Chapter
2 :
Crimson
Red
******
BEGITU
sampai
di dalam apartemennya, Mei langsung meletakkan tasnya di atas meja yang ada di dalam
kamarnya, lalu pergi mandi. Jujur saja, sejak ia berjalan pulang dari café langganannya
tadi, ia terus saja memikirkan Akashi beserta kedua mata berwarna merah
menyala milik pria itu. Ia jadi teringat dengan karakter-karakter vampir atau
drakula yang ada di film-film. Mereka biasanya digambarkan memiliki mata yang
berwarna merah, memakai pakaian-pakaian mewah, dan terlihat seperti bangsawan.
Kebanyakan dari mereka juga terlihat memiliki fisik yang sangat menawan serta etika
yang sangat baik meskipun mungkin itu adalah salah satu cara untuk memikat
mangsanya.
Tatkala Mei sudah berendam di bathtub
pun, Mei masih memikirkan Akashi.
Ternyata,
orang seperti Akashi itu ada di dunia ini. Bukan hanya di dunia fiksi.
Ketika
sudah keluar dari kamar mandi, Mei langsung memakai pakaiannya. Mei tak bisa berhenti
memikirkan betapa mengejutkannya pertemuannya dengan seseorang seperti Akashi
sampai-sampai dahi Mei terus berkerut saat sedang mengeringkan rambutnya.
Bagaimana mungkin ketika menciptakan manusia, Tuhan melewatkan Akashi saat membagikan
porsi ‘kekurangan’? Agak tidak masuk akal, soalnya selama Mei hidup, Mei selalu
mendengar kata-kata seperti: ‘Tidak ada manusia yang sempurna’.
Akan
tetapi, Akashi memang terlihat seagung itu. Mata merahnya, rambut merahnya…semuanya
unik, tetapi benar-benar pas untuknya. Vibe yang dia berikan memang se-noble
itu. Majestic. He looks like a royalty member or something.
Akhirnya,
Mei pun membanting tubuhnya ke kasur; dia berbaring telentang. Kedua tangannya
ia rentangkan dan matanya menatap lampu kamarnya tanpa berpaling. Meskipun
begitu, sebenarnya dia tidak benar-benar sedang melihat lampu itu. Otaknya tengah
memikirkan hal lain.
Akashi.
Siapa
nama lengkapnya tadi?
Oh.
Akashi Roan Kaiser.
Mei
jadi penasaran. Kaiser? Sepertinya, Mei pernah dengar.
Apa
suatu hari nanti Mei bisa bertemu lagi dengan Akashi? Atau pertemuan mereka
tadi adalah pertemuan yang pertama dan terakhir kalinya?
Entahlah.
Tatkala
sibuk memikirkan tentang pertemuan serta percakapannya tadi dengan Akashi,
tiba-tiba ponsel Mei berbunyi. Mei tersentak, gadis itu mulai bangkit dan
berjalan ke meja tempat ia meletakkan tasnya tadi. Ponsel itu masih tersimpan
di dalam tasnya.
Di
atas meja Mei itu, ada beberapa buku dan sebuah laptop. Di sana juga ada sebuah
lampu karena Mei akan menggunakan meja itu kalau dia lembur malam-malam. Mei
tak mau menggunakan lampu kamar karena baginya lampu kamar itu terlalu terang
kalau untuk bekerja di malam hari.
Setelah
membuka ritsleting tasnya, Mei langsung merogoh isi tas itu dan menemukan
ponselnya di dalam sana. Ponsel itu berdering dan juga bergetar. Mei lantas
mengambil ponsel itu, lalu melihat ke layarnya karena dia ingin tahu siapa yang
meneleponnya.
Oh.
Ternyata Kou.
Mei
pun menerima panggilan telepon dari sahabatnya itu.
“Kou.”
“Ah,
Mei,” panggil Kou dari seberang sana. “Kau sudah pulang,
ya?”
“Iya,”
jawab Mei. Matanya agak melebar ketika menjawab pertanyaan dari Kou. “Ada apa,
Kou?”
“Ke
minimarket, yuk!” ajak Kou. “Sambil jalan-jalan malam,
cari angin.”
Mei
menghela napas. Gadis itu tersenyum karena ia tahu bahwa Kou pasti sudah on
the way ke rumahnya. Rumah Kou tidak jauh dari sini dan mereka sudah
berteman lama. Kalau mau ke minimarket, Kou memang harus melewati apartemen Mei
terlebih dahulu.
“Baiklah.
Aku keluar sekarang. Kau sudah di jalan, ya?” tanya Mei. Yah, daripada dia
terus mengendap di dalam kamarnya sambil memikirkan Akashi, lebih baik dia cari
angin ke luar bersama Kou. Ikut Kou ke minimarket. Mei sekalian mau beli es
krim saja, deh.
“Yoi,”
jawab
Kou. “Aku baru saja sampai di depan gedung apartemenmu, nih.”
“Oke,”
jawab Mei. Gadis itu sedang mencari jaketnya. Seraya memakai jaket itu, ia pun menjawab,
“Tunggu, ya.”
“Okeee,”
jawab
Kou, lalu panggilan telepon itu diputuskan oleh Kou. Mei lantas berjalan dengan
cepat ke arah rak sepatu yang ada di dekat pintu depan, mengambil sepasang selopnya
yang berwarna krem, memasang selop itu, lalu membuka pintu depan unit apartemennya.
Setelah mengunci pintu itu kembali, ia pun berlari menuruni tangga untuk menuju
ke bawah, berhubung unit apartemennya ada di lantai dua.
Ketika
sudah sampai di bawah, ia pun bertemu dengan Kou yang sudah menunggu di sana
seraya tersenyum padanya. Malam ini, Kou memakai sebuah jaket berwarna biru
dengan motif garis-garis lebar berwarna putih. Berhubung rambut Kou berwarna
coklat, malam itu warnanya jadi kelihatan agak gelap karena minimnya cahaya, padahal
sudah dibantu dengan lampu dari jalan. Apartemen Mei berdiri di sebelah kiri
jalan yang lumayan besar. Namun, jalan itu bukanlah jenis jalan besar yang
selalu ramai. Jalan itu lumayan sepi, terutama kalau malam-malam begini. Jika
kau melewati jalan besar tersebut, lurus terus…hingga kau bertemu dengan sebuah
jembatan besar—yang menghubungkan sisi kanan dan sisi kiri jalan itu—maka di
sisi kirinya kau akan melihat apartemen Mei. Apartemen Mei berdiri tepat di
sisi kiri jalan dekat jembatan itu, tetapi bagian depan apartemen itu tidak
menghadap ke arah jalan. Dari jalan besar itu, kau hanya bisa melihat apartemen
Mei dari bagian samping kanannya.
Biasanya,
di jembatan itu tergantung sebuah billboard besar yang kadang-kadang
isinya adalah iklan rokok, fashion, atau semacam itu. Namun, kali ini billboard
besar itu kosong. Sedang tidak ada yang memasang iklan di sana.
“Ayo,”
ajak Kou dan Mei lantas mengangguk. Mereka pun mulai berjalan berdampingan.
“Hei,
kau baik-baik saja?” tanya Kou ketika mereka sudah berjalan bersama sekitar lima
langkah. Mei lalu menoleh kepadanya.
“Hm?”
deham Mei, seakan ingin Kou mengulangi pertanyaannya.
“Umm…”
Kou agak menunduk, lalu menggaruk tengkuknya. Akhirnya, di antara cahaya dari lampu
jalan malam itu, mata berwarna hazel milik Kou mulai menatap Mei dengan
penuh keingintahuan.
“Maksudku…Haruki,”
ujar Kou kemudian. “Apa kau masih sedih karenanya?”
Mata
Mei melebar.
“Oh.”
Mei memasukkan kedua tangannya ke saku jaketnya, lalu kembali menghadap ke
depan. “Ya…begitulah. Rasa sakit di hatiku sudah agak baikan, tetapi aku masih membencinya.”
Kou
pun mengangguk. “Baguslah. Jangan habiskan waktumu untuk menangisi pria berengsek
sepertinya.”
Mei
mendengkus. “Aku tidak menangis.”
Mata
Kou melebar saat ia menatap Mei. “Masa? Tidak sedikit pun?”
“Aku
tidak sepertimu yang gampang menangis cuma gara-gara ada T-Rex yang mati di Jurassic
Park, Kou,” ujar Mei dengan ekspresi datarnya.
“Oi!
Sejak kapan aku gampang menangis?! Jangan bawa-bawa T-Rex itu!” protes Kou,
pria itu menyatukan kedua alisnya.
“Aku
sakit hati pada Haruki, tetapi sekarang aku lebih ingin membakar pantatnya,”
ujar Mei dengan ekspresi datar.
Kou
menganga; dia menggeleng tak habis pikir. Mengapa tiba-tiba Mei membicarakan
soal pantat? “Mulutmu semakin hari semakin pedas saja. Kau yakin kau tidak
pernah mem-bully seseorang dengan mulut sadismu itu?”
Mei
menyipitkan matanya. “Kalau pantatnya terbakar, dia takkan bisa memakai celana
selama beberapa waktu. Aku tak akan melihat wajahnya untuk sementara. Oh,
tetapi…aku harus menyiram celananya dengan bensin terlebih dahulu sebelum
membakar celananya. Kalau celananya dibakar sekalian, mungkin alat kelaminnya
juga akan terbakar. Itu ide yang bagus. Sosisnya pasti kecil, jadi itu tak
berguna. Masa depannya tetap akan suram meskipun sosisnya tidak mutung. Oh,
mungkin aku juga akan mengiris kedua telurnya—”
“STOP!!
STOP STOP STOP!!” teriak Kou. Mata Kou membulat sempurna; di
pelipis Kou langsung muncul keringat dingin. “JANGAN BAKAR SOSIS YANG BELUM
PERNAH KAU LIHAT!”
“Tsk.”
Mei
mengalihkan pandangannya.
“Barusan
kau berdecak, ‘kan? Kau berdecak, ‘kan??!” teriak Kou dengan mata yang melebar
sempurna. Gila, dia sudah sering memikirkan ini, tetapi dia tetap tak percaya. Bisa-bisanya
dia bersahabat dengan gadis seperti Mei. Mei bisa membicarakan sesuatu yang
serius dan kejam dengan tanpa ekspresi di wajahnya.
Melihat
Mei yang akhirnya diam, Kou pun menghela napas. Gila, gawat sekali kalau
Mei sudah marah. Mulutnya jahat sekali. Dia terlalu sassy, terlalu straightforward.
Sadisnya minta ampun.
Tiba-tiba
Kou teringat sesuatu.
“Oh
ya,”
ucap Kou, membuat Mei jadi menoleh kepadanya. Kou tampak memperhatikan Mei
dengan mata yang membulat karena penasaran. “Kapan kau mau main ke rumahku?
Ibuku terus-terusan bertanya kapan kau akan datang. Sudah lama tak melihatmu,
katanya.”
Mata
Mei melebar.
Oh,
iya. Itu sudah agak lama.
“Begitu,
ya,” ujar Mei. “Baiklah. Nanti aku akan datang ke rumahmu kalau aku senggang.”
Setelah
mendengar jawaban dari Mei, Kou pun tersenyum lega. “Oke, deh. Jangan lupa
datang, ya. Aku bingung harus memberikan alasan apa lagi pada Ibu.”
Mei
tersenyum simpul. Seingat Mei, terakhir kali dia bermain ke rumah Kou adalah sekitar
satu bulan yang lalu. Yah…mengingat mereka sudah berteman sejak lama dan
kemarin-kemarin Mei memang sering bermain ke rumah Kou, wajar saja ibunya Kou
jadi mencarinya seperti ini.
“Oke,”
jawab Mei, ia mengangguk karena ingin menenangkan Kou. Kou pun tertawa kecil.
Mereka
terdiam selama beberapa detik. Hanya suara langkah kaki mereka yang menemani
mereka saat itu. Mei melihat ke bawah; pikirannya mulai ke mana-mana lagi.
Sementara itu, Kou tetap menatap ke depan dan sesekali pria itu bersiul. Dia
menyiulkan lagu favoritnya.
“Kou,”
panggil Mei tiba-tiba. Panggilan itu sukses membuat Kou berhenti bersiul dan
langsung menoleh ke arah Mei.
“Hm?”
jawab Kou. Pria itu mengangkat kedua alisnya, menunggu apa yang akan Mei
katakan, tetapi gadis itu tak kunjung berbicara.
“Ada
apa?” tanya Kou sekali lagi.
Mei
masih menunduk. Dahi Mei berkerut; ia terlihat berpikir sejenak. Ia ingin bertanya
pada Kou, tetapi dia agak ragu.
Kou
menunggu Mei selama beberapa detik. Hingga akhirnya, Mei pun mulai mendongak
untuk menatap Kou yang lebih tinggi darinya.
“Apakah
kau percaya dengan keberadaan manusia yang…sempurna?” tanya Mei. Mata
birunya tampak sedikit melebar ketika menanyakan itu.
Kou
kontan menyatukan alisnya. “Eh?”
Ah,
Kou pasti bingung dengan pertanyaannya.
Tentu
saja.
Mei
akhirnya mengalihkan pandangannya dari Kou. Dia kini melihat ke depan, menghela
napas, lalu menggeleng. “Tidak. Tidak apa-apa, Kou.”
Namun,
di luar ekspektasi Mei, beberapa detik kemudian Kou tiba-tiba membuka
suara.
“Kalau
kau tanya pendapatku, sebenarnya aku tidak percaya, sih,” jawab Kou, sukses
membuat Mei melebarkan matanya dan langsung menoleh kepada pria itu lagi. “Kalau
memang di bagian luarnya dia terlihat sempurna, paling tidak dia pasti
memiliki satu kelemahan atau kecacatan. Hal yang paling mungkin terjadi
adalah: dia menyembunyikan kelemahan itu.”
Mei
mendengarkan pendapat Kou dengan saksama. Begitu Kou selesai berbicara, Mei
lantas mengalihkan pandangannya, sedikit menunduk, lalu mengangguk.
“Iya,
ya,” jawab Mei pelan.
“Memangnya
ada apa?” tanya Kou dengan alis yang menyatu.
Mei
kontan membulatkan matanya. Dia lalu menatap Kou dan menjawab, “Ah—tidak.
Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin tahu pendapatmu.”
Sejujurnya,
dia ragu untuk menceritakan soal Akashi kepada Kou. Agak malu juga karena dia
tak bisa berhenti memikirkan Akashi, apalagi pada dasarnya Akashi itu orang
asing. Orang asing, kan, memang biasa lalu-lalang di dalam kehidupan kita.
Alhasil,
walaupun Kou mengernyitkan dahinya—karena heran dan agak curiga—dia pun hanya
mengedikkan bahu. Yah, sudahlah. Mungkin memang tidak terjadi apa-apa.
Tak
lama kemudian, mereka pun sampai di depan minimarket yang mereka tuju. Keduanya
lantas masuk ke minimarket itu dan mulai berbelanja. Mei, yang memang cuma mau
menemani Kou sekaligus mencari angin, hanya membeli es krim dan satu snack coklat
untuk menemaninya mengobrol bersama Kou malam itu.
******
Jam
alarm milik Mei berdering. Bunyinya sangat kencang di telinga Mei, sangat
memekakkan, sampai-sampai Mei spontan menggeliat di kasurnya dan mengerang. Dia
langsung mengerutkan dahi, menghadap ke kanan dan ke kiri, lalu perlahan-lahan
mengulurkan tangannya untuk mematikan jam alarm yang ia letakkan di atas
nakasnya itu.
“Ugh…”
keluh Mei. Sumpah, dia masih malas bangun. Tubuhnya masih pengin lengket di
kasur, menempel di sana hingga siang. Kasurnya terasa nyaman sekali. Matanya
masih mengantuk.
Ah,
kerja lagi, deh. Sial. Malas sekali rasanya.
Kalau
bisa, Mei mau tidur saja sampai siang. Akan tetapi, nanti Mei tidak punya uang
kalau tidak pergi kerja. Ini weekend kapan datangnya, sih?
Andaikan
Mei bisa dapat uang tanpa harus bekerja.
Menjadi
istri seorang miliarder, misalnya. Atau istri seorang pangeran. Namun,
mengingat omongan Mei yang hampir selalu sadis, daripada menarik
perhatian seorang pangeran atau miliarder yang lurus-lurus saja, mungkin
Mei akan lebih menarik perhatian seorang leader mafia atau gangster.
Nah,
kan. Gara-gara malas bangun, Mei jadi banyak berkhayal.
Mendengkus
kesal, Mei lantas berdecak dan bangkit. Ia duduk di kasurnya sejenak dengan
mata yang setengah terpejam—mengumpulkan nyawa, mungkin—lalu beberapa
saat kemudian, dia menggaruk kepalanya dan akhirnya kakinya turun ke lantai.
Berdiri dan mulai berjalan dengan lesu ke kamar mandi. Dia mengeluh soal bangun
pagi, tetapi akhirnya tetap bangun juga. Tetap kerja juga. Soalnya, kalau dia
tidak kerja, nanti dia tidak bisa membeli es krim. Tidak bisa jajan. Tidak bisa
membayar apartemennya. Tidak bisa makan.
Hah.
Menyebalkan sekali.
Setelah
mandi dan bersiap-siap, Mei pun sarapan sejenak. Ia hanya memanggang roti yang setelahnya
ia berikan olesan selai kacang, lalu menyiapkan segelas susu hangat. Gadis itu
memakan sarapannya seraya memainkan ponsel, lalu setelah makan, ia pun
meletakkan piring dan gelas kotornya di wastafel. Setelah mencuci piring
dan gelas kotor itu sejenak, ia pun akhirnya siap untuk berangkat kerja.
Tatkala
baru saja mengambil sepatu kerjanya dari dalam rak sepatu, tiba-tiba ponsel Mei
berbunyi. Mei lantas merogoh tasnya, lalu mengambil ponsel itu dan melihat
bahwa yang meneleponnya adalah ibunya. Mei mengangkat panggilan telepon itu dan
menempelkan ponselnya di telinganya, menahan ponsel itu dengan bahunya.
“Ya,
Bu,” jawab Mei sambil memakai sepatu. Ketika Mei sudah memasang sepatunya dan
baru saja mau membuka pintu depan, ibunya pun menjawab, “Oh, Mei! Sudah
bangun, Nak?”
“Sudah,
Bu,” jawab Mei seraya keluar dari unit apartemennya. Gadis itu kini sedang
mengunci pintu. “Aku baru saja mau berangkat kerja.”
“Kau
sudah sarapan, ‘kan? Jangan lupa sarapan, Nak,”
kata ibunya. “Makan dulu sebelum bekerja. Jangan sampai sakit.”
Mei
tersenyum. Berhubung ibunya Mei tinggal jauh dari Mei, wanita paruh baya itu
rajin menelepon hanya untuk menanyakan apakah Mei sudah makan atau belum.
“Sudah,
Bu. Tadi aku sudah makan,” jawab Mei seraya menuruni tangga apartemennya.
Ketika sudah sampai di bawah, Mei kembali berbicara, “Ibu sudah makan?”
“Sudah.
Tadi Ibu makan nasi dan sup,” ujar ibunya. “Mei,
sudah dulu, ya, Nak. Ada tetangga yang memanggil Ibu. Nanti Ibu telepon lagi,
ya. Nanti siang jangan lupa makan!”
Mei
pun mengangguk meski ia tahu bahwa ibunya takkan bisa melihatnya. “Baiklah, Bu.
Aku pergi kerja dulu.”
“Hati-hati,
Sayang,” pesan ibunya dari seberang sana.
“Iya,
Bu. Aku tutup, ya.”
“Iya.”
Setelah
mendengar jawaban terakhir dari ibunya, Mei pun menutup panggilan telepon itu. Gadis
itu meletakkan ponselnya kembali ke dalam tasnya seraya tersenyum. Mei sangat
bersyukur bisa memiliki seorang ibu yang sangat menyayanginya meskipun ia tak
lagi memiliki ayah. Ayah Mei sudah meninggal bertahun-tahun yang lalu.
Pagi
ini, pikiran soal Akashi tak begitu hinggap lagi di kepala Mei. Well, setidaknya
belum benar-benar hinggap. Mei sejak tadi hanya fokus bersiap-siap untuk
berangkat kerja. Jadi, ingatan soal Akashi belum begitu mampir di otaknya. Ada
lewat sekilas, sih, tetapi karena dia tak ingin terlambat, dia pun akhirnya
menggeleng (mengusir pikiran itu) dan memilih untuk fokus bersiap-siap.
Urusan
memikirkan Akashi itu nanti saja, deh. Lagi pula, aneh sekali kalau dia
terus-terusan memikirkan orang asing.
Mei
mulai berjalan…hingga akhirnya ia sampai di depan Kantor Pelayanan Publik
tempat ia bekerja. Benar, jarak dari rumahnya ke kantor tidak begitu jauh.
Jadi, biasanya ia hanya menempuhnya dengan berjalan kaki.
******
Akashi
memperhatikan Mei dengan mata yang sedikit menyipit dari dalam mobilnya. Ia
duduk di kursi penumpang, bersandar di sana seraya menyilangkan kedua tangannya
di depan dada. Jendela mobil mewah berwarna hitam itu terbuka; mobil itu
terparkir jauh di seberang Kantor Pelayanan Publik, tetapi Akashi masih bisa
melihat area kantor itu dengan jelas.
Pria
itu hari ini memakai sebuah jas panjang berwarna coklat muda. Jas itu
panjangnya seperti mantel, tetapi ia hanya menyampirkannya di tubuhnya (hanya
digunakan sebagai outer, lengannya tidak terpasang). Di dalam jas itu,
ia memakai sebuah vest yang berwarna senada dengan jasnya. Dasinya
berwarna coklat tua dan kemejanya berwarna putih. Lengan kemeja itu ia lipat
hingga hampir separuh, menampilkan lengan kekarnya yang terlihat berurat. Ada
sebuah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
Kedua
mata Akashi masih fokus melihat ke samping. Melihat dari balik jendela mobil
yang ada di samping kanan tubuhnya. Ia tengah memperhatikan sesuatu dari jauh.
Sebuah
senyum simpul terbit di wajahnya tatkala ia melihat Mei mulai muncul di
depan Kantor Pelayanan Publik itu dan langsung masuk ke sana.
“Boss,
mengapa
Anda ingin mampir ke sini?” tanya sopir mobil itu yang sebenarnya adalah salah
satu anak buahnya Akashi. “Apakah ada sesuatu yang harus kami ketahui?”
Tanpa mengalihkan pandangan matanya dari Mei, dengan
masih tersenyum simpul, Akashi pun menjawab, “Tidak. Aku hanya ingin memastikan.”
Anak
buahnya Akashi—yang hari ini kebagian tugas menjadi sopir itu—kontan mengerutkan
dahinya. Alisnya menyatu. “Memastikan apa, Boss?”
Senyuman
Akashi tampak semakin merekah, tetapi masih terlihat penuh dengan rahasia. Di
pagi yang cerah ini, wajahnya terlihat begitu tampan dan segar. Dia adalah
seorang pria matang yang produktif. Rambut berwarna merahnya disisir ke
belakang dan menggunakan pomade, tetapi ada beberapa helai rambutnya yang
terjatuh ke dahi dan membentuk koma. Kedua matanya memiliki bentuk seperti siren
eyes, membuatnya terlihat tajam, sensual, dan penuh dengan misteri,
Suara
Akashi pun kembali terdengar. “Wanita…biasanya akan membuat pertahanan jika dia
memiliki suatu kecurigaan. They’ll run…or lie.”
Anak
buahnya Akashi masih mendengarkan.
Senyuman
Akashi kini berubah. Perlahan senyuman simpulnya itu mulai berganti menjadi
senyuman miring. Pria itu pun melanjutkan, “…tetapi dia tidak berbohong
padaku.”
Kini,
anak buahnya Akashi jadi semakin mengernyitkan dahi. Ia sedikit melihat ke arah
Akashi melalui bahunya dan berkata, “…Wanita? Siapa, Boss?”
Akashi
mengalihkan pandangannya dari Kantor Pelayanan Publik itu. Kini, ia tidak melihat
ke jendela mobilnya lagi; kepalanya beralih menghadap lurus ke depan. Si sopir lantas
melihat Akashi melalui kaca spion dalam mobil; dia melihat Akashi yang sudah kembali
menghadap ke depan sepenuhnya. Dia juga melihat senyuman miring yang tiba-tiba menghiasi
wajah tampan pemimpin mereka itu.
Namun,
sepertinya pertanyaannya tadi belum bakal dijawab oleh boss-nya
itu.
Akashi
justru berkata:
“Ayo
berangkat. Aku ada meeting hari ini.”
Akhirnya,
tanpa mengatakan apa pun, si sopir—anak buahnya Akashi itu—lantas mengangguk
(kepalanya menoleh sedikit kepada Akashi, lalu dia menunduk hormat) dan berkata,
“Baik, Boss.”
Mobil
hitam itu pun mulai berjalan dengan pelan, meninggalkan Kantor Pelayanan Publik
itu.
******
Mei
menikmati vanilla milkshake yang ia pesan seraya duduk di spot favoritnya,
yaitu di ujung ruangan dan di dekat jendela café. Berhubung dia memang
pengunjung setia di café itu—karena sangat menyukai vanilla milkshake
buatan mereka—dia pun jadi merasa ada yang kurang apabila dia tidak
berkunjung ke café itu minimal tiga hari sekali.
Duduk
di sini sekarang sudah tidak terasa ‘biasa’ lagi sejak ia bertemu dengan Akashi
kemarin. Biasanya, ia selalu duduk sendirian di sini. Kalau misalnya spot ini
sudah keburu terisi, dia akan mencari spot nyaman lainnya di mana dia
bisa duduk sendirian dengan tenang. Namun, sekarang…di spot ini dia jadi
terus mengingat keberadaan Akashi yang kemarin duduk di seberangnya. Cara
Akashi menyapanya dengan sebutan ‘my lady’, pergerakan tubuh Akashi yang
begitu gentle seperti bangsawan, wajah Akashi yang tampan, pakaiannya
yang elegan... Dia seperti seorang noble dari abad ke-18. Caranya
menghormati perempuan, caranya berbicara, tata kramanya, semuanya berhasil membuat
Mei terkesan. Mei kira di zaman yang sudah gila ini pria seperti itu sudah punah.
Ternyata belum.
Apakah
suatu hari nanti ia bisa bertemu lagi dengan Akashi?
Ketika
pikiran itu melintas di otaknya, Mei kontan tersentak dan menggeleng. Oh, Tuhan.
Ada-ada saja. Mei harus banyak-banyak minum air putih, sepertinya. Akashi itu
orang asing, apalagi kemarin Akashi hanya kebetulan ingin minum kopi dan
mungkin pria itu hanya berhenti di café terdekat secara random. Lagi
pula, sebenarnya café ini terlalu sederhana untuk orang seperti Akashi.
Mei
bersandar di kursinya. Ia lantas merogoh ponselnya yang ia letakkan di dalam
saku blazernya. Tatkala sudah mendapatkan ponsel itu, Mei pun membuka kuncinya
dan berencana untuk meminum vanilla milkshake-nya seraya melihat
video-video di media sosial.
Mei
tersenyum ketika melihat video-video kucing imut yang lewat di beranda media
sosialnya. Setelah satu menit berlalu, tangan kanan Mei mulai meraih cup
vanilla milkshake-nya, lalu mengantarkan cup itu ke mulutnya. Namun,
sebelum Mei sempat meminum vanilla milkshake itu, tiba-tiba ada sebuah
suara yang memecah fokusnya.
“Mei.”
Alis
Mei sedikit terangkat. Entah mengapa Mei seperti…kenal dengan suara itu.
Seperti
suara yang sudah Mei tandai.
Mei
pun berhenti menatap ponselnya. Kepalanya perlahan terangkat ke
atas…hingga ia mendongak. Tak ayal, kini kedua matanya sukses melihat ke atas,
ke arah seseorang yang rupanya tengah berdiri di depannya.
…dan
tepat setelah itu, kedua mata Mei kontan melebar. Tiba-tiba jantungnya seolah
berhenti berdetak.
…karena
orang yang berdiri di sana adalah:
Akashi.
Akashi
Roan Kaiser.
Pria
itu betul-betul berdiri di hadapan Mei; dia tersenyum dengan sangat manis
kepada Mei seraya sedikit memiringkan kepala. Hari ini, pria itu…memakai jas
berwarna coklat muda. Demi dunia dan segala isinya, pria itu terlihat
begitu tampan. Begitu seksi. Begitu menggoda.
Tanpa
Mei sadari, sebenarnya seisi café itu juga sedang takjub karena melihat
sosok Akashi. Namun, Mei terlalu kaget untuk menyadari semua itu. Dia kaget
sekaligus…heran.
“Akashi…?”
Mei
mulai mengerutkan dahinya.
“Uh-hm,” deham
Akashi. Pria itu pun memberi salam kepada Mei dengan anggukan singkat. “Halo,
Mei. Kita bertemu lagi, ya.”
“Ah…
Halo, Akashi,” sapa Mei balik. “Apakah kau mau minum kopi lagi?”
Oh,
ayolah, Mei. Ya jelas dia mau minum kopi! Buat apa dia datang ke café kalau
bukan mau minum kopi?!!
Mei
merutuki dirinya sendiri di dalam hati. Dia mengutuk otaknya yang mendadak jadi
sangat bodoh. Apa dia mulai gugup lagi, seperti kemarin?
Namun…sekarang
Akashi ada di depannya. Dia bertemu lagi dengan Akashi. Akashi ternyata datang
ke café ini lagi…
Diam-diam,
jantung Mei mulai berulah. Degupannya mulai kencang. Entah mengapa, ada
rasa senang yang hinggap di hatinya.
Meskipun
pertanyaan Mei terdengar bodoh, ternyata respons dari Akashi tidak memperparah kegugupan
Mei sama sekali. Akashi hanya mengangguk dan tertawa kecil. “Iya. Kebetulan
lewat sini. May I sit here?”
Mata
Mei agak melebar. “Oh—ya. Silakan, kalau kau tidak keberatan duduk denganku.”
Akashi
sedikit menunduk kepada Mei sebagai bentuk respect, lalu dia mengangkat
kepalanya lagi dan tersenyum dengan lembut kepada Mei. “Terima kasih, Mei.”
“Sama-sama,
Akashi.” Mei mengangguk dan tersenyum.
Akashi
pun mulai beranjak duduk di hadapannya. Pria itu menarik kursi yang
berseberangan dengan kursi Mei, lalu duduk di sana. Ketika Akashi sudah duduk
di hadapan Mei, aroma tubuh pria itu menguar semakin jelas di sekeliling Mei. Aroma
tubuh Akashi sangatlah harum, segar, dan maskulin. Itu adalah jenis parfum yang
akan membuatmu berpikir seperti, ‘Aku akan mengekori pria mana pun yang
mengenakan parfum ini di jalan.’
Wanginya
bisa membuatmu jatuh cinta. Wanginya itu seperti…campuran dari bergamot, neroli,
green tangerine…dan ada juga wangi…rosemary? Ada campuran wangi
daun nilam juga, sepertinya. Semua wangi itu…kalau dicampur ternyata jadi sesegar
ini. Wangi yang sangat maskulin. It also smells very expensive. Sesuai
dengan Akashi.
Tepat
setelah Akashi duduk di seberang Mei, segelas kopi pesanan Akashi pun datang ke
meja mereka. Sang waitress yang mengantarkan pesanan Akashi itu sempat tercengang
sebentar, matanya tanpa sadar menatap Akashi tanpa berkedip. Ia diam selama
beberapa detik karena terlalu takjub melihat betapa tampannya pelanggan yang
sedang ia layani itu, lalu akhirnya ia tersadar kembali ketika Akashi
tersenyum padanya dan mengucapkan, “Terima kasih.”
“Ah—ya—maaf,
Tuan. Silakan menikmati.” Waitress itu lantas menunduk hormat pada
Akashi dengan pipi yang memerah karena malu, lalu langsung menjauh dari meja
mereka dengan terburu-buru.
Mei melihat Akashi mulai menghadap ke depan—ke
arah Mei—kembali. Pria itu memajukan tubuhnya dan menumpukan kedua sikunya di
meja. Setelah itu, ia menyatukan jemari tangannya.
Seraya
tersenyum simpul, Akashi pun mulai membuka pembicaraan.
“Aku
mulai tertarik pada café ini,” ujar Akashi. Pria itu mulai
menoleh ke kiri…lalu ke sekeliling ruangan yang masih bisa ia jangkau dengan
kedua matanya. Setelah itu, pandangan matanya kembali tertuju pada Mei. Setelah
bertatapan kembali dengan Mei, Akashi pun tersenyum lagi.
Mei
berkedip. Sedari tadi, ia terus memperhatikan Akashi; kedua matanya seolah
enggan meninggalkan sosok semegah Akashi.
“Ah…begitu,
ya.” Mei akhirnya bersuara. Gadis itu mengangguk perlahan, kedua matanya
masih memperhatikan sosok Akashi. Namun, tiba-tiba dahi Mei berkerut.
Mei
lantas memiringkan kepalanya, lalu bertanya, “Memangnya apa yang
membuatmu tertarik? Tidakkah café ini terlihat biasa saja untuk orang
sepertimu?”
Akashi
sedikit menunduk, lalu pria itu tertawa kecil. Goddammit, tawa kecilnya
itu membuatnya terlihat seratus persen lebih menakjubkan. Dia tampak seperti
pangeran berkuda putih atau seorang bidadara yang baru saja turun dari langit!
Tak tahukah dia bahwa tawa kecilnya itu sangat atraktif? Seakan ada background
bunga-bunga yang mekar di belakang tubuhnya ketika ia tertawa. Seakan ada
sayap-sayap malaikat yang membentang di belakang tubuhnya. Dia terlihat
memabukkan. Membuat candu. Menawan. Seksi.
Tepat
setelah tawa kecilnya itu, Akashi pun kembali menatap Mei dan tersenyum. Pria
itu mulai membuka tautan jemarinya dan meraih pegangan gelas kopinya.
Tubuh
Akashi mulai bersandar ke kursi. Sejak tadi, ia duduk dengan kaki yang bersilang
sehingga ketika ia bersandar, sosoknya terlihat semakin elegan dan berwibawa.
Akashi mulai mendekatkan gelas kopi itu ke bibirnya. Namun, sebelum meminum
kopi itu, Akashi menyempatkan dirinya untuk menjawab Mei.
“Kata-katamu
membuatku terdengar seperti orang yang sangat arogan, Mei. Aku tertarik
karena kopinya enak,” jawab Akashi, matanya melihat lurus ke arah Mei. Kedua
kelopak matanya terlihat sedikit turun. Tatapan mata tajamnya itu
terpusat pada Mei. Begitu sarat arti, tetapi tetap sulit untuk
diartikan. Ada sebuah kilat yang penuh dengan rahasia di kedua mata berwarna
merahnya. Ia seperti menatap langsung ke jiwa Mei, memerangkap Mei
menggunakan tatapan matanya.
Momen
itu terasa begitu mendebarkan…dan menggairahkan.
“Selain
itu, pemandangannya…” Akashi masih menatap Mei dengan tatapan yang sama, lalu
pria itu mulai tersenyum miring. “…juga bagus.” []
******



No comments:
Post a Comment