Saturday, October 11, 2025

My Man (Bab 15)

 


******

Bab 15 :

 

SEMUA orang melihat ke arah Deon.

Suasananya jadi sunyi; tiba-tiba, tempat parkir itu terasa seperti kuburan. Talitha membulatkan mata tatkala menyadari kehadiran Deon di sana. Deon menatap mereka dengan tajam; alisnya menyatu. Sementara itu, Chintya kaget bukan main. Namun, di sisi lain, dia juga senang karena kebetulan bertemu dengan Deon setelah memergoki Talitha.

Alfa mengernyitkan dahinya tatkala melihat Deon. Jujur saja, keadaan ini jadi semakin memburuk. Mengapa Deon tiba-tiba ada di sini? Rahangnya mengetat. Dia tampak heran sekaligus…marah. Tak lama kemudian, matanya menggelap.

Chintya langsung berlari cepat ke arah Deon dan meraih lengan pria itu. "Deon—Deon, dia selingkuhin kamu. Dia kencan sama cowok ini. Cewek jalang ini nge-date sama cowok lain di belakang kamu. Aku liat semuanya!!"

Chintya mengucapkan itu dengan terburu-buru, nadanya sangat manja. Dia juga terdengar jijik sekali dengan Talitha. Namun, Deon tak menatap Chintya sama sekali meskipun Chintya sudah ada di sebelahnya dan memegangi lengannya dengan kuat. Tatapan mata Deon tertuju kepada Talitha dan Alfa yang berdiri beberapa meter di depannya. Matanya nyalang, penuh amarah. Chintya mengguncang lengan Deon. "Deon, kamu harus putusin dia! Kamu—"

Deon mengempaskan tangan Chintya dan langsung mendekati Alfa. Mata Chintya langsung membulat. Ditatapnya punggung tegap Deon dari belakang; Deon meninggalkannya begitu saja. Talitha jadi panik ketika dia tahu bahwa Deon langsung menghampiri Alfa. Deon membuat udara di sana jadi terasa menyesakkan, tekanannya luar biasa.

Alfa menunggu Deon sampai di hadapannya seraya menyatukan alis. Dia tampak tak takut; ia justru menunggu apa yang akan dilakukan Deon. Begitu Deon sampai di depannya, satu pukulan keras mendarat di rahangnya dan dia terjatuh. Dia mungkin tak akan melakukan hal yang sama, tetapi dia tak takut sama sekali.

Mata Talitha membulat. Dia mulai bisa menebak apa yang akan Deon lakukan. Dengan cepat, Talitha berlari ke arah Deon dan menarik Deon meskipun tubuh pria itu terasa sangat keras. terasa sangat keras saat itu. Urat-urat di area pelipisnya menonjol; matanya memerah menahan amarah.

"DEON!! UDAH, DEON!! JANGAN!!!" teriak Talitha saat Deon mulai merunduk untuk menarik kerah baju Alfa. Alfa juga telah menatap Deon dengan mata nyalang. Saat itulah, Deon mengempaskan tubuh Talitha ke belakang.

"LEPAS!" bentak Deon. Talitha terjatuh, tetapi ia tak merasa sakit sama sekali karena terlampau panik. Sementara itu, Deon kembali menarik kerah baju Alfa; dia mengangkat tubuh Alfa. Akan tetapi, tatkala mereka berdua telah berdiri, Alfa melepaskan cengkeraman Deon dengan kasar. Setelah itu, satu pukulan balasan sukses mendarat di rahang Deon. Pukulan itu membuat kepala Deon tertolak ke sisi. Deon langsung menjilat sudut bibirnya, lalu mengayunkan kepalanya untuk menoleh pada Alfa. Matanya sudah sangat menggelap.

Deon menggertakkan giginya; dia kembali meninju Alfa dengan kekuatan yang tidak tanggung-tanggung. Talitha terus menghentikan Deon, tetapi Deon langsung mengempaskannya. Alfa terjatuh, lalu Deon duduk di dekatnya, mengunci tubuhnya, dan meninjunya berkali-kali.

Deon mengumpat di setiap pukulannya, tetapi Alfa sesekali sempat menghentikan pukulan Deon hanya untuk memelintir tangan pemuda itu. Saat itu, tubuh Deon seperti dikuasai iblis.

"Sialan!!! Jangan deketin dia!! Jangan pernah ganggu apa yang udah menjadi milikku!! Dia itu milikku, sialan!" teriak Deon. Teriakan itu sukses membuat Chintya menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Talitha nyaris kehabisan akal, tetapi gadis itu kembali bangkit dengan berani—ia tak memikirkan apa-apa lagi—dan berlari menghampiri Deon. Dia menarik tubuh Deon dengan sekuat tenaga. Wajah Alfa sudah babak belur. Alfa bisa saja kehilangan kesadaran!

"DEON, BERHENTI!!! UDAH CUKUP, DEON!!!!" teriak Talitha.

Alfa membulatkan matanya ketika mendengar teriakan Talitha. Sementara itu, Deon langsung menarik tangan Talitha—yang sedang mencoba untuk menariknya itu—dan berbalik menatap Talitha. Hal itu membuat tangan Talitha nyaris terpelintir. Talitha mengaduh kesakitan, jadi Alfa langsung berdiri (untuk menyelamatkan Talitha), tetapi Deon langsung mendorong tubuh Alfa lagi dengan keras. Chintya langsung berlari mendekati mereka dan berteriak, "DEON!"

"DEON!!! INI SAKIT, OI!! KAMU UDAH GILA?!!" teriak Talitha. Talitha membulatkan mata saat melihat Alfa kembali meninju Deon. Deon terjatuh. Talitha langsung berlari menghampiri Deon, tetapi Deon kembali berdiri dengan cepat sembari mengumpat.

"Shit!" teriak Deon. Pria itu langsung kembali meninju Alfa bertubi-tubi. Talitha frustrasi dan nyaris menangis, ia benar- benar tak tahu apa yang harus ia lakukan. Talitha—yang sudah tahu kalau Deon itu posesif—paham bahwa Deon marah karena pria itu melihatnya bersama Alfa, apalagi ditambah dengan pengaduan Chintya yang tak benar adanya.

Sementara itu, Chintya tak bisa bergerak. Matanya membulat dan ia tak mampu berbicara. Yang ada di pikiran perempuan itu hanya satu:

Deon kok bisa semarah dan seposesif itu? Deon tampak tergila-gila pada Talitha!!!!

Saat Talitha kembali mendekati Deon dan berteriak sembari menahan air matanya, Deon berhenti melayangkan pukulan kepada Alfa yang sudah terbaring lemas. Deon langsung berdiri dan menarik Talitha untuk berdiri tegap di depannya. Deon menarik dagu Talitha dengan kuat hingga membuat Talitha mengepalkan kedua tangannya. Mata Talitha menatap Deon dengan tajam, tetapi masih tak bisa menandingi amarah Deon yang memuncak saat itu.

"Apa?! Kamu mau ngehentiin aku?" tanya Deon sarkastis sembari memiringkan kepalanya. "ORANG YANG SUKA NGEKHIANATIN ORANG LAIN KAYAK KAMU MAU NGEHENTIIN AKU?!!"

Talitha menggeram; dia langsung memelototi Deon karena tersinggung. "AKU NGGAK PERNAH NGEKHIANATIN KAMU!!!!"

"JADI, INI APA?!!!" bentak Deon. "SEHARUSNYA AKU TAU KALO SEKALI PEMBOHONG TETAPLAH PEMBOHONG! PERTEMUAN PERTAMA KITA PUN ITU KARENA KEBOHONGAN KAMU!!!!!"

"Iya, Deon.” Seseorang tiba-tiba berbicara. Talitha mengernyitkan dahi tatkala mengetahui bahwa itu adalah Chintya. Chintya mendekati Deon dan akhirnya berdiri di samping Deon. Perempuan itu menyeringai puas. "Dia ngekhianatin kamu.”

Talitha menggeram lagi. Emosinya naik hingga ke ubun-ubun. Akhirnya, gadis itu membentak Chintya, "KAMU ITU NGADA-NGADA!!! AKU EMANG KE SINI SAMA KAK ALFA, TAPI KAMI NGGAK—"

"DIAM KAMU!!!" bentak Deon pada Talitha. "Tutup mulut kamu dan stop ngarang alasan. Semua perempuan yang penting dalam hidup aku selalu ngebuat aku kecewa," ujar Deon sembari menggeleng. Talitha kontan kembali menatap Deon.

Betapa terkejutnya Talitha tatkala menatap mata Deon. Tatapannya mengandung kekecewaan.

Talitha tersentak. Entah mengapa, ia merasakan sakit yang teramat dalam saat mengetahui bahwa Deon kecewa padanya. Sesuatu terasa menusuk jantungnya perlahan-lahan. Entah mengapa juga, Talitha merasa bahwa ia harus menjelaskan semuanya kepada Deon. Rasanya…ia tak mau membiarkan kesalahpahaman ini berlanjut. Biasanya, ia tak peduli kalau ada orang yang kecewa padanya. Ia memang tak suka difitnah sembarangan seperti ini, terutama oleh Deon yang jelas-jelas sudah masuk ke kehidupannya dan mengisi hari-harinya akhir-akhir ini.

"Selain itu, jangan bentak Chintya. Dia itu sahabatku," peringat Deon tajam.

Sesuatu serasa menohok jantung Talitha. Membuat napasnya seakan-akan terhenti sejenak dan tubuhnya mematung. Matanya melebar.

Sementara itu, Chintya menatap Talitha dengan mata yang menyipit. Perempuan itu ikut memojokkan Talitha dengan tatapannya yang seolah mengatakan, 'Kamulah yang bersalah.'

Talitha mengepalkan tangannya. Demi apa pun, Talitha malas sekali kalau sudah begini. Capek banget. Talitha orang yang cuek, jadi seharusnya saat ini dia akan berkata: 'Ah, terserah lu aja, dah, kalo ga percaya. Mampus, deh, mendingan gue pulang.'

Akan tetapi, entah mengapa…saat ini ia tak bisa mengatakan itu.

Ia disalahkan dan dipojokkan karena aduan tidak benar dari Chintya. Talitha tahu kalau dia mungkin salah juga karena tidak memberitahu Deon soal berjalan berdua dengan Alfa. Talitha tak memberitahu bukan karena Talitha takut, tetapi karena tujuan dia berjalan dengan Alfa itu bukan karena ingin mengkhianati Deon. Itu hanya sekadar memenuhi janji mereka beberapa hari yang lalu. Dia merasa tidak ada yang salah, jadi tak ada yang perlu dia takutkan.

"Kenapa kamu diem? Ngaku, hah?!! SEKARANG KAMU TAU KALO KAMU SALAH?!" ujar Deon.

Kesabaran Talitha habis. Sudah cukup. Ini keterlaluan.

Talitha langsung berteriak, "TERSERAH KAMU!! AKU UDAH MALES NGEJELASIN! TERSERAH KAMU MAU PERCAYA APA ENGGAK!!"

Namun, tiba-tiba, Deon melepas dagu Talitha. Deon mengalihkan pandangannya ke Chintya. Chintya pun langsung menatap Deon dengan penuh pengertian.

Deon berkata seraya menahan emosinya, "Aku ke sini karena papa kamu nyariin kamu di rumah. Dia suruh aku cari kamu, tapi…wait. Aku yakin kamu tadi sempet nyampein sesuatu ke mereka berdua. Apa itu?"

Chintya terperangah dan menunduk. Ia memperlihatkan ekspresi pasrahnya. Ia menggigit bibirnya sejenak, lalu kembali menatap Deon.

"Deon, kita berdua…ternyata udah dijodohin," ujar Chintya. Hal itu membuat Deon mengernyitkan dahi. Deon tak yakin dengan apa yang baru saja ia dengar.

"Aku tadi siang ditelepon sama Papa…dan Papa ngasih tau aku soal ini. Aku tadi cuma mau jalan-jalan di mall ini, tapi kebetulan aku ketemu sama mereka.”

Talitha menggeleng tak habis pikir. Dia jengkel sekali saat mendengar kata-kata Chintya.

"Papa kamu beneran ngomong gitu?" tanya Deon sembari menyipitkan matanya, ingin memastikan.

Chintya langsung mengangguk. Dia berkata, "Bentar. Aku telepon Papa dulu, biar kamu yakin."

Setelah itu, Chintya langsung mengambil ponselnya yang ia letakkan di dalam tasnya. Saat ponsel itu sudah berada di tangannya, ia langsung menghubungi ayahnya.

Telepon itu diangkat setelah tiga deringan. Dengan cepat, Chintya me-loudspeaker panggilan itu dan berbicara pada ayahnya, "Pa, Chintya mau nanya."

"Iya, nanya apa, Sayang?"

"Chintya sama Deon... Papa dan Papa Darwin beneran jodohin kita berdua, 'kan?"

"Iya, Sayang, kenapa? Kamu nggak percaya? Atau mungkin besok kita perlu ke tempat Deon buat ngebicarain ini semua?"

Saat kalimat itu terdengar, Chintya pun langsung menatap Deon. Dia seolah-olah ingin mengatakan: ‘Tuh, benar, ‘kan?' dari tatapannya.

"Ya udah, Pa, Chintya mau mastiin itu aja. Udah dulu, ya, Pa," ujar Chintya. Mata Chintya terus tertuju pada Deon yang tengah menggeleng tak percaya. Tanpa Chintya sadari, rahang Deon mengetat dan tangan Deon terkepal. Chintya baru saja ingin memegang bahu Deon saat Deon tiba-tiba langsung berpaling darinya. Deon mulai mendekati Talitha, lalu dengan cepat, pria itu menarik Talitha. Dia membawa Talitha—yang spontan memberontak itu—mendekati mobilnya yang terparkir tak jauh dari sana. Mata Chintya membeliak.

 

******

 

"Ngapain kamu bawa aku?! Kak Alfa masih ada di sana! Dia pasti susah berdiri gara-gara kamu! Aku nggak pernah punya niat buat ngekhianatin orang!!" teriak Talitha. Deon mencengkeram roda kemudinya saat Talitha mengatakan itu. Mata Deon tampak setajam elang; urat-urat di lengannya menonjol dan rahangnya mengetat.

"OI! KAMU DENGER NGGAK?!!" teriak Talitha lagi. Deon tiba-tiba langsung menghentikan mobilnya. Pemberhentian secara tiba-tiba itu membuat tubuh Talitha terdorong ke depan meskipun Talitha memakai seat-belt.

"DIAM, TALITHA!!!" bentak Deon. Deon memukul roda kemudinya dengan kencang, lalu memelototi Talitha, "TUTUP MULUT KAMU!!"

"AKU NGGAK MAU TUTUP MULUT!!" balas Talitha. Matanya nyalang.

"Emangnya apa yang mau kamu jelaskan?!!!” ujar Deon sarkastis. Pria itu memiringkan kepalanya, lalu tiba-tiba mencengkeram lengan Talitha. "BILANG!!!”

"YANG MAU AKU BILANG ITU, AKU NGGAK ADA BERDUAAN SAMA KAK ALFA KAYAK APA YANG CHINTYA BILANG!!! Aku ke luar sama Kak Alfa karena punya janji yang nggak sempet dilaksanain beberapa hari yang lalu!!!" teriak Talitha. "Lagian, kamu nggak bisa fitnah aku kayak gitu!!"

Talitha pun melanjutkan, "Aku nggak bilang ke kamu karena aku emang nggak ada niat buat ngapa-ngapain sama Kak Alfa. Aku nggak ada apa-apa sama dia. Sebenernya, aku males banget ngejelasin ini ke kamu karena aku tau kalo kamu nggak bakal pernah mau dengerin penjelasan orang, padahal nyatanya, ini bukan pengkhianatan sama sekali!!” ujar Talitha. Kata-kata ‘pengkhianatan’ sukses membuat Deon semakin menggertakkan giginya. Talitha lalu melanjutkan, "Aku nggak suka dengan sikap egois kamu! Aku tahu kalo aku mungkin salah juga, tapi cara kamu ini nggak bener! Aku sekarang jadi males ngeliat muka kamu, tau nggak?! PERCUMA NGOMONG APA-APA SAMA ORANG KAYAK KAMU!! Oke, sekarang, aku minta maaf karena tadi sempet marah sama Chintya. Aku juga minta maaf kalau aku ada salah. Itu aja. Sekarang, TERSERAH KAMU MAU APA. Aku males liat kamu!"

Deon hanya diam. Jika Talitha bukan orang yang terbiasa melihat sifat Deon, pasti Talitha sudah bawa perasaan, sakit hati, atau ketakutan sejak tadi.

Hening selama tiga detik…hingga kemudian, Deon pun angkat bicara.

 

"Keluar dari mobilku."

 

Well. Talitha sudah menebak ini sejak tadi. Talitha jelas tahu Deon itu sekejam apa.

Talitha langsung menggertakkan giginya dan mendengkus. Meskipun ada rasa sakit di dadanya yang tiba-tiba muncul—yang ia sendiri tak mengerti mengapa rasa sakit itu muncul—ia tak memedulikan itu dan langsung keluar dari mobil Deon.

Talitha keluar dari mobil Deon dan gadis itu sempat melihat Deon yang menatapnya dengan penuh amarah. Akhirnya, pria itu mengalihkan pandangannya lagi ke depan dan menghidupkan mesin mobilnya. Mobil itu pun berjalan meninggalkan Talitha di pinggir jalan begitu saja.

Talitha rasanya tak mau mendengar apa pun yang bersangkutan dengan Deon lagi. Ia benar-benar makan hati menghadapi semuanya. Dari awal, semua ini sudah tidak masuk akal!

Talitha berjongkok di pinggir jalan itu dan menunduk. Dia mengembuskan napasnya lelah. Rasanya napas itu sudah tertahan di dadanya dan menjadi beban…sehingga ketika ia mengeluarkannya, barulah ia sadar bahwa ternyata, semua kejadian tadi membuatnya benar-benar lelah.

Dalam hidupnya, Talitha tak pernah terkena masalah serumit ini. Selama ini, hidupnya santai-santai saja; ia tak pernah benar-benar memiliki masalah yang rumit di dalam hidupnya. Kebiasaan gilanya, kebiasaan bodohnya, semua itu membuat hidupnya tampak selalu bahagia. Kayaknya hidupnya enak-enak aja, gitu. Akan tetapi, semenjak dia bertemu dengan Deon...

 

Semuanya berubah.

 

Ah, sudahlah.

Talitha pun mengambil ponselnya yang ada di sakunya. Dengan perasaan yang campur aduk, ia pun menelepon Gavin.

 

"Bang, jemput gue, dong."

 

******

 

Deon memperhatikan Talitha dengan saksama dari dalam mobilnya. Sebenarnya, Deon memutar kembali mobilnya, lalu berhenti tak jauh dari tempat Talitha turun. Dia tak pernah benar-benar meninggalkan Talitha.

Ia memperhatikan Talitha dengan mata menyipit tajam, melihat gadis itu jongkok di pinggir jalan. Gadis itu menenggelamkan kepalanya di antara lututnya dan tampak begitu lelah.

Deon pun mulai menelepon seseorang.

"Halo, Om."

"Iya, halo, Deon. Kenapa, Nak?"

Deon bernapas samar. Matanya masih mengawasi Talitha. Kini, Gavin sudah sampai di tempat Talitha. Tak lama kemudian, Deon melihat Gavin membawa Talitha masuk ke mobilnya.

Deon lalu kembali berbicara, "Maaf, Om. Deon mau denger lebih detail masalah perjodohan itu."

Terdengar ayah Chintya menghela napas di seberang sana. Dia agaknya…sedikit bingung bagaimana mau menjelaskan semua itu kepada Deon.

"Itu bener adanya, Deon. Om sama papa kamu dulu pernah berjanji satu sama lain untuk ngejodohin kalian. Awalnya, itu cuma iseng-iseng, tapi…mengingat kalian selalu bersama dan percaya satu sama lain…kami pikir mungkin itu ide bagus buat nyatuin kalian. Om udah lama nggak ketemu sama papa kamu lagi karena tiba-tiba, sebelum kami sempat berdiskusi lagi...dia sudah berpulang. Om nggak yakin dia udah berubah pikiran atau belum, tapi yang pasti...inilah perjanjian kami dulu.”

Deon memejamkan matanya, tiba-tiba kepalanya sakit saat mendengar kenyataan itu. Rahangnya kembali mengetat.

"Oke, Om. Makasih atas penjelasannya, ya, Om," ujar Deon singkat. Panggilan telepon itu pun terputus.

Deon kontan melempar ponselnya ke atas dashboard dan memukul roda kemudi. Pria itu menyandarkan kepalanya di jok, lalu mendongak seraya mengusap rambutnya frustrasi.

Papa…bikin perjanjian kayak gini?

 

******

 

Alfa menyeka darah yang mengalir di ujung bibirnya. Butuh waktu yang sedikit lama baginya untuk bangkit. Wajahnya memar-memar. Ia meringis saat ia berusaha untuk duduk dengan susah payah.

Sementara itu, ia juga tahu bahwa Chintya Valissisa belum bergerak sedari tadi. Perempuan itu masih berdiri di tempatnya semula sejak kepergian Deon dan Talitha.

Alfa mendengkus. Dia berdiri, lalu mendekati Chintya seraya mengernyitkan dahi karena rasa sakit yang luar biasa pada wajahnya. Chintya sama sekali tidak melihat ke arahnya. Ekspresinya blank. Seperti tidak percaya akan sesuatu…dan mencoba untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa ‘sesuatu’ itu tidak benar.

"Kamu lihat kekacauan yang kamu buat?" ujar Alfa dengan sarkastis.

Suara Alfa membuat Chintya langsung menatap cowok itu dengan tajam. "Apa maksud kamu? Kamu nggak berhak ngomong gitu sama aku!"

"Kamu itu sebenernya udah sadar kalo Deon itu nggak cinta sama kamu. Kamu sadar kalo dia cintanya sama Talitha,” tekan Alfa. "tapi kamu memungkiri semua itu."

Tubuh Chintya bergetar. Chintya langsung memelototi Alfa dan ingin menampar Alfa, tetapi Alfa berhasil menghentikan tangan perempuan itu di udara.

"Berhenti berakting," ujar Alfa tegas. "Inilah kenapa aku suka sama Talitha yang apa adanya dan nggak pernah pura-pura. Dia nggak nyembunyiin apa pun. Kalo kamu mau tau, kamu itu kayak apel yang cantik, tapi ada ulatnya.”

"DIAM KAMU!!!" bentak Chintya sembari berusaha melepaskan tangannya. Namun, Alfa mempererat cengkeramannya dan menatap Chintya dengan tajam.

Alfa pun kembali berucap…dengan penuh penekanan. "Kamu harus tau satu hal. Sesuatu, apa pun itu, pasti bakal hancur kalo kamu genggam kuat-kuat. Selain itu, nggak semua harapan kamu bisa jadi kenyataan. Nggak semua hal bisa kamu miliki, Chintya."

 

******

 

Deon langsung masuk ke apartemennya dengan langkah lebar dan pandangan yang beringas. Serena—yang tadinya membukakan pintu itu—langsung menutup pintu itu kembali dan mengejar Deon.

"Deon? Ada apa, Sayang?!" tanya Serena dengan keras dan terburu-buru, wanita paruh baya itu langsung menyusul Deon yang langsung masuk ke kamarnya tanpa menutup pintu kamar itu kembali.

Serena tak ada niat untuk pergi dari apartemen Deon lagi. Ia sudah memantapkan diri untuk memulai lembaran baru dan terus menyayangi Deon. Ia tak mau meninggalkan Deon lagi. Deon berdiri, berkacak pinggang di dekat nakas, menengadahkan kepala, dan mendengkus. Serena dengan cepat mendatangi Deon. "Deon, ada ap—"

"Sialan!!" teriak Deon, pria itu melempar seluruh benda yang ada di dekatnya. Serena berteriak dan menutup telinganya karena terkejut bukan main.

"Deon!!!" panggil Serena.

Deon mengusap wajahnya frustrasi dan beralih mengacaukan seluruh benda yang ada di atas ranjangnya dengan amarah yang memuncak. Ia terus mengumpat. Serena langsung memegang tangan Deon, tetapi percuma. Tubuh Serena langsung terempas ke lantai. Serena kembali menoleh kepada Deon, tetapi kini Deon sudah berbalik dan balas menatapnya dengan mata yang memelotot.

"NGGAK USAH IKUT CAMPUR!!!" bentak Deon. Serena tidak menyerah. Wanita paruh baya itu kembali mendekati Deon, tetapi Deon menjauh darinya. Deon menunjuk Serena dan memperingati wanita itu.

"Jangan dekat-dekat. Kuperingatkan kamu," katanya. "Aku muak dengan semua ini! Orang-orang yang kupercayai ternyata sama aja. Semuanya nggak ada yang bermoral, terutama kalian para perempuan! Pergi dari sini sekarang!!”

Serena maju lagi; dia tak memedulikan tatapan Deon. Serena melebarkan matanya penuh amarah. Setelah itu, satu tamparan keras mendarat di pipi Deon. Mata Deon membelalak tak percaya.

"Mama tau kalo kamu benci sama Mama," ujar Serena. "dan Mama juga tau kalo kamu selalu berusaha buat ngendaliin diri kamu sendiri tiap kali ngehadapin Mama. Kamu selalu ngendaliin rasa marah kamu, tapi…apa yang terjadi sampe-sampe kamu mikir kalo semua orang itu sama aja?! BILANG SAMA MAMA!!"

Deon menggeram, pria itu mengambil sebuah bingkai foto yang ada di nakas. Setelah itu, dia melempar bingkai itu hngga jatuh jauh di belakang Serena. Bunyi pecahan kaca yang keras itu membuat Serena kaget bukan main. Air mata sudah menetes di pipi Serena.

"Itu," ucap Deon tajam. "Pecahan kaca itu, anggap aja itu aku. Gimana pecahan itu bisa pulih lagi setelah dihancurin berkeping-keping? Gimana cara kamu untuk memperbaikinya, Mamaku Sayang? Bahkan kalo pecahannya disatuin lagi, ITU NGGAK BAKAL BALIK KAYAK SEMULA!!!"

Serena menangis tersedu-sedu. Wanita itu langsung memeluk Deon, tetapi Deon mengempaskannya tubuhnya lagi.

"Jangan sentuh aku. Ngeliat kamu aja udah bisa bikin emosiku nggak terkendali. Tolong," pinta Deon sembari menggeleng dan membuang muka. "Tolong jangan bikin aku jadi terus marahin kamu."

Mata Serena membulat.

Dua detik kemudian, Serena pun menangis semakin kencang. Wanita paruh baya itu sampai menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Pijakannya seolah-olah runtuh dan kakinya bagaikan selembut jelly. Dia langsung memeluk Deon erat.

Tubuh Deon menegang, tetapi…perlahan-lahan ia mulai rileks. Lama Serena menangis di pundaknya, mengusap punggungnya dengan penuh kasih sayang, sampai akhirnya…Serena merasa kalau Deon tiba-tiba menjatuhkan kepalanya di pundak Serena. Punggung Deon bergetar hebat. Serena semakin tak bisa mengendalikan tangisnya.

Ternyata, Deon juga telah berusaha mati-matian untuk menghilangkan rasa marahnya terhadap Serena. Ternyata, Deon juga berusaha untuk memaafkan Serena dan melupakan semuanya meskipun itu sulit. Sosok gelap yang ada di dalam diri Deon selalu berhasil menguasai tubuh Deon saat Deon sedang marah, tetapi Deon selalu berusaha untuk melawan semua itu.

Dua menit kemudian, Serena mendudukkan Deon di ranjang. Serena memeluk tubuh Deon dengan penuh kasih sayang. Tubuh anaknya yang kini sudah lebih besar darinya…ia peluk dengan lembut. Serena mengusap dan menepuk-nepuk punggung Deon perlahan; mereka menangis bersama.

"Ada apa, Deon...? Apa yang terjadi sampe kamu jadi gini malam ini, Nak?" tanya Serena dengan suara seraknya karena habis menangis. Sesekali ia menarik napas dan mengusap air matanya. Wajahnya sembap.

Deon menjauh dari pelukan ibunya dan menatap ke depan. Bibir Deon bergetar, ia mengeluarkan napas yang menyesakkan dadanya. Matanya memerah dan tangannya terkepal. Hening selama beberapa saat…hingga akhirnya Deon pun membuka suara.

"Aku nemuin Talitha sama cowok lain pas aku disuruh sama papa Chintya buat nyari Chintya di mall," ujar Deon, pria itu mengucapkannya sembari menahan gemuruh di dadanya. Emosinya meluap seketika, tetapi ia menahannya dengan sekuat tenaga. Serena membulatkan mata.

"Talitha—pria lain?" tanya Serena, wanita paruh baya itu menggeleng tak percaya.

Rahang Deon mengetat. "Dia bilang, itu adalah janji dia beberapa hari yang lalu sama cowok itu. Katanya, dia sama sekali nggak niat untuk ngelakuin apa-apa," ujar Deon sembari menggertakkan giginya. "tapi aku nggak suka itu. Aku benci…pengkhianatan. Aku benci kalo sesuatu milikku diusik. Aku benci dengan kebohongan. Aku juga benci kalo orang yang aku sayang malah berpaling dariku.”

Deon mengucapkan itu dengan mata yang berair. Matanya merah. Namun, di sisi lain, pernyataan itu sukses menohok Serena. Menampar Serena habis-habisan. Terngiang-ngiang di benak Serena, mengacaukan pikiran Serena dengan tanpa ampun. Tubuh Serena mati rasa. Itu semua jelas adalah kesalahannya.

Deon menjadi posesif terhadap apa yang pria itu sayangi. Deon takut kehilangan apa yang telah ia klaim sebagai miliknya. Deon membenci pengkhianatan...karena dahulu Serena juga mengkhianatinya dan Darwin. Semua itu salahnya. Salah Serena.

"Ternyata, Papa sama papanya Chintya pernah bikin perjanjian buat jodohin aku sama Chintya," ujar Deon, yang lagi-lagi berhasil membuat Serena terperanjat. Deon lalu melanjutkan, "Tuhan benar-benar benci sama aku.”

Serena langsung memeluk Deon. Air mata kembali membanjiri pipi Serena. Serena menggeleng di pundak Deon dan dia menangis kencang.

Serena tetap mencoba untuk menenangkan Deon. Dia mengusap punggung, kepala, dan lengan Deon sampai Deon merasa nyaman.

"Maafin Mama, Deon," ujar Serena dengan nelangsa. "Mama—"

"Aku juga," jawab Deon tiba-tiba.

Mata Serena membelalak. Serena spontan berhenti mengusap punggung Deon. Tubuhnya mematung.

 

Deon...

 

"Maafin aku juga," ujar Deon sekali lagi. Suara Deon terdengar sangat serak dan rapuh. "Biarin aku manggil kamu dengan panggilan ‘Mama’ lagi. Biarin aku ngeliat kamu seperti dulu lagi. Tolong bantu aku buat ngehilangin rasa marahku ke kamu. Selain itu, tolong...tolong hentiin aku kalo aku udah mulai nggak bisa ngendaliin emosiku dan ngebentak atau ngedorong kamu. Aku mau belajar untuk maafin kamu. Aku ingin kembali seperti dulu, Ma."

Mata Serena melebar.

Wanita paruh baya itu menganga. Ia tak yakin kapan ia bisa berhenti terkejut seraya mengeluarkan air matanya. Seluruh hal di sekelilingnya seolah-olah membeku.

Deon barusan...memanggilnya dengan sebutan Mama lagi. Sebutan Mama yang begitu ia rindukan, seolah-olah harapan untuk dipanggil seperti itu sudah lama sekali terkubur di lautan. Serena langsung semakin mendekap tubuh kekar anaknya itu dengan erat.

"Iya, Deon, iya..." ujar Serena. Napasnya tersendat-sendat; suaranya juga terputus-putus akibat menangis. "Mama sayang banget sama kamu, Nak... Apa pun itu bakal Mama lakuin untuk kamu. Mama bakal tebus semua kesalahan yang pernah Mama buat. Mama bakal selalu ada sama kamu. Ayo kita belajar sama-sama dari semua cobaan yang Tuhan berikan ini, dan mari kita saling memaafkan satu sama lain...saling membuka tangan untuk satu sama lain."

Serena diam sebentar; wanita paruh baya itu mengusap air matanya. Setelah itu, Serena melanjutkan, "Mama yakin kalo Talitha nggak bohong sama kamu. Talitha itu orang baik, Nak... Besok-besok, ayo kita bahas lagi masalah perjodohan kamu sama Chintya itu. Mari kita buka lembaran baru."

Selama tiga detik lamanya, mereka berdua sama-sama diam. Namun, akhirnya, Deon pun menjawab, "Hm."

 

******

 

Chintya memarkirkan mobilnya di garasi rumahnya, tepat ketika panggilan telepon yang sedang ia tunggu-tunggu itu akhirnya terhubung. Sedari tadi, ia sedang berusaha untuk menelepon seseorang.

Chintya langsung membuka suara dan ia terdengar sangat kesal, "Halo? Kok lama banget, sih?! Tolong bantu aku. Cari informasi tentang cewek yang namanya Talitha," ujar Chintya sembari menggertakkan giginya. Ia mencengkeram roda kemudi, kemudian ia melanjutkan. "Cari tau...sampe ke akar-akarnya.”

Ia akan memberikan sebuah pelajaran yang sangat menyiksa untuk Talitha. []

 














******













No comments:

Post a Comment

She Was Never Mine (Bab 4: Segalanya Untuknya)

  ****** Bab 4 : Segalanya Untuknya   ******   LANTUNAN lagu di radio terdengar begitu merdu saat Josh baru saja memberhentikan mo...