Tuesday, September 2, 2025

Black Trick (Chapter 4: Castro Cortez)

 


******

Chapter 4 :

Castro Cortez

 

******

 

PENYELIDIKAN oleh polisi kembali dilakukan di vila milik Keluarga Saunders. Namun, kali ini, para polisi datang bersama detektif dari satuan kepolisian mereka sendiri yang bersama Jace Corbin.

            Jace Corbin adalah seorang laki-laki muda yang cenderung kurus, berkulit putih, dan berambut coklat. Dia tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek; ukuran tubuhnya standar. Wajahnya terlihat seperti pekerja kantoran yang bekerja hampir dua belas jam sehari dan belum terhitung lembur. Tidak, dia tidak terlihat selelah itu, sebenarnya; perumpamaan itu lebih diarahkan kepada ‘tipe’ wajahnya (jika kau mengerti maksudnya), bukan kepada seberapa hitam kantung matanya.

Jenazah Austin belum dipindahkan. Polisi telah melakukan olah TKP sejak setengah jam yang lalu. Mereka sedang mengamati kondisi TKP secara keseluruhan, melakukan pengamanan serta mempertahankan status quo di lokasi kejadian, mengumpulkan bukti-bukti, dan mendokumentasikannya.

Semua atlet yang tersisa beserta Dokter Gray dan Pelatih Andrew menunggu di koridor. Ada police line yang menghalangi mereka agar tidak masuk ke TKP alias dapur tempat di mana Austin tergeletak dengan mulut berbusa.

Tadi, saat melihat kondisi Austin, Keith merasa vilanya seperti kejatuhan sebuah meteorit besar. Bukan, bukan maksudnya mau memakai metafora yang berlebihan. Keith terkesiap saat melihat teman baiknya itu tergeletak di lantai; rasanya seolah-olah dunianya runtuh mendadak dan jantungnya berhenti berdegup. Di momen itu, waktu seakan-akan ikut berhenti. Ada sesuatu tak kasat mata, sebuah tekanan besar, yang mendadak bagai mencekik lehernya.

Keith sempat bersimpuh di samping tubuh Austin, mengguncang dan menepuk-nepuk tubuh serta pipi pemuda itu dengan panik—pikirannya benar-benar kacau saat itu—tetapi untungnya, otaknya masih berjalan. Masih bisa berpikir untuk menemukan solusi terbaik tatkala sadar bahwa Austin sudah tidak bergerak lagi.

Dengan dada yang sesak, napas yang memburu, tangan yang gemetar, serta suara yang dipenuhi rasa takut, khawatir, dan kebingungan yang luar biasa itu—karena hampir lepas kendali—dia pun menelepon polisi. Setelah itu, dia langsung menjauh dari dapur—tak mau berlama-lama mengacaukan TKP dengan jejaknya—dan berteriak kencang untuk memanggil semua orang yang ada di vila itu. Semua orang datang ke sana dan langsung kembali merasakan ketakutan yang luar biasa, sama seperti ketika mereka menemukan mayat Bryant dan Lucas. Namun, kali ini, ekspresi mereka mulai dihantui oleh keputusasaan. Ada yang bahkan langsung terduduk dan meremas rambutnya dengan frustrasi. Mata Ibarra sampai berkaca-kaca; ia menggeleng dan berkata, “No… Not again…”

Sekitar satu setengah jam kemudian, sang Detektif Kepolisian (Jace Corbin) pun keluar dari TKP. Dia berjalan melewati koridor dan tidak menemukan para atlet beserta pelatih dan dokter itu di sana.

Detektif Jace mulai turun melalui tangga menuju ke lantai satu. Dari atas, dia sudah bisa melihat bahwa kesembilan orang itu ada di lantai satu, yaitu di area ruang tamu. Mereka duduk di sofa itu tanpa membicarakan apa pun. Suasananya sangat hening; ekspresi mereka ada yang takut, ada yang menunduk dan diam saja, ada yang khawatir setengah mati seraya mengusap kepala atau wajahnya dengan frustrasi, dan ada juga yang menangis dalam diam. Begitu mendengar suara langkah kaki Detektif Jace yang sedang menuruni tangga, mereka semua berdiri dan menyambutnya. Ada juga yang langsung mendekati tangga; mereka menunggu Detektif Jace di bawah tangga itu.

‘Mereka’ yang dimaksud adalah Keith, Russel, dan Kane. Sementara itu, yang lain tetap berada di tempat (di area sofa). Ibarra bangkit dari duduknya dengan wajah pucat. Chris pun sama, tetapi dia mulai fidgeting. Thomas dan Castro berdiri di samping Ibarra, tetapi dua-duanya hanya diam dengan dahi berkerut, tegang bukan main karena otak mereka sama-sama sudah yakin bahwa: something’s definitely wrong here.

Ketika Detektif Jace sudah sampai di lantai satu, Keith, Russel, dan Kane pun langsung mengikuti langkahnya menuju ke area sofa.

“Bagaimana, sir?” tanya Keith, dia terdengar panik bercampur frustrasi. “Apa yang sebenarnya terjadi pada Austin?”

Why does this keep happening to us anyway??” ujar Russel. “Something is definitely wrong!!”

“Haruskah kita keluar dari vila ini sekarang juga? We definitely should, shouldn’t we?!” ujar Castro, dia terdengar sudah tidak sanggup, sudah tidak mau berada di vila itu lebih lama lagi.

“I know that this is frustrating, but please calm down, both of you,” ujar Dokter Gray dari area sofa. “Jangan mencecar Mr. Corbin. Ayo kita dengar apa yang telah polisi temukan.”

Pelatih Andrew menatap Detektif Jace dengan penuh penantian; dia ingin segera mendengar penjelasan Detektif Jace.

Begitu Detektif Jace duduk di sofa, mereka semua pun berkumpul di sana. Ada yang duduk di sofa dan ada yang berdiri, tetapi semuanya menghadap ke Detektif Jace; mereka menunggu detektif itu berbicara.

Begitu duduk di sofa, tanpa menunggu semua orang tenang terlebih dahulu—karena hal itu rasanya tidak mungkin—Detektif Jace pun mulai berbicara.

“First of all,” ujarnya. “I honestly can’t believe a big villa like this has no CCTV.”

Semua orang menunduk, terutama Keith. Namun, Keith harus apa? ‘Memasang’ atau ‘tidak memasang’ CCTV itu adalah keputusan keluarganya, jadi ia pun bingung harus menjelaskan apa kepada polisi.

Detektif Jace duduk tegap, tatapannya yang penuh sindiran halus itu melihat mereka satu per satu. Seolah-olah ia mau menginterogasi mereka semua hanya dengan tatapannya. Seolah-olah ia tak percaya dengan mereka semua. Well, bahkan kalimat pertama yang ia ucapkan pun merupakan sindiran terhadap vila itu.

Detektif Jace menghela napas. “Kami sudah hampir selesai mengumpulkan barang bukti dan dokumentasi. Mereka juga sedang mengumpulkan sidik jarinya untuk dianalisis lebih lanjut. Jenazah Mr. Rivera akan dipindahkan sebentar lagi.”

“Apa penyebab kematiannya, sir? Benarkah dia keracunan?” tanya Andrew.

“Anda dan Mr. Sullivan, selaku pelatih dan dokter mereka, selaku dua orang yang paling dewasa di sini, apakah Anda serius?” Detektif Jace menaikkan sebelah alisnya. “Mengapa masih nekat berada di sini setelah kejadian pertama yang menimpa Bryant Thompson?”

Catatan: Detektif Jace sudah tahu runtutan kejadian meninggalnya Austin dari rekan-rekan polisi lainnya. Siapa yang menjelaskan semua itu ke polisi? Tentu saja Pelatih Andrew saat ia menelepon polisi begitu melihat Austin tergeletak di lantai dapur dengan mulut berbusa.

Mereka berdua (Andrew dan Gray) pun menunduk. Meskipun sebenarnya itu bukan kemauan mereka, mereka tetaplah orang-orang yang paling dewasa di sana. Mereka jelas memiliki kontrol yang lebih besar.

Akhirnya, satu-satunya kalimat yang keluar dari mulut mereka adalah:

 

“Maafkan kami, sir.”

 

Ibarra menunduk dan mengepalkan tangannya. Dia merasa bersalah karena ikut andil dalam meyakinkan teman-temannya untuk tetap berlatih di sana.

“Kami sudah berencana untuk pergi sejak Bryant meninggal dunia.” Dokter Gray—yang hampir selalu terlihat calm itu—mulai berbicara. “tetapi mereka masih ingin berlatih di sini. Namun, setelah Lucas meninggal dunia, kami semua sudah sepakat untuk pergi. Kami semua sedang mem-packing barang-barang kami yang tertinggal di vila ini, di ruangan masing-masing, ketika tiba-tiba Keith menemukan Austin sudah meninggal dunia di dapur. Kami tak bermaksud untuk tinggal lebih lama.”

“Ya.” Keith menimpali. “Aku dan Austin sedang mem-packing barang-barang kami ketika tiba-tiba Austin merasa haus. Dia pergi ke dapur sendirian, lalu ketika aku merasa dia sudah terlalu lama berada di dapur, aku pun mencarinya…dan malah menemukannya sudah…”

Keith meremas rambutnya frustrasi, matanya berkaca-kaca.

“Aku sudah mendengar semua itu. Namun, aku sangat menyayangkan kecerobohan kalian yang langsung membawa Lucas Anguiano kembali tanpa memberitahu kami terlebih dahulu,” jawab Detektif Jace.

Dokter Gray mencoba untuk menjawab, “Lucas…benar-benar bunuh diri, sir. Aku memastikan kondisi tubuhnya serta kondisi sekitar. Kami semua memang sama-sama ada di ruang tamu ketika itu terjadi. Tidak ada yang ikut bersama Lucas atau berada di tempat lain.”

“Walaupun begitu, Dokter Gray,” ujar Detektif Jace, menatap Dokter Gray dengan tajam. “Kami harus tahu. Hal itu sebaiknya dilaporkan, terutama mengingat bahwa sebelum kematian Lucas, ada kematian lainnya. Aku tahu bahwa Anda adalah dokter yang berpengalaman; aku percaya dengan analisis Anda. Namun, jika kejadian itu dilaporkan kepada kami, kami bisa menginvestigasinya lebih dalam. Siapa tahu itu bukan kebetulan. Kita tidak bisa mengecualikan kemungkinan-kemungkinan terburuk.”

Dokter Gray menunduk. “Maafkan aku. Ini pertama kalinya aku menghadapi situasi seperti ini. Aku juga sangat terguncang saat itu.”

“Apa pun yang terjadi, tolong hentikan kegiatan latihan mandiri ini,” ujar Detektif Jace. “Aku sudah menelepon para polisi di Sonoma dan mungkin saja beritanya sudah menyebar hingga ke Sacramento. Aku ingin banyak orang melarang kalian untuk berlatih secara mandiri, just in case kalian masih keras kepala.”

Semua orang di sana—yang mendengarkan ucapan Detektif Jace—jadi menunduk.

Dua detik kemudian, Detektif Jace menghela napas.

“Mr. Rivera menelan air yang sudah dicampur dengan sianida,” ujar Detektif Jace tiba-tiba. Kata-katanya spontan membuat semua orang yang ada di sana menoleh ke arahnya dan membelalakkan mata. “Sepertinya, dia tidak dapat mendeteksi baunya. Namun, kami tidak menemukan adanya jejak bubuk sianida di tempat lain selain di teko minuman itu, di tempat sampah…dan di kantung celana Mr. Rivera sendiri.”

Mereka semua semakin terkejut. Mata Pelatih Andrew membulat sempurna. “Apa?!”

“Sebentar—sebentar.” Kane menggeleng. “Bagaimana mungkin?!”

“Anda sudah memastikannya??” Russel ikut bertanya; dia tak habis pikir. Tanpa sadar, suara mereka semua meninggi.

“Itu tidak mungkin…” Chris menggeleng dengan wajah pucatnya.

“Yang ada di kantung celananya adalah satu bungkus kecil sianida yang masih utuh, sementara yang ada di tempat sampah adalah bungkus kecil yang sama…tetapi sudah kosong. Sepertinya, bungkus kecil yang sudah kosong itu tadinya berisi sianida yang dicampurkan ke air putih di dalam teko itu.”

Ibarra menganga. Sama seperti teman-temannya, ia menggeleng tak menyangka. “No… There’s no way… Austin adalah yang paling vokal dalam mengajak kami semua latihan mandiri. Dia sangat ambisius, sangat realistis. Bagaimana mungkin dia…”

“Ya,” sambung Thomas. “Rasanya…tidak mungkin dia melakukan itu.”

“Kasus ini masih diselidiki. Terlalu cepat untuk mengira bahwa Mr. Rivera mengakhiri hidupnya sendiri. Kami akan tetap meneliti barang-barang di sekitarnya lebih lanjut. Semua barang bukti akan dibawa ke laboratorium dan diperiksa oleh ahli forensik,” ujar Detektif Jace. “Kami perlu melihat dan mengidentifikasi seluruh sidik jari yang ditemukan.”

“Walaupun begitu…” ujar Chris. “Mengapa ini terdengar seperti…Austin sengaja melakukannya?”

Semua orang terdiam sejenak.

“No way, Chris,” ujar Keith. Dia menggeleng, mengetatkan rahang, dan napasnya memburu. “Aku cukup mengenal Austin dengan baik.”

“Aku tahu, Keith, aku tahu,” ujar Chris sambil mengangkat kedua tangannya, mencoba untuk menenangkan Keith. “Namun—”

“Ada sebungkus zat itu di kantung celananya. Why would he keep it in his pocket?” sambung Thomas, membenarkan keraguan Chris.

Tiba-tiba saja, Castro bangkit dari duduknya dengan tangan terkepal. Entah mengapa, dia yang sejak tadi tidak terlihat semarah Russel dan Kane, tiba-tiba murka. Mungkin, sejak tadi dia sudah menahan semuanya. Dia tak terbiasa berpikir matang-matang, sebenarnya. Dia juga tidak cukup sabar. Pikirannya selalu simpel, sedikit gegabah, seperti saat dia memutuskan untuk membawa alkohol di hari pertama mereka datang ke sana meskipun tahu bahwa tujuan mereka adalah untuk latihan.

Jadi, saat dia tiba-tiba berdiri dengan ekspresi penuh amarah, semua orang tidak terlalu terkejut. Namun, mereka kira…Russellah yang akan terlebih dahulu melakukan itu. Ternyata mereka salah.

“Apakah kalian lagi-lagi mau bilang kalau ini adalah bunuh diri atau kecelakaan?! Ini sudah tiga kali!! Are you guys fucking serious?! Buka mata kalian!!! Mana mungkin kejadiannya beruntun seperti ini!!!” teriak Castro.

“I never said anything like that,” bantah Detektif Jace. “Aku sudah bilang bahwa kita tidak bisa mengecualikan kemungkinan terburuk.”

“No! I’m talking to them,” ujar Castro, menunjuk semua teman-temannya. “Aku yakin bahwa mereka akan kembali mengatakan bahwa ini adalah ‘kecelakaan’ atau ‘bunuh diri’, padahal mereka sendiri meragukan itu! You guys act like smart people, but you always deny that there is anything wrong!!!”

Chris membelalakkan mata. “Cas, calm down!! Maksud kami bukan begitu—”

“SHUT THE FUCK UP!!!” teriak Castro. "You too, Chris! Weren't you the one who found Bryant's body?!! ARE YOU SURE THAT IT WAS JUST AN ACCIDENT?!! SOMEONE MUST HAVE GIVEN HIM MY ALCOHOL!! HE WAS A SWIMMING ATHLETE, WHY THE FUCK DID HE DROWN? THAT MAKES NO SENSE AT ALL!!"

“YOU THINK YOU'RE THE ONLY ONE WHO THINKS LIKE THAT?!! WE'VE BEEN TALKING ABOUT IT!! CAN'T YOU SEE?!” Kane balas berteriak. Dia memelototi Castro.

“SUDAH, SUDAH!!” Pelatih Andrew menengahi. Dia ikut meninggikan suaranya; dia menatap Castro dan Kane secara bergantian, lalu menghela napas. “Apakah ini waktunya untuk bertengkar? Kita sudah kehilangan tiga orang!!!!”

Castro mengepalkan tangannya. Napasnya memburu, dadanya naik turun, rahangnya mengetat; ia terlihat seperti akan meledak sebentar lagi. Wajahnya memerah akibat menahan emosi.

Akhirnya, Castro pun berkata dengan tajam, “I'M DONE. I DON'T WANT TO HEAR ANYONE HERE ANYMORE. I DON'T WANT TO BE THE NEXT PERSON TO DIE.”

Thomas memijit keningnya ketika Castro mulai bergerak; Castro ingin pergi dari vila itu sekarang juga. Namun, tiba-tiba suara Detektif Jace terdengar. Suaranya sangat mencekam.

No one is allowed to leave before we complete the investigation.”

Castro tertawa sinis. Dia menggeleng. "Spend 5 minutes here and you'll be the next. There's bound to be someone laughing at our stupidity behind the scenes."

Castro tidak menghiraukan ucapan Detektif Jace sama sekali. Ia berjalan cepat menuju ke pintu utama vila tanpa menoleh ke belakang. Beberapa orang menunduk saat melihat Castro pergi, tetapi beberapa lagi sibuk memanggilnya, bahkan menyusulnya hanya untuk menarik tangannya. Sementara itu, Detektif Jace tetap diam di tempat. Matanya menyipit tajam tatkala menatap meja yang ada di hadapannya.

Dia pun mendengkus.

“Apakah dia membawa mobilnya sendiri?” tanyanya pada semua orang yang ada di sana.

Pelatih Andrew mengangguk. “Y—Yes. Yes, he is.”

Detektif Jace langsung mengunci mata Pelatih Andrew dengan tatapan tajamnya. “Which one?”

“The white one,” sahut Dokter Gray.

 Detektif Jace mengangguk. Dia langsung mengambil ponselnya yang tersimpan di dalam saku celananya, lalu menelepon seseorang. Kurang lebih empat detik setelah menempelkan ponsel itu ke telinganya, dia pun mulai membuka suara.

“Tolong amankan…”

 

******

 

Beberapa menit kemudian, proses olah TKP pun selesai. Jenazah Austin baru saja dipindahkan ke mobil dan akan dibawa untuk diautopsi. Orangtua Austin—yang sedang berlibur ke San Jose—baru saja sampai di vila itu dan menjemput jenazahnya Austin sambil menangis terisak-isak dan marah-marah ke mereka semua. Dia mengancam semua peserta yang tersisa di sana, termasuk Pelatih Andrew dan Dokter Gray, berkata bahwa dia akan menuntut mereka semua. Suasananya ricuh; ayahnya Austin membanting meja yang ada di ruang tamu hingga pecah berkeping-keping. Dia hampir menusuk Keith dan Pelatih Andrew dengan pecahan kaca itu.

Ruang tamu tersebut hampir saja menjadi TKP pembunuhan juga apabila polisi tidak menangani situasi itu dengan cepat. Ibunya Austin pingsan dan Ayahnya Austin akhirnya dibawa ke luar oleh dua orang polisi yang menahan pergerakannya; para polisi berkata bahwa mereka akan menangani kasus ini dengan sebaik mungkin dan pasti akan menangkap pelakunya. Namun, mereka harus mengumpulkan buktinya terlebih dahulu.

Saat semua anggota polisi sudah berada di luar—membawa kedua orangtua Austin, membawa jenazah Austin, dan membawa seluruh barang bukti—Detektif Jace tinggal di belakang. Dia berhenti di pintu depan (pintu utama) vila bersama dengan kedelapan orang itu. Mereka ikut mengantar para polisi hingga ke luar.

Detektif Jace tiba-tiba berbalik dan menghadap ke arah mereka. Dia mendengkus, lalu berkacak pinggang. Dengan tatapan tajam, dia pun mulai memberikan sebuah peringatan.

“Kuharap kalian semua keluar dari sini sekarang juga. Kembalilah ke Sonoma; aku akan kembali menelepon polisi dari Sonoma untuk mengamankan kalian. Kami masih tidak tahu kalian tersangka atau bukan.”

Mereka semua menunduk tatkala mendengar itu. Mau mereka salah atau tidak pun, rasanya sudah tak ada hak untuk berkomentar lagi. Mereka tak tahu harus merasa takut atau merasa bersalah atas semua kejadian ini. Rasanya…mereka hampir gila. Mereka seperti…

…diincar.

Mereka sedang diawasi…

 

…oleh sesuatu.

 

Ini sinting. Mereka bahkan tak tahu apa sebabnya. Mereka juga tak tahu harus bagaimana. Terlebih lagi, siapa yang melakukan semua ini?!! Semuanya terlihat kebetulan, tetapi di sisi lain juga terlalu ‘beruntun’ untuk dikategorikan sebagai kebetulan belaka.

Kebingungan-kebingungan itu rasanya bagai mampu meledakkan otakmu sendiri. Terlihat kebetulan, tetapi di sisi lain juga terlihat seperti bukan kebetulan. Terlihat mencurigakan, tetapi di sisi lain juga terlihat seperti bunuh diri atau kecelakaan biasa akibat kondisi TKP-nya.

Detektif Jace baru saja ingin kembali berbicara pada mereka tatkala tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ia langsung mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan telepon itu.

Ternyata, itu adalah panggilan telepon dari rekan kerjanya yang ada di kantor kepolisian Healdsburg, yakni orang yang ia telepon di ruang tamu sebelumnya.

Detektif Jace mulai membuka suara, “Hal—”

“Jace,” potong polisi yang ada di seberang sana. “That white car. Is it Chevrolet Malibu?”

Detektif Jace mengernyitkan dahi.

“Chevrolet Malibu?” tanyanya, kurang mengerti.

Namun, begitu mendengarnya menyebut brand mobil itu, kedelapan orang yang ada di hadapannya langsung melebarkan mata. Tubuh mereka menegang. Ia sempat melirik mereka—melihat reaksi mereka semua—sebelum akhirnya kembali mendengar rekannya berbicara di seberang sana.

“Yes. Kupikir kau harus cepat datang ke sini. Aku hampir sampai di lokasi vila itu, tetapi aku menemukan sebuah mobil di tengah jalan. Mobil Chevrolet putih,” ujarnya. “Mobil itu menabrak sebuah pohon di pinggir jalan dan bagian depannya hancur. Pengemudinya meninggal di tempat.” []

 














******







No comments:

Post a Comment

She Was Never Mine (Bab 4: Segalanya Untuknya)

  ****** Bab 4 : Segalanya Untuknya   ******   LANTUNAN lagu di radio terdengar begitu merdu saat Josh baru saja memberhentikan mo...