Bibi Locardo memandikan Evan.

Sekitar jam setengah tujuh pagi tadi, aku terbangun dan mendapati Justin tertidur di sampingku; dia tidur seraya memelukku dengan posesif. Namun, seingatku…aku tertidur di mobil tadi malam. Apakah Justin yang membawaku hingga ke kamar?

Sepertinya…iya.

Aku pun akhirnya sadar bahwa malam pertama kami dihabiskan dengan cara seperti itu.

Aku tersenyum, aku tahu Justin bukan tipe pria yang tak tertarik dengan hubungan intim. Hell, bukankah semua pria justru sangat menyukainya? Namun, ada satu hal yang terpikir olehku: mengapa Justin tak pernah berkata dengan serius kepadaku tentang nafsunya…atau apalah itu?

Apakah aku se-tidak-menarik itu di mata Justin? Oh, tidak. Rasanya sakit sekali kalau itu benar...

Tak lama kemudian, aku keluar dari kamar dan menuruni tangga. Saat turun, aku melihat Justin sedang berbicara dengan Paman Locardo di ruang tamu. Sepertinya, mereka terlihat sangat serius… Apa yang sedang mereka bicarakan?

Tiba-tiba, Paman Locardo memanggilku. Mataku membulat.

"Y—Yes, Uncle," sahutku.

"Sudah mandi?" tanyanya.

Aku tertawa canggung, lalu mengangguk. "Sudah, Paman."

Mendadak aku mencium wangi parfum Justin di dekatku. Aku pun menoleh ke kiri, lalu menemukan Justin yang telah mengunciku dengan tatapannya.

"Ayo kita ke luar," ajaknya dengan suara dinginnya. Aku kaget lagi karena dia tiba-tiba memegang pergelangan tanganku dan membawaku keluar dari rumah. Ia berjalan bersamaku dan entah mengapa ia tetap terlihat berwibawa meski tidak memakai suit. Ia hanya mengenakan kemejanya pagi ini dan itu sangat...seksi.

Ketika ia membukakan pintu mobilnya untukku, aku langsung protes padanya, "Mau ke mana? Kau masih berbincang dengan Paman, 'kan?"

"Ini masih pagi dan kau sudah berisik," ujarnya seraya memasukkanku ke mobilnya. Aku spontan memberikan tatapan bengisku padanya ketika ia menutup pintu mobil itu.

Sial. Aku jengkel sekali.

Akhirnya, dia masuk ke mobil, lalu duduk di sebelahku.

"Kau tahu kalau aku sedang marah, ‘kan, sir?" tanyaku sembari menatapnya tajam.

Dia menghidupkan mesin mobilnya. "Sayang sekali, aku tidak tahu, Nona."

Cukup soal ini. Dia membuatku terlihat seperti singa yang marah-marah tak jelas padanya, padahal dialah yang salah di sini!

Aku membuang wajahku dan mendengkus kesal. Aku terlihat gila sendiri—benar, gila—karena harus menghadapi manusia tanpa ekspresi sepertinya nyaris setiap hari. Aku bahkan jadi kesal saat mengingat bahwa kini dia telah menjadi suamiku.

Aku pun menghela napas dan mencoba untuk sabar.

"Fine. Jadi, kita mau ke mana? Pagi-pagi begini," kataku. "Aku tak mengerti, tetapi setahuku kita cuti kerja, 'kan? Jangan bilang kau tak rela waktu kerjamu tersita karena pernikahan? Atau mungkin kau—oh, apa yang tadi kalian bicarakan?"

"Kau selalu berisik sepanjang hari," jawabnya datar. "Kau cantik ketika sedang tidur…atau diam."

HAH?! Ini pujian atau hinaan? Mengapa terdengar menjengkelkan?

"Jadi, maksudmu aku buruk rupa ketika aku terbangun dan ketika aku berbicara, HAH?!" teriakku.

"Bukan buruk rupa."

"JADI?!!" Aku mulai emosi. "Ah, sudahlah!!"

 

Sialaaaaaaaannn!!!!

 

Ia menghela napasnya samar.

"Aku membicarakan tentang pamanmu kepada Locardo. Aku memberitahukan segalanya, tentang kau yang sebenarnya memiliki paman dan pamanmu itu menghilang. Makanya, di pesta tadi kau didampingi oleh ayahnya Megan." Justin bernapas samar, lalu mengerutkan dahi. "Aku memberitahunya tentang segala hal, kecuali tentang Red Lion. Itu sebaiknya tak usah diberitahu karena kita sendiri juga akan melupakan masa lalu itu."

Aku sedikit terperangah. Namun, aku tetap menunggu apa yang akan ia katakan selanjutnya.

"Aku juga meminta izin padanya untuk mencari Nathan. Aku menolak keinginannya untuk membantuku."

 

Aku mengernyitkan dahi.

 

"Aku akan membantumu. Dia adalah Pamanku," ujarku. Aku memegang dan meremas lengannya pelan. Merasakan kerasnya otot-otot di sana dan melihat tattoo bergambar pistolnya itu. Dia menggulung kemejanya hingga ke lengan.

Setelah itu, dia pun menatapku…dan tersenyum padaku.

Senyum yang jarang kulihat...dan kuharap aku adalah si wanita beruntung yang bisa terus melihat senyuman itu.

"Ada sesuatu yang harus kau lihat pagi ini," ujarnya kemudian.

 

******

 

Kami berhenti di depan sebuah gedung. Terlihat banyak anak kecil yang berlari-larian di halamannya. Anak-anak kecil itu bermain ayunan, perosotan, dan lain-lain di halaman itu. Akhirnya, aku sadar…bahwa ini adalah panti asuhan.

"Justin, ini...Panti Asuhan?" tanyaku pada Justin. Aku terpukau.

Dia menatapku dalam, lalu berkata, "Turunlah."

Dia turun dari mobil dan aku pun ikut turun. Dia menghampiriku, menggenggam tanganku dan berjalan di depanku. Mengapa dia mengajakku ke Panti Asuhan ini?

Tiba-tiba, ia melepaskan pegangan tangannya…dan berbalik menatapku. Tatapannya benar-benar lembut.

Tatapan mata itu seakan-akan mengunciku; dia sering sekali menatapku seperti ini. Dia tak membiarkanku melihat ke lain arah. Ini membuat jantungku berdegup tak keruan.

"US$ 100 juta itu takkan habis hanya untuk pesta, Violette. Aku hanya memakai US$ 60 juta untuk pesta pernikahan,” katanya.

Aku bengong.

Saat sadar dengan apa yang baru saja ia katakan, jantungku serasa hampir copot. Aku kontan memelototinya. "W—Wait! Jadi, maksudmu..."

“Hm,” dehamnya. “Aku memberikan sebanyak US$ 40 juta untuk dibagikan ke semua Panti Asuhan yang ada di New York serta ke organisasi charity. Mereka pantas mendapatkannya…dan mereka juga akan mendoakan pernikahan kita. Aku selalu ingat tentang kita berdua yang yatim piatu seperti mereka. Kita berdua juga awalnya dirawat oleh Brian, ‘kan?”

Aku sepenuhnya terdiam.

Aku menyimak semua kata yang ia ucapkan dengan tulus. Selama ini, aku mengecapnya sebagai CEO yang kejam, tetapi di sisi lain…aku tahu kalau ia adalah orang baik. Dia selalu memiliki sisi hangat yang hampir selalu terkunci, tetapi ada.

Kuharap… suatu saat nanti…aku bisa membuka sisi itu sepenuhnya.

Meski telah mendapatkan dirinya yang punya banyak kelebihan, meski sekarang wajah tampannya hampir selalu ada di depan mataku...aku masih merasa bahwa dia belum begitu terbuka padaku. Dia selalu menyimpan dan menyelesaikan masalahnya sendiri.

"Terima kasih, Justin... Terima kasih karena telah mengingat tentang kita…dan telah memikirkan anak-anak itu," ucapku dan tanpa sadar air mataku mengalir.

Dia tersenyum. Aku pun menghapus air mataku, lalu ikut tersenyum padanya. Ia mendekatiku dan menggenggam tanganku lagi.

Kami berhenti di depan pintu utama Panti Asuhan itu dan memberi salam. Mereka menyambut kami dengan hangat.

Beberapa menit berlalu. Aku masih mengobrol dengan para penjaga Panti Asuhan, sementara Justin mulai bermain dengan anak-anak itu. God, itu adalah pemandangan yang paling indah yang pernah kulihat dalam hidupku. Justin terlihat sederhana, yet beautiful. Dia terlihat seperti…malaikat. Seseorang yang ternyata bisa luluh hatinya meski ia sukar memercayai orang lain.

Justin memang memberikan 40 juta dan disebarkan kepada banyak Panti Asuhan di New York, tetapi kami hanya mengunjungi salah satunya saja. Kemudian, kami kembali.

Aku sekarang sudah berada di dalam mobil bersamanya. Perjalanannya terasa nyaman. Kutatap jalanan di depanku dan tak lama kemudian…kami melewati sebuah gerbang dan masuk ke area yang ada di balik gerbang itu. Ini seperti lokasi pribadi dan aku tak yakin ke mana dia akan membawaku pergi.

Aku melihat ke arahnya, mencoba untuk mengajaknya berbicara. Aku tahu akulah yang banyak bicara di sini, tetapi apa boleh buat, dia takkan bicara jika aku tidak cerewet.

"Kita ke mana sekarang?"

"Sudah sampai," ujarnya tak lama kemudian. Aku mengernyitkan dahi dan kontan memandang ke depan.

Betapa terkejutnya aku tatkala mendapati apa yang ada di depan sana.

Di sana, ada sebuah rumah yang sangat megah, bak istana, yang berwarna hitam bercampur abu-abu. Istana itu benar-benar luas dan tinggi. Mobil ini berhenti tepat di halaman depan dan di samping kami—di tengah-tengah halaman ini—ada sebuah air mancur yang berhiaskan patung malaikat bersayap. Aku menganga seketika. Dengan tanpa berkedip, aku langsung keluar dari mobil. Aku menutup mulutku saat kutatap rumah ini secara langsung. Ini sangat besar dan luas. Ini…mega mansion.

Kami bagaikan semut yang berhadapan dengan gajah!

Saat itu juga, aku berlari mendekati mansion itu.

"Justin...rumah siapa ini?! Kita berkunjung ke...rumah siapa?" tanyaku histeris. Aku sampai menggeleng, bagaikan orang yang tak pernah melihat rumah megah.

Aku mendengar langkah kaki Justin yang mendekatiku. Tak butuh waktu lama…dia telah berada di sampingku. Ia mulai memasang sunglasses-nya dan…oh Tuhanku, aku belum berhenti mengagumi rumah ini dan sekarang dari mana datangnya sunglasses itu? Dia memakai kemeja yang digulung hingga ke lengan dan dua kancing atasnya terbuka. Sekarang, dia memakai sunglasses juga? Hello…dia terlihat semakin seksi!

"Sebenarnya, aku menghabiskan US$ 400 juta, kalau dihitung dengan rumah ini beserta isinya," ujarnya. Aku terkesiap; aku nyaris saja jatuh karena lututku mendadak lemas.

"A—APAAAAAA?!!!!!!! ITU UANG ATAU DAUN?!!!!!" teriakku. Suaraku kencang sekali. Mataku serasa hampir lepas dari soketnya.

Justin tersenyum miring padaku, lalu menggandengku menuju ke pintu berdaun dua mansion itu.

Astaga, jadi—jadi...ini rumah...

"Kapan kau membangun rumah ini? Atau kau membelinya?" tanyaku. Mulutku masih terbuka lebar. Dia mulai membuka kunci pintu rumah itu. Saat pintu besar itu terbuka, mataku membelalak melihat isinya.

 

Oh, God.

 

Interior yang sempurna...

"Rumahmu juga, 'kan?" ujar Justin. Dia berbalik dan membuka kacamatanya, lalu tersenyum miring padaku.

Aku langsung berlari melihat-lihat bagian dalam rumah itu. Demi Tuhan, ini besar sekali! Ini hanya untuk kami berdua, 'kan? Kok Justin membeli rumah yang sangat besar?

Tiba-tiba, pipiku merona tatkala memikirkan bahwa aku akan tinggal bersamanya di dalam rumah yang begitu besar ini. Astaga...jantungku jadi berdegup kencang.

Justin berjalan ke sebelahku. Dia tiba-tiba menarik kedua tanganku agar aku menghadap ke arahnya. Aku sedikit kaget; mataku melebar. Dia menatapku dengan serius.

"Kau kenapa?" tanyaku. Namun, dia terus menatapku tanpa melakukan apa pun.

Tiba-tiba saja…

…ia memelukku.

Sebelah tangannya melingkari punggungku dan sebelah tangannya lagi memegang bagian belakang kepalaku. Aku bisa merasakan napasnya di antara rambutku. Selain itu, wangi tubuhnya juga selalu berhasil memabukkanku.

"Kita akan menyelamatkan Nathan besok. Aku sudah mengurus segalanya. Istirahatlah untuk hari ini, hmm? Besok aku akan memberitahu seluruh rencanaku padamu."

 

Mataku membulat. []

 













******




Officially Mrs. Alexander.






^ this is edited, but well...i need this kind of picture.


When you accidentally open your front camera, but you're Justin Bieber so you still look good...



Mansionnya Alexander Family (Justin dan Vio). Aku bikin pake AI tapi based on Silicon Valley Mansion.




No comments:

Post a Comment

She Was Never Mine (Bab 4: Segalanya Untuknya)

  ****** Bab 4 : Segalanya Untuknya   ******   LANTUNAN lagu di radio terdengar begitu merdu saat Josh baru saja memberhentikan mo...