Sunday, February 15, 2026

My Cold CEO, My Perfect Seducer (Chapter 20: His Jealousy)

 


******

Chapter 20 :

His Jealousy

 

******

 

Author:

"LET’S GO, Vio!!"

Megan berteriak dari dalam mobilnya, membuat Violette tersenyum dan langsung masuk ke mobil itu. Violette sedang memasang seat belt ketika mobil itu keluar dari halaman rumah Megan. Itu sebenarnya mobil ayahnya Megan, sih.

"Hei, kapan kau akan mengundangku ke mansion-mu? Mentang-mentang pengantin baru!" ujar Megan sambil tertawa.

"Heh, tidak ada hubungannya dengan pengantin baru!" protes Violette sembari memelototi Megan. Megan tertawa lagi.

"Jadi apa, dong? Ooh... Kau tak mau aku melihat suamimu, ya?" ujar Megan dengan geli. Dasar gila.

"Bukan! Justru lebih baik kau datang ketika suamiku ada di rumah. Kapan-kapan, deh, ya, kau main ke rumahku," ujar Violette. "Dia hari ini pergi ke kantor untuk melihat persiapan acara. Aku mau pergi bersamamu, pakai mobil ayahmu. Jadi, aku sengaja naik taksi ke sini."

Violette cengar-cengir.

Megan memutar bola matanya. "Wah…  Jadi, kau mau menghabiskan bensin mobil Ayahku, hah?!"

Violette tertawa seperti penyihir. Penyihir yang hobi menghabiskan bensin mobil orang lain.

"Wah wah, pintar juga kau Meganku Sayang,” ujar Violette.

Megan menatap Violette sejenak, kemudian menggeleng. "Semakin kau menikah, semakin kau jadi stress. Kau harus masuk ke rumah sakit jiwa."

Violette tersenyum lebar. "Tak apa-apa, asal kau ikut bersamaku."

"Cih!! Huek!" Megan pura-pura muntah, lalu tertawa. Ia dan Violette kembali menatap ke depan, masih dengan tawa yang tersisa.

Begini. Violette itu sudah menikah, tetapi sifatnya sama sekali tak berubah dari pertama kali mereka bertemu.

Sejenak kemudian, Megan kembali berbicara, "Mobil suamimu sangat banyak. Mengapa kau memilih untuk pergi dengan mobil ayahku bersamaku? Oh, ya, by the way, di rumahmu sudah ada pelayan dan bodyguard belum?"

Violette mengedikkan bahu. "Tak ada alasan. Aku lebih suka memakai mobil ini bersamamu. Ini membuatku merasa kalau kita masih seperti dulu, haha.”

Megan tersenyum lembut.

“Di rumah kami…tidak ada, sih. Kalau bisa…sebenarnya aku tak mau. Aku bisa mengerjakan pekerjaan rumah sendiri. Bisa semua, kecuali membersihkan rumah. Rasanya tidak mungkin membersihkan rumah sebesar itu sendirian..." lanjut Violette.

Megan mengangguk. "Mungkin bukan tidak ada, melainkan belum ada. Kalian baru pindah, apalagi suamimu sibuk juga hari ini."

Violette hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Namun, sejenak kemudian, tiba-tiba mata Violette membelalak. Ia ingat sesuatu yang membuatnya ingin cepat-cepat sampai di rumah Megan tadi.

Violette langsung memicingkan matanya tatkala ia menoleh kembali ke arah Megan. "Meg, kau sengaja menakutiku ya, tadi malam? Itu rencanamu, 'kan? Hah?"

Megan tiba-tiba menatap Violette. Sadar Violette tengah mengintimidasinya, gadis itu malah cengar-cengir.

"Iya, dong. Apa lagi kalau bukan itu?" ujar Megan santai.

Mata Violette langsung memelotot. Ternyata benar! Semalam Megan menakutinya dengan pesan yang berisi cerita hantu dan membuatnya terbirit-birit mencari keberadaan Justin.

Sial. Mudah sekali Megan melakukannya.

Lagi pula, Violette heran. Mengapa dirinya jadi seperti ini, ketakutan hanya karena pesan berisi cerita hantu? Apa karena dia baru tahu bagaimana rasanya ditakuti dengan cerita hantu?

Dahulu, dia tidak seperti ini! Dia adalah gadis Red Lion yang begitu pintar dan ditakuti. Mengapa dia jadi seperti ini?

Wah... apa karena dia hidup di dekat Nathan dan Megan?

 

Bisa jadi.

 

Ah… bukan. Itu memang benar. Ada virus yang Nathan dan Megan tularkan padanya, sepertinya.

Sikap cerewet yang tertular dari Nathan. Sifat konyol atau 'menggila' yang tertular dari Megan. Apa lagi?

 

Astaga.

 

Namun, Violette tak bisa memarahi Megan soal ini. Dia malah sibuk memikirkan apa yang akhirnya Justin lakukan padanya semalam karena dia ketakutan.

Violette berhenti memelototi Megan; tubuhnya kembali bersandar dengan rileks pada jok. Megan cekikikan melihat Violette yang tak jadi marah padanya.

"Cie... tingkah pengantin baru," ledek Megan. Gadis itu lalu tertawa kencang.

Violette awalnya malu, tetapi akhirnya dia ikut tertawa. Aneh sekali.

Megan kemudian bertanya, "Jadi, kita mau ke mana dahulu?"

Violette menyentuh dagunya, mulai berpikir. "Em… Meg, kau mau tidak pergi ke kebun binatang?"

Megan menganga. Ia menatap Violette, lalu tertawa lagi. "Kau serius ingin pergi ke kebun binatang? Kalau aku, sih, oke oke saja," ujar Megan. "tetapi sebaiknya… kita pergi belanja ke mall dahulu. Cari makanan sekaligus pergi ke butik. Setelah itu, barulah kita bisa nyaman pergi ke kebun binatang."

Violette mengangguk.

"Oke. Mengemudinya yang cepat ya, ibu sopir," ujar Violette seraya tertawa. Megan jadi menggeleng-geleng.

Tak lama kemudian, mereka pun sampai di depan mall. Megan memarkirkan mobilnya, lalu langsung menarik Violette untuk masuk ke mall.

Harum yang segar langsung masuk ke penciuman mereka. Lampu-lampu di dalam mall, berbagai jenis toko, semua itu langsung menyita perhatian mereka. Megan terus memegang lengan Violette sambil berjalan.

"Kau mau beli apa?" tanya Megan. Violette mengernyitkan dahi, lalu menatap Megan.

"Aku mau beli daging sapi," ujar Violette. "dan bahan makanan lain untuk di rumah."

"Oh, oke,” jawab Megan. “Ayo ke sana. Mamaku juga memintaku untuk membeli wortel."

Violette mengangguk. Mereka mulai mengunjungi tempat membeli bahan makanan. Terkadang, Violette berdecak dan mengomel sendiri tatkala melihat harganya, begitu pula Megan. Violette sudah sempat mengambil troli sebelumnya. Sekarang, troli itu sudah diisi dengan beberapa bungkus sosis, roti tawar, daging sapi, sayuran, susu, buah-buahan… dan sereal. Violette masih berkeliling.

Megan sudah mengambil wortel dan sekarang dia sedang mencari kubis bersama Violette.

“Vio,” panggil Megan tiba-tiba.

Violette, yang masih sibuk melihat-lihat, lantas menjawab tanpa menoleh ke arahnya. "Apa?"

"Heh, lihat aku dulu," panggilnya. Violette langsung menoleh padanya dengan mata membulat.

"Ada apa, sih?" tanya Violette heran.

"Ini. Kira-kira… berapa banyak yang harus kubeli bila ukurannya segini?"

"Mana kutahu, Meg," jawab Violette.

Megan mengerjapkan matanya beberapa kali bak orang tolol. Violette jadi keheranan setengah mati. Masa dia malah bertanya pada Violette soal itu, sih?

"Sebentar. Apa kau yakin suamimu suka kubis?" tanya Megan antusias. Fokusnya teralih.

“Dia mau makan kubis,” jawab Violette. “Setahuku, dari dahulu… satu-satunya hal yang tak disukainya adalah strawberry."

Megan mengangguk, terlihat excited.

"Ternyata, kalian memang benar-benar teman dari kecil." Megan mengikik, lalu ia berbalik dan menaruh kembali kubis itu di tempatnya. Setelah itu, dia kembali menghadap pada Violette dan menatap gadis itu dengan lekat.

"Apa, Meg?" tanya Violette. Megan tersenyum begitu lembut. Tatapan matanya terlihat penuh kasih.

Dia mulai mendekati Violette. Violette menaruh kembali kubis itu di tempatnya dan menatap Megan dengan heran.

"Vio. Mengapa kau tak memberitahuku apa pun soal misi penyelamatan Nathan yang kalian lakukan?" tanya Megan tiba-tiba.

Pertanyaan itu berhasil membuat tubuh Violette mematung. Matanya membelalak seiring dengan mulutnya yang terbuka.

Violette menunduk. Ah...rasanya memang tak mungkin hal itu akan terus disembunyikan dari Megan.

Violette pun tersenyum.

"Kau sudah tahu, ternyata," ujar Violette. Megan menghela napas.

"Hei. Aku ini sahabatmu. Mungkin tiga tahun itu singkat bagimu, tetapi tak seharusnya kau menyembunyikan hal sepenting itu dariku. Kau juga sudah memberitahuku soal Red Lion, jadi kurasa tak masalah kalau kau memberitahuku soal misi itu. Aku tadi malam menjenguk Nathan dan dia memberitahukan itu padaku. Suamimu masuk rumah sakit, ya?"

Violette mengembuskan napasnya. Rasanya jantungnya berdegup kencang. Namun, entah mengapa, di sisi lain… dia lega karena Megan sudah tahu.

"Maafkan aku, Meg. Aku tahu bahwa cepat atau lambat, kau pasti akan mengetahuinya. Namun…"

"Sudahlah," potong Megan. Dia menepuk pundak Violette. "yang penting… Elika dan Welton bajingan itu sudah tamat. Semoga Welton juga mati di penjara sana."

Violette menganga mendengar sumpah serapah Megan.

Begitu melepaskan tangannya dari pundak Violette, Megan tersenyum dengan tulus. Megan rasa… Violette banyak mengalami masa-masa sulit di sepanjang hidupnya. Namun, kini, gadis itu mulai menikmati hidupnya. Entah karena merasa nyaman dengan kehidupannya sekarang… atau karena tak ingin berlarut-larut dalam kesedihan. Menurut Megan, dia memang pantas bersama dengan Justin.

Megan sudah tahu semuanya, termasuk tentang Hillda.

Di kehidupan Red Lion, pastilah Violette bukan orang yang seperti ini. Dia pasti sosok gadis yang pintar dan keren. Megan ingin tertawa sendiri mengingat Violette—yang hidup bersama Nathan dan juga berteman dengannya selama tiga tahun terakhir—kini berubah menjadi gadis yang cerewet, lugu, konyol, dan gila seperti Megan sendiri. Namun, Megan tidak lugu, sih. Hahahaha.

Megan yakin bahwa Justin pasti menyadari perubahan Violette ini.

Megan pun mulai mengajak Violette pergi ke butik (di dalam mall itu) sembari terus mendorong troli mereka yang nyaris penuh, terutama milik Violette.

Itu biasa, pikir Megan. Violette sudah berkeluarga, tinggal menunggu anak mereka lahir saja. Haha.

Setelah membayar semua belanjaan mereka di kasir, mereka pun mulai mencari butik. Ketika sampai di depan sebuah butik, mereka pun langsung masuk ke sana.

Violette meneguk ludah. Ia tetap saja tak terbiasa. Pakaian-pakaian di sana terlihat… mahal sekali. Glamor. Pakaian-pakaian itu juga terlihat sangat berat. Ada yang banyak rendanya, ada yang… desainnya aneh…

Sebetulnya, meski ia berbelanja dengan kartu debit milik Justin, tetap saja yang ia beli hanyalah seputar keperluan rumah tangga saja. Ia tak selera untuk membeli gaun, tetapi apa boleh buat… dia harus membelinya. Akan ada pesta anniversary perusahaan, soalnya. Justin juga menyuruhnya untuk membeli gaun.

Mereka mulai mencari-cari gaun yang cocok. Setelah agak lama mencari, Violette tertarik dengan gaun yang berwarna silver. Gaun itu panjang dan tidak terlalu ketat. Bagian leher gaun itu juga tidak terbuka lebar sehingga takkan menampakkan payudaranya dengan jelas. Namun, mungkin… akan sedikit tampak belahannya. Ini adalah yang paling 'tidak aneh' dari semua yang ia lihat sejak tadi, jadi ia tak bisa meninggalkannya.

Lagi pula, gaun itu sesuai dengan seleranya.

Ia pun mencoba gaun itu di fitting room. Setelah memakai gaun itu, dia mulai keluar dari ruang ganti dan mulai berkaca.

 

Wah... gila.

 

Violette melebarkan mata, lalu mendengar siulan dari belakangnya. Megan tiba-tiba muncul di cermin; gadis itu menepuk pundak Violette. Violette kontan menoleh ke sampingnya.

"Gila, Violette... Kau cantik sekali! Yuhuuu, pantas CEO kita tergila-gila! Uhuk!" Megan mulai sengaja batuk-batuk (pura-pura). Violette juga mendengar karyawan butik itu juga tertawa. Violette kontan memelototi Megan.

"Meg, cari gaunmu sendiri sana! Mengapa kau malah sibuk menyiuliku?! Sana pergi!" usir Violette. Megan malah tertawa semakin gila. Kini, dia mencolek pinggang Violette. "Kau sangat seksi, kau tahu? Mengapa kau tidak menjadi model saja, sih? Tubuhmu bagus. Kau sungguh bodoh kalau percaya dengan omongan Justin dan Evan yang bilang kau tidak seksi."

Violette berdecak. "Mana mungkin aku percaya kalau aku seksi! Mereka berdua terus meledekku! Justin memang bilang padaku untuk jangan percaya jika dia mengejekku seperti itu… atau siapa pun. Aku tak tahu isi otaknya itu apa. Dia mengejekku, tetapi dia juga yang bilang untuk jangan percaya."

Violette tiba-tiba tertawa sendiri saat membayangkan kalau isi otak Justin itu adalah mie instan yang ada di trolinya.

Megan tertawa terbahak-bahak. "Gila! Suami sendiri malah diejek! Padahal kau tergoda juga dengan keseksiannya, ‘kan? Ayo mengaku...! Hmm?"

Violette menganga. Ia langsung masuk kembali ke fitting room dan tanpa sadar pipinya merona saat teringat Justin yang tadi pagi tertidur di sebelahnya tanpa pakaian. Pria itu memeluk pinggangnya dengan posesif.

Dari luar, Megan semakin tergelak seperti setan.

Ketika Violette keluar dari fitting room lagi, Megan sudah mendapatkan gaunnya. Gaun itu berwarna merah maroon. Mereka pun membayar bersama. Dari sanalah Megan tahu bahwa Violette sudah memakai kartu debit suaminya.

Dalam perjalanan—ketika baru keluar dari butik itu—ponsel Megan berbunyi. Violette hanya menatap Megan sebentar, lalu ia kembali menatap ke depan. Dia tahu bahwa itu adalah bunyi ponsel Megan saat ada pesan masuk.

Megan tampak menggerutu aneh ketika melihat ke layar ponselnya.

Megan menaruh kembali ponsel itu di dalam ponselnya kembali, lalu mendekati Violette. Saat itulah Violette mulai bertanya, "Siapa?”

Megan mengedikkan bahu, lalu memutar bola matanya. "Seth."

Mata Violette melebar antusias. "Apa kabarnya? Wah... sudah lama sepertinya aku tak melihat si Seth."

Megan berdecak. "Dia baik-baik saja."

"Kau sering berkomunikasi dengannya?" tanya Violette seraya mengernyitkan dahi.

"Dia selalu menghubungiku akhir-akhir ini dan itu memuakkan. Maksudku, dia memang cukup tampan, tetapi dia menyebalkan. Dia lebih muda dariku; anak itu baru selesai wisuda. Demi Tuhan, aku masih lebih suka Adam Levine daripada dia." Megan mencerocos seperti bebek.

Violette tertawa keras.

"Cie... Jadi, sejak kapan kalian berkencan?" Wah, ini saatnya untuk menggoda Megan. Balas dendam.

Megan bergidik dengan dramatis. "Hah? Maksudmu aku mengencani anak kecil? Lagi pula, Seth itu suka denganmu, Vio. Dia sudah lama menyukaimu."

"Aku tahu, soalnya dia sering memberitahukan itu padaku," ujar Violette. "tetapi aku… entahlah. Kupikir itu hanyalah salah satu leluconnya. Dia suka mabuk, jadi yah… begitulah. Lagi pula, apa isi pesan tadi?" Violette menaikturunkan alisnya dengan jail pada Megan.

"Dia ingin mengajakku pergi setelah ini."

Mata Violette membelalak; ia kaget setengah mati. Wait, what?

 

Jadi…?

 

"Yuhuuuuuu, hahaha! Cuit-cuit!" Violette mendadak bersiul sendiri, mulai menggila, padahal mereka masih ada di tempat umum.

Violette mencolek pinggang Megan. "Jadi, sejak kapan kalian dekat?"

"Kami tak dekat, Mrs. Alexander!" Megan berteriak pada Violette.

Namun, Violette malah cengar-cengir sendiri, otaknya mulai agak terdistraksi tatkala mendengar panggilan ‘Mrs. Alexander’ itu. Megan kemudian menghela napas dan mengedikkan bahu. "Kurasa, dia kerasukan setan. Dia mulai sering menghubungiku… kapan, ya? Entahlah. Kalau kuingat-ingat, sepertinya… sejak kau dan Justin mulai merencanakan pernikahan kalian. Agaknya, dia menjadikanku pelarian."

"Tidak, Meg. Seth bukan orang yang seperti itu. Dia tak mendekati sembarang gadis. Begini-begini, aku ini tetangganya, dahulu," ujar Violette. "Jika dia mendekati seorang gadis, berarti dia sedang serius."

Megan hanya mendengkus. Tidak terlalu tertarik, sebenarnya.

Setelah selesai berbelanja semua yang mereka butuhkan, mereka pun membawa kantung- kantung belanjaan itu keluar. Sedikit sulit karena belanjaan mereka banyak, terutama punya Violette.

Merasa lelah, mereka pun pergi ke café yang masih ada di area mall itu. Megan memberikan Violette tatapan memelas. "Vio, aku haus. Kita ke café itu dulu, yuk? Kau tak haus?"

"Ya, ayo," ujar Violette, lalu mereka masuk ke café itu. Di sana, mejanya berbentuk bulat; ada dua kursi yang berseberangan di tiap-tiap meja. Megan memilih meja bernomor 17. Mereka berdua duduk di sana.

"Kau pesan apa?" tanya Megan pada Violette saat seorang waitress menghampiri mereka. Tanpa melihat menu, Violette langsung tahu apa yang ia inginkan. Tak peduli apakah minuman itu ada atau tidak di café itu.

"Em... Maaf, apa ada orange juice di sini?" tanya Violette, yang membuat Megan sedikit melebarkan matanya.

"Ada, Ma’am," jawab waitress itu. Violette langsung mengangguk.

"Aku ingin dua gelas." Violette menjawab. Pelayan itu mulai mencatat.

"Aku frappuccino," ujar Megan.

Tak berapa lama kemudian, pelayan itu pergi.

Megan langsung menatap Violette. "Apa kau sehaus itu? Kukira akulah yang paling haus?"

Violette menggeleng. "Aku tak tahu. Tiba-tiba saja… aku ingin orange juice."

Megan mengangguk. Tiba-tiba, ia menyeringai. "Jadi, bagaimana malam pertamamu?"

Violette sontak melebarkan kedua matanya. Dia langsung menutup mulut Megan sambil menoleh ke kanan dan ke kiri. "Meg, suaramu!! Di sini banyak orang!"

Megan melepaskan tangan Violette dan tergelak. "Haha—oke, oke. Namun, ehm… kalian melakukannya, ‘kan?"

Pipi Violette merona. Mau tak mau, ia pun mengangguk.

Megan bertepuk tangan senang. Violette mulai menatap ke segala arah karena salah tingkah; dia menghindari mata Megan yang berbinar-binar menatapnya.

"Jadi, dia gagah?" tanya Megan. Pertanyaan itu spontan membuat mata Violette membulat. Megan langsung mengakak.

"Oke, maaf, Vio. Aku tahu kalau hanya kaulah yang boleh tahu apa rahasia suamimu yang nyaris sempurna itu." Megan masih cekikikan dan entah mengapa itu membuat perut Violette tergelitik. Dari kata-kata Megan itu, Violette lagi-lagi sadar kalau dia adalah milik CEO Alexander Enterprises Holdings, Inc., Justin Alexander.

Tak lama kemudian, pesanan mereka pun sampai. Dua gelas orange juice untuk Violette dan satu cup frappuccino untuk Megan.

"Silakan menikmati." Waitress itu menunduk singkat dan berlalu.

Violette langsung meminum segelas orange juice-nya, menenggak habis minuman itu dengan cepat. Megan kontan menganga.

Dalam sekejap, satu gelas itu habis. Violette langsung meraih satu gelas lagi dan menenggaknya dengan cepat. Ketika isi gelas kedua itu tinggal setengah, Violette pun menaruhnya kembali di atas meja.

"Aku lapar..." ucap Violette. Melihat semua itu, Megan cuma bisa menggeleng sembari meminum frappuccino-nya.

"Tumben sekali kau minum secepat itu?" ujar Megan.

Violette hanya diam, menghela napas. Dia belum sempat menjawab Megan tatkala tiba-tiba, ponselnya berbunyi. Ada sebuah panggilan masuk.

Violette merogoh tasnya untuk mencari ponsel. Saat ponsel itu sudah ada di tangannya, ia pun langsung melihat nama sang pemanggil.

 

My Lovely CEO is calling...

 

Dengan cepat, Violette menerima panggilan telepon itu. "Halo?"

"Kau di mana?" Suara berat Justin mulai mendominasi. Violette mengernyitkan dahi.

"Kau sudah pulang?" tanya Violette.

"Hm."

"Aku di mall. Di… umm… mall yang paling dekat dengan rumah Megan itu, lho.” Violette menjawab pertanyaan Justin sebelumnya.

"Aku jemput. Masih belanja?" tanya Justin dengan suara rendah.

"Tidak, aku sudah selesai." Violette berbicara sembari meminum sisa orange juice-nya.

"Aku akan menjemputmu ke sana."

"Iya." Violette mengangguk. Orange juice-nya habis… bertepatan dengan terputusnya panggilan telepon itu.

Violette menyimpan ponselnya kembali di dalam tas.

"Siapa?" tanya Megan.

"Hm?" Violette menatap Megan. "Oh... itu suamiku."

"Dia mau menjemputmu?" tanya Megan. Violette mengangguk pelan.

"Duh, aku rasanya jadi kesengsem sendiri kalau melihat kalian," ujar Megan, senyum-senyum tak jelas. "Mudah-mudahan kalian cepat punya anak."

Violette menganga. Pipinya merona. “M—Meg!!”

Megan tertawa.

Akhirnya, Violette cuma menghela napas. "By the way… maaf, ya, Meg. Sepertinya, kita tak bisa pergi ke kebun binatang. Lain kali… kita pasti bisa pergi ke sana, 'kan?"

Megan mengangguk cepat. "Iya, dong. Tentu bisa. Masih banyak waktu. Mudah-mudahan kita panjang umur, hehe."

Violette nyaris menampar bibir Megan karena berani berkata seperti itu. Namun, Megan lagi-lagi hanya mengakak.

Sebenarnya, doa supaya ‘cepat punya anak’ itu membuat Violette bahagia. Pikiran tentang anaknya… buah hatinya bersama Justin...

Pipinya langsung memanas.

 

******

 

Violette mengikuti langkah Justin yang sedang membawa kantung-kantung belanjaan Violette ke mobil. Violette tidak memegang apa pun.

Violette tadi mengirim pesan kepada Justin, memberitahu nama café tempatnya beradaJustin datang ke café itu dan mereka berpamitan pada Megan. Megan melambaikan tangannya dengan riang saat melihat pasangan itu. Justin langsung membawakan semua belanjaan Violette ketika Violette menunjukkan yang mana saja belanjaannya.

Violette memegangi perutnya sendiri. Rasanya sangat lapar...padahal ini baru jam sepuluh pagi. Apa karena kelelahan akibat berkeliling di mall?

Lapar sekali… seolah-olah sudah seharian tidak makan.

Violette melihat punggung tegap Justin yang sedang membawa banyak kantung belanjaan. Pria itu mulai berhenti, membuka bagasi mobilnya, lalu memasukkan kantung-kantung belanjaan itu ke sana.

"Kau belanja bahan makanan, hm?" tanya Justin pelan, nadanya datar. Violette yang berada di belakangnya pun mengangguk.

"Iya."

"Apa kau tak lelah? Tadi pagi, kau masih merasa perih,” ujar Justin seraya menutup bagasi mobilnya. Setelah itu, tanpa membiarkan Violette menjawab, pria itu langsung menggenggam tangan Violette dan membawanya masuk ke jok penumpang depan. Setelah Violette duduk di sana, Justin pun memutari bagian depan mobilnya dan ikut masuk ke mobil.

Justin mulai menghidupkan mobilnya. Mobil itu berjalan keluar dari area mall dan akhirnya berada di jalan raya.

Violette jelas-jelas masih kelaparan. Ia menoleh kepada Justin, tetapi ekspresi beku itulah yang ia lihat.

"Kau ingin sesuatu, Sayang?" tanya Justin. Violette kontan membelalakkan mata. S—Sayang? Sayang? Wah, rasanya itu… pernah Violette dengar (pernah keluar dari mulut Justin) saat mereka… masih sepasang kekasih.

"Rasanya aneh mendengarmu memanggilku seperti itu." Violette mencebik meskipun nyatanya ia gugup tatkala membayangkan lidah Justin mengucapkan kata 'Sayang'.

"Kau tidak merasa kalau kau juga aneh, hmm?" tanya Justin.

Violette menyatukan alis. "Maksudmu?"

Justin menatap Violette sekilas, lalu menatap ke depan lagi. Pria itu tersenyum miring. "Well, apa yang membuatmu jadi cerewet seperti sekarang? Kau juga begitu lugu ketika di atas ranjang."

 

Sialan! Berarti, saat dia bilang kalau Violette ‘hebat di ranjang’ tadi pagi, itu memang cuma mau menjaili Violette saja!

 

Pipi Violette merona, tetapi ia berusaha untuk tidak terpengaruh.

"Aku tak tahu. Hidup dengan Nathan dan Megan di sekelilingku, orang-orang seperti mereka... mungkin karena itulah aku jadi… cerewet? Untuk masalah lugu itu… aku—aku tak tahu!" Violette memalingkan wajahnya.

Justin mengangguk. "Mungkin karena kau tak pernah melakukannya. Yang paling mengherankan adalah kau terlihat sangat gugup, sampai-sampai seperti anak kecil."

Oh… pantas saja Justin terus tersenyum miring tadi malam. Pipi Violette semakin memerah. Ia malu! Malu sekali!

"Diamlah, Justin," kata Violette. Dia menggigit bibirnya. "Lagi pula, kurasa... aku lebih bahagia seperti ini."

Justin menatap Violette dengan lekat.

Dua detik kemudian, Justin kembali menatap ke depan. "Dahulu… kau adalah perempuan yang sangat keren, Violette. Kau selalu berdiri di belakangku dan memberikanku informasi tentang misi dan target Red Lion. Cara bicaramu sangat profesional. Waktu itu… kau banyak diam. Kau juga sangat cerdas dan teliti." Justin mengelus dagunya.

"Ya… Nathan bilan, aku harus bicara lebih banyak. Eh, tunggu dulu, jadi kau mau mengejekku kalau aku sekarang jadi bodoh?" tanya Violette dengan mata memelotot.

"Hm," deham Justin.

Violette baru saja ingin meneriaki Justin ketika tiba-tiba Justin memotongnya, "dan kau percaya? Bukan, Nona. Sebenarnya, kau tidak bodoh. Kau tetap bagus di dalam pekerjaanmu. Namun, kau sering tidak connect ketika berbicara denganku, makanya aku sering bilang kalau kau bodoh."

Violette mengedikkan bahu. Ia hanya bisa menerima semua pendapat Justin itu. Lagi pula, sepertinya… itu memang benar. Ia agak kehabisan kata-kata juga, sih. Mungkin karena dia lapar.

Setelah itu, Justin melanjutkan perkataannya dengan nada yang datar dan santai. "Sekarang… kau jadi begitu cerewet dan juga suka bercanda dengan Megan. Kau juga bisa begitu lugu, padahal kita dulu berada di organisasi yang mengerikan." Justin menggeleng. Ia tertawa kecil dan singkat. Matanya dipenuhi dengan jenaka. "Hal yang tak berubah adalah… kalau sudah bertekad, kau akan sangat berani. Kau juga masih suka membantah seperti dahulu. Sifatmu yang suka membantah itu jadi lebih parah karena sekarang kau cerewet."

Violette melebarkan matanya. Justin berbicara panjang lebar, mendeskripsikan dirinya? Selain itu, dia baru sadar bahwa sebenarnya… dialah yang lebih banyak berubah dibandingkan Justin. Selama ini, ia kira Justinlah yang banyak berubah.

Violette menghela napas dan tersenyum. "Kau juga. Dahulu… kau tidak sedingin ini. Kau memang tak banyak bicara, tetapi kau perhatian. Kau juga tak pernah jahat padaku karena kita sangat dekat waktu itu. Apa yang membuatmu berubah jadi begitu kejam? Waktu pertama bertemu denganku saja, sikapmu padaku luar biasa dingin, seolah-olah kita bermusuhan di masa lalu. Sedikit-sedikit langsung pecat."

Sorot mata Justin itu sangatlah indah, meskipun dilihat dari samping.

"…tetapi kau terpesona denganku, 'kan?" ujar Justin tiba-tiba seraya tersenyum miring. Violette kaget bukan main.

"Sejak kapan kau jadi narsis begini, sih? Akhir-akhir ini, kau narsis sekali!" teriak Violette.

"Hmm? Aku benar, 'kan? Lagi pula, kau sudah tahu apa saja yang terjadi padaku." Justin memicingkan mata. "Aku juga sadar kalau aku merusak diriku sendiri saat itu. Aku jadi malas berbicara dengan orang lain. Aku mengonsumsi alkohol secara berlebihan, bermain dengan banyak wanita, dan merokok terus-menerus. Setelah rasa frustrasiku menghilang, kebiasaan itu juga berkurang. Namun, ada dua hal yang tidak berkurang."

Justin berhenti. Violette menyatukan alis. “Apa itu?”

"Rokok… dan kebiasaan ‘malas berbicara’ itu. Namun, menurutku itu bukan kejam."

Violette memutar bola matanya. "Itu, kan, menurutmu saja!!"

Justin mengedikkan bahunya. "Well, setidaknya kau sudah membantu mengurangi salah satunya, 'kan? Kau sudah menjatahi rokokku."

Seolah-olah ada kupu-kupu yang beterbangan di dalam perut Violette. Justin… menghargai apa yang ia lakukan. Mudah-mudahan, sifat malas berbicaranya Justin itu hilang suatu saat nanti.

Tiba-tiba, perut Violette berbunyi.

"Justin, aku lapar..." ujar Violette. Membuat Justin menoleh kepadanya dengan alis menyatu.

 

******

 

Hari ini, rasanya Violette cepat lelah.

Ini sudah malam. Ia sudah berada di hotel tempat dilaksanakannya pesta anniversary megah perusahaan Alexander Enterprises. Rambutnya di-style braided bun dan ia memakai gaun yang ia beli bersama Megan.

Sedari tadi, ia dibawa Justin untuk mengobrol dengan para board of directors. Mereka adalah orang-orang yang biasanya akan mengajak Justin berbicara. Justin berbincang-bincang sembari berdiri dan meminum wine. Sesekali, mata para direktur itu berbinar ketika melihat wajah istrinya Justin Alexander. Sebenarnya, banyak yang sudah tahu, tetapi ada juga yang masih belum tahu wajah Violette. Banyak orang-orang di dalam perusahaan yang penasaran bagaimana penampilan Violette ketika bersanding dengan CEO mereka di pesta anniversary ini karena pastinya sekarang pasangan itu sudah berada dalam satu rumah yang sama. Para wanita pun masih menatap Justin dengan kagum walaupun Justin sudah memiliki istri.

Sang CEO, Justin, sekarang jadi lebih sering terlihat. Agaknya, dia malah semakin tampan, segar, dan berkarisma. Orang-orang akan segan dan tunduk ketika melihatnya.

Violette tampak anggun. Tubuh Violette lebih berisi daripada sebelumnya dan hal itu membuatnya terlihat seksi. Dia tampak begitu serasi dengan Justin. Kalau dinilai secara objektif, Violette itu sangat cantik; tidak ada yang berani menentang hal itu. Kabar bahwa mereka adalah ‘teman lama’ juga sudah tersiar, jadi tak ada yang berani berkomentar soal mengapa Justin Alexander memilihnya.

Violette menghela napas lelah. Mereka sudah menjauh dari kerumunan para direktur. Tangan Justin tetap memeluk pinggang Violette.

Violette melihat jajaran makanan di atas meja panjang di pinggir ruangan, tak jauh dari posisi mereka sekarang. Ada berbagai cake, wine, dan jus. Perut Violette mulai minta diisi lagi.

Violette pun mendongak—menatap Justin—dan sadar kalau Justin tengah menelepon seseorang.

"Oh, Sher,” ujar Justin.

"Aku sedang bersama istriku."

"Oke. Aku akan pergi ke sana sebentar lagi. Infokan pada mereka untuk mempersiapkan semuanya sebaik mungkin."

Justin pun menutup panggilan telepon itu, lalu memasukkan ponselnya ke saku kemeja.

Pria itu mulai menatap Violette dengan intens. Sangat intens hingga membuat Violette lupa bernapas.

"Aku akan menyampaikan kata sambutan," ujar Justin. "Ikut aku ke sana."

Violette menggeleng. "Tidak, aku di sini saja. Aku mau makan dulu."

Justin melepaskan tangannya dari pinggang Violette, lalu matanya menyipit. "Setahuku kau sudah makan dua kali sebelum pergi tadi. Mengapa masih lapar?"

Violette menggeleng, ia mengelus perutnya dan mendengkus. "Aku lapar sekali, Justin. Pergilah, aku mau makan dulu."

Justin menghela napas samar, kemudian ia mengangguk. "Okay. Tunggu di sini dan makanlah sampai kenyang. Jangan pergi ke mana-mana sampai aku kembali."

Sepeninggal Justin, Violette langsung pergi ke meja panjang itu. Memakan kue-kue di sana dengan lahap hingga membuat orang-orang yang di sekelilingnya tersenyum geli. Violette juga memakan gelato di sana. Ketika haus, dia meminum juice. Ketika melihat buah, ia mengambil sebuah apel.

Astaga, dia membuat orang di sekelilingnya menelan ludah. Mengingat ia adalah istri dari CEO yang terhormat di acara itu, semua orang menghormatinya. Tak menyangka bahwa ternyata istri CEO itu makan sebanyak itu.

Tiba-tiba, ada beberapa pria muda—karyawan Alexander Enterprises—yang mendekati Violette. Karyawan-karyawan itu tak tahu bahwa Violette adalah istri CEO mereka. Well, ingat: beberapa orang memang belum tahu wajah istri CEO, apalagi Violette dan Justin baru menikah beberapa hari dan tidak semua orang bisa datang ke acara pernikahan mereka.

Tiga pemuda itu mulai berdiri di sisi kanan dan kiri Violette, melihat Violette seraya menyeringai. Mereka memegang wine.

Violette yang sadar kalau ada beberapa laki-laki yang tiba-tiba berdiri di dekatnya hanya menoleh ke kiri dan ke kanan sebentar, menjauh sedikit, berdecak, lalu kembali makan. Ia pikir, rasanya tak mungkin para pria itu memperhatikannya, jadi ia tak peduli.

Namun, lama-lama… Violette merasa juga kalau dia sedang diperhatikan.

Tiba-tiba, dia mendengar sebuah suara.

"Hello, beautiful. You're so sexy tonight," ujar pria yang ada di sebelah kanannya. Pria itu memegangi bahu telanjangnya, meremasnya perlahan. Violette langsung mengempaskan tangan pria itu.

Wah, ternyata perusahaan besar pun masih punya karyawan bajingan juga. Sifat manusia memang berbeda-beda dari sananya; ada yang bisa diatur… dan ada yang tidak.

Violette langsung menjauhi mereka. Ketiga pria itu tergelak melihat Violette yang kabur tanpa kata.

Mereka kembali mendekati Violette. Violette berhenti makan; ia mulai menggeram. Salah satu dari tiga pria itu kini mencoba untuk memegang tangan Violette, yang satunya mendesak Violette dari belakang, dan yang satunya lagi menyeringai nakal kepada Violette.

 

"Hey, babe. Relax. We're going to have fun tonight. Damn, your ass looks so—"

 

Violette mengempaskan ketiga orang itu dan mundur. Napas Violette terengah-engah.

"Kalian punya akal, ya?!!" teriak Violette. Violette menoleh ke sekelilingnya. Pantas saja tak ada yang bertindak; semua orang ternyata sudah pergi dari kawasan ini.

Ketiga pria itu tertawa. Violette memelototi mereka.

Karena tak mau meladeni mereka, Violette pun berencana untuk berbalik. Namun, sebelum dia sempat berbalik, salah satu dari pria itu mulai mendekatinya.

"Memangnya siapa kau hingga berani bilang kami tak punya akal?” kata pria itu. “Dasar perempuan gi—"

 

"Dia istriku."

 

Mata Violette melebar tatkala suara berat dan tegas itu terdengar di belakangnya.

Violette langsung menoleh ke belakang dan menemukan sosok tegap Justin. Sepasang mata emas Justin tengah menatap para pria itu dengan tajam. Dia memenjarakan semua orang yang ada di sana hanya dengan tatapan matanya.

Violette langsung menatap ketiga pria itu kembali. Tubuh mereka tampak mematung dan wajah mereka pucat.

Setelah itu, Violette mendengar bunyi ketukan sepatu yang melangkah perlahan mendekatinya. Entah mengapa… itu terdengar mencekam.

Tiba-tiba saja, Violette merasa tangannya digenggam.

"Wanita ini istriku. Setahuku, aku sudah membuat peraturan tertulis tentang kode etik di perusahaanku," ujar Justin dingin. Matanya menyipit tajam. "Sebenarnya, kalian harus kupecat saat ini juga karena telah melecehkan istriku, tetapi berterima kasihlah padanya karena dialah yang mengajarkanku untuk tidak memecat karyawan sembarangan."

Mata ketiga pria itu spontan membelalak. Mereka langsung menunduk dan berterima kasih pada Violette dengan penuh hormat. Mereka berjanji untuk tidak mengulanginya lagi kepada wanita mana pun… bahkan berjanji untuk menjaga keselamatan Violette jika mereka melihat Violette. Justin hanya mengangguk.

Setelah itu, Justin mempersilakan mereka untuk pergi. Violette langsung menatap Justin. "Kau sudah selesai?"

"Jangan makan sendirian lagi. Kau disentuh." Suara Justin terdengar begitu dingin. Menyeramkan. Violette mengernyitkan dahi.

 

Disentuh?

 

"Justin, m—maksudmu apa? Kau tampak menyeramkan, astaga! Lagi pula, tak biasanya kau marah begini! Biasanya, kau malah bersikap menyebalkan ketika aku mengharapkan bantuanmu!” kata Violette.

"Seberapa banyak makanan yang kau makan?" tanya Justin, tidak menjawab Violette. Ia malah melirik meja makan itu dengan alis yang terangkat sebelah. "Kurasa ada yang salah dengan pencernaanmu. Ternyata, bukan otakmu saja yang error. Pencernaanmu juga."

 

Buset…!

Enough! Dasar kurang ajar!

 

Violette hampir saja mau berteriak memprotes Justin ketika tiba-tiba perutnya bergolak. Isi perutnya seolah-olah diaduk dan diguncang. Makanan yang baru saja dia telan rasanya seperti naik lagi. Apa-apaan ini? Apa karena dia kebanyakan makan?

Violette kontan menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Keningnya berkerut.

Justin menyatukan alis saat Violette berusaha untuk berbicara, "Aku—aku mau ke toilet, Justin, aku—"

Violette menunduk ketika golakan di perutnya terasa lebih intens. Dia langsung berlari kencang untuk mencari toilet. Justin yang menyadari hal itu pun langsung menarik tangannya untuk mencari toilet terdekat secepat mungkin.

Justin mengambil clutch bag dari tangan Violette, jadi begitu sampai di toilet, Violette langsung muntah di wastafel. Justin memperhatikan Violette yang mengeluarkan seluruh isi perutnya. Mata Justin menyipit dan alisnya bertaut. Pria itu memijit tengkuk dan mengusap punggung Violette sampai Violette selesai muntah.

Setelah menghidupkan keran, Violette pun langsung berkumur-kumur.

 

Ada sesuatu yang salah.

 

Violette menatap cermin besar di depannya dan mendadak tubuhnya jadi lemas. Kepalanya berdenyut.

"Kita ke dokter."

Setelah perintah singkat dari Justin itu terdengar, Violette mulai merasa tangannya ditarik kuat. Justin membawanya keluar dari gedung hotel… hingga akhirnya mereka sampai di depan mobil Justin. Justin langsung menuntun Violette masuk ke mobilnya dengan cepat. Mobil itu langsung menuju ke rumah sakit terdekat.

 

******

 

Justin duduk di kursi panjang yang ada di koridor rumah sakit, tempat keluarga biasanya menunggu pasien. Kedua tangannya bersilang di depan dada.

Pria itu duduk dengan tenang, tetapi matanya terus menyipit seolah-olah ia sedang berpikir. Ada sedikit kerutan di keningnya; jakunnya juga bergerak ke atas dan ke bawah dengan pelan.

Suara pintu yang terbuka sukses membuat mata Justin mengerjap pelan. Ia langsung menoleh ke samping.

Violette muncul dari pintu yang terbuka itu. Dia berjalan pelan ke arah Justin; ekspresinya terlihat agak… kaget sekaligus tak menyangka. Seolah-olah baru saja mendapat kabar yang mengejutkan.

Justin sekarang sudah berdiri di hadapan Violette; pria itu menatap Violette dengan penuh selidik.

"Ada apa," ujar Justin. Suaranya begitu tajam hingga kalimatnya tak terdengar seperti pertanyaan.

Bola mata lelehan emas milik Justin berhasil mengunci Violette, membuat Violette merasa seolah-olah ada api besar di sisi kiri dan kanannya. Violette jadi tak bisa memalingkan mata.

Violette pun meneguk ludahnya… dan akhirnya berhenti tepat di depan Justin. Jarak antara mereka kini sangatlah dekat.

Well, ayo kita permainkan Justin kali ini saja. Ayo kita lihat reaksi Justin apabila Violette memberitahunya kabar seperti ini. Cuma bercanda, sih… tetapi… Violette cukup penasaran dengan reaksinya.

 

Tahan, Violette. Jangan sampai mengakak di depannya. Ayo kita berakting sebentar.

 

"Justin," panggil Violette pelan. "aku... hamil." []

 












******


******


















No comments:

Post a Comment

Black Trick (Chapter 5: Kane Houston)

  ****** Chapter 5 : Kane Houston   ******   PEMAKAMAN Austin dan Castro dilaksanakan di hari yang sama, yaitu tiga hari setelah C...