Monday, September 29, 2025

Because of Ticket! (Bab 16: Hujan di Hari Itu)

 


******

Bab 16 :

Hujan di Hari Itu

 

******

 

2 TAHUN YANG LALU

 

LAMPU lalu lintas di zebra cross akhirnya menyalakan warna merahnya setelah beberapa saat Nadya menunggu di pinggir jalan. Hujan mulai deras dan Nadya cepat-cepat menyeberang sembari menutupi kepalanya dengan jaket hitam yang untung saja ia bawa hari ini.

Meski Nadya memutuskan untuk cepat-cepat, cewek itu tetap saja harus berhati-hati. Jalanan licin, sementara orang berbondong-bondong untuk menyeberang. Kemacetan jalan, suara klakson, dan orang-orang yang ada di sekitar jalan…semua itu terlihat hectic. Mungkin, jalanan juga akan sangat macet saat hujan berhenti nanti.

Nadya menghela napasnya lega begitu sampai di halte yang ada di seberang jalan. Jika saja tadi ia menyetujui saran Gita untuk menunda pergi ke perpustakaan dan pulang bersama-sama, mungkin Nadya sudah ada di rumah. Tak perlu hujan-hujanan begini.

Sayangnya, tadi pagi mamanya menyuruhnya untuk melihat-lihat buku panduan UN—serta buku pintar lainnya di perpustakaan—agar ia tahu buku apa saja yang nanti bisa ia beli di toko buku tanpa harus melihat-lihat isinya lagi. Ia tak tahu bahwa ternyata cuaca secerah tadi pagi bisa berubah jadi mendung saat siang. Namun, Nadya pikir, ia masih bisa pergi ke perpustakaan. Masuk sebentar aja, biar bisa pulang sebelum hujan turun, begitu pikirnya.

Sayangnya, hari itu Gita disuruh cepat pulang, jadi dia tak bisa menemani Nadya. Makanya, di sinilah Nadya; dia baru saja keluar dari perpustakaan dan ternyata hujan turun dengan deras.

Nadya berdiri di dekat tiang halte, lalu mengusap tetesan air hujan yang jatuh di wajah dan baju seragamnya. Sedikit lebih lama lagi di bawah hujan dan dia akan basah kuyup.

Sembari menunggu angkutan kota tiba, Nadya hanya berdiri diam. Halte itu begitu ramai; ada orang yang memakai baju PNS, ada siswa, dan pegawai kantoran biasa. Meski halte itu tak begitu luas, semuanya tetap berdiri di sana demi menunggu transportasi atau mungkin hanya menunggu hujan berhenti.

Nadya melihat ke depan. Memandangi hujan adalah hal yang menenangkan hati. Suara hujan, aromanya (meskipun saat itu bercampur dengan polusi udara yang tersisa di jalan) mampu membuat Nadya tenang. Nadya menikmati aroma dan suasana hujan. Rasanya nyaman sekali. Saking nyamannya, Nadya sempat tersenyum sembari menutup matanya sejenak— mengabaikan suara-suara di jalan—dan tenggelam dalam suasana ituPenyuka hujan akan selalu menikmati hujan di mana pun mereka berada.

 

"Kamu suka hujan, ya?"

 

Suara itu membuat Nadya membuka mata. Suara itu terdengar lembut dan ramah; suara itu berasal dari samping kiri...atau tepat di samping Nadya. Demi memastikan orang itu benar-benar berbicara dengannya atau bukan, Nadya pun menoleh…

…dan mendapati seorang cowok yang tengah menatapnya seraya tersenyum manis.

 

Ah, senyumnya…

…sangat menawan...

 

Cowok itu berseragam SMA. Wajahnya begitu manis. Tinggi Nadya rupanya hanya sebatas dada cowok itu. Air muka cowok itu terlihat sangat ramah. Memandangi cowok itu sama rasanya seperti memandangi hujan.

 

Bisa menenangkan hati dan pikiran.

 

Ada sesuatu di ekspresi wajah serta cara bicara cowok itu yang membuat orang lain merasa nyaman. Ekspresinya santai, penuh perhatian; tatapannya pun teduh dan memberikan kedamaian.

Tanpa sadar, Nadya hanya mematung. Mata Nadya melebar dan mulut Nadya sedikit terbuka. Entah mengapa, Nadya tak mau mengalihkan pandangannya.

 

"...ei."

"Hei."

 

Ketika cowok itu mengibaskan tangannya di depan wajah Nadya, barulah Nadya tersentak.

"Ah—itu—" ujar Nadya kikuk. Jantung Nadya jadi berdegup kencang karena malu.

Nadya langsung menunduk meminta maaf. Cowok itu mengangkat tangannya untuk berkata tidak apa-apa sembari tertawa renyah. Mereka berdua pun kembali berdiri berdampingan.

Saat Nadya masih merasa malu, cowok itu tiba-tiba kembali bertanya.

"Kamu suka hujan, ya?"

Nadya menoleh. "Eh? Oh, iya, Kak."

Nadya masih SMP, jadi wajar saja memanggil orang yang berseragam SMA dengan 'Kakak'. Lagi pula, orang itu pasti mengerti saat melihat seragam yang Nadya kenakan.

Cowok itu tersenyum. "Sama. Aku juga suka hujan."

Nadya mengangguk pelan. Ia mulai kikuk. "Oo... Hehe…"

 

Nggak biasa ngobrol sama orang yang nggak dikenal...

 

"Kamu SMP di mana?"

"Deket sini, Kak," ujar Nadya. Sebenarnya, obrolannya jadi begitu kaku karena Nadya tidak pandai mencairkan suasana. Cowok itu juga berbicara sambil menikmati hujan.

"Kenapa kamu suka hujan?" tanya cowok itu.

Nadya menoleh, lalu menggaruk pipinya pelan karena merasa canggung. "Hm... Cuma…seneng aja, Kak. Nyaman. Kalo…Kakak?"

Cowok itu memandangi langit mendung yang sedang menurunkan hujan saat itu. Nadya melihat cowok itu tersenyum. Namun, kali ini, entah mengapa…

…senyuman itu agak berbeda.

 

Terlihat pilu...

 

"Aku suka hujan karena..." Cowok itu bernapas sejenak. "...pas hujan, biasanya aku bisa renungin kesalahan yang dulu pernah kubuat pada seseorang."

Nadya melebarkan mata. Cewek itu mendadak ikut sedih ketika mendengar respons cowok itu…serta melihat senyuman pilunya.

Tiba-tiba, cowok itu menurunkan pandangannya dari langit dan menatap Nadya. Anehnya, seiring dengan tatapannya yang beralih dari langit, senyumannya pun ikut beralih menjadi senyuman manis yang tadi Nadya lihat saat pertama kali cowok itu menyapa. Ekspresi wajahnya kembali ramah dan damai.

Cowok itu pun berkata, "Nama kamu siapa?"

Nadya, yang masih belum bisa beralih dari peristiwa tadi, jadi terkejut. Namun, dia masih mencoba untuk menjawab cowok itu dengan baik.

 

"Aku... Namaku...Nadya, Kak."

 

Cowok itu tersenyum. Sembari mengangkat tangan Nadya untuk bersalaman dengannya, ia berkata, "Namaku..."

 

******

 

Aldo mengusap pipi Nadya yang tertidur pulas di jok penumpang depan. Hari ini, Aldo membawa mobilnya ke sekolah, tetapi cowok itu tak tahu mengapa Nadya selalu tertidur di mobil setiap kali ia membawa Nadya. Tadi pagi—sebelum sampai di sekolah—juga begitu.

"Sayang," bisik Aldo pelan di telinga Nadya.

Aldo menekan-nekan pelan pipi Nadya dengan telunjuknya. "Sayang, bangun... Udah sampe di rumah kamu…"

Nadya membuka matanya. Perlahan-lahan, terlihatlah wajah Aldo yang ada tepat di depan wajahnya. Aldo tersenyum padanya; wajah Aldo terlihat sangat tampan.

Kesadaran Nadya belum sepenuhnya kembali. Ia masih mengumpulkan kesadaran—agar benar-benar bangun—untuk setidaknya mengetahui bahwa sekarang wajah Aldo benar-benar dekat dengan wajahnya.

Nadya benar-benar masih mengantuk. Matanya mengerjap pelan; tatapannya sangat polos ketika menatap Aldo.

"Untung kamu bangun..." bisik Aldo. Cowok itu menggesekkan hidungnya dengan hidung Nadya dengan lembut. Setelah itu, sebuah kecupan mendarat di kening Nadya.

"Kalo nggak bangun tadi..." Aldo membawa bibirnya ke sekeliling wajah Nadya; dia ingin mencium setiap bagian wajah Nadya.

"…mungkin kuculik, kubawa ke rumahku," sambungnya.

Saat itulah, semua kesadaran Nadya terkumpul. Pipi cewek itu langsung merona bukan main. Tubuhnya mematung. Wajahnya memanas, rasa panasnya mencapai telinga. Jantungnya berdegup kencang. Nadya tahu bahwa Aldo pasti bisa mendengar detak jantungnya itu. Soalnya, Nadya merasa Aldo mulai tersenyum tatkala menciumi wajahnya.

Wajah Nadya semakin merona—bahkan berada di dalam mobil ber-AC pun jadi terasa sangat panas.

Begitu Aldo selesai, Nadya langsung menutup wajahnya yang memerah itu dengan kedua tangannya. Aldo tertawa kecil.

 

Padahal…aku udah sering liat pipi merah kamu, Nad... Kok masih malu?

 

Aldo memegang tangan Nadya—yang masih menutupi wajahnya sendiri—dan tertawa pelan. "Kenapa ditutup? Aku pengin liat."

"Hei," panggil Aldo pelan. Cowok itu tersenyum penuh arti. Dia merasa bahwa kini, membuat Nadya salah tingkah adalah hobinya yang nomor satu.

Nadya mengeraskan tangannya dan menoleh ke samping supaya Aldo tak bisa menarik tangannya. Aldo meraih kepala Nadya agar menghadap padanya lagi dan berusaha membuka tangan Nadya. Sembari tersenyum, Aldo mengusap-usap telinga Nadya.

Nadya kontan merinding. Itu bagian sensitif! Sentuhan Aldo itu selembut dan seringan kapas, tetapi justru hal itulah yang membuat Nadya merinding. Rasanya geli sekali!

Perlahan-lahan, Nadya membuka tangannya. Saat wajahnya benar-benar terlihat di mata Aldo, Aldo melebarkan mata.

Rona merah di pipi Nadya...benar-benar terang.

Dari pipi…hingga ke telinganya...

Karena Aldo menatapnya tanpa berkedip, Nadya jadi menunduk malu.

Tiba-tiba, Aldo mencium pipi Nadya lagi. Mencium seluruh bagian pipi yang begitu merona itu. Mata Nadya membelalak—dia menganga—karena Aldo malah melakukan sesuatu yang diluar dugaan.

"Jangan tunjukin ekspresi lucu kamu ini ke orang lain," ujar Aldo. "Aku pengin jadi satu-satunya orang yang tau dan ngeliat semua ini."

Nadya terdiam. Cewek itu tak berkata apa-apa; ia hanya diam karena malu bukan main.  

Dua detik kemudian, Aldo tersenyum dan menjauhkan dirinya. Cowok itu mulai mengambil sesuatu dari jok penumpang belakang. Nadya hanya melihatnya.

Ternyata, itu adalah sebuah kado serta sebuah kotak cantik yang berisi cake dan berbagai dessert.

Aldo tersenyum, lalu memberikan kado yang terbungkus cantik itu kepada Nadya. Nadya terlihat bingung ketika menerima kado itu (karena ternyata, kado itu besar, sampai hampir tak bisa Nadya peluk). Nadya pun menoleh pada Aldo.

"Aldo, ini..."

"Kado buat kamu," ujar Aldo. "Kalo yang kue ini…bawa ke rumah, ya, Nad, buat mama sama papa kamu. Aku sempetin mampir ke toko kue bentar tadi waktu di jalan. Kamu tidur nyenyak banget tadi, Sayang, jadi mungkin kamu nggak denger."

Mata Nadya membeliak.

"Tapi Aldo… Kado ini.." Nadya masih bingung. "Aku, kan... nggak lagi ulang tahun..."

Aldo tertawa kecil.

 

Kalo harus nunggu ulang tahun dulu baru ngasih kado…nggak enak banget, Nad.

 

Aldo mendekati Nadya dan menatap Nadya lekat-lekat. Kotak kue itu Aldo singkirkan sebentar, lalu dia mengusap pipi Nadya dengan lembut.

Dia pun berbisik, "Happy three months, Sayang."

Nadya terperangah.

 

Tiga…bulan?

 

Oh...iya.

Ya ampun, Nad... Kok lupa...

 

"Waktu yang sebulan dan dua bulan kemarin, kita nggak bisa ngerayain apa-apa. Soalnya pas satu bulan, kamu lagi nonton konser Muse. Pas dua bulan, kita lagi sama-sama sibuk buat perlombaan persahabatan waktu itu," ujar Aldo. "Jadi...baru sekarang."

Nadya mengangguk perlahan. Akhirnya, Nadya tersenyum.

"Makasih, ya…Aldo."

Aldo mengangguk sembari tersenyum manis. Mereka pun sama-sama diam selama tiga detik.

Tangan Aldo—yang tadinya ada di pipi Nadya—kini turun ke dagu Nadya. Cowok itu mengangkat wajah Nadya…agar Nadya menatap tepat ke matanya.

Kedua mata Aldo terlihat sangat jernih dan indah. Mata itu menatap wajah Nadya dengan penuh kasih sayang. Cahaya matahari membuat mata Aldo tampak semakin memesona.

Setiap menatap mata Aldo, Nadya akan merasa gugup sekaligus kagum minta ampun.

"Nad," panggil Aldo pelan.

Nadya—yang sedang terpaku itu—spontan tersentak. Dengan gugup, Nadya pun menyahut, "I—Iya, Aldo? K—Kenapa...?"

 

Ya ampun, mata Aldo itu…indah banget.

 

Nadya tak pernah bosan memuji Aldo dalam hatinya meskipun sudah ribuan kali.

Usapan jempol Aldo yang lembut di dagu Nadya itu sukses membuat pipi Nadya merona lagi. Ah, sebentar. Sesungguhnya, rona merah di pipi Nadya tadi belum benar-benar hilang.

Mereka berada dalam keheningan itu selama kurang lebih enam detik. Hal itu membuat Nadya semakin gugup. Rasanya agak...sesak, soalnya Nadya jadi sulit bernapas dalam situasi yang mendebarkan seperti itu.

Jempol Aldo perlahan-lahan berhenti mengusap dagu Nadya, tetapi kini dia benar-benar memegang dagu Nadya semakin erat. Dia seolah-olah mau mengatakan, 'Jangan alihkan pandangan kamu dari aku.'

Aldo pun membuka suara. Dia berbicara dengan suara yang pelan, tetapi sangat yakin.

 

"I love you, Nadya Maharani."

 

Nadya kontan membelalakkan mata. Mulut Nadya terbuka, betis Nadya mendadak terasa selembut jelly.

 

Aldo…barusan…

Aldo menyatakan cinta...padanya!

 

Lidah Nadya kelu. Napas Nadya sempat tertahan.

Cara Aldo menatapnya, cara Aldo memegang dagunya, semua itu seolah-olah mengatakan kalau Nadya adalah sesuatu yang berharga di mata cowok itu. Sesuatu yang sangat lembut, tetapi bersinar dengan indah dan memiliki kekuatannya tersendiri.

 

You are so bright. Your perseverance, your beautiful heart, your honesty...

Everything...

 

Tanpa sadar, Aldo menyipitkan matanya. Tatapannya sungguh…lekat. Layaknya mantra, cowok itu pun terus berkata:

 

"I love you, my angel. I love you. I love you."

"Please be my girl," ujar Aldo dengan tulus. Matanya bak menelaah wajah Nadya. "...then, now, and always."

 

******

 

Hari ini adalah hari minggu, dua hari setelah Aldo memberi Nadya kado. Nadya pergi ke café; dia memakai dress berwarna putih dengan motif sunflower yang panjangnya sampai di bawah lutut. Rambut Nadya terurai, tetapi ada jepit bunga kecil yang ia pakai di samping poninya.

Sembari membenarkan tas selempangnya yang berukuran kecil—tas itu adalah kado ulang tahun dari mamanya tahun lalu—Nadya pun membuka pintu cafe yang ia datangi itu. Ia masuk dan melihat sekeliling.

Saat matanya memindai cafe itu, akhirnya Nadya menemukan orang yang ia cari. Orang itu kini sedang melambaikan tangan pada Nadya sembari tersenyum riang. Nadya pun tersenyum dan mengangguk.

Nadya mulai berjalan menghampiri orang itu dan ketika sudah sampai, Nadya lantas berkata, "Maaf, Kak. Kakak udah nunggu lama, ya?"

Nadya mulai duduk di kursi yang berseberangan dengan orang itu.

Tak ayal, orang itu tersenyum. Senyum yang sudah lama tak Nadya lihat, tetapi manisnya masih sama.

Rasanya…senyuman itu mirip sama senyuman Aldo. Tulus…dan indah.

Pipi Nadya merona lagi karena memikirkan Aldo.

"Nggak kok, Nadya... Baru sampai di sini juga, Dek," jawab orang yang duduk di seberang Nadya.

"Oo…" ujar Nadya. Orang itu benar-benar tidak berubah. Dia mampu membuat Nadya jadi akrab dengannya; dia adalah satu-satunya cowok yang mampu membuat Nadya nyaman berbicara dengannya seperti teman biasa meskipun tak seakrab dengan Gita. Kalau Aldo… Aldo itu, kan...bukan teman.

Nah, pipi Nadya merona lagi, deh.

 

Semoga Kak Kurnia nggak liat...

 

"Kamu bener-bener sehat? Semua urusan kamu…lancar-lancar aja?" ujar Kurnia, cowok yang duduk di seberang Nadya, dengan mata membulat ingin tahu. Soalnya, sudah lumayan lama dia tidak bertemu dengan Nadya.

Nadya tersenyum. "Iya. Kak Kurnia gimana?"

"Sama. Makasih, ya, Nadya, udah mau datang ke sini," ujar Kurnia. "Kakak lagi ada urusan di sini, jadi Kakak minta izin.”

"Iya, Kak," ujar Nadya. "Hm… Urusan apa, Kak?"

"Ada, deh," ujar Kurnia sembari tertawa kecil. Nadya jadi keheranan sendiri.

"Oh, ya, kamu mau pesen apa, Dek?" tanya Kurnia.

Nadya mengerjap. "Oh—umm... Aku… Aku mau chocolate milkshake aja, Kak."

"Kamu selalu pesen itu, ya, kalo di sini," ujar Kurnia sembari tertawa renyah. Nadya menggaruk tengkuknya dan tertawa canggung.

Saat Kurnia memanggil waitress di sana dan menyebutkan pesanan mereka, Nadya hanya memandangi Kurnia. Kurnia tidak banyak berubah, tetapi tubuhnya jadi semakin tegap dan wajahnya terlihat lebih matang.

Begitu Kurnia kembali menatap Nadya, cowok itu bertanya pada Nadya dengan nada ramahnya seperti biasa, "Orangtua kamu apa kabar? Udah lama Kakak nggak ke sana."

Nadya tersenyum.

Iya, benar.

Di hari hujan itu, saat pertama kali Nadya bertemu dengan Kurnia, mereka mengobrol hingga cowok itu ikut mengantar Nadya pulang. Mereka naik angkutan kota bersama-sama dan saat itulah Nadya sadar bahwa ternyata, rumah Kurnia bersebelahan dengan rumahnya. Mengapa dia tak pernah menyadari hal itu? Mengapa dia tak pernah melihat Kurnia?

Kurnia tinggal sendirian. Waktu itu, ia adalah anak SMA yang tinggal di dalam rumah minimalis; desain rumahnya cocok untuk laki-laki. Ia tinggal sendirian, tepat di samping rumah Nadya. Rumah mereka bersebelahan, tetapi mengapa Nadya tak tahu siapa orang yang tinggal di sebelah rumahnya?

Saat itu, Kurnia bilang kalau sebenarnya ia sudah tahu dengan Nadya. Ia sering kebetulan melihat Nadya dari jendela rumahnya ketika Nadya pergi les. Tentu saja, soalnya mereka bertetangga. Kurnia tak tahu siapa nama Nadya, tetapi setiap Kurnia pulang dan pergi sekolah, Nadya selalu tak terlihat di teras rumahnya. Kalau pun ada orang di sana, biasanya hanya ayah Nadya yang sedang memotong rumput di halaman atau melakukan hal lain. Ayah Nadya juga tidak begitu melihat ke arah Kurnia, jadi mungkin ayah Nadya tak berkata apa pun tentang 'tetangga sebelah' pada keluarganya. Jadi, tentu saja Nadya tak tahu.

Saat Kurnia bertemu dengan Nadya di halte sore itu, ia pun menegur Nadya tanpa berpikir apa-apa. Ia tahu dengan Nadya, jadi secara tanpa sadar, ia langsung menegur Nadya.

Lagi pula, waktu itu…ia sangat ingin berkenalan dengan Nadya.

"Kabar Mama sama Papa aku baik kok, Kak. Kakak...masih belum ngunjungin...rumah orangtua Kakak, ya?" tanya Nadya dengan hati-hati.

Tanpa sadar, sejak peristiwa di halte itu, mereka jadi seperti kakak-adik yang sering bertukar cerita, bahkan Kurnia sering main ke rumah Nadya. Ia juga sering makan malam di rumah Nadya, main bersama adik-adik Nadya, membantu ayah Nadya membersihkan halaman, dan lain-lain. Nadya pun kadang-kadang datang ke rumah Kurnia untuk bermain dengan kucing persia milik Kurnia yang bernama Lily.

"Masih," ujar Kurnia. Satu hal yang tak pernah Kurnia katakan pada Nadya adalah: alasan mengapa Kurnia belum kunjung menemui keluarganya.

Nadya hanya mengangguk. Dia masih belum berani menanyakan alasan Kurnia karena waktu itu…dia pernah bertanya dan Kurnia menolak untuk menjawab. Sejak saat itu, Nadya berhenti bertanya. Biarlah Kurnia sendiri yang menceritakan itu padanya.

Kurnia pun tersenyum manis. Sangat manis.

"Kamu makin cantik dan imut, ya," ujar Kurnia sembari mengusap kepala Nadya. "tapi sifatnya nggak berubah."

Pipi Nadya merona. Cewek itu menggeleng, merasa tidak setuju. "Aku nggak cantik, Kak."

Kurnia tertawa. "Iyain aja, deh."

Nadya buru-buru mengalihkan topik pembicaraan, "Umm… Kakak rencananya mau kuliah di mana?"

Well... Alasan mengapa Kurnia lama tak berjumpa dengan Nadya adalah karena cowok itu pindah sekolah sekitar setahun yang lalu. Rumah Kurnia pun dijual dan Kurnia pindah ke Yogyakarta.

Seharusnya saat ini Kurnia sudah kelas tiga SMA. Nadya dan Kurnia hanya berbeda satu tahun.

"Kalo bisa, sih, tetep di Yogya aja, Dek," ujar Kurnia. "Biar nggak pindah lagi."

Pada titik ini, Nadya lagi-lagi berpikir bahwa...

Kurnia sangat mandiri.

"Semoga UN-nya nanti lancar, ya, Kak..." ujar Nadya sembari tersenyum lembut.

"He-em. Amin!" sahut Kurnia dengan riang.

Tiba-tiba, ponsel Nadya berbunyi. Nadya tersentak dan langsung merogoh tasnya sembari meminta waktu pada Kurnia. Kurnia mengangguk, senyuman masih melekat di wajah cowok itu saat Nadya mengecek ponselnya.

Itu adalah sebuah pesan. Dari Aldo.

Semburat merah langsung muncul di pipi Nadya dan hal itu membuat Kurnia sedikit melebarkan mata.

 

From: Aldo

Sayang, yang duduk di depan tanaman hias itu...kamu, ya?

 

Tadi, Nadya sudah bilang pada Aldo kalau dia akan pergi ke cafe untuk menemui teman lamanya. Aldo juga sudah tahu bahwa ‘teman lama’ yang Nadya maksud itu dulunya bertetangga dengan Nadya. Nadya menolak saat Aldo ingin mengantarnya, soalnya cewek itu tak ingin Aldo repot. Selain itu, kata Aldo, Rian mengajak cowok itu main ke rumahnya. Jadi…mending tidak usah.

Namun...sebentar. Di depan tanaman hias?

Nadya spontan menoleh ke belakang. Ternyata, di belakangnya ada tanaman hias. Akan tetapi…

 

…mengapa Aldo tahu? Apa Aldo ada…di sini?

 

Nadya tak mau menoleh-noleh, soalnya jika Aldo memang ada di sini, Nadya akan malu. Maka dari itu, Nadya langsung mengetikkan sesuatu di ponselnya.

Namun, sebelum Nadya sempat mengirim sebuah pesan yang berisi 'Iya', mendadak cewek itu mendengar sebuah suara yang sangat dia kenali.

 

"Nad?"

 

Nadya kontan menoleh.

…dan dia melihat Aldo.

Aldo sedang berjalan ke arahnya dan mungkin jarak mereka tinggal tiga langkah lagi. Begitu Aldo memanggil Nadya, Kurnia pun ikut menoleh ke asal suara.

Nadya belum menyahut; dia kaget melihat Aldo ada di cafe itu. Tatkala melihat wajah dan penampilan Aldo, jantung Nadya kembali berdebar-debar. Semua cewek di sana langsung menatap Aldo dengan kagum. Menemukan bule mungkin sudah biasa bagi sebagian orang, tetapi...bule yang ganteng?

Tadi, Aldo bilang dia akan main ke rumah Rian bersama Adam, lalu setelah Nadya pulang, dialah yang akan menjemput Nadya.

"Aku lagi nemenin Adam beli minuman, sebelum lanjut ke rumahnya Rian. Nggak nyangka kalo ternyata kamu ada di cafe in—"

Begitu Aldo melihat orang yang duduk berseberangan dengan Nadya—atau orang yang Nadya temui hari ini—Aldo langsung terdiam.

Langkah Aldo sontak terhenti.

Ekspresi wajah cowok itu berubah total. Matanya kontan membelalak dan rahangnya mengetat. Dari sana, terlihat bahwa otak cowok itu tengah mencoba untuk memastikan apa yang sedang ia lihat. Namun, tatkala melakukan itu, semua yang ia simpan di dalam hatinya tiba-tiba memaksa keluar. Ada sebuah sisi di dalam dirinya yang selalu terbelenggu dan terhalang oleh dinding yang sangat kokoh.

Nadya jadi bingung. Dia kontan menoleh kepada Kurnia.

Dilihatnya tubuh Kurnia mematung. Wajah cowok itu tiba-tiba memucat.

 

"Kak…Sandi?" []

 













******











No comments:

Post a Comment

She Was Never Mine (Bab 4: Segalanya Untuknya)

  ****** Bab 4 : Segalanya Untuknya   ******   LANTUNAN lagu di radio terdengar begitu merdu saat Josh baru saja memberhentikan mo...