Bab
15 :
Ungkapan
Cinta
******
ADA api
unggun kecil yang dihidupkan di depan tenda cewek SMA Kusuma Bangsa. Sekarang
sudah jam setengah sembilan malam dan mereka semua sudah selesai makan.
Perlombaan terakhir hari ini (lomba tari tradisional) telah dilaksanakan dengan
baik; penampilan para peserta dari SMA Kusuma Bangsa sangat bagus, tanpa ada
kesalahan sedikit pun. Semuanya lancar.
Saat
itu, Nadya sedang memperhatikan kakak-kakak tingkat dan juga teman-teman yang lain;
mereka semua duduk di depan tenda dan mengelilingi api unggun itu. Beberapa
murid cowok mulai bernyanyi…dan ada satu orang yang bermain gitar. Lagu-lagu
itu seolah-olah memanjakan telinga Nadya. Murid-murid cewek juga sesekali ikut
bernyanyi; mereka bercanda dan tertawa satu sama lain malam itu. Sesungguhnya, anak-anak
dari sekolah lain juga rata-rata belum tidur, tetapi agaknya tak ada yang
terlihat seasik anak SMA Kusuma Bangsa yang menghabiskan waktu bersama-sama
seperti itu. Lagi pula, nyanyian cowok-cowok SMA Kusuma Bangsa itu terbilang bagus,
soalnya yang bernyanyi itu adalah para peserta lomba vocal group yang
akan diadakan besok pagi. Fix, SMA Kusuma Bangsa seharian ini
jadi pusat perhatian di pertandingan persahabatan itu. Nadya sebenarnya juga
terpilih buat lomba vocal group, tetapi...boro-boro mau
ikutan nyanyi, berbicara saja Nadya agak canggung. Nyanyinya besok saja,
deh, pas lomba.
Nadya
duduk seraya memeluk lututnya dengan erat. Teman-teman Nadya—Tari, Savanna, dan
lain-lain, yang duduk di sekitar Nadya—kini sedang berbincang-bincang, tetapi
Nadya tak begitu mendengar apa yang mereka bicarakan. Rasanya...Nadya mulai
ngantuk. Nadya enggak ikut perlombaan olahraga, padahal, tetapi entah
mengapa tubuhnya terasa sangat lelah. Nadya melihat api unggun kecil yang ada di
depannya dan pikirannya mendadak ke mana-mana, seolah-olah tenggelam di api
yang hangat itu.
Aldo
nggak ada di sini.
Well,
Sekitar sepuluh
menit yang lalu, Aldo pamit pada Nadya untuk pergi ke kamar mandi
bersama Rian. Adam tak mau pergi ke kamar mandi, jadi Aldo hanya pergi bersama
Rian. Aldo menitipkan ponselnya pada Nadya dan sekarang ponsel itu ada di
kantung jaket yang sedang Nadya kenakan.
Tiba-tiba,
Adam—yang tadinya duduk di seberang sana—mulai mendekati Nadya. Adam lalu duduk
di sebelah Nadya (dia meminta Tari untuk minggir dan itu sukses membuat Tari
marah-marah). Nadya yang sadar akan percekcokan itu pun mulai mendongak. Nadya
melebarkan mata saat melihat Adam tiba-tiba duduk di sampingnya.
Adam
tersenyum lebar, memamerkan gigi-gigi putihnya. Adam...memang selalu
seperti itu; dia agak konyol.
Nadya
hanya diam, tetapi mulut Nadya terbuka sedikit karena heran.
Adam
pun menyapa, "Hai, Nad!"
Sebenarnya, baru
kali inilah Adam benar-benar berbicara pada Nadya dalam keadaan ‘sendirian’. Maksudnya
begini: biasanya, Adam hanya menyapa Nadya saat dia sedang jalan bersama Rian
atau Aldo. Mereka tidak dekat. Istilahnya itu: 'Sekadar saja'.
Nadya
tersenyum canggung, cewek itu tak bisa mengeluarkan kata-kata.
Adam
pun menganga, agak kaget juga. "Weh, Nad, reaksimu kok gitu banget..."
Cowok
itu mewek; dia pura-pura menundukkan kepala di atas lututnya sendiri, ia
menangis dibuat-buat. Tari yang melihat itu pun mulai menempeleng kepala Adam.
"Lebay amat nih anak."
Adam
spontan mengangkat kepalanya lagi dan tertawa keras. Nadya jadi menahan tawa saat
melihat tingkah Adam yang benar-benar tak bisa diam itu. Adam sangat
berbeda dengan Rian dan Aldo, tetapi sebenarnya…Adamlah 'si pencerah suasana'
di antara ketiga orang itu.
"Abisnya
Nadya gitu banget," ujar Adam sambil kembali menatap Nadya. Kini, Adam
kembali tersenyum ceria. "Nad, aku mau minta lagu di HP-nya Aldo. HP dia
ada di kamu, ‘kan?"
Nadya tak tahu
kenapa, tetapi Rian dan Adam juga menggunakan 'aku-kamu' saat berbicara pada
Nadya. Aldo tak menyuruh atau memaksa mereka berdua untuk melakukan itu, ‘kan?
Itu tak mungkin. Jadi, mengapa? Hal itu jadi pertanyaan di benak Nadya
akhir-akhir ini.
Misteri
Illahi...? Gitu kalau kata Gita.
"Maaf,
Adam, aku tadi kaget, hehe," jawab Nadya canggung. Adam menepuk pundak
Nadya sembari mengatakan, "Hahaha, nggak papa, nggak papa!"
Nadya
tersenyum. Cewek itu lalu mengangguk dengan cepat. "Iya, HP Aldo ada di
aku, Adam."
Nadya
langsung merogoh saku jaketnya dan memberikan ponsel Aldo ke tangan Adam.
"Makasih,
Nadya imut!" ujar Adam. Nadya kontan menganga dan merona, ia tak terbiasa
dipanggil seperti itu. Agaknya, Adam juga mengatakan itu tanpa berpikir,
soalnya cowok itu langsung membuka kunci layar ponsel Aldo. Nadya tidak melihat
password-nya, ya, by the way.
Tiba-tiba,
Adam tertawa kecil.
"Nad,"
panggilnya.
Nadya
langsung menatap Adam dan mata cewek itu sedikit melebar. "Kenapa,
Adam?"
"Liat,
nih," ujar Adam sembari tersenyum jail; dia menaikturunkan alisnya di
depan Nadya. Cowok itu memperlihatkan layar ponsel Aldo di depan wajah Nadya.
Mata
Nadya membulat penuh. Kontan saja pipi Nadya memerah dan jantungnya berdegup
kencang. Adam mengikik tatkala melihat tingkah Nadya yang lucu itu, tetapi di
sisi lain, dia jadi sadar sesuatu. Kalau melihat reaksi Nadya ini, sepertinya…Nadya
tak membuka ponsel Aldo sama sekali meskipun ponsel itu ada di tangannya.
Nadya
melihat wallpaper ponsel Aldo yang ternyata menggunakan fotonya.
Foto itu adalah foto selfie asal-asalan yang Nadya ambil saat
Nadya penasaran mengapa teman-temannya suka selfie-an. Di foto itu,
Nadya memiringkan kepalanya untuk bersandar pada bantal sembari menggembungkan
pipinya. Mata Nadya membulat lucu di foto itu, tetapi foto itu sudah Nadya
hapus karena Nadya malu sendiri saat melihatnya.
Tunggu,
kok Aldo bisa punya foto itu? Kok bisa...
"Tadi
juga lock screen-nya foto kamu," ujar Adam. "Foto kamu
lagi ketawa lepas. Bagus banget angle-nya."
Pipi
Nadya kontan semakin memerah. Kapan…Nadya punya foto seperti itu?
Nadya
mulai gagap. "A—Aku...aku nggak—”
"Hahaha,
Nad, nggak usah malu gitulah! Wajar, dong, cowok masang foto ceweknya di HP. Ya
kalo Aldo mah...di mana-mana dia taruh foto kamu. Kamu udah pernah datang ke
rumahnya?" tanya Adam.
Nadya
terperanjat; cewek itu tak menjawab apa pun. Adam lalu melanjutkan, "Kalo
kamu datang ke rumahnya dan masuk ke kamarnya, kamu pasti tau apa yang kumaksud."
Nadya
mengernyitkan dahi. Nadya tak mengerti apa yang Adam maksud. Nadya memang
pernah masuk ke kamar Aldo, tetapi saat itu…Nadya tak sempat melihat isi kamar
Aldo. Soalnya, saat itu Aldo langsung...
Oh,
astaga.
Pipi
Nadya langsung memanas, rasa panas itu serasa menjalar ke telinga. Adam tertawa
melihat pipi Nadya yang saat itu terlihat jelas rona merahnya, padahal Adam tak
tahu apa yang sedang terlintas di pikiran Nadya.
Astaga,
Nad...Nad. Berarti, kamu nggak tau kalo selama ini kamu pacaran sama stalker
tingkat dewa? Kamu itu masuk ke kandang singa, pikir
Adam sembari tertawa.
Saat
Nadya merasa semakin malu (karena Adam menertawakannya), Tari dan Savanna
tiba-tiba mengajak Nadya untuk pergi ke kamar mandi. Nadya kaget saat Tari langsung
menarik tangannya untuk berdiri. "Yok, Nad."
"E—Eh?
Iya, Tar," ujar Nadya sembari cepat-cepat berdiri. Ia masih belum bisa lari
dari rasa malunya akibat pembicaraan dengan Adam barusan. Makanya, saat
ia berjalan dengan Tari dan Savanna pun, ia masih belum fokus. Pikirannya masih
melayang ke mana-mana. Jika saja ia tidak cepat menggeleng dan memfokuskan
dirinya, bisa saja ia tersandung sesuatu di jalan. Akal sehatnya harus kembali
agar ia bisa berbicara dengan benar pada Savanna dan Tari di sepanjang jalan.
******
Untuk
pergi ke kamar mandi umum, mereka harus melewati bagian belakang gedung kelas. Tak
jauh dari sana, ada lapangan bola. Jadi, saat menuju ke belakang gedung kelas,
tentunya mereka akan melihat lapangan bola tersebut.
Betapa
terkejutnya Tari dan Savanna tatkala melihat bahwa di lapangan bola
itu—tepatnya di bawah pohon berlampu-lampu yang terletak di ujung lapangan itu—ada
Syakila, Aldo, dan juga Rian. Tari dan Savanna kontan berhenti berjalan; mereka
dan menepuk-nepuk lengan Nadya. "Nad—Nad!"
Nadya
spontan berhenti berjalan. Dia melihat ke arah yang mereka tunjukkan dengan ekspresi
bingung. Saat melihat Aldo, Syakila, dan Rian, Nadya merasa…sedikit kaget,
tetapi lebih ke…heran. Apa yang terjadi?
Secepat
kilat, Tari menarik tangan Nadya untuk sedikit lebih mendekat ke arah pohon
itu.
"Tar—udah,
Tar, ngapain ke sana... Nggak usah, Tar," ujar Nadya panik.
"Lah,
kok nggak usah, sih? Gue penasaran juga, nih, sama Syakila! Kan lo tau kalo
akhir-akhir ini Syakila bersikap ‘nggak biasa’ kalo di depan Aldo? Ada apa
coba?" Tari berkata blak-blakan. Savanna mengacungkan jempolnya pada Tari.
Entah sejak kapan Tari dan Savanna jadi akrab, padahal Savanna itu beda kelas
dengan mereka. Namun, kalau sama Nadya mah...Savanna udah lama kenal. Mereka
pernah sekelas waktu kelas sepuluh.
Savanna
juga cukup jeli; dia melihat reaksi Syakila yang tampak tak senang saat Aldo
memanjakan Nadya seharian ini. Dari luar, Savanna memang kelihatan cuek, tetapi
sebenarnya cewek itu peka dengan sekitarnya.
"Nggak
usah, Tar, gue serius... Ayolah, ke kamar mandi aja. Tadi, kan, kita mau pergi ke
kamar mandi..." ujar Nadya gelisah. Nadya benar-benar tak mau ikut campur
urusan Aldo dan Syakila (Well, itu pun kalau mereka memang
lagi ada urusan di bawah pohon itu). Akan tetapi, kalaupun Aldo dan Syakila tidak
ada urusan...ya…Nadya bukan tipe orang yang ingin tahu segala hal. Nadya bukan
orang yang posesif, dia juga tidak agresif. Nadya tak mau mengganggu atau
mencampuri segala hal yang Aldo lakukan.
Satu-satunya
hal yang Nadya sadari kini adalah: kalau Aldo mau berbagi cerita dengan Nadya...Nadya ada
di sini. Nadya mau membantu Aldo selama ia punya kemampuan untuk
menolong cowok itu. Jadi, di luar semua itu...Nadya tak mau mencampuri semua
urusan Aldo.
Savanna
mengernyitkan dahi. "Lah, kok lo gitu, sih, Nad? Dia itu cowok lo, ‘kan?
Masa lo nggak penasaran? Itu muka mereka serius banget, lho, nggak yakin gue kalo
mereka cuma ngobrol biasa."
"Serius
atau nggak pun, kan kita nggak boleh nguping gitu, Van… Pulang aja, yuk… Plis,
Tar," bujuk Nadya. Dia tambah panik. Suara memohonnya itu membuatnya
terdengar seperti hampir menangis. Nadya paling takut sama yang namanya
menguping. Dia akan malu jika orang yang bersangkutan mengetahuinya.
Saat
mereka berada dekat dengan posisi Aldo, Rian, dan Syakila, mereka semua mulai
berdiri diam. Tari dan Savanna mulai menguping. Sebenarnya, Nadya ada di
belakang Tari dan Savanna. Nadya sangat takut, rasanya cewek itu ingin kabur
saja. Sayangnya, Savanna memegang lengannya dengan erat agar ia tidak kabur.
Tiba-tiba, terdengarlah ucapan
lirih dari bibir Syakila yang bergetar.
"Please, Aldo.
Gue sayang sama lo. Plis, balikan lagi sama gue."
Nadya
yang saat itu menunduk, mendadak membulatkan matanya karena terkejut. Tari dan
Savanna juga langsung membelalakkan mata; mereka berdua menganga. Rian (yang
ada di depan sana juga tampak kaget bukan main).
Sesungguhnya,
Aldo dan Rian hanya ingin kembali ke tenda saat Syakila tiba-tiba mencegat
mereka berdua di tengah jalan. Katanya, dia ingin membicarakan sesuatu dengan
Aldo. Rian tidak pergi duluan, soalnya cowok itu tak tahu tujuan Syakila
yang sebenarnya saat mencegat mereka berdua.
Setelah
diam selama beberapa detik. Savanna pun langsung berbalik. Dia menghadap ke
arah Nadya dan memegang pundak Nadya. Sementara itu, Tari langsung memegang
tangan Nadya dan menghadap ke arah lain. Maksudnya, ke arah di mana kamar mandi
berada.
"Ayo,
kita lanjut jalan aja ke kamar mandi," ujar Tari. Ekspresi
wajah Tari terlihat begitu serius. "Anggap aja mereka nggak ada."
Tari
langsung menarik tangan Nadya untuk pergi dari sana, diikuti oleh Savanna.
Sepanjang jalan, Savanna dan Tari sibuk mengoceh.
"Wow, ternyata,
sikap ramah tamahnya itu cuma topeng," komentar Savanna.
"Lo
yang baru ngobrol selama kemah aja bisa kaget, gimana gue yang udah lama
sekelas sama dia coba?!" ucap Tari kesal. "Dia pernah pacaran sama
Aldo, ternyata!!"
"Nad,
lo nggak tau masalah ini?!" tanya Savanna, cewek berkulit sawo matang itu
terdengar kesal. Sebenarnya, posisi mereka bertiga tak terlalu jauh dari pohon
itu. Nadya takut suara mereka terdengar sampai ke sana.
Akan
tetapi, mendadak…Nadya tidak memikirkan hal itu. Dia tidak fokus pada suara
Savanna dan Tari, tetapi fokus pada…pertanyaan Savanna.
Soalnya,
pertanyaan itu…membuat Nadya tersentak.
Nadya
tak tahu mau menjawab apa dan mau mulai dari mana.
"Itu…" ucapan
Nadya terpotong.
"Gue
salut liat lo yang masih bersikap baik ke Syakila itu! Liat, dia nembak Aldo pas
Aldo jelas-jelas masih pacaran sama lo!" teriak Tari. "Gue kira dia
mau pergi ke mana tadi, sampe lama banget. Eh taunya...!"
Nadya
tambah kaget. Nadya juga tahu kalau tadi Syakila izin pergi sebentar entah ke
mana, yang jelas ia pergi lebih dahulu dibandingkan Aldo. Nadya makin bingung
mau menjawab apa. Tari dan Savanna berbicara dengan keras seolah-olah sedang marah
padanya; dia jadi bingung sendiri.
Savanna
lantas menggeleng; dia tertawa sinis saat memikirkan kejadian tadi. Ia
berbicara pada Nadya, "Lo yang pacaran, kok malah gue yang pengin ngelabrak tuh
cewek."
Nadya
hanya menunduk. Sumpah, ia bingung harus berkata apa. Ia juga kaget. Ia pun tak
bisa menjawab perkataan Tari dan Savanna, soalnya ia memang tak memarahi
Syakila seperti apa yang normalnya seorang pacar lakukan.
Namun,
bagi Nadya, ‘memarahi Syakila’ itu malah nggak normal. Nadya tak mau
memaksa apa pun. Pikirannya selalu simpel: kalau Aldo sayang sama Syakila, ya
Nadya tak boleh ada di tengah-tengah mereka. Walau Nadya percaya bahwa ungkapan
sayang Aldo waktu itu benar…dan walau Nadya tak boleh berpikir yang
tidak-tidak, Nadya memang jenis cewek yang seperti itu.
Soalnya…
…sesuatu
yang dipaksakan itu nggak akan bertahan lama.
Jadi,
Nadya tak mau memaksakan apa pun. Meskipun sesungguhnya…Nadya itu...
…sayang sama
Aldo.
Dia
sadar itu. Dia mau terus bersama Aldo…
"Tunggu."
Tari,
Savanna, dan Nadya mendadak berhenti berjalan. Mereka bertiga membulatkan mata;
mereka kenal suara itu. Suara itu berasal dari belakang mereka.
Refleks
mereka bertiga berbalik. Di sana, mereka melihat Aldo. Cowok
itu berdiri seraya menatap mereka dengan tajam.
Savanna
menganga. Tatapan mata Aldo...agak berbeda. Bukan seperti Aldo yang
selama ini ia lihat.
Lagi
pula, Aldo hanya sendirian. Di mana Rian?
Tari
mencari keberadaan Rian dengan matanya…dan ia melihat Rian berdiri di bawah
pohon itu bersama Syakila. Rian dan Syakila tampak sama-sama diam.
Di
sisi lain, Nadya benar-benar kaget saat melihat Aldo. Aldo dan Nadya kini saling
menatap; mereka hanya fokus ke satu sama lain. Cahaya di
belakang gedung kelas itu remang-remang, tetapi Nadya bisa melihat mata Aldo yang
saat itu menatapnya dengan intens .Saat itu, Aldo seolah-olah tak memedulikan
apa pun selain Nadya. Matanya serasa mampu membuatmu tenggelam, tersesat…
Tiba-tiba,
Aldo berjalan mendekat dan menarik Nadya. Spontan tangan Nadya terlepas dari
pegangan Tari; Aldo membawa Nadya menjauh. Aldo berjalan dengan cepat, pegangan
tangannya kencang, dan Nadya harus sedikit berlari untuk menyamakan langkah
mereka. Tari dan Savanna kontan ikut berlari—mengikuti mereka—sembari
berteriak.
"Ada
apa, nih, Aldo?!" teriak Tari.
Tak
lama kemudian, sampailah mereka di bawah pohon itu. Nadya benar-benar panik. Ia
tak mengerti apa yang sedang terjadi. Sekarang, mereka semua jadi ada di bawah
pohon itu.
Untungnya, tidak
ada orang lagi yang lewat-lewat di sana. Malam sudah lumayan larut, apalagi
semua orang pasti sudah lelah dan mengantuk karena perlombaan tadi siang.
Mata
Rian membulat saat melihat kedatangan Nadya; cowok berkulit hitam manis itu langsung
menoleh kepada Aldo. "Lho, kenapa ada Nadya di sini, Do?! Jadi…lo tadi
pergi buat nyari Nadya?! Aldo, lo—"
Rian
tambah menganga saat melihat Tari dan Savanna juga ada di belakang Aldo dan
Nadya. Cowok itu spontan memijit keningnya.
Tampak
Syakila juga terkejut bukan main. Tatapan Syakila jadi tajam dan ekspresinya dipenuhi
dengan kemarahan. Dalam mimpi pun ia tak pernah mau hal seperti ini terjadi. Apa—mengapa
Aldo membawa Nadya ke sini?!
Nadya
adalah orang yang benar-benar Syakila benci saat ini. Namun, Aldo malah menggandeng
Nadya seperti itu di depannya, membawa Nadya ke hadapannya saat ia sedang
menunggu jawaban dari pernyataan cintanya.
Aldo
memiringkan kepalanya dan menatap Syakila dengan mata yang menyipit tajam.
Cowok itu lalu berkata, "Maaf, tadi gue pergi bentar. Gue cuma kebetulan
liat Nadya lewat, jadi gue mau dia liat semua ini."
Tari
menganga, sementara Savanna mulai tersenyum miring. Gila, jadi…tadi Aldo menyadari
keberadaan mereka?
Mantap,
Aldo! pikir Savanna.
Mata
Nadya membulat, dia menatap Aldo dengan beribu pertanyaan di benaknya. Namun, Aldo
sama sekali tak terganggu; cowok itu tetap menatap Syakila dengan tajam.
"Penyataan
lo tadi... Ulangi sekali lagi," ujar Aldo.
Mampus
dah...ngena banget pasti, pikir Rian.
Syakila
mengepalkan tangannya. Cewek itu menatap Aldo dengan tatapan tak percaya, setitik
air mata mulai muncul di sudut matanya. Wajahnya memerah karena menahan amarah.
Dia tak sanggup lagi menahan semua rasa marahnya.
Syakila
mendadak berteriak, "LO KENAPA, SIH, ALDO?! LO TAU KALO GUE SAYANG SAMA LO,
‘KAN?! KENAPA LO KAYAK GINI KE GUE?!"
Teriakannya
membuat semua orang di sana—kecuali Aldo—jadi kaget minta ampun. Syakila yang
jujur, tanpa topeng sama sekali...sekarang benar-benar terlihat di depan mata mereka.
"Terutama lo!!!" teriak
Syakila. Dia menunjuk wajah Nadya yang berdiri sekitar tiga langkah di depannya.
Nadya terperanjat; dia menatap Syakila dengan jantung yang berdegup kencang.
Entah mengapa, Nadya akan sangat panik jika sedang ada masalah seperti ini.
Nadya akan panik meskipun ia tidak bersalah.
"LO
BILANG, ALDO NGGAK PERNAH NGOMONG SAYANG KE ELO, ‘KAN?!"
teriaknya sekali lagi. "Gue nggak ngerti kenapa Aldo
harus pacaran sama orang yang nggak dia sayang!!!"
Nadya
menganga. Tangan cewek itu bergetar.
Ah,
iya.
Itu
pernah terjadi saat Syakila berbicara dengannya di toilet sekolah. Waktu itu,
Nadya memang berpikir kalau Aldo tak memiliki perasaan apa pun padanya.
Nadya
spontan menunduk, tetapi…entah mengapa genggaman tangan Aldo justru semakin
erat. Nadya kontan menatap wajah Aldo lagi. Cowok itu bernapas samar, lalu menjawab
Syakila dengan tegas. Nadanya agak terdengar tajam, sebenarnya.
"Oh,
yang waktu lo cerita ke gue kalo lo bicara sama Nadya di
toilet sekolah, ‘kan?" ujar Aldo. "Waktu itu, Nadya emang nggak
tau apa-apa."
Syakila
mengangkat sebelah alisnya. "Maksud lo apa, sih?!! Seharusnya
dia udah tau sejak lo nembak dia, ‘kan? Gue nggak ngerti sama
sekali!!!"
Kalau
dipikir-pikir, Aldo memang memberi tahu Nadya tentang perasaannya saat dia
bercerita di ruang OSIS waktu itu. Namun, dia belum pernah sungguh-sungguh
mengungkapkan ‘tiga kata’ itu di hadapan Nadya seperti bagaimana cowok-cowok biasanya
mengungkapkan perasaan mereka. Aldo selalu mengatakan atau melakukan sesuatu
yang membuktikan semua itu, setiap hari, tetapi dia tak pernah
benar-benar mengatakan tiga kata itu.
Well,
kini
semuanya sudah berbeda. Aldo sudah mengatakan itu pada Nadya.
"Lo
nggak perlu ngerti, Sya," ujar Aldo, matanya semakin menyipit tajam.
"Yang lo harus ngerti sekarang adalah siapa aja yang boleh lo ajak pacaran
dan siapa aja yang nggak boleh lo ajak pacaran."
Mata
Syakila membeliak. Cewek itu menggeram dan langsung beralih memelototi Nadya.
"Lo?! Lo gimana?! Perasaan yang lo punya ke Aldo pasti nggak sebesar perasaan
gue, ‘kan?! Ngeliat sifat lo yang sok polos gitu, lo pasti nggak pernah
ngungkapin rasa sayang lo, ‘kan!! Lo pasti nggak sayang sama Aldo!!"
Wow,
nih cewek ternyata dalemnya kayak gini, pikir Tari. Dia menganga
dan menggeleng sendiri saat melihat Syakila. Ke mana si primadona
sekolah yang bagaikan dewi itu?
Aldo
mendadak mengetatkan rahang. Tatapan Aldo pada Syakila begitu sarat akan rasa
marah, seluruh kalimat tajam yang ia kubur dalam-dalam itu mulai mencoba
untuk naik ke permukaan, tetapi semuanya berhasil dihentikan.
Terhenti…karena
Nadya tiba-tiba membuka suara.
"Aku..." ucap
Nadya lirih, cewek itu masih menunduk. Begitu suara lirih itu terdengar, Aldo
langsung menoleh kepada Nadya yang lebih pendek darinya itu seraya mengernyitkan
dahi.
Nadya
meneguk ludah. Selama tiga detik lamanya, cewek itu hanya diam. Ketika
pada akhirnya cewek itu mengangkat kepalanya, dia terlihat begitu yakin.
Ada
sebuah keberanian yang terkandung di tatapan matanya. Tatapan itu penuh dengan
keyakinan…dan perasaannya.
Bibir
Nadya bergetar. Dengan segala keberanian yang dia punya, dia pun melanjutkan
ucapannya.
"Aku
sayang...sama Aldo…." ujar Nadya pelan. Tangannya bergetar di
dalam genggaman Aldo. Nadya menggigit bibirnya sebentar, lalu mencoba untuk
mengatakannya sekali lagi dengan benar. "Aku bener-bener sayang sama
Aldo."
Jantung
Nadya berdegup kencang. Akan tetapi, tak tahu kenapa, Nadya merasa bahwa
ia harus...mengatakannya.
"Bener-bener...sayang..." lanjut
Nadya.
Tak
ayal, semua orang yang berdiri di bawah pohon itu jadi membeliakkan mata. Tanpa
sadar, Nadya mengungkapkan perasaannya tiga kali.
Dia
mengucapkannya berulang-ulang…dengan kalimat yang tulus.
Aldo melebarkan
matanya.
Aldo
tak pernah berharap Nadya akan mengungkapkan perasaannya. Aldo tahu bahwa dia memaksa
Nadya untuk berpacaran dengannya waktu itu, lalu seiring berjalannya waktu,
Aldo tak pernah bertanya soal perasaan Nadya padanya. Cowok itu tahu kalau dia selalu
dipenuhi oleh keinginannya sendiri, tenggelam di perasaannya sendiri, mengejar
tanpa ingin tahu perasaan Nadya. Namun, ia tak pernah berniat untuk
berpura-pura tidak tahu. Ia tahu dengan jelas bahwa Nadya belum tentu membalas
perasaannya.
Maka
dari itulah, selama ini…ia sering memosisikan dirinya sebagai 'cowok
yang jatuh cinta sama kamu' atau 'cowok yang selalu merhatiin
kamu' saat ia berbicara pada Nadya. Well..karena kenyataannya
memang seperti itu. Dialah yang jatuh cinta di dalam hubungan
mereka. Dia tak tahu bagaimana perasaan Nadya; dia juga tak mau menanyakan itu.
Hal yang ada di pikirannya hanyalah: membuat Nadya jatuh cinta juga
padanya.
Namun,
apa yang terjadi saat ini…benar-benar membuatnya terkejut.
Nadya
mengatakannya dengan jelas. Dia mengungkapkan semua yang dia rasakan dengan
jujur…di depan Aldo dan juga teman-teman Aldo.
Jika
Tuhan memang mengabulkan doa yang Aldo panjatkan dahulu…maka benarlah apa
kata orang-orang. Kalau Tuhan tidak langsung mengabulkan doamu, berarti
Dia ingin menundanya hingga tiba waktunya.
Aldo
menunduk. Mendadak cowok itu merasa jantungnya seolah-olah ingin meledak.
Di
sisi lain, Rian menatap Aldo; dia spontan tercengang saat melihat keadaan Aldo.
Aldo...benar-benar
terdiam. Matanya melebar tak percaya…seolah-olah otaknya error saat itu
juga.
Aldo,
cowok keren yang selalu berwibawa dan tenang itu, Ketua OSIS yang punya sisi
mengerikan itu…tampak kalah. Seratus persen ditaklukkan.
Rian
tersenyum semringah. Dalam hati, Rian bersorak kagum pada Nadya, ‘NAD, KAMU
HEBAT!’
Sekarang,
baik itu Rian, Savanna, maupun Tari, semuanya menoleh kepada Syakila lagi
sambil tersenyum penuh kemenangan. Mereka semua bangga pada Nadya. Oke, mereka memang
tak ada hubungannya dengan semua ini, tetapi mereka senang sekali saat melihat Nadya
mengatakan itu di depan Syakila. Di tambah lagi, Nadya sepertinya…lebih ke
‘mengungkapkan perasaannya pada Aldo’ daripada menjawab pertanyaan Syakila.
Soalnya, Nadya tadi bilang "Aku sayang sama Aldo", bukan "Gue
sayang sama Aldo".
Memang
benar, sih. Orang yang bersangkutanlah yang bisa menyelesaikan
masalahnya.
Dalam
hati, mereka bertiga bersorak: NADYA, BRAVO!
Sementara
itu, Syakila justru menyatukan alis. Dia menatap tajam orang-orang yang
mendukung Nadya, dia merasa kalau Nadya sepertinya telah mengendalikan semua
orang. Bahkan—apa? Mengapa Aldo jadi seperti ini?!
Mengapa
ini semua begitu tak adil untuknya?!
Syakila
mengepalkan tangannya. Nadya kembali menunduk setelah mengatakan isi hatinya. Seolah-olah…tenaganya
terkuras habis setelah mengungkapkan perasaannya.
Aldo tiba-tiba tersenyum
miring.
Cowok
yang tadinya terdiam itu…kini perlahan-lahan mengangkat wajahnya
untuk menatap Syakila.
Syakila
menyadari itu dan langsung membalas tatapan Aldo. Cewek itu terkejut bukan main
saat melihat Aldo yang tiba-tiba tersenyum miring padanya.
Aldo
tiba-tiba mengeluarkan getaran yang berbeda. Kali ini, ekspresinya
lebih…sinis?
Tatapannya
mengerikan. Senyumannya itu penuh dengan kepuasan juga.
Jujur,
jantung Syakila tiba-tiba berdegup kencang karena merasa takut. Syakila
tanpa sadar mundur selangkah. Apa Aldo pernah tersenyum
seperti itu? Apa Aldo pernah menatap orang dengan tatapan yang
mengerikan seperti itu?!
Aldo
sebenarnya tak bergerak sedikit pun; yang bergerak hanyalah sebelah tangannya
yang semakin meremas tangan Nadya. Akan tetapi, sesungguhnya…semua
orang di sana juga merasakan hal yang hampir sama dengan Syakila.
Waduh.
Kau benar-benar tak bisa mencari masalah dengan Ketua OSIS ini.
Rian
tahu; dia sudah mengulang hal itu beberapa kali di benaknya, tetapi lagi-lagi dia
memikirkan itu. Rian sudah sering menebak bahwa sisi Aldo yang 'lain' itu
ada—dan sebenarnya dia sudah yakin bahwa itu benar—meskipun Aldo
tak pernah menunjukkan sisi itu padanya. Mungkin, Aldo hanya menunjukkan sisi
itu pada Nadya dan kedua orangtuanya sendiri.
Rian
bukannya tidak memperhatikan Aldo. Dia selalu ada di samping Aldo. Meskipun itu
hanyalah berupa dugaan-dugaan, tetapi Rian cukup yakin bahwa ada ‘sesuatu yang
lain’ di dalam diri Aldo.
Mendadak,
Aldo mengubah ‘senyum’ itu jadi senyuman tulusnya seperti biasa. Savanna dan
Tari sampai kaget sendiri dengan perubahan yang kentara itu. Rian sontak
membuang mukanya dan menahan tawa.
Nggak
bakal, deh, gue cari masalah sama sahabat gue yang satu ini, pikirnya
sembari menggeleng. Ketua OSIS SMA Kusuma Bangsa ini...seram, coy!
"Gue sayang sama
dia," ujar Aldo seraya menatap Nadya dalam. Begitu kembali menatap
Syakila, tatapan Aldo kembali berubah; dia kembali terlihat tegas. Meskipun
begitu, ia sebenarnya berusaha untuk tetap sopan. Soalnya, sejak dulu ia
tahu bahwa ialah yang salah. Hari ini—mungkin karena hatinya menghangat karena ungkapan
cinta dari Nadya—ia pun memutuskan untuk mengatakan semuanya.
"Gue
minta maaf, ya, Sya," ujar Aldo tiba-tiba, membuat Rian
dan Syakila membulatkan mata. Aldo lalu melanjutkan,
"Gue minta maaf karena gue nggak pernah jawab semua pertanyaan lo. Selama
ini, gue ngerasa kalo gue nggak perlu ngejelasin kesalahpahaman apa pun,
kecuali ke orang yang berharga buat gue."
Aldo
diam sejenak. Syakila terus menunggunya; sebelah alis cewek itu terangkat dan
rahangnya mengetat. Wajah cantiknya itu kini sarat akan rasa marah dan bingung
luar biasa. Apa yang ia lewatkan? Apa yang tak ia ketahui?
Mengapa Aldo meminta maaf padanya? Salah paham apa?!
Aldo
pun melanjutkan.
"Gue nggak
pernah sayang sama lo, Sya."
Dunia
Syakila serasa hancur saat itu.
"Gue
minta maaf kalo ini kedengeran jahat, tapi waktu itu..gue emang salah karena
udah nerima lo. Gue yang salah karena udah ngejadiin lo sebagai sumber untuk
ngejawab rasa ingin tau gue. Gue nggak pernah punya perasaan apa-apa ke lo, Sya.
Gue tau kalo maaf aja nggak bakal cukup; gue tau kalo kata maaf nggak
bakal bisa ngubah semuanya, tapi lo harus tau kalo gue saat itu
belajar buat sayang sama lo…karena gue pikir lo cewek yang baik."
Syakila
mundur selangkah lagi, tetapi kali ini, dia hampir jatuh. Wajah cewek itu langsung
pucat; matanya membulat tak percaya.
"Tapi
betapa pun gue berusaha, gue tau kalo pada akhirnya…yang gue suka itu cuma sifat
baik lo yang gue liat. Bukan lo secara keseluruhan. Ya tapi akhirnya
pun semua sifat lo itu ternyata nggak kayak yang gue kira," ujar Aldo.
"Semua
itu cuma topeng. Topeng untuk menutupi diri lo yang sebenarnya. Kenapa lo nggak
jujur aja dan jadi diri lo sendiri? Lo ngebohongin semua orang. Bagi lo, yang
penting adalah: lo harus diterima dan disukai sama semua orang. Lo
harus dicintai dan diberkati, dijunjung tinggi di hati semua
orang. Lo puas saat semua orang jatuh cinta sama lo, lo puas
saat semua cewek akrab sama lo. Lo mau jadi bidadari di hati
semua orang."
Syakila
mendadak terjatuh. Cewek itu terduduk di rerumputan yang ada
di bawah pohon itu dan menangis; dia menutup telinganya seraya menggeleng.
"Nggak—NGGAK!!
Gue nggak pernah kayak gitu!!!!" teriaknya.
Aldo
hanya menghela napas. Nadya yang tadinya diam, kini menatap Aldo dan Syakila
secara bergantian.
Nadya
benar-benar...tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Syakila... Apa
benar Syakila seperti itu?
"Lo
nangis di depan cewek-cewek yang sebelumnya sering ngobrol sama gue, padahal
itu cuma obrolan biasa, mereka nanyain masalah pelajaran dan lain-lain. Sesingkat
apa pun obrolan mereka sama gue—bahkan kadang mereka cuma nyapa—lo bakal datengin
mereka. Lo kasih tau mereka soal perasaan lo ke gue dan ngebuat mereka semua
jadi nggak berani ngobrol lagi sama gue. Gue dulu nggak peduli semua itu,
awalnya, karena gue juga lumayan jarang ngehabisin waktu sama temen-temen
selain kegiatan sekolah dan ekskul, tapi gue nggak suka cara lo. Mereka bebas
ngobrol sama siapa pun, termasuk gue. Lo nggak
berhak ngelarang mereka selagi mereka nggak berlebihan."
Mata
Nadya membeliak.
Mungkinkah…itu
sebab Aldo jadi jarang terlihat mengobrol dengan cewek di
sekolah, sampai beredar omongan seperti: 'Aldo hampir nggak pernah
keliatan sama cewek' dan ‘nggak ada yang bersikap terang-terangan saat
mengagumi Aldo’?
Gita
juga pernah bilang ke Nadya kalau penggemar-penggemar Aldo di sekolah itu cuma
mengagumi Aldo secara diam-diam, tetapi mereka kepo minta ampun.
Inikah
sebabnya? Benarkah?
Apa
mungkin ini asumsi Nadya belaka...? Nadya tak boleh men-judge sembarangan
seperti ini. Mungkin itu hanya...kebetulan...
Akan
tetapi...
Tari—yang
berdiri tak jauh dari Nadya—juga kaget. Savanna menggeleng-geleng. Rian hanya
menghela napas karena dia sudah tahu semua itu.
"Selain
itu, masih banyak lagi hal yang nggak seharusnya lo lakuin. Meskipun lo
nyembunyiin semua itu, gue bukan orang yang bisa lo bohongi cuma
dengan tingkah dan ekspresi wajah lo di depan semua orang, terutama di
depan gue. Gue bisa ngeliat semua itu, Sya."
Syakila
tiba-tiba berteriak, "TAPI GUE NGGAK BOHONG KALO GUE SAYANG SAMA LO!"
"Sebelum sayang
sama orang lain, sayangi diri lo sendiri. Jujur sama diri lo
sendiri," ujar Aldo. "Kalo lo kayak gitu terus, lo bakal kehilangan
semua orang yang berharga di dalam hidup lo dan nggak ada satu
pun yang bakal ngerti sama lo, selamanya."
Syakila bangkit
dari duduknya.
"Gue
nggak butuh semua itu. Gue cuma nggak mau kehilangan lo, Aldo. Gue yakin kalo
rasa sayang gue lebih besar daripada punya Nadya. Lagian, kalo gue kayak gini,
emangnya kenapa? Toh lo ternyata ngerti, ‘kan? Lo udah
paham sama gue! Berarti, cuma lo yang bisa ngubah gue. Gue yakin itu,
Aldo! Gue lebih butuh lo daripada cewek ini!" Syakila menunjuk Nadya.
"Gue cuma mau lo, gue sayang sama lo! Apa gue salah?!"
Air
mata Syakila semakin mengalir deras.
"Lo
salah," ujar Aldo tajam. Aldo menatap Syakila tajam. "Lo salah karena
lo mau bergantung sama orang lain buat ngubah lo. Well, menurut gue pun,
kayaknya itu cuma alasan lo. Lo sebenernya nggak pernah berniat buat ngubah
diri lo, 'kan? Bagi lo, image lo lebih penting dari apa
pun. Sekarang, lo malah memutarbalikkan kondisinya supaya gue balik lagi dan
ngubah lo? Inilah kenapa gue bilang kalo lo nggak boleh ngebandingin diri lo
sama Nadya. Karena sebagus apa pun lo, Nadya punya banyak hal yang
lo nggak punya.”
Tangisan
Syakila kini telah membuatnya sukar berbicara. Ia merasa dipojokkan. Ia tak
suka, ia benar-benar tak suka citranya jadi buruk begini di mata orang lain.
Apa
mereka bakal nyebarin ini ke semua orang? Nggak boleh! Nggak boleh!!!!
Syakila
menangis kencang.
Rian,
yang sedari tadi diam, mendadak memutuskan untuk berbicara. Rasanya ia geram
juga. Ia tahu kalau ia tak seharusnya ikut campur, tetapi sifatnya yang suka
menasihati dan agak ‘cerewet’ pada orang lain itu kini keluar karena rasanya ia
sudah gatal sekali ingin mengatakan sesuatu pada Syakila.
"Hei,
Syakila, sebenernya, dari dulu gue udah ngerasa kalo ada yang lain dari
lo, bahkan sebelum lo putus sama Aldo," ujar Rian. "Lo nggak bisa
ngebohongi orang yang jeli, apalagi lo berhadapan dengan Aldo. Dia
tau banget mana 'mata' yang memandang dengan kejujuran dan
mana yang nggak. Dia juga tau mana senyum yang tulus dan mana yang nggak. Ya…semua
orang bisa ngerasain itu, sih, tapi nggak secepet dia. Biasanya, orang-orang
butuh proses untuk tau; harus ada kejadian buruk dulu, baru mereka tau. Sayangnya,
lo berhadapan dengan orang yang jeli."
Rian
menatap Syakila dengan serius. "Semua omongan dia itu bener. Udahlah,
berhenti ngelakuin semua hal yang nggak masuk akal ini, Sya. Astaga, gue dari
dulu pengin banget nyeramahin lo, tapi gue tahan karena gue tau kalo Aldo bisa
nyelesain semuanya. Gue juga nggak mau ikut campur. Lagi pula...gue
yakin sekarang lo udah tau apa yang lo nggak punya, tapi ternyata Nadya
punya, ‘kan?"
Wajah
Syakila semakin memucat. Dia terdiam seribu bahasa karena
lagi-lagi, semuanya sudah terbaca.
Ya.
Hal yang dia tak punya itu adalah ketulusan, pengertian, dan kehangatan
hati tanpa pamrih; kehangatan dan uluran tangan yang tak mengharap balasan apa
pun.
Nadya? Cewek
itu punya semuanya.
******
Pertandingan
persahabatan itu berjalan dengan lancar. Hal yang menggembirakan—yang mereka
bawa pulang—adalah: SMA Kusuma Bangsa menang sebagai juara umum di acara
pertandingan persahabatan itu, dengan total kemenangan paling banyak di antara
seluruh sekolah yang berpartisipasi. Pertandingan tari tradisional dan vocal
group juga dimenangkan oleh SMA Kusuma Bangsa. Satu-satunya pertandingan
yang kalah adalah pertandingan badminton. Waktu Aldo dan Nadya
sama-sama ikut sebagai perwakilan untuk vocal group, Nadya merasa
gugup bukan main. Namun, senyuman serta kata-kata penyemangat dari Aldo sukses menyembuhkan
semua itu dan mereka melakukannya dengan baik.
Mereka
membawa pulang piala besar juara umum dan juga hadiah-hadiah lainnya.
Pada
malam perpisahan, diadakan acara api unggun dan semua perwakilan sekolah akan mengelilingi
api unggun itu sembari menyanyikan lagu perpisahan.
Saat
Nadya dan teman-temannya sudah kembali ke tenda untuk tidur, mereka semua akhirnya
sadar bahwa Syakila tidak mengikuti acara api unggun itu; dia sudah tidur di
dalam tenda. Nadya menatap Syakila sejenak; dia kembali mengingat apa yang
telah terjadi dan apa yang ternyata ada di dalam pikiran Syakila selama ini.
Saat
Nadya baru saja mau tidur, HP Nadya sempat berbunyi singkat sebanyak dua kali,
menandakan bahwa ada dua pesan yang masuk.
From: Aldo
Selamat
tidur, Sayang. Jangan lupa pake selimut sama jaketnya, ya. Semoga tidur nyenyak
dan mimpi indah, ya, supaya aku bisa liat senyum kamu lagi besok pagi.
Good
night, my dear.
Pipi
Nadya merona. Dengan malu, Nadya pun membalas pesan Aldo itu.
To: Aldo
Iya,
semoga kamu juga mimpi indah, ya... Selamat tidur, Aldo.
Bagi
Nadya, senyuman Aldolah yang seharusnya Nadya nantikan. Senyuman cowok itu sehangat mentari.
Keberadaannya juga terasa seperti mentari. Bersinar terang...dan menghangatkan.
Setelah
itu, Nadya mulai melihat pesan yang satu lagi.
From: Kak
Kurnia
Nadya,
apa kabar, Dek? Ya ampun, udah lama banget nggak denger kabar kamu. Sehat, ‘kan?
Eh? Kak
Kurnia?
******
Hari
ini, semua perwakilan SMA Kusuma Bangsa sudah kembali sekolah. Kepulangan
mereka disambut dengan kata selamat pada saat upacara, lalu saat di kelas
masing-masing, mereka juga diberi selamat. Mereka dikerumuni habis-habisan.
Pertanyaan demi pertanyaan mereka dapatkan; rasanya sekolah jadi sangat berisik
waktu itu.
Ya…bagaimana
tidak? Dari sekian banyak pertandingan, yang kalah cuma satu pertandingan!
Perwakilan
lomba yang dipilih oleh OSIS saat itu memang benar-benar berkualitas. Pemilihan
yang ketat dengan cara yang 'berbeda' itu ternyata membuahkan hasil yang
maksimal. Lagi-lagi, OSIS tahun ini memang merupakan lambang masa kejayaan bagi
SMA Kusuma Bangsa. Anak-anak yang ikut ke pertandingan persahabatan kemarin
juga benar-benar pantas mendapatkan kemenangan itu. Semua itu mungkin terjadi
karena mereka saling membutuhkan. Jika tidak ada perwakilan-perwakilan lomba
yang hebat itu, OSIS juga takkan bisa melakukan apa-apa.
Gita
juga menyerang Nadya dengan berbagai pertanyaan. Gita pun sudah tahu tentang
apa yang terjadi di bawah pohon itu—dari Tari—dan dia menuntut kebenaran dari
Nadya. Gita bilang, dia jadi ingin melihat kejadian itu secara langsung.
Gita nyerocos sendiri di depan Nadya. Sungguh, Gita juga tak
menyangka kalau Syakila ternyata seperti itu. Oh, jangan lupakan alasan mengapa
Gita dan Nadya itu bisa jadi sangat akrab dan merasa berbeda tanpa kehadiran
satu sama lain.
Saat
jam istirahat, Nadya mulai memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. Gita sudah
mulai berdiri dan Nadya jadi terburu-buru. "Giiit, tunggu bentarlah—bentar
du—"
Mendadak,
Nadya merasakan kehadiran seseorang di depan mejanya.
Wangi
ini...seperti wanginya…
…Aldo.
Sebentar.
Aldo?!
Gita
langsung peka. Cewek itu tersenyum dan mulai meninggalkan Nadya.
"Bye,
Nad! Duluan, yakkk!!! Kan udah ada pangeran lo!" teriak
Gita sembari tertawa. Dia langsung menyusul rombongan Tari untuk pergi ke
kantin. Nadya menganga; jantung Nadya berdegup kencang. Tiap kali dia mencium
wangi parfum Aldo, tiap kali dia menyadari keberadaan Aldo di
dekatnya, jantungnya selalu berdebar-debar.
Dengan
gugup, Nadya pun mendongak perlahan.
Di
depannya, berdirilah Aldo; kedua tangan cowok itu bertumpu di meja Nadya. Cowok
itu sedikit menundukkan kepalanya untuk melihat wajah Nadya. Senyumannya yang
manis—dan tulus itu—membuat wajahnya jadi semakin bersinar. He looks so
sweet, so fresh…
Sejujurnya,
Aldo berada dalam kondisi tubuh yang prima. Kebahagiaan tercetak jelas
di wajah tampannya.
He
is so bright, so...charming.
Akan
tetapi, ini pertama kalinya Aldo menghampiri Nadya di kelas (maksudnya, mendatangi
Nadya langsung ke meja cewek itu saat istirahat), apalagi dia
melakukannya di depan semua orang. Biasanya, dia hanya mengikuti Nadya ke
kantin karena dia menghargai teman-teman Nadya. Paling-paling, nantinya—di
kantin—dia akan mendekati Nadya dan bertanya Nadya mau makan apa, lalu dia akan
membelikan Nadya.
Justru
karena Aldo sayang pada Nadya, Aldo tak ingin Nadya semakin jauh dari
teman-temannya. Nadya itu orangnya sudah sering canggung; dia juga pemalu.
Jadi, jika Aldo terus berdua dengannya...nanti dia akan semakin sulit
bersosialisasi. Ujung-ujungnya, yang dia pikirkan adalah Nadya.
Namun,
hari ini...Aldo menghampiri Nadya ke meja cewek itu langsung. Hari ini, yang
ada di kepala Aldo adalah: mengungkapkan perasaannya dengan benar, secara
langsung, di depan Nadya. Meski tidak harus saat ini juga; meski Nadya
sudah tahu soal perasaannya, dia harus kembali mengatakannya dengan benar.
Waktu itu, dia pernah mengatakannya di dalam mobil saat dia mengantar Nadya
pulang. Akan tetapi, saat itu Nadya sedang tidur.
Sebenarnya,
itu tak penting lagi karena Aldo sudah sering mengatakan kalimat sayang pada
Nadya. Namun, karena Nadya telah mengungkapkan perasaannya waktu itu...Aldo
jadi merasa bahwa itu sangat penting. Cowok itu juga ingin mengatakan apa yang belum
sempat ia katakan malam itu sebagai respons dari pernyataan cinta Nadya.
If
you want to say it, say it properly.
Serius,
Nadya benar-benar bisa mengubah Aldo. Jika orang bilang kalau Aldo itu berbahaya,
bagi Aldo...Nadyalah yang berbahaya. Dia berbahaya karena bisa mengubah orang
lain hanya dengan kata-kata hangat dan tulusnya. Ditambah lagi, Nadya tak
menyadari semua itu.
Bagi
Aldo, Nadya ini...berbahaya buat jantungnya.
Di
sisi lain, perilaku Aldo saat ini sukses membuat pipi Nadya
merona bukan main. Namun, Aldo tak menyadarinya.
Cowok
itu pun berbicara dengan lembut…sembari tersenyum dengan indahnya,
"Nad, ayo ke kantin bareng." []


.jpg)

.jpg)
No comments:
Post a Comment