Sunday, September 21, 2025

My Cold CEO, My Perfect Seducer (Chapter 16: A Mission)

 


******

Chapter 16 :

A Mission

 

******

 

Justin:

AKU membuka lemari pakaian dan menghela napas. Tubuhku fit, tetapi mungkin karena semalam aku tidur lebih lama dari biasanya, kepalaku agak sakit. Kuambil sebuah handuk putih yang terlipat rapi di salah satu sisi lemari, lalu kutaruh handuk itu di pundakku…sebelum akhirnya aku berjalan masuk ke kamar mandi.

Mungkin karena aku sering terjaga karena pekerjaan kantor yang menumpuk, aku jadi terbiasa tidak tidur malam. Rokok memang selalu kukonsumsi untuk menghangatkan tubuhku, tetapi kali ini aku tak bisa sembarangan mengonsumsinya karena Violette melarangnya. Dia begitu bersikeras soal itu. Dia menyuruhku untuk tidur lebih teratur daripada melakukan semua itu.

Baru satu malam aku dan Violette menempati rumah ini. Kupikir, rumah ini juga sudah aman untuk ditempati. Sebenarnya, rumah ini sudah selesai kubangun sejak dua tahun yang lalu (aku sudah mengumpulkan uangku dan mulai membangun rumah di New York sejak masih berada di Red Lion), tetapi rumah ini belum pernah kutempati karena aku bertemu dengan Pamanku setahun sebelum rumah ini selesai dibangun. Kupikir, well…suatu saat rumah ini akan kutempati juga dan ternyata itu benar. Aku akhirnya menempatinya bersama istriku, Violette.

Aku memegang tengkukku dan menggerakkan leherku ke kanan dan ke kiri. Pikiranku terasa jernih; aku tidur cukup untuk aktivitas yang akan kulakukan hari ini.

Begitu menutup pintu kamar mandi, aku menaruh handuk yang kubawa di salah satu gantungan yang melekat di dinding, tidak jauh dari bathtub. Aku pun membuka pakaianku satu per satu, lalu menghidupkan shower.

Air dingin mulai membasahi tubuhku. Kutumpukan sebelah tanganku di dinding kamar mandi, sementara yang sebelah lagi kugunakan untuk mengusap rambutku ke belakang. Kututup mataku; aku tetap berada di posisi itu selama beberapa saat…sampai akhirnya perlahan aku mulai membersihkan seluruh tubuhku.

Berbagai hal berkecamuk di dalam benakku. Apa yang akan kulakukan nanti sebenarnya sangat berisiko, jadi aku harus memikirkan dampaknya dari berbagai sisi.

Dahulu, saat berada di Red Lion, aku selalu melakukan hal seperti ini. Aku agak kepikiran karena ini sudah tiga tahun sejak aku melakukannya dan kali ini banyak yang harus kupikirkan. Violette, orang-orang terdekat kami, perusahaan…semuanya harus kupikirkan. Selama tiga tahun ini…banyak hal berharga yang menjadi alasanku untuk tetap hidup.

Setelah selesai mandi, aku pun mengeringkan rambut serta tubuhku dengan handuk. Handuk itu kulingkarkan di pinggangku sebelum akhirnya aku keluar dari kamar mandi.

Aku berjalan pelan ke lemari pakaian. Namun, sebelum benar-benar sampai di depan lemari pakaian, aku sedikit berhenti karena menyadari Violette sudah duduk di kasur dan memperhatikan kedatanganku.

Oh, dia sudah selesai makan siang.

"Kau...sudah mandi?" tanyanya pelan.

"Ya," jawabku singkat. Aku lantas mendekati lemari pakaian dan membukanya. Kuambil body fit t-shirt-ku dan celana jeans karena hari ini kami masih cuti.

"Aku sudah mandi tadi," ujarnya. Aku pun menoleh kepadanya.

"Aku tahu, Vio." Aku menutup lemari dan menaruh pakaianku di kasur. Kutatap dia dan aku mulai beranjak duduk di sebelahnya.

"Aku sudah menelepon polisi dan mereka akan datang sebentar lagi. Ikutlah bersama mereka; mereka akan membawamu ke tempat Nathan." Aku memandangnya lekat-lekat, tak ingin dia mengalihkan pandangannya dariku. "Aku tahu kau bisa."

Matanya tiba-tiba sayu; aku melihat kekhawatiran di sana. "Aku bisa, Justin. Namun, aku khawatir. Lagi pula—kau? Bagaimana denganmu? Apa yang akan kau lakukan? Kau bahkan menyiapkan semua rencana ini tanpa kuketahui. Jangan memikirkan semuanya sendirian, Justin. Ini masalahku. Libatkan aku." Dia memelototiku, mengeluarkan semua unek-uneknya seperti biasa.

"Tenanglah,” ujarku pelan, tetapi cukup tegas. "Aku akan berada di sana setelah mengurus sesuatu. Berbahaya jika kau ikut denganku, Violette."

Violette mengernyitkan dahi. "Apa katamu? Berbahaya? Mengapa kau mau melakukan itu?! Kalau kau tahu itu berbahaya, ya jangan dilakukan!! Jangan putuskan semuanya seenaknya! Demi Tuhan, Justin.” Dia mengerang.

Aku mengembuskan napas, lalu tertawa kecil. Aku tak tahu sejak kapan aku mulai tidak begitu memedulikan sifat cerewet Violette yang melebihi ibu-ibu berusia tiga puluh enam tahun.

Lucunya, sekarang aku merasa agak aneh apabila satu hari saja tidak mendengar omelan dari mulutnya.

"Mengapa kau tertawa?!" protesnya seraya menyatukan alis. "Aku tidak sedang melawak. Berhentilah tertawa, Justin, ini tidak lucu."

"Ini memang tidak lucu," jawabku. Aku tersenyum miring. "karena yang lucu itu kau."

"Hah—sudahlah, aku lelah meladenimu," ujarnya seraya membuang wajah. Aku mengangkat sebelah alisku.

Namun, tiba-tiba…dia melingkarkan lengannya di pinggangku. Mataku menyipit, memperhatikannya yang sedang menyandarkan keningnya pada dadaku. Dia tak mengatakan apa pun; agaknya, dia sedang berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri.

Aku merengkuhnya, lalu mengusap kepala dan punggungnya.

"Tolong jangan melakukan sesuatu yang akan membahayakan dirimu, Justin," ujarnya lirih. Mataku melebar. Dia bernapas pelan, lalu kembali berucap, "Aku sayang padamu."

 

Aku tersenyum lembut.

 

"Apakah menyenangkan menghirup wangi dadaku?" ujarku pelan. Namun, ucapan itu mampu membuat tubuhnya menegang; dia kontan mendorong tubuhku. Pipinya memerah walaupun ekspresinya terlihat kesal.

"AKU BUKAN MENGHIRUP!!"

Aku mengangkat alis. "Jadi apa? Mencium?"

"JUSTIN!!!!" teriaknya. Aku tersenyum miring. Untuk beberapa detik lamanya, kami hanya terdiam. Aku pun mendekatinya perlahan, lalu memeluknya. Kuusap bagian belakang kepalanya, lalu kuberikan sebuah kecupan kecil di daun telinganya.

"I'm fine, Shawty. Pergilah. Aku juga sayang padamu."

Dia tersentak. Tak lama kemudian, dia mulai tersenyum di dadaku dan menghela napas.

Akhirnya, dia pun melepaskan pelukan kami dan tersenyum padaku. Tepat saat itu juga, terdengar sirene mobil polisi di bawah sana.

Violette memegang lenganku…dan menatapku dengan lekat. "Aku pergi dulu, ya."

Aku mengangguk.

"Hm. Hati-hati, Violette."

Dia mengangguk, melambaikan tangannya pelan padaku, lalu berjalan ke luar kamar. Dia pun menghilang dari pandanganku.

Aku terdiam.

Mataku mulai memandang karpet bulu berwarna abu-abu yang terbentang di bawah ranjang. Aku mulai mendinginkan kepalaku.

Aku berdiri dan berjalan mendekati jendela, membuka gorden putih yang menutupinya. Aku melihat ke bawah dan mendapati Violette yang sedang berjalan melewati pagar dan disambut oleh para polisi itu. Ada beberapa mobil polisi di sana.

Violette berbalik dan mendongak; dia mencoba untuk melihat ke arah sini, tetapi aku tak yakin dia bisa melihatku karena rumah ini sangat tinggi. Namun, aku tetap mengawasinya hingga akhirnya ia masuk ke mobil…dan semua mobil polisi itu berjalan meninggalkan area rumah kami.

Aku menghela napas, lalu kembali ke dekat ranjang untuk mengambil ponselku yang terletak di atas nakas. Aku pun menelepon seseorang.

"Yes, sir," jawabnya begitu ia mengangkat panggilan telepon dariku.

"Sebagian dari kalian harus mengikuti mobil polisi. Bantulah keadaan di sana dan awasi istriku. Sisanya ikut denganku."

"Baiklah, sir."

Aku mematikan panggilan telepon itu, lalu kembali menelepon seseorang.

"Halo, Justin?" Suaranya langsung terdengar begitu panggilan telepon itu diangkat. "Ada apa?"

"Kau baik-baik saja?" tanyaku.

"Ya, ada apa? Did something happen?!"

"Violette,” panggilku. "Tidak ada. Hanya ingin menghubungi Nona Cerewet.”

"Aku tahu bukan itu tujuanmu menghubungiku,” ujarnya dengan yakin.

Akhirnya, aku pun menegapkan tubuhku."Aku belum memberitahumu siapa pelakunya."

Ia diam. Aku hanya mendengar suara sirenenya mobil polisi dari seberang sana.

"Aku belum sempat memberitahumu soal itu," lanjutku.

"Siapa pelakunya...Justin?" Suara Violette terdengar kaku.

Aku diam sejenak.

"Namanya Welton. Dia bekerja sama dengan Elika. Welton adalah salah satu anak buah Martin dahulu; dia ikut mengincarku waktu itu.”

“Hari itu?”

“Hm,” dehamku. “Hari di mana aku mengebom habis markas Red Lion."

"Pada hari itu, ternyata ada yang berhasil selamat. Weltonlah orangnya. Dia melarikan diri dan meninggalkan pekerjaannya, lalu memilih untuk membalaskan dendamnya padamu karena ia kehilangan banyak sekali rekan-rekannya. Yang ia tahu, hanya kaulah satu-satunya anggota Red Lion yang tersisa di dunia. Elika sengaja memberi informasi palsu begitu agar Welton tak mengincarku. Jadi, mereka bisa bekerja sama atas dasar Welton mendapatkanmu dan Elika—"

"Elika mendapatkanmu," potong Violette.

Aku mengetatkan rahang. Dia tahu. "Aku tidak memberitahu polisi tentang masa lalu Welton dan juga tentang Red Lion.”

Aku bernapas samar, lalu melanjutkan, "Selama ini, mereka selalu berpindah tempat. Aku sudah menyelidiki semuanya, tetapi seluruh informasi beserta bukti-buktinya baru sempurna pada hari Rabu, yaitu dua hari setelah kau diteror Elika dan melarikan diri ke rumah Megan."

Violette tersentak. Dia terdengar kaget. "Sudah selama itu, Justin?"

"Sebenarnya, yang membuatku agak lama adalah mencari buktinya, lalu memastikan apakah aku sepenuhnya benar atau tidak. Aku butuh bukti untuk melenyapkan mereka lewat para polisi. Aku juga harus berhati-hati agar masa lalu kita tidak terbongkar. Aku merencanakan waktu yang tepat untuk benar-benar melenyapkan mereka…dan waktu yang tepat itu adalah sehari setelah pernikahan, Violette. Aku tak bisa memaksamu untuk melakukan semuanya sebelum hari pernikahan karena aku tak mau mengacaukan pikiranmu. Maafkan aku."

Violette terdiam.

Tak lama kemudian, kudengar ia menjawab.

"Tidak apa-apa, Justin, karena apa yang kau lakukan ini justru membuatku bahagia. Tidak apa-apa, aku akan selalu mendukung keputusanmu…karena aku tahu bahwa kau bisa melakukan apa pun yang tak bisa kulakukan. Kau melakukan itu untukku, untuk kita, dan aku sangat bahagia. Aku tidak apa-apa, Justin. Terima kasih… Benar-benar terima kasih, Sayang."

Mataku melebar.

Napasku sedikit tertahan. Ini pertama kalinya aku mendengar seseorang mengungkapkan apa yang ia rasakan padaku dengan jujur. Mentah-mentah. Tanpa ada hambatan, tanpa ada kesan ‘terlarang’…

Ini sungguh…melegakan. Tak kusangka orang sepertiku bisa mendapatkan cinta yang semurni ini.

Suara Violette kembali memecah keheningan. "Aku sekarang tahu bagaimana cara menghadapi mereka karena aku sudah tahu siapa mereka."

Aku tersenyum. Well, dahulu Violette adalah satu-satunya perempuan di Red Lion dan dia juga merupakan rekanku. Dia adalah perempuan yang tangguh.

Aku tertawa kecil tatkala menyadari betapa banyaknya hal yang berbeda antara kami di masa lalu dan kami saat ini. Namun, satu-satunya hal yang tak berubah adalah:

Kami tetap berdiri berdampingan.

 

******

 

Author:

Hari sudah malam.

Violette turun dari mobil dan diikuti oleh semua polisi. Sepuluh mobil polisi itu berpencar dan mengepung sebuah rumah kayu. Rumah itu kecil dan terletak di tengah-tengah dataran tinggi yang dipenuhi dengan pohon.

Ada beberapa mobil—mobil-mobil bawahan Justin—yang mengikuti mereka juga.

Begitu Violette turun, Violette melihat Justin sudah ada di depannya. Pria itu langsung menggenggam tangannya—membuatnya agak kaget—dan membawanya berjalan dengan diiringi oleh polisi.

Polisi memberikan Violette sebuah pistol untuk melindungi dirinya jika terjadi sesuatu.

Meski saat itu sinar dari mobil polisilah yang menerangi—apalagi malam ini langit cukup berawan—tetapi wajah Justin tetap saja terlihat bersinar. Violette tidak ingat kapan terakhir kalinya ia menganggap ada orang yang lebih tampan dari Justin.

Justin mengenakan leather jacket berwarna hitam. Ritsleting jaket itu terbuka hingga menampakkan kaus V-neck berwarna hitamnya yang fit body. Dia mengenakan celana jeans dan tubuhnya terlihat begitu tegap.

Setelah Justin menjawab pertanyaan singkat dari polisi, ia pun menatap Violette dengan intens. "Aku mengkhawatirkanmu..."

Mata Violette membeliak. Mendadak pipinya merona.

"Kau sudah sampai duluan?" tanya Violette.

Hal yang menyedihkan saat ini adalah…

 

…Nathan ada di sana. Di rumah itu.

 

"Hm." Justin berdeham. "Aku harus mengatasi semua halangan yang mereka persiapkan. Semua bom yang ada di sepanjang jalan juga sudah dijinakkan."

Mata Violette membulat. "Jadi...itu sebabnya kau lambat pergi?"

"Hm."

"Apakah kau tak takut sama sekali dengan bahaya? Itu bom, Justin! Aku tahu kau terbiasa melakukan itu dari dulu, tetapi—"

"Mulai lagi, Nona Cerewet," potong Justin.

Sial.

Violette ingin meninju wajah Justin sekarang juga.

"Welton dan Elika…melakukan semua ini hanya berdua," ujar Justin. Violette mendengarkannya dengan saksama.

Justin melanjutkan, "Mereka tak mau ada yang terbunuh. Mereka hanya berniat untuk menghadapi Red Lion sendirian demi membalas dendam. Kalau Elika…wanita itu hanya menginginkanku. Dia pasti berpikir bahwa jika kau terancam, aku juga akan terancam karena aku pasti akan melindungimu. Dia tak ingin itu terjadi, makanya dia tak pernah mencelakaimu selama ini. Dia hanya menerormu dan tak berani melakukan yang lebih dari itu."

Violette memandang Justin dengan lekat.

God... Elika dan Welton seakan-akan sudah menebak bahwa ini akan terjadi. Mereka memang ‘menyiapkan’ arenanya. Mereka bahkan sengaja membuat semuanya tampak mudah; mereka hanya berpindah-pindah. Untuk orang jenius seperti Justin, sesuatu seperti ini tentu akan terasa mudah. Namun, Justin menghabiskan waktu yang cukup lama karena memikirkan Violette. Memikirkan kehidupan mereka berdua.

Justin dan Violette pun menaiki tangga depan rumah itu. Violette mulai memegang pistolnya dengan erat dan ia tahu bahwa tangan Justin saat ini masih menyentuh punggungnya, menjaganya dengan baik. Ada polisi yang berjalan di depan mereka. Ketika mereka sampai di depan rumah itu, polisi pun membuka pintunya perlahan.

 

DUAR!

 

Violette membulatkan mata. Polisi yang berdiri di depan tadi terjatuh, tertembak tepat di bagian kepalanya. Keadaan langsung riuh; para polisi yang ada mulai menembak meski gelap. Ada juga yang menerangi ruangan dengan senter. Namun, meski temaram, sosok di dalam sana memang cukup terlihat. Ada seorang laki-laki yang tengah memegang pistol…dan itu pasti adalah Welton.

Welton melompat dan bergerak dengan begitu lincah demu menghindari semua tembakan itu hingga akhirnya semua polisi mulai beriring-iring masuk ke ruangan. Violette langsung bergerak mencari keberadaan Nathan.

Welton berlari seraya mengambil banyak senjata yang kemungkinan sudah disiapkannya sejak lama. Dia menembak ke semua arah karena polisi mengepungnya. Namun, tepat ketika dia melompat sekali lagi, sebuah peluru memelesat dan mengenai betisnya.

Tembakan dari salah satu polisi itu membuat Welton mengerang, tetapi dia kembali bergerak menjauh agar bisa berlari ke luar. Ia mencoba keluar dari pintu sembari terus menembak dengan cekatan. Dia adalah penembak yang jitu; kemungkinan, selama ini dia juga semakin memoles kemampuannya.

Tepat ketika Welton ingin keluar dari rumah—memancing para polisi—Justin berhasil melompat dan menendang kepala Welton. Saat pria itu terjatuh, Justin pun langsung menimpa tubuhnya. Justin mengunci tubuhnya, lalu mengarahkan mulut pistol ke dahinya.

Dia spontan membulatkan mata.

"Don’t move,” ujar Justin dengan kejam. Ada beberapa polisi yang mengawas di belakangnya. Welton menatap semua itu dengan tak percaya.

"Fuck... Kau—kau...Red—" Welton tergagap saat melihat wajah Justin. Jantungnya hampir berhenti berdetak. Wajah itu…adalah wajah orang yang mengebom semua rekannya saat peperangan dengan Red Lion dahulu.

Ternyata, Elika membohonginya. Ada orang lain selain Violette. Parahnya lagi, ‘orang lain’ itu justru adalah pelaku utama yang sebenarnya! Seseorang yang jelas-jelas mengebom pasukan mereka waktu itu!

Namun, sebelum Welton sempat mengucapkan kata 'Red Lion', Justin menghentikannya. Polisi masih ada di sini.

"Oui, Monsieur," jawab Justin dalam bahasa Perancis, meyakinkan Welton bahwa dirinya memang adalah orang yang Welton maksud.

"FUCK YOU!!!" teriak Welton sebelum akhirnya para polisi menyergapnya dan mengamankan senjatanya. Welton memberontak dan polisi mengikat tangan serta menutup mulutnya dengan sebuah kain. Dia mengamuk ketika polisi membawanya ke mobil.

Oh, ketika dia berada di kantor polisi nanti…mungkin dia akan membeberkan soal Red Lion, tetapi takkan ada yang memercayainya. Dia tak punya bukti. Justin sudah mengantisipasi semua itu, terutama mereka sebenarnya tak memiliki identitas yang ‘asli’ saat berada di Red Lion.

Justin berdiri dan memandangi Welton dengan mata menyipit…sebelum akhirnya pria itu beralih mengejar Violette. Violette ada di ujung ruangan bersama Nathan; di sana juga ada beberapa polisi yang membantu melepaskan ikatan Nathan.

Para polisi membawa tubuh tak berdaya Nathan keluar dari rumah itu. Ada juga beberapa polisi yang mengamankan senjata-senjata rancangan Welton di sekeliling rumah itu. Violette terduduk lemas ketika melihat tubuh Nathan yang dibawa oleh para polisi; ia merasa seluruh tubuhnya mati rasa.

Oh, Tuhan. Violette lega karena Nathan masih hidup…tetapi dia tetap lemas saat menemukan Nathan dalam keadaan seperti itu.

Violette menunduk dan menggigit bibirnya. Gadis itu tidak menangis, tetapi ia mengepalkan tangannya dan menahan semua erangan yang hendak keluar dari mulutnya.

Tubuhnya bergetar.

Beberapa detik kemudian, ia merasa ada sebuah tangan yang menyentuh punggungnya, menariknya ke dalam dekapan hangat.

Ah, ini wangi tubuh yang selalu ia sukai. Wangi maskulin yang selalu terbayang-bayang di benaknya.

"Ayo pergi dari sini." Justin mengusap pelan rambut Violette. Dia membiarkan Violette melepaskan seluruh rasa sedih di dada tegapnya. Sekitar dua menit lamanya, Justin hanya terus mengusap punggung dan kepala Violette berkali-kali dengan pelan.

Hingga akhirnya, Violette mulai tenang.

Justin pun melepaskan Violette; dia ingin melihat ke dalam mata gadis itu. Wajah Justin memang tak berekspresi, tetapi tatapan matanya saat itu berbeda.

Begitu hangat...sehangat warna lelehan emasnya.

Violette menarik napas dalam dan mengeluarkannya perlahan. Ia akhirnya mencoba untuk berdiri—dengan dibantu oleh Justin—meski sebenarnya dia bisa berdiri sendiri. Justin membawanya keluar dari rumah itu dan mendekati mobil polisi.

Semua mobil polisi sudah berkumpul di depan rumah itu. Salah satu polisi mulai berbicara seraya menjabat tangan Justin, "Terima kasih karena telah melaporkan kasus ini, Mr. Alexander. Terima kasih juga atas kerjasama Anda."

"Terima kasih juga, sir,” jawab Justin.

Polisi itu tersenyum.

"Please take my wife and her uncle, sir. Keep them safe. There's something I need to finish right now. I entrust their safety to you," ujar Justin.

Polisi itu mengangguk.

"Of course, Mr. Alexander. Please go ahead."

"Thank you," jawab Justin. Ia pun menyerahkan Violette kepada polisi itu. Violette menatap Justin sebentar…sebelum akhirnya polisi mengarahkannya untuk masuk ke mobil.

Justin menatap kepergian mobil itu dengan intens. Setelah semua mobil itu benar-benar hilang dari sana, Justin pun melihat jam tangannya.

 

"Tepat waktu."

 

******

 

Justin mengendarai Range Rover-nya dengan kecepatan penuh.

Matanya menatap lurus ke depan, sangat fokus; ia tak membiarkan apa pun mengganggunya. Rahangnya mengetat dan sebelah tangannya mencengkeram roda kemudi.

Namun, tiba-tiba ponselnya berbunyi.

Justin melirik singkat ke arah ponselnya yang tergeletak di atas dashboard itu; dia menyipitkan mata tatkala melihat nama si pemanggil. Pria itu pun langsung meraih ponsel itu dan menempelkan ponsel itu di telinganya.

"Justin, kau tidak apa-apa, ‘kan? Kau baik-baik saja? Aku akan mengantar Nathan ke rumah Paman Locardo. Tidak apa-apa, ‘kan? Justin, aku khawatir sekali padamu!!"

"Hm." Justin hanya berdeham. "Tidak apa-apa. Nathan akan aman di sana. Kau harus mengamankan dirimu setelah itu, Violette. Jangan pergi ke mana-mana lagi. Tetaplah berada di tempat yang aman. Aku tidak apa-apa."

Violette mengeluh; ia sangat khawatir. Agaknya, ia ingin mengoceh, tetapi saat ini ia mencoba untuk tenang dan menuruti keinginan Justin. Semoga saja…Justin benar-benar baik-baik saja.

Justin selalu melakukan sesuatu tanpa memberitahu Violette terlebih dahulu. Entah apa yang saat ini pria itu lakukan. Namun, seperti ada sebuah batu yang mengimpit lehernya, yang menghalanginya untuk bertanya lebih jauh kepada Justin.

"Aku tutup," ujar Justin tiba-tiba. Dia langsung menutup panggilan telepon itu dan meletakkan ponselnya lagi di atas dashboard. Beberapa detik setelah itu, Justin menginjak gas; dia berkendara dengan kecepatan tinggi hingga membuat mobilnya terlihat bak cahaya yang membelah jalanan gelap itu. Dia melewati jalan kecil di area bukit yang begitu lengang.

Justin melihat sebuah mobil yang berwarna silver di depannya; dia menatap mobil itu dengan mata yang setajam elang. Saat posisi mobilnya sejajar dengan mobil berwarna silver itu, Justin merasa begitu beruntung…

…karena jendela sebelah kanan mobil itu terbuka.

Justin memang tepat waktu, seperti dugaannya. Ia melihat bahwa pemilik mobil itu—Elika—sedang berbicara di telepon dengan suara keras. Dia mengeraskan suaranya supaya bisa mengalahkan suara mobil, soalnya mobilnya berjalan begitu cepat seperti ingin menghindari sesuatu.

Justin mendengar percakapan di telepon itu.

Elika sedang mencoba untuk melaporkan tentang Red Lion kepada polisi. Timing-nya pas sekali.

Sebelum Elika sempat mengucapkan kata 'Red', Justin langsung menabrak mobilnya dari samping. Sebenarnya, Elika juga sudah menyadari adanya kehadiran mobil lain di samping mobilnya. Elika tahu persis bahwa itu adalah mobil Justin.

Tabrakan itu bertubi-tubi, membuat mobil Elika nyaris jatuh ke bawah bukit, tetapi perempuan itu masih sanggup menggenggam ponselnya; dia mencoba untuk tetap mengatakan sesuatu kepada polisi. Dia bersikeras untuk mengeluarkan seluruh kedengkiannya selagi ia masih bernyawa.

Justin membuka pintu mobilnya. Di tengah mobilnya yang masih berjalan itu, Justin pun meraih jendela mobil Elika yang terbuka, lalu dia melompat. Dia berdiri berpegangan di sana dan Elika berteriak. Perempuan itu berusaha untuk membelokkan setirnya agar Justin terjatuh, tetapi itu sama sekali tak membuahkan hasil.

Elika mencoba untuk semakin membelokkan setirnya, berulang-ulang, tetapi sekarang Justin telah berhasil memasukkan hampir sebagian tubuhnya melalui jendela. Dia menarik lengan Elika yang spontan berteriak kencang. Hal itu membuat ponsel Elika terlempar dan dia langsung menangkap ponsel itu. Dia buka kunci pintu mobil Elika dari dalam, lalu dia masuk setelah sebelumnya melempar ponsel Elika ke luar. Ponsel itu pecah karena menghantam aspal.

Justin masuk ke mobil Elika—yang sedang berjalan dengan kecepatan penuh itu—dan berhasil menutup pintu mobil itu kembali. Justin langsung menarik tubuh Elika dan mencoba untuk merebut kendali mobil itu.

"Lepaskan aku, Justin!! AKU TAK MAU MATI!!! LEPASKAN AKU!!!! LEPASKAN AKU, BAJINGAN!!!!"

"Kau tahu itu, tetapi kau masih menentangku. Kau tak mau mati, tetapi kau agaknya memintaku untuk membunuhmu.”

Mata Elika membulat.

Ini adalah…

 

Sisi terkejam Justin.

Sisi gelap Justin Alexander...yang ia pancing keluar. Elika sontak menyeringai puas.

 

"Akhirnya kau menunjukkan sisi ini padaku," ujar Elika.

"Benarkah?" tanya Justin dengan sarkastis. Namun, tepat di detik itu juga, Justin langsung mendorong tubuh Elika hingga punggung Elika menghantam pintu mobil. Kepala Elika menabrak kaca pintu mobil di sisi kiri yang masih dalam keadaan tertutup.

Elika berteriak. Kepalanya berdarah saking kuatnya hantaman itu. Mobil itu semakin terombang-ambing di jalanan bukit yang dilindungi oleh pagar pembatas. Ada jurang di balik pagar pembatas itu. Mobil Justin sudah tertinggal di belakang sana.

Justin telah mengendalikan mobil Elika sepenuhnya, tetapi Elika yang sekarat itu masih berusaha untuk meraih roda kemudi. Alhasil, Justin pun kembali mendorongnya dan kini mobil itu jadi menabrak sebuah batu yang ada di area pinggir bukit itu. Batu itu cukup besar, setinggi paha, sesuai dengan perkiraan Justin.

Mobil yang memang tengah berjalan dengan kecepatan tinggi itu otomatis terpental jauh akibat menabrak sebuah batu besar.

Ketika mobil itu berputar di udara, sebelum mobil itu terpental terlalu jauh, Justin dengan cepat mengeluarkan dirinya dari dalam mobil dan melompat ke luar hingga tubuhnya jatuh ke aspal dengan kencang. Justin menggunakan kedua lengannya untuk melindungi kepalanya dari benturan.

Mobil yang terpental itu kini jatuh membentur aspal dan meledak dengan suara ledakan yang luar biasa, jauh di depan sana.

Meski Justin melindungi diri, tubuhnya tetap merasakan sakit yang luar biasa karena ia langsung terguling begitu jatuh ke aspal. Justin tak tahu apa yang terjadi…sampai akhirnya ia mendengar suara sirene mobil ambulans serta mobil polisi yang datang mendekat.

 

…lalu tiba-tiba, semuanya gelap. []

















******














No comments:

Post a Comment

She Was Never Mine (Bab 4: Segalanya Untuknya)

  ****** Bab 4 : Segalanya Untuknya   ******   LANTUNAN lagu di radio terdengar begitu merdu saat Josh baru saja memberhentikan mo...