Saturday, September 27, 2025

Double-Decker (Chapter 4: Sanguineous)

 


******

Chapter 4 :

Sanguineous

 

******

 

AKASHI berjalan masuk ke hotel bintang lima itu diikuti dengan delapan pria berpakaian hitam yang tadi menyambutnya di luar. Begitu ia melewati ambang pintu, seluruh staf di lobi langsung membeku; mereka menunduk hormat padanya dan memberinya jalan.

Udara di sana terasa sangat berat, seolah-olah atmosfer itu sendiri tunduk pada kehendaknya. Tekanannya begitu tinggi, padahal dia tak mengatakan apa-apa. Dia hanya lewat; mata elangnya yang berkilat itu menatap lurus ke depan. Tajam, menembus keheningan. Dia tak tersenyum, tak juga menunjukkan keramahan yang berarti. Dia berjalan santai…dan ketika sudah berada di ujung, ia pun belok kanan dan masuk ke lift.

Di sepanjang jalan, Akashi mengeluarkan aura yang gelap…dan kedalaman yang tak berujung. Dia terlihat seperti makhluk yang luar biasa tampan…tetapi berasal dari kegelapan. Kehadirannya terasa bagai badai dalam setelan jas yang dirancang khusus. Bagai seorang tiran elegan yang terpahat dari bayangan.

Parfumnya pun tercium bagai rahasia gelap yang memabukkan. Ia lebih seperti pertanda daripada manusia; seperti lautan yang tersamarkan air tenang, tak terduga dalamnya, tetapi mustahil untuk ditolak. Seperti misteri yang memikat.

A dark abyss.

Semua orang di sana sangat ingin mengangkat kepala mereka demi melihat sosoknya, tetapi entah mengapa mereka tak bisa melakukannya. Seolah-olah akan ada sesuatu yang terjadi…jika mereka melakukan itu.

Meskipun demikian, sebenarnya Akashi tak pernah menyentuh staf-staf hotel itu. Dia adalah sang pemilik yang jarang datang ke sana, tetapi amat dikenali wajahnya. Sejujurnya, nama Akashi Roan Kaiser cukup terkenal, tetapi sosoknya akan begitu jarang kau lihat, kecuali jika kau bekerja di salah satu perusahaannya…atau kau terlalu up-to-date soal manusia-manusia influential di negaramu.

Ah, tetapi, jika kau pernah melihat mata dan rambutnya yang berwarna merah itu…kau akan mengingatnya selamanya.

Wajahnya sangat tampan. Rahangnya tajam, hidungnya mancung, bentuk matanya seperti mata siren yang sensual dan penuh misteri…tetapi tatapannya tajam seperti elang. Saat tatapannya bertemu denganmu, kau akan merasa seolah-olah dikupas habis. Ditelanjangi, ditelusuri hingga ke pikiran terakhirmu yang paling kau sembunyikan. Terjebak di dalam tatapan matanya akan membuat tubuhmu langsung mengirimkan signal ‘bahaya’; teror akan menjalar ke pembuluh darahmu. Kau akan takut, tersudut…tetapi diam-diam berharap bahwa dia akan terus menatapmu karena…

…itu sangat hot dan mendebarkan. Sensasinya luar biasa.

Oh, manusia memang suka sesuatu yang thrilling. Ketegangan yang akan membuat mereka gila, tetapi ketagihan.

Begitu sosok Akashi sudah benar-benar masuk ke lift, semua orang yang ada di lobi itu pun langsung menegakkan tubuh mereka kembali dan mengembuskan napas lega. Mereka baru ingat untuk bernapas. Tekanannya begitu tinggi, jantung mereka berdebar-debar, tetapi sebenarnya…itu tidak sepenuhnya karena rasa takut.

Ada juga rasa hormat, rasa ingin tahu, rasa segan, serta…

…kekaguman.

It’s something dangerously close to desire.

Para wanita yang ada di sana jelas terpukau…tetapi mereka belum berani mengeluarkan suara. Di dalam keheningan yang Akashi tinggalkan itu, mereka hanya bisa memandangi sisa-sisa eksistensi Akashi dengan mulut yang separuh terbuka.

Segala sesuatu yang terkandung di dalam aura Akashi jelas meneriakkan bahaya, tetapi entah mengapa, para wanita itu mulai meneguk ludah mereka dan berbisik di dalam hati:

 

“Oh, he could ruin me. Ruin me, sir, and I’ll say thank you.”

 

‘Cuz damn.

He’s Leviathan incarnate, draped in the form of a man. Lethal. Majestic. Darkness bows to him.

 

Menggunakan lift besar tersebut, Akashi dan kedelapan pria yang mengikutinya itu pun turun ke Lower Ground. Tombol LG menyala di lift itu.

Tak lama kemudian, terdengarlah suara ‘ding’ dari lift itu. Pintu lift itu pun mulai terbuka.

 

…dan di balik pintu itu…

 

…semuanya gelap.

 

Hanya ada sedikit penerangan di lantai itu. Penerangannya berupa lampu-lampu putih kecil yang sesekali berkedip. Seisi lantai itu berwarna hitam: lantainya, dindingnya, atapnya…

…semuanya hitam.

Lantai itu bersih. Spotless. Di sana tak ada furnitur…maupun staf hotel. Tidak ada orang sama sekali.

 

Sepi.

 

Langkah kaki Akashi dan kedelapan pria yang mengikutinya itu menggema di kesunyian. Mereka berjalan ke tengah-tengah Lower Ground yang sangat luas itu…dan masuk ke sebuah liang petak yang ukurannya cukup lebar. Di liang itu terdapat tangga untuk turun ke lantai yang lebih dalam.

Biasanya, liang itu tertutup dan tersamarkan. Namun, malam ini liang itu terbuka.

Akashi memasuki liang itu…dan menuruni tangga kecilnya satu per satu. Saat ia melangkah turun, cahaya dari Lower Ground mulai semakin remang-remang, hanya meninggalkan bayangan yang menempel pada sosoknya.

Ketukan langkah kaki mereka semua masih terdengar jelas, terutama karena mereka sedang menuruni tangga.

“Yang menunggu di sana adalah Tuan Kazama, Boss,” ujar salah satu dari delapan pria itu. Dia berjalan tepat di belakang Akashi, di balik bahu kanan Akashi.

Akashi tersenyum. Senyumnya terlihat begitu tenang. Rileks.

Dia pun mengangguk.

 

“I see.”

 

Tak lama kemudian, mereka pun sampai. Tangga itu membawa mereka ke sebuah ruangan yang lebih kecil. Ruangan itu memiliki getaran yang sama dengan Lower Ground; semua areanya berwarna hitam, tetapi udaranya jauh lebih dingin. Selain itu, ada bau besi yang cukup pekat di sana.

Lampu neon pucat tergantung di langit-langit ruangan. Dinding sebelah kanan dan kiri ruangan itu dipenuhi dengan relief.

Akashi menghentikan langkahnya tatkala telah menjejaki ruangan itu. Di depan sana, di tengah-tengah ruangan…

 

…ada seorang pria paruh baya yang terikat di sebuah kursi besi.

 

Pria itu sudah terlihat babak belur. Wajahnya bengkak dan membiru. Kepalanya berdarah. Gigi depannya lepas. Dia memuntahkan darah tepat ketika Akashi datang. Di samping pria itu, berdirilah Kazama, seorang capo dari area itu. Kazama sedang menyeringai; dia memegang sebuah pisau seraya menjambak rambut pria itu. Anak-anak buah Kazama berdiri di sekeliling ruangan.

Begitu menyadari kedatangan Akashi, Kazama beserta seluruh anak buahnya langsung menghadap ke depan. Mereka menunduk hormat kepada Akashi…lalu menyapa Akashi serentak.

 

“Selamat datang, Boss.”

 

Akashi mengangguk singkat. Mata merahnya justru menatap pria paruh baya yang sedang terluka di tengah-tengah ruangan itu. Rambut pria itu ikal. Tubuhnya gemuk. Dia memakai suit, tetapi percuma saja karena jas dan kemejanya dipenuhi dengan darah dari mulutnya sendiri.

Meskipun sedang sekarat, begitu melihat Akashi…pria itu langsung bergidik. Dengan rasa takut yang naik sampai ke ubun-ubun, pria itu langsung membungkuk di kursinya dan berkata dengan suara yang bergetar. Dia hampir menangis; keringat dingin sebesar biji jagung mulai muncul di keningnya.

“T—Tuan Akashi! Maafkan aku—kumohon maafkan aku!! Aku tidak bermaksud seperti itu, aku—”

Tamparan keras mendarat di pipi pria itu. Kazama menamparnya dengan sangat kuat. “Hei, hei… Jaga mulutmu di depan Boss. Kau pikir dengan siapa kau berbicara?”

“TOLONG MAAFKAN AKU, AKU—”

Kazama menamparnya dengan keras lagi. “DIAM!”

Setelah mendengkus, Kazama pun menoleh kepada Akashi dan menunduk hormat lagi. “Maafkan kami, Boss.”

Akashi hanya diam. Dia masih terlihat tenang. Sebuah senyuman tipis kembali terbit di wajahnya.

Salah satu pria di sana mulai mengambilkan sebuah kursi untuk Akashi. Kursi itu ia letakkan di dekat Akashi…dan Akashi langsung duduk di sana.

Jarak antara posisi duduk Akashi dengan pria paruh baya itu cukup jauh, sekitar tiga sampai empat langkah kaki pria dewasa. Namun, mereka berhadapan.

Akashi duduk bersandar. Kakinya bersilang. Jasnya ia letakkan di pangkuannya, lalu sikunya ia tumpukan di lengan kursi. Setelah itu, dia pun menjalin jemari tangannya.

Ia hanya diam di sana. Menunggu.

 Kazama lantas semakin menjambak rambut pria paruh baya yang tersiksa itu; dia menarik paksa kepala pria itu ke atas. “Jelaskan.”

Pria itu, Masahito, spontan mengangguk kencang. “Ya—ya!!! Tolong, tolong ampuni aku. Akan kujelaskan. Akan kujelaskan sekarang!!!”

Masahito atau Asahi adalah seseorang dari dunia politik. Dia adalah salah satu calon gubernur di provinsi itu…yang sedang sibuk berkampanye. Sebenarnya, dia sudah kalah beberapa kali, tetapi untuk yang kali ini, dia diekspektasikan untuk menang karena di-backing oleh Akashi. Dia kembali didudukkan di posisi calon gubernur itu oleh Akashi…setelah kalah beberapa kali dan bangkrut.

 Namun, ketika dia berpidato, berkampanye besar-besaran di depan para rakyat tadi pagi, dia sempat berkata:

 

“Aku akan menaklukkan para kriminal. Aku akan membasmi mereka semua. Keamanan provinsi ini akan sangat terjamin. Seluruh kriminal, baik perorangan, kelompok, maupun yang memiliki jaringan yang sangat besar; kriminal yang bersembunyi…yang berkeliaran…semuanya akan ditangkap dengan cepat dan tanpa terkecuali.”

 

Oh, for God’s sake. Berhati-hatilah ketika berbicara.

Seharusnya Masahito tahu bahwa ada telinga di setiap sudut provinsi itu. Negara itu. Dia tidak sendirian. Dia tidak berada di posisi tertinggi walaupun dia sedang berada di atas panggung.

Meskipun dia berdiri di balik mimbar, kontrol bukan berasal dari dirinya. Dunia tidak berputar di sekitarnya.

Tentu ada banyak mata yang mengawasinya…dan semua mata itu dipimpin oleh sepasang mata merah. Penguasa di balik layar.

Paginya dia berpidato seperti itu…malamnya dia sudah berada di ruang bawah tanah ini, dalam keadaan sekarat, dan memohon ampun dengan putus asa. Seharusnya dia tahu bahwa dia akan menjadi daging cincang tepat ketika dia berbicara seperti itu. Imut sekali. Dia pikir dia bisa bermain di papan catur milik orang lain.

Masahito pun mulai berbicara—hampir berteriak—dengan suara yang sangat serak; suaranya hampir habis. Napasnya sesak. Suaranya sumbang. Matanya membulat penuh, keadaannya begitu berantakan. Darah segar terus keluar melalui ludahnya yang memuncrat ketika ia berteriak. Wajahnya bengkak sana sini. Dia ketakutan dan panik setengah mati.

“Orpheus!!!” teriaknya. “Orpheus menyuruhku untuk mengatakan itu! Ketua Orpheus tiba-tiba mendatangiku dua hari yang lalu dan mengancam untuk membunuh istriku. Ampuni aku, Tuan, tolong ampuni aku!! Istriku dalam bahaya. Kumohon! Dia juga mengancam untuk membunuh seluruh keluargaku jika aku memberitahu ini padamu. Aku tak tahu harus melakukan apa, Tuan, kumohon!! Kumohon ampuni aku!! Mereka mengikutiku!!”

Masahito menangis kencang. Teriakannya terdengar begitu menyedihkan. Pathetic. Tubuhnya bergetar. Tangannya yang terikat itu terkepal kencang. Dia memohon-mohon kepada Akashi seperti seekor anjing.

Akan tetapi, begitu mendengar semua penjelasan itu…

 

Akashi tersenyum.

 

Dia mulai membuka suara setelah lama hanya diam. Suaranya halus, serak, seksi…tetapi menusuk. Mematikan dan tak berbelas kasih. Suaranya menggema di ruangan hitam itu dan sukses membuat tubuh semua orang di sana spontan mematung. Jantung mereka seolah-olah berhenti berdetak.

 

“I am keeping my mouth silent, Masahito.”

 

Masahito tersentak. Matanya melebar sempurna begitu mendengar suara itu. Suara yang sangat tenang…tetapi mampu membuat nyalinya ciut seketika.

Setelah itu, Akashi pun melanjutkan.

 

“But when I’m irritated, I bite.”

 

Bulu kuduk Masahito kontan meremang.

 

Di momen itu, saat itu juga, Masahito langsung membungkukkan tubuhnya kembali, jauh membungkuk ke depan hingga wajahnya sejajar dengan lututnya. Dia tak peduli dengan rambutnya yang masih dicengkeram oleh Kazama. Instingnya untuk bertahan hidup langsung bekerja; dia berada dalam situasi hidup dan mati…karena terperangkap di depan seekor binatang buas.

 

Predator.

 

Masahito berbicara dalam tempo yang sangat cepat karena panik. Sebuah erangan tanpa sadar keluar dari tenggorokannya; napasnya pendek-pendek dan tubuhnya bergetar hebat. “T—Tuan, maafkan aku. Maafkan aku!! Tolong aku, Tuan, kumohon! Aku diawasi oleh anggota Orpheus. Aku tahu aku bukan anggota Kaiser Clan, aku belum berada di bawah sayapmu, tetapi kumohon…kumohon ampuni aku.”

Mendengar itu, Akashi hanya diam. Ruangan itu terasa cukup sunyi, hanya ada erangan dan tangisan Masahito yang menggema di sana. Punggung Masahito berguncang; dia berusaha untuk melepaskan ikatan di tangan dan kakinya. Dia ingin bangkit dari kursi itu dan berlari ke depan Akashi untuk bersujud.

Dia tak mau keadaan ini terus berlanjut. Dia tak mau merasa seperti berada di ujung tanduk begini. Dia tak mau mati!!!

Beberapa detik kemudian, suara Akashi pun kembali terdengar.

 

“Wipe him out.”

 

Tiba-tiba, Kazama langsung melempar pisau yang sejak tadi ia pegang di tangan kanannya. Dia pun mengambil sebuah pistol dari balik jaketnya dan tepat saat itu juga, Masahito meraung histeris. Suara pria itu memecah keheningan seperti petir yang memekakkan telinga.

“No—NO!! NO!!! PLEASE—PLEASE FORGIVE ME!!! I DIDN’T MEAN—”

 

BOOM.

 

Terdengar suara tembakan keras di dalam ruangan itu. Satu peluru sukses menembus kepala Masahito.

Masahito ditembak di bagian kepala dan mati di tempat.

Tubuh pria itu roboh, tertolak ke samping. Badannya langsung berhenti bergerak. Dia mati dalam keadaan yang mengenaskan; matanya memelotot dan mulutnya menganga.

Akashi dan semua orang yang ada di sana menyaksikan adegan itu tanpa ekspresi di wajah mereka. Datar…dan sangat tenang. Hening. Hanya ada suara tetesan darah yang jatuh ke ubin dingin itu.

Setelah proses eksekusi itu selesai, Kazama pun mendengkus.

How stupid, pikirnya. Masahito baru saja mendapatkan uluran tangan dari Akashi, tetapi agaknya dia tak tahu di mana dia sedang berpijak. Dia memberanikan dirinya untuk menjangkau Akashi, tetapi tidak menggali lebih dalam tentang dunia bawah. Jika kau berani ‘masuk’ ke dunia bawah, setidaknya kau harus tahu jaringan atau spider web macam apa yang ada di sana, seberapa luas jaringan itu, dan siapa-siapa saja yang mengaturnya. Apakah dia hanya mendekati orang yang ‘ia dengar’ paling kuat, tetapi tidak mencari tahu lebih dalam? Jika dia cukup pintar, seharusnya dia tahu siapa Orpheus (dan seberapa besar kedudukannya dibanding Kaiser Clan) serta apa yang harus dia lakukan jika mendapat ancaman seperti itu.

Oh, Kazama jadi paham mengapa dia selalu kalah dalam pemilihan gubernur. Dia hanya sibuk memperbanyak lemak di tubuhnya. Otaknya kosong.

Tiba-tiba, terdengarlah sebuah suara yang composed, tetapi tajam.

Suara yang sangat Kazama kenali.

 

“Kazama.”

 

Kazama tersentak. Pria bertubuh tinggi dan kekar itu langsung menoleh ke asal suara. Di sana ia melihat sang penguasa tanpa mahkota. Shadow emperor of the world. The most dangerous man alive…tetapi ia memutuskan untuk tunduk di bawah kaki pria itu.

Rasanya, tiap kali pria itu berbicara, suaranya langsung mengirimkan getaran ke tulang belakangmu.

“Ya, Boss.” Kazama menunduk sejenak (sebagai tanda hormat), lalu ia kembali mengangkat wajahnya untuk menatap mata merah Akashi.

Akashi memiringkan kepalanya.

“Mengapa kalian tidak langsung menghabisinya? Hal seperti ini tidak perlu dilaporkan padaku.”

Mata Kazama melebar. “Oh. Maafkan aku, Boss. Aku ingin Anda mendengar sendiri kebohongan yang keluar dari mulutnya. Aku tadi sudah mencoba untuk menelepon Anda beberapa kali, tetapi tidak tersambung… Untungnya, teleponku yang terakhir bisa tersambung padamu.”

Ah, itu tidak tersambung karena Akashi sedang bersama Mei. Mengantar Mei pulang.

Akashi bernapas samar. “Dia hanya rekanan. Bukan bagian dari keluarga kita. Habisi saja.”

“Baik, Boss.” Kazama kontan menunduk hormat, diikuti oleh seluruh anggotanya. Suara Kazama terdengar sangat tegas. “Maafkan kami.”

Akashi diam. Dengan tenang, dia kembali memegang jasnya dan mulai berdiri. Dipandanginya dinding hitam yang ada di ujung sana; dinding yang berhadapan dengannya. Di dinding itu terdapat relief sebuah tangan yang memegang seekor ular.

“Orpheus, ya?” ujar Akashi pelan. Matanya menatap relief itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Namun, satu hal yang pasti adalah: kilat di matanya terlihat begitu tajam…seolah-olah bisa mengulitimu di tempat.

Akashi pun berbalik. Kazama mengangkat kepalanya, menatap punggung tegap Akashi yang lebar itu seraya menunggu apa yang akan Akashi katakan selanjutnya.

Beberapa detik kemudian, suara Akashi pun kembali terdengar.

 

“Kazama,” ujarnya. “Ambil semua uang yang kuberikan pada Masahito…serta yang dia selundupkan dariku. Setelah itu, bunuh istrinya. Mereka bekerja sama.”

 

Mata Kazama membeliak.

 

******

 

Mei berendam di bathtub sambil melamun. Gadis itu tak bergerak untuk membersihkan tubuhnya sama sekali; dia hanya duduk diam di bathtub itu, matanya menatap ke depan, tetapi pikirannya melayang hingga ke angkasa.

 

“I like feisty.”

“Memangnya aku seperti apa, Mei?”

“Forgive me. I just enjoyed talking with you. Couldn’t help myself.”

“Okay, Princess. I won’t do it again.”

“Baru kali ini ada yang memanggilku dengan akhiran -kun. Ternyata, aku cukup menyukainya.”

“Bagaimana dengan pacar?”

“Tidakkah kau terlalu cantik untuk menjadi single?”

“I can honestly say that evading any kind of flirting whatsoever seems to be a skill of yours, Mei.”

“Your boyfriend is one hell of a stupid person.”

“Suit yourself, my lady. May I offer you a ride?”

“I will drop a woman off right in front of her house, my lady, to ensure her safe return.”

“Kau tidak akan pernah merepotkanku, Mei.”

“Looking forward to meeting you next time.”

 

Oh, damn it. Deretan kata-kata itu masih Mei ingat dengan jelas, tanpa cacat sama sekali. Suara dan ekspresi Akashi saat mengatakan itu juga terekam jelas di benak Mei. It’s very haunting. Sekarang, ketika Mei pikir-pikir lagi…itu bukan konversasi biasa. Itu flirting, ‘kan?! Akashi jelas-jelas menikmati semua itu; dia berendam di dalam sensasinya. Sial. The audacity of that man!! Is he a flirt machine?!

Pria itu benar-benar menghancurkan segala pertahanan Mei. Dia menginvasi pikiran Mei tanpa izin. Itu ilegal. Mei harus menelepon pihak berwajib. Pria itu sungguh berbahaya untuk jantung dan keperawanannya. Eh, tunggu. Bukan keperawanan. Dia takkan memberikan keperawanannya kepada seorang pria secepat itu. Let’s call interpol immediately. Or 911. Oh, no. This is not America. Let’s call 110 then.

Oke, wait. Tenang dulu. Setidaknya jangan menghubungi pihak berwajib dalam keadaan telanjang.

Mei pun menghela napas. Dia mulai bersandar di bagian kepala bathtub-nya.

 

Today is a long day. Periodt.

 

Pertemuan dengan Akashi…terasa seperti instant attraction. Mei menatap air yang agak beriak di atas tubuhnya dengan tatapan kosong, soalnya pikirannya masih ada di awang-awang. Lebih tepatnya, pikirannya tersangkut di sepasang mata merah yang tadi sore memenjarakan tubuhnya.

Tiba-tiba, Mei teringat bagaimana dia bertanya pada Akashi:

 

“Apakah kau merupakan anak seorang raja, bangsawan, atau sesuatu sejenis itu?”

“Apakah kau memimpin sesuatu? Apa saja, pokoknya memimpin sesuatu. Do you?”

 

…dan Akashi tertawa. Pria itu bahkan sampai bercanda dengan menyebut Ranger Merah. Sialan!! Apa hubungannya Power Rangers dengan semua ini?! Leave Power Rangers out of this, you sexy red-eyed menace!!!

Pipi Mei spontan memerah. Oh, Tuhan, Mei malu sekali!! Mengapa pertanyaannya jadi terdengar begitu konyol?! Lagi pula, mana ada kerajaan di kota ini! Sialan, Mei harus memberi pelajaran kepada mulutnya sendiri. Dia harus menampar mulutnya sepuluh kali setelah mandi nanti. Satu tinjuan di pipi kanan sepertinya juga bagus.

Mei pun menunduk dan menenggelamkan wajahnya ke air. Hal itu memunculkan gelembung-gelembung ke permukaan. Pipinya memanas…seolah-olah akan mengeluarkan asap. Dia harus mendinginkan wajahnya (atau bahkan seluruh bagian kepalanya) sebelum mengutuk dirinya sendiri dengan boneka voodoo yang dia simpan di laci meja riasnya. Saat SMA, dia membeli boneka voodoo itu iseng-iseng karena ingin mengutuk gadis dari kelas sebelah yang mencoret-coret tasnya.

Ah, pokoknya, Mei benar-benar kesal sekaligus malu dengan keadaan ini…tetapi di sisi lain, dia sangat penasaran dengan Akashi Roan Kaiser. Dia terus-menerus memikirkan pria berambut merah itu.

His mysterious and majestic vibe. His alluring red color that screams danger.

Everything seems like…a natural disaster.

 

******

 

Keesokan harinya, Mei pergi bekerja seperti biasa. Gadis itu berjalan santai ke kantornya, melewati pedestrian walkway yang tidak terlalu ramai. Mei tinggal di kota yang penduduknya tidak banyak, jadi meskipun ini adalah jam-jam di mana masyarakat keluar rumah untuk bekerja atau ke sekolah, di daerahnya jalanan terasa cukup lengang.

Pagi ini, Mei hanya ingin meredakan stres dan kelelahan mental yang timbul akibat memikirkan Akashi, that sexy beast.

Entah karena stres atau apa, hari ini tubuh Mei kurang fit. Dia tidak semangat seperti biasanya. Kejam sekali hidup ini. Beberapa hari yang lalu, dia stres karena patah hati. Sekarang, dia stress karena memikirkan Akashi. Lord, please have mercy.

Kaki Mei juga sakit. Biasanya, dia akan baik-baik saja mengenakan high heels ke kantor. Mengapa hari ini segalanya terasa melelahkan? Kakinya pun jadi ikut-ikutan sakit.

Panas matahari terasa sangat menyengat di trotoar tempat Mei berjalan. Mei bersyukur akal sehatnya masih menuntunnya untuk membawa deodoran hari ini. Dia memang tak pernah bisa bertahan dengan panas. Siapa pun yang memutuskan untuk memalsukan laporan cuaca hari ini pantas menderita. Seperti kehilangan uang lima puluh ribu yen atau celananya robek di depan umum.

Seharusnya suhu di luar hari ini sekitar tiga puluh derajat. Bukan seratus derajat.

Tiba-tiba, suara mesin yang bergemuruh pelan membuat Mei terkejut. Mei menoleh ke sumber suara.

Sumber suara itu adalah sebuah mobil Lamborghini Aventador berwarna hitam. Mobil itu terlihat sangat seksi, tetapi di sisi lain juga terlihat…misterius dan futuristik.

Mei tersentak. Mobil itu berhenti di sebelahnya, membuatnya refleks ikut berhenti berjalan. Sejak kapan ada mobil semewah ini di kotanya? Siapa pemilik mobil ini? Alis Mei langsung menyatu.

Satu detik kemudian, jendela mobil itu diturunkan.

Oh, sial. Tuhan memang tak pernah benar-benar berada di pihak Mei sejak dua hari yang lalu. Tatkala jendela mobil itu diturunkan, Mei langsung melihat objek lamunannya belakangan ini…tengah duduk di dalam mobil itu. Mengendarai mobil itu.

 

Akashi Roan Kaiser.

 

Akashi duduk di dalam mobil itu, sebelah tangannya memegang roda kemudi dan Goddammit, itu terlihat sangat seksi. Lengan kemejanya yang tergulung hingga ke siku, jam tangannya, urat-urat di lengannya…

Sialan. Mei hampir menganga.

 

“Good morning, Mei.”

 

Siaaaaaal! Haruskah Mei rekam suara itu untuk alarmnya di pagi hari?!

Oke, sial. Tidak. Bukan begitu konsepnya. Itu agak menyeramkan. Memangnya Mei seorang stalker?!

 

Pura-pura tak terpengaruh, Mei pun menjawab dengan nada datar, “Selamat pagi juga, Akashi.”

Akashi tersenyum.

“Off to work?” tanyanya.

Mei rasanya ingin memutar bola mata. Ya iyalah! Ini hari kerja, lho, bukan weekend! Akashi benar-benar harus disingkirkan dari dunia ini sebelum Mei sendiri yang akan menyingkirkannya. Mei akan mengurungnya di dalam lemari.

Ekhem.

“It is a Thursday, Akashi-kun, not the weekend.” Mei deadpanned.

Akashi tertawa kecil. “Masih pakai -kun, ya.”

Oh, sial. Berhentilah tertawa seperti itu atau hati Mei akan benar-benar tercuri.

“Kau kelihatannya sangat lelah. Butuh tumpangan?” Akashi sedikit menyipitkan mata; dia memeriksa Mei dengan saksama.

Namun, tentu saja, Mei akan menolak ajakan itu. Cukup kemarin saja Mei menerima ajakan Akashi dan berakhir stres sendiri karena terus melamunkan Akashi di apartemennya. Hari ini, kejadian itu takkan terulang. Ia takut jatuh cinta pada Akashi.

“Tidak usah, Akashi. Aku baik-baik saja. Aku berjalan kaki setiap hari.” Mei berdeham, pura-pura membersihkan tenggorokannya.

“Oh, begitu.” Akashi tersenyum miring. “Kau tidak membawa kendaraan?”

Mei mendengkus. “Aku tidak punya kendaraan. Lagi pula, untuk apa kendaraan kalau kantorku dekat? Segala yang kubutuhkan ada di dekat sini. Aku tak terlalu memerlukan kendaraan.”

Akashi tertawa kecil. Sepertinya, dia telah membuat Mei sedikit kesal. Meskipun demikian, dia tetap berbicara.

“Are you okay? Aku agak khawatir denganmu. Langkahmu tampak semakin berat. High heels tidak dirancang untuk berjalan terlalu jauh seperti yang kau lakukan. What did you say again? You walk like this…every day?”

…fuck.

Aaarrrghhhh!!!!! Mei harus jawab apaaaa?!! Mengapa Akashi harus seteliti itu?! Bikin malu saja!!

Mei spontan membuang muka, pura-pura cuek, padahal dia hanya ingin menyembunyikan warna merah yang mulai menyebar di pipinya. “Langkahku baik-baik saja, Akashi. Mungkin karena hari ini sangat panas, kau jadi berhalusinasi. Itu berbahaya, Akashi, sebaiknya kau pergi ke rumah sakit sekarang.”

Akashi kontan tertawa.

 

Pria itu tertawa lepas.

 

Mei langsung menoleh kepadanya dan menatap tawanya itu dengan mata yang sedikit melebar. Diam-diam, Mei kembali mengagumi tawa itu. Dunia mendadak jadi lebih berwarna. Ada bunga-bunga, simbol hati, dan bulu-bulu lembut yang seakan-akan beterbangan di udara.

Sial. Itu indah sekali.

Selepas tertawa, Akashi pun kembali menatap mata Mei.

“Agaknya, daripada menerima rayuan atau bantuan dariku, kau lebih memilih untuk menuduhku tidak waras dan menyakiti kakimu sendiri,” ujar Akashi. Pria itu merasa sangat terhibur. “Namun, aku akan melewati Kantor Pelayanan Publik. It wouldn’t trouble me to give you a ride.”

Mei masih keras kepala. “Tidak usah, Akashi.”

Akashi memiringkan kepala. “I also have a vanilla milkshake in my car if you’d like.”

 

Mata Mei spontan membulat.

 

Did he just say vanilla milkshake?

 

******

 

Oh, Mei memang murahan sekali. Dia tergoda dengan iming-iming vanilla milkshake.

Sialan. Akashi memikatnya seperti: “Ada permen gratis, Nak.”, tetapi dengan gaya yang elegan.

Sekarang, dengan tanpa malu, dia malah meneguk minuman itu sambil menggoyang-goyangkan kakinya tatkala duduk di dalam mobil ber-AC milik Akashi.

Ah, vanilla milkshake di hari yang panas begini? Sempurna.

Terkutuklah Akashi beserta segala triknya.

Jas Akashi digantung di jok, tetapi dia masih mengenakan rompi abu-abu di atas kemeja putihnya. Tangan kanan Akashi berada di roda kemudi, sementara tangan kirinya beristirahat di tuas persneling. Musik dihidupkan dengan volume rendah.

Pakaian yang ia kenakan terlihat sangat pas di tubuhnya, seolah-olah diciptakan khusus untuknya.

Tidak, Mei tidak sedang memandangi area selangkangannya atau pahanya yang berukuran ideal. Tidak, Mei tidak melihat semua itu.

Tiba-tiba, Akashi membuka suara.

 

“Apa hobimu, Mei?”

 

Mei kontan batuk-batuk sambil menyembunyikan rona merah yang terkutuk yang sepertinya akhir-akhir ini mudah muncul di wajahnya.

Setelah batuk-batuk, Mei langsung menormalkan ekspresi wajahnya seolah-olah tak terjadi apa-apa. Dia menatap ke depan, lalu menjawab, “Hobiku membaca, Akashi.”

Oh, semoga Akashi tidak sadar kalau Mei memperhatikannya.

Namun…tunggu sebentar. Pertanyaan Akashi tadi…agak di luar dugaan. Akashi bertanya soal hobi dengan santai, tiba-tiba, seperti menanyakan kabar harian. Siapa yang menanyakan hobi dengan cara seperti itu?

 

Akashi, apparently.

 

“Oh ya?” Akashi menoleh kepada Mei sejenak dan tersenyum. “Apakah kau memiliki banyak koleksi buku?”

Mei pun ikut menatap Akashi, lalu menggeleng. “Tidak juga. Aku lebih suka membaca buku di perpustakaan atau toko buku. Aku sering pergi ke toko buku yang ada di daerah sini.”

Akashi mengangguk seraya tersenyum. Dia tampak tertarik pada fakta itu. “That sounds just like you. Di mana lokasi toko bukunya?”

Oh, tidak. Mei tak mau memberitahu Akashi soal itu. Dia tak mau oversharing. Selain itu, dia juga takut waktu rileksnya jadi berantakan karena Akashi, padahal belum tentu Akashi akan mengganggunya di toko buku itu. Dia saja yang berlebihan. Terlalu percaya diri.

Seseorang harus menampar Mei sekarang juga agar dia sadar.

“Aku tak mau memberitahumu.” Mei menjawab seraya memasang ekspresi datar. “Yang jelas, ada di dekat sini. Bisa ditempuh dengan berjalan kaki.”

Akashi tertawa kecil, dalam dan rendah, hampir membuat Mei menelan ludah.

“Hm…” Akashi memiringkan kepala. Keningnya berkerut sedikit, lalu ia tersenyum. “It wouldn’t be hard for me to deduce which bookstore you visited, considering it’s a rather small area. Kau bilang kau tidak punya kendaraan. Kau juga bilang bahwa lokasinya ada di dekat sini. A walking distance, so Shouzen Bookstore, I presume?”

Mata Mei membulat. Jantungnya sempat hampir berhenti berdegup. Dia meneguk ludah, pipinya hampir merona akibat kejutan itu.

This guy was just as terrifying as he was hot.

Damn. Mengapa analisis dan observasinya itu terdengar…sangat seksi?

“That’s sort of creepy, Akashi-sama,” ujar Mei.

Akashi kontan tertawa.

“Forgive me for wanting to get closer,” jawab Akashi. “So...are you calling me with the suffix -sama now?”

Mei menghadap ke depan dan mendengkus. “Because you look like royalty or something.”

Akashi tersenyum miring. “Ini sudah kedua kalinya kau menyebutku bangsawan. Do I really look like one?”

“Yes, you do.” Mei menjawab seraya menoleh kepada Akashi. Ekspresinya benar-benar datar.

Akashi kembali tertawa kecil.

Dua detik kemudian, mobil Akashi mulai menepi di depan Kantor Pelayanan Publik. Mobil itu berhenti tepat di depan gedungnya.

Oh, mereka sudah sampai.

Mei pun menoleh ke samping, melihat kantornya yang sudah ada di depan mata. Mei menghela napas samar; di satu sisi, dia merasa lega karena akan segera lepas dari jebakan Akashi. Namun, di sisi lain, dia masih ingin memandangi jelmaan dewa seksi yang ada di sebelahnya itu.

Saat ini…penampilan Akashi tampak sangat menyegarkan mata. Dia selalu tampak flawless, megah, tetapi kalau dilihat pagi-pagi begini…

 

Double kill.

 

Baiklah, Mei, kau benar-benar harus keluar dari mobil ini.

 

Mei pun melepas sabuk pengamannya. Begitu sabuk pengaman itu terlepas, Mei berencana untuk mengucapkan terima kasih kepada Akashi dan langsung keluar dari mobil itu.

Namun, sayangnya, sebelum Mei sempat mengucapkan terima kasih, tiba-tiba saja Akashi mencondongkan tubuhnya ke arah Mei. Pria itu mendekati Mei, membuat Mei terkejut dan refleks mundur hingga punggungnya menabrak pintu mobil.

“A—Akashi?!”

Akashi memiringkan kepalanya, lalu tersenyum miring.

“Mei,” panggilnya dengan suara rendah. “Can I have your number?” []

 















******




Akashi, the menace you areeeeee😭😭😭









No comments:

Post a Comment

She Was Never Mine (Bab 4: Segalanya Untuknya)

  ****** Bab 4 : Segalanya Untuknya   ******   LANTUNAN lagu di radio terdengar begitu merdu saat Josh baru saja memberhentikan mo...