Friday, October 17, 2025

Immure (Chapter 4: The World We're Living In)


******

Chapter 4 :

The World We’re Living In

 

******

 

SEPULANG dari rumah sakit, Hea dibawa oleh Jimin ke lapangan yang sering mereka kunjungi. Hea opname sekitar dua hari dan selama itu pula, Jimin selalu berada di dekatnya. Jiminlah yang membayar semua biaya rumah sakit beserta obat-obatan Hea; dia bersikeras agar Hea diopname di rumah sakit untuk menyembuhkan semua luka di tubuh gadis itu.

Tentu saja, itu bukan pertama kalinya Hea melukai tubuhnya sendiri. Tubuhnya dipenuhi dengan memar dan goresan benda tajam. Penyebab memar-memar itu adalah karena ‘dianiaya’ oleh ayah dan kakaknya, sementara penyebab goresan-goresan benda tajam itu adalah karena Hea sering melukai dirinya sendiri. Dia sering melakukan itu untuk merasakan sesuatu. Setidaknya…dia tidak merasa kosong atau mati rasa.

Namun, yang ia lakukan dua hari yang lalu…bukanlah untuk ‘merasakan sesuatu’, melainkan untuk mencicipi kematian. Untuk menyusul ibunya.

Dia hanya ingin beristirahat…

Well, sepertinya, Tuhan belum mengizinkannya untuk beristirahat. Tuhan masih mengirimkan Park Jimin untuk menyelamatkannya di waktu yang tepat. Selama ini, Hea cukup bersyukur Jimin datang ke dalam hidupnya, tetapi…dua hari yang lalu…

…Hea tidak mensyukuri kedatangan Jimin.

Hea justru frustrasi karena Jimin menyelamatkannya. Seharusnya Jimin tidak usah datang. Seharusnya Jimin tidak usah ada di sana.

Agar Hea bisa berpulang.

Namun, Hea tak bisa…marah kepada Jimin. Ia tahu bahwa Jimin benar-benar hanya ingin menyelamatkannya. Pemuda itu menemaninya, merawatnya, bersedih untuknya, dan merasa takut akan kepergiannya.

 

…padahal ia tahu bahwa pemuda itu juga sakit, sama sepertinya.

 

Apakah akan tiba saatnya di mana Jimin akan berhenti peduli padanya?

Selain itu…

…apakah akan tiba saatnya di mana mereka benar-benar tak bisa lagi bertemu?

 

Kalau benar begitu…siapa yang nantinya akan lebih dahulu pergi?

 

Hea menatap jauh ke depan. Ke tanaman alang-alang yang memenuhi lapangan luas itu. Ia berdiri bersandar di kap mobil hitam milik Jimin, berdampingan dengan pemuda itu.

Sinar mentari sore ini begitu indah. Sinar itu berwarna oranye dan menyinari seisi lapangan itu. Langit yang berwarna oranye, beberapa burung yang terbang di langit, dan Park Jimin dengan t-shirt abu-abunya…

…semuanya elok.

Rambut Jimin berwarna hitam. Embusan angin sore yang sepoi-sepoi itu menerbangkan helaian rambutnya, memperlihatkan wajahnya yang tampan dan bersih. Senyumnya juga…tampak jauh lebih indah di bawah langit sore.

Di suasana yang tenang, indah, dan sepi itu,

…meski sesaat, rasanya Hea…

 

…bisa bernapas dengan baik…

 

Untuk sesaat, rasanya…

 

Hea bisa beristirahat.

 

Ini bagaikan mencicipi surga untuk pertama kalinya. Sesuatu yang tak pernah Hea nikmati sebelum bertemu dengan Jimin.

Seraya tersenyum tipis, dengan bibirnya yang tampak masih sedikit pucat, Hea tiba-tiba memikirkan sebuah hal. Sebuah pertanyaan, sebuah keinginan…yang sebenarnya sudah sering ia pikirkan.

 

Tuhan, apakah surga…lebih dari ini?

Ini saja sudah cukup, Tuhan…

Ini sudah terlihat seperti surga…di mataku.

Apakah ada…sesuatu…yang lebih dari ini?

Surga itu seperti apa, Tuhan…?

Aku tak tahu.

Apakah aku boleh…masuk ke sana?

Apakah aku…takkan bisa mencicipinya setelah aku mati nanti?

 

Ada sebuah denyutan yang menyakitkan di jantung Hea tatkala memikirkan itu. Hea tanpa sadar menunduk dan mencengkeram dadanya sendiri.

Di titik ini, bahkan keindahan pun terasa menyakitkan. Seperti halnya bunga yang mekar, hujan yang menghantam jendela, lagu yang enak didengar…semua itu jadi terasa menyakitkan karena akan mengingatkan mereka pada apa yang pernah mereka rasakan. Rasa sakit akibat mengingat bagaimana rasanya hidup, tetapi tak mampu mencapainya lagi. 

 

“Hea?”

 

Mendengar panggilan yang lembut itu, Hea langsung menoleh ke sebelahnya. Ke arah Jimin. Tatapan mata Hea terlihat kosong; ada lingkaran hitam di area matanya.

Jimin tengah memperhatikannya seraya memiringkan kepala.

Hea hanya diam. Akan tetapi, gadis itu melepas cengkeraman di dadanya.

Ia melihat perubahan tatapan mata Jimin saat itu. Sinar matahari sore tampak memantul di kedua mata cokelat gelap milik Jimin, membuat mata pemuda itu jadi terlihat semakin indah, tetapi ia tahu bahwa tatapan pemuda itu tiba-tiba berubah.

Seolah-olah tahu bahwa Hea bisa merasakan perubahan tatapannya, tiba-tiba saja Jimin tersenyum manis.

Entah bagaimana, Hea pun tahu bahwa mungkin Jimin langsung tersenyum karena tak mau membuat Hea merasa tak nyaman, apalagi Hea baru saja pulang dari rumah sakit.

“Tidak apa-apa,” ucap Jimin seraya menatap ke depan lagi. Pemuda itu masih tersenyum manis; helaian rambut yang menutupi dahinya kembali tertiup angin.

Hea bernapas samar, lalu melihat ke arah yang sama.

Untuk sepuluh detik lamanya, mereka sama-sama diam. Sama-sama menikmati angin dan langit sore itu…serta suasana di sana yang begitu damai. Tanaman alang-alang yang bergoyang ke kanan dan ke kiri, pucuk berwarna putihnya yang seakan-akan memantulkan sinar oranye…

Itu semua sungguh menenangkan jiwa.

Andai saja…hati Hea juga setenang itu.

Andai saja…Hea bisa berada di sini selamanya hingga ia percaya bahwa ia bisa merasakan ketenangan yang sama.

 

Apakah Jimin juga berharap demikian?

 

Soalnya, sama seperti Hea, Jimin juga bukan manusia normal.

Ketika para manusia dengan jiwa yang hancur melihat dunia, mereka tidak melihat harapan. Mereka melihat beban. Tiap kali matahari terbit, itu terasa seperti ‘sesuatu’ yang harus mereka lalui lagi. Setiap napas adalah negosiasi: tinggal atau pergi.

Bukan karena mereka tak ingin hidup. Akan tetapi, bagi mereka, menjalani hidup terasa seperti menyeret tubuh sendiri di dalam air yang semakin lama semakin dalam, sementara orang-orang di sekitar mereka sepertinya bernapas dengan baik-baik saja.

“Kuharap…” Jimin tiba-tiba berbicara. Hea langsung menoleh kepada pemuda itu.

Dua detik lamanya Jimin diam…hingga akhirnya, pemuda itu pun melanjutkan.

 

“Kuharap kau tak menyesali kenyataan bahwa aku menyelamatkanmu, Hea.”

 

Mata Hea melebar.

 

Apakah Jimin…merasakan itu?

 

Ternyata, mereka memang sama.

Sama, sampai-sampai bisa menebak apa yang ada di pikiran satu sama lain.

 

Hea menunduk. Gadis itu meneguk ludahnya.

Tak lama kemudian, Hea menatap ke depan lagi.

 

“Kau mampu menebak apa yang kupikirkan, tahu jalan pikiranku…” ucap Hea. “tetapi masih berharap bahwa aku tidak memikirkannya.”

Jimin menunduk. Tatkala angin masih menerbangkan helaian rambutnya, pelan-pelan matanya mengerjap. Memandangi rumput dan tanaman alang-alang yang ada di bawahnya, tetapi sebetulnya dia tak benar-benar memandang ke sana.

 

“Kau…mau meninggalkanku, ya?”

 

Mendengar pertanyaan itu, Hea pun menunduk. Gadis itu menghela napasnya.

“Apakah aku akan menambah lukamu?” tanya Hea.

Jimin diam sejenak.

Beberapa detik kemudian, pemuda itu mulai mendongak. Menatap langit sore yang berwarna oranye di atas sana.

 

“Hm.”

 

Hea menoleh. Tatapannya pada Jimin jadi begitu nelangsa, nyaris berkaca-kaca.

“Aku tak mengerti denganmu,” ujar Hea kemudian. “Kau tidak baik-baik saja. Seharusnya kau tak punya waktu untuk memedulikanku.”

Jimin tersenyum tipis.

“You know what, Hea?” ujar Jimin. “Seharusnya kau tak perlu muncul di depan mataku, datang ke duniaku, waktu itu. Di restoran itu. Agar aku juga bisa pergi dari dunia ini.”

Hea mendengarkan Jimin dengan saksama.

 

“Akan tetapi, aku tak pernah menyesali pertemuan kita,” lanjut Jimin.

 

Mata Hea melebar.

 

“Jadi, jika kau tahu bahwa aku tidak baik-baik saja…” Jimin tersenyum tipis, semanis dan seringan gulali, lalu membalas tatapan Hea. “kuharap kau takkan menambah lukaku dengan pergi dari dunia ini.”

Tatapan mata mereka pun terkunci. Di antara keindahan dunia yang ada di sekitar mereka; di antara tiupan angin yang lembut itu…Hea bisa melihat kedua mata jernih milik Jimin yang memantulkan sosok Hea, tetapi dipenuhi oleh luka.

Di pantulan mata pemuda itu, Hea terlihat menyedihkan. Gadis itu pucat, tetapi masih sedikit lebih baik daripada dua hari yang lalu. Ia memakai jaket berwarna krim (milik Jimin) yang kebesaran di tubuhnya.

Di sisi lain, Jimin juga melihat dirinya sendiri di kedua mata Hea.

Meski keduanya sama-sama tak tahu apa sebabnya, meski keduanya sama-sama ingin membicarakan banyak hal, mereka tetap berada di posisi itu selama beberapa detik. Memandangi satu sama lain seakan-akan ingin saling menarik, saling mengirimkan getaran berupa keinginan, saling menikmati kenyamanan dan keindahan momen itu, serta saling mengungkapkan pikiran masing-masing.

Hal magnetis itulah yang tak pernah bisa mereka mengerti sejak pertama kali mereka bertemu.

 

Mereka tak bisa berpaling.

 

Hea belum mengalihkan pandangannya dari Jimin. Ia hanya mulai menjawab dengan pelan.

 

“Kau akan lelah.”

 

Jimin menghela napas.

“Apakah aku pernah terlihat lelah karenamu?” tanya pemuda itu.

Hea menggeleng, lalu kembali menatap ke depan.

“Akan. Suatu hari nanti, kau akan lelah,” ujar Hea. Wajah pucatnya itu sama sekali tak berekspresi. “Kau tidak cukup sehat untuk selalu memedulikan orang lain, terutama manusia yang sudah tak bisa diselamatkan sepertiku.”

Jimin ikut menatap ke depan. Tatapannya sangat jauh.

Setelah itu, ia mulai tertawa pelan. Hambar.

“Hea,” katanya. “Dunia yang kita tinggali ini…tidak hanya abu-abu. Ini redup. Rasanya kita seperti bernapas melawannya, bukan bersamanya. Segala sesuatu rasanya tidak selaras, seolah-olah detak jantung yang ada di realitas sudah tak sesuai lagi dengan detak jantung kita.”

Napas Hea tertahan di tenggorokan. Ada sebuah lembing yang seakan-akan menohok jantungnya tatkala mendengar itu.

“Akan tetapi…” Jimin bernapas samar. “sejak awal, aku sudah tahu bahwa yang tidak bisa diselamatkan bukanlah kita, melainkan dunia ini.”

Hea tersenyum pahit.

“Tapi orang lain baik-baik saja, Jimin,” jawabnya. “Mereka hidup di dunia yang sama…tetapi mereka hidup dengan tenang.”

“Bagian itulah yang selalu membuatmu ingin lari, bukan?” ujar Jimin. “Karena kau merasa seperti dibuang…atau seperti orang luar yang tidak seharusnya ada di sini. Kau ingin beristirahat, ingin tenang…dan kau merasa mungkin saja tempatmu bukan di sini.”

Hea menunduk. Semua yang Jimin katakan itu benar. Jimin pasti juga…merasakan itu…

 

Jimin kembali tersenyum tipis.

 

“Percayalah, Hea,” ujar Jimin. “Aku juga merasakan hal yang sama. Kita tak pernah punya alasan untuk bertahan. Aku tahu bahwa bertahan demi seseorang itu konyol dan terkesan seperti meremehkan rasa sakit itu sendiri, tetapi…tidakkah alasan itu cukup untuk kita berdua yang tak pernah mendapatkannya?”

Hea terdiam.

Benar. Bagi Hea dan Jimin, dunia ini kadang-kadang tidak terasa nyata lagi. Seperti masih berputar, tetapi udaranya terasa pengap, seolah-olah sudah terlalu sering digunakan sebelumnya.

Mereka tidak hidup, tetapi juga tidak mati.

Hanya…di sana. Menunggu kapan rasa sakitnya berhenti. Menunggu kapan waktu istirahat tiba.

Sinar pagi yang menyentuh orang lain dengan kehangatan? Bagi mereka, sinar itu dingin. Mengekspos. Itu membuat debu di udara jadi terlihat…begitu juga dengan kekosongan diri mereka.

Suara orang-orang mulai terdengar seperti gema. Percakapan kehilangan bentuknya. Tawa tidak sampai kepada mereka. Rasanya seperti mendengar suara latar dari dimensi lain; dimensi di mana kehidupan masih berarti.

“Namun, Jimin…” ucap Hea. “Bagaimana bisa dunia yang rusak itu bertahan? Bagaimana bisa sesuatu yang sangat hancur itu terus berputar? Aku merasa seperti hantu. Semua orang bergerak, menyentuh, berbicara, tetapi tubuhku lebih terasa seperti cangkang daripada kulit.”

“Dunia masih akan bertahan sampai penciptanya memutuskan untuk menghancurkannya, Hea,” ujar Jimin. “Oleh sebab itu, banyak manusia yang memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Orang-orang juga berhenti meminta bantuan karena kata-kata tidak lagi berguna.”

Hea memandang jauh ke depan sana, tetapi pikirannya membayangkan hal lain. Ia seperti melamunkan sesuatu yang selama ini ia rasakan.

“Ini…seperti film yang harus kutonton dalam mode bisu. Aku bisa melihat kehidupan berlangsung, tapi tak bisa menyentuhnya. Tak bisa menjadi bagian darinya,” ujar Hea. “Setiap pagi, sinar matahari masuk ke kamarku. Terlalu terang, terlalu tajam, seolah-olah mengejekku karena masih hidup. Mengekspos seluruh kegelapanku. Kerusakanku.”

Mereka berdua sama-sama diam…selama dua menit. Hanya memandang ke depan sana…dan merasakan suasana yang mungkin saja takkan mereka rasakan lagi setelah ini.

 

Namun, setelah lama terdiam…

 

…Jimin tiba-tiba berbicara.

 

Suaranya dalam, lirih…tetapi tak terdapat keraguan di dalamnya.

Seolah-olah ia hanya mengatakan sesuatu yang sudah lama ia pikirkan. Sudah lama ingin ia utarakan.

“Aku takkan memaksa untuk menerangimu ataupun mengeksposmu layaknya mentari, Hea…” katanya. “karena aku juga terlalu gelap untuk itu.”

Hea pelan-pelan menoleh kepadanya. Menunggunya untuk melanjutkan.

Ia pun ikut menoleh kepada Hea.

Tatapannya begitu dalam. Saksama. Penuh dengan empati yang bercampur dengan rasa sakit.

Setelah itu, ia pun melanjutkan.

 

“Jadi, aku bisa memelukmu di dalam kegelapan itu.”

 

Dahi Hea berkerut.

 

“Aku akan membersamaimu, Hea,” katanya lagi. “Aku takkan memaksamu untuk menghadapi cahaya matahari. Aku akan membuatmu tenang di dalam kegelapan itu…menyembuhkan diriku bersamamu…sampai kita benar-benar siap untuk melanjutkan hidup lagi.”

Hea menggeleng perlahan. Ia kurang percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

“Jimin—”

“Berhenti merusak dirimu lebih daripada ini, Hea,” pinta Jimin. “Aku tak ingin kau pergi. Berhenti tinggal bersama kedua orang itu. Tinggallah bersamaku. Aku akan melindungimu.”

 

Mata Hea membulat.

 

“Aku tak mau kau tinggal di sana lagi, Hea,” ujar Jimin. “Sudah cukup lama aku tersiksa dengan rasa bersalah dan rasa khawatir. Aku akan menjadi orang yang paling tega di dunia ini jika aku tetap membiarkanmu ada di sana, padahal aku tahu penderitaanmu. Rumah itu adalah nerakamu, Hea. Tolong jangan tolak tawaranku ini. Jangan bilang ‘tidak apa-apa’ lagi. Jangan abaikan rasa khawatirku lagi.”

Hea menunduk. Matanya mulai berkaca-kaca.

Otaknya mulai memutar kembali momen-momen di mana Jimin selalu bertanya padanya: “Apakah kau tidak apa-apa tetap tinggal di rumah itu?”, “Tak bolehkah kau pergi saja dari sana?”, “Tak bisakah kau tetap bersamaku?”, “Hea, sebaiknya kau tidak usah pulang.”, “Jangan kembali ke sana, ya?”

Jimin selalu menanyakan itu saat mereka bertemu maupun saat pemuda itu mengantarnya pulang.

Namun, respons Hea selalu sama. Gadis itu akan tersenyum tipis, sangat lemah, dan berkata, “Tidak apa-apa, Jimin.”

 

Haha. Lucu sekali.

Jelas saja itu bukan ‘tidak apa-apa’.

 

Hea masih diam. Ada lara yang terkandung di kedua matanya. Lara yang tak kunjung sembuh.

Selama ini, ada banyak hal yang menjadi alasannya untuk tidak menerima ajakan Jimin.

Pertama, ia tak ingin merepotkan atau menyusahkan Jimin.

Kedua, ia tak ingin jadi bergantung pada Jimin. Meskipun Jimin sangat baik padanya, rasa percaya Hea terhadap manusia sudah hampir tidak ada. Di otak Hea, orang-orang terdekat pun bisa meninggalkan atau menganiayanya. Jadi, ia takut kalau tiba-tiba, suatu hari nanti…ia jadi bergantung pada Jimin. Bagaimana kalau Jimin melakukan hal yang sama?

Jimin adalah manusia terbaik di dalam hidup Hea…selain ibunya. Akan tetapi, kalau Jimin juga meninggalkannya sama seperti ibunya, bagaimana?

Ia bisa semakin terpuruk.

Ketiga, ia tak ingin Jimin lelah karena merasa harus terus ‘melindunginya’, ‘mengurusinya’, ‘menghiburnya’, dan ‘ada di dekatnya’. Soalnya, Jimin juga punya luka yang harus disembuhkan.

Maka dari itu, selama ini…Hea memilih untuk mengatakan ‘tidak apa-apa’. Lebih baik begitu daripada harus mengambil risiko berupa rusaknya ‘hubungan’ mereka.

Akan tetapi, kali ini, agaknya Jimin tak mau lagi mendengar jawaban ‘tidak apa-apa’ itu.

 

“Tinggallah bersamaku, hm?” pinta Jimin sekali lagi. Suaranya begitu lembut. Nadanya terdengar memohon.

Penuh harap.

Ia menunggu jawaban Hea dengan penuh kesabaran…meskipun seluruh tubuhnya seakan memberontak. Ia sungguh menahan dirinya untuk tidak menarik paksa Hea saat itu juga dan mengunci Hea di dalam rumahnya, bersamanya, agar Hea tidak kembali lagi ke rumah neraka itu. Agar Hea tak tersiksa lagi.

Ia sudah menahan dirinya selama ini.

Sudah satu menit lamanya ia menunggu jawaban dari mulut Hea. Hingga akhirnya, suara Hea pun terdengar.

 

“Baiklah.”

 

Mata Jimin spontan melebar.

Selama ini, ia selalu menunggu jawaban itu. Namun, ketika jawaban itu benar-benar Hea ucapkan, rasanya…ia hampir tak percaya.

Jantungnya nyaris berhenti berdegup. Lidahnya tiba-tiba kelu. Tubuhnya mematung.

Ia kontan mendekat dan menarik Hea ke dalam pelukannya. Ia tak menyangka; dia senang, terkejut, dan juga lega. Ia menunduk; matanya terpejam di atas bahu Hea.

“Terima kasih, Hea,” ujar Jimin. Pemuda itu tersenyum lembut, penuh syukur…karena akhirnya keinginannya jadi kenyataan. Hatinya serasa kehilangan beban yang selama ini ia tahan sendirian. Matanya berkaca-kaca.

Jimin menarik kepalanya sedikit—mundur untuk melihat wajah Hea—lalu kembali tersenyum lembut. Tatapannya begitu teduh, penuh akan rasa syukur.

Melalui tatapannya, ia seperti ingin mengatakan, “Syukurlah… Terima kasih. Terima kasih karena sudah menerima tawaranku. Terima kasih karena sudah mau keluar dari neraka itu atas kemauanmu sendiri. Terima kasih juga karena telah percaya padaku.”

Hea tersenyum tipis. Gadis itu mengangguk perlahan…lalu memegang sebelah tangan Jimin yang memegang pipi kirinya.

“Iya,” jawabnya. Tatapan mereka kembali mengunci satu sama lain. Menarik satu sama lain. Memerangkap satu sama lain.

Mata Jimin sangatlah jernih. Andai saja tatapannya tidak mengandung luka, niscaya mata itu akan terlihat jauh lebih memesona. Binarnya akan sangat terang dan indah.

“Biarkan aku membereskan barang-barangku terlebih dahulu, ya,” ucap Hea pelan. Wajah mereka sangat dekat. “Kau tak perlu menungguku. Aku tak mau mereka melihatmu dan ujung-ujungnya jadi mencarimu saat mereka sadar bahwa aku tak pulang lagi ke sana. Biarkan aku membereskan barang-barangku diam-diam…selama satu hari.”

Hati Jimin terasa sakit saat mendengar itu—karena ternyata, dia harus bersabar sedikit lagi—dan napasnya sedikit tertahan di tenggorokan. Ada denyutan kecil di dadanya yang terasa menyakitkan.

Namun, Jimin mengerti maksud Hea. Dia juga tak mau keberadaan Hea diketahui nantinya. Selama ini, baik itu ayah maupun kakaknya Hea, mereka berdua belum tahu siapa Jimin. Pertemuan Jimin dan Hea selalu dilakukan diam-diam saat mereka berdua tidak ada di rumah.

Jimin pun akhirnya mengangguk pelan.

 

“Baiklah. Aku akan datang padamu besok lusa.”

 

Hea mengembuskan napasnya lega, lalu tersenyum lembut. Gadis itu pun mengangguk.

“Terima kasih banyak, Jimin,” katanya. “Terima kasih, ya…”

Jimin menggeleng. Pemuda itu tersenyum lembut seraya mengembuskan napasnya. “Jangan sampai berpikir yang tidak-tidak, ya. Kau takkan pernah merepotkanku. Kita sama-sama terluka…jadi tidak ada yang ‘mengurus’ atau ‘bergantung’. Aku tahu kau pasti berpikir begitu selama ini, tetapi percayalah, aku hanya ingin kita saling menguatkan. Aku juga takkan melukaimu. Jika aku melukaimu suatu hari nanti, kau boleh membunuhku.”

Mata Hea membeliak. “Jim—”

Jimin menggeleng. Ia menatap Hea dengan saksama. Tajam. Dalam.

“Tidak, Hea. Kau harus mendengarkanku. Bunuh aku jika suatu hari nanti aku memang melukaimu. Jika aku melukaimu, berarti aku tak ada bedanya dengan para iblis itu.”

Hea berpikir keras; gadis itu tak tahu harus menjawab apa. Dahinya berkerut.

“Aku hanya tak ingin kau meragukanku,” lanjut Jimin.

Setelah lima detik terdiam—dan hanya bertatapan dengan Jimin—akhirnya Hea pun menghela napas.

 

“Iya.”

 

Jimin lantas tersenyum lega. Pemuda itu pun kembali memeluk Hea, lalu berbicara di antara helaian rambut Hea.

 

“Jaga dirimu, ya. Mulai lusa, kau akan berada di tempat yang aman. Bersamaku.” []

 














******












No comments:

Post a Comment

She Was Never Mine (Bab 4: Segalanya Untuknya)

  ****** Bab 4 : Segalanya Untuknya   ******   LANTUNAN lagu di radio terdengar begitu merdu saat Josh baru saja memberhentikan mo...