Sunday, September 7, 2025

Fraudulent (Chapter 4: Unzip Those Jeans)

 


******

Chapter 4 :

Unzip Those Jeans

 

******

 

TANGAN kiri Jungkook mulai memegang pipi bokong Harin yang sangat bulat dan kenyal itu. Ia mengerang tatkala meremasnya dengan sensual. Sementara itu, Harin sejak tadi menggigit bibirnya dan meremas seprai dengan kencang, mempersiapkan dirinya untuk apa yang akan terjadi beberapa detik setelah ini. Jantungnya berdegup dengan sangat kencang; dia sendiri bisa mendengar degup jantungnya.

Tiba-tiba saja, Harin merasa kalau Jungkook mencium pipi bokongnya—yang sebenarnya masih tertutup celana dalam tipis itu—beberapa kali. Harin tersentak; gadis itu membulatkan mata dan tanpa sadar mengeluarkan suara, “Hng!”

Ah, sial. Jungkook benar-benar hilang akal. Hari ini, dia benar-benar menyentuh Harin secara langsung. Melihat berbagai sisi Harin yang lebih intim dari biasanya, melihat penampilan Harin yang hampir telanjang…

Kulit Harin yang sangat mulus dan lembut, payudaranya, pahanya, dan bahkan bokong serta vaginanya yang hanya tertutup celana dalam…

Seorang gadis yang biasanya dia cumbu dalam keadaan berpakaian, kali ini dia cumbu dalam keadaan hampir telanjang. Ada sisi primal yang bangkit di dalam dirinya, sebuah monster yang terlepas dari belenggunya, berteriak di dalam kepalanya untuk segera mengawini gadis itu sekarang juga.

Untungnya, obsesinya pada Harin mampu menghentikan semua itu. Well, sebenarnya…obsesinya pada Harinlah yang membuatnya ingin menyetubuhi Harin habis-habisan malam ini, tetapi obsesi itu pulalah yang menghentikannya.

…sebab jika Harin marah, kemungkinan besar…Harin akan meninggalkannya.

Jungkook mengetatkan rahang; dia menggertakkan giginya. Kejantanannya sudah sangat keras, sangat besar, dan ia sudah tak bisa menahannya lebih lama. Dia akan terbakar jika tidak memuaskan hasratnya sekarang juga.

Mata Harin membulat ketika tiba-tiba ia merasa kejantanan Jungkook menyelip di antara kedua pahanya. Pipinya memerah sempurna; mulutnya terbuka. Dia semakin meremas seprai yang ada di sebelah kanan dan kirinya.

It’s…there.

Kejantanan Jungkook…sudah ada di sana.

Harin bisa merasakan bentuk dan teksturnya secara langsung. Untuk pertama kalinya, selama lima tahun berpacaran…dia benar-benar merasakan milik Jungkook.

Itu…sangat besar. Sangat keras…dan urat-uratnya terasa begitu jelas. Sela-sela paha Harin jelas sangat sempit untuk ukurannya.

“Ahh… Sayang,” erang Jungkook, dia sempat mendongak dan memejamkan matanya. “Enak sekali, Sayang…”

Jungkook lalu kembali menatap ke bawah, ke arah Harin yang sedang menungging di bawahnya dan menjepit kejantanannya. Kedua matanya semakin menggelap, penuh akan rasa cinta yang bercampur dengan berahi. Dia mendesah, lalu berkata, “Aku bisa merasakan bibir vaginamu dari sini, Sayang… Rapat dan basah sekali... Masih sensitif, hmm?”

Harin spontan mengerang, ia malu mendengarkan kata-kata vulgar itu. “Hngh…”

“Oh, My Queen. Kau dan desahanmu benar-benar sanggup membuatku gila,” ujar Jungkook. “Seharusnya itu ilegal. Aku bisa-bisa memerkosamu di sini.”

Harin mulai menenggelamkan wajahnya di kasur, pipinya memanas dan ia kembali menggigit bibirnya kuat-kuat. Jungkook belum bergerak, tetapi mengapa…mengapa rasanya panas sekali?

Jungkook mengerang. “Aku mulai, ya, Cinta.”

Tepat satu detik setelah itu, Jungkook pun langsung bergerak. Ia menarik kejantanannya hingga nyaris keluar sepenuhnya…lalu kembali menghunjam area paha Harin dengan satu gerakan yang sangat kuat. Hal ini sukses membuat Harin mengangkat wajahnya—nyaris mendongak—dan berteriak. Mata Harin membulat, mulutnya menganga.

“Ah!!”

Namun, Jungkook sepertinya sudah benar-benar mabuk. Ia seolah-olah sudah tidak berada di sana; apa yang ada di otaknya saat itu hanyalah: menusuk Harin. Rahangnya mengetat; dia kembali menggertakkan giginya dan menggeram. Matanya menatap tajam—sangat intens, penuh akan gairah—kepada bokong Harin yang terus berguncang dengan sensual tiap kali ia menusuk sela-sela paha gadis itu. Ia mencengkeram pinggul gadis itu dengan kuat hingga meninggalkan bekas merah.

Ia menghunjam Harin dengan sangat cepat, sangat kuat, dan sangat brutal. Napas Harin tersendat-sendat saat gadis itu ingin berbicara—setidaknya ingin memohon pada Jungkook untuk sedikit lebih pelan—tetapi yang keluar dari mulutnya hanyalah:

“A—Ahh!!! Jung—seben—angh!!! Oh!! Hnghh!!!!”

“Aaah…ssh…” desah Jungkook di sela-sela gerakan brutalnya. “Nikmat sekali, Sayang. Nikmat. Aah…cantik sekali, Cinta…”

Harin nyaris kehilangan kendali tubuhnya. Kejantanan Jungkook terus-menerus menusuk sela-sela pahanya sekaligus menggesek vaginanya. Celana dalamnya sangatlah tipis, jadi ia benar-benar bisa merasakan klitorisnya yang berkali-kali diserang oleh Jungkook.

“J—Jung—ahh!! Jung—kook!! Hanggh!! Pela—”

“Aku tidak akan bisa pelan, Sayang,” jawab Jungkook seraya menggeram. “Setelah lima tahun bersamamu, malam ini aku akhirnya benar-benar menyentuhmu. Apa kau kira aku bisa melakukannya dengan pelan?”

“Ahhh!!!” Harin kembali menenggelamkan wajahnya. Buku jarinya memutih saking kuatnya ia meremas seprai. “Ahh!! Jung—”

“Oh…klitorisnya membengkak, Sayang…” ujar Jungkook dengan nada memuja. Matanya menatap Harin dengan penuh cinta…seolah-olah kewarasannya bergantung pada Harin saat itu.

Libidonya pada Harin sangatlah tinggi, begitu pula sex drive-nya. Namun, dia menahan semua itu…untuk Harin. Harin salah besar kalau berekspektasi bahwa dia akan ‘pelan-pelan’ saat akhirnya bisa menyentuh bagian privat gadis itu.

Harin mendesah, pipinya lagi-lagi merona. Namun, tiba-tiba gerakan Jungkook jadi semakin kuat. Dia seolah-olah hilang kontrol akan hasratnya. Dia kehilangan kuasa atas nafsu berahinya. It’s like something clicked inside of him; something just snapped. Harin serasa sedang disetubuhi oleh monster.

Spontan Harin kembali mendongak. Mulutnya menganga; ia berteriak. Secara mendadak juga, Jungkook menarik kedua tangannya ke belakang. Membuat cengkeramannya pada seprai itu terlepas begitu saja.

Jungkook tak lagi mencengkeram pinggulnya sebagai tumpuan. Pemuda itu menarik dan mencengkeram pergelangan tangannya, lalu menyodoknya dari belakang. Menungganginya.

Setiap tusukannya jadi terasa semakin kuat. Semakin dalam. Semakin gila.

Semakin perkasa.

Tubuh Harin sampai ikut tertarik ke atas. Kini dadanya tidak lagi bertemu dengan permukaan kasur. “Haaaangghh!!! AH!! Ahngg—Jung—Jungkook!! Angh!!! Haa—”

Headboard ranjang Harin menabrak-nabrak dinding kamarnya dengan hebat. Dia lagi-lagi merasa seperti sedang disetubuhi sungguhan; dia seolah-olah akan dihamili saat itu juga.

Sebentar. Bukankah ini basically…straight out…

 

…sex?

 

Melihat payudara indah Harin yang berguncang hebat akibat gerakan brutal itu, Jungkook spontan mengerang dan berkata, “Ahh… Vaginamu pasti sangat nikmat, Sayang… Sangat sempit; sangat kenyal. Itu diciptakan untukku, Sayang. Aku bisa gila hanya dengan membayangkannya…”

Dengan cepat, Jungkook membuka pakaiannya. Dia membuka leather jacket-nya, lalu dalam satu gerakan, dia membuka body fit t-shirt-nya yang berwarna hitam. Jaket serta kaus itu dilempar ke lantai begitu saja, menyisakan Jungkook yang benar-benar shirtless, bahkan celana jeans dan boxer-nya juga diturunkan ke bawah karena sedang menggagahi Harin. Ritsleting jeans itu terbuka sempurna.

Jungkook bertelanjang dada. Tubuhnya yang berotot dan bertato itu terlihat dengan jelas; ia juga cukup berkeringat akibat aktivitas yang saat ini sedang ia lakukan bersama kekasihnya. Tato yang ada di lehernya, di kedua lengannya...serta yang ada di punggungnya (by the way, Harin belum pernah melihat tato yang ada di punggung itu), semuanya tampak jelas. Semua otot yang ada di perutnya dan lengannya juga terlihat sangat kentara. Urat-urat di lengannya menonjol saking kencangnya ia menarik tangan Harin sekaligus mendorong kejantanannya, mencoba untuk merasakan seluruh permukaan paha dan vagina Harin.

Rahang Jungkook semakin mengetat. Ia benar-benar kalap. Otaknya berkali-kali mengulang, ‘Harin, Harin, Harin’ hingga tak ada lagi ruang untuk memikirkan hal lain.

“Argh…Riiiin…” erang Jungkook. “Sayaang…”

Sementara itu, Harin tak berhenti mendesah kencang. Ia tak mampu memproses ucapan Jungkook lagi. Otaknya serasa blank akibat tusukan-tusukan brutal itu.

“Cairannya keluar terus, Sayang…” ujar Jungkook dengan manja, desperate. “Enak, Sayang?”

Tiap dirty talk yang Jungkook ucapkan terasa sangat-sangat kotor. Dia tidak mengucapkan kalimat kotor yang berupa teasing atau in control; dia mengucapkan itu seperti kerasukan oleh obsesinya sendiri. Dia tak peduli bila itu terdengar menjijikkan atau liar, dia hanya mengatakan apa yang otaknya pikirkan atau apa yang tubuhnya rasakan saat itu. Itu membuat ucapannya jadi sangat vulgar.

Dia tak pernah memfilter ucapannya; dia mengatakan persis seperti apa yang dia khayalkan. Kata-katanya sendiri sangat eksplisit, tanpa eufemisme. Dia tegas. Gamblang. Dia juga tidak malu; dia ingin Harin tahu seberapa besar gadis itu membuatnya gila. Kau bisa merasakan keputusasaan di balik kata-katanya karena itu bukan hanya nafsu berahi, itu adalah pengabdian tak waras yang dikemas dengan kata-kata kotor.

“Ah—a—aku—ah—ah! Ahh—” Desahan Harin tersendat-sendat akibat dahsyatnya hunjaman Jungkook. Suaranya bergetar karena guncangan hebat itu. “Agh!!! O—Ohh—”

“Oh, Tuhan—” Jungkook mendongak, memejamkan matanya sejenak…hanya untuk kembali menunduk dan menatap Harin dengan nafsu yang tak terbendung. Dia benar-benar geram. “Sial, Sayang. I can’t. Aku harus merasakanmu.”

Mendengar itu, Harin—yang belum sepenuhnya sadar—hanya sedikit menoleh ke arah Jungkook dengan mata sayu dan pipi merahnya. “E—h…?”

Jungkook melepaskan kedua tangan Harin, membuat Harin berada dalam posisi merangkak—on fours—dan dari wajah lemasnya itu, agaknya Harin belum benar-benar bisa mencerna apa yang terjadi. Setelah itu, secara tiba-tiba…

…Jungkook melepaskan celana dalam Harin.

Mendorongnya ke bawah…hingga hampir ke area lututnya. Harin sempat berteriak, “Ah!! Jungkook—mengapa—"

Sekarang, bokong Harin benar-benar terpampang jelas di depan mata Jungkook.

…dan pemuda itu terpaku. Dia memandangi bokong Harin dari belakang dengan mata yang melebar. Mulutnya terbuka.

Cantik… Cantik sekali. Bentuknya bulat, indah, dan terlihat…lembut.

Jungkook meneguk ludahnya, lalu mengetatkan rahang. Matanya memancarkan gairah yang sudah terbakar. Kejantanannya berdenyut.

 

Dia bisa melihat belahan vagina Harin dari belakang.

 

“Sial, Sayang!” erang Jungkook. Pemuda itu langsung memosisikan dirinya kembali di belakang bokong Harin dan menyelipkan kejantanannya di antara kedua paha Harin. Dia memastikan penisnya mengenai bokong Harin yang bergoyang dan juga masuk di antara belahan vagina Harin…agar bisa menghantam klitorisnya.

“AHHH!!!!” teriak Harin ketika Jungkook menumbuk klitorisnya dengan sangat kuat dan cepat, seperti seekor binatang buas. Lengan Harin mendadak melemah dan kembali terlipat karena tak sanggup menahan guncangan itu. Dia mencengkeram bantal, merasakan kenikmatan yang luar biasa hingga tubuhnya berkali-kali serasa tersengat listrik, berkali-kali tersentak. Jungkook sangat tahu titik-titik terlemahnya dan pemuda itu terus-menerus menyerang di area itu.

“Ooh…kau nikmat, Sayang… Nikmat sekali. Kau begitu nikmat…” puji Jungkook dengan penuh damba. Dia mengucapkan pujian itu dengan suara seraknya yang seksi. “Ah…aku sangat ingin bercinta denganmu.”

Oh, God. It feels so good.

“I love you, Sayang… I’m so in love with you,” ungkap Jungkook dengan putus asa. Dia mengucapkan itu seraya masih menusuk paha Harin. “So…in love…with you…”

Jungkook mengerang, dahinya berkerut. Pernyataan cinta itu mengalir bagaikan mantra. Keringat muncul di dahinya, di lehernya, di dadanya, dan di perutnya.

Oh, melakukan ini dengan Harin adalah olahraga ternikmat. “Sayang… Ratuku…”

“J—Jungkook—ahh!! Jungkook…!”

“Hmm?” tanya Jungkook dengan mesra. “Iya, Sayang…?”

Harin mendesah kencang, tetapi pipinya kembali merona. Bisa-bisanya Jungkook berbicara dengan manja saat sedang menghunjamnya seperti ini!!

“Jung—kook—ah!!—Jung—” Suara Harin terputus-putus. “T—Tadi—oh!! Haangh!! K—Kau bilang—tidak perlu—hnggh!! Tidak perlu melepas celana da—"

Jungkook tersenyum, lalu mencium punggung Harin. Kecupannya begitu sensual. “Maafkan aku, Sayang... Aku takkan benar-benar menyetubuhimu, tetapi biarkan aku merasakanmu. Aku sangat menginginkanmu…”

“Ahhh!! J—Jangan di—” Sebelah tangan Harin refleks meraih tangan Jungkook yang sedang mencengkeram pinggulnya. “Jangan dimasukkan—ya…? Angh!!”

Jungkook menggeram. Tiap kali Harin berkata seperti itu—seolah-olah memohon padanya—hal itu justru memancingnya untuk semakin liar. Memancingnya untuk benar-benar mendorong kejantanannya masuk ke liang Harin yang sempit itu.

“Sayang, sudah kubilang jangan memancingku.”

Tiba-tiba saja, Jungkook meraih tubuh Harin. Pemuda itu mengangkat tubuh Harin hingga gadis itu berada dalam posisi yang sama sepertinya (punggung tegak, berlutut), lalu dia memeluk gadis itu dari belakang.

Harin lagi-lagi cukup lambat dalam memproses apa yang sedang terjadi. Dia merasa tangan kanan Jungkook tiba-tiba melingkari tubuhnya dari belakang dan menangkup payudara sebelah kirinya. Meremas payudara itu dengan kencang hingga ia berteriak. Sementara itu, tangan kiri Jungkook memeluk pinggangnya. Tubuhnya benar-benar dikunci. Dipenjara.

Jungkook pun kembali menghunjam sela-sela pahanya dengan keras. Rough. Cairan dari kelamin mereka membuat penyatuan itu menimbulkan bunyi yang sangat kotor. Cabul.

Kalau kau bertanya soal kewarasan Jungkook, itu tidak akan ada bila ia sedang bersama Harin.

“Ohh!! Jungkook—Jungkook!! Aaaangh!! Ah, ah!!! Nghh!!!” desahan dan teriakan Harin bercampur jadi satu. Harin sudah tak bisa mengontrol suaranya lagi; ia bahkan sudah tak bisa memikirkan soal ‘apa yang akan tetangganya pikirkan kalau mereka mendengar semua ini?’

Pikirannya kosong. Kosong melompong. Dia terus merengek, menangis, mendesah, berteriak, dan hanya bisa bersandar di dada bidang Jungkook seraya mendongak. Dia aslinya sedang marah pada Jungkook, tetapi…dia tak bisa lari dari kenikmatan luar biasa yang pemuda itu berikan padanya malam ini. Jungkook terus menghunjamnya, meremas payudaranya…sambil menggigit lehernya dengan kuat.

Sejak tadi…Jungkook memang agak aneh…

Apa…yang sebenarnya terjadi pada Jungkook?

“Jungkook—anghh!!! Se—sebentar—a—aku—” Harin menunduk, dia mencengkeram kedua tangan Jungkook yang sedang mengunci tubuhnya. Dia pun menganga. “O—Oh!! Anghhh!”

Saat tiba-tiba Jungkook menarik putingnya, Harin spontan berteriak kencang. “AHHH!!!”

Jungkook melepaskan gigitannya pada leher Harin, lalu menarik wajah Harin agar menoleh kepadanya. Setelah itu, dia langsung mencium bibir Harin dengan penuh gairah. Dia melumat dan menggigit bibir Harin, memasukkan lidahnya ke dalam mulut Harin, dan melilit lidah Harin bersamanya. Ciuman itu sangat panas, sangat liar, dan sangat cepat. Saat ciuman itu terlepas, Jungkook langsung mengerang. “Argh…Sayaang... Jangan pernah tinggalkan aku. Jangan tinggalkan aku. Aku akan mengikutimu ke mana pun kau pergi, hm?”

Harin hanya terus mendesah; telinganya mendengar ucapan Jungkook, tetapi otaknya belum sampai ke sana untuk bisa merespons. Jungkook menggigit telinganya sejenak, lalu menggeram dan melanjutkan, “Aku akan mengikutimu sampai aku mati. Kau dengar aku?”

Jungkook mendongak, merasakan betapa nikmatnya melakukan itu bersama Harin. Dia berfantasi bagaimana jika penisnya benar-benar masuk ke liang senggama Harin. “Oh…Sayang…ssh… Boleh aku menjilat vaginamu?”

Mata Harin membulat. Ia spontan menoleh dengan mata sayunya itu. “E…h?”

Jungkook menciumi leher Harin dengan sangat lembut, sangat sensual. Bunyi kecupannya terdengar begitu erotis. Oh, momen ini terasa semanis madu. Memabukkan. Membuat Jungkook tergila-gila. “Boleh, Sayang? Aku akan membersihkan seluruh cairanmu…”

Wajah Harin memerah bak kepiting rebus. Itu—itu maksudnya—

Belum sempat Harin merespons kalimat Jungkook, tiba-tiba saja Jungkook mencabut penisnya dari antara paha Harin. Dia langsung membalikkan tubuh Harin dan mengempaskan Harin ke ranjang. Harin terperanjat; dia membulatkan mata tatkala punggungnya kembali menghantam permukaan ranjang.

Harin menggeleng. “Se—sebentar—Jungkook—apa yang—”

Jungkook tidak menghiraukan ucapan Harin sama sekali. Dalam waktu sepersekian detik, ia langsung mengangkat kedua kaki Harin ke atas; dia mendorong bagian belakang paha Harin hingga kedua kaki gadis itu naik ke atas dan mengangkanginya. Harin bisa melihat bagaimana lututnya hampir sejajar dengan dadanya sendiri saking jauhnya Jungkook mendorong kakinya. Jungkook ingin melihat semuanya.

Seketika, Harin merasa seratus persen terbuka di depan Jungkook.

Tatapan mata Jungkook langsung tertuju ke tengah-tengah. Ke vagina Harin yang terbuka sempurna. Bagian dalam vagina Harin tampak begitu merah dan dipenuhi cairan kental akibat aktivitas mereka sejak tadi; bibir vaginanya betul-betul terbuka lebar. Klitorisnya yang membengkak itu seolah-olah tak mampu lagi bersembunyi. Setelah itu…bagian liang senggamanya yang ketat itu…

Oh, fuck.

Jungkook bisa melihat semuanya. Semuanya.

Pemuda itu tak berkedip. Ia menatap vagina Harin dengan penuh damba, penuh nafsu, penuh obsesi. Itu terlihat begitu menggugah selera.

She is so beautiful. Everything about her is so beautiful. So delicious. So fucking sexy. So tempting. So juicy. So…damn perfect.

Jungkook meneguk ludahnya dengan kasar; jakunnya naik turun. Lima tahun lamanya mereka bersama, baru kali ini dia benar-benar melihat bagian terprivat Harin. Dia sampai bisa melihat anus Harin karena kaki gadis itu terangkat terlalu tinggi. Agaknya, akal sehatnya takkan kembali lagi setelah ini. Rangsangan ini sungguh luar biasa. Jika ini adalah malam terakhirnya hidup di dunia, ia akan tetap bahagia. Namun, setelah mati nanti, ia akan tetap mampir ke apartemen Harin setiap hari untuk menghantui gadis itu dan menggagahinya setiap malam.

Harin spontan menutup area privatnya itu dengan kedua tangannya. Pipi Harin merona luar biasa, warna merahnya sampai ke telinga.

“J—Jungkook…kumohon…sudah…” pintanya. “Jangan dilihat…”

Ah. Sial. Lagi-lagi, permintaan itu justru berefek sebaliknya pada Jungkook. Pemuda itu kontan menggertakkan giginya.

Tanpa aba-aba, dia pun langsung menarik celana dalam Harin (membuangnya ke lantai) dan mencengkeram kedua tangan Harin dengan satu tangannya. Dia lalu membawa kedua tangan Harin ke samping dan menahan pergelangan tangan itu dengan sangat kencang hingga Harin tak bisa melepaskan diri sama sekali. “Ah! Jung—”

Kata-kata Harin terputus ketika tiba-tiba saja, Jungkook mengisap vaginanya.

“AAHHH!!!” Harin berteriak; ia bisa merasakan bagaimana lidah Jungkook menyapu vaginanya. Mulai dari bagian bawah bibir vaginanya, ke area tengah…lalu ke dekat klitorisnya. Pemuda itu benar-benar menjilat dan membersihkan seluruh cairan Harin yang sudah bercampur dengan precum-nya sendiri. Dia menjilat dan menelan semuanya.

Agar vagina Harin tetap terbuka, Jungkook tetap menahan kaki kanan Harin dengan sebelah tangannya yang bebas. Dia merangsang bibir vagina dan liang senggama Harin dengan lidah dan bibirnya; dia juga berdeham sesekali untuk menghasilkan getaran. Hal itu sukses membuat tubuh Harin menggeliat. Gadis itu terus mendesah—dia hampir menangis—tetapi tatkala Jungkook tiba-tiba mengisap klitorisnya, dia lantas terkesiap. Punggungnya kontan melengkung, matanya membulat, mulutnya menganga, dan sekujur tubuhnya bergetar hebat. Itu terasa seperti sengatan yang benar-benar dahsyat.

“AAAHHH!!!! Ahhh!! J—Jungkook—ahh—i—itu—aahngghhh!! AH!” Air mata mulai mengalir ke pipinya, ia benar-benar tak tahan dengan seluruh kenikmatan itu. “J—Jungkook—tolong—tolong berhenti—aku—ahhh!! Aku—”

Kedua kaki Harin menegang. Her toes curls; dia menarik tangannya sendiri dari cengkeraman Jungkook karena tak tahan…dan Jungkook mengizinkannya. Pergelangan tangannya memerah, tetapi ia tak merasa sakit sama sekali. Soalnya, kenikmatan yang tengah ia rasakan itu telah mengalahkan semuanya. Setelah terbebas, kedua tangannya pun langsung mencengkeram rambut Jungkook yang masih mengisap vaginanya dengan penuh gairah. Rambut Jungkook berantakan dibuatnya, tetapi hal itu justru membuat Jungkook semakin bersemangat.

“Jung—kook…su—sudah—AHHHH!!” Dia berteriak saat Jungkook menggigit klitorisnya. Dia hampir klimaks karena gigitan itu; sesuatu di dalam dirinya terasa mau meledak, tetapi dia takut. Dia tak ingin Jungkook terkena cairannya. Dia terengah-engah, suaranya hampir habis, tetapi biarpun begitu, ia tetap berusaha untuk berbicara, “Jungkook—hnggh!! Su—sudah, ya…? Anghhh—itu—itu sudah bersih…Jungkook…”

Oh, damn. Jungkook tahu itu. Sejak awal, tujuan pemuda itu tidak hanya untuk membersihkan, melainkan membersihkan…dengan ‘bonus’.

Jungkook sudah tak tahan lagi. Kejantanannya sudah sakit. Melihat Harin yang benar-benar telanjang di bawahnya, berbaring telentang sambil mengangkang untuknya, tubuh yang bergetar dan pipi yang memerah, payudara yang bergoyang seirama dengan napas Harin yang terengah-engah…

Gila. Jungkook sudah gila.

Harin bisa mengambil nyawanya saat ini juga.

Mengetatkan rahang, Jungkook pun langsung memosisikan dirinya di tengah-tengah kedua kaki Harin. Dia menindih tubuh Harin, mengungkung tubuh Harin dari atas. Tubuhnya yang besar dan berotot itu benar-benar sukses menutupi tubuh Harin sepenuhnya. Setelah itu, dia pun mencium bibir Harin bagaikan tak ada hari esok. Mereka berciuman panas selama semenit…tetapi selama semenit itu, Harin beberapa kali terkejut di dalam ciuman itu karena Jungkook mulai menggesekkan kejantanannya ke vagina Harin. Pemuda itu menggesekkan penisnya…lalu bergoyang memutar. Memijat klitoris Harin. Membuat Harin kehilangan akal sehatnya.

“Hmmp—” Desahan itu tertahan di mulut Harin karena Jungkook memperdalam ciuman mereka. Tangan Jungkook juga tak pernah diam; tangan besarnya yang dipenuhi dengan urat itu sibuk meremas payudara Harin. Tatkala dia tiba-tiba mencubit puting Harin, gadis itu refleks melepaskan ciuman mereka dan berteriak.

Di sisi lain, begitu ciuman itu terlepas, Jungkook langsung mencumbu leher Harin dan berbisik dengan penuh permohonan. “Peluk aku, Sayang… Peluk aku.”

Secara refleks, karena merasa bahwa tusukan Jungkook di bawah sana mulai semakin kencang, Harin pun memeluk leher Jungkook.

Namun, ternyata, itu adalah penanda dimulainya aktivitas brutal itu kembali. Karena begitu Harin memeluk lehernya, Jungkook langsung menggesekkan kejantanannya ke vagina Harin dengan brutal. Membelah vaginanya dan menumbuk klitorisnya habis habisan. Sebelah tangannya mengangkat kaki kanan Harin ke atas—urat-urat di lengan bertatonya itu sampai menonjol saking kuatnya ia mencengkeram paha Harin—sementara sebelah tangannya lagi tengah memegang bagian belakang kepala Harin. Dia menggigit leher Harin hingga leher gadis itu penuh dengan bercak merah. Dia mengeluarkan seluruh hasratnya saat itu. Melampiaskan seluruh rasa cintanya. Rasa inginnya. Rasa rindunya. Obsesinya. Kegilaannya.

Semuanya.

Ah, dia benar-benar dimabuk asmara. Mabuk berahi. Kasmaran.

Dia berkali mencium-cium wajah Harin, menjilat dan menggigit telinga Harin, dan berakhir saling pandang dengan Harin saat kedua alat kelamin mereka saling bergesekan satu sama lain. Harin terus mendesah, memanggil nama Jungkook dengan nada memohon, berteriak, dan Jungkook membalasnya dengan ciuman mesra. Hidung mereka bersentuhan saat Harin memejamkan matanya kuat-kuat akibat kewalahan menerima rangsangan hebat dari Jungkook, sementara Jungkook menatapnya dengan penuh gairah. Penuh hasrat yang membara. Penuh cinta.

He worships her. Obsessed with her.

Mereka berciuman kembali. Ketika ciuman itu terlepas, gerakan Jungkook semakin tak terkendali. Desahan Harin juga semakin tak terkontrol; tubuhnya membutuhkan Jungkook. Dia membutuhkan pelepasan.

“Aargh…” erang Jungkook di ceruk leher Harin. Gerakan dan goyangannya sungguh tidak waras. Ranjang itu berdecit, seprainya sangat berantakan, headboard-nya menghantam dinding seolah-olah ada gempa dahsyat yang sedang terjadi. “Oh, My Love. My Queen…”

Harin terengah-engah, desahannya terputus-putus; suaranya tak bisa keluar dengan benar karena tubuhnya sedang berguncang dahsyat. Tubuhnya terentak-entak ke atas akibat dorongan keras Jungkook. “Jungkook, aku—ahh! Aku—aku sepertinya—m—mau—"

“Aah…Sayang—” Jungkook menggertakkan giginya. Dia juga merasakan hal yang sama. “Sayang… Sayang…”

“Aaanghh!! Jungkook… Jungkook…!” Harin menggeleng kencang; dia tanpa sadar melakukan banyak hal karena overstimulation. Dia memeluk leher Jungkook dengan semakin erat, meremas rambut pemuda itu, dan mencakar punggungnya. “Aanghh!! Ohhh!! J—Jung—”

Jungkook mengerang hebat tatkala menyadari bahwa Harin melakukan banyak hal padanya dalam keintiman mereka ini. Harin menyentuhnya. Harin berpegangan dengannya. Harin meneriakkan namanya. Harin mencakar punggungnya, meremas rambutnya, dan memeluk lehernya dengan putus asa. Tak ada lagi jarak di antara mereka; kulit ke kulit, kelamin bertemu kelamin… Mereka tak pernah sedekat ini selama lima tahun mereka berpacaran. Mimpi-mimpi liarnya malam ini menjadi kenyataan, meskipun dia belum sampai memasukkan penisnya ke dalam vagina Harin. “Argh, Sayaang… My Rin… Boleh kukeluarkan di perut, Sayang?”

Harin tak merespons apa-apa karena akal sehatnya sudah melayang entah ke mana. Ia hanya mendesah; ada air mata yang muncul di sudut matanya. Air mata karena merasa terlalu nikmat.

Jungkook menggeram. Gerakannya yang sudah sangat cepat itu kini semakin tak masuk akal karena dia tengah mengejar klimaksnya. “Aaargh—Sayang—Sayaaang—kukeluarkan di perut, ya? Hm? Ya, Sayang? Aargh—”

“Ah! Ha—angh!! Ahhh!! Jungkook! Jungkook…! Aku—aku—OHHH!!!”

Harin klimaks lebih dulu, tetapi segera setelah itu, Jungkook menggeram dan langsung mengangkat kejantanannya untuk diletakkan di atas pusar Harin.

Dia pun orgasme di sana. Menyemburkan spermanya di perut Harin.

Harin bisa merasakan hangatnya cairan Jungkook. Jungkook mengerang hebat ketika mengeluarkan cairan itu; dia merasa seperti berada di atas awang-awang. Dia merasakan puncak kenikmatan; isi kepalanya seakan memutih semua.

…dan cairan itu…

sangat banyak.

Banyak sekali…hingga mengalir ke kasur karena terlalu penuh di perut Harin. Harin menyaksikan semua itu sambil masih terengah-engah, masih high, dan masih lemah. Matanya masih sayu, pipinya masih merah…tetapi ia bisa melihat bagaimana kejantanan Jungkook menyemburkan cairan itu berkali-kali di perutnya.

Jungkook langsung mencium bibir Harin begitu ia selesai orgasme. Ciuman itu panas, tetapi sangat mesra. He just can’t get enough of her.

Namun, jauh di dalam benaknya, Harin memikirkan satu hal. Satu hal yang sukses membuat jantungnya hampir berhenti berdegup dan pipinya kembali memanas hingga ke telinga.

Jika tadi mereka melakukan sex yang sebenarnya, dengan penetrasi,

…dan sperma Jungkook keluar sebanyak itu di dalam vaginanya,

…dia…mungkin akan…

…hamil.

 

******

 

Jungkook menciumi seluruh bagian wajah Harin dengan mesra. Mereka berbaring menyamping, sama-sama telanjang, tetapi sama-sama berada di dalam selimut. Mereka tidur berhadapan dan Jungkook memeluk tubuh Harin sekaligus menciumi wajah gadis itu.

Berbeda dengan Harin yang lelah bukan main, Jungkook justru terlihat…segar. Dia agaknya malah jadi sehat sentosa setelah memadu kasih dengan Harin. Dia tersenyum, memberikan Harin tatapan teduh, lalu menciumi pipi, leher, mata, kening, serta bibir Harin dengan sangat mesra.

Seprai ranjang itu sekarang benar-benar dibuka karena penuh dengan cairan bercampur keringat mereka. Seprai itu sangat basah dan menjadi bukti atas betapa brutalnya ‘kegiatan’ yang mereka lakukan malam itu, betapa panjang dan kasarnya malam itu, padahal belum sampai…benar-benar ‘masuk’.

Bagaimana kalau sampai…dimasukkan?

Baju Harin berserakan di lantai, begitu juga baju Jungkook. Beberapa barang juga terjatuh dari nakas karena tadi ranjangnya berguncang hebat.

Harin…benar-benar ‘disetubuhi’ habis-habisan…oleh Jungkook. Tubuhnya merah-merah semua. Ada bekas gigitan, isapan, dan cengkeraman. Kalau boleh jujur, vaginanya juga terasa…sakit. Bukan sakit karena terluka, tetapi lebih ke…

…dia masih bisa merasakan tusukan-tusukan Jungkook di sana. Vaginanya…masih mengingat sensasi itu. Hunjamannya…

…masih terasa…

 

“Sudah mau tidur, Sayang?”

 

Harin tersentak. Ia yang sejak tadi hanya diam karena sudah lemas—dan sedang diciumi oleh Jungkook—pun melebarkan mata. Ia lantas menatap Jungkook…dan mencoba untuk berbicara, meskipun suaranya sangat serak.

Ah. Sadar akan suaranya yang jadi serak, pipi Harin pun memerah. Seharusnya dia langsung mengusir Jungkook saat Jungkook datang ke apartemennya. Seharusnya dia marah dan menampar Jungkook saat Jungkook menciumnya. Namun, mereka malah…berakhir seperti ini. Mereka malah berakhir telanjang…di atas ranjangnya, setelah berhubungan seksual dengan buas tanpa penetrasi. Dia juga malah mendesah hebat di sepanjang aktivitas itu. Tenggelam di dalam samudra cinta…yang Jungkook luapkan padanya.

“B—Belum, Jungkook,” jawab Harin, mencoba untuk menjawab dengan nada biasa. Dia malu bukan main saat mengingat apa yang telah mereka lakukan barusan, terutama ketika melihat wajah tampan Jungkook yang menatapnya dengan lembut. Dia ingat bagaimana wajah tampan itu terlihat saat empunya merasa nikmat. Dia ingat bagaimana Jungkook memberikan ekspresi putus asa saat memohon padanya, dia ingat bagaimana kening Jungkook berkerut saat fokus menggagahinya, dia ingat bagaimana Jungkook membuka mulutnya dan mengerang, dia ingat bagaimana mata Jungkook menatapnya dengan penuh gairah…

Tanpa bisa dicegah, pipi Harin pun kembali merona.

Jungkook tersenyum miring, lalu menggigit hidung Harin dan berbisik, “Tidur, Cinta. Besok kita pergi ke kampus bersama, ya?”

Harin menunduk. Di luar dari apa yang telah mereka lakukan malam ini, ia sebenarnya…agak ragu untuk mengiyakan ajakan itu. Jauh di dalam hatinya, dia masih…marah. Belum ada penyelesaian atas masalah mereka. Belum ada penjelasan yang konkret atas segala kebohongan Jungkook.

“Rin…” bisik Jungkook di antara helaian rambut Harin. “Aku mencintaimu, Sayang…”

Jungkook mulai mencium daun telinga Harin, merintih halus, lalu dengan pelan…ia mendorong bahu Harin agar gadis itu berbaring telentang. Ia pun mulai menciumi Harin lagi, dari atas ke bawah. Dari kening, hidung, bibir, leher, lalu turun ke bawah…hingga ke antara payudara Harin…dan ke perut Harin.

“Hmmh…” Dia merintih pelan, seolah-olah merasa sakit karena terlalu menginginkan Harin. “I love you, Sayang…”

Setelah itu, dia naik ke atas lagi dan mengisap payudara Harin. Dia menyedot puting Harin secara bergantian, sukses membuat Harin kembali tersentak. “Ah!”

Jungkook pun melepaskan puting Harin dan mengecupnya dengan sensual, lalu tersenyum miring. Ia kemudian mendekatkan wajahnya dengan wajah Harin—menempelkan hidung mereka—dan berbisik, “Ah, aku benar-benar harus berhenti…atau kita akan melanjutkan ronde kedua.”

Pipi Harin memerah. “Jungkook!”

Jungkook tertawa kecil. Sangat lembut. “Di ronde kedua, aku tak yakin aku bisa merasa cukup hanya dengan gesekan. Aku benar-benar akan memerawanimu. Jadi, berhati-hati, ya. Jangan memancingku.”

“Aku tidak pernah memancingmu!” protes Harin. Jungkook tersenyum miring.

“Kau hanya tidak sadar, Cinta.”

Jungkook mencium kening Harin, lalu kembali berbaring di samping gadis itu. Dia menarik gadis itu kembali ke pelukannya.

Mereka berdua sama-sama diam selama beberapa saat. Jungkook diam karena merasa sangat nyaman berada dalam posisi itu, tetapi akibat keheningan itu, pikiran Harin kembali melanglang buana.

Dia kembali memikirkan sesuatu yang sejak tadi membuatnya bertanya-tanya, yaitu:

 

Apa yang sebenarnya terjadi pada Jungkook?

 

Maka dari itu, Harin pun sedikit mengangkat wajahnya. Menatap Jungkook…yang sedang memejamkan mata.

“Jungkook.”

Kedua mata Jungkook langsung terbuka. Dia tersenyum lembut, lalu menjawab, “Ya, Sayang?”

“Apa…yang terjadi padamu hari ini?”

Mata Jungkook melebar.

Pemuda itu terdiam sejenak…dan Harin bisa melihat bagaimana pertanyaan itu berhasil membuat napasnya tertahan.

 

Ah, something indeed happened.

 

Tiga detik kemudian, Jungkook pun tersenyum sambil menghela napasnya.

 

“Terasa, ya?”

 

Harin mendengkus. Bagaimana mungkin Jungkook ‘tidak terasa’ berbeda? Dia jelas-jelas menusuk Harin habis-habisan tadi!

Harin menatap Jungkook dengan tajam. “Sesuatu pasti telah terjadi padamu.”

“Hm,” deham Jungkook seraya mencium hidung Harin.

Harin mengernyitkan dahi saat tubuhnya kembali dipeluk oleh Jungkook.

Setelah itu, pemuda itu pun membuka suara.

 

“Tadi, ketika aku ikut balapan, Jimin membuat sebuah taruhan.”

 

Harin kontan menyatukan alis. Taruhan? Jimin?

 

Sebentar. Apakah itu…Kak Jimin? Senior di kampus serta senior di klub balap mobil itu, ‘kan? Kak Park Jimin yang itu?

Taruhan apa?

 

Meskipun berbagai pertanyaan berputar di kepalanya, Harin tetap berusaha untuk tenang. “Taruhan?”

“Hmm.” Jungkook mengangguk. “Dia bilang…kalau dia menang, aku harus memberikanmu padanya.”

Mata Harin spontan membulat.

 

Apa?

Apa-apaan yang sedang terjadi?

Kak Jimin yang itu? Mengatakan itu kepada Jungkook?

Apakah ini serius?

Mengapa aku tiba-tiba dijadikan sebagai taruhan?!

 

“Apa?” tanya Harin, gadis itu masih mencoba untuk memastikan apa yang baru saja ia dengar. Dia mendongak; dia ingin menatap mata Jungkook secara langsung. Alisnya menyatu.

Jungkook pun mengangguk. Pemuda itu menempelkan kening mereka berdua. “Aku tak menyangka kalau dia menaruh hati padamu. Aku langsung menghabisinya di tempat. Katakan padaku bahwa kau masih bersamaku, Sayang.”

Harin menganga. Gadis itu menggeleng tak habis pikir. “Jungkook, ap—”

Jungkook semakin menarik kepala Harin; kini, hidung mereka pun menempel. Pemuda itu menatap Harin dengan sangat intens. Fokus. Dia memenjarakan Harin hanya dengan tatapannya. “Jangan tinggalkan aku, hm?”

Tubuh Harin mematung.

Suara Jungkook terdengar tegas, tetapi ada…sebuah getaran di baliknya.

Sebuah…

 

…permohonan…

 

Dia memohon agar Harin tak meninggalkannya, tetapi…mengapa dia…

selalu berbohong?

Mengapa dia selalu…membuat Harin bingung dan frustrasi akhir-akhir ini?

 

Harin tak mengerti.

 

Meski sudah bersama Jungkook selama bertahun-tahun…tiap kali Harin merasa bahwa dia sudah lebih mengerti tentang Jungkook, pasti akan ada lagi hal baru yang belum dia ketahui. Jungkook…benar-benar sulit dimengerti. Dia tak bisa dipelajari. Dia seperti puzzle yang sangat sulit untuk diselesaikan. Seperti misteri berlapis…yang sangat sulit untuk dipecahkan. Dia sangat membingungkan.

Namun, Harin jadi paham sesuatu.

Dia jadi paham mengapa Jungkook mengucapkan “Jangan tinggalkan aku,” dan “Aku akan mengikutimu sampai aku mati,” ketika mereka berhubungan tadi.

 

Oh. Andaikan Harin juga sadar bahwa:

 

Itulah sebabnya Jungkook bercinta seperti seekor binatang buas yang sedang putus asa.

 

Karena tak ingin mengatakan ‘ya’ atau ‘tidak’ (soalnya kalau dia bilang ‘ya’, dia belum memaafkan Jungkook, jadi dia tak bisa berjanji. Sementara itu, kalau dia bilang ‘tidak’…dia tahu pasti bagaimana reaksi Jungkook nantinya), Harin pun mengalihkan pandangannya dan berkata, “Aku masih marah padamu.”

Jungkook tersenyum miring.

“Sayaaang… Kan aku sudah menjelaskan semuanya…” ucap Jungkook dengan manja. Dia menciumi pipi dan leher Harin berkali-kali. “Aku berbohong karena aku tak mau bertengkar denganmu.”

Harin mendengkus. Di otak Harin, Jungkook sama saja seperti mengatakan: “Aku merampok bank karena tak ingin melihatmu sedih saat memikirkan tagihan.”

Cara berpikir pemuda itu benar-benar twisted.

Harin tak bisa menerima alasan seperti itu. Kebohongan Jungkook sudah terlalu banyak, termasuk ketika Harin memergokinya flirting atau berduaan dengan perempuan lain. Harin tentu saja tak bisa menerima alasan dangkal seperti itu. Itu sama saja dengan seseorang yang selingkuh, tetapi berbohong kepada pasangan aslinya karena tak ingin bertengkar.

Itu bukanlah alasan. Itu bukanlah penjelasan. Itu hanyalah manipulasi.

Harin diam saja. Rasa sakit hatinya kembali timbul ke permukaan. Sepertinya, seluruh pernyataan cinta Jungkook...

 

...juga merupakan kebohongan...

 

Jantung Harin seakan-akan berhenti berdetak saat hal itu terlintas di benaknya.

Dia pun menelan getir. Ekspresinya blank, padahal saat itu Jungkook tengah menciumi wajah dan lehernya seolah-olah pemuda itu tak pernah bosan. Namun, dia...tak bisa merasakan ciuman itu sama sekali. Pikirannya ke mana-mana. Hatinya terasa pedih. Ada sebuah lembing yang menohok jantungnya.

Untung saja...untung saja, tadi mereka tidak benar-benar melakukan ‘sex’. Untung saja, Harin tidak memberikan keperawanannya kepada Jungkook.

Karena kalau Harin memberikannya, mungkin sebentar lagi...dia akan hancur.

Dia tak tahu sampai kapan hubungan mereka akan bertahan; atau lebih tepatnya, sampai kapan ia akan bertahan.

Rasanya begitu menyakitkan.

 

Mereka sudah lama bersama.

Mereka sudah lama menjadi bagian dari kehidupan satu sama lain...

 

Tiba-tiba saja, ponsel Jungkook yang terletak di atas nakas itu berbunyi. Nakas itu berada tepat di samping kepala Harin sehingga Harin agak tersentak ketika mendengar bunyi dan getaran ponsel itu. Dia pun mencoba untuk memegang kepala Jungkook yang sedang asyik mengisap lehernya. “Jung—kook... Ahh—p—ponselmu...”

Jungkook tak menyahut. Dia tak menghiraukan bunyi itu sama sekali. Dia malah menggigit kecil leher Harin.

“J—Jungkook, coba lihat dahulu...” Harin memohon; gadis itu sedikit mendorong Jungkook agar berhenti menciumi lehernya. “Itu ada panggilan masuk...”

Harin pun mulai membalikkan badannya dan sedikit bangkit untuk melihat ke layar ponsel itu, sementara Jungkook masih sibuk menciumi punggungnya dari belakang.

“Hmmh... Tidak usah dihiraukan, Sayang... Cium dulu...” ujar Jungkook manja.

Namun, tatkala melihat nama yang tertera di layar ponsel itu...

 

...jantung Harin mendadak berhenti berdegup.

 

Itu adalah sebuah panggilan telepon...

 

...dari seorang gadis yang Harin kenal.

 

******

 

Keesokan paginya, Harin bersikap biasa saja. Gadis itu mengantar Jungkook ke pintu depan apartemennya. Dia menatap punggung Jungkook yang tegap serta bahunya yang lebar. Jungkook telah memakai pakaian lengkapnya kembali; body fit t-shirt-nya, leather jacket-nya, dan celana jeans-nya.

Jungkook menghela napas dan membalikkan badan; dia tampak cemberut. “Sayang, kan aku sudah bilang kalau kita pergi ke kampusnya bersama-sama.”

“Aku tak ingat pernah mengiyakannya,” jawab Harin dengan ekspresi datar.

Jungkook ngambek. Harin adalah satu-satunya makhluk yang tak bisa ia rayu. “Rin, ayolah. Aku tidak terbiasa ke kampus tanpamu. Dengan siapa kau akan berangkat kalau tidak denganku, Sayang?”

Jungkook heran bukan main. Yang benar saja? Bukankah dia dan Harin semalam baru saja memadu kasih? Bukankah seharusnya pagi ini mereka masih berada dalam fase berbunga-bunga seperti sedang bulan madu?

Kok Harin malah minta pergi ke kampus sendirian, sih?

“Sudah kubilang, aku mau ke toko buku dahulu,” jawab Harin.

Jungkook mendengkus. “Kan bisa pergi bersamaku. Aku akan mengantarmu ke sana dan menemanimu.”

“Aku mau pergi dengan temanku, Jungkook…” Harin menghela napas. “Sudah, pulanglah. Mandi dan ganti bajumu di rumah, lalu pergilah ke kampus lebih dahulu, tanpaku.”

Ada rasa sakit yang mendadak timbul di dada Harin tatkala mengatakan itu. Namun, Harin mengembuskan napasnya. Dia mencoba untuk menelan rasa sakit itu terlebih dahulu.

“Sayang…” panggil Jungkook. “Teman-temanmu sudah tahu bahwa aku selalu mengikutimu. Mereka takkan heran melihatku ikut ke sana.”

“Kami akan naik mobil Areum, Jungkook,” jawab Harin. “Sudah. Pulanglah. Aku tidak apa-apa.”

“Kau memang tidak apa-apa tanpaku, Rin,” ujar Jungkook. Tiba-tiba, matanya menatap Harin dengan serius. Sangat dalam, sangat fokus, dan sangat tajam. “…tetapi aku tak bisa tanpamu.”

Mata Harin membeliak. Jantungnya hampir berhenti berdegup.

Apa…maksudnya?

Namun, karena tak ingin berlama-lama, karena tak ingin terpengaruh dengan apa pun yang Jungkook katakan—yang mungkin hanyalah tipuan—Harin pun meneguk ludahnya dan berpura-pura tidak mendengar semua itu.

“Kita akan bertemu lagi di kampus nanti, Jungkook,” ujar Harin. Gadis itu mulai…merekahkan senyumnya.

Dia tersenyum pada Jungkook.

Senyuman tipis…yang terlihat sedikit lemah. Sedikit lelah. Namun, dia menatap Jungkook dengan lembut.

Hal itu sukses membuat Jungkook luluh.

Jadi, meskipun berat; meskipun tidak setuju…

 

…Jungkook pun akhirnya menghela napas.

 

“Baiklah, Rin,” ucapnya lirih. “Aku akan meneleponmu, ya, Sayang?”

Harin mengangguk. Gadis itu masih tersenyum. “Hmm.”

Jungkook pun ikut tersenyum lembut. Pemuda itu meraih Harin ke dalam pelukannya, lalu mencium bibir Harin. Ciuman itu berlangsung cukup lama; dia melumat dan menggigit bibir Harin dengan sensual. Tautan bibir itu seolah-olah enggan dia lepaskan; dia sampai memegang rahang Harin untuk memperdalam ciumannya. Harin sampai refleks memegang dada bidangnya karena kewalahan.

Itu terlalu panas untuk sebuah morning goodbye kiss.

Saat tautan bibir mereka akhirnya terlepas—dan menimbulkan bunyi yang sangat erotis—Jungkook pun menempelkan keningnya ke kening Harin seraya tersenyum miring. “See you later, My Queen.”

Setelah pelukan itu terlepas, Jungkook pun berbalik dan membuka pintu apartemen Harin. Harin mengikuti Jungkook hingga ke pagar lantai dua (tempat unitnya berada) dan memperhatikan bagaimana Jungkook menuruni tangga hingga akhirnya pemuda itu sampai di bawah, melewati halaman, dan keluar melalui pagar apartemen.

Mobil Jungkook berbunyi saat pemuda itu menekan sebuah tombol di key fob-nya. Namun, sebelum Jungkook menaiki mobilnya—yakni saat dia baru saja membuka pintu mobil itu—dia sempat mendongak dan menatap Harin yang ada di lantai dua.

Mereka bertatapan…dan Jungkook tersenyum miring pada Harin. Jungkook melambaikan tangannya sejenak dan Harin mengangguk.

Setelah melihat Harin balas tersenyum padanya, Jungkook pun akhirnya masuk ke mobil. Tak lama kemudian, mobil itu pun berjalan...meninggalkan area apartemen Harin.

Saat keberadaan Jungkook sudah tak lagi ada di dekatnya, Harin pun berbalik. Dia masuk ke unit apartemennya dan menutup pintu.

Akan tetapi, begitu dia berdiri di balik pintu itu,

 

…tubuhnya tiba-tiba merosot.

 

Dia tiba-tiba jatuh…terduduk di lantai.

Punggungnya bersandar pada pintu itu, lalu kedua lututnya terangkat. Sebelah tangannya langsung mencengkeram dadanya sendiri, sementara sebelah tangannya lagi langsung mengusap rambutnya frustrasi.

Dia pun…

 

…menangis.

 

Dadanya sesak sekali. Sakit. Rasanya sangat sakit. Napasnya terputus-putus. Air matanya mengalir begitu saja.

Ia menangis tanpa suara.

Pada kenyataannya, ia sama sekali tak lupa dengan apa yang telah terjadi semalam. Ia tak pernah melupakan…semua luka yang telah ia pendam selama ini di balik sikap tenangnya.

Ia tak mau pergi bersama Jungkook pagi ini, jadi ia harus membuat sebuah alasan. Kalau bersama Jungkook, ia harus berpura-pura baik-baik saja. Ia harus menahan dirinya agar tidak meledak. Ia tak ingin Jungkook melihat kelemahannya. Ia tak ingin Jungkook berpikir bahwa ia telah kalah. Maka dari itu, jika ia tetap pergi bersama Jungkook, ia harus memasang topeng itu lebih lama lagi.

Sayangnya, ia tak ingin menahan rasa sakit itu lebih lama. Ia tak ingin memendamnya lebih lama lagi.

…karena tadi malam, saat ia melihat layar ponsel Jungkook karena ada panggilan telepon,

 

…ia melihat nama “Seulhee”.

 

Ada sebuah pisau tajam yang serasa menikam jantungnya saat nama itu kembali terlintas di otaknya.

Harin kenal siapa Seulhee. Seulhee adalah gadis tercantik di universitas mereka. Seulhee terkenal karena kecantikannya. Gadis itu juga merupakan anak dari seorang pengusaha kaya; dia dan para gadis yang ada di circle pertemanannya adalah orang-orang elite yang sangat populer di kampus.

…dan Seulhee…

…akhir-akhir ini dekat dengan Jungkook.

Harin sering mendengar rumor yang mengatakan bahwa Seulhee dan Jungkook itu dekat. Mereka dikabarkan sering bersama, sering bermesraan, bahkan ada yang mengatakan bahwa Jungkook berpacaran dengan Seulhee meskipun masih ada Harin.

…dan Harin…

 

…juga pernah melihat kedekatan mereka dengan mata kepalanya sendiri.

 

Sekarang, semua keraguan Harin seakan terkonfirmasi.

 

Lihat?

Jungkook tidak benar-benar mencintaiku.

Dia memang hanya berbohong.

Saat ini, aku hanyalah salah satu…

…dari sekian banyak gadis yang dekat dengannya. []

 














******





Note: Oke, jadi kan, Harin itu sebenarnya original character. Aku nggak pakai artis untuk visualnya, tapi kalau misalnya mau 'gambaran' yang kira-kira cocok untuk dia, aku punya gambar 3D (kayaknya hasil AI) yang aku dapat dari Pinterest. Foto ilustrasi ini cocok untuk dia, vibe-nya sama, style-nya sama. Aku nemu gambar ini tanpa sengaja dan langsung aku download karena ini ngingetin aku sama Harin dari Fraudulent. Ini dia:



Nah, bayangin aja versi manusianya gimana. Ini versi AI-nya.

Jadi, dia itu emang cantik. Cantik, tapi gaya berpakaiannya bukan tipe-tipe "malaikat di kebun bunga", melainkan tipe elegan yang keliatan pinternya. Sip?








Me while writing this chapter: astaga jorok banget tapi mau gimana, karakter cowoknya emang nggak waras 😭😭😭




No comments:

Post a Comment

She Was Never Mine (Bab 4: Segalanya Untuknya)

  ****** Bab 4 : Segalanya Untuknya   ******   LANTUNAN lagu di radio terdengar begitu merdu saat Josh baru saja memberhentikan mo...