Sunday, October 5, 2025

Be His Mistress (Chapter 4: Soft and Warm)

 


******

Chapter 4 :

Soft and Warm

 

******

 

BEBERAPA hari kemudian, Kanna sudah terbiasa melihat keberadaan Riley di rumahnya. Kanna sudah membelikan banyak pakaian untuk Riley (mereka belanja bersama). Waktu Riley sedang mencoba-coba pakaian, mata Kanna berkali-kali membulat. Mulutnya menganga karena terpukau melihat penampilan Riley.

            Kanna membelikan Riley sepatu, jaket, t-shirt, celana jeans, jogger pants, pakaian-pakaian dalam (oh, ini tentu saja Riley sendiri yang memilih, haha), hoodie, dan berbagai pakaian lainnya. Ah, Kanna bersyukur sekali dia tak pernah berfoya-foya selama ini hingga gajinya banyak yang tertabung di bank.

            Kanna tahu bahwa dia ceroboh, tetapi tatkala melihat Riley serta segala perilaku pemuda itu, rasanya…

            …naluri keibuannya…muncul. Tak tahu mengapa. Seperti menemukan anak anjing golden retriever yang telantar. Kanna bertemu dengan Riley di titik terendah pemuda itu: dia terlihat sakit, tersesat, kedinginan, dan sendirian. Belum lagi, ketika diselamatkan, dia bersikap sopan, manis, grateful, dan wajahnya sangat tampan. Jadi, otak Kanna otomatis melakukan hal yang alami, seperti berpikir, ‘Oh, dia kasihan sekali…’, lalu dia mulai menunjukkan belas kasihan.

Sebenarnya, ini reaksi alami apabila kau memiliki empati.

Oh, ya, saat melihat Riley mencoba-coba pakaian, Kanna meneguk ludah bukan karena melihat sesuatu yang ‘seksi’, melainkan karena melihat betapa mematikannya visual Riley. Pemuda itu memang seperti idola yang nyasar. Apakah suatu hari nanti akan ada agensi yang mencarinya?

Semoga saja tidak.

Pagi ini, Kanna bangun pagi seperti biasa. Tidak terlalu pagi juga, sih, soalnya matahari sudah bersinar terang dan cahayanya sudah menembus tiap jendela rumah Kanna. Tiap pagi hingga sore, kalau cuaca tidak mendung, rumah Kanna akan sangat terang karena sinar matahari akan menyinari setiap sudutnya. Makanya, saat sore hari pun, sinar oranyenya akan masuk ke rumah. Tidak perlu menghidupkan lampu sebelum matahari terbenam.

Kanna membuka pintu kamarnya, lalu meregangkan otot-ototnya. Rasanya ngantuk sekali, tetapi dia harus pergi kerja hari ini. Ini bukan hari libur, melainkan hari Senin dengan segala siksaannya.

Begitu sudah berada di luar kamar, Kanna mencium aroma makanan yang sangat enak. Kanna langsung memejamkan matanya dan menghirup aroma itu dalam-dalam.

Wah, sepertinya enak sekali…

Kanna membuka matanya dan tersenyum riang. Tiba-tiba, dia sangat excited. Matanya berbinar-binar, jantungnya berdebar-debar. Dia kembali ingat bahwa di rumahnya ada Riley. Ada pemuda tampan di rumahnya yang akan memasakkannya makanan setiap hari.

Kanna langsung berjalan ke dapur. Senyuman melekat di wajahnya; ia tak sabar melihat Riley pagi ini…tetapi sebenarnya jantungnya juga berdegup kencang karena gugup. Ia tahu bahwa visual Riley terlalu luar biasa untuk menjadi nyata.

Ketika langkah kakinya membawanya ke dapur, Kanna spontan menahan napas. Bagaikan ada embusan angin yang datang menerbangkan helaian rambutnya, menerpa wajahnya…tatkala ia melihat apa yang ada di depan sana. Di dapurnya.

Mata Kanna melebar.

Di sana…di dekat kitchen counter, ia melihat Riley…yang sedang memindahkan sesuatu dari frying pan ke sebuah piring. Sepertinya, ia sedang menggoreng sesuatu.

Gila, aroma di dapur ini enak sekali. Sepertinya, ini aroma…garlic bread.

Namun, saat ini, yang mengalihkan fokus Kanna bukanlah makanan itu, melainkan…

…kokinya.

Riley terlihat sangat bersinar. Kulitnya yang seputih salju itu seakan-akan glowing dan memantulkan sinar matahari. Bersih dan lembut sekali. Rambut putihnya juga…oh, jangan ditanya. Pastinya warna putih itu akan membuatnya semakin bersinar. Matamu akan silau kalau melihatnya dalam waktu yang lama.

Belum lagi bola mata berwarna mint-nya…

Astaga. Apakah Riley ini benar-benar lahir dari rahim manusia? Apakah dia berasal dari dunia yang sama dengan Kanna? Soalnya, pemuda itu terlihat seperti berasal dari dunia lain. Dunia yang semua makhluknya seindah bidadari dan bidadara.

He is ethereal. Keindahannya agak tidak wajar. Divine.

Kalau di cerita-cerita fiksi, visual sepertinya biasanya merupakan karakter elf, malaikat, idol, atau pangeran kerajaan yang wajahnya disembunyikan saking tampannya.

Dia terlihat seperti keluar dari cerita fiksi. Buku, film, atau komik.

Aduh. Pagi-pagi begini…Kanna sudah disuguhi pemandangan yang luar biasa.

Belum lagi…Riley…

Riley memakai celemek!

Oh, Tuhan. Kanna benar-benar mau meledak. Pipi Kanna langsung memerah. Tangan Kanna jadi sedikit bergetar.

Astaga, tampan sekali. Tampan sekali!

Melihat seorang pemuda tampan berdiri di dapurmu, dengan mata mint serta rambut putihnya yang bersinar, sedang memakai celemek dan memasakkan makanan untukmu…rasanya…

Seperti…

Seperti mimpi yang sangat indah.

Seperti…punya…

 

…suami…

 

Eh. Tunggu.

Aaaaaarghhh!!! Apa yang sedang Kanna pikirkan?! Suami?!! Ya ampun, apa-apaan?!! Bikin malu sajaaaa!

Pipi Kanna semakin memerah; warna merahnya mencapai telinga. Wajahnya memanas. Dia berkali-kali menggeleng kencang. Astaga. Astaga!!

Ini memalukan! Semoga saja…semoga saja Riley tidak menyadari semua ini atau Kanna akan menenggelamkan dirinya sendiri di bathtub sepuluh menit lagi.

Berusaha untuk mengesampingkan terlebih dahulu segala kegugupan serta fantasinya—agar rona merahnya hilang—Kanna pun menghela napas. Ia menghirup kembali aroma masakan itu—sekalian menarik napas—lalu membuka suara.

“Hmm…” katanya. “It smells good…”

Riley, yang baru saja selesai memindahkan masakannya ke piring, kontan menoleh kepada Kanna. Tatkala melihat sosok Kanna yang sudah bangun tidur dan menghampirinya ke dapur, senyum Riley langsung merekah. Mata dan wajah pemuda itu berbinar-binar. Ia bahkan membuka mulutnya karena excited.

“Kanna!” panggilnya. Dia terlihat sangat gembira. “Kau sudah bangun? Selamat pagi!”

Aduh. Siaaaal! Senyum dan wajahnya itu seolah-olah menembakkan panah asmara tepat ke hati Kanna.

“Kok dia lucu sekali, sih?!! Kuculik baru tahu rasa!!” teriak Kanna dalam hati.

Eh. Riley sudah ada di rumahnya, sih. Untuk apa diculik lagi?

Kanna lantas mencengkeram dadanya sendiri karena dia hampir saja meleleh ke lantai. Duh, imut dan tampannya Riley itu bikin pusing banget. Tolong dikondisikan dahulu, dong, sebelum memelet Kanna. Hatinya bisa-bisa meledak!

Oke, Kanna. Tenang dulu.

Kau harus menjawab sapaan Riley terlebih dahulu. Jangan meledak di sini.

Kanna berdeham, pura-pura ‘membersihkan’ tenggorokannya. “Selamat pagi, Riley. Sedang memasak apa?”

“Ah…” Riley berbalik, meletakkan frying pan di atas kompor, dan kembali menoleh kepada Kanna. Pemuda itu mengangkat piring berisi masakan yang telah ia buat dan menunjukkan isi piring itu kepada Kanna seraya tersenyum. “Aku membuat…sarapan.”

Kanna mendekati kitchen counter seraya tersenyum. Saat sampai di sana, Kanna langsung melihat makanan-makanan itu dengan mata yang berbinar-binar. Air liur langsung berkumpul di dalam mulutnya; perutnya mulai berbunyi.

(Tidak sampai berbunyi keras, sih, untungnya).

Kanna meneguk ludah. Di depannya, ada dua buah piring yang isinya sama, yaitu: dua sosis, dua brokoli, dua telur mata sapi, potongan wortel, satu mangkuk mini saus tomat, dan satu mangkuk mini saus keju. Di sebelah kiri dua piring itu ada sekeranjang garlic bread yang potongannya sangat rapi.

Kanna menoleh ke kiri lagi…dan…

“Oh, ya!” Riley tiba-tiba bersuara. Matanya agak melebar seolah-olah teringat sesuatu. Dia pun berjalan sekitar dua langkah ke sebelah kiri—tempat di mana Kanna menoleh—untuk mengambil sesuatu dan meletakkannya di samping garlic bread.

“Ini, ada pie apel dari Bibi yang tinggal di sebelah…” sambungnya. Dia tampak riang. Senyumnya lembut sekali. “Aku lupa memberitahumu.”

Kanna menyatukan alis. “Bibi…yang tinggal di…sebelah?”

“He-em,” deham Riley.

Kanna menggeleng, tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. “Lho? Bibi itu…biasanya…jarang bicara padaku.”

Riley mendadak menatap pie apel itu—mengalihkan tatapannya dari wajah Kanna—dan tersenyum canggung. Pemuda itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Ah…tadi dia…”

 

******

 

1 JAM YANG LALU

 

Pagi ini, Riley baru saja pulang dari convenience store untuk membeli bahan-bahan makanan. Pemuda itu membawa sebuah paper bag yang isinya penuh dengan bahan makanan; dia baru saja sampai di depan pagar rumah Kanna. Tiba-tiba saja, ada seorang ibu-ibu yang menghampirinya. Ibu itu membawa sebuah kotak yang bagian atasnya transparan. Saat posisi mereka sudah dekat, ibu itu langsung menyapa Riley.

Sang ibu terlihat kagum; dia sangat ramah kepada Riley. Excited, bak tengah bertemu dengan seorang artis. Senyumnya langsung merekah. “Halooo, selamat pagi!”

Riley—yang tadinya baru mau membuka pagar—jelas langsung menoleh ke asal suara dan melihat ada ibu-ibu berbaju ungu yang sedang menghampirinya. Riley tertawa canggung, tetapi masih terdengar ramah. “A—Ah… Halo, Bu. Selamat pagi.”

Mereka bersalaman sejenak. “Salam kenal, ya! Aku tinggal di sebelah. Apakah kau tinggal bersama Nona Kanna?”

Riley menatap rumah sebelah—yang sebenarnya letaknya agak jauh dari rumah Kanna—dan menoleh kembali kepada ibu itu. “Oh... Salam kenal juga, Bu. Iya, saya tinggal bersama…Kanna.”

“Apakah kalian sepasang kekasih?” tanya si ibu dengan antusias.

Mata Riley melebar.

Untuk sejenak, semburat merah muncul di pipi Riley. Pemuda itu lalu tertawa canggung seraya menggaruk tengkuknya. “Ah… Tidak, Bu.”

Ibu itu tertawa. Setelah itu, seakan-akan sedang meledek jawaban Riley, dia pun berkata, “Waah, apa benar…? Apa lagi, dong, kalau bukan sepasang kekasih? Masa teman tinggal bersama?”

Riley ikut tertawa, tetapi pipinya semakin memerah. Dia terlihat sedikit bingung harus menjawab bagaimana.

Segera setelah itu, mendadak ibu itu menyerahkan kotak yang ia bawa kepada Riley. Ia menyerahkan kotak itu dengan cara yang tidak santai, seolah-olah tak ingin Riley menolaknya; dia menyodorkan kotak itu hingga kotak itu menabrak dada Riley.

Riley membelalakkan mata, pemuda itu spontan menunduk (untuk melihat kotak itu). Dia memegang kotak itu dengan sebelah tangannya yang bebas. Berhubung bagian tutupnya transparan, Riley pun bisa melihat bahwa isinya adalah satu loyang pie apel.

“Ini!” ujar si ibu dengan cepat, membuat Riley langsung mengangkat wajahnya kembali. “Ambil. Ambil, oke? Ini pie untukmu. Kau tampan sekali!!”

Riley agak kaget, dia langsung menyodorkan kembali kotak kue itu kepada si ibu. “Bu, aku—"

Namun, ibu itu justru menepuk pundak Riley seraya tersenyum manis. “Tak apa, tak apa. Terima saja, oke? Itu hadiah untuk pemuda tampan sepertimu.”

Setelah mengatakan itu, si ibu langsung berbalik dan kembali ke rumahnya. Meskipun Riley terus memanggil-manggilnya seperti: “Bu!”, ibu itu tidak menggubrisnya lagi.

Riley menghela napas dan menatap kue itu dengan kening berkerut.

 

Kanna suka pie apel tidak, ya?

 

******

 

“Begitu katanya…” ujar Riley usai menceritakan kejadian itu. Dia masih menggaruk tengkuknya; dia tertawa canggung karena agak malu. Ada warna merah tipis yang muncul di pipinya. “Aku tak tahu bahwa aku…bisa terlihat tampan…”

Oke, Kanna baru saja meleleh ke lantai secara mental. Pusing. Pusing sekali melihat keimutan ini. Hahhhh.

 

But…wait.

WHAT THE HECK?

Riley tak sadar bahwa dia tampan?

What do you mean ‘bisa terlihat tampan’??

Hei, Riley, kau itu tampan sekali, malah! Apa kau butuh kaca?!

 

Kanna mendengkus. “Riley, kau memang tampan.”

Riley melebarkan mata. “Oh ya?”

Kanna mengangguk. “Iya. Aku akan memerangi siapa pun yang bilang kalau kau jelek.”

Satu detik kemudian, Riley tersenyum lembut. Matanya menatap Kanna dengan penuh kasih sayang; semburat merah di pipinya masih ada.

“Ah…” katanya lirih. “Mendengarnya darimu membuatku jadi semakin malu…”

Menyadari Riley yang menatapnya dalam seperti itu, tubuh Kanna sedikit bergetar. Jantungnya berdegup kencang. Gadis itu meneguk ludah, mendadak kakinya terasa selembut jelly.

Pipinya jadi merona.

“Akan tetapi, meskipun malu…” Suara Riley kembali terdengar. Serak, seksi, dan lirih. “…aku senang karena berarti…aku terlihat menarik di matamu.”

 

Deg.

 

Ah…ini tidak adil.

Rasanya seperti mendengar pernyataan cinta…padahal tidak.

 

“Ayo sarapan, Kanna,” ajak Riley kemudian. Pemuda itu membuka celemeknya, lalu mengambil makanan yang ia siapkan. Kanna tersentak; gadis itu mengangguk, lalu membantu Riley menaruh makanan-makanan itu di atas meja makan. Mereka berdua pun duduk berseberangan.

Untuk yang kesekian kalinya, Kanna suka sekali masakan Riley. Kematangannya pas di lidah Kanna, penataannya juga cantik. Belum lagi rasa garlic bread-nya…

Ah. Semenjak ada Riley, hidup Kanna merdeka sekali.

Sekitar dua menit kemudian, Riley pun membuka suara.

 

“Kanna, di mana kau bekerja?”

 

Kanna spontan menatap Riley, lalu menelan makanannya. “Eh? O—Oh… Gedung perusahaannya tak jauh dari sini, Riley.”

Riley memiringkan kepala. “Oh ya? Itukah sebabnya kau sering berjalan kaki saat pergi atau pulang kerja?”

Kanna tersenyum, lalu mengangguk. “He-em. Itu sebabnya.”

Riley tertawa kecil, lalu memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Kanna pun melakukan hal yang sama.

Begitu menelan makanan itu, Riley kembali berbicara, “Di dekat mana, memangnya?”

Kanna menatap Riley, lalu tersenyum lembut. Dengan tanpa ragu, Kanna pun mengucapkan alamat kantornya. Setelah itu, ia berkata, “Itu sekitar 1 km dari sini. Bila kau keluar dari area kompleks perumahan, kau akan berada di jalan besar. Ikuti jalan itu…lalu saat melihat pertigaan, beloklah ke kanan. Ikuti jalan itu dan kau akan menemukan gedungnya di sebelah kanan.”

Riley pun mengangguk. Dia tersenyum. “Ah…begitu, ya.”

“Iya,” jawab Kanna seraya mengangguk. “Masih di daerah sini kok.”

Riley tertawa kecil. “Syukurlah. Oh, ya, Kanna, aku lupa bertanya padamu. Berapa usiamu?”

“Aku…26. Bagaimana denganmu?” tanya Kanna.

Riley melebarkan mata. Dia tampak senang. “Ah, kita sama! Aku juga 26. Wah, I…like this. Ini membuatku merasa lebih dekat denganmu.”

Pipi Kanna merona, tetapi Kanna berusaha untuk mengabaikan rasa malunya sejenak dengan tertawa. “Ahaha… Benar juga, ya. Ini kebetulan yang bagus.”

“Uh-hm!” Riley mengangguk. “Kanna lahir bulan berapa?”

“Bulan Mei,” jawab Kanna. Gadis itu mulai balas bertanya dengan antusias. “Kalau Riley, bulan berapa?”

“Hm…” Riley tertawa kecil, lalu memiringkan kepalanya. “Itu rahasia. Setidaknya aku tahu bahwa aku lahir lebih awal daripada Kanna.”

“Iish!!” Kanna sedikit mengentakkan kakinya di bawah meja. Dia ngambek—tetapi tidak serius—pada Riley. Sambil menahan senyum, dia pun berkata, “Tidak adil, dong, kalau main rahasia-rahasia begitu!”

Riley kontan tertawa. Percakapan itu pun bertahan lama; mereka asyik mengobrol selama mereka makan. Hal-hal yang terjadi beberapa hari belakangan, hal-hal yang belum sempat ditanyakan…mereka membicarakan hal-hal yang ringan, tetapi tiap momennya terasa intim.

Setelah selesai makan, Kanna pun mulai mandi. Riley tetap duduk di sana, mengangguk seraya memberikan Kanna senyuman manis tatkala Kanna pamit untuk mandi terlebih dahulu. Riley bilang, dialah yang akan membersihkan meja serta piring-piring kotor itu (dia melarang Kanna saat Kanna mau mengangkat piring-piring itu).

Sepeninggal Kanna, tiba-tiba saja ponsel Riley berbunyi. Riley mengambil ponsel itu dari saku celananya, lalu membuka kunci layar ponsel itu.

Ada sebuah chat yang masuk. Riley menggeser status bar ke bawah; dia melihat notifikasinya dari atas tanpa benar-benar membuka chat tersebut.

 

[Kanna Inori’s Mobile Device]

[WhatsApp]

Naomi Kai: Kanna! Nanti pas pulang kerja, ikut kencan buta, yuk! Kita kurang 1 orang lagi, nihh!

 

Melihat isi chat itu, ekspresi wajah Riley…

…langsung berubah.

 

Senyuman di wajahnya seketika sirna. Tatapan hangatnya, matanya yang berbinar-binar itu tiba-tiba menggelap. Kelopak matanya pelan-pelan turun; dia menatap layar ponselnya dengan tatapan menusuk.

Saat itu, tidak ada lagi kesan lembut, imut, canggung, atau hangat…yang tertinggal di wajahnya.

Dia terlihat…

…dingin.

Dingin yang menusuk. Pahit. Mengancam. Layaknya badai salju.

Riley langsung membuka aplikasi itu dan menghapus chat Naomi tanpa membukanya sama sekali. Menghilangkan jejak chat itu seketika, seolah-olah tak pernah ada.

Riley meletakkan ponsel itu di atas meja, lalu bersandar di kursinya. Dia menyilangkan lengannya di depan dada, lalu memiringkan kepala.

 

‘Naomi Kai’, ya…?

 

******

 

Sekarang sudah jam 12 siang, jam istirahat kantor. Kanna belum makan siang. Biasanya, dia akan pergi makan siang di kantin bersama Naomi dan Yuki. Namun, saat ini, dia masih duduk di kursinya—di kubikelnya—karena jam istirahat baru saja dimulai. Dia baru saja menyimpan progress laporannya.

Ponselnya tiba-tiba berbunyi, pertanda ada sebuah panggilan masuk. Ponsel itu ada di samping mousepad, tidak begitu digunakan karena ia sibuk membuat laporan sejak pagi.

Kanna pun meraih ponsel itu. Ketika ia melihat layarnya, tiba-tiba saja pipinya merona. Jantungnya sempat mengeluarkan satu degupan kencang berupa ‘Deg’ ketika melihat nama yang tertera di layar ponsel itu.

 

Riley🐻‍❄️ is calling…

 

Kanna tersenyum lembut. Tanpa sadar, matanya menatap layar itu dengan penuh…atensi. Ah, ini terasa seperti…sedang dalam masa pendekatan. Kau akan merasa berbunga-bunga tiap dihubungi oleh orang yang kau suka.

Beginikah rasanya ‘perut bak dipenuhi kupu-kupu’ yang selalu orang bicarakan?

Kanna pun mengangkat panggilan telepon dari Riley…dan menempelkan ponsel itu di telinganya.

Seperti anak remaja yang sedang jatuh cinta, Kanna pun tersenyum saat mengatakan, “Riley…?”

…dan suara Riley pun terdengar.

 

“This is big.”

 

Mata Kanna melebar. Satu detik kemudian, gadis itu pun memiringkan kepalanya dan mengerutkan dahi. “Eh…?”

Suara Riley terdengar begitu dalam dan…rendah. Sedikit frustrasi, tetapi penuh damba.

“This is big, Kanna…” katanya. “I’ve only been away from you for a short while, but I…already miss you.”

Pipi Kanna semakin merona. Tubuhnya mematung…dan ia tak mampu merespons. Lidahnya kelu; degupan jantungnya sangat berisik.

 

“I’m already missing the sound of your voice.”

 

Hati Kanna rasanya ingin meledak. Riley bilang, pemuda itu…merindukan suaranya…

Aduh. Mereka baru bertemu, tetapi rasanya sudah seperti pacaran saja. Apakah Riley…tidak berlebihan?

Well, Kanna juga sadar bahwa dia sangat cepat tertarik kepada Riley, tetapi dia…tidak seberani Riley dalam mengutarakan perasaannya. Dia tahu bahwa terkadang, apa yang Riley katakan terdengar aneh—tidak wajar—dan berani, tetapi mengapa di sisi lain itu terdengar…hot? Dalam beberapa hari ini, Kanna agaknya mulai beradaptasi. Mungkin saja…Riley orangnya memang seperti itu.

 

“I remembered the way we slept together these past two days…” ujar Riley kemudian. Suaranya terdengar semakin…rendah. “…and the way you eat the food I cooked cutely…”

 

Merahnya wajah Kanna sudah hampir mirip dengan lampu lalu lintas.

Mereka memang…tidur di ranjang yang sama dua hari belakangan. Akan tetapi, tadi Riley juga bilang kalau…Kanna terlihat imut saat memakan makanan yang dia masak.

Apakah itu sebabnya Riley sering memandanginya saat dia sedang makan?

 

Oh, well. Andai saja Kanna sadar bahwa sebenarnya…maksud Riley bukan hanya itu.

Kemampuan analisisnya ditutupi oleh perasaan.

 

“Aku tidak imut, Riley…” jawab Kanna. “tetapi aku memang sangat menikmati makanan yang kau buat.”

Riley tertawa kecil. “Kau imut, Kanna. Pipimu chubby sekali saat mengunyah makanan yang kumasakkan untukmu. Aku senang sekali.”

Kanna menggigit bibirnya. Panas di wajahnya sudah menjalar hingga ke telinga.

 

His voice is so deep…

 

“Kanna,” panggil Riley dari seberang sana. “Can I pick you up?”

 

Kanna meneguk ludah. Menjemput?

Riley mau menjemputnya?

Ah. Apakah karena Riley sudah tahu alamat kantornya?

Kanna agak kaget, tetapi dua detik kemudian…dia pun tersenyum lembut.

 

“Boleh, Riley,” jawabnya. “Hati-hati, ya…saat jalan ke sini nanti.”

“Hmm,” deham Riley. “Kau sangat baik, Kanna… Terima kasih. Aku akan berhati-hati.”

Kanna mengangguk. “Baiklah. See you later, ya, Riley.”

“Iya. Maaf sudah mengganggu jam makan siangmu. Aku ingin meneleponmu sejak tadi, tetapi aku takut mengganggu pekerjaanmu…” jawab Riley.

Kanna tertawa kecil. Riley…sungguh menggemaskan. Nada bicaranya barusan terdengar seperti anak-anak yang ingin mengajak ibunya bermain (dengan mata berkaca-kaca), tetapi takut ibunya terganggu.

“Terima kasih sudah meneleponku, Riley. Aku senang kau meneleponku,” ujar Kanna. “Jangan lupa makan siang, oke?”

“Hmm!” Riley berdeham. “Aku tak sabar mau melihatmu. Selamat makan siang, Kanna.”

 

Setelah berpamitan, Kanna pun mematikan panggilan telepon itu. Dia tersenyum…lalu memandangi layar ponselnya dengan penuh…kasih sayang.

Ah…dia benar-benar suka pada Riley.

Sial. Cinta memang selalu datang tanpa diduga.

Tiba-tiba saja, Kanna mendengar dinding kubikelnya diketuk. Kanna tersentak; jantungnya hampir copot. Seketika, dia tertarik keluar dari ‘bubble cinta’ tadi dan langsung menoleh ke belakang.

Betapa terkejutnya dia ketika melihat Naomi yang sudah berdiri di belakangnya; Naomi sudah masuk ke kubikelnya. Gadis itu tengah tersenyum padanya.

“Yuhuuu,” panggilnya. “Makan siang, yuk.”

“A—Ah…” Kanna buru-buru menaruh ponselnya di saku kemejanya. “Yuk.”

Saat Kanna mulai berdiri, tiba-tiba saja Naomi memiringkan kepalanya dan memprotes. “Hei, mengapa kau tidak membalas chat-ku tadi pagi?”

Kanna kontan menyatukan alis. “Hah? Chat apa? Memangnya kau ada mengirimkan chat padaku, ya?”

Naomi menganga. “Lahhh? Adaaaa, Kanna! Kaulah yang tidak membaca chat-ku.”

Kini, giliran Kanna yang memiringkan kepala. “Oh ya? Kok aku tidak lihat ada chat yang masuk darimu, ya? Memangnya kau mengirim chat apa?”

Sambil berjalan keluar dari kubikel itu bersama-sama, Naomi pun menjawab, “Aku mengajakmu kencan buta setelah pulang kerja nanti. Aku tahu kau tak pernah ikut kencan buta seperti ini, tetapi kami kurang satu orang. Aku ingin kau ikut, supaya malamnya kita bisa jalan-jalan bersama Yuki.”

Yuki, yang kubikelnya cukup jauh dari kubikel Kanna, spontan berlari mendekati Kanna dan Naomi begitu dia melihat kedua orang itu lewat. Dia juga mau pergi ke kantin bersama-sama.

“Oh…” Kanna menatap Yuki sejenak, lalu mengangguk perlahan. Dia mengerti maksud Naomi, tetapi…dahinya tiba-tiba berkerut. Dia langsung berpikir.

 

Setelah pulang kerja nanti?

Wait.

Riley bilang, dia mau menjemputku…

 

Kanna langsung tersenyum. Dia kembali merasa berbunga-bunga.

 

“Sepertinya…aku tak bisa ikut, Naomi,” jawab Kanna seraya menggeleng.

Naomi kontan menatap Kanna seraya menyatukan alis. Akan tetapi, tiba-tiba saja…Naomi tersenyum miring.

“Mengapa tidak mau?” Naomi menaikturunkan alisnya jail. “Cieeee, jangan-jangan kau sudah ada pacar, ya? Itu tadi siapa, tuh, yang meneleponmu??”

Pipi Kanna spontan memerah seperti kepiting rebus.

“Ehhh?” Yuki tiba-tiba membuka suara. Gadis itu terdengar kaget, matanya melebar tatkala menatap Kanna. “Pacar?? Kanna punya pacar, ya?!”

Naomi tertawa. “Tadi, aku mendengarnya bertelepon dengan seseorang sambil senyum-senyum.”

“Waaaahhh!” Yuki bertepuk tangan kegirangan. Cewek berambut half ponytail itu langsung memeluk lengan Kanna dan menarik Kanna agar berjalan lebih cepat. Dia ingin segera sampai di kantin karena ingin mendengar detailnya. Dia penasaran. Kanna belum pernah berpacaran, jadi ini adalah berita yang sangat hot!

Begitu sampai di kantin, mereka langsung duduk tanpa mengambil makan siang terlebih dahulu. Agaknya, perut yang lapar tiba-tiba jadi tidak penting saat ini. Mereka langsung memajukan tubuh mereka—mendekati Kanna—dan menatap Kanna dengan antusias tatkala sudah duduk nyaman.

“Ayo, ceritakan!” seru Yuki.

Kanna memandangi kedua temannya secara bergantian. Pipinya merona, tetapi agaknya Naomi dan Yuki benar-benar sudah menunggu ceritanya. Dia pun tak punya pilihan lain. Lagi pula, kedua makhluk itu adalah teman baiknya.

 

Kanna menghela napas.

 

“Aku…”

Ah, Kanna jadi agak ragu mengatakannya. Soalnya, cerita antara dirinya dan Riley ini bukanlah cerita biasa.

“Aku…menemukan seorang pemuda yang telantar…beberapa hari yang lalu,” ujar Kanna pada akhirnya.

Naomi dan Yuki kontan membelalakkan mata.

“HAH?!!” teriak mereka bersamaan.

“Ssshhhh!!!” Kanna langsung meletakkan telunjuknya di depan mulut, memperingati kedua orang itu. “Jangan kuat-kuat, astagaaa!!”

Oh, ya ampun. Untuk sejenak, semua orang di kantin itu menoleh kepada mereka seraya mengernyitkan dahi.

Naomi dan Yuki memang tak bisa diharapkan.

“Hehehe.” Yuki cengar-cengir tanpa dosa. “Maaf, maaf.”

“Terus, bagaimana??!” tekan Naomi. Mata gadis itu melebar, dia semakin memajukan tubuhnya ke arah Kanna karena penasaran setengah mati. Dia kaget karena cerita Kanna ini benar-benar gila. Apa maksudnya Kanna bertemu dengan pemuda yang telantar?! Apakah Kanna akhirnya memungut pemuda itu?!

“Aku menemukannya di taman yang ada di kompleks perumahan. Kalian pernah melihat taman itu, ‘kan, saat main ke rumahku?” tanya Kanna.

“Hmm, hmm.” Naomi dan Yuki mengangguk. Mereka berdeham—mengiyakan Kanna—bersama-sama.

“Aku menemukannya duduk di sana saat aku pulang kerja. Malam-malam. Malam itu bersalju, tetapi dia duduk di sana dengan piama putih yang agak kotor. Dia terlihat sedih; tatapannya kosong. Seperti…tidak ada harapan lagi,” ujar Kanna. Otaknya kembali mengingat betapa menyedihkannya Riley saat itu.

Naomi menganga.

Yuki pun menggeleng, lalu kembali bertanya, “Apakah kau pernah melihatnya sebelumnya?”

“Tidak pernah.” Kanna menggeleng. “Dia agaknya…berasal dari tempat lain. Aku kasihan padanya, jadi aku menghampiri dan memayunginya.”

“What does he look like?” tanya Naomi.

Kanna agak menunduk. Dia memandangi meja, tetapi tidak benar-benar melihat ke sana karena pikirannya melanglang buana. Dia memikirkan rupa Riley.

“Wajahnya tampan. Tampan sekali,” terang Kanna. “Kulitnya seputih salju. Bola matanya berwarna mint. Rambutnya di-bleaching warna putih. Dia terlihat tidak nyata, kalau boleh dibilang. Bukan seperti orang biasa, melainkan seperti…seorang idol, karakter film, atau sesuatu sejenis itu. Aku sangat terkesima tiap kali melihatnya. Akan tetapi, tubuhnya cukup kurus. Menandakan bahwa hidupnya kurang baik selama ini.”

Mendengarkan penjelasan itu, Naomi dan Yuki jadi merasa kagum. Mata mereka berbinar-binar. Mereka menggeleng tak percaya.

“Apa kau…serius?” tanya Naomi.

“Bagaimana bisa ada orang seperti itu tersesat di daerah rumahmu?!” ujar Yuki. Dia benar-benar tak habis pikir.

Kanna mengedikkan bahu. “Aku tak mengerti. Aku juga ingin tahu soal itu. Aku sempat menanyakan itu padanya, tetapi dia menolak untuk menjawabku.”

“Apakah dia trauma?” Naomi memiringkan kepala. “Sepertinya, itulah satu-satunya alasan dia tak mau menjawabmu.”

“Mungkin…” jawab Kanna seraya menghela napas.

“Apakah dia memberitahumu namanya? Bagaimana dengan sifatnya?!!” tanya Yuki dengan antusias.

“Namanya Riley Winter,” jawab Kanna. “Sifatnya…umm…dia begitu lembut dan…hangat. Manis. Seperti anak anjing yang lucu. Dia lugu, seperti kanvas putih. Seperti orang yang tak pernah benar-benar mengenal dunia luar. Tak pernah berinteraksi dengan orang banyak. He’s like an angel. Maaf kalau aku terdengar berlebihan, tetapi itulah kesan yang kudapat tiap kali berinteraksi dengannya.”

“Bahkan namanya pun terdengar tampan,” ujar Yuki seraya pura-pura menghapus air matanya. Dia meleleh saat mendengar deskripsi tentang Riley barusan. “Kok kau beruntung sekali, sih?!”

“Iya, kau seperti mendapat jackpot.” Naomi menimpali. “Dia terdengar seperti hadiah dari surga, astaga.”

“Jadi, katakan padaku.” Yuki menatap Kanna dengan serius. Membuat Kanna refleks meneguk ludahnya. “Apakah kau membawanya masuk ke rumahmu?!”

Kanna tersentak. Jantungnya hampir berhenti berdegup tatkala mendengar pertanyaan itu.

Well, mau bagaimana lagi? Pertanyaan ini pasti akan dilontarkan oleh teman-temannya.

Maka dari itu, dua detik kemudian…Kanna pun mengangguk.

 

“Iya. Dia tinggal di rumahku hingga saat ini.”

 

Yuki dan Naomi spontan berteriak histeris. Mereka berpelukan dan memantul-mantul di kursi mereka; mereka excited bukan main.

“Aaaaaaaagghhhhh! Kalian tinggal bersamaaa?!!! Kau jadi seperti memelihara pemuda tampannnn, Kanna!!! Aaaaarrggghhhh, mantap sekaliii!”

Kanna jadi panik. Dua temannya berkata ‘memelihara pemuda tampan’ dengan kencang, seolah-olah di kantin itu tidak ada orang lain. “Heeiiii!!!! Shhhhh!! Jangan keras-keraaas!”

Laknatnya, Naomi dan Yuki malah tertawa terbahak-bahak dan melepaskan pelukan mereka. “Ya bagaimanaaaa, soalnya kau beruntung sekali, sih!!”

“Aku juga mau dapat keberuntungan seperti itu, Tuhaaan,” ujar Yuki seraya mendongak dan memasang posisi berdoa. Naomi spontan memukul pundak gadis itu dan tertawa.

Kanna ujung-ujungnya menyerah. Well…apa yang dia ekspektasikan? Memang beginilah respons orang seharusnya, kalau mereka normal. Soalnya, cerita ini terdengar begitu…tidak biasa.

Menghela napas, Kanna pun kembali berbicara.

“Akan tetapi, kadang-kadang, Riley mengatakan atau melakukan sesuatu yang…” Kanna mengerutkan dahi. “…sedikit…tak bisa kumengerti.”

Kedua teman Kanna mulai berhenti tertawa. Mereka langsung kembali ke posisi mereka semula: mereka mengernyitkan dahi dan menatap Kanna dengan serius.

“Maksudnya?” tanya Naomi.

“Ya…bagaimana, ya…” Kanna melipat bibirnya, agak ragu mau mulai dari mana. Namun, dua detik kemudian, Kanna pun melanjutkan, “Aku menemukannya malam-malam, lalu keesokan paginya, dia memintaku untuk…menggunakannya. Dia ingin melayaniku, sebagai balasan karena aku sudah menyelamatkannya.”

Naomi dan Yuki membelalakkan mata.

“Dia juga… Aduh, aku ragu mau mengatakan ini, tetapi dia…sampai mencium tanganku saat itu. Maaf kalau terdengar agak…too much information, tetapi aku sangat heran, jadi aku ingin mendengar pendapat kalian soal ini,” lanjut Kanna. “Dia agak bersikeras soal itu, jadi aku memintanya untuk…membantuku dalam pekerjaan rumah.”

“Tunggu…” Naomi tiba-tiba menyela. “Itu…dia benar-benar mencium tanganmu? Dia terdengar seperti...seorang butler yang setia pada tuannya, astaga! Apakah dia…somehow…terlatih dalam melakukan itu? Soalnya, dia melakukannya tanpa keraguan. Seolah-olah sudah terbiasa…”

Kanna mengembuskan napasnya lewat mulut, seolah-olah hal itu juga mengganggu pikirannya. “Iya, aku juga sempat berpikir begitu.”

Yuki mengedikkan bahu. “Bisa saja dia memang laki-laki yang manis? Seperti seorang gentleman.”

“Aku sempat kaget juga waktu itu, saat kami sarapan bersama. Dia tahu bahwa aku akan berangkat kerja, tetapi dia sempat bertanya, ‘Kau akan kembali, ‘kan?’ seolah-olah dia takut aku akan meninggalkannya sendirian di rumah itu,” ujar Kanna.

Sebelum kedua temannya sempat merespons, Kanna pun melanjutkan, “Akan tetapi, hal yang paling aneh adalah…malamnya, ketika aku pulang kerja, aku menemukannya duduk di balik pintu…dan menangis. Dia menungguku di sana…karena aku pulang lebih lama daripada seharusnya. Aku lembur saat itu.”

Mata Yuki dan Naomi melebar sempurna.

“Dia memeluk kakiku saat aku sudah pulang. Dia kira…aku meninggalkannya,” sambung Kanna. “Dia bilang, dia memikirkanku sepanjang hari. Dia khawatir. Dia memikirkan apa yang sedang kulakukan, dengan siapa aku berbicara…lalu dia memohon padaku untuk tidak meninggalkannya.”

Naomi menganga. Yuki juga menutup mulutnya dengan sebelah tangannya.

“K—Kanna…” Yuki menggeleng. “Apa yang—”

“Tidak, tidak. Tunggu dulu. Itu agak aneh! Mengapa dia terdengar seperti sudah…bergantung padamu?” Naomi menyatukan alis. “Dia benar-benar menunggumu di balik pintu, lho! Jadi, kau jawab apa?!”

“Awalnya, aku heran setengah mati,” ujar Kanna. “Aku heran mengapa pikirannya sampai sejauh itu, mengapa dia terdengar sangat putus asa, padahal kami baru bertemu. Namun, melihatnya menangis seperti itu, lama-lama…aku jadi bersimpati. Kupikir, pulang terlambat tanpa memberikan informasi apa-apa padanya…telah men-trigger sesuatu di dalam dirinya tanpa kusadari. Lagi pula, dia itu telantar. ‘Ditinggalkan sendirian’ mungkin merupakan ketakutan terbesarnya.”

Akhirnya, Naomi menunduk. Keningnya berkerut.

Sementara itu, Yuki menatap Kanna dengan penuh simpati. Iya, itu memang terdengar aneh. Akan tetapi, kalau kau berada di posisi Kanna dan melihat keadaan pemuda itu secara langsung, bisa dimengerti mengapa Kanna menepis segala pikiran negatifnya. Dia pun mungkin akan melakukan hal yang sama kalau berada di posisi Kanna, apalagi Kanna sudah tertarik pada pemuda itu.

Agaknya, Naomi juga memikirkan hal yang sama dengan Yuki.

Sesaat kemudian, Naomi pun kembali menatap Kanna. Keningnya masih berkerut; ia tampak…sedikit prihatin sekaligus penasaran.

“Apakah dia…pernah ditinggalkan seseorang atau sesuatu semacam itu?” tanya Naomi.

“Aku tak tahu.” Kanna mengedikkan bahu. “Akan tetapi, karena kejadian malam itu, aku jadi membelikannya sebuah ponsel agar aku bisa menghubunginya kalau aku pulang telat.”

Naomi dan Yuki terperanjat. Mereka langsung menganga.

“Apaaaaaa?!!!!” teriak Yuki.

Naomi menggeleng tak percaya. “Wah, Kanna. Apakah kau serius?! Aku tahu bahwa kau terpincut padanya, tetapi kalau kau bersikap seperti itu kepada seseorang yang baru kau temui, kau akan mudah dibohongi. Kau begitu mudah percaya dan mudah menyerahkan harta bendamu begitu saja. Aku tahu ini terdengar sedikit kasar, tetapi sebagai teman, aku ingin memperingatimu.”

Kanna tersenyum. Dia menghela napas. “Tidak apa-apa, Naomi. Aku sendiri sadar itu kok. Aku juga…kurang mengerti…mengapa aku bertidak seperti ini. Ada sesuatu di dalam diriku yang ingin mengurusinya, melindunginya.”

Naomi menghela napas. Dia menatap Kanna dengan penuh pengertian. “Aku mengerti perasaanmu. Kalau kau tak punya empati yang besar, sejak awal kau takkan menghampirinya di taman itu. Namun, tetap saja, kau harus berhati-hati pada setiap orang. Jangan terlalu cepat percaya. Syukur-syukur kalau pemuda ini tidak berniat jahat padamu—dan kuharap begitu—tetapi bagaimana kalau dia adalah orang jahat? Kau tidak boleh membiarkan orang asing masuk ke duniamu segampang itu, oke?”

Yuki mengangguk. Dia mengusap bahu Kanna. “Iya, Naomi benar. Kami takut sesuatu terjadi padamu jika kau tidak berhati-hati. Tidak semua orang memiliki pikiran yang baik, Kanna.”

Kanna menunduk.

 

Iya. Itu benar.

 

Selama ini, dia merasa aneh karena dia terlampau…‘invest’ pada Riley, tetapi dia selalu menepis pikiran itu karena rasa simpatinya kepada Riley. Entah bagaimana, dia percaya bahwa Riley takkan jahat padanya.

…padahal dia baru mengenal Riley.

Well, manusia-manusia yang memiliki ethereal beauty selalu memiliki daya tariknya sendiri; mereka membuat orang-orang ragu untuk mempertanyakan apa pun. Jika seseorang tampak seperti keluar dari sebuah lukisan, secara naluriah kau ingin percaya bahwa orang itu tidak berbahaya.

Jadi, ketika Riley berdiri di sana dengan sinar terangnya, mata mint-nya, dan suaranya yang lembut…otakmu akan otomatis berkata, “Orang seindah itu tak mungkin melakukan sesuatu yang buruk.”

 

Kanna pun mengangguk perlahan.

 

“Hm,” dehamnya. Dia kembali menatap kedua temannya. “Terima kasih, ya.”

Naomi dan Yuki memberikan Kanna tatapan teduh. Mereka mengangguk. Naomi mengusap punggung tangan Kanna.

“Beritahu kami kalau kau perlu bantuan, oke?” ujar Yuki.

Kanna pun tersenyum seraya menghela napasnya. “Iya.”

“Okeeee!” teriak Yuki tiba-tiba. Gadis itu bangkit dari duduknya dan berkacak pinggang. “Ayo kita makan siaaanggg! Perutku sudah lapar sekali, nih!”

Ujung-ujungnya, Kanna dan Naomi jadi tertawa. Mereka bangkit, mengambil makan siang mereka—yang tertata di ujung sana seperti prasmanan—lalu kembali ke meja itu. Mereka makan di sana sambil mengobrol santai…hingga jam istirahat berakhir.

 

******

 

Kanna baru saja keluar dari lift bersama Naomi dan Yuki. Ini sudah jam lima sore, jadi Kanna dan teman-temannya sudah pulang kerja. Mereka berencana untuk keluar kantor bersama-sama.

Saat baru berjalan di lobi, tiba-tiba ponsel Kanna berbunyi. Ada sebuah chat yang masuk. Kanna langsung mengambil ponsel itu dari saku jasnya dan tersenyum tatkala melihat siapa pengirim chat itu.

Itu Riley, tentu saja.

 

Riley🐻‍❄️

Kanna, apakah kau sudah pulang?

 

Kanna Inori

Sudah, Riley ☺️

 

Riley🐻‍❄️

Ah, benarkah? Aku sudah di depan tempat kerjamu ^_^

 

            Mata Kanna melebar. Riley sudah ada di depan?

 

Kanna Inori

Oh ya?

 

Riley🐻‍❄️

Yup! See you soon, Kanna ☺️

 

            Kanna tersenyum semringah. Dia pun menyimpan kembali ponsel itu ke saku jasnya, lalu berjalan ke pintu utama gedung bersama Naomi dan Yuki. Naomi dan Yuki sedang mengobrol soal kencan buta yang telah mereka rencanakan.

Ketika sudah benar-benar berada di luar—sedang berjalan melewati halaman gedung, ingin menuju ke area parkir—mereka bertiga tiba-tiba mendengar sebuah suara.

 

“Kanna!!”

 

Kanna, Naomi, dan Yuki kontan melihat ke asal suara. Ke dekat gerbang.

Mereka bertiga berhenti berjalan. Ketiganya langsung melebarkan mata, terutama Naomi dan Yuki. Yuki sampai menutup mulutnya dengan kedua tangannya.

Di sana, terlihatlah seorang pemuda berambut putih yang sedang melambaikan tangan. Kulit pemuda itu putih glowing, seperti titisan bidadara dari surga. Wajahnya sangat tampan, terlihat begitu bersahabat…dan penampilannya menyilaukan.

Pemuda itu memakai kaus turtleneck hitam yang dilapisi dengan hooded jacket berwarna abu-abu. Jaket itu tidak di-zipper, jadi kaus turtleneck-nya terlihat. Dia juga memakai jogger pants berwarna abu-abu (senada dengan jaketnya) serta sepatu olahraga berwarna putih.

Gila. Itu penampilan santai, sporty, tetapi…bisa mematikan. Efektif sekali untuk membuat para perempuan menahan napas.

Bagaimana, sih, cara menjelaskannya? Kalau kau masih sekolah, ini seperti melihat cowok-cowok populer yang ganteng dan kerennya minta ampun. Rasanya, di belakang cowok itu ada background imajiner berupa kelopak bunga yang beterbangan.

Tidak hanya mereka bertiga, semua orang yang ada di halaman gedung itu pun terpesona. Mereka melihat ke arah yang sama dan mengucapkan ‘Wah…’ dalam hati.

Pemandangan itu sungguh fresh. Menyegarkan mata. Rasanya, seluruh rasa penat setelah kerja jadi hilang begitu saja.

Banyak orang yang mulai berbisik-bisik sambil senyum-senyum. Ada yang mengatakan, “Wah, ada cowok ganteng.” kepada temannya, lalu temannya mengangguk-angguk dengan heboh. “Iya, benar! Siapa itu?!”

Namun, berbeda dengan orang-orang itu, Naomi dan Yuki…

…langsung menoleh kepada Kanna.

Kalau dilihat dari mata dan mulut mereka yang terbuka lebar, Kanna tahu bahwa mereka mencoba untuk berkata:

 

‘Hei. Apakah pemuda itu…’

 

Namun, ujung-ujungnya, Naomilah yang pertama kali sanggup membuka suara. Gadis itu menggeleng tak percaya. Dia seperti baru saja melihat seorang artis.

“K—Kanna—” ujarnya, sedikit terbata-bata. “A—Apakah itu—”

Kanna menatap Naomi, lalu gadis itu menghela napas. Dia mengangguk.

“Iya.”

Naomi dan Yuki langsung kaget bukan main. Napas mereka serasa terhenti di tenggorokan.

“Oh. My. God,” ujar Yuki dengan takjub. “Itu orangnya?!! Astaga, apakah dia anggota boy band atau semacamnya?! He is gorgeous!! That face card is so lethal, my goodness!”

“Yes…” ujar Naomi. Dia dan Yuki kembali melihat ke arah Riley di depan sana. Riley tengah menunggu Kanna seraya tersenyum manis. “He looks so soft…and sweet. So pure…”

“Ah, indahnya ciptaan Tuhan…” puji Yuki seraya memegang pipinya sendiri. Dia benar-benar kesengsem.

“So radiant…” Naomi agaknya masih melanjutkan perkataannya sebelumnya.

Yuki mengangguk setuju. “Uh-hm! He also looks very warm. Perfect for cuddling.”

“Iya,” kata Naomi. “Pasti nyaman dipeluk.”

Mendengar itu, mata Kanna spontan membulat. Kanna langsung memukul pundak Naomi. “Heh! Tahan sedikit mulutmu itu!”

Naomi dan Yuki kontan tertawa kencang.

Kanna memijit keningnya frustrasi—karena teman-temannya sangatlah frontal—tetapi diam-diam pipinya merona.

Ya bagaimana, ya, soalnya Riley memang terlihat sangat tampan di depan sana.

Kanna pun lagi-lagi menghela napas—mencoba untuk meredakan detak jantungnya yang menggila—lalu dia menatap kedua temannya dan berpamitan.

“Aku ke sana dulu, ya. Dia menungguku.”

Naomi dan Yuki tersenyum riang, lalu mengangguk. Yuki mengacungkan jempol pada Kanna. “Oke! Hati-hati, ya. Kapan-kapan kenalkan kami pada pemuda tampan itu, oke?”

Naomi tertawa. “Benar, itu. Benar. Haha.”

Kanna memutar bola matanya, lalu berdecak. “Iya, iya. Kapan-kapan. Daah!”

“Dadaaahhh!” teriak Yuki. Naomi melambaikan tangannya pada Kanna saat Kanna mulai berlari ke depan sana, mendekati Riley. Riley menyambutnya dengan sukacita.

Saat Kanna sudah cukup jauh dari mereka, Naomi pun memandangi Kanna dengan senyuman lembut. Dia menghela napas lega. Namun, tiba-tiba saja, dia mendengar Yuki bersuara.

 

“Pantas saja Kanna lupa diri. Kuharap Tuhan memberikanku pemuda telantar juga.”

 

Naomi kontan tertawa terbahak-bahak.

 

******

 

Di dalam pos keamanan yang lokasinya ada di dekat pagar, terdapat sekitar tiga orang security. Ada beberapa security yang berjaga di pagar dan ada juga yang berada di dalam pos. Biasanya, security yang berjaga di gedung itu akan berganti-ganti, sesuai dengan shift-nya.

Saat ketiga security—yang ada di dalam pos—itu melihat Kanna dan Riley pergi meninggalkan gerbang (mereka mulai berjalan berdua di trotoar), salah satu security pun mulai membuka suara.

“Pemuda tampan itu…kenalannya Bu Kanna, ya?”

Security yang lain langsung menggeleng. “Sepertinya, itu pacarnya.”

“Akan tetapi, kalau itu adalah pacarnya…” ujar security yang satu lagi. “…mengapa dia tak tahu jam pulangnya Bu Kanna?”

Dua security yang berbicara sebelumnya langsung terdiam.

 

Benar juga.

 

“Soalnya…” sambung security yang tadi. “pemuda tampan itu sudah menunggu di depan pagar sejak dua jam yang lalu.” []

 










******

 

 


No comments:

Post a Comment

She Was Never Mine (Bab 4: Segalanya Untuknya)

  ****** Bab 4 : Segalanya Untuknya   ******   LANTUNAN lagu di radio terdengar begitu merdu saat Josh baru saja memberhentikan mo...