Chapter 20 :
His
Jealousy
******
Author:
"LET’S
GO, Vio!!"
Megan berteriak dari dalam
mobilnya, membuat Violette tersenyum dan langsung masuk ke mobil itu. Violette sedang
memasang seat belt ketika mobil itu keluar dari halaman rumah
Megan. Itu sebenarnya mobil ayahnya Megan, sih.
"Hei, kapan kau akan
mengundangku ke mansion-mu? Mentang-mentang pengantin baru!" ujar
Megan sambil tertawa.
"Heh, tidak ada hubungannya
dengan pengantin baru!" protes Violette sembari memelototi Megan. Megan
tertawa lagi.
"Jadi apa, dong? Ooh... Kau
tak mau aku melihat suamimu, ya?" ujar Megan dengan geli. Dasar gila.
"Bukan! Justru lebih baik kau datang
ketika suamiku ada di rumah. Kapan-kapan, deh, ya, kau main ke rumahku,"
ujar Violette. "Dia hari ini pergi ke kantor untuk melihat persiapan
acara. Aku mau pergi bersamamu, pakai mobil ayahmu. Jadi, aku sengaja naik
taksi ke sini."
Violette cengar-cengir.
Megan memutar bola matanya.
"Wah… Jadi, kau mau menghabiskan
bensin mobil Ayahku, hah?!"
Violette tertawa seperti penyihir. Penyihir
yang hobi menghabiskan bensin mobil orang lain.
"Wah wah, pintar juga kau
Meganku Sayang,” ujar Violette.
Megan menatap Violette sejenak,
kemudian menggeleng. "Semakin kau menikah, semakin kau jadi stress. Kau
harus masuk ke rumah sakit jiwa."
Violette tersenyum lebar. "Tak
apa-apa, asal kau ikut bersamaku."
"Cih!! Huek!" Megan
pura-pura muntah, lalu tertawa. Ia dan Violette kembali menatap ke depan, masih
dengan tawa yang tersisa.
Begini. Violette itu sudah menikah,
tetapi sifatnya sama sekali tak berubah dari pertama kali mereka bertemu.
Sejenak kemudian, Megan kembali
berbicara, "Mobil suamimu sangat banyak. Mengapa kau memilih untuk pergi
dengan mobil ayahku bersamaku? Oh, ya, by the way, di rumahmu
sudah ada pelayan dan bodyguard belum?"
Violette mengedikkan bahu. "Tak
ada alasan. Aku lebih suka memakai mobil ini bersamamu. Ini membuatku merasa kalau
kita masih seperti dulu, haha.”
Megan tersenyum lembut.
“Di rumah kami…tidak ada, sih.
Kalau bisa…sebenarnya aku tak mau. Aku bisa mengerjakan pekerjaan rumah sendiri.
Bisa semua, kecuali membersihkan rumah. Rasanya tidak mungkin membersihkan
rumah sebesar itu sendirian..." lanjut Violette.
Megan mengangguk. "Mungkin
bukan tidak ada, melainkan belum ada. Kalian baru pindah, apalagi
suamimu sibuk juga hari ini."
Violette hanya menggaruk kepalanya
yang tidak gatal.
Namun, sejenak kemudian, tiba-tiba
mata Violette membelalak. Ia ingat sesuatu yang membuatnya ingin cepat-cepat sampai
di rumah Megan tadi.
Violette langsung memicingkan
matanya tatkala ia menoleh kembali ke arah Megan. "Meg, kau sengaja
menakutiku ya, tadi malam? Itu rencanamu, 'kan? Hah?"
Megan tiba-tiba menatap Violette.
Sadar Violette tengah mengintimidasinya, gadis itu malah cengar-cengir.
"Iya, dong. Apa lagi kalau
bukan itu?" ujar Megan santai.
Mata Violette langsung memelotot.
Ternyata benar! Semalam Megan menakutinya dengan pesan yang berisi cerita hantu
dan membuatnya terbirit-birit mencari keberadaan Justin.
Sial. Mudah sekali Megan
melakukannya.
Lagi pula, Violette heran. Mengapa
dirinya jadi seperti ini, ketakutan hanya karena pesan berisi cerita hantu? Apa
karena dia baru tahu bagaimana rasanya ditakuti dengan cerita hantu?
Dahulu, dia tidak seperti ini! Dia adalah
gadis Red Lion yang begitu pintar dan ditakuti. Mengapa dia jadi seperti ini?
Wah... apa karena dia hidup di dekat
Nathan dan Megan?
Bisa jadi.
Ah… bukan. Itu memang benar. Ada
virus yang Nathan dan Megan tularkan padanya, sepertinya.
Sikap cerewet yang tertular dari
Nathan. Sifat konyol atau 'menggila' yang tertular dari Megan. Apa lagi?
Astaga.
Namun, Violette tak bisa memarahi
Megan soal ini. Dia malah sibuk memikirkan apa yang akhirnya Justin lakukan
padanya semalam karena dia ketakutan.
Violette berhenti memelototi Megan;
tubuhnya kembali bersandar dengan rileks pada jok. Megan cekikikan melihat
Violette yang tak jadi marah padanya.
"Cie... tingkah pengantin baru," ledek
Megan. Gadis itu lalu tertawa kencang.
Violette awalnya malu, tetapi
akhirnya dia ikut tertawa. Aneh sekali.
Megan kemudian bertanya,
"Jadi, kita mau ke mana dahulu?"
Violette menyentuh dagunya, mulai
berpikir. "Em… Meg, kau mau tidak pergi ke kebun binatang?"
Megan menganga. Ia menatap
Violette, lalu tertawa lagi. "Kau serius ingin pergi ke kebun binatang?
Kalau aku, sih, oke oke saja," ujar Megan. "tetapi sebaiknya… kita
pergi belanja ke mall dahulu. Cari makanan sekaligus
pergi ke butik. Setelah itu, barulah kita bisa nyaman pergi ke kebun
binatang."
Violette mengangguk.
"Oke. Mengemudinya yang cepat
ya, ibu sopir," ujar Violette seraya tertawa. Megan jadi menggeleng-geleng.
Tak lama kemudian, mereka pun
sampai di depan mall. Megan memarkirkan mobilnya, lalu langsung
menarik Violette untuk masuk ke mall.
Harum yang segar langsung masuk ke
penciuman mereka. Lampu-lampu di dalam mall, berbagai jenis toko,
semua itu langsung menyita perhatian mereka. Megan terus memegang lengan
Violette sambil berjalan.
"Kau mau beli apa?" tanya
Megan. Violette mengernyitkan dahi, lalu menatap Megan.
"Aku mau beli daging
sapi," ujar Violette. "dan bahan makanan lain untuk di rumah."
"Oh, oke,” jawab Megan. “Ayo
ke sana. Mamaku juga memintaku untuk membeli wortel."
Violette mengangguk. Mereka mulai mengunjungi
tempat membeli bahan makanan. Terkadang, Violette berdecak dan mengomel sendiri
tatkala melihat harganya, begitu pula Megan. Violette sudah sempat mengambil troli
sebelumnya. Sekarang, troli itu sudah diisi dengan beberapa bungkus sosis, roti
tawar, daging sapi, sayuran, susu, buah-buahan… dan sereal. Violette masih
berkeliling.
Megan sudah mengambil wortel dan
sekarang dia sedang mencari kubis bersama Violette.
“Vio,” panggil Megan tiba-tiba.
Violette, yang masih sibuk
melihat-lihat, lantas menjawab tanpa menoleh ke arahnya. "Apa?"
"Heh, lihat aku dulu,"
panggilnya. Violette langsung menoleh padanya dengan mata membulat.
"Ada apa, sih?" tanya
Violette heran.
"Ini. Kira-kira… berapa banyak
yang harus kubeli bila ukurannya segini?"
"Mana kutahu, Meg," jawab
Violette.
Megan mengerjapkan matanya beberapa
kali bak orang tolol. Violette jadi keheranan setengah mati. Masa dia malah
bertanya pada Violette soal itu, sih?
"Sebentar. Apa kau yakin
suamimu suka kubis?" tanya Megan antusias. Fokusnya teralih.
“Dia mau makan kubis,” jawab
Violette. “Setahuku, dari dahulu… satu-satunya hal yang tak disukainya
adalah strawberry."
Megan mengangguk, terlihat excited.
"Ternyata, kalian memang
benar-benar teman dari kecil." Megan mengikik, lalu ia berbalik dan
menaruh kembali kubis itu di tempatnya. Setelah itu, dia kembali menghadap pada
Violette dan menatap gadis itu dengan lekat.
"Apa, Meg?" tanya
Violette. Megan tersenyum begitu lembut. Tatapan matanya terlihat penuh kasih.
Dia mulai mendekati Violette. Violette
menaruh kembali kubis itu di tempatnya dan menatap Megan dengan heran.
"Vio. Mengapa kau tak
memberitahuku apa pun soal misi penyelamatan Nathan yang kalian lakukan?"
tanya Megan tiba-tiba.
Pertanyaan itu berhasil membuat tubuh
Violette mematung. Matanya membelalak seiring dengan mulutnya yang terbuka.
Violette menunduk. Ah...rasanya
memang tak mungkin hal itu akan terus disembunyikan dari Megan.
Violette pun tersenyum.
"Kau sudah tahu, ternyata,"
ujar Violette. Megan menghela napas.
"Hei. Aku ini sahabatmu.
Mungkin tiga tahun itu singkat bagimu, tetapi tak seharusnya kau menyembunyikan
hal sepenting itu dariku. Kau juga sudah memberitahuku soal Red Lion, jadi
kurasa tak masalah kalau kau memberitahuku soal misi itu. Aku tadi malam
menjenguk Nathan dan dia memberitahukan itu padaku. Suamimu masuk rumah sakit,
ya?"
Violette mengembuskan napasnya.
Rasanya jantungnya berdegup kencang. Namun, entah mengapa, di sisi lain… dia
lega karena Megan sudah tahu.
"Maafkan aku, Meg. Aku tahu bahwa
cepat atau lambat, kau pasti akan mengetahuinya. Namun…"
"Sudahlah," potong Megan.
Dia menepuk pundak Violette. "yang penting… Elika dan Welton bajingan itu
sudah tamat. Semoga Welton juga mati di penjara sana."
Violette menganga mendengar sumpah
serapah Megan.
Begitu melepaskan tangannya dari
pundak Violette, Megan tersenyum dengan tulus. Megan rasa… Violette banyak
mengalami masa-masa sulit di sepanjang hidupnya. Namun, kini, gadis itu mulai menikmati
hidupnya. Entah karena merasa nyaman dengan kehidupannya sekarang… atau karena
tak ingin berlarut-larut dalam kesedihan. Menurut Megan, dia memang pantas
bersama dengan Justin.
Megan sudah tahu semuanya, termasuk
tentang Hillda.
Di kehidupan Red Lion, pastilah
Violette bukan orang yang seperti ini. Dia pasti sosok gadis yang pintar dan
keren. Megan ingin tertawa sendiri mengingat Violette—yang hidup bersama Nathan
dan juga berteman dengannya selama tiga tahun terakhir—kini berubah menjadi
gadis yang cerewet, lugu, konyol, dan gila seperti Megan sendiri. Namun, Megan
tidak lugu, sih. Hahahaha.
Megan yakin bahwa Justin pasti
menyadari perubahan Violette ini.
Megan pun mulai mengajak Violette pergi
ke butik (di dalam mall itu) sembari terus mendorong troli
mereka yang nyaris penuh, terutama milik Violette.
Itu biasa, pikir Megan. Violette sudah
berkeluarga, tinggal menunggu anak mereka lahir saja. Haha.
Setelah membayar semua belanjaan
mereka di kasir, mereka pun mulai mencari butik. Ketika sampai di depan sebuah
butik, mereka pun langsung masuk ke sana.
Violette meneguk ludah. Ia tetap
saja tak terbiasa. Pakaian-pakaian di sana terlihat… mahal sekali. Glamor.
Pakaian-pakaian itu juga terlihat sangat berat. Ada yang banyak rendanya, ada
yang… desainnya aneh…
Sebetulnya, meski ia berbelanja
dengan kartu debit milik Justin, tetap saja yang ia beli hanyalah seputar
keperluan rumah tangga saja. Ia tak selera untuk membeli gaun, tetapi apa boleh
buat… dia harus membelinya. Akan ada pesta anniversary perusahaan,
soalnya. Justin juga menyuruhnya untuk membeli gaun.
Mereka mulai mencari-cari gaun yang
cocok. Setelah agak lama mencari, Violette tertarik dengan gaun yang berwarna
silver. Gaun itu panjang dan tidak terlalu ketat. Bagian leher gaun itu juga
tidak terbuka lebar sehingga takkan menampakkan payudaranya dengan jelas.
Namun, mungkin… akan sedikit tampak belahannya. Ini adalah yang paling
'tidak aneh' dari semua yang ia lihat sejak tadi, jadi ia tak bisa
meninggalkannya.
Lagi pula, gaun itu sesuai dengan
seleranya.
Ia pun mencoba gaun itu di fitting
room. Setelah memakai gaun itu, dia mulai keluar dari ruang ganti dan mulai
berkaca.
Wah... gila.
Violette melebarkan mata, lalu mendengar
siulan dari belakangnya. Megan tiba-tiba muncul di cermin; gadis itu menepuk
pundak Violette. Violette kontan menoleh ke sampingnya.
"Gila, Violette... Kau cantik
sekali! Yuhuuu, pantas CEO kita tergila-gila! Uhuk!" Megan
mulai sengaja batuk-batuk (pura-pura). Violette juga mendengar karyawan butik itu
juga tertawa. Violette kontan memelototi Megan.
"Meg, cari gaunmu sendiri
sana! Mengapa kau malah sibuk menyiuliku?! Sana pergi!" usir Violette.
Megan malah tertawa semakin gila. Kini, dia mencolek pinggang Violette.
"Kau sangat seksi, kau tahu? Mengapa kau tidak menjadi model saja, sih? Tubuhmu
bagus. Kau sungguh bodoh kalau percaya dengan omongan Justin dan Evan yang bilang
kau tidak seksi."
Violette berdecak. "Mana
mungkin aku percaya kalau aku seksi! Mereka berdua terus meledekku! Justin
memang bilang padaku untuk jangan percaya jika dia mengejekku seperti itu… atau
siapa pun. Aku tak tahu isi otaknya itu apa. Dia mengejekku, tetapi dia juga
yang bilang untuk jangan percaya."
Violette tiba-tiba tertawa sendiri saat
membayangkan kalau isi otak Justin itu adalah mie instan yang ada di trolinya.
Megan tertawa terbahak-bahak.
"Gila! Suami sendiri malah diejek! Padahal kau tergoda juga dengan
keseksiannya, ‘kan? Ayo mengaku...! Hmm?"
Violette menganga. Ia langsung
masuk kembali ke fitting room dan tanpa sadar pipinya merona saat
teringat Justin yang tadi pagi tertidur di sebelahnya tanpa pakaian. Pria itu
memeluk pinggangnya dengan posesif.
Dari luar, Megan semakin tergelak
seperti setan.
Ketika Violette keluar dari fitting
room lagi, Megan sudah mendapatkan gaunnya. Gaun itu berwarna merah maroon. Mereka
pun membayar bersama. Dari sanalah Megan tahu bahwa Violette sudah memakai kartu
debit suaminya.
Dalam perjalanan—ketika baru keluar
dari butik itu—ponsel Megan berbunyi. Violette hanya menatap Megan sebentar,
lalu ia kembali menatap ke depan. Dia tahu bahwa itu adalah bunyi ponsel Megan
saat ada pesan masuk.
Megan tampak menggerutu aneh ketika
melihat ke layar ponselnya.
Megan menaruh kembali ponsel itu di
dalam ponselnya kembali, lalu mendekati Violette. Saat itulah Violette mulai
bertanya, "Siapa?”
Megan mengedikkan bahu, lalu
memutar bola matanya. "Seth."
Mata Violette melebar antusias.
"Apa kabarnya? Wah... sudah lama sepertinya aku tak melihat si
Seth."
Megan berdecak. "Dia baik-baik
saja."
"Kau sering berkomunikasi
dengannya?" tanya Violette seraya mengernyitkan dahi.
"Dia selalu menghubungiku
akhir-akhir ini dan itu memuakkan. Maksudku, dia memang cukup tampan, tetapi
dia menyebalkan. Dia lebih muda dariku; anak itu baru selesai wisuda. Demi
Tuhan, aku masih lebih suka Adam Levine daripada dia." Megan mencerocos
seperti bebek.
Violette tertawa keras.
"Cie... Jadi, sejak kapan kalian
berkencan?" Wah, ini saatnya untuk menggoda Megan. Balas dendam.
Megan bergidik dengan dramatis.
"Hah? Maksudmu aku mengencani anak kecil? Lagi pula, Seth itu suka
denganmu, Vio. Dia sudah lama menyukaimu."
"Aku tahu, soalnya dia sering
memberitahukan itu padaku," ujar Violette. "tetapi aku… entahlah. Kupikir
itu hanyalah salah satu leluconnya. Dia suka mabuk, jadi yah… begitulah. Lagi
pula, apa isi pesan tadi?" Violette menaikturunkan alisnya dengan jail
pada Megan.
"Dia ingin mengajakku pergi
setelah ini."
Mata Violette membelalak; ia kaget
setengah mati. Wait, what?
Jadi…?
"Yuhuuuuuu, hahaha! Cuit-cuit!" Violette
mendadak bersiul sendiri, mulai menggila, padahal mereka masih ada di tempat
umum.
Violette mencolek pinggang Megan.
"Jadi, sejak kapan kalian dekat?"
"Kami tak dekat, Mrs.
Alexander!" Megan berteriak pada Violette.
Namun, Violette malah cengar-cengir
sendiri, otaknya mulai agak terdistraksi tatkala mendengar panggilan ‘Mrs.
Alexander’ itu. Megan kemudian menghela napas dan mengedikkan bahu. "Kurasa,
dia kerasukan setan. Dia mulai sering menghubungiku… kapan, ya? Entahlah. Kalau
kuingat-ingat, sepertinya… sejak kau dan Justin mulai merencanakan pernikahan
kalian. Agaknya, dia menjadikanku pelarian."
"Tidak, Meg. Seth bukan orang yang
seperti itu. Dia tak mendekati sembarang gadis. Begini-begini, aku ini tetangganya,
dahulu," ujar Violette. "Jika dia mendekati seorang gadis, berarti
dia sedang serius."
Megan hanya mendengkus. Tidak
terlalu tertarik, sebenarnya.
Setelah selesai berbelanja semua
yang mereka butuhkan, mereka pun membawa kantung- kantung belanjaan itu keluar.
Sedikit sulit karena belanjaan mereka banyak, terutama punya Violette.
Merasa lelah, mereka pun pergi ke café yang
masih ada di area mall itu. Megan memberikan Violette tatapan memelas.
"Vio, aku haus. Kita ke café itu dulu, yuk? Kau tak
haus?"
"Ya, ayo," ujar Violette,
lalu mereka masuk ke café itu. Di sana, mejanya berbentuk bulat;
ada dua kursi yang berseberangan di tiap-tiap meja. Megan memilih meja bernomor
17. Mereka berdua duduk di sana.
"Kau pesan apa?" tanya
Megan pada Violette saat seorang waitress menghampiri mereka. Tanpa
melihat menu, Violette langsung tahu apa yang ia inginkan. Tak peduli apakah
minuman itu ada atau tidak di café itu.
"Em... Maaf, apa ada orange
juice di sini?" tanya Violette, yang membuat Megan sedikit
melebarkan matanya.
"Ada, Ma’am," jawab
waitress itu. Violette langsung mengangguk.
"Aku ingin dua gelas."
Violette menjawab. Pelayan itu mulai mencatat.
"Aku frappuccino," ujar
Megan.
Tak berapa lama kemudian, pelayan
itu pergi.
Megan langsung menatap Violette.
"Apa kau sehaus itu? Kukira akulah yang paling haus?"
Violette menggeleng. "Aku tak
tahu. Tiba-tiba saja… aku ingin orange juice."
Megan mengangguk. Tiba-tiba, ia
menyeringai. "Jadi, bagaimana malam pertamamu?"
Violette sontak melebarkan kedua
matanya. Dia langsung menutup mulut Megan sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.
"Meg, suaramu!! Di sini banyak orang!"
Megan melepaskan tangan Violette dan
tergelak. "Haha—oke, oke. Namun, ehm… kalian
melakukannya, ‘kan?"
Pipi Violette merona. Mau tak mau,
ia pun mengangguk.
Megan bertepuk tangan senang.
Violette mulai menatap ke segala arah karena salah tingkah; dia menghindari
mata Megan yang berbinar-binar menatapnya.
"Jadi, dia gagah?" tanya
Megan. Pertanyaan itu spontan membuat mata Violette membulat. Megan langsung mengakak.
"Oke, maaf, Vio. Aku tahu
kalau hanya kaulah yang boleh tahu apa rahasia suamimu yang nyaris sempurna
itu." Megan masih cekikikan dan entah mengapa itu membuat perut Violette
tergelitik. Dari kata-kata Megan itu, Violette lagi-lagi sadar kalau dia
adalah milik CEO Alexander Enterprises Holdings, Inc., Justin
Alexander.
Tak lama kemudian, pesanan mereka
pun sampai. Dua gelas orange juice untuk Violette dan satu cup frappuccino untuk
Megan.
"Silakan menikmati." Waitress
itu menunduk singkat dan berlalu.
Violette langsung meminum
segelas orange juice-nya, menenggak habis minuman itu dengan cepat.
Megan kontan menganga.
Dalam sekejap, satu gelas itu
habis. Violette langsung meraih satu gelas lagi dan menenggaknya dengan cepat.
Ketika isi gelas kedua itu tinggal setengah, Violette pun menaruhnya kembali di
atas meja.
"Aku lapar..." ucap
Violette. Melihat semua itu, Megan cuma bisa menggeleng sembari meminum frappuccino-nya.
"Tumben sekali kau minum secepat
itu?" ujar Megan.
Violette hanya diam, menghela
napas. Dia belum sempat menjawab Megan tatkala tiba-tiba, ponselnya berbunyi.
Ada sebuah panggilan masuk.
Violette merogoh tasnya untuk
mencari ponsel. Saat ponsel itu sudah ada di tangannya, ia pun langsung melihat
nama sang pemanggil.
My Lovely CEO is calling...
Dengan cepat, Violette menerima
panggilan telepon itu. "Halo?"
"Kau di mana?" Suara berat Justin mulai
mendominasi. Violette mengernyitkan dahi.
"Kau sudah pulang?" tanya
Violette.
"Hm."
"Aku di mall. Di… umm… mall yang
paling dekat dengan rumah Megan itu, lho.” Violette menjawab pertanyaan Justin
sebelumnya.
"Aku jemput. Masih
belanja?" tanya
Justin dengan suara rendah.
"Tidak, aku sudah
selesai." Violette berbicara sembari meminum sisa orange juice-nya.
"Aku akan menjemputmu ke
sana."
"Iya." Violette
mengangguk. Orange juice-nya habis… bertepatan dengan terputusnya
panggilan telepon itu.
Violette menyimpan ponselnya
kembali di dalam tas.
"Siapa?" tanya Megan.
"Hm?" Violette menatap
Megan. "Oh... itu suamiku."
"Dia mau menjemputmu?"
tanya Megan. Violette mengangguk pelan.
"Duh, aku rasanya jadi
kesengsem sendiri kalau melihat kalian," ujar Megan, senyum-senyum tak
jelas. "Mudah-mudahan kalian cepat punya anak."
Violette menganga. Pipinya merona.
“M—Meg!!”
Megan tertawa.
Akhirnya, Violette cuma menghela
napas. "By the way… maaf, ya, Meg. Sepertinya, kita tak bisa pergi
ke kebun binatang. Lain kali… kita pasti bisa pergi ke sana, 'kan?"
Megan mengangguk cepat. "Iya, dong. Tentu
bisa. Masih banyak waktu. Mudah-mudahan kita panjang umur, hehe."
Violette nyaris menampar bibir
Megan karena berani berkata seperti itu. Namun, Megan lagi-lagi hanya mengakak.
Sebenarnya, doa supaya ‘cepat punya
anak’ itu membuat Violette bahagia. Pikiran tentang anaknya… buah
hatinya bersama Justin...
Pipinya langsung memanas.
******
Violette mengikuti langkah Justin
yang sedang membawa kantung-kantung belanjaan Violette ke mobil. Violette tidak
memegang apa pun.
Violette tadi mengirim pesan kepada
Justin, memberitahu nama café tempatnya berada. Justin
datang ke café itu dan mereka berpamitan pada Megan. Megan
melambaikan tangannya dengan riang saat melihat pasangan itu. Justin langsung
membawakan semua belanjaan Violette ketika Violette menunjukkan yang mana saja belanjaannya.
Violette memegangi perutnya
sendiri. Rasanya sangat lapar...padahal ini baru jam sepuluh pagi. Apa karena kelelahan
akibat berkeliling di mall?
Lapar sekali… seolah-olah sudah seharian
tidak makan.
Violette melihat punggung tegap
Justin yang sedang membawa banyak kantung belanjaan. Pria itu mulai berhenti,
membuka bagasi mobilnya, lalu memasukkan kantung-kantung belanjaan itu ke sana.
"Kau belanja bahan makanan,
hm?" tanya Justin pelan, nadanya datar. Violette yang berada di
belakangnya pun mengangguk.
"Iya."
"Apa kau tak lelah? Tadi pagi,
kau masih merasa perih,” ujar Justin seraya menutup bagasi mobilnya. Setelah
itu, tanpa membiarkan Violette menjawab, pria itu langsung menggenggam tangan
Violette dan membawanya masuk ke jok penumpang depan. Setelah Violette duduk di
sana, Justin pun memutari bagian depan mobilnya dan ikut masuk ke mobil.
Justin mulai menghidupkan mobilnya.
Mobil itu berjalan keluar dari area mall dan akhirnya berada
di jalan raya.
Violette jelas-jelas masih kelaparan.
Ia menoleh kepada Justin, tetapi ekspresi beku itulah yang ia lihat.
"Kau ingin sesuatu,
Sayang?" tanya Justin. Violette kontan membelalakkan mata. S—Sayang? Sayang?
Wah, rasanya itu… pernah Violette dengar (pernah keluar dari mulut Justin) saat
mereka… masih sepasang kekasih.
"Rasanya aneh mendengarmu
memanggilku seperti itu." Violette mencebik meskipun nyatanya ia gugup
tatkala membayangkan lidah Justin mengucapkan kata 'Sayang'.
"Kau tidak merasa kalau kau juga
aneh, hmm?" tanya Justin.
Violette menyatukan alis.
"Maksudmu?"
Justin menatap Violette sekilas, lalu
menatap ke depan lagi. Pria itu tersenyum miring. "Well, apa
yang membuatmu jadi cerewet seperti sekarang? Kau juga begitu lugu ketika
di atas ranjang."
Sialan! Berarti, saat dia bilang
kalau Violette ‘hebat di ranjang’ tadi pagi, itu memang cuma mau menjaili
Violette saja!
Pipi Violette merona, tetapi ia
berusaha untuk tidak terpengaruh.
"Aku tak tahu. Hidup dengan
Nathan dan Megan di sekelilingku, orang-orang seperti mereka... mungkin karena
itulah aku jadi… cerewet? Untuk masalah lugu itu… aku—aku tak
tahu!" Violette memalingkan wajahnya.
Justin mengangguk. "Mungkin
karena kau tak pernah melakukannya. Yang paling mengherankan adalah kau
terlihat sangat gugup, sampai-sampai seperti anak kecil."
Oh… pantas saja Justin terus
tersenyum miring tadi malam. Pipi Violette semakin memerah. Ia malu! Malu
sekali!
"Diamlah, Justin," kata
Violette. Dia menggigit bibirnya. "Lagi pula, kurasa... aku lebih bahagia
seperti ini."
Justin menatap Violette dengan
lekat.
Dua detik kemudian, Justin kembali
menatap ke depan. "Dahulu… kau adalah perempuan yang sangat keren,
Violette. Kau selalu berdiri di belakangku dan memberikanku informasi tentang
misi dan target Red Lion. Cara bicaramu sangat profesional. Waktu itu… kau banyak
diam. Kau juga sangat cerdas dan teliti." Justin mengelus dagunya.
"Ya… Nathan bilan, aku harus
bicara lebih banyak. Eh, tunggu dulu, jadi kau mau mengejekku kalau aku
sekarang jadi bodoh?" tanya Violette dengan mata memelotot.
"Hm," deham Justin.
Violette baru saja ingin meneriaki
Justin ketika tiba-tiba Justin memotongnya, "dan kau percaya? Bukan, Nona.
Sebenarnya, kau tidak bodoh. Kau tetap bagus di dalam pekerjaanmu. Namun, kau
sering tidak connect ketika berbicara denganku, makanya aku
sering bilang kalau kau bodoh."
Violette mengedikkan bahu. Ia hanya
bisa menerima semua pendapat Justin itu. Lagi pula, sepertinya… itu memang
benar. Ia agak kehabisan kata-kata juga, sih. Mungkin karena dia lapar.
Setelah itu, Justin melanjutkan
perkataannya dengan nada yang datar dan santai. "Sekarang… kau jadi begitu
cerewet dan juga suka bercanda dengan Megan. Kau juga bisa begitu lugu, padahal
kita dulu berada di organisasi yang mengerikan." Justin menggeleng. Ia tertawa
kecil dan singkat. Matanya dipenuhi dengan jenaka. "Hal yang tak berubah
adalah… kalau sudah bertekad, kau akan sangat berani. Kau juga masih suka
membantah seperti dahulu. Sifatmu yang suka membantah itu jadi lebih parah
karena sekarang kau cerewet."
Violette melebarkan matanya. Justin
berbicara panjang lebar, mendeskripsikan dirinya? Selain itu, dia baru sadar
bahwa sebenarnya… dialah yang lebih banyak berubah dibandingkan Justin. Selama
ini, ia kira Justinlah yang banyak berubah.
Violette menghela napas dan tersenyum.
"Kau juga. Dahulu… kau tidak sedingin ini. Kau memang tak banyak bicara,
tetapi kau perhatian. Kau juga tak pernah jahat padaku karena kita sangat dekat
waktu itu. Apa yang membuatmu berubah jadi begitu kejam? Waktu pertama bertemu
denganku saja, sikapmu padaku luar biasa dingin, seolah-olah kita bermusuhan di
masa lalu. Sedikit-sedikit langsung pecat."
Sorot mata Justin itu sangatlah
indah, meskipun dilihat dari samping.
"…tetapi kau terpesona
denganku, 'kan?" ujar Justin tiba-tiba seraya tersenyum
miring. Violette kaget bukan main.
"Sejak kapan kau jadi narsis
begini, sih? Akhir-akhir ini, kau narsis sekali!" teriak Violette.
"Hmm? Aku benar, 'kan? Lagi
pula, kau sudah tahu apa saja yang terjadi padaku." Justin memicingkan
mata. "Aku juga sadar kalau aku merusak diriku sendiri saat itu. Aku jadi
malas berbicara dengan orang lain. Aku mengonsumsi alkohol secara berlebihan, bermain
dengan banyak wanita, dan merokok terus-menerus. Setelah rasa frustrasiku
menghilang, kebiasaan itu juga berkurang. Namun, ada dua hal yang tidak
berkurang."
Justin berhenti. Violette menyatukan
alis. “Apa itu?”
"Rokok… dan kebiasaan ‘malas
berbicara’ itu. Namun, menurutku itu bukan kejam."
Violette memutar bola matanya.
"Itu, kan, menurutmu saja!!"
Justin mengedikkan bahunya. "Well, setidaknya
kau sudah membantu mengurangi salah satunya, 'kan? Kau sudah menjatahi rokokku."
Seolah-olah ada kupu-kupu yang
beterbangan di dalam perut Violette. Justin… menghargai apa yang ia lakukan. Mudah-mudahan,
sifat malas berbicaranya Justin itu hilang suatu saat nanti.
Tiba-tiba, perut Violette berbunyi.
"Justin, aku lapar..."
ujar Violette. Membuat Justin menoleh kepadanya dengan alis menyatu.
******
Hari ini, rasanya Violette cepat
lelah.
Ini sudah malam. Ia sudah berada di
hotel tempat dilaksanakannya pesta anniversary megah perusahaan Alexander
Enterprises. Rambutnya di-style braided bun dan ia memakai gaun yang ia
beli bersama Megan.
Sedari tadi, ia dibawa Justin untuk
mengobrol dengan para board of directors. Mereka adalah orang-orang yang
biasanya akan mengajak Justin berbicara. Justin berbincang-bincang sembari
berdiri dan meminum wine. Sesekali, mata para direktur itu
berbinar ketika melihat wajah istrinya Justin Alexander. Sebenarnya, banyak
yang sudah tahu, tetapi ada juga yang masih belum tahu wajah Violette. Banyak
orang-orang di dalam perusahaan yang penasaran bagaimana penampilan Violette
ketika bersanding dengan CEO mereka di pesta anniversary ini
karena pastinya sekarang pasangan itu sudah berada dalam satu rumah yang sama. Para
wanita pun masih menatap Justin dengan kagum walaupun Justin sudah memiliki
istri.
Sang CEO, Justin, sekarang jadi
lebih sering terlihat. Agaknya, dia malah semakin tampan, segar, dan
berkarisma. Orang-orang akan segan dan tunduk ketika melihatnya.
Violette tampak anggun. Tubuh
Violette lebih berisi daripada sebelumnya dan hal itu membuatnya terlihat
seksi. Dia tampak begitu serasi dengan Justin. Kalau dinilai secara objektif, Violette
itu sangat cantik; tidak ada yang berani menentang hal itu. Kabar bahwa mereka
adalah ‘teman lama’ juga sudah tersiar, jadi tak ada yang berani berkomentar
soal mengapa Justin Alexander memilihnya.
Violette menghela napas lelah.
Mereka sudah menjauh dari kerumunan para direktur. Tangan Justin tetap memeluk
pinggang Violette.
Violette melihat jajaran makanan di
atas meja panjang di pinggir ruangan, tak jauh dari posisi mereka sekarang. Ada
berbagai cake, wine, dan jus. Perut Violette mulai minta diisi
lagi.
Violette pun mendongak—menatap
Justin—dan sadar kalau Justin tengah menelepon seseorang.
"Oh, Sher,” ujar Justin.
"Aku sedang bersama
istriku."
"Oke. Aku akan pergi ke sana
sebentar lagi. Infokan pada mereka untuk mempersiapkan semuanya sebaik
mungkin."
Justin pun menutup panggilan
telepon itu, lalu memasukkan ponselnya ke saku kemeja.
Pria itu mulai menatap Violette
dengan intens. Sangat intens hingga membuat Violette lupa bernapas.
"Aku akan menyampaikan kata
sambutan," ujar Justin. "Ikut aku ke sana."
Violette menggeleng. "Tidak,
aku di sini saja. Aku mau makan dulu."
Justin melepaskan tangannya dari
pinggang Violette, lalu matanya menyipit. "Setahuku kau sudah makan dua
kali sebelum pergi tadi. Mengapa masih lapar?"
Violette menggeleng, ia mengelus
perutnya dan mendengkus. "Aku lapar sekali, Justin. Pergilah, aku mau
makan dulu."
Justin menghela napas samar,
kemudian ia mengangguk. "Okay. Tunggu di sini dan
makanlah sampai kenyang. Jangan pergi ke mana-mana sampai aku kembali."
Sepeninggal Justin, Violette
langsung pergi ke meja panjang itu. Memakan kue-kue di sana dengan lahap hingga
membuat orang-orang yang di sekelilingnya tersenyum geli. Violette juga memakan
gelato di sana. Ketika haus, dia meminum juice. Ketika melihat
buah, ia mengambil sebuah apel.
Astaga, dia membuat orang di
sekelilingnya menelan ludah. Mengingat ia adalah istri dari CEO yang terhormat
di acara itu, semua orang menghormatinya. Tak menyangka bahwa ternyata istri
CEO itu makan sebanyak itu.
Tiba-tiba, ada beberapa pria muda—karyawan
Alexander Enterprises—yang mendekati Violette. Karyawan-karyawan itu tak tahu
bahwa Violette adalah istri CEO mereka. Well, ingat: beberapa orang memang
belum tahu wajah istri CEO, apalagi Violette dan Justin baru menikah beberapa
hari dan tidak semua orang bisa datang ke acara pernikahan mereka.
Tiga pemuda itu mulai berdiri di
sisi kanan dan kiri Violette, melihat Violette seraya menyeringai. Mereka memegang wine.
Violette yang sadar kalau ada
beberapa laki-laki yang tiba-tiba berdiri di dekatnya hanya menoleh ke kiri dan
ke kanan sebentar, menjauh sedikit, berdecak, lalu kembali makan. Ia pikir,
rasanya tak mungkin para pria itu memperhatikannya, jadi ia tak peduli.
Namun, lama-lama… Violette merasa
juga kalau dia sedang diperhatikan.
Tiba-tiba, dia mendengar sebuah
suara.
"Hello, beautiful. You're so
sexy tonight," ujar
pria yang ada di sebelah kanannya. Pria itu memegangi bahu telanjangnya, meremasnya
perlahan. Violette langsung mengempaskan tangan pria itu.
Wah, ternyata perusahaan besar
pun masih punya karyawan bajingan juga. Sifat manusia memang
berbeda-beda dari sananya; ada yang bisa diatur… dan ada yang tidak.
Violette langsung menjauhi mereka.
Ketiga pria itu tergelak melihat Violette yang kabur tanpa kata.
Mereka kembali mendekati Violette.
Violette berhenti makan; ia mulai menggeram. Salah satu dari tiga pria itu kini
mencoba untuk memegang tangan Violette, yang satunya mendesak Violette dari
belakang, dan yang satunya lagi menyeringai nakal kepada Violette.
"Hey, babe. Relax. We're going
to have fun tonight. Damn, your ass looks so—"
Violette mengempaskan ketiga orang
itu dan mundur. Napas Violette terengah-engah.
"Kalian punya akal, ya?!!"
teriak Violette. Violette menoleh ke sekelilingnya. Pantas saja tak ada yang
bertindak; semua orang ternyata sudah pergi dari kawasan ini.
Ketiga pria itu tertawa. Violette
memelototi mereka.
Karena tak mau meladeni mereka,
Violette pun berencana untuk berbalik. Namun, sebelum dia sempat berbalik,
salah satu dari pria itu mulai mendekatinya.
"Memangnya siapa kau hingga berani
bilang kami tak punya akal?” kata pria itu. “Dasar perempuan gi—"
"Dia istriku."
Mata Violette melebar tatkala suara
berat dan tegas itu terdengar di belakangnya.
Violette langsung menoleh ke
belakang dan menemukan sosok tegap Justin. Sepasang mata emas Justin tengah menatap
para pria itu dengan tajam. Dia memenjarakan semua orang yang ada di sana hanya
dengan tatapan matanya.
Violette langsung menatap ketiga pria
itu kembali. Tubuh mereka tampak mematung dan wajah mereka pucat.
Setelah itu, Violette mendengar bunyi
ketukan sepatu yang melangkah perlahan mendekatinya. Entah mengapa… itu
terdengar mencekam.
Tiba-tiba saja, Violette merasa
tangannya digenggam.
"Wanita ini istriku. Setahuku,
aku sudah membuat peraturan tertulis tentang kode etik di perusahaanku,"
ujar Justin dingin. Matanya menyipit tajam. "Sebenarnya, kalian harus
kupecat saat ini juga karena telah melecehkan istriku, tetapi berterima
kasihlah padanya karena dialah yang mengajarkanku untuk tidak memecat karyawan
sembarangan."
Mata ketiga pria itu spontan membelalak.
Mereka langsung menunduk dan berterima kasih pada Violette dengan penuh hormat.
Mereka berjanji untuk tidak mengulanginya lagi kepada wanita mana pun… bahkan
berjanji untuk menjaga keselamatan Violette jika mereka melihat Violette. Justin
hanya mengangguk.
Setelah itu, Justin mempersilakan
mereka untuk pergi. Violette langsung menatap Justin. "Kau sudah
selesai?"
"Jangan makan sendirian lagi.
Kau disentuh." Suara Justin terdengar begitu dingin. Menyeramkan.
Violette mengernyitkan dahi.
Disentuh?
"Justin, m—maksudmu apa? Kau
tampak menyeramkan, astaga! Lagi pula, tak biasanya kau marah begini! Biasanya,
kau malah bersikap menyebalkan ketika aku mengharapkan bantuanmu!” kata
Violette.
"Seberapa banyak makanan yang
kau makan?" tanya Justin, tidak menjawab Violette. Ia malah melirik meja
makan itu dengan alis yang terangkat sebelah. "Kurasa ada yang salah
dengan pencernaanmu. Ternyata, bukan otakmu saja yang error. Pencernaanmu
juga."
Buset…!
Enough! Dasar kurang ajar!
Violette hampir saja mau berteriak
memprotes Justin ketika tiba-tiba perutnya bergolak. Isi perutnya seolah-olah diaduk
dan diguncang. Makanan yang baru saja dia telan rasanya seperti naik lagi. Apa-apaan
ini? Apa karena dia kebanyakan makan?
Violette kontan menutup mulutnya
dengan sebelah tangan. Keningnya berkerut.
Justin menyatukan alis saat
Violette berusaha untuk berbicara, "Aku—aku mau ke toilet, Justin, aku—"
Violette menunduk ketika golakan di
perutnya terasa lebih intens. Dia langsung berlari kencang untuk mencari
toilet. Justin yang menyadari hal itu pun langsung menarik tangannya untuk
mencari toilet terdekat secepat mungkin.
Justin mengambil clutch bag dari
tangan Violette, jadi begitu sampai di toilet, Violette langsung muntah di
wastafel. Justin memperhatikan Violette yang mengeluarkan seluruh isi perutnya.
Mata Justin menyipit dan alisnya bertaut. Pria itu memijit tengkuk dan mengusap
punggung Violette sampai Violette selesai muntah.
Setelah menghidupkan keran,
Violette pun langsung berkumur-kumur.
Ada sesuatu yang salah.
Violette menatap cermin besar di
depannya dan mendadak tubuhnya jadi lemas. Kepalanya berdenyut.
"Kita ke dokter."
Setelah perintah singkat dari Justin
itu terdengar, Violette mulai merasa tangannya ditarik kuat. Justin membawanya
keluar dari gedung hotel… hingga akhirnya mereka sampai di depan mobil Justin.
Justin langsung menuntun Violette masuk ke mobilnya dengan cepat. Mobil itu
langsung menuju ke rumah sakit terdekat.
******
Justin duduk di kursi panjang yang
ada di koridor rumah sakit, tempat keluarga biasanya menunggu pasien. Kedua
tangannya bersilang di depan dada.
Pria itu duduk dengan tenang, tetapi
matanya terus menyipit seolah-olah ia sedang berpikir. Ada sedikit kerutan di keningnya;
jakunnya juga bergerak ke atas dan ke bawah dengan pelan.
Suara pintu yang terbuka sukses
membuat mata Justin mengerjap pelan. Ia langsung menoleh ke samping.
Violette muncul dari pintu yang
terbuka itu. Dia berjalan pelan ke arah Justin; ekspresinya terlihat agak…
kaget sekaligus tak menyangka. Seolah-olah baru saja mendapat kabar yang
mengejutkan.
Justin sekarang sudah berdiri di
hadapan Violette; pria itu menatap Violette dengan penuh selidik.
"Ada apa," ujar Justin. Suaranya
begitu tajam hingga kalimatnya tak terdengar seperti pertanyaan.
Bola mata lelehan emas milik Justin
berhasil mengunci Violette, membuat Violette merasa seolah-olah ada api besar
di sisi kiri dan kanannya. Violette jadi tak bisa memalingkan mata.
Violette pun meneguk ludahnya… dan
akhirnya berhenti tepat di depan Justin. Jarak antara mereka kini sangatlah
dekat.
Well, ayo kita permainkan Justin kali ini
saja. Ayo kita lihat reaksi Justin apabila Violette memberitahunya kabar
seperti ini. Cuma bercanda, sih… tetapi… Violette cukup penasaran dengan
reaksinya.
Tahan, Violette. Jangan sampai
mengakak di depannya. Ayo kita berakting sebentar.
"Justin," panggil
Violette pelan. "aku... hamil." []


No comments:
Post a Comment