Chapter
4 :
Unzip
Those Jeans
******
TANGAN kiri
Jungkook mulai memegang pipi bokong Harin yang sangat bulat dan kenyal itu. Ia
mengerang tatkala meremasnya dengan sensual. Sementara itu, Harin sejak tadi
menggigit bibirnya dan meremas seprai dengan kencang, mempersiapkan dirinya
untuk apa yang akan terjadi beberapa detik setelah ini. Jantungnya berdegup
dengan sangat kencang; dia sendiri bisa mendengar degup jantungnya.
Tiba-tiba
saja, Harin merasa kalau Jungkook mencium pipi bokongnya—yang sebenarnya
masih tertutup celana dalam tipis itu—beberapa kali. Harin tersentak; gadis itu
membulatkan mata dan tanpa sadar mengeluarkan suara, “Hng!”
Ah,
sial. Jungkook benar-benar hilang akal. Hari ini, dia
benar-benar menyentuh Harin secara langsung. Melihat berbagai sisi Harin yang
lebih intim dari biasanya, melihat penampilan Harin yang hampir telanjang…
Kulit
Harin yang sangat mulus dan lembut, payudaranya, pahanya, dan bahkan
bokong serta vaginanya yang hanya tertutup celana dalam…
Seorang
gadis yang biasanya dia cumbu dalam keadaan berpakaian, kali ini dia cumbu
dalam keadaan hampir telanjang. Ada sisi primal yang bangkit di dalam
dirinya, sebuah monster yang terlepas dari belenggunya, berteriak di dalam
kepalanya untuk segera mengawini gadis itu sekarang juga.
Untungnya,
obsesinya pada Harin mampu menghentikan semua itu. Well, sebenarnya…obsesinya
pada Harinlah yang membuatnya ingin menyetubuhi Harin habis-habisan malam ini,
tetapi obsesi itu pulalah yang menghentikannya.
…sebab
jika Harin marah, kemungkinan besar…Harin akan meninggalkannya.
Jungkook
mengetatkan rahang; dia menggertakkan giginya. Kejantanannya sudah sangat
keras, sangat besar, dan ia sudah tak bisa menahannya lebih lama. Dia akan
terbakar jika tidak memuaskan hasratnya sekarang juga.
Mata
Harin membulat ketika tiba-tiba ia merasa kejantanan Jungkook menyelip di
antara kedua pahanya. Pipinya memerah sempurna; mulutnya terbuka. Dia semakin
meremas seprai yang ada di sebelah kanan dan kirinya.
It’s…there.
Kejantanan
Jungkook…sudah ada di sana.
Harin
bisa merasakan bentuk dan teksturnya secara langsung. Untuk pertama
kalinya, selama lima tahun berpacaran…dia benar-benar merasakan milik Jungkook.
Itu…sangat
besar. Sangat keras…dan urat-uratnya terasa begitu jelas. Sela-sela paha
Harin jelas sangat sempit untuk ukurannya.
“Ahh…
Sayang,” erang Jungkook, dia sempat mendongak dan memejamkan
matanya. “Enak sekali, Sayang…”
Jungkook
lalu kembali menatap ke bawah, ke arah Harin yang sedang menungging di bawahnya
dan menjepit kejantanannya. Kedua matanya semakin menggelap, penuh akan rasa
cinta yang bercampur dengan berahi. Dia mendesah, lalu berkata, “Aku
bisa merasakan bibir vaginamu dari sini, Sayang… Rapat dan basah sekali...
Masih sensitif, hmm?”
Harin
spontan mengerang, ia malu mendengarkan kata-kata vulgar itu. “Hngh…”
“Oh,
My Queen. Kau dan desahanmu benar-benar sanggup membuatku gila,” ujar
Jungkook. “Seharusnya itu ilegal. Aku bisa-bisa memerkosamu di sini.”
Harin
mulai menenggelamkan wajahnya di kasur, pipinya memanas dan ia kembali
menggigit bibirnya kuat-kuat. Jungkook belum bergerak, tetapi mengapa…mengapa rasanya
panas sekali?
Jungkook
mengerang. “Aku mulai, ya, Cinta.”
Tepat
satu detik setelah itu, Jungkook pun langsung bergerak. Ia menarik
kejantanannya hingga nyaris keluar sepenuhnya…lalu kembali menghunjam
area paha Harin dengan satu gerakan yang sangat kuat. Hal ini sukses
membuat Harin mengangkat wajahnya—nyaris mendongak—dan berteriak. Mata Harin
membulat, mulutnya menganga.
“Ah!!”
Namun,
Jungkook sepertinya sudah benar-benar mabuk. Ia seolah-olah sudah tidak berada
di sana; apa yang ada di otaknya saat itu hanyalah: menusuk Harin. Rahangnya
mengetat; dia kembali menggertakkan giginya dan menggeram. Matanya menatap tajam—sangat
intens, penuh akan gairah—kepada bokong Harin yang terus berguncang dengan
sensual tiap kali ia menusuk sela-sela paha gadis itu. Ia mencengkeram pinggul
gadis itu dengan kuat hingga meninggalkan bekas merah.
Ia
menghunjam Harin dengan sangat cepat, sangat kuat, dan sangat brutal.
Napas Harin tersendat-sendat saat gadis itu ingin berbicara—setidaknya
ingin memohon pada Jungkook untuk sedikit lebih pelan—tetapi yang keluar
dari mulutnya hanyalah:
“A—Ahh!!!
Jung—seben—angh!!! Oh!! Hnghh!!!!”
“Aaah…ssh…”
desah
Jungkook di sela-sela gerakan brutalnya. “Nikmat sekali, Sayang. Nikmat.
Aah…cantik sekali, Cinta…”
Harin
nyaris kehilangan kendali tubuhnya. Kejantanan Jungkook terus-menerus menusuk
sela-sela pahanya sekaligus menggesek vaginanya. Celana dalamnya
sangatlah tipis, jadi ia benar-benar bisa merasakan klitorisnya yang berkali-kali
diserang oleh Jungkook.
“J—Jung—ahh!!
Jung—kook!! Hanggh!! Pela—”
“Aku
tidak akan bisa pelan, Sayang,” jawab Jungkook seraya menggeram.
“Setelah lima tahun bersamamu, malam ini aku akhirnya benar-benar
menyentuhmu. Apa kau kira aku bisa melakukannya dengan pelan?”
“Ahhh!!!”
Harin kembali menenggelamkan wajahnya. Buku jarinya memutih saking kuatnya ia
meremas seprai. “Ahh!! Jung—”
“Oh…klitorisnya
membengkak, Sayang…” ujar Jungkook dengan nada memuja. Matanya menatap
Harin dengan penuh cinta…seolah-olah kewarasannya bergantung pada Harin saat
itu.
Libidonya
pada Harin sangatlah tinggi, begitu pula sex drive-nya. Namun, dia
menahan semua itu…untuk Harin. Harin salah besar kalau berekspektasi bahwa dia
akan ‘pelan-pelan’ saat akhirnya bisa menyentuh bagian privat gadis itu.
Harin
mendesah, pipinya lagi-lagi merona. Namun, tiba-tiba gerakan Jungkook jadi
semakin kuat. Dia seolah-olah hilang kontrol akan hasratnya. Dia kehilangan
kuasa atas nafsu berahinya. It’s like something clicked inside of him;
something just snapped. Harin serasa sedang disetubuhi oleh monster.
Spontan
Harin kembali mendongak. Mulutnya menganga; ia berteriak. Secara mendadak juga,
Jungkook menarik kedua tangannya ke belakang. Membuat cengkeramannya
pada seprai itu terlepas begitu saja.
Jungkook
tak lagi mencengkeram pinggulnya sebagai tumpuan. Pemuda itu menarik dan
mencengkeram pergelangan tangannya, lalu menyodoknya dari
belakang. Menungganginya.
Setiap
tusukannya jadi terasa semakin kuat. Semakin dalam. Semakin gila.
Semakin
perkasa.
Tubuh
Harin sampai ikut tertarik ke atas. Kini dadanya tidak lagi bertemu
dengan permukaan kasur. “Haaaangghh!!! AH!! Ahngg—Jung—Jungkook!!
Angh!!! Haa—”
Headboard
ranjang
Harin menabrak-nabrak dinding kamarnya dengan hebat. Dia lagi-lagi merasa
seperti sedang disetubuhi sungguhan; dia seolah-olah akan dihamili saat itu
juga.
Sebentar.
Bukankah ini basically…straight out…
…sex?
Melihat
payudara indah Harin yang berguncang hebat akibat gerakan brutal itu, Jungkook
spontan mengerang dan berkata, “Ahh… Vaginamu pasti sangat nikmat, Sayang…
Sangat sempit; sangat kenyal. Itu diciptakan untukku, Sayang. Aku bisa gila
hanya dengan membayangkannya…”
Dengan
cepat, Jungkook membuka pakaiannya. Dia membuka leather jacket-nya, lalu
dalam satu gerakan, dia membuka body fit t-shirt-nya yang
berwarna hitam. Jaket serta kaus itu dilempar ke lantai begitu saja, menyisakan
Jungkook yang benar-benar shirtless, bahkan celana jeans dan boxer-nya
juga diturunkan ke bawah karena sedang menggagahi Harin. Ritsleting jeans itu
terbuka sempurna.
Jungkook
bertelanjang dada. Tubuhnya yang berotot dan bertato itu terlihat dengan jelas;
ia juga cukup berkeringat akibat aktivitas yang saat ini sedang ia
lakukan bersama kekasihnya. Tato yang ada di lehernya, di kedua lengannya...serta
yang ada di punggungnya (by the way, Harin belum pernah melihat tato yang
ada di punggung itu), semuanya tampak jelas. Semua otot yang ada di perutnya
dan lengannya juga terlihat sangat kentara. Urat-urat di lengannya menonjol
saking kencangnya ia menarik tangan Harin sekaligus mendorong kejantanannya,
mencoba untuk merasakan seluruh permukaan paha dan vagina Harin.
Rahang
Jungkook semakin mengetat. Ia benar-benar kalap. Otaknya berkali-kali
mengulang, ‘Harin, Harin, Harin’ hingga tak ada lagi ruang untuk
memikirkan hal lain.
“Argh…Riiiin…”
erang
Jungkook. “Sayaang…”
Sementara
itu, Harin tak berhenti mendesah kencang. Ia tak mampu memproses ucapan
Jungkook lagi. Otaknya serasa blank akibat tusukan-tusukan brutal itu.
“Cairannya
keluar terus, Sayang…” ujar Jungkook dengan manja, desperate. “Enak,
Sayang?”
Tiap
dirty talk yang Jungkook ucapkan terasa sangat-sangat kotor. Dia tidak
mengucapkan kalimat kotor yang berupa teasing atau in control; dia
mengucapkan itu seperti kerasukan oleh obsesinya sendiri. Dia tak peduli bila
itu terdengar menjijikkan atau liar, dia hanya mengatakan apa yang otaknya pikirkan
atau apa yang tubuhnya rasakan saat itu. Itu membuat ucapannya jadi sangat
vulgar.
Dia tak pernah memfilter ucapannya; dia mengatakan persis
seperti apa yang dia khayalkan. Kata-katanya sendiri sangat eksplisit, tanpa
eufemisme. Dia tegas. Gamblang. Dia juga tidak malu; dia ingin Harin
tahu seberapa besar gadis itu membuatnya gila. Kau bisa merasakan keputusasaan
di balik kata-katanya karena itu bukan hanya nafsu berahi, itu adalah
pengabdian tak waras yang dikemas dengan kata-kata kotor.
“Ah—a—aku—ah—ah!
Ahh—” Desahan Harin tersendat-sendat akibat dahsyatnya hunjaman Jungkook.
Suaranya bergetar karena guncangan hebat itu. “Agh!!! O—Ohh—”
“Oh,
Tuhan—” Jungkook mendongak, memejamkan matanya sejenak…hanya untuk
kembali menunduk dan menatap Harin dengan nafsu yang tak terbendung. Dia
benar-benar geram. “Sial, Sayang. I can’t. Aku harus merasakanmu.”
Mendengar
itu, Harin—yang belum sepenuhnya sadar—hanya sedikit menoleh ke arah Jungkook
dengan mata sayu dan pipi merahnya. “E—h…?”
Jungkook
melepaskan kedua tangan Harin, membuat Harin berada dalam posisi merangkak—on
fours—dan dari wajah lemasnya itu, agaknya Harin belum benar-benar bisa
mencerna apa yang terjadi. Setelah itu, secara tiba-tiba…
…Jungkook
melepaskan celana dalam Harin.
Mendorongnya
ke bawah…hingga hampir ke area lututnya. Harin sempat berteriak, “Ah!!
Jungkook—mengapa—"
Sekarang,
bokong Harin benar-benar terpampang jelas di depan mata Jungkook.
…dan
pemuda itu terpaku. Dia memandangi bokong Harin dari belakang dengan
mata yang melebar. Mulutnya terbuka.
Cantik…
Cantik sekali. Bentuknya bulat, indah, dan terlihat…lembut.
Jungkook
meneguk ludahnya, lalu mengetatkan rahang. Matanya memancarkan gairah yang
sudah terbakar. Kejantanannya berdenyut.
Dia
bisa melihat belahan vagina Harin dari belakang.
“Sial,
Sayang!” erang Jungkook. Pemuda itu langsung memosisikan
dirinya kembali di belakang bokong Harin dan menyelipkan kejantanannya di
antara kedua paha Harin. Dia memastikan penisnya mengenai bokong Harin
yang bergoyang dan juga masuk di antara belahan vagina Harin…agar bisa menghantam
klitorisnya.
“AHHH!!!!”
teriak Harin ketika Jungkook menumbuk klitorisnya dengan sangat kuat dan
cepat, seperti seekor binatang buas. Lengan Harin mendadak melemah dan
kembali terlipat karena tak sanggup menahan guncangan itu. Dia mencengkeram
bantal, merasakan kenikmatan yang luar biasa hingga tubuhnya berkali-kali serasa
tersengat listrik, berkali-kali tersentak. Jungkook sangat tahu titik-titik
terlemahnya dan pemuda itu terus-menerus menyerang di area itu.
“Ooh…kau
nikmat, Sayang… Nikmat sekali. Kau begitu nikmat…” puji
Jungkook dengan penuh damba. Dia mengucapkan pujian itu dengan suara seraknya
yang seksi. “Ah…aku sangat ingin bercinta denganmu.”
Oh,
God. It feels so good.
“I
love you, Sayang… I’m so in love with you,” ungkap
Jungkook dengan putus asa. Dia mengucapkan itu seraya masih menusuk paha Harin.
“So…in love…with you…”
Jungkook
mengerang, dahinya berkerut. Pernyataan cinta itu mengalir bagaikan mantra. Keringat
muncul di dahinya, di lehernya, di dadanya, dan di perutnya.
Oh,
melakukan ini dengan Harin adalah olahraga ternikmat. “Sayang… Ratuku…”
“J—Jungkook—ahh!!
Jungkook…!”
“Hmm?”
tanya
Jungkook dengan mesra. “Iya, Sayang…?”
Harin
mendesah kencang, tetapi pipinya kembali merona. Bisa-bisanya Jungkook berbicara
dengan manja saat sedang menghunjamnya seperti ini!!
“Jung—kook—ah!!—Jung—”
Suara Harin terputus-putus. “T—Tadi—oh!! Haangh!! K—Kau bilang—tidak
perlu—hnggh!! Tidak perlu melepas celana da—"
Jungkook
tersenyum, lalu mencium punggung Harin. Kecupannya begitu sensual. “Maafkan aku,
Sayang... Aku takkan benar-benar menyetubuhimu, tetapi biarkan aku merasakanmu.
Aku sangat menginginkanmu…”
“Ahhh!!
J—Jangan di—” Sebelah tangan Harin refleks meraih tangan Jungkook yang sedang mencengkeram
pinggulnya. “Jangan dimasukkan—ya…? Angh!!”
Jungkook
menggeram. Tiap kali Harin berkata seperti itu—seolah-olah memohon padanya—hal itu
justru memancingnya untuk semakin liar. Memancingnya untuk benar-benar
mendorong kejantanannya masuk ke liang Harin yang sempit itu.
“Sayang,
sudah kubilang jangan memancingku.”
Tiba-tiba
saja, Jungkook meraih tubuh Harin. Pemuda itu mengangkat tubuh Harin
hingga gadis itu berada dalam posisi yang sama sepertinya (punggung tegak,
berlutut), lalu dia memeluk gadis itu dari belakang.
Harin
lagi-lagi cukup lambat dalam memproses apa yang sedang terjadi. Dia merasa
tangan kanan Jungkook tiba-tiba melingkari tubuhnya dari belakang dan menangkup
payudara sebelah kirinya. Meremas payudara itu dengan kencang hingga ia
berteriak. Sementara itu, tangan kiri Jungkook memeluk pinggangnya. Tubuhnya benar-benar
dikunci. Dipenjara.
Jungkook
pun kembali menghunjam sela-sela pahanya dengan keras. Rough. Cairan
dari kelamin mereka membuat penyatuan itu menimbulkan bunyi yang sangat kotor. Cabul.
Kalau
kau bertanya soal kewarasan Jungkook, itu tidak akan ada bila ia sedang bersama
Harin.
“Ohh!!
Jungkook—Jungkook!! Aaaangh!! Ah, ah!!! Nghh!!!” desahan dan teriakan
Harin bercampur jadi satu. Harin sudah tak bisa mengontrol suaranya lagi; ia
bahkan sudah tak bisa memikirkan soal ‘apa yang akan tetangganya pikirkan kalau
mereka mendengar semua ini?’
Pikirannya
kosong. Kosong melompong. Dia terus merengek, menangis, mendesah, berteriak,
dan hanya bisa bersandar di dada bidang Jungkook seraya mendongak. Dia aslinya
sedang marah pada Jungkook, tetapi…dia tak bisa lari dari kenikmatan luar biasa
yang pemuda itu berikan padanya malam ini. Jungkook terus menghunjamnya,
meremas payudaranya…sambil menggigit lehernya dengan kuat.
Sejak
tadi…Jungkook memang agak aneh…
Apa…yang
sebenarnya terjadi pada Jungkook?
“Jungkook—anghh!!!
Se—sebentar—a—aku—” Harin menunduk, dia mencengkeram kedua tangan
Jungkook yang sedang mengunci tubuhnya. Dia pun menganga. “O—Oh!!
Anghhh!”
Saat
tiba-tiba Jungkook menarik putingnya, Harin spontan berteriak kencang.
“AHHH!!!”
Jungkook
melepaskan gigitannya pada leher Harin, lalu menarik wajah Harin agar menoleh
kepadanya. Setelah itu, dia langsung mencium bibir Harin dengan penuh gairah.
Dia melumat dan menggigit bibir Harin, memasukkan lidahnya ke dalam mulut
Harin, dan melilit lidah Harin bersamanya. Ciuman itu sangat panas, sangat
liar, dan sangat cepat. Saat ciuman itu terlepas, Jungkook langsung mengerang. “Argh…Sayaang...
Jangan pernah tinggalkan aku. Jangan tinggalkan aku. Aku akan mengikutimu ke
mana pun kau pergi, hm?”
Harin
hanya terus mendesah; telinganya mendengar ucapan Jungkook, tetapi otaknya
belum sampai ke sana untuk bisa merespons. Jungkook menggigit telinganya
sejenak, lalu menggeram dan melanjutkan, “Aku akan mengikutimu sampai aku mati.
Kau dengar aku?”
Jungkook
mendongak, merasakan betapa nikmatnya melakukan itu bersama Harin. Dia berfantasi
bagaimana jika penisnya benar-benar masuk ke liang senggama Harin. “Oh…Sayang…ssh…
Boleh aku menjilat vaginamu?”
Mata
Harin membulat. Ia spontan menoleh dengan mata sayunya itu. “E…h?”
Jungkook
menciumi leher Harin dengan sangat lembut, sangat sensual. Bunyi
kecupannya terdengar begitu erotis. Oh, momen ini terasa semanis madu. Memabukkan.
Membuat Jungkook tergila-gila. “Boleh, Sayang? Aku akan membersihkan seluruh
cairanmu…”
Wajah
Harin memerah bak kepiting rebus. Itu—itu maksudnya—
Belum
sempat Harin merespons kalimat Jungkook, tiba-tiba saja Jungkook mencabut penisnya
dari antara paha Harin. Dia langsung membalikkan tubuh Harin dan
mengempaskan Harin ke ranjang. Harin terperanjat; dia membulatkan mata tatkala punggungnya
kembali menghantam permukaan ranjang.
Harin
menggeleng. “Se—sebentar—Jungkook—apa yang—”
Jungkook
tidak menghiraukan ucapan Harin sama sekali. Dalam waktu sepersekian detik, ia
langsung mengangkat kedua kaki Harin ke atas; dia mendorong bagian
belakang paha Harin hingga kedua kaki gadis itu naik ke atas dan
mengangkanginya. Harin bisa melihat bagaimana lututnya hampir sejajar
dengan dadanya sendiri saking jauhnya Jungkook mendorong kakinya. Jungkook
ingin melihat semuanya.
Seketika,
Harin merasa seratus persen terbuka di depan Jungkook.
Tatapan
mata Jungkook langsung tertuju ke tengah-tengah. Ke vagina Harin yang
terbuka sempurna. Bagian dalam vagina Harin tampak begitu merah dan
dipenuhi cairan kental akibat aktivitas mereka sejak tadi; bibir vaginanya
betul-betul terbuka lebar. Klitorisnya yang membengkak itu seolah-olah tak
mampu lagi bersembunyi. Setelah itu…bagian liang senggamanya yang ketat itu…
Oh,
fuck.
Jungkook
bisa melihat semuanya. Semuanya.
Pemuda
itu tak berkedip. Ia menatap vagina Harin dengan penuh damba, penuh nafsu,
penuh obsesi. Itu terlihat begitu menggugah selera.
She
is so beautiful. Everything about her is so beautiful. So delicious. So fucking
sexy. So tempting. So juicy. So…damn perfect.
Jungkook
meneguk ludahnya dengan kasar; jakunnya naik turun. Lima tahun lamanya mereka
bersama, baru kali ini dia benar-benar melihat bagian terprivat Harin.
Dia sampai bisa melihat anus Harin karena kaki gadis itu
terangkat terlalu tinggi. Agaknya, akal sehatnya takkan kembali lagi setelah
ini. Rangsangan ini sungguh luar biasa. Jika ini adalah malam terakhirnya hidup
di dunia, ia akan tetap bahagia. Namun, setelah mati nanti, ia akan tetap
mampir ke apartemen Harin setiap hari untuk menghantui gadis itu dan
menggagahinya setiap malam.
Harin
spontan menutup area privatnya itu dengan kedua tangannya. Pipi Harin merona
luar biasa, warna merahnya sampai ke telinga.
“J—Jungkook…kumohon…sudah…”
pintanya. “Jangan dilihat…”
Ah.
Sial. Lagi-lagi, permintaan itu justru berefek sebaliknya pada Jungkook. Pemuda
itu kontan menggertakkan giginya.
Tanpa
aba-aba, dia pun langsung menarik celana dalam Harin (membuangnya ke lantai)
dan mencengkeram kedua tangan Harin dengan satu tangannya. Dia lalu membawa kedua
tangan Harin ke samping dan menahan pergelangan tangan itu dengan sangat
kencang hingga Harin tak bisa melepaskan diri sama sekali. “Ah! Jung—”
Kata-kata
Harin terputus ketika tiba-tiba saja, Jungkook mengisap vaginanya.
“AAHHH!!!”
Harin berteriak; ia bisa merasakan bagaimana lidah Jungkook menyapu vaginanya.
Mulai dari bagian bawah bibir vaginanya, ke area tengah…lalu ke dekat
klitorisnya. Pemuda itu benar-benar menjilat dan membersihkan seluruh
cairan Harin yang sudah bercampur dengan precum-nya sendiri. Dia
menjilat dan menelan semuanya.
Agar
vagina Harin tetap terbuka, Jungkook tetap menahan kaki kanan Harin dengan
sebelah tangannya yang bebas. Dia merangsang bibir vagina dan liang senggama
Harin dengan lidah dan bibirnya; dia juga berdeham sesekali untuk menghasilkan
getaran. Hal itu sukses membuat tubuh Harin menggeliat. Gadis itu terus
mendesah—dia hampir menangis—tetapi tatkala Jungkook tiba-tiba mengisap klitorisnya,
dia lantas terkesiap. Punggungnya kontan melengkung, matanya membulat, mulutnya
menganga, dan sekujur tubuhnya bergetar hebat. Itu terasa seperti sengatan yang
benar-benar dahsyat.
“AAAHHH!!!!
Ahhh!! J—Jungkook—ahh—i—itu—aahngghhh!! AH!” Air mata mulai mengalir ke
pipinya, ia benar-benar tak tahan dengan seluruh kenikmatan itu.
“J—Jungkook—tolong—tolong berhenti—aku—ahhh!! Aku—”
Kedua
kaki Harin menegang. Her toes curls; dia menarik tangannya sendiri dari
cengkeraman Jungkook karena tak tahan…dan Jungkook mengizinkannya. Pergelangan
tangannya memerah, tetapi ia tak merasa sakit sama sekali. Soalnya, kenikmatan
yang tengah ia rasakan itu telah mengalahkan semuanya. Setelah terbebas, kedua
tangannya pun langsung mencengkeram rambut Jungkook yang masih mengisap
vaginanya dengan penuh gairah. Rambut Jungkook berantakan dibuatnya, tetapi hal
itu justru membuat Jungkook semakin bersemangat.
“Jung—kook…su—sudah—AHHHH!!”
Dia berteriak saat Jungkook menggigit klitorisnya. Dia hampir klimaks
karena gigitan itu; sesuatu di dalam dirinya terasa mau meledak, tetapi dia
takut. Dia tak ingin Jungkook terkena cairannya. Dia terengah-engah, suaranya
hampir habis, tetapi biarpun begitu, ia tetap berusaha untuk berbicara,
“Jungkook—hnggh!! Su—sudah, ya…? Anghhh—itu—itu sudah
bersih…Jungkook…”
Oh,
damn. Jungkook tahu itu. Sejak awal, tujuan pemuda itu tidak
hanya untuk membersihkan, melainkan membersihkan…dengan ‘bonus’.
Jungkook
sudah tak tahan lagi. Kejantanannya sudah sakit. Melihat Harin yang
benar-benar telanjang di bawahnya, berbaring telentang sambil mengangkang
untuknya, tubuh yang bergetar dan pipi yang memerah, payudara yang bergoyang
seirama dengan napas Harin yang terengah-engah…
Gila.
Jungkook sudah gila.
Harin
bisa mengambil nyawanya saat ini juga.
Mengetatkan
rahang, Jungkook pun langsung memosisikan dirinya di tengah-tengah kedua
kaki Harin. Dia menindih tubuh Harin, mengungkung tubuh Harin dari atas.
Tubuhnya yang besar dan berotot itu benar-benar sukses menutupi tubuh Harin
sepenuhnya. Setelah itu, dia pun mencium bibir Harin bagaikan tak ada hari
esok. Mereka berciuman panas selama semenit…tetapi selama semenit itu, Harin
beberapa kali terkejut di dalam ciuman itu karena Jungkook mulai menggesekkan
kejantanannya ke vagina Harin. Pemuda itu menggesekkan penisnya…lalu
bergoyang memutar. Memijat klitoris Harin. Membuat Harin kehilangan akal
sehatnya.
“Hmmp—”
Desahan itu tertahan di mulut Harin karena Jungkook memperdalam ciuman mereka.
Tangan Jungkook juga tak pernah diam; tangan besarnya yang dipenuhi dengan urat
itu sibuk meremas payudara Harin. Tatkala dia tiba-tiba mencubit puting Harin,
gadis itu refleks melepaskan ciuman mereka dan berteriak.
Di
sisi lain, begitu ciuman itu terlepas, Jungkook langsung mencumbu leher Harin
dan berbisik dengan penuh permohonan. “Peluk aku, Sayang… Peluk aku.”
Secara
refleks, karena merasa bahwa tusukan Jungkook di bawah sana mulai semakin
kencang, Harin pun memeluk leher Jungkook.
Namun,
ternyata, itu adalah penanda dimulainya aktivitas brutal itu kembali.
Karena begitu Harin memeluk lehernya, Jungkook langsung menggesekkan
kejantanannya ke vagina Harin dengan brutal. Membelah vaginanya dan menumbuk
klitorisnya habis habisan. Sebelah tangannya mengangkat kaki kanan Harin ke
atas—urat-urat di lengan bertatonya itu sampai menonjol saking kuatnya ia
mencengkeram paha Harin—sementara sebelah tangannya lagi tengah memegang bagian
belakang kepala Harin. Dia menggigit leher Harin hingga leher gadis itu penuh
dengan bercak merah. Dia mengeluarkan seluruh hasratnya saat itu.
Melampiaskan seluruh rasa cintanya. Rasa inginnya. Rasa rindunya.
Obsesinya. Kegilaannya.
Semuanya.
Ah,
dia benar-benar dimabuk asmara. Mabuk berahi. Kasmaran.
Dia
berkali mencium-cium wajah Harin, menjilat dan menggigit telinga Harin, dan
berakhir saling pandang dengan Harin saat kedua alat kelamin mereka saling
bergesekan satu sama lain. Harin terus mendesah, memanggil nama Jungkook dengan
nada memohon, berteriak, dan Jungkook membalasnya dengan ciuman mesra. Hidung
mereka bersentuhan saat Harin memejamkan matanya kuat-kuat akibat kewalahan
menerima rangsangan hebat dari Jungkook, sementara Jungkook menatapnya dengan
penuh gairah. Penuh hasrat yang membara. Penuh cinta.
He
worships her. Obsessed with her.
Mereka
berciuman kembali. Ketika ciuman itu terlepas, gerakan Jungkook semakin tak
terkendali. Desahan Harin juga semakin tak terkontrol; tubuhnya membutuhkan Jungkook.
Dia membutuhkan pelepasan.
“Aargh…”
erang
Jungkook di ceruk leher Harin. Gerakan dan goyangannya sungguh tidak waras.
Ranjang itu berdecit, seprainya sangat berantakan, headboard-nya
menghantam dinding seolah-olah ada gempa dahsyat yang sedang terjadi. “Oh, My
Love. My Queen…”
Harin
terengah-engah, desahannya terputus-putus; suaranya tak bisa keluar dengan
benar karena tubuhnya sedang berguncang dahsyat. Tubuhnya terentak-entak ke
atas akibat dorongan keras Jungkook. “Jungkook, aku—ahh! Aku—aku sepertinya—m—mau—"
“Aah…Sayang—”
Jungkook menggertakkan giginya. Dia juga merasakan hal yang sama. “Sayang…
Sayang…”
“Aaanghh!!
Jungkook… Jungkook…!” Harin menggeleng kencang; dia tanpa sadar
melakukan banyak hal karena overstimulation. Dia memeluk leher Jungkook
dengan semakin erat, meremas rambut pemuda itu, dan mencakar punggungnya.
“Aanghh!! Ohhh!! J—Jung—”
Jungkook
mengerang hebat tatkala menyadari bahwa Harin melakukan banyak hal
padanya dalam keintiman mereka ini. Harin menyentuhnya. Harin berpegangan
dengannya. Harin meneriakkan namanya. Harin mencakar punggungnya,
meremas rambutnya, dan memeluk lehernya dengan putus asa. Tak ada lagi jarak di
antara mereka; kulit ke kulit, kelamin bertemu kelamin… Mereka tak pernah sedekat
ini selama lima tahun mereka berpacaran. Mimpi-mimpi liarnya malam ini
menjadi kenyataan, meskipun dia belum sampai memasukkan penisnya ke dalam
vagina Harin. “Argh, Sayaang… My Rin… Boleh kukeluarkan di perut,
Sayang?”
Harin
tak merespons apa-apa karena akal sehatnya sudah melayang entah ke mana. Ia
hanya mendesah; ada air mata yang muncul di sudut matanya. Air mata karena
merasa terlalu nikmat.
Jungkook
menggeram. Gerakannya yang sudah sangat cepat itu kini semakin tak masuk akal
karena dia tengah mengejar klimaksnya. “Aaargh—Sayang—Sayaaang—kukeluarkan
di perut, ya? Hm? Ya, Sayang? Aargh—”
“Ah!
Ha—angh!! Ahhh!! Jungkook! Jungkook…! Aku—aku—OHHH!!!”
Harin
klimaks lebih dulu, tetapi segera setelah itu, Jungkook menggeram dan
langsung mengangkat kejantanannya untuk diletakkan di atas pusar Harin.
Dia
pun orgasme di sana. Menyemburkan spermanya di perut Harin.
Harin
bisa merasakan hangatnya cairan Jungkook. Jungkook mengerang hebat ketika
mengeluarkan cairan itu; dia merasa seperti berada di atas awang-awang. Dia merasakan
puncak kenikmatan; isi kepalanya seakan memutih semua.
…dan
cairan itu…
…sangat
banyak.
Banyak
sekali…hingga mengalir ke kasur karena terlalu penuh di perut Harin. Harin
menyaksikan semua itu sambil masih terengah-engah, masih high, dan masih
lemah. Matanya masih sayu, pipinya masih merah…tetapi ia bisa melihat bagaimana
kejantanan Jungkook menyemburkan cairan itu berkali-kali di perutnya.
Jungkook
langsung mencium bibir Harin begitu ia selesai orgasme. Ciuman itu panas,
tetapi sangat mesra. He just can’t get enough of her.
Namun,
jauh di dalam benaknya, Harin memikirkan satu hal. Satu hal yang sukses membuat
jantungnya hampir berhenti berdegup dan pipinya kembali memanas hingga ke
telinga.
Jika
tadi mereka melakukan sex yang sebenarnya, dengan penetrasi,
…dan
sperma Jungkook keluar sebanyak itu di dalam vaginanya,
…dia…mungkin
akan…
…hamil.
******
Jungkook
menciumi seluruh bagian wajah Harin dengan mesra. Mereka berbaring menyamping,
sama-sama telanjang, tetapi sama-sama berada di dalam selimut. Mereka tidur
berhadapan dan Jungkook memeluk tubuh Harin sekaligus menciumi wajah gadis itu.
Berbeda
dengan Harin yang lelah bukan main, Jungkook justru terlihat…segar. Dia agaknya
malah jadi sehat sentosa setelah memadu kasih dengan Harin. Dia tersenyum, memberikan
Harin tatapan teduh, lalu menciumi pipi, leher, mata, kening, serta bibir Harin
dengan sangat mesra.
Seprai
ranjang itu sekarang benar-benar dibuka karena penuh dengan cairan
bercampur keringat mereka. Seprai itu sangat basah dan menjadi bukti atas
betapa brutalnya ‘kegiatan’ yang mereka lakukan malam itu, betapa panjang dan
kasarnya malam itu, padahal belum sampai…benar-benar ‘masuk’.
Bagaimana
kalau sampai…dimasukkan?
Baju
Harin berserakan di lantai, begitu juga baju Jungkook. Beberapa barang juga terjatuh
dari nakas karena tadi ranjangnya berguncang hebat.
Harin…benar-benar
‘disetubuhi’ habis-habisan…oleh Jungkook. Tubuhnya merah-merah semua. Ada bekas
gigitan, isapan, dan cengkeraman. Kalau boleh jujur, vaginanya juga terasa…sakit.
Bukan sakit karena terluka, tetapi lebih ke…
…dia
masih bisa merasakan tusukan-tusukan Jungkook di sana. Vaginanya…masih mengingat
sensasi itu. Hunjamannya…
…masih
terasa…
“Sudah
mau tidur, Sayang?”
Harin
tersentak. Ia yang sejak tadi hanya diam karena sudah lemas—dan sedang diciumi
oleh Jungkook—pun melebarkan mata. Ia lantas menatap Jungkook…dan mencoba untuk
berbicara, meskipun suaranya sangat serak.
Ah.
Sadar akan suaranya yang jadi serak, pipi Harin pun memerah. Seharusnya dia langsung
mengusir Jungkook saat Jungkook datang ke apartemennya. Seharusnya dia marah
dan menampar Jungkook saat Jungkook menciumnya. Namun, mereka malah…berakhir
seperti ini. Mereka malah berakhir telanjang…di atas ranjangnya, setelah
berhubungan seksual dengan buas tanpa penetrasi. Dia juga malah mendesah hebat
di sepanjang aktivitas itu. Tenggelam di dalam samudra cinta…yang Jungkook luapkan
padanya.
“B—Belum,
Jungkook,” jawab Harin, mencoba untuk menjawab dengan nada biasa. Dia malu
bukan main saat mengingat apa yang telah mereka lakukan barusan, terutama
ketika melihat wajah tampan Jungkook yang menatapnya dengan lembut. Dia ingat
bagaimana wajah tampan itu terlihat saat empunya merasa nikmat. Dia ingat
bagaimana Jungkook memberikan ekspresi putus asa saat memohon padanya, dia
ingat bagaimana kening Jungkook berkerut saat fokus menggagahinya, dia ingat
bagaimana Jungkook membuka mulutnya dan mengerang, dia ingat bagaimana mata
Jungkook menatapnya dengan penuh gairah…
Tanpa
bisa dicegah, pipi Harin pun kembali merona.
Jungkook
tersenyum miring, lalu menggigit hidung Harin dan berbisik, “Tidur, Cinta.
Besok kita pergi ke kampus bersama, ya?”
Harin
menunduk. Di luar dari apa yang telah mereka lakukan malam ini, ia
sebenarnya…agak ragu untuk mengiyakan ajakan itu. Jauh di dalam hatinya, dia
masih…marah. Belum ada penyelesaian atas masalah mereka. Belum ada penjelasan
yang konkret atas segala kebohongan Jungkook.
“Rin…”
bisik Jungkook di antara helaian rambut Harin. “Aku mencintaimu,
Sayang…”
Jungkook
mulai mencium daun telinga Harin, merintih halus, lalu dengan pelan…ia
mendorong bahu Harin agar gadis itu berbaring telentang. Ia pun mulai menciumi
Harin lagi, dari atas ke bawah. Dari kening, hidung, bibir, leher, lalu turun
ke bawah…hingga ke antara payudara Harin…dan ke perut Harin.
“Hmmh…”
Dia merintih pelan, seolah-olah merasa sakit karena terlalu menginginkan
Harin. “I love you, Sayang…”
Setelah
itu, dia naik ke atas lagi dan mengisap payudara Harin. Dia menyedot puting
Harin secara bergantian, sukses membuat Harin kembali tersentak. “Ah!”
Jungkook
pun melepaskan puting Harin dan mengecupnya dengan sensual, lalu tersenyum
miring. Ia kemudian mendekatkan wajahnya dengan wajah Harin—menempelkan hidung
mereka—dan berbisik, “Ah, aku benar-benar harus berhenti…atau kita akan
melanjutkan ronde kedua.”
Pipi
Harin memerah. “Jungkook!”
Jungkook
tertawa kecil. Sangat lembut. “Di ronde kedua, aku tak yakin aku bisa
merasa cukup hanya dengan gesekan. Aku benar-benar akan memerawanimu.
Jadi, berhati-hati, ya. Jangan memancingku.”
“Aku
tidak pernah memancingmu!” protes Harin. Jungkook tersenyum miring.
“Kau
hanya tidak sadar, Cinta.”
Jungkook
mencium kening Harin, lalu kembali berbaring di samping gadis itu. Dia menarik
gadis itu kembali ke pelukannya.
Mereka
berdua sama-sama diam selama beberapa saat. Jungkook diam karena merasa sangat
nyaman berada dalam posisi itu, tetapi akibat keheningan itu, pikiran Harin
kembali melanglang buana.
Dia
kembali memikirkan sesuatu yang sejak tadi membuatnya bertanya-tanya, yaitu:
Apa
yang sebenarnya terjadi pada Jungkook?
Maka
dari itu, Harin pun sedikit mengangkat wajahnya. Menatap Jungkook…yang sedang
memejamkan mata.
“Jungkook.”
Kedua
mata Jungkook langsung terbuka. Dia tersenyum lembut, lalu menjawab, “Ya,
Sayang?”
“Apa…yang
terjadi padamu hari ini?”
Mata
Jungkook melebar.
Pemuda
itu terdiam sejenak…dan Harin bisa melihat bagaimana pertanyaan itu berhasil
membuat napasnya tertahan.
Ah,
something indeed happened.
Tiga
detik kemudian, Jungkook pun tersenyum sambil menghela napasnya.
“Terasa,
ya?”
Harin
mendengkus. Bagaimana mungkin Jungkook ‘tidak terasa’ berbeda? Dia jelas-jelas
menusuk Harin habis-habisan tadi!
Harin
menatap Jungkook dengan tajam. “Sesuatu pasti telah terjadi padamu.”
“Hm,”
deham
Jungkook seraya mencium hidung Harin.
Harin
mengernyitkan dahi saat tubuhnya kembali dipeluk oleh Jungkook.
Setelah
itu, pemuda itu pun membuka suara.
“Tadi,
ketika
aku ikut balapan, Jimin membuat sebuah taruhan.”
Harin
kontan menyatukan alis. Taruhan? Jimin?
Sebentar.
Apakah itu…Kak Jimin? Senior di kampus serta senior di klub balap mobil itu, ‘kan?
Kak Park Jimin yang itu?
Taruhan
apa?
Meskipun
berbagai pertanyaan berputar di kepalanya, Harin tetap berusaha untuk tenang.
“Taruhan?”
“Hmm.”
Jungkook mengangguk. “Dia bilang…kalau dia menang, aku harus memberikanmu
padanya.”
Mata
Harin spontan membulat.
Apa?
Apa-apaan
yang sedang terjadi?
Kak
Jimin yang itu? Mengatakan itu kepada Jungkook?
Apakah
ini serius?
Mengapa
aku tiba-tiba dijadikan sebagai taruhan?!
“Apa?”
tanya
Harin, gadis itu masih mencoba untuk memastikan apa yang baru saja ia dengar.
Dia mendongak; dia ingin menatap mata Jungkook secara langsung. Alisnya
menyatu.
Jungkook
pun mengangguk. Pemuda itu menempelkan kening mereka berdua. “Aku tak menyangka
kalau dia menaruh hati padamu. Aku langsung menghabisinya di
tempat. Katakan padaku bahwa kau masih bersamaku, Sayang.”
Harin
menganga. Gadis itu menggeleng tak habis pikir. “Jungkook, ap—”
Jungkook
semakin menarik kepala Harin; kini, hidung mereka pun menempel. Pemuda itu
menatap Harin dengan sangat intens. Fokus. Dia memenjarakan Harin
hanya dengan tatapannya. “Jangan tinggalkan aku, hm?”
Tubuh
Harin mematung.
Suara
Jungkook terdengar tegas, tetapi ada…sebuah getaran di baliknya.
Sebuah…
…permohonan…
Dia
memohon agar Harin tak meninggalkannya, tetapi…mengapa dia…
…selalu
berbohong?
Mengapa
dia selalu…membuat Harin bingung dan frustrasi akhir-akhir ini?
Harin
tak mengerti.
Meski
sudah bersama Jungkook selama bertahun-tahun…tiap kali Harin merasa bahwa dia
sudah lebih mengerti tentang Jungkook, pasti akan ada lagi hal baru yang belum
dia ketahui. Jungkook…benar-benar sulit dimengerti. Dia tak bisa dipelajari. Dia
seperti puzzle yang sangat sulit untuk diselesaikan. Seperti misteri berlapis…yang
sangat sulit untuk dipecahkan. Dia sangat membingungkan.
Namun,
Harin jadi paham sesuatu.
Dia
jadi paham mengapa Jungkook mengucapkan “Jangan tinggalkan aku,” dan “Aku akan
mengikutimu sampai aku mati,” ketika mereka berhubungan tadi.
Oh.
Andaikan Harin juga sadar bahwa:
Itulah
sebabnya Jungkook bercinta seperti seekor binatang buas yang sedang putus asa.
Karena
tak ingin mengatakan ‘ya’ atau ‘tidak’ (soalnya kalau dia bilang ‘ya’, dia
belum memaafkan Jungkook, jadi dia tak bisa berjanji. Sementara itu, kalau dia
bilang ‘tidak’…dia tahu pasti bagaimana reaksi Jungkook nantinya), Harin pun
mengalihkan pandangannya dan berkata, “Aku masih marah padamu.”
Jungkook
tersenyum miring.
“Sayaaang…
Kan aku sudah menjelaskan semuanya…” ucap Jungkook dengan manja. Dia menciumi
pipi dan leher Harin berkali-kali. “Aku berbohong karena aku tak mau bertengkar
denganmu.”
Harin
mendengkus. Di otak Harin, Jungkook sama saja seperti mengatakan: “Aku merampok bank karena tak ingin melihatmu sedih saat memikirkan
tagihan.”
Cara berpikir pemuda itu benar-benar twisted.
Harin tak bisa menerima alasan seperti itu. Kebohongan
Jungkook sudah terlalu banyak, termasuk ketika Harin memergokinya flirting atau
berduaan dengan perempuan lain. Harin tentu saja tak bisa menerima alasan dangkal
seperti itu. Itu sama saja dengan seseorang yang selingkuh, tetapi berbohong
kepada pasangan aslinya karena tak ingin bertengkar.
Itu bukanlah alasan. Itu bukanlah penjelasan. Itu
hanyalah manipulasi.
Harin diam saja. Rasa sakit hatinya kembali timbul ke
permukaan. Sepertinya, seluruh pernyataan cinta Jungkook...
...juga merupakan kebohongan...
Jantung Harin seakan-akan berhenti berdetak saat hal itu
terlintas di benaknya.
Dia pun menelan getir. Ekspresinya blank, padahal
saat itu Jungkook tengah menciumi wajah dan lehernya seolah-olah pemuda itu tak
pernah bosan. Namun, dia...tak bisa merasakan ciuman itu sama sekali.
Pikirannya ke mana-mana. Hatinya terasa pedih. Ada sebuah lembing yang menohok
jantungnya.
Untung saja...untung saja, tadi mereka tidak
benar-benar melakukan ‘sex’. Untung saja, Harin tidak memberikan
keperawanannya kepada Jungkook.
Karena kalau Harin memberikannya, mungkin sebentar
lagi...dia akan hancur.
Dia tak tahu sampai kapan hubungan mereka akan bertahan;
atau lebih tepatnya, sampai kapan ia akan bertahan.
Rasanya begitu menyakitkan.
Mereka sudah lama bersama.
Mereka sudah lama menjadi bagian dari kehidupan satu sama
lain...
Tiba-tiba saja, ponsel Jungkook yang terletak di atas nakas
itu berbunyi. Nakas itu berada tepat di samping kepala Harin sehingga Harin
agak tersentak ketika mendengar bunyi dan getaran ponsel itu. Dia pun mencoba
untuk memegang kepala Jungkook yang sedang asyik mengisap lehernya.
“Jung—kook... Ahh—p—ponselmu...”
Jungkook tak menyahut. Dia tak menghiraukan bunyi itu
sama sekali. Dia malah menggigit kecil leher Harin.
“J—Jungkook, coba lihat dahulu...” Harin memohon; gadis
itu sedikit mendorong Jungkook agar berhenti menciumi lehernya. “Itu ada
panggilan masuk...”
Harin pun mulai membalikkan badannya dan sedikit bangkit
untuk melihat ke layar ponsel itu, sementara Jungkook masih sibuk menciumi
punggungnya dari belakang.
“Hmmh... Tidak
usah dihiraukan, Sayang... Cium dulu...” ujar Jungkook manja.
Namun, tatkala melihat nama yang tertera di layar
ponsel itu...
...jantung Harin mendadak berhenti berdegup.
Itu adalah sebuah panggilan telepon...
...dari seorang gadis yang Harin kenal.
******
Keesokan
paginya, Harin bersikap biasa saja. Gadis itu mengantar Jungkook ke pintu depan
apartemennya. Dia menatap punggung Jungkook yang tegap serta bahunya yang
lebar. Jungkook telah memakai pakaian lengkapnya kembali; body fit t-shirt-nya,
leather jacket-nya, dan celana jeans-nya.
Jungkook
menghela napas dan membalikkan badan; dia tampak cemberut. “Sayang, kan aku
sudah bilang kalau kita pergi ke kampusnya bersama-sama.”
“Aku
tak ingat pernah mengiyakannya,” jawab Harin dengan ekspresi datar.
Jungkook
ngambek. Harin adalah satu-satunya makhluk yang tak bisa ia rayu. “Rin, ayolah.
Aku tidak terbiasa ke kampus tanpamu. Dengan siapa kau akan berangkat kalau
tidak denganku, Sayang?”
Jungkook
heran bukan main. Yang benar saja? Bukankah dia dan Harin semalam baru
saja memadu kasih? Bukankah seharusnya pagi ini mereka masih berada
dalam fase berbunga-bunga seperti sedang bulan madu?
Kok
Harin malah minta pergi ke kampus sendirian, sih?
“Sudah
kubilang, aku mau ke toko buku dahulu,” jawab Harin.
Jungkook
mendengkus. “Kan bisa pergi bersamaku. Aku akan mengantarmu ke sana dan
menemanimu.”
“Aku
mau pergi dengan temanku, Jungkook…” Harin menghela napas. “Sudah, pulanglah. Mandi
dan ganti bajumu di rumah, lalu pergilah ke kampus lebih dahulu, tanpaku.”
Ada
rasa sakit yang mendadak timbul di dada Harin tatkala mengatakan itu. Namun, Harin
mengembuskan napasnya. Dia mencoba untuk menelan rasa sakit itu terlebih
dahulu.
“Sayang…”
panggil Jungkook. “Teman-temanmu sudah tahu bahwa aku selalu mengikutimu.
Mereka takkan heran melihatku ikut ke sana.”
“Kami
akan naik mobil Areum, Jungkook,” jawab Harin. “Sudah. Pulanglah. Aku tidak
apa-apa.”
“Kau
memang tidak apa-apa tanpaku, Rin,” ujar Jungkook. Tiba-tiba, matanya menatap
Harin dengan serius. Sangat dalam, sangat fokus, dan sangat tajam. “…tetapi
aku tak bisa tanpamu.”
Mata
Harin membeliak. Jantungnya hampir berhenti berdegup.
Apa…maksudnya?
Namun,
karena tak ingin berlama-lama, karena tak ingin terpengaruh dengan apa pun yang
Jungkook katakan—yang mungkin hanyalah tipuan—Harin pun meneguk ludahnya dan
berpura-pura tidak mendengar semua itu.
“Kita
akan bertemu lagi di kampus nanti, Jungkook,” ujar Harin. Gadis itu mulai…merekahkan
senyumnya.
Dia
tersenyum pada Jungkook.
Senyuman
tipis…yang terlihat sedikit lemah. Sedikit lelah. Namun, dia menatap
Jungkook dengan lembut.
Hal
itu sukses membuat Jungkook luluh.
Jadi,
meskipun berat; meskipun tidak setuju…
…Jungkook
pun akhirnya menghela napas.
“Baiklah,
Rin,”
ucapnya lirih. “Aku akan meneleponmu, ya, Sayang?”
Harin
mengangguk. Gadis itu masih tersenyum. “Hmm.”
Jungkook
pun ikut tersenyum lembut. Pemuda itu meraih Harin ke dalam pelukannya, lalu
mencium bibir Harin. Ciuman itu berlangsung cukup lama; dia melumat dan
menggigit bibir Harin dengan sensual. Tautan bibir itu seolah-olah enggan dia
lepaskan; dia sampai memegang rahang Harin untuk memperdalam ciumannya. Harin sampai
refleks memegang dada bidangnya karena kewalahan.
Itu
terlalu panas untuk sebuah morning goodbye kiss.
Saat
tautan bibir mereka akhirnya terlepas—dan menimbulkan bunyi yang sangat erotis—Jungkook
pun menempelkan keningnya ke kening Harin seraya tersenyum miring. “See you
later, My Queen.”
Setelah
pelukan itu terlepas, Jungkook pun berbalik dan membuka pintu apartemen Harin.
Harin mengikuti Jungkook hingga ke pagar lantai dua (tempat unitnya berada) dan
memperhatikan bagaimana Jungkook menuruni tangga hingga akhirnya pemuda itu sampai
di bawah, melewati halaman, dan keluar melalui pagar apartemen.
Mobil
Jungkook berbunyi saat pemuda itu menekan sebuah tombol di key fob-nya. Namun,
sebelum Jungkook menaiki mobilnya—yakni saat dia baru saja membuka pintu mobil
itu—dia sempat mendongak dan menatap Harin yang ada di lantai dua.
Mereka
bertatapan…dan Jungkook tersenyum miring pada Harin. Jungkook melambaikan
tangannya sejenak dan Harin mengangguk.
Setelah
melihat Harin balas tersenyum padanya, Jungkook pun akhirnya masuk ke mobil.
Tak lama kemudian, mobil itu pun berjalan...meninggalkan area apartemen
Harin.
Saat
keberadaan Jungkook sudah tak lagi ada di dekatnya, Harin pun berbalik. Dia
masuk ke unit apartemennya dan menutup pintu.
Akan
tetapi, begitu dia berdiri di balik pintu itu,
…tubuhnya
tiba-tiba merosot.
Dia
tiba-tiba jatuh…terduduk di lantai.
Punggungnya
bersandar pada pintu itu, lalu kedua lututnya terangkat. Sebelah tangannya langsung
mencengkeram dadanya sendiri, sementara sebelah tangannya lagi langsung
mengusap rambutnya frustrasi.
Dia
pun…
…menangis.
Dadanya
sesak sekali. Sakit. Rasanya sangat sakit. Napasnya
terputus-putus. Air matanya mengalir begitu saja.
Ia
menangis tanpa suara.
Pada
kenyataannya, ia sama sekali tak lupa dengan apa yang telah terjadi semalam. Ia
tak pernah melupakan…semua luka yang telah ia pendam selama ini di balik
sikap tenangnya.
Ia
tak mau pergi bersama Jungkook pagi ini, jadi ia harus membuat sebuah alasan. Kalau
bersama Jungkook, ia harus berpura-pura baik-baik saja. Ia harus menahan
dirinya agar tidak meledak. Ia tak ingin Jungkook melihat kelemahannya.
Ia tak ingin Jungkook berpikir bahwa ia telah kalah. Maka dari itu, jika ia
tetap pergi bersama Jungkook, ia harus memasang topeng itu lebih lama lagi.
Sayangnya,
ia tak ingin menahan rasa sakit itu lebih lama. Ia tak ingin memendamnya
lebih lama lagi.
…karena
tadi malam, saat ia melihat layar ponsel Jungkook karena ada panggilan
telepon,
…ia
melihat nama “Seulhee”.
Ada
sebuah pisau tajam yang serasa menikam jantungnya saat nama itu kembali
terlintas di otaknya.
Harin
kenal siapa Seulhee. Seulhee adalah gadis tercantik di universitas
mereka. Seulhee terkenal karena kecantikannya. Gadis itu juga merupakan anak
dari seorang pengusaha kaya; dia dan para gadis yang ada di circle pertemanannya
adalah orang-orang elite yang sangat populer di kampus.
…dan
Seulhee…
…akhir-akhir
ini dekat dengan Jungkook.
Harin
sering mendengar rumor yang mengatakan bahwa Seulhee dan Jungkook itu
dekat. Mereka dikabarkan sering bersama, sering bermesraan, bahkan ada yang
mengatakan bahwa Jungkook berpacaran dengan Seulhee meskipun masih ada Harin.
…dan
Harin…
…juga
pernah melihat kedekatan mereka dengan mata kepalanya sendiri.
Sekarang,
semua keraguan Harin seakan terkonfirmasi.
Lihat?
Jungkook
tidak benar-benar mencintaiku.
Dia
memang hanya berbohong.
Saat
ini, aku hanyalah salah satu…
…dari
sekian banyak gadis yang dekat dengannya. []
Nah, bayangin aja versi manusianya gimana. Ini versi AI-nya.
Jadi, dia itu emang cantik. Cantik, tapi gaya berpakaiannya bukan tipe-tipe "malaikat di kebun bunga", melainkan tipe elegan yang keliatan pinternya. Sip?





No comments:
Post a Comment