Saturday, September 20, 2025

Petualangan Detektif Zavie (Bab 4: Namanya Milky)

 


******

Bab 4 :

Namanya Milky

 

******

 

SI KECIL Zavie sungguh tak menyangka. Mata bulatnya—yang polos seperti mata kelinci itu—tak kunjung berhenti melebar. Dari balik topi jas hujan berwarna coklat mudanya, ia mendongak…dan menatap kakaknya lekat-lekat. Perlahan-lahan, muncullah binar yang begitu indah di matanya. Di dalam kejernihan mata itu, terkandung rasa kagum, heran, dan juga…kaget.

            Biasanya, Kak Atlas pulang sore. Zavie hafal itu. Setiap sore, ketika Mama memanggilnya pulang ke rumah, Zavie akan menunggu kepulangan Papa dan Kak Atlas dengan excited (meskipun awalnya dia agak sedih karena harus berpisah dengan hewan-hewan bermain bersamanya). Dia tahu bahwa Papa dan Kak Atlas biasanya pulang sore.

Kata Mama, Kak Atlas pulang sore karena ada kegiatan OSIS…dan kadang-kadang dia akan bermain basket atau futsal. Kak Atlas itu Ketua OSIS sekaligus kapten basket, lho! Dia itu pintar (selalu juara umum) dan jago olahraga. Itulah yang membuat Zavie jadi semakin mengagumi Kak Atlas di luar kesehariannya. Kak Atlas itu keren banget! Zavie nge-fans, pokoknya.

Akan tetapi, Zavie malah merasa seperti benar-benar jadi fans-nya ketimbang adiknya, soalnya susah banget untuk mendapatkan kasih sayang Kak Atlas. Kak Atlas itu dingin dan jarang menunjukkan perhatiannya pada Zavie. Dia pun jarang bermain dengan Zavie. Zavie jadi sedih, bete, dan kadang-kadang merasa kesal, tetapi kalau matanya melihat sosok Kak Atlas lewat di rumah, tiba-tiba dia jadi semangat lagi.

FYI, Zavie bisa tahu urusan tetangga yang bertengkar di pagar rumah mereka (bersahut-sahutan) hanya karena sebungkus garam; Zavie tahu urusan kakek-kakek bertongkat yang tiba-tiba lewat di depan rumahnya dua minggu lalu; Zavie tahu mengapa banjir enggak kunjung datang meskipun Zavie sudah berdoa sungguh-sungguh sebelum tidur; Zavie tahu mengapa Bu Rere Endut (sebenarnya, ibu itu bernama Rere, tetapi karena badannya gemuk, Zavie memanggilnya Bu Rere Endut) tiba-tiba marah sama anaknya dan menjewer anaknya pulang, tetapi…

Zavie enggak pernah tahu mengapa Kak Atlas sangat dingin padanya. Enggak pernah tahu mengapa Kak Atlas jarang mau bermain bersamanya.

Baginya, Kak Atlas memang sedingin itu.

Namun, sang kakak yang dia anggap ‘susah dicari perhatiannya’ itu…

…saat ini ada di dekatnya. Memayunginya dari belakang.

 

Mengajaknya pulang.

 

“Ka…kak?” panggil Zavie dengan suara pelan, serak; dia tak menyangka bahwa Atlas ada di sini. “Kakak udah pu…lang?”

Namun, tanpa berkata-kata, Kak Atlas tiba-tiba membalikkan tubuh Zavie…dan menggendong bocah kecil itu. Selain menggendong Zavie, Kak Atlas juga menggambil kucing putih yang sejak tadi bersembunyi di balik tanaman hydrangea.

Mata Zavie membeliak ketika tiba-tiba ia sudah berada di dalam gendongan Kak Atlas, terutama ketika melihat Kak Atlas mengambil kucing putih itu dengan tangan yang satunya. Jadi, tangan kiri Kak Atlas tengah menggendong Zavie sekaligus memegang payung, sementara tangan kirinya tengah memegang kucing itu.

Akan tetapi, sesaat kemudian, Kak Atlas memberikan kucing putih itu kepada Zavie (agar Zavie memeluknya), lalu dia memindahkan payung itu ke tangan kanannya.

Zavie kaget bukan main. Dia sampai tak tahu mau berkata apa. Dia penasaran sekali; begitu banyak pertanyaan yang berputar-putar di kepala kecilnya, tetapi dia bingung mau bertanya yang mana duluan.

Kak Atlas pun mulai berjalan mengarah ke rumah. Sambil memayungi Zavie dan si kucing putih.

Mata Zavie membulat polos.

 

“…Kakak?” panggil Zavie.

 

Zavie memperhatikan wajah Atlas yang cukup dekat dengan wajahnya. Ia digendong oleh Atlas, berada di pelukan Atlas yang masih memakai seragam SMA, di bawah payung yang sama. Rasa dingin yang tadinya begitu menyiksa tubuh kecil Zavie, tiba-tiba hilang…karena digendong oleh kakaknya sendiri. Well, baju Atlas pastinya ikut basah karena menggendong Zavie, tetapi Atlas diam saja.

Wajah Atlas begitu tampan. Bersih. Rahangnya tegas, hidungnya mancung, alisnya tebal…dan tubuhnya tinggi. Jauh lebih tinggi daripada bocah empat tahun seperti Zavie.

Zavie tahu kalau Kak Atlas itu ganteng. Zavie juga tahu kalau banyak kakak cewek yang mendekati Kak Atlas. Akan tetapi, Zavie tak tahu mengapa dia juga dicuekin oleh Kak Atlas, sama seperti kakak-kakak cewek itu.

Berada di gendongan Kak Atlas rasanya begitu hangat. Zavie tak tahu kapan terakhir kali Kak Atlas menggendongnya seperti ini.

Rintik hujan terdengar begitu jelas dari bagian atas payung merah maroon itu, tetapi Zavie sama sekali tak menghiraukannya. Zavie ingin mendengar suara Kak Atlas…yang menjawab panggilannya.

…dan harapannya pun terkabul.

Atlas akhirnya membuka suara.

 

“Hm.”

 

Lagi-lagi, mata Zavie melebar. Berbinar-binar seketika.

Kak Atlas—Kak Atlas menjawabnya!

 

Dengan mata bulatnya itu, Zavie pun kembali bertanya, “Kakak…udah pulang, ya?”

Atlas diam.

Alih-alih menjawab pertanyaan itu, Atlas justru berkata:

 

“Jangan main di luar kalo hujan.”

 

Zavie sedikit kaget, lalu si kecil itu menunduk. Dia tiba-tiba jadi sedih, soalnya…

…dia jadi teringat mengapa dia ada di bawah hujan sejak tadi.

 

Dengan suara yang pelan…dan sedikit gemetar karena sedih, Zavie pun mulai menjawab.

 

“T—Tapi…" Kedua sudut bibir Zavie mulai tertarik ke bawah, sedikit mewek. “Tapi…kucingnya kedinginan, Kak…”

“Hm.” Atlas berdeham lagi. Dia tahu situasinya.

“K—Kok kucingnya kita bawa pulang, Kak…?” tanya Zavie pelan-pelan, bocah itu memiringkan kepala dan mengedipkan matanya sebanyak dua kali. Si kucing putih masih ada di pelukannya. “Milky udah boleh kita pelihara, ya, Kak…?”

Di saat itulah, Atlas mengernyitkan dahinya samar. Dia pun menoleh kepada adiknya. Menatap langsung mata bulat adiknya yang selalu penuh dengan rasa ingin tahu itu.

 

“…Milky?” tanyanya.

 

“He-em!” Zavie mengangguk antusias. “Iya, Kak. Javi kacih namanya Milky. Dia, kan, bulunya putih. Kayak cucu.”

Susu, maksudnya.

Atlas berkedip.

“…Oh.”

“Boleh, ya, Kak?” Zavie kembali bertanya.

Atlas kembali melihat ke depan—mengalihkan pandangannya dari Zavie—lalu dia menjawab.

 

“Ya.”

 

Mata Zavie membulat seketika. Mata kecil itu bercahaya…seakan-akan dipenuhi dengan bintang kecil. Ekspresinya tiba-tiba menyala, penuh semangat, dan bahagia. Tanpa bertanya apa-apa—tanpa mengonfirmasi kalau itu sungguhan atau tidak—dia pun langsung memeluk Atlas dengan sebelah tangannya.

Dia memeluk leher Atlas dengan penuh haru. Rasanya dia ingin menangis lagi, tetapi kali ini untuk alasan yang seratus persen berbeda. Pelukannya spontan, tanpa aba-aba. Begitu Atlas bilang, ‘Ya’, dia langsung membulatkan matanya, tersenyum bahagia, dan memeluk Atlas.

Atlas sedikit kaget. Namun, itu tak terlalu jelas terlihat akibat wajahnya yang hampir selalu tanpa ekspresi.

Pelukan Zavie sungguh erat. Lengan kecilnya melingkari leher Atlas, pipi tembamnya menyentuh rahang kiri Atlas. Rasanya begitu lembut, erat, dan hangat. Meskipun memakai jas hujan yang basah, wangi badan Zavie masih sedikit tercium. Seperti biasa, wanginya seperti kenyamanan; seperti tidur siang setelah menonton kartun, seperti boneka lembut dan sinar matahari yang hangat, seperti minyak telon yang bercampur dengan bedak bayi dan susu hangat. Milky pun diam saja saat mereka bawa; kucing itu anehnya tidak protes sama sekali.

Setelah itu, Zavie pun bersuara.

 

“Kakak, Javi cayang cama Kakak.”

 

Samar-samar, mata Atlas melebar.

Langkahnya menjadi lebih pelan. Dia hampir berhenti. Namun, dia tak menjawab apa pun. Perlahan-lahan, tatapan matanya—yang menatap ke bawah itu—menjadi lembut.

Sementara itu, di sisi lain, Zavie kaget ketika tiba-tiba Kak Atlas mengeratkan gendongannya. Tangan Kak Atlas semakin memegangnya dengan erat. Menyadari hal itu, mata Zavie kembali membentuk bulat polos. Pelukannya di leher Atlas jadi sedikit merenggang karena ia ingin melihat wajah sang kakak. Ia ingin melihat apa yang terjadi.

Namun, tepat ketika ia berhasil melihat wajah Atlas (yang seperti biasa minim ekspresi itu), Atlas pun mulai berbicara.

 

“Jangan main hujan lagi.”

 

Zavie tersenyum riang, lalu dengan semangat, buntalan susu itu pun mengangguk.

“Ung!” sahutnya seraya kembali memeluk leher Atlas dengan erat.

 

******

 

Begitu sampai di pintu belakang rumah, Atlas pun berjongkok dan menurunkan Zavie dari gendongannya. Zavie menendang-nendang udara dengan terburu-buru untuk melepas sepatu botnya, lalu ia langsung berlari masuk ke rumah untuk mencari Mama. Ia sangat excited. Senyumnya cerah sekali.

Atlas ikut masuk ke rumah dan menyimpan payung yang ia bawa tadi ke tempatnya semula.

Teriakan Zavie pun mulai terdengar. “MAMAAAA!!!”

Kaki kecil Zavie berlari menyusuri dapur. Titik-titik air jatuh dari jas hujannya, membasahi ubin putih rumah, mengikutinya seperti kilauan. “MAMAAA!”

Kepala Mama menyembul dari pintu kamar mandi. Agaknya, Mama belum selesai mencuci. Beliau sedang membilas pakaian.

Begitu melihat Zavie, Mama langsung membulatkan mata. Mama refleks keluar dari kamar mandi untuk menghampiri Zavie. “Astaga, Dek!! Kok basah?!!! Adek dari mana?!! Main ke luar, ya, hujan-hujan begini?!! Astaga, ya Tuhan!!! Kapan keluarnyaaa??!”

Jantung Mama rasanya mau copot. Bisa-bisanya anaknya pergi ke luar saat ia sedang mencuci. Ia sungguh lalai. Kaki anaknya itu kecil, tetapi kalau mengingat betapa kaki itu sudah pernah pergi ke mana-mana karena sibuk main detektif-detektifan di sekitar RT itu, sepertinya kaki itu panjangnya mencapai dua meter.

Mama pun menatap ke belakang Zavie dan mendapati Atlas yang sedang berjalan menghampiri mereka. Lho, Atlas udah pulang?! Kapan?!

Alis Mama menyatu. Sungguh banyak hal yang tak ia mengerti, padahal sejak tadi ia hanya sedang mencuci. Namun, sebelum ia sempat bertanya lagi, tiba-tiba saja Zavie—si tiny little ball of sunshine and milk itu—mulai bercerita dengan heboh.

“MAMA, MAMAA!” panggilnya sambil melompat-lompat kecil. Mama pun berjongkok di depannya dan memasang ekspresi heran. “Mamaaa! Tadi, kannn, Javi cedih gara-gara kucingnya kedinginan, jadi Javi pergi liat kucingnya, Maaa… Javi temenin dia… Coalnya, Javi kacian cama dia…”

Mama belum menjawab. Ia masih menunggu anaknya bercerita sambil mengerutkan dahi.

 

Jadi, tadi ini bocah pergi ke luar cuma karena mau ngeliat dan nemenin kucing itu?

Astaga, kalo demam gimana?!!

 

Habislah Mama. Setelah ini, Mama mesti mengunci seluruh jendela dan pintu tiap kali ia mau mencuci baju. Lengah sedikit, anaknya langsung kabur! Mama tak bisa menandingi ke-kepo-an dan kelincahan kaki Zavie, jadi Mama harus lebih ekstra dalam menjaga anak satu itu.

“Terus, pas Javi lagi cedih tadi, Kak Atlas tiba-tiba dateng, Maa! Kak Atlas payungin Javi!!” ucap Zavie. Sebelah tangannya memeluk Milky dan sebelahnya lagi ia rentangkan. Ia sangat antusias saat menceritakan itu. “Kak Atlas gendong Javi cambil angkat kucingnya juga, Ma! Kata Kak Atlas, Milky udah boleh dibawa pulang!! Beneran udah boleh, ya, Maaa?”

Alis Mama menyatu.

Milky?

Seakan-akan tahu bahwa mamanya sedang bertanya-tanya dalam hati, Atlas pun tiba-tiba menyahut singkat, “Namanya Milky, katanya. Dia yang kasih nama.”

Meski heran Zavie dapat inspirasi dari mana (mungkin dari semua susu putih yang dia minum selama ini, yang kalau diminum pasti sampai membuat kumis di atas bibirnya), Mama pun mengangguk mengerti. Kerutan di dahi Mama perlahan menghilang. “O—Oh…”

Melihat Zavie yang masih tersenyum lebar—sampai memperlihatkan barisan gigi-gigi susunya—Mama pun akhirnya menghela napas.

“Iya, bener,” jawab Mama, yang membuat Zavie berteriak kegirangan. Bocah itu melompat-lompat bahagia sampai si Milky yang ada di gendongannya pun terguncang-guncang.

Mama tersenyum lembut. Dia membuka jas hujan Zavie seraya melanjutkan, “Maafin Mama, ya, Dek. Tadi malem, Papa udah bolehin kucingnya masuk, tapi Mama lupa bilang ke Adek, jadi kucingnya keburu kehujanan di luar.”

Zavie pun langsung memeluk mamanya—sampai Milky hampir tergencet—dan tersenyum bahagia. “Nggak apa-apa, Maaa! Makacih, ya, Maa…udah bolehin Milky macuk ke rumah kitaa…! Nanti Javi mau peluk Papa jugaaa! Javi mau bilang makacih cama Papa!”

Mama tersenyum seraya mengembuskan napasnya lembut. “Iya, tapi jangan main hujan lagi, ya? Bisa nggak, janji sama Mama?”

Zavie langsung melepaskan pelukannya dan mengangguk. Kedua matanya melengkung seolah-olah ikut tersenyum. “Ung!!”

Mama mengusap kepala Zavie dengan sayang. “Ya udah, sekarang Adek mandi dulu, ya. Biar Mama mandiin. Takutnya demam ntar.”

“Okeee, Mamaa,” jawab Zavie. Bocah itu langsung berlari ke ruang tamu demi meletakkan Milky di sana agar bisa bermain dengan Coco. Benar saja. Coco—yang baru saja keluar dari kamar Zavie—pun langsung menghampiri dan mengendus-endus kepala Milky. Dia menjilati Milky yang basah karena air hujan; Milky pun menjilati tubuhnya sendiri.

Zavie kembali menghampiri mamanya di dapur. Mama langsung melepaskan baju Zavie, tetapi saat bajunya dilepaskan, Zavie sempat bertanya, “Ma, Kakak becok pulang cepet lagi, ya, Ma?”

Atlas masih ada di sana. Berdiri memperhatikan mereka.

Mama langsung menoleh kepada Atlas. Benar juga. Mama belum tahu mengapa Atlas pulang cepat hari ini.

Seakan-akan tahu bahwa mamanya pun ingin bertanya, Atlas pun membuka suara.

“Tadi nggak ekskul, jadi pulang cepet.”

Mulut Mama membulat membentuk ‘o’, lalu Mama pun menoleh kepada Zavie. Tangan Mama masih melepaskan celana Zavie. “Enggak, Dek. Besok Kakak pulangnya tetep sore. Tadi Kakak nggak ekskul, makanya pulang cepet.”

Zavie memiringkan kepalanya. Matanya melebar penuh rasa ingin tahu. “Eckul itu apa, Mama…?”

“Itu, lho, kayak pelajaran tambahan,” jawab Mama. “Kak Atlas, kan, ikut basket, OSIS—”

“Oooooo!!! Backeeettt!!!!” potong Zavie dengan antusias. Matanya berbinar-binar. Dia suka sekali menonton kakaknya main basket. Melihat Zavie yang antusias seperti ini, Mama jadi merasa déjà vu. Waktu itu, Zavie pernah seantusias ini saat menunjukkan hasil gambaran crayon-nya kepada Atlas. Bocah itu melompat-lompat di depan kaki Atlas dan berkata, “Kakaaak, Kakakk! Liattt!”

...Atlas pun meraih gambar itu dan melihatnya sebentar.

Setelah itu, reaksi Atlas hanyalah:

 

“Warnanya keluar garis.”

 

Oh, Papa hampir ngakak waktu itu. Ya gimana, ya, Zavie sudah excited banget, tetapi reaksi Atlas tetaplah dingin seperti biasa. Padahal, kata Zavie, gambar itu adalah gambar Kak Atlas yang lagi pakai jas OSIS.

Melihat interaksi mereka rasanya seperti melihat sinar matahari kecil yang memantul-mantul di atas gletser.

Oke, kembali ke situasi saat ini.

Setelah memotong ucapan mamanya dengan antusias begitu, tiba-tiba Zavie jadi bingung. Dia pun kembali bertanya, “Kenapa Kakak nggak main backet hari ini, Ma?”

 Mama pun menjawab dengan spontan; beliau menebak-nebak saja karena sedang mengumpulkan baju Zavie yang ada di lantai. “Karena hujan.”

Zavie mengangguk-angguk. Mulutnya membulat membentuk ‘o’ besar.

“Oooo…” jawabnya saat Mama mulai menggandeng tangannya, membawanya ke kamar mandi.

Atlas memperhatikan itu semua…sampai akhirnya sosok Mama dan Zavie menghilang di dalam kamar mandi.

Jadi, ujung-ujungnya, siang itu…Zavie dimandikan oleh Mama akibat hujan-hujanan.

 

******

 

Atlas keluar dari kamar mandi—yang ada di dalam kamarnya sendiri—dan sudah mengenakan t-shirt berwarna putih polos. Dia tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk seraya berjalan menghampiri ranjangnya yang ada di tengah-tengah ruangan.

Well, Atlas juga sempat berada di bawah hujan, jadi dia harus mandi.

Saat berjalan menghampiri ranjang, Atlas melihat ponselnya berbunyi. Ponsel itu ia letakkan di atas nakas, jadi ia bisa melihat getaran serta lampu kecilnya yang menyala-nyala, pertanda bahwa ada chat yang masuk.

Atlas pun meraih ponsel itu dan membuka kunci layarnya. Ia membuka aplikasi chat dan melihat beberapa chat terbaru. Ada yang dari grup dan ada yang personal.

Salah satunya adalah dari group chat OSIS.

Atlas berjalan menuju meja belajarnya dan bersandar di sana. Ia pun mulai membuka group chat itu.

 

OSIS SMA Darma Nusantara 2025-2026!

 

Rayyan Zaid: Atlas, lo kenapa balik? Padahal kita masih bisa rapat kok kalo ujannn :’(

Fairuz Arsenio: Bro, gpp kita rapat aja kalo nggak bisa nyiapin kegiatan di luar

Dania Alya: Kenapa, Kak? Tumbennn Kak Atlas pulang cepettt

Beby Juwita Aruni: Atlas kenapaaaa? Bikin cemas ajaaa

Galih Wicaksana: Lo sakit, Atlas?

 

Atlas pun mengetikkan balasannya.

 

Atlas Alastair: Meetingnya besok aja. Tadi gue ada urusan.

 

            Balasan demi balasan pun bermunculan di group chat itu. Menanyakan urusan apa yang sedang Atlas ‘kerjakan’ dan apakah Atlas baik-baik saja. Ada juga yang menanyakan agenda besok sebaiknya bagaimana. Maklumlah, Atlas adalah figur yang penting sekaligus ‘terkenal’ di sekolah itu. Jadi, begitu ada yang agak aneh darinya, semua orang akan sibuk bertanya. Para perempuan pun akan cemas dan sibuk menanyakan kondisinya.

            Well, untuk kegiatan OSIS ataupun basket…itu semua bisa dikerjakan besok.

            Hari ini, Atlas ada urusan.

 

            Urusan dengan bocah kecil berbau susu yang stress karena seekor kucing putih. []

 













******







No comments:

Post a Comment

She Was Never Mine (Bab 4: Segalanya Untuknya)

  ****** Bab 4 : Segalanya Untuknya   ******   LANTUNAN lagu di radio terdengar begitu merdu saat Josh baru saja memberhentikan mo...