Friday, September 5, 2025

Because of Ticket! (Bab 15: Ungkapan Cinta)

 


******

Bab 15 :

Ungkapan Cinta

 

******

 

ADA api unggun kecil yang dihidupkan di depan tenda cewek SMA Kusuma Bangsa. Sekarang sudah jam setengah sembilan malam dan mereka semua sudah selesai makan. Perlombaan terakhir hari ini (lomba tari tradisional) telah dilaksanakan dengan baik; penampilan para peserta dari SMA Kusuma Bangsa sangat bagus, tanpa ada kesalahan sedikit pun. Semuanya lancar.

Saat itu, Nadya sedang memperhatikan kakak-kakak tingkat dan juga teman-teman yang lain; mereka semua duduk di depan tenda dan mengelilingi api unggun itu. Beberapa murid cowok mulai bernyanyi…dan ada satu orang yang bermain gitar. Lagu-lagu itu seolah-olah memanjakan telinga Nadya. Murid-murid cewek juga sesekali ikut bernyanyi; mereka bercanda dan tertawa satu sama lain malam itu. Sesungguhnya, anak-anak dari sekolah lain juga rata-rata belum tidur, tetapi agaknya tak ada yang terlihat seasik anak SMA Kusuma Bangsa yang menghabiskan waktu bersama-sama seperti itu. Lagi pula, nyanyian cowok-cowok SMA Kusuma Bangsa itu terbilang bagus, soalnya yang bernyanyi itu adalah para peserta lomba vocal group yang akan diadakan besok pagi. Fix, SMA Kusuma Bangsa seharian ini jadi pusat perhatian di pertandingan persahabatan itu. Nadya sebenarnya juga terpilih buat lomba vocal group, tetapi...boro-boro mau ikutan nyanyi, berbicara saja Nadya agak canggung. Nyanyinya besok saja, deh, pas lomba.

Nadya duduk seraya memeluk lututnya dengan erat. Teman-teman Nadya—Tari, Savanna, dan lain-lain, yang duduk di sekitar Nadya—kini sedang berbincang-bincang, tetapi Nadya tak begitu mendengar apa yang mereka bicarakan. Rasanya...Nadya mulai ngantuk. Nadya enggak ikut perlombaan olahraga, padahal, tetapi entah mengapa tubuhnya terasa sangat lelah. Nadya melihat api unggun kecil yang ada di depannya dan pikirannya mendadak ke mana-mana, seolah-olah tenggelam di api yang hangat itu.

Aldo nggak ada di sini.

Well, Sekitar sepuluh menit yang lalu, Aldo pamit pada Nadya untuk pergi ke kamar mandi bersama Rian. Adam tak mau pergi ke kamar mandi, jadi Aldo hanya pergi bersama Rian. Aldo menitipkan ponselnya pada Nadya dan sekarang ponsel itu ada di kantung jaket yang sedang Nadya kenakan.

Tiba-tiba, Adam—yang tadinya duduk di seberang sana—mulai mendekati Nadya. Adam lalu duduk di sebelah Nadya (dia meminta Tari untuk minggir dan itu sukses membuat Tari marah-marah). Nadya yang sadar akan percekcokan itu pun mulai mendongak. Nadya melebarkan mata saat melihat Adam tiba-tiba duduk di sampingnya.

Adam tersenyum lebar, memamerkan gigi-gigi putihnya. Adam...memang selalu seperti itu; dia agak konyol.

Nadya hanya diam, tetapi mulut Nadya terbuka sedikit karena heran.

Adam pun menyapa, "Hai, Nad!"

Sebenarnya, baru kali inilah Adam benar-benar berbicara pada Nadya dalam keadaan ‘sendirian’. Maksudnya begini: biasanya, Adam hanya menyapa Nadya saat dia sedang jalan bersama Rian atau Aldo. Mereka tidak dekat. Istilahnya itu: 'Sekadar saja'.

Nadya tersenyum canggung, cewek itu tak bisa mengeluarkan kata-kata.

Adam pun menganga, agak kaget juga. "Weh, Nad, reaksimu kok gitu banget..."

Cowok itu mewek; dia pura-pura menundukkan kepala di atas lututnya sendiri, ia menangis dibuat-buat. Tari yang melihat itu pun mulai menempeleng kepala Adam. "Lebay amat nih anak."

Adam spontan mengangkat kepalanya lagi dan tertawa keras. Nadya jadi menahan tawa saat melihat tingkah Adam yang benar-benar tak bisa diam itu. Adam sangat berbeda dengan Rian dan Aldo, tetapi sebenarnya…Adamlah 'si pencerah suasana' di antara ketiga orang itu.

"Abisnya Nadya gitu banget," ujar Adam sambil kembali menatap Nadya. Kini, Adam kembali tersenyum ceria. "Nad, aku mau minta lagu di HP-nya Aldo. HP dia ada di kamu, ‘kan?"

Nadya tak tahu kenapa, tetapi Rian dan Adam juga menggunakan 'aku-kamu' saat berbicara pada Nadya. Aldo tak menyuruh atau memaksa mereka berdua untuk melakukan itu, ‘kan? Itu tak mungkin. Jadi, mengapa? Hal itu jadi pertanyaan di benak Nadya akhir-akhir ini.

Misteri Illahi...? Gitu kalau kata Gita.

"Maaf, Adam, aku tadi kaget, hehe," jawab Nadya canggung. Adam menepuk pundak Nadya sembari mengatakan, "Hahaha, nggak papa, nggak papa!"

Nadya tersenyum. Cewek itu lalu mengangguk dengan cepat. "Iya, HP Aldo ada di aku, Adam."

Nadya langsung merogoh saku jaketnya dan memberikan ponsel Aldo ke tangan Adam.

"Makasih, Nadya imut!" ujar Adam. Nadya kontan menganga dan merona, ia tak terbiasa dipanggil seperti itu. Agaknya, Adam juga mengatakan itu tanpa berpikir, soalnya cowok itu langsung membuka kunci layar ponsel Aldo. Nadya tidak melihat password-nya, ya, by the way.

Tiba-tiba, Adam tertawa kecil.

"Nad," panggilnya.

Nadya langsung menatap Adam dan mata cewek itu sedikit melebar. "Kenapa, Adam?"

"Liat, nih," ujar Adam sembari tersenyum jail; dia menaikturunkan alisnya di depan Nadya. Cowok itu memperlihatkan layar ponsel Aldo di depan wajah Nadya.

Mata Nadya membulat penuh. Kontan saja pipi Nadya memerah dan jantungnya berdegup kencang. Adam mengikik tatkala melihat tingkah Nadya yang lucu itu, tetapi di sisi lain, dia jadi sadar sesuatu. Kalau melihat reaksi Nadya ini, sepertinya…Nadya tak membuka ponsel Aldo sama sekali meskipun ponsel itu ada di tangannya.

Nadya melihat wallpaper ponsel Aldo yang ternyata menggunakan fotonya. Foto itu adalah foto selfie asal-asalan yang Nadya ambil saat Nadya penasaran mengapa teman-temannya suka selfie-an. Di foto itu, Nadya memiringkan kepalanya untuk bersandar pada bantal sembari menggembungkan pipinya. Mata Nadya membulat lucu di foto itu, tetapi foto itu sudah Nadya hapus karena Nadya malu sendiri saat melihatnya.

Tunggu, kok Aldo bisa punya foto itu? Kok bisa...

"Tadi juga lock screen-nya foto kamu," ujar Adam. "Foto kamu lagi ketawa lepas. Bagus banget angle-nya."

Pipi Nadya kontan semakin memerah. Kapan…Nadya punya foto seperti itu?

Nadya mulai gagap. "A—Aku...aku nggak—”

"Hahaha, Nad, nggak usah malu gitulah! Wajar, dong, cowok masang foto ceweknya di HP. Ya kalo Aldo mah...di mana-mana dia taruh foto kamu. Kamu udah pernah datang ke rumahnya?" tanya Adam.

Nadya terperanjat; cewek itu tak menjawab apa pun. Adam lalu melanjutkan, "Kalo kamu datang ke rumahnya dan masuk ke kamarnya, kamu pasti tau apa yang kumaksud."

Nadya mengernyitkan dahi. Nadya tak mengerti apa yang Adam maksud. Nadya memang pernah masuk ke kamar Aldo, tetapi saat itu…Nadya tak sempat melihat isi kamar Aldo. Soalnya, saat itu Aldo langsung...

Oh, astaga.

Pipi Nadya langsung memanas, rasa panas itu serasa menjalar ke telinga. Adam tertawa melihat pipi Nadya yang saat itu terlihat jelas rona merahnya, padahal Adam tak tahu apa yang sedang terlintas di pikiran Nadya.

Astaga, Nad...Nad. Berarti, kamu nggak tau kalo selama ini kamu pacaran sama stalker tingkat dewa? Kamu itu masuk ke kandang singa, pikir Adam sembari tertawa.

Saat Nadya merasa semakin malu (karena Adam menertawakannya), Tari dan Savanna tiba-tiba mengajak Nadya untuk pergi ke kamar mandi. Nadya kaget saat Tari langsung menarik tangannya untuk berdiri. "Yok, Nad."

"E—Eh? Iya, Tar," ujar Nadya sembari cepat-cepat berdiri. Ia masih belum bisa lari dari rasa malunya akibat pembicaraan dengan Adam barusan. Makanya, saat ia berjalan dengan Tari dan Savanna pun, ia masih belum fokus. Pikirannya masih melayang ke mana-mana. Jika saja ia tidak cepat menggeleng dan memfokuskan dirinya, bisa saja ia tersandung sesuatu di jalan. Akal sehatnya harus kembali agar ia bisa berbicara dengan benar pada Savanna dan Tari di sepanjang jalan.

 

******

 

Untuk pergi ke kamar mandi umum, mereka harus melewati bagian belakang gedung kelas. Tak jauh dari sana, ada lapangan bola. Jadi, saat menuju ke belakang gedung kelas, tentunya mereka akan melihat lapangan bola tersebut.

Betapa terkejutnya Tari dan Savanna tatkala melihat bahwa di lapangan bola itu—tepatnya di bawah pohon berlampu-lampu yang terletak di ujung lapangan itu—ada Syakila, Aldo, dan juga Rian. Tari dan Savanna kontan berhenti berjalan; mereka dan menepuk-nepuk lengan Nadya. "Nad—Nad!"

Nadya spontan berhenti berjalan. Dia melihat ke arah yang mereka tunjukkan dengan ekspresi bingung. Saat melihat Aldo, Syakila, dan Rian, Nadya merasa…sedikit kaget, tetapi lebih ke…heran. Apa yang terjadi?

Secepat kilat, Tari menarik tangan Nadya untuk sedikit lebih mendekat ke arah pohon itu.

"Tar—udah, Tar, ngapain ke sana... Nggak usah, Tar," ujar Nadya panik.

"Lah, kok nggak usah, sih? Gue penasaran juga, nih, sama Syakila! Kan lo tau kalo akhir-akhir ini Syakila bersikap ‘nggak biasa’ kalo di depan Aldo? Ada apa coba?" Tari berkata blak-blakan. Savanna mengacungkan jempolnya pada Tari. Entah sejak kapan Tari dan Savanna jadi akrab, padahal Savanna itu beda kelas dengan mereka. Namun, kalau sama Nadya mah...Savanna udah lama kenal. Mereka pernah sekelas waktu kelas sepuluh.

Savanna juga cukup jeli; dia melihat reaksi Syakila yang tampak tak senang saat Aldo memanjakan Nadya seharian ini. Dari luar, Savanna memang kelihatan cuek, tetapi sebenarnya cewek itu peka dengan sekitarnya.

"Nggak usah, Tar, gue serius... Ayolah, ke kamar mandi aja. Tadi, kan, kita mau pergi ke kamar mandi..." ujar Nadya gelisah. Nadya benar-benar tak mau ikut campur urusan Aldo dan Syakila (Well, itu pun kalau mereka memang lagi ada urusan di bawah pohon itu). Akan tetapi, kalaupun Aldo dan Syakila tidak ada urusan...ya…Nadya bukan tipe orang yang ingin tahu segala hal. Nadya bukan orang yang posesif, dia juga tidak agresif. Nadya tak mau mengganggu atau mencampuri segala hal yang Aldo lakukan.

Satu-satunya hal yang Nadya sadari kini adalah: kalau Aldo mau berbagi cerita dengan Nadya...Nadya ada di sini. Nadya mau membantu Aldo selama ia punya kemampuan untuk menolong cowok itu. Jadi, di luar semua itu...Nadya tak mau mencampuri semua urusan Aldo.

Savanna mengernyitkan dahi. "Lah, kok lo gitu, sih, Nad? Dia itu cowok lo, ‘kan? Masa lo nggak penasaran? Itu muka mereka serius banget, lho, nggak yakin gue kalo mereka cuma ngobrol biasa."

"Serius atau nggak pun, kan kita nggak boleh nguping gitu, Van… Pulang aja, yuk… Plis, Tar," bujuk Nadya. Dia tambah panik. Suara memohonnya itu membuatnya terdengar seperti hampir menangis. Nadya paling takut sama yang namanya menguping. Dia akan malu jika orang yang bersangkutan mengetahuinya.

Saat mereka berada dekat dengan posisi Aldo, Rian, dan Syakila, mereka semua mulai berdiri diam. Tari dan Savanna mulai menguping. Sebenarnya, Nadya ada di belakang Tari dan Savanna. Nadya sangat takut, rasanya cewek itu ingin kabur saja. Sayangnya, Savanna memegang lengannya dengan erat agar ia tidak kabur.

Tiba-tiba, terdengarlah ucapan lirih dari bibir Syakila yang bergetar.

 

"Please, Aldo. Gue sayang sama lo. Plis, balikan lagi sama gue."

 

Nadya yang saat itu menunduk, mendadak membulatkan matanya karena terkejut. Tari dan Savanna juga langsung membelalakkan mata; mereka berdua menganga. Rian (yang ada di depan sana juga tampak kaget bukan main).

Sesungguhnya, Aldo dan Rian hanya ingin kembali ke tenda saat Syakila tiba-tiba mencegat mereka berdua di tengah jalan. Katanya, dia ingin membicarakan sesuatu dengan Aldo. Rian tidak pergi duluan, soalnya cowok itu tak tahu tujuan Syakila yang sebenarnya saat mencegat mereka berdua.

Setelah diam selama beberapa detik. Savanna pun langsung berbalik. Dia menghadap ke arah Nadya dan memegang pundak Nadya. Sementara itu, Tari langsung memegang tangan Nadya dan menghadap ke arah lain. Maksudnya, ke arah di mana kamar mandi berada.

"Ayo, kita lanjut jalan aja ke kamar mandi," ujar Tari. Ekspresi wajah Tari terlihat begitu serius. "Anggap aja mereka nggak ada."

Tari langsung menarik tangan Nadya untuk pergi dari sana, diikuti oleh Savanna. Sepanjang jalan, Savanna dan Tari sibuk mengoceh.

"Wow, ternyata, sikap ramah tamahnya itu cuma topeng," komentar Savanna.

"Lo yang baru ngobrol selama kemah aja bisa kaget, gimana gue yang udah lama sekelas sama dia coba?!" ucap Tari kesal. "Dia pernah pacaran sama Aldo, ternyata!!"

"Nad, lo nggak tau masalah ini?!" tanya Savanna, cewek berkulit sawo matang itu terdengar kesal. Sebenarnya, posisi mereka bertiga tak terlalu jauh dari pohon itu. Nadya takut suara mereka terdengar sampai ke sana.

Akan tetapi, mendadak…Nadya tidak memikirkan hal itu. Dia tidak fokus pada suara Savanna dan Tari, tetapi fokus pada…pertanyaan Savanna.

Soalnya, pertanyaan itu…membuat Nadya tersentak.

Nadya tak tahu mau menjawab apa dan mau mulai dari mana.

"Itu…" ucapan Nadya terpotong.

"Gue salut liat lo yang masih bersikap baik ke Syakila itu! Liat, dia nembak Aldo pas Aldo jelas-jelas masih pacaran sama lo!" teriak Tari. "Gue kira dia mau pergi ke mana tadi, sampe lama banget. Eh taunya...!"

Nadya tambah kaget. Nadya juga tahu kalau tadi Syakila izin pergi sebentar entah ke mana, yang jelas ia pergi lebih dahulu dibandingkan Aldo. Nadya makin bingung mau menjawab apa. Tari dan Savanna berbicara dengan keras seolah-olah sedang marah padanya; dia jadi bingung sendiri.

Savanna lantas menggeleng; dia tertawa sinis saat memikirkan kejadian tadi. Ia berbicara pada Nadya, "Lo yang pacaran, kok malah gue yang pengin ngelabrak tuh cewek."

Nadya hanya menunduk. Sumpah, ia bingung harus berkata apa. Ia juga kaget. Ia pun tak bisa menjawab perkataan Tari dan Savanna, soalnya ia memang tak memarahi Syakila seperti apa yang normalnya seorang pacar lakukan.

Namun, bagi Nadya, ‘memarahi Syakila’ itu malah nggak normal. Nadya tak mau memaksa apa pun. Pikirannya selalu simpel: kalau Aldo sayang sama Syakila, ya Nadya tak boleh ada di tengah-tengah mereka. Walau Nadya percaya bahwa ungkapan sayang Aldo waktu itu benar…dan walau Nadya tak boleh berpikir yang tidak-tidak, Nadya memang jenis cewek yang seperti itu.

Soalnya…

 

…sesuatu yang dipaksakan itu nggak akan bertahan lama.

 

Jadi, Nadya tak mau memaksakan apa pun. Meskipun sesungguhnya…Nadya itu...

sayang sama Aldo.

Dia sadar itu. Dia mau terus bersama Aldo…

 

"Tunggu."

 

Tari, Savanna, dan Nadya mendadak berhenti berjalan. Mereka bertiga membulatkan mata; mereka kenal suara itu. Suara itu berasal dari belakang mereka.

Refleks mereka bertiga berbalik. Di sana, mereka melihat Aldo. Cowok itu berdiri seraya menatap mereka dengan tajam.

Savanna menganga. Tatapan mata Aldo...agak berbeda. Bukan seperti Aldo yang selama ini ia lihat.

Lagi pula, Aldo hanya sendirian. Di mana Rian?

Tari mencari keberadaan Rian dengan matanya…dan ia melihat Rian berdiri di bawah pohon itu bersama Syakila. Rian dan Syakila tampak sama-sama diam.

Di sisi lain, Nadya benar-benar kaget saat melihat Aldo. Aldo dan Nadya kini saling menatap; mereka hanya fokus ke satu sama lain. Cahaya di belakang gedung kelas itu remang-remang, tetapi Nadya bisa melihat mata Aldo yang saat itu menatapnya dengan intens .Saat itu, Aldo seolah-olah tak memedulikan apa pun selain Nadya. Matanya serasa mampu membuatmu tenggelam, tersesat…

Tiba-tiba, Aldo berjalan mendekat dan menarik Nadya. Spontan tangan Nadya terlepas dari pegangan Tari; Aldo membawa Nadya menjauh. Aldo berjalan dengan cepat, pegangan tangannya kencang, dan Nadya harus sedikit berlari untuk menyamakan langkah mereka. Tari dan Savanna kontan ikut berlari—mengikuti mereka—sembari berteriak.

"Ada apa, nih, Aldo?!" teriak Tari.

Tak lama kemudian, sampailah mereka di bawah pohon itu. Nadya benar-benar panik. Ia tak mengerti apa yang sedang terjadi. Sekarang, mereka semua jadi ada di bawah pohon itu.

Untungnya, tidak ada orang lagi yang lewat-lewat di sana. Malam sudah lumayan larut, apalagi semua orang pasti sudah lelah dan mengantuk karena perlombaan tadi siang.

Mata Rian membulat saat melihat kedatangan Nadya; cowok berkulit hitam manis itu langsung menoleh kepada Aldo. "Lho, kenapa ada Nadya di sini, Do?! Jadi…lo tadi pergi buat nyari Nadya?! Aldo, lo—"

Rian tambah menganga saat melihat Tari dan Savanna juga ada di belakang Aldo dan Nadya. Cowok itu spontan memijit keningnya.

Tampak Syakila juga terkejut bukan main. Tatapan Syakila jadi tajam dan ekspresinya dipenuhi dengan kemarahan. Dalam mimpi pun ia tak pernah mau hal seperti ini terjadi. Apa—mengapa Aldo membawa Nadya ke sini?!

Nadya adalah orang yang benar-benar Syakila benci saat ini. Namun, Aldo malah menggandeng Nadya seperti itu di depannya, membawa Nadya ke hadapannya saat ia sedang menunggu jawaban dari pernyataan cintanya.

Aldo memiringkan kepalanya dan menatap Syakila dengan mata yang menyipit tajam. Cowok itu lalu berkata, "Maaf, tadi gue pergi bentar. Gue cuma kebetulan liat Nadya lewat, jadi gue mau dia liat semua ini."

Tari menganga, sementara Savanna mulai tersenyum miring. Gila, jadi…tadi Aldo menyadari keberadaan mereka?

Mantap, Aldo! pikir Savanna.

Mata Nadya membulat, dia menatap Aldo dengan beribu pertanyaan di benaknya. Namun, Aldo sama sekali tak terganggu; cowok itu tetap menatap Syakila dengan tajam.

"Penyataan lo tadi... Ulangi sekali lagi," ujar Aldo.

Mampus dah...ngena banget pasti, pikir Rian.

Syakila mengepalkan tangannya. Cewek itu menatap Aldo dengan tatapan tak percaya, setitik air mata mulai muncul di sudut matanya. Wajahnya memerah karena menahan amarah. Dia tak sanggup lagi menahan semua rasa marahnya.

Syakila mendadak berteriak, "LO KENAPA, SIH, ALDO?! LO TAU KALO GUE SAYANG SAMA LO, ‘KAN?! KENAPA LO KAYAK GINI KE GUE?!"

Teriakannya membuat semua orang di sana—kecuali Aldo—jadi kaget minta ampun. Syakila yang jujur, tanpa topeng sama sekali...sekarang benar-benar terlihat di depan mata mereka.

"Terutama lo!!!" teriak Syakila. Dia menunjuk wajah Nadya yang berdiri sekitar tiga langkah di depannya. Nadya terperanjat; dia menatap Syakila dengan jantung yang berdegup kencang. Entah mengapa, Nadya akan sangat panik jika sedang ada masalah seperti ini. Nadya akan panik meskipun ia tidak bersalah.

"LO BILANG, ALDO NGGAK PERNAH NGOMONG SAYANG KE ELO, ‘KAN?!" teriaknya sekali lagi. "Gue nggak ngerti kenapa Aldo harus pacaran sama orang yang nggak dia sayang!!!"

Nadya menganga. Tangan cewek itu bergetar.

Ah, iya.

Itu pernah terjadi saat Syakila berbicara dengannya di toilet sekolah. Waktu itu, Nadya memang berpikir kalau Aldo tak memiliki perasaan apa pun padanya.

Nadya spontan menunduk, tetapi…entah mengapa genggaman tangan Aldo justru semakin erat. Nadya kontan menatap wajah Aldo lagi. Cowok itu bernapas samar, lalu menjawab Syakila dengan tegas. Nadanya agak terdengar tajam, sebenarnya.

"Oh, yang waktu lo cerita ke gue kalo lo bicara sama Nadya di toilet sekolah, ‘kan?" ujar Aldo. "Waktu itu, Nadya emang nggak tau apa-apa."

Syakila mengangkat sebelah alisnya. "Maksud lo apa, sih?!! Seharusnya dia udah tau sejak lo nembak dia, ‘kan? Gue nggak ngerti sama sekali!!!"

Kalau dipikir-pikir, Aldo memang memberi tahu Nadya tentang perasaannya saat dia bercerita di ruang OSIS waktu itu. Namun, dia belum pernah sungguh-sungguh mengungkapkan ‘tiga kata’ itu di hadapan Nadya seperti bagaimana cowok-cowok biasanya mengungkapkan perasaan mereka. Aldo selalu mengatakan atau melakukan sesuatu yang membuktikan semua itu, setiap hari, tetapi dia tak pernah benar-benar mengatakan tiga kata itu.

Well, kini semuanya sudah berbeda. Aldo sudah mengatakan itu pada Nadya.

"Lo nggak perlu ngerti, Sya," ujar Aldo, matanya semakin menyipit tajam. "Yang lo harus ngerti sekarang adalah siapa aja yang boleh lo ajak pacaran dan siapa aja yang nggak boleh lo ajak pacaran."

Mata Syakila membeliak. Cewek itu menggeram dan langsung beralih memelototi Nadya. "Lo?! Lo gimana?! Perasaan yang lo punya ke Aldo pasti nggak sebesar perasaan gue, ‘kan?! Ngeliat sifat lo yang sok polos gitu, lo pasti nggak pernah ngungkapin rasa sayang lo, ‘kan!! Lo pasti nggak sayang sama Aldo!!"

Wow, nih cewek ternyata dalemnya kayak gini, pikir Tari. Dia menganga dan menggeleng sendiri saat melihat Syakila. Ke mana si primadona sekolah yang bagaikan dewi itu?

Aldo mendadak mengetatkan rahang. Tatapan Aldo pada Syakila begitu sarat akan rasa marah, seluruh kalimat tajam yang ia kubur dalam-dalam itu mulai mencoba untuk naik ke permukaan, tetapi semuanya berhasil dihentikan.

Terhenti…karena Nadya tiba-tiba membuka suara.

"Aku..." ucap Nadya lirih, cewek itu masih menunduk. Begitu suara lirih itu terdengar, Aldo langsung menoleh kepada Nadya yang lebih pendek darinya itu seraya mengernyitkan dahi.

Nadya meneguk ludah. Selama tiga detik lamanya, cewek itu hanya diam. Ketika pada akhirnya cewek itu mengangkat kepalanya, dia terlihat begitu yakin.

Ada sebuah keberanian yang terkandung di tatapan matanya. Tatapan itu penuh dengan keyakinan…dan perasaannya.

Bibir Nadya bergetar. Dengan segala keberanian yang dia punya, dia pun melanjutkan ucapannya.

"Aku sayang...sama Aldo…." ujar Nadya pelan. Tangannya bergetar di dalam genggaman Aldo. Nadya menggigit bibirnya sebentar, lalu mencoba untuk mengatakannya sekali lagi dengan benar. "Aku bener-bener sayang sama Aldo."

Jantung Nadya berdegup kencang. Akan tetapi, tak tahu kenapa, Nadya merasa bahwa ia harus...mengatakannya.

"Bener-bener...sayang..." lanjut Nadya.

Tak ayal, semua orang yang berdiri di bawah pohon itu jadi membeliakkan mata. Tanpa sadar, Nadya mengungkapkan perasaannya tiga kali.

Dia mengucapkannya berulang-ulang…dengan kalimat yang tulus.

 

Aldo melebarkan matanya.

 

Aldo tak pernah berharap Nadya akan mengungkapkan perasaannya. Aldo tahu bahwa dia memaksa Nadya untuk berpacaran dengannya waktu itu, lalu seiring berjalannya waktu, Aldo tak pernah bertanya soal perasaan Nadya padanya. Cowok itu tahu kalau dia selalu dipenuhi oleh keinginannya sendiri, tenggelam di perasaannya sendiri, mengejar tanpa ingin tahu perasaan Nadya. Namun, ia tak pernah berniat untuk berpura-pura tidak tahu. Ia tahu dengan jelas bahwa Nadya belum tentu membalas perasaannya.

Maka dari itulah, selama ini…ia sering memosisikan dirinya sebagai 'cowok yang jatuh cinta sama kamu' atau 'cowok yang selalu merhatiin kamu' saat ia berbicara pada Nadya. Well..karena kenyataannya memang seperti itu. Dialah yang jatuh cinta di dalam hubungan mereka. Dia tak tahu bagaimana perasaan Nadya; dia juga tak mau menanyakan itu. Hal yang ada di pikirannya hanyalah: membuat Nadya jatuh cinta juga padanya.

Namun, apa yang terjadi saat ini…benar-benar membuatnya terkejut.

Nadya mengatakannya dengan jelas. Dia mengungkapkan semua yang dia rasakan dengan jujur…di depan Aldo dan juga teman-teman Aldo.

Jika Tuhan memang mengabulkan doa yang Aldo panjatkan dahulu…maka benarlah apa kata orang-orang. Kalau Tuhan tidak langsung mengabulkan doamu, berarti Dia ingin menundanya hingga tiba waktunya.

Aldo menunduk. Mendadak cowok itu merasa jantungnya seolah-olah ingin meledak.

Di sisi lain, Rian menatap Aldo; dia spontan tercengang saat melihat keadaan Aldo.

Aldo...benar-benar terdiam. Matanya melebar tak percaya…seolah-olah otaknya error saat itu juga.

Aldo, cowok keren yang selalu berwibawa dan tenang itu, Ketua OSIS yang punya sisi mengerikan itu…tampak kalah. Seratus persen ditaklukkan.

Rian tersenyum semringah. Dalam hati, Rian bersorak kagum pada Nadya, ‘NAD, KAMU HEBAT!’

Sekarang, baik itu Rian, Savanna, maupun Tari, semuanya menoleh kepada Syakila lagi sambil tersenyum penuh kemenangan. Mereka semua bangga pada Nadya. Oke, mereka memang tak ada hubungannya dengan semua ini, tetapi mereka senang sekali saat melihat Nadya mengatakan itu di depan Syakila. Di tambah lagi, Nadya sepertinya…lebih ke ‘mengungkapkan perasaannya pada Aldo’ daripada menjawab pertanyaan Syakila. Soalnya, Nadya tadi bilang "Aku sayang sama Aldo", bukan "Gue sayang sama Aldo".

Memang benar, sih. Orang yang bersangkutanlah yang bisa menyelesaikan masalahnya.

Dalam hati, mereka bertiga bersorak: NADYA, BRAVO!

Sementara itu, Syakila justru menyatukan alis. Dia menatap tajam orang-orang yang mendukung Nadya, dia merasa kalau Nadya sepertinya telah mengendalikan semua orang. Bahkan—apa? Mengapa Aldo jadi seperti ini?!

Mengapa ini semua begitu tak adil untuknya?!

Syakila mengepalkan tangannya. Nadya kembali menunduk setelah mengatakan isi hatinya. Seolah-olah…tenaganya terkuras habis setelah mengungkapkan perasaannya.

Aldo tiba-tiba tersenyum miring.

Cowok yang tadinya terdiam itu…kini perlahan-lahan mengangkat wajahnya untuk menatap Syakila.

Syakila menyadari itu dan langsung membalas tatapan Aldo. Cewek itu terkejut bukan main saat melihat Aldo yang tiba-tiba tersenyum miring padanya.

Aldo tiba-tiba mengeluarkan getaran yang berbeda. Kali ini, ekspresinya lebih…sinis?

Tatapannya mengerikan. Senyumannya itu penuh dengan kepuasan juga.

Jujur, jantung Syakila tiba-tiba berdegup kencang karena merasa takut. Syakila tanpa sadar mundur selangkah. Apa Aldo pernah tersenyum seperti itu? Apa Aldo pernah menatap orang dengan tatapan yang mengerikan seperti itu?!

Aldo sebenarnya tak bergerak sedikit pun; yang bergerak hanyalah sebelah tangannya yang semakin meremas tangan Nadya. Akan tetapi, sesungguhnya…semua orang di sana juga merasakan hal yang hampir sama dengan Syakila.

Waduh. Kau benar-benar tak bisa mencari masalah dengan Ketua OSIS ini.

Rian tahu; dia sudah mengulang hal itu beberapa kali di benaknya, tetapi lagi-lagi dia memikirkan itu. Rian sudah sering menebak bahwa sisi Aldo yang 'lain' itu ada—dan sebenarnya dia sudah yakin bahwa itu benar—meskipun Aldo tak pernah menunjukkan sisi itu padanya. Mungkin, Aldo hanya menunjukkan sisi itu pada Nadya dan kedua orangtuanya sendiri.

Rian bukannya tidak memperhatikan Aldo. Dia selalu ada di samping Aldo. Meskipun itu hanyalah berupa dugaan-dugaan, tetapi Rian cukup yakin bahwa ada ‘sesuatu yang lain’ di dalam diri Aldo.

Mendadak, Aldo mengubah ‘senyum’ itu jadi senyuman tulusnya seperti biasa. Savanna dan Tari sampai kaget sendiri dengan perubahan yang kentara itu. Rian sontak membuang mukanya dan menahan tawa.

Nggak bakal, deh, gue cari masalah sama sahabat gue yang satu ini, pikirnya sembari menggeleng. Ketua OSIS SMA Kusuma Bangsa ini...seram, coy!

"Gue sayang sama dia," ujar Aldo seraya menatap Nadya dalam. Begitu kembali menatap Syakila, tatapan Aldo kembali berubah; dia kembali terlihat tegas. Meskipun begitu, ia sebenarnya berusaha untuk tetap sopan. Soalnya, sejak dulu ia tahu bahwa ialah yang salah. Hari ini—mungkin karena hatinya menghangat karena ungkapan cinta dari Nadya—ia pun memutuskan untuk mengatakan semuanya.

"Gue minta maaf, ya, Sya," ujar Aldo tiba-tiba, membuat Rian dan Syakila membulatkan mata. Aldo lalu melanjutkan, "Gue minta maaf karena gue nggak pernah jawab semua pertanyaan lo. Selama ini, gue ngerasa kalo gue nggak perlu ngejelasin kesalahpahaman apa pun, kecuali ke orang yang berharga buat gue."

Aldo diam sejenak. Syakila terus menunggunya; sebelah alis cewek itu terangkat dan rahangnya mengetat. Wajah cantiknya itu kini sarat akan rasa marah dan bingung luar biasa. Apa yang ia lewatkan? Apa yang tak ia ketahui? Mengapa Aldo meminta maaf padanya? Salah paham apa?!

Aldo pun melanjutkan.

 

"Gue nggak pernah sayang sama lo, Sya."

 

Dunia Syakila serasa hancur saat itu.

"Gue minta maaf kalo ini kedengeran jahat, tapi waktu itu..gue emang salah karena udah nerima lo. Gue yang salah karena udah ngejadiin lo sebagai sumber untuk ngejawab rasa ingin tau gue. Gue nggak pernah punya perasaan apa-apa ke lo, Sya. Gue tau kalo maaf aja nggak bakal cukup; gue tau kalo kata maaf nggak bakal bisa ngubah semuanya, tapi lo harus tau kalo gue saat itu belajar buat sayang sama lo…karena gue pikir lo cewek yang baik."

Syakila mundur selangkah lagi, tetapi kali ini, dia hampir jatuh. Wajah cewek itu langsung pucat; matanya membulat tak percaya.

"Tapi betapa pun gue berusaha, gue tau kalo pada akhirnya…yang gue suka itu cuma sifat baik lo yang gue liat. Bukan lo secara keseluruhan. Ya tapi akhirnya pun semua sifat lo itu ternyata nggak kayak yang gue kira," ujar Aldo.

"Semua itu cuma topeng. Topeng untuk menutupi diri lo yang sebenarnya. Kenapa lo nggak jujur aja dan jadi diri lo sendiri? Lo ngebohongin semua orang. Bagi lo, yang penting adalah: lo harus diterima dan disukai sama semua orang. Lo harus dicintai dan diberkati, dijunjung tinggi di hati semua orang. Lo puas saat semua orang jatuh cinta sama lo, lo puas saat semua cewek akrab sama lo. Lo mau jadi bidadari di hati semua orang."

Syakila mendadak terjatuh. Cewek itu terduduk di rerumputan yang ada di bawah pohon itu dan menangis; dia menutup telinganya seraya menggeleng.

"Nggak—NGGAK!! Gue nggak pernah kayak gitu!!!!" teriaknya.

Aldo hanya menghela napas. Nadya yang tadinya diam, kini menatap Aldo dan Syakila secara bergantian.

Nadya benar-benar...tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Syakila... Apa benar Syakila seperti itu?

"Lo nangis di depan cewek-cewek yang sebelumnya sering ngobrol sama gue, padahal itu cuma obrolan biasa, mereka nanyain masalah pelajaran dan lain-lain. Sesingkat apa pun obrolan mereka sama gue—bahkan kadang mereka cuma nyapa—lo bakal datengin mereka. Lo kasih tau mereka soal perasaan lo ke gue dan ngebuat mereka semua jadi nggak berani ngobrol lagi sama gue. Gue dulu nggak peduli semua itu, awalnya, karena gue juga lumayan jarang ngehabisin waktu sama temen-temen selain kegiatan sekolah dan ekskul, tapi gue nggak suka cara lo. Mereka bebas ngobrol sama siapa pun, termasuk gue. Lo nggak berhak ngelarang mereka selagi mereka nggak berlebihan."

Mata Nadya membeliak.

Mungkinkah…itu sebab Aldo jadi jarang terlihat mengobrol dengan cewek di sekolah, sampai beredar omongan seperti: 'Aldo hampir nggak pernah keliatan sama cewek' dan ‘nggak ada yang bersikap terang-terangan saat mengagumi Aldo’?

Gita juga pernah bilang ke Nadya kalau penggemar-penggemar Aldo di sekolah itu cuma mengagumi Aldo secara diam-diam, tetapi mereka kepo minta ampun.

Inikah sebabnya? Benarkah?

Apa mungkin ini asumsi Nadya belaka...? Nadya tak boleh men-judge sembarangan seperti ini. Mungkin itu hanya...kebetulan...

 

Akan tetapi...

 

Tari—yang berdiri tak jauh dari Nadya—juga kaget. Savanna menggeleng-geleng. Rian hanya menghela napas karena dia sudah tahu semua itu.

"Selain itu, masih banyak lagi hal yang nggak seharusnya lo lakuin. Meskipun lo nyembunyiin semua itu, gue bukan orang yang bisa lo bohongi cuma dengan tingkah dan ekspresi wajah lo di depan semua orang, terutama di depan gue. Gue bisa ngeliat semua itu, Sya."

Syakila tiba-tiba berteriak, "TAPI GUE NGGAK BOHONG KALO GUE SAYANG SAMA LO!"

"Sebelum sayang sama orang lain, sayangi diri lo sendiri. Jujur sama diri lo sendiri," ujar Aldo. "Kalo lo kayak gitu terus, lo bakal kehilangan semua orang yang berharga di dalam hidup lo dan nggak ada satu pun yang bakal ngerti sama lo, selamanya."

Syakila bangkit dari duduknya.

"Gue nggak butuh semua itu. Gue cuma nggak mau kehilangan lo, Aldo. Gue yakin kalo rasa sayang gue lebih besar daripada punya Nadya. Lagian, kalo gue kayak gini, emangnya kenapa? Toh lo ternyata ngerti, ‘kan? Lo udah paham sama gue! Berarti, cuma lo yang bisa ngubah gue. Gue yakin itu, Aldo! Gue lebih butuh lo daripada cewek ini!" Syakila menunjuk Nadya. "Gue cuma mau lo, gue sayang sama lo! Apa gue salah?!"

Air mata Syakila semakin mengalir deras.

"Lo salah," ujar Aldo tajam. Aldo menatap Syakila tajam. "Lo salah karena lo mau bergantung sama orang lain buat ngubah lo. Well, menurut gue pun, kayaknya itu cuma alasan lo. Lo sebenernya nggak pernah berniat buat ngubah diri lo, 'kan? Bagi lo, image lo lebih penting dari apa pun. Sekarang, lo malah memutarbalikkan kondisinya supaya gue balik lagi dan ngubah lo? Inilah kenapa gue bilang kalo lo nggak boleh ngebandingin diri lo sama Nadya. Karena sebagus apa pun lo, Nadya punya banyak hal yang lo nggak punya.”

Tangisan Syakila kini telah membuatnya sukar berbicara. Ia merasa dipojokkan. Ia tak suka, ia benar-benar tak suka citranya jadi buruk begini di mata orang lain.

Apa mereka bakal nyebarin ini ke semua orang? Nggak boleh! Nggak boleh!!!!

Syakila menangis kencang.

Rian, yang sedari tadi diam, mendadak memutuskan untuk berbicara. Rasanya ia geram juga. Ia tahu kalau ia tak seharusnya ikut campur, tetapi sifatnya yang suka menasihati dan agak ‘cerewet’ pada orang lain itu kini keluar karena rasanya ia sudah gatal sekali ingin mengatakan sesuatu pada Syakila.

"Hei, Syakila, sebenernya, dari dulu gue udah ngerasa kalo ada yang lain dari lo, bahkan sebelum lo putus sama Aldo," ujar Rian. "Lo nggak bisa ngebohongi orang yang jeli, apalagi lo berhadapan dengan Aldo. Dia tau banget mana 'mata' yang memandang dengan kejujuran dan mana yang nggak. Dia juga tau mana senyum yang tulus dan mana yang nggak. Ya…semua orang bisa ngerasain itu, sih, tapi nggak secepet dia. Biasanya, orang-orang butuh proses untuk tau; harus ada kejadian buruk dulu, baru mereka tau. Sayangnya, lo berhadapan dengan orang yang jeli."

Rian menatap Syakila dengan serius. "Semua omongan dia itu bener. Udahlah, berhenti ngelakuin semua hal yang nggak masuk akal ini, Sya. Astaga, gue dari dulu pengin banget nyeramahin lo, tapi gue tahan karena gue tau kalo Aldo bisa nyelesain semuanya. Gue juga nggak mau ikut campur. Lagi pula...gue yakin sekarang lo udah tau apa yang lo nggak punya, tapi ternyata Nadya punya, ‘kan?"

Wajah Syakila semakin memucat. Dia terdiam seribu bahasa karena lagi-lagi, semuanya sudah terbaca.

Ya. Hal yang dia tak punya itu adalah ketulusan, pengertian, dan kehangatan hati tanpa pamrih; kehangatan dan uluran tangan yang tak mengharap balasan apa pun.

Nadya? Cewek itu punya semuanya.

 

******

 

Pertandingan persahabatan itu berjalan dengan lancar. Hal yang menggembirakan—yang mereka bawa pulang—adalah: SMA Kusuma Bangsa menang sebagai juara umum di acara pertandingan persahabatan itu, dengan total kemenangan paling banyak di antara seluruh sekolah yang berpartisipasi. Pertandingan tari tradisional dan vocal group juga dimenangkan oleh SMA Kusuma Bangsa. Satu-satunya pertandingan yang kalah adalah pertandingan badminton. Waktu Aldo dan Nadya sama-sama ikut sebagai perwakilan untuk vocal group, Nadya merasa gugup bukan main. Namun, senyuman serta kata-kata penyemangat dari Aldo sukses menyembuhkan semua itu dan mereka melakukannya dengan baik.

Mereka membawa pulang piala besar juara umum dan juga hadiah-hadiah lainnya.

Pada malam perpisahan, diadakan acara api unggun dan semua perwakilan sekolah akan mengelilingi api unggun itu sembari menyanyikan lagu perpisahan.

Saat Nadya dan teman-temannya sudah kembali ke tenda untuk tidur, mereka semua akhirnya sadar bahwa Syakila tidak mengikuti acara api unggun itu; dia sudah tidur di dalam tenda. Nadya menatap Syakila sejenak; dia kembali mengingat apa yang telah terjadi dan apa yang ternyata ada di dalam pikiran Syakila selama ini.

Saat Nadya baru saja mau tidur, HP Nadya sempat berbunyi singkat sebanyak dua kali, menandakan bahwa ada dua pesan yang masuk.

 

From: Aldo

Selamat tidur, Sayang. Jangan lupa pake selimut sama jaketnya, ya. Semoga tidur nyenyak dan mimpi indah, ya, supaya aku bisa liat senyum kamu lagi besok pagi.

Good night, my dear.

 

Pipi Nadya merona. Dengan malu, Nadya pun membalas pesan Aldo itu.

 

To: Aldo

Iya, semoga kamu juga mimpi indah, ya... Selamat tidur, Aldo.

 

Bagi Nadya, senyuman Aldolah yang seharusnya Nadya nantikan. Senyuman cowok itu sehangat mentari. Keberadaannya juga terasa seperti mentari. Bersinar terang...dan menghangatkan.

Setelah itu, Nadya mulai melihat pesan yang satu lagi.

 

From: Kak Kurnia

Nadya, apa kabar, Dek? Ya ampun, udah lama banget nggak denger kabar kamu. Sehat, ‘kan?

 

Eh? Kak Kurnia?

 

******

 

Hari ini, semua perwakilan SMA Kusuma Bangsa sudah kembali sekolah. Kepulangan mereka disambut dengan kata selamat pada saat upacara, lalu saat di kelas masing-masing, mereka juga diberi selamat. Mereka dikerumuni habis-habisan. Pertanyaan demi pertanyaan mereka dapatkan; rasanya sekolah jadi sangat berisik waktu itu.

Ya…bagaimana tidak? Dari sekian banyak pertandingan, yang kalah cuma satu pertandingan!

Perwakilan lomba yang dipilih oleh OSIS saat itu memang benar-benar berkualitas. Pemilihan yang ketat dengan cara yang 'berbeda' itu ternyata membuahkan hasil yang maksimal. Lagi-lagi, OSIS tahun ini memang merupakan lambang masa kejayaan bagi SMA Kusuma Bangsa. Anak-anak yang ikut ke pertandingan persahabatan kemarin juga benar-benar pantas mendapatkan kemenangan itu. Semua itu mungkin terjadi karena mereka saling membutuhkan. Jika tidak ada perwakilan-perwakilan lomba yang hebat itu, OSIS juga takkan bisa melakukan apa-apa.

Gita juga menyerang Nadya dengan berbagai pertanyaan. Gita pun sudah tahu tentang apa yang terjadi di bawah pohon itu—dari Tari—dan dia menuntut kebenaran dari Nadya. Gita bilang, dia jadi ingin melihat kejadian itu secara langsung. Gita nyerocos sendiri di depan Nadya. Sungguh, Gita juga tak menyangka kalau Syakila ternyata seperti itu. Oh, jangan lupakan alasan mengapa Gita dan Nadya itu bisa jadi sangat akrab dan merasa berbeda tanpa kehadiran satu sama lain.

Saat jam istirahat, Nadya mulai memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. Gita sudah mulai berdiri dan Nadya jadi terburu-buru. "Giiit, tunggu bentarlah—bentar du—"

Mendadak, Nadya merasakan kehadiran seseorang di depan mejanya.

Wangi ini...seperti wanginya…

 

…Aldo.

 

Sebentar.

Aldo?!

 

Gita langsung peka. Cewek itu tersenyum dan mulai meninggalkan Nadya.

"Bye, Nad! Duluan, yakkk!!! Kan udah ada pangeran lo!" teriak Gita sembari tertawa. Dia langsung menyusul rombongan Tari untuk pergi ke kantin. Nadya menganga; jantung Nadya berdegup kencang. Tiap kali dia mencium wangi parfum Aldo, tiap kali dia menyadari keberadaan Aldo di dekatnya, jantungnya selalu berdebar-debar.

Dengan gugup, Nadya pun mendongak perlahan.

Di depannya, berdirilah Aldo; kedua tangan cowok itu bertumpu di meja Nadya. Cowok itu sedikit menundukkan kepalanya untuk melihat wajah Nadya. Senyumannya yang manis—dan tulus itu—membuat wajahnya jadi semakin bersinar. He looks so sweet, so fresh…

Sejujurnya, Aldo berada dalam kondisi tubuh yang prima. Kebahagiaan tercetak jelas di wajah tampannya.

 

He is so bright, so...charming.

 

Akan tetapi, ini pertama kalinya Aldo menghampiri Nadya di kelas (maksudnya, mendatangi Nadya langsung ke meja cewek itu saat istirahat), apalagi dia melakukannya di depan semua orang. Biasanya, dia hanya mengikuti Nadya ke kantin karena dia menghargai teman-teman Nadya. Paling-paling, nantinya—di kantin—dia akan mendekati Nadya dan bertanya Nadya mau makan apa, lalu dia akan membelikan Nadya.

Justru karena Aldo sayang pada Nadya, Aldo tak ingin Nadya semakin jauh dari teman-temannya. Nadya itu orangnya sudah sering canggung; dia juga pemalu. Jadi, jika Aldo terus berdua dengannya...nanti dia akan semakin sulit bersosialisasi. Ujung-ujungnya, yang dia pikirkan adalah Nadya.

Namun, hari ini...Aldo menghampiri Nadya ke meja cewek itu langsung. Hari ini, yang ada di kepala Aldo adalah: mengungkapkan perasaannya dengan benar, secara langsung, di depan Nadya. Meski tidak harus saat ini juga; meski Nadya sudah tahu soal perasaannya, dia harus kembali mengatakannya dengan benar. Waktu itu, dia pernah mengatakannya di dalam mobil saat dia mengantar Nadya pulang. Akan tetapi, saat itu Nadya sedang tidur.

Sebenarnya, itu tak penting lagi karena Aldo sudah sering mengatakan kalimat sayang pada Nadya. Namun, karena Nadya telah mengungkapkan perasaannya waktu itu...Aldo jadi merasa bahwa itu sangat penting. Cowok itu juga ingin mengatakan apa yang belum sempat ia katakan malam itu sebagai respons dari pernyataan cinta Nadya.

If you want to say it, say it properly.

Serius, Nadya benar-benar bisa mengubah Aldo. Jika orang bilang kalau Aldo itu berbahaya, bagi Aldo...Nadyalah yang berbahaya. Dia berbahaya karena bisa mengubah orang lain hanya dengan kata-kata hangat dan tulusnya. Ditambah lagi, Nadya tak menyadari semua itu.

Bagi Aldo, Nadya ini...berbahaya buat jantungnya.

Di sisi lain, perilaku Aldo saat ini sukses membuat pipi Nadya merona bukan main. Namun, Aldo tak menyadarinya.

Cowok itu pun berbicara dengan lembut…sembari tersenyum dengan indahnya, "Nad, ayo ke kantin bareng." []

 












******










No comments:

Post a Comment

She Was Never Mine (Bab 4: Segalanya Untuknya)

  ****** Bab 4 : Segalanya Untuknya   ******   LANTUNAN lagu di radio terdengar begitu merdu saat Josh baru saja memberhentikan mo...