Chapter
4 :
Soft
and Warm
******
BEBERAPA hari
kemudian, Kanna sudah terbiasa melihat keberadaan Riley di rumahnya. Kanna
sudah membelikan banyak pakaian untuk Riley (mereka belanja bersama). Waktu Riley
sedang mencoba-coba pakaian, mata Kanna berkali-kali membulat. Mulutnya
menganga karena terpukau melihat penampilan Riley.
Kanna membelikan Riley sepatu,
jaket, t-shirt, celana jeans, jogger pants, pakaian-pakaian dalam
(oh, ini tentu saja Riley sendiri yang memilih, haha), hoodie, dan
berbagai pakaian lainnya. Ah, Kanna bersyukur sekali dia tak pernah
berfoya-foya selama ini hingga gajinya banyak yang tertabung di bank.
Kanna tahu bahwa dia ceroboh, tetapi
tatkala melihat Riley serta segala perilaku pemuda itu, rasanya…
…naluri keibuannya…muncul. Tak
tahu mengapa. Seperti menemukan anak anjing golden retriever yang
telantar. Kanna bertemu dengan Riley di titik terendah pemuda itu: dia terlihat
sakit, tersesat, kedinginan, dan sendirian. Belum lagi, ketika
diselamatkan, dia bersikap sopan, manis, grateful, dan wajahnya sangat
tampan. Jadi, otak Kanna otomatis melakukan hal yang alami, seperti berpikir, ‘Oh,
dia kasihan sekali…’, lalu dia mulai menunjukkan belas kasihan.
Sebenarnya,
ini reaksi alami apabila kau memiliki empati.
Oh,
ya, saat melihat Riley mencoba-coba pakaian, Kanna meneguk ludah bukan karena
melihat sesuatu yang ‘seksi’, melainkan karena melihat betapa mematikannya
visual Riley. Pemuda itu memang seperti idola yang nyasar. Apakah suatu
hari nanti akan ada agensi yang mencarinya?
Semoga
saja tidak.
Pagi
ini, Kanna bangun pagi seperti biasa. Tidak terlalu pagi juga, sih, soalnya
matahari sudah bersinar terang dan cahayanya sudah menembus tiap jendela rumah
Kanna. Tiap pagi hingga sore, kalau cuaca tidak mendung, rumah Kanna akan
sangat terang karena sinar matahari akan menyinari setiap sudutnya. Makanya, saat
sore hari pun, sinar oranyenya akan masuk ke rumah. Tidak perlu menghidupkan
lampu sebelum matahari terbenam.
Kanna
membuka pintu kamarnya, lalu meregangkan otot-ototnya. Rasanya ngantuk sekali,
tetapi dia harus pergi kerja hari ini. Ini bukan hari libur, melainkan hari
Senin dengan segala siksaannya.
Begitu
sudah berada di luar kamar, Kanna mencium aroma makanan yang sangat enak. Kanna
langsung memejamkan matanya dan menghirup aroma itu dalam-dalam.
Wah,
sepertinya enak sekali…
Kanna
membuka matanya dan tersenyum riang. Tiba-tiba, dia sangat excited. Matanya
berbinar-binar, jantungnya berdebar-debar. Dia kembali ingat bahwa di rumahnya ada
Riley. Ada pemuda tampan di rumahnya yang akan memasakkannya makanan
setiap hari.
Kanna
langsung berjalan ke dapur. Senyuman melekat di wajahnya; ia tak sabar
melihat Riley pagi ini…tetapi sebenarnya jantungnya juga berdegup kencang
karena gugup. Ia tahu bahwa visual Riley terlalu luar biasa untuk menjadi
nyata.
Ketika
langkah kakinya membawanya ke dapur, Kanna spontan menahan napas. Bagaikan ada
embusan angin yang datang menerbangkan helaian rambutnya, menerpa
wajahnya…tatkala ia melihat apa yang ada di depan sana. Di dapurnya.
Mata
Kanna melebar.
Di
sana…di dekat kitchen counter, ia melihat Riley…yang sedang memindahkan
sesuatu dari frying pan ke sebuah piring. Sepertinya, ia sedang menggoreng
sesuatu.
Gila,
aroma di dapur ini enak sekali. Sepertinya, ini aroma…garlic bread.
Namun,
saat ini, yang mengalihkan fokus Kanna bukanlah makanan itu, melainkan…
…kokinya.
Riley
terlihat sangat bersinar. Kulitnya yang seputih salju itu seakan-akan glowing
dan memantulkan sinar matahari. Bersih dan lembut sekali. Rambut putihnya
juga…oh, jangan ditanya. Pastinya warna putih itu akan membuatnya semakin
bersinar. Matamu akan silau kalau melihatnya dalam waktu yang lama.
Belum
lagi bola mata berwarna mint-nya…
Astaga.
Apakah Riley ini benar-benar lahir dari rahim manusia? Apakah dia berasal dari
dunia yang sama dengan Kanna? Soalnya, pemuda itu terlihat seperti berasal dari
dunia lain. Dunia yang semua makhluknya seindah bidadari dan bidadara.
He
is ethereal. Keindahannya agak tidak wajar. Divine.
Kalau
di cerita-cerita fiksi, visual sepertinya biasanya merupakan karakter elf, malaikat,
idol, atau pangeran kerajaan yang wajahnya disembunyikan saking
tampannya.
Dia
terlihat seperti keluar dari cerita fiksi. Buku, film, atau komik.
Aduh.
Pagi-pagi begini…Kanna sudah disuguhi pemandangan yang luar biasa.
Belum
lagi…Riley…
Riley
memakai celemek!
Oh,
Tuhan. Kanna benar-benar mau meledak. Pipi Kanna langsung memerah. Tangan Kanna
jadi sedikit bergetar.
Astaga,
tampan sekali. Tampan sekali!
Melihat
seorang pemuda tampan berdiri di dapurmu, dengan mata mint serta rambut
putihnya yang bersinar, sedang memakai celemek dan memasakkan makanan untukmu…rasanya…
Seperti…
Seperti
mimpi yang sangat indah.
Seperti…punya…
…suami…
Eh.
Tunggu.
Aaaaaarghhh!!!
Apa
yang sedang Kanna pikirkan?! Suami?!! Ya ampun, apa-apaan?!! Bikin malu
sajaaaa!
Pipi
Kanna semakin memerah; warna merahnya mencapai telinga. Wajahnya memanas. Dia berkali-kali
menggeleng kencang. Astaga. Astaga!!
Ini
memalukan! Semoga saja…semoga saja Riley tidak menyadari semua ini atau Kanna
akan menenggelamkan dirinya sendiri di bathtub sepuluh menit lagi.
Berusaha
untuk mengesampingkan terlebih dahulu segala kegugupan serta fantasinya—agar
rona merahnya hilang—Kanna pun menghela napas. Ia menghirup kembali aroma
masakan itu—sekalian menarik napas—lalu membuka suara.
“Hmm…”
katanya.
“It smells good…”
Riley,
yang baru saja selesai memindahkan masakannya ke piring, kontan menoleh kepada
Kanna. Tatkala melihat sosok Kanna yang sudah bangun tidur dan menghampirinya
ke dapur, senyum Riley langsung merekah. Mata dan wajah pemuda itu
berbinar-binar. Ia bahkan membuka mulutnya karena excited.
“Kanna!”
panggilnya. Dia terlihat sangat gembira. “Kau sudah bangun? Selamat pagi!”
Aduh.
Siaaaal! Senyum dan wajahnya itu seolah-olah menembakkan panah asmara
tepat ke hati Kanna.
“Kok
dia lucu sekali, sih?!! Kuculik baru tahu rasa!!” teriak
Kanna dalam hati.
Eh.
Riley
sudah ada di rumahnya, sih. Untuk apa diculik lagi?
Kanna
lantas mencengkeram dadanya sendiri karena dia hampir saja meleleh ke lantai. Duh,
imut dan tampannya Riley itu bikin pusing banget. Tolong dikondisikan
dahulu, dong, sebelum memelet Kanna. Hatinya bisa-bisa meledak!
Oke,
Kanna. Tenang dulu.
Kau
harus menjawab sapaan Riley terlebih dahulu. Jangan meledak di sini.
Kanna
berdeham, pura-pura ‘membersihkan’ tenggorokannya. “Selamat pagi, Riley. Sedang
memasak apa?”
“Ah…”
Riley berbalik, meletakkan frying pan di atas kompor, dan kembali
menoleh kepada Kanna. Pemuda itu mengangkat piring berisi masakan yang telah ia
buat dan menunjukkan isi piring itu kepada Kanna seraya tersenyum. “Aku
membuat…sarapan.”
Kanna
mendekati kitchen counter seraya tersenyum. Saat sampai di sana, Kanna
langsung melihat makanan-makanan itu dengan mata yang berbinar-binar. Air liur
langsung berkumpul di dalam mulutnya; perutnya mulai berbunyi.
(Tidak
sampai berbunyi keras, sih, untungnya).
Kanna
meneguk ludah. Di depannya, ada dua buah piring yang isinya sama, yaitu: dua
sosis, dua brokoli, dua telur mata sapi, potongan wortel, satu mangkuk mini
saus tomat, dan satu mangkuk mini saus keju. Di sebelah kiri dua piring itu ada
sekeranjang garlic bread yang potongannya sangat rapi.
Kanna
menoleh ke kiri lagi…dan…
“Oh,
ya!” Riley tiba-tiba bersuara. Matanya agak melebar seolah-olah teringat
sesuatu. Dia pun berjalan sekitar dua langkah ke sebelah kiri—tempat di mana
Kanna menoleh—untuk mengambil sesuatu dan meletakkannya di samping garlic
bread.
“Ini,
ada pie apel dari Bibi yang tinggal di sebelah…” sambungnya. Dia tampak
riang. Senyumnya lembut sekali. “Aku lupa memberitahumu.”
Kanna
menyatukan alis. “Bibi…yang tinggal di…sebelah?”
“He-em,”
deham Riley.
Kanna
menggeleng, tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. “Lho? Bibi
itu…biasanya…jarang bicara padaku.”
Riley
mendadak menatap pie apel itu—mengalihkan tatapannya dari wajah
Kanna—dan tersenyum canggung. Pemuda itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Ah…tadi dia…”
******
1 JAM YANG LALU
Pagi
ini, Riley baru saja pulang dari convenience store untuk membeli bahan-bahan
makanan. Pemuda itu membawa sebuah paper bag yang isinya penuh dengan
bahan makanan; dia baru saja sampai di depan pagar rumah Kanna. Tiba-tiba saja,
ada seorang ibu-ibu yang menghampirinya. Ibu itu membawa sebuah kotak yang
bagian atasnya transparan. Saat posisi mereka sudah dekat, ibu itu langsung menyapa
Riley.
Sang
ibu terlihat kagum; dia sangat ramah kepada Riley. Excited, bak tengah bertemu
dengan seorang artis. Senyumnya langsung merekah. “Halooo, selamat pagi!”
Riley—yang
tadinya baru mau membuka pagar—jelas langsung menoleh ke asal suara dan melihat
ada ibu-ibu berbaju ungu yang sedang menghampirinya. Riley tertawa canggung,
tetapi masih terdengar ramah. “A—Ah… Halo, Bu. Selamat pagi.”
Mereka
bersalaman sejenak. “Salam kenal, ya! Aku tinggal di sebelah. Apakah kau
tinggal bersama Nona Kanna?”
Riley
menatap rumah sebelah—yang sebenarnya letaknya agak jauh dari rumah Kanna—dan
menoleh kembali kepada ibu itu. “Oh... Salam kenal juga, Bu. Iya, saya tinggal
bersama…Kanna.”
“Apakah
kalian sepasang kekasih?” tanya si ibu dengan antusias.
Mata
Riley melebar.
Untuk
sejenak, semburat merah muncul di pipi Riley. Pemuda itu lalu tertawa canggung
seraya menggaruk tengkuknya. “Ah… Tidak, Bu.”
Ibu
itu tertawa. Setelah itu, seakan-akan sedang meledek jawaban Riley, dia pun berkata,
“Waah, apa benar…? Apa lagi, dong, kalau bukan sepasang kekasih? Masa teman
tinggal bersama?”
Riley
ikut tertawa, tetapi pipinya semakin memerah. Dia terlihat sedikit bingung harus
menjawab bagaimana.
Segera
setelah itu, mendadak ibu itu menyerahkan kotak yang ia bawa kepada Riley. Ia menyerahkan
kotak itu dengan cara yang tidak santai, seolah-olah tak ingin Riley
menolaknya; dia menyodorkan kotak itu hingga kotak itu menabrak dada Riley.
Riley
membelalakkan mata, pemuda itu spontan menunduk (untuk melihat kotak itu). Dia
memegang kotak itu dengan sebelah tangannya yang bebas. Berhubung bagian
tutupnya transparan, Riley pun bisa melihat bahwa isinya adalah satu loyang pie
apel.
“Ini!”
ujar si ibu dengan cepat, membuat Riley langsung mengangkat wajahnya kembali. “Ambil.
Ambil, oke? Ini pie untukmu. Kau tampan sekali!!”
Riley
agak kaget, dia langsung menyodorkan kembali kotak kue itu kepada si ibu. “Bu,
aku—"
Namun,
ibu itu justru menepuk pundak Riley seraya tersenyum manis. “Tak apa, tak apa.
Terima saja, oke? Itu hadiah untuk pemuda tampan sepertimu.”
Setelah
mengatakan itu, si ibu langsung berbalik dan kembali ke rumahnya. Meskipun
Riley terus memanggil-manggilnya seperti: “Bu!”, ibu itu tidak menggubrisnya
lagi.
Riley
menghela napas dan menatap kue itu dengan kening berkerut.
Kanna
suka pie apel tidak, ya?
******
“Begitu
katanya…” ujar Riley usai menceritakan kejadian itu. Dia masih menggaruk
tengkuknya; dia tertawa canggung karena agak malu. Ada warna merah tipis yang
muncul di pipinya. “Aku tak tahu bahwa aku…bisa terlihat tampan…”
Oke,
Kanna baru saja meleleh ke lantai secara mental. Pusing. Pusing sekali melihat
keimutan ini. Hahhhh.
But…wait.
WHAT
THE HECK?
Riley
tak sadar bahwa dia tampan?
What
do you mean ‘bisa terlihat tampan’??
Hei,
Riley, kau itu tampan sekali, malah! Apa kau butuh kaca?!
Kanna
mendengkus. “Riley, kau memang tampan.”
Riley
melebarkan mata. “Oh ya?”
Kanna
mengangguk. “Iya. Aku akan memerangi siapa pun yang bilang kalau kau jelek.”
Satu
detik kemudian, Riley tersenyum lembut. Matanya menatap Kanna dengan penuh
kasih sayang; semburat merah di pipinya masih ada.
“Ah…”
katanya
lirih. “Mendengarnya darimu membuatku jadi semakin malu…”
Menyadari
Riley yang menatapnya dalam seperti itu, tubuh Kanna sedikit bergetar. Jantungnya
berdegup kencang. Gadis itu meneguk ludah, mendadak kakinya terasa selembut jelly.
Pipinya
jadi merona.
“Akan
tetapi, meskipun malu…” Suara Riley kembali terdengar. Serak,
seksi, dan lirih. “…aku senang karena berarti…aku terlihat menarik di
matamu.”
Deg.
Ah…ini
tidak adil.
Rasanya
seperti mendengar pernyataan cinta…padahal tidak.
“Ayo
sarapan, Kanna,” ajak Riley kemudian. Pemuda itu membuka celemeknya, lalu mengambil
makanan yang ia siapkan. Kanna tersentak; gadis itu mengangguk, lalu
membantu Riley menaruh makanan-makanan itu di atas meja makan. Mereka berdua
pun duduk berseberangan.
Untuk
yang kesekian kalinya, Kanna suka sekali masakan Riley. Kematangannya pas di
lidah Kanna, penataannya juga cantik. Belum lagi rasa garlic bread-nya…
Ah.
Semenjak ada Riley, hidup Kanna merdeka sekali.
Sekitar
dua menit kemudian, Riley pun membuka suara.
“Kanna,
di mana kau bekerja?”
Kanna
spontan menatap Riley, lalu menelan makanannya. “Eh? O—Oh… Gedung
perusahaannya tak jauh dari sini, Riley.”
Riley
memiringkan kepala. “Oh ya? Itukah sebabnya kau sering berjalan kaki saat pergi
atau pulang kerja?”
Kanna
tersenyum, lalu mengangguk. “He-em. Itu sebabnya.”
Riley
tertawa kecil, lalu memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Kanna pun melakukan
hal yang sama.
Begitu
menelan makanan itu, Riley kembali berbicara, “Di dekat mana, memangnya?”
Kanna
menatap Riley, lalu tersenyum lembut. Dengan tanpa ragu, Kanna pun mengucapkan
alamat kantornya. Setelah itu, ia berkata, “Itu sekitar 1 km dari sini. Bila
kau keluar dari area kompleks perumahan, kau akan berada di jalan besar. Ikuti
jalan itu…lalu saat melihat pertigaan, beloklah ke kanan. Ikuti jalan itu dan
kau akan menemukan gedungnya di sebelah kanan.”
Riley
pun mengangguk. Dia tersenyum. “Ah…begitu, ya.”
“Iya,”
jawab Kanna seraya mengangguk. “Masih di daerah sini kok.”
Riley
tertawa kecil. “Syukurlah. Oh, ya, Kanna, aku lupa bertanya padamu.
Berapa usiamu?”
“Aku…26.
Bagaimana denganmu?” tanya Kanna.
Riley
melebarkan mata. Dia tampak senang. “Ah, kita sama! Aku juga 26. Wah, I…like
this. Ini membuatku merasa lebih dekat denganmu.”
Pipi
Kanna merona, tetapi Kanna berusaha untuk mengabaikan rasa malunya sejenak
dengan tertawa. “Ahaha… Benar juga, ya. Ini kebetulan yang bagus.”
“Uh-hm!”
Riley mengangguk. “Kanna lahir bulan berapa?”
“Bulan
Mei,” jawab Kanna. Gadis itu mulai balas bertanya dengan antusias. “Kalau Riley,
bulan berapa?”
“Hm…”
Riley tertawa kecil, lalu memiringkan kepalanya. “Itu rahasia. Setidaknya
aku tahu bahwa aku lahir lebih awal daripada Kanna.”
“Iish!!”
Kanna sedikit mengentakkan kakinya di bawah meja. Dia ngambek—tetapi
tidak serius—pada Riley. Sambil menahan senyum, dia pun berkata, “Tidak adil,
dong, kalau main rahasia-rahasia begitu!”
Riley
kontan tertawa. Percakapan itu pun bertahan lama; mereka asyik mengobrol selama
mereka makan. Hal-hal yang terjadi beberapa hari belakangan, hal-hal yang belum
sempat ditanyakan…mereka membicarakan hal-hal yang ringan, tetapi tiap momennya
terasa intim.
Setelah
selesai makan, Kanna pun mulai mandi. Riley tetap duduk di sana, mengangguk
seraya memberikan Kanna senyuman manis tatkala Kanna pamit untuk mandi terlebih
dahulu. Riley bilang, dialah yang akan membersihkan meja serta piring-piring
kotor itu (dia melarang Kanna saat Kanna mau mengangkat piring-piring itu).
Sepeninggal
Kanna, tiba-tiba saja ponsel Riley berbunyi. Riley mengambil ponsel itu dari
saku celananya, lalu membuka kunci layar ponsel itu.
Ada
sebuah chat yang masuk. Riley menggeser status bar ke bawah; dia
melihat notifikasinya dari atas tanpa benar-benar membuka chat tersebut.
[Kanna
Inori’s Mobile Device]
[WhatsApp]
Naomi
Kai: Kanna! Nanti pas pulang kerja, ikut kencan buta, yuk!
Kita kurang 1 orang lagi, nihh!
Melihat
isi chat itu, ekspresi wajah Riley…
…langsung
berubah.
Senyuman
di wajahnya seketika sirna. Tatapan hangatnya, matanya yang
berbinar-binar itu tiba-tiba menggelap. Kelopak matanya pelan-pelan
turun; dia menatap layar ponselnya dengan tatapan menusuk.
Saat
itu, tidak ada lagi kesan lembut, imut, canggung, atau hangat…yang
tertinggal di wajahnya.
Dia
terlihat…
…dingin.
Dingin
yang menusuk. Pahit. Mengancam. Layaknya badai
salju.
Riley
langsung membuka aplikasi itu dan menghapus chat Naomi tanpa membukanya
sama sekali. Menghilangkan jejak chat itu seketika, seolah-olah tak
pernah ada.
Riley
meletakkan ponsel itu di atas meja, lalu bersandar di kursinya. Dia
menyilangkan lengannya di depan dada, lalu memiringkan kepala.
‘Naomi
Kai’, ya…?
******
Sekarang
sudah jam 12 siang, jam istirahat kantor. Kanna belum makan siang. Biasanya,
dia akan pergi makan siang di kantin bersama Naomi dan Yuki. Namun, saat ini,
dia masih duduk di kursinya—di kubikelnya—karena jam istirahat baru saja
dimulai. Dia baru saja menyimpan progress laporannya.
Ponselnya
tiba-tiba berbunyi, pertanda ada sebuah panggilan masuk. Ponsel itu ada di
samping mousepad, tidak begitu digunakan karena ia sibuk membuat laporan
sejak pagi.
Kanna
pun meraih ponsel itu. Ketika ia melihat layarnya, tiba-tiba saja pipinya
merona. Jantungnya sempat mengeluarkan satu degupan kencang berupa ‘Deg’ ketika
melihat nama yang tertera di layar ponsel itu.
Riley🐻❄️ is
calling…
Kanna
tersenyum lembut. Tanpa sadar, matanya menatap layar itu dengan penuh…atensi.
Ah, ini terasa seperti…sedang dalam masa pendekatan. Kau akan merasa
berbunga-bunga tiap dihubungi oleh orang yang kau suka.
Beginikah
rasanya ‘perut bak dipenuhi kupu-kupu’ yang selalu orang bicarakan?
Kanna
pun mengangkat panggilan telepon dari Riley…dan menempelkan ponsel itu di telinganya.
Seperti
anak remaja yang sedang jatuh cinta, Kanna pun tersenyum saat mengatakan, “Riley…?”
…dan
suara Riley pun terdengar.
“This
is big.”
Mata
Kanna melebar. Satu detik kemudian, gadis itu pun memiringkan kepalanya dan
mengerutkan dahi. “Eh…?”
Suara
Riley terdengar begitu dalam dan…rendah. Sedikit frustrasi, tetapi penuh
damba.
“This
is big, Kanna…” katanya. “I’ve only been away from you
for a short while, but I…already miss you.”
Pipi
Kanna semakin merona. Tubuhnya mematung…dan ia tak mampu merespons.
Lidahnya kelu; degupan jantungnya sangat berisik.
“I’m
already missing the sound of your voice.”
Hati
Kanna rasanya ingin meledak. Riley bilang, pemuda itu…merindukan suaranya…
Aduh.
Mereka baru bertemu, tetapi rasanya sudah seperti pacaran saja. Apakah
Riley…tidak berlebihan?
Well,
Kanna
juga sadar bahwa dia sangat cepat tertarik kepada Riley, tetapi dia…tidak
seberani Riley dalam mengutarakan perasaannya. Dia tahu bahwa terkadang, apa
yang Riley katakan terdengar aneh—tidak wajar—dan berani, tetapi mengapa
di sisi lain itu terdengar…hot? Dalam beberapa hari ini, Kanna agaknya
mulai beradaptasi. Mungkin saja…Riley orangnya memang seperti itu.
“I
remembered the way we slept together these past two days…” ujar
Riley kemudian. Suaranya terdengar semakin…rendah. “…and the way you eat
the food I cooked cutely…”
Merahnya
wajah Kanna sudah hampir mirip dengan lampu lalu lintas.
Mereka
memang…tidur di ranjang yang sama dua hari belakangan. Akan tetapi, tadi Riley
juga bilang kalau…Kanna terlihat imut saat memakan makanan yang dia masak.
Apakah
itu sebabnya Riley sering memandanginya saat dia sedang makan?
Oh,
well. Andai saja Kanna sadar bahwa sebenarnya…maksud Riley bukan
hanya itu.
Kemampuan
analisisnya ditutupi oleh perasaan.
“Aku
tidak imut, Riley…” jawab Kanna. “tetapi aku memang sangat menikmati makanan
yang kau buat.”
Riley
tertawa kecil. “Kau imut, Kanna. Pipimu chubby sekali saat mengunyah makanan
yang kumasakkan untukmu. Aku senang sekali.”
Kanna
menggigit bibirnya. Panas di wajahnya sudah menjalar hingga ke telinga.
His
voice is so deep…
“Kanna,”
panggil
Riley dari seberang sana. “Can I pick you up?”
Kanna
meneguk ludah. Menjemput?
Riley
mau menjemputnya?
Ah.
Apakah karena Riley sudah tahu alamat kantornya?
Kanna
agak kaget, tetapi dua detik kemudian…dia pun tersenyum lembut.
“Boleh,
Riley,”
jawabnya. “Hati-hati, ya…saat jalan ke sini nanti.”
“Hmm,”
deham
Riley. “Kau sangat baik, Kanna… Terima kasih. Aku akan berhati-hati.”
Kanna
mengangguk. “Baiklah. See you later, ya, Riley.”
“Iya.
Maaf sudah mengganggu jam makan siangmu. Aku ingin meneleponmu sejak tadi,
tetapi aku takut mengganggu pekerjaanmu…” jawab Riley.
Kanna
tertawa kecil. Riley…sungguh menggemaskan. Nada bicaranya barusan terdengar
seperti anak-anak yang ingin mengajak ibunya bermain (dengan mata berkaca-kaca),
tetapi takut ibunya terganggu.
“Terima
kasih sudah meneleponku, Riley. Aku senang kau meneleponku,” ujar Kanna.
“Jangan lupa makan siang, oke?”
“Hmm!”
Riley
berdeham. “Aku tak sabar mau melihatmu. Selamat makan siang, Kanna.”
Setelah
berpamitan, Kanna pun mematikan panggilan telepon itu. Dia tersenyum…lalu
memandangi layar ponselnya dengan penuh…kasih sayang.
Ah…dia
benar-benar suka pada Riley.
Sial.
Cinta memang selalu datang tanpa diduga.
Tiba-tiba
saja, Kanna mendengar dinding kubikelnya diketuk. Kanna tersentak; jantungnya
hampir copot. Seketika, dia tertarik keluar dari ‘bubble cinta’ tadi dan
langsung menoleh ke belakang.
Betapa
terkejutnya dia ketika melihat Naomi yang sudah berdiri di belakangnya;
Naomi sudah masuk ke kubikelnya. Gadis itu tengah tersenyum padanya.
“Yuhuuu,”
panggilnya.
“Makan siang, yuk.”
“A—Ah…”
Kanna buru-buru menaruh ponselnya di saku kemejanya. “Yuk.”
Saat
Kanna mulai berdiri, tiba-tiba saja Naomi memiringkan kepalanya dan memprotes.
“Hei, mengapa kau tidak membalas chat-ku tadi pagi?”
Kanna
kontan menyatukan alis. “Hah? Chat apa? Memangnya kau ada mengirimkan chat
padaku, ya?”
Naomi
menganga. “Lahhh? Adaaaa, Kanna! Kaulah yang tidak membaca chat-ku.”
Kini,
giliran Kanna yang memiringkan kepala. “Oh ya? Kok aku tidak lihat ada chat yang
masuk darimu, ya? Memangnya kau mengirim chat apa?”
Sambil
berjalan keluar dari kubikel itu bersama-sama, Naomi pun menjawab, “Aku
mengajakmu kencan buta setelah pulang kerja nanti. Aku tahu kau tak pernah ikut
kencan buta seperti ini, tetapi kami kurang satu orang. Aku ingin kau ikut,
supaya malamnya kita bisa jalan-jalan bersama Yuki.”
Yuki,
yang kubikelnya cukup jauh dari kubikel Kanna, spontan berlari mendekati Kanna
dan Naomi begitu dia melihat kedua orang itu lewat. Dia juga mau pergi ke
kantin bersama-sama.
“Oh…”
Kanna menatap Yuki sejenak, lalu mengangguk perlahan. Dia mengerti maksud Naomi,
tetapi…dahinya tiba-tiba berkerut. Dia langsung berpikir.
Setelah
pulang kerja nanti?
Wait.
Riley
bilang, dia mau menjemputku…
Kanna
langsung tersenyum. Dia kembali merasa berbunga-bunga.
“Sepertinya…aku
tak bisa ikut, Naomi,” jawab Kanna seraya menggeleng.
Naomi
kontan menatap Kanna seraya menyatukan alis. Akan tetapi, tiba-tiba saja…Naomi
tersenyum miring.
“Mengapa
tidak mau?” Naomi menaikturunkan alisnya jail. “Cieeee, jangan-jangan
kau sudah ada pacar, ya? Itu tadi siapa, tuh, yang meneleponmu??”
Pipi
Kanna spontan memerah seperti kepiting rebus.
“Ehhh?”
Yuki
tiba-tiba membuka suara. Gadis itu terdengar kaget, matanya melebar tatkala menatap
Kanna. “Pacar?? Kanna punya pacar, ya?!”
Naomi
tertawa. “Tadi, aku mendengarnya bertelepon dengan seseorang sambil
senyum-senyum.”
“Waaaahhh!”
Yuki
bertepuk tangan kegirangan. Cewek berambut half ponytail itu langsung
memeluk lengan Kanna dan menarik Kanna agar berjalan lebih cepat. Dia ingin segera
sampai di kantin karena ingin mendengar detailnya. Dia penasaran. Kanna
belum pernah berpacaran, jadi ini adalah berita yang sangat hot!
Begitu
sampai di kantin, mereka langsung duduk tanpa mengambil makan siang
terlebih dahulu. Agaknya, perut yang lapar tiba-tiba jadi tidak penting saat
ini. Mereka langsung memajukan tubuh mereka—mendekati Kanna—dan menatap Kanna
dengan antusias tatkala sudah duduk nyaman.
“Ayo,
ceritakan!” seru Yuki.
Kanna
memandangi kedua temannya secara bergantian. Pipinya merona, tetapi agaknya Naomi
dan Yuki benar-benar sudah menunggu ceritanya. Dia pun tak punya pilihan lain.
Lagi pula, kedua makhluk itu adalah teman baiknya.
Kanna
menghela napas.
“Aku…”
Ah,
Kanna jadi agak ragu mengatakannya. Soalnya, cerita antara dirinya dan Riley
ini bukanlah cerita biasa.
“Aku…menemukan
seorang pemuda yang telantar…beberapa hari yang lalu,” ujar Kanna
pada akhirnya.
Naomi
dan Yuki kontan membelalakkan mata.
“HAH?!!”
teriak
mereka bersamaan.
“Ssshhhh!!!”
Kanna langsung meletakkan telunjuknya di depan mulut, memperingati kedua orang
itu. “Jangan kuat-kuat, astagaaa!!”
Oh,
ya ampun. Untuk sejenak, semua orang di kantin itu menoleh kepada mereka seraya
mengernyitkan dahi.
Naomi
dan Yuki memang tak bisa diharapkan.
“Hehehe.”
Yuki cengar-cengir tanpa dosa. “Maaf, maaf.”
“Terus,
bagaimana??!” tekan Naomi. Mata gadis itu melebar, dia semakin memajukan
tubuhnya ke arah Kanna karena penasaran setengah mati. Dia kaget karena cerita
Kanna ini benar-benar gila. Apa maksudnya Kanna bertemu dengan pemuda yang
telantar?! Apakah Kanna akhirnya memungut pemuda itu?!
“Aku
menemukannya di taman yang ada di kompleks perumahan. Kalian pernah melihat
taman itu, ‘kan, saat main ke rumahku?” tanya Kanna.
“Hmm,
hmm.” Naomi dan Yuki mengangguk. Mereka berdeham—mengiyakan
Kanna—bersama-sama.
“Aku
menemukannya duduk di sana saat aku pulang kerja. Malam-malam. Malam itu
bersalju, tetapi dia duduk di sana dengan piama putih yang agak kotor. Dia
terlihat sedih; tatapannya kosong. Seperti…tidak ada harapan lagi,” ujar Kanna.
Otaknya kembali mengingat betapa menyedihkannya Riley saat itu.
Naomi
menganga.
Yuki
pun menggeleng, lalu kembali bertanya, “Apakah kau pernah melihatnya sebelumnya?”
“Tidak
pernah.” Kanna menggeleng. “Dia agaknya…berasal dari tempat lain. Aku
kasihan padanya, jadi aku menghampiri dan memayunginya.”
“What
does he look like?” tanya Naomi.
Kanna
agak menunduk. Dia memandangi meja, tetapi tidak benar-benar melihat ke sana
karena pikirannya melanglang buana. Dia memikirkan rupa Riley.
“Wajahnya
tampan. Tampan sekali,” terang Kanna. “Kulitnya seputih salju. Bola
matanya berwarna mint. Rambutnya di-bleaching warna putih. Dia
terlihat tidak nyata, kalau boleh dibilang. Bukan seperti orang biasa,
melainkan seperti…seorang idol, karakter film, atau sesuatu sejenis itu.
Aku sangat terkesima tiap kali melihatnya. Akan tetapi, tubuhnya cukup kurus.
Menandakan bahwa hidupnya kurang baik selama ini.”
Mendengarkan
penjelasan itu, Naomi dan Yuki jadi merasa kagum. Mata mereka berbinar-binar.
Mereka menggeleng tak percaya.
“Apa
kau…serius?” tanya Naomi.
“Bagaimana
bisa ada orang seperti itu tersesat di daerah rumahmu?!” ujar Yuki. Dia
benar-benar tak habis pikir.
Kanna
mengedikkan bahu. “Aku tak mengerti. Aku juga ingin tahu soal itu. Aku sempat
menanyakan itu padanya, tetapi dia menolak untuk menjawabku.”
“Apakah
dia trauma?” Naomi memiringkan kepala. “Sepertinya, itulah satu-satunya
alasan dia tak mau menjawabmu.”
“Mungkin…”
jawab Kanna seraya menghela napas.
“Apakah
dia memberitahumu namanya? Bagaimana dengan sifatnya?!!” tanya Yuki dengan
antusias.
“Namanya
Riley Winter,” jawab Kanna. “Sifatnya…umm…dia begitu lembut dan…hangat.
Manis. Seperti anak anjing yang lucu. Dia lugu, seperti kanvas putih.
Seperti orang yang tak pernah benar-benar mengenal dunia luar. Tak pernah
berinteraksi dengan orang banyak. He’s like an angel. Maaf kalau aku
terdengar berlebihan, tetapi itulah kesan yang kudapat tiap kali berinteraksi
dengannya.”
“Bahkan
namanya pun terdengar tampan,” ujar Yuki seraya pura-pura menghapus air
matanya. Dia meleleh saat mendengar deskripsi tentang Riley barusan. “Kok kau
beruntung sekali, sih?!”
“Iya,
kau seperti mendapat jackpot.” Naomi menimpali. “Dia terdengar seperti
hadiah dari surga, astaga.”
“Jadi,
katakan padaku.” Yuki menatap Kanna dengan serius. Membuat Kanna refleks
meneguk ludahnya. “Apakah kau membawanya masuk ke rumahmu?!”
Kanna
tersentak. Jantungnya hampir berhenti berdegup tatkala mendengar pertanyaan
itu.
Well,
mau
bagaimana lagi? Pertanyaan ini pasti akan dilontarkan oleh
teman-temannya.
Maka
dari itu, dua detik kemudian…Kanna pun mengangguk.
“Iya.
Dia
tinggal di rumahku hingga saat ini.”
Yuki
dan Naomi spontan berteriak histeris. Mereka berpelukan dan memantul-mantul di
kursi mereka; mereka excited bukan main.
“Aaaaaaaagghhhhh! Kalian
tinggal bersamaaa?!!! Kau jadi seperti memelihara pemuda
tampannnn, Kanna!!! Aaaaarrggghhhh, mantap sekaliii!”
Kanna
jadi panik. Dua temannya berkata ‘memelihara pemuda tampan’ dengan kencang,
seolah-olah di kantin itu tidak ada orang lain. “Heeiiii!!!! Shhhhh!! Jangan
keras-keraaas!”
Laknatnya,
Naomi dan Yuki malah tertawa terbahak-bahak dan melepaskan pelukan mereka. “Ya
bagaimanaaaa, soalnya kau beruntung sekali, sih!!”
“Aku
juga mau dapat keberuntungan seperti itu, Tuhaaan,” ujar Yuki seraya mendongak
dan memasang posisi berdoa. Naomi spontan memukul pundak gadis itu dan tertawa.
Kanna
ujung-ujungnya menyerah. Well…apa yang dia ekspektasikan? Memang
beginilah respons orang seharusnya, kalau mereka normal. Soalnya, cerita ini
terdengar begitu…tidak biasa.
Menghela
napas, Kanna pun kembali berbicara.
“Akan
tetapi, kadang-kadang, Riley mengatakan atau melakukan sesuatu yang…” Kanna
mengerutkan dahi. “…sedikit…tak bisa kumengerti.”
Kedua
teman Kanna mulai berhenti tertawa. Mereka langsung kembali ke posisi mereka
semula: mereka mengernyitkan dahi dan menatap Kanna dengan serius.
“Maksudnya?”
tanya Naomi.
“Ya…bagaimana,
ya…” Kanna melipat bibirnya, agak ragu mau mulai dari mana. Namun, dua
detik kemudian, Kanna pun melanjutkan, “Aku menemukannya malam-malam, lalu keesokan
paginya, dia memintaku untuk…menggunakannya. Dia ingin melayaniku, sebagai
balasan karena aku sudah menyelamatkannya.”
Naomi
dan Yuki membelalakkan mata.
“Dia
juga… Aduh, aku ragu mau mengatakan ini, tetapi dia…sampai mencium
tanganku saat itu. Maaf kalau terdengar agak…too much information, tetapi
aku sangat heran, jadi aku ingin mendengar pendapat kalian soal ini,” lanjut
Kanna. “Dia agak bersikeras soal itu, jadi aku memintanya untuk…membantuku
dalam pekerjaan rumah.”
“Tunggu…”
Naomi
tiba-tiba menyela. “Itu…dia benar-benar mencium tanganmu? Dia terdengar
seperti...seorang butler yang setia pada tuannya, astaga! Apakah dia…somehow…terlatih
dalam melakukan itu? Soalnya, dia melakukannya tanpa keraguan. Seolah-olah
sudah terbiasa…”
Kanna
mengembuskan napasnya lewat mulut, seolah-olah hal itu juga mengganggu
pikirannya. “Iya, aku juga sempat berpikir begitu.”
Yuki
mengedikkan bahu. “Bisa saja dia memang laki-laki yang manis? Seperti seorang gentleman.”
“Aku
sempat kaget juga waktu itu, saat kami sarapan bersama. Dia tahu bahwa aku akan
berangkat kerja, tetapi dia sempat bertanya, ‘Kau akan kembali, ‘kan?’
seolah-olah dia takut aku akan meninggalkannya sendirian di rumah itu,” ujar
Kanna.
Sebelum
kedua temannya sempat merespons, Kanna pun melanjutkan, “Akan tetapi, hal yang
paling aneh adalah…malamnya, ketika aku pulang kerja, aku menemukannya duduk
di balik pintu…dan menangis. Dia menungguku di sana…karena aku
pulang lebih lama daripada seharusnya. Aku lembur saat itu.”
Mata
Yuki dan Naomi melebar sempurna.
“Dia
memeluk kakiku saat aku sudah pulang. Dia kira…aku meninggalkannya,” sambung
Kanna. “Dia bilang, dia memikirkanku sepanjang hari. Dia khawatir. Dia
memikirkan apa yang sedang kulakukan, dengan siapa aku berbicara…lalu dia memohon
padaku untuk tidak meninggalkannya.”
Naomi
menganga. Yuki juga menutup mulutnya dengan sebelah tangannya.
“K—Kanna…”
Yuki menggeleng. “Apa yang—”
“Tidak,
tidak. Tunggu dulu. Itu agak aneh! Mengapa dia terdengar seperti sudah…bergantung
padamu?” Naomi menyatukan alis. “Dia benar-benar menunggumu di balik pintu,
lho! Jadi, kau jawab apa?!”
“Awalnya,
aku heran setengah mati,” ujar Kanna. “Aku heran mengapa pikirannya sampai
sejauh itu, mengapa dia terdengar sangat putus asa, padahal kami baru bertemu. Namun,
melihatnya menangis seperti itu, lama-lama…aku jadi bersimpati. Kupikir,
pulang terlambat tanpa memberikan informasi apa-apa padanya…telah men-trigger
sesuatu di dalam dirinya tanpa kusadari. Lagi pula, dia itu telantar.
‘Ditinggalkan sendirian’ mungkin merupakan ketakutan terbesarnya.”
Akhirnya,
Naomi menunduk. Keningnya berkerut.
Sementara
itu, Yuki menatap Kanna dengan penuh simpati. Iya, itu memang terdengar aneh.
Akan tetapi, kalau kau berada di posisi Kanna dan melihat keadaan pemuda itu
secara langsung, bisa dimengerti mengapa Kanna menepis segala pikiran
negatifnya. Dia pun mungkin akan melakukan hal yang sama kalau berada di
posisi Kanna, apalagi Kanna sudah tertarik pada pemuda itu.
Agaknya,
Naomi juga memikirkan hal yang sama dengan Yuki.
Sesaat
kemudian, Naomi pun kembali menatap Kanna. Keningnya masih berkerut; ia
tampak…sedikit prihatin sekaligus penasaran.
“Apakah
dia…pernah ditinggalkan seseorang atau sesuatu semacam itu?” tanya
Naomi.
“Aku
tak tahu.” Kanna mengedikkan bahu. “Akan tetapi, karena kejadian malam itu, aku
jadi membelikannya sebuah ponsel agar aku bisa menghubunginya kalau aku pulang
telat.”
Naomi
dan Yuki terperanjat. Mereka langsung menganga.
“Apaaaaaa?!!!!”
teriak Yuki.
Naomi
menggeleng tak percaya. “Wah, Kanna. Apakah kau serius?! Aku tahu bahwa
kau terpincut padanya, tetapi kalau kau bersikap seperti itu kepada seseorang
yang baru kau temui, kau akan mudah dibohongi. Kau begitu mudah percaya
dan mudah menyerahkan harta bendamu begitu saja. Aku tahu ini terdengar sedikit
kasar, tetapi sebagai teman, aku ingin memperingatimu.”
Kanna
tersenyum. Dia menghela napas. “Tidak apa-apa, Naomi. Aku sendiri sadar itu
kok. Aku juga…kurang mengerti…mengapa aku bertidak seperti ini. Ada
sesuatu di dalam diriku yang ingin mengurusinya, melindunginya.”
Naomi
menghela napas. Dia menatap Kanna dengan penuh pengertian. “Aku mengerti
perasaanmu. Kalau kau tak punya empati yang besar, sejak awal kau takkan
menghampirinya di taman itu. Namun, tetap saja, kau harus berhati-hati pada
setiap orang. Jangan terlalu cepat percaya. Syukur-syukur kalau pemuda ini
tidak berniat jahat padamu—dan kuharap begitu—tetapi bagaimana kalau dia adalah
orang jahat? Kau tidak boleh membiarkan orang asing masuk ke duniamu segampang
itu, oke?”
Yuki
mengangguk. Dia mengusap bahu Kanna. “Iya, Naomi benar. Kami takut sesuatu
terjadi padamu jika kau tidak berhati-hati. Tidak semua orang memiliki pikiran
yang baik, Kanna.”
Kanna
menunduk.
Iya.
Itu benar.
Selama
ini, dia merasa aneh karena dia terlampau…‘invest’ pada Riley, tetapi dia
selalu menepis pikiran itu karena rasa simpatinya kepada Riley. Entah
bagaimana, dia percaya bahwa Riley takkan jahat padanya.
…padahal
dia baru mengenal Riley.
Well,
manusia-manusia
yang memiliki ethereal beauty selalu memiliki daya tariknya sendiri;
mereka membuat orang-orang ragu untuk mempertanyakan apa pun. Jika seseorang tampak
seperti keluar dari sebuah lukisan, secara naluriah kau ingin percaya bahwa
orang itu tidak berbahaya.
Jadi,
ketika Riley berdiri di sana dengan sinar terangnya, mata mint-nya, dan
suaranya yang lembut…otakmu akan otomatis berkata, “Orang seindah itu tak
mungkin melakukan sesuatu yang buruk.”
Kanna
pun mengangguk perlahan.
“Hm,”
dehamnya. Dia kembali menatap kedua temannya. “Terima kasih, ya.”
Naomi
dan Yuki memberikan Kanna tatapan teduh. Mereka mengangguk. Naomi mengusap
punggung tangan Kanna.
“Beritahu
kami kalau kau perlu bantuan, oke?” ujar Yuki.
Kanna
pun tersenyum seraya menghela napasnya. “Iya.”
“Okeeee!”
teriak Yuki tiba-tiba. Gadis itu bangkit dari duduknya dan berkacak pinggang.
“Ayo kita makan siaaanggg! Perutku sudah lapar sekali, nih!”
Ujung-ujungnya,
Kanna dan Naomi jadi tertawa. Mereka bangkit, mengambil makan siang mereka—yang
tertata di ujung sana seperti prasmanan—lalu kembali ke meja itu. Mereka makan
di sana sambil mengobrol santai…hingga jam istirahat berakhir.
******
Kanna
baru saja keluar dari lift bersama Naomi dan Yuki. Ini sudah jam lima
sore, jadi Kanna dan teman-temannya sudah pulang kerja. Mereka berencana untuk
keluar kantor bersama-sama.
Saat
baru berjalan di lobi, tiba-tiba ponsel Kanna berbunyi. Ada sebuah chat yang
masuk. Kanna langsung mengambil ponsel itu dari saku jasnya dan tersenyum
tatkala melihat siapa pengirim chat itu.
Itu
Riley, tentu saja.
Riley🐻❄️
Kanna,
apakah kau sudah pulang?
Kanna
Inori
Sudah,
Riley ☺️
Riley🐻❄️
Ah,
benarkah? Aku sudah di depan tempat kerjamu ^_^
Mata Kanna melebar. Riley sudah ada di
depan?
Kanna
Inori
Oh
ya?
Riley🐻❄️
Yup!
See you soon, Kanna ☺️
Kanna tersenyum semringah. Dia pun
menyimpan kembali ponsel itu ke saku jasnya, lalu berjalan ke pintu utama
gedung bersama Naomi dan Yuki. Naomi dan Yuki sedang mengobrol soal kencan buta
yang telah mereka rencanakan.
Ketika
sudah benar-benar berada di luar—sedang berjalan melewati halaman gedung, ingin
menuju ke area parkir—mereka bertiga tiba-tiba mendengar sebuah suara.
“Kanna!!”
Kanna,
Naomi, dan Yuki kontan melihat ke asal suara. Ke dekat gerbang.
Mereka
bertiga berhenti berjalan. Ketiganya langsung melebarkan mata, terutama
Naomi dan Yuki. Yuki sampai menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Di
sana, terlihatlah seorang pemuda berambut putih yang sedang melambaikan tangan.
Kulit pemuda itu putih glowing, seperti titisan bidadara dari surga.
Wajahnya sangat tampan, terlihat begitu bersahabat…dan penampilannya
menyilaukan.
Pemuda
itu memakai kaus turtleneck hitam yang dilapisi dengan hooded jacket berwarna
abu-abu. Jaket itu tidak di-zipper, jadi kaus turtleneck-nya
terlihat. Dia juga memakai jogger pants berwarna abu-abu (senada dengan
jaketnya) serta sepatu olahraga berwarna putih.
Gila.
Itu penampilan santai, sporty, tetapi…bisa mematikan. Efektif sekali
untuk membuat para perempuan menahan napas.
Bagaimana,
sih, cara menjelaskannya? Kalau kau masih sekolah, ini seperti melihat
cowok-cowok populer yang ganteng dan kerennya minta ampun. Rasanya, di belakang
cowok itu ada background imajiner berupa kelopak bunga yang beterbangan.
Tidak
hanya mereka bertiga, semua orang yang ada di halaman gedung itu pun terpesona.
Mereka melihat ke arah yang sama dan mengucapkan ‘Wah…’ dalam hati.
Pemandangan
itu sungguh fresh. Menyegarkan mata. Rasanya, seluruh rasa penat setelah
kerja jadi hilang begitu saja.
Banyak
orang yang mulai berbisik-bisik sambil senyum-senyum. Ada yang mengatakan, “Wah,
ada cowok ganteng.” kepada temannya, lalu temannya mengangguk-angguk dengan
heboh. “Iya, benar! Siapa itu?!”
Namun,
berbeda dengan orang-orang itu, Naomi dan Yuki…
…langsung
menoleh
kepada Kanna.
Kalau
dilihat dari mata dan mulut mereka yang terbuka lebar, Kanna tahu bahwa mereka
mencoba untuk berkata:
‘Hei.
Apakah pemuda itu…’
Namun,
ujung-ujungnya, Naomilah yang pertama kali sanggup membuka suara. Gadis itu
menggeleng tak percaya. Dia seperti baru saja melihat seorang artis.
“K—Kanna—”
ujarnya,
sedikit terbata-bata. “A—Apakah itu—”
Kanna
menatap Naomi, lalu gadis itu menghela napas. Dia mengangguk.
“Iya.”
Naomi
dan Yuki langsung kaget bukan main. Napas mereka serasa terhenti di
tenggorokan.
“Oh.
My. God,” ujar Yuki dengan takjub. “Itu orangnya?!! Astaga,
apakah dia anggota boy band atau semacamnya?! He is gorgeous!! That
face card is so lethal, my goodness!”
“Yes…”
ujar
Naomi. Dia dan Yuki kembali melihat ke arah Riley di depan sana. Riley tengah
menunggu Kanna seraya tersenyum manis. “He looks so soft…and sweet. So
pure…”
“Ah,
indahnya ciptaan Tuhan…” puji Yuki seraya memegang pipinya sendiri. Dia benar-benar
kesengsem.
“So
radiant…” Naomi agaknya masih melanjutkan perkataannya
sebelumnya.
Yuki
mengangguk setuju. “Uh-hm! He also looks very warm. Perfect for cuddling.”
“Iya,”
kata Naomi. “Pasti nyaman dipeluk.”
Mendengar
itu, mata Kanna spontan membulat. Kanna langsung memukul pundak Naomi. “Heh! Tahan
sedikit mulutmu itu!”
Naomi
dan Yuki kontan tertawa kencang.
Kanna
memijit keningnya frustrasi—karena teman-temannya sangatlah frontal—tetapi
diam-diam pipinya merona.
Ya
bagaimana, ya, soalnya Riley memang terlihat sangat tampan di depan sana.
Kanna
pun lagi-lagi menghela napas—mencoba untuk meredakan detak jantungnya yang
menggila—lalu dia menatap kedua temannya dan berpamitan.
“Aku
ke sana dulu, ya. Dia menungguku.”
Naomi
dan Yuki tersenyum riang, lalu mengangguk. Yuki mengacungkan jempol pada Kanna.
“Oke! Hati-hati, ya. Kapan-kapan kenalkan kami pada pemuda tampan itu, oke?”
Naomi
tertawa. “Benar, itu. Benar. Haha.”
Kanna
memutar bola matanya, lalu berdecak. “Iya, iya. Kapan-kapan. Daah!”
“Dadaaahhh!”
teriak Yuki. Naomi melambaikan tangannya pada Kanna saat Kanna mulai berlari ke
depan sana, mendekati Riley. Riley menyambutnya dengan sukacita.
Saat
Kanna sudah cukup jauh dari mereka, Naomi pun memandangi Kanna dengan senyuman
lembut. Dia menghela napas lega. Namun, tiba-tiba saja, dia mendengar Yuki
bersuara.
“Pantas
saja Kanna lupa diri. Kuharap Tuhan memberikanku pemuda telantar juga.”
Naomi
kontan tertawa terbahak-bahak.
******
Di
dalam pos keamanan yang lokasinya ada di dekat pagar, terdapat sekitar tiga
orang security. Ada beberapa security yang berjaga di pagar dan
ada juga yang berada di dalam pos. Biasanya, security yang berjaga di
gedung itu akan berganti-ganti, sesuai dengan shift-nya.
Saat
ketiga security—yang ada di dalam pos—itu melihat Kanna dan Riley pergi
meninggalkan gerbang (mereka mulai berjalan berdua di trotoar), salah satu security
pun mulai membuka suara.
“Pemuda
tampan itu…kenalannya Bu Kanna, ya?”
Security
yang
lain langsung menggeleng. “Sepertinya, itu pacarnya.”
“Akan
tetapi, kalau itu adalah pacarnya…” ujar security yang
satu lagi. “…mengapa dia tak tahu jam pulangnya Bu Kanna?”
Dua
security yang berbicara sebelumnya langsung terdiam.
Benar
juga.
“Soalnya…”
sambung security yang tadi. “pemuda tampan itu sudah menunggu di
depan pagar sejak dua jam yang lalu.” []





No comments:
Post a Comment