Tuesday, March 3, 2026

Because of Ticket! (Bab 20: Katakan Selamat Tinggal)

 


******

Bab 20 :

Katakan Selamat Tinggal

 

******

 

“MAU ikut masuk nggak, Nad?” tanya Gita, cewek itu mulai turun dari motornya. Pagi ini, Nadya pergi ke sekolah bersama Gita. Mereka pergi pagi-pagi sekali (bahkan sebenarnya masih jam 6) karena Gita ingin mampir ke rumah tantenya terlebih dahulu untuk mengambil sesuatu.

Pagar rumah tantenya Gita sudah dibuka sedari tadi, dibukakan oleh sepupu Gita yang masih SMP.

Nadya tersenyum dan menggeleng. "Aku di sini aja, Git, nggak apa-apa kok. Kamu, kan, cuma sebentar."

"Oke, deh. Tunggu bentar, ya," ujar Gita. Cewek itu lalu masuk ke rumah tantenya.

Seperginya Gita dari jalanan kompleks yang sepi itu, Nadya mulai terdiam. Cewek itu menoleh ke depan dan ke belakang, tetapi agaknya di kompleks itu masih sepi. Apa tidak ada yang bekerja? Biasanya, banyak yang sengaja pergi pagi-pagi untuk menghindari macet.

Atau justru… yang bekerja sudah pada pergi? Hmm, entahlah.

Nadya menghela napas. Cewek itu mendongak, melihat langit sembari menghirup udara pagi. Hal itu membuat Nadya jadi bersemangat.

Sebenarnya, sejak kemarin… ada sesuatu yang terus Nadya pikirkan.

 

Aldo tahu soal foto itu.

Aldo tahu soal yang terjadi di sekolah.

 

Sejak tadi malam, Nadya tak mendengar berita apa pun dari Aldo. Nadya hanya tahu kalau Aldo pergi dari rumah Rian dengan ekspresi wajah yang berubah drastis.

Nadya turun sejenak dari motor Gita. Cewek itu melihat-lihat ke kiri dan ke kanan, melihat pohon belimbing yang ada di depan rumah tante Gita, dan melihat mobil yang terparkir sembarangan di depan rumah yang tak jauh dari rumah tantenya Gita. Nadya mengernyitkan dahi. Mengapa… tidak diparkir di teras rumah saja?

Nadya mengedikkan bahu.

Tiba-tiba, ada sepasang tangan yang menutup mulut Nadya dari belakang. Nadya membelalakkan mata, tubuhnya menegang. Dia mencoba berteriak, tetapi teriakannya teredam.

 

Ini bukan Gita. Wanginya berbeda dengan orang-orang yang Nadya kenal.

Selain itu, ini tangan laki-laki. Siapa… Siapa orang ini?!

 

Nadya refleks memberontak. Dia sempat menggigit tangan orang asing itu dan alhasil, orang itu spontan melepaskan tangannya dan merintih kesakitan. Mata Nadya membulat, cewek itu gemetar dan langsung berlari. Air mata mulai jatuh ke pipinya. Dia baru saja mau berteriak meminta tolong ketika pemuda ber-hoodie abu-abu itu kembali menangkapnya, mendekapnya kuat-kuat, dan menyuntikkan sesuatu di tubuhnya.

Dalam beberapa detik, Nadya pun pingsan. Nadya lalu digendong oleh laki-laki ber-hoodie itu, lalu dimasukkan ke mobil yang terparkir tak jauh dari sana. Mobil yang tadinya Nadya lihat terparkir sembarangan itu.

 

******

 

"Lo kenapa, Sya?" tanya Rani seraya membenarkan rambutnya yang dikucir kuda. Ia dan Syakila sedang berkaca di depan wastafel toilet. Sejak tadi, Syakila tampak berpikir keras; kening cewek itu berkerut.

"Entah. Gue cuma heran aja sama diri gue sendiri," jawab Syakila. Setelah mengatakan itu, Syakila tertawa hambar. Rani mengernyitkan dahi.

Sebenarnya, Rani sudah tahu sifat asli Syakila. Namun, dahulu… Syakila tak pernah ingin jujur.

Saat pertama masuk sekolah, Syakilalah yang pertama kali mengajak Rani mengobrol. Meski itu hanyalah pura-pura, meski Syakila hanya ingin menjadi ‘dewi di hati semua orang’ tanpa ketulusan, tetap saja Rani senang Syakila menyapanya saat itu. Soalnya, tak ada satu orang pun yang menyapanya seramah itu. Ia selalu sendirian sejak SD dan SMP.

Rani pun mulai mendekati Syakila, lalu akhirnya berteman dengan Syakila yang bermuka dua. Sebenarnya, Rani juga tidak setulus itu berteman dengan Syakila. Ia mendekati Syakila agar lebih dikenal. Agar bisa mengangkat dagunya saat menghadapi orang-orang, bukan dikucilkan seperti dahulu. Namun, saat Syakila datang pada Rani beberapa minggu yang lalu dan mulai membuka topengnya—terima kasih pada Nadya—Rani pun merasa dia harus mulai jujur.

Mereka berdua mulai membuka rahasia satu sama lain… dan mengerti satu sama lain.

Jadi, soal apa yang Syakila katakan saat ini, mana mungkin Rani tak tahu.

"Maksud lo apa?" tanya Rani lagi. Rani bukan ingin tahu, melainkan ingin memastikan.

"Lo yakin mau tau?" Syakila menaikkan sebelah alisnya. "Ha. Gue sendiri geli."

"Soal si Nadya?" tebak Rani tepat sasaran.

Syakila mengembuskan napasnya kasar. "Hmm."

"Udah gue duga," ujar Rani. Cewek itu mendengkus, lalu berkacak pinggang. "Udah gue duga kalo lo mulai respect sama dia sejak pulang dari pertandingan persahabatan itu."

"Karena gue mulai paham sama tuh anak, Ran," ujar Syakila. "Gue udah mulai nge-ikhlasin Aldo buat dia. Dia lebih pantes buat Aldo. Dia punya segala hal yang nggak gue punya. Walaupun gue nggak suka dia, gue tau siapa dia. Dia bukan orang yang bisa selingkuh."

Syakila menggeleng. "Sialnya, gue percaya itu. Gue percaya kalo dia nggak bakal ngelakuin itu ke Aldo."

Rani menyimak perkataan Syakila.

"Ketawa aja kalo lo mau ketawa," ujar Syakila. "Gue tau kalo gue konyol banget."

"Nggak," ujar Rani, cewek itu tersenyum miring. "Gue ngerti maksud lo. Sejak lo peringatin Nadya kemaren, gue udah ngerasa kalo tujuan lo itu sebenernya bukan mau manas-manasin dia, tapi mau liat reaksi dia. Lo mau tau foto itu bener atau salah paham doang. Itu sebabnya lo keliatan kesel waktu Nadya nggak ngebantah."

Syakila diam. Alisnya menyatu. Ia merasa bodoh karena repot-repot memikirkan Nadya, padahal ia tak suka dengan cewek itu.

Akan tetapi, apakah yang ia rasakan itu tetap perasaan 'tidak suka'? Kalau tidak suka, mengapa dia merasa terganggu seperti ini?

"Gue nggak tau apa yang terjadi," ujar Syakila, matanya menyipit. "tapi kalo dia emang beneran selingkuh, gue bersumpah gue bakal menepati omongan gue ke dia tentang mengambil Aldo kembali."

 

******

 

Layar PC yang menampilkan halaman profil Facebook itu diperhatikan dengan saksama oleh seorang lelaki, si pemilik PC. Cowok yang menatap ke layar itu memakai hoodie berwarna abu-abu. Topi hoodie itu ia pasang hingga menutupi kepalanya, bahkan wajahnya sukar dilihat jika ia menunduk.

Ia men-scroll halaman profil itu: profil dari seorang wanita berambut hitam dan berlipstik merah. Saat sibuk melihat-lihat, tiba-tiba datanglah sebuah pesan dari wanita itu.

Cowok itu tersenyum simpul. Jemarinya langsung bergerak lihai di atas keyboard, mengetikkan balasan untuk wanita itu.

Tiba-tiba, bel rumahnya berbunyi. Cowok itu menoleh ke belakang, ke arah pintu depan. Siapa orang yang mengunjunginya sepagi ini?

Paket? Tidak mungkin. Ia tidak memesan apa pun beberapa hari terakhir.

Selain penagih air atau paket, tak pernah ada orang yang tiba-tiba mengunjunginya. Jadi, manusia mana yang dengan kurang ajarnya mengganggu kesibukannya? Ia bahkan memilih untuk membolos sekolah hari ini karena baru saja mendapatkan targetnya.

Bel rumahnya terus berbunyi. Bunyinya kedengaran santai, tidak terburu-buru, tetapi entah mengapa seolah-olah mengatakan, 'Buka atau kudobrak.'

Cowok itu lantas mengernyitkan dahi, lalu berdiri dari kursinya. Ia berjalan menuju pintu depan, lalu membuka pintu itu.

Begitu melihat siapa yang ada di sana, matanya spontan membulat. Tubuhnya mematung. Tangannya terlepas begitu saja dari pegangan pintu.

 

"Halo."

 

...sapa orang tersebut.

 

Ketua OSIS di sekolahnya.

 

Orang yang tak ia sangka akan ia lihat secepat ini.

 

Aldo Gabriel Nugraha.

 

Aldo tersenyum miring. Pemuda itu menatap mata si pemilik rumah dan memberikan efek yang luar biasa, membuat si pemilik rumah tiba-tiba merinding.

 

Sialan! Sialan! Sialan!

 

Cowok itu meneguk ludahnya dengan sulit. Ia tergagap-gagap, "Aldo—Nug—"

"Oh, lo kenal gue?" tanya Aldo sembari menaikkan sebelah alisnya. Aldo menyeringai.

Cowok itu mundur saat Aldo melangkah masuk ke rumahnya sedikit demi sedikit. Seolah-olah ingin menyudutkannya. Seringai di wajah Aldo semakin lama tampak semakin mengerikan dan sukses membuatnya bergetar.

 

Ini sama sekali bukan Ketua OSIS ramah yang selama ini ia tahu!

Mengapa...?

 

"Look at yourself, you poor thing," ucap Aldo dengan lirih. Cowok yang sedang ‘disudutkan’ itu akhirnya menabrak dinding yang ada di belakangnya. Sejak tadi, ia terus mundur karena Aldo berjalan pelan mendekatinya seperti seorang predator.

 

Sebenarnya, Aldo masih ‘cukup’ terkontrol.

 

"Oh, iya, benar juga," ujar Aldo, dia tiba-tiba berhenti di tengah jalan. Sang Ketua OSIS itu pura-pura telah mengingat sesuatu; wajahnya polos. Setelah itu, ia langsung menatap cowok yang ada di depannya itu seraya tersenyum manis dan berkata, “Kamu, kan, satu sekolah dengan aku. Kelvin Pribathama dari kelas XI IPA 3."

Mata Kelvin membelalak penuh. Tubuhnya tegang, ia terkejut sekaligus takut. Well, yang benar saja? Ia yang tak pernah sekali pun menyesali apa yang ia perbuat, kini ketakutan di hadapan orang lain?

Tidak, siapa pun pasti bakal takut!

Soalnya, ada sebuah ketenangan yang menakutkan di mata dan wajah Aldo. Ketenangan yang tak wajar. Seolah-olah tidak takut apa pun, bahkan dengan kematian.

Dia tersenyum manis, tetapi justru tampak sadis seperti seorang pemangsa gila. Senyum tanpa beban, tanpa dosa. Dia tampak menikmati situasi ini, di mana Kelvin memandangnya dengan takut... bak mangsa yang tersudut.

"M—Mau apa—lo," ujar Kelvin dengan gagap; dia panik melihat monster yang ada di depannya. Ia mencoba untuk terlihat berani, padahal jauh di dalam hati, ia sudah sadar bahwa:

 

…Aldo jauh lebih kuat darinya.

 

"Oh…" ujar Aldo, mengeluarkan sebuah pisau kecil dari saku celana jeans-nya. Ada kegelapan yang seolah menguar dari tubuh Aldo. Matanya juga seolah-olah menggelap. Kelvin kaget bukan main saat melihat pisau itu.

Aldo tersenyum miring. Tubuh Kelvin bergetar hebat. Permukaan dingin pisau itu mendadak menyentuh leher Kelvin dan Kelvin terperanjat.

"Salam kenal, Kelvin," ujar Aldo, berbisik di depan wajah Kelvin. "Lo bego atau gimana, hm?"

Tiba-tiba Aldo menjauh. Kelvin mau lari; ada kelegaan saat Aldo tiba-tiba menjauh darinya. Dia seolah-olah baru dibebaskan dari ruang hampa. Namun, Kelvin tak jadi bergerak karena tiba-tiba Aldo menjentikkan jarinya di udara. Dalam waktu dua detik, datanglah empat orang anak (yang Kelvin kenali) dari pintu depan.

Itu adalah anak-anak nakal yang ada di kelas Aldo. Anak-anak yang duduk paling belakang. Meski Kelvin tidak sekelas dengan Aldo, Kelvin tahu siapa mereka. Kelvin adalah orang yang suka mengamati. Lagi pula, mereka berempat itu adalah anak-anak yang nakal, jadi tentu saja banyak orang yang tahu.

Namun, sekarang… bukan itu masalahnya.

Keempat orang itu masuk ke rumah Kelvin dengan tangan terikat di belakang. Wajah mereka babak belur. Tubuh mereka luka-luka. Mereka berempat memakai seragam sekolah. Bisa dipastikan, Aldo menangkap mereka sebelum mereka sampai di sekolah.

Saat keempat orang itu sudah masuk, Aldo mulai menutup pintu depan. Kelvin menggeleng tak mengerti. Wajah Kelvin pucat.

 

Apa… yang terjadi?

Apa yang sedang direncanakan oleh Ketua OSIS ini?

 

Belum selesai dengan pikirannya, Kelvin kembali dikejutkan dengan Aldo yang kembali berjalan mendekatinya.

Sial. Siapa orang ini? Siapa Ketua OSIS yang ada di SMA Kusuma Bangsa selama ini?

FUCK!

Saat Kelvin ingin lari dari sana, Aldo langsung berbicara dengan santai. Dia masih tersenyum. "Mau lari ke mana, hm? Gue bisa kok main petak umpet. Selama yang lo mau."

 

Sialan. Sialan. Sialan!!!!

 

Keempat orang yang terikat di sana juga hanya bisa menunduk. Salah satu dari mereka bahkan ada yang menangis.

"…tapi gue lagi nggak mood," lanjut Aldo sembari cemberut. Dia memiringkan kepalanya. "Bisa-bisa, begitu gue ketemu lokasi persembunyian lo, gue langsung berakhir dengan satu mayat. It's not fun at all, don't you think?"

Setelah berkata seperti itu, Aldo langsung tersenyum manis. Bukan, bukan senyum sadis seperti tadi, melainkan senyum yang selalu ia tunjukkan di sekolah. Matanya melengkung indah. Akan tetapi, kali ini… yang terasa bukanlah kehangatan, melainkan kegelapan tanpa ujung.

Rasanya, Kelvin ingin dinding yang ada di belakangnya itu jebol saja. Ia ingin lari secepatnya dari sini. Ia tak menyangka kalau rumahnya sendiri akan terasa seperti neraka.

"Gue kasih selamat karena lo bisa bebas dalam satu hari... mengganggu cewek gue,” ujar Aldo.

Keempat orang yang terikat di sana (beserta Kelvin) spontan kaget bukan main. Kelvin serasa tersambar petir; jantungnya bagai berhenti berdetak.

"Gue kira lo bakal sedikit pintar buat nyembunyiin identitas lo," ujar Aldo dengan sarkastis. Telunjuk cowok itu mengetuk-ngetuk bagian samping kepalanya saat mengatakan 'pintar'. "tapi ternyata tebakan gue bener."

Aldo kembali berjalan mendekati Kelvin. Langkahnya kelewat pelan. "Lo ngirim MMS nggak masuk akal itu biar bisa dapet respons. Lo pasti bakal copotin kartu yang lo pake buat ngirim MMS itu, tapi gue tau kalo secara berkala..." Aldo telah sampai tepat di depan Kelvin; dia kembali menggesekkan permukaan pisaunya di pipi Kelvin. Mendadak, tatapan Aldo berubah menjadi tajam. "…lo pasti ngaktifin nomor itu lagi."

Kevin mulai berpikir keras, ia mencocokkan berbagai kemungkinan dengan putus asa. Ini seolah-olah hari kiamat baginya. Aldo Nugraha ternyata seperti ini?

Kepribadian ganda? Masa, sih?!

Kelvin berteriak saat tiba-tiba pisau itu menggores pipinya. Ada cairan yang terasa mengalir di wajahnya. Itu pasti darah.

Tiba-tiba Aldo menjauh. Kelvin menatap Aldo dengan horror. Dia terduduk saat melihat Aldo tiba-tiba menjilat darah di pisau itu dengan seringai yang menyeramkan.

Mendadak, Aldo berbalik dan mendekati empat anak yang terikat di belakangnya. Wajah empat orang itu langsung pucat. Mata mereka membulat saat melihat Aldo mendekati mereka dengan senyuman manis. Aldo memegang pisau penuh darah Kelvin itu ke hadapan mereka.

Langkah Aldo sangat ringan. Tanpa beban. Semua mangsanya yang sudah babak belur itu mencoba untuk berlari, tetapi karena terlalu ketakutan, mereka terjatuh. Akhirnya, mereka memilih untuk merangkak menjauhi Aldo. Mereka hanya berharap dua hal: keluar dari sini atau langsung mati saja. Cepat mati saja, ketimbang terus tersiksa seperti itu.

Namun, Aldo menikmati semuanya. Aldo terlihat menyukai proses yang lambat itu. Menikmati mereka kesakitan terus menerus... Ketakutan terus menerus...

Itu seperti oksigen baginya.

"Kok takut? Gue cuma mau main. Bercanda doang..." katanya. Dia mendekati salah satu anak yang terikat dan meraih dagu anak itu. "Ya, ‘kan, Ardian?"

Pemuda bernama Ardian—yang merupakan ketua geng dari anak-anak nakal itu—menatap Aldo dengan ngeri. Tubuhnya gemetar. Ia sudah merasakan semua siksaan Aldo sebelum sampai di sini, jadi ia benar-benar ketakutan. Tiba-tiba, Aldo mencengkeram dagunya. "YA, ‘KAN?!!!"

Ardian membeliakkan mata. Jantungnya serasa berhenti berdegup. "I—Iya, Ald—"

"Hm...?" potong Aldo. Cowok itu memiringkan kepalanya. "Kenapa lo gagap? Tapi pas ngehina Nadya waktu itu kok lo nggak gagap...?"

Ardian menunduk. Rahangnya mengetat; dia menahan semua rasa takut, gelisah, malu, dan kesal. Mengapa ia dengan ‘kurang kerjaannya’ malah mengganggu Nadya kemarin? Mengapa kemarin ia harus sebego itu!!!

Mengapa ia tidak merokok saja, bolos saja, atau apa pun itu, daripada iseng-iseng menghina dan membully Nadya?!

Ia tak tahu bahwa hal yang tadinya ia anggap sepele itu akan membuatnya tersiksa. Ia menyesal bukan main. Jika ia masih diberikan kehidupan setelah ini, ia bersumpah akan berhenti menghina orang lain.

Ia yakin teman-temannya juga seperti itu, apalagi mereka semua (termasuk dirinya) tak tahu bahwa ternyata itu semua hanyalah fitnah. Fitnah yang disebarkan oleh pria ber-hoodie sialan di depan sana.

Rasanya Ardian ingin membunuh cowok bernama Kelvin itu. Ia membuat semua orang jadi berada dalam bahaya. Ia menuntun mereka ke tangan seorang monster. Ardian yakin, bukan hanya mereka yang Aldo incar. Semua orang yang menghina Nadya terang-terangan di hari itu mungkin akan mendapat balasannya satu per satu.

Mata Ardian membulat saat Aldo menarik wajahnya agar menatap ke atas, ke arah Aldo. Tiba-tiba, Aldo menampar wajahnya dengan sangat kencang. Ardian sampai tersungkur ke samping dan menimpa teman-temannya.

Aldo kemudian berbicara seolah-olah menirukan sesuatu. Menirukan sesuatu dengan ekspresi yang bersahabat.

"Ha," kata Aldo. “Untung ketemu. Kalo gue nyari-nyari sendiri sampe ke bawah-bawah meja lo, ntar ada yang marah. Aldo… atau cowok yang di foto itu. Haha!"

Ardian kembali membulatkan mata. Tubuhnya seketika bergetar.

Itu adalah ucapannya pada Nadya kemarin. Aldo menirukan sampai ke gaya bicaranya, membuatnya tersudut, malu, dan benar-benar tersiksa. Entah dari mana Aldo mengetahui itu.

Ardian menutup mata dan keningnya berkerut seolah-olah menahan rasa sakit. Ia malu sekali.

Setelah itu, Aldo tertawa sinis. Sang Ketua OSIS itu menirukan semua ucapan teman-teman Ardian waktu itu.

"Bukan masalah pihak, Tar, di foto itu semuanya udah jelas! Ya nggak, bro?!"

Salah satu teman Ardian mulai menahan napas, menyadari bahwa itu adalah kalimatnya. Ini gilirannya. Cara Aldo yang meniru dengan santai itu sukses menghancurkan mentalnya hingga berkeping-keping.

 

"Sumpah, kasian Aldo."

 

Mendadak, setelah meniru yang terakhir itu, Aldo tertawa terbahak-bahak. Aldo sampai menggeleng tak habis pikir.

Suara tawa itu adalah satu-satunya suara yang terdengar di dalam rumah itu. Semua orang menunduk dan merasa kacau saat mendengar Aldo tertawa seperti itu setelah menyindir mereka.

"Oh, God," ucap Aldo sambil masih berusaha untuk berhenti tertawa. "Lo butuh apa? Rumah? Mobil? Sampe-sampe perhatian ke gue kayak gitu."

Aldo mengikik geli, lalu tiba-tiba ia menatap ke bawah—ke arah empat orang itu—dengan tajam. “Sorry, but I don't need affection from damn insects like you.”

Aldo kembali mendekati mereka berempat. Refleks, mereka berempat langsung merangkak menjauh dari Aldo dan Aldo jadi senang.

Ya, terus tunjukkan ekspresi ketakutan itu. "Ampun, Aldo, tolong berhenti!!!"

"Kami nggak tau kalo itu cuma fitnah!!"

"TOLONG!!!!! SIAPA PUN, TOLONG KAMI!!! TOLONG!!!!"

"Bhahahah! Oh, ya Tuhan," ucap Aldo geli. Dia lagi-lagi menggeleng. "Siapa yang mau nolongin kalian? Rumah ini kedap suara. Ini biasa digunain buat memerkosa, lho."

Tubuh Kelvin menegang.

 

Sialan—sialan, sialan—SIALAN!!!!!! Tau dari mana dia?

Tau dari mana?!!!!

 

Aldo menatap Kelvin.

"Jangan takut gitu, dong," ujar Aldo sembari tersenyum. "Gue bisa datang ke sini karena ngelacak nomor HP yang lo gunain itu. Gue udah bilang, lo pasti ngaktifin nomor itu lagi karena lo mau respons dari cewek gue."

"Gue kira… yang lo kerjain itu cuma cewek gue, tapi ternyata… ada alasan lain di balik pengaktifan nomor ini lagi."

Aldo mendekati Kelvin sembari memutar-mutar pisau itu di jemarinya. Mata Aldo itu membulat, tetapi ekspresinya aneh.

Kelvin mulai merangkak ke samping dengan putus asa, tetapi Aldo berhasil mencengkeram bahu cowok itu, membuat cowok itu berhenti seketika. Cengkeraman Aldo itu sangat keras dan kuat. Saat dia menatap Aldo, ternyata Aldo sudah menyeringai.

"Lo adalah salah satu pelaku cyber crime," ujar Aldo to the point, dengan nada mengejek. "Penipuan jasa. Pemerkosaan. Pencemaran nama baik. Pengancaman melalui internet. Penyebaran konten ilegal."

Kelvin mengerang, kesulitan bernapas saat Aldo mendadak mencekik lehernya. "Lo ngelakuin semuanya dari Facebook dan beberapa tempat lainnya. Semua korbannya itu cewek."

"Lo kirim-kiriman chat sama mereka, pura-pura ngejual sesuatu atau ngasih jasa yang meyakinkan. Mereka pasti berakhir di sini, di rumah ini, lo tidurin," ujar Aldo dengan mata yang menyipit. Cara bicara Aldo itu sudah bukan seperti cara bicara remaja. Kelvin tahu karena Kelvin sendiri bukanlah remaja yang normal. "Itu makanya lo milih rumah yang kedap suara. Lo mengantisipasi teriakan dari orang yang lo perkosa. Tapi… kalo ada beberapa dari mereka yang suka nge-seks, mereka akan terus komunikasi sama lo."

"Lo juga sering ngancam mereka melalui chat. Lo punya banyak HP, banyak email, dan banyak nomor, tapi lo gunain buat beda-beda korban supaya nggak mudah ketahuan. Nggak mudah terlacak."

Aldo memiringkan kepalanya. "Kalo mereka milih buat tetap komunikasi sama lo, ya lo manfaatin mereka. Lo tetep berhubungan dengan tante-tante itu demi uang. Lo pasti gunain nomor itu lagi meskipun lo matiin sebentar. Lo nggak bakal langsung buang kartu; lo butuh kartu yang sama buat ngehubungi cewek-cewek itu lagi. Lo bakal pusing kalo terus ganti kartu. Masing-masing dari mereka pasti taunya lo cuma lanjut berhubungan sama mereka doang. Makanya, lo sulit ganti kartu."

Cengkeraman Aldo pada leher Kelvin semakin mengetat, lalu Aldo mendorong Kelvin hingga cowok itu terbaring di lantai. Dia merintih kesakitan.

"Pas nomor lo mendadak aktif lagi, gue langsung nyuruh seseorang buat nge-trace semuanya. Makanya gue tau lokasi lo… sekaligus semua kegiatan lo di dunia maya."

Tiba-tiba, Aldo teringat ucapan Sandi padanya tadi malam; ucapan Sandi saat ia baru sampai di rumah, setelah pulang dari rumah Rian.

 

"Kakak tau kamu masih nggak mau ngomong sama Kakak," ujar Sandi. "Kalo kamu nggak mau Kakak ikut campur lagi kedepannya, Kakak terima, tapi tolong terima twaran Kakak kali ini aja, Aldo... demi Nadya. Soalnya, Nadya juga berharga bagi Kakak."

"Ada temen kakak, dia seniornya Kakak waktu itu. Sekarang dia udah kuliah di UGM. Waktu itu berhasil nge-hack situs Bank BNI. Dia bisa mainin saldo nasabah juga kalo dia mau, tapi dia nggak ngelakuin itu," ujar Sandi. "Kamu pastiin dulu nomor itu aktif atau nggak. Ntar temen kakak itu bisa dapet semua informasi dari sana. Atau kamu tunjukin aja chat dari orang yang neror Nadya itu. "

Aldo kemudian mengerutkan keningnya. Ia masih belum memaafkan Sandi. Lama ia terdiam karena berusaha untuk berpikir jernih. Dia juga berusaha untuk mengenyahkan kebenciannya pada Sandi walau sebentar saja.

Kebenciannya bukanlah hal yang terpenting saat ini.

Ia harus menolong Nadya.

"Nomor itu pasti bakal aktif. Sebentar lagi," ujar Aldo pada akhirnya. "Soalnya, dia pasti ngelakuin itu supaya direspons sama Nadya."

 

Saat ingatan itu menghilang, Aldo kembali menatap Kelvin dengan fokus. Aldo kembali mengetatkan cengkeramannya pada leher Kelvin dan kali ini Kelvin benar-benar tak bisa bernapas; kaki Kelvin menendang-nendang udara dengan putus asa.

Aldo menggertakkan gigi. Ia benar-benar ingin melenyapkan Kelvin.

"Lo... suka sama Nadya," ujar Aldo dingin. Suaranya terdengar mencekam. "LO NGINCER NADYA BUAT JADI KORBAN LO SELANJUTNYA!!!!!"

Aldo mengangkat tubuh Kelvin dan menghantam tubuh cowok itu ke dinding. Kelvin berteriak. Belum puas, Aldo kembali meraih leher hoodie Kelvin dan menghantam kepala Kelvin berkali-kali ke dinding. Ada darah yang mulai mengalir dari kepala dan mulut Kelvin. Setelah itu, Aldo melepaskan Kelvin dan membiarkan Kelvin terduduk di lantai.

Kelvin bersandar pada dinding; kepalanya tampak berayun ke kiri dan ke kanan akibat rasa sakit. Pandangannya kabur dan dunianya serasa berputar. Hal yang bisa ia lihat hanyalah sepatu Aldo yang mulai menjauh darinya. Aldo mendekati empat orang yang ada di depan sana.

Ah… ya, tentu saja. Aldo takkan membiarkannya mati secepat dan semudah itu.

Keempat orang itu langsung berteriak putus asa. Mereka meneriakkan apa saja, sampai tak peduli kalau pita suara mereka rusak.

Namun, Aldo mendadak berhenti melangkah. Dia mulai menelepon seseorang. Hal itu sukses membuat semua orang terdiam.

Empat deringan di ponsel Aldo—saat cowok itu menelepon seseorang—terdengar dengan jelas di ruangan. Tak ada yang berani membuat suara sekecil apa pun. Mereka bahkan tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Saat telepon itu diangkat, Aldo pun berbicara dengan ramah.

"Hai."

 

"H—Halo? Ini… siapa, ya?"

 

Semua orang di ruangan itu tampak sedikit kaget karena ternyata Aldo me-loudspeaker panggilan teleponnya. Namun, saat menyadari suara siapa itu, keempat orang di sana langsung terkesiap, terutama Ardian.

Ardian menganga. Jantungnya nyaris berhenti berdegup. Napasnya tersekat di tenggorokan.

 

Itu adalah suara pacarnya. Zahra.

 

"Ah, salam kenal," ujar Aldo sembari menaikkan sebelah alisnya. Matanya menatap Ardian. Ia lalu tersenyum miring. "Namaku Aldo. Aku... satu sekolah sama Ardian."

"E—Eh?! Tunggu. Aldo? Satu sekolah dengan Ardian? Aldo yang namanya Aldo Nugraha itu bukan?"

Mata Ardian melebar dan berkaca-kaca. Tolong, jangan Zahra!

 

SIAL!!!!! SIALAN!!!!!

 

"Lho, kok bisa tau?" tanya Aldo dengan lembut. Semua teman-teman Ardian memandangi Aldo seraya memasang ekspresi tak menyangka. Mulut mereka terbuka. Situasi saat ini terlalu gila. Mereka terjebak di tangan monster.

"Ya tau, dong, soalnya aku ikut pertandingan persahabatan waktu itu. Kamu keren banget pas tanding, jadi ya jelas semuanya tau!! Lagian, di luar pertandingan persahabatan itu, kamu udah terkenal juga kok! Aaaaaaaaa!!!!!! Kok kamu ngehubungi aku?!!!" tanya cewek bernama Zahra itu dengan antusias.

Ardian tiba-tiba berteriak, "SIALAN LO, SETAN!!!! SIALAN!!!!!!!!"

Aldo tersenyum penuh kemenangan.

Zahra pun bertanya, "Eh, tadi kok kayak ada suara... Ardian?"

"Oh, nggak..." jawab Aldo dengan suara yang terdengar seksi. "Kamu salah denger kali. Ini ada siaran TV. Mamaku nonton film, film penyiksaan."

"Ahahahahaha, gitu toh. By the way, ternyata kamu lucu juga, ya! OMG, aku masih nggak nyangka!! Ardian waktu itu nggak ngizinin pas aku sama temen-temenku mau ke sekolah kalian buat liat kamu!! Aku nge-fans banget sama kamu!!! Ughhh, sayangnya, kamu udah punya pacar... Wait, tapi di antara teman-temanku, cuma aku yang kamu telepon, ‘kan?"

"Iya, soalnya kamu spesial. Aku nggak kenal sama temen-temen kamu," ujar Aldo sembari tersenyum sadis pada Ardian. Ya, memang Zahra spesial karena Zahra adalah pacarnya Ardian.

Mendadak, Zahra mulai fangirling. "AAAAAAAAAA!!!!! OH MY GOD, AKU MIMPI APAAA BISA DITELEPON SAMA KAMU? NGOBROL SAMA KAMU AJA AKU GA BISA BAYANGIN, TAPI AKU JUSTRU DITELEPON DULUAN? AAA AKU BAHKAN GA MAU TAU DARI MANA KAMU DAPET NOMOR PONSEL AKU!!! PLISSS, HUBUNGIN AKU TERUS!!!!"

Aldo hanya diam, tak menghiraukan teriakan Zahra sama sekali. Dia malah mendekati Ardian yang sejak tadi terus berteriak pada Aldo. Air matanya mengalir deras. Ia marah dan kecewa saat tahu bahwa ternyata Zahra tak begitu memikirkannya. Ia juga malu sekali; mukanya memerah padam karena yang mengungkap kebenaran itu adalah Aldo. Aldo membuatnya merasa seperti sebuah origami di lantai toilet yang terinjak-injak dan tersingkir ke sudut ruangan.

"Aldo? Aldo?! Hehehe! Makasih, yaaa!! Aku jadi pengen nelepon kamu terus, nih! Aku jadi mikir kalo kamu mungkin sedikit tertarik sama aku… soalnya kamu nyari nomor HP-ku! AAAA, AKU BAHAGIA BANGET!!!"

Panggilan telepon itu diputuskan secara sepihak oleh Aldo. Di depan Ardian.

"Liat, baru dibilang spesial dikit, dia langsung pindah hati," ujar Aldo sembari tersenyum. Cowok itu menggerakkan ponselnya ke kiri dan ke kanan, layarnya menghadap ke Ardian. "Mungkin, ini karma buat lo karena lo selalu nganggap remeh semua orang. Jadi, Tuhan bikin cewek lo sendiri gituin lo."

"DARI MANA LO DAPET NOMOR CEWEK GUE, SIALAN?!!!!" teriak Ardian dengan putus asa. Ia tersiksa. Ia benar-benar tersiksa.

"Biar gue tanya balik, dari mana lo tau kalo Nadya bener-bener selingkuh? Sampe-sampe lo ngejelekin dia gitu di kelas?" tanya Aldo.

"ITU HAL YANG BIASA!!!!!!" teriak Ardian.

Mata Aldo kontan memelotot. Cowok itu langsung menendang kepala Ardian hingga berkali-kali. "APA LO BILANG?!!"

"BILANG. SEKALI. LAGI!" teriak Aldo dengan kasar di sela-sela tendangan itu. Kepala Ardian mulai berdarah. Aldo tak lagi memberi ampun; pisau yang tadinya sempat ia taruh di sakunya itu mulai ia ambil kembali. Digoreskannya pisau itu ke lengan Adrian. Goresan itu cepat dan kuat. Ardian mengerang begitu kencang, meronta-ronta karena kesakitan. Aldo pun menarik tubuh Ardian dan berbisik di depan wajah cowok itu, "Deal. Gue terima tantangan lo. Jadi, kalo gue gituin cewek lo nanti, lo harus terima dan mikir kalo itu HAL YANG BIASA. NGERTI LO?!"

"Gue bukan nggak tau kalo lo dan temen-temen lo ini pembalap liar," ujar Aldo. "Gue tau semuanya. Lo juga selingkuh di belakang cewek lo itu."

Ardian membelalakkan mata. Lagi-lagi ia memucat. Bibirnya bergetar. "SIALAN— SIALAN!!!!!!!!!!!"

"Oh, lo lebih sialan," tantang Aldo sambil menyeringai. Aldo menjilat bibirnya dengan lambat, menggoreskan pisaunya di leher Ardian perlahan-lahan. Ardian berteriak kesakitan.

Aldo lalu berbisik, "...lo itu cuma lagi beruntung. Inget, gue nggak bakalan ngelepasin lo sampe urusan kita selesai. Kalo lo kabur, gue bakal terus ngganggu hidup lo... sampe lo akhirnya frustrasi dan pengen hilang aja dari dunia ini."

Semuanya menunduk dan gemetar ketakutan.

Kelvin—yang terduduk lemas di seberang sana—juga akhirnya tahu bahwa ternyata Aldo...

 

...nyaris menyerupai psikopat.

 

Ardian terjatuh dari genggaman Aldo. Pandangan matanya kabur karena sudah mengeluarkan banyak darah.

Ia sadar kalau ia hanya melampiaskan kemarahan karena Zahra ternyata tidak tulus mencintainya. Ia memang suka selingkuh, tetapi ia paling sayang dengan Zahra. Namun, yah… ia juga salah.

Ia terlalu meremehkan segala sesuatu… hingga akhirnya semuanya direnggut darinya.

Ia melampiaskan kekesalannya dengan mengatakan bahwa mengganggu Nadya adalah hal ‘biasa’, padahal di dalam hatinya, ia sudah mengakui semuanya.

"Minta maaf besok di hadapan Nadya," ujar Aldo dingin. "atau lo bakal liat semua orang yang penting bagi lo... berakhir."

"Inget baik-baik semua kebodohan lo yang tadi gue omongin. Kalo kalian mau nge-bully, kalian berurusan..." Aldo mendekati salah satu teman Ardian, lalu mencengkeram dagu cowok itu hingga mungkin bisa mematahkan giginya.

"—dengan orang yang salah," lanjut Aldo sembari tersenyum manis.

Aldo meninju kepala teman Ardian itu sekali, lalu berdiri. "Oke. Dari tadi, gue udah lumayan banyak bicara ke lo berempat. Gue nggak ada urusan lagi sama kalian. Mumpung gue lagi baik hati, pergi dari sini." Senyuman Aldo itu tak kunjung pudar. "Kalo kalian nggak minta maaf sama Nadya, gue punya bukti yang bisa ngehancurin hidup kalian.”

Mereka jadi tak berani melapor ke polisi karena Aldo memiliki bukti soal kenakalan apa saja yang mereka lakukan. Aldo itu cerdas dan punya kekuatan. Dia anak konglomerat juga. Kalaupun mereka sudah kuat untuk melawan Aldo, mereka harus punya strategi yang sempurna.

Pertanyaannya, apakah mereka bisa menandingi Aldo?

Kalau strategi mereka gagal, seperti yang Aldo bilang tadi... Aldo akan terus mengganggu kehidupan mereka, meneror mereka sampai mereka tak tahan lagi. Makanya, mereka bahkan tak bisa berpikir soal melawan balik.

Mereka terbirit-birit keluar dari rumah itu. Begitu pintunya terbuka, Kelvin juga mencoba untuk ikut keluar; dia merangkak dengan putus asa. Namun, Aldo berdiri di depannya. Yang ia lihat sekarang hanyalah sepatu Aldo.

"Whoops. Tinggal kita, nih," ujar Aldo dengan sangat ramah. "Mau ke mana, Kelvin?"

Kelvin mengangkat tangannya, mulutnya terbuka saat melihat Aldo menutup pintu itu kembali. Aldo berbalik dan tersenyum sebentar kepada Kelvin yang terduduk di tengah ruangan.

Tiba-tiba, Aldo berjalan lebih jauh ke dalam rumah Kelvin, entah apa yang ia cari. Namun, saat ia kembali, ia menyeret sebuah kursi. Kursi yang tadinya Kelvin duduki untuk bermain Facebook.

Aldo duduk di depan Kelvin. Dia memperhatikan Kelvin dengan saksama, penuh penilaian. Senyum manisnya yang sadistic itu masih enggan pergi dari wajah tampannya.

"Jadi, apa lo bener-bener mau bebas dari gue?" tanya Aldo.

"Kalo gitu, kita main petak umpet aja. Gimana?" tanya Aldo santai. "Gue tunggu di sini. Lo bebas... mau sembunyi di mana pun di rumah ini. Kalo lo beruntung… Kali aja gue nyerah dan pergi dari sini? Ada kesempatan kok, sekitar nol koma sekian persen.”

"Jangan khawatir. Walaupun sedikit, tetep aja lo punya kesempatan, ‘kan?" lanjut Aldo dengan sarkastis tatkala ia menyadari perubahan ekspresi wajah Kelvin. "Jangan bilang… lo mau buang sedikit kesempatan yang bisa nentuin hidup dan mati lo itu?"

"Come on, don't disappoint me. Entertain me for a bit," ujar Aldo sembari memiringkan kepalanya. Cowok itu tertawa renyah.

Kelvin ingin berbicara, tetapi dia tersendat-sendat karena tak bisa bernapas dengan benar. Tubuhnya penuh dengan darah dan tubuhnya gemetar.

"Oke. Gue hitung sampe sepuluh," ujar Aldo sembari melihat jam tangannya. "Mulai dari… sekarang!"

Bagaikan hilang akal, Kelvin pun langsung berusaha untuk berdiri. Tatkala terjatuh lagi dan lagi, dia akan merangkak. Dia kehabisan banyak darah dan kepalanya sangat sakit; tubuhnya lemah dan pandangan matanya kabur. Dengan cepat, dia merangkak ke mana pun… asalkan tidak melihat si pemangsa itu.

Kelvin menangis. Air mata serta darahnya sesungguhnya berceceran di sepanjang jalan, tetapi ia tak peduli. Ia hanya ingin mengurung dirinya di tempat yang sempit, yang penting bisa berbataskan sesuatu dengan Aldo. Ia hanya ingin berlindung.

Di saat seperti ini, ia malah berdoa pada Tuhan.

Sang Tuhan yang selama ini selalu ia tinggalkan.

Suara Aldo yang menghitung dari satu sampai sepuluh itu terdengar bagai gong kematian di telinganya. Tiap hitungannya bagai mampu menusuk jantungnya. Dia bisa gila hanya dengan mendengar suara itu.

Dalam hati, dia ingin percaya bahwa semua ini hanyalah mimpi buruk, tetapi ia tak bisa.

Ujung-ujungnya, dia bersembunyi di dalam lemari yang ada di kamarnya. Lemari yang tak terlalu berisi karena kebanyakan bajunya adalah hoodie atau jenis-jenis jaket lainnya. Lemari itu berhadapan dengan bagian kaki ranjang.

Dengan gemetar, Kelvin memegang kedua sisi pintu lemari itu dari dalam. Ia masih bisa mengintip dari celahnya.

Hitungan Aldo pun selesai. Jantung Kelvin langsung berdegup kencang. Lidahnya kelu. Napasnya tertahan. Terdengar suara Aldo yang tengah berkeliling di rumahnya.

"Keeelviiin...." panggil Aldo dengan nada bersahabat, seperti anak kecil yang sedang memanggil temannya. Suara Aldo agaknya berasal dari ruang komputer. Ia ternyata sudah ada di sana.

"Kelviiin..." panggil Aldo lagi. Suara cowok itu kini sudah ada di depan kamar. Kelvin tambah gemetar. Wajah Kelvin—yang sejak tadi sudah pucat karena kehabisan darah dan ketakutan—seolah-olah jadi semakin pucat. Matanya melebar sempurna.

"Kelvin..." bisik Aldo pelan… karena dia sudah sampai di kamar. Kelvin memejamkan mata.

 

Tamat. Tamat sudah.

Biarin gue mati. Lebih baik gue langsung mati!!!

 

Hening.

Lima detik sudah berlalu.

Kelvin tak merasakan apa-apa. Mengapa Aldo tak membuka pintu lemari dan membunuhnya?

Penasaran, Kelvin pun membuka matanya pelan-pelan.

Sepersekian detik setelah itu, Kelvin kontan membelalakkan mata. Tubuhnya menegang seketika. Mulutnya terbuka lebar. Napasnya tersekat, bagai dicekik.

Ia kini tahu mengapa Aldo tidak membuka pintu lemarinya.

Itu karena Aldo...

 

…tengah duduk di ranjangnya, menghadap padanya sembari menyeringai.

 

Aldo menyeringai kepadanya… yang sedang mengintip melalui celah pintu lemari itu.

Aldo menunggunya.

 

Menunggunya sampai ia keluar sendiri.

 

Aldo menikmati ketakutan Kelvin di dalam lemari.

 

Demi Tuhan, Kelvin berani bersumpah kalau Aldo adalah seorang psikopat. Kelvin pernah membaca bahwa ada tiga jenis pembunuh yang punya cara berbeda saat mengetahui mangsanya ada di dalam lemari. Jenis pertama: ia akan bersembunyi dan ketika mangsanya keluar, saat itulah ia akan menyerang. Jenis kedua: ia akan langsung membuka lemari dan membunuh mangsanya di sana. Namun, untuk jenis ketiga… ia malah akan menunggu mangsanya di depan lemari. Menunggu, sampai mangsanya keluar sendiri atau mati ketakutan di dalam lemari. Jenis inilah yang umumnya disebut psikopat.

Namun, tiba-tiba, Kelvin mendengar seseorang menggumam. Suara perempuan.

Ah… ya, benar. Tadi pagi, Kelvin menculik Nadya. Ia mengurung Nadya di dalam lemarinya yang satu lagi. Ia mau menjadikan cewek itu sebagai korban selanjutnya. Ia menyukai cewek itu. Apa salahnya sedikit mengganggunya?

Kelvin melihat Aldo yang kontan membulatkan mata. Cowok itu melangkah menjauh, lalu membuka paksa lemari yang ada di sebelah barat kamar. Kelvin langsung keluar dan berusaha untuk berlari, tetapi ternyata, pintu kamar itu dikunci dan mungkin kuncinya diambil oleh Aldo.

Kelvin terduduk frustrasi dan mengesot ke sudut pintu, ketakutan saat melihat Aldo. Aldo terlihat shock di depan sana.

Dia melihat Nadya. Nadya sedang terikat di dalam lemari, masih memakai baju sekolah. Saat pintu lemari itu terbuka lebar, tubuh Nadya terjatuh di pelukannya.

Dia mematung. Wajahnya memucat. Dia langsung terduduk di lantai seraya memeluk Nadya. Jantungnya bak berhenti berdetak.

Nadya mengalami ini.

Mengalami apa yang dahulu pernah menimpa dirinya.

Aldo jadi linglung. Tangannya bergetar. Dia menatap Nadya tak percaya. Dengan cepat dan putus asa, ia pun membuka semua ikatan di tubuh Nadya dan melepaskan plester merekat di mulut Nadya. Setelah itu, ia langsung menidurkan Nadya di pangkuannya dan menepuk-nepuk pipi Nadya. "N—Nad?"

"Nad?!!" teriaknya. "Nadya!!!"

"Sayang—Sayang bangun," ujar Aldo dengan suara bergetar. "Sayang?! Oh God, please—please! Not her, not her!!"

"Nad!!"

Perlahan-lahan, mata Nadya terbuka.

Hal pertama yang cewek itu ucapkan adalah. "Al…do...? Aldo… baik-baik aja, ‘kan?"

Saat itulah, air mata Aldo langsung jatuh.

Mengapa Nadya harus mengalami semua ini? Mengapa dunia membuat Nadya menghadapi semua hal yang nggak wajar ini?

Memasukkan seseorang yang tidak bersalah, seseorang yang polos, dalam semua ini?!

Apa memang mendekat pada Nadya itu terlarang karena ia bisa membawa bahaya pada Nadya?!

Biar Aldo sendiri yang mengalami masa lalu seperti itu, biar dia sendiri yang dihadapkan pada mara bahaya seperti itu! Biar dia sendiri. Tidak keluarganya, tidak juga Nadya!

 

SIAL. SIAL. SIAL!!!!!!!! PERSETAN.

Kalo bukan aku yang ngelindungin diriku sendiri dan Nadya, siapa lagi?

Kalo emang iblis di dalam diriku yang harus turun tangan, aku nggak keberatan.

Aku terima dia. Aku terima kedatangannya.

Persetan dengan dunia.

 

Mengapa mimpi buruk ini harus terjadi berkali-kali, menghantui Aldo hingga hidupnya hancur?

Tiba-tiba Aldo berdiri. Pisau di saku Aldo terjatuh ke lantai. Nadya melihat itu dan terkesiap. Dia menangis.

 

Mengapa Aldo membawa pisau? Aldo… berniat untuk...

 

Nadya cepat-cepat mengusap air matanya.

Aldo mulai mendekati Kelvin dengan tatapan kosong. Saat itulah, dengan cepat Nadya merangkak dan meraih pisau itu. Soalnya, Nadya mulai bisa menebak apa yang akan terjadi.

Jika Nadya tidak mengambil pisau itu, Aldo akan kembali mengambilnya dan menusuk orang itu berkali-kali. Mungkin saja merobek perut orang itu, atau mungkin… oh, Tuhan, Nadya tak mau membayangkannya.

Nadya sudah paham... dengan kegelapan Aldo. Sepenuhnya.

 

Aldo nggak boleh... ngebunuh orang lain…

 

Aldo akan mendekam di penjara. Selain itu, hidup Aldo akan rusak selama-lamanyaTakkan ada jalan kembali.

Begitu berhasil menyingkirkan pisau itu, Nadya tak berpikir apa-apa lagi. Cewek itu langsung berlari dan memeluk Aldo dari belakang. Tubuh Aldo sangat keras. Nadya sekarang paham mengapa beberapa bodyguard tak sanggup menghentikan Aldo.

Di depan sana, orang yang menculik Nadya itu sudah pasrah.

"FUCK!!! FUCK!!!!!!!!!!" teriak Aldo. Dia melepaskan Nadya hingga Nadya tersungkur. Aldo tak bisa lagi mengontrol diri. Kini, seluruh kegelapan telah menguasainya. Tanpa ada sisa.

Cahaya benar-benar telah pergi darinya. Akal sehatnya sudah tak bermain lagi. Aura gelap yang mengerikan itu jadi semakin legam. Mata Aldo memelotot; cowok itu menunduk, menarik kepala Kelvin, lalu langsung menghantam kepala Kelvin berkali-kali ke dinding. Nadya berusaha menarik Aldo dengan sekuat tenaga, tetapi semuanya percuma.

Aldo seperti kembali ke masa lalu. Bagai kembali mengalami penculikan itu. Semua usahanya untuk berubah kini menghilang ditelan bumi.

Ia terjebak di dalam traumanya...

...dan terkunci di sana.

Begitu membanting tubuh Kelvin ke lantai (Kelvin sudah muntah darah, kepalanya pecah, dan matanya nyaris tertutup), Aldo tiba-tiba berteriak lagi. Banyak sekali bisikan di kepalanya, ratusan bisikan, yang membuat kepalanya serasa mau meledak.

 

Bagus. Kerja bagus.

Aku tau kalo kamu akhirnya pasti nerima aku.

Aku tau kalo akhirnya cuma akulah yang bisa kamu andalin.

Akulah tempat kamu bergantung.

Sekarang, jangan sesalin semuanya. Aku bisa ngatur semuanya seperti yang kamu mau.

 

"Dengar, kau itu pantas mati! Dasar pembunuh!"

"Ibumu mati saat melahirkanmu! Anak sepertimu tiba-tiba menjadi ahli waris? Tuan Donovan pasti senang jika kami membunuhmu!"

"Kau itu memang seharusnya dilahirkan untuk dijadikan sandera semata!"

"Papa tau itu sulit, Nak. Papa tau itu sulit. Tapi tolong, Nak, sayangi diri kamu sendiri. Jangan sampe kamu tenggelam dan kalah sama trauma kamu. Jangan kalah dengan rasa sakit, pikiran buruk, dan juga ketakutanmu.”

“Maaf karena udah ngerusak hidup kamu, Aldo... Tolong, tolong teruslah hidup…"

 

Inget rasa sakit kamu dan apa yang udah dunia perbuat ke kamu. Inget semuanya. Tenang, aku ada di sini.

Kamu berada di atas semua orang sekarang. Nggak akan ada yang bisa ngelukain kamu. Akan kubuat kamu jauh lebih kuat daripada siapa pun. Tunduklah.

 

"DIAM—" ujar Aldo. Cowok itu menggeleng keras dan terduduk di lantai. Dia menutup telinganya. Bisikan itu kembali terjadi dan malah semakin parah. Ia mendengar iblis itu berbicara sambil memberinya beberapa ingatan berisi ucapan-ucapan orang lain padanya. Dari penculik-penculik itu, dari Gerald, dari Sandi... Kalimat penyemangat, kalimat yang mengingatkannya akan traumanya, permintaan maaf...

 

"DIAM! DIAM!!! DIAAAAAAMMMMMMM!!!!!! DIAM KAMU, SIALAN!!!!!!!!"

 

Kali ini, terselip suara Nadya.

“Manusia nggak bisa mengubah manusia lain, Aldo, nggak peduli betapa kerasnya seseorang itu berusaha. Tapi kalo ada tekad yang kuat dari orang itu sendiri, maka nggak ada yang nggak mungkin, Aldo…"

Kepala Aldo serasa mau pecah.

 

Selamat datang di kegelapan kamu yang sesungguhnya. A world where you belong.

 

"DIAMM!! SIALAN! SIALAAAANNNN!!!!!!!!! DIAM! DIAAAMMM!!!!!!!" teriak Aldo. Nadya langsung merangkak—menghampiri Aldo—dan memeluk Aldo. Aldo memberontak; dia seolah-olah ingin melepaskan diri dari kegelapannya sendiri. Dia terus berteriak, menyuruh apa pun itu untuk diam.

Kondisi mental Aldo baru-baru ini sudah rapuh karena konfliknya dengan Sandi, tetapi sekarang dia justru dihadapkan kembali dengan situasi penculikan yang sama. Mental yang rapuh itu kini hancur seutuhnya.

Aldo melepaskan diri dari Nadya dan langsung menghampiri Kelvin, padahal Kelvin sudah tidak dalam keadaan sadar. Nadya terus menarik Aldo dari belakang dan tiba-tiba, pintu kamar itu didobrak.

Di sana, terlihatlah Sandi. Dia diikuti oleh beberapa bodyguard. Ada Gerald dan Rachel juga di sana. Ada orangtua Nadya serta Gita (yang menghubungi mereka semua karena Nadya menghilang). Mereka shock dan langsung menghampiri Aldo dan Nadya. Mama Nadya pingsan di tempat saat melihat keadaan tiga orang yang ada di sana (Aldo, Nadya, dan Kelvin) serta melihat keadaan rumah itu yang banyak darahnya. Gerald memerintahkan bodyguard-bodyguard-nya untuk segera mengangkat Kelvin dan mengantarkan Kelvin ke rumah sakit sebelum nantinya dibawa ke kantor polisi. Aldo berteriak dan memukuli bodyguard-bodyguard itu karena dia menentang ide untuk membawa Kelvin ke rumah sakit.

Aldo ingin membunuhnya. Aldo tahu kalau si sialan itu masih bernapas.

Namun, meskipun harus mengerahkan banyak bodyguard, Gerald tidak masalah. Ia harus menghentikan Aldo agar Aldo tetap berada di jalan yang benar.

Teriakan Aldo itu sangat mengerikan. Penuh dendam. Aldo sudah bukan Aldo yang mereka kenal. Gita dan papa Nadya yang baru mengetahui sisi gelap Aldo itu nyaris saja berhenti bernapas.

Aldo tampak hancur. Dia terpenjara di dalam dirinya sendiri. Terkurung di dalam kegelapan yang membesar dan akhirnya menelan dirinya sendiri.

Saat Aldo duduk di mobil—di jok penumpang belakang karena yang menyetir adalah Gerald—dia duduk berdampingan dengan Nadya. Nadya sedang menangis; Aldo melihat semuanya.

Nadya, cewek yang Aldo sayangi itu, tentunya baru pertama kali mengalami kejadian mengerikan ini. Ini pasti membuatnya takut. Namun, mengapa dia bisa terus kuat dan menenangkan Aldo?

Di balik sifat Nadya yang pemalu, cewek itu selalu memperhatikan apa yang terbaik untuk Aldo. Akan tetapi, cewek setulus itu… harus mengalami semua ini.

Aldo pun mulai memanggil Nadya. Suaranya terdengar begitu dingin.

Nadya menatap Aldo dengan mata sembap. “I…ya, Aldo…?”

Aldo langsung meraih tengkuk Nadya, lalu berbicara di telinga Nadya dengan lirih:

 

“Mulai sekarang, katakan selamat tinggal pada Aldo yang selama ini kamu kenal.” []

 












******












No comments:

Post a Comment

Because of Ticket! (Bab 20: Katakan Selamat Tinggal)

  ****** Bab 20 : Katakan Selamat Tinggal   ******   “MAU  ikut masuk nggak, Nad?” tanya Gita, cewek itu mulai turun dari motornya...