Bab
18 :
TALITHA melangkah
ke resepsionis dengan sedikit ragu. Gadis itu melirik dua resepsionis yang
berdiri di sebelah kanan lobi. Dahinya berkerut; masih ada keraguan tentang apakah
dia benar-benar bisa masuk ke perusahaan itu. Namun, ketika kembali teringat
tentang Gavin, Talitha mengangguk yakin. Gadis itu pun segera melangkah
mendekati meja resepsionis.
Kedua
resepsionis itu sangat cantik. Talitha belum sempat bertanya apa-apa dan salah
satu resepsionis itu langssung menyapanya dengan ramah, "Selamat
sore, Mbak. Ada yang bisa kami bantu?"
Talitha
mengerjap, ia meneguk ludahnya dan mengangguk. "Ah, ya, saya mau ketemu
sama Pak Revan Aditya. Saya ada janji temu dengan beliau, Mbak."
"Oh,
sebentar ya, Mbak," ujar resepsionis yang satunya. “Biar saya telepon dulu
Pak Revannya, untuk mengonfirmasi janji temu Mbak.”
Talitha
datang ke sini karena mau bertanya soal Gavin pada Deon, tetapi dia akan masuk
ke perusahaan melalui Revan. Dia tak mau langsung menghubungi Deon karena tak
ingin Deon tahu. Selama beberapa saat, Talitha hanya bisa mendengar percakapan antara
resepsionis itu dan Revan. Begitu panggilan telepon itu terputus, mereka pun
menatap Talitha seraya tersenyum.
"Baik,
Mbak, janji temunya sudah kami konfirmasi. Mbak bisa menemui Pak Revan
di—"
"Baik,
Mbak, saya udah tau lokasinya kok Mbak. Makasih, ya, Mbak," potong Talitha
cepat.
******
Revan
menutup panggilan dan menaruh telepon itu kembali ke tempatnya. Ketukan di
pintu membuatnya mengerjap dan ia menatap pintu itu sambil mengernyitkan dahi.
"Iya, masuk."
Sekonyong-konyongnya,
Vero masuk tanpa menunduk hormat kepada Revan terlebih dahulu. Vero adalah anggota
Revan, tetapi ketika masuk ke ruangan Revan, menutup pintu kembali saja sudah
cukup baginya. Tak perlu pakai hormat-hormat segala ke Revan.
Vero
langsung menghampiri Revan. "Lo abis nelepon siapa?"
Revan
menatap Vero seolah-olah cewek itu sama dengan saus mayonnaise yang
baginya tidak enak. "Ngapain lo ke sini? Pergi sana lo!"
Vero
menganga, gadis itu langsung emosi bukan main. Ia berkacak pinggang dan
menunjuk-nunjuk Revan. "Sialan lo! Oi, Tonggos, gue ke sini karena mau minta
tanda tangan lo!"
Revan
mendelik. "Oh, lo baru sadar kalo gue bos lo? Lagian, siapa yang lo bilang
tonggos?! Gigi gue normal! Pergi sana lo! Sama atasan kok kagak ada sopannya sama
sekali! Cuih!"
"KAMPRET!"
teriak Vero tak terima.
Revan
hanya menjulurkan lidahnya dan memelototi Vero. "APA LO?!"
Vero
ujung-ujungnya hanya menghela napas. Perempuan itu pun menatap Revan dengan
serius. "Habis nelepon siapa lo?"
Revan
berdecak. Pria itu masih menatap Vero dengan tatapan jengkel, tetapi kemudian dia
memilih untuk menyerah. Ia sedang tidak mood untuk bertengkar
dengan Vero. "Itu tadi dari resepsionis. Talitha dateng ke sini, mau
nanyain soal Gavin ke Pak Dirut. Tapi dia masuk ke gedung ini melalui
gue."
Vero
mengernyitkan dahi, lalu menggeleng. "Lah, emangnya semudah itu nemuin Pak
Dirut?"
Revan
mengedikkan bahu. "Talitha, kan…pacarnya. Udah, ah, pergi
sana. Risi gue liat muka lo di sini!"
"HAH?!!!"
teriak Vero, membuat Revan spontan menutup telinganya. Mata Vero membulat.
"L—Lo serius? Talitha—adiknya Gavin itu…pacaran sama Pak
Marco Deon?"
"Aish! Iya,
bego! Berisik amat, sih!" jawab Revan. Dia malas sekali meladeni Vero.
Vero
menggeleng tak percaya; dia kagum sekali. Namun, sesaat kemudian, ekspresinya
berubah. Dia jadi terlihat…prihatin.
"Pasti
susah, ya. Gavin dipecat sama Pak Dirut, dan...pacarnya Pak Dirut itu..." Vero
menggeleng.
Revan
menunduk. Pria itu terdiam. Jujur, dia merasa bersalah sekali soal Gavin. Gavin
itu sahabatnya; hal ini tentu saja membuatnya terpukul. Selain itu, Kanya... Bagaimana
mungkin Gavin menikahi orang yang tidak dia cintai sama sekali?
"Gimana
kabar Gavin, Van?" tanya Vero pelan.
Revan
tersenyum pahit.
"Dia
baik, Veroksin," jawabnya. Dia menghela napas. "Semua foto kemaren
itu... dia dijebak orang. Gue nggak habis pikir dengan manusia-manusia jahat
kayak gitu. Yang jelas, ayo sama-sama doakan yang terbaik buat dia."
Vero
mengangguk. "Itu pasti kerjaan orang gila. Nggak mungkin Gavin ngelakuin itu.
Semua orang juga ragu pas liat foto itu. Lagian... orang baik emang banyak cobaannya."
******
Deon
sedang sibuk menandatangani dokumen-dokumen di atas meja ketika pintu
ruangannya tiba-tiba terbuka. Deon pun menatap pintu ruangannya sambil
mengerutkan dahi. Setelah itu, masuklah Talitha ke ruangan itu dengan tergesa-gesa.
Sekretarisnya, Rara, terlihat berusaha untuk menghentikan gadis itu, sedikit
menarik tangannya agar mau keluar. Namun, Talitha tampak memaksa.
Deon
melebarkan mata. Pria itu bangkit dari duduknya, lalu menghentikan Rara dengan gerakan
tangan.
"Rara,"
ujar Deon tegas. "Biarin dia masuk.”
Rara
spontan menatap Deon dengan mata melebar. "Tapi Pak... Mbak ini
tidak punya janji temu dengan Bapak. Mbak ini juga—"
Deon
menatap Talitha sejenak. Talitha cuma bengong; gadis itu menatap Deon dengan
mulut terbuka. Deon pun menatap Rara lagi. "Kamu bisa keluar. Jangan
khawatir, dia tamu saya."
Deon
menatap Talitha sejenak, lalu kembali menatap Rara. "Kamu bisa keluar.
Jangan khawatir, dia tamu saya."
Rara
terdiam sejenak, mengernyitkan dahi selagi mencerna perkataan bosnya. Namun,
dua detik kemudian, ia mengangguk sopan dan mengembuskan napas samar.
"Baiklah.
Maafkan saya, Pak," ujarnya. Deon mengangguk singkat. Setelah menunduk
hormat, Rara pun melangkah keluar dari ruangan tersebut.
Talitha
terus memperhatikan Rara sampai pintu itu kembali tertutup rapat. Begitu
suasana menjadi sunyi, dia pun kembali menatap ke depan. Matanya seketika
membelalak saat menyadari bahwa Deon sudah memperhatikannya seraya memiringkan
kepala.
Ekspresi
ajah Talitha kembali serius. Ia melangkah mendekati Deon.
"Deon,
aku mau nanya soal Bang Gavin," ujarnya cepat. "Ada apa sebenernya?
Dia kenapa? Aku yakin kamu tau!"
Deon
menghela napas. Sudah ia duga, inilah tujuan Talitha datang ke kantornya. Ia pun
menatap gadis itu dengan mata menyipit. "Kenapa kamu bisa masuk ke gedung perusahaan?"
Talitha
mengangguk cepat. "Melalui Bang Revan. Maaf kalo aku lancang, tapi tolong
aku, Deon, kasih tau aku. Bang Gavin—"
"Abang
kamu itu dijebak orang, Talitha. Dia berakhir di hotel sama anak magang dari
Direksi Pemasaran. Foto-fotonya tersebar di kantor. Emangnya dia nggak cerita
sama kamu?" tanya Deon.
Talitha
membelalakkan mata. Ia menggeleng tak percaya. Kaget bukan main.
Gavin...dijebak
orang? Berakhir di hotel? Foto-fotonya...tersebar? Apa-apaan ini! Mengapa hal
sebesar itu bisa terjadi dalam waktu singkat?! Itu hanya dalam waktu satu
malam!
"Ha?!
Apa—Bang—Bang Gavin?" ujar Talitha tak percaya. "Bang Gavin—dia nggak
cerita kalau dia dijebak, Deon! Dia malah langsung mau nikahin mbak-mbak itu!
Dia nganggep kalo dia udah menodai mbak itu! Kalo dijebak, berarti belum tentu
dia ngelakuin itu! Jadi, kamu pecat dia karena itu?!”
Deon
menghela napas. "Aku udah tau siapa pelakunya. Orang yang ngejebak abang
kamu."
Talitha
membelalakkan mata. Ia mematung; napasnya seolah-olah terhenti.
Pelakunya
sudah ditemukan?
Alis
Talitha menyatu. Ia memastikan bahwa pendengarannya tidak salah.
"Siapa?"
tanya Talitha dengan hati-hati. Mata Deon menyipit tajam.
"Chintya."
Talitha
terperanjat. Gadis itu menganga, lidahnya kelu, seolah-olah ada sesuatu yang
mengimpit paru-parunya dan membuatnya sulit bernapas. Matanya mengerjap
berkali-kali, masih tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
Talitha
mencoba untuk berbicara, tetapi yang keluar hanyalah suara yang terputus-putus.
"Chi—Chintya? Kok—"
Deon
tiba-tiba mendekati Talitha dengan langkah lebar dan langsung memeluk tubuh
gadis itu dengan erat. Talitha terperanjat saat menyadari bahwa Deon langsung
mendekapnya seperti itu.
Talitha
memegang lengan Deon dengan gerakan kaku. "O—Oi... ada apa? Kenapa Chintya
bisa ngelakuin itu? Dia itu... sahabat kamu, ‘kan?"
Talitha
mulai paham; mungkin, Deon memeluknya seerat ini karena sedang terpukul. Ia
tahu bahwa Chintya adalah satu-satunya sahabat Deon. Belum lagi… jika semua ini
benar, maka artinya: Deon kembali dikhianati.
Talitha
merasa Deon mencium puncak kepalanya. Ciuman itu lembut dan seringan kapas,
membuat Talitha refleks meneguk ludah.
"Deon,
kamu—"
"Kamu
nggak perlu khawatir, Talitha," ujar Deon dengan suara serak. Ia mengusap
punggung Talitha, membuat dekapan itu terasa semakin hangat. "Maafin aku
karena udah pecat abang kamu. Itu kebijakan kantor. Tapi dia bakal kupekerjakan
lagi bulan depan."
Talitha
mengernyitkan dahi.
Deon
kembali bersuara, "Dia bakal kerja lagi pas aku dapet bukti kalo dia nggak
bersalah."
Talitha
menunduk, tangannya tanpa sadar meremas lengan Deon.
"Maafin
aku. Karena apa yang dilakukan Chintya, abang kamu harus ngalamin hal seburuk
ini. Ini salah aku, Talitha," ujar Deon.
Talitha
menggeleng. Matanya melebar. Ia langsung menjauhkan kepalanya dari dada Deon.
"Jadi, itu emang Chintya?! Yang ngelakuin semua itu emang dia?!"
Deon
hanya mengangguk.
Talitha
menganga. "Lah, jadi gimana, Deon? Kok bisa, sih?! Setauku, kamu percaya
banget sama dia! Aku masih inget bener, waktu itu kamu ngebela dia di depan aku,
terus kamu ninggalin aku di jalan. Wah, sumpah, kesel banget aku! Itu
semua kamu lakuin cuma karena dia ngasih tau yang bukan-bukan tentang aku dan
Kak Alfa di depan kamu! Sekarang, kok kamu yakin kalo dialah yang ngelakuin
semuanya?!"
"Karena
emang dia yang ngelakuin semuanya," ujar Deon, membuat Talitha
membelalakkan mata untuk kesekian kalinya. Deon kemudian menghela napas.
"Aku
dapet info kalo abang kamu ketemu Kanya—cewek magang itu—di sebuah diskotik.
Kamu nggak perlu tau nama diskotiknya apa. Abang kamu ke sana sama
temennya," ujar Deon.
"Bang
Revan, ya?!" tanya Talitha.
Deon
mengangguk, lalu lanjut menjelaskan, "Terus, ada yang liat kalo Chintya
masuk ke diskotik itu. Chintya ngakuin semuanya. Katanya, pas Kanya sama Gavin
lagi lengah, dia naruh obat perangsang di minuman mereka. Dia juga ngancem tiap
orang yang liat supaya nggak buka mulut. Dia nyamar buat masuk ke sana dan
ternyata… dia jugalah yang nyuruh Kanya dateng ke sana. Orang-orangku juga udah
dapet informasi soal apa yang terjadi malam itu."
Talitha
membelalakkan mata. Untuk apa Chintya melakukan semua itu? Wah, sumpah! Chintya
melakukan semuanya... sendirian? Kok bisa ada orang sejahat itu? Apa, sih,
maunya?!
Talitha
menggeleng. "Terus buat apa dia nyuruh Mbak Kanya itu... dateng ke
diskotik?"
Deon
mengedikkan bahu. "Kalo aku nggak salah, kayaknya Kanya suka sama abang kamu
dan dia mau nyatain perasaannya. Entah dari mana Chintya tau soal itu, yang
jelas… dia jadi nyuruh Kanya buat dateng ke diskotik dengan iming-iming kalo
Gavin ada di sana. Chintya juga nyuruh dia buat minum alkohol pas sampe di sana
biar perasaannya tersampaikan dengan baik dan lancar. Beberapa hal emang lebih
mudah dibicarain pas lagi mabuk."
Talitha
menggeleng; dia benar-benar terperangah mengetahui apa yang telah terjadi.
Mengapa selama ini dia tak tahu soal itu? Yang benar saja! Soal Kanya—oke, itu
wajar karena Gavin memang agak tertutup. Pria itu tak terlalu memusingkan masalah
percintaan. Akan tetapi... yang dilakukan Chintya itu benar-benar luar biasa.
Berarti, Chintya sudah menghubungi Kanya sebelum kejadian itu? Dari mana
Chintya mendapat informasi sedetail itu?
Gila!
"Tapi
buat apa dia ngelakuin itu semua ke Abangku, Deon? Abangku salah apa sama dia?!
Aku nggak apa-apa kalau dia jahat sama aku, tapi kalo sama keluargaku—"
Deon
memotong ucapan Talitha, "Dia ngelakuin itu buat misahin kamu dan aku."
Talitha
lagi-lagi membelalakkan matanya.
Memisahkan
dirinya... dengan Deon?
Deon
bernapas samar. Pria itu menatap Talitha seraya menyatukan alis, kemudian
sebelah tangannya mengusap rahang Talitha dengan lembut. "Dia ternyata
mencintai aku dalam artian yang berbeda, Talitha."
Mendengar
itu, Talitha bingung sejenak. Namun, sesaat kemudian, Talitha berdecak dan
langsung menepis tangan Deon—yang sedang mengusap rahangnya itu—dengan keras.
"Kalo itu mah semua orang juga bisa liat, oi!"
Deon
mengangkat sebelah alisnya. Ia menggeleng samar sembari menatap Talitha dengan
heran, seperti benar-benar tak mengerti.
Talitha
memutar bola matanya. "Ya elah, biasanya kamu peka. Kok sama sahabat
sendiri malah nggak peka? Noh, dia jadi nyelakain Abangku sekarang karena kamu!
Jadi, gimana perasaan kamu, Deon?"
“Perasaan
aku?” tanya Deon seraya memiringkan kepalanya.
"Dia...
ngebohongin kamu, ‘kan? Aku nggak tau apa yang ada di pikiran kamu, tapi semoga
kamu nggak benci sama dia. Kalo aku, sih, jujur aja sekarang jengkel banget
sama dia. Tapi kalo kamu, kuharap kamu nggak terlalu benci sama dia. Dia itu
sahabat kamu dari kecil, soalnya. BTW, mancay juga nih anak. Tumben kamu
nggak peka sama perasaan orang! Biasanya narsis abis."
Deon
menatap Talitha dengan mata menyipit. "Aku nggak peduli lagi sama Chintya.
Lagian, dia itu udah ngganggu kehidupan kamu. Aku udah terbiasa ngerasain
sakitnya dikhianati. Itu emang bikin aku marah karena dia udah lama kupercaya,
tapi aku nggak mau terlalu mikirin kayak waktu aku mikirin Mama. Lagian, buat
apa aku menyesali kepergian orang yang cuma bisa nunjukin topengnya di
depan aku selama ini? Aku bahkan pernah benci sama Mama, jadi kalo aku
kehilangan dia yang 'cuma' sahabatku, ya nggak masalah."
Rahang
Deon mengetat menahan amarah. "Lagian, aku nggak perlu peka sama
dia. Aku cuma perlu peka sama kamu.”
Talitha
menganga. "Widih, kata-katanya! Gas terus aja, Mas! Tapi, apa kamu yakin?
Chintya itu cinta banget sama kamu, Deon,"
"Aku
nggak peduli. Aku lebih mementingkan kejujurannya daripada perasaannya. Dia
udah ngehancurin kepercayaanku dan aku benci kebohongan. Kamu tau itu,
Talitha," ujar Deon tajam. Matanya menatap Talitha dalam.
Talitha
akhirnya menghela napas. Iya, Talitha tahu benar soal itu.
Namun,
sesaat kemudian, Talitha ingat sesuatu. Ia langsung memberi tahu Deon dengan
mata yang melebar. "Deon, denger ini. Kemaren, waktu Bang Gavin pulang dan
bawa Mbak Kanya, terus dia bilang kalo dia dipecat, aku tuh sempet pengin nelen
kamu, tau nggak! Pengin kulempar pake sendal! Kamu boleh ngajak aku pura-pura
pacaran, bikin aku kesel, atau mau posesif kayak orang gila ke aku, tapi jangan
pecat Abangku! Soalnya… aku inget bener, kita itu selama ini pura-pura pacaran
karena aku dan Bang Gavin bohong sama kamu, ‘kan? Kamu ancem aku pake: ‘Pak
Gavin bakalan aku pecat’ kalo aku nggak mau terikat sama kamu."
Deon
tersenyum miring. "Iya, aku ingeat."
"Lah,
malah senyum dia!" teriak Talitha jengkel sembari menggeleng-geleng.
"Nah, waktu aku denger dia dipecat, aku rasanya pengin banget langsung
dateng ke sini dan protes sama kamu! Tapi setelah Bang Gavin bilang kalo dia
dipecat karena ketahuan tidur sama Mbak Kanya... aku jadi nggak bisa ngomong
apa-apa. Aku pengin nangis, tapi aku nggak percaya dia ngelakuin semua itu.”
Deon
mengangguk. "Iya, tapi kamu bikin aku kaget karena maksa masuk ke
ruanganku hari ini."
Talitha
mendadak kicep. Gadis itu tanpa sadar merona, tetapi tiga detik
kemudian, dia malah nyengir.
"Maaf,
maaf," ujar Talitha dengan tampang tak berdosa. "Tapi Deon, kok
Chintya malah ngerjain Bang Gavin, ya? Kalo alasannya karena mau misahin kita,
kenapa harus menyerang Abangku?"
Deon
menghela napas. "Mungkin… supaya aku nggak tau. Soalnya, kalo dia langsung
nyerang kamu, aku bakal cepet tau. Kamu selalu sama aku, soalnya. Lagian, kalo
dia nyerang Bang Gavin... ya aku bakal pecat Bang Gavin. Pemecatan itu bakal
bikin aku jadi berantem sama kamu karena kamu pasti bakal protes. Abis itu,
kita bakal berpisah tanpa tau ada apa di balik semuanya. Abangmu berhenti kerja,
lalu mungkin nikah sama Kanya, terus kita berdua putus hubungan. Otak Chintya
pasti tau kalo Gavinlah sasaran empuk buat bikin kita pisah."
Talitha
terperangah lagi. Deon cukup… strict, sebenarnya. Chintya adalah
sahabatnya sendiri, tapi karena dia berpikir kritis dan tidak suka dibohongi,
ia bisa menebak dengan akurat. Kepercayaannya pada Chintya ternyata tidak
menghalanginya untuk berpikir logis.
"Gila,
ternyata masih bisa terbongkar dengan cepat sama kamu," ujar Talitha
kagum.
“Siapa
pun itu, kalo dia nyari masalah sama aku... maka dia nyari masalah sama orang
yang salah,” ujar Deon.
Talitha
menggeleng sembari berdecak. "Ckckck! Gile, Bro! Serem, euy! Kamu itu
monster atau manusia sup—"
"Lagian,
gimana soal perasaan kamu ke aku? Apa kamu cinta sama aku?" tanya Deon
dengan penuh selidik.
Talitha
membelalakkan matanya.
Waduh!
Apa-apaan dengan pertanyaan yang nggak ada hubungannya sama sekali ini?!
Talitha
meneguk ludah. Gadis itu mencoba untuk memalingkan wajah dan terkekeh hambar.
"Hahaha… aku—"
Namun,
Deon menarik wajah Talitha kembali agar gadis itu menghadap ke arahnya. Jantung
Talitha tanpa sadar jadi berdebar-debar karena wajah Deon terlalu dekat. Wajah
tampannya, bola matanya yang tampak begitu jernih saat menatap Talitha dengan
fokus... wangi maskulin dari tubuh kekarnya…
"Jawab
aku."
Talitha
meneguk ludahnya dengan susah payah. Waduh, mampus! Mau jawab
bagaimana ini?!! Matilah Talitha!
Talitha
melipat bibirnya demi mengurangi rasa gugup yang melanda. Tapi… gugup? Sudah
berapa lama sejak Talitha jadi gugup tiap kali Deon melakukan hal romantis? Selain
itu, sejak kapan… Talitha jadi selalu memikirkan Deon?
Wait.
Talitha
jadi ingat sesuatu. Itu dia caranya!
Talitha
menaruh tangannya di dada, mengecek detak jantungnya sendiri. Sebenarnya,
sedari tadi dia sudah tahu kalau jantungnya berdegup kencang. Dia juga tahu
bahwa ini selalu terjadi setiap Deon berada di dekatnya, tetapi selama ini… dia
tak mau ambil pusing karena tak tahu apa maksud dari degupan itu.
Pelan-pelan,
Talitha pun meraih tangan Deon yang sedang memegang wajahnya, lalu mengarahkan
tangan pria itu agar memegang area jantungnya.
Talitha
meneguk ludah. Ia agak ragu, ekspresi wajahnya sungguh terlihat seperti orang
terbodoh sepanjang masa. "Coba kamu cek. Ini... cinta? Aku nggak
ngerti."
Deon
mengangkat sebelah alisnya. Sesaat kemudian, ia pun fokus mendengarkan detak
jantung Talitha.
Mata
Deon membelalak. Ia langsung menatap mata Talitha dengan tak percaya, seolah-olah
sedang mencari kejujuran di mata gadis itu. Namun, begitu menemukan kejujuran
di sana... Deon perlahan tersenyum miring.
Baru
kali ini Talitha melihat mata Deon berbinar saat menatapnya. Talitha langsung
mengernyitkan dahi. "Jadi, gimana, Deon? Itu... kalau berdetak kencang
gitu... maksudnya apa?"
Deon
tersenyum. Pria itu mencium kening Talitha dan langsung mendekapnya erat.
"Kamu
cinta sama aku," ujar Deon. "Sekarang, ayo kita ke rumahku. Aku mau
bicara lagi sama ayahnya Chintya dan nolak perjodohan itu. Aku juga udah nelepon
Bang Gavin supaya dia dateng dan jelasin semua yang Chintya lakuin ke ayahnya.
Kamu harus dateng bareng aku, Sayang."
Mata
Talitha membulat.
******
Deon
masuk ke apartemennya sembari menggandeng Talitha. Di ruang tamu, ayahnya
Chintya dan Serena sudah menunggu bersama Chintya yang bermuka masam. Begitu
Deon muncul, Serena langsung membelalakkan matanya.
Deon
membawa Talitha duduk di sofa, tepat berseberangan dengan Chintya dan ayahnya.
Tanpa basa-basi, Deon langsung membuka pembicaraan, "Maaf, Om. Deon telat."
Ayah
Chintya tersenyum simpul dan menatap Deon dengan penuh kasih sayang.
"Nggak apa-apa, Deon."
"Om,
Deon langsung aja," ujar Deon sembari menghela napas. "Deon nggak
bisa menikah sama Chintya."
Chintya
menunduk dan mulai menangis. Ia sudah tahu Deon akan bicara seperti itu, tetapi
ia tetap tak bisa menerima kenyataan. Selama ini ia yakin Deon mencintainya, tetapi
kenyataan malah mengempaskannya ke samudra.
Ayah
Chintya terkejut, begitu pula Serena yang tidak menyangka Deon akan berbicara terang-terangan
seperti itu, padahal dia sendiri sudah tahu alasan di baliknya.
Ayah
Chintya menggeleng. "T—Tapi, Deon, kenapa—"
Tiba-tiba,
bel apartemen Deon berbunyi, menginterupsi pembicaraan mereka. Serena—yang
merasa suasana jadi kaku—pun langsung beranjak. "Tunggu sebentar!"
Saat
pintu dibuka, muncullah Gavin dan Kanya. Serena sempat bingung, tetapi dia
tetap mengizinkan mereka masuk.
Ayah
Chintya bingung melihat dua sosok asing tersebut. Sementara itu, Chintya
langsung terkesiap. Deon dan Talitha pun ikut menatap Gavin.
"Bang!"
teriak Talitha.
Deon
mengangguk pada Gavin, seolah-olah mengisyaratkan sesuatu. Gavin membalas
anggukan tersebut. Serena sudah duduk kembali di sofa.
Gavin
mulai menatap ayah Chintya. "Mohon maaf sebelumnya, Pak. Saya Gavin dan
ini… Kanya. Saya pegawai di kantornya Deon. Saya datang ke sini untuk memberitahu
kalau Anak Bapak sudah melakukan hal yang buruk ke saya dan gadis ini."
Mata
ayah Chintya membulat. "Apa maksud—"
"Dia
bener, Om," potong Deon. Ayah Chintya langsung menatap Deon tak percaya.
Deon menatap Chintya dengan tajam sekilas, lalu menatap ayah Chintya kembali.
"Deon nggak bisa setuju sama perjodohan ini karena jujur... Deon cuma nganggap
Chintya sebagai sahabat. Deon nggak cinta sama Chintya, Om. Yang Deon cintai
itu..."
"Gadis
ini," lanjut Deon seraya memegang tangan Talitha. Ayah Chintya langsung
menatap Talitha. Pria paruh baya itu jadi heran setengah mati. Siapa gadis itu?
Sejak kapan Deon bertemu... dan mencintai gadis itu?
"Aku
terus terang aja, Om. Chintya berniat jahat karena tau kenyataan kalau aku ngejalin
hubungan sama gadis ini. Chintya milih buat misahin kami dengan cara nyerang
saudara kandungnya. Pria ini adalah abangnya," ujar Deon sembari menunjuk
Gavin dengan dagunya.
Ayah
Chintya menggeleng tak habis pikir. Ia tidak mengira anaknya akan berbuat hal
jahat seperti itu. Ia percaya anaknya, tetapi percaya juga pada Deon. Deon
tidak pernah berbuat aneh-aneh dan bila Deon mengatakan sesuatu, itu pasti
benar.
"Dia
menjebak pria ini agar meminum obat perangsang di diskotik, lalu memfitnahnya melakukan
one night stand dengan sesama pekerja di kantor. Chintya bahkan nyebarin
fotonya di kantor biar aku jadi pecat pria ini," lanjut Deon lagi. Tanpa
menunggu respons, Deon pun menatap Gavin. "Gimana tesnya, Bang?"
"Udah
dicek, Deon," ujar Gavin. "Aku bersyukur karena ternyata kami berdua
nggak bener-bener ngelakuin itu malem itu. Dokter udah cek dan secara medis
nggak ada tanda-tanda kalau kita melakukan hubungan itu. Hasil tes darah juga
nunjukin kalau kita cuma di bawah pengaruh obat."
Talitha
menghela napas lega. Dia menatap Gavin seraya tersenyum. "Bang…"
Gavin
menatap Talitha sembari tersenyum lembut. Ia merasakan kebahagiaan yang Talitha
rasakan. Dia mengangguk pelan pada Talitha.
"Jadi…
karena itulah aku nggak mau ngelaksanain perjodohan ini, Om,” ujar Deon dengan
serius.
Ayah
Chintya menunduk. Pria paruh baya itu mengepalkan tangannya, lalu bangkit dan
menyentak Chintya agar berdiri. Ia terlihat murka saat menyeret anaknya keluar
dari apartemen itu. Chintya menangis kencang sambil berusaha untuk melepaskan
diri dari cengkeraman ayahnya.
Semua
orang jadi terkejut dan ikut berdiri. Serena berusaha untuk menengahi.
"Rey—"
"Udah,
Serena, jangan hentikan aku. Aku malu punya anak kayak gini!" teriak ayah
Chintya. Chintya semakin menangis kencang. "Pa, please, Pa,
dengerin Chintya dulu! Papa nggak boleh kayak gini... Pa, please,
Chintya nggak—"
"Ayo
pulang! Papa bakal ngehentiin semua kegiatan modeling kamu dan bikin
kamu berhenti kerja! Bikin malu Papa aja kamu! AYO PULANG SEKARANG! PAPA BAKAL
KASIH KAMU PELAJARAN!"
Talitha
melongo. Ia ingin menolong Chintya, tetapi Deon menggeleng, mengisyaratkannya untuk
tidak ikut campur. Ayah Chintya terus menyeret putrinya hingga ke ambang pintu.
Chintya
sempat menoleh dengan wajah bersimbah air mata. Ia menatap Deon dengan pilu. Namun,
saat tatapannya beralih ke Talitha, sorot matanya mendadak berubah menjadi
kebencian yang mendalam. Semua orang jadi kaget.
Chintya
ditarik paksa oleh ayahnya, menyisakan ruang tamu yang seketika jadi sunyi.
Suara teriakan dan tangisan itu perlahan-lahan menghilang.
******
Mama
Talitha membelalakkan matanya saat membuka pintu rumah. Di sana sudah berdiri
Deon, Talitha, Gavin, dan Kanya. Sesungguhnya, ia masih sedih dengan kabar
tentang Gavin, tetapi ia segera mempersilakan mereka masuk.
Revan
(yang sudah menunggu sejak tadi) juga langsung kaget melihat rombongan itu
datang. Gavin pun menunjukkan ekspresi terkejut yang sama saat menyadari Revan
sudah duduk di ruang tamu. Begitu semua orang berkumpul, mama Talitha langsung
membuka suara, "Ada apa, Deon?"
Papa
Talitha yang baru datang menyusul duduk di sebelah istrinya. "Ada apa
ini?"
Deon
menarik napas panjang. Hening sesaat, sebelum ia akhirnya berbicara. "Pa,
Ma, maafin Deon karena udah memecat—"
"Nggak
apa-apa, Deon. Kami sudah tau semuanya. Gavin udah cerita," potong papa
Talitha, membuat semua orang spontan membulatkan mata.
Mama
Talitha mengangguk. "Benar. Kami sudah tau semuanya, Sayang. Tentang Gavin
yang dijebak, foto-fotonya, sampe pelakunya. Kami tau kamu memecat dia cuma
karena kebijakan kantor."
Deon
mengangguk pelan, merasa lega karena tidak perlu menjelaskan panjang lebar.
"Iya, Ma. Maafin Deon. Kalo Deon tau lebih awal, semuanya nggak akan
terjadi. Bang Gavin bakal kerja lagi bulan depan. Lagian, Bang Gavin nggak
ngelakuin apa-apa ke Kanya. Tadi udah tes di rumah sakit."
"Itu
bener, Ma,” tambah Gavin.
Kabar
itu membuat Mama, Papa, dan Revan jadi lega. Mereka semua mengucap syukur. Mama
Talitha bahkan memegangi dadanya seraya menitikkan air mata.
Tiba-tiba,
Kanya mendekati orang tua Talitha dan bersujud di depan mereka. Semua orang di
ruangan itu spontan terkejut.
"Om,
Tante, tolong..." mohon Kanya. "Pak Gavin nggak ngelakuin apa-apa ke
saya. Jadi, tolong gagalin rencana pernikahan yang kemarin Pak Gavin usulkan.
Saya nggak mau beliau menderita. Pak Gavin pantas menikah sama orang yang dia cintai."
Mama
Talitha langsung menarik Kanya untuk berdiri. Mama Talitha tersenyum hangat
sembari mengusap pundak Kanya. "Iya, Nak. Karena semuanya udah terbukti,
pernikahan itu nggak akan dilaksanakan. Terima kasih karena udah khawatir sama
Gavin, padahal kamu sendiri juga menderita."
Kanya
menggeleng kencang, merasa sangat bersalah. Namun, mama Talitha segera
menenangkannya agar tidak lagi menyalahkan diri sendiri. Suasana yang tadinya
tegang kini berubah menjadi penuh haru. Semuanya selesai dengan baik.
Saat
suasana mulai tenang, Deon tiba-tiba angkat bicara. "Karena pernikahan
Bang Gavin batal... apa ada yang keberatan kalo Deon bilang mau tunangan sama
Talitha secepatnya?"
Seketika,
semua orang kembali terkejut. Bola mata Gavin seolah-olah ingin keluar dari soketnya,
sementara Revan cuma bisa melongo karena merasa dilangkahi adiknya sendiri.
"HAH?!"
teriak Talitha kaget. "DEON, REM SEBENTAR! Oi, Deon, kita belum—"
"Secepatnya?!
Ya ampun, akhirnya menantu kesayangan melamar juga!" seru mama Talitha kegirangan.
Papa
Talitha ikut terkejut. "Tapi Nak… Talitha, kan, belum lulus kuliah.
Lagian, mama kamu gimana?"
Deon
tersenyum penuh rahasia dan menatap ke arah pintu. Di sana sudah berdiri Serena
dengan senyuman manis yang membuatnya tampak awet muda. Baru kali ini Serena
berkunjung ke sana, itu pun karena Deon sengaja mengirimkan lokasinya.
Serena
memiringkan kepala. "Deon, tumben kamu nge-chat Mama duluan."
Deon
membuang muka, tampak malas menanggapi ibunya sendiri. "Aku
terpaksa."
Talitha
menahan tawa melihat ekspresi kesal Deon. Meski begitu, ia benar-benar terharu
melihat Deon akhirnya mulai menerima kehadiran Serena kembali.
"Ngakuin
kalo kamu sayang sama Mama aja susah banget, sih?" Serena tertawa renyah. Ia
melangkah masuk, duduk di sebelah Kanya, lalu menyalami orang tua Talitha.
"Halo, calon besan."
Kedua
orangtua Talitha tertawa terbahak-bahak. Mama Talitha memukul bahu Serena dan
menggeleng geli. "Halo! Hahaha. Wah, udah berapa kali lihat mamanya calon
menantu, tapi kayaknya makin cantik aja, ya?!"
Serena
tertawa keras. Setelah itu, Serena menatap Deon.
"Kamu nggak mau
salam Mama?" tanya Serena pada Deon, membuat semua orang tertawa geli.
Deon
berdecak. "Berhenti, Ma. Jangan godain aku.”
Talitha ngakak. Hal
itu membuat Deon jadi menatapnya seraya mengangkat alis.
"Udah,
sih, Deon, salam aja. Itu Mama kamu, lho," ujar Talitha, padahal dia
sendiri tak berhenti menertawai Deon. Ia tertawa terpingkal-pingkal sampai
membuat Revan nyaris ikut tertawa, tetapi Revan menahan tawanya karena masih
ingat bahwa Deon itu atasannya. Talitha mah… mana ada malunya
kalau sudah menertawakan orang.
Deon
mendengkus. Pria itu memilih untuk langsung menghadap ke papa Talitha.
"Ini
Mamaku, Pa. Mama udah tau kalau aku mau ngelamar Talitha. Tapi aku mau kami tunangan
dulu karena aku tau kalau Talitha masih kuliah. Aku juga akhir-akhir ini banyak
urusan bisnis, jadi lebih baik kami bertunangan dulu," ujar Deon. Talitha
mendadak menganga mendengar semua penjelasan Deon. Oi, oi—ini... serius?!
Deon
kemudian melanjutkan, "Sebenernya, nggak ada masalah kalo nikah pas Talitha
masih kuliah, tapi aku ngerti kalo dia masih mau nikmatin masa remajanya. Aku
mau belajar untuk ngerti dia dan nggak egois. Aku tau kalo aku pasti bakal
kehilangan dia kalo nggenggam dia terlalu erat. Aku juga mau belajar untuk dengerin
pendapat orang lain. Jadi, tolong kasih pendapat Mama sama Papa."
Papa
Talitha menghadap ke arah mama Talitha, tetapi percuma. Mama Talitha sekarang
sedang kesengsem mendengar kalimat Deon tentang Talitha. Ia bahkan menaruh
kedua tangannya di pipi.
Alhasil,
Papa Talitha kembali menatap Deon. "Deon, apa kamu yakin? Kami semua
memang setuju karena kamu udah ngambil hati kami sejak lama, tapi sebenernya… sekarang
semuanya tergantung Talitha. Dialah yang berhak mutusin itu."
Semua
mata tertuju pada Talitha. Talitha langsung membelalakkan matanya. Gadis itu
meneguk ludahnya dengan susah payah.
Aduh,
mati.
Deon
tersenyum pada Talitha. "Berikan jawaban kamu, Talitha. Kamu nggak perlu
khawatir karena aku bakal ngawasin kamu 24 jam. Lagian, kita cuma perlu tunangan
dulu. Kita bakal nikah pas kamu sudah tamat. Apa kamu mau nikah sama aku?"
Gavin
melongo. Entah mengapa, sifat overprotective Gavin jadi muncul ke
permukaan. Apakah Talitha dan Deon akan aman jika bertunangan seawal ini?
Apakah Talitha bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik? Bagi Gavin, anak itu
masih bau kencur!
Gavin
ingin mengutarakan semua kekhawatirannya itu, tetapi masih kaget mendengar
ucapan Deon. Sialan, Deon ini unpredictable banget!
Talitha
menggaruk keningnya. Tiba-tiba gadis itu bingung mau menjawab apa. Niatnya menemui
Deon tadi pagi hanyalah ingin menanyakan Gavin, tetapi ujung-ujungnya, ia jadi
dilamar mendadak seperti ini. Mampus! Mau gimana, nih?!
Talitha
sekarang mengakui kalau dia memang suka pada Deon. Meski Deon menjengkelkan,
tetapi kalau tidak ada Deon sehari saja... itu akan terasa aneh. Paling tidak,
meski sejenak dan tak disadari, Talitha pasti terpikir tentang Deon
setiap harinya. Talitha jadi terbiasa.
Dulu,
Talitha berkata pada Deon bahwa takkan ada cinta di antara mereka. Mereka
bersatu juga karena Gavin. Pertemuan pertama mereka pun terjadi saat Gavin
membawa Talitha untuk menghadiri acara anniversary Abraham Groups. Semua
itu terjadi karena Gavin. Kalau Gavin tidak membawa Talitha saat itu, ia tak
mungkin bertemu dengan Deon. Kalau bukan karena masalah Gavin saat ini pun,
Talitha takkan tahu bahwa ia telah jatuh cinta pada Deon.
Talitha
masih ingat ketika ia menunjuk Deon yang sedang berdiri di panggung saat itu
dan berteriak "MARCO DEON!" hingga membuat Deon menatapnya dengan aneh.
Kejadian itu sangat gila.
Siapa
sangka, Tuhan menuntun kejadian memalukan itu hingga ke titik seserius ini.
Talitha
menunduk. Setelah itu, ia pun mengepalkan tangannya dan menarik napas. Jelas
tidak mudah memproses perasaan seperti ini mengingat Talitha adalah jomblo dari
lahir. Dia tahu bahwa bila dia tidak melihat Deon lagi, dia akan merasa aneh.
Mungkin akan super aneh. Deon sudah mengaduk-aduk kehidupannya.
Ini
tidak beres. Seharusnya… kalau Deon tak ada, Talitha
senang. Namun, akhir-akhir ini… tidak begitu. Berarti, semua itu benar.
Talitha harus memberikan keputusannya. Ia menatap Deon dengan mantap, lalu mengangguk
perlahan.
"Aku...
mau," ujar Talitha dengan yakin. Dia tersenyum kepada Deon.
Mata
Deon membelalak. Mulut pria itu terbuka sedikit, tampak begitu kaget dengan
jawaban Talitha yang serius. Ia menatap Talitha seolah-olah mencari sisa
keraguan di wajah gadis itu. Begitu yakin, ia langsung tersenyum lebar dan
mendekap Talitha dengan erat.
"Terima
kasih, Talitha. Aku mencintai kamu."
"Iya.
Makasih juga, ya, Deon," jawab Talitha sembari tersenyum lebar. Ia malah ngakak
saat mendengar Deon tertawa kecil dalam pelukannya. Sejak kapan Deon hobi
tertawa polos begitu? Virus "sableng" Talitha benar-benar sudah
menular pada Deon.
"Wah,
harus cepat-cepat disiapin, nih!!" seru mama Talitha, membuat suasana
pecah oleh tawa bahagia.
******
Suara
tubrukan di depan mobil membuat Revan kaget. Ia segera menginjak rem sekuat
tenaga. Begitu mobil berhenti total, Revan keluar dengan wajah merah padam
karena emosi.
Kurang
ajar banget ini yang nabrak! Nggak punya mata apa?!
"Woi!"
teriak Revan. Seseorang yang tabrakan dengannya itu rupanya perempuan. Revan
mengernyitkan dahi begitu tahu siapa perempuan itu.
Perempuan
itu mengerang kesakitan dan langsung menatap orang yang menabraknya dengan mata
nyalang. Namun, ia tiba-tiba menganga saat tahu bahwa orang itu adalah Revan.
"VEROKSIN?!" teriak
Revan.
"TONGGOS?!
SIALAN LO! SINI GAK LO! MOTOR GUE RUSAK, COEG!! KAKI GUE
TERKILIR NIH! TANGGUNG JAWAB LO!! A—Akh—" Vero kembali mengerang.
Revan
sedikit maju, ingin menolong Vero karena merasa kasihan, tetapi tidak jadi karena gengsinya
setinggi langit. "Heh, elo yang nabrak gue, bego! Siapa suruh lo nyetir
motor sembarangan? Masa mobil gue udah gede gini masih nggak keliatan?! Mata lo
ke mana, hah?!"
"EH
KAMBING! KOK MALAH BALIK MARAHIN GUE?! ELO YANG NABRAK GUE!" bentak Vero.
"ELO!"
balas Revan. Dia keki setengah mati.
Nih
cewek monster kenapa, sih, bikin gue kesel terus? Nggak ada bagus-bagusnya nih
cewek.
"ELO!!!"
teriak Vero lagi. "POKOKNYA GUE NGGAK MAU TAU, BAWA GUE KE RUMAH SAKIT, KAMPRET!
KAYAKNYA KAKI GUE TULANGNYA KEGESER!”
"ELO
YANG KAMPRET! MULUT LO TUH YA!" jawab Revan.
"NGGAK
MAU TAU!" Vero memelototi Revan dengan sadis. Revan menganga.
"Sialan,"
kata Revan. "Nggak mungkin sampe kegeser juga kali! Pelan doang kok tabrakannya.
Untung aja badan mobil gue gak lecet. Kalo lecet, awas lo!!"
“BACOT!
CEPETAN BANTU GUE!" perintah Vero.
Revan
berdecak kesal.
Ampun,
Tuhan, tolong buat nih cewek ditelan bumi. Atau tenggelem aja gitu di laut.
Tinggal ngilang dari sekitar gue apa susahnya, sih?!
******
Deon
menutup pintu kamar kembali saat mereka berdua sudah masuk ke kamar Talitha.
Talitha sudah berdiri di depan Deon dan gadis itu langsung berbalik, menghadap pada
Deon.
"Deon,
kamu gila, ya! Warbyazah!!! Apa yang kamu pikirin, oi, sampe-sampe pengin nikah
secepet itu?! Bikin jantungan aja, weh, sumpah!!! Pasti Mama sama
Papa kaget banget tuh! Mama jadi gebleg gitu! Ampun dah nih
anak, gimana kalo sampe—astaga!!!" Talitha menggeleng-geleng sendiri.
"Kamu nih emang aneh!!"
Deon
tersenyum miring. Pria itu memiringkan kepalanya dan mendekati Talitha
perlahan-lahan. Talitha (yang tadinya kesal) kini sadar kalau Deon tengah mendekatinya.
Dia mengedipkan matanya berkali-kali (seperti orang bodoh), tetapi begitu
sadar, dia langsung mundur sambil merentangkan tangannya ke depan. "Lah
lah lah lah—tunggu—tunggu dulu, Deon! Deon, kamu mau ngapain?!!"
Deon
mengangkat alisnya. "Aku cuma mau deketin kamu."
Talitha
menganga. "Buset nih anak! Tunggu dulu! Tunggu dulu, oi!! Aku belum
selesai ngomong!!"
Deon
mendengkus. "Aku nggak peduli. Aku mau liat wajah kamu lebih deket. Kamu
yang hatinya udah jadi milik aku sekarang. Milik aku
seutuhnya."
"Iya,
iya, aku milik kamu! Aku milik kamu! Jadi, please, berhenti! Aku hampir
jatuh, nih!!!" teriak Talitha. Dia sadar kalau pahanya sudah menabrak lengan
ranjang.
Deon
semakin tersenyum miring. "Aku nggak bakal berhenti.
Siapa suruh kamu nyatain perasaan kamu dengan cara kayak gitu? Coba bilang ke
aku dengan jelas sekarang."
Talitha
bergidik ngeri. Ia menggeleng-geleng. "Weeeh, Deon,
sumpah! Kamu kayaknya orang paling aneh sejagat raya!"
Sekarang,
jarak antara Deon dan Talitha hanyalah satu langkah. Jika Deon melangkah lagi, tubuh
mereka akan menempel.
"Bukannya
yang aneh itu kamu? Cinta sama aku udah dari lama, tapi nggak sadar?"
tanya Deon sarkastis.
"DEON!"
teriak Talitha. "Oke, oke, ampun! Ampun, dah! Hayati nyerah! Tenggelemin
aja hayati ke rawa-rawa!"
Tiba-tiba
saja, tubuh mereka sudah menempel. Getaran itu kini begitu terasa mengingat tubuh
mereka hanya terhalang pakaian masing-masing. Wangi maskulin Deon benar-benar
memabukkan hingga lidah Talitha jadi kelu.
"Bilang kalau
kamu cinta sama aku," perintah Deon sembari
mengangkat dagu Talitha agar gadis itu menatap matanya.
Talitha
meneguk ludah. Sekakmat.
"Iya,
tapi lepasin aku dulu—"
"Bilang sekarang, Talitha.
Keras-keras."
"Astaga, iya,
oi! Lepasin dulu kali! Ini aku mau jatuh! Ntar kalo sampe kita jatuh ke kasur,
jangan protes kalo aku gerepe-gerepe kamu!" teriak Talitha. Deon tertawa.
Talitha
hampir saja terpesona melihat Deon yang sangat tampan saat tertawa seperti itu.
Ujung hidung Deon kok bisa lancip begitu, ya? Luar biasa.
Ciptaan Tuhan yang satu ini memang tampan sekali, apalagi dia memang jarang
teratawa.
Deon
sekarang benar-benar menjadi sosok yang berbeda, terutama di depan Talitha.
Keterpakuan
Talitha buyar saat Deon kembali menatapnya tajam. Pria itu lantas berkata
dengan penuh peringatan, "Bilang sekarang, Talitha, atau kuikat kamu di
ranjang."
Talitha
terperanjat. Lehernya bak tercekik saat mendengar itu.
Halah, terserahlah! Yang
penting nggak diikat di ranjang sendiri! Apa yang bakal terjadi itu urusan
nanti, dah!
Akhirnya,
Talitha pun menutup matanya dan berteriak:
"Aku
mencintai kamu, Deon!!!"
Deon
tersenyum puas. Pria itu mendadak menarik Talitha hingga gadis itu membelalakkan
mata. Dia membawa Talitha ke ujung ruangan, lalu mengimpit tubuh gadis itu ke
dinding. "Besok-besok, tolak si Alfa sialan itu. Selain
itu, jangan protes kalo aku marahin siapa pun yang berani deketin kamu. Kamu
itu calon istriku, semuanya udah jelas sekarang," ujar Deon.
Sebelum
Talitha sempat merespons, Deon kembali berbicara, "Aku nggak nyangka
kalo perempuan gila kayak kamu ternyata bisa mencintai lawan jenis."
Talitha
memiringkan kepalanya. What?
"Maaf,
ya, Mas Ganteng, itu maksudnya apa, ya?" sindir Talitha
dengan ekspresi datar.
"Ngomong-ngomong,
aku kangen sama kamu,” kata Deon pelan. Pria itu tersenyum
penuh rahasia. "Jadi, jangan nolak, ya. Aku mau cium kamu, soalnya."
Mata
Talitha membulat.
"WADUH,
MATI!" teriak Talitha. Dia bergidik melihat senyum Deon yang mengerikan
itu. Ternyata, cinta mampu menyihir sosok sekejam Deon jadi mesum begini.
[]

Vero
