Bab
14 :
GAVIN muncul
di garasi mobil dan melihat Talitha berdiri di samping mobilnya. Gadis itu
sedang bengong. Mungkin saja…kalau ada lalat di garasi itu, mulutnya bisa
dimasuki lalat.
Gavin
mendengkus dan menggeleng; dia mendekati Talitha dan menyentil dahi adiknya itu.
"Oi. Lanjutin aja tuh ngelamunnya, sampe jam sembilan."
Talitha
mengerjap, gadis itu membulatkan matanya tatkala menatap Gavin yang sedang berjalan
memutari mobil. Kini, mereka berdiri berseberangan, hanya dibatasi mobil Gavin
di antara mereka.
Talitha
buru-buru berucap, "Bang?"
Gavib
mengernyitkan dahi tatkala dia baru saja membuka pintu mobil. “Hm?”
Talitha
menggaruk kepalanya dan mendengkus; dia bingung mau berkata apa. Tadinya, ia
ingin bertanya soal Deon. Habisnya, Deon memang tidak kelihatan wujudnya beberapa
hari ini. Talitha tahu kalau Deon pasti masih sedih, tetapi Talitha juga tak
berani untuk menjenguknya. Talitha pikir…mungkin saja Deon masih sensitif dan
sukar diajak bicara, apalagi bagi Talitha, dia dan Deon tidak sedekat itu.
Rasanya kayak...enggak berhak aja gitu, buat menjenguk Deon.
Habisnya,
mereka itu apa? Pacaran? Kan cuma pura-pura. Teman? Kayaknya bukan juga.
Sahabat? Lah, ngawur.
Akan
tetapi, akhir-akhir ini, ketika Deon tidak ada, rasanya agak aneh. Soalnya,
biasanya ada manusia yang nanyain Talitha sedang apa, di mana,
dan sudah makan atau belum. Biasanya juga, ada yang mengawasi Talitha dengan
sifat posesifnya. Beberapa hari ini, orang posesif itu seakan-akan menghilang.
Sebenarnya,
kalau ini bukan karena ayahnya Deon meninggal, Talitha pasti akan senang.
Soalnya, tak ada lagi yang suka memaksa-maksa Talitha, tak ada
lagi yang suka menggeledah isi HP Talitha, dan tak ada lagi yang curiga apakah
Talitha berduaan dengan laki-laki atau tidak. Namun, sayangnya, Deon ‘menghilang’ ini
akibat meninggalnya ayahnya. Talitha jelas tidak sejahat itu, apalagi Talitha
benar-benar merasa kasihan pada Deon.
Deon
membenci ibunya. Dengan siapa lagi Deon akan bersandar?
Gavin
yang melihat Talitha melamun, kini berkacak pinggang dan menghela napas. "Lo
ngapa, sih, Dek? Udah jam berapa, nih? Lo hari ini masuk pagi, Kunyuk."
Talitha ngakak sebentar,
lalu ia menatap Gavin dengan penasaran.
"Bang,
Deon ke kantor nggak akhir-akhir ini?"
Gavin
mengernyitkan dahi. Ia paham ke mana larinya pembicaraan ini.
Kabarnya,
Deon sudah beberapa hari ini tidak masuk kerja. Pekerjaannya mungkin
diselesaikan di rumah. Mungkin, ya, soalnya Gavin tak begitu tahu. Deon
itu pimpinan teratas, jadi Gavin tidak begitu tahu apa yang terjadi sebenarnya.
Dia agak segan untuk mencari tahu meskipun adiknya sendiri ‘berpacaran’ dengan
Deon.
Anyway,
semua
orang sudah tahu soal berita duka yang menimpa direktur utama itu.
"Enggak," ujar
Gavin. "Katanya, sih, nggak masuk. Lagian, gue cuma ketua
direksi, jadi agak jarang bisa ketemu Deon. Kayaknya, emang udah beberapa hari ini
dia nggak ke kantor."
Talitha
mengangguk, mulutnya membentuk 'o' kecil. Gavin pun kembali melanjutkan,
"Lo emangnya nggak mau jenguk dia, Dek? Lo pacarnya, 'kan?"
Talitha
menganga.
Lah, Talitha
sendiri tak yakin dengan hubungan yang sedang dia dan Deon jalani. Soalnya,
Talitha kayaknya masih kurang ngerti! Talitha enggak hobi
baca novel romantis, Talitha juga enggak pernah pacaran—lah sekarang
disuruh bersikap layaknya seorang pacar? Wah, nol besar nanti hasilnya.
Namun,
kalau dia menganggap Deon sebagai teman, teman yang sedang berduka seharusnya
memang dijenguk, 'kan? Wait, mereka bukan teman! Deon ini—apa
ya? Halah!
"Kasian
banget, ya, Bang," ujar Talitha prihatin. "Gimana kabarnya, ya, itu
anak?"
Gavin
berdecak. "Itu anak, itu anak! Mending lo jenguk aja, deh, nanti pas
pulang kuliah. Lo pasti ngerasa sedih juga, 'kan? Gue nggak habis
pikir banget sama nih kunyuk satu, masa baru nyadar bahwa lo harus jenguk Deon?"
Talitha
berdecak. "Bukan gitu, lho, Bang! Gue kemaren-kemaren mikirnya, ya…dia
masih berduka banget, jadi gue ngerasa gak enak gitu kalo langsung ngajak dia bicara
atau ngehibur dia. Jadi, ya...nggak terlalu gue pikirin. Tapi gue juga sedih
banget pas dapet kabar kalo Papa Darwin meninggal. Nggak nyangka banget, Bang…padahal
rasanya baru beberapa hari yang lalu gue ngobrol sama Papa Darwin," ujar
Talitha; kesedihan yang hari itu ia rasakan mendadak kembali. "Gue baru
terpikir buat ngejenguk Deon karena dia nggak keliatan akhir-akhir ini."
Gavin
menggeleng tak habis pikir. "Eh buset nih anak... Iya gue tau maksud lo,
tapi kalo dari sisi Deonnya? Coba lo pikir. Lo yakin dia gak butuh dihibur
gitu? Ya paling enggak…lo mesti jenguk dia. Dia sering juga, kan, main ke rumah
kita tanpa alasan? Nah, anggep gantian aja. Sebenernya, gue juga bingung sama
hubungan kalian, tapi ya udahlah. Jenguk aja dia. Hibur dia."
Talitha
menggaruk kepalanya lagi. "Tapi ntar kalo diusir gimana, Bang?"
Gavin
lagi-lagi berdecak. "Ya kali diusir! Walau keliatan ganas gitu, sebenernya
dia itu orang baik kok. Lah, bentar. Lo yang pacaran sama dia, kok gue yang
lebih tau?!"
Talitha
nyengir. "Iya juga, ya? Ah, bodo amatlah. Pokoknya, kalo gue diusir
sama Deon, tanggung jawab lo, Bang!"
"Iya
iya," ujar Gavin. "Ya udah, yok berangkat."
Setelah
Gavin masuk ke mobil, Talitha kembali memamerkan cengiran khasnya dan
ikut masuk ke mobil. Akhirnya, rasa bimbangnya terjawab sudah; mungkin, dia
memang harus menjenguk Deon.
******
Chintya
masuk ke kamarnya dan melempar tasnya ke sofa dengan penuh amarah. Dia
membanting bantalan-bantalan sofa itu ke sembarang arah, lalu berteriak. Dia
menitikkan air mata.
Semua makeup dan
benda-benda lain yang ada di meja riasnya ia jatuhkan ke lantai. Tanpa tedeng
aling-aling, ia mengungkapkan seluruh rasa marah yang sejak tadi tak ia
tunjukkan di apartemen Deon.
Deon
ingin menikahi Talitha? Cewek yang bernama Talitha itu?
Sialan!
Chintya
merasa sangat marah, malu, dan geram. Dia dipermalukan seperti itu hanya karena
keputusan tak masuk akal yang Deon buat. Tidak, tidak mungkin. Itu semua pasti
tidak benar. Semuanya adalah kebohongan.
Belum
tentu Deon memang ingin menikahi Talitha, soalnya yang mengatakan bahwa ‘Deon
ingin menikahi Talitha’ itu adalah mamanya Deon, bukan Deon sendiri. Jadi,
belum tentu benar, ‘kan! Kalaupun benar, Deon pasti mau menikahi Talitha karena
sesuatu!! Karena kasihan atau semacamnya! Ya, ‘kan?!
Deon
tak pernah dekat dengan perempuan lain selain Chintya. Chintya tahu itu.
Mengapa cewek tengil itu harus mengacaukan kehidupan cintanya dengan Deon? Ini gila!
Chintya
terduduk di lantai, bersandar di ranjang, kemudian mengusap rambutnya dengan
frustrasi. Ia benar-benar menginginkan Deon. Ia benar-benar mencintai Deon apa
adanya. Mengapa semuanya jadi seperti ini dalam waktu singkat.
Tidak! Ia
tak mau kehilangan Deon. Tak boleh. Deon itu cinta pertamanya. Sejak kecil,
hanya Deonlah yang selalu Chintya lihat, selalu Chintya cintai, dan selalu
Chintya kagumi.
Tiba-tiba,
ponsel Chintya yang ia letakkan di sakunya itu bergetar. Berdecak kesal,
Chintya pun mengambil ponsel itu, lalu menempelkan ponsel itu di telinganya
tanpa tahu siapa orang yang meneleponnya.
"Apa?!"
teriaknya kasar. "Siapa in—"
"Chintya,
ini Papa, Sayang."
Chintya
berdecak lagi; dia mulai merengek. "Apaan, sih, Pa? Ntar
aja, aku masih banyak kerjaan."
"Kamu
kenapa, Sayang? Ada apa?"
Chintya
mengerang, lalu memukul permukaan lantai dengan kepalan tangannya.
"Aku nggak mau kayak gini, Pa..."
"Kenapa…?
Cerita sama Papa. Jangan nangis, ya? Kamu kenapa, Nak?"
Chintya
menggeleng frustrasi.
"Pa,
aku nggak mau kalo nggak sama Deon. Aku nggak
mau nikah sama orang selain Deon. Aku maunya sama Deon, aku nggak rela
kalo Deon pergi dari hidup aku! Aku yang paling pantes buat dia!"
Setelah
itu, hening selama beberapa detik. Hanya suara tangis Chintyalah yang
mendominasi.
Hingga
kemudian…ayah Chintya kembali bersuara.
"Chintya,
udah, diem. Kamu nggak usah nangis. Sebenernya, ini harus Papa rahasiakan sampe
kalian berdua bener-bener ada rencana untuk sama-sama, tapi karena kamu nangis begini,
Papa rasa ini harus Papa sampein ke kamu sekarang."
Chintya
mendadak diam. Rahasia?
Rahasia
apa?
"Nak,
sebenernya Papa juga kaget. Seharusnya kami ada janji buat negosiasi ulang masalah
rahasia ini, tapi beliau berpulang duluan.”
Chintya
menyatukan alis. “Rahasia apa, Pa?”
Terdengar
papanya Chintya menghela napas. “Kamu sama Deon itu sudah kami jodohkan
sejak kecil. Ya tapi Papa nggak tau, apakah keputusan Darwin ada perubahan atau
nggak, soalnya kami nggak sempet ketemu lagi."
Kedua
mata Chintya membelalak.
Namun
beberapa detik setelah itu, Chintya tersenyum semringah.
******
Talitha
telah menekan bel apartemen Deon sebanyak dua kali. Tak ada tanda-tanda kalau
pintunya bakal dibuka. Talitha mengangkat sebelah alisnya. Waduh, apa
Deon sedang tak mau menerima tamu? Lah, benar juga. Deon masih
berduka, bukan? Talitha mulai gusar, tetapi gadis itu tetap mencoba untuk
menekan bel.
Dua
detik kemudian, knop pintunya bergerak. Talitha tersentak. Pilihan satu: dibunuh.
Pilihan dua: diterjang. Pilihan tiga: disuruh masuk. Apa perlu Talitha berlagak
pikun saat Deon menanyakan untuk apa dia kemari? Ekstrem juga.
Pintu
pun terbuka dan terlihatlah Deon yang sedang berdiri tegap di depannya dengan
wajah pucat.
Talitha
kontan melebarkan mata. "Deon? Lho, kamu sakit? Gilaa, pucatnya euy!"
Deon
menatap Talitha seraya memasang ekspresi datar, lalu menarik Talitha masuk.
Pria itu langsung menutup pintu apartemennya dan menarik Talitha hingga ke
ruang tengah. Setelah sampai di ruang tengah, Deon langsung berdiri di hadapan
Talitha dan mencengkeram pundak Talitha.
Talitha
mengaduh kesakitan. "Argh—oi, Deon! Kamu nih kenapa?!"
Deon
menatap Talitha tajam. "Aku baru tau kalo ada seorang pacar yang nggak
jenguk pacarnya yang lagi sedih sama sekali. Ke mana aja kamu?! Oh...pergi
sama laki-laki lain, ya? Jangan harap aku mau ngampunin kamu,
Talitha. Kamu mau ambil kesempatan ini buat bikin aku tambah sedih, ya? Aku nggak
habis pikir; udah berapa hari ini?! Kesinikan HP kamu, biar aku liat apakah
kamu berpaling dari aku."
Talitha
kaget minta ampun. "Lah, siapa juga yang pergi sama cowok lain?!
Kamu ini paranoid, ya? Wah—meskipun lagi sedih, ternyata sintingnya
nggak hilang nih anak satu. Aku kemaren-kemaren nggak jenguk kamu karena kamu
lagi berduka! Aku takut ganggu; aku ngerasa nggak enak!! Ini juga sebenernya aku
takut mau ke sini. Ntar diusir lagi!"
"Aku
nggak peduli dengan alasan kamu yang nggak masuk akal itu!" ujar Deon.
"Kamu nggak tau betapa terganggunya aku karena ada wanita sialan itu
di sini."
Talitha
terdiam. Itu…maksudnya...
Mama
Serena?
Mamanya
Deon—Serena—ada di sini, ya, akhir-akhir ini?
"Deon,
berhenti manggil mama kamu kayak gitu," ujar Talitha ekspresi tak suka.
Talitha mengepalkan tangannya. "Gimanapun juga, dialah yang ngelahirin
kamu."
"Ngelahirin?" ulang
Deon dengan sinis. Deon melepaskan cengkeramannya dari bahu Talitha dan tak
Talitha sangka, pria itu mulai tertawa hambar. Pria itu berkacak pinggang dan mendongak;
dia tertawa lepas.
"Kalau
hanya ngelahirin dan nggak ngurusin, udah gitu nggak punya moral yang
bisa diajarin ke anaknya, untuk apa? Apa yang aku dapat, Talitha?" Deon
menatap Talitha lagi dan matanya nyalang. Ia kembali mencengkeram bahu Talitha.
"Bilang ke aku!!"
Mata
Talitha membulat, tetapi dia tak berbicara. Ia menunggu Deon selesai karena ia
tahu kalau Deon pasti akan mengatakan sesuatu lagi. Napas Deon terdengar
memburu.
"Kamu
nggak tau..." ujar Deon dengan suara yang tiba-tiba terdengar pelan. Mata
Deon memerah dan berkaca-kaca. "Kamu nggak tau betapa sulitnya bagi
aku untuk ngeliat dia lagi tanpa marah-marah. Betapa sulit bagi aku untuk ngeliat
dia dengan cara biasa…walaupun kenyataannya aku udah nyoba buat maafin dia."
Mata
Talitha berkaca-kaca.
Talitha…tahu
itu. Deon menjadi iblis yang mengerikan, dikuasai rasa marah yang tak
terkendali ketika melihat mamanya. Semua itu membuat hidupnya jadi sangat sulit;
dia menelan segala luka itu bulat-bulat walaupun sebenarnya itu menyakitkan.
Dari penjelasan Deon…agaknya…Serena sudah menjelaskan semuanya kepada Deon.
Semua kebenaran yang tertutupi selama ini, sebuah kenyataan yang pahit, yang
merusak Deon.
Talitha
menatap Deon dengan penuh pengertian. Ada empati yang terkandung di kedua
matanya. "Jadi, sekarang mama kamu ke mana?"
"Aku
nggak tau," jawab Deon. Deon tampak menggeram karena menahan seluruh amarahnya.
"Dia pamit buat nganterin Chintya dan sekarang aku nggak tau dia di mana.”
Talitha
mengangguk. Tanpa sadar, pelan-pelan…air mata Talitha mengalir.
Namun,
Talitha langsung mengusap air mata itu.
"Aku
nggak tau kalo ternyata selama ini aku hidup dengan kedua orangtua yang
gila," ujar Deon. Talitha mengerutkan dahi.
Setelah
itu, Deon melanjutkan, "Ternyata, nggak ada orang yang benar-benar
suci atau tak bersalah dalam sebuah masalah."
Tatapan
Talitha jadi sendu, terutama saat Deon berkata, "Aku sayang sama Papa,
lebih dari apa pun, dan aku benci sama mamaku sendiri. Aku telanjur punya sifat
buruk, aku rusak dan nggak terkendali. Aku nganggap bahwa akulah yang tau
segalanya karena aku ngelihat Mamaku ngelakuin hal gila dengan mata kepalaku
sendiri, tapi ternyata akulah yang nggak tau kenyataan yang sebenarnya. Mereka
berdua—" Deon menunduk dan tangannya bergetar di bahu Talitha. Deon menggertakkan
giginya, menahan semua rasa sesak di dadanya. "—sama-sama salah. Mereka
berdua saling ngehancurin satu sama lain. Keluargaku hancur. Abis itu Papa meninggal...tapi
mungkin…ini hukuman buat kami semua."
Entah
dorongan dari mana, mungkin karena Talitha tidak setuju dengan perkataan Deon, gadis
itu pun mengangkat wajah Deon dan memegang pipi Deon dengan kedua tangannya.
"Enggak,
Deon,” ujar Talitha dengan yakin. “Justru dengan terungkapnya semua ini, ada
hikmah yang bisa kamu ambil. Aku mungkin nggak bisa nasihatin kamu karena aku
juga bukan orang yang bijak, tapi aku tau…aku tau betapa sayangnya mereka
berdua sama kamu. Mama Serena itu sayang banget sama kamu, Deon. Papa Darwin
juga. Mungkin…kamu bakal marah dan ngebentak mama kamu setiap kamu ngeliat dia,
tapi percayalah, mama kamu pasti nggak bakal marah balik ke kamu. Mama Serena
itu tau kalo kamu masih marah ke dia. Kamu cuma perlu belajar sedikit demi
sedikit untuk ngurangin rasa marah kamu. Jangan dipaksain, Deon,"
"Aku
mau sayang lagi sama dia, Talitha," ujar Deon seraya menggeleng. "tapi
rasa benciku ke dia udah terlalu dalam. Tertanam hingga ke dasar…selama puluhan
tahun. Nggak semudah itu. Meskipun sekarang aku udah tau kalo dia nggak
bermaksud untuk ngelakuin itu, aku belum bisa ngehilangin kebencianku ke dia.
Aku bukan orang yang punya hati sebaik malaikat, kamu tau itu."
Mata
Talitha kembali berkaca-kaca. Deon ternyata berusaha untuk menghilangkan
kebenciannya.
Nyatanya,
Deon juga sayang pada mamanya.
Hening
beberapa saat…hingga Talitha tak sadar bahwa Deon menyandarkan kepalanya ke
bahu Talitha. Punggung Deon mulai bergetar.
Talitha
mengusap punggung Deon dan mulai ada setitik air mata yang jatuh di pipi
Talitha. Astaga, sudah berapa kali kisah Deon ini membuatnya menangis?
Tak
lama kemudian, Talitha pun membawa Deon ke kamarnya. Talitha mendudukkan Deon
di ranjang dan memegang kening pria itu. Sejenak kemudian, Talitha spontan menjauhkan
tangannya dari kening Deon.
"Mampus!
Panas banget gila!" teriak Talitha sembari menggeleng.
"Mama gak tau kalo kamu sakit?"
Deon
menggeleng. "Aku nggak pernah biarin dia nyentuh badanku; aku juga jarang
keluar dari kamar karena dia ada di sini."
Talitha
berdecak. "Oi! Kamu nih gila atau gebleg? Oke, aku tau kamu
benci sama mama kamu, tapi nggak sampe nyiksa diri juga kali! Kalo kamu ntar jadi
bangkai di kamar, gimana, hah?! Ampun dah... Warbyazah, asli. Butuh
piknik nih orang!"
"Butuh…piknik?" tanya
Deon tak mengerti. Pria itu menatap Talitha seraya mengerutkan dahi.
Talitha
tertawa kesetanan. Well, wajahnya sembap, tetapi dia masih bisa tertawa
seperti itu.
"Astaga
Deon...Deon. Bhahah! Ya udah, ah! Biar kucariin obat!"
ujar Talitha. Akan tetapi, Deon lebih cepat daripada Talitha. Deon langsung
menarik Talitha untuk duduk di sebelahnya…hingga membuat mata Talitha membelalak.
Saat
sudah duduk di samping Deon, Talitha kembali dikejutkan dengan Deon yang kini
mengambil posisi berbaring dan pria tampan itu membiarkan kepalanya berada di
pangkuan Talitha.
Talitha
jelas saja terkejut bukan main.
"Oi—Deon—"
"Nanti
aja," ujar Deon dengan suara serak karena demamnya. "Aku kangen sama
kamu, Talitha. Aku juga masih mau nginterogasi kamu, apakah kamu pergi sama cowok
lain, chat-an, atau teleponan sama cowok lain lewat HP
kamu."
Talitha
menganga. Dia langsung protes, "HAH?! AKU NGGAK ADA KAYAK
GITUAN SAMA COWOK LAIN, OI! HARUSNYA KAMU NYADAR, SIAPA YANG BIKIN AKU GAK BISA
INTERAKSI SAMA COWOK LAIN, HAH?! KAN KAMU! DASAR AYAM!!"
"Aku
bukan ayam, Talitha," ujar Deon sembari menatap Talitha tajam. Talitha
hampir saja tertawa kencang kalau saja Deon tak melanjutkan, "Kesiniin HP
kamu sekarang."
"Males!"
ujar Talitha dengan mata nyalang. "Udahlah sakit, masih aja sok posesif
kamu nih! Udah, awas, biar kubeliin obat,"
"PONSEL.
KAMU," ujar Deon tajam. "Sekarang."
Talitha
mendengkus. Dengan malas, ia mengambil ponsel itu dari saku celananya.
Deon
pun memeriksa ponsel itu.
Hening.
"Alfa
ini rupanya belum nyerah, ya?" ujar Deon sarkastis. "Ini memang nggak
kamu balas…atau kamu ngehapus semua chat yang kamu kirim ke luar, hm?"
Talitha
berdecak. "Aku nggak serajin itu buat hapus-hapusin chat. Kalaupun
kuhapus, ya kuhapus sekaligus! Nggak separuh-separuh gitu!"
Deon
mengangkat sebelah alisnya. "Ganti SIM card kamu atau aku
rusakin HP ini. Aku harus kasih pelajaran buat si Alfa sialan itu.”
Talitha
membulatkan mata. "Ha—kamu mau ngapain, oi?!!! Weh, ampun nih anak, mantap
jiwa, mancay, wakwaw—"
"Kamu
tau, Talitha?" ujar Deon tiba-tiba. Dia mengalihkan pandangannya dari
ponsel itu, lalu menoleh kepada Talitha. Matanya bersinar terang. Dia terlihat
sangat...tampan. Meski hanya dengan pakaian santai di rumah serta wajah
pucatnya pun, Deon tetap terlihat tampan.
"Aku cinta
sama kamu. Jadi, jangan pernah main-main lagi. Mulai sekarang,
kamu berurusan dengan hatiku."
******
Malam
ini, Talitha merasa sedikit lega. Sesungguhnya, setelah ia keluar dari
apartemen Deon tadi sore, jantungnya serasa ingin meledak. Deon tiba-tiba berkata
‘aku cinta kamu’ padanya.
Luar
biasa. Efeknya dahsyat; Talitha bukan main kagetnya. Untuk pertama kalinya, ada
orang yang menyatakan cinta padanya, terutama orang itu adalah seseorang
seperti Marco Deon.
Ketika
Talitha merasa deg-degan macam habis lari maraton, tiba-tiba
Alfa meneleponnya. Itu pun, untungnya…Deon mau mengembalikan ponselnya meskipun
berujung dengan pertengkaran. Alfa menelepon dan mengajaknya untuk menonton
bioskop malam ini, sebagai ganti janji mereka waktu itu yang tak sempat terlaksana.
"Duduk
di sini aja yuk, Ta," ajak Alfa ketika mereka sampai di
kursi yang ada di dekat jendela. Ini permintaan Talitha banget. Habis
nonton bioskop, pasti dia bakal kelaparan. Jadi, Alfa tertawa dan mengajaknya
makan di KFC. Lumayan, nonton film dan makan KFC di mall...boleh juga.
"Ita
mau makan apa?" tanya Alfa. "Biar Kakak yang ngantre di sana.”
Widih,
Alfa ini malaikat, ya? Kok baik banget? Talitha langsung
bersemangat. "Mau ayamnya dua, Kak, yang paha semua," ujar Talitha
sambil nyengir. "terus ice cream. Terus..."
"Kentang
goreng?" tebak Alfa. Well, Alfa tahu banget Talitha
itu macam apa. Kalau bisa, semuanya bakal Talitha pesan. Anaknya agak rakus, you
see.
"Wakwakwak!"
Talitha tertawa kencang. "Kak Alfa tau aja mah."
Alfa
menggeleng geli. "Oke. Ita tunggu di sini, ya."
Alfa
pun tersenyum dan meninggalkan Talitha. Alamak...senyumnya Alfa
itu, lho. Bikin hati jadi meleleh.
Saat
Alfa mengantre, Talitha hanya merenung ke luar jendela. Memikirkan Deon, memikirkan
dirinya yang sebentar lagi akan menghadapi ujian, memikirkan Mama Serena...semuanya
bercampur aduk.
Alfa
kembali dengan seluruh pesanan mereka. Hampir semua isi nampan itu adalah
pesanan Talitha; Alfa tampak agak kesulitan saat membawanya. Saat Alfa selesai
menaruh semuanya di atas meja, Alfa menggantungkan leather jacket-nya di
kursi yang akan ia duduki. Akhirnya, cowok itu pun duduk sembari
mengembuskan napasnya lewat mulut.
"Nah,
makan, gih. Dari tadi perutnya kayaknya bunyi terus,"
ujar Alfa, membicarakan Talitha sembari tertawa kecil. Talitha langsung tertawa
terbahak-bahak, tak peduli kalau orang-orang melihatnya seraya menyatukan alis.
Mereka
mulai makan. Akan tetapi, begitu suapan kedua, Alfa kembali membuka suara.
"Kakak nggak nyangka,
ternyata ceritanya kayak gitu."
Talitha
mengerjap; dia menatap Alfa meski mulutnya penuh. Dia agak bingung awalnya, tetapi
sesaat kemudian, dia pun paham dan mulai mengangguk.
"Ya
emang gitu, Kak, mau gimana lagi?" ujar Talitha sembari mengikik tanpa
dosa. Dia memang menceritakan semuanya kepada Alfa. Semua tentang Deon dan
hubungan mereka dari awal sampai sekarang, saat dalam perjalanan ke mall beberapa
jam yang lalu. Itu semua atas permintaan Alfa karena waktu mereka ikut seminar
beberapa hari yang lalu, Alfa sudah meminta Talitha untuk bercerita lewat
telepon. Akan tetapi, Talitha tak mengangkat teleponnya karena waktu itu
Talitha sedang buru-buru pergi ke rumah sakit bersama Deon setelah mendapat
kabar bahwa papanya Deon masuk rumah sakit.
Alfa
tersenyum. "Makasih, ya, udah mau cerita sama Kakak."
Talitha
yang tadinya lanjut makan, kini berhenti lagi dan menatap Alfa. Ia melihat Alfa
tersenyum manis padanya sehingga ia jadi ikut tersenyum kaku. "Haha, oke,
Kak, santai aja."
Saat
Talitha memakan ice cream-nya, Alfa terus memperhatikan gadis itu dengan
saksama. Selama ini, ia sudah berpikir, kapan ia akan menyatakan perasaannya?
Ini sudah satu tahun lebih, apalagi ia tak yakin bahwa Talitha ‘si
tidak peka’ ini mengetahui perasaannya yang sudah lama ia pendam.
Apakah
ini saatnya bagi Alfa? Ada sesuatu yang semakin menggerakkannya ketika mengetahui
permasalahan antara Deon dan Talitha. Kini, ia tahu bahwa ada celah untuknya.
Ia masih bisa...mengatakan, mengungkapkan perasaannya kepada
Talitha. Ia tak memaksa Talitha untuk menerimanya, tetapi paling tidak...ia
harus mengatakannya.
Talitha
pun terkejut saat Alfa tiba-tiba memegang tangannya. Talitha membulatkan mata;
dia menatap Alfa dengan ekspresi heran.
"Ngapa,
Kak? Gak makan?” tanya Talitha dengan bodohnya.
Alfa
tersenyum. Mata cowok itu menatap Talitha dengan tulus. Setelah itu,
ia pun mengungkapkan perasaannya.
"Ita,
dengerin Kakak bentar, ya?" ujar Alfa pelan.
Tatapan
Alfa begitu dalam.
Talitha
mengangguk. "Iya, tapi ada apa, Kak? Kok macem—"
Alfa
tersenyum. Talitha hampir saja terpesona…sampai akhirnya Alfa kembali
berbicara.
"Kakak
sebenernya suka sama Ita." Alfa mengucapkan itu dengan
pelan meskipun kenyataannya perasaan cowok itu tengah
menggebu-gebu. Jantungnya berdegup kencang.
Talitha
terkejut bukan main, sampai-sampai ekspresi muka Talitha jadi aneh. Alfa
tersenyum geli. Talitha ini…ada-ada saja. Rasa gugup Alfa jadi berkurang.
Alfa
kemudian melanjutkan, "Udah lama banget; udah dari
setahun yang lalu. Ngomong-ngomong, Ita nyadar nggak?"
Tubuh
Talitha mematung. Dia benar-benar tak bisa bergerak!
"Kakak
sayang, lho, sama Ita. Kenapa Ita mau dipaksa sama Deon?"
ujar Alfa. Tatapannya semakin lembut. "Ya...Kakak dukung apa pun keputusan
Ita, tapi Ita coba jujur... Ita punya perasaan nggak sama
Kakak? Kakak kayaknya nggak pinter membangun hubungan yang
nggak serius, karena...Kakak susah jatuh cinta. Tapi sekecil apa pun perasaan
Ita...Kakak bakal berusaha untuk bikin Ita bahagia. Ita bisa pegang kata-kata
Kakak."
Talitha
melongo.
Alfa
melanjutkan lagi, masih dengan suara lembutnya, "Kakak selalu mikirin Ita
dan segala tingkah laku Ita setiap hari. Asal Ita tau aja, Kakak
diejek kayak orang gila sama Mama karena sering kepergok cengengesan sendiri.
Gara-gara mikirin tingkah gilanya Ita, tuh. Kalo Ita belum bisa jawab sekarang,
apa boleh Kakak jagain Ita dan mastiin Ita baik-baik aja tiap hari? Kakak
tunggu sampe Ita punya jawabannya. Yang penting, sekarang Kakak udah lega
karena Ita udah tau perasaan Kakak."
Talitha
meneguk ludah. Baru bisa mingkem karena sejak tadi ia
menganga. Ini tidak bercanda, bukan? Alfa tadi ngomong apa?!! Alfa—Alfa
menyatakan perasaan padanya!
Waduh, mati.
Belum
sempat Talitha bereaksi, tiba-tiba ada gebrakan keras di meja mereka. Ada yang
menggebrak meja mereka. Kontan Talitha dan Alfa menoleh ke sebelah kiri mereka.
Talitha
keheranan setengah mati tatkala melihat Chintya Valissisa berdiri di
samping mereka. Mata Chintya memelotot dan dia terlihat murka. Dengan angkuhnya,
Chintya menatap Talitha dengan sadis.
"Kamu!
Ternyata begini, ya, kelakuan kamu di belakang Deon?!! Kamu—" Chintya
nyaris menampar Talitha, tetapi Chintya kaget saat tiba-tiba pandangannya
menggelap. Alfa tadi berdiri dan menaruh jaketnya di kepala Chintya sehingga
kepala Chintya tertutupi jaket. Talitha langsung panik dan berdiri.
Chintya
baru saja ingin melepas jaket itu—ia sudah mencengkeram leather jacket
itu dengan geram—ketika Alfa mendadak mendekatinya dan berbisik:
"Kamu
itu artis, ‘kan? Jangan bikin ribut di sini. Kalo emang mau
bicara sama Ita, ayo bicara di parkiran mall. Agak sepi di
sana."
Setelah
itu, Alfa berjalan disusul oleh Chintya yang sudah menggertakkan giginya.
Talitha hanya mengikuti mereka dari belakang sembari mengedikkan bahunya; dia kurang connect dengan
apa yang sedang terjadi.
******
"Kamu
kok bisa ada di sini?" tanya Talitha pada Chintya begitu mereka
sampai di tempat parkir mobil. Chintya langsung menatap Talitha dan menggeram.
Ia nyaris menampar Talitha lagi dan Alfa langsung menghentikan Chintya. Akan
tetapi, ternyata Talitha lebih cepat. Talitha menghentikan tangan Chintya
dengan sebelah tangannya.
"Eh, Mbak, jangan
nampar orang sembarangan, oi!" ujar Talitha. Chintya jadi murka. Rahang
Chintya mengetat.
"Perempuan
kayak kamu ini yang mau Deon nikahi?! Perempuan bego tukang
selingkuh kayak kamu?! AKU BERIBU KALI LIPAT LEBIH CINTA SAMA DIA DARIPADA
KAMU, DASAR PELACUR! AKU BAKAL SETIA SAMA DIA, NGGAK KAYAK KAMU!"
Mata
Talitha membelalak. Mendadak, emosi Talitha meluap tatkala mendengar semua
kalimat kasar itu. Talitha menggeram dan mengepalkan tangannya—dia jadi
mencengkeram tangan Chintya—kemudian dia mengempaskan tangan Chintya itu.
"MULUT KAMU ITU DIJAGA, WOI! PERNAH DIAJARIN SOPAN SANTUN NGGAK? AKU YANG
BEGO AJA TAU KALO ITU NGGAK SOPAN!"
Alfa
menghampiri Talitha dan menenangkan Talitha. Setelah itu, Alfa maju dan membelakangi
Talitha; dia melindungi Talitha.
"Jadi,
sebenarnya…kamu bisa ada di sini karena kebetulan atau karena emang nyariin Talitha?
Kamu Chintya Valissisa itu, 'kan?" tanya Alfa dengan mata
menyipit tajam.
Chintya
berdecak, matanya memelotot. "Kebetulan! Emang kenapa?
Aku rasa aku nggak perlu basa-basi lagi kayak kemarin,
sama dia." Chintya menunjuk Talitha dengan dagunya.
Talitha
menganga dan mengernyitkan dahinya. Gadis itu sampai menggeleng tak habis pikir.
"Karena
aku ketemu kalian yang KEBETULAN lagi mesra-mesraan, aku rasa
aku harus blak-blakan," lanjut Chintya. Matanya menatap
Talitha dengan tajam.
"Aku
dan Deon udah dijodohin dari kecil. Nggak lama lagi kami bakal nikah. Telan
bulat-bulat harapan kamu yang mau milikin Deon!" teriak Chintya. Chintya
tersenyum miring. Dia tampak puas.
Talitha
jadi heran setengah mati. Sebenarnya, ia tak pernah memiliki harapan untuk
memiliki Deon. Namun, kata-kata Chintya itu membuatnya terdiam.
Deon
dan Chintya dijodohkan? Deon tak pernah bilang apa pun tentang itu...
Chintya
mendekati Talitha lagi dan menunjuk wajah Talitha. "KAMU ITU—"
"Ada
apa ini?"
Seketika,
suara itu membuat tubuh mereka semua mematung.
Betapa
terkejutnya mereka ketika mereka melihat ke asal suara.
Oh,
what a bad timing. Karena ketika mereka melihat ke asal suara, ternyata
itu adalah…
…Deon. []



No comments:
Post a Comment