Chapter 16 :
A
Mission
******
Justin:
AKU membuka lemari pakaian dan
menghela napas. Tubuhku fit, tetapi mungkin karena semalam aku tidur
lebih lama dari biasanya, kepalaku agak sakit. Kuambil sebuah handuk putih yang
terlipat rapi di salah satu sisi lemari, lalu kutaruh handuk itu di pundakku…sebelum
akhirnya aku berjalan masuk ke kamar mandi.
Mungkin karena aku sering terjaga
karena pekerjaan kantor yang menumpuk, aku jadi terbiasa tidak tidur malam.
Rokok memang selalu kukonsumsi untuk menghangatkan tubuhku, tetapi kali ini aku
tak bisa sembarangan mengonsumsinya karena Violette melarangnya. Dia begitu
bersikeras soal itu. Dia menyuruhku untuk tidur lebih teratur daripada
melakukan semua itu.
Baru satu malam aku dan Violette
menempati rumah ini. Kupikir, rumah ini juga sudah aman untuk ditempati. Sebenarnya,
rumah ini sudah selesai kubangun sejak dua tahun yang lalu (aku sudah
mengumpulkan uangku dan mulai membangun rumah di New York sejak masih berada di
Red Lion), tetapi rumah ini belum pernah kutempati karena aku bertemu dengan
Pamanku setahun sebelum rumah ini selesai dibangun. Kupikir, well…suatu
saat rumah ini akan kutempati juga dan ternyata itu benar. Aku akhirnya menempatinya
bersama istriku, Violette.
Aku memegang tengkukku dan menggerakkan
leherku ke kanan dan ke kiri. Pikiranku terasa jernih; aku tidur cukup untuk aktivitas
yang akan kulakukan hari ini.
Begitu menutup pintu kamar mandi, aku
menaruh handuk yang kubawa di salah satu gantungan yang melekat di dinding,
tidak jauh dari bathtub. Aku pun membuka pakaianku satu per satu,
lalu menghidupkan shower.
Air dingin mulai membasahi tubuhku.
Kutumpukan sebelah tanganku di dinding kamar mandi, sementara yang sebelah lagi
kugunakan untuk mengusap rambutku ke belakang. Kututup mataku; aku tetap berada
di posisi itu selama beberapa saat…sampai akhirnya perlahan aku mulai
membersihkan seluruh tubuhku.
Berbagai hal berkecamuk di dalam
benakku. Apa yang akan kulakukan nanti sebenarnya sangat berisiko, jadi aku
harus memikirkan dampaknya dari berbagai sisi.
Dahulu, saat berada di Red Lion, aku
selalu melakukan hal seperti ini. Aku agak kepikiran karena ini sudah tiga
tahun sejak aku melakukannya dan kali ini banyak yang harus kupikirkan.
Violette, orang-orang terdekat kami, perusahaan…semuanya harus kupikirkan. Selama
tiga tahun ini…banyak hal berharga yang menjadi alasanku untuk tetap hidup.
Setelah selesai mandi, aku pun mengeringkan
rambut serta tubuhku dengan handuk. Handuk itu kulingkarkan di pinggangku
sebelum akhirnya aku keluar dari kamar mandi.
Aku berjalan pelan ke lemari
pakaian. Namun, sebelum benar-benar sampai di depan lemari pakaian, aku sedikit
berhenti karena menyadari Violette sudah duduk di kasur dan memperhatikan
kedatanganku.
Oh, dia sudah selesai makan siang.
"Kau...sudah mandi?"
tanyanya pelan.
"Ya," jawabku singkat. Aku
lantas mendekati lemari pakaian dan membukanya. Kuambil body fit t-shirt-ku
dan celana jeans karena hari ini kami masih cuti.
"Aku sudah mandi tadi,"
ujarnya. Aku pun menoleh kepadanya.
"Aku tahu, Vio." Aku menutup
lemari dan menaruh pakaianku di kasur. Kutatap dia dan aku mulai beranjak duduk
di sebelahnya.
"Aku sudah menelepon polisi
dan mereka akan datang sebentar lagi. Ikutlah bersama mereka; mereka akan
membawamu ke tempat Nathan." Aku memandangnya lekat-lekat, tak ingin dia mengalihkan
pandangannya dariku. "Aku tahu kau bisa."
Matanya tiba-tiba sayu; aku melihat
kekhawatiran di sana. "Aku bisa, Justin. Namun, aku khawatir. Lagi
pula—kau? Bagaimana denganmu? Apa yang akan kau lakukan? Kau bahkan menyiapkan semua
rencana ini tanpa kuketahui. Jangan memikirkan semuanya sendirian, Justin. Ini
masalahku. Libatkan aku." Dia memelototiku, mengeluarkan semua unek-uneknya
seperti biasa.
"Tenanglah,” ujarku pelan,
tetapi cukup tegas. "Aku akan berada di sana setelah mengurus sesuatu. Berbahaya
jika kau ikut denganku, Violette."
Violette mengernyitkan dahi.
"Apa katamu? Berbahaya? Mengapa kau mau melakukan itu?! Kalau kau tahu itu
berbahaya, ya jangan dilakukan!! Jangan putuskan semuanya seenaknya! Demi
Tuhan, Justin.” Dia mengerang.
Aku mengembuskan napas, lalu
tertawa kecil. Aku tak tahu sejak kapan aku mulai tidak begitu memedulikan sifat
cerewet Violette yang melebihi ibu-ibu berusia tiga puluh enam tahun.
Lucunya, sekarang aku merasa agak
aneh apabila satu hari saja tidak mendengar omelan dari mulutnya.
"Mengapa kau tertawa?!" protesnya
seraya menyatukan alis. "Aku tidak sedang melawak. Berhentilah tertawa,
Justin, ini tidak lucu."
"Ini memang tidak lucu,"
jawabku. Aku tersenyum miring. "karena yang lucu itu kau."
"Hah—sudahlah, aku lelah
meladenimu," ujarnya seraya membuang wajah. Aku mengangkat sebelah alisku.
Namun, tiba-tiba…dia melingkarkan
lengannya di pinggangku. Mataku menyipit, memperhatikannya yang sedang
menyandarkan keningnya pada dadaku. Dia tak mengatakan apa pun; agaknya, dia
sedang berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri.
Aku merengkuhnya, lalu mengusap
kepala dan punggungnya.
"Tolong jangan melakukan
sesuatu yang akan membahayakan dirimu, Justin," ujarnya lirih. Mataku
melebar. Dia bernapas pelan, lalu kembali berucap, "Aku sayang
padamu."
Aku tersenyum lembut.
"Apakah menyenangkan menghirup
wangi dadaku?" ujarku pelan. Namun, ucapan itu mampu membuat tubuhnya
menegang; dia kontan mendorong tubuhku. Pipinya memerah walaupun ekspresinya
terlihat kesal.
"AKU BUKAN
MENGHIRUP!!"
Aku mengangkat alis. "Jadi
apa? Mencium?"
"JUSTIN!!!!" teriaknya. Aku tersenyum miring. Untuk
beberapa detik lamanya, kami hanya terdiam. Aku pun mendekatinya perlahan, lalu
memeluknya. Kuusap bagian belakang kepalanya, lalu kuberikan sebuah kecupan
kecil di daun telinganya.
"I'm fine, Shawty. Pergilah. Aku juga sayang padamu."
Dia tersentak. Tak lama kemudian,
dia mulai tersenyum di dadaku dan menghela napas.
Akhirnya, dia pun melepaskan pelukan
kami dan tersenyum padaku. Tepat saat itu juga, terdengar sirene mobil polisi
di bawah sana.
Violette memegang lenganku…dan
menatapku dengan lekat. "Aku pergi dulu, ya."
Aku mengangguk.
"Hm. Hati-hati,
Violette."
Dia mengangguk, melambaikan
tangannya pelan padaku, lalu berjalan ke luar kamar. Dia pun menghilang dari
pandanganku.
Aku terdiam.
Mataku mulai memandang karpet bulu
berwarna abu-abu yang terbentang di bawah ranjang. Aku mulai mendinginkan
kepalaku.
Aku berdiri dan berjalan mendekati
jendela, membuka gorden putih yang menutupinya. Aku melihat ke bawah dan mendapati
Violette yang sedang berjalan melewati pagar dan disambut oleh para polisi itu.
Ada beberapa mobil polisi di sana.
Violette berbalik dan mendongak;
dia mencoba untuk melihat ke arah sini, tetapi aku tak yakin dia bisa melihatku
karena rumah ini sangat tinggi. Namun, aku tetap mengawasinya hingga akhirnya
ia masuk ke mobil…dan semua mobil polisi itu berjalan meninggalkan area rumah
kami.
Aku menghela napas, lalu kembali ke
dekat ranjang untuk mengambil ponselku yang terletak di atas nakas. Aku pun
menelepon seseorang.
"Yes, sir," jawabnya begitu ia mengangkat
panggilan telepon dariku.
"Sebagian dari kalian harus
mengikuti mobil polisi. Bantulah keadaan di sana dan awasi istriku. Sisanya
ikut denganku."
"Baiklah, sir."
Aku mematikan panggilan telepon itu,
lalu kembali menelepon seseorang.
"Halo, Justin?" Suaranya langsung terdengar begitu panggilan
telepon itu diangkat. "Ada apa?"
"Kau baik-baik saja?"
tanyaku.
"Ya, ada apa? Did something
happen?!"
"Violette,” panggilku. "Tidak
ada. Hanya ingin menghubungi Nona Cerewet.”
"Aku tahu bukan itu tujuanmu
menghubungiku,” ujarnya
dengan yakin.
Akhirnya, aku pun menegapkan
tubuhku."Aku belum memberitahumu siapa pelakunya."
Ia diam. Aku hanya mendengar suara sirenenya
mobil polisi dari seberang sana.
"Aku belum sempat
memberitahumu soal itu," lanjutku.
"Siapa
pelakunya...Justin?" Suara
Violette terdengar kaku.
Aku diam sejenak.
"Namanya Welton. Dia
bekerja sama dengan Elika. Welton adalah salah satu anak buah Martin dahulu; dia
ikut mengincarku waktu itu.”
“Hari itu?”
“Hm,” dehamku. “Hari di mana
aku mengebom habis markas Red Lion."
"Pada hari itu, ternyata ada
yang berhasil selamat. Weltonlah orangnya. Dia melarikan diri dan meninggalkan
pekerjaannya, lalu memilih untuk membalaskan dendamnya padamu karena ia
kehilangan banyak sekali rekan-rekannya. Yang ia tahu, hanya kaulah
satu-satunya anggota Red Lion yang tersisa di dunia. Elika sengaja memberi
informasi palsu begitu agar Welton tak mengincarku. Jadi, mereka bisa bekerja
sama atas dasar Welton mendapatkanmu dan Elika—"
"Elika mendapatkanmu," potong Violette.
Aku mengetatkan rahang. Dia
tahu. "Aku tidak memberitahu polisi tentang masa lalu Welton dan juga tentang
Red Lion.”
Aku bernapas samar, lalu
melanjutkan, "Selama ini, mereka selalu berpindah tempat. Aku sudah
menyelidiki semuanya, tetapi seluruh informasi beserta bukti-buktinya baru sempurna
pada hari Rabu, yaitu dua hari setelah kau diteror Elika dan melarikan diri ke
rumah Megan."
Violette tersentak. Dia terdengar
kaget. "Sudah selama itu, Justin?"
"Sebenarnya, yang membuatku
agak lama adalah mencari buktinya, lalu memastikan apakah aku sepenuhnya benar
atau tidak. Aku butuh bukti untuk melenyapkan mereka lewat para polisi. Aku
juga harus berhati-hati agar masa lalu kita tidak terbongkar. Aku merencanakan
waktu yang tepat untuk benar-benar melenyapkan mereka…dan waktu yang tepat itu
adalah sehari setelah pernikahan, Violette. Aku tak bisa memaksamu untuk
melakukan semuanya sebelum hari pernikahan karena aku tak mau mengacaukan
pikiranmu. Maafkan aku."
Violette terdiam.
Tak lama kemudian, kudengar ia menjawab.
"Tidak apa-apa, Justin, karena
apa yang kau lakukan ini justru membuatku bahagia. Tidak apa-apa, aku akan
selalu mendukung keputusanmu…karena aku tahu bahwa kau bisa melakukan apa pun
yang tak bisa kulakukan. Kau melakukan itu untukku, untuk kita, dan aku sangat
bahagia. Aku tidak apa-apa, Justin. Terima kasih… Benar-benar terima
kasih, Sayang."
Mataku melebar.
Napasku sedikit tertahan. Ini pertama
kalinya aku mendengar seseorang mengungkapkan apa yang ia rasakan padaku dengan
jujur. Mentah-mentah. Tanpa ada hambatan, tanpa ada kesan ‘terlarang’…
Ini sungguh…melegakan. Tak kusangka
orang sepertiku bisa mendapatkan cinta yang semurni ini.
Suara Violette kembali memecah
keheningan. "Aku sekarang tahu bagaimana cara menghadapi mereka karena
aku sudah tahu siapa mereka."
Aku tersenyum. Well, dahulu
Violette adalah satu-satunya perempuan di Red Lion dan dia juga merupakan
rekanku. Dia adalah perempuan yang tangguh.
Aku tertawa kecil tatkala menyadari
betapa banyaknya hal yang berbeda antara kami di masa lalu dan kami saat ini.
Namun, satu-satunya hal yang tak berubah adalah:
Kami tetap berdiri berdampingan.
******
Author:
Hari sudah malam.
Violette turun dari mobil dan
diikuti oleh semua polisi. Sepuluh mobil polisi itu berpencar dan mengepung
sebuah rumah kayu. Rumah itu kecil dan terletak di tengah-tengah dataran tinggi
yang dipenuhi dengan pohon.
Ada beberapa mobil—mobil-mobil
bawahan Justin—yang mengikuti mereka juga.
Begitu Violette turun, Violette
melihat Justin sudah ada di depannya. Pria itu langsung menggenggam tangannya—membuatnya
agak kaget—dan membawanya berjalan dengan diiringi oleh polisi.
Polisi memberikan Violette sebuah
pistol untuk melindungi dirinya jika terjadi sesuatu.
Meski saat itu sinar dari mobil
polisilah yang menerangi—apalagi malam ini langit cukup berawan—tetapi wajah
Justin tetap saja terlihat bersinar. Violette tidak ingat kapan terakhir
kalinya ia menganggap ada orang yang lebih tampan dari Justin.
Justin mengenakan leather
jacket berwarna hitam. Ritsleting jaket itu terbuka hingga menampakkan
kaus V-neck berwarna hitamnya yang fit body. Dia
mengenakan celana jeans dan tubuhnya terlihat begitu tegap.
Setelah Justin menjawab pertanyaan
singkat dari polisi, ia pun menatap Violette dengan intens. "Aku
mengkhawatirkanmu..."
Mata Violette membeliak. Mendadak pipinya
merona.
"Kau sudah sampai
duluan?" tanya Violette.
Hal yang menyedihkan saat ini
adalah…
…Nathan ada di sana. Di rumah
itu.
"Hm." Justin berdeham.
"Aku harus mengatasi semua halangan yang mereka persiapkan. Semua bom yang
ada di sepanjang jalan juga sudah dijinakkan."
Mata Violette membulat.
"Jadi...itu sebabnya kau lambat pergi?"
"Hm."
"Apakah kau tak takut sama
sekali dengan bahaya? Itu bom, Justin! Aku tahu kau terbiasa melakukan itu dari
dulu, tetapi—"
"Mulai lagi, Nona Cerewet,"
potong Justin.
Sial.
Violette ingin meninju wajah Justin
sekarang juga.
"Welton dan Elika…melakukan
semua ini hanya berdua," ujar Justin. Violette mendengarkannya dengan
saksama.
Justin melanjutkan, "Mereka tak
mau ada yang terbunuh. Mereka hanya berniat untuk menghadapi Red Lion sendirian
demi membalas dendam. Kalau Elika…wanita itu hanya menginginkanku. Dia pasti
berpikir bahwa jika kau terancam, aku juga akan terancam karena aku pasti akan
melindungimu. Dia tak ingin itu terjadi, makanya dia tak pernah mencelakaimu
selama ini. Dia hanya menerormu dan tak berani melakukan yang lebih dari
itu."
Violette memandang Justin dengan lekat.
God... Elika dan Welton seakan-akan sudah
menebak bahwa ini akan terjadi. Mereka memang ‘menyiapkan’ arenanya. Mereka
bahkan sengaja membuat semuanya tampak mudah; mereka hanya berpindah-pindah.
Untuk orang jenius seperti Justin, sesuatu seperti ini tentu akan terasa mudah.
Namun, Justin menghabiskan waktu yang cukup lama karena memikirkan Violette.
Memikirkan kehidupan mereka berdua.
Justin dan Violette pun menaiki
tangga depan rumah itu. Violette mulai memegang pistolnya dengan erat dan ia
tahu bahwa tangan Justin saat ini masih menyentuh punggungnya, menjaganya
dengan baik. Ada polisi yang berjalan di depan mereka. Ketika mereka sampai di
depan rumah itu, polisi pun membuka pintunya perlahan.
DUAR!
Violette membulatkan mata. Polisi
yang berdiri di depan tadi terjatuh, tertembak tepat di bagian kepalanya.
Keadaan langsung riuh; para polisi yang ada mulai menembak meski gelap. Ada juga
yang menerangi ruangan dengan senter. Namun, meski temaram, sosok di dalam sana
memang cukup terlihat. Ada seorang laki-laki yang tengah memegang pistol…dan
itu pasti adalah Welton.
Welton melompat dan bergerak dengan
begitu lincah demu menghindari semua tembakan itu hingga akhirnya semua polisi mulai
beriring-iring masuk ke ruangan. Violette langsung bergerak mencari keberadaan Nathan.
Welton berlari seraya mengambil
banyak senjata yang kemungkinan sudah disiapkannya sejak lama. Dia menembak ke
semua arah karena polisi mengepungnya. Namun, tepat ketika dia melompat sekali
lagi, sebuah peluru memelesat dan mengenai betisnya.
Tembakan dari salah satu polisi itu
membuat Welton mengerang, tetapi dia kembali bergerak menjauh agar bisa berlari
ke luar. Ia mencoba keluar dari pintu sembari terus menembak dengan cekatan.
Dia adalah penembak yang jitu; kemungkinan, selama ini dia juga semakin memoles
kemampuannya.
Tepat ketika Welton ingin keluar
dari rumah—memancing para polisi—Justin berhasil melompat dan menendang kepala
Welton. Saat pria itu terjatuh, Justin pun langsung menimpa tubuhnya. Justin mengunci
tubuhnya, lalu mengarahkan mulut pistol ke dahinya.
Dia spontan membulatkan mata.
"Don’t move,” ujar Justin dengan kejam. Ada
beberapa polisi yang mengawas di belakangnya. Welton menatap semua itu dengan
tak percaya.
"Fuck... Kau—kau...Red—" Welton
tergagap saat melihat wajah Justin. Jantungnya hampir berhenti berdetak. Wajah
itu…adalah wajah orang yang mengebom semua rekannya saat peperangan
dengan Red Lion dahulu.
Ternyata, Elika membohonginya. Ada
orang lain selain Violette. Parahnya lagi, ‘orang lain’ itu justru adalah pelaku
utama yang sebenarnya! Seseorang yang jelas-jelas
mengebom pasukan mereka waktu itu!
Namun, sebelum Welton sempat
mengucapkan kata 'Red Lion', Justin menghentikannya. Polisi masih ada di sini.
"Oui, Monsieur," jawab Justin dalam bahasa Perancis,
meyakinkan Welton bahwa dirinya memang adalah orang yang Welton maksud.
"FUCK YOU!!!" teriak Welton sebelum akhirnya para
polisi menyergapnya dan mengamankan senjatanya. Welton memberontak dan polisi
mengikat tangan serta menutup mulutnya dengan sebuah kain. Dia mengamuk ketika
polisi membawanya ke mobil.
Oh, ketika dia berada di kantor
polisi nanti…mungkin dia akan membeberkan soal Red Lion, tetapi takkan ada yang
memercayainya. Dia tak punya bukti. Justin sudah mengantisipasi semua itu,
terutama mereka sebenarnya tak memiliki identitas yang ‘asli’ saat berada di
Red Lion.
Justin berdiri dan memandangi Welton
dengan mata menyipit…sebelum akhirnya pria itu beralih mengejar Violette. Violette
ada di ujung ruangan bersama Nathan; di sana juga ada beberapa polisi yang
membantu melepaskan ikatan Nathan.
Para polisi membawa tubuh tak
berdaya Nathan keluar dari rumah itu. Ada juga beberapa polisi yang mengamankan
senjata-senjata rancangan Welton di sekeliling rumah itu. Violette terduduk
lemas ketika melihat tubuh Nathan yang dibawa oleh para polisi; ia merasa
seluruh tubuhnya mati rasa.
Oh, Tuhan. Violette lega karena
Nathan masih hidup…tetapi dia tetap lemas saat menemukan Nathan dalam keadaan
seperti itu.
Violette menunduk dan menggigit
bibirnya. Gadis itu tidak menangis, tetapi ia mengepalkan tangannya dan menahan
semua erangan yang hendak keluar dari mulutnya.
Tubuhnya bergetar.
Beberapa detik kemudian, ia merasa
ada sebuah tangan yang menyentuh punggungnya, menariknya ke dalam dekapan
hangat.
Ah, ini wangi tubuh yang selalu ia
sukai. Wangi maskulin yang selalu terbayang-bayang di benaknya.
"Ayo pergi dari sini."
Justin mengusap pelan rambut Violette. Dia membiarkan Violette melepaskan
seluruh rasa sedih di dada tegapnya. Sekitar dua menit lamanya, Justin hanya
terus mengusap punggung dan kepala Violette berkali-kali dengan pelan.
Hingga akhirnya, Violette mulai tenang.
Justin pun melepaskan Violette; dia
ingin melihat ke dalam mata gadis itu. Wajah Justin memang tak berekspresi,
tetapi tatapan matanya saat itu berbeda.
Begitu hangat...sehangat warna
lelehan emasnya.
Violette menarik napas dalam dan
mengeluarkannya perlahan. Ia akhirnya mencoba untuk berdiri—dengan dibantu oleh
Justin—meski sebenarnya dia bisa berdiri sendiri. Justin membawanya keluar dari
rumah itu dan mendekati mobil polisi.
Semua mobil polisi sudah berkumpul
di depan rumah itu. Salah satu polisi mulai berbicara seraya menjabat tangan
Justin, "Terima kasih karena telah melaporkan kasus ini, Mr. Alexander. Terima
kasih juga atas kerjasama Anda."
"Terima kasih juga, sir,” jawab Justin.
Polisi itu tersenyum.
"Please take my wife and her
uncle, sir. Keep them safe. There's something I need to finish right now. I
entrust their safety to you," ujar
Justin.
Polisi itu mengangguk.
"Of course, Mr. Alexander. Please
go ahead."
"Thank you," jawab Justin. Ia pun menyerahkan
Violette kepada polisi itu. Violette menatap Justin sebentar…sebelum akhirnya
polisi mengarahkannya untuk masuk ke mobil.
Justin menatap kepergian mobil itu
dengan intens. Setelah semua mobil itu benar-benar hilang dari sana,
Justin pun melihat jam tangannya.
"Tepat waktu."
******
Justin mengendarai Range Rover-nya
dengan kecepatan penuh.
Matanya menatap lurus ke depan, sangat
fokus; ia tak membiarkan apa pun mengganggunya. Rahangnya mengetat dan sebelah
tangannya mencengkeram roda kemudi.
Namun, tiba-tiba ponselnya
berbunyi.
Justin melirik singkat ke arah ponselnya
yang tergeletak di atas dashboard itu; dia menyipitkan mata tatkala
melihat nama si pemanggil. Pria itu pun langsung meraih ponsel itu dan
menempelkan ponsel itu di telinganya.
"Justin, kau tidak apa-apa, ‘kan?
Kau baik-baik saja? Aku akan mengantar Nathan ke rumah Paman Locardo. Tidak
apa-apa, ‘kan? Justin, aku khawatir sekali padamu!!"
"Hm." Justin hanya berdeham.
"Tidak apa-apa. Nathan akan aman di sana. Kau harus mengamankan dirimu
setelah itu, Violette. Jangan pergi ke mana-mana lagi. Tetaplah berada di tempat
yang aman. Aku tidak apa-apa."
Violette mengeluh; ia sangat
khawatir. Agaknya, ia ingin mengoceh, tetapi saat ini ia mencoba untuk tenang
dan menuruti keinginan Justin. Semoga saja…Justin benar-benar baik-baik saja.
Justin selalu melakukan sesuatu
tanpa memberitahu Violette terlebih dahulu. Entah apa yang saat ini pria itu
lakukan. Namun, seperti ada sebuah batu yang mengimpit lehernya, yang
menghalanginya untuk bertanya lebih jauh kepada Justin.
"Aku tutup," ujar Justin
tiba-tiba. Dia langsung menutup panggilan telepon itu dan meletakkan ponselnya
lagi di atas dashboard. Beberapa detik setelah itu, Justin
menginjak gas; dia berkendara dengan kecepatan tinggi hingga membuat
mobilnya terlihat bak cahaya yang membelah jalanan gelap itu. Dia melewati jalan
kecil di area bukit yang begitu lengang.
Justin melihat sebuah mobil yang berwarna
silver di depannya; dia menatap mobil itu dengan mata yang setajam elang. Saat
posisi mobilnya sejajar dengan mobil berwarna silver itu, Justin merasa begitu
beruntung…
…karena jendela sebelah kanan mobil
itu terbuka.
Justin memang tepat waktu,
seperti dugaannya. Ia melihat bahwa pemilik mobil itu—Elika—sedang berbicara di
telepon dengan suara keras. Dia mengeraskan suaranya supaya bisa mengalahkan
suara mobil, soalnya mobilnya berjalan begitu cepat seperti ingin menghindari
sesuatu.
Justin mendengar percakapan
di telepon itu.
Elika sedang mencoba untuk melaporkan
tentang Red Lion kepada polisi. Timing-nya pas sekali.
Sebelum Elika sempat mengucapkan
kata 'Red', Justin langsung menabrak mobilnya dari samping. Sebenarnya,
Elika juga sudah menyadari adanya kehadiran mobil lain di samping mobilnya.
Elika tahu persis bahwa itu adalah mobil Justin.
Tabrakan itu bertubi-tubi, membuat
mobil Elika nyaris jatuh ke bawah bukit, tetapi perempuan itu masih sanggup
menggenggam ponselnya; dia mencoba untuk tetap mengatakan sesuatu kepada polisi.
Dia bersikeras untuk mengeluarkan seluruh kedengkiannya selagi ia masih
bernyawa.
Justin membuka pintu mobilnya. Di tengah
mobilnya yang masih berjalan itu, Justin pun meraih jendela mobil Elika yang
terbuka, lalu dia melompat. Dia berdiri berpegangan di sana dan Elika
berteriak. Perempuan itu berusaha untuk membelokkan setirnya agar Justin
terjatuh, tetapi itu sama sekali tak membuahkan hasil.
Elika mencoba untuk semakin
membelokkan setirnya, berulang-ulang, tetapi sekarang Justin telah berhasil
memasukkan hampir sebagian tubuhnya melalui jendela. Dia menarik lengan Elika
yang spontan berteriak kencang. Hal itu membuat ponsel Elika terlempar dan dia
langsung menangkap ponsel itu. Dia buka kunci pintu mobil Elika dari dalam, lalu
dia masuk setelah sebelumnya melempar ponsel Elika ke luar. Ponsel itu pecah
karena menghantam aspal.
Justin masuk ke mobil Elika—yang
sedang berjalan dengan kecepatan penuh itu—dan berhasil menutup pintu mobil itu
kembali. Justin langsung menarik tubuh Elika dan mencoba untuk merebut kendali
mobil itu.
"Lepaskan aku, Justin!! AKU
TAK MAU MATI!!! LEPASKAN AKU!!!! LEPASKAN AKU, BAJINGAN!!!!"
"Kau tahu itu, tetapi
kau masih menentangku. Kau tak mau mati, tetapi kau agaknya memintaku untuk
membunuhmu.”
Mata Elika membulat.
Ini adalah…
Sisi terkejam Justin.
Sisi gelap Justin Alexander...yang
ia pancing keluar. Elika sontak menyeringai puas.
"Akhirnya kau menunjukkan sisi
ini padaku," ujar Elika.
"Benarkah?" tanya Justin dengan sarkastis. Namun,
tepat di detik itu juga, Justin langsung mendorong tubuh Elika hingga punggung
Elika menghantam pintu mobil. Kepala Elika menabrak kaca pintu mobil di sisi
kiri yang masih dalam keadaan tertutup.
Elika berteriak. Kepalanya
berdarah saking kuatnya hantaman itu. Mobil itu semakin terombang-ambing di
jalanan bukit yang dilindungi oleh pagar pembatas. Ada jurang di balik pagar
pembatas itu. Mobil Justin sudah tertinggal di belakang sana.
Justin telah mengendalikan mobil
Elika sepenuhnya, tetapi Elika yang sekarat itu masih berusaha untuk meraih
roda kemudi. Alhasil, Justin pun kembali mendorongnya dan kini mobil itu jadi menabrak
sebuah batu yang ada di area pinggir bukit itu. Batu itu cukup besar, setinggi
paha, sesuai dengan perkiraan Justin.
Mobil yang memang tengah berjalan
dengan kecepatan tinggi itu otomatis terpental jauh akibat menabrak sebuah batu
besar.
Ketika mobil itu berputar di udara,
sebelum mobil itu terpental terlalu jauh, Justin dengan cepat mengeluarkan
dirinya dari dalam mobil dan melompat ke luar hingga tubuhnya jatuh ke aspal
dengan kencang. Justin menggunakan kedua lengannya untuk melindungi kepalanya
dari benturan.
Mobil yang terpental itu kini jatuh
membentur aspal dan meledak dengan suara ledakan yang luar biasa, jauh
di depan sana.
Meski Justin melindungi diri, tubuhnya
tetap merasakan sakit yang luar biasa karena ia langsung terguling begitu jatuh
ke aspal. Justin tak tahu apa yang terjadi…sampai akhirnya ia mendengar suara
sirene mobil ambulans serta mobil polisi yang datang mendekat.
…lalu tiba-tiba, semuanya gelap. []









No comments:
Post a Comment