Bab
15 :
SEMUA orang
melihat ke arah Deon.
Suasananya
jadi sunyi; tiba-tiba, tempat parkir itu terasa seperti kuburan. Talitha
membulatkan mata tatkala menyadari kehadiran Deon di sana. Deon menatap mereka
dengan tajam; alisnya menyatu. Sementara itu, Chintya kaget bukan main. Namun,
di sisi lain, dia juga senang karena kebetulan bertemu dengan
Deon setelah memergoki Talitha.
Alfa
mengernyitkan dahinya tatkala melihat Deon. Jujur saja, keadaan ini jadi semakin
memburuk. Mengapa Deon tiba-tiba ada di sini? Rahangnya mengetat. Dia tampak
heran sekaligus…marah. Tak lama kemudian, matanya menggelap.
Chintya
langsung berlari cepat ke arah Deon dan meraih lengan pria itu. "Deon—Deon,
dia selingkuhin kamu. Dia kencan sama cowok ini. Cewek jalang ini
nge-date sama cowok lain di belakang kamu. Aku liat semuanya!!"
Chintya
mengucapkan itu dengan terburu-buru, nadanya sangat manja. Dia juga terdengar
jijik sekali dengan Talitha. Namun, Deon tak menatap Chintya sama sekali
meskipun Chintya sudah ada di sebelahnya dan memegangi lengannya dengan kuat.
Tatapan mata Deon tertuju kepada Talitha dan Alfa yang berdiri beberapa meter
di depannya. Matanya nyalang, penuh amarah. Chintya mengguncang
lengan Deon. "Deon, kamu harus putusin dia! Kamu—"
Deon
mengempaskan tangan Chintya dan langsung mendekati Alfa. Mata Chintya langsung
membulat. Ditatapnya punggung tegap Deon dari belakang; Deon meninggalkannya
begitu saja. Talitha jadi panik ketika dia tahu bahwa Deon langsung menghampiri
Alfa. Deon membuat udara di sana jadi terasa menyesakkan, tekanannya
luar biasa.
Alfa
menunggu Deon sampai di hadapannya seraya menyatukan alis. Dia tampak tak
takut; ia justru menunggu apa yang akan dilakukan Deon. Begitu Deon sampai di
depannya, satu pukulan keras mendarat di rahangnya dan dia terjatuh. Dia mungkin tak
akan melakukan hal yang sama, tetapi dia tak takut sama sekali.
Mata
Talitha membulat. Dia mulai bisa menebak apa yang akan Deon lakukan. Dengan
cepat, Talitha berlari ke arah Deon dan menarik Deon meskipun tubuh pria itu
terasa sangat keras. terasa sangat keras saat itu. Urat-urat di area pelipisnya
menonjol; matanya memerah menahan amarah.
"DEON!!
UDAH, DEON!! JANGAN!!!" teriak Talitha saat Deon mulai merunduk untuk
menarik kerah baju Alfa. Alfa juga telah menatap Deon dengan mata nyalang. Saat
itulah, Deon mengempaskan tubuh Talitha ke belakang.
"LEPAS!" bentak
Deon. Talitha terjatuh, tetapi ia tak merasa sakit sama sekali karena terlampau
panik. Sementara itu, Deon kembali menarik kerah baju Alfa; dia mengangkat
tubuh Alfa. Akan tetapi, tatkala mereka berdua telah berdiri, Alfa melepaskan
cengkeraman Deon dengan kasar. Setelah itu, satu pukulan balasan sukses
mendarat di rahang Deon. Pukulan itu membuat kepala Deon tertolak ke sisi. Deon
langsung menjilat sudut bibirnya, lalu mengayunkan kepalanya untuk menoleh pada
Alfa. Matanya sudah sangat menggelap.
Deon
menggertakkan giginya; dia kembali meninju Alfa dengan kekuatan yang tidak
tanggung-tanggung. Talitha terus menghentikan Deon, tetapi Deon langsung
mengempaskannya. Alfa terjatuh, lalu Deon duduk di dekatnya, mengunci tubuhnya,
dan meninjunya berkali-kali.
Deon
mengumpat di setiap pukulannya, tetapi Alfa sesekali sempat menghentikan
pukulan Deon hanya untuk memelintir tangan pemuda itu. Saat itu, tubuh Deon
seperti dikuasai iblis.
"Sialan!!!
Jangan deketin dia!! Jangan pernah ganggu apa
yang udah menjadi milikku!! Dia itu milikku, sialan!" teriak
Deon. Teriakan itu sukses membuat Chintya menutup mulutnya dengan kedua
tangannya. Talitha nyaris kehabisan akal, tetapi gadis itu kembali bangkit
dengan berani—ia tak memikirkan apa-apa lagi—dan berlari menghampiri Deon. Dia
menarik tubuh Deon dengan sekuat tenaga. Wajah Alfa sudah babak belur. Alfa
bisa saja kehilangan kesadaran!
"DEON, BERHENTI!!!
UDAH CUKUP, DEON!!!!" teriak Talitha.
Alfa
membulatkan matanya ketika mendengar teriakan Talitha. Sementara itu, Deon langsung
menarik tangan Talitha—yang sedang mencoba untuk menariknya itu—dan berbalik
menatap Talitha. Hal itu membuat tangan Talitha nyaris terpelintir. Talitha
mengaduh kesakitan, jadi Alfa langsung berdiri (untuk menyelamatkan Talitha),
tetapi Deon langsung mendorong tubuh Alfa lagi dengan keras. Chintya langsung berlari
mendekati mereka dan berteriak, "DEON!"
"DEON!!!
INI
SAKIT, OI!! KAMU UDAH GILA?!!" teriak Talitha. Talitha membulatkan
mata saat melihat Alfa kembali meninju Deon. Deon terjatuh. Talitha langsung berlari
menghampiri Deon, tetapi Deon kembali berdiri dengan cepat sembari mengumpat.
"Shit!" teriak
Deon. Pria itu langsung kembali meninju Alfa bertubi-tubi. Talitha frustrasi
dan nyaris menangis, ia benar- benar tak tahu apa yang harus ia
lakukan. Talitha—yang sudah tahu kalau Deon itu posesif—paham bahwa Deon marah
karena pria itu melihatnya bersama Alfa, apalagi ditambah dengan pengaduan
Chintya yang tak benar adanya.
Sementara
itu, Chintya tak bisa bergerak. Matanya membulat dan ia tak mampu berbicara.
Yang ada di pikiran perempuan itu hanya satu:
Deon
kok bisa semarah dan seposesif itu? Deon tampak tergila-gila
pada Talitha!!!!
Saat
Talitha kembali mendekati Deon dan berteriak sembari menahan air matanya, Deon
berhenti melayangkan pukulan kepada Alfa yang sudah terbaring lemas. Deon
langsung berdiri dan menarik Talitha untuk berdiri tegap di depannya. Deon
menarik dagu Talitha dengan kuat hingga membuat Talitha mengepalkan kedua
tangannya. Mata Talitha menatap Deon dengan tajam, tetapi masih tak bisa
menandingi amarah Deon yang memuncak saat itu.
"Apa?! Kamu
mau ngehentiin aku?" tanya Deon sarkastis sembari
memiringkan kepalanya. "ORANG YANG SUKA NGEKHIANATIN ORANG LAIN
KAYAK KAMU MAU NGEHENTIIN AKU?!!"
Talitha
menggeram; dia langsung memelototi Deon karena tersinggung. "AKU NGGAK
PERNAH NGEKHIANATIN KAMU!!!!"
"JADI,
INI APA?!!!" bentak Deon. "SEHARUSNYA AKU TAU KALO SEKALI
PEMBOHONG TETAPLAH PEMBOHONG! PERTEMUAN PERTAMA KITA PUN ITU KARENA KEBOHONGAN
KAMU!!!!!"
"Iya,
Deon.” Seseorang tiba-tiba berbicara. Talitha mengernyitkan dahi tatkala
mengetahui bahwa itu adalah Chintya. Chintya mendekati Deon dan akhirnya
berdiri di samping Deon. Perempuan itu menyeringai puas. "Dia ngekhianatin kamu.”
Talitha
menggeram lagi. Emosinya naik hingga ke ubun-ubun. Akhirnya, gadis itu
membentak Chintya, "KAMU ITU NGADA-NGADA!!! AKU EMANG KE SINI SAMA KAK
ALFA, TAPI KAMI NGGAK—"
"DIAM
KAMU!!!" bentak Deon pada Talitha. "Tutup
mulut kamu dan stop ngarang alasan. Semua perempuan yang penting dalam
hidup aku selalu ngebuat aku kecewa," ujar Deon sembari menggeleng.
Talitha kontan kembali menatap Deon.
Betapa
terkejutnya Talitha tatkala menatap mata Deon. Tatapannya mengandung kekecewaan.
Talitha
tersentak. Entah mengapa, ia merasakan sakit yang teramat dalam saat mengetahui
bahwa Deon kecewa padanya. Sesuatu terasa menusuk jantungnya perlahan-lahan. Entah
mengapa juga, Talitha merasa bahwa ia harus menjelaskan semuanya kepada Deon.
Rasanya…ia tak mau membiarkan kesalahpahaman ini berlanjut. Biasanya, ia tak
peduli kalau ada orang yang kecewa padanya. Ia memang tak suka difitnah
sembarangan seperti ini, terutama oleh Deon yang jelas-jelas sudah masuk ke
kehidupannya dan mengisi hari-harinya akhir-akhir ini.
"Selain
itu, jangan bentak Chintya. Dia itu sahabatku," peringat
Deon tajam.
Sesuatu serasa
menohok jantung Talitha. Membuat napasnya seakan-akan terhenti
sejenak dan tubuhnya mematung. Matanya melebar.
Sementara
itu, Chintya menatap Talitha dengan mata yang menyipit. Perempuan itu ikut
memojokkan Talitha dengan tatapannya yang seolah mengatakan, 'Kamulah
yang bersalah.'
Talitha
mengepalkan tangannya. Demi apa pun, Talitha malas sekali kalau sudah begini.
Capek banget. Talitha orang yang cuek, jadi seharusnya saat ini dia akan
berkata: 'Ah, terserah lu aja, dah, kalo ga percaya. Mampus, deh, mendingan
gue pulang.'
Akan
tetapi, entah mengapa…saat ini ia tak bisa mengatakan itu.
Ia
disalahkan dan dipojokkan karena aduan tidak benar dari Chintya. Talitha tahu kalau
dia mungkin salah juga karena tidak memberitahu Deon soal berjalan berdua
dengan Alfa. Talitha tak memberitahu bukan karena Talitha takut, tetapi karena
tujuan dia berjalan dengan Alfa itu bukan karena ingin mengkhianati Deon. Itu
hanya sekadar memenuhi janji mereka beberapa hari yang lalu. Dia merasa tidak
ada yang salah, jadi tak ada yang perlu dia takutkan.
"Kenapa
kamu diem? Ngaku, hah?!! SEKARANG KAMU TAU KALO KAMU
SALAH?!" ujar Deon.
Kesabaran
Talitha habis. Sudah cukup. Ini keterlaluan.
Talitha
langsung berteriak, "TERSERAH KAMU!! AKU UDAH MALES NGEJELASIN! TERSERAH
KAMU MAU PERCAYA APA ENGGAK!!"
Namun,
tiba-tiba, Deon melepas dagu Talitha. Deon mengalihkan pandangannya ke Chintya.
Chintya pun langsung menatap Deon dengan penuh pengertian.
Deon
berkata seraya menahan emosinya, "Aku ke sini karena papa kamu nyariin
kamu di rumah. Dia suruh aku cari kamu, tapi…wait. Aku yakin kamu tadi
sempet nyampein sesuatu ke mereka berdua. Apa itu?"
Chintya
terperangah dan menunduk. Ia memperlihatkan ekspresi pasrahnya. Ia menggigit
bibirnya sejenak, lalu kembali menatap Deon.
"Deon,
kita berdua…ternyata udah dijodohin," ujar Chintya. Hal itu membuat Deon
mengernyitkan dahi. Deon tak yakin dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Aku
tadi siang ditelepon sama Papa…dan Papa ngasih tau aku soal ini. Aku tadi cuma mau
jalan-jalan di mall ini, tapi kebetulan aku ketemu sama mereka.”
Talitha
menggeleng tak habis pikir. Dia jengkel sekali saat mendengar kata-kata
Chintya.
"Papa
kamu beneran ngomong gitu?" tanya Deon sembari menyipitkan matanya, ingin
memastikan.
Chintya
langsung mengangguk. Dia berkata, "Bentar. Aku telepon Papa dulu, biar
kamu yakin."
Setelah
itu, Chintya langsung mengambil ponselnya yang ia letakkan di dalam tasnya.
Saat ponsel itu sudah berada di tangannya, ia langsung menghubungi ayahnya.
Telepon
itu diangkat setelah tiga deringan. Dengan cepat, Chintya me-loudspeaker panggilan
itu dan berbicara pada ayahnya, "Pa, Chintya mau nanya."
"Iya,
nanya apa, Sayang?"
"Chintya
sama Deon... Papa dan Papa Darwin beneran jodohin kita berdua, 'kan?"
"Iya,
Sayang, kenapa? Kamu nggak percaya? Atau mungkin besok kita perlu ke tempat
Deon buat ngebicarain ini semua?"
Saat
kalimat itu terdengar, Chintya pun langsung menatap Deon. Dia seolah-olah ingin
mengatakan: ‘Tuh, benar, ‘kan?' dari tatapannya.
"Ya
udah, Pa, Chintya mau mastiin itu aja. Udah dulu, ya, Pa," ujar Chintya. Mata
Chintya terus tertuju pada Deon yang tengah menggeleng tak percaya. Tanpa
Chintya sadari, rahang Deon mengetat dan tangan Deon terkepal. Chintya baru
saja ingin memegang bahu Deon saat Deon tiba-tiba langsung berpaling darinya.
Deon mulai mendekati Talitha, lalu dengan cepat, pria itu menarik Talitha. Dia membawa
Talitha—yang spontan memberontak itu—mendekati mobilnya yang terparkir tak jauh
dari sana. Mata Chintya membeliak.
******
"Ngapain kamu
bawa aku?! Kak Alfa masih ada di sana! Dia pasti susah berdiri gara-gara kamu!
Aku nggak pernah punya niat buat ngekhianatin orang!!"
teriak Talitha. Deon mencengkeram roda kemudinya saat Talitha mengatakan itu.
Mata Deon tampak setajam elang; urat-urat di lengannya menonjol dan rahangnya
mengetat.
"OI!
KAMU DENGER NGGAK?!!" teriak Talitha lagi. Deon tiba-tiba langsung
menghentikan mobilnya. Pemberhentian secara tiba-tiba itu membuat tubuh Talitha
terdorong ke depan meskipun Talitha memakai seat-belt.
"DIAM,
TALITHA!!!" bentak Deon. Deon memukul roda
kemudinya dengan kencang, lalu memelototi Talitha, "TUTUP MULUT KAMU!!"
"AKU NGGAK
MAU TUTUP MULUT!!" balas Talitha. Matanya nyalang.
"Emangnya
apa yang mau kamu jelaskan?!!!” ujar Deon sarkastis. Pria itu memiringkan
kepalanya, lalu tiba-tiba mencengkeram lengan Talitha. "BILANG!!!”
"YANG
MAU AKU BILANG ITU, AKU NGGAK ADA BERDUAAN SAMA KAK ALFA KAYAK APA YANG CHINTYA
BILANG!!! Aku ke luar sama Kak Alfa karena punya janji yang nggak sempet
dilaksanain beberapa hari yang lalu!!!" teriak Talitha. "Lagian, kamu
nggak bisa fitnah aku kayak gitu!!"
Talitha
pun melanjutkan, "Aku nggak bilang ke kamu karena aku emang nggak ada
niat buat ngapa-ngapain sama Kak Alfa. Aku nggak ada apa-apa sama dia. Sebenernya,
aku males banget ngejelasin ini ke kamu karena aku tau kalo kamu nggak bakal
pernah mau dengerin penjelasan orang, padahal nyatanya, ini bukan pengkhianatan
sama sekali!!” ujar Talitha. Kata-kata ‘pengkhianatan’ sukses membuat
Deon semakin menggertakkan giginya. Talitha lalu melanjutkan, "Aku nggak suka
dengan sikap egois kamu! Aku tahu kalo aku mungkin salah juga, tapi cara kamu
ini nggak bener! Aku sekarang jadi males ngeliat muka kamu, tau
nggak?! PERCUMA NGOMONG APA-APA SAMA ORANG KAYAK KAMU!! Oke, sekarang, aku minta
maaf karena tadi sempet marah sama Chintya. Aku juga minta maaf kalau
aku ada salah. Itu aja. Sekarang, TERSERAH KAMU MAU APA. Aku males liat kamu!"
Deon
hanya diam. Jika Talitha bukan orang yang terbiasa melihat sifat Deon, pasti
Talitha sudah bawa perasaan, sakit hati, atau ketakutan sejak tadi.
Hening selama
tiga detik…hingga kemudian, Deon pun angkat bicara.
"Keluar
dari
mobilku."
Well.
Talitha sudah menebak ini sejak tadi. Talitha jelas tahu Deon itu sekejam apa.
Talitha
langsung menggertakkan giginya dan mendengkus. Meskipun ada rasa sakit di
dadanya yang tiba-tiba muncul—yang ia sendiri tak mengerti mengapa rasa sakit
itu muncul—ia tak memedulikan itu dan langsung keluar dari mobil Deon.
Talitha
keluar dari mobil Deon dan gadis itu sempat melihat Deon yang menatapnya dengan
penuh amarah. Akhirnya, pria itu mengalihkan pandangannya lagi ke depan
dan menghidupkan mesin mobilnya. Mobil itu pun berjalan meninggalkan Talitha di
pinggir jalan begitu saja.
Talitha
rasanya tak mau mendengar apa pun yang bersangkutan dengan Deon lagi. Ia
benar-benar makan hati menghadapi semuanya. Dari awal, semua ini sudah tidak
masuk akal!
Talitha
berjongkok di pinggir jalan itu dan menunduk. Dia mengembuskan napasnya lelah. Rasanya
napas itu sudah tertahan di dadanya dan menjadi beban…sehingga ketika ia
mengeluarkannya, barulah ia sadar bahwa ternyata, semua kejadian tadi
membuatnya benar-benar lelah.
Dalam
hidupnya, Talitha tak pernah terkena masalah serumit ini. Selama ini, hidupnya
santai-santai saja; ia tak pernah benar-benar memiliki masalah yang rumit di
dalam hidupnya. Kebiasaan gilanya, kebiasaan bodohnya, semua itu membuat
hidupnya tampak selalu bahagia. Kayaknya hidupnya enak-enak aja, gitu.
Akan tetapi, semenjak dia bertemu dengan Deon...
Semuanya
berubah.
Ah,
sudahlah.
Talitha
pun mengambil ponselnya yang ada di sakunya. Dengan perasaan yang campur aduk,
ia pun menelepon Gavin.
"Bang,
jemput gue, dong."
******
Deon
memperhatikan Talitha dengan saksama dari dalam mobilnya. Sebenarnya, Deon
memutar kembali mobilnya, lalu berhenti tak jauh dari tempat Talitha turun. Dia
tak pernah benar-benar meninggalkan Talitha.
Ia
memperhatikan Talitha dengan mata menyipit tajam, melihat gadis itu jongkok di
pinggir jalan. Gadis itu menenggelamkan kepalanya di antara lututnya dan tampak
begitu lelah.
Deon
pun mulai menelepon seseorang.
"Halo,
Om."
"Iya,
halo, Deon. Kenapa, Nak?"
Deon
bernapas samar. Matanya masih mengawasi Talitha. Kini, Gavin sudah sampai di
tempat Talitha. Tak lama kemudian, Deon melihat Gavin membawa Talitha masuk ke mobilnya.
Deon
lalu kembali berbicara, "Maaf, Om. Deon mau denger lebih detail masalah
perjodohan itu."
Terdengar
ayah Chintya menghela napas di seberang sana. Dia agaknya…sedikit bingung
bagaimana mau menjelaskan semua itu kepada Deon.
"Itu
bener adanya, Deon. Om sama papa kamu dulu pernah berjanji satu sama lain untuk
ngejodohin kalian. Awalnya, itu cuma iseng-iseng, tapi…mengingat kalian selalu
bersama dan percaya satu sama lain…kami pikir mungkin itu ide bagus buat
nyatuin kalian. Om udah lama nggak ketemu sama papa kamu lagi karena tiba-tiba,
sebelum kami sempat berdiskusi lagi...dia sudah berpulang. Om nggak yakin dia
udah berubah pikiran atau belum, tapi yang pasti...inilah perjanjian kami dulu.”
Deon
memejamkan matanya, tiba-tiba kepalanya sakit saat mendengar kenyataan itu.
Rahangnya kembali mengetat.
"Oke,
Om. Makasih atas penjelasannya, ya, Om," ujar Deon singkat. Panggilan
telepon itu pun terputus.
Deon
kontan melempar ponselnya ke atas dashboard dan memukul roda
kemudi. Pria itu menyandarkan kepalanya di jok, lalu mendongak seraya mengusap
rambutnya frustrasi.
Papa…bikin
perjanjian kayak gini?
******
Alfa
menyeka darah yang mengalir di ujung bibirnya. Butuh waktu yang sedikit lama
baginya untuk bangkit. Wajahnya memar-memar. Ia meringis saat ia berusaha untuk
duduk dengan susah payah.
Sementara
itu, ia juga tahu bahwa Chintya Valissisa belum bergerak sedari tadi. Perempuan
itu masih berdiri di tempatnya semula sejak kepergian Deon dan Talitha.
Alfa
mendengkus. Dia berdiri, lalu mendekati Chintya seraya mengernyitkan dahi
karena rasa sakit yang luar biasa pada wajahnya. Chintya sama sekali tidak
melihat ke arahnya. Ekspresinya blank. Seperti tidak percaya akan
sesuatu…dan mencoba untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa ‘sesuatu’ itu tidak
benar.
"Kamu
lihat kekacauan yang kamu buat?" ujar Alfa dengan sarkastis.
Suara
Alfa membuat Chintya langsung menatap cowok itu dengan tajam.
"Apa maksud kamu? Kamu nggak berhak ngomong gitu sama aku!"
"Kamu
itu sebenernya udah sadar kalo Deon itu nggak cinta sama kamu. Kamu sadar kalo
dia cintanya sama Talitha,” tekan Alfa. "tapi kamu
memungkiri semua itu."
Tubuh
Chintya bergetar. Chintya langsung memelototi Alfa dan ingin
menampar Alfa, tetapi Alfa berhasil menghentikan tangan perempuan itu di udara.
"Berhenti
berakting," ujar Alfa tegas. "Inilah kenapa aku suka sama Talitha
yang apa adanya dan nggak pernah pura-pura. Dia nggak nyembunyiin apa pun. Kalo
kamu mau tau, kamu itu kayak apel yang cantik, tapi ada ulatnya.”
"DIAM
KAMU!!!" bentak Chintya sembari berusaha melepaskan
tangannya. Namun, Alfa mempererat cengkeramannya dan menatap Chintya dengan
tajam.
Alfa
pun kembali berucap…dengan penuh penekanan. "Kamu harus tau satu
hal. Sesuatu, apa pun itu, pasti bakal hancur kalo kamu genggam kuat-kuat. Selain
itu, nggak semua harapan kamu bisa jadi kenyataan. Nggak semua hal bisa kamu
miliki, Chintya."
******
Deon
langsung masuk ke apartemennya dengan langkah lebar dan pandangan yang beringas.
Serena—yang tadinya membukakan pintu itu—langsung menutup pintu itu kembali dan
mengejar Deon.
"Deon?
Ada apa, Sayang?!" tanya Serena dengan keras dan terburu-buru,
wanita paruh baya itu langsung menyusul Deon yang langsung masuk ke kamarnya tanpa
menutup pintu kamar itu kembali.
Serena
tak ada niat untuk pergi dari apartemen Deon lagi. Ia sudah memantapkan diri
untuk memulai lembaran baru dan terus menyayangi Deon. Ia tak mau meninggalkan
Deon lagi. Deon berdiri, berkacak pinggang di dekat nakas, menengadahkan kepala,
dan mendengkus. Serena dengan cepat mendatangi Deon. "Deon, ada ap—"
"Sialan!!" teriak
Deon, pria itu melempar seluruh benda yang ada di dekatnya. Serena berteriak
dan menutup telinganya karena terkejut bukan main.
"Deon!!!"
panggil Serena.
Deon
mengusap wajahnya frustrasi dan beralih mengacaukan seluruh benda yang ada di atas
ranjangnya dengan amarah yang memuncak. Ia terus mengumpat. Serena langsung
memegang tangan Deon, tetapi percuma. Tubuh Serena langsung terempas ke lantai.
Serena kembali menoleh kepada Deon, tetapi kini Deon sudah berbalik dan balas
menatapnya dengan mata yang memelotot.
"NGGAK
USAH IKUT CAMPUR!!!" bentak Deon. Serena tidak menyerah. Wanita paruh baya
itu kembali mendekati Deon, tetapi Deon menjauh darinya. Deon menunjuk Serena
dan memperingati wanita itu.
"Jangan
dekat-dekat. Kuperingatkan kamu," katanya. "Aku muak dengan
semua ini! Orang-orang yang kupercayai ternyata sama aja. Semuanya nggak
ada yang bermoral, terutama kalian para perempuan!
Pergi dari sini sekarang!!”
Serena
maju lagi; dia tak memedulikan tatapan Deon. Serena melebarkan matanya penuh amarah.
Setelah itu, satu tamparan keras mendarat di pipi Deon. Mata Deon membelalak
tak percaya.
"Mama
tau kalo kamu benci sama Mama," ujar Serena. "dan Mama juga tau kalo kamu
selalu berusaha buat ngendaliin diri kamu sendiri tiap kali ngehadapin Mama.
Kamu selalu ngendaliin rasa marah kamu, tapi…apa yang terjadi sampe-sampe kamu mikir
kalo semua orang itu sama aja?! BILANG SAMA MAMA!!"
Deon
menggeram, pria itu mengambil sebuah bingkai foto yang ada di
nakas. Setelah itu, dia melempar bingkai itu hngga jatuh jauh di belakang
Serena. Bunyi pecahan kaca yang keras itu membuat Serena kaget bukan main. Air
mata sudah menetes di pipi Serena.
"Itu,"
ucap
Deon tajam. "Pecahan kaca itu, anggap aja itu aku. Gimana
pecahan itu bisa pulih lagi setelah dihancurin berkeping-keping? Gimana cara
kamu untuk memperbaikinya, Mamaku Sayang? Bahkan kalo
pecahannya disatuin lagi, ITU NGGAK BAKAL BALIK KAYAK SEMULA!!!"
Serena
menangis tersedu-sedu. Wanita itu langsung memeluk Deon, tetapi Deon
mengempaskannya tubuhnya lagi.
"Jangan
sentuh aku.
Ngeliat kamu aja udah bisa bikin emosiku nggak terkendali. Tolong,"
pinta Deon sembari menggeleng dan membuang muka. "Tolong jangan
bikin aku jadi terus marahin kamu."
Mata
Serena membulat.
Dua
detik kemudian, Serena pun menangis semakin kencang. Wanita paruh baya itu
sampai menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Pijakannya seolah-olah runtuh
dan kakinya bagaikan selembut jelly. Dia langsung memeluk Deon
erat.
Tubuh
Deon menegang, tetapi…perlahan-lahan ia mulai rileks. Lama Serena menangis di
pundaknya, mengusap punggungnya dengan penuh kasih sayang, sampai akhirnya…Serena
merasa kalau Deon tiba-tiba menjatuhkan kepalanya di pundak Serena. Punggung
Deon bergetar hebat. Serena semakin tak bisa mengendalikan tangisnya.
Ternyata,
Deon juga telah berusaha mati-matian untuk menghilangkan rasa marahnya terhadap
Serena. Ternyata, Deon juga berusaha untuk memaafkan Serena dan melupakan semuanya
meskipun itu sulit. Sosok gelap yang ada di dalam diri Deon selalu berhasil menguasai
tubuh Deon saat Deon sedang marah, tetapi Deon selalu berusaha untuk melawan
semua itu.
Dua
menit kemudian, Serena mendudukkan Deon di ranjang. Serena memeluk tubuh Deon dengan
penuh kasih sayang. Tubuh anaknya yang kini sudah lebih besar darinya…ia peluk
dengan lembut. Serena mengusap dan menepuk-nepuk punggung Deon perlahan; mereka
menangis bersama.
"Ada
apa, Deon...? Apa yang terjadi sampe kamu jadi gini malam
ini, Nak?" tanya Serena dengan suara seraknya karena
habis menangis. Sesekali ia menarik napas dan mengusap air matanya. Wajahnya
sembap.
Deon
menjauh dari pelukan ibunya dan menatap ke depan. Bibir Deon bergetar, ia
mengeluarkan napas yang menyesakkan dadanya. Matanya memerah dan tangannya
terkepal. Hening selama beberapa saat…hingga akhirnya Deon pun membuka suara.
"Aku
nemuin Talitha sama cowok lain pas aku disuruh sama papa Chintya buat nyari Chintya
di mall," ujar Deon, pria itu mengucapkannya sembari
menahan gemuruh di dadanya. Emosinya meluap seketika, tetapi ia menahannya dengan
sekuat tenaga. Serena membulatkan mata.
"Talitha—pria
lain?" tanya Serena, wanita paruh baya itu menggeleng tak
percaya.
Rahang
Deon mengetat. "Dia bilang, itu adalah janji dia beberapa hari yang lalu sama
cowok itu. Katanya, dia sama sekali nggak niat untuk ngelakuin apa-apa,"
ujar Deon sembari menggertakkan giginya. "tapi aku nggak suka itu. Aku benci…pengkhianatan. Aku
benci kalo sesuatu milikku diusik. Aku benci dengan kebohongan. Aku juga benci
kalo orang yang aku sayang malah berpaling dariku.”
Deon
mengucapkan itu dengan mata yang berair. Matanya merah. Namun, di sisi lain, pernyataan
itu sukses menohok Serena. Menampar Serena habis-habisan.
Terngiang-ngiang di benak Serena, mengacaukan pikiran Serena dengan tanpa ampun.
Tubuh Serena mati rasa. Itu semua jelas adalah kesalahannya.
Deon
menjadi posesif terhadap apa yang pria itu sayangi. Deon takut kehilangan apa
yang telah ia klaim sebagai miliknya. Deon membenci
pengkhianatan...karena dahulu Serena juga mengkhianatinya dan Darwin.
Semua itu salahnya. Salah Serena.
"Ternyata,
Papa sama papanya Chintya pernah bikin perjanjian buat jodohin aku sama Chintya,"
ujar Deon, yang lagi-lagi berhasil membuat Serena terperanjat. Deon lalu
melanjutkan, "Tuhan benar-benar benci sama aku.”
Serena
langsung memeluk Deon. Air mata kembali membanjiri pipi Serena. Serena
menggeleng di pundak Deon dan dia menangis kencang.
Serena
tetap mencoba untuk menenangkan Deon. Dia mengusap punggung, kepala, dan lengan
Deon sampai Deon merasa nyaman.
"Maafin
Mama, Deon," ujar Serena dengan nelangsa. "Mama—"
"Aku
juga," jawab Deon tiba-tiba.
Mata
Serena membelalak. Serena spontan berhenti mengusap punggung Deon. Tubuhnya
mematung.
Deon...
"Maafin
aku juga," ujar Deon sekali lagi. Suara Deon
terdengar sangat serak dan rapuh. "Biarin aku manggil kamu dengan
panggilan ‘Mama’ lagi. Biarin aku ngeliat kamu seperti dulu lagi. Tolong bantu
aku buat ngehilangin rasa marahku ke kamu. Selain itu, tolong...tolong
hentiin aku kalo aku udah mulai nggak bisa ngendaliin emosiku dan ngebentak
atau ngedorong kamu. Aku mau belajar untuk maafin kamu. Aku ingin kembali
seperti dulu, Ma."
Mata
Serena melebar.
Wanita
paruh baya itu menganga. Ia tak yakin kapan ia bisa berhenti terkejut seraya
mengeluarkan air matanya. Seluruh hal di sekelilingnya seolah-olah membeku.
Deon
barusan...memanggilnya dengan sebutan Mama lagi.
Sebutan Mama yang begitu ia rindukan, seolah-olah harapan untuk dipanggil
seperti itu sudah lama sekali terkubur di lautan. Serena langsung semakin
mendekap tubuh kekar anaknya itu dengan erat.
"Iya,
Deon, iya..." ujar Serena. Napasnya tersendat-sendat; suaranya
juga terputus-putus akibat menangis. "Mama sayang banget sama kamu, Nak... Apa
pun itu bakal Mama lakuin untuk kamu. Mama bakal tebus semua kesalahan yang pernah
Mama buat. Mama bakal selalu ada sama kamu. Ayo kita belajar sama-sama dari
semua cobaan yang Tuhan berikan ini, dan mari kita saling memaafkan satu sama
lain...saling membuka tangan untuk satu sama lain."
Serena
diam sebentar; wanita paruh baya itu mengusap air matanya. Setelah itu, Serena
melanjutkan, "Mama yakin kalo Talitha nggak bohong sama kamu. Talitha itu
orang baik, Nak... Besok-besok, ayo kita bahas lagi masalah
perjodohan kamu sama Chintya itu. Mari kita buka lembaran baru."
Selama
tiga detik lamanya, mereka berdua sama-sama diam. Namun, akhirnya, Deon pun menjawab, "Hm."
******
Chintya
memarkirkan mobilnya di garasi rumahnya, tepat ketika panggilan telepon yang sedang
ia tunggu-tunggu itu akhirnya terhubung. Sedari tadi, ia sedang berusaha untuk
menelepon seseorang.
Chintya
langsung membuka suara dan ia terdengar sangat kesal, "Halo? Kok
lama banget, sih?! Tolong bantu aku. Cari informasi tentang cewek yang
namanya Talitha," ujar Chintya sembari menggertakkan giginya. Ia
mencengkeram roda kemudi, kemudian ia melanjutkan. "Cari tau...sampe
ke akar-akarnya.”
Ia
akan memberikan sebuah pelajaran yang sangat menyiksa untuk
Talitha. []








No comments:
Post a Comment