Chapter
4 :
The
World We’re Living In
******
SEPULANG
dari
rumah sakit, Hea dibawa oleh Jimin ke lapangan yang sering mereka
kunjungi. Hea opname sekitar dua hari dan selama itu pula, Jimin selalu berada
di dekatnya. Jiminlah yang membayar semua biaya rumah sakit beserta obat-obatan
Hea; dia bersikeras agar Hea diopname di rumah sakit untuk menyembuhkan semua
luka di tubuh gadis itu.
Tentu
saja, itu bukan pertama kalinya Hea melukai tubuhnya sendiri. Tubuhnya dipenuhi
dengan memar dan goresan benda tajam. Penyebab memar-memar itu adalah karena ‘dianiaya’
oleh ayah dan kakaknya, sementara penyebab goresan-goresan benda tajam itu
adalah karena Hea sering melukai dirinya sendiri. Dia sering melakukan itu
untuk merasakan sesuatu. Setidaknya…dia tidak merasa kosong atau
mati rasa.
Namun,
yang ia lakukan dua hari yang lalu…bukanlah untuk ‘merasakan sesuatu’,
melainkan untuk mencicipi kematian. Untuk menyusul ibunya.
Dia
hanya ingin beristirahat…
Well,
sepertinya,
Tuhan belum mengizinkannya untuk beristirahat. Tuhan masih mengirimkan Park
Jimin untuk menyelamatkannya di waktu yang tepat. Selama ini, Hea cukup
bersyukur Jimin datang ke dalam hidupnya, tetapi…dua hari yang lalu…
…Hea
tidak mensyukuri kedatangan Jimin.
Hea
justru frustrasi karena Jimin menyelamatkannya. Seharusnya Jimin tidak
usah datang. Seharusnya Jimin tidak usah ada di sana.
Agar
Hea bisa berpulang.
Namun,
Hea tak bisa…marah kepada Jimin. Ia tahu bahwa Jimin benar-benar hanya
ingin menyelamatkannya. Pemuda itu menemaninya, merawatnya, bersedih untuknya,
dan merasa takut akan kepergiannya.
…padahal
ia tahu bahwa pemuda itu juga sakit, sama sepertinya.
Apakah
akan tiba saatnya di mana Jimin akan berhenti peduli padanya?
Selain
itu…
…apakah
akan tiba saatnya di mana mereka benar-benar tak bisa lagi bertemu?
Kalau
benar begitu…siapa yang nantinya akan lebih dahulu pergi?
Hea
menatap jauh ke depan. Ke tanaman alang-alang yang memenuhi lapangan luas itu.
Ia berdiri bersandar di kap mobil hitam milik Jimin, berdampingan dengan pemuda
itu.
Sinar
mentari sore ini begitu indah. Sinar itu berwarna oranye dan menyinari seisi
lapangan itu. Langit yang berwarna oranye, beberapa burung yang terbang di
langit, dan Park Jimin dengan t-shirt abu-abunya…
…semuanya
elok.
Rambut
Jimin berwarna hitam. Embusan angin sore yang sepoi-sepoi itu menerbangkan helaian
rambutnya, memperlihatkan wajahnya yang tampan dan bersih. Senyumnya juga…tampak
jauh lebih indah di bawah langit sore.
Di
suasana yang tenang, indah, dan sepi itu,
…meski
sesaat, rasanya Hea…
…bisa
bernapas dengan baik…
Untuk
sesaat, rasanya…
Hea
bisa beristirahat.
Ini
bagaikan mencicipi surga untuk pertama kalinya. Sesuatu yang tak pernah Hea
nikmati sebelum bertemu dengan Jimin.
Seraya
tersenyum tipis, dengan bibirnya yang tampak masih sedikit pucat, Hea tiba-tiba
memikirkan sebuah hal. Sebuah pertanyaan, sebuah keinginan…yang
sebenarnya sudah sering ia pikirkan.
Tuhan,
apakah surga…lebih dari ini?
Ini
saja sudah cukup, Tuhan…
Ini
sudah terlihat seperti surga…di mataku.
Apakah
ada…sesuatu…yang lebih dari ini?
Surga
itu seperti apa, Tuhan…?
Aku
tak tahu.
Apakah
aku boleh…masuk ke sana?
Apakah
aku…takkan bisa mencicipinya setelah aku mati nanti?
Ada
sebuah denyutan yang menyakitkan di jantung Hea tatkala memikirkan itu.
Hea tanpa sadar menunduk dan mencengkeram dadanya sendiri.
Di titik ini, bahkan keindahan pun terasa menyakitkan. Seperti halnya bunga yang mekar, hujan yang menghantam jendela, lagu yang enak didengar…semua itu jadi terasa menyakitkan karena akan mengingatkan mereka pada apa yang pernah mereka rasakan. Rasa sakit akibat mengingat bagaimana rasanya hidup, tetapi tak mampu mencapainya lagi.
“Hea?”
Mendengar
panggilan yang lembut itu, Hea langsung menoleh ke sebelahnya. Ke arah Jimin.
Tatapan mata Hea terlihat kosong; ada lingkaran hitam di area matanya.
Jimin
tengah memperhatikannya seraya memiringkan kepala.
Hea
hanya diam. Akan tetapi, gadis itu melepas cengkeraman di dadanya.
Ia
melihat perubahan tatapan mata Jimin saat itu. Sinar matahari sore tampak
memantul di kedua mata cokelat gelap milik Jimin, membuat mata pemuda itu jadi terlihat
semakin indah, tetapi ia tahu bahwa tatapan pemuda itu tiba-tiba
berubah.
Seolah-olah
tahu bahwa Hea bisa merasakan perubahan tatapannya, tiba-tiba saja Jimin
tersenyum manis.
Entah
bagaimana, Hea pun tahu bahwa mungkin Jimin langsung tersenyum karena tak mau
membuat Hea merasa tak nyaman, apalagi Hea baru saja pulang dari rumah sakit.
“Tidak
apa-apa,” ucap Jimin seraya menatap ke depan lagi. Pemuda itu masih tersenyum
manis; helaian rambut yang menutupi dahinya kembali tertiup angin.
Hea
bernapas samar, lalu melihat ke arah yang sama.
Untuk
sepuluh detik lamanya, mereka sama-sama diam. Sama-sama menikmati angin dan
langit sore itu…serta suasana di sana yang begitu damai. Tanaman alang-alang
yang bergoyang ke kanan dan ke kiri, pucuk berwarna putihnya yang seakan-akan memantulkan
sinar oranye…
Itu
semua sungguh menenangkan jiwa.
Andai
saja…hati Hea juga setenang itu.
Andai
saja…Hea bisa berada di sini selamanya hingga ia percaya bahwa ia bisa merasakan
ketenangan yang sama.
Apakah
Jimin juga berharap demikian?
Soalnya,
sama seperti Hea, Jimin juga bukan manusia normal.
Ketika
para manusia dengan jiwa yang hancur melihat dunia, mereka tidak melihat
harapan. Mereka melihat beban. Tiap kali matahari terbit, itu terasa seperti
‘sesuatu’ yang harus mereka lalui lagi. Setiap napas adalah negosiasi:
tinggal atau pergi.
Bukan
karena mereka tak ingin hidup. Akan tetapi, bagi mereka, menjalani hidup terasa
seperti menyeret tubuh sendiri di dalam air yang semakin lama semakin dalam,
sementara orang-orang di sekitar mereka sepertinya bernapas dengan baik-baik
saja.
“Kuharap…”
Jimin tiba-tiba berbicara. Hea langsung menoleh kepada pemuda itu.
Dua
detik lamanya Jimin diam…hingga akhirnya, pemuda itu pun melanjutkan.
“Kuharap
kau tak menyesali kenyataan bahwa aku menyelamatkanmu, Hea.”
Mata
Hea melebar.
Apakah
Jimin…merasakan itu?
Ternyata,
mereka memang sama.
Sama,
sampai-sampai bisa menebak apa yang ada di pikiran satu sama lain.
Hea
menunduk. Gadis itu meneguk ludahnya.
Tak
lama kemudian, Hea menatap ke depan lagi.
“Kau
mampu menebak apa yang kupikirkan, tahu jalan pikiranku…” ucap Hea.
“tetapi masih berharap bahwa aku tidak memikirkannya.”
Jimin
menunduk. Tatkala angin masih menerbangkan helaian rambutnya,
pelan-pelan matanya mengerjap. Memandangi rumput dan tanaman alang-alang yang
ada di bawahnya, tetapi sebetulnya dia tak benar-benar memandang ke sana.
“Kau…mau
meninggalkanku, ya?”
Mendengar
pertanyaan itu, Hea pun menunduk. Gadis itu menghela napasnya.
“Apakah
aku akan menambah lukamu?” tanya Hea.
Jimin
diam sejenak.
Beberapa
detik kemudian, pemuda itu mulai mendongak. Menatap langit sore yang berwarna
oranye di atas sana.
“Hm.”
Hea
menoleh. Tatapannya pada Jimin jadi begitu nelangsa, nyaris berkaca-kaca.
“Aku
tak mengerti denganmu,” ujar Hea kemudian. “Kau tidak baik-baik saja. Seharusnya
kau tak punya waktu untuk memedulikanku.”
Jimin
tersenyum tipis.
“You
know what, Hea?” ujar Jimin. “Seharusnya kau tak perlu muncul di
depan mataku, datang ke duniaku, waktu itu. Di restoran itu. Agar aku
juga bisa pergi dari dunia ini.”
Hea
mendengarkan Jimin dengan saksama.
“Akan
tetapi, aku tak pernah menyesali pertemuan kita,” lanjut Jimin.
Mata
Hea melebar.
“Jadi,
jika kau tahu bahwa aku tidak baik-baik saja…” Jimin tersenyum tipis, semanis
dan seringan gulali, lalu membalas tatapan Hea. “kuharap kau takkan
menambah lukaku dengan pergi dari dunia ini.”
Tatapan
mata mereka pun terkunci. Di antara keindahan dunia yang ada di sekitar
mereka; di antara tiupan angin yang lembut itu…Hea bisa melihat kedua mata
jernih milik Jimin yang memantulkan sosok Hea, tetapi dipenuhi oleh
luka.
Di
pantulan mata pemuda itu, Hea terlihat menyedihkan. Gadis itu pucat, tetapi
masih sedikit lebih baik daripada dua hari yang lalu. Ia memakai jaket
berwarna krim (milik Jimin) yang kebesaran di tubuhnya.
Di
sisi lain, Jimin juga melihat dirinya sendiri di kedua mata Hea.
Meski
keduanya sama-sama tak tahu apa sebabnya, meski keduanya sama-sama ingin
membicarakan banyak hal, mereka tetap berada di posisi itu selama beberapa
detik. Memandangi satu sama lain seakan-akan ingin saling menarik, saling
mengirimkan getaran berupa keinginan, saling menikmati kenyamanan dan keindahan
momen itu, serta saling mengungkapkan pikiran masing-masing.
Hal
magnetis itulah yang tak pernah bisa mereka mengerti sejak pertama kali mereka
bertemu.
Mereka
tak bisa berpaling.
Hea
belum mengalihkan pandangannya dari Jimin. Ia hanya mulai menjawab dengan pelan.
“Kau
akan lelah.”
Jimin
menghela napas.
“Apakah
aku pernah terlihat lelah karenamu?” tanya pemuda itu.
Hea
menggeleng, lalu kembali menatap ke depan.
“Akan.
Suatu
hari nanti, kau akan lelah,” ujar Hea. Wajah pucatnya itu sama sekali tak
berekspresi. “Kau tidak cukup sehat untuk selalu memedulikan orang lain,
terutama manusia yang sudah tak bisa diselamatkan sepertiku.”
Jimin
ikut menatap ke depan. Tatapannya sangat jauh.
Setelah
itu, ia mulai tertawa pelan. Hambar.
“Hea,”
katanya. “Dunia yang kita tinggali ini…tidak hanya abu-abu. Ini redup.
Rasanya kita seperti bernapas melawannya, bukan bersamanya. Segala
sesuatu rasanya tidak selaras, seolah-olah detak jantung yang ada di realitas
sudah tak sesuai lagi dengan detak jantung kita.”
Napas
Hea tertahan di tenggorokan. Ada sebuah lembing yang seakan-akan menohok jantungnya
tatkala mendengar itu.
“Akan
tetapi…” Jimin bernapas samar. “sejak awal, aku sudah tahu bahwa yang tidak
bisa diselamatkan bukanlah kita, melainkan dunia ini.”
Hea
tersenyum pahit.
“Tapi
orang
lain baik-baik saja, Jimin,” jawabnya. “Mereka hidup di dunia yang sama…tetapi
mereka hidup dengan tenang.”
“Bagian
itulah yang selalu membuatmu ingin lari, bukan?” ujar Jimin. “Karena kau
merasa seperti dibuang…atau seperti orang luar yang tidak
seharusnya ada di sini. Kau ingin beristirahat, ingin tenang…dan kau merasa
mungkin saja tempatmu bukan di sini.”
Hea
menunduk. Semua yang Jimin katakan itu benar. Jimin pasti juga…merasakan
itu…
Jimin
kembali tersenyum tipis.
“Percayalah,
Hea,” ujar Jimin. “Aku juga merasakan hal yang sama. Kita tak pernah punya
alasan untuk bertahan. Aku tahu bahwa bertahan demi seseorang itu konyol
dan terkesan seperti meremehkan rasa sakit itu sendiri, tetapi…tidakkah alasan
itu cukup untuk kita berdua yang tak pernah mendapatkannya?”
Hea
terdiam.
Benar.
Bagi Hea dan Jimin, dunia ini kadang-kadang tidak terasa nyata lagi. Seperti
masih berputar, tetapi udaranya terasa pengap, seolah-olah sudah terlalu sering
digunakan sebelumnya.
Mereka
tidak hidup, tetapi juga tidak mati.
Hanya…di
sana. Menunggu kapan rasa sakitnya berhenti. Menunggu kapan waktu istirahat
tiba.
Sinar
pagi yang menyentuh orang lain dengan kehangatan? Bagi mereka, sinar itu
dingin. Mengekspos. Itu membuat debu di udara jadi terlihat…begitu juga dengan
kekosongan diri mereka.
Suara
orang-orang mulai terdengar seperti gema. Percakapan kehilangan bentuknya. Tawa
tidak sampai kepada mereka. Rasanya seperti mendengar suara latar dari dimensi
lain; dimensi di mana kehidupan masih berarti.
“Namun,
Jimin…” ucap Hea. “Bagaimana bisa dunia yang rusak itu bertahan? Bagaimana
bisa sesuatu yang sangat hancur itu terus berputar? Aku merasa seperti hantu.
Semua orang bergerak, menyentuh, berbicara, tetapi tubuhku lebih terasa seperti
cangkang daripada kulit.”
“Dunia
masih akan bertahan sampai penciptanya memutuskan untuk menghancurkannya, Hea,”
ujar Jimin. “Oleh sebab itu, banyak manusia yang memilih untuk mengakhiri
hidupnya sendiri. Orang-orang juga berhenti meminta bantuan karena kata-kata
tidak lagi berguna.”
Hea
memandang jauh ke depan sana, tetapi pikirannya membayangkan hal lain. Ia
seperti melamunkan sesuatu yang selama ini ia rasakan.
“Ini…seperti
film yang harus kutonton dalam mode bisu. Aku bisa melihat kehidupan
berlangsung, tapi tak bisa menyentuhnya. Tak bisa menjadi bagian darinya,” ujar
Hea. “Setiap pagi, sinar matahari masuk ke kamarku. Terlalu terang,
terlalu tajam, seolah-olah mengejekku karena masih hidup. Mengekspos
seluruh kegelapanku. Kerusakanku.”
Mereka
berdua sama-sama diam…selama dua menit. Hanya memandang ke depan sana…dan merasakan
suasana yang mungkin saja takkan mereka rasakan lagi setelah ini.
Namun,
setelah lama terdiam…
…Jimin
tiba-tiba berbicara.
Suaranya
dalam, lirih…tetapi tak terdapat keraguan di dalamnya.
Seolah-olah
ia hanya mengatakan sesuatu yang sudah lama ia pikirkan. Sudah lama ingin ia
utarakan.
“Aku
takkan memaksa untuk menerangimu ataupun mengeksposmu layaknya
mentari, Hea…” katanya. “karena aku juga terlalu gelap untuk itu.”
Hea
pelan-pelan menoleh kepadanya. Menunggunya untuk melanjutkan.
Ia
pun ikut menoleh kepada Hea.
Tatapannya
begitu dalam. Saksama. Penuh dengan empati yang bercampur dengan rasa
sakit.
Setelah
itu, ia pun melanjutkan.
“Jadi,
aku bisa memelukmu di dalam kegelapan itu.”
Dahi
Hea berkerut.
“Aku
akan membersamaimu, Hea,” katanya lagi. “Aku takkan memaksamu untuk
menghadapi cahaya matahari. Aku akan membuatmu tenang di dalam kegelapan
itu…menyembuhkan diriku bersamamu…sampai kita benar-benar siap untuk
melanjutkan hidup lagi.”
Hea
menggeleng perlahan. Ia kurang percaya dengan apa yang baru saja ia
dengar.
“Jimin—”
“Berhenti
merusak dirimu lebih daripada ini, Hea,” pinta Jimin. “Aku tak ingin kau pergi.
Berhenti tinggal bersama kedua orang itu. Tinggallah bersamaku. Aku akan
melindungimu.”
Mata
Hea membulat.
“Aku
tak mau kau tinggal di sana lagi, Hea,” ujar Jimin. “Sudah cukup lama aku tersiksa
dengan rasa bersalah dan rasa khawatir. Aku akan menjadi orang yang
paling tega di dunia ini jika aku tetap membiarkanmu ada di sana,
padahal aku tahu penderitaanmu. Rumah itu adalah nerakamu, Hea.
Tolong jangan tolak tawaranku ini. Jangan bilang ‘tidak apa-apa’ lagi. Jangan
abaikan rasa khawatirku lagi.”
Hea
menunduk. Matanya mulai berkaca-kaca.
Otaknya
mulai memutar kembali momen-momen di mana Jimin selalu bertanya padanya: “Apakah
kau tidak apa-apa tetap tinggal di rumah itu?”, “Tak bolehkah kau pergi saja
dari sana?”, “Tak bisakah kau tetap bersamaku?”, “Hea, sebaiknya kau tidak usah
pulang.”, “Jangan kembali ke sana, ya?”
Jimin
selalu menanyakan itu saat mereka bertemu maupun saat pemuda itu mengantarnya
pulang.
Namun,
respons Hea selalu sama. Gadis itu akan tersenyum tipis, sangat lemah, dan
berkata, “Tidak apa-apa, Jimin.”
Haha.
Lucu sekali.
Jelas
saja itu bukan ‘tidak apa-apa’.
Hea
masih diam. Ada lara yang terkandung di kedua matanya. Lara yang tak
kunjung sembuh.
Selama
ini, ada banyak hal yang menjadi alasannya untuk tidak menerima ajakan Jimin.
Pertama,
ia tak ingin merepotkan atau menyusahkan Jimin.
Kedua,
ia tak ingin jadi bergantung pada Jimin. Meskipun Jimin sangat baik
padanya, rasa percaya Hea terhadap manusia sudah hampir tidak ada. Di otak Hea,
orang-orang terdekat pun bisa meninggalkan atau menganiayanya. Jadi, ia
takut kalau tiba-tiba, suatu hari nanti…ia jadi bergantung pada Jimin.
Bagaimana kalau Jimin melakukan hal yang sama?
Jimin
adalah manusia terbaik di dalam hidup Hea…selain ibunya. Akan tetapi, kalau
Jimin juga meninggalkannya sama seperti ibunya, bagaimana?
Ia
bisa semakin terpuruk.
Ketiga,
ia tak ingin Jimin lelah karena merasa harus terus ‘melindunginya’,
‘mengurusinya’, ‘menghiburnya’, dan ‘ada di dekatnya’. Soalnya, Jimin juga
punya luka yang harus disembuhkan.
Maka
dari itu, selama ini…Hea memilih untuk mengatakan ‘tidak apa-apa’. Lebih baik begitu
daripada harus mengambil risiko berupa rusaknya ‘hubungan’ mereka.
Akan
tetapi, kali ini, agaknya Jimin tak mau lagi mendengar jawaban ‘tidak
apa-apa’ itu.
“Tinggallah
bersamaku, hm?” pinta Jimin sekali lagi. Suaranya begitu lembut. Nadanya
terdengar memohon.
Penuh
harap.
Ia
menunggu jawaban Hea dengan penuh kesabaran…meskipun seluruh tubuhnya
seakan memberontak. Ia sungguh menahan dirinya untuk tidak menarik paksa
Hea saat itu juga dan mengunci Hea di dalam rumahnya, bersamanya, agar Hea
tidak kembali lagi ke rumah neraka itu. Agar Hea tak tersiksa lagi.
Ia
sudah menahan dirinya selama ini.
Sudah
satu menit lamanya ia menunggu jawaban dari mulut Hea. Hingga akhirnya, suara
Hea pun terdengar.
“Baiklah.”
Mata
Jimin spontan melebar.
Selama
ini, ia selalu menunggu jawaban itu. Namun, ketika jawaban itu
benar-benar Hea ucapkan, rasanya…ia hampir tak percaya.
Jantungnya
nyaris berhenti berdegup. Lidahnya tiba-tiba kelu. Tubuhnya mematung.
Ia
kontan mendekat dan menarik Hea ke dalam pelukannya. Ia tak menyangka;
dia senang, terkejut, dan juga lega. Ia menunduk; matanya terpejam di atas bahu
Hea.
“Terima
kasih, Hea,” ujar Jimin. Pemuda itu tersenyum lembut, penuh
syukur…karena akhirnya keinginannya jadi kenyataan. Hatinya serasa
kehilangan beban yang selama ini ia tahan sendirian. Matanya berkaca-kaca.
Jimin
menarik kepalanya sedikit—mundur untuk melihat wajah Hea—lalu kembali tersenyum
lembut. Tatapannya begitu teduh, penuh akan rasa syukur.
Melalui
tatapannya, ia seperti ingin mengatakan, “Syukurlah… Terima kasih. Terima
kasih karena sudah menerima tawaranku. Terima kasih karena sudah mau keluar
dari neraka itu atas kemauanmu sendiri. Terima kasih juga karena telah percaya
padaku.”
Hea
tersenyum tipis. Gadis itu mengangguk perlahan…lalu memegang sebelah tangan
Jimin yang memegang pipi kirinya.
“Iya,”
jawabnya. Tatapan mereka kembali mengunci satu sama lain. Menarik satu
sama lain. Memerangkap satu sama lain.
Mata
Jimin sangatlah jernih. Andai saja tatapannya tidak mengandung luka, niscaya mata
itu akan terlihat jauh lebih memesona. Binarnya akan sangat terang dan
indah.
“Biarkan
aku membereskan barang-barangku terlebih dahulu, ya,” ucap Hea pelan. Wajah mereka
sangat dekat. “Kau tak perlu menungguku. Aku tak mau mereka melihatmu
dan ujung-ujungnya jadi mencarimu saat mereka sadar bahwa aku tak pulang lagi
ke sana. Biarkan aku membereskan barang-barangku diam-diam…selama satu hari.”
Hati
Jimin terasa sakit saat mendengar itu—karena ternyata, dia harus bersabar sedikit
lagi—dan napasnya sedikit tertahan di tenggorokan. Ada denyutan kecil di
dadanya yang terasa menyakitkan.
Namun,
Jimin mengerti maksud Hea. Dia juga tak mau keberadaan Hea diketahui nantinya.
Selama ini, baik itu ayah maupun kakaknya Hea, mereka berdua belum tahu siapa
Jimin. Pertemuan Jimin dan Hea selalu dilakukan diam-diam saat mereka berdua
tidak ada di rumah.
Jimin
pun akhirnya mengangguk pelan.
“Baiklah.
Aku akan datang padamu besok lusa.”
Hea
mengembuskan napasnya lega, lalu tersenyum lembut. Gadis itu pun mengangguk.
“Terima
kasih banyak, Jimin,” katanya. “Terima kasih, ya…”
Jimin
menggeleng. Pemuda itu tersenyum lembut seraya mengembuskan napasnya. “Jangan
sampai berpikir yang tidak-tidak, ya. Kau takkan pernah merepotkanku. Kita sama-sama
terluka…jadi tidak ada yang ‘mengurus’ atau ‘bergantung’. Aku tahu kau pasti
berpikir begitu selama ini, tetapi percayalah, aku hanya ingin kita saling menguatkan.
Aku juga takkan melukaimu. Jika aku melukaimu suatu hari nanti, kau boleh membunuhku.”
Mata
Hea membeliak. “Jim—”
Jimin
menggeleng. Ia menatap Hea dengan saksama. Tajam. Dalam.
“Tidak,
Hea. Kau harus mendengarkanku. Bunuh aku jika suatu hari nanti
aku memang melukaimu. Jika aku melukaimu, berarti aku tak ada bedanya
dengan para iblis itu.”
Hea
berpikir keras; gadis itu tak tahu harus menjawab apa. Dahinya berkerut.
“Aku
hanya tak ingin kau meragukanku,” lanjut Jimin.
Setelah
lima detik terdiam—dan hanya bertatapan dengan Jimin—akhirnya Hea pun menghela
napas.
“Iya.”
Jimin
lantas tersenyum lega. Pemuda itu pun kembali memeluk Hea, lalu berbicara di
antara helaian rambut Hea.
“Jaga
dirimu, ya. Mulai lusa, kau akan berada di tempat yang aman. Bersamaku.”
[]






No comments:
Post a Comment