Chapter
4 :
Sanguineous
******
AKASHI
berjalan
masuk ke hotel bintang lima itu diikuti dengan delapan pria berpakaian hitam
yang tadi menyambutnya di luar. Begitu ia melewati ambang pintu, seluruh staf
di lobi langsung membeku; mereka menunduk hormat padanya dan memberinya
jalan.
Udara
di sana terasa sangat berat, seolah-olah atmosfer itu sendiri tunduk
pada kehendaknya. Tekanannya begitu tinggi, padahal dia tak mengatakan
apa-apa. Dia hanya lewat; mata elangnya yang berkilat itu menatap lurus ke
depan. Tajam, menembus keheningan. Dia tak tersenyum, tak juga
menunjukkan keramahan yang berarti. Dia berjalan santai…dan ketika sudah berada
di ujung, ia pun belok kanan dan masuk ke lift.
Di
sepanjang jalan, Akashi mengeluarkan aura yang gelap…dan kedalaman yang
tak berujung. Dia terlihat seperti makhluk yang luar biasa tampan…tetapi
berasal dari kegelapan. Kehadirannya
terasa bagai badai dalam setelan jas yang dirancang khusus. Bagai seorang tiran
elegan yang terpahat dari bayangan.
Parfumnya pun tercium bagai rahasia gelap yang
memabukkan. Ia lebih seperti pertanda daripada manusia; seperti lautan yang
tersamarkan air tenang, tak terduga dalamnya, tetapi mustahil untuk ditolak. Seperti
misteri yang memikat.
A
dark abyss.
Semua
orang di sana sangat ingin mengangkat kepala mereka demi melihat sosoknya,
tetapi entah mengapa mereka tak bisa melakukannya. Seolah-olah akan ada sesuatu
yang terjadi…jika mereka melakukan itu.
Meskipun
demikian, sebenarnya Akashi tak pernah menyentuh staf-staf hotel itu. Dia
adalah sang pemilik yang jarang datang ke sana, tetapi amat dikenali
wajahnya. Sejujurnya, nama Akashi Roan Kaiser cukup terkenal, tetapi sosoknya
akan begitu jarang kau lihat, kecuali jika kau bekerja di salah satu
perusahaannya…atau kau terlalu up-to-date soal manusia-manusia influential
di negaramu.
Ah,
tetapi, jika kau pernah melihat mata dan rambutnya yang berwarna merah
itu…kau akan mengingatnya selamanya.
Wajahnya
sangat tampan. Rahangnya tajam, hidungnya mancung, bentuk matanya
seperti mata siren yang sensual dan penuh misteri…tetapi tatapannya
tajam seperti elang. Saat tatapannya bertemu denganmu, kau akan merasa seolah-olah
dikupas habis. Ditelanjangi, ditelusuri hingga ke pikiran terakhirmu
yang paling kau sembunyikan. Terjebak di dalam tatapan matanya akan membuat
tubuhmu langsung mengirimkan signal ‘bahaya’; teror akan menjalar ke pembuluh darahmu. Kau
akan takut, tersudut…tetapi diam-diam berharap bahwa dia akan terus menatapmu
karena…
…itu
sangat hot dan mendebarkan. Sensasinya luar biasa.
Oh,
manusia memang suka sesuatu yang thrilling. Ketegangan yang akan membuat
mereka gila, tetapi ketagihan.
Begitu
sosok Akashi sudah benar-benar masuk ke lift, semua orang yang ada di lobi itu pun
langsung menegakkan tubuh mereka kembali dan mengembuskan napas lega. Mereka baru ingat untuk bernapas. Tekanannya
begitu tinggi, jantung mereka berdebar-debar, tetapi sebenarnya…itu tidak
sepenuhnya karena rasa takut.
Ada
juga rasa hormat, rasa ingin tahu, rasa segan, serta…
…kekaguman.
It’s
something dangerously close to desire.
Para
wanita yang ada di sana jelas terpukau…tetapi mereka belum berani mengeluarkan suara.
Di dalam keheningan yang Akashi tinggalkan itu, mereka hanya bisa memandangi
sisa-sisa eksistensi Akashi dengan mulut yang separuh terbuka.
Segala
sesuatu yang terkandung di dalam aura Akashi jelas meneriakkan bahaya,
tetapi entah mengapa, para wanita itu mulai meneguk ludah mereka dan berbisik di
dalam hati:
“Oh,
he could ruin me. Ruin me, sir, and I’ll say thank you.”
‘Cuz
damn.
He’s
Leviathan incarnate, draped in the form of a man. Lethal. Majestic. Darkness
bows to him.
Menggunakan
lift besar tersebut, Akashi dan kedelapan pria yang mengikutinya itu pun
turun ke Lower Ground. Tombol LG menyala di lift itu.
Tak
lama kemudian, terdengarlah suara ‘ding’ dari lift itu. Pintu lift itu
pun mulai terbuka.
…dan
di balik pintu itu…
…semuanya
gelap.
Hanya
ada sedikit penerangan di lantai itu. Penerangannya berupa lampu-lampu
putih kecil yang sesekali berkedip. Seisi lantai itu berwarna hitam: lantainya,
dindingnya, atapnya…
…semuanya
hitam.
Lantai
itu bersih. Spotless. Di sana tak ada furnitur…maupun staf hotel. Tidak
ada orang sama sekali.
Sepi.
Langkah
kaki Akashi dan kedelapan pria yang mengikutinya itu menggema di kesunyian.
Mereka berjalan ke tengah-tengah Lower Ground yang sangat luas itu…dan
masuk ke sebuah liang petak yang ukurannya cukup lebar. Di liang itu terdapat tangga
untuk turun ke lantai yang lebih dalam.
Biasanya,
liang itu tertutup dan tersamarkan. Namun, malam ini liang itu terbuka.
Akashi
memasuki liang itu…dan menuruni tangga kecilnya satu per satu. Saat ia
melangkah turun, cahaya dari Lower Ground mulai semakin remang-remang,
hanya meninggalkan bayangan yang menempel pada sosoknya.
Ketukan
langkah kaki mereka semua masih terdengar jelas, terutama karena mereka sedang
menuruni tangga.
“Yang
menunggu di sana adalah Tuan Kazama, Boss,” ujar salah satu dari delapan
pria itu. Dia berjalan tepat di belakang Akashi, di balik bahu kanan Akashi.
Akashi
tersenyum. Senyumnya terlihat begitu tenang. Rileks.
Dia
pun mengangguk.
“I
see.”
Tak
lama kemudian, mereka pun sampai. Tangga itu membawa mereka ke sebuah ruangan
yang lebih kecil. Ruangan itu memiliki getaran yang sama dengan Lower
Ground; semua areanya berwarna hitam, tetapi udaranya jauh lebih
dingin. Selain itu, ada bau besi yang cukup pekat di sana.
Lampu
neon pucat tergantung di langit-langit ruangan. Dinding sebelah kanan dan kiri
ruangan itu dipenuhi dengan relief.
Akashi
menghentikan langkahnya tatkala telah menjejaki ruangan itu. Di depan sana, di tengah-tengah
ruangan…
…ada
seorang pria paruh baya yang terikat di sebuah kursi besi.
Pria
itu sudah terlihat babak belur. Wajahnya bengkak dan membiru. Kepalanya
berdarah. Gigi depannya lepas. Dia memuntahkan darah tepat ketika Akashi
datang. Di samping pria itu, berdirilah Kazama, seorang capo dari area
itu. Kazama sedang menyeringai; dia memegang sebuah pisau seraya menjambak
rambut pria itu. Anak-anak buah Kazama berdiri di sekeliling ruangan.
Begitu
menyadari kedatangan Akashi, Kazama beserta seluruh anak buahnya langsung
menghadap ke depan. Mereka menunduk hormat kepada Akashi…lalu menyapa Akashi serentak.
“Selamat
datang, Boss.”
Akashi
mengangguk singkat. Mata merahnya justru menatap pria paruh baya yang
sedang terluka di tengah-tengah ruangan itu. Rambut pria itu ikal. Tubuhnya
gemuk. Dia memakai suit, tetapi percuma saja karena jas dan kemejanya
dipenuhi dengan darah dari mulutnya sendiri.
Meskipun
sedang sekarat, begitu melihat Akashi…pria itu langsung bergidik. Dengan rasa
takut yang naik sampai ke ubun-ubun, pria itu langsung membungkuk di kursinya
dan berkata dengan suara yang bergetar. Dia hampir menangis; keringat dingin
sebesar biji jagung mulai muncul di keningnya.
“T—Tuan
Akashi!
Maafkan aku—kumohon maafkan aku!! Aku tidak bermaksud seperti itu,
aku—”
Tamparan
keras mendarat di pipi pria itu. Kazama menamparnya dengan sangat kuat. “Hei,
hei… Jaga mulutmu di depan Boss. Kau pikir dengan siapa kau berbicara?”
“TOLONG
MAAFKAN AKU, AKU—”
Kazama
menamparnya dengan keras lagi. “DIAM!”
Setelah
mendengkus, Kazama pun menoleh kepada Akashi dan menunduk hormat lagi. “Maafkan
kami, Boss.”
Akashi
hanya diam. Dia masih terlihat tenang. Sebuah senyuman tipis kembali terbit di
wajahnya.
Salah
satu pria di sana mulai mengambilkan sebuah kursi untuk Akashi. Kursi itu ia
letakkan di dekat Akashi…dan Akashi langsung duduk di sana.
Jarak
antara posisi duduk Akashi dengan pria paruh baya itu cukup jauh, sekitar tiga
sampai empat langkah kaki pria dewasa. Namun, mereka berhadapan.
Akashi
duduk bersandar. Kakinya bersilang. Jasnya ia letakkan di pangkuannya, lalu sikunya
ia tumpukan di lengan kursi. Setelah itu, dia pun menjalin jemari tangannya.
Ia
hanya diam di sana. Menunggu.
Kazama lantas semakin menjambak rambut pria
paruh baya yang tersiksa itu; dia menarik paksa kepala pria itu ke atas. “Jelaskan.”
Pria
itu, Masahito, spontan mengangguk kencang. “Ya—ya!!! Tolong,
tolong ampuni aku. Akan kujelaskan. Akan kujelaskan sekarang!!!”
Masahito
atau Asahi adalah seseorang dari dunia politik. Dia adalah salah satu calon
gubernur di provinsi itu…yang sedang sibuk berkampanye. Sebenarnya, dia sudah
kalah beberapa kali, tetapi untuk yang kali ini, dia diekspektasikan
untuk menang karena di-backing oleh Akashi. Dia kembali didudukkan di
posisi calon gubernur itu oleh Akashi…setelah kalah beberapa kali dan bangkrut.
Namun, ketika dia berpidato, berkampanye
besar-besaran di depan para rakyat tadi pagi, dia sempat berkata:
“Aku
akan menaklukkan para kriminal. Aku akan membasmi mereka semua.
Keamanan provinsi ini akan sangat terjamin. Seluruh kriminal, baik perorangan,
kelompok, maupun yang memiliki jaringan yang sangat besar; kriminal yang
bersembunyi…yang berkeliaran…semuanya akan ditangkap dengan cepat dan tanpa
terkecuali.”
Oh,
for God’s sake. Berhati-hatilah ketika berbicara.
Seharusnya
Masahito tahu bahwa ada telinga di setiap sudut provinsi itu. Negara
itu. Dia tidak sendirian. Dia tidak berada di posisi tertinggi walaupun dia
sedang berada di atas panggung.
Meskipun
dia berdiri di balik mimbar, kontrol bukan berasal dari dirinya. Dunia
tidak berputar di sekitarnya.
Tentu
ada banyak mata yang mengawasinya…dan semua mata itu dipimpin oleh
sepasang mata merah. Penguasa di balik layar.
Paginya
dia berpidato seperti itu…malamnya dia sudah berada di ruang bawah tanah ini,
dalam keadaan sekarat, dan memohon ampun dengan putus asa. Seharusnya dia tahu
bahwa dia akan menjadi daging cincang tepat ketika dia berbicara seperti
itu. Imut sekali. Dia pikir dia bisa bermain di papan catur milik
orang lain.
Masahito
pun mulai berbicara—hampir berteriak—dengan suara yang sangat serak; suaranya
hampir habis. Napasnya sesak. Suaranya sumbang. Matanya membulat penuh,
keadaannya begitu berantakan. Darah segar terus keluar melalui ludahnya yang memuncrat
ketika ia berteriak. Wajahnya bengkak sana sini. Dia ketakutan dan panik
setengah mati.
“Orpheus!!!”
teriaknya.
“Orpheus menyuruhku untuk mengatakan itu! Ketua Orpheus tiba-tiba mendatangiku
dua hari yang lalu dan mengancam untuk membunuh istriku. Ampuni aku, Tuan,
tolong ampuni aku!! Istriku dalam bahaya. Kumohon! Dia juga mengancam untuk
membunuh seluruh keluargaku jika aku memberitahu ini padamu. Aku tak tahu harus
melakukan apa, Tuan, kumohon!! Kumohon ampuni aku!! Mereka mengikutiku!!”
Masahito
menangis kencang. Teriakannya terdengar begitu menyedihkan. Pathetic. Tubuhnya
bergetar. Tangannya yang terikat itu terkepal kencang. Dia memohon-mohon kepada
Akashi seperti seekor anjing.
Akan
tetapi, begitu mendengar semua penjelasan itu…
Akashi
tersenyum.
Dia
mulai membuka suara setelah lama hanya diam. Suaranya halus, serak,
seksi…tetapi menusuk. Mematikan dan tak berbelas kasih. Suaranya
menggema di ruangan hitam itu dan sukses membuat tubuh semua orang di sana
spontan mematung. Jantung mereka seolah-olah berhenti berdetak.
“I
am keeping my mouth silent, Masahito.”
Masahito
tersentak. Matanya melebar sempurna begitu mendengar suara itu. Suara
yang sangat tenang…tetapi mampu membuat nyalinya ciut seketika.
Setelah
itu, Akashi pun melanjutkan.
“But
when I’m irritated, I bite.”
Bulu
kuduk Masahito kontan meremang.
Di
momen itu, saat itu juga, Masahito langsung membungkukkan tubuhnya
kembali, jauh membungkuk ke depan hingga wajahnya sejajar dengan lututnya. Dia
tak peduli dengan rambutnya yang masih dicengkeram oleh Kazama. Instingnya
untuk bertahan hidup langsung bekerja; dia berada dalam situasi hidup dan
mati…karena terperangkap di depan seekor binatang buas.
Predator.
Masahito
berbicara dalam tempo yang sangat cepat karena panik. Sebuah erangan tanpa
sadar keluar dari tenggorokannya; napasnya pendek-pendek dan tubuhnya bergetar
hebat. “T—Tuan, maafkan aku. Maafkan aku!! Tolong aku, Tuan, kumohon!
Aku diawasi oleh anggota Orpheus. Aku tahu aku bukan anggota Kaiser Clan, aku
belum berada di bawah sayapmu, tetapi kumohon…kumohon ampuni aku.”
Mendengar
itu, Akashi hanya diam. Ruangan itu terasa cukup sunyi, hanya ada erangan dan
tangisan Masahito yang menggema di sana. Punggung Masahito berguncang; dia
berusaha untuk melepaskan ikatan di tangan dan kakinya. Dia ingin bangkit dari
kursi itu dan berlari ke depan Akashi untuk bersujud.
Dia
tak mau keadaan ini terus berlanjut. Dia tak mau merasa seperti berada di ujung
tanduk begini. Dia tak mau mati!!!
Beberapa
detik kemudian, suara Akashi pun kembali terdengar.
“Wipe
him out.”
Tiba-tiba,
Kazama langsung melempar pisau yang sejak tadi ia pegang di tangan kanannya.
Dia pun mengambil sebuah pistol dari balik jaketnya dan tepat saat itu juga, Masahito
meraung histeris. Suara pria itu memecah keheningan seperti petir yang memekakkan
telinga.
“No—NO!!
NO!!! PLEASE—PLEASE FORGIVE ME!!! I DIDN’T MEAN—”
BOOM.
Terdengar
suara tembakan keras di dalam ruangan itu. Satu peluru sukses menembus
kepala Masahito.
Masahito
ditembak di bagian kepala dan mati di tempat.
Tubuh
pria itu roboh, tertolak ke samping. Badannya langsung berhenti bergerak. Dia
mati dalam keadaan yang mengenaskan; matanya memelotot dan mulutnya menganga.
Akashi
dan semua orang yang ada di sana menyaksikan adegan itu tanpa ekspresi di wajah
mereka. Datar…dan sangat tenang. Hening. Hanya ada suara tetesan darah
yang jatuh ke ubin dingin itu.
Setelah
proses eksekusi itu selesai, Kazama pun mendengkus.
How
stupid, pikirnya. Masahito baru saja mendapatkan uluran tangan
dari Akashi, tetapi agaknya dia tak tahu di mana dia sedang berpijak. Dia
memberanikan dirinya untuk menjangkau Akashi, tetapi tidak menggali
lebih dalam tentang dunia bawah. Jika kau berani ‘masuk’ ke dunia bawah,
setidaknya kau harus tahu jaringan atau spider web macam apa yang
ada di sana, seberapa luas jaringan itu, dan siapa-siapa saja yang
mengaturnya. Apakah dia hanya mendekati orang yang ‘ia dengar’ paling kuat,
tetapi tidak mencari tahu lebih dalam? Jika dia cukup pintar, seharusnya dia
tahu siapa Orpheus (dan seberapa besar kedudukannya dibanding Kaiser Clan)
serta apa yang harus dia lakukan jika mendapat ancaman seperti itu.
Oh,
Kazama jadi paham mengapa dia selalu kalah dalam pemilihan gubernur. Dia hanya
sibuk memperbanyak lemak di tubuhnya. Otaknya kosong.
Tiba-tiba,
terdengarlah sebuah suara yang composed, tetapi tajam.
Suara
yang sangat Kazama kenali.
“Kazama.”
Kazama
tersentak. Pria bertubuh tinggi dan kekar itu langsung menoleh ke asal suara.
Di sana ia melihat sang penguasa tanpa mahkota. Shadow emperor of the world.
The most dangerous man alive…tetapi ia memutuskan untuk tunduk di
bawah kaki pria itu.
Rasanya,
tiap kali pria itu berbicara, suaranya langsung mengirimkan getaran ke
tulang belakangmu.
“Ya,
Boss.” Kazama menunduk sejenak (sebagai tanda hormat), lalu ia kembali
mengangkat wajahnya untuk menatap mata merah Akashi.
Akashi
memiringkan kepalanya.
“Mengapa
kalian
tidak langsung menghabisinya? Hal seperti ini tidak perlu dilaporkan
padaku.”
Mata
Kazama melebar. “Oh. Maafkan aku, Boss. Aku ingin Anda mendengar sendiri
kebohongan yang keluar dari mulutnya. Aku tadi sudah mencoba untuk menelepon
Anda beberapa kali, tetapi tidak tersambung… Untungnya, teleponku yang terakhir
bisa tersambung padamu.”
Ah,
itu
tidak tersambung karena Akashi sedang bersama Mei. Mengantar Mei pulang.
Akashi
bernapas samar. “Dia hanya rekanan. Bukan bagian dari keluarga
kita. Habisi saja.”
“Baik,
Boss.” Kazama kontan menunduk hormat, diikuti oleh seluruh anggotanya.
Suara Kazama terdengar sangat tegas. “Maafkan kami.”
Akashi
diam. Dengan tenang, dia kembali memegang jasnya dan mulai berdiri. Dipandanginya
dinding hitam yang ada di ujung sana; dinding yang berhadapan dengannya. Di
dinding itu terdapat relief sebuah tangan yang memegang seekor ular.
“Orpheus,
ya?”
ujar Akashi pelan. Matanya menatap relief itu dengan tatapan yang sulit
diartikan. Namun, satu hal yang pasti adalah: kilat di matanya terlihat begitu
tajam…seolah-olah bisa mengulitimu di tempat.
Akashi
pun berbalik. Kazama mengangkat kepalanya, menatap punggung tegap Akashi yang
lebar itu seraya menunggu apa yang akan Akashi katakan selanjutnya.
Beberapa
detik kemudian, suara Akashi pun kembali terdengar.
“Kazama,”
ujarnya. “Ambil semua uang yang kuberikan pada Masahito…serta yang dia selundupkan
dariku. Setelah itu, bunuh istrinya. Mereka bekerja sama.”
Mata
Kazama membeliak.
******
Mei
berendam di bathtub sambil melamun. Gadis itu tak bergerak untuk
membersihkan tubuhnya sama sekali; dia hanya duduk diam di bathtub itu,
matanya menatap ke depan, tetapi pikirannya melayang hingga ke angkasa.
“I
like feisty.”
“Memangnya
aku seperti apa, Mei?”
“Forgive
me. I just enjoyed talking with you. Couldn’t help myself.”
“Okay,
Princess. I won’t do it again.”
“Baru
kali ini ada yang memanggilku dengan akhiran -kun. Ternyata, aku cukup
menyukainya.”
“Bagaimana
dengan pacar?”
“Tidakkah
kau terlalu cantik untuk menjadi single?”
“I
can honestly say that evading any kind of flirting whatsoever seems to be a
skill of yours, Mei.”
“Your
boyfriend is one hell of a stupid person.”
“Suit
yourself, my lady. May I offer you a ride?”
“I
will drop a woman off right in front of her house, my lady, to
ensure her safe return.”
“Kau
tidak akan pernah merepotkanku, Mei.”
“Looking
forward to meeting you next time.”
Oh,
damn it. Deretan kata-kata itu masih Mei ingat dengan jelas, tanpa cacat
sama sekali. Suara dan ekspresi Akashi saat mengatakan itu juga terekam jelas
di benak Mei. It’s very haunting. Sekarang, ketika Mei pikir-pikir
lagi…itu bukan konversasi biasa. Itu flirting, ‘kan?! Akashi jelas-jelas
menikmati semua itu; dia berendam di dalam sensasinya. Sial. The audacity of
that man!! Is he a flirt machine?!
Pria
itu benar-benar menghancurkan segala pertahanan Mei. Dia menginvasi pikiran Mei
tanpa izin. Itu ilegal. Mei harus menelepon pihak berwajib. Pria itu sungguh
berbahaya untuk jantung dan keperawanannya. Eh, tunggu. Bukan
keperawanan. Dia takkan memberikan keperawanannya kepada seorang pria secepat
itu. Let’s call interpol immediately. Or 911. Oh, no. This is not America.
Let’s call 110 then.
Oke,
wait. Tenang dulu. Setidaknya jangan menghubungi pihak berwajib dalam
keadaan telanjang.
Mei
pun menghela napas. Dia mulai bersandar di bagian kepala bathtub-nya.
Today
is a long day. Periodt.
Pertemuan
dengan Akashi…terasa seperti instant attraction. Mei menatap air yang
agak beriak di atas tubuhnya dengan tatapan kosong, soalnya pikirannya masih
ada di awang-awang. Lebih tepatnya, pikirannya tersangkut di sepasang mata
merah yang tadi sore memenjarakan tubuhnya.
Tiba-tiba,
Mei teringat bagaimana dia bertanya pada Akashi:
“Apakah
kau merupakan anak seorang raja, bangsawan, atau sesuatu sejenis itu?”
“Apakah
kau memimpin sesuatu? Apa saja, pokoknya memimpin sesuatu. Do you?”
…dan
Akashi tertawa. Pria itu bahkan sampai bercanda dengan menyebut Ranger Merah.
Sialan!! Apa hubungannya Power Rangers dengan semua ini?! Leave Power
Rangers out of this, you sexy red-eyed menace!!!
Pipi
Mei spontan memerah. Oh, Tuhan, Mei malu sekali!! Mengapa
pertanyaannya jadi terdengar begitu konyol?! Lagi pula, mana ada
kerajaan di kota ini! Sialan, Mei harus memberi pelajaran kepada mulutnya
sendiri. Dia harus menampar mulutnya sepuluh kali setelah mandi nanti. Satu
tinjuan di pipi kanan sepertinya juga bagus.
Mei
pun menunduk dan menenggelamkan wajahnya ke air. Hal itu memunculkan gelembung-gelembung
ke permukaan. Pipinya memanas…seolah-olah akan mengeluarkan asap. Dia harus
mendinginkan wajahnya (atau bahkan seluruh bagian kepalanya) sebelum mengutuk
dirinya sendiri dengan boneka voodoo yang dia simpan di laci meja
riasnya. Saat SMA, dia membeli boneka voodoo itu iseng-iseng
karena ingin mengutuk gadis dari kelas sebelah yang mencoret-coret tasnya.
Ah,
pokoknya, Mei benar-benar kesal sekaligus malu dengan keadaan ini…tetapi
di sisi lain, dia sangat penasaran dengan Akashi Roan Kaiser. Dia
terus-menerus memikirkan pria berambut merah itu.
His
mysterious and majestic vibe. His alluring red color that screams danger.
Everything
seems like…a natural disaster.
******
Keesokan
harinya, Mei pergi bekerja seperti biasa. Gadis itu berjalan santai ke
kantornya, melewati pedestrian walkway yang tidak terlalu ramai. Mei
tinggal di kota yang penduduknya tidak banyak, jadi meskipun ini adalah jam-jam
di mana masyarakat keluar rumah untuk bekerja atau ke sekolah, di daerahnya
jalanan terasa cukup lengang.
Pagi
ini, Mei hanya ingin meredakan stres dan kelelahan mental yang timbul akibat
memikirkan Akashi, that sexy beast.
Entah
karena stres atau apa, hari ini tubuh Mei kurang fit. Dia tidak semangat
seperti biasanya. Kejam sekali hidup ini. Beberapa hari yang lalu, dia stres
karena patah hati. Sekarang, dia stress karena memikirkan Akashi. Lord,
please have mercy.
Kaki
Mei juga sakit. Biasanya, dia akan baik-baik saja mengenakan high heels ke
kantor. Mengapa hari ini segalanya terasa melelahkan? Kakinya pun jadi
ikut-ikutan sakit.
Panas
matahari terasa sangat menyengat di trotoar tempat Mei berjalan. Mei bersyukur
akal sehatnya masih menuntunnya untuk membawa deodoran hari ini. Dia memang tak
pernah bisa bertahan dengan panas. Siapa pun yang memutuskan untuk memalsukan
laporan cuaca hari ini pantas menderita. Seperti kehilangan uang lima puluh
ribu yen atau celananya robek di depan umum.
Seharusnya
suhu di luar hari ini sekitar tiga puluh derajat. Bukan seratus derajat.
Tiba-tiba,
suara mesin yang bergemuruh pelan membuat Mei terkejut. Mei menoleh ke sumber
suara.
Sumber
suara itu adalah sebuah mobil Lamborghini Aventador berwarna hitam. Mobil itu terlihat
sangat seksi, tetapi di sisi lain juga terlihat…misterius dan
futuristik.
Mei
tersentak. Mobil itu berhenti di sebelahnya, membuatnya refleks ikut berhenti
berjalan. Sejak kapan ada mobil semewah ini di kotanya? Siapa pemilik
mobil ini? Alis Mei langsung menyatu.
Satu
detik kemudian, jendela mobil itu diturunkan.
Oh,
sial. Tuhan memang tak pernah benar-benar berada di pihak Mei sejak dua hari
yang lalu. Tatkala jendela mobil itu diturunkan, Mei langsung melihat
objek lamunannya belakangan ini…tengah duduk di dalam mobil itu.
Mengendarai mobil itu.
Akashi
Roan Kaiser.
Akashi
duduk di dalam mobil itu, sebelah tangannya memegang roda kemudi dan Goddammit,
itu terlihat sangat seksi. Lengan kemejanya yang tergulung hingga ke siku,
jam tangannya, urat-urat di lengannya…
Sialan.
Mei hampir menganga.
“Good
morning, Mei.”
Siaaaaaal!
Haruskah
Mei rekam suara itu untuk alarmnya di pagi hari?!
Oke,
sial. Tidak. Bukan begitu konsepnya. Itu agak menyeramkan. Memangnya Mei seorang
stalker?!
Pura-pura
tak terpengaruh, Mei pun menjawab dengan nada datar, “Selamat pagi juga,
Akashi.”
Akashi
tersenyum.
“Off
to work?” tanyanya.
Mei
rasanya ingin memutar bola mata. Ya iyalah! Ini hari kerja, lho, bukan weekend!
Akashi benar-benar harus disingkirkan dari dunia ini sebelum Mei sendiri
yang akan menyingkirkannya. Mei akan mengurungnya di dalam lemari.
Ekhem.
“It
is a Thursday, Akashi-kun, not the
weekend.” Mei deadpanned.
Akashi
tertawa kecil. “Masih pakai -kun, ya.”
Oh,
sial. Berhentilah tertawa seperti itu atau hati Mei akan benar-benar tercuri.
“Kau
kelihatannya sangat lelah. Butuh tumpangan?” Akashi sedikit menyipitkan mata;
dia memeriksa Mei dengan saksama.
Namun,
tentu saja, Mei akan menolak ajakan itu. Cukup kemarin saja Mei menerima ajakan
Akashi dan berakhir stres sendiri karena terus melamunkan Akashi di
apartemennya. Hari ini, kejadian itu takkan terulang. Ia takut jatuh cinta pada
Akashi.
“Tidak
usah, Akashi. Aku baik-baik saja. Aku berjalan kaki setiap hari.” Mei berdeham,
pura-pura membersihkan tenggorokannya.
“Oh,
begitu.” Akashi tersenyum miring. “Kau tidak membawa kendaraan?”
Mei
mendengkus. “Aku tidak punya kendaraan. Lagi pula, untuk apa kendaraan kalau
kantorku dekat? Segala yang kubutuhkan ada di dekat sini. Aku tak terlalu
memerlukan kendaraan.”
Akashi
tertawa kecil. Sepertinya, dia telah membuat Mei sedikit kesal. Meskipun
demikian, dia tetap berbicara.
“Are
you okay? Aku agak khawatir denganmu. Langkahmu tampak semakin berat.
High heels tidak dirancang untuk berjalan terlalu jauh seperti yang kau
lakukan. What did you say again? You walk like this…every day?”
…fuck.
Aaarrrghhhh!!!!!
Mei harus jawab apaaaa?!! Mengapa Akashi harus seteliti itu?! Bikin malu saja!!
Mei
spontan membuang muka, pura-pura cuek, padahal dia hanya ingin
menyembunyikan warna merah yang mulai menyebar di pipinya. “Langkahku baik-baik
saja, Akashi. Mungkin karena hari ini sangat panas, kau jadi berhalusinasi.
Itu berbahaya, Akashi, sebaiknya kau pergi ke rumah sakit sekarang.”
Akashi
kontan tertawa.
Pria
itu tertawa lepas.
Mei
langsung menoleh kepadanya dan menatap tawanya itu dengan mata yang sedikit
melebar. Diam-diam, Mei kembali mengagumi tawa itu. Dunia mendadak jadi lebih
berwarna. Ada bunga-bunga, simbol hati, dan bulu-bulu lembut yang seakan-akan
beterbangan di udara.
Sial.
Itu indah sekali.
Selepas
tertawa, Akashi pun kembali menatap mata Mei.
“Agaknya,
daripada menerima rayuan atau bantuan dariku, kau lebih memilih untuk menuduhku
tidak waras dan menyakiti kakimu sendiri,” ujar Akashi. Pria itu merasa sangat
terhibur. “Namun, aku akan melewati Kantor Pelayanan Publik. It
wouldn’t trouble me to give you a ride.”
Mei
masih keras kepala. “Tidak usah, Akashi.”
Akashi
memiringkan kepala. “I also have a vanilla milkshake in my car if you’d
like.”
Mata
Mei spontan membulat.
Did
he just say vanilla milkshake?
******
Oh,
Mei memang murahan sekali. Dia tergoda dengan iming-iming vanilla milkshake.
Sialan.
Akashi memikatnya seperti: “Ada permen gratis, Nak.”, tetapi dengan gaya yang
elegan.
Sekarang,
dengan tanpa malu, dia malah meneguk minuman itu sambil menggoyang-goyangkan
kakinya tatkala duduk di dalam mobil ber-AC milik Akashi.
Ah,
vanilla milkshake di hari yang panas begini? Sempurna.
Terkutuklah
Akashi beserta segala triknya.
Jas
Akashi digantung di jok, tetapi dia masih mengenakan rompi abu-abu di atas
kemeja putihnya. Tangan kanan Akashi berada di roda kemudi, sementara tangan kirinya
beristirahat di tuas persneling. Musik dihidupkan dengan volume rendah.
Pakaian
yang ia kenakan terlihat sangat pas di tubuhnya, seolah-olah diciptakan khusus
untuknya.
Tidak,
Mei tidak sedang memandangi area selangkangannya atau pahanya yang berukuran
ideal. Tidak, Mei tidak melihat semua itu.
Tiba-tiba,
Akashi membuka suara.
“Apa
hobimu,
Mei?”
Mei
kontan batuk-batuk sambil menyembunyikan rona merah yang terkutuk yang
sepertinya akhir-akhir ini mudah muncul di wajahnya.
Setelah
batuk-batuk, Mei langsung menormalkan ekspresi wajahnya seolah-olah tak terjadi
apa-apa. Dia menatap ke depan, lalu menjawab, “Hobiku membaca, Akashi.”
Oh,
semoga Akashi tidak sadar kalau Mei memperhatikannya.
Namun…tunggu
sebentar. Pertanyaan Akashi tadi…agak di luar dugaan. Akashi bertanya soal hobi
dengan santai, tiba-tiba, seperti menanyakan kabar harian. Siapa yang menanyakan
hobi dengan cara seperti itu?
Akashi,
apparently.
“Oh
ya?” Akashi menoleh kepada Mei sejenak dan tersenyum. “Apakah kau memiliki
banyak koleksi buku?”
Mei
pun ikut menatap Akashi, lalu menggeleng. “Tidak juga. Aku lebih suka membaca
buku di perpustakaan atau toko buku. Aku sering pergi ke toko buku yang ada di daerah
sini.”
Akashi
mengangguk seraya tersenyum. Dia tampak tertarik pada fakta itu. “That
sounds just like you. Di mana lokasi toko bukunya?”
Oh,
tidak. Mei tak mau memberitahu Akashi soal itu. Dia tak mau oversharing. Selain
itu, dia juga takut waktu rileksnya jadi berantakan karena Akashi, padahal
belum tentu Akashi akan mengganggunya di toko buku itu. Dia saja yang
berlebihan. Terlalu percaya diri.
Seseorang
harus menampar Mei sekarang juga agar dia sadar.
“Aku
tak mau memberitahumu.” Mei menjawab seraya memasang ekspresi datar. “Yang
jelas, ada di dekat sini. Bisa ditempuh dengan berjalan kaki.”
Akashi
tertawa kecil, dalam dan rendah, hampir membuat Mei menelan ludah.
“Hm…”
Akashi
memiringkan kepala. Keningnya berkerut sedikit, lalu ia tersenyum. “It
wouldn’t be hard for me to deduce which bookstore you visited, considering it’s
a rather small area. Kau bilang kau tidak punya kendaraan. Kau juga bilang
bahwa lokasinya ada di dekat sini. A walking distance, so Shouzen Bookstore,
I presume?”
Mata
Mei membulat. Jantungnya sempat hampir berhenti berdegup. Dia meneguk ludah, pipinya
hampir merona akibat kejutan itu.
This
guy was just as terrifying as he was hot.
Damn.
Mengapa
analisis dan observasinya itu terdengar…sangat seksi?
“That’s
sort of creepy, Akashi-sama,” ujar Mei.
Akashi
kontan tertawa.
“Forgive
me for wanting to get closer,” jawab Akashi. “So...are
you calling me with the suffix -sama now?”
Mei
menghadap ke depan dan mendengkus. “Because you look like royalty or
something.”
Akashi
tersenyum miring. “Ini sudah kedua kalinya kau menyebutku bangsawan. Do I
really look like one?”
“Yes,
you do.” Mei menjawab seraya menoleh kepada Akashi. Ekspresinya
benar-benar datar.
Akashi
kembali tertawa kecil.
Dua
detik kemudian, mobil Akashi mulai menepi di depan Kantor Pelayanan Publik.
Mobil itu berhenti tepat di depan gedungnya.
Oh,
mereka
sudah sampai.
Mei
pun menoleh ke samping, melihat kantornya yang sudah ada di depan mata. Mei
menghela napas samar; di satu sisi, dia merasa lega karena akan segera lepas
dari jebakan Akashi. Namun, di sisi lain, dia masih ingin memandangi
jelmaan dewa seksi yang ada di sebelahnya itu.
Saat
ini…penampilan Akashi tampak sangat menyegarkan mata. Dia selalu tampak flawless,
megah, tetapi kalau dilihat pagi-pagi begini…
Double
kill.
Baiklah,
Mei, kau benar-benar harus keluar dari mobil ini.
Mei
pun melepas sabuk pengamannya. Begitu sabuk pengaman itu terlepas, Mei
berencana untuk mengucapkan terima kasih kepada Akashi dan langsung keluar dari
mobil itu.
Namun,
sayangnya, sebelum Mei sempat mengucapkan terima kasih, tiba-tiba saja Akashi
mencondongkan tubuhnya ke arah Mei. Pria itu mendekati Mei, membuat Mei
terkejut dan refleks mundur hingga punggungnya menabrak pintu mobil.
“A—Akashi?!”
Akashi
memiringkan kepalanya, lalu tersenyum miring.
“Mei,”
panggilnya
dengan suara rendah. “Can I have your number?” []



Akashi, the menace you areeeeee😭😭😭



No comments:
Post a Comment