Bab
4 :
Namanya
Milky
******
SI
KECIL Zavie sungguh tak menyangka. Mata bulatnya—yang
polos seperti mata kelinci itu—tak kunjung berhenti melebar. Dari balik topi
jas hujan berwarna coklat mudanya, ia mendongak…dan menatap kakaknya
lekat-lekat. Perlahan-lahan, muncullah binar yang begitu indah di
matanya. Di dalam kejernihan mata itu, terkandung rasa kagum, heran, dan juga…kaget.
Biasanya, Kak Atlas pulang
sore. Zavie hafal itu. Setiap sore, ketika Mama memanggilnya pulang ke rumah,
Zavie akan menunggu kepulangan Papa dan Kak Atlas dengan excited (meskipun
awalnya dia agak sedih karena harus berpisah dengan hewan-hewan bermain
bersamanya). Dia tahu bahwa Papa dan Kak Atlas biasanya pulang sore.
Kata
Mama, Kak Atlas pulang sore karena ada kegiatan OSIS…dan kadang-kadang dia akan
bermain basket atau futsal. Kak Atlas itu Ketua OSIS sekaligus kapten basket, lho!
Dia itu pintar (selalu juara umum) dan jago olahraga. Itulah yang membuat
Zavie jadi semakin mengagumi Kak Atlas di luar kesehariannya. Kak Atlas itu
keren banget! Zavie nge-fans, pokoknya.
Akan
tetapi, Zavie malah merasa seperti benar-benar jadi fans-nya ketimbang
adiknya, soalnya susah banget untuk mendapatkan kasih sayang Kak Atlas. Kak
Atlas itu dingin dan jarang menunjukkan perhatiannya pada Zavie. Dia pun jarang
bermain dengan Zavie. Zavie jadi sedih, bete, dan kadang-kadang merasa
kesal, tetapi kalau matanya melihat sosok Kak Atlas lewat di rumah,
tiba-tiba dia jadi semangat lagi.
FYI,
Zavie
bisa tahu urusan tetangga yang bertengkar di pagar rumah mereka (bersahut-sahutan)
hanya karena sebungkus garam; Zavie tahu urusan kakek-kakek bertongkat yang
tiba-tiba lewat di depan rumahnya dua minggu lalu; Zavie tahu mengapa banjir
enggak kunjung datang meskipun Zavie sudah berdoa sungguh-sungguh sebelum
tidur; Zavie tahu mengapa Bu Rere Endut (sebenarnya, ibu itu bernama Rere,
tetapi karena badannya gemuk, Zavie memanggilnya Bu Rere Endut) tiba-tiba marah
sama anaknya dan menjewer anaknya pulang, tetapi…
Zavie
enggak pernah tahu mengapa Kak Atlas sangat dingin padanya. Enggak
pernah tahu mengapa Kak Atlas jarang mau bermain bersamanya.
Baginya,
Kak Atlas memang sedingin itu.
Namun,
sang kakak yang dia anggap ‘susah dicari perhatiannya’ itu…
…saat
ini ada di dekatnya. Memayunginya dari belakang.
Mengajaknya
pulang.
“Ka…kak?”
panggil Zavie dengan suara pelan, serak; dia tak menyangka bahwa Atlas ada di
sini. “Kakak udah pu…lang?”
Namun,
tanpa berkata-kata, Kak Atlas tiba-tiba membalikkan tubuh Zavie…dan menggendong
bocah kecil itu. Selain menggendong Zavie, Kak Atlas juga menggambil kucing
putih yang sejak tadi bersembunyi di balik tanaman hydrangea.
Mata
Zavie membeliak ketika tiba-tiba ia sudah berada di dalam gendongan Kak Atlas, terutama
ketika melihat Kak Atlas mengambil kucing putih itu dengan tangan yang satunya.
Jadi, tangan kiri Kak Atlas tengah menggendong Zavie sekaligus memegang payung,
sementara tangan kirinya tengah memegang kucing itu.
Akan
tetapi, sesaat kemudian, Kak Atlas memberikan kucing putih itu kepada Zavie
(agar Zavie memeluknya), lalu dia memindahkan payung itu ke tangan kanannya.
Zavie
kaget bukan main. Dia sampai tak tahu mau berkata apa. Dia penasaran
sekali; begitu banyak pertanyaan yang berputar-putar di kepala kecilnya, tetapi
dia bingung mau bertanya yang mana duluan.
Kak
Atlas pun mulai berjalan mengarah ke rumah. Sambil memayungi Zavie dan
si kucing putih.
Mata
Zavie membulat polos.
“…Kakak?”
panggil Zavie.
Zavie
memperhatikan wajah Atlas yang cukup dekat dengan wajahnya. Ia digendong oleh
Atlas, berada di pelukan Atlas yang masih memakai seragam SMA, di bawah payung
yang sama. Rasa dingin yang tadinya begitu menyiksa tubuh kecil Zavie,
tiba-tiba hilang…karena digendong oleh kakaknya sendiri. Well, baju
Atlas pastinya ikut basah karena menggendong Zavie, tetapi Atlas diam saja.
Wajah
Atlas begitu tampan. Bersih. Rahangnya tegas, hidungnya mancung, alisnya tebal…dan
tubuhnya tinggi. Jauh lebih tinggi daripada bocah empat tahun seperti Zavie.
Zavie
tahu kalau Kak Atlas itu ganteng. Zavie juga tahu kalau banyak kakak cewek yang
mendekati Kak Atlas. Akan tetapi, Zavie tak tahu mengapa dia juga dicuekin oleh
Kak Atlas, sama seperti kakak-kakak cewek itu.
Berada
di gendongan Kak Atlas rasanya begitu hangat. Zavie tak tahu kapan terakhir
kali Kak Atlas menggendongnya seperti ini.
Rintik
hujan terdengar begitu jelas dari bagian atas payung merah maroon itu,
tetapi Zavie sama sekali tak menghiraukannya. Zavie ingin mendengar suara Kak
Atlas…yang menjawab panggilannya.
…dan
harapannya pun terkabul.
Atlas
akhirnya membuka suara.
“Hm.”
Lagi-lagi,
mata Zavie melebar. Berbinar-binar seketika.
Kak
Atlas—Kak Atlas menjawabnya!
Dengan
mata bulatnya itu, Zavie pun kembali bertanya, “Kakak…udah pulang, ya?”
Atlas
diam.
Alih-alih
menjawab pertanyaan itu, Atlas justru berkata:
“Jangan
main di luar kalo hujan.”
Zavie
sedikit kaget, lalu si kecil itu menunduk. Dia tiba-tiba jadi sedih, soalnya…
…dia
jadi teringat mengapa dia ada di bawah hujan sejak tadi.
Dengan
suara yang pelan…dan sedikit gemetar karena sedih, Zavie pun mulai menjawab.
“T—Tapi…" Kedua
sudut bibir Zavie mulai tertarik ke bawah, sedikit mewek. “Tapi…kucingnya
kedinginan, Kak…”
“Hm.”
Atlas
berdeham lagi. Dia tahu situasinya.
“K—Kok
kucingnya kita bawa pulang, Kak…?” tanya Zavie pelan-pelan, bocah itu
memiringkan kepala dan mengedipkan matanya sebanyak dua kali. Si kucing putih
masih ada di pelukannya. “Milky udah boleh kita pelihara, ya, Kak…?”
Di
saat itulah, Atlas mengernyitkan dahinya samar. Dia pun menoleh kepada
adiknya. Menatap langsung mata bulat adiknya yang selalu penuh dengan rasa
ingin tahu itu.
“…Milky?”
tanyanya.
“He-em!”
Zavie mengangguk antusias. “Iya, Kak. Javi kacih namanya Milky. Dia, kan,
bulunya putih. Kayak cucu.”
Susu,
maksudnya.
Atlas
berkedip.
“…Oh.”
“Boleh,
ya, Kak?” Zavie kembali bertanya.
Atlas
kembali melihat ke depan—mengalihkan pandangannya dari Zavie—lalu dia menjawab.
“Ya.”
Mata
Zavie membulat seketika. Mata kecil itu bercahaya…seakan-akan dipenuhi dengan
bintang kecil. Ekspresinya tiba-tiba menyala, penuh semangat, dan bahagia.
Tanpa bertanya apa-apa—tanpa mengonfirmasi kalau itu sungguhan atau
tidak—dia pun langsung memeluk Atlas dengan sebelah tangannya.
Dia
memeluk leher Atlas dengan penuh haru. Rasanya dia ingin menangis lagi, tetapi
kali ini untuk alasan yang seratus persen berbeda. Pelukannya spontan, tanpa
aba-aba. Begitu Atlas bilang, ‘Ya’, dia langsung membulatkan matanya, tersenyum
bahagia, dan memeluk Atlas.
Atlas
sedikit kaget. Namun, itu tak terlalu jelas terlihat akibat wajahnya yang
hampir selalu tanpa ekspresi.
Pelukan
Zavie sungguh erat. Lengan kecilnya melingkari leher Atlas, pipi tembamnya
menyentuh rahang kiri Atlas. Rasanya begitu lembut, erat, dan hangat. Meskipun
memakai jas hujan yang basah, wangi badan Zavie masih sedikit tercium. Seperti
biasa, wanginya seperti kenyamanan;
seperti tidur siang setelah menonton kartun, seperti boneka lembut dan sinar
matahari yang hangat, seperti minyak telon yang bercampur dengan bedak bayi dan
susu hangat. Milky pun diam saja saat
mereka bawa; kucing itu anehnya tidak protes sama sekali.
Setelah
itu, Zavie pun bersuara.
“Kakak,
Javi cayang cama Kakak.”
Samar-samar,
mata Atlas melebar.
Langkahnya
menjadi lebih pelan. Dia hampir berhenti. Namun, dia tak menjawab apa
pun. Perlahan-lahan, tatapan matanya—yang menatap ke bawah itu—menjadi lembut.
Sementara
itu, di sisi lain, Zavie kaget ketika tiba-tiba Kak Atlas mengeratkan
gendongannya. Tangan Kak Atlas semakin memegangnya dengan erat. Menyadari hal itu,
mata Zavie kembali membentuk bulat polos. Pelukannya di leher Atlas jadi
sedikit merenggang karena ia ingin melihat wajah sang kakak. Ia ingin
melihat apa yang terjadi.
Namun,
tepat ketika ia berhasil melihat wajah Atlas (yang seperti biasa minim ekspresi
itu), Atlas pun mulai berbicara.
“Jangan
main
hujan lagi.”
Zavie
tersenyum riang, lalu dengan semangat, buntalan susu itu pun mengangguk.
“Ung!”
sahutnya
seraya kembali memeluk leher Atlas dengan erat.
******
Begitu
sampai di pintu belakang rumah, Atlas pun berjongkok dan menurunkan Zavie dari
gendongannya. Zavie menendang-nendang udara dengan terburu-buru untuk melepas
sepatu botnya, lalu ia langsung berlari masuk ke rumah untuk mencari
Mama. Ia sangat excited. Senyumnya cerah sekali.
Atlas
ikut masuk ke rumah dan menyimpan payung yang ia bawa tadi ke tempatnya semula.
Teriakan
Zavie pun mulai terdengar. “MAMAAAA!!!”
Kaki
kecil Zavie berlari menyusuri dapur. Titik-titik air jatuh dari jas hujannya,
membasahi ubin putih rumah, mengikutinya seperti kilauan. “MAMAAA!”
Kepala
Mama menyembul dari pintu kamar mandi. Agaknya, Mama belum selesai mencuci.
Beliau sedang membilas pakaian.
Begitu
melihat Zavie, Mama langsung membulatkan mata. Mama refleks keluar dari kamar
mandi untuk menghampiri Zavie. “Astaga, Dek!! Kok basah?!!! Adek dari mana?!!
Main ke luar, ya, hujan-hujan begini?!! Astaga, ya Tuhan!!! Kapan
keluarnyaaa??!”
Jantung
Mama rasanya mau copot. Bisa-bisanya anaknya pergi ke luar saat ia sedang mencuci.
Ia sungguh lalai. Kaki anaknya itu kecil, tetapi kalau mengingat betapa kaki
itu sudah pernah pergi ke mana-mana karena sibuk main detektif-detektifan di sekitar
RT itu, sepertinya kaki itu panjangnya mencapai dua meter.
Mama
pun menatap ke belakang Zavie dan mendapati Atlas yang sedang berjalan
menghampiri mereka. Lho, Atlas udah pulang?! Kapan?!
Alis
Mama menyatu. Sungguh banyak hal yang tak ia mengerti, padahal sejak tadi ia
hanya sedang mencuci. Namun, sebelum ia sempat bertanya lagi, tiba-tiba saja
Zavie—si tiny little ball of sunshine and milk itu—mulai bercerita
dengan heboh.
“MAMA,
MAMAA!” panggilnya sambil melompat-lompat kecil. Mama pun berjongkok di
depannya dan memasang ekspresi heran. “Mamaaa! Tadi, kannn, Javi cedih
gara-gara kucingnya kedinginan, jadi Javi pergi liat kucingnya, Maaa… Javi
temenin dia… Coalnya, Javi kacian cama dia…”
Mama
belum menjawab. Ia masih menunggu anaknya bercerita sambil mengerutkan dahi.
Jadi,
tadi ini bocah pergi ke luar cuma karena mau ngeliat dan nemenin kucing itu?
Astaga,
kalo demam gimana?!!
Habislah
Mama. Setelah ini, Mama mesti mengunci seluruh jendela dan pintu tiap kali ia mau
mencuci baju. Lengah sedikit, anaknya langsung kabur! Mama tak bisa
menandingi ke-kepo-an dan kelincahan kaki Zavie, jadi Mama harus lebih
ekstra dalam menjaga anak satu itu.
“Terus,
pas Javi lagi cedih tadi, Kak Atlas tiba-tiba dateng, Maa! Kak Atlas payungin
Javi!!” ucap Zavie. Sebelah tangannya memeluk Milky dan sebelahnya lagi ia rentangkan.
Ia sangat antusias saat menceritakan itu. “Kak Atlas gendong Javi cambil angkat
kucingnya juga, Ma! Kata Kak Atlas, Milky udah boleh dibawa pulang!! Beneran
udah boleh, ya, Maaa?”
Alis
Mama menyatu.
Milky?
Seakan-akan
tahu bahwa mamanya sedang bertanya-tanya dalam hati, Atlas pun tiba-tiba
menyahut singkat, “Namanya Milky, katanya. Dia yang kasih nama.”
Meski
heran Zavie dapat inspirasi dari mana (mungkin dari semua susu putih yang dia
minum selama ini, yang kalau diminum pasti sampai membuat kumis di atas
bibirnya), Mama pun mengangguk mengerti. Kerutan di dahi Mama perlahan menghilang.
“O—Oh…”
Melihat
Zavie yang masih tersenyum lebar—sampai memperlihatkan barisan gigi-gigi
susunya—Mama pun akhirnya menghela napas.
“Iya,
bener,” jawab Mama, yang membuat Zavie berteriak kegirangan. Bocah itu
melompat-lompat bahagia sampai si Milky yang ada di gendongannya pun terguncang-guncang.
Mama
tersenyum lembut. Dia membuka jas hujan Zavie seraya melanjutkan, “Maafin Mama,
ya, Dek. Tadi malem, Papa udah bolehin kucingnya masuk, tapi Mama lupa bilang
ke Adek, jadi kucingnya keburu kehujanan di luar.”
Zavie
pun langsung memeluk mamanya—sampai Milky hampir tergencet—dan tersenyum
bahagia. “Nggak apa-apa, Maaa! Makacih, ya, Maa…udah bolehin Milky macuk ke
rumah kitaa…! Nanti Javi mau peluk Papa jugaaa! Javi mau bilang makacih cama
Papa!”
Mama
tersenyum seraya mengembuskan napasnya lembut. “Iya, tapi jangan main hujan
lagi, ya? Bisa nggak, janji sama Mama?”
Zavie
langsung melepaskan pelukannya dan mengangguk. Kedua matanya melengkung seolah-olah
ikut tersenyum. “Ung!!”
Mama
mengusap kepala Zavie dengan sayang. “Ya udah, sekarang Adek mandi dulu, ya.
Biar Mama mandiin. Takutnya demam ntar.”
“Okeee,
Mamaa,” jawab Zavie. Bocah itu langsung berlari ke ruang tamu demi meletakkan
Milky di sana agar bisa bermain dengan Coco. Benar saja. Coco—yang baru saja
keluar dari kamar Zavie—pun langsung menghampiri dan mengendus-endus kepala
Milky. Dia menjilati Milky yang basah karena air hujan; Milky pun menjilati
tubuhnya sendiri.
Zavie
kembali menghampiri mamanya di dapur. Mama langsung melepaskan baju Zavie,
tetapi saat bajunya dilepaskan, Zavie sempat bertanya, “Ma, Kakak becok pulang
cepet lagi, ya, Ma?”
Atlas
masih ada di sana. Berdiri memperhatikan mereka.
Mama
langsung menoleh kepada Atlas. Benar juga. Mama belum tahu mengapa Atlas
pulang cepat hari ini.
Seakan-akan
tahu bahwa mamanya pun ingin bertanya, Atlas pun membuka suara.
“Tadi
nggak ekskul, jadi pulang cepet.”
Mulut
Mama membulat membentuk ‘o’, lalu Mama pun menoleh kepada Zavie. Tangan Mama
masih melepaskan celana Zavie. “Enggak, Dek. Besok Kakak pulangnya tetep sore.
Tadi Kakak nggak ekskul, makanya pulang cepet.”
Zavie
memiringkan kepalanya. Matanya melebar penuh rasa ingin tahu. “Eckul itu apa,
Mama…?”
“Itu,
lho, kayak pelajaran tambahan,” jawab Mama. “Kak Atlas, kan, ikut
basket, OSIS—”
“Oooooo!!!
Backeeettt!!!!” potong Zavie dengan antusias. Matanya berbinar-binar.
Dia suka sekali menonton kakaknya main basket. Melihat Zavie yang antusias
seperti ini, Mama jadi merasa déjà vu. Waktu itu, Zavie pernah
seantusias ini saat menunjukkan hasil gambaran crayon-nya kepada Atlas.
Bocah itu melompat-lompat di depan kaki Atlas dan berkata, “Kakaaak, Kakakk!
Liattt!”
...Atlas
pun meraih gambar itu dan melihatnya sebentar.
Setelah
itu, reaksi Atlas hanyalah:
“Warnanya
keluar garis.”
Oh,
Papa hampir ngakak waktu itu. Ya gimana, ya, Zavie sudah excited
banget, tetapi reaksi Atlas tetaplah dingin seperti biasa. Padahal, kata
Zavie, gambar itu adalah gambar Kak Atlas yang lagi pakai jas OSIS.
Melihat interaksi mereka rasanya seperti melihat sinar
matahari kecil yang memantul-mantul di atas gletser.
Oke,
kembali
ke situasi saat ini.
Setelah
memotong ucapan mamanya dengan antusias begitu, tiba-tiba Zavie jadi bingung.
Dia pun kembali bertanya, “Kenapa Kakak nggak main backet hari ini, Ma?”
Mama pun menjawab dengan spontan; beliau
menebak-nebak saja karena sedang mengumpulkan baju Zavie yang ada di lantai.
“Karena hujan.”
Zavie
mengangguk-angguk. Mulutnya membulat membentuk ‘o’ besar.
“Oooo…”
jawabnya saat Mama mulai menggandeng tangannya, membawanya ke kamar mandi.
Atlas
memperhatikan itu semua…sampai akhirnya sosok Mama dan Zavie menghilang di
dalam kamar mandi.
Jadi,
ujung-ujungnya, siang itu…Zavie dimandikan oleh Mama akibat hujan-hujanan.
******
Atlas
keluar dari kamar mandi—yang ada di dalam kamarnya sendiri—dan sudah mengenakan
t-shirt berwarna putih polos. Dia tengah mengeringkan rambutnya dengan
handuk seraya berjalan menghampiri ranjangnya yang ada di tengah-tengah
ruangan.
Well,
Atlas
juga sempat berada di bawah hujan, jadi dia harus mandi.
Saat
berjalan menghampiri ranjang, Atlas melihat ponselnya berbunyi. Ponsel itu ia
letakkan di atas nakas, jadi ia bisa melihat getaran serta lampu kecilnya yang
menyala-nyala, pertanda bahwa ada chat yang masuk.
Atlas
pun meraih ponsel itu dan membuka kunci layarnya. Ia membuka aplikasi chat dan
melihat beberapa chat terbaru. Ada yang dari grup dan ada yang personal.
Salah
satunya adalah dari group chat OSIS.
Atlas
berjalan menuju meja belajarnya dan bersandar di sana. Ia pun mulai membuka group
chat itu.
OSIS
SMA Darma Nusantara 2025-2026!
Rayyan
Zaid: Atlas, lo kenapa balik? Padahal kita masih bisa rapat
kok kalo ujannn :’(
Fairuz
Arsenio: Bro, gpp kita rapat aja kalo nggak bisa nyiapin
kegiatan di luar
Dania
Alya: Kenapa, Kak? Tumbennn Kak Atlas pulang cepettt
Beby
Juwita Aruni: Atlas kenapaaaa? Bikin cemas ajaaa
Galih
Wicaksana: Lo sakit, Atlas?
Atlas
pun mengetikkan balasannya.
Atlas
Alastair: Meetingnya besok aja. Tadi gue ada urusan.
Balasan demi balasan pun bermunculan
di group chat itu. Menanyakan urusan apa yang sedang Atlas ‘kerjakan’
dan apakah Atlas baik-baik saja. Ada juga yang menanyakan agenda besok
sebaiknya bagaimana. Maklumlah, Atlas adalah figur yang penting sekaligus
‘terkenal’ di sekolah itu. Jadi, begitu ada yang agak aneh darinya, semua orang
akan sibuk bertanya. Para perempuan pun akan cemas dan sibuk menanyakan
kondisinya.
Well, untuk kegiatan OSIS
ataupun basket…itu semua bisa dikerjakan besok.
Hari ini, Atlas ada urusan.
Urusan dengan bocah kecil berbau
susu yang stress karena seekor kucing putih. []


No comments:
Post a Comment