Chapter
4 :
Castro
Cortez
******
PENYELIDIKAN
oleh
polisi kembali dilakukan di vila milik Keluarga Saunders. Namun, kali ini, para
polisi datang bersama detektif dari satuan kepolisian mereka sendiri yang bersama
Jace Corbin.
Jace Corbin adalah seorang laki-laki
muda yang cenderung kurus, berkulit putih, dan berambut coklat. Dia tidak
terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek; ukuran tubuhnya standar. Wajahnya terlihat
seperti pekerja kantoran yang bekerja hampir dua belas jam sehari dan belum
terhitung lembur. Tidak, dia tidak terlihat selelah itu, sebenarnya;
perumpamaan itu lebih diarahkan kepada ‘tipe’ wajahnya (jika kau mengerti
maksudnya), bukan kepada seberapa hitam kantung matanya.
Jenazah
Austin belum dipindahkan. Polisi telah melakukan olah TKP sejak setengah jam
yang lalu. Mereka sedang mengamati kondisi TKP secara keseluruhan, melakukan
pengamanan serta mempertahankan status quo di lokasi kejadian, mengumpulkan
bukti-bukti, dan mendokumentasikannya.
Semua
atlet yang tersisa beserta Dokter Gray dan Pelatih Andrew menunggu di koridor.
Ada police line yang menghalangi mereka agar tidak masuk ke TKP alias
dapur tempat di mana Austin tergeletak dengan mulut berbusa.
Tadi,
saat melihat kondisi Austin, Keith merasa vilanya seperti kejatuhan sebuah meteorit
besar. Bukan, bukan maksudnya mau memakai metafora yang berlebihan. Keith terkesiap
saat melihat teman baiknya itu tergeletak di lantai; rasanya seolah-olah
dunianya runtuh mendadak dan jantungnya berhenti berdegup. Di momen itu, waktu seakan-akan
ikut berhenti. Ada sesuatu tak kasat mata, sebuah tekanan besar, yang mendadak
bagai mencekik lehernya.
Keith
sempat bersimpuh di samping tubuh Austin, mengguncang dan menepuk-nepuk tubuh
serta pipi pemuda itu dengan panik—pikirannya benar-benar kacau saat itu—tetapi
untungnya, otaknya masih berjalan. Masih bisa berpikir untuk menemukan
solusi terbaik tatkala sadar bahwa Austin sudah tidak bergerak lagi.
Dengan
dada yang sesak, napas yang memburu, tangan yang gemetar, serta suara yang
dipenuhi rasa takut, khawatir, dan kebingungan yang luar biasa itu—karena hampir
lepas kendali—dia pun menelepon polisi. Setelah itu, dia langsung menjauh dari
dapur—tak mau berlama-lama mengacaukan TKP dengan jejaknya—dan berteriak
kencang untuk memanggil semua orang yang ada di vila itu. Semua orang datang ke
sana dan langsung kembali merasakan ketakutan yang luar biasa, sama seperti
ketika mereka menemukan mayat Bryant dan Lucas. Namun, kali ini, ekspresi
mereka mulai dihantui oleh keputusasaan. Ada yang bahkan langsung terduduk dan
meremas rambutnya dengan frustrasi. Mata Ibarra sampai berkaca-kaca; ia
menggeleng dan berkata, “No… Not again…”
Sekitar
satu setengah jam kemudian, sang Detektif Kepolisian (Jace Corbin) pun keluar
dari TKP. Dia berjalan melewati koridor dan tidak menemukan para atlet beserta
pelatih dan dokter itu di sana.
Detektif
Jace mulai turun melalui tangga menuju ke lantai satu. Dari atas, dia sudah
bisa melihat bahwa kesembilan orang itu ada di lantai satu, yaitu di area ruang
tamu. Mereka duduk di sofa itu tanpa membicarakan apa pun. Suasananya sangat
hening; ekspresi mereka ada yang takut, ada yang menunduk dan diam saja, ada
yang khawatir setengah mati seraya mengusap kepala atau wajahnya dengan
frustrasi, dan ada juga yang menangis dalam diam. Begitu mendengar suara langkah
kaki Detektif Jace yang sedang menuruni tangga, mereka semua berdiri dan
menyambutnya. Ada juga yang langsung mendekati tangga; mereka menunggu Detektif
Jace di bawah tangga itu.
‘Mereka’
yang dimaksud adalah Keith, Russel, dan Kane. Sementara itu, yang lain tetap
berada di tempat (di area sofa). Ibarra bangkit dari duduknya dengan wajah
pucat. Chris pun sama, tetapi dia mulai fidgeting. Thomas dan Castro
berdiri di samping Ibarra, tetapi dua-duanya hanya diam dengan dahi berkerut,
tegang bukan main karena otak mereka sama-sama sudah yakin bahwa: something’s
definitely wrong here.
Ketika
Detektif Jace sudah sampai di lantai satu, Keith, Russel, dan Kane pun langsung
mengikuti langkahnya menuju ke area sofa.
“Bagaimana,
sir?” tanya Keith, dia terdengar panik bercampur frustrasi. “Apa yang
sebenarnya terjadi pada Austin?”
“Why does this keep happening to us anyway??” ujar Russel. “Something is definitely wrong!!”
“Haruskah kita keluar dari vila ini sekarang juga? We
definitely should, shouldn’t we?!” ujar Castro, dia terdengar sudah tidak
sanggup, sudah tidak mau berada di vila itu lebih lama lagi.
“I know that this is frustrating, but please calm down,
both of you,” ujar Dokter Gray
dari area sofa. “Jangan mencecar Mr. Corbin. Ayo kita dengar apa yang telah polisi
temukan.”
Pelatih Andrew menatap Detektif Jace dengan penuh
penantian; dia ingin segera mendengar penjelasan Detektif Jace.
Begitu Detektif Jace duduk di sofa, mereka semua pun
berkumpul di sana. Ada yang duduk di sofa dan ada yang berdiri, tetapi semuanya
menghadap ke Detektif Jace; mereka menunggu detektif itu berbicara.
Begitu duduk di sofa, tanpa menunggu semua orang tenang
terlebih dahulu—karena hal itu rasanya tidak mungkin—Detektif Jace pun mulai
berbicara.
“First of all,” ujarnya. “I honestly can’t believe a big villa like this has no CCTV.”
Semua orang menunduk, terutama Keith. Namun, Keith harus
apa? ‘Memasang’ atau ‘tidak memasang’ CCTV itu adalah keputusan keluarganya,
jadi ia pun bingung harus menjelaskan apa kepada polisi.
Detektif Jace duduk tegap, tatapannya yang penuh sindiran
halus itu melihat mereka satu per satu. Seolah-olah ia mau menginterogasi
mereka semua hanya dengan tatapannya. Seolah-olah ia tak percaya dengan
mereka semua. Well, bahkan kalimat pertama yang ia ucapkan pun merupakan
sindiran terhadap vila itu.
Detektif
Jace menghela napas. “Kami sudah hampir selesai mengumpulkan barang bukti dan
dokumentasi. Mereka juga sedang mengumpulkan sidik jarinya untuk dianalisis
lebih lanjut. Jenazah Mr. Rivera akan dipindahkan sebentar lagi.”
“Apa
penyebab kematiannya, sir? Benarkah dia keracunan?” tanya Andrew.
“Anda
dan Mr. Sullivan, selaku pelatih dan dokter mereka, selaku dua orang yang
paling dewasa di sini, apakah Anda serius?” Detektif Jace menaikkan
sebelah alisnya. “Mengapa masih nekat berada di sini setelah kejadian pertama
yang menimpa Bryant Thompson?”
Catatan:
Detektif Jace sudah tahu runtutan kejadian meninggalnya Austin dari
rekan-rekan polisi lainnya. Siapa yang menjelaskan semua itu ke polisi? Tentu
saja Pelatih Andrew saat ia menelepon polisi begitu melihat Austin tergeletak
di lantai dapur dengan mulut berbusa.
Mereka
berdua (Andrew dan Gray) pun menunduk. Meskipun sebenarnya itu bukan kemauan
mereka, mereka tetaplah orang-orang yang paling dewasa di sana. Mereka jelas
memiliki kontrol yang lebih besar.
Akhirnya,
satu-satunya kalimat yang keluar dari mulut mereka adalah:
“Maafkan
kami, sir.”
Ibarra
menunduk dan mengepalkan tangannya. Dia merasa bersalah karena ikut andil dalam
meyakinkan teman-temannya untuk tetap berlatih di sana.
“Kami
sudah berencana untuk pergi sejak Bryant meninggal dunia.” Dokter Gray—yang hampir
selalu terlihat calm itu—mulai berbicara. “tetapi mereka masih ingin
berlatih di sini. Namun, setelah Lucas meninggal dunia, kami semua sudah
sepakat untuk pergi. Kami semua sedang mem-packing barang-barang kami yang
tertinggal di vila ini, di ruangan masing-masing, ketika tiba-tiba Keith
menemukan Austin sudah meninggal dunia di dapur. Kami tak bermaksud untuk
tinggal lebih lama.”
“Ya.”
Keith menimpali. “Aku dan Austin sedang mem-packing barang-barang kami
ketika tiba-tiba Austin merasa haus. Dia pergi ke dapur sendirian, lalu ketika
aku merasa dia sudah terlalu lama berada di dapur, aku pun mencarinya…dan malah
menemukannya sudah…”
Keith
meremas rambutnya frustrasi, matanya berkaca-kaca.
“Aku
sudah mendengar semua itu. Namun, aku sangat menyayangkan kecerobohan kalian
yang langsung membawa Lucas Anguiano kembali tanpa memberitahu kami terlebih
dahulu,” jawab Detektif Jace.
Dokter
Gray mencoba untuk menjawab, “Lucas…benar-benar bunuh diri, sir. Aku
memastikan kondisi tubuhnya serta kondisi sekitar. Kami semua memang sama-sama
ada di ruang tamu ketika itu terjadi. Tidak ada yang ikut bersama Lucas atau
berada di tempat lain.”
“Walaupun
begitu, Dokter Gray,” ujar Detektif Jace, menatap Dokter Gray dengan tajam.
“Kami harus tahu. Hal itu sebaiknya dilaporkan, terutama mengingat bahwa
sebelum kematian Lucas, ada kematian lainnya. Aku tahu bahwa Anda adalah dokter
yang berpengalaman; aku percaya dengan analisis Anda. Namun, jika kejadian itu
dilaporkan kepada kami, kami bisa menginvestigasinya lebih dalam. Siapa tahu
itu bukan kebetulan. Kita tidak bisa mengecualikan kemungkinan-kemungkinan
terburuk.”
Dokter
Gray menunduk. “Maafkan aku. Ini pertama kalinya aku menghadapi situasi seperti
ini. Aku juga sangat terguncang saat itu.”
“Apa
pun yang terjadi, tolong hentikan kegiatan latihan mandiri ini,” ujar Detektif
Jace. “Aku sudah menelepon para polisi di Sonoma dan mungkin saja beritanya
sudah menyebar hingga ke Sacramento. Aku ingin banyak orang melarang kalian
untuk berlatih secara mandiri, just in case kalian masih keras kepala.”
Semua
orang di sana—yang mendengarkan ucapan Detektif Jace—jadi menunduk.
Dua
detik kemudian, Detektif Jace menghela napas.
“Mr.
Rivera menelan air yang sudah dicampur dengan sianida,” ujar Detektif Jace
tiba-tiba. Kata-katanya spontan membuat semua orang yang ada di sana menoleh ke
arahnya dan membelalakkan mata. “Sepertinya, dia tidak dapat mendeteksi baunya.
Namun, kami tidak menemukan adanya jejak bubuk sianida di tempat lain selain di
teko minuman itu, di tempat sampah…dan di kantung celana Mr. Rivera
sendiri.”
Mereka
semua semakin terkejut. Mata Pelatih Andrew membulat sempurna. “Apa?!”
“Sebentar—sebentar.”
Kane menggeleng. “Bagaimana mungkin?!”
“Anda
sudah memastikannya??” Russel ikut bertanya; dia tak habis pikir. Tanpa sadar,
suara mereka semua meninggi.
“Itu
tidak mungkin…” Chris menggeleng dengan wajah pucatnya.
“Yang
ada di kantung celananya adalah satu bungkus kecil sianida yang masih utuh,
sementara yang ada di tempat sampah adalah bungkus kecil yang sama…tetapi sudah
kosong. Sepertinya, bungkus kecil yang sudah kosong itu tadinya berisi sianida
yang dicampurkan ke air putih di dalam teko itu.”
Ibarra
menganga. Sama seperti teman-temannya, ia menggeleng tak menyangka. “No…
There’s no way… Austin adalah yang paling vokal dalam mengajak kami semua
latihan mandiri. Dia sangat ambisius, sangat realistis. Bagaimana mungkin dia…”
“Ya,”
sambung Thomas. “Rasanya…tidak mungkin dia melakukan itu.”
“Kasus
ini masih diselidiki. Terlalu cepat untuk mengira bahwa Mr. Rivera mengakhiri
hidupnya sendiri. Kami akan tetap meneliti barang-barang di sekitarnya lebih
lanjut. Semua barang bukti akan dibawa ke laboratorium dan diperiksa oleh ahli
forensik,” ujar Detektif Jace. “Kami perlu melihat dan mengidentifikasi seluruh
sidik jari yang ditemukan.”
“Walaupun
begitu…” ujar Chris. “Mengapa ini terdengar seperti…Austin sengaja melakukannya?”
Semua
orang terdiam sejenak.
“No
way, Chris,” ujar Keith. Dia menggeleng, mengetatkan
rahang, dan napasnya memburu. “Aku cukup mengenal Austin dengan baik.”
“Aku
tahu, Keith, aku tahu,” ujar Chris sambil mengangkat kedua tangannya, mencoba
untuk menenangkan Keith. “Namun—”
“Ada
sebungkus zat itu di kantung celananya. Why would he keep it in his pocket?”
sambung Thomas, membenarkan keraguan Chris.
Tiba-tiba
saja, Castro bangkit dari duduknya dengan tangan terkepal. Entah mengapa, dia
yang sejak tadi tidak terlihat semarah Russel dan Kane, tiba-tiba murka.
Mungkin, sejak tadi dia sudah menahan semuanya. Dia tak terbiasa berpikir
matang-matang, sebenarnya. Dia juga tidak cukup sabar. Pikirannya selalu
simpel, sedikit gegabah, seperti saat dia memutuskan untuk membawa alkohol di
hari pertama mereka datang ke sana meskipun tahu bahwa tujuan mereka adalah untuk
latihan.
Jadi,
saat dia tiba-tiba berdiri dengan ekspresi penuh amarah, semua orang
tidak terlalu terkejut. Namun, mereka kira…Russellah yang akan terlebih dahulu
melakukan itu. Ternyata mereka salah.
“Apakah
kalian lagi-lagi mau bilang kalau ini adalah bunuh diri atau kecelakaan?!
Ini sudah tiga kali!! Are you guys fucking serious?! Buka mata
kalian!!! Mana mungkin kejadiannya beruntun seperti ini!!!” teriak
Castro.
“I
never said anything like that,” bantah Detektif Jace. “Aku
sudah bilang bahwa kita tidak bisa mengecualikan kemungkinan terburuk.”
“No!
I’m talking to them,” ujar Castro, menunjuk semua teman-temannya.
“Aku yakin bahwa mereka akan kembali mengatakan bahwa ini adalah ‘kecelakaan’
atau ‘bunuh diri’, padahal mereka sendiri meragukan itu! You guys act like
smart people, but you always deny that there is anything wrong!!!”
Chris
membelalakkan mata. “Cas, calm down!! Maksud kami bukan begitu—”
“SHUT
THE FUCK UP!!!” teriak Castro. "You too, Chris!
Weren't you the one who found Bryant's body?!! ARE YOU SURE THAT IT WAS JUST AN
ACCIDENT?!! SOMEONE MUST HAVE GIVEN HIM MY ALCOHOL!! HE WAS A SWIMMING ATHLETE,
WHY THE FUCK DID HE DROWN? THAT MAKES NO SENSE AT ALL!!"
“YOU
THINK YOU'RE THE ONLY ONE WHO THINKS LIKE THAT?!! WE'VE BEEN TALKING ABOUT IT!!
CAN'T YOU SEE?!” Kane balas berteriak. Dia memelototi
Castro.
“SUDAH,
SUDAH!!” Pelatih Andrew menengahi. Dia ikut meninggikan suaranya; dia menatap
Castro dan Kane secara bergantian, lalu menghela napas. “Apakah ini waktunya
untuk bertengkar? Kita sudah kehilangan tiga orang!!!!”
Castro
mengepalkan tangannya. Napasnya memburu, dadanya naik turun, rahangnya
mengetat; ia terlihat seperti akan meledak sebentar lagi. Wajahnya memerah
akibat menahan emosi.
Akhirnya,
Castro pun berkata dengan tajam, “I'M DONE. I DON'T WANT TO HEAR ANYONE HERE
ANYMORE. I DON'T WANT TO BE THE NEXT PERSON TO DIE.”
Thomas
memijit keningnya ketika Castro mulai bergerak; Castro ingin pergi dari vila
itu sekarang juga. Namun, tiba-tiba suara Detektif Jace terdengar. Suaranya
sangat mencekam.
“No one is allowed to leave before we complete the
investigation.”
Castro tertawa sinis. Dia menggeleng. "Spend 5
minutes here and you'll be the next. There's bound to be someone laughing at
our stupidity behind the scenes."
Castro tidak menghiraukan ucapan Detektif Jace sama
sekali. Ia berjalan cepat menuju ke pintu utama vila tanpa menoleh ke belakang.
Beberapa orang menunduk saat melihat Castro pergi, tetapi beberapa lagi sibuk
memanggilnya, bahkan menyusulnya hanya untuk menarik tangannya. Sementara itu,
Detektif Jace tetap diam di tempat. Matanya menyipit tajam tatkala menatap meja
yang ada di hadapannya.
Dia pun mendengkus.
“Apakah dia membawa mobilnya sendiri?” tanyanya pada
semua orang yang ada di sana.
Pelatih Andrew mengangguk. “Y—Yes. Yes, he is.”
Detektif Jace langsung mengunci mata Pelatih
Andrew dengan tatapan tajamnya. “Which one?”
“The white one,” sahut Dokter Gray.
Detektif Jace
mengangguk. Dia langsung mengambil ponselnya yang tersimpan di dalam saku
celananya, lalu menelepon seseorang. Kurang lebih empat detik setelah menempelkan
ponsel itu ke telinganya, dia pun mulai membuka suara.
“Tolong amankan…”
******
Beberapa menit kemudian, proses olah TKP pun selesai.
Jenazah Austin baru saja dipindahkan ke mobil dan akan dibawa untuk diautopsi.
Orangtua Austin—yang sedang berlibur ke San Jose—baru saja sampai di vila itu
dan menjemput jenazahnya Austin sambil menangis terisak-isak dan marah-marah ke
mereka semua. Dia mengancam semua peserta yang tersisa di sana, termasuk Pelatih
Andrew dan Dokter Gray, berkata bahwa dia akan menuntut mereka semua.
Suasananya ricuh; ayahnya Austin membanting meja yang ada di ruang tamu hingga
pecah berkeping-keping. Dia hampir menusuk Keith dan Pelatih Andrew dengan
pecahan kaca itu.
Ruang tamu tersebut hampir saja menjadi TKP pembunuhan juga
apabila polisi tidak menangani situasi itu dengan cepat. Ibunya Austin pingsan
dan Ayahnya Austin akhirnya dibawa ke luar oleh dua orang polisi yang menahan
pergerakannya; para polisi berkata bahwa mereka akan menangani kasus ini dengan
sebaik mungkin dan pasti akan menangkap pelakunya. Namun, mereka harus
mengumpulkan buktinya terlebih dahulu.
Saat semua anggota polisi sudah berada di luar—membawa
kedua orangtua Austin, membawa jenazah Austin, dan membawa seluruh barang
bukti—Detektif Jace tinggal di belakang. Dia berhenti di pintu depan (pintu
utama) vila bersama dengan kedelapan orang itu. Mereka ikut mengantar para
polisi hingga ke luar.
Detektif Jace tiba-tiba berbalik dan menghadap ke arah
mereka. Dia mendengkus, lalu berkacak pinggang. Dengan tatapan tajam, dia pun
mulai memberikan sebuah peringatan.
“Kuharap kalian semua keluar dari sini sekarang juga.
Kembalilah ke Sonoma; aku akan kembali menelepon polisi dari Sonoma untuk
mengamankan kalian. Kami masih tidak tahu kalian tersangka atau bukan.”
Mereka semua menunduk tatkala mendengar itu. Mau mereka
salah atau tidak pun, rasanya sudah tak ada hak untuk berkomentar lagi. Mereka
tak tahu harus merasa takut atau merasa bersalah atas semua kejadian ini.
Rasanya…mereka hampir gila. Mereka seperti…
…diincar.
Mereka sedang diawasi…
…oleh sesuatu.
Ini sinting. Mereka bahkan tak tahu apa sebabnya. Mereka
juga tak tahu harus bagaimana. Terlebih lagi, siapa yang melakukan semua
ini?!! Semuanya terlihat kebetulan, tetapi di sisi lain juga terlalu ‘beruntun’
untuk dikategorikan sebagai kebetulan belaka.
Kebingungan-kebingungan itu rasanya bagai mampu
meledakkan otakmu sendiri. Terlihat kebetulan, tetapi di sisi lain juga terlihat
seperti bukan kebetulan. Terlihat mencurigakan, tetapi di sisi lain juga
terlihat seperti bunuh diri atau kecelakaan biasa akibat kondisi TKP-nya.
Detektif Jace baru saja ingin kembali berbicara pada
mereka tatkala tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ia langsung mengambil ponselnya
dan mengangkat panggilan telepon itu.
Ternyata, itu adalah panggilan telepon dari rekan
kerjanya yang ada di kantor kepolisian Healdsburg, yakni orang yang ia telepon
di ruang tamu sebelumnya.
Detektif Jace mulai membuka suara, “Hal—”
“Jace,” potong
polisi yang ada di seberang sana. “That white car. Is it Chevrolet Malibu?”
Detektif Jace mengernyitkan dahi.
“Chevrolet Malibu?” tanyanya, kurang mengerti.
Namun, begitu mendengarnya menyebut brand mobil
itu, kedelapan orang yang ada di hadapannya langsung melebarkan mata. Tubuh
mereka menegang. Ia sempat melirik mereka—melihat reaksi mereka semua—sebelum
akhirnya kembali mendengar rekannya berbicara di seberang sana.
“Yes. Kupikir kau harus cepat datang ke sini. Aku hampir
sampai di lokasi vila itu, tetapi aku menemukan sebuah mobil di tengah jalan.
Mobil Chevrolet putih,” ujarnya.
“Mobil itu menabrak sebuah pohon di pinggir jalan dan bagian depannya hancur.
Pengemudinya meninggal di tempat.” []



No comments:
Post a Comment