Tuesday, October 21, 2025

My Cold CEO, My Perfect Seducer (Chapter 17: Unpredictable Man)

 


******

Chapter 17 :

Unpredictable Man

 

******

 

Violette:

AKU duduk di sebelah Nathan. Nathan terbaring di ruang tamu rumah Paman Locardo.

Aku gemetar. Lidahku kelu. Aku ingin bicara, tetapi suaraku tidak keluar.

Nathan benar-benar tak sadarkan diri sejak masuk ke mobil polisi. Aku tak tahu apa tujuan Justin sebelumnya. Dia menyuruhku untuk masuk ke mobil polisi bersama Nathan.

Tadi, saat kami turun dari mobil polisi, Paman dan Bibi Locardo menyambut kami dengan panik. Aku langsung membantu para polisi untuk membaringkan Nathan di ruang tamu. Paman Locardo ternyata sudah memanggil ambulans dan beberapa dokter. Para dokter itu mengobati Nathan di rumah (karena jarak ke rumah sakit lebih jauh daripada ke rumah Paman Locardo). Semuanya khawatir dan panik. Selama Nathan diobati, Bibi Locardo memberiku minum dan menyelimutiku, mencoba untuk menenangkanku, padahal aku tak bisa tenang sama sekali. Aku khawatir sekali pada Nathan; aku tak selera melakukan apa pun, termasuk beristirahat.

Saat Nathan sudah selesai diobati, para dokter dan polisi itu pun pergi. Nathan sudah bersih dan sudah berganti pakaian. Dia juga sudah dibaringkan di salah satu kamar tamu rumah Paman Locardo. Aku duduk di samping Nathan.

Kupandangi Nathan lekat-lekat. Kupegang tangannya yang terasa dingin itu, lalu kucium keningnya.

Air mataku jatuh begitu saja.

Dia terlihat sangat kurus. Rambutnya panjang. Pipinya cekung.

Apa saja yang telah menimpamu, Paman? Apa yang mereka lakukan padamu? Apakah kau banyak merasakan sakit?

 

Maafkan aku…

 

Aku ingin Nathan bangun...dan melihatku di sini bersamanya. Aku akan menuruti apa pun kemauannya.

"Paman...aku di sini. Cepat sembuh, ya?" Aku menangis terisak-isak. Aku menunduk, lalu menempelkan jemari tangan Nathan di dahiku. "I'm sorry... I'm sorry..."

Aku sangat bersyukur karena telah menyelamatkannya. Aku ingin dia tahu bahwa aku sangat mengkhawatirkannya. Aku juga ingin bercerita...tentang betapa sulitnya hari-hari yang kulalui tanpanya. Aku serasa kehilangan tonggak hidupku ketika dia menghilang. Aku ingin mengadu tentang semuanya...tentang apa yang kulakukan selama ini...tentang aku yang menikah tanpa dia...

Semuanya...

"Paman, aku sudah menikah. Aku minta maaf... Maaf karena kau tidak menyaksikannya saat itu…dan tidak bisa menjadi waliku. Aku merindukanmu. Aku sudah punya suami, Paman. You know what? Aku menikah dengan Justin, Paman. Kau pasti kaget, ‘kan?"

Aku menangis lagi. Kugenggam jemari Nathan dengan erat. Aku takkan membiarkan siapa pun mengambilnya lagi dariku.

Tiba-tiba, pintu kamar tamu itu terbuka. Aku melihat Bibi Locardo masuk dan menghampiriku. Dia memelukku sejenak, lalu mengusap punggungku dengan lembut.

"Dia pasti bangun besok. Bersabarlah..." ujar Bibi Locardo. Aku menarik napasku dan mengangguk pelan.

"Ya...dia pasti bangun, Bibi." Aku mengangguk dengan yakin. Aku tersenyum pada Bibi Locardo dan dia mulai mengusap kepalaku.

"Tidurlah. Justin mungkin sebentar lagi akan pulang," katanya. Ia lalu berjalan ke ujung ruangan untuk mematikan sakelar. Setelah itu, dia kembali menatapku. "Kau mau tidur di mana, Vio?"

Aku melihat sosoknya di kegelapan dan menjawab, "Kurasa aku akan tidur di sini saja, Bibi."

Dia mengangguk. "Baiklah. Kuat-kuat, ya. Kau harus percaya bahwa Nathan akan sembuh dan kembali beraktivitas seperti biasa."

Bibi Locardo menghampiriku lagi dan mencium keningku singkat.

Aku lantas mengangguk dan tersenyum lembut padanya. Dia mengusap bahuku dengan pelan, kemudian melangkah ke pintu kamar.

"Good night, Sweetheart," ujarnya. Dia keluar setelah mendengar jawabanku, lalu dia menutup pintu itu.

Kamar ini kembali terasa sunyi. Nyaris sepanjang malam, aku menatap Nathan, membenarkan selimutnya, dan berdoa untuk kesembuhannya. Namun, pada akhirnya, aku tertidur.

 

******

 

Pagi ini, aku terbangun di samping Nathan.

Nathan belum bangun. Aku pun membenarkan selimutnya, lalu mengikat rambutku dan mencuci muka. Begitu keluar dari kamar, aku pergi ke dapur dan menemukan Bibi Locardo di sana. Aku akhirnya membantunya untuk menyiapkan sarapan.

Aku belum melihat Justin. Aku khawatir, tetapi Paman dan Bibi Locardo berusaha untuk menenangkanku dengan mengatakan bahwa Justin mungkin sedang ada urusan.

Masalahnya, Justin tidak cerita ‘urusan’ apa yang sedang dia selesaikan.

Setelah sarapan bersama, Paman Locardo pun pergi bekerja. Aku bergegas mandi.

Setelah mandi, aku mendengar dari Bibi Locardo bahwa ponselku—yang tertinggal di kamar Nathan—berbunyi. Aku langsung berlari ke sana, berharap bahwa itu adalah Justin, tetapi setelah aku sampai di sana, aku menatap layar ponselku dan ternyata itu bukan Justin. Itu adalah nomor yang tak kukenal.

Aku pun mengangkat panggilan telepon itu.

"Halo?" kataku. Dahiku berkerut.

"Selamat pagi, Ibu. Apakah Anda Mrs. Alexander?”

“Iya. Ada apa, ya?” jawabku. Aku merasa aneh.

“Baik, Bu. Kami dari Bellevue Hospital. Kami ingin memberitahukan pada Anda bahwa Mr. Alexander, Tuan Justin Alexander, mengalami kecelakaan mobil pada dini hari ini. Kami baru saja mendapatkan kontak kerabatnya dan langsung menghubungi Anda. Kondisi Tuan Justin saat ini—"

Ponselku terjatuh ke lantai.

Napasku tiba-tiba sesak. Tanganku bergetar. Jantungku serasa berhenti berdetak.

Merasa linglung, aku langsung berlari ke luar. Bibi Locardo menanyaiku ‘ada apa’ dan aku hanya bisa menjawab 'Justin kecelakaan tadi malam.’ dengan panik. Aku hampir menangis. Bibi Locardo terkejut bukan main; dia langsung menghubungi Paman Locardo.

Secepat kilat, mobil Paman Locardo sudah ada di teras dan dengan panik kami semua naik mobil itu. Evan juga terlihat pucat. Kami meninggalkan Nathan di rumah bersama para asisten rumah tangga yang bekerja di sana.

"Paman, Bibi, nanti biar aku saja yang menjaga Justin ketika kalian pulang ke rumah. Kumohon tolong aku, tolong jaga Pamanku..." pintaku. Awalnya, mereka agak kaget, tetapi pada akhirnya mereka mengangguk.

"Baiklah. Jaga Justin baik-baik, ya,” ujar Paman Locardo dengan tegas. Dia menyetujuiku.

Aku mengangguk. “Baik, Paman.”

Setelah sampai di rumah sakit, kami langsung menanyai resepsionis. Begitu diberitahu di mana ruangan Justin, tanpa membuang waktu lagi, kami langsung ke sana.

Paman Locardo membuka pintu ruangan Justin dan aroma segar dari ruangan itu langsung tercium. Aku langsung berlari dan berdiri di samping ranjang Justin. Dia memiliki luka yang sudah diperban di kepala dan lengannya. Dia sadar; dia melihatku datang. Agaknya, dia sudah baik-baik saja, tetapi wajahnya tidak segar. Dia sedikit pucat.

"Apa yang terjadi, Justin?" tanya Bibi Locardo dengan panik. Bibi Locardo menangis dan memegangi lengan Justin. Evan memeluk dada Justin meskipun tahu tangan kecilnya takkan sampai.

Paman Locardo menghela napas. "Kau tak pernah memikirkan dirimu sendiri saat bertindak, Justin, apa kau sudah gila? Kalau kau mati bagaimana?!”

Justin menatap Paman Locardo dan jakunnya terlihat naik turun.

"Lihat? Kau bahkan masih menegakkan sifat dinginmu itu padaku di saat seperti ini! Sekarang, lihat. Kau sedang sakit, tetapi masih juga keras kepala?!!!" teriak Paman Locardo.

Aku hanya menunduk. Nyatanya, aku mengakui bahwa Justin memang keras kepala. Paman Locardo benar.

"I'm fine. Aku hanya tak mau menceritakannya padamu karena kau pasti akan melarangku." Justin akhirnya menjawab, suaranya terdengar serak.

“…Melarangmu?" tanya Paman Locardo. Alisnya menyatu.

"Hm. Karena aku tahu kalau kau begitu protektif,” ujar Justin. Dia memalingkan wajahnya. Satu kalimat itu berhasil membuat Paman Locardo terdiam. Meskipun tidak gamblang, tetapi dari kata-kata itu, semua orang bisa menyimpulkan bahwa: Justin memperhatikan Locardo. Justin tahu sifat Locardo. Mungkin...Justin mulai melepas kebenciannya kepada Paman Locardo sedikit demi sedikit.

Mataku membeliak ketika melihat setitik air mata jatuh ke pipi Paman Locardo.

Paman Locardo menggeleng, lalu menghela napas. Dia pun menarik Bibi Locardo.

"Ayo, kita serahkan ini kepada Violette. Kita harus menjaga Mr. Morgan," ujar Paman Locardo. Bibi Locardo lantas menatapku sejenak. Matanya lalu meneliti Justin dan ia akhirnya mengangguk.

"Okay," katanya. Dia mulai menarik Evan. "Kami pulang dulu, ya, Violette. Jaga Justin, oke?”

Aku mengangguk.

"Ya, Bibi. Terima kasih." Aku tersenyum pada mereka. Mereka berdua mengangguk, lalu mulai meninggalkan ruangan.

Aku pun menghela napas.

Kutatap Justin dengan tatapan sendu. Dia masih diam. Aku menghampiri sebuah kursi yang ada di sudut ruangan dan ketika aku baru saja mau menyeretnya, tiba-tiba suara dinginnya terdengar.

"Kau pucat."

Mendadak darahku serasa mendidih.

Aku langsung berbalik, kuentakkan kakiku saat menghampiri ranjangnya. Aku memelototinya.

"KAU SENDIRI?! APA YANG KAU LAKUKAN DI SINI? Kau seribu kali lebih pucat dariku!!! Ke mana kau pergi tadi malam?!!! Apa kau gila, Pak Genius?!!!" teriakku. Namun, dia hanya mengangkat sebelah alisnya.

"Jadi, begitu caramu memperlakukan suamimu yang sedang sakit? Seharusnya kau memanjakanku," jawabnya enteng.

Aku menganga; aku langsung berkacak pinggang di depannya.

"Well, fine, suamiku yang sedang sakit, sekarang dengarkan aku!!! APA KAU TAHU SEBERAPA KHAWATIR KAMI SEMUA? CEPAT KATAKAN PADAKU HAL GILA APA YANG KAU LAKUKAN SEMALAM!!!"

"Tenanglah, Nona," ujarnya datar. Sialnya, pipiku sempat memerah saat mendengar panggilan itu. Namun, aku kembali memfokuskan pendengaranku karena aku tahu dia akan menjelaskan sesuatu.

Dia menatapku dengan saksama. Parahnya, hatiku masih sempat bergetar saat melihat matanya. Mata indahnya itu selalu bisa menghipnotis semua orang.

"Elika ada di ruang sebelah," katanya.

Aku terperanjat. Justin lalu melanjutkan, "Dia dijaga oleh beberapa polisi. Saat dia terbangun nanti, mungkin dia akan langsung dibawa ke kantor polisi."

Aku mengangguk pelan, menunggu lanjutan ceritanya.

Justin mulai menghela napas. "Semalam aku mengejarnya. Aku mengambil alih kemudinya…dan kau pasti tahu apa kelanjutannya."

Oh, aku tahu. Hal seperti ini sudah sering dia lakukan ketika di Red Lion. Itu memang nekat bukan main. Namun, yang dihadapinya itu adalah Elika, wanita yang sejujurnya hanya bermodalkan cinta.

Aku mengangguk. "Baik. Jadi, kau sudah merencanakan itu sejak awal?"

Dia mengangguk.

Aku menarik napas dalam-dalam, lalu langsung kembali memelototinya. "Jadi, sekarang kau tahu apa kesalahanmu?!"

Dia malah mengernyitkan dahi. Sialan.

"KAU MENCOBA UNTUK BUNUH DIRI, SIR!!" teriakku. Matanya menyipit saat mendengar ucapanku.

"Aku tidak bunuh diri, Violette."

"KAU BUNUH DIRI!!"

"Tidak."

"JUSTIN!!!" teriakku frustrasi. Akan tetapi, mataku membelalak ketika tiba-tiba tubuhku ditarik dengan secepat kilat. Aku tak sempat melawan. Saat tersadar, aku sudah duduk menyamping di atas pangkuan Justin; Justin menggenggam tanganku dan matanya menatapku dalam. Dia memenjarakanku dengan tatapannya. Aku belum bisa mencerna apa yang sedang terjadi.

"Kau selalu berisik tiap kali aku melihatmu," bisiknya.

Aku kontan meneguk ludahku. Kulihat ada kilat jenaka di bola mata Justin. Napasku spontan tertahan di tenggorokan.

 

Dia…

tampan sekali.

 

Aku tak pernah menyangka bahwa dialah yang akan menjadi suamiku. Dahulu, sempat kusangka kalau dia akan bersama Hillda (entah bagaimana caranya), tetapi takdir berkata lain. Dia sekarang berada di depanku, menatapku sambil tersenyum miring, dan tangannya mulai beralih memegang pinggangku dengan lembut.

Jantungku berdebar-debar ketika dia menyentuhku seperti itu.

Pelan-pelan, dia mendekatkan wajahnya ke wajahku. Aku sontak menunduk dan menutup mata; kulit wajahnya yang lembut serta napasnya yang hangat itu sudah menyentuh area wajahku.

Situasi ini membuat tubuhku jadi sedikit gemetar. Justin meremas pinggangku…dan jempolnya mengusap pelan area itu. Aku nyaris kehilangan akal sehatku sampai akhirnya aku mendengar suara ketukan di pintu.

Ada beberapa suara ketukan sepatu yang masuk ke ruangan dan aku terperanjat. Aku spontan mendorong Justin dan menatap ke samping. Mataku membelalak saat mendapati dua perawat yang terdiam di sana sambil melihat kami. Aku mengernyitkan dahi; aku agak heran mengapa mereka terdiam di sana. Ada apa?

Aku refleks memandangi diriku sendiri dan Justin…lalu aku tersadar.

 

Posisi kami!!

 

Aku melihat ke arah dua perawat itu lagi. Mereka berdua tanpa sadar menjatuhkan catatan mereka, lalu langsung menaruh kedua tangan mereka di pipi. Mereka mulai senyum-senyum, kesengsem sendiri.

"Duh, mesranya..." ujar salah satu dari mereka. Perawat yang satu lagi mengangguk cepat, menyetujui perkataan temannya. Mereka berdua terus memandangi kami dan aku yakin kalau pipiku telah memerah seperti kepiting rebus karena wajahku panas sekali. Rasanya seperti sedang dibakar!!

Akan tetapi, tiba-tiba Justin bergerak. Dia membenarkan posisi dudukku di atas tubuhnya.

Para perawat itu berteriak histeris, mata mereka berbinar-binar saat menatap Justin melakukan itu. Aku kontan menoleh kepada Justin.

Dahiku berkerut saat mendapati Justin justru tersenyum pada kedua perawat itu.

"Ada apa, Suster?” tanya Justin. Para perawat itu tersentak, lalu spontan mengambil catatan mereka yang terjatuh. Setelah itu, sambil senyum-senyum sendiri, mereka mulai melihat catatan mereka.

Aku mencoba untuk bangkit dari pangkuan Justin, tetapi tangan Justin langsung mencengkeram pinggangku kalau aku bergerak sedikit saja.

Aku pun akhirnya menyerah dan hanya bisa menunduk. Aduh, aku malu sekali! Kami sedang berada di rumah sakit, bukan di rumah kami sendiri!!

Salah satu dari perawat itu lalu berkata, "Umm... Mr. Alexander sudah diperbolehkan pulang hari ini. Dokter akan berkunjung sebentar lagi untuk memastikan kondisi Mr. Alexander."

Justin mengangguk.

Aku langsung menghela napas lega. Syukurlah, Tuhan.

Kedua perawat itu lalu pamit dan keluar ruangan sambil senyum-senyum. Mereka salah tingkah dan mulai menyikut satu sama lain. Aku mendengar mereka berbisik, 'Tampan sekali!' saat mereka ke luar.

Yah, semua orang yang matanya normal pasti akan bilang begitu. Soalnya, pria yang ada di dekatku ini memang gantengnya tidak masuk akal.

Aku mengedikkan bahu. Namun, tiba-tiba aku teringat sesuatu.

Posisi kami!!

Mataku memelotot; aku langsung menghadap ke arah Justin. "Aku mau turun! Apa yang kau lakukan?!!"

"Hmm…? Kupikir kau betah duduk di pangkuanku," ujar Justin sembari tersenyum miring. Mataku membulat.

"Aku mau turun!!" teriakku. Aku memberontak, tetapi dia menarikku kembali.

"Apa sebaiknya kita lanjutkan saja yang tadi?" ujarnya lirih.

Aku yakin aku benar-benar menganga. Aku kembali berteriak kencang. Sayangnya, ini adalah ruang VIP yang kedap suara.

Siaaaal!

 

******

 

Kami sudah sampai di rumah Paman Locardo.

Aku ingin mengemudi, tetapi Justin bilang dia bisa melakukannya. Dengan menyebalkannya, dia bilang dia tidak sakit. Hanya memar sedikit, katanya. Aku jadi tak punya pilihan lain selain melihatnya dari samping. Aku jadi selalu khawatir padanya dan aku jadi curiga. Apakah aku sekarang jadi tergila-gila padanya? Atau…apakah aku terlalu mencintainya? Demi Neptunus, aku tak mengerti. Namun, di sisi lain, tiap kali berhadapan dengannya, aku bisa emosi tingkat dewa.

Saat kami baru masuk ke rumah dan melewati ruang tamu yang superlebar itu, suara Paman Locardo menghentikan langkah kami. Paman Locardo menatap Justin dengan tajam.

"Aku sudah mendengar tentang Red Lion dari Mr. Morgan saat dia sadar tadi. Kau benar-benar tak menceritakan apa pun padaku soal Red Lion."

Mataku membeliak. Sementara itu, Justin mengernyitkan dahinya.

Kulihat Justin mulai berjalan pelan menghampiri Paman Locardo yang sedang duduk di sofa ruang tamu dan aku pun kontan mengikutinya. Ternyata, Nathan sudah bangun. Dia duduk di seberang Paman Locardo. Melihat itu, aku langsung berlari menghampirinya.

Aku duduk di samping Nathan. Air mataku jatuh begitu saja. Nathan pun menatapku dengan lembut, tubuhnya agak bergetar karena dia mulai menangis.

Nathan mengelus pipiku dengan tangan kurusnya. Aku menangis kencang dan langsung memeluknya.

Nathan membalas pelukanku, lalu mengusap bagian belakang kepalaku.

"Violette..." bisiknya di sela tangisnya. "Kau baik-baik saja, hm?"

Air mataku jatuh semakin deras.

"Aku baik-baik saja, Paman... Aku baik-baik saja…" bisikku, bibirku bergetar.

Nathan mengecup kepalaku singkat. "Kau sudah menikah, hmm? Selamat, ya... Selamat. Aku menyayangimu..."

Aku mengangguk. Aku tak mampu berbicara apa pun lagi. Hanya bisa berterima kasih pada Tuhan dalam hati karena telah mempertemukanku lagi dengan Pamanku.

Ketika pelukan kami terlepas, aku mengusap air mataku dan menatap Nathan dengan penuh haru. Kulihat pandangan Nathan mulai beralih pada Justin yang duduk di sisi kanannya—aku duduk di sisi kirinya—dan tatapannya begitu lembut.

Mereka saling memeluk. Nathan mengusap punggung Justin…dan Justin juga melakukan hal yang sama.

"Ternyata, apa yang ada di dalam pikiranku itu benar..." Nathan berbisik. "Kalian benar-benar ditakdirkan untuk bersama. Jaga Violette untukku, Justin."

Justin tersenyum. Setelah itu, Nathan pun melanjutkan, "Violette ini keras kepala. Dia juga cerewet, tetapi aku ingin kau menjaganya..." ujar Nathan. Aku tertawa renyah meski aku tahu kalau dia sedang menghinaku.

Justin tertawa pelan. "Aku tahu, Paman. Aku akan menjaga Violette dengan baik."

Ada jenaka yang terkandung di suara Justin. Setelah mengatakan itu, Justin tertawa bersama Nathan. Mereka lalu berpelukan. Setelah pelukan mereka terlepas, Justin langsung menoleh kepada Paman Locardo.

Justin menatap Locardo dengan sungguh-sungguh. Pria itu lalu berkata, "Tentang Red Lion...maafkan aku."

Paman Locardo menunduk. Pria itu menghela napas, lalu mengangguk.

"Sekarang jelaskan padaku. Aku memang sudah dengar soal itu dari Mr. Morgan, termasuk tentang Violette yang juga berasal dari organisasi yang sama. Namun, aku ingin mendengarnya dari mulutmu langsung,” ujar Paman Locardo dengan tegas.

Mataku melebar.

Aku melihat Justin yang mulai sedikit menunduk. Dia bernapas samar, lalu menjawab.

"Kau tahu kalau orangtuaku meninggal karena kecelakaan. ‘kan? Mereka sudah tinggal di Perancis selama setahun lebih, tetapi tiba-tiba truk Ayah yang membawa kami saat itu kecelakaan. Aku tak kenal siapa-siapa di sana karena semua keluarga yang kutahu hanya ada di New York. Itu pun, aku tak pernah bertemu dengan mereka. Keluargaku belum pernah membawaku ke New York. Aku kehilangan kedua orangtuaku dan aku tak tahu harus menghubungi siapa. Keluarga kami saat itu benar-benar miskin. Truk itulah satu-satunya yang barang berharga kami. Anak kecil yang selamat dari kecelakaan besar… Bukankah aku beruntung?” Justin memberi jeda sejenak.

“Brian adalah Ketua Red Lion yang kebetulan menyelamatkanku. Dia merawatku bersama anak-anak lainnya, lalu mengajak kami untuk bergabung di organisasi yang dia buat, yakni Red Lion. Pada dasarnya, Red Lion hanyalah sekumpulan pencuri, tetapi Brian melakukan banyak hal agar kekuatan kami besar. Red Lion sudah dianggap seperti teroris. Violette adalah satu-satunya anggota perempuan di Red Lion dan dia akhirnya ditugaskan untuk menjadi rekanku. Brian menunjukku untuk menjadi tangan kanannya.

Akan tetapi, tiba-tiba saja…aku terlibat cinta. Aku terlibat hubungan terlarang," Justin menggeleng, dahinya berkerut saat mengingat itu. "Parahnya, wanita itu adalah Hillda, istri dari seorang pengusaha terkenal di Perancis yang bernama Martinous Hoult. Akibat perselingkuhan istrinya denganku, dia pun mengincarku. Untuk mengincarku, dia pasti akan mengincar Red Lion terlebih dahulu.

Aku tak mau Red Lion mati di tangan mereka. Daripada semua itu terjadi, lebih baik kuakhiri Red Lion. Lagi pula, Red Lion adalah organisasi yang tidak benar. Aku pun mengakhiri organisasi itu bersama Violette karena Violette adalah orang yang paling kupercaya. Kami sudah lama berteman dan…kami memang paling dekat dengan satu sama lain. Tidak ada lagi peperangan, tidak ada lagi teroris, semuanya tertutupi seolah-olah kami semua mati dibom. Aku memanipulasi segalanya. Jadi, semua tentang Red Lion betul-betul hilang ditelan bumi dan aku menyelamatkan diriku bersama Violette.

Meskipun sulit, akhirnya kami berbaikan dengan Martinous Hoult. Aku memutuskan hubunganku dengan Hillda, lalu pergi ke New York bersama Violette. Seluruh media memberitahukan bahwa Red Lion telah musnah, jadi semua orang akan berpikir seperti itu. Setidaknya takkan ada yang mencari ataupun mencurigai kami. Lagi pula, wajah kami memang tak terlalu dikenali oleh polisi saat di Red Lion karena kami selalu berhati-hati.

Setelah itu, aku pun bertemu denganmu," kata Justin. Ia menatap Locardo dan Locardo mengangguk. Ia pun melanjutkan, "Selama dua tahun lebih, aku tak pernah bertemu dengan Violette lagi. Namun, tiba-tiba, aku berjumpa dengannya yang sudah bekerja di perusahaanku. Ternyata, dia juga tinggal dengan pamannya. Aku menjadikannya executive assistant-ku, lalu tiba-tiba pamannya diculik. Pelakunya adalah seorang manager yang pernah jadi rekan seks-ku saat aku baru tinggal bersamamu. Saat itu…aku masih tidak stabil, ‘kan?”

Locardo kembali mengangguk, mengiyakan Justin.

Justin lantas melanjutkan, “Namanya adalah Elika. Elika tahu tentang Red Lion. Ternyata, dia menemukan salah satu anak buah Martin yang diperintah untuk menyerangku di pertempuran itu. Waktu itu, aku mengebom mereka semua, tetapi ternyata ada yang lolos. Dialah orangnya. Dia bernama Welton. Welton dendam pada Red Lion karena telah mengambil teman-temannya dan menghancurkan hidupnya.

Karena Elika ingin menjauhkan Violette dariku, dia pun berkata pada Welton bahwa masih ada satu anggota Red Lion yang tersisa, yaitu Violette. Mereka lantas bekerja sama dan menyekap Nathan. Semalam, aku berhasil menangkap Welton, dan akhirnya Welton tahu bahwa Red Lion yang tersisa bukan hanya Violette. Justru akulah pelaku yang dia cari.”

“Apa sekarang dia sudah dibawa oleh polisi?” tanya Paman Locardo.

“Hm.” Justin mengangguk. “Selain itu, tadi malam…aku tidak pulang karena mengejar Elika. Aku tahu kalau dia pasti akan melaporkan keberadaan Red Lion di New York. Namun, aku berhasil membungkamnya dengan kecelakaan itu. Sekarang, kita harus menunggu apakah dia akan meninggal di rumah sakit atau berhasil hidup dan dipenjara. Dia tadi ada di rumah sakit yang sama denganku."

Justin bercerita sebanyak itu dan kami semua mendengarkan dengan saksama. Ada sedikit—sangat sedikit—hal yang tak kutahu dan sekarang aku jadi mengetahuinya.

Paman Locardo mengembuskan napasnya kuat, lalu menggeleng. Dia pun menatap Justin dengan intens.

Auranya terasa begitu menekan ketika ia berbicara dengan tegas. Ia mulai mengancam Justin. "Jangan ulangi apa yang semalam kau lakukan. Mulai sekarang, karena aku sudah tahu semuanya, kalian akan kujaga dengan lebih ketat. Jangan membuatku khawatir lagi. Akan kuperintahkan banyak orang untuk menjaga lingkungan rumah kalian. Tutupi semua tentang Red Lion dengan baik. Lupakanlah masa lalu kalian itu."

Sejak Justin menjadi pemimpin Alexander Enterprises Holdings, Inc., Paman Locardo membeli perusahaan lain.

Aku hanya menunduk karena tak bisa mengatakan apa pun. Paman Locardo berhak melakukan semua itu setelah kekacauan ini. Dia juga hanyalah seorang paman yang khawatir pada keponakannya.

"Aku bisa melakukannya sendiri. Aku lebih tahu apa yang harus kulakukan, Paman," jawab Justin dengan tenang.

Sebentar.

 

‘Paman’?!!

Justin memanggil Paman Locardo dengan sebutan ‘Paman’?!!!!

 

Mata kami semua membelalak. Oh, Tuhan, akhirnya!!!!

Aku tersenyum penuh haru; aku hampir menangis. Akhirnya, otak Justin sedikit lebih waras. Aku senang sekali melihat perkembangan hubungan mereka.

 

******

 

Aku masuk ke kamar. Hari ini, Justin memutuskan untuk menginap di rumah Paman Locardo. Lagi pula, Paman dan Bibi Locardo memang memaksa kami untuk tinggal, apalagi Nathan juga ada di sini. Paman dan Bibi Locardo menyiapkan satu kamar khusus untukku dan Justin.

Aku masuk ke kamar karena ingin melihat ponselku. Ponselku berbunyi, pertanda ada sebuah pesan yang masuk. Ketika kulihat layar ponselku, ternyata itu cuma pesan dari operator. Aku menganga dan kontan mendengkus kesal. Apa-apaan! Aku tadi berlari dari dapur hanya karena pesan itu, padahal aku sedang membantu Bibi memasak makan malam.

 

"Sedang apa?"

 

Mataku melebar. Aku kenal suara itu.

Aku mulai berbalik dan melihat Justin yang sudah bersandar di kosen pintu; dia memandangiku dengan lekat. Aku mengedipkan mataku dua kali—agak kaget karena aku sama sekali tak mendengar langkah kakinya—lalu menjilat bibirku. "Oh. Tadi ada pesan."

Justin berdiri tegap, lalu berjalan ke arahku. Pandangan matanya masih tidak berubah. Melihatnya berjalan ke arahku dengan tatapan seperti itu…membuatku tanpa sadar meneguk ludah. Aku merasa begitu terintimidasi, ciut, seperti tikus yang sedang didekati pelan-pelan oleh kucing.

Setahuku, tadi dia sedang bersama Paman Locardo. Mengapa tiba-tiba dia ada di sini?

"Pesan dari siapa?" tanyanya dengan suara dingin. Aku tersentak.

Entah mengapa, aku jadi gugup. Akan tetapi, aku berusaha untuk menormalkan ekspresiku, soalnya aku tahu bahwa Justin tidak sedang marah padaku.

"Dari operator. Aku sudah susah payah ke sini," keluhku. Aku mengedikkan bahu.

Dia berhenti tepat di hadapanku. Tatapannya seolah-olah bisa menembus jiwaku.

Aku harus mengalihkan perhatiannya. "Justin, kau mau kopi? Aku sedang membantu Bi—"

"Aku tidak mau kopi,” potongnya dengan cepat dan singkat. Nadanya datar.

Aku memiringkan kepalaku. "Jadi, kau mau apa? Sesuatu yang lain?"

"Hm," dehamnya. Dia menyilangkan tangannya di dada, lalu berkata, "Aku ingin sesuatu yang hanya kau yang bisa mengabulkannya."

Aku menyatukan alis. Hanya aku?

"Maksudmu apa, sih? Jangan berbelit-belit!" kataku. Aku jadi pusing kalau disuruh menebak begitu.

Namun, tak memedulikan pertanyaanku, dia malah berjalan melewatiku. Aku spontan menganga, lalu berbalik. "Hei!! Kau mau apa, sih?! Justin!!"

Dia berjalan ke arah jendela kamar yang gordennya terbuka, lalu berdiri membelakangiku di sana.

Tubuh tegapnya sungguh sempurna meskipun hanya kulihat dari belakang. Bentuk tubuhnya tercetak sempurna di body fit t-shirt-nya yang berwarna hitam. Dia memakai celana chino panjang berwarna krem.

Dia tampak sangat memesona meskipun hanya memakai pakaian biasa. Dia membuat pakaian yang biasa jadi tampak luar biasa.

Aku terdiam. Sibuk mengagumi sosoknya yang membelakangiku. Akan tetapi, aku ingat bahwa Justin belum menjawab pertanyaanku.

"Justin?" panggilku.

Tak kusangka, dia mulai menoleh ke belakang.

"Hm," dehamnya.

Sungguh, mataku melebar saat melihat betapa bersinarnya wajahnya saat ini. Sinar matahari sore yang masuk melalui jendela itu membuatnya terlihat semakin memesona.

Dengan gugup, aku pun mencoba untuk berbicara, "K—Katakan padaku kau ingin minum apa. Umm…atau kau tak ingin minum?"

Justin menghela napas. Akhirnya, dia pun berbalik. Kulihat tangannya ada di saku celananya; dengan santai, ia melangkah mendekatiku. Aroma tubuhnya yang maskulin itu tercium semakin jelas. Jantungku berdegup kencang saat dia semakin dekat denganku. Aku otomatis menunduk ketika sadar bahwa dia tengah menatapku dalam sembari mendekatiku. Tubuhku bisa bergetar jika aku terus menatapnya.

Lama aku terdiam…dan kukira dia hanya berdiri di depanku. Namun, aku salah.

Saat aku baru mau menatap wajahnya, tiba-tiba…dia memelukku dengan lembut. Dia melingkarkan sebelah tangannya pada pinggangku dan sebelah tangannya lagi mulai menyentuh daguku.

Di tangan kirinya, dia memakai sebuah jam tangan berwarna hitam. Tangan itulah yang ia gunakan untuk menyentuh daguku. Pipiku memerah tatkala dia mulai mengangkat wajahku. Matanya serasa berkabut.

Apa yang sedang ia lakukan? Aku gugup sekali, nih! Sejak tadi, aku hanya mendengar suara detak jantungku saja, tak mendengar apa-apa lagi.

Apakah jantung Justin juga berdegup kencang sepertiku? Rasanya dia tenang-tenang saja...

Jempolnya mengusap daguku, lalu dia mengembuskan napasnya samar.

 

"Apa kau sudah lupa dengan malam pertama, Nona?" tanyanya lirih.

 

Mataku spontan membulat. Pipiku merona. Kurasa, degup jantungku semakin menggila. Astaga...aku…

…aku belum siap. Aku belum siap untuk itu. Demi Tuhan, aku belum siap.

"Jawab aku," ujarnya dingin. Tegas. Aku semakin kaget. Dia biasanya tak mempermasalahkan itu, tetapi mengapa hari ini tiba-tiba dia...

"Aku… Aku belum siap, Justin..." Aku mengaku. Kupejamkan mataku. Aku pasti terdengar begitu aneh karena tidak siap melaksanakan kewajibanku sebagai seorang istri.

Ketika dia bahkan menginginkannya seperti ini…

Seharusnya aku bersyukur karena dia memiliki ketertarikan seksual padaku, padahal selama ini kukira dia tak tertarik. Soalnya, dia memang tak pernah mempermasalahkan hal ini.

Justin hanya diam, tetapi aku tahu kalau matanya masih mengawasiku. Aku menggigit bibirku. Apa ia marah?

Namun, aku salah lagi.

Nyatanya, Justin mulai mendekatkan wajahnya ke wajahku. Karena aku sedang menunduk, dia pun jadi ikut menunduk demi mencari wajahku.

"Aku tak yakin kalau aku bisa menunggu lebih lama dari ini, Mrs. Alexander," bisiknya. Pipiku merona. Aku malu sekali. Ya Tuhan, tolong jauhkan makhluk yang nyaris sempurna ini dariku…

Aku terlalu malu untuk mengangkat wajahku, tetapi dia tetap menempelkan wajahnya dengan wajahku. Setelah itu, aku merasa ada sesuatu yang lembut dan basah mulai mengecup bibirku. Aku spontan melebarkan mata, tetapi tiba-tiba dia semakin merapat. Tubuhnya yang kekar itu mulai memelukku. Sebelah tangannya bersandar di pinggangku, sementara sebelahnya lagi memegang bagian belakang kepalaku. Pelukannya terasa begitu hangat dan nyaman, membuatku merasa dilindungi.

Bibirnya melumat bibirku; dia tidak menciumku dengan liar. Ciumannya sangat lembut. Tangannya kini menjalar hingga ke bagian belakang pinggulku; dia mengalungkan tangannya di sana dan menarikku agar lebih mendekat.

Aku mencoba menggerakkan tanganku, lalu kupegang lengan Justin yang sedang memelukku. Mengenggamnya takut-takut ketika Justin memperdalam ciumannya.

 

"Uncle Jus—tin? Sedang apa…?"

 

Aku spontan membuka mata; kujauhkan bibir Justin yang menempel di bibirku.

Justin sedikit mengernyitkan dahinya, sementara aku langsung menoleh ke belakang tanpa memedulikan Justin. Namun, tangan Justin masih melingkar di tubuhku.

Mataku membelalak ketika melihat ada Evan berdiri di pintu kamar; dia menganga melihat kami berdua. Kini, agaknya Justin sudah sadar kalau aku tengah melihat sesuatu, jadi Justin mulai melepaskan pelukannya pelan-pelan.

Aku meneguk ludah.

"Ada apa, Roger?" tanya Justin. Cara bicaranya seperti anak-anak; dia biasa berbicara dengan baby talk kepada Evan. Justin menyentuh punggungku sebentar—mengisyaratkan bahwa dia akan menghampiri Evan—lalu dia pun mendekati Evan. Karena agak shock, tubuhku pun terus mematung. Aku menganga.

Sebentar…

Evan—Evan melihat kami!!!! Bagaimana ini?! Ini bisa memberikan dampak yang buruk bagi Evan nantinya!

"Uncle sedang apa? Tadi, Mama panggil Kak Vio. Mama minta tolong Kak Vio buat potong daging," kata Evan. Dia cemberut; disilangkannya tangannya di depan dada, pertanda bahwa dia marah pada kami. Um...atau mungkin…hanya padaku. Kulihat Justin mulai berjongkok di depannya.

"Kak Violette memeluk Uncle sangat erat tadi." Justin menjawab Evan sambil tersenyum miring. Mataku membulat. Justin pun melanjutkan, "Kak Violette tak mau ditinggal."

Sial, apa maksudnya itu?! Aku tak pernah bilang begitu!

"Justin!!" teriakku tak terima, tetapi Justin tak menghiraukanku. Dia malah menggendong Evan dan mereka berdua kini menghadap ke arahku.

Evan tersenyum jail padaku. "Hayoooo... Kak Violette tadi mau ngapa-ngapain, yaa, sama Uncle Justin? Jangan-jangan... Uhuk-uhuk..."

Astaga, dari mana dia mempelajari semua itu? Evan, ya ampun! Siapa yang mengajarkannya?!

Aku berteriak, "Evan! Bukan begi—"

Evan tertawa geli. Dia terus mengejekku hingga Justin tertawa karenanya.

Karena malu sekaligus kesal, aku pun berlari ke luar. Dengan cepat, aku pergi ke dapur, lalu langsung membantu Bibi Locardo. Aku berpura-pura seolah-olah tak terjadi apa-apa, tetapi agaknya Bibi Locardo tertawa kecil saat melihatku.

Apakah suara Evan tadi kedengaran sampai ke dapur? Oh, Tuhan!!! Aku malu sekali!! []

 













******














No comments:

Post a Comment

She Was Never Mine (Bab 4: Segalanya Untuknya)

  ****** Bab 4 : Segalanya Untuknya   ******   LANTUNAN lagu di radio terdengar begitu merdu saat Josh baru saja memberhentikan mo...