Saturday, January 10, 2026

My Friend's Father (Chapter 5: Wealthy and Powerful Man)

 


******

Chapter 5 :

Wealthy and Powerful Man

 

******

 

PONSEL berwarna hitam yang ada di atas meja itu berbunyi, pertanda ada sebuah panggilan masuk. Dua detik kemudian, ada sebuah tangan berurat yang muncul dan menggeser tombol di layar, mengangkat panggilan telepon itu.

Juan Zacharias melangkah mendekati lemari pakaiannya yang superbesar. Ia tengah memakai kemeja putihnya tatkala suara Hubert (dari seberang sana) terdengar di ruangan. Ia menyelipkan satu lengannya ke dalam kemeja, lalu menarik kain itu menyusuri bahu lebarnya. Tubuh shirtless-nya terlihat sangat kokoh; dadanya bidang. Otot-otot di perut dan lengan atas, lalu urat-urat di leher, lengan, dan tangannya, semua tercetak dengan jelas.

“Semua sudah selesai, Pak,” ujar Hubert. “Semua tim sudah membatalkan proyek dengan perusahaan milik Pak Bennett. Kabar ini juga sudah disampaikan kepada tim mereka.”

Juan tengah mengancing kemejanya; dia belum menjawab.

“Ini mungkin tidak penting untuk disampaikan pada Bapak, tetapi hampir seluruh investor mereka mundur karena Zach Enterprises berhenti bekerja sama dengan mereka. Semua investor itu mendengar informasinya dalam waktu kurang dari satu jam. Pak Bennett sejak tadi terus-menerus menghubungi kami, Pak.”

Sebenarnya, di seberang sana, Hubert juga belum tahu mengapa Mr. Juan Zacharias menghubunginya satu jam yang lalu, meneleponnya hanya untuk berkata satu kalimat:

“Batalkan kerja sama kita dengan Valemont Group.”

Sudah. Hanya itu. Jam tujuh pagi. Saat Hubert sedang sarapan.

Jelas saja, karena permintaan bos besar yang mendadak itu, Hubert langsung menelepon seluruh direktur yang bertanggung jawab dan memberitahukan permintaan itu. Seluruh direktur pun langsung menghubungi anggota mereka…dan semua orang langsung bergerak cepat untuk memproses pembatalan proyek.

Tanpa tahu apa alasannya.

Namun, satu kata dari Juan Zacharias adalah mutlak. Dia pemimpin sekaligus pemilik dari semua aset Zach Enterprises yang mendunia, menguasai secara global. Satu perintah darinya adalah kewajiban dari seluruh orang-orang yang ada di dalam Zach Enterprises.

Namun, karena sudah bertahun-tahun bekerja sebagai sekretaris langsung Juan Zacharias, Hubert pun paham bahwa:

Mr. Zacharias tidak akan membuat tindakan seperti ini apabila tidak ada masalah.

Beliau adalah orang yang berwibawa, baik, dan dermawan. Pemimpin sejati. Biasanya, orang-orang akan cenderung arogan apabila memiliki kekuasaan, kekayaan, dan kekuatan sebesar dirinya (karena dia adalah orang terkaya dan paling berpengaruh di zaman ini!), tetapi dia tidak seperti itu. Hal itulah yang membuatnya sangat dihormati dan dikagumi di mana pun dia berada.

Sepertinya, Valemont Group menyentuh sesuatu yang tidak seharusnya disentuh. Entah itu hal pribadi atau bukan.

Jadi, pagi itu, sejak jam tujuh pagi, semua orang sudah sibuk memproses pembatalan kerja sama dengan Valemont Group. Hubert dan para direktur (board of directors) langsung pergi ke kantor saat itu juga.

Juan tidak mengatakan apa pun selain satu kalimat itu, tidak menjelaskan apa-apa, tetapi semua orang di bawahnya langsung menyesuaikan diri. Mereka langsung bergerak dan mengusahakan agar semuanya selesai dengan cepat. Satu jam kemudian, semua hal yang berkaitan dengan kerja sama itu telah selesai di-terminate.

Dibatalkan total.

Sekarang, yang tersisa hanyalah: memberitahu Juan bahwa semuanya sudah selesai.

Sejak tadi, Pak Bennett terus saja menelepon pihak mereka. Menelepon Hubert. Terus-menerus memohon seperti, ‘Aku sudah memberi pelajaran pada anakku! Dia tak tahu kalau dia sedang mencari masalah dengan anaknya Mr. Zacharias! Tolong sampaikan kepada Mr. Zacharias bahwa aku sangat menyesal, Pak. Tolong. Tolong sampaikan ini pada beliau.’

Dari sanalah, Hubert bisa mendapat kesimpulan bahwa:

Sepertinya, yang diganggu oleh Bennett adalah Tuan Muda Lucian.

Pantas saja.

Ujung-ujungnya, Hubert hanya menjawab, “Kami hanya meneruskan perintah Mr. Zacharias, Pak. Beliau telah memerintahkan kami untuk membatalkan kerja samanya. Mungkin, Bapak bisa menghubungi beliau secara langsung.”

Mr. Bennett langsung terdiam saat mendengar itu, lalu kembali frustrasi. Ya, Hubert tahu bahwa itu mustahil dilakukan. Siapa juga yang berani melakukan itu? Yang dihadapi ini bukanlah bos perusahaan biasa; ini adalah Juan Zacharias.

Hubert sengaja mengatakan itu. Itu aman untuk dikatakan…sekaligus pantas juga untuk anak Bennett yang jelas-jelas…salah (kalau didengar dari ucapan ayahnya saat memohon pada Hubert).

Juan tengah memasang dasinya ketika suara Hubert kembali terdengar.

“Kami telah mengatasi telepon-telepon dari beliau, Pak.”

Juan mengambil jas berwarna midnight navy-nya dan memasukkan lengannya satu per satu. Setelah itu, dengan suaranya yang dalam, tenang, dan seksi itu, dia menjawab:

 

“Oke.”

 

******

 

“Seliiinnnnn!!!! Bangun, Dekkk!!”

Selin mengerutkan dahi. Gadis itu langsung menarik selimut—hingga menutupi kepalanya—dan mengerang. “Arghhh, Kaaaak… Ntar ajalah… Ini weekend… Aku nggak kuliah…”

Reese, kakak perempuan Selin, langsung menarik kembali selimut Selin hingga ke bawah. “Iya tau kalo kamu nggak kuliah, tapi emangnya nggak mau makan sampe siang?! Udah jam berapa ini??! Tumben banget kamu masih tidur! Mama sama Papa nungguin, tuh, di luar!!”

Selin berdecak, kakinya bergerak menendang-nendang ke bawah, lalu ia menutupi wajahnya dengan bantal guling. “Aaaah, Kak, nanti dulu… Mimpinya lagi seru, nih…”

Reese memutar bola matanya. “Mimpi apaan kamu? Udah cepet bangun! Aku laper, nih!”

Dengan secepat kilat, Reese menarik lengan Selin hingga gadis itu terduduk. “Cepet bangun, cuci muka! Udah siang ini! Makanya jangan begadang!”

Ya bagaimana, ya, soalnya semalam Selin tak bisa tidur.

Selin duduk di sana dengan mata yang masih separuh terpejam. Dia sedikit mengerjap—beberapa kali—tetapi lebih banyak terpejam. Kepalanya agak oleng karena masih mengantuk.

Reese pun meninggalkan Selin sendirian dan kembali ke ruang makan. Sebenarnya, ruang makan itu tidak jauh dari kamar Selin, jadi Selin cuma harus keluar dan berjalan beberapa langkah.

Akhirnya, setelah satu menit mengumpulkan nyawa, Selin pun menggaruk kepalanya dan bangkit. Dia malas sekali, sebenarnya, soalnya dia baru bisa tidur jam 3 pagi tadi.

Mengantuknya minta ampun.

Selin mulai pergi ke kamar mandi (yang ada di dalam kamarnya) dan mencuci muka. Setelah itu, dia berkumur-kumur, lalu pergi ke luar kamar.

Tatkala menutup pintu kamarnya kembali, Selin sudah bisa melihat ayah, ibu, dan kakaknya yang duduk bersama di dekat meja makan. Di atas meja itu sudah ada menu sarapan sederhana yang mungkin saja dimasak oleh ibu dan kakaknya.

Ternyata, Selin sangat kesiangan sampai-sampai tidak membantu ibu dan kakaknya. Ini weekend, sih, jadi biasanya Selin memang tidak dibangunkan, kecuali kalau sudah jam delapan pagi. Biasanya, Selinlah yang akan bangun sendiri. Dia akan bangun sekitar jam enam pagi kalau kuliah…dan jam tujuh pagi kalau weekend. Makanya, dia selalu sempat membantu mamanya.

Namun, hari ini, dia belum bangun hingga jam delapan. Membuat Reese harus membangunkannya.

“Tumben banget kamu, Lin?” tanya Papa. “Ngapain semalem emangnya?”

Selin—yang masih mengantuk itu—mulai menarik kursi yang ada di sebelah kakaknya dan duduk di sana. “Nggak apa-apa, Pa.”

“Lagi mimpi, katanya,” komentar Reese. Gadis itu sudah mulai mengunyah roti.

Mama tertawa kecil, geli, dan menggeleng. “Mimpi apaan sampe kesiangan gitu? Ada-ada aja. Ayo makan.”

Mereka mulai makan. Selin mengambil sup dan nasi, lalu sambil mengunyah, ia pun mendengar Reese mulai berbicara.

“Ma, Pa,” panggil Reese. “Terlalu muda nggak, ya, kalo aku nikah umur 25 tahun?”

Mama, Papa, dan Selin pun langsung menatap Reese walau sambil makan. Mereka sama-sama menaikkan alis. Mama pun berkomentar, “Kenapa emangnya?”

“Ya, masih muda,” jawab Papa. “tapi ngapain nanya gitu?”

“Kevin kayaknya mau ngelamar aku, deh,” ujar Reese seraya mengedikkan bahu.

Mama dan Papa sontak berhenti makan sejenak.

“Beneran?” tanya Mama.

Reese mengangguk. “Iya.”

“Kok kamu bisa tau? Emang dia ada bilang?” tanya Papa, mau memastikan. Selin hanya menyimak. Dia tahu kalau kakaknya dan Kak Kevin itu sudah lama berpacaran.

“Gak ada bilang ke aku, sih,” jawab Reese. “tapi ada temen sekantornya yang ngasih tau aku kalo dia lagi beli cincin buat ngelamar aku.”

“Wah!” Mama melebarkan mata. “Ya itu kabar bagus, sih, tapi kok kalo dipikir-pikir temennya itu kurang peka, ya? Kok malah ngasih tau kamu. Harusnya yang kayak gitu tuh surprise, ‘kan?”

Papa tersenyum, lanjut menyendok supnya. “Mama malah salah fokus.”

Reese jadi mengakak. “Iya, nih, haha! Tapi kalo dipikir-pikir…bener juga, lho, Pa. Temennya itu kurang bisa liat situasi, hahahahaha! Seneng, sih, tapi aku jadinya udah nggak kaget lagi.”

Mama ikut-ikutan tertawa.

Setelah itu, Papa mengernyitkan dahi. Pria berusia 50 tahun itu pun kembali berbicara, “Tapi kamu yakin mau nikah muda? Ya Papa tau kalo kalian udah lama pacaran…dan kerjaan kalian udah sama-sama stabil, tapi kamu beneran mau nikah sekarang?”

“Ya kalo dia emang beli cincin nikah—bukan cincin tunangan—sih aku oke-oke aja nikah sekarang. Takutnya yang dia beli itu masih cincin tunangan,” ujar Reese seraya tertawa. Mama jadi tertawa lagi.

Papa tersenyum, lalu menggeleng. “Ada-ada aja. Pastiin dulu itu cincin apaan, kalo gitu.”

Well, Papa dan Mama sudah merestui hubungan Reese dan Kevin. Kevin adalah pria baik yang sayang pada Reese dan keluarganya. Selin juga sering melihat Kak Kevin datang ke rumah mereka untuk bersilaturahmi pada Mama dan Papa. Itu bukan pemandangan yang asing lagi.

Tiba-tiba saja, sambil makan nasi, Reese pun menoleh kepada Selin. “Kamu gimana, Lin? Kapan punya pacar? Kayaknya udah bertahun-tahun kamu nggak pernah pacaran lagi. When did you have a boyfriend again? Was it six or seven years ago?”

Mama tertawa. Geli sekali rasanya mendengar ucapan Reese dari tadi.

Selin memasukkan makanan ke dalam mulutnya, lalu dengan ekspresi datar (separuh melamun), dia menjawab, “Nggak, Kak. Nggak ada. Aku akhir-akhir ini sibuk mikirin om-om, soalnya.”

Mendengar itu, baik Mama, Papa, maupun Reese…

 

…semuanya jadi melongo.

 

Tangan mereka—yang mau memasukkan makanan itu—terhenti di udara.

Mereka semua menatap Selin dengan mata melebar.

 

…hah?

 

…apa katanya tadi?

 

‘Om-om’?

 

Reese adalah orang pertama yang merespons. Gadis itu mengedipkan matanya dua kali, lambat, lalu bersuara:

 

“…om-om?”

 

Mendengar ucapan Reese, barulah mata Selin membeliak; pipinya langsung memerah. Buru-buru dia menggaruk tengkuknya, lalu menatap ketiga orang di sana dengan canggung. “Ah—haha… Nggak, nggak. Aku cuma bercanda.”

Selin jadi bangun sepenuhnya sekarang.

Mendengar jawaban Selin, baik itu Mama, Papa, maupun Reese, mereka semua langsung menghela napas. Reese pun berkomentar, “Ada-ada aja.”

Selin tertawa canggung; dia hampir keringat dingin. Keluarganya kembali makan, begitu pula dirinya. Namun, jujur saja, dia sudah tak fokus makan lagi gara-gara keceplosan soal om-om tadi.

Sekitar lima detik kemudian, Selin pun teringat sesuatu. Dia langsung menatap kakaknya—dengan mata yang melebar karena penasaran—dan berkata, “Oh, iya, Kak. Gimana? Besok jadi nggak kita bikin macaron coklat?”

Reese minum sejenak, lalu saat meletakkan gelasnya kembali di atas meja, dia mengangguk. “Jadi. Besok pagi, ayo kita beli bahan-bahannya.”

 

******

 

Juan melangkah menuju pintu utama gedung Zach Lune—salah satu anak perusahaan Zach Enterprises yang bergerak di bidang Luxury Lifestyle & Personal Goods—di kota Belmontia (kota yang bersebelahan dengan kota Velmora, tempat di mana kantor pusat Zach Enterprises/Zach Tower berada). Seperti biasa, saat dia turun dari mobil, sudah banyak orang yang berbaris di sisi kiri dan kanannya, menyambut kedatangannya di sana. Para petinggi di Zach Lune juga berbaris untuk menyambutnya (Managing Director, para Vice President (VP), General Manager, dan lain-lain). Seluruh staf anak perusahaan itu sudah mempersiapkan diri sejak jauh hari karena tahu bahwa bos teratas mereka—Juan A.D. Zacharias—akan melakukan kunjungan hari ini.

Mereka semua menyapanya dengan kalimat: ‘Selamat datang, Mr. Zacharias.’ saat dia mendekat. Sebenarnya, mereka sudah menunduk hormat tatkala melihat mobil hitam Juan beserta mobil-mobil bodyguard-nya memasuki area gedung.

Juan mengangguk dan tersenyum. Para pimpinan Zach Lune langsung menjabat tangannya, menyapanya dengan ramah. Bertanya soal perjalanannya kemari. Setelah itu, mereka mulai berjalan di belakang Juan. Semuanya mengikuti Juan, kecuali Managing Director yang berjalan di samping Juan; sebagai pemimpin di anak perusahaan itu, dia harus menemani dan menunjukkan arah ke ruang meeting pada Juan.

“Mari ke sebelah sini, Pak. Semuanya sudah disiapkan,” kata sang Managing Director seraya menunjuk ke kanan dengan menggunakan telapak tangan yang terbuka.

Juan mengangguk.

Selain dari para petinggi, sebenarnya ada juga karyawan-karyawan lain yang ikut menyambut Juan. Seperti resepsionis dan lain-lain yang wajahnya dianggap oke dan penampilannya rapi (biasanya perempuan). Jujur saja, semua orang (terutama yang bekerja di bawah tatanan Zach Enterprises) tahu bahwa Juan A.D. Zacharias adalah makhluk yang sangat memesona, punya daya tarik yang matang, dan mampu menguasai ruangan hanya dengan keberadaannya. Namun, kalau dilihat dari dekat, ternyata ketampanannya jauh lebih fatal. Dia mampu membuatmu menahan napas tatkala melihatnya secara langsung.

Setelah masuk ke ruang meeting, Juan pun dipersilakan duduk di tengah-tengah. Tatanan meja dan kursi di ruang meeting itu membentuk huruf U. Juan duduk di posisi pusatnya, di titik utama yang menghadap ke seluruh peserta rapat. Cukup banyak yang menghadiri rapat itu: satu Managing Director (posisi tertinggi Zach Lune), lima VP dan GM dengan tanggung jawab yang berbeda-beda, serta para brand guardians, yaitu: Creative Director, PR & Media Manager, dan Legal & Compliance Lead. Di depan sana, sudah ada layar besar yang memperlihatkan final launch presentation lini produk terbaru Zach Lune.

Begitu Juan duduk, Managing Director Zach Lune (yang duduk di sayap kiri bersama para Vice President) mulai berdiri.

“Selamat pagi, Pak Juan.”

Semua orang yang hadir di sana ikut berdiri. Mereka lalu menyapa Juan secara bersamaan.

“Selamat pagi, Pak.”

Juan mengangguk pelan, lalu tersenyum simpul.

 

“Selamat pagi.”

 

Setelah Juan menjawab, mereka pun duduk kembali.

Managing Director mulai membuka foldernya. “Terima kasih karena telah meluangkan waktu untuk hadir langsung di Zach Lune, Pak, dalam rangka final approval peluncuran lini produk terbaru kami. Hari ini, kami akan mempresentasikan final readiness untuk peluncuran produk tersebut.”

Sang Managing Director mulai menoleh sedikit ke layar. “Tim Product Lab, Marketing, Operations, dan Retail telah menyiapkan seluruh aspek peluncuran; mulai dari formula, packaging, distribusi, hingga campaign.”

Juan menatap layar.

Setelah itu, Managing Director menatap Juan kembali. “Kami siap menerima arahan dan keputusan final dari Bapak.”

Juan mengangguk. Ia pun menumpukan sikunya di meja; jemarinya saling terjalin di depan dagu.

“Baik,” jawab Juan. “Silakan dimulai.”

Lampu ruang meeting sedikit diredupkan. Layar besar di depan ruangan itu pun menyala lebih terang, menampilkan slide pertama. Di sana, terpampang logo perusahaan Zach Lune di atas background putih bersih.

Salah satu Vice President di sisi kiri meja—VP of Product Development—segera berdiri. Ia menunduk hormat sebentar ke arah Juan sebelum mulai berbicara.

“Selamat pagi, Pak Juan,” ucapnya dengan nada formal. “Izinkan saya memperkenalkan lini produk terbaru dari Zach Lune.”

Ia menekan sebuah tombol di remote yang sedang ia pegang. Slide pun berganti.

Kini, yang terpampang di depan sana adalah logo baru berwarna hitam pekat dengan aksen emas.

 

LUMIÈRE NOIR

 

“Untuk lini produk terbaru ini,” ucapnya. “kami memperkenalkan Lumière Noir: signature beauty house Zach Lune.”

Slide berikutnya menampilkan botol parfum kaca gelap dengan label emas, disusul dengan rangkaian produk skincare.

“Lumière Noir difokuskan pada dua kategori utama: parfum dan skincare premium. Parfum Lumière Noir dirancang sebagai signature scent; aromanya dewasa, bersih, dan sensual. Sementara itu, lini skincare Lumière Noir dikembangkan sebagai perawatan kulit kelas atas yang berfokus pada regenerasi dan peremajaan.”

VP itu terus mempresentasikan parfum dan jajaran skincare Lumière Noir dengan detail. Juan memperhatikan semuanya dengan saksama; sesekali dia mengangguk…dan memberikan komentar atau pertanyaan.

Setelah selesai memperkenalkan produk baru itu, sang VP pun menatap Juan kembali.

“Seluruh rangkaian telah menyelesaikan uji klinis dan sertifikasi. Kami menunggu keputusan final Bapak untuk memulai produksi massal dan peluncuran.”

Juan diam sebentar. Dia lalu menurunkan tangannya dari depan dagu, lalu berbicara dengan suara yang rendah dan stabil.

“Lanjutkan ke tahap produksi massal.”

Semua orang terdiam—seperti menahan napas—tetapi diam-diam merasa sangat senang karena produk mereka di-approve Juan.

Di dalam struktur Zach Enterprises yang mendunia, Juan hanya akan turun langsung ketika sebuah keputusan berada pada tingkat foundational, yakni ketika sebuah lini baru akan dikukuhkan sebagai pilar empire, ketika arah strategis global akan ditetapkan, atau ketika sebuah nama akan resmi lahir di bawah naungan Zach Enterprises. Dalam momen-momen seperti itu, kehadiran Juan bukan sekadar formalitas, melainkan otoritas terakhir yang mengikat seluruh struktur perusahaan. Hari ini, otoritas itu hadir untuk satu tujuan, yaitu memberikan final approval atas peluncuran Lumière Noir.

Juan menoleh kepada Managing Director. “Silakan rilis di bulan Oktober. Saya ingin distribusi tahap pertama difokuskan di Belmontia. Boutique flagship harus siap sebelum kampanye dimulai.”

Setelah itu, ia menatap para VP. “Lakukan peluncurannya melalui private Lumière Noir Pavilion. Saya tidak mau booth publik.”

Semua orang mulai mencatat perintahnya.

“Undangan terbatas. Fokuskan pada klien private, partner hotel, dan investor. Saya ingin kesannya eksklusif sejak hari pertama,” lanjut Juan. “Namun, berikan private privilege di batch pertama.”

Mendengar itu, VP of Marketing pun berdiri.

“Baik, Pak Juan,” ujarnya. “Terkait private previlege, kami sudah mempersiapkannya.”

Di layar, terbukalah satu file presentasi yang berbeda. Judul presentasi itu adalah ‘PRIVATE PRIVILEGES — LUMIÈRE NOIR’.

Ia menekan tombol pada remote, lalu layar pun berganti.

“Berikut adalah serangkaian private privileges untuk para tamu undangan, Pak,” ujar sang VP. “Pertama, Founders’ Allocation. Para tamu undangan akan mendapat akses eksklusif ke batch produksi pertama sebelum rilis publik.”

Slide berganti.

“Kedua, Signature Engraving. Setiap botol parfum atau produk skincare batch pertama akan diukir dengan inisial pemiliknya.”

“Ketiga, Private Scent Ritual. Ini dikhususkan untuk produk parfum, yakni sesi personal fragrance fitting bagi klien undangan.”

“…lalu yang terakhir, Lumière Noir Pavilion Set. Ini adalah paket edisi terbatas yang hanya tersedia pada hari peluncuran.”

VP itu lalu menatap Juan kembali. “Seluruh privilege ini dirancang untuk menegaskan kesan eksklusif Lumière Noir sejak hari pertama.”

Juan pun mengangguk.

“Baik. Silakan dilanjutkan. Laporkan perkembangannya pada saya.”

Tak lama kemudian, rapat itu pun selesai.

Semua orang mulai rileks. Lampu dihidupkan kembali sepenuhnya. Juan mulai bersandar; beberapa petinggi di sana juga sudah mulai bersandar. Satu menit kemudian, beberapa staf hospitality Zach Lune langsung masuk ke ruang meeting. Mereka membawa nampan-nampan yang berisi hidangan ringan. Mereka lalu meletakkannya di atas meja—di depan masing-masing peserta meeting—setelah memberi hormat sejenak. Begitu selesai memberi hidangan-hidangan itu, mereka semua pun keluar dari ruangan.

Sambil memakan hidangan itu, semua elite di sana pun mulai mengobrol dan tertawa ringan. Mereka semua mengajak Juan berbincang, saling bercerita seputar kegiatan di perusahaan, tetapi tetap sopan padanya. Namun, tiba-tiba saja, pembahasan itu mulai menyentuh topik pasangan.

Sepertinya, itu terjadi karena Managing Director bercerita soal istrinya yang membangunkannya jam 4 pagi saat Zach Lune mengadakan sebuah event bulan lalu.

Juan mendengarkan cerita mereka semua. Dia tersenyum, mengangguk, sesekali merespons dan tertawa ringan. Namun, ujung-ujungnya, jadi banyak yang ingin tahu soal ‘pasangan’ Juan.

…mungkin karena sangat penasaran.

Mereka semua sibuk bertanya, bahkan ada yang sampai berdebat seperti:

‘Ya itu terserah Pak Juan juga, ‘kan?’

‘Iya, tapi jujur, saya penasaran.’

‘Tapi itu privasi beliau.’

‘Pak Juan itu terlalu sempurna untuk terus-terusan sendirian.’

 

Mereka malah saling menimpali, sampai-sampai Managing Director dan Juan jadi tertawa kecil.

Mendengar tawa Juan, Managing Director pun langsung menatap Juan dengan penasaran. “Tapi serius, Pak, apakah Bapak tidak sedang tertarik dengan wanita mana pun? Kami semua berharap…suatu hari nanti Bapak menemukan pendamping yang tepat.”

Ruangan itu seketika hening. Jujur saja, itu adalah pertanyaan yang sangat berani!!

Namun, tak bisa dipungkiri, semua orang pun sebenarnya ingin menanyakan hal yang sama. Akibatnya, semua mata langsung tertuju pada Juan.

Mereka menahan napas.

 

Menunggu jawaban Juan.

 

Jujur saja, itu adalah hal yang selalu ingin orang ketahui tentang Juan. Juan Zacharias yang sangat kuat dan berada di level yang berbeda. Juan Zacharias yang terasa seperti langit, mustahil untuk disentuh. Diam-diam, semua orang begitu penasaran dengan kehidupan romantisnya.

…terutama para perempuan.

Ya jelas saja, Juan adalah manusia yang setampan itu! Mana mungkin mereka tidak penasaran!

Apa pun jawaban Juan atas pertanyaan Managing Director barusan, itu pasti akan menghebohkan banyak sekali manusia.

 

Namun, ternyata…

…Juan tidak menjawab apa pun.

Dia hanya diam…

 

…lalu pelan-pelan tersenyum miring.

 

Membuat semua orang di ruangan itu seketika melebarkan mata.

 

******

 

Keesokan harinya, sekitar jam 10 pagi, Selin dan kakaknya pergi ke mall. Mereka masuk ke toko buku terlebih dahulu karena ingin mencari buku resep.

‘Kak, ke toko buku dulu, yuk. Aku mau cari buku resep,’ kata Selin saat mereka baru menginjakkan kaki di mall. Reese pun setuju.

Begitu sampai di depan toko buku (di lantai tiga mall), mereka langsung disambut dengan rak majalah bisnis yang terletak di dekat pintu masuk. Rak itu berdiri paling depan, berjejer rapi di antara surat kabar dan majalah lifestyle.

Namun, saat melihat majalah-majalah bisnis itu, mata Selin spontan membulat.

Tubuhnya mematung di depan pintu.

 

Di sana, di cover majalah-majalah bisnis itu…

 

…ada wajah Om Juan!!

 

Ah, siaaaaal!!! Kok sekarang di mana-mana ada Om Juan, sih? Apakah Selin berhalusinasi lagi? Waktu itu, wajah dosen Selin berubah jadi wajah Om Juan. Sekarang, apakah wajah seseorang di majalah itu berubah jadi wajah Om Juan juga?

Selin tak bisa melarikan diri dari Om Juan barang sedetik pun, bahkan saat di toko buku. Siaaal!

(Well, sebenarnya, Juan sudah sangat terkenal dari dahulu, tetapi Selin baru menyadari keberadaan Juan akhir-akhir ini karena pernah bertemu langsung di mansion. Selain itu, selama ini…Selin juga tak pernah benar-benar memperhatikan majalah ekonomi atau bisnis.)

Namun, damn.

Ternyata, itu bukan halusinasi! Soalnya, wajah Om Juan tak kunjung hilang! Itu benar-benar foto Om Juan!

Itu adalah foto close-up. Diambil dari angle samping, menampilkan wajah tampan Om Juan yang memiliki hidung mancung dan rahang tajam. Om Juan mengenakan jas dengan motif salur hitam putih; dia menatap ke kamera dan tersenyum dengan penuh wibawa. Judul majalah itu adalah:

 

JUAN A.D. ZACHARIAS

The Power Behind Zach Enterprises

 

Pipi Selin jadi merona.

 

Om Juan ganteng banget…

 

Terus terang saja, Selin datang ke sini cuma mau membeli buku resep. Dia cuma mau lewat pintu, masuk ke toko buku, lalu mencari rak buku resep.

Namun, sebelum menginjakkan kakinya di toko itu, dia sudah dihadapkan dengan wajah Om Juan.

Well, majalah bisnis biasanya memang diletakkan di rak depan (kalau di toko buku), tetapi sepertinya…Selin paham ‘alasan lain’ mengapa toko buku ini meletakkan majalah bisnis di rak paling depan.

Alasan lain itu adalah:

Juan Zacharias!

Dengan melihat foto itu saja, mungkin banyak orang yang akan membelinya. Para pria mungkin akan membeli buku itu untuk belajar soal bisnis dan kesuksesan Om Juan, sementara para wanita…

…mungkin hanya mau fangirling. Mungkin ada juga, sih, wanita yang mau belajar soal bisnis dari sana, tetapi kebanyakan pasti untuk fangirling. Soalnya, di dalam majalah itu pasti ada foto-foto Om Juan, ‘kan?

Sial. Rak yang berisi majalah bisnis itu bahkan diberi plang ‘Best Seller’.

Selin rasanya mau pulang saja. Atau pergi terapi. Soalnya, dia mau berhenti memikirkan Om Juan. Serius! Tidak sopan sekali rasanya memikirkan ayahnya Lucian sampai seperti ini. Kalau Om Juan tahu, mungkin dia akan terganggu.

Selin diam-diam mau menangis.

“Wah, Juan Zacharias makin lama makin ganteng aja, ya,” komentar Reese. “Makin tambah umurnya malah makin menggoda. Itu ayahnya temen kamu, ‘kan? Si Lucian.”

Rona merah di pipi Selin langsung menjalar hingga ke telinga. Dia langsung menyeret Reese masuk ke toko buku itu dan berkata, “Udah, Kak, ayo kita cari bukunya sekarang!”

Selin dan Reese pun mencari buku resep yang cocok. Berhubung Selin suka membuat kue, dia pun memilih buku resep yang isinya kebanyakan resep kue yang belum dia ketahui, termasuk macaron.

Setelah membeli buku itu, Selin pun keluar dari toko buku dengan secepat kilat. Dia langsung mengajak Reese pergi ke baking supply store (ini toko favorit Selin banget!) untuk membeli almond flour, bubuk kakao, icing sugar, whipping cream, unsalted butter, dan dark chocolate couverture.

Sambil berbelanja, Selin dan kakaknya sempat mengambil foto selfie. Reese yang mengambil fotonya, jadi Reese ada di depan. Selin ada di belakangnya, gadis itu tersenyum sambil memegang sekotak whipping cream.

Selin meminta foto itu dari Reese, lalu meng-upload foto itu ke media sosialnya. Dua menit kemudian (saat Selin sedang melihat-lihat unsalted butter), ponselnya berbunyi. Ada sebuah notifikasi masuk. Selin melihat notifikasi itu dan ternyata, Maxi mengomentari fotonya.

 

Elena Ruby Maximilian: Cieeee, belanja di mana, nih? Di toko biasa, ya? Kok nggak ngajak-ngajak?!

Selin mengikik geli. Dia pun membalas komentar Maxi.

Florentia Roselin Agrece: Diajak = bantuin bikin kuenya.

Elena Ruby Maximilian: Buset! Mana ngerti aku bikin kue 🤣

Florentia Roselin Agrece: Ya udah, berarti udah bener nggak usah diajak

Elena Ruby Maximilian: Jahat banget nih orang, woy, padahal aku sering juga ngawanin dia ke situ 😱

Florentia Roselin Agrece: Iya tapi malah nyusahin

Elena Ruby Maximilian: HAHAHAHAHA LMFAO

Elena Ruby Maximilian: Tapi seriusan, lho, aku bosen banget di rumah. Ajak aku, dong :(

Florentia Roselin Agrece: Kami habis ini mau pulang, Maxi. Coba ajak Aria aja. Aria ke mana?

Elena Ruby Maximilian: Walah, tuh anak udah dari kemaren sibuk ngeliatin Lucian terus di mansion, padahal Lucian udah sembuh tuh pasti :v

Florentia Roselin Agrece: Lah, kok cepet banget?? Kan kejadiannya kemaren lusa. Kayaknya masih lebam ituu

Elena Ruby Maximilian: Nggak. Aku video call-an sama Aria tadi pagi. Ada Lucian di situ. Jelas-jelas tuh bocah udah sembuh 🤣 Udah ketawa-ketawa, udah ngeselin kayak biasa. Tau sendirilah gimana kuatnya badan anak itu 🤣

Florentia Roselin Agrece: Astaga 😂 Terus apa gunanya Aria di situ?

Elena Ruby Maximilian: Dia masih cemas sama Lucian. Lucian mah mungkin seneng-seneng aja. Mau pacaran, soalnya -_-

Florentia Roselin Agrece: Hahahaha iya pastinya. Udah hafal juga akuu

Elena Ruby Maximilian: Apalah daya kita yang single ini

Elena Ruby Maximilian: …terutama kamu yang udah enam tahun nggak ada pacar :v

Florentia Roselin Agrece: DIEM NGGAK?!

Elena Ruby Maximilian: HAHAHAHAHAHAHA

 

Selin pun tersenyum, lalu meletakkan ponselnya kembali ke saku celananya. Dia menyusul Reese di depan sana yang sedang melihat-lihat almond flour.

“Udah dapet, Kak?” tanya Selin.

“Hmm.” Reese mengangguk. “Yang ini aja.”

Reese pun meletakkan almond flour ke keranjang belanjaan mereka. Selin lanjut mencari icing sugar dan bubuk kakao.

Tak lama kemudian, mereka pun selesai berbelanja. Sesuai rencana, setelah selesai berbelanja, mereka pun langsung pulang. Selin ingin segera membuat macaron coklatnya di rumah.

Akan tetapi, di sepanjang jalan di mall itu, Selin sempat melihat area men’s clothing store atau men’s fashion yang terkenal. Sebenarnya, di dinding kaca toko tersebut terpampang foto model yang sangat tampan dan hot. Ada yang memakai kemeja (dan kancingnya terbuka separuh), ada yang memakai jas, dan ada juga yang shirtless (hanya memakai jeans).

Entah mengapa, melihat gambar-gambar pria itu…mengingatkan Selin pada Om Juan. Bukan bentuk tubuhnya, tetapi…keseksian six pack-nya. Bentuk tubuh mereka tentu tidak sama dengan Om Juan (Om Juan lebih maskulin; lebih well-built), tetapi otot-otot di perut mereka…cukup mirip.

 

Kalau Om Juan jadi model…gimana, ya?

 

Nah, kan. Pikiran Selin mulai melanglang buana lagi.

Ugh.

 

Let’s just go home.

 

*******

 

Juan turun dari mobil dan disambut oleh seluruh bodyguard yang berjaga di mansion-nya. Sebenarnya, ada dua jenis bodyguard yang bekerja untuk Juan:

 

1.     Bodyguard yang berjaga di mansion

2.     Bodyguard yang mengikuti Juan ke mana-mana (saat Juan bekerja).

 

Sebenarnya, bodyguard yang mengikuti Juan sejak tadi juga sudah turun dari mobil mereka dan membukakan pintu untuk Juan. Mereka lalu bergabung dengan bodyguard penjaga mansion untuk berbaris di sebelah kanan dan kiri Juan. Kepala pelayan (head butler) juga ikut menyambut Juan di dekat pintu masuk.

“Selamat datang, Tuan,” sapa mereka semua seraya menunduk hormat.

Juan mengangguk singkat. Dia berjalan ke pintu utama mansion, lalu menitipkan jas serta tasnya kepada sang head butler—Diego—yang berdiri di sana. “Lucian ada di rumah?”

“Ya, Tuan. Tuan Muda ada di rumah,” jawab Diego.

Juan pun mengangguk.

Saat masuk ke mansion, orang yang mengikuti atau mengawal Juan dari belakang hanyalah Diego. Para bodyguard tetap berdiri di depan pintu. Mungkin, para bodyguard yang bertugas untuk mengikuti perjalanan kerja Juan akan pulang sebentar lagi.

Tatkala Juan sedang naik tangga ke lantai dua (karena kamarnya ada di sana), dia pun mendengar suara Lucian.

“Dad! You’re home.”

Juan menoleh sejenak…dan menemukan Lucian sudah berlari mendekatinya. Mereka kini berada di tengah-tengah tangga.

“Yes,” jawab Juan. “How are your wounds?”

Lucian tertawa. “Udah sembuh dari kemaren, hahahaha!”

Juan tersenyum seraya mengembuskan napas pelan. “Is Aria accompanying you today as well?”

“Nah, itu dia yang mau aku bicarain, Dad! Aria datang ke sini juga hari ini, padahal sebenernya aku udah sembuh. Jadi, Dad, boleh nggak aku main ke rumah Aria besok malem? Aria perhatian banget ke aku, soalnya, padahal kondisiku biasa-biasa aja.” Lucian mengakak.

Juan mengangguk pelan.

“Okay. Avoid doing anything that might upset or anger her parents. Be nice.”

Lucian mengangguk. Pemuda itu tersenyum. “All right, Dad. Good night!”

“Hm,” deham Juan seraya mengusap kepala Lucian. Tanpa terasa, saat itu mereka sudah sampai di depan kamar Juan. Diego langsung menunduk hormat begitu Juan masuk ke kamarnya.

Sepeninggal Juan, Lucian pun langsung berbalik. Pemuda itu menatap Diego dan tersenyum. “Diego, tolong siapin makan malem buat Ayah.”

“Baik, Tuan Muda,” jawab Diego seraya menunduk hormat.

Diego pun undur diri dari hadapan Lucian. Dia membereskan jas dan tas kerja Juan terlebih dahulu sebelum akhirnya mengarahkan para pelayan di rumah itu untuk menghidangkan makan malam Juan.

Sambil menuruni tangga, Lucian mulai bertanya-tanya dalam hati.

Dia tak pernah melihat ayahnya menggandeng wanita baru setelah ibunya meninggal.

…walau pada kenyataannya, dia tahu alasan mengapa ayahnya menikah dengan ibunya. []

 















******




Juan waktu masih muda (Lucian masih bayi).




Ini Juan juga, tapi pas Lucian udah TK.


Note: BTW guys, aku kesulitan banget nyari foto Juan. Juan ini kan referensi visualnya itu Jeon Jungkook dari boy band Korea BTS, nah sementara Jeon Jungkook itu kan keliatannya masih muda ya. Dia bukan daddy usia 40 ke atas :( Jadi, hampir mustahil menggunakan fotonya yang asli, kecuali untuk foto Juan pas masih muda.

Selama ini, aku tuh nyari fotonya selalu hasil AI yang ada di Pinterest (editan orang lain). Karena kulihat penampilan asli Jeon Jungkook itu tidak sama dengan Juan.

Mukanya sih sama, tapi Juan jauh lebih matang/dewasa. Badannya lebih kekar (buff). Dia juga tidak bertato dan tidak merokok.

Sementara...hasil editan AI di internet itu kebanyakan antara:

1. Jeon Jungkook versi daddy, tapi bertato dan merokok (mafia), atau

2. Jeon Jungkook versi CEO, tapi mukanya keliatan masih muda dan badannya kurang kekar (nggak kayak Juan).


Jadi, susah banget buat ngumpulin foto Juan. Makanya, boleh nggak aku minta kerja sama kalian untuk cuekin aja tato dan rokoknya kalo aku sediakan foto Juan di sini? Karena cuma foto-foto seperti mafia itulah yang mendekati 'rupa' Juan. Muka dan badannya.

Aku nggak ada pilihan lain (T_T). Aku udah sering banget nyari foto editannya di internet, ngehabisin banyak waktu, tapi cuma itu yang bisa kudapat.

Contohnya gini:



Sebenernya ini cocok buat tipe badan Juan. Tapi ini kesannya kayak bos mafia karena rokok dan penampilannya. Sementara Juan kan penampilannya lebih rapi/sophisticated ya (lebih ke luxury executive dan old-money authority). Kalo malam, Juan emang sering buka jasnya (seperti di Chapter 4), tapi kesannya tetap eksekutif yang rapi, bukan kayak bos mafia yang edgy (tajam, gelap, rebel).


Gimana? Apa gak usah aja? Wkwkw. Siapa tau foto begini malah ngerusak imajinasi kalian soal Juan kan. 

Tapi...kalo kalian nggak mau, berarti bakal jarang ada foto nih di novel ini :(

Kasih tau aku ya, sebaiknya gimana. Wkwk.


BTW untuk next chapter, tolong siapkan hati kalian, ya. Itu adalah salah satu chapter yang aku tunggu-tunggu di novel ini. Hihi.

Sampai ketemu lagi! (^_^)






My Friend's Father (Chapter 5: Wealthy and Powerful Man)

  ****** Chapter 5 : Wealthy and Powerful Man   ******   PONSEL berwarna hitam yang ada di atas meja itu berbunyi, pertanda ada se...