Bab
20 :
Katakan
Selamat Tinggal
******
“MAU ikut
masuk nggak, Nad?” tanya Gita, cewek itu mulai turun dari motornya. Pagi ini,
Nadya pergi ke sekolah bersama Gita. Mereka pergi pagi-pagi sekali (bahkan
sebenarnya masih jam 6) karena Gita ingin mampir ke rumah tantenya terlebih
dahulu untuk mengambil sesuatu.
Pagar
rumah tantenya Gita sudah dibuka sedari tadi, dibukakan oleh sepupu Gita yang
masih SMP.
Nadya
tersenyum dan menggeleng. "Aku di sini aja, Git, nggak apa-apa kok. Kamu,
kan, cuma sebentar."
"Oke,
deh. Tunggu bentar, ya," ujar Gita. Cewek itu lalu masuk ke rumah
tantenya.
Seperginya
Gita dari jalanan kompleks yang sepi itu, Nadya mulai terdiam. Cewek itu
menoleh ke depan dan ke belakang, tetapi agaknya di kompleks itu masih sepi.
Apa tidak ada yang bekerja? Biasanya, banyak yang sengaja pergi pagi-pagi untuk
menghindari macet.
Atau
justru… yang bekerja sudah pada pergi? Hmm, entahlah.
Nadya
menghela napas. Cewek itu mendongak, melihat langit sembari menghirup udara
pagi. Hal itu membuat Nadya jadi bersemangat.
Sebenarnya,
sejak kemarin… ada sesuatu yang terus Nadya pikirkan.
Aldo
tahu soal foto itu.
Aldo
tahu soal yang terjadi di sekolah.
Sejak
tadi malam, Nadya tak mendengar berita apa pun dari Aldo. Nadya hanya tahu kalau
Aldo pergi dari rumah Rian dengan ekspresi wajah yang berubah drastis.
Nadya
turun sejenak dari motor Gita. Cewek itu melihat-lihat ke kiri dan ke kanan,
melihat pohon belimbing yang ada di depan rumah tante Gita, dan melihat mobil
yang terparkir sembarangan di depan rumah yang tak jauh dari rumah tantenya
Gita. Nadya mengernyitkan dahi. Mengapa… tidak diparkir di teras rumah saja?
Nadya
mengedikkan bahu.
Tiba-tiba, ada
sepasang tangan yang menutup mulut Nadya dari belakang. Nadya membelalakkan
mata, tubuhnya menegang. Dia mencoba berteriak, tetapi teriakannya teredam.
Ini
bukan Gita. Wanginya berbeda dengan orang-orang yang Nadya kenal.
Selain
itu, ini tangan laki-laki. Siapa… Siapa orang ini?!
Nadya
refleks memberontak. Dia sempat menggigit tangan orang asing itu dan alhasil,
orang itu spontan melepaskan tangannya dan merintih kesakitan. Mata Nadya
membulat, cewek itu gemetar dan langsung berlari. Air mata mulai jatuh ke
pipinya. Dia baru saja mau berteriak meminta tolong ketika pemuda ber-hoodie abu-abu
itu kembali menangkapnya, mendekapnya kuat-kuat, dan menyuntikkan sesuatu di
tubuhnya.
Dalam
beberapa detik, Nadya pun pingsan. Nadya lalu digendong oleh laki-laki ber-hoodie itu,
lalu dimasukkan ke mobil yang terparkir tak jauh dari sana. Mobil yang tadinya Nadya
lihat terparkir sembarangan itu.
******
"Lo
kenapa, Sya?" tanya Rani seraya membenarkan rambutnya yang dikucir kuda.
Ia dan Syakila sedang berkaca di depan wastafel toilet. Sejak tadi, Syakila
tampak berpikir keras; kening cewek itu berkerut.
"Entah.
Gue cuma heran aja sama diri gue sendiri," jawab Syakila. Setelah
mengatakan itu, Syakila tertawa hambar. Rani mengernyitkan dahi.
Sebenarnya, Rani
sudah tahu sifat asli Syakila. Namun, dahulu… Syakila tak pernah ingin jujur.
Saat
pertama masuk sekolah, Syakilalah yang pertama kali mengajak Rani mengobrol.
Meski itu hanyalah pura-pura, meski Syakila hanya ingin menjadi ‘dewi di hati
semua orang’ tanpa ketulusan, tetap saja Rani senang Syakila menyapanya saat
itu. Soalnya, tak ada satu orang pun yang menyapanya seramah itu. Ia selalu
sendirian sejak SD dan SMP.
Rani
pun mulai mendekati Syakila, lalu akhirnya berteman dengan Syakila yang bermuka
dua. Sebenarnya, Rani juga tidak setulus itu berteman dengan Syakila. Ia
mendekati Syakila agar lebih dikenal. Agar bisa mengangkat dagunya saat
menghadapi orang-orang, bukan dikucilkan seperti dahulu. Namun, saat Syakila
datang pada Rani beberapa minggu yang lalu dan mulai membuka topengnya—terima
kasih pada Nadya—Rani pun merasa dia harus mulai jujur.
Mereka
berdua mulai membuka rahasia satu sama lain… dan mengerti satu sama lain.
Jadi,
soal apa yang Syakila katakan saat ini, mana mungkin Rani tak tahu.
"Maksud
lo apa?" tanya Rani lagi. Rani bukan ingin tahu, melainkan ingin memastikan.
"Lo
yakin mau tau?" Syakila menaikkan sebelah alisnya. "Ha. Gue
sendiri geli."
"Soal
si Nadya?" tebak Rani tepat sasaran.
Syakila
mengembuskan napasnya kasar. "Hmm."
"Udah
gue duga," ujar Rani. Cewek itu mendengkus, lalu berkacak pinggang.
"Udah gue duga kalo lo mulai respect sama dia sejak pulang
dari pertandingan persahabatan itu."
"Karena
gue mulai paham sama tuh anak, Ran," ujar Syakila.
"Gue udah mulai nge-ikhlasin Aldo buat dia. Dia lebih pantes buat
Aldo. Dia punya segala hal yang nggak gue punya. Walaupun gue nggak
suka dia, gue tau siapa dia. Dia bukan orang yang bisa selingkuh."
Syakila
menggeleng. "Sialnya, gue percaya itu. Gue percaya kalo dia
nggak bakal ngelakuin itu ke Aldo."
Rani
menyimak perkataan Syakila.
"Ketawa
aja kalo lo mau ketawa," ujar Syakila. "Gue tau kalo gue konyol banget."
"Nggak,"
ujar Rani, cewek itu tersenyum miring. "Gue ngerti maksud lo. Sejak lo peringatin
Nadya kemaren, gue udah ngerasa kalo tujuan lo itu sebenernya bukan mau manas-manasin
dia, tapi mau liat reaksi dia. Lo mau tau foto itu bener atau
salah paham doang. Itu sebabnya lo keliatan kesel waktu Nadya nggak ngebantah."
Syakila
diam. Alisnya menyatu. Ia merasa bodoh karena repot-repot memikirkan Nadya, padahal
ia tak suka dengan cewek itu.
Akan
tetapi, apakah yang ia rasakan itu tetap perasaan 'tidak suka'? Kalau tidak
suka, mengapa dia merasa terganggu seperti ini?
"Gue
nggak tau apa yang terjadi," ujar Syakila, matanya menyipit. "tapi
kalo dia emang beneran selingkuh, gue bersumpah gue bakal menepati omongan gue
ke dia tentang mengambil Aldo kembali."
******
Layar
PC yang menampilkan halaman profil Facebook itu diperhatikan
dengan saksama oleh seorang lelaki, si pemilik PC. Cowok yang menatap ke layar
itu memakai hoodie berwarna abu-abu. Topi hoodie itu ia pasang
hingga menutupi kepalanya, bahkan wajahnya sukar dilihat jika ia menunduk.
Ia
men-scroll halaman profil itu: profil dari seorang wanita berambut
hitam dan berlipstik merah. Saat sibuk melihat-lihat, tiba-tiba datanglah sebuah
pesan dari wanita itu.
Cowok
itu tersenyum simpul. Jemarinya langsung bergerak lihai di atas keyboard, mengetikkan
balasan untuk wanita itu.
Tiba-tiba,
bel rumahnya berbunyi. Cowok itu menoleh ke belakang, ke arah pintu depan. Siapa
orang yang mengunjunginya sepagi ini?
Paket? Tidak
mungkin. Ia tidak memesan apa pun beberapa hari terakhir.
Selain
penagih air atau paket, tak pernah ada orang yang tiba-tiba mengunjunginya.
Jadi, manusia mana yang dengan kurang ajarnya mengganggu kesibukannya? Ia
bahkan memilih untuk membolos sekolah hari ini karena baru saja mendapatkan
targetnya.
Bel
rumahnya terus berbunyi. Bunyinya kedengaran santai, tidak
terburu-buru, tetapi entah mengapa seolah-olah mengatakan, 'Buka atau
kudobrak.'
Cowok
itu lantas mengernyitkan dahi, lalu berdiri dari kursinya. Ia berjalan menuju
pintu depan, lalu membuka pintu itu.
Begitu
melihat siapa yang ada di sana, matanya spontan membulat. Tubuhnya mematung. Tangannya
terlepas begitu saja dari pegangan pintu.
"Halo."
...sapa
orang tersebut.
Ketua
OSIS di sekolahnya.
Orang
yang tak ia sangka akan ia lihat secepat ini.
Aldo
Gabriel Nugraha.
Aldo
tersenyum miring. Pemuda itu menatap mata si pemilik rumah dan memberikan efek
yang luar biasa, membuat si pemilik rumah tiba-tiba merinding.
Sialan!
Sialan! Sialan!
Cowok
itu meneguk ludahnya dengan sulit. Ia tergagap-gagap, "Aldo—Nug—"
"Oh, lo
kenal gue?" tanya Aldo sembari menaikkan sebelah alisnya. Aldo
menyeringai.
Cowok
itu mundur saat Aldo melangkah masuk ke rumahnya sedikit demi sedikit. Seolah-olah
ingin menyudutkannya. Seringai di wajah Aldo semakin lama tampak semakin
mengerikan dan sukses membuatnya bergetar.
Ini
sama sekali bukan Ketua OSIS ramah yang selama ini ia tahu!
Mengapa...?
"Look
at yourself, you poor thing," ucap Aldo dengan lirih.
Cowok yang sedang ‘disudutkan’ itu akhirnya menabrak dinding yang ada di
belakangnya. Sejak tadi, ia terus mundur karena Aldo berjalan pelan
mendekatinya seperti seorang predator.
Sebenarnya,
Aldo masih ‘cukup’ terkontrol.
"Oh, iya,
benar juga," ujar Aldo, dia tiba-tiba berhenti di tengah jalan. Sang Ketua
OSIS itu pura-pura telah mengingat sesuatu; wajahnya polos. Setelah
itu, ia langsung menatap cowok yang ada di depannya itu seraya tersenyum manis
dan berkata, “Kamu, kan, satu sekolah dengan aku. Kelvin
Pribathama dari kelas XI IPA 3."
Mata
Kelvin membelalak penuh. Tubuhnya tegang, ia terkejut sekaligus takut. Well,
yang benar saja? Ia yang tak pernah sekali pun menyesali apa yang ia
perbuat, kini ketakutan di hadapan orang lain?
Tidak,
siapa pun pasti bakal takut!
Soalnya,
ada sebuah ketenangan yang menakutkan di mata dan wajah Aldo. Ketenangan yang
tak wajar. Seolah-olah tidak takut apa pun, bahkan dengan kematian.
Dia
tersenyum manis, tetapi justru tampak sadis seperti seorang pemangsa gila.
Senyum tanpa beban, tanpa dosa. Dia tampak menikmati situasi
ini, di mana Kelvin memandangnya dengan takut... bak mangsa yang
tersudut.
"M—Mau
apa—lo," ujar Kelvin dengan gagap; dia panik melihat monster yang
ada di depannya. Ia mencoba untuk terlihat berani, padahal jauh di dalam hati,
ia sudah sadar bahwa:
…Aldo
jauh lebih kuat darinya.
"Oh…"
ujar Aldo, mengeluarkan sebuah pisau kecil dari saku celana jeans-nya.
Ada kegelapan yang seolah menguar dari tubuh Aldo. Matanya juga seolah-olah
menggelap. Kelvin kaget bukan main saat melihat pisau itu.
Aldo tersenyum
miring. Tubuh Kelvin bergetar hebat. Permukaan dingin pisau itu
mendadak menyentuh leher Kelvin dan Kelvin terperanjat.
"Salam
kenal, Kelvin," ujar Aldo, berbisik di depan wajah Kelvin.
"Lo bego atau gimana, hm?"
Tiba-tiba
Aldo menjauh. Kelvin mau lari; ada kelegaan saat Aldo tiba-tiba menjauh darinya.
Dia seolah-olah baru dibebaskan dari ruang hampa. Namun, Kelvin tak jadi
bergerak karena tiba-tiba Aldo menjentikkan jarinya di udara. Dalam waktu dua
detik, datanglah empat orang anak (yang Kelvin kenali) dari pintu depan.
Itu
adalah anak-anak nakal yang ada di kelas Aldo. Anak-anak yang duduk paling
belakang. Meski Kelvin tidak sekelas dengan Aldo, Kelvin tahu siapa mereka.
Kelvin adalah orang yang suka mengamati. Lagi pula, mereka berempat itu adalah
anak-anak yang nakal, jadi tentu saja banyak orang yang tahu.
Namun,
sekarang… bukan itu masalahnya.
Keempat
orang itu masuk ke rumah Kelvin dengan tangan terikat di belakang. Wajah mereka
babak belur. Tubuh mereka luka-luka. Mereka berempat memakai seragam
sekolah. Bisa dipastikan, Aldo menangkap mereka sebelum mereka
sampai di sekolah.
Saat
keempat orang itu sudah masuk, Aldo mulai menutup pintu depan. Kelvin
menggeleng tak mengerti. Wajah Kelvin pucat.
Apa…
yang terjadi?
Apa
yang sedang direncanakan oleh Ketua OSIS ini?
Belum
selesai dengan pikirannya, Kelvin kembali dikejutkan dengan Aldo yang kembali
berjalan mendekatinya.
Sial.
Siapa orang ini? Siapa Ketua OSIS yang ada di SMA Kusuma Bangsa selama
ini?
FUCK!
Saat
Kelvin ingin lari dari sana, Aldo langsung berbicara dengan santai. Dia masih
tersenyum. "Mau lari ke mana, hm? Gue bisa kok main petak
umpet. Selama yang lo mau."
Sialan.
Sialan. Sialan!!!!
Keempat
orang yang terikat di sana juga hanya bisa menunduk. Salah satu dari
mereka bahkan ada yang menangis.
"…tapi
gue lagi nggak mood," lanjut Aldo sembari cemberut. Dia
memiringkan kepalanya. "Bisa-bisa, begitu gue ketemu lokasi persembunyian
lo, gue langsung berakhir dengan satu mayat. It's not fun at all, don't
you think?"
Setelah
berkata seperti itu, Aldo langsung tersenyum manis. Bukan, bukan senyum sadis
seperti tadi, melainkan senyum yang selalu ia tunjukkan di sekolah. Matanya
melengkung indah. Akan tetapi, kali ini… yang terasa bukanlah kehangatan,
melainkan kegelapan tanpa ujung.
Rasanya,
Kelvin ingin dinding yang ada di belakangnya itu jebol saja. Ia ingin
lari secepatnya dari sini. Ia tak menyangka kalau rumahnya
sendiri akan terasa seperti neraka.
"Gue
kasih selamat karena lo bisa bebas dalam satu hari... mengganggu cewek gue,”
ujar Aldo.
Keempat
orang yang terikat di sana (beserta Kelvin) spontan kaget bukan main. Kelvin serasa
tersambar petir; jantungnya bagai berhenti berdetak.
"Gue
kira lo bakal sedikit pintar buat nyembunyiin identitas lo," ujar Aldo dengan
sarkastis. Telunjuk cowok itu mengetuk-ngetuk bagian samping kepalanya saat
mengatakan 'pintar'. "tapi ternyata tebakan gue
bener."
Aldo
kembali berjalan mendekati Kelvin. Langkahnya kelewat pelan. "Lo
ngirim MMS nggak masuk akal itu biar bisa dapet respons. Lo pasti
bakal copotin kartu yang lo pake buat ngirim MMS itu, tapi gue tau kalo secara
berkala..." Aldo telah sampai tepat di depan Kelvin; dia kembali
menggesekkan permukaan pisaunya di pipi Kelvin. Mendadak, tatapan Aldo berubah menjadi
tajam. "…lo pasti ngaktifin nomor itu lagi."
Kevin
mulai berpikir keras, ia mencocokkan berbagai kemungkinan dengan putus asa. Ini
seolah-olah hari kiamat baginya. Aldo Nugraha ternyata seperti ini?
Kepribadian
ganda? Masa, sih?!
Kelvin
berteriak saat tiba-tiba pisau itu menggores pipinya. Ada cairan yang terasa mengalir
di wajahnya. Itu pasti darah.
Tiba-tiba
Aldo menjauh. Kelvin menatap Aldo dengan horror. Dia terduduk
saat melihat Aldo tiba-tiba menjilat darah di pisau itu dengan seringai
yang menyeramkan.
Mendadak,
Aldo berbalik dan mendekati empat anak yang terikat di belakangnya. Wajah empat
orang itu langsung pucat. Mata mereka membulat saat melihat Aldo mendekati
mereka dengan senyuman manis. Aldo memegang pisau penuh darah Kelvin itu ke
hadapan mereka.
Langkah
Aldo sangat ringan. Tanpa beban. Semua mangsanya yang sudah babak belur itu
mencoba untuk berlari, tetapi karena terlalu ketakutan, mereka terjatuh.
Akhirnya, mereka memilih untuk merangkak menjauhi Aldo. Mereka hanya
berharap dua hal: keluar dari sini atau langsung mati saja.
Cepat mati saja, ketimbang terus tersiksa seperti itu.
Namun,
Aldo menikmati semuanya. Aldo terlihat menyukai proses yang lambat itu.
Menikmati mereka kesakitan terus menerus... Ketakutan terus menerus...
Itu
seperti oksigen baginya.
"Kok takut?
Gue cuma mau main. Bercanda doang..." katanya. Dia
mendekati salah satu anak yang terikat dan meraih dagu anak itu. "Ya, ‘kan, Ardian?"
Pemuda
bernama Ardian—yang merupakan ketua geng dari anak-anak nakal itu—menatap Aldo
dengan ngeri. Tubuhnya gemetar. Ia sudah merasakan semua siksaan Aldo sebelum sampai
di sini, jadi ia benar-benar ketakutan. Tiba-tiba, Aldo mencengkeram dagunya. "YA,
‘KAN?!!!"
Ardian
membeliakkan mata. Jantungnya serasa berhenti berdegup. "I—Iya, Ald—"
"Hm...?" potong
Aldo. Cowok itu memiringkan kepalanya. "Kenapa lo gagap? Tapi pas ngehina Nadya
waktu itu kok lo nggak gagap...?"
Ardian
menunduk. Rahangnya mengetat; dia menahan semua rasa takut, gelisah, malu, dan
kesal. Mengapa ia dengan ‘kurang kerjaannya’ malah mengganggu Nadya kemarin? Mengapa
kemarin ia harus sebego itu!!!
Mengapa
ia tidak merokok saja, bolos saja, atau apa pun itu, daripada iseng-iseng menghina dan membully Nadya?!
Ia
tak tahu bahwa hal yang tadinya ia anggap sepele itu akan membuatnya
tersiksa. Ia menyesal bukan main. Jika ia masih diberikan kehidupan setelah
ini, ia bersumpah akan berhenti menghina orang lain.
Ia
yakin teman-temannya juga seperti itu, apalagi mereka semua (termasuk dirinya)
tak tahu bahwa ternyata itu semua hanyalah fitnah. Fitnah yang disebarkan oleh pria
ber-hoodie sialan di depan sana.
Rasanya
Ardian ingin membunuh cowok bernama Kelvin itu. Ia membuat
semua orang jadi berada dalam bahaya. Ia menuntun mereka ke tangan
seorang monster. Ardian yakin, bukan hanya mereka yang Aldo
incar. Semua orang yang menghina Nadya terang-terangan di hari itu mungkin akan
mendapat balasannya satu per satu.
Mata
Ardian membulat saat Aldo menarik wajahnya agar menatap ke atas, ke arah Aldo.
Tiba-tiba, Aldo menampar wajahnya dengan sangat kencang.
Ardian sampai tersungkur ke samping dan menimpa teman-temannya.
Aldo
kemudian berbicara seolah-olah menirukan sesuatu. Menirukan sesuatu
dengan ekspresi yang bersahabat.
"Ha," kata
Aldo. “Untung ketemu. Kalo gue nyari-nyari sendiri sampe ke bawah-bawah
meja lo, ntar ada yang marah. Aldo… atau cowok yang di foto itu. Haha!"
Ardian
kembali membulatkan mata. Tubuhnya seketika bergetar.
Itu
adalah ucapannya pada Nadya kemarin. Aldo menirukan sampai ke gaya bicaranya,
membuatnya tersudut, malu, dan benar-benar tersiksa. Entah dari mana Aldo
mengetahui itu.
Ardian
menutup mata dan keningnya berkerut seolah-olah menahan rasa sakit. Ia malu
sekali.
Setelah
itu, Aldo tertawa sinis. Sang Ketua OSIS itu menirukan semua ucapan teman-teman
Ardian waktu itu.
"Bukan
masalah pihak, Tar, di foto itu semuanya udah jelas! Ya nggak, bro?!"
Salah
satu teman Ardian mulai menahan napas, menyadari bahwa itu adalah kalimatnya.
Ini gilirannya. Cara Aldo yang meniru dengan santai itu sukses
menghancurkan mentalnya hingga berkeping-keping.
"Sumpah, kasian
Aldo."
Mendadak,
setelah meniru yang terakhir itu, Aldo tertawa terbahak-bahak.
Aldo sampai menggeleng tak habis pikir.
Suara
tawa itu adalah satu-satunya suara yang terdengar di dalam rumah itu. Semua
orang menunduk dan merasa kacau saat mendengar Aldo tertawa seperti itu setelah
menyindir mereka.
"Oh,
God," ucap Aldo sambil masih berusaha untuk
berhenti tertawa. "Lo butuh apa? Rumah? Mobil? Sampe-sampe perhatian ke
gue kayak gitu."
Aldo
mengikik geli, lalu tiba-tiba ia menatap ke bawah—ke arah empat orang itu—dengan
tajam. “Sorry, but I don't need affection from damn insects like you.”
Aldo
kembali mendekati mereka berempat. Refleks, mereka berempat langsung merangkak
menjauh dari Aldo dan Aldo jadi senang.
Ya,
terus tunjukkan ekspresi ketakutan itu. "Ampun, Aldo,
tolong berhenti!!!"
"Kami
nggak tau kalo itu cuma fitnah!!"
"TOLONG!!!!!
SIAPA PUN, TOLONG KAMI!!! TOLONG!!!!"
"Bhahahah!
Oh,
ya Tuhan," ucap Aldo geli. Dia lagi-lagi menggeleng. "Siapa yang mau
nolongin kalian? Rumah ini kedap suara. Ini biasa digunain
buat memerkosa, lho."
Tubuh
Kelvin menegang.
Sialan—sialan,
sialan—SIALAN!!!!!! Tau dari mana dia?
Tau
dari mana?!!!!
Aldo
menatap Kelvin.
"Jangan
takut gitu, dong," ujar Aldo sembari tersenyum. "Gue bisa datang ke
sini karena ngelacak nomor HP yang lo gunain itu. Gue udah bilang, lo pasti ngaktifin
nomor itu lagi karena lo mau respons dari cewek gue."
"Gue
kira… yang lo kerjain itu cuma cewek gue, tapi ternyata… ada alasan lain
di balik pengaktifan nomor ini lagi."
Aldo
mendekati Kelvin sembari memutar-mutar pisau itu di jemarinya. Mata Aldo itu
membulat, tetapi ekspresinya aneh.
Kelvin
mulai merangkak ke samping dengan putus asa, tetapi Aldo berhasil mencengkeram
bahu cowok itu, membuat cowok itu berhenti seketika. Cengkeraman
Aldo itu sangat keras dan kuat. Saat dia menatap Aldo, ternyata Aldo sudah menyeringai.
"Lo
adalah salah satu pelaku cyber crime," ujar Aldo to
the point, dengan nada mengejek. "Penipuan jasa. Pemerkosaan. Pencemaran
nama baik. Pengancaman melalui internet. Penyebaran konten ilegal."
Kelvin
mengerang, kesulitan bernapas saat Aldo mendadak mencekik lehernya. "Lo ngelakuin
semuanya dari Facebook dan beberapa tempat lainnya. Semua korbannya itu
cewek."
"Lo
kirim-kiriman chat sama mereka, pura-pura ngejual sesuatu atau ngasih
jasa yang meyakinkan. Mereka pasti berakhir di sini, di rumah ini, lo tidurin," ujar
Aldo dengan mata yang menyipit. Cara bicara Aldo itu sudah bukan seperti
cara bicara remaja. Kelvin tahu karena Kelvin sendiri bukanlah remaja yang
normal. "Itu makanya lo milih rumah yang kedap suara. Lo mengantisipasi
teriakan dari orang yang lo perkosa. Tapi… kalo ada beberapa dari mereka
yang suka nge-seks, mereka akan terus komunikasi sama lo."
"Lo
juga sering ngancam mereka melalui chat. Lo punya banyak HP, banyak
email, dan banyak nomor, tapi lo gunain buat beda-beda korban supaya nggak
mudah ketahuan. Nggak mudah terlacak."
Aldo
memiringkan kepalanya. "Kalo mereka milih buat tetap komunikasi sama lo,
ya lo manfaatin mereka. Lo tetep berhubungan dengan tante-tante itu
demi uang. Lo pasti gunain nomor itu lagi meskipun lo matiin sebentar. Lo nggak
bakal langsung buang kartu; lo butuh kartu yang sama buat ngehubungi
cewek-cewek itu lagi. Lo bakal pusing kalo terus ganti kartu. Masing-masing
dari mereka pasti taunya lo cuma lanjut berhubungan sama
mereka doang. Makanya, lo sulit ganti kartu."
Cengkeraman
Aldo pada leher Kelvin semakin mengetat, lalu Aldo mendorong Kelvin hingga cowok
itu terbaring di lantai. Dia merintih kesakitan.
"Pas
nomor lo mendadak aktif lagi, gue langsung nyuruh seseorang buat nge-trace semuanya.
Makanya gue tau lokasi lo… sekaligus semua kegiatan lo di dunia maya."
Tiba-tiba,
Aldo teringat ucapan Sandi padanya tadi malam; ucapan Sandi saat ia baru sampai
di rumah, setelah pulang dari rumah Rian.
"Kakak
tau kamu masih nggak mau ngomong sama Kakak," ujar Sandi. "Kalo kamu
nggak mau Kakak ikut campur lagi kedepannya, Kakak terima, tapi tolong terima twaran
Kakak kali ini aja, Aldo... demi Nadya. Soalnya, Nadya juga berharga bagi
Kakak."
"Ada
temen kakak, dia seniornya Kakak waktu itu. Sekarang dia udah kuliah di UGM. Waktu
itu berhasil nge-hack situs Bank BNI. Dia bisa mainin saldo nasabah juga kalo
dia mau, tapi dia nggak ngelakuin itu," ujar Sandi. "Kamu pastiin
dulu nomor itu aktif atau nggak. Ntar temen kakak itu bisa dapet semua
informasi dari sana. Atau kamu tunjukin aja chat dari orang yang neror Nadya
itu. "
Aldo
kemudian mengerutkan keningnya. Ia masih belum memaafkan Sandi. Lama ia terdiam
karena berusaha untuk berpikir jernih. Dia juga berusaha untuk mengenyahkan
kebenciannya pada Sandi walau sebentar saja.
Kebenciannya
bukanlah hal yang terpenting saat ini.
Ia
harus menolong Nadya.
"Nomor
itu pasti bakal aktif. Sebentar lagi," ujar Aldo pada akhirnya.
"Soalnya, dia pasti ngelakuin itu supaya direspons sama Nadya."
Saat
ingatan itu menghilang, Aldo kembali menatap Kelvin dengan fokus. Aldo kembali
mengetatkan cengkeramannya pada leher Kelvin dan kali ini Kelvin benar-benar
tak bisa bernapas; kaki Kelvin menendang-nendang udara dengan putus asa.
Aldo
menggertakkan gigi. Ia benar-benar ingin melenyapkan Kelvin.
"Lo... suka sama Nadya," ujar
Aldo dingin. Suaranya terdengar mencekam. "LO NGINCER NADYA BUAT
JADI KORBAN LO SELANJUTNYA!!!!!"
Aldo
mengangkat tubuh Kelvin dan menghantam tubuh cowok itu ke dinding. Kelvin
berteriak. Belum puas, Aldo kembali meraih leher hoodie Kelvin dan menghantam
kepala Kelvin berkali-kali ke dinding. Ada darah yang mulai mengalir dari
kepala dan mulut Kelvin. Setelah itu, Aldo melepaskan Kelvin dan membiarkan
Kelvin terduduk di lantai.
Kelvin
bersandar pada dinding; kepalanya tampak berayun ke kiri dan ke kanan akibat
rasa sakit. Pandangannya kabur dan dunianya serasa berputar. Hal yang bisa ia lihat
hanyalah sepatu Aldo yang mulai menjauh darinya. Aldo mendekati empat orang
yang ada di depan sana.
Ah…
ya, tentu saja. Aldo takkan membiarkannya mati secepat
dan semudah itu.
Keempat
orang itu langsung berteriak putus asa. Mereka meneriakkan apa saja, sampai tak
peduli kalau pita suara mereka rusak.
Namun,
Aldo mendadak berhenti melangkah. Dia mulai menelepon seseorang. Hal itu sukses
membuat semua orang terdiam.
Empat
deringan di ponsel Aldo—saat cowok itu menelepon seseorang—terdengar dengan
jelas di ruangan. Tak ada yang berani membuat suara sekecil apa pun. Mereka
bahkan tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Saat
telepon itu diangkat, Aldo pun berbicara dengan ramah.
"Hai."
"H—Halo?
Ini… siapa, ya?"
Semua
orang di ruangan itu tampak sedikit kaget karena ternyata Aldo me-loudspeaker panggilan
teleponnya. Namun, saat menyadari suara siapa itu, keempat orang di sana langsung
terkesiap, terutama Ardian.
Ardian
menganga. Jantungnya nyaris berhenti berdegup. Napasnya tersekat di
tenggorokan.
Itu
adalah suara pacarnya. Zahra.
"Ah,
salam kenal," ujar Aldo sembari menaikkan sebelah alisnya. Matanya menatap
Ardian. Ia lalu tersenyum miring. "Namaku Aldo. Aku... satu
sekolah sama Ardian."
"E—Eh?!
Tunggu. Aldo? Satu sekolah dengan Ardian? Aldo yang namanya Aldo Nugraha itu
bukan?"
Mata
Ardian melebar dan berkaca-kaca. Tolong, jangan Zahra!
SIAL!!!!!
SIALAN!!!!!
"Lho,
kok bisa tau?" tanya Aldo dengan lembut. Semua teman-teman Ardian memandangi
Aldo seraya memasang ekspresi tak menyangka. Mulut mereka terbuka. Situasi
saat ini terlalu gila. Mereka terjebak di tangan monster.
"Ya
tau, dong, soalnya aku ikut pertandingan persahabatan waktu itu. Kamu keren
banget pas tanding, jadi ya jelas semuanya tau!! Lagian, di luar pertandingan
persahabatan itu, kamu udah terkenal juga kok! Aaaaaaaaa!!!!!! Kok kamu
ngehubungi aku?!!!" tanya cewek bernama Zahra
itu dengan antusias.
Ardian
tiba-tiba berteriak, "SIALAN LO, SETAN!!!! SIALAN!!!!!!!!"
Aldo
tersenyum penuh kemenangan.
Zahra
pun bertanya, "Eh, tadi kok kayak ada suara... Ardian?"
"Oh, nggak..." jawab
Aldo dengan suara yang terdengar seksi. "Kamu salah denger kali.
Ini ada siaran TV. Mamaku nonton film, film penyiksaan."
"Ahahahahaha,
gitu toh. By the way, ternyata kamu lucu juga, ya! OMG, aku masih nggak
nyangka!! Ardian waktu itu nggak ngizinin pas aku sama temen-temenku mau ke
sekolah kalian buat liat kamu!! Aku nge-fans banget sama kamu!!! Ughhh, sayangnya,
kamu udah punya pacar... Wait, tapi di antara teman-temanku, cuma aku yang kamu
telepon, ‘kan?"
"Iya,
soalnya kamu spesial. Aku nggak kenal sama temen-temen
kamu," ujar Aldo sembari tersenyum sadis pada Ardian. Ya, memang Zahra
spesial karena Zahra adalah pacarnya Ardian.
Mendadak,
Zahra mulai fangirling. "AAAAAAAAAA!!!!! OH MY GOD, AKU MIMPI
APAAA BISA DITELEPON SAMA KAMU? NGOBROL SAMA KAMU AJA AKU GA BISA BAYANGIN,
TAPI AKU JUSTRU DITELEPON DULUAN? AAA AKU BAHKAN GA MAU TAU DARI MANA KAMU
DAPET NOMOR PONSEL AKU!!! PLISSS, HUBUNGIN AKU TERUS!!!!"
Aldo
hanya diam, tak menghiraukan teriakan Zahra sama sekali. Dia malah mendekati
Ardian yang sejak tadi terus berteriak pada Aldo. Air matanya mengalir deras.
Ia marah dan kecewa saat tahu bahwa ternyata Zahra tak begitu memikirkannya. Ia
juga malu sekali; mukanya memerah padam karena yang mengungkap kebenaran itu
adalah Aldo. Aldo membuatnya merasa seperti sebuah origami di lantai toilet yang terinjak-injak
dan tersingkir ke sudut ruangan.
"Aldo?
Aldo?! Hehehe! Makasih, yaaa!! Aku jadi pengen nelepon kamu terus, nih! Aku
jadi mikir kalo kamu mungkin sedikit tertarik sama aku… soalnya kamu nyari
nomor HP-ku! AAAA, AKU BAHAGIA BANGET!!!"
Panggilan
telepon itu diputuskan secara sepihak oleh Aldo. Di depan Ardian.
"Liat,
baru dibilang spesial dikit, dia langsung pindah hati,"
ujar Aldo sembari tersenyum. Cowok itu menggerakkan ponselnya ke kiri dan ke
kanan, layarnya menghadap ke Ardian. "Mungkin, ini karma buat lo karena lo
selalu nganggap remeh semua orang. Jadi, Tuhan bikin cewek lo sendiri gituin lo."
"DARI
MANA LO DAPET NOMOR CEWEK GUE, SIALAN?!!!!" teriak Ardian dengan putus
asa. Ia tersiksa. Ia benar-benar tersiksa.
"Biar
gue tanya balik, dari mana lo tau kalo Nadya bener-bener selingkuh? Sampe-sampe
lo ngejelekin dia gitu di kelas?" tanya Aldo.
"ITU
HAL YANG BIASA!!!!!!" teriak Ardian.
Mata
Aldo kontan memelotot. Cowok itu langsung menendang kepala Ardian hingga berkali-kali.
"APA LO BILANG?!!"
"BILANG.
SEKALI. LAGI!" teriak Aldo dengan kasar di sela-sela tendangan itu. Kepala
Ardian mulai berdarah. Aldo tak lagi memberi ampun; pisau yang tadinya sempat ia
taruh di sakunya itu mulai ia ambil kembali. Digoreskannya pisau itu ke lengan
Adrian. Goresan itu cepat dan kuat. Ardian mengerang begitu kencang,
meronta-ronta karena kesakitan. Aldo pun menarik tubuh Ardian dan berbisik di
depan wajah cowok itu, "Deal. Gue terima tantangan lo.
Jadi, kalo gue gituin cewek lo nanti, lo harus terima dan mikir kalo itu HAL
YANG BIASA. NGERTI LO?!"
"Gue
bukan nggak tau kalo lo dan temen-temen lo ini pembalap
liar," ujar Aldo. "Gue tau semuanya. Lo juga selingkuh
di belakang cewek lo itu."
Ardian
membelalakkan mata. Lagi-lagi ia memucat. Bibirnya bergetar. "SIALAN—
SIALAN!!!!!!!!!!!"
"Oh, lo
lebih sialan," tantang Aldo sambil menyeringai. Aldo menjilat bibirnya
dengan lambat, menggoreskan pisaunya di leher Ardian perlahan-lahan. Ardian
berteriak kesakitan.
Aldo
lalu berbisik, "...lo itu cuma lagi beruntung. Inget, gue nggak
bakalan ngelepasin lo sampe urusan kita selesai. Kalo lo kabur, gue
bakal terus ngganggu hidup lo... sampe lo akhirnya frustrasi
dan pengen hilang aja dari dunia ini."
Semuanya
menunduk dan gemetar ketakutan.
Kelvin—yang
terduduk lemas di seberang sana—juga akhirnya tahu bahwa ternyata Aldo...
...nyaris
menyerupai psikopat.
Ardian
terjatuh dari genggaman Aldo. Pandangan matanya kabur karena sudah mengeluarkan
banyak darah.
Ia
sadar kalau ia hanya melampiaskan kemarahan karena Zahra ternyata tidak tulus
mencintainya. Ia memang suka selingkuh, tetapi ia paling sayang dengan Zahra.
Namun, yah… ia juga salah.
Ia
terlalu meremehkan segala sesuatu… hingga akhirnya semuanya direnggut darinya.
Ia
melampiaskan kekesalannya dengan mengatakan bahwa mengganggu Nadya adalah hal
‘biasa’, padahal di dalam hatinya, ia sudah mengakui semuanya.
"Minta
maaf besok di hadapan Nadya," ujar Aldo dingin.
"atau lo bakal liat semua orang yang penting bagi lo... berakhir."
"Inget
baik-baik semua kebodohan lo yang tadi gue omongin. Kalo kalian
mau nge-bully, kalian berurusan..." Aldo mendekati salah satu
teman Ardian, lalu mencengkeram dagu cowok itu hingga mungkin bisa mematahkan
giginya.
"—dengan orang
yang salah," lanjut Aldo sembari tersenyum manis.
Aldo
meninju kepala teman Ardian itu sekali, lalu berdiri. "Oke. Dari tadi, gue
udah lumayan banyak bicara ke lo berempat. Gue nggak ada urusan lagi sama
kalian. Mumpung gue lagi baik hati, pergi dari sini."
Senyuman Aldo itu tak kunjung pudar. "Kalo kalian nggak minta maaf sama
Nadya, gue punya bukti yang bisa ngehancurin hidup kalian.”
Mereka jadi tak
berani melapor ke polisi karena Aldo memiliki bukti soal kenakalan apa saja
yang mereka lakukan. Aldo itu cerdas dan punya kekuatan. Dia
anak konglomerat juga. Kalaupun mereka sudah kuat untuk melawan Aldo, mereka
harus punya strategi yang sempurna.
Pertanyaannya,
apakah mereka bisa menandingi Aldo?
Kalau
strategi mereka gagal, seperti yang Aldo bilang tadi... Aldo
akan terus mengganggu kehidupan mereka, meneror mereka sampai mereka tak
tahan lagi. Makanya, mereka bahkan tak bisa berpikir soal
melawan balik.
Mereka
terbirit-birit keluar dari rumah itu. Begitu pintunya terbuka, Kelvin juga
mencoba untuk ikut keluar; dia merangkak dengan putus asa. Namun, Aldo berdiri
di depannya. Yang ia lihat sekarang hanyalah sepatu Aldo.
"Whoops. Tinggal
kita, nih," ujar Aldo dengan sangat ramah.
"Mau ke mana, Kelvin?"
Kelvin
mengangkat tangannya, mulutnya terbuka saat melihat Aldo menutup pintu itu kembali.
Aldo berbalik dan tersenyum sebentar kepada Kelvin yang terduduk di tengah
ruangan.
Tiba-tiba,
Aldo berjalan lebih jauh ke dalam rumah Kelvin, entah apa yang ia cari. Namun,
saat ia kembali, ia menyeret sebuah kursi. Kursi yang tadinya Kelvin duduki
untuk bermain Facebook.
Aldo
duduk di depan Kelvin. Dia memperhatikan Kelvin dengan saksama, penuh
penilaian. Senyum manisnya yang sadistic itu masih
enggan pergi dari wajah tampannya.
"Jadi,
apa lo bener-bener mau bebas dari gue?" tanya Aldo.
"Kalo
gitu, kita main petak umpet aja. Gimana?" tanya Aldo
santai. "Gue tunggu di sini. Lo bebas... mau sembunyi di mana pun di rumah
ini. Kalo lo beruntung… Kali aja gue nyerah dan pergi dari sini? Ada kesempatan
kok, sekitar nol koma sekian persen.”
"Jangan
khawatir. Walaupun sedikit, tetep aja lo punya kesempatan, ‘kan?" lanjut
Aldo dengan sarkastis tatkala ia menyadari perubahan ekspresi wajah Kelvin. "Jangan
bilang… lo mau buang sedikit kesempatan yang bisa nentuin hidup
dan mati lo itu?"
"Come
on, don't disappoint me. Entertain me for a bit," ujar
Aldo sembari memiringkan kepalanya. Cowok itu tertawa renyah.
Kelvin
ingin berbicara, tetapi dia tersendat-sendat karena tak bisa bernapas dengan
benar. Tubuhnya penuh dengan darah dan tubuhnya gemetar.
"Oke.
Gue hitung sampe sepuluh," ujar Aldo sembari melihat jam tangannya.
"Mulai dari… sekarang!"
Bagaikan
hilang akal, Kelvin pun langsung berusaha untuk berdiri. Tatkala terjatuh lagi
dan lagi, dia akan merangkak. Dia kehabisan banyak darah dan kepalanya sangat
sakit; tubuhnya lemah dan pandangan matanya kabur. Dengan cepat, dia merangkak
ke mana pun… asalkan tidak melihat si pemangsa itu.
Kelvin
menangis. Air mata serta darahnya sesungguhnya berceceran di sepanjang jalan, tetapi
ia tak peduli. Ia hanya ingin mengurung dirinya di tempat yang sempit, yang
penting bisa berbataskan sesuatu dengan Aldo. Ia hanya ingin berlindung.
Di
saat seperti ini, ia malah berdoa pada Tuhan.
Sang
Tuhan yang selama ini selalu ia tinggalkan.
Suara
Aldo yang menghitung dari satu sampai sepuluh itu terdengar bagai gong kematian
di telinganya. Tiap hitungannya bagai mampu menusuk jantungnya. Dia bisa gila
hanya dengan mendengar suara itu.
Dalam
hati, dia ingin percaya bahwa semua ini hanyalah mimpi buruk, tetapi ia tak
bisa.
Ujung-ujungnya,
dia bersembunyi di dalam lemari yang ada di kamarnya. Lemari yang tak terlalu
berisi karena kebanyakan bajunya adalah hoodie atau
jenis-jenis jaket lainnya. Lemari itu berhadapan dengan bagian kaki ranjang.
Dengan
gemetar, Kelvin memegang kedua sisi pintu lemari itu dari dalam. Ia masih bisa
mengintip dari celahnya.
Hitungan
Aldo pun selesai. Jantung Kelvin langsung berdegup kencang. Lidahnya kelu.
Napasnya tertahan. Terdengar suara Aldo yang tengah berkeliling di rumahnya.
"Keeelviiin...." panggil
Aldo dengan nada bersahabat, seperti anak kecil yang sedang memanggil temannya.
Suara Aldo agaknya berasal dari ruang komputer. Ia ternyata sudah ada di sana.
"Kelviiin..."
panggil Aldo lagi. Suara cowok itu kini sudah ada di depan kamar. Kelvin tambah
gemetar. Wajah Kelvin—yang sejak tadi sudah pucat karena kehabisan darah dan
ketakutan—seolah-olah jadi semakin pucat. Matanya melebar sempurna.
"Kelvin..." bisik
Aldo pelan… karena dia sudah sampai di kamar. Kelvin memejamkan mata.
Tamat. Tamat
sudah.
Biarin
gue mati. Lebih baik gue langsung mati!!!
Hening.
Lima
detik sudah berlalu.
Kelvin
tak merasakan apa-apa. Mengapa Aldo tak membuka pintu lemari dan
membunuhnya?
Penasaran,
Kelvin pun membuka matanya pelan-pelan.
Sepersekian
detik setelah itu, Kelvin kontan membelalakkan
mata. Tubuhnya menegang seketika. Mulutnya terbuka lebar. Napasnya tersekat, bagai
dicekik.
Ia
kini tahu mengapa Aldo tidak membuka pintu lemarinya.
Itu
karena Aldo...
…tengah
duduk di ranjangnya, menghadap padanya sembari menyeringai.
Aldo
menyeringai kepadanya… yang sedang mengintip melalui celah pintu
lemari itu.
Aldo menunggunya.
Menunggunya
sampai ia keluar sendiri.
Aldo menikmati ketakutan
Kelvin di dalam lemari.
Demi
Tuhan, Kelvin berani bersumpah kalau Aldo adalah seorang psikopat. Kelvin
pernah membaca bahwa ada tiga jenis pembunuh yang punya cara berbeda saat
mengetahui mangsanya ada di dalam lemari. Jenis pertama: ia akan bersembunyi
dan ketika mangsanya keluar, saat itulah ia akan menyerang.
Jenis kedua: ia akan langsung membuka lemari dan membunuh
mangsanya di sana. Namun, untuk jenis ketiga… ia malah akan menunggu
mangsanya di depan lemari. Menunggu, sampai mangsanya keluar
sendiri atau mati ketakutan di dalam lemari. Jenis inilah yang umumnya disebut psikopat.
Namun,
tiba-tiba, Kelvin mendengar seseorang menggumam. Suara perempuan.
Ah… ya,
benar. Tadi pagi, Kelvin menculik Nadya. Ia mengurung Nadya di
dalam lemarinya yang satu lagi. Ia mau menjadikan cewek itu sebagai korban
selanjutnya. Ia menyukai cewek itu. Apa salahnya sedikit mengganggunya?
Kelvin
melihat Aldo yang kontan membulatkan mata. Cowok itu melangkah menjauh, lalu membuka
paksa lemari yang ada di sebelah barat kamar. Kelvin langsung keluar dan berusaha
untuk berlari, tetapi ternyata, pintu kamar itu dikunci dan mungkin kuncinya
diambil oleh Aldo.
Kelvin
terduduk frustrasi dan mengesot ke sudut pintu, ketakutan saat melihat Aldo.
Aldo terlihat shock di depan sana.
Dia
melihat Nadya. Nadya sedang terikat di dalam
lemari, masih memakai baju sekolah. Saat pintu lemari itu terbuka lebar, tubuh
Nadya terjatuh di pelukannya.
Dia mematung.
Wajahnya memucat. Dia langsung terduduk di lantai seraya memeluk Nadya.
Jantungnya bak berhenti berdetak.
Nadya
mengalami ini.
Mengalami
apa yang dahulu pernah menimpa dirinya.
Aldo
jadi linglung. Tangannya bergetar. Dia menatap Nadya tak percaya. Dengan cepat
dan putus asa, ia pun membuka semua ikatan di tubuh Nadya dan melepaskan plester merekat
di mulut Nadya. Setelah itu, ia langsung menidurkan Nadya di pangkuannya dan
menepuk-nepuk pipi Nadya. "N—Nad?"
"Nad?!!" teriaknya.
"Nadya!!!"
"Sayang—Sayang
bangun," ujar Aldo dengan suara bergetar. "Sayang?! Oh God,
please—please! Not her, not her!!"
"Nad!!"
Perlahan-lahan,
mata Nadya terbuka.
Hal
pertama yang cewek itu ucapkan adalah. "Al…do...? Aldo… baik-baik
aja, ‘kan?"
Saat
itulah, air mata Aldo langsung jatuh.
Mengapa
Nadya harus mengalami semua ini? Mengapa dunia membuat Nadya
menghadapi semua hal yang nggak wajar ini?
Memasukkan
seseorang yang tidak bersalah, seseorang yang polos, dalam semua ini?!
Apa
memang mendekat pada Nadya itu terlarang karena ia bisa membawa bahaya pada
Nadya?!
Biar
Aldo sendiri yang mengalami masa lalu seperti itu, biar dia sendiri yang dihadapkan
pada mara bahaya seperti itu! Biar dia sendiri. Tidak
keluarganya, tidak juga Nadya!
SIAL.
SIAL. SIAL!!!!!!!! PERSETAN.
Kalo
bukan aku yang ngelindungin diriku sendiri dan Nadya, siapa lagi?
Kalo
emang iblis di dalam diriku yang harus turun tangan, aku nggak keberatan.
Aku
terima dia. Aku terima kedatangannya.
Persetan
dengan dunia.
Mengapa
mimpi buruk ini harus terjadi berkali-kali, menghantui Aldo hingga hidupnya
hancur?
Tiba-tiba
Aldo berdiri. Pisau di saku Aldo terjatuh ke lantai. Nadya melihat itu
dan terkesiap. Dia menangis.
Mengapa
Aldo membawa pisau? Aldo… berniat untuk...
Nadya
cepat-cepat mengusap air matanya.
Aldo
mulai mendekati Kelvin dengan tatapan kosong. Saat itulah, dengan cepat Nadya
merangkak dan meraih pisau itu. Soalnya, Nadya mulai bisa menebak apa
yang akan terjadi.
Jika
Nadya tidak mengambil pisau itu, Aldo akan kembali mengambilnya dan menusuk
orang itu berkali-kali. Mungkin saja merobek perut orang itu,
atau mungkin… oh, Tuhan, Nadya tak mau membayangkannya.
Nadya
sudah paham... dengan kegelapan Aldo. Sepenuhnya.
Aldo
nggak boleh... ngebunuh orang lain…
Aldo
akan mendekam di penjara. Selain itu, hidup Aldo akan rusak selama-lamanya. Takkan
ada jalan kembali.
Begitu
berhasil menyingkirkan pisau itu, Nadya tak berpikir apa-apa lagi. Cewek itu
langsung berlari dan memeluk Aldo dari belakang. Tubuh Aldo sangat keras. Nadya
sekarang paham mengapa beberapa bodyguard tak sanggup
menghentikan Aldo.
Di
depan sana, orang yang menculik Nadya itu sudah pasrah.
"FUCK!!!
FUCK!!!!!!!!!!" teriak Aldo. Dia melepaskan Nadya
hingga Nadya tersungkur. Aldo tak bisa lagi mengontrol diri. Kini, seluruh kegelapan
telah menguasainya. Tanpa ada sisa.
Cahaya
benar-benar telah pergi darinya. Akal sehatnya sudah tak bermain lagi. Aura
gelap yang mengerikan itu jadi semakin legam. Mata Aldo memelotot;
cowok itu menunduk, menarik kepala Kelvin, lalu langsung menghantam kepala
Kelvin berkali-kali ke dinding. Nadya berusaha menarik Aldo dengan sekuat
tenaga, tetapi semuanya percuma.
Aldo
seperti kembali ke masa lalu. Bagai kembali mengalami
penculikan itu. Semua usahanya untuk berubah kini menghilang ditelan bumi.
Ia terjebak di
dalam traumanya...
...dan terkunci di
sana.
Begitu
membanting tubuh Kelvin ke lantai (Kelvin sudah muntah darah, kepalanya pecah,
dan matanya nyaris tertutup), Aldo tiba-tiba berteriak lagi. Banyak sekali
bisikan di kepalanya, ratusan bisikan, yang membuat kepalanya serasa mau
meledak.
Bagus.
Kerja bagus.
Aku
tau kalo kamu akhirnya pasti nerima aku.
Aku
tau kalo akhirnya cuma akulah yang bisa kamu andalin.
Akulah
tempat kamu bergantung.
Sekarang,
jangan sesalin semuanya. Aku bisa ngatur semuanya seperti yang kamu mau.
"Dengar,
kau itu pantas mati! Dasar pembunuh!"
"Ibumu
mati saat melahirkanmu! Anak sepertimu tiba-tiba menjadi ahli waris?
Tuan Donovan pasti senang jika kami membunuhmu!"
"Kau
itu memang seharusnya dilahirkan untuk dijadikan sandera semata!"
"Papa
tau itu sulit, Nak. Papa tau itu sulit. Tapi tolong, Nak, sayangi
diri kamu sendiri. Jangan sampe kamu tenggelam dan kalah sama trauma kamu.
Jangan kalah dengan rasa sakit, pikiran buruk, dan juga ketakutanmu.”
“Maaf
karena udah ngerusak hidup kamu, Aldo... Tolong, tolong teruslah
hidup…"
Inget
rasa sakit kamu dan apa yang udah dunia perbuat ke kamu. Inget semuanya.
Tenang, aku ada di sini.
Kamu
berada di atas semua orang sekarang. Nggak akan ada yang bisa ngelukain kamu. Akan
kubuat kamu jauh lebih kuat daripada siapa pun. Tunduklah.
"DIAM—" ujar
Aldo. Cowok itu menggeleng keras dan terduduk di lantai. Dia menutup
telinganya. Bisikan itu kembali terjadi dan malah semakin parah. Ia mendengar
iblis itu berbicara sambil memberinya beberapa ingatan berisi ucapan-ucapan
orang lain padanya. Dari penculik-penculik itu, dari Gerald, dari Sandi...
Kalimat penyemangat, kalimat yang mengingatkannya akan traumanya, permintaan
maaf...
"DIAM!
DIAM!!! DIAAAAAAMMMMMMM!!!!!! DIAM KAMU, SIALAN!!!!!!!!"
Kali
ini, terselip suara Nadya.
“Manusia nggak
bisa mengubah manusia lain, Aldo, nggak peduli betapa kerasnya
seseorang itu berusaha. Tapi kalo ada tekad yang kuat dari orang itu
sendiri, maka nggak ada yang nggak mungkin, Aldo…"
Kepala
Aldo serasa mau pecah.
Selamat
datang di kegelapan kamu yang sesungguhnya. A world where you belong.
"DIAMM!! SIALAN! SIALAAAANNNN!!!!!!!!! DIAM!
DIAAAMMM!!!!!!!" teriak Aldo. Nadya langsung merangkak—menghampiri
Aldo—dan memeluk Aldo. Aldo memberontak; dia seolah-olah ingin melepaskan diri
dari kegelapannya sendiri. Dia terus berteriak, menyuruh apa pun itu untuk
diam.
Kondisi
mental Aldo baru-baru ini sudah rapuh karena konfliknya dengan Sandi, tetapi
sekarang dia justru dihadapkan kembali dengan situasi penculikan yang sama. Mental
yang rapuh itu kini hancur seutuhnya.
Aldo
melepaskan diri dari Nadya dan langsung menghampiri Kelvin, padahal Kelvin
sudah tidak dalam keadaan sadar. Nadya terus menarik Aldo dari belakang dan
tiba-tiba, pintu kamar itu didobrak.
Di
sana, terlihatlah Sandi. Dia diikuti oleh beberapa bodyguard. Ada
Gerald dan Rachel juga di sana. Ada orangtua Nadya serta Gita (yang menghubungi
mereka semua karena Nadya menghilang). Mereka shock dan langsung menghampiri
Aldo dan Nadya. Mama Nadya pingsan di tempat saat melihat keadaan tiga orang
yang ada di sana (Aldo, Nadya, dan Kelvin) serta melihat keadaan rumah itu yang
banyak darahnya. Gerald memerintahkan bodyguard-bodyguard-nya untuk
segera mengangkat Kelvin dan mengantarkan Kelvin ke rumah sakit sebelum
nantinya dibawa ke kantor polisi. Aldo berteriak dan memukuli bodyguard-bodyguard itu
karena dia menentang ide untuk membawa Kelvin ke rumah sakit.
Aldo
ingin membunuhnya. Aldo tahu kalau si sialan itu masih
bernapas.
Namun,
meskipun harus mengerahkan banyak bodyguard, Gerald tidak
masalah. Ia harus menghentikan Aldo agar Aldo tetap berada di jalan yang benar.
Teriakan
Aldo itu sangat mengerikan. Penuh dendam. Aldo sudah bukan Aldo yang mereka
kenal. Gita dan papa Nadya yang baru mengetahui sisi gelap Aldo itu nyaris saja
berhenti bernapas.
Aldo
tampak hancur. Dia terpenjara di dalam dirinya sendiri. Terkurung di
dalam kegelapan yang membesar dan akhirnya menelan dirinya sendiri.
Saat
Aldo duduk di mobil—di jok penumpang belakang karena yang menyetir adalah
Gerald—dia duduk berdampingan dengan Nadya. Nadya sedang menangis; Aldo melihat
semuanya.
Nadya,
cewek yang Aldo sayangi itu, tentunya baru pertama kali mengalami kejadian
mengerikan ini. Ini pasti membuatnya takut. Namun, mengapa dia bisa terus
kuat dan menenangkan Aldo?
Di
balik sifat Nadya yang pemalu, cewek itu selalu memperhatikan apa yang terbaik
untuk Aldo. Akan tetapi, cewek setulus itu… harus mengalami semua ini.
Aldo
pun mulai memanggil Nadya. Suaranya terdengar begitu dingin.
Nadya
menatap Aldo dengan mata sembap. “I…ya, Aldo…?”
Aldo
langsung meraih tengkuk Nadya, lalu berbicara di telinga Nadya
dengan lirih:
“Mulai
sekarang, katakan selamat tinggal pada Aldo yang selama ini
kamu kenal.” []


No comments:
Post a Comment