Saturday, January 31, 2026

My Man (Bab 18)

 


******

Bab 18 :

 

TALITHA melangkah ke resepsionis dengan sedikit ragu. Gadis itu melirik dua resepsionis yang berdiri di sebelah kanan lobi. Dahinya berkerut; masih ada keraguan tentang apakah dia benar-benar bisa masuk ke perusahaan itu. Namun, ketika kembali teringat tentang Gavin, Talitha mengangguk yakin. Gadis itu pun segera melangkah mendekati meja resepsionis.

Kedua resepsionis itu sangat cantik. Talitha belum sempat bertanya apa-apa dan salah satu resepsionis itu langssung menyapanya dengan ramah, "Selamat sore, Mbak. Ada yang bisa kami bantu?"

Talitha mengerjap, ia meneguk ludahnya dan mengangguk. "Ah, ya, saya mau ketemu sama Pak Revan Aditya. Saya ada janji temu dengan beliau, Mbak."

"Oh, sebentar ya, Mbak," ujar resepsionis yang satunya. “Biar saya telepon dulu Pak Revannya, untuk mengonfirmasi janji temu Mbak.”

Talitha datang ke sini karena mau bertanya soal Gavin pada Deon, tetapi dia akan masuk ke perusahaan melalui Revan. Dia tak mau langsung menghubungi Deon karena tak ingin Deon tahu. Selama beberapa saat, Talitha hanya bisa mendengar percakapan antara resepsionis itu dan Revan. Begitu panggilan telepon itu terputus, mereka pun menatap Talitha seraya tersenyum.

"Baik, Mbak, janji temunya sudah kami konfirmasi. Mbak bisa menemui Pak Revan di—"

"Baik, Mbak, saya udah tau lokasinya kok Mbak. Makasih, ya, Mbak," potong Talitha cepat. Well, Revan sudah memberitahunya di mana ruangan Deon. Dia pun langsung berlari meninggalkan resepsionis itu. Kedua resepsionis itu sampai lupa berkedip; mereka terheran-heran melihatnya. Dari sekian banyak pengunjung yang datang ke gedung perusahaan Abraham Groups, baru kali inilah ada tamu yang seaneh itu.

 

******

 

Revan menutup panggilan dan menaruh telepon itu kembali ke tempatnya. Ketukan di pintu membuatnya mengerjap dan ia menatap pintu itu sambil mengernyitkan dahi. "Iya, masuk."

Sekonyong-konyongnya, Vero masuk tanpa menunduk hormat kepada Revan terlebih dahulu. Vero adalah anggota Revan, tetapi ketika masuk ke ruangan Revan, menutup pintu kembali saja sudah cukup baginya. Tak perlu pakai hormat-hormat segala ke Revan.

Vero langsung menghampiri Revan. "Lo abis nelepon siapa?"

Revan menatap Vero seolah-olah cewek itu sama dengan saus mayonnaise yang baginya tidak enak. "Ngapain lo ke sini? Pergi sana lo!"

Vero menganga, gadis itu langsung emosi bukan main. Ia berkacak pinggang dan menunjuk-nunjuk Revan. "Sialan lo! Oi, Tonggos, gue ke sini karena mau minta tanda tangan lo!"

Revan mendelik. "Oh, lo baru sadar kalo gue bos lo? Lagian, siapa yang lo bilang tonggos?! Gigi gue normal! Pergi sana lo! Sama atasan kok kagak ada sopannya sama sekali! Cuih!"

"KAMPRET!" teriak Vero tak terima.

Revan hanya menjulurkan lidahnya dan memelototi Vero. "APA LO?!"

Vero ujung-ujungnya hanya menghela napas. Perempuan itu pun menatap Revan dengan serius. "Habis nelepon siapa lo?"

Revan berdecak. Pria itu masih menatap Vero dengan tatapan jengkel, tetapi kemudian dia memilih untuk menyerah. Ia sedang tidak mood untuk bertengkar dengan Vero. "Itu tadi dari resepsionis. Talitha dateng ke sini, mau nanyain soal Gavin ke Pak Dirut. Tapi dia masuk ke gedung ini melalui gue."

Vero mengernyitkan dahi, lalu menggeleng. "Lah, emangnya semudah itu nemuin Pak Dirut?"

Revan mengedikkan bahu. "Talitha, kan…pacarnya. Udah, ah, pergi sana. Risi gue liat muka lo di sini!"

"HAH?!!!" teriak Vero, membuat Revan spontan menutup telinganya. Mata Vero membulat. "L—Lo serius? Talitha—adiknya Gavin itu…pacaran sama Pak Marco Deon?"

"Aish! Iya, bego! Berisik amat, sih!" jawab Revan. Dia malas sekali meladeni Vero.

Vero menggeleng tak percaya; dia kagum sekali. Namun, sesaat kemudian, ekspresinya berubah. Dia jadi terlihat…prihatin.

"Pasti susah, ya. Gavin dipecat sama Pak Dirut, dan...pacarnya Pak Dirut itu..." Vero menggeleng.

Revan menunduk. Pria itu terdiam. Jujur, dia merasa bersalah sekali soal Gavin. Gavin itu sahabatnya; hal ini tentu saja membuatnya terpukul. Selain itu, Kanya... Bagaimana mungkin Gavin menikahi orang yang tidak dia cintai sama sekali?

"Gimana kabar Gavin, Van?" tanya Vero pelan.

Revan tersenyum pahit.

"Dia baik, Veroksin," jawabnya. Dia menghela napas. "Semua foto kemaren itu... dia dijebak orang. Gue nggak habis pikir dengan manusia-manusia jahat kayak gitu. Yang jelas, ayo sama-sama doakan yang terbaik buat dia."

Vero mengangguk. "Itu pasti kerjaan orang gila. Nggak mungkin Gavin ngelakuin itu. Semua orang juga ragu pas liat foto itu. Lagian... orang baik emang banyak cobaannya."

 

******

 

Deon sedang sibuk menandatangani dokumen-dokumen di atas meja ketika pintu ruangannya tiba-tiba terbuka. Deon pun menatap pintu ruangannya sambil mengerutkan dahi. Setelah itu, masuklah Talitha ke ruangan itu dengan tergesa-gesa. Sekretarisnya, Rara, terlihat berusaha untuk menghentikan gadis itu, sedikit menarik tangannya agar mau keluar. Namun, Talitha tampak memaksa.

Deon melebarkan mata. Pria itu bangkit dari duduknya, lalu menghentikan Rara dengan gerakan tangan.

"Rara," ujar Deon tegas. "Biarin dia masuk.”

Rara spontan menatap Deon dengan mata melebar. "Tapi Pak... Mbak ini tidak punya janji temu dengan Bapak. Mbak ini juga—"

Deon menatap Talitha sejenak. Talitha cuma bengong; gadis itu menatap Deon dengan mulut terbuka. Deon pun menatap Rara lagi. "Kamu bisa keluar. Jangan khawatir, dia tamu saya."

Deon menatap Talitha sejenak, lalu kembali menatap Rara. "Kamu bisa keluar. Jangan khawatir, dia tamu saya."

Rara terdiam sejenak, mengernyitkan dahi selagi mencerna perkataan bosnya. Namun, dua detik kemudian, ia mengangguk sopan dan mengembuskan napas samar.

"Baiklah. Maafkan saya, Pak," ujarnya. Deon mengangguk singkat. Setelah menunduk hormat, Rara pun melangkah keluar dari ruangan tersebut.

Talitha terus memperhatikan Rara sampai pintu itu kembali tertutup rapat. Begitu suasana menjadi sunyi, dia pun kembali menatap ke depan. Matanya seketika membelalak saat menyadari bahwa Deon sudah memperhatikannya seraya memiringkan kepala.

Ekspresi ajah Talitha kembali serius. Ia melangkah mendekati Deon.

"Deon, aku mau nanya soal Bang Gavin," ujarnya cepat. "Ada apa sebenernya? Dia kenapa? Aku yakin kamu tau!"

Deon menghela napas. Sudah ia duga, inilah tujuan Talitha datang ke kantornya. Ia pun menatap gadis itu dengan mata menyipit. "Kenapa kamu bisa masuk ke gedung perusahaan?"

Talitha mengangguk cepat. "Melalui Bang Revan. Maaf kalo aku lancang, tapi tolong aku, Deon, kasih tau aku. Bang Gavin—"

"Abang kamu itu dijebak orang, Talitha. Dia berakhir di hotel sama anak magang dari Direksi Pemasaran. Foto-fotonya tersebar di kantor. Emangnya dia nggak cerita sama kamu?" tanya Deon.

Talitha membelalakkan mata. Ia menggeleng tak percaya. Kaget bukan main.

Gavin...dijebak orang? Berakhir di hotel? Foto-fotonya...tersebar? Apa-apaan ini! Mengapa hal sebesar itu bisa terjadi dalam waktu singkat?! Itu hanya dalam waktu satu malam!

"Ha?! Apa—Bang—Bang Gavin?" ujar Talitha tak percaya. "Bang Gavin—dia nggak cerita kalau dia dijebak, Deon! Dia malah langsung mau nikahin mbak-mbak itu! Dia nganggep kalo dia udah menodai mbak itu! Kalo dijebak, berarti belum tentu dia ngelakuin itu! Jadi, kamu pecat dia karena itu?!”

Deon menghela napas. "Aku udah tau siapa pelakunya. Orang yang ngejebak abang kamu."

Talitha membelalakkan mata. Ia mematung; napasnya seolah-olah terhenti.

 

Pelakunya sudah ditemukan?

 

Alis Talitha menyatu. Ia memastikan bahwa pendengarannya tidak salah.

"Siapa?" tanya Talitha dengan hati-hati. Mata Deon menyipit tajam.

 

"Chintya."

 

Talitha terperanjat. Gadis itu menganga, lidahnya kelu, seolah-olah ada sesuatu yang mengimpit paru-parunya dan membuatnya sulit bernapas. Matanya mengerjap berkali-kali, masih tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

Talitha mencoba untuk berbicara, tetapi yang keluar hanyalah suara yang terputus-putus. "Chi—Chintya? Kok—"

Deon tiba-tiba mendekati Talitha dengan langkah lebar dan langsung memeluk tubuh gadis itu dengan erat. Talitha terperanjat saat menyadari bahwa Deon langsung mendekapnya seperti itu.

Talitha memegang lengan Deon dengan gerakan kaku. "O—Oi... ada apa? Kenapa Chintya bisa ngelakuin itu? Dia itu... sahabat kamu, ‘kan?"

Talitha mulai paham; mungkin, Deon memeluknya seerat ini karena sedang terpukul. Ia tahu bahwa Chintya adalah satu-satunya sahabat Deon. Belum lagi… jika semua ini benar, maka artinya: Deon kembali dikhianati.

Talitha merasa Deon mencium puncak kepalanya. Ciuman itu lembut dan seringan kapas, membuat Talitha refleks meneguk ludah.

"Deon, kamu—"

"Kamu nggak perlu khawatir, Talitha," ujar Deon dengan suara serak. Ia mengusap punggung Talitha, membuat dekapan itu terasa semakin hangat. "Maafin aku karena udah pecat abang kamu. Itu kebijakan kantor. Tapi dia bakal kupekerjakan lagi bulan depan."

Talitha mengernyitkan dahi.

Deon kembali bersuara, "Dia bakal kerja lagi pas aku dapet bukti kalo dia nggak bersalah."

Talitha menunduk, tangannya tanpa sadar meremas lengan Deon.

"Maafin aku. Karena apa yang dilakukan Chintya, abang kamu harus ngalamin hal seburuk ini. Ini salah aku, Talitha," ujar Deon.

Talitha menggeleng. Matanya melebar. Ia langsung menjauhkan kepalanya dari dada Deon. "Jadi, itu emang Chintya?! Yang ngelakuin semua itu emang dia?!"

Deon hanya mengangguk.

Talitha menganga. "Lah, jadi gimana, Deon? Kok bisa, sih?! Setauku, kamu percaya banget sama dia! Aku masih inget bener, waktu itu kamu ngebela dia di depan aku, terus kamu ninggalin aku di jalan. Wah, sumpah, kesel banget aku! Itu semua kamu lakuin cuma karena dia ngasih tau yang bukan-bukan tentang aku dan Kak Alfa di depan kamu! Sekarang, kok kamu yakin kalo dialah yang ngelakuin semuanya?!"

"Karena emang dia yang ngelakuin semuanya," ujar Deon, membuat Talitha membelalakkan mata untuk kesekian kalinya. Deon kemudian menghela napas.

"Aku dapet info kalo abang kamu ketemu Kanya—cewek magang itu—di sebuah diskotik. Kamu nggak perlu tau nama diskotiknya apa. Abang kamu ke sana sama temennya," ujar Deon.

"Bang Revan, ya?!" tanya Talitha.

Deon mengangguk, lalu lanjut menjelaskan, "Terus, ada yang liat kalo Chintya masuk ke diskotik itu. Chintya ngakuin semuanya. Katanya, pas Kanya sama Gavin lagi lengah, dia naruh obat perangsang di minuman mereka. Dia juga ngancem tiap orang yang liat supaya nggak buka mulut. Dia nyamar buat masuk ke sana dan ternyata… dia jugalah yang nyuruh Kanya dateng ke sana. Orang-orangku juga udah dapet informasi soal apa yang terjadi malam itu."

Talitha membelalakkan mata. Untuk apa Chintya melakukan semua itu? Wah, sumpah! Chintya melakukan semuanya... sendirian? Kok bisa ada orang sejahat itu? Apa, sih, maunya?!

Talitha menggeleng. "Terus buat apa dia nyuruh Mbak Kanya itu... dateng ke diskotik?"

Deon mengedikkan bahu. "Kalo aku nggak salah, kayaknya Kanya suka sama abang kamu dan dia mau nyatain perasaannya. Entah dari mana Chintya tau soal itu, yang jelas… dia jadi nyuruh Kanya buat dateng ke diskotik dengan iming-iming kalo Gavin ada di sana. Chintya juga nyuruh dia buat minum alkohol pas sampe di sana biar perasaannya tersampaikan dengan baik dan lancar. Beberapa hal emang lebih mudah dibicarain pas lagi mabuk."

Talitha menggeleng; dia benar-benar terperangah mengetahui apa yang telah terjadi. Mengapa selama ini dia tak tahu soal itu? Yang benar saja! Soal Kanya—oke, itu wajar karena Gavin memang agak tertutup. Pria itu tak terlalu memusingkan masalah percintaan. Akan tetapi... yang dilakukan Chintya itu benar-benar luar biasa. Berarti, Chintya sudah menghubungi Kanya sebelum kejadian itu? Dari mana Chintya mendapat informasi sedetail itu?

Gila!

"Tapi buat apa dia ngelakuin itu semua ke Abangku, Deon? Abangku salah apa sama dia?! Aku nggak apa-apa kalau dia jahat sama aku, tapi kalo sama keluargaku—"

Deon memotong ucapan Talitha, "Dia ngelakuin itu buat misahin kamu dan aku."

Talitha lagi-lagi membelalakkan matanya.

 

Memisahkan dirinya... dengan Deon?

 

Deon bernapas samar. Pria itu menatap Talitha seraya menyatukan alis, kemudian sebelah tangannya mengusap rahang Talitha dengan lembut. "Dia ternyata mencintai aku dalam artian yang berbeda, Talitha."

Mendengar itu, Talitha bingung sejenak. Namun, sesaat kemudian, Talitha berdecak dan langsung menepis tangan Deon—yang sedang mengusap rahangnya itu—dengan keras. "Kalo itu mah semua orang juga bisa liat, oi!"

Deon mengangkat sebelah alisnya. Ia menggeleng samar sembari menatap Talitha dengan heran, seperti benar-benar tak mengerti.

Talitha memutar bola matanya. "Ya elah, biasanya kamu peka. Kok sama sahabat sendiri malah nggak peka? Noh, dia jadi nyelakain Abangku sekarang karena kamu! Jadi, gimana perasaan kamu, Deon?"

“Perasaan aku?” tanya Deon seraya memiringkan kepalanya.

"Dia... ngebohongin kamu, ‘kan? Aku nggak tau apa yang ada di pikiran kamu, tapi semoga kamu nggak benci sama dia. Kalo aku, sih, jujur aja sekarang jengkel banget sama dia. Tapi kalo kamu, kuharap kamu nggak terlalu benci sama dia. Dia itu sahabat kamu dari kecil, soalnya. BTW, mancay juga nih anak. Tumben kamu nggak peka sama perasaan orang! Biasanya narsis abis."

Deon menatap Talitha dengan mata menyipit. "Aku nggak peduli lagi sama Chintya. Lagian, dia itu udah ngganggu kehidupan kamu. Aku udah terbiasa ngerasain sakitnya dikhianati. Itu emang bikin aku marah karena dia udah lama kupercaya, tapi aku nggak mau terlalu mikirin kayak waktu aku mikirin Mama. Lagian, buat apa aku menyesali kepergian orang yang cuma bisa nunjukin topengnya di depan aku selama ini? Aku bahkan pernah benci sama Mama, jadi kalo aku kehilangan dia yang 'cuma' sahabatku, ya nggak masalah."

Rahang Deon mengetat menahan amarah. "Lagian, aku nggak perlu peka sama dia. Aku cuma perlu peka sama kamu.”

Talitha menganga. "Widih, kata-katanya! Gas terus aja, Mas! Tapi, apa kamu yakin? Chintya itu cinta banget sama kamu, Deon,"

"Aku nggak peduli. Aku lebih mementingkan kejujurannya daripada perasaannya. Dia udah ngehancurin kepercayaanku dan aku benci kebohongan. Kamu tau itu, Talitha," ujar Deon tajam. Matanya menatap Talitha dalam.

Talitha akhirnya menghela napas. Iya, Talitha tahu benar soal itu.

Namun, sesaat kemudian, Talitha ingat sesuatu. Ia langsung memberi tahu Deon dengan mata yang melebar. "Deon, denger ini. Kemaren, waktu Bang Gavin pulang dan bawa Mbak Kanya, terus dia bilang kalo dia dipecat, aku tuh sempet pengin nelen kamu, tau nggak! Pengin kulempar pake sendal! Kamu boleh ngajak aku pura-pura pacaran, bikin aku kesel, atau mau posesif kayak orang gila ke aku, tapi jangan pecat Abangku! Soalnya… aku inget bener, kita itu selama ini pura-pura pacaran karena aku dan Bang Gavin bohong sama kamu, ‘kan? Kamu ancem aku pake: ‘Pak Gavin bakalan aku pecat’ kalo aku nggak mau terikat sama kamu."

Deon tersenyum miring. "Iya, aku ingeat."

"Lah, malah senyum dia!" teriak Talitha jengkel sembari menggeleng-geleng. "Nah, waktu aku denger dia dipecat, aku rasanya pengin banget langsung dateng ke sini dan protes sama kamu! Tapi setelah Bang Gavin bilang kalo dia dipecat karena ketahuan tidur sama Mbak Kanya... aku jadi nggak bisa ngomong apa-apa. Aku pengin nangis, tapi aku nggak percaya dia ngelakuin semua itu.”

Deon mengangguk. "Iya, tapi kamu bikin aku kaget karena maksa masuk ke ruanganku hari ini."

Talitha mendadak kicep. Gadis itu tanpa sadar merona, tetapi tiga detik kemudian, dia malah nyengir.

"Maaf, maaf," ujar Talitha dengan tampang tak berdosa. "Tapi Deon, kok Chintya malah ngerjain Bang Gavin, ya? Kalo alasannya karena mau misahin kita, kenapa harus menyerang Abangku?"

Deon menghela napas. "Mungkin… supaya aku nggak tau. Soalnya, kalo dia langsung nyerang kamu, aku bakal cepet tau. Kamu selalu sama aku, soalnya. Lagian, kalo dia nyerang Bang Gavin... ya aku bakal pecat Bang Gavin. Pemecatan itu bakal bikin aku jadi berantem sama kamu karena kamu pasti bakal protes. Abis itu, kita bakal berpisah tanpa tau ada apa di balik semuanya. Abangmu berhenti kerja, lalu mungkin nikah sama Kanya, terus kita berdua putus hubungan. Otak Chintya pasti tau kalo Gavinlah sasaran empuk buat bikin kita pisah."

Talitha terperangah lagi. Deon cukup… strict, sebenarnya. Chintya adalah sahabatnya sendiri, tapi karena dia berpikir kritis dan tidak suka dibohongi, ia bisa menebak dengan akurat. Kepercayaannya pada Chintya ternyata tidak menghalanginya untuk berpikir logis.

"Gila, ternyata masih bisa terbongkar dengan cepat sama kamu," ujar Talitha kagum.

“Siapa pun itu, kalo dia nyari masalah sama aku... maka dia nyari masalah sama orang yang salah,” ujar Deon.

Talitha menggeleng sembari berdecak. "Ckckck! Gile, Bro! Serem, euy! Kamu itu monster atau manusia sup—"

"Lagian, gimana soal perasaan kamu ke aku? Apa kamu cinta sama aku?" tanya Deon dengan penuh selidik.

Talitha membelalakkan matanya.

Waduh! Apa-apaan dengan pertanyaan yang nggak ada hubungannya sama sekali ini?!

Talitha meneguk ludah. Gadis itu mencoba untuk memalingkan wajah dan terkekeh hambar. "Hahaha… aku—"

Namun, Deon menarik wajah Talitha kembali agar gadis itu menghadap ke arahnya. Jantung Talitha tanpa sadar jadi berdebar-debar karena wajah Deon terlalu dekat. Wajah tampannya, bola matanya yang tampak begitu jernih saat menatap Talitha dengan fokus... wangi maskulin dari tubuh kekarnya…

"Jawab aku."

Talitha meneguk ludahnya dengan susah payah. Waduh, mampus! Mau jawab bagaimana ini?!! Matilah Talitha!

Talitha melipat bibirnya demi mengurangi rasa gugup yang melanda. Tapi… gugup? Sudah berapa lama sejak Talitha jadi gugup tiap kali Deon melakukan hal romantis? Selain itu, sejak kapan… Talitha jadi selalu memikirkan Deon?

Wait. Talitha jadi ingat sesuatu. Itu dia caranya!

Talitha menaruh tangannya di dada, mengecek detak jantungnya sendiri. Sebenarnya, sedari tadi dia sudah tahu kalau jantungnya berdegup kencang. Dia juga tahu bahwa ini selalu terjadi setiap Deon berada di dekatnya, tetapi selama ini… dia tak mau ambil pusing karena tak tahu apa maksud dari degupan itu.

Pelan-pelan, Talitha pun meraih tangan Deon yang sedang memegang wajahnya, lalu mengarahkan tangan pria itu agar memegang area jantungnya.

Talitha meneguk ludah. Ia agak ragu, ekspresi wajahnya sungguh terlihat seperti orang terbodoh sepanjang masa. "Coba kamu cek. Ini... cinta? Aku nggak ngerti."

Deon mengangkat sebelah alisnya. Sesaat kemudian, ia pun fokus mendengarkan detak jantung Talitha.

Mata Deon membelalak. Ia langsung menatap mata Talitha dengan tak percaya, seolah-olah sedang mencari kejujuran di mata gadis itu. Namun, begitu menemukan kejujuran di sana... Deon perlahan tersenyum miring.

Baru kali ini Talitha melihat mata Deon berbinar saat menatapnya. Talitha langsung mengernyitkan dahi. "Jadi, gimana, Deon? Itu... kalau berdetak kencang gitu... maksudnya apa?"

Deon tersenyum. Pria itu mencium kening Talitha dan langsung mendekapnya erat.

"Kamu cinta sama aku," ujar Deon. "Sekarang, ayo kita ke rumahku. Aku mau bicara lagi sama ayahnya Chintya dan nolak perjodohan itu. Aku juga udah nelepon Bang Gavin supaya dia dateng dan jelasin semua yang Chintya lakuin ke ayahnya. Kamu harus dateng bareng aku, Sayang."

Mata Talitha membulat.

 

******

 

Deon masuk ke apartemennya sembari menggandeng Talitha. Di ruang tamu, ayahnya Chintya dan Serena sudah menunggu bersama Chintya yang bermuka masam. Begitu Deon muncul, Serena langsung membelalakkan matanya.

Deon membawa Talitha duduk di sofa, tepat berseberangan dengan Chintya dan ayahnya. Tanpa basa-basi, Deon langsung membuka pembicaraan, "Maaf, Om. Deon telat."

Ayah Chintya tersenyum simpul dan menatap Deon dengan penuh kasih sayang. "Nggak apa-apa, Deon."

"Om, Deon langsung aja," ujar Deon sembari menghela napas. "Deon nggak bisa menikah sama Chintya."

Chintya menunduk dan mulai menangis. Ia sudah tahu Deon akan bicara seperti itu, tetapi ia tetap tak bisa menerima kenyataan. Selama ini ia yakin Deon mencintainya, tetapi kenyataan malah mengempaskannya ke samudra.

Ayah Chintya terkejut, begitu pula Serena yang tidak menyangka Deon akan berbicara terang-terangan seperti itu, padahal dia sendiri sudah tahu alasan di baliknya.

Ayah Chintya menggeleng. "T—Tapi, Deon, kenapa—"

Tiba-tiba, bel apartemen Deon berbunyi, menginterupsi pembicaraan mereka. Serena—yang merasa suasana jadi kaku—pun langsung beranjak. "Tunggu sebentar!"

Saat pintu dibuka, muncullah Gavin dan Kanya. Serena sempat bingung, tetapi dia tetap mengizinkan mereka masuk.

Ayah Chintya bingung melihat dua sosok asing tersebut. Sementara itu, Chintya langsung terkesiap. Deon dan Talitha pun ikut menatap Gavin.

"Bang!" teriak Talitha.

Deon mengangguk pada Gavin, seolah-olah mengisyaratkan sesuatu. Gavin membalas anggukan tersebut. Serena sudah duduk kembali di sofa.

Gavin mulai menatap ayah Chintya. "Mohon maaf sebelumnya, Pak. Saya Gavin dan ini… Kanya. Saya pegawai di kantornya Deon. Saya datang ke sini untuk memberitahu kalau Anak Bapak sudah melakukan hal yang buruk ke saya dan gadis ini."

Mata ayah Chintya membulat. "Apa maksud—"

"Dia bener, Om," potong Deon. Ayah Chintya langsung menatap Deon tak percaya. Deon menatap Chintya dengan tajam sekilas, lalu menatap ayah Chintya kembali. "Deon nggak bisa setuju sama perjodohan ini karena jujur... Deon cuma nganggap Chintya sebagai sahabat. Deon nggak cinta sama Chintya, Om. Yang Deon cintai itu..."

"Gadis ini," lanjut Deon seraya memegang tangan Talitha. Ayah Chintya langsung menatap Talitha. Pria paruh baya itu jadi heran setengah mati. Siapa gadis itu? Sejak kapan Deon bertemu... dan mencintai gadis itu?

"Aku terus terang aja, Om. Chintya berniat jahat karena tau kenyataan kalau aku ngejalin hubungan sama gadis ini. Chintya milih buat misahin kami dengan cara nyerang saudara kandungnya. Pria ini adalah abangnya," ujar Deon sembari menunjuk Gavin dengan dagunya.

Ayah Chintya menggeleng tak habis pikir. Ia tidak mengira anaknya akan berbuat hal jahat seperti itu. Ia percaya anaknya, tetapi percaya juga pada Deon. Deon tidak pernah berbuat aneh-aneh dan bila Deon mengatakan sesuatu, itu pasti benar.

"Dia menjebak pria ini agar meminum obat perangsang di diskotik, lalu memfitnahnya melakukan one night stand dengan sesama pekerja di kantor. Chintya bahkan nyebarin fotonya di kantor biar aku jadi pecat pria ini," lanjut Deon lagi. Tanpa menunggu respons, Deon pun menatap Gavin. "Gimana tesnya, Bang?"

"Udah dicek, Deon," ujar Gavin. "Aku bersyukur karena ternyata kami berdua nggak bener-bener ngelakuin itu malem itu. Dokter udah cek dan secara medis nggak ada tanda-tanda kalau kita melakukan hubungan itu. Hasil tes darah juga nunjukin kalau kita cuma di bawah pengaruh obat."

Talitha menghela napas lega. Dia menatap Gavin seraya tersenyum. "Bang…"

Gavin menatap Talitha sembari tersenyum lembut. Ia merasakan kebahagiaan yang Talitha rasakan. Dia mengangguk pelan pada Talitha.

"Jadi… karena itulah aku nggak mau ngelaksanain perjodohan ini, Om,” ujar Deon dengan serius.

Ayah Chintya menunduk. Pria paruh baya itu mengepalkan tangannya, lalu bangkit dan menyentak Chintya agar berdiri. Ia terlihat murka saat menyeret anaknya keluar dari apartemen itu. Chintya menangis kencang sambil berusaha untuk melepaskan diri dari cengkeraman ayahnya.

Semua orang jadi terkejut dan ikut berdiri. Serena berusaha untuk menengahi. "Rey—"

"Udah, Serena, jangan hentikan aku. Aku malu punya anak kayak gini!" teriak ayah Chintya. Chintya semakin menangis kencang. "Pa, please, Pa, dengerin Chintya dulu! Papa nggak boleh kayak gini... Pa, please, Chintya nggak—"

"Ayo pulang! Papa bakal ngehentiin semua kegiatan modeling kamu dan bikin kamu berhenti kerja! Bikin malu Papa aja kamu! AYO PULANG SEKARANG! PAPA BAKAL KASIH KAMU PELAJARAN!"

Talitha melongo. Ia ingin menolong Chintya, tetapi Deon menggeleng, mengisyaratkannya untuk tidak ikut campur. Ayah Chintya terus menyeret putrinya hingga ke ambang pintu.

Chintya sempat menoleh dengan wajah bersimbah air mata. Ia menatap Deon dengan pilu. Namun, saat tatapannya beralih ke Talitha, sorot matanya mendadak berubah menjadi kebencian yang mendalam. Semua orang jadi kaget.

Chintya ditarik paksa oleh ayahnya, menyisakan ruang tamu yang seketika jadi sunyi. Suara teriakan dan tangisan itu perlahan-lahan menghilang.

 

******

 

Mama Talitha membelalakkan matanya saat membuka pintu rumah. Di sana sudah berdiri Deon, Talitha, Gavin, dan Kanya. Sesungguhnya, ia masih sedih dengan kabar tentang Gavin, tetapi ia segera mempersilakan mereka masuk.

Revan (yang sudah menunggu sejak tadi) juga langsung kaget melihat rombongan itu datang. Gavin pun menunjukkan ekspresi terkejut yang sama saat menyadari Revan sudah duduk di ruang tamu. Begitu semua orang berkumpul, mama Talitha langsung membuka suara, "Ada apa, Deon?"

Papa Talitha yang baru datang menyusul duduk di sebelah istrinya. "Ada apa ini?"

Deon menarik napas panjang. Hening sesaat, sebelum ia akhirnya berbicara. "Pa, Ma, maafin Deon karena udah memecat—"

"Nggak apa-apa, Deon. Kami sudah tau semuanya. Gavin udah cerita," potong papa Talitha, membuat semua orang spontan membulatkan mata.

Mama Talitha mengangguk. "Benar. Kami sudah tau semuanya, Sayang. Tentang Gavin yang dijebak, foto-fotonya, sampe pelakunya. Kami tau kamu memecat dia cuma karena kebijakan kantor."

Deon mengangguk pelan, merasa lega karena tidak perlu menjelaskan panjang lebar. "Iya, Ma. Maafin Deon. Kalo Deon tau lebih awal, semuanya nggak akan terjadi. Bang Gavin bakal kerja lagi bulan depan. Lagian, Bang Gavin nggak ngelakuin apa-apa ke Kanya. Tadi udah tes di rumah sakit."

"Itu bener, Ma,” tambah Gavin.

Kabar itu membuat Mama, Papa, dan Revan jadi lega. Mereka semua mengucap syukur. Mama Talitha bahkan memegangi dadanya seraya menitikkan air mata.

Tiba-tiba, Kanya mendekati orang tua Talitha dan bersujud di depan mereka. Semua orang di ruangan itu spontan terkejut.

"Om, Tante, tolong..." mohon Kanya. "Pak Gavin nggak ngelakuin apa-apa ke saya. Jadi, tolong gagalin rencana pernikahan yang kemarin Pak Gavin usulkan. Saya nggak mau beliau menderita. Pak Gavin pantas menikah sama orang yang dia cintai."

Mama Talitha langsung menarik Kanya untuk berdiri. Mama Talitha tersenyum hangat sembari mengusap pundak Kanya. "Iya, Nak. Karena semuanya udah terbukti, pernikahan itu nggak akan dilaksanakan. Terima kasih karena udah khawatir sama Gavin, padahal kamu sendiri juga menderita."

Kanya menggeleng kencang, merasa sangat bersalah. Namun, mama Talitha segera menenangkannya agar tidak lagi menyalahkan diri sendiri. Suasana yang tadinya tegang kini berubah menjadi penuh haru. Semuanya selesai dengan baik.

Saat suasana mulai tenang, Deon tiba-tiba angkat bicara. "Karena pernikahan Bang Gavin batal... apa ada yang keberatan kalo Deon bilang mau tunangan sama Talitha secepatnya?"

Seketika, semua orang kembali terkejut. Bola mata Gavin seolah-olah ingin keluar dari soketnya, sementara Revan cuma bisa melongo karena merasa dilangkahi adiknya sendiri.

"HAH?!" teriak Talitha kaget. "DEON, REM SEBENTAR! Oi, Deon, kita belum—"

"Secepatnya?! Ya ampun, akhirnya menantu kesayangan melamar juga!" seru mama Talitha kegirangan.

Papa Talitha ikut terkejut. "Tapi Nak… Talitha, kan, belum lulus kuliah. Lagian, mama kamu gimana?"

Deon tersenyum penuh rahasia dan menatap ke arah pintu. Di sana sudah berdiri Serena dengan senyuman manis yang membuatnya tampak awet muda. Baru kali ini Serena berkunjung ke sana, itu pun karena Deon sengaja mengirimkan lokasinya.

Serena memiringkan kepala. "Deon, tumben kamu nge-chat Mama duluan."

Deon membuang muka, tampak malas menanggapi ibunya sendiri. "Aku terpaksa."

Talitha menahan tawa melihat ekspresi kesal Deon. Meski begitu, ia benar-benar terharu melihat Deon akhirnya mulai menerima kehadiran Serena kembali.

"Ngakuin kalo kamu sayang sama Mama aja susah banget, sih?" Serena tertawa renyah. Ia melangkah masuk, duduk di sebelah Kanya, lalu menyalami orang tua Talitha. "Halo, calon besan."

Kedua orangtua Talitha tertawa terbahak-bahak. Mama Talitha memukul bahu Serena dan menggeleng geli. "Halo! Hahaha. Wah, udah berapa kali lihat mamanya calon menantu, tapi kayaknya makin cantik aja, ya?!"

Serena tertawa keras. Setelah itu, Serena menatap Deon.

"Kamu nggak mau salam Mama?" tanya Serena pada Deon, membuat semua orang tertawa geli.

Deon berdecak. "Berhenti, Ma. Jangan godain aku.”

Talitha ngakak. Hal itu membuat Deon jadi menatapnya seraya mengangkat alis.

"Udah, sih, Deon, salam aja. Itu Mama kamu, lho," ujar Talitha, padahal dia sendiri tak berhenti menertawai Deon. Ia tertawa terpingkal-pingkal sampai membuat Revan nyaris ikut tertawa, tetapi Revan menahan tawanya karena masih ingat bahwa Deon itu atasannya. Talitha mah… mana ada malunya kalau sudah menertawakan orang.

Deon mendengkus. Pria itu memilih untuk langsung menghadap ke papa Talitha.

"Ini Mamaku, Pa. Mama udah tau kalau aku mau ngelamar Talitha. Tapi aku mau kami tunangan dulu karena aku tau kalau Talitha masih kuliah. Aku juga akhir-akhir ini banyak urusan bisnis, jadi lebih baik kami bertunangan dulu," ujar Deon. Talitha mendadak menganga mendengar semua penjelasan Deon. Oi, oi—ini... serius?!

Deon kemudian melanjutkan, "Sebenernya, nggak ada masalah kalo nikah pas Talitha masih kuliah, tapi aku ngerti kalo dia masih mau nikmatin masa remajanya. Aku mau belajar untuk ngerti dia dan nggak egois. Aku tau kalo aku pasti bakal kehilangan dia kalo nggenggam dia terlalu erat. Aku juga mau belajar untuk dengerin pendapat orang lain. Jadi, tolong kasih pendapat Mama sama Papa."

Papa Talitha menghadap ke arah mama Talitha, tetapi percuma. Mama Talitha sekarang sedang kesengsem mendengar kalimat Deon tentang Talitha. Ia bahkan menaruh kedua tangannya di pipi.

Alhasil, Papa Talitha kembali menatap Deon. "Deon, apa kamu yakin? Kami semua memang setuju karena kamu udah ngambil hati kami sejak lama, tapi sebenernya… sekarang semuanya tergantung Talitha. Dialah yang berhak mutusin itu."

Semua mata tertuju pada Talitha. Talitha langsung membelalakkan matanya. Gadis itu meneguk ludahnya dengan susah payah.

Aduh, mati.

Deon tersenyum pada Talitha. "Berikan jawaban kamu, Talitha. Kamu nggak perlu khawatir karena aku bakal ngawasin kamu 24 jam. Lagian, kita cuma perlu tunangan dulu. Kita bakal nikah pas kamu sudah tamat. Apa kamu mau nikah sama aku?"

Gavin melongo. Entah mengapa, sifat overprotective Gavin jadi muncul ke permukaan. Apakah Talitha dan Deon akan aman jika bertunangan seawal ini? Apakah Talitha bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik? Bagi Gavin, anak itu masih bau kencur!

Gavin ingin mengutarakan semua kekhawatirannya itu, tetapi masih kaget mendengar ucapan Deon. Sialan, Deon ini unpredictable banget!

Talitha menggaruk keningnya. Tiba-tiba gadis itu bingung mau menjawab apa. Niatnya menemui Deon tadi pagi hanyalah ingin menanyakan Gavin, tetapi ujung-ujungnya, ia jadi dilamar mendadak seperti ini. Mampus! Mau gimana, nih?!

Talitha sekarang mengakui kalau dia memang suka pada Deon. Meski Deon menjengkelkan, tetapi kalau tidak ada Deon sehari saja... itu akan terasa aneh. Paling tidak, meski sejenak dan tak disadari, Talitha pasti terpikir tentang Deon setiap harinya. Talitha jadi terbiasa.

Dulu, Talitha berkata pada Deon bahwa takkan ada cinta di antara mereka. Mereka bersatu juga karena Gavin. Pertemuan pertama mereka pun terjadi saat Gavin membawa Talitha untuk menghadiri acara anniversary Abraham Groups. Semua itu terjadi karena Gavin. Kalau Gavin tidak membawa Talitha saat itu, ia tak mungkin bertemu dengan Deon. Kalau bukan karena masalah Gavin saat ini pun, Talitha takkan tahu bahwa ia telah jatuh cinta pada Deon.

Talitha masih ingat ketika ia menunjuk Deon yang sedang berdiri di panggung saat itu dan berteriak "MARCO DEON!" hingga membuat Deon menatapnya dengan aneh. Kejadian itu sangat gila.

Siapa sangka, Tuhan menuntun kejadian memalukan itu hingga ke titik seserius ini.

Talitha menunduk. Setelah itu, ia pun mengepalkan tangannya dan menarik napas. Jelas tidak mudah memproses perasaan seperti ini mengingat Talitha adalah jomblo dari lahir. Dia tahu bahwa bila dia tidak melihat Deon lagi, dia akan merasa aneh. Mungkin akan super aneh. Deon sudah mengaduk-aduk kehidupannya.

Ini tidak beres. Seharusnya… kalau Deon tak ada, Talitha senang. Namun, akhir-akhir ini… tidak begitu. Berarti, semua itu benar. Talitha harus memberikan keputusannya. Ia menatap Deon dengan mantap, lalu mengangguk perlahan.

"Aku... mau," ujar Talitha dengan yakin. Dia tersenyum kepada Deon.

Mata Deon membelalak. Mulut pria itu terbuka sedikit, tampak begitu kaget dengan jawaban Talitha yang serius. Ia menatap Talitha seolah-olah mencari sisa keraguan di wajah gadis itu. Begitu yakin, ia langsung tersenyum lebar dan mendekap Talitha dengan erat.

"Terima kasih, Talitha. Aku mencintai kamu."

"Iya. Makasih juga, ya, Deon," jawab Talitha sembari tersenyum lebar. Ia malah ngakak saat mendengar Deon tertawa kecil dalam pelukannya. Sejak kapan Deon hobi tertawa polos begitu? Virus "sableng" Talitha benar-benar sudah menular pada Deon.

"Wah, harus cepat-cepat disiapin, nih!!" seru mama Talitha, membuat suasana pecah oleh tawa bahagia.

 

******

 

Suara tubrukan di depan mobil membuat Revan kaget. Ia segera menginjak rem sekuat tenaga. Begitu mobil berhenti total, Revan keluar dengan wajah merah padam karena emosi.

Kurang ajar banget ini yang nabrak! Nggak punya mata apa?!

"Woi!" teriak Revan. Seseorang yang tabrakan dengannya itu rupanya perempuan. Revan mengernyitkan dahi begitu tahu siapa perempuan itu.

Perempuan itu mengerang kesakitan dan langsung menatap orang yang menabraknya dengan mata nyalang. Namun, ia tiba-tiba menganga saat tahu bahwa orang itu adalah Revan.

"VEROKSIN?!" teriak Revan.

"TONGGOS?! SIALAN LO! SINI GAK LO! MOTOR GUE RUSAK, COEG!! KAKI GUE TERKILIR NIH! TANGGUNG JAWAB LO!! A—Akh—" Vero kembali mengerang.

Revan sedikit maju, ingin menolong Vero karena merasa kasihan, tetapi tidak jadi karena gengsinya setinggi langit. "Heh, elo yang nabrak gue, bego! Siapa suruh lo nyetir motor sembarangan? Masa mobil gue udah gede gini masih nggak keliatan?! Mata lo ke mana, hah?!"

"EH KAMBING! KOK MALAH BALIK MARAHIN GUE?! ELO YANG NABRAK GUE!" bentak Vero.

"ELO!" balas Revan. Dia keki setengah mati.

 

Nih cewek monster kenapa, sih, bikin gue kesel terus? Nggak ada bagus-bagusnya nih cewek.

 

"ELO!!!" teriak Vero lagi. "POKOKNYA GUE NGGAK MAU TAU, BAWA GUE KE RUMAH SAKIT, KAMPRET! KAYAKNYA KAKI GUE TULANGNYA KEGESER!”

"ELO YANG KAMPRET! MULUT LO TUH YA!" jawab Revan.

"NGGAK MAU TAU!" Vero memelototi Revan dengan sadis. Revan menganga.

"Sialan," kata Revan. "Nggak mungkin sampe kegeser juga kali! Pelan doang kok tabrakannya. Untung aja badan mobil gue gak lecet. Kalo lecet, awas lo!!"

“BACOT! CEPETAN BANTU GUE!" perintah Vero.

Revan berdecak kesal.

 

Ampun, Tuhan, tolong buat nih cewek ditelan bumi. Atau tenggelem aja gitu di laut. Tinggal ngilang dari sekitar gue apa susahnya, sih?!

 

******

 

Deon menutup pintu kamar kembali saat mereka berdua sudah masuk ke kamar Talitha. Talitha sudah berdiri di depan Deon dan gadis itu langsung berbalik, menghadap pada Deon.

"Deon, kamu gila, ya! Warbyazah!!! Apa yang kamu pikirin, oi, sampe-sampe pengin nikah secepet itu?! Bikin jantungan aja, weh, sumpah!!! Pasti Mama sama Papa kaget banget tuh! Mama jadi gebleg gitu! Ampun dah nih anak, gimana kalo sampe—astaga!!!" Talitha menggeleng-geleng sendiri. "Kamu nih emang aneh!!"

Deon tersenyum miring. Pria itu memiringkan kepalanya dan mendekati Talitha perlahan-lahan. Talitha (yang tadinya kesal) kini sadar kalau Deon tengah mendekatinya. Dia mengedipkan matanya berkali-kali (seperti orang bodoh), tetapi begitu sadar, dia langsung mundur sambil merentangkan tangannya ke depan. "Lah lah lah lah—tunggu—tunggu dulu, Deon! Deon, kamu mau ngapain?!!"

Deon mengangkat alisnya. "Aku cuma mau deketin kamu."

Talitha menganga. "Buset nih anak! Tunggu dulu! Tunggu dulu, oi!! Aku belum selesai ngomong!!"

Deon mendengkus. "Aku nggak peduli. Aku mau liat wajah kamu lebih deket. Kamu yang hatinya udah jadi milik aku sekarang. Milik aku seutuhnya."

"Iya, iya, aku milik kamu! Aku milik kamu! Jadi, please, berhenti! Aku hampir jatuh, nih!!!" teriak Talitha. Dia sadar kalau pahanya sudah menabrak lengan ranjang.

Deon semakin tersenyum miring. "Aku nggak bakal berhenti. Siapa suruh kamu nyatain perasaan kamu dengan cara kayak gitu? Coba bilang ke aku dengan jelas sekarang."

Talitha bergidik ngeri. Ia menggeleng-geleng. "Weeeh, Deon, sumpah! Kamu kayaknya orang paling aneh sejagat raya!"

Sekarang, jarak antara Deon dan Talitha hanyalah satu langkah. Jika Deon melangkah lagi, tubuh mereka akan menempel.

"Bukannya yang aneh itu kamu? Cinta sama aku udah dari lama, tapi nggak sadar?" tanya Deon sarkastis.

"DEON!" teriak Talitha. "Oke, oke, ampun! Ampun, dah! Hayati nyerah! Tenggelemin aja hayati ke rawa-rawa!"

Tiba-tiba saja, tubuh mereka sudah menempel. Getaran itu kini begitu terasa mengingat tubuh mereka hanya terhalang pakaian masing-masing. Wangi maskulin Deon benar-benar memabukkan hingga lidah Talitha jadi kelu.

"Bilang kalau kamu cinta sama aku," perintah Deon sembari mengangkat dagu Talitha agar gadis itu menatap matanya.

Talitha meneguk ludah. Sekakmat.

"Iya, tapi lepasin aku dulu—"

"Bilang sekarang, Talitha. Keras-keras."

"Astaga, iya, oi! Lepasin dulu kali! Ini aku mau jatuh! Ntar kalo sampe kita jatuh ke kasur, jangan protes kalo aku gerepe-gerepe kamu!" teriak Talitha. Deon tertawa.

Talitha hampir saja terpesona melihat Deon yang sangat tampan saat tertawa seperti itu. Ujung hidung Deon kok bisa lancip begitu, ya? Luar biasa. Ciptaan Tuhan yang satu ini memang tampan sekali, apalagi dia memang jarang teratawa.

Deon sekarang benar-benar menjadi sosok yang berbeda, terutama di depan Talitha.

Keterpakuan Talitha buyar saat Deon kembali menatapnya tajam. Pria itu lantas berkata dengan penuh peringatan, "Bilang sekarang, Talitha, atau kuikat kamu di ranjang."

Talitha terperanjat. Lehernya bak tercekik saat mendengar itu.

Halah, terserahlah! Yang penting nggak diikat di ranjang sendiri! Apa yang bakal terjadi itu urusan nanti, dah!

Akhirnya, Talitha pun menutup matanya dan berteriak:

"Aku mencintai kamu, Deon!!!"

Deon tersenyum puas. Pria itu mendadak menarik Talitha hingga gadis itu membelalakkan mata. Dia membawa Talitha ke ujung ruangan, lalu mengimpit tubuh gadis itu ke dinding. "Besok-besok, tolak si Alfa sialan itu. Selain itu, jangan protes kalo aku marahin siapa pun yang berani deketin kamu. Kamu itu calon istriku, semuanya udah jelas sekarang," ujar Deon.

Sebelum Talitha sempat merespons, Deon kembali berbicara, "Aku nggak nyangka kalo perempuan gila kayak kamu ternyata bisa mencintai lawan jenis."

Talitha memiringkan kepalanya. What?

"Maaf, ya, Mas Ganteng, itu maksudnya apa, ya?" sindir Talitha dengan ekspresi datar.

"Ngomong-ngomong, aku kangen sama kamu,” kata Deon pelan. Pria itu tersenyum penuh rahasia. "Jadi, jangan nolak, ya. Aku mau cium kamu, soalnya."

Mata Talitha membulat.

"WADUH, MATI!" teriak Talitha. Dia bergidik melihat senyum Deon yang mengerikan itu. Ternyata, cinta mampu menyihir sosok sekejam Deon jadi mesum begini. []

 











******










Vero






No comments:

Post a Comment

Black Trick (Chapter 5: Kane Houston)

  ****** Chapter 5 : Kane Houston   ******   PEMAKAMAN Austin dan Castro dilaksanakan di hari yang sama, yaitu tiga hari setelah C...