Sunday, September 14, 2025

My Man (Bab 14)

 


******

Bab 14 :

 

GAVIN muncul di garasi mobil dan melihat Talitha berdiri di samping mobilnya. Gadis itu sedang bengong. Mungkin saja…kalau ada lalat di garasi itu, mulutnya bisa dimasuki lalat.

Gavin mendengkus dan menggeleng; dia mendekati Talitha dan menyentil dahi adiknya itu. "Oi. Lanjutin aja tuh ngelamunnya, sampe jam sembilan."

Talitha mengerjap, gadis itu membulatkan matanya tatkala menatap Gavin yang sedang berjalan memutari mobil. Kini, mereka berdiri berseberangan, hanya dibatasi mobil Gavin di antara mereka.

Talitha buru-buru berucap, "Bang?"

Gavib mengernyitkan dahi tatkala dia baru saja membuka pintu mobil. “Hm?”

Talitha menggaruk kepalanya dan mendengkus; dia bingung mau berkata apa. Tadinya, ia ingin bertanya soal Deon. Habisnya, Deon memang tidak kelihatan wujudnya beberapa hari ini. Talitha tahu kalau Deon pasti masih sedih, tetapi Talitha juga tak berani untuk menjenguknya. Talitha pikir…mungkin saja Deon masih sensitif dan sukar diajak bicara, apalagi bagi Talitha, dia dan Deon tidak sedekat itu. Rasanya kayak...enggak berhak aja gitu, buat menjenguk Deon.

Habisnya, mereka itu apa? Pacaran? Kan cuma pura-pura. Teman? Kayaknya bukan juga. Sahabat? Lah, ngawur.

Akan tetapi, akhir-akhir ini, ketika Deon tidak ada, rasanya agak aneh. Soalnya, biasanya ada manusia yang nanyain Talitha sedang apa, di mana, dan sudah makan atau belum. Biasanya juga, ada yang mengawasi Talitha dengan sifat posesifnya. Beberapa hari ini, orang posesif itu seakan-akan menghilang.

Sebenarnya, kalau ini bukan karena ayahnya Deon meninggal, Talitha pasti akan senang. Soalnya, tak ada lagi yang suka memaksa-maksa Talitha, tak ada lagi yang suka menggeledah isi HP Talitha, dan tak ada lagi yang curiga apakah Talitha berduaan dengan laki-laki atau tidak. Namun, sayangnya, Deon ‘menghilang’ ini akibat meninggalnya ayahnya. Talitha jelas tidak sejahat itu, apalagi Talitha benar-benar merasa kasihan pada Deon.

Deon membenci ibunya. Dengan siapa lagi Deon akan bersandar?

Gavin yang melihat Talitha melamun, kini berkacak pinggang dan menghela napas. "Lo ngapa, sih, Dek? Udah jam berapa, nih? Lo hari ini masuk pagi, Kunyuk."

Talitha ngakak sebentar, lalu ia menatap Gavin dengan penasaran.

"Bang, Deon ke kantor nggak akhir-akhir ini?"

Gavin mengernyitkan dahi. Ia paham ke mana larinya pembicaraan ini.

Kabarnya, Deon sudah beberapa hari ini tidak masuk kerja. Pekerjaannya mungkin diselesaikan di rumah. Mungkin, ya, soalnya Gavin tak begitu tahu. Deon itu pimpinan teratas, jadi Gavin tidak begitu tahu apa yang terjadi sebenarnya. Dia agak segan untuk mencari tahu meskipun adiknya sendiri ‘berpacaran’ dengan Deon.

Anyway, semua orang sudah tahu soal berita duka yang menimpa direktur utama itu.

"Enggak," ujar Gavin. "Katanya, sih, nggak masuk. Lagian, gue cuma ketua direksi, jadi agak jarang bisa ketemu Deon. Kayaknya, emang udah beberapa hari ini dia nggak ke kantor."

Talitha mengangguk, mulutnya membentuk 'o' kecil. Gavin pun kembali melanjutkan, "Lo emangnya nggak mau jenguk dia, Dek? Lo pacarnya, 'kan?"

Talitha menganga.

Lah, Talitha sendiri tak yakin dengan hubungan yang sedang dia dan Deon jalani. Soalnya, Talitha kayaknya masih kurang ngerti! Talitha enggak hobi baca novel romantis, Talitha juga enggak pernah pacaran—lah sekarang disuruh bersikap layaknya seorang pacar? Wah, nol besar nanti hasilnya.

Namun, kalau dia menganggap Deon sebagai teman, teman yang sedang berduka seharusnya memang dijenguk, 'kan? Wait, mereka bukan teman! Deon ini—apa ya? Halah!

"Kasian banget, ya, Bang," ujar Talitha prihatin. "Gimana kabarnya, ya, itu anak?"

Gavin berdecak. "Itu anak, itu anak! Mending lo jenguk aja, deh, nanti pas pulang kuliah. Lo pasti ngerasa sedih juga, 'kan? Gue nggak habis pikir banget sama nih kunyuk satu, masa baru nyadar bahwa lo harus jenguk Deon?"

Talitha berdecak. "Bukan gitu, lho, Bang! Gue kemaren-kemaren mikirnya, ya…dia masih berduka banget, jadi gue ngerasa gak enak gitu kalo langsung ngajak dia bicara atau ngehibur dia. Jadi, ya...nggak terlalu gue pikirin. Tapi gue juga sedih banget pas dapet kabar kalo Papa Darwin meninggal. Nggak nyangka banget, Bang…padahal rasanya baru beberapa hari yang lalu gue ngobrol sama Papa Darwin," ujar Talitha; kesedihan yang hari itu ia rasakan mendadak kembali. "Gue baru terpikir buat ngejenguk Deon karena dia nggak keliatan akhir-akhir ini."

Gavin menggeleng tak habis pikir. "Eh buset nih anak... Iya gue tau maksud lo, tapi kalo dari sisi Deonnya? Coba lo pikir. Lo yakin dia gak butuh dihibur gitu? Ya paling enggak…lo mesti jenguk dia. Dia sering juga, kan, main ke rumah kita tanpa alasan? Nah, anggep gantian aja. Sebenernya, gue juga bingung sama hubungan kalian, tapi ya udahlah. Jenguk aja dia. Hibur dia."

Talitha menggaruk kepalanya lagi. "Tapi ntar kalo diusir gimana, Bang?"

Gavin lagi-lagi berdecak. "Ya kali diusir! Walau keliatan ganas gitu, sebenernya dia itu orang baik kok. Lah, bentar. Lo yang pacaran sama dia, kok gue yang lebih tau?!"

Talitha nyengir. "Iya juga, ya? Ah, bodo amatlah. Pokoknya, kalo gue diusir sama Deon, tanggung jawab lo, Bang!"

"Iya iya," ujar Gavin. "Ya udah, yok berangkat."

Setelah Gavin masuk ke mobil, Talitha kembali memamerkan cengiran khasnya dan ikut masuk ke mobil. Akhirnya, rasa bimbangnya terjawab sudah; mungkin, dia memang harus menjenguk Deon.

 

******

 

Chintya masuk ke kamarnya dan melempar tasnya ke sofa dengan penuh amarah. Dia membanting bantalan-bantalan sofa itu ke sembarang arah, lalu berteriak. Dia menitikkan air mata.

Semua makeup dan benda-benda lain yang ada di meja riasnya ia jatuhkan ke lantai. Tanpa tedeng aling-aling, ia mengungkapkan seluruh rasa marah yang sejak tadi tak ia tunjukkan di apartemen Deon.

Deon ingin menikahi Talitha? Cewek yang bernama Talitha itu?

Sialan!

Chintya merasa sangat marah, malu, dan geram. Dia dipermalukan seperti itu hanya karena keputusan tak masuk akal yang Deon buat. Tidak, tidak mungkin. Itu semua pasti tidak benar. Semuanya adalah kebohongan.

Belum tentu Deon memang ingin menikahi Talitha, soalnya yang mengatakan bahwa ‘Deon ingin menikahi Talitha’ itu adalah mamanya Deon, bukan Deon sendiri. Jadi, belum tentu benar, ‘kan! Kalaupun benar, Deon pasti mau menikahi Talitha karena sesuatu!! Karena kasihan atau semacamnya! Ya, ‘kan?!

Deon tak pernah dekat dengan perempuan lain selain Chintya. Chintya tahu itu. Mengapa cewek tengil itu harus mengacaukan kehidupan cintanya dengan Deon? Ini gila!

Chintya terduduk di lantai, bersandar di ranjang, kemudian mengusap rambutnya dengan frustrasi. Ia benar-benar menginginkan Deon. Ia benar-benar mencintai Deon apa adanya. Mengapa semuanya jadi seperti ini dalam waktu singkat.

Tidak! Ia tak mau kehilangan Deon. Tak boleh. Deon itu cinta pertamanya. Sejak kecil, hanya Deonlah yang selalu Chintya lihat, selalu Chintya cintai, dan selalu Chintya kagumi.

Tiba-tiba, ponsel Chintya yang ia letakkan di sakunya itu bergetar. Berdecak kesal, Chintya pun mengambil ponsel itu, lalu menempelkan ponsel itu di telinganya tanpa tahu siapa orang yang meneleponnya.

"Apa?!" teriaknya kasar. "Siapa in—"

"Chintya, ini Papa, Sayang."

Chintya berdecak lagi; dia mulai merengek. "Apaan, sih, Pa? Ntar aja, aku masih banyak kerjaan."

"Kamu kenapa, Sayang? Ada apa?"

Chintya mengerang, lalu memukul permukaan lantai dengan kepalan tangannya. "Aku nggak mau kayak gini, Pa..."

"Kenapa…? Cerita sama Papa. Jangan nangis, ya? Kamu kenapa, Nak?"

Chintya menggeleng frustrasi.

"Pa, aku nggak mau kalo nggak sama Deon. Aku nggak mau nikah sama orang selain Deon. Aku maunya sama Deon, aku nggak rela kalo Deon pergi dari hidup aku! Aku yang paling pantes buat dia!"

Setelah itu, hening selama beberapa detik. Hanya suara tangis Chintyalah yang mendominasi.

Hingga kemudian…ayah Chintya kembali bersuara.

"Chintya, udah, diem. Kamu nggak usah nangis. Sebenernya, ini harus Papa rahasiakan sampe kalian berdua bener-bener ada rencana untuk sama-sama, tapi karena kamu nangis begini, Papa rasa ini harus Papa sampein ke kamu sekarang."

Chintya mendadak diam. Rahasia?

 

Rahasia apa?

 

"Nak, sebenernya Papa juga kaget. Seharusnya kami ada janji buat negosiasi ulang masalah rahasia ini, tapi beliau berpulang duluan.”

Chintya menyatukan alis. “Rahasia apa, Pa?”

Terdengar papanya Chintya menghela napas. “Kamu sama Deon itu sudah kami jodohkan sejak kecil. Ya tapi Papa nggak tau, apakah keputusan Darwin ada perubahan atau nggak, soalnya kami nggak sempet ketemu lagi."

Kedua mata Chintya membelalak.

Namun beberapa detik setelah itu, Chintya tersenyum semringah.

 

******

 

Talitha telah menekan bel apartemen Deon sebanyak dua kali. Tak ada tanda-tanda kalau pintunya bakal dibuka. Talitha mengangkat sebelah alisnya. Waduh, apa Deon sedang tak mau menerima tamu? Lah, benar juga. Deon masih berduka, bukan? Talitha mulai gusar, tetapi gadis itu tetap mencoba untuk menekan bel.

Dua detik kemudian, knop pintunya bergerak. Talitha tersentak. Pilihan satu: dibunuh. Pilihan dua: diterjang. Pilihan tiga: disuruh masuk. Apa perlu Talitha berlagak pikun saat Deon menanyakan untuk apa dia kemari? Ekstrem juga.

Pintu pun terbuka dan terlihatlah Deon yang sedang berdiri tegap di depannya dengan wajah pucat.

Talitha kontan melebarkan mata. "Deon? Lho, kamu sakit? Gilaa, pucatnya euy!"

Deon menatap Talitha seraya memasang ekspresi datar, lalu menarik Talitha masuk. Pria itu langsung menutup pintu apartemennya dan menarik Talitha hingga ke ruang tengah. Setelah sampai di ruang tengah, Deon langsung berdiri di hadapan Talitha dan mencengkeram pundak Talitha.

Talitha mengaduh kesakitan. "Argh—oi, Deon! Kamu nih kenapa?!"

Deon menatap Talitha tajam. "Aku baru tau kalo ada seorang pacar yang nggak jenguk pacarnya yang lagi sedih sama sekali. Ke mana aja kamu?! Oh...pergi sama laki-laki lain, ya? Jangan harap aku mau ngampunin kamu, Talitha. Kamu mau ambil kesempatan ini buat bikin aku tambah sedih, ya? Aku nggak habis pikir; udah berapa hari ini?! Kesinikan HP kamu, biar aku liat apakah kamu berpaling dari aku."

Talitha kaget minta ampun. "Lah, siapa juga yang pergi sama cowok lain?! Kamu ini paranoid, ya? Wah—meskipun lagi sedih, ternyata sintingnya nggak hilang nih anak satu. Aku kemaren-kemaren nggak jenguk kamu karena kamu lagi berduka! Aku takut ganggu; aku ngerasa nggak enak!! Ini juga sebenernya aku takut mau ke sini. Ntar diusir lagi!"

"Aku nggak peduli dengan alasan kamu yang nggak masuk akal itu!" ujar Deon. "Kamu nggak tau betapa terganggunya aku karena ada wanita sialan itu di sini."

Talitha terdiam. Itu…maksudnya...

Mama Serena?

Mamanya Deon—Serena—ada di sini, ya, akhir-akhir ini?

"Deon, berhenti manggil mama kamu kayak gitu," ujar Talitha ekspresi tak suka. Talitha mengepalkan tangannya. "Gimanapun juga, dialah yang ngelahirin kamu."

"Ngelahirin?" ulang Deon dengan sinis. Deon melepaskan cengkeramannya dari bahu Talitha dan tak Talitha sangka, pria itu mulai tertawa hambar. Pria itu berkacak pinggang dan mendongak; dia tertawa lepas.

"Kalau hanya ngelahirin dan nggak ngurusin, udah gitu nggak punya moral yang bisa diajarin ke anaknya, untuk apa? Apa yang aku dapat, Talitha?" Deon menatap Talitha lagi dan matanya nyalang. Ia kembali mencengkeram bahu Talitha. "Bilang ke aku!!"

Mata Talitha membulat, tetapi dia tak berbicara. Ia menunggu Deon selesai karena ia tahu kalau Deon pasti akan mengatakan sesuatu lagi. Napas Deon terdengar memburu.

"Kamu nggak tau..." ujar Deon dengan suara yang tiba-tiba terdengar pelan. Mata Deon memerah dan berkaca-kaca. "Kamu nggak tau betapa sulitnya bagi aku untuk ngeliat dia lagi tanpa marah-marah. Betapa sulit bagi aku untuk ngeliat dia dengan cara biasa…walaupun kenyataannya aku udah nyoba buat maafin dia."

Mata Talitha berkaca-kaca.

Talitha…tahu itu. Deon menjadi iblis yang mengerikan, dikuasai rasa marah yang tak terkendali ketika melihat mamanya. Semua itu membuat hidupnya jadi sangat sulit; dia menelan segala luka itu bulat-bulat walaupun sebenarnya itu menyakitkan. Dari penjelasan Deon…agaknya…Serena sudah menjelaskan semuanya kepada Deon. Semua kebenaran yang tertutupi selama ini, sebuah kenyataan yang pahit, yang merusak Deon.

Talitha menatap Deon dengan penuh pengertian. Ada empati yang terkandung di kedua matanya. "Jadi, sekarang mama kamu ke mana?"

"Aku nggak tau," jawab Deon. Deon tampak menggeram karena menahan seluruh amarahnya. "Dia pamit buat nganterin Chintya dan sekarang aku nggak tau dia di mana.”

Talitha mengangguk. Tanpa sadar, pelan-pelan…air mata Talitha mengalir.

Namun, Talitha langsung mengusap air mata itu.

"Aku nggak tau kalo ternyata selama ini aku hidup dengan kedua orangtua yang gila," ujar Deon. Talitha mengerutkan dahi.

Setelah itu, Deon melanjutkan, "Ternyata, nggak ada orang yang benar-benar suci atau tak bersalah dalam sebuah masalah."

Tatapan Talitha jadi sendu, terutama saat Deon berkata, "Aku sayang sama Papa, lebih dari apa pun, dan aku benci sama mamaku sendiri. Aku telanjur punya sifat buruk, aku rusak dan nggak terkendali. Aku nganggap bahwa akulah yang tau segalanya karena aku ngelihat Mamaku ngelakuin hal gila dengan mata kepalaku sendiri, tapi ternyata akulah yang nggak tau kenyataan yang sebenarnya. Mereka berdua—" Deon menunduk dan tangannya bergetar di bahu Talitha. Deon menggertakkan giginya, menahan semua rasa sesak di dadanya. "—sama-sama salah. Mereka berdua saling ngehancurin satu sama lain. Keluargaku hancur. Abis itu Papa meninggal...tapi mungkin…ini hukuman buat kami semua."

Entah dorongan dari mana, mungkin karena Talitha tidak setuju dengan perkataan Deon, gadis itu pun mengangkat wajah Deon dan memegang pipi Deon dengan kedua tangannya.

"Enggak, Deon,” ujar Talitha dengan yakin. “Justru dengan terungkapnya semua ini, ada hikmah yang bisa kamu ambil. Aku mungkin nggak bisa nasihatin kamu karena aku juga bukan orang yang bijak, tapi aku tau…aku tau betapa sayangnya mereka berdua sama kamu. Mama Serena itu sayang banget sama kamu, Deon. Papa Darwin juga. Mungkin…kamu bakal marah dan ngebentak mama kamu setiap kamu ngeliat dia, tapi percayalah, mama kamu pasti nggak bakal marah balik ke kamu. Mama Serena itu tau kalo kamu masih marah ke dia. Kamu cuma perlu belajar sedikit demi sedikit untuk ngurangin rasa marah kamu. Jangan dipaksain, Deon,"

"Aku mau sayang lagi sama dia, Talitha," ujar Deon seraya menggeleng. "tapi rasa benciku ke dia udah terlalu dalam. Tertanam hingga ke dasar…selama puluhan tahun. Nggak semudah itu. Meskipun sekarang aku udah tau kalo dia nggak bermaksud untuk ngelakuin itu, aku belum bisa ngehilangin kebencianku ke dia. Aku bukan orang yang punya hati sebaik malaikat, kamu tau itu."

Mata Talitha kembali berkaca-kaca. Deon ternyata berusaha untuk menghilangkan kebenciannya.

Nyatanya, Deon juga sayang pada mamanya.

Hening beberapa saat…hingga Talitha tak sadar bahwa Deon menyandarkan kepalanya ke bahu Talitha. Punggung Deon mulai bergetar.

Talitha mengusap punggung Deon dan mulai ada setitik air mata yang jatuh di pipi Talitha. Astaga, sudah berapa kali kisah Deon ini membuatnya menangis?

Tak lama kemudian, Talitha pun membawa Deon ke kamarnya. Talitha mendudukkan Deon di ranjang dan memegang kening pria itu. Sejenak kemudian, Talitha spontan menjauhkan tangannya dari kening Deon.

"Mampus! Panas banget gila!" teriak Talitha sembari menggeleng. "Mama gak tau kalo kamu sakit?"

Deon menggeleng. "Aku nggak pernah biarin dia nyentuh badanku; aku juga jarang keluar dari kamar karena dia ada di sini."

Talitha berdecak. "Oi! Kamu nih gila atau gebleg? Oke, aku tau kamu benci sama mama kamu, tapi nggak sampe nyiksa diri juga kali! Kalo kamu ntar jadi bangkai di kamar, gimana, hah?! Ampun dah... Warbyazah, asli. Butuh piknik nih orang!"

"Butuh…piknik?" tanya Deon tak mengerti. Pria itu menatap Talitha seraya mengerutkan dahi.

Talitha tertawa kesetanan. Well, wajahnya sembap, tetapi dia masih bisa tertawa seperti itu.

"Astaga Deon...Deon. Bhahah! Ya udah, ah! Biar kucariin obat!" ujar Talitha. Akan tetapi, Deon lebih cepat daripada Talitha. Deon langsung menarik Talitha untuk duduk di sebelahnya…hingga membuat mata Talitha membelalak.

Saat sudah duduk di samping Deon, Talitha kembali dikejutkan dengan Deon yang kini mengambil posisi berbaring dan pria tampan itu membiarkan kepalanya berada di pangkuan Talitha.

Talitha jelas saja terkejut bukan main.

"Oi—Deon—"

"Nanti aja," ujar Deon dengan suara serak karena demamnya. "Aku kangen sama kamu, Talitha. Aku juga masih mau nginterogasi kamu, apakah kamu pergi sama cowok lain, chat-an, atau teleponan sama cowok lain lewat HP kamu."

Talitha menganga. Dia langsung protes, "HAH?! AKU NGGAK ADA KAYAK GITUAN SAMA COWOK LAIN, OI! HARUSNYA KAMU NYADAR, SIAPA YANG BIKIN AKU GAK BISA INTERAKSI SAMA COWOK LAIN, HAH?! KAN KAMU! DASAR AYAM!!"

"Aku bukan ayam, Talitha," ujar Deon sembari menatap Talitha tajam. Talitha hampir saja tertawa kencang kalau saja Deon tak melanjutkan, "Kesiniin HP kamu sekarang."

"Males!" ujar Talitha dengan mata nyalang. "Udahlah sakit, masih aja sok posesif kamu nih! Udah, awas, biar kubeliin obat,"

"PONSEL. KAMU," ujar Deon tajam. "Sekarang."

Talitha mendengkus. Dengan malas, ia mengambil ponsel itu dari saku celananya.

Deon pun memeriksa ponsel itu.

 

Hening.

 

"Alfa ini rupanya belum nyerah, ya?" ujar Deon sarkastis. "Ini memang nggak kamu balas…atau kamu ngehapus semua chat yang kamu kirim ke luar, hm?"

Talitha berdecak. "Aku nggak serajin itu buat hapus-hapusin chat. Kalaupun kuhapus, ya kuhapus sekaligus! Nggak separuh-separuh gitu!"

Deon mengangkat sebelah alisnya. "Ganti SIM card kamu atau aku rusakin HP ini. Aku harus kasih pelajaran buat si Alfa sialan itu.”

Talitha membulatkan mata. "Ha—kamu mau ngapain, oi?!!! Weh, ampun nih anak, mantap jiwa, mancay, wakwaw—"

"Kamu tau, Talitha?" ujar Deon tiba-tiba. Dia mengalihkan pandangannya dari ponsel itu, lalu menoleh kepada Talitha. Matanya bersinar terang. Dia terlihat sangat...tampan. Meski hanya dengan pakaian santai di rumah serta wajah pucatnya pun, Deon tetap terlihat tampan.

"Aku cinta sama kamu. Jadi, jangan pernah main-main lagi. Mulai sekarang, kamu berurusan dengan hatiku."

 

******

 

Malam ini, Talitha merasa sedikit lega. Sesungguhnya, setelah ia keluar dari apartemen Deon tadi sore, jantungnya serasa ingin meledak. Deon tiba-tiba berkata ‘aku cinta kamu’ padanya.

Luar biasa. Efeknya dahsyat; Talitha bukan main kagetnya. Untuk pertama kalinya, ada orang yang menyatakan cinta padanya, terutama orang itu adalah seseorang seperti Marco Deon.

Ketika Talitha merasa deg-degan macam habis lari maraton, tiba-tiba Alfa meneleponnya. Itu pun, untungnya…Deon mau mengembalikan ponselnya meskipun berujung dengan pertengkaran. Alfa menelepon dan mengajaknya untuk menonton bioskop malam ini, sebagai ganti janji mereka waktu itu yang tak sempat terlaksana.

"Duduk di sini aja yuk, Ta," ajak Alfa ketika mereka sampai di kursi yang ada di dekat jendela. Ini permintaan Talitha banget. Habis nonton bioskop, pasti dia bakal kelaparan. Jadi, Alfa tertawa dan mengajaknya makan di KFC. Lumayan, nonton film dan makan KFC di mall...boleh juga.

"Ita mau makan apa?" tanya Alfa. "Biar Kakak yang ngantre di sana.”

Widih, Alfa ini malaikat, ya? Kok baik banget? Talitha langsung bersemangat. "Mau ayamnya dua, Kak, yang paha semua," ujar Talitha sambil nyengir. "terus ice cream. Terus..."

"Kentang goreng?" tebak Alfa. Well, Alfa tahu banget Talitha itu macam apa. Kalau bisa, semuanya bakal Talitha pesan. Anaknya agak rakus, you see.

"Wakwakwak!" Talitha tertawa kencang. "Kak Alfa tau aja mah."

Alfa menggeleng geli. "Oke. Ita tunggu di sini, ya."

Alfa pun tersenyum dan meninggalkan Talitha. Alamak...senyumnya Alfa itu, lho. Bikin hati jadi meleleh.

Saat Alfa mengantre, Talitha hanya merenung ke luar jendela. Memikirkan Deon, memikirkan dirinya yang sebentar lagi akan menghadapi ujian, memikirkan Mama Serena...semuanya bercampur aduk.

Alfa kembali dengan seluruh pesanan mereka. Hampir semua isi nampan itu adalah pesanan Talitha; Alfa tampak agak kesulitan saat membawanya. Saat Alfa selesai menaruh semuanya di atas meja, Alfa menggantungkan leather jacket-nya di kursi yang akan ia duduki. Akhirnya, cowok itu pun duduk sembari mengembuskan napasnya lewat mulut.

"Nah, makan, gih. Dari tadi perutnya kayaknya bunyi terus," ujar Alfa, membicarakan Talitha sembari tertawa kecil. Talitha langsung tertawa terbahak-bahak, tak peduli kalau orang-orang melihatnya seraya menyatukan alis.

Mereka mulai makan. Akan tetapi, begitu suapan kedua, Alfa kembali membuka suara.

"Kakak nggak nyangka, ternyata ceritanya kayak gitu."

Talitha mengerjap; dia menatap Alfa meski mulutnya penuh. Dia agak bingung awalnya, tetapi sesaat kemudian, dia pun paham dan mulai mengangguk.

"Ya emang gitu, Kak, mau gimana lagi?" ujar Talitha sembari mengikik tanpa dosa. Dia memang menceritakan semuanya kepada Alfa. Semua tentang Deon dan hubungan mereka dari awal sampai sekarang, saat dalam perjalanan ke mall beberapa jam yang lalu. Itu semua atas permintaan Alfa karena waktu mereka ikut seminar beberapa hari yang lalu, Alfa sudah meminta Talitha untuk bercerita lewat telepon. Akan tetapi, Talitha tak mengangkat teleponnya karena waktu itu Talitha sedang buru-buru pergi ke rumah sakit bersama Deon setelah mendapat kabar bahwa papanya Deon masuk rumah sakit.

Alfa tersenyum. "Makasih, ya, udah mau cerita sama Kakak."

Talitha yang tadinya lanjut makan, kini berhenti lagi dan menatap Alfa. Ia melihat Alfa tersenyum manis padanya sehingga ia jadi ikut tersenyum kaku. "Haha, oke, Kak, santai aja."

Saat Talitha memakan ice cream-nya, Alfa terus memperhatikan gadis itu dengan saksama. Selama ini, ia sudah berpikir, kapan ia akan menyatakan perasaannya? Ini sudah satu tahun lebih, apalagi ia tak yakin bahwa Talitha ‘si tidak peka’ ini mengetahui perasaannya yang sudah lama ia pendam.

Apakah ini saatnya bagi Alfa? Ada sesuatu yang semakin menggerakkannya ketika mengetahui permasalahan antara Deon dan Talitha. Kini, ia tahu bahwa ada celah untuknya. Ia masih bisa...mengatakan, mengungkapkan perasaannya kepada Talitha. Ia tak memaksa Talitha untuk menerimanya, tetapi paling tidak...ia harus mengatakannya.

Talitha pun terkejut saat Alfa tiba-tiba memegang tangannya. Talitha membulatkan mata; dia menatap Alfa dengan ekspresi heran.

"Ngapa, Kak? Gak makan?” tanya Talitha dengan bodohnya.

Alfa tersenyum. Mata cowok itu menatap Talitha dengan tulus. Setelah itu, ia pun mengungkapkan perasaannya.

"Ita, dengerin Kakak bentar, ya?" ujar Alfa pelan.

Tatapan Alfa begitu dalam.

Talitha mengangguk. "Iya, tapi ada apa, Kak? Kok macem—"

Alfa tersenyum. Talitha hampir saja terpesona…sampai akhirnya Alfa kembali berbicara.

"Kakak sebenernya suka sama Ita." Alfa mengucapkan itu dengan pelan meskipun kenyataannya perasaan cowok itu tengah menggebu-gebu. Jantungnya berdegup kencang.

Talitha terkejut bukan main, sampai-sampai ekspresi muka Talitha jadi aneh. Alfa tersenyum geli. Talitha ini…ada-ada saja. Rasa gugup Alfa jadi berkurang.

Alfa kemudian melanjutkan, "Udah lama banget; udah dari setahun yang lalu. Ngomong-ngomong, Ita nyadar nggak?"

Tubuh Talitha mematung. Dia benar-benar tak bisa bergerak!

"Kakak sayang, lho, sama Ita. Kenapa Ita mau dipaksa sama Deon?" ujar Alfa. Tatapannya semakin lembut. "Ya...Kakak dukung apa pun keputusan Ita, tapi Ita coba jujur... Ita punya perasaan nggak sama Kakak? Kakak kayaknya nggak pinter membangun hubungan yang nggak serius, karena...Kakak susah jatuh cinta. Tapi sekecil apa pun perasaan Ita...Kakak bakal berusaha untuk bikin Ita bahagia. Ita bisa pegang kata-kata Kakak."

Talitha melongo.

Alfa melanjutkan lagi, masih dengan suara lembutnya, "Kakak selalu mikirin Ita dan segala tingkah laku Ita setiap hari. Asal Ita tau aja, Kakak diejek kayak orang gila sama Mama karena sering kepergok cengengesan sendiri. Gara-gara mikirin tingkah gilanya Ita, tuh. Kalo Ita belum bisa jawab sekarang, apa boleh Kakak jagain Ita dan mastiin Ita baik-baik aja tiap hari? Kakak tunggu sampe Ita punya jawabannya. Yang penting, sekarang Kakak udah lega karena Ita udah tau perasaan Kakak."

Talitha meneguk ludah. Baru bisa mingkem karena sejak tadi ia menganga. Ini tidak bercanda, bukan? Alfa tadi ngomong apa?!! Alfa—Alfa menyatakan perasaan padanya!

 

Waduh, mati.

 

Belum sempat Talitha bereaksi, tiba-tiba ada gebrakan keras di meja mereka. Ada yang menggebrak meja mereka. Kontan Talitha dan Alfa menoleh ke sebelah kiri mereka.

Talitha keheranan setengah mati tatkala melihat Chintya Valissisa berdiri di samping mereka. Mata Chintya memelotot dan dia terlihat murka. Dengan angkuhnya, Chintya menatap Talitha dengan sadis.

"Kamu! Ternyata begini, ya, kelakuan kamu di belakang Deon?!! Kamu—" Chintya nyaris menampar Talitha, tetapi Chintya kaget saat tiba-tiba pandangannya menggelap. Alfa tadi berdiri dan menaruh jaketnya di kepala Chintya sehingga kepala Chintya tertutupi jaket. Talitha langsung panik dan berdiri.

Chintya baru saja ingin melepas jaket itu—ia sudah mencengkeram leather jacket itu dengan geram—ketika Alfa mendadak mendekatinya dan berbisik:

"Kamu itu artis, ‘kan? Jangan bikin ribut di sini. Kalo emang mau bicara sama Ita, ayo bicara di parkiran mall. Agak sepi di sana."

Setelah itu, Alfa berjalan disusul oleh Chintya yang sudah menggertakkan giginya. Talitha hanya mengikuti mereka dari belakang sembari mengedikkan bahunya; dia kurang connect dengan apa yang sedang terjadi.

 

******

 

"Kamu kok bisa ada di sini?" tanya Talitha pada Chintya begitu mereka sampai di tempat parkir mobil. Chintya langsung menatap Talitha dan menggeram. Ia nyaris menampar Talitha lagi dan Alfa langsung menghentikan Chintya. Akan tetapi, ternyata Talitha lebih cepat. Talitha menghentikan tangan Chintya dengan sebelah tangannya.

"Eh, Mbak, jangan nampar orang sembarangan, oi!" ujar Talitha. Chintya jadi murka. Rahang Chintya mengetat.

"Perempuan kayak kamu ini yang mau Deon nikahi?! Perempuan bego tukang selingkuh kayak kamu?! AKU BERIBU KALI LIPAT LEBIH CINTA SAMA DIA DARIPADA KAMU, DASAR PELACUR! AKU BAKAL SETIA SAMA DIA, NGGAK KAYAK KAMU!"

Mata Talitha membelalak. Mendadak, emosi Talitha meluap tatkala mendengar semua kalimat kasar itu. Talitha menggeram dan mengepalkan tangannya—dia jadi mencengkeram tangan Chintya—kemudian dia mengempaskan tangan Chintya itu. "MULUT KAMU ITU DIJAGA, WOI! PERNAH DIAJARIN SOPAN SANTUN NGGAK? AKU YANG BEGO AJA TAU KALO ITU NGGAK SOPAN!"

Alfa menghampiri Talitha dan menenangkan Talitha. Setelah itu, Alfa maju dan membelakangi Talitha; dia melindungi Talitha.

"Jadi, sebenarnya…kamu bisa ada di sini karena kebetulan atau karena emang nyariin Talitha? Kamu Chintya Valissisa itu, 'kan?" tanya Alfa dengan mata menyipit tajam.

Chintya berdecak, matanya memelotot. "Kebetulan! Emang kenapa? Aku rasa aku nggak perlu basa-basi lagi kayak kemarin, sama dia." Chintya menunjuk Talitha dengan dagunya.

Talitha menganga dan mengernyitkan dahinya. Gadis itu sampai menggeleng tak habis pikir.

"Karena aku ketemu kalian yang KEBETULAN lagi mesra-mesraan, aku rasa aku harus blak-blakan," lanjut Chintya. Matanya menatap Talitha dengan tajam.

"Aku dan Deon udah dijodohin dari kecil. Nggak lama lagi kami bakal nikah. Telan bulat-bulat harapan kamu yang mau milikin Deon!" teriak Chintya. Chintya tersenyum miring. Dia tampak puas.

Talitha jadi heran setengah mati. Sebenarnya, ia tak pernah memiliki harapan untuk memiliki Deon. Namun, kata-kata Chintya itu membuatnya terdiam.

Deon dan Chintya dijodohkan? Deon tak pernah bilang apa pun tentang itu...

Chintya mendekati Talitha lagi dan menunjuk wajah Talitha. "KAMU ITU—"

 

"Ada apa ini?"

 

Seketika, suara itu membuat tubuh mereka semua mematung.

Betapa terkejutnya mereka ketika mereka melihat ke asal suara.

Oh, what a bad timing. Karena ketika mereka melihat ke asal suara, ternyata itu adalah…

 

…Deon. []

 













******

******




No comments:

Post a Comment

She Was Never Mine (Bab 4: Segalanya Untuknya)

  ****** Bab 4 : Segalanya Untuknya   ******   LANTUNAN lagu di radio terdengar begitu merdu saat Josh baru saja memberhentikan mo...